Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan

Gratis

0
3
3
2 years ago
Preview
Full text
Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan Oleh Muhbib Abdul Wahab Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ Pada 18 November 2014 ini, Muhammadiyah genap berusia 102 tahun. Umat Islam dan bangsa ini patut beryukur, bahwa Muhammadiyah telah banyak memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial melalui amal usahanya yang tersebar luas di penjuru tanah air. Sungguh di balik kemampuan Muhammadiyah bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dan terus berkembang maju melampaui usia Republik ini terdapat sebuah spirit (ruh) dinamika gerakan, yaitu dakwah pencerahan. Seperti tercermin pada lambangnya, matahari bersinar, Muhammadiyah terus menyinari dan mencerahkan umat, bangsa, dan negeri tercinta. Dakwah pencerahan (da’wah ta wiriyyah) merupakan terminologi dakwah yang relatif baru, meskipun dakwah Islam sejak awal sejatinya adalah dakwah pencerahan. Istilah dakwah pencerahan ini banyak dipopulerkan oleh Pimpinan Pusat Muhammmadiyah. Menurut Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA. Muhammadiyah dewasa ini harus mengembangkan model dakwah pencerahan, yaitu dakwah yang membebaskan (tahrir), memberdayakan (taqwiyah), dan memajukan (taqdim). Inilah tiga kunci dakwah pencerahan yang menjadi elan vital gerakan Muhammadiyah. Dakwah Islam mengandung arti panggilan, seruan, dan ajakan untuk berislam, atau menjadikan Islam sebagai way of life sekaligus sebagai sistem nilai yang mengatur kehidupan ini. Syariat Islam itu sendiri, menurut Ibn Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, dibumikan untuk mewujudkan dan menyempurnakan kemasalahan hidup manusia; sekaligus menolak dan meminimalisir kerusakan dan kebangkrutan hidup manusia. Oleh karena itu, tujuan utama dakwah Islam adalah mewujudkan tatanan kehidupan manusia yang penuh kemaslahatan (kebaikan dan kebahagiaan), bukan kemafsadatan (kerusakan) dan kebangkrutan. Dakwah Islam itu, pertama-tama, harus berorientasi kepada pembebasan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) menuju cahaya pencerahan (nur), yaitu dari kegelapan kekufuran menuju cahaya iman; dari kemaksiatan menuju cahaya ketaatan, dan dari kebodohan menuju cahaya ilmu pengetahuan. Kedua, dakwah Islam diaktualisasikan dalam bentuk penyampaian misi Islam secara sempurna kepada umat manusia. Ketiga, menjaga dan melindungi agama Islam dari kesia-siaan dan penakwilan orang-orang yang tidak memahaminya dengan baik. Keempat, dakwah Islam juga berperan mewujudkan rasa aman, perdamaian, dan stabilitas sosial politik, baik di negeri Muslim maupun negeri non-Muslim. Dakwah pencerahan merupakan paradigma baru dalam mendakwahkan Islam sebagai sumber nilai, ajaran, dan spirit gerakan. Dakwah pencerahan Muhammadiyah bukan sematamata tabligh (menyampaikan ajaran), melainkan ikhraj wa tahrir (membebaskan) manusia dari segala bentuk keyakinan palsu yang menyelimuti hati dan pikirannya. Pada tataran tahrir, dakwah pencerahan tidak hanya menyelematkan akidah Islam, melainkan juga membangun sistem keyakinan yang benar, kokoh, dan terbebas dari segala bentuk kemusyrikan, seperti: syirik teologi, syirik politik, syirik sosial ekonomi, bahkan syirik hawa nafsu. Seiring dengan proses tahrir, dakwah pencerahan Muhammadiyah meniscayakan perubahan (taghyir) pada diri ad’u (yang didakwahi) dengan program pencerdasan agar umat memiliki nalar yang sehat, benar, dan positif dalam menyikapi dan menghadapi persoalan hidup. Dakwah pencerahan harus bermuatan pendidikan berpikir positif dan kreatif. Dengan pencerdasan, umat dibiasakan untuk menjauhi pola-pola hidup yang masih sarat dengan takhayul, bid ah, dan khurafat (TBC). Dakwah pencerahan membebaskan umat sistem hidup Jahiliyah, sebuah sitem kehidupan yang penuh kegelapan iman, kebobrokan moral, dan kebiadaban perilaku. Setelah ad’u mengalami pembebasan dan perubahan, dakwah pencerahan Muhammadiyah perlu mengembangkan program-program pemberdayaan (taqwiyah), dengan mengoptimalkan segala potensi ad’u untuk meraih hidup sukses: sukses studi, sukses berorganisasi, sukses berprofesi, sukses hidup sebagai suami-istri, dan sukses berakhlak Islami. Oleh karena itu, dakwah pencerahan tidak sekedar tabligh (menyampaikan pesan), melainkan harus diikuti dengan tau’iyah (penyadaran) dan peningkatan kualitas hidup umat. Karena itu, dakwah pencerahan memerlukan manajemen dakwah yang solid dan efektif untuk, misalnya, melakukan pendampingan komunitas sasaran dalam pengembangan sumber daya ekonomi, pemberdayaan ekonomi kreatif, peningkatan mutu hasil pertanian, perkebunan, perikanan, perhutanan, dan sebagainya. Agar komunitas ad’u itu berdaya, tentu, diperlukan adanya edukasi-edukasi dan pelatihan-pelatihan keterampilan hidup (life skills), keterampilan sosial (social skills), dan keterampilan lunak (soft skills), sehingga komunitas itu menjadi mandiri secara sosial ekonomi. Dengan kata lain, dakwah pencerahan seyogyanya mampu merubah komunitas mustahiqq (penerima zakat) menjadi muzakki dan mutashaddiq (pembayar zakat dan pemberi sedekah). Dalam konteks ini, Rasulullah SAW sejak awal dakwahnya menekankan pentingnya kemandirian hidup dengan spirit filantropis (semangat berderma, memberi). Bahkan, Rasulullah SAW dilarang oleh Allah SWT untuk berharap mendapat balasan lebih banyak dari apa yang telah diberikan. Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (QS. al-Muddatstsir: 6) Dalam sejarah dakwah Islam, pembentukan mentalitas kemandirian pada diri ad’u merupakan salah satu faktor determinan dalam keberhasilan dakwah perncerahan itu sendiri. Meskipun saat di Mekkah umat Islam tergolong minoritas, namun mentalitas kemandirian mereka sangat kuat. Embargo ekonomi yang dilancarkan oleh kaum kafir Quraisy terhadap para sahabat Nabi SAW saat itu tidak sedikitpun menyurutkan dan menggoyahkan mentalitas mereka. Dengan demikian, dakwah pencerahan yang dilakukan oleh Nabi SAW itu bermuatan peneguhan akidah dan pengokohan syakhsyiyyah (keperibadian) yang mandiri. Dakwah pemberdayaan mengharuskan pelaku dan lembaga dakwah untuk memahami segala potensi yang dimiliki oleh sasaran dakwah ( ad’u). Sekedar contoh pemberdayaan, ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah, Nabi SAW memberdayakan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai mitra pendamping hijrahnya, sedangkan putra-putrinya, yaitu Abdullah da As a , diberdayakan sebagai inteligen dan pemasok logistik bagi perjalanan hijrah Nabi SAW yang waktu itu harus tra sit sela a 3 hari di gua Tsur, sebelu ela jutka perjala a hijrah ya ke Yatsrib (Madinah). Pada waktu yang sama, Ali bin Abi Thalib –karramallu wajhahu-- juga diberdayakan untuk menggantikan tempat tidur Nabi SAW. Setelah dimerdekakan dari perbudakan, Bilal bin Rabah juga diberdayakan oleh Nabi SAW sebagai muadzin beliau karena kompetensinya dalam melantunkan adzan yang sangat bagus. Bahkan, ketika Abu Sufyan menyatakan diri masuk Islam saat fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah), Nabi SAW pun kemudian memberdayakannya sebagai salah satu penulis wahyu al-Qur a , kare a beliau e getahui be ar bahwa dia mempunyai kompetensi yang mumpuni dalam mencatat dan menulis. Jika jiwa kemandirian itu sudah tertanam kuat dalam diri ad’u, maka agenda dakwah pencerahan berikutnya adalah pemajuan, yaitu memajukan taraf hidupnya dalam berbagai aspek. “ede ikia a diri ya, Abdurrah a bi Auf, pebisnis ulung, begitu tiba di Madinah, langsung meminta ditunjukkan di mana pasar berada. Dia tidak ingin menggantungkan uluran tangan dari kaum Anshar, melainkan tergerak untuk mengembangkan wirausaha dan bisnisnya. Dia bertekad kuat untuk menghidupkan dan memajukan pasar kota Madinah, dan ternyata berhasil. Demikian pula Utsman bin Affan RA, dengan kemandiriannya, membangun pertanian, perkebunan, dan peternakan Madinah, sehingga dia dikenal sebagai saudagar kaya yang gemar bersedekah. Sejarah mencatat bahwa di hari penuh kesulitan menjelang perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 unta, lalu menggenapinya dengan 50 kuda sebagai logistik dan perlengkapan perang. Tidak hanya itu, Utsman juga menyerahkan uang sebanyak 1.000 dinar dan beberapa ons emas kepada Rasulullah SAW untuk keperluan perbekalan perang tersebut. Bahkan keberdayaan dan kemajuan ekonomi Utsman RA membuatnya menjadi dermawan sekaligus juga agen pembebasan dan pemerdekaan. Sejak masuk Islam, Utsman tercatat sebagai satu-satunya sahabat Nabi ya g setiap Ju at selalu e erdekaka budakbudak. Hingga akhirnya hayatnya, tercatat Utsman tidak kurang telah memerdekakan 2.400 budak, yang kemudian mereka juga masuk Islam. Itulah dakwah pencerahan Rasulullah yang tidak hanya membuat para sahabat selalu berkomitmen terhadap ajaran Islam, melainkan juga tergerak untuk memberdayakan dan memajukan umat. Dalam konteks ini, Muhammadiyah termasuk paling depan dalam memberdayakan dan mencerahkan umat dan bangsa. Melalui amal usaha yang dikelolanya, terutama lembagalembaga pendidikan Muhammadiyah dan rumah sakit Islam yang tersebar di pelosok negeri ini sesungguhnya Muhammadiyah telah memainkan peran penting dalam dakwah pencerahan tersebut. Dengan da’wah bil uswah hasanah (keteladanan yang baik) melalui amal usaha yang konkti bagi gerakan pencerdasan, edukasi, pelatihan, pendampingan, dan penerampilan para mad’u, niscaya dakwah pencerahan Muhammadiyah akan menunjukkan hasil yang efektif dan bermanfaat bagi bangsa dan umat. Semoga! Sumber: Artikel ini pernah dimuat dalam kolom OPINI Koran REPUBLIKA, 19 November 2014 kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi

Dokumen baru