Feedback

Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra

Informasi dokumen
NILAI MORAL DALAM KOMIK NARUTO : KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA TESIS OLEH HENNILAWATI 097009024/LNG SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmar dan hidayah-Nya tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini berjudul “Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra.” Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat magister pada Program Studi Magister (S2) Linguistik, Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Penulis juga tidak lupa mengucapkan salawat dan salam pada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Selama proses, pengerjaan tesis ini, penulis memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknyalah penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Asmyta Surbakti, M.Si., sebagai Pembimbing Akademik, dan Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin Pembimbing I. Selama penulis menjadi mahasiswa di Program Studi Magister, Program Studi Linguistik beliau telah banyak memberikan pelajaran yang berharga. Dengan selesainya tesis ini juga memberikan pelajaran yang berharga bagi penulis, karena telah banyak arahan, masukan, dan motivasi yang diberikan beliau kepada penulis dalam penyempurnaan tesis ini. Terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Thyrhaya Zein, M.A, yang telah bersedia menjadi pembimbing II. Beliau dengan penuh ketelitian dan perhatian memberikan bimbingan, masukan, dan motivasi Universitas Sumatera Utara yang sangat berharga demi perbaikan tesis ini. Perhatian beliau memberikan dorongan semangat bagi penulis untuk segera mungkin menyelesaikan tesis ini. Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Direktur Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Sastra, serta Ketua dan Sekretaris Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, beserta staf dan karyawan, yang telah memberikan peluang dan berbagai kemudahan kepada penulis sejak awal perkuliahan hingga menyelesaikan tesis ini. Secara khusus, penulis rasa terima kasih yang tak terhingga kepada ayahanda, ibunda, adik, dan orang-orang tersayang di keluarga penulis, sahabat terdekat yang selalu memberikan dorongan dan bantuan selama penulis kuliah. Juga tidak lupa, penulis ucapkan terima kasih kepada teman-teman satu stambuk di sekolah Pascasarjana Studi Linguistik Universitas Sumatera Utara, serta kepada Yayasan Al-Iman dan STKIP “Tapanuli Selatan” Padang Sidimpuan, yang turut memberikan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan tesis ini. Medan, Juni 2011 Penulis, Hennilawati, S.S. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING PANITIA PENGUJI PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR. i DAFTAR ISI. iii DAFTAR TABEL . vi DAFTAR LAMPIRAN . vii ABSTRAK . viii ABSTRACT . ix BAB I PENDAHULUAN . 1.1 Latar Belakang Masalah. 1.2 Perumusan Masalah . 1.3 Tujuan Penelitian . 1.4 Manfaat Penelitian . 1.4.1 Manfaat Teoretis . 1.4.2 Manfaat Praktis . 1 1 12 12 13 13 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORETIS . 2.1 Kajian Pustaka. 2.2 Konsep. 2.2.1 Nilai Moral . 14 14 15 15 Universitas Sumatera Utara 2.2.2 Kebudayaan Jepang. 2.2.3 Pandangan Moral Bagi Jepang. 2.2.4 Komik Sebagai Genre . 2.3 Landasan Teoretis . 2.3.1 Sastra Anak . 2.3.2 Genre Sastra Anak . 2.3.3 Sosiologi Sastra. 2.3.4 Resepsi Sastra . 21 23 28 30 30 31 33 34 BAB III METODE PENELITIAN . 3.1 Metode Penelitian. 3.2 Lokasi Penelitian . 3.3 Teknik Pegumpulan Data . 3.4 Teknik Analisis Data. 3.5. Sumber Data. 3.6 Model Penelitian . 36 36 39 39 40 41 44 BAB IV GAMBARAN UMUM KOMIK NARUTO. 4.1 Strukturalisasi Komik Naruto . 4.2 Tokoh Dalam Komik Naruto . 4.3 Latar Tempat Di Dalam Komik Naruto . 4.3.1 Negara Utama dan Desa Tersembunyi Dalam Komik Naruto . 4.4 Tema. 46 46 64 72 72 78 BAB V BENTUK / WUJUD NILAI MORAL DALAM KOMIK NARUTO . 80 5.1 . Arti Moralitas dalam Karya Sastra . 80 Universitas Sumatera Utara BAB VI 1. Empati . 84 2. Menghargai dan Menghormati Orang Lain. 92 3. Kontrol Diri. 97 4. Keadilan . 103 RESEPSI PEMBACA ANAK INDONESIA TERHADAP NILAI MORAL DALAM KOMIK NARUTO. 110 6.1 . Makna Nilai Moral dalam Komik Naruto . 110 6.1.1. Nilai Kekerasan dalam Komik Naruto. 112 6.1.2. Menumbuhkan Rasa Kebersamaan . 127 6.1.3. Membangun Jiwa Kebangsaan. 120 6.2 Temuan Nilai Moral dalam Komik Naruto . 127 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. 132 7.1 . Simpula n. 132 7.2 . Saran . 135 DAFTAR PUSTAKA . 136 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 1. Daftar Tokoh dan Karakterisasi dalam Komik Naruto . Tabel 2. Nilai moral empati berupa Ucapan dan tindakan orang yang memiliki empati. Tabel 3. Nilai moral menghargai dan menghormati yang ditunjukkan dalam bentuk perkataan dan tindakan orang yang memiliki rasa hormat . Tabel 4. Nilai moral dalam bentuk kontrol diri baik berupa perkataan dan perbuatan orang yang memiliki kontrol diri . Tabel 5. Nilai moral dalam bentuk keadilan baik ucapan atapun tindakan orang yang adil . 71 91 96 102 108 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Glossarium . Lampiran 2. Sinopsis Naruto . Lampiran 3. Pengarang Komik Naruto . Lampiran 4. Gambar Sampul Komik Naruto . Lampiran 5. Angket Terhadap Pembaca Anak Tentang Nilai Moral Yang Ada Dalam Komik Naruto . 141 150 157 162 167 Universitas Sumatera Utara ASBTRAK Nilai Moral dalam Komik Naruto : Kajian Sosiologi Sastra Kerangka pikir dari penelitian itu dimulai dengan sastra anak yang dikaitkan dengan nilai moral dalam komik Naruto. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan bagaimana nilai moral serta hasil resepsi pembaca anak Indonesia terhadap komik Naruto. Bentuk dan wujud nilai moral merupakan struktur dari komik Naruto diamati secara totalitasdipadukan dengan latar dan sejumlah tokoh sehingga tergambarlah kedudukan mereka sebagai pusat dari struktur itu. Ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra oleh Wellek dan Warren, yakni dengan menekankan pada sosiologi karya. Sedangkan untuk resepsi pembaca anak Indonesia ditinjau berdasarkan teori resepsi Iser setelah dipadukan dengan hasil sebaran angket terhadap pembaca anak. Komik Naruto volume 1 sampai volume 10 karya Masashi Kisimoto ini merupakan sumber data penelitian yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten dan studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis dalam pembahasan, diperoleh temuan nilai moral, yaitu, (1) Empati, (2) Rasa menghargai dan menghormati orang lain, (3) Kontrol diri serta (4) Rasa keadilan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa dari ke 10 nilai moral yang ada dalam komik Naruto, ternyata hanya empat yang berterima bagi anak Indonesia. Dalam arti tidak semua nilai moral produk Jepang bisa diterima oleh pembaca anak Indonesia. Temuan berikutnya adalah ditemukannya Resepsi Pembaca Anak Indonesia setelah membaca komik Naruto berupa (1) Nilai kekerasan, (2) Menumbuhkan rasa kebersamaan, (3) Membangun jiwa kebangsaan. Temuan-temuan ini tidak bisa dilepaskan dari fakta dan makna cerita yang saling melengkapi dalam kemaknaan tesk sastra. Kata kunci : nilai moral, resepsi pembaca, dan sosiologi sastra. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The Moral Value in Naruto Comic: A Study On Sociological Literature The consideration in this research is begin by the children literature that related to the moral value in Naruto Comic. This research aims to expose how the moral value and the reading perception of the Indonesia child to the Naruto comic. The form and manifestation of the moral value is a structure of the Naruto Comic that observed totally and integrated to the background and the number of figures that manifest their position as the center of the structure. This review is based on the literature sociology theory by Wellek and Warren, i.e. by focus to the work sociological work. While for the reading perception of the child of Indonesia is reviewed based on the perception theory of Iser after be integrated to the questionnaire on the child reading. The Naruto Comic volume 1 up to volume 10 by Masashi Kisimoto is a source of data that analyzed by using the content analysis method and library research. Based on the results of analysis in discussion, it found the moral value, i.e. (1) empathy. (2) respect to the other people, (3) self control and (4) Justness sense. These results indicated that of 10 moral values in Naruto comic, only four of them that accepted by the Child of Indonesia. It means that did not all of the moral value of Japan product can be accepted by the child of Indonesia. The next results is the reading perception of the child of Indonesia after to read the Naruto Comic are (1) Harshness value, (2) Build the togetherness value, (3) to build the nationality spirit. These conditions can not be separated from the fct and meaning of the story that support in the literature text meaning. Keywords : Moral value, reading perception and literature sociology Universitas Sumatera Utara ASBTRAK Nilai Moral dalam Komik Naruto : Kajian Sosiologi Sastra Kerangka pikir dari penelitian itu dimulai dengan sastra anak yang dikaitkan dengan nilai moral dalam komik Naruto. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan bagaimana nilai moral serta hasil resepsi pembaca anak Indonesia terhadap komik Naruto. Bentuk dan wujud nilai moral merupakan struktur dari komik Naruto diamati secara totalitasdipadukan dengan latar dan sejumlah tokoh sehingga tergambarlah kedudukan mereka sebagai pusat dari struktur itu. Ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra oleh Wellek dan Warren, yakni dengan menekankan pada sosiologi karya. Sedangkan untuk resepsi pembaca anak Indonesia ditinjau berdasarkan teori resepsi Iser setelah dipadukan dengan hasil sebaran angket terhadap pembaca anak. Komik Naruto volume 1 sampai volume 10 karya Masashi Kisimoto ini merupakan sumber data penelitian yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten dan studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis dalam pembahasan, diperoleh temuan nilai moral, yaitu, (1) Empati, (2) Rasa menghargai dan menghormati orang lain, (3) Kontrol diri serta (4) Rasa keadilan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa dari ke 10 nilai moral yang ada dalam komik Naruto, ternyata hanya empat yang berterima bagi anak Indonesia. Dalam arti tidak semua nilai moral produk Jepang bisa diterima oleh pembaca anak Indonesia. Temuan berikutnya adalah ditemukannya Resepsi Pembaca Anak Indonesia setelah membaca komik Naruto berupa (1) Nilai kekerasan, (2) Menumbuhkan rasa kebersamaan, (3) Membangun jiwa kebangsaan. Temuan-temuan ini tidak bisa dilepaskan dari fakta dan makna cerita yang saling melengkapi dalam kemaknaan tesk sastra. Kata kunci : nilai moral, resepsi pembaca, dan sosiologi sastra. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The Moral Value in Naruto Comic: A Study On Sociological Literature The consideration in this research is begin by the children literature that related to the moral value in Naruto Comic. This research aims to expose how the moral value and the reading perception of the Indonesia child to the Naruto comic. The form and manifestation of the moral value is a structure of the Naruto Comic that observed totally and integrated to the background and the number of figures that manifest their position as the center of the structure. This review is based on the literature sociology theory by Wellek and Warren, i.e. by focus to the work sociological work. While for the reading perception of the child of Indonesia is reviewed based on the perception theory of Iser after be integrated to the questionnaire on the child reading. The Naruto Comic volume 1 up to volume 10 by Masashi Kisimoto is a source of data that analyzed by using the content analysis method and library research. Based on the results of analysis in discussion, it found the moral value, i.e. (1) empathy. (2) respect to the other people, (3) self control and (4) Justness sense. These results indicated that of 10 moral values in Naruto comic, only four of them that accepted by the Child of Indonesia. It means that did not all of the moral value of Japan product can be accepted by the child of Indonesia. The next results is the reading perception of the child of Indonesia after to read the Naruto Comic are (1) Harshness value, (2) Build the togetherness value, (3) to build the nationality spirit. These conditions can not be separated from the fct and meaning of the story that support in the literature text meaning. Keywords : Moral value, reading perception and literature sociology Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan kognisi, emosi, dan keterampilan anak tidak bisa lepas dari peran karya sastra. Buktinya, sekalipun dalam gempuran budaya elektronik (Barat), sampai saat ini sastra masih digunakan guru dan orangtua, sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai edukasi dan moral pada anak. Sastra anak merupakan salah satu jenis satra yang ditujukan kepada anak. Sebagai media tersebut, cenderung dilupakan karena anak sering disuguhkan dengan televisi, yang secara langung dapat menarik perhatian anak. Sastra anak yang meliputi beragam jenis dan bentuk, baik syair maupun prosa, contohnya hikayat, beragam pantun, dongeng, legenda, dan mitos. Ternyata karya-karya itu telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Gagasan Swingewood (dalam Endaswara 2011: 115) esensi analisis data sosiologis harus dilakukan ilmiah sehingga mampu mengungkapkan: (1) kehidupan manusia di masyarakat secara objektif, (2) memaknai lembagalembaga sosial, (3) memahami proses sosial, dengan menelusuri bagaimana masyarakat itu “mungkin” (berkembang, mundur). Dalam hal ini langkah-langkah yang diikuti dalam penelitian tersebut hanya pada point tertentu yang memang dibutuhkan oleh peneliti. Peneliti menyederhanakan uraian panjang di atas mengenai analisis data dengan mempergunakan teknik simak dan catat data yang terdapat pada novel Sepatu Dahlan, yaitu membaca dan menyimak objek kajian terlebih dahulu lalu kemudian mencatat hal-hal yang terkait dengan rumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya, pencatatan ini dilakukan di kartu data. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif sering diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan “perhitungan” atau dengan angka-angka (Moleong, 1982: 2). Metode ini sangat tepat dipergunakan dalam menganalisis data yang ditemukan dalam penelitian ini, hal ini dapat ditegaskan dengan salah satu ciri penting yang terdapat dalam metode kualitatif, sebagai berikut : memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural (Ratna, 2004: 46).Adapun data awal dalam penelitian ini sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara Pesan moral kejujuran dalam Sepatu Dahlan “Hanya ada satu yang disegani Bapak. Kiai Mursyid. dari sana bermula muslihat yang melintas dalam benakku.” (Pabichara, 2012:24) “Dengan suara pelan, aku berkata, aku bermimpi bertemu Kiai Mursjid.” “Belum lagi rampung kalimatku, bapak sudah duduk bersila menekur di depanku, tenggelam dengan ketakziman yang tak terbayang olehku.” “Apakah kesunyian ini aku nikmati? Tidak, aku merasa sangat bersalah. Malah mungkin aku telah menjadi anak durhaka, mempermainkan perasaan orang tua sendiri. Air mataku menetes, sungguh. Aku sedang tak berniat mengambil keuntungan apapun dari kesungguhan Bapak di depan mataku.”(Pabichara, 2012:25) Pada penggalan data di atas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa seorang anak semula ingin membohongi orang tuanya pada akhirnya tidak mampu melakukannya karena dorongan nurani untuk berkata jujur lebih kuat. Sudah seharusnya, sebagai manusia yang dianugerahi akal pikiran oleh yang Maha Kuasa untuk tidak memupuk sifat dusta dalam diri. Apapun alasannya kebohongan hanya akan membawa kepada hal yang tidak baik. Penggalan berikutnya yang juga menyiratkan pesan akan berharganya kejujuran terdapat pada kutipan berikut ini: “Lapar ndak berarti harus maling, Dik. Bukan karena nama baik keluarga, tapi mbak takut itu jadi kebiasaan. Setiap perut kalian lapar, nyuri jadi pilihan.” “Ojo wedi mlarat. Yang penting tetap jujur!” (Pabichara, 2012: 109) Motivasi dalam Sepatu Dahlan “Pilih ngedi, sugih tanpa iman opo mlarat ananging iman?” Dengan tegas aku menjawab,”Sugih ananging iman, Pak.” Universitas Sumatera Utara “Daripada hidup bergelimang harta tapi tidak beriman, memang lebih baik hidup miskin tapi beriman. Namun, kondisi terbaik, tentu saja, adalah kaya dan tetap beriman. Paling tidak, kalau kaya pasti aku bisa membeli sepatu dan sepeda. Dengan demikian, aku tidak perlu berangkat ke sekolah terlalu pagi dan kaki lecet-lecet karena terpeleset di batu-batu jalanan yang licin akibat tersapu embun semalaman. Meskipun, lecet-lecet di telapak kaki belum apa-apa jika dibandingkan dengan perjuangan pemuda dari Yaman yang dikisahkan Bapak tadi.” (Pabichara, 20012: 31) Dari sebaris pepatah Jawa, tokoh Dahlan menemukan motivasinya untuk sampai posisi saat ini sebagai menteri BUMN. Akhirnya Dahlan membuktikan sepatu dan sepeda yang diimpikannya pada saat kecil tidak terulang pada anaknya di masa ini yang tentu dengan mudah mendapatkan fasilitas tidak seperti Dahlan saat masa kecil. Sebaris motivasi itu yang kemudian ditanamkan erat di pikirannya agar tetap menjadi orang yang kaya harta dan kaya iman. Universitas Sumatera Utara BAB IV PESAN MORAL DAN MOTIVASI DALAM NOVEL SEPATU DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA 4.1 Pesan Moral dalam Novel Sepatu Dahlan Pada bab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pesan moral merupakan amanat yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca, baik itu melalui tokoh atau alur yang terdapat dalam cerita. Moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila dalam kehidupan manusia baik secara individu ataupun kehidupan bermasyarakat. Jenis ajaran moral sangatlah luas menyangkut pada setiap persoalan hidup dan kehidupan, secara garis besar Nurgiyantoro (1995: 324) membedakannya menjadi persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Setelah membaca dan memahami novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara, maka peneliti menetapkan bahwa unsur-unsur pesan moral yang dikaji adalah kejujuran, ketaatan dalam beribadah, ketaatan pada orang tua, dan loyalitas dalam berteman. Sedangkan unsur lainnya, yaitu motivasi akan dikaji dan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya. Universitas Sumatera Utara 4.1.1 Kejujuran dalam Novel Sepatu Dahlan Kejujuran dapat diartikan sebagai sikap (keadaan) jujur yang mengedepankan ketulusan dan kelurusan hati dalam bertindak (berkelakuan) maupun dalam perkataan yang dijalankan oleh manusia dalam kehidupan yang menjadikannya sebagai salah satu dari nilai moral yang diapresiasikan sebagai perilaku positif dalam diri manusia. Kejujuran tidak selalu ada dalam diri manusia, seringkali justru kebohongan lebih menguasai pikiran, perbuatan, dan perkataan yang membuat manusia akhirnya mengesampingkan nilai kejujuran tersebut. Padahal untuk menjadi pribadi yang lebih baik kejujuran adalah nilai yang harus ditanamkan sejak dini dalam diri masing-masing. Proses menuju kejujuran memang tidak selalu berjalan lancar seringkali pikiran buruk justru mendorong manusia untuk berlaku curang dan mengesampingkan nilai kebenaran. Namun, kembali lagi pada pribadi masingmasing dan sekuat apa pondasi keimanan seseorang yang akan menghantarkannya pada pilihan baik atau buruk, jujur atau bertindak curang (berbohong). Syaikh Al- Utsaimin (dalam blog Dwi Handaru) mengutarakan hakikat jujur adalah selarasnya kabar dengan realita, baik berupa perkataan atau perbuatan. Dalam praktik dan penerapannya hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau yang dibicarakan dan tindakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang Universitas Sumatera Utara sebenarnya, orang tersebut dapat dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, munafik, atau yang lainnya. Setiap agama pasti mengajarkan kebenaran begitu pula halnya dalam tindaktutur. Dalam agama Islam misalnya, kejujuran bagi seorang muslim bukan sekadar akhlak yang utama saja yang wajib dilakukan tanpa lainnya, akan tetapi dipandang lebih jauh daripada itu sebagai penyempurna Islam, sebab Allah yang memerintahkan demikian. Sesuai dengan firman-Nya memerintahkan kejujuran: “Hai, orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah 119). Keutamaan berlaku jujur bukanlah untuk sekadar citra baik yang didapat dari penilaian masyarakat saja atau terlebih dari Sang Pencipta. Namun lebih dari itu, kejujuran memberikan dampak positif, selain balasan pahala yang dijanjikan Sang Pencipta, manfaat lain berupa ketenangan batin dan kepercayaan. Novel Sepatu Dahlan memasukkan unsur kejujuran dalam rangkaian ceritanya. Dalam novel ini kejujuran dituliskan sebagai salah satu unsur yang menguatkan kesan bahwa novel ini sarat akan pesan moral. Berikut ini beberapa penggalan paragraf dalam novel Sepatu Dahlan yang menunjukkan kejujuran: Inilah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana. Dengan suara pelan, aku berkata, “Aku mimpi bertemu Kiai Mursjid.” Belum lagi rampung kalimatku, Bapak sudah duduk bersila sambil menekur di depanku, tenggelam dalam ketakziman yang tak terbayangkan olehku. Serta merta keheningan menyelimuti kami berdua. Tak ada yang bersuara, tak ada yang bergerak. Bapak terkesima menatapku, lalu duduk bersila di hadapanku. “Apa pesan Kiai Mursjid, Le?” “Pesan Kiai, aku harus lanjut sekolah,” jawabku dengan suara bergetar. Universitas Sumatera Utara Bapak menekur, terdiam. Lalu, “Kamu jawab apa?” Seketika rasa bersalah memilin-milin hatiku. Tidak, aku tidak ingin mempermainkan hati lelaki pendiam yang kukagumi kesetiaannya ini. Apakah kesunyian ini aku nikmati? Tidak, aku merasa sangat bersalah. Malah, mungkin aku telah menjadi anak durhaka, mempermainkan perasaan orang tua sendiri. Air mataku menetes, sungguh. Aku juga sedang tak berniat mengambil keuntungan apa pun dari kesungguhan Bapak di depan mataku. (Pabichara, 2012: 25) “Aku akan sekolah di hati pengarang mengajak para pembaca untuk selalu yakin dan percaya pada diri sendiri untuk mendapatkan sikap optimis. Pengarang juga menyampaikan pesan moral melalui kisah ketika pengarang bersama sang istri mengalami pergelutan dan kesusahan. Pengarang menyampaikan pesan moral melalui cara di melewati kesusahan itu. Dalam keadaan kegelisahan ini, saya memanjatkan doa kepada Allah SWT, tanpa suara namun dengan getaran jiwa, agar diberi petunjuk untuk mengambil jalan benar.(Hlm:270). Dalam kegelisahannya pengarang menyampaikan agar kita selalu berpegang pada Allah SWT agar kita mampu menghadapi segala persoalan dalam hidup. c. Menggunakan Cara Berpikir Tokoh Pesan moral juga disampaikan pengarang melalui cara berpikir tokoh dalam cerita. Secara garis besar, cara berpikir tokoh dalam novel Habibie Ainun digambarkan oleh pengarang tentang kehidupan bersama istri. Bentuk penyampaian pesan moral ini dapat dilihat pada kutipan berikut Ainun sama sekali tidak memperlihatkan keprihatinan dan kegelisahan untuk tidak mengganggu konsentrasi saya, pada pekerjaan dengan segala masalah yang sedang saya hadapi.(hlm:27) Pengarang dalam kutipan di atas memperlihatkan cara berpikir pengarang yang salalu memerhatikan secara sangat detail apa yang dilakukan oleh Ainun. Selain dengan memerhatikan sang istri, pengarang juga memberikan pesan moral berkaitan dengan prinsip kerja yang dia pegang selama menjalani kehidupan. Kunci keberhasilan ditentukan dan tergantung pada kualitas, produktivitas dan daya saing SDM. (Hlm:194) Melalui kutipan di atas, kita dapat mengutip bahwa pengarang adalah seorang yang menekankan pada kualitas diri. Cara berpikir seperti ini memberikan pengarang itu pesan moral bagi pembaca untuk meneladani cara berpikir pengarang. d. Menggunakan Dialog Antartokoh Pesan moral dalam novel Habibie dan Ainun juga disisipkan pada percakapan antartokoh dalam novel. Kutipan di bawah ini adalah ketika Ainun menyemangati pengarang yang hampir menyerah dalam berusaha untuk menyelesaikan peerjaaannya. Kekecewaan begitu besar sehingga wajah saya sedih. Melihat itu, Ainun datang dan sambil memeluk dan mencium pipi dan dahi saya ia berkata:”Saya yakin bahwa semua yang dipikirkan dan dikembangkan Rudy itu sudah benar dan tepat. Mungkin ada kesalahan pada angka masukan yang begitu banyak. Mengenal kemampuanmu saya sangat yakin akan keunggulanmu”(hlm:34) Dari kutipan di atas, pengarang menyampaikan cara Ainun memberi semangat kepada dirinya untuk tidak menyerah. Pesan moral yang disisipkan dari percakapan di atas adalah agar kita bisa memberikan rasa semangat bagi orang di sekitar kita yang sedang putus asa. Bentuk penyampaian pesan moral melalui dialog antar pelaku dapat juga dilihat pada kutipan ini. “Mengapa saudara masih berada di rantau sementara saudara-saudaramu membanting tulang untuk membangun bangsanya. Saudara ikut membangun bangsa lain. Saudara harus malu dan segera ikut bergabung dengan saudara-saudaramu menempa masa depan yang lebih baik bagi Indonesia yang kita cintai!!!” (Hlm:71) Kutipan di atas menggambarkan sikap tokoh pelaku yang tetap berpegang pada prinsip walaupun prinsip itu mengakibatkan adanya perseteruan dengan tokoh lain. 2. Bentuk Penyampaian Pesan Moral secara Tidak Langsung Bentuk penyampaian pesan moral secara tidak langsung adalah para pembaca mengaitkan kehidupan pengarang dengan unsur dalam novel, yaitu cerita dalam novel Habibie dan Ainun. Bentuk penyampaian pesan moral ini terjadi secara tersirat. Secara umum, bentuk penyampaian pesan moral secara tidak langsung membutuhkan penafsiran isi cerita dengan kaitan ke pengarang. Pengarang novel Habibie dan Ainun adalah Bapak Habibie memudahkan penafsiran. Penafsiran dalam hal ini adalah berkaitan dengan cara berpikir pengarang. Dialog harus dimulai pada peningkatan kualitas pendapat yang sama dan jangan dimulai dengan pemikiran yang bertentangan.(Hlm:150) Pesan moral dalam kutipan di atas disampaikan dengan bentuk pemerintahan yang dilakukan pengarang saat menjabat sebagai kepala negara. Beliau menjalankan pemerintahan demokrasi secara penuh. Bentuk pesan moral secara tidak langsung juga dapat dikutip dari kutipan di atas ini Yang membedakan manusia bukanlah jenis kelaminnya, tetapi tingkat ketakwaannya dan kemampuan pribadinya untuk berbuat mulia bagi masyarakat dan bangsanya.(Hlm:156) Pengarang melalui kutipan di atas menyampaikan pesan moral melalui pemahamannya. Pengarang tidak langsung menuliskan bahwa tidak ada perbedaan gender antara pria dan wanita, tetapi penulis menuliskan apa yang dia yakini. Pembaca sebagai penafsir sudah selayaknya meneladani pemahaman pengarang ini. Memang dalam kehidupannya, pengarang selalu menunjukkan rasa hormat kepada wanita terutama sang istri. Selain itu, secara tidak langsung, pengarang juga memberikan motivasi dengan motto yang dipegangnya. Kunci keberhasilan ditentukan dan tergantung pada kualitas, produktivitas dan daya saing SDM. (Hlm:194) Pembaca melalui kutipan di atas akan mendapat nilai moral dalam hal ini motivasi dalam mencapai keberhasilan. Keberhasilan pengarang sedikit banyak memengaruhi filosofi yang dituliskan.Pembaca yang membaca dan menafsirkan filosofi tersebut akan memikirkan bahwa itu adalah kunci keberhasilan yang dipegang oleh pengarang sehingga dia bisa menjadi orang yang berhasil. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Penelitian terhadap pesan moral dalam novel Habibie dan Ainun karya Bacharuddin Jusuf Habibie menghasilkan dua simpulan. Simpulan pertama menyimpukan pesan moral yang terdapat dalam novel Habibie dan Ainun karya Bacharuddin Jusuf Habibie dibagi atas tiga bagian: 1. Agama Pesan moral agama delam novel ini dikaitkan dengan kepercayaan dan keyakinan pengarang kepada Allah SWT. Hal ini dikaitkan dengan tokoh pengarang selalu bersyukur dalam kebahagiaan dan kesusahannya. 2. Budaya Pesan moral dalam budaya berkaitan dengan cara bagaimana pengarang menjalani kehidupan bersama sang istri serta bagaimana pengarang menghormati ibunya. 3. Pendidikan Dalam pendidikan, novel ini mengandung pesan moral pendidikan berkarakter. Secara umum pesan moral pendidikan berkaitan dengan pengembangan diri dan motivasi. Simpulan kedua adalah berkaitan dengan cara pengarang menyampaikan pesan moral dalam novel. Cara pengarang dalam menyampaikna pesan moral dalam novel Habibie dan Ainun karya Bacharuddin Jusuf Habibie, antara lain 1. Penyampaian pesan moral secara langsung. Penyampaian pesan moral secara langsung melibatkan unsur dalam cerita novel. Unsur dalam novel yang digunakan dalam menyampaikan pesan moral dibagi atas empat, yaitu 2. a. Tokoh dalam cerita b. jalinan cerita c. dialog antar tokoh d. cara berpikir tokoh. Penyampaian pesan moral secara tidak langsung Bentuk penyampaian secara tidak langsung dalam novel dikaitkan dengan kehidupan pengarang. Secara umum penyampaian pesan moral ini dilakukan dengan cara berpikir pengarang yang patut untuk diteladani. 5.2 Saran Untuk meningkatkan apresiasi dan penjajakan terhadap karya sastra, terutama novel, disarankan pada masyarakat sebagai apresiator dan sekaligus sebagai kreator dalam menciptakan karya sastra. Masyarakat diharapkan lebih mengetahui pendekatan secara sosiologi sastra dengan objek kajian karya sastra terutama novel. DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan dan Dendy Sugono. 2002. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Andre, Hardjana. 1985. Kritik Sastra : Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia. Aminudin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandug: sinar baru Budiningsih, Asri. 2004, Pembelajaran Moral. Jakarta: Rineka Cipta. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, Dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Hadiwardoyo, Purwa. 1990. Moral dan Masalahnya. Yogyakarta: Kanisius. Harjito. 2007. Melek Sastra Untuk 17 Tahun Ke-atas. Semarang: IKIP PGRI Semarang. Noor, Redyanto. 2004. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo. Noor, Redyanto. 2007. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo. Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajahmada university pers. Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada UniversityPress. Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Tehnik Penelitian Sastra. Jogyakarta: Pustaka Pelajar. Semi, Atar. 1989. Kitik sastra. Bandung: Angkasa. Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widyaduta. Suseno, Frans Magnis. 1987. Etika Dasar Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius. Teeuw,A. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta:Pustaka Jaya. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Terjemahan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia. Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung: Karya Putra Darwati.
Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra Berkaitan dengan Tanggung Jawab Kita Berkaitan dengan Hari Nurani Kirigakure Desa KiriDesa Kabut Tersembunyi Kumogakure Desa KumoDesa Tersembunyi Diantara Awan Iwagakure Desa IwaDesa Tersembunyi Diantara Bebatuan Komik sebagai genre Konsep Konohagakure Desa KonohaDesa Daun Otogakure Desa OtoDesa Bunyi Sunagakure Desa SunaDesa Pasir Sembunyi Latar Belakang Masalah Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra Lokasi Penelitian Teknik Pegumpulan Data Teknik Analisis Data Membangun Jiwa Kebangsaan Makna Nilai Moral dalam Komik Naruto Menumbuhkan Rasa Kebersamaan Makna Nilai Moral dalam Komik Naruto Nilai Kekerasan dalam Komik Naruto Pandangan Moral Bagi Jepang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Kajian Pustaka Sastra Anak Genre Sastra Anak Simpulan Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra Sosiologi Sastra Resepsi Sastra Strukturalisasi Komik Naruto Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra Sumber Data Model Penelitian Tema Arti Moralitas dalam Karya Sastra Temuan Nilai Moral dalam Komik Naruto Tokoh Dalam Komik Naruto Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian Sosiologi Sastra
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Nilai Moral Dalam Komik Naruto Kajian : Sosiologi Sastra

Gratis