Konsep Pengelolaan Kualitas Air Sungai Bedagai Berdasarkan Indikator Biologis Makroinvertebrata Air

 2  37  99  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

KONSEP PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI BEDAGAI BERDASARKAN INDIKATOR BIOLOGIS

MAKROINVERTEBRATA AIR T E S I SDiajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Oleh RADIUS TAMBUN 097004001/PSL SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Judul Tesis : KONSEP PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI BEDAGAI BERDASARKAN

INDIKATOR BIOLOGIS MAKRO-

  Nilai kepadatan tertinggi terdapat pada genus Quoyia decollate sebesar 2 105,00 individu/900 cm pada stasiun 4 dan nilai kepadatan populasi terendah genus 2 Orectochilus sp dan Hiptogenia sp sebesar 0.11 individu/900 cm . Indeks keanekaragaman makroinvertebrata tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 2,293 dan terendah pada stasiun 5 sebesar 0,730.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis iniyang berjudul “Konsep Pengelolaan Kualitas Air Sungai Bedagai Berdasarkan Indikator Biologis Makroinvertebrata Air” dalam waktu yang telah ditetapkan. Dan Bapak/Ibu dan rekan-rekan pegawai di Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Serdang Bedagai yang telah memberikandukungan moril dan doanya.

RIWAYAT HIDUP

  Spesies dan Frekuensi Kehadiran (%) dan KonstansiMakroinvertebrata yang Didapatkan pada Masing-masing StasiunPenelitian di Sepanjang Aliran Sungai Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai……………………………………………………………... Nilai kepadatan tertinggi terdapat pada genus Quoyia decollate sebesar 2 105,00 individu/900 cm pada stasiun 4 dan nilai kepadatan populasi terendah genus 2 Orectochilus sp dan Hiptogenia sp sebesar 0.11 individu/900 cm .

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Sungai Bedagai merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh PemerintahKabupaten Serdang Bedagai, mengalir dari hulu di Kabupaten Simalungun dan terus 2 mengalir ke bagian hilir sampai ke Bedagai hilir dengan luas lebih kurang 945,95 km(KLH Sergai, 2009). Perumusan Masalah Bila dilihat dari berbagai macam pemanfaatan dan peruntukan sungai Bedagai baik yang dilakukan oleh masyarakat sekitar sungai maupun perusahaan yang adadi bantaran sungai maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

1.4. Tujuan Penelitian

  Mengetahui keanekaragaman makroinvertebrata air, dan korelasinya dengan sifat fisika kimia air pada masing-masing stasiun penelitian. Mengetahui jenis makroinvertebrata air yang bersifat karakteristik pada masing-masing stasiun penelitian.

1.5. Manfaat Penelitian

  Sebagai bahan informasi tentang sifat fisika-kimia dan biologi perairaan, khususnya keanekaragaman jenis makroinvertebrata air yang dapat digunakanuntuk memantau kualitas air sungai Bedagai secara biologis. Sebagai bahan pertimbangan bagi stakeholders dalam memanfaatkan potensi perairan sungai Bedagai di masa yang akan datang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keadaan Umum Sungai Bedagai

  Sungai Bedagai merupakan salah satu induk sungai pada Satuan WilayahSungai (SWS) yang terletak di Kabupaten Serdang Bedagai melewati Kecamatan SeiRampah dan Tanjung Beringin. Kabupaten Serdang Bedagai memiliki iklim tropis, dengan rata-rata kelembaban udara per bulan sekitar 79%, curah hujan berkisar antara 120 sampai 331mm perbulan dengan periode tertinggi pada bulan September, hari hujan per bulan berkisar 8 – 20 hari dengan periode hari hujan yang besar pada bulan Mei – Juni.

18.00 Rata-rata (mm)

Januari 93 67 80 83 53 7 Februari 95 61 72 82 15 5 Maret 94 70 81 85 121 23 April 93 61 79 82 153 13 Mei 93 64 79 82 121 15 Juni 93 66 79 83 62 11 Juli 94 69 82 85 219 19 Agustus 94 69 81 85 257 17 September 94 69 84 85 247 23 Oktober 94 72 84 86 438 20 November 94 73 86 87 233 23 Desember 94 74 85 87 194 19 Rata-rata 94 68 81 84 84 16 Pengamatan pada stasiun terdekat: stasiun PTPN 3 Kebun Rambutan-Kecamatan Tebing TinggiSumber: BPS Kabupaten Serdang Bedagai (2011)

2.2. Ekosistem Sungai

  Produsen, yaitu tumbuhan air yang berakar maupun tumbuhan terapung, besar yang umumnya tumbuh pada air yang dangkal dan fitoplankton (tumbuhanterapung kecil) yang terbesar di seluruh perairan sedalam lapisan yang tembus oleh intensitas cahaya matahari. Pada umumnya perbedaan daerah di sepanjang aliran sungai ditandai oleh adanya perbedaan komunitas biota yang hidup di satu daerah dengan daerah laindalam satu aliran sungai yang sama, yang disebut dengan zonasi longitudinal sungai.

2.3. Pencemaran Sungai

  Permasalahan lingkungansangat mendasar berkaitan dengan kepadatan penduduk maka kebutuhan akan pangan, pemukiman dan kebutuhan dasar lainnya yang akan meningkatkan limbahdomestik dan limbah industri yang dihasilkan, sehingga terjadi pencemaran yang mengakibatkan perubahan besar dalam lingkungan hidup. Pada umumnya ekosistem sungai dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan misalnya untuk perikanan budidaya ikan (keramba), industri sebagaipenunjang proses produksi dan tempat akhir pembuangan limbah, untuk pertanian digunakan untuk irigasi, untuk rekreasi (pemandian) dan untuk kebutuhan domestikmisalnya kebutuhan air minum dan kebutuhan sehari-hari (Loebis et al, 1993).

2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Makroinvertebrata Air

  Perairan yang relatif tenangdan banyak ditumbuhi oleh tumbuhan air biasanya banyak ditemukan dari kelompokMolusca, sedangkan yang memiliki arus yang kuat atau jeram makroinvertebrata air Derajat keasaman (pH) dapat menjadi faktor pembatas bagi kehidupan organisme akuatik dalam ekosistem perairan, sehingga pH air pada suatu perairandapat dijadikan indikator dalam menentukan distribusi hewan akuatik. Semakin banyak senyawa organik yang terdapat dalam air tersebut, maka semakin banyak oksigen terlarut yang dibutuhkan olehmikroorganisme, sehingga defisit oksigen akan semakin besar, keadaan ini menyebabkan berkurangnya kadar oksigen di perairan tersebut sehingga menjadifaktor pembatas bagi fauna air, terutama makroinvertebrata air (Hutter, 1990).

2.5. Organisme Air Tawar dan Indeks Pencemaran

  Makroinvertebrata air adalah hewan tingkat rendah yang tidak memiliki tulang belakang (invertebrata) yang hidup di daerah perairan yang mempunyai ukuran tubuhpada fase dewasa paling kecil 3 mm, yang meliputi hampir semua filum Athropoda,Molusca, Annelida dan lain sebagainya. Limbah organik yang sangat pekat (oksigen terlarut pada taraf nol), fauna makroinvertebrata yang ada hanya golongan cacing dari genus Tubifex dan Limnodrillus.

2.6. Konsepsi Pengelolaan Sungai

  Karena itu upaya untuk mengelola air sungaisecara baik dengan mensinergikan kegiatan-kegiatan pembangunan yang ada di sekitar sungai sangat diperlukan bukan hanya untuk kepentingan menjagakemampuan produksi atau ekonomi semata, tetapi juga untuk menghindarkan dari bencana alam yang dapat merugikan seperti banjir, longsor, kekeringan dan lain-lain(Bappenas, 2011). 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air, menyebutkan Daerah Pengaliran Sungai adalah suatu kesatuan wilayah tata air yangterbentuk secara alamiah di mana air meresap dan/atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan, sedangkan wilayah sungai adalah kesatuanwilayah tata pengairan.

BAB II I METODA PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di sepanjang aliran sungai Bedagai yang dibagi atas lima stasiun penelitian dari daerah hulu sampai hilir, yaitu stasiun 1 (Pergulaan),stasiun 2 (Belidaan), stasiun 3 (Rampah), stasiun 4 (Pelintahan), dan stasiun 5(Nagur). Stasiun ini terletak di Dusun I Desa Senangkong Kecamatan Sei Rampah, yang secara ’ ” ’ ” geografis terletak pada 0329 04,0 LU - 099 07 50,2 BT daerah ini merupakan tempat pemukiman penduduk, perkebunan sawit dan pertambakan ikan.

3.2. Bahan dan Alat

3.3. Pengambilan Sampel

  Pada daerah titik sampel di masing-masing stasiun penelitian dilakukan pengambilan sampel makroinvertebrata air sebanyak tiga ulangan denganmenggunakan surber net dan Van Veen Grab yang ditempatkan di dasar sungai dengan arah melawan arus. Selanjutnya makroinvertebrata yang terdapat dan terlihat di dalamnya disortir dan dikoleksi dengan tangan (metoda hand sorting) pinset dankuas, kemudian dimasukkan ke dalam botol sampel atau kantung plastik yang telah berisi larutan alkohol 70% sebagai pembunuh dan pengawet.

3.4. Pengukuran Sifat Fisik-Kimia Perairan

  /det - Stopwatch, meteran Pengukuran KeepingSecchi cm 7 Penetrasi Cahaya Gravimetri Oven danTanur % 6 Kandungan OrganikSubstrat C Termometrik Termometer o 5 Suhu Pengukuran sifat fisik kimia perairan pada masing-masing stasiun penelitian dilakukan secara insitu dan eksitu. Pengukuran Parameter Kualitas Air Sungai Bedagai No Parameter Satuan Metode Analisis Alat C selama 5 hari serta dilanjutkan dengan pengukuran DO akhir serta Kandungan substrat.

3.5. Analisis Data

  Jenis makroinvertebrata air dan jumlah individu masing-masing jenis yang didapatkan dihitung: kepadatan populasi, kepadatan relative, frekuensi kehadiranmasing-masing jenis, indeks diversitas (keanekaragaman) Shannon-Wiener, indek diversitas maksimum dan indeks equatabilitas (keseragaman), serta indeks similarita(kesamaan) Sorensen (Brower, 1990) dengan rumus sebagai berikut: 1. Frekuensi Kehadiran (FK)Jumlah unit sampel di mana suatu jenis didapatkan FK = x 100 % Jumlah total unit sampel yang didapatkan 4.

2 H’ = - ∑ pi log

  I=I Di mana: pi = ni/N (proporsi jenis ke I dalam komunitas)ni = jumlah individu dalama takson ke i N = jumlah total seluruh individu 5. Indeks equitabilitas (E)H E =Hmax Di mana : H = indeks diversitas Shannon-WinenerHmax = indeks diversitas maksimum, yaitu logaritma 2 dari jumlah jenis 7.

9. Analisis Korelasi

Analisis korelasi antara faktor-faktor fisik-kimia dengan keanekaragaman makroinvertebrata air dilakukan dengan metoda analisa korelasi Pearsondengan program komputer SPSS Ver.11.50.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Spesies Makroinvertebrata Air yang Ditemukan

  Pada Tabel 4 terlihat bahwa makroinvertebrata air yang didapatkan adalah dari filum Arthropoda yang terdiri dari dua klas (klas Insekta dan Crustacea), filumAnnelida (klas Chaetopoda) dan filum Mollusca (klas Bivalvia dan Gastropoda). Terdapatnya ketujuh spesies tersebut pada stasiun 1 mungkin disebabkan karena hewan tersebut memiliki tingkat toleransi yang sempit, sehingga hanya dapathidup dan berkembang pada kondisi perairan yang masih bersih, substrat berbatu dan berpasir, serta oksigen terlarut yang tinggi (7,3), seperti terlihat pada Tabel 9.

4.2. Kepadatan Populasi Makroinvertebrata Air

  Kepadatan populasi makroinvertebrata air yang termasuk rendah didapatkan pada stasiun 3 dan 2, masing-masing dengan nilai kepadatan makroinvertebrata 53,51 dan 2 48,05 individu/900 cm , dengan kepadatan populasi tertinggi ditemukan dari spesies 2 Quoyia decollate masing-masing 37,44 dan 21,88 individu/900 cm . Spesies Quoyia decollate ditemukan pada stasiun (2, 3 dan 4) dengan nilai kepadatan relatif termasuk tinggi, yaitu pada kondisi perairan yang airnya sedikitkeruh hingga keruh, dasar sungai pasir berlumpur dan pasir berlumpur yang mengandung sampah organik, pH 5,5-7,8, oksigen terlarut 3,6-7,1 mg/l dan BOD 5 25,9-80,6 mg/l.

7. Spesies dan Frekuensi Kehadiran (%) dan Konstansi Makroinvertebrata yang Didapatkan pada Masing-masing Stasiun Penelitian di Sepanjang Aliran Sungai Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai Spesies Stasiun

  Dari tiga puluh empat spesies makroinvertebrata air yang ditemukan pada stasiun-stasiun penelitian di sepanjang aliran sungai Bedagai, diantaranya ada spesiesyang dapat digolongkan sebagai spesies yang bersifat karakteristik, yaitu spesies yang memiliki nilai konstansi atau frekuensi kehadiran > 50%, diantaranya adalah Thiara delcollate dan Bellamya javanica pada stasiun 4, Tubifex sp, Penaeus sp, Quoyia delcollate dan Bellamya javanica pada stasiun 5. Spesies Makroinvertebrata Air yang Memiliki Nilai Kepadatan Relatif > 10% dan Frekuensi Kehadiran > 25% (+) yang Didapatkan padaMasing-masing Stasiun Penelitian di Sepanjang Aliran Sungai Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai Stasiun No Spesies 1 2 3 4 5 1 Cordulegaster boltenii - - + - - 2 Tubifex sp 3 Sphaerium sp 4 5 Quoyia decollate decollate yang cukup berbeda dengan stasiun 3-4 dan berbeda sekali dengan stasiun 5.

4.5. Kondisi Fisik dan Sifat Fisik – Kimia Air Sungai Bedagai

  Kondisi fisik dan sifat fisik – kimia air sungai Bedagai dapat dilihat pada Tabel 9. Kondisi Fisik Sungai dan Sifat Fisik-Kimia Air Sungai pada Masing- masing Stasiun Penelitian di Sepanjang Aliran Sungai BedagaiKabupaten Serdang Bedagai Stasiun Parameter Fisik-Kimia 1 2 3 4 5 1.

5 Keterangan: 1 = lokasi Dusun V Desa Pergulaan Kecamatan Sei Rampah

  Tanjung Beringin BP = Berbatu dan Pasir, PL = Pasir berlumpur, KK = KeruhKecoklatan KH = Keruh keHitaman, PLS = Pasir berlumpur dan sampah Berdasarkan Tabel 9 bahwa hasil pengamatan menunjukkan temperatur air pada kelima stasiun penelitian berkisar 26-28C, dengan temperatur tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 5 (lokasi pemukiman, perkebunan, pertanian, industri danpenambatan perahu nelayan) sebesar 28 C dan terendah pada stasiun 1 sebesar 26 C. Tingginya kadarorganik pada stasiun V karena kecepatan arus berkurang dan endapan substrat akan menumpuk hal ini disebab karena pada stasiun V terletak pada hilir sungai yangsecara geografis daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan daerah tergenang serta tempat pembuangan akhir sampah-sampah dan limbah yangdihasilkan dari aktivitas kegiatan mulai dari hulu sungai.

4.9. Nilai Analisis Korelasi Pearson Metode Komputerisasi SPSS Ver. 11.50

Nilai uji analisis korelasi keanekaragaman makroinvertebrata air dengan faktor fisik - kimia perairan yang didapatkan pada setiap stasiun penelitian dapatdilihat pada Tabel 12 berikut ini: Tabel 12. Nilai Analisis Korelasi Keanekaragaman Makroinvertebrata Air dengan Faktor Fisik Kimia PerairanTemperatur Penetrasio

I. Cahaya pH DO BOD

  Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson pada Tabel 12, dapat dilihat bahwa faktor fisik - kimia yang berkorelasi searah adalah suhu, penetrasi cahaya, pH,Kandungan organik dan Kecepatan arus, sedangkan yang berkorelasi berlawanan adalah intensitas cahaya, DO dan BOD . Tingkat hubungan yang rendah adalahTemperatur dan pH, dan hubungan yang sedang terdiri dari penetrasi cahaya, sedangkan tingkat hubungan yang kuat adalah kandungan organik.

4.10. Pengelolaan Sungai Bedagai

  Pengelolaanyang dilakukan akibat kegiatan pertanian dan perkebunan ini adalah dengan menggunakan pupuk dan pestisida yang sesuai dengan anjuran bahkan paling baikadalah menggunakan pupuk organik berupa kompos atau pupuk yang ramah lingkungan. Kegiatan penambatan perahu dapat mengakibatkan pencemaran sungai Bedagai disebabkan oleh tumpahan minyak yang berasal dari perahu dan sampah organikdan argonak dari para nelayan yang dibuang langsung ke sungai.

4.11. Konsep Pengelolaan Sungai Bedagai

  Melakukan relokasi pemukiman bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai Bedagai sesuai dengan tata ruang dan kebijakan yang telahditetapkan oleh pemerintah. Upaya Lanjutan dalam Pemulihan Kualitas Air Sungai Bedagai Untuk memulihkan kualitas air sungai Bedagai tidaklah cukup hanya dengan meminimalisasi polutan yang masuk ke sungai melalui tindakan manusia tetapi jugamelalui peningkatan kemampuan sungai untuk mempertahankan dan memperbaharui dirinya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Spesies yang dapat digolongkan sebagai spesies yang bersifat karakteristik, yaitu spesies yang memiliki nilai konstansi atau frekuensi kehadiran > 50%,diantaranya adalah Thiara sp pada stasiun 1, Cordulegaster boltenii, Sphaerium sp dan Quoyia delcollate pada stasiun 2. Dalam rangka memulihkan dan mendayagunakan sungai, maka sangat perlu dibuat konsep pengelolaan sungai secara terpadu yang mengandungpengertian bahwa unsur-unsur atau aspek-aspek yang menyangkut pengelolaan sungai secara optimal sehingga terjadi sinergi positif yang akanmeningkatkan pengelolaan sungai dan dapat menekan dampak yang tidak merugikan pengelolaan sungai secara keseluruhan.

5.2 Saran

  Para peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian yang lebih terinci tentang spesies makroinvertebrata air yang dapat digunakan sebagai indikatorbiologis. Pihak pemerintah daerah (PEMDA Tk. II) menganjurkan masyarakat dan pihak perusahaan untuk tidak membuang limbah dalam bentuk apapun kebadan air sepanjang aliran sungai Bedagai yang diikuti dengan sanksi yang tegas melalui peraturan perundang-undangan.

DAFTAR PUSTAKA

  Haliplus sp 5 - - - - 4 2 - 3 - 10. Persiapan PengujianUntuk melakukan pengujian kita menyiapkan 4 botol Winkler ukuran 100 ml yang terdiri dari 2 botol untuk DO awal dan duplo, 2 botol untuk DO akhir danduplo yang dilengkapi dengan water seal yang berfungsi menahan masuknya udara kedalam botol winkler.

Konsep Pengelolaan Kualitas Air Sungai Bedagai Berdasarkan Indikator Biologis Makroinvertebrata Air 18.00 Ekosistem Sungai TINJAUAN PUSTAKA Bahan dan Alat Pengambilan Sampel Frekuensi Kehadiran FK atau Konstansi Spesies Makroinvertebrata Indeks Diversitas Makroinvertebrata Air pada Stasiun-stasiun Penelitian Indeks Similaritas Kesamaan Makroinvertebrata Air pada Stasiun- Kandungan Organik Substrat Nilai Analisis Korelasi Pearson Metode Komputerisasi SPSS Ver. 11.50 Keadaan Umum Sungai Bedagai Kepadatan Populasi Makroinvertebrata Air Kepadatan Relatif KR Spesies Makroinvertebrata pada Masing-masing Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi Fisik dan Sifat Fisik – Kimia Air Sungai Bedagai Konsep Pengelolaan Sungai Bedagai Konsepsi Pengelolaan Sungai TINJAUAN PUSTAKA Organisme Air Tawar dan Indeks Pencemaran Pencemaran Sungai Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Makroinvertebrata Air Pengelolaan Sungai Bedagai HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran Sifat Fisik-Kimia Perairan Analisis Data Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Tujuan Penelitian Rekomendasi Pemulihan Kualitas Air Sungai Bedagai Upaya Lanjutan dalam Pemulihan Kualitas Air Sungai Bedagai Spesies Makroinvertebrata Air yang Ditemukan Waktu dan Tempat Penelitian
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Konsep Pengelolaan Kualitas Air Sungai Bedaga..

Gratis

Feedback