Feedback

Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan

Informasi dokumen
FERMENTABILITAS DAN KECERNAAN IN VITRO BULU AYAM DAN LIMBAH UDANG YANG DIOLAH DENGAN BEBERAPA TEKNOLOGI PENGOLAHAN BAHAN PAKAN SKRIPSI MILHUD A. NASUTION 050306005 DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara FERMENTABILITAS DAN KECERNAAN IN VITRO BULU AYAM DAN LIMBAH UDANG YANG DIOLAH DENGAN BEBERAPA TEKNOLOGI PENGOLAHAN BAHAN PAKAN SKRIPSI MILHUD A. NASUTION 050306005 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara Judul Nama Nim Departemen Progam studi : Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan : Milhud A. Nasution : 050306005 : Peternakan : Produksi Ternak Disetujui Oleh Komisi Pembimbing Ir. Edhy Mirwandhono, M.Si Ketua Dr. Ir. Philipus Sembiring, MS Anggota Mengetahui, Prof. Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP Ketua Departemen Peternakan Tanggal lulus : Universitas Sumatera Utara ABSTRAK MILHUD A. NASUTION: Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan. Dibimbing oleh EDHY MIRWANDHONO dan PHILIPUS SEMBIRING. Pakan ruminansia umumnya terdiri dari hijauan dan konsentrat. Sulitnya menyediakan hijauan dikarenakan semakin sempitnya lahan pertanian mengharuskan penyediaan pakan alternatif dari berbagai hasil samping seperti bulu ayam dan limbah udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknologi pengolahan terhadap nilai kecernaan dan fermentabilitas bulu ayam dan limbah udang dalam rumen sapi secara in vitro. Penelitian dibagi menjadi dua tahapan, pertama, pengolahan terhadap bahan pakan perlakuan dan kedua pengujian terhadap parameter penelitian yaitu fermentabilitas (konsentrasi NH3 dan Volatile Fatty Acid (VFA)) dan kecernaan (bahan kering dan bahan organik) secara in vitro dengan menggunakan metode Tilley dan Terry. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan delapan perlakuan. Perlakuan yang diuji meliputi: A (tepung bulu ayam tanpa pengolahan); B (bulu ayam + hidrolisis + giling); C (bulu ayam + presto + hidrolisis + giling); D (C + fermentasi); E (tepung limbah udang tanpa pengolahan); F (limbah udang + hidrolisis + giling); G (limbah udang + presto + hidolisis + giling); H (G + fermentasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pengolahan perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai koefisien cerna bahan kering (KCBK) dan koefisien cerna bahan organik (KCBO) bahan pakan perlakuan, sedangkan terhadap konsentrasi NH3 dan VFAnya memberi pengaruh yang berbeda tidak nyata. Penggunaan teknologi pengolahan bahan pakan terhadap bulu ayam dalam penelitian ini mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBO secara signifikan, sedangkan terhadap limbah udang, teknologi pengolahan yang sama tidak mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBOnya. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Binjai pada tanggal 27 April 1986 dari ayah Abdul Latif Nasution dan ibu Cipta Ningsih. Penulis merupakan putra keempat dari lima bersaudara. Tahun 2005 penulis lulus dari SMU Negeri II, Binjai dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur ujian tertulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Penulis memilih program studi Produksi Ternak, Departemen Peternakan. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Departemen Peternakan dan Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP), sebagai asisten praktikum di Laboratorium Anatomi dan Fisiologi Ternak dan Laboratorium Bahan Pakan Ternak dan Formulasi Ransum. Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun dari tanggal 20 Juni sampai 20 Juli 2008. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia–Nya sehingga penuis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan”. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Edhy Mirwandhono, M. Si. selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Philippus Sembiring, MS. selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul, melakukan penelitian, sampai pada ujian akhir. Khusus untuk Ibu Dian Anggraeni di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB, Bogor, penulis menyampaikan banyak terima kasih atas bantuannya selama penulis mengumpulkan data. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf pengajar dan pegawai di Departemen Peternakan, USU, Medan, dan kepada civitas akademik Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, IPB, Bogor, serta rekan-rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat. Medan, Maret 2010 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK. RIWAYAT HIDUP . KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI . DAFTAR TABEL . DAFTAR GAMBAR . i ii iii iv vi vii PENDAHULUAN Latar Belakang . Tujuan Penelitian . Hipotesis Penelitian . Kegunaan Penelitian . 1 3 3 3 TINJAUAN PUSTAKA Rumen . 5 Metabolisme Rumen . 6 Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) dalam Rumen . 6 Produksi N-Amonia (NH3) dalam Rumen . 7 Peran Mikroba Rumen . 8 Teknik In Vitro . 10 Potensi Bulu Ayam . 11 Potensi Limbah Udang . 11 Teknik Pengolahan Bulu Ayam . 13 Hirdolisis Bulu Ayam . 14 Teknik Pengolahan Limbah Udang . 16 Hidrolisis Limbah Udang . 18 Proses Fermentasi. 19 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian . 21 Bahan dan Alat Penelitian . 21 Universitas Sumatera Utara Bahan . Alat . Metode Penelitian . Parameter Penelitian . Pelaksaan Penelitian . 21 21 22 23 24 HASIL DAN PEMBAHASAN Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) . Koefisien Cerna Bahan Organik . Kadar Nitrogen Amonia (N-NH3) . Kadar Volatile Fatty Acid (VFA) . 26 30 34 37 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 41 Saran . 41 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL 1. Kandungan nutrisi tepung bulu . 11 2. Kandungan nutrisi limbah udang tanpa dan dengan pengolahan . 12 3. Rataan Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) . 26 4. Sidik ragam Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) . 27 5. Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) teknologi pengolahan perlakuan terhadap Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) . 27 6. Sidik ragam Ortogonal Kontras KCBK . 29 7. Rataan Koefisien Cerna Bahan Organik (KCBO) . 31 8. Sidik ragam Koefisien Cerna Bahan Organik (KCBO) . 31 9. Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) teknologi pengolahan perlakuan terhadap Koefisien Cerna Bahan Organik (KCBO) . 32 10. Sidik ragam Ortogonal Kontras KCBO . 33 11. Rataan Konsentrasi NH3 . 34 12. Sidik ragam Konsentrasi NH3 . 35 13. Sidik ragam Ortogonal Kontras Konsentrasi NH3 . 36 14. Rataan Konsentrasi VFA . 37 Universitas Sumatera Utara 15. Sidik ragam Konsentrasi VFA . 38 16. Sidik ragam Ortogonal Kontras Konsentrasi VFA . 39 17. Rekapitulasi hasil penelitian . 40 DAFTAR GAMBAR 1. Struktur kimia keratin . 14 2. Struktur kimia khitin . 17 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK MILHUD A. NASUTION: Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan. Dibimbing oleh EDHY MIRWANDHONO dan PHILIPUS SEMBIRING. Pakan ruminansia umumnya terdiri dari hijauan dan konsentrat. Sulitnya menyediakan hijauan dikarenakan semakin sempitnya lahan pertanian mengharuskan penyediaan pakan alternatif dari berbagai hasil samping seperti bulu ayam dan limbah udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknologi pengolahan terhadap nilai kecernaan dan fermentabilitas bulu ayam dan limbah udang dalam rumen sapi secara in vitro. Penelitian dibagi menjadi dua tahapan, pertama, pengolahan terhadap bahan pakan perlakuan dan kedua pengujian terhadap parameter penelitian yaitu fermentabilitas (konsentrasi NH3 dan Volatile Fatty Acid (VFA)) dan kecernaan (bahan kering dan bahan organik) secara in vitro dengan menggunakan metode Tilley dan Terry. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan delapan perlakuan. Perlakuan yang diuji meliputi: A (tepung bulu ayam tanpa pengolahan); B (bulu ayam + hidrolisis + giling); C (bulu ayam + presto + hidrolisis + giling); D (C + fermentasi); E (tepung limbah udang tanpa pengolahan); F (limbah udang + hidrolisis + giling); G (limbah udang + presto + hidolisis + giling); H (G + fermentasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pengolahan perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai koefisien cerna bahan kering (KCBK) dan koefisien cerna bahan organik (KCBO) bahan pakan perlakuan, sedangkan terhadap konsentrasi NH3 dan VFAnya memberi pengaruh yang berbeda tidak nyata. Penggunaan teknologi pengolahan bahan pakan terhadap bulu ayam dalam penelitian ini mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBO secara signifikan, sedangkan terhadap limbah udang, teknologi pengolahan yang sama tidak mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBOnya. Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Peningkatan populasi ternak secara umum harus diimbangi dengan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai baik dalam kuantitas, kualitas maupun kontinuitas. Pakan ruminansia umumnya terdiri dari hijauan dan konsentrat. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat pesatnya perkembangan pembangunan pemukiman dan industri, menyebabkan ketersediaan lahan untuk tanaman hijauan pakan secara otomatis semakin berkurang. Di sisi lain ketersediaan bahan baku pakan penyusun konsentrat bersaing dengan kebutuhan untuk pangan. Konsekuensinya produktivitas ternak, khususnya ternak ruminansia belum optimal. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah di atas adalah upaya pemanfaatan berbagai macam produk samping pertanian dan agroindustri. Namun demikian Jetana et al., (1998) dan Winugroho (1999) melaporkan bahwa bermacam produk samping pertanian mempunyai kualitas yang cukup rendah. Oleh karena itu, jika ransum ternak tersusun hanya berasal dari produk samping pertanian, produktivitas ternak yang mengkonsumsi ransum tersebut menjadi Universitas Sumatera Utara rendah. Hal ini disebabkan kebutuhan ternak akan nutrien tidak terpenuhi (Jetana et al., 1998; Kanjanapruthipong et al., 2001). Sebagai solusinya, untuk dapat memenuhi kebutuhan ternak akan nutrien agar dapat berproduksi secara optimal, pakan ekstra atau tambahan perlu diberikan (Garg, 1998). Beberapa produk samping pertanian dan agroindustri tertentu diketahui mengandung nutrien yang cukup tinggi, serta belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku pakan. Hal ini disebabkan, selain kurangnya informasi ketersediaan dan manfaat produk tersebut, juga disebabkan produk tersebut memiliki nilai biologis yang rendah. Begitu juga halnya dengan bahan pakan yang berasal dari limbah perkebunan mempunyai kandungan serat kasar yang tinggi. Kadar serat kasar yang tinggi dapat mengganggu pencernaan zat-zat lain akibatnya tingkat kecernaan menjadi menurun. Pemberian pakan dari limbah ini sebagai pakan ternak dirasa perlu untuk mengetahui sampai sejauh mana peranan hasil samping produk pertanian dan agroindustri terhadap fermentabilitas dan kecernaan in vitro sehingga menjadi pakan yang nantinya diharapkan dapat meningkat nilai kecernaannya. Produk samping yang dimaksud adalah produk samping dari pemotongan ayam seperti bulu dan juga dari pengolahan udang seperti limbah udang. Karena diketahui bahwa kedua hasil samping ini masih mempunyai kandungan nutrisi yang bahkan lebih baik dari hasil samping pertanian dan agroindustri lainnya. Adiati dan Puastuti (2004) menjelaskan bulu ayam merupakan limbah yang masih punya potensi untuk dimanfaatkan, karena masih memiliki kandungan nutrisi protein yang sangat tinggi. Bulu ayam mempunyai kandungan protein kasar Universitas Sumatera Utara sebesar 80-91% dari bahan kering, melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai (42,5%) dan tepung ikan (66,2%). Menurut Shahidi dan Synowiecki (1992), limbah udang mengandung protein 41,9%, khitin 17,0%, abu 29,2% dan lemak 4,5% dari bahan kering. Akan tetapi, kedua hasil samping produk pertanian dan agroindustri ini memiliki kelemahan yaitu tingkat kecernaannya yang rendah dimana pada bulu ayam terdapat kandungan keratin sebanyak 8,8% dari kandungan proteinnya (Scott et al., 1982), sedangkan pada limbah udang terdapat kandungan khitin sebanyak 23-30% (Hartadi et al., 1997), sehingga dalam penggunaannya sebagai bahan pakan ternak perlu sentuhan teknologi untuk meningkatkan nilai gizinya. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk menelaah sejauh mana peluang pemanfaatan bulu ayam dan limbah udang dapat dipergunakan sebagai bahan pakan tambahan untuk ternak ruminansia dengan merombak pakan yang berkualitas baik tersebut dengan pengolahan secara mekanik, kimia, dan biologis menjadi pakan yang lebih baik lagi sehingga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak ruminansia. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh teknologi pengolahan terhadap nilai kecernaan dan fermentabilitas bulu ayam dan limbah udang dalam rumen sapi secara in vitro. Hipotesis Penelitian Penggunaan bulu ayam dan limbah udang yang diolah secara mekanik, kimia, dan biologis dapat meningkatkan nilai kecernaan (bahan kering dan bahan Universitas Sumatera Utara organik) dan nilai fermentabilitas (konsentrasi amonia (NH3) dan Volatile Fatty Acid (VFA) dalam rumen sapi secara in vitro. Kegunaan Penelitian 1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana pada Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. 2. Sebagai bahan informasi bagi para peneliti dan kalangan akademisi atau instansi yang berhubungan dengan peternakan, serta masyarakat peternak umumnya mengenai nilai kecernaan bulu ayam dan limbah udang dalam rumen sapi. Universitas Sumatera Utara TINJAUAN PUSTAKA Rumen Rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstansif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan pelepasan produk akhir yang dapat > 1. Semakin besar nilai R/C Ratio maka semakin efisien usaha tersebut dan sebaliknya, semakin kecil nilai R/C Rationya maka semakin tidak efisien usaha tersebut. Rumus untuk mencari niali R/C Ratio dapat dituliskan sebagai berikut : R/C Ratio = Output Input dimana : Output : keluaran yang diperoleh dari usaha tersebut yang berupa hasil penjualan Input : korbanan yang diberikan berupa biaya-biaya untuk proses produksi Efisiensi usaha tani ditentukan dengan menggunakan konsep RCR (revenue cost ratio), yaitu imbangan antara total penghasilan (out put) dengan total biaya (input). Nilai RCR > 1 menyatakan usaha tersebut menguntungkan. Semakin besar nilai RCR maka usaha dinyatakan semakin efisien (Karo-karo et al., 1995).     Universitas Sumatera Utara Income Over Feed Cost (IOFC) Untuk mengetahui efisiensi penggunaan ransum secara ekonomis, selain memperhitungkan bobot badan yang dihasilkan dan efisiensi ransum, faktor efisiensi biaya juga perlu diperhitungkan. Income over feed cost (IOFC) adalah salah satu cara untuk mengetahui efisiensi biaya yang diperoleh dari hasil penjualan produksi dikurangi biaya ransum. Perhitungan IOFC ini terlepas dari biaya lain yang belum diperhitungkan seperti upah tenaga kerja, fasilitas kandang, bibit dan lain sebagainya yang tidak termasuk ke dalam kriteria yang diamati dalam biaya variabel. Income Over Feed Cost (IOFC) adalah selisih dari total pendapatan dengan total biaya pakan digunakan selama usaha penggemukan ternak. Income Over Feed Cost ini merupakan barometer untuk melihat seberapa besar biaya ransum yang merupakan biaya terbesar dalam usaha penggemukan ternak. IOFC diperoleh dengan menghitung selisih pendapatan usaha peternakan dikurangi biaya pakan. Pendapatan merupakan perkalian antara produksi peternakan atau pertambahan bobot badan akibat perlakuan dengan harga jual (Prawirokusumo, 1990). IOFC = (Bobot badan akhir ayam – bobot badan awal x harga jual ayam/kg) – (Total konsumsi pakan x harga pakan perlakuan/kg) Ayam Broiler Ayam broiler merupakan salah satu alternatif yang dipilih dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani karena ayam broiler memiliki pertumbuhan dan bobot badan yang sangat cepat, efisiensi pakan cukup tinggi, ukuran badan besar dengan bentuk dada lebar dan padat dan berisi sehingga sangat efisien     Universitas Sumatera Utara diproduksi dalam jangka waktu 5-6 minggu ayam broiler tersebut dapat mencapai bobot hidup 1,4 – 1,6 kg. Secara umum broiler dapat memenuhi selera konsumen atau masyarakat, selain dari pada itu broiler lebih dapat terjangkau masyarakat karena harganya relatif murah (Rasyaf, 2000). Usaha ayam ras pedaging merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial dikembangkan. Hal ini tidak terlepas dari berbagai keunggulan yang dimilikinya antara lain masa produksi yang relatif pendek kurang lebih 32-35 hari, produktivitasnya tinggi, harga yang relatif murah dan permintaan yang semakin meningkat. Beberapa faktor pendukung usaha budidaya ayam ras pedaging sebenarnya masih dapat terus dikembangkan, antara lain karena permintaan domestik terhadap ayam ras pedaging masih sangat besar (Anggrodi, 1995). Ayam broiler mempunyai potensi yang besar dalam memberikan sumbangan terhadap pemenuhan kebutuhan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia, karena sifat proses produksi relatif cepat (kurang dari 5 minggu) dan hasilnya dapat diterima masyarakat luas. Sifat produksi ayam broiler akan muncul jika memperhatikan beberapa faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ayam broiler adalah genetik, lingkungan dan interaksi antara genetik (Sembiring, 2006). Kebutuhan Nutrisi Broiler Keunggulan ayam pedaging didukung oleh sifat genetik, karena ayam pedaging ini memiliki laju pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, sehingga produksi optimal hanya dapat diwujudkan apabila ayam tersebut memperoleh makanan yang berkualitas baik dalam jumlah kebutuhan nutrisi yang     Universitas Sumatera Utara mencukupi. Rekayasa genetik, perkembangan teknologi pakan dan manajemen perkandangan menyebabkan strain ayam broiler yang ada sekarang lebih peka terhadap formula pakan yang diberikan (Wahju, 2004). Seperti yang dinyatakan oleh Amrullah (2004) bahwa pertumbuhan yang cepat dari ayam harus diimbangi dengan ketersediaan nutrisi dalam pakan yang cukup dan keadaan lingkungan yang meliputi temperatur lingkungan dan pemeliharaan. Menurut Direktorat Bina Produksi (1997), persyaratan mutu ayam umur satu hari (DOC) adalah berat minimal 37 gram, kondisi fisik sehat, kaki normal, dapat berdiri tegak, tampak segar, aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk, tidak cacat fisik sekitar pusar dan dubur kering serta pusar tertutup, warna bulu seragam sesuai dengan strain dan kondisi bulu kering. Zat makanan ayam broiler pada fase pertumbuhan broiler tergantung pada pakan disamping tata laksana dan pencegahan penyakit. Tujuan pemberian ransum pada ayam adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan berproduksi. Untuk produksi maksimum dilakukan dengan jumlah cukup, baik kualitas maupun kuantitas. Ransum broiler harus seimbang antara kandungan protein dengan energi dalam ransum. Disamping itu kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan ( Kartadisastra, 1994 ). Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dimakan dalam jangka waktu tertentu dan ransum yang dikonsumsi oleh ternak akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat nutrisi yang lain. Tingkat energi menentukan jumlah ransum yang dikonsumsi, ayam cenderung meningkatkan konsumsinya jika kandungan energi ransum rendah dan sebaliknya konsumsi akan menurun jika kandungan energi ransum meningkat (Scott et al., 1982).     Universitas Sumatera Utara Menurut Parakkasi (1999) komsumsi adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila diberikan ad libitum. Menurut Tillman et al., (1991) konsumsi diperhitungkan sebagai jumlah makanan yang dimakan oleh ternak, dimana zat makanan yang dikandungnya akan digunakan untuk mencukupi kehidupan pokok dan untuk produksi hewan tersebut. Pada penyusunan formulasi ransum secara praktis, perhitungan kebutuhan nutrien hanya didasarkan pada kebutuhan energi dan protein, sedangkan kebutuhan nutrien yang lain hanya disesuaikan. Apabila ternak menunjukkan gejala defisiensi maka perlu ditambahkan suplemen terutama vitamin dan mineral. Tingkat kandungan energi ransum harus disesuaikan dengan kandungan proteinnya, karena protein sangat penting untuk pembentukan jaringan tubuh dan produksi. Apabila energi terpenuhi namun proteinnya kurang maka laju pertumbuhan dan produksi akan terganggu. Oleh karena itu, perlu diperhitungkan keseimbangan antara tingkat energi dan proteinsehingga penggunaan ransum menjadi efisien (Suprijatna et al., 2005). Tepung Limbah Udang Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis sehingga perlu mengalami proses pengolahan. Proses pengelolaan limbah merupakan seluruh rangkaian proses yang dilakukan untuk mengkaji aspek kemanfaatan benda/barang dari sisa sampai tidak mungkin untuk dimanfaatkan kembali. Salah satu usaha pengolahan limbah adalah menjadikannya sebagai pakan ternak. Proses pengolahan limbah menjadi ransum     Universitas Sumatera Utara ternak dapat dilakukan secara kering (tanpa fermentasi) yaitu dengan mengeringkannya, baik menggunakan alat pengering maupun dengan sinar matahari. Kemudian dicincang, selanjutnya dijemur pada sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan cara mudah dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas. Setelah kering limbah ditumbuk menggunakan lesung atau alat penumbuk lainnya, kemudian dilakukan pengayakan (Anonima, 2008). Kandungan khitin yang tinggi menyebabkan limbah udang mempunyai kecernaan yang rendah yaitu kadar khitin 3 % dalam ransum ayam broiler yang akan menekan konsumsi ransum dan pertumbuhan. Oleh sebab itu sebelum digunakan sebagai bahan pakan dalam ransum broiler limbah udang itu harus mendapat penanganan dan pengolahan yang baik untuk meningkatkan nilai gizinya. Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya. Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu sebagai pelindung Isolasi khitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu tahap pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa (Neely dan Wiliam, 1999). Kualitas tepung udang sangat bergantung pada bagian tubuh udang yang menjadi limbah, cara pengeringan dan jenis udang yang digunakan kandungan protein kasarnya sebanyak 32% dan mineralnya 18% sehingga cukup baik digunakan untuk bahan ransum. Penggunaan tepung udang yang terlalu banyak juga tidak baik karena dari total 100% tepung udang sebagian besar adalah kulitnya (Rasyaf, 1997). Kandungan protein limbah udang yang cukup tinggi merupakan potensi yang perlu dimanfaatkan. Disamping berarti perlakuan R0, R1, R2, dan R3 pada broiler jantan umur 6 minggu memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn), walaupun rataan nilai energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn) yang diperoleh antar perlakuan sedikit berbeda. Hal ini dapat disebabkan karena bahan pakan pada perlakuan R0, R1, R2, dan R3 memiliki nilai nutrisi yang hampir sama dan pemberian pakan secara paksa (force feeding) dengan jumlah yang sama, begitu juga dengan umur ternak yang hampir seragam sehingga mempengaruhi hasil yang tidak berbeda nyata tersebut. Sudibyo (1998) menyatakan bahwa nilai energi metabolis dipengaruhi oleh tingkat makanan dan umur ternak. Retensi Nitrogen (RN) Retensi nitrogen ( RN) adalah sejumlah nitrogen dalam protein pakan yang masuk kedalam tubuh ternak kemudian diserap dan digunakan oleh ternak, Sibbald and wolynetz ,1985 B (rataan retensi nitrogen ( RN) dapat dilihat pada tabel 13. Universitas Sumatera Utara Perlakuan 1 Ulangan 2 34 5 Total Rataan R0 80.45 82.11 78.00 81.91 82.62 405.09 81.018 R1 81.33 84.43 79.09 82.85 84.89 412.59 82.518 R2 82.25 84.16 80.12 83.31 88.55 418.39 83.678 R3 84.21 85.05 84.57 84.26 88.27 426.36 85.272 Total 328.24 335.75 321.78 84.26 344.33 1662.43 332.486 Rataan 82.06 83.9375 80.445 83.0825 86.0825 415.6075 132.9944 Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa rataan retensi nitrogen (RN) selama penelitian adalah 83,121 % dengan kisaran 81,018-85,272 %, retensi nitrogen (RN) terrendah terdapat pada perlakuan R0 yaitu sebesar 81,018 sedangkan retensi nitrogen (RN) terdapat pada perlakuan R3 yaitu sebesar 85,272% Nilai retensi nitrogen dari masing – masing perlakuan, R0, R1, R2, dan R3 bernilai positip berturut–turut 81,018; 82,518; 83,678; dan 85,272%. Hal ini menunjukkan bahwa ayam pedaging mampu menggunakan nitrogen yang terkandung dalam protein pakan, Eggum (1973) menyatakan bahwa pengukuran retensi nitrogen dengan metode koleksi ekskreta selama 5 hari untuk mencapai hasil yang optimal. Kecernaan limbah udang yang fermentesi dengan bakteri serratia marcescens terhadap retensi nitrogen (RN) pada ayam pedaging jantan umur 6 minggu dapat diketahui dengan melakukan analisis keragaman seperti tertera pada tabel 14. Universitas Sumatera Utara Tabel 14 Analisis Keragaman Retensi Nitrogen SK DB JK KT F Hitung perlakuan Galat Total Ket :tn Kk 3 48.61634 16 87.02512 19 135.6415 : tidak nyata : 0.70 16.20545 2.979451tn 5.43907 F Tabel 0.05 0.01 3.24 5.29 Hasil uji keragaman pada tabel 8.1 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F tabel pada taraf 0,05 yang berarti perlakuan R0, R1, R2, dan R3 pada ayam pedaging jantan umur 6 minggu memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn), walaupun rataan nilai energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn) yang diperoleh antar perlakuan sedikit berbeda. Pengaruh yang tidak berbeda nyata pada nilai retensi nitrogen (RN) antar perlakuaan disebabkan karena protein yang terkandung dalam pakan perlakuan hampir sama,hal ini sesuai dengan pernyataan Ewing (1963) yang melaporkan bahwa tingkat makanan dan kandungan protein bahan pakan berpengaruh terhadap nilai retensi nitrogen yang dihasilkan. Amrullah (1981) menyatakan bahwa jenis ternak, umur, dan faktor genetik mempengaruhi nilai retensi nitrogen yang dihasilkan. Universitas Sumatera Utara REKAPITULASI HASIL PENELITIAN Rekapitulasi hasil penelitian terhadap ekskresi energi, energi metabolis dan retensi nitrogen adalah sebagaimana ditampilkan pada tabel 9. Tabel 9 Rekapitulasi hasil penelitian Parameter Ekskresi energi (Kkal/ekor) Energi metabolis semu (Kkal/kg) Energi metabolis murni (Kkal/kg) Energi metabolis semu terkoreksi nitrogen (Kkal/kg) Energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (Kkal/kg) Retensi nitrogen (%) Keterangan: tn: tidak nyata R0 54.14tn 84.12tn 31.89tn 46.4tn 34.78tn 81.018tn Perlakuan R1 R2 53.68tn 85.31tn 33.16tn 47.75tn 37.25tn 82.518tn 52.92tn 86.02tn 34.1tn 48.93tn 38.74tn 83.678tn R3 52.76tn 87.62tn 35.54tn 50.02tn 40.14tn 85.272tn Rekapitulasi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan R0, R1, R2 dan R3 pada ayam pedaging memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata atau (P>0.05) terhadap ekskresi energi, energi metabolis semu (EMS), Energi metabolis murni (EMM), energi metabolkis semu terkoreksi nitrogen (EMSn), Energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn), Retensi nitrogen (RN). Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Fermentasi dengan bakteri serratia marcescens pada level 1 % sampai 3 % terhadap limbah udang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap ekskresi energi (Kkal/ekor), energi metabolis (Kkal/kg) dan retensi nitrogen (%). Saran Disarankan agar pada penelitian selanjutnya memperhatikan level penggunaan bakteri serratia marcescens untuk fermentasi limbah udang. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Adams,C.A.2000.Enzim Komponen Penting Dalam Pakan Bebas Antibiotika.Feed Mix Special.http;//www.alabio.(4 maret 2009) Amrullah,I,K.,j.Wahyu,T.Sutardi.1981.Penentuan Kandungan Energi Metabolis Murni Dari Beberapa Bahan Makanan Unggas.Laporan Penelitiaan.Fakultas Peternakan.IPB Bogor Araba,M.and N.Dale,1990.Evaluation of Protein Solubility as an Indikator of Over Processing Soybean Meal.Poultry sci.69:76-83 Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science (Animal Agriculture series). INTERSTATE PUBLISHER,INC. Danville, Illinois. Ewing,1963.Poultry Nutrition.5thEdition.The Ray Ewing Company.Pasadena Hanafiah, K.A.2003. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Harjo, SS., N.S. Indrsti, B. Tajuddin.1989. Biokonveksi Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian.Fakultas Pangan dan Gizi, IPB. Http:// www. Poultryindonesia.com http:/www. Suara Merdeka.com/Harian Marganof. 2003. Potensi Limbah Udang Sebagai penyerap Logam Berat. (Timbal, Kadmium dan Tembaga di Perairan. Jurnal Parson,C.M.,K.Hashimoto.,K.J.Wedekind,and D.H.Baker.1991.Soy Bean Protein Solubility In Potassium Hydroxide; an In Vitro Test Of In Vivo Protein Quality.J.Anim.sci.69:2918-2924 Prasetiyo, Kurnia Wiji,. 2004. Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang Sebagai Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan. Jurnal Rasyaf, M ,1992. Beternak Ayam Pedaging,.Penebar Swadaya, Jakarta Rasyaf, M ,2004. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta. Rasyid, Jamil.2006. Optimalisasi Permentasi Dengan Pemenfaatan Enzim Kulit Nanas dan Pembuatan Kecap Asin Limbah Kepala Udang Windu. Jurnal Universitas Sumatera Utara Saono, S.1976. Koleksi Jasad Renik Suatu Prasarana yang diperlukan bagi Pengembangan Mikrobiologi. Berita Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 22(4): 1-11. Sibbald,I.R.1976. A Bioassy For True Metabolizable Energy In Feedings Tuffs. Poultry sci., 55 : 303 – 305. Sibbald,I.R.1979.The Effect Of The Drying Prosedure On Drying Poultry Excreta.Poultry sci.,58:1392-1394 Sibbald,I.R.1980. Metabolic plus endogenous energy ad nitrogen losses of adult cockerels : the correction used in bioassay for true metabolizable energy. Poultry sci, 60 : 805 - 811. Sibbald,I.R, and M.S. Wollynatz, 1985 b. Estimates of returned nitrogen used to correct estimates of broavailable energy. Poultry sci., 64 : 1506 -1513. Sibbald.I.R, and M.S. Wolynetz. 1985 a. Relationship made with adult cockerels adn chisks : effect of feed intake and nitrogen retention. Poultry sci : 127138. Siregar , A.P. 1994. Teknik Beternak ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group, Jakarta. Sudarmadji, S.1984.Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian Edisi Pertama. Liberty, Yogyakarta. Sudarmadji, S.1989. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian Edisi Ketiga. Liberty, Yogyakarta. Sudibyo. 1998. Manipulasi Kadar Kolestrol dan Asam Lemak Omega-3 Telur Ayam Melalui Penggunaan Limbah Udang dan Minyak Ikan Lamoru. Jurnal Suriwati,u.1986.Pengantar Mikrobiologi Umum.Penerbit Angkasa.Bandung Wahyu,J.1997.Ilmu Nutrisi Unggas.Edisi Keempat.Universitas Gajah Mada Press.Yogyakarta Widjaya , S ,1993 . Penanganan Limbah Industri Udang. Poultry Production. Indonesia http :/www.Poultryindonesia.com/hal/pdf Winamo,F,G.,S.Fardiaz,dan D.Fardiaz.196b.Pengantar Teknologi Pangan.Penerbit PT Gramedia.Jakarta Yitnosumamo,s.1990.Perancangan Percobaan dan Interprestasinya,Universitas Gajah Mada.Yogyakarta. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 1 Proses fermentasi bahan Ditimbang bahan yang akan difermentasi Ditambahkan inokulum sebanyak 1%,2%,dan 3% masing-masing dari bahan yang akan difermentasi diaduk hingga rata Ditambahkan aquades sebanyak 20% dari bahan yang akan difermentasi Disimpan dalam suhu kamar selama 4 hari Hasil bahan fermentasi Dikeringkan dengan matahari sebelum digunakan Universitas Sumatera Utara
Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan Analisis Data Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan Pengempukan Bulu Ayam dan Limbah Udang Hidrolisis Bulu Ayam dan Limbah Udang Fermentasi Tepung Bulu dan Tepung Limbah Udang Evaluasi In Vitro
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Bulu Ayam dan Limbah Udang yang Diolah dengan Beberapa Teknologi Pengolahan Bahan Pakan

Gratis