Feedback

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

Informasi dokumen
HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA BERCERAI SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh: DEBBY ISABELLA 071301026 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA GENAP, 2011/2012 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul : Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku. Medan, Agustus 2011 DEBBY ISABELLA 071301026 Universitas Sumatera Utara Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si ABSTRAK Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan observasi sebagai metode pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usahausaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang dimiliki responden membantu mereka dalam mengembangkan harapan untuk menikah lagi. Kata Kunci: Harapan Menikah Lagi, Wanita Bercerai Universitas Sumatera Utara Hope of Remarriage for Divorced Women Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si ABSTRACT In adjusting the changes in life after divorce, women need to develop hope for getting changes to a meaningful and positive life. Snyder (2000) states that hope can be builded and can be used as a way to better changes. One kind of hope can be developed by divorced women are hope of remarriage which can direct individual to get more positive and meaningful life. The research aims to see the description of hope of remarriage for divorced women. The description of hope of remarriage can be seen through components of hope developed by Snyder, such as goal, pathway thinking, and agency thinking. The research uses qualitative method and takes three participant. The procedure of selecting the participant based on theory-based/operational construct sampling. The research takes place in Medan. Data is yielded by using depth interview and observation as additional method. The result of research shows that the first participant and third participant have high hope of remarriage because they can develop high both pathway thinking and agency thinking even they can also develop another pathway when they see impediment. But second participant only has high agency thinking but low pathway thinking because she has only personal agency to reach the goal but she could not think about pathways to reach the goal. All participant make a clear goal such as get a new spouse for giving happiness. The second participant and third participant who have child from previous marriage, also hope of remarriage to give a new father for her child. The social support, religious belief, and control perceived to participants help them in developing their hope of remarriage. Keywords: Hope of Remarriage, Divorced women Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya maka penulis dapat menjalani tahap demi tahap penyusunan skripsi yang berjudul Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai hingga selesai tepat pada waktunya. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi USU Medan. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU, beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU. 2. Ibu Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si., psikolog, selaku dosen pembimbing penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kesabaran Ibu dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas segala bimbingan, masukan, kritikan, dan dukungan moril yang telah Ibu berikan kepada penulis. 3. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu, wawasan dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis dan seluruh staf administrasi yang bersedia membantu penulis dalam pengurusan administrasi dan menyediakan segala keperluan selama perkuliahan, khususnya dalam penelitian ini. Universitas Sumatera Utara 4. Kedua orangtua penulis (papa Djohan dan mama Go Cin Yen) serta abang penulis satu-satunya (Tomy), yang telah memberikan perhatian, semangat, dorongan, dan dengan sabar menunggu hingga penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas dukungan, motivasi, dan saran-saran yang telah diberikan kepada penulis selama ini, khususnya pada masa-masa penyusunan skripsi ini. 5. Teman terbaik penulis (Juanda Saturnus, Aggie Lawer, Satria, Silvia Sumbogo, Reny, Daris, Effendi, Christina) yang telah setia menemani di saat suka maupun duka, memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis. Terima kasih atas waktu berharga yang telah kita lewati bersama. 6. Ketiga responden dalam penelitian ini. Terima kasih karena telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Terima kasih atas keterbukaan diri kakak-kakak untuk bercerita mengenai salah satu bagian dari pengalaman hidup anda. Tetaplah semangat menjalani hidup anda. 7. Teman-teman dalam organisasi buddhis KMB-USU yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas pengalaman, kebersamaan, dan waktu berharga yang penulis dapatkan selama di dalam organisasi. 8. Teman-teman psikologi (Fiyud, Dewi, Trisa, Liana, Vivilia), teman-teman angkatan 2007, serta kakak-kakak senior angkatan 2006, terima kasih atas segala perhatian, doa, dukungan dan motivasi dalam membantu penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini serta kebersamaan kita dalam suka dan duka selama ini. Universitas Sumatera Utara 9. Terima kasih kepada semua orang yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu. Bantuan yang telah diberikan sangat berharga bagi penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi tercapainya penulisan yang lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Medan, Agustus 2011 Penulis, Debby Isabella Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . ii KATA PENGANTAR . iii DAFTAR ISI . vi DAFTAR TABEL . ix DAFTAR LAMPIRAN . x BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang Masalah . 1 B. Rumusan Masalah . 9 C. Tujuan Penelitian . 9 D. Manfaat Penelitian . 9 E. Sistematika Penulisan . 10 BAB II LANDASAN TEORI . 12 A. Harapan . 12 1. Definisi Harapan . 12 2. Komponen Harapan . 14 a. Goal . 14 b. Pathway Thinking . 15 c. Agency Thinking . 15 d. Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking . 16 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harapan . 19 Universitas Sumatera Utara B. Perceraian . 21 1. Definisi Perceraian . 21 2. Penyebab Perceraian . 22 3. Dampak Perceraian . 25 C. Pernikahan Lagi (Remarriage) . 27 1. Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Lagi . 28 2. Dampak Pernikahan Lagi . 29 D. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai . 30 E. Kerangka Berpikir . 32 BAB III METODE PENELITIAN . 32 A. Pendekatan Kualitatif . 32 B. Responden Penelitian . 33 1. Karakteristik Responden . 33 2. Jumlah Responden . 33 3. Prosedur Pengambilan Responden . 34 4. Lokasi Penelitian . 34 C. Metode Pengambilan Data . 34 D. Alat Bantu Pengumpulan Data . 35 1. Alat Perekam (Tape Recorder) . 36 2. Pedoman Wawancara . 36 E. Kredibilitas Penelitian . 37 F. Prosedur Penelitian . 38 1. Tahap Persiapan Penelitian . 38 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian . 39 3. Tahap Pencatatan Data . 40 4. Prosedur Analisa Data . 40 BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN . 43 A. Deskripsi Data I . 43 Universitas Sumatera Utara 1. Riwayat Responden . 43 2. Hasil Observasi . 44 3. Analisa Data . 49 4. Pembahasan . 61 B. Deskripsi Data II . 63 1. Riwayat Responden . 63 2. Hasil Observasi . 63 3. Analisa Data . 70 4. Pembahasan . 81 C. Deskripsi Data III . 83 1. Riwayat Responden . 83 2. Hasil Observasi . 83 3. Analisa Data . 87 4. Pembahasan . 97 D. Analisa Antar Responden . 98 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 104 A. Kesimpulan . 104 B. Saran . 106 DAFTAR PUSTAKA . 108 LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Tempat dan Waktu Wawancara . 43 Tabel 2. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 1 . 61 Tabel 3. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 2 . 80 Tabel 4. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 3 . 96 Tabel 5. Analisa Identitas Diri Ketiga Responden . 99 Tabel 6. Analisa Komponen Harapan Menikah Lagi Pada Ketiga Responden 100 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Verbatim Responden 1 Wawancara 1 Responden 1 Wawancara 2 Responden 1 Wawancara 3 Responden 2 Wawancara 1 Responden 2 Wawancara 2 Responden 2 Wawancara 3 Responden 3 Wawancara 1 Responden 3 Wawancara 2 Lampiran 2. INFORMED CONSENT Lampiran 3. Pedoman Wawancara Universitas Sumatera Utara Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si ABSTRAK Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan observasi sebagai metode pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usahausaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang Malah kawan- kawan kasian sama ibu. Iya. Tapi ya ibu rasa kesalahan ibu, mungkin ibu yang membuat ulah. Maen cewek ke ibu, tidak memasak, tidak membela adekmu di rumah. A. itu kesalahan ibu. Ini dia yang membuat ulah, mungkin dia yang malu. Terus dengan masalah keuangan, ibu tadinya sebelum becere ini udah kerja? Dulu sebelum becere. Kok ada bapakmu ibu bekerja juga. Gaka ada bapak kau bekerja juga ibu. Tapi bedanya yang dulu dengan yang sekarang? Bedanya yang dulu sama yang Tidak merasa bersalah karena perbuatan suami. Penyesuaian sikap masyarakat terhadap perceraian. Tidak malu dengan status karena suami yang bersalah Penyesuaian sikap masyarakat terhadap perceraian. Mantan suami yang membuat masalah, jadi seharusnya dia yang malu Penyesuaian sikap masyarakat terhadap perceraian. Sudah bekerja sebelum bercerai Penyesuaian perubahan tanggung jawab dan peran kerja Bedanya setelah Penyesuaian Fashihatin : Penyesuaian Perceraian Pada Wanita Desa Yang Bercerai, 2009. 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter sekarang ni. Beratnya karna dia tidak membagi anaknya makan. Gak ada membutuhkan bagi belanjanya untuk anaknya. A.gitulah cuma berat itu. Jadi setelah bapak ngasi sekali tu, setelah itu gak ada lagi? Tidak ada lagi. Apa yang ibu.e.kalau dulu kan ada bapak. Sekarang ibu nambah kerjaan atau kek mana ibu mengatasi keuangan ini? Biasa aja ibu bekerja.Cuma dulu ibu membantu bekerja untuk menyekolahkan anak ibu. Jadi sekarang ini pecerean kan sudah putus tidak sama bapak kau lagi. Anak- anak ini pun tidak besekolah lagi. Jadi tak ada pertanggungjawaban yang paling berat. Hanya memikirkan untuk makan. Tinggal adek ini ya bu yang sekolah? Iya. Terus mengenai bapak itu. Bapak itu gak ada usaha untuk menemui anak- anak ni? Puasa dulu dia datang sekali. Udah tu tidak ada lagi sampe sekarang. Kalo mengasuh? Biarlah kuambil anak ni.diabawanya ke Susu. Gak pernah. Jadi semua ibulah yang mengatasi? He.e.ibu ajalah yang ngatasi. Mengenai pekerjaan di rumah. Setelah dulu waktu bapak ada dengan sekarang yang udah gak ada. Ada gak ibu ngerasa perbedaannya? Untuk mengurusi rumah tangga inilah bu. Untuk ngurus dalam rumah tangga He.e. bercerai tidak ada lagi yang membiayai kebutuhan makan anak-anak perubahan tanggung jawab dan peran kerja Dulu bekerja untuk membantu biaya sekolah anak. Sekarang anak tidak sekolah lagi. Tanggung jawab untuk makan Penyesuaian perubahan tanggung jawab dan peran kerja Mantan suami satu kali menemui anak setelah bercerai Penyesuaian custody arrangement Fashihatin : Penyesuaian Perceraian Pada Wanita Desa Yang Bercerai, 2009. 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 Itee 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 Iter Itee Iter Iter Itee Iter Itee Itee Iter Itee Itu ada bedanya sikit aja. Bedanya gini aja. Kita ini mengurus semuanya bisa kita tanggung jawabkan. Cuma mengadu hal yang masalah anak- anak ni kemana kita arahkan. A.itulah yang sulit.jadi kita ni mengadu.ini anak-anak ini kekmana gitu kan. Gak ada tempat kita bilang. Itula kesulitannya. Sekarang ini kalo ada masalah ibu ngadunya kemana? Ya udah ibu putuskan sendiri lah. Yang mana yang baek, yang mana yang gak. Itu aja jalannya, mau kekmana lagi kita bilang. Orang bapak dia gak ada kan.gak adalah kita bilangkan, jadi kita putuskan sendiri. Kalo mengenai pekrjaan rumah tangga Biasa aja. Ibu gini aja. Biasa kerja sendiri? He.e. biasa aja dari dulu kek gini. Mengenai.Ngomong soal keluarga Bu.kan kemaren setelah perceraian ini kek mana hubungan ibu dengan keluarga bapak tu? Gak ada apapun.eceknya sebelah dia tu datang kesini hanya sekalipun tidak ada gitu. Gak ada masalah. Waktu ibu sedang masa mau memutuskan untuk bercerai sama bapak itu dan pada waktu awalawal mau becerai tu ibu ada ngadu sama keluarga? Tidak ada. Gak ada. Ibu putuskan sendiri. Karena dalam satu bulan ibu mau minta cere itu. Ibu pikirkan tu. Karena ibu pikirkan Tidak ada tempat mengadu permaslahan anak Penyesuaian perubahan tanggung jawab dan peran kerja Permasalahan yang dihadapi setelah bercerai diselesaikan sendiri. Penyesuaian perubahan tanggung jawab dan peran kerja Tidak ada yang berubah mengenai pekerjaan rumah tangga Penyesuaian perubahan tanggung jawab dan peran kerja Keluarga suami tidak ada berkunjung ke rumah partisipan. Penyesuaian hubungan degan keluarga Memikirkan baik dan buruk mempertahankan rumah tangga. perpisahan Fashihatin : Penyesuaian Perceraian Pada Wanita Desa Yang Bercerai, 2009. 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 382 383 384 385 386 387 388 389 389 390 Iter Itee Iter menjalankan yang baik, mana yang enggak. Ya.ibu nanti berpikir sekali. Ibu pake bapak kau. Ibu kek gini dia bikin. Jadi ibu putuskan, bagus ibu tak usah punya laki. Ibu hidup sengsara. Ibu pikirkan tu dalam 1 bulan mana yang benar mana yang enggak. Ibu pikirkan. Ibu putuskan bukan hanya sekejap tu minta cere atau gak. Ibu pikirkan adekmu kekmana. Jadi dalam tanggung jawab rumah tangga ni kek mana.ya. ibu pikirkan itu.cere ato gak. Jadi ibu pikirkan lagi. Jadi ibu teruskan make bapak mu tadi, ya. ibu hanya hidup sengsara. Dipukul. Belanja gak cukup. Jadi lebih baik ibu putuskan pecerean tadi lah. Itulah ibu jalankan. Waktu dalam kondisi itu ibu ceritanya sama siapa? Ceritanya ke siapa? Tidak ada cerita dimana- mana. Di dalam hati ibu hanya berpikir mana yang jelek mana yang enggak. Kita pikirkan sendiri. Kita mengadu sama kawan, iya la kawan tu benar jalannya yang ambeknya untuk kita. Kadang kawan ni ada baek sama kita ada yang enggak. Jadi kita pikirkan sendiri aja. Kita putuskan sendiri. Gak ada ibu tu dulu masalah dulu bapakmu mukul ibu. Gak ada ibu cerita sama siapapun. Minta becere gak ada cerita sama siapapun. Gak ada. Ibu gak tahan sama bapak kau. Ibu putuskan terus. Bukan hanya diputuskan pecerean tu. Gak. Pikirkan dulu berbulan – bulan. Ibu gak tahan lagi sama bapak kau. Udah gak tahan lagi. Setelah ibu becere kek mana Partisipan memikrkan anak, tanggung jawab rumah tangga, tapi jika dilanjutkan partisipan merasa sengsara, dipukul, belanja tidak cukup. Partisipan memilih untuk bercerai Fashihatin : Penyesuaian Perceraian Pada Wanita Desa Yang Bercerai, 2009. 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter tanggapan keluarga? Itu udah siap becere ibu mengadu dekat kawan. Dekat ini.sedara sedara ibu lah gitu kan. Gak sebelah dia. Sebelah dia mana bisa kita mau mengadu. jadi, ibu bilang dekat nenek kau di Canggang sana. Jadi itu jalan kau yang benar jadi terserah kau. Gak ada bilang apa- apa. Jadi hubungan ibu baek- baek aja dengan keluarga ibu? Iya. Biasa aja. Gak ada apa- apa. Dengan keluarga bapak? Yah diapun gak pernah datang kesini. Mungkin kesalahan dia tadi gak mungkin dia datang kesini. Jadi gak ada hubungan lagi? Ya terserah dia.sebelah bapakmu. Dia datang ibu terima. Tapi ibu tidak ada berusaha mendatangi mantan mertua ibu? Tidak ada. Tidak ada tu niat di dalam hati ibu mau raon ke Susu. Ke sebelah dia. Gak ada. Kenapa gak ada keinginan mau jumpa sama mamak mertua? Karena gak ada keinginannya, karena dia tu lah.men.boleh dibilang memisahkan anaknya. Selaku orang tua.kau pikikan dulu lah Mat, anak kau sudah besarbesar. . mengapa kau putus peceran kau. Ini tidak. Malah dipestakannya anak dia. Berarti dia gak suka sama kita kan. Jadi, kita memutuskan gak mau lagi ke tempat saudara dia . berarti dia gak suka. Orang dia nikah lagi dipestakannya. Berarti dia gak suka sama kita. Ngapai kita kesana datangi dia.gak ada tu. Kalau hubungan dengan bapak itu gak ada sama sekali? Setelah bercerai partisipan memberitahu kepada keluarga. Keluarga menyerahkan semuanya pada partisipan Penyesuaian hubungan dengan keluarga. Keluarga mantan suami tidak pernah datang Penyesuaian hubungan dengan keluarga. Tidak ada niat jalan- jalan ke susu, tempat keluarga mantan suami. Penyesuaian hubungan dengan keluarga. Tidak ada keinginan jumpa dengan mantan mertua karena mantan mertua memisahkan mereka. Mantan suami nikah dipestakan kembali. Partisipan merasa keluarga mantan suami tidak menyukainya. Penyesuaian hubungan dengan keluarga. Fashihatin : Penyesuaian Perceraian Pada Wanita Desa Yang Bercerai, 2009. 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 Itee Iter 471 472 473 474 475 Iter Itee Itee Iter Itee Iter Selain masalah kematangan emosi dan kesiapan psikologis, kondisi kesehatan seorang individu juga turut mempengaruhi kesiapannya untuk memasuki jenjang Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 pernikahan. Individu yang merasa dirinya kurang/tidak memiliki kondisi kesehatan yang prima cenderung untuk ragu melangkah menuju jenjang pernikahan. Misalnya, individu dengan status kesehatan yang buruk, memiliki beberapa riwayat penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, cenderung merasa takut untuk menikah dengan individu lain. Masalah keturunan juga merupakan persoalan dalam perkawinan, karena dalam perkawinan pasangan suami isteri menginginkan keturunan yang baik oleh karena itu masalah keturunan ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Individu wanita yang merasa kurang subur atau berasal dari keturunan yang memiliki riwayat sulit memiliki keturunan, cenderung lebih merasa takut untuk menikah dibanding dengan wanita yang berasal dari keluarga yang subur. Atau, wanita yang merasa tidak siap untuk memiliki anak/keturunan juga cenderung takut untuk mengikat komitmen dalam ikatan perkawinan. Hal lain yang juga turut mempengaruhi kesiapan menikah pada seorang individu adalah Sexual Fitness, terkait dengan apakah individu dapat melakukan hubungan seksual secara wajar atau tidak. Individu yang memiliki masalah seksual seperti disfungsi ereksi (pada pria) dan vaginismus (pada wanita) cenderung lebih merasa kurang siap untuk mengikat tali perkawinan dengan individu lainnya. Dalam pernikahan faktor agama atau kepercayaan juga hendaknya menjadi perhatian pasangan. Sebaiknya pasangan memiliki agama yang sama. Dengan kesamaan agama maka akan meminimalkan munculnya perbedaan yang terkait dengan agama tersebut. Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 Dengan memperhatikan segala faktor-faktor tersebut di atas, individu khususnya para wanita bekerja, diharapkan mampu mengatasi ketidaksiapannya untuk menikah. Untuk mengethaui apakah anda telah siap menikah atau tidak, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan : 1. Memiliki kemampuan mengendalikan perasaan diri sendiri. 2. Memiliki kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang banyak. 3. Bersedia dan mampu menjadi pasangan istimewa dalam hubungan seksual. 4. Bersedia untuk membina hubungan seksual yang intim. 5. Memiliki kelembutan dan kasih sayang kepada orang lain. 6. Sensitif terhadap kebutuhan dan perkembangan orang lain. 7. Dapat berkomunikasi secara bebas mengenai pemikiran, perasaan dan harapan. 8. Bersedia berbagi rencana dengan orang lain. 9. Bersedia menerima keterbatasan orang lain. 10. Realistik terhadap karakteristik orang lain 11. Memiliki kapasitas yang baik dalam menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan ekonomi. 12. Bersedia menjadi suami atau isteri yang bertanggung jawab. Pada akhirnya dipahami bahwa pernikahan yang mendasari pembentukan suatu keluarga dapat diumpamakan sebagai suatu perjalanan panjang yang penuh kebahagiaan dan memuaskan apabila dipersiapkan secara matang, sebaliknya dapat menyebabkan distress dan tekanan batin jika tidak dipersiapkan dengan matang Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 (Gunarsa, 2002). Kesiapan menikah dapat membuat suatu dunia yang berbeda dan dapat memberikan lebih banyak kebahagiaan bagi pasangan yang menikah (Silliman dalam Rahmi, 2003). Individu yang memiliki kematangan emosi akan memiliki kesiapan menikah yang lebih baik, artinya mereka mampu mengatasi perubahanperubahan dan beradaptasi setelah memasuki pernikahan. Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 DAFTAR PUSTAKA Anoraga, P. (2001). Psikologi kerja. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta. Betz, N. (1993). Womens’career development, psychology of women : A Handbook of Issues and Theories. Wetsport CT : Greenwood. Bhatnagar, D., & Rajadyaksha, U. (2001). Attitudes toward work and family roles and their implication for career growth of women. Sex Roles : A Journal of Research. [On-line serial] Available FTP: findarticles.com /p/articles/mi_m2294/is_2001_oct/ai_85176435/pg_6. Bridges, J.S. (1997). College female’s perception of adult rolesand occupational fields of women, Sex Roles : A Journal of Research [On-line] Available FTP: findarticles.com/ p/articles/ mi_m2334/ is_1987_jun/ ai_8512425/ pg_15. Chaplin, J.P. (1989). Kamus lengkap psikologi. Jakarta : Rajawali Press. Corsini. (2002). The dictionary of psychology London : Macmillan. Dariyo, A. (2003). Psikologi perkembangan dewasa muda. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Duvall, E.M., & Miller, B. C. (1985). Marriage and family development, (9th Ed) NY. Harper & Row Publishers. Hurlock, E.B. (1990). Psikologi perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga. Indikator Sosial Wanita Indonesia. (1999). Badan Pusat Statistik. Jakarta : BPS. Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman R.D. (1998). Human development (7th Ed). USA. Mc.Graw Hill Companies. Rini, J.F. (2002). Wanita bekerja. [On-line] Available FTP: e-psikologi.com . Smock, P. (2003). Income and education linked to marriage plans-relationship. psychology today. [On-line] Available FTP:findarticles.com/p/articles/ mi_m1175/is_2_36/ai_100736606. Spain, D., & Bianchi, S.M. (1996). Balancing act: motherhood, marriage, and employment among american women. New York : Russel Sage Foundation. Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 Walgito, B (2000). Psikologi sosial suatu pengantar. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM. White, L. & Rogers, S.J. (2000). Economic circumstances and family outcomes : A review of the 1990’s. Journal of Marriage and The Family [On-line] Available FTP: ask.com. Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini sehingga dapat diselesaikan di tengah aktivitas yang tiada hentinya. Makalah ini ditulis dengan tujuan memenuhi persyaratan pengurusan fungsional sebagai staf pengajar di Universitas Sumatera Utara. Selain itu, penulis juga berharap agar tulisan ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi banyak pihak terutama para wanita dewasa awal yang bekerja sehubungan dengan kesiapan merek untuk menikah. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Oleh karenanya penulis mengharapkan masukan dari para pembaca demi penyempurnaan makalah ini. Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan Ketua Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengabdikan diri di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada suami dan anak-anak tercinta yang telah menyemangati hingga makalah ini dapat diselesaikan. Kepada rekan-rekan sejawat di PS Psikologi USU yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan untuk itu penulis mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih yang mendalam untuk Pak Iskandar yang senantiasa mengingatkan dan memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan makalah ini. Medan, 21 September 2006 Ika Sari Dewi, S.Psi NIP. 132 307 62 Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . .i DAFTAR ISI . .ii BAB I PENDAHULUAN . .1 BAB II LANDASAN TEORI . .5 A. Kesiapan Menikah . .5 1. Pengertian Kesiapan Menikah .5 2. Kriteria Kesiapan Menikah .6 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Menikah .8 B. Dewasa Awal .10 1. Pengertian Dewasa Awal .10 2. Karakteristik Masa Dewasa Awal .11 C. Wanita Bekerja .12 1. Pengertian Wanita Bekerja .12 2. Faktor-faktor yang Mendorong Wanita Bekerja .13 BAB III. PENUTUP . .15 DAFTAR PUSTAKA Ika Sari Dewi : Kesiapan Menikah Pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja, 2006 USU Repository © 2006
Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai Agency Thinking DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Agency Thinking Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Agency Thinking Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Agency Thinking Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking Alat Bantu Pengumpulan Data Kredibilitas Penelitian Analisa Antar Responden dan Pembahasan Dampak Perceraian PERCERAIAN 1. Definisi Perceraian Dukungan Sosial Kepercayaan Religius Kontrol GAMBARAN HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA BERCERAI KERANGKA BERPIKIR Goal Pathway Thinking DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Goal Pathway Thinking Komponen Harapan Harapan Responden Untuk Menikah Lagi Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Kembali Dampak Pernikahan Lagi Kehidupan Responden Setelah Perceraian KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN LATAR BELAKANG MASALAH PENDAHULUAN Pembahasan DESKRIPSI DATA I 1. Riwayat Responden Pembahasan Deskripsi Data II 1. Riwayat Responden Pembahasan Deskripsi Data III 1. Riwayat Responden Pendekatan Kualitatif Metode Pengambilan Data Perkembangan sosioemosional dari pasangan Sejarah perceraian dalam keluarga RUMUSAN MASALAH TUJUAN PENELITIAN Sistematika Penulisan Saran Metodologis Saran Praktis Tahap Pelaksanaan Penelitian Tahap Pencatatan Data Prosedur Analisa Data Usia pada saat menikah Tingkat sosioekonomi Wawancara 2 Hasil Observasi a. Wawancara 1 Wawancara 3 Hasil Observasi a. Wawancara 1 Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

Gratis