Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Kepatuhan Material Wajib Pajak Dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Di Wilayah Bandung

 2  21  152  2017-04-15 11:57:15 Laporkan dokumen yang dilanggar

KATA PENGANTAR

  Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Syukur alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta senantiasa memberikan kesehatan,kemampuan, dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, penulis melaksanakan survei pada KPP Pratama di Wilayah Bandung. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tuaku yang selalu memberikan doa dengan penuh kasih sayang, Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritikyang membangun dalam penulisan ke depannya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

  Misi utama Direktorat Jendral Pajak adalah misi fiskal yaitu menghimpun penerimaanpajak berdasarkan Undang-undang perpajakan yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah dan dilaksanakan secara efektif dan efesien(Suryadi, 2006). Hal ini sesuai dengan data penerimaan pajak pada tahun 2005-2010 yang ada sebagaimanaterlihat dalam tabel 1.1.

i. Pajak penghasilan 175,5 208,8 238,4 327,5 340,2 351,0

1. PPh migas 35,1 43,2 44,0 77,0 49,0 47,0

  Pelaksanaan tax compliance di kota Yogyakarta juga masih belum Fenomena masih rendahnya kepatuhan wajib pajak terlihat pula dari tabel1.3 mengenai jumlah SKPKB, SKPN, dan SKPLB yang terbit di tahun 2010 pada KPP Pratama yang ada di Wilayah Bandung. Tabel 1.3 SKPKB, SKPN, dan SKPLB yang terbit pada KPP Pratama di Wilayah Bandung Periode 20102010 KPP Pratama SKPKB SKPLB SKPN Tegallega 14426 218 Cibeunying 43455 225 Karees 306 104 334 Bojonagara 244 93 352 Cicadas 44973 411 Soreang 41736 268 Majalaya 33241 271 Sumber : data dari masing-masing di KPP Pratama Wilayah Bandung, 2010 Dari tabel di atas terlihat bahwa di 7 KPP Pratama yang ada di WilayahBandung menunjukkan kepatuhan material wajib pajak yang rendah.

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

  Kepatuhan pajak di Indonesia yang masih menunjukkan level kepatuhan yang rendah. Masih rendahnya kepatuhan material wajib pajak yang dilihat dari jumlah surat ketetapan yang diterbitkan berdasarkan hasil pemeriksaan dimanaSKPKB yang diterbitkan lebih besar dibandingkan jumlah SKPLB, hal ini menunjukkan bahwa belum sesuainya jumlah kewajiban pajak yang dibayardengan perhitungan yang sebenarnya.

1.2.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana pemeriksaan pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung

  Bagaimana kepatuhan material wajib pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung. Seberapa besar pengaruh pemeriksaan pajak dan kepatuhan material wajib pajak terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandungsecara parsial dan simultan.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

  1.3.1 Maksud Penelitian Maksud dari penulis mengadakan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengumpulkan data atau keterangan serta informasi mengenai pengaruhpemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material wajib pajak dan implikasinya terhadap penerimaan pajak. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemeriksaan pajak dan kepatuhan material wajib pajak terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama diWilayah Bandung secara parsial dan simultan.

1.4 Kegunaan Penelitian

  Bagi PenelitiPeneliti mengharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat dan selain itu untuk menambah pengetahuan, dan juga memperoleh gambaran langsungbagaimana Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Kepatuhan Material WajibPajak Dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung. Bagi Peneliti LainDapat dijadikan sebagai bahan tambahan pertimbangan dan pemikiran dalam penelitian lebih lanjut dalam bidang yang sama, yaitu Pemeriksaan Pajak, Kepatuhan Material Wajib Pajak Dan Penerimaan Pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

  1.5.1 Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini penulis berencana melaksanakan penelitian pada 7Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung. Hal ini diuraikan pada tabel berikut : Tabel 1.4 Nama dan Alamat Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung No Nama KPP Alamat 1 KPP Cibeunying Jalan Punawarman 2 KPP Karees Jalan Ibrahim Adjie Bandung 3 KPP Cicadas Jalan Soekarno Hatta 4 KPP Tegalega Jalan Soekarno Hatta 5 KPP Bojonagara Jalan Ir.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pemeriksaan Pajak

  Sedangkan menurut Siti Kurnia Rahayu (2010 : 245) mengemukakan pemeriksaan pajak sebagai berikut :“Pemeriksaan pajak merupakan hal pengawasan pelaksanaan sistem self assesment yang dilakukan oleh wajib pajak,harus berpegang teguh pada Undang- undang perpajakan”. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan pajak merupakan kegiatan menghimpun dan mengolah data atau keterangan secaraprofesional berdasarkan standar pemeriksaan dan harus berpegang teguh pada undang-undang perpajakan.

2.1.1.3 Ruang Lingkup Dan Jangka Waktu Pemeriksaan

  Pemeriksaan Kantor yang meliputi suatu jenis pajak tertentu baik tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan di kantorDirektorat Jenderal Pajak. Apabila ditemukan indikasi trnasaksi yang terkait dengan transfer pricing dan/ atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksikeuangan, pemeriksaan kantor diubah menjadi pemeriksaan lapangan.

2.1.1.4 Indikator Pemeriksaan Pajak

Dalam menjalankan sebuah pemeriksaan maka aparat pajak harus mengetahui terlebih dahulu tahap-tahap yang harus dilakukannya. Menurut SitiKurnia Rahayu dalam bukunya yang berjudul “Perpajakan Indonesia” tahapan pemeriksaan sebagai berikut :

1. Persiapan pemeriksaan

  Mempelajari berkas wajib pajak atau berkas dataMempelajari berkas wajib pajak atau berkas data dimulai dari kegiatan mengumpulkan berkas wajib pajak dan berkas data dengan mengumpulkandan meminjam sumber-sumber dari data internal maupun data eksternal. Menganalisis SPT dan laporan keuangan wajib pajakUntuk data-data berupa laporan keuangan wajib pajak dilakukan analisis kuantitatif untuk menentukan hal-hal yang harus diperhatikan pada waktumelakukan pemeriksaan serta untuk menentukan beberapa perkiraan buku besar yang diprioritaskan dan/ atau akan dikembangkan pemeriksaannya.

2. Pelaksanaan Pemeriksaan

  Melakukan konfirmasi kepada pihak ketigaMenegaskan kebenaran dan kelengkapan data atau informasi dari wajib pajak dengan bukti-bukti yang diperoleh dari oihak ketiga. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada wajib pajak Tujuan melakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan adalah sebagai upaya memperoleh pendapat yang sama dengan wajib apajak atas temuanpemeriksaan dan koreksi fiskal terhadap seluruh jenis pajak yang diperiksa.

3. Laporan Hasil Pemeriksaan

  545/KMK.01/2000 yang telah diubah dengan Peraturan Menkeu No.123/PMK.03/2006 adalah catatan secara rinci dan jelas yang diselenggarakan olehPemeriksa Pajak mengenai prosedur pemeriksaan yang ditempuh, pengujian yang dilakukan, bukti dan keterangan yang dikumpulkan dan kesimpulan yang diambilsehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan. Sebagai bahan dalam melakukan pembahasan dengan Wajib Pajak - Sebagai sumber data dalam proses keberatan dan/ atau banding -Sebagai sumber data untuk dimanfaatkan oleh pihak lain internal Direktorat -Jenderal Pajak, seperti Account Representative, Seksi Penagihan, BagianKeberatan dan Banding, demikian juga pihak lain di luar Direktorat Jenderal Pajak misalnya Itjen dan BPK.

2.1.2 Kepatuhan Material Wajib Pajak

  Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.” Menurut Erard dan Feinstein yang di kutip oleh Chaizi Nasucha dan di kemukakan kembali oleh Siti Kurnia (2006:111) pengertian kepatuhan wajibpajak adalah rasa bersalah dan rasa malu, persepsi wajib pajak atas kewajaran dan keadilan beban pajak yang mereka tanggung, dan pengaruh kepuasan terhadappelayanan pemerintah. Kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak secara formal dapat dilihat dari aspek kesadaran wajib pajakuntuk mendaftarkan diri, kerepatan waktu wajib pajak dalam menyampaikan SPTTahunan, ketepatan wktu dalam membayar pajak, dan pelaporan wajib pajak melakukan pembayaran pajak dengan tepat waktu.

2.1.2.5 Indikator Kepatuhan Material Wajib Pajak

  Indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengenai kepatuhan material menggunakan dasar pemikiran dari penjelasan menurut Siti KurniaRahayu (2010:139) yang mengatakan bahwa : “Kepatuhan material dapat meliputi kepatuhan formal. Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material adalah wajib pajak yang mengisi denganjujur, lengkap, dan benar Surat Pemberiathuan (SPT) sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu berakhir”.

2.1.3 Penerimaan Pajak

  Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, pajak adalah salah satu primadona penerimaan negara yang paling potensial, sebab peningkatanpenerimaan dalam negri dari sektor pajak adalah suatu yang wajar karena secara logis jumlah pembayar pajak dari tahun ke tahun akan semakin besar berbandinglurus dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan dalam Kamus Besar Akuntansi pengertian Penerimaan pajak adalah uang tunai yang diterima oleh negara dari iuran rakyat yang dipaksakanberdasarkan undang-undang perpajakan dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) secara langsung.

2.1.3.1 Indikator Penerimaan Pajak

Jumlah Realisasi Penerimaan Pajak di tahun 2010 pada KPP Pratama di Wilayah Bandung.

2.1.4 Keterkaitan Antar Variabel Penelitian

  Ditambahkan juga dari pernyatan menurut Gunadi (2005) yang mengungkapkan bahwa :“Tax Compliance merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kinerja administrasi perpajakan oleh institusi pemungut pajak. Salah satusarana (tools) dalam peningkatan kepatuhan wajib pajak adalah pemeriksaan”.

2.1.4.3 Hubungan Pemeriksaan Pajak dengan Penerimaan Pajak

Keterkaitan antara pemeriksaan pajak dan penerimaan pajak dalam penelitian ini didasarkan pada pernyataan menurut Salip, dan Tendy Wato (2006)yang mengungkapkan bahwa : “Hasil pemeriksaan pajak secara nominal telah meningkatkan penerimaan pajak.” Begitu pula dengan pernyataan menurut Jarunee Wonglimpiyarat (2010) yang mengungkapkan keterkaitan pemeriksaan pajak dan penerimaan pajakbahwa : “The findings reveal that tax auditing would provide high quality audits to the financial reporting process for statutory purposes, enhance the state’s ability to collect tax and improve performance of the tax system. ” 2.1.4.4 Hubungan Pemeriksaan Pajak dengan Kepatuhan Material Wajib Pajak dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak Keterkaitan antara variabel pemeriksaan pajak dan kepatuhan pajak serta penerimaan pajak dalam penelitian ini didasarkan pada pernyataan menurutSuryadi (2006) yang mengungkapkan bahwa : “Kepatuhan wajib pajak yang diukur dari pemeriksaan pajak, penegakan hukum, dan kompensasi pajakberpengaruh signifikan terhadap kinerja penerimaan pajak ”.

2.2 Kerangka Pemikiran

  John Hutagaol (2007) mengungkapkan pemeriksaan pajak, penyidikan dan penagihan pajak tidak dimaksudkan untuk menghukum wajib pajak tetapi denganadanya pemeriksaan pajak diharapkan hasil pemeriksaan pajak dapat memberikan detterent effect bagi wajib pajak sehingga wajib pajak dapat membayar pajak sesuai dengan undang-undang perpajakan. Suryadi Model Hubungan Kausal Penelitian Kepatuhan wajib pajak yang diukur dari 2006 Kesadaran, Pelayanan, , penegakan hukum,pemeriksaan pajak Kepatuhan Wajib Pajak dan kompensasi pajak berpengaruh Dna Pengaruhnya signifikan terhadap kinerja penerimaanTerhadap Kinerja pajak.

2.3 Hipotesis

  Hipotesis penelitian dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yangterkumpul dan harus diuji secara empiris. Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sementara, bahwapemeriksaan pajak dilakukan untuk menguji kepatuhan wajib pajak yang pada akhirnya kepatuhan wajib pajak tersebut akan mempengaruhi penerimaan pajak.

BAB II I OBJEK DAN METODE PENELITIAN

  Objek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah pemeriksaan pajak, kepatuhan material wajib pajak, dan penerimaan pajak padaKPP Pratama di Wilayah Bandung. Data yang dibutuhkan adalah data yang sesuai dengan masalah-masalah yang ada dan sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga data tersebut akan dikumpulkan, dianalisis dan diproses lebih lajut sesuai dengan teori-teoriyang telah dipelajari, jadi dari data tersebut akan ditarik kesimpulan.

3.2.1 Desain Penelitian

  Seberapa besar pengaruh pemeriksaan pajak dan kepatuhan material wajib pajak terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung 3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemeriksaan pajak dan kepatuhan material wajib pajak terhadap penerimaan pajak pada KPPPratama di Wilayah Bandung secara parsial dan simultan digunakan metode deskriptif analisis dan verifikatif.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

  RasioPenerimaan Pajak Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material adalahwajib pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap, danbenar Surat Pemberiathuan (SPT) sesuai ketentuan danmenyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu berakhir”. Siti Kurnia Rahayu (2010:139) Wajib pajak yang mengisi denganjujur, lengkap, dan benar Surat Pemberiathuan (SPT) sesuaiketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu berakhir.(Jumlah nominal SKPKB di tahun 2010 pada KPP Pratama di WilayahBandung).

3.2.3 Sumber Data dan Teknik Penentuan Data

3.2.3.1 Sumber Data

  Sumber data yang digunakan peneliti dalam penelitian mengenai“Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dan ImplikasinyaTerhadap Penerimaan Pajak ” adalah data primer dan data sekunder. Data SekunderMenurut Sugiyono (2009 : 136) mendefinisikan sumber data sekunder sebagai berikut : “Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dariliterature, buku- buku serta dokumen perusahaan.” Data sekunder dalam penelitian ini yaitu untuk variabel KepatuhanMaterial Wajib Pajak (Y) dan Penerimaan Pajak (Z).

3.2.3.2 Teknik Penentuan Data

Untuk menunjang hasil penelitian, maka peneliti melakukan pengelompokan data yang diperlukan kedalam dua golongan, yaitu:

1. Populasi

  Sugiyono (2009:115) menjelaskan pengertian populasi adalah sebagai berikut:“Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dankemudian ditarik kesimpulan”. Sesuai dengan judul penelitian yaitu “ Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Kepatuhan Material Wajib Pajak dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung .

2. Sampel

  Berdasarkan penjelasan diatas, maka yang menjadi sampel pada penelitian ini untuk variabel Pemeriksaan pajak adalah jumlah pegawai untuk 7 KPP Pratamadi Wilayah Bandung sebanyak 95 orang . Karena jumlah pegawai fungsional untuk 7 KPP Pratama di Wilayah Wilayah Bandung terdiri dari 7 KPP , maka pada penelitian ini tidak dilakukan penarikan sampel, karena semua jumlah pegawai fungsional untuk 7 KPPPratama di Wilayah Bandung dan seluruh Kantor Pelayanan Pajak yang ada diWilayah Bandung akan dijadikan sebagai subjek penelitian (sensus).

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data

  Wawancara (Interview), yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan cara tanya jawab langsung dengan pihak- pihak yang terkaitlangsung dan berkompeten dengan permasalahan yang penulis teliti. Adapun untuk memperoleh data tersebut, penulis menggunakan dua sumber:Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari jawaban responden yang dipilih - sebagai sample penelitian, yaitu dengan kuesioner, dengan cara mendatangidan memberikan kuesioner kepada petugas pajak bagian fungsional padaKPP Pratama di Wilayah Bandung.

3.2.4.1 Uji Validitas Alat Ukur

  Sugiyono (2010:2) menjelaskan bahwa valid adalah sebagai berikut:“Menunjukkan derajad ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti.” Lebih lanjut uji validitas menurut Cooper dalam Umi Narimawati(2010:42), validitas adalah ”Validity is a characteristic of measuraenment concerned with the extent that a test measures what the researcher actuallywishes to measure”. Dengan rumus sebagai berikut : Sumber: Sugiyono, 2008:248 Dimana :R = Kooefesien korelasi item yang dicariX = Skor yang diperoleh subjek dalam setiap itemY = Adalah skor total yang diperoleh subjek seluruh item n = Jumlah subjek Apabila koefisien korelasi butir pernyataan dengan skor total item lainnya > 0,30 maka pernyataan tersebut dinyatakan valid.

3.2.4.2 Reliabilitas Alat Ukur

  Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah alatpengumpul data pada dasarnya menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan, kestabilan, atau konsistensi alat tersebut dalam mengungkapkan gejala tertentudari sekelompok individu, walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda. Dalam penelitian ini, metodeyang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Split Half Method (Spearman memberikan tes pada sejumlah subyek dan kemudian hasil tes tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar (berdasarkan pemilihan genap a. Item dibagi dua secara acak (misalnya item ganjil/genap), kemudian dikelompokkan dalam kelompok I dan kelompok II c.

3.2.4.3 Transformasi Data

  Sebagaimana yang telah dirancang dalam operasionalisasi variabel, maka nilai variabel Pemeriksaan Pajak (X) diukur dengen menggunakan kuesioner dandata merupakan data yang berskala ordinal. Data penelitian yang sudah berskala interval selanjutnya akan ditentukan pasangan data variabel independen dengan variabel dependen serta ditentukanpersamaan yang berlaku untuk pasangan-pasangan tersebut.

3.2.5 Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis

Agar penulis dapat menghasilkan data yang dapat dipercaya maka harus dilakukan tahapan analisis dan pengujian hipotesis. Untuk melakukan sebuah

3.2.5.1 Rancangan Analisis

  Berdasarkan pertimbangan tujuan penelitian, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskriptif dan Metode Verifikatif. Penelitian Deskriptif adalah jenis penelitian yang menggambarkan apa yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan fakta-fakta yang adauntuk selanjutnya diolah menjadi data.

I. Analisis Data Deskriptif

  Penelitian Deskriptif adalah jenis penelitian yang menggambarkan apa yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan fakta-fakta yang ada Metode kualitatif yaitu metode pengolahan data yang menjelaskan pengaruh dan hubungan yang dinyatakan dengan kalimat. Setiap indikator yang dinilai oleh responden, diklasifikasikan dalam lima alternatif jawaban dengan menggunakan skala ordinal yang menggambarkanperingkat jawaban.

II. Analisis Data Verifikatif

  Data yang digunakan untuk variabel Pemeriksaan Pajak(X) merupakan data primer dikumpulkan melalui kuesioner merupakan skala ordinal, maka sebelum diolah dan dipasangkan dengan data variabel KepatuhanMaterial Wajib Pajak (Y) dan Penerimaan Pajak (Z) berbentuk rasio, data ordinal terlebih dahulu dikonversi menjadi data interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Sehingga akan diperoleh satu nilai yang mewakili semua hasil kuesioner pada masing-masing Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan dipasangkan dengan dataKepatuhan Material Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak masing-masing Kantor Pelayanan Pajak Pratama.

A. Analisis Jalur (Path Analysis)

  Analisis jalur mengkaji hubungan sebab akibat yang bersifat struktural dari variabel independen terhadap variabel dependen dengan mempertimbangkanketerkaitan antar variabel independen. Model analisis jalur adalah sebagai berikut : X2 PZX P YX1Z1 Y P ZY P = Koefisien jalur Pemeriksaan Pajak terhadap Kepatuhan Material WajibYX Pajak P ZX = Koefisien jalur Pemeriksaan Pajak terhadap Penerimaan Pajak P ZY = koefisien jalur Kepatuhan Material Wajib Pajak terhadap Penerimaan Pajak= Pengaruh faktor lain Diagram jalur seperti terlihat pada gambar 3.2 diatas dapat diformulasikan kedalam 2 bentuk persamaan struktural sebagai berikut.

1 Persamaan Jalur Sub Struktur Kedua Z = P X + P Y + ZX ZY

1. Perhitungan Jalur Pada Sub Struktur Pertama

  2 Pada sub struktur yang pertama variabel pemeriksaan pajak berperan sebagai variabel independen (eksogenus variabel) dan kepatuhan material WajibPajak sebagai variabel dependen (endogenus variabel). Selanjutnya untuk menguji pengaruh pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajak ditempuhdengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menghitung Koefisien JalurKarena variabel independen hanya satu variabel (pemeriksaan pajak), maka nilai koefisien korelasi sekaligus menjadi koefisien jalur.

2. Perhitungan Jalur Pada Sub Struktur Kedua

  C C 1 11 12 R C C 21 22 Z X r XZ R XY = Y R YZ d) Untuk memperoleh koefisien jalur, kalikan invers dari matriks korelasi terhadap matriks korelasi variabel sebab dengan variabel akibat.2 Pzyx CR r ; i 1, 2j1 ij zyxKeterangan: P : Koefisien jalur dari variabel X dan Y terhadap Z ZYXr : Korelasi antara variabel X dan Y dengan variabel Z ZYXCR : Unsur atau elemen pada baris ke-i dan kolom ke-j dari matriks ij invers korelasi e) Menghitung Koefisien Determinasi. Setelah koefisien jalur diperoleh, maka dapat ditentukan besar pengaruh pemeriksaan pajak dan kepatuhan material Wajib Pajak secara bersama-samaterhadap penerimaan pajak yang dikenal dengan koefisien determinasi.

2. Pengujian Secara Parsial

  Melakukan uji parsial, untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat hipotesis sebagai berikut : H a : zx 0, Pemeriksaan Pajak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak. Kriteria pengujianJika nilai koefisien jalur variabel independen (pemeriksaan pajak dan kepatuhan material wajib pajak) tidak sama dengan nol, maka Ho ditolak dansebaliknya apabila koefisien jalur variabel independen sama dengan nol, maka Ho diterima.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

  4.1.1 Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung Kantor Pelayanan Pajak Wilayah Bandung merupakan unsur pelaksanaDirektorat Jenderal Pajak yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan operasional pelayanan perpajakan di bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai,Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Tidak Langsung lainnya. Kantor InspeksiKeuangan Bandung pada saat itu diserahterimakan oleh menteri yang pertama,Bapak Safrudin Prawiranegara, dan kemudian menteri negara ini menunjuk BapakSahid Koesoemosarminto sebagai kepala Kantor Inspeksi Keuangan Bandung yang pertama, periode 1947- 1950, berkantor di km “0” (Groofpostweg), saat ini di Jalan Asia Afrika Nomor 114 Bandung.

4.1.3 Uraian Tugas Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung

  Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Dipimpin oleh seorang KepalaKantor yang bertugas melaksanakan kegiatan operasional pelayanan perpajakan dalam daerah wewenagnnya yang meliputi luas daerah tempat kedudukan WajibPajak dan Pajak pada daerah tertentu berdasarkan kebijaksanaan teknis yang diterapkan oleh Direktorat Jendral Pajak. Mengawasi jalannya kegiatan operasional pelayanan perpajakan yaituPajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak TidakLangsung Lainnya (PTLL) berdasarkan kebijakan teknis yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak.

4.1.4 Kegiatan Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung

  Tujuan dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung, memberikan pelayanan publik dengan baik kepada Wajib Pajak, dengan memenuhi semuakebutuhan Wajib Pajak untuk dalam melakukan pemenuhan kewajiban perpajakannya. Juga melakukankegiatan penata usahaan dan lampirannya termasuk kebenaran penulisan dan perhitungan yang bersifat formal, pemantauan dan penyusunan laporanpembayaran masa PPh, PPN, PBB, BPHTB, dan Pajak tidak langsung lainnya.

4.2 Karakteristik Responden

  Data responden dikumpulkan oleh penulis dari penelitian ini adalah sebanyak 95 responden. Untuk variabel X (Pemeriksaan Pajak) kuesionerdiberikan kepada objek yaitu pegawai fungsional.

1. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

  Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini: Gambar 4.1 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berjenis kelamin pria berjumlah 78 orang atau sebesar82,11% dan responden yang berjenis kelamin wanita berjumlah 17 orang atau sebesar 17,89%. Hal ini dapat dipahami karena pemeriksa pajak harus melakukan pemeriksaan langsung ke tempat Wajib Pajak, dimana hal tersebut membutuhkanwaktu yang fleksibel, stamina yang prima dengan beban pekerjaan yang banyak.

2. Profil Responden Berdasarkan Usia

  Hal ini disebabkan kuisioner yang dibagikan kepada pegawai fungsional lebih banyak berumur 31-35 tahun. Hal ini berarti pemeriksa pajak mayoritas terdiri dari usia produktif.

3. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

  Sehingga dapat disimpulkan bahwamayoritas responden pada penelitian ini berpendidikan terakhir Strata I (S1). Hal ini berarti pemeriksa pajak pada KPP Pratama di wilayah Kota Bandungmerupakan sumber daya manusia yang memiliki pendidikan tinggi seiring dengan tuntutan profesionalitas dalam melakukan pekerjaannya.

4. Profil Responden Berdasarkan Lama Kerja

Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut ini: Gambar 4.4 Profil Responden Berdasarkan Lama Kerja Berdasarkan gambar 4.4 dapat diketahui bahwa responden yang bekerja sampai dengan 1 tahun sebanyak 4 orang atau sebesar 4,21%, responden denganlama kerja 1

4.3 Analisis Deskriptif

4.3.1 Analisis Deskriptif Hasil Tanggapan Responden

  Pemeriksaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung akan terungkap melalui jawaban responden terhadap pernyataan-pernyataan yangdiajukan pada kuesioner. Pemeriksaan pajak diukur menggunakan 18 (delapanbelas) indikator dan dioperasionalisasikan menjadi 37 butir pernyataan.

a) Mempelajari Berkas Wajib Pajak

  Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawaban dengan skor 3 yang menunjukkanbahwa pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung pengumpulan data eksternal mengenai berkas wajib pajak cukup. Informasi berkas wajib pajak yang didapat dari data internal dan eksternalPersentase skor tanggapan responden mengenai informasi berkas wajib pajak yang didapat dari data internal dan eksternal sebesar 65,5% dan termasukdalam kategori cukup.

b) Menganalisis SPT dan Laporan Keuangan Wajib Pajak

Gambaran mengenai indikator menganalisis SPT dan laporan keuangan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandungterangkum pada tabel berikut: Tabel 4.2 Rekapitulasi Tanggapan Responden Pada Indikator Menganalisis SPT dan Laporan Keuangan Wajib Pajak Skor % Skor Skor Tanggapan Responden Skor No Butir Pernyataan 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual

4 Analisis pada SPT dan laporan F

  68 23 4 444 475 93,5% keuangan wajib pajak% 71,6 24,2 4,2 0,0 0,0 Pada tabel 4.2 dapat dilihat persentase total skor tanggapan responden atas pernyataan yang membentuk indikator menganalisis SPT dan laporan keuanganwajib pajak sebesar 93,5% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Untuk data-data berupa laporan keuangan wajib pajak dilakukan analisis kuantitatif untukmenentukan hal-hal yang harus diperhatikan pada waktu melakukan pemeriksaan serta untuk menentukan beberapa perkiraan buku besar yang diprioritaskan dan/atau akan dikembangkan pemeriksaannya.

c) Mengidentifikasi Masalah

Gambaran mengenai indikator mengidentifikasi masalah yang mungkin ada pada wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung Tabel 4.3 Rekapitulasi Tanggapan Responden Pada Indikator Mengidentifikasi Masalah Skor Tanggapan Responden Skor Skor % Skor No Butir Pernyataan 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual

5 Mengidentifikasikan masalah F

  64 20 3 8 425 475 89,5% % 67,4 21,1 3,2 8,4 0,0 Pada tabel 4.3 dapat dilihat persentase total skor tanggapan responden atas pernyataan yang membentuk indikator identifikasi masalah yang ada pada wajibpajak sebesar 89,5% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Artinya pemeriksa pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung selalumelakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang ada pada wajib pajak.

d) Melakukan Pengenalan Lokasi Wajib Pajak

  Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawaban dengan skor 4 yangmenunjukkan bahwa pemeriksa pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung sering menjadikan tax payer profile sebagai media untuk pengenalan lokasi wajib pajak. Selanjutnyabila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawaban dengan skor 5 yang menunjukkan bahwapemeriksa pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung selalu melakukan peninjauan terhadap lokasi usaha wajib pajak.

e) Menentukan Ruang Lingkup Pemeriksaan

  Langkah berikutnya yang dilakukan setelah menentukan pos-pos yang berkaitan dengan masalah yang adaPersentase skor tanggapan responden tentang langkah berikutnya yang dilakukan yang dilakukan setelah menentukan pos-pos yang berkaitan denganmasalah yang ada sebesar 96,4% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawaban dengan skor 5 yang menunjukkan bahwapemeriksa pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung melakukan pendalaman lebih jauh setelah menentukan pos-pos yangberkaitan dengan masalah yang ada.

f) Menyusun Program Pemeriksaan

  Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilihjawaban dengan skor 5 yang menunjukkan bahwa pada Kantor PelayananPajak Pratama di Wilayah Bandung program pemeriksaan telah disusun berdasarkan cakupan pemeriksaan dan hasil penelaahan pada tahap persiapan. Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilihjawaban dengan skor 5 yang menunjukkan bahwa pada Kantor PelayananPajak Pratama di Wilayah Bandung program pemeriksaan telah merujuk kepada identifikasi permasalahan serta ruang lingkup yang telah dilakukan.

g) Menentukan Buku-Buku dan Dokumen Yang Akan Dipinjam

Gambaran mengenai indikator penentuan buku-buku dan dokumen yang akan dipinjam dari wajib pajak terangkum pada tabel berikut: Tabel 4.7 Rekapitulasi Tanggapan Responden Pada Indikator Menentukan Buku-Buku dan Dokumen Yang Akan Dipinjam Skor Tanggapan Responden Skor Skor % Skor No Butir Pernyataan 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual

12 Menentukan buku-buku atau F

  38 54 2 1 414 475 87,2% catatan-catatan yang akandipinjam kepada wajib pajak % 40,0 56,8 2,1 1,1 0,0 Pada tabel 4.7 dapat dilihat persentase total skor tanggapan responden atas pernyataan yang membentuk indikator penentuan buku-buku dan dokumen yangakan dipinjam dari wajib pajak sebesar 87,2% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Artinya pemeriksa pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di WilayahBandung selalu menentukan buku-buku atau catatan-catatan yang akan dipinjam kepada wajib pajak.

h) Menyediakan Sarana Pemeriksaan

Gambaran mengenai indikator menyediakan sarana pemeriksaan terangkum pada tabel berikut: Tabel 4.8 Rekapitulasi Tanggapan Responden Pada Indikator Menyediakan Sarana Pemeriksaan Skor % Skor Skor Tanggapan Responden Skor No Butir Pernyataan 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual

13 Sarana dalam pemeriksaan F

14 23 38 9 11 305 475 64,2% % 14,7 24,2 40,0 9,5 11,6 Pada tabel 4.8 dapat dilihat persentase total skor tanggapan responden atas pernyataan yang membentuk indikator penyediaan sarana pemeriksaan sebesar64,2% dan termasuk dalam kategori cukup. Artinya pada Kantor Pelayanan Pajak

i) Memeriksa di Tempat Wajib Pajak

Gambaran mengenai indikator pemeriksaan ditempat wajib pajak terangkum pada tabel berikut: Tabel 4.9 Rekapitulasi Tanggapan Responden Pada Indikator Memeriksa di Tempat Wajib Pajak Skor Tanggapan Responden Skor Skor % Skor No Butir Pernyataan 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual

14 Meminjam seluruh F

  Pemeriksaan di tempat wajib pajak adalahserangkaian kegiatan yang dilakukan pemeriksa di tempat atau lokasi wajib pajak untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data dan atau keterangan lainnya guna 1. Selanjutnya bila dilihatdari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawaban dengan skor 5 yang menunjukkan bahwa pada peminjamanbuku/dokumen/catatan wajib pajak pemeriksan tidak meminjam seluruhnya, tetapi hanya buku/dokumen/catatan wajib pajak yang benar-benar diperlukan.

19 Pemutakhirkan ruang lingkup F

  Teknik yang digunakan dalam pemeriksaan buku, catatan dan dokumen wajib pajakPersentase skor tanggapan responden tentang teknik yang digunakan dalam pemeriksaan buku, catatan dan dokumen Wajib Pajak sebesar 98,7% dantermasuk dalam kategori sangat baik. Selanjutnya bila dilihat dari distribusi skor tanggapan responden, paling banyak responden memilih jawabandengan skor 5 yang menunjukkan bahwa teknik yang digunakan dalam pemeriksaan buku, catatan dan dokumen wajib pajak adalah evaluasi,analisis, rekonsiliasi fiskal, mengecek data dan konfirmasi.

35 Laporan Pemeriksaan Pajak F

  Sebaliknya kepatuhan material wajib pajak paling Proporsi SKPKB Terhadap Target Penerimaan20% 18,13% 16,64%15% 12,93% 10%3,21% 5% 2,42% 2,28%1,67% 0% Bandung Bandung Bandung Bandung Majalaya Soreang BandungCibeunying Karees Cicadas Tegallega Bojonagara KPP Pratama Gambar 4.6 Hasil Kategorisasi Kepatuhan Material Wajib Pajak Pada Masing-Masing KPP Pratama di Wilayah Bandung Kepatuhan material wajib pajak dapat meliputi kepatuhan formal. Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material adalah wajib pajak yang mengisidengan jujur, lengkap, dan benar Surat Pemberitahuan (SPT) sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu berakhir.

4.3.1.3 Analisis Deskriptif Penerimaan Pajak Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung

  Dari data di atas terlihat ada beberapa KPP Pratama di Wilayah Bandung yang tidakmencapai target, yaitu KPP Cibeunying dengan pencapaian 97,53%, KPP Karees dengan pencapaian 76,59%, KPP Tegalega dengan pencapaian 79, 70%, dan KPPMajalaya dengan pencapaian 99,13%. Berdasarkan data yang terkumpul, pada penelitian ini akan diuji pengaruh pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajak danimplikasinya terhadap penerimaan pajak.

1 Y

Gambar 4.8 Diagram Jalur Paradigma Penelitian Gambar diagram jalur seperti terlihat diatas dapat diformulasikan kedalam 2 bentuk persamaan struktural sebagai berikut. Persamaan Jalur Sub Struktur Pertama Y = P YX X + 

1 Persamaan Jalur Sub Struktur Kedua

2 Keterangan:

  Tabel 4.23 Pedoman Pengklasifikasian Koefisien Korelasi Correlations1.000 .882 .439 .882 1.000 .373 Berdasarkan nilai koefisien korelasi diatas dapat dilihat bahwa hubungan antara pemeriksaan pajak (X) dangan kepatuhan material Wajib Pajak (Y) sebesar0,373 dan masuk dalam kategori lemah atau rendah. Arah hubungan positif antara pemeriksaan pajak dengan kepatuhan material Wajib Pajak menujukkan bahwapemeriksaan pajak yang baik cenderung diikuti dengan peningkatan kepatuhan material Wajib Pajak.

4.4.1 Pengujian Jalur Pada Sub Struktur Pertama

Pada sub struktur yang pertama variabel pemeriksaan pajak berperan sebagai variabel independen (eksogenus variabel) dan kepatuhan material WajibPajak sebagai variabel dependen (endogenus variabel). Selanjutnya untuk menguji pengaruh pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajak ditempuhdengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menghitung Koefisien Jalur

  P  r  0,373   YXXY   Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan software SPSS 18.0 diperoleh koefisien jalur pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajaksebagai berikut. Tabel 4.25 Koefisien jalur pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajak aCoefficients Unstandardized Standardized Coefficients CoefficientsModel B Std.

2) Menghitung Koefisien Determinasi

  Hal tersebut dapat dibuktikan dengan teori yang menyataka bahwa : “Tujuan yang terutama dari pemeriksaan adalah pengujian kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan, kewajiban-kewajibanperpajakan yang harus dipenuhi oleh wajib pajak, termasuk di dalamnya tidak terkecuali adalah kewajiban para pemungut dan pemotong pajak”. Karena koefisien jalur pemeriksaan pajak (0,373) lebih besar dari nol, maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwapemeriksaan pajak berpengaruh terhadap kepatuhan material Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung.

4.4.2 Pengujian Jalur Pada Sub Struktur Kedua

  a) Pengaruh Pemeriksaan pajak Terhadap Penerimaan pajakHipotesis: Pemeriksaan pajak tidak berpengaruh terhadap Penerimaan pajakHo:  ZX = 0Ha:  ZX≠ 0: Pemeriksaan pajak berpengaruh terhadap Penerimaan pajak Berdasarkan hasil pengolahan seperti terlihat pada tabel 4.27 diperoleh koefisien jalur pemeriksaan pajak terhadap penerimaan pajak sebesar 0,834. b) Pengaruh Kepatuhan material Wajib Pajak Terhadap Penerimaan pajakHipotesis:Ho: = 0 Kepatuhan material Wajib Pajak tidak berpengaruh terhadap  ZYPenerimaan pajak Ha:  ZY≠ 0: Kepatuhan material Wajib Pajak berpengaruh terhadap Penerimaan pajakBerdasarkan hasil pengolahan seperti terlihat pada tabel 4.27 diperoleh koefisien jalur kepatuhan material Wajib Pajak terhadap penerimaan pajak sebesar 0,128.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh

pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material wajib pajak dan implikasinya terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung, maka padabagian akhir dari penelitian ini, penulis menarik kesimpulan, sekaligus memberikan saran sebagai berikut.

5.1 Kesimpulan

  Secara keseluruhan kepatuhan material wajib pajak pada Kantor PelayananPajak Pratama di Wilayah Bandung masih kurang, hal ini bisa dilihat dari rata-rata proporsi pajak terutang kurang bayar terhadap target penerimaanpajak mencapai 8,18 persen. Tetapi masihada beberapa KPP Pratama di Wilayah Bandung yang penerimaannya tidak mencapai target, yaitu yaitu KPP Cibeunying dengan pencapaian97,53%, KPP Karees dengan pencapaian 76,59%, KPP Tegalega dengan pencapaian 79,70%, dan KPP Majalaya dengan pencapaian 99,13%.

5.2 Saran

  Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan bahwa pemeriksaan pajak dan kepatuhan wajib pajak terbukti berpengaruh yang terhadap penerimaanpajak, maka peneliti memberikan saran yang dapat dijadikan masukkan kepadaKantor Pelayanan Pajak Pratama di Wilayah Bandung sebagai berikut : 1. Untuk itu, akan lebih baik lagi apabila Direktorat Jendral Pajak bisa meningkatkan lagi kepatuhanmaterial wajib pajak dengan dilakukan pemeriksaan secara merata kepada seluruh wajib pajak yang teridentifikasi tidak patuh secara materialsehingga dapat tergali lagi wajib pajak yang masih tidak patuh dalam hal material.

DAFTAR PUSTAKA

  “Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap Penerimaan Pajak Studi Kasus: di KPP Jakarta Kebon Jeruk ”. “Model hubungan kausal Kesadaran,Pelayanan,Kepatuhan Wajib Pajak dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Penerimaan pajak :SuatuSurvey di wilayah Jawa Timur ”.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Kepatuhan..

Gratis

Feedback