Identifikasi kerusakan lahan dan pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami

 1  29  170  2017-05-07 23:59:48 Report infringing document
IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN DAN PENDAPAT MASYARAKAT TERHADAP RENCANA REHABILITASI LAHAN PERTANIAN PASCA TSUNAMI (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar ) ASNAWI ACHMAD SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 ABSTRAK ASNAWI ACHMAD. Identifikasi Kerusakan Lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar). Dibimbing oleh SANTUN R.P. SITORUS dan H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM. Gempa dan tsunami yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 telah mengakibat 61.816 ha lahan pertanian rusak, sehingga mengakibatkan lumpuhnya kegiatan usahatani masyarakat. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan akibat dari intrusi air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami sangat diperlukan, sehingga lahan-lahan pertanian dapat difungsikan kembali. Penelitian bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan, (2) Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang, (3) Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Metode yang digunakan adalah survei lapangan yang mengacu pada kriteria kerusakan lahan yang dikeluarkan oleh FAO tahun 2005 dan analisis contoh tanah yang diambil berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan serta wawancara dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian tergolong kelas kerusakan B atau sedang,dengan tingkat salinitas cenderung meningkat kearah daratan dengan nilai tertinggi 2,43 mS/cm dijumpai pada jarak 1250 meter dari garis pantai. Sedimentasi yang menutupi lahan pertanian adalah pasir laut dengan ketebalan berkisar antara 5 cm – 27 cm. Masyarakat umumnya mendukung rencana rehabilitasi lahan dan tetap ingin berusahatani kembali di lahan pertanian yang terkena dampak tsunami. Kata kunci : kerusakan lahan pasca tsunami, rehabilitasi lahan, pendapat masyarakat, ABSTRACT ASNAWI ACHMAD. The Identification of Land Damage and Opinion of The Community Toward Rehabilitation Plan of Agriculture Land Post-Tsunami (Case Study in Lho’nga subdistrict, Aceh Besar Regency). Supervised by SANTUN R.P SITORUS and H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM Earthquake and tsunami that hit the Nanggroe Aceh Darusalam Province at 26 December 2006 cause damage 61.816 hectares of agriculture land , resulting agriculture activities farmers stopped. The prime damage of agriculture land is the change of soil texture and impact of sea water intrusion that degrade chemical and fertility of the soil. Degraded agriculture land rehabilitation program affected by tsunami is very necessary, with result that agriculture land can be functioned again. This research objective are (1) To identify agriculture land damage at research location based on distance from coastline, (2) To study aspiration of community for the their agricultural activities for the future, (3) To study opinion of the community for agriculture land rehabilitation plan post-tsunami. The research methods use are (1) Evaluation of area damaging levels using land damage criteria by FAO (2005),(2) Analysis of soil sample collected based on distance from coastline, (3) Interview by questionnaire to know opinion of community in supporting activities of the agriculture land rehabilitation plan. The result of this research show that agriculture land damage belongs to B class or middle damage, level of salinity increase from coastline to continent with the highest value 2,43 mS/cm at distance of 1.250 meter from coastline. Kind of sediment cover the agriculture land is mainly sea sand with thickness ranging from 5 centimetre to 27 centimetre. The communities are generally supporting activities plan to rehabilitate agriculture land and willing to carry out their agriculture activities while the agriculture land completely rehabilitated. Key words : land damage of post-tsunami, land rehabilitation, opinion of community. Judul Tesis : Identifikasi Kerusakan Lahan Dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar) Nama : Asnawi Achmad Nomor Pokok : P052024011 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus Ketua Dr. Ir. H. R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr Anggota Diketahui, Ketua Program Studi PSL Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S. Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc Tanggal Ujian : 15 Mei 2006 Tanggal Lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis, Asnawi Achmad adalah anak ke-2 dari 7 (tujuh) bersaudara pasangan dari Achmad Ibrahim dan Radimah. Penulis dilahirkan di Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 12 Oktober 1973. Tahun 1986 penulis lulus dari SD Negeri No.8 Banda Aceh. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke SLTP Negeri 1 Banda Aceh dan lulus pada tahun 1989. Tahun 1989 penulis melanjutkan studi ke SLTA Negeri No 1 Banda Aceh, lulus tahun 1992. Pada tahun 1992 penulis melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh lulus pada tahun 1999. Pada tahun 2002 semester genap, penulis melanjutkan pendidikan dan diterima di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Bidang Minat “Kebijakan dan Manajemen Lingkungan” PRAKATA Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena atas Rahmat dan Berkah-Nya penulis dapat menyelesaikan rencana penelitian yang berjudul “ Identifikasi Kerusakan lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar)”. Rencana penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi pesyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih penulis kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Santun R.P Sitorus selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. H.R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr selaku anggota komisi pembimbing. Meine Van Noordwijk, Josepine Prasetyo, Diah Wulandari, dan seluruh staf ICRAF atas bantuan yang diberikan selama penelitian ini. Masyarakat Desa Meunasah Baro dan Meunasah Manyang, rekan-rekan di BRR Aceh-Nias, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh, T. Nova. F, Subhan, S,Hut. Bukhari, S.Hut, EmDaw, Igal dan semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan pada saat pengumpulan data untuk penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermafaat untuk pembangunan kembali Nanggroe Aceh tercinta Bogor, Maret 2006 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................................................................................... DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... iv v vi I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................... 1.5. Kerangka Pemikiran............................................................................. 1 1 3 5 5 5 II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 2.1. Konsep Lahan Secara Umum ............................................................. 2.2. Degradasi Lahan.................................................................................. 2.3. Persepsi............................................................................................... 2.4. Karakteristik Individu ............................................................................ 2.5. Perencanaan Penggunaan Lahan ....................................................... 8 8 9 11 12 13 III. KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TSUNAMI ........................ 3.1..Gempa dan Tsunami ........................................................................... 3.2. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 15 15 15 IV. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... 4.1. Kerangka Pendekatan Metodologi ...................................................... 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 4.3. Bahan dan Alat..................................................................................... 4.4. Analisis Kerusakan Lahan ................................................................... 4.3.1. Penentuan Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Contoh ...... 4.3.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.3.3. Analisis Data .............................................................................. 4.5. Analisis Pendapat Masyarakat ............................................................ 4.4.1. Penentuan Responden .............................................................. 4.4.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.4.3. Analisis Data .............................................................................. 18 18 19 20 20 21 21 22 24 24 25 25 V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................................ 5.1. Letak dan Geografis dan Administrasi Pemerintah............................. 5.2. Kondisi Iklim ......................................................................................... 5.3. Geologi dan Topografi.......................................................................... 5.4. Jenis Tanah .......................................................................................... 5.5. Kependudukan ..................................................................................... 5.6. Mata Pencaharian ................................................................................ 5.7. Pendidikan dan Tingkat Pendidikan .................................................... 28 28 28 29 29 29 30 31 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 6.1. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 6.1.1. Kondisi Kerusakan Lahan Pertanian ........................................ 6.1.2. Karakteristik Lahan Pertanian yang Rusak .............................. 32 32 32 35 ii 6.2. Pendapatan Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian ................................................................................... 6.2.1. Karakteristik Masyarakat........................................................... 6.2.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Usahatani ............................. 6.2.3. Pendapat Masyarakat terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan......................................................................................... 6.2.4. Arahan Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian yang Rusak Pasca Tsunami......................................................................... 38 38 40 44 48 VII.KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 7.1. Kesimpulan...................................................................................... 7.2. Saran ............................................................................................... 51 51 52 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... LAMPIRAN........................................................................................................ 53 57 iii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Kondisi kerusakan lahan pertanian, kebun, dan kehilangan ternak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .................................................... 16 2. Hubungan tujuan 1 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis kerusakan lahan ....................... 21 3. Jenis data dan metode pengumpulan data di lapangan............................ 22 4. Tabel Observasi untuk Kerusakan Lahan.................................................. 23 5. Hubungan tujuan 2 dan 3 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis pendapat masyarakat ................................................................................................. 25 6. Jumlah penduduk dalam kecamatan Lho’nga tahun 2003........................ 30 7. Hasil pengamatan kerusakan lahan pertanian dengan metode FAO tahun 2005 ......................................................................................... 32 8. Hasil pengamatan ketebalan sedimen pasir di dua desa di Kecamatan Lho’nga menurut jaraknya dari garis pantai ...................... 33 9. Hasil analisis vegetasi pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga............................................................................... 35 10. Data analisis sifat kimia tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga...................................................................... 36 11. Data analisis sifat fisika tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga................................................................................ 37 12. Hasil rata-rata sifat kimia tanah berdasarkan jarak dari pantai di dua desa di Kacamatan Lho’nga....................................................................... 37 13. Karakteristik responden di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................... 40 14. Pendapat masyarakat terhadap kegiatan usahatani di dua desa di Kecamatan Lho’nga ................................................................................... 41 15. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama..................................... 43 16. Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................................. 45 17. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta pengetahuan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami .................. 46 18. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta dukungan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami................................. 47 iv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka pemikiran penelitian .................................................................... 7 2. Kerangka pendekatan metodologi .............................................................. 19 3. Peta lokasi penelitian .................................................................................. 20 4. Skema pengambilan contoh tanah ............................................................. 20 5. Kondisi kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian .............................. 32 6. Ketebalan sedimentasi pasir di Kecamatan Lho’nga.................................. 33 7. Vegetasi penutup lahan pertanian di lokasi penelitian ............................... 34 8. Kerusakan sarana pertanian di dua desa di Kecamatan Lho’nga.............. 42 v IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN DAN PENDAPAT MASYARAKAT TERHADAP RENCANA REHABILITASI LAHAN PERTANIAN PASCA TSUNAMI (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar ) ASNAWI ACHMAD SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 ABSTRAK ASNAWI ACHMAD. Identifikasi Kerusakan Lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar). Dibimbing oleh SANTUN R.P. SITORUS dan H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM. Gempa dan tsunami yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 telah mengakibat 61.816 ha lahan pertanian rusak, sehingga mengakibatkan lumpuhnya kegiatan usahatani masyarakat. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan akibat dari intrusi air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami sangat diperlukan, sehingga lahan-lahan pertanian dapat difungsikan kembali. Penelitian bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan, (2) Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang, (3) Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Metode yang digunakan adalah survei lapangan yang mengacu pada kriteria kerusakan lahan yang dikeluarkan oleh FAO tahun 2005 dan analisis contoh tanah yang diambil berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan serta wawancara dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian tergolong kelas kerusakan B atau sedang,dengan tingkat salinitas cenderung meningkat kearah daratan dengan nilai tertinggi 2,43 mS/cm dijumpai pada jarak 1250 meter dari garis pantai. Sedimentasi yang menutupi lahan pertanian adalah pasir laut dengan ketebalan berkisar antara 5 cm – 27 cm. Masyarakat umumnya mendukung rencana rehabilitasi lahan dan tetap ingin berusahatani kembali di lahan pertanian yang terkena dampak tsunami. Kata kunci : kerusakan lahan pasca tsunami, rehabilitasi lahan, pendapat masyarakat, ABSTRACT ASNAWI ACHMAD. The Identification of Land Damage and Opinion of The Community Toward Rehabilitation Plan of Agriculture Land Post-Tsunami (Case Study in Lho’nga subdistrict, Aceh Besar Regency). Supervised by SANTUN R.P SITORUS and H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM Earthquake and tsunami that hit the Nanggroe Aceh Darusalam Province at 26 December 2006 cause damage 61.816 hectares of agriculture land , resulting agriculture activities farmers stopped. The prime damage of agriculture land is the change of soil texture and impact of sea water intrusion that degrade chemical and fertility of the soil. Degraded agriculture land rehabilitation program affected by tsunami is very necessary, with result that agriculture land can be functioned again. This research objective are (1) To identify agriculture land damage at research location based on distance from coastline, (2) To study aspiration of community for the their agricultural activities for the future, (3) To study opinion of the community for agriculture land rehabilitation plan post-tsunami. The research methods use are (1) Evaluation of area damaging levels using land damage criteria by FAO (2005),(2) Analysis of soil sample collected based on distance from coastline, (3) Interview by questionnaire to know opinion of community in supporting activities of the agriculture land rehabilitation plan. The result of this research show that agriculture land damage belongs to B class or middle damage, level of salinity increase from coastline to continent with the highest value 2,43 mS/cm at distance of 1.250 meter from coastline. Kind of sediment cover the agriculture land is mainly sea sand with thickness ranging from 5 centimetre to 27 centimetre. The communities are generally supporting activities plan to rehabilitate agriculture land and willing to carry out their agriculture activities while the agriculture land completely rehabilitated. Key words : land damage of post-tsunami, land rehabilitation, opinion of community. Judul Tesis : Identifikasi Kerusakan Lahan Dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar) Nama : Asnawi Achmad Nomor Pokok : P052024011 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus Ketua Dr. Ir. H. R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr Anggota Diketahui, Ketua Program Studi PSL Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S. Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc Tanggal Ujian : 15 Mei 2006 Tanggal Lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis, Asnawi Achmad adalah anak ke-2 dari 7 (tujuh) bersaudara pasangan dari Achmad Ibrahim dan Radimah. Penulis dilahirkan di Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 12 Oktober 1973. Tahun 1986 penulis lulus dari SD Negeri No.8 Banda Aceh. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke SLTP Negeri 1 Banda Aceh dan lulus pada tahun 1989. Tahun 1989 penulis melanjutkan studi ke SLTA Negeri No 1 Banda Aceh, lulus tahun 1992. Pada tahun 1992 penulis melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh lulus pada tahun 1999. Pada tahun 2002 semester genap, penulis melanjutkan pendidikan dan diterima di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Bidang Minat “Kebijakan dan Manajemen Lingkungan” PRAKATA Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena atas Rahmat dan Berkah-Nya penulis dapat menyelesaikan rencana penelitian yang berjudul “ Identifikasi Kerusakan lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar)”. Rencana penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi pesyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih penulis kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Santun R.P Sitorus selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. H.R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr selaku anggota komisi pembimbing. Meine Van Noordwijk, Josepine Prasetyo, Diah Wulandari, dan seluruh staf ICRAF atas bantuan yang diberikan selama penelitian ini. Masyarakat Desa Meunasah Baro dan Meunasah Manyang, rekan-rekan di BRR Aceh-Nias, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh, T. Nova. F, Subhan, S,Hut. Bukhari, S.Hut, EmDaw, Igal dan semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan pada saat pengumpulan data untuk penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermafaat untuk pembangunan kembali Nanggroe Aceh tercinta Bogor, Maret 2006 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................................................................................... DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... iv v vi I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................... 1.5. Kerangka Pemikiran............................................................................. 1 1 3 5 5 5 II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 2.1. Konsep Lahan Secara Umum ............................................................. 2.2. Degradasi Lahan.................................................................................. 2.3. Persepsi............................................................................................... 2.4. Karakteristik Individu ............................................................................ 2.5. Perencanaan Penggunaan Lahan ....................................................... 8 8 9 11 12 13 III. KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TSUNAMI ........................ 3.1..Gempa dan Tsunami ........................................................................... 3.2. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 15 15 15 IV. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... 4.1. Kerangka Pendekatan Metodologi ...................................................... 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 4.3. Bahan dan Alat..................................................................................... 4.4. Analisis Kerusakan Lahan ................................................................... 4.3.1. Penentuan Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Contoh ...... 4.3.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.3.3. Analisis Data .............................................................................. 4.5. Analisis Pendapat Masyarakat ............................................................ 4.4.1. Penentuan Responden .............................................................. 4.4.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.4.3. Analisis Data .............................................................................. 18 18 19 20 20 21 21 22 24 24 25 25 V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................................ 5.1. Letak dan Geografis dan Administrasi Pemerintah............................. 5.2. Kondisi Iklim ......................................................................................... 5.3. Geologi dan Topografi.......................................................................... 5.4. Jenis Tanah .......................................................................................... 5.5. Kependudukan ..................................................................................... 5.6. Mata Pencaharian ................................................................................ 5.7. Pendidikan dan Tingkat Pendidikan .................................................... 28 28 28 29 29 29 30 31 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 6.1. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 6.1.1. Kondisi Kerusakan Lahan Pertanian ........................................ 6.1.2. Karakteristik Lahan Pertanian yang Rusak .............................. 32 32 32 35 ii 6.2. Pendapatan Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian ................................................................................... 6.2.1. Karakteristik Masyarakat........................................................... 6.2.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Usahatani ............................. 6.2.3. Pendapat Masyarakat terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan......................................................................................... 6.2.4. Arahan Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian yang Rusak Pasca Tsunami......................................................................... 38 38 40 44 48 VII.KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 7.1. Kesimpulan...................................................................................... 7.2. Saran ............................................................................................... 51 51 52 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... LAMPIRAN........................................................................................................ 53 57 iii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Kondisi kerusakan lahan pertanian, kebun, dan kehilangan ternak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .................................................... 16 2. Hubungan tujuan 1 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis kerusakan lahan ....................... 21 3. Jenis data dan metode pengumpulan data di lapangan............................ 22 4. Tabel Observasi untuk Kerusakan Lahan.................................................. 23 5. Hubungan tujuan 2 dan 3 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis pendapat masyarakat ................................................................................................. 25 6. Jumlah penduduk dalam kecamatan Lho’nga tahun 2003........................ 30 7. Hasil pengamatan kerusakan lahan pertanian dengan metode FAO tahun 2005 ......................................................................................... 32 8. Hasil pengamatan ketebalan sedimen pasir di dua desa di Kecamatan Lho’nga menurut jaraknya dari garis pantai ...................... 33 9. Hasil analisis vegetasi pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga............................................................................... 35 10. Data analisis sifat kimia tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga...................................................................... 36 11. Data analisis sifat fisika tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga................................................................................ 37 12. Hasil rata-rata sifat kimia tanah berdasarkan jarak dari pantai di dua desa di Kacamatan Lho’nga....................................................................... 37 13. Karakteristik responden di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................... 40 14. Pendapat masyarakat terhadap kegiatan usahatani di dua desa di Kecamatan Lho’nga ................................................................................... 41 15. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama..................................... 43 16. Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................................. 45 17. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta pengetahuan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami .................. 46 18. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta dukungan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami................................. 47 iv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka pemikiran penelitian .................................................................... 7 2. Kerangka pendekatan metodologi .............................................................. 19 3. Peta lokasi penelitian .................................................................................. 20 4. Skema pengambilan contoh tanah ............................................................. 20 5. Kondisi kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian .............................. 32 6. Ketebalan sedimentasi pasir di Kecamatan Lho’nga.................................. 33 7. Vegetasi penutup lahan pertanian di lokasi penelitian ............................... 34 8. Kerusakan sarana pertanian di dua desa di Kecamatan Lho’nga.............. 42 v DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Data Fisik dan Kimia Tanah ......................................................................... 57 2. Hasil Analisis Fisik dan Kimia Tanah .......................................................... 58 3. Kriteria Penilaian Analisis Tanah ................................................................. 60 4. Data Curah Hujan Rata-rata Banda Aceh dan Aceh Besar ........................ 61 5. Data Pengamatan Kerusakan Lahan Berdasarkan Kriteria FAO tahun 2005 ................................................................................................... 62 6. Hasil Analisis Kuantifikasi Hayashi II ........................................................... 63 7. Hasil Analisis Korelasi.................................................................................. 67 8. Kuesioner Penelitian .................................................................................... 71 vi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana Gempa dan Tsunami yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 telah menimbulkan dampak yang sungguh luar biasa besarnya, baik terhadap manusia dan sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut. memporak-porandakan dan menghancurkan Bencana alam tersebut telah kehidupan manusia yang sebelumnya berlangsung normal menjadi demikian naif, tak berdaya, dan kehilangan semua yang dimilikinya. Dampak langsung bencana gempa bumi dan tsunami terhadap manusia terlihat pada banyaknya korban meninggal dan hancurnya tempat tinggal serta fasilitas umum lainnya, seperti perkantoran, sarana prasarana transportasi, dan tempat ibadah serta kerusakan terhadap lahan-lahan pertanian. Menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, sampai dengan Februari 2005, jumlah korban meninggal di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tercatat 124.603 jiwa, 400.379 jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal, dan 111.769 jiwa lainnya dinyatakan hilang. Musibah ini menyebabkan berkurangnya jumlah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam penduduk sekitar empat persen, yang sebelumnya berjumlah sekitar 4,2 jiwa turun menjadi 4.031.589 setelah tsunami. Secara umum, wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang paling parah terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami adalah kabupaten/kota yang berada di wilayah pantai barat Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan sebagian Nagan Raya. Adapun wilayah kabupaten/kota di pantai timur Aceh yang juga terkena dampak gempa bumi dan tsunami meskipun tidak separah kondisi di wilayah pantai barat adalah Pidie, Bireuen, Lhoksuemawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Disamping korban manusia, dampak kerusakan juga terjadi pada lingkungan dan sumberdaya alam. Secara logis, karena episentrum gempa bumi berpusat di laut (sebelah barat daya Banda Aceh) maka kerusakan lingkungan laut sudah pasti terjadi meskipun belum ada hasil penelitian yang secara resmi menjelaskan tingkat kerusakan lingkungan laut akibat gempa bumi tersebut. Hipotesis ini kemungkinan besar ada benarnya mengingat besarnya goncangan 2 yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Catatan Badan Meteorologi Amerika Serikat menyebutkan bahwa kekuatan gempa yang mengguncang kawasan Asia yang berpusat di lautan Hindia tersebut mencapai 8,9 pada Skala Richter. Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh Departemen Pertanian, lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 20.101 Ha dan kerusakan ladang mencapai 31.345 Ha. Ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultur serta sedikit perkebunan kelapa.Tercatat sembilan kabupaten/kota yang terkena bencana tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup parah yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun. Sedangkan berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) kerusakan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultur diperkirakan 61.816 ha lahan yang terdiri dari 37.471 ha lahan basah dan 24.345 ha lahan kering. Selain kerusakan pada lahan pertanian tersebut, kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi, bangunan irigasi, saluran irigasi di tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usahatani. Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 36.803 ha yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe (Departemen Pertanian, dalam BAPPENAS, 2005). Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Sedangkan berdasarkan wilayah, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data mengenai persentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di NAD. Besarnya kerusakan sumberdaya alam dan ekosistem akibat gempa dan tsunami memerlukan perhatian khusus terutama pada lahan-lahan pertanian yang merupakan lahan usaha masyarakat. Hal ini mengingat begitu banyak masyarakat yang hidupnya tergantung pada lahan pertanian. Hancurnya lahanlahan pertanian tersebut mengakibatkan hancurnya kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan perikanan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa 92.000 usaha pertanian dan perdagangan yang menampung sekitar 3 160.000 orang pekerja mengalami kemacetan (Subagyono, 2005). Untuk menggerakkan kembali perekonomian di sektor pertanian, diperlukan suatu kondisi yang layak untuk pemanfaatan lahan bagi kegiatan pertanian. Kenyataaan di atas menjadi latar belakang melakukan penelitian dalam penelitian identifikasi kondisi lahan-lahan pertanian yang terkena dampak tsunami serta pendapat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami agar lahan pertanian dapat kembali difungsikan secara berkelanjutan. 1.2. Perumusan Masalah Sebelum bencana gempa bumi dan tsunami terjadi, sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa kabupaten yang merupakan sentra kegiatan pertanian adalah Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun. Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam tidak saja menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian. Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh peningkatan kadar garam (salinitas), sedimen lumpur laut, sampah dan puingpuing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Kerusakan lahan pertanian (tanaman pangan dan hortikultur) akibat tsunami mencapai 61.816 ha yang meliputi lahan basah dan lahah kering. Kerusakan yang terjadi di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 45.755 ha dan di pantai timur sebesar 16.061 ha. Dari jumlah lahan pertanian yang rusak di pantai timur dapat diklasifikasikan sekitar 50% tergolong rusak ringan dan 50% rusak sedang, sedangkan di pantai barat dari jumlah 45.755 ha, 10% tergolong rusak ringan (4.575,5 ha), 20% rusak sedang (9.151 ha) dan 60% rusak berat (27.453 ha) dan 10% tergenang air laut (5.575,5 ha). (FAO, 2005). Petani yang meninggal dunia dan hilang akibat tsunami sebanyak 47.275 orang dan sekitar 243.394 orang petani yang selamat kini menempati kamp dan barak hunian sementara. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan perubahan garis pantai yang terjadi di hampir seluruh kawasan pesisir yg 4 terkena gelombang tsunami. Kerusakan lahan juga terjadi karena penimbunan dan pemadatan limbah tsunami yang terus berlangsung dibeberapa lokasi. Bentuk kerusakan lahan lain terjadi akibat dari luapan air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Shofiyati, (2005) menyatakan paling sedikit ada empat bentuk utama kerusakan pada lahan pertanian yang terindentifikasi merupakan satu atau kombinasi dari bentuk kerusakan tersebut yaitu : 1) perubahan bentang lahan (landscape), 2) endapan lumpur dari laut dan pantai, 3) intrusi air laut ke dalam profil tanah, dan 4) penutupan sampah di atas permukaan tanah. Kerusakan terhadap lahan pertanian tersebut telah menyebabkan kehancuran terhadap roda perekonomian masyarakat, karena sebagian besar penduduk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bermata pencaharian sebagai petani. Saat sekarang ini lahan-lahan yang rusak tersebut tidak dapat diusahakan sehingga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani terpaksa mencari kegiatan usaha di bidang lainnya bahkan ada sebagian dari mereka hanya menunggu bantuan dari pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan hancurnya berbagai kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di bidang pertanian yang menjadi andalan masyarakat setempat, mengakibatkan masyarakat memerlukan pengaktifan kembali kegiatan usaha pertaniannya dan pemberian bantuan, untuk memulihkan keadaan perekonomiannya. Menanggapi bencana tersebut pemerintah dengan berbagai pihak, baik luar negeri maupun dalam negeri, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kembali provinsi ini (recovery). Dalam hal penanganan sektor pertanian terutama lahan-lahan pertanian yang terkena tsunami pemerintah telah merencanakan program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak, sehingga lahanlahan pertanian dapat difungsikan kembali agar masyarakat kembali dapat melakukan aktifitas pertanian. Selain itu, perlu pula diperhatikan aspirasi masyarakat yang menghendaki adanya pengalihan kegiatan usaha, mengingat sebagian lahan pertanian mereka ada yang sama sekali tidak dapat difungsikan lagi karena lahan tersebut sudah tergenangi air laut. Berdasarkan gambaran kondisi dan permasalahan seperti di atas , maka dapat disusun pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami pada lokasi penelitian. 5 2. Bagaimana aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka dimasa yang akan datang 3. Bagaimana pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi dan perbaikan lahan pertanian pasca tsunami yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam upaya recovery Aceh pasca tsunami. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan 2. Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang. 3. Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam memberikan masukan dan petunjuk untuk pemerintah dalam menentukan arah rencana pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 2. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. 3. Sebagai bahan informasi, pengetahuan dan rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 1.5. Kerangka Pemikiran Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam pengembangan sektor pertanian yang menjadi tujuan pokok adalah peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani sekaligus mempertahankan kesuburan tanah pertanian . Gempa dan tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah memporak-porandakan semua segi kehidupan yang ada di provinsi paling Barat Sumatera ini. Dampak langsung dari bencana tersebut adalah hilangnya jiwa manusia yang cukup besar dan kerusakan 6 terhadap sarana dan prasarana yang ada, ditambah lagi kerusakan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. Salah satu sumberdaya alam yang terkena dampak kerusakan adalah sumberdaya pertanian yaitu berupa rusaknya lahan-lahan pertanian produktif milik masyarakat terutama lahan persawahan. Kerusakan ini mengakibatkan lumpuhnya perekonomian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Kerusakan ini berupa timbunan sampah dan lumpur yang cukup tebal, perubahan tekstur tanah, dan meningkatnya salinitas tanah. Hal lain yang memperparah adalah kerusakan fasilitas pengairan dan irigasi serta kehilangan sarana produksi pertanian. Untuk mengembalikan roda perekonomian masyarakat di sektor ini diperlukan suatu upaya rehabilitasi tanah-tanah pertanian yang terkena dampak tsunami. Untuk melakukan rehabilitasi terhadap tanah-tanah pertanian tersebut perlu dilakukan pengamatan langsung terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak serta seberapa besar tingkat kerusakan yang terjadi, sehingga dapat diperoleh suatu gambaran tentang kondisi aktual lahan tersebut untuk dapat difungsikan kembali sebagai lahan pertanian. Sebelum tsunami provinsi NAD mampu memproduksi 1.5 juta ton padi dari 380 ribu ha sawah, 190 ribu ha diantara diairi oleh irigasi. Kerusakan lahan sawah akibat tsunami diperkirakan sebesar 10 % dari total luas areal sawah yang ada di provinsi ini. Hal ini membuat kehilangan produksi padi yang besar. Rata-rata produktivitas tanah untuk produksi padi sebesar 4,2 ton /ha,dan kehilangan produksi padi yang potensial paling sedikit sebesar 120.000 ton padi per musim tanam. Rehabilitasi lahan pertanian ini tidak saja bisa memulihkan keamanan pangan tetapi lebih dari pada itu juga memulihkan kembali mata pencaharian para petani. (Rachman, et al., 2005) Pemerintah saat ini telah mempunyai rencana rehabilitasi lahan-lahan pertanian yang rusak akibat tsunami dengan tujuan memperbaiki kondisi lahan tersebut agar dapat difungsikan kembali. Rencana kegiatan tersebut haruslah dilakukan melalui pendekatan sosial sehingga diharapkan kegiatan rehabilitasi dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian ini mencoba untuk melakukan identifikasi terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami melalui pendekatan biofisik dan sosial. Pendekatan biofisik berhubungan dengan kondisi sifat fisik-kimia tanah dan vegetasi yang tumbuh atau bertahan pada lahan pertanian yang terkena 7 dampak gelombang tsunami, sedangkan pendekatan sosial untuk melihat pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah, karena pendapat masyarakat yang positif terhadap kegiatan rehabilitasi lahan tersebut dapat mendorong partisipasi mereka dalam pelaksanaan rehabilitasi lahan. Skema kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Lahan Secara Umum Lahan mempunyai arti yang sangat penting dalam pembangunan. Pembangunan tidak dapat dilaksanakan tanpa ketersediaan lahan guna menopang pembangunan tersebut. Pengertian lahan (land) seringkali disalahartikan dengan tanah (soil). Sitorus (1998) mengemukakan bahwa pengertian lahan adalah bentang lahan (landscape) yang meliputi lingkungan fisik seperti iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan vegetasi yang semuanya secara potensial berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Dalam hal ini lahan juga dapat mengandung pengertian ruang (space) atau tempat (Sitorus, 2004a). Lahan dapat juga didefinisikan sebagai wilayah di permukaan bumi yang mencakup semua komponen biosfer yang dapat dianggap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang, yang semuanya tersebut berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Brinkman dan Smith, 1973 dan FAO,1976). Lahan sebagai suatu sistem mempunyai komponen-komponen yang terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju pada sasaran-sasaran tertentu. Komponen-komponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hubungannya dengan periode formasinya dan dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas manusia, maka sumberdaya lahan tersebut dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori (Vink, 1975), yaitu : 1) sumberdaya yang sangat stabil (iklim, relief, dan formasi geologi), 2) sumberdaya buatan yang merupakan hasil budaya manusia (sumberdaya artifisial), dan 3) sumberdaya yang relatif tidak stabil (vegetasi dengan berbagai karakter biologinya, termasuk tipe-tipe vegetasi alamiah dan tanaman). Menurut Sitorus (2004a) komponen-komponen penyusun sumberdaya lahan terdiri dari : 1) iklim, 2) air, 3) bentuk lahan dan topografi, 4) tanah, 5) formasi geologi, 6) vegetasi, 7) organisme/hewan, 8) manusia dan 9) produk budaya manusia. Dipandang dari sudut pendekatan sistematik, sumberdaya lahan dapat dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa sub- 9 sistem yaitu : 1) sub-sistem tanah, 2) sub-sistem klimatologi, 3) sub-sistem hidrologi, 4) sub-sistem vegetasi, 5) sub-sistem manusia dan budayanya dan 6) sub-sistem penunjang aktivitas manusia. Sumberdaya tanah sering kali dianggap sebagai komponen yang sangat vital dalam sistem lahan dan pengelolaannya. Tanah dapat dipandang sebagai sebidang bentang lahan dengan permukaan dan bentuk lahannya sendiri, serta mempunyai profil tanah dan karakteristik internal yang spesifik, seperti penyebaran kadar liat, komposisi mineral dan sifat fisik-kimia, serta sifat-sifat geofisika (Soemarno, 1991). Tanah juga dipandang sebagai tubuh alami yang tersusun atas komplek ekosistem, di dalamnya terdapat berbagai jenis organisme hidup mulai dari bakteri hingga vertebrata. Bagi lahan pertanian, penggunaan lahan merupakan wujud usaha petani untuk memanfaatkan lahannya, yaitu bagaimana petani mengelola lahan dengan penentuan dan pengaturan jenis tanaman menurut luas lahan dan giliran tertentu, sehingga dengan luas lahan yang dimilikinya diharapkan dapat diperoleh hasil yang optimal untuk tujuan tertentu (Gustafon, 1984 dalam Barijadi, 1986). 2.2. Degradasi Lahan Degradasi lahan adalah penurunan kualitas lahan dan produktifitas lahan atau pengurangan kemampuan lahan, baik secara alami atau karena pengaruh manusia (Dent, 1993). Perkembangan selanjutnya menuju fase-fase yang menunjukkan tingkat keparahannya, sebelum mencapai suatu keadaan ekstrim rusak (lahan kritis). Salah satu akibat terjadinya lahan kritis menurut Lal dan Miller (1989) adalah hilangnya kemampuan berproduksi jangka panjang. Penyebab terjadinya degradasi lahan menurut Sitorus (2004b) dapat dikelompokkan atas : (1) Bahaya alami (Natural Hazard), yaitu degradasi yang terjadi tanpa campur tangan manusia, contohnya longsor, (2) Perubahan populasi, yaitu meningkatnya populasi terkait dengan kebutuhan dan intensitas penggunaan lahan, contohnya pertumbuhan penduduk, (3) Marginalisasi, yaitu eksploitasi lahan terhadap lahan-lahan marginal, (4) Kemiskinan (Poverty), yaitu penduduk miskin yang mengolah lahan cenderung untuk mendapatkan keuntungan sesegera mungkin tanpa memberikan input yang sesuai dengan kebutuhan lahan tersebut, (5) Masalah kepemilikan lahan, (6) Kestabilan politik 10 dan salah Administrasi (maladministration), misalnya peraturan yang dibuat tanpa memperhatikan kebutuhan petani, (7) Aspek sosial ekonomi, yaitu terbentuknya degradasi lahan yang disebabkan oleh kegiatan olah tanah tanpa reinvestasi, (8) Kesehatan, yaitu tanah ditinggalkan, padahal tanah tersebut tanah yang subur untuk pertanian akibat adanya outbreak penyakit pada suatu tempat, (9) Pertanian tidak tepat (Inapropriate agriculture), yaitu terjadinya degradasi lahan karena memaksakan suatu teknologi yang tidak cocok pada suatu daerah, dan (10) Aktifitas pertambangan dan industri. Riquier (1977) mengelompokkan degradasi lahan ke dalam dua kelompok, yaitu degradasi alami dan degradasi dipercepat. Degradasi alami terjadi pada masa lampau akibat denundasi, yang biasa meninggalkan sisanya dalam bentuk permukaan erosi atau dataran aluvial yang luas berbentuk dataran banjir. Degradasi dipercepat adalah degradasi yang prosesnya berlangsung cepat, umumnya disebabkan oleh campur tangan manusia. Unsur lahan yang umumnya mengalami degradasi adalah tanah dan vegetasi. Menurut Barrow (1991) degradasi lahan didefinisikan sebagai fenomena hilangnya dan berkurangnya manfaat atau potensi dari suatu lahan. Hilangnya atau berubahnya suatu komposisi flora dan fauna yang tidak digantikan terjadi pada lahan yang terdegradasi. Ada dua kategori proses degradasi tanah, yakni (1) Berkaitan dengan pemindahan bahan atau materi tanah (erosi oleh angin dan air), dan (2) Menurunnya kondisi tanah tersebut (proses degradasi beberapa sifat fisik dan kimia) ( Anonymous, 1993 dalam Situmorang, 1999). Menurut bentuknya degradasi dibagi menjadi tiga, yaitu degradasi fisik, degradasi kimia dan degradasi biologi. Degradasi fisik terjadi akibat penebangan hutan, penanaman intensif menurut arah lereng, pengolahan tanah berlebihan dan penanaman intensif tanpa penambahan unsur hara atau hanya dengan input hara rendah. Degradasi kimia diakibatkan oleh penggaraman atau pengasaman tanah, sedangkan degradasi biologi dicirikan oleh penurunan produksi dan kandungan bahan organik tanah (Lal dan Miller, 1989). Dent (1993) membagi pemicu terbentuknya degradasi lahah ke dalam tiga kelompok yaitu : (1) Kerusakan morfologi: kehilangan lapisan tanah melalui erosi alur, pengikisan tebing sungai dan longsor; (2) Kerusakan kimia dicirikan oleh hilangnya unsur hara dan atau bahan organik dan pengasaman; (3) 11 kerusakan fisik meliputi genangan air, penurunan muka air tanah dan menipisnya tanah-tanah organik. Kerusakan tanah dapat terjadi oleh (1) Kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, (2) Terkumpulnya garam di daerah perkaran (salinasasi), (3) Penjenuhan tanah oleh air (water logging), dan (4) Erosi. Kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kerusakan tanah akibat terkumpulnya garan di sekitar perakaran dapat menghambat pertumbuhan tanaman atau mematikan tanaman. Kerusakan ini dapat hilang pada musim hujan dengan tercucinya garam-garam tersebut (Arsyad, 1989). 2.3. Persepsi Pengertian persepsi dinyatakan dalam berbagai rumusan yang secara substantif ditekankan pada penafsiran informasi yang menerpa panca indera. Persepsi adalah suatu proses berpikir yang mampu memberikan penafsiran khusus terhadap situasi tertentu (Luthans, 1981). Menurut Rakhmat (2000) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sadli (1976) mengemukakan pengertian yang lebih luas bahwa persepsi seseorang merupakan suatu proses aktif, dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenainya, tetapi juga keseluruhan pengalamanpengalaman, motivasi, dan sikap-sikapnya yang relevan terhadap stimulus tersebut. Menurut Zanden (1984) dalam Arianty (2004), persepsi adalah proses pengumpulan dan penafsiran dari informasi. Persepsi merujuk pada beberapa proses sehingga seseorang menjadi tahu dan berpikir mengenai beberapa hal, berupa karakteristik, kualitas dan pernyataan diri. Seseorang membentuk pandangannya mengenai beberapa hal tersebut untuk menetapkan dan membuat perkiraan serta mengatur pandangannya mengenai masyarakat berdasarkan informasi. Va den Ban dan Hawkins (1999) dalam Arianty (2004) mengemukakan bahwa persepsi seseorang bisa berlainan satu sama lain dalam situasi yang sama karena adanya perbedaan kognitif. Dijelaskan bahwa setiap proses mental, 12 individu bekerja menurut caranya sendiri tergantung dari faktor-faktor kepribadian, misalnya tingkat keterbukaan atau ketertutupan pikiran. Ini berarti bahwa persepsi seseorang terhadap sesuatu obyek ditentukan oleh karakteristik personal dan kebiasaan berkomunikasi. Persepsi merupakan dasar pengambilan keputusan inovasi opsional. Keputusan inovasi opsional ialah yang dibuat oleh seseorang , terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem sosialnya, dalam proses keputusan inovasi. Proses keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan menerima inovasi (melaksanakan kegiatan inovatif tertentu) atau menolaknya (tidak berpengaruh untuk bertindak melaksanakan kegiatan inovatif tertentu). (Rogers dan Shoemaker, 1985 dalam Arianty , 2004). 2.4. Karakteristik Individu Karakteristik individu yang patut diperhatikan untuk menerangkan persepsi seseorang terhadap suatu informasi antara lain adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, bangsa, agama dan lain-lain (Tubbs dan Moss, 2001). Karakteristik sosial ekonomi meliputi umur, pendidikan, pendapatan, pemilikan barang (lahan), dan pekerjaan. Sedangkan ciri lain, yakni kepribadian (personality) meliputi pengalaman, motivasi, dan kepribadian komunikan. Pendapat lain dikemukakan oleh Bettinghaus, (1980) dalam Tubbs dan Moss (2001), yang menjelaskan beberapa ciri dari anggota kelompok yang dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Ciri-ciri tersebut antara lain meliputi jenis kelamin, umur, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Karakteristik demografi dan karakteristik psikografik merupakan karakteristik seseorang yang dapat menjelaskan perilaku komunikasi dan persepsinya terhadap suatu informasi. Kotler (1980) dalam Tubbs dan Moss (2001) menyebutkan bahwa karakteristik demografik meliputi umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, kebangsaan dan tingkat sosial. Disebutkan juga bahwa karakteristik psikografik meliputi gaya hidup dan kepribadian. McLeod dan O’keefe Jr (1972) dalam Tubbs dan Moss (2001) menyatakan bahwa variabel demografik seperti jenis kelamin, umur dan status sosial merupakan indikator yang dapat digunakan untuk menerangkan perilaku individu. 13 2.5. Perencanaan Penggunaan Lahan Perencanaan dalam arti luas adalah merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan sistematis dari sejumlah kegiatan dalam memilih dan mengembangkan tindakan yang paling baik untuk mencapai tujuan tertentu (Sitorus, 2004). Kay dan Alder (1999) dalam Rustiadi et al. (2003) menyatakan perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. Katz dalam Tjokroamidjojo (1979) dalam Sitorus (2004) mengemukakan lima alasan perlunya melakukan perencanaan, yaitu : 1. Dengan adanya perencanaan diharapkan terdapatnya pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan pada pencapaian tujuan pembangunan; 2. Dengan perencanaan dapat dilakukan suatu prakiraan (forecasting) terhadap berbagai hal dalam periode pelaksanaan. Prakiraan dilakukan terhadap potensi-potensi dan prospek-prospek pengembangan, serta mengenai hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi sedikit mungkin; 3. Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik; 4. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dengan memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya, dan; 5. Dengan adanya rencana maka akan ada suatu alat pengukur atau patokan dalam melakukan dan evaluasi. Perencanan penggunaan lahan merupakan proses inventarisasi dan penilaian keadaan (status), potensi, dan pembatas-pembatas dari suatu daerah tertentu dan sumberdayanya , yang berinteraksi dengan penduduk setempat atau dengan orang lain yang menaruh perhatian terhadap daerah tersebut dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka, keinginan dan aspirasinya untuk masa mendatang (Soil Conservation Society of America, 1982 dalam Sitorus, 2004a). Perencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan sebenarnya merupakan upaya untuk mengetahui dan memutuskan keadaan sebidang lahan 14 termasuk dalam kategori apa dan kemungkinan terbaik apa yang dapat diusahakan pada lahan tersebut secara berkesinambungan. Fungsi utama dari perencanaan penggunaan lahan adalah untuk memberikan petunjuk atau pengarahan dalam proses pengambilan keputusan tentang penggunaan lahan sehingga sumberdaya lahan dan lingkungan tersebut ditempatkan pada penggunaan yang paling menguntungkan/efisien bagi manusia, dan dalam waktu yang bersamaan juga mengkonservasikannya untuk penggunaan pada masa yang akan datang (Dent, 1978; Jones dan Davies, 1978) dalam Sitorus (2004a). Dalam kaitan dengan keperluan yang lebih operasional perencanaan penggunaan lahan bertujuan untuk (Sandy, 1984; Silalahi, 1985) dalam Sitorus (2004a) : 1. Mencegah penggunaan lahan yang salah tempat dalam mengupayakan terciptanya penggunaan lahan yang optimal ; 2. Mencegah adanya salah urus yang menyebabkan lahan rusak dalam mengupayakan penggunaan lahan yang berkesinambungan; 3. Mencegah adanya tuna kendali dalam mengupayakan penggunaan lahan yang senantiasa diserasikan oleh adanya kendali; 4. Menyediakan lahan untuk keperluan pembangunan yang terus meningkat ; 5. Memanfaatkan lahan sebesar-besarnya untuk kemakmuran manusia. III. KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TSUNAMI DI NAD 3.1. Gempa Dan Tsunami Aktivitas gempa di Nanggroe Aceh Darussalam bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena wilayah NAD memang terletak di jalur gempa. Berdasarkan sejarah gempa yang telah diketahui para ahli geofisika selama 30 tahun ini saja telah terjadi sekitar 100 kali gempa berskala sekitar 5 Skala Richter. Pusat gempa terbanyak di sepanjang laut sebelah timur Aceh, 15 kali gempa diatas 7 skala Richter di laut, dan 6 kali di daratan sepanjang patahan Sumatera yang melintasi Aceh. Keseluruhan gempa diatas memiliki kedalaman yang dangkal. Sedangkan gempa menengah telah terjadi 27 kali di sepanjang laut sebelah timur Aceh dan 25 kali di daratan. Sebagian besar gempa-gempa tersebut berkedudukan di Laut sekitar Pulau Simeulue dan Bukit Barisan berarah baratdaya-timurlaut dan menerus sampai ke laut Andaman dan Birma. Gempa pada tanggal 26 Desember 2004 tersebut adalah gempa terbesar yang pernah terjadi di daerah ini, dengan kekuatan 9.0 Skala Richter dengan pusat gempa berada 225 Km di selatan Kota Banda Aceh pada kedalaman 9-10 km, Gempa bumi ini diikuti gelombang tsunami yang menghantam hampir seluruh pesisir Provinsi NAD, dengan kerusakan terparah melanda Banda Aceh hingga pantai barat Sumatera Utara. Tsunami merupakan proses akibat terjadinya gempa pada kedalaman yang dangkal, karena sebagian besar energy release ke kolom air laut di atasnya. Gempa bawah laut merenggutkan massa besar air laut dalam satu hentakan kuat. Gelombang balik air menerjang dengan kecepatan hingga 800 km/jam, mendekati pantai gelombang melambat namun mendesak ke atas, menghempas ke daratan, dan menghancurkan apapun di belakang pantai. Terjangan gelombang menunjukkan arah relatif tegak lurus garis pantai. Pola kerusakan sejajar garis pantai dengan gradasi kerusakan melemah tegak lurus menjauhi pantai. Tingkat kerusakan meliputi kawasan perkotaan dan/atau pedesaan hancur total, rusak berat, sedang, dan ringan (BAPPENAS, 2005). 3.2. Kerusakan Lahan Pertanian Gempa bumi dan terutama tsunami telah meluluhlantakkan sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam yang menyebabkan terjadinya kerusakan 16 dan kerugian yang sangat besar, baik kerugian fisik maupun kerugian non fisik. Kerugian fisik berupa kerusakan lahan, sarana dan prasarana umum serta sumber-sumber ekonomi lainnya. Kerugian non fisik berupa korban jiwa manusia sejumlah 124.603 jiwa, 400.379 jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal, dan 111.769 jiwa lainnya dinyatakan hilang, dengan daerah terparah berada pada pantai barat meliputi Banda Aceh hingga Meulaboh, meskipun pantai timur juga mengalami kerusakan yang tidak ringan. Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh Departemen Pertanian (2005) dalam BAPPENAS (2005), lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 20.101 Ha, sedangkan kerusakan ladang mencapai 31.345 Ha. Ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultur serta sedikit perkebunan kelapa. Tercatat 9 kabupaten/ kota yang terkena bencana tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup besar yaitu Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun,seperti tercantum pada Tabel 1. Jumlah ternak yang mati atau hilang diperkirakan mencapai 1,9 juta ekor yang sebagian besar adalah ternak unggas, dan sisanya ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing/domba.(Tabel 1) Tabel 1 Kondisi kerusakan lahan pertanian, Kebun, Ladang dan Kehilangan ternak di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten dan Kota Sabang Banda Aceh Aceh Besar Pidie Biruen Aceh Utara Lhokseumawe Aceh Timur Aceh Barat Nagan Raya Aceh Jaya Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya Singkil Jumlah Kerusakan Lahan Pertanian Kebun (Ha) Ladang (Ha) 180 115 5.611 4.316 13.400 1.859 4.704 5.256 2.118 2.750 597 1.224 1.037 2.119 60 880 4.167 1.174 800 3.122 1.600 1.755 6.480 3.128 3.410 7.904 110 2.750 250 1.365 4.788 20.101 36.803 31.345 Sawah (Ha) Keterangan:* Sebagian besar unggas Sumber : Tim Penanggulangan Bencana Nasional Departeman Pertanian (16 Februari 2005) Ternak Hilang * (ekor) 32.061 332.505 500.000 238.301 153.961 74.460 27.292 251.962 137.765 156.280 1.904.587 17 Selain kerusakan pada lahan pertanian, kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi, bangunan irigasi, saluran irigasi di tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usahatani. Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 36.803 Ha (Departemen Pertanian, 2005 dalam BAPPENAS, 2005) yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Berdasarkan wilayah administratif, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data mengenai persentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Kerusakan lahan akibat gempa dan tsunami menyebabkan masuknya air laut (salinitas) ke darat dan tebalnya sedimen yang diendapkan. Berdasarkan survei dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang dilakukan pada tanggal 11-14 Januari 2005, kerusakan berat di wilayah Aceh bagian barat adalah tingkat salinitas mencapai 40 kali tingkat yang dapat ditoleransi oleh tanaman. Pengaruh air laut masuk ke daratan sampai ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Hasil analisis laboratorium Departemen Pertanian terhadap beberapa contoh lumpur menunjukkan rata-rata Daya Hantar Listrik (DHL) adalah 30,7 dS/m dengan kisaran 11,5 sampai 48.9 dS/m, DHL untuk tanah permukaan rata-rata sebesar 4,8 dS/m dengan kisaran 0.3 sampai 8.4 dS/m. Umumnya tanaman semusim seperti jagung, kacang tanah, dan padi mulai terganggu pertumbuhannya pada DHL 4 dS/m. Kandungan garam pada contoh lumpur dan tanah juga cukup tinggi yaitu 2000-26900 ppm untuk lumpur dan 140 – 6000 ppm untuk tanah. Tingkat toleransi tanaman semusim terhadap kandungan garam-garam dalam tanah umumnya sekitar 2000ppm. Secara umum kerusakan lahan pertanian di pantai barat lebih berat dibandingkan pantai timur.Di pantai barat sedimen yang menutup lahan lebih tebal, umumnya >20 cm, dibandingkan dengan di pantai timur yang umumnya <20 cm. Lumpur tebal (>10 cm) umumnya dijumpai pada jarak 3 – 4 km dari pantai, makin dekat ke pantai ketebalan lumpur makin tipis dan teksturnya makin kasar. Lumpur ini berwarna abu-abu sampai hijau terang dan sangat keras ketika kering (Shofiyati, 2005) IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Kerangka Pendekatan Metodologi Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam tidak saja menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian. Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh peningkatan kadar garam (salinitas), sedimen lumpur laut, sampah dan puing-puing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan perubahan garis pantai yang terjadi di hampir seluruh kawasan pesisir yg terkena gelombang tsunami. Kerusakan lahan juga terjadi karena penimbunan dan pemadatan limbah tsunami yang terjadi dibeberapa lokasi. Bentuk kerusakan lahan lain terjadi akibat dari luapan air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Kerusakan lahan pertanian tersebut juga telah menyebabkan kegiatan usahatani masyarakat terhenti. Kerusakan lahan pertanian tersebut harus diupayakan perbaikan atau rehabilitasi dengan suatu perencanaan rehabilitasi yang baik dengan mengakomodir aspirasi masyarakat yang merupakan pihak yang sangat merasakan dampak dari kerusakan lahan pertanian tersebut. Perencanaan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pascatsunami harus didukung oleh data-data mengenai kondisi kerusakan lahan dan aspirasi masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah.Untuk mendapatkan data mengenai kondisi kerusakan lahan pertanian dilakukan pengamatan terhadap lahan pertanian yang rusak melalui pendekatan metode observasi yang dikeluarkan oleh FAO tahun 2005 dan untuk mendapatkan data karakteritik lahan dilakukan pengambilan contoh tanah yang selanjutnya dianalisis di dalam laboratorium untuk mendapatkan karakteristik sifat fisika dan kimia tanah. Data mengenai aspirasi dan pendapat masyarakat diperoleh melalui pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan kuesioner dan wawancara, hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan metode Kuantifikasi Hayashi II untuk mendapatkan hubungan antara karakteristik masyarakat dengan pendapat mereka akan rencana rehabilitasi lahan pertanian pascatsunami. Lebih jelas kerangka pendekatan kegiatan metodologi penelitian disajikan pada Gambar 2. 19 Gempa dan tsunami Lahan pertanian Lahan pertanian rusak - Sampah dan puing - Sedimentasi - Salinitas meningkat Bofisik - Perubahan struktur tanah - Perubahan sifat fisika -kimia tanah Rencana Rehabilitasi lahan Dukungan data kondisi lahan Data kondisi dan tingkat kerusakan lahan Data Tingkat kerusakan lahan Sosial ekonomi - Kehilangan kegiatan (pertanian) -Terhentinya perekonomian Dukungan data asipirasi dan pendapat masyarakat Aspirasi dan pendapat masyarakat Rehabilitasi lahan berdasarkan kondisi kerusakan lahan dan parsitpasi masyarakat Data Karakteristik Lahan yang rusak Data Aspirasi dan pendapat Analisis Hayashi II Tabel Observasi FAO (2005) Analisis Laboratorium contoh tanah - Aspirasi dan pendapat Masyarakat - Karakteristik masyarakat Wawancara dan keusioner Lahan pertanian dapat digunakan kembali untuk usaha pertanian Gambar 2. Kerangka pendekatan metodologi 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lho’nga, Kabupaten Aceh Besar , Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Desa yang dipilih adalah Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah Manyang. Pemilihan kedua desa tersebut dengan pertimbangan bahwa keduanya merupakan desa yang letaknya dekat dengan pantai dan memiliki lahan pertanian. Penelitian dilakukan selama tujuh bulan, dimulai dari bulan Mei hingga Desember 2005. Adapun peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 3. 20 PETA ADMINISTRASI KECAMATAN ACEH BESAR 95°00' 95 95°10' 95°20' 95°30' 95°40' LEGENDA 95°50' 5°30' 5°30' 5°40' 5°40' Darul Imarah Darussalam Indrapuri Ingin Jaya Ku ta Baro Lhoknga Leupung Lhoong Mesjid Raya Montasik Peukan Bada Pulo Aceh Seulimeum Sukanakmur Jalan Sungai Lokasi Penelitian Aceh Besar N 5°20' 5°20' W E Scala 1 : 500.000 5°10' 5°10' S PK-UNAYA 2003 10 0 10 20 Kilometers 95 95°00' 95°10' 95°20' 95°30' 95°40' 95°50' Gambar 3. Peta lokasi penelitian 4.3. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah contoh tanah, bahan-bahan kimia yang digunakan dalam analisis contoh tanah di laboratorium, peta rupa bumi skala 1:50.000 (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional,1984), peta tanah skala 1:250.000 (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1990) Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat untuk analisis di laboratorium, bor tanah, ring sampel, cangkul, meteran, plastik sampel, alat tulis dan alat dokumentasi. 4.4. Analisis Kerusakan Lahan Hubungan antara tujuan 1 penelitian, analisis data, data yang diperlukan, sumber data dan output yang diharapkan dari analisis terhadap kerusakan lahan dapat dilihat pada Tabel 2 . 21 Tabel 2. Hubungan tujuan 1 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis kerusakan lahan Tujuan nomor 1 Tujuan penelitian Data yang diperlukan dan Sumber data Metode Analisis Data Primer Data sekunder Melakukan identifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan Survai dan pengambilan contoh tanah pada tiap transek meliputi data fisik dan kimia tanah serta pengamatan terhadap vegetasi yang ada di lokasi penelitian Data kondisi wilayah sebelum tsunami, curah hujan, dan petapeta yang menyangkut lokasi penelitian Analisis deskriptif yang didasari pada Framework for Soil Reclamation and Restrart Cultivation dari FAO tahun 2005 Hasil yang diharapkan Gambaran kondisi lahan dan karakteristik lahan berdasarkan klasifikasi kerusakan dilihat berdasarkan jarak dari garis pantai 4.4.1. Penentuan Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Contoh Penentuan lokasi pengamatan dilakukan secara sengaja dengan ketentuan desa yang dipilih merupakan desa yang mempunyai lahan pertanian dekat dengan garis pantai. Pengambilan contoh tanah dengan menggunakan metode jalur. Pada pada tiap desa terpilih dibuat dua jalur dengan garis pantai sebagai base line selanjutnya contoh tanah diambil dalam jalur sampai dengan dengan jarak 1250 meter dari garis pantai, interval jarak tiap titik pengamatan sepanjang 250 meter, sehingga terdapat 20 titik pengamatan dari kedua desa terpilih. Skema pengambilan contoh tanah seperti pada Gambar 4. Pada setiap titik pengamatan tanah juga dibuat plot pengamatan untuk vegetasi dengan ukuran plot 10 m x 10 m. Setiap tanaman yang ditemui tumbuh pada tiap titik pengamatan tersebut dicatat jenis dan jumlahnya. 4.4.2. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari 20 titik pengamatan di dua desa yang terpilih. Contoh tanah diambil di masing-masing titik pengamatan dalam jalur pada tiap desa. Contoh tanah yang diambil merupakan tanah asli di bawah sedimen yang menutupi lahan pertanian dengan kedalaman 20 cm. Adapun data yang dikumpulkan meliputi sifat fisik tanah : tekstur, permeabilitas, puing dan sampah yang menutupi lahan, dan genangan air di permukaan. Data sifat kimia tanah meliputi : pH, salinitas, N, P, K, C-organik KTK . Data vegetasi meliputi jenis dan jumlah vegetasi yang tumbuh pada lahan yang rusak akibat gelombang tsunami pada tiap titik pengamatan. 22 Data didapat dari pengamatan di lapangan dan analisis laboratorium. Jenis data dan metode pengumpulan data tertera pada Tabel 3. Data sekunder didapatkan dari instansi terkait. Gambar 4. Skema Pengambilan Contoh Tanah Tabel 3.Jenis data dan metode pengumpulan data di lapangan Jenis Data • • • • • • • • • • • • • • • Metode Pengambilan dan Sumber Data 1. Data primer di lapangan Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Tekstur Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Permeabilitas Pengamatan dilapangan Batuan dipermukaan Pengamatan dilapangan Puing dan sampah Pengamatan dilapangan Genangan air dipermukaan Pengambilan contoh tanah (analisis lab) pH Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Salinitas Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Bahan Organik Pengamatan dilapangan Penutupan Vegetasi Pengamatan lapangan dan wawancara Pendapat masyarakat 2. Data Sekunder Hasil PUSLITANAK (1990) Peta tanah 1:250.000 BAKOSURTANAL (1984) Peta rupa bumi 1:50.000 Stasiun klimatologi Indarapuri aceh Besar Data curah hujan Laporan penelitian dan pustaka Hasil penelitian sebelumnya Instansi terkait Data kondisi dearah penelitian 23 4.4.3. Analisis Data Secara umum analisis data untuk identifikasi kerusakan lahan dan pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami terdiri atas ; (1) Analisis deskriptif dan tabulasi data dari hasil survei dan pengamatan, (2) Analisis terhadap vegetasi yang tumbuh pada lokasi penelitian sepanjang transek yang diamati, (3) Analisis terhadap pendapat masyarakat. 1. Analisis karakteristik lahan dilakukan dengan membuat tabel secara sederhana hasil analisis laboratorium contoh tanah. Identifikasi kerusakan lahan dilakukan dengan menggunakan Framework for Soil Reclamation and Restart Cultivation dari FAO tahun 2005. Adapun jenis kerusakan dan tingkat kerusakan untuk observasi tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Tabel Observasi untuk Kerusakan Lahan di Kecamatan Lho’nga Kerusakan Rendah Sedang Tinggi Puing dan sampah 1 2 3 Erosi 1 4 6 Sedimentasi 1 4 6 Lama genangan 1 4 6 Infiltrasi 1 2 3 Jumlah Antara 5 dan 24 Ranking 1. Rendah 2. Sedang 3. Banyak 1. Erosi rendah 4. Erosi sedang 6. Erosi tinggi 1. <4 cm 4. 4 - 10 cm 6. > 10 cm 1. < 4 hari 4. 4 - 5 hari 6. 6 > hari 1. Lambat 2. Sedang 3. Cepat < 8 = kerusakan rendah 8 -16 = kerusakan sedang > 16 = kerusakan tinggi Sumber: FAO (2005b) dimodifikasi Adapun indikator pengamatan di lapangan untuk masing-masing tingkat kerusakan adalah sebagai berikut : Puing dan sampah ; Rendah (sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian 0-10% dari luas lahan), Sedang (sampah dan puing yang menutupi lahan 24 pertanian 10-50 % dari luas lahan), Banyak (sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian >50 % dari luas lahan). Erosi ; Erosi rendah (erosi permukaan yang terjadi pada lahan < 15 % dari luas lahan), Erosi sedang (erosi permukaan yang terjadi pada lahan 15 – 30 % Dari luas lahan), Erosi tinggi (erosi permukaan yang terjadi pada lahan > 30 % dari luas lahan). Sedimentasi ; < 4 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan < 4cm), 4-10 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan antara 4-10 cm), > 10 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan > 10cm). Lama genangan ; 4 hari ( jika dengan yang terjadi kurang dari 4 hari), 4-5 hari (jika genagan yang terjadi antara 4-5 hari), >6 hari ( jika genagan yang terjadi pada lahan > 6 hari) Infiltrasi ; Penetapan laju infiltrasi didasarkan pada hasil uji laboratorium terhadap permeabilitas dari contoh tanah yang diambil. Selanjutnya berdasarkan jumlah skor, lahan diklasifikasikan ke dalam empat kelas yaitu : 1. Kelas A (kerusakan rendah) skor <8 2. Kelas B (kerusakan sedang) skor 8-16 3. Kelas C (kerusakan tinggi) skor >16, dan 4. Kelas D (hilang) lahan tergenang. 2. Analisis terhadap vegetasi dilakukan dengan membuat tabel pengamatan terhadap jenis dan jumlah vegetasi yang ditemui pada setiap titik pengamatan yang telah ditentukan pada tiap transek. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan gambaran tentang jenis dan jumlah vegetasi yang tumbuh atau bertahan pada lahan yang rusak akibat tsunami. 4.5. Analisis Pendapat Masyarakat Hubungan antara tujuan 2 dan 3 penelitian, analisis data, data yang diperlukan, sumber data dan output yang diharapkan dapat dilihat pada Tabel 5. 25 Tabel 5. Hubungan tujuan penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis pendapat masyarakat Tujuan nomor 2 3 Tujuan penelitian Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa akan datang. Mempelajari pendapat/tangga pan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Data yang diperlukan dan Sumber data Data Primer Survai dan wawancara mengenai karakteristik responden, dan pendapat responden terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa akan datang. Metode Analisis Data sekunder Data mengenai kependudukan Analisis Kuantifikasi Hayashi II dan analisis korelasi Survai dan wawancara Data mengenai mengenai karakteristik kependudukan responden, dan tanggapan responden terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanain pasca tsunami Analisis Kuantifikasi Hayashi II dan analisis korelasi Hasil yang diharapkan Mengetahui aspirasi masyarakat terhadap pilihan kegiatan usaha mereka di masa akan datang Mengetahui pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami 4.5.1. Pene ntuan Responden Penentuan responden menggunakan metode stratified simple random sampling dimana strata adalah masyarakat yang mempunyai kegiatan usahatani selanjutnya dari strata tersebut dipilih sebanyak 15 orang sebagai responden, sehingga jumlah responden adalah 30 orang dari dua strata yang berusahatani di dua desa. Responden merupakan penduduk yang sudah dewasa yaitu penduduk yang telah matang dalam pengambilan keputusan dan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Penentuan jumlah ini didasari pada ketentuan bahwa 30 responden sudah cukup untuk mewakili populasi yang ada, dimana sampai pada saat penelitian dilakukan jumlah keseluruhan penduduk dilokasi penelitian belum ada data yang pasti. Menurut Mantra dan Kasto (1989) ; Effendi dan Singarimbun (1995) ; Sugiarto,et al. (2001), pada umumnya jumlah sampel yang harus diambil untuk tahap awal ataupun untuk penelitian pemula sekitar 10 persen dari total individu populasi yang diteliti. Bilamana sampel sebesar 10 persen dari populasi masih dianggap besar (lebih dari 30) maka alternatif yang biasa digunakan adalah mengambil sampel sejumlah 30 unit. Data responden diambil untuk analisis pendapat masyarakat. 26 4.5.2. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi : umur, pekerjaan, pendidikan, lama tinggal, pendapat masyarakat terhadap usahatani dan pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Responden yang diambil merupakan penduduk yang mempunyai usahatani dilokasi penelitian yaitu setiap desa berjumlah 15 orang. Data primer didapatkan melalui wawancara pada responden yang memiliki kegiatan usahatani dengan menggunakan kuesioner. 4.5.3. Analisis Data Pendapat masyarakat dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi dan skoring terhadap data-data karakteristik responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan tindakan mereka terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Untuk mengkaji faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian digunakan analisis Kuantifikasi Hayashi II. Analisis ini menggunakan software QB45. Data variabel penjelas (Explanatory Variable), adalah faktor umur, pendidikan, pekerjaan utama, lama tinggal, pendapatan dan pendapat masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan pertanian yang dihubungkan dengan variabel tujuan (Objective Variable) yaitu pendapat masyarakat mengenai kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanian dan kegiatan usahatani pasca tsunami. Variabel bersifat pengelompokan (Grouping Variable) dan mempunyai nilai kualitatif (Saefulhakim, 2003) Model matematis dari analisis ini adalah : Y=f (X1,X2,X3,..................Xn) Keterangan : Y = Variabel tujuan (pendapat tentang rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami) X1,X2,X3,.....Xn = Variabel penjelas (umur , pendidikan, pendapatan, lama tinggal, dan pendapat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami) Selanjutnya, hasil pendugaan parameter koefisien keterkaitan akan didapat korelasi parsial yang kemudian akan dibandingkan dengan nilai tengah dari t student dengan selang kepercayaann 95% pada derajat bebas (df) tertentu. Untuk 27 mendeskripsikan hubungan antara faktor karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat digunakan analisis korelasi dengan tingkat kepercayaan 95% (a = 0,05). Analisis ini menggunakan program SPSS versi 11,5. V. KEADAAN LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Secara geografis daerah penelitian terletak pada 05020’ -050 30’ Lintang Utara dan 95010’-95 020’ Bujur Timur. Daerah peneltian secara administratif terletak di Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kecamatan Lho’nga yang berbatasan dengan Kecamatan Peukan Bada di sebelah Selatan. Posisi geografisnya yang berada di pesisir pantai barat Aceh menyebabkan Kecamatan Lhoknga merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah pada saat terjadi bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu. Dari ibukota provinsi berjarak 17 km ke arah Barat Daya, dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama 30 menit melalui jalan negara Banda Aceh –Meulaboh. Kecamatan Lho’nga terdiri dari 25 desa/kelurahan yaitu Kelurahan Mon Ikeun, Weuraya, Lam Kruet, Lampaya, Lamgaboh, Aneuk Paya, Lambaro Kueh, Naga Umbang, Lam Ateuk, Kueh, Tanjong, Nusa, Seubun Keutapang, Seubun Ayon, Lambaro Seubun, Meunasah Betung, Meunasah Mesjid, Meunasah Karieng, Meunasah Baro, Meunasah Mayang, Desa Meunasah Mon Cut, Desa Meunasah Lamgirek, Desa Meunasah Mesjid, Desa Meunasah Bale dan Desa Meunasah Lambaro. Lokasi penelitian dipilih dua desa untuk mewakili kondisi lahan pertanian yang rusak yaitu Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah Manyang. Secara keseluruhan kerusakan sarana umum di Kecamatan Lho,nga mencapai 70%. Dampak tsunami mengakibatkan terjadinya pengurangan wilayah daratan di kecamatan ini, beberapa area yang dulunya merupakan daratan sekarang telah menjadi lautan. 5.2. Kondisi Iklim Kondisi iklim khususnya curah hujan tahunan pada lokasi penelitian berkisar dari 1500 – 2000 mm/th dengan suhu rata-rata harian ± 29 oC. Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson lokasi penelitian termasuk ke dalam tipe iklim B. Hasil pencatatan stasiun klimatologi Indrapuri Kabupaten Aceh Besar menunjukkan rata-rata curah hujan selama lima tahun (1994-1998) sebesar 1431,7 mm per tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 135 hari hujan per 29 tahunnya. Sementara itu rata-rata curah hujan tahunan untuk Banda aceh dan Aceh Besar periode Januari - Desember tahun 2005 dari beberapa stasiun pengamatan cuaca sebesar 1828,08 mm (Lampiran 4). 5.3. Geologi dan Topografi Secara keseluruhan geologi wilayah penelitian termasuk bentang lahan pantai, didominasi oleh jenis batuan boulder sandstone, limestone, arenite sandstone, dan basalt. Keadaan topografi daerah penelitian pada umumnya datar dan berlereng curam (0%- 55%) dengan ketinggian 0 – 500 m dpl. Sebagian lahannya merupakan dataran rendah dengan rawa-rawa. Berdasarkan pengamatan, daerah tersebut sebelum tsunami merupakan pemukiman padat penduduk dengan jarak antara daerah pemukiman dengan garis pantai cukup dekat. 5.4. Jenis Tanah Berdasarkan peta satuan lahan dan tanah tahun 1990 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat diketahui bahwa jenis tanah yang dominan menyebar di Kecamatan Lho’nga berdasarkan klasifikasi USDA tergolong dalam Hydraquents dan Entropepts. Geomorfologi daerah tersebut menggambarkan wilayah pantai yang dikelilingi perbukitan. Jenis tanah adalah aluvial (Entisol) yang merupakan bahan sedimen dari hasil pelapukan tanah-tanah pegunungan. Sifat fisik tanah khususnya sebaran ukuran butir didominasi fraksi debu dan pasir. Daerah ini, dahulunya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan tambak rakyat. 5.5. Kependudukan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar tahun 2003 penduduk yang ada di Kecamatan Lho’nga adalah 16.070 jiwa terdiri dari 8.094 jiwa laki-laki dan 7.976 jiwa perempuan. Sebaran penduduk dalam Kecamatan Lho’nga tahun 2003 disajikan pada Tabel 6. Pada saat bencana diperkirakan sekitar 39% penduduk meninggal, penduduk yang hilang sekitar 1%, sehingga saat ini jumlah penduduk yang tersisa adalah 60% atau sekitar 9.642 jiwa. Sebagian besar dari penduduk yang tersisa sekarang ini tinggal di barak pengungsian yang dibangun di beberapa lokasi yang berada di Kecamatan Lho’nga. 30 Tabel 6. Jumlah penduduk di Kecamatan Lho’nga tahun 2003 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Desa Mon Ikeun Naga Umbang Lambaro Kueh Lam Ateuk Aneuk Paya Lampaya Lamkruet Weuraya Meunasah Lambaro Meunasah Moncut Meunasah Manyang Meunasah Karieng Lamgaboh Tanjong/Lancok Kueh Nusa Seubun Keutapang Seubon Ayon Lambaro Seubon Meunasah Mesjid Lamlhom Meunasah Baro Meunasah Mesjid Lampuuk Meunasah Balee Meunasah Lamgirek Jumlah Penduduk (jiwa) Laki-Laki Perempuan 1035 133 236 193 288 573 518 535 438 123 185 273 306 435 195 328 172 178 170 201 136 631 512 82 25. Meunasah Beutong 218 Sumber : Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar (2003 ) Jumlah 1056 126 206 213 270 559 536 549 441 133 173 294 316 410 97 348 147 147 172 210 154 639 484 73 2091 259 442 406 558 1132 1054 1084 879 256 358 567 622 845 292 676 319 325 342 411 290 1270 996 155 223 441 5.6. Mata Pencaharian Pada umumnya masyarakat dalam Kecamatan Lho’nga memiliki mata pencaharian yang beragam, namun sebagian besar bekerja pada sektor pertanian dengan sub sektor padi dan palawija. Masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian pada umumnya berusaha mencari alternatif sebagai pekerja penjual jasa dan perdagangan. Berdasarkan buku statistik Aceh Besar dalam angka tahun 2003, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Besar 242.240 jiwa. Sebagian besar bermata pencaharian petani (89,4%), dan sisanya sebagai pedagang (5,8%), pegawai negeri (2,4%) dan buruh (2,4%). Lima bulan pasca bencana tsunami kegiatan masyarakat berangsur normal. Kantor Kecamatan di Lho’nga sudah mulai berfungsi dan beraktivitas kembali. Sebagian besar masyarakat terlihat mulai kembali membangun hunian layak tinggal diatas reruntuhan rumah milik mereka sebelum tsunami. Aktivitas 31 perekonomian masyarakat secara perlahan telah berjalan, kios-kios kecil yang menjual perlengkapan hidup sehari-hari telah mulai beroperasi. 5.7. Pendidikan dan Tingkat Pendidikan Keberadaan sarana pendidikan di wilayah kecamatan Lho’nga masih dirasakan kurang terutama di desa yang menjadi lokasi penelitian. Tidak terdapat satu pun sarana pendidikan berupa sekolah dari semua tingkatan di desa yang menjadi lokasi penelitian. Jarak sekolah dasar terdekat sekitar 1 km dari desa dan sekolah SLTP dan SMU terdekat berjarak 4-5 km dari desa. ( Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar, 2003). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar (2003) umumnya tingkat pendidikan masyarakat di lokasi penelitian masih rendah. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di lokasi penelitian berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat. VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Kerusakan Lahan Pertanian 6.1.1. Kondisi Kerusakan Lahan Pertanian Kondisi lahan pada suatu wilayah menggambarkan keadaan bentuk lahan di wilayah tersebut. Kerusakan lahan terutama lahan pertanian akan mempengaruhi kehidupan di atasnya terutama masyarakat yang menjadikan lahan tersebut sebagai sumber mata pencaharian berupa usahatani. Kondisi kerusakan lahan pertanian pada beberapa titik pengamatan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. a. Jarak 750 meter b. Jarak 1000 meter c. Jarak 1250 meter Gambar 5.Kondisi kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Hasil pengamatan terhadap kriteria kerusakan berdasarkan tabel observasi FAO tahun 2005 disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil rata-rata pengamatan kerusakan lahan pertanian dengan metode FAO tahun 2005 Jarak dari pantai Indikator Kerusakan Puing dan sampah Erosi 250 m 1,00 1,00 500 m 1,50 2,50 750 m 2,00 1,00 1000 m 1,25 1,00 1250 m 1,50 1,00 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Sedimen Lama genangan Infiltrasi 2,25 3,75 6,00 5,00 4,50 3,25 3,75 4,50 2,50 4,00 2,25 2,00 2,00 2,00 1,75 Skor Kelas Kategori 9,75 13,50 15,50 11,75 12,75 B B B B B Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Dari Tabel 7 menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian dari jarak 250 meter sampai dengan jarak 1250 meter dari pantai dikategorikan kerusakan sedang dengan kelas B. Kerusakan yang besar berada pada jarak 750 meter dari pantai dengan nilai skor kerusakan 15,50. Secara detail data sifat fisik dan kimia tanah di lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1. Indikator 33 kerusakan tertinggi adalah berupa sedimen. Sedimentasi yang ditemukan pada lokasi penelitian bukanlah lumpur tetapi berupa sedimen pasir laut, dengan ketebalan bervariasi dari 5 cm sampai dengan 27 cm seperti terlihat pada Gambar 6. Gambar 6. Ketebalan sedimen pasir di Kecamatan Lho’nga (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Ketebalan sedimen pasir pada tiap jarak pengamatan dari pantai dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil pengamatan ketebalan sedimen pasir di dua desa di Kecamatan Lho’nga menurut jaraknya dari garis pantai. Jalur Desa Meunasah Baro I II Meunasah Manyang I II Sumber: Data primer (diolah) (2005) Ketebalan Sedimen Pasir (Cm) 250 m 500 m 750 m 1000 m 1250 m 5 5 12 15 13 12 27 23 25 22 15 25 15 21 8 15 8 16 4 7 Tabel 8 menunjukkan bahwa ketebalan sedimen pasir meningkat ke arah daratan sampai dengan jarak 750 meter dan selanjutnya pada jarak 1000 meter dan 1250 meter mulai menurun. Hal ini dikarenakan lahan pada jarak 750 meter lebih cekung sehingga sedimen pasir lebih banyak mengendap dan juga genangan air lebih lama terjadi pada jarak 750 meter ini. Sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian di lokasi penelitian berdasarkan hasil pengamatan dikategorikan rendah sampai sedang dan tersebar (Tabel 7). Kurangnya sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian pada semua jarak dikarenakan sampah dan puing dari tsunami tersebut sudah dibersihkan oleh masyarakat melalui kegiatan cash for work (padat karya) pada masa tiga bulan pasca tsunami. Secara keseluruhan lahan-lahan ini masih dapat digunakan sebagai lahan pertanian asalkan didahului dengan kegiatan 34 rehabilitasi lahan-lahan tersebut melalui pembersihan sedimen pasir sehingga kelas kerusakan B dapat diturunkan. Penutupan lahan oleh vegetasi tanaman pada lahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami di lokasi penelitian di dominasi oleh vegetasi rumput-rumputan (Gambar 7a), kelapa (Cocos nucifera L) dan tanaman bili (Fimbristylus sp) (Gambar 7b). Selain itu, lahan pertanian tersebut ditumbuhi oleh tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) (Gambar 7c). (a) (b) (c) Gambar 7. Vegetasi penutup lahan di lokasi penelitian (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa kerapatan tertinggi tanaman yang tumbuh adalah tanaman rumputan dan tanaman bili (Fimbristylus sp). Hasil analisis vegatasi tanaman pentupan lahan pertanian seperti ditunjukkan pada Tabel 9. Dari Tabel 9 terlihat bahwa pada semua jarak dari garis pantai ditemui jenis tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) dan rumput- rumputan (Grass) dimana rumputan mempunyai Indek Nilai Penting (INP) yang besar pada setiap jarak pengamatan kecuali pada jarak 750 meter,. Pada jarak 750 meter dan 1000 meter INP tertinggi adalah pada jenis tanaman bili (Fimbristylus sp) dengan nilai INP sebesar 69,54 %. Hal ini diduga karena kondisi lahan pada jarak 750 meter dan 1000 meter lebih cekung sehingga genangan air lebih lama yang menyebabkan tanaman bili ini lebih sesuai hidup pada kondisi lahan yang tergenang air. Sedangkan tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) ditemui pada setiap titik pengamatan dikarenakan lahan pertanian ditutupi oleh sedimen pasir dimana tanaman ini hidup pada habitat berpasir dan merupakan tanaman dari formasi pantai. 35 Tabel 9. Hasil analisis vegetasi pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Jlh plot K ditemukan F FR (%) KR (%) jenis Kelapa Cocos nucifera 19 2 0,10 22,22 167 3,48 Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 33,33 1.375 28,70 250 meter Rumput Grass 23 2 0,10 22,22 2.875 60,00 Biduri Calotropis gigantea 3 2 0,10 22,22 375 7,83 500 meter Rumput Grass 59 4 0,20 50,00 7.375 80,82 Tapak kuda Ipomea prescapre 14 4 0,20 50,00 1.750 19,18 Rumput Grass 34 3 0,15 25,00 4.250 13,03 750 meter Tapak kuda Ipomea prescapre 28 4 0,20 33,33 3.500 10,73 Btg obor ? 61 3 0,15 25,00 7.625 23,37 Bili Fimbristylus sp 138 2 0,10 16,67 17.250 52,87 Rumput Grass 46 4 0,20 40,00 5.750 14,51 1000 meter Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 30,00 1.375 3,47 Btg obor ? 120 1 0,05 10,00 15.000 37,85 Bili Fimbristylus sp 140 2 0,10 20,00 17.500 44,16 1250 meter Rumput Grass 72 4 0,20 57,14 9.000 86,75 Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 42,86 1.375 13,25 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Keterangan : Jumlah jalur = 4, Jumlah plot dalam jalur = 5, Jumlah seluruh plot = 20 Luas plot I = 0,2 Ha (10 m x 10 m), Luas plot II = 0,008 Ha ( 2 m x 2 m ) F=frekuensi, FR=Frekuensi Relatif, K=Kerapatan, KR=Kerapatan Relatif, INP= Indek Nilai Penting Jarak Dari pantai 6.1.2. Jenis Nama Ilmiah Jlh INP(%) 25,70 62,03 82,22 30,05 130,82 69,18 38,03 44,06 48,37 69,54 54,51 33,47 47,85 64,16 143,89 56,11 Karakteristik Lahan Pertanian yang Rusak Karakteristik lahan di suatu wilayah dapat berfungsi sebagai indikator kondisi lahan yang rusak di wilayah tersebut. Data sifat kimia dan fisika tanah dari hasil analisis laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Lampiran 2) dan dideskripsikan berdasarkan Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah (Balai Penelitian Tanah, 2004) serta Kriteria Penilaian Data Analisis Tanah (Sufardi , 2002) seperti disajikan pada Lampiran 3. Adapun hasil analisis sifat kimia dan fisika tanah pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 10 dan Tabel 11 serta Lampiran 1. Tingkat kegaraman tanah yang ditandai dengan nilai Daya Hantar Listrik (DHL) bernilai sangat rendah sampai rendah (0,34 mS/cm – 3,40 mS/cm) berfluktuatif dan cenderung sedikit meningkat ke arah daratan (Tabel 12). Daya Hantar Listrik paling tinggi ditemui pada jarak 1250 meter dari pantai. Nilai DHL ini telah memungkinkan untuk pertumbuhan kembali tanaman dimana tanaman mempunyai toleransi terhadap salinitas berkisar antara 2 mS/cm sampai dengan 4 mS/cm. Analisis lapangan sebelumnya (sekitar bulan Januari dan Maret 2005) di Banda Aceh dan sekitarnya menunjukkan nilai yang sebaliknya yakni nilai DHL yang sangat tinggi yang mencapai lebih besar dari 100 mS/cm (Subagyono, et al., 2005). Perbedaan nilai DHL dengan penelitian sebelumnya secara tajam sangat dimungkinkan oleh proses pencucian secara alamiah air hujan yang cukup tinggi 36 serta kondisi tanah yang tidak mempunyai daya pegang yang kuat sehingga proses pencuciannya sangat efektif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh WALHI (2005) menunjukkan nilai DHL pada daerah dalam Kecamatan Lho’nga berkisar antara 0,677 mS/cm sampai dengan 0,993 mS/cm. Hal ini juga dikarenakan bahwa endapan yang terjadi pada lahan pertanian di lokasi penelitian bukanlah lumpur (endapan liat dan debu), tetapi pasir laut sehingga garam yang terkandung di dalam tanah lebih mudah tercuci oleh hujan. Nilai salinitas yang lebih besar dari 8 mS/cm tidak sesuai untuk tanaman padi sawah, tetapi masih sesuai untuk komoditi kelapa. Tanaman kelapa mempunyai kisaran toleransi salinitas antara 2 -8 mS/cm. Tabel 10. Data hasil analisis sifat kimia tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Desa Jalur Meunasah Baro I II Meunasah Manyang I II Jarak dari pH DHL C-Organik Pantai (1:2,5) (mS/cm) (%) 250 m 7,85 0,49 1,23 500 m 8,53 0,88 2,46 750 m 8,05 0,34 1,80 1000 m 8,64 2,75 0,25 0,88 2,62 1250 m 7,97 250 m 8,42 0,39 1,88 500 m 8,52 0,65 1,60 750 m 8,21 1,79 1,82 1000 m 8,39 0,68 1,23 1250 m 8,15 2,83 1,25 250 m 8,03 0,36 2,05 500 m 8,25 0,40 2,11 750 m 8,17 1,60 2,15 1000 m 8,15 1,20 0,98 3,00 0,80 1250 m 8,25 250 m 8,10 0,40 1,88 500 m 7,22 0,80 1,85 750 m 8,23 1,00 1,80 1000 m 8,31 3,40 1,88 3,00 1,64 1250 m 8,50 N (%) 0,11 0,29 0,11 0,30 0,28 0,10 0,10 0,12 0,10 0,26 0,17 0,10 0,15 0,28 0,21 0,18 0,22 0,13 0,10 0,17 P (ppm) 0,36 1,01 0,19 0,86 0,86 0,25 0,53 0,96 1,01 0,36 1,10 3,60 0,34 0,29 0,38 0,77 0,67 0,82 0,41 1,32 K (me/100 g) 0,13 0,17 0,12 0,38 0,13 0,18 0,17 0,12 0,14 0,33 0,12 0,16 0,18 0,17 0,30 0,13 0,15 0,16 0,16 0,25 KTK (me/100 g) 11,79 12,10 13,49 11,25 11,80 10,12 13,50 13,49 12,20 11,80 12,54 13,52 11,25 12,34 10,21 10,25 15,31 12,43 11,56 13,22 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Air laut bukanlah masalah yang sesungguhnya yang memberikan tingkat salinitas terhadap lahan, tetapi masalah yang sesungguhnya adalah endapan liat dan debu. Endapan ini mengandung residu garam yang tinggi. Air laut memang membawa sejumlah garam ke daratan tetapi hal ini dapat dengan segera tercuci oleh hujan yang tinggi dan sering terjadi. (FAO,2005 c) Derajat keasaman (pH) tanah umumnya berkisar antara netral sampai agak alkalis, nilai pH dapat berpengaruh dalam dinamika unsur di dalam tanah. pH tinggi menyebabkan ketersediaan unsur hara makro lebih tinggi dan 37 ketersediaan unsur hara mikro lebih rendah. Jika pH rendah berlaku sebaliknya, ketersediaan unsur hara makro pada umumnya menurun dan unsur hara mikro tersedia berlebihan sehingga dapat meracuni tanaman. Tabel 11. Data hasil analisis sifat fisik tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Jarak dari Jalur Pantai Meunasah 250 m Baro 500 m I 750 m 1000 m 1250 m 250 m 500 m II 750 m 1000 m 1250 m Meunasah 250 m Manyang 500 m I 750 m 1000 m 1250 m 250 m 500 m II 750 m 1000 m 1250 m Desa Persentase Fraksi Pasir Debu Liat 84 5 11 36 32 32 27 31 42 75 5 20 56 11 33 72 9 19 79 11 10 79 11 10 80 10 10 69 21 10 80 10 10 75 20 20 68 11 11 71 10 19 60 20 20 68 21 11 73 18 9 72 9 19 68 10 21 59 6 35 Kelas Tekstur Pasir berlempung Lempung berliat Lempung berliat Lempung liat berpasir Lempung liat berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Pasir berlempung lempung liat berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasir Lempung liat berpasir Permeabilitas Nilai (Cm/jam) Kriteria 17,1 Cepat 1,3 Agak Lambat 1,7 Agak Lambat 1,9 Agak Lambat 1,8 Agak Lambat 9,4 Agak Cepat 2,6 Sedang 3,1 Sedang 16,4 Cepat 4,5 Sedang 12,8 Cepat 2,1 Sedang 5,8 Sedang 4,8 Sedang 8,9 Agak Cepat 12,8 Agak Cepat 23,2 Cepat 9,0 Agak Cepat 3,5 Sedang 3,5 Sedang Sumber: Data primer (diolah) (2005) Rata-rata karakteristik sifat kimia tanah berdasarkan jarak pengamatan dari pantai dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil rata-rata sifat kimia tanah berdasarkan jarak dari pantai di dua desa di Kecamatan Lho’nga Titik Pengamatan 250 m 500 m 750 m 1000 m 1250 m pH (1:2,5) 8,11 8,14 8,17 8,38 8,22 DHL (mS/cm) 0,40 0,71 1,19 2,01 2,43 C-Organik (%) 1,77 2,14 1,98 1,09 1,58 N (%) 0,15 0,18 0,13 0,20 0,23 P K KTK (ppm) (me/100 g) (me/100 g) 0,63 0,13 11,18 1,46 0,17 13,61 0,58 0,15 12,67 0,65 0,22 11,84 0,74 0,26 11,76 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Tabel 12 menunjukkan nilai pH yang cenderung meningkat ke arah daratan. Nilai pH tertinggi dijumpai pada jarak pengamatan 1000 meter dari pantai, nilai pH ini masih sesuai untuk pertanian padi sawah. Tingginya pH pada semua jarak pengamatan diduga karena tinggi kandungan Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang berasal dari pelapukan batuan kapur yang mendominasi 38 daerah penelitian. Dugaan ini dibuat dikarenakan keterbatasan penelitian ini dalam melakukan analisis terhadap kandungan kegaraman tanah (Ca, Mg, dan Na) sehingga kandungan Ca dan Mg merujuk pada hasil penelitian WALHI (2005) pada kecamatan yang sama dengan penelitian ini. Hasil penelitian WALHI (2005) menunjukkan kandungan Ca dalam tanah di Kecamatan Lho’nga berkisar antara 11,56 me/100 gr sampai dengan 15,41 me/100 gr dan kandungan Mg berkisar antara 4,95 me/100 gr sampai dengan 15,21 me/100 gr. Kapasitas Tukar Kation (KTK) umumnya rendah pada tiap jarak pengamatan dari garis pantai, nilainya berkisar antara 11,18 me/100 gr sampai 13,61 me/100 gr. Nilai KTK berfluktuatif, mempunyai kecenderungan sedikit meningkat, lalu sedikit menurun ke arah daratan. Nilai KTK yang rendah umumnya disebabkan oleh kadar liat (clay) dan bahan organik yang rendah. Hal ini selaras dengan sifat tekstur (halus-kasarnya tanah) yang umumnya bertekstur kasar atau didominasi pasir (sand). Nilai KTK meningkat pada jarak 500 meter dari pantai dan mulai menurun pada jarak 750 meter sampai jarak 1250 meter dari pantai. Pada jarak 500 meter KTK tinggi diduga karena tekstur tanah pada jarak 500 meter didominasi oleh pasir dan debu (lempung berpasir) . Makin tinggi kadar liat (clay) dan kadar bahan organik akan menjadikan KTK semakin tinggi, hal ini berkaitan dengan jumlah tapak jerapan terhadap kation-kation yang makin banyak (Notohadiprawiro, 1999). Tingkat persentase fraksi pasir pada umumnya menurun ke arah daratan, persentase tertinggi umunya dijumpai pada jarak 250 meter. Hal ini dikarenakan jarak ini merupakan jarak yang paling dekat pantai, namun demikian, terdapat kekecualian dimana pada jarak 1000 meter persentase fraksi pasir kembali meningkat (73.5%). Hal ini dikarenakan pasir mengendap lebih banyak karena kondisi lahan yang lebih cekung. Kondisi persentase fraksi ini mempengaruhi tingkat permeabilitas tanah yang cenderung menurun ke arah daratan karena kandungan fraksi pasirnya menurun dan fraksi liatnya semakin meningkat. 6.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian 6.2.1. Karakteristik Masyarakat Masyarakat desa yang menjadi responden dalam penelitian ini berasal dari dua desa dalam kecamatan Lho’nga yaitu Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah yang terdiri dari 19 orang laki-laki (63,3%) dan 11 perempuan (36, 39 7%). Tingkat pendidikan responden pada umumnya masih rendah. Hal ini tercermin dari tingkat pendidikan responden yang sebagian besar hanya sampai tingkat SD (20,0%), SLTP (36, 7%), SMU (26,7%) sedangkan yang sampai Perguruan Tinggi hanya berjumlah lima orang (16,7%). Uraian tentang karakteristik masyarakat yang menjadi responden disajikan pada Tabel 14. Pekerjaan utama responden umumnya pada sektor pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata pencaharian responden pada sektor pertanian sebesar 50,0 %, petambak 0,0%, nelayan 16,7% serta sektor lainnya sebesar 33,3%. Selain bermata pencaharian utama sebagai petani sebagian dari mereka juga mempunyai pekerjaan sampingan seperti berdagang atau jualan 23,3% dan jasa 10,0%. Hal ini mereka lakukan untuk menambah penghasilan keluarga sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan responden yang menjadikan usahatani sebagai pekerjaan sampingan sebesar 50,0%. Semua responden berasal dari suku Aceh dengan lama tinggal responden di lokasi penelitian berkisar antara 6 -18 tahun dengan range lama tinggal 5 -10 tahun sebesar 50,0% dan > 10 th sebesar 50,0%, namun tidak semua sebagai penduduk asli melainkan warga Aceh dari wilayah lain yang kemudian tinggal dan menetap di lokasi tersebut. Pasca tsunami sebagian besar masyarakat yang selamat dari bencana tersebut banyak yang mengungsi ke wilayah lain yang dirasakan lebih aman, sedangkan sebahagian lagi masih bertahan desa, mereka tinggal di tenda-tenda atau membangun tempat tinggal mereka kembali dari sisa-sisa material tsunami . Sebagian masyarakat yang sebelum tsunami beraktifitas sebagai petani, pada pasca tsunami mereka beraktifitas dengan membuka kios-kios kecil untuk jualan atau mencari barang-barang bekas dari sisa tsunami yang masih bisa mereka jual seperti besi atau logam lainnya. Rata-rata pendapatan masyarakat berada di atas 600.000 rupiah per bulan. Pendapatan yang dikemukan dalam hasil pembahasan ini merupakan pendapatan masyarakat sebelum tsunami. Pendapatan masyarakat pasca tsunami dari sektor pertanian belum teridentifikasi dikarenakan masyarakat belum bisa melakukan aktifitas usahataninya akibat lahan pertanian mereka yang rusak. 40 Tabel 13. Karakteristik responden di dua desa di Kecamatan Lho’nga No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Laki-laki Meunasah Baro n % 10 66,7 Meunasah Manyang n % 9 60,0 n 19 % 63,3 Perempuan 5 33,3 6 40,0 11 36,7 Total 15 100,0 15 100,0 30 100,0 <35 Th 35-44 th 1 6,7 0 0,00 1 3,3 9 60,0 8 53,3 17 56,7 45-54 th 4 26,7 3 20,0 7 23,3 55-64 th 1 6,7 4 26,7 5 16,7 Karakteristik Jenis kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan utama Pendapatan Lama tinggal Kriteria Jumlah >65 th 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 SD 3 20,0 3 20,0 6 20,0 SMP 7 46,7 4 26,7 11 36,7 SMU 3 20,0 5 33,3 8 26,7 PT 2 13,3 3 20,0 5 16,7 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 Petani 8 53,3 7 46,7 15 50,0 Petambak 0 0,00 0 0,00 0 0,00 Nelayan 2 13,3 3 20,0 5 16,7 Lainnya 5 33,3 5 33,3 10 33,3 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 < 400.000 5 33,3 2 13,33 7 23,3 400.000-600.000 7 46,7 5 33,3 12 23,3 > 600.000 3 20,0 8 53,3 11 36,7 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 < 5 th 0 0,0 0 0,0 0 0,0 5-10 th 8 53,3 7 46,7 15 50,0 > 10 th 7 46,7 8 53,3 15 50,0 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 Sumber : Data primer (diolah) 2005 6.2.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Usahatani Pendapat masyarakat adalah pandangan mereka terhadap usahatani di lahan pertanian mereka pasca tsunami. Pendapat masyarakat dapat diketahui dari keinginan dan pandangan mereka terhadap kegiatan usahatani mereka serta keinginan mereka untuk tetap berusaha pada sektor pertanian tersebut. Pendapat masyarakat terhadap usahatani di lahan pertanian mereka pasca tsunami di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 15. 41 Sebagian besar masyarakat yang menjadi responden (100 %) memiliki usahatani di desanya dan semua mereka menyatakan lahan usahataninya terkena dampak dari gelombang tsunami. Tabel 14. Pendapat masyarakat terhadap kegiatan usahatani di dua desa di Kecamatan Lho’nga Parameter 1. Apakah anda mempunyai kegiatan usahatani di desa ini Kriteria a. Ya b. Tidak 0 0 0 0 0 8 7 53,3 46,7 7 8 46,7 3,3 15 15 50,0 50,0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 0 a. Ya b. Tidak 14 1 46,7 3,3 15 0 50,0 0 29 1 96,7 3,3 a. Ya b. Tidak 15 50,0 15 50,0 30 100, 0 0 0 0 0 0 0 9 60,0 a. Ya b. Tidak 3. Apakah lahan pertanian yang anda usaha- a. Ya kan terkena dampak gelombang tsunami b. Tidak 7. Apakah anda punya keinginan untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama Meunasah Manyang Jumlah % n % 15 50,0 30 100,0 0 2. Apakah kegiatan usahatani tersebut sebagai mata pencaharian utama 4. Apakah anda masih punya keinginan untuk meneruskan kegiatan usahatani di desa ini 5. Jika lahan pertanian anda yang terkena tsunami tsb diperbaiki apakah anda masih mau berusahatani lagi dilahan tersebut 6. Apa kebutuhan yang anda perlukan dalam upaya meneruskan kembali usahatani anda Meunasah Baro n % 15 50,0 a. Bantuan sarana pertanian b. Bantuan pelatihan c. Bantuan Modal d. Lainnya 30,0 9 30,0 18 3 10,0 2 6,7 5 5,0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 0 a. Ya b. Tidak 5 10 16,7 33,3 6 9 20,0 30,0 11 19 36,7 63,3 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Sebagain besar juga dari mereka menyatakan masih mau meneruskan usahatani di desanya yaitu sebesar 96,7% dan hanya 3,3% yang menyatakan tidak mau meneruskan usahatani didesanya, tetapi semua mereka menyatakan masih mau berusaha jika lahan pertanian mereka yang rusak dilakukan perbaikan. Hal ini menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat untuk melakukan perbaikan sendiri dan sangat berharap bantuan dari pihak lain untuk bisa melakukan perbaikan lahan pertanian mereka. Sebanyak 63,3% mereka menyatakan tidak ingin mencari kegiatan lain sebagai pengganti mata pencaharian utama dan 36,7% menyatakan ingin mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama tetapi kegiatan bertani masih akan mereka usahakan jika memang lahan pertanian mereka yang rusak akibat gelombang tsunami diperbaiki lagi. Bantuan yang mereka perlukan untuk dapat kembali berusahatani adalah bantuan modal (100%) dan batuan sarana pertanian (60%) dan hanya 5% saja 42 yang menyatakan butuh bantuan pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah tidak mempunyai modal usaha untuk meneruskan usahataninya, baik untuk upah pekerjaan maupun untuk membeli sarana alat pertanian, dimana pada saat tsunami banyak sarana produksi pertanian mereka hilang terseret tsunami dan rusak. Sedangkan bantuan pelatihan untuk waktu jangka pendek belum mendesak mereka butuhkan. Kondisi kerusakan sarana pertanian di lokasi penelitian seperti kerusakan mesin penggilingan padi (Gambar 8a) dan kerusakan hand tractor (Gambar 8b). (a) (b) Gambar 8. Kerusakan sarana produksi pertanian di dua desa di Kecamatan Lho’nga (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Tidak ada faktor karakteristik masyarakat (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan lama tinggal) yang mempengaruhi pendapat mereka terhadap keinginan untuk meneruskan usahatani mereka di desa (Lampiran 6). Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II dan hasil analisis korelasi ( Lampiran 6 dan 7) antara karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan berusahatani kembali di desa menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat pada taraf signifikasi 95%. Variabel pendidikan sangat berpengaruh nyata terhadap pekerjaan dan pendapatan. Hal ini dimungkinkan dengan pendidikan yang lebih tinggi masyarakat akan mempunyai banyak pilihan pekerjaan sehingga akan memberikan tingkat penghasilan yang lebih baik. Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II terhadap 15 responden yang bermata pencaharian sebagai petani terhadap pendapat mereka akan keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama menunjukkan nilai EtaSquare sebesar 0,7166. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model Hayashi II 43 tersebut dapat menjelaskan 71,66 persen keragaman data pendapat masyarakat (Tabel 16). Dengan kata lain sebesar 28,34 persen keragaman data tidak dapat dijelaskan oleh model Hayashi II. Tabel 15. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Faktor Kategori Umur (X1) 35-44 th 45-54 th 55-64 th Pendapatan (X3) <400 rb/bulan 400 rb - 600 rb/bulan > 600 rb/bulan Lama Tinggal (X4) 6 th - 10 th > 10 th Pendapat tentang keinginan untuk Ya mencari pekerjaan lain sebagai mata Tidak pencaharian utama (Y1) Frekuensi Skor Kategori 9 4 2 7 7 1 9 6 6 9 -0,44774 0,59719 0,82047 -0,12444 0,54092 -2,91540 0,43584 -0,65375 -1,03675 0,69117 Kisaran Korelasi Parsial 1,26821 0,6448* 3,45632 0,7490* 1,08959 0,6442* t Eta-square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 0,388 0,7166 Tabel 16 menunjukkan bahwa variabel umur, pendapatan dan lama tinggal mempunyai kaitan terhadap pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Kategori umur 45-54 tahun dan 55-64 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang tidak ingin mencari pekerjaan lain sebagai pekerjaan utama. Hal ini diduga masyarakat yang berumur 44-54 tahun dan 55-64 tahun merasakan bahwa usia mereka tidak produktif lagi untuk mencari kegiatan lain sebagai pekerjaan, sedangkan masyarakat yang berumur 35-44 tahun mereka masih merupakan usia produktif untuk mencari pekerjaan lain. Pendapat masyarakat yang berkeinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama juga terkait oleh tingkat pendapatan mereka. Tingkat pendapat 400 ribu/bulan - 600 ribu/bulan berkorelasi positif dengan pendapat yang tidak berkeinginan mencari pekerjaan lain. Hal ini diduga karena tingkat pendapatan mereka telah dianggap mampu memenuhi kebutuhan pokoknya,sedangkan pada tingkat pendapatan 400 ribu/bulan mereka merasa bahwa pendapatan mereka belum mampu mencukupi kebutuhan pokok mereka, sehingga masih mempunyai keinginan untuk mencari pekerjaan lain. Pendapatan 44 yang relatif lebih besar berkeinginan mencari pekerjaan lain lebih disebabkan semakin besarnya tanggungan akibat semakin besarnya pendapatan dengan kata lain semakin besar pendapatan semakin besar pula pengeluaran. Lama tinggal juga terkait dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain. Lama tinggal > 10 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang tidak berkeinginan mencari pekerjaan lain. Hal ini diduga karena dengan lamanya mereka tinggal telah memberikan banyak pengalaman bagi mereka dalam berusahatani, sehingga mereka tidak mempunyai keinginan lagi mencari pekerjaan lain di luar kegiatan pertanian. Untuk melihat faktor mana yang paling berpengaruh terhadap pendapat masyarakat dilakukan analisis korelasi antara karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama ( Lampiran 7). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama pada taraf signifikasi 95%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak eratnya hubungan keterkaitan faktor karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat akan keinginan mencarai pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Rehabilitasi lahan pertanian sangat diharapkan oleh masyarakat agar lahan-lahan pertanian yang rusak milik mereka dapat difungsikan kembali sehingga masyarakat dapat kembali bekerja disektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama mereka. Kegiatan usahatani yang bisa kembali pulih dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sehingga roda perekonomian dapat kembali berjalan dengan normal. 6.2.3. Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan dapat diketahui dari pandangan atau pengetahuan mereka terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah pada lahanlahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hal ini sangat penting karena kebijakan dan program yang akan dilaksanakan tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan masyarakat. Pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian dapat dilihat pada Tabel 17. 45 Rata-rata masyarakat menyatakan tidak mengetahui (56,7%) akan adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian dan hanya 43,3% yang mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian. Umumnya mereka mengetahui dari media cetak dan media elektronik yang mereka baca atau mereka tonton. Mereka menyatakan (100%) tidak ada pihak dari pemerintah yang datang kepada mereka untuk memberitahukan tentang akan adanya kegiatan perbaikan lahan pertanian mereka. Masyarakat setuju (100%) bila lahan pertanian diperbaiki dan perbaikan tersebut sebaiknya dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat setempat (76,67%) sedangkan yang menyatakan perbaikan sebaiknya dilakukan oleh masyarakat hanya empat orang atau 13,33% dari keseluruhan responden. Sampai saat penelitian dilakukan masyarakat belum ada yang menerima bantuan untuk sarana produksi pertanian mereka hal ini diketahui dari pernyataan mereka yang tidak ada menerima bantuan sarana produksi pertanian sebesar 100%. Tabel 16. Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di dua desa di kecamatan Lho’nga. Parameter Kriteria Meunasah Baro Meunasah Manyang Jumlah % n 8 7 % 26,7 23,3 n 3 10 % 10,0 33,3 13 17 43,3 56,7 a. Setuju b. Tidak Setuju 15 0,0 15 50,0 30 100, 0 0 0 0 0 0 0 a. Ada b. Tidak ada 0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 2 6,67 2 6,67 4 13,33 10 33,33 13 43,33 23 76,67 2 6,67 1 3,33 3 10,00 1. Apakah anda mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian yang rusak akibat tsunami di desa anda a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda setuju jika lahan pertanian yang terkena dampak tsunami di desa ini dilakukan perbaikan 3. Apakah selama ini ada pihak pemerintah yang datang untuk memberitahukan saudara tentang akan ada perbaikan lahan pertanian saudara 4. Menurut pendapat anda siapakah yang sebaiknya melakukan perbaikan lahan tersebut a. Pemerintah b. Masyarakat c. Pemerintah dan Masyarakat d. Lainnya Sumber: Data primer (diolah) 2005 Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II menunjukkan bahwa faktor sumber informasi mempengaruhi pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan informasi rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami (Tabel 18). Tabel 18 menunjukkan bahwa Eta-Square bernilai 1,00 yang berarti 100 persen model Hayashi II dapat menjelaskan keragaman data pada pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan 46 pertanian pasca tsunami. Faktor sumber informasi sangat terkait terhadap pengetahuan masyarakat akan informasi rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Hal ini sangatlah jelas bahwa semua sumber informasi akan memberikan dampak kepada masyarakat akan pengetahuan mereka terhadap rencana rehabilitasi lahan. Ketidaktahuan masyarakat akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan berkorelasi positif dengan variabel sumber informasi yang didapat oleh masyarakat, artinya tidak ada informasi kepada mereka maka mereka juga tidak akan mengetahui adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan. Tabel 17. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta pengetahuan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami Faktor Informasi masyarakat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat tentang pengetahuan akan informasi kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanain (Y1) t Eta-Square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Kategori Frekuensi LSM lokal NGO asing Lainnya Tidak tahu Ya Tidak Skor Kategori 2 2 9 17 13 17 -1,14355 -1,14354 -1,14354 0,87448 -1,14354 0,87447 Kisaran 20,0180 Korelasi Parsial 1,00* 0,404 1,00 Masyarakat mengetahui akan adanya rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami berasal dari beberapa sumber seperti LSM lokal, NGO asing dan lainnya berupa pemberitaan dari surat kabar, dan tidak ada pihak dari pemerintah yang memberitahukan langsung kepada masyarakat akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Hasil analisis korelasi ( Lampiran 7) antara karakteristik masyarakat dan sumber informasi masyarakat tentang informasi rencana rehabiliatsi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami dengan pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan informasi rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami menunjukkan bahwa variabel karakteristik relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat pada taraf signifikasi 95%, tetapi sumber informasi akan rencana rehabilitasi lahan pasca tsunami memberikan hubungan sangat nyata terhadap pendapat masyarakat akan pengetahuan mereka tentang rencana rehabilitasi lahan. 47 Dukungan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami dapat dilihat pada Tabel 19. Dari Tabel 19 dapat diketahui bahwa dukungan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pasca tsunami mempunyai Eta-Square sebesar 0,8621, artinya keragaman data pada pendapat masyarakat terhadap dukungan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami dapat dijelaskan sebesar 86,21 persen. Tabel 18 Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta dukungan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami Frekuensi Skor Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th Pemerintah Pemerintah dan Masyarakat NGO Ya 2 11 12 5 6 0,03752 0,19596 0,02889 -0,51544 1,90932 22 -0,45058 2 25 -0,77161 -0,41525 Tidak 5 2,07623 Faktor Umur (X1) Pendapat Masyarakat Yang sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat untuk mendukung kegiatan rencana rehabilitasi lahan (Y1) Kategori t Eta-square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Kisaran Korelasi Parsial 0,7114 0,4912* 2,68093 0,9034* 0,404 0,8621 Faktor umur mempunyai kaitan terhadap dukungan masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Kategori umur 55-64 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang mendukung rencana kegiatan rehabilitasi lahan. Hal ini diduga bahwa kematangan berpikir yang dimiliki oleh masyarakat yang berumur 55-64 tahun lebih tinggi sehingga mereka mengetahui dengan pasti manfaat kegiatan rehabilitasi lahan bagi kelangsungan kegiatan usahatani mereka. Faktor pihak yang melakukan kegiatan rehabilitasi lahan juga mempunya kaitan terhadap dukungan masyarakat. Kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diduga akan mendapat dukungan masyarakat apabila kegiatan tersebut juga melibatkan masyarakat serta pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal maupun asing. Hal ini dikarenakan kegiatan tersebut juga 48 diharapkan mampu memberikan kontribusi pendapatan pada masyarakat dan tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja. Hasil analisis korelasi (Lampiran 7) antara karakteristik masyarakat dan pendapat masyarakat tentang pihak yang akan melakukan kegiatan rehabilitasi lahan dengan pendapat masyarakat terhadap dukungan akan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap dukungan masyarakat pada taraf nyata 95%, tetapi variabel pihak yang akan melakukan rehabilitasi sangat mempengaruhi terhadap dukungan masyarakat akan rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Dukungan masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami merupakan respon positif kemauan masyarakat terhadap upaya rekonstruksi Aceh pasca tsunami, hal ini haruslah disikapi dengan baik oleh pemerintah yaitu dengan melibatkan mereka dalam kegiatan rehabilitasi lahan pertanian khususnya lahan-lahan pertanian di desa mereka. Keterlibatan mereka dapat dilakukan melalui lembaga yang ada dalam desa seperti lembaga adat gampong dan mukim. Keterlibatan pihak masyarakat dapat pula dibantu dengan pendampingan dari pihak lembaga swadaya masyarakat yang ada, terutama lembaga swadaya masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Beberapa pertimbangan pentingnya peran gampong dan mukim dalam upaya rekonstruksi aceh pasca tsunami adalah sebagai berikut : (1) gampong dan mukim adalah lembaga terdekat dengan sumberdaya alam yang ada, sehingga pengawasan terhadap sumberdaya alam menjadi efektif, (2) pendelegasian wewenang pengawasan kepada lembaga gampong dan mukim akan memangkas biaya untuk kebutuhan operasioanl pengawasan, (3) sebagai penghargaan atas peran lembaga gampong atau mukim dalam upaya rekontruksi Aceh pasca tsunami. (Syarif, 2005). 6.2.4. Arahan untuk Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian yang Rusak Pasca tsunami . Perencanaan rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami bertujuan untuk memfungsikan kembali lahan tersebut sebagai lahan pertanian sehingga aktifitas usahatani masyarakat dapat kembali berjalan. Perencanaan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami harus berbasis masyarakat. 49 Berdasarkan hasil penelitian dapat disusun beberapa arahan untuk rencana rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami. 1. Lahan-lahan pertanian harus dibersihkan dari sedimen terutama pasir, pembersihan sisa sampah dan puing dapat dikerjakan bersamaan dengan kegiatan pemindahan sedimen. Hal ini dikarenakan semua titik pengamatan pada penelitian ini sedimen penutup lahan pertanian adalah pasir dan masih tersisa sampah dan puing pada lahan pertanian. 2. Pemindahan sedimen haruslah dipertimbangkan lokasi dan biaya pemindahan baik menyangkut jumlah tenaga kerja maupun biaya transportasi pemindahan. Hal ini dikarenakan ketebalan sedimen pasir yang relatif cukup besar. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemakaian sedimen untuk keperluan lain. Salah satu alternatif adalah pemakaian sedimen pasir untuk material pembangunan rumah dimana pasir yang dipindahkan dari lahan pertanian dilakukan pencucian terlebih dahulu untuk membersihkan sisa garam yang ada selanjutnya bisa digunakan untuk material bangunan. 3. Pengelolaan tanah diperlukan untuk mengatasi masalah erosi dan genangan yang masih terjadi pada lahan pertanian. 4. Monitoring dan evaluasi terhadap karakteristik lahan, baik untuk tingkat salinitas maupun reaksi tanah (pH) harus tetap diperhatikan agar kondisi tanah pada lahan pertanian dalam kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan. 5. Penanaman tanaman harus disesuaikan dengan kesesuain lahan yang ada, sehingga mampu memberikan nilai ekonomis yang tinggi serta mempunyai prospek pemasaran yang baik. 6. Sosialisasi kegiatan rehabilitasi lahan pasca tsunami perlu dilakukan oleh pemerintah secara berkesinambungan baik langsung maupun melalui media yang ada, hal ini untuk memberikan gambaran akan pentingnya kegiatan rehablitasi dan juga untuk menghindari konflik antara pemerintah dan masyarakat sebagai pemilik lahan. 7. Respon positif dari masyarakat untuk mendukung rencana rehabilitasi lahan perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi. Keterlibatan mereka dapat dikoordinasikan melalui lembaga desa yang ada baik di tingkat gampong maupun mukim . Keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan dan 50 pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan rehabilitasi merupakan wujud tanggung jawab masyarakat dalam upaya recovery Aceh pasca tsunami. 8. Kegiatan rehabilitasi yang akan dilakukan harus diikuti dengan bantuan sarana pertanian bagi masyarakat agar masyarakat dapat dengan segera kembali melakukan aktifitas pertanian, hal ini mengingat sarana produksi pertanian yang dimiliki masyarakat ikut terbawa dan rusak akibat tsunami. Hal ini merupakan bagian dari kegiatan rehabilitasi dalam upaya mengaktifkan kembali kegiatan pertanian sebagai mata pencarian mereka (livelihoods recovery).kegiatan ini tidak hanya sampai pada tahap pemberian bantuan sarana produksi pertanian tetapi juga sampai pada tahap pengembangan pasar untuk pemasaran komoditi yang dihasilkan petani. VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 1. Kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian berdasarkan tabel observasi dari FAO tahun 2005 tergolong kerusakan sedang dengan kelas B (sedang), nilai skor kerusakan tertinggi pada jarak 750 meter dari garis pantai. Sedimen yang terdapat pada semua titik pengamatan bukanlah endapan liat dan debu tetapi merupakan endapan pasir laut yang mempunyai ketebalan antara 5-27 cm. Ketebalan sedimen pasir cenderung meningkat ke arah daratan. Ketebalan tertinggi pada jarak 750 meter dari garis pantai dan selanjutnya mulai menurun. 2. Vegetasi penutup lahan yang mendominasi di semua titik pengamatan adalah jenis rumputan (Grass) dan tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre). Indek Nilai Penting (INP) jenis rumputan pada jarak 250 meter 82,22% tanaman tapak kuda (62,03%). Jarak 500 meter rumputan (130,82%), tanaman tapak kuda (69,18%), Pada Jarak 750 meter dan jarak 100 meter tanaman bili (Fimbristylus sp) mempunyai INP lebih besar yaitu sebesar 69,54% dan 64,16%. Sedangkan untuk jarak 1.250 meter didominasi oleh tanaman rumputan (143,89%) dan tanaman tapak kuda (56,11%). 3. Tingkat salinitas, reaksi tanah (pH) dan kandungan K tertinggi pada jarak 1.250 meter. Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) berfluktuatif dari garis pantai ke arah darat. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak 500 meter (13,61 me/100 gr) dari garis pantai dan terendah dijumpai pada jarak 250 meter (11,18 me/100 gr). Fraksi tanah didominasi oleh fraksi pasir pada semua titik pengamatan dan cenderung menurun ke arah daratan. 4. Masyarakat di kedua desa penelitian masih mau meneruskan usahatani di desa mereka dan pada umumnya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani tidak ingin mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama mereka. 5. Masyarakat umumnya sangat mendukung usaha perbaikan lahan pertanian yang rusak. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui akan adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan yang akan dilakukan oleh pemerintah. 52 7.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, disusun saran sebagai berikut : 1. Perbaikan lahan pertanian milik masyarakat yang rusak disarankan agar dapat segera diperbaiki terutama pembersihan dari sedimen pasir, sehingga masyarakat dapat segera kembali melakukan kegiatan pertanian tersebut usahataninya. 2. Dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan lahan disarankan untuk melibatkan secara aktif masyarakat setempat terutama mereka yang memiliki lahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami. 3. Penelitian tentang kesesuaian lahan pertanian yang rusak untuk berbagai komoditi pertanian penting/utama disarankan untuk dilakukan agar diperoleh jenis komoditi yang sesuai untuk dikembangkan dan bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pemasaran hasil yang baik. 4. Bantuan modal, sarana produksi pertanian disarankan untuk diberikan kepada petani agar aktivitas usahatani masyarakat dapat segera dimulai sehingga kegiatan usahatani dapat berlangsung dengan lebih baik. 5. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut tentang kondisi kerusakan lahan pertanian akibat tsunami dengan melakukan analisis terhadap kandungan kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan natrium (Na) pada lahan-lahan pertanian yang rusak akibat tsunami. 57 Lampiran 1. Data Fisika dan Kimia Tanah Rata-rata No. 1. 2. Desa Meunasah Baro Meunasah Manyang Titik Pengamatan pH (1:2,5) DHL (mS/cm) COrganik (%) T1 8,14 0,44 1,56 0,11 0,31 0,13 10,96 1,96 78 7 15 T2 8,53 0,77 2,29 0,20 0,77 0,17 12,79 2,02 58 22 21 T3 8,13 1,07 1,98 0,12 0,58 0,12 13,49 1,39 53 21 26 T4 8,52 1,72 0,74 0,20 0,94 0,26 11,73 1,54 78 8 15 T5 8,06 1,86 1,94 0,27 0,62 0,23 11,80 2,11 63 16 22 Rata-rata 8,28 1,17 1,70 0,18 0,64 0,18 12,15 1,80 66 14,8 19,8 T1 8,07 0,36 1,97 0,18 0,94 0,13 11,40 1,92 74 16 11 T2 7,74 0,64 1,98 0,16 2,14 0,16 14,42 1,88 74 19 10 T3 8,20 1,30 1,98 0,14 0,58 0,17 11,84 1,65 70 10 15 T4 8,23 2,30 1,43 0,19 0,35 0,17 11,95 2,00 70 10 20 T5 8,38 3,00 1,22 0,19 0,85 0,28 11,72 1,70 60 13 28 Rata-rata 8,12 1,52 1,72 0,17 0,97 0,18 12,27 1,83 69,6 13,6 16,8 N (%) P (ppm) Keterangan: T1= 250 m, T2=500 m, T3= 750 m, T4= 1000 m, T5= 1250 m K KTK (me/100 g) (me/100 g) Kadar Air (%) Persentase Fraksi P D L Kelas Tekstur Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasir Pasir berlempung Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasair Lempung liat berpasair Lempung liat berpasir BD grcm-3 Permeabilitas Nilai Kriteria 1,3 13,3 Cepat 1,3 2,0 Sedang 1,3 2,4 Sedang 1,4 9,2 Cepat 1,2 3,2 Sedang 1,3 6,02 Sedang 1,3 12,8 Cepat 1,5 12,7 Cepat 1,2 7,4 Agak cepat 1,3 4,2 Sedang 1,2 6,2 1,3 8,66 Agak cepat Agak cepat Lampiran 2. Hasil Analisis Laboratorium sifat Fisika dan Kimia Tanah Lampiran 2. (Lanjutan) 59 Lampiran 3. Kriteria Penilaian Analisis Tanah Kriteria Penilaian Data Analisis Tanah Rendah Sedang Tinggi < 1,00 < 0,10 <5 < 10 < 10 < 4,4, < 10 < 4,4, < 10 <5 1,00-2,00 0,10-0,20 5-10 10-20 10-15 4,4-6,5 10-20 4,4-10,9 10-20 5-16 2,01-3,00 0,21-0,50 11-15 21-40 16-25 6,6-10,9 21-40 11-19,6 21-40 17-24 3,01-5,00 0,51-0,75 16-25 41-60 26-35 11-15,3 41-60 19,7-26,2 41-60 25-40 Sangat Tinggi > 5,00 > 0,75 > 25 > 60 > 35 >15,3 > 60 > 26,2 > 60 > 40 <2 < 0,4 < 0,1 < 0,1 < 20 < 10 < 0,5 <5 <4 <5 < 1,0 2-5 0,4-1,0 0,1-0,2 0,1-0,3 20-35 10-20 0,5-1,5 5-10 5-14 5-10 1,1-2,0 6-10 1,1-2,0 0,3-0,5 0,4-0,7 36-50 21-30 1,6-3,5 11-20 15-199 11-20 2,1-3,0 11-20 2,1-8,0 0,6-1,0 0,8-1,0 51-70 31-60 3,6-10 21-40 200-250 21-40 3,1-4,0 > 20 > 8,0 > 1,0 > 1,0 > 70 > 60 > 10 > 40 > 250 > 40 > 4,0 2-9 10-20 21-40 > 60 Sangat Masam Masam Agak Masam Netral 41-60 Agak alkalis < 4,5 4,5-5,5 5,6-6,5 6,6-7,5 Parameter Tanah C (%) N (%) C/N P2O5 HCL 25% (mg/100g) P2O5 Bray I (ppm) P Bray I (ppm) P2O5 Olsen (ppm) P Olsen (ppm) K2O HCL 25% (mg/100g) KTK (CEC) (me/100g) Susunan kation : Ca-dd (me/100 g) M g-dd (me/100 g) K-dd (me/100 g) Na-dd (me/100 g) Kejenuhan Basa (%) Kejenuhan Al (%) Al-dd (1M KCL, me/100 g) Al-larut (ppm) SO4(ppm) Cadangan Mineral (%) Daya Hantar Listrik (EC) (ms/Cm) ESP (Exch.Sod.Percentage) pH (H2O) Sangat Rendah 7,6-8,5 Alkalis > 8,5 60 Lampiran .4 Data Curah Hujan Rata-rata Banda Aceh & Aceh Besar (Tahun 2005) Stasiun Curah hujan dalam milimeter Rata-rata Nomor Nama Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jumlah 106 106 Peukan Ateuk Ule Kareng 177 160 147 106 136 126 134 117 118 117 67 78 59 50 77 86 124 118 159 153 207 176 271 204 1676 1491 139,67 124,25 106 Peukan Bada 118 111 97 130 170 127 93 148 190 182 185 151 1702 141,83 106 Lhok Nga 161 133 154 150 257 170 179 215 290 277 252 184 2422 201,83 107 Cot Paya 181 89 82 80 64 42 38 63 117 128 210 167 1261 105,08 107 Blang Bintang 138 99 123 140 133 53 47 52 125 144 185 218 1457 121,42 107 Kotaraja 135 60 90 70 159 75 134 95 164 187 192 184 1545 128,75 107 Banda Aceh 149 78 100 112 149 98 97 110 163 176 188 202 1622 135,17 108 Sabang 315 150 139 95 163 104 99 110 170 193 250 355 2143 178,58 110 Krueng Raya 158 104 107 109 65 24 20 30 69 99 150 197 1132 94,33 111 Indrapuri 173 125 250 167 136 73 49 87 146 195 260 232 1893 157,75 111 Lam Teuba 254 137 211 218 144 50 55 75 111 203 250 257 1965 163,75 112 Seulimuem 157 115 173 192 114 58 44 89 102 183 200 201 1628 135,67 62 Lampiran 5. Data Pengamatan Kerusakan Lahan Berdasarkan Kriteria FAO tahun 2005 Skor Kerusakan Desa 1 Meunasah Baroh Meunasah Manyang Titk Pengamatan 2 D1J1T1 D1J1T2 D1J1T3 D1J1T4 D1J1T5 D1J2T1 D1J2T2 D1J2T3 D1J2T4 D1J2T5 D2J1T1 D2J1T2 D2J1T3 D2J1T4 D2J1T5 D2J2T1 D2J2T2 D2J2T3 D2J2T4 D2J2T5 Trash And Debris 3 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 Erosi Sedimentasi Lama genangan 4 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 4 6 4 4 1 6 6 6 6 1 4 6 4 4 6 1 6 6 4 6 1 4 4 4 4 4 6 6 4 4 1 4 4 1 4 4 1 4 1 4 Sumber: Data Primer 2006 (Diolah) Keterangan: D1 = Desa Meunasah Baroh D2 = Desa Meunasah Manyang J1 = Jalur I J2 = Jalur II T1=250 m, T2=500 m, T3=750 m, T4=1000 m, T5=1500 m Waktu Pengamatan : September-November 2005 Infiltrasi Jumlah Skor 7 3 1 1 1 1 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 8 7 14 14 11 11 9 18 17 16 15 7 15 15 9 12 14 7 16 11 13 Rangking 9 Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Lampiran 6. Hasil Analisis Kuantifikasi Hayashi II Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Pendapat tentang keinginan untuk masih mau berusaha tani di desa (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 29 1 0,50949 -0,85052 1,00236 -0,33071 -1,64519 0,43428 -0,13170 1,11635 -0,03532 1,11000 -0,61871 0,61385 0,26366 -1,21650 0,51636 -0,59013 -0,07522 2,18134 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 1,85288 0,32555 0,16408 23 0,001 0,01 0,05 0,1 0,505 0,462 0,396 0,311 2,76153 0,25732 1,72871 0,18259 1,83036 0,24802 1,10649 0,22157 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pendapatan (X3) Lama Tinggal (X4) Pendapat tentang keinginan untuk mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama (Y1) Kategori 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Ya Tidak 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 9 4 2 3 10 2 7 7 1 9 6 6 9 -0,44774 0,59719 0,82047 0,25245 -0,16284 0,43554 -0,12444 0,54092 -2,91540 0,43584 -0,65375 -1,03675 0,69117 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 1,26821 0,64481 0,71656 24 0,59838 0,29976 0,001 0,01 0,05 0,1 0,496 0,453 0,388 0,33 3,45632 0,74903 1,08959 0,64422 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Pendapat Masyarakat Yang sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat untuk mendukung kegiatan rencana rehabilitasi lahan (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Pemerintah Pemerintah dan Masyarakat NGO Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 6 22 2 25 5 0,03752 0,19596 0,02889 -0,51544 -0,04680 -0,11948 0,17809 0,09359 -0,04521 0,28047 -0,07922 0,29035 -0,03668 -0,20650 -0,01419 0,01622 1,90932 -0,45058 -0,77161 -0,41525 2,07623 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 0,7114 0,49119 0,86214 22 0,001 0,01 0,05 0,1 0,515 0,472 0,404 0,344 0,29758 0,24986 0,35969 0,27079 0,49685 0,31917 0,03042, 0,03083 2,68093 0,9034 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Informasi masyarakat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat tentang pengetahuan akan informasi kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanain (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th LSM lokal NGO asing Lainnya Tidak tahu Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 3 4 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 2 2 9 17 13 17 -0,00000 0,00000 -0,0000 0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 0,00000 -0,00000 -1,14355 -1,14354 -1,14354 0,87448 -1,14354 0,87447 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 0,00000 0,00081 1,00000 22 0,001 0,01 0,05 0,1 0,515 0,472 0,404 0,344 0,00000 0,00041 0,00000 -0,00123 0,00000 -0,00068 0,00036 20,01802 1,00000 67 Lampiran 7. Hasil Analisis Korelasi Hasil analisis korelasi antara pendapat masyarakat thdp keinginan untuk tetap berusahatani di desa dengan karakteristik masyarakat Descriptive Statistics Mean Pendapat Masyarakat terhadap keinginan untuk tetap berusahatani di desa Umur Std. Deviation N -,0085177 ,41621704 30 ,0000023 ,85258106 30 Pendidikan Pekerjaan ,0030023 -,0000040 ,92030704 ,56459091 30 30 Pendapatan Lama Tinggal ,0000003 -,0000020 ,69750921 ,56145102 30 30 Correlations Pendapat Masyarakat terhadap keinginan untuk tetap berusahatani di desa Pendapat Pearson Correlation Masyarakat terhadap Sig. (2-tailed) keinginan untuk tetap berusahatani di desa N Umur 1 ,228 ,126 -,010 ,052 ,194 , ,226 ,509 ,957 ,785 ,304 30 30 30 30 ,228 1 -,286 ,078 -,035 -,089 Sig. (2-tailed) ,226 , ,126 ,681 ,853 ,642 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,126 -,286 1 -,592** -,421* ,298 Sig. (2-tailed) ,509 ,126 , ,001 ,021 ,110 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation -,010 ,078 -,592** 1 ,065 -,281 Sig. (2-tailed) ,957 ,681 ,001 , ,732 ,132 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,052 -,035 -,421* ,065 1 -,242 Sig. (2-tailed) ,785 ,853 ,021 ,732 , ,198 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,194 -,089 ,298 -,281 -,242 1 Sig. (2-tailed) ,304 ,642 ,110 ,132 ,198 , 30 30 30 30 30 30 N Lama Tinggal Pendapatan Lama Tinggal 30 N Pendapatan Pekerjaan 30 N Pekerjaan Pendidikan Pearson Correlation N Pendidikan Umur N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 30 68 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara Pendapat Masyarakat thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama dengan karakteristik masyarakat Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat Masyarakat petani thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama ,0000020 ,87621536 15 Umur Pendidikan ,0000027 ,0000200 ,57178452 ,24434872 15 15 Pendapatan Lama Tinggal -,0000027 ,0000040 ,87243974 ,55252297 15 15 Correlations Pendapat Masyarakat petani thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama Pendapat Masyarakat petani Pearson Correlation thdp keinginan mencari Sig. (2-tailed) kegiatan lain sbg mata N pencaharian utama Umur Pendidikan Pendapatan Pendidikan Pendapatan Lama Tinggal 1 ,404 -,021 ,464 ,444 , ,135 ,941 ,082 ,097 15 15 15 15 15 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,404 ,135 1 , ,252 ,366 -,217 ,437 ,092 ,744 N Pearson Correlation 15 -,021 15 ,252 15 1 15 -,528* 15 ,084 Sig. (2-tailed) N ,941 15 ,366 15 , 15 ,043 15 ,765 15 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,464 ,082 -,217 ,437 -,528* ,043 1 , -,094 ,738 N Lama Tinggal Umur Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 15 15 15 15 15 ,444 ,097 ,092 ,744 ,084 ,765 -,094 ,738 1 , 15 15 15 15 15 69 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara pendapat masyarakat terhadap pengetahuan masyarakat akan rencana rehabiliatsi dengan karakteristik dan sumber informasi yang diperoleh Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan -,0000010 1,01709103 30 Umur ,0000000 ,00000000 30 Pendidikan ,0000000 ,00000000 30 Pekerjaan ,0000000 ,00000000 30 Pendapatan ,0000000 ,00000000 30 Lama tinggal ,0000000 ,00000000 30 Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan ,0000173 1,01710871 30 Correlations Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan Umur Pendidik an Pekerja an Pendapat an Lama tinggal Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan Pearson Correlation 1 ,a ,a ,a ,a ,a 1,000** Sig. (2-tailed) , , , , , , ,000 30 30 30 30 30 30 30 Umur Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N N Pendidikan Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N Pekerjaan ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 ,a Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan ,a Pearson Correlation N Lama tinggal ,a Pearson Correlation N Pendapatan ,a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,a 1,000** ,a ,a ,a ,a ,a ,000 , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). a. Cannot be computed because at least one of the variables is constant. 1 70 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara pendapat masyarakat terhadap dukungan kegiatan rehabilitasi lahan dengan karakteristik masyarakat dan pihak yg sebaiknya melakukan kegiatan rehabilitasi Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan -,0000033 ,94439306 30 Umur -,0024987 ,24659329 30 Pendidikan ,0000007 ,12460349 30 Pekerjaan ,0052820 ,12830911 30 Pendapatan ,0162143 ,17638684 30 Lama tinggal ,0000013 ,01543053 30 Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan -,0000020 ,97433041 30 Correlations Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan Pearson Correlation Umur Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Sig. (2-tailed) Pendidikan N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pekerjaan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pendapatan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Lama tinggal Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Umur Pendidik an Pekerja an Pendapat an Lama tinggal Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan 1 ,104 ,051 ,028 ,201 -,239 ,891** , ,586 ,787 ,884 ,287 ,203 ,000 30 30 30 30 30 30 30 ,104 1 ,146 -,272 -,052 -,163 -,089 ,586 30 , 30 ,442 30 ,147 30 ,784 30 ,389 30 ,639 30 ,051 ,146 1 ,110 -,475** -,157 -,018 ,787 ,442 , ,563 ,008 ,407 ,926 30 30 30 30 30 30 30 ,028 -,272 ,110 1 -,056 ,262 -,027 ,884 ,147 ,563 , ,769 ,163 ,886 30 30 30 30 30 30 30 ,201 -,052 -,475** -,056 1 ,242 ,145 ,287 ,784 ,008 ,769 , ,197 ,444 30 30 30 30 30 30 30 -,239 -,163 -,157 ,262 ,242 1 -,320 ,203 30 ,389 30 ,407 30 ,163 30 ,197 30 , 30 ,085 30 ,891** -,089 -,018 -,027 ,145 -,320 1 ,000 ,639 ,926 ,886 ,444 ,085 , 30 1 ,104 ,051 ,028 ,201 -,239 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). t Hitung ( 10,29) > t Tabel (2,052). Ada hubungan antara variabel pendapat masyarakat tentang pihak yang melakukan kegiatan rehabiliatsi lahan dengan pendapat masyarakat terhadap dukungan kegiatan rehabilitasi lahan pada tingkat signifikasi 5% secara nyata dan bersifat positif 71 Lampiran 8. KUESIONER PENELITIAN Assalamualiakum Warahmatullahhi Wabarakatuh Perkenankan kami mengajukan beberapa pertanyaan di bawah ini sebagai bahan untuk melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan studi pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Nama : Asnawi Achmad NRP : P.052024011 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Judul Penelitian : Indentifikasi Keusakan Lahan Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar Naggroe Aceh Darussalam) Demikian kami haturkan terima kasih atas bantuan Bapak/Ibu/saudara membrikan jawaban dengan baik terhadap daftar pertanyaaan ini Pedoman umum pengisian : Berilah tanda (√) pada setiap jawaban yang anda pilih paling sesuai Isilah jawaban pada tempat yang telah disediakan I. Indentitas Responden 1. Nama : ............................................................... 2. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 3. Umur : <35 Tahun 35-44 Tahun 45- 54 Tahun 55-64 Tahun > 64 Tahun 4. Desa tempat tinggal : ................................................................ 5. Pekerjaan Utama : Petani Petambak Nelayan Lainnya 6. Pekerjaan Sampingan : ................................................................ 7. Pendapatan/Tahun : Rp .......................................................... 8. Pendidikan terakhir : SD SMP SMU Perguruan Tinggi (Strata...............) 9. Jumlah Anggota Keluarga : .......................................................orang 10. Lama Tinggal : .............................Tahun ...............bulan 11. Asal/Suku : ................................................................ II. Pendapat Responden A. Pendapat Terhadap Kegiatan Usahatani 1. Apakah anda mempunyai kegiatan usahatani di desa ini? a. Ya b. Tidak 72 2. Apakah kegiatan usahatani tersebut sebagai mata pencaharian utama? a. Ya b. Tidak 3. Apakah lahan pertanian yang anda usahakan terkena dampak gelombang tsunami ? a. Ya (lanjut ke No 5 ) b. Tidak 4. Apakah anda masih punya keinginan untuk meneruskan kegiatan usahatani di desa ini? a. Ya (lanjut ke No 6) b. Tidak (lanjut ke No 7 dan 8) 5. Jika lahan pertanian anda yang terkena tsunami tersebut diperbaiki apakah anda masih mau berusahatani lagi dilahan tersebut ? a. Ya b. Tidak (lanjut ke No 7 dan 8) 6. Apa kebutuhan yang anda perlukan dalam upaya meneruskan kembali usahatani anda a. Bantuan sarana pertanian b. Bantuan pelatihan c. Bantuan modal d. Lainnya (Sebutkan !)...................................... 7. Apakah anda punya keinginan untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama ? a. Ya (lanjut ke No 8) b. Tidak 8. Kegiatan usaha apa yang akan anda kerjakan ? (pilih salah satu) a. Dagang b. Nelayan c. Jasa d. Lainnya (Sebutkan !).......................................... B. Pendapat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian 9. Apakah anda mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian yang rusak akibat tsunami di desa anda ? a. Ya b. Tidak 10. Apakah anda setuju jika lahan pertanian yang terkena dampak tsunami di desa ini dilakukan perbaikan ? a. Setuju b. Tidak setuju (lanjut ke No17) 11. Apakah selama ini ada pihak pemerintah yang datang untuk memberitahukan saudara tentang akan ada rencana perbaikan lahan pertanian saudara? a. Ada (lanjut ke No 12 ) b. Tidak ada 12. Pihak mana yang memberitahukan tersebut a. Pemerintah b. LSM lokal c. NGO asing. d. Lainnya 73 13. Menurut pendapat anda siapakah yang sebaiknya melakukan perbaikan lahan tersebut a. Pemerintah b. Masyarakat c. Pemerintah dan masyarakat d. Lainnya (sebutkan !) ..................................... 14. Setujukah anda jika perbaikan lahan pertanian yang kadar garam tinggi akibat terkena tsunami dilakukan perbaikan melalui pencucian ? a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak tahu 15. Pencucian yang bagaimana menurut anda yang sesuai untuk lahan pertanian yang terkena tsunami a. Pencucian oleh hujan b. Dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang c. Lainnya (Sebutkan !).............................................. 16. Setujukan jika lahan tersebut juga diperbaiki dengan cara memberikan bahan untuk memperbaiki tanah (bahan amelioran) berupa sulfur atau kapur a. Setuju b. Tidak setuju (lanjut ke No 18) c. Tidak tahu 17. Apa alasan anda tidak setuju jika lahan pertanian tersebut diperbaiki a. Tidak mungkin diperbaiki lagi b. Hanya merupakan proyek pemerintah saja c. Lainnya (Sebutkan !)...................................... 18. Apa alasan anda tidak setuju dengan cara tersebut a. Bahan tersebut tidak sesuai b. Bahan tersebut sulit diperoleh dan mahal harganya c. Lainnya (Sebutkan !)....................................... 19. Apakah saudara selama ini ada menerima bantuan sarana pertanian ? a. Ada (lanjut ke No. 20) b. Tidak ada 20. Dalam bentuk apa bantuan tersebut saudara terima. a. Traktor b. Alat-alat pertanian c. Bibit atau benih tanaman d. Lainnya III. Aspirasi Masyarakat 1. Sebutkan harapan, kritik, saran atau masukan apa saja agar rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di desa ini dapat berhasil dengan baik ? ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ---oOo--- IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN DAN PENDAPAT MASYARAKAT TERHADAP RENCANA REHABILITASI LAHAN PERTANIAN PASCA TSUNAMI (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar ) ASNAWI ACHMAD SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 ABSTRAK ASNAWI ACHMAD. Identifikasi Kerusakan Lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar). Dibimbing oleh SANTUN R.P. SITORUS dan H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM. Gempa dan tsunami yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 telah mengakibat 61.816 ha lahan pertanian rusak, sehingga mengakibatkan lumpuhnya kegiatan usahatani masyarakat. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan akibat dari intrusi air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami sangat diperlukan, sehingga lahan-lahan pertanian dapat difungsikan kembali. Penelitian bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan, (2) Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang, (3) Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Metode yang digunakan adalah survei lapangan yang mengacu pada kriteria kerusakan lahan yang dikeluarkan oleh FAO tahun 2005 dan analisis contoh tanah yang diambil berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan serta wawancara dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian tergolong kelas kerusakan B atau sedang,dengan tingkat salinitas cenderung meningkat kearah daratan dengan nilai tertinggi 2,43 mS/cm dijumpai pada jarak 1250 meter dari garis pantai. Sedimentasi yang menutupi lahan pertanian adalah pasir laut dengan ketebalan berkisar antara 5 cm – 27 cm. Masyarakat umumnya mendukung rencana rehabilitasi lahan dan tetap ingin berusahatani kembali di lahan pertanian yang terkena dampak tsunami. Kata kunci : kerusakan lahan pasca tsunami, rehabilitasi lahan, pendapat masyarakat, ABSTRACT ASNAWI ACHMAD. The Identification of Land Damage and Opinion of The Community Toward Rehabilitation Plan of Agriculture Land Post-Tsunami (Case Study in Lho’nga subdistrict, Aceh Besar Regency). Supervised by SANTUN R.P SITORUS and H. R. SUNSUN SAEFULHAKIM Earthquake and tsunami that hit the Nanggroe Aceh Darusalam Province at 26 December 2006 cause damage 61.816 hectares of agriculture land , resulting agriculture activities farmers stopped. The prime damage of agriculture land is the change of soil texture and impact of sea water intrusion that degrade chemical and fertility of the soil. Degraded agriculture land rehabilitation program affected by tsunami is very necessary, with result that agriculture land can be functioned again. This research objective are (1) To identify agriculture land damage at research location based on distance from coastline, (2) To study aspiration of community for the their agricultural activities for the future, (3) To study opinion of the community for agriculture land rehabilitation plan post-tsunami. The research methods use are (1) Evaluation of area damaging levels using land damage criteria by FAO (2005),(2) Analysis of soil sample collected based on distance from coastline, (3) Interview by questionnaire to know opinion of community in supporting activities of the agriculture land rehabilitation plan. The result of this research show that agriculture land damage belongs to B class or middle damage, level of salinity increase from coastline to continent with the highest value 2,43 mS/cm at distance of 1.250 meter from coastline. Kind of sediment cover the agriculture land is mainly sea sand with thickness ranging from 5 centimetre to 27 centimetre. The communities are generally supporting activities plan to rehabilitate agriculture land and willing to carry out their agriculture activities while the agriculture land completely rehabilitated. Key words : land damage of post-tsunami, land rehabilitation, opinion of community. Judul Tesis : Identifikasi Kerusakan Lahan Dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar) Nama : Asnawi Achmad Nomor Pokok : P052024011 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus Ketua Dr. Ir. H. R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr Anggota Diketahui, Ketua Program Studi PSL Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S. Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc Tanggal Ujian : 15 Mei 2006 Tanggal Lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis, Asnawi Achmad adalah anak ke-2 dari 7 (tujuh) bersaudara pasangan dari Achmad Ibrahim dan Radimah. Penulis dilahirkan di Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 12 Oktober 1973. Tahun 1986 penulis lulus dari SD Negeri No.8 Banda Aceh. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke SLTP Negeri 1 Banda Aceh dan lulus pada tahun 1989. Tahun 1989 penulis melanjutkan studi ke SLTA Negeri No 1 Banda Aceh, lulus tahun 1992. Pada tahun 1992 penulis melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh lulus pada tahun 1999. Pada tahun 2002 semester genap, penulis melanjutkan pendidikan dan diterima di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Bidang Minat “Kebijakan dan Manajemen Lingkungan” PRAKATA Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena atas Rahmat dan Berkah-Nya penulis dapat menyelesaikan rencana penelitian yang berjudul “ Identifikasi Kerusakan lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar)”. Rencana penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi pesyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih penulis kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Santun R.P Sitorus selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. H.R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr selaku anggota komisi pembimbing. Meine Van Noordwijk, Josepine Prasetyo, Diah Wulandari, dan seluruh staf ICRAF atas bantuan yang diberikan selama penelitian ini. Masyarakat Desa Meunasah Baro dan Meunasah Manyang, rekan-rekan di BRR Aceh-Nias, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh, T. Nova. F, Subhan, S,Hut. Bukhari, S.Hut, EmDaw, Igal dan semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan pada saat pengumpulan data untuk penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermafaat untuk pembangunan kembali Nanggroe Aceh tercinta Bogor, Maret 2006 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................................................................................... DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... iv v vi I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................... 1.5. Kerangka Pemikiran............................................................................. 1 1 3 5 5 5 II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 2.1. Konsep Lahan Secara Umum ............................................................. 2.2. Degradasi Lahan.................................................................................. 2.3. Persepsi............................................................................................... 2.4. Karakteristik Individu ............................................................................ 2.5. Perencanaan Penggunaan Lahan ....................................................... 8 8 9 11 12 13 III. KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TSUNAMI ........................ 3.1..Gempa dan Tsunami ........................................................................... 3.2. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 15 15 15 IV. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... 4.1. Kerangka Pendekatan Metodologi ...................................................... 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 4.3. Bahan dan Alat..................................................................................... 4.4. Analisis Kerusakan Lahan ................................................................... 4.3.1. Penentuan Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Contoh ...... 4.3.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.3.3. Analisis Data .............................................................................. 4.5. Analisis Pendapat Masyarakat ............................................................ 4.4.1. Penentuan Responden .............................................................. 4.4.2. Pengumpulan Data .................................................................... 4.4.3. Analisis Data .............................................................................. 18 18 19 20 20 21 21 22 24 24 25 25 V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................................ 5.1. Letak dan Geografis dan Administrasi Pemerintah............................. 5.2. Kondisi Iklim ......................................................................................... 5.3. Geologi dan Topografi.......................................................................... 5.4. Jenis Tanah .......................................................................................... 5.5. Kependudukan ..................................................................................... 5.6. Mata Pencaharian ................................................................................ 5.7. Pendidikan dan Tingkat Pendidikan .................................................... 28 28 28 29 29 29 30 31 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 6.1. Kerusakan Lahan Pertanian ................................................................ 6.1.1. Kondisi Kerusakan Lahan Pertanian ........................................ 6.1.2. Karakteristik Lahan Pertanian yang Rusak .............................. 32 32 32 35 ii 6.2. Pendapatan Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian ................................................................................... 6.2.1. Karakteristik Masyarakat........................................................... 6.2.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Usahatani ............................. 6.2.3. Pendapat Masyarakat terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan......................................................................................... 6.2.4. Arahan Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian yang Rusak Pasca Tsunami......................................................................... 38 38 40 44 48 VII.KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 7.1. Kesimpulan...................................................................................... 7.2. Saran ............................................................................................... 51 51 52 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... LAMPIRAN........................................................................................................ 53 57 iii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Kondisi kerusakan lahan pertanian, kebun, dan kehilangan ternak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .................................................... 16 2. Hubungan tujuan 1 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis kerusakan lahan ....................... 21 3. Jenis data dan metode pengumpulan data di lapangan............................ 22 4. Tabel Observasi untuk Kerusakan Lahan.................................................. 23 5. Hubungan tujuan 2 dan 3 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis pendapat masyarakat ................................................................................................. 25 6. Jumlah penduduk dalam kecamatan Lho’nga tahun 2003........................ 30 7. Hasil pengamatan kerusakan lahan pertanian dengan metode FAO tahun 2005 ......................................................................................... 32 8. Hasil pengamatan ketebalan sedimen pasir di dua desa di Kecamatan Lho’nga menurut jaraknya dari garis pantai ...................... 33 9. Hasil analisis vegetasi pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga............................................................................... 35 10. Data analisis sifat kimia tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga...................................................................... 36 11. Data analisis sifat fisika tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga................................................................................ 37 12. Hasil rata-rata sifat kimia tanah berdasarkan jarak dari pantai di dua desa di Kacamatan Lho’nga....................................................................... 37 13. Karakteristik responden di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................... 40 14. Pendapat masyarakat terhadap kegiatan usahatani di dua desa di Kecamatan Lho’nga ................................................................................... 41 15. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama..................................... 43 16. Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di dua desa di Kecamatan Lho’nga .................................. 45 17. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta pengetahuan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami .................. 46 18. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta dukungan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami................................. 47 iv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka pemikiran penelitian .................................................................... 7 2. Kerangka pendekatan metodologi .............................................................. 19 3. Peta lokasi penelitian .................................................................................. 20 4. Skema pengambilan contoh tanah ............................................................. 20 5. Kondisi kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian .............................. 32 6. Ketebalan sedimentasi pasir di Kecamatan Lho’nga.................................. 33 7. Vegetasi penutup lahan pertanian di lokasi penelitian ............................... 34 8. Kerusakan sarana pertanian di dua desa di Kecamatan Lho’nga.............. 42 v DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Data Fisik dan Kimia Tanah ......................................................................... 57 2. Hasil Analisis Fisik dan Kimia Tanah .......................................................... 58 3. Kriteria Penilaian Analisis Tanah ................................................................. 60 4. Data Curah Hujan Rata-rata Banda Aceh dan Aceh Besar ........................ 61 5. Data Pengamatan Kerusakan Lahan Berdasarkan Kriteria FAO tahun 2005 ................................................................................................... 62 6. Hasil Analisis Kuantifikasi Hayashi II ........................................................... 63 7. Hasil Analisis Korelasi.................................................................................. 67 8. Kuesioner Penelitian .................................................................................... 71 vi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana Gempa dan Tsunami yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 telah menimbulkan dampak yang sungguh luar biasa besarnya, baik terhadap manusia dan sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut. memporak-porandakan dan menghancurkan Bencana alam tersebut telah kehidupan manusia yang sebelumnya berlangsung normal menjadi demikian naif, tak berdaya, dan kehilangan semua yang dimilikinya. Dampak langsung bencana gempa bumi dan tsunami terhadap manusia terlihat pada banyaknya korban meninggal dan hancurnya tempat tinggal serta fasilitas umum lainnya, seperti perkantoran, sarana prasarana transportasi, dan tempat ibadah serta kerusakan terhadap lahan-lahan pertanian. Menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, sampai dengan Februari 2005, jumlah korban meninggal di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tercatat 124.603 jiwa, 400.379 jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal, dan 111.769 jiwa lainnya dinyatakan hilang. Musibah ini menyebabkan berkurangnya jumlah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam penduduk sekitar empat persen, yang sebelumnya berjumlah sekitar 4,2 jiwa turun menjadi 4.031.589 setelah tsunami. Secara umum, wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang paling parah terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami adalah kabupaten/kota yang berada di wilayah pantai barat Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan sebagian Nagan Raya. Adapun wilayah kabupaten/kota di pantai timur Aceh yang juga terkena dampak gempa bumi dan tsunami meskipun tidak separah kondisi di wilayah pantai barat adalah Pidie, Bireuen, Lhoksuemawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Disamping korban manusia, dampak kerusakan juga terjadi pada lingkungan dan sumberdaya alam. Secara logis, karena episentrum gempa bumi berpusat di laut (sebelah barat daya Banda Aceh) maka kerusakan lingkungan laut sudah pasti terjadi meskipun belum ada hasil penelitian yang secara resmi menjelaskan tingkat kerusakan lingkungan laut akibat gempa bumi tersebut. Hipotesis ini kemungkinan besar ada benarnya mengingat besarnya goncangan 2 yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Catatan Badan Meteorologi Amerika Serikat menyebutkan bahwa kekuatan gempa yang mengguncang kawasan Asia yang berpusat di lautan Hindia tersebut mencapai 8,9 pada Skala Richter. Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh Departemen Pertanian, lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 20.101 Ha dan kerusakan ladang mencapai 31.345 Ha. Ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultur serta sedikit perkebunan kelapa.Tercatat sembilan kabupaten/kota yang terkena bencana tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup parah yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun. Sedangkan berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) kerusakan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultur diperkirakan 61.816 ha lahan yang terdiri dari 37.471 ha lahan basah dan 24.345 ha lahan kering. Selain kerusakan pada lahan pertanian tersebut, kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi, bangunan irigasi, saluran irigasi di tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usahatani. Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 36.803 ha yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe (Departemen Pertanian, dalam BAPPENAS, 2005). Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Sedangkan berdasarkan wilayah, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data mengenai persentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di NAD. Besarnya kerusakan sumberdaya alam dan ekosistem akibat gempa dan tsunami memerlukan perhatian khusus terutama pada lahan-lahan pertanian yang merupakan lahan usaha masyarakat. Hal ini mengingat begitu banyak masyarakat yang hidupnya tergantung pada lahan pertanian. Hancurnya lahanlahan pertanian tersebut mengakibatkan hancurnya kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan perikanan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa 92.000 usaha pertanian dan perdagangan yang menampung sekitar 3 160.000 orang pekerja mengalami kemacetan (Subagyono, 2005). Untuk menggerakkan kembali perekonomian di sektor pertanian, diperlukan suatu kondisi yang layak untuk pemanfaatan lahan bagi kegiatan pertanian. Kenyataaan di atas menjadi latar belakang melakukan penelitian dalam penelitian identifikasi kondisi lahan-lahan pertanian yang terkena dampak tsunami serta pendapat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami agar lahan pertanian dapat kembali difungsikan secara berkelanjutan. 1.2. Perumusan Masalah Sebelum bencana gempa bumi dan tsunami terjadi, sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa kabupaten yang merupakan sentra kegiatan pertanian adalah Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun. Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam tidak saja menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian. Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh peningkatan kadar garam (salinitas), sedimen lumpur laut, sampah dan puingpuing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Kerusakan lahan pertanian (tanaman pangan dan hortikultur) akibat tsunami mencapai 61.816 ha yang meliputi lahan basah dan lahah kering. Kerusakan yang terjadi di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 45.755 ha dan di pantai timur sebesar 16.061 ha. Dari jumlah lahan pertanian yang rusak di pantai timur dapat diklasifikasikan sekitar 50% tergolong rusak ringan dan 50% rusak sedang, sedangkan di pantai barat dari jumlah 45.755 ha, 10% tergolong rusak ringan (4.575,5 ha), 20% rusak sedang (9.151 ha) dan 60% rusak berat (27.453 ha) dan 10% tergenang air laut (5.575,5 ha). (FAO, 2005). Petani yang meninggal dunia dan hilang akibat tsunami sebanyak 47.275 orang dan sekitar 243.394 orang petani yang selamat kini menempati kamp dan barak hunian sementara. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan perubahan garis pantai yang terjadi di hampir seluruh kawasan pesisir yg 4 terkena gelombang tsunami. Kerusakan lahan juga terjadi karena penimbunan dan pemadatan limbah tsunami yang terus berlangsung dibeberapa lokasi. Bentuk kerusakan lahan lain terjadi akibat dari luapan air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Shofiyati, (2005) menyatakan paling sedikit ada empat bentuk utama kerusakan pada lahan pertanian yang terindentifikasi merupakan satu atau kombinasi dari bentuk kerusakan tersebut yaitu : 1) perubahan bentang lahan (landscape), 2) endapan lumpur dari laut dan pantai, 3) intrusi air laut ke dalam profil tanah, dan 4) penutupan sampah di atas permukaan tanah. Kerusakan terhadap lahan pertanian tersebut telah menyebabkan kehancuran terhadap roda perekonomian masyarakat, karena sebagian besar penduduk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bermata pencaharian sebagai petani. Saat sekarang ini lahan-lahan yang rusak tersebut tidak dapat diusahakan sehingga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani terpaksa mencari kegiatan usaha di bidang lainnya bahkan ada sebagian dari mereka hanya menunggu bantuan dari pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan hancurnya berbagai kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di bidang pertanian yang menjadi andalan masyarakat setempat, mengakibatkan masyarakat memerlukan pengaktifan kembali kegiatan usaha pertaniannya dan pemberian bantuan, untuk memulihkan keadaan perekonomiannya. Menanggapi bencana tersebut pemerintah dengan berbagai pihak, baik luar negeri maupun dalam negeri, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kembali provinsi ini (recovery). Dalam hal penanganan sektor pertanian terutama lahan-lahan pertanian yang terkena tsunami pemerintah telah merencanakan program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak, sehingga lahanlahan pertanian dapat difungsikan kembali agar masyarakat kembali dapat melakukan aktifitas pertanian. Selain itu, perlu pula diperhatikan aspirasi masyarakat yang menghendaki adanya pengalihan kegiatan usaha, mengingat sebagian lahan pertanian mereka ada yang sama sekali tidak dapat difungsikan lagi karena lahan tersebut sudah tergenangi air laut. Berdasarkan gambaran kondisi dan permasalahan seperti di atas , maka dapat disusun pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami pada lokasi penelitian. 5 2. Bagaimana aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka dimasa yang akan datang 3. Bagaimana pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi dan perbaikan lahan pertanian pasca tsunami yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam upaya recovery Aceh pasca tsunami. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan 2. Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang. 3. Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam memberikan masukan dan petunjuk untuk pemerintah dalam menentukan arah rencana pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 2. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. 3. Sebagai bahan informasi, pengetahuan dan rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 1.5. Kerangka Pemikiran Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam pengembangan sektor pertanian yang menjadi tujuan pokok adalah peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani sekaligus mempertahankan kesuburan tanah pertanian . Gempa dan tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah memporak-porandakan semua segi kehidupan yang ada di provinsi paling Barat Sumatera ini. Dampak langsung dari bencana tersebut adalah hilangnya jiwa manusia yang cukup besar dan kerusakan 6 terhadap sarana dan prasarana yang ada, ditambah lagi kerusakan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. Salah satu sumberdaya alam yang terkena dampak kerusakan adalah sumberdaya pertanian yaitu berupa rusaknya lahan-lahan pertanian produktif milik masyarakat terutama lahan persawahan. Kerusakan ini mengakibatkan lumpuhnya perekonomian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Kerusakan ini berupa timbunan sampah dan lumpur yang cukup tebal, perubahan tekstur tanah, dan meningkatnya salinitas tanah. Hal lain yang memperparah adalah kerusakan fasilitas pengairan dan irigasi serta kehilangan sarana produksi pertanian. Untuk mengembalikan roda perekonomian masyarakat di sektor ini diperlukan suatu upaya rehabilitasi tanah-tanah pertanian yang terkena dampak tsunami. Untuk melakukan rehabilitasi terhadap tanah-tanah pertanian tersebut perlu dilakukan pengamatan langsung terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak serta seberapa besar tingkat kerusakan yang terjadi, sehingga dapat diperoleh suatu gambaran tentang kondisi aktual lahan tersebut untuk dapat difungsikan kembali sebagai lahan pertanian. Sebelum tsunami provinsi NAD mampu memproduksi 1.5 juta ton padi dari 380 ribu ha sawah, 190 ribu ha diantara diairi oleh irigasi. Kerusakan lahan sawah akibat tsunami diperkirakan sebesar 10 % dari total luas areal sawah yang ada di provinsi ini. Hal ini membuat kehilangan produksi padi yang besar. Rata-rata produktivitas tanah untuk produksi padi sebesar 4,2 ton /ha,dan kehilangan produksi padi yang potensial paling sedikit sebesar 120.000 ton padi per musim tanam. Rehabilitasi lahan pertanian ini tidak saja bisa memulihkan keamanan pangan tetapi lebih dari pada itu juga memulihkan kembali mata pencaharian para petani. (Rachman, et al., 2005) Pemerintah saat ini telah mempunyai rencana rehabilitasi lahan-lahan pertanian yang rusak akibat tsunami dengan tujuan memperbaiki kondisi lahan tersebut agar dapat difungsikan kembali. Rencana kegiatan tersebut haruslah dilakukan melalui pendekatan sosial sehingga diharapkan kegiatan rehabilitasi dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian ini mencoba untuk melakukan identifikasi terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami melalui pendekatan biofisik dan sosial. Pendekatan biofisik berhubungan dengan kondisi sifat fisik-kimia tanah dan vegetasi yang tumbuh atau bertahan pada lahan pertanian yang terkena 7 dampak gelombang tsunami, sedangkan pendekatan sosial untuk melihat pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah, karena pendapat masyarakat yang positif terhadap kegiatan rehabilitasi lahan tersebut dapat mendorong partisipasi mereka dalam pelaksanaan rehabilitasi lahan. Skema kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Lahan Secara Umum Lahan mempunyai arti yang sangat penting dalam pembangunan. Pembangunan tidak dapat dilaksanakan tanpa ketersediaan lahan guna menopang pembangunan tersebut. Pengertian lahan (land) seringkali disalahartikan dengan tanah (soil). Sitorus (1998) mengemukakan bahwa pengertian lahan adalah bentang lahan (landscape) yang meliputi lingkungan fisik seperti iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan vegetasi yang semuanya secara potensial berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Dalam hal ini lahan juga dapat mengandung pengertian ruang (space) atau tempat (Sitorus, 2004a). Lahan dapat juga didefinisikan sebagai wilayah di permukaan bumi yang mencakup semua komponen biosfer yang dapat dianggap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang, yang semuanya tersebut berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Brinkman dan Smith, 1973 dan FAO,1976). Lahan sebagai suatu sistem mempunyai komponen-komponen yang terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju pada sasaran-sasaran tertentu. Komponen-komponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hubungannya dengan periode formasinya dan dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas manusia, maka sumberdaya lahan tersebut dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori (Vink, 1975), yaitu : 1) sumberdaya yang sangat stabil (iklim, relief, dan formasi geologi), 2) sumberdaya buatan yang merupakan hasil budaya manusia (sumberdaya artifisial), dan 3) sumberdaya yang relatif tidak stabil (vegetasi dengan berbagai karakter biologinya, termasuk tipe-tipe vegetasi alamiah dan tanaman). Menurut Sitorus (2004a) komponen-komponen penyusun sumberdaya lahan terdiri dari : 1) iklim, 2) air, 3) bentuk lahan dan topografi, 4) tanah, 5) formasi geologi, 6) vegetasi, 7) organisme/hewan, 8) manusia dan 9) produk budaya manusia. Dipandang dari sudut pendekatan sistematik, sumberdaya lahan dapat dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa sub- 9 sistem yaitu : 1) sub-sistem tanah, 2) sub-sistem klimatologi, 3) sub-sistem hidrologi, 4) sub-sistem vegetasi, 5) sub-sistem manusia dan budayanya dan 6) sub-sistem penunjang aktivitas manusia. Sumberdaya tanah sering kali dianggap sebagai komponen yang sangat vital dalam sistem lahan dan pengelolaannya. Tanah dapat dipandang sebagai sebidang bentang lahan dengan permukaan dan bentuk lahannya sendiri, serta mempunyai profil tanah dan karakteristik internal yang spesifik, seperti penyebaran kadar liat, komposisi mineral dan sifat fisik-kimia, serta sifat-sifat geofisika (Soemarno, 1991). Tanah juga dipandang sebagai tubuh alami yang tersusun atas komplek ekosistem, di dalamnya terdapat berbagai jenis organisme hidup mulai dari bakteri hingga vertebrata. Bagi lahan pertanian, penggunaan lahan merupakan wujud usaha petani untuk memanfaatkan lahannya, yaitu bagaimana petani mengelola lahan dengan penentuan dan pengaturan jenis tanaman menurut luas lahan dan giliran tertentu, sehingga dengan luas lahan yang dimilikinya diharapkan dapat diperoleh hasil yang optimal untuk tujuan tertentu (Gustafon, 1984 dalam Barijadi, 1986). 2.2. Degradasi Lahan Degradasi lahan adalah penurunan kualitas lahan dan produktifitas lahan atau pengurangan kemampuan lahan, baik secara alami atau karena pengaruh manusia (Dent, 1993). Perkembangan selanjutnya menuju fase-fase yang menunjukkan tingkat keparahannya, sebelum mencapai suatu keadaan ekstrim rusak (lahan kritis). Salah satu akibat terjadinya lahan kritis menurut Lal dan Miller (1989) adalah hilangnya kemampuan berproduksi jangka panjang. Penyebab terjadinya degradasi lahan menurut Sitorus (2004b) dapat dikelompokkan atas : (1) Bahaya alami (Natural Hazard), yaitu degradasi yang terjadi tanpa campur tangan manusia, contohnya longsor, (2) Perubahan populasi, yaitu meningkatnya populasi terkait dengan kebutuhan dan intensitas penggunaan lahan, contohnya pertumbuhan penduduk, (3) Marginalisasi, yaitu eksploitasi lahan terhadap lahan-lahan marginal, (4) Kemiskinan (Poverty), yaitu penduduk miskin yang mengolah lahan cenderung untuk mendapatkan keuntungan sesegera mungkin tanpa memberikan input yang sesuai dengan kebutuhan lahan tersebut, (5) Masalah kepemilikan lahan, (6) Kestabilan politik 10 dan salah Administrasi (maladministration), misalnya peraturan yang dibuat tanpa memperhatikan kebutuhan petani, (7) Aspek sosial ekonomi, yaitu terbentuknya degradasi lahan yang disebabkan oleh kegiatan olah tanah tanpa reinvestasi, (8) Kesehatan, yaitu tanah ditinggalkan, padahal tanah tersebut tanah yang subur untuk pertanian akibat adanya outbreak penyakit pada suatu tempat, (9) Pertanian tidak tepat (Inapropriate agriculture), yaitu terjadinya degradasi lahan karena memaksakan suatu teknologi yang tidak cocok pada suatu daerah, dan (10) Aktifitas pertambangan dan industri. Riquier (1977) mengelompokkan degradasi lahan ke dalam dua kelompok, yaitu degradasi alami dan degradasi dipercepat. Degradasi alami terjadi pada masa lampau akibat denundasi, yang biasa meninggalkan sisanya dalam bentuk permukaan erosi atau dataran aluvial yang luas berbentuk dataran banjir. Degradasi dipercepat adalah degradasi yang prosesnya berlangsung cepat, umumnya disebabkan oleh campur tangan manusia. Unsur lahan yang umumnya mengalami degradasi adalah tanah dan vegetasi. Menurut Barrow (1991) degradasi lahan didefinisikan sebagai fenomena hilangnya dan berkurangnya manfaat atau potensi dari suatu lahan. Hilangnya atau berubahnya suatu komposisi flora dan fauna yang tidak digantikan terjadi pada lahan yang terdegradasi. Ada dua kategori proses degradasi tanah, yakni (1) Berkaitan dengan pemindahan bahan atau materi tanah (erosi oleh angin dan air), dan (2) Menurunnya kondisi tanah tersebut (proses degradasi beberapa sifat fisik dan kimia) ( Anonymous, 1993 dalam Situmorang, 1999). Menurut bentuknya degradasi dibagi menjadi tiga, yaitu degradasi fisik, degradasi kimia dan degradasi biologi. Degradasi fisik terjadi akibat penebangan hutan, penanaman intensif menurut arah lereng, pengolahan tanah berlebihan dan penanaman intensif tanpa penambahan unsur hara atau hanya dengan input hara rendah. Degradasi kimia diakibatkan oleh penggaraman atau pengasaman tanah, sedangkan degradasi biologi dicirikan oleh penurunan produksi dan kandungan bahan organik tanah (Lal dan Miller, 1989). Dent (1993) membagi pemicu terbentuknya degradasi lahah ke dalam tiga kelompok yaitu : (1) Kerusakan morfologi: kehilangan lapisan tanah melalui erosi alur, pengikisan tebing sungai dan longsor; (2) Kerusakan kimia dicirikan oleh hilangnya unsur hara dan atau bahan organik dan pengasaman; (3) 11 kerusakan fisik meliputi genangan air, penurunan muka air tanah dan menipisnya tanah-tanah organik. Kerusakan tanah dapat terjadi oleh (1) Kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, (2) Terkumpulnya garam di daerah perkaran (salinasasi), (3) Penjenuhan tanah oleh air (water logging), dan (4) Erosi. Kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kerusakan tanah akibat terkumpulnya garan di sekitar perakaran dapat menghambat pertumbuhan tanaman atau mematikan tanaman. Kerusakan ini dapat hilang pada musim hujan dengan tercucinya garam-garam tersebut (Arsyad, 1989). 2.3. Persepsi Pengertian persepsi dinyatakan dalam berbagai rumusan yang secara substantif ditekankan pada penafsiran informasi yang menerpa panca indera. Persepsi adalah suatu proses berpikir yang mampu memberikan penafsiran khusus terhadap situasi tertentu (Luthans, 1981). Menurut Rakhmat (2000) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sadli (1976) mengemukakan pengertian yang lebih luas bahwa persepsi seseorang merupakan suatu proses aktif, dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenainya, tetapi juga keseluruhan pengalamanpengalaman, motivasi, dan sikap-sikapnya yang relevan terhadap stimulus tersebut. Menurut Zanden (1984) dalam Arianty (2004), persepsi adalah proses pengumpulan dan penafsiran dari informasi. Persepsi merujuk pada beberapa proses sehingga seseorang menjadi tahu dan berpikir mengenai beberapa hal, berupa karakteristik, kualitas dan pernyataan diri. Seseorang membentuk pandangannya mengenai beberapa hal tersebut untuk menetapkan dan membuat perkiraan serta mengatur pandangannya mengenai masyarakat berdasarkan informasi. Va den Ban dan Hawkins (1999) dalam Arianty (2004) mengemukakan bahwa persepsi seseorang bisa berlainan satu sama lain dalam situasi yang sama karena adanya perbedaan kognitif. Dijelaskan bahwa setiap proses mental, 12 individu bekerja menurut caranya sendiri tergantung dari faktor-faktor kepribadian, misalnya tingkat keterbukaan atau ketertutupan pikiran. Ini berarti bahwa persepsi seseorang terhadap sesuatu obyek ditentukan oleh karakteristik personal dan kebiasaan berkomunikasi. Persepsi merupakan dasar pengambilan keputusan inovasi opsional. Keputusan inovasi opsional ialah yang dibuat oleh seseorang , terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem sosialnya, dalam proses keputusan inovasi. Proses keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan menerima inovasi (melaksanakan kegiatan inovatif tertentu) atau menolaknya (tidak berpengaruh untuk bertindak melaksanakan kegiatan inovatif tertentu). (Rogers dan Shoemaker, 1985 dalam Arianty , 2004). 2.4. Karakteristik Individu Karakteristik individu yang patut diperhatikan untuk menerangkan persepsi seseorang terhadap suatu informasi antara lain adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, bangsa, agama dan lain-lain (Tubbs dan Moss, 2001). Karakteristik sosial ekonomi meliputi umur, pendidikan, pendapatan, pemilikan barang (lahan), dan pekerjaan. Sedangkan ciri lain, yakni kepribadian (personality) meliputi pengalaman, motivasi, dan kepribadian komunikan. Pendapat lain dikemukakan oleh Bettinghaus, (1980) dalam Tubbs dan Moss (2001), yang menjelaskan beberapa ciri dari anggota kelompok yang dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Ciri-ciri tersebut antara lain meliputi jenis kelamin, umur, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Karakteristik demografi dan karakteristik psikografik merupakan karakteristik seseorang yang dapat menjelaskan perilaku komunikasi dan persepsinya terhadap suatu informasi. Kotler (1980) dalam Tubbs dan Moss (2001) menyebutkan bahwa karakteristik demografik meliputi umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, kebangsaan dan tingkat sosial. Disebutkan juga bahwa karakteristik psikografik meliputi gaya hidup dan kepribadian. McLeod dan O’keefe Jr (1972) dalam Tubbs dan Moss (2001) menyatakan bahwa variabel demografik seperti jenis kelamin, umur dan status sosial merupakan indikator yang dapat digunakan untuk menerangkan perilaku individu. 13 2.5. Perencanaan Penggunaan Lahan Perencanaan dalam arti luas adalah merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan sistematis dari sejumlah kegiatan dalam memilih dan mengembangkan tindakan yang paling baik untuk mencapai tujuan tertentu (Sitorus, 2004). Kay dan Alder (1999) dalam Rustiadi et al. (2003) menyatakan perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. Katz dalam Tjokroamidjojo (1979) dalam Sitorus (2004) mengemukakan lima alasan perlunya melakukan perencanaan, yaitu : 1. Dengan adanya perencanaan diharapkan terdapatnya pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan pada pencapaian tujuan pembangunan; 2. Dengan perencanaan dapat dilakukan suatu prakiraan (forecasting) terhadap berbagai hal dalam periode pelaksanaan. Prakiraan dilakukan terhadap potensi-potensi dan prospek-prospek pengembangan, serta mengenai hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi sedikit mungkin; 3. Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik; 4. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dengan memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya, dan; 5. Dengan adanya rencana maka akan ada suatu alat pengukur atau patokan dalam melakukan dan evaluasi. Perencanan penggunaan lahan merupakan proses inventarisasi dan penilaian keadaan (status), potensi, dan pembatas-pembatas dari suatu daerah tertentu dan sumberdayanya , yang berinteraksi dengan penduduk setempat atau dengan orang lain yang menaruh perhatian terhadap daerah tersebut dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka, keinginan dan aspirasinya untuk masa mendatang (Soil Conservation Society of America, 1982 dalam Sitorus, 2004a). Perencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan sebenarnya merupakan upaya untuk mengetahui dan memutuskan keadaan sebidang lahan 14 termasuk dalam kategori apa dan kemungkinan terbaik apa yang dapat diusahakan pada lahan tersebut secara berkesinambungan. Fungsi utama dari perencanaan penggunaan lahan adalah untuk memberikan petunjuk atau pengarahan dalam proses pengambilan keputusan tentang penggunaan lahan sehingga sumberdaya lahan dan lingkungan tersebut ditempatkan pada penggunaan yang paling menguntungkan/efisien bagi manusia, dan dalam waktu yang bersamaan juga mengkonservasikannya untuk penggunaan pada masa yang akan datang (Dent, 1978; Jones dan Davies, 1978) dalam Sitorus (2004a). Dalam kaitan dengan keperluan yang lebih operasional perencanaan penggunaan lahan bertujuan untuk (Sandy, 1984; Silalahi, 1985) dalam Sitorus (2004a) : 1. Mencegah penggunaan lahan yang salah tempat dalam mengupayakan terciptanya penggunaan lahan yang optimal ; 2. Mencegah adanya salah urus yang menyebabkan lahan rusak dalam mengupayakan penggunaan lahan yang berkesinambungan; 3. Mencegah adanya tuna kendali dalam mengupayakan penggunaan lahan yang senantiasa diserasikan oleh adanya kendali; 4. Menyediakan lahan untuk keperluan pembangunan yang terus meningkat ; 5. Memanfaatkan lahan sebesar-besarnya untuk kemakmuran manusia. III. KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT TSUNAMI DI NAD 3.1. Gempa Dan Tsunami Aktivitas gempa di Nanggroe Aceh Darussalam bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena wilayah NAD memang terletak di jalur gempa. Berdasarkan sejarah gempa yang telah diketahui para ahli geofisika selama 30 tahun ini saja telah terjadi sekitar 100 kali gempa berskala sekitar 5 Skala Richter. Pusat gempa terbanyak di sepanjang laut sebelah timur Aceh, 15 kali gempa diatas 7 skala Richter di laut, dan 6 kali di daratan sepanjang patahan Sumatera yang melintasi Aceh. Keseluruhan gempa diatas memiliki kedalaman yang dangkal. Sedangkan gempa menengah telah terjadi 27 kali di sepanjang laut sebelah timur Aceh dan 25 kali di daratan. Sebagian besar gempa-gempa tersebut berkedudukan di Laut sekitar Pulau Simeulue dan Bukit Barisan berarah baratdaya-timurlaut dan menerus sampai ke laut Andaman dan Birma. Gempa pada tanggal 26 Desember 2004 tersebut adalah gempa terbesar yang pernah terjadi di daerah ini, dengan kekuatan 9.0 Skala Richter dengan pusat gempa berada 225 Km di selatan Kota Banda Aceh pada kedalaman 9-10 km, Gempa bumi ini diikuti gelombang tsunami yang menghantam hampir seluruh pesisir Provinsi NAD, dengan kerusakan terparah melanda Banda Aceh hingga pantai barat Sumatera Utara. Tsunami merupakan proses akibat terjadinya gempa pada kedalaman yang dangkal, karena sebagian besar energy release ke kolom air laut di atasnya. Gempa bawah laut merenggutkan massa besar air laut dalam satu hentakan kuat. Gelombang balik air menerjang dengan kecepatan hingga 800 km/jam, mendekati pantai gelombang melambat namun mendesak ke atas, menghempas ke daratan, dan menghancurkan apapun di belakang pantai. Terjangan gelombang menunjukkan arah relatif tegak lurus garis pantai. Pola kerusakan sejajar garis pantai dengan gradasi kerusakan melemah tegak lurus menjauhi pantai. Tingkat kerusakan meliputi kawasan perkotaan dan/atau pedesaan hancur total, rusak berat, sedang, dan ringan (BAPPENAS, 2005). 3.2. Kerusakan Lahan Pertanian Gempa bumi dan terutama tsunami telah meluluhlantakkan sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam yang menyebabkan terjadinya kerusakan 16 dan kerugian yang sangat besar, baik kerugian fisik maupun kerugian non fisik. Kerugian fisik berupa kerusakan lahan, sarana dan prasarana umum serta sumber-sumber ekonomi lainnya. Kerugian non fisik berupa korban jiwa manusia sejumlah 124.603 jiwa, 400.379 jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal, dan 111.769 jiwa lainnya dinyatakan hilang, dengan daerah terparah berada pada pantai barat meliputi Banda Aceh hingga Meulaboh, meskipun pantai timur juga mengalami kerusakan yang tidak ringan. Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh Departemen Pertanian (2005) dalam BAPPENAS (2005), lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 20.101 Ha, sedangkan kerusakan ladang mencapai 31.345 Ha. Ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultur serta sedikit perkebunan kelapa. Tercatat 9 kabupaten/ kota yang terkena bencana tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup besar yaitu Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun,seperti tercantum pada Tabel 1. Jumlah ternak yang mati atau hilang diperkirakan mencapai 1,9 juta ekor yang sebagian besar adalah ternak unggas, dan sisanya ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing/domba.(Tabel 1) Tabel 1 Kondisi kerusakan lahan pertanian, Kebun, Ladang dan Kehilangan ternak di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten dan Kota Sabang Banda Aceh Aceh Besar Pidie Biruen Aceh Utara Lhokseumawe Aceh Timur Aceh Barat Nagan Raya Aceh Jaya Simeulue Aceh Selatan Aceh Barat Daya Singkil Jumlah Kerusakan Lahan Pertanian Kebun (Ha) Ladang (Ha) 180 115 5.611 4.316 13.400 1.859 4.704 5.256 2.118 2.750 597 1.224 1.037 2.119 60 880 4.167 1.174 800 3.122 1.600 1.755 6.480 3.128 3.410 7.904 110 2.750 250 1.365 4.788 20.101 36.803 31.345 Sawah (Ha) Keterangan:* Sebagian besar unggas Sumber : Tim Penanggulangan Bencana Nasional Departeman Pertanian (16 Februari 2005) Ternak Hilang * (ekor) 32.061 332.505 500.000 238.301 153.961 74.460 27.292 251.962 137.765 156.280 1.904.587 17 Selain kerusakan pada lahan pertanian, kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi, bangunan irigasi, saluran irigasi di tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usahatani. Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 36.803 Ha (Departemen Pertanian, 2005 dalam BAPPENAS, 2005) yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Berdasarkan wilayah administratif, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data mengenai persentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Kerusakan lahan akibat gempa dan tsunami menyebabkan masuknya air laut (salinitas) ke darat dan tebalnya sedimen yang diendapkan. Berdasarkan survei dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang dilakukan pada tanggal 11-14 Januari 2005, kerusakan berat di wilayah Aceh bagian barat adalah tingkat salinitas mencapai 40 kali tingkat yang dapat ditoleransi oleh tanaman. Pengaruh air laut masuk ke daratan sampai ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Hasil analisis laboratorium Departemen Pertanian terhadap beberapa contoh lumpur menunjukkan rata-rata Daya Hantar Listrik (DHL) adalah 30,7 dS/m dengan kisaran 11,5 sampai 48.9 dS/m, DHL untuk tanah permukaan rata-rata sebesar 4,8 dS/m dengan kisaran 0.3 sampai 8.4 dS/m. Umumnya tanaman semusim seperti jagung, kacang tanah, dan padi mulai terganggu pertumbuhannya pada DHL 4 dS/m. Kandungan garam pada contoh lumpur dan tanah juga cukup tinggi yaitu 2000-26900 ppm untuk lumpur dan 140 – 6000 ppm untuk tanah. Tingkat toleransi tanaman semusim terhadap kandungan garam-garam dalam tanah umumnya sekitar 2000ppm. Secara umum kerusakan lahan pertanian di pantai barat lebih berat dibandingkan pantai timur.Di pantai barat sedimen yang menutup lahan lebih tebal, umumnya >20 cm, dibandingkan dengan di pantai timur yang umumnya <20 cm. Lumpur tebal (>10 cm) umumnya dijumpai pada jarak 3 – 4 km dari pantai, makin dekat ke pantai ketebalan lumpur makin tipis dan teksturnya makin kasar. Lumpur ini berwarna abu-abu sampai hijau terang dan sangat keras ketika kering (Shofiyati, 2005) IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Kerangka Pendekatan Metodologi Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam tidak saja menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian. Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh peningkatan kadar garam (salinitas), sedimen lumpur laut, sampah dan puing-puing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan perubahan garis pantai yang terjadi di hampir seluruh kawasan pesisir yg terkena gelombang tsunami. Kerusakan lahan juga terjadi karena penimbunan dan pemadatan limbah tsunami yang terjadi dibeberapa lokasi. Bentuk kerusakan lahan lain terjadi akibat dari luapan air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Kerusakan lahan pertanian tersebut juga telah menyebabkan kegiatan usahatani masyarakat terhenti. Kerusakan lahan pertanian tersebut harus diupayakan perbaikan atau rehabilitasi dengan suatu perencanaan rehabilitasi yang baik dengan mengakomodir aspirasi masyarakat yang merupakan pihak yang sangat merasakan dampak dari kerusakan lahan pertanian tersebut. Perencanaan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pascatsunami harus didukung oleh data-data mengenai kondisi kerusakan lahan dan aspirasi masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah.Untuk mendapatkan data mengenai kondisi kerusakan lahan pertanian dilakukan pengamatan terhadap lahan pertanian yang rusak melalui pendekatan metode observasi yang dikeluarkan oleh FAO tahun 2005 dan untuk mendapatkan data karakteritik lahan dilakukan pengambilan contoh tanah yang selanjutnya dianalisis di dalam laboratorium untuk mendapatkan karakteristik sifat fisika dan kimia tanah. Data mengenai aspirasi dan pendapat masyarakat diperoleh melalui pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan kuesioner dan wawancara, hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan metode Kuantifikasi Hayashi II untuk mendapatkan hubungan antara karakteristik masyarakat dengan pendapat mereka akan rencana rehabilitasi lahan pertanian pascatsunami. Lebih jelas kerangka pendekatan kegiatan metodologi penelitian disajikan pada Gambar 2. 19 Gempa dan tsunami Lahan pertanian Lahan pertanian rusak - Sampah dan puing - Sedimentasi - Salinitas meningkat Bofisik - Perubahan struktur tanah - Perubahan sifat fisika -kimia tanah Rencana Rehabilitasi lahan Dukungan data kondisi lahan Data kondisi dan tingkat kerusakan lahan Data Tingkat kerusakan lahan Sosial ekonomi - Kehilangan kegiatan (pertanian) -Terhentinya perekonomian Dukungan data asipirasi dan pendapat masyarakat Aspirasi dan pendapat masyarakat Rehabilitasi lahan berdasarkan kondisi kerusakan lahan dan parsitpasi masyarakat Data Karakteristik Lahan yang rusak Data Aspirasi dan pendapat Analisis Hayashi II Tabel Observasi FAO (2005) Analisis Laboratorium contoh tanah - Aspirasi dan pendapat Masyarakat - Karakteristik masyarakat Wawancara dan keusioner Lahan pertanian dapat digunakan kembali untuk usaha pertanian Gambar 2. Kerangka pendekatan metodologi 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lho’nga, Kabupaten Aceh Besar , Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Desa yang dipilih adalah Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah Manyang. Pemilihan kedua desa tersebut dengan pertimbangan bahwa keduanya merupakan desa yang letaknya dekat dengan pantai dan memiliki lahan pertanian. Penelitian dilakukan selama tujuh bulan, dimulai dari bulan Mei hingga Desember 2005. Adapun peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 3. 20 PETA ADMINISTRASI KECAMATAN ACEH BESAR 95°00' 95 95°10' 95°20' 95°30' 95°40' LEGENDA 95°50' 5°30' 5°30' 5°40' 5°40' Darul Imarah Darussalam Indrapuri Ingin Jaya Ku ta Baro Lhoknga Leupung Lhoong Mesjid Raya Montasik Peukan Bada Pulo Aceh Seulimeum Sukanakmur Jalan Sungai Lokasi Penelitian Aceh Besar N 5°20' 5°20' W E Scala 1 : 500.000 5°10' 5°10' S PK-UNAYA 2003 10 0 10 20 Kilometers 95 95°00' 95°10' 95°20' 95°30' 95°40' 95°50' Gambar 3. Peta lokasi penelitian 4.3. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah contoh tanah, bahan-bahan kimia yang digunakan dalam analisis contoh tanah di laboratorium, peta rupa bumi skala 1:50.000 (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional,1984), peta tanah skala 1:250.000 (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1990) Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat untuk analisis di laboratorium, bor tanah, ring sampel, cangkul, meteran, plastik sampel, alat tulis dan alat dokumentasi. 4.4. Analisis Kerusakan Lahan Hubungan antara tujuan 1 penelitian, analisis data, data yang diperlukan, sumber data dan output yang diharapkan dari analisis terhadap kerusakan lahan dapat dilihat pada Tabel 2 . 21 Tabel 2. Hubungan tujuan 1 penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis kerusakan lahan Tujuan nomor 1 Tujuan penelitian Data yang diperlukan dan Sumber data Metode Analisis Data Primer Data sekunder Melakukan identifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan Survai dan pengambilan contoh tanah pada tiap transek meliputi data fisik dan kimia tanah serta pengamatan terhadap vegetasi yang ada di lokasi penelitian Data kondisi wilayah sebelum tsunami, curah hujan, dan petapeta yang menyangkut lokasi penelitian Analisis deskriptif yang didasari pada Framework for Soil Reclamation and Restrart Cultivation dari FAO tahun 2005 Hasil yang diharapkan Gambaran kondisi lahan dan karakteristik lahan berdasarkan klasifikasi kerusakan dilihat berdasarkan jarak dari garis pantai 4.4.1. Penentuan Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Contoh Penentuan lokasi pengamatan dilakukan secara sengaja dengan ketentuan desa yang dipilih merupakan desa yang mempunyai lahan pertanian dekat dengan garis pantai. Pengambilan contoh tanah dengan menggunakan metode jalur. Pada pada tiap desa terpilih dibuat dua jalur dengan garis pantai sebagai base line selanjutnya contoh tanah diambil dalam jalur sampai dengan dengan jarak 1250 meter dari garis pantai, interval jarak tiap titik pengamatan sepanjang 250 meter, sehingga terdapat 20 titik pengamatan dari kedua desa terpilih. Skema pengambilan contoh tanah seperti pada Gambar 4. Pada setiap titik pengamatan tanah juga dibuat plot pengamatan untuk vegetasi dengan ukuran plot 10 m x 10 m. Setiap tanaman yang ditemui tumbuh pada tiap titik pengamatan tersebut dicatat jenis dan jumlahnya. 4.4.2. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari 20 titik pengamatan di dua desa yang terpilih. Contoh tanah diambil di masing-masing titik pengamatan dalam jalur pada tiap desa. Contoh tanah yang diambil merupakan tanah asli di bawah sedimen yang menutupi lahan pertanian dengan kedalaman 20 cm. Adapun data yang dikumpulkan meliputi sifat fisik tanah : tekstur, permeabilitas, puing dan sampah yang menutupi lahan, dan genangan air di permukaan. Data sifat kimia tanah meliputi : pH, salinitas, N, P, K, C-organik KTK . Data vegetasi meliputi jenis dan jumlah vegetasi yang tumbuh pada lahan yang rusak akibat gelombang tsunami pada tiap titik pengamatan. 22 Data didapat dari pengamatan di lapangan dan analisis laboratorium. Jenis data dan metode pengumpulan data tertera pada Tabel 3. Data sekunder didapatkan dari instansi terkait. Gambar 4. Skema Pengambilan Contoh Tanah Tabel 3.Jenis data dan metode pengumpulan data di lapangan Jenis Data • • • • • • • • • • • • • • • Metode Pengambilan dan Sumber Data 1. Data primer di lapangan Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Tekstur Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Permeabilitas Pengamatan dilapangan Batuan dipermukaan Pengamatan dilapangan Puing dan sampah Pengamatan dilapangan Genangan air dipermukaan Pengambilan contoh tanah (analisis lab) pH Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Salinitas Pengambilan contoh tanah (analisis lab) Bahan Organik Pengamatan dilapangan Penutupan Vegetasi Pengamatan lapangan dan wawancara Pendapat masyarakat 2. Data Sekunder Hasil PUSLITANAK (1990) Peta tanah 1:250.000 BAKOSURTANAL (1984) Peta rupa bumi 1:50.000 Stasiun klimatologi Indarapuri aceh Besar Data curah hujan Laporan penelitian dan pustaka Hasil penelitian sebelumnya Instansi terkait Data kondisi dearah penelitian 23 4.4.3. Analisis Data Secara umum analisis data untuk identifikasi kerusakan lahan dan pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami terdiri atas ; (1) Analisis deskriptif dan tabulasi data dari hasil survei dan pengamatan, (2) Analisis terhadap vegetasi yang tumbuh pada lokasi penelitian sepanjang transek yang diamati, (3) Analisis terhadap pendapat masyarakat. 1. Analisis karakteristik lahan dilakukan dengan membuat tabel secara sederhana hasil analisis laboratorium contoh tanah. Identifikasi kerusakan lahan dilakukan dengan menggunakan Framework for Soil Reclamation and Restart Cultivation dari FAO tahun 2005. Adapun jenis kerusakan dan tingkat kerusakan untuk observasi tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Tabel Observasi untuk Kerusakan Lahan di Kecamatan Lho’nga Kerusakan Rendah Sedang Tinggi Puing dan sampah 1 2 3 Erosi 1 4 6 Sedimentasi 1 4 6 Lama genangan 1 4 6 Infiltrasi 1 2 3 Jumlah Antara 5 dan 24 Ranking 1. Rendah 2. Sedang 3. Banyak 1. Erosi rendah 4. Erosi sedang 6. Erosi tinggi 1. <4 cm 4. 4 - 10 cm 6. > 10 cm 1. < 4 hari 4. 4 - 5 hari 6. 6 > hari 1. Lambat 2. Sedang 3. Cepat < 8 = kerusakan rendah 8 -16 = kerusakan sedang > 16 = kerusakan tinggi Sumber: FAO (2005b) dimodifikasi Adapun indikator pengamatan di lapangan untuk masing-masing tingkat kerusakan adalah sebagai berikut : Puing dan sampah ; Rendah (sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian 0-10% dari luas lahan), Sedang (sampah dan puing yang menutupi lahan 24 pertanian 10-50 % dari luas lahan), Banyak (sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian >50 % dari luas lahan). Erosi ; Erosi rendah (erosi permukaan yang terjadi pada lahan < 15 % dari luas lahan), Erosi sedang (erosi permukaan yang terjadi pada lahan 15 – 30 % Dari luas lahan), Erosi tinggi (erosi permukaan yang terjadi pada lahan > 30 % dari luas lahan). Sedimentasi ; < 4 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan < 4cm), 4-10 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan antara 4-10 cm), > 10 cm (jika ketebalan sedimen yang menutupi lahan > 10cm). Lama genangan ; 4 hari ( jika dengan yang terjadi kurang dari 4 hari), 4-5 hari (jika genagan yang terjadi antara 4-5 hari), >6 hari ( jika genagan yang terjadi pada lahan > 6 hari) Infiltrasi ; Penetapan laju infiltrasi didasarkan pada hasil uji laboratorium terhadap permeabilitas dari contoh tanah yang diambil. Selanjutnya berdasarkan jumlah skor, lahan diklasifikasikan ke dalam empat kelas yaitu : 1. Kelas A (kerusakan rendah) skor <8 2. Kelas B (kerusakan sedang) skor 8-16 3. Kelas C (kerusakan tinggi) skor >16, dan 4. Kelas D (hilang) lahan tergenang. 2. Analisis terhadap vegetasi dilakukan dengan membuat tabel pengamatan terhadap jenis dan jumlah vegetasi yang ditemui pada setiap titik pengamatan yang telah ditentukan pada tiap transek. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan gambaran tentang jenis dan jumlah vegetasi yang tumbuh atau bertahan pada lahan yang rusak akibat tsunami. 4.5. Analisis Pendapat Masyarakat Hubungan antara tujuan 2 dan 3 penelitian, analisis data, data yang diperlukan, sumber data dan output yang diharapkan dapat dilihat pada Tabel 5. 25 Tabel 5. Hubungan tujuan penelitian, data yang diperlukan, metode analisis dan hasil yang diharapkan pada analisis pendapat masyarakat Tujuan nomor 2 3 Tujuan penelitian Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa akan datang. Mempelajari pendapat/tangga pan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Data yang diperlukan dan Sumber data Data Primer Survai dan wawancara mengenai karakteristik responden, dan pendapat responden terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa akan datang. Metode Analisis Data sekunder Data mengenai kependudukan Analisis Kuantifikasi Hayashi II dan analisis korelasi Survai dan wawancara Data mengenai mengenai karakteristik kependudukan responden, dan tanggapan responden terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanain pasca tsunami Analisis Kuantifikasi Hayashi II dan analisis korelasi Hasil yang diharapkan Mengetahui aspirasi masyarakat terhadap pilihan kegiatan usaha mereka di masa akan datang Mengetahui pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami 4.5.1. Pene ntuan Responden Penentuan responden menggunakan metode stratified simple random sampling dimana strata adalah masyarakat yang mempunyai kegiatan usahatani selanjutnya dari strata tersebut dipilih sebanyak 15 orang sebagai responden, sehingga jumlah responden adalah 30 orang dari dua strata yang berusahatani di dua desa. Responden merupakan penduduk yang sudah dewasa yaitu penduduk yang telah matang dalam pengambilan keputusan dan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Penentuan jumlah ini didasari pada ketentuan bahwa 30 responden sudah cukup untuk mewakili populasi yang ada, dimana sampai pada saat penelitian dilakukan jumlah keseluruhan penduduk dilokasi penelitian belum ada data yang pasti. Menurut Mantra dan Kasto (1989) ; Effendi dan Singarimbun (1995) ; Sugiarto,et al. (2001), pada umumnya jumlah sampel yang harus diambil untuk tahap awal ataupun untuk penelitian pemula sekitar 10 persen dari total individu populasi yang diteliti. Bilamana sampel sebesar 10 persen dari populasi masih dianggap besar (lebih dari 30) maka alternatif yang biasa digunakan adalah mengambil sampel sejumlah 30 unit. Data responden diambil untuk analisis pendapat masyarakat. 26 4.5.2. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi : umur, pekerjaan, pendidikan, lama tinggal, pendapat masyarakat terhadap usahatani dan pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Responden yang diambil merupakan penduduk yang mempunyai usahatani dilokasi penelitian yaitu setiap desa berjumlah 15 orang. Data primer didapatkan melalui wawancara pada responden yang memiliki kegiatan usahatani dengan menggunakan kuesioner. 4.5.3. Analisis Data Pendapat masyarakat dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi dan skoring terhadap data-data karakteristik responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan tindakan mereka terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Untuk mengkaji faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian digunakan analisis Kuantifikasi Hayashi II. Analisis ini menggunakan software QB45. Data variabel penjelas (Explanatory Variable), adalah faktor umur, pendidikan, pekerjaan utama, lama tinggal, pendapatan dan pendapat masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan pertanian yang dihubungkan dengan variabel tujuan (Objective Variable) yaitu pendapat masyarakat mengenai kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanian dan kegiatan usahatani pasca tsunami. Variabel bersifat pengelompokan (Grouping Variable) dan mempunyai nilai kualitatif (Saefulhakim, 2003) Model matematis dari analisis ini adalah : Y=f (X1,X2,X3,..................Xn) Keterangan : Y = Variabel tujuan (pendapat tentang rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami) X1,X2,X3,.....Xn = Variabel penjelas (umur , pendidikan, pendapatan, lama tinggal, dan pendapat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami) Selanjutnya, hasil pendugaan parameter koefisien keterkaitan akan didapat korelasi parsial yang kemudian akan dibandingkan dengan nilai tengah dari t student dengan selang kepercayaann 95% pada derajat bebas (df) tertentu. Untuk 27 mendeskripsikan hubungan antara faktor karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat digunakan analisis korelasi dengan tingkat kepercayaan 95% (a = 0,05). Analisis ini menggunakan program SPSS versi 11,5. V. KEADAAN LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Secara geografis daerah penelitian terletak pada 05020’ -050 30’ Lintang Utara dan 95010’-95 020’ Bujur Timur. Daerah peneltian secara administratif terletak di Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kecamatan Lho’nga yang berbatasan dengan Kecamatan Peukan Bada di sebelah Selatan. Posisi geografisnya yang berada di pesisir pantai barat Aceh menyebabkan Kecamatan Lhoknga merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah pada saat terjadi bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu. Dari ibukota provinsi berjarak 17 km ke arah Barat Daya, dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama 30 menit melalui jalan negara Banda Aceh –Meulaboh. Kecamatan Lho’nga terdiri dari 25 desa/kelurahan yaitu Kelurahan Mon Ikeun, Weuraya, Lam Kruet, Lampaya, Lamgaboh, Aneuk Paya, Lambaro Kueh, Naga Umbang, Lam Ateuk, Kueh, Tanjong, Nusa, Seubun Keutapang, Seubun Ayon, Lambaro Seubun, Meunasah Betung, Meunasah Mesjid, Meunasah Karieng, Meunasah Baro, Meunasah Mayang, Desa Meunasah Mon Cut, Desa Meunasah Lamgirek, Desa Meunasah Mesjid, Desa Meunasah Bale dan Desa Meunasah Lambaro. Lokasi penelitian dipilih dua desa untuk mewakili kondisi lahan pertanian yang rusak yaitu Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah Manyang. Secara keseluruhan kerusakan sarana umum di Kecamatan Lho,nga mencapai 70%. Dampak tsunami mengakibatkan terjadinya pengurangan wilayah daratan di kecamatan ini, beberapa area yang dulunya merupakan daratan sekarang telah menjadi lautan. 5.2. Kondisi Iklim Kondisi iklim khususnya curah hujan tahunan pada lokasi penelitian berkisar dari 1500 – 2000 mm/th dengan suhu rata-rata harian ± 29 oC. Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson lokasi penelitian termasuk ke dalam tipe iklim B. Hasil pencatatan stasiun klimatologi Indrapuri Kabupaten Aceh Besar menunjukkan rata-rata curah hujan selama lima tahun (1994-1998) sebesar 1431,7 mm per tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 135 hari hujan per 29 tahunnya. Sementara itu rata-rata curah hujan tahunan untuk Banda aceh dan Aceh Besar periode Januari - Desember tahun 2005 dari beberapa stasiun pengamatan cuaca sebesar 1828,08 mm (Lampiran 4). 5.3. Geologi dan Topografi Secara keseluruhan geologi wilayah penelitian termasuk bentang lahan pantai, didominasi oleh jenis batuan boulder sandstone, limestone, arenite sandstone, dan basalt. Keadaan topografi daerah penelitian pada umumnya datar dan berlereng curam (0%- 55%) dengan ketinggian 0 – 500 m dpl. Sebagian lahannya merupakan dataran rendah dengan rawa-rawa. Berdasarkan pengamatan, daerah tersebut sebelum tsunami merupakan pemukiman padat penduduk dengan jarak antara daerah pemukiman dengan garis pantai cukup dekat. 5.4. Jenis Tanah Berdasarkan peta satuan lahan dan tanah tahun 1990 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat diketahui bahwa jenis tanah yang dominan menyebar di Kecamatan Lho’nga berdasarkan klasifikasi USDA tergolong dalam Hydraquents dan Entropepts. Geomorfologi daerah tersebut menggambarkan wilayah pantai yang dikelilingi perbukitan. Jenis tanah adalah aluvial (Entisol) yang merupakan bahan sedimen dari hasil pelapukan tanah-tanah pegunungan. Sifat fisik tanah khususnya sebaran ukuran butir didominasi fraksi debu dan pasir. Daerah ini, dahulunya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan tambak rakyat. 5.5. Kependudukan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar tahun 2003 penduduk yang ada di Kecamatan Lho’nga adalah 16.070 jiwa terdiri dari 8.094 jiwa laki-laki dan 7.976 jiwa perempuan. Sebaran penduduk dalam Kecamatan Lho’nga tahun 2003 disajikan pada Tabel 6. Pada saat bencana diperkirakan sekitar 39% penduduk meninggal, penduduk yang hilang sekitar 1%, sehingga saat ini jumlah penduduk yang tersisa adalah 60% atau sekitar 9.642 jiwa. Sebagian besar dari penduduk yang tersisa sekarang ini tinggal di barak pengungsian yang dibangun di beberapa lokasi yang berada di Kecamatan Lho’nga. 30 Tabel 6. Jumlah penduduk di Kecamatan Lho’nga tahun 2003 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Desa Mon Ikeun Naga Umbang Lambaro Kueh Lam Ateuk Aneuk Paya Lampaya Lamkruet Weuraya Meunasah Lambaro Meunasah Moncut Meunasah Manyang Meunasah Karieng Lamgaboh Tanjong/Lancok Kueh Nusa Seubun Keutapang Seubon Ayon Lambaro Seubon Meunasah Mesjid Lamlhom Meunasah Baro Meunasah Mesjid Lampuuk Meunasah Balee Meunasah Lamgirek Jumlah Penduduk (jiwa) Laki-Laki Perempuan 1035 133 236 193 288 573 518 535 438 123 185 273 306 435 195 328 172 178 170 201 136 631 512 82 25. Meunasah Beutong 218 Sumber : Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar (2003 ) Jumlah 1056 126 206 213 270 559 536 549 441 133 173 294 316 410 97 348 147 147 172 210 154 639 484 73 2091 259 442 406 558 1132 1054 1084 879 256 358 567 622 845 292 676 319 325 342 411 290 1270 996 155 223 441 5.6. Mata Pencaharian Pada umumnya masyarakat dalam Kecamatan Lho’nga memiliki mata pencaharian yang beragam, namun sebagian besar bekerja pada sektor pertanian dengan sub sektor padi dan palawija. Masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian pada umumnya berusaha mencari alternatif sebagai pekerja penjual jasa dan perdagangan. Berdasarkan buku statistik Aceh Besar dalam angka tahun 2003, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Besar 242.240 jiwa. Sebagian besar bermata pencaharian petani (89,4%), dan sisanya sebagai pedagang (5,8%), pegawai negeri (2,4%) dan buruh (2,4%). Lima bulan pasca bencana tsunami kegiatan masyarakat berangsur normal. Kantor Kecamatan di Lho’nga sudah mulai berfungsi dan beraktivitas kembali. Sebagian besar masyarakat terlihat mulai kembali membangun hunian layak tinggal diatas reruntuhan rumah milik mereka sebelum tsunami. Aktivitas 31 perekonomian masyarakat secara perlahan telah berjalan, kios-kios kecil yang menjual perlengkapan hidup sehari-hari telah mulai beroperasi. 5.7. Pendidikan dan Tingkat Pendidikan Keberadaan sarana pendidikan di wilayah kecamatan Lho’nga masih dirasakan kurang terutama di desa yang menjadi lokasi penelitian. Tidak terdapat satu pun sarana pendidikan berupa sekolah dari semua tingkatan di desa yang menjadi lokasi penelitian. Jarak sekolah dasar terdekat sekitar 1 km dari desa dan sekolah SLTP dan SMU terdekat berjarak 4-5 km dari desa. ( Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar, 2003). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Besar (2003) umumnya tingkat pendidikan masyarakat di lokasi penelitian masih rendah. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di lokasi penelitian berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat. VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Kerusakan Lahan Pertanian 6.1.1. Kondisi Kerusakan Lahan Pertanian Kondisi lahan pada suatu wilayah menggambarkan keadaan bentuk lahan di wilayah tersebut. Kerusakan lahan terutama lahan pertanian akan mempengaruhi kehidupan di atasnya terutama masyarakat yang menjadikan lahan tersebut sebagai sumber mata pencaharian berupa usahatani. Kondisi kerusakan lahan pertanian pada beberapa titik pengamatan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. a. Jarak 750 meter b. Jarak 1000 meter c. Jarak 1250 meter Gambar 5.Kondisi kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Hasil pengamatan terhadap kriteria kerusakan berdasarkan tabel observasi FAO tahun 2005 disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil rata-rata pengamatan kerusakan lahan pertanian dengan metode FAO tahun 2005 Jarak dari pantai Indikator Kerusakan Puing dan sampah Erosi 250 m 1,00 1,00 500 m 1,50 2,50 750 m 2,00 1,00 1000 m 1,25 1,00 1250 m 1,50 1,00 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Sedimen Lama genangan Infiltrasi 2,25 3,75 6,00 5,00 4,50 3,25 3,75 4,50 2,50 4,00 2,25 2,00 2,00 2,00 1,75 Skor Kelas Kategori 9,75 13,50 15,50 11,75 12,75 B B B B B Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Dari Tabel 7 menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian dari jarak 250 meter sampai dengan jarak 1250 meter dari pantai dikategorikan kerusakan sedang dengan kelas B. Kerusakan yang besar berada pada jarak 750 meter dari pantai dengan nilai skor kerusakan 15,50. Secara detail data sifat fisik dan kimia tanah di lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1. Indikator 33 kerusakan tertinggi adalah berupa sedimen. Sedimentasi yang ditemukan pada lokasi penelitian bukanlah lumpur tetapi berupa sedimen pasir laut, dengan ketebalan bervariasi dari 5 cm sampai dengan 27 cm seperti terlihat pada Gambar 6. Gambar 6. Ketebalan sedimen pasir di Kecamatan Lho’nga (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Ketebalan sedimen pasir pada tiap jarak pengamatan dari pantai dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil pengamatan ketebalan sedimen pasir di dua desa di Kecamatan Lho’nga menurut jaraknya dari garis pantai. Jalur Desa Meunasah Baro I II Meunasah Manyang I II Sumber: Data primer (diolah) (2005) Ketebalan Sedimen Pasir (Cm) 250 m 500 m 750 m 1000 m 1250 m 5 5 12 15 13 12 27 23 25 22 15 25 15 21 8 15 8 16 4 7 Tabel 8 menunjukkan bahwa ketebalan sedimen pasir meningkat ke arah daratan sampai dengan jarak 750 meter dan selanjutnya pada jarak 1000 meter dan 1250 meter mulai menurun. Hal ini dikarenakan lahan pada jarak 750 meter lebih cekung sehingga sedimen pasir lebih banyak mengendap dan juga genangan air lebih lama terjadi pada jarak 750 meter ini. Sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian di lokasi penelitian berdasarkan hasil pengamatan dikategorikan rendah sampai sedang dan tersebar (Tabel 7). Kurangnya sampah dan puing yang menutupi lahan pertanian pada semua jarak dikarenakan sampah dan puing dari tsunami tersebut sudah dibersihkan oleh masyarakat melalui kegiatan cash for work (padat karya) pada masa tiga bulan pasca tsunami. Secara keseluruhan lahan-lahan ini masih dapat digunakan sebagai lahan pertanian asalkan didahului dengan kegiatan 34 rehabilitasi lahan-lahan tersebut melalui pembersihan sedimen pasir sehingga kelas kerusakan B dapat diturunkan. Penutupan lahan oleh vegetasi tanaman pada lahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami di lokasi penelitian di dominasi oleh vegetasi rumput-rumputan (Gambar 7a), kelapa (Cocos nucifera L) dan tanaman bili (Fimbristylus sp) (Gambar 7b). Selain itu, lahan pertanian tersebut ditumbuhi oleh tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) (Gambar 7c). (a) (b) (c) Gambar 7. Vegetasi penutup lahan di lokasi penelitian (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa kerapatan tertinggi tanaman yang tumbuh adalah tanaman rumputan dan tanaman bili (Fimbristylus sp). Hasil analisis vegatasi tanaman pentupan lahan pertanian seperti ditunjukkan pada Tabel 9. Dari Tabel 9 terlihat bahwa pada semua jarak dari garis pantai ditemui jenis tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) dan rumput- rumputan (Grass) dimana rumputan mempunyai Indek Nilai Penting (INP) yang besar pada setiap jarak pengamatan kecuali pada jarak 750 meter,. Pada jarak 750 meter dan 1000 meter INP tertinggi adalah pada jenis tanaman bili (Fimbristylus sp) dengan nilai INP sebesar 69,54 %. Hal ini diduga karena kondisi lahan pada jarak 750 meter dan 1000 meter lebih cekung sehingga genangan air lebih lama yang menyebabkan tanaman bili ini lebih sesuai hidup pada kondisi lahan yang tergenang air. Sedangkan tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre) ditemui pada setiap titik pengamatan dikarenakan lahan pertanian ditutupi oleh sedimen pasir dimana tanaman ini hidup pada habitat berpasir dan merupakan tanaman dari formasi pantai. 35 Tabel 9. Hasil analisis vegetasi pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Jlh plot K ditemukan F FR (%) KR (%) jenis Kelapa Cocos nucifera 19 2 0,10 22,22 167 3,48 Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 33,33 1.375 28,70 250 meter Rumput Grass 23 2 0,10 22,22 2.875 60,00 Biduri Calotropis gigantea 3 2 0,10 22,22 375 7,83 500 meter Rumput Grass 59 4 0,20 50,00 7.375 80,82 Tapak kuda Ipomea prescapre 14 4 0,20 50,00 1.750 19,18 Rumput Grass 34 3 0,15 25,00 4.250 13,03 750 meter Tapak kuda Ipomea prescapre 28 4 0,20 33,33 3.500 10,73 Btg obor ? 61 3 0,15 25,00 7.625 23,37 Bili Fimbristylus sp 138 2 0,10 16,67 17.250 52,87 Rumput Grass 46 4 0,20 40,00 5.750 14,51 1000 meter Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 30,00 1.375 3,47 Btg obor ? 120 1 0,05 10,00 15.000 37,85 Bili Fimbristylus sp 140 2 0,10 20,00 17.500 44,16 1250 meter Rumput Grass 72 4 0,20 57,14 9.000 86,75 Tapak kuda Ipomea prescapre 11 3 0,15 42,86 1.375 13,25 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Keterangan : Jumlah jalur = 4, Jumlah plot dalam jalur = 5, Jumlah seluruh plot = 20 Luas plot I = 0,2 Ha (10 m x 10 m), Luas plot II = 0,008 Ha ( 2 m x 2 m ) F=frekuensi, FR=Frekuensi Relatif, K=Kerapatan, KR=Kerapatan Relatif, INP= Indek Nilai Penting Jarak Dari pantai 6.1.2. Jenis Nama Ilmiah Jlh INP(%) 25,70 62,03 82,22 30,05 130,82 69,18 38,03 44,06 48,37 69,54 54,51 33,47 47,85 64,16 143,89 56,11 Karakteristik Lahan Pertanian yang Rusak Karakteristik lahan di suatu wilayah dapat berfungsi sebagai indikator kondisi lahan yang rusak di wilayah tersebut. Data sifat kimia dan fisika tanah dari hasil analisis laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Lampiran 2) dan dideskripsikan berdasarkan Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah (Balai Penelitian Tanah, 2004) serta Kriteria Penilaian Data Analisis Tanah (Sufardi , 2002) seperti disajikan pada Lampiran 3. Adapun hasil analisis sifat kimia dan fisika tanah pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 10 dan Tabel 11 serta Lampiran 1. Tingkat kegaraman tanah yang ditandai dengan nilai Daya Hantar Listrik (DHL) bernilai sangat rendah sampai rendah (0,34 mS/cm – 3,40 mS/cm) berfluktuatif dan cenderung sedikit meningkat ke arah daratan (Tabel 12). Daya Hantar Listrik paling tinggi ditemui pada jarak 1250 meter dari pantai. Nilai DHL ini telah memungkinkan untuk pertumbuhan kembali tanaman dimana tanaman mempunyai toleransi terhadap salinitas berkisar antara 2 mS/cm sampai dengan 4 mS/cm. Analisis lapangan sebelumnya (sekitar bulan Januari dan Maret 2005) di Banda Aceh dan sekitarnya menunjukkan nilai yang sebaliknya yakni nilai DHL yang sangat tinggi yang mencapai lebih besar dari 100 mS/cm (Subagyono, et al., 2005). Perbedaan nilai DHL dengan penelitian sebelumnya secara tajam sangat dimungkinkan oleh proses pencucian secara alamiah air hujan yang cukup tinggi 36 serta kondisi tanah yang tidak mempunyai daya pegang yang kuat sehingga proses pencuciannya sangat efektif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh WALHI (2005) menunjukkan nilai DHL pada daerah dalam Kecamatan Lho’nga berkisar antara 0,677 mS/cm sampai dengan 0,993 mS/cm. Hal ini juga dikarenakan bahwa endapan yang terjadi pada lahan pertanian di lokasi penelitian bukanlah lumpur (endapan liat dan debu), tetapi pasir laut sehingga garam yang terkandung di dalam tanah lebih mudah tercuci oleh hujan. Nilai salinitas yang lebih besar dari 8 mS/cm tidak sesuai untuk tanaman padi sawah, tetapi masih sesuai untuk komoditi kelapa. Tanaman kelapa mempunyai kisaran toleransi salinitas antara 2 -8 mS/cm. Tabel 10. Data hasil analisis sifat kimia tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Desa Jalur Meunasah Baro I II Meunasah Manyang I II Jarak dari pH DHL C-Organik Pantai (1:2,5) (mS/cm) (%) 250 m 7,85 0,49 1,23 500 m 8,53 0,88 2,46 750 m 8,05 0,34 1,80 1000 m 8,64 2,75 0,25 0,88 2,62 1250 m 7,97 250 m 8,42 0,39 1,88 500 m 8,52 0,65 1,60 750 m 8,21 1,79 1,82 1000 m 8,39 0,68 1,23 1250 m 8,15 2,83 1,25 250 m 8,03 0,36 2,05 500 m 8,25 0,40 2,11 750 m 8,17 1,60 2,15 1000 m 8,15 1,20 0,98 3,00 0,80 1250 m 8,25 250 m 8,10 0,40 1,88 500 m 7,22 0,80 1,85 750 m 8,23 1,00 1,80 1000 m 8,31 3,40 1,88 3,00 1,64 1250 m 8,50 N (%) 0,11 0,29 0,11 0,30 0,28 0,10 0,10 0,12 0,10 0,26 0,17 0,10 0,15 0,28 0,21 0,18 0,22 0,13 0,10 0,17 P (ppm) 0,36 1,01 0,19 0,86 0,86 0,25 0,53 0,96 1,01 0,36 1,10 3,60 0,34 0,29 0,38 0,77 0,67 0,82 0,41 1,32 K (me/100 g) 0,13 0,17 0,12 0,38 0,13 0,18 0,17 0,12 0,14 0,33 0,12 0,16 0,18 0,17 0,30 0,13 0,15 0,16 0,16 0,25 KTK (me/100 g) 11,79 12,10 13,49 11,25 11,80 10,12 13,50 13,49 12,20 11,80 12,54 13,52 11,25 12,34 10,21 10,25 15,31 12,43 11,56 13,22 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Air laut bukanlah masalah yang sesungguhnya yang memberikan tingkat salinitas terhadap lahan, tetapi masalah yang sesungguhnya adalah endapan liat dan debu. Endapan ini mengandung residu garam yang tinggi. Air laut memang membawa sejumlah garam ke daratan tetapi hal ini dapat dengan segera tercuci oleh hujan yang tinggi dan sering terjadi. (FAO,2005 c) Derajat keasaman (pH) tanah umumnya berkisar antara netral sampai agak alkalis, nilai pH dapat berpengaruh dalam dinamika unsur di dalam tanah. pH tinggi menyebabkan ketersediaan unsur hara makro lebih tinggi dan 37 ketersediaan unsur hara mikro lebih rendah. Jika pH rendah berlaku sebaliknya, ketersediaan unsur hara makro pada umumnya menurun dan unsur hara mikro tersedia berlebihan sehingga dapat meracuni tanaman. Tabel 11. Data hasil analisis sifat fisik tanah pada tiap titik pengamatan di dua desa di Kecamatan Lho’nga Jarak dari Jalur Pantai Meunasah 250 m Baro 500 m I 750 m 1000 m 1250 m 250 m 500 m II 750 m 1000 m 1250 m Meunasah 250 m Manyang 500 m I 750 m 1000 m 1250 m 250 m 500 m II 750 m 1000 m 1250 m Desa Persentase Fraksi Pasir Debu Liat 84 5 11 36 32 32 27 31 42 75 5 20 56 11 33 72 9 19 79 11 10 79 11 10 80 10 10 69 21 10 80 10 10 75 20 20 68 11 11 71 10 19 60 20 20 68 21 11 73 18 9 72 9 19 68 10 21 59 6 35 Kelas Tekstur Pasir berlempung Lempung berliat Lempung berliat Lempung liat berpasir Lempung liat berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Pasir berlempung lempung liat berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasir Lempung liat berpasir Permeabilitas Nilai (Cm/jam) Kriteria 17,1 Cepat 1,3 Agak Lambat 1,7 Agak Lambat 1,9 Agak Lambat 1,8 Agak Lambat 9,4 Agak Cepat 2,6 Sedang 3,1 Sedang 16,4 Cepat 4,5 Sedang 12,8 Cepat 2,1 Sedang 5,8 Sedang 4,8 Sedang 8,9 Agak Cepat 12,8 Agak Cepat 23,2 Cepat 9,0 Agak Cepat 3,5 Sedang 3,5 Sedang Sumber: Data primer (diolah) (2005) Rata-rata karakteristik sifat kimia tanah berdasarkan jarak pengamatan dari pantai dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil rata-rata sifat kimia tanah berdasarkan jarak dari pantai di dua desa di Kecamatan Lho’nga Titik Pengamatan 250 m 500 m 750 m 1000 m 1250 m pH (1:2,5) 8,11 8,14 8,17 8,38 8,22 DHL (mS/cm) 0,40 0,71 1,19 2,01 2,43 C-Organik (%) 1,77 2,14 1,98 1,09 1,58 N (%) 0,15 0,18 0,13 0,20 0,23 P K KTK (ppm) (me/100 g) (me/100 g) 0,63 0,13 11,18 1,46 0,17 13,61 0,58 0,15 12,67 0,65 0,22 11,84 0,74 0,26 11,76 Sumber: Data primer (diolah) (2005) Tabel 12 menunjukkan nilai pH yang cenderung meningkat ke arah daratan. Nilai pH tertinggi dijumpai pada jarak pengamatan 1000 meter dari pantai, nilai pH ini masih sesuai untuk pertanian padi sawah. Tingginya pH pada semua jarak pengamatan diduga karena tinggi kandungan Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang berasal dari pelapukan batuan kapur yang mendominasi 38 daerah penelitian. Dugaan ini dibuat dikarenakan keterbatasan penelitian ini dalam melakukan analisis terhadap kandungan kegaraman tanah (Ca, Mg, dan Na) sehingga kandungan Ca dan Mg merujuk pada hasil penelitian WALHI (2005) pada kecamatan yang sama dengan penelitian ini. Hasil penelitian WALHI (2005) menunjukkan kandungan Ca dalam tanah di Kecamatan Lho’nga berkisar antara 11,56 me/100 gr sampai dengan 15,41 me/100 gr dan kandungan Mg berkisar antara 4,95 me/100 gr sampai dengan 15,21 me/100 gr. Kapasitas Tukar Kation (KTK) umumnya rendah pada tiap jarak pengamatan dari garis pantai, nilainya berkisar antara 11,18 me/100 gr sampai 13,61 me/100 gr. Nilai KTK berfluktuatif, mempunyai kecenderungan sedikit meningkat, lalu sedikit menurun ke arah daratan. Nilai KTK yang rendah umumnya disebabkan oleh kadar liat (clay) dan bahan organik yang rendah. Hal ini selaras dengan sifat tekstur (halus-kasarnya tanah) yang umumnya bertekstur kasar atau didominasi pasir (sand). Nilai KTK meningkat pada jarak 500 meter dari pantai dan mulai menurun pada jarak 750 meter sampai jarak 1250 meter dari pantai. Pada jarak 500 meter KTK tinggi diduga karena tekstur tanah pada jarak 500 meter didominasi oleh pasir dan debu (lempung berpasir) . Makin tinggi kadar liat (clay) dan kadar bahan organik akan menjadikan KTK semakin tinggi, hal ini berkaitan dengan jumlah tapak jerapan terhadap kation-kation yang makin banyak (Notohadiprawiro, 1999). Tingkat persentase fraksi pasir pada umumnya menurun ke arah daratan, persentase tertinggi umunya dijumpai pada jarak 250 meter. Hal ini dikarenakan jarak ini merupakan jarak yang paling dekat pantai, namun demikian, terdapat kekecualian dimana pada jarak 1000 meter persentase fraksi pasir kembali meningkat (73.5%). Hal ini dikarenakan pasir mengendap lebih banyak karena kondisi lahan yang lebih cekung. Kondisi persentase fraksi ini mempengaruhi tingkat permeabilitas tanah yang cenderung menurun ke arah daratan karena kandungan fraksi pasirnya menurun dan fraksi liatnya semakin meningkat. 6.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian 6.2.1. Karakteristik Masyarakat Masyarakat desa yang menjadi responden dalam penelitian ini berasal dari dua desa dalam kecamatan Lho’nga yaitu Desa Meunasah Baro dan Desa Meunasah yang terdiri dari 19 orang laki-laki (63,3%) dan 11 perempuan (36, 39 7%). Tingkat pendidikan responden pada umumnya masih rendah. Hal ini tercermin dari tingkat pendidikan responden yang sebagian besar hanya sampai tingkat SD (20,0%), SLTP (36, 7%), SMU (26,7%) sedangkan yang sampai Perguruan Tinggi hanya berjumlah lima orang (16,7%). Uraian tentang karakteristik masyarakat yang menjadi responden disajikan pada Tabel 14. Pekerjaan utama responden umumnya pada sektor pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata pencaharian responden pada sektor pertanian sebesar 50,0 %, petambak 0,0%, nelayan 16,7% serta sektor lainnya sebesar 33,3%. Selain bermata pencaharian utama sebagai petani sebagian dari mereka juga mempunyai pekerjaan sampingan seperti berdagang atau jualan 23,3% dan jasa 10,0%. Hal ini mereka lakukan untuk menambah penghasilan keluarga sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan responden yang menjadikan usahatani sebagai pekerjaan sampingan sebesar 50,0%. Semua responden berasal dari suku Aceh dengan lama tinggal responden di lokasi penelitian berkisar antara 6 -18 tahun dengan range lama tinggal 5 -10 tahun sebesar 50,0% dan > 10 th sebesar 50,0%, namun tidak semua sebagai penduduk asli melainkan warga Aceh dari wilayah lain yang kemudian tinggal dan menetap di lokasi tersebut. Pasca tsunami sebagian besar masyarakat yang selamat dari bencana tersebut banyak yang mengungsi ke wilayah lain yang dirasakan lebih aman, sedangkan sebahagian lagi masih bertahan desa, mereka tinggal di tenda-tenda atau membangun tempat tinggal mereka kembali dari sisa-sisa material tsunami . Sebagian masyarakat yang sebelum tsunami beraktifitas sebagai petani, pada pasca tsunami mereka beraktifitas dengan membuka kios-kios kecil untuk jualan atau mencari barang-barang bekas dari sisa tsunami yang masih bisa mereka jual seperti besi atau logam lainnya. Rata-rata pendapatan masyarakat berada di atas 600.000 rupiah per bulan. Pendapatan yang dikemukan dalam hasil pembahasan ini merupakan pendapatan masyarakat sebelum tsunami. Pendapatan masyarakat pasca tsunami dari sektor pertanian belum teridentifikasi dikarenakan masyarakat belum bisa melakukan aktifitas usahataninya akibat lahan pertanian mereka yang rusak. 40 Tabel 13. Karakteristik responden di dua desa di Kecamatan Lho’nga No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Laki-laki Meunasah Baro n % 10 66,7 Meunasah Manyang n % 9 60,0 n 19 % 63,3 Perempuan 5 33,3 6 40,0 11 36,7 Total 15 100,0 15 100,0 30 100,0 <35 Th 35-44 th 1 6,7 0 0,00 1 3,3 9 60,0 8 53,3 17 56,7 45-54 th 4 26,7 3 20,0 7 23,3 55-64 th 1 6,7 4 26,7 5 16,7 Karakteristik Jenis kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan utama Pendapatan Lama tinggal Kriteria Jumlah >65 th 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 SD 3 20,0 3 20,0 6 20,0 SMP 7 46,7 4 26,7 11 36,7 SMU 3 20,0 5 33,3 8 26,7 PT 2 13,3 3 20,0 5 16,7 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 Petani 8 53,3 7 46,7 15 50,0 Petambak 0 0,00 0 0,00 0 0,00 Nelayan 2 13,3 3 20,0 5 16,7 Lainnya 5 33,3 5 33,3 10 33,3 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 < 400.000 5 33,3 2 13,33 7 23,3 400.000-600.000 7 46,7 5 33,3 12 23,3 > 600.000 3 20,0 8 53,3 11 36,7 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 < 5 th 0 0,0 0 0,0 0 0,0 5-10 th 8 53,3 7 46,7 15 50,0 > 10 th 7 46,7 8 53,3 15 50,0 Total 15 100,0 15 100,00 30 100,0 Sumber : Data primer (diolah) 2005 6.2.2. Pendapat Masyarakat Terhadap Usahatani Pendapat masyarakat adalah pandangan mereka terhadap usahatani di lahan pertanian mereka pasca tsunami. Pendapat masyarakat dapat diketahui dari keinginan dan pandangan mereka terhadap kegiatan usahatani mereka serta keinginan mereka untuk tetap berusaha pada sektor pertanian tersebut. Pendapat masyarakat terhadap usahatani di lahan pertanian mereka pasca tsunami di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 15. 41 Sebagian besar masyarakat yang menjadi responden (100 %) memiliki usahatani di desanya dan semua mereka menyatakan lahan usahataninya terkena dampak dari gelombang tsunami. Tabel 14. Pendapat masyarakat terhadap kegiatan usahatani di dua desa di Kecamatan Lho’nga Parameter 1. Apakah anda mempunyai kegiatan usahatani di desa ini Kriteria a. Ya b. Tidak 0 0 0 0 0 8 7 53,3 46,7 7 8 46,7 3,3 15 15 50,0 50,0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 0 a. Ya b. Tidak 14 1 46,7 3,3 15 0 50,0 0 29 1 96,7 3,3 a. Ya b. Tidak 15 50,0 15 50,0 30 100, 0 0 0 0 0 0 0 9 60,0 a. Ya b. Tidak 3. Apakah lahan pertanian yang anda usaha- a. Ya kan terkena dampak gelombang tsunami b. Tidak 7. Apakah anda punya keinginan untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama Meunasah Manyang Jumlah % n % 15 50,0 30 100,0 0 2. Apakah kegiatan usahatani tersebut sebagai mata pencaharian utama 4. Apakah anda masih punya keinginan untuk meneruskan kegiatan usahatani di desa ini 5. Jika lahan pertanian anda yang terkena tsunami tsb diperbaiki apakah anda masih mau berusahatani lagi dilahan tersebut 6. Apa kebutuhan yang anda perlukan dalam upaya meneruskan kembali usahatani anda Meunasah Baro n % 15 50,0 a. Bantuan sarana pertanian b. Bantuan pelatihan c. Bantuan Modal d. Lainnya 30,0 9 30,0 18 3 10,0 2 6,7 5 5,0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 0 a. Ya b. Tidak 5 10 16,7 33,3 6 9 20,0 30,0 11 19 36,7 63,3 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Sebagain besar juga dari mereka menyatakan masih mau meneruskan usahatani di desanya yaitu sebesar 96,7% dan hanya 3,3% yang menyatakan tidak mau meneruskan usahatani didesanya, tetapi semua mereka menyatakan masih mau berusaha jika lahan pertanian mereka yang rusak dilakukan perbaikan. Hal ini menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat untuk melakukan perbaikan sendiri dan sangat berharap bantuan dari pihak lain untuk bisa melakukan perbaikan lahan pertanian mereka. Sebanyak 63,3% mereka menyatakan tidak ingin mencari kegiatan lain sebagai pengganti mata pencaharian utama dan 36,7% menyatakan ingin mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama tetapi kegiatan bertani masih akan mereka usahakan jika memang lahan pertanian mereka yang rusak akibat gelombang tsunami diperbaiki lagi. Bantuan yang mereka perlukan untuk dapat kembali berusahatani adalah bantuan modal (100%) dan batuan sarana pertanian (60%) dan hanya 5% saja 42 yang menyatakan butuh bantuan pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah tidak mempunyai modal usaha untuk meneruskan usahataninya, baik untuk upah pekerjaan maupun untuk membeli sarana alat pertanian, dimana pada saat tsunami banyak sarana produksi pertanian mereka hilang terseret tsunami dan rusak. Sedangkan bantuan pelatihan untuk waktu jangka pendek belum mendesak mereka butuhkan. Kondisi kerusakan sarana pertanian di lokasi penelitian seperti kerusakan mesin penggilingan padi (Gambar 8a) dan kerusakan hand tractor (Gambar 8b). (a) (b) Gambar 8. Kerusakan sarana produksi pertanian di dua desa di Kecamatan Lho’nga (Sumber : Dokumen pribadi, November 2005) Tidak ada faktor karakteristik masyarakat (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan lama tinggal) yang mempengaruhi pendapat mereka terhadap keinginan untuk meneruskan usahatani mereka di desa (Lampiran 6). Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II dan hasil analisis korelasi ( Lampiran 6 dan 7) antara karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan berusahatani kembali di desa menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat pada taraf signifikasi 95%. Variabel pendidikan sangat berpengaruh nyata terhadap pekerjaan dan pendapatan. Hal ini dimungkinkan dengan pendidikan yang lebih tinggi masyarakat akan mempunyai banyak pilihan pekerjaan sehingga akan memberikan tingkat penghasilan yang lebih baik. Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II terhadap 15 responden yang bermata pencaharian sebagai petani terhadap pendapat mereka akan keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama menunjukkan nilai EtaSquare sebesar 0,7166. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model Hayashi II 43 tersebut dapat menjelaskan 71,66 persen keragaman data pendapat masyarakat (Tabel 16). Dengan kata lain sebesar 28,34 persen keragaman data tidak dapat dijelaskan oleh model Hayashi II. Tabel 15. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Faktor Kategori Umur (X1) 35-44 th 45-54 th 55-64 th Pendapatan (X3) <400 rb/bulan 400 rb - 600 rb/bulan > 600 rb/bulan Lama Tinggal (X4) 6 th - 10 th > 10 th Pendapat tentang keinginan untuk Ya mencari pekerjaan lain sebagai mata Tidak pencaharian utama (Y1) Frekuensi Skor Kategori 9 4 2 7 7 1 9 6 6 9 -0,44774 0,59719 0,82047 -0,12444 0,54092 -2,91540 0,43584 -0,65375 -1,03675 0,69117 Kisaran Korelasi Parsial 1,26821 0,6448* 3,45632 0,7490* 1,08959 0,6442* t Eta-square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 0,388 0,7166 Tabel 16 menunjukkan bahwa variabel umur, pendapatan dan lama tinggal mempunyai kaitan terhadap pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Kategori umur 45-54 tahun dan 55-64 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang tidak ingin mencari pekerjaan lain sebagai pekerjaan utama. Hal ini diduga masyarakat yang berumur 44-54 tahun dan 55-64 tahun merasakan bahwa usia mereka tidak produktif lagi untuk mencari kegiatan lain sebagai pekerjaan, sedangkan masyarakat yang berumur 35-44 tahun mereka masih merupakan usia produktif untuk mencari pekerjaan lain. Pendapat masyarakat yang berkeinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama juga terkait oleh tingkat pendapatan mereka. Tingkat pendapat 400 ribu/bulan - 600 ribu/bulan berkorelasi positif dengan pendapat yang tidak berkeinginan mencari pekerjaan lain. Hal ini diduga karena tingkat pendapatan mereka telah dianggap mampu memenuhi kebutuhan pokoknya,sedangkan pada tingkat pendapatan 400 ribu/bulan mereka merasa bahwa pendapatan mereka belum mampu mencukupi kebutuhan pokok mereka, sehingga masih mempunyai keinginan untuk mencari pekerjaan lain. Pendapatan 44 yang relatif lebih besar berkeinginan mencari pekerjaan lain lebih disebabkan semakin besarnya tanggungan akibat semakin besarnya pendapatan dengan kata lain semakin besar pendapatan semakin besar pula pengeluaran. Lama tinggal juga terkait dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain. Lama tinggal > 10 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang tidak berkeinginan mencari pekerjaan lain. Hal ini diduga karena dengan lamanya mereka tinggal telah memberikan banyak pengalaman bagi mereka dalam berusahatani, sehingga mereka tidak mempunyai keinginan lagi mencari pekerjaan lain di luar kegiatan pertanian. Untuk melihat faktor mana yang paling berpengaruh terhadap pendapat masyarakat dilakukan analisis korelasi antara karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat terhadap keinginan mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama ( Lampiran 7). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama pada taraf signifikasi 95%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak eratnya hubungan keterkaitan faktor karakteristik masyarakat dengan pendapat masyarakat akan keinginan mencarai pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama. Rehabilitasi lahan pertanian sangat diharapkan oleh masyarakat agar lahan-lahan pertanian yang rusak milik mereka dapat difungsikan kembali sehingga masyarakat dapat kembali bekerja disektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama mereka. Kegiatan usahatani yang bisa kembali pulih dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sehingga roda perekonomian dapat kembali berjalan dengan normal. 6.2.3. Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan dapat diketahui dari pandangan atau pengetahuan mereka terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah pada lahanlahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hal ini sangat penting karena kebijakan dan program yang akan dilaksanakan tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan masyarakat. Pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian dapat dilihat pada Tabel 17. 45 Rata-rata masyarakat menyatakan tidak mengetahui (56,7%) akan adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian dan hanya 43,3% yang mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian. Umumnya mereka mengetahui dari media cetak dan media elektronik yang mereka baca atau mereka tonton. Mereka menyatakan (100%) tidak ada pihak dari pemerintah yang datang kepada mereka untuk memberitahukan tentang akan adanya kegiatan perbaikan lahan pertanian mereka. Masyarakat setuju (100%) bila lahan pertanian diperbaiki dan perbaikan tersebut sebaiknya dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat setempat (76,67%) sedangkan yang menyatakan perbaikan sebaiknya dilakukan oleh masyarakat hanya empat orang atau 13,33% dari keseluruhan responden. Sampai saat penelitian dilakukan masyarakat belum ada yang menerima bantuan untuk sarana produksi pertanian mereka hal ini diketahui dari pernyataan mereka yang tidak ada menerima bantuan sarana produksi pertanian sebesar 100%. Tabel 16. Pendapat masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di dua desa di kecamatan Lho’nga. Parameter Kriteria Meunasah Baro Meunasah Manyang Jumlah % n 8 7 % 26,7 23,3 n 3 10 % 10,0 33,3 13 17 43,3 56,7 a. Setuju b. Tidak Setuju 15 0,0 15 50,0 30 100, 0 0 0 0 0 0 0 a. Ada b. Tidak ada 0 15 0 50,0 0 15 0 50,0 0 30 0 100,0 2 6,67 2 6,67 4 13,33 10 33,33 13 43,33 23 76,67 2 6,67 1 3,33 3 10,00 1. Apakah anda mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian yang rusak akibat tsunami di desa anda a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda setuju jika lahan pertanian yang terkena dampak tsunami di desa ini dilakukan perbaikan 3. Apakah selama ini ada pihak pemerintah yang datang untuk memberitahukan saudara tentang akan ada perbaikan lahan pertanian saudara 4. Menurut pendapat anda siapakah yang sebaiknya melakukan perbaikan lahan tersebut a. Pemerintah b. Masyarakat c. Pemerintah dan Masyarakat d. Lainnya Sumber: Data primer (diolah) 2005 Hasil analisis Kuantifikasi Hayashi II menunjukkan bahwa faktor sumber informasi mempengaruhi pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan informasi rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami (Tabel 18). Tabel 18 menunjukkan bahwa Eta-Square bernilai 1,00 yang berarti 100 persen model Hayashi II dapat menjelaskan keragaman data pada pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan 46 pertanian pasca tsunami. Faktor sumber informasi sangat terkait terhadap pengetahuan masyarakat akan informasi rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Hal ini sangatlah jelas bahwa semua sumber informasi akan memberikan dampak kepada masyarakat akan pengetahuan mereka terhadap rencana rehabilitasi lahan. Ketidaktahuan masyarakat akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan berkorelasi positif dengan variabel sumber informasi yang didapat oleh masyarakat, artinya tidak ada informasi kepada mereka maka mereka juga tidak akan mengetahui adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan. Tabel 17. Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta pengetahuan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami Faktor Informasi masyarakat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat tentang pengetahuan akan informasi kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanain (Y1) t Eta-Square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Kategori Frekuensi LSM lokal NGO asing Lainnya Tidak tahu Ya Tidak Skor Kategori 2 2 9 17 13 17 -1,14355 -1,14354 -1,14354 0,87448 -1,14354 0,87447 Kisaran 20,0180 Korelasi Parsial 1,00* 0,404 1,00 Masyarakat mengetahui akan adanya rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami berasal dari beberapa sumber seperti LSM lokal, NGO asing dan lainnya berupa pemberitaan dari surat kabar, dan tidak ada pihak dari pemerintah yang memberitahukan langsung kepada masyarakat akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Hasil analisis korelasi ( Lampiran 7) antara karakteristik masyarakat dan sumber informasi masyarakat tentang informasi rencana rehabiliatsi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami dengan pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan informasi rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami menunjukkan bahwa variabel karakteristik relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap pendapat masyarakat pada taraf signifikasi 95%, tetapi sumber informasi akan rencana rehabilitasi lahan pasca tsunami memberikan hubungan sangat nyata terhadap pendapat masyarakat akan pengetahuan mereka tentang rencana rehabilitasi lahan. 47 Dukungan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami dapat dilihat pada Tabel 19. Dari Tabel 19 dapat diketahui bahwa dukungan masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pasca tsunami mempunyai Eta-Square sebesar 0,8621, artinya keragaman data pada pendapat masyarakat terhadap dukungan akan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami dapat dijelaskan sebesar 86,21 persen. Tabel 18 Nilai korelasi parsial dan nilai skor kategori analisis Kuantifikasi Hayashi II pada pendapat masyarakat serta dukungan rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami Frekuensi Skor Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th Pemerintah Pemerintah dan Masyarakat NGO Ya 2 11 12 5 6 0,03752 0,19596 0,02889 -0,51544 1,90932 22 -0,45058 2 25 -0,77161 -0,41525 Tidak 5 2,07623 Faktor Umur (X1) Pendapat Masyarakat Yang sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat untuk mendukung kegiatan rencana rehabilitasi lahan (Y1) Kategori t Eta-square Nyata pada taraf a 5% = 0,05 Sumber: Data primer (diolah) 2005 Kisaran Korelasi Parsial 0,7114 0,4912* 2,68093 0,9034* 0,404 0,8621 Faktor umur mempunyai kaitan terhadap dukungan masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Kategori umur 55-64 tahun berkorelasi positif dengan pendapat masyarakat yang mendukung rencana kegiatan rehabilitasi lahan. Hal ini diduga bahwa kematangan berpikir yang dimiliki oleh masyarakat yang berumur 55-64 tahun lebih tinggi sehingga mereka mengetahui dengan pasti manfaat kegiatan rehabilitasi lahan bagi kelangsungan kegiatan usahatani mereka. Faktor pihak yang melakukan kegiatan rehabilitasi lahan juga mempunya kaitan terhadap dukungan masyarakat. Kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diduga akan mendapat dukungan masyarakat apabila kegiatan tersebut juga melibatkan masyarakat serta pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal maupun asing. Hal ini dikarenakan kegiatan tersebut juga 48 diharapkan mampu memberikan kontribusi pendapatan pada masyarakat dan tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja. Hasil analisis korelasi (Lampiran 7) antara karakteristik masyarakat dan pendapat masyarakat tentang pihak yang akan melakukan kegiatan rehabilitasi lahan dengan pendapat masyarakat terhadap dukungan akan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami menunjukkan bahwa variabel karakteristik masyarakat relatif bebas dan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap dukungan masyarakat pada taraf nyata 95%, tetapi variabel pihak yang akan melakukan rehabilitasi sangat mempengaruhi terhadap dukungan masyarakat akan rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami. Dukungan masyarakat terhadap rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami merupakan respon positif kemauan masyarakat terhadap upaya rekonstruksi Aceh pasca tsunami, hal ini haruslah disikapi dengan baik oleh pemerintah yaitu dengan melibatkan mereka dalam kegiatan rehabilitasi lahan pertanian khususnya lahan-lahan pertanian di desa mereka. Keterlibatan mereka dapat dilakukan melalui lembaga yang ada dalam desa seperti lembaga adat gampong dan mukim. Keterlibatan pihak masyarakat dapat pula dibantu dengan pendampingan dari pihak lembaga swadaya masyarakat yang ada, terutama lembaga swadaya masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Beberapa pertimbangan pentingnya peran gampong dan mukim dalam upaya rekonstruksi aceh pasca tsunami adalah sebagai berikut : (1) gampong dan mukim adalah lembaga terdekat dengan sumberdaya alam yang ada, sehingga pengawasan terhadap sumberdaya alam menjadi efektif, (2) pendelegasian wewenang pengawasan kepada lembaga gampong dan mukim akan memangkas biaya untuk kebutuhan operasioanl pengawasan, (3) sebagai penghargaan atas peran lembaga gampong atau mukim dalam upaya rekontruksi Aceh pasca tsunami. (Syarif, 2005). 6.2.4. Arahan untuk Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian yang Rusak Pasca tsunami . Perencanaan rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami bertujuan untuk memfungsikan kembali lahan tersebut sebagai lahan pertanian sehingga aktifitas usahatani masyarakat dapat kembali berjalan. Perencanaan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami harus berbasis masyarakat. 49 Berdasarkan hasil penelitian dapat disusun beberapa arahan untuk rencana rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami. 1. Lahan-lahan pertanian harus dibersihkan dari sedimen terutama pasir, pembersihan sisa sampah dan puing dapat dikerjakan bersamaan dengan kegiatan pemindahan sedimen. Hal ini dikarenakan semua titik pengamatan pada penelitian ini sedimen penutup lahan pertanian adalah pasir dan masih tersisa sampah dan puing pada lahan pertanian. 2. Pemindahan sedimen haruslah dipertimbangkan lokasi dan biaya pemindahan baik menyangkut jumlah tenaga kerja maupun biaya transportasi pemindahan. Hal ini dikarenakan ketebalan sedimen pasir yang relatif cukup besar. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemakaian sedimen untuk keperluan lain. Salah satu alternatif adalah pemakaian sedimen pasir untuk material pembangunan rumah dimana pasir yang dipindahkan dari lahan pertanian dilakukan pencucian terlebih dahulu untuk membersihkan sisa garam yang ada selanjutnya bisa digunakan untuk material bangunan. 3. Pengelolaan tanah diperlukan untuk mengatasi masalah erosi dan genangan yang masih terjadi pada lahan pertanian. 4. Monitoring dan evaluasi terhadap karakteristik lahan, baik untuk tingkat salinitas maupun reaksi tanah (pH) harus tetap diperhatikan agar kondisi tanah pada lahan pertanian dalam kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan. 5. Penanaman tanaman harus disesuaikan dengan kesesuain lahan yang ada, sehingga mampu memberikan nilai ekonomis yang tinggi serta mempunyai prospek pemasaran yang baik. 6. Sosialisasi kegiatan rehabilitasi lahan pasca tsunami perlu dilakukan oleh pemerintah secara berkesinambungan baik langsung maupun melalui media yang ada, hal ini untuk memberikan gambaran akan pentingnya kegiatan rehablitasi dan juga untuk menghindari konflik antara pemerintah dan masyarakat sebagai pemilik lahan. 7. Respon positif dari masyarakat untuk mendukung rencana rehabilitasi lahan perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi. Keterlibatan mereka dapat dikoordinasikan melalui lembaga desa yang ada baik di tingkat gampong maupun mukim . Keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan dan 50 pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan rehabilitasi merupakan wujud tanggung jawab masyarakat dalam upaya recovery Aceh pasca tsunami. 8. Kegiatan rehabilitasi yang akan dilakukan harus diikuti dengan bantuan sarana pertanian bagi masyarakat agar masyarakat dapat dengan segera kembali melakukan aktifitas pertanian, hal ini mengingat sarana produksi pertanian yang dimiliki masyarakat ikut terbawa dan rusak akibat tsunami. Hal ini merupakan bagian dari kegiatan rehabilitasi dalam upaya mengaktifkan kembali kegiatan pertanian sebagai mata pencarian mereka (livelihoods recovery).kegiatan ini tidak hanya sampai pada tahap pemberian bantuan sarana produksi pertanian tetapi juga sampai pada tahap pengembangan pasar untuk pemasaran komoditi yang dihasilkan petani. VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 1. Kerusakan lahan pertanian di lokasi penelitian berdasarkan tabel observasi dari FAO tahun 2005 tergolong kerusakan sedang dengan kelas B (sedang), nilai skor kerusakan tertinggi pada jarak 750 meter dari garis pantai. Sedimen yang terdapat pada semua titik pengamatan bukanlah endapan liat dan debu tetapi merupakan endapan pasir laut yang mempunyai ketebalan antara 5-27 cm. Ketebalan sedimen pasir cenderung meningkat ke arah daratan. Ketebalan tertinggi pada jarak 750 meter dari garis pantai dan selanjutnya mulai menurun. 2. Vegetasi penutup lahan yang mendominasi di semua titik pengamatan adalah jenis rumputan (Grass) dan tanaman tapak kuda (Ipomea prescapre). Indek Nilai Penting (INP) jenis rumputan pada jarak 250 meter 82,22% tanaman tapak kuda (62,03%). Jarak 500 meter rumputan (130,82%), tanaman tapak kuda (69,18%), Pada Jarak 750 meter dan jarak 100 meter tanaman bili (Fimbristylus sp) mempunyai INP lebih besar yaitu sebesar 69,54% dan 64,16%. Sedangkan untuk jarak 1.250 meter didominasi oleh tanaman rumputan (143,89%) dan tanaman tapak kuda (56,11%). 3. Tingkat salinitas, reaksi tanah (pH) dan kandungan K tertinggi pada jarak 1.250 meter. Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) berfluktuatif dari garis pantai ke arah darat. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak 500 meter (13,61 me/100 gr) dari garis pantai dan terendah dijumpai pada jarak 250 meter (11,18 me/100 gr). Fraksi tanah didominasi oleh fraksi pasir pada semua titik pengamatan dan cenderung menurun ke arah daratan. 4. Masyarakat di kedua desa penelitian masih mau meneruskan usahatani di desa mereka dan pada umumnya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani tidak ingin mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama mereka. 5. Masyarakat umumnya sangat mendukung usaha perbaikan lahan pertanian yang rusak. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui akan adanya rencana kegiatan rehabilitasi lahan yang akan dilakukan oleh pemerintah. 52 7.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, disusun saran sebagai berikut : 1. Perbaikan lahan pertanian milik masyarakat yang rusak disarankan agar dapat segera diperbaiki terutama pembersihan dari sedimen pasir, sehingga masyarakat dapat segera kembali melakukan kegiatan pertanian tersebut usahataninya. 2. Dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan lahan disarankan untuk melibatkan secara aktif masyarakat setempat terutama mereka yang memiliki lahan pertanian yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami. 3. Penelitian tentang kesesuaian lahan pertanian yang rusak untuk berbagai komoditi pertanian penting/utama disarankan untuk dilakukan agar diperoleh jenis komoditi yang sesuai untuk dikembangkan dan bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pemasaran hasil yang baik. 4. Bantuan modal, sarana produksi pertanian disarankan untuk diberikan kepada petani agar aktivitas usahatani masyarakat dapat segera dimulai sehingga kegiatan usahatani dapat berlangsung dengan lebih baik. 5. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut tentang kondisi kerusakan lahan pertanian akibat tsunami dengan melakukan analisis terhadap kandungan kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan natrium (Na) pada lahan-lahan pertanian yang rusak akibat tsunami. 57 Lampiran 1. Data Fisika dan Kimia Tanah Rata-rata No. 1. 2. Desa Meunasah Baro Meunasah Manyang Titik Pengamatan pH (1:2,5) DHL (mS/cm) COrganik (%) T1 8,14 0,44 1,56 0,11 0,31 0,13 10,96 1,96 78 7 15 T2 8,53 0,77 2,29 0,20 0,77 0,17 12,79 2,02 58 22 21 T3 8,13 1,07 1,98 0,12 0,58 0,12 13,49 1,39 53 21 26 T4 8,52 1,72 0,74 0,20 0,94 0,26 11,73 1,54 78 8 15 T5 8,06 1,86 1,94 0,27 0,62 0,23 11,80 2,11 63 16 22 Rata-rata 8,28 1,17 1,70 0,18 0,64 0,18 12,15 1,80 66 14,8 19,8 T1 8,07 0,36 1,97 0,18 0,94 0,13 11,40 1,92 74 16 11 T2 7,74 0,64 1,98 0,16 2,14 0,16 14,42 1,88 74 19 10 T3 8,20 1,30 1,98 0,14 0,58 0,17 11,84 1,65 70 10 15 T4 8,23 2,30 1,43 0,19 0,35 0,17 11,95 2,00 70 10 20 T5 8,38 3,00 1,22 0,19 0,85 0,28 11,72 1,70 60 13 28 Rata-rata 8,12 1,52 1,72 0,17 0,97 0,18 12,27 1,83 69,6 13,6 16,8 N (%) P (ppm) Keterangan: T1= 250 m, T2=500 m, T3= 750 m, T4= 1000 m, T5= 1250 m K KTK (me/100 g) (me/100 g) Kadar Air (%) Persentase Fraksi P D L Kelas Tekstur Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasir Pasir berlempung Pasir berlempung Lempung berpasir Lempung liat berpasair Lempung liat berpasair Lempung liat berpasir BD grcm-3 Permeabilitas Nilai Kriteria 1,3 13,3 Cepat 1,3 2,0 Sedang 1,3 2,4 Sedang 1,4 9,2 Cepat 1,2 3,2 Sedang 1,3 6,02 Sedang 1,3 12,8 Cepat 1,5 12,7 Cepat 1,2 7,4 Agak cepat 1,3 4,2 Sedang 1,2 6,2 1,3 8,66 Agak cepat Agak cepat Lampiran 2. Hasil Analisis Laboratorium sifat Fisika dan Kimia Tanah Lampiran 2. (Lanjutan) 59 Lampiran 3. Kriteria Penilaian Analisis Tanah Kriteria Penilaian Data Analisis Tanah Rendah Sedang Tinggi < 1,00 < 0,10 <5 < 10 < 10 < 4,4, < 10 < 4,4, < 10 <5 1,00-2,00 0,10-0,20 5-10 10-20 10-15 4,4-6,5 10-20 4,4-10,9 10-20 5-16 2,01-3,00 0,21-0,50 11-15 21-40 16-25 6,6-10,9 21-40 11-19,6 21-40 17-24 3,01-5,00 0,51-0,75 16-25 41-60 26-35 11-15,3 41-60 19,7-26,2 41-60 25-40 Sangat Tinggi > 5,00 > 0,75 > 25 > 60 > 35 >15,3 > 60 > 26,2 > 60 > 40 <2 < 0,4 < 0,1 < 0,1 < 20 < 10 < 0,5 <5 <4 <5 < 1,0 2-5 0,4-1,0 0,1-0,2 0,1-0,3 20-35 10-20 0,5-1,5 5-10 5-14 5-10 1,1-2,0 6-10 1,1-2,0 0,3-0,5 0,4-0,7 36-50 21-30 1,6-3,5 11-20 15-199 11-20 2,1-3,0 11-20 2,1-8,0 0,6-1,0 0,8-1,0 51-70 31-60 3,6-10 21-40 200-250 21-40 3,1-4,0 > 20 > 8,0 > 1,0 > 1,0 > 70 > 60 > 10 > 40 > 250 > 40 > 4,0 2-9 10-20 21-40 > 60 Sangat Masam Masam Agak Masam Netral 41-60 Agak alkalis < 4,5 4,5-5,5 5,6-6,5 6,6-7,5 Parameter Tanah C (%) N (%) C/N P2O5 HCL 25% (mg/100g) P2O5 Bray I (ppm) P Bray I (ppm) P2O5 Olsen (ppm) P Olsen (ppm) K2O HCL 25% (mg/100g) KTK (CEC) (me/100g) Susunan kation : Ca-dd (me/100 g) M g-dd (me/100 g) K-dd (me/100 g) Na-dd (me/100 g) Kejenuhan Basa (%) Kejenuhan Al (%) Al-dd (1M KCL, me/100 g) Al-larut (ppm) SO4(ppm) Cadangan Mineral (%) Daya Hantar Listrik (EC) (ms/Cm) ESP (Exch.Sod.Percentage) pH (H2O) Sangat Rendah 7,6-8,5 Alkalis > 8,5 60 Lampiran .4 Data Curah Hujan Rata-rata Banda Aceh & Aceh Besar (Tahun 2005) Stasiun Curah hujan dalam milimeter Rata-rata Nomor Nama Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jumlah 106 106 Peukan Ateuk Ule Kareng 177 160 147 106 136 126 134 117 118 117 67 78 59 50 77 86 124 118 159 153 207 176 271 204 1676 1491 139,67 124,25 106 Peukan Bada 118 111 97 130 170 127 93 148 190 182 185 151 1702 141,83 106 Lhok Nga 161 133 154 150 257 170 179 215 290 277 252 184 2422 201,83 107 Cot Paya 181 89 82 80 64 42 38 63 117 128 210 167 1261 105,08 107 Blang Bintang 138 99 123 140 133 53 47 52 125 144 185 218 1457 121,42 107 Kotaraja 135 60 90 70 159 75 134 95 164 187 192 184 1545 128,75 107 Banda Aceh 149 78 100 112 149 98 97 110 163 176 188 202 1622 135,17 108 Sabang 315 150 139 95 163 104 99 110 170 193 250 355 2143 178,58 110 Krueng Raya 158 104 107 109 65 24 20 30 69 99 150 197 1132 94,33 111 Indrapuri 173 125 250 167 136 73 49 87 146 195 260 232 1893 157,75 111 Lam Teuba 254 137 211 218 144 50 55 75 111 203 250 257 1965 163,75 112 Seulimuem 157 115 173 192 114 58 44 89 102 183 200 201 1628 135,67 62 Lampiran 5. Data Pengamatan Kerusakan Lahan Berdasarkan Kriteria FAO tahun 2005 Skor Kerusakan Desa 1 Meunasah Baroh Meunasah Manyang Titk Pengamatan 2 D1J1T1 D1J1T2 D1J1T3 D1J1T4 D1J1T5 D1J2T1 D1J2T2 D1J2T3 D1J2T4 D1J2T5 D2J1T1 D2J1T2 D2J1T3 D2J1T4 D2J1T5 D2J2T1 D2J2T2 D2J2T3 D2J2T4 D2J2T5 Trash And Debris 3 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 Erosi Sedimentasi Lama genangan 4 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 4 6 4 4 1 6 6 6 6 1 4 6 4 4 6 1 6 6 4 6 1 4 4 4 4 4 6 6 4 4 1 4 4 1 4 4 1 4 1 4 Sumber: Data Primer 2006 (Diolah) Keterangan: D1 = Desa Meunasah Baroh D2 = Desa Meunasah Manyang J1 = Jalur I J2 = Jalur II T1=250 m, T2=500 m, T3=750 m, T4=1000 m, T5=1500 m Waktu Pengamatan : September-November 2005 Infiltrasi Jumlah Skor 7 3 1 1 1 1 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 8 7 14 14 11 11 9 18 17 16 15 7 15 15 9 12 14 7 16 11 13 Rangking 9 Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Lampiran 6. Hasil Analisis Kuantifikasi Hayashi II Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Pendapat tentang keinginan untuk masih mau berusaha tani di desa (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 29 1 0,50949 -0,85052 1,00236 -0,33071 -1,64519 0,43428 -0,13170 1,11635 -0,03532 1,11000 -0,61871 0,61385 0,26366 -1,21650 0,51636 -0,59013 -0,07522 2,18134 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 1,85288 0,32555 0,16408 23 0,001 0,01 0,05 0,1 0,505 0,462 0,396 0,311 2,76153 0,25732 1,72871 0,18259 1,83036 0,24802 1,10649 0,22157 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pendapatan (X3) Lama Tinggal (X4) Pendapat tentang keinginan untuk mencari kegiatan lain sebagai mata pencaharian utama (Y1) Kategori 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Ya Tidak 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 9 4 2 3 10 2 7 7 1 9 6 6 9 -0,44774 0,59719 0,82047 0,25245 -0,16284 0,43554 -0,12444 0,54092 -2,91540 0,43584 -0,65375 -1,03675 0,69117 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 1,26821 0,64481 0,71656 24 0,59838 0,29976 0,001 0,01 0,05 0,1 0,496 0,453 0,388 0,33 3,45632 0,74903 1,08959 0,64422 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Pendapat Masyarakat Yang sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat untuk mendukung kegiatan rencana rehabilitasi lahan (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th Pemerintah Pemerintah dan Masyarakat NGO Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 2 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 6 22 2 25 5 0,03752 0,19596 0,02889 -0,51544 -0,04680 -0,11948 0,17809 0,09359 -0,04521 0,28047 -0,07922 0,29035 -0,03668 -0,20650 -0,01419 0,01622 1,90932 -0,45058 -0,77161 -0,41525 2,07623 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 0,7114 0,49119 0,86214 22 0,001 0,01 0,05 0,1 0,515 0,472 0,404 0,344 0,29758 0,24986 0,35969 0,27079 0,49685 0,31917 0,03042, 0,03083 2,68093 0,9034 Lampiran 6. (Lanjutan) Faktor Umur (X1) Pendidikan (X2) Pekerjaan Utama(X3) Pendapatan (X4) Lama Tinggal (X5) Informasi masyarakat tentang kegiatan rencana rehabilitasi lahan (X6) Pendapat masyarakat tentang pengetahuan akan informasi kegiatan rencana rehabilitasi lahan pertanain (Y1) Kategori <35 th 35-44 th 45-54 th 55-64 th SD SMP SMU PT Petani Nelayan Lainnya <400 rb 400 rb - 600 rb > 600 rb 6 th - 10 th > 10 th LSM lokal NGO asing Lainnya Tidak tahu Ya Tidak 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 3 4 1 2 Frekuensi Skor Kategori 2 11 12 5 6 12 7 5 17 5 8 7 16 7 16 14 2 2 9 17 13 17 -0,00000 0,00000 -0,0000 0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 -0,00000 -0,00000 0,00000 0,00000 -0,00000 -1,14355 -1,14354 -1,14354 0,87448 -1,14354 0,87447 Kisaran Korelasi Parsial Etasquare df (n-r-1) p t 0,00000 0,00081 1,00000 22 0,001 0,01 0,05 0,1 0,515 0,472 0,404 0,344 0,00000 0,00041 0,00000 -0,00123 0,00000 -0,00068 0,00036 20,01802 1,00000 67 Lampiran 7. Hasil Analisis Korelasi Hasil analisis korelasi antara pendapat masyarakat thdp keinginan untuk tetap berusahatani di desa dengan karakteristik masyarakat Descriptive Statistics Mean Pendapat Masyarakat terhadap keinginan untuk tetap berusahatani di desa Umur Std. Deviation N -,0085177 ,41621704 30 ,0000023 ,85258106 30 Pendidikan Pekerjaan ,0030023 -,0000040 ,92030704 ,56459091 30 30 Pendapatan Lama Tinggal ,0000003 -,0000020 ,69750921 ,56145102 30 30 Correlations Pendapat Masyarakat terhadap keinginan untuk tetap berusahatani di desa Pendapat Pearson Correlation Masyarakat terhadap Sig. (2-tailed) keinginan untuk tetap berusahatani di desa N Umur 1 ,228 ,126 -,010 ,052 ,194 , ,226 ,509 ,957 ,785 ,304 30 30 30 30 ,228 1 -,286 ,078 -,035 -,089 Sig. (2-tailed) ,226 , ,126 ,681 ,853 ,642 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,126 -,286 1 -,592** -,421* ,298 Sig. (2-tailed) ,509 ,126 , ,001 ,021 ,110 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation -,010 ,078 -,592** 1 ,065 -,281 Sig. (2-tailed) ,957 ,681 ,001 , ,732 ,132 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,052 -,035 -,421* ,065 1 -,242 Sig. (2-tailed) ,785 ,853 ,021 ,732 , ,198 30 30 30 30 30 30 Pearson Correlation ,194 -,089 ,298 -,281 -,242 1 Sig. (2-tailed) ,304 ,642 ,110 ,132 ,198 , 30 30 30 30 30 30 N Lama Tinggal Pendapatan Lama Tinggal 30 N Pendapatan Pekerjaan 30 N Pekerjaan Pendidikan Pearson Correlation N Pendidikan Umur N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 30 68 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara Pendapat Masyarakat thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama dengan karakteristik masyarakat Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat Masyarakat petani thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama ,0000020 ,87621536 15 Umur Pendidikan ,0000027 ,0000200 ,57178452 ,24434872 15 15 Pendapatan Lama Tinggal -,0000027 ,0000040 ,87243974 ,55252297 15 15 Correlations Pendapat Masyarakat petani thdp keinginan mencari kegiatan lain sbg mata pencaharian utama Pendapat Masyarakat petani Pearson Correlation thdp keinginan mencari Sig. (2-tailed) kegiatan lain sbg mata N pencaharian utama Umur Pendidikan Pendapatan Pendidikan Pendapatan Lama Tinggal 1 ,404 -,021 ,464 ,444 , ,135 ,941 ,082 ,097 15 15 15 15 15 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,404 ,135 1 , ,252 ,366 -,217 ,437 ,092 ,744 N Pearson Correlation 15 -,021 15 ,252 15 1 15 -,528* 15 ,084 Sig. (2-tailed) N ,941 15 ,366 15 , 15 ,043 15 ,765 15 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,464 ,082 -,217 ,437 -,528* ,043 1 , -,094 ,738 N Lama Tinggal Umur Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 15 15 15 15 15 ,444 ,097 ,092 ,744 ,084 ,765 -,094 ,738 1 , 15 15 15 15 15 69 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara pendapat masyarakat terhadap pengetahuan masyarakat akan rencana rehabiliatsi dengan karakteristik dan sumber informasi yang diperoleh Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan -,0000010 1,01709103 30 Umur ,0000000 ,00000000 30 Pendidikan ,0000000 ,00000000 30 Pekerjaan ,0000000 ,00000000 30 Pendapatan ,0000000 ,00000000 30 Lama tinggal ,0000000 ,00000000 30 Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan ,0000173 1,01710871 30 Correlations Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan Umur Pendidik an Pekerja an Pendapat an Lama tinggal Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan Pendapat masyarakat terhadap pengetahuan akan rencana kegiatan rehabiliatsi lahan Pearson Correlation 1 ,a ,a ,a ,a ,a 1,000** Sig. (2-tailed) , , , , , , ,000 30 30 30 30 30 30 30 Umur Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N N Pendidikan Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N Pekerjaan ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 ,a Pearson Correlation ,a ,a ,a ,a ,a ,a Sig. (2-tailed) , , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 N Informasi Masyarakat tentang rencana rehabilitasi lahan ,a Pearson Correlation N Lama tinggal ,a Pearson Correlation N Pendapatan ,a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,a 1,000** ,a ,a ,a ,a ,a ,000 , , , , , , 30 30 30 30 30 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). a. Cannot be computed because at least one of the variables is constant. 1 70 Lampiran 7. (Lanjutan) Hasil analisis korelasi hubungan antara pendapat masyarakat terhadap dukungan kegiatan rehabilitasi lahan dengan karakteristik masyarakat dan pihak yg sebaiknya melakukan kegiatan rehabilitasi Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan -,0000033 ,94439306 30 Umur -,0024987 ,24659329 30 Pendidikan ,0000007 ,12460349 30 Pekerjaan ,0052820 ,12830911 30 Pendapatan ,0162143 ,17638684 30 Lama tinggal ,0000013 ,01543053 30 Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan -,0000020 ,97433041 30 Correlations Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan Pendapat masyarakat akan dukungan terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan Pearson Correlation Umur Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Sig. (2-tailed) Pendidikan N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pekerjaan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pendapatan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Lama tinggal Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Umur Pendidik an Pekerja an Pendapat an Lama tinggal Pendapat yg sebaiknya melakukan rehabilitasi lahan 1 ,104 ,051 ,028 ,201 -,239 ,891** , ,586 ,787 ,884 ,287 ,203 ,000 30 30 30 30 30 30 30 ,104 1 ,146 -,272 -,052 -,163 -,089 ,586 30 , 30 ,442 30 ,147 30 ,784 30 ,389 30 ,639 30 ,051 ,146 1 ,110 -,475** -,157 -,018 ,787 ,442 , ,563 ,008 ,407 ,926 30 30 30 30 30 30 30 ,028 -,272 ,110 1 -,056 ,262 -,027 ,884 ,147 ,563 , ,769 ,163 ,886 30 30 30 30 30 30 30 ,201 -,052 -,475** -,056 1 ,242 ,145 ,287 ,784 ,008 ,769 , ,197 ,444 30 30 30 30 30 30 30 -,239 -,163 -,157 ,262 ,242 1 -,320 ,203 30 ,389 30 ,407 30 ,163 30 ,197 30 , 30 ,085 30 ,891** -,089 -,018 -,027 ,145 -,320 1 ,000 ,639 ,926 ,886 ,444 ,085 , 30 1 ,104 ,051 ,028 ,201 -,239 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). t Hitung ( 10,29) > t Tabel (2,052). Ada hubungan antara variabel pendapat masyarakat tentang pihak yang melakukan kegiatan rehabiliatsi lahan dengan pendapat masyarakat terhadap dukungan kegiatan rehabilitasi lahan pada tingkat signifikasi 5% secara nyata dan bersifat positif 71 Lampiran 8. KUESIONER PENELITIAN Assalamualiakum Warahmatullahhi Wabarakatuh Perkenankan kami mengajukan beberapa pertanyaan di bawah ini sebagai bahan untuk melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan studi pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Nama : Asnawi Achmad NRP : P.052024011 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Judul Penelitian : Indentifikasi Keusakan Lahan Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar Naggroe Aceh Darussalam) Demikian kami haturkan terima kasih atas bantuan Bapak/Ibu/saudara membrikan jawaban dengan baik terhadap daftar pertanyaaan ini Pedoman umum pengisian : Berilah tanda (√) pada setiap jawaban yang anda pilih paling sesuai Isilah jawaban pada tempat yang telah disediakan I. Indentitas Responden 1. Nama : ............................................................... 2. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 3. Umur : <35 Tahun 35-44 Tahun 45- 54 Tahun 55-64 Tahun > 64 Tahun 4. Desa tempat tinggal : ................................................................ 5. Pekerjaan Utama : Petani Petambak Nelayan Lainnya 6. Pekerjaan Sampingan : ................................................................ 7. Pendapatan/Tahun : Rp .......................................................... 8. Pendidikan terakhir : SD SMP SMU Perguruan Tinggi (Strata...............) 9. Jumlah Anggota Keluarga : .......................................................orang 10. Lama Tinggal : .............................Tahun ...............bulan 11. Asal/Suku : ................................................................ II. Pendapat Responden A. Pendapat Terhadap Kegiatan Usahatani 1. Apakah anda mempunyai kegiatan usahatani di desa ini? a. Ya b. Tidak 72 2. Apakah kegiatan usahatani tersebut sebagai mata pencaharian utama? a. Ya b. Tidak 3. Apakah lahan pertanian yang anda usahakan terkena dampak gelombang tsunami ? a. Ya (lanjut ke No 5 ) b. Tidak 4. Apakah anda masih punya keinginan untuk meneruskan kegiatan usahatani di desa ini? a. Ya (lanjut ke No 6) b. Tidak (lanjut ke No 7 dan 8) 5. Jika lahan pertanian anda yang terkena tsunami tersebut diperbaiki apakah anda masih mau berusahatani lagi dilahan tersebut ? a. Ya b. Tidak (lanjut ke No 7 dan 8) 6. Apa kebutuhan yang anda perlukan dalam upaya meneruskan kembali usahatani anda a. Bantuan sarana pertanian b. Bantuan pelatihan c. Bantuan modal d. Lainnya (Sebutkan !)...................................... 7. Apakah anda punya keinginan untuk mencari pekerjaan lain sebagai mata pencaharian utama ? a. Ya (lanjut ke No 8) b. Tidak 8. Kegiatan usaha apa yang akan anda kerjakan ? (pilih salah satu) a. Dagang b. Nelayan c. Jasa d. Lainnya (Sebutkan !).......................................... B. Pendapat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian 9. Apakah anda mengetahui akan adanya rencana perbaikan lahan pertanian yang rusak akibat tsunami di desa anda ? a. Ya b. Tidak 10. Apakah anda setuju jika lahan pertanian yang terkena dampak tsunami di desa ini dilakukan perbaikan ? a. Setuju b. Tidak setuju (lanjut ke No17) 11. Apakah selama ini ada pihak pemerintah yang datang untuk memberitahukan saudara tentang akan ada rencana perbaikan lahan pertanian saudara? a. Ada (lanjut ke No 12 ) b. Tidak ada 12. Pihak mana yang memberitahukan tersebut a. Pemerintah b. LSM lokal c. NGO asing. d. Lainnya 73 13. Menurut pendapat anda siapakah yang sebaiknya melakukan perbaikan lahan tersebut a. Pemerintah b. Masyarakat c. Pemerintah dan masyarakat d. Lainnya (sebutkan !) ..................................... 14. Setujukah anda jika perbaikan lahan pertanian yang kadar garam tinggi akibat terkena tsunami dilakukan perbaikan melalui pencucian ? a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak tahu 15. Pencucian yang bagaimana menurut anda yang sesuai untuk lahan pertanian yang terkena tsunami a. Pencucian oleh hujan b. Dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang c. Lainnya (Sebutkan !).............................................. 16. Setujukan jika lahan tersebut juga diperbaiki dengan cara memberikan bahan untuk memperbaiki tanah (bahan amelioran) berupa sulfur atau kapur a. Setuju b. Tidak setuju (lanjut ke No 18) c. Tidak tahu 17. Apa alasan anda tidak setuju jika lahan pertanian tersebut diperbaiki a. Tidak mungkin diperbaiki lagi b. Hanya merupakan proyek pemerintah saja c. Lainnya (Sebutkan !)...................................... 18. Apa alasan anda tidak setuju dengan cara tersebut a. Bahan tersebut tidak sesuai b. Bahan tersebut sulit diperoleh dan mahal harganya c. Lainnya (Sebutkan !)....................................... 19. Apakah saudara selama ini ada menerima bantuan sarana pertanian ? a. Ada (lanjut ke No. 20) b. Tidak ada 20. Dalam bentuk apa bantuan tersebut saudara terima. a. Traktor b. Alat-alat pertanian c. Bibit atau benih tanaman d. Lainnya III. Aspirasi Masyarakat 1. Sebutkan harapan, kritik, saran atau masukan apa saja agar rencana rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di desa ini dapat berhasil dengan baik ? ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ---oOo---
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Identifikasi kerusakan lahan dan pendapat mas..

Gratis

Feedback