Feedback

Factors influence subak members in adopting system of rice intensification (sri) in seven regencies in the Province of Bali

Informasi dokumen
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ANGGOTA SUBAK MENGADOPSI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI TUJUH KABUPATEN DI PROVINSI BALI OLEH: I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Faktor-faktor yang Memengaruhi Anggotas Subak Mengadopsi System of Rice Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten di Provinsi Bali adalah benar hasil karya saya sendiri dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun pada Perguruan Tinggi manapun. Bahan rujukan atau sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan ataupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Januari 2012 I Gede Setiawan Adi Putra ii ABSTRACT I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Factors Influence Subak Members in Adopting System of Rice Intensification (SRI) in Seven Regencies in the Province of Bali Supervisor Commission: Amri Jahi (Chief Supervisor), Djoko Susanto, Pang S. Asngari, I Gusti Putu Purnaba and Sugiyanta (as members). Subak as the traditional irrigation institusion of Bali has a large potential in adopting the System of Rice Intesification (SRI) innovation. The goals of this research are: (1) To find the factors which affect the adoption of SRI amongst subak members; (2) To analyse the perception, attitude, self-reliance and adoption factors of the subak members; (3) To analyse the causal relations (cause-effect) between the factors that affect the adoption of SRI amongst subak farmers; and (4) To formulate a model of SRI adoption amongst the subak member farmers in accordance to the social system of subak. This research is designed to be Ex post facto. The population of this research is 288 members of subak that have implemented the System of Rice Intensification (SRI). Using the Slovin formula, the sample of this research becomes 104 people. The analysis used is Structural Equation Model (SEM) with the Lisrel Version 8.3 programme. The results are: (1) The factors that affect the adoption of SRI by the members of subak are characteristics, facilitator competence, caretaker competence, perception, attitude, and self-reliance.; (2) Perception is affected by characteristic, facilitator competence, and caretaker competence. Attitude is affected by perception, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence. Self-reliance is affected by attitude, perception, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence. Adoption is affected by self-reliance, perception, attitude, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence; (3) The better the characteristic, facilitator competence, subak caretaker competence, perception, attitude, and self-reliance of the subak members, the better the adoption of SRI; and (4) The suitable development model of SRI is the model which develops self-reliance and emphasizes on independent learning. Keywords: adoption, innovation, SRI, farmers, caretakers, facilitators iii RINGKASAN I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Anggota Subak Mengadopsi System of Rice Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten Provinsi Bali. Komisi Pembimbing: Amri Jahi (Ketua), Djoko Susanto, Pang S. Asngari, I Gusti Putu Purnaba dan Sugiyanta (masing-masing sebagai anggota). Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang besar dalam pengadopsian inovasi SRI. Petani anggota subak memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI. Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (2) Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (3) Menganalisis hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; dan (4) Merumuskan model pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak. Populasi penelitian ini adalah anggota subak (kelompok tani tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi) dan menerapkan System of Rice Intensification (SRI) yang berjumlah 288 orang yang tersebar di tujuh kabupaten di Bali. Dengan rumus Slovin, ditetapkan sampel penelitian sebanyak 104 orang petani anggota subak yang telah menerapkan SRI. Penelitian dirancang sebagai penelitian Ex post facto. Ex post facto berarti ”setelah kejadian,” peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya perbedaan tingkah laku atau status kelompok individu. Model yang digunakan adalah model persamaan structural (Structural Equation Model). Model ini digunakan untuk menguji model-model empiris untuk menjelaskan varian dan korelasi antara suatu set peubah-peubah yang diobservasi (observe) dalam suatu sistem kausal (sebab akibat) dari faktor-faktor yang tidak diobservasi (unobserve). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas isi. Untuk mendapatkan keabsahan peubah penelitian, faktor, serta isi maka iv instrumen penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan penilaian juri dari luar komisi pembimbing. Korelasi Cronbach alpha digunakan untuk menentukan tingkat reliabilitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Pengumpulan data dilakukan dari Bulan September sampai dengan Bulan Oktober 2011. Pendugaan parameter dan uji lanjut pada model SEM diselesaikan dengan perangkat lunak Lisrel versi 8.3. Hasilnya adalah: (1) Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI oleh anggota subak adalah karakteristik anggota subak yang terdiri dari: umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor kompetensi fasilitator yang terdiri dari: kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien, kemampuan fasilitator menyampaikan materi secara sistematis, dan kemampuan fasilitator memberikan semangat kepada klien untuk mengadopsi SRI. Faktor kompetensi pengurus subak yang terdiri dari: kompetensi pengurus subak memberi semangat kepada anggotanya untuk menerima SRI, dan kompetensi pengurus subak mencarikan jalan penyelesaian masalah yang dihadapi anggotanya. Persepsi anggota subak tentang SRI yang terdiri dari: persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan dalam sistem sosial subak. Sikap anggota subak terhadap SRI yang terdiri dari: sikap terhadap inovasi SRI yang hemat air, dan jumlah rumpun/anakan padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI yang terdiri dari: kemandirian anggota subak dalam pengambilan keputusan, dan kemandirian anggota subak dalam belajar; (2) Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi. Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Anggota subak bersikap positif terhadap SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak; Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI termasuk dalam kategori sedang. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh sikap anggota subak terhadap SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat pengadopsian SRI oleh anggota subak termasuk tinggi. v Pengadopsian SRI oleh petani anggota subak dipengaruhi oleh kemandirian anggota subak menerapkan SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak; (3) Semakin baik karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus subak, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI maka semakin baik pula pengadopsian SRI oleh anggota subak; dan (4) Model pengembangan SRI bagi anggota subak yang sesuai adalah model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) Kepada fasilitator yang berperan dalam penyebarluasan inovasi SRI agar mempertahankan bahkan meningkatkan kompetensinya karena sangat berperan dalam pembentukan persepsi yang positif tentang SRI, pembentukan sikap yang baik di antara anggota subak dan dapat menumbuhkan kemandirian pada anggota subak; (2) Melalui proses mental pengadopsian SRI, anggota subak dapat belajar cara-cara bertani yang lebih baik dibandingkan metode konvensional; (3) Untuk menyebarluaskan penerapan SRI di kalangan anggota subak, pengurus subak harus lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi tentang SRI karena pengurus subak berhadapan langsung dengan anggotanya; (4) Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian agar membentuk laboratorium lapangan berupa denplot-denplot percontohan berbagai inovasi pertanian sebagai upaya menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium lapangan ini menjadi tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan masyarakat tani untuk mengenal suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar bersama; dan (5) Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali, model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak dapat ditindak lanjuti dengan program aksi berupa denplot-denplot SRI di seluruh kabupaten dan kota di Bali, sehingga kualitas hidup anggota subak akan lebih sejahtera. vi ©Hak cipta milik IPB, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang (1) Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencamtumkan atau menyebut sumber. (a) Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; (b) Pengutipan tidak merugikan kepentingan wajar IPB. (2) Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. vii FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ANGGOTA SUBAK MENGADOPSI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI TUJUH KABUPATEN DI PROVINSI BALI OLEH : I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA DISERTASI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 viii Penguji Luar Komisi Penguji Ujian Tertutup : : (1) Dr. Ir.Ma’Mun Sarma, MS., MEc. Dosen Departemen Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. (2) Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS. Dosen Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penguji Ujian Terbuka : (3) Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana Brahmananda, MSc. Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Republik Indonesia. (4) Dr. Ir. Basita Ginting Sugihen, MA. Dosen Departemen Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. ix Judul Penelitian : Faktor-Faktor yang Memengaruhi Anggota Subak Mengadopsi System of Rice Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten di Provinsi Bali Nama : I Gede Setiawan Adi Putra NRP : P.061050021 Program Mayor : Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Amri Jahi, MSc. Ketua Prof (Ris) Dr. Djoko Susanto, SKM. Prof. Dr. H. Pang S. Asngari Anggota Anggota Dr. Ir. I Gusti Putu Purnaba, DEA. Dr. Ir. Sugiyanta, MSi. Anggota Anggota Diketahui : Ketua Program Studi/Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan, Dekan Sekolah Pascasarjana, Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr Tanggal Ujian: 28 Januari 2012 Tanggal Lulus: x PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga disertasi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah pengadopsian System of Rice Intensification (SRI) di kalangan anggota subak. Penyelesaian penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Amri Jahi, MSc selaku ketua komisi pembimbing, Bapak Prof. (Ris) Dr. Djoko Susanto, SKM. (anggota), BapaK Prof. Dr. H. Pang S. Asngari (Anggota), Bapak Dr. Ir. I Gusti Putu Purnaba, DEA (Anggota) dan Bapak Dr Ir. Sugiyanta, MSi (Anggota) yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pakar yang penulis libatkan untuk menilai kuesioner penelitian ini di antaranya praktisi SRI dari Lab Mikrobiologi Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, dan ahli SRI dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Kepada responden, para kelihan subak, dan PPL yang telah memberikan data dan informasi, penulis ucapkan terima kasih atas kesediaan dan kerjasamanya sehingga penulis mendapatkan data sesuai dengan yang diharapkan. Terima kasih pula penulis sampaikan kepada Sudirta, Agus, Janu, dan Angga mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang telah membantu penulis mengumpulkan data penelitian. Penulis sampaikan terima kasih kepada Rektor IPB, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Dekan Fema IPB, Ketua Departeman KPM, Ketua Program mayor PPN IPB beserta staff atas bantuan, pelayanan, dan perhatiannya sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan Program Doktor dengan baik. Kepada pimpinan Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia beserta jajarannya penulis sampaikan terima kasih atas beasiswa BPPS, Beasiswa Sandwich, dan bantuan Hibah xi Penelitian Doktor yang sangat membantu penulis mengembangkan kemampuan intelektual serta meringankan biaya pendidikan selama penulis menempuh pendidikan Program Doktor di IPB. Terima kasih penulis sampaikan kepada A.A. Sg. Dwinta Kuntaladara dan Ibu Prof. Dr. Ir. A.A. Annik Ambarawati, MEc yang telah membantu penulis dalam penerbitan bagian dari naskah disertasi ini pada jurnal ilmiah. Kepada sahabatku: Arief Sukmana, Sumarlan, Hatta Jamil, Prihandoko, Mutiya, Melvis, Farid, Hayati, Hartina Batoa, Syafruddin, Kodir, Desi, As-Zaitun Collony, Bapak Haji Obos, Bapak Acep Kusnadti (Piting), Bapak RT Nana, dan Bapak Umar yang telah membantu penulis menemukan kesalahan-kesalahan pengetikan sekaligus sebagai teman diskusi yang baik selama penulis menempuh pendidikan di IPB Bogor. Akhirnya, terima kasih mendalam kepada kedua orang tua (Bapak Drs. Ketut Astika dan Ibu Made Karoni) yang senantiasa memberikan dukungan moril spirituil yang tiada terhingga kepada penulis, demikian juga kepada Adinda Kadek Happy Kardiawan, SPd. dan keluarga, serta Nyoman Herlina Kristianti, Amd. yang telah mendorong penulis berjuang meraih prestasi. Kepada motivator sejati, istriku tersayang Ni Made Ary Yunharmini, SE. dan Ibu Mertua Dra. Putu Darmini beserta keluarga besar Sahadewa dan Angsoka penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya berkat dorongan dan dukungan yang begitu besar sehingga penulis dapat meraih gelar doktor. Penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat khususnya kepada kemajuan ilmu penyuluhan pembangunan. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Bogor, Januari 2012 Peneliti xii RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Desa Penarukan Kabupaten Buleleng Provinsi Bali pada tanggal 14 September 1978 dari Ayah Drs. Ketut Astika dan Ibu Made Karoni, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Jenjang pendidikan penulis dimulai dari SD Negeri 4 Penarukan di Singaraja lulus pada tahun 1990. Kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 1 Singaraja lulus pada tahun 1993, setelah itu melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Singaraja, lulus pada tahun 1996. Selanjutnya penulis meneruskan pendidikan S1 pada Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada tahun 1996 dan lulus tahun 2000. Pada tahun 2000 penulis diangkat menjadi Dosen pada Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Selanjutnya, tahun 2002 penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 di Sekolah Pascasarjana IPB pada Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) atas biaya BPPS dari DIKTI dan lulus pada tahun 2004. Gelar Magister Sains yang penulis peroleh di tahun 2004 menjadi bekal hidup penulis dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi seperti: (1) mendampingi anggota subak dalam penguatan kelembagaan melalui kegiatan Water Management Study in Saba River, dana hibah dari JICA tahun 2004, (2) menjadi editor penerbitan buku yang berjudul “Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi” yang diterbitkan Penerbit Andi Yogyakarta pada tahun 2005, dan (3) melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran seperti mengasuh mata kuliah DasarDasar Penyuluhan dan Komunikasi pertanian serta menjadi pembimbing skripsi mahasiswa Jurusan Agribisnis FP UNUD. Setelah melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi kurang lebih satu tahun, penulis melanjutkan pendidikan S3 di Sekolah Pascasarjana IPB pada Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) pada tahun 2005 atas biaya BPPS dari DIKTI. xiii Pada Tahun 2008 penulis mendapat kesempatan untuk melaksanakan studi literatur di Universitas Utara Malaysia (UUM) dalam kegiatan Sandwich Programs dari DIKTI selama empat bulan dan menghasilkan karya tulis dengan judul: Analizing Farmer’s Problems in Indonesia atas bimbingan Prof. Dr. Hj. Nurahimah Muh. Yusoff, MSc. Pada tahun 2009 penulis menjadi tenaga ahli untuk merumuskan buku panduan penyelenggaraan penyuluhan di Timor Leste pada kegiatan Rural Development Programs II-Timor Leste bekerjasama dengan GTZ. Pada tahun 2010, penulis berkesampatan mendampingi peneliti System of Rice Intensification dari Jepang yang melaksanakan penelitian di Tasikmalaya bekerjasama dengan JIRCAS. Setelah melewati proses pendewasaan dan pencarian jati diri yang panjang dan berliku, baik dalam kegiatan akademik dan non-akademik, penulis menikah dengan Ni Made Ary Yunharmini, SE pada tanggal 10 Bulan ke-10 tahun 2010, dan melalui pernikahan inilah penulis memasuki babak baru episode kehidupan. xiv DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xviii PENDAHULUAN .................................................................................................. Latar Belakang .............................................................................................. Masalah Penelitian ........................................................................................ Tujuan Penelitian .......................................................................................... Kegunaan Penelitian ...................................................................................... Definisi Istilah............................................................................................... 1 1 7 8 8 10 TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................... System of Rice Intensification (SRI).............................................................. Subak ............................................................................................................ Karakteristik Petani Anggota Subak .............................................................. Kompetensi Penyuluh.................................................................................... Kompetensi Pengurus Subak ......................................................................... Persepsi......................................................................................................... Sikap ............................................................................................................. Community Development Menuju Kemandirian Petani .................................. Perilaku ......................................................................................................... Proses Adopsi Inovasi dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya .................. Kecepatan Adopsi ......................................................................................... Model Logik Penelitian ................................................................................. 13 13 20 22 26 27 31 35 54 56 57 66 68 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS .......................................................... Kerangka Berpikir ......................................................................................... Hipotesis Penelitian ....................................................................................... 73 73 81 METODE PENELITIAN ........................................................................................ Desain Penelitian.......................................................................................... Populasi dan Sampel ..................................................................................... Data dan Instrumentasi .................................................................................. Instrumen Penelitian...................................................................................... Uji Kesahihan (Validity Test) .............................................................. Reliabilitas Instrumen .......................................................................... Pengumpulan Data ........................................................................................ Analisis Data ................................................................................................. 83 83 84 85 97 97 98 98 99 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... Gambaran Umum Lokasi Penelitian .............................................................. Hasil ............................................................................................................. Pembahasan .................................................................................................. Model Peningkatan Kapasitas Anggota Subak untuk Mengadopsi SRI di Bali ............................................................................................................... 103 103 105 122 133 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... Kesimpulan ................................................................................................... Saran............................................................................................................. 141 141 142 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 143 LAMPIRAN ........................................................................................................... 151 xv DAFTAR TABEL 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Halaman Perbandingan SRI dan metode konvensional ..................................... 20 Sebaran data populasi dan sampel penelitian ..................................... 85 Peubah dan indikator peubah penelitian............................................. 86 Pengukuran peubah karakteristik anggota dan pengurus subak (X 1 ) .. 88 89 Kompetensi fasilitator (X 2 ) .............................................................. Kompetensi pengurus subak (X 3 ) ..................................................... 90 91 Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) ......................................... Sikap anggota subak tentang SRI (Y 2 ) ............................................. 92 93 Kemandirian Anggota Subak (Y 3 ).................................................... Pengadopsian SRI (Y 4 ) ..................................................................... 94 Pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak......... 100 Luas wilayah, jumlah kecamatan dan Dewsa per Kabupaten se Bali Tahun 2007 ....................................................................................... 103 Sebaran karakteristik petani anggota subak dalam pengadopsian SRI 107 Distribusi responden berdasarkan kompetensi fasilitator.................... 109 Distribusi responden berdasarkan kompetensi pengurus subak .......... 111 Persepsi anggota subak tentang SRI .................................................. 113 Sikap anggota subak terhadap SRI .................................................... 114 Kemandirian anggota subak menerapkan SRI.................................... 116 Dekomposisi antar peubah pengadopsian SRI.................................... 119 xvi DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. Bibit padi siap ditanam pada SRI .................................................... Pemindahan bibit pada SRI ............................................................ Pengelolaan air pada SRI ................................................................ Jarak tanam pada SRI ...................................................................... Diperlukan pengendalian gulma lebih cermat pada SRI ................... Persepsi........................................................................................... Hubungan antara nilai, sikap, nilai, motif, dan dorongan ................. Sikap ............................................................................................... Proses pengambilan keputusan inovasi ............................................ Faktor-Faktor yang mempengaruhi proses adopsi inovasi ............... Hubungan proses komunikasi, proses adopsi dan berbagai metoda penyuluhan ..................................................................................... Proses perubahan adopsi ................................................................. Model cervero program evaluasi ..................................................... Model logik penelitian .................................................................... Kerangka berpikir penelitian ........................................................... Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) ............. Hasil CFA peubah karakteristik individu petani .............................. Hasil CFA peubah kompetensi fasilitator ........................................ Hasil CFA peubah kompetensi pengurus subak ............................... Hasil CFA peubah persepsi anggota subak tentang SRI ................... Hasil CFA peubah sikap anggota subak terhadap SRI ..................... Hasil CFA peubah kemandirian anggota subak menerapkan SRI ..... Hasil CFA peubah pengadopsian SRI dikalangan anggota subak ..... Pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI......... Model Peningkatan Kapasitas Subak untuk Mengadopsi SRI di Bali xvii Halaman 17 17 18 18 19 34 36 43 60 63 64 65 66 69 80 101 108 110 112 113 115 116 117 118 134 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Peta wilayah Provinsi Bali ..................................................................... Hasi uji CFA peubah penelitian .............................................................. Data deskriptif peubah penelitian ........................................................... Kompetensi fasilitator ............................................................................ Kompetensi pengurus subak ................................................................... Persepsi anggota subak tentang SRI ....................................................... Sikap anggota subak terhadap SRI ......................................................... Kemandirian anggota subak menerapkan SRI......................................... Pengadopsian SRI di kalangan anggota subak ........................................ Perbandingan budidaya padi metode SRI dan konvensional ................... Analisis usahatani SRI ........................................................................... Hasil uji analisis SEM dengan software Lisrel Versi 8.3 ......................... Foto-foto penelitian ................................................................................ xviii 151 152 153 158 159 160 161 162 163 167 168 169 177 PENDAHULUAN Latar Belakang Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia, baik lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga pemerintah, sudah mengakui dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor, khususnya di sektor pertanian. Jika intensitas bencana akibat pemanasan global makin sering dan tanpa ada upaya-upaya adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan nasional. Pemanasan global telah mengacaukan musim hujan dan musim kemarau. Para petani kini sulit menentukan jenis varietas dan kalender tanam, karena iklim sulit diduga. Di berbagai wilayah di Indonesia, kekeringan dan banjir menggagalkan produksi pangan. Sawah banyak puso atau gagal panen yang disebabkan oleh kemarau panjang dan banjir. Oleh sebab itu mesti ada upaya untuk mengatasi perubahan iklim global dalam dunia pertanian. Dari aspek pengelolaan air irigasi sawah pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus-menerus; di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani hemat air. Usahatani padi sawah metode System of Rice Intensification (SRI) merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal. SRI mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1997 dan telah diujicobakan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Hasil penerapan SRI di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa budidaya padi metode SRI telah meningkatkan hasil dibandingkan dengan budidaya padi metode konvensional. Anggota subak memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI di sawahnya. SRI menggunakan benih yang lebih sedikit dibandingkan dengan penanaman padi secara konvensional. Rata-rata benih yang digunakan berkisar antara lima hingga 10 kg/ha. Dengan menggunakan benih yang lebih sedikit, maka secara otomatis dapat menekan biaya yang mesti dikeluarkan untuk pembelian benih sehingga dapat menekan ongkos produksi. Selain itu, petani 1 2 dapat memilih bermacam varietas yang sesuai dengan kondisi setempat yang telah biasa mereka tanam. Selain dapat menghemat benih, alasan lainnya adalah masa tanam padi metode SRI lebih cepat dibandingkan dengan cara bertanam padi secara konvensional. Pada SRI, umur delapan hingga 12 hari semaian siap ditanam ketika baru tumbuh dua tangkai daun. Tujuannya adalah saat benih tumbuh lebih memungkinkan untuk menghasilkan rumpun yang lebih banyak dan pertumbuhan akar yang lebih banyak. Anggota Subak tertarik menerapkan SRI di sawah mereka karena hemat air. Dalam bercocok tanam padi secara konvensional pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus menerus, di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Sistem bercocok tanam padi metode SRI tidak membutuhkan air yang berlebih. Namun, lahan tidak boleh mengalami kekeringan secara terus menerus sehingga diperlukan manajemen air yang lebih baik. SRI memerlukan irigasi berkala untuk menjaga tanah tetap basah. Aktivitas pengairan yang terputus (intermiten) harus dilakukan untuk memberikan kondisi aerobik dan anaerobik bagi biota tanah untuk menyalurkan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini bertujuan untuk memperkuat perakaran tanaman. SRI menarik minat anggota subak untuk diterapkan pada sawah-sawah mereka karena sedikit memerlukan pupuk dan pestisida buatan pabrik. Pupuk menjadi input produksi yang memerlukan biaya semakin besar karena semakin hari harganya semakin tinggi. Pemakaian pestisida yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama menjadi punah sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh berkembang dengan pesat, dan adanya residu pestisida pada hasil panen. Jika anjuran bercocok tanam SRI diikuti dengan baik oleh anggota subak maka padi metode SRI akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Pada metode konvensional, benih padi mengalami proses adaptasi yang panjang pada lingkungannya yang baru. Berbeda dengan SRI proses itu tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga benih yang ditanam lebih awal dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan kondisi lahan. Dengan demikian 3 secara otomatis padi metode SRI memiliki umur panen yang lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Jumlah anakan/rumpun padi metode SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota subak untuk menerapkannya. Jarak tanam yang lebih lebar memungkinkan tanaman padi leluasa untuk mendapatkan bahan makanan yang tersedia tanpa harus bersaing dengan tanaman padi yang ada di sekitarnya. Hal ini akan merangsang tumbuhnya anakan/rumpun yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan metode konvensional. Kualitas batang dan daun padi metode SRI adalah lebih kuat. Hal ini berawal dari menanam bibit lebih muda yang menyebabkan potensi tumbuhnya tangkai dan akar tanaman akan semakin banyak dan kokoh. Hal ini dapat meningkatkan minat anggota subak untuk menerapkan SRI, karena tanaman tumbuh dengan sehat. Jika tanaman padi tumbuh dengan sehat maka padi metode SRI lebih tahan terhadap berbagai penyakit. Selain itu, tanaman juga akan semakin kokoh karena ditopang oleh akar-akar yang sehat, sehingga petani tidak merasa khawatir tanaman mereka roboh jika diterpa hujan dan angin yang kuat. Padi metode SRI lebih bernas karena pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal jika dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu jumlah bulir padi lebih banyak sesuai dengan jumlah anakannya. Hal ini yang menjadi alasan lainnya anggota subak menerapkan SRI pada lahan usaha taninya. Alasan lain anggota subak menerapkan SRI adalah waktu panen yang lebih cepat. Padi metode SRI dapat menghemat waktu hingga 10 hari jika dibandingkan dengan metode konvensional. Rasa nasi padi metode SRI adalah lebih enak. Tidak digunakannya pupuk anorganik dan pestisida menghasilkan beras yang alami, sehingga rasa nasi padi metode SRI lebih enak dibandingkan padi yang menggunakan pupuk buatan dan pestisida yang berlebihan. Alasan ini semakin menguatkan anggota subak untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Pada akhirnya, alasan yang paling kuat anggota subak menerapkan SRI adalah keuntungan yang lebih besar. Pada metode SRI jerami lebih tinggi dan bulir padi lebih bernas, menghemat waktu hingga 10 hari, sedikit bahkan tidak 4 sama sekali memakai bahan kimia, lebih hemat air dibandingkan dengan metode konvensional, sedikit bulir padi yang kosong, meningkatkan ketahanan tanaman dari angin, dan lahan semakin sehat karena terjadi aktivitas biologis dalam tanah. Secara ilmiah, SRI telah menunjukkan hasil-hasil yang sangat baik dan menjanjikan cara becocok tanam padi yang intensif dan dengan produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara bercocok tanam padi konvensional. Kenyataannya, inovasi SRI baru diadopsi oleh sebagian kecil angota subak di seluruh Bali. Hal inilah yang menjadikan minat penulis untuk meneliti lebih jauh faktor-faktor yang memengaruhi anggota subak menerapkan metode SRI pada lahan usahataninya. Banyak perubahan yang terjadi pada level individual, dimana seseorang bertindak sebagai individu yang menerima atau menolak inovasi. Perubahan pada level ini disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain difusi, adopsi, modernisasi, akulturasi, belajar atau sosialisasi. Perubahan juga terjadi pada level sistem sosial. Ada berbagai istilah yang dipakai untuk perubahan macam ini, misalnya pembangunan, sosialisasi, integrasi atau adaptasi. Perubahan pada kedua level itu berhubungan erat. Subak adalah suatu sistem sosial, maka pengadopsian SRI akan membawa pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anggota subak untuk mengubah cara bertaninya dari cara-cara konvensional ke penerapan SRI. Perubahan pada sebagian anggota subak akan menyebabkan perubahan pada subak sebagai suatu sistim sosial. Keputusan anggota subak untuk mengadopsi SRI akan diikuti dengan perubahan pada cara-cara bertani yang ada pada sistem sosial subak di Bali. Dibalik semua itu, semua analisis perubahan sosial harus memusatkan perhatian pada proses belajar anggota subak. Masuknya inovasi SRI ke dalam sistem sosial subak tidak semata-mata sebagai proses alih teknologi dari metode konvensional ke metode SRI, tetapi lebih pada proses belajar anggota subak di dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Semua inovasi pasti mempunyai komponen ide, tetapi banyak inovasi yang tidak memiliki wujud fisik misalnya ideologi. Inovasi yang tidak memiliki wujud fisik tidak dapat diadopsi secara fisik, pengadopsiannya hanyalah berupa keputusan simbolis. Sedangkan inovasi yang mempunyai komponen ide dan 5 komponen objek (fisik) seperti yang terdapat pada SRI, pengadopsiannya akan diikuti keputusan tindakan berupa tingkah laku nyata. Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang. Jika seseorang menerima (mengadopsi) inovasi, dia mulai menggunakan ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan penggunaan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Keputusan inovasi merupakan suatu tipe pengambilan keputusan yang khas; Keputusan ini mempunyai cici-ciri dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak diketemukan dalam situasi pembuatan keputusan yang lain. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan untuk menerima ataupun menolak suatu inovasi menjadi topik utama penelitian ini. Untuk membahas faktor-faktor tersebut akan melibatkan pengertian-pengertian tentang belajar dan pengambilan keputusan dari teori-teori dan konseptualisasi proses keputusan inovasi. Penyebaran suatu inovasi tidak bisa terpelas dari peranan agen pembaru dalam usaha memengaruhi keputusan inovasi yang diambil anggota subak. Kenyataannya, masih sering ditemukan jarak pemisah antara agen pembaru dengan orang-orang atau sistem sosial yang menjadi sasarannya, karena mereka berbeda dalam bahasa, status sosial ekonomi, kemampuan teknis maupun nilainilai dan sikap-sikapnya. Kesenjangan yang demikian tidak hanya dengan sistim kliennya, tetapi kadang-kadang juga dengan atasannya di lembaga penyuluhan dimana agen pembaru itu bekerja. Hal yang demikian ini sering mengakibatkan terjadinya konflik peranan pada diri agen pembaru dan kesulitan-kesulitan berkomunikasi. Sebagai jembatan dua sistem sosial, agen pembaru diharapkan menjadi seseorang yang tetap melaksanakan tugas intansinya dan juga memperjuangkan kepentingan petani, ibaratnya sebelah kakinya ditaruh di lembaga pembaru sedang sebelah kaki lainnya diletakkan di sistem kliennya. Difusi SRI akan lebih berhasil jika agen pembaru mengenal dan dapat menggerakkan para pengurus subak sebagai tokoh masyarakat setempat. Waktu dan tenaga agen pembaru untuk menyebarluaskan SRI terbatas. Jika agen pembaru mengarahkan komunikasinya, memusatkan usahanya untuk 6 memengaruhi pengurus subak, maka agen pembaru dapat menghemat tenaga, biaya, dan sosial. Dengan menghubungi tokoh masyarakat berarti agen pembaru tidak perlu lagi menghubungi semua anggota subak satu persatu, karena setelah sampai ke pengurus subak SRI akan lebih cepat tersebar. Pembentukan persepsi anggota subak tentang SRI yang baik menjadi masalah tersendiri bagi agen pembaru. Agen pembaru cenderung memberikan jawaban terhadap stimuli berdasarkan kebiasaan, dan jawaban tersebut akan rusak jika ditata dalam situasi yang baru. Masalah demikian sering dihadapi agen pembaru yang melayani kliennya dengan latar belakang budaya yang beragam. Agen pembaru yang telatih dan berasal dari daerah perkotaan biasanya harus belajar untuk mengamati situasi pertanian, karena yang diajak bekerjsama dan mengamati sesuatu adalah orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Anggota subak mungkin memandang kondisi tertentu dengan cara berbeda. Sebelum anggota subak mengenal SRI, maka anggota subak tidak dapat membentuk sikap tertentu terhadap SRI. Kepribadian anggota subak, begitu pula norma-norma sistem sosialnya memengaruhi anggota subak mencari informasi, pesan apa saja yang belum diterima, dan bagaimana menafsir keterangan yang diperoleh itu untuk kelangsungan usahataninya. Dengan demikian persepsi penting dalam menentukan perilaku komunikasi anggota subak pada tahap penentuan sikap terhadap metode SRI. Ciri-ciri inovasi yang tampak seperti keuntungan relatif, kompatibilitas, dan kerumitan atau kesederhanaannya sangat penting artinya pada tahap anggota subak mempersepsikan inovasi SRI. Dalam mengembangkan sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap SRI, anggota subak menerapkan ide baru itu secara mental pada situasi dirinya sekarang atau masa mendatang sebelum menentukan apakah akan mencobanya atau tidak. Proses mental ini dapat dianggap sebagai percobaan pengganti (semacam penilaian, namun berbeda dengan percobaan inovasi secara fisik yang dipandang sebagai bagian dari tahap keputusan). Setiap inovasi termasuk SRI mengandung risiko subyektif tertentu pada anggota subak. Anggota subak belum tahu persis akibat atau hasil yang akan diperoleh dari SRI, karena itu anggota subak perlu memperkuat sikap terhadap SRI. 7 Tujuan akhir seorang agen pembaru adalah berkembangnya perilaku “memperbarui diri sendiri” pada anggota subak. Dengan kata lain, penyuluhan pertanian menghasilkan petani pembelajar, petani penemu ilmu dan teknologi, petani pengusaha agribisnis yang unggul, petani pemimpin di masyarakatnya, petani “guru” dari petani lain yang bersifat mandiri. Sifat mandiri meliputi kemandirian material, kemandirian intelektual, dan kemandirian pembinaan. Kemandirian material artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya alam yang mereka miliki sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain atau tergantung dari luar. Kemandirian intelektual artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk mengkritisi dan mengemukakan pendapat tanpa dibayang-bayangi rasa takut atau tekanan dari pihak lain. Kemandirian pembinaan artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk mengembangkan dirinya sendiri melalui proses belajar tanpa harus tergantung atau menunggu sampai adanya “pembina” atau “agen pembaru” dari luar sebagai “guru” mereka. Masalah Penelitian Proses resosialisasi sangat diperlukan untuk mengembangkan program belajar pada masyarakat tani. Proses resosialisasi ini penting karena proses sosialisasi cara bertani yang didapat dari nenek moyangnya tidak cukup dan tidak memadai untuk dijadikan bekal bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa depan. Dengan demikian, petani sangat memerlukan wadah untuk belajar kembali tentang teknik bertani yang lebih baik. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: (1) Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak; (2) Bagaimanakah pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian metode SRI di kalangan anggota subak; (3) Bagaimanakah hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak; dan 8 (4) Bagaimanakah model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak di Bali. Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan suatu model peningkatan kapasitas subak untuk mengadopsi SRI di Bali, sehingga petani memiliki tempat untuk belajar, saling tukar menukar informasi, dan pengalaman, serta memiliki ikatan yang kuat di antara sesama petani. Dengan demikian, petani memiliki kekuatan untuk memecahkan masalah bersama-sama dengan dukungan nilai-nilai tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala. Berdasarkan masalah penelitian, maka dirumuskan tujuan penelitian secara lebih spesifik sebagai berikut. (1) Menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. (2) Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. (3) Menganalisis hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak (4) Merumuskan model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak. Kegunaan Penelitian Perubahan iklim global menjadi dasar kajian dalam penelitian ini, karena salah satu akibat dari perubahan iklim global tersebut menyebabkan kelangkaan sumber daya alam terutama air irigasi. Padahal air irigasi adalah sumber kehidupan untuk kelangsungan hidup pertanian di negeri ini. Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang besar untuk menerima inovasi dan dikembangkan menjadi wahana belajar petani. Dengan peningkatan kapasitas subak menjadi wahana belajar petani maka diharapkan penelitian ini berguna dalam merumuskan konsep-konsep dasar pengembangan subak sebagai wahana belajar petani. Dengan dukungan konsep-konsep dasar yang strategis maka penelitian ini dapat memberikan 9 kontribusi yang berharga untuk memberikan solusi penyelesaian masalah yang terkait dengan isu-isu lemahnya sumberdaya manusia, penguatan kelembagaan tradisional, menurunnya fungsi lingkungan, ketahanan pangan, dan kesehatan. Hasil penelitian tentang adopsi SRI dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penyuluhan, sehingga proses adopsi SRI oleh anggota subak dapat dipercepat. Adapun implikasi penelitian adopsi SRI terhadap kegiatan penyuluhan adalah: (1) Penyuluh dapat memilih dan mengembangkan berbagai sumber informasi yang digunakan pada awal dan akhir proses adopsi metode SRI; (2) Media sangat berperan menarik minat untuk melakukan komunikasi pribadi mengenai SRI, penyuluhan akan efektif apabila ada tindak lanjut di lapangan. Contohnya: (a) Siaran pedesaan tentang SRI. Walaupun minat masyarakat tani dapat ditumbuhkan untuk menerapkan SRI, namun bila tidak ada tindak lanjut (diskusi, denplot yang didampingi penyuluh) kegiatan ini tidak ada gunanya, (b) Penempelan poster “SRI pola tanam masa kini” memang dapat menumbuhkan minat dan kesadaran, tapi tidak ada gunanya jika tidak diikuti tindak lanjut, dan (3) Agen penyuluh dapat membantu anggota subak untuk meningkatkan kapasitas subak sebagai wahana belajar dan lembaga ekonomi sehingga menjadi lebih kuat menghadapi penjual, pemberi kredit, dan/atau tuan tanah. Apabila ini dilakukan akan mengubah suatu sistem yang lebih berpihak kepada yang lemah. Penelitian ini juga berguna kepada anggota subak baik yang telah mengadopsi SRI maupun yang belum mengadopsi SRI. Kepada anggota subak yang telah mengadopsi SRI, hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan dan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki paket-paket teknologi SRI yang belum diterapkan ataupun penerapannya di lapangan belum sempurna, sehingga dapat meningkatkan kualitas penerapan SRI di masa depan. Kepada anggota subak yang belum menerapkan SRI, hasil penelitian ini sebagai stimuli/rangsangan menumbuhkan minat untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya, sehingga penyebaran SRI di kalangan anggota subak semakin cepat. Kepada pengurus subak, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk menjadikan subak sebagai tempat belajar petani anggotanya untuk mempertimbangkan, menilai, mencoba, dan menerapkan suatu inovasi baru yang masuk ke dalam lembaga tradisional yang dipimpinnya, dan hasil penelitian ini 10 dapat dijadikan inspirasi bahwa subak yang dipimpinnya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai lembaga tradisional yang tidak hanya mengelola air irigasi tetapi juga sebagai tempat belajar, tempat penguatan ekonomi pedesaan terutama sebagai penyedia sarana produksi yang diperlukan anggotanya. Penelitian ini juga berguna dalam pengembangan ilmu penyuluhan pembangunan di masa depan. Diketahuinya faktor-faktor yang memengaruhi adopsi inovasi pertanian dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut untuk menyusun informasi, program, dan aksi penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Definisi Istilah Subak: Subak adalah lembaga irigasi tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air untuk memproduksi pangan, khususnya beras yang bersifat socio-agrarisreligius. Karakteristik anggota subak: Karakteristik anggota dan pengurus subak merupakan kondisi yang menggambarkan ciri atau profil seseorang atau sekelompok orang yang membedakannya dengan individu atau kelompok lain. Kompetensi Penyuluh: Kompetensi penyuluh adalah kemampuan seseorang untuk mengubah perilaku masyarakat menuju kondisi yang lebih bermutu, sekaligus mencapai tujuan program intervensi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan memotivasi, dan kemampuan melakukan transfer belajar. Transfer belajar berarti kemampuan seseorang untuk menggunakan hasil-hasil belajar yang telah didapatnya di dalam situasi yang baru yang sama dengan situasi sebelumnya atau yang lebih kompleks. Kompetensi Pengurus Subak: Kompetensi pengurus subak adalah kemampuan pengurus subak dalam membantu menyebarluaskan inovasi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan pengurus dalam menyebarluaskan SRI dan kemampuan pengurus menguasai inovasi SRI. 11 Persepsi anggota subak tentang SRI: Persepsi anggota subak adalah pengertian anggota subak terhadap paket-paket teknologi SRI. Peubah ini diukur berdasarkan atas tingkat penerimaan ataupun penolakan secara mental terhadap prinsip-prinsip SRI dengan bekal pengetahuan dan pengalaman usahataninya. Sikap petani angota subak terhadap SRI: Sikap anggota subak adalah tingkat persetujuan anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Peubah ini diukur dengan skala sikap. Kemandirian anggota subak: Kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok. Pengadopsian metode SRI: Pengadopsian metode SRI adalah proses mental yang terjadi pada individu anggota subak untuk menerima atau menolak inovasi SRI. Sistem of Rice Intensification (SRI): SRI adalah cara bercocok tanam padi dengan pengelolaan tanah, tanaman, dan air secara intensif dan efisien melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan local, serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan dan berkelanjutan. 12 TINJAUAN PUSTAKA System of Rice Intensification (SRI) SRI merupakan model pertanian yang menekankan pada pengolahan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan mulai dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Fr. Henri de Laulanie, S.J. yang datang dari Prancis sejak tahun 1961. Henri menghabiskan waktu selama 34 tahun bekerja bersama petani Madagaskar, mengamati dan bereksperimen, dalam rangka meningkatkan sistem pertanian, terutama produksi padi yang menjadi makanan pokok di Madagaskar. Henri merekomendasikan perubahan yang sederhana dan murah pada praktik penanaman, seperti tanam bibit muda pada jarak yang lebar, penanaman bibit dilakukan pada saat 10-15 hari setelah benih disebar dengan jarak 25 x 25 cm (Stoop dan Kassam 2006:1), selain itu menghemat air, namun produktivitas tetap tinggi dan menguntungkan petani. Menurut Uphoff (2003:5), SRI dapat menghemat penggunaan air (25-50%), penggunaan benih (80-90%), penurunan biaya produksi (10-20%), dan peningkatan produktivitas padi (50-100%) bahkan lebih. Metode ini dikenal juga dengan nama Metode Madagaskar, SRI didasari pemahaman bahwa padi mempunyai potensi untuk menghasilkan lebih banyak batang dan biji daripada yang diamati sekarang. Uphoff dan Fernandes (2003:6) menyebutkan bahwa SRI didasari pengetahuan bahwa potensi pertumbuhan tanaman padi dapat diwujudkan dengan pemindahan lebih awal dan menciptakan kondisi untuk pertumbuhan terbaik (jarak jauh, kelembaban, tanah yang aktif dan sehat dari segi biologis, serta keadaan tanah aerobic selama masa pertumbuhan). SRI mulai dikembangkan di Madagaskar sebagai respon atas menurunnya kesuburan lahan, langka dan tingginya harga pupuk kimia, serta suplai air yang terus berkurang. Pada tahun 1990 dibentuk Association Tefy Sains (ATS), sebuah lembaga swadaya masyarakat Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institut for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerjasama dengan ATS untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafama National Park di Madagaskar Timur yang didukung oleh US Agency for International Development. 13 14 Hasil metode SRI di Madagaskar sangat memuaskan, pada beberapa tanah tak subur produksi normalnya dua ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari delapan ton/ha, beberapa petani memperoleh 10-15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Panen SRI di Srilanka dapat menghasilkan panen sampai 17 ton/ha dan di Kuba percobaan metode SRI pada satu hektar tanah mendapatkan hasil 9.5 ton/ha dibanding 6,6 ton/ha yang biasanya diperoleh, musim berikutnya, 11,2 ton/ha (Uphoff dan Fernandes, 2003:10). Menurut Mutakin (2009:15), metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Berdasarkan sistem pertanian ini membuat perkembangan meluas ke berbagai negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara dan telah berkembang sampai ke-39 negara (Suryanata, 2007:3). SRI menyebar ke negara lain melalui bantuan CIIFAD khususnya dari Prof. Norman Uphoff, dan Nanjing Agricultural University China dan Agency for Agricultural Reseach and Development (Bilad, 2009:6). Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara di kawasan Asia, termasuk Asia Selatan seperti India, Bangladesh dan Srilanka, maupun Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Kegiatan validasi pengaruh SRI pada tahun 2006 dilaksanakan di 20 negara meliputi: Bangladesh, Benin, Cambodja, Cuba, Gambia, Guinea, India, Laos, Mali, Mozambique, Myanmar, Nepal, Pakistan, Peru, Filipina, Senegal, Sierra Leone, Srilanka, Thailand, dan Vietnam. Uji coba tersebut menghasilkan perkembangan yang positif (Anugrah et al. 2008:21). Menurut Suryanata (2007:5), usahatani padi sawah metode SRI merupakan usahatani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan dan berkelanjutan. Budidaya padi metode SRI disebut pertanian ramah lingkungan, karena sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan lingkungan dan kesehatan pengguna produknya (Mutakin, 2009:17). SRI juga dapat dijadikan sebagai pertanian organik, karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan menggunakan bahan organik (Reijntjes et.al. 2008:8). serangan OPT 15 Berdasarkan pengertian tersebut, usahatani padi sawah metode SRI merupakan teknologi usahatani yang menekankan pada efisiensi input luar, mengurangi penggunaan bahan kimia, memperhatikan keseimbangan lingkungan dan penyediaan hasil produksi secara kontinyu dengan kuantitas dan kualitas mencukupi yang sesuai dengan konsep pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah, sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam (Reijntes et al. 2008:14). Prinsip utama usahatani padi sawah metode SRI sesuai dengan konsep yang ada di pertanian organik dikarenakan sistem produksi pertanaman yang berdasarkan daur ulang hara secara hayati (Sutanto, 2000:5). Menurut Bilad (2009:7), prinsip utama usahatani padi sawah metode SRI adalah: penanaman bibit muda (8-12 hari setelah berkecambah), jarak penanaman yang lebar (minimal 25 x 25 cm, satu bibit per-titik), menghindari “trauma” pada bibit saat penanaman, penanaman padi secara dangkal, manajemen air (tanah dijaga terairi dengan baik, tidak terus menerus direndam dan penuh, hanya lembab), meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis, dan menjaga keseimbangan biologis tanah. SRI mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1997 dan telah diujicobakan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan. Hasil penerapan gagasan SRI di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa budidaya pada model SRI telah meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional. Menurut Uphoff (2005:19), keberhasilan penerapan SRI di Indonesia apabila dilihat dari budidayanya, dengan model SRI tanaman padi lebih cepat panen sekitar tujuh hari dari model konvensional. Diperkirakan + 60 persen lahan sawah di Pulau Jawa telah mengalami degradasi kesuburan tanah (fisika, kimia, dan biologi) yang diindikasikan oleh rendahnya kandungan bahan organik (dibawah 1%). Dampak dari rendahnya kandungan bahan organik (BO) ini antara lain tanah menjadi keras dan liat sehingga sulit diolah, respon terhadap pemupukan rendah, tidak responif terhadap 16 unsur hara tertentu, tanah menjadi masam, penggunaan air irigasi menjadi tidak efisien serta produktivitas tanaman cenderung levelling-off dan semakin susah untuk ditingkatkan. Hal ini disebabkan oleh kesuburan tanah yang semakin menurun karena cara-cara pengelolaan lahan sawah yang kurang tepat sehingga sawah semakin tandus sementara pemberian pupuk buatan yang terus-menerus, bahan organik yang berupa jerami padi tidak dikembalikan ke lahan, tetapi dibuang/dibakar sehingga mengakibatkan lahan sawah menjadi miskin beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta memburuknya sifat fisik lahan (Deptan 2007:6). Pemakaian pestisida yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol mengakibatkan: (1) Keseimbangan alam terganggu, (2) Musuh alami hama menjadi punah sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh berkembang dengan pesat, dan (3) Adanya residu pestisida pada hasil panen (Deptan 2007:6). Dari aspek pengelolaan air, usahatani sawah pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus-menerus; di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani hemat air. Usahatani padi sawah metode SRI merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal (Deptan 2007:7). SRI dikembangkan pertama kali di Madagaskar sejak tahun 1980-an. SRI menggunakan lebih sedikit input produksi. SRI menggunakan lebih sedikit benih, air irigasi, pupuk kimia, dan pestisida tetapi lebih banyak menggunakan input dari bahan-bahan organik sehingga tanaman padi tumbuh dengan volume akar yang banyak dan dalam, tangkai yang kuat dan butir padi yang dihasilkan lebih bernas (Ikisan 2000: 1) Terdapat enam prinsip dasar SRI. Pertama, menggunakan bibit semaian yang lebih muda. Bibit siap ditanam umur 8-12 hari sejak benih disemaikan. Dengan menanam bibit lebih muda maka potensi tumbuhnya tangkai dan akar tanaman akan semakin banyak dan kokoh (Gambar 1). 17 Gambar 1. Bibit padi siap ditanam pada SRI. Kedua, memerlukan kecermatan dalam memindahkan bibit. Kecermatan yang dimaksud adalah hati hati dalam memindahkan semaian untuk mengurangi ”trauma” tanaman pada lingkungan yang baru. Dengan demikian potensi tumbuhnya akar dan tangkai akan semakin baik (Gambar 2). Gambar 2. Pemindahan bibit pada SRI. Ketiga, manajemen air yang baik. Dengan pemberian air secara reguler dapat menyimpan (memelihara lengas tanah) dan kondisi tanah anaerob dan aerob dapat bertukar setiap saat. Hal ini akan potensi untuk pertumbuhan akar sehingga tanaman mampu memperoleh banyak bahan nutrisi yang bervariasi dari lahan (Gambar 3). 18 Gambar 3. Pengelolaan air pada SRI. Keempat, menggunakan pupuk organik. Pupuk kompos digunakan sebagai ganti atau sebagai tambahan terhadap pupuk kimia. Diperlukan 10 ton/ha kompos untuk tanaman padi dengan SRI. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman oleh karena kesehatan dan struktur lahan yang lebih baik dan lebih banyak suplai hara yang seimbang. Kelima, menggunakan jarak tanam yang lebih lebar. Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 25 cm bahkan bisa lebih. Tanaman padi ditanam dengan pola bujur sangkar bukan pola baris. Sehingga tanaman padi tidak bersaing untuk mendapatkan makanan dengan sesama sehingga potensi pertumbuhan akan lebih baik (Gambar 4). Gambar 4. Jarak tanam pada SRI. 19 Keenam, memerlukan pengendalian gulma. Penyiangan pertama kali dilakukan 10 hari setelah benih ditanam. Penyiangan yang baik bertujuan untuk menghindarkan persaingan tanaman padi dengan gulma dalam mendapatkan makanan, memberikan peluang masuknya oksigen ke dalam tanah, mikroba tanah dapat bekerja dengan baik untuk menghasilkan N. Dengan demikian akar dengan mudah mendapatkan unsur N yang diperlukan tanaman (Gambar 5). Gambar 5. Diperlukan pengendalian gulma lebih cermat pada SRI. Hasil pengujian di India (Ikisan 2000: 3) dengan teknologi SRI menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi sebesar 2,5 ton/ha dibandingkan dengan teknologi konvensional yang biasa dilakukan petani India. Biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga lebih murah. Benih yang diperlukan hanya 2 kg/ha, berbeda dengan teknologi konvesional yang mencapai 15-20 kg/ha. Pada SRI, umur delapan hingga 12 hari semaian siap ditanam ketika baru tumbuh dua tangkai daun. Tujuannya adalah saat benih tumbuh lebih memungkinkan untuk menghasilkan rumpun yang lebih banyak dan pertumbuhan akar yang lebih banyak. Ketika 30 cabang setiap tanaman tumbuh, bukan tidak mungkin anakan ini akan bertambah hingga mencapai 50 cabang baru. Pengairan harus dikelola dengan baik dalam metode SRI. Irigasi berkala dilakukan untuk menjaga tanah tetap basah. Aktivitas “setting dan keringkan” harus dilakukan untuk memberikan kondisi aerobik dan anaerobik bagi biota tanah untuk menyalurkan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini bertujuan 20 untuk menghindari kemerosotan akar, di mana pada umumnya terjadi saat penggenangan berlanjut. Kondisi air yang tidak menggenang, yang dikombinasikan dengan penyiangan mekanik, akan menyebabkan aerasi di dalam tanah akan lancar sehingga pertumbuhan akar akan semakin kokoh. Akar yang kokoh dan banyak memudahkan untuk menyalurkan unsur hara yang diperlukan tanaman. SRI banyak memberikan manfaat kepada petani padi. Pada SRI Jerami lebih tinggi dan butir padi lebih bernas, menghemat waktu hingga 10 hari, sedikit bahkan tidak sama sekali memakai bahan kimia, lebih hemat air dibandingkan dengan metode konvensional, sedikit butir padi yang kosong, butir lebih berat tanpa perubahan ukuran, meningkatkan ketahanan tanaman dari angin ribut, lahan semakin sehat karena terjadi aktifitas biologis dalam tanah, adalah sebagian kecil dari manfaat selain peningkatan hasil yang lebih baik. Perbandingan SRI dengan metoda konvensional dapat lebih meyakinkan petani padi yang ingin mencoba beralih dari sistem konvensional ke SRI. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan SRI dan metode konvensional No Metode Konvensional Metode SRI 1. 50 kg benih per ha 15 kg per ha 2. Umur 25 – 30 hari baru ditanam Umur 7-12 hari sudah ditanam 3. Jumlah anakan maksimal 26 batang Jumlah anakan maksimal 56 batang 4. 3 bahkan lebih bibit yang ditaman Hanya satu bibit padi yang ditanam 5. Menggunakan pupuk NPK Dapat murni organik, anorganik maupun gabungan organik dan anorganik 6 Penggenangan berlanjut Tanah macak-macak (kondisi lembab) Sumber: Ikisan, 2000 Subak Dinyatakan oleh Geertz (Suyatna, 1982:51) bahwa orang yang memiliki tanah persawahan dalam satu aliran sungai, terikat dalam satu ikatan kelompok yang ada hubungannya dengan air untuk persawahan. Ketua kelompoknya disebut Kelihan Subak. Warga banjar dalam satu banjar kemungkinan terikat oleh beberapa subak. Bahkan satu orang kemungkinan terikat oleh beberapa subak 21 karena subak sangat tegas berpegangan pada daerah persawahan yang dialiri oleh satu aliran sungai, sehingga subaknyapun berbeda jika orang mempunyai sawah dengan lokasi aliran sungai berbeda. Ada beberapa pendapat tentang asal kata subak. Semua pendapat mengandung arti baik dan adil. Karena itu kiranya dapat disimpulkan bahwa pembentukan subak didasarkan atas maksud hati nurani yang baik guna kesejahteraan bersama bagi anggotanya. Grade (Suyatna, 1982:51) menunjukkan dua kewajiban utama subak yaitu pekaryan dan penyubaktian. Pekaryan merupakan kewajiban di luar keagamaan, antara lain membuat, memelihara dan memperbaiki bendungan, terowongan, saluran air, dan juga jalan subak. Penyubaktian merupakan kewajiban yang ada hubungannya dengan keagamaan, antara lain membuat sesajen dan sembahyang di pura subak. Selanjutnya Grader (Suyatna, 1982:52) menunjukkan awig-awig sebagai peraturan subak. Di dalam awig-awig tercantum hukuman atas pelanggaran awigawig tersebut. Pelanggaran disampaikan kepada kelian subak, yang selanjutnya kelian subak menetapkan hukuman lewat pertemuan berikutnya. Umumnya disiplin pada subak sangat tinggi sehingga sangat jarang pemerintah ikut campur menangani permasalahan yang timbul. Umumnya pelanggaran yang timbul tentang keterlambatan datang pada suatu pekerjaan subak, sama sekali tidak datang, datang tanpa membawa alat yang dibutuhkan, serta pencurian air. Setiap pelanggaran ada hukumannya yang umumnya berupa denda. Arya (Suyatna, 1982:52) menyatakan bahwa peraturan tentang waktu menanam juga dapat dijumpai di dalam subak. Peraturannya disebut kertamase, yaitu peraturan subak tentang penertiban penanaman di sawah menurut masa atau musim yang ditetapkan oleh subak tersebut. Menurut Grade (Suyatna, 1982:52), sawah yang tidak ditanami tanpa alasan, dapat dikenakan denda. Dendanya menjadi dua kali lipat dan diberi peringatan, serta sawahnya tidak mendapatkan pembagian air jika terlambat membayar denda tersebut. Ada beberapa kelompok tani yang bertujuan mendapatkan upah di samping bertujuan saling membantu yaitu sekeha memule dan sekeha manyi. Mereka saling membantu antar anggota, dan mendapat upah jika pekerjaan datang dari luar anggota. Upahnya berupa uang dan makan atau 22 barang. Orang yang tidak memiliki sawah juga dapat menjadi anggota sekeha memule dan sekeha manyi. Karakteristik Anggota Subak Petani memiliki karakteristik yang beragam. Karakteristik tersebut dapat berupa karakter demografis, karakter sosial serta karakteristik kondisi ekonomi petani itu sendiri. Karakter-karakter tersebutlah yang membedakan tipe perilaku petani pada situasi tertentu. Berikut adalah sejumlah karakteristik yang diamati dalam penelitian ini. Tingkat Subsistensi Menurut Redfield (1983:106), tidak semua petani merasakan hal yang sama terhadap pekerjaannya, tergantung pada kepemilikan tanah, kondisi ekonomi, kondisi ekologi. Petani juga mengalami tekanan-tekanan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga secara kritis perlu mencermati ciri-ciri khas petani dan nilai-nilai yang dianutnya spesifik menurut waktu dan lokasi (Wolf, 1983:79). Scott (1983:74) juga menyebutkan bahwa pola pengambilan keputusan petani tergantung pada kondisi subsistensi petani, yang diasumsikan petani berada dalam kondisi yang rawan terhadap krisis subsistensi. Sedikit saja kegagalan akan sangat membahayakan kelangsungan hidup petani, petani akan memilih menolak resiko dengan prinsip dahulukan selamat, dan melakukan strategi pembentukan pengaturan bersama dalam bentuk desa serta kecenderungan untuk mempertahankan ikatan patron-klien. Wahono (1994;23) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar merupakan hal penting yang diperjuangkan oleh petani miskin dibandingkan kebutuhan sosialnya. Petani miskin cenderung tidak mengalokasikan anggarannya terlalu banyak pada kebutuhan sosial. Upaya-upaya menjalin hubungan dengan petani lain, elit desa, atau pedagang, dan kegiatan sosial lainnya lebih banyak didasarkan pada alasan ekonomi yaitu selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya. 23 Umur Menurut Padmowihardjo (1999:36-37), umur bukan merupakan faktor psikologis, tetapi apa yang diakibatkan oleh umur itu adalah faktor psikologis dalam belajar. Semakin tinggi umur semakin menurun kerja otot, sehingga terkait dengan fungsi kerja indera yang semuanya memengaruhi daya belajar. Pada masa remaja, yaitu menjelang kedewasaan, perkembangan jauh lebih maju, walaupun tidak banyak terjadi perubahan intelektual. Menurut Salkind (1985;31-32), menentukan umur kronologis sebagai ukuran perkembangan lebih mudah dilakukan. Walaupun dalam perkembangannya masih terdapat perdebatan apakah umur memang berpengaruh pada perkembangan dan pencapaian kemampuan tertentu sebagai wujud perkembangan di samping umur akan mencirikan suatu perkembangan tertentu. Menurut Schaie (Salkind ,1985:32), dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa perbedaan umur menunjukkan perbedaan-perbedaan kematangan, perbedaanperbedaan ini juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan interaksinya dengan individu sebagai diri yang bersangkutan. Terkait dengan perkembangan umur, kebutuhan-kebutuhan terhadap keterampilan tertentu berubah. Perbedaan umur menunjukkan perbedaan keterampilan yang dibutuhkan. Soetrisno dkk. (1999:12) menyatakan bahwa umur rata-rata petani Indonesia yang cenderung tua dan hal itu sangat berpengaruh pada produktivitasnya, lagi pula petani yang berusia tua biasanya cenderung sangat konservatif dalam menerima inovasi teknologi. Pendidikan Menurut Ranaweera (1989:8), negara berbeda memberikan ragam pendidikan non formal yang berbeda. Terdapat beberapa negara misal Amerika Latin dan Filipina yang melaksanakan pendidikan non formal dalam kerangka pluralisme budaya. Terkait dengan konteks interaksi dengan lingkungan ini maka Klies (Sudjana, 2004:25) menyatakan bahwa pendidikan adalah sejumlah pengalaman yang dengan pengalaman itu, seseorang atau sekelompok orang dapat memahami sesuatu yang sebelumnya mereka tidak pahami. 24 Cara mendidik oleh keluarga atau masyarakat secara alamiah disebut sebagai pendidikan informal. Pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa secara bersistem melalui sekolah disebut sebagai pendidikan formal. Proses dan hasil dari kedua jenis pendidikan ini saling mendukung dan memperkuat dalam proses pencapaian kecakapan hidup untuk mengarungi kehidupan (DEPDIKNAS, 2004:7). Menurut Nabung (2005:13), sistem pendidikan yang memadai apabila pertama, mampu melahirkan profesional yang cakap secara intelektual, emosional, dan sosial, tidak gagap dengan spesialisasi pilihannya. Kedua, mampu menyediakan peluang diajarkannya bidang-bidang pengetahuan umum. Ketiga, mampu membuka peluang bagi kelahiran kelompok diskusi lintas masalah. Pendekatan pendidikan yang tepat akan memengaruhi kelanggengan individu dalam menyelesaikan proses belajarnya. Pendekatan formal pendidikan memberikan kesulitan bagi peserta yang ingin belajar tetapi tidak memiliki waktu ke dalam kelas. Kelompok yang tinggal di pedesaan, memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan formal yang memadai. Pendidikan nonformal menjadi penting untuk menunjang kemampuan individu yang tidak dapat mengakses ke pendidikan formal (Ranaweera, 1989:8). Segala situasi hakekatnya dapat menjadi proses pembelajaran yang kategori pendidikan disebut sebagai pendidikan informal. Pendidikan informal adalah sebutan untuk proses pendidikan seumur hidup bagi setiap orang dalam mencari dan menghimpunkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengertian diperoleh dari pengalaman sehari-hari dan pengaruh lingkungan. Pendidikan informal tidak terorganisasi, tidak tersistem, dan tersebar sepanjang hidupnya (Combs dan Ahmed, 1985:9-10). Dalam pendidikan informal ini termasuk di dalamnya adalah proses-proses yang terjadi dalam keluarga, kelompok-kelompok kepemudaan, maupun sistem sosial lainnya (Joesoef, 2004:73-78). Luas Lahan Usahatani Menurut Kasryno dkk. (1986:14), dalam banyak hal hubungan yang terjalin antara petani dengan sumberdaya pertanian di desa sangatlah penting. Sumberdaya pertanian paling penting adalah lahan pertanian. Mempelajari pola pemilikan lahan di desa, akan segera dapat diketahui potensi usaha pertanian di 25 desa yang bisa dijadikan dasar dalam pengembangan dan perbaikan taraf hidup petani. Menurut Tjakrawiralaksana dan Soeriaatmadja (1983:7), lahan merupakan pencerminan dari faktor-faktor alam yang berada di atas dan di dalam permukaan bumi. Berfungsi sebagai (1) tempat diselenggarakan kegiatan produksi pertanian seperti bercocok tanam dan memelihara ternak atau ikan, dan (2) tempat pemukiman keluarga tani yang melakukan aktivitas dan berinteraksi sehari-hari. Hernanto (1993:46) menyatakan bahwa luas lahan usahatani dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu (1) sempit dengan luas lahan < 0,5 ha, (2) sedang dengan luas lahan antara 0,5 sampai 2 ha, dan (3) luas dengan luas lahan > 2 ha. Tohir (1983:115) mengemukakan bahwa luas lahan yang sangat sempit dengan pengelolaan cara tradisional dapat menimbulkan (1) kemiskinan, (2) kurang mampu memproduksi bahan makanan pokok khususnya beras, (3) ketimpangan dalam penggunaan teknologi, (4) bertambahnya jumlah pengangguran, dan (5) ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam. Menurut Lionberger dan Gwin (1984:15), keterbatasan lahan yang dimiliki petani akan memberikan pengaruh pada kekurang efisienan pengelolaan pertanian. Mengingat selain lahan sebagai sarana produksi, lahan juga merupakan barang yang harus dikeluarkan pajaknya. Perlu pemikiran ke arah kebijaksanaan lahan pertanian yang proporsional. Modal dan Akses Pada Kredit Usahatani Petani Indonesia pada umumnya adalah petani gurem dengan modal uang dan barang terbatas serta kepemilikan lahan yang sempit. Dengan modal terbatas dan tingkat pendidikan yang masih rendah, berhadapan dengan lingkungan tropika yang penuh risiko seperti banyaknya hama, tidak menentunya curah hujan dan sebagainya, membuat para petani harus lebih berhati-hati dalam menerima inovasi atau upaya-upaya pembaharuan. Karena apabila mereka gagal memanfaatkan inovasi berarti seluruh keluarga mereka akan menderita (Mosher, 1987:179). Kredit di pedesaan terdapat dua segmen terpisah, yaitu pasar kredit formal dan kredit informal. Lembaga keuangan formal jarang dimanfaatkan petani untuk membiayai usahatani padi, mengingat petani umumnya tidak memiliki jaminan yang memadai (Rachman dkk. 2011:1). 26 Badan-badan efisien, yang memberikan kredit produksi kepada petani dapat merupakan faktor pelancar penting bagi pembangunan pertanian. Untuk memproduksi lebih banyak, petani harus lebih banyak mengeluarkan uang untuk bibit unggul, pestisida, pupuk, dan alat-alat. Pengeluaran-pengeluaran seperti itu harus dibiayai dari tabungan atau dengan memimjam selama jangka waktu antara saat pembelian sarana produksi itu dan saat penjualan hasil panen. (Mosher, 1978:179). Pengalaman Usahatani Menurut Padmowihardjo (1999:19), pengalaman adalah suatu kepemilihan pengetahuan yang dialami seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Pengaturan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang sebagai hasil belajar selama hidupnya dapat digambarkan dalam otak manusia. Seseorang akan berusaha menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki dalam proses belajar. Pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan akan berdampak pada hal positif bagi perilaku yang sama yang akan diterapkan pada situasi berikutnya. Dalam mengelola usahataninya, petani masih banyak menggunakan sendiri atau pengalaman orang lain dan perasaan atau feeling (Tohir, 1983:180). Menurut Lubis dan Endriatmo (1991:67), beberapa cara bertani dari para pemuda berasal dari interaksi dengan orang tua. Selanjutnya pengalaman yang kurang menyenangkan dalam bekerja pada sektor ini berpengaruh terhadap pilihan untuk melanjutkan bertani sebagai suatu pilihan usaha. Kompetensi Penyuluh Strategi penyuluhan diarahkan untuk: (1) berkembangnya kelembagaan petani, (2) berkembangnya kemandirian petani, (3) berkembangnya kemampuan penyuluh sesuai dengan perubahan orientasi penyuluhan pertanian, (4) meningkatnya kerjasama antara peneliti, penyuluh, dan petani, (5) mengembangkan pendekatan partisipatory dan cost-sharing, (6) membaiknya mekanisme tata hubungan kelembagaan terkait, dan (7) meningkatnya komunikasi informasi yang dibutuhkan petani (teknologi produksi, pasar, harga, kualitas, 27 kuantitas, standar mutu, ilmu pengetahuan, kredit perbankan, dan kesempatan usaha) (Abbas, 1995;18). Untuk mendukung strategi penyuluhan, maka penyuluh seharusnya tetap berpegang pada falsafah dasar penyuluhan pertanian (Samsudin, 1987:15), yaitu (1) penyuluhan merupakan proses pendidikan, (2) penyuluhan merupakan proses demokrasi, dan (3) penyuluhan merupakan proses kontinyu. Sebagai proses pendidikan, penyuluh harus dapat membawa perubahan perilaku sasaran baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sebagai proses demokrasi, penyuluh harus mampu mengembangkan suasana bebas untuk mengembangkan kemampuan masyarakat, mengajak sasaran penyuluhan berpikir menyelesaikan masalahnya, merencanakan dan bertindak bersama-sama di antara mereka untuk mereka. Sebagai proses yang kontinyu, penyuluhan harus dimulai atas dasar kebutuhan yang senantiasa dirasakan oleh petani untuk mencapai tujuan yang mereka kehendaki. Penyuluhan berkewajiban menyadarkan petani tentang adanya kebutuhan yang nyata ada (real need) menjadi kebutuhan yang dirasakan (felt need). Kompetensi penyuluh menunjukkan profesionalisasi dengan mengacu pada penerapan manajemen mutu terpadu, yakni pola manajemen penyuluhan yang memuat prosedur agar setiap orang dalam organisasi penyuluhan terus menerus memperbaiki jalan menuju sukses, dan dengan penuh semangat berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan kerja (Slamet dan Soemardjo, 2003:5). Penyuluh dikatakan bermutu baik jika dapat memenuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pihak yang disuluh (sasaran). Agar penyuluhan dapat bermutu baik, maka seluruh sumber daya harus dipergunakan dengan baik, dan proses penyuluhan harus tetap berpegang pada falsafah dan prinsip penyuluhan. Kompetensi Pengurus Subak Orang-orang tertentu di dalam suatu masyarakat menjadi tempat tempat bertanya dan tempat meminta nasehat anggota masyarakat lainnya mengenai urusan-urusan tertentu. Mereka ini seringkali memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain untuk bertindak dalam cara-cara tertentu. Mungkin mereka itu menduduki jabatan formal, tetapi pengaruh itu berlaku secara informal; pengaruh itu tumbuh bukan karena ditunjang oleh kekuatan atau birokrasi formal. 28 Jadi kepemimpinan mereka itu bukan diperoleh karena jabatan resminya, melainkan karena kemampuan dan hubungan antar pribadi mereka dengan anggota masyarakat (Roger dan Shoemaker, 1987:110-111). Orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain seperti itu disebut tokoh masyarakat, pemuka pendapat, pemimpin informal atau sebutan lainnya yang senada. Sedangkan kepemimpinan pendapat (opinion leader) adalah tingkat kemampuan seseorang untuk memengaruhi sikap dan perilaku orang lain secara informal relatif sering. Kepemimpinan pendapat dimasyarakat modern biasanya bersifat monomorfik yakni hanya berkenaan dengan salah satu urusan, misalnya hanya dalam bidang pertanian saja atau bidang kesehatan saja. Sedangkan di masyarakat tradisional kepemimpinan pendapat itu kebanyakan bersifat polimorfik yakni berkenaan urusan atau bersifat umum, mengenai semua urusan (Roger dan Shoemaker, 1987:111). Para tokoh masyarakat ini memainkan peranan penting dalam proses penyebaran inovasi. Tetapi kita perlu ingat bahwa ada tokoh masyarakat yang “hangat” dan ada yang “dingin” terhadap inovasi. Mereka dapat mempercepat proses diffusi, tetapi bisapulamereka itu menghalangi dan menghancurkannya. Karena itu agen pembaru harus menaruh perhatian khusus kepada tokoh masyarakat pada sistem sosial yang menjadi kliennya. Kalau ia dapat memperoleh bantuannya maka dapat diharapkan tugasnya akan berjalan lancar. Tetapi jika agen pembaharu tidak berhati-hati dan berbenturan dengan tokoh masyarakat maka ia harus bersiap-siap menerima kegagalan atau setidak-tidaknya kesulitan dalam melaksanakan tugas. Mengenali tokoh masyarakat setempat adalah penting (Roger dan Shoemaker, 1987:111). Dalam penyebaran ide baru ke dalam suatu sistem sosial, tokoh masyarakat memegang peranan penting. Tetapi tidak mudah dikenal siapa pemuka masyarakat dalam suatu sistem, terlebih-lebih yang bersifat monomorfik dan dimasyarakat yang modern. Jika tidak hati-hati, mungkin saja kita salah menunjuk seseorang sebagai tokoh, misalnya inovator. Inovator memang orang yang maju di dalam sistem lainnya, tapi belum tentu ia tokoh masyarakat. Ada beberapa teknik untuk mengetahui atau mengenal dan menentukan siapayang 29 menjadi pemuka pendapat di suatu masyarakat, yaitu: (1) sosiometri, (2) informant’s rating dan (3) self designating (Roger dan Shoemaker, 1987:112). Tokoh masyarakat memiliki hubungan sosial lebih luas daripada para pengikutnya. Mereka lebih sering mengakses media masa dan lebih sering mengadakan perjalanan. Tokoh masyarakat agaknya perlu memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu melebihi orang kebanyakan, terutama pengikutnya. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian itu adalah dengan jalan membuka pintu bagi masuknya ide-ide baru, dan pintu masuk itu adalah hubungan dengan dunia luar (Roger dan Shoemaker, 1987:113). Tokoh masyarakat tidak menyimpan pengetahuan dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan kepada orang lain; Mereka menjadi tumpuan bertanya dan meminta nasehat. Untuk dapat melaksanakan fungsinya itu ia harus dekat warga masyarakat, ia harus diterima oleh pengikutnya. Maka dari itu para pemimpin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dalam pertemuan-pertemuan, diskusi-diskusi dan komunikasi tatap muka lainnya. Dalam forum-forum seperti itulah gagasan-gagasan baru itu dikomunikasikan (Roger dan Shoemaker, 1987:114). Dapat diharapkan bahwa para pengikut mencari pemimpin yang agak tinggi status sosialnya daripada dirinya sendiri, dan memang rata-rata tokoh masyarakat itu lebih tinggi status sosialnya. Sehubungan inovasi, dengan tersebarnya inovasi, suatu penemuan bisa saja timbul dari lapisan masyarakat paling bawah, tetapi eksistensinya tergantung pada campur tangan lapisan sosial yang terpandang (Roger dan Shoemaker, 1987:114). Pemuka pendapat dikenal oleh teman-temannya sebagai ahli yang berkompeten dalam hal inovasi, mungkin karena mereka telah menerima ide-ide baru sebelum orang lain. Mereka lebih inovatif dibanding dengan orang kebanyakan. Akan tetapi penemuan-penemuan riset tidak menunjukkan bahwa pemuka pendapat itu pasti inovator. Ada kalanya mereka itu merupakan orangorang pertama kali mengadopsi inovasi, tetapi seringkali termasuk dalam kelompok ‘”pelopor” dari kategori adopter. 30 Kemampuan (ability) merupakan suatu tenaga (daya kekuatan) yang dimiliki seseorang untuk melakukan perbuatan atau tindakan. Robbins (2003: 46) menyatakan bahwa kemampuan merupakan kecakapan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang yang dibawa sejak lahir atau hasil pelatihan atau praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan. Lebih lanjut Robbins (2003:46), menyatakan bahwa kemampuan merupakan perpaduan antara pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Menurut Lucia dan Lepsinger (1999:6-7), model kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, karakteristik yang dibutuhkan secara efektif untuk berperan. Pada dasarnya kompetensi ini terdiri dari unsur-unsur personal karakteristik, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan berujung pada perilaku. Nelson dan Jones (1993;164-185) menyatakan, pada dasarnya kompetensi merupakan aktivitas di dalam diri seseorang dan juga aktivitas di luar diri seseorang dalam melakukan respon terhadap rangsangan. kegiatan di dalam adalah keterampilan berpikir meliputi 12 ranah berpikir, yaitu: (1) tanggung awab untuk memilih; (2) pemahaman hubungan antara cara berpikir, merasa dan bertindak; (3) menganalisis perasaan-perasaan sendiri; (4) mempergunakan selftalk yang menunjang; (5) memilih aturan-aturan pribadi; (6) mengamati secara akurat; (7) menjelaskan sebab-sebab secara akurat; (8) membuat prediksi yang realistis; (9) menetapkan tujuan-tujuan yang realistis; (10) menggunakan keterampilan-keterampilan visual; (11) membuat keputusan yang realistis; dan (12) mencegah dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pada sisi keterampilan di luar diri disebut keterampilan bertindak, yang meliputi: (1) pesan verbal, (2) pesan suara, (3) pesan melalui gerak tubuh, (4) pesan melalui sentuhan, dan (5) pesan melalui tindakan, misalnya mengirim bunga dan sebagainya. Spencer dan Signe (1993:9-12) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik dasar seseorang yang menyebabkan orang masuk dalam kriteria kinerja efektif dan superior atau unggul dibandingkan dengan lainnya dalam suatu pekerjaan atau situasi. Karakteristik dasar tersebut meliputi: motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan. 31 Kompetensi menurut Suparno (2001:27-29) adalah kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas, atau sebagai memiliki keterampilan yang disyaratkan. Kompetensi dipandang sebagai perbuatan (performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yang diinginkan. Boyatzis (1982:12) menyatakan bahwa konsep yang dapat dipergunakan dalam menelaah kompetensi sehingga relevan yakni: konsep kemampuan (ability) dan keterampilan (skill). Konsep kemampuan menggambarkan suatu sift (bawaan atau dipelajari) yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat mental dan fisik. Konsep keterampilan adalah kompetensi yang berkaitan dengan tugas, dan merupakan kemampuan untuk melaksanakan suatu sistem dengan perilaku guna mencapai tujuan. Menurut Wiriatmadja (1983:10), petani dikatakan memiliki kemampuan jika mempunyai keterampilan, seperti: kecakapan atau terampil dalam melaksanakan pekerjaan badaniah dan kecakapan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan atau persoalan-persoalan sehari-hari. Menurut Suparno (2001:29), bahwa kompetensi dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan diperlukan kemampuan yang bersifat generik yang disebut kompetensi transversal, yang melintas batas berbagai sektor kehidupan manusia. Persepsi Persepsi adalah pengertian atau pemahaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menimbulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderato et al. 1976:129). Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Proses penginderaan terjadi setiap saat individu menerima stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan/perasaan). Stimulus tersebut kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya. 32 Stimulus dapat berupa obyek yang bersifat konkrit maupun abstrak. Obyek konkrit berupa benda dapat mengenai semua jenis indera manusia, sedangkan obyek yang abstrak dapat diindera setelah melalui proses audial atau visual (Walgito, 2003:45). Persepsi ditentukan oleh faktor-faktor personal dan faktor situasional. Faktor situasional terkadang disebut sebagai derterminan perhatian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter). Stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan (Rakhmat, 2004:52). Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada obyekobyek yang bergerak. Seseorang lebih senang melihat huruf-huruf dalam display yang bergerak menampilkan nama barang yang diiklankan. Pada tempat yang dipenuhi benda-benda mati, seseorang akan tertarik hanya kepada tikus kecil yang bergerak (Rakhmat, 2004:52). Seseorang akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang lain. Warna merah pada latar belakang putih, tubuh jangkung di tengahtengah orang pendek, suara keras di malam sepi, iklan setengah halaman dalam surat kabar, atau tawaran pedagang yang paling nyaring di pasar malam, sukar lolos dari perhatian (Rakhmat, 2004:52). van den Ban dan Hawkins (1999: 83) menyatakan bahwa persepsi adalah proses menerima informasi atau stimuli dari lingkungan dan mengubahnya ke dalam kesadaran psikologis. Agen penyuluhan tidak dituntut untuk memahami pskikologis persepsi manusia yang rumit, tetapi diminta untuk menghargai timbulnya tafsiran mengenai lingkungan yang berbeda-beda serta bagaimana perbedaan tersebut memengaruhi perilaku komunikasinya. Penggunaan media dalam kegiatan penyuluhan seperti slide, film, demonstrasi lapangan, dan lain-lain sangat berkaitan dengan persepsi kliennya. Agen penyuluhan hanya dapat merencanakan dan menggunakan alat-alat bantu ini dengan baik jika mereka memahami prinsip dasar penyuluhan. Mereka juga dituntut mampu mengambil keputusan mengenai strategi komunikasi lain yang digunakan dalam program penyuluhan. 33 Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian. Beberapa eksperimen juga membuktikan stimuli yang luar biasa lebih mudah dipelajari atau diingat. Karena alasan inilah maka seseseorang mengejar novel yang baru terbit, film yang baru beredar, atau kendaraan yang memiliki rancangan mutakhir. Pemasang iklan sering memanipulasi unsur kebaruan ini dengan menonjolkan yang luar biasa dari barang atau jasa yang ditawarkannya. Media massa juga tidak henti-hentinya menyajikan program-program baru. Tanpa halhal yang baru, stimuli menjadi monoton, membosankan, dan lepas dari perhatian (Rakhmat, 2004:52).. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian. Unsur familiarity (yang sudah dikenal) berpadu dengan unsur novelty (yang baru dikenal). Perulangan juga mengandung unsur sugesti: memengaruhi alam bawah sadar seseorang. Bukan hanya pemasang iklan yang mempopulerkan produk dengan mengulang-ngulang jingles atau slogan-slogan, tetapi juga kaum politisi memanfaatkan prinsip perulangan, bahkan perulangan sebagai salah satu prinsip dalam menaklukkan massa (Rakhmat, 2004:53). Menurut Rakhmat (2004:54) ada beberapa faktor yang memengaruhi perhatian seseorang diantaranya faktor-faktor biologis dan faktor-faktor sosiopsikologis. Orang yang lapar, seluruh pikirannya didominasi oleh makanan. Karena itu, bagi orang yang lapar, yang paling menarik perhatiannya adalah makanan. Orang yang kenyang akan menaruh perhatiannya pada hal-hal yang lain. Anak muda yang baru saja menonton film porno akan cepat melihat stimuli seksual di sekitarnya. Motif sosiogenis, sikap, dan kemauan, memengaruhi perhatian. Dalam perjalanan naik gunung, geologis akan memerhatikan batuan, ahli botani akan memerhatikan bunga-bungaan, ahli zoologi akan memerhatikan binatang, seniman akan memerhatikan warna dan bentuk (Lefrancois, 1974:56). Persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuannya. Manusia mengamati suatu obyek psikologis dengan kacamatanya sendiri diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya. Sedangkan obyek psikologis ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu. 34 Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Sedangkan pengetahuannya dan cakrawalanya memberikan arti terhadap obyek psikologis tersebut. Melalui komponen kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep mengenai apa yang dilihat. Berdasarkan nilai dan norma yang dimiliki pribadi seseorang akan terjadi keyakinan (belief) terhadap obyek tersebut (Gambar 6). Komponen afeksi memberikan evaluasi emosional (senang atau tidak senang). Komponen konasi yang menentukan kesediaan kesiapan jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Atas dasar tindakan ini di mana unsur maka situasi yang semula kurang/tidak seimbang menjadi seimbang kembali. Keseimbangan dalam situasi ini berarti bahwa antara obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatannya di mana unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika situasi ini tidak tercapai, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatik, acuh tak acuh atau menentang sampai ekstrim memberontak (Mar’at, 1981:24). Pengalaman Proses belajar (sosialisasi) Cakrawala Pengetahuan PERSEPSI K E P R I B A D I A N Kognisi Afeksi Evaluasi (senang tak senang) Obyek Psikologi Konasi Kecenderungan Bertindak Sikap Gambar 6. Persepsi Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi 35 van den Ban dan Hawkins (1999:87) menyatakan bahwa persepsi seseorang bisa berlainan satu sama lain dalam situasi yang sama karena adanya perbedaan kognitif. Setiap proses mental, individu bekerja menurut caranya sendiri tergantung pada faktor-faktor kepribadian, seperti toleransi terhadap ambiguitas (kemenduaan), tingkat keterbukaan atau ketertutupan pikiran, sikap otoriter, dan sebagainya. Tidak mungkin untuk merancang pesan dengan menggambungkan semua gaya kognitif tersebut. Harus ditentukan suatu strategi yang dapat mewakili suatu gagasan yang mengacu pada sebagian besar gaya kognitif. Ini disebut sebagai redundancy (pengulangan pesan). Keseimbangan ini dapat kembali jika persepsi dapat diubah melalui komponen kognisi. Terjadinya keseimbangan ini akan melalui perubahan sikap di mana tiap komponen mengolah masalahnya secara baik. Sikap Thurstone (Mueller, 1992:3) di Tahun 1928 mendefinisikan sikap sebagai jumlah seluruh kecenderungan dan perasaan, kecurigaan dan prasangka, pra pemahaman yang mendetail, ide-ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal khusus.” Tetapi di tahun 1931 ia berkata sederhana, “Sikap adalah menyukai atau menolak obyek psikoligis.” Dari definisi ini maka sikap banyak dinyatakan dalam berbagai cara seperti: (1) sikap adalah pengaruh atau penolakan, (2) penilaian, (3) suka atau tidak suka, atau (4) kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu obyek psikologis. Secara pasti, terdapat banyak definisi lain dari sikap yang dinyatakan oleh berbagai ahli teori dalam arena sikap. Mueller (1992:4) mengikuti definisi Thurstone karena tiga alasan. Pertama, sementara beberapa definisi sikap yang diteliti lebih banyak berisi ikhtisar definisi Thurstone, tetapi dibalik itu, ketidaksetujuan menjadi meluas pula. Kedua, banyak definisi sikap yang termasuk ke dalam referensi perilaku atau tendensi atau “set” untuk menjawab atau berperilaku dalam cara tententu. Bogardus (Mueller, 1992:4) menyatakan bahwa sikap adalah suatu kecenderungan bertindak ke arah atau menolak suatu faktor lingkungan. Dalam banyak kutipan Allport (Mueller, 1992:4) menunjukkan bahwa suatu sikap adalah suatu keadaan kesiapan mental atau saraf. Demikian pula dengan Campbell (Mueller, 1992:4) yang mendefinisikan sikap sebagai 36 konsistensi dalam menjawab obyek-obyek sosial. Linton (Mueller, 1992:4) menyatakan bahwa suatu sikap dapat ditetapkan sebagai jawaban diamdiam/rahasia yang dinyatakan dengan suatu nilai. Alasan yang ketiga untuk tetap bertahan pada definisi sikap yang sangat sederhana adalah bahwa inilah yang diukur dalam skala sikap yang biasa digunakan. Banyak penelitian yang dilakukan menggunakan teknik pengukuran yang dikembangkan oleh Thurstone, Likert, Bogardus, Guttman, dan Osgood. Istrumen dan desain sikap menggunakan definisi satu dimensi yang sangat sederhana, yang dipersembahkan oleh Thurstone. Sementara itu, teori-teori sikap menyarankan bahwa sikap adalah lebih kompleks dan bangun yang multidimensional. Menurut Newcomb (Mar’at, 1981:11), sikap merupakan suatu kesatuan kognisi yang mempunyai valensi dan akhirnya berintegrasi ke dalam pola yang lebih luas. Hubungan antara nilai, sikap, motif, dan dorongan ditunjukkan pada Gambar 7. NILAI Sasaran/tujuan yang bernilai terhadap berbagai pola sikap yang dapat diorganisir SIKAP Kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku bermotivasi MOTIVASI Kesiapan ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku bermotivasi DORONGAN Keadaan individu yang menginisiasikan kecenderungan kearah aktifitas umum Gambar 7. Hubungan antara nilai, sikap, nilai, motif, dan dorongan Gambar 7 menunjukkan perkembangan seleksi dan degenerasi tingkah laku individu yang berpangkal pada drive dan akhirnya mencapai puncak pada value. Nilai inilah yang menunjukkan konsistensi organisasi tingkah laku individu. 37 Sebagian besar ahli mencantumkan kata pre-deposition atau tendency yang berarti senantiasa adanya kecenderungan, kesediaan dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi jika telah diketahui sikapnya. Dengan sendirinya tindakan yang diawali melalui proses yang cukup kompleks dan sebagai titik awal untuk menerima stimulus adalah melalui alat indera seperti penglihatan, pendengaran, alat peraba, rasa, dan bau. Dalam diri individu sendiri, terjadi dinamika berbagai psikofisik seperti kebutuhan, motif, perasaan, perhatian, dan pengambilan keputusan. Semua proses ini sifatnya tertutup sebagai dasar pembentukan suatu sikap yang akhirnya melalui ambang batas terjadi tindakan yang bersifat terbuka, dan inilah yang disebut tingkah laku. Jelaslah bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi berupa pre-deposition tingkah laku (Mar’at, 1981:12). Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. Seseorang akan memiliki sikap untuk kecenderungan lari jika dikejar anjing. Melalui eksperimen ini dapat dikatakan adanya suatu konsistensi dari reaksi. Dengan melihat adanya suatu kesatuan dan hubungan atau keseimbangan dari sikap dan tingkah laku, maka harus dilihat sikap sebagai suatu sistem atau interelasi antar komponenkomponen sikap (Mar’at, 1981:12). Allport (1955:54) menjelaskan definisi sikap dengan pendekatan teoritik dan operasional sebagai berikut: “An attitude toward any given object, idea or person is an enduring system with a cognitive component, an affective component and a behabioral tendency.” Selanjutnya dikatakan: “The cognitive component causist of belief about the attitude object, the affective component casuist of the emotional feelings connected with the beliefs and the behavioral tendency as the radiness to respone in a particular way.” Berdasarkan uraian di atas, maka sikap memiliki tiga komponen utama yaitu: (1) komponen kognisi yang hubungannya dengan kepercayaan, ide dan konsep, (2) komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang, dan (3) komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku. Untuk menjelaskan konteks sikap, perlu dibedakan terlebih dahulu fungsi sikap dan kejadian. Karakteristik dari sikap senantiasa mengikutsertakan segi evaluasi yang 38 berasal dari komponen afeksi. Kejadiannya tidak diikutsertakan dengan evaluasi emosional. Oleh karena itu sikap adalah relatif konstan dan agak sukar berubah. Jika ada perubahan dalam sikap berarti adanya suatu tekanan yang kuat dan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap melalui proses tertentu. Dapat dikatakan bahwa sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan. Namun di samping itu memiliki evaluasi negatif maupun positif yang bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen afeksi. Semua hal ini dengan sendirinya berhubungan dengan obyek atau masalah yang disebut the attitude of object. Pengetahuan dan perasaan yang merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan tingkah laku tertentu. Obyek yang dihadapinya pertama- tama berhubungan langsung dengan pemikiran dan penalaran seseorang. Sehingga komponen kognisi melukiskan obyek tersebut, dan sekaligus dikaitkan dengan obyek-obyek lain di sekitarnya. Hal ini berarti adanya penalaran pada seseorang terhadap obyek mengenai karakteristiknya. Misalnya seseorang melihat lalu- lintas di jalan akan sekaligus masuk pada komponen kognisinya dan menggambarkan bahayanya lalu lintas tersebut. Akibat daripada gambaran ini akan memiliki keyakinan bahwa lalu-lintas dapat mengakibatkan kecelakaan yang mengerikan (Mar’at, 1981:14). Berdasarkan evaluasi ini, komponen afeksi memiliki penilaian emosional yang dapat bersifat positif atau negatif. Berdasarkan penilaian ini maka terjadinya kecenderungan untuk bertingkah laku hati-hati. Komponen afeksi yang memiliki sistem evaluasi emosional mengakibatkan timbulnya perasaan senang/tidak senang atau takut/tidak takut. Dengan sendirinya pada proses evaluasi ini terdapat suatu valensi positif atau negatif. Oleh karena itu pada manusia yang tingkat kecerdasannya rendah, kurang memiliki aspek penalaran yang baik, dan dalam evaluasi emosionalnya pun kurang adanya kehalusan sehingga mengakibatkan kecenderungan tingkah laku yang kurang serasi (Mar’at, 1981:14). Telah banyak diadakan penelitian mengenai fungsi dari evaluasi ini pada seseorang, sehingga akibat daripada keputusan dari suatu evaluasi menimbulkan pola tingkah laku tertentu. Dalam proses evaluasi ini dapat terjadi konflik yang mengakibatkan pula konflik dalam tingkah laku. Oleh karena itu terdapat suatu dinamika yang cukup kompleks antara komponen kognisi, afeksi dan 39 kecenderungan untuk bertingkah laku. Interaksi antara ketiga komponen ini menghasilkan total attitude. Namun jika diuraikan lebih mendalam dari total attitude seseorang dengan sendirinya akan tergambar secara hipotetik deduktif tingkah laku seseorang (Mar’at, 1981:14). Berdasarkan uraian tersebut di atas, Mar’at (1981:14-15) memiliki pandangan tertentu terhadap sikap dan merupakan kerangka teoritik dalam membahas sikap sebagai berikut: (1) bahwa sikap dapat merupakan suatu kondisi dan dibentuk, (2) dapat timbul konflik dalam kesediaan bertindak, (3) memiliki fungsi yang berarti bahwa sikap merupakan fungsi bagi manusia dalam arah tindakannya, dan (4) sikap adalah konsisten dengan komponen kognisi. Pendekatan dari teori kondisi menjelaskan bahwa sikap adalah merupakan kebiasaan terhadap suatu yang dipelajari sedangkan pada teori konflik dan insentif beranggapan bahwa seseorang memiliki sikap disebabkan terjadinya konflik dalam dirinya. Pendekatan daripada pandangan ini menitikberatkan sebenarnya pada struktur kognisi seseorang yang membuktikan bahwa dari keempat pendekatan tersebut di atas sebenarnya tidak kontradiktif dan tidak inkonsisten. Pada pendekatan kondisi ini model tingkah laku telah banyak dilakukan percobaan dan sebagai asumsi dapat dikatakan bahwa sikap dapat dipelajari sehingga merupakan kebiasaan. Hal ini berarti bahwa proses belajar akan mengarah pada pembentukan sikap yang disesuaikan denga lingkungan. Perkembangan dari sikap akan melalui proses sosialisasi, imitasi dan adaptasi. Jika dikaitkan dengan komponen kognisi serta komponen afeksi berarti bahwa komponen kognisi harus dapat menghayati obyek yang dihadapinya agar timbul suatu sikap yang dikehendaki. Oleh karena itu, mempelajari karakteristik obyek manusia atau kejadian-kejadian adalah penting dalam pembentukan suatu sikap yang dalam hal ini sebenarnya menyangkut segi konseptual dan faktor senang atau tidak senang terhadap permasalahan. Isi permasalahan ini akan menggambarkan ciri-ciri tertentu atau karakteristik tertentu yang merupakan halhal yang perlu dievaluasi, hingga terjadi suatu hubungan emosional positif agar terbentuknya sikap positif pula terhadap obyek tersebut. Pada anak kecil sikap ini dapat diajarkan melalui imitasi terutama meniru tingkah laku orang tuanya dalam sikap maupun tindakan-tindakannya. Dalam hal ini si anak menerima nilai-nilai 40 dari sikap orang tuanya. Imitasi berarti adanya sikap dan tingkah laku meniru dari anak terhadap orang tua. Berdasarkan pendekatan imitasi ini menggambarkan proses belajar yang sifatnya mekanistik di dalam pembentukan sikap yang dalam hal ini individu lebih bersifat pasif, sehingga nilai-nilai yang diterimanya belum diolah secara rasional namun diterima sebagai yang bersifat final. Teori insentive dan konflik sebenarnya mengarah kepada perubahan sikap. Sikap dalam hal ini berada dalam situasi yang mendekati atau menjauhi konflik tersebut. Individu dalam hal ini memiliki alasan untuk menerima posisi tertentu atau menolaknya. Ia berpikir dan memiliki keyakinan untuk dapat mengevaluasi situasi, sehingga ia akan menghindarkan konflik tersebut. Dalam hal ini komponen kognisi dan afeksi turut berperan dalam menyelesaikan konflik tersebut (Mar’at, 1981:16).. Pendekatan fungsional teori sikap beranggapan pada adanya suatu suatu sikap dasar yang mengarah kepada pembentukan sikap baru berdasarkan fungsifungsi psikologik. Suatu sikap dapat diselesaikan karena merupakan instrumen dalam mencapai tujuan berdasarkan kepentingan dan minat pribadi. Di samping itu sikap memiliki nilai ekspresif di mana dirasakan bahwa sikapnya perlu diekspresikan berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya, misalnya seorang yang egois akan mengekspresikan sikapnya di mana segala kepentingan diutamakan untuk dirinya. Pandangan ini seakan-akan membenarkan kebebasan seseorang dalam menentukan dan membentuk sikapnya, sehingga sikap merupakan fungsi daripada ego defensnya. Menurut teori “konsistensi” yang dikembangkan oleh Lewin, Heider, Abberson, Festinger, Osgood, menjelaskan bahwa tiap manusia memiliki kecenderungan untuk senantiasa mencari konsistensi yang ditentukan oleh komponen kognisi. Dalam hal ini komponen kognisi tidak menghendaki adanya inkonsistensi (Mar’at, 1981:16). Sehubungan dengan berbagai definisi yang telah diuraikan di atas dapat ditarik beberapa dimensi arti sikap. Dimensi tersebut dipandang sebagai karakteristik sikap yang dapat diuraikan sebagai berikut (Mar’at, 1981:16-19): (1) Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Ini berarti bahwa sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif yang tidak sama dengan motif, akan tetapi 41 menghasilkan motif tertentu. Motif inilah yang kemudian menentukan tingkah laku nyata, sedangkan reaksi afektifnya merupakan reaksi tertutup. Pada konsep evaluasi ini komponen afeksi seakan-akan menentukan arah dan tingkah laku, namun dinamikanya sendiri terselubung. Misalnya seseorang dalam reaksi afektifnya adalah marah namun karena situasi tertentu ia harus bersikap ramah. Motif yang dibentuk adalah menentukan tingkah lakunya untuk senantiasa bersikap ramah yang sebenarnya secara terselubung ia bersikap marah. (2) Sikap digambarkan pula dalam berbagai kualitas dan intensitas yang berbeda dan bergerak secara kontinyu dari positif melalui areal netral kearah negatif. Variasi kualifikasi ini digambarkan sebagai valensi positif dan negatif sebagai hasil penilaian terhadap obyek tertentu. Intensitas sikap digambarkan dalam kedudukan ekstrim positif atau ekstrim negatif. Dalam hal ini terlihat bahwa kualitas dan intensitas sikap menggambarkan konotasi dari komponen afeksi, sehingga terjadi kecenderungan untuk dapat bertingkah laku berdasarkan kualitas emosional. (3) Sikap lebih dipandang sebagai hasil belajar daripada sebagai hasil perkembangan atau sesuatu yang diturunkan. Ini berarti bahwa sikap diperoleh melalui interaksi dengan obyek sosial atau peristiwa sosial. Sebagai hasil belajar, sikap dapat diubah, diacuhkan, atau dikembalikan seperti semula, walupun memerlukan waktu yang cukup lama. Berdasarkan pandangan ini maka sikap sebenarnya merupakan produk dari hasil interaksi, pandangan ini lebih bersifat humanistik di mana kebebasan seseorang dapat ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan yang berlaku pada saat itu. (4) Sikap memiliki sasaran tertentu. Sasaran dalam hal ini tidak perlu konkrit akan tetapi dapat bersifat abstrak atau dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Lingkup sikap bersifat multikompleks, ialah jumlah dan jenis obyek sikap berbeda-beda tingkat jangkauannya. Hal ini tergantung pada tingkat homogenitas atau heterogenitas obyek sikap yang dirumuskan. Berdasarkan pandangan ini maka sikap diartikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan dan sasarannya. 42 (5) Tingkat keterpaduan sikap adalah berbeda-beda. Sikap yang sangat berpautan akan membentuk kelompok yang merupakan subsistem sikap. Tiap subsistem, berpautan satu dengan lainnya, sehingga dapat dijumlahkan dan menunjukkan keseluruhan sistem sikap dari individu yang dapat dinilai. Keterpautan itu terjadi karena adanya kesamaan penyelesaian obyek sikap atau kesamaan evaluasi terhadap obyek sikap. Pandangan ini menjelaskan bahwa sikap merupakan suatu sistem seseorang dalam menghadapi obyek tertentu, sehingga hubungan dengan obyek dapat diadakan evaluasi. (6) Sikap bersifat relatif menetap dan tidak berubah. Apabila diperhatikan lebih dalam ternyata perubahan predisposisi afektif yang disebabkan oleh komponen afeksi adalah lamban. Hal ini disebabkan adanya centeral attitude yang lebih definitif dan stabil, ada keterpaduan sikap dan peranan reinforcement pada saat tersebut terbentuklah sikap, atau adanya hambatan yang dihayatinya sebagai ancaman. Pandangan centeral attitude merupakan inti daripada sikap yang akhirnya merupakan predisposisi yang sulit untuk diubah. Predisposisi ini merupakan sesuatu yang telah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil pembentukan dirinya sendiri. Dilihat dari karakteristik tersebut di atas jelaslah bahwa konsep sikap yang diramalkan lebih banyak mengungkapkan struktur sikap secara deskriptif. Sedikit sekali membahas tentang proses pembentukan atau perubahan sikap apalagi pengukuran daripada sikap. Pengertian struktural ini dikembalikan pada komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Oleh karena itu, perlu dirumuskan definisi operasional sikap secara jelas agar perumusan tersebut mengandung norma dari komponen-komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Reaksi afektif yang membentuk sikap seseorang berpangkal pada struktur kognisinya. Ini berarti bahwa sikap individu terhadap obyek tertentu banyak ditentukan oleh daya nalar, pengalaman yang berhubungan dengan obyek tersebut. Di samping itu memiliki konsep yang jelas tentang obyek tersebut. Penilaian individu tentang obyek diperoleh melalui pengamatan langsung berdasarkan interaksi, namun dapat didasarkan juga atas pengalaman tidak langsung seperti cerita-cerita atau berita-berita. Penilaian ini menghasilkan reaksi 43 afektif yang berupa dimensi positif atau negatif terhadap obyek sikap (Mar’at, 1981:19). Peranan kognisi sebagai salah satu komponen sikap adalah terutama interaksi antara individu dengan mengadakan penilaian terhadap sikap masingmasing. Oleh karena itu, sikap dipandang sebagai seperangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tersebut berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu. Jika melihat proses daripada perubahan sikap ini maka sikap dapat dipandang sebagai hasil belajar yang relatif stabil, berbeda intensitas arahnya, berbeda pula keterpautan dan lingkup jaraknya. Berdasarkan berbagai batasan dan keterangan tersebut di atas, dapatlah dirumuskan batasan operasional yang menjadi titik tolak dalam penelitian ini. Sikap diartikan derajat atau tingkat kesesuaian anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Kesesuaian atau ketidaksesuaian ini dinyatakan dalam skala Likert. Gambar 8 menunjukkan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi akan menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. PENGARUH FAAL KEPRIBADIAN FAKTOR EKSTERNAL • SITUASI T • PENGALAMAN • HAMBATAN OBYEK SIKAP SIKAP • • • SIKAP RELATIF KONSTAN MELALUI PROSES BELAJAR KESEDIAAN BERTINDAK Reaksi Gambar 8. Sikap 44 Komponen afeksi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan (senang atau tidak senang) terhadap obyek, dan komponen konasi akan menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Ketiga komponen tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu sistem kognitif. Ini berarti bahwa yang dipikirkan seseorang tidak akan terlepas dari perasaannya. Masing-masing komponen tidak dapat berdiri sendiri, namun merupakan interaksi dari komponen-komponen tesebut secara kompleks. Aspek kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima menentukan perasaan dan kemauan berbuat. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan secara kognitif. Berdasarkan pendekatan ini setiap orang akan berusaha mencari keseimbangan dalam bidang kognisinya dan terbentuk sikap dari yang bersangkutan. Apabila terjadi ketidakseimbangan, individu akan berusaha mengubahnya sehingga terjadi keseimbangan kembali. Hubungan Sikap dengan Nilai Nilai adalah suatu bangun yang penting dalam kebijakan setiap cabang ilmu sosial, seperti dalam bidang ekonomi, filsafat, teologi, pendidikan, dan penyuluhan. Ini adalah bangun dasar untuk teori dan penelitian dalam disiplin ilmu sosiologi dan anthropologi. Orang dapat berharap bahwa dengan kemuliaan dan popularitas di antara para ilmuwan dan para praktisi, bangun nilai akan lebih menyukai suatu definisi yang jelas dan mantap. Sayangnya, itu bukan suatu kasus. Dalam kenyataannya kurang ada konsensus untuk memperhatikan definisi nilai daripada sikap. Untuk sebagian, inilah sebabnya mengapa nilai digunakan dalam berbagai cara dan untuk berbagai tujuan teori, dari disiplin ilmu yang satu ke disiplin ilmu yang lain. Alasan lain tentang bangun nilai ialah dibiarkan menderita kurang dukungan konsensus definisi karena bangun yang lebih abstrak daripada sikap, dan dengan demikian maka dikonseptualisasikan lebih tegas dan jelas (Mueller, 1992:6). Namun, seperti dengan sikap terdapat adanya keusangan-keusangan umum yang berjalan melalui definisi-definisi nilai yang utama. Dua di antara definisidefinisi yang terkenal akan membantu dengan baik untuk mengindentifikasi unsur-unsur kritis dari bangun nilai itu. Klukhohn (Mueller, 1992:6), 45 mendefinisikan nilai sebagai suatu konsepsi eksplisit atau implisit yang membedakan karakteristik individu atau kelompok yang diharapkan, yang memengaruhi adanya cara, alat, dan tujuan tindakan. Rokeach (Mueller, 1992:6), seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa nilai adalah suatu keyakinan bahwa suatu ragam tingkah laku spesifik atau keadaan akhir sikap dari keberadaan yang secara personal atau sosial yang lebih baik daripada suatu kebalikan atau berlawanan ragam perilaku atau pernyataan akhir keberadaannya. Seperti halnya dengan sikap, nilai melibatkan penilaian. Secara umum hal ini disetujui oleh para ahli teori sosial, bahwa nilai itu lebih abstrak, bangun susunan tinggi daripada sikap. Dengan demikian lebih permanen dan lebih tahan lama terhadap perubahan, dan mempunyai pengaruh kausal yang langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku. Klukhohn dan Rokeach menunjukkan bahwa nilai bisa menyatakan baik preferensi personal maupun preferensi sosial dan bahwa nilai bisa memenuhi baik sebagai hasil (tujuan) maupun sebagai sarana untuk hasil keduanya ketetapan umum para ahli teori nilai (MUeller, 1992:6). Ada kesepakatan umum bahwa nilai menyebabkan sikap. Lebih khusus lagi, suatu sikap kearah suatu obyek adalah fungsi sedemikian rupa bahwa obyek itu diartikan untuk memberi kemudahan pencapaian nilai-nilai penting. Misalnya, jika seseorang atlet menilai kerahasiaan dan kebebasan tetapi tidak menilai struktur, ia dapat bersikap lebih positif terhadap olahraga individual seperti tenis dan lintas alam daripada terhadap olahraga kelompok seperti bola basket dan sepakbola. Begitu pula, sikap seseorang terhadap orang lain atau kelompok, dan semua obyek-obyek kognitif (rumah, keluarga, buku-buku, rumah makan, mobil, kolam pemancingan, negeri-negeri, makanan kucing dan selanjutnya) sebagian besar ditetapkan oleh setiap obyek itu dikaitkan dengan pemenuhan nilai-nilainya (Mueller, 1992:7). Dengan demikian nilai adalah determinan sikap. Mari kita jelaskan, bahwa bukan hubungan satu dengan satu antara sikap tertentu dan nilai tertentu. Tentu saja, suatu sikap tunggal disebabkan oleh banyak nilai oleh seluruh sistem nilai seseorang. Sebuah contoh lagi akan membantu untuk menghablurkan (kristal) pemahaman ini. Jika saya membeli sebuah kendaraan baru, sistem nilai saya mengatakan kepentingan relatif dari perekonomian, kekuatan, kenikmatan, 46 keawetan, kelegaan, keamanan, gaya, dan selanjutnya. Sikap saya terhadap suatu kendaraan tertentu (dalam kenyataannya, terhadap setiap kendaraan tertentu) ditentukan oleh urutan susunan nilai-nilai saya itu dan oleh keyakinan saya memandang sedemikian rupa setiap kendaraan yang dikaitkan dengan pemenuhan setiap nilai (Mueller, 1992:7). Hubungan Sikap dan Keyakinan Beberapa ahli teori sikap menekankan pentingnya keyakinan mereka dalam mengonseptualisasikan sikap. Misalnya Newcomb menyebut penyimpanan pengamatan/kognisi yang mempunyai beberapa kaitan positif atau negatif. Keyakinan kita tentang benda-benda memengaruhi cara kita merasakannya. Kita percaya bahwa seorang individu mempunyai banyak kualitas yang baik maka kita cenderung menyukainya. Sebaliknya, keyakinan kita dipengaruhi oleh sikap kita sendiri. Kita lebih suka untuk mempercayai, bahkan menduga informasi positif tentang orang-orang yang disukai daripada mereka yang tidak kita sukai. Hubungan timbal balik antara pengamatan/kognisi dan pengaruh/afeksi ini berguna bagi para ilmuwan dalam pengukuran sikap. Daripada menanyai responden bagaimana perasaan mereka tentang suatu obyek sikap tertentu, maka ukuran sikap dapat menanyakan apa yang mereka percayai tentang obyek tersebut. Pernyataan kepercayaan/keyakinan pengaruh/afektif. itu hampir selalu berisi komponen Seorang responden dengan banyak kepercayaan positif dan sedikit kepercayaan negatif tentang suatu obyek psikologis dinyatakan mempunyai sikap positif. Seseorang yang mempunyai banyak kepercayaan yang negatif dan sedikit kepercayaan positifnya maka ia dinyatakan bersikap negatif. Teknik-teknik pengukuran sikap dikembangkan oleh Thurstone, Likert, dan Guttman, sungguh-sungguh sebagai metode yang sistematis dalam mengabstrakkan, komponen afektif dari pernyataan kepercayaan terhadap efek/hasil suatu skor sikap (Mueller, 1992:8). Beberapa ahli teori sikap telah mengembangkan persamaan matematik untuk menerangkan kontribusi relatif dari suatu kepercayaan tentang suatu obyek sikap kepada sikap ke arah obyek tersebut. Dua unsur pokok dalam persamaan itu adalah: (1) pentingnya nilai tertentu itu dihubungkan dengan obyek sikap dalam 47 setiap pernyataan kepercayaan, (2) sedikit banyaknya kenyataan yang dipercayainya (Mueller, 1992:8) Pentingnya Sikap dalam Urusan Manusia Dalam menyelidiki proses-proses sosial, mengkaji manusia, pembentukan konsep, pengembangan kepribadian, dan pembentukan sikap, para ahli psikologi telah menemukan bahwa manusia menilai tentang sesuatu kontak yang mereka lakukan dengan orang lain, binatang, obyek-obyek tak berjiwa, lembaga-lembaga, kelompok-kelompok, dan sebagainya. Jika tidak percaya, lihatlah di sekeliling. Tempatkanlah pikiran pada suatu obyek, dari suatu pensil hingga ke orang lain, dan tanyalah diri sendiri, “Apa perasaannya tentang obyek itu?” Hampir dipastikan jawabannya akan menunjukkan suka atau tidak suka, bernilai atau tidak bernilai obyek itu. Tentu saja perasaan tentang pensil tidak sekuat tentang orang. Walupun demikian akan sangat baik bila dapat memutuskan bahwa lebih menyukai satu pensil tertentu daripada pensil lain. Sikap tersebut sebagai evaluasi, besarnya rasa suka atau tidak suka, perasaan positif atau negatif, menilai atau tidak menilai obyek khusus tertentu (Mueller, 1992:9). Tidaklah mengherankan bahwa para peneliti dan praktisi dalam pendidikan dan ilmu sosial telah menyita sejumlah besar waktu dan energi dalam studi tentang pembetukan dan perubahan sikap dan pengaruh sikap terhadap perilaku. Sikap membangun komponen penting nomor satu dalam jiwa manusia. Secara kuat sekali memengaruhi segala keputusan kita tentang teman yang kita pilih, pekerjaan yang kita terima, film yang kita tonton, makanan yang kita lahap, orang yang kita nikahi, pakaian yang kita beli, dan rumah yang kita tempati. Kita memilih benda-benda yang kita pilih, dalam jumlah tak terbatas, karena kita menyukainya (Mueller, 1992:10). Skala Sikap Likert Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya pada suatu kontinum afektif berkisar dari sangat positif hingga sangat negatif terhadap suatu obyek sikap. Dalam teknik penskalaan Likert kuantifikasi ini dilakukan dengan mencatat penguatan respon dan untuk pernyataan kepercayaan positif dan negatif tentang obyek sikap (Mueller, 1992:11). 48 Sikap, ditunjukkan oleh luasnya rasa suka atau tidak suka terhadap sesuatu. “Sesuatu” itu adalah obyek sikap. Pertimbangan pertama dalam suatu usaha percobaan pada pengukuran sikap adalah mengidentifikasi obyeknya. “Sikap terhadap apa?” adalah pertanyaan yang harus dijawab sebelum dilanjutkan lebih jauh. Makin lebih ketat obyek sikap itu ditentukan batas-batasnya, maka upaya pengukurannya akan makin berbasil (Mueller, 1992:11). Agar skor skala sikap menjadi lebih berarti maka penting sekali bagi para peneliti yang menggunakan skala skor yang mempunyai obyek sama dalam pikiran yang dilakukan responden pada skalanya. Sama halnya bahwa upaya mengkontruksi skala tidak akan berhasil jika obyek sikapnya begitu kabur atau tidak sehingga beberapa responden agak berbeda obyek dalam pikirannya (Mueller, 1992:12). Pada umumnya obyek sederhana lebih mudah ditentukan batas-batasnya daripada obyek yang kompleks, obyek nyata lebih mudah ditentukan batasbatasnya daripada obyek yang abstrak, dan obyek tertentu secara individual lebih mudah ditentukan batas-batasnya jika kita dibatasi untuk mengukur sikap obyek nyata, sederhana (Mueller, 1992:12). Penting sekali menetapkan obyek dengan teliti dan lengkap jika hendak mengukur sikap terhadap obyek yang kompleks dan abstrak. Misalnya, jika hendak mengukur sikap terhadap pendidikan, maka harus berpikiran jelas, dan dalam berkomunikasi dengan yang lain (skala responden, konsumen, untuk temuan penelitian, dan sebagainya) komponen-komponen berikut termasuk dalam pendidikan: (1) Tingkat umum kemampuan membaca dari masyarakat (misalnya, “Suatu masyarakat berpendidikan tinggi membuat negeri menjadi kuat”). (2) Pendidikan sebagai profesi (misalnya, “Pendidikan adalah profesi yang memadai”). (3) Sistem persekolahan umum (misalnya, “Pendidikan formal di negeri ini adalah yang terbaik di dunia”). (4) Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang (misalnya, “Pendidikan yang lebih akan membuat saya jadi orang terbaik”). 49 Jika dimasukkan semua butir-butir itu ke dalam suatu skala tunggal dan skor-skor bulirnya dijumlahkan untuk setiap responden, maka skor totalnya akan menjadi kecil atau tidak jelas artinya. Jalan keluarnya adalah membuat skala multiple untuk setiap obyek sikap maupun menetapkan pendidikan secara sempit dan khusus sehingga beberapa dimensi multiple-nya itu terhindarkan. Daripada mengganggu skala responden dengan definisi, pembatasan obyek sikap seperti itu umumnya dilakukan melalui seleksi cermat butir-butir skalanya. (Mueller, 1992:12). Skala obyek sikap itu ditetapkan, suatu kumpulan butir yang menyatakan kepercayaan atau pendapat/opini tentang obyek itu dibuat atau dikumpulkan. Ini penting, dalam membuat kumpulan butir ini untuk menyadap keanekaragaman pendapat tentang obyek sikap. Karena skala lengkap Likert secara khusus hanya berisi kira-kira 20 lusin atau bahkan ratusan dan ribuan kemungkinan kepercayaan tentang suatu obyek tertentu, akan menjadi lebih sahih apabila membentuk suatu contoh/sampling yang representatif dan sama sekali menyeluruh dari daerah teori yang hampir terbatas. Suatu cara untuk mencapai hasil keseluruhan dalam membuat skala potensial butir adalah dengan jalan bertanya kepada berbagai kelompok orang (mengenai pengetahuan pokok dan dengan arah sikap positif dan negatif terhadap obyek sikap) menuliskannya beberapa kepercayaannya sendiri dan perasaannya tentang obyek sikap. Dengan terbitan yang sedikit, pernyataanpernyataan kepercayaan yang dihasilkan dalam cara ini dapat menjadi kumpulan butir yang memenuhi sebagai dasar untuk skala sikap. Wawancara dan percakapan lainnya mengenai obyek sikap sama produktifnya dalam membuat kumpulan butir yang berguna, sebagai penulisan bentuk editorial tentang obyekobyeknya (Mueller, 1992:13). Sementara itu, dalam arti luas semua butir sikap dapat disebut pernyataan “kepercayaan” atau “pendapat,” pengukuran sikap kadang-kadang dibedakan di antara kepercayaan atau butir kognitif, perasaan atau bulir afektif, dan kecenderungan perilaku atau butir konatif. Butir kognitif menyatakan kepercayaan-kepercayaan terhadap obyek sikap. Butir-butir afektif menyusun suatu pernyataan perasaan yang sangat langsung terhadap obyek sikap. Butirbutir konatif menyatakan kehendak perilaku atau preferensi perilaku dengan 50 memperhatikan obyeknya. Sesungguhnya ada dua macam butir kecenderungan perilaku: butir-butir “mau”, dan butir-butir “akan.” Butir-butir mau/hendak menyatakan kehendak perilaku personal terhadap obyek sikap tersebut. Butirbutir akan, menyatakan kecenderungan perilaku untuk kegiatan sosial. Berikut ini adalah contoh-contoh bentuk-bentuk butir itu, dengan kendaraan disel sebagai obyek sikap: Kepercayaan : Kendaraan disel berjalan ekonomis Perasaan : Saya suka kendaraan disel Kehendak : Saya hendak/mau membeli sebuah kendaraan disel jika saya mempunyai pilihan Akan : Pemerintah akan mengenakan utang pajak kepada orang yang membeli kendaraan disel. Karena tentang kepercayaan, perasaan terhadap, dan kecenderungan perilaku dengan perhatian pada obyek cenderung berkaitan secara tinggi (orang yang menyukai X cenderung mempunyai kepercayaan positif tentang X dan menyatakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan berperilaku secara positif terhadap X), sesuatu atau seluruh bentuk butir-butir itu dapat digunakan dalam skala sikap tanpa pembatasan (Mueller, 1992:14). Tetapi hal ini penting untuk membedakan antara butir-butir kecenderungan perilaku dan butir-butir perilaku aktual. Butir-butir perilaku aktual agaknya bisa menjadi masalah dalam skala sikap. Seseorang yang hidup di Alaska dapat berpikir bahwa kendaraan disel “yang terbesar” tetapi dapat juga menjawab “tidak” atau “tidak setuju” pada pernyataan “Saya memiliki kendaraan disel”, karena kendaraan disel tidak biasa ada di Alaska. Jika berpikir tentang itu, akan mengerti bahwa perilaku aktual dipengaruhi oleh banyak hal di samping sikap. Sebagai ketentuan umum, butir-butir yang memeriksa tentang perilaku aktual responden yang baik dilangkahi dari skala sikap (Mueller, 1992:14). Mueller, 1992:14) menyatakan bahwa setiap butir Likert harus jelas secara positif atau negatifnya dengan memperhatikan kepada obyek sikapnya. Butirbutir netral tidak dimasukkan dalam skala Likert. Butir-butir positif adalah butirbutir yang menyatakan kepercayaan yang baik tentang perasaan terhadap obyek sikap. 51 Berikut ini adalah contoh-contoh butir-butir positif, netral, dan negatif: Positif Netral Negatif : Saya lebih suka memiliki kendaraan bertenaga disel. : Kendaraan-kendaraan disel adalah suatu macam mobil. : Kendaraan disel tidak dapat bergerak dengan mudah dalam cuaca dingin. Biaya pemeliharaannya sangat mahal daripada nilainya sendiri. Beberapa butir bisa mencakup sikap positif dari beberapa responden tetapi sikap negatif bagi yang lainnya. Misalnya, butir “Saya lebih suka memiliki kendaraan bertenaga disel” adalah positif atau se negatif es krim bagi setiap responden. Perhatian harus dilakukan untuk menyeleksi butir-butir yang berderajat sangat tinggi dari konsensus memandang arah (positif atau negatif) dari komponen afektifnya (Mueller, 1992:15). Bentuk lain butir yang tidak menguntungkan skala kita adalah suatu butir yang dijawab sama oleh semua responden. Jika skalanya lengkap, ini akan digunakan untuk membedakan antar responden, yaitu untuk membedakan mereka yang bersikap sangat positif daripada yang bersikap posistif secara moderat; dan sebaliknya pula dari mereka yang bersikap negatif. Setiap butir harus sedikit menunjang pada pembedaan itu. Dalam susunan pembedaan, butir-butir harus “menyebar” dalam skor nilainya. Jika semua responden membuat jawaban yang sama untuk sebuah butir dalam skalanya, maka mereka semua akan mendapat skor total yang sama. Dengan demikian, bagaimanapun tidak ada pembeda, sehingga skalanya menjadi tidak berguna (Mueller, 1992:15). Beberapa butir faktual tidak menyebar responden. Jika suatu kata dinyatakan bahwa semua responden “setuju”, ini tidak akan menjadi butir sikap yang baik. Misalnya, kemungkinan semua responden menyatakan “sangat setuju” bahwa kendaraan disel membakar minyak disel. Tetapi, beberapa butir faktual dapat membedakan demikian baiknya. Hal itu dinyatakan secara obyektif bahwa “kendaraan disel dapat menempuh jarak yang lebih jauh per galon daripada kendaraan bensin.” Tetapi tidak semua responden tahu dan/atau percaya fakta itu. Mereka yang mengetahui “fakta” positif ini akan setuju dan dengan demikian mempunyai nilai sah yang ditambahkan pada skor sikapnya. Mereka yang mempunyai salah pengertian akan tidak menyetujui dan dengan demikian tidak akan mendapat nilai sikap. Mereka yang tidak tahu apa-apa dapat menjawab “tidak tahu” atau “ragu-ragu” atau dapat menebak berdasarkan segala sikapnya 52 terhadap kendaraan disel. Butir factual seperti itu dapat menyebar responden dan dengan demikian akan menunjang pada pembedaan skalanya (Mueller, 1992:16). Butir-butir yang dikatakan secara luar biasa atau sangat dapat juga diakibatkan oleh masalah tidak menyebarkan respondennya. Butir “Saya tidak pernah membeli kendaraan disel” tidak akan menyebarkan responden maupun dikatakan secara luar biasa kurang, ditulis kembali sebagai “Saya mungkin tidak membeli kendaraan disel.” Pada umumnya, penggunaan kata-kata mutlak seperti “selalu” dan “tidak pernah” harus dihindarkan dalam menulis butir-butir skala Likert (Mueller, 1992:16). Suatu pertimbangan akhir dalam menyusun butir adalah berapa banyaknya butir-butir yang akan dimasukkan. Jawabannya untuk sebagian bergantung kepada hingga di mana sempurnanya butir-butir yang disusun, sebagian bergantung kepada rincian obyek sikap, dan sebagian lagi bergantung kepada dimana reliabelnya diperlukan dari skala akhir. Jika belum berpengalaman dalam menulis dan menata butir-butir untuk skala sikap, boleh memulai dengan kumpulan yang lebih dari 50 butir. Sikap-sikap terhadap obyek-obyek yang dikonseptualisasikan secara khusus dan ketat dapat diukur secara cermat dengan butir yang sedikit daripada sikap terhadap obyek-obyek yang tidak ditetapkan dan dibentuk secara khusus (Mueller, 1992:17). Tipe-tipe sikap Ada dua tingkatan sikap, yaitu: (1) sikap khusus terhadap inovasi, dan (2) sikap umum terhadap perubahan. Sikap khusus terhadap inovasi adalah berkenan atau tidaknya seseorang, percaya atau tidaknya seseorang terhadap kegunaan suatu inovasi bagi dirinya sendiri. Sikap khusus itu menjembatani antara suatu inovasi dengan inovasi lainnya. Pengalaman positif dengan pengadopsian inovasi yang terdahulu pada umumnya menimbulkan sikap-sikap yang positif pula terhadap inovasi yang datang berikutnya. Sebaliknya pengalaman pahit dari pengadopsian suatu inovasi, yang dianggapnya sebagai suatu kegagalan, akan menjadi perintang bagi masuknya ide-ide baru pada masa mendatang. Karena itu agen pembaru harus memulai kegiatannya terhadap klien tertentu dengan inovasi yang memiliki taraf keuntungan relatif yang tinggi, yang kompatibel dengan kepercayaan yang ada dan mempunyai kans besar untuk berhasil. Ini membantu 53 menciptakan sikap positif terhadap perubahan dan memudahkan jalan untuk ideide yang akan diperkenalkan pada hari-hari berikutnya (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Salah satu strategi diffusi (penyebaran ide baru) yang dapat dilakukan oleh agen pembaru adalah mengembangkan sikap umum yang positif terhadap perubahan, pada sebagian kliennya. Orang atau anggota sistem berorientasi pada perubahan akan selalu memperbarui diri, terbuka pada hal-hal baru dan giat mencari informasi. Salah satu cara untuk menumbuhkan sikap atau orientasi pada perubahan ini adalah dengan memilih inovasi-inovasi yang layak untuk diperkenalkan secara berurutan (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Ada juga cara lain yaitu dengan mengekspos secara bertubi-tubi sejumlah pesan modernisasi walupun pesan itu mungkin tidak berkenan dengan inovasi tertentu. Contoh dari pendekatan ini diterapkan di kalangan petani di Negaranegara belum maju. Dikatakan, disana media masa seperti radio, televisi, film dan surat-surat kabar dapat menciptakan iklim modernisasi dengan jalan mengekspos pesan-pesan pembangunan. Dalam hal ini media massa membawa pesan-pesan (informasi) yang mendukung perubahan, dan salah satu hasil penyajian pesanpesan seperti itu ialah timbulnya sikap yang positif terhadap perubahan, yang memudahkan pengadopsian ide-ide baru (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Konsistensi sikap dan tingkah laku Hasil utama yang dicapai dalam tahap persuasi adalah sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Diduga bahwa persuasi akan diikuti dengan perubahan tingkah laku nyata itu selalu konsisten. Kita sering melihat kasus yang menunjukkan sikap seseorang jauh berbeda dengan tindakannya. Kita harus ingat bahwa terbentuknya sikap tidak otomatis menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk mengadopsi atau menolak. Namun demikian ada kecenderungan orang untuk lebih menyelaraskan sikap dan tingkah laku. Jika terdapat perbedaan antara sikap seseorang terhadap inovasi dengan keputusan yang dibuatnya, maka terjadilah dissonansi inovasi. Dissonansi inovasi merupakan tipe ketakselarasan kognitif yang khusus, dan kita tahu dari penyelidikan Festinger bahwa ada kecenderungan seseorang untuk mengurangi ketakselarasan itu. Ketakselarasan adalah kenyataan psikologis yang tak enak 54 yang menimbulkan ketegangan, dan karena itu seseorang akan berusaha mengurangi ketegangan ini dengan menyeleraraskan antara sikap dan tindakannya (Roger dan Shoemaker, 1987:47). Community Development Menuju Kemandirian Petani Konsep Community Development telah banyak dirumuskan di dalam berbagai definisi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikannya: "as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, sosial and cultural conditions of communities, to integrade these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress (Einsiedel, 1968:7) Definisi tersebut menekankan bahwa pembangunan masyarakat, merupakan suatu "proses" dimana usaha-usaha atau potensi-potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumber daya yang dimiliki pemerintah, untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan, dan mengintegrasikan masyarakat di dalam konteks kehidupan berbangsa, serta memberdayakan mereka agar mampu memberikan kontribusi secara penuh untuk mencapai kemajuan pada level nasional. Dunham (1958:3) seorang pakar Community Development merumuskan definisi Community Development itu sebagai berikut. "Organized efforts to improve the conditions of community life, and the capacity for community integration and self-direction. Community Development seeks to work primarily through the enlistment and organization of self-help and cooprative efforts on the part of the residents of the community, but usually with technical assistance from government or voluntary organization. Rumusan ini menekankan bahwa pembangunan masyarakat merupakan usaha-usaha yang terorganisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat, dan memberdayakan masyarakat untuk mampu bersatu dan mengarahkan diri sendiri. Pembangunan masyarakat bekerja terutama melalui peningkatan dari organisasi-organisasi swadaya dan usaha-usaha bersama dari individu-individu di dalam masyarakat, akan tetapi biasanya dengan bantuan teknis baik dari pemerintah maupun organisasi-organisasi sukarela. 55 Dunham (1958:3) membedakan Community Development dengan "Community Organization." Pemikirannya adalah: “Community development is concerned with economic life, roads, buildings, and education,as well as health and welfare, in the narrower sense. On the other hand, community welfare organization is concerned with adjustment of sosial welfare needs and resources in cities, states, and nations as in rural villages.” Jadi community development lebih berkonotasi dengan pembangunan masyarakat desa sedangkan community organization identik dengan pembangunan masyarakat kota. Lebih lanjut Dunham (1958:3) mengemukakan 4 unsur-unsur Community development sebagai berikut: (1) a plan program with a fokus on the total needs of the village community; (2) technical assistance; (3) integrating various specialities for the help of the community; and (4) a major emphasis upon selp-help and participation by the residents of the community. Dari definisi Community development (CD) di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) CD merupakan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan, artinya kegiatan itu dilaksanakan secara terorganisir dan dilaksanakan tahap demi tahap dimulai dari tahap permulaan sampai pada tahap kegiatan tindak lanjut dan evaluasi - follow-up activity and evaluation; (2) CD bertujuan memperbaiki - to improve - kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik; (3) CD memfokuskan kegiatannya melalui pemberdayaan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, sehingga prinsip to help the community to help themselve dapat menjadi kenyataan; dan (4) CD memberikan penekanan pada prinsip kemandirian. Artinya partisipasi aktif dalam bentuk aksi bersama group action di dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhankebutuhannya dilakukan berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat. Kemandirian adalah sebuah konsep yang utuh, tetapi memiliki berbagai muka dan tercermin dalam berbagai bidang kehidupan (Kartasasmita, 1997: 3). Kemandirian (self-reliance) pertanian mengandung pengertian yang lebih jauh dari swasembada (self-sufficiency) yang secara hakiki menuntut kebutuhan dari produksi sendiri. Kemandirian di tingkat petani adalah menciptakan penerimaan yang mampu menutupi pengeluarannya. Dengan perkataan lain, kemandirian merupakan fungsi dari berbagai peubah bebas yang berkaitan erat dengan 56 peningkatan pendapatan, yakni efisiensi, sistem perdagangan, laju ekspor, sistem moneter dan kelembagaan yang inovatif serta organisasi yang bersifat adaptif (Amang, 1997:10). Saefullah (2003:4) menyebutkan bahwa perbedaan selfreliance setiap orang di samping disebabkan oleh faktor yang bersifat individual, seperti character building, kepribadian, pengalaman, dan sebagainya, juga seringkali disebabkan oleh faktor sumberdaya. Verhagen (1996:21) mengemukakan bahwa kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok. Dijelaskan oleh Verhagen (1996:21), sarana untuk mencapai kemandirian adalah adanya keswadayaan. Swadaya adalah setiap tindakan sukarela yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok manusia yang bertujuan untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau aspirasi-aspirasi individual atau kolektif. Pemilihan yang terbatas dan akses pemilihan yang juga terbatas terhadap sumber daya menyebabkan tingkat kemandirian yang rendah, dalam hal ini ketergantungan terhadap faktor eksternal menjadi sangat tinggi. Penyatuan potensi, serta penumbuhan nilai-nilai untuk menghargai diri sendiri dan sesama, kepercayaan, komunikasi dan kerjasama, yang diwujudkan dalam suatu wadah kelompok, pada akhirnya menjadi organisasi, diyakini sebagai strategi dalam meningkatkan kemandirian masyarakat (Saefullah, 2003:4). Perilaku Perilaku adalah cara bertindak yang menunjukkan tingkah laku seseorang dan merupakan hasil kombinasi antara pengembangan anatomis, fisiologis, dan psikologis (Kast dan Rosenzweig, 1995:23), dan pola perilaku dikatakan sebagai tingkah laku yang dipakai seseorang dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Perilaku juga merupakan fungsi dari interaksi antara sifat individu dengan lingkungannya yang dapat dilihat dari ucapannya, gerakannya dan gaya seseorang (Thoha, 1986:70), atau refleksi dari hasil sejumlah pengalaman belajar seseorang terhadap lingkungannya (Rogers, 1983:34). Unsur perilaku terdiri atas perilaku yang tidak tampak seperti pengetahuan, dan sikap, serta perilaku yang tampak seperti keterampilan dan tindakan nyata (action). Gabungan dari atribut biologis, psikologis, dan pola 57 perilaku aktual menghasilkan kepribadian (character), yakni kombinasi yang kompleks dari sifat-sifat dan mental, nilai-nilai, sikap, kepercayaan, selera, ambisi, minat, kebiasaan, dan ciri-ciri lain yang membentuk suatu diri yang unik (Kast dan Rosenzweig, 1995: 67). Pola perilaku orang bisa saja berbeda tetapi proses terjadinya adalah mendasar bagi semua individu, yakni dapat terjadi: disebabkan, digerakkan, dan ditunjukkan pada sasaran (Kast dan Resenzweig, 1995:67-68). Jika pernyataan itu valid, maka perilaku itu tidak dapat spontan dan tanpa tujuan, sehingga harus ada sasaran baik eksplisit maupun implisit. Perilaku kearah sasaran timbul sebagai reaksi terhadap rangsangan yang dapat berupa jarak antara kondisi sekarang dengan kondisi yang diinginkan, dan perilaku yang timbul adalah menutup jarak tersebut. Berdasarkan teori Kast dan Rozenweig (1995:67-68) tentang terbentuknya perilaku, perilaku seseorang dapat terjadi karena adanya suatu sebab, dan sebab itu adalah sasaran yang ingin dicapai atau kebutuhan untuk mencapai kondisi yang diinginkan, maka perilaku anggota subak akan menyesuaikan dengan muatan inovasi yang ingin diterapkan di dalam usahataninya. Proses Adopsi Inovasi dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya Proses adopsi merupakan serangkaian kegiatan dalam memutuskan untuk menerima atau menolak suatu inovasi selama periode waktu tertentu (Rogers dan Shoemaker, 2003:221). Proses ini mempunyai lima tahap, yaitu: (1) Sadar, yaitu seseorang sudah mulai mengenal adanya suatu inovasi, tetapi ia masih kekurangan informasi mengenai hal tersebut. (2) Minat, yaitu seseorang mulai mengembangkan minat pada inovasi tersebut dan mencari informasi tambahan tentang hal itu. (3) Penilaian, yaitu seseorang mulai membuat penilaian terhadap inovasi tersebut yang dihubungkan dengan situasi dirinya di masa sekarang dan mendatang serta menentukan menerima atau menolaknya. (4) Mencoba, yaitu seseorang mulai mencoba inovasi tersebut meskipun pada skala kecil untuk menentukan kegunaan dan kesesuaian inovasi itu pada dirinya. 58 (5) Adopsi, yaitu seseorang telah menggunakan inovasi tersebut secara tetap dalam skala yang lebih luas. Konseptualisasi proses adopsi telah sangat dikenal dan dipakai oleh para peneliti difusi selama ini, tetapi akhir-akhir ini beberapa kritik mengatakan bahwa model ini terlalu sederhana (Rogers dan Shoemaker, 2003:221), seperti: (1) proses tersebut selalu diakhiri dengan keputusan untuk mengadopsi, kenyataannya mungkin saja diakhiri dengan penolakan. padahal Oleh karena itu dibutuhkan suatu istilah yang dapat menampung kedua pengertian tersebut, (2) kelima tahap proses tersebut tidak selalu dilalui secara berurutan. Mungkin beberapa tahap proses tersebut terloncati, khususnya tahap mencoba. Penilaian biasanya terjadi pada keseluruhan proses, tidak hanya salah satu tahap saja; (3) proses tersebut jarang berakhir dengan adopsi. Biasanya proses itu berlanjut dengan mencari informasi pendukung untuk mengkonfirmasi atau menguatkan keputusan tersebut. Atas dasar uraian di atas, maka Rogers (2003:221); Trisha et al. (2004:594) merumuskan kembali pengertian proses adopsi inovasi sebagai berikut: “proses keputusan adopsi inovasi adalah proses yang terjadi pada seseorang atau unit pembuat keputusan lainnya, sejak pertama kali mengetahui adanya suatu inovasi sampai mengambil suatu keputusan mengadopsi atau menolak dan mengimplementasikan serta mengkonfirmasi keputusan tersebut (Rogers dan Shoemaker, 1971:145; Rogers, 2003:221; dan Lionberger dan Gwin, 1991:67). Proses keputusan inovasi tersebut berlangsung melalui lima tahap yaitu: (1) Mengetahui, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mengetahui adanya suatu inovasi dan memperoleh beberapa pengertian mengenai berfungsinya inovasi itu secara umum. (2) Berminat, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan suatu inovasi dan berusaha mencari informasi yang lebih banyak tentang keberadaan inovasi itu. (3) Keputusan, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya berada dalam kegiatan penilaian terhadap inovasi, dihubungkan dengan 59 dirinya saat sekarang dan di masa yang akan datang yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. (4) Pelaksanaan, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mulai menggunakan inovasi, meskipun dalam skala kecil. (5) Konfirmasi, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mencari bukti-bukti untuk memperkuat keputusan yang telah diambilnya. Rogers (2003:221) mengatakan bahwa proses keputusan tersebut terdiri atas rentetan aktivitas dan pemilihan sepanjang waktu melalui seseorang atau suatu organisasi dalam rangka mengevaluasi suatu inovasi dan memutuskannya sesuai atau tidaknya untuk dilaksanakan. Berarti pada proses tersebut, terkandung cakupan pengertian tentang keputusan inovasi opsional, kolektif, dan otoritas. Pengambilan keputusan inovasi oleh suatu organisasi atau kumpulan individu (agregate) merupakan implikasi dari proses tersebarnya teknologi baru dalam suatu daerah tertentu. Ini berarti, adopsi inovasi tersebut diukur dengan cara menilai tingkatan jumlah penggunaan (amount of use) dan tingkat penggunaan (level of use) inovasi tersebut. Terdapat tiga aspek utama yang berbeda dalam proses keputusan ini (Rogers, 1986:86), yaitu: (1) sifat kritis sasaran (critical mass nature), yang berarti bahwa setiap nilai komunikasi teknologi baru meningkat pada sasaran akan merupakan akibat peningkatan pada sasaran sebelumnya; (2) penyempurnaan (reinvention) inovasi, yaitu tingkat suatu inovasi dapat diubah atau dimodifikasi (penyesuaian) oleh sasaran dalam proses adopsi berlangsung; dan (3) penekanan pada tahap pelaksanaan lebih dari hanya sekedar keputusan untuk mengadopsi. Menurut Lionberger dan Gwin (1991:71), kelancaran proses pengambilan keputusan inovasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keberadaan sasaran, jenis-jenis informasi yang dibutuhkan sasaran berdasarkan tahapan proses adopsinya, dan sumber-sumber atau saluran komunikasi bagi informasi sesuai dengan tahapan proses adopsinya (Gambar 9). Keberadaan sasaran (adopter) baik sebagai individu maupun kelompok atau masyarakat perlu diperhatikan secara seksama. Individu sebagai sasaran inovasi pembangunan memiliki kondisi sebagai peubahnya, yaitu: (1) peubah kepribadian yang meliputi kemampuan mengelola, kemampuan belajar dari 60 masalah, kepekaan terhadap masalah, keberanian mengambil risiko, dan orientasi untuk berprestasi; dan (2) peubah situasional yang mencakup: lingkungan sosial (lingkungan keluarga, kelompok persahabatan, kelompok kerja, kelompok kepercayaan, dan kelompok rujukan), lingkungan sumberdaya fisik, dan sistem nilai dan kepercayaan yang melingkupi kehidupan mereka (Warford, 2011:7). Saluran Komunikasi MENGETAHUI BERMINAT KEPUTUSAN KONFIRMASI PELAKSANAAN Var. Penerima • • • Karakteristik sosial ekonomi Kepribadian Perilaku komunikasi Terima Terima Terus Lambat Terima Tolak Berhenti Tolak Terus Var. sistem sosial • • • Norma sistem sosial Keinovatifan masyarakat Kebutuhan yang dirasakan • • • • • Ciri-ciri Inovasi Memberi keuntungan relatif Sesuai dengan norma budaya daerah setempat Tidak terlalu rumit dilaksanakan Dapat dicoba Dapat diamati Gambar 9. Proses pengambilan keputusan inovasi Jenis-jenis informasi inovasi yang dibutuhkan sasaran selayaknya disesuaikan dengan tahapan proses adopsinya (Rogers, 1983:221 ; Lionberger dan Gwin, 1991:128). Pada tahap sadar, jenis informasi yang dibutuhkan bersifat umum atau pemberitahuan saja, misalnya keberadaan inovasi (Gambar 2). Lebih khusus lagi Rogers (1983:222) mengatakan bahwa dalam tahap pengenalan terdapat tiga tipe informasi yang dibutuhkan, yaitu: (1) informasi tentang adanya 61 inovasi, (2) informasi teknis (cara atau prosedur penggunaan inovasi), dan (3) informasi prinsip, yaikni berkenaan dengan prinsip-prinsip berfungsinya suatu inovasi. Pada tahap minat, jenis informasi yang dibutuhkan lebih ke arah operasionalisasi dan kegunaan inovasi, misalnya cara bekerjanya inovasi itu, manfaatnya untuk pemakainnya, dan sebagainya (Lionberger dan Gwin, 1991:8). Menurut Rogers (1983:222), aktivitas mental yang bekerja pada tahap persuasi adalah efektif, yakni seseorang akan membentuk sikap berkenan atau tidak terhadap suatu inovasi. Berarti sasaran membutuhkan informasi ciri-ciri inovasi yaitu: (1) keuntungan relatif inovasi, (2) kesesuaian inovasi dengan sosial budaya sasaran, (3) tidak rumit dilakukan bagi sasaran, (4) dapat dicoba, dan (5) dapat diamati. Menurut Rogers (1983:222), pada tahap keputusan sasaran membutuhkan informasi menyangkut bahan pertimbangan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Secara khusus menurut Lionberger dan Gwin (1991:154), informasi yang dibutuhkan pada tahap ini lebih bersifat saran perimbangan untuk melakukan evaluasi terhadap inovasi tersebut, seperti konsekuensi sosial, ekonomi dan budayanya; penilaian-penilaian dari orang-orang yang dipercaya terhadap inovasi tersebut, dan hasil percobaan-percobaan pada tingkat lokal/regional. Pada tahap pelaksanaan, proses keputusan inovasi tidak lagi berpusat pada aktivitas mental, tetapi sudah melibatkan perubahan perilaku sebagai pelaksanaan ide-ide itu. Informasi yang dibutuhkan dalam tahap ini seperti: asal inovasi diperoleh, cara menggunakan inovasi, masalah operasional yang dihadapi, cara memecahkan masalah tersebut, dan sebagainya. Secara rinci Lionberger dan Gwin (1991:156) mengatakan bahwa pada tahap melaksanakan jenis informasi yang dibutuhkan lebih bersifat aplikasi atau cara kerja inovasi, misalnya berapa jumlah, bentuknya, tingkatannya, waktu yang harus digunakan, frekwensinya, intervalnya, dan sebagainya. Pada tahap konfirmasi, jenis informasi yang dibutuhkan lebih ke arah hasil-hasil percobaan inovasi yang telah dilakukan selama ini baik secara langsung oleh sasaran maupun oleh orang lainnya, yang akan semakin memperkuat keputusannya (Lionberger dan Gwin, 1991;158). Bukti-bukti 62 penelitian empiris menunjukkan bahwa proses keputusan suatu inovasi tidak berakhir setelah orang mengambil keputusan untuk menerima atau menolak inovasi itu (Rogers, 1986:2001). Menurut Mason (Rogers, 1983:225), seseorang akan mencari informasi untuk menguatkan keputusannya, akan tetapi mungkin juga ia akan mengubah keputusannya semula jika ia memperoleh pesan-pesan yang bertentangan dengan inovasi itu. Pada tahap ini seseorang berusaha untuk menghindari keputusannya. kenyataan yang menyimpang dan bertentangan dengan Jika hasil inovasi dapat dengan cepat dilihat, maka calon pengadopsi lainnya tidak perlu lagi menjalani tahap mencoba melainkan dapat terus ke tahap adopsi. Ini bukan berarti bahwa calon pengadopsi langsung memulai dari tahap adopsi untuk menerima suatu inovasi, tetapi mereka juga menjalani tahap sebelumnya, namun dalam waktu relatif singkat. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971:154) dan Rogers (1983:222), unsur saluran komunikasi juga penting dalam mempercepat proses adopsi inovasi karena merupakan alat bagi ide-ide baru diperoleh dari seseorang dan diberikan kepada orang lainnya. Saluran komunikasi tersebut sangat penting dalam menentukan keputusan sasaran, untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Pada dasarnya terdapat dua saluran komunikasi yaitu (Berlo, 1960:159; Rogers dan Shoemaker, 1971:154); dan Rogers (1983:222): (1) saluran antar pribadi, yakni segala bentuk pertukaran pesan antar dua orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dengan atau tanpa alat bantu yang memungkinkan semua pihak yang berkomunikasi dapat memberikan umpan balik secara langsung, dan (2) saluran media massa, yakni segala bentuk media massa (baik media cetak maupun media elektronik) yang memungkinkan seseorang atau sekelompok kecil orang tertentu dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Jika dikaitkan dengan peranan masing-masing saluran komunikasi terhadap tahap-tahap proses adopsinya, maka menurut Rogers dan Shoemaker (1971:154), Rogers (1983;222) dan Lionberger dan Gwin (1991;45), pada tahap sadar dan minat, saluran komunikasi yang efektif digunakan adalah media massa karena mampu menjangkau sasaran secara cepat dan luas dalam rangka memberikan informasi dan pengertian tentang suatu inovasi. Pada tahap proses berikutnya, peran media massa kurang efektif lagi (Gambar 10). 63 Sumber Informasi yang Digunakan Sasaran - Pemimpin o Formal - Penyuluh - Media massa - Pemimpin o Formal o Informal - Penyuluh - Media massa - Pemimpin o Formal o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya - Pemimpin o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya - Pemimpin o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya Jenis-Jenis Informasi yang Dibutuhkan Sasaran Keberadaan inovasi Kegunaan dan ciriciri inovasi Konsekuensi sosek-bud - Penilaian orang terpercaya - Hasil percob. Lokal/regional Pemberitahuan Operasional Prosedur Kerja - Pengalaman Sendiri & Orang Lain Bagaimana Banyaknya Kapan Dimana Aplikasi Penilaian Hasil-Hasil Tahapan Proses Adopsi Sasaran Mengetahui Berminat Memutuskan Melaksanakan Konfirmasi Gambar 10. Faktor-faktor yang memengaruhi proses adopsi inovasi Sejumlah kampanye gizi dan KB di beberapa negara dunia ketiga, saluransaluran antar pribadi bahkan berhasil menyebarkan informasi penting sebelum kampanye tersebut dimulai. Selain saluran media massa, saluran antar pribadi juga berperan dalam tahap sadar dan minat, sedangkan pada tahap menilai, mencoba dan adopsi, menurut Rogers dan Shoemaker (1971:145), Rogers (1983:222) serta Lionberger dan Gwin (1991:45) saluran antar pribadi yang paling efektif. Rogers dan Shoemaker (1971:145) mencoba membedakan saluran komunikasi saat pertama kali para sasaran antara golongan penerap awal dan penerap lambat dalam mengetahui suatu inovasi. Menurut hasil penelitian Ryan dan Gross tahun 1941 (Rogers dan Shoemaker, 1971:145), golongan petani penerap awal (earlier adopter) pertama kali mendengar inovasi bibit jagung hibrida melalui penjual (salesman) bibit jagung tersebut, sedangkan golongan petani penerap lambat (later adopter) mendengar pertama kali melalui 64 tetangganya. Ini menandakan bahwa masing-masing golongan sasaran penerima inovasinya mempunyai perbedaan saluran komunikasi yang digunakan untuk mengadopsi suatu inovasi. Selain pemakaian saluran komunikasi oleh sasaran secara sendiri-sendiri, menurut Rogers dan Shoemaker (1971:145) dan Rogers (1983;222) dan Kincaid (1981:130), interaksi komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi sangat efektif untuk mengubah perilaku sasaran. Rogers dan Shoemaker (1971:145) mengemukakan bahwa pengkombinasian saluran komunikasi ini disebut forum media, dengan sasaran beberapa anggota masyarakat diorganisasikan dalam suatu kelompok yang bertemu secara teratur untuk menerima pesan-pesan media massa dan selanjutnya mendiskusikan dengan anggota kelompoknya. Di Indonesia, menurut Rogers dan Shoemaker (1987:97), kelompok ini disebut Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (kelompencapir). PPL Proses Komunikasi Menarik Perhatian Menggugah Hati Keinginan Yakinkan Galakkan (Encourage) PETANI PPL DAN PETANI Proses Adopsi Metode Penyuluhan Awarness Interest Evaluation Massa: 1. Siaran pedesaan (TV, Radio, Surat Kabar) 2. Kampanye Kelompok: Diskusi, Pertemuan, Simulasi, Kelonpencapir, Denplot. Trial Adoption Individu: 1. Kunjungan 2. Kontak pribadi Gambar 11. Hubungan proses komunikasi, proses adopsi dan berbagai metoda penyuluhan Gambar 11 menunjukkan bahwa PPL bertujuan menarik perhatian petani tentang suatu inovasi dengan jalan melakukan komunikasi dengan pendekatan kelompok melalui Siaran pedesaan sehingga petani menjadi sadar. PPL menggugah hati petani dengan pendekatan kelompok lewat diskusi sehingga 65 petani menjadi tertarik terhadap suatu inovasi. PPL menumbuhkan keinginan petani dengan pendekatan kelompok lewat kelompencapir sehingga petani menjadi mempertimbangkan baik buruk suatu inovasi. PPL menyakinkan petani dengan pendekatan individu lewat kunjungan ke rumah petani sehingga petani mau mencoba inovasi. Akhirnya PPL menggalakkan suatu inovasi dengan jalan pendekatan individu lewat tatap muka langsung dengan petani sehingga petani mau menerapkan suatu inovasi seperti ditunjukkan pada Gambar 11 (van Den Ban dan Howkins, 1999:149-198). Benjamin et al. (2005:929) menyatakan belakangan ini terjadi perubahan proses inovasi. Dikatakanya bahwa adopsi adalah hasil dari proses diffusi. Diffusi inovasi adalah proses penyebaran inovasi dalam suatu sistem sosial, sedangkan adopsi adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Perubahan proses adopsi dapat dilihat pada Gambar 12. Creativity Invention Innovasi Diffution Adoption Gambar 12. Proses perubahan adopsi Carmel et al. (2009:225) menemukan ada lima proses inovasi dalam suatu organisasi. Kelima tahapan tersebut adalah: (1) agenda seting, (2) matching, (3) redefining/restructuring, (4) clarifying, dan (5) routinizing. Dua tahap pertama adalah kelompok inisiasi sub proses, sedangkan tiga tahap terakhir adalah sub proses implementasi. Hubbardlorilee dan Sandman (2007:5) menyatakan bahwa model Cervero Program Evaluasi dibangun atas dasar konsep difusi inovasi. Tes empiris dari model ini melalui proses penyuluhan regional rerestry pada suatu kursus singkat. Cervero program evaluasi disusun oleh tenaga profesional dan tujuan dengan memperhatikan sistem sosial sasaran, perubahan perilaku yang diinginkan dan dampak bagi klien seperti tampak pada Gambar 13. 66 Proposed change Sosial system CFE Programs Behavior change Client outcome Individual professional Gambar 13. Model Cervero program evaluasi Kecepatan Adopsi Kecepatan adopsi adalah waktu yang menunjukkan penerimaan inovasi oleh suatu sistem sosial. Kecepatan ini biasanya diukur dengan jumlah penerima yang mengadopsi suatu ide baru dalam suatu periode waktu tertentu (Rogers, 2003:221). Selanjutnya disebutkan bahwa peubah penjelas kecepatan adopsi suatu inovasi adalah sifat-sifat inovasi itu sendiri. Tetapi, selain kelima sifat-sifat inovasi, hal-hal lain yang dapat menjadi peubah penjelas kecepatan adopsi adalah: (1) tipe keputusan inovasi, (2) sifat saluran komunikasi yang dipergunakan untuk menyebarluaskan inovasi dalam proses keputusan inovasi, (3) ciri-ciri sistem sosial dan (4) gencarnya usaha agen pembaharu dalam mempromosikan inovasi. Rogers (2003:221) menambahkan tipe keputusan inovasi yang memengaruhi kecepatan adopsi. Inovasi yang diputuskan secara otoritas akan diadopsi lebih cepat karena orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan inovasi lebih sedikit. Akan tetapi, jika bentuk kekuasaan itu tradisional, mungkin tempo adopsinya juga lambat. Keputusan opsional biasanya lebih cepat daripada keputusan kolektif, tetapi lebih lambat daripada keputusan otoritas. Tipe keputusan kontingen yang paling lambat karena harus melibatkan dua urutan keputusan inovasi atau lebih. Semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan inovasi, semakin lambat tempo adopsinya. Jika asumsi ini benar, maka salah satu jalan untuk mempercepat tempo adopsi adalah berusaha memilih unit pembuat keputusan yang lebih sedikit melibatkan orang (Rogers, 2003:222). 67 Saluran komunikasi yakni alat yang dipergunakan untuk menyebarluaskan suatu inovasi mungkin juga punya pengaruh terhadap kecepatan pengadopsian inovasi. Jika saluran komunikasi interpersonal yang dipergunakan untuk menciptakan kesadaran pengetahuan inovasi, seperti terjadi di masyarakat pedesaan kecepatan adopsi akan lambat karena penyebaran pengetahuan tidak berjalan cepat (Fisher, 1989:56) Sifat inovasi dan saluran komunikasi mungkin saling berkait dalam memengaruhi kecepatan adopsi inovasi. Saluran komunikasi massa seperti di majalah pertanian, sangat memuaskan untuk menyebarluaskan inovasi-inovasi yang rumit, tetapi saluran interpersonal dengan petugas penyuluh lebih tepat untuk inovasi yang dianggap lebih rumit oleh petani. Jika tidak tepat dalam memilih dan menggunakan saluran komunikasi, maka hasilnya tempo pengadopsian akan lambat (Rogers, 2003:222). Jika membahas hubungan antara sifat-sifat inovasi dan saluran komunikasi dengan kecepatan adopsi, tidak dapat meninggalkan fungsi-fungsi dalam proses keputusan inovasi, karena mungkin persepsi penerima mengenai sifat-sifat inovasi itu berbeda-beda sesuai dengan tahap-tahap dalam proses keputusan. Pada tahap pengenalan, kompleksitas dan observabilitas inovasi sangat penting. Pada tahap persuasi, keuntungan relatif dan observabilitas inovasi yang perlu ditonjolkan. Sedangkan pada tahap keputusan, dapat dicobanya suatu inovasi yang paling penting (Rogers, 2003:222; Jebeile, 2003:4). Karena itu, dalam usaha mempercepat tempo adopsi inovasi, pilihan yang paling tepat bagi agen perubahan dalam hal saluran komunikasi tergantung atas campuran dari pertimbangan-pertimbangan seperti (1) tahap-tahap dalam proses keputusan inovasi, dan (2) sifat-sifat inovasi menurut pengamatan dan penerima (Rogers, 2003:222). Hal lain yang dipertimbangkan juga memengaruhi kecepatan pengadopsian suatu inovasi adalah sistem sosial, terutama norma-norma sistem sosial. Dalam suatu sistem yang modern tempo adopsi mungkin lebih cepat karena kurang ada rintangan sikap diantara para penerima. Sedangkan dalam sistem tradisional, mungkin tempo adopsi juga lebih lambat (Rogers, 2003:222). 68 Akhirnya, kecepatan adopsi juga dipengaruhi oleh gencarnya usaha-usaha promosi yang dilakukan oleh agen perubahan. Hubungan antara kecepatan adopsi dengan usaha agen perubahan tidak langsung dan linear. Pada tahap-tahap tertentu, usaha keras agen perubahan mendatangkan hasil yang lebih besar. Respon terbesar terhadap agen perubahan terjadi pada saat pemuka masyarakat mulia mengadopsi inovasi, yang terjadi antara 13-16% pengadopsian dalam sistem sosial (Rogers, 2003:223; Sandra et al. 2011:11). Jika seseorang mengadopsi suatu inovasi, maka perubahan perilaku yang diakibatkan oleh proses pengadopsian tersebut akan memengaruhi sistem sosialnya. Demikian pula sebaliknya, jika proses pengadopsian berhenti maka sistem sosial juga akan mengikuti perubahannya. Apabila suatu inovasi telah diadopsi oleh seseorang dalam sistem sosialnya, hasilnya dapat diamati dari perubahan atribut dari inovasi tersebut seperti idenya, prosesnya ataupun teknologinya. Perkembangan inisiasi dan proses kedewasaan dari adopsi berhubungan dengan kualitas dan sumber informasi dan populasi pengadopsi (Rogers et al. 2011: 10) Bronwyn (2011: 22) mengungkapkan bahwa ada faktor lain yang sangat penting jika mendiskusikan masalah adopsi inovasi yaitu biaya yang diperlukan untuk mengadopsi suatu inovasi. Biaya ini tidak hanya sebatas pada berapa harga suatu teknologi tersebut, melainkan termasuk biaya lain hingga suatu inovasi dapat diterapkan oleh seseorang. Menurut Herting (2011:19) biaya yang dimaksud adalah biaya investasi yang termasuk di dalamnya training of wokers dan purchase of necessaru capital equipment. Biaya ini tidak mudah untuk dihitung karena sifatnya yang kompleks, namun demikian tetap harus diukur untuk melihat seberapa besar keuntungan yang didapat dari proses pengadopsian suatu inovasi. Model Logik Penelitian Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, maka penulis menyusun model logik penelitian seperti tersaji pada Gambar 13. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa di Bali telah terjadi kelangkaan air irigasi karena berbagai penyebab. Salah satu di antaranya adalah terjadinya persaingan pemanfaatan air irigasi baik untuk industri rumah tangga, pariwisata dan pertanian. MODEL LOGIK PENELITIAN INPUT OUTPUT Aktivitas Partisipasi OUTCOME - DAMPAK Pendek Mengengah Panjang Sumberdaya manusia anggota subak Modal Usahatani Situasi: Prioritas: - kelangkaan air irigasi - produksi padi rendah - tingkat pendidikan petani rendah - Perilaku berusahatani padi rendah - Adopsi SRI di kalangan anggota subak belum optimal Kelangkaan sumber daya air Rendahnya kualitas sumber daya manusia Sarana Produksi Padi (Saprodi) Kebijakan Pemerintah Daerah Informasi SRI untuk subaksubak yang ada di Bali Penyuluh pertanian lapangan yang berkualitas Pembentukan Koperasi Tani Program Pelatihan ” System of Rice Intensification di kalangan anggota subak Anggota subak mengikuti pelatihan, demplot, studi banding Demplot SRI Pengurus mengikuti pelatihan SRI, dan ”menularkan” pada anggota Studi banding ke daerah yang sukses menerapkan SRI Penyuluh/ fasilitator menyelenggarakan penyuluhan SRI Asumsi-Asumsi Gambar 14. Model Logik Penelitian Berusahatani padi lebih baik Peningkatan Pendapatan Peningkatan produksi padi Peningkatan kualitas hidup Peningkatan kesejahteraan anggota subak Kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan Faktor Eksternal 70 Kelangkaan air irigasi yang menjadi faktor utama dalam usahatani padi maka secara otomatis berdampak pada penurunan hasil usahatani. Kondisi ini semakin menyulitkan petani karena minimnya pengetahuan yang disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah, semakin menyengsarakan petani. Ada harapan untuk bertani lebih baik dengan masuknya inovasi SRI. Namun, sampai saat ini pengaadopsian SRI di subak-subak yang ada di Bali belum optimal karena berbagai faktor. Permasalahan ini menjadi salah satu fokus kajian dalam penelitian ini. Mesti ada upaya-upaya perbaikan untuk mendapatkan kehidupan petani yang lebih baik. Untuk itu, perlu dukungan input-input sebagai investasi jika ingin mencapai hasil yang diinginkan. Input itu dapat berupa manusia, uang, metode, program-program, mesin, dan pasar. Oleh sebab itu maka perlu dipersiapkan sumberdaya manusia anggota subak yang handal, modal usahatani, sarana produksi padi (saprodi), kebijakan pemerintah daerah untuk mendukung pembangunan pertanian di Bali, Informasi SRI untuk subak-subak yang ada di Bali, penyuluh pertanian lapangan yang berkualitas, dan pembentukan koperasi tani. Jika dikelola dengan baik, maka investasi yang ditanamkan diharapkan dapat memberikan output yang baik pula. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu program pelatihan tentang SRI di seluruh subak-subak yang ada di Bali. Jikalau saja seluruh subak yang ada di Bali dapat mengadopsi SRI, maka akan terjadi perubahan perilaku anggota subak ke arah perbaikan dalam berusahatani padi sehingga petani akan hidup lebih sejahtera. Apa yang direncanakan tidak selamanya berjalan mulus, oleh sebab itu perlu diantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat menjadi penghambat keberhasilan. Dengan demikian dibutuhkan asumsi-asumsi ilmu ekonomi di antaranya harga-harga tidak berfluktuasi secara tajam dan lain sebagainya. Perubahan perilaku anggota subak dalam mengadopsi SRI, diharapkan dapat menimbulkan dampak yang positif untuk pembangunan pertanian di Bali. Dampak jangka pendek yang dapat dirasakan salah satunya adalah terjadinya better farming dan better business. Dalam jangka menengah kedua dampak 71 yang positif ini akan diikuti dengan better environment, sehingga pada akhirnya petani dapat tersenyum menikmati kehidupan yang lebih sejahtera. Dalam hal dampak program, juga harus diperhatikan faktor-faktor eksternal seperti kondisi politik dan keamanan di Bali, kondisi iklim dan dan cuaca dan lain sebagainya yang sedikit banyaknya dapat memengaruhi dampak dari program yang telah direncanakan. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Penyuluhan pembangunan adalah proses pemberian bantuan berupa: informasi, memecahkan masalah yang dihadapi, pengambilan keputusan kepada masyarakat supaya proses peningkatan mutu/kualitas hidup dapat berjalan lancar. Kegiatan penyuluhan pembangunan dilaksanakan melalui upaya sadar, terencana dan sangat membutuhkan partisipasi aktif masyarakat sehingga dapat mencapai kesejahteraan. Menurut Hanafiah (1985:4), pembangunan sebagai proses perubahan akan melibatkan aktivitas struktur dan fungsi-fungsi pembangunan, di mana struktur pembangunan disusun oleh komponen fisik, sosial-ekonomi, dan administrasi pembangunan sedangkan aktivitas berkaitan dengan perilaku mewujudkan produktivitas manusia pembangunan. (1989:28) menjelaskan bahwa Sejalan dengan pendapat ini, Blakely keberhasilan pembangunan mensyaratkan mantapnya partisipasi pembangunan memfungsikan local identity termasuk lembaga masyarakat yang lahir dan diyakini sebagai wadah local business networks setempat dengan potensi ekonomi wilayah bersangkutan menjadi global network. Landis (1986:76) menambahkan bahwa sangat jarang sebuah organisasi pembangunan berfungsi tunggal, namun sekurang-kurangnya terintegrasi pada lima fungsi yaitu fungsi keluarga, pendidikan, agama, ekonomi, dan sub fungsi campur tangan pemerintah. Dengan mengadoptasi konsep tersebut, maka timbul suatu pertanyaan bagaimana potensi subak sebagai organisasi lokal Bali yang berfungsi socio-agraris-religius itu dapat menggerakkan pembangunan anggotanya, paling tidak diperlukan penelusuran unsur-unsur yang mungkin dapat sejalan mewadahi aktivitas penyuluhan pembangunan. Pembangunan bukanlah soal teknologi tetapi pencapaian pengetahuan dan ketrampilan baru, tumbuhnya suatu kesadaran baru, perluasan wawasan manusia, meningkatnya semangat kemanusiaan dan suntikan kepercayaan diri. Kesadaran itu tidak tumbuh dengan sendirinya, karena mereka harus dibekali pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat diperoleh melalui penyuluhan pembangunan. Lionberger dan Gwin (1984:34) menegaskan kembali pendidikan non-formal untuk semua orang, helping people to help themselves, learning by doing and 73 74 seeing is believing melalui proses belajar kontinyu untuk meningkatkan kualitas hidup sasaran. Penyuluhan pembangunan dikatakan berhasil jika sasarannya mampu memanfaatkan kesempatan dan menggerakkan sumberdaya lain menjadi produktif, sehingga penyuluhan sebaiknya dilaksanakan sebelum pembangunan dimulai dan bekerja harmonis dengan media dan budaya masyarakat (Benor, 1987:139); Mosher, 1978:5; dan Axinn, 1988:11). Soewardi (1987:10) dengan tegas mengatakan bahwa para penyuluh setidaknya mampu berdiri sendiri dan menguasai etika penyuluhan (the golden rules) dan metode penyuluhan yang benar. Berdasarkan harapan itu, timbul suatu pertanyaan seberapa besar subak berpotensi melakukan tugas itu atau potensi unsur mana yang dapat dijadikan titik tolak mengembangkan wahana belajar di subak? Konsep yang disampaikan Uphoff (1989:202) mengetengahkan tiga cara meningkatkan mutu organisasi lokal yakni gelorakan semangat kepeloporan (inception), perluas aktivitas anggota (expansion), dan operasikan tujuan dengan jelas (operations). Selain itu, ditawarkan juga empat teknik menggerakkan aktivitas warganya yakni tugas-tugas organisasi harus dikembangkan seluasluasnya agar warga selalu kreatif (interorganizational tasks) kenali potensi sumberdaya warga (resource tasks), memekarkan jaringan pelayanan (service tasks) dan buka hubungan dengan organisasi luar (extraorganizational). Telah banyak dikenal wadah-wadah pembangunan lokal, tetapi mencari dan memberdayakan unsur-unsur potensial agar efektif menjadi wahana pembangunan tidak mudah termasuk mengapa subak di Bali begitu populer menjadi lembaga tradisional yang dapat melayani anggotanya dalam hal irigasi? Potensi subak subak didukung oleh sarana fisik, nilai, sumber daya manusia, program dan aktifitas di subak serta kepemimpinan subak. Bahkan mungkin peran faktor di luar subak dapat saja sejalan ataupun mengganggu kemandirian subak dalam menerima inovasi pertanian. Kesesuaian unsur Subak dengan unsur pembangunan yang disuluhkan memungkinkan Subak dapat efektif menerima, mengolah, dan mengembangkan serta melaksanakan isi pesan pembangunan. Mungkin ciri komunikatif seperti lokasi yang strategi, kebersamaan, panutan guru-bhakti, tuntunan perasaan 75 bermasyarakat dan menjunjung tinggi peran prajuru-subak (pengurus subak) khususnya pada kegiatan paruman-subak (musyawarah) serta semangat ”setunggal” mentaati keputusan memungkinkan subak siap menjadi wahana belajar anggota subak sekaligus wahana pembangunan pertanian di Bali. Menyiapkan subak agar selaras dengan tujuan penyuluhan atau tujuantujuan pembangunan pertanian yang berciri terbuka dan selalu produktif mengolah sumberdaya mungkin berbenturan atau terhambat oleh adanya nilai-nilai subak yang sulit berubah atau diubah. Secara pragmatis mungkin azas kebersamaan dan rasa bakti menjadi anggota subak memudahkan terwujudnya kesamaan pandangan terhadap informasi pembangunan pertanian, alasan organisatoris di mana adanya pengakuan dan pembagian status, peran, wewenang, dan tanggungjawab yang jelas memungkinkan warga subak meraih peningkatan kualitas hidupnya. Alasan sosiologis yakni subaklah yang menjadi perekat (sosial glue) semangat bersama sehingga tidak satupun warganya merasa dapat hidup sendiri. Berarti juga dengan subak, maka perbedaan opini pribadi, pengalaman dan nilai-nilai personal mudah lebur ke arah produktif seperti progresif perwujudan pelaksanaan Tri Hita Karana yaitu hubungan selaras antara warga dengan Tuhan, warga dengan warga lain, dan warga dengan alam lingkungannya. Ciri komunikatif dan inovatif subak, dapat pula dijadikan alasan menggelorakan budaya getok tular sehingga adopsi-difusi pesan pembangunan pertanian sampai dengan efektif. Alasan kultural bahwa di subaklah dijiwai ajaran Tri Kaya Parisudha yang didasari oleh semangat berpikir (manacika), berkata (wacika), dan berbuat (kayika) yang benar. Warga subak adalah anggota keluarga, bagian dari sekehe (kelompokkelompok kecil satu profesi) dan tempekan (kelompok kecil bagian dari subak) dalam suatu banjar (lingkungan tempat tinggal). Kumpulan banjar membentuk satu desa, dan ragam perilaku masyarakatnya memerlukan pengaturan. Sejalan dengan ini Sarmela (1975:221) menggambarkan organisasi tradisi sebagai sistem tidaklah statis, di dalamnya terdapat aksi-aksi seperti komunikator-komunikator informasi pembangunan, aktor sosial-ekonomi, aspirator pengetahuan baru, motivator bagi individu lainnya dan agen transformator nilai menuju perubahan yang menguntungkan. Konsep ini dijadikan gambaran menganalisis subak yakni unsur-unsur mana memungkinkan subak menjadi pusat orientasi, fokus integrasi 76 sehingga tingkat partisipasi warganya cenderung semarak. Bagaimana ragam emosi dan aspirasi personal berupa persepsi mereka tentang pengembangan potensi subak menjadi wahana belajar menjadi pertanyaan selanjutnya. Subak sebagai kesatuan komunitas petani, dibentuk dari fungsi unsur fisik, nilai, program dan aktivitas, dan kepemimpinan subak. Fungsi unsur fisik mencirikan kesatuan komunitas yang menjamin rasa aman di subak bahkan cenderung menjadi primordial yang merugikan. Balai subak sebagai tempat musyawarah, aktivitas keagamaan, aktivitas ekonomi seperti pembagian sarana produksi pertanian, tempat penyuluhan pertanian dan wahana komunikasi sosial lainnya. Pura subak menjadi tempat persembahyangan warga subak dan pengambilan tirta suci sebelum aktivitas dalam subak dimulai. Pura sekaligus menjadi perekat sesama anggota subak. Balai kulkul atau kentongan subak bermakna komunikatif baik intra, inter, dan antar anggota subak. Irama dan prekuensi pukulan yang berbeda menyiratkan tujuan yang berbeda. Unsur fisik lainnya adalah dapur, perangkat kesenian, sumur, papan data dan informasi. Nilai subak mengatur perilaku anggota dan pengurus subak sekaligus sebagai tuntutan dalam berprilaku dalam mencapai tujuan hidup. Konsep nilai Tri Hita Karana sebagai tiga cara mencapai kesejahteraan (Geriya, 1993:93) yaitu menyelaraskan tiga hubungan di atas. Konsep Tat Wam Asi, artinya Ia adalah Kamu yang secara luas berarti menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Nilai kebersamaan dan kebaktian, tidak memungkinkan munculnya kreativitas individu bahkan dikorbankan demi komunal dan kolektivitas. Robinson (1989:96) mengakui pula bahwa tindakan meniadakan kreativitas, dan daya saing sebenarnya melawan pembangunan. Konsep nilai lainnya yaitu desa-kala-patra artinya program pembangunan disesuaikan dengan tata ruang-waktu-situasi sehingga keseimbangan lahir dan bathin menjadi pedoman berperilaku di subak. Ajaran Rwa-Bhineda dan Bhineka Tunggal Ika menyiratkan agar perbedaan dijadikan alat mencapai tujuan bersama atau teknik musyawarah pada paruman subak justru menghormati variasi pola pikir, berkata dan berbuat. Konsep Tri Guru yaitu Guru Rupaka yang mewajibkan setiap orang hormat kepada orang tua yang melahirkan; Guru Pengajian mewajibkan taat pada petunjuk guru di sekolah 77 dan Guru Wisesa, tunduk pada pemerintah. Konsep guru terakhir ini menjadikan subak korban induktif pemerintah dan memasung inisiatif dan subak Masuknya metode SRI ke dalam Subak menunjukkan daya dan efektivitas subak mengenal dan mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki untuk seterusnya dijadikan pedoman mengembangkan potensi diri mencapai tujuan pribadi, subak, dan pembangunan pertanian. Oleh sebab itu diperlukan dukungan sumberdaya yang memadai. Sumberdaya menyiratkan keragaman sumberdaya manusia, alam dan sumberdaya pendukung yang memengaruhi kiprah subak. Sumbedaya manusia di subak mengatur warganya dalam status dan peran yang berbeda, yaitu Prajuru Subak terdiri dari seorang kelian subak (Pimpinan), Penyarikan subak (Sekretaris), Petengen (Bendahara), beberapa Kelian Tempek (Ketua kelompok kecil) dan sisanya Kerame Subak (anggota). Selain itu, kepemimpinan subak juga tidak kalah penting. Kepemimpinan ditunjukkan dari kematangan warga, hubungan prajuru dan kerame subak, struktur tugas subak, kedudukan pemimpin, gaya kepemimpinan dan struktur kekuasaan pemimpin. Berdasar ciri Subak di atas, maka sangat penting dibuktikan apakah potensi Subak menjadi wahana belajar petani di Bali dipengaruhi oleh fungsi unsur dan semangat subak? Sebagai wahana belajar berarti tempat pelaksanaan proses belajar mengajar (Kochhar, 1981:25-26). Ciri aktivitas belajar dan mengajar adalah integrasi peran penyuluh, materi, sarana dan sasaran agar lebih produktif (Bertz, 1983:19-20; dan Kunzik, 1983:123). Ciri lain menurut Sutjipta (1994:1) bahwa penyuluhan adalah usaha terencana dan dilaksanakan dalam hubungan terbuka, tanpa adanya kesenjangan dalam menumbuhkan motivasi internal masyarakat. Sejalan dengan itu Kaufman (1979:31) menggambarkannya sebagai interrelasi, kooperasi dan partisipasi antar komponen belajar. Rogers (1983:290) menekankan adanya interkoneksi, dan Bertrand (1974:108) menyebut sebagai sosialisasi yang dinamis antar elemen kelompok. Roberts (1987:82) menekankan prinsip learning by doing ditingkatkan menjadi learning by interaction. Faktor yang diduga dapat memberikan pengaruh terhadap petani untuk mengadopsi atau menerapkan suatu inovasi dalam usahataninya adalah faktor yang berkaitan dengan karakteristik petani dan keluarganya, faktor yang berkaitan 78 dengan usahatani yang dijalankan dan faktor lingkungan. Apabila dilihat dari faktor yang memengaruhi percepatan adopsi, maka faktor yang memengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari inovasi itu sendiri yang akan diintroduksi harus mempunyai kesesuaian (daya adaptif) terhadap kondisi biofisik, sosial, dan budaya yang ada di petani (Musyafak dan Ibrahim, 2005:49). Berdasarkan penelitian terdahulu dapat diketahui peubah-peubah yang termasuk ke dalam faktor-faktor yang memengaruhi petani menerapkan inovasi tertentu. Faktor-faktor yang berkaitan dengan karakteristik petani dan keluarganya antara lain umur, pendidikan, jumlah anggota keluarga, sikap (Yanuar, 2002:10; Suharyanto et.al., 2005:15; Yuliarmi 2006:39; dan Basuki, 2008:40). Pendidikan diukur berdasarkan lamanya petani mengenyam pendidikan formal. Lama pendidikan formal mempunyai hubungan yang tidak langsung terhadap sikap petani dalam mengadopsi inovasi. Petani yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam mengadopsi inovasi, sebaliknya petani yang berpendidikan rendah agak sulit untuk mengadopsi suatu inovasi (Soekartawi, 1988:60). Makin muda umur petani biasanya mempunyai semangat dan keinginan untuk mengetahui apa yang belum diketahui/mencoba-coba hal baru, sehingga berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi (Soekartawi, 1988:60). Selanjutnya jumlah anggota keluarga diduga memengaruhi pengadopsian suatu inovasi. Semakin banyak keluarga maka tingkat pengadopsian semakin cepat karena kebutuhan hidup dan biaya hidup semakin besar, untuk memenuhi kebutuhan hidup itulah maka petani mengadopsi suatu inovasi agar dapat meningkatkan produktivitas usahataninya. Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh faktor produksi komoditas pertanian. Luas lahan berkorelasi positif dengan sikap adopsi petani, artinya luas lahan petani, semakin besar peluang petani dalam mengadopsi teknologi. Beberapa kemajuan teknologi baru mesyaratkan operasi dalam skala usaha yang besar dan memerlukan sumberdaya ekonomi yang substansial untuk menerapkannya, dengan demikian petani yang memiliki lahan yang luaslah yang akan mampu secara ekonomi untuk menerapkan praktik usahatani yang lebih modern (Lionberger dan Gwin, 1984:54). 79 Pemilik lahan mempunyak kuasa yang lebih luas daripada penyewa lahan. Pemilik lahan dapat langsung membuat keputusan dalam mengadopsi suatu inovasi, namun penyewa lahan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari pemilik lahan sebelum menerapkan suatu praktik baru apabila penyewa lahan masih mendapat bantuan finansial dari pemilik lahan (Lionberger dan Gwin, 1984:61) Keikutsertaan anggota subak dalam pelatihan memungkinkan anggota subak mendapatkan informasi mengenai teknologi yang belum diketahuinya dan merupakan sarana pendidikan non formal. Anggota subak yang selalu mengikuti berbagai pelatihan baik di daerahnya maupun di luar mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengadopsi inovasi, dikarenakan mempunyai pengetahuan yang lebih lengkap. Khusus untuk penelitian ini pelatihan yang diikuti anggota subak harus mengenai pelatihan atau penyuluhan tentang SRI. Pengalaman usahatani adalah lamanya anggota subak dalam melakukan usahatani padi dari sejak pertamakali memulai sampai penelitian dilakukan. Peubah ini merupakan gambaran dari budaya atau kebiasaan yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Anggota subak yang sudah lama bertani diperkirakan sulit bahkan tidak bersedia mengubah sistem pertaniannya, sehingga semakin lama pengalaman anggota subak maka semakin sulit untuk mengubah pola pikirnya untuk dapat menerapkan suatu inovasi. Pengalaman menyimpulkan bahwa praktik usahatani yang dilakukan selama bertahun-tahun adalah yang paling baik, sehingga ketika inovasi pertanian diperkenalkan anggota subak membutuhkan waktu yang lama untuk menerimanya. Pendapatan usahatani padi merupakan perolehan bersih petani dinilai dalam bentuk yang diterima dari hasil usahatani padinya. Semakin tinggi pendapatan yang akan diterima petani akibat penerapan teknologi tertentu diduga semakin cepat petani untuk beralih menerapkan inovasi dalam usahataninya. Pendapatan usahatani padi yang tinggi berhubungan dengan inovasi pertanian (Soekartawi, 1988:61). Dalam penelitian ini pendapatan usahatani dihitung berdasarkan satuan rupiah/musim tanam/ha. Karakteristik Anggota subak Anggota Subak X1 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Umur Pendidikan formal Luas lahan usahatani Pengalaman Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha Tingkat subsistensi Modal usahatani Partisipasi dalam subak (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persepsi anggota subak tentang SRI (Y1) Lebih baik dari metode konvensional Memberikan banyak keuntungan Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan Tidak bertentangan dengan norma Tidak bertentangan dengan tata nilai Tidak bertentangan dengan adat istiadat Sesuai dengan kebiasaan setempat Tidak terlalu rumit Mudah dicoba Hasilnya dapat dilihat langsung Kompetensi Fasilitator/Penyuluh (X5) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Kemampuan mengemukakan pendapat Kejelasan bahasa yang digunakan Daya adaptasi Kesistematisan dalam menyampaian materi Kemampuan memberi semangat klien Pemahanan kebutuhan anggota subak Alat bantu penyuluhan yang digunakan Penampilan menarik Efisiensi waktu memberi penyuluhan Penguasaan Materi SRI Pengalaman yang bagus dengan SRI (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Sikap anggota subak tentang SRI (Y2) Sri irit air Ramah lingkungan Menggunakan lebih sedikit benih Masa tanam lebih cepat Menggunakan bibit lebih muda Jumlah anakan lebih banyak Kualitas batang dan daun lebih baik Tahan terhadap hama dan penyakit Bulir padi lebih bernas Rasa nasi lebih enak Produktivitas tinggi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kemandirian Anggota Subak (Y3) Akses informasi Dapat belajar mandiri Kerjasama dengan pedagang Penyediaan modal usaha tani Penguasaan lahan (sewa) Akses pada kredit usahatani Berani menanggung risiko Proses pengambilan keputusan Ketepatan pengambilan keputusan Kompetensi Pengurus (X4) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Menyebarluaskan informasi Menganjurkan menerapkan SRI Mempengaruhi anggota subak Memberikan contoh Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan Memberikan semangat Mencarikan jalan pemecahan masalah Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI Sifat jujur dan terbuka Membuka diri dari segala macam kritikan Gambar 15. Kerangka berpikir penelitian Pengadopsian Paket Teknologi SRI oleh Anggota Subak(Y4) (1) Persiapan dan Pengolahan Lahan (2) Pemilihan Benih (3) Persemaian (4) Penanaman (5) Penyiangan (6) Pengairan (7) Pemupukan (8) Pengendalian hama dan penyakit (9) Panen 81 Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejalagejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. hipotesis adalah harapan yang dinyatakan oleh peneliti mengenai hubungan antara peubahpeubah di dalam masalah penelitian (Sevilla dkk., 1993:13). Hipotesis umum penelitian ini adalah derajat pengadopsian SRI di kalangan anggota subak masih rendah walaupun anggota subak telah mendapatkan informasi yang memadai tentang SRI, dan derajat pengadopsian SRI tersebut ditentukan oleh beberapa faktor internal dan faktor eksternal anggota subak. Hipotesis: (1) Karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus berpengaruh terhadap persepsi anggota subak tentang SRI. (2) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI berpengaruh terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. (3) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. (4) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh terhadap pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Ex post facto. Ex post facto berarti ”setelah kejadian” (Gay, 1976 dalam Sevilla, 1993:124). Peneliti menyelidiki permasalahan dengan mempelajari atau meninjau peubah-peubah. Peubah terikat dan persoalan utama peneliti dalam penelitian ini segera dapat diamati selanjutnya menemukan penyebab yang menimbulkan akibat tersebut. Kerlinger (1990:604) mendefinisikan Ex post facto adalah telaah empirik sistematis di mana ilmuan tidak dapat mengontrol secara langsung peubah bebasnya karena manifestasinya telah muncul, atau karena sifat hakekat peubah itu menutup kemungkinan manipulasi. Inferensi relasi antar peubah dibuat, tanpa intervensi langsung, berdasarkan variasi yang muncul seiring dalam peubah bebas dan peubah terikatnya. Gay (Sevilla, 1993:124) menyatakan bahwa dalam metode penelitian ini, peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya perbedaan dalam tingkah laku atau status kelompok individu. Dalam artian, peneliti mengamati bahwa kelompok-kelompok yang berbeda pada beberapa peubah dan kemudian diidentifikasi faktor utama penyebab perbedaan tersebut. Setelah tahapan tersebut di atas dilalui, selanjutnya penelitian ini dilanjutkan dengan model Structural Equation Model (SEM) yaitu suatu model yang juga disebut A Covariance Structure Model yang digunakan untuk menguji model-model empiris untuk menjelaskan varian dan korelasi antara suatu set peubah-peubah yang diobservasi (observe) dalam suatu sistem kausal (sebab akibat) dari faktor-faktor yang tidak diobservasi (unobserve). Dengan demikian pengukuran model menspesifikasikan seberapa jauh peubah-peubah yang diobservasi berhubungan dengan suatu set faktor-faktor yang dihipotesiskan. Untuk mengetahui pengaruh peubah bebas pada peubah terikat, dan menguji hipotesis penelitian dibuat kerangka hipotetik (Gambar 15). Kerangka hipotetik kemudian dioperasionalisasikan untuk merumuskan model persamaan pengukuran dan model persamaan struktural sesuai dengan kaidah SEM. Model persamaan dan kerangka hipotetik penelitian adalah sebagai berikut: 83 84 Model pengadopsian SRI oleh anggota subak: Y4 = X1 + X2 + * * 1 2 X3 + * 3 Y1 + * 4 Y2+ * 5 * 6 Y3 Ketergangan: X 1 = Karakteristik anggota subak. X 2 = Kompetensi fasilitator/penyuluh. X 3 = Kompetensi pengurus subak. Y 1 = Persepsi anggota subak tentang SRI. Y 2 = Sikap anggota subak terhadap SRI. Y 3 = Kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Y 4 = Pengadopsian SRI oleh anggota subak Model pengadopsian SRI: Y 4 = Y 3 + ζ 2 Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian ini adalah anggota subak sawah (kelompok tani tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi) dan menerapkan System of Rice Intensification (SRI) seperti terlihat pada Tabel 2. Sampel Penentuan Responden yang merupakan sampel dari populasi dilakukan dengan cluster sampling. Dengan demikian, unit wilayah administratif pemerintah, yaitu kabupaten sebagai cluster. Cluster sampling digunakan peneliti menyeleksi individu-individu secara terpisah. Pengambilan sampel dengan kelompok, bukan secara individu, diseleksi secara acak. Pengambilan sampel semacam ini dikaitkan sebagai pengambilan sampel wilayah, sebab dalam pelaksanaannya seringkali didasarkan atas letak geografis. Subyek-subyek yang diteliti secara alami berkelompok atau kluster. Penarikan sample menggunakan rumus Slovin, yaitu: N n = 1+Ne² Di mana: n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan, N = 288, e = 0,05 288 288 288 n= = = = 1 + 288 x (0,05)2 1 + (288 x 0,0025) 1 + 1,7725 288 = 104 2,7725 85 Tabel 2. Sebaran data populasi dan sampel penelitian Jumlah anggota subak yang telah menerapkan SRI Jumlah responden No Kabupaten Subak (1) Buleleng Padang Keling 30 11 (2) Badung Bergiding Buangga 28 8 10 3 (3) Tabanan Payangan Timpag 19 8 7 3 (4) (5) Gianyar Bangli 50 42 18 15 39 8 6 36 14 14 3 2 13 5 288 104 Rapuan Kaja Mungsing Sampalan Baler Margi Tohpati (6) Klungkung Dawan Telaga Lebah (7) Karangasem Mascatu Jumlah populasi dan responden penelitian Sumber: Dinas pertanian provinsi Bali, 2011 Ukuran populasi anggota subak yang menerapkan SRI masih sedikit. Adapaun pertimbangan menggunakan sampel penelitian adalah: (1) ketepatan dan kepercayaan bahwa sampel yang diambil telah dapat mengukur parameter yang di duga dalam penelitian ini, (2) tingkat keragaman dalam populasi untuk peubah yang diukur dapat diwakili oleh sampel yang diambil, (3) data yang diambil dapat dianalisis dengan Structural Equation Model (SEM, dan (4) waktu, biaya dan sumberdaya yang dimiliki peneliti, karena sampel yang besar adalah lebih mahal, memakan waktu lebih banyak, dan membutuhkan sumberdaya yang lebih besar. Data dan Instrumentasi Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Peubah laten eksogen terdiri atas: peubah karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator/penyuluh dan kompetensi pengurus subak. Peubah laten endogen terdiri atas: peubah persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, kemandirian anggota subak menerapkan SRI, dan pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. Indikator yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penciri dari peubah-peubah laten baik eksogen 86 maupun endogen. Tabel 3 menunjukkan kerangka hipotetik penelitian yang terdiri atas peubah laten eksogen dan laten endogen. Tabel 3. Peubah dan indikator peubah penelitian No Peubah Laten Eksogen (1) Karakteristik Anggota subak (2) (3) Kompetensi fasilitator/penyuluh Kompetensi pengurus subak Indikator (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1) (2) (3) (4) Notasi Umur Pendidikan formal Luas lahan usahatani Pengalaman Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha Tingkat subsistensi Modal usahatani Partisipasi dalam subak Kemampuan mengemukakan pendapat Kejelasan bahasa yang digunakan Daya adaptasi Kesistematisan dalam menyampaikan materi (5) Dukungan semangat pada masyarakat (6) Pemahaman kebutuhan masyarakat (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan (8) Berpenampilan menarik (9) Ketepatan dan efisiensi waktu (10) Penguasaan Materi SRI (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan (1) Menyebarluaskan informasi (2) Menganjurkan menerapkan SRI (3) Mempengaruhi anggota subak (4) Memberikan contoh (5) Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan (6) Memberikan semangat (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI (9) Sifat jujur dan terbuka (10) Membuka diri dari segala macam kritikan X 1.1 X 1.2 X 1.3 X 1.4 X 1.5 X 1.6 X 1.7 X 1.8 X 1.9 X 2.1 X 2.2 X 2.3 (1) (2) (3) Y 1.1 Y 1.2 Y 1.3 X 2.4 X 2.5 X 2.6 X 2.7 X 2.8 X 2.9 X 2.10 X 2.11 X 3.1 X 3.2 X 3.3 X 3.4 X 3.5 X 3.6 X 3.7 X 3.8 X 3.9 X 3.10 Laten Endogen (1) Persepsi anggota subak tentang SRI (4) (5) (6) Lebih baik dari metode konvensional Memberikan banyak keuntungan Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan Tidak bertentangan dengan norma Tidak bertentangan dengan tata nilai Y 1.4 Y 1.5 Y 1.6 87 Tabel 3. Peubah dan indikator peubah penelitian (lanjutan) No Peubah Indikator Tidak bertentangan dengan adat istiadat Sesuai dengan kebiasaan setempat Tidak terlalu rumit Mudah dicoba Hasilnya dapat diamati dan dirasakan secara langsung (1) Sri hemat/irit air (2) Ramah lingkungan (3) Menggunakan lebih sedikit benih (hemat benih) (4) Masa tanam lebih cepat (5) Menggunakan bibit muda (6) Jumlah anakan lebih banyak (7) Kualitas batang dan daun lebih baik (8) Tahan terhadap hama dan penyakit (9) Bulir padi lebih bernas (10) Rasa nasi lebih enak (11) Produktivitas tinggi (1) Mengakses informasi melalui media massa (2) Kerjasama dengan penyuluh (3) Kerjasama dengan pedagang (4) Penyediaan modal usaha (5) Menyiapkan lahan (6) Akses pada kredit usahatani (7) Menanggung risiko (8) Pengambilan keputusan (9) Belajar mandiri (1) Persiapan dan pengolahan lahan (2) Pemilihan benih (3) Persemaian (4) Penanaman (5) Penyiangan (6) Manajemen air (7) Pemupukan (8) Pengendalian hama dan penyakit (9) Panen (7) (8) (9) (10) (11) (2) 3) (4) Sikap anggota subak tentang SRI Kemandirian anggota subak Pengadopsian paket teknologi SRI oleh anggota Subak Notasi Y 1.7 Y 1.8 Y 1.9 Y 1.10 Y 1.11 Y 2.1 Y 2.2 Y 2.3 Y 2.4 Y 2.5 Y 2.6 Y 2.7 Y 2.8 Y 2.9 Y 2.10 Y 2.11 Y 3.1 Y 3.2 Y 3.3 Y 3.4 Y 3.5 Y 3.6 Y 3.7 Y 3.8 Y 3.9 Y 4.1 Y 4.2 Y 4.3 Y 4.4 Y 4.5 Y 4.6 Y 4.7 Y 4.8 Y 4.9 Karakteristik Anggota dan Pengurus Subak (X 1 ) Petani memiliki karakteristik yang beragam baik yang dibawa sejak lahir maupun karena bentukan lingkungan melalui proses belajar sepanjang hayat yang dilakukannya. Karakteristik tersebut dapat berupa karakter demografis petani, karakter sosial petani serta karakteristik kondisi ekonomi petani itu sendiri. Karakter-karakter tersebutlah yang membedakan tipe perilaku petani pada situasi tertentu untuk menerima atau menolak inovasi SRI. 88 Karakteristik anggota dan pengurus subak merupakan kondisi yang menggambarkan ciri atau profil seseorang atau sekelompok orang yang membedakannya dengan individu atau kelompok lain. Sumberdaya manusia (SDM) petani yang berkualitas lebih cepat dalam menerima inovasi SRI. Sejumlah karakteristik yang diamati dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Pengukuran peubah karakteristik anggota dan pengurus subak (X 1 ) No (1) Indikator Umur Parameter (1) Jumlah tahun sejak lahir hingga menjadi responden. (2) Tingkat pendidikan (3) Luas lahan Usahatani (4) Pengalaman usahatani (5) Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha (1) Jumlah tahun mengikuti pendidikan formal. (1) Luas lahan yang dikuasai untuk diusahakan yang dinyatakan dalam satuan luas. (1) Jumlah tahun sejak menjadi petani sampai dilakukan interview. (2) Jumlah anggota keluarga dalam satu dapur . (1) Intrinsik (2) Ekstrinsi (6) - - - Semakin luas semakin baik. - Semakin tinggi semakin berpengalaman. - Semakin sedikit semakin baik meningkatkan kesejahteraan petani. Dorongan yang berasal dari dalam diri individu. Dorongan yang berasal dari luar individu. Semakin banyak kebutuhan tingkat subsistensi semakin buruk. Semakin tergantung pada majikan maka tingkat subsistensi semakin buruk. Sesuai dengan kebutuhan. Tidak melalui prosedur yang berbelit-belit. Tersedia ketika dibutuhkan. Semakin tinggi semakin baik partisipasinya. - (7) Tingkat subsistensi (1) Tekanan kebutuhan (2) Patron-klien - - (8) (9) Modal dan akses pada kredit usahatani Partisipasi dalam subak (1) Besarnya (2) Kemudahan (3) Tepat waktu (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Menikmati hasil Kriteria Semakin banyak jumlah tahun berarti semakin bertambah wawasan dan pengalaman. Semakin tinggi tingkat pndidikan semakin baik . - 89 Kompetensi Penyuluh/Fasilitator (X 2 ) Kompetensi fasilitator adalah kemampuan yang dimiliki seseorang fasilitator untuk mengubah perilaku masyarakat menuju kondisi yang lebih bermutu, sekaligus mencapai tujuan program intervensi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan transfer belajar. kemampuan memotivasi, dan Transfer belajar berarti kemampuan seseorang untuk menggunakan hasil-hasil belajar yang telah didapatnya di dalam situasi yang baru yang sama dengan situasi sebelumnya atau yang lebih kompleks seperti ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Kompetensi fasilitator (X 2 ) No (1) Indikator Kemampuan transfer teknologi, memotivasi dan Penguasaan SRI Parameter (1) Kemampuan mengemukakan pendapat. (2) Kejelasan bahasa yang digunakan. (3) Daya adaptasi. (4) Kesistematisan dalam menyampaikan materi. (5) Dukungan semangat pada masyarakat. (6) Pemahaman kebutuhan masyarakat. (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan. (8) Berpenampilan menarik. (9) Ketepatan dan efisiensi waktu . (10) Penguasaan Materi SRI (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan. (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Tingkat kompetensi fasilitator/penyuluh SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kompetensi fasilitator = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = jumlah responden ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 4. 90 Kompetensi Pengurus Subak (X 3 ) Kompetensi merupakan aktivitas di dalam diri seseorang dan juga aktivitas di luar diri seseorang dalam melakukan respon terhadap rangsangan. Kemampuan (ability) merupakan suatu tenaga (daya kekuatan) yang dimiliki seseorang untuk melakukan perbuatan atau tindakan. Kemampuan merupakan kecakapan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang yang dibawa sejak lahir atau hasil pelatihan atau praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan. Kemampuan merupakan perpaduan antara pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengurus subak adalah orang yang menjadi pemimpin dalam kelompoknya, dengan demikian Kompetensi yang mesti dikuasai oleh pengurus subak adalah Kompetensi yang berkaitan dengan peran pemimpin terutama pemimpin informal. Kepemimpinan berbeda dengan kekuasaan. Kepemimpinan kekuatannya pada pengaruh yang memungkinkan orang lain mengikuti secara sukarela, sedangkan kekuasaan adalah kekuatan pada adanya kewenangan (otoritas) yang memaksa orang lain untuk melakukan perintahnya. Meskipun demikian, keduanya merupakan kekuatan memengaruhi orang lain, bisa kuat, kurang kuat, lemah atau tidak ada sama sekali. Sumber kekuatannya adalah pada: (1) kewenangan atau jabatan; (2) pengetahuan; dan (3) kepribadian. Adapun peubah dan indikator Kompetensi pengurus subak dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Kompetensi pengurus subak (X 3 ) No (1) Indikator Kemampuan transfer teknologi, memotivasi dan Penguasaan SRI Parameter Menyebarluaskan informasi. Menganjurkan menerapkan SRI. Mempengaruhi anggota subak. Memberikan contoh. Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan. (6) Memberikan semangat. (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah. (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI. (9) Sifat jujur dan terbuka. (10) Membuka diri dari segala macam kritikan. (1) (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR - Kriteria = Sangat tinggi = Tinggi = Sedang = Rendah = Sangat Rendah 91 Tingkat kompetensi pengurus subak diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kompetensi pengurus subak = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 5. Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) Persepsi anggota subak adalah pengertian anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Persepsi diukur dengan menggunakan skala Likert dengan perhitungan sebagai berikut: (1) Skor 5 diberikan jika responden merespons sangat setuju pernyataan yang diberikan; (2) Skor 4 diberikan jika responden merespons setuju pernyataan yang diberikan; (3) Skor 3 diberikan jika responden merespons ragu-ragu pernyataan yang diberikan; (4) Skor 2 diberikan jika responden merespons tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan; dan (5) Skor 1 diberikan jika responden merespons sangat tidak setuju dengan pernyataan yang diberikan seperti ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) No (1) Indikator Persepsi anggota subak tentang SRI Parameter Lebih baik dari metode konvensional. (2) Memberikan banyak keuntungan. (3) Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig). (4) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan. (5) Tidak bertentangan dengan norma. (6) Tidak bertentangan dengan tata nilai. (7) Tidak bertentangan dengan adat istiadat. (8) Sesuai dengan kebiasaan setempat. (9) Tidak terlalu rumit. (10) Mudah dicoba. (11) Hasilnya dapat dilihat .langsung (1) (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Kriteria = Sangat Tinggi = Tinggi = Sedang = Rendah = Sangat Rendah 92 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat persepsi = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 6. Sikap anggota subak terhadap SRI (Y 2 ) Sikap anggota subak adalah tingkat persetujuan anggota subak terhadap paket-paket teknologi SRI (Tabel 8). Tabel 8. Sikap anggota subak tentang SRI (Y 2 ) No (1) Indikator Parameter Sikap (1) SRI irit air. anggota (2) Ramah lingkungan. subak tentang (3) Menggunakan lebih SRI sedikit benih. (4) Masa tanam lebih cepat. (5) Menggunakan bibit lebih muda. (6) Jumlah anakan lebih banyak. (7) Kualitas batang dan daun lebih baik. (8) Tahan terhadap hama dan penyakit. (9) Bulir padi lebih bernas. (10) Rasa nasi lebih enak. Kriteria (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Peubah ini diukur dengan skala Likert dengan perhitungan sebagai berikut: (1) Skor 5 diberikan jika responden merespons sangat setuju pernyataan yang diberikan; (2) Skor 4 diberikan jika responden merespons setuju pernyataan yang diberikan; (3) Skor 3 diberikan jika responden merespons ragu-ragu pernyataan yang diberikan; (4) Skor 2 diberikan jika responden merespons tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan; dan (5) Skor 1 diberikan jika responden 93 merespons sangat tidak setuju dengan pernyataan yang diberikan. Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 7. Kemandirian Anggota Subak (Y 3 ) Kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok seperti terlihat pada Tabel 9. Tabel 9 . Kemandirian Anggota Subak (Y 3 ) No (1) Indikator Mengakses informasi (2) Kerjasama dengan penyuluh Kerjasama dengan pedagang Penyediaan modal usahatani Menyiapkan lahan usaha (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Akses pada kredit usahatani Menanggung risiko Pengambilan keputusan Belajar Mandiri Parameter (1) Semakin sering dan banyak mengakses informasi melalui media massa. (1) Semakin sering berinteraksi dengan penyuluh. (1) Semakin sering berinteraksi dengan pedang . (1) modal sendiri. (2) sewa (3) hutang (1) milik sendiri. (2) sewa (3) bagi hasil. (1) Mudah (2) Murah (3) Tepat waktu. (1) Keberanian menanggung risiko. (1) Cepat (2) Tepat (1) Belajar dari pengalaman. (1) ST (2) T (3) S (4) R (5) SR = = = = = Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah 94 Kemandirian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemandirian dalam berusahatani di antaranya kemandirian dalam mengakses informasi, mendapatkan modal usahatani, mendapatkan saprodi, dan pengambilan keputusan. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kemandirian = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 8. Pengadopsian paket-paket teknologi SRI oleh anggota Subak (Y 4 ) Derajat pengadopsian metode SRI adalah kecepatan relatif metode SRI diterapkan oleh anggota dan pengurus subak seperti terlihat pada Tabel 10. Tabel 10. Pengadopsian SRI (Y 4 ) No (1) (2) Indikator Parameter Persiapan dan (1) Bertujuan mendapatkan media tumbuh yang baik. pengolahan lahan (2) Dioleh seperti tanam padi metode biasa. (3) Dibajak sedalam 25-30 cm. (4) Dibuat parit keliling dan melintang petak sawah untuk membuat kelebihan air. (5) Letak dan jumlah parit pembuaangan disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak serta dimensi saluran irigasi. Pemilihan (1) Pentingnya melakukan benih pemilihan benih yang bermutu baik. (2) Menggunakan larutan garam dan telur. (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Kriteria = Sangat tinggi = Tinggi = Sedang = Redah = Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah 95 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No Indikator (3) Persemaian (4) Penanaman Parameter (3) Benih yang bermutu tenggelam, direndam dan dibilas. (1) Tidak harus dilakukan di lahan sawah. (2) Disemai pada baki-baki plastik/besek/nampan. (3) Varietas sesuai kebiasaan setempat. (4) Baki persemaian dilapisi daun pisang atau plastik. (5) Media tumbuh benih adalah tanah yang subur dicampur kompos dengan perbandingan 1:1. (6) Tinggi tanah pembibitan pada baki plastik adalah 4 cm. (7) Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian dan dilapisi tanah tipis. (8) Benih disiram setiap hari untuk menjaga kelembaban media tumbuh. (9) Baki-baki plastik pembenihan disimpan pada meja atau rak-rak kayu yang terjangkau oleh sinar matahari. (1) Pencabutan bibit dari persemaian dilakukan dengan hati-hati agar akar tanaman tidak terpotong. (2) Pola penanaman bibit metode SRI berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. (3) Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak. (4) Bibit ditanam pada umur 4 hingga 12 hari. (5) Bibit ditanam tunggal. (6) Posisi perakaran dibentuk seperti huruf L. (7) Penanaman dilakukan serentak. Kriteria (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah 96 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No (5) Indikator Pemupukan (6) Penyiangan (7) Pengairan (8) Pengendalian hama dan penyakit Parameter (1) Mengikuti anjuran dinas pertanian dalam menentukan takaran pupuk anorganik atau pupuk kimia. (2) Pemupukan pertama dilakukan pada umur 7-15 hari setelah tanam. (3) Pemupukan kedua dilakukan pada umur 2530 hari setelah tanam. (4) Menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah. (5) Menggunakan mikro organisme lokal (Mol) dalam pembuatan kompos. (1) Penyiangan dilakukan dengan menggunakan landak atau rotary weeder untuk membasmi gulma dan menjaga aerasi tanah. (2) Penyiangan dilakukan sebanyak tiga kali atau lebih. (1) Pemberian air dilakukan dengan jalan terputusputus. (2) Pada periode tertentu petak sawah dibiarkan kering sampah ”pecah rambut.” (3) Menjelang panen sawah dikeringkan. (1) Pengendalikan hama dan penyakit dilakukan secara terpadu. (2) Belalang, walang sangit dan keong dibuatkan alat perangkap. (3) Keong mas diatasi dengan jalan menjaga sawah tidak tergenang. (4) Wereng dikendalikan dengan menabur abu gosok. Kriteria (1) ST = (2) T = (3) S = (4) R = (1) SR = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah = = = = = 97 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No (9) Indikator Panen Parameter (1) Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya bulir padi secara merata. (2) Panen SRI lebih awal dibandingkan dengan metode konvensional. (3) Jerami diolah menjadi kompos. (4) Arang sekam diolah menjadi kompos. Kriteria (6) ST = Sangat tinggi (7) T = Tinggi (8) S = Sedang (9) R = Redah (10) SR = Sangat rendah Tingkat pengadopsian terhadap paket-paket teknologi SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat pengadopsian = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan pengadopsian paket-paket teknologi SRI dapat dilihat pada Lampiran 9. Instrumen Penelitian Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan peubahpeubah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Uji Kesahihan (Validity Test) Pada penelitian ini, daftar pertanyaan disusun dengan cara: (1) mempertimbangkan teori-teori dan kenyataan yang telah diungkapkan pada berbagai pustaka empiris, (2) menyesuaikan isi pertanyaan dengan kondisi responden, dan (3) memperhatikan masukan para pakar. Korelasi product moment digunakan untuk menentukan tingkat validitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner (Arikunto, 1998:10). Alat ukur dinyatakan valid (sahih) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur yang sebenarnya ingin diukur. Cara 98 menetapkan validitas (kesahihan) alat ukur penelitian ini adalah validitas isi, yaitu isi alat ukur tersebut dapat mewakili semua aspek yang dianggap sebagai kerangka konsep, (Kerlinger, 1990:729). Keabsahan kuesioner dapat diperoleh jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dalam kuesioner yang disusun sebenarnya terdapat tiga bagian penting yaitu konsep, konstrak, kemudian menjabarkan menjadi faktor-faktor, lalu faktorfaktor tersebut dijabarkan dalam butir-butir pertanyaan. Instrumen penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan penilaian juri di luar komisi pembimbing resmi, untuk mendapatkan keabsahan isi. Adapun pakar yang terlibat dalam penelitian ini adalah pakar SRI dari Lab Mikrobiologi Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, dan pakar SRI dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hasilnya, ketiga pakar telah sepakat bahwa butir-butir pernyataan yang dibuat telah mewakili seluruh paket teknologi yang ada pada inovasi SRI. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumentasi merupakan suatu konsep yang dapat mengetahui sejauh mana suatu alat pengukuran (instrumen penelitian) dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun & Effendi, 2003:142). Korelasi Crombach alpha digunakan untuk menentukan tingkat reliabilitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner (Arikunto, 1998:10). Alat ukur dinyatakan valid (sahih) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur yang sebenarnya ingin diukur. Dengan bantuan software SPSS 17.0, telah dicapai nilai koefisien instrumen penelitian sebesar 0,724 yang menyatakan bahwa instrumen yang dibuat reliable, selain itu pula telah didapatkan setiap butir pernyataan telah menunjukkan nilai > 0,3 yang berarti bahwa pernyataan-pernyataan yang disusun dapat diandalkan. Pengumpulan Data Data primer yang diambil adalah dengan bantuan instrumen/ kuesioner serta ditambah dengan wawancara mendalam. Pengumpulan data menyesuaikan kebiasaan waktu responden sehingga, memudahkan sekaligus menghindari bias 99 karena keterpaksaan responden. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada tujuh kabupaten yaitu: Kabupaten Badung, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar dan Tabanan. Data sekunder dengan melakukan studi terhadap dokumen/laporan yang dikeluarkan oleh pihak dinas terkait. Disamping itu digunakan studi literatur dan penelitian terdahulu untuk menunjang kebutuhan data atau informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, serta laporan yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik. Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan berbagai macam uji. Data yang terkumpul kemudian diberi skor sesuai dengan tingkatan masalahnya. Pengujian kualitas peubah-peubah penelitian yang meliputi uji kenormalan, uji kehomogenan, uji realibilitas dan uji validitas. Matrik yang digunakan dalam analisis data adalah correlation matrix karena ada dua jenis skala data yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu data ratio dan data interval. Analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM) dengan program Lisrel Versi 8.3. SEM juga dapat diartikan sebagai Path Analisis yang merupakan suatu teknik Ordinary Least Square yang digunakan untuk mengetahui model-model kausal. Prosedur SEM memberikan kesempatan peneliti untuk mengevaluasi parameter-parameter struktural secara statistik dari berbagai indikator dan konstrak laten dan keseluruhan fit dari suatu model. Tabel 11 menunjukkan pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. Model fit dengan data apabila p> 0,05; RMSEA < 0,08 dan atau CFI > 0,90. Ada empat hipotesis penelitian yang diuji dalam penelitian ini. Uji statistik yang digunakan adalah dengan memperhatikan nilai t. Hipotesis diterima jika nilai t-hitung > 1,96. Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) diturunkan dari model kerangka berpikir penelitian dan berdasarkan peubah-peubah penelitian sehingga komposisi antar peubah dapat terlihat dengan jelas seperti ditunjukkan pada Gambar 16. 100 Tabel 11. Pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak Model Overall model Fit Hipotesis Ho: Matriks korelasi data sampel tidak berbeda dengan matriks korelasi populasi yang diestimasi. H1: Matriks korelasi data sampel berbeda nyata dengan matriks korelasi populasi yang diestimasi. Statistik Uji Kriteria Uji Model fit dengan data, p> 0,05; RMSEA < 0,08 dan atau CF > 0.90 Persepsi Ho : 1> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus tidak berpengaruh secara nyata terhadap persepsi SRI anggota subak. H1 : 1> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus berpengaruh secara nyata terhadap persepsi SRI anggota subak. Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Sikap H0 : β > 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. H1 : β > 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI berpengaruh secara nyata terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. H0 : γ> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. H1 : γ> 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasil tator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh secara nyata terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Ho : 4> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap pengadopsian SRI. H1 : 4> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh secara nyata terhadap pengadopsian SRI. Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Kemandirian Model pengadopsian SRI X1.1 X1.2 X1.3 X1..4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 X3.10 X1 X2 Y1 Y2 Y3 X3 Y4 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4 Y1.5 Y1.6 Y1.7 Y1.8 Y1.9 Y1.10 Y1.11 Y2.1 Y2.2 Y2.3 Y2.4 Y2.5 Y2.6 Y2.7 Y2.8 Y2.9 Y2.10 Y2.11 Y3.1 Y3.2 Y3.3 Y3.4 Y3.5 Y3.6 Y3.7 Y3.8 Y3.9 Y4.1 Y4.2 Y4.3 Y4.4 Y4.5 Y4.6 Y4.7 Y4.8 Y4.9 Gambar 16. Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Provinsi Bali terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Bali sebagai pulau terbesar, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Serangan yang terletak disekitar “kaki” Pulau Bali dan Pulau Menjangan yang terletak dibagian barat Pulau Bali. Secara geografis Propinsi Bali terletak pada posisi antara 8°03 40 - 8°50 48 lintang selatan dan 114°β5 5γ - 115°42 40 bujur timur (Distan Bali, β011:1). Propinsi Bali berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur yang dibatasi oleh selat Bali pada bagian barat, sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Pulau Lombok yang dibatasi oleh Selat Lombok. Pada bagian utara Propinsi Bali terdapat Laut Jawa dan pada bagian selatan terdapat Samudra Hindia seperti terlihat pada Lampiran 1. Luas wilayah Propinsi Bali secara keseluruhan sebesar 5.636,66 km2 atau 0,29 % dari luas Kepulauan Indonesia. Lebarnya dari pantai utara sampai pantai selatan sekitar 95 km, sedangkan panjangnya dari timur sampai ke barat sekitar 145 km dan panjang garis pantai sekitar 500 km (Distan Bali, 2011:1). Daerah pemerintahan Provinsi Bali terdiri atas 8 Kabupaten dan 1 Kota, 56 Kecamatan dan 703 Desa yang dirinci pada Tabel 12. Tabel 12. Luas wilayah, jumlah kecamatan dan desa per kabupaten se Bali Tahun 2007 No (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kabupaten/Kota Buleleng Jembrana Tabanan Badung Kota Denpasar Gianyar Bangli Klungkung Karangasem Luas (Km) 1.365,88 841,80 839,33 418,52 127,78 368,00 520,81 315,00 839,54 Jumlah Kecamatan 9 4 10 6 4 7 4 7 8 Sumber : Kantor Statistik Propinsi Bali ( Bali Dalam Angka, 2008) 103 Jumlah Desa 148 51 123 62 43 70 70 59 77 104 Provinsi Bali merupakan wilayah dengan beragam topografi yang berupa pegunungan, dataran dan kepulauan, yang berada pada ketinggian antara 0 - 3.140 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki perairan umum berupa danau dan sungai. Iklim daerah Bali termasuk tropis, dengan curah hujan beragam antara 890 milimeter - 2.700 milimeter setiap tahun. Suhu udara beragam antara 24°Celsius - 31°Celsius. Wilayah Bali mempunyai kawasan yang rawan terhadap bencana, yaitu erosi dan letusan gunung api (Bappenas, 2011:1). Lahan di Propinsi Bali sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Selain itu, sumber daya alam lainnya yang dimiliki adalah sumber daya kehutanan dan perkebunan yang potensial untuk dikembangkan (Bappenas, 2011:1). Di Bali, pariwisata merupakan salah satu faktor yang mendukung perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan pertanian dan pariwisata di Bali masih harus hidup berdampingan secara harmonis. Jadi dalam pengembangan kedua sektor tidak boleh dikorbankan satu dengan yang lain. Pesatnya perkembangan pariwisata memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat Bali. Sementara itu sektor pertanian adalah salah satu aset budaya dan ekonomi untuk pengembangan sektor pariwisata. Pengembangan sektor pariwisata yang cepat dan tidak terkendali akan membahayakan keberlanjutan sektor pertanian. Kemajuan pariwisata mengakibatkan banyak lahan pertanian berubah menjadi non-pertanian berfungsi untuk memenuhi kepentingan fasilitas pariwisata. Pengembangan pariwisata yang tidak terkendali menyebabkan persaingan yang sangat ketat antara air untuk irigasi pertanian dan air untuk keperluan konsumsi dan hotel. Di lain pihak, pariwisata memberikan peluang yang besar kepada pertanian untuk berkembang. Hal ini terjadi karena pariwisata menyediakan pasar bagi produksi pertanian, di mana pasar merupakan salah satu mata rantai yang krusial bagi pembangunan pertanian dewasa ini. Dalam aktivitas produksi, sesungguhnya para petani sudah mempunyai kemampuan yang memadai, mampu mengadopsi berbagai teknologi anjuran. Namun, permasalahan yang sangat pelik adalah penyaluran hasil produksinya, atau kalau tersalurkan, maka harga jualnya akan sangat rendah (Pitana, 2005:258). 105 Pariwisata memang telah mampu meningkatkan peluang bagi penduduk pedesaan untuk mencari penghidupan di sektor pariwisata, sehingga tekanan penduduk di sektor pertanian dapat kurangi. Namun, apakah ini merupakan dampak positif dalam arti kata yang sesungguhnya, masih dapat diperdebatkan. Sebab, pariwisata telah memicu urbanisasi dan migrasi. Penduduk desa khususnya kalangan muda, cenderung ingin mencari pekerjaan yang lebih bergengsi di sektor pariwisata daripada bertani, karena menjanjikan pendapatan yang jauh lebih besar. Pelaku urbanisasi dan migrasi ke kota Denpasar bahkan bukan penduduk desa dari Bali saja, tetapi juga dari luar Bali. Hal ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan seperti kriminalitas, kemacetan lalu lintas, pemukiman kumuh, prostitusi, dan banyak persoalan lainnya yang semuanya itu merupakan biaya sosial yang harus dipikul oleh masyarakat dan pemerintah Bali. Tenaga kerja untuk memanen hasil padi kini semakin sulit diperoleh dari penduduk Bali, sehingga terpaksa harus didatangkan dari luar Bali, khususnya dari Jawa. Kalau generasi muda Bali tidak lagi mau bertani karena kesenjangan yang lebar antara sektor pertanian dan pariwisata, apakah para penggarap sawah atau petani nantinya juga bukan penduduk asli Bali? Kalau demikian bagaimana nasib subak di masa datang terutama terkait dengan aspek ritualnya? (Sutawan, 2005:6). Hal ini memerlukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk masalah irigasi, peranan subak sebagai organisasi pertanian di Bali sangat diperlukan. Dalam hal ketersediaan sumber daya air yang ada di Bali membutuhkan kontrol penggunaan yang ketat antara irigasi untuk pertanian padi dan perhotelan. Sedangkan untuk masalah sumber daya manusia, diperlukan terobosan suatu inovasi pertanian yang menjanjikan agar generasi muda tertarik menggeluti sektor pertanian di masa depan. Hasil Ada sejumlah faktor yang memengaruhi anggota subak mengadopsi SRI. Faktor-faktor tersebut adalah: karakteristik individu petani, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi tentang SRI, sikap anggota subak, kemandirian dan adopsi anggota subak dalam berusahatani metode SRI. 106 Karakteristik Individu Petani Distribusi responden berdasarkan karakteristik anggota subak disajikan pada Tabel 13. Rataan umur responden adalah 50,31 tahun dengan kisaran antara 26 -75 tahun. Sebagian besar (28,85%) responden adalah petani yang berumur tua dengan kisaran antara 50 – 59 tahun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar petani Bali adalah petani yang berumur tua. Petani Bali kebanyakan berpendidikan formal rendah (41,35%) dengan rata-rata mengenyam pendidikan selama 6,95 tahun setara dengan tamatan SD. Data ini mengindikasikan bahwa petani Bali tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka,, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Luas lahan garapan usahatani petani Bali tergolong sempit (27,88%). Rataan luas lahan petani bali sebesar 51,04 are setara dengan 0,51 ha. Ini berarti kebanyakan petani memiliki luas garapan yang relative sempit. Selain sempit, lahan yang mereka garap bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah petani penggarap dengan system bagi hasil. Petani Bali sangat berpengalaman dalam berusahatani (51,92 % responden) dengan kisaran 38,13 – 60 tahun. Rataan pengalaman petani Bali adalah selama 26 tahun lebih. Jumlah tanggungan keluarga anggota subak tergolong sedikit (43,27%) dengan kisaran tanggungan antara tiga hingga empat orang dalam satu rumah tangga petani. Rataan jumlah tanggungan keluarga petani sebanyak tiga orang. Sebagian besar (30,77 %) responden memiliki motivasi yang tinggi untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Tingginya motivasi responden terlihat dari keinginannya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika mereka mengusahakan padi dengan metode konvensional. Mereka menerapkan SRI karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama tuntutan untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Motif lainnya adalah dapat menjalin kerjasama dengan anggota lainnya agar berhasil menerapkan SRI. 107 Tabel 13. Sebaran karakteristik anggota subak dalam pengadopsian SRI No (1) (2) (3) Ketegori n Persentase (%) Umur Sub peubah karakteristik 26 - 42 Sangat muda 27 25,96 Rataan 50,31 tahun 43 - 49 Muda 21 20,19 50 - 59 Tua 30 28,85 60 - 75 Uzur 26 25,00 Pendidikan formal 0 - 5,29 Sangat rendah 21 20,19 Rataan 6,95 tahun 5,30 - 6,93 Rendah 43 41,35 6,94 -9,53 Tinggi 18 17,31 9,53 - 12 Sangat tinggi 22 21,15 10 - 24,79 Sangat sempit 21 20,19 24,80 - 38,07 Sempit 29 27,88 38,08 - 58,00 Luas 27 25,96 Sangat luas Sangat tidak berpengalaman Tidak Berpengalaman 27 25,96 3 2,88 17 16,35 Berpengalaman Sangat Berpengalaman 30 28,85 54 51,92 Luas lahan usahatani Rataan 51,04 are Rentang skor 58,01 - 300 (4) Pengalaman Rataan 26,07 tahun 1 - 13,86 13,87 -23,50 23,51 - 38,12 38,13 - 60 (5) (6) Jumlah tanggungan keluarga 1-2 Sangat sedikit 28 26,92 Rataan 3,6 orang 3-4 Sedikit 45 43,27 5-6 Banyak 29 27,88 7-8 1-2 Sangat banyak Sangat rendah 2 24 1,92 23,08 >2-3 Rendah 21 20,19 >3-4 Tinggi 27 25,96 >4-5 32 30,77 13 12,50 >2-3 Sangat tinggi Sangat tidak subsisten Tidak subsisten 24 23,07 >3-4 Subsisten 32 30,76 >4-5 Sangat subsisten 35 33,65 Sangat sulit 21 20,19 >2-3 Sulit 18 17,31 >3-4 Mudah 34 32,69 >4-5 Sangat mudah 31 29,81 1-2 Sangat rendah 9 8,33 Motivasi berusaha Rataan skor 4,18 (7) Tingkat subsistensi Rataan skor 3,36 (8) Modal dan akses kredit usahatani Rataan skor 3,7 (9) Partisipasi dalam subak Rataan skor 4,4 1-2 1-2 >2-3 Rendah 2 1,85 >3-4 Tinggi 37 34,26 >4-5 Sangat tinggi 60 55,56 Setiap petani pada hakekatnya menjalankan sebuah perusahaan pertanian di atas usahataninya. Usahatani itu merupakan perusahaan, karena tujuan tiap petani bersifat ekonomis: memproduksi hasil-hasil, apakah untuk dijual ataupun 108 untuk digunakan oleh keluarganya sendiri. Sebagian besar (33,65%) responden tergolong petani yang sangat subsisten. Ini berarti kebanyakan petani bali belum berorientasi pada bisnis pertanian, karena sebagian besar hasil yang didapat adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Adapun pendapatan usahatani padi metode SRI responden dapat dilihat pada Lampiran 3. Petani Bali mudah dalam mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani (32% responden). Rataan skor modal dan akses pada kredit usahatani sebesar 3,7 yang berarti pula petani Bali mudah mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani. Partisipasi dalam subak petani Bali sangat tinggi (55,56% responden), dengan rataan skor partisipasi dalam subak 4,4 yang juga mengindikasikan bahwa partisipasi dalam subak petani bali sangat baik. Gambar 17. Hasil CFA peubah karakteristik individu petani Gambar 17 menunjukkan bahwa peubah observer untuk karakteristik individu petani terdiri atas: umur, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, motivasi berusaha, tingkat subsistensi, akses pada modal dan kredit usahatani, luas lahan garapan, dan tingkat partisipasi anggota dalam subak. Hasil uji dengan perangkat lunak Lisrer versi 8.3, Confirmatory Factor Analisys (CFA) menunjukkan bahwa karakteristik individu petani dibentuk oleh tiga peubah observer yaitu umur (0,90), tingkat pendidikan (0,57), dan pengalaman berusahatani padi (0,74). 109 Kompetensi Fasilitator Kompetensi fasilitator dipengaruhi oleh beberapa peubah observer diantaranya: kemampuan mengemukakan pendapat (KEMUKA), bahasa yang digunakan (BAHASA), kemampuan beradaptasi dengan klien (ADAP), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (SISTEMIS), kemampuan membangkitkan semangat (SEMANGAT), kemampuan memahami kebutuhan klien (BUTUH), efektifitas penggunaan alat bantu penyuluhan (ALAT), kemampuan menarik minat klien (MENARIK), ketepatan waktu (WAKTU), penguasaan materi (KUASAI) dan kemampuan mencipatakan suasana belajar yang bagus/kondusif (BAGUS) seperti terlihat pada Tabel 14. Tabel 14. Distribusi responden berdasarkan kompetensi fasilitator Kategori Kompetensi fasilitaror (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) ST T S KEMUKA 61 44 1 BAHASA 58 34 0 ADAP 65 33 3 SISTEMIS 62 33 1 SEMANGAT 56 36 4 BUTUH 55 38 5 ALAT 55 42 4 MENARIK 60 51 1 WAKTU 48 44 2 KUASAI 49 34 4 BAGUS 66 0 3 Jumlah 635 389 28 Kompetensi fasilitator = 4,28 (Tinggi) Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Skor R SR 1 2 1 6 5 5 3 1 2 4 0 30 0 0 1 2 6 3 4 0 1 3 1 21 n (ST) 305 290 325 310 280 275 275 300 240 245 330 3175 n(T) n(S) n(R) n(SR) 176 136 132 132 144 152 168 204 176 136 0 1556 3 0 9 3 12 15 12 3 6 12 9 84 2 4 2 12 10 10 6 2 4 8 0 60 0 0 1 2 6 3 4 0 1 3 1 21 Jumlah 486 430 469 459 452 455 465 509 427 404 340 4896 Tingkat Kompetensi Fasilitator 4,67 4,13 4,51 4,41 4,35 4,38 4,47 4,89 4,11 3,88 3,27 47,08 Berdasarkan penilaian responden, secara keseluruhan tingkat kompetensi fasilitator SRI tergolong dalam kategori tinggi dengan skor 4,28 (rentang skor 15). Kompetensi fasilitator yang harus dipertahankan diantaranya kemampuan fasilitator dalam mengemukakan pendapat (skor 4,67), kemampuan fasilitator beradaptasi dengan kliennya (skor 4,51), kemampuan fasilitator dalam penggunaan alat bantu penyuluhan (skor 4,47) dan kemampuan fasilitator menarik minat kliennya menerapkan SRI (skor 4,89). Sedangkan kompetensi fasilitator yang harus ditingkatkan adalah kemampuan fasilitator dalam penguasaan SRI (skor 3,88) dan kemampuan fasilitator menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan skor 3,27 (Lampiran 4). 110 Gambar 18. Hasil CFA peubah kompetensi fasilitator Gambar 18 menunjukkan bahwa kompetensi fasilitator dicirikan oleh peubah observer: kemampuan mengemukakan pendapat (0,71), bahasa yang digunakan (0,63), kemampuan beradaptasi dengan klien (0,72), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (0,88), kemampuan membangkitkan semangat (0,86), kemampuan memahami kebutuhan klien (0,58), efektifitas penggunaan alat bantu penyuluhan (0,27), kemampuan menarik minat klien (0,70), ketepatan waktu (0,61), penguasaan materi seperti (0,57), kemampuan mencipatakan suasana belajar yang kondusif (0,67) ditunjukkan pada Gambar 2. Untuk membentuk model persamaan struktural yang ”fit” maka dipilih tiga peubah observer yang memiliki bobot tertinggi yaitu kemampuan beradaptasi dengan klien (0,72), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (0,88), kemampuan membangkitkan semangat (0,86). Kompetensi Pengurus Kompetensi pengurus dipengaruhi oleh peubah observer: peranan menyebarkan inovasi SRI (NYEBAR), menganjurkan SRI (DARI), memengaruhi anggota (ARUH), memberikan contoh (CONTOH), pelibatan anggota (LIBAT), kompetensi pengurus memberikan semangat (ANGAT), mencarikan jalan penyelesaian masalah (JALAN), pengetahuan tentang SRI (TAHU), sifat jujur dan terbuka (JUJUR), dan menerima kritikan (KRITIK). 111 Tabel 15. Distribusi responden berdasarkan kompetensi pengurus subak Kompetensi pengurus subak Kategori ST T S Skor R (1) NYEBAR 73 28 2 1 (2) DARI 33 41 5 11 (3) ARUH 64 34 4 1 (4) CONTOH 65 26 5 5 (5) LIBAT 82 21 0 0 (6) ANGAT 58 40 2 3 (7) JALAN 64 32 4 4 (8) TAHU 25 53 12 10 (9) JUJUR 77 27 0 0 (10) KRITIK 77 27 0 0 Jumlah 618 329 34 35 Kompetensi pengurus subak = 4,42 (Tinggi) Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah SR 0 14 1 3 0 1 0 4 0 0 23 n (ST) 365 165 320 325 410 290 320 125 385 385 3090 n(T) 112 164 136 104 84 160 128 212 108 108 1316 n(S) 6 15 12 15 0 6 12 36 0 0 102 n(R) 2 22 2 10 0 6 8 20 0 0 70 n(SR) 0 14 1 3 0 1 0 4 0 0 23 Jumlah 485 380 471 457 494 463 468 397 493 493 4601 Kompetensi 4,66 3,65 4,53 4,39 4,75 4,45 4,50 3,82 4,74 4,74 44,24 Tabel 15 menunjukkan data hasil penilaian responden terhadap tingkat kompetensi pengurus subak. Secara keseluruhan pengurus subak dinilai oleh anggota subak memiliki tingkat kompetensi yang tinggi dengan skor 4,42 (rentang skor 1-5). Tingkat kompetensi pengurus subak dalam menyebarluaskan informasi SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,66; Menganjurkan menerapkan SRI berada pada kategori tinggi dengan skor 3,65; Memengaruhi anggota subak berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53; Memberikan contoh berada pada kategori tinggi dengan skor 4,39; Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,75; Memberikan semangat berada pada kategori sangat tinggi dengan 4,45; Mencarikan jalan pemecahan masalah berada pada kategori sangat tinggi dengan 4,50; Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI berada pada kategori tinggi dengan skor 3,82; Sifat jujur dan terbuka berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,74; Membuka diri dari segala macam kritikan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,74. 112 Gambar 19. Hasil CFA peubah kompetensi pengurus subak Kompetensi pengurus dicirikan oleh peubah observer: kompetensi pengurus memberikan semangat (0,76) dan kompetensi pengurus dalam mencarikan jalan pemecahan masalah (0,62) seperti terlihat pada Gambar 19. Persepsi Anggota Subak tentang SRI Persepsi anggota sunbak terhadap SRI dipengaruhi oleh peubah observer: dapat diamati (AMATI), mudah dicoba (COBA), tingkat kerumitan SRI (RUMIT), sesuai dengan kebiasaan anggota subak (BIASA), sesuai dengan adat istiadat setempat (ADAT), sesuai dengan tata nilai setempat (NILAI), tidak bertentangan dengan norma setempat (NORMA), tidak bertentangan dengan aturan subak (AWIG), tidak ditemukan kesulitan yang berarti dalam penerapannya (SULIT), memberikan banyak keuntungan (UNTUNG), SRI lebih baik dibanding metode konvensional (BAIK) seperti disajikan pada Tabel 16. Secara keseluruhan persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53 (rentang skor 1 – 5 ) seperti ditunjukkan pada Tabel 16. Persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,51; SRI memberikan banyak keuntungan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,54; SRI tidak bertentangan dengan awig-awig subak berada pada kategori tinggi dengan skor 4,29; SRI tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,29; SRI sesuai dengan norma setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,72. 113 Tabel 16. Persepsi anggota subak tentang SRI Kategori Persepsi Skor 6 9 0 15 0 0 3 6 21 18 9 0 0 0 12 2 0 0 2 16 10 4 1 0 0 3 0 0 0 0 4 2 1 469 472 495 446 491 489 490 481 430 449 470 Tingkat Persepsi 4,51 4,54 4,76 4,29 4,72 4,70 4,71 4,63 4,13 4,32 4,52 Jml 714 367 29 23 11 3570 1468 87 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI = 4,53 (Sangat Tinggi) 46 11 5182 49,83 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) AMATI COBA RUMIT BIASA ADAT NILAI NORMA SULIT AWIG UNTUNG BAIK ST T S 58 59 79 56 77 73 75 69 49 55 64 43 42 25 34 26 31 28 32 36 36 34 2 3 0 5 0 0 1 2 7 6 3 R SR n(ST) 0 0 0 6 1 0 0 1 8 5 2 1 0 0 3 0 0 0 0 4 2 1 290 295 395 280 385 365 375 345 245 275 320 n(T) 172 168 100 136 104 124 112 128 144 144 136 n(S) n(R) n(SR) Jumlah Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah SRI sesuai dengan tata nilai setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,70; SRI sesuai dengan adat istiadat setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,71; SRI sesuai dengan kebiasaan setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,63; SRI tidak terlalu rumit berada pada kategori tinggi dengan skor 4,13; SRI mudah dicoba berada pada kategori tinggi dengan skor 4,32; Hasil SRI dapat diamati berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,52 (Lampiran 6). Gambar 20. Hasil CFA peubah persepsi anggota subak tentang SRI 114 Ternyata, tiga peubah observer yang paling kuat mencirikan persepsi anggota subak mengadopsi SRI adalah persepsi mereka bahwa SRI sesuai dengan tata nilai (0,88), adat (0,82), dan kebiasaan setempat (0,82). Sikap Anggota Subak terhadap SRI Sikap dipengaruhi oleh peubah observer: SRI hemat air (IRIT), ramah lingkungan (RAMAH), irit/hemat benih (DIKIT), masa tanam lebih cepat (CEPAT), bibit muda (MUDA), banyaknya jumlah anakan/rumpun (ANAK), kualitas batang dan daun (BATANG), tahan terhadap penyakit (TAHAN), bulir bernas (BULIR), rasa nasi lebih enak (RASA), tingginya produktivitas (PRODUK). Tabel 17. Sikap anggota subak terhadap SRI Kategori SIKAP (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml IRIT RAMAH DIKIT CEPAT MUDA ANAK BATANG TAHAN BULIR RASA PRODUK Skor ST T S R 76 51 85 30 67 78 51 21 40 24 68 26 37 18 42 33 26 41 29 37 34 30 2 9 1 20 3 0 8 30 21 31 2 0 6 0 5 1 0 1 14 2 9 1 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 380 255 425 150 335 390 255 105 200 120 340 104 148 72 168 132 104 164 116 148 136 120 6 27 3 60 9 0 24 90 63 93 6 0 12 0 10 2 0 2 28 4 18 2 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 490 443 500 395 478 494 448 349 419 373 471 Tingkat Sikap 4,71 4,26 4,81 3,80 4,60 4,75 4,31 3,36 4,03 3,59 4,53 591 353 127 39 34 2955 1412 381 78 34 4860 46,73 SR n(ST) n(T) n(S) n(R) n(SR) Jumlah Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI adalah 4,25 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah Anggota subak memiliki tingkat sikap yang tinggi terhadap SRI dengan skor sebesar 4,25 (rentang skor 1-5). Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI ramah lingkungan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,26; SRI hemat benih berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,81; Masa tanam SRI lebih cepat dibandingkan metode konvensional berada pada kategori tinggi dengan skor 3,80; menggunakan bibit muda berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,60; Jumlah anakan/rumpun padi SRI lebih banyak berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,75; Kualitas batang dan daun padi SRI lebih kokoh berada pada kategori tinggi dengan skor 4,31; 115 Padi SRI lebih tahan terhadap hama dan penyakit berada pada kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,36; Bulir padi SRI lebih bernas berada pada kategori tinggi dengan skor 4,03; Rasa nasi hasil SRI lebih enak (pulen) berada pada kategori tinggi dengan skor 3,59; dan Produktivitas SRI tinggi berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53 (Lampiran 7). Gambar 21 menunjukkan bahwa hasilnya CFA sikap anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh: SRI irit/hemat air (0,65), dan banyaknya jumlah anakan/rumpun (0,66). Gambar 21. Hasil CFA peubah sikap anggota subak terhadap SRI. Kemandirian Anggota Subak Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh: kemampuan mengakses informasi dari media massa (INFO), dapat belajar mandiri (DAPAT), kemampuan menerima informasi dari pedagang (DAGANG), modal sendiri (DAL), kepemilikan lahan (SEWA), kemampuan akses pada kredit usahatani (HUTANG), keberanian menanggung risiko (RISK), kecepatan pengambilan keputusan (PUTUS), ketepatan dalam pengambilan keputusan (TEPAT) seperti ditunjukkan pada Tabel 18. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI berada pada kategori sedang dengan skor 3,39 (rentang skor 1-5). Tingkat kemandirian dalam akses media berada pada kategori rendah dengan skor 1,97; Belajar mandiri berada pada kategori tinggi dengan skor 4,34; Kerjsama dengan pedagang berada pada kategori rendah dengan skor 1,73; Kemandirian modal usaha berada pada kategori tinggi 116 dengan skor 4,30; Menyiapkan lahan berada pada kategori tinggi dengan skor 2,92; Akses kredit usahatani berada pada kategori tinggi dengan skor 2,67. Tabel 18. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI Kategori Kemandirian ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) (1) INFO 6 15 5 22 56 30 60 15 (2) DAPAT 56 30 5 6 7 280 120 15 (3) DAGANG 4 7 10 19 64 20 28 30 (4) DAL 53 40 2 7 2 265 160 6 (5) SEWA 20 25 14 17 28 100 100 42 (6) HUTANG 17 23 10 17 37 85 92 30 (7) RISK 53 37 4 2 8 265 148 12 (8) PUTUS 41 51 6 3 3 205 204 18 (9) TEPAT 52 43 5 0 4 260 172 15 Jml 302 271 61 93 209 1510 1084 183 Tingkat kemandirian anggota suba menerapkan SRI adalah 3,39 (Sedang) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah n(R) n(SR) Jumlah 44 12 38 14 34 34 4 6 0 186 56 7 64 2 28 37 8 3 4 209 205 434 180 447 304 278 437 436 451 3172 Tingkat Kemandirian 1,97 4,17 1,73 4,30 2,92 2,67 4,20 4,19 4,34 30,50 Tingkat kemandirian dalam menanggung risiko berada pada kategori tinggi dengan skor 4,20; Kecepatan pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,19; dan Ketepatan pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,34 (Lampiran 8). Gambar 22. Hasil CFA peubah kemandirian anggota subak menerapkan SRI 117 Hasilnya, kemandirian anggota subak dibentuk oleh peubah dapat belajar mandiri (0,78) dan kemampuan pengambilan keputusan yang tepat (0,55) seperti terlihat pada Gambar 20. Adopsi SRI oleh Anggota subak Pengadopsian SRI oleh anggota subak dibentuk dari peubah observer persiapan dan pengolahan lahan (PERSIAPA), pemilihan benih (BENIH), persemaian (PERSEMAI), penanaman (PENANAMA), pengairan (PENGAIRA), penyiangan (PENYIANG), pemupukan (PEMUPUKA), pengendalian hama dan penyakit (PENYAKIT), dan panen (PANEN). Secara keseluruhan tingkat pengadopsian paket-paket teknologi SRI di kalangan anggota subak termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 3,94 (rentang skor 1-5) seperti yang tercantum pada Lampiran 9. Pengadopsian terhadap paket teknologi persiapan dan pengolahan lahan SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan skor 4,49; Pemilihan benih SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,32; persemaian SRI termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,12; penanaman metode SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,30; Pemupukan termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,26; Penyiangan termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 3,81; Pengairan termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan skor 4,45; Pengendalian hama dan penyakit termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,33; Panen termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,42. Gambar 23. Hasil CFA peubah pengadopsian SRI di kalangan anggota subak 118 Hasilnya adalah pengadopsian SRI oleh anggota subak dicirikan oleh pemilihan benih SRI (0,96) dan persemaian SRI (0,54) seperti terlihat pada Gambar 23. Hasil uji kesesuaian model memberikan nilai statistik chi-square sebesar 112,49 dengan derajat kebebasan 98 dengan nilai P-hitung 0,15028 yang lebih besar dari 0,5; nilai RMSEA 0,038 lebih kecil dari 0,08 sertai nilai CFI 0,932 lebih besar dari 0,90. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model yang diusulkan fit dengan data seperti ditunjukkan pada Gambar 24. Keterangan: ADAP : adaptasi SISTEMIS : sistematis SEMANGAT: membangkitkan semangat ANGAT : membangkitkan semangat JALAN : mencari jalan peyelesaian masalah BIASA : kebiasaan setempat IRIT : SRI irit air ANAK : jumlah anakan DAPAT : dapat belaajr mandiri TEPAT : pengambilan keputusan yang tepat BENIH : pembenihan PERSEMAI : persemaian Chi–Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 Gambar 24. Pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI 119 Hasil SEM menunjukkan bahwa estimasi koefisien bobot faktor seluruhnya nyata pada tingkat kesalahan lima persen dengan nilai koefisien bobot faktor yang distandarkan seluruhnya lebih besar dari nilai minimal yang disyaratkan sebesar 0,50. Besarnya pengaruh peubah laten endogen terhadap peubah laten eksogen memberikan gambaran yang konprehensif terhadap topik penelitian. Untuk mengetahui besarnya pengaruh baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan model tersebut di atas maka di susun dekomposisi antar peubah seperti di tunjukkan pada Tabel 19. Tabel 19. Dekomposisi antar peubah pengadopsian SRI Pengaruh Antar Peubah P e n g a r u h Pengaruh Tidak Langsung Melalui Peubah Bebas  Peubah Terikat X1  X2 X3 Y1 Y2 Y3      Langsung Y1 Y 2- Y3 Y 1 &Y Y 1 &Y 3 Y2 & Y3 Y 1 ,Y 2 & Y3 Total 2 Y1 0,54 - - - - - - - - Y2 0,18 0,35 - - - - - - 0,53 Y3 0,20 0,13 0,12 - 0,242 - - - 0,70 Y4 0,14 0,13 0,09 0,05 0,17 0,03 0,03 0,06 0,74 Y1 0,62 - - - - - - - 0,62 Y2 0,51 0,40 - - - - - - 0,91 Y3 0,59 0,01 0,03 - 0,02 - - - 0,67 Y4 0,52 0,01 0,02 0,01 0,20 0,04 0,09 0,07 0,99 Y1 0,23 - - - - - - - 0,23 Y2 0,48 0,14 - - - - - - 0,63 Y3 0,23 0,03 0,03 0,01 - - - 0,31 Y4 0,07 0,05 0,24 0,07 0,01 0,08 0,02 0,64 Y2 0,65 - - Y3 0,25 - 0,44 - - - - - 0,70 Y4 0,25 - 0,17 0,06 - - 0,12 - 0,61 Y3 0,69 - - - - - - - 0,69 Y4 0,51 - - 0,06 - - - - 0,58 Y4 0,27 - - - - - - - 0,27 Keterangan: X 1 = Karakteristik X 2 = Kompetensi Fasilitator X 3 = Kompetensi Pengurus Y 1 = Persepsi 0,06 0,65 Y 2 = Sikap Y 3 = Kemandirian Y 4 = Adopsi 120 Tabel 18 memberikan gambaran bahwa peubah yang paling berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengadopsian SRI adalah kompetensi fasilitator/penyuluh yaitu masing-masing sebesar 0,52 dan 0,99. Sedangkan peubah yang paling lemah memengaruhi langsung pengadopsian SRI di kalangan anggota subak adalah kompetensi pengurus subak dan pengaruh tidak langsung adalah kemandirian (0,27). Hipotesis 1 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus berpengaruh terhadap persepsi SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor persepsi semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 1 diterima, artinya: persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh faktor karakteristik anggota subak sebesar 0,54 atau 29,16 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,62 atau 38,44 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,23 atau 5,29 persen. Pengaruh bersama-sama karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 73 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 27 persen. Hipotesis 2 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, dan persepsi SRI berpengaruh terhadap persepsi SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 2 diterima, artinya: sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,65 atau 42,25 persen, karakteristik anggota subak sebesar 0,18 atau 3,24 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,51 atau 26,01 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,48 atau 23,04 persen. Pengaruh bersama-sama persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 94 persen. Ada 121 faktor lain yang memengaruhi persepsi anggota subak tentang SRI sebesar enam persen. Hipotesis 3 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh terhadap kemandirian SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 3 diterima, artinya: kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,25 atau 6,25 persen, sikap anggota subak terhadap SRI sebesar 0,69 atau 47,61 persen, karakteristik anggota subak 0,20 atau empat persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,59 atau 34,81 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,25 atau 6,25 persen. Pengaruh bersama-sama persepsi, sikap SRI, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 78 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 28 persen. Hipotesis 4 menyebutkan bahwa karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh terhadap pengadopsian SRI oleh anggota subak. Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 4 diterima, artinya: pengadopsian SRI oleh anggota subak dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,25 atau 6,25 persen, sikap anggota subak terhadap SRI sebesar 0,51 atau 26,01 persen, kemandirian anggota subak menerapkan SRI sebesar 0,27 atau 7,29 persen, karakteristik anggota subak 0,14 atau 1,69 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,52 atau 27,04 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,25 atau 6,25 persen. Pengaruh bersama- 122 sama persepsi, sikap, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 69 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 31 persen. Pembahasan Pengadopsian SRI oleh anggota subak dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Karakteristik Anggota Subak Karakteristik individu anggota subak dicirikan oleh umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berusahatani. Umur bukan faktor psikologis namun sesuatu yang diakibatkan oleh umur adalah faktor psikologis (Padmowihardjo, 1999:36). Terdapat dua dampak psikologis yang diakibatkan oleh umur petani yaitu: kemampuan belajar dan kemampuannya untuk mengadopsi inovasi. Kebanyakan anggota subak adalah petani yang berumur tua. Setelah mencapai umur tertentu, kemampuan belajar akan berkurang secara gradual. Menurunnya kemampuan belajar secara otomatis memengaruhi kemampuannya untuk mengadopsi suatu inovasi. Walaupun kemampuan belajar sudah mulai menurun, akan tetapi mempelajari suatu inovasi masih tetap dapat dilakukan, malahan masih dapat terus disempurnakan dengan dukungan pengalaman yang didapatkan sebelumnya. Hal inilah menjadi dasar bahwa anggota subak perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang SRI secara terus menerus guna mempertahankan kemampuan belajarnya. Secara makro, umur anggota subak yang kebanyakan tua menjadi tantangan terhadap kelestarian subak di Bali. Seiring dengan bergulirnya waktu, maka petani-petani yang ada sekarang akan segera memasuki masa purnabhakti. Di sisi lain minat pemuda penjadi petani semakin menurun karena menganggap pekerjaan bertani adalah pekerjaan yang kotor, identik dengan cangkul, pacul, dan lumpur dan tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Pada masa mendatang provinsi Bali akan dihadapkan pada lost of generation sumberdaya manusia pertanian. Tidak adanya regenerasi petani di Bali, juga menjadi ancaman terhadap 123 upaya-upaya pelestarian subak sebagai penyangga kebudayaan Bali karena tidak ada lagi yang mewarisi nilai-nilai yang dianut dalam sistem subak di Bali. Hasil penelitian ini menguatkan kekhawatiran Sutawan (2005:6) tentang masuknya petani yang berasal dari luar Bali. Apabila yang menjadi petani di Bali bukan penduduk asli Bali, maka akan terjadi pergeseran nilai-nilai yang ada di subak terutama pada aspek ritualnya. Tingkat pendidikan formal anggota subak masih rendah, namun kemampuannya dalam berusahatani masih dapat ditingkatkan. Tanpa proses belajar anggota subak tidak akan mendapatkan pengalaman. Kumpulan pengalaman ini yang akan membentuk kepribadian anggota subak dan akan melatarbelakangi tindakannya. Belajar tidak mesti melalui bangku sekolah, namun dapat belajar non-formal melalui kegiatan penyuluhan. Anggota subak dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik, atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah (van den Ban dan Hawkins. 1999:39). Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak, tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya permasalahan secara tepat waktu dan segera dapat mencarikan jalan penyelesaian masalah. Petani Bali adalah petani yang berpengalaman dalam usahataninya. Pengalaman-pengalaman petani Bali ini berpengaruh terhadap proses belajarnya. Apabila seseorang pernah mengalami suatu hal yang kurang menyenangkan, maka apabila suatu saat ia diberi kesempatan untuk mempelajari hal tersebut lagi, ia sudah memiliki suatu perasaan pesimis untuk berhasil. Apabila tidak ada usaha yang keras untuk mengatasi kekecewaan yang pernah terjadi, maka proses belajar yang dihadapi tidak akan terselenggara dengan baik. Keadaan sebaliknya akan terjadi apabila pengalaman menyenangkan yang terjadi ketika mempelajari sesuatu. Implikasinya penyuluh/fasilitator bagi harus penyuluh/ dapat fasilitator menimbulkan SRI suasana adalah belajar bahwa yang menyenangkan, terhindar dari suasana tegang yang mencekam selama kegiatan penyuluhan, sehingga petani memperoleh pengalaman yang baik selama belajar. Di samping itu, untuk menghindari kegagalan, penyuluh harus banyak 124 memberikan kesempatan kepada para petani untuk berlatih SRI sehingga mahir dan dapat menghindari kegagalan. Kompetensi Fasilitator Fasilitator yang membawa inovasi SRI kepada anggota subak dinilai kompeten oleh sebagian besar anggota subak. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitator yang membawa inovasi ke dalam subak telah berhasil mengubah caracara bertani dari konvensional menjadi cara- cara SRI. Setelah dilakukan analisis mendalam, ternyata sebagian besar fasilitator SRI adalah fasilitator yang dipilih oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang direkrut melalui proses seleksi yang baik. Fasilitator yang terpilih adalah orang-orang yang kompeten pada bidang SRI dan telah menguasai metode-metode yang mumpuni dalam pelaksanaan penyuluhan tentang SRI. Inovasi SRI masuk ke dalam sistem sosial subak pertama kali diperkenalkan oleh fasilitator-fasilitator yang berasal dari DISIM Bali Tahun 2004 melalui Dinas Pekerjaan Umum. Sebenarnya tujuan utama dari Dinas PU provinsi Bali pada waktu itu adalah memperbaiki jaringan irigasi yang ada di subak dimulai dari subak-subak yang berada pada daerah aliran sungai (DAS) Tukad Saba dan dilanjutkan dengan subak-subak yang ada di sepanjang DAS Tukad Unda. Krisis air irigasi yang dihadapi petani Bali pada waktu itu menjadi pendorong subak-subak yang mendapatkan bantuan perbaikan jaringan irigasi untuk lebih mengoptimalkan potensinya dalam hal manajemen air irigasi. Pada saat itulah inovasi SRI diperkenalkan sebagai suatu inovasi yang sangat cocok dengan kebutuhan anggota subak karena dalam SRI manajemen air menjadi salah satu paket teknologinya. Anggota subak menilai fasilitator SRI kompeten terutama dalam hal kemampuan penyuluh/fasilitator dalam beradaptasi dengan klien, membangkitkan semangat klien, dan menyampaikan materi secara sistematis. Kemampuan penyuluh/fasilitator beradaptasi dengan klien harus dilatar belakangi oleh sifat empati yang tinggi. Penyuluh harus dapat merasakan apa yang petani rasakan, dengan demikian maka akan timbul rasa simpati di kalangan anggota subak kepada penyuluh. Kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien yang baik akan meningkatkan kridibilitas seorang penyuluh/fasilitator. Kridibilitas penyuluh 125 fasilitator yang baik menjadi modal dasar keberhasilan dalam pelaksanaan tugastugasnya. Selain itu, kemampuan lain yang mesti dikuasai penyuluh adalah dapat menyampaikan materi secara sistematis dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih rumit. Anggota subak lebih mudah mempelajari SRI apabila melakukan secara bertahap mulai dari yang paling mudah, misalnya memilih benih sampai yang paling sulit seperti pembuatan formula mikro organisme lokal (Mol). Prinsip ini merupakan prinsip terpenting dalam proses belajar mandiri. Bila anggota subak langsung diminta mengerjakan sesuatu yang sulit, besar kemungkinan semangatnya akan menurun dan akan menyerah sebelum berhasil menguasainya. Salah satu alasan mengapa urutan bertahap penting adalah karena kenyataan bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin dengan baik dilakukan, sebelum seseorang menguasai pengetahuan dasar mengenai hal itu. Proses belajar hendaknya selalu dimulai dengan meminta warga belajar mengerjakan keterampilan dasar lebih dahulu dan baru kemudian keterampilan yang lebih lanjut. Cara lain adalah membiarkan anggota subak mengerjakan dengan caranya sendiri, kemudian fasilitator menunjukkan bagaimana semestinya paket-paket teknologi SRI itu diterapkan. Dengan prinsip ini maka penguasaan atas paket-paket teknologi SRI akan lebih efisien. Disamping itu, anggota subak akan lebih bergairah karena merasa yakin dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan selanjutnya setelah menuasai langkah-langkah sebelumnya. Penyampaian materi SRI secara sistematis mengandung beberapa dimensi pengertian sebagai berikut: (1) Belajar dari yang sederhana ke yang kompleks, (2) dari yang mudah ke yang sukar, (3) dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui, (4) dari yang lebih dikenal ke yang kurang dikenal, (5) dari yang memerlukan sedikit motivasi ke yang memerlukan banyak motivasi, (6) dari pengertian bagian ke pengertian menyeluruh, (7) dari pengertian terpisah ke pengertian yang saling berkaitan, (8) dari mengerjakan terbimbing ke mengerjakan sendiri, dan (9) dari teori ke praktek. 126 Adapun cara melaksanakan prinsip urutan yang bertahap dalam penyuluhan SRI adalah dengan cara: (1) materi-materi SRI dipecah-pecah menjadi unit-unit kecil, mula-mula diajarkan satu per satu secara berurutan, misalnya dari persiapan lahan hingga panen, kemudian ditunjukkan hubungan-hubungan diantara peket-paket teknologi itu, (2) penyampaian materi SRI dimulai dari materi persiapan lahan yang telah biasa dilakukan anggota subak, kemudian dilanjutkan pada bagian-bagian lain dari SRI yang belum pernah diterapkan oleh anggota subak, (3) fasilitator sebaiknya terlebih dahulu mendemonstrasikan sesuatu cara pengerjaan paket-paket teknologi SRI, misalnya dalam praktik pembuatan Mol, kemudian anggota subak mencoba melakukannya sendiri, (4) fasilitator memberikan dahulu teori (misalnya konsep musuh alami dalam pengendalian hama terpadu) kemudian anggota subak menerapkan konsep PHT dalam praktik, dan (5) anggota subak diajak untuk mencoba SRI skala yang kecil terlebih dahulu, baru kemudian menerapkan dalam skala yang lebih besar. Kemampuan selanjutnya yang mesti dikuasai fasilitator adalah membangkitkan semangat klien. Membangkitkan semangat dapat ditempuh dengan jalan DOTALIRA yaitu dorongan, tarikan, libatkan, dan rangsang (Padmowihardjo, 1999:139). Anggota subak yang belum menunjukkan minat dan keinginan menerapkan SRI harus dimotivasi dengan jalan memberikan dorongan. Tarikan diperlukan terutama kepada anggota subak yang masih ragu-ragu menerapkan SRI karena ketakutan akan kegagalan. Libatkan anggota subak yang telah menyadari SRI sebagai kebutuhanya dalam kegiatan-kegiatan percobaan/denplot di lahan petani lain sesama anggota subak, dengan pelibatan ini akan lebih meyakinkan mereka untuk segera menerapkan SRI. Rangsang anggota subak yang telah menerapkan SRI untuk lebih meningkatkan kemampuannya menguasai metode-metode SRI yang diharapkan. Kompetensi Pengurus Subak Pengurus subak dalam penyebarluasan SRI ke dalan sistem sosial subak dinilai kompeten oleh anggota subak. Pengurus subak adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi anggotanya. Namun, kenyataannya dilapangan tidak semua pengurus subak dengan mudah menerima suatu inovasi. Paling tidak dijumpai dua tipe pengurus subak dalam memainkan peranan 127 penyebaran inovasi. Kebanyakan pengurus subak yang ”bersahabat” dengan inovasi SRI. Ada sebagian kecil pengurus subak yang ”tidak bersahabat” dengan SRI. Setelah dilakukan penyelidikan secara mendalam ditemukan bahwa pengurus subak yang tidak bersahabat dengan SRI ternyata memiliki hidden agenda yang menyebabkannya ”tidak bersahabat” dengan SRI. Inovasi SRI membebaskan petani subak untuk memilih apakah penerapkan SRI dengan pupuk organik murni, gabungan organik dan anorganik, ataupun anorganik murni. Fasilitator sebagai pembawa pesan inovasi SRI menganjurkan kepada petani secara pelan-pelan mengurangi penggunaan pupuk anorganik untuk memperbaiki struktur tanah. Ternyata pengurus subak yang ”tidak bersahabat” ini menjadi salah satu agen penyedia pupuk anorganik yang biasa mendistribusikan pupuk-pupuk kimia kepada anggotanya. Anjuran untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik menjadi ancaman terhadap kelangsungan usaha yang menjadi mata pencahariannya. Kasus ini berimplikasi pada perhatian agen pembaru terhadap tokoh masyarakat harus lebih ditingkatkan. Jika agen pembaru memperoleh bantuan dari tokoh masyarakat maka tugas yang diembannya akan berjalan lancar, namun sebaliknya jika agen pembaru tidak berhati-hati dan terbentur dengan tokoh masyarakat maka ia harus bersiap-siap untuk menerima kegagalan atau setidak-tidaknya kesulitan dalam melaksanakan tugas. Peubah kompetensi pengurus subak dicirikan oleh kompetensi pengurus dalam memberikan semangat dan mencarikan jalan pemecahan masalah anggotanya. Pemberian semangat juga harus dilakukan pengurus subak karena biasanya anggota sangat percaya pada pemimpinnya. Sebagai pemimpin informal, maka pengurus juga harus aktif mencarikan jalan pemecahan masalah yang dihadapi anggotanya dalam menerapkan SRI. Pengurus subak memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih tentang pertanian karena lebih sering bergaul di luar sistem sosialnya. Pengurus subak sering melakukan ”kontak” dengan intansi pemerintah, penyedia sarana produksi, penyedia kredit usahatani. Informasi yang didapat dari hasil pergaulan di luar sistem sosialnya menjadi bekal yang sangat berharga untuk membantu mencarikan jalan pemecahan masalah yang dihadapi anggotanya. 128 Persepsi Anggota Subak tentang SRI Persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat baik. Persepsi anggota subak tentang SRI dicirikan oleh: SRI sesuai dengan tata nilai, adat dan kebiasaan setempat. Secara filosofis nama inovasi SRI sama dengan nama Dewi Sri yang dipercaya masyarakat Bali sebagai dewi kesuburan. Ini menjadi nilai positif pengembangan SRI di Bali. Selain itu tidak ada satu paketpaket teknologi SRI yang bertentangan dengan nilai, adat dan kebiasaan setempat. Kondisi ini sejalan dengan Rogers (2003:254) yang menyatakan bahwa suatu inovasi relatif lebih cepat diadopsi jika sesuai dengan indigenous knowledge termasuk di dalamnya nilai, adat dan kebiasaan setempat. Nilai dapat diartikan sebagai suatu konsepsi tentang apa yang dianggap baik atau buruk. Hal-hal yang dianggap baik merupakan pedoman tingkah laku yang perlu dituruti, sebaliknya apa yang dianggap tidak baik atau buruk perlu dihindari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dianut anggota subak tidak bertentangan dengan inovasi SRI. Adat dan tradisi adalah segala sesuatu yang diteruskan dari masa lalu ke masa sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat dan tradisi yang ada pada subak tidak bertentangan dengan paket-paket teknologi yang ada pada SRI. Kebiasaan adalah segala sesuatu yang rutin dilakukan oleh anggota subak. Masuknya SRI ke dalam sistem sosial subak, tidak banyak mengubah tatanan sistem sosialnya karena inovasi SRI merupakan penyempurnaan cara-cara bertani yang telah biasa dilakukan dalam Subak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisional tidak selalu bersifat negatif bagi pembangunan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Roger dan Shoemaker (1971:156) yang menyatakan bahwa norma tradisional itu bukan berarti sama sekali tidak berguna. Dalam banyak kasus, norma tradisional itulah yang menjaga kestabilan suatu sistem sosial yang bersangkutan, sehingga pada masa depan, upaya peningkatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa sedapat-dapatnya dihindarkan dari ekses-ekses negatif, dalam arti nilai-nilai lembaga kemasyarakatan tradisional positif jangan sampai dirusak. Dengan demikian, usaha-usaha pembaruan akan merupakan proses yang dapat berjalan secara harmonis. 129 Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi secara positif oleh peubah karakteristik, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak. Artinya semakin baik karaktersiktik, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak maka akan semakin baik pula persepsi anggota subak tentang SRI. Karakteristik individu petani merupakan faktor fungsional yang menentukan persepsi. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan halhal lain yang disebut faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karena karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Implikasinya adalah SRI relatif lebih cepat dipersepsikan positif oleh petani-petani yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan air irigasi ketimbang petani yang sedang berlimpah dengan air irigasi. Kompetensi fasilitator/penyuluh memberikan sumbangan terbesar dalam pembentukan persepsi tentang SRI di kalangan anggota subak. Persepsi sangat dipengaruhi oleh kredibilitas komunikator. Kemampuan fasilitator/penyuluh beradaptasi dengan klien dan dapat menyampaikan materi secara sistematis menyebabkan penyuluh/fasilitator kredibel. Sejalan dengan pendapat Anderson (1972:82) yang menyatakan bahwa hal-hal yang memengaruhi persepsi komonikate tentang komunikator sebelum ia berlakukan komunikasinya disebut prior ethos. Anggota subak membentuk gambaran tentang penyuluh/ fasilitator dari pengalaman langsung bergaul dan telah mengenal integritas penyuluh/fasilitator yang bertugas di daerahnya. Tidak berbeda dengan kompetensi fasilitator/penyuluh, kompetensi pengurus subak juga berkontribusi dalam pembentukan persepsi positif tentang SRI di kalangan anggota subak. Bedanya adalah pengurus subak merupakan pemimpin dalam kelompoknya. Dalam ilmu kepemimpinan, pemimpin adalah orang yang diikuti oleh bawahannya, hal inilah yang menyebabkan ada pengaruh positif kompetensi pengurus terhadap persepsi anggota subak tentang SRI. Sikap Anggota Subak terhadap SRI Anggota subak setuju terhadap paket-paket teknologi yang terdapat dalam inovasi SRI. Peubah ini dicirikan oleh sikap anggota subak yang menyatakan bahwa SRI hemat air, dan jumlah anakan/rumpun padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. 130 SRI hemat air menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota subak. Ini menunjukkan bahwa inovasi SRI sesuai dengan kebutuhan anggota subak. Krisis air irigasi yang dialami anggota subak menumbuhkan minat untuk mencoba cara bercocok tanam padi yang hemat air. Dengan hemat air, maka konflik-konflik perebutan sumber-sumber air irigasi dapat dihindarkan. Selain itu, yang menjadi daya tarik lain dari inovasi SRI adalah jumlah anakan/rumpun padi sangat banyak, padahal bibit yang ditanam hanya satu. Implikasinya adalah dengan fakta ini dijadikan promosi oleh fasilitator untuk meyakinkan anggota subak yang belum mengenal SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi secara langsung oleh persepsi anggota subak tentang SRI. Artinya semakin positif persepsi anggota subak tentang SRI maka semakin baik pula sikapnya. Persepsi anggota subak tentang SRI merupakan proses pengamatan yang dilakukan anggota subak melalui komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Anggota subak mengamati SRI dari kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya. Pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur tentang SRI. Sedangkan pengetahuan dan cakrawalanya memberikan arti terhadap SRI. Melalui komponen kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep mengenai SRI. Berdasarkan norma dan nilai yang ada pada diri individu anggota subak akan terjadi keyakinan (belief) terhadap SRI. Selanjutnya komponen afeksi memberikan evaluasi emosional (senang atau tidak senang) terhadap SRI. Kemandirian Anggota Subak Anggota subak cukup mandiri dalam menerapkan SRI. Peubah ini dicirikan oleh kemampuan belajar mandiri anggota subak dan proses pengambilan keputusan yang tepat. Salah satu ciri belajar menyebutkan bahwa belajar terjadi pada orang yang belajar. Implikasinya bagi penyuluh adalah mendukung dan menciptakan proses belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning. Dengan mengembangkan belajar mandiri maka klien dapat mengambil keputusan yang tepat berkaitan dengan usahataninya. 131 Kemandirian petani dipengaruhi oleh kompetensi fasilitator/penyuluh. Artinya semakin kompeten fasilitator/penyuluh maka kemandirian anggota subak akan semakin baik. Penyuluhan yang sasarannya adalah orang dewasa merupakan proses pendidikan yang mempunyai ciri-ciri sistem pendidikan non formal, terencana/terprogram, merupakan pendidikan orang dewasa yang metodenya lateral. Keberhasilan ditentukan oleh seberapa jauh tercipta dialog antara yang dididik dan pendidik sehingga tercipta proses pembelajaran yang dialogis. Masing-masing orang dihargai pendapatnya. Konsep pendidikan orang dewasa ini cocok atau sesuai dengan konsep penyuluhan sehingga penyuluhan merupakan bentuk dari pendidikan orang dewasa. Implikasi pendidikan orang dewasa dalam penyuluhan adalah bahwa bukan membuat petani tergantung tetapi mandiri. Selain itu, kemandirian petani juga dipengaruhi oleh sikapnya terutama dalam hal pengambilan keputusan untuk menerapkan SRI pada lahan usahataninya. Faktorfaktor personal seperti kognisi, motif dan sikap amat menentukan dalam pengambilan keputusan. Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat akan menentukan masa depan petani. Peran penyuluh/fasilitatorlah yang seharusnya membantu petani dalam proses pengambilan keputusan yang tepat sebelum anggota subak menerapkan SRI pada lahan usahataninya. Pengadopsian SRI Secara keseluruhan pengadopsian SRI oleh anggota subak berada pada kategori Baik. Pemilihan benih bernas dan persemaian adalah faktor penciri dominan yang menentukan pengadopsian SRI oleh anggota subak. Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau bernas, maka perlu dilakukan pemilahan walupun benih tersebut dihasilkan sendiri maupun benih berlabel. Caranya dengan menggunakan larutan garam. Persemaian untuk budidaya SRI tidak harus dilakukan di sawah, tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu atau besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan dan penanaman. Implikasinya bagi penyuluh adalah kedua faktor ini dapat dijadikan entry point untuk mempercepat pengadopsian di kalangan anggota subak. 132 Derajat pengadopsian menunjukkan bahwa paket-paket teknologi yang terdapat pada SRI belum seluruhnya diadopsi secara optimal. Alasannya adalah: Pertama, pada saat pengolahan tanah yang mesti dilakukan petani adalah membuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air, namun hal ini belum banyak dilakukan anggota subak. Kedua, pada saat pemilahan benih bernas semestinya dilakukan seleksi dengan menggunakan larutan garam dan telur sebagai indikator bahwa benih yang dipilih adalah yang bermutu baik. Kenyataannya, masih banyak petani yang tidak melakukan hal ini. Ketiga, persemaian untuk budidaya SRI tidak harus menggunakan persemaian di sawah, tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu atau besek. Faktanya petani melakukan persemaian di sawah, walaupun sudah ada peningkatan perilaku dengan melapisi kertas semen. Keempat, pola penanaman bibit metode SRI adalah bujur sangkar, 30 x 30 cm atau 35 x 35 cm atau lebih jarang lagi, misalnya sampai 50 x 50 cm pada tanah yang subur, namun banyak dijumpai petani menggunakan sistem legowo. Selain itu, dalam SRI bibit ditaman pada umur 5 hingga 15 hari atau berdaun dua setelah semai dengan jumlah benih per lubang satu atau tanam tunggal dan dangkal satu sampai 1,5 cm dan posisi perakaran seperti huruf L (Uphoff dan Fernandes, 2003:6). Potensi pertumbuhan tanaman padi dapat diwujudkan dengan pemindahan lebih awal. Kenyataannya petani belum berani menanam 1 bibit pada satu lubang tanam dengan alasan ketakutan tidak tumbuh ataupun dimakan keong. Kelima, metode SRI sangat menganjurkan penggunakan pupuk organik yaitu pupuk kandang, atau pupuk kompos atau pupuk hijau. Penggunaan pupuk organik selain memperbaiki struktur tanah juga bisa mengikat air atau menghemat air. Kenyataanya penggunaan pupuk anorganik masih tinggi di kalangan anggota subak. Keenam, penyiangan dilakukan dengan menggunakan alat penyiang jenis landak, atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah, namun jarang ditemukan alat semacam ini yang mengindikasikan bahwa anggota subak melakukan penyiangan masih dengan cara-cara lama. Ketujuh, pemberian air dengan jalan terputus-putus atau intermeten dengan ketinggian air di petakan sawah maksimum 2 cm paling baik macak-macak atau 0,5 cm. Kenyataannya, pada daerah hulu 133 sungai petani belum mengubah perilakunya karena sumberdaya air yang ada berlimpah, tetapi kondisi berbeda ditemukan di daerah hilir sungai. Pengairan terputus telah dilakukan dengan baik menginat sumberdaya air yang ada sangat terbatas. Pengendalian hama dan penyakit SRI dikendalikan melalui program PHT dengan menggunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak dan menggunakan pestisida secara selektif. Kenyataannya, penggunaan pestisida masih dijumpai di kalangan anggota subak walaupun jumlahnya tidak banyak. Anggota subak juga jarang melakukan rotasi tanaman maupun rotasi varietas padi, hal ini yang menyebabkan tingginya risiko terserang tungro. Terakhir, ada beberapa petani saat panen SRI yang belum menyadari begitu besar manfaat jerami untuk keberlangsungan usahatani padi mereka. Petani tersebut masih membakar jerami agar sawah mereka terlihat bersih. Padahal, jerami harus dikembalikan ke sawah karena dalam jeramilah terdapat unsur-unsur hara yang sangat diperlukan padi pada periode tanam berikutnya. Model Peningkatan Kapasitas Anggota Subak untuk Mengadopsi SRI di Bali Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang telah ditemukan dalam penelitian ini selanjutnya dituangkan ke dalam sebuah model peningkatan kapasitas subak untuk mengadopsi SRI di Bali (Gambar 20). Gambar 20 menggambarkan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh/ fasilitator dapat ditempuh melalui jalur: (1) Pelatihan penyampaian materi secara sistematis, (2) Mengasah kepekaan terhadap lingkungan sosial tempat bertugas, dan (3) Pelatihan memotivasi klien. Peningkatan kompetensi Penyuluh/fasilitator menyebabkan peningkatan kompetensi pengurus dan juga anggota subak. Mengembangkan kemandirian anggota subak tidak terlepas dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anggota subak. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara mandiri tidak terlepas dari peranan fasilitator untuk mengajak anggota subak belajar. Ini berarti fasilitator memainkan peranan dalam memengaruhi proses keputusan inovasi yang dilakukan anggota subak. 134 Ada tiga tipe keputusan inovasi yakni keputusan opsional yang dilakukan secara individu oleh anggota subak tanpa memperhatikan keputusan anggota lainnya, keputusan kolektif yang dilakukan oleh individu-individu dalam subak secara kolektif dan keputusan otoritas yang dalam penelitian ini tidak ditemukan suatu intervensi untuk memaksa anggota subak menerapkan SRI. Peningkatan Kompetensi: - Penyampaian materi sistematis - Beradaptasi - Motivasi Penyuluhan: Dotalira Analisis masalah Analisis pemecahan masalah Pengurus Subak Fasilitator/ Penyuluh Anggota subak - - Tua Berpengalaman Pendidikan formal rendah Pendampingan: 1. Semangat 2. Mencarikan solusi penyelesaian masalah Penyuluhan: Dotalira Self directed learining 3. Pengambilan keputusan 4. Pelatihan 1. 2. Persepsi tentang SRI Baik Sikap terhadap SRI Baik Pengadopsian SRI di Kalangan anggota subak Gambar 25. Model peningkatan kapasitas anggota subak untuk mengadopsi SRI di 135 Sebagai langkah awal seorang agen pembaharu seringkali perlu membantu kliennya menyadari bahwa mereka membutuhkan perubahan tingkah laku. Yang demikian ini terutama di masayarakat yang belum maju. Rendahnya wawasan perencanaan, rendahnya aspirasi, tingginya sikap pasrah pada nasib dan rendahnya motivasi berprestasi merupakan ciri-ciri umum penduduk desa. Ini berarti agen pembaharu bertindak sebagai katalisator (pembuka kran) bagi kebutuhan kliennya. Dalam memulai pross perubahan agen pembaharu dapat mengemukakan alternatif-alternatif baru untuk mengatasi problem yang ada, mendramatisasi permasalahan mereka dan meyakinkan kliennya bahwa mereka dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. Dia tidak hanya menaksir kebutuhan klien tetapi juga membantu timbulnya kebutuhan ini dengan konsultatif dan persuatif. Sebagian anggota subak tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Tugas agen pembaharu adalah meniadakan hambatan tersebut dengan cara menyediakan informasi dan memberikan pandangan mengenai masalah yang dihadapi. Agen penyuluh dapat memberikan bantuan berupa pemberian informasi tentang paket-paket teknologi SRI yang memadai yang bersifat teknis mengenai masalah yang dibutuhkan petani dan menunjukkan cara penanggulanganya. Selama penyuluh belum mampu memberikan informasi yang dibutuhkan petani tersebut, maka kegiatan penyuluhan SRI tidak akan berjalan dengan baik. Begitu kebutuhan untuk berubah telah tumbuh, fasilitator dapat membina keakraban dengan kliennya. Fasilitator dapat meningkatkan keakraban itu dengan menciptakan kesan dapat dipercaya, jujur dan empathi dengan kebutuhan dan masalah-masalah kliennya. Anggota subak harus lebih dulu bisa menerima agen pembaharu secara fisik dan sosial sebelum mereka diminta menerima inovasi SRI yang dipromosikan. Fasilitator bersama anggota subak harus menganalisis situasi problematis yang ada di subak untuk menentukan mengapa cara-cara bercocok tanam padi konvensional tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka? Untuk 136 mencapai/memperoleh kesimpulan diagnostiknya, fasilitator harus memahami situasi dari sudut pandangan anggota subak. Rendahnya tingkat pendidikan formal petani menunjukkan rendah pula wawasannya tentang dunia luar. Pada kondisi seperti ini fasilitator dapat berperan sebagai “suluh” yang berarti “obor” yaitu menunjukkan jalan yang terang kepada klien yang berada dalam kegelapan. Dalam memulai pross perubahan fasilitator dapat mengemukakan alternatif-alternatif baru untuk mengatasi problem yang ada, “mendramatisasi” permasalahan mereka dan meyakinkan kliennya bahwa mereka dapat mengatasi masalah-masalah tersebut sendiri. Fasilitator tidak hanya menaksir kebutuhan klien tetapi juga membantu timbulnya kebutuhan ini dengan konsultatif dan persuatif. Setelah fasilitator menggali berbagai jalan yang memungkinkan anggota subak bisa mencapai tujuan mereka, fasilitator harus membangkitkan motivasi untuk mengadakan perubahan cara-cara bertani anggota subak, menimbulkan dorongan untuk mengadakan perubahan, menimbulkan dorongan untuk menerima SRI (atau setidak-tidaknya menaruh minat) terhadap inovasi SRI. Tetapi fasilitator harus tetap berorientasi pada kebutuhan anggota subak. Seorang agen pembaharu hendaknya berusaha memengaruhi perilaku kliennya sesuai dengan rekomendasinya yang berdasar atas kebutuhan klien. Intinya, agen pembaharu hendaknya berusaha mempromosikan pelaksanaan program pembaharuan yang ia sarankan. Ini berarti klien diharapkan lebih dari sekedar menyetujui atau menaruh minat terhadap inovasi melainkan termasuk merencanakan pengadopsian dan tindakan-tindakan sebagai pelaksanaan pembaharuan, menerima inovasi. Selama ini kegiatan penyuluhan kurang membantu petani mencapai tujuan. Agen pembaharu dapat memanfaatkan berbagai cara untuk membantu kliennya untuk mencapai tujuannya, yaitu: (1) Memberi nasihat secara tepat waktu guna menyadarkannya tentang suatu masalah, (2) Menambahkan kisaran alternatif yang dapat menjadi pilihannya, (3) Memberi informasi mengenai konsekuensi yang dapat diharapkan dari masing-masing alternatif, 137 (4) Membantunya dalam memutusakan tujuan mana yang paling penting, (5) Membantunya dalam mengambil keputusan secara sistematis baik secara perorangan maupun berkelompok, (6) Membantunnya belajar dari pengalaman dan dari pengujicobaan, (7) Mendorongnya untuk tukar-menukar informasi dengan rekan petani. Fasilitator dapat menjaga penerimaan SRI itu secara efektif dengan memberikan informasi atau pesan-pesan yang menunjang, sehingga klien merasa aman dan tetap “terasa segar” melaksanakan pembaruan itu. Bantuan semacam ini penting sekali diberikan terutama klien sedang dalam tahap pencobaan sebelum mengambil keputusan dan tahap konfirmasi setelah keputusan diambil. Tujuan akhir seseroang agen pembaharu adalah berkembangnya perilaku “memperbaharui diri sendiri” pada kliennya. Agen pembaharu harus berusaha mengembangkan kemampuan kliennya untuk menjadikan dirinya sebagai agen pembaharu (setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri), yakni dapat mengenali dan memilih inovasi-inovasi yang cocok untuk kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain agen pembaharu harus berusaha mengubah kliennya dari bergantung kepada agen pembaharu menjadi percaya (bergantung) pada dirinya sendiri, jika keadaan yang demikian sudah tercapai, agen pembaharu bisa memutuskan hubungan untuk sementara dengan kliennya. Ia boleh istirahat dan dilain saat mungkin datang lagi dengan inovasi yang lain. Kebanyakan agen penyuluhan petanian memperoleh pendidikan formal tentang cara-cara mengubah atau memperbaiki cara bertani. Mereka belajar tentang varietas tanaman, pupuk, dan sebagainya, tetapi di dalam tugasnya diminta untuk “mengubah petani” yang kemudian dapat membuat keputusan untuk mengubah “usaha taninya.” Banyak agen penyuluh belum terlatih dalam proses mengubah sikap, yaitu dalam hal pendidikan orang dewasa dan komunikasi. Mereka dipandu mengenai “apa yang harus dilakukan” kepada petani, tetapi tidak tentang “bagaimana” mengatakannya agar petani mampu menjadi manajer yang baik dalam usaha taninya. Perubahan yang demikian merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan orang dewasa. 138 Agar klien menjadi mandiri, maka perlu diberdayakan. Pemberdayaan dapat diartikan sebagai suatu proses kapasitasi atau pengembangan kapasitas sumberdaya manusia. Dengan kapasitasi maka seseorang akan memiliki kekuatan (daya) atau kewenangan yang diakui secara legal sehingga orang tersebut tidak termaginalisasikan lagi melainkan sadar akan harga dirinya, harkatnya, dan martabatnya. Dengan kapasitasi seseorang akan memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro aktif, dinamis, terbuka, dan bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan menjawab tantangan untuk mencapai kemajuan. Agar dapat menjadi pelaku utama dalam pembangunan, anggota subak harus diberdayakan. Sebagai pelaku utama pembangunan pertanian di Bali, anggota subak harus sadar akan harga dirinya, harkatnya, martabatnya, memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro-aktif, dinamis, terbuka dan bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan menjawab tantangan untuk mencapai kemajuan. Dengan demikian anggota subak akan menjadi human resource (sumberdaya manusia) dalam pembangunan, bukan menjadi faktor produksi tenanga kerja atau manpower yang diperlakukan untuk menghasilkan suatu produk saja. Dengan pemberdayaan klien akan menjadi social capital atau human capital yang tidak dapat tergantikan dalam pembangunan, dan akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Dengan pemberdayaan, anggota subak akan menjadi manusia seutuhnya. Pemberdayaan dilakukan melalui proses kapasitasi atau pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dengan penyuluhan yang memegang prinsipprinsip pendidikan orang dewasa. Melalui penyuluhan yang memegang prinsipprinsip pendidikan orang dewasa anggota subak dibantu dalam mengakses informasi, menganalisis situasi yang sedang mereka hadapi dan menemukan masalah-masalah, melakukan perkiraan ke depan, melihat peluang dan tantangan, meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan, menyusun kerangka pemikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki, menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah yang mereka hadapi, menggalang dana secara 139 swadaya, melakukan monitoring dan evaluasi, melakukan proses pertukaran informasi. Tugas mendidik dan pendidikan penyuluhan merupakan cabang dari pendidikan orang dewasa. Agen penyuluhan di banyak negara Eropa lebih merupakan seseorang yang menolong petani untuk memecahkan masalah mereka. Agen penyuluhan di negara-negara berkembang sudah merasa puas jika pertanian menjadi lebih efisien, dan kurang berminat untuk mengubah petani. Tugas utama penyuluhan di banyak negara berkembang adalah menganjurkan penggunaan teknologi modern, seperti pemakaian pupuk. Kenaikan hasil merupakan tujuan utama di negara-negara berkembang karena cepatnya pertumbuhan penduduk, disamping adanya anggapan bahwa petani terbelakang dan tradisional. Petani dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik, atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah. Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak, tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya gejala hama dan penyakit secara tepat waktu dan segera dapat ditanggulangi. Cara demikianlah yang terbaik, tetapi perlu disadari bahwa seseorang yang diberi pendidikan sepotong-sepotong lebih berbahaya dari orang buta huruf. Petani wajib diberi pengertian tentang masalah mana yang dapat mereka pecahkan sendiri dan manakah yang tidak. Anggota subak juga ingin memperbaiki cara bertani mereka, dan kewajiban fasilitator adalah mendukung dan menciptakan proses demikian melalui belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning. Tidak ada jalan lain meningkatkan kualitas sumberdaya manusia selain dengan learning process. Lembaga pendidikan tinggi dapat berperan menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas, tidak hanya di dalam kampus tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Universitas negeri dan swasta yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian seharusnya turut memfasilitasi, mendukung, dan menggerakkan upaya-upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian. Model pengadopsian inovasi SRI yang dirumuskan dalam penelitian dapat dijadikan acuan menumbuhkan kemandirian masyarakat tani di Bali. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan (1) Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI oleh anggota subak adalah karakteristik internal anggota subak yang terdiri dari: umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor kompetensi fasilitator yang terdiri dari: kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien, kemampuan fasilitator menyampaikan materi secara sistematis, dan kemampuan fasilitator memberikan semangat kepada klien untuk mengadopsi SRI. Faktor kompetensi pengurus subak yang terdiri dari: kompetensi pengurus subak memberi semangat kepada anggotanya untuk menerima SRI, dan kompetensi pengurus subak mencarikan jalan penyelesaian masalah yang dihadapi anggotanya. Persepsi anggota subak tentang SRI yang terdiri dari: persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan dalam sistem sosial subak. Sikap anggota subak terhadap SRI yang terdiri dari: sikap terhadap inovasi SRI yang hemat air, dan jumlah rumpun/anakan padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Kemandirian aggota subak menerapkan SRI yang terdiri dari: kemandirian anggota subak dalam pengambilan keputusan, dan kemandirian anggota subak dalam belajar. (2) Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi. Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Anggota subak bersikap positif terhadap SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI termasuk dalam kategori sedang. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh sikap anggota subak terhadap SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat pengadopsian SRI oleh anggota subak termasuk tinggi. Pengadopsian SRI oleh petani anggota subak dipengaruhi oleh kemandirian anggota subak menerapkan SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap 141 142 anggota subak terhadap SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak. (3) Semakin baik karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus subak, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI maka semakin baik pula pengadopsian SRI oleh anggota subak. (4) Model pengembangan SRI bagi anggota subak yang sesuai adalah model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak. Saran (1) Kepada fasilitator yang berperan dalam penyebarluasan inovasi SRI agar mempertahankan bahkan meningkatkan kompetensinya karena sangat berperan dalam pembentukan persepsi yang positif tentang SRI, pembentukan sikap yang baik di antara anggota subak dan dapat menumbuhkan kemandirian pada anggota subak. (2) Melalui proses mental pengadopsian SRI, anggota subak dapat belajar caracara bertani yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. (3) Untuk menyebarluaskan penerapan SRI di kalangan anggota subak, pengurus subak harus lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi tentang SRI karena pengurus subak berhadapan langsung dengan anggotanya. (4) Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian agar membentuk laboratorium lapangan berupa denplot-denplot percontohan berbagai inovasi pertanian sebagai upaya menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium lapangan ini menjadi tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan masyarakat tani untuk mengenal suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar bersama. (5) Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali, model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak dapat ditindak lanjuti dengan program aksi berupa denplot-denplot SRI di seluruh kabupaten dan kota di Bali, sehingga kualitas hidup anggota subak akan lebih sejahtera. DAFTAR PUSTAKA Abbas, 1995. “Sembilan Puluh Tahun Penyuluhan Pertanian di Indonesia (19051995.” Dalam: Dinamika dan Perspektif Penyuluhan Pertanian pada Pembangunan Pertanian Jangka Panjang Tahap Kedua. Prosiding Lokakarya; Bogor, 4-5 Juli 1995. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Allport, F.H. Theories of Perception and the Concept of Structure. New York: Wiley. Anugrah I.S., Sumedi, Wardana I.P. 2008. Gagasan dan Implementasi System of Rice Intensification (SRI) dalam Kegiatan Budidaya Padi Ekologis (BPE). [Article on-line]; Diperoleh dari: http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/ pdffiles/ART6-Ic.pdf. Internet; Diakses pada 1 Mei 2009. Amang, B. 1997. “Pidato Ketua Umum PP PERHEPI pada Konpernas XII Denpasar Bali 9 Agustus 1996, dalam Menghadapi Era Industrialisasi dan Perdagangan bebas. Prodisiding Konferensi Nasional XII PERHEPI. Anderson, K.E. 1972. Introduction to Communication: Theory and Practice. Menio Park, Ca: Cummings Publishing Company. Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Axinn, G.H. 1988. Guide on Alternative Extension Approach.. Rome: Food and Agriculture Organization. Bappenas, 2011. Pembangunan Daerah Tingkat I Bali.” [Article on-line]; Diperoleh dari http://www. bappenas. go.id/get-file-server/node/6024. Internet; Diakses pada 17 Nopember 2011. Basuki, T. 2008. “Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Patani untuk Menanam Padi Hibrida (Studi Kasus Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang Jawa Barat).” Skripsi. Bogor: Program Studi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Benjamin, O., Ehigie, dan Elizabeth B. Mc. Andrew. 2005. “Innovation, diffusion and adoption of total quality management (TQM).” [Jurnal on-line]; Emerald Journal. Volume 43 No 6.2005. pp 925-940. Diperoleh dari: http://www.gepeq.dep.ufscar.br/arquivos/novas%20abordagens%20TQM. pdf Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Berlo, D.K. 1960. The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice. New York, Chicago, Toronto, Sydney: Holt, Rinehart and Winston, Inc., Bertrand, A.L. 1974. Social Organization: A General Systems and Role Theory Perspective. Philadelphia: F.A Davis Company. Benor, D. 1987. “Training and Visit Extension: Back to Basics.” Dalam: Agricultural Extension Worldwide: Issue, Practices and Emerging Priorities. Diedit oleh: W.M. Rivera dan S.G Schram. USA: Crom Helm. 143 144 Bertz, R. 1983. Media for Interactive Communication. Beverly Hill/London/New Delhi: Sage Publications. Bilad, M.R. 2009. Pertanian Padi Organik SRI dalam Konsep Sistem Pertanian Terpadu. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.megtech.net/ ?p=14.. Internet; Diakses pada 2 Mei 2009 Blakely, J.E. 1989. Theoretical Approach for A Global Community. Dalam: Community Development in Perpective. Diedit oleh: Christenson, AJ., dan W.J Robinson. Ames Iowa: Iowa State University Press. Bronwyn, H. 2011. “Innovation and Diffusion”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http:// www. ruru.ac.uk/PDFs/Learning %20from %20the%20Diffusion %20of% 20 Innovations. pdf. Internet; Diakses pada 9 Mei 2011. Boyatzis, R.E. 1982. The Competent Manager, A Model for Effective Performance. New York: John Wiley & Sons, Inc. Carmel, E, Hason D., dan Kenneth L. K. “Reutilizing the offshore choice: applying diffusion of innovation to the case of EDS”. [Jurnal on-line]; Emerald. Strategic Outsourcing Journal vol 2. No. 3, 2009. Diperoleh dari: http:// pcic.merage. uci.edu/papers/ 2009/ Reutilizing The Offs hore Choice.pdf Internet; Diakses pada 13 Mei 2011. Combs, P.H. dan Ahmed M. 1985. Memerangi Kemiskinan di Perdesaan Melalui Pendidikan Non-Formal. Jakarta: C.V. Rajawali. [DEPDIKNAS]. 2004. Program Pendidikan Keterampilan bagi Siswa SMP Terbuka dalam Rangka Pelaksanaan “Broad Based Education” yang Berorientasi pada Kecakapan Hidup. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. [DEPTAN]. 2007. “Pedoman Teknis Pengembangan Usahatani Padi Sawah Metode System of Rice Intensification (SRI)” [Article on-line]; Diperoleh dari http:// www. deptan. go. Id /pla/pedum2007/PEDUM%20PEDNIS% 20PLA%202007%20CD/PEDNIS%20DIT%20PENGELOLAAN%20LA HAN/OPTIMASI%20LAHAN/SRI/PEDOMAN%20TEKNIS%20SRI%2 02007%20lkp.pdf. Internet; Diakses pada 30 Maret 2007. Desiderato, O., D.B. Howeison, dan J.H. Jackson. 1976. Investigating Behavior: Principles of Psychology. New York: Harper & Row Publishers. Dunham, A. 1956. Outlook for Community Development Review. University of the Philippines. Philippines: A Community Development Research Counsel Publication. Einsiedel, L.A, 1968. Success and Failure of some Community Development in Batanggas. University of the Philippines. Philippines: A Community Development Research Counsels Publication. Fisher, M.A. 1989. “The Practice of Communication Development.” Dalam: Community Development in Perspective. Diedit oleh: Christenson, A.J. dan W.J. Robinson. Ames Iowa: Iowa State University Press. 145 Geriya, W. 1993. Model Interaksi Kebudayaan dan Industri Pariwisata pada Masyarakat Bali: Satu Refleksi Dari Strategi Pembangunan yang Membudaya dalam Era Industrialisasi. Dalam: Kebudayaan dan Kepribadian bangsa. Diedit oleh: Mantra. Denpasar: Upada Sastra. Hanafiah, T. 1985. Strategi Pembangunan Desa. Pusat Pengembangan Wilayah Pedesaan. Bogor: Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor. Hernanto, F. 1993. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Herting, S.R. 2011. “Trust Correlated with Innovation Adoption in Hospital Organization.” [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/ discussion-papers/herting.pdf. Internet; Diakses pada 30 Mei 2011. Hubbardlorilee, William dan R. Sandmann. 2007. “Using Diffusion of Innovation Concepts for Improved Program Evaluation”. [Jurnal on-line]; Journal of Extension. October 2007 // Volume 45 // Number 5 // Feature Articles//5FEA1. Diperoleh dari: http:/ /www.j oe.org/joe /2007 october/ a1.php. Internet; Diakses pada 30 Mei 2011. Ikisan. 2000. “System of Rice Intensification”. [Article on-line]; Diperoleh dari http://www.ikisan.com/links/ap_ricesri.shtml. Internet; Diakses pada 30 Maret 2007. Jebeile, S. 2003. “The Diffusion of E-Learning Innovations in an Australian Secondary College: Strategies and Tactics for Educational Leaders”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal, Volume 8(4), 2003. Diperoleh Internet; dari: http://www.macroinnovation.com/images/mgmnt.pdf Diakses pada 12 Mei 2011. Joesoef, S. 2004. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Bina Aksara Kantor Statistik Provinsi Bali. 2008. Bali dalam Angka. Denpasar: BPS Bali. Kartasasmita, G. 1997. “Meningkatkan Daya Saing Pertanian dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional.” dalam Membangun Kemandirian dan Daya Saing Pertanian nasional dalam Menghadapi Era Industrialisasi dan Perdagangan bebas. Prosiding Konferensi Nasional XII PERHEPI. Kasryno, F., Hidayat N., Chairil A.R., Yusmichad Y. 1986. Profil Pendapatan dan Konsumsi Pedesaan Jawa Timur. Bogor: Yayasan Penelitian Survei Agro-Ekonomi. Kast, F.E., dan J.E. Rosenzweig. 1995. Organisasi dan Manajemen Jilid 1, Ed. Ke-4, Cet. Ke-4. A. Hasyani Ali: Penerjemah. Jakarta: Bumi Aksara. Kaufman, A.R. 1979. Education System Planning. Prientice-Hall., New York: Englewood Clift. Kerlinger, F.N. 1990. Asas-Asan Penelitian Behavioral. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kincaid, D.L. dan W. Schramm. 1981. Asas-Asas Komunikasi antar Manusia. Setiadi A, penerjemah. Jakarta: LP3ES. 146 Kochhar, S.K. 1981. Methods and Techniques of Teaching. Jalandhar, New Delhi: Sterling Publisers Private Limited.. Kunczik, M. 1983. Communication and Social Change: A Summary of Theories, Policies and Experiences for Media Practioners in the Third World. Germany: Fiedrich-Ebert-Stiftung. Landis, R.J. 1986. Sociology. Concepts and Characteristics. Wadsworth Publishing Company. Belmount/California: A Devision of Wardworth, Inc.. Lefrancois, G.R. 1974. Of Human: Introductory Psychology by Kongor. Belmont Calif: Brook Cole Publishing Company. Lionberger, H.F., dan P.H. Gwin. 1991. Technology Transfers. Published by University of Missouri University Extension. ________. 1984. Communication Strategies: A Guide for Agricultural Change Agent. Illinois: The Interstate Printers &Publishers. Lubis D. dan dan Endriatmo S. 1991. Laporan Penelitian Konsistensi Pola Mata Pencaharian antara orang Tua dan Anak pada Masyarakat Petani di Pedesaan. Bogor: Pusat Studi Pembangunan-Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Lucia, A.D dan Lepsinger R. 1999. The Art and Science of Competency Models Pinpointing Critical Success Factors in Organization. Sanfransisco: Jossey-Bass Pfeiffer. Mar’at, 1981. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Jakarta: Ghalia Indonesia. Mosher, A.T. 1978. An Introduction to Agricultural Extension. New York: Agricultural Development Council. Mueller, D.J. 1992. Mengukur Sikap Sosial. Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi. Penerjemah: Kartawidjaja. Jakarta: Bumi Aksara. Musyafak, A., Ibrahim TM. 2005. “Strategi Percepatan Adopsi dan Difusi Inovasi Pertanian Mendukung Prima Tani.” Jakarta: Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian I. Vol 3:20-37. Mutakin, J. 2009. Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.garutkab.co.id/download_files/ article/ARTIKEL%20SRI.pdf. Internet; Diakses pada 16 April 2009. Nabung, A. 2005. “Pendidikan dan Tuntutan Profesionalisme”. Kompas. 11 (Kolom3-4). 13 Maret 2005. Nelson-Jones , R. 1993. Practical Consoling and Helping Skills How to Use the Life skill Helping Model. Third Edition. New York. Cassel Education Limited. Padmowihardjo, S. 1999. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka. 147 ________. 2001. Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis. Jakarta: Departemen Pertanian. Pitana, B. 2005. Subak dalam Pertanian antara Pertanian dan Pariwisata. Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Editor: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan AP. Yogyakarta: Penerbit Andi Rachman, B, Supriyati, dan Supena. 2011. Ekonomi Kelembagaan Sistem Usahatani Padi di Indonesia. [Jurnal on-line]. SOCA 2011. Diperoleh dari: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/%281%29%20soca-benny%20rachmaneko%20kelembagaan%281%29.pdf. Internet; Diakses pada 20 Juni 2011. Rakhmat, J. 2004. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ranaweera, A.M. 1989. Pendekatan Non-Konvensional dalam Pendidikan Tingkat Dasar. Semarang: IKIP Semarang Press. Redfield, R. 1983. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Penerjemah: Ali hasan. Jakarta: C.V Rajawali. Reijntjes, C., Haverkort B, Waters-Bayer A. 2008. Pertanian Masa Depan Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Terjemahan dari: Farming for the Future an Introduction to Low-ExternalInput Sustainable Agriculture. Penterjemah: Sukoco SS. Yogyakarta: Kanisius. Roberts, N. 1987. “Successful Agricultural Extension: Its Dependence Upon Others Aspect of Agricultural Development: The Case of Public Sector Extension in North-East Africa”. Dalam: Agricultural Extension Worldwide: Issues, Practices and Emerging. Diedit oleh: Rivera, MW. Dan S.G. Schram. USA: Croom Helm. Robbins, S.P. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi ke-10. Terjemahaan dari: Organizations Behavio. Penerjemah: Benyamin Molan. Jakarta: Gramedia. Robinson, W.J. 1989. The Conflict Approach. Dalam: Community Development in Perspective. Diedit oleh: Christenson, J.A dan W.J. Robinson. Ames, Iowa: Iowa State University Press. Rogers, E.M., and FF. Shoemaker. 1971. Communication for Innovation. Second Edition. New York: The Free Press ________. 1986. Communication Technology. The New Media in Society. New York: The Free Press. A Devision of Macmillan. Inc ________. 1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Penerjemah: Hanafi A. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional. ________. 2003. Diffusion of Innovation. Fifth Edition. New York: The Free Press. 148 ________, Una E.M., Mario A.R., dan Cody J.W. 2011. “Complex Adaptive Systems and The Diffusion of Innovations”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/volumesissues/warford_test_diffusion_6af.pdf. Internet; Diakses pada 9 Mei 2011. Saefullah, B.Y. 2003. Organisasi Berbasis Masyarakat. Jakarta : Modul Pelatihan INCIS. Salkind, N.J. 1985. Theories of Human Development. New York: John Willey & sons. Sandra, N., Huw D., dan Isabel W. 2011. “ Conceptual Synthesis 1. Learning from the Diffusion of Innovations”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://using%20diffusion%20of% 20innovation %20 concepts % 20 for % 20 program %20 evaluation.htm. Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Samsudin, U. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Cet. Ke-3. Bandung: Binacipta. Slamet, M., dan Sumardjo. 2003. Kumpulan Materi-materi Kuliah Kelompok, Organisasi dan Kepemimpinan. Program Studi Penyuluhan Pembangunan, Faktor Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sarmela, M.E. 1975. “Group Centered Behavior and Cultural Growth: A Summary of Ecology and Superstructure.” Dalam: Population, Ecology and Social Evolution. Paris: Mouton Publishers. Sevilla, C.G., Ochave J.A., Punsalan T.G., Regala B.P., dan Uriarte G.G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Alimuddin Tuwu, Penerjemah. Jakarta: UI Press. Scot, J.C. 1983. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Penerjemah: Hasan Basri. Penyunting: Bur Rusuanto. Jakarta: LP3ES. Singarimbun, M., dan Effendi S. 2003. Membentuk Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). Soewardi. 1987. Perkembangan Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Dalam: Prosiding Kongres Penyuluhan Pertanian. Subang: PERHIPTANI. Soetrisno. 1999. Kemiskinan di Indonesia. Jakarta: LP3ES. Stoop, W.A., dan Kassam A.H. 2006. The System of Rice Intensification (SRI). Implication for agronomic research. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://cifad, cornell,edu/SRI/article/taanewslettett03.pdf. Internet. Diakses pada 5 Mei 2009. 149 Suryanata, Z.D. 2007. Padi SRI (System of rice intensification). Pengembangan Sistem Budidaya Padi Hemat Air Irigasi dengan Hasil Tinggi. Bandung: Pustaka Giratuna. Sutjipta, N. 1994. “Peranan Ilmu Penyuluhan dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarkat dalam Program-Program Pembangunan di Masa Datang.” Denpasar: Orasi Ilmiah Pengenalan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Penyuluhan Pembangunan pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Sudjana. 2004. Pendidikan Nonformal. Bandung: Falah Production. Suharyanto, Destialisma, dan Parwati I.A. 2005. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Teknologi Tabela di Provinsi Bali. [Article online]; Diperoleh dari: http://www.ntb.litbang.deptan.go.id /2005/TPH/faktor-faktor.doc. Internet; Diakses pada 21 Mei 2009. Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional R.I. Sutanto, R. 2000. Penerapan Pertanian Organik: Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Kanisius: Yogyakarta. Sutawan, N. 2005. ”Subak Menghadapi Tantangan Globalisasi. Perlu Upaya Pelestarian dan Pemberdayaan Secara Lebih Serius.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra. Yogyakarta: Penerbit Andi. Suyatna, I.G. 1982. “Dinamika Kelompok Sosial Tradisional di Bali dan Peranannya dalam Pembangunan.” Disertasi. Bogor: Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Spencer, L.M. dan Signe M.P. 1993. Competence at Work Models for Superior Performance. New York: John Wiley & Sons, Inc. Thoha, M. 1986. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: CV. Rajawali. Tjakrawilaksana, A.M., dan C. Soeriaatmadja. 1983. “Usahatani untuk Sekolah Menengah Teknologi Pertanian.” Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Tohir, K. A. 1983. Seuntai Pengetahuan tentang Usahatani Indonesia. Jakarta: Bina Aksara. Trisha, G., Robert G., Fraser M, Bate P., dan Olivia K. 2004. “Diffusion of Innovation in Service Organizations: Sustematic Review and Recommendations”. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.Diffusion_of_innovations_theory.htm. Internet; Diakses pada 2 Mei 2011. 150 Uphoff, N. 1989. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook With Cases. Connecticut: Kumarian Press. _______. 2003. The System of Rice Intensification (SRI) as a System of Agricultural Innovation. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.future-agricultures.org/farmerfirs/files/Tlc_Uphoff.pdf. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______, dan Fernandes E. 2003. Sistem Intensifikasi Padi Tersebar Pesat. [Article on-line]; Diperoleh dari: http:// www.l eisa. info/ index. php? url = getblob. php&a_id=211&a_seq=0. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______. 2005. Features of the System of Rice Intensification. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.ciifad.cornell.edu/SRI/origins.html. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______. 2011. “The System of Rice Intensification (SRI) as a System of Agricultural Innovation”. [Jurnal on-line]; International Journal of Agricultural Sustainability 1: 38-50. Diperoleh dari: http://www.futureagricultures.org/farmerfirst/ files/T1c_Uphoff.pdf. Internet; Diakses pada 20 Juni 2011. van den Ban dan Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerjemah: Agnes Dwina. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Verhagen, K. 1996. Pengembangan Keswadayaan: Pengalaman LSM di Tiga Negara. Terjemahan. Jakarta : Puspa Swara. Wahono, F. 1994. “Dinamika Ekonomi Sosial Desa sesudah 25 Tahun Revolusi Hijau.” Prisma. No. 3 th XX. Hal:2-21. Jakarta. Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Andi. Warford, M.K. 2011. “Testing a Diffusion of Innovation in Education Model (DIEM)”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/volumes-issues/warford_test_diffusion_6af.pdf. Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Wiriatmadja, S. 1983. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Yasaguna. Wolf, E.R. 1983. Petani. Suatu Tinjauan Antropologis. Penerjemah: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: C.V. Rajawali. Yanuar. 2002. “Analisis Produksi dan Faktor Penentu Adopsi Teknologi Sawit Dupa pada Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan.“ Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Yuliarmi. 2006. “Analisis Produksi dan Faktor-Faktor Penentu Adopsi Teknologi Pemupukan Berimbang pada Usahatani Padi.” Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. LAMPIRAN Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali 151 152 Lampiran 2. Hasil uji CFA peubah penelitian Chi–Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 153 Lampiran 3. Data deskriptif peubah karakteristik responden Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari peubah umur, pendidikan formal, luas lahan usahatani, pengalaman usahatani, jumlah tanggungan keluarga, motivasi berusaha, tingkat subsistensi, modal usahatani dan tingkat partisipasi dalam subak. Umur Rataan umur responden adalah 50,31 tahun dengan kisaran antara 26 -75 tahun. Sebagian besar (28,85%) responden adalah petani yang berumur tua dengan kisantaran antara 50 – 59 tahun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar anggota subak adalah petani yang berumur tua. No Rentang skor umur (tahun) Kategori 1 26 - 42 2 Jumlah Orang Persentase Sangat muda 27 25,96 43 - 49 Muda 21 20,19 3 50 - 59 Tua 30 28,85 4 60 - 75 Uzur 26 25,00 104 100,00 Jumlah responden Rataan umur anggota subak adalah 50,31 tahun Pendidikan formal Anggota subak kebanyakan berpendidikan formal rendah (41,35%) dengan rata-rata mengenyam pendidikan selama 6,95 tahun setara dengan tamatan SD. Data ini mengindikasikan bahwa anggota subak tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka,, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. N Rentang skor tingkat pendidikan (tahun) Kategori 1 0 - 5,29 2 Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 21 20,19 5,30 - 6,93 Rendah 43 41,35 3 6,94 -9,53 Tinggi 18 17,31 4 9,53 - 12 Sangat tinggi 22 21,15 104 100 Jumlah responden Rataan tingkat pendidikan anggota subak adalah 6,95 tahun 154 Luas lahan usahatani Luas lahan garapan usahatani anggota subak tergolong sempit (27,88%). Rataan luas lahan anggota subak sebesar 51,04 are setara dengan 0,51 ha. Ini berarti kebanyakan petani memiliki luas garapan yang relative sempit. Selain sempit, lahan yang mereka garap bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah petani penggarap dengan system bagi hasil. Jumlah No Rentang skor luas lahan garapan (are) Kategori 1 10 - 24,79 Sangat sempit 21 20,19 2 24,80 - 38,07 Sempit 29 27,88 3 38,08 - 58,00 Luas 27 25,96 4 58,01 - 300 Sangat luas 27 25,96 104 100,00 Jumlah responden Orang Persentase Rataan luas lahan garapan adalah 51,04 are Pengalaman usahatani Anggota subak sangat berpengalaman dalam berusahatani (51,92 % responden) dengan kisaran 38,13 – 60 tahun. Rataan pengalaman anggota subak adalah selama 26 tahun lebih. N Pengalaman berusahatani (tahun) Kategori Jumlah Orang Persentase 1 1 - 13,86 Sangat tidak berpengalaman 3 2,88 2 13,87 -23,50 Tidak Berpengalaman 17 16,35 3 23,51 - 38,12 Berpengalaman 30 28,85 4 38,13 - 60 Sangat Berpengalaman 54 51,92 104 100,00 Jumlah responden Rataan pengalaman berusahatani adalah 26,07 tahun 155 Jumlah tanggungan keluarga Jumlah tanggungan keluarga anggota subak tergolong sedikit (43,27%) dengan kisaran tanggungan antara tiga hingga empat orang dalam satu rumah tangga petani. Rataan jumlah tanggungan keluarga petani sebanyak tiga orang. Rentang skor jumlah tanggungan keluarga (orang) Kategori 1 1-2 Sangat sedikit 28 26,92 2 3-4 Sedikit 45 43,27 3 5-6 Banyak 29 27,88 4 7-8 Sangat banyak 2 1,92 104 100,00 N Jumlah Orang Jumlah responden Persentase Rataan jumlah tanggungan keluarga adalah 4 orang. Motivasi berusaha Sebagian besar (30,77 %) responden memiliki motivasi yang tinggi untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Tingginya motivasi responden terlihat dari keinginannya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika mereka mengusahakan padi dengan metode konvensional. Mereka menerapkan SRI karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama tuntutan untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Motif lainnya adalah dapat menjalin kerjasama dengan anggota lainnya agar berhasil menerapkan SRI. Jumlah Rentang skor motivasi Kategori berusaha Orang Persentase 1 1-2 Sangat rendah 24 23,08 2 >2-3 Rendah 21 20,19 3 >3-4 Tinggi 27 25,96 4 >4-5 Sangat tinggi 32 30,77 104 100,00 No Jumlah responden Rataan skor motivasi berusaha adalah 4,18 156 Tingkat subsistensi Setiap petani pada hakekatnya menjalankan sebuah perusahaan pertanian di atas usahataninya. Usahatani itu merupakan perusahaan, karena tujuan tiap petani bersifat ekonomis: memproduksi hasil-hasil, apakah untuk dijual ataupun untuk digunakan oleh keluarganya sendiri. Sebagian besar (33,65%) responden tergolong petani yang sangat subsisten. Ini berarti kebanyakan anggota subak belum berorientasi pada bisnis pertanian, karena sebagian besar hasil yang didapat adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. N Rentang skor tingkat subsistensi 1 1-2 2 Jumlah Kategori Orang Persentase Sangat tidak subsisten 13 12,50 >2-3 Tidak subsisten 24 23,07 3 >3 - 4 Subsisten 32 30,76 4 >4-5 Sangat subsisten 35 33,65 104 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat subsistensi adalah 3,36. Modal dan akses pada kredit usahatani Anggota subak mudah dalam mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani (32% responden). Rataan skor modal dan akses pada kredit usahatani sebesar 3,7 yang berarti anggota subak mudah mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani. No Tingkat subsistensi (skor) Kategori Jumlah Orang Persentase Sangat sulit 21 20,19 1 1-2 2 > 2 -3 Sulit 18 17,31 3 >3-4 Mudah 34 32,69 4 >4-5 Sangat mudah 31 29,81 104 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat subsistensi adalah 3,70. 157 Partisipasi dalam subak Partisipasi dalam subak anggota subak sangat tinggi (55,56% responden), dengan rataan skor partisipasi dalam subak 4,4 yang juga mengindikasikan bahwa partisipasi dalam subak anggota subak sangat baik. No Partisipasi dalam subak Kategori Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 9 8,33 1 1-2 2 > 2 -3 Rendah 2 1,85 3 >3-4 Tinggi 37 34,26 4 >4-5 Sangat tinggi 60 55,56 108 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat partisipasi dalam subak adalah 4,4. Tingkat pendapatan Tingkat pendapatan anggota subak dalam satu musim tanam sangatlah beragam dengan kisaran antara Rp 104.000 – Rp 25.530.000 per musim tanam. Pendapatan anggota subak berkisar antara Rp 956.000 – Rp 2.461.500 per musim tanam (25,96 % responden). Rataan pendapatan anggota subak adalah Rp 4.622.221,60 per musim tanamnya. No Pendapatan (Rp) Kategori 1 104.000 - 862.500 2 Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 26 25,00 956.000 - 2461500 Rendah 27 25,96 3 2.641.501-5.819.000 Tinggi 25 24,04 4 5.822.800 - 25.530.000 Sangat tinggi 26 25,00 104 100,00 Jumlah responden Rataan tingkat pendapatan anggota subak/musim tanam adalah Rp 4.622.221,60 158 Lampiran 4. Kompetensi fasilitator Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) 1 61 44 1 1 0 305 176 2 58 34 0 2 0 290 136 3 65 33 3 1 1 325 132 4 62 33 1 6 2 310 132 5 56 36 4 5 6 280 144 6 55 38 5 5 3 275 152 7 55 42 4 3 4 275 168 8 60 51 1 1 0 300 204 9 48 44 2 2 1 240 176 10 49 34 4 4 3 245 136 11 66 0 3 0 1 330 0 Jumlah 635 389 28 30 21 3175 1556 Tingkat kompetensi fasilitator adalah 4,28 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah n(S) n(R) 3 0 9 3 12 15 12 3 6 12 9 84 2 4 2 12 10 10 6 2 4 8 0 60 Tingkat Jumlah Kompetensi fasilitator 0 486 4,67 0 430 4,13 1 469 4,51 2 459 4,41 6 452 4,35 3 455 4,38 4 465 4,47 0 509 4,89 1 427 4,11 3 404 3,88 1 340 3,27 21 4896 47,08 n(SR) Kesimpulan: (1) Kemampuan mengemukakan pendapat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,67; (2) Kejelasan bahasa yang digunakan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,13; (3) Daya adaptasi berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,51; (4) Kesistematisan dalam menyampaian materi berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,41; (5) Dukungan semangat pada masyarakat berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor dengan rata-rata skor 4,35; (6) Pemahanan kebutuhan masyarakat berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,38; (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,47; (8) Berpenampilan menarik berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,89; (9) Ketepatan dan efisiensi waktu berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,11; (10) Penguasaan Materi SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,88; (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan berada pada kategori cukup tinggi dengan rata-rata skor 3,27; dan (12) Tingkat kompetensi fasilitator berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,28 159 Lampiran 5. Kompetensi pengurus subak Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) n(R) 1 73 28 2 1 0 365 112 6 2 2 33 41 5 11 14 165 164 15 22 3 64 34 4 1 1 320 136 12 2 4 65 26 5 5 3 325 104 15 10 5 82 21 0 0 0 410 84 0 0 6 58 40 2 3 1 290 160 6 6 7 64 32 4 4 0 320 128 12 8 8 25 53 12 10 4 125 212 36 20 9 77 27 0 0 0 385 108 0 0 10 77 27 0 0 0 385 108 0 0 Jumlah 618 329 34 35 23 3090 1316 102 70 Tingkat kompetensi pengurus subak adalah 4,42 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah Kesimpulan: Tingkat n(SR) Jumlah Kompetens Pengurus Subaki 0 485 4,66 14 380 3,65 1 471 4,53 3 457 4,39 0 494 4,75 1 463 4,45 0 468 4,50 4 397 3,82 0 493 4,74 0 493 4,74 23 4601 44,24 (1) Menyebarluaskan informasi berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,66 (2) menganjurkan menerapkan SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,65 (3) Mempengaruhi anggota subak berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,53 (4) Memberikan contoh berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,39 (5) Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,75 (6) Memberikan semangat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,45 (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah berada pada kategori sangat tinggi dengan ratarata skor 4,50 (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,82 (9) Sifat jujur dan terbuka berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,74 (10) Membuka diri dari segala macam kritikan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,74 (11) Kompetensi pengurus subak berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,42 160 Lampiran 6. Persepsi anggota subak tentang SRI Kategori No ST T S R SR n(ST) n(T) n(S) n(R) Skor n(SR) Jumlah Tingkat Persepsi 1 58 43 2 0 1 290 172 6 0 1 469 4,51 2 59 42 3 0 0 295 168 9 0 0 472 4,54 3 79 25 0 0 0 395 100 0 0 0 495 4,76 4 56 34 5 6 3 280 136 15 12 3 446 4,29 5 77 26 0 1 0 385 104 0 2 0 491 4,72 6 73 31 0 0 0 365 124 0 0 0 489 4,70 7 75 28 1 0 0 375 112 3 0 0 490 4,71 8 69 32 2 1 0 345 128 6 2 0 481 4,63 9 49 36 7 8 4 245 144 21 16 4 430 4,13 10 55 36 6 5 2 275 144 18 10 2 449 4,32 11 64 34 3 2 1 320 136 9 4 1 470 4,52 Jml 714 367 29 23 11 3570 1468 87 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI adalah 4,53 (Sangat tinggi) 46 11 5182 49,83 Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,51; 2. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI memberikan banyak keuntungan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,54; 3. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak bertentangan dengan awig-awig subak berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,29; 4. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,29; 5. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan norma setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,72; 6. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tata nilai setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,70; 7. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan adat istiadat setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,71; 8. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan kebiasaan setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,63; 9. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak terlalu rumit berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,13; 10. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI mudah dicoba berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,32; 11. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI hasilnya dapat diamati berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,52; dan 12. Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata sebesar 4,53. 161 Lampiran 7. Sikap anggota subak terhadap SRI Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) 1 76 26 2 0 0 380 104 6 2 51 37 9 6 1 255 148 27 3 85 18 1 0 0 425 72 3 4 30 42 20 5 7 150 168 60 5 67 33 3 1 0 335 132 9 6 78 26 0 0 0 390 104 0 7 51 41 8 1 3 255 164 24 8 21 29 30 14 10 105 116 90 9 40 37 21 2 4 200 148 63 10 24 34 31 9 6 120 136 93 11 68 30 2 1 3 340 120 6 Jml 591 353 127 39 34 2955 1412 381 Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI adalah 4,25 (Tinggi) n(R) 0 12 0 10 2 0 2 28 4 18 2 78 n(SR) 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 34 Jumlah 490 443 500 395 478 494 448 349 419 373 471 4860 Tingkat Sikap 4,71 4,26 4,81 3,80 4,60 4,75 4,31 3,36 4,03 3,59 4,53 46,73 Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI irit air berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,71; 2. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI ramah lingkungan berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,26; 3. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI hemat benih berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,81; 4. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa masa tanam SRI lebih cepat berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,80; 5. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa Lebih baik menggunakan bibit muda berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,60; 6. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa jumlah anakan padi SRI lebih banyak berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,75; 7. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa kualitas batang dan daun padi SRI lebih kokoh berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,31; 8. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa padi SRI lebih tahan terhadap hama dan penyakit berada pada kategori ragu-ragu dengan pencapaian skor rata-rata 3,36; 9. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa bulir padi SRI lebih bernas berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,03; 10. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa rasa nasi hasil SRI lebih enak (pulen) berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,59; 11. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa produktivitas SRI tinggi berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,53; 12. Tingkat sikap petani anggota subak berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata sebesar 4,25. 162 Lampiran 8. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI Skor Kategori No ST T 1 2 3 4 5 6 7 8 9 6 56 4 53 20 17 53 41 52 15 5 30 5 7 10 40 2 25 14 23 10 37 4 51 6 43 5 Jml 302 271 S 61 R SR 22 6 19 7 17 17 2 3 0 56 7 64 2 28 37 8 3 4 93 209 n(ST) Tingkat Kemandirian n(T) n(S) n(R) n(SR) 30 280 20 265 100 85 265 205 260 60 120 28 160 100 92 148 204 172 15 15 30 6 42 30 12 18 15 44 12 38 14 34 34 4 6 0 56 7 64 2 28 37 8 3 4 205 434 180 447 304 278 437 436 451 1,97 4,17 1,73 4,30 2,92 2,67 4,20 4,19 4,34 1510 1084 183 186 209 3172 30,50 Jumlah Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI adalah 3,39 ( Sedang) Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Tingkat kemandirian dalam akses media berada pada kategori rendah dengan rata-rata pencapain skor 1,97; 2. Tingkat kemandirian dalam hal kerjasama dengan penyuluh berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,17; 3. Tingkat kemandirian dalam hal kerjasama dengan pedagang berada pada kategori rendah dengan rata-rata pencapaian skor 1,73; 4. Tingkat kemandirian dalam penyediaan modal usaha berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,30; 5. Tingkat kemandirian dalam menyiapkan lahan berada pada kategori sedang dengan ratarata pencapaian skor 2,92; 6. Tingkat kemandirian dalam akses kredit usahatani berada pada kategori sedang dengan rata-rata pencapaian skor 2,67; 7. Tingkat kemandirian dalam hal menanggung risiko berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,20; 8. Tingkat kemandirian dalam hal pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,19; 9. Tingkat kemandirian dalam hal belajar mandiri berada pada kategori tinggi dengan ratarata pencapaian skor 4,34; dan 10 Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI berada pada kategori sedang dengan rata-rata pencapaian skor 3,39. 163 Lampiran 9. Pengadopsian SRI di kalangan anggota subak (1) Persiapan dan pengolahan tanah Kategori No SB B C J BR n(SB) Skor persiapan dan pengolahan tanah n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah Rataan 1 83 19 1 0 0 415 76 3 0 0 494 4,75 2 68 27 1 2 6 340 108 3 4 6 461 4,43 3 71 24 4 1 4 355 96 12 2 4 469 4,51 4 66 30 2 1 5 330 120 6 2 5 463 4,45 5 56 37 3 1 7 280 148 9 2 7 446 4,29 Jml 344 137 11 5 22 1720 548 33 10 Tingkat pengadopsian persiapan dan pengolahan tanah SRI adalah 4,49 (Sangat tinggi). 22 2333 22,43 (2) Pemilihan benih Kategori No SB B C Skor pemilihan benih J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah Rataan 1 70 26 3 3 2 350 104 9 6 2 471 4,53 2 62 24 2 1 15 310 96 6 2 15 429 4,13 3 67 24 2 1 10 335 96 6 2 10 449 4,32 Jml 199 74 7 5 27 995 296 Tingkat pengadopsian pemilihan benih SRI adalah 4,32 (Tinggi). 21 10 27 1349 12,97 (3) Persemaian Kategori No 1 SB 16 B C 17 J BR 8 27 36 Skor persemaian n(J) n(BR) n(SB) n(B) n(C) 80 68 24 54 36 Jumlah 262 Rataan 2,52 2 18 14 5 27 40 90 56 15 54 40 255 2,45 3 57 28 1 1 17 285 112 3 2 17 419 4,03 4 38 12 7 18 29 190 48 21 36 29 324 3,12 5 49 31 2 6 15 245 124 6 12 15 402 3,87 6 24 23 10 19 28 120 92 30 38 28 308 2,96 7 34 25 6 12 27 170 100 18 24 27 339 3,26 8 37 33 4 7 23 185 132 12 14 23 366 3,52 9 17 12 4 25 46 85 48 12 50 46 241 2,32 Jml 290 195 47 142 261 1450 Tingkat pengadopsian persemaian SRI adalah 3,12 (tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk 780 141 284 261 2916 28,04 164 (4) Penanaman Kategori No SB B Skor penanaman C J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 73 23 0 5 3 365 92 0 2 69 24 4 7 0 345 96 12 3 76 21 1 6 0 380 84 3 4 68 23 5 7 1 340 92 15 5 59 17 6 9 13 295 68 18 6 48 17 5 20 13 240 68 15 7 70 26 1 2 5 350 104 3 Jml 463 151 22 56 35 2315 604 66 Tingkat pengadopsian penanaman SRI adalah 4,30 (Tinggi). n(BR) 10 14 12 14 18 40 4 112 Jumlah 3 0 0 1 13 13 5 35 470 467 479 462 412 376 466 3132 Rataan 4,52 4,49 4,61 4,44 3,96 3,62 4,48 30,12 (5) Pemupukan Skor pemupukan Kategori No SB B C J BR n(SB) n(B) n(C) 1 71 31 1 0 1 355 124 3 2 77 26 0 1 0 385 104 0 3 66 34 1 3 0 330 136 3 4 72 25 1 2 4 360 100 3 5 29 17 5 16 37 145 68 15 Jml 315 133 8 22 42 1575 532 24 Tingkat pengadopsian pemupukan SRI adalah 4,26 (Tinggi). n(J) 0 2 6 4 32 44 n(BR) 1 0 0 4 37 42 Jumlah Rataan 483 4,64 491 4,72 475 4,57 471 4,53 297 2,86 2217 21,32 (6) Penyiangan Kategori No SB B C Skor penyiangan J BR n(SB) n(B) n(C) 1 37 20 7 20 20 185 80 21 2 60 32 1 5 6 300 128 3 Jml 97 52 8 25 26 485 208 24 Tingkat pengadopsian penyiangan SRI adalah 3,81(Tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk n(J) 40 10 50 n(BR) Jumlah 20 6 26 346 447 793 Rataan 3,33 4,30 7,63 165 (7) Pengairan Kategori No SB B Skor pengairan C J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 61 33 1 4 5 305 132 3 2 58 31 2 7 6 290 124 6 3 83 18 2 0 1 415 72 6 Jml 202 82 5 11 12 1010 328 15 Tingkat pengadopsian pengairan SRI adalah 4,45 (Sangat tinggi). (8) Pengendalian hama dan penyakit Kategori No SB B C n(BR) 8 14 0 22 Jumlah 5 6 1 12 Rataan 4,36 4,23 4,75 13,34 453 440 494 1387 Skor pengendalian hama dan penyakit J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah 1 60 36 0 7 1 300 144 0 14 1 2 18 16 9 22 39 90 64 27 44 39 3 15 23 12 13 40 75 92 36 26 40 4 10 10 9 25 50 50 40 27 50 50 5 78 18 5 1 2 390 72 15 2 2 6 44 23 8 5 24 220 92 24 10 24 7 33 20 12 9 30 165 80 36 18 30 8 48 21 9 5 21 240 84 27 10 21 Jml 306 167 64 87 207 1530 668 192 174 207 Tingkat pengadopsian pengendalian hama dan penyakit SRI adalah 3,33 (Sedang). Rataan 459 264 269 217 481 370 329 382 2771 4,41 2,54 2,59 2,09 4,63 3,56 3,16 3,67 26,64 (9) Panen No Kategori SB B C Skor panen metode SRI J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 86 16 2 0 0 430 64 6 0 2 30 29 21 6 18 150 116 63 12 3 39 24 4 17 20 195 96 12 34 4 8 10 9 24 53 40 40 27 48 Jml 163 79 36 47 91 815 316 108 94 Penen Tingkat pengadopsian terhadap seluruh paket-paket teknologi SRI adalah: 1 + 2 + 3 + 4+ 5+ 6+7 +8 +9)/9 = 3,94 (Tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk n(BR) Jumlah 0 18 20 53 91 500 359 357 208 1424 Rataan 4,81 3,45 3,43 2,00 13,69 3,42 166 Kesimpulan: 1. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi persiapan dan pengolahan lahan SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,49; 2. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pemilihan benih SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,32; 3. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi persemaian SRI termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,12;; 4 Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi penanaman SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,30; 5. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pemupukan termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,26; 6. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi penyiangan termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,81; 7. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pengairan termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,45; 8. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pengendalian hama dan penyakit termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,33; 9. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi panen termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,42; dan 10. Tingkat pengadopsian SRI di kalangan anggota subak termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,94. 167 Lampiran 10. Perbandingan budidaya padi metode SRI dan konvensional No Parameter SRI Konvensional 1 Kebutuhan benih 15 kg/Ha 50 kg/Ha 2 Usia persemaian 12 hari 20-30 hari 3 Masa stagnasi 2-3 hari 6-8 hari 4 Kebutuhan air Hemat Terusan 5 Bagan warna daun 4 4 6 Tinggi tanaman 83.42 cm 76.25 cm 7 Gulma Banyak Sedang 8 Hama dan Penyakit Agak tahan Agak rawan 9 Jumlah anakan (max) 56.67 btg 26.33 btg 10 Jumlah anakan produktif 23.17 btg 16.25 btg 11 Panjang malai 25.02 cm 24.4 cm 12 Jumlah bulir setiap malai 144.62 btr 131.5 btr 13 Butir bernas setiap malai 131.45 btr 127.5 btr 14 Butir hampa setiap malai 13.17 btr 4.9 btr 15 Berat gabah setiap malai 3.82 g 3.52 g 16 Berat 1000 butir gabah 29.87 g 27.5 g 17 Kadar air saat panen 26.33 % 26.31 % 18 Hasil Panen (Riel) 9.46 ton/Ha 5.6 ton/Ha Sumber: Laporan pelaksanaan SRI di Subak Rapuan, Desa Mas Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar Tahun 2011 168 Lampiran 11. Analisis usahatani SRI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 No 1. 2. Uraian Benih Pupuk Organik Granul 600 kg Pupuk Anorgani/Kimia a. SRI Urea 200 kg Ponska 300 kg ZA 100 kg b. Konvensional Urea 300 kg Ponska 300 kg Persemaian a. Semai b. Cabut Bibit c. Pindah Bibit Biaya Tanam Pengolahan lahan dan galengan Biaya Penyiangan 2 kali Pengendalian Hama & Penyakit Biaya Panen a. SRI 9.46 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton) b. Konv. 5.6 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton) Biaya Sewa Lahan Jumlah biaya produksi Uraian Hasil panen SRI 9,46 ton/ha (Rp 2.400/kg) Hasil panen konvensional 5,6 ton/ha (Rp2.400/kg) SRI 75.000 Konvensional 250.000 276.000 0 260.000 560.000 116.000 325.000 560.000 10.000 600.000 60.000 75.000 30.000 400.000 960.000 960.000 1.350.000 1.200.000 532.000 300.000 1.608.200 952.000 3.000.000 9.347.200 3.000.000 8.112.200 Hasil Panen SRI Konv. 22.704.000 - Total biaya produksi SRI Konv. 9.347.200 - Keuntungan SRI Konv. 13.356.800 - - - - 13.440.000 8.112.000 Sumber: Laporan pelaksanaan SRI di Subak Rapuan, Desa Mas Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. 5.328.000 169 Lampiran 12. Hasil uji analisis SEM dengan Software Lisrel Versi 8.3 170 171 172 173 174 175 176 177 Lampiran 13. Foto-foto penelitian Peneliti bersama tenaga enumerator Wawancara dengan pengurus subak 178 Mencari informasi tambahan dari PPL Wawancara dengan petani anggota subak 179 Aktivitas penyiangan dalam SRI yang dilakukan petani anggota subak Pengamatan langsung di lokasi SRI dipandu oleh petani anggota subak 180 Bentuk hubungan antara sektor pariwisata dan pertanian Kotoran gajah dapat dimanfaatkan sebagai kompos 181 “Melalui System of Rice Intensification petani dapat belajar mandiri untuk memecahkan masalahnya sendiri” ABSTRACT I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Factors Influence Subak Members in Adopting System of Rice Intensification (SRI) in Seven Regencies in the Province of Bali Supervisor Commission: Amri Jahi (Chief Supervisor), Djoko Susanto, Pang S. Asngari, I Gusti Putu Purnaba and Sugiyanta (as members). Subak as the traditional irrigation institusion of Bali has a large potential in adopting the System of Rice Intesification (SRI) innovation. The goals of this research are: (1) To find the factors which affect the adoption of SRI amongst subak members; (2) To analyse the perception, attitude, self-reliance and adoption factors of the subak members; (3) To analyse the causal relations (cause-effect) between the factors that affect the adoption of SRI amongst subak farmers; and (4) To formulate a model of SRI adoption amongst the subak member farmers in accordance to the social system of subak. This research is designed to be Ex post facto. The population of this research is 288 members of subak that have implemented the System of Rice Intensification (SRI). Using the Slovin formula, the sample of this research becomes 104 people. The analysis used is Structural Equation Model (SEM) with the Lisrel Version 8.3 programme. The results are: (1) The factors that affect the adoption of SRI by the members of subak are characteristics, facilitator competence, caretaker competence, perception, attitude, and self-reliance.; (2) Perception is affected by characteristic, facilitator competence, and caretaker competence. Attitude is affected by perception, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence. Self-reliance is affected by attitude, perception, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence. Adoption is affected by self-reliance, perception, attitude, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker competence; (3) The better the characteristic, facilitator competence, subak caretaker competence, perception, attitude, and self-reliance of the subak members, the better the adoption of SRI; and (4) The suitable development model of SRI is the model which develops self-reliance and emphasizes on independent learning. Keywords: adoption, innovation, SRI, farmers, caretakers, facilitators iii RINGKASAN I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Anggota Subak Mengadopsi System of Rice Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten Provinsi Bali. Komisi Pembimbing: Amri Jahi (Ketua), Djoko Susanto, Pang S. Asngari, I Gusti Putu Purnaba dan Sugiyanta (masing-masing sebagai anggota). Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang besar dalam pengadopsian inovasi SRI. Petani anggota subak memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI. Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (2) Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (3) Menganalisis hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; dan (4) Merumuskan model pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak. Populasi penelitian ini adalah anggota subak (kelompok tani tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi) dan menerapkan System of Rice Intensification (SRI) yang berjumlah 288 orang yang tersebar di tujuh kabupaten di Bali. Dengan rumus Slovin, ditetapkan sampel penelitian sebanyak 104 orang petani anggota subak yang telah menerapkan SRI. Penelitian dirancang sebagai penelitian Ex post facto. Ex post facto berarti ”setelah kejadian,” peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya perbedaan tingkah laku atau status kelompok individu. Model yang digunakan adalah model persamaan structural (Structural Equation Model). Model ini digunakan untuk menguji model-model empiris untuk menjelaskan varian dan korelasi antara suatu set peubah-peubah yang diobservasi (observe) dalam suatu sistem kausal (sebab akibat) dari faktor-faktor yang tidak diobservasi (unobserve). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas isi. Untuk mendapatkan keabsahan peubah penelitian, faktor, serta isi maka iv instrumen penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan penilaian juri dari luar komisi pembimbing. Korelasi Cronbach alpha digunakan untuk menentukan tingkat reliabilitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Pengumpulan data dilakukan dari Bulan September sampai dengan Bulan Oktober 2011. Pendugaan parameter dan uji lanjut pada model SEM diselesaikan dengan perangkat lunak Lisrel versi 8.3. Hasilnya adalah: (1) Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI oleh anggota subak adalah karakteristik anggota subak yang terdiri dari: umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor kompetensi fasilitator yang terdiri dari: kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien, kemampuan fasilitator menyampaikan materi secara sistematis, dan kemampuan fasilitator memberikan semangat kepada klien untuk mengadopsi SRI. Faktor kompetensi pengurus subak yang terdiri dari: kompetensi pengurus subak memberi semangat kepada anggotanya untuk menerima SRI, dan kompetensi pengurus subak mencarikan jalan penyelesaian masalah yang dihadapi anggotanya. Persepsi anggota subak tentang SRI yang terdiri dari: persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan dalam sistem sosial subak. Sikap anggota subak terhadap SRI yang terdiri dari: sikap terhadap inovasi SRI yang hemat air, dan jumlah rumpun/anakan padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI yang terdiri dari: kemandirian anggota subak dalam pengambilan keputusan, dan kemandirian anggota subak dalam belajar; (2) Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi. Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Anggota subak bersikap positif terhadap SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak; Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI termasuk dalam kategori sedang. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh sikap anggota subak terhadap SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat pengadopsian SRI oleh anggota subak termasuk tinggi. v Pengadopsian SRI oleh petani anggota subak dipengaruhi oleh kemandirian anggota subak menerapkan SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak; (3) Semakin baik karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus subak, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI maka semakin baik pula pengadopsian SRI oleh anggota subak; dan (4) Model pengembangan SRI bagi anggota subak yang sesuai adalah model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) Kepada fasilitator yang berperan dalam penyebarluasan inovasi SRI agar mempertahankan bahkan meningkatkan kompetensinya karena sangat berperan dalam pembentukan persepsi yang positif tentang SRI, pembentukan sikap yang baik di antara anggota subak dan dapat menumbuhkan kemandirian pada anggota subak; (2) Melalui proses mental pengadopsian SRI, anggota subak dapat belajar cara-cara bertani yang lebih baik dibandingkan metode konvensional; (3) Untuk menyebarluaskan penerapan SRI di kalangan anggota subak, pengurus subak harus lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi tentang SRI karena pengurus subak berhadapan langsung dengan anggotanya; (4) Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian agar membentuk laboratorium lapangan berupa denplot-denplot percontohan berbagai inovasi pertanian sebagai upaya menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium lapangan ini menjadi tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan masyarakat tani untuk mengenal suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar bersama; dan (5) Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali, model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak dapat ditindak lanjuti dengan program aksi berupa denplot-denplot SRI di seluruh kabupaten dan kota di Bali, sehingga kualitas hidup anggota subak akan lebih sejahtera. vi PENDAHULUAN Latar Belakang Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia, baik lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga pemerintah, sudah mengakui dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor, khususnya di sektor pertanian. Jika intensitas bencana akibat pemanasan global makin sering dan tanpa ada upaya-upaya adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan nasional. Pemanasan global telah mengacaukan musim hujan dan musim kemarau. Para petani kini sulit menentukan jenis varietas dan kalender tanam, karena iklim sulit diduga. Di berbagai wilayah di Indonesia, kekeringan dan banjir menggagalkan produksi pangan. Sawah banyak puso atau gagal panen yang disebabkan oleh kemarau panjang dan banjir. Oleh sebab itu mesti ada upaya untuk mengatasi perubahan iklim global dalam dunia pertanian. Dari aspek pengelolaan air irigasi sawah pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus-menerus; di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani hemat air. Usahatani padi sawah metode System of Rice Intensification (SRI) merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal. SRI mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1997 dan telah diujicobakan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Hasil penerapan SRI di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa budidaya padi metode SRI telah meningkatkan hasil dibandingkan dengan budidaya padi metode konvensional. Anggota subak memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI di sawahnya. SRI menggunakan benih yang lebih sedikit dibandingkan dengan penanaman padi secara konvensional. Rata-rata benih yang digunakan berkisar antara lima hingga 10 kg/ha. Dengan menggunakan benih yang lebih sedikit, maka secara otomatis dapat menekan biaya yang mesti dikeluarkan untuk pembelian benih sehingga dapat menekan ongkos produksi. Selain itu, petani 1 2 dapat memilih bermacam varietas yang sesuai dengan kondisi setempat yang telah biasa mereka tanam. Selain dapat menghemat benih, alasan lainnya adalah masa tanam padi metode SRI lebih cepat dibandingkan dengan cara bertanam padi secara konvensional. Pada SRI, umur delapan hingga 12 hari semaian siap ditanam ketika baru tumbuh dua tangkai daun. Tujuannya adalah saat benih tumbuh lebih memungkinkan untuk menghasilkan rumpun yang lebih banyak dan pertumbuhan akar yang lebih banyak. Anggota Subak tertarik menerapkan SRI di sawah mereka karena hemat air. Dalam bercocok tanam padi secara konvensional pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus menerus, di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Sistem bercocok tanam padi metode SRI tidak membutuhkan air yang berlebih. Namun, lahan tidak boleh mengalami kekeringan secara terus menerus sehingga diperlukan manajemen air yang lebih baik. SRI memerlukan irigasi berkala untuk menjaga tanah tetap basah. Aktivitas pengairan yang terputus (intermiten) harus dilakukan untuk memberikan kondisi aerobik dan anaerobik bagi biota tanah untuk menyalurkan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini bertujuan untuk memperkuat perakaran tanaman. SRI menarik minat anggota subak untuk diterapkan pada sawah-sawah mereka karena sedikit memerlukan pupuk dan pestisida buatan pabrik. Pupuk menjadi input produksi yang memerlukan biaya semakin besar karena semakin hari harganya semakin tinggi. Pemakaian pestisida yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama menjadi punah sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh berkembang dengan pesat, dan adanya residu pestisida pada hasil panen. Jika anjuran bercocok tanam SRI diikuti dengan baik oleh anggota subak maka padi metode SRI akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Pada metode konvensional, benih padi mengalami proses adaptasi yang panjang pada lingkungannya yang baru. Berbeda dengan SRI proses itu tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga benih yang ditanam lebih awal dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan kondisi lahan. Dengan demikian 3 secara otomatis padi metode SRI memiliki umur panen yang lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Jumlah anakan/rumpun padi metode SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota subak untuk menerapkannya. Jarak tanam yang lebih lebar memungkinkan tanaman padi leluasa untuk mendapatkan bahan makanan yang tersedia tanpa harus bersaing dengan tanaman padi yang ada di sekitarnya. Hal ini akan merangsang tumbuhnya anakan/rumpun yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan metode konvensional. Kualitas batang dan daun padi metode SRI adalah lebih kuat. Hal ini berawal dari menanam bibit lebih muda yang menyebabkan potensi tumbuhnya tangkai dan akar tanaman akan semakin banyak dan kokoh. Hal ini dapat meningkatkan minat anggota subak untuk menerapkan SRI, karena tanaman tumbuh dengan sehat. Jika tanaman padi tumbuh dengan sehat maka padi metode SRI lebih tahan terhadap berbagai penyakit. Selain itu, tanaman juga akan semakin kokoh karena ditopang oleh akar-akar yang sehat, sehingga petani tidak merasa khawatir tanaman mereka roboh jika diterpa hujan dan angin yang kuat. Padi metode SRI lebih bernas karena pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal jika dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu jumlah bulir padi lebih banyak sesuai dengan jumlah anakannya. Hal ini yang menjadi alasan lainnya anggota subak menerapkan SRI pada lahan usaha taninya. Alasan lain anggota subak menerapkan SRI adalah waktu panen yang lebih cepat. Padi metode SRI dapat menghemat waktu hingga 10 hari jika dibandingkan dengan metode konvensional. Rasa nasi padi metode SRI adalah lebih enak. Tidak digunakannya pupuk anorganik dan pestisida menghasilkan beras yang alami, sehingga rasa nasi padi metode SRI lebih enak dibandingkan padi yang menggunakan pupuk buatan dan pestisida yang berlebihan. Alasan ini semakin menguatkan anggota subak untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Pada akhirnya, alasan yang paling kuat anggota subak menerapkan SRI adalah keuntungan yang lebih besar. Pada metode SRI jerami lebih tinggi dan bulir padi lebih bernas, menghemat waktu hingga 10 hari, sedikit bahkan tidak 4 sama sekali memakai bahan kimia, lebih hemat air dibandingkan dengan metode konvensional, sedikit bulir padi yang kosong, meningkatkan ketahanan tanaman dari angin, dan lahan semakin sehat karena terjadi aktivitas biologis dalam tanah. Secara ilmiah, SRI telah menunjukkan hasil-hasil yang sangat baik dan menjanjikan cara becocok tanam padi yang intensif dan dengan produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara bercocok tanam padi konvensional. Kenyataannya, inovasi SRI baru diadopsi oleh sebagian kecil angota subak di seluruh Bali. Hal inilah yang menjadikan minat penulis untuk meneliti lebih jauh faktor-faktor yang memengaruhi anggota subak menerapkan metode SRI pada lahan usahataninya. Banyak perubahan yang terjadi pada level individual, dimana seseorang bertindak sebagai individu yang menerima atau menolak inovasi. Perubahan pada level ini disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain difusi, adopsi, modernisasi, akulturasi, belajar atau sosialisasi. Perubahan juga terjadi pada level sistem sosial. Ada berbagai istilah yang dipakai untuk perubahan macam ini, misalnya pembangunan, sosialisasi, integrasi atau adaptasi. Perubahan pada kedua level itu berhubungan erat. Subak adalah suatu sistem sosial, maka pengadopsian SRI akan membawa pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anggota subak untuk mengubah cara bertaninya dari cara-cara konvensional ke penerapan SRI. Perubahan pada sebagian anggota subak akan menyebabkan perubahan pada subak sebagai suatu sistim sosial. Keputusan anggota subak untuk mengadopsi SRI akan diikuti dengan perubahan pada cara-cara bertani yang ada pada sistem sosial subak di Bali. Dibalik semua itu, semua analisis perubahan sosial harus memusatkan perhatian pada proses belajar anggota subak. Masuknya inovasi SRI ke dalam sistem sosial subak tidak semata-mata sebagai proses alih teknologi dari metode konvensional ke metode SRI, tetapi lebih pada proses belajar anggota subak di dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Semua inovasi pasti mempunyai komponen ide, tetapi banyak inovasi yang tidak memiliki wujud fisik misalnya ideologi. Inovasi yang tidak memiliki wujud fisik tidak dapat diadopsi secara fisik, pengadopsiannya hanyalah berupa keputusan simbolis. Sedangkan inovasi yang mempunyai komponen ide dan 5 komponen objek (fisik) seperti yang terdapat pada SRI, pengadopsiannya akan diikuti keputusan tindakan berupa tingkah laku nyata. Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang. Jika seseorang menerima (mengadopsi) inovasi, dia mulai menggunakan ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan penggunaan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Keputusan inovasi merupakan suatu tipe pengambilan keputusan yang khas; Keputusan ini mempunyai cici-ciri dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak diketemukan dalam situasi pembuatan keputusan yang lain. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan untuk menerima ataupun menolak suatu inovasi menjadi topik utama penelitian ini. Untuk membahas faktor-faktor tersebut akan melibatkan pengertian-pengertian tentang belajar dan pengambilan keputusan dari teori-teori dan konseptualisasi proses keputusan inovasi. Penyebaran suatu inovasi tidak bisa terpelas dari peranan agen pembaru dalam usaha memengaruhi keputusan inovasi yang diambil anggota subak. Kenyataannya, masih sering ditemukan jarak pemisah antara agen pembaru dengan orang-orang atau sistem sosial yang menjadi sasarannya, karena mereka berbeda dalam bahasa, status sosial ekonomi, kemampuan teknis maupun nilainilai dan sikap-sikapnya. Kesenjangan yang demikian tidak hanya dengan sistim kliennya, tetapi kadang-kadang juga dengan atasannya di lembaga penyuluhan dimana agen pembaru itu bekerja. Hal yang demikian ini sering mengakibatkan terjadinya konflik peranan pada diri agen pembaru dan kesulitan-kesulitan berkomunikasi. Sebagai jembatan dua sistem sosial, agen pembaru diharapkan menjadi seseorang yang tetap melaksanakan tugas intansinya dan juga memperjuangkan kepentingan petani, ibaratnya sebelah kakinya ditaruh di lembaga pembaru sedang sebelah kaki lainnya diletakkan di sistem kliennya. Difusi SRI akan lebih berhasil jika agen pembaru mengenal dan dapat menggerakkan para pengurus subak sebagai tokoh masyarakat setempat. Waktu dan tenaga agen pembaru untuk menyebarluaskan SRI terbatas. Jika agen pembaru mengarahkan komunikasinya, memusatkan usahanya untuk 6 memengaruhi pengurus subak, maka agen pembaru dapat menghemat tenaga, biaya, dan sosial. Dengan menghubungi tokoh masyarakat berarti agen pembaru tidak perlu lagi menghubungi semua anggota subak satu persatu, karena setelah sampai ke pengurus subak SRI akan lebih cepat tersebar. Pembentukan persepsi anggota subak tentang SRI yang baik menjadi masalah tersendiri bagi agen pembaru. Agen pembaru cenderung memberikan jawaban terhadap stimuli berdasarkan kebiasaan, dan jawaban tersebut akan rusak jika ditata dalam situasi yang baru. Masalah demikian sering dihadapi agen pembaru yang melayani kliennya dengan latar belakang budaya yang beragam. Agen pembaru yang telatih dan berasal dari daerah perkotaan biasanya harus belajar untuk mengamati situasi pertanian, karena yang diajak bekerjsama dan mengamati sesuatu adalah orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Anggota subak mungkin memandang kondisi tertentu dengan cara berbeda. Sebelum anggota subak mengenal SRI, maka anggota subak tidak dapat membentuk sikap tertentu terhadap SRI. Kepribadian anggota subak, begitu pula norma-norma sistem sosialnya memengaruhi anggota subak mencari informasi, pesan apa saja yang belum diterima, dan bagaimana menafsir keterangan yang diperoleh itu untuk kelangsungan usahataninya. Dengan demikian persepsi penting dalam menentukan perilaku komunikasi anggota subak pada tahap penentuan sikap terhadap metode SRI. Ciri-ciri inovasi yang tampak seperti keuntungan relatif, kompatibilitas, dan kerumitan atau kesederhanaannya sangat penting artinya pada tahap anggota subak mempersepsikan inovasi SRI. Dalam mengembangkan sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap SRI, anggota subak menerapkan ide baru itu secara mental pada situasi dirinya sekarang atau masa mendatang sebelum menentukan apakah akan mencobanya atau tidak. Proses mental ini dapat dianggap sebagai percobaan pengganti (semacam penilaian, namun berbeda dengan percobaan inovasi secara fisik yang dipandang sebagai bagian dari tahap keputusan). Setiap inovasi termasuk SRI mengandung risiko subyektif tertentu pada anggota subak. Anggota subak belum tahu persis akibat atau hasil yang akan diperoleh dari SRI, karena itu anggota subak perlu memperkuat sikap terhadap SRI. 7 Tujuan akhir seorang agen pembaru adalah berkembangnya perilaku “memperbarui diri sendiri” pada anggota subak. Dengan kata lain, penyuluhan pertanian menghasilkan petani pembelajar, petani penemu ilmu dan teknologi, petani pengusaha agribisnis yang unggul, petani pemimpin di masyarakatnya, petani “guru” dari petani lain yang bersifat mandiri. Sifat mandiri meliputi kemandirian material, kemandirian intelektual, dan kemandirian pembinaan. Kemandirian material artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya alam yang mereka miliki sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain atau tergantung dari luar. Kemandirian intelektual artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk mengkritisi dan mengemukakan pendapat tanpa dibayang-bayangi rasa takut atau tekanan dari pihak lain. Kemandirian pembinaan artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk mengembangkan dirinya sendiri melalui proses belajar tanpa harus tergantung atau menunggu sampai adanya “pembina” atau “agen pembaru” dari luar sebagai “guru” mereka. Masalah Penelitian Proses resosialisasi sangat diperlukan untuk mengembangkan program belajar pada masyarakat tani. Proses resosialisasi ini penting karena proses sosialisasi cara bertani yang didapat dari nenek moyangnya tidak cukup dan tidak memadai untuk dijadikan bekal bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa depan. Dengan demikian, petani sangat memerlukan wadah untuk belajar kembali tentang teknik bertani yang lebih baik. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: (1) Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak; (2) Bagaimanakah pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian metode SRI di kalangan anggota subak; (3) Bagaimanakah hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak; dan 8 (4) Bagaimanakah model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak di Bali. Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan suatu model peningkatan kapasitas subak untuk mengadopsi SRI di Bali, sehingga petani memiliki tempat untuk belajar, saling tukar menukar informasi, dan pengalaman, serta memiliki ikatan yang kuat di antara sesama petani. Dengan demikian, petani memiliki kekuatan untuk memecahkan masalah bersama-sama dengan dukungan nilai-nilai tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala. Berdasarkan masalah penelitian, maka dirumuskan tujuan penelitian secara lebih spesifik sebagai berikut. (1) Menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. (2) Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI terhadap pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. (3) Menganalisis hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak (4) Merumuskan model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang sesuai dengan sistem sosial subak. Kegunaan Penelitian Perubahan iklim global menjadi dasar kajian dalam penelitian ini, karena salah satu akibat dari perubahan iklim global tersebut menyebabkan kelangkaan sumber daya alam terutama air irigasi. Padahal air irigasi adalah sumber kehidupan untuk kelangsungan hidup pertanian di negeri ini. Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang besar untuk menerima inovasi dan dikembangkan menjadi wahana belajar petani. Dengan peningkatan kapasitas subak menjadi wahana belajar petani maka diharapkan penelitian ini berguna dalam merumuskan konsep-konsep dasar pengembangan subak sebagai wahana belajar petani. Dengan dukungan konsep-konsep dasar yang strategis maka penelitian ini dapat memberikan 9 kontribusi yang berharga untuk memberikan solusi penyelesaian masalah yang terkait dengan isu-isu lemahnya sumberdaya manusia, penguatan kelembagaan tradisional, menurunnya fungsi lingkungan, ketahanan pangan, dan kesehatan. Hasil penelitian tentang adopsi SRI dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penyuluhan, sehingga proses adopsi SRI oleh anggota subak dapat dipercepat. Adapun implikasi penelitian adopsi SRI terhadap kegiatan penyuluhan adalah: (1) Penyuluh dapat memilih dan mengembangkan berbagai sumber informasi yang digunakan pada awal dan akhir proses adopsi metode SRI; (2) Media sangat berperan menarik minat untuk melakukan komunikasi pribadi mengenai SRI, penyuluhan akan efektif apabila ada tindak lanjut di lapangan. Contohnya: (a) Siaran pedesaan tentang SRI. Walaupun minat masyarakat tani dapat ditumbuhkan untuk menerapkan SRI, namun bila tidak ada tindak lanjut (diskusi, denplot yang didampingi penyuluh) kegiatan ini tidak ada gunanya, (b) Penempelan poster “SRI pola tanam masa kini” memang dapat menumbuhkan minat dan kesadaran, tapi tidak ada gunanya jika tidak diikuti tindak lanjut, dan (3) Agen penyuluh dapat membantu anggota subak untuk meningkatkan kapasitas subak sebagai wahana belajar dan lembaga ekonomi sehingga menjadi lebih kuat menghadapi penjual, pemberi kredit, dan/atau tuan tanah. Apabila ini dilakukan akan mengubah suatu sistem yang lebih berpihak kepada yang lemah. Penelitian ini juga berguna kepada anggota subak baik yang telah mengadopsi SRI maupun yang belum mengadopsi SRI. Kepada anggota subak yang telah mengadopsi SRI, hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan dan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki paket-paket teknologi SRI yang belum diterapkan ataupun penerapannya di lapangan belum sempurna, sehingga dapat meningkatkan kualitas penerapan SRI di masa depan. Kepada anggota subak yang belum menerapkan SRI, hasil penelitian ini sebagai stimuli/rangsangan menumbuhkan minat untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya, sehingga penyebaran SRI di kalangan anggota subak semakin cepat. Kepada pengurus subak, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk menjadikan subak sebagai tempat belajar petani anggotanya untuk mempertimbangkan, menilai, mencoba, dan menerapkan suatu inovasi baru yang masuk ke dalam lembaga tradisional yang dipimpinnya, dan hasil penelitian ini 10 dapat dijadikan inspirasi bahwa subak yang dipimpinnya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai lembaga tradisional yang tidak hanya mengelola air irigasi tetapi juga sebagai tempat belajar, tempat penguatan ekonomi pedesaan terutama sebagai penyedia sarana produksi yang diperlukan anggotanya. Penelitian ini juga berguna dalam pengembangan ilmu penyuluhan pembangunan di masa depan. Diketahuinya faktor-faktor yang memengaruhi adopsi inovasi pertanian dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut untuk menyusun informasi, program, dan aksi penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Definisi Istilah Subak: Subak adalah lembaga irigasi tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air untuk memproduksi pangan, khususnya beras yang bersifat socio-agrarisreligius. Karakteristik anggota subak: Karakteristik anggota dan pengurus subak merupakan kondisi yang menggambarkan ciri atau profil seseorang atau sekelompok orang yang membedakannya dengan individu atau kelompok lain. Kompetensi Penyuluh: Kompetensi penyuluh adalah kemampuan seseorang untuk mengubah perilaku masyarakat menuju kondisi yang lebih bermutu, sekaligus mencapai tujuan program intervensi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan memotivasi, dan kemampuan melakukan transfer belajar. Transfer belajar berarti kemampuan seseorang untuk menggunakan hasil-hasil belajar yang telah didapatnya di dalam situasi yang baru yang sama dengan situasi sebelumnya atau yang lebih kompleks. Kompetensi Pengurus Subak: Kompetensi pengurus subak adalah kemampuan pengurus subak dalam membantu menyebarluaskan inovasi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan pengurus dalam menyebarluaskan SRI dan kemampuan pengurus menguasai inovasi SRI. 11 Persepsi anggota subak tentang SRI: Persepsi anggota subak adalah pengertian anggota subak terhadap paket-paket teknologi SRI. Peubah ini diukur berdasarkan atas tingkat penerimaan ataupun penolakan secara mental terhadap prinsip-prinsip SRI dengan bekal pengetahuan dan pengalaman usahataninya. Sikap petani angota subak terhadap SRI: Sikap anggota subak adalah tingkat persetujuan anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Peubah ini diukur dengan skala sikap. Kemandirian anggota subak: Kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok. Pengadopsian metode SRI: Pengadopsian metode SRI adalah proses mental yang terjadi pada individu anggota subak untuk menerima atau menolak inovasi SRI. Sistem of Rice Intensification (SRI): SRI adalah cara bercocok tanam padi dengan pengelolaan tanah, tanaman, dan air secara intensif dan efisien melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan local, serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan dan berkelanjutan. TINJAUAN PUSTAKA System of Rice Intensification (SRI) SRI merupakan model pertanian yang menekankan pada pengolahan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan mulai dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Fr. Henri de Laulanie, S.J. yang datang dari Prancis sejak tahun 1961. Henri menghabiskan waktu selama 34 tahun bekerja bersama petani Madagaskar, mengamati dan bereksperimen, dalam rangka meningkatkan sistem pertanian, terutama produksi padi yang menjadi makanan pokok di Madagaskar. Henri merekomendasikan perubahan yang sederhana dan murah pada praktik penanaman, seperti tanam bibit muda pada jarak yang lebar, penanaman bibit dilakukan pada saat 10-15 hari setelah benih disebar dengan jarak 25 x 25 cm (Stoop dan Kassam 2006:1), selain itu menghemat air, namun produktivitas tetap tinggi dan menguntungkan petani. Menurut Uphoff (2003:5), SRI dapat menghemat penggunaan air (25-50%), penggunaan benih (80-90%), penurunan biaya produksi (10-20%), dan peningkatan produktivitas padi (50-100%) bahkan lebih. Metode ini dikenal juga dengan nama Metode Madagaskar, SRI didasari pemahaman bahwa padi mempunyai potensi untuk menghasilkan lebih banyak batang dan biji daripada yang diamati sekarang. Uphoff dan Fernandes (2003:6) menyebutkan bahwa SRI didasari pengetahuan bahwa potensi pertumbuhan tanaman padi dapat diwujudkan dengan pemindahan lebih awal dan menciptakan kondisi untuk pertumbuhan terbaik (jarak jauh, kelembaban, tanah yang aktif dan sehat dari segi biologis, serta keadaan tanah aerobic selama masa pertumbuhan). SRI mulai dikembangkan di Madagaskar sebagai respon atas menurunnya kesuburan lahan, langka dan tingginya harga pupuk kimia, serta suplai air yang terus berkurang. Pada tahun 1990 dibentuk Association Tefy Sains (ATS), sebuah lembaga swadaya masyarakat Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institut for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerjasama dengan ATS untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafama National Park di Madagaskar Timur yang didukung oleh US Agency for International Development. 13 14 Hasil metode SRI di Madagaskar sangat memuaskan, pada beberapa tanah tak subur produksi normalnya dua ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari delapan ton/ha, beberapa petani memperoleh 10-15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Panen SRI di Srilanka dapat menghasilkan panen sampai 17 ton/ha dan di Kuba percobaan metode SRI pada satu hektar tanah mendapatkan hasil 9.5 ton/ha dibanding 6,6 ton/ha yang biasanya diperoleh, musim berikutnya, 11,2 ton/ha (Uphoff dan Fernandes, 2003:10). Menurut Mutakin (2009:15), metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Berdasarkan sistem pertanian ini membuat perkembangan meluas ke berbagai negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara dan telah berkembang sampai ke-39 negara (Suryanata, 2007:3). SRI menyebar ke negara lain melalui bantuan CIIFAD khususnya dari Prof. Norman Uphoff, dan Nanjing Agricultural University China dan Agency for Agricultural Reseach and Development (Bilad, 2009:6). Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara di kawasan Asia, termasuk Asia Selatan seperti India, Bangladesh dan Srilanka, maupun Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Kegiatan validasi pengaruh SRI pada tahun 2006 dilaksanakan di 20 negara meliputi: Bangladesh, Benin, Cambodja, Cuba, Gambia, Guinea, India, Laos, Mali, Mozambique, Myanmar, Nepal, Pakistan, Peru, Filipina, Senegal, Sierra Leone, Srilanka, Thailand, dan Vietnam. Uji coba tersebut menghasilkan perkembangan yang positif (Anugrah et al. 2008:21). Menurut Suryanata (2007:5), usahatani padi sawah metode SRI merupakan usahatani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan dan berkelanjutan. Budidaya padi metode SRI disebut pertanian ramah lingkungan, karena sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan lingkungan dan kesehatan pengguna produknya (Mutakin, 2009:17). SRI juga dapat dijadikan sebagai pertanian organik, karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan menggunakan bahan organik (Reijntjes et.al. 2008:8). serangan OPT 15 Berdasarkan pengertian tersebut, usahatani padi sawah metode SRI merupakan teknologi usahatani yang menekankan pada efisiensi input luar, mengurangi penggunaan bahan kimia, memperhatikan keseimbangan lingkungan dan penyediaan hasil produksi secara kontinyu dengan kuantitas dan kualitas mencukupi yang sesuai dengan konsep pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah, sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam (Reijntes et al. 2008:14). Prinsip utama usahatani padi sawah metode SRI sesuai dengan konsep yang ada di pertanian organik dikarenakan sistem produksi pertanaman yang berdasarkan daur ulang hara secara hayati (Sutanto, 2000:5). Menurut Bilad (2009:7), prinsip utama usahatani padi sawah metode SRI adalah: penanaman bibit muda (8-12 hari setelah berkecambah), jarak penanaman yang lebar (minimal 25 x 25 cm, satu bibit per-titik), menghindari “trauma” pada bibit saat penanaman, penanaman padi secara dangkal, manajemen air (tanah dijaga terairi dengan baik, tidak terus menerus direndam dan penuh, hanya lembab), meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis, dan menjaga keseimbangan biologis tanah. SRI mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1997 dan telah diujicobakan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan. Hasil penerapan gagasan SRI di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa budidaya pada model SRI telah meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional. Menurut Uphoff (2005:19), keberhasilan penerapan SRI di Indonesia apabila dilihat dari budidayanya, dengan model SRI tanaman padi lebih cepat panen sekitar tujuh hari dari model konvensional. Diperkirakan + 60 persen lahan sawah di Pulau Jawa telah mengalami degradasi kesuburan tanah (fisika, kimia, dan biologi) yang diindikasikan oleh rendahnya kandungan bahan organik (dibawah 1%). Dampak dari rendahnya kandungan bahan organik (BO) ini antara lain tanah menjadi keras dan liat sehingga sulit diolah, respon terhadap pemupukan rendah, tidak responif terhadap 16 unsur hara tertentu, tanah menjadi masam, penggunaan air irigasi menjadi tidak efisien serta produktivitas tanaman cenderung levelling-off dan semakin susah untuk ditingkatkan. Hal ini disebabkan oleh kesuburan tanah yang semakin menurun karena cara-cara pengelolaan lahan sawah yang kurang tepat sehingga sawah semakin tandus sementara pemberian pupuk buatan yang terus-menerus, bahan organik yang berupa jerami padi tidak dikembalikan ke lahan, tetapi dibuang/dibakar sehingga mengakibatkan lahan sawah menjadi miskin beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta memburuknya sifat fisik lahan (Deptan 2007:6). Pemakaian pestisida yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol mengakibatkan: (1) Keseimbangan alam terganggu, (2) Musuh alami hama menjadi punah sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh berkembang dengan pesat, dan (3) Adanya residu pestisida pada hasil panen (Deptan 2007:6). Dari aspek pengelolaan air, usahatani sawah pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus-menerus; di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani hemat air. Usahatani padi sawah metode SRI merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal (Deptan 2007:7). SRI dikembangkan pertama kali di Madagaskar sejak tahun 1980-an. SRI menggunakan lebih sedikit input produksi. SRI menggunakan lebih sedikit benih, air irigasi, pupuk kimia, dan pestisida tetapi lebih banyak menggunakan input dari bahan-bahan organik sehingga tanaman padi tumbuh dengan volume akar yang banyak dan dalam, tangkai yang kuat dan butir padi yang dihasilkan lebih bernas (Ikisan 2000: 1) Terdapat enam prinsip dasar SRI. Pertama, menggunakan bibit semaian yang lebih muda. Bibit siap ditanam umur 8-12 hari sejak benih disemaikan. Dengan menanam bibit lebih muda maka potensi tumbuhnya tangkai dan akar tanaman akan semakin banyak dan kokoh (Gambar 1). 17 Gambar 1. Bibit padi siap ditanam pada SRI. Kedua, memerlukan kecermatan dalam memindahkan bibit. Kecermatan yang dimaksud adalah hati hati dalam memindahkan semaian untuk mengurangi ”trauma” tanaman pada lingkungan yang baru. Dengan demikian potensi tumbuhnya akar dan tangkai akan semakin baik (Gambar 2). Gambar 2. Pemindahan bibit pada SRI. Ketiga, manajemen air yang baik. Dengan pemberian air secara reguler dapat menyimpan (memelihara lengas tanah) dan kondisi tanah anaerob dan aerob dapat bertukar setiap saat. Hal ini akan potensi untuk pertumbuhan akar sehingga tanaman mampu memperoleh banyak bahan nutrisi yang bervariasi dari lahan (Gambar 3). 18 Gambar 3. Pengelolaan air pada SRI. Keempat, menggunakan pupuk organik. Pupuk kompos digunakan sebagai ganti atau sebagai tambahan terhadap pupuk kimia. Diperlukan 10 ton/ha kompos untuk tanaman padi dengan SRI. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman oleh karena kesehatan dan struktur lahan yang lebih baik dan lebih banyak suplai hara yang seimbang. Kelima, menggunakan jarak tanam yang lebih lebar. Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 25 cm bahkan bisa lebih. Tanaman padi ditanam dengan pola bujur sangkar bukan pola baris. Sehingga tanaman padi tidak bersaing untuk mendapatkan makanan dengan sesama sehingga potensi pertumbuhan akan lebih baik (Gambar 4). Gambar 4. Jarak tanam pada SRI. 19 Keenam, memerlukan pengendalian gulma. Penyiangan pertama kali dilakukan 10 hari setelah benih ditanam. Penyiangan yang baik bertujuan untuk menghindarkan persaingan tanaman padi dengan gulma dalam mendapatkan makanan, memberikan peluang masuknya oksigen ke dalam tanah, mikroba tanah dapat bekerja dengan baik untuk menghasilkan N. Dengan demikian akar dengan mudah mendapatkan unsur N yang diperlukan tanaman (Gambar 5). Gambar 5. Diperlukan pengendalian gulma lebih cermat pada SRI. Hasil pengujian di India (Ikisan 2000: 3) dengan teknologi SRI menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi sebesar 2,5 ton/ha dibandingkan dengan teknologi konvensional yang biasa dilakukan petani India. Biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga lebih murah. Benih yang diperlukan hanya 2 kg/ha, berbeda dengan teknologi konvesional yang mencapai 15-20 kg/ha. Pada SRI, umur delapan hingga 12 hari semaian siap ditanam ketika baru tumbuh dua tangkai daun. Tujuannya adalah saat benih tumbuh lebih memungkinkan untuk menghasilkan rumpun yang lebih banyak dan pertumbuhan akar yang lebih banyak. Ketika 30 cabang setiap tanaman tumbuh, bukan tidak mungkin anakan ini akan bertambah hingga mencapai 50 cabang baru. Pengairan harus dikelola dengan baik dalam metode SRI. Irigasi berkala dilakukan untuk menjaga tanah tetap basah. Aktivitas “setting dan keringkan” harus dilakukan untuk memberikan kondisi aerobik dan anaerobik bagi biota tanah untuk menyalurkan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini bertujuan 20 untuk menghindari kemerosotan akar, di mana pada umumnya terjadi saat penggenangan berlanjut. Kondisi air yang tidak menggenang, yang dikombinasikan dengan penyiangan mekanik, akan menyebabkan aerasi di dalam tanah akan lancar sehingga pertumbuhan akar akan semakin kokoh. Akar yang kokoh dan banyak memudahkan untuk menyalurkan unsur hara yang diperlukan tanaman. SRI banyak memberikan manfaat kepada petani padi. Pada SRI Jerami lebih tinggi dan butir padi lebih bernas, menghemat waktu hingga 10 hari, sedikit bahkan tidak sama sekali memakai bahan kimia, lebih hemat air dibandingkan dengan metode konvensional, sedikit butir padi yang kosong, butir lebih berat tanpa perubahan ukuran, meningkatkan ketahanan tanaman dari angin ribut, lahan semakin sehat karena terjadi aktifitas biologis dalam tanah, adalah sebagian kecil dari manfaat selain peningkatan hasil yang lebih baik. Perbandingan SRI dengan metoda konvensional dapat lebih meyakinkan petani padi yang ingin mencoba beralih dari sistem konvensional ke SRI. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan SRI dan metode konvensional No Metode Konvensional Metode SRI 1. 50 kg benih per ha 15 kg per ha 2. Umur 25 – 30 hari baru ditanam Umur 7-12 hari sudah ditanam 3. Jumlah anakan maksimal 26 batang Jumlah anakan maksimal 56 batang 4. 3 bahkan lebih bibit yang ditaman Hanya satu bibit padi yang ditanam 5. Menggunakan pupuk NPK Dapat murni organik, anorganik maupun gabungan organik dan anorganik 6 Penggenangan berlanjut Tanah macak-macak (kondisi lembab) Sumber: Ikisan, 2000 Subak Dinyatakan oleh Geertz (Suyatna, 1982:51) bahwa orang yang memiliki tanah persawahan dalam satu aliran sungai, terikat dalam satu ikatan kelompok yang ada hubungannya dengan air untuk persawahan. Ketua kelompoknya disebut Kelihan Subak. Warga banjar dalam satu banjar kemungkinan terikat oleh beberapa subak. Bahkan satu orang kemungkinan terikat oleh beberapa subak 21 karena subak sangat tegas berpegangan pada daerah persawahan yang dialiri oleh satu aliran sungai, sehingga subaknyapun berbeda jika orang mempunyai sawah dengan lokasi aliran sungai berbeda. Ada beberapa pendapat tentang asal kata subak. Semua pendapat mengandung arti baik dan adil. Karena itu kiranya dapat disimpulkan bahwa pembentukan subak didasarkan atas maksud hati nurani yang baik guna kesejahteraan bersama bagi anggotanya. Grade (Suyatna, 1982:51) menunjukkan dua kewajiban utama subak yaitu pekaryan dan penyubaktian. Pekaryan merupakan kewajiban di luar keagamaan, antara lain membuat, memelihara dan memperbaiki bendungan, terowongan, saluran air, dan juga jalan subak. Penyubaktian merupakan kewajiban yang ada hubungannya dengan keagamaan, antara lain membuat sesajen dan sembahyang di pura subak. Selanjutnya Grader (Suyatna, 1982:52) menunjukkan awig-awig sebagai peraturan subak. Di dalam awig-awig tercantum hukuman atas pelanggaran awigawig tersebut. Pelanggaran disampaikan kepada kelian subak, yang selanjutnya kelian subak menetapkan hukuman lewat pertemuan berikutnya. Umumnya disiplin pada subak sangat tinggi sehingga sangat jarang pemerintah ikut campur menangani permasalahan yang timbul. Umumnya pelanggaran yang timbul tentang keterlambatan datang pada suatu pekerjaan subak, sama sekali tidak datang, datang tanpa membawa alat yang dibutuhkan, serta pencurian air. Setiap pelanggaran ada hukumannya yang umumnya berupa denda. Arya (Suyatna, 1982:52) menyatakan bahwa peraturan tentang waktu menanam juga dapat dijumpai di dalam subak. Peraturannya disebut kertamase, yaitu peraturan subak tentang penertiban penanaman di sawah menurut masa atau musim yang ditetapkan oleh subak tersebut. Menurut Grade (Suyatna, 1982:52), sawah yang tidak ditanami tanpa alasan, dapat dikenakan denda. Dendanya menjadi dua kali lipat dan diberi peringatan, serta sawahnya tidak mendapatkan pembagian air jika terlambat membayar denda tersebut. Ada beberapa kelompok tani yang bertujuan mendapatkan upah di samping bertujuan saling membantu yaitu sekeha memule dan sekeha manyi. Mereka saling membantu antar anggota, dan mendapat upah jika pekerjaan datang dari luar anggota. Upahnya berupa uang dan makan atau 22 barang. Orang yang tidak memiliki sawah juga dapat menjadi anggota sekeha memule dan sekeha manyi. Karakteristik Anggota Subak Petani memiliki karakteristik yang beragam. Karakteristik tersebut dapat berupa karakter demografis, karakter sosial serta karakteristik kondisi ekonomi petani itu sendiri. Karakter-karakter tersebutlah yang membedakan tipe perilaku petani pada situasi tertentu. Berikut adalah sejumlah karakteristik yang diamati dalam penelitian ini. Tingkat Subsistensi Menurut Redfield (1983:106), tidak semua petani merasakan hal yang sama terhadap pekerjaannya, tergantung pada kepemilikan tanah, kondisi ekonomi, kondisi ekologi. Petani juga mengalami tekanan-tekanan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga secara kritis perlu mencermati ciri-ciri khas petani dan nilai-nilai yang dianutnya spesifik menurut waktu dan lokasi (Wolf, 1983:79). Scott (1983:74) juga menyebutkan bahwa pola pengambilan keputusan petani tergantung pada kondisi subsistensi petani, yang diasumsikan petani berada dalam kondisi yang rawan terhadap krisis subsistensi. Sedikit saja kegagalan akan sangat membahayakan kelangsungan hidup petani, petani akan memilih menolak resiko dengan prinsip dahulukan selamat, dan melakukan strategi pembentukan pengaturan bersama dalam bentuk desa serta kecenderungan untuk mempertahankan ikatan patron-klien. Wahono (1994;23) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar merupakan hal penting yang diperjuangkan oleh petani miskin dibandingkan kebutuhan sosialnya. Petani miskin cenderung tidak mengalokasikan anggarannya terlalu banyak pada kebutuhan sosial. Upaya-upaya menjalin hubungan dengan petani lain, elit desa, atau pedagang, dan kegiatan sosial lainnya lebih banyak didasarkan pada alasan ekonomi yaitu selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya. 23 Umur Menurut Padmowihardjo (1999:36-37), umur bukan merupakan faktor psikologis, tetapi apa yang diakibatkan oleh umur itu adalah faktor psikologis dalam belajar. Semakin tinggi umur semakin menurun kerja otot, sehingga terkait dengan fungsi kerja indera yang semuanya memengaruhi daya belajar. Pada masa remaja, yaitu menjelang kedewasaan, perkembangan jauh lebih maju, walaupun tidak banyak terjadi perubahan intelektual. Menurut Salkind (1985;31-32), menentukan umur kronologis sebagai ukuran perkembangan lebih mudah dilakukan. Walaupun dalam perkembangannya masih terdapat perdebatan apakah umur memang berpengaruh pada perkembangan dan pencapaian kemampuan tertentu sebagai wujud perkembangan di samping umur akan mencirikan suatu perkembangan tertentu. Menurut Schaie (Salkind ,1985:32), dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa perbedaan umur menunjukkan perbedaan-perbedaan kematangan, perbedaanperbedaan ini juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan interaksinya dengan individu sebagai diri yang bersangkutan. Terkait dengan perkembangan umur, kebutuhan-kebutuhan terhadap keterampilan tertentu berubah. Perbedaan umur menunjukkan perbedaan keterampilan yang dibutuhkan. Soetrisno dkk. (1999:12) menyatakan bahwa umur rata-rata petani Indonesia yang cenderung tua dan hal itu sangat berpengaruh pada produktivitasnya, lagi pula petani yang berusia tua biasanya cenderung sangat konservatif dalam menerima inovasi teknologi. Pendidikan Menurut Ranaweera (1989:8), negara berbeda memberikan ragam pendidikan non formal yang berbeda. Terdapat beberapa negara misal Amerika Latin dan Filipina yang melaksanakan pendidikan non formal dalam kerangka pluralisme budaya. Terkait dengan konteks interaksi dengan lingkungan ini maka Klies (Sudjana, 2004:25) menyatakan bahwa pendidikan adalah sejumlah pengalaman yang dengan pengalaman itu, seseorang atau sekelompok orang dapat memahami sesuatu yang sebelumnya mereka tidak pahami. 24 Cara mendidik oleh keluarga atau masyarakat secara alamiah disebut sebagai pendidikan informal. Pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa secara bersistem melalui sekolah disebut sebagai pendidikan formal. Proses dan hasil dari kedua jenis pendidikan ini saling mendukung dan memperkuat dalam proses pencapaian kecakapan hidup untuk mengarungi kehidupan (DEPDIKNAS, 2004:7). Menurut Nabung (2005:13), sistem pendidikan yang memadai apabila pertama, mampu melahirkan profesional yang cakap secara intelektual, emosional, dan sosial, tidak gagap dengan spesialisasi pilihannya. Kedua, mampu menyediakan peluang diajarkannya bidang-bidang pengetahuan umum. Ketiga, mampu membuka peluang bagi kelahiran kelompok diskusi lintas masalah. Pendekatan pendidikan yang tepat akan memengaruhi kelanggengan individu dalam menyelesaikan proses belajarnya. Pendekatan formal pendidikan memberikan kesulitan bagi peserta yang ingin belajar tetapi tidak memiliki waktu ke dalam kelas. Kelompok yang tinggal di pedesaan, memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan formal yang memadai. Pendidikan nonformal menjadi penting untuk menunjang kemampuan individu yang tidak dapat mengakses ke pendidikan formal (Ranaweera, 1989:8). Segala situasi hakekatnya dapat menjadi proses pembelajaran yang kategori pendidikan disebut sebagai pendidikan informal. Pendidikan informal adalah sebutan untuk proses pendidikan seumur hidup bagi setiap orang dalam mencari dan menghimpunkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengertian diperoleh dari pengalaman sehari-hari dan pengaruh lingkungan. Pendidikan informal tidak terorganisasi, tidak tersistem, dan tersebar sepanjang hidupnya (Combs dan Ahmed, 1985:9-10). Dalam pendidikan informal ini termasuk di dalamnya adalah proses-proses yang terjadi dalam keluarga, kelompok-kelompok kepemudaan, maupun sistem sosial lainnya (Joesoef, 2004:73-78). Luas Lahan Usahatani Menurut Kasryno dkk. (1986:14), dalam banyak hal hubungan yang terjalin antara petani dengan sumberdaya pertanian di desa sangatlah penting. Sumberdaya pertanian paling penting adalah lahan pertanian. Mempelajari pola pemilikan lahan di desa, akan segera dapat diketahui potensi usaha pertanian di 25 desa yang bisa dijadikan dasar dalam pengembangan dan perbaikan taraf hidup petani. Menurut Tjakrawiralaksana dan Soeriaatmadja (1983:7), lahan merupakan pencerminan dari faktor-faktor alam yang berada di atas dan di dalam permukaan bumi. Berfungsi sebagai (1) tempat diselenggarakan kegiatan produksi pertanian seperti bercocok tanam dan memelihara ternak atau ikan, dan (2) tempat pemukiman keluarga tani yang melakukan aktivitas dan berinteraksi sehari-hari. Hernanto (1993:46) menyatakan bahwa luas lahan usahatani dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu (1) sempit dengan luas lahan < 0,5 ha, (2) sedang dengan luas lahan antara 0,5 sampai 2 ha, dan (3) luas dengan luas lahan > 2 ha. Tohir (1983:115) mengemukakan bahwa luas lahan yang sangat sempit dengan pengelolaan cara tradisional dapat menimbulkan (1) kemiskinan, (2) kurang mampu memproduksi bahan makanan pokok khususnya beras, (3) ketimpangan dalam penggunaan teknologi, (4) bertambahnya jumlah pengangguran, dan (5) ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam. Menurut Lionberger dan Gwin (1984:15), keterbatasan lahan yang dimiliki petani akan memberikan pengaruh pada kekurang efisienan pengelolaan pertanian. Mengingat selain lahan sebagai sarana produksi, lahan juga merupakan barang yang harus dikeluarkan pajaknya. Perlu pemikiran ke arah kebijaksanaan lahan pertanian yang proporsional. Modal dan Akses Pada Kredit Usahatani Petani Indonesia pada umumnya adalah petani gurem dengan modal uang dan barang terbatas serta kepemilikan lahan yang sempit. Dengan modal terbatas dan tingkat pendidikan yang masih rendah, berhadapan dengan lingkungan tropika yang penuh risiko seperti banyaknya hama, tidak menentunya curah hujan dan sebagainya, membuat para petani harus lebih berhati-hati dalam menerima inovasi atau upaya-upaya pembaharuan. Karena apabila mereka gagal memanfaatkan inovasi berarti seluruh keluarga mereka akan menderita (Mosher, 1987:179). Kredit di pedesaan terdapat dua segmen terpisah, yaitu pasar kredit formal dan kredit informal. Lembaga keuangan formal jarang dimanfaatkan petani untuk membiayai usahatani padi, mengingat petani umumnya tidak memiliki jaminan yang memadai (Rachman dkk. 2011:1). 26 Badan-badan efisien, yang memberikan kredit produksi kepada petani dapat merupakan faktor pelancar penting bagi pembangunan pertanian. Untuk memproduksi lebih banyak, petani harus lebih banyak mengeluarkan uang untuk bibit unggul, pestisida, pupuk, dan alat-alat. Pengeluaran-pengeluaran seperti itu harus dibiayai dari tabungan atau dengan memimjam selama jangka waktu antara saat pembelian sarana produksi itu dan saat penjualan hasil panen. (Mosher, 1978:179). Pengalaman Usahatani Menurut Padmowihardjo (1999:19), pengalaman adalah suatu kepemilihan pengetahuan yang dialami seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Pengaturan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang sebagai hasil belajar selama hidupnya dapat digambarkan dalam otak manusia. Seseorang akan berusaha menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki dalam proses belajar. Pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan akan berdampak pada hal positif bagi perilaku yang sama yang akan diterapkan pada situasi berikutnya. Dalam mengelola usahataninya, petani masih banyak menggunakan sendiri atau pengalaman orang lain dan perasaan atau feeling (Tohir, 1983:180). Menurut Lubis dan Endriatmo (1991:67), beberapa cara bertani dari para pemuda berasal dari interaksi dengan orang tua. Selanjutnya pengalaman yang kurang menyenangkan dalam bekerja pada sektor ini berpengaruh terhadap pilihan untuk melanjutkan bertani sebagai suatu pilihan usaha. Kompetensi Penyuluh Strategi penyuluhan diarahkan untuk: (1) berkembangnya kelembagaan petani, (2) berkembangnya kemandirian petani, (3) berkembangnya kemampuan penyuluh sesuai dengan perubahan orientasi penyuluhan pertanian, (4) meningkatnya kerjasama antara peneliti, penyuluh, dan petani, (5) mengembangkan pendekatan partisipatory dan cost-sharing, (6) membaiknya mekanisme tata hubungan kelembagaan terkait, dan (7) meningkatnya komunikasi informasi yang dibutuhkan petani (teknologi produksi, pasar, harga, kualitas, 27 kuantitas, standar mutu, ilmu pengetahuan, kredit perbankan, dan kesempatan usaha) (Abbas, 1995;18). Untuk mendukung strategi penyuluhan, maka penyuluh seharusnya tetap berpegang pada falsafah dasar penyuluhan pertanian (Samsudin, 1987:15), yaitu (1) penyuluhan merupakan proses pendidikan, (2) penyuluhan merupakan proses demokrasi, dan (3) penyuluhan merupakan proses kontinyu. Sebagai proses pendidikan, penyuluh harus dapat membawa perubahan perilaku sasaran baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sebagai proses demokrasi, penyuluh harus mampu mengembangkan suasana bebas untuk mengembangkan kemampuan masyarakat, mengajak sasaran penyuluhan berpikir menyelesaikan masalahnya, merencanakan dan bertindak bersama-sama di antara mereka untuk mereka. Sebagai proses yang kontinyu, penyuluhan harus dimulai atas dasar kebutuhan yang senantiasa dirasakan oleh petani untuk mencapai tujuan yang mereka kehendaki. Penyuluhan berkewajiban menyadarkan petani tentang adanya kebutuhan yang nyata ada (real need) menjadi kebutuhan yang dirasakan (felt need). Kompetensi penyuluh menunjukkan profesionalisasi dengan mengacu pada penerapan manajemen mutu terpadu, yakni pola manajemen penyuluhan yang memuat prosedur agar setiap orang dalam organisasi penyuluhan terus menerus memperbaiki jalan menuju sukses, dan dengan penuh semangat berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan kerja (Slamet dan Soemardjo, 2003:5). Penyuluh dikatakan bermutu baik jika dapat memenuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pihak yang disuluh (sasaran). Agar penyuluhan dapat bermutu baik, maka seluruh sumber daya harus dipergunakan dengan baik, dan proses penyuluhan harus tetap berpegang pada falsafah dan prinsip penyuluhan. Kompetensi Pengurus Subak Orang-orang tertentu di dalam suatu masyarakat menjadi tempat tempat bertanya dan tempat meminta nasehat anggota masyarakat lainnya mengenai urusan-urusan tertentu. Mereka ini seringkali memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain untuk bertindak dalam cara-cara tertentu. Mungkin mereka itu menduduki jabatan formal, tetapi pengaruh itu berlaku secara informal; pengaruh itu tumbuh bukan karena ditunjang oleh kekuatan atau birokrasi formal. 28 Jadi kepemimpinan mereka itu bukan diperoleh karena jabatan resminya, melainkan karena kemampuan dan hubungan antar pribadi mereka dengan anggota masyarakat (Roger dan Shoemaker, 1987:110-111). Orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain seperti itu disebut tokoh masyarakat, pemuka pendapat, pemimpin informal atau sebutan lainnya yang senada. Sedangkan kepemimpinan pendapat (opinion leader) adalah tingkat kemampuan seseorang untuk memengaruhi sikap dan perilaku orang lain secara informal relatif sering. Kepemimpinan pendapat dimasyarakat modern biasanya bersifat monomorfik yakni hanya berkenaan dengan salah satu urusan, misalnya hanya dalam bidang pertanian saja atau bidang kesehatan saja. Sedangkan di masyarakat tradisional kepemimpinan pendapat itu kebanyakan bersifat polimorfik yakni berkenaan urusan atau bersifat umum, mengenai semua urusan (Roger dan Shoemaker, 1987:111). Para tokoh masyarakat ini memainkan peranan penting dalam proses penyebaran inovasi. Tetapi kita perlu ingat bahwa ada tokoh masyarakat yang “hangat” dan ada yang “dingin” terhadap inovasi. Mereka dapat mempercepat proses diffusi, tetapi bisapulamereka itu menghalangi dan menghancurkannya. Karena itu agen pembaru harus menaruh perhatian khusus kepada tokoh masyarakat pada sistem sosial yang menjadi kliennya. Kalau ia dapat memperoleh bantuannya maka dapat diharapkan tugasnya akan berjalan lancar. Tetapi jika agen pembaharu tidak berhati-hati dan berbenturan dengan tokoh masyarakat maka ia harus bersiap-siap menerima kegagalan atau setidak-tidaknya kesulitan dalam melaksanakan tugas. Mengenali tokoh masyarakat setempat adalah penting (Roger dan Shoemaker, 1987:111). Dalam penyebaran ide baru ke dalam suatu sistem sosial, tokoh masyarakat memegang peranan penting. Tetapi tidak mudah dikenal siapa pemuka masyarakat dalam suatu sistem, terlebih-lebih yang bersifat monomorfik dan dimasyarakat yang modern. Jika tidak hati-hati, mungkin saja kita salah menunjuk seseorang sebagai tokoh, misalnya inovator. Inovator memang orang yang maju di dalam sistem lainnya, tapi belum tentu ia tokoh masyarakat. Ada beberapa teknik untuk mengetahui atau mengenal dan menentukan siapayang 29 menjadi pemuka pendapat di suatu masyarakat, yaitu: (1) sosiometri, (2) informant’s rating dan (3) self designating (Roger dan Shoemaker, 1987:112). Tokoh masyarakat memiliki hubungan sosial lebih luas daripada para pengikutnya. Mereka lebih sering mengakses media masa dan lebih sering mengadakan perjalanan. Tokoh masyarakat agaknya perlu memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu melebihi orang kebanyakan, terutama pengikutnya. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian itu adalah dengan jalan membuka pintu bagi masuknya ide-ide baru, dan pintu masuk itu adalah hubungan dengan dunia luar (Roger dan Shoemaker, 1987:113). Tokoh masyarakat tidak menyimpan pengetahuan dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan kepada orang lain; Mereka menjadi tumpuan bertanya dan meminta nasehat. Untuk dapat melaksanakan fungsinya itu ia harus dekat warga masyarakat, ia harus diterima oleh pengikutnya. Maka dari itu para pemimpin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dalam pertemuan-pertemuan, diskusi-diskusi dan komunikasi tatap muka lainnya. Dalam forum-forum seperti itulah gagasan-gagasan baru itu dikomunikasikan (Roger dan Shoemaker, 1987:114). Dapat diharapkan bahwa para pengikut mencari pemimpin yang agak tinggi status sosialnya daripada dirinya sendiri, dan memang rata-rata tokoh masyarakat itu lebih tinggi status sosialnya. Sehubungan inovasi, dengan tersebarnya inovasi, suatu penemuan bisa saja timbul dari lapisan masyarakat paling bawah, tetapi eksistensinya tergantung pada campur tangan lapisan sosial yang terpandang (Roger dan Shoemaker, 1987:114). Pemuka pendapat dikenal oleh teman-temannya sebagai ahli yang berkompeten dalam hal inovasi, mungkin karena mereka telah menerima ide-ide baru sebelum orang lain. Mereka lebih inovatif dibanding dengan orang kebanyakan. Akan tetapi penemuan-penemuan riset tidak menunjukkan bahwa pemuka pendapat itu pasti inovator. Ada kalanya mereka itu merupakan orangorang pertama kali mengadopsi inovasi, tetapi seringkali termasuk dalam kelompok ‘”pelopor” dari kategori adopter. 30 Kemampuan (ability) merupakan suatu tenaga (daya kekuatan) yang dimiliki seseorang untuk melakukan perbuatan atau tindakan. Robbins (2003: 46) menyatakan bahwa kemampuan merupakan kecakapan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang yang dibawa sejak lahir atau hasil pelatihan atau praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan. Lebih lanjut Robbins (2003:46), menyatakan bahwa kemampuan merupakan perpaduan antara pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Menurut Lucia dan Lepsinger (1999:6-7), model kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, karakteristik yang dibutuhkan secara efektif untuk berperan. Pada dasarnya kompetensi ini terdiri dari unsur-unsur personal karakteristik, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan berujung pada perilaku. Nelson dan Jones (1993;164-185) menyatakan, pada dasarnya kompetensi merupakan aktivitas di dalam diri seseorang dan juga aktivitas di luar diri seseorang dalam melakukan respon terhadap rangsangan. kegiatan di dalam adalah keterampilan berpikir meliputi 12 ranah berpikir, yaitu: (1) tanggung awab untuk memilih; (2) pemahaman hubungan antara cara berpikir, merasa dan bertindak; (3) menganalisis perasaan-perasaan sendiri; (4) mempergunakan selftalk yang menunjang; (5) memilih aturan-aturan pribadi; (6) mengamati secara akurat; (7) menjelaskan sebab-sebab secara akurat; (8) membuat prediksi yang realistis; (9) menetapkan tujuan-tujuan yang realistis; (10) menggunakan keterampilan-keterampilan visual; (11) membuat keputusan yang realistis; dan (12) mencegah dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pada sisi keterampilan di luar diri disebut keterampilan bertindak, yang meliputi: (1) pesan verbal, (2) pesan suara, (3) pesan melalui gerak tubuh, (4) pesan melalui sentuhan, dan (5) pesan melalui tindakan, misalnya mengirim bunga dan sebagainya. Spencer dan Signe (1993:9-12) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik dasar seseorang yang menyebabkan orang masuk dalam kriteria kinerja efektif dan superior atau unggul dibandingkan dengan lainnya dalam suatu pekerjaan atau situasi. Karakteristik dasar tersebut meliputi: motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan. 31 Kompetensi menurut Suparno (2001:27-29) adalah kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas, atau sebagai memiliki keterampilan yang disyaratkan. Kompetensi dipandang sebagai perbuatan (performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yang diinginkan. Boyatzis (1982:12) menyatakan bahwa konsep yang dapat dipergunakan dalam menelaah kompetensi sehingga relevan yakni: konsep kemampuan (ability) dan keterampilan (skill). Konsep kemampuan menggambarkan suatu sift (bawaan atau dipelajari) yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat mental dan fisik. Konsep keterampilan adalah kompetensi yang berkaitan dengan tugas, dan merupakan kemampuan untuk melaksanakan suatu sistem dengan perilaku guna mencapai tujuan. Menurut Wiriatmadja (1983:10), petani dikatakan memiliki kemampuan jika mempunyai keterampilan, seperti: kecakapan atau terampil dalam melaksanakan pekerjaan badaniah dan kecakapan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan atau persoalan-persoalan sehari-hari. Menurut Suparno (2001:29), bahwa kompetensi dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan diperlukan kemampuan yang bersifat generik yang disebut kompetensi transversal, yang melintas batas berbagai sektor kehidupan manusia. Persepsi Persepsi adalah pengertian atau pemahaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menimbulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderato et al. 1976:129). Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Proses penginderaan terjadi setiap saat individu menerima stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan/perasaan). Stimulus tersebut kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya. 32 Stimulus dapat berupa obyek yang bersifat konkrit maupun abstrak. Obyek konkrit berupa benda dapat mengenai semua jenis indera manusia, sedangkan obyek yang abstrak dapat diindera setelah melalui proses audial atau visual (Walgito, 2003:45). Persepsi ditentukan oleh faktor-faktor personal dan faktor situasional. Faktor situasional terkadang disebut sebagai derterminan perhatian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter). Stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan (Rakhmat, 2004:52). Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada obyekobyek yang bergerak. Seseorang lebih senang melihat huruf-huruf dalam display yang bergerak menampilkan nama barang yang diiklankan. Pada tempat yang dipenuhi benda-benda mati, seseorang akan tertarik hanya kepada tikus kecil yang bergerak (Rakhmat, 2004:52). Seseorang akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang lain. Warna merah pada latar belakang putih, tubuh jangkung di tengahtengah orang pendek, suara keras di malam sepi, iklan setengah halaman dalam surat kabar, atau tawaran pedagang yang paling nyaring di pasar malam, sukar lolos dari perhatian (Rakhmat, 2004:52). van den Ban dan Hawkins (1999: 83) menyatakan bahwa persepsi adalah proses menerima informasi atau stimuli dari lingkungan dan mengubahnya ke dalam kesadaran psikologis. Agen penyuluhan tidak dituntut untuk memahami pskikologis persepsi manusia yang rumit, tetapi diminta untuk menghargai timbulnya tafsiran mengenai lingkungan yang berbeda-beda serta bagaimana perbedaan tersebut memengaruhi perilaku komunikasinya. Penggunaan media dalam kegiatan penyuluhan seperti slide, film, demonstrasi lapangan, dan lain-lain sangat berkaitan dengan persepsi kliennya. Agen penyuluhan hanya dapat merencanakan dan menggunakan alat-alat bantu ini dengan baik jika mereka memahami prinsip dasar penyuluhan. Mereka juga dituntut mampu mengambil keputusan mengenai strategi komunikasi lain yang digunakan dalam program penyuluhan. 33 Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian. Beberapa eksperimen juga membuktikan stimuli yang luar biasa lebih mudah dipelajari atau diingat. Karena alasan inilah maka seseseorang mengejar novel yang baru terbit, film yang baru beredar, atau kendaraan yang memiliki rancangan mutakhir. Pemasang iklan sering memanipulasi unsur kebaruan ini dengan menonjolkan yang luar biasa dari barang atau jasa yang ditawarkannya. Media massa juga tidak henti-hentinya menyajikan program-program baru. Tanpa halhal yang baru, stimuli menjadi monoton, membosankan, dan lepas dari perhatian (Rakhmat, 2004:52).. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian. Unsur familiarity (yang sudah dikenal) berpadu dengan unsur novelty (yang baru dikenal). Perulangan juga mengandung unsur sugesti: memengaruhi alam bawah sadar seseorang. Bukan hanya pemasang iklan yang mempopulerkan produk dengan mengulang-ngulang jingles atau slogan-slogan, tetapi juga kaum politisi memanfaatkan prinsip perulangan, bahkan perulangan sebagai salah satu prinsip dalam menaklukkan massa (Rakhmat, 2004:53). Menurut Rakhmat (2004:54) ada beberapa faktor yang memengaruhi perhatian seseorang diantaranya faktor-faktor biologis dan faktor-faktor sosiopsikologis. Orang yang lapar, seluruh pikirannya didominasi oleh makanan. Karena itu, bagi orang yang lapar, yang paling menarik perhatiannya adalah makanan. Orang yang kenyang akan menaruh perhatiannya pada hal-hal yang lain. Anak muda yang baru saja menonton film porno akan cepat melihat stimuli seksual di sekitarnya. Motif sosiogenis, sikap, dan kemauan, memengaruhi perhatian. Dalam perjalanan naik gunung, geologis akan memerhatikan batuan, ahli botani akan memerhatikan bunga-bungaan, ahli zoologi akan memerhatikan binatang, seniman akan memerhatikan warna dan bentuk (Lefrancois, 1974:56). Persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuannya. Manusia mengamati suatu obyek psikologis dengan kacamatanya sendiri diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya. Sedangkan obyek psikologis ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu. 34 Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Sedangkan pengetahuannya dan cakrawalanya memberikan arti terhadap obyek psikologis tersebut. Melalui komponen kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep mengenai apa yang dilihat. Berdasarkan nilai dan norma yang dimiliki pribadi seseorang akan terjadi keyakinan (belief) terhadap obyek tersebut (Gambar 6). Komponen afeksi memberikan evaluasi emosional (senang atau tidak senang). Komponen konasi yang menentukan kesediaan kesiapan jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Atas dasar tindakan ini di mana unsur maka situasi yang semula kurang/tidak seimbang menjadi seimbang kembali. Keseimbangan dalam situasi ini berarti bahwa antara obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatannya di mana unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika situasi ini tidak tercapai, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatik, acuh tak acuh atau menentang sampai ekstrim memberontak (Mar’at, 1981:24). Pengalaman Proses belajar (sosialisasi) Cakrawala Pengetahuan PERSEPSI K E P R I B A D I A N Kognisi Afeksi Evaluasi (senang tak senang) Obyek Psikologi Konasi Kecenderungan Bertindak Sikap Gambar 6. Persepsi Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi 35 van den Ban dan Hawkins (1999:87) menyatakan bahwa persepsi seseorang bisa berlainan satu sama lain dalam situasi yang sama karena adanya perbedaan kognitif. Setiap proses mental, individu bekerja menurut caranya sendiri tergantung pada faktor-faktor kepribadian, seperti toleransi terhadap ambiguitas (kemenduaan), tingkat keterbukaan atau ketertutupan pikiran, sikap otoriter, dan sebagainya. Tidak mungkin untuk merancang pesan dengan menggambungkan semua gaya kognitif tersebut. Harus ditentukan suatu strategi yang dapat mewakili suatu gagasan yang mengacu pada sebagian besar gaya kognitif. Ini disebut sebagai redundancy (pengulangan pesan). Keseimbangan ini dapat kembali jika persepsi dapat diubah melalui komponen kognisi. Terjadinya keseimbangan ini akan melalui perubahan sikap di mana tiap komponen mengolah masalahnya secara baik. Sikap Thurstone (Mueller, 1992:3) di Tahun 1928 mendefinisikan sikap sebagai jumlah seluruh kecenderungan dan perasaan, kecurigaan dan prasangka, pra pemahaman yang mendetail, ide-ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal khusus.” Tetapi di tahun 1931 ia berkata sederhana, “Sikap adalah menyukai atau menolak obyek psikoligis.” Dari definisi ini maka sikap banyak dinyatakan dalam berbagai cara seperti: (1) sikap adalah pengaruh atau penolakan, (2) penilaian, (3) suka atau tidak suka, atau (4) kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu obyek psikologis. Secara pasti, terdapat banyak definisi lain dari sikap yang dinyatakan oleh berbagai ahli teori dalam arena sikap. Mueller (1992:4) mengikuti definisi Thurstone karena tiga alasan. Pertama, sementara beberapa definisi sikap yang diteliti lebih banyak berisi ikhtisar definisi Thurstone, tetapi dibalik itu, ketidaksetujuan menjadi meluas pula. Kedua, banyak definisi sikap yang termasuk ke dalam referensi perilaku atau tendensi atau “set” untuk menjawab atau berperilaku dalam cara tententu. Bogardus (Mueller, 1992:4) menyatakan bahwa sikap adalah suatu kecenderungan bertindak ke arah atau menolak suatu faktor lingkungan. Dalam banyak kutipan Allport (Mueller, 1992:4) menunjukkan bahwa suatu sikap adalah suatu keadaan kesiapan mental atau saraf. Demikian pula dengan Campbell (Mueller, 1992:4) yang mendefinisikan sikap sebagai 36 konsistensi dalam menjawab obyek-obyek sosial. Linton (Mueller, 1992:4) menyatakan bahwa suatu sikap dapat ditetapkan sebagai jawaban diamdiam/rahasia yang dinyatakan dengan suatu nilai. Alasan yang ketiga untuk tetap bertahan pada definisi sikap yang sangat sederhana adalah bahwa inilah yang diukur dalam skala sikap yang biasa digunakan. Banyak penelitian yang dilakukan menggunakan teknik pengukuran yang dikembangkan oleh Thurstone, Likert, Bogardus, Guttman, dan Osgood. Istrumen dan desain sikap menggunakan definisi satu dimensi yang sangat sederhana, yang dipersembahkan oleh Thurstone. Sementara itu, teori-teori sikap menyarankan bahwa sikap adalah lebih kompleks dan bangun yang multidimensional. Menurut Newcomb (Mar’at, 1981:11), sikap merupakan suatu kesatuan kognisi yang mempunyai valensi dan akhirnya berintegrasi ke dalam pola yang lebih luas. Hubungan antara nilai, sikap, motif, dan dorongan ditunjukkan pada Gambar 7. NILAI Sasaran/tujuan yang bernilai terhadap berbagai pola sikap yang dapat diorganisir SIKAP Kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku bermotivasi MOTIVASI Kesiapan ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku bermotivasi DORONGAN Keadaan individu yang menginisiasikan kecenderungan kearah aktifitas umum Gambar 7. Hubungan antara nilai, sikap, nilai, motif, dan dorongan Gambar 7 menunjukkan perkembangan seleksi dan degenerasi tingkah laku individu yang berpangkal pada drive dan akhirnya mencapai puncak pada value. Nilai inilah yang menunjukkan konsistensi organisasi tingkah laku individu. 37 Sebagian besar ahli mencantumkan kata pre-deposition atau tendency yang berarti senantiasa adanya kecenderungan, kesediaan dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi jika telah diketahui sikapnya. Dengan sendirinya tindakan yang diawali melalui proses yang cukup kompleks dan sebagai titik awal untuk menerima stimulus adalah melalui alat indera seperti penglihatan, pendengaran, alat peraba, rasa, dan bau. Dalam diri individu sendiri, terjadi dinamika berbagai psikofisik seperti kebutuhan, motif, perasaan, perhatian, dan pengambilan keputusan. Semua proses ini sifatnya tertutup sebagai dasar pembentukan suatu sikap yang akhirnya melalui ambang batas terjadi tindakan yang bersifat terbuka, dan inilah yang disebut tingkah laku. Jelaslah bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi berupa pre-deposition tingkah laku (Mar’at, 1981:12). Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. Seseorang akan memiliki sikap untuk kecenderungan lari jika dikejar anjing. Melalui eksperimen ini dapat dikatakan adanya suatu konsistensi dari reaksi. Dengan melihat adanya suatu kesatuan dan hubungan atau keseimbangan dari sikap dan tingkah laku, maka harus dilihat sikap sebagai suatu sistem atau interelasi antar komponenkomponen sikap (Mar’at, 1981:12). Allport (1955:54) menjelaskan definisi sikap dengan pendekatan teoritik dan operasional sebagai berikut: “An attitude toward any given object, idea or person is an enduring system with a cognitive component, an affective component and a behabioral tendency.” Selanjutnya dikatakan: “The cognitive component causist of belief about the attitude object, the affective component casuist of the emotional feelings connected with the beliefs and the behavioral tendency as the radiness to respone in a particular way.” Berdasarkan uraian di atas, maka sikap memiliki tiga komponen utama yaitu: (1) komponen kognisi yang hubungannya dengan kepercayaan, ide dan konsep, (2) komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang, dan (3) komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku. Untuk menjelaskan konteks sikap, perlu dibedakan terlebih dahulu fungsi sikap dan kejadian. Karakteristik dari sikap senantiasa mengikutsertakan segi evaluasi yang 38 berasal dari komponen afeksi. Kejadiannya tidak diikutsertakan dengan evaluasi emosional. Oleh karena itu sikap adalah relatif konstan dan agak sukar berubah. Jika ada perubahan dalam sikap berarti adanya suatu tekanan yang kuat dan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap melalui proses tertentu. Dapat dikatakan bahwa sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan. Namun di samping itu memiliki evaluasi negatif maupun positif yang bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen afeksi. Semua hal ini dengan sendirinya berhubungan dengan obyek atau masalah yang disebut the attitude of object. Pengetahuan dan perasaan yang merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan tingkah laku tertentu. Obyek yang dihadapinya pertama- tama berhubungan langsung dengan pemikiran dan penalaran seseorang. Sehingga komponen kognisi melukiskan obyek tersebut, dan sekaligus dikaitkan dengan obyek-obyek lain di sekitarnya. Hal ini berarti adanya penalaran pada seseorang terhadap obyek mengenai karakteristiknya. Misalnya seseorang melihat lalu- lintas di jalan akan sekaligus masuk pada komponen kognisinya dan menggambarkan bahayanya lalu lintas tersebut. Akibat daripada gambaran ini akan memiliki keyakinan bahwa lalu-lintas dapat mengakibatkan kecelakaan yang mengerikan (Mar’at, 1981:14). Berdasarkan evaluasi ini, komponen afeksi memiliki penilaian emosional yang dapat bersifat positif atau negatif. Berdasarkan penilaian ini maka terjadinya kecenderungan untuk bertingkah laku hati-hati. Komponen afeksi yang memiliki sistem evaluasi emosional mengakibatkan timbulnya perasaan senang/tidak senang atau takut/tidak takut. Dengan sendirinya pada proses evaluasi ini terdapat suatu valensi positif atau negatif. Oleh karena itu pada manusia yang tingkat kecerdasannya rendah, kurang memiliki aspek penalaran yang baik, dan dalam evaluasi emosionalnya pun kurang adanya kehalusan sehingga mengakibatkan kecenderungan tingkah laku yang kurang serasi (Mar’at, 1981:14). Telah banyak diadakan penelitian mengenai fungsi dari evaluasi ini pada seseorang, sehingga akibat daripada keputusan dari suatu evaluasi menimbulkan pola tingkah laku tertentu. Dalam proses evaluasi ini dapat terjadi konflik yang mengakibatkan pula konflik dalam tingkah laku. Oleh karena itu terdapat suatu dinamika yang cukup kompleks antara komponen kognisi, afeksi dan 39 kecenderungan untuk bertingkah laku. Interaksi antara ketiga komponen ini menghasilkan total attitude. Namun jika diuraikan lebih mendalam dari total attitude seseorang dengan sendirinya akan tergambar secara hipotetik deduktif tingkah laku seseorang (Mar’at, 1981:14). Berdasarkan uraian tersebut di atas, Mar’at (1981:14-15) memiliki pandangan tertentu terhadap sikap dan merupakan kerangka teoritik dalam membahas sikap sebagai berikut: (1) bahwa sikap dapat merupakan suatu kondisi dan dibentuk, (2) dapat timbul konflik dalam kesediaan bertindak, (3) memiliki fungsi yang berarti bahwa sikap merupakan fungsi bagi manusia dalam arah tindakannya, dan (4) sikap adalah konsisten dengan komponen kognisi. Pendekatan dari teori kondisi menjelaskan bahwa sikap adalah merupakan kebiasaan terhadap suatu yang dipelajari sedangkan pada teori konflik dan insentif beranggapan bahwa seseorang memiliki sikap disebabkan terjadinya konflik dalam dirinya. Pendekatan daripada pandangan ini menitikberatkan sebenarnya pada struktur kognisi seseorang yang membuktikan bahwa dari keempat pendekatan tersebut di atas sebenarnya tidak kontradiktif dan tidak inkonsisten. Pada pendekatan kondisi ini model tingkah laku telah banyak dilakukan percobaan dan sebagai asumsi dapat dikatakan bahwa sikap dapat dipelajari sehingga merupakan kebiasaan. Hal ini berarti bahwa proses belajar akan mengarah pada pembentukan sikap yang disesuaikan denga lingkungan. Perkembangan dari sikap akan melalui proses sosialisasi, imitasi dan adaptasi. Jika dikaitkan dengan komponen kognisi serta komponen afeksi berarti bahwa komponen kognisi harus dapat menghayati obyek yang dihadapinya agar timbul suatu sikap yang dikehendaki. Oleh karena itu, mempelajari karakteristik obyek manusia atau kejadian-kejadian adalah penting dalam pembentukan suatu sikap yang dalam hal ini sebenarnya menyangkut segi konseptual dan faktor senang atau tidak senang terhadap permasalahan. Isi permasalahan ini akan menggambarkan ciri-ciri tertentu atau karakteristik tertentu yang merupakan halhal yang perlu dievaluasi, hingga terjadi suatu hubungan emosional positif agar terbentuknya sikap positif pula terhadap obyek tersebut. Pada anak kecil sikap ini dapat diajarkan melalui imitasi terutama meniru tingkah laku orang tuanya dalam sikap maupun tindakan-tindakannya. Dalam hal ini si anak menerima nilai-nilai 40 dari sikap orang tuanya. Imitasi berarti adanya sikap dan tingkah laku meniru dari anak terhadap orang tua. Berdasarkan pendekatan imitasi ini menggambarkan proses belajar yang sifatnya mekanistik di dalam pembentukan sikap yang dalam hal ini individu lebih bersifat pasif, sehingga nilai-nilai yang diterimanya belum diolah secara rasional namun diterima sebagai yang bersifat final. Teori insentive dan konflik sebenarnya mengarah kepada perubahan sikap. Sikap dalam hal ini berada dalam situasi yang mendekati atau menjauhi konflik tersebut. Individu dalam hal ini memiliki alasan untuk menerima posisi tertentu atau menolaknya. Ia berpikir dan memiliki keyakinan untuk dapat mengevaluasi situasi, sehingga ia akan menghindarkan konflik tersebut. Dalam hal ini komponen kognisi dan afeksi turut berperan dalam menyelesaikan konflik tersebut (Mar’at, 1981:16).. Pendekatan fungsional teori sikap beranggapan pada adanya suatu suatu sikap dasar yang mengarah kepada pembentukan sikap baru berdasarkan fungsifungsi psikologik. Suatu sikap dapat diselesaikan karena merupakan instrumen dalam mencapai tujuan berdasarkan kepentingan dan minat pribadi. Di samping itu sikap memiliki nilai ekspresif di mana dirasakan bahwa sikapnya perlu diekspresikan berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya, misalnya seorang yang egois akan mengekspresikan sikapnya di mana segala kepentingan diutamakan untuk dirinya. Pandangan ini seakan-akan membenarkan kebebasan seseorang dalam menentukan dan membentuk sikapnya, sehingga sikap merupakan fungsi daripada ego defensnya. Menurut teori “konsistensi” yang dikembangkan oleh Lewin, Heider, Abberson, Festinger, Osgood, menjelaskan bahwa tiap manusia memiliki kecenderungan untuk senantiasa mencari konsistensi yang ditentukan oleh komponen kognisi. Dalam hal ini komponen kognisi tidak menghendaki adanya inkonsistensi (Mar’at, 1981:16). Sehubungan dengan berbagai definisi yang telah diuraikan di atas dapat ditarik beberapa dimensi arti sikap. Dimensi tersebut dipandang sebagai karakteristik sikap yang dapat diuraikan sebagai berikut (Mar’at, 1981:16-19): (1) Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Ini berarti bahwa sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif yang tidak sama dengan motif, akan tetapi 41 menghasilkan motif tertentu. Motif inilah yang kemudian menentukan tingkah laku nyata, sedangkan reaksi afektifnya merupakan reaksi tertutup. Pada konsep evaluasi ini komponen afeksi seakan-akan menentukan arah dan tingkah laku, namun dinamikanya sendiri terselubung. Misalnya seseorang dalam reaksi afektifnya adalah marah namun karena situasi tertentu ia harus bersikap ramah. Motif yang dibentuk adalah menentukan tingkah lakunya untuk senantiasa bersikap ramah yang sebenarnya secara terselubung ia bersikap marah. (2) Sikap digambarkan pula dalam berbagai kualitas dan intensitas yang berbeda dan bergerak secara kontinyu dari positif melalui areal netral kearah negatif. Variasi kualifikasi ini digambarkan sebagai valensi positif dan negatif sebagai hasil penilaian terhadap obyek tertentu. Intensitas sikap digambarkan dalam kedudukan ekstrim positif atau ekstrim negatif. Dalam hal ini terlihat bahwa kualitas dan intensitas sikap menggambarkan konotasi dari komponen afeksi, sehingga terjadi kecenderungan untuk dapat bertingkah laku berdasarkan kualitas emosional. (3) Sikap lebih dipandang sebagai hasil belajar daripada sebagai hasil perkembangan atau sesuatu yang diturunkan. Ini berarti bahwa sikap diperoleh melalui interaksi dengan obyek sosial atau peristiwa sosial. Sebagai hasil belajar, sikap dapat diubah, diacuhkan, atau dikembalikan seperti semula, walupun memerlukan waktu yang cukup lama. Berdasarkan pandangan ini maka sikap sebenarnya merupakan produk dari hasil interaksi, pandangan ini lebih bersifat humanistik di mana kebebasan seseorang dapat ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan yang berlaku pada saat itu. (4) Sikap memiliki sasaran tertentu. Sasaran dalam hal ini tidak perlu konkrit akan tetapi dapat bersifat abstrak atau dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Lingkup sikap bersifat multikompleks, ialah jumlah dan jenis obyek sikap berbeda-beda tingkat jangkauannya. Hal ini tergantung pada tingkat homogenitas atau heterogenitas obyek sikap yang dirumuskan. Berdasarkan pandangan ini maka sikap diartikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan dan sasarannya. 42 (5) Tingkat keterpaduan sikap adalah berbeda-beda. Sikap yang sangat berpautan akan membentuk kelompok yang merupakan subsistem sikap. Tiap subsistem, berpautan satu dengan lainnya, sehingga dapat dijumlahkan dan menunjukkan keseluruhan sistem sikap dari individu yang dapat dinilai. Keterpautan itu terjadi karena adanya kesamaan penyelesaian obyek sikap atau kesamaan evaluasi terhadap obyek sikap. Pandangan ini menjelaskan bahwa sikap merupakan suatu sistem seseorang dalam menghadapi obyek tertentu, sehingga hubungan dengan obyek dapat diadakan evaluasi. (6) Sikap bersifat relatif menetap dan tidak berubah. Apabila diperhatikan lebih dalam ternyata perubahan predisposisi afektif yang disebabkan oleh komponen afeksi adalah lamban. Hal ini disebabkan adanya centeral attitude yang lebih definitif dan stabil, ada keterpaduan sikap dan peranan reinforcement pada saat tersebut terbentuklah sikap, atau adanya hambatan yang dihayatinya sebagai ancaman. Pandangan centeral attitude merupakan inti daripada sikap yang akhirnya merupakan predisposisi yang sulit untuk diubah. Predisposisi ini merupakan sesuatu yang telah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil pembentukan dirinya sendiri. Dilihat dari karakteristik tersebut di atas jelaslah bahwa konsep sikap yang diramalkan lebih banyak mengungkapkan struktur sikap secara deskriptif. Sedikit sekali membahas tentang proses pembentukan atau perubahan sikap apalagi pengukuran daripada sikap. Pengertian struktural ini dikembalikan pada komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Oleh karena itu, perlu dirumuskan definisi operasional sikap secara jelas agar perumusan tersebut mengandung norma dari komponen-komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Reaksi afektif yang membentuk sikap seseorang berpangkal pada struktur kognisinya. Ini berarti bahwa sikap individu terhadap obyek tertentu banyak ditentukan oleh daya nalar, pengalaman yang berhubungan dengan obyek tersebut. Di samping itu memiliki konsep yang jelas tentang obyek tersebut. Penilaian individu tentang obyek diperoleh melalui pengamatan langsung berdasarkan interaksi, namun dapat didasarkan juga atas pengalaman tidak langsung seperti cerita-cerita atau berita-berita. Penilaian ini menghasilkan reaksi 43 afektif yang berupa dimensi positif atau negatif terhadap obyek sikap (Mar’at, 1981:19). Peranan kognisi sebagai salah satu komponen sikap adalah terutama interaksi antara individu dengan mengadakan penilaian terhadap sikap masingmasing. Oleh karena itu, sikap dipandang sebagai seperangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tersebut berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu. Jika melihat proses daripada perubahan sikap ini maka sikap dapat dipandang sebagai hasil belajar yang relatif stabil, berbeda intensitas arahnya, berbeda pula keterpautan dan lingkup jaraknya. Berdasarkan berbagai batasan dan keterangan tersebut di atas, dapatlah dirumuskan batasan operasional yang menjadi titik tolak dalam penelitian ini. Sikap diartikan derajat atau tingkat kesesuaian anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Kesesuaian atau ketidaksesuaian ini dinyatakan dalam skala Likert. Gambar 8 menunjukkan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi akan menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. PENGARUH FAAL KEPRIBADIAN FAKTOR EKSTERNAL • SITUASI T • PENGALAMAN • HAMBATAN OBYEK SIKAP SIKAP • • • SIKAP RELATIF KONSTAN MELALUI PROSES BELAJAR KESEDIAAN BERTINDAK Reaksi Gambar 8. Sikap 44 Komponen afeksi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan (senang atau tidak senang) terhadap obyek, dan komponen konasi akan menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Ketiga komponen tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu sistem kognitif. Ini berarti bahwa yang dipikirkan seseorang tidak akan terlepas dari perasaannya. Masing-masing komponen tidak dapat berdiri sendiri, namun merupakan interaksi dari komponen-komponen tesebut secara kompleks. Aspek kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima menentukan perasaan dan kemauan berbuat. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan secara kognitif. Berdasarkan pendekatan ini setiap orang akan berusaha mencari keseimbangan dalam bidang kognisinya dan terbentuk sikap dari yang bersangkutan. Apabila terjadi ketidakseimbangan, individu akan berusaha mengubahnya sehingga terjadi keseimbangan kembali. Hubungan Sikap dengan Nilai Nilai adalah suatu bangun yang penting dalam kebijakan setiap cabang ilmu sosial, seperti dalam bidang ekonomi, filsafat, teologi, pendidikan, dan penyuluhan. Ini adalah bangun dasar untuk teori dan penelitian dalam disiplin ilmu sosiologi dan anthropologi. Orang dapat berharap bahwa dengan kemuliaan dan popularitas di antara para ilmuwan dan para praktisi, bangun nilai akan lebih menyukai suatu definisi yang jelas dan mantap. Sayangnya, itu bukan suatu kasus. Dalam kenyataannya kurang ada konsensus untuk memperhatikan definisi nilai daripada sikap. Untuk sebagian, inilah sebabnya mengapa nilai digunakan dalam berbagai cara dan untuk berbagai tujuan teori, dari disiplin ilmu yang satu ke disiplin ilmu yang lain. Alasan lain tentang bangun nilai ialah dibiarkan menderita kurang dukungan konsensus definisi karena bangun yang lebih abstrak daripada sikap, dan dengan demikian maka dikonseptualisasikan lebih tegas dan jelas (Mueller, 1992:6). Namun, seperti dengan sikap terdapat adanya keusangan-keusangan umum yang berjalan melalui definisi-definisi nilai yang utama. Dua di antara definisidefinisi yang terkenal akan membantu dengan baik untuk mengindentifikasi unsur-unsur kritis dari bangun nilai itu. Klukhohn (Mueller, 1992:6), 45 mendefinisikan nilai sebagai suatu konsepsi eksplisit atau implisit yang membedakan karakteristik individu atau kelompok yang diharapkan, yang memengaruhi adanya cara, alat, dan tujuan tindakan. Rokeach (Mueller, 1992:6), seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa nilai adalah suatu keyakinan bahwa suatu ragam tingkah laku spesifik atau keadaan akhir sikap dari keberadaan yang secara personal atau sosial yang lebih baik daripada suatu kebalikan atau berlawanan ragam perilaku atau pernyataan akhir keberadaannya. Seperti halnya dengan sikap, nilai melibatkan penilaian. Secara umum hal ini disetujui oleh para ahli teori sosial, bahwa nilai itu lebih abstrak, bangun susunan tinggi daripada sikap. Dengan demikian lebih permanen dan lebih tahan lama terhadap perubahan, dan mempunyai pengaruh kausal yang langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku. Klukhohn dan Rokeach menunjukkan bahwa nilai bisa menyatakan baik preferensi personal maupun preferensi sosial dan bahwa nilai bisa memenuhi baik sebagai hasil (tujuan) maupun sebagai sarana untuk hasil keduanya ketetapan umum para ahli teori nilai (MUeller, 1992:6). Ada kesepakatan umum bahwa nilai menyebabkan sikap. Lebih khusus lagi, suatu sikap kearah suatu obyek adalah fungsi sedemikian rupa bahwa obyek itu diartikan untuk memberi kemudahan pencapaian nilai-nilai penting. Misalnya, jika seseorang atlet menilai kerahasiaan dan kebebasan tetapi tidak menilai struktur, ia dapat bersikap lebih positif terhadap olahraga individual seperti tenis dan lintas alam daripada terhadap olahraga kelompok seperti bola basket dan sepakbola. Begitu pula, sikap seseorang terhadap orang lain atau kelompok, dan semua obyek-obyek kognitif (rumah, keluarga, buku-buku, rumah makan, mobil, kolam pemancingan, negeri-negeri, makanan kucing dan selanjutnya) sebagian besar ditetapkan oleh setiap obyek itu dikaitkan dengan pemenuhan nilai-nilainya (Mueller, 1992:7). Dengan demikian nilai adalah determinan sikap. Mari kita jelaskan, bahwa bukan hubungan satu dengan satu antara sikap tertentu dan nilai tertentu. Tentu saja, suatu sikap tunggal disebabkan oleh banyak nilai oleh seluruh sistem nilai seseorang. Sebuah contoh lagi akan membantu untuk menghablurkan (kristal) pemahaman ini. Jika saya membeli sebuah kendaraan baru, sistem nilai saya mengatakan kepentingan relatif dari perekonomian, kekuatan, kenikmatan, 46 keawetan, kelegaan, keamanan, gaya, dan selanjutnya. Sikap saya terhadap suatu kendaraan tertentu (dalam kenyataannya, terhadap setiap kendaraan tertentu) ditentukan oleh urutan susunan nilai-nilai saya itu dan oleh keyakinan saya memandang sedemikian rupa setiap kendaraan yang dikaitkan dengan pemenuhan setiap nilai (Mueller, 1992:7). Hubungan Sikap dan Keyakinan Beberapa ahli teori sikap menekankan pentingnya keyakinan mereka dalam mengonseptualisasikan sikap. Misalnya Newcomb menyebut penyimpanan pengamatan/kognisi yang mempunyai beberapa kaitan positif atau negatif. Keyakinan kita tentang benda-benda memengaruhi cara kita merasakannya. Kita percaya bahwa seorang individu mempunyai banyak kualitas yang baik maka kita cenderung menyukainya. Sebaliknya, keyakinan kita dipengaruhi oleh sikap kita sendiri. Kita lebih suka untuk mempercayai, bahkan menduga informasi positif tentang orang-orang yang disukai daripada mereka yang tidak kita sukai. Hubungan timbal balik antara pengamatan/kognisi dan pengaruh/afeksi ini berguna bagi para ilmuwan dalam pengukuran sikap. Daripada menanyai responden bagaimana perasaan mereka tentang suatu obyek sikap tertentu, maka ukuran sikap dapat menanyakan apa yang mereka percayai tentang obyek tersebut. Pernyataan kepercayaan/keyakinan pengaruh/afektif. itu hampir selalu berisi komponen Seorang responden dengan banyak kepercayaan positif dan sedikit kepercayaan negatif tentang suatu obyek psikologis dinyatakan mempunyai sikap positif. Seseorang yang mempunyai banyak kepercayaan yang negatif dan sedikit kepercayaan positifnya maka ia dinyatakan bersikap negatif. Teknik-teknik pengukuran sikap dikembangkan oleh Thurstone, Likert, dan Guttman, sungguh-sungguh sebagai metode yang sistematis dalam mengabstrakkan, komponen afektif dari pernyataan kepercayaan terhadap efek/hasil suatu skor sikap (Mueller, 1992:8). Beberapa ahli teori sikap telah mengembangkan persamaan matematik untuk menerangkan kontribusi relatif dari suatu kepercayaan tentang suatu obyek sikap kepada sikap ke arah obyek tersebut. Dua unsur pokok dalam persamaan itu adalah: (1) pentingnya nilai tertentu itu dihubungkan dengan obyek sikap dalam 47 setiap pernyataan kepercayaan, (2) sedikit banyaknya kenyataan yang dipercayainya (Mueller, 1992:8) Pentingnya Sikap dalam Urusan Manusia Dalam menyelidiki proses-proses sosial, mengkaji manusia, pembentukan konsep, pengembangan kepribadian, dan pembentukan sikap, para ahli psikologi telah menemukan bahwa manusia menilai tentang sesuatu kontak yang mereka lakukan dengan orang lain, binatang, obyek-obyek tak berjiwa, lembaga-lembaga, kelompok-kelompok, dan sebagainya. Jika tidak percaya, lihatlah di sekeliling. Tempatkanlah pikiran pada suatu obyek, dari suatu pensil hingga ke orang lain, dan tanyalah diri sendiri, “Apa perasaannya tentang obyek itu?” Hampir dipastikan jawabannya akan menunjukkan suka atau tidak suka, bernilai atau tidak bernilai obyek itu. Tentu saja perasaan tentang pensil tidak sekuat tentang orang. Walupun demikian akan sangat baik bila dapat memutuskan bahwa lebih menyukai satu pensil tertentu daripada pensil lain. Sikap tersebut sebagai evaluasi, besarnya rasa suka atau tidak suka, perasaan positif atau negatif, menilai atau tidak menilai obyek khusus tertentu (Mueller, 1992:9). Tidaklah mengherankan bahwa para peneliti dan praktisi dalam pendidikan dan ilmu sosial telah menyita sejumlah besar waktu dan energi dalam studi tentang pembetukan dan perubahan sikap dan pengaruh sikap terhadap perilaku. Sikap membangun komponen penting nomor satu dalam jiwa manusia. Secara kuat sekali memengaruhi segala keputusan kita tentang teman yang kita pilih, pekerjaan yang kita terima, film yang kita tonton, makanan yang kita lahap, orang yang kita nikahi, pakaian yang kita beli, dan rumah yang kita tempati. Kita memilih benda-benda yang kita pilih, dalam jumlah tak terbatas, karena kita menyukainya (Mueller, 1992:10). Skala Sikap Likert Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya pada suatu kontinum afektif berkisar dari sangat positif hingga sangat negatif terhadap suatu obyek sikap. Dalam teknik penskalaan Likert kuantifikasi ini dilakukan dengan mencatat penguatan respon dan untuk pernyataan kepercayaan positif dan negatif tentang obyek sikap (Mueller, 1992:11). 48 Sikap, ditunjukkan oleh luasnya rasa suka atau tidak suka terhadap sesuatu. “Sesuatu” itu adalah obyek sikap. Pertimbangan pertama dalam suatu usaha percobaan pada pengukuran sikap adalah mengidentifikasi obyeknya. “Sikap terhadap apa?” adalah pertanyaan yang harus dijawab sebelum dilanjutkan lebih jauh. Makin lebih ketat obyek sikap itu ditentukan batas-batasnya, maka upaya pengukurannya akan makin berbasil (Mueller, 1992:11). Agar skor skala sikap menjadi lebih berarti maka penting sekali bagi para peneliti yang menggunakan skala skor yang mempunyai obyek sama dalam pikiran yang dilakukan responden pada skalanya. Sama halnya bahwa upaya mengkontruksi skala tidak akan berhasil jika obyek sikapnya begitu kabur atau tidak sehingga beberapa responden agak berbeda obyek dalam pikirannya (Mueller, 1992:12). Pada umumnya obyek sederhana lebih mudah ditentukan batas-batasnya daripada obyek yang kompleks, obyek nyata lebih mudah ditentukan batasbatasnya daripada obyek yang abstrak, dan obyek tertentu secara individual lebih mudah ditentukan batas-batasnya jika kita dibatasi untuk mengukur sikap obyek nyata, sederhana (Mueller, 1992:12). Penting sekali menetapkan obyek dengan teliti dan lengkap jika hendak mengukur sikap terhadap obyek yang kompleks dan abstrak. Misalnya, jika hendak mengukur sikap terhadap pendidikan, maka harus berpikiran jelas, dan dalam berkomunikasi dengan yang lain (skala responden, konsumen, untuk temuan penelitian, dan sebagainya) komponen-komponen berikut termasuk dalam pendidikan: (1) Tingkat umum kemampuan membaca dari masyarakat (misalnya, “Suatu masyarakat berpendidikan tinggi membuat negeri menjadi kuat”). (2) Pendidikan sebagai profesi (misalnya, “Pendidikan adalah profesi yang memadai”). (3) Sistem persekolahan umum (misalnya, “Pendidikan formal di negeri ini adalah yang terbaik di dunia”). (4) Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang (misalnya, “Pendidikan yang lebih akan membuat saya jadi orang terbaik”). 49 Jika dimasukkan semua butir-butir itu ke dalam suatu skala tunggal dan skor-skor bulirnya dijumlahkan untuk setiap responden, maka skor totalnya akan menjadi kecil atau tidak jelas artinya. Jalan keluarnya adalah membuat skala multiple untuk setiap obyek sikap maupun menetapkan pendidikan secara sempit dan khusus sehingga beberapa dimensi multiple-nya itu terhindarkan. Daripada mengganggu skala responden dengan definisi, pembatasan obyek sikap seperti itu umumnya dilakukan melalui seleksi cermat butir-butir skalanya. (Mueller, 1992:12). Skala obyek sikap itu ditetapkan, suatu kumpulan butir yang menyatakan kepercayaan atau pendapat/opini tentang obyek itu dibuat atau dikumpulkan. Ini penting, dalam membuat kumpulan butir ini untuk menyadap keanekaragaman pendapat tentang obyek sikap. Karena skala lengkap Likert secara khusus hanya berisi kira-kira 20 lusin atau bahkan ratusan dan ribuan kemungkinan kepercayaan tentang suatu obyek tertentu, akan menjadi lebih sahih apabila membentuk suatu contoh/sampling yang representatif dan sama sekali menyeluruh dari daerah teori yang hampir terbatas. Suatu cara untuk mencapai hasil keseluruhan dalam membuat skala potensial butir adalah dengan jalan bertanya kepada berbagai kelompok orang (mengenai pengetahuan pokok dan dengan arah sikap positif dan negatif terhadap obyek sikap) menuliskannya beberapa kepercayaannya sendiri dan perasaannya tentang obyek sikap. Dengan terbitan yang sedikit, pernyataanpernyataan kepercayaan yang dihasilkan dalam cara ini dapat menjadi kumpulan butir yang memenuhi sebagai dasar untuk skala sikap. Wawancara dan percakapan lainnya mengenai obyek sikap sama produktifnya dalam membuat kumpulan butir yang berguna, sebagai penulisan bentuk editorial tentang obyekobyeknya (Mueller, 1992:13). Sementara itu, dalam arti luas semua butir sikap dapat disebut pernyataan “kepercayaan” atau “pendapat,” pengukuran sikap kadang-kadang dibedakan di antara kepercayaan atau butir kognitif, perasaan atau bulir afektif, dan kecenderungan perilaku atau butir konatif. Butir kognitif menyatakan kepercayaan-kepercayaan terhadap obyek sikap. Butir-butir afektif menyusun suatu pernyataan perasaan yang sangat langsung terhadap obyek sikap. Butirbutir konatif menyatakan kehendak perilaku atau preferensi perilaku dengan 50 memperhatikan obyeknya. Sesungguhnya ada dua macam butir kecenderungan perilaku: butir-butir “mau”, dan butir-butir “akan.” Butir-butir mau/hendak menyatakan kehendak perilaku personal terhadap obyek sikap tersebut. Butirbutir akan, menyatakan kecenderungan perilaku untuk kegiatan sosial. Berikut ini adalah contoh-contoh bentuk-bentuk butir itu, dengan kendaraan disel sebagai obyek sikap: Kepercayaan : Kendaraan disel berjalan ekonomis Perasaan : Saya suka kendaraan disel Kehendak : Saya hendak/mau membeli sebuah kendaraan disel jika saya mempunyai pilihan Akan : Pemerintah akan mengenakan utang pajak kepada orang yang membeli kendaraan disel. Karena tentang kepercayaan, perasaan terhadap, dan kecenderungan perilaku dengan perhatian pada obyek cenderung berkaitan secara tinggi (orang yang menyukai X cenderung mempunyai kepercayaan positif tentang X dan menyatakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan berperilaku secara positif terhadap X), sesuatu atau seluruh bentuk butir-butir itu dapat digunakan dalam skala sikap tanpa pembatasan (Mueller, 1992:14). Tetapi hal ini penting untuk membedakan antara butir-butir kecenderungan perilaku dan butir-butir perilaku aktual. Butir-butir perilaku aktual agaknya bisa menjadi masalah dalam skala sikap. Seseorang yang hidup di Alaska dapat berpikir bahwa kendaraan disel “yang terbesar” tetapi dapat juga menjawab “tidak” atau “tidak setuju” pada pernyataan “Saya memiliki kendaraan disel”, karena kendaraan disel tidak biasa ada di Alaska. Jika berpikir tentang itu, akan mengerti bahwa perilaku aktual dipengaruhi oleh banyak hal di samping sikap. Sebagai ketentuan umum, butir-butir yang memeriksa tentang perilaku aktual responden yang baik dilangkahi dari skala sikap (Mueller, 1992:14). Mueller, 1992:14) menyatakan bahwa setiap butir Likert harus jelas secara positif atau negatifnya dengan memperhatikan kepada obyek sikapnya. Butirbutir netral tidak dimasukkan dalam skala Likert. Butir-butir positif adalah butirbutir yang menyatakan kepercayaan yang baik tentang perasaan terhadap obyek sikap. 51 Berikut ini adalah contoh-contoh butir-butir positif, netral, dan negatif: Positif Netral Negatif : Saya lebih suka memiliki kendaraan bertenaga disel. : Kendaraan-kendaraan disel adalah suatu macam mobil. : Kendaraan disel tidak dapat bergerak dengan mudah dalam cuaca dingin. Biaya pemeliharaannya sangat mahal daripada nilainya sendiri. Beberapa butir bisa mencakup sikap positif dari beberapa responden tetapi sikap negatif bagi yang lainnya. Misalnya, butir “Saya lebih suka memiliki kendaraan bertenaga disel” adalah positif atau se negatif es krim bagi setiap responden. Perhatian harus dilakukan untuk menyeleksi butir-butir yang berderajat sangat tinggi dari konsensus memandang arah (positif atau negatif) dari komponen afektifnya (Mueller, 1992:15). Bentuk lain butir yang tidak menguntungkan skala kita adalah suatu butir yang dijawab sama oleh semua responden. Jika skalanya lengkap, ini akan digunakan untuk membedakan antar responden, yaitu untuk membedakan mereka yang bersikap sangat positif daripada yang bersikap posistif secara moderat; dan sebaliknya pula dari mereka yang bersikap negatif. Setiap butir harus sedikit menunjang pada pembedaan itu. Dalam susunan pembedaan, butir-butir harus “menyebar” dalam skor nilainya. Jika semua responden membuat jawaban yang sama untuk sebuah butir dalam skalanya, maka mereka semua akan mendapat skor total yang sama. Dengan demikian, bagaimanapun tidak ada pembeda, sehingga skalanya menjadi tidak berguna (Mueller, 1992:15). Beberapa butir faktual tidak menyebar responden. Jika suatu kata dinyatakan bahwa semua responden “setuju”, ini tidak akan menjadi butir sikap yang baik. Misalnya, kemungkinan semua responden menyatakan “sangat setuju” bahwa kendaraan disel membakar minyak disel. Tetapi, beberapa butir faktual dapat membedakan demikian baiknya. Hal itu dinyatakan secara obyektif bahwa “kendaraan disel dapat menempuh jarak yang lebih jauh per galon daripada kendaraan bensin.” Tetapi tidak semua responden tahu dan/atau percaya fakta itu. Mereka yang mengetahui “fakta” positif ini akan setuju dan dengan demikian mempunyai nilai sah yang ditambahkan pada skor sikapnya. Mereka yang mempunyai salah pengertian akan tidak menyetujui dan dengan demikian tidak akan mendapat nilai sikap. Mereka yang tidak tahu apa-apa dapat menjawab “tidak tahu” atau “ragu-ragu” atau dapat menebak berdasarkan segala sikapnya 52 terhadap kendaraan disel. Butir factual seperti itu dapat menyebar responden dan dengan demikian akan menunjang pada pembedaan skalanya (Mueller, 1992:16). Butir-butir yang dikatakan secara luar biasa atau sangat dapat juga diakibatkan oleh masalah tidak menyebarkan respondennya. Butir “Saya tidak pernah membeli kendaraan disel” tidak akan menyebarkan responden maupun dikatakan secara luar biasa kurang, ditulis kembali sebagai “Saya mungkin tidak membeli kendaraan disel.” Pada umumnya, penggunaan kata-kata mutlak seperti “selalu” dan “tidak pernah” harus dihindarkan dalam menulis butir-butir skala Likert (Mueller, 1992:16). Suatu pertimbangan akhir dalam menyusun butir adalah berapa banyaknya butir-butir yang akan dimasukkan. Jawabannya untuk sebagian bergantung kepada hingga di mana sempurnanya butir-butir yang disusun, sebagian bergantung kepada rincian obyek sikap, dan sebagian lagi bergantung kepada dimana reliabelnya diperlukan dari skala akhir. Jika belum berpengalaman dalam menulis dan menata butir-butir untuk skala sikap, boleh memulai dengan kumpulan yang lebih dari 50 butir. Sikap-sikap terhadap obyek-obyek yang dikonseptualisasikan secara khusus dan ketat dapat diukur secara cermat dengan butir yang sedikit daripada sikap terhadap obyek-obyek yang tidak ditetapkan dan dibentuk secara khusus (Mueller, 1992:17). Tipe-tipe sikap Ada dua tingkatan sikap, yaitu: (1) sikap khusus terhadap inovasi, dan (2) sikap umum terhadap perubahan. Sikap khusus terhadap inovasi adalah berkenan atau tidaknya seseorang, percaya atau tidaknya seseorang terhadap kegunaan suatu inovasi bagi dirinya sendiri. Sikap khusus itu menjembatani antara suatu inovasi dengan inovasi lainnya. Pengalaman positif dengan pengadopsian inovasi yang terdahulu pada umumnya menimbulkan sikap-sikap yang positif pula terhadap inovasi yang datang berikutnya. Sebaliknya pengalaman pahit dari pengadopsian suatu inovasi, yang dianggapnya sebagai suatu kegagalan, akan menjadi perintang bagi masuknya ide-ide baru pada masa mendatang. Karena itu agen pembaru harus memulai kegiatannya terhadap klien tertentu dengan inovasi yang memiliki taraf keuntungan relatif yang tinggi, yang kompatibel dengan kepercayaan yang ada dan mempunyai kans besar untuk berhasil. Ini membantu 53 menciptakan sikap positif terhadap perubahan dan memudahkan jalan untuk ideide yang akan diperkenalkan pada hari-hari berikutnya (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Salah satu strategi diffusi (penyebaran ide baru) yang dapat dilakukan oleh agen pembaru adalah mengembangkan sikap umum yang positif terhadap perubahan, pada sebagian kliennya. Orang atau anggota sistem berorientasi pada perubahan akan selalu memperbarui diri, terbuka pada hal-hal baru dan giat mencari informasi. Salah satu cara untuk menumbuhkan sikap atau orientasi pada perubahan ini adalah dengan memilih inovasi-inovasi yang layak untuk diperkenalkan secara berurutan (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Ada juga cara lain yaitu dengan mengekspos secara bertubi-tubi sejumlah pesan modernisasi walupun pesan itu mungkin tidak berkenan dengan inovasi tertentu. Contoh dari pendekatan ini diterapkan di kalangan petani di Negaranegara belum maju. Dikatakan, disana media masa seperti radio, televisi, film dan surat-surat kabar dapat menciptakan iklim modernisasi dengan jalan mengekspos pesan-pesan pembangunan. Dalam hal ini media massa membawa pesan-pesan (informasi) yang mendukung perubahan, dan salah satu hasil penyajian pesanpesan seperti itu ialah timbulnya sikap yang positif terhadap perubahan, yang memudahkan pengadopsian ide-ide baru (Roger dan Shoemaker, 1987:46). Konsistensi sikap dan tingkah laku Hasil utama yang dicapai dalam tahap persuasi adalah sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Diduga bahwa persuasi akan diikuti dengan perubahan tingkah laku nyata itu selalu konsisten. Kita sering melihat kasus yang menunjukkan sikap seseorang jauh berbeda dengan tindakannya. Kita harus ingat bahwa terbentuknya sikap tidak otomatis menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk mengadopsi atau menolak. Namun demikian ada kecenderungan orang untuk lebih menyelaraskan sikap dan tingkah laku. Jika terdapat perbedaan antara sikap seseorang terhadap inovasi dengan keputusan yang dibuatnya, maka terjadilah dissonansi inovasi. Dissonansi inovasi merupakan tipe ketakselarasan kognitif yang khusus, dan kita tahu dari penyelidikan Festinger bahwa ada kecenderungan seseorang untuk mengurangi ketakselarasan itu. Ketakselarasan adalah kenyataan psikologis yang tak enak 54 yang menimbulkan ketegangan, dan karena itu seseorang akan berusaha mengurangi ketegangan ini dengan menyeleraraskan antara sikap dan tindakannya (Roger dan Shoemaker, 1987:47). Community Development Menuju Kemandirian Petani Konsep Community Development telah banyak dirumuskan di dalam berbagai definisi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikannya: "as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, sosial and cultural conditions of communities, to integrade these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress (Einsiedel, 1968:7) Definisi tersebut menekankan bahwa pembangunan masyarakat, merupakan suatu "proses" dimana usaha-usaha atau potensi-potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumber daya yang dimiliki pemerintah, untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan, dan mengintegrasikan masyarakat di dalam konteks kehidupan berbangsa, serta memberdayakan mereka agar mampu memberikan kontribusi secara penuh untuk mencapai kemajuan pada level nasional. Dunham (1958:3) seorang pakar Community Development merumuskan definisi Community Development itu sebagai berikut. "Organized efforts to improve the conditions of community life, and the capacity for community integration and self-direction. Community Development seeks to work primarily through the enlistment and organization of self-help and cooprative efforts on the part of the residents of the community, but usually with technical assistance from government or voluntary organization. Rumusan ini menekankan bahwa pembangunan masyarakat merupakan usaha-usaha yang terorganisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat, dan memberdayakan masyarakat untuk mampu bersatu dan mengarahkan diri sendiri. Pembangunan masyarakat bekerja terutama melalui peningkatan dari organisasi-organisasi swadaya dan usaha-usaha bersama dari individu-individu di dalam masyarakat, akan tetapi biasanya dengan bantuan teknis baik dari pemerintah maupun organisasi-organisasi sukarela. 55 Dunham (1958:3) membedakan Community Development dengan "Community Organization." Pemikirannya adalah: “Community development is concerned with economic life, roads, buildings, and education,as well as health and welfare, in the narrower sense. On the other hand, community welfare organization is concerned with adjustment of sosial welfare needs and resources in cities, states, and nations as in rural villages.” Jadi community development lebih berkonotasi dengan pembangunan masyarakat desa sedangkan community organization identik dengan pembangunan masyarakat kota. Lebih lanjut Dunham (1958:3) mengemukakan 4 unsur-unsur Community development sebagai berikut: (1) a plan program with a fokus on the total needs of the village community; (2) technical assistance; (3) integrating various specialities for the help of the community; and (4) a major emphasis upon selp-help and participation by the residents of the community. Dari definisi Community development (CD) di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) CD merupakan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan, artinya kegiatan itu dilaksanakan secara terorganisir dan dilaksanakan tahap demi tahap dimulai dari tahap permulaan sampai pada tahap kegiatan tindak lanjut dan evaluasi - follow-up activity and evaluation; (2) CD bertujuan memperbaiki - to improve - kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik; (3) CD memfokuskan kegiatannya melalui pemberdayaan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, sehingga prinsip to help the community to help themselve dapat menjadi kenyataan; dan (4) CD memberikan penekanan pada prinsip kemandirian. Artinya partisipasi aktif dalam bentuk aksi bersama group action di dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhankebutuhannya dilakukan berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat. Kemandirian adalah sebuah konsep yang utuh, tetapi memiliki berbagai muka dan tercermin dalam berbagai bidang kehidupan (Kartasasmita, 1997: 3). Kemandirian (self-reliance) pertanian mengandung pengertian yang lebih jauh dari swasembada (self-sufficiency) yang secara hakiki menuntut kebutuhan dari produksi sendiri. Kemandirian di tingkat petani adalah menciptakan penerimaan yang mampu menutupi pengeluarannya. Dengan perkataan lain, kemandirian merupakan fungsi dari berbagai peubah bebas yang berkaitan erat dengan 56 peningkatan pendapatan, yakni efisiensi, sistem perdagangan, laju ekspor, sistem moneter dan kelembagaan yang inovatif serta organisasi yang bersifat adaptif (Amang, 1997:10). Saefullah (2003:4) menyebutkan bahwa perbedaan selfreliance setiap orang di samping disebabkan oleh faktor yang bersifat individual, seperti character building, kepribadian, pengalaman, dan sebagainya, juga seringkali disebabkan oleh faktor sumberdaya. Verhagen (1996:21) mengemukakan bahwa kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok. Dijelaskan oleh Verhagen (1996:21), sarana untuk mencapai kemandirian adalah adanya keswadayaan. Swadaya adalah setiap tindakan sukarela yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok manusia yang bertujuan untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau aspirasi-aspirasi individual atau kolektif. Pemilihan yang terbatas dan akses pemilihan yang juga terbatas terhadap sumber daya menyebabkan tingkat kemandirian yang rendah, dalam hal ini ketergantungan terhadap faktor eksternal menjadi sangat tinggi. Penyatuan potensi, serta penumbuhan nilai-nilai untuk menghargai diri sendiri dan sesama, kepercayaan, komunikasi dan kerjasama, yang diwujudkan dalam suatu wadah kelompok, pada akhirnya menjadi organisasi, diyakini sebagai strategi dalam meningkatkan kemandirian masyarakat (Saefullah, 2003:4). Perilaku Perilaku adalah cara bertindak yang menunjukkan tingkah laku seseorang dan merupakan hasil kombinasi antara pengembangan anatomis, fisiologis, dan psikologis (Kast dan Rosenzweig, 1995:23), dan pola perilaku dikatakan sebagai tingkah laku yang dipakai seseorang dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Perilaku juga merupakan fungsi dari interaksi antara sifat individu dengan lingkungannya yang dapat dilihat dari ucapannya, gerakannya dan gaya seseorang (Thoha, 1986:70), atau refleksi dari hasil sejumlah pengalaman belajar seseorang terhadap lingkungannya (Rogers, 1983:34). Unsur perilaku terdiri atas perilaku yang tidak tampak seperti pengetahuan, dan sikap, serta perilaku yang tampak seperti keterampilan dan tindakan nyata (action). Gabungan dari atribut biologis, psikologis, dan pola 57 perilaku aktual menghasilkan kepribadian (character), yakni kombinasi yang kompleks dari sifat-sifat dan mental, nilai-nilai, sikap, kepercayaan, selera, ambisi, minat, kebiasaan, dan ciri-ciri lain yang membentuk suatu diri yang unik (Kast dan Rosenzweig, 1995: 67). Pola perilaku orang bisa saja berbeda tetapi proses terjadinya adalah mendasar bagi semua individu, yakni dapat terjadi: disebabkan, digerakkan, dan ditunjukkan pada sasaran (Kast dan Resenzweig, 1995:67-68). Jika pernyataan itu valid, maka perilaku itu tidak dapat spontan dan tanpa tujuan, sehingga harus ada sasaran baik eksplisit maupun implisit. Perilaku kearah sasaran timbul sebagai reaksi terhadap rangsangan yang dapat berupa jarak antara kondisi sekarang dengan kondisi yang diinginkan, dan perilaku yang timbul adalah menutup jarak tersebut. Berdasarkan teori Kast dan Rozenweig (1995:67-68) tentang terbentuknya perilaku, perilaku seseorang dapat terjadi karena adanya suatu sebab, dan sebab itu adalah sasaran yang ingin dicapai atau kebutuhan untuk mencapai kondisi yang diinginkan, maka perilaku anggota subak akan menyesuaikan dengan muatan inovasi yang ingin diterapkan di dalam usahataninya. Proses Adopsi Inovasi dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya Proses adopsi merupakan serangkaian kegiatan dalam memutuskan untuk menerima atau menolak suatu inovasi selama periode waktu tertentu (Rogers dan Shoemaker, 2003:221). Proses ini mempunyai lima tahap, yaitu: (1) Sadar, yaitu seseorang sudah mulai mengenal adanya suatu inovasi, tetapi ia masih kekurangan informasi mengenai hal tersebut. (2) Minat, yaitu seseorang mulai mengembangkan minat pada inovasi tersebut dan mencari informasi tambahan tentang hal itu. (3) Penilaian, yaitu seseorang mulai membuat penilaian terhadap inovasi tersebut yang dihubungkan dengan situasi dirinya di masa sekarang dan mendatang serta menentukan menerima atau menolaknya. (4) Mencoba, yaitu seseorang mulai mencoba inovasi tersebut meskipun pada skala kecil untuk menentukan kegunaan dan kesesuaian inovasi itu pada dirinya. 58 (5) Adopsi, yaitu seseorang telah menggunakan inovasi tersebut secara tetap dalam skala yang lebih luas. Konseptualisasi proses adopsi telah sangat dikenal dan dipakai oleh para peneliti difusi selama ini, tetapi akhir-akhir ini beberapa kritik mengatakan bahwa model ini terlalu sederhana (Rogers dan Shoemaker, 2003:221), seperti: (1) proses tersebut selalu diakhiri dengan keputusan untuk mengadopsi, kenyataannya mungkin saja diakhiri dengan penolakan. padahal Oleh karena itu dibutuhkan suatu istilah yang dapat menampung kedua pengertian tersebut, (2) kelima tahap proses tersebut tidak selalu dilalui secara berurutan. Mungkin beberapa tahap proses tersebut terloncati, khususnya tahap mencoba. Penilaian biasanya terjadi pada keseluruhan proses, tidak hanya salah satu tahap saja; (3) proses tersebut jarang berakhir dengan adopsi. Biasanya proses itu berlanjut dengan mencari informasi pendukung untuk mengkonfirmasi atau menguatkan keputusan tersebut. Atas dasar uraian di atas, maka Rogers (2003:221); Trisha et al. (2004:594) merumuskan kembali pengertian proses adopsi inovasi sebagai berikut: “proses keputusan adopsi inovasi adalah proses yang terjadi pada seseorang atau unit pembuat keputusan lainnya, sejak pertama kali mengetahui adanya suatu inovasi sampai mengambil suatu keputusan mengadopsi atau menolak dan mengimplementasikan serta mengkonfirmasi keputusan tersebut (Rogers dan Shoemaker, 1971:145; Rogers, 2003:221; dan Lionberger dan Gwin, 1991:67). Proses keputusan inovasi tersebut berlangsung melalui lima tahap yaitu: (1) Mengetahui, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mengetahui adanya suatu inovasi dan memperoleh beberapa pengertian mengenai berfungsinya inovasi itu secara umum. (2) Berminat, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan suatu inovasi dan berusaha mencari informasi yang lebih banyak tentang keberadaan inovasi itu. (3) Keputusan, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya berada dalam kegiatan penilaian terhadap inovasi, dihubungkan dengan 59 dirinya saat sekarang dan di masa yang akan datang yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. (4) Pelaksanaan, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mulai menggunakan inovasi, meskipun dalam skala kecil. (5) Konfirmasi, yaitu ketika seseorang atau unit pengambil keputusan lainnya mencari bukti-bukti untuk memperkuat keputusan yang telah diambilnya. Rogers (2003:221) mengatakan bahwa proses keputusan tersebut terdiri atas rentetan aktivitas dan pemilihan sepanjang waktu melalui seseorang atau suatu organisasi dalam rangka mengevaluasi suatu inovasi dan memutuskannya sesuai atau tidaknya untuk dilaksanakan. Berarti pada proses tersebut, terkandung cakupan pengertian tentang keputusan inovasi opsional, kolektif, dan otoritas. Pengambilan keputusan inovasi oleh suatu organisasi atau kumpulan individu (agregate) merupakan implikasi dari proses tersebarnya teknologi baru dalam suatu daerah tertentu. Ini berarti, adopsi inovasi tersebut diukur dengan cara menilai tingkatan jumlah penggunaan (amount of use) dan tingkat penggunaan (level of use) inovasi tersebut. Terdapat tiga aspek utama yang berbeda dalam proses keputusan ini (Rogers, 1986:86), yaitu: (1) sifat kritis sasaran (critical mass nature), yang berarti bahwa setiap nilai komunikasi teknologi baru meningkat pada sasaran akan merupakan akibat peningkatan pada sasaran sebelumnya; (2) penyempurnaan (reinvention) inovasi, yaitu tingkat suatu inovasi dapat diubah atau dimodifikasi (penyesuaian) oleh sasaran dalam proses adopsi berlangsung; dan (3) penekanan pada tahap pelaksanaan lebih dari hanya sekedar keputusan untuk mengadopsi. Menurut Lionberger dan Gwin (1991:71), kelancaran proses pengambilan keputusan inovasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keberadaan sasaran, jenis-jenis informasi yang dibutuhkan sasaran berdasarkan tahapan proses adopsinya, dan sumber-sumber atau saluran komunikasi bagi informasi sesuai dengan tahapan proses adopsinya (Gambar 9). Keberadaan sasaran (adopter) baik sebagai individu maupun kelompok atau masyarakat perlu diperhatikan secara seksama. Individu sebagai sasaran inovasi pembangunan memiliki kondisi sebagai peubahnya, yaitu: (1) peubah kepribadian yang meliputi kemampuan mengelola, kemampuan belajar dari 60 masalah, kepekaan terhadap masalah, keberanian mengambil risiko, dan orientasi untuk berprestasi; dan (2) peubah situasional yang mencakup: lingkungan sosial (lingkungan keluarga, kelompok persahabatan, kelompok kerja, kelompok kepercayaan, dan kelompok rujukan), lingkungan sumberdaya fisik, dan sistem nilai dan kepercayaan yang melingkupi kehidupan mereka (Warford, 2011:7). Saluran Komunikasi MENGETAHUI BERMINAT KEPUTUSAN KONFIRMASI PELAKSANAAN Var. Penerima • • • Karakteristik sosial ekonomi Kepribadian Perilaku komunikasi Terima Terima Terus Lambat Terima Tolak Berhenti Tolak Terus Var. sistem sosial • • • Norma sistem sosial Keinovatifan masyarakat Kebutuhan yang dirasakan • • • • • Ciri-ciri Inovasi Memberi keuntungan relatif Sesuai dengan norma budaya daerah setempat Tidak terlalu rumit dilaksanakan Dapat dicoba Dapat diamati Gambar 9. Proses pengambilan keputusan inovasi Jenis-jenis informasi inovasi yang dibutuhkan sasaran selayaknya disesuaikan dengan tahapan proses adopsinya (Rogers, 1983:221 ; Lionberger dan Gwin, 1991:128). Pada tahap sadar, jenis informasi yang dibutuhkan bersifat umum atau pemberitahuan saja, misalnya keberadaan inovasi (Gambar 2). Lebih khusus lagi Rogers (1983:222) mengatakan bahwa dalam tahap pengenalan terdapat tiga tipe informasi yang dibutuhkan, yaitu: (1) informasi tentang adanya 61 inovasi, (2) informasi teknis (cara atau prosedur penggunaan inovasi), dan (3) informasi prinsip, yaikni berkenaan dengan prinsip-prinsip berfungsinya suatu inovasi. Pada tahap minat, jenis informasi yang dibutuhkan lebih ke arah operasionalisasi dan kegunaan inovasi, misalnya cara bekerjanya inovasi itu, manfaatnya untuk pemakainnya, dan sebagainya (Lionberger dan Gwin, 1991:8). Menurut Rogers (1983:222), aktivitas mental yang bekerja pada tahap persuasi adalah efektif, yakni seseorang akan membentuk sikap berkenan atau tidak terhadap suatu inovasi. Berarti sasaran membutuhkan informasi ciri-ciri inovasi yaitu: (1) keuntungan relatif inovasi, (2) kesesuaian inovasi dengan sosial budaya sasaran, (3) tidak rumit dilakukan bagi sasaran, (4) dapat dicoba, dan (5) dapat diamati. Menurut Rogers (1983:222), pada tahap keputusan sasaran membutuhkan informasi menyangkut bahan pertimbangan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Secara khusus menurut Lionberger dan Gwin (1991:154), informasi yang dibutuhkan pada tahap ini lebih bersifat saran perimbangan untuk melakukan evaluasi terhadap inovasi tersebut, seperti konsekuensi sosial, ekonomi dan budayanya; penilaian-penilaian dari orang-orang yang dipercaya terhadap inovasi tersebut, dan hasil percobaan-percobaan pada tingkat lokal/regional. Pada tahap pelaksanaan, proses keputusan inovasi tidak lagi berpusat pada aktivitas mental, tetapi sudah melibatkan perubahan perilaku sebagai pelaksanaan ide-ide itu. Informasi yang dibutuhkan dalam tahap ini seperti: asal inovasi diperoleh, cara menggunakan inovasi, masalah operasional yang dihadapi, cara memecahkan masalah tersebut, dan sebagainya. Secara rinci Lionberger dan Gwin (1991:156) mengatakan bahwa pada tahap melaksanakan jenis informasi yang dibutuhkan lebih bersifat aplikasi atau cara kerja inovasi, misalnya berapa jumlah, bentuknya, tingkatannya, waktu yang harus digunakan, frekwensinya, intervalnya, dan sebagainya. Pada tahap konfirmasi, jenis informasi yang dibutuhkan lebih ke arah hasil-hasil percobaan inovasi yang telah dilakukan selama ini baik secara langsung oleh sasaran maupun oleh orang lainnya, yang akan semakin memperkuat keputusannya (Lionberger dan Gwin, 1991;158). Bukti-bukti 62 penelitian empiris menunjukkan bahwa proses keputusan suatu inovasi tidak berakhir setelah orang mengambil keputusan untuk menerima atau menolak inovasi itu (Rogers, 1986:2001). Menurut Mason (Rogers, 1983:225), seseorang akan mencari informasi untuk menguatkan keputusannya, akan tetapi mungkin juga ia akan mengubah keputusannya semula jika ia memperoleh pesan-pesan yang bertentangan dengan inovasi itu. Pada tahap ini seseorang berusaha untuk menghindari keputusannya. kenyataan yang menyimpang dan bertentangan dengan Jika hasil inovasi dapat dengan cepat dilihat, maka calon pengadopsi lainnya tidak perlu lagi menjalani tahap mencoba melainkan dapat terus ke tahap adopsi. Ini bukan berarti bahwa calon pengadopsi langsung memulai dari tahap adopsi untuk menerima suatu inovasi, tetapi mereka juga menjalani tahap sebelumnya, namun dalam waktu relatif singkat. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971:154) dan Rogers (1983:222), unsur saluran komunikasi juga penting dalam mempercepat proses adopsi inovasi karena merupakan alat bagi ide-ide baru diperoleh dari seseorang dan diberikan kepada orang lainnya. Saluran komunikasi tersebut sangat penting dalam menentukan keputusan sasaran, untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Pada dasarnya terdapat dua saluran komunikasi yaitu (Berlo, 1960:159; Rogers dan Shoemaker, 1971:154); dan Rogers (1983:222): (1) saluran antar pribadi, yakni segala bentuk pertukaran pesan antar dua orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dengan atau tanpa alat bantu yang memungkinkan semua pihak yang berkomunikasi dapat memberikan umpan balik secara langsung, dan (2) saluran media massa, yakni segala bentuk media massa (baik media cetak maupun media elektronik) yang memungkinkan seseorang atau sekelompok kecil orang tertentu dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Jika dikaitkan dengan peranan masing-masing saluran komunikasi terhadap tahap-tahap proses adopsinya, maka menurut Rogers dan Shoemaker (1971:154), Rogers (1983;222) dan Lionberger dan Gwin (1991;45), pada tahap sadar dan minat, saluran komunikasi yang efektif digunakan adalah media massa karena mampu menjangkau sasaran secara cepat dan luas dalam rangka memberikan informasi dan pengertian tentang suatu inovasi. Pada tahap proses berikutnya, peran media massa kurang efektif lagi (Gambar 10). 63 Sumber Informasi yang Digunakan Sasaran - Pemimpin o Formal - Penyuluh - Media massa - Pemimpin o Formal o Informal - Penyuluh - Media massa - Pemimpin o Formal o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya - Pemimpin o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya - Pemimpin o Informal - Penyuluh - Org. terpercaya Jenis-Jenis Informasi yang Dibutuhkan Sasaran Keberadaan inovasi Kegunaan dan ciriciri inovasi Konsekuensi sosek-bud - Penilaian orang terpercaya - Hasil percob. Lokal/regional Pemberitahuan Operasional Prosedur Kerja - Pengalaman Sendiri & Orang Lain Bagaimana Banyaknya Kapan Dimana Aplikasi Penilaian Hasil-Hasil Tahapan Proses Adopsi Sasaran Mengetahui Berminat Memutuskan Melaksanakan Konfirmasi Gambar 10. Faktor-faktor yang memengaruhi proses adopsi inovasi Sejumlah kampanye gizi dan KB di beberapa negara dunia ketiga, saluransaluran antar pribadi bahkan berhasil menyebarkan informasi penting sebelum kampanye tersebut dimulai. Selain saluran media massa, saluran antar pribadi juga berperan dalam tahap sadar dan minat, sedangkan pada tahap menilai, mencoba dan adopsi, menurut Rogers dan Shoemaker (1971:145), Rogers (1983:222) serta Lionberger dan Gwin (1991:45) saluran antar pribadi yang paling efektif. Rogers dan Shoemaker (1971:145) mencoba membedakan saluran komunikasi saat pertama kali para sasaran antara golongan penerap awal dan penerap lambat dalam mengetahui suatu inovasi. Menurut hasil penelitian Ryan dan Gross tahun 1941 (Rogers dan Shoemaker, 1971:145), golongan petani penerap awal (earlier adopter) pertama kali mendengar inovasi bibit jagung hibrida melalui penjual (salesman) bibit jagung tersebut, sedangkan golongan petani penerap lambat (later adopter) mendengar pertama kali melalui 64 tetangganya. Ini menandakan bahwa masing-masing golongan sasaran penerima inovasinya mempunyai perbedaan saluran komunikasi yang digunakan untuk mengadopsi suatu inovasi. Selain pemakaian saluran komunikasi oleh sasaran secara sendiri-sendiri, menurut Rogers dan Shoemaker (1971:145) dan Rogers (1983;222) dan Kincaid (1981:130), interaksi komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi sangat efektif untuk mengubah perilaku sasaran. Rogers dan Shoemaker (1971:145) mengemukakan bahwa pengkombinasian saluran komunikasi ini disebut forum media, dengan sasaran beberapa anggota masyarakat diorganisasikan dalam suatu kelompok yang bertemu secara teratur untuk menerima pesan-pesan media massa dan selanjutnya mendiskusikan dengan anggota kelompoknya. Di Indonesia, menurut Rogers dan Shoemaker (1987:97), kelompok ini disebut Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (kelompencapir). PPL Proses Komunikasi Menarik Perhatian Menggugah Hati Keinginan Yakinkan Galakkan (Encourage) PETANI PPL DAN PETANI Proses Adopsi Metode Penyuluhan Awarness Interest Evaluation Massa: 1. Siaran pedesaan (TV, Radio, Surat Kabar) 2. Kampanye Kelompok: Diskusi, Pertemuan, Simulasi, Kelonpencapir, Denplot. Trial Adoption Individu: 1. Kunjungan 2. Kontak pribadi Gambar 11. Hubungan proses komunikasi, proses adopsi dan berbagai metoda penyuluhan Gambar 11 menunjukkan bahwa PPL bertujuan menarik perhatian petani tentang suatu inovasi dengan jalan melakukan komunikasi dengan pendekatan kelompok melalui Siaran pedesaan sehingga petani menjadi sadar. PPL menggugah hati petani dengan pendekatan kelompok lewat diskusi sehingga 65 petani menjadi tertarik terhadap suatu inovasi. PPL menumbuhkan keinginan petani dengan pendekatan kelompok lewat kelompencapir sehingga petani menjadi mempertimbangkan baik buruk suatu inovasi. PPL menyakinkan petani dengan pendekatan individu lewat kunjungan ke rumah petani sehingga petani mau mencoba inovasi. Akhirnya PPL menggalakkan suatu inovasi dengan jalan pendekatan individu lewat tatap muka langsung dengan petani sehingga petani mau menerapkan suatu inovasi seperti ditunjukkan pada Gambar 11 (van Den Ban dan Howkins, 1999:149-198). Benjamin et al. (2005:929) menyatakan belakangan ini terjadi perubahan proses inovasi. Dikatakanya bahwa adopsi adalah hasil dari proses diffusi. Diffusi inovasi adalah proses penyebaran inovasi dalam suatu sistem sosial, sedangkan adopsi adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Perubahan proses adopsi dapat dilihat pada Gambar 12. Creativity Invention Innovasi Diffution Adoption Gambar 12. Proses perubahan adopsi Carmel et al. (2009:225) menemukan ada lima proses inovasi dalam suatu organisasi. Kelima tahapan tersebut adalah: (1) agenda seting, (2) matching, (3) redefining/restructuring, (4) clarifying, dan (5) routinizing. Dua tahap pertama adalah kelompok inisiasi sub proses, sedangkan tiga tahap terakhir adalah sub proses implementasi. Hubbardlorilee dan Sandman (2007:5) menyatakan bahwa model Cervero Program Evaluasi dibangun atas dasar konsep difusi inovasi. Tes empiris dari model ini melalui proses penyuluhan regional rerestry pada suatu kursus singkat. Cervero program evaluasi disusun oleh tenaga profesional dan tujuan dengan memperhatikan sistem sosial sasaran, perubahan perilaku yang diinginkan dan dampak bagi klien seperti tampak pada Gambar 13. 66 Proposed change Sosial system CFE Programs Behavior change Client outcome Individual professional Gambar 13. Model Cervero program evaluasi Kecepatan Adopsi Kecepatan adopsi adalah waktu yang menunjukkan penerimaan inovasi oleh suatu sistem sosial. Kecepatan ini biasanya diukur dengan jumlah penerima yang mengadopsi suatu ide baru dalam suatu periode waktu tertentu (Rogers, 2003:221). Selanjutnya disebutkan bahwa peubah penjelas kecepatan adopsi suatu inovasi adalah sifat-sifat inovasi itu sendiri. Tetapi, selain kelima sifat-sifat inovasi, hal-hal lain yang dapat menjadi peubah penjelas kecepatan adopsi adalah: (1) tipe keputusan inovasi, (2) sifat saluran komunikasi yang dipergunakan untuk menyebarluaskan inovasi dalam proses keputusan inovasi, (3) ciri-ciri sistem sosial dan (4) gencarnya usaha agen pembaharu dalam mempromosikan inovasi. Rogers (2003:221) menambahkan tipe keputusan inovasi yang memengaruhi kecepatan adopsi. Inovasi yang diputuskan secara otoritas akan diadopsi lebih cepat karena orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan inovasi lebih sedikit. Akan tetapi, jika bentuk kekuasaan itu tradisional, mungkin tempo adopsinya juga lambat. Keputusan opsional biasanya lebih cepat daripada keputusan kolektif, tetapi lebih lambat daripada keputusan otoritas. Tipe keputusan kontingen yang paling lambat karena harus melibatkan dua urutan keputusan inovasi atau lebih. Semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan inovasi, semakin lambat tempo adopsinya. Jika asumsi ini benar, maka salah satu jalan untuk mempercepat tempo adopsi adalah berusaha memilih unit pembuat keputusan yang lebih sedikit melibatkan orang (Rogers, 2003:222). 67 Saluran komunikasi yakni alat yang dipergunakan untuk menyebarluaskan suatu inovasi mungkin juga punya pengaruh terhadap kecepatan pengadopsian inovasi. Jika saluran komunikasi interpersonal yang dipergunakan untuk menciptakan kesadaran pengetahuan inovasi, seperti terjadi di masyarakat pedesaan kecepatan adopsi akan lambat karena penyebaran pengetahuan tidak berjalan cepat (Fisher, 1989:56) Sifat inovasi dan saluran komunikasi mungkin saling berkait dalam memengaruhi kecepatan adopsi inovasi. Saluran komunikasi massa seperti di majalah pertanian, sangat memuaskan untuk menyebarluaskan inovasi-inovasi yang rumit, tetapi saluran interpersonal dengan petugas penyuluh lebih tepat untuk inovasi yang dianggap lebih rumit oleh petani. Jika tidak tepat dalam memilih dan menggunakan saluran komunikasi, maka hasilnya tempo pengadopsian akan lambat (Rogers, 2003:222). Jika membahas hubungan antara sifat-sifat inovasi dan saluran komunikasi dengan kecepatan adopsi, tidak dapat meninggalkan fungsi-fungsi dalam proses keputusan inovasi, karena mungkin persepsi penerima mengenai sifat-sifat inovasi itu berbeda-beda sesuai dengan tahap-tahap dalam proses keputusan. Pada tahap pengenalan, kompleksitas dan observabilitas inovasi sangat penting. Pada tahap persuasi, keuntungan relatif dan observabilitas inovasi yang perlu ditonjolkan. Sedangkan pada tahap keputusan, dapat dicobanya suatu inovasi yang paling penting (Rogers, 2003:222; Jebeile, 2003:4). Karena itu, dalam usaha mempercepat tempo adopsi inovasi, pilihan yang paling tepat bagi agen perubahan dalam hal saluran komunikasi tergantung atas campuran dari pertimbangan-pertimbangan seperti (1) tahap-tahap dalam proses keputusan inovasi, dan (2) sifat-sifat inovasi menurut pengamatan dan penerima (Rogers, 2003:222). Hal lain yang dipertimbangkan juga memengaruhi kecepatan pengadopsian suatu inovasi adalah sistem sosial, terutama norma-norma sistem sosial. Dalam suatu sistem yang modern tempo adopsi mungkin lebih cepat karena kurang ada rintangan sikap diantara para penerima. Sedangkan dalam sistem tradisional, mungkin tempo adopsi juga lebih lambat (Rogers, 2003:222). 68 Akhirnya, kecepatan adopsi juga dipengaruhi oleh gencarnya usaha-usaha promosi yang dilakukan oleh agen perubahan. Hubungan antara kecepatan adopsi dengan usaha agen perubahan tidak langsung dan linear. Pada tahap-tahap tertentu, usaha keras agen perubahan mendatangkan hasil yang lebih besar. Respon terbesar terhadap agen perubahan terjadi pada saat pemuka masyarakat mulia mengadopsi inovasi, yang terjadi antara 13-16% pengadopsian dalam sistem sosial (Rogers, 2003:223; Sandra et al. 2011:11). Jika seseorang mengadopsi suatu inovasi, maka perubahan perilaku yang diakibatkan oleh proses pengadopsian tersebut akan memengaruhi sistem sosialnya. Demikian pula sebaliknya, jika proses pengadopsian berhenti maka sistem sosial juga akan mengikuti perubahannya. Apabila suatu inovasi telah diadopsi oleh seseorang dalam sistem sosialnya, hasilnya dapat diamati dari perubahan atribut dari inovasi tersebut seperti idenya, prosesnya ataupun teknologinya. Perkembangan inisiasi dan proses kedewasaan dari adopsi berhubungan dengan kualitas dan sumber informasi dan populasi pengadopsi (Rogers et al. 2011: 10) Bronwyn (2011: 22) mengungkapkan bahwa ada faktor lain yang sangat penting jika mendiskusikan masalah adopsi inovasi yaitu biaya yang diperlukan untuk mengadopsi suatu inovasi. Biaya ini tidak hanya sebatas pada berapa harga suatu teknologi tersebut, melainkan termasuk biaya lain hingga suatu inovasi dapat diterapkan oleh seseorang. Menurut Herting (2011:19) biaya yang dimaksud adalah biaya investasi yang termasuk di dalamnya training of wokers dan purchase of necessaru capital equipment. Biaya ini tidak mudah untuk dihitung karena sifatnya yang kompleks, namun demikian tetap harus diukur untuk melihat seberapa besar keuntungan yang didapat dari proses pengadopsian suatu inovasi. Model Logik Penelitian Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, maka penulis menyusun model logik penelitian seperti tersaji pada Gambar 13. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa di Bali telah terjadi kelangkaan air irigasi karena berbagai penyebab. Salah satu di antaranya adalah terjadinya persaingan pemanfaatan air irigasi baik untuk industri rumah tangga, pariwisata dan pertanian. MODEL LOGIK PENELITIAN INPUT OUTPUT Aktivitas Partisipasi OUTCOME - DAMPAK Pendek Mengengah Panjang Sumberdaya manusia anggota subak Modal Usahatani Situasi: Prioritas: - kelangkaan air irigasi - produksi padi rendah - tingkat pendidikan petani rendah - Perilaku berusahatani padi rendah - Adopsi SRI di kalangan anggota subak belum optimal Kelangkaan sumber daya air Rendahnya kualitas sumber daya manusia Sarana Produksi Padi (Saprodi) Kebijakan Pemerintah Daerah Informasi SRI untuk subaksubak yang ada di Bali Penyuluh pertanian lapangan yang berkualitas Pembentukan Koperasi Tani Program Pelatihan ” System of Rice Intensification di kalangan anggota subak Anggota subak mengikuti pelatihan, demplot, studi banding Demplot SRI Pengurus mengikuti pelatihan SRI, dan ”menularkan” pada anggota Studi banding ke daerah yang sukses menerapkan SRI Penyuluh/ fasilitator menyelenggarakan penyuluhan SRI Asumsi-Asumsi Gambar 14. Model Logik Penelitian Berusahatani padi lebih baik Peningkatan Pendapatan Peningkatan produksi padi Peningkatan kualitas hidup Peningkatan kesejahteraan anggota subak Kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan Faktor Eksternal 70 Kelangkaan air irigasi yang menjadi faktor utama dalam usahatani padi maka secara otomatis berdampak pada penurunan hasil usahatani. Kondisi ini semakin menyulitkan petani karena minimnya pengetahuan yang disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah, semakin menyengsarakan petani. Ada harapan untuk bertani lebih baik dengan masuknya inovasi SRI. Namun, sampai saat ini pengaadopsian SRI di subak-subak yang ada di Bali belum optimal karena berbagai faktor. Permasalahan ini menjadi salah satu fokus kajian dalam penelitian ini. Mesti ada upaya-upaya perbaikan untuk mendapatkan kehidupan petani yang lebih baik. Untuk itu, perlu dukungan input-input sebagai investasi jika ingin mencapai hasil yang diinginkan. Input itu dapat berupa manusia, uang, metode, program-program, mesin, dan pasar. Oleh sebab itu maka perlu dipersiapkan sumberdaya manusia anggota subak yang handal, modal usahatani, sarana produksi padi (saprodi), kebijakan pemerintah daerah untuk mendukung pembangunan pertanian di Bali, Informasi SRI untuk subak-subak yang ada di Bali, penyuluh pertanian lapangan yang berkualitas, dan pembentukan koperasi tani. Jika dikelola dengan baik, maka investasi yang ditanamkan diharapkan dapat memberikan output yang baik pula. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu program pelatihan tentang SRI di seluruh subak-subak yang ada di Bali. Jikalau saja seluruh subak yang ada di Bali dapat mengadopsi SRI, maka akan terjadi perubahan perilaku anggota subak ke arah perbaikan dalam berusahatani padi sehingga petani akan hidup lebih sejahtera. Apa yang direncanakan tidak selamanya berjalan mulus, oleh sebab itu perlu diantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat menjadi penghambat keberhasilan. Dengan demikian dibutuhkan asumsi-asumsi ilmu ekonomi di antaranya harga-harga tidak berfluktuasi secara tajam dan lain sebagainya. Perubahan perilaku anggota subak dalam mengadopsi SRI, diharapkan dapat menimbulkan dampak yang positif untuk pembangunan pertanian di Bali. Dampak jangka pendek yang dapat dirasakan salah satunya adalah terjadinya better farming dan better business. Dalam jangka menengah kedua dampak 71 yang positif ini akan diikuti dengan better environment, sehingga pada akhirnya petani dapat tersenyum menikmati kehidupan yang lebih sejahtera. Dalam hal dampak program, juga harus diperhatikan faktor-faktor eksternal seperti kondisi politik dan keamanan di Bali, kondisi iklim dan dan cuaca dan lain sebagainya yang sedikit banyaknya dapat memengaruhi dampak dari program yang telah direncanakan. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Penyuluhan pembangunan adalah proses pemberian bantuan berupa: informasi, memecahkan masalah yang dihadapi, pengambilan keputusan kepada masyarakat supaya proses peningkatan mutu/kualitas hidup dapat berjalan lancar. Kegiatan penyuluhan pembangunan dilaksanakan melalui upaya sadar, terencana dan sangat membutuhkan partisipasi aktif masyarakat sehingga dapat mencapai kesejahteraan. Menurut Hanafiah (1985:4), pembangunan sebagai proses perubahan akan melibatkan aktivitas struktur dan fungsi-fungsi pembangunan, di mana struktur pembangunan disusun oleh komponen fisik, sosial-ekonomi, dan administrasi pembangunan sedangkan aktivitas berkaitan dengan perilaku mewujudkan produktivitas manusia pembangunan. (1989:28) menjelaskan bahwa Sejalan dengan pendapat ini, Blakely keberhasilan pembangunan mensyaratkan mantapnya partisipasi pembangunan memfungsikan local identity termasuk lembaga masyarakat yang lahir dan diyakini sebagai wadah local business networks setempat dengan potensi ekonomi wilayah bersangkutan menjadi global network. Landis (1986:76) menambahkan bahwa sangat jarang sebuah organisasi pembangunan berfungsi tunggal, namun sekurang-kurangnya terintegrasi pada lima fungsi yaitu fungsi keluarga, pendidikan, agama, ekonomi, dan sub fungsi campur tangan pemerintah. Dengan mengadoptasi konsep tersebut, maka timbul suatu pertanyaan bagaimana potensi subak sebagai organisasi lokal Bali yang berfungsi socio-agraris-religius itu dapat menggerakkan pembangunan anggotanya, paling tidak diperlukan penelusuran unsur-unsur yang mungkin dapat sejalan mewadahi aktivitas penyuluhan pembangunan. Pembangunan bukanlah soal teknologi tetapi pencapaian pengetahuan dan ketrampilan baru, tumbuhnya suatu kesadaran baru, perluasan wawasan manusia, meningkatnya semangat kemanusiaan dan suntikan kepercayaan diri. Kesadaran itu tidak tumbuh dengan sendirinya, karena mereka harus dibekali pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat diperoleh melalui penyuluhan pembangunan. Lionberger dan Gwin (1984:34) menegaskan kembali pendidikan non-formal untuk semua orang, helping people to help themselves, learning by doing and 73 74 seeing is believing melalui proses belajar kontinyu untuk meningkatkan kualitas hidup sasaran. Penyuluhan pembangunan dikatakan berhasil jika sasarannya mampu memanfaatkan kesempatan dan menggerakkan sumberdaya lain menjadi produktif, sehingga penyuluhan sebaiknya dilaksanakan sebelum pembangunan dimulai dan bekerja harmonis dengan media dan budaya masyarakat (Benor, 1987:139); Mosher, 1978:5; dan Axinn, 1988:11). Soewardi (1987:10) dengan tegas mengatakan bahwa para penyuluh setidaknya mampu berdiri sendiri dan menguasai etika penyuluhan (the golden rules) dan metode penyuluhan yang benar. Berdasarkan harapan itu, timbul suatu pertanyaan seberapa besar subak berpotensi melakukan tugas itu atau potensi unsur mana yang dapat dijadikan titik tolak mengembangkan wahana belajar di subak? Konsep yang disampaikan Uphoff (1989:202) mengetengahkan tiga cara meningkatkan mutu organisasi lokal yakni gelorakan semangat kepeloporan (inception), perluas aktivitas anggota (expansion), dan operasikan tujuan dengan jelas (operations). Selain itu, ditawarkan juga empat teknik menggerakkan aktivitas warganya yakni tugas-tugas organisasi harus dikembangkan seluasluasnya agar warga selalu kreatif (interorganizational tasks) kenali potensi sumberdaya warga (resource tasks), memekarkan jaringan pelayanan (service tasks) dan buka hubungan dengan organisasi luar (extraorganizational). Telah banyak dikenal wadah-wadah pembangunan lokal, tetapi mencari dan memberdayakan unsur-unsur potensial agar efektif menjadi wahana pembangunan tidak mudah termasuk mengapa subak di Bali begitu populer menjadi lembaga tradisional yang dapat melayani anggotanya dalam hal irigasi? Potensi subak subak didukung oleh sarana fisik, nilai, sumber daya manusia, program dan aktifitas di subak serta kepemimpinan subak. Bahkan mungkin peran faktor di luar subak dapat saja sejalan ataupun mengganggu kemandirian subak dalam menerima inovasi pertanian. Kesesuaian unsur Subak dengan unsur pembangunan yang disuluhkan memungkinkan Subak dapat efektif menerima, mengolah, dan mengembangkan serta melaksanakan isi pesan pembangunan. Mungkin ciri komunikatif seperti lokasi yang strategi, kebersamaan, panutan guru-bhakti, tuntunan perasaan 75 bermasyarakat dan menjunjung tinggi peran prajuru-subak (pengurus subak) khususnya pada kegiatan paruman-subak (musyawarah) serta semangat ”setunggal” mentaati keputusan memungkinkan subak siap menjadi wahana belajar anggota subak sekaligus wahana pembangunan pertanian di Bali. Menyiapkan subak agar selaras dengan tujuan penyuluhan atau tujuantujuan pembangunan pertanian yang berciri terbuka dan selalu produktif mengolah sumberdaya mungkin berbenturan atau terhambat oleh adanya nilai-nilai subak yang sulit berubah atau diubah. Secara pragmatis mungkin azas kebersamaan dan rasa bakti menjadi anggota subak memudahkan terwujudnya kesamaan pandangan terhadap informasi pembangunan pertanian, alasan organisatoris di mana adanya pengakuan dan pembagian status, peran, wewenang, dan tanggungjawab yang jelas memungkinkan warga subak meraih peningkatan kualitas hidupnya. Alasan sosiologis yakni subaklah yang menjadi perekat (sosial glue) semangat bersama sehingga tidak satupun warganya merasa dapat hidup sendiri. Berarti juga dengan subak, maka perbedaan opini pribadi, pengalaman dan nilai-nilai personal mudah lebur ke arah produktif seperti progresif perwujudan pelaksanaan Tri Hita Karana yaitu hubungan selaras antara warga dengan Tuhan, warga dengan warga lain, dan warga dengan alam lingkungannya. Ciri komunikatif dan inovatif subak, dapat pula dijadikan alasan menggelorakan budaya getok tular sehingga adopsi-difusi pesan pembangunan pertanian sampai dengan efektif. Alasan kultural bahwa di subaklah dijiwai ajaran Tri Kaya Parisudha yang didasari oleh semangat berpikir (manacika), berkata (wacika), dan berbuat (kayika) yang benar. Warga subak adalah anggota keluarga, bagian dari sekehe (kelompokkelompok kecil satu profesi) dan tempekan (kelompok kecil bagian dari subak) dalam suatu banjar (lingkungan tempat tinggal). Kumpulan banjar membentuk satu desa, dan ragam perilaku masyarakatnya memerlukan pengaturan. Sejalan dengan ini Sarmela (1975:221) menggambarkan organisasi tradisi sebagai sistem tidaklah statis, di dalamnya terdapat aksi-aksi seperti komunikator-komunikator informasi pembangunan, aktor sosial-ekonomi, aspirator pengetahuan baru, motivator bagi individu lainnya dan agen transformator nilai menuju perubahan yang menguntungkan. Konsep ini dijadikan gambaran menganalisis subak yakni unsur-unsur mana memungkinkan subak menjadi pusat orientasi, fokus integrasi 76 sehingga tingkat partisipasi warganya cenderung semarak. Bagaimana ragam emosi dan aspirasi personal berupa persepsi mereka tentang pengembangan potensi subak menjadi wahana belajar menjadi pertanyaan selanjutnya. Subak sebagai kesatuan komunitas petani, dibentuk dari fungsi unsur fisik, nilai, program dan aktivitas, dan kepemimpinan subak. Fungsi unsur fisik mencirikan kesatuan komunitas yang menjamin rasa aman di subak bahkan cenderung menjadi primordial yang merugikan. Balai subak sebagai tempat musyawarah, aktivitas keagamaan, aktivitas ekonomi seperti pembagian sarana produksi pertanian, tempat penyuluhan pertanian dan wahana komunikasi sosial lainnya. Pura subak menjadi tempat persembahyangan warga subak dan pengambilan tirta suci sebelum aktivitas dalam subak dimulai. Pura sekaligus menjadi perekat sesama anggota subak. Balai kulkul atau kentongan subak bermakna komunikatif baik intra, inter, dan antar anggota subak. Irama dan prekuensi pukulan yang berbeda menyiratkan tujuan yang berbeda. Unsur fisik lainnya adalah dapur, perangkat kesenian, sumur, papan data dan informasi. Nilai subak mengatur perilaku anggota dan pengurus subak sekaligus sebagai tuntutan dalam berprilaku dalam mencapai tujuan hidup. Konsep nilai Tri Hita Karana sebagai tiga cara mencapai kesejahteraan (Geriya, 1993:93) yaitu menyelaraskan tiga hubungan di atas. Konsep Tat Wam Asi, artinya Ia adalah Kamu yang secara luas berarti menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Nilai kebersamaan dan kebaktian, tidak memungkinkan munculnya kreativitas individu bahkan dikorbankan demi komunal dan kolektivitas. Robinson (1989:96) mengakui pula bahwa tindakan meniadakan kreativitas, dan daya saing sebenarnya melawan pembangunan. Konsep nilai lainnya yaitu desa-kala-patra artinya program pembangunan disesuaikan dengan tata ruang-waktu-situasi sehingga keseimbangan lahir dan bathin menjadi pedoman berperilaku di subak. Ajaran Rwa-Bhineda dan Bhineka Tunggal Ika menyiratkan agar perbedaan dijadikan alat mencapai tujuan bersama atau teknik musyawarah pada paruman subak justru menghormati variasi pola pikir, berkata dan berbuat. Konsep Tri Guru yaitu Guru Rupaka yang mewajibkan setiap orang hormat kepada orang tua yang melahirkan; Guru Pengajian mewajibkan taat pada petunjuk guru di sekolah 77 dan Guru Wisesa, tunduk pada pemerintah. Konsep guru terakhir ini menjadikan subak korban induktif pemerintah dan memasung inisiatif dan subak Masuknya metode SRI ke dalam Subak menunjukkan daya dan efektivitas subak mengenal dan mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki untuk seterusnya dijadikan pedoman mengembangkan potensi diri mencapai tujuan pribadi, subak, dan pembangunan pertanian. Oleh sebab itu diperlukan dukungan sumberdaya yang memadai. Sumberdaya menyiratkan keragaman sumberdaya manusia, alam dan sumberdaya pendukung yang memengaruhi kiprah subak. Sumbedaya manusia di subak mengatur warganya dalam status dan peran yang berbeda, yaitu Prajuru Subak terdiri dari seorang kelian subak (Pimpinan), Penyarikan subak (Sekretaris), Petengen (Bendahara), beberapa Kelian Tempek (Ketua kelompok kecil) dan sisanya Kerame Subak (anggota). Selain itu, kepemimpinan subak juga tidak kalah penting. Kepemimpinan ditunjukkan dari kematangan warga, hubungan prajuru dan kerame subak, struktur tugas subak, kedudukan pemimpin, gaya kepemimpinan dan struktur kekuasaan pemimpin. Berdasar ciri Subak di atas, maka sangat penting dibuktikan apakah potensi Subak menjadi wahana belajar petani di Bali dipengaruhi oleh fungsi unsur dan semangat subak? Sebagai wahana belajar berarti tempat pelaksanaan proses belajar mengajar (Kochhar, 1981:25-26). Ciri aktivitas belajar dan mengajar adalah integrasi peran penyuluh, materi, sarana dan sasaran agar lebih produktif (Bertz, 1983:19-20; dan Kunzik, 1983:123). Ciri lain menurut Sutjipta (1994:1) bahwa penyuluhan adalah usaha terencana dan dilaksanakan dalam hubungan terbuka, tanpa adanya kesenjangan dalam menumbuhkan motivasi internal masyarakat. Sejalan dengan itu Kaufman (1979:31) menggambarkannya sebagai interrelasi, kooperasi dan partisipasi antar komponen belajar. Rogers (1983:290) menekankan adanya interkoneksi, dan Bertrand (1974:108) menyebut sebagai sosialisasi yang dinamis antar elemen kelompok. Roberts (1987:82) menekankan prinsip learning by doing ditingkatkan menjadi learning by interaction. Faktor yang diduga dapat memberikan pengaruh terhadap petani untuk mengadopsi atau menerapkan suatu inovasi dalam usahataninya adalah faktor yang berkaitan dengan karakteristik petani dan keluarganya, faktor yang berkaitan 78 dengan usahatani yang dijalankan dan faktor lingkungan. Apabila dilihat dari faktor yang memengaruhi percepatan adopsi, maka faktor yang memengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari inovasi itu sendiri yang akan diintroduksi harus mempunyai kesesuaian (daya adaptif) terhadap kondisi biofisik, sosial, dan budaya yang ada di petani (Musyafak dan Ibrahim, 2005:49). Berdasarkan penelitian terdahulu dapat diketahui peubah-peubah yang termasuk ke dalam faktor-faktor yang memengaruhi petani menerapkan inovasi tertentu. Faktor-faktor yang berkaitan dengan karakteristik petani dan keluarganya antara lain umur, pendidikan, jumlah anggota keluarga, sikap (Yanuar, 2002:10; Suharyanto et.al., 2005:15; Yuliarmi 2006:39; dan Basuki, 2008:40). Pendidikan diukur berdasarkan lamanya petani mengenyam pendidikan formal. Lama pendidikan formal mempunyai hubungan yang tidak langsung terhadap sikap petani dalam mengadopsi inovasi. Petani yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam mengadopsi inovasi, sebaliknya petani yang berpendidikan rendah agak sulit untuk mengadopsi suatu inovasi (Soekartawi, 1988:60). Makin muda umur petani biasanya mempunyai semangat dan keinginan untuk mengetahui apa yang belum diketahui/mencoba-coba hal baru, sehingga berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi (Soekartawi, 1988:60). Selanjutnya jumlah anggota keluarga diduga memengaruhi pengadopsian suatu inovasi. Semakin banyak keluarga maka tingkat pengadopsian semakin cepat karena kebutuhan hidup dan biaya hidup semakin besar, untuk memenuhi kebutuhan hidup itulah maka petani mengadopsi suatu inovasi agar dapat meningkatkan produktivitas usahataninya. Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh faktor produksi komoditas pertanian. Luas lahan berkorelasi positif dengan sikap adopsi petani, artinya luas lahan petani, semakin besar peluang petani dalam mengadopsi teknologi. Beberapa kemajuan teknologi baru mesyaratkan operasi dalam skala usaha yang besar dan memerlukan sumberdaya ekonomi yang substansial untuk menerapkannya, dengan demikian petani yang memiliki lahan yang luaslah yang akan mampu secara ekonomi untuk menerapkan praktik usahatani yang lebih modern (Lionberger dan Gwin, 1984:54). 79 Pemilik lahan mempunyak kuasa yang lebih luas daripada penyewa lahan. Pemilik lahan dapat langsung membuat keputusan dalam mengadopsi suatu inovasi, namun penyewa lahan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari pemilik lahan sebelum menerapkan suatu praktik baru apabila penyewa lahan masih mendapat bantuan finansial dari pemilik lahan (Lionberger dan Gwin, 1984:61) Keikutsertaan anggota subak dalam pelatihan memungkinkan anggota subak mendapatkan informasi mengenai teknologi yang belum diketahuinya dan merupakan sarana pendidikan non formal. Anggota subak yang selalu mengikuti berbagai pelatihan baik di daerahnya maupun di luar mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengadopsi inovasi, dikarenakan mempunyai pengetahuan yang lebih lengkap. Khusus untuk penelitian ini pelatihan yang diikuti anggota subak harus mengenai pelatihan atau penyuluhan tentang SRI. Pengalaman usahatani adalah lamanya anggota subak dalam melakukan usahatani padi dari sejak pertamakali memulai sampai penelitian dilakukan. Peubah ini merupakan gambaran dari budaya atau kebiasaan yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Anggota subak yang sudah lama bertani diperkirakan sulit bahkan tidak bersedia mengubah sistem pertaniannya, sehingga semakin lama pengalaman anggota subak maka semakin sulit untuk mengubah pola pikirnya untuk dapat menerapkan suatu inovasi. Pengalaman menyimpulkan bahwa praktik usahatani yang dilakukan selama bertahun-tahun adalah yang paling baik, sehingga ketika inovasi pertanian diperkenalkan anggota subak membutuhkan waktu yang lama untuk menerimanya. Pendapatan usahatani padi merupakan perolehan bersih petani dinilai dalam bentuk yang diterima dari hasil usahatani padinya. Semakin tinggi pendapatan yang akan diterima petani akibat penerapan teknologi tertentu diduga semakin cepat petani untuk beralih menerapkan inovasi dalam usahataninya. Pendapatan usahatani padi yang tinggi berhubungan dengan inovasi pertanian (Soekartawi, 1988:61). Dalam penelitian ini pendapatan usahatani dihitung berdasarkan satuan rupiah/musim tanam/ha. Karakteristik Anggota subak Anggota Subak X1 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Umur Pendidikan formal Luas lahan usahatani Pengalaman Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha Tingkat subsistensi Modal usahatani Partisipasi dalam subak (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persepsi anggota subak tentang SRI (Y1) Lebih baik dari metode konvensional Memberikan banyak keuntungan Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan Tidak bertentangan dengan norma Tidak bertentangan dengan tata nilai Tidak bertentangan dengan adat istiadat Sesuai dengan kebiasaan setempat Tidak terlalu rumit Mudah dicoba Hasilnya dapat dilihat langsung Kompetensi Fasilitator/Penyuluh (X5) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Kemampuan mengemukakan pendapat Kejelasan bahasa yang digunakan Daya adaptasi Kesistematisan dalam menyampaian materi Kemampuan memberi semangat klien Pemahanan kebutuhan anggota subak Alat bantu penyuluhan yang digunakan Penampilan menarik Efisiensi waktu memberi penyuluhan Penguasaan Materi SRI Pengalaman yang bagus dengan SRI (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Sikap anggota subak tentang SRI (Y2) Sri irit air Ramah lingkungan Menggunakan lebih sedikit benih Masa tanam lebih cepat Menggunakan bibit lebih muda Jumlah anakan lebih banyak Kualitas batang dan daun lebih baik Tahan terhadap hama dan penyakit Bulir padi lebih bernas Rasa nasi lebih enak Produktivitas tinggi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kemandirian Anggota Subak (Y3) Akses informasi Dapat belajar mandiri Kerjasama dengan pedagang Penyediaan modal usaha tani Penguasaan lahan (sewa) Akses pada kredit usahatani Berani menanggung risiko Proses pengambilan keputusan Ketepatan pengambilan keputusan Kompetensi Pengurus (X4) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Menyebarluaskan informasi Menganjurkan menerapkan SRI Mempengaruhi anggota subak Memberikan contoh Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan Memberikan semangat Mencarikan jalan pemecahan masalah Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI Sifat jujur dan terbuka Membuka diri dari segala macam kritikan Gambar 15. Kerangka berpikir penelitian Pengadopsian Paket Teknologi SRI oleh Anggota Subak(Y4) (1) Persiapan dan Pengolahan Lahan (2) Pemilihan Benih (3) Persemaian (4) Penanaman (5) Penyiangan (6) Pengairan (7) Pemupukan (8) Pengendalian hama dan penyakit (9) Panen 81 Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejalagejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. hipotesis adalah harapan yang dinyatakan oleh peneliti mengenai hubungan antara peubahpeubah di dalam masalah penelitian (Sevilla dkk., 1993:13). Hipotesis umum penelitian ini adalah derajat pengadopsian SRI di kalangan anggota subak masih rendah walaupun anggota subak telah mendapatkan informasi yang memadai tentang SRI, dan derajat pengadopsian SRI tersebut ditentukan oleh beberapa faktor internal dan faktor eksternal anggota subak. Hipotesis: (1) Karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus berpengaruh terhadap persepsi anggota subak tentang SRI. (2) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI berpengaruh terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. (3) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. (4) Karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh terhadap pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Ex post facto. Ex post facto berarti ”setelah kejadian” (Gay, 1976 dalam Sevilla, 1993:124). Peneliti menyelidiki permasalahan dengan mempelajari atau meninjau peubah-peubah. Peubah terikat dan persoalan utama peneliti dalam penelitian ini segera dapat diamati selanjutnya menemukan penyebab yang menimbulkan akibat tersebut. Kerlinger (1990:604) mendefinisikan Ex post facto adalah telaah empirik sistematis di mana ilmuan tidak dapat mengontrol secara langsung peubah bebasnya karena manifestasinya telah muncul, atau karena sifat hakekat peubah itu menutup kemungkinan manipulasi. Inferensi relasi antar peubah dibuat, tanpa intervensi langsung, berdasarkan variasi yang muncul seiring dalam peubah bebas dan peubah terikatnya. Gay (Sevilla, 1993:124) menyatakan bahwa dalam metode penelitian ini, peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya perbedaan dalam tingkah laku atau status kelompok individu. Dalam artian, peneliti mengamati bahwa kelompok-kelompok yang berbeda pada beberapa peubah dan kemudian diidentifikasi faktor utama penyebab perbedaan tersebut. Setelah tahapan tersebut di atas dilalui, selanjutnya penelitian ini dilanjutkan dengan model Structural Equation Model (SEM) yaitu suatu model yang juga disebut A Covariance Structure Model yang digunakan untuk menguji model-model empiris untuk menjelaskan varian dan korelasi antara suatu set peubah-peubah yang diobservasi (observe) dalam suatu sistem kausal (sebab akibat) dari faktor-faktor yang tidak diobservasi (unobserve). Dengan demikian pengukuran model menspesifikasikan seberapa jauh peubah-peubah yang diobservasi berhubungan dengan suatu set faktor-faktor yang dihipotesiskan. Untuk mengetahui pengaruh peubah bebas pada peubah terikat, dan menguji hipotesis penelitian dibuat kerangka hipotetik (Gambar 15). Kerangka hipotetik kemudian dioperasionalisasikan untuk merumuskan model persamaan pengukuran dan model persamaan struktural sesuai dengan kaidah SEM. Model persamaan dan kerangka hipotetik penelitian adalah sebagai berikut: 83 84 Model pengadopsian SRI oleh anggota subak: Y4 = X1 + X2 + * * 1 2 X3 + * 3 Y1 + * 4 Y2+ * 5 * 6 Y3 Ketergangan: X 1 = Karakteristik anggota subak. X 2 = Kompetensi fasilitator/penyuluh. X 3 = Kompetensi pengurus subak. Y 1 = Persepsi anggota subak tentang SRI. Y 2 = Sikap anggota subak terhadap SRI. Y 3 = Kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Y 4 = Pengadopsian SRI oleh anggota subak Model pengadopsian SRI: Y 4 = Y 3 + ζ 2 Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian ini adalah anggota subak sawah (kelompok tani tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi) dan menerapkan System of Rice Intensification (SRI) seperti terlihat pada Tabel 2. Sampel Penentuan Responden yang merupakan sampel dari populasi dilakukan dengan cluster sampling. Dengan demikian, unit wilayah administratif pemerintah, yaitu kabupaten sebagai cluster. Cluster sampling digunakan peneliti menyeleksi individu-individu secara terpisah. Pengambilan sampel dengan kelompok, bukan secara individu, diseleksi secara acak. Pengambilan sampel semacam ini dikaitkan sebagai pengambilan sampel wilayah, sebab dalam pelaksanaannya seringkali didasarkan atas letak geografis. Subyek-subyek yang diteliti secara alami berkelompok atau kluster. Penarikan sample menggunakan rumus Slovin, yaitu: N n = 1+Ne² Di mana: n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan, N = 288, e = 0,05 288 288 288 n= = = = 1 + 288 x (0,05)2 1 + (288 x 0,0025) 1 + 1,7725 288 = 104 2,7725 85 Tabel 2. Sebaran data populasi dan sampel penelitian Jumlah anggota subak yang telah menerapkan SRI Jumlah responden No Kabupaten Subak (1) Buleleng Padang Keling 30 11 (2) Badung Bergiding Buangga 28 8 10 3 (3) Tabanan Payangan Timpag 19 8 7 3 (4) (5) Gianyar Bangli 50 42 18 15 39 8 6 36 14 14 3 2 13 5 288 104 Rapuan Kaja Mungsing Sampalan Baler Margi Tohpati (6) Klungkung Dawan Telaga Lebah (7) Karangasem Mascatu Jumlah populasi dan responden penelitian Sumber: Dinas pertanian provinsi Bali, 2011 Ukuran populasi anggota subak yang menerapkan SRI masih sedikit. Adapaun pertimbangan menggunakan sampel penelitian adalah: (1) ketepatan dan kepercayaan bahwa sampel yang diambil telah dapat mengukur parameter yang di duga dalam penelitian ini, (2) tingkat keragaman dalam populasi untuk peubah yang diukur dapat diwakili oleh sampel yang diambil, (3) data yang diambil dapat dianalisis dengan Structural Equation Model (SEM, dan (4) waktu, biaya dan sumberdaya yang dimiliki peneliti, karena sampel yang besar adalah lebih mahal, memakan waktu lebih banyak, dan membutuhkan sumberdaya yang lebih besar. Data dan Instrumentasi Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Peubah laten eksogen terdiri atas: peubah karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator/penyuluh dan kompetensi pengurus subak. Peubah laten endogen terdiri atas: peubah persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, kemandirian anggota subak menerapkan SRI, dan pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. Indikator yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penciri dari peubah-peubah laten baik eksogen 86 maupun endogen. Tabel 3 menunjukkan kerangka hipotetik penelitian yang terdiri atas peubah laten eksogen dan laten endogen. Tabel 3. Peubah dan indikator peubah penelitian No Peubah Laten Eksogen (1) Karakteristik Anggota subak (2) (3) Kompetensi fasilitator/penyuluh Kompetensi pengurus subak Indikator (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1) (2) (3) (4) Notasi Umur Pendidikan formal Luas lahan usahatani Pengalaman Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha Tingkat subsistensi Modal usahatani Partisipasi dalam subak Kemampuan mengemukakan pendapat Kejelasan bahasa yang digunakan Daya adaptasi Kesistematisan dalam menyampaikan materi (5) Dukungan semangat pada masyarakat (6) Pemahaman kebutuhan masyarakat (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan (8) Berpenampilan menarik (9) Ketepatan dan efisiensi waktu (10) Penguasaan Materi SRI (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan (1) Menyebarluaskan informasi (2) Menganjurkan menerapkan SRI (3) Mempengaruhi anggota subak (4) Memberikan contoh (5) Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan (6) Memberikan semangat (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI (9) Sifat jujur dan terbuka (10) Membuka diri dari segala macam kritikan X 1.1 X 1.2 X 1.3 X 1.4 X 1.5 X 1.6 X 1.7 X 1.8 X 1.9 X 2.1 X 2.2 X 2.3 (1) (2) (3) Y 1.1 Y 1.2 Y 1.3 X 2.4 X 2.5 X 2.6 X 2.7 X 2.8 X 2.9 X 2.10 X 2.11 X 3.1 X 3.2 X 3.3 X 3.4 X 3.5 X 3.6 X 3.7 X 3.8 X 3.9 X 3.10 Laten Endogen (1) Persepsi anggota subak tentang SRI (4) (5) (6) Lebih baik dari metode konvensional Memberikan banyak keuntungan Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan Tidak bertentangan dengan norma Tidak bertentangan dengan tata nilai Y 1.4 Y 1.5 Y 1.6 87 Tabel 3. Peubah dan indikator peubah penelitian (lanjutan) No Peubah Indikator Tidak bertentangan dengan adat istiadat Sesuai dengan kebiasaan setempat Tidak terlalu rumit Mudah dicoba Hasilnya dapat diamati dan dirasakan secara langsung (1) Sri hemat/irit air (2) Ramah lingkungan (3) Menggunakan lebih sedikit benih (hemat benih) (4) Masa tanam lebih cepat (5) Menggunakan bibit muda (6) Jumlah anakan lebih banyak (7) Kualitas batang dan daun lebih baik (8) Tahan terhadap hama dan penyakit (9) Bulir padi lebih bernas (10) Rasa nasi lebih enak (11) Produktivitas tinggi (1) Mengakses informasi melalui media massa (2) Kerjasama dengan penyuluh (3) Kerjasama dengan pedagang (4) Penyediaan modal usaha (5) Menyiapkan lahan (6) Akses pada kredit usahatani (7) Menanggung risiko (8) Pengambilan keputusan (9) Belajar mandiri (1) Persiapan dan pengolahan lahan (2) Pemilihan benih (3) Persemaian (4) Penanaman (5) Penyiangan (6) Manajemen air (7) Pemupukan (8) Pengendalian hama dan penyakit (9) Panen (7) (8) (9) (10) (11) (2) 3) (4) Sikap anggota subak tentang SRI Kemandirian anggota subak Pengadopsian paket teknologi SRI oleh anggota Subak Notasi Y 1.7 Y 1.8 Y 1.9 Y 1.10 Y 1.11 Y 2.1 Y 2.2 Y 2.3 Y 2.4 Y 2.5 Y 2.6 Y 2.7 Y 2.8 Y 2.9 Y 2.10 Y 2.11 Y 3.1 Y 3.2 Y 3.3 Y 3.4 Y 3.5 Y 3.6 Y 3.7 Y 3.8 Y 3.9 Y 4.1 Y 4.2 Y 4.3 Y 4.4 Y 4.5 Y 4.6 Y 4.7 Y 4.8 Y 4.9 Karakteristik Anggota dan Pengurus Subak (X 1 ) Petani memiliki karakteristik yang beragam baik yang dibawa sejak lahir maupun karena bentukan lingkungan melalui proses belajar sepanjang hayat yang dilakukannya. Karakteristik tersebut dapat berupa karakter demografis petani, karakter sosial petani serta karakteristik kondisi ekonomi petani itu sendiri. Karakter-karakter tersebutlah yang membedakan tipe perilaku petani pada situasi tertentu untuk menerima atau menolak inovasi SRI. 88 Karakteristik anggota dan pengurus subak merupakan kondisi yang menggambarkan ciri atau profil seseorang atau sekelompok orang yang membedakannya dengan individu atau kelompok lain. Sumberdaya manusia (SDM) petani yang berkualitas lebih cepat dalam menerima inovasi SRI. Sejumlah karakteristik yang diamati dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Pengukuran peubah karakteristik anggota dan pengurus subak (X 1 ) No (1) Indikator Umur Parameter (1) Jumlah tahun sejak lahir hingga menjadi responden. (2) Tingkat pendidikan (3) Luas lahan Usahatani (4) Pengalaman usahatani (5) Jumlah tanggungan keluarga Motivasi berusaha (1) Jumlah tahun mengikuti pendidikan formal. (1) Luas lahan yang dikuasai untuk diusahakan yang dinyatakan dalam satuan luas. (1) Jumlah tahun sejak menjadi petani sampai dilakukan interview. (2) Jumlah anggota keluarga dalam satu dapur . (1) Intrinsik (2) Ekstrinsi (6) - - - Semakin luas semakin baik. - Semakin tinggi semakin berpengalaman. - Semakin sedikit semakin baik meningkatkan kesejahteraan petani. Dorongan yang berasal dari dalam diri individu. Dorongan yang berasal dari luar individu. Semakin banyak kebutuhan tingkat subsistensi semakin buruk. Semakin tergantung pada majikan maka tingkat subsistensi semakin buruk. Sesuai dengan kebutuhan. Tidak melalui prosedur yang berbelit-belit. Tersedia ketika dibutuhkan. Semakin tinggi semakin baik partisipasinya. - (7) Tingkat subsistensi (1) Tekanan kebutuhan (2) Patron-klien - - (8) (9) Modal dan akses pada kredit usahatani Partisipasi dalam subak (1) Besarnya (2) Kemudahan (3) Tepat waktu (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Menikmati hasil Kriteria Semakin banyak jumlah tahun berarti semakin bertambah wawasan dan pengalaman. Semakin tinggi tingkat pndidikan semakin baik . - 89 Kompetensi Penyuluh/Fasilitator (X 2 ) Kompetensi fasilitator adalah kemampuan yang dimiliki seseorang fasilitator untuk mengubah perilaku masyarakat menuju kondisi yang lebih bermutu, sekaligus mencapai tujuan program intervensi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan transfer belajar. kemampuan memotivasi, dan Transfer belajar berarti kemampuan seseorang untuk menggunakan hasil-hasil belajar yang telah didapatnya di dalam situasi yang baru yang sama dengan situasi sebelumnya atau yang lebih kompleks seperti ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Kompetensi fasilitator (X 2 ) No (1) Indikator Kemampuan transfer teknologi, memotivasi dan Penguasaan SRI Parameter (1) Kemampuan mengemukakan pendapat. (2) Kejelasan bahasa yang digunakan. (3) Daya adaptasi. (4) Kesistematisan dalam menyampaikan materi. (5) Dukungan semangat pada masyarakat. (6) Pemahaman kebutuhan masyarakat. (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan. (8) Berpenampilan menarik. (9) Ketepatan dan efisiensi waktu . (10) Penguasaan Materi SRI (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan. (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Tingkat kompetensi fasilitator/penyuluh SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kompetensi fasilitator = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = jumlah responden ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 4. 90 Kompetensi Pengurus Subak (X 3 ) Kompetensi merupakan aktivitas di dalam diri seseorang dan juga aktivitas di luar diri seseorang dalam melakukan respon terhadap rangsangan. Kemampuan (ability) merupakan suatu tenaga (daya kekuatan) yang dimiliki seseorang untuk melakukan perbuatan atau tindakan. Kemampuan merupakan kecakapan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang yang dibawa sejak lahir atau hasil pelatihan atau praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan. Kemampuan merupakan perpaduan antara pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengurus subak adalah orang yang menjadi pemimpin dalam kelompoknya, dengan demikian Kompetensi yang mesti dikuasai oleh pengurus subak adalah Kompetensi yang berkaitan dengan peran pemimpin terutama pemimpin informal. Kepemimpinan berbeda dengan kekuasaan. Kepemimpinan kekuatannya pada pengaruh yang memungkinkan orang lain mengikuti secara sukarela, sedangkan kekuasaan adalah kekuatan pada adanya kewenangan (otoritas) yang memaksa orang lain untuk melakukan perintahnya. Meskipun demikian, keduanya merupakan kekuatan memengaruhi orang lain, bisa kuat, kurang kuat, lemah atau tidak ada sama sekali. Sumber kekuatannya adalah pada: (1) kewenangan atau jabatan; (2) pengetahuan; dan (3) kepribadian. Adapun peubah dan indikator Kompetensi pengurus subak dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Kompetensi pengurus subak (X 3 ) No (1) Indikator Kemampuan transfer teknologi, memotivasi dan Penguasaan SRI Parameter Menyebarluaskan informasi. Menganjurkan menerapkan SRI. Mempengaruhi anggota subak. Memberikan contoh. Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan. (6) Memberikan semangat. (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah. (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI. (9) Sifat jujur dan terbuka. (10) Membuka diri dari segala macam kritikan. (1) (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR - Kriteria = Sangat tinggi = Tinggi = Sedang = Rendah = Sangat Rendah 91 Tingkat kompetensi pengurus subak diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kompetensi pengurus subak = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 5. Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) Persepsi anggota subak adalah pengertian anggota subak terhadap paketpaket teknologi SRI. Persepsi diukur dengan menggunakan skala Likert dengan perhitungan sebagai berikut: (1) Skor 5 diberikan jika responden merespons sangat setuju pernyataan yang diberikan; (2) Skor 4 diberikan jika responden merespons setuju pernyataan yang diberikan; (3) Skor 3 diberikan jika responden merespons ragu-ragu pernyataan yang diberikan; (4) Skor 2 diberikan jika responden merespons tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan; dan (5) Skor 1 diberikan jika responden merespons sangat tidak setuju dengan pernyataan yang diberikan seperti ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) No (1) Indikator Persepsi anggota subak tentang SRI Parameter Lebih baik dari metode konvensional. (2) Memberikan banyak keuntungan. (3) Tidak bertentangan dengan aturan subak (awig-awig). (4) Tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan. (5) Tidak bertentangan dengan norma. (6) Tidak bertentangan dengan tata nilai. (7) Tidak bertentangan dengan adat istiadat. (8) Sesuai dengan kebiasaan setempat. (9) Tidak terlalu rumit. (10) Mudah dicoba. (11) Hasilnya dapat dilihat .langsung (1) (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Kriteria = Sangat Tinggi = Tinggi = Sedang = Rendah = Sangat Rendah 92 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat persepsi = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 6. Sikap anggota subak terhadap SRI (Y 2 ) Sikap anggota subak adalah tingkat persetujuan anggota subak terhadap paket-paket teknologi SRI (Tabel 8). Tabel 8. Sikap anggota subak tentang SRI (Y 2 ) No (1) Indikator Parameter Sikap (1) SRI irit air. anggota (2) Ramah lingkungan. subak tentang (3) Menggunakan lebih SRI sedikit benih. (4) Masa tanam lebih cepat. (5) Menggunakan bibit lebih muda. (6) Jumlah anakan lebih banyak. (7) Kualitas batang dan daun lebih baik. (8) Tahan terhadap hama dan penyakit. (9) Bulir padi lebih bernas. (10) Rasa nasi lebih enak. Kriteria (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Peubah ini diukur dengan skala Likert dengan perhitungan sebagai berikut: (1) Skor 5 diberikan jika responden merespons sangat setuju pernyataan yang diberikan; (2) Skor 4 diberikan jika responden merespons setuju pernyataan yang diberikan; (3) Skor 3 diberikan jika responden merespons ragu-ragu pernyataan yang diberikan; (4) Skor 2 diberikan jika responden merespons tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan; dan (5) Skor 1 diberikan jika responden 93 merespons sangat tidak setuju dengan pernyataan yang diberikan. Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 7. Kemandirian Anggota Subak (Y 3 ) Kemandirian (self-reliance) adalah suatu suasana atau kondisi yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok seperti terlihat pada Tabel 9. Tabel 9 . Kemandirian Anggota Subak (Y 3 ) No (1) Indikator Mengakses informasi (2) Kerjasama dengan penyuluh Kerjasama dengan pedagang Penyediaan modal usahatani Menyiapkan lahan usaha (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Akses pada kredit usahatani Menanggung risiko Pengambilan keputusan Belajar Mandiri Parameter (1) Semakin sering dan banyak mengakses informasi melalui media massa. (1) Semakin sering berinteraksi dengan penyuluh. (1) Semakin sering berinteraksi dengan pedang . (1) modal sendiri. (2) sewa (3) hutang (1) milik sendiri. (2) sewa (3) bagi hasil. (1) Mudah (2) Murah (3) Tepat waktu. (1) Keberanian menanggung risiko. (1) Cepat (2) Tepat (1) Belajar dari pengalaman. (1) ST (2) T (3) S (4) R (5) SR = = = = = Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah 94 Kemandirian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemandirian dalam berusahatani di antaranya kemandirian dalam mengakses informasi, mendapatkan modal usahatani, mendapatkan saprodi, dan pengambilan keputusan. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat kemandirian = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = Jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan persepsi anggota subak tentang SRI dapat dilihat pada Lampiran 8. Pengadopsian paket-paket teknologi SRI oleh anggota Subak (Y 4 ) Derajat pengadopsian metode SRI adalah kecepatan relatif metode SRI diterapkan oleh anggota dan pengurus subak seperti terlihat pada Tabel 10. Tabel 10. Pengadopsian SRI (Y 4 ) No (1) (2) Indikator Parameter Persiapan dan (1) Bertujuan mendapatkan media tumbuh yang baik. pengolahan lahan (2) Dioleh seperti tanam padi metode biasa. (3) Dibajak sedalam 25-30 cm. (4) Dibuat parit keliling dan melintang petak sawah untuk membuat kelebihan air. (5) Letak dan jumlah parit pembuaangan disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak serta dimensi saluran irigasi. Pemilihan (1) Pentingnya melakukan benih pemilihan benih yang bermutu baik. (2) Menggunakan larutan garam dan telur. (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Kriteria = Sangat tinggi = Tinggi = Sedang = Redah = Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah 95 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No Indikator (3) Persemaian (4) Penanaman Parameter (3) Benih yang bermutu tenggelam, direndam dan dibilas. (1) Tidak harus dilakukan di lahan sawah. (2) Disemai pada baki-baki plastik/besek/nampan. (3) Varietas sesuai kebiasaan setempat. (4) Baki persemaian dilapisi daun pisang atau plastik. (5) Media tumbuh benih adalah tanah yang subur dicampur kompos dengan perbandingan 1:1. (6) Tinggi tanah pembibitan pada baki plastik adalah 4 cm. (7) Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian dan dilapisi tanah tipis. (8) Benih disiram setiap hari untuk menjaga kelembaban media tumbuh. (9) Baki-baki plastik pembenihan disimpan pada meja atau rak-rak kayu yang terjangkau oleh sinar matahari. (1) Pencabutan bibit dari persemaian dilakukan dengan hati-hati agar akar tanaman tidak terpotong. (2) Pola penanaman bibit metode SRI berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. (3) Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak. (4) Bibit ditanam pada umur 4 hingga 12 hari. (5) Bibit ditanam tunggal. (6) Posisi perakaran dibentuk seperti huruf L. (7) Penanaman dilakukan serentak. Kriteria (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (1) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah 96 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No (5) Indikator Pemupukan (6) Penyiangan (7) Pengairan (8) Pengendalian hama dan penyakit Parameter (1) Mengikuti anjuran dinas pertanian dalam menentukan takaran pupuk anorganik atau pupuk kimia. (2) Pemupukan pertama dilakukan pada umur 7-15 hari setelah tanam. (3) Pemupukan kedua dilakukan pada umur 2530 hari setelah tanam. (4) Menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah. (5) Menggunakan mikro organisme lokal (Mol) dalam pembuatan kompos. (1) Penyiangan dilakukan dengan menggunakan landak atau rotary weeder untuk membasmi gulma dan menjaga aerasi tanah. (2) Penyiangan dilakukan sebanyak tiga kali atau lebih. (1) Pemberian air dilakukan dengan jalan terputusputus. (2) Pada periode tertentu petak sawah dibiarkan kering sampah ”pecah rambut.” (3) Menjelang panen sawah dikeringkan. (1) Pengendalikan hama dan penyakit dilakukan secara terpadu. (2) Belalang, walang sangit dan keong dibuatkan alat perangkap. (3) Keong mas diatasi dengan jalan menjaga sawah tidak tergenang. (4) Wereng dikendalikan dengan menabur abu gosok. Kriteria (1) ST = (2) T = (3) S = (4) R = (1) SR = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah (1) (2) (3) (4) (5) ST T S R SR = = = = = Sangat tinggi Tinggi Sedang Redah Sangat rendah = = = = = 97 Tabel 10. Pengadopsian SRI (lanjutan) No (9) Indikator Panen Parameter (1) Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya bulir padi secara merata. (2) Panen SRI lebih awal dibandingkan dengan metode konvensional. (3) Jerami diolah menjadi kompos. (4) Arang sekam diolah menjadi kompos. Kriteria (6) ST = Sangat tinggi (7) T = Tinggi (8) S = Sedang (9) R = Redah (10) SR = Sangat rendah Tingkat pengadopsian terhadap paket-paket teknologi SRI diukur dengan rumus sebagai berikut: n(ST) + n(T) + n(S) + n(R) + n(SR) Tingkat pengadopsian = Jumlah item pernyataan Keterangan: n = jumlah responden ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah. Hasil analisis terhadap tingkatan pengadopsian paket-paket teknologi SRI dapat dilihat pada Lampiran 9. Instrumen Penelitian Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan peubahpeubah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Uji Kesahihan (Validity Test) Pada penelitian ini, daftar pertanyaan disusun dengan cara: (1) mempertimbangkan teori-teori dan kenyataan yang telah diungkapkan pada berbagai pustaka empiris, (2) menyesuaikan isi pertanyaan dengan kondisi responden, dan (3) memperhatikan masukan para pakar. Korelasi product moment digunakan untuk menentukan tingkat validitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner (Arikunto, 1998:10). Alat ukur dinyatakan valid (sahih) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur yang sebenarnya ingin diukur. Cara 98 menetapkan validitas (kesahihan) alat ukur penelitian ini adalah validitas isi, yaitu isi alat ukur tersebut dapat mewakili semua aspek yang dianggap sebagai kerangka konsep, (Kerlinger, 1990:729). Keabsahan kuesioner dapat diperoleh jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dalam kuesioner yang disusun sebenarnya terdapat tiga bagian penting yaitu konsep, konstrak, kemudian menjabarkan menjadi faktor-faktor, lalu faktorfaktor tersebut dijabarkan dalam butir-butir pertanyaan. Instrumen penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan penilaian juri di luar komisi pembimbing resmi, untuk mendapatkan keabsahan isi. Adapun pakar yang terlibat dalam penelitian ini adalah pakar SRI dari Lab Mikrobiologi Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, dan pakar SRI dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hasilnya, ketiga pakar telah sepakat bahwa butir-butir pernyataan yang dibuat telah mewakili seluruh paket teknologi yang ada pada inovasi SRI. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumentasi merupakan suatu konsep yang dapat mengetahui sejauh mana suatu alat pengukuran (instrumen penelitian) dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun & Effendi, 2003:142). Korelasi Crombach alpha digunakan untuk menentukan tingkat reliabilitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner (Arikunto, 1998:10). Alat ukur dinyatakan valid (sahih) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur yang sebenarnya ingin diukur. Dengan bantuan software SPSS 17.0, telah dicapai nilai koefisien instrumen penelitian sebesar 0,724 yang menyatakan bahwa instrumen yang dibuat reliable, selain itu pula telah didapatkan setiap butir pernyataan telah menunjukkan nilai > 0,3 yang berarti bahwa pernyataan-pernyataan yang disusun dapat diandalkan. Pengumpulan Data Data primer yang diambil adalah dengan bantuan instrumen/ kuesioner serta ditambah dengan wawancara mendalam. Pengumpulan data menyesuaikan kebiasaan waktu responden sehingga, memudahkan sekaligus menghindari bias 99 karena keterpaksaan responden. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada tujuh kabupaten yaitu: Kabupaten Badung, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar dan Tabanan. Data sekunder dengan melakukan studi terhadap dokumen/laporan yang dikeluarkan oleh pihak dinas terkait. Disamping itu digunakan studi literatur dan penelitian terdahulu untuk menunjang kebutuhan data atau informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, serta laporan yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik. Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan berbagai macam uji. Data yang terkumpul kemudian diberi skor sesuai dengan tingkatan masalahnya. Pengujian kualitas peubah-peubah penelitian yang meliputi uji kenormalan, uji kehomogenan, uji realibilitas dan uji validitas. Matrik yang digunakan dalam analisis data adalah correlation matrix karena ada dua jenis skala data yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu data ratio dan data interval. Analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM) dengan program Lisrel Versi 8.3. SEM juga dapat diartikan sebagai Path Analisis yang merupakan suatu teknik Ordinary Least Square yang digunakan untuk mengetahui model-model kausal. Prosedur SEM memberikan kesempatan peneliti untuk mengevaluasi parameter-parameter struktural secara statistik dari berbagai indikator dan konstrak laten dan keseluruhan fit dari suatu model. Tabel 11 menunjukkan pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak. Model fit dengan data apabila p> 0,05; RMSEA < 0,08 dan atau CFI > 0,90. Ada empat hipotesis penelitian yang diuji dalam penelitian ini. Uji statistik yang digunakan adalah dengan memperhatikan nilai t. Hipotesis diterima jika nilai t-hitung > 1,96. Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) diturunkan dari model kerangka berpikir penelitian dan berdasarkan peubah-peubah penelitian sehingga komposisi antar peubah dapat terlihat dengan jelas seperti ditunjukkan pada Gambar 16. 100 Tabel 11. Pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak Model Overall model Fit Hipotesis Ho: Matriks korelasi data sampel tidak berbeda dengan matriks korelasi populasi yang diestimasi. H1: Matriks korelasi data sampel berbeda nyata dengan matriks korelasi populasi yang diestimasi. Statistik Uji Kriteria Uji Model fit dengan data, p> 0,05; RMSEA < 0,08 dan atau CF > 0.90 Persepsi Ho : 1> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus tidak berpengaruh secara nyata terhadap persepsi SRI anggota subak. H1 : 1> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus berpengaruh secara nyata terhadap persepsi SRI anggota subak. Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Sikap H0 : β > 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. H1 : β > 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, dan persepsi anggota subak tentang SRI berpengaruh secara nyata terhadap sikap anggota subak terhadap SRI. H0 : γ> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. H1 : γ> 0 ; Karak teristik, Kompetensi fasil tator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh secara nyata terhadap kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Ho : 4> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI tidak berpengaruh secara nyata terhadap pengadopsian SRI. H1 : 4> 0 ; Karakteristik, Kompetensi fasilitator, Kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh secara nyata terhadap pengadopsian SRI. Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Nilai t H 1` diterima, nilai t-hitung > 1,96 Kemandirian Model pengadopsian SRI X1.1 X1.2 X1.3 X1..4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 X3.10 X1 X2 Y1 Y2 Y3 X3 Y4 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4 Y1.5 Y1.6 Y1.7 Y1.8 Y1.9 Y1.10 Y1.11 Y2.1 Y2.2 Y2.3 Y2.4 Y2.5 Y2.6 Y2.7 Y2.8 Y2.9 Y2.10 Y2.11 Y3.1 Y3.2 Y3.3 Y3.4 Y3.5 Y3.6 Y3.7 Y3.8 Y3.9 Y4.1 Y4.2 Y4.3 Y4.4 Y4.5 Y4.6 Y4.7 Y4.8 Y4.9 Gambar 16. Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Provinsi Bali terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Bali sebagai pulau terbesar, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Serangan yang terletak disekitar “kaki” Pulau Bali dan Pulau Menjangan yang terletak dibagian barat Pulau Bali. Secara geografis Propinsi Bali terletak pada posisi antara 8°03 40 - 8°50 48 lintang selatan dan 114°β5 5γ - 115°42 40 bujur timur (Distan Bali, β011:1). Propinsi Bali berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur yang dibatasi oleh selat Bali pada bagian barat, sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Pulau Lombok yang dibatasi oleh Selat Lombok. Pada bagian utara Propinsi Bali terdapat Laut Jawa dan pada bagian selatan terdapat Samudra Hindia seperti terlihat pada Lampiran 1. Luas wilayah Propinsi Bali secara keseluruhan sebesar 5.636,66 km2 atau 0,29 % dari luas Kepulauan Indonesia. Lebarnya dari pantai utara sampai pantai selatan sekitar 95 km, sedangkan panjangnya dari timur sampai ke barat sekitar 145 km dan panjang garis pantai sekitar 500 km (Distan Bali, 2011:1). Daerah pemerintahan Provinsi Bali terdiri atas 8 Kabupaten dan 1 Kota, 56 Kecamatan dan 703 Desa yang dirinci pada Tabel 12. Tabel 12. Luas wilayah, jumlah kecamatan dan desa per kabupaten se Bali Tahun 2007 No (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kabupaten/Kota Buleleng Jembrana Tabanan Badung Kota Denpasar Gianyar Bangli Klungkung Karangasem Luas (Km) 1.365,88 841,80 839,33 418,52 127,78 368,00 520,81 315,00 839,54 Jumlah Kecamatan 9 4 10 6 4 7 4 7 8 Sumber : Kantor Statistik Propinsi Bali ( Bali Dalam Angka, 2008) 103 Jumlah Desa 148 51 123 62 43 70 70 59 77 104 Provinsi Bali merupakan wilayah dengan beragam topografi yang berupa pegunungan, dataran dan kepulauan, yang berada pada ketinggian antara 0 - 3.140 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki perairan umum berupa danau dan sungai. Iklim daerah Bali termasuk tropis, dengan curah hujan beragam antara 890 milimeter - 2.700 milimeter setiap tahun. Suhu udara beragam antara 24°Celsius - 31°Celsius. Wilayah Bali mempunyai kawasan yang rawan terhadap bencana, yaitu erosi dan letusan gunung api (Bappenas, 2011:1). Lahan di Propinsi Bali sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Selain itu, sumber daya alam lainnya yang dimiliki adalah sumber daya kehutanan dan perkebunan yang potensial untuk dikembangkan (Bappenas, 2011:1). Di Bali, pariwisata merupakan salah satu faktor yang mendukung perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan pertanian dan pariwisata di Bali masih harus hidup berdampingan secara harmonis. Jadi dalam pengembangan kedua sektor tidak boleh dikorbankan satu dengan yang lain. Pesatnya perkembangan pariwisata memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat Bali. Sementara itu sektor pertanian adalah salah satu aset budaya dan ekonomi untuk pengembangan sektor pariwisata. Pengembangan sektor pariwisata yang cepat dan tidak terkendali akan membahayakan keberlanjutan sektor pertanian. Kemajuan pariwisata mengakibatkan banyak lahan pertanian berubah menjadi non-pertanian berfungsi untuk memenuhi kepentingan fasilitas pariwisata. Pengembangan pariwisata yang tidak terkendali menyebabkan persaingan yang sangat ketat antara air untuk irigasi pertanian dan air untuk keperluan konsumsi dan hotel. Di lain pihak, pariwisata memberikan peluang yang besar kepada pertanian untuk berkembang. Hal ini terjadi karena pariwisata menyediakan pasar bagi produksi pertanian, di mana pasar merupakan salah satu mata rantai yang krusial bagi pembangunan pertanian dewasa ini. Dalam aktivitas produksi, sesungguhnya para petani sudah mempunyai kemampuan yang memadai, mampu mengadopsi berbagai teknologi anjuran. Namun, permasalahan yang sangat pelik adalah penyaluran hasil produksinya, atau kalau tersalurkan, maka harga jualnya akan sangat rendah (Pitana, 2005:258). 105 Pariwisata memang telah mampu meningkatkan peluang bagi penduduk pedesaan untuk mencari penghidupan di sektor pariwisata, sehingga tekanan penduduk di sektor pertanian dapat kurangi. Namun, apakah ini merupakan dampak positif dalam arti kata yang sesungguhnya, masih dapat diperdebatkan. Sebab, pariwisata telah memicu urbanisasi dan migrasi. Penduduk desa khususnya kalangan muda, cenderung ingin mencari pekerjaan yang lebih bergengsi di sektor pariwisata daripada bertani, karena menjanjikan pendapatan yang jauh lebih besar. Pelaku urbanisasi dan migrasi ke kota Denpasar bahkan bukan penduduk desa dari Bali saja, tetapi juga dari luar Bali. Hal ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan seperti kriminalitas, kemacetan lalu lintas, pemukiman kumuh, prostitusi, dan banyak persoalan lainnya yang semuanya itu merupakan biaya sosial yang harus dipikul oleh masyarakat dan pemerintah Bali. Tenaga kerja untuk memanen hasil padi kini semakin sulit diperoleh dari penduduk Bali, sehingga terpaksa harus didatangkan dari luar Bali, khususnya dari Jawa. Kalau generasi muda Bali tidak lagi mau bertani karena kesenjangan yang lebar antara sektor pertanian dan pariwisata, apakah para penggarap sawah atau petani nantinya juga bukan penduduk asli Bali? Kalau demikian bagaimana nasib subak di masa datang terutama terkait dengan aspek ritualnya? (Sutawan, 2005:6). Hal ini memerlukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk masalah irigasi, peranan subak sebagai organisasi pertanian di Bali sangat diperlukan. Dalam hal ketersediaan sumber daya air yang ada di Bali membutuhkan kontrol penggunaan yang ketat antara irigasi untuk pertanian padi dan perhotelan. Sedangkan untuk masalah sumber daya manusia, diperlukan terobosan suatu inovasi pertanian yang menjanjikan agar generasi muda tertarik menggeluti sektor pertanian di masa depan. Hasil Ada sejumlah faktor yang memengaruhi anggota subak mengadopsi SRI. Faktor-faktor tersebut adalah: karakteristik individu petani, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi tentang SRI, sikap anggota subak, kemandirian dan adopsi anggota subak dalam berusahatani metode SRI. 106 Karakteristik Individu Petani Distribusi responden berdasarkan karakteristik anggota subak disajikan pada Tabel 13. Rataan umur responden adalah 50,31 tahun dengan kisaran antara 26 -75 tahun. Sebagian besar (28,85%) responden adalah petani yang berumur tua dengan kisaran antara 50 – 59 tahun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar petani Bali adalah petani yang berumur tua. Petani Bali kebanyakan berpendidikan formal rendah (41,35%) dengan rata-rata mengenyam pendidikan selama 6,95 tahun setara dengan tamatan SD. Data ini mengindikasikan bahwa petani Bali tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka,, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Luas lahan garapan usahatani petani Bali tergolong sempit (27,88%). Rataan luas lahan petani bali sebesar 51,04 are setara dengan 0,51 ha. Ini berarti kebanyakan petani memiliki luas garapan yang relative sempit. Selain sempit, lahan yang mereka garap bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah petani penggarap dengan system bagi hasil. Petani Bali sangat berpengalaman dalam berusahatani (51,92 % responden) dengan kisaran 38,13 – 60 tahun. Rataan pengalaman petani Bali adalah selama 26 tahun lebih. Jumlah tanggungan keluarga anggota subak tergolong sedikit (43,27%) dengan kisaran tanggungan antara tiga hingga empat orang dalam satu rumah tangga petani. Rataan jumlah tanggungan keluarga petani sebanyak tiga orang. Sebagian besar (30,77 %) responden memiliki motivasi yang tinggi untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Tingginya motivasi responden terlihat dari keinginannya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika mereka mengusahakan padi dengan metode konvensional. Mereka menerapkan SRI karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama tuntutan untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Motif lainnya adalah dapat menjalin kerjasama dengan anggota lainnya agar berhasil menerapkan SRI. 107 Tabel 13. Sebaran karakteristik anggota subak dalam pengadopsian SRI No (1) (2) (3) Ketegori n Persentase (%) Umur Sub peubah karakteristik 26 - 42 Sangat muda 27 25,96 Rataan 50,31 tahun 43 - 49 Muda 21 20,19 50 - 59 Tua 30 28,85 60 - 75 Uzur 26 25,00 Pendidikan formal 0 - 5,29 Sangat rendah 21 20,19 Rataan 6,95 tahun 5,30 - 6,93 Rendah 43 41,35 6,94 -9,53 Tinggi 18 17,31 9,53 - 12 Sangat tinggi 22 21,15 10 - 24,79 Sangat sempit 21 20,19 24,80 - 38,07 Sempit 29 27,88 38,08 - 58,00 Luas 27 25,96 Sangat luas Sangat tidak berpengalaman Tidak Berpengalaman 27 25,96 3 2,88 17 16,35 Berpengalaman Sangat Berpengalaman 30 28,85 54 51,92 Luas lahan usahatani Rataan 51,04 are Rentang skor 58,01 - 300 (4) Pengalaman Rataan 26,07 tahun 1 - 13,86 13,87 -23,50 23,51 - 38,12 38,13 - 60 (5) (6) Jumlah tanggungan keluarga 1-2 Sangat sedikit 28 26,92 Rataan 3,6 orang 3-4 Sedikit 45 43,27 5-6 Banyak 29 27,88 7-8 1-2 Sangat banyak Sangat rendah 2 24 1,92 23,08 >2-3 Rendah 21 20,19 >3-4 Tinggi 27 25,96 >4-5 32 30,77 13 12,50 >2-3 Sangat tinggi Sangat tidak subsisten Tidak subsisten 24 23,07 >3-4 Subsisten 32 30,76 >4-5 Sangat subsisten 35 33,65 Sangat sulit 21 20,19 >2-3 Sulit 18 17,31 >3-4 Mudah 34 32,69 >4-5 Sangat mudah 31 29,81 1-2 Sangat rendah 9 8,33 Motivasi berusaha Rataan skor 4,18 (7) Tingkat subsistensi Rataan skor 3,36 (8) Modal dan akses kredit usahatani Rataan skor 3,7 (9) Partisipasi dalam subak Rataan skor 4,4 1-2 1-2 >2-3 Rendah 2 1,85 >3-4 Tinggi 37 34,26 >4-5 Sangat tinggi 60 55,56 Setiap petani pada hakekatnya menjalankan sebuah perusahaan pertanian di atas usahataninya. Usahatani itu merupakan perusahaan, karena tujuan tiap petani bersifat ekonomis: memproduksi hasil-hasil, apakah untuk dijual ataupun 108 untuk digunakan oleh keluarganya sendiri. Sebagian besar (33,65%) responden tergolong petani yang sangat subsisten. Ini berarti kebanyakan petani bali belum berorientasi pada bisnis pertanian, karena sebagian besar hasil yang didapat adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Adapun pendapatan usahatani padi metode SRI responden dapat dilihat pada Lampiran 3. Petani Bali mudah dalam mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani (32% responden). Rataan skor modal dan akses pada kredit usahatani sebesar 3,7 yang berarti pula petani Bali mudah mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani. Partisipasi dalam subak petani Bali sangat tinggi (55,56% responden), dengan rataan skor partisipasi dalam subak 4,4 yang juga mengindikasikan bahwa partisipasi dalam subak petani bali sangat baik. Gambar 17. Hasil CFA peubah karakteristik individu petani Gambar 17 menunjukkan bahwa peubah observer untuk karakteristik individu petani terdiri atas: umur, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, motivasi berusaha, tingkat subsistensi, akses pada modal dan kredit usahatani, luas lahan garapan, dan tingkat partisipasi anggota dalam subak. Hasil uji dengan perangkat lunak Lisrer versi 8.3, Confirmatory Factor Analisys (CFA) menunjukkan bahwa karakteristik individu petani dibentuk oleh tiga peubah observer yaitu umur (0,90), tingkat pendidikan (0,57), dan pengalaman berusahatani padi (0,74). 109 Kompetensi Fasilitator Kompetensi fasilitator dipengaruhi oleh beberapa peubah observer diantaranya: kemampuan mengemukakan pendapat (KEMUKA), bahasa yang digunakan (BAHASA), kemampuan beradaptasi dengan klien (ADAP), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (SISTEMIS), kemampuan membangkitkan semangat (SEMANGAT), kemampuan memahami kebutuhan klien (BUTUH), efektifitas penggunaan alat bantu penyuluhan (ALAT), kemampuan menarik minat klien (MENARIK), ketepatan waktu (WAKTU), penguasaan materi (KUASAI) dan kemampuan mencipatakan suasana belajar yang bagus/kondusif (BAGUS) seperti terlihat pada Tabel 14. Tabel 14. Distribusi responden berdasarkan kompetensi fasilitator Kategori Kompetensi fasilitaror (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) ST T S KEMUKA 61 44 1 BAHASA 58 34 0 ADAP 65 33 3 SISTEMIS 62 33 1 SEMANGAT 56 36 4 BUTUH 55 38 5 ALAT 55 42 4 MENARIK 60 51 1 WAKTU 48 44 2 KUASAI 49 34 4 BAGUS 66 0 3 Jumlah 635 389 28 Kompetensi fasilitator = 4,28 (Tinggi) Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Skor R SR 1 2 1 6 5 5 3 1 2 4 0 30 0 0 1 2 6 3 4 0 1 3 1 21 n (ST) 305 290 325 310 280 275 275 300 240 245 330 3175 n(T) n(S) n(R) n(SR) 176 136 132 132 144 152 168 204 176 136 0 1556 3 0 9 3 12 15 12 3 6 12 9 84 2 4 2 12 10 10 6 2 4 8 0 60 0 0 1 2 6 3 4 0 1 3 1 21 Jumlah 486 430 469 459 452 455 465 509 427 404 340 4896 Tingkat Kompetensi Fasilitator 4,67 4,13 4,51 4,41 4,35 4,38 4,47 4,89 4,11 3,88 3,27 47,08 Berdasarkan penilaian responden, secara keseluruhan tingkat kompetensi fasilitator SRI tergolong dalam kategori tinggi dengan skor 4,28 (rentang skor 15). Kompetensi fasilitator yang harus dipertahankan diantaranya kemampuan fasilitator dalam mengemukakan pendapat (skor 4,67), kemampuan fasilitator beradaptasi dengan kliennya (skor 4,51), kemampuan fasilitator dalam penggunaan alat bantu penyuluhan (skor 4,47) dan kemampuan fasilitator menarik minat kliennya menerapkan SRI (skor 4,89). Sedangkan kompetensi fasilitator yang harus ditingkatkan adalah kemampuan fasilitator dalam penguasaan SRI (skor 3,88) dan kemampuan fasilitator menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan skor 3,27 (Lampiran 4). 110 Gambar 18. Hasil CFA peubah kompetensi fasilitator Gambar 18 menunjukkan bahwa kompetensi fasilitator dicirikan oleh peubah observer: kemampuan mengemukakan pendapat (0,71), bahasa yang digunakan (0,63), kemampuan beradaptasi dengan klien (0,72), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (0,88), kemampuan membangkitkan semangat (0,86), kemampuan memahami kebutuhan klien (0,58), efektifitas penggunaan alat bantu penyuluhan (0,27), kemampuan menarik minat klien (0,70), ketepatan waktu (0,61), penguasaan materi seperti (0,57), kemampuan mencipatakan suasana belajar yang kondusif (0,67) ditunjukkan pada Gambar 2. Untuk membentuk model persamaan struktural yang ”fit” maka dipilih tiga peubah observer yang memiliki bobot tertinggi yaitu kemampuan beradaptasi dengan klien (0,72), kemampuan penyampaian materi secara sistematis (0,88), kemampuan membangkitkan semangat (0,86). Kompetensi Pengurus Kompetensi pengurus dipengaruhi oleh peubah observer: peranan menyebarkan inovasi SRI (NYEBAR), menganjurkan SRI (DARI), memengaruhi anggota (ARUH), memberikan contoh (CONTOH), pelibatan anggota (LIBAT), kompetensi pengurus memberikan semangat (ANGAT), mencarikan jalan penyelesaian masalah (JALAN), pengetahuan tentang SRI (TAHU), sifat jujur dan terbuka (JUJUR), dan menerima kritikan (KRITIK). 111 Tabel 15. Distribusi responden berdasarkan kompetensi pengurus subak Kompetensi pengurus subak Kategori ST T S Skor R (1) NYEBAR 73 28 2 1 (2) DARI 33 41 5 11 (3) ARUH 64 34 4 1 (4) CONTOH 65 26 5 5 (5) LIBAT 82 21 0 0 (6) ANGAT 58 40 2 3 (7) JALAN 64 32 4 4 (8) TAHU 25 53 12 10 (9) JUJUR 77 27 0 0 (10) KRITIK 77 27 0 0 Jumlah 618 329 34 35 Kompetensi pengurus subak = 4,42 (Tinggi) Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah SR 0 14 1 3 0 1 0 4 0 0 23 n (ST) 365 165 320 325 410 290 320 125 385 385 3090 n(T) 112 164 136 104 84 160 128 212 108 108 1316 n(S) 6 15 12 15 0 6 12 36 0 0 102 n(R) 2 22 2 10 0 6 8 20 0 0 70 n(SR) 0 14 1 3 0 1 0 4 0 0 23 Jumlah 485 380 471 457 494 463 468 397 493 493 4601 Kompetensi 4,66 3,65 4,53 4,39 4,75 4,45 4,50 3,82 4,74 4,74 44,24 Tabel 15 menunjukkan data hasil penilaian responden terhadap tingkat kompetensi pengurus subak. Secara keseluruhan pengurus subak dinilai oleh anggota subak memiliki tingkat kompetensi yang tinggi dengan skor 4,42 (rentang skor 1-5). Tingkat kompetensi pengurus subak dalam menyebarluaskan informasi SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,66; Menganjurkan menerapkan SRI berada pada kategori tinggi dengan skor 3,65; Memengaruhi anggota subak berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53; Memberikan contoh berada pada kategori tinggi dengan skor 4,39; Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,75; Memberikan semangat berada pada kategori sangat tinggi dengan 4,45; Mencarikan jalan pemecahan masalah berada pada kategori sangat tinggi dengan 4,50; Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI berada pada kategori tinggi dengan skor 3,82; Sifat jujur dan terbuka berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,74; Membuka diri dari segala macam kritikan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,74. 112 Gambar 19. Hasil CFA peubah kompetensi pengurus subak Kompetensi pengurus dicirikan oleh peubah observer: kompetensi pengurus memberikan semangat (0,76) dan kompetensi pengurus dalam mencarikan jalan pemecahan masalah (0,62) seperti terlihat pada Gambar 19. Persepsi Anggota Subak tentang SRI Persepsi anggota sunbak terhadap SRI dipengaruhi oleh peubah observer: dapat diamati (AMATI), mudah dicoba (COBA), tingkat kerumitan SRI (RUMIT), sesuai dengan kebiasaan anggota subak (BIASA), sesuai dengan adat istiadat setempat (ADAT), sesuai dengan tata nilai setempat (NILAI), tidak bertentangan dengan norma setempat (NORMA), tidak bertentangan dengan aturan subak (AWIG), tidak ditemukan kesulitan yang berarti dalam penerapannya (SULIT), memberikan banyak keuntungan (UNTUNG), SRI lebih baik dibanding metode konvensional (BAIK) seperti disajikan pada Tabel 16. Secara keseluruhan persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53 (rentang skor 1 – 5 ) seperti ditunjukkan pada Tabel 16. Persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,51; SRI memberikan banyak keuntungan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,54; SRI tidak bertentangan dengan awig-awig subak berada pada kategori tinggi dengan skor 4,29; SRI tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,29; SRI sesuai dengan norma setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,72. 113 Tabel 16. Persepsi anggota subak tentang SRI Kategori Persepsi Skor 6 9 0 15 0 0 3 6 21 18 9 0 0 0 12 2 0 0 2 16 10 4 1 0 0 3 0 0 0 0 4 2 1 469 472 495 446 491 489 490 481 430 449 470 Tingkat Persepsi 4,51 4,54 4,76 4,29 4,72 4,70 4,71 4,63 4,13 4,32 4,52 Jml 714 367 29 23 11 3570 1468 87 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI = 4,53 (Sangat Tinggi) 46 11 5182 49,83 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) AMATI COBA RUMIT BIASA ADAT NILAI NORMA SULIT AWIG UNTUNG BAIK ST T S 58 59 79 56 77 73 75 69 49 55 64 43 42 25 34 26 31 28 32 36 36 34 2 3 0 5 0 0 1 2 7 6 3 R SR n(ST) 0 0 0 6 1 0 0 1 8 5 2 1 0 0 3 0 0 0 0 4 2 1 290 295 395 280 385 365 375 345 245 275 320 n(T) 172 168 100 136 104 124 112 128 144 144 136 n(S) n(R) n(SR) Jumlah Keterangan n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah SRI sesuai dengan tata nilai setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,70; SRI sesuai dengan adat istiadat setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,71; SRI sesuai dengan kebiasaan setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,63; SRI tidak terlalu rumit berada pada kategori tinggi dengan skor 4,13; SRI mudah dicoba berada pada kategori tinggi dengan skor 4,32; Hasil SRI dapat diamati berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,52 (Lampiran 6). Gambar 20. Hasil CFA peubah persepsi anggota subak tentang SRI 114 Ternyata, tiga peubah observer yang paling kuat mencirikan persepsi anggota subak mengadopsi SRI adalah persepsi mereka bahwa SRI sesuai dengan tata nilai (0,88), adat (0,82), dan kebiasaan setempat (0,82). Sikap Anggota Subak terhadap SRI Sikap dipengaruhi oleh peubah observer: SRI hemat air (IRIT), ramah lingkungan (RAMAH), irit/hemat benih (DIKIT), masa tanam lebih cepat (CEPAT), bibit muda (MUDA), banyaknya jumlah anakan/rumpun (ANAK), kualitas batang dan daun (BATANG), tahan terhadap penyakit (TAHAN), bulir bernas (BULIR), rasa nasi lebih enak (RASA), tingginya produktivitas (PRODUK). Tabel 17. Sikap anggota subak terhadap SRI Kategori SIKAP (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml IRIT RAMAH DIKIT CEPAT MUDA ANAK BATANG TAHAN BULIR RASA PRODUK Skor ST T S R 76 51 85 30 67 78 51 21 40 24 68 26 37 18 42 33 26 41 29 37 34 30 2 9 1 20 3 0 8 30 21 31 2 0 6 0 5 1 0 1 14 2 9 1 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 380 255 425 150 335 390 255 105 200 120 340 104 148 72 168 132 104 164 116 148 136 120 6 27 3 60 9 0 24 90 63 93 6 0 12 0 10 2 0 2 28 4 18 2 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 490 443 500 395 478 494 448 349 419 373 471 Tingkat Sikap 4,71 4,26 4,81 3,80 4,60 4,75 4,31 3,36 4,03 3,59 4,53 591 353 127 39 34 2955 1412 381 78 34 4860 46,73 SR n(ST) n(T) n(S) n(R) n(SR) Jumlah Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI adalah 4,25 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah Anggota subak memiliki tingkat sikap yang tinggi terhadap SRI dengan skor sebesar 4,25 (rentang skor 1-5). Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI ramah lingkungan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,26; SRI hemat benih berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,81; Masa tanam SRI lebih cepat dibandingkan metode konvensional berada pada kategori tinggi dengan skor 3,80; menggunakan bibit muda berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,60; Jumlah anakan/rumpun padi SRI lebih banyak berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,75; Kualitas batang dan daun padi SRI lebih kokoh berada pada kategori tinggi dengan skor 4,31; 115 Padi SRI lebih tahan terhadap hama dan penyakit berada pada kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,36; Bulir padi SRI lebih bernas berada pada kategori tinggi dengan skor 4,03; Rasa nasi hasil SRI lebih enak (pulen) berada pada kategori tinggi dengan skor 3,59; dan Produktivitas SRI tinggi berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 4,53 (Lampiran 7). Gambar 21 menunjukkan bahwa hasilnya CFA sikap anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh: SRI irit/hemat air (0,65), dan banyaknya jumlah anakan/rumpun (0,66). Gambar 21. Hasil CFA peubah sikap anggota subak terhadap SRI. Kemandirian Anggota Subak Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh: kemampuan mengakses informasi dari media massa (INFO), dapat belajar mandiri (DAPAT), kemampuan menerima informasi dari pedagang (DAGANG), modal sendiri (DAL), kepemilikan lahan (SEWA), kemampuan akses pada kredit usahatani (HUTANG), keberanian menanggung risiko (RISK), kecepatan pengambilan keputusan (PUTUS), ketepatan dalam pengambilan keputusan (TEPAT) seperti ditunjukkan pada Tabel 18. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI berada pada kategori sedang dengan skor 3,39 (rentang skor 1-5). Tingkat kemandirian dalam akses media berada pada kategori rendah dengan skor 1,97; Belajar mandiri berada pada kategori tinggi dengan skor 4,34; Kerjsama dengan pedagang berada pada kategori rendah dengan skor 1,73; Kemandirian modal usaha berada pada kategori tinggi 116 dengan skor 4,30; Menyiapkan lahan berada pada kategori tinggi dengan skor 2,92; Akses kredit usahatani berada pada kategori tinggi dengan skor 2,67. Tabel 18. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI Kategori Kemandirian ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) (1) INFO 6 15 5 22 56 30 60 15 (2) DAPAT 56 30 5 6 7 280 120 15 (3) DAGANG 4 7 10 19 64 20 28 30 (4) DAL 53 40 2 7 2 265 160 6 (5) SEWA 20 25 14 17 28 100 100 42 (6) HUTANG 17 23 10 17 37 85 92 30 (7) RISK 53 37 4 2 8 265 148 12 (8) PUTUS 41 51 6 3 3 205 204 18 (9) TEPAT 52 43 5 0 4 260 172 15 Jml 302 271 61 93 209 1510 1084 183 Tingkat kemandirian anggota suba menerapkan SRI adalah 3,39 (Sedang) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah n(R) n(SR) Jumlah 44 12 38 14 34 34 4 6 0 186 56 7 64 2 28 37 8 3 4 209 205 434 180 447 304 278 437 436 451 3172 Tingkat Kemandirian 1,97 4,17 1,73 4,30 2,92 2,67 4,20 4,19 4,34 30,50 Tingkat kemandirian dalam menanggung risiko berada pada kategori tinggi dengan skor 4,20; Kecepatan pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,19; dan Ketepatan pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan skor 4,34 (Lampiran 8). Gambar 22. Hasil CFA peubah kemandirian anggota subak menerapkan SRI 117 Hasilnya, kemandirian anggota subak dibentuk oleh peubah dapat belajar mandiri (0,78) dan kemampuan pengambilan keputusan yang tepat (0,55) seperti terlihat pada Gambar 20. Adopsi SRI oleh Anggota subak Pengadopsian SRI oleh anggota subak dibentuk dari peubah observer persiapan dan pengolahan lahan (PERSIAPA), pemilihan benih (BENIH), persemaian (PERSEMAI), penanaman (PENANAMA), pengairan (PENGAIRA), penyiangan (PENYIANG), pemupukan (PEMUPUKA), pengendalian hama dan penyakit (PENYAKIT), dan panen (PANEN). Secara keseluruhan tingkat pengadopsian paket-paket teknologi SRI di kalangan anggota subak termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 3,94 (rentang skor 1-5) seperti yang tercantum pada Lampiran 9. Pengadopsian terhadap paket teknologi persiapan dan pengolahan lahan SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan skor 4,49; Pemilihan benih SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,32; persemaian SRI termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,12; penanaman metode SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,30; Pemupukan termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 4,26; Penyiangan termasuk dalam kategori tinggi dengan skor 3,81; Pengairan termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan skor 4,45; Pengendalian hama dan penyakit termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,33; Panen termasuk dalam kategori sedang dengan skor 3,42. Gambar 23. Hasil CFA peubah pengadopsian SRI di kalangan anggota subak 118 Hasilnya adalah pengadopsian SRI oleh anggota subak dicirikan oleh pemilihan benih SRI (0,96) dan persemaian SRI (0,54) seperti terlihat pada Gambar 23. Hasil uji kesesuaian model memberikan nilai statistik chi-square sebesar 112,49 dengan derajat kebebasan 98 dengan nilai P-hitung 0,15028 yang lebih besar dari 0,5; nilai RMSEA 0,038 lebih kecil dari 0,08 sertai nilai CFI 0,932 lebih besar dari 0,90. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model yang diusulkan fit dengan data seperti ditunjukkan pada Gambar 24. Keterangan: ADAP : adaptasi SISTEMIS : sistematis SEMANGAT: membangkitkan semangat ANGAT : membangkitkan semangat JALAN : mencari jalan peyelesaian masalah BIASA : kebiasaan setempat IRIT : SRI irit air ANAK : jumlah anakan DAPAT : dapat belaajr mandiri TEPAT : pengambilan keputusan yang tepat BENIH : pembenihan PERSEMAI : persemaian Chi–Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 Gambar 24. Pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI 119 Hasil SEM menunjukkan bahwa estimasi koefisien bobot faktor seluruhnya nyata pada tingkat kesalahan lima persen dengan nilai koefisien bobot faktor yang distandarkan seluruhnya lebih besar dari nilai minimal yang disyaratkan sebesar 0,50. Besarnya pengaruh peubah laten endogen terhadap peubah laten eksogen memberikan gambaran yang konprehensif terhadap topik penelitian. Untuk mengetahui besarnya pengaruh baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan model tersebut di atas maka di susun dekomposisi antar peubah seperti di tunjukkan pada Tabel 19. Tabel 19. Dekomposisi antar peubah pengadopsian SRI Pengaruh Antar Peubah P e n g a r u h Pengaruh Tidak Langsung Melalui Peubah Bebas  Peubah Terikat X1  X2 X3 Y1 Y2 Y3      Langsung Y1 Y 2- Y3 Y 1 &Y Y 1 &Y 3 Y2 & Y3 Y 1 ,Y 2 & Y3 Total 2 Y1 0,54 - - - - - - - - Y2 0,18 0,35 - - - - - - 0,53 Y3 0,20 0,13 0,12 - 0,242 - - - 0,70 Y4 0,14 0,13 0,09 0,05 0,17 0,03 0,03 0,06 0,74 Y1 0,62 - - - - - - - 0,62 Y2 0,51 0,40 - - - - - - 0,91 Y3 0,59 0,01 0,03 - 0,02 - - - 0,67 Y4 0,52 0,01 0,02 0,01 0,20 0,04 0,09 0,07 0,99 Y1 0,23 - - - - - - - 0,23 Y2 0,48 0,14 - - - - - - 0,63 Y3 0,23 0,03 0,03 0,01 - - - 0,31 Y4 0,07 0,05 0,24 0,07 0,01 0,08 0,02 0,64 Y2 0,65 - - Y3 0,25 - 0,44 - - - - - 0,70 Y4 0,25 - 0,17 0,06 - - 0,12 - 0,61 Y3 0,69 - - - - - - - 0,69 Y4 0,51 - - 0,06 - - - - 0,58 Y4 0,27 - - - - - - - 0,27 Keterangan: X 1 = Karakteristik X 2 = Kompetensi Fasilitator X 3 = Kompetensi Pengurus Y 1 = Persepsi 0,06 0,65 Y 2 = Sikap Y 3 = Kemandirian Y 4 = Adopsi 120 Tabel 18 memberikan gambaran bahwa peubah yang paling berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengadopsian SRI adalah kompetensi fasilitator/penyuluh yaitu masing-masing sebesar 0,52 dan 0,99. Sedangkan peubah yang paling lemah memengaruhi langsung pengadopsian SRI di kalangan anggota subak adalah kompetensi pengurus subak dan pengaruh tidak langsung adalah kemandirian (0,27). Hipotesis 1 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus berpengaruh terhadap persepsi SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor persepsi semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 1 diterima, artinya: persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh faktor karakteristik anggota subak sebesar 0,54 atau 29,16 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,62 atau 38,44 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,23 atau 5,29 persen. Pengaruh bersama-sama karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 73 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 27 persen. Hipotesis 2 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, dan persepsi SRI berpengaruh terhadap persepsi SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 2 diterima, artinya: sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,65 atau 42,25 persen, karakteristik anggota subak sebesar 0,18 atau 3,24 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,51 atau 26,01 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,48 atau 23,04 persen. Pengaruh bersama-sama persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 94 persen. Ada 121 faktor lain yang memengaruhi persepsi anggota subak tentang SRI sebesar enam persen. Hipotesis 3 menyebutkan bahwa ”karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi, dan sikap anggota subak terhadap SRI berpengaruh terhadap kemandirian SRI anggota subak.” Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 3 diterima, artinya: kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,25 atau 6,25 persen, sikap anggota subak terhadap SRI sebesar 0,69 atau 47,61 persen, karakteristik anggota subak 0,20 atau empat persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,59 atau 34,81 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,25 atau 6,25 persen. Pengaruh bersama-sama persepsi, sikap SRI, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 78 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 28 persen. Hipotesis 4 menyebutkan bahwa karakteristik, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI berpengaruh terhadap pengadopsian SRI oleh anggota subak. Hasil uji kebermaknaan terhadap masing-masing estimasi parameter model struktural faktor sikap semuanya nyata pada tingkat kesalahan 0,05 dengan estimasi persamaan struktural sebagai berikut: H 4 diterima, artinya: pengadopsian SRI oleh anggota subak dipengaruhi oleh faktor persepsi anggota subak tentang SRI sebesar 0,25 atau 6,25 persen, sikap anggota subak terhadap SRI sebesar 0,51 atau 26,01 persen, kemandirian anggota subak menerapkan SRI sebesar 0,27 atau 7,29 persen, karakteristik anggota subak 0,14 atau 1,69 persen, kompetensi fasilitator sebesar 0,52 atau 27,04 persen dan kompetensi pengurus subak sebesar 0,25 atau 6,25 persen. Pengaruh bersama- 122 sama persepsi, sikap, karakteristik, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus adalah sebesar 69 persen. Ada faktor lain yang memengaruhi persepsi sebesar 31 persen. Pembahasan Pengadopsian SRI oleh anggota subak dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI. Karakteristik Anggota Subak Karakteristik individu anggota subak dicirikan oleh umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berusahatani. Umur bukan faktor psikologis namun sesuatu yang diakibatkan oleh umur adalah faktor psikologis (Padmowihardjo, 1999:36). Terdapat dua dampak psikologis yang diakibatkan oleh umur petani yaitu: kemampuan belajar dan kemampuannya untuk mengadopsi inovasi. Kebanyakan anggota subak adalah petani yang berumur tua. Setelah mencapai umur tertentu, kemampuan belajar akan berkurang secara gradual. Menurunnya kemampuan belajar secara otomatis memengaruhi kemampuannya untuk mengadopsi suatu inovasi. Walaupun kemampuan belajar sudah mulai menurun, akan tetapi mempelajari suatu inovasi masih tetap dapat dilakukan, malahan masih dapat terus disempurnakan dengan dukungan pengalaman yang didapatkan sebelumnya. Hal inilah menjadi dasar bahwa anggota subak perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang SRI secara terus menerus guna mempertahankan kemampuan belajarnya. Secara makro, umur anggota subak yang kebanyakan tua menjadi tantangan terhadap kelestarian subak di Bali. Seiring dengan bergulirnya waktu, maka petani-petani yang ada sekarang akan segera memasuki masa purnabhakti. Di sisi lain minat pemuda penjadi petani semakin menurun karena menganggap pekerjaan bertani adalah pekerjaan yang kotor, identik dengan cangkul, pacul, dan lumpur dan tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Pada masa mendatang provinsi Bali akan dihadapkan pada lost of generation sumberdaya manusia pertanian. Tidak adanya regenerasi petani di Bali, juga menjadi ancaman terhadap 123 upaya-upaya pelestarian subak sebagai penyangga kebudayaan Bali karena tidak ada lagi yang mewarisi nilai-nilai yang dianut dalam sistem subak di Bali. Hasil penelitian ini menguatkan kekhawatiran Sutawan (2005:6) tentang masuknya petani yang berasal dari luar Bali. Apabila yang menjadi petani di Bali bukan penduduk asli Bali, maka akan terjadi pergeseran nilai-nilai yang ada di subak terutama pada aspek ritualnya. Tingkat pendidikan formal anggota subak masih rendah, namun kemampuannya dalam berusahatani masih dapat ditingkatkan. Tanpa proses belajar anggota subak tidak akan mendapatkan pengalaman. Kumpulan pengalaman ini yang akan membentuk kepribadian anggota subak dan akan melatarbelakangi tindakannya. Belajar tidak mesti melalui bangku sekolah, namun dapat belajar non-formal melalui kegiatan penyuluhan. Anggota subak dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik, atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah (van den Ban dan Hawkins. 1999:39). Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak, tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya permasalahan secara tepat waktu dan segera dapat mencarikan jalan penyelesaian masalah. Petani Bali adalah petani yang berpengalaman dalam usahataninya. Pengalaman-pengalaman petani Bali ini berpengaruh terhadap proses belajarnya. Apabila seseorang pernah mengalami suatu hal yang kurang menyenangkan, maka apabila suatu saat ia diberi kesempatan untuk mempelajari hal tersebut lagi, ia sudah memiliki suatu perasaan pesimis untuk berhasil. Apabila tidak ada usaha yang keras untuk mengatasi kekecewaan yang pernah terjadi, maka proses belajar yang dihadapi tidak akan terselenggara dengan baik. Keadaan sebaliknya akan terjadi apabila pengalaman menyenangkan yang terjadi ketika mempelajari sesuatu. Implikasinya penyuluh/fasilitator bagi harus penyuluh/ dapat fasilitator menimbulkan SRI suasana adalah belajar bahwa yang menyenangkan, terhindar dari suasana tegang yang mencekam selama kegiatan penyuluhan, sehingga petani memperoleh pengalaman yang baik selama belajar. Di samping itu, untuk menghindari kegagalan, penyuluh harus banyak 124 memberikan kesempatan kepada para petani untuk berlatih SRI sehingga mahir dan dapat menghindari kegagalan. Kompetensi Fasilitator Fasilitator yang membawa inovasi SRI kepada anggota subak dinilai kompeten oleh sebagian besar anggota subak. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitator yang membawa inovasi ke dalam subak telah berhasil mengubah caracara bertani dari konvensional menjadi cara- cara SRI. Setelah dilakukan analisis mendalam, ternyata sebagian besar fasilitator SRI adalah fasilitator yang dipilih oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang direkrut melalui proses seleksi yang baik. Fasilitator yang terpilih adalah orang-orang yang kompeten pada bidang SRI dan telah menguasai metode-metode yang mumpuni dalam pelaksanaan penyuluhan tentang SRI. Inovasi SRI masuk ke dalam sistem sosial subak pertama kali diperkenalkan oleh fasilitator-fasilitator yang berasal dari DISIM Bali Tahun 2004 melalui Dinas Pekerjaan Umum. Sebenarnya tujuan utama dari Dinas PU provinsi Bali pada waktu itu adalah memperbaiki jaringan irigasi yang ada di subak dimulai dari subak-subak yang berada pada daerah aliran sungai (DAS) Tukad Saba dan dilanjutkan dengan subak-subak yang ada di sepanjang DAS Tukad Unda. Krisis air irigasi yang dihadapi petani Bali pada waktu itu menjadi pendorong subak-subak yang mendapatkan bantuan perbaikan jaringan irigasi untuk lebih mengoptimalkan potensinya dalam hal manajemen air irigasi. Pada saat itulah inovasi SRI diperkenalkan sebagai suatu inovasi yang sangat cocok dengan kebutuhan anggota subak karena dalam SRI manajemen air menjadi salah satu paket teknologinya. Anggota subak menilai fasilitator SRI kompeten terutama dalam hal kemampuan penyuluh/fasilitator dalam beradaptasi dengan klien, membangkitkan semangat klien, dan menyampaikan materi secara sistematis. Kemampuan penyuluh/fasilitator beradaptasi dengan klien harus dilatar belakangi oleh sifat empati yang tinggi. Penyuluh harus dapat merasakan apa yang petani rasakan, dengan demikian maka akan timbul rasa simpati di kalangan anggota subak kepada penyuluh. Kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien yang baik akan meningkatkan kridibilitas seorang penyuluh/fasilitator. Kridibilitas penyuluh 125 fasilitator yang baik menjadi modal dasar keberhasilan dalam pelaksanaan tugastugasnya. Selain itu, kemampuan lain yang mesti dikuasai penyuluh adalah dapat menyampaikan materi secara sistematis dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih rumit. Anggota subak lebih mudah mempelajari SRI apabila melakukan secara bertahap mulai dari yang paling mudah, misalnya memilih benih sampai yang paling sulit seperti pembuatan formula mikro organisme lokal (Mol). Prinsip ini merupakan prinsip terpenting dalam proses belajar mandiri. Bila anggota subak langsung diminta mengerjakan sesuatu yang sulit, besar kemungkinan semangatnya akan menurun dan akan menyerah sebelum berhasil menguasainya. Salah satu alasan mengapa urutan bertahap penting adalah karena kenyataan bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin dengan baik dilakukan, sebelum seseorang menguasai pengetahuan dasar mengenai hal itu. Proses belajar hendaknya selalu dimulai dengan meminta warga belajar mengerjakan keterampilan dasar lebih dahulu dan baru kemudian keterampilan yang lebih lanjut. Cara lain adalah membiarkan anggota subak mengerjakan dengan caranya sendiri, kemudian fasilitator menunjukkan bagaimana semestinya paket-paket teknologi SRI itu diterapkan. Dengan prinsip ini maka penguasaan atas paket-paket teknologi SRI akan lebih efisien. Disamping itu, anggota subak akan lebih bergairah karena merasa yakin dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan selanjutnya setelah menuasai langkah-langkah sebelumnya. Penyampaian materi SRI secara sistematis mengandung beberapa dimensi pengertian sebagai berikut: (1) Belajar dari yang sederhana ke yang kompleks, (2) dari yang mudah ke yang sukar, (3) dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui, (4) dari yang lebih dikenal ke yang kurang dikenal, (5) dari yang memerlukan sedikit motivasi ke yang memerlukan banyak motivasi, (6) dari pengertian bagian ke pengertian menyeluruh, (7) dari pengertian terpisah ke pengertian yang saling berkaitan, (8) dari mengerjakan terbimbing ke mengerjakan sendiri, dan (9) dari teori ke praktek. 126 Adapun cara melaksanakan prinsip urutan yang bertahap dalam penyuluhan SRI adalah dengan cara: (1) materi-materi SRI dipecah-pecah menjadi unit-unit kecil, mula-mula diajarkan satu per satu secara berurutan, misalnya dari persiapan lahan hingga panen, kemudian ditunjukkan hubungan-hubungan diantara peket-paket teknologi itu, (2) penyampaian materi SRI dimulai dari materi persiapan lahan yang telah biasa dilakukan anggota subak, kemudian dilanjutkan pada bagian-bagian lain dari SRI yang belum pernah diterapkan oleh anggota subak, (3) fasilitator sebaiknya terlebih dahulu mendemonstrasikan sesuatu cara pengerjaan paket-paket teknologi SRI, misalnya dalam praktik pembuatan Mol, kemudian anggota subak mencoba melakukannya sendiri, (4) fasilitator memberikan dahulu teori (misalnya konsep musuh alami dalam pengendalian hama terpadu) kemudian anggota subak menerapkan konsep PHT dalam praktik, dan (5) anggota subak diajak untuk mencoba SRI skala yang kecil terlebih dahulu, baru kemudian menerapkan dalam skala yang lebih besar. Kemampuan selanjutnya yang mesti dikuasai fasilitator adalah membangkitkan semangat klien. Membangkitkan semangat dapat ditempuh dengan jalan DOTALIRA yaitu dorongan, tarikan, libatkan, dan rangsang (Padmowihardjo, 1999:139). Anggota subak yang belum menunjukkan minat dan keinginan menerapkan SRI harus dimotivasi dengan jalan memberikan dorongan. Tarikan diperlukan terutama kepada anggota subak yang masih ragu-ragu menerapkan SRI karena ketakutan akan kegagalan. Libatkan anggota subak yang telah menyadari SRI sebagai kebutuhanya dalam kegiatan-kegiatan percobaan/denplot di lahan petani lain sesama anggota subak, dengan pelibatan ini akan lebih meyakinkan mereka untuk segera menerapkan SRI. Rangsang anggota subak yang telah menerapkan SRI untuk lebih meningkatkan kemampuannya menguasai metode-metode SRI yang diharapkan. Kompetensi Pengurus Subak Pengurus subak dalam penyebarluasan SRI ke dalan sistem sosial subak dinilai kompeten oleh anggota subak. Pengurus subak adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi anggotanya. Namun, kenyataannya dilapangan tidak semua pengurus subak dengan mudah menerima suatu inovasi. Paling tidak dijumpai dua tipe pengurus subak dalam memainkan peranan 127 penyebaran inovasi. Kebanyakan pengurus subak yang ”bersahabat” dengan inovasi SRI. Ada sebagian kecil pengurus subak yang ”tidak bersahabat” dengan SRI. Setelah dilakukan penyelidikan secara mendalam ditemukan bahwa pengurus subak yang tidak bersahabat dengan SRI ternyata memiliki hidden agenda yang menyebabkannya ”tidak bersahabat” dengan SRI. Inovasi SRI membebaskan petani subak untuk memilih apakah penerapkan SRI dengan pupuk organik murni, gabungan organik dan anorganik, ataupun anorganik murni. Fasilitator sebagai pembawa pesan inovasi SRI menganjurkan kepada petani secara pelan-pelan mengurangi penggunaan pupuk anorganik untuk memperbaiki struktur tanah. Ternyata pengurus subak yang ”tidak bersahabat” ini menjadi salah satu agen penyedia pupuk anorganik yang biasa mendistribusikan pupuk-pupuk kimia kepada anggotanya. Anjuran untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik menjadi ancaman terhadap kelangsungan usaha yang menjadi mata pencahariannya. Kasus ini berimplikasi pada perhatian agen pembaru terhadap tokoh masyarakat harus lebih ditingkatkan. Jika agen pembaru memperoleh bantuan dari tokoh masyarakat maka tugas yang diembannya akan berjalan lancar, namun sebaliknya jika agen pembaru tidak berhati-hati dan terbentur dengan tokoh masyarakat maka ia harus bersiap-siap untuk menerima kegagalan atau setidak-tidaknya kesulitan dalam melaksanakan tugas. Peubah kompetensi pengurus subak dicirikan oleh kompetensi pengurus dalam memberikan semangat dan mencarikan jalan pemecahan masalah anggotanya. Pemberian semangat juga harus dilakukan pengurus subak karena biasanya anggota sangat percaya pada pemimpinnya. Sebagai pemimpin informal, maka pengurus juga harus aktif mencarikan jalan pemecahan masalah yang dihadapi anggotanya dalam menerapkan SRI. Pengurus subak memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih tentang pertanian karena lebih sering bergaul di luar sistem sosialnya. Pengurus subak sering melakukan ”kontak” dengan intansi pemerintah, penyedia sarana produksi, penyedia kredit usahatani. Informasi yang didapat dari hasil pergaulan di luar sistem sosialnya menjadi bekal yang sangat berharga untuk membantu mencarikan jalan pemecahan masalah yang dihadapi anggotanya. 128 Persepsi Anggota Subak tentang SRI Persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat baik. Persepsi anggota subak tentang SRI dicirikan oleh: SRI sesuai dengan tata nilai, adat dan kebiasaan setempat. Secara filosofis nama inovasi SRI sama dengan nama Dewi Sri yang dipercaya masyarakat Bali sebagai dewi kesuburan. Ini menjadi nilai positif pengembangan SRI di Bali. Selain itu tidak ada satu paketpaket teknologi SRI yang bertentangan dengan nilai, adat dan kebiasaan setempat. Kondisi ini sejalan dengan Rogers (2003:254) yang menyatakan bahwa suatu inovasi relatif lebih cepat diadopsi jika sesuai dengan indigenous knowledge termasuk di dalamnya nilai, adat dan kebiasaan setempat. Nilai dapat diartikan sebagai suatu konsepsi tentang apa yang dianggap baik atau buruk. Hal-hal yang dianggap baik merupakan pedoman tingkah laku yang perlu dituruti, sebaliknya apa yang dianggap tidak baik atau buruk perlu dihindari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dianut anggota subak tidak bertentangan dengan inovasi SRI. Adat dan tradisi adalah segala sesuatu yang diteruskan dari masa lalu ke masa sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat dan tradisi yang ada pada subak tidak bertentangan dengan paket-paket teknologi yang ada pada SRI. Kebiasaan adalah segala sesuatu yang rutin dilakukan oleh anggota subak. Masuknya SRI ke dalam sistem sosial subak, tidak banyak mengubah tatanan sistem sosialnya karena inovasi SRI merupakan penyempurnaan cara-cara bertani yang telah biasa dilakukan dalam Subak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisional tidak selalu bersifat negatif bagi pembangunan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Roger dan Shoemaker (1971:156) yang menyatakan bahwa norma tradisional itu bukan berarti sama sekali tidak berguna. Dalam banyak kasus, norma tradisional itulah yang menjaga kestabilan suatu sistem sosial yang bersangkutan, sehingga pada masa depan, upaya peningkatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa sedapat-dapatnya dihindarkan dari ekses-ekses negatif, dalam arti nilai-nilai lembaga kemasyarakatan tradisional positif jangan sampai dirusak. Dengan demikian, usaha-usaha pembaruan akan merupakan proses yang dapat berjalan secara harmonis. 129 Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi secara positif oleh peubah karakteristik, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak. Artinya semakin baik karaktersiktik, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak maka akan semakin baik pula persepsi anggota subak tentang SRI. Karakteristik individu petani merupakan faktor fungsional yang menentukan persepsi. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan halhal lain yang disebut faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karena karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Implikasinya adalah SRI relatif lebih cepat dipersepsikan positif oleh petani-petani yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan air irigasi ketimbang petani yang sedang berlimpah dengan air irigasi. Kompetensi fasilitator/penyuluh memberikan sumbangan terbesar dalam pembentukan persepsi tentang SRI di kalangan anggota subak. Persepsi sangat dipengaruhi oleh kredibilitas komunikator. Kemampuan fasilitator/penyuluh beradaptasi dengan klien dan dapat menyampaikan materi secara sistematis menyebabkan penyuluh/fasilitator kredibel. Sejalan dengan pendapat Anderson (1972:82) yang menyatakan bahwa hal-hal yang memengaruhi persepsi komonikate tentang komunikator sebelum ia berlakukan komunikasinya disebut prior ethos. Anggota subak membentuk gambaran tentang penyuluh/ fasilitator dari pengalaman langsung bergaul dan telah mengenal integritas penyuluh/fasilitator yang bertugas di daerahnya. Tidak berbeda dengan kompetensi fasilitator/penyuluh, kompetensi pengurus subak juga berkontribusi dalam pembentukan persepsi positif tentang SRI di kalangan anggota subak. Bedanya adalah pengurus subak merupakan pemimpin dalam kelompoknya. Dalam ilmu kepemimpinan, pemimpin adalah orang yang diikuti oleh bawahannya, hal inilah yang menyebabkan ada pengaruh positif kompetensi pengurus terhadap persepsi anggota subak tentang SRI. Sikap Anggota Subak terhadap SRI Anggota subak setuju terhadap paket-paket teknologi yang terdapat dalam inovasi SRI. Peubah ini dicirikan oleh sikap anggota subak yang menyatakan bahwa SRI hemat air, dan jumlah anakan/rumpun padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. 130 SRI hemat air menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota subak. Ini menunjukkan bahwa inovasi SRI sesuai dengan kebutuhan anggota subak. Krisis air irigasi yang dialami anggota subak menumbuhkan minat untuk mencoba cara bercocok tanam padi yang hemat air. Dengan hemat air, maka konflik-konflik perebutan sumber-sumber air irigasi dapat dihindarkan. Selain itu, yang menjadi daya tarik lain dari inovasi SRI adalah jumlah anakan/rumpun padi sangat banyak, padahal bibit yang ditanam hanya satu. Implikasinya adalah dengan fakta ini dijadikan promosi oleh fasilitator untuk meyakinkan anggota subak yang belum mengenal SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi secara langsung oleh persepsi anggota subak tentang SRI. Artinya semakin positif persepsi anggota subak tentang SRI maka semakin baik pula sikapnya. Persepsi anggota subak tentang SRI merupakan proses pengamatan yang dilakukan anggota subak melalui komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Anggota subak mengamati SRI dari kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya. Pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur tentang SRI. Sedangkan pengetahuan dan cakrawalanya memberikan arti terhadap SRI. Melalui komponen kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep mengenai SRI. Berdasarkan norma dan nilai yang ada pada diri individu anggota subak akan terjadi keyakinan (belief) terhadap SRI. Selanjutnya komponen afeksi memberikan evaluasi emosional (senang atau tidak senang) terhadap SRI. Kemandirian Anggota Subak Anggota subak cukup mandiri dalam menerapkan SRI. Peubah ini dicirikan oleh kemampuan belajar mandiri anggota subak dan proses pengambilan keputusan yang tepat. Salah satu ciri belajar menyebutkan bahwa belajar terjadi pada orang yang belajar. Implikasinya bagi penyuluh adalah mendukung dan menciptakan proses belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning. Dengan mengembangkan belajar mandiri maka klien dapat mengambil keputusan yang tepat berkaitan dengan usahataninya. 131 Kemandirian petani dipengaruhi oleh kompetensi fasilitator/penyuluh. Artinya semakin kompeten fasilitator/penyuluh maka kemandirian anggota subak akan semakin baik. Penyuluhan yang sasarannya adalah orang dewasa merupakan proses pendidikan yang mempunyai ciri-ciri sistem pendidikan non formal, terencana/terprogram, merupakan pendidikan orang dewasa yang metodenya lateral. Keberhasilan ditentukan oleh seberapa jauh tercipta dialog antara yang dididik dan pendidik sehingga tercipta proses pembelajaran yang dialogis. Masing-masing orang dihargai pendapatnya. Konsep pendidikan orang dewasa ini cocok atau sesuai dengan konsep penyuluhan sehingga penyuluhan merupakan bentuk dari pendidikan orang dewasa. Implikasi pendidikan orang dewasa dalam penyuluhan adalah bahwa bukan membuat petani tergantung tetapi mandiri. Selain itu, kemandirian petani juga dipengaruhi oleh sikapnya terutama dalam hal pengambilan keputusan untuk menerapkan SRI pada lahan usahataninya. Faktorfaktor personal seperti kognisi, motif dan sikap amat menentukan dalam pengambilan keputusan. Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat akan menentukan masa depan petani. Peran penyuluh/fasilitatorlah yang seharusnya membantu petani dalam proses pengambilan keputusan yang tepat sebelum anggota subak menerapkan SRI pada lahan usahataninya. Pengadopsian SRI Secara keseluruhan pengadopsian SRI oleh anggota subak berada pada kategori Baik. Pemilihan benih bernas dan persemaian adalah faktor penciri dominan yang menentukan pengadopsian SRI oleh anggota subak. Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau bernas, maka perlu dilakukan pemilahan walupun benih tersebut dihasilkan sendiri maupun benih berlabel. Caranya dengan menggunakan larutan garam. Persemaian untuk budidaya SRI tidak harus dilakukan di sawah, tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu atau besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan dan penanaman. Implikasinya bagi penyuluh adalah kedua faktor ini dapat dijadikan entry point untuk mempercepat pengadopsian di kalangan anggota subak. 132 Derajat pengadopsian menunjukkan bahwa paket-paket teknologi yang terdapat pada SRI belum seluruhnya diadopsi secara optimal. Alasannya adalah: Pertama, pada saat pengolahan tanah yang mesti dilakukan petani adalah membuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air, namun hal ini belum banyak dilakukan anggota subak. Kedua, pada saat pemilahan benih bernas semestinya dilakukan seleksi dengan menggunakan larutan garam dan telur sebagai indikator bahwa benih yang dipilih adalah yang bermutu baik. Kenyataannya, masih banyak petani yang tidak melakukan hal ini. Ketiga, persemaian untuk budidaya SRI tidak harus menggunakan persemaian di sawah, tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu atau besek. Faktanya petani melakukan persemaian di sawah, walaupun sudah ada peningkatan perilaku dengan melapisi kertas semen. Keempat, pola penanaman bibit metode SRI adalah bujur sangkar, 30 x 30 cm atau 35 x 35 cm atau lebih jarang lagi, misalnya sampai 50 x 50 cm pada tanah yang subur, namun banyak dijumpai petani menggunakan sistem legowo. Selain itu, dalam SRI bibit ditaman pada umur 5 hingga 15 hari atau berdaun dua setelah semai dengan jumlah benih per lubang satu atau tanam tunggal dan dangkal satu sampai 1,5 cm dan posisi perakaran seperti huruf L (Uphoff dan Fernandes, 2003:6). Potensi pertumbuhan tanaman padi dapat diwujudkan dengan pemindahan lebih awal. Kenyataannya petani belum berani menanam 1 bibit pada satu lubang tanam dengan alasan ketakutan tidak tumbuh ataupun dimakan keong. Kelima, metode SRI sangat menganjurkan penggunakan pupuk organik yaitu pupuk kandang, atau pupuk kompos atau pupuk hijau. Penggunaan pupuk organik selain memperbaiki struktur tanah juga bisa mengikat air atau menghemat air. Kenyataanya penggunaan pupuk anorganik masih tinggi di kalangan anggota subak. Keenam, penyiangan dilakukan dengan menggunakan alat penyiang jenis landak, atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah, namun jarang ditemukan alat semacam ini yang mengindikasikan bahwa anggota subak melakukan penyiangan masih dengan cara-cara lama. Ketujuh, pemberian air dengan jalan terputus-putus atau intermeten dengan ketinggian air di petakan sawah maksimum 2 cm paling baik macak-macak atau 0,5 cm. Kenyataannya, pada daerah hulu 133 sungai petani belum mengubah perilakunya karena sumberdaya air yang ada berlimpah, tetapi kondisi berbeda ditemukan di daerah hilir sungai. Pengairan terputus telah dilakukan dengan baik menginat sumberdaya air yang ada sangat terbatas. Pengendalian hama dan penyakit SRI dikendalikan melalui program PHT dengan menggunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak dan menggunakan pestisida secara selektif. Kenyataannya, penggunaan pestisida masih dijumpai di kalangan anggota subak walaupun jumlahnya tidak banyak. Anggota subak juga jarang melakukan rotasi tanaman maupun rotasi varietas padi, hal ini yang menyebabkan tingginya risiko terserang tungro. Terakhir, ada beberapa petani saat panen SRI yang belum menyadari begitu besar manfaat jerami untuk keberlangsungan usahatani padi mereka. Petani tersebut masih membakar jerami agar sawah mereka terlihat bersih. Padahal, jerami harus dikembalikan ke sawah karena dalam jeramilah terdapat unsur-unsur hara yang sangat diperlukan padi pada periode tanam berikutnya. Model Peningkatan Kapasitas Anggota Subak untuk Mengadopsi SRI di Bali Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang telah ditemukan dalam penelitian ini selanjutnya dituangkan ke dalam sebuah model peningkatan kapasitas subak untuk mengadopsi SRI di Bali (Gambar 20). Gambar 20 menggambarkan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh/ fasilitator dapat ditempuh melalui jalur: (1) Pelatihan penyampaian materi secara sistematis, (2) Mengasah kepekaan terhadap lingkungan sosial tempat bertugas, dan (3) Pelatihan memotivasi klien. Peningkatan kompetensi Penyuluh/fasilitator menyebabkan peningkatan kompetensi pengurus dan juga anggota subak. Mengembangkan kemandirian anggota subak tidak terlepas dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anggota subak. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara mandiri tidak terlepas dari peranan fasilitator untuk mengajak anggota subak belajar. Ini berarti fasilitator memainkan peranan dalam memengaruhi proses keputusan inovasi yang dilakukan anggota subak. 134 Ada tiga tipe keputusan inovasi yakni keputusan opsional yang dilakukan secara individu oleh anggota subak tanpa memperhatikan keputusan anggota lainnya, keputusan kolektif yang dilakukan oleh individu-individu dalam subak secara kolektif dan keputusan otoritas yang dalam penelitian ini tidak ditemukan suatu intervensi untuk memaksa anggota subak menerapkan SRI. Peningkatan Kompetensi: - Penyampaian materi sistematis - Beradaptasi - Motivasi Penyuluhan: Dotalira Analisis masalah Analisis pemecahan masalah Pengurus Subak Fasilitator/ Penyuluh Anggota subak - - Tua Berpengalaman Pendidikan formal rendah Pendampingan: 1. Semangat 2. Mencarikan solusi penyelesaian masalah Penyuluhan: Dotalira Self directed learining 3. Pengambilan keputusan 4. Pelatihan 1. 2. Persepsi tentang SRI Baik Sikap terhadap SRI Baik Pengadopsian SRI di Kalangan anggota subak Gambar 25. Model peningkatan kapasitas anggota subak untuk mengadopsi SRI di 135 Sebagai langkah awal seorang agen pembaharu seringkali perlu membantu kliennya menyadari bahwa mereka membutuhkan perubahan tingkah laku. Yang demikian ini terutama di masayarakat yang belum maju. Rendahnya wawasan perencanaan, rendahnya aspirasi, tingginya sikap pasrah pada nasib dan rendahnya motivasi berprestasi merupakan ciri-ciri umum penduduk desa. Ini berarti agen pembaharu bertindak sebagai katalisator (pembuka kran) bagi kebutuhan kliennya. Dalam memulai pross perubahan agen pembaharu dapat mengemukakan alternatif-alternatif baru untuk mengatasi problem yang ada, mendramatisasi permasalahan mereka dan meyakinkan kliennya bahwa mereka dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. Dia tidak hanya menaksir kebutuhan klien tetapi juga membantu timbulnya kebutuhan ini dengan konsultatif dan persuatif. Sebagian anggota subak tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Tugas agen pembaharu adalah meniadakan hambatan tersebut dengan cara menyediakan informasi dan memberikan pandangan mengenai masalah yang dihadapi. Agen penyuluh dapat memberikan bantuan berupa pemberian informasi tentang paket-paket teknologi SRI yang memadai yang bersifat teknis mengenai masalah yang dibutuhkan petani dan menunjukkan cara penanggulanganya. Selama penyuluh belum mampu memberikan informasi yang dibutuhkan petani tersebut, maka kegiatan penyuluhan SRI tidak akan berjalan dengan baik. Begitu kebutuhan untuk berubah telah tumbuh, fasilitator dapat membina keakraban dengan kliennya. Fasilitator dapat meningkatkan keakraban itu dengan menciptakan kesan dapat dipercaya, jujur dan empathi dengan kebutuhan dan masalah-masalah kliennya. Anggota subak harus lebih dulu bisa menerima agen pembaharu secara fisik dan sosial sebelum mereka diminta menerima inovasi SRI yang dipromosikan. Fasilitator bersama anggota subak harus menganalisis situasi problematis yang ada di subak untuk menentukan mengapa cara-cara bercocok tanam padi konvensional tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka? Untuk 136 mencapai/memperoleh kesimpulan diagnostiknya, fasilitator harus memahami situasi dari sudut pandangan anggota subak. Rendahnya tingkat pendidikan formal petani menunjukkan rendah pula wawasannya tentang dunia luar. Pada kondisi seperti ini fasilitator dapat berperan sebagai “suluh” yang berarti “obor” yaitu menunjukkan jalan yang terang kepada klien yang berada dalam kegelapan. Dalam memulai pross perubahan fasilitator dapat mengemukakan alternatif-alternatif baru untuk mengatasi problem yang ada, “mendramatisasi” permasalahan mereka dan meyakinkan kliennya bahwa mereka dapat mengatasi masalah-masalah tersebut sendiri. Fasilitator tidak hanya menaksir kebutuhan klien tetapi juga membantu timbulnya kebutuhan ini dengan konsultatif dan persuatif. Setelah fasilitator menggali berbagai jalan yang memungkinkan anggota subak bisa mencapai tujuan mereka, fasilitator harus membangkitkan motivasi untuk mengadakan perubahan cara-cara bertani anggota subak, menimbulkan dorongan untuk mengadakan perubahan, menimbulkan dorongan untuk menerima SRI (atau setidak-tidaknya menaruh minat) terhadap inovasi SRI. Tetapi fasilitator harus tetap berorientasi pada kebutuhan anggota subak. Seorang agen pembaharu hendaknya berusaha memengaruhi perilaku kliennya sesuai dengan rekomendasinya yang berdasar atas kebutuhan klien. Intinya, agen pembaharu hendaknya berusaha mempromosikan pelaksanaan program pembaharuan yang ia sarankan. Ini berarti klien diharapkan lebih dari sekedar menyetujui atau menaruh minat terhadap inovasi melainkan termasuk merencanakan pengadopsian dan tindakan-tindakan sebagai pelaksanaan pembaharuan, menerima inovasi. Selama ini kegiatan penyuluhan kurang membantu petani mencapai tujuan. Agen pembaharu dapat memanfaatkan berbagai cara untuk membantu kliennya untuk mencapai tujuannya, yaitu: (1) Memberi nasihat secara tepat waktu guna menyadarkannya tentang suatu masalah, (2) Menambahkan kisaran alternatif yang dapat menjadi pilihannya, (3) Memberi informasi mengenai konsekuensi yang dapat diharapkan dari masing-masing alternatif, 137 (4) Membantunya dalam memutusakan tujuan mana yang paling penting, (5) Membantunya dalam mengambil keputusan secara sistematis baik secara perorangan maupun berkelompok, (6) Membantunnya belajar dari pengalaman dan dari pengujicobaan, (7) Mendorongnya untuk tukar-menukar informasi dengan rekan petani. Fasilitator dapat menjaga penerimaan SRI itu secara efektif dengan memberikan informasi atau pesan-pesan yang menunjang, sehingga klien merasa aman dan tetap “terasa segar” melaksanakan pembaruan itu. Bantuan semacam ini penting sekali diberikan terutama klien sedang dalam tahap pencobaan sebelum mengambil keputusan dan tahap konfirmasi setelah keputusan diambil. Tujuan akhir seseroang agen pembaharu adalah berkembangnya perilaku “memperbaharui diri sendiri” pada kliennya. Agen pembaharu harus berusaha mengembangkan kemampuan kliennya untuk menjadikan dirinya sebagai agen pembaharu (setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri), yakni dapat mengenali dan memilih inovasi-inovasi yang cocok untuk kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain agen pembaharu harus berusaha mengubah kliennya dari bergantung kepada agen pembaharu menjadi percaya (bergantung) pada dirinya sendiri, jika keadaan yang demikian sudah tercapai, agen pembaharu bisa memutuskan hubungan untuk sementara dengan kliennya. Ia boleh istirahat dan dilain saat mungkin datang lagi dengan inovasi yang lain. Kebanyakan agen penyuluhan petanian memperoleh pendidikan formal tentang cara-cara mengubah atau memperbaiki cara bertani. Mereka belajar tentang varietas tanaman, pupuk, dan sebagainya, tetapi di dalam tugasnya diminta untuk “mengubah petani” yang kemudian dapat membuat keputusan untuk mengubah “usaha taninya.” Banyak agen penyuluh belum terlatih dalam proses mengubah sikap, yaitu dalam hal pendidikan orang dewasa dan komunikasi. Mereka dipandu mengenai “apa yang harus dilakukan” kepada petani, tetapi tidak tentang “bagaimana” mengatakannya agar petani mampu menjadi manajer yang baik dalam usaha taninya. Perubahan yang demikian merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan orang dewasa. 138 Agar klien menjadi mandiri, maka perlu diberdayakan. Pemberdayaan dapat diartikan sebagai suatu proses kapasitasi atau pengembangan kapasitas sumberdaya manusia. Dengan kapasitasi maka seseorang akan memiliki kekuatan (daya) atau kewenangan yang diakui secara legal sehingga orang tersebut tidak termaginalisasikan lagi melainkan sadar akan harga dirinya, harkatnya, dan martabatnya. Dengan kapasitasi seseorang akan memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro aktif, dinamis, terbuka, dan bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan menjawab tantangan untuk mencapai kemajuan. Agar dapat menjadi pelaku utama dalam pembangunan, anggota subak harus diberdayakan. Sebagai pelaku utama pembangunan pertanian di Bali, anggota subak harus sadar akan harga dirinya, harkatnya, martabatnya, memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro-aktif, dinamis, terbuka dan bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan menjawab tantangan untuk mencapai kemajuan. Dengan demikian anggota subak akan menjadi human resource (sumberdaya manusia) dalam pembangunan, bukan menjadi faktor produksi tenanga kerja atau manpower yang diperlakukan untuk menghasilkan suatu produk saja. Dengan pemberdayaan klien akan menjadi social capital atau human capital yang tidak dapat tergantikan dalam pembangunan, dan akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Dengan pemberdayaan, anggota subak akan menjadi manusia seutuhnya. Pemberdayaan dilakukan melalui proses kapasitasi atau pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dengan penyuluhan yang memegang prinsipprinsip pendidikan orang dewasa. Melalui penyuluhan yang memegang prinsipprinsip pendidikan orang dewasa anggota subak dibantu dalam mengakses informasi, menganalisis situasi yang sedang mereka hadapi dan menemukan masalah-masalah, melakukan perkiraan ke depan, melihat peluang dan tantangan, meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan, menyusun kerangka pemikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki, menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah yang mereka hadapi, menggalang dana secara 139 swadaya, melakukan monitoring dan evaluasi, melakukan proses pertukaran informasi. Tugas mendidik dan pendidikan penyuluhan merupakan cabang dari pendidikan orang dewasa. Agen penyuluhan di banyak negara Eropa lebih merupakan seseorang yang menolong petani untuk memecahkan masalah mereka. Agen penyuluhan di negara-negara berkembang sudah merasa puas jika pertanian menjadi lebih efisien, dan kurang berminat untuk mengubah petani. Tugas utama penyuluhan di banyak negara berkembang adalah menganjurkan penggunaan teknologi modern, seperti pemakaian pupuk. Kenaikan hasil merupakan tujuan utama di negara-negara berkembang karena cepatnya pertumbuhan penduduk, disamping adanya anggapan bahwa petani terbelakang dan tradisional. Petani dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik, atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah. Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak, tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya gejala hama dan penyakit secara tepat waktu dan segera dapat ditanggulangi. Cara demikianlah yang terbaik, tetapi perlu disadari bahwa seseorang yang diberi pendidikan sepotong-sepotong lebih berbahaya dari orang buta huruf. Petani wajib diberi pengertian tentang masalah mana yang dapat mereka pecahkan sendiri dan manakah yang tidak. Anggota subak juga ingin memperbaiki cara bertani mereka, dan kewajiban fasilitator adalah mendukung dan menciptakan proses demikian melalui belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning. Tidak ada jalan lain meningkatkan kualitas sumberdaya manusia selain dengan learning process. Lembaga pendidikan tinggi dapat berperan menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas, tidak hanya di dalam kampus tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Universitas negeri dan swasta yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian seharusnya turut memfasilitasi, mendukung, dan menggerakkan upaya-upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian. Model pengadopsian inovasi SRI yang dirumuskan dalam penelitian dapat dijadikan acuan menumbuhkan kemandirian masyarakat tani di Bali. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan (1) Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI oleh anggota subak adalah karakteristik internal anggota subak yang terdiri dari: umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor kompetensi fasilitator yang terdiri dari: kemampuan fasilitator beradaptasi dengan klien, kemampuan fasilitator menyampaikan materi secara sistematis, dan kemampuan fasilitator memberikan semangat kepada klien untuk mengadopsi SRI. Faktor kompetensi pengurus subak yang terdiri dari: kompetensi pengurus subak memberi semangat kepada anggotanya untuk menerima SRI, dan kompetensi pengurus subak mencarikan jalan penyelesaian masalah yang dihadapi anggotanya. Persepsi anggota subak tentang SRI yang terdiri dari: persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan dalam sistem sosial subak. Sikap anggota subak terhadap SRI yang terdiri dari: sikap terhadap inovasi SRI yang hemat air, dan jumlah rumpun/anakan padi SRI lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Kemandirian aggota subak menerapkan SRI yang terdiri dari: kemandirian anggota subak dalam pengambilan keputusan, dan kemandirian anggota subak dalam belajar. (2) Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi. Persepsi anggota subak tentang SRI dipengaruhi oleh karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Anggota subak bersikap positif terhadap SRI. Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI termasuk dalam kategori sedang. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi oleh sikap anggota subak terhadap SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus subak. Tingkat pengadopsian SRI oleh anggota subak termasuk tinggi. Pengadopsian SRI oleh petani anggota subak dipengaruhi oleh kemandirian anggota subak menerapkan SRI, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap 141 142 anggota subak terhadap SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator dan kompetensi pengurus subak. (3) Semakin baik karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus subak, persepsi anggota subak tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI maka semakin baik pula pengadopsian SRI oleh anggota subak. (4) Model pengembangan SRI bagi anggota subak yang sesuai adalah model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak. Saran (1) Kepada fasilitator yang berperan dalam penyebarluasan inovasi SRI agar mempertahankan bahkan meningkatkan kompetensinya karena sangat berperan dalam pembentukan persepsi yang positif tentang SRI, pembentukan sikap yang baik di antara anggota subak dan dapat menumbuhkan kemandirian pada anggota subak. (2) Melalui proses mental pengadopsian SRI, anggota subak dapat belajar caracara bertani yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. (3) Untuk menyebarluaskan penerapan SRI di kalangan anggota subak, pengurus subak harus lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi tentang SRI karena pengurus subak berhadapan langsung dengan anggotanya. (4) Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian agar membentuk laboratorium lapangan berupa denplot-denplot percontohan berbagai inovasi pertanian sebagai upaya menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium lapangan ini menjadi tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan masyarakat tani untuk mengenal suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar bersama. (5) Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali, model pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak dapat ditindak lanjuti dengan program aksi berupa denplot-denplot SRI di seluruh kabupaten dan kota di Bali, sehingga kualitas hidup anggota subak akan lebih sejahtera. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ANGGOTA SUBAK MENGADOPSI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI TUJUH KABUPATEN DI PROVINSI BALI OLEH: I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Abbas, 1995. “Sembilan Puluh Tahun Penyuluhan Pertanian di Indonesia (19051995.” Dalam: Dinamika dan Perspektif Penyuluhan Pertanian pada Pembangunan Pertanian Jangka Panjang Tahap Kedua. Prosiding Lokakarya; Bogor, 4-5 Juli 1995. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Allport, F.H. Theories of Perception and the Concept of Structure. New York: Wiley. Anugrah I.S., Sumedi, Wardana I.P. 2008. Gagasan dan Implementasi System of Rice Intensification (SRI) dalam Kegiatan Budidaya Padi Ekologis (BPE). [Article on-line]; Diperoleh dari: http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/ pdffiles/ART6-Ic.pdf. Internet; Diakses pada 1 Mei 2009. Amang, B. 1997. “Pidato Ketua Umum PP PERHEPI pada Konpernas XII Denpasar Bali 9 Agustus 1996, dalam Menghadapi Era Industrialisasi dan Perdagangan bebas. Prodisiding Konferensi Nasional XII PERHEPI. Anderson, K.E. 1972. Introduction to Communication: Theory and Practice. Menio Park, Ca: Cummings Publishing Company. Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Axinn, G.H. 1988. Guide on Alternative Extension Approach.. Rome: Food and Agriculture Organization. Bappenas, 2011. Pembangunan Daerah Tingkat I Bali.” [Article on-line]; Diperoleh dari http://www. bappenas. go.id/get-file-server/node/6024. Internet; Diakses pada 17 Nopember 2011. Basuki, T. 2008. “Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Patani untuk Menanam Padi Hibrida (Studi Kasus Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang Jawa Barat).” Skripsi. Bogor: Program Studi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Benjamin, O., Ehigie, dan Elizabeth B. Mc. Andrew. 2005. “Innovation, diffusion and adoption of total quality management (TQM).” [Jurnal on-line]; Emerald Journal. Volume 43 No 6.2005. pp 925-940. Diperoleh dari: http://www.gepeq.dep.ufscar.br/arquivos/novas%20abordagens%20TQM. pdf Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Berlo, D.K. 1960. The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice. New York, Chicago, Toronto, Sydney: Holt, Rinehart and Winston, Inc., Bertrand, A.L. 1974. Social Organization: A General Systems and Role Theory Perspective. Philadelphia: F.A Davis Company. Benor, D. 1987. “Training and Visit Extension: Back to Basics.” Dalam: Agricultural Extension Worldwide: Issue, Practices and Emerging Priorities. Diedit oleh: W.M. Rivera dan S.G Schram. USA: Crom Helm. 143 144 Bertz, R. 1983. Media for Interactive Communication. Beverly Hill/London/New Delhi: Sage Publications. Bilad, M.R. 2009. Pertanian Padi Organik SRI dalam Konsep Sistem Pertanian Terpadu. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.megtech.net/ ?p=14.. Internet; Diakses pada 2 Mei 2009 Blakely, J.E. 1989. Theoretical Approach for A Global Community. Dalam: Community Development in Perpective. Diedit oleh: Christenson, AJ., dan W.J Robinson. Ames Iowa: Iowa State University Press. Bronwyn, H. 2011. “Innovation and Diffusion”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http:// www. ruru.ac.uk/PDFs/Learning %20from %20the%20Diffusion %20of% 20 Innovations. pdf. Internet; Diakses pada 9 Mei 2011. Boyatzis, R.E. 1982. The Competent Manager, A Model for Effective Performance. New York: John Wiley & Sons, Inc. Carmel, E, Hason D., dan Kenneth L. K. “Reutilizing the offshore choice: applying diffusion of innovation to the case of EDS”. [Jurnal on-line]; Emerald. Strategic Outsourcing Journal vol 2. No. 3, 2009. Diperoleh dari: http:// pcic.merage. uci.edu/papers/ 2009/ Reutilizing The Offs hore Choice.pdf Internet; Diakses pada 13 Mei 2011. Combs, P.H. dan Ahmed M. 1985. Memerangi Kemiskinan di Perdesaan Melalui Pendidikan Non-Formal. Jakarta: C.V. Rajawali. [DEPDIKNAS]. 2004. Program Pendidikan Keterampilan bagi Siswa SMP Terbuka dalam Rangka Pelaksanaan “Broad Based Education” yang Berorientasi pada Kecakapan Hidup. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. [DEPTAN]. 2007. “Pedoman Teknis Pengembangan Usahatani Padi Sawah Metode System of Rice Intensification (SRI)” [Article on-line]; Diperoleh dari http:// www. deptan. go. Id /pla/pedum2007/PEDUM%20PEDNIS% 20PLA%202007%20CD/PEDNIS%20DIT%20PENGELOLAAN%20LA HAN/OPTIMASI%20LAHAN/SRI/PEDOMAN%20TEKNIS%20SRI%2 02007%20lkp.pdf. Internet; Diakses pada 30 Maret 2007. Desiderato, O., D.B. Howeison, dan J.H. Jackson. 1976. Investigating Behavior: Principles of Psychology. New York: Harper & Row Publishers. Dunham, A. 1956. Outlook for Community Development Review. University of the Philippines. Philippines: A Community Development Research Counsel Publication. Einsiedel, L.A, 1968. Success and Failure of some Community Development in Batanggas. University of the Philippines. Philippines: A Community Development Research Counsels Publication. Fisher, M.A. 1989. “The Practice of Communication Development.” Dalam: Community Development in Perspective. Diedit oleh: Christenson, A.J. dan W.J. Robinson. Ames Iowa: Iowa State University Press. 145 Geriya, W. 1993. Model Interaksi Kebudayaan dan Industri Pariwisata pada Masyarakat Bali: Satu Refleksi Dari Strategi Pembangunan yang Membudaya dalam Era Industrialisasi. Dalam: Kebudayaan dan Kepribadian bangsa. Diedit oleh: Mantra. Denpasar: Upada Sastra. Hanafiah, T. 1985. Strategi Pembangunan Desa. Pusat Pengembangan Wilayah Pedesaan. Bogor: Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor. Hernanto, F. 1993. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Herting, S.R. 2011. “Trust Correlated with Innovation Adoption in Hospital Organization.” [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/ discussion-papers/herting.pdf. Internet; Diakses pada 30 Mei 2011. Hubbardlorilee, William dan R. Sandmann. 2007. “Using Diffusion of Innovation Concepts for Improved Program Evaluation”. [Jurnal on-line]; Journal of Extension. October 2007 // Volume 45 // Number 5 // Feature Articles//5FEA1. Diperoleh dari: http:/ /www.j oe.org/joe /2007 october/ a1.php. Internet; Diakses pada 30 Mei 2011. Ikisan. 2000. “System of Rice Intensification”. [Article on-line]; Diperoleh dari http://www.ikisan.com/links/ap_ricesri.shtml. Internet; Diakses pada 30 Maret 2007. Jebeile, S. 2003. “The Diffusion of E-Learning Innovations in an Australian Secondary College: Strategies and Tactics for Educational Leaders”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal, Volume 8(4), 2003. Diperoleh Internet; dari: http://www.macroinnovation.com/images/mgmnt.pdf Diakses pada 12 Mei 2011. Joesoef, S. 2004. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Bina Aksara Kantor Statistik Provinsi Bali. 2008. Bali dalam Angka. Denpasar: BPS Bali. Kartasasmita, G. 1997. “Meningkatkan Daya Saing Pertanian dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional.” dalam Membangun Kemandirian dan Daya Saing Pertanian nasional dalam Menghadapi Era Industrialisasi dan Perdagangan bebas. Prosiding Konferensi Nasional XII PERHEPI. Kasryno, F., Hidayat N., Chairil A.R., Yusmichad Y. 1986. Profil Pendapatan dan Konsumsi Pedesaan Jawa Timur. Bogor: Yayasan Penelitian Survei Agro-Ekonomi. Kast, F.E., dan J.E. Rosenzweig. 1995. Organisasi dan Manajemen Jilid 1, Ed. Ke-4, Cet. Ke-4. A. Hasyani Ali: Penerjemah. Jakarta: Bumi Aksara. Kaufman, A.R. 1979. Education System Planning. Prientice-Hall., New York: Englewood Clift. Kerlinger, F.N. 1990. Asas-Asan Penelitian Behavioral. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kincaid, D.L. dan W. Schramm. 1981. Asas-Asas Komunikasi antar Manusia. Setiadi A, penerjemah. Jakarta: LP3ES. 146 Kochhar, S.K. 1981. Methods and Techniques of Teaching. Jalandhar, New Delhi: Sterling Publisers Private Limited.. Kunczik, M. 1983. Communication and Social Change: A Summary of Theories, Policies and Experiences for Media Practioners in the Third World. Germany: Fiedrich-Ebert-Stiftung. Landis, R.J. 1986. Sociology. Concepts and Characteristics. Wadsworth Publishing Company. Belmount/California: A Devision of Wardworth, Inc.. Lefrancois, G.R. 1974. Of Human: Introductory Psychology by Kongor. Belmont Calif: Brook Cole Publishing Company. Lionberger, H.F., dan P.H. Gwin. 1991. Technology Transfers. Published by University of Missouri University Extension. ________. 1984. Communication Strategies: A Guide for Agricultural Change Agent. Illinois: The Interstate Printers &Publishers. Lubis D. dan dan Endriatmo S. 1991. Laporan Penelitian Konsistensi Pola Mata Pencaharian antara orang Tua dan Anak pada Masyarakat Petani di Pedesaan. Bogor: Pusat Studi Pembangunan-Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Lucia, A.D dan Lepsinger R. 1999. The Art and Science of Competency Models Pinpointing Critical Success Factors in Organization. Sanfransisco: Jossey-Bass Pfeiffer. Mar’at, 1981. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Jakarta: Ghalia Indonesia. Mosher, A.T. 1978. An Introduction to Agricultural Extension. New York: Agricultural Development Council. Mueller, D.J. 1992. Mengukur Sikap Sosial. Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi. Penerjemah: Kartawidjaja. Jakarta: Bumi Aksara. Musyafak, A., Ibrahim TM. 2005. “Strategi Percepatan Adopsi dan Difusi Inovasi Pertanian Mendukung Prima Tani.” Jakarta: Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian I. Vol 3:20-37. Mutakin, J. 2009. Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.garutkab.co.id/download_files/ article/ARTIKEL%20SRI.pdf. Internet; Diakses pada 16 April 2009. Nabung, A. 2005. “Pendidikan dan Tuntutan Profesionalisme”. Kompas. 11 (Kolom3-4). 13 Maret 2005. Nelson-Jones , R. 1993. Practical Consoling and Helping Skills How to Use the Life skill Helping Model. Third Edition. New York. Cassel Education Limited. Padmowihardjo, S. 1999. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka. 147 ________. 2001. Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis. Jakarta: Departemen Pertanian. Pitana, B. 2005. Subak dalam Pertanian antara Pertanian dan Pariwisata. Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Editor: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan AP. Yogyakarta: Penerbit Andi Rachman, B, Supriyati, dan Supena. 2011. Ekonomi Kelembagaan Sistem Usahatani Padi di Indonesia. [Jurnal on-line]. SOCA 2011. Diperoleh dari: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/%281%29%20soca-benny%20rachmaneko%20kelembagaan%281%29.pdf. Internet; Diakses pada 20 Juni 2011. Rakhmat, J. 2004. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ranaweera, A.M. 1989. Pendekatan Non-Konvensional dalam Pendidikan Tingkat Dasar. Semarang: IKIP Semarang Press. Redfield, R. 1983. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Penerjemah: Ali hasan. Jakarta: C.V Rajawali. Reijntjes, C., Haverkort B, Waters-Bayer A. 2008. Pertanian Masa Depan Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Terjemahan dari: Farming for the Future an Introduction to Low-ExternalInput Sustainable Agriculture. Penterjemah: Sukoco SS. Yogyakarta: Kanisius. Roberts, N. 1987. “Successful Agricultural Extension: Its Dependence Upon Others Aspect of Agricultural Development: The Case of Public Sector Extension in North-East Africa”. Dalam: Agricultural Extension Worldwide: Issues, Practices and Emerging. Diedit oleh: Rivera, MW. Dan S.G. Schram. USA: Croom Helm. Robbins, S.P. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi ke-10. Terjemahaan dari: Organizations Behavio. Penerjemah: Benyamin Molan. Jakarta: Gramedia. Robinson, W.J. 1989. The Conflict Approach. Dalam: Community Development in Perspective. Diedit oleh: Christenson, J.A dan W.J. Robinson. Ames, Iowa: Iowa State University Press. Rogers, E.M., and FF. Shoemaker. 1971. Communication for Innovation. Second Edition. New York: The Free Press ________. 1986. Communication Technology. The New Media in Society. New York: The Free Press. A Devision of Macmillan. Inc ________. 1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Penerjemah: Hanafi A. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional. ________. 2003. Diffusion of Innovation. Fifth Edition. New York: The Free Press. 148 ________, Una E.M., Mario A.R., dan Cody J.W. 2011. “Complex Adaptive Systems and The Diffusion of Innovations”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/volumesissues/warford_test_diffusion_6af.pdf. Internet; Diakses pada 9 Mei 2011. Saefullah, B.Y. 2003. Organisasi Berbasis Masyarakat. Jakarta : Modul Pelatihan INCIS. Salkind, N.J. 1985. Theories of Human Development. New York: John Willey & sons. Sandra, N., Huw D., dan Isabel W. 2011. “ Conceptual Synthesis 1. Learning from the Diffusion of Innovations”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://using%20diffusion%20of% 20innovation %20 concepts % 20 for % 20 program %20 evaluation.htm. Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Samsudin, U. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Cet. Ke-3. Bandung: Binacipta. Slamet, M., dan Sumardjo. 2003. Kumpulan Materi-materi Kuliah Kelompok, Organisasi dan Kepemimpinan. Program Studi Penyuluhan Pembangunan, Faktor Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sarmela, M.E. 1975. “Group Centered Behavior and Cultural Growth: A Summary of Ecology and Superstructure.” Dalam: Population, Ecology and Social Evolution. Paris: Mouton Publishers. Sevilla, C.G., Ochave J.A., Punsalan T.G., Regala B.P., dan Uriarte G.G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Alimuddin Tuwu, Penerjemah. Jakarta: UI Press. Scot, J.C. 1983. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Penerjemah: Hasan Basri. Penyunting: Bur Rusuanto. Jakarta: LP3ES. Singarimbun, M., dan Effendi S. 2003. Membentuk Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). Soewardi. 1987. Perkembangan Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Dalam: Prosiding Kongres Penyuluhan Pertanian. Subang: PERHIPTANI. Soetrisno. 1999. Kemiskinan di Indonesia. Jakarta: LP3ES. Stoop, W.A., dan Kassam A.H. 2006. The System of Rice Intensification (SRI). Implication for agronomic research. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://cifad, cornell,edu/SRI/article/taanewslettett03.pdf. Internet. Diakses pada 5 Mei 2009. 149 Suryanata, Z.D. 2007. Padi SRI (System of rice intensification). Pengembangan Sistem Budidaya Padi Hemat Air Irigasi dengan Hasil Tinggi. Bandung: Pustaka Giratuna. Sutjipta, N. 1994. “Peranan Ilmu Penyuluhan dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarkat dalam Program-Program Pembangunan di Masa Datang.” Denpasar: Orasi Ilmiah Pengenalan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Penyuluhan Pembangunan pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Sudjana. 2004. Pendidikan Nonformal. Bandung: Falah Production. Suharyanto, Destialisma, dan Parwati I.A. 2005. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Teknologi Tabela di Provinsi Bali. [Article online]; Diperoleh dari: http://www.ntb.litbang.deptan.go.id /2005/TPH/faktor-faktor.doc. Internet; Diakses pada 21 Mei 2009. Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional R.I. Sutanto, R. 2000. Penerapan Pertanian Organik: Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Kanisius: Yogyakarta. Sutawan, N. 2005. ”Subak Menghadapi Tantangan Globalisasi. Perlu Upaya Pelestarian dan Pemberdayaan Secara Lebih Serius.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra. Yogyakarta: Penerbit Andi. Suyatna, I.G. 1982. “Dinamika Kelompok Sosial Tradisional di Bali dan Peranannya dalam Pembangunan.” Disertasi. Bogor: Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Spencer, L.M. dan Signe M.P. 1993. Competence at Work Models for Superior Performance. New York: John Wiley & Sons, Inc. Thoha, M. 1986. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: CV. Rajawali. Tjakrawilaksana, A.M., dan C. Soeriaatmadja. 1983. “Usahatani untuk Sekolah Menengah Teknologi Pertanian.” Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Tohir, K. A. 1983. Seuntai Pengetahuan tentang Usahatani Indonesia. Jakarta: Bina Aksara. Trisha, G., Robert G., Fraser M, Bate P., dan Olivia K. 2004. “Diffusion of Innovation in Service Organizations: Sustematic Review and Recommendations”. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.Diffusion_of_innovations_theory.htm. Internet; Diakses pada 2 Mei 2011. 150 Uphoff, N. 1989. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook With Cases. Connecticut: Kumarian Press. _______. 2003. The System of Rice Intensification (SRI) as a System of Agricultural Innovation. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.future-agricultures.org/farmerfirs/files/Tlc_Uphoff.pdf. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______, dan Fernandes E. 2003. Sistem Intensifikasi Padi Tersebar Pesat. [Article on-line]; Diperoleh dari: http:// www.l eisa. info/ index. php? url = getblob. php&a_id=211&a_seq=0. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______. 2005. Features of the System of Rice Intensification. [Article on-line]; Diperoleh dari: http://www.ciifad.cornell.edu/SRI/origins.html. Internet; Diakses pada 5 Mei 2009. _______. 2011. “The System of Rice Intensification (SRI) as a System of Agricultural Innovation”. [Jurnal on-line]; International Journal of Agricultural Sustainability 1: 38-50. Diperoleh dari: http://www.futureagricultures.org/farmerfirst/ files/T1c_Uphoff.pdf. Internet; Diakses pada 20 Juni 2011. van den Ban dan Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerjemah: Agnes Dwina. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Verhagen, K. 1996. Pengembangan Keswadayaan: Pengalaman LSM di Tiga Negara. Terjemahan. Jakarta : Puspa Swara. Wahono, F. 1994. “Dinamika Ekonomi Sosial Desa sesudah 25 Tahun Revolusi Hijau.” Prisma. No. 3 th XX. Hal:2-21. Jakarta. Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Andi. Warford, M.K. 2011. “Testing a Diffusion of Innovation in Education Model (DIEM)”. [Jurnal on-line]; The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal, Volume 10(3), article 32. Diperoleh dari: http://www.innovation.cc/volumes-issues/warford_test_diffusion_6af.pdf. Internet; Diakses pada 12 Mei 2011. Wiriatmadja, S. 1983. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Yasaguna. Wolf, E.R. 1983. Petani. Suatu Tinjauan Antropologis. Penerjemah: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: C.V. Rajawali. Yanuar. 2002. “Analisis Produksi dan Faktor Penentu Adopsi Teknologi Sawit Dupa pada Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan.“ Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Yuliarmi. 2006. “Analisis Produksi dan Faktor-Faktor Penentu Adopsi Teknologi Pemupukan Berimbang pada Usahatani Padi.” Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. LAMPIRAN Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali 151 152 Lampiran 2. Hasil uji CFA peubah penelitian Chi–Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 153 Lampiran 3. Data deskriptif peubah karakteristik responden Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari peubah umur, pendidikan formal, luas lahan usahatani, pengalaman usahatani, jumlah tanggungan keluarga, motivasi berusaha, tingkat subsistensi, modal usahatani dan tingkat partisipasi dalam subak. Umur Rataan umur responden adalah 50,31 tahun dengan kisaran antara 26 -75 tahun. Sebagian besar (28,85%) responden adalah petani yang berumur tua dengan kisantaran antara 50 – 59 tahun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar anggota subak adalah petani yang berumur tua. No Rentang skor umur (tahun) Kategori 1 26 - 42 2 Jumlah Orang Persentase Sangat muda 27 25,96 43 - 49 Muda 21 20,19 3 50 - 59 Tua 30 28,85 4 60 - 75 Uzur 26 25,00 104 100,00 Jumlah responden Rataan umur anggota subak adalah 50,31 tahun Pendidikan formal Anggota subak kebanyakan berpendidikan formal rendah (41,35%) dengan rata-rata mengenyam pendidikan selama 6,95 tahun setara dengan tamatan SD. Data ini mengindikasikan bahwa anggota subak tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka,, memikirkan pemecahannya, atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. N Rentang skor tingkat pendidikan (tahun) Kategori 1 0 - 5,29 2 Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 21 20,19 5,30 - 6,93 Rendah 43 41,35 3 6,94 -9,53 Tinggi 18 17,31 4 9,53 - 12 Sangat tinggi 22 21,15 104 100 Jumlah responden Rataan tingkat pendidikan anggota subak adalah 6,95 tahun 154 Luas lahan usahatani Luas lahan garapan usahatani anggota subak tergolong sempit (27,88%). Rataan luas lahan anggota subak sebesar 51,04 are setara dengan 0,51 ha. Ini berarti kebanyakan petani memiliki luas garapan yang relative sempit. Selain sempit, lahan yang mereka garap bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah petani penggarap dengan system bagi hasil. Jumlah No Rentang skor luas lahan garapan (are) Kategori 1 10 - 24,79 Sangat sempit 21 20,19 2 24,80 - 38,07 Sempit 29 27,88 3 38,08 - 58,00 Luas 27 25,96 4 58,01 - 300 Sangat luas 27 25,96 104 100,00 Jumlah responden Orang Persentase Rataan luas lahan garapan adalah 51,04 are Pengalaman usahatani Anggota subak sangat berpengalaman dalam berusahatani (51,92 % responden) dengan kisaran 38,13 – 60 tahun. Rataan pengalaman anggota subak adalah selama 26 tahun lebih. N Pengalaman berusahatani (tahun) Kategori Jumlah Orang Persentase 1 1 - 13,86 Sangat tidak berpengalaman 3 2,88 2 13,87 -23,50 Tidak Berpengalaman 17 16,35 3 23,51 - 38,12 Berpengalaman 30 28,85 4 38,13 - 60 Sangat Berpengalaman 54 51,92 104 100,00 Jumlah responden Rataan pengalaman berusahatani adalah 26,07 tahun 155 Jumlah tanggungan keluarga Jumlah tanggungan keluarga anggota subak tergolong sedikit (43,27%) dengan kisaran tanggungan antara tiga hingga empat orang dalam satu rumah tangga petani. Rataan jumlah tanggungan keluarga petani sebanyak tiga orang. Rentang skor jumlah tanggungan keluarga (orang) Kategori 1 1-2 Sangat sedikit 28 26,92 2 3-4 Sedikit 45 43,27 3 5-6 Banyak 29 27,88 4 7-8 Sangat banyak 2 1,92 104 100,00 N Jumlah Orang Jumlah responden Persentase Rataan jumlah tanggungan keluarga adalah 4 orang. Motivasi berusaha Sebagian besar (30,77 %) responden memiliki motivasi yang tinggi untuk menerapkan SRI di lahan usahataninya. Tingginya motivasi responden terlihat dari keinginannya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika mereka mengusahakan padi dengan metode konvensional. Mereka menerapkan SRI karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama tuntutan untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Motif lainnya adalah dapat menjalin kerjasama dengan anggota lainnya agar berhasil menerapkan SRI. Jumlah Rentang skor motivasi Kategori berusaha Orang Persentase 1 1-2 Sangat rendah 24 23,08 2 >2-3 Rendah 21 20,19 3 >3-4 Tinggi 27 25,96 4 >4-5 Sangat tinggi 32 30,77 104 100,00 No Jumlah responden Rataan skor motivasi berusaha adalah 4,18 156 Tingkat subsistensi Setiap petani pada hakekatnya menjalankan sebuah perusahaan pertanian di atas usahataninya. Usahatani itu merupakan perusahaan, karena tujuan tiap petani bersifat ekonomis: memproduksi hasil-hasil, apakah untuk dijual ataupun untuk digunakan oleh keluarganya sendiri. Sebagian besar (33,65%) responden tergolong petani yang sangat subsisten. Ini berarti kebanyakan anggota subak belum berorientasi pada bisnis pertanian, karena sebagian besar hasil yang didapat adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. N Rentang skor tingkat subsistensi 1 1-2 2 Jumlah Kategori Orang Persentase Sangat tidak subsisten 13 12,50 >2-3 Tidak subsisten 24 23,07 3 >3 - 4 Subsisten 32 30,76 4 >4-5 Sangat subsisten 35 33,65 104 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat subsistensi adalah 3,36. Modal dan akses pada kredit usahatani Anggota subak mudah dalam mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani (32% responden). Rataan skor modal dan akses pada kredit usahatani sebesar 3,7 yang berarti anggota subak mudah mendapatkan modal dan akses pada kredit usahatani. No Tingkat subsistensi (skor) Kategori Jumlah Orang Persentase Sangat sulit 21 20,19 1 1-2 2 > 2 -3 Sulit 18 17,31 3 >3-4 Mudah 34 32,69 4 >4-5 Sangat mudah 31 29,81 104 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat subsistensi adalah 3,70. 157 Partisipasi dalam subak Partisipasi dalam subak anggota subak sangat tinggi (55,56% responden), dengan rataan skor partisipasi dalam subak 4,4 yang juga mengindikasikan bahwa partisipasi dalam subak anggota subak sangat baik. No Partisipasi dalam subak Kategori Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 9 8,33 1 1-2 2 > 2 -3 Rendah 2 1,85 3 >3-4 Tinggi 37 34,26 4 >4-5 Sangat tinggi 60 55,56 108 100,00 Jumlah responden Rataan skor tingkat partisipasi dalam subak adalah 4,4. Tingkat pendapatan Tingkat pendapatan anggota subak dalam satu musim tanam sangatlah beragam dengan kisaran antara Rp 104.000 – Rp 25.530.000 per musim tanam. Pendapatan anggota subak berkisar antara Rp 956.000 – Rp 2.461.500 per musim tanam (25,96 % responden). Rataan pendapatan anggota subak adalah Rp 4.622.221,60 per musim tanamnya. No Pendapatan (Rp) Kategori 1 104.000 - 862.500 2 Jumlah Orang Persentase Sangat rendah 26 25,00 956.000 - 2461500 Rendah 27 25,96 3 2.641.501-5.819.000 Tinggi 25 24,04 4 5.822.800 - 25.530.000 Sangat tinggi 26 25,00 104 100,00 Jumlah responden Rataan tingkat pendapatan anggota subak/musim tanam adalah Rp 4.622.221,60 158 Lampiran 4. Kompetensi fasilitator Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) 1 61 44 1 1 0 305 176 2 58 34 0 2 0 290 136 3 65 33 3 1 1 325 132 4 62 33 1 6 2 310 132 5 56 36 4 5 6 280 144 6 55 38 5 5 3 275 152 7 55 42 4 3 4 275 168 8 60 51 1 1 0 300 204 9 48 44 2 2 1 240 176 10 49 34 4 4 3 245 136 11 66 0 3 0 1 330 0 Jumlah 635 389 28 30 21 3175 1556 Tingkat kompetensi fasilitator adalah 4,28 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah n(S) n(R) 3 0 9 3 12 15 12 3 6 12 9 84 2 4 2 12 10 10 6 2 4 8 0 60 Tingkat Jumlah Kompetensi fasilitator 0 486 4,67 0 430 4,13 1 469 4,51 2 459 4,41 6 452 4,35 3 455 4,38 4 465 4,47 0 509 4,89 1 427 4,11 3 404 3,88 1 340 3,27 21 4896 47,08 n(SR) Kesimpulan: (1) Kemampuan mengemukakan pendapat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,67; (2) Kejelasan bahasa yang digunakan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,13; (3) Daya adaptasi berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,51; (4) Kesistematisan dalam menyampaian materi berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,41; (5) Dukungan semangat pada masyarakat berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor dengan rata-rata skor 4,35; (6) Pemahanan kebutuhan masyarakat berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,38; (7) Alat bantu penyuluhan yang digunakan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,47; (8) Berpenampilan menarik berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,89; (9) Ketepatan dan efisiensi waktu berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,11; (10) Penguasaan Materi SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,88; (11) Pengalaman melaksanakan penyuluhan berada pada kategori cukup tinggi dengan rata-rata skor 3,27; dan (12) Tingkat kompetensi fasilitator berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,28 159 Lampiran 5. Kompetensi pengurus subak Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) n(R) 1 73 28 2 1 0 365 112 6 2 2 33 41 5 11 14 165 164 15 22 3 64 34 4 1 1 320 136 12 2 4 65 26 5 5 3 325 104 15 10 5 82 21 0 0 0 410 84 0 0 6 58 40 2 3 1 290 160 6 6 7 64 32 4 4 0 320 128 12 8 8 25 53 12 10 4 125 212 36 20 9 77 27 0 0 0 385 108 0 0 10 77 27 0 0 0 385 108 0 0 Jumlah 618 329 34 35 23 3090 1316 102 70 Tingkat kompetensi pengurus subak adalah 4,42 (Tinggi) Keterangan: n = 104 ST = Sangat Tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR =Sangat Rendah Kesimpulan: Tingkat n(SR) Jumlah Kompetens Pengurus Subaki 0 485 4,66 14 380 3,65 1 471 4,53 3 457 4,39 0 494 4,75 1 463 4,45 0 468 4,50 4 397 3,82 0 493 4,74 0 493 4,74 23 4601 44,24 (1) Menyebarluaskan informasi berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,66 (2) menganjurkan menerapkan SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,65 (3) Mempengaruhi anggota subak berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,53 (4) Memberikan contoh berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,39 (5) Melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,75 (6) Memberikan semangat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,45 (7) Mencarikan jalan pemecahan masalah berada pada kategori sangat tinggi dengan ratarata skor 4,50 (8) Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang SRI berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 3,82 (9) Sifat jujur dan terbuka berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,74 (10) Membuka diri dari segala macam kritikan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,74 (11) Kompetensi pengurus subak berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,42 160 Lampiran 6. Persepsi anggota subak tentang SRI Kategori No ST T S R SR n(ST) n(T) n(S) n(R) Skor n(SR) Jumlah Tingkat Persepsi 1 58 43 2 0 1 290 172 6 0 1 469 4,51 2 59 42 3 0 0 295 168 9 0 0 472 4,54 3 79 25 0 0 0 395 100 0 0 0 495 4,76 4 56 34 5 6 3 280 136 15 12 3 446 4,29 5 77 26 0 1 0 385 104 0 2 0 491 4,72 6 73 31 0 0 0 365 124 0 0 0 489 4,70 7 75 28 1 0 0 375 112 3 0 0 490 4,71 8 69 32 2 1 0 345 128 6 2 0 481 4,63 9 49 36 7 8 4 245 144 21 16 4 430 4,13 10 55 36 6 5 2 275 144 18 10 2 449 4,32 11 64 34 3 2 1 320 136 9 4 1 470 4,52 Jml 714 367 29 23 11 3570 1468 87 Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI adalah 4,53 (Sangat tinggi) 46 11 5182 49,83 Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,51; 2. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI memberikan banyak keuntungan berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,54; 3. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak bertentangan dengan awig-awig subak berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,29; 4. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak memiliki tingkat kesulitan untuk diterapkan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,29; 5. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan norma setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,72; 6. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tata nilai setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,70; 7. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan adat istiadat setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,71; 8. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI sesuai dengan kebiasaan setempat berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,63; 9. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI tidak terlalu rumit berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,13; 10. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI mudah dicoba berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 4,32; 11. Persepsi anggota subak tentang SRI yang menyatakan bahwa SRI hasilnya dapat diamati berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata skor 4,52; dan 12. Tingkat persepsi anggota subak tentang SRI berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata sebesar 4,53. 161 Lampiran 7. Sikap anggota subak terhadap SRI Kategori No ST T S Skor R SR n(ST) n(T) n(S) 1 76 26 2 0 0 380 104 6 2 51 37 9 6 1 255 148 27 3 85 18 1 0 0 425 72 3 4 30 42 20 5 7 150 168 60 5 67 33 3 1 0 335 132 9 6 78 26 0 0 0 390 104 0 7 51 41 8 1 3 255 164 24 8 21 29 30 14 10 105 116 90 9 40 37 21 2 4 200 148 63 10 24 34 31 9 6 120 136 93 11 68 30 2 1 3 340 120 6 Jml 591 353 127 39 34 2955 1412 381 Tingkat sikap anggota subak terhadap SRI adalah 4,25 (Tinggi) n(R) 0 12 0 10 2 0 2 28 4 18 2 78 n(SR) 0 1 0 7 0 0 3 10 4 6 3 34 Jumlah 490 443 500 395 478 494 448 349 419 373 471 4860 Tingkat Sikap 4,71 4,26 4,81 3,80 4,60 4,75 4,31 3,36 4,03 3,59 4,53 46,73 Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI irit air berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,71; 2. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI ramah lingkungan berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,26; 3. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa SRI hemat benih berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,81; 4. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa masa tanam SRI lebih cepat berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,80; 5. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa Lebih baik menggunakan bibit muda berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,60; 6. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa jumlah anakan padi SRI lebih banyak berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,75; 7. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa kualitas batang dan daun padi SRI lebih kokoh berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,31; 8. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa padi SRI lebih tahan terhadap hama dan penyakit berada pada kategori ragu-ragu dengan pencapaian skor rata-rata 3,36; 9. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa bulir padi SRI lebih bernas berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,03; 10. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa rasa nasi hasil SRI lebih enak (pulen) berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,59; 11. Sikap petani anggota subak terhadap SRI yang menyatakan bahwa produktivitas SRI tinggi berada pada kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,53; 12. Tingkat sikap petani anggota subak berada pada kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata sebesar 4,25. 162 Lampiran 8. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI Skor Kategori No ST T 1 2 3 4 5 6 7 8 9 6 56 4 53 20 17 53 41 52 15 5 30 5 7 10 40 2 25 14 23 10 37 4 51 6 43 5 Jml 302 271 S 61 R SR 22 6 19 7 17 17 2 3 0 56 7 64 2 28 37 8 3 4 93 209 n(ST) Tingkat Kemandirian n(T) n(S) n(R) n(SR) 30 280 20 265 100 85 265 205 260 60 120 28 160 100 92 148 204 172 15 15 30 6 42 30 12 18 15 44 12 38 14 34 34 4 6 0 56 7 64 2 28 37 8 3 4 205 434 180 447 304 278 437 436 451 1,97 4,17 1,73 4,30 2,92 2,67 4,20 4,19 4,34 1510 1084 183 186 209 3172 30,50 Jumlah Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI adalah 3,39 ( Sedang) Keterangan: n = 104 ST = Sangat tinggi T = Tinggi S = Sedang R = Rendah SR = Sangat rendah Kesimpulan: 1. Tingkat kemandirian dalam akses media berada pada kategori rendah dengan rata-rata pencapain skor 1,97; 2. Tingkat kemandirian dalam hal kerjasama dengan penyuluh berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,17; 3. Tingkat kemandirian dalam hal kerjasama dengan pedagang berada pada kategori rendah dengan rata-rata pencapaian skor 1,73; 4. Tingkat kemandirian dalam penyediaan modal usaha berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,30; 5. Tingkat kemandirian dalam menyiapkan lahan berada pada kategori sedang dengan ratarata pencapaian skor 2,92; 6. Tingkat kemandirian dalam akses kredit usahatani berada pada kategori sedang dengan rata-rata pencapaian skor 2,67; 7. Tingkat kemandirian dalam hal menanggung risiko berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,20; 8. Tingkat kemandirian dalam hal pengambilan keputusan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata pencapaian skor 4,19; 9. Tingkat kemandirian dalam hal belajar mandiri berada pada kategori tinggi dengan ratarata pencapaian skor 4,34; dan 10 Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI berada pada kategori sedang dengan rata-rata pencapaian skor 3,39. 163 Lampiran 9. Pengadopsian SRI di kalangan anggota subak (1) Persiapan dan pengolahan tanah Kategori No SB B C J BR n(SB) Skor persiapan dan pengolahan tanah n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah Rataan 1 83 19 1 0 0 415 76 3 0 0 494 4,75 2 68 27 1 2 6 340 108 3 4 6 461 4,43 3 71 24 4 1 4 355 96 12 2 4 469 4,51 4 66 30 2 1 5 330 120 6 2 5 463 4,45 5 56 37 3 1 7 280 148 9 2 7 446 4,29 Jml 344 137 11 5 22 1720 548 33 10 Tingkat pengadopsian persiapan dan pengolahan tanah SRI adalah 4,49 (Sangat tinggi). 22 2333 22,43 (2) Pemilihan benih Kategori No SB B C Skor pemilihan benih J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah Rataan 1 70 26 3 3 2 350 104 9 6 2 471 4,53 2 62 24 2 1 15 310 96 6 2 15 429 4,13 3 67 24 2 1 10 335 96 6 2 10 449 4,32 Jml 199 74 7 5 27 995 296 Tingkat pengadopsian pemilihan benih SRI adalah 4,32 (Tinggi). 21 10 27 1349 12,97 (3) Persemaian Kategori No 1 SB 16 B C 17 J BR 8 27 36 Skor persemaian n(J) n(BR) n(SB) n(B) n(C) 80 68 24 54 36 Jumlah 262 Rataan 2,52 2 18 14 5 27 40 90 56 15 54 40 255 2,45 3 57 28 1 1 17 285 112 3 2 17 419 4,03 4 38 12 7 18 29 190 48 21 36 29 324 3,12 5 49 31 2 6 15 245 124 6 12 15 402 3,87 6 24 23 10 19 28 120 92 30 38 28 308 2,96 7 34 25 6 12 27 170 100 18 24 27 339 3,26 8 37 33 4 7 23 185 132 12 14 23 366 3,52 9 17 12 4 25 46 85 48 12 50 46 241 2,32 Jml 290 195 47 142 261 1450 Tingkat pengadopsian persemaian SRI adalah 3,12 (tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk 780 141 284 261 2916 28,04 164 (4) Penanaman Kategori No SB B Skor penanaman C J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 73 23 0 5 3 365 92 0 2 69 24 4 7 0 345 96 12 3 76 21 1 6 0 380 84 3 4 68 23 5 7 1 340 92 15 5 59 17 6 9 13 295 68 18 6 48 17 5 20 13 240 68 15 7 70 26 1 2 5 350 104 3 Jml 463 151 22 56 35 2315 604 66 Tingkat pengadopsian penanaman SRI adalah 4,30 (Tinggi). n(BR) 10 14 12 14 18 40 4 112 Jumlah 3 0 0 1 13 13 5 35 470 467 479 462 412 376 466 3132 Rataan 4,52 4,49 4,61 4,44 3,96 3,62 4,48 30,12 (5) Pemupukan Skor pemupukan Kategori No SB B C J BR n(SB) n(B) n(C) 1 71 31 1 0 1 355 124 3 2 77 26 0 1 0 385 104 0 3 66 34 1 3 0 330 136 3 4 72 25 1 2 4 360 100 3 5 29 17 5 16 37 145 68 15 Jml 315 133 8 22 42 1575 532 24 Tingkat pengadopsian pemupukan SRI adalah 4,26 (Tinggi). n(J) 0 2 6 4 32 44 n(BR) 1 0 0 4 37 42 Jumlah Rataan 483 4,64 491 4,72 475 4,57 471 4,53 297 2,86 2217 21,32 (6) Penyiangan Kategori No SB B C Skor penyiangan J BR n(SB) n(B) n(C) 1 37 20 7 20 20 185 80 21 2 60 32 1 5 6 300 128 3 Jml 97 52 8 25 26 485 208 24 Tingkat pengadopsian penyiangan SRI adalah 3,81(Tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk n(J) 40 10 50 n(BR) Jumlah 20 6 26 346 447 793 Rataan 3,33 4,30 7,63 165 (7) Pengairan Kategori No SB B Skor pengairan C J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 61 33 1 4 5 305 132 3 2 58 31 2 7 6 290 124 6 3 83 18 2 0 1 415 72 6 Jml 202 82 5 11 12 1010 328 15 Tingkat pengadopsian pengairan SRI adalah 4,45 (Sangat tinggi). (8) Pengendalian hama dan penyakit Kategori No SB B C n(BR) 8 14 0 22 Jumlah 5 6 1 12 Rataan 4,36 4,23 4,75 13,34 453 440 494 1387 Skor pengendalian hama dan penyakit J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) n(BR) Jumlah 1 60 36 0 7 1 300 144 0 14 1 2 18 16 9 22 39 90 64 27 44 39 3 15 23 12 13 40 75 92 36 26 40 4 10 10 9 25 50 50 40 27 50 50 5 78 18 5 1 2 390 72 15 2 2 6 44 23 8 5 24 220 92 24 10 24 7 33 20 12 9 30 165 80 36 18 30 8 48 21 9 5 21 240 84 27 10 21 Jml 306 167 64 87 207 1530 668 192 174 207 Tingkat pengadopsian pengendalian hama dan penyakit SRI adalah 3,33 (Sedang). Rataan 459 264 269 217 481 370 329 382 2771 4,41 2,54 2,59 2,09 4,63 3,56 3,16 3,67 26,64 (9) Panen No Kategori SB B C Skor panen metode SRI J BR n(SB) n(B) n(C) n(J) 1 86 16 2 0 0 430 64 6 0 2 30 29 21 6 18 150 116 63 12 3 39 24 4 17 20 195 96 12 34 4 8 10 9 24 53 40 40 27 48 Jml 163 79 36 47 91 815 316 108 94 Penen Tingkat pengadopsian terhadap seluruh paket-paket teknologi SRI adalah: 1 + 2 + 3 + 4+ 5+ 6+7 +8 +9)/9 = 3,94 (Tinggi). Keterangan: N = 104; SB = Sangat tinggi B = Tinggi C = Sedang J = Jelek BR = Buruk n(BR) Jumlah 0 18 20 53 91 500 359 357 208 1424 Rataan 4,81 3,45 3,43 2,00 13,69 3,42 166 Kesimpulan: 1. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi persiapan dan pengolahan lahan SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,49; 2. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pemilihan benih SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,32; 3. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi persemaian SRI termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,12;; 4 Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi penanaman SRI termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,30; 5. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pemupukan termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,26; 6. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi penyiangan termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,81; 7. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pengairan termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 4,45; 8. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi pengendalian hama dan penyakit termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,33; 9. Tingkat pengadopsian terhadap paket teknologi panen termasuk dalam kategori sedang dengan pencapaian skor rata-rata 3,42; dan 10. Tingkat pengadopsian SRI di kalangan anggota subak termasuk dalam kategori tinggi dengan pencapaian skor rata-rata 3,94. 167 Lampiran 10. Perbandingan budidaya padi metode SRI dan konvensional No Parameter SRI Konvensional 1 Kebutuhan benih 15 kg/Ha 50 kg/Ha 2 Usia persemaian 12 hari 20-30 hari 3 Masa stagnasi 2-3 hari 6-8 hari 4 Kebutuhan air Hemat Terusan 5 Bagan warna daun 4 4 6 Tinggi tanaman 83.42 cm 76.25 cm 7 Gulma Banyak Sedang 8 Hama dan Penyakit Agak tahan Agak rawan 9 Jumlah anakan (max) 56.67 btg 26.33 btg 10 Jumlah anakan produktif 23.17 btg 16.25 btg 11 Panjang malai 25.02 cm 24.4 cm 12 Jumlah bulir setiap malai 144.62 btr 131.5 btr 13 Butir bernas setiap malai 131.45 btr 127.5 btr 14 Butir hampa setiap malai 13.17 btr 4.9 btr 15 Berat gabah setiap malai 3.82 g 3.52 g 16 Berat 1000 butir gabah 29.87 g 27.5 g 17 Kadar air saat panen 26.33 % 26.31 % 18 Hasil Panen (Riel) 9.46 ton/Ha 5.6 ton/Ha Sumber: Laporan pelaksanaan SRI di Subak Rapuan, Desa Mas Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar Tahun 2011 168 Lampiran 11. Analisis usahatani SRI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 No 1. 2. Uraian Benih Pupuk Organik Granul 600 kg Pupuk Anorgani/Kimia a. SRI Urea 200 kg Ponska 300 kg ZA 100 kg b. Konvensional Urea 300 kg Ponska 300 kg Persemaian a. Semai b. Cabut Bibit c. Pindah Bibit Biaya Tanam Pengolahan lahan dan galengan Biaya Penyiangan 2 kali Pengendalian Hama & Penyakit Biaya Panen a. SRI 9.46 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton) b. Konv. 5.6 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton) Biaya Sewa Lahan Jumlah biaya produksi Uraian Hasil panen SRI 9,46 ton/ha (Rp 2.400/kg) Hasil panen konvensional 5,6 ton/ha (Rp2.400/kg) SRI 75.000 Konvensional 250.000 276.000 0 260.000 560.000 116.000 325.000 560.000 10.000 600.000 60.000 75.000 30.000 400.000 960.000 960.000 1.350.000 1.200.000 532.000 300.000 1.608.200 952.000 3.000.000 9.347.200 3.000.000 8.112.200 Hasil Panen SRI Konv. 22.704.000 - Total biaya produksi SRI Konv. 9.347.200 - Keuntungan SRI Konv. 13.356.800 - - - - 13.440.000 8.112.000 Sumber: Laporan pelaksanaan SRI di Subak Rapuan, Desa Mas Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. 5.328.000 169 Lampiran 12. Hasil uji analisis SEM dengan Software Lisrel Versi 8.3 170 171 172 173 174 175 176 177 Lampiran 13. Foto-foto penelitian Peneliti bersama tenaga enumerator Wawancara dengan pengurus subak 178 Mencari informasi tambahan dari PPL Wawancara dengan petani anggota subak 179 Aktivitas penyiangan dalam SRI yang dilakukan petani anggota subak Pengamatan langsung di lokasi SRI dipandu oleh petani anggota subak 180 Bentuk hubungan antara sektor pariwisata dan pertanian Kotoran gajah dapat dimanfaatkan sebagai kompos 181 “Melalui System of Rice Intensification petani dapat belajar mandiri untuk memecahkan masalahnya sendiri”
Factors influence subak members in adopting system of rice intensification (sri) in seven regencies in the Province of Bali
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Factors influence subak members in adopting system of rice intensification (sri) in seven regencies in the Province of Bali

Gratis