Perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014

 5  93  121  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
PERBEDAAN POLA MAKAN, KADAR GULA DARAH, KOLESTEROL DAN ASAM URAT ANTARA KELOMPOK VEGETARIAN DAN NON VEGETARIAN DI PERUMAHAN CEMARA ASRI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN DELI SERDANG TAHUN 2014 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat OLEH : KARLINA LISTRA PENI 121021005 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2014 Universitas Sumatera Utara HALAMAN PENGESAHAN Judul Skripsi : PERBEDAAN POLA MAKAN, KADAR GULA DARAH, KOLESTEROL DAN ASAM URAT ANTARA KELOMPOK VEGETARIAN DAN NON VEGETARIAN DI PERUMAHAN CEMARA ASRI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN DELI SERDANG TAHUN 2014 Nama Mahasiswa : Karlina Listra Peni Nomor Induk Mahasiswa : 121021005 Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Gizi Kesehatan Masyarakat Tanggal Lulus : 29 Januari 2015 Disahkan Oleh Komisi Pembimbing Medan, Januari 2015 i Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Hingga saat ini penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, Hiperkolesterolemia, Asam Urat telah menjadi penyebab kematian di dunia. Pengaturan pola makanan merupakan salah satu kunci terpenting untuk menjamin kesehatan, salah satunya vegetarian. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 6 dari 10 orang non vegetarian terdapat angka kadar kolesterol dan asam urat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola makan, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional study). Populasi adalah vegetarian dan non vegetarian. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 30 orang tiap kelompok. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan formulir food frequency method serta pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan pola makan vegetarian dan non vegetarian, rata-rata kadar gula darah responden vegetarian yaitu 98,3 (SD 5,8) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 144,2 (SD 51,3); ratarata kadar kolesterol responden vegetarian yaitu 142,9 (SD 27,3) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata kolesterol 222,0 (SD 32,7); rata-rata kadar asam urat responden vegetarian yaitu 4,8 (SD 0,7) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata asam urat 6,2 (SD 1,5). Diharapkan bagi kelompok vegetarian untuk menjaga pola makan dan olahraga agar kadar gula darah, kolesterol dan asam urat tetap stabil dan bagi non vegetarian diharapkan untuk memperbanyak makan makanan nabati seperti sayur dan buah disamping makanan hewani lainnya selain itu juga untuk melakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit degeneratif. Kata kunci : Pola makan, Kadar gula darah, Kadar kolesterol, Kadar asam urat, Vegetarian, Non vegetarian ii Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Until now this degenerate disease like Diabetes, Hipercholesterolemia, Gout has been the cause of death in the world. This pattern of food is the most important key to ensure the health, one of them is vegetarian. From a check was commited to 6 of 10 people for a non vegetarian is the level of cholesterol and uric acid are high. The purpose of this research was to tell the difference diet, blood sugar, cholesterol, and uric acid between the vegetarian and non vegetarian in housing Cemara Asri District Percut Sei Tuan Deli Serdang 2014. The kind of this research is observational in the study of latitude (cross sectional study). The population is vegetarian and non vegetarian. And collecting samples of purposive sampling with the number of samples are 30 people each group. Gathering data was done in an interview with food frequency method and to check a blood sugar, cholesterol and uric acid. The research shows that there’s a difference diet, vegetarian and non vegetarian, the average blood sugar respondents, which is 98,3 (sd 5,8) and in the non vegetarian average blood sugar 144,2 (sd 51,3); the average levels of cholesterol respondents, which is 142,9 (sd 27,3) and on the non vegetarian average cholesterol 222,0 (sd 32,7); the average levels of uric acid respondents, which is 4,8 (sd 0,7) and in the non vegetarian, average urric acid 6,2 (sd 1,5). Suggested vegetarian to maintain a diet and exercise to stay stablelike of blood sugar, cholesterol and uric acid, and for non vegetarian is expected to increase food vegetable like vegetables and fruit instead of animal food, other than that to do exercise regularly to keep health and avoid disease and degenerative. Keywords: Diet, Blood sugar, Cholesterol, Uric acid, Vegetarian, Non Vegetarian iii Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Karlina Listra Peni Tempat/Tanggal Lahir : Padangsidimpuan / 14 Nopember 1988 Agama : Islam Status Perkawinan : Belum Kawin Nama Orang Tua Ayah : (Alm. Panani Tanjung, S.Sos) Ibu : Hj. Erna Minta Siregar, SE Anak ke : 1 dari 2 bersaudara Alamat Rumah : Jl. Tano Bato Gang. Matahari No. 6 Padangsidimpuan RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 1994-1995 : TK Aisyiyah Bustanul Atfal Tahun 1995-2001 : SD Muhammadiyah 1 Padangsidimpuan Tahun 2001-2004 : SMP Negeri 4 Padangsidimpuan Tahun 2004-2007 : SMA Negeri 4 Padangsidimpuan Tahun 2007-2010 : Politeknik Kesehatan Medan Tahun 2012-2015 : Fakultas Kesehatan Masyarakat USU iv Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan. Skripsi ini penulis persembahkan kepada orang tua tercinta, Ayahanda Panani Tanjung S.Sos (Alm) dan Ibunda Hj. Erna Minta Siregar, SE yang telah memberikan dukungan baik moril dan materil dalam membesarkan, mendidik, memotivasi dan selalu mendoakan penulis. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si selaku Ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara beserta seluruh dosen dan staf Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman kepada penulis selama menuntut ilmu di FKM USU. v Universitas Sumatera Utara 3. dr. M. Arifin Siregar, M.S selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan petunjuk dan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Fitri Ardiani, SKM, MPH selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan petunjuk dan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Prof. Dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis. 6. Untuk adik tercinta Irham Fadillah, ST terima kasih untuk kebersamaan, dukungan, dan doa yang diberikan kepada penulis. 7. Untuk teman-teman Ekstensi angkatan 2012 dan teman-teman peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat, serta semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan, kerjasama dan doanya. Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini baik dari segi isi maupun penyajianya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin. Medan, Januari 2015 Penulis Karlina Listra Peni vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Pengesahan .......................................................................................... i Abstrak ............................................................................................................... ii Abstract .............................................................................................................. iii Daftar Riwayat Hidup ........................................................................................ iv Kata Pengantar ................................................................................................... v Daftar Isi ....................................................................................................................... vii Daftar Tabel ....................................................................................................... ix Daftar Gambar .............................................................................................................. xi Daftar Lampiran ........................................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ......................................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah .................................................................................................. 1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................................... 1 6 7 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................... 8 2.1. Pola Makan ............................................................................................................... 2.2. Pola Makan Vegetarian ............................................................................................. 2.2.1. Jenis-jenis Vegetarian .................................................................................... 2.2.2. Kebutuhan Bahan Makan Vegetarian............................................................. 2.2.3. Gizi Vegetarian .............................................................................................. 8 8 9 11 14 2.2.4. Penelitian Mengenai Pola Makan Vegetarian dan Penyakit Degeneratif ..................................................................................................... 2.3. Penyakit Degeneratif ................................................................................................. 2.3.1. Diabetes Mellitus............................................................................................ 2.3.2. Kolesterol ....................................................................................................... 2.3.3.Asam Urat ....................................................................................................... 2.4.Vegetarian dan Diabetes Mellitus, Kolesterol dan Asam Urat .................................. 2.4.1 Vegetarian dan Diabetes Mellitus. .................................................................. 2.4.2. Vegetarian dan Kolesterol .............................................................................. 2.4.3. Vegetarian dan Asam Urat ............................................................................. 2.5. Kerangka Teori ......................................................................................................... 2.6. Kerangka Konsep ...................................................................................................... 2.7. Hipotesis Penelitian .................................................................................................. 21 23 23 26 29 31 31 34 35 36 37 38 vii Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 3.1. Jenis dan Desain Penelitian ............................................................................ 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................................... 3.2.1. Lokasi Penelitian ................................................................................. 3.2.2. Waktu Penelitian .................................................................................. 3.3. Populasi dan Sampel ...................................................................................... 3.3.1. Populasi ................................................................................................ 3.3.2. Sampel .................................................................................................. 3.3.3. Besar Sampel ....................................................................................... 3.4. Metode Pengumpulan Data ............................................................................ 3.4.1. Jenis Data ............................................................................................. 3.4.2. Cara Pengumpulan Data ...................................................................... 3.5. Variabel dan Defenisi Operasional ................................................................ 3.5.1. Variabel ................................................................................................ 3.5.2. Definisi Operasional ............................................................................ 3.6. Metode Pengukuran ....................................................................................... 3.6.1. Variabel Independen ............................................................................ 3.6.2. Variabel Dependen............................................................................... 3.7. Pengolahan dan Analisis Data........................................................................ 3.7.1. Pengolahan Data .................................................................................. 3.7.2. Analisis Data ........................................................................................ 39 39 39 39 39 40 40 40 40 42 42 42 42 42 42 43 43 44 44 44 45 BAB IV HASIL PENELITIAN ............................................................................... 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................................ 4.2. Analisis Univariat .................................................................................................... 4.2.1. Karakteristik Responden Penelitian .............................................................. 4.2.2. Pola Makan Responden Penelitian ................................................................ 4.2.3. Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Responden Penelitian .......... 4.3. Analisis Bivariat ....................................................................................................... 46 46 47 47 51 64 65 BAB V PEMBAHASAN ............................................................................................... 5.1. Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian ........................................................... 5.2. Kadar Gula Darah dan Diabetes Mellitus pada Vegetarian dan Non Vegetarian .... 5.3. Kadar Kolesterol dan Penyakit Kolesterol pada Vegetarian dan Non Vegetarian ... 5.4. Kadar Asam Urat dan Penyakit Asam Urat pada Vegetarian dan Non Vegetarian .. 67 67 71 73 74 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 6.1. Kesimpulan .............................................................................................................. 6.2. Saran ........................................................................................................................ 77 77 78 DAFTAR PUSTAKA viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Kriteria Penegakan Diagnosis DM ............................................... Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Responden ..................................................................................... Distribusi Proporsi Karakteristik Responden ................................ Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian Berdasarkan Lama Dan Alasan Menjadi Vegetarian serta Rutinitas Olahraga............ Distribusi Frekuensi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pengetahuan dan Alasan Tidak Vegetarian serta Rutinitas Olahraga ........................................................................................ Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Pokok ................ Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Pokok ............................................................................................. Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Lauk pauk (Nabati) ................................................................................................... Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Lauk Pauk (Nabati) ....................................................... 25 48 49 50 51 52 53 54 54 Tabel 10 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Tumbuhan Polong ............................................................................................ Tabel 11 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Tumbuhan Polong ......................................................... Tabel 12 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Sayuran ......................................................................... Tabel 13 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Sayuran ......................................................................... Tabel 14 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Buah-buahan ................................................................. Tabel 15 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Buah-buahan ................................................................. Tabel 16 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola 55 56 57 58 59 60 ix Universitas Sumatera Utara Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Hewani dan Produknya ............................................... Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Hewani dan Produknya ............................................... Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Makanan Selingan (Snack).......................................................................... Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Makanan Selingan (Snack) ......................................................................... Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Gula Darah .............................. Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Kolesterol ................................. Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Asam Urat ................................ Distribusi Responden Berdasarkan Perbedaan Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Kelompok Non Vegetarian ............................... 61 62 63 64 65 66 67 67 x Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Piramida Makanan Untuk Kelompok Vegetarian.................. .. 25 Gambar 2 Kerangka Konsep Perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014 .............................. 38 xi Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner Lampiran 2 Master Tabel Lampiran 3 Hasil Analisa Statistik Lampiran 4 Surat Permohonan Izin Penelitian Lampiran 5 Surat Telah Selesai Melakukan Penelitian Lampiran 6 Lembar Persetujuan Tindakan Medis Lampiran 7 Foto Penelitian xii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Hingga saat ini penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, Hiperkolesterolemia, Asam Urat telah menjadi penyebab kematian di dunia. Pengaturan pola makanan merupakan salah satu kunci terpenting untuk menjamin kesehatan, salah satunya vegetarian. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 6 dari 10 orang non vegetarian terdapat angka kadar kolesterol dan asam urat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola makan, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional study). Populasi adalah vegetarian dan non vegetarian. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 30 orang tiap kelompok. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan formulir food frequency method serta pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan pola makan vegetarian dan non vegetarian, rata-rata kadar gula darah responden vegetarian yaitu 98,3 (SD 5,8) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 144,2 (SD 51,3); ratarata kadar kolesterol responden vegetarian yaitu 142,9 (SD 27,3) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata kolesterol 222,0 (SD 32,7); rata-rata kadar asam urat responden vegetarian yaitu 4,8 (SD 0,7) sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata asam urat 6,2 (SD 1,5). Diharapkan bagi kelompok vegetarian untuk menjaga pola makan dan olahraga agar kadar gula darah, kolesterol dan asam urat tetap stabil dan bagi non vegetarian diharapkan untuk memperbanyak makan makanan nabati seperti sayur dan buah disamping makanan hewani lainnya selain itu juga untuk melakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit degeneratif. Kata kunci : Pola makan, Kadar gula darah, Kadar kolesterol, Kadar asam urat, Vegetarian, Non vegetarian ii Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Until now this degenerate disease like Diabetes, Hipercholesterolemia, Gout has been the cause of death in the world. This pattern of food is the most important key to ensure the health, one of them is vegetarian. From a check was commited to 6 of 10 people for a non vegetarian is the level of cholesterol and uric acid are high. The purpose of this research was to tell the difference diet, blood sugar, cholesterol, and uric acid between the vegetarian and non vegetarian in housing Cemara Asri District Percut Sei Tuan Deli Serdang 2014. The kind of this research is observational in the study of latitude (cross sectional study). The population is vegetarian and non vegetarian. And collecting samples of purposive sampling with the number of samples are 30 people each group. Gathering data was done in an interview with food frequency method and to check a blood sugar, cholesterol and uric acid. The research shows that there’s a difference diet, vegetarian and non vegetarian, the average blood sugar respondents, which is 98,3 (sd 5,8) and in the non vegetarian average blood sugar 144,2 (sd 51,3); the average levels of cholesterol respondents, which is 142,9 (sd 27,3) and on the non vegetarian average cholesterol 222,0 (sd 32,7); the average levels of uric acid respondents, which is 4,8 (sd 0,7) and in the non vegetarian, average urric acid 6,2 (sd 1,5). Suggested vegetarian to maintain a diet and exercise to stay stablelike of blood sugar, cholesterol and uric acid, and for non vegetarian is expected to increase food vegetable like vegetables and fruit instead of animal food, other than that to do exercise regularly to keep health and avoid disease and degenerative. Keywords: Diet, Blood sugar, Cholesterol, Uric acid, Vegetarian, Non Vegetarian iii Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan zaman dan era globalisasi yang terjadi saat ini membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan. Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama pada pola makan. Indonesia saat ini mengalami permasalahan beban ganda dalam menghadapi masalah gizi. Dimana ketika permasalahan gizi kurang belum teratasi, muncul permasalahan baru yaitu permasalahan gizi lebih. Gizi kurang banyak dihubungkan dengan penyakit-penyakit infeksi, sedangkan gizi lebih sering dianggap sebagai sinyal awal dan munculnya keluhan penyakit-penyakit degeneratif/non infeksi yang sekarang ini banyak terjadi di Indonesia. Tingginya prevalensi penyakit degeneratif menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia (Hanan, 2005). Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi global penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi pangan. (WHO, 2002). Penyakit degeneratif mencakup penyakit diabetes mellitus, hiperkolesterolemia, asam urat, dan lain-lain. Pada tahun 2003 WHO (World Health Organization) mengatakan prevalensi diabetes di dunia diperkirakan 194 juta, jumlah ini akan diperkirakan menjadi 335 juta ditahun 2025 sebagai konsekuensi dari harapan hidup yang lebih lama, gaya hidup santai dan perubahan pola makan penduduk (WHO, 2003). Selain itu menurut data WHO (2002), jumlah individu yang 1 Universitas Sumatera Utara 2 meninggal akibat penyakit kolesterol adalah sebanyak 5.825.000 untuk umur 60 tahun ke atas dan 1.332.000 untuk umur 15-59 tahun (Hanan, 2005). Alexander (2010) juga menyatakan prevalensi asam urat (gout) di Amerika Serikat meningkat dua kali lipat dalam populasi usia lebih dari 75 tahun antara 1990 dan 1999, dari 21 per 1000 menjadi 41 per 1000 penduduk. Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah penderita diabetes ke 4 terbanyak di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Pada tahun 2000 di Indonesia terdapat 8,4 juta penderita diabetes dan diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (Soegondo dkk, 2009). Untuk kolesterol sendiri, di Indonesia pada tahun 2006, penyakit jantung yang diperoleh dari kadar kolesterol yang tinggi merupakan penyebab kematian pertama, dengan angka mortalitas 14% (Riskesdas, 2007). Di samping itu satu survei epidemiologi yang dilakukan di Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama WHO-COPCORD terhadap 4.683 sampel berusia antara 15-45 tahun, di dapatkan bahwa prevalensi hiperurisemia sebesar 24,3% pada laki-laki dan 11,7% pada wanita. Secara keseluruhan prevalensi kedua jenis kelamin adalah 17,6% (Darmawan, 2009). Di Sumatera Utara khususnya RSUP H.Adam Malik Medan berdasarkan atas pola penyakit dan berbagai tingkat umur, jumlah kasus Diabetes Mellitus menempati urutan nomor dua setelah penyakit neoplasma ganas, dan berdasarkan data pola kematian menurut penyakit penyebab kematian pasien, Diabetes Mellitus menempati urutan ke 16 dengan jumlah 430 orang dari jumlah kematian 37.279 (Dinkes Sumut, 2009). Sedangkan prevalensi penyakit akibat kolesterol tinggi di Sumatera Utara pada Universitas Sumatera Utara 3 tahun 2007 sebesar 7%. Ini merupakan prevalensi persentase tertinggi diantara beberapa penyakit degeneratif lainnya (Rikerdas, 2007). Perkebangan zaman yang semakin canggih, ternyata tidak hanya memberi dampak positif. Gaya hidup modern yang tidak sehat diikuti tidak teraturnya pola makan mengakibatkan tingkat kesehatan manusia semakin merosot. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak dapat ditolak meskipun kadang-kadang bisa dicegah atau dihindari. Dewasa ini terdapat berbagai variasi makanan yang dapat dipilih manusia untuk mengenyangkan perutnya. Hal ini tentunya menunjukkan perhatian yang semakin besar dari masyarakat akan masalah kesehatan. Jadi jika dahulu makan bertujuan sebagai sumber energi untuk menunjang aktivitas, maka kini makan sudah menjadi suatu bentuk gaya hidup sehat bagi sebagian masyarakat (Peggy, 2007). Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Makanan dapat membantu dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, lemak dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan. Back to Nature atau kembali ke alam merupakan salah satu upaya manusia untuk menyelaraskan diri dengan kehidupan alam. Makanan alami untuk kebutuhan manusia tidak akan menghalangi menikmati hidup bahagia dan selaras dengan alam. Oleh karena itu pengetahuan tentang gizi menjadi penting bagi kita guna mempertahankan derajat kesehatan yang lebih optimal. Pengaturan pola makanan bukan rahasia lagi sebagai salah satu kunci terpenting untuk menjamin kesehatan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika saat ini semakin banyak ditemukan berbagai konsep alternatif tentang Universitas Sumatera Utara 4 healthy food misalnya berupa diet berdasarkan golongan darah, jus kombinasi, herbal dan juga vegetarian (Meyni, 2010). Berbagai penyakit timbul karena cara hidup yang kurang sehat atau perilaku yang salah. Hal yang paling ditakuti oleh orang adalah pikiran tentang kemungkinan terserang penyakit tertentu yang akhirnya mematikan. Sejalan dengan meningkatnya angka kematian akibat beberapa penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, kolesterol, asam urat, dan lain-lain, pola hidup sehat dengan vegetarian merupakan pilihan yang paling tepat (Purwosuseno, 2007). Menurut American Institute for Cancer Research, banyak orang ingin beralih ke pola makan vegetarian. Akan tetapi beberapa dari mereka khawatir tentang kekurangan protein dan gizi. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa protein nabati merupakan protein yang berkualitas tinggi dan dengan mengonsumsi beraneka ragam makanan nabati adalah salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk kesehatan. Tetapi kebanyakan tumbuh-tumbuhan kekurangan satu atau dua asam amino. Untuk menyiasatinya dengan melakukan kombinasi antara dua protein yang berbeda pada asam amino yang akan menghasilkan protein komplementari. Selain itu untuk memenuhi kecukupan vitamin B12 dapat diperoleh dari susu kedelai dan ragi atau dengan suplemen vitamin B12 (Ltaminsyah, 2009). Menurut Dwyer (1988) dan Kahn (1983) pada Arundhana (2012), bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa vegetarian memiliki inisiden yang lebih rendah terhadap penyakit diabetes, hipertensi, jantung, dan batu empedu dibanding yang bukan vegetarian. Hal ini dikarenakan pada kelompok vegetarian dalam penelitian tersebut memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan semi vegetarian Universitas Sumatera Utara 5 dan non-vegetarian. Selain itu penelitian oleh Seventh-day Adventist juga menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat penyakit kronik seperti penyakit diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, kanker, dan obesitas pada vegetarian lebih rendah dibandingkan pada non-vegetarian. Data-data menunjukkan bahwa orang dengan pola makan vegetarian umumnya lebih sehat dan berumur panjang dibanding mereka yang non vegetarian. Sebagai contohnya, penelitian pada tahun 2009 di bulan Maret oleh The American Dietetic Association seperti yang dikutip dari Ltaminsyah (2009), pada lebih dari 500.000 orang-orang yang berusia 50-71 tahun di Amerika dan didapati bahwa orangorang dewasa yang mengonsumsi paling banyak daging merah lebih berkemungkinan untuk meninggal dalam waktu 10 tahun lebih cepat daripada mereka yang paling sedikit mengonsumsi daging merah, kebanyakan karena penyakit kardiovaskular dan kanker. Penelitian mengenai perbedaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat pada masyarakat dengan pola makan vegetarian dan non vegetarian belum pernah dilakukan. Dengan mengetahui kadar gula darah, kolesterol maupun asam urat, masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya penyakit degeneratif yang antara lain diabetes mellitus, kolesterol dan asam urat baik pada vegetarian maupun non vegetarian. Di Perumahan Cemara Asri sendiri terdapat Maha Vihara Maitreya yang berada di bawah naungan Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI). KVMI merupakan perkumpulan vegetarian aliran Maitreya yang tersebar di Indonesia. Walaupun aliran Maitreya sangat menganjurkan pola makan vegetarian pada Universitas Sumatera Utara 6 umatnya, namun pola makan vegetarian merupakan pilihan masing-masing individu tanpa ada tekanan atau paksaan, sehingga masih ada yang menjalankan pola makan non vegetarian. Selain itu banyaknya ditemukan makanan siap saji di sepanjang Perumahan Cemara Asri memudahkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan tersebut yang berpeluang terhadap penyakit degeneratif. Berdasarkan survey awal, ditemukan sejumlah orang yang mengalami keluhan diabetes mellitus, dan kematian akibat jantung koroner. Selain itu, dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 6 dari 10 orang non vegetarian terdapat angka kadar kolesterol dan asam urat yang tinggi. Semakin banyaknya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit degeneratif, khususnya diabetes mellitus, kolesterol dan asam urat, maka penulis berminat untuk mengetahui perbedaan pola makan, kadar gula darah, kolesterol dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang tahun 2014. 1.2. Perumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014 ?” 1.3. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui perbedaan pola makan, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014. Universitas Sumatera Utara 7 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai informasi kepada masyarakat mengenai perbedaan pola makan antara kelompok vegetarian dan non vegetarian. 2. Sebagai informasi kepada masyarakat mengenai perbedaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian. 3. Sebagai informasi kepada kelompok vegetarian terutama di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang mengenai risiko penyakit degeneratif (Diabetes mellitus, Kolesterol dan Asam Urat). 4. Sebagai bahan pertimbangan mengenai pola makan vegetarian bagi kelompok Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang. Universitas Sumatera Utara BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pola Makan Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga dikatakan sebagai suatu cara seseorang atau sekelompok orang atau keluarga memilih makanan sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan dan sosial (Suhardjo, 1989). Pola makan yang baik mengandung makanan sumber energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur, karena semua zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh dan juga untuk perkembangan otak dan produktifitas kerja, serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan. Dengan pola makan sehari-hari yang seimbang dan aman, berguna untuk mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal (Almatsier, 2011). 2.2. Pola Makan Vegetarian Vegetarian berasal dari Bahasa Latin, yakni vegetus, artinya kuat, aktif dan bergairah. Vegetarian memiliki dua arti, yakni sebagai kata benda dan kata sifat. Vegetarian sebagai kata benda berarti orang yang banyak/hanya mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Yuliarti, 2009), sedangkan vegetarian sebagai kata sifat berarti tidak mengandung daging atau kebiasaan berpantang daging. Memperkecil risiko penyakit kronis dan pencemaran lingkungan merupakan alasanalasan utama yang berhubungan dengan kesehatan. Alasan lain berkaitan dengan rasa 8 Universitas Sumatera Utara 9 kepedulian terhadap hewan-hewan, perbaikan atas kondisi kelaparan di dunia, mengurangi pencemaran lingkungan, dan kepercayaan pada suatu agama atau ajaran (Bangun, 2003). Pada dasarnya, pola makan vegetarian merupakan suatu pengaturan makanan yang baik. Pola makan vegetarian adalah suatu cara makan dimana hanya memakan tumbuhan dan tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging, unggas, ikan atau hasil olahannya (Chairuny, 2004). 2.2.1. Jenis-jenis Vegetarian Menurut Rossi (2012), vegetarian tergolong dalam beberapa kelompok dan tak sama satu sama lain dalam menjalani diet. Pengelompokan vegetarian dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Semi-Vegetarian (Flexitarian) Kelompok ini paling longgar dibanding jenis vegetarian yang lain, disebut juga Flexitarian. Kelompok ini pantang makan daging merah namun masih memperbolehkan makan daging unggas. Kelompok ini masih mengonsumsi daging sekali atau dua kali dalam seminggu atau pada saat-saat tertentu saja. 2. Lacto-Vegetarian Kelompok ini, selain mengonsumsi bahan makanan nabati, masih mengonsumsi susu dan olahannya, seperti yoghurt dan keju. Kelompok ini berpantang mengonsumsi daging ternak, unggas, ikan dan telur. 3. Ovo-Vegetarian Kelompok ini berpantang mengonsumsi daging ternak, unggas, ikan dan susu beserta produk olahannya namun masih mengonsumsi telur. Universitas Sumatera Utara 10 4. Lacto-Ovo Vegetarian Kelompok ini yang paling umum ditemui. Kelompok ini tidak mengonsumsi daging ternak, unggas dan ikan tetapi masih mengonsumsi telur dan susu. 5. Vegetarian Pseudo (Pesco Vegetarian/Pescatarian/Pollo Vegetarian) Pseudo Vegetarian adalah jenis vegetarian yang masih mengonsumsi hewan yaitu unggas dan ikan, tetapi tidak mengonsumsi daging merah. Pesco Vegetarian (Pescatarian) adalah tipe vegetarian yang menghindari segala jenis daging namun masih menyantap ikan. Sedangkan Pollo Vegetarian adalah kelompok yang masih mengonsumsi unggas, seperti ayam, kalkun dan bebek, dan tidak mengonsumsi jenis daging lainnya. 6. Vegetarian Fluctarian Kelompok ini pantang produk hewani dan tanaman yang langsung mati saat dipanen, seperti lobak dan wortel. Penganut vegetarian fluctarian ini berisiko kekurangan zat gizi. 7. Vegan Kelompok ini sama sekali tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan. Vegan adalah golongan vegetarian murni, mereka sama sekali tidak menyantap daging, susu, telur, dan hasil olahannya termasuk gelatin, keju, yoghurt, madu, royal-jelly dan produk turunan serangga. Mereka hanya makan makanan yang berasal dari nabati. Mereka juga menghindari penggunaan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani. Universitas Sumatera Utara 11 2.2.2. Kebutuhan Bahan Makanan Vegetarian Menurut Yuliarti (2009), ada beberapa jenis bahan makanan yang perlu dikonsumsi oleh vegetarian, antara lain: 1. Sayur-sayuran merupakan bahan makanan yang kaya akan zat gizi, diantaranya vitamin C, beta karoten, riboflavin, zat besi, kalsium dan bahan makanan non gizi, yakni serat. Sayur-sayuran berdaun hijau, seperti bayam dan brokoli, sayur-sayuran yang berwarna kuning atau oranye seperti wortel, kentang manis, labu, semangka dan melon kuning mengandung beta karoten yang tinggi, perlu dikonsumsi lima porsi setiap hari. 2. Buah-buahan merupakan bahan makanan yang kaya serat, vitamin C dan beta karoten, sehingga perlu dikonsumsi setiap hari. 3. Roti, sereal, nasi dan biji-bijian lain sangat baik untuk dikonsumsi. Biji-bijian kaya akan serat, karbohidrat, protein dan zink. 4. Kedelai maupun susu kedelai dan hasil olahannya baik untuk dikonsumsi karena merupakan sumber kalsium yang baik. 5. Makanan jenis kacang-kacangan merupakan sumber protein, serat, zat besi, kalsium dan zink, sehingga baik untuk dikonsumsi. Universitas Sumatera Utara 12 Sumber: Departemen of Nutrition,Arizona State University,Vegetarian Food Pyramid,2002. Gambar 2.1. Piramida Makanan untuk Kelompok Vegetarian Seperti halnya diet nonvegetarian, vegetarian juga harus mengatur jumlah asupan makannya. Pedoman yang paling sering digunakan adalah dengan piramida makanan. Piramida makanan yang cukup dikenal adalah pedoman yang digunakan oleh Departement of Nutrition, Arizona State University. Pada piramida makanan vegetarian sumber protein tidak lagi didominasi oleh daging, tapi dari kacangkacangan dan bahan makanan sumber protein lainnya. Sementara itu, bulir utuh ditempatkan pada posisi dasar di mana porsinya paling besar. Adapun penjelasan lebih detail adalah sebagai berikut: a. Pada tingkat paling bawah adalah kelompok sumber karbohidrat seperti bijibijian dan padi-padian hendaknya dikonsumsi dalam jumlah paling banyak (sebanyak 6-11 bagian). Universitas Sumatera Utara 13 b. Pada tingkat di atasnya adalah kelompk sayur-sayuran dan buah-buahan yang kaya akan serat, vitamin dan mineral. Sayur-sayuran dikonsumsi sebanyak 3-5 bagian, sedangkan buah-buahan dikonsumsi sebanyak 2-4 bagian. c. Tingkat berikutnya menunjukkan bahan makanan yang perlu dikonsumsi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan dengan sayur-sayuran dan buahbuahan. Yang termasuk dalam tingkat ini adalah kelompok leguminosa, kacang-kacangan dan makanan pengganti daging, serta kelompok susu dan produknya. Bahan makanan pengganti susu yang dapat dikonsumsi vegetarian diantaranya susu kedelai maupun hasil olahan kedelai lain yang telah difortifikasi dengan vitamin B12. Bahan makanan ini dapat dikonsumsi sebanyak 2-3 porsi. d. Pada tingkat paling atas adalah makanan yang kaya akan lemak, gula dan garam. Bagian ini dikonsumsi dalam jumlah paling sedikit. Berbagai minyak nabati dapat dikonsumsi vegetarian, mulai dari minyak kelapa, minyak kanola, minyak palem dan lain sebagainya. Bahan makanan ini harus dibatasi konsumsinya, 2-3 sendok teh saja setiap hari. Adapun golongan kacangkacangan, seperti kacang tanah dan sejenisnya dapat dikonsumsi 1-2 porsi setiap hari. e. Mengonsumsi air, minimal delapan gelas sehari atau 2L. Vegetarian yang kesulitan memenuhi kebutuhan vitamin tertentu dapat mengonsumsi suplemen, yakni vitamin B12 sebanyak 2,4 µg/d; vitamin D 200 IU/d dan kalsium 600 mg/d. Universitas Sumatera Utara 14 2.2.3. Gizi Vegetarian Pola makan Kuartet Nabati yang dijalankan oleh vegetarian merupakan ajaran sehari-hari yang dirancang oleh Physicians Committee for Responcible Medicine untuk mencapai kesehatan yang optimal. Kuartet Nabati ini terdiri atas palawija (padi-padian), sayur-sayuran, buah-buahan dan legum (kacang-kacangan) yang kaya akan karbohidrat kompleks dan serat makanan serta mencakup protein, asam lemak esensial dan vitamin serta mineral (Prawira, 2011) Menurut Rossi (2012), berikut ini adalah daftar komponen nutrisi dominan yang ada di dalam makanan vegetarian yang ternyata juga mampu secara maksimal memenuhi kebutuhan protein maupun energi dalam tubuh. Dengan membandingkan komponen yang ada di bahan makanan vegetarian dan kebutuhan rata-rata, maka penganut vegetarian tidak perlu khawatir kekurangan gizi (semua ukuran kandungan makanan di bawah ini adalah dalam ukuran per 100 gram makanan). 1. Energi Kebutuhan energi rata-rata untuk orang dewasa adalah 2.000 kalori. Bahan makanan vegetarian yang merupakan sumber energi tinggi adalah olive oil 884 kkal dan walnut 642 kkal. 2. Protein Protein merupakan zat pembangun jaringan tubuh. Bahan makanan sumber protein antara lain adalah kedelai dan olahannya seperti tahu, tempe, miso, TVP (Textured Vegetable Protein). Selain itu jenis kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, dan sayuran seperti kol dan wortel. Kebutuhan protein orang dewasa adalah sekitar 50 g. Dalam bahan makanan Universitas Sumatera Utara 15 vegetarian juga terdapat sumber protein tinggi, antara lain pada kacang kedelai 36,5 g; lentil 28,1 g; dan kacang hijau 23,9 g, bandingkan dengan daging sapi/kambing tanpa lemak yang hanya 20,2 g. 3. Karbohidrat Kaum vegetarian tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat karena memang karbohidrat merupakan penyusun utama sejumlah bahan pangan nabati. Bahan makanan sumber karbohidrat pada vegetarian adalah padi-padi dan hasil olahannya seperti nasi, bubur, ketan, gandum dan hasil olahannya seperti roti, biskuit, mie, serta jagung dan hasil olahannya seperti nasi jagung, kue jagung, maizena, umbi-umbian seperti kentang, ubi, singkong, talas, sereal. Kebutuhan karbohidrat orang dewasa adalah sekitar 300 g/hari untuk 2.000 kalori diet. Sumber karbohidrat tinggi terdapat pada nasi putih 79,3 g; kismis 71,7 g; dan pisang 21 g. 4. Lemak Lemak berfungsi sebagai sumber energi dan pengangkut vitamin A, D, E, dan K. Lemak nabati terdiri atas lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA), tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid/PUFA),dan lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA). Bahan makanan sumber lemak pada vegetarian berdasarkan jenis lemak antara lain adalah : a. Lemak tak jenuh tunggal, misalnya asam lemak omega-3 dari biji rami, dan minyak perilla. b. Lemak tak jenuh jamak, misalnya omega-6 dari bunga kunyit, bunga matahari, wijen, minyak kedelai, dan kenari. Omega-9 dari minyak zaitun, Universitas Sumatera Utara 16 minyak kanola, minyak kedelai, minyak kacang macademia, dan minyak kenari. c. Lemak jenuh, yaitu pada minyak kelapa. 5. Serat Kebutuhan serat orang dewasa adalah sekitar 25 g/hari. Sumber serat tinggi terdapat pada bekatul 42,8 g; lentil 30,5 g; dan apel 2,7 g. Coba bandingkan dengan daging hewan yang ternyata tidak mengandung serat sama sekali. 6. Vitamin Tidak ada masalah untuk asupan vitamin, karena bahan makanan vegetarian memang kebanyakan terdiri dari sayur dan buah-buahan yang kaya akan vitamin. Vitamin adalah zat penting yang diperlukan untuk membantu kelancaran zat gizi dan proses metabolisme. Defisiensi vitamin yang sering dialami vegetarian terutama tipe vegan adalah defisiensi vitamin B12. Untuk itu diperlukan suplemen B12. Selain itu, kekurangan vitamin dapat berakibat terganggunya kesehatan, karena itu diperlukan asupan harian dalam jumlah tertentu, yang idealnya bisa diperoleh dari makanan. Jumlah kecukupan vitamin per hari ditetapkan sebagai Recommended Daily Allowance/RDA. a. Vitamin A Fungsi : menjaga kesehatan mata, jaringan tubuh, mempercepat proses penyembuhan luka/infeksi, sebagai antioksidan yang membantu merangsang dan memperkuat daya tahan tubuh, serta mempertahankan kesehatan kulit dan rambut. Kebutuhan orang dewasa akan vitamin A Universitas Sumatera Utara 17 adalah sekitar 1.000 IU/hari. Sumber terbaik adalah wortel, bayam, alpukat, buncis, katuk, kentang, tomat, labu kuning, dan lain-lain. b. Vitamin B1 (Thiamin) Fungsi : memelihara fungsi saraf, mengoptimalkan aktifitas kognitif dan fungsi otak, membantu proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta mengatur sirkulasi dan fungsi darah. Kebutuhan orang dewasa akan vitamin B1 adalah sekitar 1,5 mg/hari. Vitamin ini banyak terdapat pada biji bunga matahari 2,29 mg; wheat germ 1,88 mg; kedelai 0,874 mg; beras pecah kulit; serta buah dan sayuran. c. Vitamin B2 (Riboflavin) Fungsi : mencegah katarak, gangguan pencernaan, kulit dan depresi. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 1,7 mg/hari. Sumber terbaiknya adalah kacang kedelai 0,870 mg; bekatul 0,577 mg; sayur-sayuran hijau. d. Vitamin B12 (Sianokobalamin) Fungsi : mengatur pembentukan sel darah merah, mencegah kerusakan dinding saraf, sintesa DNA, serta mengubah karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 2-3,5 mikrogram per hari. Walaupun banyak terdapat pada daging hewan, vitamin ini terdapat juga pada tempe, spirulina, rumput laut, dan bakteri di usus yang dapat memproduksi vitamin B12 ini. Para vegetarian disarankan untuk mengonsumsi suplemen B12 demi kenyamanan. Universitas Sumatera Utara 18 e. Vitamin C (Asam Askorbat) Fungsi : membantu penyembuhan luka, penyerapan zat besi dan kalsium, serta mempertahankan kesehatan kulit dan jaringan. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 60 mg/hari. Vitamin ini banyak terkandung pada jambu biji 184 mg; kiwi 98 mg; brokoli 93,2 mg; jeruk 53,2 mg; serta segala macam buah dan sayuran berdaun hijau (bayam, sawi, dan lainlain). f. Vitamin D Fungsi : membantu pembentuka gigi dan tulang, serta pembentukan darah. Kebutuhan orang dewasa akan vitamin D adalah sekitar 400 IU. Sumber terbaik vitamin D adalah sinar matahari. g. Vitamin E Fungsi : mempertahankan kesehatan umum, kulit, dan rambut. Memperlambat proses penuaan, sebagai antioksidan, dan menaikkan kekebalan tubuh. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 10-3 IU/hari. Sumber terbaiknya adalah minyak gandum, biji mentah, biji bunga matahari, alpukat, buncis, taoge, kangkung, sayuran, dan lain-lain. h. Vitamin K Fungsi : membantu terbentuknya senyawa-senyawa pembeku darah dan menjaga tulang dari kerapuhan. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 80 mikrogram. Vitamin K banyak terdapat pada taoge, gandum, sayuran hijau, dan lain-lain. Universitas Sumatera Utara 19 7. Mineral Mineral dibutuhkan tubuh untuk menjaga agar organ tubuh berfungsi secara normal. Seperti halnya vitamin, asupan mineral bagi penganut vegetarian juga bukan merupakan hal yang susah. a. Kalsium Fungsi : membantu proses pembentukan tulang dan gigi serta berperan dalam tekanan darah dan sistem hormonal. Kebutuhan orang dewasa akan kalsium adalah sekitar 800 mg/hari. Sumber terbaiknya adalah biji wijen 975 mg, kedelai 277 mg, almond 266 mg, kubis 47 mg, bayam 99 mg, gandum utuh, tumbuhan polong, dan lain-lain. b. Fosfor Fungsi : menjaga kondisi tulang dari kehilangan kalsium, membentuk otot, dan membantu sintesa hormon testosteron. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 1.000 mg/hari. Fosfor banyak terdapat pada polongpolongan, sayuran, dan buah-buahan. c. Magnesium Fungsi : menjaga kesehatan jantung dengan membantu mengatur ritme dan aktivitasnya. Bagi manula, magnesium dapat membantu penyerapan kalsium oleh tubuh untuk menjaga kesehatan tulang dari risiko osteoporosis. Kebutuhan orang dewasa per harinya adalah sekitar 350 mg. Biji bunga matahari 354 mg, bekatul 611 mg, dan kentang 21 mg merupakan bahan makanan yang kaya akan magnesium. Universitas Sumatera Utara 20 d. Besi Fungsi : membantu pembentukan sel darah merah dan sel otot. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 10-18 mg/hari. Sumber terbaiknya adalah kedelai 15,7 mg; bekatul 10,6 mg; pollen 9 mg; pistachio 6,8 mg; biji bunga matahari 6,77 mg; garbanzo 6,2 mg; almond 3,7 mg; bayam 2,71 mg; dan kacang ercis 1,47 mg. e. Selenium Fungsi : melindungi sel-sel (jantung dan darah) dari kerusakan akibat oksidasi dan membantu metabolisme iodin. Kebutuhan orang dewasa per harinya adalah 55 mikrogram. Selenium banyak terdapat pada gandum utuh, beras pecah kulit, brazil nut, dan biji-bijian. f. Potasium Fungsi : bekerja sama dengan sodium menjaga keseimbangan cairan di daalam sel dan mengirim impuls saraf, serta memegang peranan penting dalam kerja otot termasuk otot jantung. Kebutuhan rata-rata orang dewasa adalah 2000-3500 mg/hari. Sumber terbaiknya adalah kedelai 1, 797 mg; almond 732 mg; alpukat 599 mg; bayam 558 mg; dan wortel 323 mg. g. Sodium Fungsi : menjaga keseimbangan cairan di luar sel dan memudahkan bekerjanya impuls saraf. Kebutuhan orang dewasa akan sodium adalah sekitar 150 mikrogram per hari (± ¼ sdt garam meja). Sumber terbaik dari sodium adalah asparagus, mentimun, seledri, wortel, kelapa, dan rumput laut. Universitas Sumatera Utara 21 2.2.4. Penelitian Mengenai Pola Makan Vegetarian dan Penyakit Degeneratif Pola makan vegetarian telah banyak memberikan dampak positif bagi dunia kesehatan. Ada beberapa fakta menurut American Medical Association (2003) yaitu antara lain : a. Satu dari dua kematian di dunia ini akibat penyakit jantung. b. Satu dari empat manusia menderita hipertensi. c. Satu dari sepuluh manusia menderita diabetes akibat ketidakcocokan diet hewani dengan fisiologi tubuh. d. 90-97% penyakit jantung dapat dihindari dengan diet vegetarian. e. 40-60% penyakit kanker dapat dihindari dengan tidak mengonsumsi protein hewani. Selain itu ditemukan hasil penelitian lain yang mendukung untuk memilih pola makan vegetarian sebagai pola makan sehari-hari seperti yang dikutip dari Gabriela Kando (2014), yaitu : a. Vegetarian dapat mengurangi gejala-gejala penyakit seperti arthritis hiperkolesterolemia mengatasi obesitas (Rui, 2003; Lampe, 2003). b. Vegetarian memperpanjang umur harapan hidup (Singh et al, 2003; Willett, 2003). c. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa diet vegetarian yang direncanakan dengan tepat adalah sehat, cukup gizi dan memberikan keuntungan bagi kesehatan untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit tertentu. (J Am Diet Assoc. 2003;103:748-765). Universitas Sumatera Utara 22 d. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa diet vegetarian termasuk vegan dapat memenuhi kebutuhan protein, besi, seng, kalsium, vitamin D, riboflavin, vitamin B12, vitamin A, n-3 asam lemak dan iodium. (J Am Diet Assoc. 2003;103:748-765). e. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa diet vegetarian memberikan sejumlah keuntungan gizi termasuk menurunkan kadar lemak jenuh, kolesterol dan protein hewani, meningkatkan kadar karbohidrat, serat, magnesium, kalium, folat dan antioksidan seperti vitamin C dan E dan fitokimia. (J Am Diet Assoc. 2003;103:748-765). f. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa vegetarian telah dilaporkan memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah daripada non-vegetarian, demikian pula dengan tingkat kematian lebih rendah karena penyakit jantung daripada non-vegetarian. (J Am Diet Assoc. 2003;103:748-765). g. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa diet vegetarian juga menunjukkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah yang lebih rendah, kejadian hipertensi, diabetes tipe 2 dan kanker prostat dan kolon yang lebih rendah (J Am Diet Assoc. 2003;103:748-765). h. American Dietetic Association (ADA) Dietitians of Canada menyatakan bahwa diet vegan dan jenis vegetarian lainnya yang direncanakan dengan baik adalah cocok untuk semua kelompok umur dalam daur hidup termasuk ibu hamil, ibu menyusui, bayi, anak dan dewasa. Universitas Sumatera Utara 23 2.3. Penyakit Degeneratif Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang mengiringi proses penuaan. Penyakit ini terjadi seiring bertambahnya usia. Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ/alat tubuh. Tubuh mengalami deļ¬siensi produksi enzim & hormon, imunodeļ¬siensi, peroksida lipid, kerusakan sel (DNA), pembuluh darah, jaringan protein & kulit (Kando, 2014). Penyakit degeneratif adalah istilah yang secara medis digunakan untuk menerangkan adanya suatu proses kemunduran fungsi sel saraf tanpa sebab yang diketahui, yaitu dari keadaan normal ke keadaan lebih buruk. Penyebab penyakit sering tidak diketahui, termasuk diantaranya kelompok penyakit yang dipengaruhi oleh faktor genetik atau paling sedikit terjadi pada salah satu anggota keluarga sehingga sering disebut penyakit heredodegeneratif (Japardi, 2002). Pada beberapa dekade terakhir, penyakit degeneratif telah menggeser posisi penyakit infeksi sebagai penyakit tertinggi dan penyebab kematian terbesar di dunia. Pola diet kurang sehat dan seimbang seperti konsumsi makanan tinggi lemak, rendah serat, serta kurang buah dan sayur diketahui memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan risiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Diantara penyakit degeneratif yang dapat terjadi akibat konsumsi pangan adalah penyakit diabetes mellitus, hiperkolesterolemia dan asam urat/gout (Kusharisupeni, 2010). 2.3.1. Diabetes Mellitus Diabetes adalah suatu penyakit karena tubuh tidak mampu mengendalikan jumlah gula, atau glukosa dalam aliran darah. Ini menyebabkan hiperglikemia, suatu keadaan gula darah yang tingginya sudah membahayakan. Faktor utama pada Universitas Sumatera Utara 24 diabetes ialah insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh kelompok sel beta di pankreas. Insulin memberi sinyal kepada sel tubuh agar menyerap glukosa. Insulin, bekerja dengan hormon pankreas lain yang disebut glukagon, juga mengendalikan jumlah glukosa dalam darah. Apabila tubuh menghasilkan terlampau sedikit insulin atau jika sel tubuh tidak menanggapi insulin dengan tepat terjadilah diabetes (Setiabudi, 2008). Menurut International Diabetes Federation (IDF) seperti yang dikutip dari Setiabudi (2008), seseorang dapat dikatakan diabetes mellitus bila didiagnosis dengan kriteria diagnostik diabetes mellitus dan gangguan toleransi glukosa yaitu: kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200 mg/dL, kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dL, kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dL pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Diabetes tipe 1 merupakan kondisi autoimun yang menyebabkan kerusakan sel ß pankreas sehingga menimbulkan defisiensi insulin absolut. Pada diabetes mellitus tipe 1 merupakan gangguan poligenik dengan peran faktor genetik sebesar 30%. Sebagian besar individu dengan IDDM biasanya dengan berat badan normal atau di bawah normal. Gejala klasik IDDM yang tidak diobati adalah poliuria (peningkatan pengeluaran urine), polidipsia (peningkatan cairan yang masuk), polifagia (peningkatan makanan yang masuk), dan kehilangan berat badan. Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat diobati dengan pemberian terapi insulin yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Universitas Sumatera Utara 25 Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan gangguan insulin yang berbeda dengan diabetes tipe 1. Kasus diabetes tipe 2 terdapat lebih dari 90% kasus di seluruh dunia dibandingkan diabetes tipe 1. Diabetes tipe 2 disebut juga maturity onset biasanya menyerang orang berusia sekitar 40 tahun dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal juga dengan istilah Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sel dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Obesitas sering dikaitkan dengan penyakit ini. Sekitar 80% pasien diabetes tipe 2 mengalami obesitas karena obesitas berkaitan dengan resistensi insulin. Penyakit diabetes tipe 2 ini dapat dikendalikan dengan diet, olah raga, atau obat anti diabetes. Ada beberapa ras manusia di dunia ini yang punya potensi tinggi untuk terserang diabetes mellitus. Peningkatan penderita diabetes di wilawah Asia jauh lebih tinggi dibanding di benua lainnya. Bahkan diperkirakan lebih 60% penderita berasal dari Asia. Diagnosis klinis diabetes mellitus umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan khas berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin disampaikan penderita antara lain badan terasa lemah, sering kesemutan, gatal-gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, dan pruritus vulvae pada wanita. Untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel berikut ini: Universitas Sumatera Utara 26 Bukan DM Belum Pasti DM DM Kadar glukosa darah Plasma vena < 100 100 – 199 ≥ 200 sewaktu (mg/dL) Darah kapiler < 90 90 – 199 ≥ 200 Kadar glukosa darah Plasma vena < 100 100 – 125 ≥ 126 puasa (mg/dL) Darah kapiler < 90 90 – 99 ≥ 100 Sumber : Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Tipe 2 di Indonesia, PERKENI 2011 Tabel 2.1 Kriteria Penegakan Diagnosis DM 2.3.2. Kolesterol Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan dan berupa seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama di dalam hati (Lars, 1997). Kolesterol merupakan lemak yang penting namun jika terlalu berlebihan dalam darah dapat membahayakan kesehatan, bila ditinjau dari sudut kimiawi kolesterol diklasifikasikan ke dalam golongan lipid (lemak) berkomponen alkohol steroid (Sitopoe, 1992). Kadar kolesterol di dalam darah adalah dibawah 200 mg/dl. Apabila melampaui batas normal maka disebut sebagai hiperkolesterolemia. Hiperkolesterolemia biasanya terdapat pada penderita obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, perokok serta orang yang sering minum-minuman beralkohol (Hardjono, 2003). Kolesterol ada dua sumbernya : pertama kolesterol yang ada dalam makanan, semua bahan makanan asal hewani, daging, telur, susu, dan hasil perikanan, jaringan otak, jaringan saraf, dan kuning telur. Kedua, hati dan usus yang mensintesis Universitas Sumatera Utara 27 kolesterol dari senyawa-senyawa yang konfigurasi molekulnya berbeda dari kolesterol (Graha KC, 2010). Kolesterol dan lemak menempel di permukaan protein kemudian beredar di seluruh tubuh. Sehingga dikenal dengan sebutan lipoprotein. Jenis lipoprotein yang dapat memicu terjadinya atherosclerosis yang terdiri dari total kolesterol, LDL, HDL, dan trigliserida. Partikel-partikel ini memiliki sifat khusus dan berbeda pada proses pembentukan atherosclerosis seperti di kutip dari (Graha KC, 2010) adalah sebagai berikut : a. LDL (low density lipoprotein), yang paling banyak mengangkut kolesterol di dalam darah. LDL mengandung paling banyak kolesterol dari semua lipoprotein, dan merupakan pengirim kolesterol utama dalam darah. Sel hati memproduksi kolesterol kemudian disebarkan ke jaringan-jaringan tubuh. Kadar LDL kolesterol yang tinggi dan pekat di dalam darah akan menyebabkan kolesterol lebih banyak melekat pada dinding-dinding pembuluh darah. Kolesterol yang melekat akan melakukan tumpukantumpukan lalu mengendap, membentuk plak pada dinding-dinding pembuluh darah. Tumpukan LDL kolesterol yang mengendap menyebabkan rongga pembuluh darah menyempit, sehingga saluran darah terganggu dan bisa mengakibatkan risiko penyakit pada tubuh seseorang seperti stroke, jantung koroner, dan lain sebagainya. b. HDL (high density lipoprotein), disebut juga kolesterol baik dan cenderung bergerak kembali ke hati. Orang-orang yang berolah raga, tidak merokok, dan Universitas Sumatera Utara 28 menjaga berat badan ideal cenderung mempunyai kadar HDL yang lebih tinggi. c. Trigliserida, yaitu jenis lemak dalam darah yang dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Kelebihan trigliserida akan dihidrolisa oleh enzim lipoprotein lipase, sisa hidrolisa kemudian oleh hati dimetabolisasikan menjadi LDL kolesterol (Soeharto, 2004). Tingginya tingkat gula darah pada seseorang akan meningkatkan kadar LDL kolesterol dalam darah, dan menurunkan kadar HDL. Penderita diabetes yang memiliki kadar gula yang tinggi dapat memicu tubuhnya untuk memiliki kadar LDL kolesterol yang tinggi. Akibatnya penumpukan kolesterol di dalam darah pun akan semakin banyak dan meningkatkan risiko memiliki kadar kolesterol di dalam tubuh dan penyakit jantung (Saktyowati, 2008). Untuk mengetahui kadar kolesterol dalam darah berserta komponennya harus melalui suatu pemeriksaan pada kadar lemak dalam darah. Dari hasil pemeriksaan kadar lemak darah sangat penting untuk mengetahui seseorang menderita dislipidemia atau tidak. Pemeriksaan dilakukan setelah puasa 12-16 jam (selama puasa hingga pengambilan darah tidak boleh makan dan minum, kecuali air putih tanpa gula). Parameter yang diperiksa paling sedikit meliputi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida. Menurut US National Cholesterol Education Program (NCEP) (2001) yaitu : 1. Kolesterol total a. Sehat/normal : kadar kolesterol < 200 mg/dL b. Mengkhawatirkan/batas tinggi : kadar kolesterol 200-239 mg/dL Universitas Sumatera Utara 29 c. Buruk/tinggi : kadar kolesterol ≥ 240 mg/dL 2. Kolesterol LDL (kolesterol jahat) a. Optimal : < 100 mg/dL b. Diatas optimal : 100-129 mg/dL c. Mengkhawatirkan/batas tinggi : 130-159 mg/dL d. Buruk/tinggi : 160-189 mg/dL e. Sangat buruk/sangat tinggi : ≥ 190 mg/dL 3. Kolesterol HDL (kolesterol baik) a. Buruk/rendah : < 40 mg/dL b. Mengkhawatirkan : 41-59 mg/dL c. Diharapkan/tinggi : ≥ 60 mg/dL 4. Kadar trigliserida a. Sehat/normal : < 150 mg/dL b. Ambang tinggi : 150-199 mg/dL c. Buruk/tinggi : 200-499 mg/dL d. Sangat buruk/sangat tinggi : ≥ 500 mg/dL 2.3.3. Asam Urat Asam urat merupakan sebutan orang awan untuk rematik pirai (gout artritis). Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan dari metabolisme/pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan dari manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan dalam darah akan mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya Universitas Sumatera Utara 30 berlebih asam urat akan berperan sebagai prooksidan (Suherman, 2010). Secara umum asam urat adalah sisa metabolisme zat purin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Purin sendiri adalah zat yang terdapat dalam setiap bahan makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, dalam tubuh makhluk hidup terdapat zat purin ini, lalu karena kita memakan makhluk hidup tersebut, maka zat purin tersebut berpindah ke dalam tubuh kita. Berbagai sayuran dan buah-buahan juga terdapat purin (Hidayat, 2007). Menurut Spicher (1994), kadar asam urat dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan darah dan urin. Nilai rujukan kadar darah asam urat normal pada lakilaki yaitu 3.6-8.2 mg/dl sedangkan pada perempuan yaitu 2.3-6.1 mg/dL. Kadar asam urat normal menurut tes enzimatik maksimum 7 mg/dl. Sedangkan pada teknik biasa, nilai normalnya maksimum 8 mg/dl. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar asam urat melampaui standar normal itu, penderita dimungkinkan mengalami hiperurisemia. Kadar asam urat normal pada pria dan perempuan berbeda. Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3-7 mg/dl dan pada perempuan 2,5-6 mg/dl. Kadar asam urat di atas normal disebut hiperurisemia (Suherman, 2010). Untuk pencegahan asam urat, disarankan untuk diet rendah purin. Diet yang efektif sangat penting untuk menghindari komplikasi dan mengurangi biaya pengobatan, pengaturan diet sebaiknya dilakukan bila kadar asam urat melebihi 7 mg/dL. Selain itu untuk pencegahan asam urat juga bisa dilakukan dengan tidak meminum aspirin (bila membutuhkan obat pengurang sakit, pilih jenis ibuprofen dan lainnya), perbanyak minum air putih terutama bagi penderita yang mengidap batu ginjal untuk mengeluarkan kristal asam urat di tubuh, makan makanan yang Universitas Sumatera Utara 31 mengandung potasium tinggi seperti : sayuran dan buah-buahan, kentang, alpukat, susu dan yogurt, pisang, makan buah-buahan kaya vitamin C, terutama jeruk dan strawberry, aktif secara seksual (seks dapat memperlancar produksi urin sehingga menurunkan kadar asam urat), konsumsi salah satu produk alami seperti sidaguri, habbatussauda, brotowali, dan teh hijau (Ahmad, 2011). 2.4. Vegetarian dan Diabetes Mellitus, Kolesterol, dan Asam Urat 2.4.1. Vegetarian dan Diabetes Mellitus Para ilmuwan dan para peneliti telah menemukan bahwa diabetes Tipe 2 dapat dirawat lebih efektif dengan pola makan vegetarian yang rendah lemak daripada pola makan diabetes standar. Di samping itu, pola makan vegetarian yang rendah lemak bahkan mungkin lebih efektif mengobati penyakit tersebut daripada pengobatan zat tunggal dengan obat-obatan diabetes yang diminum (Sirpis, 2010). Diabetes Tipe 2 adalah bentuk penyakit yang paling umum yang diderita oleh 85-90% dari semua penderita diabetes. Penyakit ini biasanya dikaitkan secara umum dengan usia lanjut. Akan tetapi, karena gaya hidup masa kini yang tidak sehat, tinggi lemak, jarang berolah raga, maka ada lebih banyak generasi muda yang menderita penyakit tersebut termasuk anak-anak (Sirpis, 2010). Penelitian terakhir the Adventist Health Study memperlihatkan penurunan risiko terkena DM yang signifikan pada kelompok vegetarian jika dibandingkan dengan kelompok pemakan daging (nonvegetarian). Dari populasi ± 60.000 pria dan wanita pengikut diet vegetarian yang diteliti dalam penelitian tersebut ditemukan prevalensi diabetes lebih kurang satupertiga dari prevalensi diabetes mellitus pada nonvegetarian (2,9% dan 7,6%), sementara kelompok lacto-ovo vegetarian, pesco- Universitas Sumatera Utara 32 vegetarian, dan semivegetarian, memiliki prevalensi diabetes mellitus diantaranya, yaitu masing-masing sebesar 3,2%, 4,8%, and 6,1%. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan untuk menjelaskan hasil penelitian di atas. Dalam hal ini makanan vegan yang dimaksud berupa makanan alami yg terdiri dari biji-biji utuh dan sereal sebagai sumber karbohidrat, kacang-kacangan sebagai sumber protein, sayur dan buah. Jadi bukan tepung gandum, roti atau mie dan makanan olahan lain termasuk gluten dari tepung terigu yg dijadikan bahan pangan pengganti daging. Hipotesis tersebut antara lain adalah : 1. Kelompok vegan memiliki profil lipid yang lebih baik daripada nonvegetarian mengingat makanan vegetarian tidak mengandung kolesterol (yang menjadi ciri lemak hewani karena senyawa sterol dalam nabati adalah fitosterol atau sitosterol yang justru mampu menurunkan kadar kolesterol darah) tapi kaya akan serat. Sebaliknya makanan hewani kaya akan kolesterol tapi tidak mengandung serat. Gangguan pada profil lipid (dislipidemia) ternyata meningkatkan risiko terkena gangguan metabolisme karbohidrat yang dikenal sebagai penyakit Diabetes Mellitus. 2. Serat solubel dalam makanan vegetarian bukan hanya menurunkan indeks glikemik makanan (IG mengukur berapa besar kenaikan kadar gula darah setelah seseorang makan makanan tertentu dibandingkan gula glukosa) tetapi juga menghambat kerja enzim termasuk alfa-glikosidase yang memfasilitasi penyerapan gula di dalam usus. Asupan serat yang tinggi juga memperlambat pengosongan lambung dan menurunkan kadar gula darah sesudah makan di Universitas Sumatera Utara 33 samping mengurangi pula respons insulin (mencegah hipoglikemia pada pasien DM). 3. Kelompok vegetarian ternyata memiliki tubuh yang lebih ramping daripada nonvegetarian. Dalam penelitian di atas, indeks massa tubuh (BMI atau Body Mass Index) pada vegetarian rata-rata sebesar 23,6 (di bawah nilai 25 yang menjadi batas kegemukan) sedangkan BMI rata-rata pada nonvegetarian adalah 28,8. Orang yang gemuk memiliki risiko terkena pradiabetes (sindrom metabolik) dibandingkan orang yang tubuhnya normal yaitu BMI antara 18 dan 25. 4. Senyawa heme yang banyak terdapat di dalam daging ternyata dapat menjadi radikal bebas yang merusak sel beta penghasil insulin dalam pankreas. Sebaliknya heme atau zat besi organik dalam sayuran dan kacang-kacangan yang berwarna merah (bit merah, bayam merah dan kacang polong) tidak sebanyak daging sehingga mengurangi bahaya radikal bebas di dalam tubuh. 5. Daging sering mengandung nitrosamin yang merupakan hasil penguraian bahan pengawet daging sodium nitrit ketika daging itu dibakar atau digoreng. Nitrosamin bukan hanya menyebabkan kanker tapi juga dapat merusak sel beta. Nitrosamin ditemukan bersifat toksik bagi sel beta pankreas dan meningkatkan risiko DM tipe 1 dan tipe 2 pada percobaan binatang dan risiko DM tipe 1 pada beberapa penelitian epidemiologi. 6. Makanan nabati umumnya kaya akan magnesium karena kandungan klorofilnya. Hemoglobin dan mioglobin dalam sel darah merah serta Universitas Sumatera Utara 34 otot/daging memiliki inti zat besi yang membuatnya berwarna merah sementara klorofil dalam sayuran hijau dan kacang hijau memiliki inti magnesium yang membuatnya berwarna hijau. Korelasi terbalik antara risiko DM dan asupan magnesium mungkin disebabkan oleh efeknya pada sensitivitas insulin, kerja insulin, dan metabolisme glukosa (Andryhart, 2011). 2.4.2. Vegetarian dan Kolesterol Kolesterol ditemukan pada produk-produk hewan, seperti daging, unggas, ikan, produk susu, dan semua jenis telur kecuali produk tumbuh-tumbuhan. Memilih daging tanpa lemak ternyata juga tidak cukup menghindari tidak memperoleh kolesterol. Setiap 4 ons daging sapi atau daging ayam mengandung 100 mg kolesterol. Kolesterol sangat tinggi banyak ditemukan pada kerang-kerangan. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengurangi lemak dan menghindari produk hewani. Menjadi Vegetarian dengan mengonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan seperti padi-padian, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan adalah makanan terbaik untuk menjaga masukan lemak jenuh yang rendah dan menghindari kolesterol. Menjadi vegetarian berarti bebas terhadap semua produk hewani dan menurunkan risiko terserang penyakit jantung (Yenti, 2009). Dalam suatu penelitian memperlihatkan orang-orang yang melakukan diet vegetarian mengurangi kadar lemak jenuh sampai 26% dan mencapai penurunan kolesterol yang berarti dalam hanya 6 minggu. Selain kadar lemak yang sangat rendah pada makanan vegetarian, protein sayuran juga membantu menurunkan resiko serangan jantung. Penelitian menunjukkan, mengganti protein hewan dengan protein kedelai mengurangi kadar kolesterol walaupun kadar jumlah total lemak dan lemak Universitas Sumatera Utara 35 jenuh dalam makanan tetap sama. Selain itu, keuntungan tambahan makanan vegetarian adalah serat. Serat yang larut menolong memperlambat penyerapan beberapa komponen makanan seperti kolesterol. Serat juga mengurangi jumlah kolesterol yang diproduksi oleh hati. Oats, barley, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran adalah sumber serat larut yang baik. Serat tidak dijumpai pada produk hewani (Yenti, 2009). 2.4.3. Vegetarian dan Asam Urat Penelitian telah menemukan bahwa orang yang paling banyak makan daging merah, unggas, dan ikan memiliki kadar asam urat yang lebih tinggi dan risiko lebih besar terkena asam urat, dibandingkan dengan mereka yang makan lebih sedikit (Karlson, 2012). Pada penderita asam urat, perubahan pola makan sangat direkomendasikan untuk membantu mencegah serangan di masa depan, dengan cara menghilangkan daging dan alkohol merupakan langkah penting. Obesitas juga berkaitan dengan asam urat atau gout, selain itu dengan memilih makanan yang rendah zat purin. Purin adalah batu bangunan gen, pesan genetik dalam tubuh. Mereka secara alamiah ada di semua sel tubuh dan dalam beberapa makanan (Karlson, 2012). Kelompok bahan makanan menurut kandungan purin dan anjuran makan : a. Kelompok 1 (dihindari) : Kandungan purin tinggi (100-1000 mg purin/100gr bahan makanan) : Otak, hati, jantung, ginjal, jeroan, ekstrak daging/kaldu, bebek, ikan sardin, kerang. Universitas Sumatera Utara 36 b. Kelompok 2 (dibatasi) : Kandungan purin sedang (9-100 mg purin/100gr bahan makanan) : Daging, ikan, ayam, udang, daun dan biji melinjo, daun singkong, kangkung, bayam, kacang, asparagus, kacang tanah, kacang kedelai. c. Kelompok 3 (dapat dimakan/dapat diabaikan) : Kandungan purin rendah, nasi, ubi, singkong, jagung, roti, mie, bihun, tepung beras, sayuran (kecuali sayuran dalam kelompok 2), buah-buahan, kue kering puding atau agar-agar, lemak/minyak, gula. 2.5. Kerangka Teori Vegetarian merupakan suatu pola makan yang timbul dari rasa kepedulian terhadap hewan-hewan, perbaikan atas kondisi kelaparan di dunia, mengurangi pencemaran lingkungan, dan kepercayaan pada suatu agama atau ajaran. Menurut American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada, diet vegetarian juga menunjukkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah yang lebih rendah, kejadian hipertensi, diabetes tipe 2 dan kanker prostat dan kolon yang lebih rendah. Selain itu vegetarian termasuk vegan dapat memenuhi kebutuhan protein, besi, seng, kalsium, vitamin D, riboflavin, vitamin B12, vitamin A, n-3 asam lemak dan iodium. Kelompok yang bukan vegetarian atau kelompok yang mengonsumsi makanan baik nabati maupun hewani dikatakan lebih berisiko untuk mengalami penyakit non infeksi. American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada menyatakan bahwa vegetarian telah dilaporkan memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah daripada non vegetarian, demikian pula dengan tingkat kematian lebih rendah karena penyakit jantung daripada non vegetarian. Universitas Sumatera Utara 37 Kadar gula darah adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar glukosa darah normal setelah puasa 8 jam dan pada saat tidak puasa yaitu 100mg/dL melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar glukosa darah. Kadar kolesterol adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar kolesterol total dalam darah normal yaitu sebesar < 200 mg/dL melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar kolesterol. Kadar asam urat adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar asam urat normal yaitu 7 mg/dL pada laki-laki dan 6 mg/dL pada perempuan melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar asam urat. 2.6. Kerangka Konsep Konsep dari penelitian yang akan dilakukan merupakan penyederhanaan dari kerangka teori. Variabel yang akan diteliti meliputi kadar gula darah, kadar kolesterol dan kadar asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian. Secara skematis kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Universitas Sumatera Utara 38 Variabel Independen Variabel Dependen Kadar Gula Darah Pola Makan Kadar Kolesterol Kadar Asam Urat Gambar 2.2. Kerangka Konsep Perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Non Vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang Tahun 2014 2.7. Hipotesis Penelitian 1. Kadar gula darah vegetarian lebih rendah dibanding kadar gula darah pada non vegetarian. 2. Kadar kolesterol vegetarian lebih rendah dibanding kadar kolesterol pada non vegetarian. 3. Kadar asam urat vegetarian lebih rendah dibanding kadar gula asam urat pada non vegetarian. Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional study), untuk mengetahui perbedaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat terhadap kelompok vegetarian dan non vegetarian (Kasjono dan Yasril, 2009). 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang. Alasan pemilihan lokasi karena pada tempat ini khususnya di Maha Vihara Maitreya terdapat kelompok vegetarian IVS (Indonesia Vegetarian Society). Selain itu banyaknya ditemukan makanan siap saji di sepanjang Komplek Perumahan Cemara Asri yang diduga memicu timbulnya penyakit degeneratif. Untuk melihatperbedaan kadar glukosa darah, kolesterol dan asam urat pada kelompok tersebut ditentukan pembanding yaitu kelompok non vegetarian di Perumahan Cemara Asri. 3.2.2. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dimulai sejak bulan Agustus 2014 pada saat dimulainya survey lokasi sampai dengan Desember 2014. 39 Universitas Sumatera Utara 40 3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh vegetarian yang ada di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang dan sebagai populasi pembanding adalah penduduk yang bukan vegetarian yang tinggal di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang. 3.3.2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah kelompok vegetarian yang ada di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang yang memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Kriteria Vegetarian a. Responden yang telah menjalani pola makan vegetarian yang merupakan kelompok vegan. b. Umur dibagi dalam dua kelompok yaitu antara dewasa muda (20-35 tahun) dan kelompok dewasa tua (35-55 tahun). Sebagai pembanding adalah responden yang bukan merupakan vegetarian dengan kriteria umur yang sama dengan kelompok vegetarian. 3.3.3. Besar Sampel Sesuai dengan hipotesis penelitian, besar sampel dihitung menggunakan rumus besar sampel untuk uji beda rerata 2 populasi. Rumus besar sampel uji beda rerata 2 populasi digunakan karena akan dibandingkan kadar gula darah vegetarian dan non vegetarian, kadar kolesterol vegetarian dan non vegetarian, dan kadar asam urat vegetarian dan non vegetarian. Dari pustaka diketahui rerata adalah 8 dengan SD Universitas Sumatera Utara 41 = 1,96 dan ditentukan derajat kemaknaan p = 0,05 maka Zα = 1,96 dan Zβ = 0,842, maka perhitungan besar sampel adalah sebagai berikut (Dahlan, 2010) : Z Z S X1 - X2 = deviat baku alpa (1,282) = deviat baku beta (0,842) = simpang baku gabungan = selisih minimal rerata yang dianggap bermakna Berdasarkan perhitungan sampel diperoleh besar sampel untuk penelitian ini adalah 30 orang dengan perbandingan besar sampel kelompok vegetarian dan kelompok non vegetarian adalah 1:1 sehingga besar sampel kelompok vegetarian adalah 30 orang vegetarian dan besar sampel kelompok pembanding adalah 30 orang non vegetarian. Besar sampel secara keseluruhan adalah 60 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling yang termasuk ke dalam teknik non probably sampling (Dahlan, 2010). Dengan teknik purposive sampling, penulis mengambil semua subjek yang baru dan akan diteliti sampai jumlah subjek terpenuhi. Alasan dalam pengambilan teknik ini adalah karena tidak ditemukannya sampling frame pada populasi yang akan diteliti. Universitas Sumatera Utara 42 3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Jenis Data Data primer yaitu karakteristik responden (nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan), kadar gula darah, kolesterol dan asam urat dengan menggunakan alat cek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat, serta pola makan. 3.4.2. Cara Pengumpulan Data a. Karakteristik responden (nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan) diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. b. Kadar gula darah, kolesterol dan asam urat diperoleh melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat cek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat oleh penulis dibantu oleh petugas kesehatan. c. Pola makan diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan formulir food frequency (metode frekuensi konsumsi pangan). 3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Dalam Penelitian ini yang menjadi variabel bebas (independen) adalah pola makan yang dalam hal ini adalah vegetarian dan non vegetarian. Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Universitas Sumatera Utara 43 3.5.2. Definisi Operasional 1. Pola makan adalah informasi yang memberikan gambaran mengenai jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang yang mengonsumsi makanan sesuai dengan kriteria vegetarian dan non vegetarian. 2. Vegetarian adalah seseorang atau sekelompok orang yang mengonsumsi makanan sesuai dengan kriteria vegetarian yang meliputi kelompok vegan. 3. Non vegetarian adalah seseorang atau sekelompok orang yang tidak mengonsumsi makanan yang tergolong makanan vegetarian atau mengonsumsi makanan dari nabati maupun hewani. 4. Kadar gula darah adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar glukosa darahnormal setelah puasa 8 jam yaitu 100 mg/dL dan pada saat tidak puasa < 126 mg/dL melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar glukosa darah. 5. Kadar kolesterol adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar kolesterol total dalam darah normal yaitu sebesar < 200 mg/dL melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar kolesterol. 6. Kadar asam urat adalah hasil pemeriksaan keadaan seseorang yang menunjukkan kadar asam urat normal yaitu 7 mg/dL pada laki-laki dan 6 mg/dL pada perempuan melalui pemeriksaan dengan menggunakan alat test kadar asam urat. Universitas Sumatera Utara 44 3.6. Metode Pengukuran 3.6.1. Variabel Independen Variabel independen adalah pola makan yang dikategorikan ke dalam vegetarian dan non vegetarian. Golongan vegetarian dikatakan baik apabila terdiri dari empat jenis atau lebih makanan nabati, yaitu palawija, sayur-sayuran, buahbuahan, dan kacang-kacangan agar asam amino esensial yang berbeda dapat saling melengkapi. Variabel pola makan yang dilihat adalah jenis bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh responden baik vegetarian maupun non vegetarian dan diperoleh dengan wawancara menggunakan formulir food frequency. 3.6.2. Variabel Dependen Variabel dependen dikelompokkan ke dalam kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Pembagiannya adalah sebagai berikut : 1. Kadar gula darah Normal, apabila kadar glukosa darahnya 100 – 199 mg/dL Tidak normal, apabila kadar glukosa darahnya ≥ 200 mg/dL 2. Kadar kolesterol Normal, apabila kadar kolesterol darahnya 200 – 239 mg/dL Tidak normal, apabila kadar kolesterol darahnya ≥ 240 mg/dL 3. Kadar asam urat Laki-laki : Normal, apabila kadar asam uratnya 3 – 7 mg/dL Tidak normal, apabila kadar asam uratnya 7 mg/dL Universitas Sumatera Utara 45 Perempuan : Normal, apabila kadar asam uratnya 2,5 – 6 mg/dL Tidak normal, apabila kadar asam uratnya 3.7. 6 mg/dL Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing, yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Coding, yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Data entry yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau database komputerisasi. 3.7.2. Analisis Data 1. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi masing-masing variabel independen yaitu pola makan yaitu vegetarian dan non vegetarian serta variabel dependen yaitu kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. 2. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui dan menguji keterkaitan antara dua variabel dalam penelitian ini yaitu untuk melihat sejauh mana perbedaan variabel independen yaitu pola makan dalam hal ini vegetarian dan non vegetarian dan variabel dependen yaitu kadar gula darah, kolesterol dan asam urat dengan menggunakan uji beda t-independent. Apabila data yang di uji tidak berdistribusi normal, maka dilakukaan uji Mann-Whitney U. Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perumahan Cemara Asri merupakan salah satu perumahan yang ada di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan dengan letak geografis yang berada di 3° 37' 52" N, 98° 41' 48" E. Perumahan ini memiliki luas wilayah sekitar 735 Ha. Jumlah penduduk yang ada di Perumahan Cemara Asri Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang sebanyak 1553 jiwa yang terdiri dari 357 KK dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 779 jiwa dan jenis kelamin perempuan sebanyak 774 jiwa. Di Perumahan Cemara Asri ini terdapat Maha Vihara Maitreya yang diresmikan pada tanggal 21 Agustus 2008 yang di dalamnya terdapat Pengurus Daerah Yayasan Indonesia Vegetarian Society (IVS) Provinsi Sumatera Utara. Di Perumahan Cemara Asri juga terdapat Maha Vihara Maitreya yang berada di bawah naungan Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI). Sehingga banyak ditemukan orang-orang yang merupakan vegetarian. Selain itu, banyaknya ditemukan makanan siap saji di sepanjang Perumahan Cemara Asri memudahkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan tersebut yang berpeluang terhadap terjadinya penyakit degeneratif bagi yang bukan vegetarian. Untuk mengamati perbedaan pola makan vegetarian dengan non vegetarian dan peluang terjadinya penyakit degeneratif, sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat perbedaan pola makan, 46 Universitas Sumatera Utara 47 kadar gula darah, kolesterol dan asam urat antara kelompok vegetarian dan non vegetarian di Perumahan Cemara Asri Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang. 4.2. Analisis Univariat 4.2.1 Karakteristik Responden Penelitian Hasil penelitian tentang karakteristik meliputi jenis kelamin, pendidikan, agama dan pekerjaan responden sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden No. Jenis Kelamin 1 Laki-laki 2 Perempuan Total Pendidikan 1 SMA 2 S1 Total Agama 1 Budha 2 Katolik Total 1 2 3 4 5 6 Total Pekerjaan Pengusaha Karyawan Marketing Pekerja Sosial Mahasiswa IRT Responden Berdasarkan Karakteristik f 23 37 60 % 38,3 61,7 100,0 8 52 60 13,3 86,7 100,0 41 19 60 68,3 31,7 100,0 24 14 6 4 2 10 60 40,0 23,3 10,0 6,7 3,3 16,7 100,0 Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin responden terbanyak yaitu perempuan sebanyak 37 orang (61,7%), pendidikan responden terbanyak yaitu S1 sebanyak 52 orang (86,7%), agama responden terbanyak yaitu Budha sebanyak 41 Universitas Sumatera Utara 48 orang (68,3%), dan pekerjaan responden terbanyak yaitu pengusaha 24 orang (40,0%). Distribusi proporsi karakteristik responden vegetarian dan non vegetarian meliputi jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan responden, kadar gula darah, kadar kolesterol dan kadar asam urat responden seperti pada tabel 4.2 di bawah ini: Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Karakteristik Responden No. 1 2 Total Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan 1 SMA 2 S1 Total 1 2 Total 1 2 3 4 5 6 Total Agama Budha Katolik Pekerjaan Pengusaha Karyawan Marketing Pekerja Sosial Mahasiswa IRT Vegetarian Non Vegetarian f 13 17 30 % 43,3 56,7 100,0 f 10 20 30 % 33,3 66,7 100,0 2 28 30 6,7 93,3 100,0 6 24 30 20,0 80,0 100,0 22 8 30 73,3 26,7 100,0 19 11 30 63,3 36,7 100,0 11 3 4 4 1 7 30 36,7 10,0 13,3 13,3 3,3 23,3 100,0 13 11 2 0 1 3 30 43,3 36,7 6,7 0 3,3 10,0 100,0 Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin responden dari kedua kelompok yang terbanyak yaitu perempuan 17 orang (56,7%) dari kelompok vegetarian dan 20 orang (66,7%) dari kelompok non vegetarian. Pendidikan responden dari kedua kelompok yang terbanyak yaitu S1, 28 orang (93,3%) untuk kelompok vegetarian dan Universitas Sumatera Utara 49 24 orang (80,0%) untuk kelompok non vegetarian. Agama responden terbanyak yaitu Budha, 22 orang (73,3%) untuk kelompok vegetarian dan 19 orang (63,3%) untuk kelompok non vegetarian. Pekerjaan responden terbanyak yaitu pengusaha sebanyak 11 orang (36,7%) untuk kelompok vegetarian serta 13 orang (43,3%) untuk kelompok non vegetarian. Distribusi frekuensi responden vegetarian berdasarkan lama menjadi vegetarian, alasan menjadi vegetarian, dan rutinitas olahraga diperlihatkan dalam tabel 4.3 di bawah ini: Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian Berdasarkan Lama dan Alasan Menjadi Vegetarian Serta Rutinitas Olahraga No. 1 2 3 Total Lama Menjadi Vegetarian 1-3 Tahun 4-6 Tahun >6 Tahun No. 1 2 3 Total Alasan Menjadi Vegetarian Kepercayaan Kesehatan Peduli Hewan No. Olahraga Rutin 1 Ya 2 Tidak Total f 6 14 10 30 f % 20,0 46,7 33,3 100,0 7 18 5 30 % 23,3 60,0 16,7 100,0 f 23 7 30 % 76,7 23,3 100,0 Responden vegetarian yang terbanyak telah menjadi vegetarian selama 4-6 tahun yaitu sebanyak 14 orang (46,7%). Kesehatan merupakan alasan terbanyak seseorang menjadi vegetarian, dari 30 responden 18 orang (60,0%) menyatakan kesehatan menjadi alasan utamanya untuk menjadi seorang vegetarian. Universitas Sumatera Utara 50 Dari 30 orang responden vegetarian, 23 orang (76,7%) menyatakan rutin berolahraga, sedangkan sisanya 7 orang (23,3%) menyatakan tidak berolahraga secara rutin. Distribusi frekuensi responden non vegetarian berdasarkan pengetahuan tentag pola makan vegetarian, alasan tidak menjadi vegetarian, dan rutinitas olahraga dapat dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini: Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pengetahuan dan Alasan Tidak Vegetarian Serta Rutinitas Olahraga No. 1 2 Total No. 1 2 3 Total Apakah Mengetahui Pola Makan Vegetarian Ya Tidak Alasan Tidak Vegetarian Belum tertarik Tidak kepikiran Tidak tahu No. Olahraga Rutin 1 Ya 2 Tidak Total f % 27 3 30 90,0 10,0 100,0 f 14 6 10 30 % 46,7 20,0 33,3 100,0 f 12 18 30 % 40,0 60,0 100,0 Hasil penelitian menunjukkan 27 orang (90,0%) responden non vegetarian mengetahui pola makan vegetarian, sedangkan sisanya 3 orang (10,0%) mengatakan tidak mengetahui apa itu pola makan vegetarian. Hasil penelitian menunjukkan belum tertarik menjadi alasan utama seseorang tidak menjadi vegetarian, sebanyak 14 orang responden non vegetarian (46,7%) menjawab belum tertarik. Universitas Sumatera Utara 51 Dari 30 orang responden non vegetarian, 12 orang (40,0%) menyatakan rutin berolahraga, sedangkan sisanya 18 orang (60,0%) menyatakan tidak berolahraga secara rutin. 4.2.2 Pola Makan Responden Penelitian Hasil penelitian tentang pola makan responden menurut jenis bahan makanan dan frekuensi makan dapat diperlihatkan dalam tabel 4.5 berikut : Tabel 4.5 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Pokok Frekuensi Makan vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % N % n % Nasi 30 100,0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 Mie 5 16,7 4 13,3 12 40,0 7 23,3 2 6,7 0 0 30 100,0 Roti 5 16,7 5 16,7 5 16,7 9 30,0 6 20,0 0 0 30 100,0 Kentang 6 20,0 3 10,0 8 26,7 8 26,7 5 16,7 0 0 30 100,0 Singkong 1 3,3 0 0 3 10,0 7 23,3 17 56,7 2 6,7 30 100,0 Sereal 5 16,7 2 6,7 7 23,3 12 40,0 4 13,3 0 0 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Makanan Pokok Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pola konsumsi responden vegetarian pada jenis makanan pokok yaitu seluruh responden (100,0%) mengonsumsi nasi pada frekuensi 1-3 kali/hari, mie dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, roti dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, kentang dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 13 kali/mingggu dan 1-3 kali/bulan, singkong dikonsumsi oleh 17 orang (56,7%) pada Universitas Sumatera Utara 52 frekuensi < 1 kali/bulan, dan sereal dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Tabel 4.6 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Pokok Frekuensi Makan non vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Nasi 30 100,0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 Mie 4 13,3 10 33,3 7 23,3 2 6,7 7 23,3 0 0 30 100,0 Roti 9 30,0 11 36,7 7 23,3 2 6,7 1 3,3 0 0 30 100,0 Kentang 0 0 2 6,7 10 33,3 6 20,0 10 33,3 2 6,7 30 100,0 Singkong 0 0 0 0 1 3,3 4 13,3 15 50,0 10 33,3 30 100,0 Sereal 3 10,0 10 33,3 5 16,7 9 30,0 2 6,7 1 3,3 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Makanan Pokok Berdasarkan tabel di atas pola konsumsi non vegetarian pada jenis makanan pokok adalah seluruh responden (100%) mengonsumsi nasi pada frekuensi 1-3 kali/hari, mie dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, roti dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, kentang dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu dan < 1 kali/bulan, singkong dikonsumsi oleh 15 orang (50,0%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, dan sereal dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu. Universitas Sumatera Utara 53 Tabel 4.7 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Lauk pauk (Nabati) Frekuensi Makan vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Lauk pauk (nabati) Tahu 8 26,7 6 20,0 7 23,3 6 20,0 3 10,0 0 0 30 100,0 Tempe 10 33,3 5 16,7 8 26,7 4 13,3 3 10,0 0 0 30 100,0 Gluten 8 26,7 4 13,3 5 16,7 10 33,3 3 10,0 0 0 30 100,0 Jamur 8 26,7 7 23,3 6 20,0 6 20,0 3 10,0 0 0 30 100,0 Jenis lauk pauk (nabati) yang dikonsumsi yaitu tahu, tempe, gluten dan jamur yang masing-masing dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari, 10 orang (33,3 %) pada frekuensi 1-3 kali/hari, 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan dan 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari. Tabel 4.8 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Lauk Pauk (Nabati) Frekuensi Makan non vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah N % n % N % n % n % n % n % Lauk pauk (nabati) Tahu 7 23,3 6 20,0 8 26,7 4 13,3 3 10,0 0 0 30 100,0 Tempe 6 20,0 7 23,3 6 20,0 9 30,0 2 6,7 0 0 30 100,0 Gluten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Jamur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Universitas Sumatera Utara 54 Jenis lauk pauk nabati yang dikonsumsi oleh responden non vegetarian yaitu tahu dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, tempe dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, gluten dan jamur tidak pernah dikonsumsi oleh seluruh responden yaitu 30 orang (100%). Tabel 4.9 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Tumbuhan Polong Frekuensi Makan vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Kacang hijau 4 13,3 5 16,7 16 53,3 3 10,0 2 6,7 0 0 30 100,0 Kacang kedelai 8 26,7 6 20,0 7 23,3 4 13,3 3 10,0 0 0 30 100,0 Kacang merah 6 20,0 9 30,0 6 20,0 7 23,3 2 6,7 0 0 30 100,0 Kacang panjang 7 23,3 9 30,0 5 16,7 5 16,7 4 13,3 0 0 30 100,0 Buncis 7 23,3 7 23,3 4 13,3 9 30,0 3 10,0 0 0 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Tumbuhan polong Jenis tumbuhan polong yaitu kacang hijau dikonsumsi oleh 16 orang (53,3%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, kacang kedelai oleh 8 orang pada frekuensi 1-3 kali/hari, kacang merah dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, kacang panjang dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan buncis dikonsumsi oleh 9 orang pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Universitas Sumatera Utara 55 Tabel 4.10 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Tumbuhan Polong Frekuensi Makan non vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Kacang hijau 1 3,3 0 0 3 10,0 7 23,3 17 56,7 2 6,7 30 100,0 Kacang kedelai 0 0 2 6,7 7 23,3 4 13,3 12 40,0 5 16,7 30 100,0 Kacang merah 2 6,7 5 16,7 4 13,3 0 0 12 40,0 7 23,3 30 100,0 Kacang panjang 0 0 2 6,7 7 23,3 4 13,3 12 40,0 5 16,7 30 100,0 Buncis 1 3,3 0 0 3 10,0 7 23,3 17 56,7 2 6,7 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Tumbuhan polong Jenis tumbuhan polong yang dikonsumsi oleh responden non vegetarian yaitu kacang hijau dikonsumsi oleh 17 orang (56,7%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, kacang kedelai, kacang merah dan kacang panjang masing-masing dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, dan buncis dikonsumsi oleh 17 orang (56,7%) pada frekuensi < 1 kali/bulan. Universitas Sumatera Utara 56 Tabel 4.11 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Sayuran Frekuensi Makan vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % N % Bayam 5 16,7 11 36,7 7 23,3 2 6,7 5 16,7 0 0 30 100,0 Kangkung 3 10,0 6 20,0 13 43,3 2 6,7 6 20,0 0 0 30 100,0 Kol 2 6,7 8 26,7 6 20,0 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Daun singkong 1 3,3 10 33,3 4 13,3 7 23,3 8 26,7 0 0 30 100,0 Selada 2 6,7 8 26,7 7 23,3 7 23,3 6 20,0 0 0 30 100,0 Kembang kol 1 3,3 4 13,3 9 30,0 9 30,0 4 13,3 0 0 30 100,0 Asparagus 3 10,0 13 43,3 6 20,0 6 20,0 2 6,7 0 0 30 100,0 Tauge 2 6,7 6 20,0 8 26,7 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Wortel 4 13,3 7 23,3 8 26,7 10 33,3 1 3,3 0 0 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Sayuran Jenis sayuran yaitu bayam dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%), pada frekuensi 4-5 kali/minggu, kangkung oleh 13 orang (43,3%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, kol dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, daun singkong dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, selada dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, kembang kol dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, asparagus dikonsumsi oleh 13 orang (43,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, tauge dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu dan wortel dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Universitas Sumatera Utara 57 Tabel 4.12 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Sayuran Frekuensi Makan non vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Bayam 1 3,3 6 20,0 11 36,7 6 20,0 4 13,3 2 6,7 30 100,0 Kangkung 1 3,3 2 6,7 16 53,3 8 26,7 3 10,0 0 0 30 100,0 Kol 0 0 1 3,3 6 20,0 10 33,3 10 33,3 3 10,0 30 100,0 Daun singkong 0 0 7 23,3 11 36,7 7 23,3 3 10,0 2 6,7 30 100,0 Selada 0 0 1 3,3 1 3,3 5 16,7 14 46,7 9 30,0 30 100,0 Kembang kol 0 0 3 10,0 4 13,3 14 46,7 6 20,0 3 10,0 30 100,0 Asparagus 0 0 1 3,3 1 3,3 5 16,7 14 46,7 9 30,0 30 100,0 Tauge 1 3,3 2 6,7 16 53,3 8 26,7 3 10,0 0 0 30 100,0 Wortel 0 0 7 23,3 11 36,7 7 23,3 3 10,0 2 6,7 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Sayuran Jenis sayuran yang dikonsumsi non vegetarian yaitu bayam dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) dan kangkung dikonsumsi oleh 16 orang (53,3%) masing-masing pada frekuensi 1-3 kali/minggu, kol dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/ minggu dan 1-3 kali/bulan, daun singkong dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, selada dikonsumsi oleh 14 orang (46,7%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, kembang kol dikonsumsi oleh 14 orang (46,7%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, asparagus dikonsumsi oleh 14 orang ( 46,7%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, dan wortel dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu. Universitas Sumatera Utara 58 Tabel 4.13 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Buah-buahan Frekuensi Makan vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % N % n % Pisang 8 26,7 7 23,3 5 16,7 4 13,3 6 20,0 0 0 30 100,0 Pepaya 4 13,3 10 33,3 7 23,3 2 6,7 7 23,3 0 0 30 100,0 Jeruk 9 30,0 11 36,7 7 23,3 2 6,7 1 3,3 0 0 30 100,0 Mangga 14 46,7 5 16,7 6 20,0 5 16,7 0 0 0 0 30 100,0 Anggur 4 13,3 10 33,3 2 6,7 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Apel 3 10,0 10 33,3 5 16,7 9 30,0 2 6,7 1 3,3 30 100,0 Semangka 11 36,7 2 6,7 3 10,0 9 30,0 5 16,7 0 0 30 100,0 Nenas 9 30,0 11 36,7 7 23,3 2 6,7 1 3,3 0 0 30 100,0 Pir 4 13,3 10 33,3 2 6,7 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Buah Jenis buah yang dikonsumsi responden vegetarian yaitu pisang dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari, pepaya dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, jeruk dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, mangga dikonsumsi oleh 14 orang (46,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari, anggur dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, apel dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, semangka dikonsumsi oleh 11 orang (36,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari, da pir dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu. Universitas Sumatera Utara 59 Tabel 4.14 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Buah-buahan Frekuensi Makan non vegetarian Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n % n % N % n % n % n % n % Pisang 3 10,0 8 26,7 8 26,7 8 26,7 2 6,7 1 3,3 30 100,0 Pepaya 2 6,7 9 30,0 3 10,0 9 30,0 5 16,7 2 6,7 30 100,0 Jeruk 6 20,0 8 26,7 7 23,3 8 26,7 1 3,3 0 0 30 100,0 Mangga 0 0 3 10,0 5 16,7 10 33,3 12 40,0 0 0 30 100,0 Anggur 0 0 0 0 1 3,3 4 13,3 15 50,0 10 33,3 30 100,0 Apel 1 3,3 2 6,7 7 23,3 9 30,0 10 33,3 1 3,3 30 100,0 Semangka 0 0 9 30,0 5 16,7 7 23,3 5 16,7 4 13,3 30 100,0 Nenas 2 6,7 9 30,0 3 10,0 9 30,0 5 16,7 2 6,7 30 100,0 Pir 1 3,3 2 6,7 7 23,3 9 30,0 10 33,3 1 3,3 30 100,0 Jenis Bahan Makanan Buah Jenis buah yang dikonsumsi oleh responden non vegetarian adalah pisang 8 orang (26,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, 1-3 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, pepaya dikonsumsi oleh 9 orang (30,0 %) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, jeruk dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, mangga dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, anggur dikonsumsi oleh 15 orang (50,0%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, apel dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, semangka dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, nenas dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, dan pir dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Universitas Sumatera Utara 60 Tabel 4.15 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Hewani dan Produknya Frekuensi Makan vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n N % N % n % n % n % n % % Bahan makanan hewani dan produknya Ayam 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Daging 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Ikan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Telur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Susu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Keju 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Bahan makanan hewani dan produk olahannya sama sekali tidak dikonsumsi oleh responden vegetarian yaitu 30 orang (100,0%) tidak pernah mengonsumsi makanan hewani. Universitas Sumatera Utara 61 Tabel 4.16 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Bahan Makanan Hewani dan Produknya Frekuensi Makan non vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n n % N % n % n % n % n % % Bahan makanan hewani dan produknya Ayam 2 6,7 9 30,0 3 10,0 9 30,0 5 16,7 2 6,7 30 100,0 Daging 0 0 3 10,0 3 10,0 12 40,0 12 40,0 0 0 30 100,0 Ikan 8 26,7 17 56,7 3 10,0 2 6,7 0 0 0 0 30 100,0 Telur 6 20,0 10 33,3 10 33,3 3 10,0 1 3,3 0 0 30 100,0 Susu 8 26,7 8 26,7 3 10,0 5 16,7 3 10,0 3 10,0 30 100,0 Keju 0 0 0 0 2 6,7 5 16,7 8 26,7 15 50,0 30 100,0 Jenis makanan hewani yang dikonsumsi oleh non vegetarian antara lain adalah ayam yang dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, daging dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan dan < 1 kali/bulan, ikan dikonsumsi oleh 17 orang (56,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, telur dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/minggu, susu dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/hari dan 4-5 kali/minggu, dan keju tidak pernah dikonsumsi oleh 15 orang (50%). Universitas Sumatera Utara 62 Tabel 4.17 Distribusi Responden Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Makanan Selingan (Snack) Frekuensi Makan vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n n % N % n % n % n % n % % Makanan selingan (Snack) Agar-agar 3 10,0 10 33,3 5 16,7 9 30,0 2 6,7 1 3,3 30 100,0 Puding 1 3,3 4 13,3 9 30,0 9 30,0 4 13,3 0 0 30 100,0 Roti selai 3 10,0 13 43,3 6 20,0 6 20,0 2 6,7 0 0 30 100,0 Donat 2 6,7 6 20,0 8 26,7 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Bubur kacang hijau 4 13,3 7 23,3 8 26,7 10 33,3 1 3,3 0 0 30 100,0 Salad 4 13,3 10 33,3 2 6,7 7 23,3 7 23,3 0 0 30 100,0 Hamburger 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Pizza 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Ice cream 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Bakmie 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 100,0 30 100,0 Olahan (pork) babi Jenis makanan selingan (snack) yang dikonsumsi oleh responden adalah agaragar dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, puding dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, roti selai dikonsumsi oleh 13 orang (43,4%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, donat dikonsumsi 8 orang (26,7%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, bubur kacang hijau diknsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, salad dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu, hamburger, pizza, ice cream, Universitas Sumatera Utara 63 bakmie, olahan babi (pork) tidak dikonsumsi oleh vegetarian yaitu 30 orang (100,0%). Tabel 4.18 Distribusi Responden Non Vegetarian Berdasarkan Pola Konsumsi Menurut Jenis dan Frekuensi pada Makanan Selingan (Snack) Frekuensi Makan non vegetarian Jenis Bahan Makanan Jumlah 1 – 3 kali/hari 4 – 5 kali/minggu 1 – 3 kali/minggu 1 – 3 kali/bulan < 1 kali/bulan Tidak pernah n n % N % n % n % n % N % % Makanan selingan (Snack) Agar-agar 1 3,3 1 3,3 0 0 6 20,0 13 43,3 9 30,0 30 100,0 Puding 0 0 0 0 0 0 2 6,7 21 70,0 7 23,3 30 100,0 Roti selai 5 16,7 6 20,0 7 23,3 9 30,0 3 10,0 0 0 30 100,0 Donat 0 0 4 13,3 10 33,3 6 20,0 7 23,3 3 10,0 30 100,0 Bubur kacang hijau 1 3,3 7 23,3 12 40,0 5 16,7 5 16,7 0 0 30 100,0 Salad 0 0 0 0 1 3,3 4 13,3 20 66,7 5 16,7 30 100,0 Hamburger 0 0 5 16,7 9 30,0 8 26,7 6 20,0 2 6,7 30 100,0 Pizza 0 0 0 0 3 10,0 12 40,0 12 40,0 3 10,0 30 100,0 Ice cream 0 0 0 0 2 6,7 15 50,0 5 16,7 8 26,7 30 100,0 Bakmie 6 20,0 10 33,3 10 33,3 3 10,0 1 3,3 0 0 30 100,0 6 20,0 8 26,7 7 23,3 8 26,7 1 3,3 0 0 30 100,0 Olahan (pork) babi Jenis makanan selingan yang dikonsumsi oleh responden non vegetarian antara lain adalah agar-agar oleh 13 orang (43,3%) dan puding oleh 21 orang (70,0%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, roti selai dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, donat dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) dan bubur kacang hijau dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, salad dikonsumsi oleh 20 orang (66,7%) pada frekuensi < 1 kali/bulan, hamburger Universitas Sumatera Utara 64 dikonsumsi oleh 9 orang (30,0%) pada frekuensi 1-3 kali/minggu, pizza dikonsumsi oleh 12 orang (40,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan dan < 1 kali/bulan, ice cream dikonsumsi oleh 15 orang (50,0%) pada frekuensi 1-3 kali/bulan, bakmie dikonsumsi oleh 10 orang (33,3%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/minggu, dan olahan babi (pork) dikonsumsi oleh 8 orang (26,7%) pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan. 4.2.3 Kadar Gula darah, Kolesterol dan Asam Urat Responden Penelitian Hasil penelitian tentang perbedaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat responden menurut kelompok vegetarian dan bukan vegetarian dapat diperlihatkan dalam tabel 4.19 berikut : Tabel 4.19 Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Gula Darah No. Kadar Gula Darah 1 Normal 2 Tidak Normal Total Vegetarian f % 30 100,0 0 0,0 30 100,0 Non Vegetarian f % 26 86,7 4 13,3 30 100,0 Hasil penelitian dari 30 responden vegetarian dan 30 responden non vegetarian menunjukkan kadar gula darah normal pada kelompok vegetarian yaitu sebanyak 30 orang (100,0%) dan 26 orang (86,7%) pada kelompok non vegetarian. Sedangkan kadar gula darah tidak normal pada vegetarian adalah 0 orang (0,0%) dan 4 orang (13,3%) pada non vegetarian. Universitas Sumatera Utara 65 Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Kolesterol No. Kadar Kolesterol 1 Normal 2 Tidak Normal Total Vegetarian f % 30 100,0 0 0,0 30 100,0 Non Vegetarian f % 18 60,0 12 40,0 30 100,0 Hasil penelitian dari 30 responden vegetarian dan 30 responden non vegetarian menunjukkan kadar kolesterol normal pada kelompok vegetarian yaitu sebanyak 30 orang (100,0%) dan 18 orang (60,0%) pada kelompok non vegetarian. Sedangkan kadar kolesterol tidak normal pada vegetarian adalah 0 orang (0,0%) dan 12 orang (40,0%) pada non vegetarian. Tabel 4.21 Distribusi Frekuensi Responden Vegetarian dan Non Vegetarian Berdasarkan Kadar Asam Urat No. Kadar Asam Urat 1 Normal 2 Tidak Normal Total Vegetarian f % 30 100,0 0 0,0 30 100,0 Non Vegetarian f % 19 63,3 11 36,7 30 100,0 Hasil penelitian dari 30 responden vegetarian dan 30 responden non vegetarian menunjukkan kadar asam urat normal pada kelompok vegetarian yaitu sebanyak 30 orang (100,0%) dan 19 orang (63,3%) pada kelompok non vegetarian. Sedangkan kadar asam urat tidak normal pada vegetarian adalah 0 orang (0,0%) dan 11 orang (36,7%) pada non vegetarian. 4.3 Analisis Bivariat Distribusi frekuensi responden berdasarkan perbedaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat antara kelompok vegetarian dan kelompok non vegetarian pada tabel 4.22 di bawah ini: Universitas Sumatera Utara 66 Tabel 4.22 Distribusi Responden Berdasarkan Perbedaan Kadar Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat Antara Kelompok Vegetarian dan Kelompok Non Vegetarian Variabel Kadar Gula Darah Kadar Kolesterol Kadar Asam urat Mean Vegetarian Non Vegetarian 98,3 144,2 142,9 222,0 4,8 6,2 SD Vegetarian 5,8 27,3 0,7 Non Vegetarian 51,3 32,7 1,5 pvalue 0,000 0,000 0,000 Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah responden vegetarian yaitu 98,3 dengan SD 5,8 sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 144,2 dengan SD 51,3. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar gula darah antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegetarian. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kolesterol responden vegetarian yaitu 142,9 dengan SD 27,3 sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata kolesterol 222,0 dengan SD 32,7. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar kolesterol antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegetarian. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar asam urat responden vegetarian yaitu 4,8 dengan SD 0,7 sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata asam urat 6,2 dengan SD 1,5. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar asam urat antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegetarian. Universitas Sumatera Utara BAB V PEMBAHASAN 5.1. Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian Vegetarian dan non vegetarian dibedakan atas jenis makanan yang dikonsumsinya. Vegetarian adalah sekelompok orang yang berpantang makan makanan yang berasal dari hewan maupun produk turunannya seperti susu, telur dan lain-lain, sedangkan yang bukan vegetarian adalah sekelompok orang yang mengonsumsi makanan baik dari hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pola makan yang dikonsumsi masing-masing kelompok ini berpengaruh terhadap kesehatan maupun terjadinya penyakit kronis. Jenis makanan yang dikonsumsi responden diperoleh dari formulir food frequency. Keseluruhan bahan makanan tersebut kemudian dibagi menjadi kelompok makanan pokok, lauk-pauk (nabati), tumbuhan polong, sayur-sayuran, buah-buahan, makanan hewani dan makanan selingan (snack). Adapun jenis bahan makanan pokok yang paling sering dikonsumsi responden adalah nasi. Bahan makanan lain yang juga dikonsumsi yaitu, mie, roti, kentang, singkong, dan sereal. Makanan pokok, khususnya serealia selain sebagai sumber karbohidrat, juga kaya akan protein, vitamin B, dan vitamin E. Mailoa (2007) dalam Sevenris (2007) mengatakan bahwa seorang vegetarian harus mengonsumsi bahan makanan sumber energi 6-8 porsi setiap hari atau 200 gr dalam sekali waktu makan. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi kekurangan lemak. Kebutuhan karbohidrat orang dewasa adalah sekitar 300 gr/hari untuk 2000 kalori diet. Sumber karbohidrat tinggi terdapat pada nasi putih 79,3 gr ; kismis 71,7 gr ; dan pisang 21 gr (Rossi, 2010). 67 Universitas Sumatera Utara 68 Untuk kelompok bahan makanan lauk-pauk yang paling sering dikonsumsi adalah tahu, tempe, gluten dan jamur. Tahu, tempe dan jamur dominan dikonsumsi vegetarian pada frekuensi 1-3 kali/hari sedangkan untuk gluten dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Pada non vegetarian, tahu dan tempe dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/minggu sedangkan gluten dan jamur tidak pernah dikonsumsi oleh non vegetarian. Produk kacang kedelai seperti tahu dan tempe selain mengandung protein yang tinggi juga mengandung kalsium, zat besi, vitamin B1, B2 dan B3. Sumber protein lainnya adalah jenis kacang-kacangan dan gluten. Kebutuhan protein orang dewasa adalah sekitar 50 gr. Dalam bahan makanan vegetarian juga terdapat sumber protein tinggi antara lain pada kacang kedelai 36,5 gr dan kacang hijau 23,9 gr, dibandingkan dengan daging sapi atau kambing tanpa lemak yang hanya 20,2 gr (Rossi, 2010). Jenis tumbuhan polong seperti kacang kedelai dikonsumsi vegetarian pada frekuensi 1-3 kali/hari, kacang hijau dengan frekuensi 1-3 kali/minggu, kacang merah dan kacang panjang dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu, serta buncis dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Sedangkan pada non vegetarian kacang kedelai, kacang merah dan kacang panjang masing-masing pada frekuensi 1-3 kali/bulan, kacang hijau dan buncis dikonsumsi pada frekuensi < 1 kali/bulan. Hal ini dikarenakan para vegetarian mengetahui bahwa jenis tumbuhan polong merupakan sumber protein yang lengkap dengan mengonsumsi sekaligus beberapa macamnya. Sebelumnya banyak orang berpendapat bahwa protein banyak diperoleh dari makanan hewani, sementara protein dari makanan nabati jauh lebih sedikit jumlahnya. Hasil penelitian Soya Food Research Council USA menunjukkan bahwa Universitas Sumatera Utara 69 dengan berat yang sama, kacang kedelai mengandung kadar protein sebanyak dua kali lipat dibanding daging hewan dan empat kali lipat dibanding telur. Protein kedelai menyusun 34% kalori dan mengandung semua asam amino esensial (Sumantri, 2001). Konsumsi sayur-sayuran sangat bervariasi antara lain bayam, kangkung, kol, daun singkong, selada, kembang kol, asparagus, tauge, dan wortel. Jenis sayuran yaitu kangkung, tauge dan kembang kol dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/minggu, bayam, kol, asparagus dan daun singkong dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu, dan wortel dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/bulan. Sedangkan jenis sayuran yang dikonsumsi non vegetarian yaitu bayam dan kangkung dikonsumsi masing-masing pada frekuensi 1-3 kali/minggu, kol dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/ minggu dan 1-3 kali/bulan, daun singkong dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/minggu, selada dikonsumsi pada frekuensi < 1 kali/bulan, kembang kol dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/bulan, asparagus dikonsumsi pada frekuensi < 1 kali/bulan, dan wortel dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/minggu. Hal ini disebabkan adanya lauk-pauk hewani sebagai pengganti lauk-pauk nabati. Jenis buah yang dikonsumsi antara lain pisang, semangka, jeruk, pepaya, nenas, mangga, apel, pir, dan anggur. Pisang, manga dan semangka dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/hari, pepaya, jeruk, anggur, apel dan pir dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu. Sedangkan non vegetarian pisang pada frekuensi 4-5 kali/minggu, 13 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, pepaya dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, jeruk dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, mangga dikonsumsi pada frekuensi < 1 kali/bulan, anggur dikonsumsi Universitas Sumatera Utara 70 pada frekuensi < 1 kali/bulan, apel dikonsumsi pada frekuensi < 1 kali/bulan, semangka dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu, nenas dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, dan pir dikonsumsi opada frekuensi 1-3 kali/bulan. Sayur dan buah yang bervariasi selain sebagai sumber serat juga merupakan sumber zat fitokimia dan antioksidan dalam tubuh. Kebutuhan serat orang Asia dewasa yang pada umumnya hanya mengnsumsi 2000 kalori adalah 25 gr/hari. Pengaruh mengonsumsi serat makanan terhadap penyakit degeneratif lebih rendah daripada pemakan daging. Para vegetarian juga cenderung memiliki umur lebih panjang daripada para pemakan daging (Bangun, 2003). Sebagian besar dari para vegetarian tidak mengonsumsi vitamin C dan pil/tablet besi yang merupakan suplemen zat gizi. Para vegetarian berusaha mendapatkan zat-zat gizi dari makanan alami misalnya dengan memperbanyak sayur dan buah. Demikian juga dengan kelompok non vegetarian tidak mengonsumsi vit. C ataupun tablet besi dengan anggapan dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Selain itu seluruh vegetarian juga tidak mengonsumsi makanan hewani dan produk olahannya. Sedangkan non vegetarian makanan hewani yang dikonsumsi anatara lain adalah ayam yang dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/bulan, daging dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/bulan dan < 1 kali/bulan, ikan dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu, telur dikonsumsi pada frekuensi 4-5 kali/minggu dan 1-3 kali/minggu, susu dikonsumsi pada frekuensi 1-3 kali/hari dan 45 kali/minggu, dan keju tidak pernah dikonsumsi. Universitas Sumatera Utara 71 Adapun makanan yang dikonsumsi oleh vegetarian diantara waktu makan (snack) adalah agar-agar, puding, roti selai, donat, bubur kacang hijau dan salad. Sedangkan para non vegetarian sering mengonsumsi makanan siap saji seperti burger, pizza, ice cream, bakmie dan pork. Secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa jenis makanan yang dikonsumsi responden vegetarian sesuai dengan prinsip diet vegetarian yang meliputi dan dikatakan baik karena terdiri dari empat jenis atau lebih makanan nabati, yaitu palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan agar asam amino esensial yang berbeda dapat saling melengkapi. Sedangkan bagi non vegetarian, selain mengonsumsi makanan nabati juga mengonsumsi makanan hewani. Selain itu non vegetarian juga sering mengonsumsi makanan siap saji yang dapat memicu tingginya kadar gula darah dan kolesterol. Jika tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup dan rutin diperkirakan dapat memicu terjadinya penyakit degeneratif. Bagi vegetarian sendiri olahraga yang dilakukan cukup rutin yaitu olahraga fitness yang biasa dilakukan di fitness center. 5.2. Kadar Gula Darah dan Diabetes Mellitus pada Vegetarian dan Non Vegetarian Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah responden vegetarian yaitu 98,3 dengan SD 5,8 sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 144,2 dengan SD 51,3. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar gula darah antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegeterian. Menurut American Dietetic Association (ADA) terhadap wanita dengan berat badan berlebih mendapatkan hasil bahwa konsumsi buah dan sayuran dapat Universitas Sumatera Utara 72 menurunkan risiko terjadinya Diabetes tipe 2. Selain itu, menurut penelitian Pritikin Longevity Center dan Dr. James Anderson dari Diabetes Clinic, Loma Linda University, risiko menderita Diabetes Mellitus pada non vegetarian 4 kali lipat dibanding vegetarian. Ketika diberikan diet vegetarian yang rendah lemak pada penderita Diabetes Mellitus, 50-75 % mampu lepas insulin dalam waktu kurang dari 4 minggu, dan 85-95 % mampu lepas pil. Demikian juga diungkapkan oleh American Diabetes Association, bahwa diet vegan yang rendah lemak menyebabkan penurunan berat badan lebih besar dan pengendalian glukosa darah (Emma, 2001). Pemberian makanan berkadar serat tinggi dapat menurunkan kadar glukosa dan insulin. Menu dengan karbohidrat tinggi (55% - 70%) dan serat pangan tinggi (50% - 80% gram per hari) berhasil menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa respon glukosa plasma dan insulin terhadap jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dipengaruhi oleh kadar serat di dalam makanan. Berkat semakin tingginya serat di dalam makanan, respon insulin akan melambat. Hal ini disebabkan oleh melambatnya penyerapan karbohidrat. Akibatnya, penyakit Diabetes Mellitus dapat dicegah (Bangun, 2003). Pola makan vegetarian menyebabkan penurunan kadar gula darah dan juga menjaga kestabilan berat badan. Dengan kata lain, dengan menjaga pola makan yaitu banyak mengonsumsi buah dan sayur, dapat memperkecil risiko terjadinya penyakit Diabetes Mellitus. Selain itu makanan yang dikonsumsi kelompok vegetarian lebih murah dibanding dengan makanan hewani seperti daging sapi, unggas dan ikan. Sayur-sayuran dan buah-buahan dapat lebih mudah dijangkau dan lebih murah selain Universitas Sumatera Utara 73 itu dapat juga ditanam dipekarangan rumah sehingga dari segi ekonomi jauh lebih hemat (Yuliarti, 2009). 5.3. Kadar Kolesterol dan penyakit Kolesterol pada Vegetarian dan Non Vegetarian Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kolesterol responden vegetarian yaitu 142,9 dengan SD 27,3 sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 222,0 dengan SD 32,7. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar kolesterol antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegeterian. Suatu studi cross sectional yang dilakukan oleh Simone Grigoletto De Biase, dan kawan-kawan (2005) dari Universitas Katolik Sao Paulo, Brazil, seperti dikutip dari Raharjo (2014) dengan menggunakan 68 orang responden, 34 orang vegetarian dan 34 non vegetarian menyimpulkan bahwa kelompok vegetarian mempunyai kadar LDL kolesterol yang paling rendah secara signifikan dibandingkan dengan non vegetarian. Pola makan vegetarian merupakan pola makan yang dianggap sebagai pola makan yang sehat sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit kronis (Dewell, 2008). Frasser (2003) menyatakan bahwa kelompok vegetarian mempunyai total kolesterol dan LDL-kolesterol yang rendah, serta tekanan darah yang juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang bukan vegetarian. Menurut American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada, bahwa diet vegetarian juga menunjukkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah yang lebih rendah, kejadian hipertensi, diabetes tipe 2 dan kanker prostat dan kolon yang lebih rendah dibanding dengan yang bukan vegetarian. Dalam laporan kepada The British Medical Journal, Universitas Sumatera Utara 74 Dr. CR Sirtori mengambil kesimpulan bahwa orang-orang dengan tipe kolesterol tinggi, kadara kolesterolnya akan menurun apabila mengganti protein hewani menjadi protein nabati, misalnya protein kacang kedelai, sebab mengandung asam metionin yang berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar kolesterol pada vegetarian lebih rendah dan stabil daripada kadar kolesterol non vegetarian. Dengan mengonsumsi makanan nabati dapat memperkecil risiko meningkatnya kadar kolesterol dan terjadinya penyakit jantung koroner. Kata kunci pertama adalah mengetahui kadar kolesterol darah. Jika kolesterol darah tinggi maka alihkan makanan hewani yang berkolesterol tinggi menjadi makanan nabati. Pemberian diet vegetarian dapat menurunkan kadar LDL-kolesterol. Selain itu, pemberian diet vegetarian dapat menurunkaninsiden terjadinya obesitas dan juga dapat menurunkan insiden aterosklerosis sehingga juga dapat menurunkan morbiditas maupun mortalitas pada penyakit kardiovaskuler (Bangun, 2003). 5.4. Kadar Asam Urat dan penyakit Asam Urat pada Vegetarian dan Non Vegetarian Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar asam urat responden vegetarian yaitu 4,84 dengan SD 0,741, sedangkan pada kelompok non vegetarian rata-rata gula darah 6,18 dengan SD 1,542. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 yang artinya p < 0,05 berarti ada perbedaan secara signifikan kadar asam urat antara kelompok vegetarian dengan kelompok non vegeterian. Penelitian oleh Rhoswita tahun 2003 menyebutkan, asupan diet vegetarian seimbang dengan protein hewani dan konten purin disertai asupan cairan yang cukup Universitas Sumatera Utara 75 dengan buah-buahan dan sayuran setelah diteliti dapat mengurangi risiko terserang asam urat dibandingkan dengan orang yang memakan segala jenis makanan. Penelitian Breslau yang melakukan uji coba pada 15 subjek selama 12 hari mengonsumsi makanan tinggi protein nabati dan protein hewani. Hasilnya, terdapat peningkatan ekskresi asam urat dan peningkatan risiko formasi batu asam urat pada kelompok dengan konsumsi protein hewani tinggi. Risiko asam urat pada vegetarian lebih rendah daripada non vegetarian. Salah satu indikator tinggi rendahnya asam urat dapat dilihat dari formasi kristal atau batu asam urat. Pada prinsipnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk menjaga agar kadar asam urat darah tetap dalam batas normal, disarankan konsumsi makanan dan minuman yang tidak banyak mengandung purin. Tetapi jika sudah terlanjur mengalami penyakit ini, langkah terpenting adalah semaksimal mungkin mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan zat purin. Makanan rendah purin dapat ditemukan pada sayur-sayuran maupun buah-buahan, sehingga orang-orang dengan diet vegetarian lebih rendah kadar asam uratnya dibanding dengan yang bukan vegetarian (Chindy 2009). Orang-orang yang tergabung dalam kelompok vegetarian sebagian besar yaitu sebanyak 60,0% (18 orang) memilih untuk menjadi vegetarian dikarenakan atas kesadaran akan pentingnya kesehatan sesuai dengan tabel 4.3. Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa orang-orang dengan pola makan non vegetarian mengetahui mengenai pola makan vegetarian sebesar 90,0% (27 orang). Akan tetapi keinginan untuk menjadi vegetarian masih rendah dengan melihat jawaban responden yang mengatakan belum tertarik untuk menjadi vegetarian. Tinggi rendahnya kadar gula Universitas Sumatera Utara 76 darah, kolesterol maupun asam urat merupakan salah satu tanda untuk mengetahui sejauh mana kesehatan seseorang. Banyak hal-hal yang mendasari tinggi rendahnya kadar gula darah, kolesterol maupun asam urat tersebut, antara lain pola makan, gaya hidup, dan olahraga. Berdasarkan penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa pola makan vegetarian ternyata menghasiilkan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat yang lebih rendah dibandingkan dengan non vegetarian. Demikian juga dengan penelitian yang telah penulis lakukan. Selain itu, gaya hidup dan olahraga juga mengambil peranan penting dalam stabilnya kadar gula darah, kolesterol dan asam urat tersebut. Olahraga yang rutin dilakukan berdampak baik bagi kesehatan jantung, kesehatan fisik dan menjaga agar makanan yang dikonsumsi tidak menjadi timbunan lemak. Sesuai dengan tabel 4.4 mengenai olahraga secara rutin dilakukan atau tidak, lebih dari setengah responden non vegetarian mengaku tidak melakukannya secara rutin. Hal ini berdampak kepada kadar gula darah, kolesterol dan asam urat nya menjadi lebih tinggi dibanding dengan kelopok vegetarian. Selain dari makanan yang dikonsumsi ada yang berasal dari kelompok hewani, olahraga yang tidak rutin dilakukan, akan memicu terjadinya penyakit kronis dikemudian hari. Universitas Sumatera Utara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini maka dapat dibuat kesimpulan dan saran sebagai berikut : 6.1. Kesimpulan 1. Pola makan vegetarian telah beraneka ragam dan terencana dengan baik yang dapat dilihat dari jumlah dan jenis bahan makanan, dimana para vegetarian telah mengonsumsi empat atau lebih makanan nabati sedangkan pola makan non vegetarian masih kurang beraneka ragam. 2. Terdapat perbedaan kadar gula darah pada kelompok vegetarian dengan non vegetarian. Hal ini disebabkan pola makan vegetarian lebih terjaga dari sumber makanan yang menyebabkan meningkatnya kadar gula darah, yaitu hanya mengonsumsi makanan nabati sedangkan non vegetarian lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung glukosa tinggi dan makanan siap saji. Selain itu rutinitas olahraga kelompok vegetarian lebih rutin dilakukan daripada non vegetarian. 3. Terdapat perbedaan kadar kolesterol pada kelompok vegetarian dan non vegetarian. Hal ini dikarenakan vegetarian hanya mengonsumsi makanan dari sumber nabati yang banyak mengandung kolesterol baik, sedangkan non vegetarian mengonsumsi baik makanan nabati maupun hewani dan juga makanan siap saji (junk food) yang banyak mengandung kolesterol jahat. 4. Terdapat perbedaan kadar asam urat antara kelompok vegetarian dengan non vegetarian. Hal ini sejalan dengan kadar kolesterol dalam tubuh. Jika kadar 77 Universitas Sumatera Utara 78 5. kolesterol tinggi dapat memicu tingginya kadar asam urat. Asam urat pada vegetarian baik karena sumber makanan hanya dari sumber nabati, sedangkan pada non vegetarian lebih tinggi karena banyak mengonsumsi sumber hewani seperti makanan laut. 6.2. Saran 1. Bagi kelompok vegetarian diharapkan tetap menjaga pola makan dan olahraga agar kadar gula darah, kolesterol dan asam urat tetap dalam batas normal. 2. Bagi kelompok non vegetarian agar dapat mempertimbangkan pola makan vegetarian untuk dilakukan sebagai pola makan sehari-hari yang bermanfaat untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif. 3. Bagi kelompok non vegetarian yang belum ingin menjalani pola makan vegetarian, diharapkan untuk memperbanyak makan makanan nabati seperti sayur dan buah disamping makanan hewani lainnya. 4. Bagi kelompok non vegetarian diharapkan untuk melakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit degeneratif. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Adieni H. 2008. Asupan Karbohidrat, Lemak, Protein, Makanan Sumber Purin dan Kadar Asam Urat Pada Vegetarian. Skripsi Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Adriani M, Wirjatmadi B. 2012. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana. Ahmad M. 2011. Obat-obatan Penyembuh Asam Urat. http://digilib.ump.ac.id. Akses tanggal 24 Agustus 2014. Aini M. 2013. Pola Makan dan Status Gizi Balita di Daerah Aliran Sungai. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Almatsier S. 2008. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Andryhart. 2014. Diet Vegan Mengurangi Risiko http://www.pantirapih.or.id. Akses tanggal 12 Juli 2014. Diabetes. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bangun A. 2003. Vegetarian Pola Hidup Sehat Berpantang Daging. Jakarta: Agromedia Pustaka Barasi M. 2007. Nutrition at a Glance. Jakarta: Erlangga. Chindy T. 2009. Veggie versus Asam Urat. http://onlyoneearth.wordopress.com Akses tanggal 25 September 2014. Damaiaty I. 2001. Pola Konsumsi Makanan Penderita Penyakit Kardiovaskular di Rumah Sakit Umum Advent Medan Tahun 2001. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Depkes RI. 2007. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 Emma S. 2001. Buah dan Sayur Untuk Terapi. Jakarta : Penebar Swadaya. Hidayat S. 2007. Faktor-faktor yang Memengaruhi Terjadinya Asam Urat. http://digilib.unimus.ac.id. Akses tanggal 18 Agustus 2014. Karlson E. 2012. Asam urat dan Vegetarian. http://aurorasentinel.com. Akses tanggal 8 Agustus 2014, Universitas Sumatera Utara Kando G. 2014. Penyakit Degeneratif dan Vegetarian. http://repository.unair.com. Akses tanggal 14 Juli 2014. Kartasapoetra G. 2008. Ilmu Gizi Korelasi Gizi, Kesehatan, dan Produktivitas Kerja. Jakarta: Rineka Cipta. Kate M, Jennie B. 2011. Vegetarian Diets and Diabetes. Am J Lifestyle Med 5(2): 135-143. Kodyat B. 1999. Penuntasan masalah gizi utama posisi REPELITA VI, Kebijakan Dan Strategi Menghadapi Pelita VII. Surabaya: Graha BIK IPTEDOK FKUNAIR Lasantha. 2012. Obat Asam Urat dan Pantangan http://vegetarianrecipestips.com. Akses tanggal 12 Juli 2014. Asam Urat. Maas L. 2011. Perilaku Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Terhadap Pola Makan Vegetarian Tahun 2011. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Machfoedz I. 2009. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan, Kedokteran. Yogyakarta: Fitramaya. Meyni F. 2009. Vegetarian Suatu Kajian Kebiasaan Makan Pada Umat Buddha Maitreya. Skripsi Departemen Antropolgi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Notoatmodjo S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Raharjo L. 2014. Pengaruh Diet Vegan Terhadap Kadar LDL-Kolesterol Darah. Jurnal Departemen Biokimia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Ramadani. 2004. Pola Konsumsi, Status Gizi dan Prestasi Belajar Pada Anak Vegetarian di Kota Medan Tahun 2004. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Rhoswita A. 2003. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Diet Pada Penderita Asam Urat di Puskesmas Mandiraja I Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Rossi A. 2010. 250 Resep Sehat & Sedap ala Vegetarian. Yogyakarta: BestBook. Setianingsih A. 2012. Hubungan Status Vegetarian Dengan Derajat Sindrom Pramenstruasi Pada Remaja. Skripsi Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Universitas Sumatera Utara Sevenris C. 2007. Hubungan Konsumsi Diet Vegetarian Lacto Ovo Dengan Status Gizi Pegawai RS. Advent Medan Tahun 2007. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Siagian A. 2010. Epidemiologi Gizi. Jakarta: Erlangga. Sinaga F. 2011. Hubungan Kalsium dengan Tingkat Dismenore Pada Remaja Putri Vegan di Vihara Maitreya Medan. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Sirpis M. 2012. Pola Makan Vegan Efektif Dalam Mengobati Penyakit Diabetes Tipe 2. http://www.godsdirectcontact.or.id. Akses tanggal 12 Juli 2014. Suherman S. 2010. Asam urat, Penyakit dan pengobatannya. http://www.digilib.ump.ac.id. Akses tanggal 10 Agustus 2014. Sumantri B. 2001. Pedoman Hidup Sehat dan Bahagia. Jakarta: Medika Gria. Supariasa I, Bakri B, Fajar I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Wisnu A. 2014. Diet Vegetarian Untuk Masalah Kesehatan. http://www.wisnuvegetarianorganic.com. Akses tanggal 13 Juli 2014. Yenti A. 2009. Vegetarian dan Kolesterol. http://wisnuvegetarianorganic.com. Akses tanggal 24 Agustus 2014. Yuliarti. N. 2009. The Vegetarian Way Panjang Umur, Sehat & Cerdas. Yogyakarta: ANDI. Universitas Sumatera Utara PERBEDAAN POLA MAKAN, KADAR GULA DARAH, KOLESTEROL DAN ASAM URAT ANTARA KELOMPOK VEGETARIAN DAN NON VEGETARIAN DI PERUMAHAN CEMARA ASRI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN DELI SERDANG TAHUN 2014 1. DATA IDENTITAS RESPONDEN : ………………. : ………………. : ………………. : ………………. : ………………. : ………………. : ……………..... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pendidikan Agama Pekerjaan 2. 1. 2. 3. 4. VEGETARIAN Sudah berapa lama anda menjadi vegetarian? Apa alasan anda menjadi vegatarian? Makanan vegetarian apa saja yang sering anda konsumsi? Apakah anda melakukan olahraga secara rutin setiap minggu? 3. 1. 2. 3. 4. NON VEGETARIAN Apakah anda mengetahui pola makan vegetarian? Kenapa memilih untuk tidak vegetarian? Makanan apa yang sering anda konsumsi? Apakah anda melakukan olahraga secara rutin setiap minggu? Universitas Sumatera Utara FORMULIR FOOD FREQUENCY Jenis Frekuensi Makan Bahan 1–3 4–5 1–3 Makanan kali/hari kali/seminggu kali/minggu 1–3 <1 kali/bulan kali/bulan Tidak pernah Makanan Pokok Nasi Mie Roti Kentang Singkong Sereal Lauk pauk nabati Tahu Tempe Gluten Jamur Tumbuhan polong Kacang hijau Kacang kedelai Kacang Universitas Sumatera Utara merah Kacang panjang Buncis Sayuran Bayam Kangkung Kol Daun singkong Selada Kembang kol Asparagus Tauge Wortel Lain-lain (sebutkan) Universitas Sumatera Utara Buah Pisang Pepaya Jeruk Mangga Anggur Apel Semangka Nenas Pir Lain-lain (sebutkan) Bahan makanan hewani dan produknya Ayam Daging Universitas Sumatera Utara Ikan Telur Susu Keju Lain-lain (sebutkan) Makanan Selingan Agar-agar Puding Roti selai Donat Bubur Kacang Hijau Salad Hamburger Lain-lain Universitas Sumatera Utara (sebutkan) Universitas Sumatera Utara MASTER TABEL Nama Antoni Hendrik Kevin Vivi Selly Elis Natalia Candra Regina Robby Veifven Liem hui Merry Christofel Agnes Sandra Jane Rita Jevin Carin Jeffry Cyntia David Rico Wenchan Cheryl Umur JK Pnddkn Agm Pkrjn Ket PV1 PV1K PV2 PV3 PNV1 40 1 2 1 1 1 10 3 1 1 . 36 1 2 2 3 1 6 2 2 1 . 34 1 2 2 1 1 4 2 2 1 . 37 2 2 2 1 1 7 3 3 1 . 46 2 2 2 6 1 5 2 3 1 . 61 2 2 1 6 1 10 3 1 2 . 27 2 2 2 3 1 6 2 2 1 . 33 1 2 1 1 1 4 2 2 2 . 24 2 2 1 3 1 1 1 2 2 . 22 1 1 1 5 1 3 1 1 1 . 41 1 2 2 1 1 10 3 1 1 . 65 2 2 2 6 1 9 3 1 1 . 29 2 2 1 6 1 4 2 2 2 . 34 1 2 1 2 1 6 2 2 1 . 31 2 2 1 2 1 7 3 3 1 . 27 2 2 2 1 1 4 2 2 1 . 35 2 2 1 1 1 7 3 2 1 . 33 2 2 1 2 1 5 2 2 2 . 37 1 2 1 1 1 2 1 2 2 . 31 2 2 1 6 1 6 2 2 1 . 25 1 2 1 3 1 4 2 2 2 . 29 2 2 1 4 1 1 1 2 1 . 34 1 2 1 4 1 3 1 3 1 . 38 1 1 1 1 1 10 3 1 1 . 28 2 2 1 6 1 2 1 2 1 . 30 2 2 1 6 1 4 2 2 1 . PNV2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . PNV3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . KG KGK KL KLK AU AUK 97 1 111 1 5,9 1 86 1 116 1 5,1 1 89 1 140 1 6,5 1 97 1 132 1 4 1 105 1 214 1 4,1 1 109 1 175 1 3,7 1 98 1 122 1 4,1 1 103 1 117 1 5,2 1 99 1 124 1 3,2 1 103 1 212 1 5,1 1 99 1 120 1 4,5 1 91 1 113 1 5,1 1 98 1 143 1 4,5 1 106 1 156 1 5,2 1 100 1 176 1 4,7 1 100 1 164 1 5 1 95 1 176 1 4,9 1 93 1 163 1 6 1 102 1 140 1 5,2 1 99 1 123 1 5 1 100 1 157 1 6,2 1 97 1 127 1 4,1 1 96 1 132 1 4,9 1 89 1 121 1 5,5 1 95 1 154 1 4,2 1 98 1 152 1 4,7 1 Universitas Sumatera Utara Susan Vincent Natasya William Jefry Felly Nikita Melina Viona Sandy Sheila Theresia Brian Joy Fansilia Benson Oei sukardi Jessica Anggela Lily Fredy Laura Christy Veronica Steven Novita Fenny Tony Junita 26 67 31 32 35 27 24 38 34 30 28 29 31 32 41 38 52 30 39 42 22 35 27 26 30 45 41 40 47 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 4 4 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 6 6 6 5 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 7 4 7 5 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 2 3 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 2 2 3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 1 1 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 . . . . 1 1 1 2 2 2 2 3 2 2 1 3 1 1 3 1 1 1 1 1 1 3 3 3 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 96 114 97 98 157 104 99 192 176 115 100 143 196 213 140 124 85 204 312 201 98 100 95 116 143 128 198 113 159 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 120 127 131 128 245 187 168 217 257 248 205 189 235 241 268 217 240 198 216 251 189 217 150 230 247 268 273 211 199 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 5,1 5 4,3 4,2 6,8 9,2 5,6 6,7 5,3 7,8 5 6,1 4,9 6,8 4,6 7,2 6,1 11 5,8 6 7 5,1 6,5 4 4,7 5,7 6,9 4,3 5,4 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 Universitas Sumatera Utara Yordinand Ester Gwen Robi Silvia 49 38 29 38 30 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 2 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 1 1 1 1 1 3 3 3 3 2 188 1 132 1 98 2 100 2 97 1 1 1 1 1 245 218 214 260 157 2 1 1 2 1 7,8 6,2 5,4 6,8 3,4 2 2 1 1 1 Universitas Sumatera Utara Frequencies Statistics N Valid Mis sing Jenis Kelamin 60 0 Pendidikan 60 0 Agama 60 0 Pekerjaan 60 0 Kadar Gula Darah Kategorik 60 0 Kadar Kolesterol Kategorik 60 0 Kadar Asam Urat Kategorik 60 0 Frequency Table Je nis Ke lam in Valid Laki-laki Perempuan Total Frequenc y 23 37 60 Percent 38.3 61.7 100.0 Valid Percent 38.3 61.7 100.0 Cumulativ e Percent 38.3 100.0 Pendidik an Valid SMA S1 Total Frequenc y 8 52 60 Percent 13.3 86.7 100.0 Valid Percent 13.3 86.7 100.0 Cumulativ e Percent 13.3 100.0 Agam a Valid Budha Katolik Total Frequenc y 41 19 60 Percent 68.3 31.7 100.0 Valid Percent 68.3 31.7 100.0 Cumulativ e Percent 68.3 100.0 Kadar Gula Darah Kate gorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 56 4 60 Percent 93.3 6.7 100.0 Valid Percent 93.3 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 93.3 100.0 Universitas Sumatera Utara Kadar Koles te rol Kategorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 48 12 60 Percent 80.0 20.0 100.0 Valid Percent 80.0 20.0 100.0 Cumulativ e Percent 80.0 100.0 Kadar As am Urat Kate gorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 49 11 60 Percent 81.7 18.3 100.0 Valid Percent 81.7 18.3 100.0 Cumulativ e Percent 81.7 100.0 Frequencies Statistics N Valid Mis sing Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Agama 30 0 Pekerjaan 30 0 Sudah berapa lama jadi vegetarian? 30 0 Alasan menjadi vegetarian? 30 0 Olahraga secara rutin? 30 0 Universitas Sumatera Utara Frequency Table Um ur V alid 22 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 40 41 46 61 65 67 Total Frequenc y 1 1 1 1 2 1 2 1 3 1 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 30 Percent 3.3 3.3 3.3 3.3 6.7 3.3 6.7 3.3 10.0 3.3 6.7 10.0 3.3 3.3 6.7 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 100.0 V alid Percent 3.3 3.3 3.3 3.3 6.7 3.3 6.7 3.3 10.0 3.3 6.7 10.0 3.3 3.3 6.7 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 100.0 Cumulativ e Percent 3.3 6.7 10.0 13.3 20.0 23.3 30.0 33.3 43.3 46.7 53.3 63.3 66.7 70.0 76.7 80.0 83.3 86.7 90.0 93.3 96.7 100.0 Je nis Ke lam in Valid Laki-laki Perempuan Total Frequenc y 13 17 30 Percent 43.3 56.7 100.0 Valid Percent 43.3 56.7 100.0 Cumulativ e Percent 43.3 100.0 Pendidik an Valid SMA S1 Total Frequenc y 2 28 30 Percent 6.7 93.3 100.0 Valid Percent 6.7 93.3 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 100.0 Universitas Sumatera Utara Agam a Valid Frequenc y 22 8 30 Budha Katolik Total Percent 73.3 26.7 100.0 Valid Percent 73.3 26.7 100.0 Cumulativ e Percent 73.3 100.0 Pek er jaan V alid Pengusaha Karyaw an Marketing Pekerja Sosial Mahasisw a IRT Total Frequenc y 11 3 4 4 1 7 30 Percent 36.7 10.0 13.3 13.3 3.3 23.3 100.0 V alid Percent 36.7 10.0 13.3 13.3 3.3 23.3 100.0 Cumulativ e Percent 36.7 46.7 60.0 73.3 76.7 100.0 Sudah be rapa lam a jadi ve ge tarian? V alid Frequenc y 2 2 2 7 3 4 5 1 4 30 1 2 3 4 5 6 7 9 10 Total Percent 6.7 6.7 6.7 23.3 10.0 13.3 16.7 3.3 13.3 100.0 V alid Percent 6.7 6.7 6.7 23.3 10.0 13.3 16.7 3.3 13.3 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 13.3 20.0 43.3 53.3 66.7 83.3 86.7 100.0 Sudah be rapa lama jadi ve ge tarian? Valid 1-3 tahun 4-6 tahun >6 tahun Total Frequenc y 6 14 10 30 Percent 20.0 46.7 33.3 100.0 Valid Percent 20.0 46.7 33.3 100.0 Cumulativ e Percent 20.0 66.7 100.0 Universitas Sumatera Utara Alas an m enjadi ve getarian? Valid Frequenc y 7 18 5 30 Kepercay aan Kesehatan Peduli hew an Total Percent 23.3 60.0 16.7 100.0 Valid Percent 23.3 60.0 16.7 100.0 Cumulativ e Percent 23.3 83.3 100.0 Olahraga se cara rutin? Valid ya tidak Total Frequenc y 23 7 30 Percent 76.7 23.3 100.0 Valid Percent 76.7 23.3 100.0 Cumulativ e Percent 76.7 100.0 Frequency Table Kadar Gula Darah Kategor ik V alid Normal Frequenc y 30 Percent 100.0 V alid Percent 100.0 Cumulativ e Percent 100.0 Kadar Koles ter ol Kate gorik V alid Normal Frequenc y 30 Percent 100.0 V alid Percent 100.0 Cumulativ e Percent 100.0 Kadar As am Urat Kate gorik V alid Normal Frequenc y 30 Percent 100.0 V alid Percent 100.0 Cumulativ e Percent 100.0 Universitas Sumatera Utara Frequencies Statistics N Valid Mis sing Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Agama 30 0 Pekerjaan 30 0 Apakah mengetahui pola makan vegetarian? 30 0 Kenapa memilih tidak vegetarian? 30 0 Olahraga secara rutin? 30 0 Frequency Table Um ur V alid 22 24 26 27 28 29 30 31 32 34 35 38 39 40 41 42 45 47 49 52 Total Frequenc y 1 1 1 2 1 2 4 1 1 1 2 4 1 1 2 1 1 1 1 1 30 Percent 3.3 3.3 3.3 6.7 3.3 6.7 13.3 3.3 3.3 3.3 6.7 13.3 3.3 3.3 6.7 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 100.0 V alid Percent 3.3 3.3 3.3 6.7 3.3 6.7 13.3 3.3 3.3 3.3 6.7 13.3 3.3 3.3 6.7 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 100.0 Cumulativ e Percent 3.3 6.7 10.0 16.7 20.0 26.7 40.0 43.3 46.7 50.0 56.7 70.0 73.3 76.7 83.3 86.7 90.0 93.3 96.7 100.0 Universitas Sumatera Utara Je nis Ke lam in Valid Laki-laki Perempuan Total Frequenc y 10 20 30 Percent 33.3 66.7 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulativ e Percent 33.3 100.0 Pendidik an Valid SMA S1 Total Frequenc y 6 24 30 Percent 20.0 80.0 100.0 Valid Percent 20.0 80.0 100.0 Cumulativ e Percent 20.0 100.0 Agam a Valid Budha Katolik Total Frequenc y 19 11 30 Percent 63.3 36.7 100.0 Valid Percent 63.3 36.7 100.0 Cumulativ e Percent 63.3 100.0 Pek er jaan V alid Pengusaha Karyaw an Marketing Mahasisw a IRT Total Frequenc y 13 11 2 1 3 30 Percent 43.3 36.7 6.7 3.3 10.0 100.0 V alid Percent 43.3 36.7 6.7 3.3 10.0 100.0 Cumulativ e Percent 43.3 80.0 86.7 90.0 100.0 Apakah m enge tahui pola m akan vegetarian? Valid ya tidak Total Frequenc y 27 3 30 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 90.0 10.0 100.0 Cumulativ e Percent 90.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Kenapa m e m ilih tidak ve ge tar ian? Valid BelumTertarik Tidak Kepikiran Tidak Tahu Total Frequenc y 14 6 10 30 Percent 46.7 20.0 33.3 100.0 Valid Percent 46.7 20.0 33.3 100.0 Cumulativ e Percent 46.7 66.7 100.0 Olahraga se cara rutin? Valid ya tidak Total Frequenc y 12 18 30 Percent 40.0 60.0 100.0 Valid Percent 40.0 60.0 100.0 Cumulativ e Percent 40.0 100.0 Frequencies Statistics N V alid Mis sing Kadar Gula Darah Kategorik 30 0 Kadar Kolesterol Kategorik 30 0 Kadar A sam Urat Kategorik 30 0 Frequency Table Kadar Gula Darah Kate gorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 26 4 30 Percent 86.7 13.3 100.0 Valid Percent 86.7 13.3 100.0 Cumulativ e Percent 86.7 100.0 Kadar Koles te rol Kategorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 18 12 30 Percent 60.0 40.0 100.0 Valid Percent 60.0 40.0 100.0 Cumulativ e Percent 60.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Kadar As am Urat Kate gorik Valid Normal Tidak Normal Total Frequenc y 19 11 30 Percent 63.3 36.7 100.0 Valid Percent 63.3 36.7 100.0 Cumulativ e Percent 63.3 100.0 NPar Tests One -Sam ple Kolm ogor ov-Sm ir nov Te s t N Normal Parameters a,b Mos t Ex treme Dif f erences Kadar Gula Darah 60 121.25 42.953 .272 .272 -.199 2.107 .000 Mean Std. Deviation Abs olute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asy mp. Sig. (2-tailed) Kadar Kolesterol Kategorik 60 1.20 .403 .490 .490 -.310 3.795 .000 Kadar Asam Urat Kategorik 60 1.18 .390 .497 .497 -.319 3.853 .000 a. Test dis tribution is Normal. b. Calc ulated f rom data. T-Test Group Statis tics Kadar Gula Darah Kadar Koles terol Kadar As am Urat Vegetarian/Non Vegetarian Vegetarian Non Vegetarian Vegetarian Non Vegetarian Vegetarian Non Vegetarian N 30 30 30 30 30 30 Mean 98.30 144.20 142.87 222.00 4.840 6.137 Std. Deviation 5.808 51.284 27.308 32.724 .7421 1.5419 Std. Error Mean 1.060 9.363 4.986 5.974 .1355 .2815 Universitas Sumatera Utara Inde pe nde nt Sam ples Te st Levene's Test f or Equality of Variances F Kadar Gula Darah Kadar Koles terol Kadar As am Urat Equal variances as sumed Equal variances not assumed Equal variances as sumed Equal variances not assumed Equal variances as sumed Equal variances not assumed t-test f or Equality of Means Sig. 42.846 1.190 7.239 t .000 .280 df Sig. (2-tailed) Mean Dif f erence Std. Error Dif f erence 95% Conf idence Interval of the Dif f erence Low er Upper -4.871 58 .000 -45.900 9.423 -64.762 -27.038 -4.871 29.744 .000 -45.900 9.423 -65.151 -26.649 -10.169 58 .000 -79.133 7.781 -94.710 -63.557 -10.169 56.200 .000 -79.133 7.781 -94.720 -63.546 -4.150 58 .000 -1.2967 .3124 -1.9221 -.6713 -4.150 41.751 .000 -1.2967 .3124 -1.9273 -.6661 .009 NPar Tests Mann-Whitney Test Ranks Kadar Gula Darah Kadar Koles terol Kadar A s am Urat V egetarian/Non V egetarian Non V egetarian Total V egetarian Non V egetarian Total V egetarian Non V egetarian Total N 30 30 60 30 30 60 30 30 60 Mean Rank 20.33 40.67 Sum of Ranks 610.00 1220.00 16.77 44.23 503.00 1327.00 21.83 39.17 655.00 1175.00 Tes t Statis ticsa Mann-Whitney U Wilc oxon W Z Asy mp. Sig. (2-tailed) Kadar Gula Darah 145.000 610.000 -4.516 .000 Kadar Kolesterol 38.000 503.000 -6.092 .000 Kadar Asam Urat 190.000 655.000 -3.847 .000 a. Grouping Variable: Vegetarian/Non Vegetarian Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : ....................................................... Umur : ......................................... th Alamat : ..................................................................................................................... Setelah mendapat penjelasan dan pengertian tentang tindakan medis yaitu pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat yang akan dilakukan maka saya menyatakan setuju/memberikan persetujuan atas tindakan tersebut. Pernyataan ini saya perbuat, agar dapat dipergunakan seperlunya. Medan, 2014 Nama responden ( ) Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN FOTO PENELITIAN Gambar. 1 Melakukan Inform consent sebelum memulai tindakan pengambilan sampel darah pada responden vegetarian. Gambar. 2 Pada saat proses pengambilan sampel darah responden oleh petugas sekaligus wawancara mengenai pola makan responden vegetarian. Gambar. 3 Kegiatan pengambilan sampel darah untuk melakukan cek kadar glukosa darah, kolesterol dan asam urat responden vegetarian. Universitas Sumatera Utara Gambar. 4 Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat responden vegetarian. Gambar. 5 Petugas pada saat pengambilan sampel darah pada responden non vegetarian di Perumahan Cemara Asri. Gambar. 6 Alat yang digunakan untuk pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat pada responden vegetarian dan non vegetarian. Universitas Sumatera Utara Gambar. 7 Lokasi Pengurus Daerah Yayasan Indonesia Vegetarian Society (IVS) Provinsi Sumatera Utara. Gambar. 8 Pengambilan sampel darah responden non vegetarian dan wawancara mengenai pola makan responden. Gambar. 9 Wawancara terhadap responden vegetarian mengenai pola makan dengan kuesioner dan tabel food fequency. Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Perbedaan Pola Makan, Kadar Gula Darah, Kole..

Gratis

Feedback