Feedback

Asystasia intrusa : Penyebaran Biji Dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, Dan Campuran Glifosat + 2,4 - D

Informasi dokumen
Asystasia intrusa: PENYEBARAN BIJI DAN DOSE RESPONSE TERHADAP PARAKUAT, GLIFOSAT, DAN CAMPURAN GLIFOSAT + 2,4 - D SKRIPSI ROMALI K. D. SITOHANG 050301021 BDP - AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara Asystasia intrusa: PENYEBARAN BIJI DAN DOSE RESPONSE TERHADAP PARAKUAT, GLIFOSAT, DAN CAMPURAN GLIFOSAT + 2,4 - D SKRIPSI ROMALI K. D. SITOHANG 050301021 BDP – AGRONOMI Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara Judul Skripsi Nama NIM Departemen Pogam Studi : Asystasia intrusa : Penyebaran Biji Dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, Dan Campuran Glifosat + 2,4 - D : Romali K. D. Sitohang : 050301021 : Budidaya Pertanian : Agronomi Disetujui Oleh : Dosen Komisi Pembimbing Ketua Anggota (Prof. Edison Purba, Ph. D) (Ir. Jasmani Ginting, MP) Mengetahui : Ketua Departemen (Prof. Edison Purba, Ph. D) Tanggal Lulus : Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ROMALI K. D. SITOHANG: Asystasia intrusa: Penyebaran Biji dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, dan Campuran Glifosat dan 2,4 – D. Dibimbing oleh EDISON PURBA dan JASMANI GINTING Percobaan pot di tempat terbuka di laksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara untuk menentukan dosis respon Asystasia intrusa terhadap parakuat, glifosat, dan campuran glifosat dan 2,4 - D dan jarak penyebaran biji dari induk. Percobaan I untuk menentukan dosis respon dilakukan dengan parakuat dan glifosat ditambah campuran glifosat dan 2,4 - D dengan enam taraf dosis dan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Percobaan II untuk menentukan kemampuan jarak biji pecah dari induk dengan tiga taraf jumlah Asystasia intrusa dalam polibeg. Hasil dosis respon menunjukan bahwa herbisida campuran glifosat dan 2,4 – D menyebabkan penekanan pertumbuhan dan kematian tertinggi terhadap Asystasia intrusa dibandingkan parakuat dan glifosat. Penyebaran biji terjauh dari pohon induk mencapai 220 cm. Penyebaran terbanyak 22,54% (1 A. intrusa/polibeg), 21,21% (10 A. intrusa/polibeg), dan 19,89% (20 A. intrusa/polibeg) terdapat pada jarak 61 – 80 cm dari pohon induk. Kata kunci : Asystasia intrusa, herbisida, dosis, penyebaran biji Universitas Sumatera Utara ABSTRACT ROMALI K. D. SITOHANG: Asystasia intrusa: Distance of Seeds and Dose Response To Paraquat, Glyphosate, and Mixture of Glyphosate dan 2,4 – D. Under the supervision of EDISON PURBA dan JASMANI GINTING Pot experiment was placed outdoors at experimental field of Agriculture Faculty, North Sumatera University with a high place ± 25 m above the sea level, from May until July 2009. The objective of the study is to determined dose response Asystasia intrusa to paraquat, glyphosate, and mixture of glyphosate and 2,4 - D and distance of seeds break from parent. The first experiment is to decide dose response Asystasia intrusa to paraquat, glyphosate, and mixture of glyphosate and 2,4 - D and was arranged in Randomized Block Design non factorial. The second experiment to decide distance ability of seeds to jump out (move away) from parent . The result of dose response indicated that mixture of glyphosate and 2,4 - D cause growth suppression and death supreming for Asystasia intrusa than paraquat and glifosat. The longest distance seeds move away from parent was 220 cm. Majority seeds break was 22,54% (1 Asystasia intrusa/polybag), 21,21% (10 Asystasia intrusa/polybag), and 19,89% (20 Asystasia. intrusa/polybag) available on distance 61 – 80 cm of parent tree. Key word: Asystasia intrusa, herbicide, dose, distribution of seeds Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Romali K. D. Sitohang dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 3 Mei 1987 dari Ayahanda Peris Sitohang dan Ibunda Supri Heryanti. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh adalah SD Negeri 091473 Balata tahun lulus 1999, SLTP N 1 Jorlang Hataran tahun lulus 2002 dan SMU Negeri 4 Pematang Siantar lulus tahun 2005. Terdaftar sebagai mahasiswa Agronomi Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada tahun 2005 melalui jalur SPMB. Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjabat sebagai Asisten Laboratorium Fisiologi Tumbuhan tahun 2007-2009, Asisten Laboratoriun Dasar Agronomi tahun 2009 dan Asisten Laboratorium Ilmu Gulma tahun 2009, Anggota Himadita dan penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN III Kebun Bangun, Bangun pada bulan Juni-Juli 2008. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karuniaNya sehingga skripsi berhasil diselesaikan. Adapun judul penelitian yang dipilih Asystasia intrusa : Penyebaran Biji Dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, dan Campuran Glifosat + 2,4 - D. Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Edison Purba dan Ir. Jasmani Ginting, MP selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dan juga kepada para dosen dan staf pengajar mata kuliah yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Peris Sitohang , Ibunda Supri Heryanti yang tercinta, kakanda Revina Sitohang dan keluarga atas segala doa dan dukungannya. Disamping itu penghargaan penulis sampaikan kepada teman-teman terbaik saya, Esterina Pratiwi Silitonga, Sugiyarto, Paian Simanungkalit, Nelson Simanjuntak, Junita Girsang, Harta Purba, Esra Marpaung, Teman kos Marakas 27, Teman-Teman stambuk 2005 dan adik-adik stambuk 2006, 2007, dan 2008 atas segala bantuannya. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfat bagi kita semua. Medan, November 2009 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT . i ABSTRAK . ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR LAMPIRAN . xi PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Tujuan Penelitian . 3 Hipotesis Penelitian . 3 Kegunaan Penelitian . 3 TINJAUAN PUSTAKA Gulma Sebagai Suatu Masalah di Perkebunan . 4 Biologi A. intrusa (Forssk) . 5 Pengebaran A. intrusa . 5 Pengaruh Negatif A. intrusa . 6 Pengendalian A. intrusa . 7 Pengendalian Gulma Dengan Herbisida . 9 Glifosat . 12 Parakuat . 13 2,4 – D . 14 BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Penelitian . 16 I. Jarak Pergerakan Biji A. intrusa dari Induk . 16 Bahan dan Alat . 16 Metode Penelitian . 16 Dose Response A. intrusa Terhadap Beberapa Dosis Herbisida . 18 Bahan dan Alat . 18 Metode Penelitian . 18 Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PENELITIAN I. Jarak Pergerakan Biji A. intrusa dari Induk . 20 Persiapan Bahan Tanaman . 20 Persiapan Lahan . 20 Persiapan Media Tanam . 20 Penanaman . 21 Penyiraman . 21 Penyiangan . 21 Pengendalian Hama dan Penyakit . 21 Pengamatan Parameter . 21 Tinggi Gulma. 21 Jumlah Cabang . 22 Jarak Penyebaran Biji . 22 II. Respon A. intrusa Terhadap Parakuat, Glifosat, dan Campuran Glifosat + 2,4 – D. 22 Persiapan Bahan Tanaman . 22 Persiapan Lahan . 22 Persiapan Media Tanam . 23 Penanaman . 23 Penjarangan . 23 Penyiraman . 23 Penyiangan . 23 Pengendalian Hama dan Penyakit . 24 Pengaplikasian Herbisida. 24 Pengamatan Parameter . 24 Mortalitas . 24 Tinggi Gulma. 25 Jumlah Cabang . 25 Jumlah Buah . 25 Bobot Kering . 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . 27 I. Jarak Pergerakan Biji A. Intrusa dari Induk . 27 Tinggi Gulma. 27 Jumlah Cabang . 29 Jarak Penyebaran Biji . 31 II. Respon A. intrusa Terhadap Parakuat, Glifosat, Dan Campuran Glifosat + 2,4 – D .36 Mortalitas . 36 Tinggi Gulma (cm) . 39 Jumlah Cabang (cabang) . 42 Jumlah Buah . 45 Bobot Kering . 47 Universitas Sumatera Utara Pembahasan . 50 I. Jarak Pergerakan P Biji A. Intrusa dari Induk . 50 II. Respon A. Intrusa Terhadap Parakuat, Glifosat Dan Campuran Glifosat dan 2,4 - D . 52 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan. 56 Saran . 56 DAFTAR PUSTAKA . 57 LAMPIRAN . 59 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Hal 1. Rataan tinggi gulma dari 2 MST hingga 12 MST .27 2. Rataan jumlah gulma dari 2 MST hingga 12 MST .29 3. Jarak penyebaran biji.31 4. Hubungan Penyebaran Biji A. intrusa dengan Kecepatan Angin pada bulan juli 2009 .34 5. Rataan mortalitas A. intrusa setelah aplikasi herbisida parakuat.36 6. Rataan mortalitas A. intrusa setelah aplikasi herbisida glifosat .37 7. Rataan mortalitas A. intrusa setelah aplikasi herbisida campuran glifosat + 2,4 - D .37 8. Rataan tinggi gulma A. intrusa setelah aplikasi herbisida parakuat .39 9. Rataan tinggi gulma A. intrusa setelah aplikasi herbisida glifosat .40 10. Rataan tinggi gulma A. intrusa setelah aplikasi herbisida campuran glifosat + 2,4 - D .40 11. Rataan jumlah cabang A. intrusa setelah aplikasi herbisida parakuat .42 12. Rataan jumlah cabang A. intrusa setelah aplikasi herbisida glifosat .43 13. Rataan jumlah cabang A. intrusa setelah aplikasi herbisida campuran glifosat + 2,4 - D .43 14. Rataan jumlah buah A. intrusa setelah aplikasi herbisida parakuat .45 15. Rataan jumlah buah A. intrusa setelah aplikasi herbisida glifosat.46 16. Rataan jumlah buah A. intrusa setelah aplikasi herbisida campuran glifosat + 2,4 - D .46 17. Rataan bobot kering A. intrusa pada 4 MSA herbisida parakuat .47 18. Rataan bobot kering A. intrusa pada 4 MSA herbisida glifosat .47 19. Rataan bobot kering A. intrusa pada 4 MSA herbisida campuran glifosat + 2,4 - D .48 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Hal 1. Grafik hubungan rataan tinggi gulma dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 1 biji A. intrusa per polibeg .28 2. Grafik hubungan rataan tinggi gulma dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 10 biji A. intrusa per polibeg .28 3. Grafik hubungan rataan tinggi gulma dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 20 biji A. intrusa per polibeg .28 4. Grafik hubungan rataan jumlah cabang dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 1 biji A. intrusa per polibeg .30 5. Grafik hubungan rataan jumlah cabang dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 10 biji A. intrusa per polibeg .30 6. Histogram hubungan rataan jumlah cabang dengan Minggu Setelah Tanam pada perlakuan 20 biji A. intrusa per polibeg .30 7. Gambar biji pecah pada plastik transparan di lihat dari atas .31 8. Grafik persentase biji pecah 1 A. intrusa /polibeg .32 9. Grafik persentase biji pecah 10 A. intrusa /polibeg .33 10. Grafik persentase biji pecah 20 A. intrusa /polibeg .33 11. Grafik hubungan rataan mortalitas dengan dosis herbisida parakuat pada 4 MSA. .38 12. Grafik hubungan rataan mortalitas dengan dosis herbisida glifosat pada 4 MSA. buah sebelum dipanen maka panen dilakukan saat buah masih hijau karena pengamatan jumlah buah ini dilaksanakan untuk melihat produksi buah Asystasia setelah aplikasi herbisida. Pemanenan buah dilakukan sekali seminggu sampai 1 bulan pertama setelah aplikasi. Bobot Kering Bobot kering Asystasia dari setiap petak contoh diukur adalah yang masih bertahan hidup setelah aplikasi. Cara pengambilannya adalah dengan memotong pada bagian pangkal batang bagian atas, kemudian dimasukkan ke dalam amplop dan dikeringkan ke dalam oven dengan suhu 700 C sampai beratnya konstan lalu ditimbang. Bobot kering diukur 6 MSA. Asystasia dipotong dari petak contoh yang berukuran 1 m x 1 m sebanyak 2 petak contoh per perlakuan. Seed bank Seed bank yang berkecambah diamati 1 minggu setelah sampel tanah ditabur di polibeg. Pengamatan dilakukan 1 x 2 hari sampai 4 minggu dengan mencatat dan mencabut gulma yang telah tumbuh dan teridentifikasi. Universitas Sumatera Utara HASIL DAN PEMBAHASAN Mortalitas Asystasia Hasil pengamatan rataan mortalitas Asystasia pada 3 MSA dan 6 MSA ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1 Rataan mortalitas Asystasia pada pengamatan 3 MSA dan 6 MSA . Pengendalian 3 MSA 6 MSA ------------------%--------------Kontrol (T1) Parakuat 138 g b.a/ha (T2) Parakuat 276 g b.a/ha (T3) Parakuat 552 g b.a/ha (T4) Glifosat 243 g b.a/ha (T5) Glifosat 485 g b.a/ha (T6) Glifosat 972 b.a/ha (T7) 2,4-D 432,5 g b.a/ha (T8) 2,4-D 865 g b.a/ha (T9) 2,4-D 1730 g b.a/ha (T10) 0a 50.46b 89.85e 97.42f 66.45c 74.62d 85.95e 100f 100f 100f 0a 50.46b 89.85d 97.42e 66.45c 92.18de 97.68ef 100f 100f 100f Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji £= 0,05 Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan mortalitas 6 MSA yang tertinggi 100 % terdapat pada pengendalian T8, T9, T10 yang tidak berbeda nyata terhadap pengendalian T7 tetapi berbeda nyata terhadap pengendalian lainnya. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa persentase pengendalian terendah yakni pada pengendalian T2 sebesar 50,46 % dan berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya. Sidik ragam mortalitas Asystasia pada pengamatan 3 MSA ditampilkan pada Lampiran 1. Uji kontras antara kontrol dengan seluruh pengendalian Universitas Sumatera Utara herbisida berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Pengendalian herbisida parakuat dengan seluruh pengendalian herbisida lainnya berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Pengendalian herbisida glifosat dengan herbisida 2,4-D berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Sidik ragam mortalitas Asystasia pada pengamatan 6 MSA ditampilkan pada Lampiran 2. Uji kontras antara kontrol dengan pengendalian herbisida lainnya berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Perlakuan herbisida parakuat dengan pengendalian herbisida lainnya berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Pengendalian herbisida glifosat dengan pengendalian herbisida 2,4-D berpengaruh nyata terhadap mortalitas Asystasia. Dari data di atas dapat dilihat bahwa persentase mortalitas yang paling tinggi pada 6 MSA adalah pengendalian herbisida 2,4-D mencapai 100 %. Kita ketahui sendiri herbisida 2,4-D merupakan herbisida sistemik selektif terhadap gulma yang berdaun lebar sehingga herbisida ini sangat efektif terhadap pengendalian Asystasia. Ini http://www.pasticideinfo.org/Detail_chemical.jsp sesuai (2008) menyatakan dengan 2,4-D adalah herbisida sistemik yang digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar. Persentase mortalitas terendah diperoleh dari pengendalian dengan herbisida parakuat mencapai 50.46 %. Ini dikarenakan parakuat merupakan jenis herbisida kontak sehingga hanya dapat mematikan Asystasia yang terkena langsung dengan herbisida dan tidak adanya translokasi ke jaringan tanaman hal ini sesuai dengan pernyataan Fadhly (2007) bahwa parakuat adalah herbsida Universitas Sumatera Utara kontak yang hanya membunuh bagian yang terkena langsung dengan larutan herbisida, paraquat tidak ditranslokasikan ke titik tumbuh. Parakuat bekerja pada kloroplas. Parakuat secara cepat menuju sistem biokimia yang dikenal sebagai fotosistem 1. Ion parakuat bereaksi dengan elektron fotosistem I untuk membentuk oksigen radikal bebas. Hasil dari perubahan kimia ini, membran dihancurkan, dan menyebabkan isi sel pecah. Proses ini sangat cepat sehingga tidak ada translokasi ke tubuh tanaman. Hal ini didukung oleh http://www.paraquat.com/AboutParaquat (2009) yang menyatakan parakuat bekerja pada kloroplas dari tumbuhan hijau dan secara cepat menuju sistem biokimia yang dikenal sebagai fotosistem I. Diantara pengendalian parakuat persentase mortalitas paling tinggi diperoleh pada konsentrasi 552 g b.a/ha mencapai 97,42 %. Ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka daya bunuh herbisida semakin tinggi juga pertambahan konsentrasi herbisida dapat mengakibatkan kerja dari herbisida menjadi dua kali lipat. Hal ini didukung oleh Setyowati (2005) menyatakan semakin tinggi konsentrasi herbisida yang diberikan semakin meningkat penekanannya terhadap gulma. Nilai Jumlah Dominasi Nilai jumlah dominasi (NJD) 0 MSA ditampilkan pada Lampiran 3. Nilai jumlah dominasi pada 3 MSA ditampilkan pada Lampiran 3 dan nilai jumlah dominasi pada 6 MSA ditampilkan pada Lampiran 4. Universitas Sumatera Utara Tabel 2 Rataan nilai jumlah dominasi pada pengamatan 0 MSA, 3 MSA, 6 MSA. Jenis Gulma 0 MSA 3 MSA 6 MSA Asystasia intrusa Ottochloa nodosa Mikania micranta Paspalum conjugatum Erechtites valerianifolia Mimosa pudica Phylanthus niruri Cyperus kylingia Brachiaria distachya Eleusine indica Melastoma affine Cynodon dactylon Nephrolepis biserrata Cleome Rutidospermae Passiflora foetida Cydosorus aridus 53.3 20.59 17.39 3.88 2.38 2.06 1.43 0.68 0.66 0.63 0.59 0.57 0.32 0.32 0.32 0.32 50.5 30.53 7.63 4.37 1.87 1.80 0.49 0.47 0.47 1 0.53 0.47 53.92 28.35 6.55 3.63 0.45 2.66 1.17 0.48 0.53 1.1 0.61 0.49 Tabel 2 menunjukkan bahwa sebelum aplikasi Asytasia mendominasi areal pengamatan 53,3 %, setelah 3 MSA nilai jumlah dominasi Asystasia menurun menjadi 50.5 %, tetapi meningkat lagi pada 6 MSA sebesar 53,92 %. Nilai jumlah dominasi tidak terlalu berbeda, ini dapat dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi untuk masing-masing herbisida sehingga perbedaan konsentrasi ini mengakibatkan herbisida itu sendiri tidak selektif dan menyebabkan kematian untuk gulma lainnya bukan hanya Asystasia. Hal ini mengakibatkan tidak adanya pergeseran nilai jumlah dominasi, Asystasia tetap mendominasi areal penelitian. Hal ini didukung oleh Sukman (1995) menyatakan suatu herbisida pada dosis/konsentrasi tertentu dapat bersifat selektif, tetapi bila dosis dinaikkan atau diturunkan berubah menjadi tidak selektif. Hal ini juga dapat Universitas Sumatera Utara dikarenakan adanya konsentrasi yang diturunkan dan dinaikkan dari konsentrasi anjuran sehingga gulma yang dikendalikan tidak hanya Asystasia saja tetapi gulma yang lainnya juga dikendalikan. Hal ini sesuai dengan Noor (1997) yang menyatakan penggunaan herbisida untuk mengendalikan gulma harus dilakukan secara hati-hati dengan memenuhi 6 tepat, yaitu : tepat mutu, tepat sasaran, tepat takaran, tepat konsentrasi dan tepat cara aplikasi. Asystasia Yang Tumbuh Secara Periodik Hasil pengamatan rataan Asystasia yang tumbuh secara periodik pada 1, 3, dan 5 MSA ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3 Rataan Asystasia yang tumbuh secara periodik pada pengamatan 1, 3, dan 5 MSA. Pengendalian 1 MSA 3 MSA 5 MSA ----------------------%----------------------Kontrol (T1) 92.39a 100 88.57a ab Parakuat 138 g b.a/ha(T2) 75.70 57.28 62.98ab Parakuat 276 g b.a/ha(T3) 56.95abc 41.06 57.10b cd Parakuat 552 g b.a/ha(T4) 24.49 22.63 25.17c Glifosat 243 g b.a/ha(T5) 73.42ab 52.00 65.41ab abc Glifosat 485 g b.a/ha(T6) 62.73 52.48 21.06c Glifosat 972 b.a/ha(T7) 36.07bcd 28.25 20.69c cd 2,4-D 432,5 g b.a/ha(T8) 25.55 37.00 16.75c d 2,4-D 865 g b.a/ha(T9) 6.01 21.34 12.33c 2,4-D 1730 g b.a/ha(T10) 5.66d 18.89 5.34c Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji £= 0,05 Tabel 3 menunjukkan bahwa pada pengamatan Asystasia yang tumbuh secara periodik pada 5 MSA yang tertinggi 88,57 % terdapat pada T1 yang tidak berbeda nyata dengan pengendalian T2 dan T5, tetapi berbeda nyata dengan pengendalian lainnya. Universitas Sumatera Utara Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa persentase rataan Asystasia yang tumbuh secara periodik terendah 5,34 % sampai dengan 21.06 % yakni pada pengendalian T10, T4, T6, T7, T8, T9 tetapi berbeda nyata dengan pengendalian lainnya. Sidik ragam Asystasia yang tumbuh secara periodik pada pengamatan 1 MSA ditampilkan pada Lampiran 5. Uji kontras antara kontrol dengan seluruh pengendalian herbisida berpengaruh nyata terhadap Asystasia yang tumbuh secara periodik. Pengendalian herbisida parakuat dengan seluruh pengendalian herbisida lainnya berpengaruh Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Asystasia intrusa : Penyebaran Biji Dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, Dan Campuran Glifosat + 2,4 - D Dose Response A. intrusa Terhadap Parakuat, Glifosat, dan Campuran Glifosat + 2,4 - D Jarak Pergerakan Biji A. intrusa dari Induk Bahan dan Alat Dose Response Asystasia Terhadap Parakuat, Glifosat, dan Campuran Glifosat + 2,4 - D Jarak Pergerakan Biji A. intrusa dari Induk Persiapan Bahan Tanaman
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Asystasia intrusa : Penyebaran Biji Dan Dose Response Terhadap Parakuat, Glifosat, Dan Campuran Glifosat + 2,4 - D

Gratis