Pola Adaptasi Dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua Dengan Mahasiswa Daerah Lain (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara)

Gratis

22
158
120
3 years ago
Preview
Full text

  POLA ADAPTASI DAN INTERAKSI MAHASISWA ASAL PAPUA DENGAN MAHASISWA DAERAH LAIN (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Universitas Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) Pada Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Muhammad Yamin 100901032 DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

  

ABSTRAK

  Adaptasi dan interaksi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan, penyesuaian ini dapat berarti mengubah diri pribadi sesuai dengan keadaan lingkungan, juga dapat berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan pribadi. Interaksi sosial adalah proses timbal balik antara individu dengan individu ataupun dengan kelompok. Mahasiswa asal Papua Mahasiswa Papua di Medan adalah salah satu contoh kelompok remaja yang melakukan migrasi dengan alasan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda, mahasiswa Papua tentu saja dituntut untuk dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di Medan yang umumnya beretnis Batak, Melayu Deli, Jawa, Cina dan suku lainnya

  Dalam penelitian ini, tinjauan pustaka yang digunakan adalah pola adaptasi untuk melihat proses sosial mahasiswa asal Papua. Interaksi sosial yaitu syarat terjadinya dan bentuk-bentuk interaksi sosial yang digunakan untuk melihat pola interaksi sosial mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara.

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menginterpretasikan data secara kualitatif tentang Pola Adaptasi dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua Dengan Mahasiswa Dari Daerah Lain (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara). Metode pengumpulan data penelitian ini adalah menggunakan pedoman wawancara mendalam dan observasi. Unit analisis penelitian meliputi informan kunci dan informan biasa, yang meliputi mahasiswa asal Papua dan mahasiswa asal daerah lain yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Interpretasi data dilakukan secara kualitatif dengan perbandingan studi pustaka untuk mendapatkan kesimpulan penelitian yang akurat sesuai dengan tujuan penelitian.

  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pola adaptasi dan interaksi mahasiswa asal papua dan mahasiswa daerah lain bersifat akomodasi toleransi. Tanggung jawab dan pendampingan senior pada tahun 2012 yang menjadi mahasiswa asal Papua pertama yang bertanggung jawab terhadap mahasiswa asal Papua lainnya yaitu pada masa orientasi waktu pertama kali hadir di Universitas Sumatera Utara. Adaptasi mahasiswa asal Papua mencakup adaptasi ataupun menyesuaikan diri dengan : alam (cuaca, iklim, makanan, minuman, air, dan tempat tinggal), lingkungan sosial (bahasa, budaya lokal, orang-orang di sekitar tempat tinggal maupun lingkungan kampus), dengan mahasiswa daerah lain (baik di kampus maupun yang tinggal di asrama ataupun yang tinggal diluar), ekonomi (kondisi sosial ekonomi mahasiswa asal Papua). Interaksi Sosial yang bersifat langsung dan interaksi sosial bersifat tidak langsung yang dilakukan oleh mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara. Kata kunci : adaptasi, interaksi, mahasiswa asal Papua, mahasiswa asal daerah lain.

KATA PENGANTAR

  Sepal puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Serta tidak lupa penulis mengucapkan shalawat beriring salam atas junjungan nabi besar Muhammad SAW yang tauladannya sangat diharapkan dihari kelak. Penulisan skripsi ini merupakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul dari skripsi ini yaitu : “Pola Adaptasi Dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua Dengan Mahasiswa Daerah Lain (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara)”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Olehkarena itu penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.

  Dengan selesainya penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini. Secara khusus penulis mempersembahkan skripsi ini kepada orangtua yang tercinta Ayahanda dr. H. Yutu Solihat Sp.AN KAKV dan Ibunda Ike Kamariah, S.E., atas segala doa, dukungan, kasih sayang dan pengorbanan mereka yang telah mereka berikan kepada penulis sampai saat ini.

  Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada : 1.

  Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan FISIP USU.

  2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, selaku Ketua Departemen Sosiologi FISIP USU.

  3. Ibu Dra.Rosmiani,M.A, selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah banyak memberikan masukan dan waktu untuk membimbing sampai skripsi ini selesai.

  4. Bapak Dr. Sismudjito, M.Si, selaku dosen dan reader skripsi penulis yang telah banyak memberi masukan dalam penulisan skripsi ini.

  5. Seluruh Dosen Sosiologi dan Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan berbagai materi kuliah selama penulis menjalani perkuliahan.

  6. Staf Administrasi di Departemen Sosiologi, dan Pegawai Pendidikan bagian Departemen Sosiologi, yang selama ini membantu penulis dalam urusan administrasi di kampus.

  7. Kekasih tersayang, Tri Quari Handayani, S.Sos., beserta keluarga yang telah memberikan semangat, dukungan, doa selama 5 tahun dan membantu penulis dalam proses penulisan skripsi ini selesai serta berjuang bersama untuk menjadi orang-orang sukses yang menjadi semangat penulis untuk menyelesaikan kuliah ini.

  8. Sahabat-sahabat tercinta, Winandar Yoga, S.Sos., Atikah Rahman, S.Pd, Hening Kinasih, S.Sos, Hivo Heradini Lubis, S.Sos, Natalia Sinaga, S.Sos, Sonya Adelina Hutagalung, S.Sos, Veby Veny Velecya Pane, S.Sos, Johan Simamora, S.Sos, Wensdy Tindaon, S.Sos, Imam Syafi’i, S.P.,Warren Stifo, Maykel Rizky atas semua dukungan dan bantuan kalian selama ini, serta kebersamaan kita yang tidak terlupakan. Semoga persahabatan kita tidak hanya sampai disini.

  9. Komunitas Ganbare, Ibu Dra.Linda Elida, M.Si sebagai ketua Pembina, Bang Reza, Bang Putra, Bang Sharul, Yani, Mbak Yuli dan anggota lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan banyak dukungan, ilmu dan pengalaman dalam berorganisasi.

  10. Teman-teman Sosiologi stambuk 2010 yang tidak bisa penulis ucapkan satu persatu, terimakasih atas dukungan dan kenangan yang telah kita jalani selama perkuliahan dan semoga hubungan kita semua tetap terus terjalin.

  11. Semua Informan yang telah membantu penulis dan telah bersedia meluangkan waktu untuk menjawab kuesioner yang diberikan oleh penulis.

  12. Semua pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

  Atas dukungan berbagai pihak tersebut, penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi berbagai pihak yang membutuhkan.

  Penulis, MUHAMMAD YAMIN

  

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAKSI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

  27 3.2 Lokasi penelitian .....................................................

  3.7 Keterbatasan Penelitian……………………………. 30

  30

  30 3.6 Jadwal Kegiatan ........................................................

  28 3.5 Interprestasi Data .....................................................

  28 3.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................

  3.1.2 Informan ..........................................................

  27

  3.1.1 Unit Analisis ...................................................

  27

  27 3.3 Unit Analisis dan Informan ......................................

  24 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis penelitian ........................................................

  BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang .........................................................

  21 2.5 Bentuk-bentuk Interaksi Sosial …………………….

  19 2.4 Faktor-faktor Terjadinya Interaksi Sosial ………….

  17 2.3 Syarat Terjadinya Interaksi .....................................

  12 2.2 Interaksi Sosial .........................................................

  10 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pola Adaptasi ............................................................

  10 1.5. Definisi Konsep ........................................................

  9 1.4.2 Manfaat Praktis ...............................................

  9 1.4.1 Manfaat Teoritis ..............................................

  9 1.4. Manfaat Penelitian ...................................................

  8 1.3. Tujuan Penelitian .....................................................

  1 1.2. Rumusan Masalah ....................................................

  BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN PROFIL INFORMAN

  4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ......................................

  55 4.3.8 Mukti Amsar………………………………... .

  74 4.6 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua.…………...

  4.5.4 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua terhadap Ekonomi ....................................................................

  70

  4.5.3 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua Terhadap Mahasiswa Daerah Lain…………………………. ...

  67

  4.5.2 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua Terhadap Lingkungan Sosial .....................................................

  64

  4.5.1 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua Terhadap Alam

  63

  61 4.5 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua……… ..................

  4.4 Latar Belakang Hadirnya Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara………………………...

  60

  58 4.3.10 Eko Sunantri ………………………………..

  56 4.3.9 Ira Atiqah Zahra…………………………… ...

  52 4.3.7 Debora Indriyan…………………………….. .

  32 4.2 Karakteristik Informan .............................................

  41

  38 4.2.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur ….

  39

  4.2.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Agama .............................................................

  39

  4.2.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Lama Tinggal 40 4.2.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Fakultas ..

  40 4.2.5 Karakteristik Informan Berdasarkan Suku …. .

  4.3 Profil Informan Mahasiswi dalam Realita Kehidupan Dunia Gemerlap …………………………………………..

  50 4.3.6 Eva Celia Homer………………………….. ...

  42 4.3.1 Paskalis Tugomo …………………………….

  42 4.3.2 Uta ………………………………………. .....

  44 4.3.3 Elliyus Pase ………………………………. ....

  46

  4.3.4 Rince Wenda…………………………………

  49 4.3.5 Berlinda Wakerkwa………………………… ..

  76

  4.6.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua Secara Langsung …………………………………. .

  76

  4.6.1.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Mahasiswa dari Daerah Lain.………………………

  77

  4.6.1.2 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Masyarakat Sekitar.……………………… ...............

  82

  4.6.2 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua Secara Tidak Langsung. ..................................................................

  85

  4.6.2.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Keluarga dan Teman di Papua. .................................

  86

  4.7 Interaksi Sebagai Bentuk Proses Adaptasi Mahasiswa Asal Papua ……………… .................................

  90

  4.8 Pola dan Klasifikasi Informan Sesuai Dengan Adaptasi dan Interaksi…………………………………………….

  93

  4.8.1 Pola Adaptasi dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua ………………………………………………

  93

  4.8.2 Klasifikasi Informan Sesuai Dengan Adaptasi dan Interaksi.……………….. ...................................

  94

  4.9 Tanggapan Mahasiswa Yang Dari Daerah Lain Terhadap Mahasiswa Asal Papua………………………………………

  99 BAB V PENUTUP

  5.1 Kesimpulan .................................................................... 103

  5.2 Saran ………………………………………………. 104

  DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….. 105 LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur …………… 39 Tabel 4.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Agama …. ............

  39 Tabel 4.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Lama Tinggal … ..

  40 Tabel 4.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Fakultas …. ..........

  40 Tabel 4.5 Karakteristik Informan Berdasarkan Suku …. ................

  41

  

ABSTRAK

  Adaptasi dan interaksi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan, penyesuaian ini dapat berarti mengubah diri pribadi sesuai dengan keadaan lingkungan, juga dapat berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan pribadi. Interaksi sosial adalah proses timbal balik antara individu dengan individu ataupun dengan kelompok. Mahasiswa asal Papua Mahasiswa Papua di Medan adalah salah satu contoh kelompok remaja yang melakukan migrasi dengan alasan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda, mahasiswa Papua tentu saja dituntut untuk dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di Medan yang umumnya beretnis Batak, Melayu Deli, Jawa, Cina dan suku lainnya

  Dalam penelitian ini, tinjauan pustaka yang digunakan adalah pola adaptasi untuk melihat proses sosial mahasiswa asal Papua. Interaksi sosial yaitu syarat terjadinya dan bentuk-bentuk interaksi sosial yang digunakan untuk melihat pola interaksi sosial mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara.

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menginterpretasikan data secara kualitatif tentang Pola Adaptasi dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua Dengan Mahasiswa Dari Daerah Lain (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara). Metode pengumpulan data penelitian ini adalah menggunakan pedoman wawancara mendalam dan observasi. Unit analisis penelitian meliputi informan kunci dan informan biasa, yang meliputi mahasiswa asal Papua dan mahasiswa asal daerah lain yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Interpretasi data dilakukan secara kualitatif dengan perbandingan studi pustaka untuk mendapatkan kesimpulan penelitian yang akurat sesuai dengan tujuan penelitian.

  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pola adaptasi dan interaksi mahasiswa asal papua dan mahasiswa daerah lain bersifat akomodasi toleransi. Tanggung jawab dan pendampingan senior pada tahun 2012 yang menjadi mahasiswa asal Papua pertama yang bertanggung jawab terhadap mahasiswa asal Papua lainnya yaitu pada masa orientasi waktu pertama kali hadir di Universitas Sumatera Utara. Adaptasi mahasiswa asal Papua mencakup adaptasi ataupun menyesuaikan diri dengan : alam (cuaca, iklim, makanan, minuman, air, dan tempat tinggal), lingkungan sosial (bahasa, budaya lokal, orang-orang di sekitar tempat tinggal maupun lingkungan kampus), dengan mahasiswa daerah lain (baik di kampus maupun yang tinggal di asrama ataupun yang tinggal diluar), ekonomi (kondisi sosial ekonomi mahasiswa asal Papua). Interaksi Sosial yang bersifat langsung dan interaksi sosial bersifat tidak langsung yang dilakukan oleh mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara. Kata kunci : adaptasi, interaksi, mahasiswa asal Papua, mahasiswa asal daerah lain.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang mampu menciptakan

  makna bagi dunianya melalui adaptasi ataupun interaksi. Pola interaksi merupakan suatu cara, model, dan bentuk-bentuk interaksi yang saling memberikan pengaruh dan mempengaruhi dengan adanya timbal balik guna mencapai tujuan. Tanpa adanya interaksi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain.

  Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar perorangan, antar kelompok manusia dan antar orang dengan kelompok masyarakat. Interaksi terjadi apabila dua orang atau kelompok saling bertemu dan pertemuan antara individu dengan kelompok dimana komunikasi terjadi diantara kedua belah pihak (Yulianti, 2003: 191).

  Adaptasi dan interaksi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan, penyesuaian ini dapat berarti mengubah diri pribadi sesuai dengan keadaan lingkungan, juga dapat berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan pribadi (Gerungan,1991:55). Adaptasi sering dibaurkan dengan penyesuaian. Oleh karenanya adaptasi tentu merupakan bagian dari rangkaian usaha manusia untuk menyesuaikan diri atau memberi respons terhadap perubahan lingkungan fisik maupun sosial yang terjadi secara temporal. Adaptasi dilakukan ketika terjadi suatu ketidakseimbangan dalam suatu situasi dan kondisi (keadaan atau sistem). Ketidakseimbangan terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungan, tuntutan lingkungan yang berlebih atau kebutuhan yang tidak sesuai dengan situasi lingkungan.

  Tuntutan meraih pendidikan berkualitas merupakan salah satu faktor yang mendorong mahasiswa bermigrasi dari satu daerah ke daerah lain. Tetapi, migrasi yang terlalu jauh jaraknya serta memiliki atmosfer budaya dan sosial yang sangat jauh berbeda dengan daerah asal kelahiran akan membuat adaptasi dan interaksi semakin berkembang. Salah satunya adalah mahasiswa asal Papua yang berada di Kota Medan.

  Papua merupakan sebuah pulau yang terletak di ujung timur Indonesia. Namun, di pulau ini tidak hanya diisi oleh bagian Negara Republik Indonesia saja, tetapi ada negara lain yang menjadi satu pulau dengan Papua yaitu Papua Nugini atau East New Guinea yang berada di sebelah timur Papua Indonesia. Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, namun sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua provinsi di mana bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Provinsi ini memiliki berbagai macam suku yang mendiami provinsi tersebut diantaranya adalah suku asmat, dani, biak, komoro, dan sebagainya. di akses pada tanggal 23 Januari 2015 pukul 18.00).

  Masyarakat Papua yang mendiami daerah pesisir lebih terbuka terhadap adanya pengaruh dari luar, sudah sejak lama ujung barat laut Irian dan seluruh pantai utara penduduknya dipengaruhi oleh penduduk dari Kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, Tidore, Seram, dan Key), maka adalah tidak mengherankan apabila suku-suku bangsa disepanjang pesisir pantai (Fak-Fak, Sorong, Manokwari dan Teluk Cenderawasih) lebih terbuka menerima pengaruh dari luar. Mengenai kebudayaan penduduk atau kultur masyarakatnya, dapat dikatakan beraneka ragam, beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup tinggi yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang lebih dikenal sebagai Suku Asmat. Selain itu dari segi bahasa digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan diklasifikasikan dalam 31 kelompok bahasa dimana jumlah pemakai bahasa tersebut sangat bervariasi mulai dari puluhan orang sampai puluhan ribu orang.

  Kemudian, jika dilihat dari perkembangan pendidikan di daerah Papua, pada masa penjajah, pendidikan mendapat jatah yang cukup besar dalam anggaran pemerintahan Belanda. Akan tetapi pendidikan tidak disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja disektor perekonomian modern, dan lebih diutamakan nilai-nilai Belanda dan agama Kristen. Pada akhir tahun 1961 rencana pendidikan diarahkan kepada usaha peningkatan keterampilan, tetapi lebih diutamakan pendidikan untuk kemajuan rohani dan kemasyarakatan. Pada tahun 1950-an pendidikan dasar terus dilakukan oleh kedua misi keagamaan tersebut. Pada tahun 1961 tercatat murid yang berasal dari papua belajar di sekolah menengah pertama, belajar diluar negeri, serta ada yang masuk sekolah pertanian maupun sekolah perawat kesehatan. Tahun 2006 mulai terjadi kemunduran pendidikan di daerah Papua mengingat masa Belanda di Papua buku-bukupengajar hingga prabot selalu dipenuhi untuk masyarakat Papua.

   diakses pada tanggal 3 Juni 2015 pukul 14.00 WIB)

  Dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Papua masih menjadi provinsi yang tertinggal dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dibandingkan dengan provinsi yang lain. Hal ini disebabkan karena kurangnya fasilitas dan tenaga pengajar yang memadai. Anak usia 7-12 tahun yang seharusnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) tetapi tidak mendapat kesempatan untuk mengeyam bangku SD. Hal itu dikarenakan terbatasnya ketersediaan gedung sekolah disejumlah kampung yang tersebar di gunung dan lembah yang belum memiliki infrastruktur Pendidikan Dasar. mendasar-pendidikan-di-papua di akses pada tanggal 23 Januari 2015 pukul 15.00).

  Pemerintah pusat dan DPR telah mengeluarkan UU Nomor 21/2001 tentang otonomi khusus bagi Papua tujuannya untuk mengejar ketertinggalan yang pada hakikatnya untuk melakukan percepatan pembangunan bagi Provinsi Papua dan Papua Barat agar bisa sederajat dengan provinsi lain. Pemerintah membuat sebuah lembaga yang bernama Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) yang bertujuan untuk mendukung koordinasi, memfasilitasi, dan mengendalikan pelaksanaan percepatan pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. UP4B dibentuk dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011 dengan masa kerja sampai 2014 yang berkedudukan di Ibukota Provinsi Papua.

  (http://www.up4b.go.id/index.php/component/content/article/15-halaman/37- tentang diakses pada tanggal 11 Januari 2015 pukul 13.00).

  Salah satu yang menjadi fokus utama dalam program UP4B yang dibuat oleh pemerintah adalah Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK). Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) ini memberikan kesempatan bagi putra/putri asli Papua lulusan SMA/SMK untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di luar Papua. Program ini dimulai sejak 2012 dengan mengirimkan 770 siswa lulusan SMA/SMK ke 32 PTN melalui koordinasi, sinkronisasi dan fasilitasi UP4B dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTNI) serta Pemerintah Provinsi Papua, Papua Barat, dan Kabupaten/Kota.

   diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 20.00).

  Demikian juga halnya dengan mahasiswa perantau seperti mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua yang diterima melalui program Afirmasi.

  Universitas Sumatera Utara mulai menerima mahasiswa Afirmasi sejak tahun pertama diadakan yaitu tahun 2012. Seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tersebut tinggal di asrama putra dan asrama putri serta diberikan biaya hidup perbulan dan akan kembali ke daerah masing-masing untuk membangun daerahnya setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Sumatera Utara.

  Mahasiswa Papua di Medan adalah salah satu contoh kelompok remaja yang melakukan migrasi dengan alasan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda, mahasiswa Papua tentu saja dituntut untuk dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di Medan yang umumnya beretnis Batak, Melayu Deli, Jawa, Cina dan suku lainnya Tetapi pada kenyataannya, mereka mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan berinteraksi terkait adanya perbedaan nilai, norma, kebiasaan, dan etika sosial yang berlaku di masyarakat.

  Perbedaan budaya, karakter, adat-istiadat, dialek bahkan lingkungan menyebabkan mahasiswa Papua mengalami kesulitan besar dalam melakukan adaptasi dan interaksi sosial. Selain itu, kebiasaan perilaku mahasiswa Papua lainnya adalah berbicara dengan suara keras, suka tertawa lantang, bertemperamen tinggi sehingga sering menyulut kegaduhan atau perkelahian yang membuat interaksi menjadi kurang efektif dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan serta proses belajar yang akan mereka tempuh tidak efektif.

  Keberadaan mahasiswa pendatang atau perantau di daerah yang baru akan menyebabkan suatu perasaan asing bagi para mahasiswa pendatang ketika berada di lingkungan yang baru. Ketika pertama kali berada di sebuah lingkungan baru, berbagai macam ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan dialami oleh hampir semua individu. Ketidakpastian dan kecemasan ini relatif berbeda pula antar individu ketika melakukan komunikasi yang pada gilirannya akan menyebabkan munculnya tindakan atau perilaku yang tidak fungsional. Ekspresi perilaku yang tidak fungsional tersebut antara lain tidak memiliki kepedulian terhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi, menghindari komunikasi dan cenderung menciptakan permusuhan (Turnomo Rahardjo: 2005). Misalnya, salah satu kecemasan yang dialami bagi mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua ini adalah dalam hal berkomunikasi karena ketika individu masuk dan mengalami kontak budaya lain. Dalam hal ini mahasiswa asal Papua dan mahasiswa yang berasal dari daerah lain melakukan proses komunikasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan terjadinya interaksi diantara mereka. Karena itu, sangat wajar ketika individu masuk dalam lingkungan budaya baru mengalami kesulitan bahkan tekanan mental karena belum terbiasa dengan hal-hal yang ada di lingkungan baru.

  Mahasiswa asal Papua yang datang ke Medan sebagai suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian, bertingkah laku, cara berbicara, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. Apalagi, budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan, namun budaya juga meliputi etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria wanita, konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, ketertiban lalulintas, kebiasaan dan sebagainya (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 97). Tetapi dengan semua perbedaan yang ada, mereka harus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Adaptasi yang dilakukan oleh para mahasiswa asal Papua merupakan aktifitas yang dilakukan untuk mengarah ke suatu tujuan, yaitu proses sosialisasi untuk terciptanya harmoni kelompok, sedangkan aktifitas untuk adaptasi merupakan aktifitas tujuannya.

  Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pola adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa yang berasal dari Papua dengan mahasiswa dari daerah lain dengan studi deskriptif pada mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara Medan.

1.2 Rumusan Masalah

  Penelitian ini menetapkan objek penelitiannya meliputi mahasiswa yang berasal dari Papua dan mahasiswa dari daerah lain yang bermukim di Asrama Putra Universitas Sumatera Utara Medan. Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimana adaptasi mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain di Universitas Sumatera Utara?

  2. Bagaimana interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain di Universitas Sumatera Utara?

  1.3. Tujuan Penelitian

  Tujuan umum penelitian adalah untuk mengetahui pola adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa asal Papua dan mahasiswa dari daerah lain. Sedangkan tujuan khusus penelitian adalah sebagai berikut ;

  1. Untuk mengetahui dan menginterpretasikan pola adaptasi mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain di Universitas Sumatera Utara

  2. Untuk mengetahui dan menginterpretasikan pola interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain di Universitas Sumatera Utara.

  1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat teoritis 1.

  Untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu Sosiologi Perkotaan khususnya terkait dengan pola adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain.

  2. Untuk menambah referensi kajian penelitian yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian bagi mahasiswa sosiologi selanjutnya, serta dapat memberikan sumbangan bagi cakrawala pengetahuan.

1.4.2. Manfaat Praktis

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah, Universitas Sumatera Utara dan pihak terkait lainnya berupa fakta-fakta di lapangan dalam meningkatkan daya kekritisan, analisis serta berguna bagi masyarakat sehingga memperoleh pengetahuan tambahan tentang pola adaptasi dan interaksi mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa daerah lain di Universitas Sumatera Utara.

1.5 Definisi Konsep

  Penulis berharap melalui penelitian ini, ditemukan beberapa pola adaptasi dan interaksi mahasiswa yang bermukim di tengah lingkungan komunitas mahasiswa seperti di Universitas Sumatera Utara Medan. Agar penelitian ini tetap pada fokus penelitian dan tidak menimbulkan penafsiran ganda pada kemudian hari maka penelitian ini perlu dibuat defenisi konsep. Beberapa konsep yang digunakan, anatara lain :

1. Mahasiswa berasal dari Papua adalah individu yang berasal dari daerah

  Papua dan mengambil peran sebagai salah seorang masyarakat, yang terdaftar dalam sebuah lembaga pendidikan formal, yakni Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Sumatera Utara.

  2. Mahasiswa berasal dari daerah lain adalah individu yang berasal dari berbagai daerah yang sedang mengikuti program Perguruan Tinggi di Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian ini mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa local yang umumnya beretnis Batak, Melayu Deli, Jawa maupun Cina.

  3. Pola adaptasi adalah bentuk atau model adaptasi yang berlangsung antara mahasiswa Papua dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain di Universitas Sumatera Utara Medan 4. Pola interaksi adalah adalah bentuk atau model interaksi yang berlangsung antar mahasiswa Papua dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain di Universitas Sumatera Utara Medan .

  5. Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi adalah salah stu program UP4B yang dibuat oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi putra dan putri yang berasal dari daerah pinggiran salah satunya berasal dari Papua untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1Pola Adaptasi

  Menurut Soekanto (2006), adaptasi adalah proses penyesuaian dari individu, kelompok maupun unit sosial terhadap norma-norma, proses perubahan, ataupun suatu kondisi yang diciptakan. Adaptasi antar budaya dalam “Stranger Adaptation” adalah penyesuaian diri oleh seseorang atau sekelompok orang saat memasuki budaya yang berbeda (Furnham, 1992). Menurut Soeharto Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan.” Menurut Karta Sapoetra membedakan adaptasi mempunyai dua arti. Adaptasi yang pertama disebut penyesuaian diri yang autoplastis (auto artinya sendiri, plastis artinya bentuk), sedangkan pengertian yang kedua disebut penyesuaian diri yang allopstatis (allo artinya yang lain, palstis artinya bentuk). Jadi adaptasi ada yang artinya “pasif” yang mana kegiatan pribadi ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang artinya “aktif”, yang mana pribadi mempengaruhi lingkungan (Karta Sapoetra: 1987).

  Pada hakekatnya adaptasi merupakan suatu proses penyesuaian diri setiap individu untuk memasuki ke dalam suatu kelompok masyarakat sehingga adaptasi memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap individu di dalam suatu kelompok untuk tetap melangsungkan kehidupan. Menurut Suparlan (1993), adapun syarat-syarat dasar tersebut mencakup:

  1) Syarat dasar alamiah-biologi merupakan manusia harus makan dan minum untuk menjaga kesetabilan temperatur tubuhnya agar tetap berfungsi dalam hubungan harmonis secara menyeluruh dengan organ-organ tubuh lainya.

  2) Syarat dasar kejiwaan merupakan manusia membutuhkan perasaan tenang yang jauh dari perasaan takut, keterpencilan gelisah.

  3) Syarat dasar sosial merupakan manusia membutuhkan hubungan untuk dapat melangsungkan keturunan, tidak merasa dikucilkan, dapat belajar mengenai kebudayaanya, untuk dapat mempertahankan diri dari serangan musuh.

  Dalam proses kehidupan manusia, individu tidak dapat begitu saja untuk melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya, karena individu tersebut mempunyai lingkungan diluar dirinya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial karena setiap lingkungan tersebut mempunyai aturan dan norma-norma yang membatasi tingkah laku individu tersebut. Soerjono Soekanto (Soekanto, 2000: 10-11) memberikan beberapa batasan pengertian dari adaptasi sosial, yakni: 1) Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan. 2) Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan ketegangan. 3) Proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang berubah. 4) Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan. 5)

  Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem.

  6) Penyesuaian budaya dan aspek lainnya sebagai hasil seleksi alamiah.

  Dari batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa adaptasi merupakan proses penyesuaian. Menurut Aminuddin (2000), menyebutkan bahwa penyesuaian dilakukan dengan tujuan-tujuan tertentu di antaranya: 1) Mengatasi halangan-halangan dari lingkungan. 2) Menyalurkan ketegangan sosial. 3) Mempertahankan kelanggengan kelompok atau unit sosial. 4) Bertahan hidup.

  Bagi manusia, lingkungan yang paling dekat dan nyata adalah alam fisio- organik. Baik lokasi fisik geografis sebagai tempat pemukiman yang sedikit banyaknya mempengaruhi ciri-ciri psikologisnya, maupun kebutuhan biologis yang harus dipenuhinya, keduanya merupakan lingkungan alam fisio-organik tempat manusia beradaptasi untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Alam fisio organik disebut juga lingkungan eksternal. Adaptasi dan campur tangan terhadap lingkungan eksternal merupakan fungsi kultural dan fungsi sosial dalam mengorganisasikan kemampuan manusia yang disebut teknologi. Keseluruhan prosedur adaptasi dan campur tangan terhadap lingkungan eksternal, termasuk keterampilan, keahlian teknik, dan peralatan mulai dari alat primitif sampai kepada komputer elektronis yang secara bersama-sama memungkinkan pengendalian aktif dan mengubah objek fisik serta lingkungan biologis untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan hidup manusia. (Alimandan, 1995:56).

  Selama adaptasi berlangsung dan keselurahan prosedur adaptasi berusaha untuk dipenuhi oleh setiap individu serta adanya campur tangan dari lingkungan eksternal, setiap individu akan mengalami perubahan dalam kehidupan sosialnya karena setiap individu akan menemukan individu lain dengan latar belakang yang berbeda, dimana mereka mulai melakukan interaksi dan lambat laun perbedaan yang ada diantara mereka akan menciptakan perubahan-perubahan sosial baru dalam kehidupannya. Perubahan perubahan tersebut meliputi: perubahan sikap dan perilaku, pemahaman terhadap toleransi dan toleransi (Walgito: 2010).

  Setiap migran atau pesinggah yang menciptakan perubahan-perubahan sosial baru merupakan salah satu upaya di setiap individu masuk ke dalam suatu budaya yang tidak dikenal. Menurut Kim (1995) dalam konteks ini, ia mengembangkan pemikiran tentang sesuatu yang terjadi ketika individu, yang lahir dan dibesarkan dalam suatu budaya, memasuki budaya lain yang tidak dikenal. Begitu juga dengan penyesuaian diri mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari daerah lain di lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Menurut Winata (2014), secara konseptual intervensi pekerja social terhadap mahasiswa yakni penyesuaian diri mahasiswa dengan individu lain dan kelompok didalam kampus dan lingkungan tempat tinggalnya. Menurut peneliti, mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri dengan individu lain adalah mahasiswa yang mudah bergaul dan pandai membawa diri dengan lingkungan social yang baru. Penyesuaian diri terhadap individu antara satu sama lain merupakan indikator keberhasilan mahasiswa dalam berinteraksi di masyarakat dan lingkungan. Sedangkan secara operasional, mahasiswa yang sukses beradaptasi terhadap lingkungan kampus adalah mahasiswa yang mampu menjalankan perannya yakni belajar. Sebagai penunjang kesuksesan mahasiswa dalam beradaptasi dilingkungan kampus mahasiswa dituntut untuk dapat mengembangkan diri dengan cara aktif kuliah, mengerjakan tugas, belajar kelompok dan memanfaatkan perpustakaan.

  Selanjutnya, menurut Winata (2014) mengatakan ada beberapa faktor penghambat dan pendukung dalam proses adaptasi bagi mahasiswa pendatang.

  Faktor penghambat yang dimaksud adalah : 1)

  Perbedaan-perbedaan dalam keyakinan inti, nilai-nilai, dan norma-norma situasional antara di tempat asal dan di tempat baru.

  2) Hilangnya gambaran-gambaran budaya asal yang dipegang dan semua citra dan simbol yang familiar yang menandakan bahwa identitas yang dulu familiar dari para pendatang baru telah hilang.

  3) Rasa ketidakmampuan para pendatang dalam merespons peraturan baru secara tepat dan efektif.

  Sedangkan faktor pendukung yang dimaksud adalah : 1) Rasa tenteram dan meningkatnya harga diri. 2) Fleksibilitas dan keterbukaan kognitif. 3)

  Kompetensi dalam interaksi sosial dan meningkatnya kepercayaan diri dan rasa percaya pada orang lain.

  Di dalam adaptasi juga terdapat pola-pola dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Menurut Suparlan (2002), pola adalah suatu rangkaian unsur-unsur yang sudah menetap mengenai suatu gejala dan dapat dipakai sebagai contoh dalam hal menggambarkan atau mendeskripsikan gejala itu sendiri. Dari definisi tersebut diatas, pola adaptasi dalam penelitian ini adalah sebagai unsur-unsur yang sudah menetap dalam proses adaptasi yang dapat menggambarkan proses adaptasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi, tingkah laku maupun dari masing-masing adat- istiadat kebudayaan yang ada. Proses adaptasi berlangsung dalam suatu perjalanan waktu yang tidak dapat diperhitungkan dengan tepat. Kurun waktunya bisa cepat, lambat, atau justru berakhir dengan kegagalan.

2.2 Interaksi Sosial

  Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia dan antar orang dengan kelompok-kelompok masyarakat. Interaksi terjadi apabila dua orang atau kelompok saling bertemu dan pertemuan antara individu dengan kelompok dimana komunikas terjadi diantara kedua belah pihak (Yulianti, 2003: 91). Seiring dengan pemahaman interaksi sosial yang terus berkembang maka, Bonner menyebutkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih, sehingga kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, memperbaiki kelakuan orang lain, dan sebaliknya (Gunawan.2000;31)

  Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena itu tanpa adanya interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

  Interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu dengan golongan didalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang diharapkan dan dalam usaha mereka untuk mencapai tujuannya (Ahmadi, 2004: 100).

  Salah satu yang melandasi interaksi sosial adalah teori interaksi simbolik yang dipergunakan di penilitian dalam aplikasikannya. Menurut Blumer

  (Ritzer:2007), istilah interaksi simbolik menunjuk kepada sifat khas dari interaksi manusia. Kekhasnya adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefenisikan tindakan dan bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung tetapi didasarkan atas makna yang diberikan terhadap orang lain tersebut.

  Menurut Fahroni (2009), makna-makna tersebut yang diberikan oleh orang lain tersebut berasal dari cara-cara orang lain bertindak terhadapnya dalam kaitannya dengan sesuatu. Tindakan-tindakan yang dilakukan akan melahirkan batasan bagi orang lain. Namun, dalam perkembangan Blumer, mengemukakan bahwa aktor memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokan, dan mengkonformir makna dalam hubungannya dengan situasi, dimana dia ditempatkan dan diarahkan tindakannya seperti yang dikatakan Blumer, bahwa sebenarnya interprestasi seharusnya tidak dianggap sebagai proses pembentukan dimana makna yang dipakai dan disempurnakan sebagai intruniens bagi pengarahan dan pembentukan tindakan.

  Beranjak dari teori ini, maka tindakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang berasal dari Papua dan mahasiswa yang berasal dari daerah lainnya merupakan suatu proses interaksi yang berada didalamnya tercakup dari simbol- simbol masing-masing pihak saling menginterprestasikan makna yang ditangkapnya. Artinya tindakan mereka merupakan hasil dari pemaknaan masing- masing dari realitas sosial. Dengan demikian proses interaksi antara keduanya merupakan suatu proses yang saling stimulus, merespon tindakan dan hubungan sebagai hasil proses interprestasi dari masing-masing mahasiswa tersebut.

2.3 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

  Terjadinya interaksi sosial, karena adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan sosial. Menurut Rouceck dan Warren, interaksi adalah satu masalah pokok karena ia merupakan dasar segala proses sosial. Interaksi merupakan proses timbal balik, dengan mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain melalui Kontak. Kontak ini mungkin berlangsung melalui organisme, fisik, seperti dalam obrolan, pendengaran, melakukan gerakan pada beberapa bagian badan, melihat dan lain-lain lagi, atau secara tidak langsung melalui tulisan, atau dengan cara berhubungan dari jauh (Abdulsyani.2007;154)

  Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Menurut Soerjono Sukanto (2001), suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu: adanya kontak sosial, dan adanya komunikasi. Syarat terjadinya interaksi sosial terdiri atas kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik.

  1. Kontak Sosial Kata kontak terdapat dua buah kata yang berasal dari bahasa Latin yaitu

  Con atau Cum yang artinya bersama-sama dan tango yang artinya menyentuh (Soekanto:2001). Sehingga kontak dapat diartikan menyentuh bersama-sama.

  Namun sebagai gejala sosial, kontak dapat dilakukan tanpa harus dengan menyentuhnya, seperti berbicara dengan orang lain. Lebih lanjut Soekanto menyatakan bahwa kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu : 1.

  Antara individu dengan individu, hubungan timbal balik antara individu dan individu ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan, dan bertengkar.

  2. Antara individu dengan kelompok.

  3. Antara kelompok satu dengan kelompok yang lain.

  Kontak sosial dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung antara satu pihak dengan pihak yang lainnya. Kontak sosial tidak langsung adalah kontak sosial yang menggunakan alat sebagai perantara; misalnya ; melalui telepon, radio, surat, dan lain-lain. Sedangkan kontak sosial secara langsung, adalah kontak sosial melalui suatu pertemuan dengan bertatap muka dan berdialoq diantara kedua belah pihak tersebut. Yang paling penting dalam interaksis sosial tesebut saling mengerti antara kedua belah pihak; sedangkan kontak badaniah bukan lagi merupakan syarat utama dalam kontak sosial, oleh karena hubungan demikian belum tentu terdapat saling pengertian. Kontak sosial tejadi tidak semata-mata oleh karena adanya aksi belaka, akan tetapi harus memenuhi syarat pokok kontak sosial, yaitu reaksi (tanggapan) dari pihak lain sebagai lawan kontask sosial (Ibid;154).

  2. Komunikasi

  Menurut Soekanto (2001), pengertian komunikasi difokuskan pada tafsiran

seseorang terhadap kelakuan orang baik berupa pembicaraan, gerak-gerik, badan

  

maupun sikap guna menyampaikan pesan yang diinginkannya. Orang tersebut

kemudian memberi reaksi terhadap perasaan orang lain tersebut. Dengan adanya

komunikasi, maka sikap dan perasaan disatu pihak orang atau sekelompok orang

dapat diketahui dan dipahami oleh pihak orang atau sekelompok lainnya. Hal ini

berarti, apabila suatu hubungan sosial tidak terjadi komunikasi atau saling

mengetahui dan tidak saling memahami maksud masing-masing pihak, maka dalam

keadaan demikian tidak terjadi kontak sosial. Dalam komunikasi sosial masing-

masing orang yang sedang berhubungan; misalnya jabatan tangan dapat ditafsirkan

sebagai kesopanan, persahabatan, kerinduan, sikap kebanggaan dan lain-lain

(Ibid;155).

2.4 Faktor-faktor Terjadinya Interaksi Sosial

  Di dalam interaksi sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi

tersebut, yaitu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya interaksi tersebut.

  Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial sebagai berikut :

  

1. Situasi sosial (The nature of the social situation), memberi bentuk tingkah laku

terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut. Misalnya, apabila berinteraksi dengan individu lain yang sedang dalam keadaan berduka, pola interaksi yang digunakan jelas harus berbeda dengan pola interaksi yang dilakukan apabila dalam keadaan yang riang atau gembira, dalam hal ini tampak pada tingkah laku individu yang harus dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang sedang dihadapi.

2. Kekuasaan norma-norma kelompok (The norms prevailing in any given social group), sangat berpengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial antar individu.

  Misalkan, individu yang menaati norma-norma yang ada di dalam setiap berinteraksi individu tersebut tidak akan pernah membuat suatu kekacauan, berbeda dengan individu tidak menaati norma-norma yang berlaku, individu tersebut pasti akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan sosialnya, dan kekuasaan norma-norma itu berlaku untuk semua individu dalam kehidupan sosialnya.

  

3. Their own personality trends, adanya tujuan kepribadian yang dimiliki masing-

masing individu sehingga berpengaruh terhadap perilakunya. Misalkan, di dalam setiap interaksi individu pasti memiliki tujuan, hal ini dapat dilihat seorang anak berinteraksi dengan guru memiliki tujuan untuk menuntut ilmu di dunia sekolah, seorang pedagang sayur dengan ibu-ibu rumah tangga, memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sebagainya.

  

4. A person’s transitory tendencies (Setiap individu berinteraksi sesuai dengan

kedudukan dan kondisinya yang bersifat sementara). Pada dasarnya status atau kedudukan yang dimiliki oleh setiap individu adalah bersifat sementara, misalnya seorang warga biasa yang berinteraksi dengan ketua RT, maka dalam hubungan itu terlihat adanya jarak antara seorang yang tidak memiliki kedudukan yang menghormati orang yang memiliki kedudukan dalam kelompok sosialnya.

5. Adanya penafsiran situasi (The process of perceiving and interpreting a

  situation), di mana setiap situasi mengandung arti bagi setiap individu sehingga mempengaruhi individu untuk melihat dan menafsirkan situasi tersebut.

  Misalnya, apabila ada teman atau rekan yang terlihat murung dan suntuk, individu lain harus bisa membaca situasi yang sedang dihadapinya, dan tidak seharusnya individu lain itu terlihat bahagia dan ceria dihadapannya, bagaimanapun individu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang dihadapi, dan berusaha untuk membantu menafsirkan situasi yang tidak diharapkan menjadi situasi yang diharapkan (Santoso, 2004 : 12).

  Proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari faktor imitasi, sugesti, simpati, identifikasi dan empati (Setiadi: 2011) :

  1. Imitasi merupakan suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap, tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang.

  2. Sugesti merupakan rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga ia melaksanakan apa yang disugestikan tanpa berfikir rasional.

  3. Simpati merupakan suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada orang lain karena penampilan,kebijaksanaan atau pola pikirnya sesuai dengan nilai- nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati.

  4. Identifikasi merupakan keinginan sama atau identik bahkan serupa dengan orang lain yang ditiru (idolanya)

  5. Empati merupakan proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain. Proses empati biasanya ikut serta merasakan penderitaan orang lain.

  Jikatidak terjadi secara maksimal akan menyebabkan terjadinya kehidupan yang terasing. Faktor yang menyebabkan kehidupan terasing misalnya sengaja dikucilkan dari lingkungannya, mengalami cacat, pengaruh perbedaan ras dan perbedaan budaya. Demikian ulasan tentangbahwa inetraksi sosial merupakan syarat dari terjadinya adaptasi seorang individu dalam masyarakat.

2.5 Bentuk Interaksi Sosial

  Hendro Puspito (2003) menyatakan bahwa pada umumnya bentuk dan pola interaksi sosial ada 2 (dua) jenis yaitu proses sosial yang bersifat menggabungkan (associative processes) dan proses sosial yang menceraikan (dissociative process). Proses sosial yang mengarah menggabungkan ditujukan bagi terwujudnya nilai-nilai yang disebut kebijakan-kebijakan sosial seperti keadilan sosial, cinta kasih, kerukunan, solidaritas dan dikatakan sebagai proses positif. Sedangkan proses sosial menceraikan mengarah kepada terciptanya nilai- nilai negatif atau asosial seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan, pertentangan, perpecehan dan ini dikatakan proses negative.

  Menurut Hendro (2003), ada beberapa bentuk dari proses sosial asosiatif dan disosiatif. Bentuk-bentuk proses sosial asosiatif adalah:

  1. Kerja sama, ialah suatu bentuk proses sosial dimana dua atau lebih perorangan atau kelompok mengadakan kegiatan bersama guna mencapai tujuan yang sama. Bentuk ini paling umum terdapat di antara masyarakat untuk mencapai dan meningkatkan prestasi material maupun non material.

2. Asimilasi, ialah berasal dari kata latin assimilare yang artinya menjadi sama.

  Definisi sosiologisnya adalah suatu bentuk proses sosial dimana dua atau lebih individu atau kelompok saling menerima pola kelakuan masing-masing sehingga akhirnya menjadi satu kelompok yang terpadu. Mereka memasuki proses baru menuju penciptaan satu pola kebudayaan sebagai landasan tunggal untuk hidup bersama.

  3. Akomodasi, berasal dari kata latin acemodare yang berarti menyesuaikan.

  Definisi sosiologisnya adalah suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya dua atau lebih individu atau kelompok berusaha untuk tidak saling mengganggu dengan cara mencegah, mengurangi atau menghentikan ketegangan yang akan terjadi atau yang sudah terjadi. Akomodasi ada 2 bentuk yakni toleransi dan kompromi. Bagi pihak pihak yang terlibat dalam proses ini, bersedia menanggung derita akibat kelemahan yang dibuat masing masing disebut toleransi. Bila pihak masing masing mau memberikan konsensi kepada pihak lain, yang berarti mau melepaskan sebagian tuntutan yang semula dipertahankan sehingga ketegangan menjadi kendor, disebut kompromi

  Bentuk-bentuk disosiatif terdiri dari: 1.

  Persaingan, adalah bentuk proses sosial dimana satu atau lebih individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan bersama dengan cara yang lebih cepat dan mutu yang lebih tinggi. Dengan adanya persaingan itu, masyarakat mengadakan seleksi untuk mencapai kemajuan.

  2. Penghalang (oposisi), berasal dari bahasa Latin opponere yang artinya menempatkan sesuatu atau seseorang dengan maksud permusuhan. Oposisi adalah proses sosial dimana seseorang atau sekelompok orang berusaha menghalangi pihak lain mencapai tujuannya.

  3. Konflik, berasal dari bahasa latin confligere yang berarti saling memukul.

  Konflik berarti suatu proses dimana orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya Bentuk-bentuk interaksi dapat menguntungkan bila berlangsung dalam perhitungan rasional dan mendatangkan keuntungan bagi yang menjalankannya.

  Akan tetapi dapat menjadi merugikan bila kerjasama dan persaingan atau pertikaian dijalankan berdasarkan emosional dan sentimen yang tidak terkontrol sehingga hasilnya kerap kali membawa kerugian serta kekecewaan.

  Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa interaksi sosial yang berkesinambungan cenderung membentuk keteraturan. Bila hubungan yang terjadi sedemikian rupa didasarkan oleh status dan peranannya maka hubungan itu dinamakan dengan relasi sosial. Hubungan antar jemaat adalah hubungan yang didasarkan pada status dan peranan semua pihak. Dengan demikian hubungan antar jemaat harus menggambarkan ciri yang khas dari relasi sosial

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian (Bungin, 2001:48). Jenis penelitian ini juga mendapatkan data sebanyak mungkin sehingga memberikan gambaran yang jelas dan tepat tentang apa yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian. Demikian juga halnya dengan penelitian tentang pola adaptasi dan interaksi antara mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa asal daerah lain, Pendekatan penelitian secara deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi- informasi mengenai aktifitas dalam membangun sikap diantara mereka.

  3.2 Lokasi Penelitian

  Lokasi penelitian adalah di Kampus Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jln Dr. Mansyur, Medan

   3.3 Unit dan Analisis dan Informan

3.3.1 Unit Analisis

  Unit analisis dalam penelitian ini yang menjadi unit analisisnya adalah mahasiswa asal Papua dan mahasiswa asal daerah lain yang sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara.

3.3.2. Informan

  Informan merupakan subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian (Bungin, 2007 : 76). Adapun teknik pengambilan informan adalah menggunakan teknik Snowball Sampling. Snowball Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh teman-temannya untuk dijadikan sample (Sugiyono:2013). Alasan peneliti menggunakan teknik Snowball Sampling untuk mencari informan dikarenakan untuk mempermudah pengambilan data dari orang-orang yang terpercaya dan mengerti tentang mahasiswa asal Papua yang kemudian menunjukan orang lain selanjutnya untuk menjadikan informan berikutnya. Dengan karakteristik informan penelitian adalah: 1.

  Mahasiswa asal Papua yang aktif dan sedang menjalani masa studi di Universitas Sumatera Utara.

  2. Mahasiswa asal Papua yang sudah tinggal minimal 1 tahun.

  3. Mahasiswa yang berasal dari daerah lain yang sudah tinggal minimal 1 tahun.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan dua sumber data yaitu : 1). Data primer yaitu informasi yang diperoleh dari informan penelitian di lokasi penelitian. Untuk mendapatkan data primer dapat dilakukan dengan : a.

  Observasi yaitu pengamatan oleh peneliti baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Namun, dalam penelitian ini metode observasi yang digunakan peneliti adalah metode observasi langsung. Metode observasi langsung dilakukan melalui pengamatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian pada saat peristiwa sedang berlangsung (Nawawi, 2006: 67). Observasi ini dilakukan untuk mengamati aktifitas mahasiswa asal Papua baik dari pola interaksi maupun pola adaptasi mereka dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Oleh karena itu, data dari metode observasi langsung diharapkan dapat menjadi penunjang data dari metode wawancara.

  b.

  Wawancara mendalam (indepth interview) adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancari, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara (Bungin, 2005 : 126). Data yang diperoleh dari wawancara mendalam yaitu berupa pengetahuan informan mengenai pola interaksi dan pola adaptasi mahasiswa yang berasal dari Papua dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

  2). Data sekunder yaitu data yang berkaitan dengan objek penelitian namun bukan dari penelitian di lapangan. Data sekunder dalam penelitian ini dapat diperoleh dari studi kepustakaan yakni dengan mencari data dari artikel, surat kabar, tabloid, buku, internet ataupun sumber lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yaitu mahasiswa asal Papua.

  3.5 Interpretasi Data

  2 ACC Judul √

  Mengingat penelitian ini menyangkut tentang pola adaptasi dan interaksi mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara, ada beberapa keterbatasan yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain : 1.

  3.7 Keterbatasan Penelitian

  10 Sidang Meja Hijau √

  9 Penulisan Laporan Akhir √ √ √ √ √ √

  8 Bimbingan Skripsi √ √ √ √ √

  7 Pengumpulan data dan Analisis data √ √ √ √

  6 Penelitian Ke Lapangan √ √ √

  5 Revisi Proposal Penelitian √

  4 Seminar Proposal Penelitian √

  3 Penyusunan Proposal Penelitian √ √ √

  1 Pra Proposal √

  Data-data yang sudah dikumpulkan akan diinterpretasikan dengan menggunakan teori dalam kajian pustaka, sampai pada akhirnya akan berbentuk laporan yang sudah diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori tertentu berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, selanjutnya akan dipelajari sehingga menghasilkan kesimpulan yang baik (Hasan: 2002).

  9

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  3.6 Jadwal Kegiatan No. Kegiatan Bulan Ke-

  Mahasiswa asal Papua sebagai informan masih mengalami kesulitan dalam berinterkasi dengan peneliti.

  2. Mahasiswa asal Papua sebagai informan masih tertutup untuk menceritakan secara langsung kehidupan pribadinya dan sedikit sulit untuk ditemui sehingga menjadi keterbatasan dalam proses wawancara dalam penelitian ini.

BAB IV TEMUAN DAN INTERPRESTASI DATA 4.1 Deskripsi Umum Lokasi Penelitian. Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya Yayasan Universitas Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Pendirian yayasan

  ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

  Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.

  Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro dan sekretaris Mr. Djaidin Purba. Sebagai hasil kerjasama dan bantuan moril dan material dari seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa diantaranya dua orang wanita. Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954), Fakultas Keguruandan Ilmu Pendidikan (1956),dan Fakultas Pertanian (1956). Pada tanggal

  20 November 1957, Universitas Sumatera Utara diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia. Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I. kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, Universitas Sumatera Utara terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965),Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), Fakultas Farmasi (2006), dan Fakultas Psikologi (2007), serta Fakultas Keperawatan (2009). Jumlah program studi yang ditawarkan sebanyak 135, terdiri dari 19 tingkat doktoral, 32 magister, 18 spesialis, 5 profesi, 46 sarjana, dan 15 diploma. Jumlah mahasiswa terdaftar saat ini lebih dari 33.000 orang, 1000 di antaranya adalah mahasiswa asing.

  Berikut Pimpinan Universitas antara lain : 1958-1962 Z. A. Soetan Koemala Pontas, Ketua Presidium 1957-1958 Prof. Dr. Ahmad Sofian, Presidium 1962-1964 Prof. Mr. Mahadi, Ketua Presidium 1964-1965 Ulung Sitepu, Presidium 1965-1966 Drg. Nazir Alwi, Rektor

  1966(Mei-Nov) Prof. Dr. S. Hadibroto, M.A., Pejabat Rektor 1966-1970 Dr. S. Harnopidjati, Rektor 1970-1978 Harry Suwondo, SH, Rektor 1978 (Mei-Juli) O. K. Harmaini, SE, Ketua Rektorium 1978-1986 Dr. A. P. Parlindungan, SH, Rektor 1986-1994 Prof. M. Jusuf Hanafiah, Rektor 1994-2010 Prof. Chairuddin P. Lubis, D.T.M.&H., Sp.A.(K), Rektor 2010-2015 Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc.(CTM), Sp.A.(K)

  Pada tahun 2003, Universitas Sumatera Utara berubah status dari suatu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status Universitas Sumatera Utara dari PTN menjadi BHMN merupakan yang kelima di Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun 2000. Setelah Universitas Sumatera Utara disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).

  Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Sumatera Utara di Banda Aceh. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sumatera Utara. Setelah itu, berdiri Politeknik Negeri Medan (1999) yang semula adalah Politeknik Universitas Sumatera Utara.

  Kampus Universitas Sumatera Utara berlokasi di Padang Bulan, sebuah area yang hijau dan rindang seluas 120 ha yang terletak di tengah Kota Medan.

  Zona akademik seluas 90 ha menampung hampir seluruh kegiatan perkuliahan dan praktikum mahasiswa. Sistem pembelajaran didukung oleh fasilitas perpustakaan dan lebih dari 200 laboratorium. Perpustakaan menyediakan berbagai jenis sumber belajar baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Perpustakaan Universitas Sumatera Utara merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Kampus Universitas Sumatera Utara Padang Bulan juga didukung oleh infrastruktur teknologi informasi untuk memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya informasi dan pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian mahasiswa dan tenaga pendidik. Selain itu di dalam kampus juga terdapat berbagai sarana seperti asrama, arena olah raga, wisma, kafetaria, toko, bank, dan kantor pos. Wisuda dan berbagai acara akademik lainnya diadakan di Auditorium dan Gelanggang Mahasiswa. Sebuah rumah sakit pendidikan yang berlokasi dikampus Padang bulan telah dimulai pembangunannya sejak Agustus 2009.

  diakses pada tanggal 3 Oktober 2015 pukul 17.42 WIB).

  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menyerahkan beasiswa bidikmisi dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) kepada mahasiswa yang tersebar di tiga perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Sumatera Utara atau Medan. Universitas Sumatera Utara mulai menerima mahasiswa Afirmasi sejak tahun pertama diadakan yaitu tahun 2012. Sedangkan di tahun 2015 perinciannya sebanyak 2.655 mahasiswa penerima berasal dari Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (Unimed) sebanyak 2.922 mahasiswa dan Politeknik Negeri Medan (Polmed) sejumlah 450 orang. Sedangkan untuk beasiwa ADik, diberikan kepada 81 mahasiswa USU dan 13 mahasiswa Unimed. Sedangkan untuk besarannya, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi akan menerima Rp1 juta dengan perincian Rp600 ribu per bulan diberikan langsung kepada mahasiswa dan Rp400 ribu per bulan diberikan kepada perguruan tinggi. Untuk ADik, mahasiwa akan menerima Rp1,4 juta per bulan dengan perincian Rp1 juta diberikan langsung kepada mahasiswa per bulan dan Rp400 ribu per bulan kepada perguruan tinggi.

  Menteri Riset, Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof.Mohamad Nasir, PhD.Ak mengatakan, bantuan beasiswa di wilayah Sumut tersebut merupakan bagian dari alokasi pemerintah untuk anggaran bidik misi sebesar Rp2,3 triliun dengan rincian bidik misi On Going kepada 177.730 mahasiswa nilai sebesar Rp1,9 triliun dan bidik misi mahasiswa baru bagi 60 ribu mahasiswa senilai Rp 360 miliar. Sedangkan untuk beasiswa ADik dialokasikan sebesar Rp40 miliar lebih dengan perincian afirmasi On Going 1.673 mahasiswa senilai Rp28 miliar dan afirmasi baru kepada 900 mahasiswa senilai Rp12 miliar.

  Selanjutnya Kemenristekdikti juga mengalokasikan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) bagi mahasiswa program S1, D IV dan D III dengan ketentuan Indeks Prestasi (IP) minimal 3,00. Anggaran beasiswa PPA itu sebesarRp 508 miliar untuk 121 ribu mahasiswa dengan besarnya beasiswa Rp 4,2 juta per tahun/mahasiswdiakses pada tanggal 3 Oktober 2015 Pukul 14.30 WIB)

  Berikut adalah rekapitulasi data mahasiswa baru Universitas Sumatera Utara asal Papua yang mendaftar program AFIRMASI DIKTI mulai tahun 2012 s/d 2014 :

  3. Peternakan

  2. Managemen

  1

  2

  3

  8 Pertanian

  1. Agroteknologi

  5

  5

  2. Agribisnis

  1

  1

  2

  2

  1

  2

  4. Ilmu Teknologi Pangan

  1

  1

  5. Kehutanan

  1

  1

  9 Teknik

  1. Teknik Sipil

  1

  1

  1

  4

  1

  

NO Fakultas Program Studi Tahun JLH

2012 2013 2014

  3

  1 Kedokteran Pendidikan Dokter

  2

  1

  3

  2 Kesehatan Masyarakat

  Ilmu Kes.Masyarakat

  2

  1

  6

  9

  3 Keperawatan Ilmu Keperawatan

  2

  5

  2

  4 Kedokteran Gigi Pendidkan Dokter Gigi

  2

  2

  5 Farmasi Ilmu Farmasi

  2

  2

  6 Ilmu Budaya

  1. Sastra Indonesia

  2

  2

  7 Ekonomi dan Bisnis

  1. Akuntansi

  3

  2. Teknik Elektro

  1

  1

  3. Teknik Mesin

  1

  1 Total

  18

  11

  17

  46 Sumber : Biro Pusat Akademik USU (Keadaan 14 Oktober 2014) Seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tersebut tinggal di asrama putra dan asrama putri serta diberikan biaya hidup perbulan dan akan kembali ke daerah masing-masing setelah semua proses kuliah selesai. Ketika pertama kali mahasiswa asal Papua tersebut hadir dan sampai di asrama Universitas Sumatera Utara Medan, mereka disambut seperti biasa dengan acara penyambutan. Acara ini berisi tentang perkenanlan mengenai kampus, keadaan dan kondisi sosial saat mereka tinggal disini. Hal ini mencakup untuk menguji kebersaam para mahasiswa asal Papua dan ketka akan bergabung dengan mahasiswa asal lainnya yang sama-sama berkuliah di Universitas Sumatera Utara.

4.2 Karakteristik Informan

  Informan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penelitian ini, yang merupakan salah satu kunci bagi peneliti untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam penelitian. Karakteristik informan ini digunakan sebagai penentuan informan dalam penelitian yaitu berdasarakan agama, suku, lama tinggal, dan fakultas selama informan berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Untuk lebih jelasnya maka peneliti akan mendeskripsikan karakteristik informan sebagai berikut:

  4.2.1 Karakteristik Berdasarkan Umur Tabel 4.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur No Kategori Umur Jumlah (n) Persentase (%)

  1 20-22 tahun

  8

  80 2 > 22 tahun

  2

  20 Total 10 100 Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah)

  Berdasarkan Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa dari informan penelitian, 8 orang (80%) berumur antara 20-22 tahun dan 2 orang (20%) berumur di atas tahun, sehingga mayoritas informan berumur antara 20-22 tahun.

  4.2.2 Karakeristik Berdasarkan Agama Tabel 4.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Agama No Agama Frekuensi (n) Persentase (%)

  1 Kristen

  6

  60

  2 Islam

  4

  40 Total 10 100 Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah)

  Berdasarkan pada tabel 4.2 dari informan penelitian 6 orang (60%) beragama Kristen dan 4 orang (40%) beragama Islam. Dengan demikian, mayoritas informan adalah beragama Kristen (60%).

  4.2.3 Karakteristik Berdasarkan Lama Tinggal

  20

  1

  6 Farmasi

  20

  2

  5 Ilmu Budaya

  10

  1

  4 Ekonomi

  10

  1

  3 Teknik

  30

  3

  2 Pertanian

  2

Tabel 4.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Lama Tinggal

  1 Tahun

  

No Lama Tinggal Jumlah (n) Persentase (%)

  1

  1 Tahun

  1

  10

  2

  9

  1 Kesehatan Masyarakat

  90 Total 10 100.0 Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah)

  Berdasarkan Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa dari informan penelitian 1 orang (10%) yang tinggal selama 1 tahun, 9 orang (90%) yang sudah tinggal selama

  ≤ 1 tahun . Dengan demikian mayoritas informan adalah 9 orang (90%) yang sudah tinggal selama ≤ 1 tahun .

  4.2.4 Karakteristik Berdasarkan Fakultas

Tabel 4.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Fakultas

  

No Fakultas Jumlah (n) Persentase (%)

  10 Total 10 100 Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah) Berdasarkan Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa informan penelitian 2 orang (20%) yang berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat, 3 orang (30%) yang berkuliah di Fakultas Pertanian, 1 orang (10%) yang berkuliah di Fakultas Teknik , 1 orang (10%) yang berkuliah di Fakultas Ekonomi, 2 orang (20%) yang berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya, 1 orang (%) yang berkuliah di Fakultas Farmasi. Dengan demikian mayoritas informan adalah 3 orang (30%) yang berkuliah di Fakultas Pertanian.

4.2.5 Karakteristik Berdasarkan Suku

Tabel 4.5 Karakteristik Informan Berdasarkan Suku

  No Suku Frekuensi (n) Persentase (%)

  1. Rarutu

  1

  10

  2. Ekari

  1

  10

  3. Lanny

  2

  20

  4. Nayak

  1

  10

  5. Maibrat

  1

  10

  6. Batak

  2

  20

  7. Jawa

  2

  20 Total 10 100 Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah)

  Berdasarkan pada tabel 4.5 dari informan penelitian ada 1 orang (10%) suku Rarutu, 1 orang (10%) suku Ekari, 2 orang (20%) suku Lanny, 1 orang (10%) suku Nayak, 1 orang (10%) suku Maibrat, 2 orang (20%) suku Batak, dan 2 orang (20%) suku Jawa. Dengan demikian, mayoritas informan adalah suku Lanny (20%), Batak (20%) dan Jawa(20%).

4.3 Profil Informan Mahasiswa Asal Papua Dan Mahasiswa Asal Daerah Lain.

4.3.1 Paskalis Tugomo

  Paskalis Tugomo adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Teknik, Departemen Teknik Elektro. Ia telah berumur dua puluh satu tahun yang lahir di Ekago Papua Bagian Timika. Ia bersuku Ekari. Ia telah tinggal di Medan sudah satu tahun.

  Salah satu alasan Paskalis untuk berkuliah di USU adalah agar bisa berkuliah di luar daerah Papua walaupun jauh dengan orangtua. Sebelumnya Paskalis sudah mengetahui sedikit tentang USU dari saudara ia yang sedang bertugas di Medan sehingga ia memilih berkuliah di USU di pilihan kedua ketika ujian seleksi penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah Papua. Perasaan pertama kali yang dirasakan Paskalis ketika sampai di USU adalah senang karena bisa berkuliah jauh dari daerah sendiri.

  Pertama kali Paskalis datang ke Medan bersama dengan teman-teman yang berasal dari Papua yang juga akan berkuliah di USU. Setibanya mereka datang ke Medan, mereka mengikuti pengarahan-pengarahan yang dibuat oleh USU itu sendiri untuk mengenal lebih dekat lingkungan yang berada disini dan mereka bertempat tinggal di asrama putra USU. Hal inilah yang menyebabkan Paskalis berkenalan dengan senior-senior satu daerah yang sama-sama berkuliah di USU.

  Awalnya rutinitas yang dilakukan oleh Paskalis ketika berada di sini adalah berkeliling di lingkungan asrama seperti berjalan-jalan dan membeli makan di sekitaran USU, pergi ke kampus serta berkenalan dengan mahasiswa daerah lain. Selain itu Paskalis juga sering berbicara dan sudah mendapatkan teman mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Paskalis juga sering mengikuti kegiatan- kegiatan organisasi yang diadakan oleh pihak kampus seperti mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa asal Papua, Ikatan Mahasiswa Teknik Elektro, bermain futsal dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain serta mengikuti organisasi keagamaan. Paskalis juga sudah diperkenalkan budaya di sini oleh teman kampusnya dan mempelajari bahasa daerah lain seperti bahasa Batak. Selain itu Paskalis juga sudah pernah berkunjung ke daerah asal teman kampusnya yaitu Sibolga. Itulah cara dia untuk bisa beradaptasi dan berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

  Paskalis mengakui bahwa ia merasa betah untuk tinggal disini. Ia lebih menyukai bergaul dengan mahasiswa lain walaupun kesulitan yang di hadapi oleh Paskalis adalah cara berbicara dan budaya yang sangat berbeda. Menurut Paskalis penerimaan masyarakat sekitar adalah baik dan ramah walaupun terkadang mahasiswa yang berasal dari daerah lain merasa asing melihat kami. Hal inilah yang membuat mereka merasa dikucilkan dari kelompok mereka. Tetapi dibalik itu semua, ketika sudah menjalin pertemanan sebenarnya mereka mau membantu Paskalis untuk memperkenalkan lingkungan sekitar. Selain itu, dari segi makanan, tempat tinggal dan cuaca walaupun sangat berbeda jauh dengan daerah asal tetapi Paskalis masih bisa beradaptasinya dan menyukainya. Hal inilah yang disukai dan tidak disukai oleh Paskalis selama tinggal disini.

  Mengenai interaksi keluarga yang dilakukan oleh Paskalis adalah Paskalis sering berkomunikasi dengan keluarga terutama dengan orangtua minimal seminggu sekali. Orangtua Paskalis biasanya pergi ke kota daerah mereka hanya untuk bisa berkomunikasi dengan Paskalis minimal satu minggu sekali. Karena jaringan selular baru masuk sekitar satu tahun yang lalu ujar Paskalis. Biasanya ketika waktu liburan tiba, Paskalis pulang ke kampungnya yang di lakukan selama 2 tahun sekali. Hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dan biaya transportasi yang sangat mahal harganya.

4.3.2 UTA

  Uta yang memiliki nama Dwi R.P. Weriu adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian, Departemen Agrobisnis. Ia lahir di Kaimana dan telah berumur dua puluh satu tahun. Ia bersuku Rarutu yang merupakan bagian Papua Barat. Ia telah tinggal di Medan sudah dua tahun lamanya.

  Salah satu alasan Uta lulus dari USU dikarenakan hasil pilihan ketiga dari ujian seleksi beasiswa penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi yang di selenggarakan oleh pemerintah Papua. Sebelumnya Uta memang tidak mengetahui tentang USU walaupun ada saudara ia yang telah tinggal lama di Medan. Walaupun kuliah jauh dari orangtua tetapi Uta sangat senang bisa berkuliah di daerah lain karena menurut Uta akan banyak dapat pengalaman kalau kita tinggal jauh dari daerah kita sendiri.

  Pertama kali Uta datang ke Medan bersama dengan teman-teman yang lulus ujian seleksi untuk berkuliah di USU serta bersama dengan pendamping perwakilan dari provinsi. Uta mengatakan bahwa ketika kami semua telah sampai disini, pada saat itu kami diberikan motivasi dan pengenalan tentang USU baik dari fakultas masing-masing maupun di lingkungan sekitarnya dan kami bertempat tinggal di asrama putra milik USU. Hal inilah yang menyebabkan Uta dapat berkenalan dengan senior-senior baik dari satu daerah maupun senior-senior yang berasal dari daerah lain di fakultas.

  Mula-mula rutinitas awal yang di lakukan oleh Uta adalah masih berkeliling wilayah lingkungan asrama dan kampus. Uta berusaha untuk berbaur dan bersosialisasi dengan orang-orang yang ada baik di lingkungan kampus maupun di asrama. Uta juga mengikuti dan aktif sebagai anggota dengan kegiatan- kegiatan organisasi yang di adakan oleh pihak kampus seperti mengikuti Ikatan Mahasiswa Asal Papua dan IMASEP. Pada saat ini Uta juga sudah mendapatkan teman dekat yang berasal dari suku Melayu. Uta juga sudah diperkenalkan sedikit tentang budaya Melayu oleh teman dekatnya. Itulah cara dia untuk dapat menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

  Uta mengakui bahwa ia betah untuk tinggal disini. Penerimaan masyarakat selama ini yang di rasakan oleh Uta adalah baik, selalu mau berbaur dengan orang yang berasal dari daerah lain serta mau membantu teman yang sedang kesulitan, seperti pengalaman Uta yang pernah diberi pinjaman uang oleh teman dekatnya Uta. Walaupun Uta terkadang di jahili dengan teman-teman kampus ia yang berasal dari daerah lain, tetapi Uta tetap tidak peduli dan merasa kalau tidak ada kesulitan ketika bersosialisasi dengan teman-teman kampus yang berasal dari daerah lain disini. Selain itu jika dilihat dari segi makanan, Uta memulai untuk menyukai makanan yang berasal dari daerah ini karena menurut Uta selera dan rasa makanan di sini hampir sama dengan makanan disana yaitu sama-sama mempunyai selera pedas. Sedangkan dari segi cuaca, Uta bisa beradaptasi dengan cuaca di daerah ini karena menurut Uta cuaca di daerah asal dia lebih panas dibandingkan dengan cuaca di sini. Tetapi menurut Uta, ia kurang puas dengan sarana dan prasarana yang di sediakan selama berkuliah di USU. Hal inilah yang disukai dan tidak disukai oleh Uta selama tinggal di daerah ini.

  Mengenai interaksi dengan keluarga, walaupun sudah dua tahun Uta tidak pulang ke kampungnya, menurut Uta tidak ada halangan untuk sering berkomunikasi melalui telepon dengan orangtuanya. Uta juga mengatakan bahwa kalau ada keluarga ia yang tinggal di Medan dan sesekali ia berkunjung ke tempat saudaranya tersebut walaupun terkadang hanya seminggu sekali.

4.3.3 Elliyus Pase

  Elliyus Pase adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian, Departemen Peternakan. Elliyus lahir di Wamena dan telah berumur dua puluh satu tahun. Elliyus sudah tinggal di Medan selama tiga tahun. Ia bersuku nayak.

  Salah satu alasan Elliyus berkuliah di USU agar bisa berkuliah di luar daerah Papua walaupun jauh dari orangtua. Elliyus mengatakan kalau kami anak- anak Papua memang sengaja dikirim keluar daerah untuk berkuliah dari pemerintah dengan tujuan mengembangkan potensi daerah kami ketika kami kembali nanti. Ia memilih USU pada pilihan ke tiga ketika ujian seleksi penerimaan beasiswa mahasiswa ke perguruan tinggi. Perasaan Elliyus pertama kali sangat senang karena bisa berkuliah jauh dari daerah sendiri.

  Pertama kali Elliyus datang ke Medan bersama dengan teman-teman yang berasal dari Papua yang berkuliah di USU. Mereka melakukan pengarahan tentang pengenalan daerah dan lingkungan sekitar yang dibuat dari USU melalui perwakilan dari pemerintahan Papua dan mereka bertempat tinggal di Asrama Putra USU. Hal inilah Elliyus banyak dapat berkenalan dengan teman-teman yang berasal dari Papua yang sudah berkuliah lebih dahulu maupun teman-teman yang berasal dari daerah lain yang sama-sama tinggal di Asrama Putra.

  Rutinitas awal yang dilakukan oleh Elliyus adalah berkeliling di lingkungan asrama dan kampus seperti pergi bersama dengan teman-teman yang satu daerah untuk berkeliling di lingkungan asrama, pergi ke kampus dan mengikuti kegiatan awal yang diadakan di kampus, serta bermain futsal dengan teman-teman satu asrama. Menurut Elliyus, semua kondisi lingkungan yang berada disini sangatlah asing baginya. Elliyus terkadang masih kurang percaya diri untuk berteman dengan teman-teman yang berasal dari daerah lainnya sehingga terkadang Elliyus masih mau menutup diri tetapi Elliyus tetap berusaha untuk berbaur dan bersosialisasi dengan orang-orang yang ada baik di lingkungan kampus maupun di asrama. Elliyus juga sudah mengikuti kegitan-kegiatan aktif yang di adakan oleh kampus seperti sebagai anggota acara seminar yang diselenggarakan oleh kampus, dan aktif mengikuti organisasi-organisasi.

  Pada awalnya Elliyus merasa bahwa orang-orang yang berada disini terlalu asing melihat kami sehingga terkadang diejekin dengan mereka. Tetapi dengan begitu Elliyus tetap saja bergabung dan berbaur dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Elliyus mengakui sangatla sulit untuk bisa berbaur dengan orang- orang disekitar. Dari segi bahasa dan cara bergaul yang sangat berbeda tetapi Elliyus ingin belajar untuk memahaminya. Elliyus betah untuk tinggal disini> Menurut Elliyus walaupun awalnya mereka sangatla asing dengan kedatangan kami tetapi lama kelamaan mereka juga sudah mulai terbuka dengan kami, bahkan mahasiswa yang berasal dari daerah lain baik dan mau membantu ketika mau kita kesulitan dalm mengatasi masalah. Selain itu, jika dilihat dari segi cuaca, tempat tinggal, dan makanan yang sangat jauh berbeda tetapi Elliyus masih bisa untuk menyesuaikannya. Inilah caranya untuk dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

  Mengenai interaksi keluarga, Elliyus sering berkomunikasi terutama dengan orangtua hampir setiap hari. Hanya waktu liburan tiba, Elliyus pulang ke kampungnya. Hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dan biaya transportasi yang sangat mahal harganya.

4.3.4 Rince Wenda

  Rince Wenda adalah salah satu mahasiswi yang berasal dari dari Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ia lahir di Tembagapura dan telah berumur dua puluh satu tahun. Ia bersuku Lanny. Sudah tiga tahun ia tinggal di Medan untuk berkuliah.

  Alasan Rince untuk memilih berkuliah di USU ini adalah karena rasa ingin tahu dia tentang USU dan mencoba untuk berkuliah di wilayah Sumatera.

  Sebelumnya Rince sudah mencari banyak informasi tentang USU dari internet maupun dari teman-teman perantauan yang dahulunya tinggal di Medan sehingga ia memilih kuliah di USU pada pilihan ketiga di saat seleksi program beasiswa penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh pemerintah pusat Papua.

  Walaupun merasakan perasaan senang tetapi Rince juga takut dan sedih berpisah dengan orangtua ketika pertama kali sampai di USU.

  Setibanya Rince sampai di USU, Rince dan bersama dengan teman-teman sedaerahnya yang ikut juga berkuliah di USU mengikuti pengarahan-pengarahan tentang memperkenalkan masyarakat dan lingkungan disini bersama dengan perwakilan dari pemerintah Papua dan bertempat tinggal di asrama putri USU. Hal inilah yang menyebabkan Rince mulai bertemu dan berkenalan dengan senior- senior yang berasal dari Papua maupun yang berasal dari daerah lain.

  Awalnya rutinitas yang di lakukan Rince hanya sekitaran asrama dan kampus dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang di adakan baik dari kampus seperti mengikuti acara keagamaan maupun dari pihak ikatan mahasiswa dari Papua itu sendiri. Dengan begitu Rince dapat berteman dengan teman-teman baru yang berasal dari daerah lain. Hal inilah cara Rince untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar selama berkuliah di USU.

  Rince mengakui bahwa ia betah untuk tinggal disini walaupun pada awalnya ia merasa takut dan tidak percaya diri untuk menghadapi orang-orang disekitarnya karena Rince merasa takut kalau masyarakat tidak menerimanya tetapi setelah beberapa lama Rince tinggal di daerah ini, penerimaan masyarakat sekitar yang dirasakan oleh Rince adalah terbuka, baik dan ramah terhadap kelompok kami. Rince mengatakan walaupun cara bergaul kami yang beridentik dengan kasar serta cara berbicara dan bahasa kami yang sulit dimengerti tetapi Rince tetap berusaha untuk aktif dan belajar menggunakan bahasa Indonesia yang benar agar bisa berbaur dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain. Selain itu, dari segi makanan, tempat tinggal dan cuaca walaupun sangat berbeda jauh dengan daerah asal tetapi Rince masih bisa beradaptasinya dan menyukainya.

  Mengenai interaksi keluarga, Rince sering berkomunikasi terutama dengan orangtua hampir setiap hari. Hanya waktu liburan tiba, Rince pulang ke kampungnya. Hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dan biaya transportasi yang sangat mahal harganya.

4.3.5 Berlinda Wakerkwa

  Berlinda Wakerkwa adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ia lahir di Wamena dan telah berumur dua puluh tahun . ia bersuku Lanny dan telah tinggal di Medan sekitar tiga tahun untuk berkuliah di USU.

  Salah satu alasan Berlinda berkuliah di USU adalah dari hasil ujian seleksi beasiswa Afirmasi yang diselenggarakan oleh pemerintahan Papua. Sebelumnya Berlinda mengetahui tentang USU dari orang tuanya. Perasaan pertama kali yang dirasakan oleh Berlinda ketika sampai di USU bingung dan sedih karena Berlinda harus berpisah jauh dan lama dengan orangtuanya demi mengikuti kegiatan perkuliahan. Berlinda juga tidak berkeinginan untuk kuliah disini. Pada awalnya Berlinda ingin sekali berkuliah di Jakarta.

  Mula-mula rutinitas awal yang di lakukan oleh Berlinda adalah masih berkeliling wilayah lingkungan asrama dan kampus. Walaupun Berlinda belum mengetahui kondisi masyarakat disini tetapi Berlinda berusaha untuk berbaur dan bersosialisasi dengan orang-orang yang ada baik di lingkungan kampus maupun di asrama. Berlinda juga mengikuti dan aktif sebagai anggota dengan kegiatan- kegiatan organisasi yang di adakan oleh pihak kampus. Tidak jarang juga Berlinda terkadang pergi berjalan-jalan dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain seperti pergi ke Berastagi baik secara pribadi maupun bersama dengan kumpulan organisasi. Berlinda juga berusaha untuk belajar dengan budaya dari daerah lain oleh teman-teman kampusnya seperti bahasa Batak begitu juga dengan sebaliknya, Berlinda juga mengajarkan budayanya ke teman-temannya seperti dari tarian- tarian daerah, dan sebagainya. Berlinda juga mengatakan bahwa ia telah mendapatkan teman dekat yang berasal dari daerah lain yaitu dari Aceh.

  Berlinda mengakui bahwa ada rasa kurang percaya diri dengan cara bertingkah laku dan berbicara yang sangat berbeda. Pada awalnya Berlinda mengakui kalau Berlinda tidak menyukai, tidak terlalu percaya dengan orang yang berada disini dan terkesan terlalu ramai dengan lingkungan disini dan sering diejekin dengan orang disekitar tetapi Berlinda tetap untuk berusaha bisa berbaur dengan mereka dan lama kelamaan penerimaan masyarakat sekitar bisa terbuka dengan masuknya kami yang berasal dari ujung timur bagian Indonesia. Itulah cara dia untuk dapat berinteraksi dan beradaptasi dengan mahasiswa dari daerah lain. Selain dari segi pertemanan, dari segi makanan, tempat tinggal dan cuaca walaupun sangat jauh berbeda dengan daerah asal tetapi Berlinda masih bisa untuk beradaptasi dan menyukainya. Berlinda mengakui bahwa selama tinggal disini ia telah betah untuk tin ggal di sini.

  Mengenai interaksi keluarga, Berlinda sering berkomunikasi terutama dengan orangtua hampir setiap hari. Hanya waktu liburan tiba, Berlinda pulang ke kampungnya. Hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dan biaya transportasi yang sangat mahal harganya.

4.3.6 Eva Celia Homer

  Eva Celia Homer adalah salah satu mahasiswi yang berasal dari Papua yang sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Eva berkuliah di Universiats Sumatera Utara, Fakultas Ekonomi, Departeman Ekonomi Managemen. Ia telah berumur dua puluh dua tahun di Monokwari. Ia bersuku Maibrat yang merupakan Papua bagian barat. Ia telah lama tinggal di Medan kurang lebih tiga tahun.

  Salah satu alasan Eva berkuliah di USU adalah karena dari hasil ujian Beasiswa Afirmasi yang di selenggarakan oleh pemerintahan Papua. Sebelumnya Eva tidak ada keinginan untuk berkuliah di USU, karena menurut Eva untuk berkuliah disini terlalu jauh. Eva belum mengetahui tentang USU karena pada awalnya keinginan Eva adalah bisa diterima kuliah di ITB Bandung pada saat hasil ujian Beasiswa Afirmasi tersebut keluar. Perasaan Eva pertama kali ketika sampai di USU sangat bingung. Eva sama sekali tidak mengetahui sama sekali tentang bagaimana kondisi berkuliah di Sumatera. Eva juga sangat sedih harus berpisah dengan orangtua untuk berkuliah disini.

  Pertama kali Eva datang ke Medan bersama dengan teman-teman yang berasal dari Papua yang juga akan berkuliah di USU. Ketika mereka datang kemari, mereka mengikuti pengarahan-pengarahan yang dibuat oleh USU dan dengan perwakilan dari daerah masing-masing itu sendiri untuk memperkenalkan lebih dekat lingkungan yang berada disini dan mereka bertempat tinggal di asrama putrid USU.

  Rutinitas awal yang dilakukan oleh Eva adalah hanya sekitar lingkungan kampus dengan mengikuti kegiatan-kegiatan kampus yaitu ospek. Eva mengakui kalau pada mulanya Eva sangat malas untuk bisa mengenal dengan lingkungan sekitar tetapi karena faktor keadaan yang memaksa, perlahan-lahan Eva mau berbaur dengan lingkungan kampus sehingga Eva mengakui bahwa sangatlah sulit untuk bisa berbaur dengan lingkungan disini. Dapat dilihat dari segi cara dan bahasa yang digunakan yang terkadang masih asing didengar dan cara bergaul mereka yang terkesan lebih mementingkan diri sendiri tetapi walaupun begitu, penerimaan masyarakat sekitar masih terbuka dengan adanya kami yang sedang berkuliah disini.

  Eva juga sudah mendapatkan teman-teman mahasiswi lainnya yang berasal dari daerah lainnya. Eva juga sudah pernah berkunjung ke daerah asal teman- teman kampusnya hanya sekedar rekreasi. Mereka sudah sedikit-sedikit memperkenalkan budaya mereka masing-masing. Eva juga mulai mengikuti kegiatan organisasi baik yang berasal dari kampus, ikatan mahasiswa asal Papua maupun dari keagamaan, dan aktif sebagai anggota. Itulah cara Eva dapat untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang sebelumnya sangat asing sekali bagi Eva.

  Eva juga sudah betah untuk tinggal di daerah ini. Hal yang sangat disukai oleh Eva disini adalah orang-orang disini sangatlah pekerja keras, kemudian Eva sangat menyukai dari kondisi cuaca, tempat tinggal walaupun yang sangat jauh berbeda, dan makanan yang mempunyai harga yang relative lebih murah dibandingkan di daerah asal. Tetapi hal yang tidak disukai oleh Eva di lingkungan disini adalah terkadang kami masih saja ada yang mengejek tentang kondisi fisik kami, kemudian sebagian masih ada yang menilai kami kalau kami kasar, selalu tertutup, tidak mau berbaur dengan orang lain. Padahal tidak menutup kemungkinan kalau kami selalu terbuka dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain.

  Mengenai interaksi keluarga, Eva sering berkomunikasi terutama dengan orangtua hampir setiap hari. Hanya waktu liburan tiba, Eva pulang ke kampungnya. Hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dan biaya transportasi yang sangat mahal harganya.

4.3.7 Debora Indriyan

  Debora adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari daerah lain yaitu berasal dari Pematang Siantar. Pada saat sekarang ini ia sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Budaya, Departemen Sastra Inggris. Ia telah berumur dua puluh tiga tahun. Ia bersuku Batak Toba. Ia telah tinggal di Medan untuk berkuliah di USU kurang lebih sekitar tiga tahun.

  Debora merupakan salah satu mahasiswa yang berasal dari daerah lain yang ikut tinggal di Asrama Putri USU. Menurut Debora, banyak sekali mahasiswa yang berasal dari Papua yang tinggal disini. Debora juga salah satu mahasiswi yang mempunyai teman yang berasal dari Papua. Debora sering berinteraksi dan bergaul dengan mereka. Mereka sudah menjalani pertemanan kurang lebih sekitar 1 tahun.

  Menurut Debora dengan adanya keberadaan mereka disini sebenarnya tidak ada yang mengganggu. Debora sangat senang mendapatkan teman yang berasal dari Papus. Menurut Debora semakin menambah pengetahuan dan mengenal teman-teman yang berasal dari daerah yang berbeda. Mereka datang kesini tujuannya untuk belajar. Mereka juga aktif dan berbaur dengan lingkungan sekitar seperti mengikuti kegiatan-kegiatan dalam organisasi-organisasi yang ada di USU seperti organisasi keagamaan maupun organisasi dari ikatan mahasiswa mereka itu sendiri. Menurut Debora cara mereka bergaul dengan lingkungan sekitar sudah mengikuti nilai-nilai yang ada disini tetapi yang Debora lihat sendiri, pada awalnya mereka lebih cenderung tertutup, takut dan tidak ramah untuk bisa bergabung dan bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain malah terkadang lebih ramah teman-teman yang berasal dari daerah lain yang harus menyapa duluan untuk bisa bergaul dengan mereka. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di Asrama Putri ini seperti mempunyai kebiasaan untuk menonton bersama dalam satu kamar khusus untuk mahasiswi Papua dan menurut dari berita dari mahasiswa lainnya kalau mereka terkadang sering bertelanjang bulat yang katanya melakukan salah satu dari adat mereka.

  Debora sudah cukup lama bergaul dengan mereka. Menurut Debora terkadang mereka masih mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang berasal dari adat mereka sendiri. Mereka juga mau mengajarkan budaya-budaya mereka sendiri seperti dari segi bahasa, tarian, dan sebagainya. Walaupun terkadang dari segi cara mereka berbicara kasar dan sulit dimengerti tetapi sebenarnya mereka mau dan terbuka untuk bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

4.3.8 Mukti Amsar

  Mukti Amsar adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari daerah lain yaitu berasal dari Kisaran. Pada saat sekarang ini ia sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian, Departeman Agribisnis. Ia telah berumur dua puluh tiga tahun. Ia bersuku Batak Toba. Ia telah tinggal di Medan untuk berkuliah di USU kurang lebih sekitar lima tahun.

  Ia memiliki teman mahasiswa yang berasal dari Papua yang bernama UTA yang menjadi junior di Fakultas Pertanian. Mereka sudah berteman layaknya senior dan junior di jurusan Agribisnis selama kurang lebih 2 tahun. Interaksi mereka terjalin ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah, kuliah bersama, tugas kelompok dan kegiatan kuliah lainnya. Mereka kebanyakn sering bertemu di kampus.

  Dirinya melakukan tidak melakukan kesulitan ketika berinteraksi dengan mahasiswa asal Papua yang dikarenakan kebetulan mahasiswa asal Papua tersebut dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Jadi ketika mereka berinteraksi tetap menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari di lingkungan kampus. Dirinya menggambarkan bahwa mahasiswa asal Papua tersebut sama dengan mahasiswa asal daerah lain, kulit sama hitam, gigi sama putih, kemungkinan karena masih ada mahasiswa asal lainnya yang belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik jadi yang menyebabkan dirinya jarang berinteraksi dengan mahasiswa asal Papua lainnya. Salah satunya adalah keterbatasan di interaksi.

  Sebenarnya dirinya tidak terlalu suka banyak teman, tetapi ingin belajar dan berbagi pengalaman dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain, baik dari Papua bahkan sampai luar negeri karena bisa saja dirinya yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka mahasiswa asal Papua untuk belajar berbahsa Indonesia karena diperkuliahan yang digunakan adalah bahasa Indonesia bukan bahasa local jadi semua mahasiswa dari asal manapun harus bisa berbahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Hal ini yang menyebabkan dirinya mau berteman dengan mahasiswa asal Papua apalagi untuk cerita atau bahasan tentang pertanian.

  Di Papua lahan pertanian terbuka lebar jadi masih asri sehingga dapat berbagi cerita mereka dengan dirinya tentang Papua yang memiliki keindahan alam yang masih terjamin dan terjaga. Jadi kemungkinan dirinya lebih sering membahas masalah pertanian dengan mahasiswa asal Papua tersebut.

4.3.9 Ira

  Ira adalah salah satu mahasiswi yang berasal dari daerah lain yaitu berasal dari Kota Medan. Pada saat sekarang ini ia sedang berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Inggris. Ia telah berumur dua puluh dua tahun. Ia bersuku Jawa. Ia telah tinggal di Medan untuk berkuliah di USU kurang lebih sekitar tiga tahun.

  Ia memiliki teman mahasiswa yang berasal dari Papua yang bernama Belinda. Mereka bertemu pada saat acara pertukaran mahasiswa USU di Fakultas Ilmu Budaya. Mereka berkenal dan saling berinteraksi. Dirinya menggambarkan mahasiswa yang berasal dari Papua sebagian ada yang lancar dalam berbahasa Indonesia dan ada juga yang masih belum. Hal ini disebabkan karena dirinya jurusan sastra Inggris maka mahasiswa asal Papua ini mau belajar bahasa Inggris tetapi untuk itu, dirinya memastikan bahwa mahasiswa asal Papua tersebut bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dirinya tertarik untuk mengajarkan dan memperkenalkan bahasa Inggris tersebut karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional semua kalangan mahasiswa yang berasal dari daerah manapun setidaknya harus bisa dan tau berbahasa Inggris. Tidak nutup kemungkinan mahasiswa yang berasal dari papua tersebut.

  Dirinya juga merasa nyaman berteman dan berkenalan dengan mahasiswa asal Papua bersama dengan teman lainnya sering untuk main ke asrama putri yang menjadi tempat tinggal para mahasiswa asal Papua. Hal yang menarik bagi dirinya adalah bagaimana bisa bersatu dengan teman asal Papua dan yang lain dengan berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ketika saling bertemu baik di kampus maupun di luar kampus. Kenyamanan itu terjalin karena dirinya sangat senang mempunyai banyak teman dan mendapatkan pengalaman dengan mahasiswa asal Papua tersebut yang sedang berkuliah di USU yang sama dengan dirinya walaupun dirinya dengan mereka tidak satu jurusan.

  Selain di kampus, karena sesama perempuan jadi sering bertemu diluar urusan kampus dan kuliah misalnya untuk pergi makan dan jalan bersama di sore hari di lingkungan USU. Dirinya sangat senang karena sedikit banyaknya diperkenalkan budaya suku asal Papua dan menjadi tambahan pengetahuan bagi dirinya tentang keragaman local Indonesia. namun demikian dirinya juga mempunyai teman di luar yang berasal dari daerah lainnya lagi jadi pertemanan dirinya tidak hanya dengan mahasiswa asal Papua tetapi juga mahasiswa dari daerah lain. Kemudian mereka juga saling bertemu an berkumpul, berbagi pengalaman, dan belajar bersama-sama. Ini dilakukan pada sore hari setelah selesai waktu kuliah hanya untuk menghilangkan penat dan rekreasi bersama walau hanya di dalam lingkungan kampus USU. Dirinya menginginkan untuk bisa tidak hanya memiliki teman hanya satu saja. Dirinya bisa berteman dengan siapapun baik dengan menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Yang tidak menutup kemungkinan untuk dirinya diajarkan bahasa local Papua dengan mereka, misalnya untuk mengutarakan interaksi sehari-hari. Maka dari itu dirinya juga ingin belajar dengan mahasiswa asal Papua tersebut.

4.3.10 Eko Sunantri

  Eko Sunantri adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari daerah lain yaitu berasal dari Perdagangan. Pada saat sekarang ini ia sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Farmasi. Ia telah berumur dua puluh dua tahun. Ia bersuku Jawa. Ia telah tinggal di Medan untuk berkuliah di USU kurang lebih sekitar empat tahun.

  Eko juga memiliki teman mahasiswa yang berasal dari Papua satu jurusan dan junior dirinya di Fakultas Farmasi. Dirinya dengan mereka bertemu ketika ada urusan kuliah,semisal di Farmasi itu ada praktik di laboratorium. Dalam hal interaksi dirinya menggunakan bahasa Indonesia dengan mahasiswa asal Papua teserbut walau awalnya,mahasiswa asal papua tersebut tidak terlalu lanvar berbaha Indonesia. Dirinya senang memiliki teman yang berasal dari daerah lain apalagi Papua yang jauh disana,dan untuk belajar Ilmu Farmasi di USU ini. Hal ini yang membuat ketertarikan dirinya untuk mau berteman dan berkenalan dengan mahasiswa asal Papua tersebut. Tidak ada kesulitan yang berarti walau harus mengajarkan dan memberitahukan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Farmasi harus perlahan,mungkin istilah-istilah Farmasi banyak yang menggunakan istilah asing dan medis. Jadi harus lancar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Mereka mau belajar dengan dirinya,dan terkadang saling bertukar pikiran dan berharap mereka bisa menjalin hubungan pertemanan dengan baik. Karena sejatinya,bahwa menurut dirinya sama tidak ada yang membedakan hanya perkara asal dari manaya. Mau dari Papua mau dari daerah lain kalau mau belajar,dirinya juga mamu mengajarkannya dengan baik. Baik mahasiswa asal Papua dan mahasiswa asal lainnya. Yang terkadang juga mereka belaja dan berkumpul bersama,tidak hanya sebatas membahas masalah perkuliahan dan hal lain sebagainya.

4.4 Latar Belakang Hadirnya Mahasiswa Asal Papua Di USU.

  Mahasiswa asal Papua hadir di Universitas Sumatera Utara melalui program pemerintah yang disebut dengan Beasiswa Afirmasi. Hal ini merupakan salah satu proses untuk pemerataan sosial masyarakat dalam dunia pendidikan dan perkembangan daerah Papua. Universitas Sumatera Utara mulai menerima mahasiswa Afirmasi sejak tahun pertama diadakan yaitu tahun 2012 dengan jumlah mahasiswa 18 orang sebagai angkatan I, 2013 sebagai angkatan kedua berjumlah 11 orang, sedangkan 2014 untuk angkatan III berjumlah 17 orang yang tersebar di 9 Fakultas yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Keperawatan, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, dan Teknologi Universitas Sumatera Utara. Seluruh mahasiswa asal Papua tinggal di Asrama Putra untuk mahasiswa asal Papua yang berjenis kelamin laki-laki, dan asrama putri untuk mahasiswa asal Papua yang berjenis kelamin perempuan. Mereka juga diberikan biaya hidup per bulannya. Hal ini seperti yang diutarakan informan yang bernama Eva:

  “…kami sebulan kira-kira sampeklah dua juta kaka. Itu ada yang berasal dari pemerintah pusat ka, dari provinsi, dan dari pemerintah kabupaten. Belum lagi dari orangtua sendiri. Jadi kurang lebih ya..segitula kaka…” Berdasarkan hasil wawancara di atas, bahwa semua mahasiswa asal Papua yang mendapatkan beasiswa Afirmasi dan sedang berkuliah di luar daerah Papua mendapatkan biaya hidup yang diberikan oleh pemerintah baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun dari pemerintah kabupaten.

  Selajutnya, setelah selesai kuliah mereka ini diharapkan untuk kembali ke Papua membangun daerah asal mereka sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing seperti hal yang diutarakan saudara Uta :

  “…aku kuliah pertanian cuma untuk bisa membangun pertanian dan mengelolanya dengan baik di Papua sana ka. Jadi ilmu yang kudapatkan disini tidak kusia-siakan disana pas waktu balik ke kampung nanti…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas, bahwa salah satu tujuan mahasiswa asal Papua tersebut berkuliah di luar daerah Papua hanya untuk kembali dan membangun potensi daerahnya masing-masing sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan dan terapkan di daerah mereka nantinya. Banyak hal yang menjadi harapan mahasiswa asal Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Salah satunya adalah menjadi sumber daya manusia yang mampu bersaing untuk membangun daerah asalnya ataupun bersaing dengan mahasiswa dari daerah lainnya. Tujuannya untuk selain sumber daya manusia yang mampu bersaing namun juga bisa berkompetisi secara professional, tidak memandang dari daerah mana mahasiswa itu berasal. Maka dari itu keberhasilan dalam beradaptasi dan berinteraksi yang akan menjadi patokan dimana mahasiswa asal Papua tersebut tinggal dan menempuh pendidikan. Sebagai salah satu contoh mahasiswa asal Papua yang kuliah di Universitas Sumatera Utara.

4.5 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua.

  Mahasiswa asal Papua yang datang ke Medan sebagai suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian, bertingkah laku, cara berbicara, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. Apalagi, budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan, namun budaya juga meliputi etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria wanita, konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, ketertiban lalulintas, kebiasaan dan sebagainya (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 97).

  Menurut Winata (2014), mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri dengan individu lain adalah mahasiswa yang mudah bergaul dan pandai membawa diri dengan lingkungan social yang baru. Penyesuaian diri terhadap individu antara satu sama lain merupakan indikator keberhasilan mahasiswa dalam berinteraksi di masyarakat dan lingkungan. Sedangkan secara operasional, mahasiswa yang sukses beradaptasi terhadap lingkungan kampus adalah mahasiswa yang mampu menjalankan perannya yakni belajar. Sebagai penunjang kesuksesan mahasiswa dalam beradaptasi dilingkungan kampus mahasiswa dituntut untuk dapat mengembangkan diri dengan cara aktif kuliah, mengerjakan tugas, belajar kelompok dan memanfaatkan perpustakaan.

  Adaptasi mahasiswa Asal Papua disini digambarkan dengan cara mereka dapat menyesuaikan diri dengan cuaca, iklim, makanan, minuman, air, sarana prasarana, bahasa dan budaya local, lingkungan sosial, tempat tinggal, orang- orang disekitar dan orang-orang dari daerah lainnya dan ekonominya. Tetapi dengan semua perbedaan yang ada, mereka harus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Adaptasi yang dilakukan oleh para mahasiswa asal Papua merupakan aktifitas yang dilakukan untuk mengarah ke suatu tujuan, yaitu proses sosialisasi untuk terciptanya harmoni kelompok, sedangkan aktifitas untuk adaptasi merupakan aktifitas tujuannya.

  

4.5.1 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua terhadap Alam (cuaca, iklim,

makanan, minuman, air, sarana dan prasarana)

  Adapun penyesuaian adaptasi mahasiswa asal Papua terhadap alam merupakan hal pertama yang terjadi ketika mereka pertama kali sampai di kota Medan khususnya di Universitas Sumatera Utara (Asrama Putra dan Putri). Mereka ada yang buta sama sekali mengenai tentang wilayah Medan. Mereka hanya mengetahui kalau tempat itu adalah sangat jauh dari mereka tinggal. Hal ini tergambarkan dari lamanya perjalanan dan rasa capek secara fisik dan tentunya keadaan alam Papua dan Sumatera jelas berbeda.

  Hal ini seperti yang diutarakan informan Berlinda,yaitu :

  “…iya kaka, ketika sudah sampai disini kaka, Medan ini sungguh panas kaka. Tidak seperti disana dingin karena saya tinggal di bawah kaki gunung Jayawijaya yang atasnya ada saljunya kaka, jadi dingin terlalu daripada disini…”

  Berdasarkan hasil wawancara salah satu informan diatas adalah jarak yang mereka tempuh untuk belajar ke wilayah ini sangatlah jauh. Hal ini dapat dilihat dari jarak rata-rata yang ditempuh untuk ke daerah ini memerlukan waktu seharian penuh. Dengan jarak yang terlalu jauh tentunya kondisi keadaan alam sangat jauh berbeda dengan daerah asalnya. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa asal Papua harus dapat menyesuaikan diri mereka selama belajar di Universitas Sumatera Utara.

  Selain itu, dalam hal makanan dan minuman sangat jauh berbeda dengan di Papua. Terdapat beranekaragam pilihan untuk ingin makan, minum dengan rasa yang berbeda dengan harga yang sangat terjangkau pula. Untuk makanan sendiri, mahasiswa asal Papua tidak terlalu terkejut dengan adanya perbedaan cita rasa dari makanan yang ada disini. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Paskalis :

  “…saya suka pedas kaka, jadi saya tidak terlalu kaget dengan rasa masakan yang ada disini kaka. Hanya disini banyak yang mau

pilih-pilih dimakan misalnya rending dan sambal…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa mahasiswa asal Papua tersebut dapat menyesuaikan dengan cita rasa makanan yang berada di daerah ini.

  Rasa pedas menjadi ciri khas dan hal yang sama disini dengan yang ada di Papua, hanya beda di jenis makanan, masakan dan harganya saja.

  Kemudian dari segi pengairan di Medan dengan yang ada di Papua sangatlah berbeda. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Berlinda :

  “…biasanya kan kaka, air dikampung kami lebih banyak memakai air dari pegunungan kaka, mungkin karena kampung kami di daerah pegunungan ya kaka..tapi ya setau kami kebanyak manfaatkan air dari alam sih kaka. Makanya air disana dingin bersih dan lancar aja kaka…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa dari segi pengairan bahwa perbeedaan disana masih banyak menggunakan pengairan secara tradisional yaitu memanfaatkan air dari gunung sedangkan di sini terutama di asrama yang menjadi tempat tinggal mereka menggunakan PAM atau air sumur bor.

  Mengenai sarana dan prasarana di Medan lebih ramai dibandingkan di Papua dalam artian memang sama-sama memiliki pendatang dari luar kota yang menjadikan Kota Medan adalah kota metropolitan dan sebagai contoh terdapatnya sarana-sarana hiburan yang tersedia baik indoor maupun outdoor. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rince :

   “…sarana dan prasarana yang ada di Medan cukupla lengkap kaka bagi kami. Sangat jauh beda dengan yang ada di Papua kaka. Berbagai hiburan ada. Kemudian mau kemana-mana dan mau ngapa-ngapai semuanya serba ada. Tinggal kita milih aja kaka.contohnya selain tempat hiburan seperti mall, disini banyak tempat fotokopy, warnet, banyak yang jual pulsa, itu semuakan dapat mempermudah kita dalam mengurusi urusan kampus kaka.

Itu juga yang membuat saya tidak kesusahan disini…”

  Berdasarkan wawancara informan diatas bahwa banyaknya sarana dan prasarana yang terdapat di kota Medan ini dapat membantu khususnya bagi mahasiswa asal Papua dalam mempermudah setiap aktifitasnya. Selain itu, banyaknya terdapat hiburan yang telah disediakan untuk memanjakan setiap masyarakat yang berada di Kota Medan juga menjadi faktor penarik banyaknya mahasiswa asal dari daerah lain khususnya asal Papua untuk menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara Kota Medan walaupun di Papua itu sendiri masih ada universitas negeri tetapi mereka lebih memilih untuk keluar dan akhirnya memilih atau sampai di Universitas Sumatera Uta

4.5.2 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua terhadap Lingkungan Sosial (Bahasa, Budaya Lokal, Orang-orang disekitar dan Tempat Tinggal).

  Penyesuaian mahasiswa asal Papua terhadap lingkungan sosialnya dapat dilihat dari proses pertama kali hadir atau sampai di Universitas Sumatera Utara seperti bahasa dimana di Kota Medan terdapat banyaknya berbagai bahasa local atau daerah seperti bahasa Batak, Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Cina, Bahasa Gaul Medan dan bahasa-bahasa lainnya. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Paskalis :

  “…dulu pertama kali saya sangat susah untuk bisa berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar karena pengaruh logat daerah aku kaka. Jadi sering kali teman-teman aku yang berasal dari daerah lain kurang mengerti akan perbincangan aku kaka…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa mahasiswa yang berasal dari Papua tersebut mengakui sangatlah sulit untuk bisa beradaptasi dari segi bahasa dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa dari daerah lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh logat dari bahasa daerah mereka sendiri. Tetapi dengan begitu mahasiswa asal Papua terus mencoba terus belajar dan beradapatsi dengan bahasa yang digunakan di daerah ini karena bahasa menjadi patokan utama seseorang individu untuk dapat beradaptasi ditempat tinggalnya demikian juga untuk proses interaksinya.

  Dalam hal ini mereka juga harus bisa beradaptasi dengan budaya local yang ada disini misalnya saja disana masih ada yang tidak mengenakan pakaian baik perempuan maupun laki-laki karena sifatnya yang masih tradisional. Disini semua orang sudah memakai pakaian baik perempuan maupun laki-laki, diluar maupun didalam rumah, baik ketika menjalankan aktifitas ataupun rutinitas.

  Selain itu terdapat bercampurnya budaya seperti akulturasi dan asimilasi yang terjadi disini, bisa saja mahasiswa asal Papua berteman kemudian mempelajari dan mengetahui budaya dari mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Sebagai contoh, jika dilihat dari segi budaya pertanian baik dilihat dari cara menanam, memanen, dan hasil pertaniannya. Misalnya mahasiswa asal Papua yang kuliah di jurusan pertanian yang akan mengelola hasil pertanian dengan baik setelah dia belajar dan kuliah di jurusan pertanian USU. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Uta salah satu informan yang berasal dari pertanian:

  “…berbicara untuk mengelola pertanian, biasanya kan kaka disana masih banyak menggunakan alat0alat tradisional berbeda dengan yang disini yang menggunakan alat modern. Kalaupun ada alat-alat modern disana masih sedikit disana jumlahnya. Jadi rencana dan harapannya saya bisa memodernkan alat-alat produksi pertanian disana dengan ilmu yang didapat disini…”

  Hal ini ditambahkan oleh informan Rince jurusan Kesehatan Masyarakat :

  “…kami sebagai perempuan disana kaka biasanya kalau tidak sekolah ataupun pulang sekolah biasanya kami pergi ke lading. Kami sudah biasa begitu ka.. mau perempuan mau laki-laki yang penting kami ke ladang. Mungkin beda dengan orang yang ada disini, pulang sekolah bisa jalan-jalan ke kota bersama dengan teman-teman…” Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukan bahwa budaya lokal antara di Papua dengan budaya daerah sini jelas berbeda. Perbedaan itu hanya sebagai bentuk keragaman budaya Indonesia dan di dalam penelitian ini hanya sebagai pendukung dalam proses sosial adaptasi mahasiswa asal Papua tersebut.

  Mengenai tempat tinggal dan orang-orang di sekitar, mereka harus mampu menyesuaikan diri karena hal tersebut untuk waktu jangka yang lama. Mereka harus tinggal di asrama (putra ataupun putri) dengan orang-orang di sekitaran tempat tinggal yang baik berasal dari Papua ataupun dari daerah lainnya. Sebagai contoh, mereka harus saling mengenal setidaknya identitas mahasiswa asal daerah lain yaitu nama, asal orang tersebut, dan identitas lainnya. Hal ini untuk kepentingan keberlangsungan hidup selama tinggal di tempat tersebut seperti yang diutarakan salah satu informan UTA yang mengatakan bahwa :

  “…ya, namanya disini kami pendatang, pastinya perlu banyak untuk kenal orang disini. Kan, gak mungkin kami gak punya teman. Tidakpun teman kuliah hanya sekedar berkenalan pun bisa agar tidak dilihat sebagai orang yang sombong. Sebenarnya tidak kami saja yang berkenalan duluan begitu juga dengan orang lain yang mau berkenalan dengan kami…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas, mahasiswa asal Papua harus bisa membiasakan diri dengan tempat tinggal asrama baik putra maupun putri, mematuhi peraturan, menjaga ketertiban dan fasilitas yang diberikan selama tinggal. Harus memiliki sikap ramah tamah agar tidak terkesan sombong dan sendiri, begitu juga sebaliknya dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Hal ini menjadi patokan agar kesan pertama ketika berkenalan dengan orang lain yang bukan berasal dari Papua merupakan penerimaan sosial yang baik. Sebagai contoh mahasiswa asal Papua setidaknya harus bisa berkenalan dengan mahasiswa atau orang dari daerah lain agar proses adaptasi dan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan sosialnya baik. Setidaknya orang lain tersebut paling tidak bisa menggambarkan atau menjelaskan kepada mahasiswa asal Papua mengenai keadaan dan kondisi sosial di Universitas Sumatera Utara.

4.5.3 Pola Adaptasi Mahasiswa Asal Papua terhadap Mahasiswa dari Daerah Lain.

  Adapun yang menjadi dasar utama dalam adaptasi mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain yaitu proses penyesuaian diri mahasiswa asal Papua dengan bahasa, tingkah laku dan gaya hidup mahasiswa dari daerah lain. Bila mana bahasa adalah alat utama seorang individu sebelum dan sesudah ketika menginginkan untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan mahasiswa dari daerah lainnya.

  Kemudian solusi yang diberikan adalah dengan adanya pendampingan dari senior mahasiswa asal Papua yang terlebih dahulu sudah berada disini. Misalnya menceritakan tentang keberadaan dan keadaan sosial orang-orang yang berada disini beserta keanekaragamannya. Selanjutnya, mereka yang datang kesini tidak sendirian, namun mereka datang bersama-sama dengan mahasiswa asal Papua lainnya yang juga berkuliah di Universitas Sumatera Utara melalui program beasiswa Afirmasi yang dibuat oleh pemerintahan daerah sebagai salah satu program memajukan daerahnya. Pemerintah tersebut bertanggung jawab membawa mereka dari sana sampai disini serta memberikan hak dan kewajiban mereka selama mereka disini. Selain itu, selama mahasiswa asal Papua berada disini, mereka harus mengikuti segala jenis kegiatan dan program yang diadakan oleh penyelenggara seperti kegiatan penyambutan mahasiswa baru yang berasal dari Papua yang dibuat baik dari pihak kampus ataupun organisasi mahasiswa asal Papua tersebut.

  Adapun kegiatannya tidak hanya sekedar penyambutan tetapi orientasi yang menunjukan tentang kehidupan sosial disini misalnya sebagai contoh, perkenalan satu sama lain, saling mengenal, dan menghadapi kehidupan sosial ekonomi disini. Hal tersebut menjadi patokan agar mereka mahasiswa asal Papua bisa menjalani proses adaptasi atau penyesuaian diri dari lingkungan yang berada di Papua dengan yang berada disini. Kegiatan-kegiatan tersebut masih relatif dilakukan dengan hal-hal yang berkaitan dengan pembentukan dan motivasi diri karena berkaitan dengan selama pembelajaran tentang proses yang akan mereka jalani disini yaitu berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Seperti yang di ungkapkan oleh salah satu informan Eva :

  “…namanya kami baru datang, masih buta disini. Wajar para kaka-kaka yang sudah disini menceritakan kepada kami bagaimana orang-orang disini kaka…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas melihat bahwa betapa pentingnya penyesuian diri tersebut karena hal ini terkait dengan berperilaku dan bertingkah laku ke depannya selama mereka berada disini. Selanjutnya tingkah laku dapat memperlihatkan nilai dan norma yang terdapat di tempat tinggal yang sekarang yaitu di asrama. Penyesuaian tingkah laku tersebut seperti:

  1. Membiasakan diri untuk mematuhi peraturan yang terdapat di asrama.

  2. Menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban di dalam asrama.

  3. Menjalin hubungan baik terhadap sesame penghuni asrama.

  Dari ketiga hal diatas merupakan salah satu contoh bagaimana mahasiswa asal Papua untuk dapat beradaptasi dengan mahasiswa dari daerah lain dengan tingkah laku yang baik pula. Dengan demikian bilamana tingkah laku yang baik akan menciptakan image yang baik pula yang diciptakan oleh mahasiswa asal Papua agar terciptanya harmonisasi sosial dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Hal ini diutarakan oleh Debora yaitu mahasiswa yang berasal dari Pematang Siantar :

  “…pertama kali ketemu dengan anak-anak Papua, mereka ramah sih..Cuma sebagian ada yang bahasa Indonesia nya lancar dan ada yang nggak. Jadi akupun pertama-tama agak takut siy.. tapi pandai-pandai la kita becakapsama orang itu. Baik-baik kok orangnya kalau sudah kenal. Intinya Cuma perkara becakap saja…”

  Hal ini di tambahkan oleh Eva, informan mahasiswa asal Papua :

  “…kami kaka memang diakui masih ada yang susah pakai bahasa Indonesia, kebanyakan masih banyak yang pakai logat Papua. Apalagi kalau jumpa sama kawan sesama dari Papua. Jadi kebanyakan make bahasa daerah…” Berdasarkan wawancara diatas menggambarkan bawasannya betapa pentingnya menjaga sikap baik tingkah laku dan perilaku sehari-hari dalam bersosialisasi satu dengan yang lain. Selain itu, banyak kesempatan untuk bertemu dengan orang lain, melakukan hal-hal yang menjadi kebutuhan dalam proses adaptasi dan interaksi selama mereka bertemu dan melakukan proses interaksi tersebut.

  Berbicara mengenai gaya hidup jelas berbeda terhadap orang yang berada disini dengan orang yang berada di Papua. Sama seperti halnya dengan adaptasi bahasa, intonasi bisa sama kerasnya tetapi logat, makna dan arti jauh berbeda. Maka dari itu mahasiswa asal Papua tersebut harus mampu menyesuaikan dirinya. Hal tersebut berkaitan dengan hal yang mengenai gaya hidup yaitu proses penyesuaian diri mahasiswa asal Papua dengan kondisi atau keadaan gaya hidup di daerah ini seperti yang diutarakan oleh Berlinda :

  “…kami terbiasa disana matahari terlihat itu ketika jam 11 siang kaka, karena masih terselimuti oleh kabut gunung, jadi kami mulai beraktifitas jam 11 siang setelah adanya matahari. Belum lagi yang memang masih tinggal di balik pegunungan yang kadang sinar matahari tidak sampai…”

  Menurut penuturan diatas, setelah sampai di Medan mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan seperti keramaian, kegaduhan, aktifitas di pagi hari dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Apalagi di asrama harus bangun pagi untuk bersiap-siap menjalani aktifitas di kampus dan membereskan kamar di asrama masing-masing. Hal ini terkait dengan peraturan-peraturan yang berlaku di Universitas Sumatera Utara dan di asrama.

  Kemudian jika dilihat dari segi pakaian yang digunakan oleh mahasiswa asal Papua masih sama atau sesuai dengan mahasiswa pada umunya. Namun hal ini sangat berbeda halnya dimana jika dilihat dari asalnya. Di Papua juga masih terdapat beberapa sekelompok orang yang masih tidak menggunakan pakaian.

  Beda halnya dengan orang yang berada disini, semuanya memakai pakaian lengkap dan menutupi badannya. Tolak ukur gaya hidup juga dapat dilihat dari keseharian aktifitas dan rutinitas mahasiswa asal Papua dan mahasiswa dari daerah lain. Ada yang terbiasa mengikuti kegiatan seperti main futsal, kegiatan agama, dan kegiatan kampus atau kegiatan bersama lainnya. Meskipun demikian mereka harus terbiasa dengan hal tersebut yang sangat berbeda di tempat mereka berasal, yang terkadang hanya menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas pertanian. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga hal disini juga bisa mereka melakukan disana namun pasti hanya sesama mereka orang Papua. Kalau di sini mereka berbaur dengan satu sama lain dan mereka menyesuaikan dirinya sesuai dengan kondisi dan keadaan di Universitas Sumatera Utara.

4.5.4 Adaptasi Mahasiswa Asal Papua terhadap Ekonomi.

  Mengenai adaptasi ekonomi yang kita ketahui bahwasannya mahasiswa asal Papua yang hadir di Universitas Sumatera Utara dikarenakan adanya beasiswa Afirmasi dari pemerintah Papua. Hal ini yang nota bene semua keperluan dan kebutuhan hidup para mahasiswa asal Papua dipenuhi oleh Pemerintah. Kemudian, mereka memanfaatkannya dengan sebaiknya, ada yang bergantung dari uang saku dari pemerintah dan ada juga yang mendapat tambahan atau kiriman dari orang tua di Papua. Secara tidak langsung mereka harus juga pandai memanajemen keuangan mereka selama mereka tinggal disini. Kaitannya dengan penghematan sesuai dengan kebutuhan sehari-harinya. Hal yang menjadi patokan adaptasi ekonomi adalah kebiasaan mereka saat mengelola keuangan secara pribadi sebelum atau setelah berada di Universitas Sumatera Utara ini. Dari pada itu, kesemuanya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing karena keperluan hidup sehari-hari mereka sendiri yang tahu jadi sedikit banyaknya merekalah yang memanajemen keuangan sesuai dengan kebutuhan hidupnya selama tinggal di asrama dan kuliah di Universitas Sumatera Utara. Hal ini diutarakan oleh Uta sebagai berikut :

  “…kami disini memang semuanya ditanggung oleh pemerintah kaka, tapi ya pandai-pandai kamilah kaka untuk mencukupi biaya disini, lagian kami jauh dari orangtua, sebagian tidak ada keluarga disini…”

  Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukan bahwa semua proses sosial ekonomi mahasiswa asal Papua sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah melalui program beasiswa ini. Daripada itu, mereka harus bisa mengelola semua jenis proses sosial ekonomi yang berkaitan dengan jual beli, simpan pinjam dan pengelolaan keuangan yang lebih bersifat mandiri apalagi mereka jauh dari orang tua ataupun saudara sehingga tidak menutup kemungkinan mereka sendiri yang harus belajar untuk mengelola keuangan dan segala jenis kebutuhan yang berkaitan dengan uang harus baik.

4.6 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua.

  Interaksi dalam penelitian ini merupakan salah satu hal yang erat kaitannya dengan adaptasi. Interaksi sosial mahasiswa asal Papua adalah proses timbal balik untuk terjalinnya hubungan sosial antara mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa asal daerah lain. Hal ini dapat menciptakan sebuah interaksi sosial yang bersifat langsung dan tidak langsung.

  Adapun salah satu yang melandasi interaksi sosial adalah teori interaksionis simbolik seperti yang dinyatakan oleh Blummer (2007), istilah interaksionis simbolik menunjuk kepada sifat khas dari interaksi manusia khususnya adalah bahwa manusia atau individu saling menerjemahkan dan saling mendefenisikan tindakan dan bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung ataupun tidak langsung tetapi didasarkan atas makna yang diberikan terhadap orang lain tersebut. Dengan demikian, sinkronisasi interaksi sosial tidak dapat dipisahkan dengan proses sosial lainnya seperti dalam penelitian ini yaitu interaksi sosial dengan adaptasi yang terjadi atau dilakukan oleh mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara.

4.6.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua Secara Langsung.

  Dalam penelitian ini, interaksi keduanya baik langsung maupun tidak langsung dapat menjadikan proses harmonisasi sosial dan hubungan-hubungan sosial yang dijalani mahasiswa asal Papua selama tinggal di asrama dan berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Daripada itu, proses interaksi sosial secara langsung seperti yang diutarakan oleh informan yang bernama Elliyus :

  “…hal utama ketika kami sampai kaka adalah untuk kita tau bagaimana bisa berinteraksi dengan orang disini yah.., tentunya dengan menggunakan bahasa Indonesia walaupun sebagian dari

kami masih ada yang logat dari Papua masih kental…”

  Berdasarkan wawancara diatas dapat dilihat bawasannya, ketika mahasiswa asal Papua hadir disini mereka melakukan proses interaksi secara tidak disadari. Hal ini berlaku dan terjadi pada semua mahasiswa asal Papua. Intinya seperti berbicara, menanyakan sesuatu hal, saling berkenalan dan bentuk proses interaksi lainnya.

4.6.1.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Mahasiswa dari Daerah Lain.

  Interaksi Sosial mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa asal daerah lain bersifat langsung. Hal ini terjadi dikarenakan prosesnya melalui hubungan kontak langsung atau saling berinteraksi sekaligus tatap muka dan secara verbal. Dalam hal ini interaksi sosial mahasiswa asal Papua menggunakan dan melalui proses yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Ini merupakan salah satu syarat terjadinya interaksi sosial yang menurut Soerjono Soekamto yang menyatakan bahwa suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi apabila tidak memenuhi dua syarat tersebut.

  Mahasiswa asal Papua melakukan interaksi sosial secara langsung dengan mahasiswa dari daerah lain melalui proses tatap muka dan berdialog diantara kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kampus maupun tempat tinggal di asrama. Kegiatan ini terus berlangsung selama mereka saling bertemu dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak hal yang mendasari setiap proses interaksi mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain. Misalnya dalam keperluan atau dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti berinteraksi untuk berbicara mengenai urusan kampus, urusan kepentingan organisasi, dan aktifitas sehari-hari baik di kampus maupun di asrama.

  Dengan demikian kontak sosial secara langsungpun terjalin selama mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sebagai contoh, ketika mahasiswa asal Papua ingin atau ada keperluan untuk beberapa hal keperluan di kampus setidaknya ia akan berinteraksi dengan teman kampus yang dari daerah lain karena mahasiswa asal Papua tidak harus selamanya satu jurusan sehingga ia harus beinteraksi dengan mahasiswa dari daerah lain. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Eva :

  “…kami kaka sering bertanya sama kawan yang lain yang satu jurusan tapi tidak dari Papua. cuma untuk menanyakan urusan kampus, dan tugas kuliah lainnya karena kami kan yang dari Papua ini gak semua satu jurusan kaka…”

  Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa menunjukan bahwa mahasiswa asal Papua memang harus berinteraksi untuk mendapatkan informasi seperti informasi yang menyangkut dengan urusan perkuliahan, organisasi dan sebagainya. Proses interaksi tersebut memang dilakukan setiap hari ketika mahasiswa asal Papua bertemu dengan orang lain baik di saat sedang diperkuliahan, asrama ataupun disaat berada di lingkungan luar.

  Mengenai proses interaksi yang pada awalnya harus dengan melihat lawan interaksinya. Hal ini berkaitan dengan karakteristik lawan interaksi yaitu :

  1. Bentuk tubuh untuk memperlihatkan objek lawan interaksi. Dalam hal ini mahasiswa asal Papua yang melakukan interaksi dengan mahasiswa dari daerah lain yang sebelum melakukan atau terjadinya interaksi pastinya fisik seperti bentuk tubuh yang terlihat. Mahasiswa asal Papua cenderung berfisik dengan bentuk tubuh yang tidak terlalu tinggi, kekar, berambut keriting atau bergelombang dan ciri fisik mahasiswa asal Papua pada umumnya.

  2. Warna kulit merupakan penggambaran ciri khas asal daerah atau kesukuan bilamana mahasiswa asal Papua yang identik berkulit hitam. Hal itu sangat berbeda dengan mahasiswa dari daerah lain yang kecenderungannya berkulit bersawo matang.

  3. Bahasa merupakan penggambaran pokok utama dalam proses interaksi. Pada umumnya identik dengan bahasa lokal atau logat yang mereka miliki yaitu bahasa daerah Papua yang beranekaragam logat sesuai dengan suku dan wilayah tempat tinggal daerah mereka.

  Kemudian setelah kontak sosial dilakukan berikutnya yaitu komunikasi. Komunikasi menjadi hal yang utama dalam berinteraksi mahasiswa asal Papua baik dengan mahasiswa dari daerah lain ataupun masyarakat sekitar. Komunikasi dilakukan dengan cara langsung ataupun tidak langsung. Proses tersebut ditentukan dari keperluan dalam mencari informasi. Ada yang berkomunikasi sekaligus beinteraksi secara langsung misalnya berinteraksi dan berkomunikasi untuk menanyakan masalah kuliah. Komunikasi dilakukan dengan cara :

  1. Melihat pembicaraan.

  2. Melihat gerak-gerik.

  3. Melihat bahasa tubuh.

  4. Melihat dengan menggunakan alat bantu komunikasi.

  Sebagai contoh, proses pertama kali mahasiswa asal Papua berkenalan dengan peneliti. Kami saling berjabat tangan, bersapa, dan berkenalan sebagai bentuk interaksi sosial pertama kali. Interaksi sosial berlangsung dengan cara : 1.

  Mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa asal Papua.

  2. Mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain.

  3. Mahasiswa asal Papua dengan masyarakat atau kelompok lainnya.

  4. Kelompok asal Papua dengan kelompok mahasiswa asal lainnya.

  Hal ini diutarakan oleh salah satu informan yang bernama Uta :

  “…ada beberapa banyak kegiatan yang saya ikuti dan mengingikan untuk ketemu banyak orang jadi kan kaka paling tidak saya harus bisa berkomunikasi dengan baik. Tidak hanya sesama kami dari Papua saja tetapi orang-orang lain diluar sana

yang mengikuti kegiatan yang sama dengan saya…”

  Berdasarkan hasil wawancara diatas, bawasannya kontak sosial dan komunikasi tersebut menjadi hal yang mendasar untuk sebuah proses interaksi pada mahasiswa asal Papua. Dalam hal ini, mereka harus terus menyesuaikan setiap kali berinteraksi dengan banyak orang. Adapun proses interaksi sosial anatara kalangan mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain dalam hal :

  1. Berinteraksi dalam proses perkuliahan.

  2. Berinteraksi dalam hal menanyakan kondisi sosial dan keadaan di Universitas Sumatera Utara.

  3. Berinteraksi dalam hal menanyakan kondisi sosial dan keadaan di asrama.

  Dari semua hal tersebut, semua di alami oleh setiap mahasiswa asal daerah Papua ketika pertama kali hadir di Universitas Sumatera Utara dan untuk mengetahui informasi tentang keadaan dan kondisi sosial di Universitas Sumatera Utara dan di asrama kepada mahasiswa dari daerah lain yang satu jurusan ataupun beda jurusan. Hal ini disampaikan oleh Berlinda bahwasannya :

  “…kita kan kaka juga bisa bekawan dengan beda jurusan dan tidak harus berasal dari Papua juga. Semakin banyak teman disini kan kaka semakin senang kaka walaupun terkadang masih juga ada kawan kami yang itu-itu saja…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bawasannya informasi yang di dapat dari interaksi merupakan suatu kesatuan saat terjadinya proses keberhasilan interaksi tersebut. Sejauh ini mereka belum atau tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Namun demikian, kesulitan-kesuliatan yang dialami oleh mahasiswa asal Papua pada saat berinteraksi pertama kali dahulu masih bisa dianggap wajar dan memang dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai cara untuk proses interaksi sosial yang paling mudah dan menjadi syarat yang utama. Hal ini dikarenakan kita tinggal di Indonesia, mereka yang berasal jauh dari Papua adalah juga orang Indonesia.

  Adapun kesemuanya disatukan dalam proses interaksi baik kontak sosial dan komunikasi pertama yaitu berbicara dengan menggunkan bahasa Indonesia, berjabat tangan, bertegur sapa, dan berkenalan. Proses tersebutla yang menjadi awal untuk berinteraksi dan kemudian menjadi beradaptasi atau menyesuaikan diri dan menjalin hubungan-hubungan sosial yang baik untuk menciptakan harmonisasi sosial di tempat tinggal atau asrama dan di kampus Universitas Sumatera Utara.

  Selama ini, belum ada dan tidak diharapkan terjadinya kesulitan-kesulitan yang hanya disebabkan oleh kegagalan berinteraksi. Dikarenakan selama mahasiswa asal Papua tersebut tinggal dan mereka juga bisa menyesuaikan diri sehingga sampai sekarang mereka dapat tetap tinggal disini. Mereka datang jauh disana untuk belajar memperoleh pendidikan yang diharapkan bisa dibawa kembali pulang oleh mereka dan sejauh manapun itu mereka harus tetap bisa menyesuaikan diri dalam hal dan keadaan apapun untuk tetap bertahan hidup dan tinggal disini. Kebijakan dan peraturan menjadi pelengkap dan sempurnya proses adaptasi dan interaksi mahasiswa asal Papua.

4.6.1.2 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Masyarakat Sekitar.

  Adapun proses sosial ini yaitu ketika mahasiswa asal Papua bertemu langsung masyarakat di sekitar. Interaksinya terjadi ketika mereka saling bertemu, tatap muka dan saling bertegur sapa untuk melakukan aktifitas memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Proses interaksinya mencakup sebagai berikut :

  1. Berinteraksi ketika mereka melakukan proses tawar menawar di pasar ( dengan pedagang di pasar) .

  2. Berinteraksi ketika mereka melakukan pembelian di warung untuk berbelanja dimanapun (dengan penjual di warung, rumah makan, ataupun toko).

  3. Berinteraksi ketika mereka melakukan proses bepergian (dengan supir becak, supir angkot dan orang lain).

  4. Berinteraksi ketika mereka melakukan menanyakan suatu tempat atau alamat kepada orang lain yang ada disekitarnya.

  Hal tersebut diatas menjadikannya berbagai kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain atau dengan masyarakat disekitar yang memang bukan berasal dari Papua juga. Kemudian banyak hal juga yang dilakukan ketika mereka bertemu dengan masyarakat. Sebagai contoh ketika pertama kali mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik seperti dikarenakan kesulitan untuk berbicara dengan menggunkan bahasa Indonesia yang pada akhirnya diledekin.

  Karena masyarakat lain menanggap mereka adalah orang yang asing. Hal ini diutarakan oleh Berlinda sebagai salah satu informan :

  “…dulu pertama kali datang kemari kan kaka sering diejekin sama tukang becak yang di depan itu. Kadang mereka ketawa-tawa sendiri ketika kami lewat didepannya. Awalnya sihh takut lama kelamaan jadi saling tegur sapa juga dengan beberapa tukang becak yang sedang nongkrong di depan…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bawasannya kemampuan mereka berinteraksi yang menjadi patokan dalam proses interaksi selanjutnya yaitu dengan masyarakat sekitar. Sebenarnya kesulitan di dalam interaksi dengan mahasiswa dari daerah lain hanya terjadi pada sebagian mahasiswi asal Papua karena kalau dari pihak mahasiswa itu sendiri terkadang biasa saja menanggapi hal tersebut. Hal ini disebabkan mahasiswi lebih sedikit takut dan sensitive daripada mahasiswa asal Papua ketika melihat orang lain yang belum dikenalnya.

  Kemudian ditambahkan oleh Paskalis : “…terkadang memang kayak gitu kaka kalau kami sering diejekin.

  Apalagi dari kalau yang dari perempuannya malah semakin banyak untuk diejekin, tapi semuanya masih dalam hal yang wajar dan belum mengancam bagi kami. Toh..kami kan disini baik-baik, mau belajar dan bersekolah…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas, adapun semua proses interaksi tersebut tergantung dengan kemampuan dan kelihayan individu mahasiswa asal Papua masing-masing. Ada yang bisa membawa diri, langsung akrab, bersikap terbuka, dan mereka bisa melaluinya dengan baik sampai sekarang ini. Selain itu memang ada juga yang masih tertutup dengan orang lain yang belum dikenal dan itu masih pada hal yang wajar dan belum bersifat merugikan dan tindakan yang kurang berkenan. Mereka hadir disini untuk belajar atau mencari pendidikan sehingga mereka memang harus terbiasa oleh hal-hal yang biasanya dilakukan oleh masyarakat sekitar.

  Hal ini tergambarkan ketika kita baru mengenal apalagi melihat orang baru sehingga kita menganggapnya asing. Berbeda halnya ketika berbicara peradapan yang memang jelas berbeda semuanya satu sama lain khusunya antara Sumatera dan Papua serta daerah lainnya di Indonesia. Tanpa terkecuali tidak menutup kemungkinan untuk orang asing yang memang bukan berasal dari orang Indonesia karena kesempatan untuk bertemu dengan siapapun diluar sana adalah kesempatan semua orang. Biasa saja mahasiswa asal Papua tersebut bertemu dan berkenalan dengan orang asing yang bukan dari Indonesia.

  Namun demikian dalam penelitian ini adalah proses interaksinya dan adaptasinya masyarakat asal Papua dengan daerah lain yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan Universitas Sumatera Utara adalah tempat atau perguruan tinggi yang memang terdapat berbagai mahasiswa dari manapun, kalangan apapun, daerah manapun dan lain sebagainya.

4.6.2 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua Secara Tidak Langsung.

  Adapun setelah melakukan interaksi sosial dengan kontak dan komunikasi langsung kemudian setelah itu mahasiswa asal Papua juga melakukan interaksi dengan kontak dan komunikasi tidak langsung yaitu menggunakan alat bantu komunikasi. Namun, tetap juga melakukan proses interaksi tersebut.

  Hal yang mengenai interaksi sosial tidak langsung sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial secara langsung. Komunikasi yang terjadi dilakukan bisa saja secara bersamaan ataupun mewakili salah satu interaksi. Kemudian yang mencakup perbedaannya terletak pada alat komunikasi yang digunakan. Hal itu karena, alat tersebut merupakan salah satu syarat untuk mewakili proses terjadinya interaksi sosial yang dilakukan oleh mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan alat komunikasi baik berupa telepon genggam atau alat dan media lainnya.

4.6.2.1 Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua dengan Keluarga dan Sesama Teman Asal Papua.

  Alat bantu komunikasi seperti telepon gengam menjadi salah satu wadah atau media untuk terjalinya komunikasi jarak jauh. Dikatakan demikian karena setiap mahasiswa asal papua memiliki telepon gengam untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di Papua sana. Alat bantu komunikasi tersebut digunakan oleh mahasiswa asal Papua untuk : 1.

  Dapat menghubungi keluarga mereka yang berada di Papua.

  2. Dapat menghubungi teman-teman mereka yang berada di Papua.

  3. Untuk aktifitas mereka melalui media sosial yang berada di aplikasi telepon gengamnya.

  Dengan demikian walaupun jauh, proses interaksi mereka tetap terjalin tidak terbatas oleh waktu dan jarak . akan tetapi masih ada beberapa mahasiswa asal Papua yang tinggal dan sangat jauh dari pelayanan telekomunikasi jarak jauh. Sehingga memerlukan waktu dan kesempatan untuk saling berinteraksi melalui telepon genggam. Hal itu dikarenakan belum adanya jaringan telekomunikasi yang mencapai daerah-daerah terpencil di Papua sehingga mengakibatkan sulitnya berkomunikasi dan memerlukan waktu yang tepat untuk saling menghubungi keluarga ataupun teman ataupun kerabat disana. Keadaan ini juga dialami oleh mahasiswa asal Papua yang memang masih sangat jauh tinggal di pedalaman.

  Mereka harus memerlukan waktu yang tepat jika ingin menghubungi keluarga di Papua. Hal ini disampaikan oleh Paskalis yang daerah tempat tinggalnya baru masuk jaringan komunikasi sekitar tahun 2013 sebagai berikut :

  “…ditempat kami kaka baru tahun 2013 masukla tower itu ke kampung kami. Baru bisalah kami berteleponan. Kalau tidak biasanya orangtua saya kaka pergi ke kota hanya untuk bisa menghubungi saya disini. Sedih sekali terkadang kaka yang aku rasakan, tapi mau gimana lagi namanya juga sekolah jauh dari orangtua. Kita sukuri aja apa adanya…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas banyak hal yang terjadi ketika berinteraksi dengan menggunakan alat bantu komunikasi seperti telepon gengam karena telepon genggam menggunakan jaringan layanan seluler yang semakin sampai saat ini sudah masuk hingga ke pelosok negeri. Selain itu, faktor jarak yang jauh juga mengakibatkan mereka melakukan interaksi pada interval waktu seminggu ataupun bahkan sebulan sekali. Dikarenakan waktu dan kesempatan untuk berkomunikasi dan melakukan interaksi jarak jauh dengan keluarga. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki sanak saudara ataupun keluarga disini. Jadi, semua keluarga mereka adanya disana. Rasa rindu dan ingin bertemu menjadi hal yang wajar karena terpisahkan oleh jarak tersebut. Hal ini tidak menjadikan mereka merasa bersedih secara berlarut karena memang keinginan mereka untuk bersekolah dan meraih pendidikan jauh di Universitas Sumatera Utara.

  Dengan demikian, tidak hanya dengan keluarga tetapi teman-teman mereka yang ada disana juga mereka tinggalkan. Dengan kata lain, berpisah untuk sementara waktu selama mereka bersekolah atau menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Hanya dengan telepon gengam yang menjadi salah satu alat utama mereka dalam berinteraksi dengan keluarga ataupun teman di Papua sana.

  Semua proses tersebut mereka alami selama mereka tinggal disini dan sejauh ini juga belum menjadi kesulitan yang berarti bagi mereka. Hal tersebut yang terpenting adalah mereka disini untuk belajar dan menjadi harapan orang tuanya di kampungnya. Jarak ke Papua memang bukan jarak yang begitu dekat.

  Apalagi proses perjalanan mereka dari rumah sampai kesini telah mereka jalani hingga akhirnya mereka sampailah di Universitas Sumatera Utara ini. Banyak cara dan hal dilakukan, selain berkomunikasi untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman disana. Sebagian dari mereka juga ada yang menyimpan foto atau barang kesayangan, sehingga walaupun jauh jarak mereka namun tetap masih saling mengingat keluarga yang jauh di sana. Hal ini disampaikan oleh, saudara Uta yang kebetulan memiliki keluarga disini :

  “…kebetulah disini saya memiliki dan punya keluargfa,jadi masih bisa sering main ketempat saudara disini. Tapi namanya kangen orang tua juga kak kalau udah lama gak ketemu. Paling kita biisa teleponan dan dari sosial media untuk ketemu temanteman yang ada disana. Yah resikolah tapiu namanya juga kita disni sekolah dan belajar jadi itu masih hal yang wajar dan gak jadi masalah.

Orang tua dan teman dikampung sana pun mengerti…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas, perbedaan waktu antara Indonesia barat dan timur juga menjadi keterbatasan ketika mereka akan menghubungi untuk sekedar memberikan kabar dengan keluarga yang berada di Papua. Perbedaan waktu 2 jam kurang lebih, sehingga mereka disini juga harus pandai memanajemen waktu ketika mau menghubungi keluarga dan teman yang berada di Papua sana. Interaksi mereka dibantu dengan alat bantu komunikasi seperti telepon genggam, dan aplikasi media sosial. Hal tersebut memudahkan mereka juga untuk mengetahui kabar dan keadaan orang-orang di Papua sana.

  Interaksi sosial tidak langsung seperti ini menjadi salah satu hal yang mereka hadapi selama mereka berkuliah dan tinggal disini. Namun seiring berjalannya waktu dan kecanggihan teknologi, mereka juga mengalami kemajuan yang dahulunya hanya bisa berkomunikasi sebulan sekali, sekarang bisa seminggu sekali, tiga hari sekali dan bahkan ada yang setiap hari menghubungin keluarga disana. Hal ini terutama dialami oleh mahasiswi asal Papua yang mungkin belum terbiasa untuk berpisah jarak jauh dengan keluarga. Beda hal dengan mahasiswa sebagai laki-laki yang sudah terbiasa untuk hidup jauh dengan keluarganya.

  Demikianlah, selama mereka disini mereka akan melakukan proses interaksi sosial secara tidak langsung dengan cara seperti itu. Akan tetapi, komunikasi dan kontak sosial dalam interaksi tidak langsung juga bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, hanya untuk sekedar menghubungi teman kuliah, teman sesama mahasiswa Papua dan keperluan komunikasi lainnya yang juga menggunakan telepon gengam mereka sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya masing-masing. Hal ini ditambahkan oleh Berlinda,:

  “…disini kan kaka aku pakai handphone bukan hanya untuk menghubungi teman-temn atau keluarga aja disana, dengan teman-teman disini kalau aku mau hubungi ya aku pake handphone juga kaka.. sebagaimana kita punya handphone la kaka. Sering juga kan aku buka-buka facebook dari handphone untuk tau gimana kawan-kawan aku disana kaka…” Berdasarkan penuturan diatas bawasannya setiap berlangsungnya interaksi sosial baik secara langsung maupun tidak langsung, sudah menjadi aktifitas dan rutinitas mahasiswa asal Papua dan juga melengkapi proses adaptasinya selama mereka berada di sini. Lingkungan sosial yang mengambil peran dalam proses adaptasi dan interaksi sosialnya menjadikan mereka untuk bisa bertahan hidup dan tinggal bersama-sama dengan mahasiswa dari daerah lain yang juga sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Banyak hal yang memberikan mereka pelajaran untuk pentingnya menghargai sesama bangsa Indonesia. Apalagi ketika berbicara mengenai pendidikan, mereka jauh dari Papua sana hadir di Universitas Sumatera Utara untuk satu nama yaitu pendidikan yang diharapkan lebih layak darimana mereka tinggal sebelumnya. Dengan demikian semua proses sosial tersebut bisa menciptakan harmonisasi sosial seperti mereka untuk bisa memiliki teman dekat yang berasal dari daerah lain.

4.7 Interaksi Sebagai Bentuk Proses Adaptasi Mahasiswa Asal Papua.

  Interaksi merupakan salah satu kunci untuk berlangsungnya suatu bentuk proses adaptasi di dalam kehidupan sosial. Manusia saling menerjemahkan setiap tindakan orang lain. Menurut Fahroni (2009), makna-makna tersebut yang diberikan oleh orang lain tersebut berasal dari cara-cara orang lain bertindak terhadapnya dalam kaitannya dengan sesuatu. Tindakan-tindakan yang dilakukan akan melahirkan batasan bagi orang lain.

  Begitu juga dengan hal tindakan mahasiswa USU yang berasal dari Papua dan mahasiswa yang berasal dari daerah lainnya merupakan suatu proses interaksi yang berada didalamnya tercakup dari simbol-simbol masing-masing pihak saling menginterprestasikan makna yang ditangkapnya. Artinya tindakan mereka merupakan hasil dari pemaknaan masing-masing dari realitas sosial. Dengan demikian proses interaksi antara keduanya merupakan suatu proses yang saling stimulus, merespon tindakan dan hubungan sebagai hasil proses interprestasi dari masing-masing mahasiswa tersebut.

  Mahasiswa Papua di Medan adalah salah satu contoh kelompok remaja yang melakukan migrasi dengan alasan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda, mahasiswa Papua tentu saja dituntut untuk dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di Medan. Dalam penelitian ini, pola adaptasi dan interaksi sosial yang terjadi pada kalangan mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari mahasiswa dari daerah lain yaitu bersifat Akomodasi toleransi dimana proses sosial yang terjadi pada mahasiswa asal Papua dengan daerah lain berusaha untuk tidak saling menganggu dengan mencegah, mengurangi, atau menghentikan ketegangan yang akan terjadi atau yang sudah terjadi dalam arti toleransi antar sesame suku bangsa Indonesia. Mahasiswa asal Papua adalah bagian dari Indonesia begitu juga mahasiswa asal dari daerah lain yang berkuliah di USU.

  Proses sosial dalam interaksi dan adaptasi menciptakan akomodasi toleransi terjadi dikarenakan penerimaan sosial masyarakat dan mahasiswa dari daerah lain terhadap mahasiswa asal Papua itu adalah baik. Hal ini terlihat dari mereka untuk tetap bertahan dan berkuliah selama kurang lebih tiga tahun lamanya di Universitas Sumatera Utara. Semua hal yang berkaitan dengan perlakuan yang kurang menyenangkan sudah mereka lalui selama mereka tinggal sampai saat ini.

  Kehidupan sosial mereka yang dilengkapi dengan adaptasi dan interaksi yang membuat mereka hidup nyaman serta penghargaan berupa toleransi dari masyarakat dan mahasiswa dari daerah lainnya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Elliyus, sebagai salah satu informan :

  “…selama kami disini bisa dibilang sudah betah tinggal disini. Tidak ada masalah yang berarti. Semua kan tergantung individunya masing-masing, karena niat kami kesini hanya untuk belajar…”

  Berdasarkan penuturan di atas, menjadikan semua proses sosial yang terjadi dapat dikatakan mudah, jika individu di setiap kalangan mahasiswa asal Papua bersifat terbuka dan juga memiliki rasa toleransi dengan masyarakat dan mahasiswa asal dari daerah lainnya pula.

  Adaptasi dan interaksi tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses sosial. Dalam hal ini, mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain harus saling bertoleransi untuk menciptakan hubungan-hubungan sosial yang baik apalagi mereka satu lingkup di Universitas Sumatera Utara. Ada peraturan dan kebijakan yang harus mereka patuhi selama mereka tinggal dan berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Tujuan mereka sama yaitu belajar dan menempuh pendidikan tinggi sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing yang ada di Universitas Sumatera Utara. Harapannya mereka juga bisa membawa ilmunya kembali untuk membangun daerah masing-masing.

4.8 Pola dan Klasifikasi Informan Sesuai Dengan Adaptasi dan Interaksi.

  Adapun pola dan klasifikasi informan berdasarkan adaptasi dan interaksi sosialnya untuk melihat informan tersebut bisa beradaptasi dan berinteraksi dengan mahasiswa asal dari daerah lain di Universitas Sumatera Utara. Empat hal utama untuk melihat adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan mahasiwa dari daerah lainnya yaitu, alam,lingkungan sosial,mahasiswa daerah lain dan ekonomi sebagai berikut :

4.8.1 Pola Adaptasi dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua.

  Berdasarkan diagram di atas, penjelasannya adalah sebagai berikut; sikronisasi interaksi sosial dan adaptasi yang terjadi terlihat dari mahasiswa asal

  Mahasiswa Asal Papua Hadir Di USU

  Adaptasi Mahasiswa Asal Papua Hadir Di USU Interaksi Sosial Mahasiswa Asal Papua Hadir Di USU

  Pendampingan yang dilakukan oleh Pemerintah Program Beasiswa dan Organisasi Ikatan Mahasiswa Asal Papua Adaptasi meliputi :

  1. Adaptasi terhadap alam (cuaca, iklim, makanan, minuman, air, sarana, dan prasana).

  2. Adaptasi dengan lingkungan Sosial (bahasa, budaya lokal, Orang-orang disekitar, dan tempat tinggal) 3. Adaptasi dengan mahasiswa asal daerah lain.

  4. Adaptasi dengan Ekonomi.

  Interaksi Sosial meliputi :

  2. Interaksi Sosial secara tidak langsung dengan keluarga dan teman yang berada di Papua khususnya dengan menggunkan alat komunikasi.

  Pola interaksi dan adaptasi mahasiswa asal Papua adalah akomodasi toleransi

1. Interaksi sosial secara langsung dengan mahasiswa dari daerah lain dan masyarakat sekitar.

  Papua yang melakukan adaptasi sekaligus berinteraksi. Hal ini dapat ditunjukan seperti :

  1. Mahasiswa asal Papua hadir pertama kali dan didampingin dari pihak pemerintah Papua yang bertanggung jawab maka terjadilah adaptasi sekaligus interaksi dengan sesama mereka secara langsung.

  2. Mahasiswa asal Papua dapat beradaptasi dengan lingkungan alam dan sosialnya. Hal ini terjadi pada masing-masing individu mahasiswa asal Papua, seperti makan, minum, mandi, berbelanja, berdiskusi, belajar dan rutinitas atau aktifitas setiap harinya.

  3. Mahasiswa asal Papua dapat berinteraksi dengan semua orang yang mereka temui. Tidak hanya mahasiswa asal daerah lain tetapi semua orang yang mereka temui baik yang ada kaitannya dengan kehidupan perkuliahan ataupun kehidupan sehari-harinya.

  Dengan demikian semua proses sosial interaksi dan adaptasi mahasiswa asal Papua memang harus terjadi dikarenakan mereka tinggal dan hidup bersama, saling berdampingan satu sama lain yang sama-sama melakukan interaksi dan adaptasi baik di lingkungan asrama maupun di lingkungan Universitas Sumatera Utara.

4.8.2 Klasifikasi Informan Sesuai Dengan Adaptasi dan Interaksi. NO

  

INFORMAN MAHASISWA ADAPTASI DAN INTERAKSI BERADAPTASI TIDAK

ASAL PAPUA BERADAPTASI

  Alam, Lingkungan Sosial, Dapat Masih belum

1 Paskalis Tugomo

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi terlalu lancar

  Ekonomi dengan berbahasa keempatnya Indonesia

  • 2 Dwi R.P Weriu Alam, Lingkungan Sosial, Dapat

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi Ekonomi dengan keempatnya

  3 Elliyus Pase Alam, Lingkungan Sosial, Dapat -

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi Ekonomi dengan keempatnya

  4 Rince Wenda Alam, Lingkungan Sosial, - Dapat

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi Ekonomi dengan keempatnya

  5 Berlinda Wakerkwa Alam, Lingkungan Sosial, Dapat Belum betah,

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi masih belum Ekonomi dengan percaya dengan keempatnya orang lain yang belum dikenal termasuk teman dari daerah lainnya.

  

6 Eva Celia Homer Alam, Lingkungan Sosial, Dapat Belum bisa

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi bersosialiasi Ekonomi dengan dengan baik keempatnya dengan mahasisqwa yang lainnya

INFORMAN MAHASISWA ADAPTASI DAN INTERAKSI BERADAPTASI TIDAK ASAL DAERAH LAIN

  BERADAPTASI

  Debora Alam, Lingkungan Sosial, - Dapat

  1 Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi

  Ekonomi dengan keempatnya Mukti Amsar Alam, Lingkungan Sosial, Dapat Hanya sebatas

  2 Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi antara senior

  Ekonomi dengan dan junior keempatnya dikampus Eko Sunantri Alam, Lingkungan Sosial, Dapat Hanya sebatas

  3 Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi antara senior

  Ekonomi dengan dan junior keempatnya dikampus

  4 Ira Atiqah Zahra Alam, Lingkungan Sosial, - Dapat

  Mahasiswa Daerah Lain, beradaptasi Ekonomi dengan keempatnya Dapat terlihat bahwa diantara mahasiswa dan mahasiswi baik asal Papua maupun dari daerah lain mampu beriteraksi dan beradaptasi sesuai dengan kemampuan dirinya masing-masing. Hal tersebut mengakibatkan dan menunjukkan mereka bisa untuk bertahan hidup selama tinggal dan berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Dengan demikian mereka juga berharap untuk bisa membawa ilmu mereka selala kuliah disini ke Papua,dan ke daerahnya masing- masih. Banyak hal menjadi pelajaran mulai dari pertama mahasiswa asal Papua sampai disini,sampai saat ini tahun 2015 yang rata-rata kurang lebih 3 tahun berada disini untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing.

  Mahasiswa asal Papua dan dari daerah lainya,juga saling menjalin hubungan sosial karena mereka yakin bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain.walau terkedang masih ada yang sengaja membeda-bedakan diantara mereka. Tujuan mereka juga sama ingin belajar bersama,karena dari adaptasi dan interaksi sebagai proses sosial yang berhasil mereka lakukan,jadi mereka bisa bertahan sampai saat ini. Terlepas dari itu semua akomodasi toleransilah yang tercipta dari semua proses sosial adaptasi dan interaksi sosial pada mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lain begitu juga sebaliknya yang sedang berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Dalam hal ini, tidak terbatas di kampus USU,karena mahasiswa asal Papua yang tinggal di asrama juga terdapat mahasiswa dari daerah lain. Jadi semua prosesnya bisa terjadi dimana saja,baik dikampus, ditempat tinggal dan dimana saja. Hal ini dijelaskan oleh Debora,mahasiswa asal daerah lain yang tinggal asrama Putri :

  “…saya dari Siantar dan saya tinggal di asrama Putri,dan tinggal bertemu dengan mahasiswa asal Papau dan daerah lain. Kami disini sama-sama slaing toleransi saja bang. Kan semua juga udah tahu kita tujuannya untuk kuliah,jadi pandai-pandailah. Dan sejauh ini semuanya baik-baik saja,selama kami juga baik disini bang,dan memang semua orang disini baik-baik kok bang…”

  Berdasarkan hasil wawancara diatas bawasannya semua proses sosial adaptasi dan intearksi sosial mahasiswa asal Papaua dengan daerah lain,memang dialami setiap mahasiswa dan mahasiswinya,baik waktu pertama dulu sampai sekarang ini. Ada yang betah dan tidak betah dan itu semua merupakan pilihan.

  Mereka memilih untuk kuliah jauh dari keluarga namun demi tujuan untuk pencapaian yantu pendidikan yang lebih baik lagi. Mereka berkuliah dengan pilihan jurusan atau disiplin ilmu yang mereka inginkan, meskipun mahasiswa asal Papua tersebut, pemerintahnnya yang menentukan akan tetapi mereka juga ikut senang. Dan dapat dikatakan bahwa sejauh dan selama ini semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

  Kemampuan dan keahlian mereka terus terasah ketika mereka berinteraksi dan beradaptasi satu sama lain. Walaupun berkelompok ataupun tidak berkelompok, mereka tetap satu tujuan untuk kuliah di Universitas Sumatera Utara, baik mahasiswa yang berasal dari Papua dan mahasiwa dari daerah lain menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa terutama bagi daerah masing- masing dimana mereka berasal. Mau dari Papua, Jawa, Batak dan daerah lainnya yang juga ingin melakukan pemerataan kesejahteraan dan kemajuan daerah masing-masing bersama.

  

4.9 Tanggapan Mahasiswa Yang Dari Daerah Lain Terhadap Mahasiswa

Asal Papua

  Adapun tanggapan ini hanya untuk melihat mahasiswa asal Papua yang melakukan interaksi dan adaptasi baik dengan mahasiswa daerah lain,dengan alamnya dan dengan lingkungan sosial serta ekonominya. Tanggapan tersebut juga menggambarkan proses untuk kedepannya tentang mahasiswa asal Papua, yang diharapkan hendaknya untuk tidak terjadi kesalahpahaman dan stereotype antara satu sama lain diantara sesama mahasiswa. Dengan demikian tanggapan ini hanyalah presepsi dan menambah data penelitian dari yang diambil dari mahasiswa dari daerah lain yang memiliki atau pernah berinteraksi dengan mahasiswa asal Papua. Tanggapannya adalah sebagai berikut : 1.

  Debora ( mahasiswa asal daerah lain yaitu Pematang Siantar, yang bertempat tinggal di asrama putri dengan mahasiswa asal Papua) :

  “…satu hal tentang orang Papua menurut saya mereka memiliki keunikan tersendiri. Mereka jauh dari timur, punya rasa dank has yang berbeda kita yang disini. Itu yang membuat tertarik paling tidak untuk berteman ataupun hanya berkenalan apalagi kami sama-sama tinggal disini…” 2.

  Mukti Amsar (mahasiswa asal Kisaran yang memiliki teman junior di Fakultas Pertanian jurusan Agribisnis yang berasal dari Papua).

  “…kalau ku tengok biasa saja. Toh kita sudah tau sama-sama berasal dari Indonesia, berarti hal yang bagus dong kalau kita punya kawan yang tidak itu-itu saja. Apalagi kalau kita bisa tidak hanya berteman tapi menjalin kerja sama yang baik dalam perkuliahan yang tidak sebatas antara senior dan junior saja…”

  3. Ira Atiqah Zahra (mahasiswa asal Medan yang memiliki teman asal Papua yang bertemu pada saat acara di USU).

  “…berkenalan dengan semua orang itu hal yang mudah apalagi semenjak saya berkuliah disini. Apalagi USU sering mengadakan acara yang bisa meepertemukan semua mahasiswa asal manapun berkumpul bersama. Disitulah kesempatan kita saling mengenal satu sama lain. Mau dari sabang sampai marauke kita adalah bangsa Indonesia. Bukan karena hitamnya lantas kita menjauhinya, banyak juga yang berkulit hitam tapi tidak dari Papua…”

  4. Eko Sunantri (mahasiswa asal Pedagangan yang memiliki teman junior di fakultas Farmasi asal Papua).

  “…dengan tidak mengurangi rasa hormat aku, banyak hal yang orang lakukan untuk mempunyai banyak teman dan bergaul mau itu bekawan sama orang Papua maupun sama orang lain. Dimata Tuhan kita samanya tidak ada yang membedakan kulit ini dan kulit itu. Hanya saja karena kita sama tau bawasannya kita yang membuat jarak itu terjadi. kita tau kan kalau Papua itu jauh dari Medan ini jadi mungkin hal itu yang terkadang membuat kita tidak terlalu dekat dengan mereka. Mungkin itu saja…”

  Dari semua tanggapan di atas, dapat dikatakan bahwa jaraklah yang membuat perbedaan itu terjadi. Jarak sosial diantara satu mahasiswa asal daerah lain dengan daerah lainnya yang mengakibatkan adanya presepsi yang menghadirkan jarak yang sesungguhnya. Hal inipun menjadi perhatian tambahan mengenai stereotype tanpa sengaja yang tercipta karena adanya jarak sosial tersebut. Namun demikian semua masih dalam yang wajar dan belum memiliki resiko yang mengakibatkan perpecahan ataupun konflik. Buktinya mereka juga sampai saat ini mampu dan dapat tinggal bersamaan dengan kata lain melalui proses sosial adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan daerah lain di asrama dan di Universitas Sumatera Utara. Hal ini di jelaskan oleh Debora sebagai berikut :

  “…yang aku lihat kak, orang-orang itu yang sering bersama-sama sesama mereka. Jarang terkadang mau ngumpul sama kami. Maka dari itu kadang kamilah yang mencoba mendekati orang itu. Ya itulah kak yang pada akhirnya biasa saja dan enak juga di anggap teman kan bisa menjadi pengalaman…”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwasannya, pengalaman merupakan suatu pelajaran untuk setiap proses sosial yang dialami oleh mahasiswa yang berasal dari Papua. Banyaknya pengalaman yang dapat memberikan kesempatan pada setiap mahasiswa untuk dapat menjalankan semua aktifitas dan rutinitas yang menjadi pedomana betapa pentingnya menjalin hubungan sosial pertemanan yang baik terhadap semua mahasiswa selama belajar di Universitas Sumatera Utara.

  Harapannya adalah menciptakan harmonisasi sosial di kalangan mahasiswa baik mahasiswa yang berasal dari Papua ataupun mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Adaptasi dan interaksi hanyalah proses yang menentukan untuk bisa menjalani semua proses sosial selama mahasiswa asal Papua dan daerah lain bertempat tinggal di asrama dan berkuliah di Universitas Sumatera Utara.

  Kemudian mereka dapat hidup bersama dengan menjalani hubungan sosial pertemanan tersebut dengan baik. Tidak ada harapan yang terjadi dengan begitu saja karena banyak hal yang dapat mewujudkannya termaksud berhasilnya adaptasi dan interaksi sosial mahasiswa asal Papua dengan daerah lain di Universitas Sumatera Utara yaitu bersifat akomodasi toleransi. Dengan demikian, semua hal tersebut mahasiswa asal Papua dengan mahasiswa dari daerah lainlah yang dapat mewujudkannya. Dengan keberhasilan semua proses sosial adaptasi dan interaksi sosial selama mereka berada di Universitas Sumatera Utara.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 1.

  Pola adaptasi dan interaksi mahasiswa asal papua dan mahasiswa daerh lain bersifat akomodasi toleransi yang merupakan penyesuaian diri mahasiswa asal Papua terhadap semua bentuk konsekuensi dalam kehidupan sosial mahasiswa asal Papua di Universitas Sumatera Utara.

  2. Tanggung jawab dan pendampingan senior pada tahun 2012 yang menjadi mahasiswa asal Papua pertama yang bertanggung jawab terhadap mahasiswa asal Papua lainnya yaitu pada masa orientasi waktu pertama kali hadir di Universitas Sumatera Utara.

  3. Adaptasi mahasiswa asal Papua mencakup adaptasi ataupun menyesuaikan diri dengan : alam (cuaca, iklim, makanan, minuman, air, dan tempat tinggal), lingkungan sosial (bahasa, budaya lokal, orang-orang di sekitar tempat tinggal maupun lingkungan kampus), dengan mahasiswa daerah lain (baik di kampus maupun yang tinggal di asrama ataupun yang tinggal diluar), ekonomi (kondisi sosial ekonomi mahasiswa asal Papua).

4. Interaksi sosial yang bersifat tidak langsung dan langsung.

  5. Interaksi Sosial yang bersifat langsung dilakukan dengan mahasiswa dari daerah lain dan masyarakat/orang-orang di sekitar tempat tinggal ataupun Universitas Sumatera Utara.

  6. Interaksi sosial yang bersifat tidak langsung menggunakan alat bantu komunikasi untuk berinteraksi melalui telepon gengam kepada orangtua dan teman-teman yang berada di Papua.

  7. Interaksi sosial tidak langsung juga dilakukan kepada sesame mahasiswa yang kuliah di Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan telepon gengam dan aplikasi sosial media yang mereka miliki masing-masing selama mereka tinggal di asrama dan kuliah di Universitas Sumatera Utara sampai saat ini.

5.2 Saran 1.

  Diharapkan bahwa setiap mahasiswa asal Papua tetap menjadi hubungan yang baik tanpa hal yang membatasi apapun termaksud yang tidak berkenan di hati.

  2. Seandainya jika ada hal yang tidak berkenan dengan hal-hal yang terjadi pada kalangan mahasiswa asal Papua hendaknya dibicarakan dengan baik tanpa ada unsur menimbulkan konflik sedikitpun.

  3. Hendaknya demikian dengan mahasiswa asal daerah lain yang harus juga menjaga hubungan baik dengan kalangan mahasiswa asal Papua tanpa adanya sekat atau jarak sosial yang memang sengaja dibuat sehingga terjadinya perbedaan.

  4. Semua mahasiswa baik asal Papua ataupun daerah lain tetap dalam hubungan sosial pertemanan selama mereka tempat tinggal dan berkuliah di Universitas Sumatera Utara.

  5. Hendaknya dan diharapkan agar sering untuk mengadakan acara yang sifatnya untuk menjalin pertemanan dan terciptanya kehangatan dalam setipa proses sosial baik adaptasi maupun interaksi sosial.

DAFTAR PUSTAKA

  Amiruddin, T. 2000. Reorientasi Manajemen Pendidikan Islam di Era Indonesia Baru. Yogyakarta : UII Prees.

  Abu Ahmadi & Supriyono Widodo. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

  Bungin, Burhan (2001) Metodologi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif.

  Yogyakarta:Gajah Mada Press. Bungin, Burhan, (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya, Edisi Pertama, Cetakan

  Pertama, Prenada Media, Jakarta. Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media.

  Fahroni. (2009). Interaksi Sosial Mahasiswa Asing. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

  Gerungan. (1991). Psikologi Sosial. Bandung: Eresco. Hasan, M. Iqbal, (2002).Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ghalia Indonesia: Bogor.

  Heerdjan, Soerharto, ( 1987), Apa Itu Kesehatan Jiwa?, Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

  Hendro Puspito, (2003), Sosiologi Agama, edisi keempat volume dua, Yogyakarta: Kanisius

  Kartasapoetra, (1987), Teknologi Konservasi Tanah Dan Air, Jakarta: Gahlia Indonesia Meteray, Bernarda. (2012). Nasionalisme Ganda Orang Papua. Kompas: Jakarta.

  Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. (2005). Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

  Nawawi, Hadari dan Hadari, Martini. (2006). Instrumen Penelitian Bidang Sosial.

  Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Rahardjo,Turnomo,( 2005). Menghargai Perbedaan Cultural. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

  Ritzer, George. (2007). Sosiologi: Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda.

  Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada. Santoso, Slamet, 2004, Dinamika Kelompok, Jakarta: Bumi Aksara Setiadi,Elly M. dan Kolip Usman, (2011), Pengantar Sosiologi: pemahaman fakta dan gejala permasalahan sosial: teori, aplikasi, dan pemecahannya. (Jakarta : Kencana Prenada Media Grup. Soekanto Soerjono. (2001). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

  Soekanto, Soerjono. (2000). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

  Soekanto, Soerjono. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

  Sugiono (2013), Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: ALFABETA Suparlan (2002), dalam Syaiful. A (2002), “Seminar Strategi Pembangunan Kota dalam Kepemerintahan yang Baik”, Jakarta.

  Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: ANDI Winata, Andi. (2014). Adaptasi Sosial Mahasiswa Rantau Dalam Mencapai Prestasi Akademik (Studi Pola Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Angkatan 2008 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu Di Kelurahan Kandang Limun Kota Bengkulu). Universitas Bengkulu. Bengkulu Yayuk Yulianti. (2003). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama. http://www.papua.go.id/view-detail-page-254/Sekilas-Papua-.html di akses pada tanggal 23 Januari 2015 pukul 18.00 mendasar-pendidikan-di-papua di akses pada tanggal 23 Januari 2015 pukul 15.00. http://www.up4b.go.id/index.php/component/content/article/15-halaman/37- tentang diakses pada tanggal 11 Januari 2015 pukul 13.00. diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 20.00 http://usu.ac.id/id/article/11/sejarah diakses pada tanggal 3 Oktober 2015 pukul 17.42 WIB. http://usu.ac.id/id/kanal/1098/rp-61-m-beasiswa-bidikmisi-adik-disalurkan-ke- 6121-mahasiswa diakses pada tanggal 3 Oktober 2015 Pukul 14.30 WIB

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Gambaran Self-efficacy pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Berasal dari Papua
6
60
101
Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Papua di USU
9
125
157
Culture Shock Dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Papua Di USU
1
63
157
Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara)
10
96
264
Culture Shock Dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia Di Medan (Studi Kasus Pada Mahasiswa Asal Malaysia Di Universitas Sumatera Utara)
8
129
187
Identitas Etnis Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Etnis dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara)
3
45
238
Interaksi Sosial Jama’ah Salafiyyah(Studi Kasus Pada Mahasiswa Jama''ah Salafyyah di Universitas Sumatera Utara)
0
68
127
Pola Adaptasi Dan Interaksi Mahasiswa Asal Papua Dengan Mahasiswa Daerah Lain (Studi Pada Mahasiswa Asal Papua Di Universitas Sumatera Utara)
22
158
120
Pola Komunikasi Mahasiswa Asal Sumatera Utara Suku Batak Karo (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Mahasiswa Asal Sumatera Utara yang Melakukan Studi di Universitas Komputer Indonesia dalam Berinteraksi dengan Lingkungan Kampusnya)
0
16
77
Pola Komunikasi Mahasiswa Asal Sumatera Utara Suku Batak Karo (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Mahasiswa Asal Sumatera Utara yang Melakukan Studi di Universitas Komputer Indonesia dalam Berinteraksi dengan Lingkungan Kampusnya)
0
5
77
BAB I PENDAHULUAN - Gambaran Self-efficacy pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Berasal dari Papua
0
0
14
Gambaran Self-efficacy pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Berasal dari Papua
0
1
13
Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Papua di USU
0
1
40
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perspektif Paradigma Kajian - Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Papua di USU
0
0
24
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah - Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Papua di USU
0
0
9
Show more