Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

 2  32  129  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA BERCERAI

  SKRIPSI

  Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

  Oleh: DEBBY ISABELLA

  071301026

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA GENAP, 2011/2012

LEMBAR PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

  Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

  adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

  Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

  Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

  Medan, Agustus 2011 DEBBY ISABELLA 071301026

  Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si

  

ABSTRAK

  Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif.

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan observasi sebagai metode pendukung.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway

  

thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur

  alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki

  

agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia

  memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usaha- usaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang dimiliki responden membantu mereka dalam mengembangkan harapan untuk menikah lagi.

  Kata Kunci: Harapan Menikah Lagi, Wanita Bercerai

  Hope of Remarriage for Divorced Women Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si

  ABSTRACT

  In adjusting the changes in life after divorce, women need to develop hope for getting changes to a meaningful and positive life. Snyder (2000) states that hope can be builded and can be used as a way to better changes. One kind of hope can be developed by divorced women are hope of remarriage which can direct individual to get more positive and meaningful life.

  The research aims to see the description of hope of remarriage for divorced women. The description of hope of remarriage can be seen through components of hope developed by Snyder, such as goal, pathway thinking, and agency thinking.

  The research uses qualitative method and takes three participant. The procedure of selecting the participant based on theory-based/operational construct sampling. The research takes place in Medan. Data is yielded by using depth interview and observation as additional method.

  The result of research shows that the first participant and third participant have high hope of remarriage because they can develop high both pathway thinking and agency thinking even they can also develop another pathway when they see impediment. But second participant only has high agency thinking but low pathway thinking because she has only personal agency to reach the goal but she could not think about pathways to reach the goal. All participant make a clear goal such as get a new spouse for giving happiness. The second participant and third participant who have child from previous marriage, also hope of remarriage to give a new father for her child. The social support, religious belief, and control perceived to participants help them in developing their hope of remarriage.

  Keywords: Hope of Remarriage, Divorced women

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya maka penulis dapat menjalani tahap demi tahap penyusunan skripsi yang berjudul Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai hingga selesai tepat pada waktunya. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi USU Medan.

  Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU, beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.

  2. Ibu Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si., psikolog, selaku dosen pembimbing penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kesabaran Ibu dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas segala bimbingan, masukan, kritikan, dan dukungan moril yang telah Ibu berikan kepada penulis.

  3. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu, wawasan dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis dan seluruh staf administrasi yang bersedia membantu penulis dalam pengurusan administrasi dan menyediakan segala keperluan selama perkuliahan, khususnya dalam penelitian ini.

  4. Kedua orangtua penulis (papa Djohan dan mama Go Cin Yen) serta abang penulis satu-satunya (Tomy), yang telah memberikan perhatian, semangat, dorongan, dan dengan sabar menunggu hingga penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas dukungan, motivasi, dan saran-saran yang telah diberikan kepada penulis selama ini, khususnya pada masa-masa penyusunan skripsi ini.

  5. Teman terbaik penulis (Juanda Saturnus, Aggie Lawer, Satria, Silvia Sumbogo, Reny, Daris, Effendi, Christina) yang telah setia menemani di saat suka maupun duka, memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis.

  Terima kasih atas waktu berharga yang telah kita lewati bersama.

  6. Ketiga responden dalam penelitian ini. Terima kasih karena telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Terima kasih atas keterbukaan diri kakak-kakak untuk bercerita mengenai salah satu bagian dari pengalaman hidup anda. Tetaplah semangat menjalani hidup anda.

  7. Teman-teman dalam organisasi buddhis KMB-USU yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas pengalaman, kebersamaan, dan waktu berharga yang penulis dapatkan selama di dalam organisasi.

  8. Teman-teman psikologi (Fiyud, Dewi, Trisa, Liana, Vivilia), teman-teman angkatan 2007, serta kakak-kakak senior angkatan 2006, terima kasih atas segala perhatian, doa, dukungan dan motivasi dalam membantu penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini serta kebersamaan kita dalam suka dan duka selama ini.

  9. Terima kasih kepada semua orang yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu. Bantuan yang telah diberikan sangat berharga bagi penulis.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi tercapainya penulisan yang lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

  Medan, Agustus 2011 Penulis, Debby Isabella

  DAFTAR ISI

  Halaman ABSTRAK ........................................................................................................ i ABSTRACT ...................................................................................................... ii KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... x

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 9 E. Sistematika Penulisan .................................................................... 10 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................... 12 A. Harapan ......................................................................................... 12

  1. Definisi Harapan ........................................................................ 12

  2. Komponen Harapan ................................................................... 14

  a. Goal ...................................................................................... 14

  b. Pathway Thinking ................................................................. 15

  c. Agency Thinking .................................................................... 15

  d. Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking ............. 16

  3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harapan ............................... 19

  B. Perceraian ...................................................................................... 21

  1. Definisi Perceraian .................................................................... 21

  2. Penyebab Perceraian .................................................................. 22

  3. Dampak Perceraian .................................................................... 25

  C. Pernikahan Lagi (Remarriage) ....................................................... 27

  1. Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Lagi ............................. 28

  2. Dampak Pernikahan Lagi ........................................................... 29

  D. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai ............... 30

  E. Kerangka Berpikir ......................................................................... 32

  BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 32 A. Pendekatan Kualitatif .................................................................... 32 B. Responden Penelitian .................................................................... 33

  1. Karakteristik Responden ............................................................ 33

  2. Jumlah Responden ..................................................................... 33

  3. Prosedur Pengambilan Responden ............................................. 34

  4. Lokasi Penelitian ....................................................................... 34

  C. Metode Pengambilan Data ............................................................. 34

  D. Alat Bantu Pengumpulan Data ....................................................... 35

  1. Alat Perekam (Tape Recorder) .................................................. 36

  2. Pedoman Wawancara ................................................................. 36

  E. Kredibilitas Penelitian ................................................................... 37

  F. Prosedur Penelitian ........................................................................ 38

  1. Tahap Persiapan Penelitian ........................................................ 38

  2. Tahap Pelaksanaan Penelitian .................................................... 39

  3. Tahap Pencatatan Data ............................................................... 40

  4. Prosedur Analisa Data ............................................................... 40

  BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ......................................... 43 A. Deskripsi Data I ............................................................................. 43

  1. Riwayat Responden ................................................................... 43

  2. Hasil Observasi .......................................................................... 44

  3. Analisa Data .............................................................................. 49

  4. Pembahasan ............................................................................... 61

  B. Deskripsi Data II ........................................................................... 63

  1. Riwayat Responden ................................................................... 63

  2. Hasil Observasi .......................................................................... 63

  3. Analisa Data .............................................................................. 70

  4. Pembahasan ............................................................................... 81

  C. Deskripsi Data III .......................................................................... 83

  1. Riwayat Responden ................................................................... 83

  2. Hasil Observasi .......................................................................... 83

  3. Analisa Data .............................................................................. 87

  4. Pembahasan ............................................................................... 97

  D. Analisa Antar Responden .............................................................. 98

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 104 A. Kesimpulan ................................................................................... 104 B. Saran ............................................................................................. 106 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 108 LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL

  Halaman

  Tabel 1. Tempat dan Waktu Wawancara ......................................................... 43 Tabel 2. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 1 ........................ 61 Tabel 3. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 2 ........................ 80 Tabel 4. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 3 ........................ 96 Tabel 5. Analisa Identitas Diri Ketiga Responden ............................................ 99 Tabel 6. Analisa Komponen Harapan Menikah Lagi Pada Ketiga Responden 100

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Halaman

  Lampiran 1. Verbatim

  Responden 1 Wawancara 1 Responden 1 Wawancara 2 Responden 1 Wawancara 3 Responden 2 Wawancara 1 Responden 2 Wawancara 2 Responden 2 Wawancara 3 Responden 3 Wawancara 1 Responden 3 Wawancara 2

  Lampiran 2. INFORMED CONSENT Lampiran 3. Pedoman Wawancara

  Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si

  

ABSTRAK

  Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif.

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan observasi sebagai metode pendukung.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway

  

thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur

  alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki

  

agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia

  memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usaha- usaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang dimiliki responden membantu mereka dalam mengembangkan harapan untuk menikah lagi.

  Kata Kunci: Harapan Menikah Lagi, Wanita Bercerai

  Hope of Remarriage for Divorced Women Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si

  ABSTRACT

  In adjusting the changes in life after divorce, women need to develop hope for getting changes to a meaningful and positive life. Snyder (2000) states that hope can be builded and can be used as a way to better changes. One kind of hope can be developed by divorced women are hope of remarriage which can direct individual to get more positive and meaningful life.

  The research aims to see the description of hope of remarriage for divorced women. The description of hope of remarriage can be seen through components of hope developed by Snyder, such as goal, pathway thinking, and agency thinking.

  The research uses qualitative method and takes three participant. The procedure of selecting the participant based on theory-based/operational construct sampling. The research takes place in Medan. Data is yielded by using depth interview and observation as additional method.

  The result of research shows that the first participant and third participant have high hope of remarriage because they can develop high both pathway thinking and agency thinking even they can also develop another pathway when they see impediment. But second participant only has high agency thinking but low pathway thinking because she has only personal agency to reach the goal but she could not think about pathways to reach the goal. All participant make a clear goal such as get a new spouse for giving happiness. The second participant and third participant who have child from previous marriage, also hope of remarriage to give a new father for her child. The social support, religious belief, and control perceived to participants help them in developing their hope of remarriage.

  Keywords: Hope of Remarriage, Divorced women

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

  “Selama 10 tahun saya menjanda, tidak ada pikiran untuk menikah lagi, karena pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perkawinan saya. Tapi anak sudah besar, saya memikirkan hidup tua nanti. Saya juga berpikiran kalo nanti anak perempuan saya menikah, saya ingin ada bapak yang menjadi walinya walaupun ayah kandungnya masih hidup ato sudah mati, kami tak menganggapnya lagi.” (Komunikasi Personal, 10 Mei 2011) Dari kutipan cerita di atas, dapat dilihat bahwa seorang wanita yang telah bercerai pada awalnya merasa takut untuk menikah lagi. Namun seiring dengan waktu, wanita bercerai ini memiliki keinginan untuk menikah lagi dengan tujuan untuk kebahagiaan dirinya dan memikirkan wali untuk anaknya jika kelak anaknya menikah.

  Saat ini, perceraian memang tidak lagi dipandang sebagi sesuatu hal yang memalukan namun sudah menjadi hal yang biasa dalam masyarakat. Penelitian pada masyarakat Minangkabau yang didukung dengan data BPS (2002) bahkan menunjukkan bahwa kecenderungan gugatan cerai lebih banyak dilakukan oleh wanita di Sumatera Barat. Hal ini dapat disebabkan karena pasangan atau wanita yang melakukan gugatan cerai melihat perceraian sebagai solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan yang tidak dapat diatasi lagi oleh kedua pasangan. Meskipun demikian, perceraian seringkali diartikan sebagai kegagalan yang dialami suatu keluarga (Holmes dan Rahe dalam DeGenova, 2008).

  Suatu perceraian yang ditandai dengan adanya proses kehilangan secara tiba-tiba tentu menimbulkan konsekuensi-konsekuensi bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, dengan bercerai individu dapat bebas dari tekanan, mengurangi konflik batin yang dialami selama pernikahan serta membuka kesempatan untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik. Di sisi lain, perceraian juga menimbulkan konsekuensi berupa timbulnya masalah-masalah pasca perceraian seperti masalah ekonomi, masalah praktis kegiatan rumahtangga sehari-hari, masalah psikologis, masalah emosional, masalah sosial, masalah kesepian, masalah pembagian tanggung jawab pengasuhan anak, masalah seksual, dan masalah perubahan konsep diri (DeGenova, 2008).

  Melihat pada konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari perceraian, maka masalah utama yang perlu dihadapi setelah perceraian dapat berupa penyesuaian kembali (readjustment) dengan status hidup sendiri tanpa pasangan, atau yang disebut dengan duda atau janda. Dengan status baru sebagai janda apalagi yang memiliki anak, wanita harus berperan sebagai orangtua tunggal dan harus bisa mengatur ekonomi keluarga secara mandiri. Sebagai orangtua tunggal, wanita harus bisa berperan ganda yaitu sebagai ayah yang fungsinya mencari nafkah dan sebagai ibu yang berperan membesarkan dan mendidik anak. Hal ini dikarenakan bahwa kondisi keuangan wanita hampir selalu memburuk setelah perceraian, terutama jika dia memiliki anak (Rice dalam Matlin, 2008).

  Selain itu, setelah perceraian individu akan mulai menyadari bahwa kini mereka hidup seorang diri dan kesepian (DeGenova, 2008). Hidup seorang diri, dalam arti, dulu semua hal dikerjakan dan dibahas bersama pasangan, namun setelah perceraian semua hal dikerjakan dan dipikirkan sendiri. Hal ini sesuai dengan penuturan salah seorang wanita bercerai yang mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi karena membutuhkan pasangan untuk menjalani hidup.

  “Gue pasti pengen nikah lagi tapi dengan alasan yang tepat, gue pengen nikah lagi karena gue menyadari bahwa hidup ini terlalu berat untuk dijalani sendirian, gue pengen nikah lagi karena gue menyadari gue membutuhkan seseorang yang bisa saling mendukung dalam segi spiritual dan material, gue pengen nikah lagi karena gue butuh menyayangi seseorang dan butuh untuk disayangi, dan masih banyak lagi tapi yang jelas gak bisa ditentuin kapan waktunya, bisa cepet bisa juga lama, kalo soal waktu kan terserah sama Tuhan, yang penting gue tetap usaha kok.” (dari artike Menikah lagi menjadi solusi yang dapat membantu individu untuk menyesuaikan diri, tidak hanya untuk mendapatkan teman yang bisa dipercaya dan diajak berbagi serta pasangan dalam hubungan seksual, tetapi menikah lagi juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi (A.D. Shapiro dalam DeGenova, 2008). Menikah lagi dapat mengarahkan individu pada penyesuaian diri yang lebih baik dan mendapatkan makna hidup yang lebih positif (Marks dan Lambert, Wang dan Amato dalam DeGenova, 2008).

  Beberapa alasan yang mendorong individu untuk menikah lagi antara lain untuk mendapatkan cinta dan persahabatan, pemenuhan kebutuhan biologis, faktor kebutuhan ekonomi/keuangan, etika, moral, dan norma sosial, faktor pemeliharaan atau pendidikan anak serta untuk memperoleh status sosial (Dariyo, 2002). Dari segi pemenuhan faktor biologis, menikah lagi dianggap sebagai jalan terbaik untuk menyalurkan kebutuhan seksual secara sah dengan pasangan hidup yang baru apalagi untuk individu yang masih berada dalam usia reproduktif. Dengan menikah lagi, individu dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan tetap memenuhi norma sosial. Seseorang juga memilih untuk menikah lagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi baik untuk diri sendiri maupun untuk anak- anaknya. Selain itu, bagi individu yang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya akan mendapatkan bantuan dalam mengurus, memelihara ataupun mendidik anak-anaknya dengan menikah lagi. Wanita bercerai yang memiliki status baru sebagai janda dapat mengurangi tekanan sosial yang dialaminya dengan menikah lagi dengan pasangan baru (Dariyo, 2002).

  Menikah lagi sebagai solusi untuk menyesuaikan diri setelah perceraian dan segala manfaat atau hal yang dirasakan dengan menikah lagi menumbuhkan harapan individu untuk menikah lagi. Harapan muncul karena mereka menginginkan suatu perubahan yang lebih baik. Individu yang bercerai, tanpa melihat bagaimana perceraian yang dialaminya tentu memiliki harapan untuk bisa membangun pernikahan yang lebih baik dari sebelumnya. Harapan untuk menikah lagi juga dapat menjadi dasar untuk perubahan kehidupannya ke arah yang lebih baik. Berdasarkan teori harapan Snyder (1994), harapan adalah sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan. Perubahan yang menguntungkan dapat mendorong individu mencapai hidup yang lebih baik. Perubahan tersebut membutuhkan pembentukan dan pemeliharaan kekuatan pribadi dalam konteks hubungan yang suportif.

  Snyder (2002) mengemukakan harapan sebagai sebuah pola pemikiran yang dipelajari, seperangkat kepercayaan dan pemikiran mencakup agentic

  

thinking yaitu pemikiran mengenai tujuan: mengenai keberhasilan seseorang

  mencapai tujuan (misalnya ‘saya mencapai tujuan yang saya buat sendiri’), dan

  

pathway thinking yaitu pemikiran mengenai kemampuan efektif seseorang untuk

  mengusahakan berbagai cara untuk mencapai tujuan (misalnya ‘saya dapat memikirkan banyak cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan’). Harapan juga merupakan kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai tujuan. Kepercayaan ini mengarah langsung pada perilaku hopeful, yang kemudian memperkuat pemikiran hopeful (Shorey, Snyder, dkk, 2002).

  Setiap individu memiliki kemampuan untuk membentuk harapan karena mereka memiliki komponen dasar dalam kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan harapan. Parsons (dalam Hollander, 1981) menambahkan bahwa harapan berperan untuk mengarahkan tingkah laku dan mencakup dua aspek, yaitu tindakan antisipasi atau ramalan sederhana dan tuntutan seseorang terhadap orang lain untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Dalam hal ini, individu yang memiliki harapan menikah lagi akan mengembangkan usahanya untuk mencapai tujuannya yaitu untuk membangun pernikahan yang lebih baik daripada pernikahan sebelumnya. Usaha yang dilakukan dapat berupa membangun jalinan hubungan dengan orang lain atau melibatkan diri dalam jaringan sosial dengan orang lain.

  Harapan dapat meningkatkan timbulnya keinginan untuk bertahan mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, individu yang memiliki harapan menikah lagi dapat bertahan menghadapi masalah-masalah yang timbul pasca perceraian. Selain itu, individu yang memiliki harapan menikah lagi akan lebih merasakan emosi atau afek positif dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perceraian. Hal ini dikarenakan harapan selalu berkaitan dengan afek positif dan perceived control (Curry, Snyder dkk, 1997). Harapan juga berperan sebagai energi pada situasi yang penuh dengan tekanan dan merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghadapai situasi tersebut.

  Penelitian Guisinger, Cowan, & Schuldberg (dalam Santrock, 2003) menunjukkan bahwa wanita yang lebih muda, menikah lagi lebih cepat daripada wanita yang lebih tua, dan wanita tanpa anak yang bercerai sebelum usia 25 tahun, mempunyai tingkat pernikahan kembali yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang punya anak. Selain itu, semakin banyak uang yang dimiliki laki-laki yang bercerai, semakin cenderung dia menikah lagi, tapi bagi wanita berlaku kebalikannya. Paparan di atas menunjukkan bahwa tingkat harapan wanita untuk menikah lagi dipengaruhi oleh faktor usia, anak, dan status ekonomi.

  Walaupun harapan telah ada dalam diri individu, namun kadangkala hambatan-hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan individu dapat mempengaruhi harapan yang terbentuk dalam diri individu. Tantangan-tantangan yang muncul dari pernikahan kedua dapat menjadi hambatan bagi harapan menikah lagi pada individu. Snyder (dalam Carr, 2004) menyatakan bahwa orang dewasa yang memiliki harapan tinggi, mampu berpikir optimis dan mengembangkan kepercayaan bahwa mereka dapat beradaptasi terhadap tantangan dan mengatasi masalah. Sebaliknya, orang dengan harapan rendah ketika menghadapi hambatan, emosi mereka dapat diprediksikan berpindah dari harapan menjadi rasa marah, dari rasa marah menjadi putus asa, dan dari putus asa menjadi apathy.

  Tantangan atau hambatan yang dapat mempengaruhi harapan individu untuk menikah lagi antara lain adanya ketakutan akan kegagalan seperti pada pernikahan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan kutipan cerita dari seorang wanita bercerai yang ingin menikah lagi yang mengungkapkan ketakutannya membayangkan bila dia menikah lagi.

  “Kadang-kadang saya masih takut untuk berpikir menikah lagi. Ketakutan akan perceraian yang kedua mungkin saja membuat saya berpikir ulang kembali. Saya takut nantinya pasangan saya tidak dapat menjadi ayah tiri yang baik buat anak saya, atau apakah pernikahan saya nanti bahagia, direstui oleh keluarga dan masyarakat, ato dapat membahagiakan anak saya.” (Komunikasi Personal 15 Mei 2011) Individu yang berhasil mengatasi tantangan atau hambatan-hambatan ini dapat diprediksikan memiliki harapan yang tinggi untuk menikah lagi. Harapan mencerminkan kemampuan individu untuk merencanakan jalur untuk mencapai tujuan terutama merencanakan jalur-jalur lain ketika menjumpai hambatan dan untuk memotivasi individu tersebut untuk menggunakan jalur tersebut. Ketika individu memiliki harapan untuk menikah lagi maka individu akan berusaha memikirkan dan merencanakan usaha-usaha untuk mencapai tujuannya (dalam hal ini untuk menikah lagi) dan serta-merta akan memotivasi diri sendiri untuk menjalankan usaha-usaha tersebut.

  Selain itu, individu yang memiliki harapan menikah lagi lebih mungkin memanfaatkan dukungan sosial dari lingkungan dan keluarga untuk kehidupannya. Snyder (2002) mengatakan bahwa individu dengan tingkat harapan yang tinggi biasanya memiliki dukungan sosial ketika mereka mengalami kegagalan, sehingga mereka bisa mendapatkan feedback positif atau alternatif cara lain untuk mencapai tujuan mereka. Dukungan sosial juga memungkinkan untuk membantu menemukan tujuan lain apabila tujuan yang diinginkan memang sudah tidak mungkin tercapai.

  Pemikiran hopeful mencerminkan keyakinan bahwa seseorang mampu mencari atau mengembangkan jalur menuju tujuan yang diinginkannya dan menjadi termotivasi untuk menggunakan jalur-jalur tersebut (dalam Snyder, Rand & Sigmon, 2002). Harapan juga mempengaruhi emosi dan well-being seseorang.

  Snyder menekankan konsep harapan sebagai proses pikiran atau kognitif, dan pemikiran mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan menghasilkan emosi.

  Persepsi mengenai keberhasilan mencapai tujuan akan menghasilkan emosi positif, sebaliknya emosi negatif dihasilkan dari persepsi seseorang mengenai ketidakberhasilan mencapai tujuan atau ketidakmampuannya melaksanakan jalur- jalur yang dikembangkannya dan mengatasi hambatan yang timbul dalam proses mencapai tujuan tersebut.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai.

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai.

  D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

  Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan kita dalam ilmu psikologi, terutama dalam bidang psikologi klinis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada kita mengenai gambaran pembentukan harapan sebagai bagian dari positive psychology.

  2. Manfaat Praktis

  • Memahami makna dari harapan menikah lagi untuk wanita bercerai.
  • Memahami pentingnya pembentukan harapan dalam diri individu.
  • Memahami dampak psikologis perceraian bagi wanita dewasa.
  • Bagi keluarga dan masyarakat, dapat memberikan dukungan sosial kepada wanita bercerai untuk dapat menumbuhkan harapan menikah lagi dalam kehidupannya.

E. Sistematika Penulisan

  BAB I : Pendahuluan Berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat peneltian dan sistematika penulisan. Bab II : Landasan Teori Berisikan tinjauan teoritis yang menjadi landasan dalam penelitan, yaitu teori mengenai harapan termasuk di dalamnya definisi harapan, komponen harapan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi harapan. Disertai teori mengenai perceraian dan pernikahan lagi (remarriage).

  Bab III : Metode Penelitian Berisikan mengenai metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif, karakteristik responden, metode pengambilan responden, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data, kredibilitas penelitian, prosedur penelitian dan prosedur analisa data.

  Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan Berisikan deskripsi data meliputi riwayat responden, rangkuman hasil observasi, analisa data dan pembahasan masing-masing responden berdasarkan teori yang berkaitan, serta analisa antar responden.

  Bab V : Kesimpulan dan Saran Berisikan kesimpulan penelitian serta saran metodologis dan saran praktis untuk penelitian selanjutnya.

BAB II LANDASAN TEORI A. HARAPAN

1. Definisi Harapan

  Snyder (2000) menyatakan harapan adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur- jalur tersebut. Harapan didasarkan pada harapan positif dalam pencapaian tujuan.

  Snyder, Irving, & Anderson (dalam Snyder, 2000) menyatakan harapan adalah keadaan termotivasi yang positif didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).

  Snyder, Harris, dkk (dalam Snyder, 2000) menjelaskan harapan sebagai sekumpulan kognitif yang didasarkan pada hubungan timbal-balik antara agency (penentu perilaku yang berorientasi tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).

  Snyder (dalam Carr, 2004) mengkonsepkan harapan ke dalam dua komponen, yaitu kemampuan untuk merencanakan jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan agency atau motivasi untuk menggunakan jalur tersebut. Harapan merupakan keseluruhan dari kedua komponen tersebut. Berdasarkan konsep ini, harapan akan menjadi lebih kuat jika harapan ini disertai dengan adanya tujuan yang bernilai yang memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai, bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Pemikiran hopeful mencakup tiga komponen, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking. Namun jika individu memiliki keyakinan untuk mencapai tujuannya, maka individu tidak memerlukan harapan. Sebaliknya, jika individu yakin bahwa ia tidak akan bisa maka ia akan menjadi hopeless. Berdasarkan konseptualisasi ini, emosi positif dan negatif merupakan hasil dari pemikiran hopeful atau hopeless yang memiliki tujuan.

  Pada situasi adanya usaha untuk mencapai tujuan, perilaku hopeful akan ditentukan oleh interaksi dari hal berikut: a. Seberapa bernilainya tujuan atau hasil yang ingin dicapai.

  b. Pemikiran mengenai jalur untuk mencapai tujuan dan harapan yang berkaitan dengan seberapa efektif jalur/cara ini untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  c. Pemikiran mengenai pribadi dan seberapa efektif individu dalam mengikuti jalur untuk mencapai tujuan tersebut.

  Teori harapan juga menekankan peran dari hambatan, stressor, dan emosi. Ketika menjumpai hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan, individu menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres. Berdasarkan postulat teori harapan, emosi positif dihasilkan dari persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan. Sebaliknya emosi negatif mencerminkan kegagalan pencapaian tujuan, baik yang mengalami hambatan ataupun tidak mengalami hambatan. Oleh karena itu, persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan mendorong munculnya emosi positif dan negatif (Snyder & Sympson, dalam Snyder, 2000). Kemudian emosi ini bertindak sebagai reinforcing feedback.

2. Komponen Harapan

  Menurut Snyder (2000), komponen-komponen yang terkandung dalam teori harapan yaitu:

a. Goal

  Perilaku manusia adalah berorientasi dan memiliki arah tujuan. Goal atau tujuan adalah sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif. Tujuan menyediakan titik akhir dari tahapan perilaku mental individu. Tujuan harus cukup bernilai agar dapat mencapai pemikiran sadar.

  Tujuan dapat berupa tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang, namun tujuan harus cukup bernilai untuk mengaktifkan pemikiran yang disadari. Dengan kata lain, tujuan harus memiliki kemungkinan untuk dicapai tetapi juga mengandung beberapa ketidakpastian. Pada suatu akhir dari kontinum kepastian, kepastian yang absolut adalah tujuan dengan tingkat kemungkinan pencapaian 100%, tujuan seperti ini tidak memerlukan harapan. Harapan berkembang dengan baik pada kondisi tujuan yang memiliki tingkat kemungkinan pencapaian sedang (Averill dkk., dalam Snyder, 2000).

  Lopez, Snyder & Pedrotti (2003) menyatakan bahwa tujuan dapat berupa

  

approach-oriented in nature (misalnya sesuatu yang positif yang diharapkan

  untuk terjadi) atau preventative in nature (misalnya sesuatu yang negatif yang ingin dihentikan agar tidak terjadi lagi). Tujuan juga sangat beragam dilihat dari tingkat kemungkinan untuk mencapainya. Bahkan suatu tujuan yang tampaknya tidak mungkin untuk dicapai pada waktunya akan dapat dicapai dengan perencanaan dan usaha yang lebih keras.

  b. Pathway Thinking

  Untuk dapat mencapai tujuan maka individu harus memandang dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan. Proses ini yang dinamakan pathway thinking, yang menandakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pathway thinking ditandai dengan pernyataan pesan internal seperti “Saya akan menemukan cara untuk menyelesaikannya!” (Snyder, Lapointe, Crowson, & Early dalam Lopez, Snyder & Pedrotti, 2003).

  Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk

  menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Beberapa jalur yang dihasilkan akan berguna ketika individu menghadapi hambatan, dan orang yang memiliki harapan yang tinggi merasa dirinya mampu menemukan beberapa jalur alternatif dan umumnya mereka sangat efektif dalam menghasilkan jalur alternatif (Irving, Snyder, & Crowson; Snyder, Harris, dkk., dalam Snyder, Rand & Sigmon, 2002).

  c. Agency Thinking

  Komponen motivasional pada teori harapan adalah agency, yaitu kapasitas untuk menggunakan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Agency mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuannya. Orang yang memiliki harapan tinggi menggunakan self-talk seperti “Saya dapat melakukan ini” dan “Saya tidak akan berhenti sampai disini”.

  Agentic thinking penting dalam semua pemikiran yang berorientasi pada tujuan, namun akan lebih berguna pada saat individu menghadapi hambatan.

  Ketika individu menghadapi hambatan, agency membantu individu menerapkan motivasi pada jalur alternatif terbaik (Irving, Snyder, & Crowson dalam Snyder, Rand & Sigmon, 2002).

  Komponen agency dan pathway saling memperkuat satu sama lain sehingga satu sama lain saling mempengaruhi dan dipengaruhi secara berkelanjutan dalam proses pencapaian tujuan.

d. Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking

  Menurut teori harapan, komponen pathway thinking dan agency thinking merupakan dua komponen yang diperlukan. Namun, jika salah satunya tidak tercapai, maka kemampuan untuk mempertahankan pencapaian tujuan tidak akan mencukupi. Komponen pathway thinking dan agency thinking merupakan komponen yang saling melengkapi, bersifat timbal balik, dan berkorelasi positif, tetapi bukan merupakan komponen yang sama.

  Oleh sebab itu, teori harapan tersebut spesifik pada kemampuan untuk menghasilkan rencana untuk mencapai tujuan dan kepercayaan pada kemampuan untuk mengimplementasikan tujuan tersebut. Individu yang memiliki kemampuan dalam agency thinking seharusnya disertakan juga dengan pathway thinking.

  Namun, beberapa individu tidak mengalami hal tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa tidak semua individu yang memiliki agency thinking akan memiliki

  pathway thinking. Jika individu memiliki keduanya, dapat dikatakan bahwa kedua

  individu tersebut memiliki harapan tinggi. Hal tersebut disebabkan karena salah satunya tidak cukup untuk membentuk harapan yang tinggi (Snyder, 1994).

  Snyder (1994) membuat empat kategori mengenai kombinasi pathway

  thinking dan agency thinking. Kombinasi tersebut adalah pathway thinking dan agency thinking rendah, pathway thinking rendah dan agency thinking tinggi, pathway thinking tinggi dan agency thinking rendah, dan pathway thinking dan agency thinking tinggi.

  Individu yang memiliki pathway thinking dan agency thinking rendah hanya memiliki sedikit keyakinan bahwa mereka akan meraih kesuksesan dalam mewujudkan tujuannya. Individu dengan karakteristik seperti ini terkadang juga memiliki masalah, yaitu tidak memiliki tujuan sama sekali. Harapan yang rendah memiliki dampak bagi keseluruhan kehidupan individu. Tanpa keinginan untuk bertindak dan perencanaan, individu dapat mengalami depresi. Perasaan depresi tersebut muncul karena individu berpikir bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan tujuan mereka. Selain itu, emosi negatif dapat semakin meningkat jika individu tidak memiliki kemampuan untuk mendefinisikan tujuan secara jelas.

  Individu dengan agency thinking tinggi dan pathway thinking rendah memiliki keyakinan untuk meraih tujuan yang diinginkan. Namun, individu dengan karakteristik seperti ini memiliki masalah dalam berpikir mengenai cara yang paling berhasil untuk mencapai tujuannya. Jika individu berada terlalu lama dalam keadaan ini, maka individu tersebut dapat mengalami kemarahan atau frustasi. Selanjutnya individu tersebut akan kehilangan agency thinking-nya.

  Individu dengan agency thinking rendah dan pathway thinking tinggi merupakan individu yang tidak memiliki energi mental yang cukup untuk mewujudkan rencana yang dimiliki. Individu yang berada dalam keadaan ini akan mengalami burnout. Banyak individu yang memiliki agency thinking rendah terlihat seperti mengerjakan sesuatu yang dapat membuat orang lain terkesan. Namun, individu tersebut sebenarnya tetap berada dalam tahap yang sama.

  Individu yang memiliki agency thinking dan pathway thinking tinggi adalah individu yang menyimpan tujuan yang jelas dan memikirkan cara untuk meraih tujuan tersebut di dalam pikiran mereka. Mereka mudah berinteraksi dengan orang lain dan memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan. Mereka merupakan individu yang fokus terhadap tujuan serta bebas bergerak dari ide yang satu menuju yang lain untuk mewujudkan tujuan mereka. Individu yang memiliki harapan tinggi memiliki pikiran yang sangat aktif dan memiliki keyakinan bahwa terdapat berbagai pilihan yang tersedia untuk mencapai tujuan mereka.

  Individu yang memiliki keduanya merupakan contoh individu yang memiliki harapan tinggi. Harapan yang tinggi menyebabkan individu memperoleh berbagai keuntungan ketika menghadapi hal yang sulit. Dalam beberapa situasi kehidupan, langkah individu seringkali dirintangi oleh seseorang atau sesuatu.

  Namun, individu yang memiliki harapan tinggi dapat memikirkan jalan alternatif menuju tujuan dan langsung diterapkan pada jalan yang terlihat lebih efektif.

  Kesimpulannya, harapan merupakan kombinasi antara mental agency

  

thinking dan pathway thinking yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Kedua

  komponen tersebut disebut mental karena harapan merupakan proses yang terjadi secara konstan dimana proses tersebut termasuk apa yang individu pikirkan tentang diri mereka sendiri yang memiliki kaitan dengan tujuan. Apa yang dipikirkan oleh individu tersebut dapat mempengaruhi perilaku yang nyata.

3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Harapan

  Weil (2000) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi harapan, yaitu dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol.

a. Dukungan Sosial

  Harapan memiliki kaitan erat dengan dukungan sosial. Dalam penelitiannya mengenai pasien yang menderita penyakit kronis (Raleigh dalam Weil, 2000) mengatakan bahwa keluarga dan teman pada umumnya diidentifikasikan sebagai sumber harapan untuk penderita penyakit kronis dalam beberapa aktivitas seperti mengunjungi suatu tempat, mendengarkan, berbicara dan memberikan bantuan secara fisik. Herth (dalam Weil, 2000) mengidentifikasikan pertahanan hubungan peran keluarga sebagai sesuatu yang penting bagi tingkat harapan dan coping. Sebaliknya, kurangnya ikatan sosial diatribusikan sebagai hasil kesehatan yang lebih buruk seperti peningkatan

  

morbidity dan kematian awal. Individu mengekspresikan perasaan tidak berdaya

ketika mereka tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.

  b. Kepercayaan Religius

  Kepercayaan religius dan spiritual telah diidentifikasikan sebagai sumber utama harapan dalam beberapa penelitian. Kepercayaan religius dijelaskan sebagai kepercayaan dan keyakinan seseorang pada hal positif atau menyadarkan individu pada kenyataan bahwa terdapat sesuatu atau tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk situasi individu saat ini. Spiritual merupakan konsep yang lebih luas dan terfokus pada tujuan dan makna hidup serta keterkaitan dengan orang lain, alam, ataupun dengan Tuhan (Reed dalam Weil, 2000). Raleigh (dalam Weil, 2000) menyatakan bahwa kegiatan religius merupakan strategi kedua yang paling umum untuk mempertahankan harapan dan juga sebagai sumber dalam mendukung harapan pada pasien dengan penyakit kronis.

  c. Kontrol

  Mempertahankan kontrol merupakan salah satu bagian dari konsep harapan. Mempertahankan kontrol dapat dilakukan dengan cara tetap mencari informasi, menentukan nasib sendiri, dan kemandirian yang menimbulkan perasaan kuat pada harapan individu. Kemampuan individu akan kontrol juga dipengaruhi self-efficacy (Venning, dkk dalam Weil, 2000) yang dapat meningkatkan persepsi individu terhadap kemampuannya akan kontrol.

  Harapan dapat dikorelasikan dengan keinginan dalam kontrol, kemampuan untuk menentukan, menyiapkan diri untuk melakukan antisipasi terhadap stres, kepemimpinan, dan menghindari ketergantungan. Penelitian menunjukkan bahwa harapan memiliki hubungan yang positif dengan persepsi seseorang mengenai kontrol. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa individu yang memiliki sumber internal dalam kontrol memiliki harapan bahwa mereka dapat mengontrol nasib mereka sendiri. Sebaliknya, individu yang memiliki sumber kontrol eksternal berharap untuk dikontrol oleh kekuatan atau paksaan yang berasal dari luar dirinya.

B. PERCERAIAN

1. Definisi Perceraian

  DeGenova (2008: 415) menyatakan perceraian adalah metode yang sah secara hukum untuk mengakhiri suatu pernikahan. Secara hukum, setelah perceraian, kedua individu dapat menikah lagi dengan orang lain, benda-benda milik mereka dan harta akan dibagi rata dan jika anak dilibatkan dalam hal ini maka akan diputuskan hak asuh atau perwalian anak. Hal ini dapat menjadi sangat sulit dirundingkan walaupun jika kedua pihak menginginkan perceraian.

  Amato & Emery (dalam Sigelman & Rider, 2003) menyatakan bahwa perceraian bukan hanya merupakan sebuah peristiwa dalam hidup, melainkan runtutan pengalaman yang menyebabkan stres bagi seluruh anggota keluarga, yang dimulai dengan adanya konflik pernikahan sebelum perceraian dan melibatkan perubahan hidup yang kompleks ketika pernikahan tesebut berakhir dan orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mengatur kembali hidup mereka.

2. Penyebab Perceraian

  DeGenova (2008) menyatakan adanya faktor sosial dan demografi yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan kemungkinan perceraian. Faktor- faktor tersebut dapat berupa usia pada saat menikah, agama, pekerjaan, pendapatan, pendidikan, suku bangsa, area geografis, dan perceraian orangtua.

  Lowenstein (dalam DeGenova, 2008: 405) menyatakan penyebab perceraian dapat berupa kemandirian wanita, menikah di usia awal, faktor ekonomi, rendahnya intelektual, pendidikan, dan kemampuan sosial, hukum perceraian yang bebas, faktor seksual, konflik peran, penggunaan alkohol dan zat- zat terlarang, perilaku beresiko, perbedaan pendapat yang menyebabkan hubungan menjadi hambar, faktor agama, sikap terhadap perceraian, dan alasan lainnya.

  Newman & Newman (2006) menyatakan empat variabel berkaitan dengan terjadinya perceraian, yaitu:

a. Usia pada saat menikah

  Bramlett & Mosher (dalam Newman & Newman, 2006) menyatakan bahwa wanita yang menikah pada usia di bawah 18 tahun, 48% mengalami masalah pernikahan dalam kurun waktu 10 tahun pernikahan. Sebaliknya, wanita yang menikah pada usia 25 tahun atau lebih, hanya 24% yang mengalami masalah pernikahan dalam kurun waktu 10 tahun pernikahan.

  Untuk pasangan yang menikah muda ataupun menikah pada usia tua, ketidakpuasan terhadap performansi peran berpengaruh pada ketidakstabilan pernikahan. Untuk pasangan muda, ketidakpuasan bersumber pada ketidaksetiaan seksual dan kecemburuan. Untuk pasangan yang lebih tua, ketidakpuasan bersumber pada konflik interpersonal, gaya dominasi, dan kurangnya ikatan (dalam Newman & Newman, 2006).

b. Tingkat sosioekonomi Tingkat sosioekonomi mencakup pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan.

  Masing-masing dari komponen ini berkaitan dengan angka perceraian (White & Rogers dalam Newman & Newman, 2006). Individu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi umumnya memiliki angka perceraian yang lebih rendah. Glick (dalam Newman & Newman, 2006) menunjukkan suatu efek Glick yaitu pria dan wanita yang dikeluarkan dari sekolah atau perguruan tinggi memiliki angka perceraian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menyelesaikan sekolah mereka. Glick menjelaskan pola ini sebagai bukti dari kurangnya kekonsistenan.

  Mereka yang tidak berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikan mungkin juga kurang berkomitmen dalam mencari penyelesaian masalah yang muncul dalam pernikahan.

  Selain itu, jumlah pendapatan keluarga juga berkaitan dengan kestabilan pernikahan dalam beberapa hal. Pendapatan yang tidak tetap lebih berkaitan dengan retaknya pernikahan dibandingkan pendapatan yang rendah dan menetap. Bagi pria, pendapatan yang tinggi dikaitkan dengan rendahnya angka perceraian. Bagi wanita, ketika istri berkontribusi sebesar 50% sampai 60% dari jumlah pendapatan keluarga dan ketika mereka menunjukkan rendahnya kebahagiaan pernikahan maka perceraian lebih mungkin terjadi. Penjelasan ini menunjukkan bahwa ketika kedua pasangan memiliki sumber keuangan yang sama atau seimbang maka kurang ada kewajiban untuk bertahan dalam hubungan yang tidak membahagiakan (Rogers dalam Newman & Newman, 2006).

c. Perkembangan sosioemosional dari pasangan

  Perkembangan sosioemosional dicerminkan melalui dimensi penerimaan diri (self-acceptance), otonomi, dan pengekspresian diri. Masalah komunikasi seringkali dikemukakan pria dan wanita sebagai penyebab perceraian. Pasangan yang memiliki karakteristik bermasalah dalam hubungan mereka selama periode sebelum pernikahan, yang sering tidak sependapat dan memiliki persepsi yang berbeda mengenai bagaimana menyelesaikan selisih pendapat lebih berkemungkinan untuk bercerai tiga tahun setelah pernikahan (Fowers, Montel, & Olson dalam Newman & Newman, 2006).

  Kestabilan pernikahan bergantung pada kedua pasangan dalam mencapai identitas mereka masing-masing. Pencapaian ini membantu membangun keseimbangan kekuatan dan saling menghargai yang sangat penting dalam kedekatan emosional dan intelektual.

d. Sejarah perceraian dalam keluarga

  Amato & Deboer (dalam Newman & Newman, 2006) menyatakan bahwa individu dari orangtua yang bercerai lebih mungkin akan bercerai dibandingkan individu dari keluarga yang harmonis. Ada banyak penjelasan untuk hal ini. Salah satu interpretasinya adalah bahwa dengan melihat orangtua mereka mengakhiri pernikahan mereka, maka anak akan memandang pernikahan bukan sebagai komitmen sepanjang hidup dan memiliki sikap yang positif terhadap perceraian sebagai strategi untuk menyelesaikan konflik pernikahan (Greenberg & Nay dalam Newman & Newman, 2006).

  Penjelasan lainnya adalah anak yang memiliki orangtua tunggal (single

  

parent) dan dari keluarga yang menikah lagi (remarried family) lebih

  berkemungkinan untuk menikah pada usia muda dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga utuh, sehingga meningkatkan kemungkinan perceraian.

  Penjelasan lainnya bahwa anak dari orangtua yang memiliki konflik pernikahan, akan mengalami afek negatif dan kemarahan orangtua. Hal ini akan menciptakan hubungan attachment yang tidak aman dan akan menghasilkan kemampuan hubungan yang rendah yang pada akhirnya akan sulit untuk membentuk dan mempertahankan hubungan intim dengan orang lain (Amato & Booth dalam Newman & Newman, 2006).

3. Dampak Perceraian

  Ketika pernikahan berakhir, individu yang bercerai harus memulai kembali hidupnya dari awal. Namun perceraian seringkali menimbulkan dampak yang besar dalam kehidupan individu, mengubah dunia mereka selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun (Craig, 2001).

  Pada dua tahun pertama setelah perceraian, individu seringkali menunjukkan beragam tanda dari dampak emosional seperti kecemasan, depresi, dan kemarahan, serta rasa penolakan dan tidak kompeten (Hetherington & Camara dalam Craig, 2001).

  Perceraian dihubungkan dengan rasa kehilangan seperti kehilangan sumber keuangan, dukungan emosional, peran pasangan dalam pernikahan dan sebagai orangtua, serta dukungan sosial (Demo, Fine, & Ganong dalam Newman & Newman, 2006). Kehilangan sumber pendapatan dapat berdampak pada kehilangan materi lainnya. Misalnya wanita yang bercerai dan anaknya mungkin harus pindah ke rumah yang lebih murah, menjual banyak harta milik mereka,dan meninggalkan komunitas dimana mereka sudah membangun jaringan teman dan dukungan sosial.

  Kehidupan sosial dari pria dan wanita yang bercerai juga mengalami perubahan. Namun, dalam banyak kasus, teman-teman tetap memberi dukungan selama dua bulan setelah perceraian, namun persahabatan ini seringkali memudar seiring berjalannya waktu. Pada umumnya wanita lebih banyak kehilangan hubungan persahabatan dibandingkan dengan pria, yang selalu terlibat dalam kegiatan sosial teman-temannya yang telah menikah. Khususnya ibu yang tidak bekerja akan merasa terasing. Kehilangan kontak sosial dengan suami membuat wanita merasa terperangkap dalam dunia yang didominasi oleh anak-anak dan kehidupan merawat anak. Kesehatan fisik dan mental mereka juga mengalami penurunan setelah bercerai. Individu yang bercerai lebih berkemungkinan meninggal pada usia muda, dikirim ke rumah sakit jiwa, berusaha melakukan bunuh diri, dan mengalami kecelakaan motor (Goetting dalam Craig, 2001).

C. PERNIKAHAN LAGI (REMARRIAGE)

  Pada umumnya, ketika rasa sakit akibat perceraian mulai berkurang, kebanyakan individu menunjukkan resiliensi dan keinginan mereka untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan sekali lagi. Menurut statistika, pada kenyataannya tidak peduli seberapa sulit pengalaman perceraian yang dialami, individu memiliki keinginan untuk mencoba pernikahan sekali lagi. Glick (dalam Craig, 2001) melaporkan bahwa 80% orang yang bercerai akan menikah lagi pada akhirnya. Rata-rata orang menikah lagi dalam kurun waktu empat tahun setelah bercerai, pria lebih cepat daripada wanita.

  Papalia (2007) menyatakan bahwa angka perceraian yang tinggi bukanlah tanda bahwa individu tidak ingin menikah lagi. Namun, hal ini justru mencerminkan suatu keinginan untuk menikah lagi dengan bahagia dan keyakinan bahwa perceraian seperti suatu proses pembedahan yang menyakitkan dan traumatis namun diperlukan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

  Menurut Bray, Coleman, Ganong & Fine (dalam Craig, 2001), individu menikah lagi dengan alasan cinta, masalah finansial, untuk mendapatkan bantuan dalam mengasuh anak, menghilangkan rasa kesepian, dan penerimaan sosial.

  Ketika individu yang bercerai dan memiliki anak menikah lagi, mereka akan membentuk reconstituted families, yang dikenal juga sebagai stepfamilies dan blended families. Keluarga semacam ini menghadirkan lebih banyak masalah penyesuaian peran untuk stepparents dan stepchildren dibandingkan dengan keluarga umum biasanya. Dengan sedikit persiapan untuk mengatasi peran mereka dan dengan adanya sedikit dukungan dari masyarakat di sekitar mereka,

  

stepparents seringkali merasa bahwa untuk mencapai hubungan keluarga yang

memuaskan lebih sulit daripada yang dibayangkan (Craig, 2001).

1. Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Kembali

  Dari satu sudut pandang, pernikahan kembali seharusnya lebih berhasil dibandingkan dengan pernikahan pertama. Orang yang menikah lagi lebih tua, lebih dewasa dan lebih berpengalaman, serta lebih termotivasi untuk mempertahankan pernikahan (DeGenova, 2008). Berdasarkan self-report dari pasangan yang menikah lagi, perbedaan kepuasan pernikahan atau kualitas dari hubungan pernikahan jarang ditemukan, dan walaupun ada, itu cenderung sedikit sekali (Ganong dan Coleman dalam DeGenova, 2008). Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa pernikahan lagi sama bahagianya dengan pernikahan pertama, dengan sedikit perbedaan dalam kesejahteraan pasangan (Demo dan Acock; Ihinger-Tallman dan Pasley; Pasley dan Moorefield dalam DeGenova, 2008).

  Selain itu, pasangan yang menikah lagi juga memandang pernikahan kedua lebih seimbang dalam hal mengurus rumahtangga dan mengasuh anak, lebih terbuka dan pragmatis, kurang romantis, dan lebih berkemungkinan menghadapi konflik (Hetherington dalam DeGenova, 2008).

  Furstenberg (dalam Craig, 2001) menyatakan bahwa pernikahan kedua seringkali juga ditandai dengan adanya komunikasi yang lebih terbuka, penerimaan yang lebih besar terhadap konflik dan lebih percaya bahwa setiap masalah perbedaan pendapat dapat diselesaikan.

  Walaupun resiko perceraian lebih besar pada pasangan yang menikah lagi, namun banyak yang justru membangun hubungan pernikahan yang kuat, positif, dan menciptakan suasana sebagai orangtua yang adaptif dan berfungsi dengan baik (Hetherington dan Stanley-Hagan dalam DeGenova, 2008).

2. Dampak Pernikahan Lagi

  Perceraian dan pernikahan lagi seperti gaya hidup orang dewasa lainnya, mengarah pada hasil yang beragam. Umumnya memerlukan waktu tiga sampai lima tahun untuk mengembangkan keterikatan dan kenyamanan hubungan dalam keluarga seperti pada keluarga utuh (Ihinger-Tallman & Pasley dalam Craig, 2001).

  Untuk beberapa pasangan, pernikahan lagi memberikan tantangan yang tidak dijumpai pada pernikahan pertama. Tantangan terbesar dapat berupa anak.

  Pasangan yang menikah lagi yang membawa anak dari pernikahan pertama lebih berkemungkinan untuk bercerai daripada pasangan yang tidak memiliki anak (Tzeng dan Mare dalam DeGenova, 2008).

  Untuk orang dewasa, pernikahan lagi dapat mengurangi stres terutama untuk orangtua yang memiliki anak (Furstenberg dalam Craig, 2001). Pasangan yang mau berbagi tanggung jawab keuangan, tugas rumahtangga, keputusan mengasuh anak, dan lain-lain dapat mengurangi beban individu yang bercerai. Pria yang menikah lagi mungkin harus menghadapi tekanan lainnya jika mereka diharapkan untuk memberikan dukungan finansial untuk dua rumahtangga. Dalam banyak hal, pernikahan kedua berbeda dengan pernikahan pertama. Pernikahan kedua melibatkan kumpulan keluarga yang lebih kompleks, misalnya anak angkat, mantan suami/isteri, mertua sebelumnya, yang mana dapat menimbulkan konflik (Craig, 2001).

  

D. GAMBARAN HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA

BERCERAI

  Pernikahan dipandang sebagai suatu transisi normal dari sharing antara diri individu dengan orangtua yang kemudian beralih ke pasangan. Ketika hubungan dengan pasangan tidak dapat lagi dipertahankan maka perceraian merupakan jalan terbaik (Woodward, Zabel, & Decosta dalam Snyder, 2000).

  Setelah bercerai, individu perlu menyesuaikan diri dengan status yang baru dan dengan proses hidup yang berubah.

  Untuk wanita, pernikahan dipandang sebagai ‘karir’ yang sangat penting. Walaupun pria juga mengalami dampak dari perceraian, namun wanita lebih banyak mengalami dampak dari perceraian. Berkaitan dengan harapan, pernikahan dipandang sebagai tujuan yang penting bagi wanita. Oleh karena itu, ketika tujuan yang penting ini terhalang dan berakhir dengan perceraian, maka wanita akan merasa kehilangan arah dan gagal (Rodriguez & Snyder dalam Snyder, 2000).

  Oleh karena itu, wanita bercerai perlu mengembangkan harapannya untuk suatu tujuan yang dinilai cukup penting untuk dicapai setelah bercerai. Harapan penting dibentuk karena harapan dapat mempengaruhi well-being seseorang. Snyder (1994) menyatakan bahwa harapan adalah sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

  Untuk wanita bercerai, salah satu harapan yang dapat dikembangkannya adalah berupa harapan menikah lagi, dimana menikah lagi dapat mengarahkan individu pada penyesuaian diri yang lebih baik dan mendapatkan makna hidup yang lebih positif (DeGenova, 2008).

  Dengan adanya harapan menikah lagi pada wanita bercerai, maka wanita bercerai memiliki tujuan bernilai dalam hidupnya untuk dicapai. Harapan yang terbentuk akan memunculkan pemikiran-pemikiran dan motivasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang pada akhirnya dapat memberikan afek positif pada individu tersebut.

E. KERANGKA BERPIKIR

  Perceraian Konsekuensi-konsekuensi

  Individu menyesuaikan diri Muncul harapan baru

  Harapan Menikah Lagi

  goal pathway thinking agency thinking

BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan unsur yang penting dalam penelitian ilmiah

  karena metode yang digunakan dalam penelitian dapat menentukan apakah penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan hasilnya (Hadi, 2004). Metode penelitian menyangkut cara yang benar dalam pengumpulan data, analisis data dan pengambilan keputusan hasil penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.

A. Pendekatan Kualitatif

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan tema yang dianggap penting. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapat gambaran yang luas dan mendalam mengenai harapan menikah lagi pada wanita bercerai. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002) dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kita dapat memahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek dan bukan semata-mata merupakan penarikan kesimpulan sebab-akibat yang dipaksakan.

  Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002) mendefinisikan “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik. Selanjutnya Taylor dan Bogdan (dalam Moleong, 2002) mengatakan bahwa penelitian kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk dapat memahami cara responden menggambarkan dunia sekitarnya berdasarkan cara pola dan cara berpikir mereka. Peneliti berusaha masuk ke dunia konseptual subjek yang ditelitinya untuk menangkap apa (what) dan bagaimana (how) sesuatu terjadi. Dengan pendekatan kualitatif, peneliti berharap mendapatkan data yang lebih mendalam mengenai proses pembentukan harapan.

B. Responden Penelitian

  1. Karakteristik Responden

  Responden dalam penelitian ini adalah wanita dewasa yang berstatus janda dan memiliki keinginan untuk menikah lagi.

  2. Jumlah Responden

  Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2007), desain kualitatif memiliki sifat yang luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti mengenai jumlah sampel yang harus diambil dalam penelitian kualitatif. Jumlah responden sangat tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia.

  Pada penelitian ini, jumlah responden yang digunakan adalah sebanyak tiga orang.

  3. Prosedur Pengambilan Responden

  Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan konstruk operasional (theory-based/operational construct sampling). Responden dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai studi-studi sebelumnya, atau sesuai dengan tujuan penelitian (Patton dalam Poerwandari, 2007). Prosedur pengambilan responden ini dilakukan agar responden benar-benar mewakili fenomena penelitian.

  4. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di Medan. Pengambilan daerah penelitian tersebut dengan alasan kemudahan untuk mendapatkan responden penelitian, karena peneliti berdomisili di daerah tersebut.

C. Metode Pengambilan Data

  Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara. Banister (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu, berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain.

  Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur yaitu wawancara yang pertanyaannya telah ditentukan terlebih dahulu dan berbentuk open-ended question (Gay dan Airasian, 2003). Berdasarkan tiga pendekatan dasar yang dikemukakan Patton (dalam Poerwandari, 2007) maka penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan pedoman umum. Artinya, dalam proses wawancara, peneliti dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan.

  Jenis wawancara yang digunakan dalam wawancara adalah wawancara mendalam (in depth-interview). Banister (dalam Poerwandari, 2007) menjelaskan bahwa wawancara mendalam adalah wawancara yang tetap menggunakan pedoman wawancara, namun penggunaannya tidak sekedar wawancara terstruktur. Pedoman wawancara berisi open-ended question yang bertujuan agar arah wawancara tetap sesuai dengan tujuan penelitian (Poerwandari, 2007).

  Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode observasi sebagai metode pendukung untuk mengamati perilaku atau keadaan subjek penelitian ketika sesi wawancara sedang berlangsung. Tujuan dilakukannya observasi adalah sebagai crosscheck terhadap hal-hal yang diungkapkan oleh subjek penelitian secara verbal.

D. Alat Bantu Pengumpulan Data

  Pencatatan data selama penelitian penting sekali karena data dasar yang akan dianalisis berdasarkan kutipan hasil wawancara dan observasi. Oleh karena itu, pencatatan data harus dilakukan dengan cara yang sebaik dan setepat mungkin. Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit, untuk itu diperlukan instrumen atau alat penelitian agar dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data (Moleong, 2002). Alat bantu yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Alat Perekam (Tape Recorder) Alat perekam digunakan untuk memudahkan peneliti untuk mengulang kembali hasil wawancara yang telah dilakukan. Dengan adanya hasil rekaman wawancara tersebut akan memudahkan peneliti apabila ada kemungkinan data yang kurang jelas sehingga peneliti dapat bertanya kembali kepada responden.

  Penggunaan alat perekam ini dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari responden. Selain itu penggunaan alat perekam memungkinkan peneliti untuk lebih berkonsentrasi pada apa yang akan dikatakan oleh subjek, alat perekam dapat merekam nuansa suara dan bunyi aspek-aspek wawancara seperti tertawa, desahan, sarkasme secara tajam (Padget, 1998).

  2. Pedoman wawancara Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau dinyatakan (Poerwandari, 2007). Pedoman wawancara bertujuan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian dan juga sebagai alat bantu untuk mengkategorisasikan jawaban sehingga memudahkan pada tahap analisa data nantinya.

  Pedoman wawancara dibuat berdasarkan teori-teori yang dibahas dalam

  Bab II. Hal ini dilakukan agar peneliti mempunyai kerangka berpikir tentang hal- hal yang ingin ditanyakan dan tidak menyimpang dari kerangka teoritis yang ada. E. Kredibilitas Penelitian Kredibilitas adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep validitas (Poerwandari, 2007). Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam bahasa kuantitatif: variabel) dan interaksi dari berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif. Menurut Poerwandari (2007), kredibilitas penelitian kualitatif juga terletak pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah dan mendeksripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.

  Kredibilitas penelitian ini terletak pada keberhasilan penelitian dalam mengungkapkan gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai.

  Peningkatan kredibilitas dilakukan dengan cara:

  1. Memilih responden yang sesuai dengan karakteristik responden pada penelitian ini yaitu wanita dewasa berstatus janda yang memiliki keinginan untuk menikah lagi.

  2. Membuat pedoman wawancara berdasarkan komponen-komponen harapan.

  Selain itu, peneliti juga menjaga standarisasi pedoman wawancara dengan melakukan professional judgement bersama dosen pembimbing.

  3. Menggunakan pertanyaan terbuka dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang akurat. Pernyataan responden yang ambigu atau kurang jelas akan ditanyakan kembali (probing) saat wawancara atau pada pertemuan selanjutnya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang akurat.

  4. Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul, proses pengumpulan data, dan strategi analisisnya.

  5. Menyertakan partner atau orang-orang yang dapat berperan sebagai pengkritik yang memberikan saran-saran dan pembelaan (‘devil’s advocate’) yang akan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisis yang dilakukan peneliti.

  6. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking and rechecking) data untuk menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda.

F. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan Penelitian

  Pada tahap persiapan penelitian, peneliti melakukan sejumlah hal yang diperlukan dalam penelitian, yaitu: a. Mengumpulkan data

  Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori-teori yang berhubungan dengan pernikahan lagi (remarriage) dan harapan (hope) pada wanita bercerai.

  b. Menyusun pedoman wawancara Agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teori untuk menjadi pedoman dalam wawancara.

  c. Persiapan untuk mengumpulkan data Peneliti mengumpulkan informasi tentang calon responden penelitian dan memastikan calon responden memenuhi karakteristik responden yang telah ditentukan. Setelah mendapatkannya, lalu peneliti menghubungi calon responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian.

  d. Membangun rapport dan menentukan jadwal wawancara Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti membuat janji bertemu dengan responden dan berusaha membangun

  rapport yang baik dengan responden. Setelah itu, peneliti dan responden

  penelitian menentukan dan menyepakati waktu untuk pertemuan selanjutnya untuk melakukan wawancara penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

  Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, maka peneliti mulai mengambil data penelitian yaitu mulai menghubungi responden yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Peneliti meminta kesediaan responden untuk diwawancarai melalui surat pernyataan yang telah disiapkan.

  Setiap kali melakukan wawancara, peneliti mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara dengan responden.

  Wawancara dilakukan berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Peneliti melakukan beberapa kali wawancara untuk mendapatkan hasil dan data yang maksimal. Semua data hasil wawancara direkam dengan alat perekam dengan persetujuan responden penelitian sebelumnya.

  3. Tahap Pencatatan Data

  Setelah proses wawancara selesai dilakukan dan hasil wawancara telah diperoleh, peneliti kemudian memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Selanjutnya, peneliti membuat koding sesuai dengan teori yang digunakan. Hasil koding akan membantu peneliti dalam menganalisa dan menginterpretasi data yang diperoleh dari masing-masing responden. Setelah koding selesai dilakukan, peneliti kemudian menganalisis dan membahas data yang diperoleh.

  4. Prosedur Analisa Data Data yang diperoleh dari pendekatan kualitatif adalah berupa kata-kata.

  Untuk itu kita perlu melakukan analisis data. Analisis data adalah proses merinci secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide itu (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2002). Untuk melakukan analisis berdasarkan data tersebut dibutuhkan kehati-hatian agar tidak menyimpang dari tujuan data penelitian. Menurut Poerwandari (2007) proses analisis data adalah sebagai berikut: a. Organisasi data secara rapi, sistematis, dan selengkap mungkin untuk memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisa yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisa yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

  b. Koding dan analisa, dilakukan dengan menyusun transkip verbatim atau catatan lapangan sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kanan dan kiri transkip untuk tempat kode-kode atau catatan tertentu, kemudian secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkip, lalu memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu.

  c. Pengujian terhadap dugaan, berkaitan erat dengan upaya mencari kejelasan yang berbeda mengenai data yang sama. Peneliti harus mengikutsertakan berbagai perspektif untuk memungkinkan keluasan analitis serta memeriksa bias-bias yang tidak disadari.

  d. Strategi analisa, proses analisa dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata subjek maupun konsep yang dipilih atau dikembangkan peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisa. e. Interpretasi, yaitu upaya untuk memahami data secara lebih ekstensif dan mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasikan data melalui perspektif tersebut. Proses analisa data yang dilakukan peneliti antara lain:

  a. Mengorganisasi data berupa hasil verbatim yang diketik serapi mungkin agar selanjutnya dapat dikoding.

  b. Koding dan analisa, dengan menyusun hasil verbatim dalam tabel yang terdapat kolom kosong di bagian kiri untuk menuliskan refleksi pertanyaan selanjutnya yang hendak diajukan, dan kolom kosong di bagian kanan untuk menuliskan analisa terdapat hasil wawancara kemudian secara urut melakukan penomoran pada baris-baris transkrip. Koding dilakukan seperti berikut (W.N.W.110611.2; baris 2-8) yang artinya wawancara kedua terhadap N berjenis kelamin wanita pada tanggal 11 Juni 2011 baris 2 sampai baris 8.

  c. Pengujian terhadap dugaan dengan cara membuat pertanyaan tambahan yang timbul dari hasil wawancara sebelumnya yang kelihatan rancu dan bermakna ganda.

  d. Strategi analisa dilakukan dengan cara melihat pada hasil wawancara yang menimbulkan konsep baru untuk dibahas selain dari teori yang telah ada.

  e. Peneliti melakukan interpretasi dengan memahami data verbatim secara mendalam dan berpedoman pada teori-teori yang menjadi landasan penelitian serta teori lain yang berhubungan.

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai harapan menikah

  lagi pada wanita bercerai. Dalam bab ini akan diuraikan riwayat masing-masing responden, hasil observasi, analisa data hasil wawancara, dan pembahasan terhadap data-data yang telah didapatkan tersebut.

  Berikut dilampirkan tempat dan waktu wawancara ketiga responden pada penelitian ini: Tabel 1. Tempat dan Waktu Wawancara

  Hari/Tanggal Waktu Tempat Responden

  1 Jumat, 13 Mei 2011 Pukul 11.30 – 12.40 WIB Pasar (kios responden)

  Rabu, 25 Mei 2011 Pukul 10.30 – 12.00 WIB Jumat, 11 Juni 2011 Pukul 11.30 – 13.00 WIB

  Responden

  2 Jumat, 10 Juni 2011 Pukul 16.30 – 18.35 WIB Toko sepatu tempat responden bekerja

  Sabtu, 11 Juni 2011 Pukul 17.30 – 18.30 WIB Selasa, 21 Juni 2011 Pukul 17.00 – 18. 15 WIB

  Responden

  3 Selasa, 14 Juni 2011 Pukul 18.00 – 19.30 WIB Tempat fitness

  Selasa, 28 Juni 2011 Pukul 18.20 – 19.35 WIB

A. DESKRIPSI DATA I

1. Riwayat Responden

  Nama : T Usia : 43 tahun Agama : Islam

  Pendidikan Terakhir : SMA Umur pada saat menikah : 22 tahun Lama pernikahan : 10 tahun Jumlah anak : Memiliki 1 orang anak laki-laki Pekerjaan : Penjual bunga

2. Hasil Observasi

a. Wawancara 1

  Responden 1 adalah T, seorang penjual bunga di salah satu pasar besar di kota Medan. T adalah seorang wanita paruh baya, dengan tinggi 160 cm dan berat 65 kg, dengan rambut panjang sebahu. Pada hari pertama wawancara, T menyambut peneliti dengan senyum ramah dan mendengarkan perkenalan serta penjelasan peneliti dengan seksama.

  Pada saat itu, pasar kelihatan sepi karena sudah siang hari. T mempersilahkan peneliti untuk masuk ke dalam kiosnya. Kios T tampak kecil, tidak tampak banyak barang atau peralatan di dalamnya. Hanya sebuah meja kayu yang sudah hampir lapuk dan beberapa macam bunga tersusun di atas meja, serta di samping meja terdapat tumpukan daun pisang untuk membungkus daun. Lalu T membentangkan sebuah karpet plastik sebagai alas duduk karena lantai kios langsung bersentuhan dengan tanah, sehingga T dan peneliti dapat duduk di sana dengan nyaman. T mempersilahkan peneliti untuk duduk dan tersenyum ketika berbicara. Pada saat itu, T memakai baju berlengan panjang warna coklat dengan rok panjang sampai mata kaki berwarna biru, T juga memakai tas pinggang hitam. Rambut T disanggul ke atas.

  Sebelum memulai wawancara, peneliti meminta izin kepada T untuk merekam wawancara siang itu. T tertawa mendengar permintaan peneliti tapi T mengizinkannya juga. Peneliti mengeluarkan alat rekaman dan meletakkan di atas karpet plastik di antara peneliti dan T. Peneliti takut suara T tidak terekam sepenuhnya maka peneliti memegang alat rekaman dan menyodorkan ke arah T setiap kali T berbicara. T tidak keberatan dengan hal tersebut.

  Saat wawancara berlangsung, T bercerita dan menjawab pertanyaan peneliti dengan lancar sambil tersenyum. Namun pada awal wawancara, ketika bercerita mengenai kisah hidupnya, tampak beberapa kali mata T berkaca-kaca tetapi tidak sampai menitikkan air mata. T juga tampak menerawang, pandangan mata ke tempat lain ketika bercerita. Sesekali T mengubah posisi duduknya. Saat peneliti menanyakan pertanyaan, T terus menatap peneliti. Di tengah wawancara, ada pembeli yang datang membeli maka T permisi kepada peneliti untuk melayani pembeli. T membungkus bunga dengan cekatan. Setelah itu T kembali duduk dan meneruskan ceritanya.

  Setelah sesi wawancara berakhir pada hari itu, peneliti berpamitan kepada T dan T tersenyum kepada peneliti. Peneliti menjelaskan kepada T bahwa beberapa hari kemudian peneliti mungkin akan menemui T lagi jika ada yang belum jelas ditanyakan. T mengizinkan peneliti datang kapan saja asalkan peneliti datang pada siang hari agar tidak mengganggu aktivitas T berjualan.

b. Wawancara 2

  Pada sesi wawancara kedua, saat peneliti datang ke kios T, tampak bahwa T sedang sibuk memotong lembaran daun pisang untuk dijadikan pembungkus bunga esok harinya. Hari itu adalah hari Rabu sehingga T agak sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk esok hari dimana hari Kamis selalu ramai pembeli yang membeli bunga. Pada hari itu, T memakai baju berkerah bercorak hitam abu dengan celana yang panjangnya tiga perempat sedangkan rambutnya dikuncir kuda dan memakai bando merah.

  T meminta peneliti untuk menunggu sebentar, karena T sedang sibuk dan kakak ipar T juga sedang sibuk membungkus perlengkapan bunga di dalam kios.

  T mengambilkan kursi dari kios sebelah untuk peneliti duduk sembari menunggu. Sambil menunggu, peneliti mengajak T mengobrol mengenai pekerjaannya sehari-hari sebagai penjual bunga. T tampak cekatan memotong lembaran daun pisang. Lima belas menit kemudian, kakak ipar T telah siap mengerjakan pekerjaannya. Lalu T menghentikan pekerjaannya memotong lembaran daun pisang dan mencuci tangannya dengan air perasan belimbing. T mengambil sapu dan membersihkan bagian dalam kiosnya, setelah itu T menggelar karpet plastik di atas tanah dan mempersilahkan peneliti masuk. Peneliti menanyakan kepada T apakah tidak memotong semua lembaran daun pisang dulu atau T bisa sambil memotong lembaran daun pisang sambil mengobrol dengan peneliti. T mengatakan tidak apa-apa karena pekerjaannya bisa dilanjutkan nanti.

  Peneliti duduk di atas karpet plastik dan mengeluarkan alat rekaman. T duduk dalam posisi menghadap peneliti dan bersiap untuk diwawancarai. Peneliti mulai menanyakan beberapa pertanyaan kepada T dan seperti wawancara sebelumnya T menjawab setiap pertanyaan peneliti dengan panjang lebar dan tersenyum. Wawancara kali ini, T lebih banyak menjawab pertanyaan dengan senyuman dan lebih banyak tertawa. Saat wawancara sedang berlangsung, ada pembeli yang datang maka T permisi kepada peneliti untuk melayani pembeli terlebih dahulu dan tiba-tiba hp T juga berdering maka peneliti mempersilahkan T untuk menjawab telepon terlebih dahulu. Pada saat wawancara, T banyak mengganti posisi kakinya saat duduk.

c. Wawancara 3

  Pada sesi wawancara ketiga, saat peneliti datang, T sedang menikmati makan siangnya sendirian. T menyambut peneliti dengan ramah dan menawari makan siang kepada peneliti namun peneliti menolaknya dengan halus. Peneliti duduk di dalam kios sambil menunggu T siap menyantap makan siangnya. Siang itu, kios tampak sepi. Di sebelah kios T, tampak penjual sayur yang sedang memetik sayur tauge bersama anak perempuannya. T makan sambil mengobrol dengan penjual di sebelah kios. Siang itu, T memakai baju kuning dengan celana panjang jeans biru dan sebuah tas selempang hitam dilingkarkan di bahunya.

  Rambut responden dikuncir kuda dan memakai bando berwarna coklat.

  Selesai makan, seperti biasa T menggelar karpet plastik sebagai alas duduk dan mempersilahkan peneliti duduk. Peneliti menjelaskan kedatangan peneliti lagi hari itu karena masih ada beberapa hal yang hendak ditanyakan dengan T. T menanggapinya dengan tersenyum dan mempersilahkan peneliti untuk memulai wawancara.

  T mengeluarkan alat rekaman dan kembali meminta izin untuk merekam wawancara siang itu. T menjawab pertanyaan peneliti dengan lancar dan panjang lebar seperti biasa. Ketika menjawab pertanyaan, T beberapa kali menggosok matanya, T duduk agak menyender ke meja dan beberapa kali mengubah posisi duduknya. Namun wawancara kali ini terdapat lebih banyak gangguan, hp T sering berdering dan setelah menerima telepon, T harus keluar kios untuk menemui orang lain. T meminta peneliti untuk menunggu sebentar di dalam kios. Beberapa menit kemudian, T kembali dan melanjutkan wawancara.

  Namun beberapa saat kemudian, ada penjual lain mampir ke kios T dan mengajak T berbicara. Sambil tertawa, T meminta penjual tersebut untuk kembali lagi nanti karena T memiliki urusan dengan peneliti. Penjual lain tersebut tertawa dan berlalu. Wawancara pun kembali dilanjutkan. T tampak tidak terganggu dan tetap fokus menjawab pertanyaan peneliti dengan baik.

  Setelah wawancara selesai dan peneliti mematikan alat rekaman, T kembali bercerita tentang kehidupannya dengan peneliti. Kali ini, T tampak duduk lebih santai dan menyender ke meja. T bahkan memberikan beberapa nasehat dan membagikan pengalaman hidupnya kepada peneliti. Beberapa penjual dari kios lain mampir dan turut serta dalam pembicaraan siang itu. Hingga tidak terasa hari semakan siang dan pasar semakin sepi. Peneliti pun berpamitan pulang kepada T.

3. Analisa Data

a. Kehidupan Pernikahan dan Latar Belakang Perceraian

  T hidup dalam keluarga besar yang sederhana, T merupakan anak kesepuluh dari duabelas bersaudara. T memiliki sebelas saudara yaitu dua saudara perempuan dan sembilan saudara laki-laki. T bisa dibilang tidak terlalu dekat dengan saudara-saudaranya, T lebih dekat dan lebih banyak bercerita dengan kakak keduanya. Sejak kecil, T membantu ibunya berjualan bunga.

  Seperti remaja gadis lainnya, saat berumur 17 tahun T menjalin hubungan berpacaran dengan seorang laki-laki. Hubungan ini terjalin selama lima tahun.

  Sayangnya, hubungan T dengan pacarnya tidak sampai ke jenjang pernikahan. Pacar T adalah seorang laki-laki bersuku Batak, yang keluarganya memiliki prinsip bahwa laki-laki tidak boleh menikah sebelum dia bisa membiayai adiknya.

  Pacar T belum mapan secara ekonomi dan belum bisa membiayai adiknya, sehingga dia belum bisa menikah dengan T. Sementara T telah berusia 22 tahun pada saat itu. Pada masa itu, kebanyakan orang-orang di lingkungannya menikah pada usia muda dan wanita yang berusia 22 tahun jika belum menikah akan dicemooh. T malu mendapat cemooh dari orang-orang di lingkungannya sehingga T berpikir untuk mencari laki-laki lain.

  Kemudian T bertemu dengan mantan suaminya dan lantas T mengakhiri hubungan dengan pacar yang lama. Mantan suami T tinggal di rumah kost yang berdekatan dengan rumah keluarga T. Pada awalnya, T melihat mantan suami sebagai orang yang baik dan lembut serta penampilan fisik yang bagus. T mengenal mantan suami selama empat bulan dan memutuskan untuk berumahtangga. T mengakui bahwa dia tidak terlalu mencintai mantan suaminya itu dan dia hanya melihat pada penampilan fisik mantan suami yang ganteng.

  Sebenarnya orangtua dan keluarga T juga tidak terlalu menyukai mantan suami T karena orangtua T melihat mantan suami T terkesan kasar. Namun karena itu adalah pilihan T maka keluarga menyetujui saja pernikahan mereka.

  Setelah menikah, T dan mantan suami tinggal di rumah orangtua T. T dan mantan suaminya hidup dalam rumahtangga yang sederhana, suaminya adalah seorang supir sedangkan T masih membantu ibunya berjualan bunga dan kadang- kadang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau membantu memasak jika ada orang yang meminta bantuannya. Setahun setelah menikah, T melahirkan seorang anak laki-laki. Selama masa pernikahan, bisa dikatakan pernikahan T tidak terlalu bahagia. T menyadari bahwa T belum cukup mengenal mantan suaminya dengan baik karena perkenalan mereka sangatlah singkat sebelum menikah. Lama kelamaan, T merasa bahwa sifat asli mantan suaminya mulai terlihat. Mantan suami T yang awalnya baik dan lembut menjadi sosok orang yang kasar, rewel, dan suka marah-marah. Kehidupan rumahtangga mereka banyak dihiasi dengan pertengkaran. Mantan suami T bahkan pernah memukul T dan anaknya.

  T merasa mantan suami sangat rewel dan banyak mengatur, begitu juga dalam hal keuangan rumahtangga. Sebagai seorang supir, mantan suami T memiliki penghasilan sebesar dua juta rupiah setiap bulan. Mantan suami T hanya memberikan uang sebesar seratus lima puluh ribu dari penghasilannya kepada T untuk keperluan rumahtangganya. T sendiri merasa biaya dari mantan suami tidak dapat mencukupi keperluan rumahtangga mereka walaupun T sendiri juga bekerja menjual bunga untuk membantu keuangan rumahtangga. Selain itu, mantan suami T juga selalu meminta uang kepada T di akhir bulan ketika kehabisan uang sehingga T merasa mantan suami seperti tidak memberikan biaya untuk rumahtangga. Walaupun begitu, T tetap bertahan dan tetap baik terhadap mantan suaminya itu.

  Pada tahun ketiga pernikahan, hal buruk tersebut mulai tampak. Awalnya T mendengar hal tersebut dari orang lain dan T mulai curiga. Setelah diselidiki, T menemukan adanya surat cinta mantan suaminya untuk wanita lain. T meminta penjelasan dari mantan suami dan mantan suami pun mengaku serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Namun setahun kemudian, T kembali berulah dan berselingkuh. Walau begitupun, T tetap memilih bertahan dalam pernikahan tersebut demi anak. T pernah meminta cerai kepada mantan suami dan mantan suami pun menolak karena masih memikirkan anak. Mantan suami T sangat menyayangi anaknya.

  Pada tahun kedelapan pernikahan, mantan suami T pergi meninggalkan T dan anaknya tanpa alasan dan tanpa kabar sedikitpun. Mantan suami meninggalkan T selama setahun dan kembali lagi pada T dan anaknya. Namun kehidupan rumahtangga T tidak juga membaik, bahkan T dan mantan suaminya memutuskan untuk pisah rumah. Pada tahun kesebelas pernikahan, mantan suami T menikah diam-diam dengan wanita lain. Hal ini diketahui oleh T dari orang lain. T meminta penjelasan dari mantan suami dan langsung meminta cerai.

  Mantan suami mengaku bahwa jika dia tidak menikahi wanita tersebut maka dia bisa dipenjara. Awalnya mantan suami menolak menceraikan T namun T juga sudah terlanjur sakit hati dan tidak mau hidup dengan mantan suaminya lagi karena telah diduakan. Akhirnya T dan mantan suami bercerai. Pernikahan T hanya bertahan selama sepuluh tahun dan penyebab utama perceraian adalah karena mantan suami T menikah lagi diam-diam dengan wanita lain.

  Menurut cerita T, mantan suaminya tidak sanggup hidup sederhana sehingga dia mencari wanita lain yang kehidupannya lumayan dan bisa membiayai dia. Mantan suami ingin hidup enak tanpa harus bekerja susah payah. Hal ini terlihat dari kehidupan istri dari mantan suami T yang sekarang lebih lumayan dibandingkan T karena wanita itu bekerja sebagai seorang sekretaris perusahaan. Sampai saat ini, walaupun sudah berpisah, mantan suami T masih memberikan biaya kepada anaknya sebesar dua ratus ribu setiap bulan dan mantan suami pun masih berhubungan baik dengan anaknya.

b. Kehidupan Responden Setelah Perceraian

  T tidak pernah menyangka bahwa kehidupan rumahtangganya akan berakhir dengan perceraian pada akhirnya. T tidak menyangka karena T merasa mantan suaminya adalah orang yang baik dan lembut. Setelah perceraian, T merasa sedih, sangat terpukul, dan sakit hati. T juga merasa kecewa dengan mantan suami. T merasa mantan suami berubah karena keadaan hidup sederhana yang tidak bisa diterima mantan suami.

  “sakit..sakit la..sakit perasaan..sepertinya memang keknya kita terpukul kali ya..keknya kekmana itu ya, dulu kita gak nyangka lah kalo bakalan rumah tangga kita seperti itu. Gak nyangka la, karna pun dia dulu juga dia orang yang baek, uda gitu kan sebenarnya dia gak pala-pala kali jahat kali gak la. Dia baik tapi itu lah mungkin gara-gara keadaan, dia gak bisa hidup

  susah sama kita ya kan sampe dia berumah tangga lagi. Sakit la, sakit kali itu..sakit.” (W.T.W.130511.1; baris 101-114) Selain itu, T juga menjadi malu dengan teman dan tetangganya. Pada awal masa bercerai, T menjadi lebih tertutup dan lebih banyak berdiam diri di rumah. T bahkan tidak pernah lagi mengikuti perkumpulan di kampungnya karena T merasa malu bertemu dengan orang lain, akibat kehidupan rumahtangganya yang berantakan. T juga tidak bisa terbuka dengan keluarganya karena rasa malu akan kehidupan rumahtangganya. Pada malam hari, T lebih banyak merenung memikirkan masalah rumahtangganya dan masalah anaknya, bagaimana untuk membiayai anaknya yang masih kecil dan harus bersekolah.

  “...Itu kalo rumahtangga kita berantakan, malu sama keluarga, malu sama tetangga. Pokoknya dimanapun gak nyaman lah, gak enak...” (W.T.W.130511.1; baris 271-275) “Makanya waktu pertama kali sakit lah, pokoknya jadi serba salah. Kita mau apa juga serba salah, sedih ya kan, malam juga gak bisa tidur mikirkan masalah rumahtangga kita, mikirkan bisa gak kita menghidupi anak kita.” (W.T.W.130511.1; baris 337-343) Bahkan T menjadi tertutup dengan orang lain, terutama dengan laki-laki. T menjadi bersikap kasar dan tidak menanggapi laki-laki yang mendekatinya.

  “...kalo dulu perasaan kakak seperti tertutup kali lah...Kalo dulu kakak gak, gak ada kakak terima, kakak gak suka pun ngomong-ngomong sama laki-laki kalo dulu tapi kalo sekarang uda mendingan...Kalo dulu kakak, bisa kakak kasar gitu, bisa kakak kasar, gak suka.” (W.T.W.130511.1; baris 826-827 dan baris 830-843)

  Rasa sedih T semakin bertambah karena adanya pembicaraan di luar yang tidak baik mengenai T, membuat T menjadi lebih sakit dan malu dengan hancurnya kehidupan rumahtangganya. Bahkan pembicaraan tersebut tidak hanya datang dari orang lain tetapi datang juga dari pihak keluarga yaitu dari saudara- saudara iparnya.

  “Kalo masalah tetangga gak enak bicara pasti ada, apalagi keluarga, datangnya dari keluarga sendiri pun ya. Gak usah dari tetangga, dari keluarga sendiri pun ada. Apalagi dari orang lain, wajar kalo orang lain, kalo keluarga sendiri sakit..cukup sakit. Lebih sakit kita dari keluarga daripada orang lain.” (W.T.W.130511.1; baris 325-334) Masalah yang kemudian muncul pada T setelah perceraian adalah masalah ekonomi, karena T juga termasuk orang yang berada di golongan bawah, hidup yang pas-pasan. Apalagi T memiliki anak yang masih kecil dan perlu biaya sekolah pada waktu itu. T menjadi banyak pikiran, memikirkan kehidupannya, memikirkan bagaimana menghidupi anaknya. Masalah ekonomi dirasakan menjadi masalah yang paling berat bagi T setelah bercerai.

  “sebenarnya yang paling dihadapi yang masalah cerai ini masalah kehidupan kakak kan kakak orang gak punya ya kan, waktu anak lagi kecil, udah itu butuh biaya sekolah mau makan, susu mahal. Itu aja yang paling berat dulu kakak masalah ekonomi...” (W.T.W.130511.1; baris 397-403 dan baris 430-432) Di satu sisi T merasa sedih dan terpukul karena perceraian, namun di sisi lain T juga merasa lebih nyaman setelah bercerai. T merasa bebas dari tekanan karena tidak ada lagi mantan suami yang rewel dan banyak mengatur. T juga berpikir bahwa dia tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan, T harus bangkit dan menata kembali hidupnya.

  “Kalau dulu, kita masih ada tekanan ya karna punya suami yang rewel, dia rewel orangnya. Punya suami yang rewel, kita kan tertekan rasanya, tertekan juga ada. Setelah kita gak sama dia, rasanya lebih..lebih nyaman..gak lagi. Memang sakit, pertamanya sakit lama-lama kita harus berpikir, kita gak boleh terlarut seperti itu.” (W.T.W.130511.1; baris 159-168)

c. Harapan Responden Untuk Menikah Lagi

  Setelah melewati masa-masa bersedih dan sakit hati di masa awal perceraian, T mulai berpikir untuk bangkit dan berpikiran untuk menikah lagi.

  Timbul harapan dalam diri T untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik dari suaminya yang dulu, agar T memiliki pendamping hidup lagi yang bisa memberikan perhatian padanya, sebagai teman di masa tua nanti. Harapan T untuk menikah lagi muncul satu tahun setelah T bercerai.

  “...Harapannya seperti ini ‘aku kepingin kalau seandainya aku sudah tua, aku punya kawan’ harapan kita punya pendamping. Misalnya udah sakit ini gak ada yang sayang sama aku lagi. Kalau seandainya kita punya suami kan, seandainya kita sakit ada perhatian dari suami kan gitu kan...” (W.T.W.110611.3; baris 405-412) T juga menyampaikan harapannya untuk menikah lagi kepada sang anak saat anaknya berumur tujuh tahun. Namun anak T yang masih kecil pada saat itu tidak menyetujui, anak T tidak ingin T menikah lagi dan tidak ingin memiliki ayah baru. Ucapan anak T saat kecil terus diingat oleh T hingga T memendam harapannya untuk menikah lagi.

  “...Dia kecil itu umur kelas 3 SD, sekitar 8 tahunan, 7 tahun, itulah jawabannya. “Een mau mamak, Een mau papa, jangan kawin lagi ya. Een gak mau punya papa lagi”. Makanya kakak pertahankan sama dia sampe sekarang gara-gara omongan dia itu. Gara-gara omongan itu, sampe sekarang kakak jaga...” (W.T.W.130511.1; baris 544-552) Lama-kelamaan T kembali berbicara dengan anaknya ketika anaknya mulai beranjak dewasa. T mengutarakan kembali harapannya untuk menikah karena T berharap memiliki teman di hari tuanya nanti dan menjelaskan kepada anaknya bahwa tidak mungkin anaknya dapat mengurus T selamanya. Setelah berpikir, akhirnya anak mengizinkan T untuk menikah lagi asalkan T bisa mendapatkan seorang laki-laki yang baik dan sayang pada T, yang lebih baik dari mantan suami T.

  “...Jadi lama-lama dia berpikir, cuman ini kata-katanya ‘terserahlah kalo memang mau seperti itu’ kan gitu. Dia pokoknya terserahlah tapi cari yang bagus-bagus ya itu aja, cari yang bagus ya. Jangan seperti eh papa, kan gitu, jangan seperti papa. Kalopun dia kalo harapan anaknya, mamaknya bole kawin lagi tapi yah jangan ada istrinya lah, kalo bisa duda...” (W.T.W.130511.1; baris 575-585) T juga memperoleh dukungan dari keluarga dan teman-temannya agar segera menikah lagi. Bahkan kadang-kadang dari keluarga maupun dari teman- temannya, mau mengenalkan laki-laki kepada T. Dukungan yang diperoleh T ini memperbesar harapannya untuk menikah lagi.

  “kalo keluarga sebenarnya dia mendukung karna seperti ada, ada istilahnya keluarga gak mau lihat adiknya susah. Orang itu sebenarnya mendukung ya, bahkan orang itu ngomong begini ‘kalopun kau kawin lagi kami senang, kamipun sebenarnya gak mau kau susah kan gitu. Kalau bisa ya yang lebih dari suami kau itu’ kan gitu...” (W.T.W.130511.1; baris 740-749)

  “Yah seperti kita jualan gini aja, kalo kawan-kawan ini yah ‘kawin aja kenapa sih, manatau kita senang’ kan gitu.” (W.T.W.130511.1; baris 778-781)

1. Goal

  T memiliki harapan untuk menikah lagi, untuk mendapatkan seorang pendamping dalam hidupnya. T berharap dengan menikah lagi maka T akan lebih bahagia di hari tua, mendapatkan kasih sayang lagi, agar ada yang menjaga T di saat sakit. T juga berpikir bahwa dengan menikah lagi, dia akan mendapatkan bantuan dari pasangan hidupnya kelak untuk mengatasi masalah ekonomi.

  “pasti, karna saling membantu kan kalo ada, saling mengerti. Lagian hidup ini butuh kita kasih sayang ya kan, kasih sayang seorang suami itu...” (W.T.W.250511.2; baris 495-498) “Tapi kalo seandainya kita kawin lagi atau kita punya kawan lagi, masa- masa tua kita pasti kita akan senang kan gitu.” (W.T.W.250511.2; baris 487-490) T memandang pernikahan lagi ini sebagai hal yang penting, tetapi bisa juga dikatakan tidak penting. Di satu sisi, pernikahan lagi menjadi penting karena dengan menikah lagi T akan mendapatkan teman di saat sedih, di saat sakit ada yang menemani, dan T juga akan merasa lebih bahagia di hari tuanya jika dia memiliki pendamping lagi. Di sisi lain, T berpikiran bahwa T masih memiliki anak yang mungkin bisa menjaganya di hari tua nanti sehingga T tidak harus menikah lagi.

  “...Kalo memang anak bisa ngurus kita nanti sudah tua ya gak perlu lagi kita berumahtangga lagi sebenarnya. Cuman kadang-kadang yah perasaan sedih di saat sendiri, di saat sakit, gak ada kawan kadang-kadang gak enak juga kan. Gak enak, sakit juga perasaan kalau kita begitu kita sakit, di saat sedih gak ada kawannya. Masalah penting bisa dibilang penting, bisa bilang juga gak lah, fifty fifty la dia ya, gak pala bisa dibilang penting bisa gak juga.” (W.T.W.130511.1; baris 596-613) T tidak menentukan target waktu untuk menikah, asalkan T telah menemukan seseorang yang cocok dengan dirinya T mau menikah lagi.

  “gak, kapan aja kalo itu cocok, kakak mau.” (W.T.W.250511.2; baris 510-511)

2. Pathway Thinking

  Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk

  menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pathway thinking menandakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  Dengan adanya harapan menikah lagi, T berusaha untuk mencari dan melakukan pendekatan dengan laki-laki, dengan cara lebih banyak berteman dan berkumpul bersama teman-temannya. T berpikir bahwa melalui pertemanan ini, T bisa mencari pasangan hidup yang cocok dengannya.

  “kalo harus berbuat apa, gak mungkin kita gak ada perbuatan. Istilahnya gak ada usaha kita bisa dekat dengan laki-laki ya kan. Yah gak mungkin lah, kita pasti berusaha mencari.” (W.T.W.110611.3; baris 321-326) “iya dari kenalan, kalo misalnya ada acara apa kita keluar-keluar.” (W.T.W.110611.3; baris 329-330)

  T menjadi lebih terbuka dengan laki-laki dan mulai bersimpatik atau menaruh perhatian dengan laki-laki. Dengan terbuka dan mulai bersimpatik dengan orang lain, T berpikir bahwa dia dapat menemukan pasangan hidup lagi yang benar-benar sesuai dengan harapannya.

  “yah aku simpatik sama orang itu pasti ada. Simpatik sama orang yah ada tapi dia mau apa gak kita kan gak tau kan gitu ya kan. Kalo simpatik sama orang ada, simpatik lah. Kalo dia mau nanggapin alhamdulilah, kalo gak apa boleh buat.” (W.T.W.130511.1; baris 664-671) Namun T juga berpikir bahwa dalam mencari pasangan hidup ini, T harus lebih bersikap hati-hati lagi agar tidak mengalami kegagalan seperti sebelumnya.

  T lebih banyak belajar dari kehidupan yang lampau, T tidak ingin kembali mengalami kegagalan rumahtangga untuk kedua kalinya.

  “...Udah macam mana coba, udah gak mungkin lah makanya kita kan harus hati-hati, bisa dibilang harus super berhati-hati lah mencari pasangan hidup kan gitu. Jangan sembarangan, kalo dia mau kita pun harus mau kan nanti kalo pada akhirnya pun juga kita kecewa lagi..untuk kedua kali..kan lebih sakit lagi.” (W.T.W.130511.1; baris 720-729)

3. Agency Thinking

  Agency mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai

  tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuannya. Ketika individu menghadapi hambatan, agency membantu individu menerapkan motivasi pada jalur alternatif terbaik

  T berdoa semoga Tuhan memberikan keyakinan pada dirinya agar dia bisa mencapai tujuannya untuk menikah lagi, agar T dapat melakukan usahanya untuk menikah lagi. T juga merasa yakin bahwa T pasti bisa menikah lagi jika dia memang telah benar-benar bertemu dengan seseorang yang cocok menjadi pendamping hidupnya.

  “kurasa, kadang kita bukan karna usia ya, karna kita senang sama senang gak ada hambatan, gak ada ragu-ragu. Pasti aku bisa nikah lagi.” (W.T.W.250511.2; baris 588-591) “...Iya memang semua kembali lagi sama Yang Di Atas, kalo memang Tuhan inikan harapan kakak tadi ya mudah-mudahan diberi keyakinan kakak sama diri sendiri bahwa kakak yakin sama yang kakak pengen...” (W.T.W.250511.2; baris 598-604) Selain itu, T merasa memiliki kontrol sendiri atas hidupnya, atas semua hal yang dilakukannya sehingga T pasti bisa berusaha untuk menikah lagi.

  “kalo masalah pribadi ya kita sendirilah yang menentukan kan gitu. Kita bakal nikah ato gak kan gitu, kita mau nikah apa gak itu kan pasti kita kan, orang kita yang punya badan sendiri gak mungkin orang lain.” (W.T.W.130511.1; baris 848-854) Dari hati T sendiri, T merasa yakin bisa menikah lagi suatu hari nanti.

  Apalagi saat ini T sedang menjalin hubungan serius dengan laki-laki. T merasa yakin laki-laki ini sesuai dengan harapan yang ada di hatinya. T berpikir bahwa hati kecilnyalah yang berperan dalam menambah keyakinan dirinya untuk bisa menikah lagi.

  “Dari hati aku harus bisa. Kalaupun misalnya dapat laki-laki itu, kita uda tenang ya. Apalagi yang ada di kepribadian dia ada di hati kita. Hati kecil, keyakinan hati kecil kita, kayak manapun harus kudapat dia kan gitu.” (W.T.W.110611.3; baris 446-451)

  Tabel 2. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 1

  No Keterangan Responden 1

  Responden berharap mendapatkan - pendamping hidup yang dapat memberikan kasih sayang, menjaganya di saat sakit, dan untuk hari tuanya serta dapat membantu dalam masalah ekonomi.

  1 Goal Responden memandang pernikahan lagi - sebagai hal yang penting dan juga tidak penting (dalam kontinum menengah).

  Responden tidak menentukan target waktu - untuk menikah. Responden berpikir untuk mencari dan lebih - terbuka dengan laki-laki, mulai bersimpatik,

  2 Pathway Thinking dan lebih banyak berkumpul bersama teman.

  Responden lebih berhati-hati dalam memilih - pasangan. Responden merasa yakin dengan dirinya - sendiri bahwa dia bisa menikah lagi suatu hari

  3 Agency Thinking nanti, yakin pada hati kecilnya.

  Responden memiliki kontrol atas hidupnya - sendiri.

4. Pembahasan

  Responden 1 dapat dikatakan memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena memiliki agency thinking dan pathway thinking yang tinggi. Snyder (1994) menyatakan bahwa individu yang memiliki agency thinking dan pathway thinking yang tinggi, menyimpan goal yang jelas dan memikirkan cara untuk meraih goal tersebut di dalam pikiran mereka. Responden 1 memiliki goal yang jelas yaitu berharap menikah lagi untuk mendapatkan pendamping hidup di masa tuanya, mendapatkan kasih sayang lagi, serta agar ada yang membantu dalam masalah ekonomi.

  Goal yang dibuat responden 1 termasuk golongan approach-oriented in

nature (sesuatu yang positif diharapkan untuk terjadi) dan berjangka panjang,

  dimana responden 1 berharap menikah lagi dengan tujuan untuk mendapatkan pendamping hidup yang dapat memberikan kebahagiaan di masa tuanya.

  Responden 1 memandang pernikahan lagi sebagai hal yang penting dan juga tidak penting atau sesuatu hal yang cukup bernilai. Snyder (2000) menyatakan bahwa

  

goal yang cukup bernilai akan mencapai pemikiran sadar dan memerlukan

harapan untuk meraihnya.

  Dalam meraih tujuannya, responden 1 memiliki pathway thinking yang tinggi dimana responden 1 mulai berpikir untuk mencari laki-laki yang sesuai, mulai bersimpatik dan terbuka dalam pergaulan dengan orang lain. Responden 1 juga berpikir untuk berhati-hati dalam memilih pasangan karena pengalaman kegagalan pernikahan sebelumnya. Agency thinking pada responden 1 berupa keyakinan pada hati kecilnya bahwa dia pasti bisa menemukan pasangan hidup yang benar-benar sesuai dengan harapannya sehingga dia bisa menikah lagi suatu hari nanti.

  Ketika awalnya anak tidak mengizinkan responden 1 untuk menikah lagi, responden 1 mampu mengembangkan pathway thinking yang lain dengan berpikir untuk mencoba menjelaskan kepada anak saat anak sudah lebih dewasa. Saat ini, responden 1 merasa tidak menjumpai hambatan lagi untuk menikah, dimana anaknya sudah dewasa dan tidak lagi menjadi hambatan baginya. Selain itu, walau dari segi usia responden 1 yang tidak lagi muda memungkinkan menjadi hambatan namun agency thinking responden 1 tetap yakin bahwa dia bisa menikah lagi. Responden 1 berpikir bahwa dari hati kecilnya yang memberikan keyakinan untuk bisa menikah lagi. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Snyder (2002) bahwa agency thinking akan lebih berguna pada saat individu menjumpai hambatan.

B. Deskripsi Data II

  1. Riwayat Responden

  Nama : N Usia : 31 tahun Agama : Islam Pendidikan Terakhir : SMA Umur pada saat menikah : 22 tahun Lama pernikahan : 2 tahun Memiliki anak/tidak : Memiliki 1 orang anak perempuan Pekerjaan : Pegawai toko sepatu

  2. Hasil Observasi

a. Wawancara 1

  Responden 2 adalah N, seorang pegawai bagian gudang di salah satu toko sepatu di kota Medan. Sore itu, peneliti mendatangi toko sepatu tempat N bekerja setelah sebelumnya membuat janji bertemu dengan N. Pada hari itu, toko sepatu tidak terlalu ramai pengunjung. Peneliti memasuki toko sepatu dan bertanya pada salah seorang penjaga toko tentang keberadaan N. Penjaga toko menanyakan keperluan peneliti dan meminta peneliti menunggu sebentar sementara penjaga toko tersebut masuk ke dalam gudang memanggil N.

  Toko sepatu itu terletak di pinggir jalan yang ramai pejalan kaki. Toko sepatu itu seperti rumah toko (ruko) biasa, tidak terlalu besar, hanya tingkat satu ruko saja yang dijadikan sebagai toko. Pintu masuk berupa pagar besi beroda berwana hijau dibiarkan terbuka lebar, setelahnya ada pintu kaca transparan lagi yang tertutup. Setiap pelanggan yang datang akan membuka sendiri pintu kaca tersebut.

  Ruangan toko bernuansa putih dengan dinding bercat putih dan lantainya juga berkeramik putih. Di atas ruangan terdapat beberapa lampu hias yang menerangi ruangan toko. Dari pintu masuk, bisa langsung terlihat tatanan sepatu yang rapi di kiri dan kanan. Di bagian tengah juga terdapat rak sepatu, namun masih menyisakan ruang di kiri dan kanan untuk tempat berjalan para pelanggan. Sekeliling ruangan itu terdapat rak yang ditata sepatu dan sandal untuk wanita dan anak-anak dengan berbagai jenis model dan ukuran. Di bagian tengah dalam terdapat sebuah meja kasir dengan komputer di atasnya dan sebuah kursi. Di depannya terdapat kursi kayu panjang untuk tempat pelanggan mencoba sepatu yang akan dibeli. Di ujung dalam ruangan itu, terdapat pintu untuk masuk ke bagian belakang toko yang juga menjadi gudang toko. Pintu masuknya dilapisi dengan kaca.

  Sesaat kemudian, N keluar dan menyapa peneliti dengan ramah dan tersenyum lebar. N adalah seorang wanita muda yang masih cantik, berperawakan mungil dan sedikit kurus, dengan tinggi 150 cm dan berat 43 kg. N berambut pendek bermodel bob, tidak berponi. N memakai anting-anting berbentuk lingkaran besar dan ada sebuah tahi lalat di pipi bawah sebelah kiri. Pada sore itu, N mengenakan baju berlengan panjang berwarna pink dan celana panjang jeans berwarna hitam. N juga memakai jam tangan di sebelah kanan.

  N mengajak peneliti duduk di kursi yang biasa digunakan pelanggan untuk mencoba sepatu. Peneliti lalu menjelaskan maksud kedatangan peneliti sore itu dan menjelaskan mengenai penelitian yang sedang dilakukan peneliti dan sedikit mengenai hal-hal yang akan ditanyakan nantinya kepada N. N mendengarkan dengan seksama dan sambil tertawa. N setuju untuk berpartisipasi pada penelitian ini dan menjelaskan kapan saja waktu luangnya untuk bisa diwawancarai. Lantas peneliti mengobrol sedikit mengenai kegiatan sehari-hari N. Selama mengobrol, N banyak menggoyangkan kakinya.

  Kemudian N mengajak peneliti untuk melanjutkan pembicaraan di depan pintu masuk toko. N mengambil kursi dari gudang dan membawanya keluar toko.

  Di depan pintu masuk toko, ada sebuah meja dengan beberapa sandal plastik ditata di atas meja. N menjelaskan bahwa sandal plastik itu merupakan produk murah sehingga terjual terpisah dengan sepatu di dalam toko dan setiap sore, N yang menjaga dagangan sandal plastik itu. Sementara pagi dan siangnya N bekerja mengecek stok barang di gudang. N bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 8 malam di toko sepatu itu.

  Peneliti dan N duduk di belakang meja yang menghadap ke jalanan. N mempersilahkan peneliti untuk memulai wawancara. Peneliti lalu mengeluarkan alat rekaman dan meminta izin kepada N untuk merekam wawancara. N tertawa mendengar permintaan peneliti namun menyetujuinya juga. Peneliti mulai menanyakan beberapa pertanyaan dan N menjawab pertanyaan dari peneliti sambil menjaga dagangannya. Kadang-kadang N tampak menerawang ke depan, namun N menjawab setiap pertanyaan peneliti dengan cepat. N terlihat menjawab pertanyaan sambil terus tersenyum, kadang-kadang N bahkan tertawa ketika menjawab pertanyaan peneliti.

  Sesekali wawancara terhenti ketika ada pembeli yang datang. Ketika pembeli datang, N menawarkan barang dagangannya. Setelah N selesai melayani pembeli, wawancara kembali dilanjutkan. Kadang-kadang N mengubah posisi duduknya menghadap ke peneliti dan menopangkan dagunya dengan tangan kanan. Kadang-kadang N menjawab pertanyaan sambil melihat ke arah lain.

  Menjelang sore hampir malam hari, jalanan di sekitar toko semakin ramai dengan pejalan kaki dan toko pun semakin ramai, sehingga wawancara pun tidak dapat dilanjutkan lagi. Peneliti membuat janji kembali bertemu dengan N keesokan harinya pada waktu yang sama. N menyetujuinya dengan senyuman dan lantas peneliti berpamitan pulang.

b. Wawancara 2

  Pada saat peneliti datang ke toko sepatu, pegawai toko yang sudah mengenali peneliti mengatakan bahwa tadi N sudah menunggu kedatangan peneliti namun karena peneliti belum datang juga maka N pergi mandi. N menitip pesan kepada pegawai toko agar menyuruh peneliti menunggu jika peneliti datang. Peneliti menunggu N sambil berkeliling melihat-lihat sepatu dan sandal disana. Setiap sepatu sudah ditempel dengan harga. Pada sore itu, di dalam toko terdapat beberapa pengunjung. Ada tiga orang pegawai toko tersebut, ketiganya adalah wanita, memakai seragam berwana biru dan celana panjang berwarna hitam, tampak melayani pengunjung toko.

  Beberapa saat kemudian, N keluar dan mengajak peneliti untuk mengobrol di dalam gudang saja karena bos N sedang tidak berada di toko. Begitu pintu gudang dibuka, terlihat tumpukan sandal plastik di atas lantai dan tumpukan kotak-kotak sepatu di rak dekat dinding. Di ujung sudut terdapat kamar mandi dan di sebelahnya terdapat tangga menuju lantai atas toko. N mengajak peneliti duduk di kursi plastik dekat meja panjang. N sendiri duduk di kursi yang dapat berputar.

  Sore itu, N mengenakan baju berlengan panjang berwarna coklat dengan celana jeans biru.

  Peneliti mengajak N mengobrol seputar kegiatannya di toko sebelum memulai wawancara. Tidak ada raut kelelahan di wajah N. N tampak duduk santai sambil menggerak-gerakkan kursinya ketika berbicara dengan peneliti. N menjelaskan bahwa setiap sore bos N selalu keluar toko dan kembali lagi satu jam kemudian. N mengatakan jika bosnya sudah kembali nanti maka wawancara dilanjutkan di luar toko saja seperti sebelumnya. N bercerita bahwa dia sudah bekerja di toko sepatu itu hampir dua tahun lamanya dan bos N sangat baik kepada N.

  Peneliti lalu mengeluarkan alat rekaman dan mulai melakukan wawancara. Seperti sebelumnya, N menjawab pertanyaan peneliti dengan tersenyum. Beberapa kali N menjawab dengan jawaban yang singkat. Kadang-kadang N sedikit berputar, menggerak-gerakkan kursinya. Ketika tidak mengerti dengan pertanyaan peneliti, N menanyakan lebih lanjut kepada peneliti dengan menopangkan kepalanya pada tangan kiri dan menghadap kepada peneliti. Setengah jam kemudian, N mengajak peneliti untuk melanjutkan wawancara di luar, di depan pintu masuk toko seperti kemarin, karena N merasa bosnya sudah akan pulang ke toko. Ketika melanjutkan wawancara di luar, N memperbesar suaranya agar lebih terdengar. Wawancara sedikit terganggu ketika ada pembeli yang datang melihat sepatu.

  Ketika wawancara selesai, peneliti membuat janji kepada N akan menghubungi N kembali jika akan melakukan wawancara lagi. N menyetujuinya dan mengizinkan peneliti datang kapan saja. Peneliti lantas mengucapkan terima kasih kepada N dan berpamitan pulang.

c. Wawancara 3

  Sore itu, peneliti datang ke toko sepatu tempat N bekerja. Begitu mendorong pintu masuk, salah satu pegawai toko sudah mengenali peneliti maka dia pun masuk ke dalam gudang dan memberi tahu kedatangan peneliti kepada N. Lalu pegawai toko tersebut keluar lagi dan menyuruh peneliti agar langsung masuk ke gudang saja untuk menemui N. Melihat kedatangan peneliti, N tersenyum dan menyapa ramah, N menawarkan peneliti untuk duduk di kursi di sebelahnya.

  Sore itu, N memakai baju kaos berkerah berwarna coklat dan celana panjang jeans berwarna hitam. N duduk di sebuah kursi tinggi, tampak sedang sibuk melakukan sesuatu. N sedang menempelkan cap merek ke sol sepatu menggunakan sebuah mesin cap khusus. Peneliti menanyakan apakah kehadiran peneliti mengganggu pekerjaan N. N menggeleng dan menjelaskan bahwa N bisa melakukan wawancara sambil mengerjakan pekerjaannya lagipula pekerjaan N tidak terlalu banyak. N melakukan pekerjaannya dengan cekatan.

  Peneliti duduk menghadap ke N dan mulai bertanya beberapa hal kepada N. N menolehkan wajahnya ke peneliti ketika menjawab pertanyaan dan kembali melakukan pekerjaannya ketika peneliti mengajukan pertanyaan atau ketika peneliti tidak berkata-kata. Kadang-kadang N juga menjawab pertanyaan sambil memandang mesin di hadapannya lalu menoleh ke peneliti. Wawancara sedikit terganggu dan harus berhenti ketika ada pegawai lain yang masuk untuk mengambil sepatu atau barang lain di dalam gudang.

  Setengah jam kemudian N telah menyelesaikan pekerjaannya, N lalu merapikan sol-sol sepatu di meja. Setelah itu, N duduk lebih menghadap ke peneliti dan menjawab pertanyaan peneliti. Selesai wawancara, peneliti menemani N berjualan sandal di depan toko sambil membicarakan mengenai anak N. Ketika hari menjelang malam, peneliti berpamitan pulang kepada N.

3. Analisa Data

a. Kehidupan Pernikahan dan Latar Belakang Perceraian

  N merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, memiliki empat orang saudara laki-laki dan satu orang saudara perempuan. N hidup dalam keluarga yang kecil, ayahnya sudah meninggal sejak N duduk di kelas 4 SD. Hubungan N dengan saudara-saudaranya tidak terlalu dekat. N tipe orang yang suka menyimpan masalahnya sendiri dan jarang mau terbuka dengan orang lain.

  Namun, N memiliki seorang sahabat yang menjadi tempatnya bercerita dan berkeluh kesah ketika menghadapi masalah, termasuk masalah rumahtangganya.

  N mulai mengenal mantan suami N ketika duduk di bangku SMA. Mantan suami N adalah seorang guru fisika yang mengajar di sekolah N. N mulai menjalin hubungan dengan mantan suami ketika N duduk di kelas 3 SMA. Pada saat mulai menjalin hubungan, mantan suami N tidak mengajar lagi di sekolah.

  Perbedaan usia tidak menjadi masalah dalam hubungan mereka, walaupun mereka berbeda usia 12 tahun. N melihat mantan suami sebagai sosok orang yang dewasa dan baik. Hubungan N dengan mantan suami termasuk hubungan berpacaran jarak jauh karena N berada di Medan sedangkan mantan suami sering ke Pekanbaru untuk membantu usaha keluarga di sana. N dan mantan suami jarang bertemu, hanya beberapa bulan sekali ketika mantan suami kembali ke Medan barulah mereka bertemu. Walaupun begitu, hubungan N dan mantan suami berjalan baik hingga tujuh tahun berpacaran. N dan mantan suami sempat bertunangan ketika memasuki tahun ketiga pacaran. N merasa telah mengenal mantan suami dan keluarganya dengan baik.

  Akhirnya N menikah dengan mantan suami ketika N berusia 22 tahun. N menikah dengan dasar cinta dan beranggapan bahwa mantan suaminya itu adalah jodoh dan takdir yang diberikan Tuhan padanya. Walaupun sejak awal N merasa kehidupan pernikahannya tidak akan bahagia. Beberapa bulan setelah menikah, sekitar bulan kelima pernikahan kehidupan rumahtangga N mulai runyam dan bermasalah. Salah satu masalah yang timbul adalah masalah ekonomi. Sejak awal, N sudah mengetahui pekerjaan mantan suami tidaklah tetap, kadang-kadang bekerja dan kadang-kadang tidak bekerja. Namun N melihat mantan suami sebagai orang yang mau berusaha dan mantan suami juga mempunyai latar belakang pendidikan yang baik yaitu lulusan insinyur sehingga N mau menikah dengan mantan suami dan berpikir bahwa kehidupan ekonomi pasti teratasi.

  N sendiri tidak begitu memahami pekerjaan mantan suami. Pekerjaan mantan suami N tidaklah tetap, dulu sebelum menikah mantan suami membantu usaha keluarga di Pekanbaru. Kembali ke Medan, mantan suami bekerja sebagai guru honor. Hingga akhirnya mantan suami membuat keputusan untuk tinggal di Pekanbaru untuk membuka usaha kelapa sawit di sana, karena mantan suami sudah patah semangat untuk mencari pekerjaan di Medan.

  Semenjak mantan suami memutuskan untuk bekerja di Pekanbaru, kehidupan rumahtangga N semakin berantakan. N dan mantan suami menjadi jarang bertemu, hanya sebulan sekali mantan suami pulang ke Medan sehingga komunikasi mereka pun menjadi tidak lancar. N kecewa karena merasa komunikasi dalam rumahtangga harusnya berjalan lancar. Kehidupan pernikahan N sering diwarnai dengan pertengkaran karena perselisihan pendapat. Pada saat itu, N masih bekerja sebagai pegawai di toko baju. Setahun setelah menikah, N berhenti bekerja dan menyusul mantan suami ke Pekanbaru. N mencoba hidup di Pekanbaru namun N hanya bertahan sebulan hidup di sana. N tidak sanggup hidup di Pekanbaru, karena merasa kehidupan di Pekanbaru kurang layak dan kondisi di sana yang seperti hutan sehingga N kembali ke Medan. Di Medan, N tinggal bersama dengan ibunya.

  Sekembalinya ke Medan, N mendapati dirinya hamil. Namun kehidupan rumahtangga N tidak membaik. N semakin sering bertengkar dengan mantan suami. Mantan suami bersikeras ingin tetap di Pekanbaru sementara N ingin tetap di Medan karena merasa kehidupan di Pekanbaru kurang layak. Setelah anak N lahir pun, kehidupan rumahtangga tidak juga membaik. Karena tidak menemukan titik temu, maka N memutuskan untuk meminta cerai kepada mantan suami. N dan mantan suami berpisah tanpa ada keputusan bercerai selama dua tahun. Mantan suami pergi ke Pekanbaru sedangkan N membesarkan anaknya di Medan. Selama dua tahun perpisahan, tidak ada komunikasi di antara mereka. Hingga ketika mantan suami akan menikah lagi, mantan suami memberitahu N melalui telepon dan setelah itu mengurus perceraian.

b. Kehidupan Responden Setelah Perceraian

  N melihat mantan suami sebagi orang yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya, terutama terhadap anaknya. Setelah bercerai, mantan suami tidak pernah lagi menghubungi N ataupun melihat keadaan anaknya. Mantan suami juga tidak memberikan biaya untuk anak. N pernah meminta biaya kepada mantan suami ketika anaknya sakit namun mantan suami menolak bahkan mantan suami mengatakan akan mengambil anak bila N tidak mampu membiayai anak.

  Setelah bercerai, N merasa sedih karena memikirkan anaknya. N sendiri tidak terlalu memikirkan dirinya sendiri. Semenjak berpisah dua tahun dengan mantan suami sebelum bercerai, N sudah merasa perasaannya untuk mantan suami mulai menghilang sedikit demi sedikit yang dipicu juga dengan seringnya mereka bertengkar. Hal ini membuat N tidak terlalu bersedih ketika bercerai. Hanya saja N memikirkan nasib anaknya kelak.

  “yah sedih sih namanya ada anak. Cuman perasaan sukanya udah gak ada ama dia (mantan suami)..” (W.N.W.100611.1; baris 529-531) Selain itu, N juga memiliki seorang teman dekat yang dapat dijadikan tempat berbagi dan bercerita termasuk juga masalah rumahtangganya. N banyak menceritakan masalah rumahtangganya kepada teman dekatnya. Dengan adanya dukungan dari teman ini, N merasa lebih lega dan terbantu setelah bercerai.

  “ya ada lah, cerita sama kawan. Ada yang kawan akrab satu, ceritalah semuanya, dialah yang tahu. Kita kan cerita supaya hati kita lega. Jadi ya sebagian besar udah tahulah masalah kita apa, kenapa ini terjadi yah dialah yang tahu.” (W.N.W.100611.1; baris 549-555) Ketika dihadapkan pada pilihan untuk bercerai, pihak keluarga N dan pihak keluarga mantan suami pernah berunding agar N dan mantan suami tidak perlu berpisah. Namun N merasa tidak dapat lagi menemukan titik temu antara N dan mantan suami sehingga perceraian menjadi pilihan terbaik. Pihak keluarga jelas merasa kecewa dengan perceraian anaknya. Namun keluarga mendukung keputusan N untuk bercerai.

  “kecewanya yah ‘kenapa anak aku sampai berpisah’ kan gitu.” (W.N.W.100611.1; baris 495-496)

  Sementara dari orang-orang di sekitarnya, N tidak mendapatkan suatu perkataan yang tidak bagus atau yang menyinggung dirinya. Namun, N merasa pasti ada perkataan-perkataan yang tidak bagus di belakang N atau ada orang- orang yang merasa kasihan dengannya karena N harus membiayai sendiri anak dan ibu N.

  “ada lah pasti cuman kan gak kedengaran sampe telinga kita. Gak mungkin gak ada, pasti ada.” (W.N.W.100611.1; baris 661-663) “yah apa tanggapannya, ya ada yang merasa kasihan.” (W.N.W.100611.1; baris 650-651) Setelah bercerai, N tidak terlalu banyak menjumpai masalah dalam hidupnya. Salah satu masalah yang dihadapinya hanya masalah ekonomi karena N harus membiayai ibunya dan anaknya yang masih kecil waktu itu sehingga memerlukan banyak biaya. Namun apapun masalah yang dihadapinya, N berusaha mengatasinya dan sejauh ini N mampu mengatasi segala masalahnya secara perlahan-lahan.

  “kesulitannya yah kadang-kadang masalah uang, anak kan mau sekolah. Yah semua lah, orang semua biaya hidup kan kita yang tanggung...kalo istilahnya kita kurang atau kayak mana, ada juga kita mau pinjam-pinjam gitu. Tapi kakak kan ada buka usaha juga di rumah, jadi timbal balik juga kan uang tadi bisa kita putar ntah untuk modal gitu.” (W.N.W.210611.3; baris 338-341 dan baris 349-354) Setelah bercerai, N juga sempat merasa trauma dengan pernikahannya. N trauma jika nantinya menikah lagi dan mendapatkan laki-laki seperti mantan suaminya yang tidak bertanggung jawab dan tidak mampu membiayai secara ekonomi. Oleh karena itu, pada awal masa perceraian, N tidak memikirkan hal lain selain anak. N lebih fokus untuk membesarkan anaknya.

  “trauma...memang biasa aja, cuman kalo jumpa laki-laki yang seperti ini lagi.” (W.N.W.100611.1; baris 676 dan baris 681-682) “gak, ngurus anak.” (W.N.W.110611.2; baris 73)

c. Harapan Responden Untuk Menikah Lagi

  Walaupun merasa trauma dan kecewa dengan pernikahan sebelumnya, N tetap berharap dapat membangun kehidupan rumahtangga yang baru. Harapan N untuk menikah mulai muncul setahun setelah N bercerai. Harapan ini muncul terutama di saat N sedang sendirian atau ketika N melihat pasangan-pasangan berlalu lalang saat N menjaga toko. N juga ingin seperti teman-temannya yang memiliki pasangan.

  “ada kejenuhan aja hidup sendiri kadang-kadang kan, jenuh...kadang- kadang kawan- kawan punya pasangan hidup, kita koq gak.” (W.N.W.110611.2; baris 78-81) Selain itu, N melihat bahwa sebagai perempuan tidak baik jika hidup sendirian. Akan lebih baik jika ada pasangan hidup yang mendampingi dan membantu mengurangi beban hidup.

  “..kekmana namanya perempuan, kadang-kadang kan kalo hidup sendiri, bebannya itu agak banyak juga. Karna kan kalo perempuan yang hidup sendiri itu biasanya dipandang orang pun kurang baek ya.” (W.N.W.100611.1; baris 717-723)

  N juga mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya untuk menikah lagi. Hal ini tentu semakin memperbesar harapan N untuk menikah lagi.

  Keluarga sering menanyakan kapan N akan menikah lagi. Sementara teman- temannya juga ada yang berinisiatif mengenalkan laki-laki untuk N. N menerima dengan positif terhadap dukungan dari teman-teman dan keluarganya tersebut.

  “ada, ‘kapan lagi kapan lagi’. Kakak bilang ya belum ada, belum dapat gitu aja.” (W.N.W.110611.2; baris 88-90) “ada, kadang-kadang ada yang mau menjodohkan.” (W.N.W.110611.2; baris 107-108)

1. Goal

  Tujuan utama N menikah lagi adalah demi anak. N lebih banyak memikirkan kehidupan anaknya daripada kehidupan N sendiri. N berharap dengan menikah lagi, maka anaknya akan mendapatkan sosok seorang ayah lagi. N berharap mendapatkan seorang laki-laki yang bisa menerima dan menyayangi anaknya.

  “...Yah kepengennya yah anak kita tuh nanti kalo udah sekolah, kadang- kadang kita kepengen dia oh ada bapaknya...” (W.N.W.110611.2; baris 173-176) N sendiri memandang pernikahan itu sebagai hal yang penting, karena N berpikir sebagai manusia normal, N tidak mungkin hidup sendiri. N berharap bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi jika N menikah lagi. N berharap dengan menikah lagi, N akan memiliki pendamping hidup yang dapat melindunginya kelak, untuk hari tua, dan untuk membantu dalam kehidupannya.

  “alasannya kalau kita apa namanya, gak mungkin kan hidup sendiri seperti ini aja kan, paling gak kita yang satu kepengen punya masa depan yang lebih baik, trus hari tua kita pun pasti ada kawan kan lebih enak.” (W.N.W.110611.2; baris 201-207) N menentukan target waktu untuk menikah lagi. Oleh karena N memikirkan kepentingan anak dan menikah demi anak, maka N menentukan target minimal anaknya sudah lulus SD baru N akan menikah. N berpikir bahwa pada usia ketika anaknya sudah lulus SD maka anak N akan lebih dewasa dan lebih memahami keadaan sehingga N dapat menikah dengan tenang.

  “Minimal anak saya udah tamat SD... yah sekitar itulah. Udah dia udah mengetahui kekmana hidup ini, udah mengenal, udah lebih dewasa dia gitu kan jadi dia udah mengerti.” (W.N.W.110611.2; baris 233 dan baris 237-240)

2. Pathway Thinking

  Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk

  menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pathway thinking menandakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  N berharap untuk menikah lagi namun N tidak berpikir untuk mencari sendiri atau berkenalan dengan laki-laki. N berpikir bahwa pada waktunya akan datang sendiri laki-laki yang sesuai dengan harapannya karena N juga memiliki banyak teman, baik di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja. N hanya terbuka untuk berteman dengan laki-laki, dan mau berhubungan lebih serius jika ada yang berkenan di hatinya.

  “gak, datang dengan sendirinya aja itu nanti. Kalo memang merasa kita cocok ya udah kita jalanin, kalo gak ya gak gitu.” (W.N.W.110611.2; baris 398-401) “karna udah banyak yang mengenal kita, pribadi kita, sehari-hari kita. Itu yang membuat kita malas mencari, nanti kan kadang-kadang ada yang datang sendiri, yang mau lebih dekat lagi.” (W.N.W.110611.2; baris 544-549) Di satu sisi, N berpikir bahwa anaknya mungkin bisa menjadi hambatan untuk pernikahan kelaknya. Sehingga N berpikir bahwa N harus mulai menyimpan tabungan untuk anaknya agar kelak ketika N menikah, anak tidak lagi menjadi hambatan atau masalah dalam rumahtangganya yang baru.

  “...kepinginnya kalau mau menikah lagi, setidak-tidaknya kakak punya tabungan sendiri jadi kita nanti untuk membiayain anak tidak berat, atau tidak mengharapkan suami kita lagi. Kan lebih enak dia, lebih nyaman kan. Kadang-kadang kan yang namanya rumahtangga mau juga kan, takutnya hari ini dia baik sama kita, besok mempermasalahkan masalah anak kita, kan itu yang dikhawatirkan. Jadi kalo kita punya tabungan sendiri kan kita bebas kasih dia.” (W.N.W.110611.2; baris 247-261)

3. Agency Thinking

  Agency mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai

  tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuannya. Ketika individu menghadapi hambatan, agency membantu individu menerapkan motivasi pada jalur alternatif terbaik.

  N memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri bahwa N bisa menikah lagi. Dari karakteristik pribadi dirinya, N berpikir bahwa dia bukanlah orang yang jahat. Selain itu, N juga memiliki banyak teman dan kenalan, termasuk teman laki-laki yang sudah mengenalnya dengan baik, baik di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja. Hal ini membuat N yakin bahwa suatu hari dia pasti bisa menemukan seseorang yang cocok dengannya dan bisa menikah lagi.

  “kita kan bukan orang jahat.. pasti bisa kan, pasti ada yang mau, gak mungkin gak ada yang mau.” (W.N.W.110611.2; baris 418-421) N juga berpikiran bahwa mungkin anak bisa menjadi hambatan kelak untuk pernikahannya. N berpikiran untuk menyiapkan tabungan untuk anak dan N juga merasa sebagai orang yang suka bekerja keras sehingga pasti bisa mengusahakan tabungan untuk anaknya. Dengan adanya tabungan yang disimpannya sendiri untuk anaknya kelak maka N merasa yakin bahwa N bisa menikah kelak dan anak tidak akan menjadi suatu hambatan.

  “itu tadi lah kita harus punya tabungan sendiri, punya tabungan dulu, udah cukupkah, udah mampukah kita menikah lagi, gitulah.” (W.N.W.110611.2; baris 469-472) N juga berdoa kepada Tuhan untuk diberikan jodoh yang lebih baik lagi.

  Hal ini bisa membantu menimbulkan keyakinan N terhadap harapannya untuk menikah lagi.

  “ada sembahyang, minta supaya jodoh kita lebih baik lagi. Yah seperti biasalah, doa-doa seperti di agama lain kan diajarkan juga.” (W.N.W.110611.2; baris 513-516)

  Selain itu, N memiliki kontrol atas hidupnya sendiri, N yang menentukan bagaimana hidupnya nanti. Orang lain tidak terlalu mempengaruhi hidup N. N juga berpikir bahwa N memiliki kontrol sendiri untuk menikah kelak.

  “yah mudah-mudahan lah, maksudnya yah kalo memang kita mau menikah lagi yah dua-duanya harus udah ada kesepakatan kan.” (W.N.W.110611.2; baris 536-539)

  Tabel 3. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 2

  No Keterangan Responden 2

  • Responden berharap untuk menikah lagi agar anaknya memiliki sosok seorang ayah yang menyayangi anaknya. Responden memandang pernikahan lagi - sebagai hal yang penting agar dia memiliki

  1 Goal pendamping hidup yang melindunginya di hari tua. Responden menentukan target waktu untuk - menikah lagi yaitu minimal setelah anaknya lulus SD. Responden terbuka dengan laki-laki dan mau - berhubungan serius jika ada yang berkenan di hatinya.

  2 Pathway Thinking Responden memiliki pergaulan yang luas baik - di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja.

  Responden berpikir bahwa karakteristik - dirinya sendiri yang membuat dia yakin bisa

  3 Agency Thinking menikah lagi.

  Responden memiliki kontrol atas hidupnya - sendiri.

4. Pembahasan

  Berkaitan dengan harapan menikah lagi, responden 2 memiliki pathway

  

thinking yang rendah dan agency thinking yang tinggi. Responden 2 memiliki tujuan dengan menikah lagi yaitu agar anaknya mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah lagi. Responden 2 yang memiliki anak yang masih kecil, memandang pernikahan sebagai hal yang penting untuk kebahagiaan anaknya dan juga untuk kebahagiaan dirinya di hari tua. Goal yang dibuat oleh responden 2 cukup bernilai dan memiliki kemungkinan untuk dicapai, apalagi responden 2 masih dalam cakupan usia yang tergolong muda dan memungkinkan untuk menikah lagi. Goal yang dibuat responden 2 termasuk tujuan jangka panjang dan mengharapkan sesuatu yang positif terjadi (approach-oriented in nature).

  Namun dalam meraih tujuannya, responden 2 tidak mengembangkan

  pathway thinking yang tinggi. Responden 2 tidak berpikir untuk mencari atau

  mendekati laki-laki. Responden 2 berpikir bahwa dengan pergaulannya yang luas maka suatu hari nanti akan datang laki-laki yang sesuai dengan harapannya. Pada saat itu tiba, responden 2 berpikir untuk membuka diri. Responden 2 hanya berpikir untuk menyiapkan tabungan untuk anaknya agar kelak anak tidak menjadi hambatan untuk pernikahan barunya.

  Walaupun dengan pathway thinking yang rendah, responden 2 memiliki

  

agency thinking yang tinggi berupa keyakinan terhadap dirinya sendiri dari segi

  karakteristik dirinya. Responden 2 berpikir bahwa dirinya bukanlah orang yang jahat sehingga pasti bisa menemukan pasangan hidup yang cocok dengannya.

  Responden 2 memiliki keyakinan yang besar terhadap diri sendiri dan memiliki kontrol internal. Namun, Snyder (1994) menyatakan bahwa individu dengan

  pathway thinking yang rendah dan agency thinking yang tinggi lama-kelamaan dapat kehilangan agency thinking karena tidak mampu mengembangkan pathway thinking.

C. Deskripsi Data III

  1. Riwayat Responden

  Nama : Y Usia : 31 tahun Agama : Buddha Pendidikan Terakhir : D1 Akuntansi Umur pada saat menikah : 22 tahun Lama pernikahan : 7 tahun Memiliki anak/tidak : Memiliki 1 orang anak laki-laki Pekerjaan : Pegawai toko bagian administrasi

  2. Hasil Observasi

a. Wawancara 1

  Responden 3 adalah Y, seorang wanita muda yang masih terlihat bugar dan cantik di usianya yang sudah berkepala tiga. Hal ini mungkin dikarenakan Y rajin berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Sore itu, peneliti membuat janji bertemu dengan Y di sebuah tempat fitness yang biasa dikunjungi Y di kota Medan. Peneliti datang bersama teman peneliti yang biasanya juga melakukan aktivitas kebugaran di sana. Pada saat peneliti sampai di tempat fitness, Y belum datang sehingga peneliti menunggu kedatangan Y sambil melihat aktivitas orang- orang yang sedang berolahraga di tempat fitness tersebut.

  Tempat fitness ini tampak sederhana. Bangunannya hanya bertingkat satu dan tampak luas dan memanjang ke belakang. Begitu masuk ke dalam gedung, di bagian depan terdapat ruangan untuk memarkir kendaraan bermotor dua. Tampak beberapa sepeda motor terparkir berjejer di sana. Di sebelah kanan terdapat pos kecil sedangkan di sebelah kiri terdapat meja dan beberapa kursi serta televisi, tampak seperti ruang tamu. Setelah ruang tamu, terdapat sebuah meja seperti meja resepsionis, dan di belakangnya terdapat lemari yang juga berfungsi menyekat ruangan depan dengan ruangan belakangnya.

  Di ruangan belakang itulah tempat fitness dengan segala peralatan fitness, memanjang hingga ke belakang bangunan tanpa adanya sekat. Sementara di sebelah kanannya dibagi menjadi dua bagian yaitu ruang depan untuk bermain futsal dan ruang belakang untuk senam aerobik. Kedua ruang tersebut hanya disekat dengan menggunakan penutup seperti jala-jala, tidak ada pintu yang menyekat semua ruang di dalam gedung tersebut.

  Di sepanjang ruang fitness, di bagian dinding kiri dipasang kaca dan alas lantainya dipasang matras. Tampak berbagai jenis peralatan kebugaran di sana, serta dua buah televisi terpasang di atas dinding dan dua buah kipas angin besar. Diantara ruang fitness dengan ruang bermain futsal, terdapat jalan yang tidak terlalu lebar untuk berlalu-lalang. Untuk membatasi jalan dengan ruang fitness, dibuat pembatas tembok yang tingginya sekitar 60 cm, dan bisa berfungsi sebagai tempat duduk.

  Tampak beberapa orang sedang melakukan berbagai jenis latihan kebugaran di tempat fitness tersebut. Peneliti duduk di salah satu tembok pembatas sambil menunggu kedatangan Y, sementara teman peneliti pergi melakukan latihan kebugaran di ruang fitness. Sekitar setengah jam kemudian, Y datang bersama dengan temannya. Y berjalan dengan wajah murung. Y masuk ke bagian dalam ruang dan mengganti bajunya dengan pakaian olahraga. Setelah itu, Y datang menghampiri peneliti dengan tersenyum. Peneliti menjelaskan mengenai penelitian ini dan hal-hal seperti apa yang kira-kira nanti akan ditanyakan kepada Y. Y menyetujuinya dan mengajak peneliti untuk mengobrol di bagian dalam ruangan yang lebih sepi.

  Y memiliki postur tubuh yang bagus, dengan tinggi 160 cm dan berat 48 kg. Sore itu, Y mengenakan pakaian olahraga berupa baju kaos ketat berwarna merah dan celana olahraga selutut yang ketat berwarna hitam. Rambut lurus Y dengan panjang sebahu lebih dan berwarna kecoklatan dibiarkan terurai dengan poni depan dijepit keatas. Y tampak santai duduk di depan peneliti dan bersiap untuk menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti. Peneliti mengeluarkan alat rekaman dan meminta izin kepada Y untuk merekam wawancara. Y mengizinkannya. Y menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dan sambil memandang peneliti. Kadang-kadang Y terdiam dan melihat ke arah lain, berusaha mengingat hal-hal tertentu. Y duduk dengan posisi menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri. Kadang-kadang Y duduk tegak dan condong ke depan, kadang-kadang condong agak ke belakang dengan tangan kiri menopang tubuh.

  Beberapa kali Y menjawab pertanyaan dengan senyum dan bahkan tertawa.

  Ketika wawancara selesai, peneliti berpamitan kepada Y. Y langsung beranjak ke salah satu peralatan fitness dan melakukan beberapa gerakan latihan di sana. Y tampak lincah dalam gerakan yang dilakukannya.

b. Wawancara 2

  Sore itu, peneliti pergi ke tempat fitness Y setelah membuat janji bertemu sebelumnya. Ketika peneliti datang, Y belum datang ke tempat fitness. Peneliti menunggu kedatangan sambil melihat beberapa orang sedang melakukan beberapa latihan olahraga di tempat fitness tersebut. Hari itu, tempat fitness terlihat ramai. Di bagian belakang, ada sekumpulan wanita paruh baya yang sedang melakukan senam aerobik diiringi musik yang cukup keras. Sementara di ruangan depan tampak beberapa pria sedang melakukan latihan fisik menggunakan alat-alat olahraga yang tersedia di ruangan. Sekitar 15 menit kemudian, musik berhenti. Ternyata sekumpulan wanita paruh baya tersebut telah selesai melakukan senam aerobik. Kini mereka duduk-duduk sambil mengelap keringat mereka dengan handuk kecil.

  Peneliti melihat pada jam tangan, sudah hampir setengah jam peneliti menunggu Y namun Y belum juga datang. Lima menit kemudian Y datang bersama temannya dan langsung menuju ke bagian belakang ruangan. Y melintas di depan peneliti dan tersenyum sekilas terhadap peneliti. Sore itu, Y mengenakan baju kaos berwarna hitam dengan celana olahraga pendek berwarna hitam. Rambut sebahu Y dibiarkan tergerai. Di bagian belakang ruang, Y tampak berbincang-bincang dengan beberapa wanita yang sedang melakukan olahraga.

  Peneliti kemudian menghampiri Y dan sedikit berbincang-bincang mengenai aktivitas Y. Pada saat itu, musik di ruangan diputar dengan suara yang cukup kerasa. Peneliti takut hasil wawancara nantinya tidak bagus terekam atau kurang terdengar akibat suara musik yang cukup keras di ruangan sehingga peneliti mengajak Y agar berbicara di luar ruangan yang terpisah dengan ruang olahraga. Y menyetujuinya dan peneliti mengajak berbicara di ruang tamu gedung tersebut, yang terdapat sebuah meja bundar kayu dan beberapa kursi kayu. Peneliti duduk dan mulai menyiapkan rekaman. Y tampak berdiri, Y meminta izin untuk berbicara sambil tetap berdiri dengan alasan Y baru selesai makan dan Y ingin menjaga bentuk perutnya.

  Peneliti mulai mengawali pembicaraan dengan sedikit bercanda dengan Y dan lantas memulai wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Y menjawab setiap pertanyaan dengan baik. Pada wawancara kali ini, Y tampak lebih banyak berpikir dan menatap ke atas seperti menerawang. Y tetap berdiri dari awal wawancara hingga akhir wawancara. Sesekali Y memegang perutnya dan menopangkan tangan pada meja.

3. Analisa Data

a. Kehidupan Pernikahan dan Latar Belakang Perceraian

  Y adalah anak sulung dari lima bersaudara, hidup dalam keluarga yang sederhana. Setelah lulus dari pendidikan SMA, Y melanjutkan kuliah satu tahun dan mendapatkan gelar D1 akuntansi. Di usianya yang masih muda, Y telah bertemu dengan mantan suami dan kemudian menjalin hubungan berpacaran selama lima tahun. Y merasa telah mengenal pribadi mantan suami dan keluarganya dengan baik. Oleh karena telah menjalin hubungan cukup lama dan telah memantapkan hati satu sama lain, maka Y dan mantan suami memutuskan untuk menikah.

  Y menikah pada umur 22 tahun. Setelah menikah, Y dan mantan suami tinggal di rumah keluarga mantan suami. Y dan mantan suami melanjutkan usaha yang dijalankan oleh keluarga mantan suami. Pada awal pernikahan, Y merasa kehidupan pernikahannya tidak terlalu bahagia. Y dan mantan suami sering bertengkar karena masalah-masalah kecil. Y mulai curiga dengan pergaulan mantan suami dan merasa mantan suami mulai berselingkuh. Namun Y tidak memiliki bukti yang kuat. Pada saat Y hamil delapan bulan, Y mengetahui bahwa mantan suaminya telah berselingkuh. Mantan suami mengakui namun justru balik memarahi Y. Akhirnya mantan suami meninggalkan wanita selingkuhannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

  Pada tahun ketiga pernikahan setelah memiliki anak, Y dan mantan suami pindah dari rumah keluarga dan tinggal berdua di rumah sendiri. Kemudian Y dan mantan suami membuka usaha sendiri dengan modal awal berupa bangunan diberikan oleh mertua Y. Usaha tersebut dikelola sendiri oleh Y. Setelah memiliki anak pun, kehidupan rumhatangga Y tidak membaik. Kelakuan mantan suami tidak juga berubah, mantan suami kembali berselingkuh di belakang Y. Mantan suami selalu bersenang-senang di luar rumah dan bahkan tidak mengurus usaha toko mereka. Y merasa sikap mantan suami ini dikarenakan pergaulan mantan suami, dimana teman-teman mantan suami rata-rata masih bujangan dan jika tidak dibiarkan keluar akan dicap jelek “takut istri” oleh teman-teman mantan suami. Kebebasan yang diberikan Y justru disalahgunakan oleh mantan suami. Y sibuk mengurus usaha toko sementara mantan suami bersenang-senang di luar rumah sepanjang hari dan selalu pulang dini hari. Y bahkan jarang bertemu dengan mantan suaminya walaupun tinggal dalam satu atap.

  Selama pernikahannya, Y sangat banyak mendapat tekanan, merasa sakit hati dan kurang bahagia. Bahkan dengan keluarga mantan suami pun sering terjadi pertengkaran. Y merasa bahwa mantan suami dan keluarganya memiliki sifat arogan dan mau menang sendiri. Y mencoba bertahan dalam kehidupan rumahtangganya karena memikirkan anak. Y berpikir dengan adanya anak, mantan suami bisa berubah dan berpikiran lebih dewasa. Y telah memberi kesempatan kepada mantan suami untuk berubah namun mantan suami tidak juga berubah. Akhirnya setelah bertahan selama tujuh tahun, Y merasa tidak memiliki harapan untuk rumahtangganya lagi, maka Y memutuskan untuk bercerai.

  Y sepakat berpisah dengan mantan suami dan anak tetap diasuh oleh Y. Y dan mantan suami tidak mengurus surat cerai, hanya membuat pernyataan putus hubungan di salah satu koran di kota Medan. Y tidak mengurus surat cerai dengan alasan biaya yang mahal, namun telah ada kesepakatan antara kedua belah pihak dan tidak ada tuntutan setelahnya. Y berencana akan mengurus surat cerai jika akan menikah lagi suatu hari nanti. Setelah berpisah, mantan suami tidak memberikan biaya untuk anak mereka. Namun kadang-kadang, mantan suami masih mau datang melihat atau mengajak anaknya untuk jalan-jalan.

b. Kehidupan Responden Setelah Perceraian

  Selama tujuh tahun pernikahan, Y merasa tertekan dan sakit hati sehingga ketika bercerai tidak ada lagi perasaan sedih dan sakit. Y juga tidak rukun dengan keluarga dari mantan suami sehingga hari-hari selalu dipenuhi dengan keributan dengan keluarga mantan suami. Terlalu banyak sakit hati yang telah dirasakan Y selama pernikahannya sehingga membuat Y tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada mantan suami. Setelah bercerai, Y merasa lebih tenang dan lebih nyaman menjalani hidup.

  “gak ada lagi, perasaannya udah gak ada lagi. Makan hati terus tujuh tahun, mana ada lagi perasaan kekgitu, gak sedih lagi.” (W.T.W.140611.1; baris 325-328) “lebih lempang, gak ada beban.” (W.T.W.140611.1; baris 358) Yang membuat Y bersedih adalah status baru yang disandangnya setelah bercerai yaitu sebagai janda. Y mendapat cemoohan dari orang-orang di lingkungannya karena Y telah bercerai. Bahkan anak Y sendiri mendengar cemoohan tersebut, anak Y diejek oleh teman-temannya sebagai anak dari seorang janda. Mendengar perkataan seperti itu, Y tentu merasa sedih dan sakit hati. Namun Y tetap berusaha sabar menghadapi hal tesebut.

  “nanti anak ngadu, ‘mak, itu kawan bilang mamak janda’. Yah itu pasti ada perasaan sedikit sedih lah, sakit. Tapi itu memang kenyataan yang harus dihadapi kan, cumanya yah mau bilang apa lagi.” (W.T.W.140611.1; baris 412-417)

  Masalah lain yang kemudian dihadapi Y setelah bercerai adalah masalah keuangan, apalagi anak Y pada saat itu masih kecil dan memerlukan biaya untuk bersekolah. Y berusaha mengurus dan membiayai keperluan anaknya sendiri. Sebelum mendapatkan pekerjaan, Y membantu ibunya berjualan sarapan dan Y juga berjualan baju atau barang-barang lain yang dipasok dari temannya. Y lebih menfokuskan diri untuk bekerja dan membesarkan anak setelah bercerai.

  “yah masalah pasti ada kan, waktu awalnya kita belum punya pekerjaan. Keuangan untuk sekolah anak kan terganggu, kadang kesulitannya disitu.” (W.T.W.140611.1; baris 397-401) “gak juga. Sebelum dapat kerja, bantu orangtua... ada jual-jual baju, apa lah..jual apa aja yang bisa dapat untung. Ambe sama kawan, kita jual.” (W.T.W.140611.1; baris 447-448 dan baris 456-458) Setelah bercerai, Y memiliki sedikit perasaan trauma terhadap pernikahan sebelumnya. Y memiliki ketakutan kalau kelak mendapatkan laki-laki yang seperti mantan suaminya. Namun Y berusaha menepis perasaan trauma dan ketakutan tersebut dengan berpikir positif.

  “sedikit trauma. Yah pasti ada, takut dia seperti suami yang dulu. Tapi ya kita pikir lagi kan sifat cowok kan lain-lain, jadi gak bisa pukul rata semua cowok itu jahat, gak bertanggung jawab. Jadi dibuang lho rasa trauma itu.” (W.T.W.140611.1; baris 540-546) Setelah bercerai, Y lebih berfokus untuk bekerja dan membesarkan anaknya. Y juga memiliki teman yang dapat diajak berbagi dan bercerita sehingga dengan adanya dukungan dari teman-teman, Y merasa lebih terbantu dalam menjalani hidup setelah bercerai.

c. Harapan Responden Untuk Menikah Lagi

  Setengah tahun setelah bercerai, Y mulai membuka diri dengan pergaulan dengan laki-laki. Hal ini juga didorong karena adanya laki-laki yang mendekati dirinya dan ingin berteman. Y menanggapi positif setiap pertemanan dengan laki- laki lain. Namun Y tetap berhati-hati dan lebih memilih dalam berteman dengan laki-laki karena adanya ketakutan akan dipermainkan oleh laki-laki.

  “gak lah, namanya juga ada yang deketin yah kita tanggapin positif. Maksudnya kalo ada yang deketin kita ya kita berpikiran positif aja. Kalo cocok yah baru mikir ke tahap yang lebih, ntah jadi pacar.” (W.Y.W.280611.2; baris 49-54) Setahun setelah bercerai, Y bertemu dengan seorang laki-laki dan menjalin pertemanan dekat dengannya. Setelah saling mengenal lebih dekat, pertemanan ini berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Y merasa laki-laki yang menjadi pacarnya sekarang bisa memahami keadaan dirinya dan menerima anaknya.

  Hubungan Y dengan pacarnya telah berjalan setahun lamanya.

  “...kita udah saling kenal satu sama lain, yah coba ke tahap yang lebih serius lagi. Dia bisa memahami keadaan saya, yah kita kasih kesempatan buat jadi pasangan.” (W.Y.W.280611.2; baris 115-119) Awalnya, Y tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi. Namun setelah menjalin hubungan serius dengan pacarnya, Y mulai mengenal pribadi dan sifat pacarnya. Hal ini membuat Y berpikiran dan berharap untuk menikah lagi.

  “...inilah setelah setahun pacaran, kita lebih ngenal pribadinya seperti apa baru kita berani ambil keputusan, kalau dia serius ngajak nikah lagi ya kita mau gitu.” (W.T.W.140611.1; baris 574-578)

  Harapan menikah lagi muncul karena Y melihat dirinya masih muda dan masih bisa memulai kehidupan baru jika nantinya bertemu dengan laki-laki yang baik. Selain itu, Y juga masih memiliki keinginan memiliki pasangan hidup.

  “yah sebagai seorang wanita yang masih muda ya masih pengen punya pasangan hidup kan, ya masih ingin memulai dari awal lagi kalo jumpa cowok yang baik.” (W.T.W.140611.1; baris 505-509)

1. Goal

  Tujuan Y menikah lagi adalah untuk mendapatkan pasangan hidup yang baru. Selain itu, Y juga memikirkan anaknya. Y berharap dengan menikah lagi, anaknya bisa mendapatkan sosok seorang ayah dan merasakan kasih sayang dari seorang ayah lagi.

  “yah pasangan hidup. Supaya anak kita nanti punya ayah lagi, punya orangtua barulah, tapi bapak yang bisa sayang sama anaknya.” (W.T.W.140611.1; baris 512-515) Pada dasarnya, Y memandang pernikahan lagi sebagai hal yang tidak terlalu penting. Hanya saja, Y memikirkan anaknya dan juga dirinya sendiri.

  Bagaimanapun juga, Y berpikir bahwa hidup seseorang akan lebih nyaman jika memiliki teman yang dapat diajak untuk saling berbagi. Apalagi seorang wanita tentu lebih membutuhkan kehadiran pasangan hidup untuk tempat bersandar.

  “orang hidup kalo gak punya teman untuk curhat, gak punya teman yang bisa untuk membantu menghadapi masalah kita, kan gak enak kan. Kita menikah lagi, punya suami, suami kan bisa membantu waktu kita punya masalah, kita bisa..yah untuk bertopang hidup lah. Yah perempuan punya suami kan, untuk bisa bersandar kan, sebagai teman, sebagai sahabat, yah semuanya lah.” (W.T.W.140611.1; baris 526-236)

2. Pathway Thinking

  Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk

  menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pathway thinking menandakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  Walaupun Y selalu menanggapi setiap pertemanan dengan laki-laki secara positif, namun Y tetap berhati-hati dalam berteman. Y berpikir untuk lebih berhati-hati jika ingin berhubungan serius dengan laki-laki sehingga Y dapat menemukan pasangan hidup yang benar-benar sesuai dengan harapannya.

  “karna kita kan mikirnya ntah cowok ini serius gak sama kita. Kita takutnya cowok ini hanya mempermainkan kita. Dari awal kita mikir, lebih berhati-hati dalam berteman dengan cowok gitu. Takutnya cowok itu hanya mau ambil keuntungan dari kita. Agak memilih lah.” (W.Y.W.280611.2; baris 61-68) Harapan Y untuk menikah lagi muncul setelah Y menjalin hubungan yang serius dengan pacarnya yang sekarang. Saat ini, Y hanya berpikiran untuk menjalani hubungan dengan sang pacar sebaik mungkin dan mulai mengenal pribadi satu sama lain lebih jauh lagi. Y berpikir dengan saling mengenal lebih dekat lagi, Y dan pacar dapat semakin memantapkan hati untuk menikah kelak.

  “Yang jelas sekarang kita jalanin yang sekarang aja, ke depannya nanti gimana baru kita pikirkan. Saat ini yah kita jalanin aja dulu baik-baik, sama-sama saling mengenal dulu, lebih dekat. Buat image yang positif aja lah sama hubungan ini.”

  (W.Y.W.280611.2; baris 193-200)

3. Agency Thinking

  Agency mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai

  tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuannya. Ketika individu menghadapi hambatan, agency membantu individu menerapkan motivasi pada jalur alternatif terbaik.

  Y memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri bahwa dia pasti bisa menikah lagi suatu hari nanti. Walaupun saat ini Y belum mendapatkan restu dari orangtua pacarnya, namun Y tetap yakin dengan niatnya untuk menikah. Y tetap menjalani hubungannya dengan sang pacar dengan berpikiran optimis.

  “ada, memang ada kepikiran. Tapi suatu hal yang belum terjadi kalo udah kita takutkan, kan menghambat langkah namanya kan. Jadi ya kita melangkah terus aja ya kan.” (W.Y.W.280611.2; baris 338-342) Selain itu, Y memiliki kontrol atas hidupnya sendiri. Y tidak terlalu terpengaruh dengan perkataan orang lain. Y mampu memilih mana yang baik untuk hidupnya sendiri. Hal ini yang membuatnya yakin pada diri sendiri dalam menjalani hidup ini.

  “orang lain boleh mempengaruhi tapi kan keputusannya kita sendiri kan. Kuncinya kan sama kita sendiri. Orang lain yah paling, biasalah omongan orang lain kan banyak kan. Yah kita yang mana yang baik yah kita turutin, yang gak baik yah kita gak turutin.” (W.Y.W.280611.2; baris 272-279)

  Tabel 4. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 3

  No Keterangan Responden 3

  Responden berharap mendapatkan pasangan - hidup yang baru dan anaknya mendapatkan sosok seorang ayah.

  • 1 Goal Responden memandang pernikahan lagi sebagai hal yang tidak terlalu penting. Responden tidak menentukan target waktu - untuk menikah. Responden berpikir untuk lebih berhati-hati - dalam berhubungan dengan laki-laki.
  • 2 Pathway Thinking Responden berpikir untuk menjalin hubungan dengan pacar sebaik mungkin dan lebih saling mengenal satu sama lain. Responden memiliki rasa optimis dalam - dirinya bahwa dia pasti bisa menikah suatu 3 Agency Thinking hari nanti.

  Responden memiliki kontrol atas hidupnya - sendiri.

4. Pembahasan

  Responden 3 dapat dikatakan memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena memiliki pathway thinking dan agency thinking yang tinggi. Harapan menikah lagi muncul pada responden 3 setelah dia bertemu dengan pacarnya yang sekarang dan menjalin hubungan yang serius. Tujuan menikah lagi bagi responden 3 adalah agar anaknya memiliki seorang ayah lagi dan dirinya juga kembali memiliki pendamping hidup. Bagi responden 3, pernikahan lagi bukanlah hal yang terlalu penting namun responden 3 berpikir bahwa wanita membutuhkan kehadiran pasangan hidup untuk membuat hidupnya lebih nyaman. Dengan demikian, goal yang dibuat responden 3 cukup bernilai bagi dirinya dan berjangka panjang.

  Responden 3 memiliki pathway thinking yang tinggi karena dia mampu memikirkan usaha-usaha agar bisa menikah kembali. Sebelumnya, responden 3 berpikir untuk lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan laki-laki karena pengalaman kegagalan pernikahan sebelumnya. Saat ini, responden 3 berpikir untuk lebih mengenal pacarnya dan menjalani hubungan sebaik mungkin sehingga semakin memantapkan pilihan hatinya. Walaupun responden 3 belum mendapatkan restu orangtua pacar namun dia berpikir bahwa dengan menjalin hubungan yang baik dan positif dengan pacar, maka perlahan-lahan dia bisa mendapatkan restu dari orangtua pacar.

  Snyder (2002) menyatakan bahwa agency thinking akan lebih berguna pada saat individu menjumpai hambatan. Hambatan yang dirasakan responden 3 saat ini adalah tidak mendapatkan restu dari orangtua pacar. Dalam menghadapi hambatan ini, responden 3 memiliki agency thinking yang tinggi berupa keyakinan dan tetap berpikir optimis dalam melangkah saat ini. Responden 3 berpikir untuk tidak perlu terlalu khawatir karena hanya akan menghambat langkahnya.

D. Analisa Antar Responden dan Pembahasan

  Tabel 5. Analisa Identitas Diri Ketiga Responden

  No Keterangan Responden 1 Responden 2 Responden 3

  1 Nama T N Y

  2 Usia 43 tahun 31 tahun 31 tahun

  3 Agama Islam Islam Buddha Pendidikan

  4 SMA SMA D1 Akuntansi Terakhir Umur pada saat 5 22 tahun 22 tahun 22 tahun menikah Lama 6 10 tahun 2 tahun 7 tahun pernikahan

  7 Jumlah anak 1 anak laki-laki 1 anak perempuan 1 anak laki-laki

  8 Pekerjaan Penjual bunga Pegawai toko sepatu Pegawai toko bagian administrasi Mantan suami ingin menetap di

  Mantan suami selingkuh dan tidak Latar belakang Mantan suami menikah lagi Pekanbaru sedangkan responden

  9 lagi memperhatikan responden dan perceraian diam-diam. ingin tetap di Medan, masalah anaknya. ekonomi.

  Universitas Sumatera Utara Tabel 6. Analisa Komponen Harapan Menikah Lagi Pada Ketiga Responden

  No Keterangan Responden 1 Responden 2 Responden 3

  • Responden 1 berharap mendapatkan pendamping hidup yang dapat memberikan kasih sayang, menjaganya di saat sakit, dan untuk hari tuanya serta dapat membantu dalam masalah ekonomi.
  • Responden 1 memandang pernikahan lagi sebagai hal yang tidak terlalu penting.
  • Responden 1 tidak menentukan target waktu untuk menikah.
  • Responden 2 berharap agar anaknya memiliki sosok seorang ayah yang menyayangi anaknya.
  • Responden 2 memandang pernikahan lagi sebagai hal yang penting agar dia memiliki pendamping hidup yang melindunginya di hari tua.
  • Responden 2 menentukan target waktu menikah lagi yaitu minimal setelah anaknya lulu
  • Responden 3 berharap mendapatkan pasangan hidup yang baru dan anaknya mendapatkan sosok seorang ayah.
  • Responden 3 memandang pernikahan lagi sebagai hal yang tidak terlalu penting.
  • Responden 3 tidak menentukan target waktu untuk menikah.

  1 Goal

  • Responden 1 berpikir untuk mencari dan lebih terbuka dengan laki-laki, mulai bersimpatik, dan lebih banyak berkumpul bersama teman.
  • Responden 2 terbuka dengan laki- laki dan mau berhubungan serius jika ada yang berkenan di hatinya.
  • Responden memiliki pergaulan yang luas baik di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja.
  • Responden 3 berpikir untuk lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan laki-laki.
  • Responden 3 berpikir untuk menjalin hubungan dengan pacar sebaik mungkin dan lebih

  2 Pathway Thinking

  Universitas Sumatera Utara Responden 1 lebih berhati- saling mengenal satu sama lain. - hati dalam memilih pasangan.

  Responden 1 merasa yakin -

  • Responden 2 berpikir bahwa - Responden 3 memiliki rasa dengan dirinya sendiri bahwa karakteristik dirinya sendiri yang optimis dalam dirinya bahwa dia dia bisa menikah lagi suatu membuat dia yakin bisa menikah pasti bisa menikah suatu hari

  3 Agency Thinking hari nanti, yakin pada hati lagi. nanti. kecilnya.

  Responden 3 memiliki kontrol - Responden 2 memiliki kontrol atas -

  • Responden 1 memiliki hidupnya sendiri. atas hidupnya sendiri.

  kontrol atas hidupnya sendiri.

  Universitas Sumatera Utara Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa ketiga responden memiliki harapan untuk menikah lagi untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik dalam hidupnya. Dengan perceraian yang pernah dialami tidak menjadi hambatan bagi ketiga responden untuk mengembangkan harapan menikah lagi. Seperti yang dikatakan oleh Papalia (2007) bahwa perceraian sebagai suatu proses pembedahan yang menyakitkan dan traumatis namun diperlukan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan mencerminkan suatu keinginan untuk menikah lagi dengan bahagia. Namun dari ketiga responden, hanya responden 1 dan 3 yang dapat dikatakan memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mampu mengembangkan pathway thinking dan agency thinking yang tinggi. Sementara responden 2 memiliki agency thinking yang tinggi dan pathway thinking yang rendah. Seperti yang dikatakan oleh Snyder (1994) menyatakan bahwa individu dikatakan memiliki harapan tinggi jika individu memiliki pathway thinking dan agency thinking setelah menetapkan tujuan.

  Snyder (dalam Carr, 2004) menyatakan bahwa harapan akan menjadi lebih kuat jika harapan disertai dengan adanya tujuan yang bernilai yang memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai. Harapan pada ketiga responden menjadi kuat dengan adanya tujuan mereka ingin menikah lagi. Tujuan yang dibentuk oleh ketiga responden muncul sebagai akibat dari tujuan yang tidak tercapai karena adanya perceraian. Pada dasarnya, ketiga responden berharap menikah lagi untuk mendapatkan pendamping hidup yang dapat memberikan kebahagiaan. Oleh karena itu, goal yang dibentuk termasuk tujuan jangka panjang. Selain itu, responden 2 dan 3 yang masih memiliki anak yang kecil, berharap menikah lagi agar anak mereka mendapatkan kembali sosok seorang ayah yang dapat memberikan kasih sayang karena mantan suami tidak lagi memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak mereka. Goal yang dibentuk oleh ketiga responden temasuk mengharapkan sesuatu yang positif untuk terjadi atau approach-oriented

  in nature seperti yang dinyatakan oleh Lopez, Snyder & Pedrotti (2003).

  Selain itu, goal yang ingin dicapai ketiga responden dengan menikah lagi sesuai dengan alasan individu menikah yang dikemukakan oleh Bray, Coleman, Ganong & Fine (dalam Craig, 2001) bahwa individu menikah lagi dengan alasan cinta, masalah finansial, untuk mendapatkan bantuan dalam mengasuh anak, menghilangkan rasa kesepian, dan penerimaan sosial. Pada dasarnya, ketiga responden berharap menikah lagi untuk mendapatkan cinta dan menghilangkan rasa kesepian di masa tua. Ketiga responden juga menikah dengan alasan penerimaan sosial, dimana setelah bercerai ketiga responden mendapatkan cemooh dari lingkungan sekitar karena status janda. Selain itu, responden 1 menikah lagi juga untuk mendapatkan bantuan mengatasi masalah finansial.

  Sementara responden 2 dan 3 menikah lagi lebih condong untuk memberikan sosok seorang ayah untuk anak.

  Berkaitan dengan harapan menikah lagi, ketiga responden memiliki

  pathway thinking yang berbeda-beda. Responden 1 dan 3 memiliki pathway thinking yang tinggi sementara responden 2 memiliki pathway thinking yang

  rendah. Responden 1 mengembangkan pathway thinking berupa lebih banyak melibatkan diri dalam lingkungan sosial, dan mencari atau berkenalan dengan laki-laki. Responden 3 mengembangkan pathway thinking berupa menjalin hubungan dengan pacar sebaik mungkin dan saling mengenal lebih dekat. Sementara responden 2 tidak memiliki pathway thinking, hanya berpikir bahwa suatu hari akan datang dengan sendirnya seseorang yang sesuai dengan harapannya.

  Dalam mengembangkan harapan untuk menikah lagi, ketiga responden juga memiliki ketakutan jika mendapatkan pasangan baru yang sama sifatnya seperti mantan suami dan mereka juga takut mengalami kegagalan untuk pernikahan kedua kalinya. Seperti yang dikatakan bahwa resiko perceraian lebih besar pada pasangan yang menikah lagi (Hetherington dan Stanley-Hagan dalam DeGenova, 2008). Oleh karena itu, ketiga responden lebih berhati-hati dalam memilih pasangan baru, ini sebagai salah satu dari pathway thinking mereka.

  Ketiga responden memiliki agency thinking yang tinggi, berupa keyakinan dan rasa optimisme untuk bisa menikah lagi kelak. Seperti yang dikatakan Snyder (2000) bahwa optimisme merupakan karakteristik dari individu yang memiliki harapan yang tinggi. Responden 1 yakin dengan hati kecilnya bahwa dia bisa menikah lagi apalagi dengan tidak adanya lagi hambatan yang dirasakannya saat ini. Responden 2 berpikir bahwa keyakinannya bisa menikah lagi karena melihat karakteristik dirinya sendiri yang baik. Responden 3 memiliki rasa optimis dan berpikir untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi.

  Responden 2 dan 3 juga menjumpai hambatan lain dalam pengembangan harapan menikah lagi karena mereka memiliki anak yang masih kecil. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan DeGenova (2008) bahwa hubungan keluarga yang menikah lagi menjadi lebih kompleks ketika salah satu pasangan memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Responden 2 dan 3 berpikiran bahwa anak mungkin akan menjadi masalah untuk pernikahan barunya sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memilih sosok ayah yang bisa menyayangi anak mereka. Responden 2 juga berpikir untuk mulai mempersiapkan tabungan untuk anaknya sehingga dengan adanya tabungan ini maka anak tidak lagi akan menjadi hambatan untuk pernikahannya. Responden 2 juga memiliki keyakinan bahwa dia dapat mengusahakan tabungan karena dirinya juga termasuk orang yang suka bekerja keras. Sementara responden 1 tidak memiliki hambatan karena anaknya kini sudah dewasa.

  Weil (2000) mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi harapan yaitu dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol. Hal ini juga terlihat dari ketiga responden. Ketiga responden mendapatkan dukungan sosial dalam hidupnya sehingga lebih membantu mereka dalam mengatasi masalah- masalah dalam hidup. Pada dasarnya, ketiga responden tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan keluarga mereka sehingga mereka lebih banyak mendapatkan dukungan dari teman. Dukungan yang didapatkan ketiga responden termasuk ke dalam dukungan emosional. Dukungan emosional mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan, yang dapat memberikan dampak positif berupa membuat individu merasa nyaman, tenteram, diperhatikan, serta dicintai saat menghadapi berbagai tekanan dalam hidup mereka (Sarafino, 2006).

  Ketiga responden juga memiliki kepercayaan religius yang ditunjukkan melalui sikap berdoa kepada Tuhan. Kepercayaan religius menurut Weil (2000) juga dijelaskan sebagai kepercayaan dan keyakinan seseorang pada hal positif. Ketiga responden berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk masalah yang dihadapi dan meminta agar diberikan jodoh yang lebih baik sebagai hal positif yang diharapkan.

  Kemampuan individu akan kontrol juga mempengaruhi harapan yang terbentuk dalam individu. Ketiga responden memandang diri sendiri memiliki kontrol atas hidup mereka dan tidak terlalu dipengaruhi oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga responden memiliki sumber kontrol internal yang juga merupakan karakteristik psikologis individu yang memiliki harapan tinggi seperti yang dikemukakan oleh Snyder (2000).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran yang

  berhubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian. Adapun saran-saran yang dikembangkan dalam bab ini berupa saran praktis dan saran metodologis yang mungkin berguna untuk penelitian yang selanjutnya dengan tema yang serupa.

A. KESIMPULAN

  Berdasarkan analisa data dan pembahasan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari ketiga responden, responden 1 dan responden 3 dapat dikatakan memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki agency thinking yang tinggi namun pathway

  thinking yang rendah karena dia memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah

  lagi namun tidak memikirkan usaha-usaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi.

  2. Ketiga responden menetapkan goal menikah lagi untuk mendapatkan pendamping hidup yang dapat memberikan kebahagiaan. Untuk responden 2 dan 3 yang memiliki anak yang masih kecil, maka mereka juga membuat goal lain yaitu untuk memberikan sosok seorang ayah untuk anaknya.

  3. Ketiga responden mengembangkan pathway thinking yang berbeda-beda dimana responden 1 berpikir untuk berusaha mencari dan terbuka dengan laki-laki, responden 2 tidak terlalu memikiran usaha-usaha, dan responden 3 berpikir untuk menjalin hubungan dengan pacarnya sebaik mungkin saat ini dan lebih saling mengenal satu sama lain.

  4. Ketiga responden memiliki agency thinking berupa keyakinan dan rasa optimis untuk bisa menikah lagi. Hambatan-hambatan yang dijumpai responden dapat diatasi dengan adanya agency thinking yang dikembangkan oleh masing-masing responden.

  5. Harapan ketiga responden untuk menikah lagi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol. Ketiga responden mendapatkan dukungan sosial terutama dari teman mereka. Ketiga responden juga berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk masalah yang dihadapi dan meminta agar diberikan jodoh yang lebih baik sebagai hal positif yang diharapkan. Selain itu, ketiga responden juga memiliki sumber kontrol internal dan tidak terlalu dipengaruhi oleh orang lain.

B. SARAN

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan, peneliti memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan penelitian ini. Saran-saran berikut ini diharapkan dapat berguna bagi perkembangan studi ilmiah mengenai harapan.

  1. Saran Metodologis

  a. Responden pada penelitian ini umumnya berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah sehingga mereka menjumpai masalah ekonomi setelah bercerai dan juga menjadi salah satu alasan mereka untuk menikah lagi. Penelitian selanjutnya mengenai harapan untuk menikah lagi diharapkan mengambil responden dari tingkat sosioekonomi menengah ke atas.

  b. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa anak bisa saja menjadi hambatan untuk pernikahan baru. Untuk penelitian selanjutnya dapat digunakan responden yang tidak memiliki anak dari pernikahan sebelumnya sehingga dapat dilihat hambatan lain yang mungkin muncul pada responden dalam mengembangkan harapan untuk menikah lagi.

  c. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dukungan sosial memiliki dampak yang baik dan membantu dalam pengembangan harapan pada wanita bercerai. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melihat hubungan variabel harapan dengan variabel lain seperti dukungan sosial sehingga didapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai konteks harapan.

  2. Saran Praktis

  a. Untuk wanita bercerai, diharapkan dapat mengembangkan harapan untuk menikah lagi. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa ketika wanita bercerai memiliki harapan menikah lagi dalam dirinya, maka wanita bercerai akan lebih berusaha mengembangkan pemikiran-pemikirannya untuk mencapai tujuannya yaitu agar bisa menikah lagi dan memiliki keyakinan untuk menjalankan pemikiran-pemikiran tersebut.

  b. Untuk wanita bercerai, dapat memanfaatkan manfaat dari mengembangkan harapan untuk menikah lagi karena dikatakan bahwa individu yang memiliki harapan menikah lagi yang tinggi memiliki pemikiran yang aktif dan mampu mengatasi hambatan-hambatan dengan memikirkan jalur alternatif.

  c. Untuk wanita bercerai, dapat memanfaatkan dengan baik dukungan sosial dari teman dan keluarganya dalam pembentukan harapan untuk menikah lagi, karena terlihat bahwa dukungan sosial dapat mendorong individu dalam pembentukan harapan menikah lagi dan mengatasi hambatan- hambatannya.

  d. Dari hasil penelitian terlihat bahwa setelah bercerai, wanita bercerai masih mendapat cemoohan dari masyarakat dan bahkan ketika hendak menikah lagi juga terdengar pembicaraan dari masyarakat. Hal ini bisa menjadi hambatan bagi wanita bercerai yang berharap untuk menikah lagi. Oleh karena itu, untuk masyarakat agar turut memberikan dukungan dan penilaian positif terhadap harapan wanita untuk menikah lagi.

  e. Untuk pembaca, diharapkan mendapatkan gambaran mengenai pembentukan harapan menikah lagi pada wanita bercerai sesuai dengan teori harapan menurut Snyder yang memiliki komponen goal, pathway thinking, agency thinking.

DAFTAR PUSTAKA

  Carr, Alan. (2004). Positive Psychology, The Science of Happiness and Human Strength. New York: Brunner-Routledge. Craig, Grace. (2001). Human Development, Ninth Edition. USA: Prentice Hall. Curry, L. A., Snyder, C. R, dkk. (1997). The Role Of Hope In Academic And

  Sport Achievement. Journal of Personality and Social Psychology 73: 1257-1267. Dariyo, A. (2002). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT.

  Gramedia Widiasarana Indonesia. DeGenova, M. K. (2008). Intimate Relationship, Marriages & Families, Seventh Edition. New York: McGraw Hill Book Co.

  Gay, R & Airasian, P. (2003). Educational Research: Competencies for Analysis & Application (7th ed). New Jersey: Merill Prentice Hall. Hadi, S. (2004). Metodologi Research, edisi II. Yogyakarta: Penerbit Andi.

  th

  Hollander, E.P. (1981). Principles and Method of Social Psychology (7 ed). New York: Oxford University. Lopez, S. J., Snyder, C. R., & Pedrotti, J. T. (2003). Hope: Many Definitions,

  Many Measures. Dalam S. J. Lopez & C. R. Snyder (Eds). Positive

  Psychological Assessment, A Handbook of Models and Measures (pp. 91- 106). Washington, DC, US: American Psychological Association.

  Matlin, M. W. (2008). The Psychology of Women, Sixth Edition. USA: Thomson Wadsworth. Moleong, L. J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke enam belas.

  Bandung: PT Rosdakarya Offset. Newman & Newman. (2006). Development Through Life, A Psychosocial Approach, Ninth Edition. USA: Thomson Wadsworth.

  Padget, D. K. (1998). Qualitative Method in Social Work Research: Challenges and Rewards. Stage Publication, Inc.

  th

  Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human Development, 10 edition. New York: McGraw-Hill Book Co.

  Poerwandari, E. K. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku

  Manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  Santrock, J. W. (2003). Adolescense, Perkembangan Remaja Edisi Keenam.

  Jakarta: Erlangga. Alih bahasa Dra Shinto B Adelar, M.Sc. Sherly Saragih, S.Psi. Shorey, H. S., Snyder, C. R., dkk. (2002). Somewhere Over The Rainbow: Hope Theory Weathers Its First Decade. Psychological Inquiry 13(4): 322–331. Sigelman, C. K., & Rider, E. A. (2003). Life-Span Human Development, Fourth Edition. USA: Thomson Wadsworth. Snyder, C.R. (1994). The Psychology of Hope: You can get there from here. New York: The Free Press. Snyder, C. R. (2000). Hypothesis: There is Hope. Dalam C. R. Snyder (Ed).

  Handbook of Hope: Theory, Measures, and Application (pp. 3-21). San Diego, CA: Academic Press.

  Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry 13(4): 249-275. Snyder, C. R., Rand, K. L., & Sigmon, D. R. (2002). Hope Theory A Member of Positive Psychology Family. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds).

  Handbook of Positive Psychology (pp. 257-276). New York: Oxford University Press.

  Weil, C.M. (2000). Exploring Hope in Patients With End Stage Renal Disease on Chronic Hemodialysis. ANNA Journal, 27, 219-223. Diakses tanggal 17 Desember

  2010.

  Lampiran 1

  VERBATIM

  Lampiran 2

INFORMED CONSENT

  Pernyataan Pemberian Izin oleh Responden

  Judul Penelitian : Harapan Untuk Menikah Kembali Pada Wanita Bercerai Peneliti : Debby Isabella NIM : 071301026 Saya yang bertandatangan di bawah ini, dengan secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun, bersedia berperan serta dalam penelitian ini.

  Saya telah diminta dan telah menyetujui untuk diwawancarai sebagai responden dalam penelitian mengenai harapan untuk menikah kembali pada wanita bercerai. Peneliti telah menjelaskan tentang penelitian ini beserta dengan tujuan dan manfaat penelitiannya. Dengan demikian saya menyatakan kesediaan saya dan tidak berkeberatan memberikan informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya.

  Saya mengerti bahwa identitas diri dan juga informasi yang saya berikan akan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian saja.

  Medan, Mei 2011 (Responden) (Debby Isabella)

  Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA

  I. Riwayat Responden

  1. Umur

  2. Jenis Kelamin

  3. Tempat Tinggal

  4. Pendidikan terakhir

  5. Umur pada saat menikah

  6. Memiliki anak/tidak

  7. Kegiatan sehari-hari/pekerjaan

  II. Perceraian

  1. Berapa usia anda pada saat bercerai?

  2. Apa yang melatarbelakangi perceraian yang terjadi pada anda?

  3. Bagaimana perasaan anda saat dihadapkan dengan keputusan bercerai?

  4. Bagaimana anda memandang hidup anda setelah perceraian itu?

  5. Bagaimana pandangan orang-orang terdekat anda mengenai perceraian anda?

  6. Masalah-masalah apa saja yang harus anda hadapi setelah perceraian?

  III. Harapan untuk menikah kembali

A. Goal

  1. Apa yang menjadi tujuan anda dengan menikah kembali? Mengapa anda ingin menikah kembali?

  2. Seberapa pentingkah menikah kembali bagi anda?

  3. Mengapa anda berpikir bahwa menikah kembali penting untuk anda?

  4. Apakah anda berpikir bahwa anda memiliki kemungkinan besar bisa menikah kembali? Jika iya, mengapa? Jika tidak, mengapa?

  5. Apakah anda menentukan target waktu untuk menikah kembali? Mengapa anda menentukan target tersebut?

  6. Jika anda tidak bisa menikah kembali, apa yang mungkin akan terjadi pada anda?

  B. Pathway Thinking

  1. Bagaimana anda merencanakan usaha-usaha agar dapat menikah kembali?

  2. Dapatkah anda jelaskan usaha-usaha yang telah anda pikirkan agar bisa menikah kembali?

  3. Apakah usaha tersebut muncul dari diri anda sendiri atau dari orang lain?

  4. Sejauh ini, usaha apa saja yang telah anda lakukan dari usaha-usaha yang anda pikirkan itu?

  5. Jika usaha yang anda rencanakan sebelumnya tidak berjalan dengan baik, apakah yang mungkin terjadi?

  6. Bagaimana kemungkinan munculnya usaha atau rencana lain jika rencana awal anda tidak berjalan dengan baik atau ketika anda menjumpai hambatan?

  7. Apakah anda dengan mudah mampu memikirkan usaha-usaha lain untuk menggantikan usaha anda yang gagal?

  C. Agentic Thinking

  1. Bisakah anda jelaskan bagaimana keyakinan anda bahwa anda bisa menikah kembali?

  2. Bisakah anda jelaskan apa yang membuat anda berpikir bahwa anda bisa melakukan usaha-usaha yang telah anda rencanakan sebelumnya?

  3. Apa yang membuat anda termotivasi/tidak termotivasi atau merasa mampu/tidak mampu untuk melakukan usaha-usaha yang telah anda rencanakan?

IV. Faktor-faktor yang mempengaruhi Harapan

A. Dukungan Sosial

  1. Bagaimana pandangan keluarga tentang keinginan anda untuk menikah kembali?

  2. Bagaimana pandangan orang-orang di sekitar anda tentang keinginan anda untuk menikah kembali?

  3. Dukungan seperti apa yang anda harapkan dari keluarga anda berkaitan dengan harapan anda menikah kembali? Dukungan apa yang anda terima sekarang?

  4. Bisakah anda ceritakan orang-orang di lingkungan anda yang memberi dukungan kepada anda untuk menikah kembali?

  B. Kepercayaan Religius

  1. Berkaitan dengan religiusitas, apakah anda melakukan suatu usaha religius untuk mencapai tujuan anda menikah kembali?

  2. Usaha religius seperti apa yang anda lakukan?

  3. Bagaimana anda memandang bahwa usaha religius ini dapat membantu anda untuk bisa menikah kembali?

  C. Kontrol

  1. Bagaimana anda melihat kemungkinan anda untuk menikah kembali, apakah sepenuhnya dalam kontrol anda atau dipengaruhi oleh orang lain?

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Agency Thinking DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Agency Thinking Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Agency Thinking Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Agency Thinking Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking Alat Bantu Pengumpulan Data Kredibilitas Penelitian Analisa Antar Responden dan Pembahasan Dampak Perceraian PERCERAIAN 1. Definisi Perceraian Dukungan Sosial Kepercayaan Religius Kontrol GAMBARAN HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA BERCERAI KERANGKA BERPIKIR Goal Pathway Thinking DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Komponen Harapan Harapan Responden Untuk Menikah Lagi Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Kembali Dampak Pernikahan Lagi Kehidupan Responden Setelah Perceraian KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN LATAR BELAKANG MASALAH PENDAHULUAN Pembahasan DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Pembahasan Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Pembahasan Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Pendekatan Kualitatif Metode Pengambilan Data Perkembangan sosioemosional dari pasangan Sejarah perceraian dalam keluarga RUMUSAN MASALAH TUJUAN PENELITIAN Sistematika Penulisan Saran Metodologis Saran Praktis Tahap Pelaksanaan Penelitian Tahap Pencatatan Data Prosedur Analisa Data Usia pada saat menikah Tingkat sosioekonomi Wawancara 2 Hasil Observasi a. Wawancara 1 Wawancara 3 Hasil Observasi a. Wawancara 1 Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

Gratis

Feedback