PENGARUH KREATIVITAS GURU DAN PENGGUNAAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XII IPA SMA NEGERI 1 AMBARAWA

Gratis

0
38
117
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGARUH KREATIVITAS GURU DAN PENGGUNAAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XII IPA SMA NEGERI 1 AMBARAWA Oleh SETIARSO Tujua penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh: 1) kreativitas guru terhadap prestasi belajar Biologi, 2) penggunaan advance organizer terhadap prestasi belajar Biologi 3) kreativitas guru dan penggunaan advance organizer secara simultan terhadap prestasi belajar Biologi pada kelas XII IPA SMA Negeri1 Ambarawa. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah murid-murid di SMAN 1 Ambarawa, yang berjumlah 60 orang, yang terdiri dari siswa kelas XII IPA 1 yang berjumlah 30 orang dan XII IPA 2 yang berjumlah 30 orang. Dari populasi tersebut kesemuanya diambil sebagai sampel penelitian. Data diperoleh melalui angket dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasional dan regresi baik secara sederhana maupun ganda. Pengujian hipotesis dilakukan dengan korelasi product poment dan korelasi ganda, yang sebelumnya telah dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian sebagai berikut: 1) terdapat pengaruh yang positif antara kreativitas guru terhadap prestasi pebelajar Biologi, prestasi pebelajar biologi naik sebesar 0,029 dengan konstanta 85,225. 2) terdapat pengaruh yang positif antara penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar Biologi, kenaikan skor penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar Biologi naik sebesar 0,456 dengan konstanta 45,458 , 3) terdapat pengaruh yang positif antara kreativitas guru dan penggunaan advance organizer terhadap prestasi belajar Biologi, dengan konstanta 51,205. Kata kunci: kreativitas guru, penggunaan advance organizer, prestasi belajar Biologi ABSTRACT THE INFLUENCE BETWEEN TEACHERS CREATIVITY AND THE ADVANCE ORGANIZER USAGE THROUGHT BIOLOGY STUDENTS ACHIEVEMENT IN THE TWELTH GRADE ON MATHEMATICAL AND NATURAL SCIENCES OF SENIOR HIGH SCHOOL1 IN AMBARAWA By: SETIARSO The purpose of this research is to describe and analyze the influence between: 1) teachers creativity toward Biology achievement; 2) the using of advance organizer toward Biology achievement; 3) teachers creativity and the using of advance organizer simultaneously toward Biology achievement in the twelfth grade on mathematical and natural sciences of SMAN 1 Ambarawa. The kind of this research is quantitative by using correlational descriptive method. Population in this research are the students on SMAN 1 Ambarawa, whose amount to 60 students, that consists of 30 students of XII IPA 1 and 30 students of XII IPA 2. Data are obtained from questionnaire and documentation, then analyzed by used correlational technique and regression both simple and double. Hypothesis test is done by product moment correlation and double correlation, which have been done before with normality and homogeneity test.. The results of this research are: 1) there is positive influence between teachers creativity toward Biology achievement, learner achievement biology rose by 0,029 to 85.225 constants 2) there is positive influence between the using of advance organizer toward Biology achievement, scores increase in the use of advance organizers on learner achievement Biology rose by 0.456 to 45.458 constants 3) there is positive influence between teachers creativity and the using of advance organizer toward Biology achievement, with constant 51.205. Key words: teachers creativity, the using of advance organizer, Biology achievement PENGARUH KREATIVITAS GURU DAN PENGGUNAAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XII IPA SMA NEGERI 1 AMBARAWA (Tesis) Oleh SETIARSO PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 SANWACANA Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanallahu Wataalla atas segala rahmat dan karunia-Nya pada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul;” Pengaruh Kreativitas Guru dan Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi Siswa kelas XII IPA SMA N1 Ambarawa.” Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Teknologi Pendidikan di Program Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam menyelesaikan tesis ini. Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr.Sugeng P. Harianto, selaku Rektor Unila 2. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Sujarwo, M.S..selaku Direktur Program Pascasarjana Unila, 4. Ibu Dr. Adelina Hasyim, M.Pd selaku ketua Program Studi Teknologi Pendidikan 6. Ibu Dr. Herpratiwi, M.Pd. selaku Pembimbing 1 7. Ibu Dr. Dwi Yulianti, M.Pd. selaku Pembimbing 2 8. Bapak Dr.Budi Kustoro,M.Pd. selaku Pembahas 1 9. Bapak Dr. Riswandi, M.Pd. selaku Pembahas 2. Beserta segenap jajarannya yang telah berupaya meningkatkan situasi kondusif pada Program Pascasarjana Unila. Demikian pula penulis ucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan staf Program Magister Teknologi Pendidikan. FKIP. Unila, termasuk rekan-rekan mahasiswa yang telah menaruh simpati dan bantuannya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini. Akhirnya penulis mengucapkan terimakasih kepada istriku tercinta Sri Rezeki Purnamawati, S.Pd. dan putra- putriku tersayang: 1. Elga Pratama, 2 Erwin Bayazid, 3. Evirasari Navisyah, 4. Elisa Putri Arsi, yang dengan setia dan kesabarannya mendorong penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Kiranya penulis berharap tesis ini mudah-mudahan dapat memberikan sumbangsih bagi dunia pendidikan yang selalu menghadapi tantangan seiring dengan kemajuan zaman. Bandar Lampung, 24 Desember 2014 SETIARSO MOTO HIDUP ADALAH PEMBELAJARAN MENJADI KALIFATULLAH PERSEMBAHAN Dengan mengucapkan Syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah Subhanallahu Wataalla, Istri aku persembahkan karya sederhana ini kepada ayah dan ibu, serta Anak - anakku tercinta : 1. Elga Pratama 2. Erwin Bayazid 3. Evirasari nafisyah 4. Elisa Putri Arsi Yang secara tulus dan ikhlas telah memberikan dukungan dan doanya sehingga karya ini Alhamdulillah dapat terselesaikan sebagai syarat untuk memperoleh gelar megister teknologi pendidikan dari Universitas Lampung. RIWAYAT HIDUP S E T I A R S O, lahir di Kendal, 26 Juli 1963 putra pertama dari bapak Ridwan dan Ibu Tuma’ninah Menyelesaikan pendidikan SD N1 Sidorjo Lor 1 Salatiga tahun 1976, SMP di Salatiga tahun 1980, SMA di Salatiga tahun 1984, D3 Biologi di Salatiga tahun 1987, S-1 Biologi di Lampung tahun 1994, pada tahun 2010 melanjutkan studi S-2 di FKIP Lampung jurusan Teknologi Pendidikan. Sejak tahun 1987 bekerja di Puwokerto, 1988 pindah ke Cilacap menjabat sebagai Pembina OSIS, tahun 1989 diterima sebagai PNS di SMA N 2 Pringsewu Pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMA N1 Ambarawa, pernah mengajar di SMP Pelita Prinngsewu, dan pernah menjadi Tutor D3 di UT yang dikelola oleh Dinas Pendidikan Propinsi Lampung. Menikah dengan Sri Rezeki Purnamawati, S.Pd. tahun 1994 dan dikaruniai Empat orang putra - putri, anak pertama Elga Pratama Kuliah di UMY Jogyakarta masuk semester 3, Erwin Bayazid sekolah di SMA N2 Pringsewu kelas XII di Pringswewu, Evirasari Navisyah sekolah di SMA N2 Pringsewu kelas X dan yang paling kecil Elisa Putri Arsi sekolah di SD N1 Pringsewu kelas V. DAFTAR ISI I. II PENDAHULUAN I.1 Latar belakang masalah…………………………………………… 1 I.2 Identifikasi Masalah………………………………………………. 14 I.3 Pembatasan Masalah...……………………………........................... 15 1.4 Perumusan Masalah.………………………………………………. 16 1.5 Tujuan Penelitian..................……………………………………… 17 1.6 Manfaat Penelitian………………………………………………… 17 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kreativitas Guru………….…………………………………………. 19 2.1.1 Pengertian Kreatifitas Belajar.……………………………….. 19 2.1.2 Strategi Pembelajaran Guru………………………….……… 25 2.1.3 Teknik Belajar Kreatif…. …………………………………… 28 2.1.3.1 Pemikiran dan Perasaan Terbuka... ………………… 28 2.1.3.2 Sumbang Saran....…………………………………… 29 2.1.3.3 Daftar Pertanyaan Yang Memacu Gagasan...………. 29 2.1.3.4 Menyimak Sifat Benda atau Keadaan...…………….. 30 2.1.3.5 Hubungan Yang Dipaksakan...……………………… 30 2.1.3.6 Pendekatan Morfologis..……………………………. 30 2.1.3.7 Pemecahan Masalah Secara Kreatif..………………. 31 2.2 Penggunaan Advance Organizer ………………………………….. 33 2.2.1 Pengertian Penggunaan Advance Organizer.……………… 34 2.2.2 Tujuan Penggunaan Advance Organizer…………………… 35 2.2.3 Manfaat Penggunaan Advance Organizer..………………… 35 2.2.4 Jenis Advance Organizer..…….……………………………. 36 2.2.5 Karakteristik Advance Organizer..……….….…………….. 38 2.2.6 Tahapan Advance Organizer..……….….…………………. 39 2.3 Prestasi Belajar 2.3.1 Pengertian Prestasi Belajar..………………………………… 43 2.3.2 Faktor- factor Yang Pengaruh Prestasi Belajar...…………… 45 2.3.2.1 Faktor dari dalam diri siswa ( intern )...……………. 45 2.3.2.2 Faktor yang berasal dari luar( ekstern)……………... 46 2.4 Pembelajaran Bermakna 2.4.1 Merancang Pembelajaran Bermakna..……………………… 59 2.4.2 Manfaat Pembelajaran Bermakna..………………………….. 63 2.4.3 Tahapan Evaluasi Pembelajaran Bermakna...………………. 64 2.4.4 Langkah –langkah Pembelajaran Bermakna..………………. 64 III. 2.5 Penelitian Yang Relevan………………………………………... 65 2.6 Kerangka Pikir…………………………………………………. 66 2.7 Hipotesis Penelitian……………………………………………. 66 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian…………………………………………………... 68 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian…………………………………… 68 3.3 Variabel Penelitian………………………..………………………. 69 3.3.1 Variabel Bebas.………………..………..…………………… 69 3.3.2 Variabel Terikat.……….……………………………………. 69 3.3.3 Variabel Kreativitas Guru..…….…………………………… 69 3.3.4 Variabel Penggunaan Advance Organize ..………………… 71 3.3.5 Variabel Prestasi Belajar Biologi .………………………….. 73 3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data..…………………………….. 75 3.4.1 Studi Dokumentasi.…………………………………………. 75 3.4.2 Teknik Angket.……………………………………………… 75 3.5 Uji Validitas dan Reliabilitas.……………………..…………….. 77 3.5.1 Uji Validitas……………………………………………….. 77 3.5.1.1 Hasil Uji Validitas Prestasi Belajar Biologi..………. 78 3.5.1.2 Hasil Uji Peningkantan Kreativitas Guru………….. 78 3.5.1.3 Hasil Uji Validitas Penggunaan Advance Organizer... 80 3.5.2 Uji Reliabilitas……………………………………………... 81 3.5.2.1 Hasil Uji Reliabilitas Prestasi Belajar Biologi............ 83 3.5.2.2 Hasil Uji Reliabil Kreatifitas Guru..………..……….. 84 3.5.2.3 Hasitasil Uji Reliabilitas Penggunaan Advance Organizer.……………………………………………. 85 3.6 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis IV. 3.6.1 Teknis Analisis Data.……………………………………... 85 3.6.2 Pengujian Prasyarat Analisis..…………………………….. 85 3.6.2.1 Uji Normalitas.…………………………………… 85 3.6.2.2 Uji Homogenitas.…………………………………. 86 3.6.3 Uji Linieritas……………………………………………... 87 3.6.4 Pengujian Hipotesis……………………………………… 87 3.6.4.1 Persamaan Regresi Linier Sederhana..…………... 88 3.6.4.2 Persamaan Regresi Ganda..………………………. 90 3.6.5 Uji Signifikasi Regresi…………………………………… 91 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian.……………………………………. 93 4.1.1 Variabel Prestasi Belajar Biologi. ……………………… 94 4.1.2 Variabel Kreativitas Guru.. …….……………………… 96 4.1.3 Variabel Penggunaan Advance Organizer.. …….……… 97 4.2 Uji Prasyarat Analisis Regresi 4.2.1 Uji Normalitas Data.……………………………………. 99 4.2.2 Uji Homogenitas………………………………………… 101 4.2.3 Uji Linieritas……………………………………………. 102 4.3 Pengujian Hipotesis Penelitian 4.3.1 Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Prestasi Belajar Biologi .…..…………………………………….. 105 4.3.2 Pengaruh Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi.. ….………………… 106 4.3.3 Pengaruh Kreativitas Guru dan Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi…...……… 4.4 Pembahasan Hasi Penelitian 4.4.1 Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Prestasi 107 Belajar Biologi…………...……………………………… 109 4.4.2 Pengaruh Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi..……………………………….. 110 4.4.3 Pengaruh Kreativitas Guru dan Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi...………… 4.5 Keterbatasan Penelitian………………………………………… V. 111 112 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan……………………………………………………... 114 5.2 Implikasi………………………………………………………... 115 5.3 Saran …………...…...………………………………………….. 115 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 117 LAMPIRAN…………………………………………………………………. 119 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Uji Coba Angket ................................................................................. 119 2. RPP. Pertumbuhan dan Perkembangan……………………………... 123 3. Data Validitas dan Reliabilitas ........................................................... 129 4. Hasil Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Instrumen ..................... 147 5. Data Angket Penelitian ....................................................................... 164 6. Frequencies Table ............................................................................... 164 7. Hasil Uji Normalitas .......................................................................... 168 8. Hasil Uji Homogenitas ....................................................................... 169 9. Hasil Analisis Regresi Kreativitas Guru Terhadap Prestasi Belajar 10. Biologi ……………………………………………………….............. 171 Hasil Uji Linieritas…………………………………………………… 170 11. Hasil Analisis Regresi Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi ................................................................................... 172 12. Hasil Analisis Regresi Kreativitas Guru dan Metode Advance 13. Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi ...................................... 173 Normal Q-Q Plot ................................................................................. 174 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Indikator penilaian kreatifitas guru ................................................... 61 3.2 Indikator penilaian penggunaan Advance Organizer ........................... 62 3.3 Indikator penilaian prestasi belajar Biologi…………………………. 64 3.4 Daftar interpretasi nilai r (validitas instrumen) .................................... 68 3.5 Hasil perhitungan validitas prestasi belajar Biologi ........................... 69 3.6 Hasil perhitungan validitas kreatifitas guru ........................................ 70 3.7 Hasil perhitungan validitas penggunaan Advance Organizer …......... 71 3.8 Daftar interpretasi nilai r (reliabilitas instrumen) .............................. 73 3.9 Statistika reliabilitas prestasi belajar Biologi (Y) ............................... 73 3.10 Statistika reliabilitas kreatifitas guru (X1) ......................................... 74 3.11 Statistika reliabilitas penggunaan Advance Organizer (X2) ............... 75 4.1 Data statistik dasar variabel penelitian .............................................. 84 4.2 Distribusi skor variabel prestasi belajar Biologi ................................ 84 4.3 Distribusi skor variabel kreatifitas guru ............................................ 86 4.4 Distribusi skor variabel penggunaan Advance Organizer …............ 87 4.5 Hasil uji normalitas variabel penelitian ............................................ 89 4.6 Analisis Test of Homogeneity of Variances ...................................... 91 4.7 Uji regresi linier antara kreativitas guru terhadap prestasi belajar Biologi ……………………………………………………............... 4.8 Uji regresi linier antara penggunaan Advance Organizer dengan prestasi Pebelajar Biologi ............................................................................... 4.9 83 83 Hasil uji analisis regresi pengaruh kreativitas guru terhadap prestasi pebelajar Biologi ................................................................................ 84 4.10 Hasil uji analisis regresi pengaruh Penggunaan Advance Organizer dengan prestasi pebelajar Biologi ........................................................ 86 4.11Hasil uji analisis regresi ganda pengaruh kreativitas guru dan penggunaan Advance Organizer dengan prestasi pebelajar Biologi … 87 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswanya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru. Guru sebagai tenaga profesional dituntut berkeahlian dibidangnya, cakap dan mempunyai daya kreativitas tinggi, dengan cara lebih banyak melakukan inovasi dan improvisasi dalam metode pembelajarannya. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan imajinasi dalam berpikir konstruktif. Guru dikatakan mempunyai daya kreasi yang tinggi bilamana ia mampu menemukan serta menggabungkan gagasan/ ide serta pemikiran baru yang orisinil dan dalam kombinasi yang baru. Ia tidak terpengaruh oleh pemikiran maupun cara orang lain, namun dengan daya kreasinya ia mampu mengembangkan alternatif lain 2 yang lebih berani. Anna Craft (2003:18) menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada dan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah dimana penekanannya adalah pada kualitas, keefektifan, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan. Kreativitas guru dalam suatu pembelajaran sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa karena semakin guru kreatif dalam menyampaikan materi maka semakin mudah siswa memahami pelajaran dan menjadikan siswa lebih kreatif pula dalam belajar. Guru profesional lebih mengutamakan siswanya ke arah pengertian dan kesesuaian antara potensi dengan isi materi pembelajaran, sistem ini administrasinya adalah kebebasan yang bertanggung jawab, sistem kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang partisipatif “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, evaluasi pembelajaran dalam konteks kesesuaian antara jawaban dengan isi materi yang disajikan; dan kebenaran pembelajarannya adalah keterpaduan antara materi dan bentuk (kebenaran materi diukur dengan keberhasilan dalam menyelesaikan jenjang pendidikan di sekolah sedangkan kebenaran bentuk diukur dengan tumbuh suburnya ilmu pengetahuan dan refleksinya adalah watak dan sikap ilmiah). Sistem pembelajaran dalam konteks ini diselenggarakan secara fragmatis, intensif, metodis dan sistematis. Output pembelajaran sistem ini adalah manusia yang mampu dan mau bersikap dan berperilaku jujur, implementasi dari masyarakat 3 terdidik adalah masyarakat yang terbuka, dinamis dan merdeka (Suhartono, 2010: 125). Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi. Dalam teori perkembangan kognitif, siswa SMA N1 Ambarawa termasuk dalam kategori Operasi Formal ( 11 – 14 tahun keatas ): Mempergunakan pemikiran yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya, mereka dapat membentuk hipotesa, dapat menghubungkan bukti dengan teori. Dapat bekerja dengan ratio, proporsi dan probabilitas. Membangun dan memahami penjelasan yang rumit. Menurut Bruner perkembangan kognitif siswa adalah: – cara bagaimana siswa memilih, mempertahankan dan mentranspormasi informasi secara aktif dan inilah menurut Bruner inti dari belajar. Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan oleh siswa dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi untuk mencapai pemahaman. Teori Bruner didasarkan pada dua asumsi; Asumsi pertama ialah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, asumsi kedua ialah bahwa siswa mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Hal ini yang disebut 4 dengan kerangka kognitif yang oleh Bruner disebut “Model of theWorld”atau model alam. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dalam menciptakan kerangka kognitif ini manusia tidak membiarkan diri didominasi oleh lingkup hidup tetapi bersikap menyoroti apa yang dijumpainya dan bertekad memberikan suatu makna pada pengalamannya. Pengalaman yang diberi makna itu bertambah – tambah dan bertumpuk – tumpuk sehingga lama kelamaan menyerupai suatu bangunan mental yang bagian – bagiannya terintegrasi satu sama lain. Bangunan struktural ini dapat dibayangkan suatu arsip yang luas secara kualitaitf dan kuantitatif atau sebagai ingatan (memory) pada komputer dengan kapasitas megabit yang besar. Di dalam mengembangkan bangunan mental ini pembentukan konsep memegang peranan yang besar, demikian pula pengembangan sistematika untuk menumpang konsep – konsep dalam susunan hierarkis (semacam peta konsep) mengingat isi konsep dan peta konsep berbeda beda pada setiap siswa, maka kerangka kognitif tidak ada yang seluruhnya sama diantara siswa SMA N1 Ambarawa. Setiap bangunan mental bersifat individual, sehingga cara menanggapi sesuatu secara obyektif sama dapat sangat berlainan (Winkel).Kerangka kognitif yang telah terbentuk, tidak bersifat statis dan dapat berubah, lebih – lebih pada anak yang masih belajar di sekolah.Perubahan ini terjadi karena pergeseran pada konsep yang sudah dimiliki dan pada susunan hierarki konsep yang digunakan sebelumnya. Selama belajar siswa harus menemukan sendiri struktur dasar dari materi pelajaran dan akhirnya dari bidang studi bersangkutan melalui corak berpikir yang disebut ”berpikir induktif”(induktive reasoning) corak berfikir bertitik tolak dari sejumlah contoh 5 dan mencari kaidah yang terkandung dalam contoh – contoh itu.Dengan kata lain menurut Dahar (1989 : 100), pendekatan Bruner terhadap belajar dapat diuraikan sebagai suatu pendekatan kategorisasi. Bruner beranggapan bahwa semua interaksi – interaksi kita dengan alam melibatkan kategori – kategori yang di butuhkan bagi pemfungsian siswa. Kategorisasi menyederhanakan kekomplekan dalam lingkungan kita. Karena sistem kategori kita dapat mengenal obyek – obyek baru. Oleh karena obyek – obyek baru memiliki kemiripan dengan obyek – obyek yang telah ada, kita dapat mengklasifikasikan dan memberikan ciri – ciri tertentu pada benda – benda atau gagasan baru.Ringkasnya, Bruner beranggapan bahwa belajar merupakan pengembangan kategori – kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean (Coding). Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning) (Dahar ; 1989 : 103). Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan seusuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuhan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar – benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti seperti di atas, merupakan satu – satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner. Bruner menyarankan agar siswa – siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep – konsep dan prinsip – prinsip, agar mereka dianjurkan 6 untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen –eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan prinsip – prinsip itu sendiri. Menurut Ausubel (1968), konsep-konsep diperoleh dengan dua cara, yaitu formasi konsep dan asimilasi konsep. setelah masuk sekolah anak diharapkan belajar banyak konsep melalui proses asimilasi konsep, asimilasi konsep bersifat deduktif. Dalam proses ini anak-anak diberikan nama-nama konsep dan atributatribut dari konsep itu, berarti mereka akan belajar arti konseptual baru yang kemudian mereka akan menghubungkan atribut-atribut ini dengan gagasan relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif mereka. Konstruktivis kritis (Ausubel) berpandangan bahwa faktor yang paling penting dalam mempengaruhi proses belajar adalah apa yang diketahui seseorang yang belajar. Ausubel lebih menekankan pada proses belajar bermakna yang berarti bahwa konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada di dalam struktur kognitif. Perlu dilakukan suatu usaha agar objek belajar (siswa) mampu mengikuti penjelasan dari gurunya untuk suatu konsep yang baru didasarkan pemahaman yang siswa miliki. dalam proses belajar mengajar, guru bersikap sebagai mediator untuk menjembatani antara pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dengan pengetahuan yang hendak diperoleh siswa. 7 Menurut Ausubel, Novak, dan Hanesian (1978), ada dua jenis belajar: (1) belajar bermakna dan (2) belajar menghafal. Teori Ausubel lebih memperhatikan bagaimana individu belajar sejumlah materi secara bermakna dari sajian verbal/teks di sekolah (berbeda dengan teori-teori yang dikembangkan dalam konteks percobaan-percobaan yang dilaksanakan di laboratorium). Menurut Ausubel, belajar dapat dikategorikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara bagaimana informasi/materi pembelajaran tersebut disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif (fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajarai dan diingat siswa) yang telah ada. kedua dimensi tersebut, yaitu penerimaan/penemuan dan hafalan/bermakna, tidak menunjukan dikotomi sederhana melainkan merupakan suatu continum. inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna. Menurut Ausubel, belajar bermakna akan terjadi bila si pembelajar dapat mengaitkan informasi yang baru diperolehnya dengan konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif si pembelajar tersebut. akan tetapi, bila si pembelajar hanya mencoba menghafalkan informasi baru tadi tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, kondisi ini dikatakan sebagai belajar hafalan. Seperti kita tahu bahwa informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Dengan berlangsungnya belajar akan dihasilkan perubahan- 8 perubahan dalam sel-sel otak terutama sel-sel yang telah menyimpan informasi yang mirip dengan informasi yang sedang dipelajari. Dalam belajar bermakna, informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang yang telah ada dalam struktur kognitif. Proses interaktif antara informasi yang baru dipelajari dengan subsumer-subsumer yang telah ada tersebut dikenal sebagai proses subsumsi. Belajar bermakna yang baru mengakibatkan pertumbuhan dan modifikasi subsumer-subsumer yang telah ada tersebut. Informasi yang dipelajari secara bermakna, biasanya lebih lama diingat daripada informasi yang dipelajari secara hafalan. Tetapi, ada kalanya unsur-unsur yang telah tersubsumsi tidak dapat dikeluarkan lagi dari memori (sudah dilupakan), hal ini terjadi karena beberapa bagian subsumer berintegrasi dengan yang lain sehingga mereka kehilangan identitas individunya. Dapat juga, karena subsumer tersebut telah kembali pada keadaan sebelum terjadi subsumsi. Kondisi seperti ini menurut Ausebel disebut subsumsi obliteratif (subsumsi yang telah rusak). Teori Ausubel di atas, nampaknya memiliki kesamaan-kesamaan (commonalities) dengan teori Gestalt dan keduanya melibatkan suatu skema sebagai suatu prinsip yang sentral. Juga teori Ausebel ini memiliki kesamaan dengan ”model belajar spiral yang dikemukakan oleh Bruner. Selanjutnya, walupun Ausebel menekankan bahwa subsumsi melibatkan reorganisasi dari struktur kognitif yang ada tapi tidak 9 mengembangkan struktur yang baru seperti yang disarankan para ahli konstruktivisme. Ausubel kelihatan dipengaruhi juga oleh hasil kerja dari Piaget untuk perkembangan kognitif. Walaupun Ausebel sangat menekankan agar para guru diharapkan mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswanya agar belajar bermakna dapat berlangsung, tetapi Ausebel belum dapat menyediakan alat untuk mengukur hal tersebut. Baru ahli pendidikan berikutnya, yaitu Novak (1985) dalam bukunya Learning how to learn mengemukakan bahwa hal tersebut dapat digali melalui pertolongan yang dikenal dengan peta konsep atau pemetaan konsep. Menurut Ausebel, konsep-konsep dapat diperoleh dalam 2 (dua) cara; yaitu (1) sebelum anak-anak masuk sekolah yang disebut formasi konsep dan (2) pada saat selama dan sesudah sekolah yang dikenal dengan asimilasi konsep. Jadi, waktu anak masuk usia sekolah mereka sudah memperoleh konsep-konsep seperti; meja, atas, kursi, berlari, dan lain-lain. Konsep-konsep tersebut disimpan dalam struktur kognitif yang disebut dengan subsumer-subsumer. Selanjutnya, Ausebel mengatakan bahwa pembentukan konsep tersebut merupakan suatu bentuk belajar penemuan (discovery learning), paling sedikit dalam bentuk primitif, melibatkan proses-proses psikologi seperti analisis, diskriminatif, abstraksi, diferensiasi, pembentukan hipotesis dan pengujian, dan generalisasi. Pembentukan konsep ini juga ditunjukkan oleh orang-orang dewasa dalam situasi kehidupan nyata dan dalam laboratorium, tetapi dengan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. 10 Menurut Ausubel, faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna ialah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi yang baru masuk ke dalam struktur kognitif itu, demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif tersebut stabil, jelas, dan teratur dengan baik maka arti-arti yang sahih (valid) dan jelas akan timbul, dan cenderung bertahan. Sebaliknya, jika struktur kognitif tersebut tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur maka struktur kognitif tersebut cenderung menghambat belajar dan retensi. Selanjutnya, menurut Ausebel ada prasyarat-prasyarat tertentu agar terjadinya belajar bermakna. Pertama, materi yang dipelajari harus bermakna secara potensial, maksudnya materi pelajaran tersebut harus memiliki kebermaknaan logis. Materi yang memiliki kebermaknaan logis merupakan materi yang konsisten dengan apa yang telah diketahui (disebut materi nonarbitrer) dan materi tersebut dapat dinyatakan dalam berbagai cara, tanpa mengubah arti (disebut materi substantif). Selain itu, aspek lain dari materi bermakna potensial ini adalah dalam struktur kognitif siswa harus ada gagasan-gagasan yang relevan. Artinya, pembelajaran harus memperhatikan pengalaman siswa, tingkat perkembangan mereka, intelegensi, dan usia. Bila para siswa tidak memiliki pengalaman yang diperlukan mereka untuk mengaitkan atau menghubungkan isi pembelajaran tersebut, maka isi pembelajaran akan dipelajari secara hafalan. Kedua, siswa yang akan belajar harus mempunyai niat/tujuan dan kesiapan untuk melaksanakan belajar bermakna. Tujuan belajar siswa merupakan faktor utama dalam belajar 11 bermakna. Banyak siswa yang mengikuti pembelajaran nampaknya tidak relevan dengan kebutuhan mereka pada saat itu. Dalam pembelajaran yang demikian, materi dipelajari secara hafalan. Para siswa kelihatan dapat memberikan jawaban yang benar tanpa menghubungkan materi itu pada aspek-aspek lain dalam struktur kognitif mereka. Jadi, agar terjadi belajar bermakna materi pelajaran harus bermakna secara logis, siswa harus bertujuan untuk memasukkan materi pembelajaran tersebut ke dalam struktur kognitifnya, dan dalam struktur kognitif siswa harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk mengaitkan atau menghubungkan materi yang baru tersebut secara non-arbitrer dan substantif. Jika salah satu komponen ini tidak ada, maka materi itu kalaupun dipelajari, akan dipelajari secara hafalan saja (Roser, 1984). Menurut Ausebel dan Novak, ada 3 (tiga) kebaikan dari belajar bermakna, yaitu: 1. Informasi yang dipelajari secara bermakna akan lebih lama diingat. 2. Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip. 3. Informasi yang dilupakan setelah subsumsi obliteratif, meninggalkan efek residual pada subsumer, sehingga mempermudah belajar hal-hal yang mirip, walaupun telah terjadi peristiwa “lupa”. Ausebel berpendapat bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Inilah yang harus diyakini dan pembelajaran terhadap siswa harus didasarkan kepada hal ini. Selanjutnya, agar terjadi belajar bermakna seperti yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa konsep 12 dan prinsip-prinsip lain yang perlu diperhatikan. Pertama, mengenai mekanisme pembelajaran yang utama yang diusulkan Ausebel adalah menggunakan advance organizers (pengatur awal). Organizers tersebut diperkenalkan pada bagian awal/pendahuluan dari suatu pembelajaran, dan juga disajikan dengan abstraksi tingkat tinggi, secara umum, dan paling inklusif (inclusiveness). Selanjutnya, Ausubel menekankan bahwa advance organizers adalah berbeda dari overviews (ikhtisar) dan summary (kesimpulan) yang secara sederhana menekankan pada ide-ide kunci dan disajikan secara umum pada bagian akhir dari materi pembelajaran yang disampaikan. Organizers bekerja sebagai suatu jembatan atau semacam pertolongan mental pengsubsumsian antara materi pembelajaran yang baru dengan ide-ide yang sudah ada. . Dengan kata lain, pengatur awal ini mengarahkan siswa ke materi yang akan mereka pelajari, dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat dipergunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan yang baru. Kedua, adalah selama belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsepkonsep yang tersubsumsi. Menurut Ausubel, pengembangan konsep berlangsung paling baik, bila unsur-unsur yang paling umum, paling ingklusif dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu, dan kemudian baru diberikan hal-hal yang lebih mendetail dan lebih khusus dari konsep itu. Jadi, model belajar yang diusulkan oleh Ausubel adalah dari hal umum ke hal khusus. Oleh karena itu, dalam memberikan proses pembelajaran kepada siswa kita harus pandai-pandai memilih mana konsep yang bersifat umum dan superordinat dan mana konsepkonsep yang bersifat lebih khusus dan subordinat. Proses penyusunan konsep seperti itu dikatakan diferensiasi progresif. 13 Ketiga, adalah mengenai prinsip penyesuaian/rekonsiliasi integratif. Kadangkadang siswa dihadapkan kepada suatu kenyataan yang disebut pertentangan/komplik kognitif (cognitive dissonance/conflict). Menurut Ausebel, dalam pembelajaran bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif saja yang diperhatikan, melainkan juga harus diperhatikan bagaimana konsep-konsep baru dihubungkan pada konsep-konsep superordinat. Kita harus memperlihatkan secara eksplisist bagaimana arti-arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan artiarti sebelumnya yang lebih sempit, dan bagaimana konsep-konsep yang tingkatanya lebih tingi sekarang mengambil arti baru. Ausubel (dalam Oktaviyanto, 2007:2) menyatakan bahwa faktor tunggal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa berupa materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Apa yang telah dipelajari siswa dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai titik tolak dalam mengkomunikasikan informasi atau ide baru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan informasi atau ide baru. Namun sering terjadi siswa tidak mampu melakukannya. Dalam kegiatan seperti inilah sangat diperlukan adanya alat penghubung yang dapat menjembatani informasi atau ide baru dengan materi pelajaran yang telah diterima oleh siswa. Alat penghubung yang dimaksud oleh Ausubel dalam teori belajar bermaknanya adalah advance organizer. Model pembelajaran yang diimplementasikan disini yang menggunakan pengetahuan awal dan konsep terdahulu serta yang berorientasi pada tujuan 14 pembelajaran biologi sekolah adalah suatu model yang berpijak pada teori belajar bermakna dari David Ausubel (dalam Oktaviyanto, 2007: 2). Salah satu konsep yang akan dipakai landasan dalam pengembangan model pembelajaran disini adalah model advance organizer. Menurut Halimatussa’diyah (2011: 59), strategi pembelajaran advance organizer memberikan kemampuan mengingat dan hasil belajar siswa lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan strategi advance organizer. Berdasarkan uraian di atas, penulis berkeinginan untuk meneliti bagaimana pengaruh kreativitas guru dan penggunaan advance organizer terhadap prestasi belajar biologi. Untuk selanjutnya, penelitian ini diberi judul “Pengaruh Kreativitas Guru dan Penggunaan Advance Organizer Terhadap Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa.”. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan pengamatan penulis di SMAN 1 Ambarawa terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain: 1.2.1 Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa. 1.2.2 Siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep dasar dengan materi baru. 1.2.3 Siswa kurang kreatif dalam proses pembelajaran. 1.2.4 Siswa belum terbiasa bekerja sama dengan teman dalam belajar. 15 1.2.5 Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan seharihari. 1.2.6 Guru hanya melakukan evaluasi kognitif saja sehingga mengesampingkan evaluasi afektif maupun psikomotorik. 1.2.7 Hasil nilai ulangan/ hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran biologi masih rendah. 1.2.8 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) tidak tercapai. 1.3 Pembatasan Masalah Mengingat keterbatasan peneliti baik dari segi kemampuan pengetahuan, biaya, tenaga maupun waktu maka masalah dalam penelitian tindakan ini dibatasi dan difokuskan pada: 1.3.1 Prestasi belajar biologi, siswa kelas XII IPA SMA N1 Ambarawa sebagian besar masih rendah. 1.3.2 Kreativitas guru diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi, siswa kelas XII IPA SMA N1 Ambarawa 1.3.3 Penggunaan advance organizer diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi , siswa kelas XII IPA SMA N1 Ambarawa 1.3.4 Kreativitas guru dan penggunaan advance organizer diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi, siswa kelas XII IPA SMA N1 Ambarawa 16 1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.4.1 Apakah ada pengaruh kreativitas guru terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa? 1.4.2 Apakah ada pengaruh penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa? 1.4.3 Apakah ada pengaruh kreativitas guru dan penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa? 1. 5 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1.5.1 Pengaruh kreativitas guru terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa. 1.5.2 Pengaruh penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa. 1.5.3 Pengaruh kreativitas guru dan penggunaan advance organizer terhadap prestasi pebelajar biologi pada kelas XII IPA SMAN 1 Ambarawa. 17 1.6 Manfaat Penelitian Manfaat teoritis maupun manfaat praktis yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah 1.6.1 Manfaat Teoritis Secara teori hasil penelitian ini mengembangkan konsep, teori, praktek dan prosedur teknologi pendidikan kawasan pengelolaan pembelajaran yang mampu memberikan kemudahan bagi guru dalam mengelola pembelajaran. Kawasan pengelolaan adalah kegiatan yang meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Pengelolaan biasanya merupakan hasil dari penerapan suatu sistem nilai. Dalam kawasan ini ada empat kategori yang penting yaitu pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan yang terakhir adalah pengelolaan informasi. 18 1.6.2 Manfaat Praktis Manfaat praktis dari penelitian ini adalah: 1.6.2.1 Bagi kepala sekolah Hasil penelitian ini sebagai alat untuk introspeksi diri dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pemimpin pembelajaran. 1.6.2.2 Bagi guru Hasil penelitian ini sebagai masukan agar dapat meningkatkan kreativitas guru dan murid sehingga dapat meningkatkan prestasi pebelajar biologi. 1.6.2.3 Bagi stakeholder Hasil penelitian agar dapat dijadikan pertimbangan untuk ikut meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan prestasi pebelajar biologi. 1.6.1.4 Bagi pihak terkait dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pringsewu Hasil penelitian agar dapat ditindaklanjuti untuk menetapkan langkahlangkah strategis guna meningkatkan cara-cara meningkatkan kreativitas guru sehingga dapat meningkatkan prestasi pebelajar biologi. 19 II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kreativitas Guru Guru diharapkan dapat menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dengan memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan pengalaman belajar yang terintegrasi pada mata pelajaran Biologi, sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat untuk membangun pilar pendidikan yaitu: belajar untuk memahami, belajar untuk berbuat kreatif, belajar untuk hidup dalam kebersamaan, belajar untuk membangun serta mengekspresikan jati diri. 2.1.1 Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau sesuatu yang baru. Jeff DeGraff dan Khaterine (2002: 179) menyatakan bahwa: Creativity is core of all the competencies of your organization because creativity is what makes something better or new. Produk bersifat relatif baru, bisa bermakna sebagai hasil menyempurnakan, menambahkan, mengubah, mereposisi dari sesuatu yang ada sebelumnya sehingga sesuatu berubah menjadi lebih baik atau tampil beda. Baru juga bisa berarti tidak ada sebelumnya di dalam kelas atau di sekolah itu sendiri. Tidak peduli bahwa sesuatu itu sebenarnya sudah pernah ada di tempat lain. Jika kebaruan itu 20 mencakup batas beberapa sekolah atau bahkan lebih dari itu, maka nilai kreativitasnya meningkat. Jeff DeGraff dan Khaterine mengelompokkan kreativitas pada kuadran kiri dan kanan dalam diagram berikut: Gambar 2.1 Peta Profil Kreativitas Jeff DeGraff dan Khaterine Profil individu imajinatif (imagine) memiliki kompetensi dalam mengembangkan kreativitas bersumber dari daya imajinasinya. Sesungguhnya setiap individu memiliki kemampuan menghayal, namun individu imajinatif mampu mewujudkan khayalannya dalam ide dan karya yang unik. Ujung dari khayalnya adalah berkarya. Individu imajinatif mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan tata artistik baru, mewujudkan produk baru, membangun pelayanan baru, memecahkan masalah dengan cara-cara baru. Potensinya akan berkembang jika didukung dengan kultur lingkungan yang menghargai dengan baik percobaan, melakukan langkah-langkah 21 spekulatif, fokus pada pengembangan ide-ide baru, bahkan melakukan hal yang tidak dapat dilakukan orang sebelumnya. Profil individu penanam modal (invest) menunjukkan daya kompetisi yang kuat, memiliki kesungguhan dalam berjuang serta intensif dalam mewujudkan keunggulan. Tipe pribadi ini berani kalah dan siap menang dan siap menanggung resiko. Kepribadian investor mengembangkan kreasi dengan cepat sebelum kompetitor lain dapat melakukannya. Pribadi yang cerdas dan pekerja keras, pikirannya fokus pada kebaikan yang akan diraihnya. Karena itu ia memiliki motivasi yang kuat untuk mewujudkan keberhasilan. Kelebihannya ditunjukkan dengan kemampuan merespon dengan cepat tiap perubahan. Profil individu pembaharu (improve) ditandai dengan karakter yang kreativitasnya yang tak pernah surut. Aktivitas meniru sesuatu yang ada, memodifikasi, dan menyempurnakannya dan merekayasa sesuatu menjadi baru atau lebih baik, hingga membuat sesuatu berbeda dari sebelumnya. Profil individu pembaharu, seperti julukannya, memiliki karakter sangat kompleks, tak pernah kehabisan ide, pejuang sejati dan selalu berusaha keras.Keunggulannya bemodalkan keunggulan berpikir yang sistematik, berhati-hati dan selalu memperbaharui idenya dengan cepat serta dapat menampilkannya sebagai ide dan karya nyata. Karakter seperti ini mendukung proses kerja, berdisiplin tinggi, menjunjung tingkat kecepatan dan ketepatan yang tinggi. Lebih dari itu, kepatuhannya pada standar terhindar dari kesalahan. 22 Profil pengeram (incubate) adalah orang yang mematangkan atau mengeram ideide inovatif dalam dirinya sebelum gagasan direalisasikan. Profil memiliki karakter bekerja dengan penuh keyakinan dan sepenuh hati. Jika ia seorang pebisnis maka keyakinan terhadap pekerjaannya lebih daripada bisnis itu sendiri. Ia menghayati kedalamannya; ia meyakini dengan dilandasi dengan nilai-nilai hidup yang menjadi dasar hidupnya. Karakter pribadinya selalu mendapat tempat dalam kegiatan belajarnya maupun dalam pekerjaannya. Profil penggagas memiliki komitmen yang kuat terhadap komunitasnya, fokus membangun kekuatan yang menghargai ide bersama, menjunjung kebersamaan dan efektif berkomunikasi. Kekuatannya didukung pula dengan kebiasaannya tak pernah berhenti belajar, tumbuh kuat dalam kebersamaan, kompeten dalam membangun dukungan, memahami bagaimana belajar dan membangun kekuatan, memahami dengan baik situasi dan kondisi, dan memilih tindakan yang tepat tanpa harus menunggu keputusan yang terlalu lama. Profil penggagas ini tumbuh dalam interaksi kelompok, menyadari pentingnya meningkatkan kekuatan individu melalui kelompok, menghargai sumber daya manusia, melakukan pelatihan, dan meningkatkan efektivitas fungsi organisasi. Dengan demikian setiap tahap kegiatannya teroganisasi dengan baik. Pada desain kreatif perencanaan pembelajaran, siswa aktif membangkitkan kreativitasnya sendiri. Mengembangkan kreativitas siswa dalam pembelajaran berarti mengembangkan kompetensi memenuhi standar proses atau produk belajar yang selalu terbarukan. Disini diperlukan strategi agar siswa mampu menghasilkan gagasan yang baru, cara baru, desain baru, model baru atau sesuatu 23 yang lebih baik daripada yang sudah ada sebelumnya. Segala sesuatu yang baru itu muncul dengan pemicu, di antaranya karena tumbuh dari informasi yang baru, penemuan baru, teknologi baru, strategi belajar yang baru dan lebih variatif, sistem kolaborasi dan kompetisi yang baru, eksplorasi ke wilayah sumber informasi baru, menjelajah forum komunikasi baru, mengembangkan strategi penilaian yang baru dan lebih variatif. Yang lebih penting dari itu adalah melaksanakan perencanaan pembelajaran dalam implementasi kegiatan pembelajaran sebagai proses kreatif dan menetapkan target mutu produk belajar sebagai produk kreatif yang inovatif. Indikator kreativitas dalam perencanaan belajar jika guru m

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS PENGARUH DISPOSISI MATEMATIS TERHADAP HASIL BELAJAR MATERI INTEGRAL TAK TENTU SISWA KELAS XII IPA 2 SMA NEGERI 4 JEMBER
6
43
102
HUBUNGAN MOTIVASI BERTANYA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS II SMA NEGERI I BIMA
0
4
13
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TENTANG MATA PELAJARAN SEJARAH DAN SIKAP SISWA TERHADAP GURU SEJARAH DENGAN PRESTASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XII IPS SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 1 PUNGGUR LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
2
14
PENGARUH DISIPLIN BELAJAR, MOTIVASI BERPRESTASI DAN KETERSEDIAAN FASILITAS BELAJAR DI RUMAH TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 AMBARAWA TAHUN PELAJARAN 2011-2012
0
3
79
PENGARUH KEMANDIRIAN BELAJAR MELALUI KREATIVITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPS TERPADU SISWA KELAS IX SMP NEGERI 4 GEDONGTATAAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
23
119
HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TENTANG MANAJEMEN PEMBELAJARAN GURU DENGAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA DI SMA NEGERI 1 GADINGREJO
1
10
16
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TENTANG MATA PELAJARAN SEJARAH DAN SIKAP SISWA TERHADAP GURU SEJARAH DENGAN PRESTASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XII IPS SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 1 PUNGGUR LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012
1
3
129
PENGARUH PEMANFAATAN AKSES INTERNET TERHADAP PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 TALANGPADANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
7
79
PENGARUH KREATIVITAS GURU DAN PENGGUNAAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XII IPA SMA NEGERI 1 AMBARAWA
0
38
117
PENGARUH METODE BELAJAR RESITASI TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS X IPA SMA NEGERI 1 KOTAAGUNG TAHUN PELAJARAN 2013-2014
0
8
68
PENGARUH MINAT DAN PENGGUNAAN METODE TERHADAP HASIL BELAJAR IPA BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 JAYAPURA
1
0
15
PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XII IPA MAN 1 PESISIR SELATAN
0
0
10
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 AMBUNTEN DENGAN MENERAPKAN METODE KREATIVITAS
0
2
12
PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KEGIATAN SISWA TERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 POL-UT KABUPATEN TAKALAR
0
0
7
PENGARUH KREATIVITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI ILMU SOSIAL SMA N 3 SURAKARTA TAHUN AJARAN 20072008
1
0
71
Show more