Feedback

Strategi Bertahan Hidup Dalam Perkembangan Kota Medan.

Informasi dokumen
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETERNAK BABI DALAM PERKEMBANGAN KOTA MEDAN (Studi Deskriptif Perumnas Mandala Kelurahan Tegalsari Mandala II, Kecamatan Medan Denai) SKRIPSI PURNAWAN ZARON HAREFA 050901023 DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 i Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang dilakukannya. Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku sesuai tuntutan lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal, dan tuntutan itupun tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Masalah ekonomi merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan problema yang menyangkut pada kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Berbagai cara/strategi bertahan hidup dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kota Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Perkembangan kota Medan menimbulkan tingginya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup lebih dari sekedar kebutuhan sandang, pangan, dan papan seperti pendidikan. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal di kota Medan adalah peternak babi. Salah satu lokasi peternak babi di kota Medan adalah di daerah Perumnas Mandala. Pekerjaan sebagai seorang peternak babi merupakan suatu hal yang krusial sekaligus bisa mengandung unsur kontroversi jika digeluti. Dengan situasi ekonomi yang demikian sulit menuntut suatu kebijakan untuk dapat beradaptasi/bertahan sebagai komunitas peternak babi. Pemenuhan kebutuhan hidup dengan pendapatan mereka yang bermata pencaharian pokok sebagai peternak babi yang cukup minim. Karena keluarga peternak babi merupakan kelompok masyarakat yang termasuk keluarga miskin, dibanding dengan kelompok masyarakat lain. Keluarga-keluarga yang bertempat tinggal di Perumnas Mandala tersebut bermata pencaharian tetap sebagai peternak babi. Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untuk mengangkat topik permasalahan mengenai bagaimana strategi bertahan hidup peternak babi dalam perkembangan kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi langsung, studi dokumentasi, wawancara mendalam serta studi kepustakaan. Interpretasi data penelitian dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil lapangan. Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk 10 informan, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki strategi agar dapat bertahan hidup sebagai peternak babi. Strategi yang dilakukan mereka adalah Pertama mengoptimalkan segala potensi keluarga untuk melakukan aktivitas sendiri, memanfaatkan sumber atau tanaman liar di lingkungan sekitar dan sebagainya). Kedua menekan biaya kehidupan mereka, misalnya biaya pendidikan, kebutuhan sandang, pangan, dan sebagainya, Ketiga Pemanfaatan jaringan. Ini terlihat jelas dalam mengatasi masalah ekonomi dengan pinjam uang kepada tetangga, mengutang ke warung terdekat, memanfaatkan program anti kemiskinan, bahkan ada yang pinjam uang ke rentenir atau bank dan sebagainya. i Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, dengan judul: STRATEGI BERTAHAN HIDUP DALAM PERKEMBANGAN KOTA MEDAN. Skripsi ini penulis persembahkan khusus buat kedua orang tua tercinta penulis, Bapak (Y. Harefa) dan Ib u (L. Marbun), terima kasih atas semua kasih sayang, doa, pengertian, pengorbanan yang tulus, dukungan dan semangatnya yang telah diberikan kepada penulis. Semoga Tuhan memberikan limpahan RahmatNya dan berkatNya kepada orang tua penulis. Penulis menyadari sepenuhnya tanpa ada campur tangan dari semua pihak, penulis tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. DR. Badaruddin,M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta selaku Ketua Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, MSi, selaku Ketua Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara 3. Bapak Drs Henry Sitorus MSi, selaku dosen pembimbing penulis, yang membimbing penulis dengan penuh kesabaran sampai pada penyelesaian ii Universitas Sumatera Utara skripsi ini. Dimana dengan begitu banyaknya kesibukan, beliau masih bersedia meluangkan waktu kepada penulis untuk memberikan masukan berupa saran bagi penulisan skripsi ini. 4. Kepada seluruh dosen Sosiologi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan berbagai materi selama penulis menjalani perkuliahan di FISIP USU. 5. Seluruh staf administrasi FISIP USU khususnya Departemen Sosiologi, Kak betty, kak Feny. 6. Buat Abang dan Kakakku tercinta, Brill Harefa, Lyla Harefa dan Thomy Harefa. Terimahkasih atas bantuan dan doanya yang diberikan selama ini. 7. Buat sahabat-sahabatku, teman seperjuangan dari awal kuliah hingga saat ini dan untuk selamanya, Franklin Sitohang, Benny, Twince, Gorenty, Leokrispat, Bang Ferdinand, dan teman-teman mahasiswa lainnya mulai dari stambuk 2005, 2004, 2003 dan adek-adek kami stambuk 2007, 2008, 2009 dan 2010 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terimahkasih buat dukungan, semangat dan kebersamaan yang kalian berikan. Semoga sukses dan selamat berjuang. 8. Buat Sir Agus yang juga sudah banyak membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini sampai selesai. 9. Buat Bang Frans, Kak Neni, Bang Valen dan Bang Leo, terimakasih atas perhatian, dukungan serta bantuannya yang sangat berarti selama ini. iii Universitas Sumatera Utara 10. Kepada semua informan dan semua pihak yang turut membantu namun tidak bisa disebutkan satu persatu selama penelitian skripsi, terimakasih atas kerjasama, kepercayaan dan dukungannya. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penulisan skripsi ini, akan tetapi penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk menambah kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Medan, Agustus 2011 Penulis Purnawan Zaron Harefa iv Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . v DAFTAR TABLE . vii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang Masalah . 1 1.2. Perumusan Masalah. 9 1.3. Tujuan Penelitian. 9 1.4. Manfaat Penelitian. 9 1.5. Defenisi Konsep . 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 12 2.1 Sistem Pengembangan Peternakan . 12 2.2 Konsep Manajemen Strategi Bertahan 13 3.1. Jenis Penelitian. 21 3.2. Lokasi Penelitian 21 3.3. Unit Analsis dan Informan . . . 21 3.4 Teknik Pengumpulan Data . . . . 22 3.5 Teknik Sampling . . 24 3.6.Interpretasi data . . 24 3.7 Keterbatasan Penelitian 25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN . 26 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 26 v Universitas Sumatera Utara 4.1.1 Gambaran umum peternakan babi 26 4.1.2 Sampel Penelitian 27 4.1.3 Profil Informan 27 4.2 Interpretasi Data Penelitian . 28 4.2.1 Kehidupan Ekonomi dan Pembagian Penghasilan Perekonomian Peternak Babi 28 4.2.2 Upaya Yang Dilakukan Peternak Babi Dalam Mengatasi Masalah Ekonomi 35 BAB V PENUTUP 45 5.1 Kesimpulan . 45 5.2 Saran . 49 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABLE Table 1.1 Populasi Ternak (000) 2000-2008 1 Table 1.2 Tabel 1.2 Konsumsi Daging di Indonesia 2005-2007 2 Tabel 1.3 Konsumsi Ternak Tahun 2002-2005 (kg/kapita/tahun) . 5 Tabel 4.1 Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Lama Tinggal 27 vii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang dilakukannya. Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku sesuai tuntutan lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal, dan tuntutan itupun tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Masalah ekonomi merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan problema yang menyangkut pada kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Berbagai cara/strategi bertahan hidup dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kota Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Perkembangan kota Medan menimbulkan tingginya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup lebih dari sekedar kebutuhan sandang, pangan, dan papan seperti pendidikan. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal di kota Medan adalah peternak babi. Salah satu lokasi peternak babi di kota Medan adalah di daerah Perumnas Mandala. Pekerjaan sebagai seorang peternak babi merupakan suatu hal yang krusial sekaligus bisa mengandung unsur kontroversi jika digeluti. Dengan situasi ekonomi yang demikian sulit menuntut suatu kebijakan untuk dapat beradaptasi/bertahan sebagai komunitas peternak babi. Pemenuhan kebutuhan hidup dengan pendapatan mereka yang bermata pencaharian pokok sebagai peternak babi yang cukup minim. Karena keluarga peternak babi merupakan kelompok masyarakat yang termasuk keluarga miskin, dibanding dengan kelompok masyarakat lain. Keluarga-keluarga yang bertempat tinggal di Perumnas Mandala tersebut bermata pencaharian tetap sebagai peternak babi. Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untuk mengangkat topik permasalahan mengenai bagaimana strategi bertahan hidup peternak babi dalam perkembangan kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi langsung, studi dokumentasi, wawancara mendalam serta studi kepustakaan. Interpretasi data penelitian dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil lapangan. Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk 10 informan, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki strategi agar dapat bertahan hidup sebagai peternak babi. Strategi yang dilakukan mereka adalah Pertama mengoptimalkan segala potensi keluarga untuk melakukan aktivitas sendiri, memanfaatkan sumber atau tanaman liar di lingkungan sekitar dan sebagainya). Kedua menekan biaya kehidupan mereka, misalnya biaya pendidikan, kebutuhan sandang, pangan, dan sebagainya, Ketiga Pemanfaatan jaringan. Ini terlihat jelas dalam mengatasi masalah ekonomi dengan pinjam uang kepada tetangga, mengutang ke warung terdekat, memanfaatkan program anti kemiskinan, bahkan ada yang pinjam uang ke rentenir atau bank dan sebagainya. i Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha di masa depan. Kebutuhan masyarakat akan produk – produk peternakan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Peternakan sebagai penyedia protein, energi, vitamin, dan mineral semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi guna meningkatkan kualitas hidup. Tabel 1.1 Populasi ternak (000 ekor) 2000-2008 TERNAK 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sapi Potong 11,008 11,137 11,298 10,504 10,533 10,569 10,875 11,515 11,869 354 347 374 364 361 369 374 408 2,405 2,333 2,403 2,459 2,403 2,128 2,167 2,086 2,192 412 422 419 413 397 387 398 401 411 12,566 12,464 12,549 12,722 12,781 13,409 13,790 14,470 15,806 Domba 7,427 7,401 7,641 7,811 8,075 8,327 8,980 9,514 10,392 Babi 5,357 5,369 5,927 6,151 5,980 6,801 6,218 6,711 7,376 259,257 268,039 275,292 277,357 276,989 278,954 291,085 272,251 290,803 Ayam Ras Petelur 69,366 70,254 78,039 79,206 93,416 84,790 100,202 111,489 116,474 Itik 29,035 32,068 46,001 33,863 32,573 32,405 32,481 35,867 36,931 sapi perah Kerbau Kuda Kambing Ayam Buras 358 Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2010) 1 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel diatas dalam waktu antara tahun 2007 – 2008 terjadi peningkatan populasi hewan ternak terjadi di Indonesia. Peningkatan paling signifikan terjadi pada hewan jenis ayam ras pedaging. Hal ini berarti masyarakat juga menyadari bahwa usaha peternakan juga dapat menjanjikan dan memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan. Karena salah satu produk yang dihasilkan adalah daging. Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging secara umum setiap tahun cenderung meningkat. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini Tabel 1.2 Konsumsi Daging di Indonesia 2005-2007 Konsumsi (kg/kapita/tahun) JENIS Tahun 2005 2005 Tahun Tahun 2006 Tahun 2007 R (%) 2005-2007 Sapi 1.08 1.13 1.20 10 Hewan lain 2.07 2.28 2.30 10 Ayam Ras 1.90` 2.10 2.20 20 Unggas Lain 0.74` 0.84 0.90 20 Sumber : Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Dirjen Peternakan (2008) Berdasarkan tabel diatas dalam waktu dua tahun terakhir terjadi peningkatan konsumsi daging antara sepuluh persen hingga 20 persen. Peningkatan secara signifikan terjadi pada konsumsi hewan unggas yaitu dua kali lipat dibandingkan dengan hewan yang bukan unggas. Peningkatan jumlah konsumsi daging masih akan terus meningkat mengingat jumlah penduduk akan terus meningkat. 2 Universitas Sumatera Utara Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi ini, maka usaha untuk meningkatkan produksi daging menjadi hal yang perlu diperhatikan bagi semua pihak khususnya pemerintah, disamping hal ini juga menjadi peluang tersendiri bagi masyarakat yang ingin mengembangkan sektor peternakan. Pembangunan peternakan merupakan bagian pembangunan nasional yang sangat penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternakan adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang unggul. Selain itu, tujuan pembangunan peternakan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, pelesatarian lingkungan hidup serta peningkatan devisa negara. Kondisi peternakan di Indonesia telah mengalami pasang surut. Sejak terjadinya krisis ekonomi dan moneter tahun 1997, telah membawa dampak terpuruknya perekonomian nasional, yang diikuti penurunan beberapa usaha peternakan. Dampak krisis secara bertahap telah pulih kembali dan mulai tahun 19981999 pembangunan peternakan telah menunjukkan peningkatan. Kontribusi peternakan terhadap PDB pertanian terus meningkat sebesar 6,35% pada tahun 1999. Bahkan tahun 2002 meningkat mencapai 9,4% tertinggi diantara sub sektor pertanian. Peran kemiskinan. strategis Pemerintah peternakan telah juga berkaitan menetapkan tiga dengan sasaran penanggulangan utama program penanggulangan kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau, dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu. Pembangunan peternakan tidak terlepas dari berbagai masalah dan tantangan. Globalisasi ekonomi merupakan salah satu ancaman dan sekaligus peluang bagi 3 Universitas Sumatera Utara sektor peternakan. Menjadi ancaman jika Indonesia tetap menjadi importir input dan teknologi peternakan untuk menggerakkan proses produksi dalam negeri dan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dalam negeri. Ketergantungan pada impor jika tidak ditunjang oleh usaha-usaha kemandirian yang produktif, akan mendorong ketergantungan semakin sulit dipecahkan. Indonesia mempunyai peluang untuk mengisi pangsa pasar dunia karena Indonesia dianggap sebagai negara produsen yang aman karena produk ternak yang masih murni dan bebas dari penyakit mulut dan kuku. Berdasarkan Statistik Peternakan 2005 ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 17% per tahun Dalam sisi dalam negeri yang menjadi penghambat tumbuhnya sektor peternakan, antara lain: 1. Struktur industri peternakan sebagian besar tetap bertahan dalam bentuk usaha rakyat. Yang dicirikan oleh tingkat pendidikan peternak rendah, pendapatan rendah, penerapan manajemen dan teknologi konvesional, lokasi ternak menyebar luas, ukuran usaha relatif kecil, serta pengadaan input utama yakni HMT (Hijauan Makanan Ternak) yang masih tergantung pada musim, ketersediaan tenaga keluarga, serta penguasaan lahan HMT yang terbatas. 2. Ketersedian bibit bermutu. Penelitian tentang dari penduduk yang pindah atau keluar. Sedangkan penduduk yang lahir adalah 69 jiwa atau 13,17%, jumlah ini sedikit lebih banyak dari penduduk yang meninggal, yakni sebanyak 56 jiwa atau 10,69%. Adapun persentase dari faktor lahir, mati, datang, dan pindah atau pergi ini merupakan gambaran dari persentase pengaruh masing-masing faktor terhadap dinamika jumlah penduduk Kelurahan Cinta Damai. 66 4.3. Sarana Pendidikan di Kelurahan Cinta Damai Pendidikan merupakan faktor penting dalam hidup manusia, karena pendidikan merupakan faktor penting dalam mencerdaskan masyarakat, sehingga dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan dengan baik, tentu diperlukan sarana pendidikan. Uraian berikut akan menyajikan data tentang sarana pendidikan yang tersedia di Kelurahan Cinta Damai. Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai menginformasikan, bahwa terdapat 3 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Adapun keseluruhan PAUD tersebut adalah berstatus Swasta. Selanjutnya untuk pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak (TK). Diperoleh data dari Kantor Kelurahan Cinta Damai, bahwa jumlah sekolah TK di wilayah Kelurahan Cinta Damai adalah 9 unit. Dapat diinformasikan bahwa seluruh sarana pendidikan TK yang ada di wilayah Kelurahan Cinta Damai adalah berstatus Swasta. Pada tabel 4.4 berikut akan disajikan jumlah sekolah swasta dan negeri untuk berbagai tingkat pendidikan. Tabel 4.4 Ketersediaan Sarana Pendidikan Tingkat SD di Kelurahan Cinta Damai No Sarana Pendidikan Jumlah (Unit) Persentase 1 SD Negeri 2 28,57 2 SD Swasta 5 71,43 7 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Cinta Damai Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 4.4 dapat diketahui bahwa terdapat 7 unit sarana pendidikan Tingkat SD di Kelurahan Cinta Damai. Dapat ditambahkan, bahwa dari jumlah tersebut, terdapat 2 unit atau 28,57% sekolah 67 negeri, sedangkan SD Swasta mencapai 5 unit atau 71,43%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat SD jauh lebih besar dari partisipasi Pemerintah. Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai antara lain menginformasikan, bahwa jumlah sarana sekolah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah 5 unit. Dapat ditambahkan bahwa keseluruhan sekolah tersebut adalah berstatus Swasta. Tidak terdapat SMP yang berstatus Negeri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyelengggara pendidikan di tingkat SMP di Kelurahan Cinta Damai secara keseluruhan adalah masyarakat. Selanjutnya untuk pendidikan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, khususnya Kejuruan. Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai antara lain menginformasikan, bahwa jumlah sarana sekolah tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Kelurahan Cinta Damai adalah 3 unit. Dapat ditambahkan bahwa keseluruhan sekolah tersebut adalah berstatus Swasta. Tidak terdapat SMK yang berstatus Negeri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyelengggara pendidikan di tingkat SMK di Kelurahan Cinta Damai secara keseluruhan adalah masyarakat. Kondisi yang sama terdapat pada Sekolah Menengah Umum, yang sekarang dikenal dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai antara lain menginformasikan, bahwa jumlah sarana sekolah tingkat SMA di wilayah Kelurahan Cinta Damai adalah 3 unit. Dapat ditambahkan bahwa keseluruhan sekolah tersebut adalah berstatus Swasta. Tidak terdapat SMA yang berstatus Negeri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyelengggara pendidikan di tingkat SMA di Kelurahan Cinta Damai secara keseluruhan adalah masyarakat. 68 Adapun sarana pendidikan Perguruan Tinggi juga terdapat di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai antara lain menginformasikan, bahwa terdapat 1 Perguruan Tinggi di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Perguruan Tinggi tersebut adalah berstatus Swasta, dan menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang agama Kristen. 4.4. Sarana Kesehatan di Kelurahan Cinta Damai Kesehatan merupakan faktor sangat penting dalam hidup manusia. Pelayanan kesehatan tergolong sebagai unsur primer dalam hidup manusia agar manusia itu hidup sehat. Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cinta Damai antara lain menginformasikan, bahwa wilayah Kelurahan Cinta Damai terdapat satu unit Rumah Sakit Umum. Adapun sarana kesehatan dalam bentuk rumah sakit ini adalah berstatus Swasta atau diselenggarakan oleh masyarakat, yaitu Rumah Sakit Umum Restu. Dapat ditambahkan bahwa di wilayah Kelurahan Cinta Damai tidak terdapat Puskesmas. Demikian juga halnya dengan Puskesmas Pembantu tidak terdapat di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Adapun Klinik ada satu unit. Sedangkan sarana kesehatan berupa Balai Pengobatan Umum (BPU) tidak terdapat di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kelurahan Cinta Damai, pemerintah melalui Puskesmas yang ada di wilayah Kelurahan Tanjung Gusta bekerja sama dengan masyarakat Kelurahan Cinta Damai menyelenggarakan pelayanan kesehatan dalam bentuk Posyandu. Terdapat 7 Pos Pelayanan Terpadu di wilayah Kelurahan Cinta Damai. 69 Di Kelurahan Cinta Damai juga terdapat Praktek Bidan. Sarana kesehatan ini terdapat sebanyak 13 unit, yang tersebar di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Masingmasing praktek bidan juga ditanggungjawabi oleh dokter. 4.5. Sarana Ibadah di Kelurahan Cinta Damai Agama dan ibadah merupakan faktor penting dalam pembinaan kehidupan masyarakat, sehingga dapat hidup teratur dengan menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dipeluk. Dalam rangka penyelenggaraan ibadah ini tentu sarana ibadan mutlak diperlukan. Pada tabel 4.5 berikut disajikan data tentang sarana ibadah yang ada di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Tabel 4.5 Ketersediaan Sarana Ibadah di Kelurahan Cinta Damai No Sarana Ibadah Jumlah (Unit) Persentase 1 Mesjid 7 41,18 2 Langgar 2 11,76 3 Gereja 7 41,18 4 Vihara 1 5,88 17 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Cinta Damai Data yang disajikan pada tabel 4.5 antara lain menunjukkan adanya sebanyak 17 sarana ibadah di Kelurahan Cinta Damai. Adapun 9 unit atau 52,94% di antaranya adalah sarana ibadah bagi kaum Muslim. Sedangkan 7 atau 41,18% di antaranya adalah sarana ibadah bagi umat Protestan dan Katholik. Terdapat 1 unit sarana ibadah berupa Vihara yang digunakan umat Budha dalam menjalankan ibadah agamanya. Sedangkan sarana ibadah bagi umat Hindu tidak ada di wilayah 70 Kelurahan Cinta Damai. Dapat ditambahkan, bahwa jumlah sarana ibadah yang tersedia di wilayah Kelurahan Cinta Damai tentu representatif dengan komposisi penduduk di wilayah Kelurahan Cinta Damai berdasarkan pemelukan agama. 4.6. Sarana Olah Raga di Kelurahan Cinta Damai Berolah raga merupakan salah satu aktivitas masyarakat dalam rangka menuju kesehatan raga. Bagi kalangan tertentu, olah raga mungkin juga menjadi profesi. Dalam rangka melakukan aktivitas olah raga tentu diperlukan sarana olah raga. Pada tabel 4.6 berikut disajikan data tentang sarana olah raga yang ada di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Tabel 4.6 Ketersediaan Sarana Olah Raga di Kelurahan Cinta Damai No Sarana Olah Raga Jumlah (Unit) Persentase 1 Lapangan sepak bola 1 33,33 2 Lapangan bola volly 1 33,33 3 Lapangan bulu tangkis 1 33,33 3 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Cinta Damai Data yang disajikan pada tabel 4.6 antara lain menunjukkan bahwa hanya ada 3 jenis olah raga yang sarananya tersedia di Kelurahan Cinta Damai. Adapun ketiga olah raga tersebut adalah sepak bola, bola volly, dan bulu tangkis. Ketiga jenis sarana olah raga tersebut masing-masing satu unit lapangan. Lapangan futsal, yang makin populer di masyarakat akhir-akhir ini ternyata tidak terdapat di wilayah Kelurahan Cinta Damai. Demikian juga dengan lapangan basket, juga tidak ada di wilayah Kelurahan Cinta Damai. 71 4.7. Sarana Ekonomi di Kelurahan Cinta Damai Aktivitas ekonomi merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Melalui aktitivitas ekonomi seseorang memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Tentu banyak jenis aktivitas ekonomi berdasarkan sektor yang menjadi wadah berlangsungnya aktivitas ekonomi tersebut. Salah satu di antaranya adalah sektor pertanian. Pada tabel 4.7 berikut akan disajikan data ketersediaan perusahaan industri di wilayah Kelurahan Cinta Damai, baik berupa industri berskala besar, industri berskala sedang, industri berskala kecil, dan industri rumah tangga. Tabel 4.7 Ketersediaan Perusahaan Industri di Kelurahan Cinta Damai No Tipe Perusahaan Industri Jumlah (Unit) Persentase 1 Skala Besar 0 00,00 2 Skala Menengah 3 33,33 3 Skala Kecil 2 22,22 4 Industri Rumah Tangga 4 44,45 9 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Cinta Damai Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 4.7 antara lain dapat diketahui bahwa tidak terdapat perusahaan industri berskala besar di wilayah penumpang kapal laut. Dari penelitian yang dilakukan, didapat beberapa faktor yang menyebabkan mereka tetap bertahan bekerja disana berdasarkan hasil wawancara, yakni : susahnya mencari pekerjaan lain karena faktor ekonomi yang rendah, pergaulan yang erat yang mereka rasakan dengan teman sekerja, serta kebanyakan informan menyatakan mereka tetap bertahan disebabkan oleh suasana pelabuhan yang mereka sukai karena sudah lama bekerja disana. Dalam upaya mempertahankan hidup, yakni dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, terdapat berbagai strategi yang dilakukan oleh para buruh bagasi yakni: 1. Strategi Adaptasi melalui Pemilihan Pekerjaan Strategi yang mengoptimalkan segala potensi keluarga untuk peningkatan penghasilan karena tuntutan hidup yang semakin besar. Dengan hanya mengandalkan pekerjaan mereka sebagai buruh bagasi tidak akan bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sepenuhnya. Dalam hal ini para buruh bagasi berusaha mencari pekerjaan lainnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan pekerjaan lainnya yang mereka miliki diluar pekerjaan sebagai buruh bagasi, seperti money changer, berdagang, narik ojek, bertani TKBM, calo tiket kapal laut. Dalam menyesuaikan waktu dan jam kerja yang mereka miliki, biasanya mereka yang bekerja sebagai buruh bagasi memastikan kapan kapal penumpang bisa beroperasi. Dan biasanya pekerjaan tersebut hanya dilakukan 2x dalam seminggu, untuk selebihnya para buruh bagasi tersebut akan bekerja lagi diluar pekerjaan yang mereka miliki sebagai pengangkat barang penumpang. Salah satu contoh pekerjaan lainnya yang mereka miliki seperti bertani atau beternak yaitu: ada informan yang menyewa sawah milik orang lain untuk menanam padi, serta memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam sayur-sayuran untuk konsumsi rumah-tangga dan untuk dijadikan makanan ternak serta ada pula yang beternak untuk dapat dijual hasilnya. Selain itu, anak mereka juga turut berpartisipasi yakni dengan menggunting sandal, membantu orang-tua mereka bagi anak-anak informan yang merantau dan sudah bekerja. 2. Pola Tempat Tinggal Dalam hal ini, mereka telah menikah (berkeluarga) dan memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda, seperti mereka ada yang tinggal di Pulau Sicanang Belawan, Sei Mati Medan Labuhan, Yuki Hamparan erak, Selebes, Sungai Mati Belawan, Martubung dan P. Krakatau Belawan dan sebagainya. Walaupun tempat tinggal mereka yang berbeda-beda, begitu juga jarak tempat tinggal dengan tempat kerja juga cukup jauh, akan tetapi para buruh bagasi tidak pernah mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi terutama mengenai pekerjaan mereka di pelabuhan belawan. Biasanya para buruh bagasi bekerja pada saat naik/turunnya kapal. Dan untuk mengetahui ada-tidaknya kapal penumpang yang Universitas Sumatera Utara berangkat maupun kapal yang baru mendarat/tiba dipelabuhan belawan, sebelumnya itu akan diberitahu oleh mandor maupun dari kantor PELNI. Informasi tersebut bisa juga diberitahu oleh sesama buruh bagasi /teman satu kerja, baik secara langsung ketika ditempat kerja dan bisa juga melalui perantaraan teman satu kerja untuk diberitahukan kepada teman yang lain yang tidak masuk kerja. Untuk menempuh lokasi pekerjaan dengan jarak tempat tinggal mereka yang cukup jauh, sebagian besar para buruh bagasi tersebut menggunakan angkutan umum karena pada umumnya mereka tidak memiliki kendaraan pribadi dan hanya sebagian kecil yang memiliki kendaraan tersebut. 3. Strategi Adaptasi melalui Hubungan-hubungan Sosial Buruh Bagasi 3.1. Hubungan Sesama Buruh Dalam kehidupan sosial buruh bagasi, kerjasama ditunjukkan oleh sikap mereka yang saling tolong – menolong, misalnya dalam hal memberi bantuan jika diantara mereka ada yang tertimpa musibah atau kemalangan. Bantuan mereka ini tidak selalu dalam bentuk uang (materi), tetapi juga dalam bentuk moral, yaitu memberi bantuan tenaga maupun semangat kepada temannya tersebut. Hal yang menarik dari hubungan para buruh ini adalah sikap saling menghargai dan menghormati yang tinggi diantara mereka. Setelah ditelusuri, ternyata yang menyebabkan hal tersebut adalah pertama, nilai-nilai yang mereka anut sebagai orang Batak, bahwa harus menghormati orang yang lebih tua terutama jika mereka se-marga. Mengenai konflik, para buruh bagasi ini senantiasa menghindari adanya konflik fisik dan mereka juga saling menghargai, menjunjung solidaritas, dan jikalau terjadi konflik yang tak terelakkan, mereka segera menyelesaikannya Universitas Sumatera Utara dengan cepat dan tidak menaruh dendam karena mereka merasa bahwa mereka adalah saudara satu sama lain. Dengan demikian, maka konflik yang terjadi diantara sesama buruh bagasi pun dapat teratasi tanpa adanya campur tangan pihak – pihak lain. Kompetisi adalah hal yang sangat mencolok dalam kehidupan para buruh bagasi. Memang, mereka dituntut untuk bersaing mendapatkan penumpang yang memerlukan jasa mereka. Jika ketika menunggu penumpang datang, mereka tampak begitu akrab, namun diatas kapal mereka adalah saingan. 3.2. Hubungan Dengan Atasan ( Mandor dan KPLP ) Untuk menjaga hubungan para buruh bagasi dengan atasannya, mereka bersikap ramah dengan berkomunikasi dengan baik atau ngumpul bersama, sebelum atau sesudah mereka bekerja di lingkungan kerja mereka yaitu terminal pelabuhan belawan. Hubungan diluar pekerjaan juga terjalin dengan baik, hal ini terbukti dengan adanya salah satu pekerja yang mengadakan pesta atau tertimpa kemalangan, para atasan dan sesama buruh lainnya pasti datang dan memberi sumbangan material. Sedang Hubungan diantara buruh bagasi dengan KPLP terjalin akibat adanya hubungan kerja antara buruh bagasi dengan KPLP. Yakni, KPLP memiliki tanggung-jawab atas keberadaan para buruh bagasi dilokasi pekerjaan. Kerjasama juga mereka lakukan dengan KPLP, yakni dengan cara KPLP menawarkan kepada pedagang yang hendak menggunakan jasa kapal laut agar barang mereka diangkat oleh buruh yang ditunjuk oleh KPLP yakni para buruh yang tergabung dalam kelompok ‘kantin atas’. Universitas Sumatera Utara 5.2. Saran Adapun saran yang dapat saya berikan berkaitan dengan penelitian ini adalah: 1. Pemerintah hendaknya lebih bijaksana dalam membuat suatu kebijakan terutama yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Kiranya pemerintah lebih lagi mempertimbangkan dampak yang akan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya rakyat miskin dalam membuat suatu kebijakan ekonomi. 2. Kiranya para buruh bagasi tidak menyerah dan putus asa meskipun mengalami kesulitan – kesulitan dalam mencari penghasilan. Penelitian ini membahas tentang strategi pertahanan hidup buruh bagasi yang terdapat di Pelabuhan Belawan. Kiranya penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi para buruh bagasi untuk dapat mengembangkan kreativitas dalam usaha menambah penghasilan guna mempertahankan kelangsungan hidup. Universitas Sumatera Utara Daftar Pustaka Breman, Jan. 1985 Sistem Tenaga Kerja Dualistis, Suatu Kritik Terhadap Sektor Informal, Jakarta : Gramedia Evers, Hans – Dieter. 1982. Sosiologi Perkotaan . Jakarta : LP3S. Hart, Keith. 1985. Sektor Informal, Dalam Chris Manning “ Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota”. Jakarta : Gramedia. Ivan A. Hadar. 2004. Utang, Kemiskinan dan Globalisasi. Yogyakarta: Iapera Pustaka Utama. Koentjaraningrat. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta. 1996. Pengantar Antropologi, Pokok – pokok Etnografi II. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Masinambow. 1997. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Ed I. Universitas Sumatera Utara Pelly, Usman. 1998. Urbanisasi, dan Adaptasi ( Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing ). Jakarta : PT Pustaka LP3S Safaria, Anne Friday. 2003 Hubungan Perburuhan di Sektor Informal. Bandung : Yayasan AKATIGA. Sjahrir, Kartini. 1986. Tukang – tukang Bangunan di Jakarta, Suatu Jaringan Kerja. Prisma, XV, No 9. Susetiawan. 2000 konflik Sosial : kajian sosiologis hubungan buruh, perusahaan dan negara di Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Suhanto. Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar . Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, Ed 4. Thomas Lindblad, J. 2000 Buku Sejarah Ekonomi Modern Indonesia ( Berbagai Tantangan Baru ) Jakarta : Pustaka LP3 ES Universitas Sumatera Utara Menno, S. 1991 Antropologi Perkotaan Jakarta : PT. Raja Persada Purwanto 1991 Dasar-dasar manajemen dan Kepemimpinan di Kapal Edisi Pertama, Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran, hal 19. Henry, Simamora 1999 Akuntansi Manajemen Yogyakarta : Salemba Empat (http:// diarru.multiply.com/journal/item/oleh Diarru 7 Dec07) ( http ://www.theindonesianinstitute.org/ daily 02.2002.htm oleh Elwin Tobing 02/19/02). (http://madib.blog.unair.ac.id/2008/09/26 oleh Mohammad Adib). (htt://panimbang.blogspot.com/2006/01/20 buruh-sektor-informal.html oleh Dyah dan Fahmi Panimbang). (http://Zudha/File/jurnal/2000/01/11 oleh Ratih Sulistyastuti Faturochman) Universitas Sumatera Utara
Strategi Bertahan Hidup Dalam Perkembangan Kota Medan. Strategi Bertahan Hidup Dalam Perkembangan Kota Medan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Strategi Bertahan Hidup Dalam Perkembangan Kota Medan.

Gratis