UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI

Gratis

6
30
45
2 years ago
Preview
Full text
SANWACANA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas hidayah-Nya akripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi dengan judul “ UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. Sutyarso, M.Biomed., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung; 2. Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara M.Kes, Sp.MK., selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, ilmu, motivasi, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini; 3. dr. Tri Umiana Soleha M.Kes., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, ilmu, motivasi, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini; 4. dr. Ety Apriliana M.Biomed., selaku Penguji Utama pada ujian skripsi; terimakasih atas masukan dan saran-saran dalam proses penyelesaian skripsi ini; 5. dr. H. M. Masykur Berawi Sp.A., selaku dosen Pembimbing akademik; 6. Seluruh staf pengajar dan Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Lampung; 7. Mamaku tercinta Dra. Malia Herlena terimakasih atas kasih sayang, dukungan, do’a tak hingga serta nafas kekuatan yang selalu mama berikan; 8. Nenek dan Kakekku, yang selalu memberikan motivasi dan semangat untuk selalu maju dan percaya apapun dapat terjadi; 9. Kakakku tersayang Intan Ika Sari Putri, M.Pd; 10. Adik-adikku, M. Ridho Utomo, M. Agung Kurniawan dan M. Ibnu Fadhil, atas candaan hangat dan hembusan semangat yang terus kalian berikan agar ses mampu secepatnya menjadi dokter demi kebahagiaan kita bersama wahai adik-adikku yang insyaAllah akan menjadi teman sejawatku; 11. Tante, Om, Sepupu dan Keponakanku, terimakasih atas keluarga hangat ini yang dapat menjadi tempatku berteduh; 12. Angga Gusta Kharisma, terimakasih banyak wahai pria sabar yang selalu menemaniku, mendengar keluh kesah ini, menyejukan hati yang gelisah dan selalu tegar berdiri disampingku, semoga kita dapat terus berjalan bersama menggapai cita-cita yang telah kita rangkai bersama; 13. Dian Eka Safitri dan Rora Susanti, terimakasih telah mengajarkan arti dari kalimat aku merindukan sahabatku, kalian merupakan teman terindah yang mengisi hari-hari selama 3tahun yang membuat terciptanya kehangatan pelukan pertemanan sampai nanti; 14. Reisha Ghassani, Rohana, Rahma Erlina, Lind Octaviani Irawan, Reski Yanti Batubara dan seluruh teman-teman kluarga besar FK-08, atas kebersamaan dan bantuan selama ini; 15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu yang telah memberikan bantuan dalam penulisan skripsi. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Bandar Lampung, Februari 2013, Penulis Indah Dwi Pratiwi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Jaya, pada tanggal 13 Februari 1990. Penulis adalah anak kedua dari lima bersaudara putri dari Dra. Malia Herlena. Pendidikan formal yang pernah ditempuh Penulis adalah Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Islam Terpadu Insan Kamil Bandar jaya, Lampung Tengah pada tahun 1996, Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Bandar Jaya, Lampung Tengah diselesaikan pada tahun 2002, SMP Negeri 1 Terbanggi Besar, Lampung Tengah diselesaikan pada tahun 2005, dan SMA Negeri 1 Terbanggi Besar, Lampung Tengah yang diselesaikan pada tahun 2008. Tahun 2008 penulis diterima di S1 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan melalui skripsi ini penulis menamatkan pendidikan S1 tersebut. MOTTO Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan sholatmu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah: 153) Kepuasan terletak pada usaha bukan pada hasil, usaha yang keras merupakan kemenangan yang hakiki ( Mahatma Gandhi) oramg pintar adalah orang yang menggunakan bagian terbaik dari otaknya, namun orang yang cerdas adalah orang yang mampu memanfaatkan bagian terburuk dari otaknya (Einstein) 1 DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id. Diakses pada tanggal 16 Maret 2012 Anonim. 2012. Enterohaemorrhagic Escherichia Coli. http://www.who.int. Diakses pada tanggal 30 Mei 2012 Brooks, Geo F., Butel, Janet S., Morse, Stephen A. 2008. Jawetz, Melnick & Adelberg’s. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Salemba Medika. Jakarta Dalimunthe, A. 2009. Interaksi Sambiloto. Departemen Farmakologi Universitas Sumatera Utara. Medan. http://www.respository.usu.ac.id. Diakses pada tanggal 15 April 2012 Deisingh, A.K., M. Thompson.2004. Strategies For The Detection of Escherichia coli 0157:H7 in foods. Journal of Applied Microbiology.82-97 Dewi, F.S. 201. Aktivitas Bakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (MorindaCitrifolia, Linnaeus) Terhadap Bakteri Pembusuk Daging Segar. http://eprints.uns.ac.id. Diakses pada tanggal 18 juni 2012 Febrika, Linda. 2012. Aktivitas Antimikroba Pada Ekstrak Jintan Hitam Terhadap Pertumbuhan Bakteri Gram Positif (Staphylococcus aureus, Streptococcus sp) dan Bakteri Gram Negatif (Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae). Lampung Gillespie, Stephen, Bamford, Kathleen,2007. At Glance Mikrobiologi dan Infeksi. Edisi ketiga. Erlangga. Jakarta Hardjoeno. 2007. Kumpulan Penyakit Infeksi dan Tes Kultur Sensitivitas Kuman serta Upaya Pengendaliannya. Makasar : Cahya Dinan Rucitra. Hal. 158 Hidayat, N. L. 2010. Mikrobia Patogen. http://www.dinkes.kulonprogokab.go.id. Diakses 30 Mei 2012 Ichsan, Nur. 2006. Pengaruh Filtrat Daun Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Terhadap Diameter Zona Hambat Shigella Dysentriae Secara In Vitro. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. skripsi.umm.ac.id. Diakses tanggal 10 april 2012 2 Johnson, Arthur G., Ziegler, Richard J., Lukasewycz, Omelan A., Hawly, Louise B. 2002. Microbiology and Imunology, Lipincott William and Walkins. USA Lesage G, Bussey H. 2006. Cell Wall Assembly in Saccharomyces cerevisiae. Microbiol Mol Biol Reviews. 70(2): 317-343. doi: 10.1099/mic.0.26471-0 Muhammad. 2005. Isolasi bakteri Epibiotik Penghasil Senyawa Antibakteri dari Permukaan Karang. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle. Diakses pada tanggal 30 Mei 2012 Murwani, Sri., Purwani T., Nuke Erlina Mayasari. 2006. Efek Antimikroba Dekok daun sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Terhadap Salmonella Typhi No.Reg D10 In Vitro. Elibrary.ub.ac.id. Diakses tanggal 25 juli 2012 Pelczar, Michael, J., Chan, S. C. 2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Jakarta Pramono, S. Katno. 2002. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Fakultas Farmasi UGM. Jogjakarta Samirah, Darwati, windarwati, Hardjoeno. 2002. Pola dan sensitivitas Kuman di Penderita Infeksi Saluran Kemih. FKUI. Jakarta Setyawan, Fajar Dwi. 2011. Perbandingan Zona Hambat Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Terhadap Staphylococcus Aureus Asal Susu Sapi Perah Dari Peternakan Nongkojajar Dan Kali Kepiting Surabaya. FKH Universitas Airlangga. Surabaya. www.fkh.unair.ac.id. Diakses tanggal 25 juni 2012 Syayurachman, Agus, Chatim, Aidilfiet,. 2008. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran edisi revisi. Binarupa Aksara. Jakarta Tim Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. 2003. Bakteriologi Medik. Bayumedia. Jawa Timur Todar, Kenneth. 2008. Staphylococcus Aureus and Staphylococcal Disease. http://textbookofbacteriology.net/staph.html. Diakses tanggal 28 Maret 2012 Todar, Kenneth. 2008. Pathogenic Escherichia Coli. http://www.textbookofbacteriology.net/e.coli. Diakses pada tanggal 30 Mei 2012 Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadyah Malang. Malang 3 Widiyani, Astri. 2010. Uji Aktivitas Antimikroba Etanolik Herba Sambiloto (Androdraphis Paniculata Nees) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25293, Escherichia coli ATCC 35218 Dan Candida Albicans Secara IN Vitro. Ebookbrowse.com/uii/skripsi. Diakses tanggal 6 februari 2012 World Health Organization. WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance. World Health Organization. 2001 : 1-55 Yuliatin, I. S. 2012. Khasiat Sambiloto. Tribun Media. Jakarta Yulina, I. K. 2011. Aktivitas Antibakteri Kitosan Berdasarkan Perbedaan Derajat Deasetilasi dan Bobot Molekul. http://www.respository.ipb.ac.id. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Penimbangan Muller Hinton Agar 2. Pembuatan agar 3. Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan 4. Ekstrak sambiloto 5. Inkubasi bakteri 6. Hasil iv DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP MOTO SANWACANA.............................................................................................. DAFTAR ISI.................................................................................................. DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... DAFTAR TABEL.......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………. I. II. i iv vi vii viii PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................... 3 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 4 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 4 E. Kerangka Pemikiran.................................................................... 5 F. Hipotesis ..................................................................................... 7 TINJAUAN PUSTAKA A. Sambiloto (Andrographis paniculata nees) .............................. 8 B. Staphylococcus aureus ............................................................... 10 C. Escherichia coli .......................................................................... 13 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ........................................................................ 17 B. Waktu Dan Tempat Penelitian ................................................... 17 C. Bahan Dan Alat Penelitian . ........................................................ 17 D. Prosedur Penelitian ..................................................................... 18 v IV. V. E. Variabel Penelitian ..................................................................... 20 F. Definisi Operasional.................................................................... 21 G. Analisis Data .............................................................................. 21 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ........................................................................................... 22 B. Pembahasan ................................................................................ 24 SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ........................................................................................... 28 B. Saran .................................................................................................. 28 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Definisi Operasional................................................................................... 21 2. Hasil Staphylococcus aureus...................................................................... 22 3. Hasil Escherichia coli ................................................................................ 23 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka Teori........................................................................................... 6 2. Kerangka Konsep ....................................................................................... 6 3. Sambiloto ................................................................................................... 9 4. Staphylococcus aureus dalam pewarnaan gram......................................... 12 5. Escherichia coli dalam pewarnaan gram ................................................... 14 UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI (Skripsi) Oleh Indah Dwi Pratiwi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Oleh Indah Dwi Pratiwi Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN Pada Fakultas Kedokteran Universitas Lampung FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian aktivitas antimikroba pada ekstrak sambiloto dapat disimpulkan sebagai berikut: Ekstrak sambiloto memiliki aktivitas antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri Gram negatif (Escherichia coli). B. Saran 1. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas sambiloto terhadap bakteri Gram negatif dan positif lainnya. 2. Diperlukan penelitian lebih lanjut secara in vivo untuk lebih menguji keefektifan infusa sambiloto (Andrographis paniculata nees) sebagai antibakteri yang dapat dikonsumsi. 3. Dinas Kesehatan atau institusi terkait lainnya dapat turut membantu menyebarluaskan hasil penelitian kepada masyarakat agar hasil penelitian ini dapat dijadikan wawasan tambahan di bidang kesehatan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Aktivitas antimikroba pada ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui 3 kali pengulangan perlakuan secara berturut-turut, diperoleh data rerata diameter zona hambat dari masing-masing konsentrasi ekstrak sambiloto pada agar Muller Hinton. Tabel 2. Hasil diameter zona hambat ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Konsentrasi (%) 100 75 50 25 0 Diameter zona hambat (mm) 13 11 9 - - Diameter zona hambat (mm) 14 12 10 - - Diameter zona hambat (mm) 13 10 9 - - 11 9,33 - - Rata-rata diameter zona hambat (mm) 13,33 Dari Tabel 2 menunjukkan adanya aktifitas antimikroba ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus berupa terbentuknya zona hambat pada agar Muller Hinton dapat dilihat lingkaran jernih yang tidak terdapat koloni bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi ekstrak sambiloto 100%, 75% dan 50% dengan rata-rata diameter zona hambat terbesar adalah 13,33 mm dan diameter terkecil 9,33 mm. Sedangkan pada konsentrasi 25% tidak didapatkan zona bening. 2. Aktivitas antimikroba pada ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Escherichia coli. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh diameter zona hambat pada agar Muller Hinton. Tabel 3. Hasil diameter zona hambat ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Escherichia coli. Konsentrasi (%) 100 75 50 25 0 Diameter zona hambat (mm) 19 16 14 10 - Diameter zona hambat (mm) 18 15 13 9 - Diameter zona hambat (mm) 20 18 16 11 - Rata-rata diameter zona hambat (mm) 19 16,33 14,33 10 - Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa adanya aktivitas antimikroba ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan Escherichia coli yang dapat dilihat dari hasil penelitian dimana terbentuknya zona hambat pada agar Muller Hinton pada semua konsentrasi mulai dari konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Dengan rata-rata diameter terbesar pada konsentrasi 100% yaitu 19 mm dan terkecil pada 25% yaitu 10 mm. B. Pembahasan Daya hambat suatu antimikroba dalam uji sensitifitas secara in vitro dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: populasi bakteri, konsentrasi antimikroba, komposisi media kultur, waktu inkubasi dan temperatur (Greenwood et al, 2003). Faktor-faktor tersebut secara keseluruhan dapat dikontrol saat prosedur pengujian berlangsung. Konsentrasi mikroba dapat dikontrol dengan pemakaian inokulum standar dari suspensi bakteri yang secara kualitatif sama dengan kekeruhan warna larutan standar Mac Farland yaitu putih keruh, sedangkan konsentrasi antimikroba sengaja dibuat berbeda untuk melihat pengaruh konsentrasi antimikroba terhadap bakteri uji (Febrika, 2012). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Fajar Dwi Setyawan membuktikan bahwa sambiloto tidak memiliki sifat antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Setyawan, 2011). Sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Astri Widiyani membuktikan bahwa sambiloto memiliki sifat sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (ebooksbrowse.com/uii, 2010). Dan pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada bulan juli membuktikan bahwa ekstrak sambiloto terbukti memiliki sifat antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang dibuktikan dengan terbentuknya zona hambat pada agar yang telah diisolasikan bakteri staphylococcus aureus pada konsentrasi 100%, 75% dan 50%. Nur Ichsan melakukan penelitian sambiloto terhadap Shygella dysentriae dan mampu membuktikan bahwa sambiloto efektif sebagai antibakteri terhadap Shygella dysentriae (Ichsan, 2006). Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Sri Murwani, Purwani T dan Nuke Mayasari membuktikan bahwa sambiloto memiliki sifat antibakteri terhadap Salmonella typhi (Murwani, 2006). Dan dari penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada bulan juli juga membuktikan bahwa sambiloto memiliki sifat antibakteri pada bakteri gram negatif Escherichia coli yang ditandai dengan ditemukannya zona bening pada agar yang telah diisolasi bakteri pada konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Tanin bekerja dengan mengadakan kompleks hidrofobik dengan protein, menginaktivasi adhesin, enzim, dan protein transport dinding sel, sehingga mengganggu pertumbuhan mikroorganisme (Hashem & El-Kiey, 2002). Tanin diduga sebagai senyawa antimikroba dikarenakan berefek spasmolitik. Efek spasmolitik dapat mengkerutkan dinding sel bakteri sehingga sel bakteri terganggu permeabilitasnya (Ajizah, 2004). Masduki (1996) menyatakan bahwa tanin juga mempunyai daya antibakteri dengan cara mempresipitasikan protein, karena diduga tanin mempunyai efek yang sama dengan senyawa fenolat. Secara umum efek antibakteri tanin antara lain reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik bakteri. Menurut Okuda (2004) tanin berpotensi menjadi antibakteri, sedangkan penelitian Mulyadi (1996) membuktikan bahwa tanin mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus (Dalimunthe,2009). Senyawa alkaloid yang terkandung dalam sambiloto diperkirakan mempengaruhi hambatan terhadap pertumbuhan bakteri. Alkaloid dapat mengganggu bakteri dengan cara mengganggu terbentuknya jembatan silang komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinson, 2005). Senyawa saponin dapat bekerja sebagai antimikroba (Robinson, 2005). Senyawa saponin akan merusak membran sitoplasma dan membunuh sel (Assani, 1994). Senyawa flavonoid diduga mekanisme kerjanya mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel tanpa dapat diperbaiki lagi (Pelczar dkk., 2007). Perbedaan dari hasi-hasil penelitian mungkin disebabkan karena perbedaan dinding sel bakteri Gram positif memiliki struktur dinding sel yang lebih sederhana dibandingkan Gram negatif memiliki dinding sel bakteri yang sangat kompleks. Dinding sel bakteri Gram positif yakni hanya terdiri dari peptidoglikan dan asam teikhoat, sedangkan bakteri Gram negatif terdiri dari peptidoglikan dan membran luar yang mengandung 3 kompenen penting diluar peptidoglikan, yakni lipoprotein, lipolisakarida dan membran periplasma. Sehingga bakteri Gram positif lebih mudah dihambat pertumbuhannya daripada Gram negatif oleh antimikroba (Lesage and Bussey, 2006). Namun pada bakteri gram positif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tebal dibandingkan dengan bakteri gram negatif (Brooks, 2008). Dan pada penelitian yang sudah dilakukan oleh penulis didapatkan hasil dimana ekstrak sambiloto pada Staphylococcus aureus (bakteri gram positif) aktifitas antimikroba terlihat hanya pada konsentrasi 100%, 75% dan 50%. Sedangkan pada Escherichia coli (bakteri gram negative) aktifitas antimikroba ekstrak sambiloto terlihat pada konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sambiloto memiliki aktifitas antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus). Dan sambiloto memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram negatif (Escherichia coli). Sehingga sambiloto dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Gram positif negatif(Staphylococcus aureus dan Escherichia coli). dan BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan metode difusi Kirby bauer. B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan juli 2012 bertempat di Laboratorium Mikrobiologi fakultas Kedokteran Universitas lampung. C. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Uji Bahan penelitian adalah ekstrak sambiloto yang didapatkan dari laboratorium MIPA Kimia Organik Universitas Lampung. 2. Bakteri Uji Bakteri uji yang dipergunakan adalah bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri Gram negatif (Escherichia coli) sebagai bakteri uji yang berasal dari Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung. 3. Media Kultur Media yang digunakan pada penelitian ini adalah Nutrient Agar, lempeng agar darah dan MacConkay. Bakteri gram positif akan tumbuh pada media perbenihan lempeng agar darah dan bakteri gram negatif akan tumbuh pada perbenihan agar MacConkay (Steven dkk.,2004). 4. Alat-alat Penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : pipet hisap, mikropipet, tabung reaksi, beaker glass, cawan petri, inkubator, autoklaf, rak, ose, neraca ukur, stir plate, tabung Erlenmeyer dan hot plate. D. Prosedur Penelitian 1. Ekstrak sambiloto Ekstrak sambiloto sebanyak 50gram didapatkan dari sambiloto kering dengan berat 2kg, yang dibuat ekstrak dengan tekhnik maserasi. Ekstrak sambiloto didapatkan dari Laboratorium Kimia Organik Universitas Lampung. 2. Sterilisasi Alat Alat yang digunakan dalam penelitian dibersihkan terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kertas, selanjutnya di autoklaf pada suhu 1210C, tekanan 1 atm selama 15 menit. Setelah itu dimasukan oven suhu 1000C selama 1 jam untuk mengeringkan alat (Dewi,2010). 3. Pembuatan MHA (Muller Hinton Agar) Timbang 3,8 gram Muller Hinton Agar (38 gr/L) dengan komposisi medium (Beef Infusion 300 gr, Casamino acid 17,5 gr, Starch 1,5 gr, Agar 17 gr) dilarutkan dalam 100 ml aquadest lalu dipanaskan hingga mendidih kemudian disterilkan dalam autoklaf selama 15 menit dengan tekanan udara 1 atm suhu 121 0C (Dewi,2010). 4. Aktivitas antimikroba Adapun urutan pengujian efek antimikroba adalah sebagai berikut. a) Pembuatan sumuran Pembuatan sumuran dilakukan dengan meletakkan pipet steril pada cawan petri steril dengan menggunakan pinset sebelum bakteri dan agar dimasukkan. Setelah agar dan bakteri di masukan ditunggu sampai memadat. Setelah agar memadat angkat pipet yang telah kita taruh pada masing-masing label pada cawan (Dewi,2010). b) Persiapan suspensi bakteri Biakan bakteri diambil sebanyak 1-2 ose dan disuspensikan kedalam larutan NaCL 0,9% sampai diperoleh kekeruhan yang sesuai dengan standar 0,5 Mac Farland atau sebanding dengan jumlah bakteri 108 (CFU)/mL. Suspensi bakteri diteteskan sebanyak 50µl kemudian diratakan lalu dimasukan agar yang sudah kita buat (Yulina,2011). c) Pengisian sumuran dengan ekstrak sambiloto Sumuran yang telah kita buat setelah agar mengeras kita isi sumuran-sumuran yang sudah terbentuk dari pipet tadi dengan ekstrak sambiloto sesuai dengan konsentrasi yang telah kita tentukan dengan menggunakan micro pipet sebanyak 100µl. Setelah itu, media dimasukkan kedalam inkubator pada suhu 370 C dan diamati setelah 24 jam kemudian diukur zona hambat dengan kaliper geser atau penggaris (Dewi,2011) E. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Ekstrak sambiloto dengan lima tahap pemberian konsentrasi, yaitu konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan 0%. 2. Variabel Terikat Variabel terikat untuk penelitian ini adalah diameter zona hambat ekstrak sambiloto terhadap pertumbuhan bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri Gram negatif (Escherichia coli). F. Definisi Operasional Tabel 1. Definisi operasional penelitian Variabel Konsentrasi ekstrak sambiloto Definisi Pemberian ekstrak sambiloto yang digunakan pada penelitian ini adalah: Kelompok I: ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 100% Kelompok II: ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 75% Kelompok III: ekstrak sambiloto Skala Numerik dengan konsentrasi 50% Kelompok IV: ekstrak sambiloto konsentrasi 25% Kelompok V: ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 0% Zona hambat yang terbentuk Diameter zona hambat pada pertumbuhan bakteri uji (mm) Numerik G. Analisis Data Analisis data yang didapatkan dari penelitian ini dilakukan secara deskriptif laboratorik. Deskriptif yang dimaksud adalah dengan menerangkan dan memaparkan hasil dari penelitian yang didapat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sambiloto (Andrographis paniculata nees) 1. Deskripsi Tanaman Penggunaan obat tradisional merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang kita dari generasi satu ke generasi berikutnya. Herba sambiloto merupakan salah satu bahan obat tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia dan telah terkenal sejak abad 18. Sambiloto banyak dijumpai hampir diseluruh kepulauan nusantara. Secara taksonomi sambiloto diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi : Spermathophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Subkelas : Gamapetalae Ordo : Personales Famili : Acanthaceae Subfamili : Achantoidae Genus : Andrographis (Dalimunthe,2009) Gambar 3. Sambiloto (www.iptek.net.id) Sambiloto dikenal dengan beberapa nama daerah dan Negara, seperti: ki oray atau ki peurat (Jawa Barat), Bidara, takilo, sambiloto (Jawa Tengah dan Jawa Timur), atau pepaitan(Sumatera). Sementara dalam bahasa asing, sambiloto biasa dikenal dengan sebutan bermacam-macam seperti: Quasabhuva (Arab), The Creat (Inggris), Nainehavandi (Persia), Kariyatu (Gujarat), Kirayat (india) Nilavembu (Tamil) dan Nelarebu (Canada) (Dalimunthe, 2009). Sambiloto tumbuh liar di tempat-tempat terbuka seperti kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lembab atau pekarangan. Tumbuhan di daratan rendah sampai ketinggian 700 meter (Yuliatin,2012). B. Staphylococcus Aureus 1. Klasifikasi Kingdom : Bacteriae Filum : Protophyta Kelas : Schzomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Micrococcaceae Genus : Staphylococcus Spesies : Staphylococcus aureus (Syayurachman, 2008) Stafilokokus merupakan anggota family Micrococcaceae. Staphylococcus aureus merupakan spesies paling invasif dan berbeda dari spesies lainnya karena memiliki enzim koagulase. Bakteri ini ditemukan pada 40% orang sehat di hidung, kulit, ketiak dan perineum (Gillespie, 2007). Stafilokokus berasal dari kata staphyle yang berarti kelompok buah anggur dan kokus yang berarti benih bulat. Bekteri ini sering ditemukan sebagai bakteri flora normal pada kulit dan selaput lender pada manusia. Dapat menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan. Beberapa jenis bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan (Syarurachman, 2008). Bakteri Staphylococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat, biasanya berbentuk anggur. Bakteri ini mudah tumbuh pada media perbenihan dan mempunyai metabolisme aktif, meragikan karbohidrat serta menghasilkan pigmen bervariasi dari putih sampai kuning tua. Beberapa diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia, lainnya menyebabkan pernanahan, abses, berbagai infeksi piogen dan bahkan septicemia fatal. Staphylococcus pathogen sering menghemolisis darah, mengkoagulasi plasma serta menghasilkan berbagai enzim ekstraselluler dan toksin. Staphylococcus cepat menjadi resisten terhadap zat antibakteri sehingga menimbulkan masalah pengobatan yang sukit (Brooks, 2008). 2. Morfologi Morfologi staphylococcus adalah bakteri gram positif yang tidak membentuk spora, tidak motil dan hidup berkelompok yang biasanya menyerupai buah anggur. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada kulit dan selaput lender manusia (Gillespie, 2007). Kokus yang muda memberikan pewarnaan gram positif yang kuat akibat penuaan, banyak sel mejadi gram negatif. Stafilokokous tidak motil dan tidak membentuk spora. Bila dipengaruhi obat-obatan seperti penisilin, stafilokokus menjadi lisis (Brooks, 2008). Gambar 4. Staphylococcus aureus (http://textbookofbacteriology.net/staph.html) 3. dalam pewarnaan gram Biakan Untuk membiakan Staphylococcus diperlukan suhu optimal antara 28-38̊̊ C. Apabila bakteri tersebut diisolasi dari seorang penderita, suhu optimal yang diperlukan adalah 37̊ C. Pada umumnya Staphylococcus dapat tumbuh pada medium Nutrient Agar Plate dan Blood Agar Plate. Nutrient Agar Plate digunakan untuk mengetahui pembentukan pigment berwarna kuning emas. Koloni yang tumbuh berbentuk bulat, diameter 12mm, konveks dengan tepi rata, permukaan mengkilat dan konsistensi lunak. Pada perbiakan dengan plat agar, koloni akan tampak lebih besar dan pada galur yang ganas biasanya memberikan zona hemolisa yang jernih disekitar koloni yang mirip Streptococcus β hemolyticus (Tim Mikrobiologi FK Unibraw, 2003). 4. Patogenesis Staphylococcus aureus memproduksi koagulase yang mengkatalisis perubahan fibrinogen menjadi fibrin dan dapat membantu bakteri ini membentuk barisan perlindungan. Bakteri ini memiliki reseptor terhadap permukaan sel pejamu dan protein matriks (misalnya kolagen) yang membantu bakteri ini untuk melekat. Bakteri ini memproduksi enzim litik ekstraseluller (misalnya lipase), yang memecah jaringan pejamu dan membantu invasi. Beberapa strainnya memproduksi eksotoksin protein yang menyebabkan diare (Gillespie, 2007). Escherichia Coli C. 1. Klasifikasi Escherichia coli pertama kali diisolasi pada tahun 1885 dari feses anak-anak oleh seorang bacteriologist dari Jerman yaitu Theodor Escherich. Pada tahun1935, Escherichia coli ditemukan sebagai penyebab diare (Deisingh dan Thompson, 2004). 2. Kingdom : Bacteriae Filum : Proteobacteri Kelas : Gamma proteobacteria Ordo : Enterobacteriales Famili : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia Spesies : Escherichia coli (Hardjoeno, 2007) Morfologi Escherichia coli adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang. E coli ini bersifat fakultatif anaerob yang merupakan anggota dari family Enterobacteriaceae. Bakteri ini biasa ditemukan dengan konsentrasi yang cukup tinggi (108) di feses manusia (Johnson, 2002). Gambar 5. Escherichia coli dalam pewarnaan Gram (Neal R. Chamberlain, 2004) Bakteri Escherichia coli bersifat motil. Bakteri ini dapat bersifat aerobik maupun anaerobik fakultatif. Escherichia coli merupakan bakteri komensal di usus besar (Pelczar, 2007). 3. Patogenesis Bakteri Escherichia coli yang menyebabkan diare sangat sering ditemukan di seluruh dunia. Escherichia coli ini diklasifikasikan oleh ciri khas sifat – sifat virulensinya dan setiap grup menimbulkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda, antara lain : a. Enteropatogenic Escherichia coli (EPEC) Penyebab penting diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC melekat pada sel mukosa usus halus. Faktor yang diperantarai oleh kromosom menimbulkan perlekatan yang kuat. Akibat dari infeksi EPEC adalah diare cair yang biasanya sembuh sendiri tetapi dapat juga kronik. Lamanya diare EPEC dapat diperpendek dengan pemberian antibiotik (Hidayat,2010). b. Enterotoksigenic Escherichia coli (ETEC) Penyebab yang sering dari “diare wisatawan” dan sangat penting menyebabkan diare pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk menimbulkan perlekatan ETEC pada sel epitel usus halus manusia. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas atau limfotoksin (LT) yang berada dibawah kendali genetik plasmid. Subunit B menempel pada gangliosida GM1 di brush border sel apitel usus halus sehingga memfasilitasi masuknya subunit A ke dalam sel yang kemudian mengaktivasi adenil siklase. Hal ini meningkatkan konsentrasi lokal siklik adenosin monofosfat (cAMP) secara bermakna, yang mengakibatkan hipersekresi air dan klorida yang banyak dan lama serta menghambat absorbsi natrium. Lumen usus terenggang oleh air, terjadi hipermotilitas dan diare yang berlangsung selama beberapa hari (Brooks, 2008). Beberapa strain ETEC menghasilkan enterotoksin yang tahan panas atau sitotoksin (ST) yang berada dibawah kendali kelompok plasmid heterogen. ST mengaktifkan guanilil siklase dalam sel epitel enterik dan merangsang sekresi cairan. Banyak strain ST juga menghasilkan LT. Strain yang memproduksi kedua toksin tersebut menyebabkan diare yang lebih berat (Muhammad,2005). c. Enterohemoragic Escherichia coli (EHEC) Menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksinnya pada sel Vero, suatu sel hijau dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenik dari toksin. EHEC berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginjal akut, anemia hemolitik mikroangiopatik dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang (Anonim,2012). d. Enteroinvasif Escherichia coli (EIEC) Menyebabkan penyakit yang sangat mirip dengan shigellosis. Penyakit terjadi sangat mirip dengan shigellosis. Penyakit sering terjadi pada anak – anak di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju ke negara tersebut. EIEC melakukan fermentasi laktosa dengan lambat dan tidak bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus (Todar,2008). e. Enteroagregatif Escherichia coli (EAEC) Menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di negara berkembang. Bakeri ini ditandai dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC memproduksi hemolisin dan ST enterotoksin yang sama dengan ETEC (Anonim,2012). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini pemanfaatan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan berkembang dengan pesat dan banyak dijadikan alternatif oleh sebagian masyarakat. Efek samping obat tradisional relatif kecil dengan harga terjangkau. Efek farmakologiknya dapat dipercepat dan diperkuat dengan cara purifikasi ekstrak serta adanya data ilmiah yang lengkap, hal ini merupakan keunggulan obat tradisional (Pramono, 2002). Menurut data hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Banlitbangda) kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2009 menyebutkan jenis tanaman tradisional yang banyak digunakan sebagai obat adalah sambiloto, daun dewa, aren, temulawak, kunyit, jahe dan serai (Puslitbang, 2009). Di Indonesia banyak orang mengenal sambiloto dengan sebutan jamu pait. Dan banyak pula yang mengkonsumsinya dengan meminum air rebusan sambiloto terkait dengan mudahnya memperoleh sambiloto. Dan bagi yang tidak tahan dengan rasanya dapat mengkonsumsi dalam bentuk kapsul. Di Cina, sambiloto sudah di uji klinis dan terbukti berkhasiat sebagai hepatotoksik. Di jepang, sedang di jajaki kemungkinan untuk memakai sambiloto sebagai obat HIV dan di Skandinavia, sambiloto digunakan untuk mengatasi infeksi (Yuliatin, 2012). Penyakit infeksi merupakan masalah paling banyak dijumpai pada kehidupan seharihari. Kasus infeksi disebabkan oleh bakteri patogen, yang masuk ke dalam jaringan tubuh, berkembang biak didalam jaringan dan biasanya menimbulkan penyakit (Waluyo, 2004). Bakteri gram negatif yang paling banyak menyebabkan infeksi terutama infeksi saluran kemih adalah bakteri Escherichia coli (Samirah, 2002). Pada bakteri gram positif terbanyak yang menyebabkan infeksi adalah Staphylococcus aureus dan streptococcus sp. Beberapa penyakit infeksi dapat ditanggulangi dengan penggunaan antibiotik yang rasional. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak negatif, seperti terjadinya kekebalan kuman terhadap beberapa antibiotik dan meningkatnya efek samping obat. Sedangkan yang terjadi saat ini penggunaan antibiotik sering kali tidak rasional hal ini mengakibatkan resistensi pada beberapa bakteri. Pemberian antibiotik dikatakan tepat bila efek terapi mencapai maksimal sementara efek toksik yang berhubungan dengan obat menjadi minimal, serta perkembangan antibiotik resisten seminimal mungkin (WHO, 2001). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Fajar Dwi Setyawan, Sri Murwani dkk., Astri Widiyani dan Nur Ichsan membuktikan bahwa Andrographis paniculata nees efektif sebagai antibakteri. Beranjak dari penelitian tersebutlah dilakukan penelitian mengenai uji efektivitas Andrographis paniculata nees terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. B. Rumusan Masalah Tanaman sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) terbukti efektif sebagai antibakteri (Ichsan, 2006). Infeksi merupakan masalah yang paling sering banyak dijumpai di kehidupan sehari-hari (Brooks, 2008). Staphylococcus Aureus adalah bakteri gram positif yang sering kali menjadi penyebab infeksi, sedangkan Escherichia Coli merupakan bakteri gram negatif yang sering menyebabkan infeksi. Oleh karena itu, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: Apakah ekstrak sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) memiliki aktifitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri gram positif (staphylococcus Aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia Coli)? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui adanya aktivitas antibakteri pada ekstrak sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus Aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia Coli). 2. Tujuan khusus Mengetahui konsentrasi ekstrak sambiloto yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia coli). D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti, menambah ilmu pengetahuan terutama pengetahuan mengenai pengobatan alamiah sambiloto. 2. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai acuan atau bahan pustaka untuk penelitian serupa. 3. Bagi masyarakat, memberikan dasar ilmiah mengenai penggunaan sambiloto sebagai anti bakteri. 4. Bagi instansi terkait, hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan masukan untuk pengobatan infeksi. 5. Bagi pemerintah, dapat menjadi perhatian dalam rangka mengembangkan ilmu pengobatan serta upaya preventif di bidang kesehatan terutama masalah penyakit yang berhubungan dengan infeksi. E. Kerangka Pemikiran 1. Kerangka teori Kandungan utama sambiloto adalah diterpenoid lactone (andrographolid), paniculidis, farresols dan flavonoid. Disamping itu, daun sambiloto mengandung saponin, alkaloid dan tanin (Dalimunthe,2009). Flavonoid yang ada pada sambiloto bekerja langsung mengganggu fungsi dari mikroorganisme dan virus. Sedangkan tanin dapat mengendapkan dan mengikat protein, sifat tanin tersebut membuat terhambatnya sintesis protein bakteri (Dalimunthe, 2009). Senyawa alkaloid yang terkandung dalam sambiloto diperkirakan mempengaruhi hambatan terhadap pertumbuhan bakteri. Alkaloid dapat mengganggu bakteri dengan mengganggu terbentuknya jembatan silang komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinsosn, 2005). Dan saponin bekerja dengan merusak membran sitoplasma bakteri (etd.eprints.ums.ac.id, 2008). Kandungan yang ada pada sambiloto yang digunakan sebagai antibakteri terhadapa Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dinyatakan dalam diagram kerangka teori pada gambar 1 berikut. Sambiloto (Andrographis Paniculata nees) Zat aktif Flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin Menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Gambar 1.kerangka teori 2. Kerangka konsep Ekstrak sambiloto Pemberian ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 100% Pemberian ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 75% Pemberian ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 50% Stpahylococcus aureus dan Escherichia coli. Diameter zona hambat Pemberian ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 25% Pemberian ekstrak sambiloto dengan konsentrasi 0% Gambar 2. Kerangka konsep. F. Hipotesis Terdapat aktifitas antibakteri pada ekstrak sambiloto (Andrographis paniculata nees) terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia coli). UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Oleh Indah Dwi Pratiwi ABSTRAK Sambiloto (Andrographis paniculata nees) mempunyai banyak khasiat diantaranya sebagai hepatoprotektor, demam, antibakteri dan berbagai penyakit lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri pada sambiloto terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum ekstrak sambiloto yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Ekstrak sambiloto didapatkan dari laboratorium kimia organik Universitas Lampung dengan menggunakan tekhnik maserasi. Aktivitas antibakteri ekstrak sambiloto dilakukan dengan menggunakan uji difusi Kirby bauer secara sumuran. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak sambiloto memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli . Dengan kadar hambat minimum rata-rata 50% dengan diameter 9,33mm pada Staphylococcus aureus dan 25% dengan diameter 10mm pada Escherichia coli Kata kunci: Andrographis paniculata nees, Escherichia coli dan Staphylococcus aureus THE EFFECTIVENESS TEST OF ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) FOR STAPHYLOCOCCUS AUREUS AND ESCHERICHIA COLI By Indah Dwi Pratiwi ABSTRACT Sambiloto (Andrographis paniculata nees) has many benefits such as hepatoprotector, fever, bacterial and other diseases. This research aims to investigate the antibacterial activity sambiloto against Staphylococcus aureus and Escherichia coli and to determine the minimum inhibitory concentration of sambiloto extract capable of inhibiting the growth of bacteria. This study was conduct on July 2012 at Microbiological Laboratory of Medical Faculty Lampung University. Sambiloto Extract obtained from the laboratory Kimia Organic of Lampung University, using maceration techniques. Antibacterial activity of extracts of Sambiloto performed using Kirby bauer diffusion test pitting. From the results of the research showed that the extract of Sambiloto has antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli with the average minimum inhibitory levels is 50% and the diameter on Staphylococcus aureus is 9,33mm and 25% with 10mm diameter on Escherichia coli. Key word: Andrographis paniculata nees, Escherichia coli and Staphylococcus aureus

Dokumen baru

Download (45 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI EKSTRAK ARCANGELISIA FLAVA TERHADAP JUMLAH BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI
0
11
19
PENGARUH EKSTRAK BUAH KURMA (PHOENIX DACTYLIFERA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI
9
28
22
PERAN KOMISI KESEHATAN UNI EROPA DALAM MENANGANI WABAH BAKTERI ESCHERICHIA COLI DI UNI EROPA
0
3
38
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK ETANOL BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS) TERHADAP DAYA HAMBAT STAPHYLOCOCCUS AUREUS
0
12
1
UJI EFEKTIVITAS ANDROGRAPHIS PANICULATA NEES (SAMBILOTO) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI
6
30
45
RANCANG BANGUN BILIK AKUSTIK PADA SPEKTRUM AUDIOSONIK UNTUK KEPERLUAN EKSPERIMENTAL VIABILITAS ESCHERICHIA COLI TERHADAP BUNYI
4
53
108
IDENTIFIKASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA ES BATU DI WILAYAH BOJONG RAYA, CENGKARENG JAKARTA IDENTIFICATION OF BACTERIA ESCHERICHIA COLI ON ICE CUBES IN THE REGION BOJONG RAYA, CENGKARENG JAKARTA BARAT
0
0
6
PEMERIKSAAN DAYA HAMBAT EKTRAK METANOL DAUN TRISTANIA SUBAURICULATA KING TERHADAP PERTUMBUHAN KUMAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS
0
0
6
View of UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (CURCUMA HEY NEANA VAL.) TERHADAP PERTUMBUHAN ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO
0
1
7
PERBANDINGAN UJI RESISTENSI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS TERHADAP OBAT ANTIBIOTIK AMPISILIN DAN TETRASIKLIN
0
0
9
PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
0
0
10
INAKTIVASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI AIR SUMUR MENGGUNAKAN DISINFEKTAN KAPORIT
0
0
14
UJI FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI DARI AKAR MANGROVE RHIZOPORA APICULATA TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS Evi Ratna Oktavianti Dewi 1, , Usman2
0
0
11
POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK DIETHYL ETHER DAUN MAHKOTA DEWA (PHALERIA MACROCARPA (SCHEFF.) BOERL) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS Arsyik Ibrahim
0
0
7
STUDI PEMANFAATAN DAN KEAMANAN KOMBINASI METFORMIN DENGAN EKSTRAK CAMPURAN ANDROGRAPHIS PANICULATA DAN SYZYGIUM POLYANTHUM UNTUK PENGOBATAN DIABETES MELLITUS (PRELIMINARY STUDY)
0
0
10
Show more