Konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian tafsir Qs. 3/Ali-‘Imran: 159

 8  92  103  2017-03-07 13:20:59 Report infringing document
KONSEP KECERDASAN RUHANI GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MENURUT KAJIAN TAFSIR QS. 3/ALI-‘IMRAN: 159 Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh: ABUBAKAR SAHBUDIN NIM: 18100110000067 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014 M/1436 H ABSTRAKSI Konsep Kecerdasan Ruhani Guru dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Menurut Kajian Tafsir QS. Ali-‘Imran: 159 Kata Kunci: Kecerdasan Ruhani, Guru, Karakter, Peserta Didik Kecerdasan ruhani adalah identitas sejati dalam diri manusia, dan merupakan kecerdasan tertinggi tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan yang bersumber dari Allah. Kepribadian yang dilandasi keimanan dan melahirkan perilaku akhlak mulia, adalah manifestasi dari kecerdasan ruhani. Bahwa guru sebagai pengajar, memikul tanggung jawab berat dan besar jasanya, dalam mengembangkan pendidikan, oleh karenanya posisi guru menjadi penting (orang penting), maka ia harus tampil baik sekali (prima), sehingga ia menduduki derajat terhormat dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengungkapkan konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian tafsir QS. Ali-‘Imran: 159. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan secara kualitatif, yakni menelaah dan menganalisis pemikiran-pemikiran dalam berbagai sumber data yang relevan, agar memperoleh pemahaman yang mendalam atas tema pokok. Terdapat lima kitab tafsir sebagai sumber data primer, yaitu: Tafsir Jalalain, karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir al-Mishbah, karya M. Quraish Shihab, Tafsir Ibnu Katsir (Lubābu at-Tafsir min ibn Katsīr) Karya Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asySyeikh, Tafsir Fi Zilalil Qur’an, karya Sayyid Quthb, dan Tafsir Al-Maragi, Karya Ahmad Mustafa al-Maragi. Terkait metode tafsirnya, dalam penelitian ini digunakan metode muqāran (komparasi), yaitu membandingkan kelima tafsir tersebut sehingga diketahui kecenderungan para penafsir dalam objek kajiannya, dimana membahas topik yang sama tetapi dengan redaksi yang berbeda. Bahwa terdapat lima konsep perilaku yang mencerminkan kecerdasan ruhani yaitu: lemah lembut terhadap peserta didik (linta lahum), menjadi guru pemaaf (‘aafiina ‘aninnaas), selalu mendoakan dan memohon ampunan Allah bagi peserta didiknya (wastaghfirlahum), dan bermusyawarah dengan mereka (wasyaawirhum), serta bertawakkal kepada Allah (tawakkal ‘alallah). Dengan demikian, keberhasilan proses pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik, sesungguhnya ada di tangan para guru yang memiliki kecerdasan ruhani, di samping memiliki berbagai kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. vi KATA PENGANTAR Bismillāhirrahmānirrahīm, penulis memulai penyusunan skripsi ini dengan menyebut Nama Dzat-Nya yang Mahamulia, dengan pengharapan semoga mengalir keberkahan-Nya sehingga ilmu dan wawasan yang diperoleh membawa manfaat setelah menyelesaikan program perkuliahan. Al-Hamdulillāhirabbi al-‘ālamīn, seraya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan semesta alam, atas anugerah berbagai nikmat, kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani aktifitas perkuliahan sampai tuntas, dengan penuh semangat yang disertai pengalaman suka dan dukanya. Shalawat dan Salam yang sempurna semoga Allah sampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau, juga para pengikut yang setia, semoga kita semua memperoleh syafaat beliau di hari pembalasan kelak. mīn Yā Rabba al’ālamīn. Menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa bantuan dan kontribusi dari semua pihak, rasanya mustahil bagi penulis untuk mampu menyelesaikan proses perkuliahan sampai pada tahap akhir. Teringat sebuah hadits Nabi SAW: ‫َم ْن ََْ يَ ْش ُك ِر النَاس ََْ يَ ْش ُك ِر اه‬ Siapa yang belum berterimakasih kepada sesama (mengindikasikan) ia belum bersyukur kepada Allah. manusia, Untuk itu secara tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas jasa-jasa budi baik, kepada: 1. Ibunda tercinta Siti Maimunah Komaruddin (Emma Bita), serta Mama Ummiyati Ja’far Kansong Songge, dan Aba H. Kahruddin Kansong Songge serta Mama Hj. Sonia Azahrah Kahruddin, dan Pamanda Ale Komaruddin (Aba Ale), atas doa dan cinta kasih mereka yang tulus untuk ananda (penulis). 2. Ust. Agus Sholeh, atas dorongan semangat dari beliau, sehingga penulis berkesempatan mengikuti program perkuliahan. vii 3. Bapak Rektor UIN Jakarta beserta bapak ibu staf rektorat dan Dekan FITK UIN Jakarta Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D, beserta bapak ibu staf dekanat. 4. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen: NO NAMA DOSEN MENGAMPU MATA KULIAH 1 2 3 Dr. Syamsul Arifin, M.Pd Drs. E. Kusnadi Zaharil Anasi, M.Hum 4 Drs. Safiuddin Sidik, MA 5 6 Drs. Jais Prasojo Sudirman Tamin, MA 7 Zainal Muttaqin, MA 8 Dr. Yayah Nurmaliah, MA 9 Dra. Elo Al-Bugis, MA 10 Zikri Neni Iska, M.Psi 11 Nuraini Ahmad, M.Hum 12 13 14 Cut Dien Noerwahida, MA A. Irfan Mufid, MA Zaharil Anasi, M.Hum 15 Dra. Sofiah, MA 16 17 18 19 Prof. Dr. Armai Arief dan Busahdiar MA (Asisten Dosen) Syaifuddin, MA Prof. Dr. Aziz Fachrurozi, MA 20 Dra. Eny Rosda Syarbaini, M.Pd 21 Drs. Faridal Arkam, M.Pd 22 Dr. Zubair Ahmad, MA 23 Prof. Dr. Salman Harun viii Bahasa Arab 1 Bahasa Indonesia Bahasa Inggris 1 1. Fiqh 1 (Ibadah) 2. Ushul Fiqh 2 Pendidikan Kewarganegaraan Pengantar Studi Islam 1. Qawaid al-Lughah 2. Bahasa Arab 2 1. Pengantar Ilmu Pendidikan 2. Pengembangan Kurikulum PAI 1. Ulumul Qur'an 1 2. Ulumul Qur'an 2 Perkembangan Peserta Didik (PPD) 1. Filsafat Umum 2. Filsafat Ilmu Sosiologi Pendidikan Sejarah Peradaban Islam Bahasa Inggris 2 1. Ulumul Hadits 1 2. Hadits 1 3. Hadis Tarbawi 1. Sejarah Pendidikan Islam 1 2. Sejarah Pendidikan Islam 2 Ilmu Kalam 1 Pengembangan Profesi Keguruan 1. Bimbingan Konseling (BK) 2. Kesehatan Mental Metode Penelitian Kependidikan 1. Ushul Fiqh 1 2. Masail Fiqhiyah 1 Tafsir 1 24 Prof. Dr. Abuddin Nata, MA 25 Dra. Djunaidatul Munawaroh, MA 26 Azharuddin Latif, M.Pd 27 Eva Fitriyati, M.Pd 28 Abdul Rauf, MA 29 31 32 Nuraida, M.Si Prof. Dr. Rif'at Syauqi Nawawi, MA Drs. Rasiin, MA Dr. Dimyati, MA 33 Prof. Dr. Muardi Chotib 34 Dr. Sururin, MA 35 Dr. Ahmad Shodiq, MA 36 37 Drs. Achmad Gholib, MA Abdul Ghofur, MA 38 Drs. Rusdi Jamil, MA 39 40 Drs. Muarif SAM, M.Pd Prof. Dr Abd. Rahman Ghozaly 41 Dr. Ansori LAL 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Dr. Dardiri Dra. Manerah Syamsul Aripin, MA Dr. Abdul Majid Khon Dindin Sobiruddin, M.Kom Dr. Sita Ratnaningsih, MA Marhamah Saleh, Lc. Firdausi, S.Si, M.Pd Dr. A. Basuni, MA Dr. Ulfah Fajarini 30 5. Filsafat Pendidikan Islam 1. Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 2. Perencanaan Pembelajaran 3. Telaah Kurikulum Fiqh 2 (Munakahat) 1. Media Pembelajaran PAI 2. Materi Khusus (MK) PAI Ulumul Hadits 2 (Takhrijul Hadits) Psikologi Pendidikan Tafsir Tarbawy ( Studi Naskah ) Ilmu Kalam 2 Logika/Mantik 1. Fiqh 3 (Mawaris) 2. Masail Fiqhiyah 2 Psikologi Agama 1. Akhlak Tasawuf 1 2. Akhlak Tasawuf 2 PPMDI 1 Qiroatul Quthub 1 1. Fiqh 4 (Mu'amalah) 2. Fiqh Siyasah Adm. & Supervisi Pendidikan Qawaid Fiqhiyah 1. Filsafat Islam 2. Tafsir Maudhu'i Qira-atul Kutub II (Tarjamah) Evaluasi Pembelajaran PPMDI II Tarikh Tasyri' Statistik Pendidikan 1 Kapika Selekta Pendidikan Perbadingan Mazhab Statistik Pendidikan 2 Studi Agama-Agama Pengantar Ilmu Sosial Ibu Dr. Sururin, MA, selaku Dosen Pembimbing penulisan skripsi. ix 6. Bapak Ibu Pegawai Akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 7. Bapak Ibu Pegawai Perpustakaan FITK dan Perpustakaan Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 8. Bapak Kamaluddin Taher Parasong, M.Si, dan terutama isteri beliau Ibu Dwi Indah Wahyuningsih, M.Si, selaku Kepala SMP Wawasan Nusantara Cengkareng Jakarta Barat, yang telah memberikan rekomendasi Surat Keterangan Mengajar kepada penulis sebagai persyaratan mengikuti perkuliahan. 9. Istriku tercinta Ikay Rokayah, S.Ag, dengan setianya selalu sibuk setelah shalat subuh untuk menyiapkan sarapan pagi setiap kali suaminya ini (penulis) hendak berangkat kuliah pukul 06.30 WIB. 10. Ust. Muhammad Ahmad RAM, dan Ka’ Ummi Mudzakiratin, atas dukungan doa serta bantuan moril maupun materil. 11. Kakakku dan adik-adikku serta semua keluarga besar yang secara tulus memberikan dukungan doa dan bantuan moril maupun materil, khususnya adikku Saiful Sahbudin, yang telah memberikan laptopnya, sehingga sangat membantu kelancaran penyusunan skripsi ini. Bisa dibayangkan, andaikan tanpa adanya laptop, pasti penulis akan menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses penulisan (pengetikan) skripsi. Termasuk adikku Aminullah Magun Ja’far yang memberikan bantuan dana guna pendaftaran wisuda. 12. Bapak Mertua H. As’ad Zaeni dan keluarga besar di Garut, atas dukungan doa serta bantuan moril maupun materil. 13. Bapak H. M. Syarifin Maloko, SH, Bapak H. Tuan TS, Bapak H. Dr. Muhammad Ali Taher Parasong, dan Bapak H. M. Udrus Maloko, serta Keluarga Besar PKLS (Persatuan Keluarga Lamakera Solor) di Jabodetabek dan sekitarnya. 14. Bapak M. Harun Shikka Songge dan Bapak Hasan M. Noer, yang banyak membantu secara moril maupun materil, terlebih lagi meminjamkan beberapa buku guna referensi penulisan skripsi. x 15. Bapak H. Lukman Sangadji, yang juga banyak membantu secara moril maupun materil. 16. Sahabatku Pak Prayitno, juga banyak membantu di saat penulis kesulitan keuangan yang sekedar buat transportasi (uang bensin) ke kampus, terlebih ketika penulis menumpang di rumahnya untuk mencetak (ngeprint) naskah skripsi ini. 17. Sahabatku Arwanto (Bos Pa’e) pengusaha sukses jasa foto copy di Cikini Jakarta Pusat, yang juga sering membantu ketika penulis kesulitan keuangan, terutama sumbangannya 2 rim kertas ukuran A4, guna penggandaan naskah skripsi ini. 18. Ust. Muhiddin dan Kakanda Syukur Mukin di Kupang NTT. Dari kakanda Syukur inilah, penulis memperoleh cerita tentang “go anak jawab kurang to’u saja mo ma’ar we?, yang penulis masukkan dalam latar belakang masalah pada bab 1 skripsi ini. Lantaran gaya cerita Ka Syukur yang lucu, sehingga yang mendengar cerita tersebut, semuanya tertawa terpingkalpingkal termasuk Ust. Muhiddin. 19. Rekan-rekan sesama mahasiswa dan mahasiswi Kelas A dan Kelas B. 20. Semua pihak yang penulis tidak sebutkan nama mereka dalam pengantar ini, namun telah memberikan bantuannya secara langsung maupun tak langsung. Semoga Allah SWT, memberikan balasan dengan ganjaran kebaikan yang berlipat ganda dan ampunan serta rahmat-Nya kepada semua pihak, yang telah berjasa, sehingga penulis mampu menyelesaikan program perkuliahan dan merampungkan penyusunan skripsi ini. Akhirnya, meskipun sudah berupaya semaksimal mungkin, namun disadari, karya ini masih terdapat kelemahan dan kekurangannya, serta jauh dari tarap sempurna sebagai sebuah karya ilmiah. Jakarta, November 2014/Shafar 1436 H Hormat Penulis ABUBAKAR SAHBUDIN NIM: 18100110000067 xi DAFTAR ISI SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH LEMBAR PERSETUJUAN BIMBINGAN SKRIPSI LEMBARAN PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI LEMBARAN PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI ABSTRAKSI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II ii iii iv v vi vii xii : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan Masalah D. Perumusan Masalah E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1 6 7 7 8 : KAJIAN TEORITIK A. Acuan Teori 1. Dimensi Kecerdasan Manusia 2. Rūh Menurut Al-Qur‟an 3. Makna Kecerdasan Ruhani 4. Dinamika Ruhani dan Jiwa yang Tenang 5. Pengertian dan Fungsi Guru 6. Hubungan Guru dan Peserta Didik 7. Definisi dan Hakikat Karakter 8. Landasan Hukum Pendidikan Karakter 9. Tentang Tafsir dan Surat Ali-„Imran a. Definisi dan Keutamaan Tafsir d. Tentang Surat Ali-„Imrān B. Hasil Penelitian yang Relevan 9 9 10 12 15 20 21 22 23 24 24 25 26 BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Objek dan Waktu Penelitian B. Metode Penelitian C. Fokus Penelitian D. Prosedur Penelitian xii 27 28 29 29 BAB IV : KECERDASAN RUHANI PERSPEKTIF QUR‟ANI A. Tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159 B. Analisis Komparatif Tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159 C. Analisis Kandungan QS. 3/Ali-„Imran: 159 1. Lemah Lembut dan Tidak Berlaku Keras 2. Memaafkan 3. Memohon Ampunan Allah bagi Mereka 4. Bermusyawarah 5. Tekad yang Bulat Disertai Tawakkal D. Aspek-aspek Kecerdasan Ruhani Guru 1. Lemah Lembut terhadap Mereka (Linta lahum) 2. Jadilah Sosok Guru Pemaaf („aafiina „aninnaas) 3. Mendoakan Mereka (wastaghfir lahum) 4. Bermusyawarah dengan Mereka (wa syāwirhum) 5. Bertawakkal Kepada Allah BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Implikasi C. Saran DAFTAR PUSTAKA 31 35 48 48 50 56 57 58 60 60 63 65 67 75 77 79 79 81 LEMBAR UJI REFERENSI xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru atau pengajar dalam bahasa Arab disebut mu‟allim. Kata almu‟allimu sebagai isim fā‟il (kata yang menunjukkan pelaku) berarti pengajar, asalnya dari fi‟il (kata kerja):„allama-yu‟allimu artinya mengajarkan ilmu. Jadi, al-mu‟allimu adalah orang yang mengajarkan ilmu.1 Untuk sampai pada tingkat mu‟allim seseorang haruslah melalui proses yang cukup panjang. Proses itu dimulai dari ta‟allama-yata‟allamu artinya belajar (menuntut ilmu secara terus menerus). Dengan ta‟allam (belajar), seseorang dapat Sedangkan „ilmu mencapai tingkat „alima-ya‟lamu artinya mengetahui. artinya pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu/berpengetahuan disebut „ālim (pandai/pintar). Tanpa ada proses ta‟allam (belajar) seseorang tidaklah sampai pada tingkat „ālim. Sebagaimana ungkapan kata mutiara dalam pepatah/pribahasa Arab: ِ ‫وعلْ ٍم َكمن هو ج‬ ِ ‫ ولَيس اَخ‬,‫تَعلَم فَلَيس اْمرء ي ولَ ُد عالِما‬ ‫اهل‬ ُ َ ْ َ ً َ ْ ُ ُ َْ َ ْ ْ َ َ َُ ْ َ Belajarlah! Karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan langsung pandai, dan seorang yang tidak berilmu, dia seperti orang bodoh.2 Kata „ālim jamaknya (bentuk plural) adalah „ulamā‟ artinya: kumpulan orang-orang pandai. Setelah menjadi „ālim (pandai) seseorang dituntut untuk mengajarkan ilmunya („allama) kepada orang lain, sehinga sampailah ia pada tingkat mu‟allim (sebagai pengajar). Bahkan antara ta‟allama (belajar) dan „allama (mengajar) adalah sebuah proses untuk menjadi “sebaik-baik manusia”, sebagaimana ungkapan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW: 1 Ahmad Warson Munawir. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pesantren Al-Munawwir Krapyak. 1984). h. 1038 2 Tim Redaksi. Mahfudhat: Kumpulan Kata Mutiara dan Pribahasa Arab-Indonesia. (Jakarta: Turos Pustaka. 2014) h. 73 1 2 َ‫َخْي ُرُك ْم َم ْن تَ َعلَ ََم الْ َق ْرآ َن َو َعلَ َمه‬ “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang belajar al-Qur‟an dan mengajarkannya”. (H.R. Bukhari)3 Betapa mulianya derajat mu‟allim, karena ia seorang yang berpengetahuan („ālim/‟ulamā‟), bahkan dikatakan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi. Maknanya adalah menjadi pewaris berarti ia harus menjaga warisan dengan sebaik-baiknya, bukan menjual atau menggadaikan warisan itu untuk kepentingan pribadinya sendiri. Cita-cita menjadi guru adalah panggilan jiwa. Guru laksana cahaya penerang di kegelapan malam pada setiap lintasan sejarah peradaban umat manusia. Dunia berhutang budi kepada guru. Namun tidak semua orang yang pandai itu mampu mengajarkan pengetahuannya dengan baik kepada orang lain. Hal ini disebabkan ia tidak memiliki kompetensi sebagai pengajar (guru). Kompetensi (competency) dapat diartikan dengan kemampuan, kecakapan atau wewenang.4 Makna lain kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru, akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar tetapi juga pandai mentrasfer (mengajarkan) ilmunya kepada peserta didik.5 Sejak belajar di bangku sekolah dasar hingga tingkat menengah, telah muncul istilah “guru galak” (guru killer). Bahkan sampai di perguruan tinggi pun terdengar pula istilah “dosen galak”. Konsekuensinya dapat dipahami, bahwa guru galak dibenci oleh peserta didik. Akibatnya, mata pelajaran yang Mannâ Khalil Al-Qaţţân, Studi Ilmu-Ilmu Qur‟an, Terj. Oleh Mudzakir AS. Cet. 13. (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2010).h. 275 4 Fachruddin Saudagar dan Ali Udrus, Pengembangan Profesionalitas Guru, (Jakarta: Gaung Persada-GP Press, 2011), Cet. III, h. 29. 5 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), Cet. IX, h. 5-6 3 3 diajarkan oleh guru galak, juga menjadi sasaran kebencian, sehingga mata pelajaran tersebut tak dapat dipahami/diserap dengan baik oleh siswa. Guru yang memiliki perangai kasar/galak, tidak jarang menjadikan peserta didiknya sebagai sasaran kemarahannya, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik. Penamparan, tendangan, pemukulan dengan penggaris, kayu atau rotan adalah bentuk kemarahan yang seringkali diperagakan oleh guru galak terhadap peserta didiknya. Perilaku guru kasar, terkadang memunculkan reaksi dari para orang tua siswa. Dahulu pada dekade 1980an di kampung penulis, ada cerita menarik. Seorang murid SD ditampar gurunya lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan pelajaran Matematika. Sang guru bertanya, 2 + 5, lalu si murid menjawab 6. Jawaban yang benar tentunya 7. Maka tak pelak lagi, si murid menerima hadiah berupa tamparan di pipi. Dengan memendam rasa takut, maka si murid membolos pulang ke rumah. Ayahnya yang bekerja di pelabuhan, kembali ke rumah untuk makan siang, mendapatkan anaknya sudah ada di rumah sebelum waktu pulang sekolah. Setelah memperoleh penjelasan anaknya, sang ayah pun bergegas menuju ke sekolah untuk menemui sang guru yang telah kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info tentang kualitas responden/siswa secara keseluruhan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Dari tampilan hasil pengolahan diatas diperoleh Person measure = – 0.10 logit dengan tidak mengikutsertakan Extrem Person (Responden/siswa yang mempuyai skor 0) yang kurang dari logit 0,0. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kurang dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space yang diberikan. Dengan mengikutsertakan siswa dengan ekstrem skor tentunya nilai person measure akan semakin kecil yaitu – 1.52 logit. Semakin tinggi nilai logit diatas 0.0 logit, semakin tinggi kemampuan siswa. Gambar 2. Tampilan Item Measure hasil pengolahan data ministep. Dari gambar 2, soal no 2 mempunyai nilai logit tertinggi yaitu +1.47 logit ini menunjukkan soal no 2 merupakan soal yang paling sulit dijawab oleh siswa, soal no 3 mempunyai nilai logit = 1.40 logit, dan soal no 1 mempunyai nilai logit = -2.87 logit. Soal 2 dan 3, nilai logit keduanya lebih dari 0.0 logit menunjukkan kedua soal ini merupakan kategori soal sulit. Dari tabel 1 menunjukkan untuk soal no 2 hanya terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1. Untuk soal no 3 hanya 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar. Sedangkan soal 1 mempunyai nilai -2.87 logit yang kurang dari 0.0 logit menunjukkan soal yang relatif mudah dikerjakan siswa, dari 31 siswa terdapat 17 siswa yang mampu menjawab dengan benar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space berdasarkan analisis model Rasch masih kurang. Rata-rata nilai logit siswa - 1,52 logit yang kurang dari 0.0 logit. (2) Dari ketiga soal yang diujikan, dua soal dikategorikan sebagai soal sulit, dan 1 soal relatif mudah dikerjakan siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi pendidik, siswa hendaknya sering diberikan soal-soal non rutin atau soal-soal pemecahan masalah seperti soal-soal PISA dalam pembelajaran matematika dikelas, baik sebagai tugas maupun ulangan harian. Hal ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. (2) Bagi peneliti lain, penggunaan Item Respon Theory (IRT) dalam hal ini Rasch Model dapat dijadikan alternatif dalam pengolahan data penelitian kuantitatif untuk mengatasi kelamahan teori tes klasik, karena Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran. DAFTAR PUSTAKA Aini, R.N. & Siswono, T.Y.E. 2014. Analisis Pemahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Aljabar Pada PISA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika MATHEdunesa, vol 2, no 3, hal.158-164 BSNP Depdiknas.2006. Standar Isi Mata Pelajaran Matematika SD/MI dan SMP/MTs (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Jakarta: BSNP Depdiknas OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus. www.oecd.org OECD.2009. Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. www.oecd.org OECD.2015. PISA 2015 Draft Mathematics Framework. www.oecd.org Setiawan, H.,Dafik., dan Lestari, S.D.N. 2014. Soal Matematika Dalam PISA Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014, hal.244-251. Shiel, G et al.2007. PISA mathematics: a teacher’s guide. Dublin :Department of Education and Science. Sulastri, R., et al.2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014, hal.13-21. Sumintono, B. & Widhiarso, W.2014. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi:Trim Komunikata Publishing House Wardhani, Sri dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentuk..

Gratis

Feedback