Advokasi Petani, Dalam Upaya Pembebasan Lahan Sengketa Oleh Smapur Sebagai Bagian Dari Pekerjaan Sosial Di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang

 0  42  125  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

KATA PENGANTAR

  Kepada semua teman – teman organisasi dan elemen mahasiswa , buruh , kaum miskin perkotaan , tani , LSM/NGO ,seniman jalanan (ada Formadas , Famud , Barsdem , FrontPeta , Barani , kelompok cipayung , SRMI , STN , Rumah musik , rumah kita , FNPBI ,SPI , PI , FPTR , FIS , SOROT MERAH , KS FISIP , CC , KDAS , Komunitas BawahTangga , Aliansi Bawah Tanah-nya kessos , KAMMI , dan banyak lagi yang tak mungkin 11. Buat orang-orang yang tidak tersebutkan namanya yang sudah mendukung dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, saya ucapin terima kasih dan sukses buatkita semua.

DAFTAR LAMPIRAN

  Advokasi dalam perjalanannya bermakna meluas , tidak lagi milik advoocat (pengacara) yang bertendensi ke disiplin ilmu hukum namun juga sudah melingkupi seluruh kerjapendampingan yang dilakukan setiap orang dan kelompok. Dalam disiplin ilmu social terkhusus ilmu kesejahteraan social , advokasi adalah salah satu poin yang menjadi lapanganpraktek dari pekerjaan sosial selain dari kerja – kerja mediator , broker , fasilitator, dan sebagainya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latarbelakang Masalah Persengketaan lahan adalah satu kajian studi yang hingga kini menarik untuk diteliti

  Penguasaan atas perkebunan , kehutanan , pertambangan saat ini didominasi segelintir individu dan perusahaan besar nasional dan asing seperti London Sumatera , Exxon , Nem Mont, Freeport , Caltex , dan lainnya hingga mencapai jutaan hektar. Situasi tersebut telah mendorong timbulnya ribuan konflik – konflik yang bersandar pada perebutan penguasaan , pengelolaan ,pemanfaatan , dan kepemilikan atas sumber – sumber agrarian , baik yang sifatnya vertikal , horizontal , maupun gabungan antara keduanya.

3 Suhendar dan Kasim ,1995:15

4rakyat.” Sukarno , dalam ketertarikannya mengenai isu perjuangan tani bahkan pernah mengatakan “Melaksanakan land reform berarti melaksanakan satu bagian yang mutlak dari

5 Revolusi Indonesia.”

  Pada saat yang sama , rakyat petani selain tidak dapat memperjuangkan kepentingandan kebutuhannya melalui institusi – institusi , juga tidak cukup mempunyai kemampuan mengekspresikan emosi secara wajar sehingga persoalan – persoalan yang muncul kemudiandiarahkan menjadi kekerasan massa yang kerapkali brutal , destruktif dan radikal terhadap sasaran –sasaran yang dianggap menjadi simbol kekuasaan (Negara ,atributnya , dan pasar). Dalam Dari beberapa dusun yang telah dilakukan pertemuan maka digagaslah sebuah pertemuan yang di sebut Rembuk Akbar dari seluruh dusun yang ada di persil IV yang akandigelar di lapangan SD Negeri Tungkusan pada hari minggu 26 Agustus 2007 pukul 13.00 Wib s/d selesai.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latarbelakang masalah, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimana advokasi Petani dalam upaya Pembebasan Lahan Sengketa olehSMAPUR sebagai bagian dari Pekerjaan Sosial di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang”

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Sebagai pelengkap referensi di ruang ruang ilmiah (perpustakaan , diskusi , bacaan ilmiah dan sebagainya) sehingga kedepannya penulis mengharapkan akan lahir akademisi kritisyang berpijak pada rasionalitas dan bekerja secara jujur dan realistis. Terakhir , kepada para praktisi masyarakat yang sudah terbiasa berpihak pada masyarakat dan berpikir secara multi-sektoral , semoga karya ilmiah (skripsi) ini punya manfaatuntuk menggugah para pekerja dan pemikir mono-sektoral untuk mengurangi sifat ego- sektoralnya dan ikut mempertimbangkan kepentingan sektor lain sehingga pembangunandan pemberdayaan semua sektor dapat dilaksanakan secara sinkron dan seimbang.

1.4. Sistematika Penulisan

  BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan tentang uraian dan teori-teori yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan definisi operasional. BAB V : ANALISIS DATA Bab ini menguraikan bagaimana menganalisis data, berisikan penganalisaan data- data yang diperoleh dalam penelitian BAB VI : PENUTUP Bab ini menguraikan kesimpulan dan saran-saran penulis, atas penelitian yang telah dilaksanakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Advokasi

2.1.1. Sebuah Definisi

  Upaya terorganisir maupun aksi yang menggunakan sarana-sarana demokrasi untuk menyusun dan melaksanakan undang-undang dan kebijakan yang bertujuan untukmenciptakan masyarakat yang adil dan merata (Institut Advokasi Washington DC). Menurut Sheila Espine-Villaluz, advokasi diartikan sebagai aksi strategis dan terpadu yang dilakukan perorangan dan kelompok untuk memasukkan suatu masalah (isu)kedalam agenda kebijakan, mendorong para pembuat kebijakan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan membangun basis dukungan atas kebijakan publik yang diambil 13 untuk menyelesaikan masalah tersebut.

2.1.2 Advokasi: Alasan, Tujuan, dan Sasaran

  Bagi sebagian orang yang telah berkecimpung dalam dunia advokasi, tentu mereka tidak akan menanyakan kembali mengapa mereka melakukan hal itu. Yang kaya semakin kaya dan yang melarat semakin sekaratDari beberapa poin di atas ini kemudian melahirkan kesadaran untuk melakukan perubahan, perlawanan, dan pembelaan atas apa yang dirasakan olehnya.

14 Artikel ini disampaikan oleh pemateri (Elbiando Lumban Gaol) pada sesi diskusi tematis gemaprodem dalam

  Tujuan dari kerja-kerja advokasi adalah untuk mendorong terwujudnya perubahan atas sebuah kondisi yang tidak atau belum ideal sesuai dengan yang diharapkan. Kebijakan publik merupakanbeberapa regulasi yang dibuat berdasarkan kompromi para penguasa (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dengan mewajibkan warganya untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat.

15 Siapa Pelaku Advokasi?

  Mahasiswa (individu) atau organisasi/komunitas kemahasiswaan (GEMAPRODEM , HMI, GMKI , FORMADAS, SMI , FMN, dan lain-lain). Organisasi masyarakat dan organisasi politik (SRMI , FNPBI ,STN , JAKER , LMNDPRD , SPI dan lain sebagainya) 3.

2.1.3 Kerja-kerja Advokasi: Tantangan dan Strategi

  Para pendukung etika (tokoh agama dan pendidikan) menginginkan pembatasan yang ketat terhadappublikasi dan prilaku porno, sebaiknya para pendukung nilai-nilai estetika (seniman, musikus, sastrawan, dan pekerja seni) menilai pembatasan yang ketat terhadap publikasi dan prilaku pornobertentangan dengan hak asasi manusia. Larangan perjudian dan pelacuran dalam kacamata hukum pidana mungkin dianggap sebagai hal yang wajar, tapi perjudian dan pelacuran dengan bebanpajak yang cukup tinggi dapat menjadi sumber bagi pendapatan daerah.

2.2 Petani

2.2.1 Petani : Entitas Inklusif

  Ekonomi adalah unsur-unsur, proses-proses dan akibat dari esktasi surplus dalam produksi, distribusi dan konsumsi; sedangkan politik adalah unsur-unsur, proses-proses danakibat-akibat dari penggunaan kekuasaan untuk pengaturan hidup manusia. Petani adalah entitas inklusif yang senantiasa hidup dalam dan bahkan melalui aneka rupa dinamika interaksi dengan komunitas lain yang 19 bukan petani .

2.2.2 Resistensi Petani

  Maka etika yang dihayati dan dikembangkan masyarakat petani subsisten yaitu safety first ethics dengan mekanisme risk avoidance strategy. Buruh lebih sanggup melakukan revolusi, terutama terhadap ekspansi kapitalisme yang angkuh dan serakah.

22 Sedangkan penganut kapitalisme memandang resistensi petani sebagai salah satu

  Sebab, petani adalah mesin produksi dalam skema akumulasi modal, sekaligus konsumen yang membeli barang-barang kebutuhan dasar yangdiproduksi mesin industri kapital. Rezim penguasa tetap takselalu siuman, bukan karena mereka bodoh dalam pengertian tak bersekolah atau berpendidikan, melainkan karena mereka telah terkena candu kapitalisme yang akut sehingga mereka tampakbebal.

2.2.3 Semangat Pembaruan Agraria

  Petani adalah komunitas dunia yang berada di medan tugas tertentu yang bebas memperjuangkan kepentingannya sendiri secara kritisseturut perspektif dan konteksnya sendiri. Dari pengalaman perjuangan kita beberapa waktu terakhir, di tengah kondisi bahwa secara umum gerakan tani belum berdaya sebagai satu kekuatan yang diperhitungkan dalammendesakkan kepentingannya kepada Negara, tercapai kemajuan-kemajuan; terutama, pertama, dalam segi-segi meningkatnya kesadaran bagaimana kekuatan tani dapat mengambil peran yanglebih besar dalam persoalan ketatanegaraan.

2.3 Jenis – Jenis Hak Atas Tanah

  31 Kemudian Pasal 16 UUPA hak atas tanah terbagi atas 7 , yaitu: 2.3.1 Hak Milik Hak milik adalah hak turun temurun (ada selama pemilik hidup dan jika meninggal dunia, dapat dialihkan kepada ahli waris), terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atastanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 UUPA. dialihkan kepada warga negara asing; (2) Tanahnya musnah.30 2.3.2 Hak Guna Usaha (HGU)31 Sumber : UU Pokok Agraria (UU PA) ibid Hak guna usaha (HGU) adalah hak yang diberikan oleh negara kepada perusahaan pertanian, perusahaan perikanan, perusahaan peternakan dan perusahaan perkebunan untukmelakukan kegiatan usahanya di Indonesia.

2.3.3 Hak Guna Bangunan (HGB)

  2.3.4 Hak Pakai Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain yang memberi wewenang dankewajiban yang ditentukan dalam Keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya yang bukan perjanjian sewamenyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang (Pasal 41(1) UUPA). 8/1953), Hak SewaTanah Pertanian (berdasarkan musyawarah mufakat antara pengelola dan pemilik tanah), HakMenumpang (Hukum Adat dan Pasal 53 UUPA) dan Hak Pengelolaan (Penjelasan Umum bagian A II (2) UUPA dan PP No.

2.4 Masalah Kepemilikan Kolektif Hak Atas Tanah

  Hak milik atas tanah secara kolektif tidak diatur dalam undang-undang karena pasal 10UUPA menjelaskan, subyek hukum yang memiliki hak atas tanah adalah individu dan badan hukum. Tanah ulayat adat (suku) hingga kini masih mendekati apa yang disebut dengankepemilikan hak atas tanah kolektif, namun sepanjang pengambilan hasil serta pengelolaannya, Hak Ulayat Hak Ulayat merupakan serangkaian hak masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah dalam wilayahnya yang merupakan pendukung utama penghidupan masyarakatyang bersangkutan.

2.5 Pengakuan adat oleh Hukum Formal

  Snouck Hurgronje dalam bukunya yang berjudul "De Atjehers" menyebutkan istilah hukum adat sebagai "adat recht" (bahasa Belanda)yaitu untuk memberi nama pada satu sistem pengendalian sosial (social control) yang hidup dalam Masyarakat Indonesia. Hukum tertulis ini secara lebih detil terdiri dari hukum ada yang tercatat(beschreven), seperti yang dituliskan oleh para penulis sarjana hukum yang cukup terkenal di 3233 ibid Pengantar Hukum Adat Indonesia Edisi II, TARSITO, Bandung.

34 Wilayah hukum adat di Indonesia

  Menurut hukum adat, wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang ini dapat dibagi menjadi beberapa lingkungan atau lingkaran adat (Adatrechtkringen). Penegak hukum adatPenegak hukum adat adalah pemuka adat sebagai pemimpin yang sangat disegani dan besar pengaruhnya dalam lingkungan masyarakat adat untuk menjaga keutuhan hidup sejahtera.

34 Sumber : Hukum adat – Wikipedia bahasa indonesia , ensiklopedia bebas

  Dalam kasus salah satu adat suku Nuaulu yang terletak di daerahMaluku Tengah, ini butuh kajian adat yang sangat mendetail lagi, persoalan kemudian adalah pada saat ritual adat suku tersebut, dimana proses adat itu membutuhkan kepala manusia sebagaialat atau prangkat proses ritual adat suku Nuaulu tersebut. dalam Pasal 28 hakim harus melihat atau mempelajari kebiasaan atau adat setempat dalam menjatuhan 35 putusan pidana terhadap kasus yang berkaitan dengan adat setempat.

36 Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat . Peraturan ini dimaksudkan untuk menyediakan

  Peraturan ini memuat kebijaksanaan yang memperjelas prinsip pengakuan terhadap"hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat" sebagaimana 37 dimaksudkan dalam Pasal 3 UUPA. Kriteria dan penentuan masih adanya hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari masyarakat hukum adat (Pasal 2 dan 5).

2.6 Pekerjaan Sosial

  Pengertian tersebut pada prinsipnya menyebutkan bahwa pekerjaan sosial adalah aktivitas professional , yang ditujukan untuk menolong orang , baik sebagai individu , kelompok ,organisasi maupun masyarakat , dalam kerangka meningkatkan atau memperbaiki kemampuan berfungsi sosial mereka dan menciptakan kondisi / lingkungan sosial yang memungkinkan orangtersebut mencapai tujuannya. Ilmu pekerjaan sosial merupakan eclectic sciences , ilmu yang dalam proses pembentukannya mengadaptasi bagian-bagian dan konsep dari disiplin ilmu lainnya.

2.6.3. Advokasi Petani dalam Pekerjaan Sosial

  Advokasi ‘pembelaan’ seperti yang dikerjakan oleh penegak hukum dan advokasi yang 46 tidak hanya membela tapi juga memajukan , mengemukakan , menciptakan dan merubahSementara itu , bila merujuk pada pengalaman masa lalu (baca: orde baru) , kegiatan advokasi 4546 Untuk lebih jelasnya baca Dasar-dasar Pekerjaan Sosial ,hal 35-41. Sementara advokasi secara nonlitigasierkaitan erat dengan upaya penanganan kasus melalui jalur lobby dan aksi yang bersifat membangun opini publik , baik yang dilakukan dengan cara aksi demonstrasi , delegasi , unjukrasa , hingga kampanye baik secara lisan maupun tulisan.

2.7. Kerangka Pemikiran

  Petani yang dalam kasus ini didudukkan sebagai objek (pihakyang seperti biasanya tidak memiliki akses kepada sistem sumber) bersama SMAPUR(Kelompok mahasiswa dan pemuda yang konsen pada advokasi petani) memperjuangkan hak- hak normatifnya atas penguasaan lahan baik melalui skema advokasi secara litigasi (peradilan)maupun nonlitigasi ternyata mampu mengangkat permasalahan sengketa lahan yang telah berumur puluhan tahun. Menarik untuk diteliti apa sebenarnya yang membedakan pola advokasi oleh SMAPUR ini dengan pola advokasi lainnya yang kemudian penulis rasa akan sangat penting jika pekerja –pekerja sosial nantinya mampu mempelajarinya untuk kemudian menjadi bahan referensi tambahan dalam metode pekerjaan sosial terkhusus advokasi dan community organization.

SENGKETA LAHAN SMAPUR

INVESTIGASI KASUS

  Mediasi dengan difasilitasi BPN. Advokasi petani oleh SMAPUR.

2.8. Definisi Konsep dan Definisi Operasional

2.8.1. Definisi Konsep

  Konsep adalah unsur penelitian yang terpenting dan merupakan defenisi yang dipakai oleh para peneliti yang memnggambar abstrak suatu fenomena sosial ataupun fenomena alami(Singarimbun, 1989 : 17) Penelitian ini dimaksud untuk mengetahui advokasi petani Persil IV Dusun Tungkusan ,Deli Serdang , dalam upaya pembebasan lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dariPekerjaan Sosial. Pekerjaan sosial adalah aktivitas professional , yang ditujukan untuk menolong orang , baik sebagai individu , kelompok , organisasi maupun masyarakat , dalamkerangka meningkatkan atau memperbaiki kemampuan berfungsi sosial mereka dan menciptakan kondisi / lingkungan sosial yang memungkinkan orang tersebutmencapai tujuannya.

2.8.2. Definisi Operasional

  Defenisi operasional adalah informasi ilmiah yang membantu peneliti dengan menggunakan suatu variabel atau dengan kata lain defenisi operasional adalah semacampetunjuk pelaksanaan bagaimana mengukur suatu variabel (Singarimbun, 1989 : 46). Apa yang menjadi ketertarikan petani untuk diadvokasi.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan atau menggambarkan objek yang diteliti dalam hal ini adalah untuk menggambarkan advokasi petani Persil IV dusun Tungkusan , Deli Serdang , dalam upayapembebasan lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari pekerjaan sosial. Studi Kepustakaan, yaitu pengumpulan data melalui data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti dengan mempelajari dan menalaah buku, serta tulisan lainnyayang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti.

3.5. Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan cara mentabulasi data yang berhasil dijaring melalui keterangan yang diperoleh dariresponden. Kemudian dilakukan analisa data dengan menggambarkan kenyataan yang ada di tempat penelitian dan dicari frekuensi serta persentase dari jawaban yang terkumpul yangkemudian disusun dalam bentuk tabel yaitu tabel tunggal , selanjutnya diberi keterangan sesuai dengan gejala yang diamati.

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PRAKTIKUM

4.1. Latar Belakang Berdirinya SMAPUR

  Realita bahwa masih banyak petani yang dilanggar dan terabaikan haknya , dan menjadi korban dari ebrbagai bentuk tidank kriminalisasi , eksploitasi , persalkuan salah , diskriminasi ,bahkan tindakann-tindakan penyerobotan lahan yang selalu berhadapan dengan kekuasaan menunjukkan kurang memadainya perlindungan terhadap kaum tani. Menyikapi realita tersebut , sejumlah aktivis mahasiswa , alumni , dan sejumlah pemuda di medan tergerak untuk mencoba terjun langsung dan encoba mendampingi petani dalam upayapenyelesaian senketa lahan.

4.3. Letak dan Kedudukan Lembaga Kantor Induk

  Struktur Organisasi Lembaga dan Staff Pendukung Gambar 4.1. Struktur Organisasi SMAPUR SMAPUR Comitee OrganiserKooedinator Petani Mahasiswa Pemuda Koordinator SMAPUR : Juson Jusri Simbolon.

4.4. Pola dan kronologis Advokasi yang pernah dilakukan

  Tahun 1972Pada tahun 1972 masa pemerintahan rezim Orde Baru tanpa alasan yang sah secara hukum, sebagian besar tanah tersebut, yaitu seluas lebih kurang 525 Ha, telah diambil atau dikuasai olehPTPN IX secara paksa (sekarang PTPN II) dengan cara mengusir bangunan rumah tempat tinggal rakyat hingga sampai hancur dan rata dengan tanah, menebang pohon dan tanaman-tanaman yang telah ditanam rakyat. Tahun 2007Pada awal juli 2007 mahasiswa dan pemuda atas nama Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda untuk Rakyat (SMAPUR) membantu persoalan yang dialami masyarakat persil IV ini, dengan melakukan investigasi kasus selama 1 (satu) bulan dengan bermodalkan pendidikan dankeberanian melakukan pertemuan dengan masyarakat untuk membicarakan hal-hal seputar kasus yang dialami masyarakat serta informasi penting lainnya yang berhubungan dengan perjuangantanah persil IV tersebut.

BAB V ANALISA DATA Untuk melihat Respon Anak yang Berkonflik dengan Hukum terhadap Program Pelayanan Sosial oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, maka 20 angket yang akan digunakan sebagai

acuan perolehan data dengan sistem kuesioner kepada responden, dan wawancara mendalam kepada beberapa responden, dibawah ini akan dibahas atau dianalisis dengan menggunakananalisis tabel tunggal.

5.1. Data Identitas Responden

  Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 Tidak tamat SD 4 20% 2 SD4 20% 3 SMP 8 40% 4 SMA 4 20% Total 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.5 tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas tingkat pendidikan responden adalah anak yang masih duduk di bangku SMP atau 40% yang berjumlah 8 orang, sedangkan anak yang tidak tamat SD, masih duduk dibangku SD serta anak yang masih duduk dibangku SMA memiliki frekuensi yang sama yaitu 4 atau masing-masing 20%. Hal yang melatarbelakangi mengapa anak yang terlibat konflik dengan hukum adalah anak-anak yang duduk di bangku SMP yaitu dikarenakan kenakalan anak yang sangat tidakterkendali terletak pada usia anak SMP, seperti yang tertera pada daftar table 1, dan juga disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi jiwa anak tersebut.

5.2. Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial

5.2.1 Layanan Hukum

  Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) Tabel 5.8 Tingkat Pengertian Responden terhadap Program Layanan Hukum Responden yang mendapatkan informasi tentang program Layanan Sosial dari media elektronik sebanyak 1 orang atau 5%, responden yang mendapatkan informasi program LayananSosial dari media cetak sebanyak 4 orang atau 20%, dari staff PKPA sendiri ada 1 orang atau5%, dan yang lainnya sebanyak 3 responden atau 15%, informasi tersebut mereka dapat dari pihak sekolah, polda dan LSM lain. Kategori Nilai Frekuensi (F) Persentase (%) 1 2 3 4 1 2 3 4 5 - 6 6 1 5% 7 7 3 15% 8 8 3 15% 9 9 7 35% 10 10 5 25% Total 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.15 bahwa mayoritas responden memberikan nilai 9 terhadap Program Layanan Hukum yaitu 7 orang atau 35%, yang memberikan nilai 10 berjumlah 5 orang atau 25%, yang memberikan nilai 7 dan 8 masing-masing berjumlah 3 orang atau 15%, dan yang memberikan nilai 4 dan 6 juga masing-masing 1 orang atau 5%.

5.2.2. Konseling

  Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 Memuaskan 18 90% 2 Kurang memuaskan 1 5% 3 Tidak memuaskan 1 5% Total 20 100 Sumber : Data Primer Berdasarkan data pada Tabel 5.17 mayoritas responden adalah responden yang merasa puas tentang pelaksanaan program Konseling tersebut yaitu sebanyak 18 orang atau 90%, danyang merasa kurang puas serta yang sama sekali tidak merasakan adanya kepuasan masing- masing 1 orang atau 5%. Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 Bermanfaat 14 70% 2 Kurang bermanfaat 6 30% Total 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.18 diketahui bahwa sebanyak 14 responden atau 70% dari jumlah sampel rmenjawab program konseling yang dilakukan lembaga PKPA memberikanmanfaat kepada responden, sedangkan yang mengalami kurangnya manfaat adalah sebanyak 2 orang atau 10%.

5.2.3. Penjemputan Penyelamatan Korban

  Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 Memuaskan 17 85% 2 Kurang memuaskan 3 15% Total 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.22 mayoritas responden adalah responden yang merasa puas tentang pelaksanaan program penjemputan penyelamatan tersebut yaitu sebanyak 17orang atau 85%, dan yang merasa kurang puas sebanyak 3 orang atau 15%. Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 Tidak pernah 11 55% 2 Tidak ingat 9 45% Total 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.23 diketahui bahwa mayoritas responden menjawab tidak pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan ketika proses penjemputan yang dilakukan olehlembaga PKPA berlangsung, yaitu sebanyak 11 orang atau 55%.

5.2.4. Pemeriksaan Kondisi Kesehatan

  Responden yang menjawab kurang sesuai yang berjumlah 7 orang atau 35% serta yang menjawab tidak sesuai berjumlah 4 orang atau 20% adalah responden yang tidak terlalumenyukai diri mereka diperiksa secara medis, karena tidak begitu suka dengan dokter, suster maupun obat-obatan, dan juga sebagian responden tidak mengalami kekerasan sehingga harusdiperiksa. Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 4 10% 3 4 10 9 8 7 6 5 3 2 10 9 8 7 6 5 4 3 2 7 20 100 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.28 diketahui bahwa mayoritas responden memberikan nilai 9 terhadap Program Pemeriksaan Kondisi Kesehatan sebanyak 7 orang atau 35%, yangmemberikan nilai 8 berjumlah 3 orang atau 15%, yang memberikan nilai 7 dan 6 masing-masing 4 orang atau 20%, dan yang memberikan nilai 4 berjumlah 2 orang atau 10%.

5.2.5 Monitoring

  Hal ini dapat dilihat dari jumlah responden yang menjawab memuaskan sebanyak 13 orang atau 65% dari jumlah responden, 4 orang atau 20% yang menjawab tidak memuaskan dan3 orang atau 15% yang menjawab kurang memuaskan. Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1 1 5 Sumber : Data PrimerBerdasarkan data pada Tabel 5.33 diketahui bahwa mayoritas responden memberikan nilai 9 terhadap Program Monitoring sebanyak 8 orang atau 40%, yang memberikan nilai 10berjumlah 4 orang atau 20%, yang memberikan nilai 8 berjumlah 2 orang atau 10%, yang memberikan nilai 7 berjumlah 4 orang atau 20%, dan yang memberikan nilai 5 berjumlah 1orang atau 5%.

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan

  Program dapat berjalan lancer karenaada sarana pendukung yang memicu klien ingin bercerita , seperti ikutnya SMAPUR dalam kerja gotong royong dan kegiatan lainnya yang mencuri hati masyarakat persil IV. Responden merasa dalam program advokasi litigasi sangat berterimakasih bagi pihakSMAPUR yang sudi menjemput , mengantar dan menemani klien selama proses kasus berlangsung.

6.2. Saran

  Diharapkan bagi SMAPUR agar dapat mempertahankan kualitas sebagai lembaga social yang siap melindungi rakyat dari segala masalah yang menimpa mereka melalui program – programpelayanan social dan hokum yang telah disediakan. Dengan adanya advokasi petani persil IV dapat dilihat bagian mana dan program apa yang kurang cocok maupun disenangi , sehingga menimbulkan ketidaknyamanan maupun kanyamanan bagianak yang menjalankan program pelayanna social dan hokum oleh SMAPUR tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  Sumber Artikel , Arsip , Jurnal , dan sebagainya Arsip AGRA berjudul “UU Pokok Agraria (UU PA)” dimiliki sejak tahun 2006. Yusuf Effendi , pada sesi materi Advokasi dan Manajemen Aksi dalam PKD PMII Komisariat Gadjah Mada di PP Sunan Pandan Aran, 18-20 April 2008.

Advokasi Petani, Dalam Upaya Pembebasan Lahan Sengketa Oleh Smapur Sebagai Bagian Dari Pekerjaan Sosial Di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang Advokasi: Alasan, Tujuan, dan Sasaran Advokasi Petani dalam Pekerjaan Sosial Data Identitas Responden ANALISA DATA Definisi Konsep Definisi Konsep dan Definisi Operasional Definisi Operasional Definisi Konsep dan Definisi Operasional Hak Guna Bangunan HGB Hak Pakai Hak Sewa Hak Membuka Hutan Hak Milik Hak Guna Usaha HGU Kerja-kerja Advokasi: Tantangan dan Strategi Konseling Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial 1 Layanan Hukum Latar Belakang Berdirinya SMAPUR Letak dan Kedudukan Lembaga Kantor Induk Struktur Organisasi Lembaga dan Staff Pendukung Masalah Kepemilikan Kolektif Hak Atas Tanah Pengakuan adat oleh Hukum Formal Monitoring Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial 1 Layanan Hukum Pemeriksaan Kondisi Kesehatan Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial 1 Layanan Hukum Pengertian Karakteristik Pekerjaan Sosial Penjemputan Penyelamatan Korban Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial 1 Layanan Hukum Perumusan Masalah Sistematika Penulisan Petani : Entitas Inklusif Petani Semangat Pembaruan Agraria Petani Tipe Penelitian Lokasi Penelitian Populasi dan Sampel Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Advokasi Petani, Dalam Upaya Pembebasan Lahan..

Gratis

Feedback