PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI EFEKTIF ORANG TUA KEPADA ANAK

22 

Full text

(1)

PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI EFEKTIF ORANG TUA

KEPADA ANAK

TESIS

Diajukan Sebagai Persyaratan

Memperoleh Gelar Magister Profesi Psikologi

Diajukan Oleh:

Nirma Yullidya

NIM 07820020

PROGRAM MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Nama : Nirma Yullidya NIM : 07820020

Program Studi : Magister Profesi Psikologi Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:

1. Tesis dengan judul “Pelatihan Kesehatan Reproduksi untuk Meningkatkan Komunikasi Efektif Orang Tua Kepada Anak” adalah hasil karya saya dan dalam naskah Tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, baik sebagian ataupun keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

2. Apabila ternyata di dalam naskah Tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsure-unsur PLAGIASI, saya bersedia TESIS ini DIGUGURKAN dan GELAR AKADEMIK YANG TELAH SAYA PEROLEH DIBATALKAN, serta diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

3. Tesis ini dapat dijadikan sumber pustaka yang merupakan HAK BEBAS ROYALTI NON EKSKLUSIF.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Malang, 24 September 2011 Yang menyatakan

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan ridho-Nya memberikan kekuatan serta kesabaran kepada penulis dalam menghadapi segala tantangan dan hambatan selama penyusunan tesis ini.

Tesis ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan reproduksi agar dapat meningkatkan komunikasi efektif kepada anak.

Selama proses penyelesaian tesis ini banyak pihak yang turut membantu dan memberikan dukungan kepada penulis. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan ketulusan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Wisjnu Martani, SU, Psi. selaku dosen pembimbing utama, yang telah berkenan memberikan bimbingan kepada penulis.

2. Dr. Diah Karmiyati, Psi., selaku dosen pembimbing yang dengan sabar memberikan sumbangan pikiran yang berharga.

3. Dra. Siti Suminarti F, M.si, Psi. selaku dosen pembimbing yang sering meluangkan waktu untuk memberikan support secara langsung kepada penulis.

4. Yudi Suharsono, M.Si, Psi., Kepala Program Studi Magister Profesi Psikologi, yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyelesaian karya tulis ini.

5. Ir. Bambang Yudi, MM, selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 9 Malang, atas ijin dan bantuannya dalam pelaksanaan penelitian.

(4)

7. Seluruh guru dan staf di SD Muhammadiyah 9 Malang, yang menerima dan membantu penulis dengan tulus selama penelitian dilakukan.

8. Ricky dan Yunda yang telah bersedia meluangkan waktu dan banyak membantu selama pelatihan berlangsung.

9. Yunda Megawati, M.Psi, Psi. dan dr. Iffah Istifadah, yang telah membantu menjadi fasilitator dalam pelatihan.

10. Seluruh teman-teman Magister Profesi Psikologi’07, yang selalu kompak mendukung. Akhirnya, bisa selesai juga.

11. Seluruh keluargaku tersayang, yang tak ada hentinya berdoa dan memberikan dukungan kepada penulis untuk terus berjuang menyelesaikan apa yang sudah dimulai hingga tuntas.

12. Serta masih banyak lagi teman, keluarga dan kerabat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang senantiasa memberikan dukungan doa.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih belum sempurna. Oleh karenanya penulis mengharapkan adanya kritik dan saran guna perbaikan tesis ini

di masa yang akan datang.

Malang, 24 September 2011

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

KATA PENGANTAR... v

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

DAFTAR SINGKATAN... xiv

ABSTRAK... xv

ABSTRACT... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Rumusan Masalah... 10

B. Tujuan Penelitian... 10

C. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN TEORITIK... 11

A. Kesehatan Reproduksi... 11

1. Pengertian Kesehatan Reproduksi... 11

2. Faktor-Faktor Kesehatan Reproduksi... 12

3. Tujuan Kesehatan Reproduksi... 16

(6)

5. Komunikasi Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 21

a. Pengertian Komunikasi…... 22

b. Komunikasi efektif... 23

1. Definisi Komunikasi Efektif... 23

2. Komunikasi efektif... 24

c. Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 26

1. Pengertian Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 26

2. Pentingnya Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 28

3. Hambatan Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 29

4. Hal-hal yang Mempengaruhi Efektifitas Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi... 30

B. Hipotesis... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

A. Rancangan Penelitian... 32

B. Variabel Penelitian ... 33

1. Identifikasi Variabel penelitian.…... 33

2. Definisi Operasional Penelitian... 33

C. Subyek Penelitian ... 34

(7)

E. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur... 37

1. Validitas... 37

2. Reliabilitas... 38

F. Rancangan Intervensi... 39

G. Prosedur Intervensi... 41

1. Persiapan Pelatihan... 41

2. Seleksi Subyek... 46

3. Pelaksanaan Pelatihan... 47

H. Metode Analisa Data... 57

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 58

A. Hasil Intervensi... 58

1. Uji Mann-Whitney... 58

2. Uji Wilcoxon... 58

B. Analisa Hasil Intervensi... 59

1. Uji Mann-Whitney... 59

2. Uji Wilcoxon... 61

C. Pembahasan... 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 65

A. Kesimpulan... 65

B. Saran... 66

DAFTAR PUSTAKA... 68

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabel Skor Pretest Kelompok Eksperimen... 72

Lampiran 2 Tabel Skor Posttest Kelompok Eksperimen... 74

Lampiran 3 Tabel Skor Pretest Kelompok Kontrol... 76

Lampiran 4 Tabel Skor Posttest Kelompok Kontrol... 78

Lampiran 5 Uji Validitas & Reliabilitas... 80

Lampiran 6 Uji Beda Pretest & Posttest Kelompok Eksperimen... 83

Lampiran 7 Uji Beda Pretest & Posttest Kelompok Kontrol... 84

Lampiran 8 Uji Beda Pretest Kelompok Kontrol & Kelompok Eksperimen... 85

Lampiran 9 Uji Beda Posttest Kelompok Kontrol & Kelompok Eksperimen... 86

Lampiran 10 Blueprint Angket Komunikasi Efektif Orang Tua Sebagai Upaya Pendidikan Kesehatan Reproduksi Kepada Anak... 87

Lampiran 11 Angket Komunikasi Efektif Orang Tua Sebagai Upaya Pendidikan Kesehatan Reproduksi Kepada Anak... 91

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2010). Sensus Penduduk Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/SensusPendudukIndonesia2010.

Anonim (2010). Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur 2005. Sumber: SPAN (Sensus penduduk Aceh dan Nias), SUPAS (Sensus Penduduk Antar Sensus) 2005. http://www.datastatistic-Indonesia.com. Anonim (2011). Jumlah Pengguna Facebook di Dunia. http://www.infodari.com. Atwater, E. (1997). Adolescent. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. Ari Pidekso (editor) (2009). Panduan Praktis SPSS 17 Untuk Pengolahan Data

Statistik. Editor: Ari Pidekso. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (1996). Materi Pendidikan Reproduksi Sehat Untuk Keluarga Dengan Anak Usia 6-13 Tahun. Jakarta: Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (2004). Satu dari Lima Orang Indonesia Adalah Remaja. http://www.bkkbn.go.id.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (2005). Remaja Memerlukan Informasi Kesehatan Reproduksi. http://www.bkkbn.go.id/Webs/Detail Rubrik.php?myID=509.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (2006). Anak Indonesia Rentan Pengaruh Pornografi. http://www.bkkbn.go.id/Webs/DetailRubrik.php? myID=514.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (2007). TV dan Internet Beri Andil Meledaknya Angka Seks Pranikah. http://www.bkkbn.go.id/Webs/Detail Rubrik.php?myID=523.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (2010). Pendidikan Seks Pada Anak Wajib Diberikan Sejak Dini. http://www.bkkbn.go.id/Webs/Detail Berita.php?myID=1734.

Behle, P.D., Beth, M., Pearl, P.T. (2004). Effects of Parent Education on Knowledge and Attitude. Journal of Adolescent No. 39 (154): 355 - 359. Blanchard, P. Nick, Thacker, James W. (2007). Effective Training: System,

(10)

Citra Widowati, Hariza Adnani (2009). Motivasi Belajar dan Sumber-Sumber Informasi Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku Seksual Remaja di SMUN 2 Banguntapan Bantul. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta. http://www.skripsistikes.wordpress.com.

Dani Vardiansyah (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Ghalia Indonesia.

Farid Husni, Eisabet, S.A.W, Slamet R., & Harry K. (2009). Modul Advokasi Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi Aktivis Mahasiswa. Jakarta: JEN & PKBI Jateng. www.mudamudi.net.

Faturochman (1998). Pendekatan Psikologi Kesehatan Reproduksi. Buletin Psikologi Tahun VI, No. 2, Desember 1998.

Greenfield, Patricia M. (2004). Inadvertent Exposure to Pornograpgy on The Internet: Implications of Peer-to-Peer File-Sharing Networks for Child Development and Families. Journal of Applied Developmental Psychology No. 25, p.741-750. Elsevier, Inc. www.sciencedirect.com

Gullota, Thomas P., Adam G.R., Ramos, Jessica M. (2005). Handbook of Adolescent Behavioral Problems:Evidence-Based Approaches to Prevention and Treatment. New York: Springer Science+Business Media, Inc.

Jaccard, J., Metts, S. (2003). Sexual Communication-Couple Relationship, Parentchild Relationship. International Encyclopedia of Marriage and Family. http://www.encyclopedia.com.

Jalaludin Rakhmat (2007). Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Juliandi Harahap (2003). Kesehatan Reproduksi. USU Digital Library.

Kantor Berita Indonesia Gemari (2004). Pelayanan Informasi Kespro Anak Usia 10-14 Tahun. http://www.kbigemari.com.

Kesrepro (2008a). Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja. http://www.kesrepro.info/q=node/380.

Kesrepro (2008b). Tinjauan Umum Kesehatan Reproduksi Remaja. http://www.kesrepro.info/?q=node/367

Kesrepro (2010). Jangan bohongi Anak Soal Seksualitas. http://www.kesrepro.info/?q=node/512.

(11)

Kirkman, M., Rosenthal, D.A., Feldman, S.S. (2005). Being Open With Your Mouth Shut: The Meaning of ‘Openness’ in Family Communication About Sexuality. Journal of Sex Education Vol. 5, No. 1 pp. 49-66.Taylor & Francis Group Ltd.

Mu’tadin, Z. (2008). Pendidikan Seksual Pada Remaja. Ilmu Psikologi Indonesia. Novi P. Candra (2006). Orang Tua dan Remaja Belajar Bersama Tentang Seks:

Program Untuk Meningkatkan Komunikasi Orang Tua dan remaja. Tesis. Yogyakarta: Pasca Sarjana UGM. Tidak diterbitkan.

Saifuddin Azwar (2010). Reliabilitas dan Validitas. Cetakan X. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Scannell, E.E., Newstrom, J.W. (1994). The Complete Games Trainer Play: Experiental Learning Exercises. USA: Edwards Brothers, Inc.

Smet, Bart (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo.

Somers, Cheryl L., Canivez, Gary L. (2003). The Sexual Communication Scale: A measure of Frequency of Sexual Communication between Parents and Adolescent. Journal of Adolescent 38 (149): 43 – 50.

Sugiyono (2007). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV.Alfabeta.

Suryati Romauli, Anna V. Vindari (2009). Kesehatan Reproduksi Buat Mahasiswi Kebidanan. Nuha Medika: Yogyakarta.

Suzuki, L.K., Calzo, J.P. (2004). The Search for Peer Advice in Cyberspace: An Examination of Online Teen Bulletin Boards About Health and Sexuality. Journal of Applied Developmental Psychology no. 25, p. 685-698. Elsevier, Inc. http://www.sciencedirect.com.

(12)

Wilson, Ellen K., Koo, Helen P. (2010). Mothers, Fathers, Sons, and Daughters: Gender Differences in Factors Associated with Parent-Child Communication About Sexual Topics. Journal of Reproductive Health Vol. 7:31 doi:10.1186/ 1742-4755-7-31. BioMed Central Ltd. http://www.reproductive-health-journal.com.

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Permasalahan

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik

(BPS), mengenai hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 (SP2010), bahwa

jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 237.556.363 jiwa, yang terdiri dari

119.507.580 pria dan 118.048.783 wanita . Belum tercatat secara resmi berapa

jumlah penduduk Indonesia 2010 berdasarkan kelompok umur

(http://id.wikipedia.org/wiki/SensusPendudukIndonesia2010).

Data terakhir jumlah penduduk Indonesia berdasarkan kelompok umur

adalah pada tahun 2005, yang bersumber dari SUPAS (Sensus Penduduk Antar

Sensus), jumlah penduduk Indonesia masih 218,086,288 jiwa dengan penduduk

pada kelompok usia 0-14 tahun berjumlah 63.553.691 jiwa atau sekitar 30% dan

dengan menambahkan jumlah anak yang berusia 15-19 tahun yang berjumlah

20.329.673 jiwa, maka jumlah anak dan remaja di Indonesia pada tahun 2005

sekitar 39%, atau lebih dari sepertiga jumlah total penduduk Indonesia

(www.datastatistic-Indonesia.com).

Dengan jumlah yang demikian besar, peran anak menjadi penting. Di satu

pihak, anak merupakan tumpuan masa depan bangsa. Di lain pihak, karena

masih berusia muda, anak merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan

terhadap berbagai masalah, seperti kesehatan, pendidikan, hukum,

(14)

2 Perkembangan teknologi saat ini yang semakin tinggi, ditandai dengan

semakin mudahnya setiap orang memperoleh informasi melalui media internet.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan bersama antara TNS Indonesia dan

Yahoo! Indonesia dan dipublikasikan pada tahun 2009 di Jakarta, menyatakan

bahwa pengguna internet usia remaja di Indonesia pada rentang usia 15-19 tahun

disebut mencakup 64 persen dari pengguna internet di Indonesia. Hasil survey

juga menyebutkan bahwa dominasi penggunaan layanan online adalah e-mail

(59%), instant messaging (59%) dan social networking (58%)

(http://m.inioke.com).

Pada bulan Juni tahun 2010, menurut Kementrian Komunikasi dan

Informatika (Kominfo), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar

45 juta pengguna. Data ini diperoleh dari jumlah pengakses internet di komputer

dan telepon seluler (http://m.detik.com).

Menurut data yang dikutip dari checkfacebook.com, per tanggal 5 Februari

2011, jumlah pengguna facebook di Indonesia adalah 34.498.920 orang,

peringkat kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Berikut ini data pengguna

facebook kelompok usia remaja: kurang dari 13 tahun: 703.140 (2%), 14-17

tahun: 8.839.540 (25,6%), dan 18-24 tahun: 14.277.200 (41,4%)

(http://www.infodari.com; http://www.bloggerborneo.com). Sedangkan untuk

jejaring sosial twitter, Indonesia menempati peringkat ketiga pengguna twitter

terbanyak di Asia (http://www.infodari.com).

Tersedianya berbagai penawaran menarik di internet untuk mengakses di

berbagai blog, chatsroom maupun jejaring sosial seperti facebook atau twitter,

(15)

3 berkomunikasi dengan banyak orang dengan leluasa dan tanpa terbatas waktu

dan tempat. Menurut Katz & Rice (dalam Yan, 2005), internet pada dasarnya

seperti sebuah pedang bermata dua, yang memiliki konsekuensi sosial positif

dan negatif.

Berdasarkan penelitiannya, Yan (2005) menyebutkan bahwa perbedaaan

usia anak juga membedakan pemahaman mereka pada penggunaan internet.

Anak usia 9-12 tahun mulai memiliki kemampuan untuk memahami teknik dan

kompleksitas sosial di internet, namun anak-anak dibawah usia itu masih sangat

rentan terhadap bahaya internet. Menurut Greenfield (2004), anak dan remaja

perlu dilindungi dari materi yang tidak sesuai di internet melalui pemberian

panduan penggunaan internet.

Pengaruh lingkungan menjadi salah satu penyebab timbulnya pergeseran

perilaku anak dan remaja. Globalisasi menyebabkan aksesibilitas remaja

terhadap pornografi menjadi lebih mudah. Ribuan situs porno di internet serta

media-media lain, seperti tabloid porno, komik hentai (komik porno Jepang)

yang bertebaran di sekeliling remaja menjadi salah satu stimulan pergeseran

perilaku para remaja saat ini. Hal-hal tersebut dikhawatirkan membuat remaja

berpandangan bahwa hal-hal tersebut menjadi hal yang wajar atau biasa terjadi

(www.bkkbn.go.id).

Menurut Kothai (dalam Widowati & Adnani, 2009), meningkatnya minat

seksual anak dan remaja mendorong mereka untuk selalu berusaha mencari

informasi dalam berbagai bentuk. Sumber informasi itu dapat diperoleh dengan

bebas mulai dari teman sebaya, buku-buku, film, video, bahkan dengan mudah

(16)

4 memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan seksual dan kesehatan

reproduksi dari guru ataupun orang tua, sehingga tidak jarang melangkah sampai

tahap percobaan (www.bkkbn.go.id; Widowati & Adnani, 2009).

Perkembangan teknologi yang semakin pesat secara nyata menjadi

pembahasan yang menimbulkan pertentangan dari berbagai kalangan, baik

mengenai keunggulan-keunggulannya maupun kerugian-kerugian yang

ditimbulkan. Dampak buruk teknologi pada anak-anak sebagai generasi penerus

bangsa merupakan salah satu kerugian yang menjadi hal penting untuk segera

dicari solusinya (www.bkkbn.go.id).

Hingga bulan Oktober 2010, tercatat banyak kasus kekerasan seksual yang

dialami oleh anak-anak sebagai korban maupun sebagai pelaku

(antaranews.com, beritajatim.com, suaramerdeka.com). Sebagian besar kasus

kekerasan seksual dengan anak-anak sebagai pelaku, dilakukan setelah melihat

video porno atau tayangan khusus dewasa yang sepatutnya tidak pantas ditonton

oleh anak-anak, mengakibatkan para pelaku cenderung ingin mencoba atau

meniru, dan kemudian mencoba melakukannya pada anak-anak yang lebih

lemah atau usianya lebih muda. Dampak buruk yang dialami anak-anak yang

menjadi korban adalah merasa trauma, malu, ketakutan, menangis terus

menerus, murung, tidak mau sekolah, mengurung diri di rumah, dan mengalami

rasa sakit pada alat kelamin (www.bkkbn.go.id)..

Pengaruh tayangan televisi yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi,

kebebasan membuka situs pornografi di internet, serta makin banyaknya

penjualan video khusus dewasa diduga semakin meledakkan angka seks pra

(17)

5 ditanggapi oleh pemerintah, sebagai pihak yang berwenang, yang ditandai dari

tidak adanya regulasi yang jelas mengenai pornoaksi dan pornografi

(www.bkkbn.go.id).

Berdasarkan catatan LSM Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia,

Indonesia merupakan negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi

pornografi terhadap anak-anak. Hasil penelitian Badan Koordinasi Keluarga

Berencana Nasional (BKKBN) di Provinsi Jawa Barat yang mensurvey 2.880

remaja usia 15-24 tahun, mencatat sedikitnya 40% mengaku pernah

berhubungan seks sebelum menikah. Penelitian oleh sejumlah mahasiswa di

Universitas Airlangga terhadap 300 responden, menyebutkan remaja berusia

15-19 tahun hampir 60% diantaranya pernah melihat film porno dan 18,4% remaja

putri mengaku pernah membaca buku porno (www.bkkbn.go.id).

Menurut Harahap (2003), upaya promosi dan pencegahan masalah

kesehatan reproduksi perlu diarahkan pada masa remaja, dimana terjadi

peralihan dari masa anak menjadi dewasa, dan perubahan-perubahan dari bentuk

dan fungsi tubuh terjadi dalam waktu relatif cepat. Hal ini ditandai dengan

berkembangnya tanda seks sekunder dan berkembangnya jasmani secara pesat,

menyebabkan remaja secara fisik mampu melakukan fungsi proses reproduksi

tetapi belum dapat mempertanggungjawabkan akibat dari proses reproduksi

tersebut. Informasi dan penyuluhan, konseling dan pelayanan klinis perlu

ditingkatkan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja ini.

Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah dan pemerhati perkembangan

generasi muda bangsa terutama tindakan-tindakan yang bersifat pencegahan

(18)

6 Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) lebih fokus di sekolah menengah atas

(SMU/SMK/MAN). Hal ini dikarenakan tingkat pemahaman masyarakat tentang

pentingnya pemberian informasi kesehatan reproduksi sejak dini kepada

anak-anak masih tergolong rendah (www.bkkbn.go.id).

Pada tahun 2003 BKKBN bersama Yayasan Mulia Kasih melakukan proyek

uji coba di sekolah-sekolah Dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah dengan

mengembangkan model pelayanan informasi kesehatan reproduksi bagi

anak-anak usia 10-14 tahun atau siswa kelas V SD/MI. Namun program yang didanai

oleh Bank Dunia ini hanya terbatas di Jawa Tengah dan Jawa Timur

(www.bkkbn.go.id).

Upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi di Amerika

salah satunya adalah dengan menggunakan media internet. Suzuki dan Calzo

(2004) melakukan penelitian dengan memberikan informasi kepada remaja

mengenai kesehatan dan seksualitas melalui sebuah website yang memberikan

layanan informasi untuk remaja di internet secara online berupa teen bulletin

boards. Diharapkan para remaja dapat memperoleh informasi secara spesifik

yang sesuai, untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan yang paling banyak muncul adalah

mengenai ketertarikan dan keingintahuan tentang perubahan fisik, emosi dan

sosial mereka. Bulletin boards terbukti menjadi sebuah forum pendapat pribadi,

saran, informasi yang konkret, dan dukungan emosional serta memudahkan

remaja untuk secara tidak kentara mendiskusikan topik-topik sensitif seperti seks

dan hubungan interpersonal. Walaupun di Indonesia memiliki layanan serupa,

(19)

7 Salah satu contoh bentuk tindakan masyarakat peduli dengan kesehatan

reproduksi pada remaja adalah Yayasan Pelita Ilmu (YPI) yang bekerja sama

dengan pihak sekolah memberikan program DAKU yang diadaptasi dari Uganda

dengan nama program The World Start With Me. DAKU yaitu modul pelatihan

berbasis teknologi yang membahas kesehatan seksual dan reproduksi,

pencegahan AIDS sekaligus keterampilan komputer kreatif untuk siswa dan

guru. Modul ini ditujukan untuk siswa sekolah lanjutan, berusia 12-19 tahun,

yang dapat diterapkan oleh sekolah yang memiliki fasilitas komputer. Proses uji

coba program ini dilakukan pada tahun 2005 di tiga sekolah di Jakarta yaitu

SMAN 100, SMA Angkasa 2 dan SMKN 27 (http://ypi.or.id).

Menurut Harahap (2003), sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23/1992

dan Undang-Undang Nomor 10/1992, strategi kesehatan reproduksi nasional

diarahkan pada rencana intervensi untuk mengubah perilaku didalam setiap

keluarga. Tujuannya adalah menjadikan keluarga sebagai utama dan pintu

masuk upaya promosi pelayanan kesehatan reproduksi. Perilaku seseorang tidak

akan berubah jika makna dan manfaat perubahan perilaku tersebut tidak

dimengerti terlebih dahulu. Jadi, langkah pertama adalah meningkatkan

kepedulian masyarakat dan menciptakan kepedulian masyarakat dan

menciptakan peminatan keluarga akan materi pelayanan kesehatan reproduksi.

Materi pelayanan kesehatan reproduksi perlu dikembangkan sesuai

kebutuhan untuk mendukung konsep kesehatan reproduksi. Sebaiknya

digunakan bahasa agama, sosial-politik, dan juga bahasa remaja dalam

memasyarakatkan arti kesehatan reproduksi, yang merupakan suatu konsep

(20)

8 dimana berbagai intervensi dilaksanakan sekaligus oleh berbagai sektor tetapi

dengan tujuan umum yang sama sehingga dampaknya lebih nyata (Harahap,

2003).

Menurut data Kesehatan Reproduksi yang dihimpun Jaringan Epidemiologi

Nasional (JEN, 2002), pemberian informasi Kesehatan Reproduksi Remaja

(KRR) secara benar dan bertanggung jawab masih sangat kurang. Pemberian

informasi tentang KRR di beberapa tempat masih dipertentangkan, terutama

apabila berjudul pendidikan seksual. Hal ini terjadi karena masih terdapat

anggapan bahwa pendidikan seksual justru akan merangsang remaja melakukan

hubungan seksual. Selain itu sebagian besar orang tua yang diharapkan dapat

memberikan informasi mengenai hal ini, tidak memiliki kemampuan

menerangkan serta tidak memiliki informasi memadai. Padahal survei yang

dilakukan WHO (organisasi kesehatan dunia) di beberapa negara menunjukkan

bahwa adanya informasi yang baik dan benar dapat menurunkan permasalahan

kesehatan reproduksi pada remaja (www.bkkbn.go.id).

Para ahli berpendapat bahwa pendidik yang terbaik adalah orang tua dari

anak itu sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual.

Dalam membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan

membutuhkan suasana yang akrab, terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan

anak. Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak

perempuannya atau bapak dengan anak laki-lakinya, sekalipun tidak ditutup

kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya

(21)

9 Berdasarkan data-data yang diperoleh, peneliti menganggap bahwa

pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi sangat penting bagi anak.

Terutama bagi anak yang akan mengakhiri masa kanak-kanaknya dan akan

memasuki masa remaja dengan melibatkan peran orang tua sebagai sumber

informasi. Selama ini informasi kesehatan produksi langsung diberikan kepada

remaja melalui sekolah tanpa memperhatikan apakah orang tua yang memiliki

anak usia remaja juga memiliki informasi kesehatan reproduksi yang benar.

Pemberian informasi kesehatan reproduksi diharapkan akan menjadi lebih

efektif apabila melibatkan keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua. Orang

tua dilibatkan sebagai jembatan penyampai informasi mengenai kesehatan

reproduksi. Dari pelatihan ini, orang tua yang memiliki anak terutama yang akan

memasuki masa remaja diharapkan mampu berkomunikasi secara efektif dan

memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sehingga diharapkan

anak akan memperoleh informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi

dari orang tuanya tanpa merasa malu dan terjalin komunikasi yang hangat dan

terbuka sehingga dapat mempereret hubungan orang tua dengan anak.

Pentingnya pemberian informasi pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak

sejak dini dikarenakan anak memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan

minat pada seks. Diharapkan pendekatan melalui orang tua dalam

mengkomunikasikan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi lebih efektif bagi

anak-anak untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

serta sebagai tindakan preventif terhadap penyalahgunaan alat reproduksi beserta

dampak negatifnya, sehingga mereka dapat bertanggung jawab terhadap

(22)

10 orang tua menjadi hal yang penting agar dapat menyampaikan informasi dalam

pendidikan kesehatan produksi kepada anak dengan benar. Para orang tua perlu

dibekali dengan pengetahuan yang memadai mengenai pendidikan kesehatan

reproduksi serta kemampuan berkomunikasi efektif kepada anak melalui

program pelatihan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan permasalahan

yaitu apakah pelatihan kesehatan reproduksi dapat meningkatkan keterampilan

komunikasi efektif orang tua kepada anak.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan pengetahuan orang

tua mengenai kesehatan reproduksi agar dapat meningkatkan komunikasi efektif

kepada anak.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat

memberikan sumbangan bagi khasanah keilmuan pada bidang psikologi

perkembangan, kesehatan maupun sosial dalam studi-studi yang berkaitan

dengan pendidikan kesehatan reproduksi berbasis keluarga. Penelitian ini

diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pentingnya pengetahuan

kesehatan reproduksi bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (22 pages)