Akibat Hukum Pemecahan Sertipikat (Tanda Bukti Hak) Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan

 5  51  122  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT (TANDA BUKTI HAK) ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN Tesis Oleh AFNIDA NOVRIANI 097011028/MKn.

  Secara spesifik tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaturan hukum tentang pemecahan sertipikat yang sedangterikat Hak Tanggungan , untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap Bank akibat pemecahan sertipikat yang sedang terikat tanggungan dan untuk mengetahuiapa sajakah yang menjadi akibat h ukum dari pemecahan tanda bukti hak (sertipikat) atas tanah yang sedang terikat hak tanggungan . Sedangkan wawancara dilakukan secara langsungdengan dengan informan atau narasumber y ang terkait dengan pemecahan sertipikat dan hak tanggungan, selaku narasumber dalam penelitian ini yaitu kepala seksipengukuran dan pemetaan tanah dari kantor pertanahan kota Medan dan informan dari pihak bank yaitu Legal Officer PT.

FAKULTAS HUKUM MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2012

  Secara spesifik tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaturan hukum tentang pemecahan sertipikat yang sedangterikat Hak Tanggungan , untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap Bank akibat pemecahan sertipikat yang sedang terikat tanggungan dan untuk mengetahuiapa sajakah yang menjadi akibat h ukum dari pemecahan tanda bukti hak (sertipikat) atas tanah yang sedang terikat hak tanggungan . Sedangkan wawancara dilakukan secara langsungdengan dengan informan atau narasumber y ang terkait dengan pemecahan sertipikat dan hak tanggungan, selaku narasumber dalam penelitian ini yaitu kepala seksipengukuran dan pemetaan tanah dari kantor pertanahan kota Medan dan informan dari pihak bank yaitu Legal Officer PT.

KATA PENGANTAR

  Secara spesifik tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaturan hukum tentang pemecahan sertipikat yang sedangterikat Hak Tanggungan , untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap Bank akibat pemecahan sertipikat yang sedang terikat tanggungan dan untuk mengetahuiapa sajakah yang menjadi akibat h ukum dari pemecahan tanda bukti hak (sertipikat) atas tanah yang sedang terikat hak tanggungan . Sedangkan wawancara dilakukan secara langsungdengan dengan informan atau narasumber y ang terkait dengan pemecahan sertipikat dan hak tanggungan, selaku narasumber dalam penelitian ini yaitu kepala seksipengukuran dan pemetaan tanah dari kantor pertanahan kota Medan dan informan dari pihak bank yaitu Legal Officer PT.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk

  Salah satu sarana yang mempunyai peran strategis dalam pengadaan dana adalah lembaga perbankan, yang telah membantu pemenuhan kebutuhan dana bagikegiatan perekonomian dengan memberikan pinjaman uang ant ara lain melalui kredit perbankan, yaitu berupa perjanjian kredit antara kreditor sebagai pihak pemberipinjaman atau fasilitas kredit dengan debitor sebagai pihak yang berhutang. Resiko yang umumnya terjadi adalah kegagalan atau kemaceta n dalam pelunasan kredit (resiko kredit),resiko yang timbul karena pergerakan pasar (resiko pasar), resiko karena bank tidak mampu memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo (resiko likuiditas), sertaresiko karena adanya kelemahan aspek yuridis yang di sebabkan adanya tuntutan 3 hukum, ketiadaan peraturan perundang -undangan yang mendukung (resiko hukum).

3 Badriyah Harun, Penyelesaian Sengketa Kredit Bermasalah , Pustaka Yustisia, Jakarta

4 Personality, and Prospect ). Salah satu hal yang dipersyaratkan bank sebagai kreditor

  Karena pada umumnya memiliki nilai atau harga yang tinggi dan terus meningkat, sehingga dalam hal ini sudah selayaknyaapabila debitor sebagai penerima kredit dan kreditor sebagai pemberi fasilitas kredit serta pihak lain terkait memperoleh perlindungan melalui suatu lembaga hak jaminanyang kuat dan dapat memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan. 120 Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 51 Undang -Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasa r Pokok-Pokok Agraria, disebutkan bahwa sudah disediakanlembaga hak jaminan yang kuat dan dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah didaftarkan berupa sertipikat, yaitu Hak Tanggungan sebagai pengganti lembaga 10 hypotheek dan credietverband.

11 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan UUPA, Isi dan

  Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta, 2005, hal.410 -413 Sebagai konsekuensi pemecahan, terhadap Sertipikat asal menjadi tidak berlaku lagi, sebagaimana berdasarkan Pasal 133 angka 5 Peraturan Menteri NegaraAgraria/Kepala Badan Petanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah,sedangkan terhadap Hak Tanggungan sec ara tegas dan tertulis tidak diatur ketidak berlakuannya dalam pasal ini. Dari uraian-uraian tersebut di atas mengenai kendala yang terjadi dalam praktek pertanahan dalam hal pemecahan Sertipikat dikaitkan dengan pemasanganHak Tanggungan pada bank, sangat relevan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

E. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan informasi dan data yang dimiliki serta penelusuran yang dilakukan di kepustakaan di Sekolah Pasca Sarjana Magister KenotariatanUniversitas Sumatera Utara Medan , judul yang diangkat ini belum ada yang melakukan penelitian terhadap masalah tersebut sebelumnya , oleh karena itupenelitian ini adalah asli dan untuk itu dapat dipertanggung jawabkan secara 1. Apakah pengikatan hak tanggungan atas tanah beserta benda -benda yang berkaitan dengan tanah telah sesuai dengan prosedur yang berlaku?b.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

  Dengan demikian kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yang pertama adanyaaturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan bagi indivi du dari kesewenangan1213 M. Pieter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009, hal.158 Bertalian dengan judul penelitian, bahwa teori ini sejalan dengan ma ksud dan tujuan dari ketentuan-ketentuan/peraturan-peraturan tentang pertanahan, yaitu untukmemberikan keamanan bagi setiap individu yang memiliki hak -hak atas tanah.

16 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta

  Oleh karena itu fungsi dari teori tersebut dipakai dalam penelitian ini selain memberikan kepastian hukum terhadap hak atas tanah yang dijadikan jaminan dalampembebanan hak tanggungan juga memberikan perlindungan ter hadap pihak Bank 2. Selanjutnya untuk menghindari terjadinya salah pengertian dan pemahaman yang berbeda tentang tujuan yang akandicapai dalam penelitian ini, maka kemudian konsepsi dalam bentuk definisi operasional sebagai berikut :17 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hal.

20 Menteri Agraria

  Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Sertipikat adalah surat tanda bukti hak sebagaiman a dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf cUUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing -masing sudah dibukukan dalam buku 21 tanah yang bersangkutan. Pengertian pemecahan dalam judul ini ialah proses, cara atau perbuatan memecah atau memecahkan suatu surat tanda bukti hak yang sudahdibukukan menjadi beberapa bagian yang masing -masing merupakan satuan bidang baru dengan status hukum yang sama dengan bidang tanah semula.

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

  Metode Pendekatan Dalam penelitian ini menggunakan jenis pe nelitian hukum dengan metode pendekatan yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakanpenelitian hukum doktriner yang disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan -peraturan yang tertulis 26 atau bahan hukum yang lain. Wawancara secara langsung dengan dengan informan atau narasumber yang terkait dengan pemecahan sertipikat dan hak tanggungan, selaku narasumberdalam penelitian ini yaitu kepala seksi pengukuran dan pemetaan tanah dari kantor pertanahan kota Medan dan informan dari pihak bank yaitu Legal OfficerPT.

BAB II KETENTUAN HUKUM TENTANG PEMECAHAN SERTIPIKAT YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN A. Ketentuan Hukum Tentang Hak Tanggungan

1. Ketentuan Umum Hak Tanggungan

  Undang-Undang Hak Tanggungan bertujuan memberikan landasan untuk dapat berlakunya lembaga Hak Tanggungan yang kuat yang di dalamnya antara lainmenegaskan atau meluruskan persepsi yang kurang tepat di waktu lalu. Dalam penjelasan ayat (1) dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan sifat tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan adalah bahwa Hak Tanggunganmembebani secara utuh obyek Hak Tanggungan dan setiap bagian daripadanya.

2. Prosedur Pembebanan Hak Tanggungan

  Demikian pula ditegaskan dalam Pasal 10 Ayat (1) U ndang-undang HakTanggungan, bahwa pemberian hak tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu. Hak Tanggungan dapat dibebankan lebih dari satu kali terhadap objek yang sama untuk menjamin pelunasan lebih da ri satu hutang dan untuk beberapa Kreditor.

37 Kantor Pertanahan

  Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh kantor Pertanahan dengan membuatkan buku-tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hakatas tanah yang menjadi obyek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan. Tahapan Pemberian Hak Tanggungan m enurut Pasal 10 ayat (1) bahwa awal dari tahap pemberian Hak Tanggungan did ahului dengan janji akan memberikan HakTanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di dalam perjanjian utang piutang dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utangpiutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan hutang tersebut.

38 Hak Tanggungan dilakukan

  Apabila APHT dan warkah lainnya diterima olehKantor Pertanahan, maka proses pendaf taran dilakukan dengan dibuatnya buku tanah untuk Hak Tanggungan yang didaftar dan dicatat adanya Hak Tanggungantersebut pada buku tanah dan sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan. Hal ini berarti sejak hari dan tanggal tersebut kreditor resmi menjadi pemegang Hak Tanggungan dengankedudukan istimewa (droit de preference) dengan kata lain kreditorlah yang berhak atas objek Hak Tanggungan yang dijadikan jaminan yang dapat dibuktikan denganadanya sertipikat Hak Tanggungan dan tertulisnya nama Kreditor dalam sertipikat tanah yang bersangkutan sebagai pemegang Hak Tanggungan.

B. Ketentuan Hukum Tentang Pemecahan Sertipikat Hak ATas Tanah

1. Pengertian Sertipikat Hak Atas Tanah

  Jenis sertipikat kepemilikan hak atas tanah yang dapat dimohonkan di kantor pertanahan ditentukan oleh subyek hak atas tanah dan tujuan penggunaan objek hakatas tanah sepanjang dibolehkan Undang -undang, sehingga dapat dipunyai dengan suatu hak atas tanah sesuai ketentuan Pasal 16 Undang -undang Pokok Agraria, 46 sebagai berikut: a. Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 600 -1900 tanggal 31 Juli 2003 Pasal 48 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah mengatur sebagai berikut:1) Atas permintaan hak yang bersangkutan, satu bidang tanah yang sudah terd aftar dapat dipecah secara sempurna menjadi beberapa bagian, yang masing -masingmerupakan satuan bidang baru dengan status hukum yang sama dengan bidang tanah semula.

50 S.Chandra, Sertipikat Kepemilikan Hak Atas Tanah, persyaratan permohonan di kantor

  Satu-satunya kegiatan atau perbuatan hokum yang tidak menyebabkan hapusnya hak atas tanah sebelumnyaadalah pemisahan hak atas tanah sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 49 ayat(1) Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja menyimpulkan atas setiap bidang tanah baru hasil pemisahan, bidang tanah yang diperoleh sebagai akibat pemecahandan pembagian, serta bidang tanah baru sebagai akibat penggabungan, kecuali karena pembebasan, agar Hak Tanggungan tetap dapat dijadikan sebag ai jaminan kebendaanatas bidang-bidang tanah tersebut, perlu dibuatkan lagi Akta Pemberian Hak51 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.

52 Tanggungan yang baru

  Sertipikat pemecahan hak merupakan sertipikat hak yang dipecah menjadi dua sertipikat atau lebih, yang dilaksanakan secara sempurna (habis terpecah), dimohonoleh pemegangnya kepada kepala kantor pertanahan setempat, melalui prosedur perolehan sertipikat hak atas tanah dikantor pertanahan dengan pemenuhan 53 persyaratan permohonan sebagai berikut : a. Catatan mengenai adanya Hak Tanggungan dan beban lain yang ada pada buku tana h 56 dan sertipikat asal dicatat pada buku tanah dan sertipikat baru.

3. Lembaga Roya Dalam Undang-Undang Hak Tanggungan

  Tujuan diadakannya roya (pencoretan) pada buku tanah / sertipikat tanah yang bersangkutan adalah agar dapat di ketahui oleh umum bahwa tanah -tanah tersebuttelah bebas kembali dan tidak dibebani oleh Hak Tanggungan serta di seimbangkan kembali keadaan hukum. Demikian pula halnya dengan ketentuan yang ada dalam hukum agraria, khususnya mengenai roya partial Hak Tanggungan dimana Peraturan Menteri NegaraAgraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang KetentuanPelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah tidak boleh bertentangan dengan Undang -Undang Hak Tanggungan.

BAB II I UPAYA PERLINDUNGAN BANK TERHADAP AKIBAT PEMECAHAN SERTIPIKAT YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN A. Fungsi Hak Tanggungan Untuk Memberikan Perlindungan

1. Subyek dan Obyek Hak Tanggungan

  Adapun objek dari Hak Tanggungan dalam Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa hak atas tanah yang dapat dibebani Hak Tanggungan adalah Hak Milik, Hak Guna60 Kashadi, Op.cit., hal.30 Untuk dapat dibebani hak jaminan atas tanah, oby ek Hak Tanggungan 61 bersangkutan harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu : a. Dari uraian tesebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dapat dijadikan obyek dari HakTanggungan meliputi : a) Yang disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) ;(1) Hak Milik, (2) Hak Guna Bangunan,(3) Hak Guna Usaha b) Yang disebutkan dalam Pasal 4 ayat (2) :Hak Pakai atas tanah negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindah tangankan.

1. Mengenai Bank

  Ini berarti jaminan kredit yang dimaksud Undang -Undang Perbankan yang Diubah bukanlah jaminan kredit yang selama ini dikenal dengan sebutan collateral sebagaibagian dari 5 C’s, istilah collateral oleh Undang-Undang Perbankan yang Diubah diartikan dengan istilah agunan, maka arti dari jaminan (pemberian) kredit tersebut7172 Rachmadi Usman, Op.cit., hal. Agunan pokok adalah berupa barang, surat berharga atau garansi yang berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan,seperti barang-barang yang dibeli dengan kredit yang dijaminkan, proyek -proyek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan, maupun tag ihan-tagihan debitor.

2. Perjanjian Kredit Kontruksi

  Dari usaha-usaha real estate yang berkembang pesat diIndonesia adalah usaha pengembangan tanah dan bangunan yang dikenal sebagai profesi pengembang kawasan perumahan dan pemukiman atau sering disingkatdengan profesi pengembang ( Developer). Perjanjian kredit mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pemberian, pengelolaannya maupun penatalaksanaan kredit itu sendiri, yaitu 81 antara lain : a.

81 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung

  Tanah yang belum terdaftar batas waktu penggunaan SKMHT ditentukan lebih lama daripada tanah yang sudah didaftar, karena me ngingatpembuatan APHT pada hak atas tanah yang belum terdaftar harus dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yangbersangkutan, yang terlebih dahulu perlu dilengkapi persyaratannya. Persyaratan bagi penda ftaran hak atas tanah yang belum terdaftar meliputi diserahkannya surat-surat yang memerlukan waktu untuk memperolehnya,misalnya surat keterangan riwayat tanah, surat keterangan dari kantor pertanahan bahwa tanah yang bersangkutan belum bersertipikat danapabila bukti kepemilikan tanah tersebut masih atas nama orang yang sudah meninggal, surat keterangan waris.

4. Pembuatan Surat Kuasa Untuk Menjual

  Pihak Bank meminta suatu pernyataan debitor untuk menyatakan bahwa diantara mereka telah terjadi suatuperbuatan hukum berupa penyerahan kuasa untuk melakukan penjualan terhadap kekayaan debitor berupa tanah yang ditunjuk secara khusus di dalam akta kuasa. Berdasarkan permintaan Bank maka kemudian dibuatkan suatu surat kuasa oleh debitor untuk melakukan penjualan yang isinya sesuai dengan permintaankreditor, sepanjang permintaan itu tidak bertentangan denga n undang-undang, kesusilaan dan dilaksanakan dengan itikad baik.

86 Hasil wawancara dengan Ardi man Zebua, Legal Officer PT. Bank Mutiara Cabang Medan

  Kuasa merupakan pernyataan yang berisikan pemberi an kewewenang yang berisikan bahwa yang diberi kuasa itu berwenang untuk berindak atas nama pemberikuasa secara langsung dengan pihak lain, sehingga dalam hal ini perbuatan hukum yang dilakukan oleh penerima kuasa berlaku secara sah sebagai perbuatan hukumyang dilakukan oleh pemberi kuasa sendiri. Pasal 1792 KUHPerdata memberikan batasan (definisi) Mengenai“lastgeving”, dimana dikatakan, bahwa “ lastgeving” adalah suatu persetujuan, dengan mana seseorang memberikan kekuasaan ( macth) kepada orang lain yangmenerimanya untuk atas namanya melakukan suatu urusan”.

87 Djaja S. Meliala, Pemberian Kuasa Menurut Kitab Undang -Undang Hukum Perdata , Tarsito, Bandung, 1982, hal. 3

  Dengan pemberian kuasa yang dirumuskan dengan kata -kata umum dimaksudka n untuk memberikankewenangan kepada seseorang (yang diberi kuasa) untuk dan bagi kepentingan pemberi kuasa melakukan perbuatan -perbuatan dan tindakan-tindakan yang mengenaipengurusan, meliputi segala macam kepentingan dari pemberi kuasa, tidak termasuk perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan yang mengenai pemilikan. Di dalam pemberian suatu kuasa khusus harus disebutkan secara tegas tindakan atau Namun juga dapat ditambah dengan uraian mengenai perbuatan -perbuatan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perbuatan hukum yangdikuasakan untuk dilakukan itu, misalnya dalam hal penjualan tanah, untuk menerima uang penjualannya dan memberikan tanda penerimaan untuk itu menyerahkan tanahitu kepada pembelinya.

BAB IV AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN A. Alasan Pemecahan Sertipikat Dalam Kredit Konstruksi Tanah milik pengembang yang sudah dibebani Hak Tanggungan untuk

  Kemudian sertipikat hak atas tanah beserta Sertipikat Hak Tanggungan yang disertai surat pernyataan lunas dari Bank tersebut harus didaftarkan ke Kantor Pertanahan dimana Obyek Hak Tanggungan itu berada untuk didaftarkan roya/penghapusan Hak Tanggungan yang membebani hak atas tanah tersebut. Guna memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUHT, mengenai penyimpangan Asas tak dapat dibagi -bagi, Pengembang yang membayar hutangnya atas Kredit Konstruksi yang diterima dari Bank dengan cara bertahap sesuai dengan tahapan penjualan unit rumah yang dibangunnya maka Bank akan mengeluarkan Surat Roya Partial sesuai dengan 90 sertipikatnya ke Kantor Pertanahan .

B. Hapusnya Hak Tanggungan

  Adapun mengenai masalah pembersihan obyek Hak Tanggungan dari bebanHak Tanggungan disebutkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Hak Tanggungan yang menyatakan :1) Pembelian obyek Hak Tanggungan, baik dalam suatu pelelangan umum atas perintah Ketua Pengadilan Negeri maupun dalam jual beli sukarela, dapatmeminta kepada pemegang Hak Tanggungan agar benda yang dibelinya itu dibersihkan dari segala Hak Tanggungan yang melebihi harga pembelian. 4) Permohonan pembersihan obyek Hak Tanggungan dari Hak Tanggungan yang membebaninya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak dapat dilakukan olehpembeli benda tersebut, apabila pembelian demikian itu dilakukan dengan jual beli sukarela dan dalam APHT yang bersangkutan para pihak telah dengan tegasmemperjanjikan bahwa obyek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari bebanHak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf f Undang - Undang Hak Tanggungan.

C. Pencoretan Hak Tanggungan

  Permohonan pencoretan tersebut diajukan oleh pihak yang berkepentingan dengan melampirkan sertipikat Hak T anggungan yang telah diberi catatan olehkreditor bahwa Hak Tanggungan hapus karena piutang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan itu sudah lunas, atau penyataan tertulisdari kreditor bahwa Hak Tanggungan telah hapus karena piutang itu telah lun as atau karena kreditor melepaskan Hak Tanggungan yang bersangkutan. Apabila pelunasan utang dilakukan dengan cara angsuran sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2), hapusnya Hak Tanggungan pada bagian obyek Hak Tanggungan yang bersangkutan dicatat pada buku -tanah dan sertipikat HakTanggungan serta pada buku -tanah dan sertipikat hak atas tanah yang telah bebas dari Hak Tanggungan yang semula membebaninya.

D. Pencoretan Sebagian/ Roya Partial

  Keberadaan roya tidak dapat dipisahkan dengan Hak Tanggungan , hal tersebut disebabkan oleh karena Hak Tanggungan ya ng merupakan hakkebendaan yaitu suatu hak yang dapat dituntut oleh pemegangnya dari pihak ketiga yang menguasai atau memiliki objek Hak Tanggungan itu apabila objek Hak 98 Tanggungan itu kemudian dialihkan oleh pemberi Hak Tanggungan semula . Mengingat Hak Tanggungan yang merupakan hak kebendaan itu maka terhadap hapusnya Hak Tanggungan harus pula disertai dengan penghapusan98 Sutan Remy Sjahdeini, Hak Tanggungan Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang -Undang Hak Tanggungan), Penerbit Alumni, Bandung, 1999, hal.

99 Sedangkan dalam penjelasan Undang -Undang Hak

  Roya partialYaitu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Undang -Undang HakTanggungan menyatakan bahwa : "Apabila Hak Tanggungan dibebankan pada beberapa hak atas tanah, dan diperja njikan dalam APHT yang bersangkutan,bahwa pelunasan utang yang dijamin dapat dilakukan dengan cara angsuran yang besarnya sama dengan nilai masing -masing hak atas tanah yang99 J. Karena apabila tidak diperjanjikan maka yang akan berlaku adalah ketentuan pelaksanaan roya secara keseluruhan, sebagaimana diatur dalam Pasal 2ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan, yang menyebutkan: Hak Tanggungan mempunyai sifat tidak dapat dibagi -bagi, kecuali jika diperjanjikan dalam 100 Akta Pemberian Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

  Di satu sisiadanya ketentuan Pasal 124 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria tersebut membantu kesulitan dalam pe laksanaan ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUHT, namundi sisi lain menyimpang dari ketentuan UUHT yang justru menimbulkan konflik aturan. Dalam asas yang berlaku dalam ilmu hukum ketentuan yang lebih rendahtidak boleh bertentangan dengan ketentuan diatasnya ( lex superiori derogate lex priori).

B. SARAN

  Terhadap Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang didalamnya terdapat beberapa obyek Hak Tanggungan yang dijaminkan, maka dalam akta tersebutperlu dicantumkan pula kausula roya partial obyek Hak Tanggungan yang telah dilunasi pembayaran hutangnya. Karena apabila tidak diperjanjikan makayang akan berlaku adalah ketentuan pelaksanaan roya secara keseluruhan, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Hak Tanggungan,yang menyebutkan bahwa Hak Tanggungan mempunyai sifat tidak dapat dibagi- bagi, kecuali jika diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungansebagaimana dimaksud pada ayat (2).

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

  Santoso, Urip, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, Kencana Prenada ___________, Hukum Agraria & Hak-Hak Atas Tanah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010. Sjahdeini, Sutan Remy, Hak Tanggungan Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang-Undang Hak Tanggungan), Penerbit Alumni, Bandung, 1999.

Akibat Hukum Pemecahan Sertipikat (Tanda Bukti Hak) Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan Alasan Pemecahan Sertipikat Dalam Kredit Konstruksi Alat Pengumpulan Data Prosedur Pembebanan Hak Tanggungan Buku-Buku KESIMPULAN DAN SARAN Fungsi Hak Tanggungan Untuk Memberikan Perlindungan 1. Subyek dan Obyek Hak Tanggungan Hapusnya Hak Tanggungan AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH YANG Keaslian Penelitian Kerangka Teori dan Konsepsi KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN Ketentuan Hukum Tentang Hak Tanggungan 1. Ketentuan Umum Hak Tanggungan Mengenai Bank Akibat Hukum Pemecahan Sertipikat (Tanda Bukti Hak) Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan Metode Pendekatan Sumber Data Pembebanan Hak Tanggungan Mengutamakan Perlindungan Hukum Pembuatan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan Sebelum Pemecahan Sertipikat Secara Prosedural Terhadap Tanah Yang Masih Terikat Hak Tanggungan Pencoretan Hak Tanggungan AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH YANG Pencoretan Sebagian Roya Partial Perjanjian Kredit Kontruksi Akibat Hukum Pemecahan Sertipikat (Tanda Bukti Hak) Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian SARAN KESIMPULAN DAN SARAN
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Akibat Hukum Pemecahan Sertipikat (Tanda Bukt..

Gratis

Feedback