Feedback

Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru, Kepala Sekolah dan Orang Tua terhadap Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor

Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumbuhan merupakan salah satu sumber kebutuhan makhluk hidup. Pemanfaatan tumbuhan tidak sekedar untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan lagi, tetapi sudah lama menjadi bahan obat alami. Seiring perkembangan zaman, bergeraknya pola pikir masyarakat dunia “back to nature” maka penggunaan tumbuhan obat tidak hanya diminati masyarakat pedesaan tetapi juga diminati kalangan menengah ke atas. Meningkatnya jumlah pengguna tumbuhan obat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan tumbuhan obat sebagai bahan obat alami. Upaya mengatasi kelangkaan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan mengacu kepada empat point penting tentang konservasi yaitu, mengidentifikasi tumbuhan obat yang terancam punah, melestarikan pengetahuan untuk mempertahankan keanekaragaman tumbuhan obat, menyebarkan bibit tumbuhan obat di tingkat lokal dan mempromosikan akan pentingnya tumbuhan obat sebagai dasar yang kuat untuk pengembangan sumberdaya lokal (Cordell 2009 diacu dalam Indriati 2011). Dalam rangka menumbuh kembangkan pengetahuan dan pemahaman mengenai wawasan lingkungan hidup kepada masyarakat serta meningkatkan mutu sumber daya manusia sebagai pelaksana pembangunan dan pelestari lingkungan hidup, Pemerintah mengeluarkan surat keputusan bersama yang di tanda tangani tanggal 01 Februari 2010 antara Menteri Pendidikan Nasional dan Meteri Lingkungan Hidup dengan surat keputusan No. 03/MenLH/02/2010-No. 01/II/KB/2010 tentang pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup diajarkan bertahap sejak pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Kurikulum yang diajarkan pada sekolah dasar di dalamnya mencakup tentang tumbuhan obat. Tumbuhan obat, pada dasarnya sebagai bahan obat alami untuk perawatan kesehatan dasar sangat diperlukan untuk menambah wawasan pengetahuan. Apalagi pengetahuan tentang pemanfaatan dan 2 pengalaman tumbuhan obat tersebut merupakan warisan budaya bangsa turun temurun. Keanekaragaman tumbuhan obat di Indonseia merupakan asset yang perlu dikembangkan. Melalui mata ajaran pendidikan lingkungan hidup khususnya tumbuhan obat membuka jalan untuk mengupayakan konservasi tumbuhan obat sejak usia dini. Sejauh ini upaya implementasi konservasi tumbuhan obat di beberapa sekolah dasar sudah berhasil pada tahap tersedianya kebun TOGA tapi tidak ada tindak lanjut ke arah pengembangan. Oleh karena itu, perlu adanya kajian persepsi dan sikap konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar. Sekolah dasar yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SDN Pengadilan 5 Bogor. Hal ini dikarenakan sekolah dasar tersebut merupakan salah satu sekolah dasar yang pernah memiliki kebun TOGA. Kepemilikan kebun TOGA pada sekolah-sekolah dasar merupakan salah satu implementasi praktik terhadap pendidikan lingkungan hidup. Tetapi bukti fisik tersebut kadang tidak ada tindak lanjutnya sehingga tidak menjadi prioritas. Bahkan kebun TOGA tersebut sudah tidak ada lagi karena dirubah menjadi lapangan olah raga yang terdesak akan kebutuhan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui persepsi dan sikap murid, orang tua, guru, dan kepala sekolah di sekolah melalui wawancara. Selanjutnya dilakukan identifikasi permasalahan, hambatan dan solusi dalam upaya pengembangannya dari hasil wawancara. Selanjutnya dilakukan pendekatan SWOT untuk membuat rencana strategis program pengembangan konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar. Dengan dilakukannya penelitian ini akan dapat diketahui apakah proses pengembangan konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar dapat dilakukan secara riil dan aplikatif. 1.2 Tujuan Tujuan penelitian ini antara lain untuk memperoleh informasi tentang: 1. Pengetahuan dan sikap kepala sekolah, guru, murid dan orang tua/komite sekolah terhadap konservasi tumbuhan obat. 2. Permasalahan pengembangan konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar. 3 1.3 Manfaat Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dan/atau membuat program kegiatan terkait upaya pengembangan konservasi tumbuhan obat di lingkungan sekolah dasar bagi pihakpihak yang berkepentingan. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Obat Menurut Zuhud dan Hariyanto (1994) pengelompokkan tumbuhan berkhasiat menjadi tiga kelompok, yaitu: a. Tumbuhan obat tradisional, merupakan jenis tumbuhan yang diketahui atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. b. Tumbuhan obat modern, adalah sejenis tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat, dan penggunaanya dapat dipertanggung jawabkan secara medis. c. Tumbuhan obat potensial, merupakan jenis tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif obat, tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah medis sebagai bahan obat dan penggunaannya secara tradisional belum diketahui. TOGA adalah singkatan dari tumbuhan obat keluarga. Taman obat keluarga pada hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Menurut Zuhud (2007), terdapat 10 kelompok manfaat TOGA dari berbagai sudut pandang diantaranya adalah sebagai manfaat medis (kesehatan), estetis (keindahan), bisnis (usaha), finansial (keuangan), hobi (kesenangan), pendidikan (pembelajaran), konservasi (pelestarian), budaya, ekologis dan sosial (kemasyarakatan). Salah satu manfaat TOGA sebagai sarana pendidikan (pembelajaran) yang merupakan suatu sistem pendidikan yang terfokus pada kesehatan, baik untuk pemeliharaan kesehatan maupun pengobatan penyakit. TOGA diibaratkan sebagai perpustakaan, yang diisi tumbuhan obat sebagai bukubukunya atau obyek pembelajaran. 5 2.2 Peran Anak dan Guru dalam Pendidikan Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, aklak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut WF Connell (1972) diacu dalam Yulianto (2010), peran seorang guru terdiri dari tujuh garis besar yang dibedakan menjadi (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga. Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas membei bantuan dan dorongan (supporter), tugastugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkn anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak maka tingkah laku pendidik harus sesuai dengan norma-norma yang di anut. Peran guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar, maka guru harus memberikan pengetahuan, ketermpilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah. Peran guru sebagai pelajar, maka guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan ketermpilan agar tidak ketinggalan zaman. Peran guru sebagai komunikator pembangun masyarakat, seorang guru diharapkan dapat aktif berperan dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Peran guru sebagai administrator, guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar tetapi juga sebagai administrator dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Menurut Daoed Yoesoef (1980) diacu dalam Marjohan (2010), menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (civic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan 6 dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaikbaiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara. Menurut Setiono (2007), seorang guru selain mendidik siswa secara tidak langsung juga mengajarkan pendidikan konservasi yang dapat mendorong meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan arti penting konservasi alam. Sadar lingkungan dapat diartikan sebagai bagian dari kesadaran diri yang bertumpu pada terbentuknya hubungan positif antara individu dengan lingkungan alam, social dan lingkungan yang telah terbentuk dengan memperhatikan keteraturan ekologi (Rachmawati 2007). Secara tidak dipaksakan siswa mulai tahu, mengerti, sadar, menghargai, melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan upaya konservasi (Setiono 2007). 2.3 Peran Orang Tua atau Komite Sekolah dalam Pendidikan Menurut Hurlock (1978), lingkungan tempat anak hidup bertahun-tahun pembentukan awal hidupnya mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan bawaan mereka. Karena dasar untuk pola sikap dan perilaku diletakkan secara dini, yaitu ketika lingkungan itu terbatas pada rumah dan kontak sosial umumnya terdapat di antara anggota keluarga, dasar ini “tumbuh dari rumah”. Bahkan dengan bertambah besarnya anak dan meningkatnya waktu yag dihabiskan dengan anggota kelompok teman sebayanya, di lingkungan tempat tinggal dan sekolah, pengaruh rumah pada dasar awal akan tetap tampak nyata. Menurut Hurlock (1978), alasan kenapa dasar awal sangat penting yang cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dari perilaku anak sepanjang hidupnya : a. Karena hasil belajar dan pengalaman semakin memainkan peran dominan dalam perkembangan dengan berambahnya usia anak, mereka dapat diarahkan ke saluran yang akan membawa kea rah penyesuaian yang baik. Pada dasarnya, tugas ini ditangani oleh keluarga 7 b. Karena dasar awal cepat berkembang menjadi pola kebiasaan, hal itu akan mempunyai pengaruh sepanjang hidup dalam penyesuaian pribadi dan sosial anak itu. c. Pola sikap dan perilaku yang dibentuk pada awal kehidupan, cenderung bertahan, tidak jadi soal apakah hal itu baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan penyesuaian anak. d. Karena adakalanya diinginkan perubahan dalam apa yang diajarkan, semakin cepat perubahan ini dibuat, semakin mudah bagi anak-anak dan akibatnya mereka semakin lebih mau bekerja sama dalam mengadakan perubahan itu. Dari hasil penelitian Rollins dan Thomas yang dilaporkan oleh Lewin dan Havighurst (1982) diacu dalam Marjohan (2010) menyatakan bahwa (1) makin besar dukungan orang tua makin tinggi tingkat perkembangan kognitif anak, (2) makin kuat pemaksaan yang diberikan oleh orang tua maka makin rendah perkembangan kognitif anak, (3) makin besar dukungan orang tua, makin tinggi kemampuan sosial dan kemampuan instrumental anak, (4) makin kuat tingkat pemaksaan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya maka makin rendah kemampuan sosialnya, (5) bagi anak perempuan besarnya dukungan dan frekuensi usaha pengawasan orang tua berkorelasi negatif terhadaap pencapaian prestasi akademik, (6) bagi anak laki-laki besarnya dukungan orang tua dan kuatnya pengawasan orang tua berkorelasi positif terhadap pencapaian prestasi belajar. Keluarga dan sekolah memiliki hubungan yang erat terhadap pendidikan sebab secara hukum orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak, tetapi secara hukum pemerintah/negara bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu wujud aktualisasi dalam dunia pendidikan dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No: 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, Komite Sekolah diharapkan dapat mengoptimalkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam memajukan program pendidikan. 8 Menurut Kepmendiknas No: 044/U/2002 peran Komite Sekolah adalah sebagai berikut: 1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan. 2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. 3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan. 4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan. Menurut Depdiknas adanya hubungan harmonis antara sekolah dan masyarakat yang diwadahi dalam organisasi Komite Sekolah dapat mengoptimalkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam memajukan program pendidikan dalam bentuk : 1. Orang tua dan masyarakat membantu menyediakan fasilitas pendidikan, memberikan bantuan dana serta pemikiran atau saran yang diperlukan sekolah, 2. Orang tua memberikan informasi kepada sekolah tentang potensi yang dimiliki anaknya, 3. Orang tua menciptakan rumah tangga yang edukatif bagi anak. 2.4 Pengetahuan dan Sikap Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. Menurut Arafah (2002) diacu dalam Asiah (2009), pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budidaya untuk menggali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atua dirasakan sebelumnya. Pengetahuan dapat pula diartikan sebagai kapasitas manusia untuk memahami dan menginterpretasikan baik hasil pengamatan maupun pengalaman, sehingga bisa digunakan untuk meramalkan ataupun sebagai dasar pertimbangan dalam keputusan. Pengetahuan merupakan keluaran dari proses pemahaman dan 9 interpretasi yang masuk akal. Namun pengetahuan bukanlah merupakan kebenaran yang bersifat mutlak. Pengetahuan sendiri tidak mengarah ke suatu tindakan nyata (Sunaryo dan Joshi 2003 diacu dalam Asiah 2009). Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmojo 1996). Menurut Rosenberg dan Hovland (1960) diacu dalam Zuhud (2007), sikap merupakan kecenderungan bertindak (tend to act), kesediaan bereaksi atau berbuat sesuatu hal dalam masyarakat, menunjukkan bentuk, arah dan sifat yang merupakan dorongan, respon dan refleksi dari stimulus. Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu cognitive (pengalaman, pengetahuan, pandangan dan lain-lain), affective (emosi, senang, benci, cinta, dendam, marah, masa bodoh, dan lain-lain), behavioral / over actions (perilaku, kecenderungan bertindak). Menurut Notoatmojo (1996), sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu : 1. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek), 2. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 3. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi. Menurut Purwanto (1998) diacu dalam Suparyanto (2010), sikap memiliki dua macam sifat, yaitu : 1) Sikap positif (favorable), kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu. 2) Sikap negatif (unfavorable) terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu. 10 Azwar (1988) diacu dalam Aline (2003) berpendapat bahwa pembentukan sikap dipengaruhi oleh tiga proses social, yaitu kesediaan, identifikasi dan internalisasi. 2.5 Analisis SWOT Strategi adalah alat-alat mencapai tujuan usaha dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya (Chandler 1962 diacu dalam Rangkuti 2000 diacu dalam Aline 2003). Dalam perkembangannya konsep mengenai strategi terus berkembang. Menurut Start dan Hovland (2002), analisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. SWOT adalah sebuah singkatan dari, S adalah “strength” atau kekuatan, W adalah ”weakness” atau kelemahan, O adalah “opportunity” atau kesempatan, dan T adalah ”threat” atau ancaman. SWOT ini biasa digunakan untuk menganalisis suatu kondisi dimana akan dibuat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu, sebagai contoh, program kerja (Hadi 2008). Gambar 1 Analisis SWOT (Start dan Hovland 2002). 11 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 5 Bogor, pada bulan September sampai bulan Oktober 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat tulis, panduan wawancara dan kamera. Bahan atau obyek pada penelitian ini adalah hasil wawancara responden atau sampel berupa warga SDN Pengadilan 5 Bogor. 3.3 Sampel Penelitian Sampel penelitian merupakan bagian SDN Pengadilan 5 Bogor yang terdiri dari siswa, orang tua murid, kepala sekolah, guru, dan staff pegawai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1 Sampel penelitian No. Elemen Responden 1 Siswa 2 Orang tua 3 Guru Metode pemilihan responden Purposive sampling Metode wawancara Jumlah responden Keterangan Wawancara dengan panduan wawancara 120 orang Responden terdiri dari siswa kelas IIIVI, masing-masing kelas terdiri dari 15 orang perempuan dan 15 orang lakilaki Purposive sampling Wawancara dengan panduan wawancara 80 orang Responden merupakan orang tua yang mengantar, menunggu atau menjemput anaknya di sekitar SD. Snowball sampling Indeepth interview dengan panduan wawancara 10 orang Responden terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru mata pelajaran, wali kelas, pegawai tata usaha dan penjaga sekolah. 12 3.3.1 Siswa Kelompok responden pertama adalah siswa. Metode pemilihan responden dengan purposive sampling atau pemilihan dengan unsur kesengajaan dan tujuan tertentu. Tingkatan kelas siswa yang dipilih berasal dari kelas III, IV, V, dan VI atau kelas atas. Kelas III dan IV merupakan kelompok kelas yang belum mendapatkan materi pelajaran tumbuhan obat di kelas berdasarkan kurikulum. Sedangkan, kelas V dan VI merupakan kelompok kelas yang sudah mendapatkan materi pelajaran tumbuhan obat di kelas berdasarkan kurikulum. Pemilihan responden berdasarkan sudah atau belum menerima pelajaran tumbuhan obat berdasar kurikulum agar memudahkan mendapatkan informasi pengetahuan dan pengalaman. Selain itu, responden berada pada satu kelas usia perkembangan, yaitu rentang usia 7-11 tahun. Responden berjumlah 120 orang yang terdiri dari 30 orang masing-masing kelas dan perbandingan jenis kelamin 1:1 (15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan). 3.3.2 Orang Tua Responden kedua adalah orang tua siswa. Metode pemilihan responden dengan purposive sampling. Orang tua dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu yang terlibat dan tidak terlibat dalam Komite Sekolah. Keduanya menjadi responden pada penelitian ini, tetapi jumlahnya tidak berimbang. Dari jumlah responden orang tua sebanyak 80 orang hanya empat orang Komite Sekolah yang dapat ditemukan untuk wawancara. Hal ini dikarenakan responden yang diwawancara merupakan orang tua yang mengantar, menunggui atau menjemput anaknya di sekitar sekolah. Biasanya yang memiliki waktu luang melakukan hal tersebut adalah ibu rumah tangga. Karena orang tua yang memiliki pekerjaan tetap di kantor akan bersinggungan dengan jam kerja untuk mengantar, menunggui atau menjemput anaknya. Sebagai gantinya, di sekolah terdapat fasilitas mobil jemputan untuk memudahkan orang tua siswa mengatasi hal tersebut. 3.3.3 Guru Kelompok responden ketiga adalah guru. Metode pemilihan responden dengan Snowball sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Pertimbangannya adalah pengetahuan, pengalaman, jabatan, 13 ketersediaan waktu dan kesediaan untuk diwawancara. Responden terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru mata pelajaran, wali kelas, pegawai tata usaha dan penjaga sekolah. Dengan perwakilan elemen tersebut diharapkan sudah mewakili staff/pegawai di sekolah. Sehingga 10 orang dari 24 orang sudah terwakili dengan adanya klasifikasi tersebut. 3.4 Metode Penelitian Penelitian “ Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru dan Orang Tua terhadap Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor” terdiri dari beberapa tahapan yaitu: kajian kondisi umum sekolah, mengetahui pengetahuan dan sikap responden, identifikasi permasalahan, pengolahan dan analisis data, dan pembuatan program yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2 Tahapan penelitian Jenis Kegiatan Aspek yang di kaji 1 Kajian Kondisi Umum SD Negeri Pengadilan 5 Bogor Letak dan luas, kondisi demografi guru dan siswa, keadaan sarana dan prasarana sekolah. Dokumen sekolah Studi literatur dan survei lokasi 2 Mengukur pengetahuan dan sikap responden Pengetahuan responden terhadap tumbuhan obat, jenis yang sudah diketahui, manfaatnya, pengalaman dan sikapnya terhadap tumbuhan obat. Siswa, orang tua siswa dan guru. Wawancara 3 Identifikasi permasalahan Permasalahan dan solusi yang di usulkan responden. Orang tua siswa dan guru Wawancara 4 Pengolahan dan Analisis Data a. pengolahan data b. analisis data 5 Membuat program Program disusun dari data yang ada berdasarkan permasalahan dan solusi yang teridentifikasi. Wawancara, Pengamatan lapang Hasil wawancara Tabulasi, Deskriptif kualitatif Pendekatan SWOT No Sumber Data Metode 3.4.1 Studi Literatur Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan data yang mendukung penelitian ini melalui laporan bulanan sekolah, buku, jurnal, dan internet. Data- 14 data tersebut kemudian dijadikan acuan dan panduan untuk melengkapi data hasil pengamatan di lapangan. 3.4.2 Wawancara Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan panduan wawancara. Panduan wawancara ditanyakan kepada siswa, guru dan orang tua/komite dengan pernyataan berbeda. Hasil wawancara digunakan untuk mengetahui pengetahuan tentang tumbuhan obat, persepsi penggunaan tumbuhan obat dan sikap terhadap konservasi tumbuhan obat. Selain itu, wawancara juga dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan solusi yang ada terkait dengan konservasi tumbuhan obat di SDN Pengadilan 5 Bogor. 3.4.3 Pengolahan dan Analisis Data Data-data yang diperoleh dari studi literatur dan data yang diperoleh dari wawancara siswa, guru dan orang tua, diolah secara tabulasi dan di analisis secara kualitatif serta dijelaskan secara deskriptif. Data dari hasil mewawancarai responden kemudian diklasifikan dalam bentuk tabel, mengidentifikasi persepsi dan sikap responden, mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul dan solusinya. Selain itu, pada hasil wawancara juga dilakukan pendekatan SWOT. Selanjutnya dilakukan penyusunan rencana stretegis program pengembangan. Data yang diperoleh dari studi literature digunakan sebagai data penunjang dalam mendeskripsikan data hasil wawancara. 3.4.4 Penyusunan Program Pembuatan program dilakukan berdasarkan analisis hasil wawancara dengan menggunakan pendekatan metode analisis SWOT. Pembuatan program dilakukan sebagai rekomendasi kepada pihak sekolah dalam rangka strategi pengembangan konservasi tumbuhan obat secara manajemen kolaborasi di SDN Pengadilan 5 Bogor. 15 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI 4.1 Letak dan Luas Sekolah Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 5 Bogor merupakan salah satu sekolah dasar yang berada di komplek Jalan Pengadilan, Pasar Anyar dengan alamat Jl. Pengadilan No. 10 Desa Pabaton, Kelurahan Bogor Tengah, Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat. Sekolah ini didirikan pada tahun 1920 di atas tanah milik pemerintah seluas 1015 m². 4.2 Kondisi Demografi Guru dan Siswa Berdasarkan data laporan keadaan per September 2011 tahun ajaran 2011- 2012, total siswa SDN Pengadilan 5 Bogor adalah 651 siswa dengan persentase perempuan sebesar 51 % dan laki-laki 49 % (Gambar 2). Gambar 2 Persentase seluruh siswa berdasarkan jenis kelamin. Siswa terbanyak berada di kelas dua dengan jumlah 123 orang (lihat Tabel 3). Tetapi kelas satu dan dua tidak dijadikan responden dalam penelitian ini. Selain itu, waktu belajar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas I, II, V dan VI sekolah pada pagi hingga siang hari dan kelas III sampai IV sekolah pada siang hingga sore hari. Tabel 3 Jumlah seluruh siswa di SDN Pengadilan 5 Bogor Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Kelas I 52 60 II 63 60 III 60 59 IV 54 52 V 48 50 VI 41 52 SDN Pengadilan 5 memiliki 21 orang guru dengan perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 7 orang dan 14 orang (Gambar 3). 16 Gambar 3 Persentase jenis kelamin guru. Tingkat pendidikan terakhir seluruh guru diantaranya adalah : SMA, SPG, D2, D3, S1 dan S2 (Tabel 4). Dengan pendidikan terakhir terbanyak adalah S1 sejumlah 29% dan yang paling sedikit adalah S2 (4%) dan D3 (4%). Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas guru dalam mendidik anak didik. Tabel 4 Pendidikan terakhir guru No 1 2 3 4 5 6 4.3 Pendidikan terakhir SMA SPG D2 D3 S1 S2 Jumlah (orang) 4 2 9 1 7 1 Persentase (%) 17 8 38 4 29 4 Keadaan Sarana dan Prasarana Sekolah Keadaan sarana dan prasarana SDN Pengadilan 5 tergolong sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari kondisi ruangan dan meubeler dalam kondisi baik. Sekolah memiliki tujuh ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang UKS, ruang computer, ruang tata usaha, ruang komite, ruang kantin sehat, ruang perpustakaan, musholla, dapur dan toilet dalam keadaan baik. Jenis meubeler diantaranya adalah meja, kursi, lemari, meja guru, kursi guru, papan tulis, kursi tamu dan rak buku dengan rincian yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5 Keadaan meubeler SDN Pengadilan 5 Bogor No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Meubeler Meja siswa Kursi siswa Lemari Meja Guru Kursi Guru Papan tulis Kursi tamu Rak buku Keadaan Baik 203 406 17 18 7 1 5 Sedang 15 5 20 2 - 17 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Demografi Responden 5.1.1 Siswa Responden siswa yang diambil menggunakan metode purposive sampling” dengan jumlah 120 orang yang terdiri dari siswa kelas III sampai kelas VI. Masing-masing kelas terdiri dari 30 orang dengan komposisi 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan, seperti terlihat pada tabel dibawah ini. Tabel 6 Komposisi responden siswa No 1 2 3 4 Kelas III IV V VI Responden Laki-laki (orang) 15 15 15 15 Responden Perempuan (orang) 15 15 15 15 Responden siswa terbagi ke dalam dua waktu belajar, yaitu pagi dan siang. Siswa yang sekolah siang merupakan kelas III dan IV, selain itu waktu belajarnya pagi. Hal ini dikarenakan kapasitas ruang kelas yang tidak memadai. Oleh karena itu, proses wawancara waktu belajar siang dilaksanakan sekitar jam 12 hingga masuk sekolah yaitu pukul 13.00. Sedangkan waktu belajar pagi, diwawancara ketika istirahat dan setelah pulang sekolah. Selain perbedaan waktu belajar, responden juga terbagi ke dalam dua kelompok yaitu yang belum mempelajari tumbuhan obat secara kurikulum seperti kelas III-IV dan yang sudah mempelajari tumbuhan obat secara kurikulum seperti kelas V-VI. Berdasarkan kurikulum KTSP, tumbuhan obat dipelajari di kelas V pada semester I awal pembelajaran. Responden siswa memiliki variasi umur antara usia tujuh sampai 11 tahun dengan perbandingan persentase yang dapat dilihat pada Tabel 7. Pada tabel ini menunjukkan adanya ketidakseragaman usia responden walau mereka berada dalam satu kelas yang sama. Menurut Piaget (1952) diacu dalam Esti (2002), kemampuan atau perkembangan kognitif adalah hasil dari hubungan perkembangan otak dan sistem nervous dan pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget (1964) diacu dalam Esti (2002) membagi perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir 18 sampai dewasa, yaitu sensori motorik (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun) dan operasonal formal (11 tahun-dewasa). Usia responden termasuk dalam tahap operasional konkret, pada tahap ini manusia mampu berpikir logis, mampu konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat menghubungkan dimensi satu sama lain, kurang egosentris dan belum bisa berpikir abstrak. Tabel 7 Usia responden siswa No 1 2 3 4 5 Usia (tahun) 7 8 9 10 11 Upaya Jumlah (orang) 1 29 23 37 30 pengembangan kognitif siswa Persentase (%) 1 24 19 31 25 dapat dilakukan dengan memfasilitasinya dalam berbagai bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler di SDN Pengadilan 5 Bogor dilaksanakan pada hari sabtu yang terdiri dari basket, bulu tangkis, futsal, catur, tari lukis, karawitan, bahasa Inggris, BTQ dan Pramuka. Selain itu, tahun lalu sekolah ini pernah bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa (HIMAKOVA) Fakultas Konservasi Kehutanan Sumberdaya IPB dalam Hutan dan Ekowisata ekstrakurikuler Pecinta Lingkungan Hidup (PLH) dan ada pula “dokter kecil” tetapi tahun ini keduanya sedang tidak aktif. 5.1.2 Guru Responden Guru terdiri dari 10 orang dengan rincian Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran, Pegawai TU dan Penjaga Sekolah. Dengan perbandingan responden laki-laki dan perempuan sebesar 30% : 70% (lihat Gambar 4). Perbandingan responden tidak seimbang dikarenakan metode pemilihan responden dengan metode snowball. Pewawancara pertama kali menemui kepala sekolah yang kemudian menunjuk responden selanjutnya yang akan diwawancara. 19 Gambar 4 Perbandingan jumlah responden guru. Guru yang mengajar di SDN Pengadilan 5 berada pada rentang usia 21 tahun hingga 60 tahun. Sedangkan, yang menjadi responden mayoritas berada pada rentang usia 41-50 tahun (Tabel 8). Menurut Hurlock (1980), responden berada pada selang usia dewasa dini (18-40 tahun) dan dewasa madya (40-60 tahun). Pada selang usia tersebut, telah terjadi perubahan fisik dan psikologis yang disertai penurunan kemampuan reproduksi di akhir masa dewasa dini, serta mulai berkurangnya kemampuan fisik di masa dewasa madya. Tabel 8 Rentang usia guru SDN Pengadilan 5 Bogor No 1 2 3 4 Rentang Usia (tahun) 21 – 30 31 – 40 41 – 50 51 – 60 Jumlah (orang) 1 1 6 2 Dari kesepuluh responden terdapat perbedaan pengalaman dan lama mengajar di SDN Pengadilan 5. Lama bekerja berada pada rentang 1-40 tahun dan jumlah guru yang telah memiliki pengalaman mengajar selama 21-30 tahun memiliki jumlah yang paling besar yaitu 6 orang (Tabel 9). Hal ini mengindikasikan bahwa guru yang mengajar di sekolah tersebut telah memiliki pengalaman yang cukup lama. Walau demikian, lama bekerja merupakan akumulasi dari pengabdian pada beberapa sekolah, bukan lama bekerja murni di sekolah ini. Tabel 9 Lama bekerja guru SDN Pengadilan 5 Bogor No 1 2 3 4 5 Lama Bekerja (tahun)
Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru, Kepala Sekolah dan Orang Tua terhadap Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor Aspek Fisik dan Biologis Aspek Kepala Sekolah Solusi Aspek Kondisi Siswa Aspek Orang Tua Guru Kondisi Demografi Responden Kepala Sekolah Guru Pengetahuan Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Kepala Sekolah Guru Sikap Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Letak dan Luas Sekolah Kondisi Demografi Guru dan Siswa Keadaan Sarana dan Prasarana Sekolah Orang Tua Kondisi Demografi Responden Orang Tua Pengetahuan Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Orang Tua Sikap Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Pengetahuan dan Sikap TINJAUAN PUSTAKA Peran Orang Tua atau Komite Sekolah dalam Pendidikan Rencana Program Pengembangan Konservasi Tumbuhan Obat Siswa Kondisi Demografi Responden Siswa Orang Tua Guru Siswa Pengetahuan Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Siswa Sikap Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat Studi Literatur Wawancara Pengolahan dan Analisis Data Penyusunan Program Tumbuhan Obat Peran Anak dan Guru dalam Pendidikan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru, Kepala Sekolah dan Orang Tua terhadap Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor

Gratis