Hubungan antara pembelajaran pendidikan agama islam dengan akhlak siswa ( Studi penelitian siswa kelas VIII di SMPN 03 Tangerang Selatan)

Gratis

0
7
75
2 years ago
Preview
Full text

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

  Keadaan semacam ini juga dapat menjadi penyebab utama kemerosotan moral, pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang,pemerkosaan, pembunuhan dan berbagai bentuk kejahatan yang kebanyakan dilakukan oleh generasi yang kurang pemahamannya tentang isi ajaran Al- Qur’an, kurangnya pendidikan agama serta pembinaan akhlak. Variabel penelitian terdiri dari 2 kategori yaitupembelajaran pendidikan agama Islam dan akhlak, yang mana variabel tersebut diuji validitas dan reliabilitasnya.

KATA PENGANTAR

  Kiranya tiada kata yang lebih pantas untuk diucapkan selain Al- hamdulillah, segala puji bagi Allah sebagai manifestasi rasa syukur kita kehadirat Illahi Rabbi yang telah menghadiahkan anugerah yang begitu mahal harganya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ”Hubungan antaraPembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Siswa (Studi Penelitian siswa kelas VIII di SMP Negeri 03 Tangerang Selatan ”. Kakak serta adik-adikku tercinta (Maman Fathurrahman beserta istri,Nur Latifah, Muhammad Kahfi, Fifih Lutfiyah, Ahmad Hafidz dan keponakan ku M. Ezza Fathurrahman) yang selalu memberikan motivasibagi penulis untuk dapat menghadapi segala cobaan dengan hati yang lapang dan yang selalu menghibur dikala sedih.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu agenda penting nasional dalam rangka

  Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan nasionalperlu dilakukan pembenahan dalam unsur yang terkait dengan pendidikan, di antaranya penyediaan buku-buku pelajaran, sarana dan prasarana, pembinaantenaga guru yang profesional, serta perbaikan kurikulum sekolah. 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional pasal 1 ayat 1, yang berbunyi: ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta 1 keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan n egara”.

1 UU RI No.20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Media Wacana

  Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang melatih siswa untuk membangun manusia menjadi insan kamil, sehingga perilaku mereka dalamkehidupan, langkah-langkah dan keputusan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam adalah suatu proses yang mengarah terhadap pembentukkan akhlak atau kepribadian yang muliaberdasarkan nilai dan norma-norma agama, untuk mencapai hidup seorang muslim yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah swt.

3 Allah swt dan makhluknya

  Masalah akhlak dan pembinaannya dalam kemajuan tekhnologi modern ini semakin penting dan mendesak untuk dikaji dan diperlukan kumpulanfakta-fakta yang menunjukkan bahwa kemajuan tekhnologi tersebut membawa dampak negatif disamping membawa dampak positif terhadap peradabanmanusia. Dan kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia mempunyai posisi yang sangat penting, baiksebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, jatuh bangunnya suatu bangsa tergantung pada keadaan akhlak masyarakat atau warga negaranya,dan juga sebaliknya jika akhlaknya buruk, maka rusaklah negara tersebut.

3 Umar Muhammad Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, alih bahasa oleh Dr. Hasan

  Rasulullah saw adalah orang yang sangat mulia akhlaknya, sehinggaAllah memujinya di dalam firman-Nya yang terdapat dalam surat al-Qolam ayat 4 yang berbunyi : ٍ Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung ”. Hal ini bisa diketahui dari pendapat al-Abrasy pakar pendidikan Islam tentang tujuan umum pendidikan Islam, yang menyimpulkan lima tujuanumum pendidikan Islam diantaranya : menempatkan pembentukan akhlak yang mulia terdapat pada urutan pertama dari tujuan tersebut.

6 Departemen Agama RI, Proses Belajar Mengajar untuk Siswa PGAN, jilid 1, (Jakarta :

  Hal tersebut sangat memperihatinkan, oleh karenanya sekolah sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap anak didik perluadanya penanganan yang serius dengan memberikan nilai-nilai agama, menyadarkan mereka bahwa pendidikan agama penting untuk masa depanmenjadi lebih baik. Berdasarkan pemikiran di atas, penulis tertarik untuk lebih jauh meneliti sejauhmana Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat Berhubungan denganAkhlak Siswa, oleh karena itu peneliti mengambil tema “Hubungan Antara Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Siswa (Studi Penelitian Siswa Kelas VIII SMP Negeri 03Tangerang Selatan”).

B. Identifikasi Masalah

  Pembelajaran pendidikan agama Islam belum terkait dengan pembentukan akhlak siswa. Pembelajaran pendidikan agama Islam dalam membentuk akhlak siswa belum sepenuhnya diterapkan oleh pendidik dalam lingkungan sekolah.

8 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI), (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999), Cet

  Akhlak siswa terdiri dari beberapa indikator, yaitu: Akhlak terhadap Allah swt, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap sesama, akhlak terhadaporang tua, dan akhlak terhadap lingkungan. Perumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diidentifikasi dan dibatasi di atas maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:“Apakah ada Hubungan yang Signifikan antara Pembelajaran PendidikanAgama Islam dengan Akhlak Siswa?” E.

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pembelajaran

  Adapun menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,1 fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk A. Pembelajaran disebut juga sebagai proses prilaku dengan arah positif untuk memecahkan masalah personal, ekonomi, sosial dan politik yang 3 ditemui oleh individu, kelompok dan komunitas.

2. Tekhnik Pembelajaran

  Tekhnik penyajian pembelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh guru yang dikuasai guru untukmengajar atau penyajian bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat dipahami, ditangkap, dan digunakan olehsiswa dengan baik. Keadaan siswa yang tidak jujur, dalammendapatkan angka-angka tersebut harus ditertibkan dan ditindak secara adil dan bijaksana, sehingga tidak merugikan mereka yangmendapatkan angka atas hasil kerja keras, serta tidak menurunkan gairah belajar mereka yang tekun dan rajin.

3. Pengertian Pendidikan Agama Islam

  Ngalim Purwanto, Pendidikan Teoritis Dan Praktek, (Bandung: Remaja Karya, Melihat dua ayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu sistem untuk membimbing danmengarahkan anak didik dengan cara yang baik, agar terbentuk jiwa yang suci, memahami dan memiliki ilmu pengetahuan serta dapat mengamalkanilmu yang telah dimiliki. Pendidikan agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki peran yang sangat strategis didalammembina dan membimbing sikap kepribadian siswa yang sedang berkembang didalam masa pancaroba, dimana pada masa ini diri pribadisiswa sedang mengalami proses mencari jati dirinya masing-masing yang perlu diberi landasan agama yang kuat.

4. Ruang lingkup

  Pendidikan agama Islam mencakup usaha untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara :a. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri Muhammad Nawawi al-Jawi, Tafsir Munir, (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al- ‘Arabiyah, d. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alamnyaBahan pembelajaran pendidikan agama Islam meliputi 5 (lima) unsur pokok yaitu :a.

5. Tujuan Pendidikan Agama Islam

  Berbicara mengenai Pendidikan Agama Islam (PAI),baik pengertiannya maupun tujuannya haruslah mengacu kepada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosialatau moralitas sosial. Apa yang kita saksikan selama ini, entah karena kegagalan pembentukan individu atau karena yang lain, nilai-nilai yang mempunyaiimplikasi sosial (moralitas sosial, krisis akhlak) hampir tidak pernah mendapat perhatian serius.

8 Lihat Departemen Agama RI, Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam, Sekolah

9 Dengan kata lain, Pendidikan Agama Islam (PAI) bertujuan untuk

  Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya tujuan dari Pendidikan Agama Islam (PAI) adalahMenumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalamanpeserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa danbernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam dan ajaran yang terkandung didalamnya, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi danmasyarakat”.

10 Dari penjabaran tujuan di atas dapat ditarik beberapa dimensi yang

  Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didikitu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt serta mengaktualisasi danmerealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tujuan pendidikan Islam secara umum adalah manusia yang baik,Al-Atas (1979:1), Marimba (197:15) berpendapat bahwa tujuan9 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT.

6. Fungsi Pendidikan Agama Islam

  Secara umum, fungsi pendidikan agama Islam adalah sebagai 12 berikut:1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimana dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah yang telah ditanamkan lebih dahulu dalamlingkungan keluarga.2) Penanaman nilai ajaran Islam, sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Lihat Departemen Agama RI, Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam, SekolahUmum dan Dasar.

7. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)

  Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan tingkat SMP/Mts(SKL-SP) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang digunakan sebagai pedomanpenilaian dalam penentuan lulusan peserta didik dari satuan pendidikan. h) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.i) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.j) Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.k) Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.

13 Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M, Pd., Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

l) Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara demi terwujudnya persatuandalam Negara Kesatuan Republik Indonesia m) Menghargai karya seni dan budaya nasional.n) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.o) Menerapkan hidup bersih, sehar, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.p) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.q) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.r) Menghargai adanya perbedaan pendapat.s) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.t) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris sederhana.u) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti 14 pendidikan menengah. b. Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki beberapa kompetensi dasar, di antaranya :1) Menerapkan tata cara membaca Al-Q ur’an menurut tajwid, mulaidari cara membaca “Al”- Syamsiyah dan “Al”- Qomariyah sampaikepada menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf.2) Meningkatkan pengenalan dan keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada Allah sampai kepada imanpada qadha dan qadar serta asmaul husna.3) Menjelaskan dan membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjauhkan diri dari perilaku tercela seperti ananiah,hasad, ghadab dan namimah.

14 Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja

15 Islam di nusantara

4) Menjelaskan tata cara mandi wajib dan shalat-shalat munfarid dan jamaah baik shalat wajib maupun shalat sunat.5) Memahami dan meneladani sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Adapun hubungan antara Standar Kompetensi Lulusan Agama dengan ruang lingkup Pendidikan Agama Islam (PAI) saling menguatkanisi dari kurikulum Pendidikan Agama Islam itu sendiri yaitu lebih menekankan penagamalan ajaran agama sesuai dengan perkembanganremaja, menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

8. Materi-Materi Pendidikan Agama Islam

  Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan akan materiPendidikan Agama Islam (PAI) bagi peserta didik, maka ketujuh unsur pokok seperti yang disebutkan oleh Zuhairini dkk dipadatkan menjadi limaunsur pokok yang mencakup Al- Qur’an, keimanan, akhlak, fiqih dan bimbingan ibadah, tarikh atau sejarah yang lebih menekankan kepadaperkembangan ajaran Islam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaiman sistem norma yang mengatur hubungan manusiadengan Allah swt (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadianhidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan atau seni, iptek, olahragaatau kesehatan dan lain-lain) yang dilandasi oleh akidah yang kokoh.

B. AKHLAK

1. Pengertian Akhlak

  Menurut Zakiah Daradjat dalam bukunya Pendidikan Islam dalamKeluarga dan Sekolah menyatakan bahwa “Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara nurani, pikiran, perasaan,bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian” . 23 Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ”akhlak adalah suatu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dansudah menjadi kebiasaan ”.

2. Sumber dan Nilai-nilai Akhlak

  30.25 Novi Hardian, Tim ILNA, Super Mentoring: Panduan Keislaman untuk Remaja, Dengan demikian dalam proses pembentukan akhlak perlu diperhatikan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah agar tidak terjadi penyimpangan terhadap akhlak tersebut. Nilai-nilai yang terdapat dalamsumber akhlak yaitu akhlak al-karimah seperti jujur, bertanggung jawab, amanah, menepati janji, tasamuh, dan lain sebagainya.

3. Macam-macam Akhlak

  Akhlak terbagi menjadi dua macam, yaitu akhlak al-karimah dan akhlak al-madzmumah.1) Akhlak al-Karimah Akhlak al-Karimah atau akhlak yang mulia amat banyak jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusiadengan manusia, akhlak yang mulia dapat dibagi menjadi 3 bagian, antara lain:a. Akhlak Terhadap Diri SendiriBerakhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebagai ciptaan dan amanah 28 Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.

4. Faktor-faktor Pembentukan Akhlak

  Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya melalui pendidikan dan pengajaranterutama tentang nilai-nilai yang telah disyariatkan agama. 37 Ayat dan hadits tersebut di atas selain menggambarkan adanya teori konvergensi juga menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua.

5. Metode Pembinaan Akhlak Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam

  Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan: , ْ اَّح ْبا ه او ر ق اْخ اْل م ر اكم َّ ت ال تْثعب ” Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” 40 (HR. Ibnu Hibban)Dalam pembinaan akhlak perlu diketahui tentang perbedaan psikologis setiap individu antara anak-anak, remaja dan dewasa. Adapun metode-metode yang dapat dilakukan dalam proses pembinaan akhlak diantaranya:1) Pembiasaan secara kontinyu Pembiasaan ini hendaknya dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu.

39 Novi Hardian ,Tim ILNA, Super Mentoring: Panduan Keislaman

  Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah yang berbunyi: Artinya : ” Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yangbaik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah . Namun nasehat saja tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan teladan dan perantara yang memungkinkan teladan itu diikuti atau diteladani karenadidalam jiwa terdapat berbagai dorongan yang asasi yang terus-menerus 44 memerlukan pengarahan dan pembinaan.

6. Manfaat Akhlak yang Mulia

  : “ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-lakimaupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akankami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. Ayat di atas dengan jelas menggambarkan keuntungan atau manfaat dari akhlak yang mulia, yang dalam hal ini beriman dan beramal saleh.

C. Kerangka Berfikir

  Serta dapat terbentuk perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang berdasarkan ajaran agama Islam,baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan (alam). Individu yang memiliki tingkat pembelajaran pendidikan agama Islam yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengancepat, memiliki sikap sopan santun terhadap orang yang lebih tua, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan denganorang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk akhlak perilakunya sehari-hari dan di sekolah lebih baik.

D. Pengajuan Hipotesis

  Adapun rumusan kedua hipotesis tersebut adalah sebagai berikut:Ha: Terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaran pendidikan agama Islam dengan pembentukan akhlak siswa. Ho: Tidak ada hubungan yang signifikan antara pembelajaran pendidikan agama Islam dengan pembentukan akhlak siswa.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat yang akan dijadikan obyek penelitian ditetapkan di SMP Negeri 03 Kota Tangerang Selatan . Adapun waktu yang diperlukan oleh peneliti untuk memperoleh data-data

B. Metode Penelitian

  Untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang akan menggambarkan dan menjelaskan permasalahan tentang hubungan antara pembelajaran pendidikanagama Islam dengan akhlak siswa, maka penulis menggunakan penelitian kuanitatif dengan metode deskriptif-analisis. Menurut Margono dalam bukunya Metodologi Penelitian Pendidikan menyatakan bahwa ”Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan 1 keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui”.

1 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Komponen MKDK, (Jakarta: Rineka

  Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang dijadikan sebagai acuan dalam pengamatan, guna memperoleh data dan kesimpulan empiris mengenaiPengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Siswa, yaitu: 1. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 03 Tangerang Selatan yang berjumlah 359 siswa terdiri dari 10 rombongan belajar.

E. Tekhnik Pengumpulan Data

  Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah Field Research (penelitian lapangan) Yaitu bertujuan untukmendapatkan data faktual yang ada di lapangan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 7 Wawancara ini dilakukan dengan pengajar pendidikan agama Islam SMP Negeri 03Tangerang Selatan mengenai Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Siswa.

6 Drs. Riduwan, M.B.A, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti

  697 Kriteria yang digunakan pada instrument angket kecerdasan emosional ini adalah skala Likert dengan metode Sumated Ratings, yaitupernyataan-pernyataan yang menempatkan individu pada situasi yang menggambarkan dirinya dengan memilih salah satu dari empat alternatifjawaban yang disediakan, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Sedangkan sikap yang negatif atau tidak menyetujui obyeksikap akan terlihat dalam jumlah keseluruhan yang rendah.

8 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja

  Akhlak al- Karimah Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melaksanakan fungsiukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukan pengukuran tersebut. Instrumen yang sahih tidak sekedarmengukur apa yang seharusnya diukur, tetapi mengandung pengertian Yang dimaksud dengan teknik pengolahan data dalam pembahasan ini adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh penulis untuk memperoleh hasilakhir dalam penelitian.

1. Uji Validitas

  sejauh mana informasi yang diperoleh dari pengukuran dapat 9 diinterpretasikan sebagai tingkah laku atau karakteristik yang diukur. Pada uji validasi angket ini menggunakan rumus PEARSON, yaitu: xixtrit  2 2xt xi   Keterangan: r it = Angka indeks korelasi antara skor butir soal dengan skor totalxi = Jumlah kuadrat deviasi skor dari xi xt = Jumlah kuadrat deviasi skor dari xt Suatu instrumen dapat dikatakan valid apabila hasil perhitungan didapat angka koefisien korelasi r it > r tab yang dikonsultasikan pada tarafsignifikansi 0,05.

2. Uji Reliabilitas

  Hal ini menunjukkan bahwa instrumen skala pembelajaranpendidikan agama Islam yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas sangat tinggi sehingga memungkinkan atau layak digunakan dalampenelitian. Hal inimenunjukkan bahwa instrumen skala akhlak yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas sangat tinggi pula sehingga memungkinkan atau layakdigunakan dalam penelitian.

G. Tekhnik Analisa Data

  Dimana Product Moment Correlation adalah salah satu teknik untuk mencari korelasi antara dua variable yang kerap kali digunakan. Teknik korelasi ini dikembangkan oleh Karl Pearson.

2. Perhitungan Koefisien Determinasi

  Perhitungan koefisien determinasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y yang dinyatakandalam bentuk persen. Dimana rumus yang digunakan adalah rumus “Coefficient of Determination” 12 atau koefisien penentu yang dalam hal ini digunakan untuk lebih memudahkan pemberian interpretasi angka indekskorelasi ‘r’ product moment pada uji hipotesis di atas.

12 Drs. Riduwan, M.B.A, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

  GAMBAR 1 Skor Angket Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 60 50 Rendah 40 Sedang 30 Tinggi 20 10 Berdasarkan gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 23 siswa dengan prosentase sebesar 57,5% dan termasuk dalam kategori sedang berada dalam hasil prosentasi sangat tinggi dalam pembelajaran pendidikanagama islam. Perhitungan statistik data akhlak siswa menggunakan Microsoft Office Excel dengan hasil sebagai berikut: Tabel 7 Deskripsi Data Akhlak SiswaDeskripsi Nilai Nilai maksimum 120Nilai minimum 79 Range 29 Mean 101,91 Median 102Modus 102,106,120 Standar Deviasi 10,59 Berdasarkan data yang telah diperoleh diketahui skor tertinggi yang diperoleh oleh siswa pada tes akhlak ini sebesar 120 dan skor terendah yangdiperoleh siswa 79 sehingga diperoleh nilai rentang 29.

3. Deskripsi Data Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Akhlak Siswa

  Peneliti mengadakan perhitungan nilai koefisien korelasi antara pembelajaran pendidikan agama Islam dengan akhlak siswa kelas VIII SMPNegeri 03 Tangerang Selatan dengan menggunakan analisis data pada program SPSS yang rumus perhitungannya menggunakan rumus koefisienkorelasi Product Moment dari Pearson. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaran pendidikan agama Islam dengan akhlak siswa” ditolak sedangkan hipotesis alternative (Ha) yang menyatakan “Terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaranpendidikan agama Islam dengan akhlak siswa” diterima.

4. Interpretasi Data

  Dari hasil analisa dan interpretasi data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang cukup signifikan antara pembelajaran pendidikanagama Islam dengan akhlak siswa kelas VIII SMP Negeri 03 TangerangSelatan. Hal ini berarti siswa yang mempunyaitingkat pembelajaran pendidikan agama Islam yang tinggi, memiliki akhlak yang baik dan sebaliknya siswa yang mempunyai tingkat pembelajaran Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan skor pembelajaran pendidikan agama Islam dimana 30 % siswa berada pada kategori tinggi, 57,5 % beradapada kategori sedang dan 12,5 % berada dalam kategori rendah.

2 Y Y N

  Kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan suatu sistem untuk membimbing dan mengarahkan anak didik dengan cara yang baik, agarterbentuk jiwa yang suci, memahami dan memiliki ilmu pengetahuan serta dapat mengamalkan ilmu yang telah dimiliki. Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam harus selalu diterapkan kode etik dan penyampaian yang mudah diserap olehsiswa dan tidak lupa memberikan dukungan yang membangun/positif sehingga akan terbentuk siswa yang memiliki jiwa yang mulia dan menjadi 1 menjalankan disiplin dengan baik pada diri anak dalam lingkungan.

1 Wawancara dengan Ibu Hairunnisa S.Pd (guru PAI SMP Negeri 03), Jakarta 8 Januari 20

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian serta pengujian hipotesis yang

  Sehingga memunculkan anggapanbahwa akhlak siswa dapat ditingkatkan dengan adanya pembinaan akhlak dari pendidik di sekolah dalam hal pembentukan akhlak al-karimah dan dapatmenjadikan siswa yang memiliki budi pekerti yang mulia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam dapat memberikan dampak positif bagi terbentuknya akhlak siswa baik terhadapAllah, diri sendiri dan akhlak terhadap sesama.

B. Saran

  Tidak hanya pengetahuan yang bersifat rasional saja yang harus diberikan akan tetapi pengetahuan tentang ruang lingkup pendidikanagama Islam yang menyangkut keimanan, al- Qur’an/hadits, akhlak, fiqh dan sejarah Islam juga perlu diberikan kepada siswa guna membentukakhlak al-karimah. Apabila akhlak yang kita cerminkanadalah akhlak yang tidak baik maka masyarakat dapat menilai secara menyeluruh dan akan berimbas pada keberhasilan yang kita peroleh dan b.

DAFTAR PUSTAKA

  13________________ , Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 1998Aziz, Syaikh Abdul, Shahih Bukhari, Beirut: Daar al-Fikr, tthDaradjat, Zakiah, et al, Dasar-dasar Agama Islam: Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi dan Umum, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, Cet. Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kontribusi pendidikan agama islam dalam membina perilaku siswa SMPN 11 Tangerang Ciledug larangan Selatan
0
5
94
Hububgab antara nilai bidang studi pendidikan agama islam dengan akhlak siswa SMPN 250 Jakarta selatan
0
2
90
Hubungan antara perhatian Orang Tua dengan prestasi belajar agama islam siswa SMEA Budi Mulia Ciledug Tangerang
0
3
100
Hubungan pendidikan agama islam dengan pengalaman nilai-nilai islami siswa ;studi kasus SMPN 10 kota Tangerang Selatan
5
32
87
Minat belajar pendidikan agama islam pada siswa kelas VIII SMP al-Mubarak Pondok Aren-Tangerang Selatan
0
18
71
Hubungan antara pembelajaran pendidikan agama islam dengan akhlak siswa ( Studi penelitian siswa kelas VIII di SMPN 03 Tangerang Selatan)
0
7
75
Hubungan pembelajaran kooperatif pendidikan agama islam dengan prestasi siswa di SDN Rempoa 11
1
3
124
Hubungan pendidikan agama ISlam dalam kelluarga dengan akhlak siswa di MTs As-Sa'Adah Cakung Jakarta Timur
0
4
132
pengaruh pendidikan agama islam terhadap akhlak siswa SMA Negeri 51 Jakarta
4
29
93
Pengaruh pendidikan agama islam terhadap pembentukan akhlak siswa di SDIT Yasir Cipondoh Kota Tangerang
0
9
104
Aplikasi strategi pembelajaran aktif teknik mind map dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam di MI Assholihiyah Rumpin Bogor : penelitian tindakan kelas pada siswa kelas I
6
51
117
Hubungan antara kecerdasan emosional dengan akhlak siswa kelas xi SMA Triguna Utama Tangerang Selatan
1
22
63
Hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar pendidikan agama islam siswa kelas V di sdn kedaung kaliangke 12 pagi
6
95
71
Kontribusi pembelajaran pendidikan diniyah terhadap prestasi pendidikan agama islam siswa pada SDN 03 Pagi Kemanggisan Jakarta Barat
3
30
97
Hubungan antara pembelajaran pendidikan agama islam terhadap kecerdasan emosional peserta didik di SMPN 226 Jakarta Selatan
0
7
0
Show more