Efisiensi pemasaran kayu jenis sengon (paraserianthes falcataria) (studi kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor)

Gratis

15
88
118
2 years ago
Preview
Full text
EFISIENSI PEMASARAN KAYU JENIS SENGON (Paraserianthes falcataria) (Studi Kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor) Purwanto PROGAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M EFISIENSI PEMASARAN KAYU JENIS SENGON (Paraserianthes falcataria) (Studi Kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor) Oleh: Purwanto 106092002995 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Progam Studi Agribisnis PROGAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M PENGESAHAN UJIAN Skripsi yang berjudul ” Efisiensi Pemasaran Kayu Jenis Sengon (Paraserianthes falcataria) Studi Kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor”, yang ditulis oleh Purwanto NIM 106092002995. Telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Jum’at Tanggal 10 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis. Menyetujui, Penguji I Penguji II Dr. Ir. Edmon Daris, MS Ir. Junaidi, M.Si Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Elpawati, MP Ir. Iwan Aminudin, M.Si Mengetahui, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Ketua Program Studi Agribisnis Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis NIP. 19680117 2001121 1 001 Drs. Acep Muhib, MMA NIP. 19690605 20112 1 001 SURAT PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR – BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Jakarta, Juni 2011 PURWANTO Daftar Riwayat Hidup Data Diri Nama Lengkap : Purwanto Alamat : Kp. Bulak RT 03/13 No.19 Kemirimuka, Depok 16423 Telepon : 085232978136 Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 29 Juli 1988 Agama : Islam Email : anto_interisti@yahoo.co.id Motto Hidup : Dont Be Strong But Do Your Best Always Riwayat Pendidikan 1992-1994 TK An-Nuriyah Depok 1994-2000 SD Negeri Depok Jaya 1 2000-2003 SMP Negeri 2 Depok 2003-2006 SMA Negeri 5 Depok 2006-2011 Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Riwayat Organisasi 2007-2008 Anggota Forum Lingkar Pena Ciputat 2008-2009 Staf CIC (Campus Interpreuner Comunity) Staf Olahraga dan Seni Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan Pelatihan 2005 Pelatihan Komputer LPK Mahasin 2007 Pelatihan Kewirausahaan Campus Interpreuner Community Training Organization mahasiswa agribisnis Platform Badan eksekutif Training Organisasi dan Motivasi yang diselenggarakan BEM FST UIN Jakarta. Seminar Sainstek Muslim “Urgensi Cyber Community Bagi perkembangan Masyarakat Islam” 2008 Pendidikan Dasar (Diksar) Perkoperasian dan Kewirausahaan yang diselenggarakan Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2010 Training Etnomark Consulting “Metode Riset Kualitatif via Etnography” 2011 Training BBC School of Kahfi “Be Powerfull Speaker Trough Great Communication” Riwayat Pekerjaan 2007 Magang dalam Penyusunan Outlook Perkebunan Kapas, Pusat Data dan Informasi Pertanian, Departemen Pertanian 2010 Praktek Kerja Lapang Bagian Tanaman Produksi PT Rajawali Nusantara Indonesia PG Unit II Subang 2009-2010 Monitoring Badan Pelaksana Progam Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Indonesia 2010 - sekarang Field Risecher di Etnomark Consulting RINGKASAN PURWANTO. 106092002995. Efisiensi Pemasaran Kayu Jenis Sengon (Paraserianthes falcataria) Studi Kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. (Dibawah bimbingan Elpawati dan Iwan Aminudin) Salah satu Kecamatan pemasok kayu jenis sengon di kabupaten bogot adalah Kecamatan Leuwisadeng. Sebagian besar petani sengon di kecamatan ini belum mampu maksimal dalam mengumpulkan informasi pasar sehingga mereka kurang memiliki daya saing dalam menawarkan kayu sengon. Akibatnya volume kayu dan keuntungan dari hasil penjualan yang didapat menjadi sedikit. Harga kayu dijual lebih ditentukan oleh para perantara dan memposisikan petani sebagi penerima harga (price-taker). Posisi tersebut mengakibatkan peranan perantara lebih menonjol dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan petani. Walaupun kondisi tersebut adalah kondisi yang pada umumnya terjadi dalam suatu usahatani, akan tetapi perlu dikaji lebih jauh mengenai efisiensi pemasaran yang sedang terjadi saat ini sehingga dapat diketahui apakah sistem pemasaran tersebut sudah efisien atau belum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi pemasaran kayu jenis sengon berdasarkan (1) Saluran dan lembaga pemasaran kayu jenis sengon, (2) Struktur pasar kayu jenis sengon, (3) Fungsi pemasaran petani, perantara dan sawmill kayu jenis sengon, (4) Marjin pemasaran perantara dan sawmill kayu jenis sengon, (5) Farmer’s share petani Kecamatan Leuwisadeng. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, sedangkan dalam menganalisis data digunakan analisis saluran pemasaran, analisis struktur pasar, analisis fungsi pemasran, analisis marjin pemasaran dan analisis farmer’s share Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa saluran pemasaran yang terbentuk pada pemasaran kayu jenis sengon kecamatan leuwisadeng yaitu Saluran Pemasaran 1 terdiri dari Petani – Perantara – Sawmill - Material, Saluran Pemasaran 2 terdiri dari Petani – Sawmill - Material dan Saluran Pemasaran 3 terdiri dari Petani – Perantara – Sawmill - Indutri Luar Daerah. Struktur pasar yang dihadapi oleh pemasaran kayu sengon dari Kecamatan Leuwisadeng Kabupaten Bogor adalah pasar persaingan tidak sempurna. Berdasarkan perbandingan jumlah petani dan jumlah perantara, sawmill ataupun material, struktur pasar yang terbentuk dari sisi petani adalah oligopsoni. Jumlah petani yang lebih banyak daripada perantara, sawmill maupun material menyebabkan petani menjadi penerima harga (price taker). Pada tingkat pemasaran selanjutnya jumlah perantara lebih banyak daripada jumlah sawmill. Dengan demikian struktur pasar yang terbentuk adalah monopsoni Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan lembaga pemasaran adalah: Fungsi pemasaran petani yaitu Pembelian, Penjualan, Pengambilan Pasar dan Penelitian Pasar. Fungsi pemasaran perantara yaitu Pembelian, Penjualan, Pengangkutan, Biaya Pemasaran, Pengambilan Resiko, Penelitian Pasar, Demand Creation. Fungsi pemasaran sawmill yaitu Pembelian, Penjualan, Penyimpanan, Pengangkutan, Standarisasi dan Grading, Pengambilan Resiko, Penelitian Pasar dan Demand Creation. Marjin Pemasaran yang diperoleh lembaga pemasaran yang terlibat adalah: Marjin Pemasaran perantara untuk saluran pemasaran 1 adalah sebesar Rp.297.223/m3, dan untuk saluran pemasaran 3 sebesar Rp.324.107/m3. pada saluran pemasaran 2 tidak ada nilai marjinnya karena pada saluran ini petani tidak melalui perantara dalam pendistribusian kayu ke sawmill. Marjin pemasaran sawmill untuk pemasaran kayu sengon pada saluran pemasaran 1, saluran pemasaran 2 dan saluran pemasaran 3 adalah masing-masing Rp.248.661/m3, Rp.298.214/m3 dan Rp.334.920/m3. Total marjin pemasaran yang diperoleh dari saluran pemasaran kayu sengon Kecamatan Leuwisadeng Kabupaten Bogor untuk saluran pemasaran 1, saluran pemasaran 2 dan saluran pemasaran 3 adalah masing-masing Rp Rp.548.661/m3, Rp.301.191/m3 dan Rp.657.619/m3. sehingga dipastikan bahwa marjin pemasaran tertinggi dihasilkan oleh saluran pemasaran 3 dan terendah saluran pemasaran 2. Sehingga saluran pemasaran 2 dinilai lebih efisien dibandingkan saluran pemasaran lainnya. Persentase bagian yang diperoleh petani (farmer’s share) atas pemasaran kayu sengon saluran pemasaran 1, saluran pemasaran 2 dan saluran pemasaran 3 adalah masing 55,66%, 74,9% dan 50,67% dari harga jualnya. Hal ini berarti farmer’s share tertinggi dihasilkan dari saluran pemasaran 2 dan terendah saluran pemasaran 3. hasil perhitungan menunjukan bahwa pemasaran kayu sengon saluran pemasaran 2 lebih efisien dibandingkan saluran pemasaran lainnya Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan (1) Petani seharusnya mampu menjual pohon sengonnya dalam bentuk kayu tebangan bukan dalam keadaan berdiri, sehingga hasil atau keuntungan yang diterima petani lebih besar lagi. (2) Seharusnya ada pihak yang mengontrol dalam hal ini Pemerintah untuk memastikan agar petani menggunakan saluran pemasaran 2. Nilai farmer share yang dimiliki saluran pemasaran 2 sebesar 74,9 % lebih tinggi dibandingkan saluran pemasaran lainnya (3) Dinas Kehutanan seharusnya turun langsung ke petani lewat penyuluh menyampaikan informasi-informasi yang berkaitan dengan pemasaran sengon, agar petani memiliki bargaining position dalam menentukan harga (4) Petani mampu mendapatkan bibit sengon yang unggul yang mampu mengatasi keragaman bibit sengon tersebut. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya. Atas RidhoNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih karena kau telah meciptakan seorang pemimpin besar yang mulia, Muhammad SAW, kutahurkan salam dan salawat baginya. Penulis menyadari tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, maka penelitian dan penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini, izinkan penulis menyampaikan terima kasih sebesar – besarnya kepada : 1. Ibunda Tarni dan Ayahanda Junaidi, kedua orang tua tercinta yang penuh kasih sayang. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada penulis untuk membalas semua pengorbanan dan kasih sayangnya. Adikku Muhammad Iqbal, terimakasih atas segala bantuan tenaga dan doanya. Alhamdullilah karena aku lahir di tengah keluarga yang penuh kehangatan 2. Bapak Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Bapak Drs. Acep Muhib, MMA selaku ketua Program Studi Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Ibu Dr. Ir. Elpawati, M.P selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing, memberikan saran, motivasi, nasihat dan arahan serta meluangkan waktu, tenaga dan pemikiran disela-sela kesibukannya dalam penyusunan skripsi ini. 5. Bapak Ir. Iwan Aminudin, M.si selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing, memberikan saran, motivasi, nasihat dan arahan serta meluangkan waktu, tenaga dan pemikiran disela-sela kesibukannya dalam penyusunan skripsi ini. 6. Bapak Dr. Ir. Edmon Daris, M.S selaku dosen penguji I yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menguji skripsi penulis serta memberikan saran dan arahan. 7. Bapak Ir. Junaidi, M.Si selaku dosen penguji II yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menguji skripsi penulis serta memberikan saran dan arahan. 8. Bapak dan Ibu dosen pengajar Progam Studi Agribisnis, atas ilmu-ilmu yang diajarkan kepada kami. 9. Dewi Rochmawati, SP atas bimbingan, motivasi, kritik, dan saran serta bantuan dalam hal administrasi kepada penulis. 10. Dinas Kehutanan Kabupaten Bogor atas bantuannya memberikan informasi-informasi yang terkait dalam penelitian ini 11. Terima kasih untuk pegawai BPP Leuwiliang yang memberikan penulis sebuah inspirasi untuk selalu bersemangat dalam menghadapi ujian ini dengan sabar dan keikhlasan, semoga perhatiannya tidak cukup sampai disini dan tali silaturahmi kita tetap terjaga. 12. Seluruh petani dan perantara kayu jenis sengon di kecamatan Leuwisadeng yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, atas kesediaan waktu menjawab semua pertanyaan penulis. 13. Perwakilan dari Industri Pengolahan kayu (sawmill), atas waktu dan bantuannya memberikan informasi-informasi penting yang dibutuhkan dalam penelitian ini terhadap penulis. 14. Ibu Amalia E. Maulana, Phd atas ilmu ilmu yang diberikan merupakan sumber inspirasi dalam penelitian ini dan tidak lupa rekan-rekan di Etnomark Consulting atas motivasi, semangat, masukan, kritikan dan sarannya semoga tetap kompak dan sukses. 15. Sahabat-sahabatku Andi Asmara, Hamzah Ali, Budi Imami, Sri Ajeng dan teman Agribisnis Angkatan 2006 semoga dikemudian hari kita tetap dapat saling menyemangati dan membantu serta selalu erat dalam ikatan silahurahmi. 16. Kawan-kawan Agribisnis Angkatan 2001-2011 terima kasih untuk masukan, semangat dan motivasinya, mudah-mudahan tali silaturahmi tetap terjaga. 17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Jakarta, Juni 2011 Penulis DAFTAR ISI DAFTAR ISI . vii DAFTAR TABEL . x DAFTAR GAMBAR . xi DAFTAR LAMPIRAN . xii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1. Latar Belakang . 1 1.2. Rumusan Masalah . 6 1.3. Tujuan Penelitian . 7 1.4. Ruang Lingkup dan Manfaat Penelitian . 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 10 2.1. Landasan Teori. 10 2.1.1. Kayu Sengon . 10 2.1.1.1. Botani dan Ekologi . 10 2.1.1.2. Penanaman . 11 2.1.1.3. Kegunaan . 12 2.1.2. Pemasaran . 13 2.1.3. Manajemen Pemasaran . 15 2.1.4. Lembaga Pemasaran . 16 2.1.5. Saluran Pemasaran. 17 2.1.6. Fungsi Pemasaran . 22 2.1.7. Marjin Pemasaran . 23 2.1.8. Struktur Pasar . 25 2.1.9. Farmer’s Share. 27 2.1.10. Efisiensi Pemasaran . 27 2.2. Penelitian Terdahulu . 28 2.3. Kerangka Pemikiran . 29 BAB III METODE PENELITIAN . 33 3.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian . 33 3.2. Jenis dan Pengumpulan Data . 33 3.3. Penentuan Responden. 34 3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data. 34 3.4.1. Analisis Lembaga dan Saluran Pemasaran . 35 3.4.2. Analisis Fungsi Pemasaran . 35 3.4.3. Analisis Struktur Pasar . 36 3.4.4. Analisis Marjin Pemasaran . 36 3.4.5. Analisis Farmer’s Share . 38 3.5. Definisi Operasional. 38 BAB IV LOKASI PENELITIAN . 41 4.1. Letak dan Luas Wilayah . 41 4.2. Tata Guna Lahan . 42 4.3. Sosial Ekonomi Masyarakat . 42 4.3.1. Menurut Usia . 43 4.3.2. Menurut Mata Pencaharian . 43 4.3.3. Menurut Jenis Kelamin . 44 4.3.4. Menurut Latar Belakang Pendidikan . 45 4.4. Karakteristik Responden . 46 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN . 48 5.1. Analisis Lembaga dan Saluran Pemsaran Kayu Sengon . 48 5.2. Analisis Fungsi Pemasaran Kayu Sengon . 52 5.2.1. Analisis Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani . 53 5.2.2. Analisis Fungsi Pemasaran di Tingkat Perantara . 54 5.2.3. Analisis Fungsi Pemasaran di Tingkat Sawmill. 57 5.3. Analisis Struktur Pasar Kayu Sengon . 60 5.3.1. Pembeli dan Penjual . 60 5.3.2. Keadaan Produk . 61 5.3.3. Kondisi Keluar Masuk Pasar. 64 5.3.4. Jenis kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (118 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis Nilai Ekonomi Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Di Desa Parbaba Dolok, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir
1
80
52
Analisis Finansial Perbandingan Usaha Hutan Rakyat Monokultur dengan Usaha Hutan Rakyat Campuran (Studi Kasus di Desa Jaharun, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang)
3
78
107
Evaluasi Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Matiti, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan
1
55
72
Evaluasi Hutan Rakyat (Studi Kasus pada Pengelolaan Hutan Rakyat oleh Kelompok Tani Hutan di Desa Puangaja, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara)
1
45
113
Penggunaan rhizobium dan bakteri pelarut fosfat pada tanah mineral masam untuk memperbaiki pertumbuhan bibit sengon (paraserianthes falcataria(l.)Nielsen)
0
25
177
Evaluasi Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Matiti, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan
1
32
72
Kajian pemasaran agroindustri gula kelapa :studi kasus di Desa Sempu Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi
0
4
111
Pendapatan petani setelah konversi lahan (studi kasus di kelurahan Mekarwangi Kota Bogor)
2
14
117
Pemanfaatan serbuk gergaji kayu sengon (albizia chinensis) sebagai sorben minyak mentah dengan aktivasi kombinasi fisik
2
12
80
Relasi partai politik dengan pondok pesantren (studi kasus PPP dengan Pondok Pesantren Daruttafsir kabupaten Bogor)
2
16
68
Kajian strategi pemasaran buah-buahan (studi kasus pada CV Tropis, Bekasi)
2
5
152
Efisiensi pemasaran kayu jenis sengon (paraserianthes falcataria) (studi kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor)
15
88
118
Analisis marjin pemasaran ubi kayu (Manihot utilissim ) (studi kasus di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri)
0
0
85
Analisis Finansial Perbandingan Usaha Hutan Rakyat Monokultur dengan Usaha Hutan Rakyat Campuran (Studi Kasus di Desa Jaharun, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang)
0
0
20
Persepsi dan Partisipasi Masyarakat terhadap Program Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (Studi Kasus Koperasi Rakyat Pantai, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat).
0
0
16
Show more