Feedback

Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang Yang Bergambar Binatang (Horimono/Irezumi)

Informasi dokumen
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG TERKANDUNG DALAM GAMBAR TATO TRADISIONAL JEPANG BERGAMBAR BINATANG (HORIMONO/IREZUMI) DOBUTSU NO E NO ARU NAKA NO NIHON NO DENTOTEKINA IREZUMI GAZO NI FUKUMARETE IRU SHOUCHOU TEKINA IMI NO BUNSEKI SKRIPSI Skripsi Ini Ditujukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang Disusun Oleh : ASTIRAWATI NOERMATIAS NIM : 060708007 DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG TERKANDUNG DALAM GAMBAR TATO TRADISIONAL JEPANG YANG BERGAMBAR BINATANG (HORIMONO/IREZUMI) DOBUTSU NO E NO ARU NAKA NO NIHON NO DENTOTEKINA IREZUMI GAZO NI FUKUMARETE IRU SHOUCHOU TEKINA IMI NO BUNSEKI SKRIPSI Skripsi Ini Ditujukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang Dan Telah Disetujui Oleh : Pembimbing I Pembimbing II Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum Prof.Drs. Hamzon Situmorang, M.S.Ph.D. NIP : 19600919 198803 1 001 NIP : 19580704 1984 12 1 001 DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Disetujui Oleh Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan Departemen S-1 Sastra Jepang Ketua, Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum NIP : 19600919 198803 1 001 Medan, Maret 2011 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . . iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 1.2 Perumusan Masalah . 5 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan 6 1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori . 7 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 10 1.6 Metode Penelitian 11 BAB II TINJAUAN UMUM MAKNA SIMBOLIK PADA TATO (HORIMONO/IREZUMI) DALAM MASYARAKAT JEPANG 2.1 Pengertian Tato . 14 2.2 Sejarah Tato . 17 2.3 Konsep Makna Simbolik . 21 Universitas Sumatera Utara 2.4 Pandangan Masyarakat Jepang Tentang Horimono/Irezumi. 24 BAB III ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG TERKANDUNG DALAM GAMBAR TATO TRADISIONAL JEPANG BERGAMBAR BINATANG (HORIMONO/ IREZUMI) 3.1 Naga ( Dragon ) . 29 3.2 Singa Anjing ( Lion Dog ). . 31 3.3 Kura-Kura ( Turtle ) . 33 3.4 Harimau ( Tiger ) . 35 3.5 Ikan Koi ( Koi Fish ) . 37 3.6 Ular ( Snake ) . 39 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan . 41 4.2 Saran . 44 Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA . 45 ABSTRAK LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Terlebih dahulu penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Cukup banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan skripsi ini. Karena itulah usaha diiringi doa merupakan dua hal yang memampukan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Namun kesulitankesulitan yang dihadapi diharapkan juga bisa dijadikan motivasi. Selain itu,bantuan dari berbagai pihak sangat mendukung dalam penulisan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “ Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang (Horimono/Irezumi)” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sastra pada jurusan Sastra Jepang Fakultas sastra Universitas Sumatera Utara Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: 1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan. 2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum, selaku Ketua Program Studi S-1 Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan dan juga selaku Dosen Pembimbing I. 3. Bapak Prof. Drs. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II, yang banyak memberikan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis dan memberikan pengarahan dengan sabar dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. Universitas Sumatera Utara 4. Ibu Adriana Hasibuan, S.S, M. Hum selaku Dosen Penasehat Akademik. 5. Bapak/ Ibu Dosen Program Studi Sastra Jepang S-1 Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan pendidikan kepada penulis. 6. Kepada kedua Orang Tua tercinta penulis, Bapak Asra Noermatias dan Ibunda Upik, yang selalu mendoakan dan mendukung agar penulis selalu sehat dan semangat, serta telah banyak memberikan duku ngan moral dan material yang tidak terhingga sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dan menyelesaikan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana seperti yang telah dicita-citakan. Dan tanpa kedua Orang Tua penulis, penulis tidak akan mampu untuk menjadi seperti sekarang ini. 7. Kepada adikku Alfian Noermatias dan sepupu tersayang Abrar Muchlis yang telah mendukung dan memberi semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Kepada teman-teman penulis di Departemen Sastra Jepang Stambuk 2006, Andar Beny Prayogi, Andi Pranata Silalahi, Christyani Siregar, Elisabeth Fransisca Sinaga, Friska Mawarni Sagala, Fredy Walis Sembiring, Febri Antoni, Frida Winata Togatorop, Ferdian Pardede, Farah Adibah, Fadiah Sofiani, Harry Eka Pratama, Hartati Sinambela, Jessi Mega, Simanjuntak, Zulvianita, Irwan , Okky Khaeriani, Sari Zulia Peunawa, Ivana Widya Sari, Musfahayati Amelia, Suci, Wulandari Fikri, Surya Ningrum, Octora Hanna Grace, Rizal, Novaria Tampubolon, Randy Simanjuntak, Teddy sumbari, Wilma Prima Yuniza, Hyantes T Pasaribu, Siska Margaret Purba, Victor Julianto. Universitas Sumatera Utara 9. Kepada senior dan junior di Departemen Sastra Jepang yang mendukung penyelesaian skripsi ini. 10. Kepada teman-teman IMIB ( Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol ) yang telah memberi dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada Ridha Rahmatan Hafiz, Badai Adra Sikumbang, Edo Febrian, Jefri Rahmadhinata, Suci Handayani, Alvia Rahmi. Penulis sadar bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penulis sanagat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki kesalahan pada masa mendatang. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan khususnya pada pembaca. Medan, 2011 Penulis \ Astirawati Noermatias Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Kesenian terbagi dalam: seni musik, seni tari, seni pahat/ukir, seni lukis, seni rupa dan lain-lain. Tato merupakan sebuah seni, dan digolongkan kedalam seni lukis. Tato berasal dari kata “tatau” dalam bahasa Tahiti yang konon artinya tanda atau menandakan sesuatu. Tato merupakan adaptasi dari bahasa Inggris, yaitu tattoo yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah “rajah”. Dalam bahasa Jepang, tato dikenal dengan istilah horimono. “hor i” yang berarti ukiran atau pahatan. Sedangkan “mono” adalah barang atau benda. Jadi horimono adalah benda yang berukir atau berpahat. Istilah tato dalam Bahasa Jepang sering juga disebut “irezumi ” yang secara harfiah berarti "memasukkan tinta". Sejak zaman dahulu kala, tato sudah digunakan sebagai salah satu kegiatan dalam ritual keagamaan bagi suku-suku bangsa kuno yang ada di dunia. Diantaranya, suku Maori, Inca, Ainu, Polynesians, Nuer, Indian, Mesir, Yunani kuno, Romawi, dll. Di Cina dan Jepang, tato pada zaman dahulu digunakan sebagai hukuman bagi para pelaku kejahatan. Cara pembuatannya yang sangat menyakitkan sehingga diharapkan para pelaku kejahatan menjadi jera dan tidak mengulanginya lagi. Selain untuk ritual keagamaan dan hukuman bagi para pelaku kejahatan, tato juga berfungsi sebagai penanda anggota suatu perkumpulan masyarakat Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa orang-orang yang memakai tato merupakan seorang penjahat, narapidana, atau preman. Tetapi tidak sedikit pula masyarakat yang memandang tato dari nilai seninya. Gambar-gambar yang Universitas Sumatera Utara digunakan untuk tato mempunyai nilai seni yang tinggi khususnya gambargambar yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dalam proses pembuatannya. Karena alasan seni tersebut banyak masyarakat umum yang memakai tato agar tubuh mereka terlihat lebih indah. Keindahan pada tato ini memiliki makna khusus, disamping interaksi masing-masing objek itu sendiri. Perpaduan beberapa objek gambar pada tato juga menghasilkan interaksi makna simbolik tersendiri. Diantara gambar-gambar yang banyak dijadikan objek tato tersebut, masing-masing memiliki makna simbolik yang terkandung didalamnya. Interaksi makna simbolik adalah segala hal yang saling berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau simbol, baik benda mati maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik sebagai pesan verbal maupun non verbal, dan tujuan akhirnya adalah memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu. Makna simbolik yang terkandung dalam satu tato dengan tato yang lain memiliki makna simbolik tertentu. Gambar tato biasanya berupa benda-benda hidup, benda mati, dan simbol-simbol yang bersifat abstrak lainnya. Benda-benda hidup tersebut diantaranya adalah binatang. Binatang yang banyak dijadikan sebagai objek dalam pembuatan tato diantaranya: naga, singa anjing, kura-kura, harimau, ikan koi, dan ular. Makna yang terkandung dalam gambar binatang tersebut antara lain : Naga ( Dragon ) melambangkan pertahanan. Di Amerika, naga melambangkan kekuatan. Sedangkan di Jepang, naga Universitas Sumatera Utara melambangkan keinginan (cita-cita) dan kepintaran. Menurut tradisi di Jepang, naga menjabat sebagai dewa. Singa Anjing ( Lion Dog ) melambangkan pengawalan / pelindung serta melambangkan keganasan. Kura-kura ( Turtle ) melambangkan umur panjang dalam banyak kebudayaan di dunia, termasuk di negara Jepang sendiri. Selain melambangkan umur panjang, kura-kura juga melambangkan kebahagiaan. Harimau ( Tiger ) dapat melambangkan rasa tidak terkalahkan atau kekuasaan. Nafsu atau keinginan, keganasan, sensualitas, kecepatan dan keindahan adalah beberapa hal yang dikaitkan dengan harimau di Jepang. Hewan ini juga dikenal karena kekejaman dan kemurkaannya sehingga merupakan simbol yang sangat populer digunakan di banyak kebudayaan di Asia. Karena alasan diataslah simbol ini sangat populer dalam seni tato di Jepang. Ikan Koi (Koi Fish) melambangkan keberanian, biasanya digabungkan dengan unsur air sehingga menjadi simbol kemampuan untuk mencapai tujuan yang tinggi, dan mengatasi kesulitan hidup. Ular ( Snake ) melambangkan daya baik, alam gaib, kesuburan, regenerasi dan kebijaksanaan. Makna simbolik ular lainnya dapat Universitas Sumatera Utara berupa: siklus, kebangkitan, kesabaran, kesuburan, keabadian, keseimbangan, licik, intuisi, kesadaran, penyembuhan, intelek, perlindung, peremajaan, dan transformasi. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jepang sebagai negara besar dan maju memiliki kebudayaan yang kaya akan eksotisme dan mengundang banyak orang mempelajarinya . Sebagai salah satu negara kuat, baik dalam hal identitas dan kekuatan ekonomi yang mampu menyaingi keadidayaan Amerika Serikat dan mayoritas negara maju di benua Eropa, pengaruh Jepang tidak hanya dalam ruang lingkup ekonomi semata. Melalui jalur perekonomian, Jepang secara tidak langsung mulai menancapkan pengaruh-pengaruh kebudayaannya dalam komunitas masyarakat dunia. Hal ini membuat kebudayaan Jepang mulai diterima oleh masyarakat dengan kebudayaan berbeda dan menjadi salah satu kebudayaan yang universal. Menurut C.K Luckhon dalam Koentjaraningrat (1976:203-204), unsurunsur kebudayaan universal dalam kebudayaan di dunia ada tujuh buah unsur universal, yaitu : (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) mata pencaharian atau ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, (7) kesenian. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Yang termasuk dalam kesenian adalah didalamnya seni musik, seni tari, seni pahat/ukir, seni lukis, seni rupa dan lain-lain. Tato merupakan sebuah seni, dalam hal ini dapat digolongkan kedalam seni lukis. Secara spesifik, tato merupakan sebuah seni rajah tubuh yang berkembang di berbagai negara di dunia tidak terkecuali Jepang. Tato dianggap sebagai salah satu bentuk kesenian karena proses menato merupakan sebuah proses kreativitas yang Universitas Sumatera Utara mencakup proses mendesain bentuk, aplikasi desain dalam media berupa tubuh manusia, hingga pewarnaan yang memerlukan tidak sekedar teknik, tapi juga sense of art dan ketelitian. Seni tato merupakan suatu hasil kebudayaan yang berupa gambar yang didalamnya terdapat makna. Makna pada gambar hanya dapat dipelajari melalui makna semiotik, dimana makna semiotik menurut Pierce (1992: 1), mengatakan: tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Beberapa kelompok masyarakat di dunia masih memandang tato sebagai hal yang negatif. Dalam artian bahwa orang yang memiliki tato dianggap sebagai orang yang jahat, preman atau merupakan perilaku kriminal dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, di Indonesia sendiri masih banyak kelompok masyarakat yang menilai orang-orang yang bertato sebagai orang jahat atau sering disebut dengan preman. Walaupun faktanya pada beberapa suku di Indonesia, tato merupakan bagian dari prosesi adat dan ritus keagamaan. Contohnya pada masyarakat suku Mentawai, Dayak, dan Bali. Sementara itu di Jepang, orang yang memiliki tato identik dengan yakuza1. Yakuza secara umum diidentikkan dengan organisasi yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman sehingga ditakuti dalam masyarakat. Yakuza memiliki latar belakang yang panjang dan cukup unik sehingga membuatnya berbeda dari organisasi-organisasi kriminal lainnya di negara-negara lain di dunia. ___________ 1 Yakuza merupakan suatu bentuk organisasi kriminal yang terbentuk pertama kali pada zaman Edo, tepatnya pada pemerintahan Shogun Tokugawa dan sampai sekarang organisasi ini masih tetap eksis dalam masyarakat Jepang serta merupakan organisasi terbesar di Jepang. Universitas Sumatera Utara Di Jepang sendiri tato pada awalnya merupakan sebuah bagian dari ritus keagamaan pada masyarakat asli Jepang yaitu bangsa Ainu di Zaman Jomon. Pada perkembangan selanjutnya, tato mulai mengalami pergeseran makna karena dijadikannya tato sebagai bentuk hukuman yang digunakan untuk mengasingkan pelanggar hukum dari masyarakat, yang biasanya terdapat di sekitar lengan untuk setiap kejahatan yang dilakukannya. Tato pun dapat memiliki makna lain selain sebagai hukuman, diantaranya adalah sebagai penanda anggota suatu perkumpulan masyarakat. Jika setiap orang dalam satu kelompok masyarakat melakukan suatu kegiatan yang sama maka setiap orang di dalam kelompok itu juga harus melakukan hal yang sama. Hal tersebut juga berlaku dalam organisasi yakuza1 yang diidentikkan dengan tato. Oleh karena itu semua anggota yakuza harus ditato. Pada saat ini tato digunakan sebagai simbol atau lambang dari masing-masing organisasi yakuza tempat dia bergabung. Dalam bahasa Jepang, tato dikenal dengan istilah horimono ( 彫り物 ) Secara harfiah kata horimono berasal dari kata “hori” yang berarti ukiran atau pahatan. Sedangkan “mono” adalah barang atau benda. Jadi horimono adalah benda yang berukir atau berpahat. Namun kata tersebut biasanya digunakan untuk kegiatan mengukir/memberi ornamen pada mata pedang. Atau “irezumi (入れ墨 atau 入墨,)” secara harfiah berarti "memasukkan tinta". dipakai untuk kegiatan merajah tubuh yang disebut “irezumi”. Akan tetapi irezumi selalu diidentikkan untuk merajah tubuh seorang kriminal. Universitas Sumatera Utara Oleh karena itu lebih sering digunakan kata horimono untuk merujuk ke kegiatan pentatoan agar tidak selalu identik dengan narapidana (kriminal). Kata horimono dianggap lebih sopan dan dapat digunakan untuk menunjuk berbagai jenis rajahan (Animonster volume 119, Horimono:Japanese Tattoos Februari 2009). Proses penatoan tradisional Jepang merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Peralatan yang digunakan terbuat dari tulang kayu yang dipahat dan pada ujungnya dipasang jarum. Proses ini memakan waktu yang tidak sebentar, bahkan untuk tato seluruh tubuh waktu yang diperlukan bisa mencapai lebih dari 100 jam tergantung dari gambar yang diinginkan oleh seseorang yang ingin membuat gambar tato tersebut. Kegiatan menato seluruh tubuh ini bukan hanya digunakan oleh anggota yakuza di Jepang. Kegiatan ini juga dilakukan oleh anggota kelompok mafia di Amerika seperti Mara Salvatrucha atau yang lebih dikenal sebagai MS – 13 dan kelompok TRIAD yang merupakan bentuk lain mafia di negara China. Umumnya pemilik tato menyatakan bahwa mereka menggambar tato di tubuhnya karena dianggap memiliki nilai artistik. Gambar yang biasa dijadikan desain tato adalah gambar binatang, gambar bunga, gambar dewa, gambar pahlawan dan tokoh kabuki. Dari setiap gambar tato tersebut memiliki makna simbolik masing-masing. Misalnya, ada yang bermakna pertahanan, pengawalan, kebahagiaan, ketabahan, keberuntungan, pengabdian, dan lain-lain. Keterkaitan antara gambar tato dan pemaknaan tersebut sangat menarik untuk dibahas pada skripsi ini. Dengan demikian, penulis dalam skripsi ini ingin membahas tentang Universitas Sumatera Utara makna simbolik dari gambar-gambar tato tradisional Jepang (horimono) khususnya yang bergambar binatang. Dari penjelasan diatas peneliti tertarik untuk membahas mengenai tato tradisional Jepang (horimono), mulai dari sejarahnya, makna simbolik yang terkandung dalam setiap gambar horimono hingga perkembangannya. 1.2. Perumusan Masalah Tidak mudah menghilangkan image atas. Salah satu karakteristik lainnya ialah termasuk ke dalam jenis kozane (potongan besi kecil-kecil) yang sesuai digunakan dalam pertempuran menggunakan tombak sambil berkuda. Komponennya terdiri dari: Kozane, bulu-bulu hewan, kulit, benang, bahan emas dan perak. Kabuto atau pelindung kepalanya ialah tipe hoshi kabuto. Dan pengganti tameng ialah O-sode. Maksud dari mengganti tameng dengan O-sode bertujuan untuk memaksimalkan penyerangan. Pakaian tempur Jepang termasuk jenis menyerang. Meskipun banyak celah namun mendapatkan gerakan yang bebas lebih ideal. Tidak memegang tameng dengan tangan, karena kedua tangan digunakan untuk membawa senjata. Celah-celah yang terdapat pada O-yoroi ialah, meskipun bagian kepala dan dahi terlindungi oleh kabuto, tapi bagian wajah terbuka. Dan untuk maksimal dalam menarik busur panah, bagian tangan kanan tidak Universitas sumatera utara menggunakan kote (pelindung tangan). Kemudian agar mendapatkan gerakan tubuh yang bebas struktur O-yoroi terbentuk dari kozane yaitu potongan-potongan kecil berbentuk persegi panjang yang tersusun. Kemudian, agar anak panah musuh tidak tersangkut maka bagian do strukturnya dibuat lebar. Pemakaian O-yoroi berbeda dengan Gusoku pada sengoku jidai. Bagian dibawah do tidak dikencangkan. Hal ini pun merupakan faktor penting untuk mendapatkan gerakan yang lebih ringan. Untuk menghubungkan bagian do depan dan punggung terdapat tameng kecil yang melindungi bagian samping dada, sebelah kanan disebut dengan sendan no ita, sedangkan sebelah kiri disebut dengan kyuubi no ita. O-yoroi, demi memudahkan pergerakan tangan dalam menggunakan panah atau tombak ada bagian dari yoroi yang dikurangi. Yaitu bagian tengah dada yang tidak mendapatkan pelindung. Sendan no ita untuk mendapatkan kelenturan terbentuk dari kozane, sedangkan kyubi no ita untuk mendapatkan kekuatan dalam menarik busur panah terbentuk dari besi berbentuk satu potongan besar kozane. Kemudian bagian yang terdapat pada samping leher berbentuk tipis panjang yang menghubungkan do bagian depan dan punggung disebut watagami, diikat dengan rapi berbentuk seperti layar disebut shouji ita. Terbuat dari besi yang dilapisi oleh kulit bertujuan melindungi bagian kiri-kanan leher dari serangan panah musuh. Pelindung badan bagian samping disebut waidate, yaitu besi keras yang dilapisi dengan kulit merupakan alat pertahanan yang kuat. Potongan-potongan besi yang terdapat pada bagian dari pinggang ke pantat disebut dengan kusazuri. Kusazuri terdapat 3 lembar yaitu pada bagian depan, kanan, dan belakang.1 lembar dilekatkan dengan waidate. Total seluruhnya ada 4 lembar. Melindungi bagian Universitas sumatera utara pinggang hingga pantat. Dibawah kusazuri, untuk melindungi lutut terdapat alat pelindung yang disebut hizayoroi, yang mirip dengan haidate pada periodeperiode selanjutnya. Ketika memakai O-yoroi, pertama-tama kita harus mengikuti langkah-langkahnya, dibutuhkan waktu lama untuk memakainya. Agar tidak terlepas disaat berperang. Hal ini merupakan hal yang sangat penting. Dan juga untuk mendapatkan kenyamanan disaat memakainya. Lebih jauh lagi, saat berada di dalam air atau ketika terjatuh kelaut, penting untuk dapat melepaskannya dengan cepat. Dengan maksud ini ikatan-ikatan benang pada O-yoroi diikat dengan simpul kupu-kupu, sehingga bisa langsung terlepas. Teknik ini merupakan peraturan dasar. Peraturan dasar memakainya ialah dari bawah ke atas dan dari kiri ke kanan. Menurut susunannya, pertama-tama memakai shita obi (cawat), kemudian kosode (baju dalam yoroi), kemudian naka obi (tali pengikat di pinggang). Setelah itu memakai hakama yang panjang. Kemudian memakai eboshi (kain penutup kepala), eboshi ini disebut juga dengan hikitate eboshi karena bentuknya yang berdiri, lalu dikencangkan dengan hachimaki (handuk). Kemudian memakai sarung tangan, hanya pada bagian ini dimulai dari sebelah kanan. Kemudian memakai yoroi hitatare (baju seperti hakama), memakai habaki dan suneate (pelindung tulang kering), memakai tsuranuki (sepatu), memakai kote (pelindung tangan), memakai waidate (pelindung bagian samping badan), kemudian memakai do yoroi pada badan, kemudian memakai sode (pelindung bahu), kemudian kabuto (pelindung kepala), demikianlah susunannya. Universitas sumatera utara Pada pertempuran samurai, pertempuran dengan berkuda menjadi hal yang utama, selain itu para samurai pejalan kaki bertempur dengan berjalan kaki dengan alat tempur berupa tachi, katana, dll. Dan oleh karena itu, untuk pertempuran dengan berkuda lahirlah O-yoroi dan pertempuran dengan kaki lahirlah haraate dan haramaki yang digunakan pada pertempuran Shouhei, tengyo no ran, zenkunen no eki, gosannen no eki, henkyou no han ran. Seiring berjalannya waktu kedua model ini semakin mendapatkan improvisasi. 2.1.4.2 Haraate Diantara yoroi ada model yang paling simpel. Hanya melindungi bagian dada dan perut. Hanya terdiri dari bagian depan do dan samping kiri-kanan badan dengan bentuk setengah lingkaran. Cara memakainya ialah dengan mengaitkan tali dari kulit pada bagian atas do hinngga punggung bagian bawah do. Biaya produksi hara ate ialah yang paling murah. Ringan dan mudah digunakan, merupakan alat perlindungan bagi para bawahan. Seiring berjalannya waktu diilhami oleh hara ate muncullah haramaki. 2.1.4.3 Doumaru Setelah O-yoroi, berkembanglah do yoroi, melingkar dari pinggan hingga punggung, karena terdapat perlindungan pada bagian samping kanan, maka menambah beratnya. Bentuknya ialah ditarik dan diikat pada pinggang sebelah kanan. Biasanya memiliki 7 sampai 8 buah kusazuri. Pada masa-masa awal kalangan kelas bawah dan menengah memakainya tanpa sode dan menggantinya dengan gyouyou pada bahu kiri dan kanan. Kabuto pun tidak dipakai. Namun seiring berjalannya waktu doumaru dipakai juga oleh Universitas sumatera utara kalangan samurai kelas atas. Dan tidak lama kemudian mereka juga menambahkan sode, kabuto, dan kogusoku. Pada periode Nanbokucho model seperti ini menjadi populer dan mirip dengan model gusoku. Strukturnya simpel, termasuk kedalam pakaian tempur karakteristik ringan. 2.1.5 Periode Nanbokucho (awal abad ke 14) Dengan dipengaruhi oleh perang-perang saudara seperti perang Bun ei, kou an, dan yang lebih besar perang Nanbokucho, dan juga persaingan diantara kaum samurai, peralatan-peralatan tempur mengalami perkembangan yang besar. Pada masa ini banyak terjadi pertempuran di area kastil, dan pertempuran dengan berkuda maupun dengan berjalan kaki pun semakin berkembang, begitu juga dengan senjata-senjata yang semakin beragam seperti: tachi, nagamaki, choutou, dll. Panah dan tombak semakin lazim dibawa oleh kalangan kelas bawah, begitu juga dengan baju tempur, perlengkapan pertahanan yang kuat menjadi sangat penting. Untuk tujuan itu, tidak adanya celah dalam melindungi tubuh menjadi hal yang sangat diperhatikan. Hal inilah yang menjadi dasar berkembangnya kogusoku. Kemunduran o-yoroi digantikan oleh doumaru. Dou merupakan karakteristik utama dari yoroi, kemudian kabuto, o sode, kogusoku. Suji kabuto menjadi populer menggantikan hoshi kabuto. Dan juga selain doumaru, haramaki yang lebih ringan pun pada periode muromachi menjadi populer. Awalnya Haramaki ialah pakaian tempur yang hanya dikenakan oleh pasukan infatri atau pasukan pejalan kaki. Namun kemudian juga dikenakan oleh kalangan samurai kelas atas. Universitas sumatera utara Pada periode muromachi haramaki lebih banyak digunakan daripada doumaru. Style pemakaian haramaki oleh kalangan samurai kelas atas ialah, melengkapinya dengan shuji kabuto, o-sode, atau tsuba sode. Dan juga Hara ate, yoroi yang paling ringan dan simpel pun lahir pada periode ini. Dibandingkan pertempuran sebelumnya, pada masa nanbokucho permintaan akan pakaian tempur meningkat. Kozane yang lebih simpel, iyozane lahir pada masa ini, digunakan pada tateage, chougawa, dan bagian atas kusazuri. Penggunaan iyozane ialah pada doumaru dan haramaki, dibuat juga untuk haraate. Kogusoku ialah, perlengkapan-perlengkapan ringan dari kachu yang dikembangkan dan berfungsi untuk menutupi seluruh tubuh agar tidak ada area yang terbuka. Untuk melengkapi hatsuburi (pelindung wajah), nodowa dan menbou pun dibuat. Tsutsu gote dan shino gote (pelindung tangan) pun berkembang, haidate (pelindung paha) pun menjadi populer, sune ate (pelindung tulang kering) menjadi lebih besar, untuk melindungi bagian belakang suneate yang terbuka dibuat juga kou gake. Dan juga, karena beban berat tidak diperlukan bagi pasukan pejalan kaki, maka ashi naka dan waraji (alas kaki berbahan jerami) digunakan. Kemudian setelah perang onin, Jepang memasuki periode perang seluruh negeri, di setiap wilayah terus-menerus terjadi pertempuran. Perlengkapan tempur pun diperlukan setiap saat, sejak masa ini, bagian belakang haramaki yang terbuka pun dibuat penutupnya. Universitas sumatera utara 2.1.5.1 Haramaki O-yoroi ialah pakaian tempur yang disesuaikan untuk pertempuran dengan berkuda, kekuatan pertahanannya kuat dan ひとびと たにん れいぎただ うことをまだ かんが ,気 を ,惚 くば ,配 る 」 。 こ ひとびと たい ,人々に も ,持 ってい る。 かれ ,主の ,他人に き ,周りの きも ほ ,京言葉 に き き まわ ,主役者は びんかん ,人々は、 きょうことば ,思 わ れ や し な い か と ,文章で、 て、 の ,相手 の おも ,田舎者 と ぶんしょう の あいて みせ も ,店 の きょうと ,彼が ,対し ,持 むら ,京都にある ,村 はな ,礼儀正しく ,考 え て い る 。 こ れ は ,話しているのかとい しゅやくしゃ ,主役者 が たにん ,他人 Universitas Sumatera Utara きも くば びょうしゃ たにん ,気持 ち を ,配 る と い う こ と が ,描写 さ れ て 、 ,他人 に しんぱい に きも じょうし は、 の の が いっしょ ,上司 と 「とくに が ,気持ちというわけであった。 ,心配な わだい ,話題 が ,一緒 に かくさん ,拡散 するクラブのほうが ぶんしょう らく ,上司 と いっしょ ,一緒 に ,行 ったときを き て、まじめな ,気 かいしゃ ,会社 せつめい ,説明 して、のんびり い じょうし ,拡散して、 き ,圧倒的 に ,主役者は い ,時間 がたくさんあることを ある。つまり、 あっとうてき しゅやくしゃ じかん かくさん ,行 っ た よ う な と き に ,文章で、 ,楽である」。この じょうし い ,言 った。なぜかというと、 わだい ,話題 いっしょ ,上司と ,一緒にしゃべることはないからで らく ,気が きも しごと たい ,楽はだれかの ,気持ちをある ,仕事に ,対し たいど ひつよう ,態度をとる ,必要はなく、のんびりすることができると せつめい いうことを 「だが が ,説明したことである。 にどめ ,二度目 の ,京都 か ら まちが ,間違 っ て い た こ と に で、 しゅやくしゃ くきり き ,気 が じぶん ,主役者は ことがわかった。 の きょうと ,区切 が ,付 い た 」 。 こ の かんが さいしょ ,最初 に 、 ,明確 だ と ,戻 っ て、 こ の つ ,自分の めいかく もど かた ,考え かれ ,彼 は おも かんが ,考 え ぶんしょう ,文章 まちが ,方が さっぽろ ,間違っていた ,札幌 の ,思 っ て い た が 、 きせつ ,季節 にどめ ,二度目 Universitas Sumatera Utara の び た きょうと ,京都 か ら もど かんが ,考 えない。つまり、 ことがら たい ,事柄に かんが ,戻 っ て 、 そ の よ う な き ,気 が かた ,考 え つ ,付 くはだれかが ふたた ,方 が じぶん ,自分 に ,再 お ,起 こっ きも つ せつめい ,気持ちは ,付いたということを ,説明 し ,対する たことである。 「おばさんのいい が ほくだい かた かた さっぽろだいがく ぶんしょう ほう ,北の も に の きた さっぽろだいがく ,札幌大学 は ,主役者 の ひとびと きも ちしき ,人々の ほう ,北の だいがく ,方にある ,大学 ,一番有名 である。そ かな ,悲 し くな っ て 、 かんが ,狭いと ,共通的 いちばんゆうめい ,気持 ち は せま ,知識が ,必 ず し きょうつうてき ,人々の考えでは、 しゅやくしゃ かなら ,限らない。それに、 ひとびと ,中で、 れで、 の かぎ ,札幌大学とは ,京都の ,勉強 ,札幌大学 」といったからであ ,学生 だ か ら と い っ て 、 さっぽろだいがく なか べんきょう ,大学で がくせい ,北大 の きょうと だいがく ,方にある さっぽろだいがく しているから、おばさんはすぐ「 ほくだい ,主役者はおばさんの ,心配 に な っ た 。 な ぜ か と い う きた ,主役者は しゅやくしゃ しんぱい ,対 し て 、 しゅやくしゃ ,札幌大学 ,文章で、 たい ,方 に る。 ,気 に か か っ た の は 、 わ た し ,学生といったのに、すぐ「 」ということだった」。この と、 き がくせい ,北大の いい ,方 で 、 一 つ きょうと ,京都 しゅやくしゃ ,考えた。 ,主役者は Universitas Sumatera Utara そのおばさんに もんく い ,文句を むし ,言うつもりであったが、おばさんに て、しかたがなくなった。つまり、 み は ,見 た こ と に きも な たい ,対 し て 、 「バスに はな て ,話 し じょせい お ,三千院前で かのじょ ,女性 の いっしょ たいど わか ,見 て い て 、 だ ん だ ん ,若 しゅやくしゃ ,主役者 しゅやくしゃ ことがら ,態度 を み ,事柄を で ,主役者 が ず っ と そ の かんが ,考 え た 。 つ ま り 、 たいけん ,見るまたは 「。。。 かのじょ ,若 ,気 に な る は あ て ,話し おも ,手に ,思 せつめい ,説明したことである。 ,思想になったことを とちゅう ,彼女 を わか き はな ,体験することで、 しそう ,出または ,主役者にやりたいこと しゅやくしゃ たいど ,女性 の き ,降 ,主役者がバスでずっと み ,態度 を じょせい い お ,一緒に しゅやくしゃ ,思想がマスターされた。だが、それは る ,心配 ,気になっていた ,彼女も ,文章で、 じょせい い しんぱい き ,女性が ,降りると ぶんしょう ではなかった。それでも、 り ,出 て き た ,乗ったときからわたしはこの しそう が ,実感 したことまた で ,手 に の さんぜんいんまえ は じっかん ,説明したことである。 りてきた」。この い ,気 にかかるは せつめい ,気持ちを が、 き ,無視され ,途中 、 み ,見 て かる みちばた ,軽 く ,道端 で やす ,休 ん で い た ひと ,人 えしゃく ,気 に と め て い な か っ た 」 。 こ の ,会釈 したが、それもわたしはあ ま ぶんしょう ,文章 で 、 しゅやくしゃ ,主役者 Universitas Sumatera Utara みちばた は る わか じょせい すこ ,歩いてい たい ,会釈したことに ,引 かない 。そ して 、 ,対し しゅやくしゃ ,主役者 じつ ,女性が し くわ ,実はだれであろうかということに、 き ,気がした。なぜなら、そのような しゅやくしゃ ちゅうもく ,主役者は ,気 にとめ るはある いぜん ,以前 、 さ る ちゃや ,茶屋 へ ぶんしょう ,文章 で、ある げいぎ ,話 し て ,手 て ,話し ,手がや せつめい ,説明したことである。 とうきょう ,東京 と ,企業 の わか ,若 い きぎょう す ,芸妓に はな はな きぎょう ,行 っ て ,見 たこ とで、 ,引かれて、しばらく ,忘れたことを い み ひ わす 「このギャップが、 う。 ,事柄 を ,事柄に ,活動を ,見 ,集中しないからである。 ことがら ことがら ,注目がその み ,事柄を しゅうちゅう ,注目が き ちゅうもく ,詳し ことがら ,知りたくないような かつどう る えしゃく ,軽く ひ ,注目 を じょせい っている の かる ある ,一緒に ひと じょせい かる えしゃく ,休んでいた ,人がなぜその ,女性に ,軽く ,会釈をした つまり、 お いっしょ ,彼と ,見て、 ちゅうもく ,少 し も かれ ,人が やす て、 は み ,女性を のか、またその く ひと ,休んでいた ,若い て、 も やす ,道端で きょうと しゃちょう ,社長 が 、 げいぎ ,企業 の ,芸妓 が き ,気 に しゃちょう ,違 ぎおん ,祇園 の ,入 っ た 」 。 こ ちゃや きも ,社長の ちが い ,社長 はお しゃちょう ,好きである。その ,京都 で は か な り ,茶屋 にい げいぎ ,気持ちは ,芸妓の Universitas Sumatera Utara ことと つな ,繋 がっている。つまり 、 す で、 きも ,好きになった 「 き ,気 に い ほんとう ,本当 に で、 い ,行 く き ,気 があるときには、どういうのか。そのこと いつ ,主役者 は おう ,誘いに ,他人 に けで きも ,気持 ち が ,文章 い ,全く ,行きたくな も ,持 っ て い る か ら こ そ 、 だ れ か き さいそく ,気があるはあることをす はな ,催促 さ れ ず 、 て ,話 し ,手 に で ,出 て き せつめい ,説明したことである。 ,願望を 「 まった ,誘われたとき、 ,用意がある。つまり、 たにん がんぼう た ぶんしょう ようい ,応じる ,行けばよろ ,入っていく」。この さそ しゅやくしゃ るために、 い ,何時に、どこへ はい ,具体論に ,主役者はだれかに さそ の ぐたいろん しゅやくしゃ った。 ,見 たこ と ,説明したことである。 ,気になるが、そういうときには、「ほな、 しおすか」といった み せつめい ,気持ちを き が ,入 るはあ るものを ぎんざ か ,銀座には、 ひとこと ねこ ,借りてきた すわ ,猫のように、ただ はな ,一言も ,坐っているだ はな き ,話さず、むしろこちらから ,気をつかって ,話しかけ ぶんしょう てやらなければならないようなホステスもいる」。この ,文章で、あるク はたら ラブで けるとき、 ん きゃくさま ,働いているホステスはお ちゅうもく あた ,注目を はな わだい ,客様に ,話しか はじ ,与えることで ,始められた。それで、だんだ ふか ,話しのニュアンスはもっと はな ,話題を き ,深くなる。つまり、 くわ ,気をつかうは ,詳 Universitas Sumatera Utara し い こ と でもよいほど たにん ,他人 に ちゅうもく ,注目 を あた きも ,与 える ,気持 ち せつめい を ,説明したことである。 かた ,方 が 「こんないい とうきょう ,東京 に あ っ た の だ ろ う か 。 わ た し げんごがくしゃ は いい の い は かた ,方 は ,戦後 になって あらわ ,表 れてきたような しゅやくしゃ ,文章で、 かた おおさか ,主役者は ちが ,方 が ,違 っ て い る と かん ,感 じ た 。 ,種の き ,気 が する」。こ ひとびと ,大阪の ,大阪 の ,質問 を す る と き ま た は あ る こ と を い ,人々の おおさか しつもん ,言 ひとびと ,人々 せつめい ,説明 す る と き ふしんかん ,不信感 で し た 。 た と え ば 、 「 こ れ は エ ン ピ ツ で す 」 と い ぶんしょう い ,文章を ピツと が せんご ぶんしょう に、 う しゅ ,言語学者でないのでくわしいことはわからないが、この おおさか ,言ったとき、 ちが ,違 うか」となった。したがって、 はたら い ,働かせて、このような きたと ひとびと ,大阪の しゅやくしゃ ,主役者 は かた ,言い ,人々は「これはエン せんご ,方が きも ,気持 ち あらわ ,戦後になって ,表れて かんが とまたは き はな て じっかん ,考えた。つまり、 ,気がするは ,話し ,手に ,実感したこ み えいきょう ,見たことの ほか ,影響として、 きも ,他の かん ,気持ちを ,感じる せつめい ことを ,説明した。 Universitas Sumatera Utara き 「。。。それに とうきょう て ,東京 を しゅやくしゃ しばらくその ,東京 のほうが ,冗談 に き む か ら 、 ほかの ,選 んだ。ふたりはお たが ,互 い しゅやくしゃ ,主役者は ,集中 しなくて、その ゆる ,人 が ,選 ん で 、 そ しゅうちゅう ,気を ひと えら ,冗談した。でも、 じょうだん ,勝った。つまり、 ,冗談を えら じょうだん ,負かすほど か が じょうだん ,京都 の ほ う が とうきょう ま ,相手を ,東京 ,長所について きょうと ,主役者 は あいて とうきょう ,女性と ちょうしょ ,短所または ,女性 は に ,突然反撃 にあう」。こ じょせい たんしょ じょせい ,京都 を け な し ,主役者はある ,京都の の きょうと とつぜんはんげき しゅやくしゃ きょうと した。 ,許 し て 、 ,褒 めていると、 ,文章で、 と ゆる ほ ぶんしょう の ,気 を はな ,許すは て ,話し じょせい ,女性 ようじん ,手の ゆる ,用心が ,緩 なに ,何 かをするために、そのチャンスをとったこ と せつめい を ,説明したことである。 「いまの は こじんしょとく きちが ぜいきん で、 たい ,対 す る いちおくえん はちわり ,税金 に るいしんかぜい ,累進課税 しゅうにゅう ,一億円の ,気違いじみていて、 すると、そ の が ,個人所得 に ,八割 に ちか ,近 い ,収入があったと はっせんまんちか ,八千万近 く も ,持 っ て い か れ て し ま う 」 。 こ の ぜいせい ふつう ,税制はすこし、 ぜいせい ,普通の ぶんしょう ,文章 ちが ,税制と ,違っている。その Universitas Sumatera Utara 違っている税制だからこそ、 そ う い う 中で、 きそく ,個人所得 に き ,気 が ,変になった。つまり、 しん の りじょうたい ,理状態 は ,心 くる は ,違 うはある ふつう ,普通 の げいぎ よぶん ,話やサービスを、 ,注目のようなサー きゃくさま ,芸妓 は お げいぎ ,合 わせ て、 ,文章 げいぎ ,引くために、ほかの あ ぶんしょう ちゅうもく ,余分な ひ あた を はなし ,人 も い る 」 。 こ の ,与 え る 。 な ぜ な ら 、 そ の ,状態 と ,違 う 、 ま た ,説明したことである。 あた じょうたい ちが ひと いといけないからである。つまり、 が ,人々 と ,芸妓の ,客様に ,注目を ,事柄 またはだれか ひとびと ,気のきいた きゃくさま ちゅうもく ことがら げいぎ き ,感 じ る ,芸妓はお ビスを ,累進課税 せつめい かん むしろうるさいと の ちが ,意味である。 るいしんかぜい ,対 する ,状態になったことを 「。。。それどころか、 で、 たい じょうたい ,狂った いみ ,違反するという こじんしょとく へん は いはん ,規則を ,客様 きょうそう ,芸妓たちと き ,気 が み ,見 たことに ,競争しな き ,利 く は はな たい ,対 して、 ,話 し て ,手 ちゅうもく ,注目 せつめい ,与えることについて 「わたしは ったところで 「ここのご ,説明したことである。 あっけ かのじょ すがた ,彼女の ,呆気にとられ、 うけつけ ,見えなくな かた ,受付のひとにきいてみた。「いまの もんぜき み ,姿が ,門跡 さまの、お じょう ,方はどなたですか」 ,嬢 さまです」。この ぶんしょう ,文章 Universitas Sumatera Utara しゅやくしゃ で、 き、 に は お ,主役者 は あ る きっぷ ぎゃく あたま じいん ,寺院 の てら あっけ ,呆気 に じっかん ,実感 し た こ と ま た は と ,取 ら れる は の に しゅやくしゃ ,主役者 は たい に はな ,話 し ぎおん ,祇園 ま ち の や り き ,芝居 の ,銀座 と たい たい ,対 し ,方 が い い と ぶんしょう はな にゅうじょうりょう ,入場料 の ,話 し て ,手 の まわ ちゃや ,周 りに ,茶屋 はら ,払 い かた ,方 かんが ,同じだと お ,起 こっ た あた ,注目を ,文章 ,祇園 の お おな ちゅうもく ,対して、 ,一度 かた ぎおん ,注目がない。どちらでも、 ,気 がないは いちど ,手 に ,気 は な い 」。この ちゅうもく き て ,説明したことである。 ぎんざ しばい ,対して、 つまり、 ,実 は 、 せつめい ,気分について ,銀座 のほうがいいなどという ,代金 と じつ ,思 っ た こ と が な い こ と に ぎんざ だいきん ,女性 は おも きぶん ,驚いた で、 じょせい ,嬢さまであるということがわかったか 「もちろん、わたしはここで か、 ,主役者 じょう ,門跡さまのお おどろ ,彼女 しゅやくしゃ ,人 に き い て み て か ら 、 そ の もんぜき て、 かのじょ ,人は ,驚いた。なぜなら、 ひと ,寺のご ,入 る と ひと ,寺院の おどろ ,下げていることに はい ,寺 に じいん ,逆に さ ,頭を てら ,女性 が お ,切符をたしかめせず、 ら で あ る 。 つま り 、 も じょせい ,考えた。 ことがら ,事柄 せつめい ,与えないことについて ,説明したこ とである。 Universitas Sumatera Utara 「 た とち ,他の ,芸妓達の たか く ,高 い 、ということである 。 もともと くら に ,較 べ て、 で、 きぐらい ,気位 が きょうと げいぎ ,京都の ,客様 に た だ ,芸者 とい うのはホステス たか ,人々 と ,芸妓 は ホ ス テ ス の よ う に 、 なぐさ て、 ふつう ,普通 の げいじゅつしん ,慰 め る だ け で あ る が 、 くら ,較 べ て 、 も っ と ひとびと ,高い げいぎ きぐらい ひとびと ,文章 ,普通のホステスよりも、もっと ,持っているからである。つまり、 の ぶんしょう ふつう も を げいしゃ ,高 い ものである」。この ,芸妓は きゃくさま ,気位がなんとな たか レベルにある。なぜかというと、 お きぐらい げいぎたち ,土地にくらべて ,芸術心 たか ,気位が た ,高いはだれかが たか ,高 い レ ベ ル で あ る と ,人々 と 同 じ に す る の が ,他 かんが ,考 え いや ,嫌 で あ る こ と に つ い せつめい て ,説明した。 Universitas Sumatera Utara
Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang Yang Bergambar Binatang (Horimono/Irezumi)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang Yang Bergambar Binatang (Horimono/Irezumi)

Gratis