Feedback

Analisis Yuridis Peran Bank Indonesia (BI) Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal

Informasi dokumen
ANALISIS YURIDIS PERAN BANK INDONESIA (BI) DALAM UPAYA PENYELAMATAN BANK GAGAL (TINJAUAN KASUS BANK CENTURY) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH MARIA AFRIYANTI 060200250 DEPARTEMEN HUKUM PERDATA BW FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara ANALISIS YURIDIS PERAN BANK INDONESIA (BI) DALAM UPAYA PENYELAMATAN BANK GAGAL (Tinjauan Kasus : Bank Century) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH MARIA AFRIYANTI 060200250 Disetujui Oleh : Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Dr. Tan Kamello, S.H., M.S. NIP : 196204211988031004 Mulhadi, S.H. NIP : 197308042002121001 Diketahui oleh: Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Tan Kamello, S.H., M.S. NIP : 196204211988031004 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus, atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini untuk dapat menyelesaikan studi di fakultas hukum Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara yang merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/I yang akan menyelesaikan perkuliahannya. Adapun judul skripsi yang penulis kemukakan adalah : “Analisis Yuridis Peran Bank Indonesia (BI) Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal”. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dan bekerja keras dalam menyusun skripsi ini. Namun, penulis menyadari masih banyak kekurangan dari segi isi maupun penulisan dari skripsi ini. Melalui kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu : 1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH., M. Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH., M. Hum., sebagai Pembantu Umum Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH., M. Hum, DMF, sebagai Pembantu Umum Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 4. Bapak Muhammad Husni, SH., M. Hum., sebagai Pembantu Umum Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 5. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello,S.H., M.S., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata pada fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing I dalam penulisan skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan masukan-masukan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Bapak Mulhadi, S.H., selaku Dosen Pembimbing II dalam penulisan skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan masukan-masukan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak Faisal Akbar, SH., M. Hum., selaku dosen wali Penulis di Fakultas Hukum Universitas Suimatera Utara yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis. 8. Buat seluruh pegawai di Fakultas Hukum Universitas Suamtera Utara, terutama buat Ibu Ayu sebagai pegawai stambuk yang selalu membantu penulis dalam pengurusan berkas studi. . 9. Penghargaan dan rasa hormat penulis sampaikan kepada Bapak Parlindungan Pasaribu dan Roslumi Napitupulu, sebagai orang tua penulis yang sangat dicintai, terima kasih atas doa dan kasih sayang yang telah diberikan selama ini dengan ketulusan hati. 10. Buat adikku Hanna Paramitha dan Jakaria Trimitra Pasaribu . Terima Kasih atas perhatian, kasih, motifasi dan pengertiannya selama ini. Universitas Sumatera Utara 11. Buat Keluarga Bapatuaku Zendrato di Sunggal untuk dukungan doa dan kasih sayang selama mengenyam perkuliahan di Universitas Sumatera Utara. 12. Buat Witra, Siska, Rentha, Ingrid dan Selamat Teguh yang telah menjadi teman penulis sejak pertama sekali kuliah, yang telah banyak membantu dan mendukung penulis. 13. Buat semua civitas GMNI, yang telah banyak membantu dan memberikan banyak pengalaman kepada penulis selama ini terkhusus untuk Bung Janroy Purba, Roy Mangapon, Coky Pangaribuan, Hot Marudur dan Howard Limbong dan yang tidak dapat diuraikan oleh penulis satu persatu. 14. Untuk Ibu Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, SH, MLI selaku pembimbing ILMCC (International Law Moot Court Club) yang telah banyak memberikan pelajaran berharga selama menjadi manager tim ILMCC. 15. Untuk Teman-teman seperjuangan di ILMCC, Li Pei Jung, Khairuissa, Doroty, Paulina Tandiono, Abdul Azis, Yuthi Sinari, Jennifer, dan Hanssen. 16. Buat abang-abang dan kakak-kakak stambuk: Theresia Tobing, Manahan Tambunan, Cristie Gozali, Frans Margo Leo, Debora Dolok Saribu, Elisabeth Simanjuntak, Juliana Napitupulu dan yang tidak dapat penulis uraikan satu persatu yang telah banyak membantu dan membimbing penulis. 17. Buat kawan-kawan stambuk 06 dan kelompok kecil yang tidak dapat penulis uraikan satu persatu yang telah banyak membantu dan membimbing penulis selama ini. Universitas Sumatera Utara Medan, Februari 2010 Penulis Maria Afriyanti Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI . v ABSTRAKSI . viiii BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 12 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 13 D. Keaslian Penulisan . . 14 E. Tinjauan Kepustakaan . . 15 F. Metode Penelitian . 15 G. Sistematika Penulisan . . 16 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BANK . 19 A. Pengertian Bank. 22 B. Jenis-jenis Bank dan Kegiatan Usaha Bank. 24 C. Prinsip-prinsip Di Dalam Pengelolaan Bank. 26 D. Kriteria Bank Sehat . . . 32 BAB III TINJAUAN UMUM BANK INDONESIA. 37 A. Sejarah Bank Indonesia. . . . 37 Universitas Sumatera Utara B. Bank Indonesia Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No. 3 tahun 2004. 44 C. Tugas, Fungsi dan Wewenang Bank Indonesia 47 D. Wewenang Bank Indonesia Dalam Penyelamatan Bank Gagal . 54 BAB IV ANALISIS YURIDIS PERAN BANK INDONESIA DALAM UPAYA PENYELAMATAN BANK GAGAL . 58 A. Faktor-faktor yang Dijadikan Sebagai Kategori Bank Gagal. . 58 B. Dampak yang Ditimbulkan Oleh Bank Gagal Bagi Dunia Perbankan dan Perekonomian Nasional. 68 C. Tindakan-Tindakan yang Dilakukan Oleh Bank Indonesia Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal. 74 D. Manfaat dan Tujuan Penyelamatan Bank Gagal . 90 BAB V PENUTUP . . . 94 A. Kesimpulan . 94 B. Saran . 96 DAFTAR PUSTAKA . 97 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Industri perbankan telah menjadi sektor penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila bahwa perbankan yang menjadi bagian pembangunan nasional merupakan upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Dan untuk itu sesuai dengan pengertian bank menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, yaitu : bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk lainnya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank sebagai lembaga yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat bekerja dengan bermodalkan asas kepercayaan, maka setiap bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan masyarakat padanya. Sejalan dengan itu Bank Indonesia berdaasarkan Pasal 29 UndangUndang No. 7 Tahun 1972 Tentang Perbankan diberikan wewenang dan kewajiban unttuk membina serta melakukan pengawasan terhadap bank dengan menempuh upaya-upaya baik yang bersifat preventif dalam bentuk ketentuanketentuan, petunjuk, nasehat, bimbingan, pengarahan, maupun secara represif dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. Metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah metode yuridis normatif. Pada tahap awal penelitian dilakukan dengan mempelajari berbagai literature dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi ini. Penulis melakukan analisis terhadap permasalahan melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum serta mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundangundangan, dimana pengumpulan data dilakukan dengan metode library research (penelitian kepustakaan) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini. Tindakan Bank Indonesia dalam upaya penyelamatan Bank Century yaitu bank gagal dalam penilaian Bank Indonesia tidak lain merupakan antisipasi pencegahan krisis yang diakibatkan oleh Bank Century yang berdampak sistemik. Dampak Sistemik tidak diatur dalam undang-undang maupun Perpu No. 4 Tahun 2008 Tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan karena dikuatirkan dapat menimbulkan moral hazard. Bank Indonesia sesuai dengan Penjelasan Gubernur BI dalam Press Confrence bersama Departemen Keuangan, BI, LPS .mengenai hasil audit investasi BPK di Departemen Keuangan tanggal 24 November 2009 dalam menganalisa Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik diadaptasi dari MoU Uni Eropa yang menjadi acuan untuk diterapkan Otoritas Pengawasan dan Bank Sentral anggota EU. Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Industri perbankan telah menjadi sektor penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila bahwa perbankan yang menjadi bagian pembangunan nasional merupakan upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Dan untuk itu sesuai dengan pengertian bank menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, yaitu : bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk lainnya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank sebagai lembaga yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat bekerja dengan bermodalkan asas kepercayaan, maka setiap bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan masyarakat padanya. Sejalan dengan itu Bank Indonesia berdaasarkan Pasal 29 UndangUndang No. 7 Tahun 1972 Tentang Perbankan diberikan wewenang dan kewajiban unttuk membina serta melakukan pengawasan terhadap bank dengan menempuh upaya-upaya baik yang bersifat preventif dalam bentuk ketentuanketentuan, petunjuk, nasehat, bimbingan, pengarahan, maupun secara represif dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. Metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah metode yuridis normatif. Pada tahap awal penelitian dilakukan dengan mempelajari berbagai literature dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi ini. Penulis melakukan analisis terhadap permasalahan melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum serta mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundangundangan, dimana pengumpulan data dilakukan dengan metode library research (penelitian kepustakaan) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini. Tindakan Bank Indonesia dalam upaya penyelamatan Bank Century yaitu bank gagal dalam penilaian Bank Indonesia tidak lain merupakan antisipasi pencegahan krisis yang diakibatkan oleh Bank Century yang berdampak sistemik. Dampak Sistemik tidak diatur dalam undang-undang maupun Perpu No. 4 Tahun 2008 Tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan karena dikuatirkan dapat menimbulkan moral hazard. Bank Indonesia sesuai dengan Penjelasan Gubernur BI dalam Press Confrence bersama Departemen Keuangan, BI, LPS .mengenai hasil audit investasi BPK di Departemen Keuangan tanggal 24 November 2009 dalam menganalisa Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik diadaptasi dari MoU Uni Eropa yang menjadi acuan untuk diterapkan Otoritas Pengawasan dan Bank Sentral anggota EU. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan dan dunia usaha merupakan dua sisi yang diharapkan paling punya peran dalam stimulus pemulihan ekonomi. Semenjak krisis kepercayaan yang menggoncang masyarakat pada tahun 1997 dunia perbankan harus lebih hati-hati dalam mengelola dan mengawasi dunia usaha khususnya perbankan. Kegiatan perekonomian yang tinggi sampai dengan pertengahan tahun 1997 menyebabkan pertumbuhan uang beredar, naik pesat sebagai cerminan naiknya permintaan terhadap uang yang didorong oleh kenaikan tingkat pendapatan dan menurunnya suku bunga serta derasnya arus modal luar negeri. Menghadapi situasi permintaan domestik yang tetap kuat pada saat pertumbuhan uang beredar meningkat, kebijakan moneter hingga pertengahan tahun 1997 diarahkan untuk mengendalikan permintaan dalam negeri dalam rangka memelihara stabilitas ekonomi makro. Langkah pengendalian moneter pada pertengahan Juli 1997 tersebut ditempuh dengan meredam pemberian kredit melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 3% menjadi 5% dan penghentian kredit untuk sektor properti. Langkah-langkah tersebut beserta terjadinya kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah berhasil mempertahankan Universitas Sumatera Utara tingkat inflasi yang rendah, yaitu rata-rata 5,11% per tahun pada periode tahun 1992-1997.1 Walaupun perekonomian Indonesia dalam periode tersebut menunjukan dinamisme yang tinggi, terdapat tanda-tanda kearah perkembangan yang kurang menguntungkan. Hal tersebut terlihat pada terus berkembangnya sektor-sektor produksi yang kurang kompetitif, ketergantungan pada utang luar negeri yang semakin meningkat, melemahnya ekspor nonmigas, impor yang meningkat pesat, dan tingginya resiko yang dihadapi perbankan terutama dalam kegiatan valuta asing. Perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut disebabkan oleh terdapatnya kelemahan-kelemahan yang mendasar sebagai berikut: 2 a. Menurunnya efisiensi pengelolaan dunia usaha yang tercermin pada naiknya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dalam tahun 19921997 sebesar rata-rata sekitar 3,1 pada tahun 1988-1991. b. Terjadinya investasi yang berlebihan (over investment) oleh dunia usaha pada sektor-sektor ekonomi yang rentan terhadap perubahan nilai tukar dan suku bunga, seperti sektor properti. c. Tersedianya pembiayaan yang relatif mudah diperoleh yang menyebabkan sektor swasta mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam memperoleh pinjaman luar negeri. d. Tersedianya moral hazard di kalangan pengelola dan pemilik bank yang berkaitan dengan adanya jaminan terselubung dari bank sentral sehingga 1 J.Soedradjadjiwandono, Sejarah Bank Indonesia Periode : 1997-1999 Bank Indonesia Pada Masa Krisis Ekonomi Moneter dan Perbankan, Jakarta:Bank Indonesia, 2006, hlm134-135. 2 Ibid., hal 135 Universitas Sumatera Utara mendorong perbankan untuk mengambil untung yang berlebihan dan memberi kredit ke sektor-sektor yang beresiko tinggi. Di lain pihak, sistem pengawasan bank sentral masih kurang efektif karena belum sepenuhnya dapat mengimbangi kegiatan perbankan yang sangat pesat dan kompleks. Hal ini mendorong perbankan mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional mereka. Rush (penarikan dana-dana) yang dipicu oleh tindakan pemerintah atas desakan IMF (International Monetary Fund) untuk menutup 16 buah bank pada 1 November 1997 telah menyebabkan sejumlah bank berpaling pada kucuran dana likuiditas dari Bank Sentral. Pelaksanaan fungsi Bank Sentral sebagai “lender of the last resort” ini yang didorong pula oleh pelaksanaan program Penjaminan berupa blanket guarantee yang demikian luas, telah menyebabkan terjadinya tragedi BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang menimbulkan potensi kerugian yang demikian besar bagi negara. 3 Sementara itu pula ditengarai bahwa sepanjang periode awal krisis tersebut, telah terjadi capital flight (penarikan modal) besar-besaran yang diduga telah lolos melalui empat pintu yaitu : 1. Berupa pelepasan portfolio saham-saham unggulan di pasar modal yang telah menyebabkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) telah merosot tajam dari level diatas 700an menjadi tinggal dibawah level 400an saja. Diduga dana hasil penjualan saham-saham ini yang sebagian besar 3 Masyhud Ali, Restrukturisasi Perbankan Dan Dunia Usaha, Jakarta : IKAPI, 2002, hlm.7-8. Universitas Sumatera Utara dikuasai oleh unsur-unsur investor asing, telah dikonversi menjadi valas yang ditempatkan pada perbankan asing atau langsung ditransfer ke rekening bank mereka diluar negeri (capital flight). 4 2. Hancurnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan perekonomian dan perbankan nasional yang dijalankan oleh pemerintah. Hal itu terutama dipicu oleh tindakan pemerintah menutup 16 buah bank atas desakan IMF dan penanganan krisis yang tidak jelas arahnya. Sulit dipahami mengapa Bank Sentral tetap melakukan tight money policy. 5 Di tengah terus anjloknya nilai tukar rupiah, naiknya inflasi serta makin membumbung tingginya tingkat suku bunga bank. Padahal jelas dengan langkah drastis tersebut, kegiatan yang ada dalam bisnis bank, maka pihal otoritas, khususnya Bank Indonesia harus melakukan tindakan pengawasan dan pembinaan terhadap bank-bank yang ada, baik terhadap bank-bank pemerintah maupun terhadap bank swasta. Bank Indonesia merupakan bank sentral yang paling berpengaruh di dunia perbankan. Karena kedudukannya sebagai bank sentral, maka Bank Indonesia memiliki tugas dalam hal pengawasan dan pembinaan bank. Dalam hal perlindungan nasabah, Bank Indonesia telah memasukkannya dalam program kerjanya. Sejak diluncurkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada tanggal 9 Januari 2004, Bank Indonesia memformasikan 6 (enam) pilar utama sebagai sasaran yang ingin dicapai, yaitu: (i) struktur perbankan yang sehat, (ii) sistem pengaturan yang efektif, (iii) sistem pengawasan yang independen dan efektif, (iv) industri perbankan yang kuat, (v) infrastruktur yang mencukupi, dan (vi) perlindungan nasabah. Soedrajad dalam makalahnya yang berjudul “Menuju Sistem Perbankan untuk Mendukung Pembangunan”, yang menyatakan bahwa API adalah kerangka menyeluruh, meliputi arah, bentuk, dan tatanan industri perbankan Indonesia Universitas Sumatera Utara dalam jangka lima sampai sepuluh tahun kedepan, yang berlandaskan pada visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional33. Bank Indonesia sejak awal tahun 2002 mulai menyusun cetak biru sistem perbankan nasional yang salah satu aspek didalamnya tercakup upaya untuk melindungi dan memberdayakan nasabah. Upaya ini kemudian berlanjut dan dituangkan menjadi Pilar ke VI dalam API yang mencakup empat aspek, yaitu mekanisme pengaduan nasabah, pembentukan lembaga mediasi independen, transparansi informasi produk, dan edukasi nasabah. Keempat aspek tersebut dituangkan kedalam empat program API, yaitu: 1. Penyusunan standar mekanisme pengaduan nasabah, 2. Pembentukan lembaga mediasi perbankan independent, 3. Penyusunan standar transparansi informasi produk, 4. Peningkatan edukasi untuk nasabah. Keempat program di atas saling terkait satu sama lain dan secara bersamasama akan dapat meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan hak-hak nasabah. Secara ideal, implementasi program-program di atas seharusnya dimulai dengan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kegiatan usaha dan produkproduk keuangan dan perbankan. Edukasi ini selain untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai industri perbankan juga ditujukan untuk mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat melalui pengenalan perencanaan keuangan. 33 Hermansyah, op.cit., hlm. 178. Universitas Sumatera Utara Langkah selanjutnya setelah edukasi adalah dilaksanakannya transparansi mengenai karakteristik produk-produk keuangan dan perbankan34. Transparansi ini penting dilakukan agar masyarakat yang berkeinginan untuk menjadi nasabah (calon nasabah) bank mendapatkan informasi yang cukup memadai mengenai manfaat, risiko, dan biaya-biaya yang terkait dengan suatu produk tertentu sehingga keputusan untuk memanfaatkan produk tersebut sudah melalui pertimbangan yang matang dan sesuai dengan kebutuhan calon nasabah35. 34 Muliaman D. Hadad, op.cit., 2006, hlm. 3-4. 35 Ibid. Universitas Sumatera Utara BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG SENGKETA DAN CARA- CARA PENYELESAIAN SENGKETA A. Pengertian Sengketa dan Sengketa Perbankan Sengketa atau perselisihan di dalam berbagai kegiatan bisnis merupakan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi karena dapat mengakibatkan kerugian pada pihak-pihak yang bersengketa, baik mereka yang berada pada posisi yang benar maupun pada posisi yang salah. Oleh karena itu, terjadinya sengketa bisnis perlu dihindari untuk menjaga reputasi dan relasi yang baik ke depan. Walaupun demikian, sengketa kadang-kadang tidak dapat dihindari karena adanya kesalahpahaman, pelanggaran perundang-undangan, ingkar janji, kepentingan yang berlawanan, dan atau kerugian pada salah satu pihak36. Proses sengketa terjadi karena tidak adanya titik temu antara pihak-pihak yang bersengketa. Secara potensial, dua pihak yang mempunyai pendirian/pendapat yang berbeda dapat beranjak ke situasi sengketa. Secara umum, orang tidak akan mengutarakan pendapat yang mengakibatkan konflik terbuka. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan timbulnya konsekuensi yang tidak menyenangkan, dimana seseorang (pribadi atau sebagai wakil kelompoknya) harus menghadapi situasi rumit yang mengundang ketidaktentuan sehingga dapat mempengaruhi kedudukannya37. 36 Sanusi Bintang, Dahlan, Pokok-Pokok Hukum Ekonomi dan Bisnis, ( Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hm. 113. 37 Suyud Margono, ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia,2000), hlm. 34. Universitas Sumatera Utara Perselisihan dalam kegiatan bisnis atau perdagangan dapat terjadi pasca sebelum perjanjian disepakati, misalnya mengenai objek perjanjian, harga barang, dan isi perjanjian, serta pada waktu pelaksanaan perjanjian. Namun demikian timbulnya bentuk-bentuk konflik tersebut pada umumnya disebabkan oleh berbagi faktor, yaitu38: a) Konflik data ( Data conflicts ) Konflik data ( Data conflicts ) terjadi karena kekurangan informasi ( lack of information ), kesalahan informasi ( misinformation ), adanya perbedaan pandangan, adanya perbedaan interpretasi terhadap data, dan adanya perbedaan penafsiran terhadap prosedural. Data merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu persetujuan, oleh karena itu keakuratan data sangat dibutuhkan agar tercapainya kesepakatan yang baik. b) Konflik kepentingan ( Interest conflicts ) Dalam melakukan setiap kegiatan para pihak memiliki kepentingan, tanpa adanya kepentingan, tanpa adanya kepentingan para pihak tidak akan melakukan kerjasama. Timbulnya konflik kepentingan dapat disebabkan oleh beberapa hal,yaitu : 1. adanya perasaan atau tindakan yang bersaing; 2. adanya kepentingan substansi dari para pihak; 3. adanya kepentingan prosedural; 4. adanya kepentingan psikologi. 38 Joni Emerzon, Hukum Bisnis Indonesia, (Palembang: Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, 2002), hlm.503-505. Universitas Sumatera Utara Keempat hal diatas dapat menimbulkan konflik kepentingan, karena apabila dalam suatu kerjasama para pihak merasa adanya suatu kepentingan, maka dapat menimbulkan rasa persaingan yang tinggi sehingga kerjasama yang dibina tidak menghasilkan hal yang baik. c) Konflik hubungan ( Relationship conflicts ) Konflik hubungan dapat terjadi adanya emosional yang kuat, adanya kesalahan persepsi, miskin komunikasi, atau kesalahan komunikasi, dan tingkah laku negatif yang berulang-ulang. Para pihak yang mengadakan kerjasama harus dapat mengkontrol emosi melalui suatu aturan main yang disepakati, klarifikasi perbedaan persepsi dan bangun persepsi yang positif, kemudian perbaiki kualitas dan kuantitas komunikasi dan hilangkan tingkah laku negative yang dilakukan secara berulang-ulang. d) Konflik struktur ( Structural conflicts ) Konflik struktur disebabkan oleh adanya pola meruak perilaku atau interaksi, kontrol yang tidak sama, kepemilikan atau distribusi sumber daya yang tidak sama, adanya kekuasaan dan kekuatan, geografi, psikologi yang tidak sama, serta waktu yang sedikit. e) Konflik nilai ( Value conflicts ) Konflik nilai akan terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan kriteria evaluasi pendapat atau perilaku, adanya perbedaan pandangan hidup, ideology dan agama, adanya penilaian sendiri tanpa memperhatikan penilaian orang lain. Universitas Sumatera Utara Proses terjadinya sengketa adalah : 1. Pra konflik adalah keadaan yang mendasari rasa tidak puas seseorang 2. Konflik adalah keadaan di mana para pihak menyadari atau mengetahui tentang adanya perasaan tidak puas tersebut 3. Sengketa adalah keadaan dimana konflik tersebut dinyatakan di muka umum atau dengan melibatkan pihak ketiga. Permasalahan penyelesaian sengketa tetap merupakan salah satu segi yang sangat penting dalam transaksi bisnis dalam setiap waktu. Dengan beragam sengketa yang dihadapi terutama pada abad 21 dimana sengketa semakin luas dan memiliki banyak corak sengketa. Sengketa yang terjadi dapat berupa sengketa internal antara para pihak yang mengadakan kesepakatan karena salah satu pihak memutus perjanjian secara sepihak. Atau salah satu pihak lalai memenuhi kewajiban (default) dalam usaha patungan atau pinjaman modal, alih teknologi dan sebagainya. Begitu juga sengketa intern antara buruh dan majikan berkenaan dengan pengusaha. Ataupun sengketa yang bercorak eksternal yang datang dari pihak ketiga, berupa tuntutan pertanggungjawaban produksi (product liability) atau perlindungan konsumen (consumer protection) atas alasan cacat barang produksi (product defect) atau barang produksi. Bisa juga berbentuk tuntutan perbuatan melawan hukum yang diajukan sekelompok rakyat dalam bentuk gugatan secara berkelompok (Class Action) atas pencemaran air dan udara yang ditimbulkan pabrik di sekitar linkungan mereka39. 39 M. Yahya Harahap, (Studi Perbandingan Pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia-BLBI), Tesis, Medan: Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010. Paul L. Davies., Gower’s Principles of Modern Company Law, London: Sweet Maxweel, 1997. Universitas Sumatera Utara Penerbit Buku Kompas., Centurygate Mengurangi Konspirasi PengusahaPengusaha, Jakarta: Gramedia, 2010. Peter Muhammad Marzuki., Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008. Prasetiantono A. Tony, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Suatu Pelajaran Yang Sangat Mahal Bagi Otoritas Moneter dan Perbankan, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2000. Rachmadi Usman., Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003. Ronny Hanitijo Soemitro., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982. Rudhy A. Penyelesaian Utang Piutang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung: Alumni, 2001. Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: Alumni, 1986. Sawidji Widoatmodjo., Mencari Kebenaran Objektif Dampak Sistemik Bank Century, Kajian Teoritis dan Empiris, Jakarta: Alex Media Komputindo, 2010. Sentosa Sembiring., Hukum Perbankan, Bandung: Mandar Maju, 2008. Steve Susanto., Mengapa Sri Mulyani? Menyibak Tabir Bank Century, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010. Sutan Remy Sjahdeini., Perbankan Islam, Jakarta: Putaka Utama Grafiti, 1999. Valerie Selvie Sinaga, Analisa Putusan Kepailitan Pada Pengadilan Negeri Jakarta, Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Katholik Atmajaya, 2005. Verry Iskandar., Peranan Bank Indonesia Sebagai Lender of the Last Resort Dalam Pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 2002. Y. Tri Susilo, dkk., Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat, 2000. B. Perundang-Undangan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (UU Perbankan). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia junto UndangUndang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama atas UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia junto Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Universitas Sumatera Utara Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Menjadi Undang-Undang (UU BI). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/ 26 /PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/ 31 /PBI/2008 tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat Bagi Bank Umum. Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Gubernur BI, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Nomor:609/KMK.05/2005; Nomor: 7/100/KEP.GBI/2005; Nomor: 019/DK-LPS/XII/2005 yang kemudian diperbaharui dengan Keputusan Bersama Nomor: 299/KMK.010/2007; Nomor: 9/27/KEP.GBI/2007; Nomor: 015/DK-LPS/VI/2007 tanggal 29 Juni 2007. Keputusan KSSK Nomor 04/KSSK.03/2008. C. Makalah, Jurnal, dan Artikel Agunan P. Samosir., ”Analisis Kinerja Bank Mandiri Setelah Merger dan Sebagai Bank Rekapitalisasi”, Makalah, Peneliti pada PSPK, BAF, Departemen Keuangan Republik Indonesia, Kajian Ekonomi dan Keuangan, Jakarta, 2003. Agustin Andria Rosa., dan Iman Murtono Soenhadji, “Analysis of Altman Z (Zeta)Score Method to Predict Bancruptcy of Century Bank”, Undergraduate Program, Faculty of Economics, Gunadarma University, 2010. Fifi Swandi, “Pengaruh Perilaku Resiko Struktur Kepemilikan Terhadap Kebangkrutan Bank di Indonesia: Kasus Krisis Ekonomi Tahun 1997”, Makalah disampaikan dalam Simposium Nasional Akuntansi VI, 2003. Firdaus Djaelani, Siaran Pers Nomor: Press-009/LPS/VIII/2009 penanganan Bank Century sesuai UU LPS. Fred BG Tumbuan., “Komentar Atas Catatan Terhadap Putusan No: 14 K/N/2004 jo No: 18/Pailit/P.Niaga/Jkt.Pst”. Geoffrey P Miller., “An Interest-Group Theory of Central Bank Independence, Journal of Legal Studies, Vol. XXVII, Tahun 1998. Kaufman, George G., “Bank Failures, Systemic Risk, and Bank Regulation”, Cato Journal, Vol. 16, No. 1 (Spring/Summer 1996). Universitas Sumatera Utara Ridwan Khairandy., “Penyelesaian Utang Bantuan Likuiditas Likuiditas Bank Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 23, No.3, Tahun 2004. Rosa Maria Lastra., and Geoffrey P. Miller., Central Bank Independence in Ordinary and Extraordinary Times dalam Jan Kleinman (ed), Central Bank Independence, The Economic Foundations, the Constitutional Implications and Democratic Accoutability, Kluwer: International, 2001. Supraptomo Heru., ”Analisis Ekonomi Terhadap Sistem Perbankan”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 1, Tahun 1997, Jakarta. Sutan Remy Sjahdeini., “Menanggulangi Kredit Bermasalah”, Makalah Pada Kuliah Program Magister Hukum, Program Pascasarjana, Universitas Surabaya (UBAYA), Surabaya, 1995. ______”Sejarah Hukum Kepailitan di Indonesia”, dalam Jurnal Hukum Bisnis, Jakarta, 2001. Tim Peneliti Kasus Century, Berdasarkan Hasil Audit BPK tanggal 20 November 2009. Tim Asistensi Sosialisasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan Depkeu RI, Upaya Pemerintah Dalam Pencegahan dan Penanganan Krisis, Depkeu RI, Jakarta, 2010. D. Surat Kabar Kompas., Kamis, Tanggal 27 Agustus 2009. Kompas, Jumat, Tanggal 21 November 2008. Kompas., “Kasus BLBI Sampai Kapan Akan Berakhir?”, Rabu, Tanggal 13 Februari 2008. Majalah Infobank, Tanggal 14 Juli 2011. E. Internet http://mahriza.wordpress.com/2010/03/04/skandal-bank-century-mengapa- menimbulkan-banyak-keresahan-dan-kemarahan/, diakses tanggal 3 Januari 2010. http://www.lintasberita.com/Entertainment/Sains/defenisi-atau-arti-bailout-adalah, diakses tanggal 8 Mei 2011. http://analisispolitik.co.cc/2009/12/10/dua-jalur-penyelesaian-bank-century-yanglebih menjanjikan/, diakses terakhir tanggal 3 Januari 2010. http://www.bi.go.id/web/id, diakses tanggal 25 Februari 2011. http://www.bi.go.id/web/id, diakses tanggal 25 Februari 2011. Universitas Sumatera Utara http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Misi+dan+Visi/, diakses tanggal 25 Februari 2011. http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Tujuan+dan+Tugas /, diakses tanggal 25 Februari 2011. http://www.bi.go.id, diakses tanggal 25 Februari 2011. http://www.bi.go.id, diakses tanggal 25 Februari 2011. http://economy.okezone.com/read/2008/11/19/277/165533/277/bi-sempurnakanfasilitas-likuiditas-bank-umum, diakses tanggal 10 Mei 2011. http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/ekonomi/Eko11.htm, diakses tanggal 28 Februari 2011. http://www.investopedia.com/terms/b/bailout.asp, diakses tanggal 10 Mei 2011. http://abisyakir.wordpress.com/2010/03/01/kebohongan-besar-bailout-centurymenyelamatkan-ekonomi-indonesia/, diakses tanggal 10 Mei 2011. http://www.inilah.com/read/detail/62303/URLKARIKATUR, diakses tanggal 1 Maret 2011. http://bennyfernando-kasakkusuk.blogspot.com/2009/09/kronologis-kasus-bankcentury.html, diakses tanggal 2 Maret 2011. http://m.inilah.com/read/detail/63429/bank-century-potret-perbankan, diakses tanggal 2 Maret 2011. http://arsipberita.com/show/lps-4-kali-suntik-dana-ke-century-1359.html, tanggal 2 Maret 2011. diakses http://berita.liputan6.com/hukrim/201001/258734/class='vidico', diakses tanggal 3 Maret 2011. http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=faq, diakses tanggal 11 Mei 2011. http://nasional.kompas.com/read/2008/11/23/23325138/bi.kejar.pemilik.bank.century , diakses tanggal 11 Mei 2011. www.bi.go.id, diakses tanggal 3 Maret 2011. http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Kerangka+Kebijakan+Moneter/, diakses tanggal 8 Mei 2011. http://www.bi.go.id/web/id/Sistem+Pembayaran/, diakses tanggal 8 Mei 2011. http://indonesiarecovery.org/respon-pemerintah-indonesia-dan-kssk/dampaksistemik.html, diakses terakhir 3 Maret 2011. Universitas Sumatera Utara http://www.ilmuterbang.com/artikel-mainmenu-29/teori-penerbangan-mainmenu68/41-pengetahuan-umum-penerbangan/535-bail-out, diakses tanggal 8 Juni 2011. http://adit-artikel.blogspot.com/2009/10/agenda-yang-tertunda-bail-out-bank.html, diakses tanggal 8 Juni 2011. http://www.newsbanking.com/2011/04/dari-mana-datangnya-dampak-sistemik.html, diakses tanggal 24 Juli 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_gagal, diakses tanggal 24 Juli 2011. http://www.fdic.gov/deposit/deposits/insured/, diakses tanggal 24 Juli 2011. http://www.cato.org/pubs/journal/cj16n1-2.html, diakses tanggal 24 Juli 2011. www.lps.go.id, diakses tanggal 28 April 2011. http://xa.yimg.com/kq/groups/26305099/1339576763/name/LaporanICW+tentang+C entury.pdf, diakses tanggal 28 April 2011. Berdasarkan Hasil Audit BPK tanggal 20 November 2009, hal. 4. Universitas Sumatera Utara
Analisis Yuridis Peran Bank Indonesia (BI) Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal Dampak yang Ditimbulkan Oleh Bank Gagal Bagi Dunia Perbankan dan Perekonomian Nasional Faktor-Faktor yang Dijadikan Tolak Ukur Bank Gagal Jenis-jenis Bank dan Kegiatan Usaha Bank Kepemilikan saham PT Bank Century Tbk Kepengurusan Bank Century Kasus Bank Century Kriteria Bank Sehat TINJAUAN UMUM TENTANG BANK Manfaat dan Tujuan Penyelamatan Bank Gagal contoh kasus Bank Century Metode Penelitan Sistematika Penulisan Pengertian Bank TINJAUAN UMUM TENTANG BANK Perumusan Masalah Keaslian Penulisan Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Bank Profil Bank Century Tindakan Bank Indonesia Dalam Upaya Penyelamatan Bank Century Sebagai Bank Gagal Sejarah Bank Indonesia BI Tindakan Bank Indonesia Terhadap Bank Century Tugas, Fungsi dan Wewenang Bank Indonesia Wewenang Bank Indonesia Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Yuridis Peran Bank Indonesia (BI) Dalam Upaya Penyelamatan Bank Gagal

Gratis