Feedback

Prosedur Pengisian Dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Pasal 21 Pada PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Informasi dokumen
TUGAS AKHIR TENTANG PROSEDUR PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 PADA PT JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA (PERSERO) KANTOR WILAYAH I MEDAN Disusun O L E H NAMA :DEBORAH ARSITA PURBA NIM :082600107 Diajukan untuk memenuhi salah satu syrat menyelesaikan Studi pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1 B. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri 5 C. Uraian Teoritis 7 D. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri 11 E. Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri 11 F. Metode Pengumpulan Data 12 G. Sistematika Penulisan Laporan 13 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PKLM A. Sejarah Umum Lokasi PKLM 15 B. Stuktur Organisasi PT Jamsostek (Persero) Kanwil I 20 BAB III GAMBARAN DATA DAN PEMBAHASAN A. Dasar – Dasar Perpajakan 33 1. Pengertian Pajak 33 2. Fungsi Pajak 34 3. Pembagian Pajak 36 4. Sistem pemungutan Pajak 38 B. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 39 1. Pengertian PPh Pasal 21 39 2. Subjek Pajak PPh Pasal 21 40 3. Objek Pajak PPh Pasal 21 42 4. Pemotong PPh Pasal 21 45 5. Hak Dan Kewajiban Pemotong PPh Pasal 21 46 6. Tata Cara Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 49 Universitas Sumatera Utara C. Surat Pemberitahuan (SPT) 1. Pengertian SPT 52 2. Fungsi SPT 52 3. Jenis SPT 53 4. Batas Waktu Penyampaian SPT 54 BAB IV ANALSA DAN EVALUASI A. Prosedur Pengisian dan Penyampaian Surat Pemberitahuab Pada PT Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah I 56 B. Contoh Perhitungan PPh Pasal 21 Pegawai tetap PT Jamsostek Medan 68 C. Kendala yang dihadapi oleh PT Jamsostek Medan 71 D. Pemecahan Masalah 72 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 74 B. Saran 75 DAFTAR PUSTAKA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK Universitas Sumatera Utara HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI DISETUJUI UNTUK DI PRESENTASIKAN OLEH : Nama : DEBORAH ARSITA PURBA NIM : 082600107 Program Studi : ADMINISTRASI PERPAJAKAN Judul : PROSEDUR PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 PADA PT JAMINAN SOSIAL DAN TENAGA KERJA (PERSERO) KANTOR WILAYAH I MEDAN. Ketua Program Studi Dosen pembimbing Diploma III Administrasi PT Jamsostek (Persero) Kanwil I Perpajakan Drs. Alwi Hashim Batubara, M.Si Nip : 195608311986011001 Rianto Julius Sihaloho, SE Nip :197703131998031002 Sudiman Simamora Kabag Umum & SDM Diketahui Dekan FISIP USU Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Nip : 196808251992031002 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri ( PKLM) Indonesia termasuk salah satu negara yang berkembang di dunia. Sebagai negara yang berkembang, Indonesia berusaha untuk mengadakan pembangunan di segala bidang. Untuk pelaksanaan pembangunan tersebut, diperlukan biaya yang cukup besar dan salah satu pembiayaan tersebut tercermin dalam APBN yang ditetapkan setiap tahunnya. Pajak merupakan Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang – Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat ( Undang – Undang No.28 tahun 2007). Oleh karena itu Pemerintah berusaha mencari dana atau sumber – sumber lainnya dengan menggerakkan potensi yang ada pada masyarakat melalui salah satunya ialah dalam bidang perpajakan. Dan dalam hal ini pajak merupakan salah satu sumber utama penerimaan pemerintahan dalam membiayai pembangunan nasional. Target pendapatan negara dari sektor perpajakan setiap tahunnya terus ditingkatkan oleh pemerintah Indonesia, hal ini disebabkan oleh beban pemerintah yang semakin bertambah seperti belanja negara yang terus meningkat setiap tahunnya, angka kemiskinan yang terus bertambah, nilai subsidi yang juga mengalami peningkatan akibat adanya kenaikan harga minyak dunia, dan banyak masalah lainnya yang memicu pemerintah untuk bekerja ekstra keras agar mampu meningkatkan pendapatan negara terutama di sektor perpajakan yang saat ini merupakan sektor utama yang paling diandalkan oleh pemerintah sebagai sumber penerimaan kas negara yang paling utama. Dalam rangka mengoptimalkan pendapatan pada sektor perpajakan, dukungan serta peran aktif masyarakat sebagai warga negara sangat dibutuhkan, mengingat masyarakat merupakan peran Universitas Sumatera Utara serta utama sebagai Wajib Pajak yang merupakan faktor yang vital terwujudnya pendapatan pajak yang optimal. Dalam mewujudkan peran aktif masyarakat sebagai Wajib Pajak, maka pemerintah telah mengadakan reformasi birokrasi terhadap sistem perpajakan di Indonesia. Sejak di berlakukannya reformasi perpajakan tahun 1983, maka system perpajakan yang sebelumnya adalah official assesment system yaitu suatu system pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk menentukan besarnya pajak terutang oleh wajib pajak menjadi self assesment system. Self Assesment System adalah sebuah sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan kepada masyarakat wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. Sistem pemungutan pajak tersebut mempunyai arti bahwa penentuan penetapan besarnya pajak yang terutang dipercayakan kepada Wajib Pajak sendiri dan melaporkannya secara teratur jumlah pajak yang terutang dan yang telah dibayar sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Namun hal ini tidak efektif bila tidak dilakukan dengan pengontrolan secara teratur yang dilakukan oleh aparat pajak dengan cara melakukan pengawasan secara langsung terhadap wajib pajak. Dan dengan kata lain wajib pajak dapat berperan aktif dalam menentukan keberhasilan sistem perpajakan tersebut. Dalam perpajakan digunakan juga With Holding System dimana suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. With Holding system adalah Sistem perpajakan dimana pihak ketiga baik Wajib Pajak orang pribadi maupun Wajib Pajak Badan Dalam Negeri diberi kepercayaan oleh Peraturan perundang – undangan untuk melaksanakan kewajiban memotong atau memungut pajak penghasilan yang dibayarkan kepada penerima penghasilan. Pajak penghasilan (PPh) pemotongan dan pemungutan merupakan penerapan sistem perpajakan yang menggunakan With Holding System. Pihak ketiga berkewajiban memungut pajak Universitas Sumatera Utara penghasilan dari penerima penghasilan, menyetorkan pajak tersebut ke kas negara melalui Bank atau Kantor Pos dan melaporkannya Ke Kantor Pelayan Pajak (KPP). Terkait dengan hal tersebut maka wajib pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak yang berfungsi sebagai sarana dalam memulai proses awal administrasi perpajakan karena didalamnya terdapat nomor yang merupakan identitas setiap wajib pajak yang tentunya akan dipakai dalam setiap kegiatan dan dokumen perpajakan. Setelah melakukan pendaftaran dan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak, Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk menghitung dan membayar pajak, yang selanjutnya melaporkan pajak terutangnya dalam bentuk Surat Pemberitahuan (SPT). SPT merupakan sarana bagi wajib pajak yang digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut Ketentuan Umum Perundang – undangan Perpajakan. Kemudian SPT itu diisi berdasarkan penghasilan yang diterima Wajib Pajak. Pajak Penghasilan (PPh) merupakan pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu tahun pajak. Pajak penghasilan termasuk jenis pajak pusat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah Kementrian Keuangan. Subjek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh pajak penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi atau lembaga – lembaga Negara lainnya dan kedutaan Republik indonesia di luar negeri yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dimana pelaksanaannya dilakukan oleh bendaharawan sebagai pihak ketiga yang memungut pajak penghasilan para pegawainya dan diwajibkan untuk mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21. Proses penyampaian Surat Pemberitahuan inilah yang terkadang sering menjadi masalah dalam proses administrasi perpajakan. Karena banyak Wajib Pajak yang terlambat dalam Universitas Sumatera Utara penyampaian Surat Pemberitahuannya atau bahkan tidak tahu bagaimana mengisi dan proses menyampaikan Surat Pemberitahuannya tersebut. Dengan diadakannya Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ini, maka mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori yang telah didapat dikampus pada perusahaan tempat Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Mandiri. Penulis ingin mengetahui bagaimana Prosedur Pengisian dan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan serta kendala – kendala dalam mengisi dan menyampaikan SPT Tahunan PPh Pasal 21. Dan dengan alasan ini penulis memilih judul “ PROSEDUR PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 PADA PT. JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA (PERSERO) KANTOR WILAYAH I MEDAN” B. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam melaksanakan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini adalah : 1. Untuk mengetahui prosedur pengisian dan penyampaian SPT PPh Pasal 21 Pasa PT. Jamsostek 2. Untuk mengetahui tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya dalam mengisi dan menyampaikan SPT. 3. Untuk mengetahui Kendala – kendala yang dihadapi wajib pajak dalam mengisi dan menyampaikan SPT. 4. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh PT. Jamsostek untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam mengisi dan menyampaikan SPT. Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam Melaksanakan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini adalah : 1. Bagi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara a. Melatih, menguji, dan meningkatkan serta mengembangkan wawasan penulis tentang pengisian dan penyampaian SPT b. Meningkatkan keterampilan Mahasiswa dalam melaksanakan praktik di bidang perpajakan. c. Menciptakan dan mengembangkan Rasa tanggung jawab Profesionalisme serta kedisiplinan yang nantinya sangat diperlukan ketika memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. d. Menambah kemampuan mahasiswa untuk berkomunikasi dengan pihak lain. 2. Bagi PT. Jamsostek a. Sebagai sarana untuk meningkatkan hubungan antara instansi pemerintah dengan dunia pendidikan sehingga perusahaan tersebut dapat mengetahui sejauh mana tingkat perkembangan ilmu pengetahuan di lembaga pendidikan Program Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU. b. Dapat Memberikan sumbangsih kepada perusahaan baik merupakan saran maupun kritikan yang bersifat membangun dan juga akan menjadi sumber masukan untuk meninggkatkan kinerja di lingkungan perusahaan. 3. Bagi Universitas Sumatera Utara a. Meningkatkan kerja sama antara Universitas Sumatera Utara dengan PT. Jamsostek Medan b. Membuka Interaksi antara Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU dengan PT. Jamsostek. c. Mengusahakan adanya umpan balik untuk revisi kurikulum. 4. Bagi Masyarakat Sebagai sumber informasi data dan keterangan tentang pengisian dan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Pasal 21. C. Uraian Teoritis 1. Tinjauan Pajak Universitas Sumatera Utara a. Defenisi Pajak Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH : Pajak adalah rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2002 : 1) b. Fungsi Pajak Ada 2 fungsi pajak yaitu : 1) Fungsi Penerimaan (Budgetair) Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran pengeluarannya. 2) Fungsi Mengatur (regulerend) Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. 2. Tinjauan Pajak Penghasilan a. Defenisi Pajak Penghasilan Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak. Subjek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh pajak penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan. Pajak penghasilan (PPh) pasal 21 merupakan Pajak penghasilan yang dikenakan atas Pajak penghasilan berupa gaji, upah, honorariun, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan denganpekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri (Waluyo, 2006 : 149) b. Tarif Pajak Penghasilan Tarif pajak penghasilan yang berlaku sejak tanggal 01 Januari 2009 : Universitas Sumatera Utara No. Lapisan Penghasilan Tarif 1. S.d. Rp 50.000.000,- 5% 2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15% 3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp 500.000.000,- 25% 4. Di atas Rp500.000.000,- 30% Pajak penghasilan pasal 21 dipotong, disetor, dan dilaporkan oleh Pemotong pajak, yaitu pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaa, dan penyelenggara kegiatan. Dan pada akhir tahun pajak diwajibkan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan Pajak penghasilan Pasal 21. 3. Tinjuan Surat Pemberitahuan (SPT) a. Defenisi Surat Pemberitahuan (SPT) Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan (Mardiasmo, 2002 :17) b. Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT) 1) Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang. 2) Untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan pajak atau pemungutan pajak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bahagian Tahun Pajak. 3) Untuk melaporkan pembayaran dari pemotongan atau pemungutan tentang pemotongan atas pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain, dalam satu masa pajak yang ditentukan Peraturan perundang – undangan yang berlaku. Universitas Sumatera Utara Dan Fungsi SPT bagi Pemotong atau pemungut pajak sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan. c. Jenis Surat Pemberitahuan (SPT) Memerhatikan saat pelaporannya SPT dibagi 2, yaitu : 1) SPT – Masa adalah surat pemberitahuan yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak yang terutang dalam suatu Masa Pajak atau pada suatu saat 2) SPT –Tahunan adalah Surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang pada suatu Tahun Pajak d. Batas Waktu Penyampain Surat Pemberitahuan (SPT) 1) Untuk SPT Masa, paling lambat 20 ( dua puluh ) hari setelah akhir masa Pajak 2) Untuk SPT Tahunan, paling lam 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun Pajak Dalam pengisian dan penyampaian SPT wajib pajak harus mengambil sendiri formulir SPT pada Kantor Pelayanan pajak setempat ( Dengan menunjukkan NPWP ) dan mengisi formulir SPT dengan benar, jelas, dan lengkap serta menandatangani sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Pengisian formulir SPT yang tidak benar yang mengakibatkan pajak yang terutang kurang bayar, akan dikenakan sanksi perpajakan. D. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri Ada pun ruang lingkup praktik kerja lapangan mandiri yang dilakukan di PT. Jamsostek Medan, adalah sebagai berikut : a. Prosedur Pengisian dan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) b. Mengisi dan Menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) c. Kendala – kendala yang dihadapi oleh Wajib Pajak dalam Mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Universitas Sumatera Utara E. Metode Paraktik Kerja Lapangan Mandiri Dalam Melaksanakan Praktik Penulis melakukan Metode – Metode yang akan digunakan dalam Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM). Adapun metode yang dilakukan oleh penulis adalah : a. Tahap Persiapan Yaitu kegiatan yang harus dilakukan oleh Mahasiswa sebelum melakukan PKLM ke objek lokasi PKLM yang meliputi kegiatan seperti : Pemilihan judul dan lokasi PKLM, Objek PKLM, Pengajuan Proposal PKLM, Seminar Proposal dan Surat pengantar dari Diploma III administrasi Perpajakan. b. Studi Literatur ( Kepustakaan) Penulis mencari, mengumpulkan serta melakukan pengkajian terhadap data yang baik yang bersumber dari buku – buku, undang – undang perpajakan, Peraturan pemerintah, Keputusan Kementrian keuangan, serta sumber sumber lainnya yang mendukung penulisan Laporan ini. c. Observasi lapangan Penulis mengadakan observasi lapangan untuk mengkaji secara langsung kondisi serta keadaan dari perusahaan tempat dimana penulis mengadakan kegiatan PKLM. d. Pengumpulan Data Setelah penulis mengetahui kondisi objek PKLM, maka penulis akan mengumpulkan data. Data tersebut adalah Data Primer yang diperoleh dari wawancara dengan informan kunci dan data sekunder yang diperoleh dari stidi literatur dan kepustakaan e. Analisa dan Evaluasi Penulisan melakukan analisa terhadap data yang diperoleh dari objek tempat penulis melaksanakan PKLM, serta kemudian melakukan evaluasi terhadap data tersebut untuk dicari Universitas Sumatera Utara pemecahan masalahnya. Adapun analisa data yang penulis gunakan adalah analisa berbentuk kualitatif, yaitu suatu paraktek kerja lapangan mandiri yang memaparkan secara detail mengenai perolehan data yang bersumber dari ungkapan data – data yang diterima oleh penulis. F. Metode Pengumpulan Data Penulis menggunakan tiga metode dalam mengumpulkan data yang diperlukan yaitu : a. Metode Wawancara Yaitu penulis melakukan tanya jawab secara langsung kepada pimpinan dan atau himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil Wajb Pajak, analis kinerja Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dalam satu KPP Pratama terdapat 4 (empat) Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang pembagian tugasnya didasarkan pada cakupan wilayah(territorial tertentu). a. Melakukan pengawasan penerbitan surat teguran kepada wajib pajak yang belum menyampaikan surat pemberitahuan (SPT). b. Melaksanakan peneliatian dan analisa kepatuhan material wajib pajak. c. Melakukan penghapusan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar. 27 d. Pengusulan wajib pajak / PKP fiktif. e. Pengusulan wajib pajak patuh. f. Melakukan penelitian untuk mengusulkan penerbitan Surat Keterangan Fiskal (SKF). g. Pemberian izin penggunaan mesin teraan materai. h. Melakukan bimbingan dan memberikan konsultasi teknis kepada wajib pajak. i. Mengirimkan himbauan perbaikan surat pemberitahuan (SPT). j. Melakukan kunjungan kerja ke lokasi wajib pajak dalam rangka pengawasan dan wajib pajak. k. Melaksanakan rekonsiliasi data wajib pajak (data maching). l. Membuat surat keterangan bebas (SKB). 9. Kelompok Jabatan Fungsional Pemeriksaan Pajak Pejabat Fungsional terdiri dari Pejabat Fungsional Pemeriksaan dan Pejabat Fungsional Penilai yang bertanggung jawab secara langsung kepada Kepala KPP Pratama. Dalam melaksanakan pekerjaannya, Pejabat Fungsional Pemeriksaan berkoordinasi, integrasi ,sinkronisasi, dan simplifikasi dengan Seksi Ekstensifikasi.Selain itu, teknologi informatika dan sistem informasi dimanfaatkan secara optimal a. melakukan pemeriksaan sederhana lapangan atau pemeriksaan lengkap. b. Melakukan pemeriksaan sederhana kantor. 28 c. Membuat nota perhitungan (Nothit) pajak, daftar kesimpulan hasil pemeriksaan (DKHP) dan alat keterangan (Alket). d. Membuat laporan hasil pemeriksaan. BAB III GAMBARAN DATA SPT MASA PPh PASAL 21 A. TEORI PERPAJAKAN SECARA UMUM 1. Sistem Pemungutan Pajak Ada tiga (3) Sistem Pemungutan Pajak yang berlaku yaitu: 1. Assesment System Suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh WP. Ciri-cirinya: a. Wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus b. Wajib Pajak bersifat pasif c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) oleh fiskus 2. Assesment System Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada WP untuk menentukan sendiri pajak terutang. Ciri-cirinya: a. Wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak b. Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang c. Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi 29 30 3. With Holding System Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. Ciri-cirinya: wewenang menentukan besarnya pajak terutang Wajib Pajak ada pada pihak ketiga bukan pihak fiskus ataupun Wajib Pajak sendiri. 2. Asas Pemungutan Pajak Dalam Pemungutan Pajak dikenal beberapa asas yaitu: a. Asas Domisili, yaitu bahwa wajib pajak dibebankan pada pihak yang tinggal dan berada di wilayah suatu negara tanpa memperhatikan sumber atau asal objek pajak yang diperoleh atau diterima Wajib Pajak. b. Asas Sumber, yaitu bahwa pembebanan pajak oleh negara hanya terhadap objek pajak yang bersumber atau berasal dari wilayah teritorialnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak. c. Asas Kebangsaan, yaitu bahwa status kewarganegaran seseorang menentukan pembebanan pajak terhadapnya. Perlakuan perpajakan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang memiliki perbedaan. 31 3. Tarif Pajak Penentuan besarnya pajak didasarkan pada tarif yang telah ditetapkan dengan peraturan perpajakan. Secara umum dikenal ada empat (4) jenis tarif perpajakan yaitu: a. Tarif Proporsional atau dikenal dengan tarif sebanding atau sepadan yaitu tarif berupa persentase yang tetap terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak. Contohnya adalah PPN b. Tarif Progresif yaitu tarif berupa persentase yang meningkat apabila jumlah yang dikenai pajak juga meningkat. Contohnya adalah PPh c. Tarif Degresif yaitu beupa persentase yang semakin kecil apabila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. d. Tarif Tetap yaitu berupa jumlah yang tetap (sama) untuk berapun jumlah yang dikenai pajak. Contohnya adalah bea materai. B. SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) MASA PPh PASAL 21 Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 18 April 2013, Dirjen Pajak menggulirkan regulasi terbaru mengenai SPT Masa PPh Pasal 21/26 dengan menerbitkan PER-14/PJ/2013. Seperti dinyatakan dalam peraturan tersebut, SPT baru ini mulai diberlakukan per tanggal 1 Januari 2014. 32 1. Ketentuan Umum Sebagaimana telah diketahui, sesuai dengan ketentuan Pasal 21 UU PPh, para pemberi kerja, dana pensiun, bendahara pemerintah, badan yang membayar honorarium dan sejenisnya serta para penyelenggara kegiatan, ditugaskan untuk melakukan pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21. Pemotongan PPh Pasal 21 ini wajib mereka lakukan terhadap imbalan (penghasilan) yang mereka bayarkan (atau terutang) kepada WP orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan. Sedangkan bila si WP orang pribadi penerima penghasilan tersebut berstatus sebagai WP luar negeri, maka jenis PPh yang harus dipotong adalah PPh Pasal 26. PPh Pasal 21/26 yang telah dipotong tersebut selanjutnya harus disetorkan ke kas negara sesuai dengan jangka waktu yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini jika terjadi keterlambatan setor, para subjek pemotong PPh Pasal 21/26 tersebut dapat dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan. 2. Jangka Waktu Pelaporan dan Sanksi Selanjutnya tugas terakhir para subjek pemotong PPh Pasal 21/26 adalah melaporkan pelaksanaan pemotongan dan penyetoran PPh Pasal 21/26 tersebut kepada KPP tempat subjek pemotong PPh tersebut terdaftar. Pelaporan tersebut menggunakan media yang dikenal dengan sebutan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 Dan/Atau Pasal 26 (lebih sering disebut dengan SPT Masa PPh Pasal 21/26). 33 SPT Masa PPh Pasal 21/26 tersebut wajib disampaikan (baca: dilaporkan) kepada KPP tempat subjek pemotong PPh terdaftar NPWP, paling lambat pada tanggal 20 (dua puluh) bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak (bulan) terutangnya PPh Pasal 21/26. Dalam hal ini jika terjadi keterlambatan pelaporan, subjek pemotong PPh dapat dikenai sanksi administrasi denda sebesar Rp 100.000,untuk setiap SPT Masa PPh yang terlambat dilaporkan. 3. Saat Mulai Digunakan Formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang berlaku mulai 1 Januari 2014, yang ditetapkan oleh PER-14/PJ/2014 ini, dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Apabila PPh Pasal 21/26 yang terutang untuk Masa Pajak (bulan) Desember 2013 dilaporkan pada tanggal 20 Januari 2014 atau tanggaltanggal sebelumnya (sesuai dengan batas waktu pelaporan SPT Masa PPh), maka formulir SPT yang harus digunakan adalah formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang lama (yang dipakai saat ini, sesuai dengan PER32/PJ/2009); 2. Apabila PPh Pasal 21/26 yang terutang untuk Masa Pajak (bulan) Desember 2013 dilaporkan setelah tanggal 20 Januari 2014 (yang berarti ada keterlambatan pelaporan SPT), maka formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang harus digunakan adalah formulir SPT Masa PPh Pasal 21 yang terbaru ini (yang ditetapkan oleh PER-14/PJ/2013). 34 Begitu pun jika seandainya WP pemotong PPh Pasal 21/26 melakukan pembetulan terhadap SPT PPh Pasal 21 Masa Pajak (bulan) Januari hingga Nopember 2013, dan pembetulan SPT itu dilakukan pada bulan Januari 2014, maka formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang harus digunakan sebagai SPT pembetulan adalah formulir terbaru yang ditetapkan oleh PER-14/PJ/2013 ini. Tetapi jika pembetulan terhadap SPT-SPT tersebut dilakukan sebelum 1 Januari 2014, maka formulir SPT yang harus digunakan adalah formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang lama (yang diatur oleh PER-32/PJ/2009 yang saat ini sedang digunakan). 4. Bukti Potong Pegawai Tetap Di SPT Masa PPh Pasal 21/26 terbaru tersebut, ada lampiran baru berkode Formulir 1721-I. Ini adalah formulir lampiran SPT berupa Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap. Formulir ini harus dilampirkan pada setiap Masa Pajak (bulan). Tetapi bukan berarti WP pemotong PPh harus membuat Bukti Potong PPh Pasal 21 (Formulir 1721-A1/A2) setiap bulan (Masa Pajak). Sebab seperti yang dijelaskan dalam petunjuk pengisiannya, kolom Nomor dan Tanggal Bukti Potong serta kolom Masa Perolehan Penghasilan, tidak perlu diisi. Pengisian ketiga kolom tersebut dilakukan hanya pada lampiran di bulan Desember yaitu pada saat dilakukan penghitungan ulang setahun. Ya, Formulir 1721-I ini, khusus pada bulan (Masa Pajak) Desember harus dibuat dalam 2 (dua) 35 tanggungan), bekerja pada Koperasi Swadharma Medan dengan memperoleh gaji sebulan Rp.3.648.409, tunjangan Pajak Penghasilan sebesar Rp 94.420 Gaji sebulan Tunjangan PPh Rp. 3.648.409 Rp. 94.420 Universitas Sumatera Utara Penghasilan Bruto Rp. 3.742.829 Pengurangan : Biaya Jabatan 5% x Rp. 3.742.829 (Rp. 187.141) Penghasilan Neto Sebulan Rp. 3.555.688 Penghasilan Neto Setahun 12 x Rp. 3.555.688 Rp. 42.668.256 PTKP (TK/-) : - untuk WP sendiri Rp. 15.840.000 - kawin Rp. 1.320.000 - anak 3 Rp. 3.960.000 Penghasilan Kena Pajak (PKP) Setahun (Rp.21.120.000) Rp. 21.548.256 PPh Pasal 21 Setahun : 5% x Rp. 21.548.256 = Rp. 1.077.413 PPh Pasal 21 Sebulan : Rp. 89.784 2. Yulisna yusuf, Pegawai (wanita),(status tidak kawin dan tidak mempunyai tanggungan), bekerja pada Koperasi Swadharma Medan dengan memperoleh gaji sebulan Rp. 1.808.952 dan Tunjangan PPh Rp. 24.448 Gaji sebulan Rp. 1.808.952 Tunjangan PPh Rp. 24.448 Rp. 1.833.400 Pengurangan : Biaya Jabatan 5% x Rp. 1.833.400 Penghasilan Neto Sebulan (Rp. 91.670) Rp. 1.741.730 Universitas Sumatera Utara Pengasilan Neto Setahun 12 x Rp. 1.741.730 Rp. 20.900.760 PTKP (K/1) : - untuk WP sendiri Rp.15.840.000 (Rp. 15.840.000) Penghasilan Kena Pajak (PKP) Setahun Rp. 5.060.760 PPh Pasal 21 Setahun : C. 5% x Rp. 5.060.760 Rp. 253.038 PPh Pasal 21 Sebulan : Rp. 21.086 KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI KOPERASI SWADHARMA DALAM MENGISI DAN MENYAMPAIKAN SPT Menurut pengamatan dan data yang penulis dapatkan selama penulis mengadakan penelitian di perusahaan ini, penulis melihat ada beberapa kendala yang dihadapi oleh Koperasi Swadharma sehubungan dengan pengisian dan penyampaian SPT Tahunan PPh Pasal 21. Salah satunya adalah terdapat perbedaan dalam jumlah SPT Tahunan 2008 dengan SPT Masa yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Menurut peraturan perpajakan saat terutangnya PPh Pasal 21 sesuai dengan KEP-545/PJ/2000 tanggal 29 Desember 2000 yaitu : 1. PPh Pasal 21dan/atau PPh Pasal 26 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan. 2. Pemotongan pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetorkan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan takwim. Universitas Sumatera Utara 3. Penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) selambat-lambatnya pada tanggal 20 bulan takwim berikutnya. Sebagaimana telah disempurnakan dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 252/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008, saat terutangnya pajak yaitu : 1. PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi Penerima Penghasilan pada saat dilakukan pembayaran atau pada saat terutangnya penghasilan yang bersangkutan. 2. PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk setiap masa pajak. 3. Saat terutang untuk setiap masa pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah akhir bulan dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan. D. PEMECAHAN MASALAH Reformasi pajak yang didesain untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dari pajak langsung, terutama pajak penghasilan pasal 21. Sasaran ini termasuk strategi mengingat posisi PPh Pasal 21 yang dapat digunakan sebagai alat untuk memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat. Sekalipun potensi penggalian dana dari pajak masih ada dalam jumlah besar, persoalan pajak tetap amat kompleks diantaranya seperti yang dihadapi oleh Koperasi Universitas Sumatera Utara Swadharma dalam pelayanan sistem administrasi pihak fiskus. Untuk itu penulis ingin agar dari segi pelayanan yang diberikan fiskus, wajib pajak merasa bahwa pajak itu bukanlah merupakan suatu beban tetapi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan karena pajak merupakan sumber utama penerimaan pemerintah dalam membiayai pembangunan di segala bidang dan digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum dengan cara lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat untuk mendapatkan kesan sebaik-baiknya. Pelayanan yang dapat meningkatkan penerimaan pajak tersebut adalah pelayanan yang baik. Pelayanan tersebut mempunyai formula yaitu suatu pelayanan yang mampu mengantisipasi atau mengatasi masalah-masalah yang muncul dan berkembang dalam masyarakat yang tertuang dalam peraturan pelaksanaan yang mudah dimengerti, dipahami dan terhadap aparat pajak harus tanggap dan cepat menyelesaikan masalah yang muncul serta mudah dan tidak berbelit-belit penyelesaiannya dan terakhir hasilnya benar dan sesuai dengan ketentuan. Selain itu, masalah yang paling mendasar yang dihadapi oleh Koperasi Swadharma adalah kurangnya penyuluhan dan sosialisasi perpajakan kepada wajib pajak. Sehingga menimbulkan kesalahan Wajib Pajak dalam menghitung, memotong, dan menyetorkan pajak terutangnya, akibat kurangnya penyuluhan-prnyuluhan tentang peraturan-peraturan perpajakan yang baru. Penyuluhan ini pada akhirnya akan bermuara pada pelayanan sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa Direktorat Jenderal Pajak perlu meningkatkan pelayanan yang baik. Universitas Sumatera Utara Penyuluhan ini dimaksudkan agar masyarakat yang terkait dengan bidang tersebut dapat sesegera mungkin mengetahui segala bentuk aturan pelaksanaan dan undang-undang yang baru agar mudah menyesuaikan kepengurusan perpajakannya. Dengan demikian wajib pajak dalam hal ini Koperasi Swadharma paling sedikit mengerti aturan-aturan tersebut yang kemungkinan bisa memahaminya. Karena mustahi bagi wajib pajak untuk melaksanakan peraturan-peraturan perpajakan yang baru dengan baik bila aparat tidak melakukan penyuluhan atau sosialisasi mengenai hal tersebut sehingga sering terjadi kesalah pahaman antara wajib pajak dengan aparat pajak mengenai pemberlakuan kebijakan perpajakan yang baru. Maka dalam hal ini komunikasi yang baik sangat diharapkan demi terciptanya suatu kerjasama yang baik antara aparatur perpajakan dengan wajib pajak sehingga wajib pajak merasa tidak ada batas antara aparatur perpajakan dengan wajib pajak. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Proses pelaksanaan kewajiban menghitung dan memperhitungkan PPh Pasal 21 oleh Koperasi Swadharma belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Perpajakan yang berlaku, khususnya menyangkut KEP- melaporkan Surat 545/PJ./2000 dan Kep.Menkeu No. 252/PMK.03/2008 2. Wajib Pajak yakni Koperasi Swadharma, telah Pemberitahuan (SPT) PPh 21-nya sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu batas pelaporan SPT paling lama pada tanggal 20 disetiap bulannya. 3. Wajib Pajak telah menyetorkan PPh Pasal 21 yang terutang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku yaitu Wajib Pajak harus menyetorkan pajak terutangnya paling lama pada tanggal 10 disetiap bulannya. Universitas Sumatera Utara B. SARAN Melalui kesempatan ini pula penulis ingin memberikan beberapa saran yang semoga dapat menjadi masukan bagi para pembaca. Adapun saran yang akan saya kemukakan adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan mutu pelayanan dari aparat perpajakan untuk memberikan kesan yang baik dan ramah kepada masyarakat Wajib Pajak. 2. PT Koperasi Swadharma Medan dalam melakukan kewajiban pemotong PPh Pasal 21 sebaiknya mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku yang diatur dalam KEP-15/PJ/2006 tanggal 23 Februari 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi, sebagaimana telah disempurnakan dalam Peraturan Mentri Keuangan Republik Indonesia Nomor 252/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak Atas Penghasilan Sehubung Dengan Pekerjaan, Jasa, Dan Kegiatan Orang Pribadi. 3. Mengikuti peraturan Perundang-Undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia sering mengalami perubahan, diharapkan kepada pihak perusahaan untuk terus-menerus memantau dan mengikuti perubahan-perubahan tersebut. Sehingga setiap perhitungan yang dilakukan itu selalu sesuai dengan perubahan yang telah dilakukan pemerintah dan tidak terjadi kesalahan dalam pemotongan ataupun pelaporan pajak penghasilan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Mardiasmo, 1996, Perpajakan Edisi 3, Andi Offset, Yogyakarta. Soemitro, Rochmat, 1997, Dasar_dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan 1994, Eresco, Bandung. Sihaloho, Cyrus, 1996, Modul Ketentuan Umum Perpajakan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Waluyo, dan Wirawan B Ilyas, 2003, Perpajakan Indonesia, PT. Salemba Empat, Jakarta. Buku Petunjuk Pajak Penghasilan Pasal 21, Departemen Keuangan ; Perum Percetakan Negara. Pemerintah Republik Indonesia, Undang - Undang Nomor. 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pemerintah Republik Indonesia, Undang - Undang Nomor. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. www.pajak.go.id. Universitas Sumatera Utara
Prosedur Pengisian Dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Pasal 21 Pada PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja Angka 2 : Nama WP Angka 3 : Alamat Angka 4 : Nomor Telepon Angka 20 Angka 21 Angka 22 Angka 24 Angka 25 Angka 25a Angka 25b Angka 26 Angka 27 Angka 28 Surat Pemberitahuan 1. Pengertian Surat Pemberitahuan SPT Fungsi pajak Pembagian Pajak Fungsi SPT Jenis Surat Pemberitahuan SPT Hak dan Kewajiban Pemotong PPh Pasal 21 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri PKLM Metode Pengumpulan Data Sistematika Penulisan laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri Objek Pajak PPh Pasal 21 Pemecahan Masalah Kesimpulan Prosedur Pengisian Dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Pasal 21 Pada PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pemotong Pajak PPh Pasal 21 Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri Metode Paraktik Kerja Lapangan Mandiri Sejarah Umum PT Jamsostek Persero Kanwil I Medan Struktur Organisasi PT Jamsostek Persero Kanwil I Medan Subjek Pajak PPh Pasal 21 Tata Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 Tinjauan Pajak Penghasilan Tinjuan Surat Pemberitahuan SPT Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Prosedur Pengisian Dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Pasal 21 Pada PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Gratis