Pemanfaatan plankton sebagai sumber makanan ikan bandeng (chanos) di waduk IR. H. Jiuand, Jawa Barat

Gratis

1
24
70
3 years ago
Preview
Full text

PEMANFAATAN PLANKTON SEBAGAI SUMBER MAKANAN

  H. H.

ILMIAH APAPUN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN

  Jakarta, 15 Oktober 2010 Deden Ibnu Aqil106095003205 PENGESAHAN UJIANSkripsi berjudul “Pemanfaatan Plankton Sebagai Sumber Makanan Ikan Bandeng (Chanoschanos) di Waduk Ir. Juanda, Jawa Barat” yang ditulis oleh Deden Ibnu Aqil NIM106095003205 telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 9 Desember 2010.

KATA PENGANTAR

  Si yang telah mengijinkan penulis mengikiti penelitian dan yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis 5. Angkatan 2006 Biologi FST, KPP Tarsius FST, dan BKPM kelurahanBedahanSerta semua pihak yang telah membantu kegiatan penelitian yang penulis tidak sebutkan satu per-satu.

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

  (IP) isi lambung ikan bandeng Waduk Ir. Jadwal penelitian dan anggaran penelitian ……………….….

1.1. Latar Belakang

  Juanda karena ikan ini merupakan Penebaran ikan bandeng bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan ketersediaan pakan alami yang melimpah berupa plankton dan disamping itu ikanini juga mempunyai habitat hidup di perairan dalam, sehingga diharapkan ikan ini dapat menempati habitat dibagian tengah waduk yang cukup dalam yang saatini masih kosong (Warta Budidaya, 2008). Ketersediaan dan kemudahan dalam pengadaan benih ikan bandeng dalam jumlah yang besar dan nilainya yangekonomis serta kemampuannya untuk beradaptasi di perairan tawar menjadi faktor pilihan utama dalam penebaran ikan tersebut (DKP-ACIAR, 2007).

1.2. Perumusan Masalah

  Hipotesis Ikan bandeng dapat memanfaatkan plankton sebagai sumber makanan utamanya di Waduk Ir. Tujuan Penelitian Mengetahui pemanfaatan plankton oleh ikan bandeng (Chanos chanos) di Waduk Ir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi perairan Waduk Ir. H. Juanda

  Zona mengalir terdapat di dua tempat, yaitu zona yang terlaeak di daerah intlet dari Waduk Cirata dan Sungai Cisomangdan zona yang terletak di aliran Sungai Cilalawi. Nastiti dkk, (2001) mengestimasi besarnya beban N dan P yang berasal dari kegiatan KJA di Waduk Ir.

2.2. Biologi Ikan Bandeng

2.2.1. Klasifikasi dan morfologi ikan Bandeng

  Ikan bendeng merupakan komoditas utama dalam ikan budidaya air payau karena kandungan gizinya yang mempunyai nilai tinggi yang digemari banyakorang. klasifikasi ikan bandeng dalam Saanin (1984) bahwa ikan bandeng termasuk ordo Gonorhynchiformes, family Chanidae, dan Genus Chanos.

2.2.2. Distribusi ikan Bandeng

  Menurut Bagarinao (1994), ikan bandeng diduga berasal dari wilayahEropa dan Amerika Utara dan melakukan migrasi ke wilayah laut tropis. Jumlah telur Di alam ikan bandeng banyak dijumpai di daerah pantai dan pulau di daerah trofik di Indo-pasifik.

2.2.3. Fisiologi ikan bandeng

  Ikan bandeng merupakan ikan euryhaline yang dapat beradaptasi pada salinitas yang luas, dapat hidup di perairan tawar, payau, dan laut(Gordon & Hong, 1986). Lee (1986) melaporkan bahwa ikan bandeng dewasa diDanau Naujan dan Taal di Philipina yang dikenal sebagai daerah habitat ikan bandeng dewasa, ikan tersebut tidak mengalami matang gonad (immature).

2.2.4. Siklus hidup ikan Bandeng

  Menurut Nontji (2006) larva bandeng merupakan komunitas plankton di laut yang kemudian berkembang di perairanpantai berpasir yang berair disebut nener, sedangkan bila berukuran lebih besar sekitar 5-8 cm disebut protolan. Ikan bandeng mengalamimatang gonad pada umur 5-6 tahun, dan untuk selanjutnya ikan-ikan dewasa akan hidup di perairan laut dan siap untuk memijah (Gordon & Hong, 1986).

2.3. Komunitas Plankton

  Plankton adalah mahluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung atau mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuanrenangnya (kalapun ada sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus) (Nontji, 2006). Fitoplankton dapat ditemukan di seluruh massa air mulai dari permukaan sampai pada kedalaman di mana intensitas cahaya matahari masih memungkinkanuntuk digunakan dalam proses fotosintesis (zona eufotik).

2.4. Makanan ikan bandeng

  Ikan bandeng dewasa di alam jenis makanan utamanya terdiri dariorganisme benthik dan planktonik yang terdiri dari gastropoda, lamellibranchia, Ikan bandeng yang dibudidayakan di tambak umumnya memakan klekap(lab-lab), yaitu komunitas mahluk hidup komplek yang terdiri dari asosiasi antara blugreen algae, diatom, dan hewan invetebrata serta lumut (alga hijau berfilamen). Namun demikian dari banyak studi mengenai kebiasaan makanan menunjukan bahwa kelompok makanan yang disukai oleh seluruh kelompok umur ikanbandeng adalah bluegreen algae dan yang dipelihara di tambak air payau adalah benthik diatom (Tang Hwang, 1966 dalam Garcia, 1990).

2.5. Kimia dan Fisika Perairan

  Kecerahan dapat diukur dengan alat yang amat sederhana yang disebut cakram Secchi yang berupa cakram putih dengan garis tengah kira-kira 20 cm dan dimasukan kedalam air sampai tak terlihat dari permukaan. Suhu Suhu dalam perairan mempunyai sifat yang unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama mengurangi perubahan suhu sampaitingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada udara (Odum,1971).

BAB II I METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat

  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sampel lambung ikan bandeng, plankton, dan pengawet berupa lugol 1 % dan formailin 10 %(Handayani, 2003), serta contoh air dari hasil pengambilan di lapangan. Cara kerja Pengambilan contoh lambung ikan bandeng, contoh plankton, pengukuran panjang serta pengukuran parameter kualitas air dilakukan satu kali pada empatstasiun penelitian yang mewakili kondisi perairan waduk.

3.3.1. Penentuan titik sampling

  Penentuan stasiun penelitian dibagi menjadi empat stasiun yang mewakili perairan Waduk Ir. Peta stasiun penelitian di Waduk Ir.

3.3.2. Pengambilan sampel lambung ikan bandeng

  Pengambilan ikan bandeng untuk diambil lambungnya dilakukan berdasarkan hasil tangkapan nelayan yang dianggap mewakili ukuran ikanbandeng yaitu ukuran kecil, ukuran sedang, dan ukuran besar dari tiap-tiap stasiun. Juanda didapatkan ukuran ikan berkisar antara 12 – 32 cm kemudian dibagi menjadi 3 kisaran ukuran yakni didapatkan ukuran ikan kecil berkisar (12-18 cm),ikan sedang (19-25 cm), dan ikan besar (26-32 cm).

3.3.3. Pengambilan contoh plankton

3.3.4. Pengukuran Kualitas Air

  25, dan contoh air dimasukan kedalam botol 19 ml yang Pengukuran kualitas air dilakukan di setiap stasiun bersamaan dengan pengambilan contoh ikan yakni mengukur suhu, pH, DO, dan kecerahan denganmenggunakan alat WQC Horiba U-10 dan Secchi disk. Sampel air dimasukan kedalambotol sampel 500 ml dan selanjutnya dianalisa di laboratorium dengan menggunakan metode brucine untuk total N dengan dan untuk metode molybdateuntuk total P.

3.5. Analisis Sampel

3.5.1. Kelimpahan plankton

Perhitungan kelimpahan plankton dilakukan dengan menggunakan metode sapuan di atas gelas objek Sedgwick rafter. Rumus perhitungan kelimpahanplankton berdasarkan APHA (1995) adalah sebagai berikut: N = N x Vr X 1 Vo Vs Hhhh Dimana:N = kelimpahan palnkton (ind/l) n = jumlah plankton yang tercacah (ind/l)Vr = volume air tersaring (ml)Vo = volume air yang diamati pada Sedgwick rafter (ml)Vs = volume air yang disaring (l)

3.5.2. Penentuan makanan utama

Penentuan makanan utama ikan bandeng dilakukan dengan perhitungan indeks bagian terbesar (Index of preponderance, IP), yang merupakan kombinasimetode frekuensi kejadian dengan metode volumetrik seperti yang dikemukakan oleh Natarjan & Jhigran (1961 dalam Effendi 1979): IP =Vi X Oi x 100%∑(Vi X Oi) Dimana: IP = Index of preponderanceOi = Persentase frekuensi kejadian satu macam makananVi = Persentase volume satu macam makanan∑(Vi x Oi) = jumlah dari Vi x Oi dari semua macam makananPenelitian makanan utama, makanan pelengkap dan makanan tambahan pada setiap kelas ukuran ikan ditentukan berdasarkan kriteria penilaian yangdikemukakan oleh Nikolsky (1963), Berdasarkan nilai IP, kelompok makanan utama IP > 40%, makanan pelengkap IP 4% - 40% dan makanan tambahan IP < 4 %.

3.5.3. Analisis Data

  Data yang telah didapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan di atas. Hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabulasi danhistogram.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kualitas Air Waduk Ir. H. Juanda

  Hal ini dimungkinkan karena pada stasiun ini terjadi kelimpahan plankton yang lebih tinggi daristasiun lainnya yang menyebabkan berkurangnya penetrasi cahaya yang masuk Perairan Waduk Ir. Hal ini dimungkinakan pada stasiun inimerupakan staisun yang berada pada zona transisi yakni zona pertemuan antara air waduk yang mengalir dan juga perairan waduk yang relatif tenang hal inimenyebabkan TN pada stasiun ini paling rendah karena dimungkinkan mengalami sedimentasi.

4.2. Kelimpahan plankton Waduk Ir. H. Juanda

  fitoplankton tardiri dari kelas cyanophyceae (5 genus),chlorophycea (10 genus), bacillariophyceae (4 genus), dynophyceae (2 genus), dan euglanophyceae (1 genus) sedangkan zooplankton terdiri dari dua kelascrustaceae (cladocera dan copepoda) (3 genus) dan rotatoria (2 genus). Sulawesty, dkk (2008) menyatakan bahwa copepoda dan cladocera merupakan kelompok zooplankton yang hampir selalu ada di setiap situ yangada di Jawa Barat, rotifera juga ditemukan di semua situ kecuali di Situ Patenggang.

1 Microcystis

  Mason (1993) menyatakan bahwa ciri umum alga di danau eutrofik adalah sering didominansi oleh cyanophyceae, sedangkanmenurut Kumar & Sigh (1979 dalam Prihantini, 2006) menyatakan bahwa meningkatnya kadar nutrien ditambah dengan suhu dan cahaya yang sesuai,aliran air yang sangat lambat, dan adanya faktor pendukung lain menyebabkan terjadi blooming cyanophyta di perairan. Kelimpahan plankton terendah pada permukaan stasiun 4 hal ini dimungkinkan karena faktor lingkungan yang menjadikan kelimpahannya lebihrendah dibandingkan stasiun lainnya yaitu suhu yang cukup tinggi 30,1 C akibat penetrasi cahaya yang masuk ke perairan dan pH yang paling tinggidibandingkan pada stasiun dan zona fotik lainnya yaitu 7,93 menyebabkan kelimpahan pada zona fotik ini lebih rendah dibandingkan dengan stasiun danzona fotik lainnya (Tabel 1).

4.3. Persentase Makanan ikan bandeng

  Dilihat dari kemampuanikan bandeng yang mampu hidup pada perairan yang dalam menyebabkan ikan ini dapat memanfaatkan kondisi waduk yang memang cukup dalam, sehinggaikan bandeng dapat mengambil makananannya dari perairan waduk yang banyak terdapat detritus. Menurut Sachlan (1982) copepoda merupakan primary-food untuk makanan ikan baik di laut maupun di air tawar, selanjutnya dikemukaan pulabahwa famili cyclopoidea mempunyai perananan penting di perairan tawar, terutama Cyclops yang terdapat di segala macam perairan tawar di seluruh duniadan genus ini merupakan genus yang paling tahan hidup dalam kondisi jelek.

4.4. Pemanfaatan makanan berdasarkan ukuran ikan Bandeng

  Persentase plankton pada ukuran ikan lebih besarlebih rendah dibandingkan ukuran ikan yang lebih kecil akan tetapi variasi makanan lebih banyak pada ukuran ikan yang sedang dan besar yakni mampumemanfaatkan tumbuhan yang ada pada perairan maupun di sekitar Waduk Ir. Rata-rata dari setiap stasiun (47,8%) plankton yang terdiri dari (19,4 %) fitoplankton dan (28,4 %) zooplankton,Plankton yang dominan adalah dari Cladocera yaitu Daphnia (21,5 %)(Lampiran 5 & 6) Ukuran ikan bandeng yang besar didapatkan pemanfaatan plankton yang paling optimal pada stasiun 3 yaitu (51,5 %) plankton.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Makanan utama ikan bandeng adalah plankton 43 % dan detritus 46 %

5.2. Saran

  fitoplankton yang mendominasi adalah baciilariophyceae dan zooplankton yang mendominasi adalah copepoda. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai ikan-ikan lain selain ikan bandeng yang mampu memanfaatkan plankton yang lebih maksimal sehinggadapat menjadi ikan tebaran di Waduk Ir.

DAFTAR PUSTAKA

  Distribusi Spasio Temporal Kelimpahan dan Biomassa Fitoplankton dalam Kaitannya dengan Potensi Produksi Ikan di Waduk Ir. Dampak Budi Daya Ikan dalam Karamba Jaring Apung terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.

8 Rotatoria Karatella valga

  Kualitas air di Waduk Ir. Nilai index of preponderance (IP) plankton di lambung ikan bandeng Waduk Ir.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pemanfaatan plankton sebagai sumber makanan ikan bandeng (chanos) di waduk IR. H. Jiuand, Jawa Barat
1
24
70
Pemanfaatan Kebun Raya Bogor sebagai sumber pembelajaran geografi pada SMA Bina Insani Bogor
3
21
99
Pemanfaatan kulit ari kelapa sebagai alternatif bahan pakan untuk ikan nila (oreochromis niloticus)
1
11
6
Museum makanan tradisional Jawa Barat di Bandung
0
7
1
Perancangan kemasan Galendo makanan tradisional khas Ciamis Jawa Barat
8
54
53
MasyarakatIktiologi Indonesia Reproduksi ikan rejung (Sillago sihama Forsskal) di perairan Mayangan, Subang, Jawa Barat
0
1
11
Masyarakat Iktiologi Indonesia Biodiversitas sumber daya ikan di hulu Sungai Opak
0
0
10
CATATAN SINGKAT Komunitas ikan di Telaga Warna, Jawa Barat
0
0
7
CATATAN SINGKAT Makanan ikan bilis (Thryssa hamiltonii, Gray 1835) di perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat
0
1
5
Masyarakat Iktiologi Indonesia Variasi makanan ikan seriding, Ambassis nalua (Hammilton, 1822) di ekosistem estuari Segara Menyan, Jawa Barat
0
0
10
Masyarakat Iktiologi Indonesia Struktur trofik komunitas ikan di Sungai Cisadea Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
0
0
11
Masyarakat Iktiologi Indonesia Biologi reproduksi ikan belanak (Moolgarda engeli, Bleeker 1858) di Pantai Mayangan, Jawa Barat
0
0
8
Sikap konsumen pasar tradisional terhadap ikan bandeng segar (chanos chanos) di kabupaten Klaten
0
0
73
Analisis kelayakan kearifan lokal ikan larangan sebagai sumber belajar IPA
0
2
8
Masyarakat Iktiologi Indonesia Pemanfaatan minyak biji krokot Portulaca oleracea sebagai sumber asam lemak esensial pada pakan ikan mas, Cyprinus carpio Linnaeus 1758
0
1
13
Show more