Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan

Gratis

0
21
349
2 years ago
Preview
Full text
STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tesis ini. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra NRP A156070204 i ABSTRACT ROBBY K. SAPUTRA. Regional Development Strategy in Metro City Lampung Base on Evaluation of Land Capability and Suitability. Under direction of SETIA HADI and YAYAT SUPRIYATNA The Development of Metro City has the implication on the need of setlement and maintains agricultural area. The changes of agricultural area function will affect regional development strategy. The objectives of this research are: (1) identify land resources with land capability and land suitability analysis for agricultural and setlement area, (2) identify regional hierarchy, (3) identify projection of population with minimum service standar (SPM), (4) identify potential sectors in regional development, (5) to build regional development strategy in Metro City Lampung base on evaluation of land capability and suitability. This study employed another analyses such as: scalogram analysis, Location Quotient analysis (LQ) Shift Share analysis (SSA), Input-Output (I-O) analysis, Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) analysis, and Quantitatif Strategic Planning Matrix analysis (QSPM). The results showed that Metro City that most parts of Metro area (73%) are agricultural intensive, 91% area are suitable for setlement land. Industrial sector was a potential sector had high the multiplier effects and backward forward linkages. There are two villages on the first regional hierarchy, nine villages on the second regional hierarchy and eleven villages on the third regional hierarchy. There are six strategies of the regional development strategy in Metro City base on evaluation of land capability and suitability. First strategy is use potential of land to road development for growth potential sectors, second strategy is use the empty land with land use policy, third strategy is to maximize land use for public utilities with joint around of area, fourth strategy is to optimize potential of empty land for drive potential sectors growth, fifth strategy is use potential of setlement land with GIS technology and sixth strategy is to take GIS technology on agricultural and road land. Keywords: land resources evaluation, potential sectors, regional development strategy ii RINGKASAN ROBBY K. SAPUTRA. Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Dibimbing oleh SETIA HADI dan YAYAT SUPRIYATNA. Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat wilayah tersebut. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan pembangunan tentunya diperlukan konsep dan strategi perencanaan untuk menjadi acuan bagi pelaksana pembangunan. Disamping itu diperlukan juga arah dan tujuan menuju terwujudnya sasaran yang akan dicapai oleh masyarakat di Kota Metro. Secara garis besar pertumbuhan dan kemajuan di Kota Metro terbentuk dari empat sektor ekonomi, masing-masing adalah pertanian, perdagangan, jasa dan industri (RTRW Kota Metro 2001). Sebagai kota yang terbentuk dari lahan permukiman transmigrasi, sektor pertanian merupakan kegiatan ekonomi pertama yang menjadi mata pencarian masyarakat. Kemudian kegiatan ekonomi perdagangan dan jasa tumbuh dari perkembangan kota pada fase berikutnya. Keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa semakin pesat seiring perubahan status administrasi Metro menjadi kota, sebelumnya sebagai ibukota pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah. Karakteristik urban yang dominan dengan kegiatan jasa dan perdagangan tersebut tersebar di kelurahan-kelurahan yang terletak di sekitar pusat kota, sementara itu pada daerah yang berada di pinggir kota umumnya masih berbasis pertanian dan beberapa kelurahan lainnya didukung oleh kegiatan perindustrian. Berdasarkan RTRW Kota Metro 2001 secara garis besar, penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Termasuk dalam kelompok penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan. Sedangkan kawasan pertanian seperti sawah, ladang dan penggunaan lain-lain merupakan kelompok penggunaan lahan tidak terbangun. Salah satu konsep yang dapat dilakukan dalam strategi pengembangan wilayah dengan aspek sumberdaya lahan adalah melakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan evaluasi kelas kesesuaian lahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan masalah sosial lain. Setelah dilakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan maka akan didapat lokasi-lokasi tertentu yang sesuai untuk pengembangan pertanian, kawasan permukiman, pembangunan jalan, jembatan dan fasilitasfasilitas lainnya. Perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat Kota Metro mempunyai dampak yang luas dan mencakup berbagai dimensi kehidupan perkotaan. Dalam dokumen RTRW Kota Metro 2001-2010 iii dinyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatankegiatan fungsional perkotaan di Kota Metro, mengakibatkan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas pelayanan kebutuhan hidup lainnya. Oleh sebab itu perkembangan dan kemajuan suatu kota, apabila tidak dikendalikan dan diarahkan dalam sebuah model strategi pengembangan wilayah berdasarkan sumberdaya lahan maka akan menimbulkan ketidaksesuaian lahan yang dipergunakan untuk membangun pusat-pusat pelayanan masyarakat. Salah satu tahapan perencanaan dan pengembangan wilayah adalah Identifikasi aspek ekonomi. Dimana suatu wilayah harus dapat mengidentifikasi potensi ekonominya secara tepat melalui sektor unggulan. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. iv Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang. Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektorsektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Kata kunci: evaluasi sumberdaya lahan, sektor unggulan, strategi pengembangan wilayah v © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor vi STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO PROVINSI LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 vii Judul Tesis Nama NRP : Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan : Robby Kurniawan Saputra : A 156070204 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Setia Hadi, MS Ketua Drs. Yayat Supriyatna, MURP Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, M.S Tanggal Ujian: 31 Desember 2008 Tanggal Lulus: viii STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tesis ini. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra NRP A156070204 i ABSTRACT ROBBY K. SAPUTRA. Regional Development Strategy in Metro City Lampung Base on Evaluation of Land Capability and Suitability. Under direction of SETIA HADI and YAYAT SUPRIYATNA The Development of Metro City has the implication on the need of setlement and maintains agricultural area. The changes of agricultural area function will affect regional development strategy. The objectives of this research are: (1) identify land resources with land capability and land suitability analysis for agricultural and setlement area, (2) identify regional hierarchy, (3) identify projection of population with minimum service standar (SPM), (4) identify potential sectors in regional development, (5) to build regional development strategy in Metro City Lampung base on evaluation of land capability and suitability. This study employed another analyses such as: scalogram analysis, Location Quotient analysis (LQ) Shift Share analysis (SSA), Input-Output (I-O) analysis, Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) analysis, and Quantitatif Strategic Planning Matrix analysis (QSPM). The results showed that Metro City that most parts of Metro area (73%) are agricultural intensive, 91% area are suitable for setlement land. Industrial sector was a potential sector had high the multiplier effects and backward forward linkages. There are two villages on the first regional hierarchy, nine villages on the second regional hierarchy and eleven villages on the third regional hierarchy. There are six strategies of the regional development strategy in Metro City base on evaluation of land capability and suitability. First strategy is use potential of land to road development for growth potential sectors, second strategy is use the empty land with land use policy, third strategy is to maximize land use for public utilities with joint around of area, fourth strategy is to optimize potential of empty land for drive potential sectors growth, fifth strategy is use potential of setlement land with GIS technology and sixth strategy is to take GIS technology on agricultural and road land. Keywords: land resources evaluation, potential sectors, regional development strategy ii RINGKASAN ROBBY K. SAPUTRA. Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Dibimbing oleh SETIA HADI dan YAYAT SUPRIYATNA. Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat wilayah tersebut. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan pembangunan tentunya diperlukan konsep dan strategi perencanaan untuk menjadi acuan bagi pelaksana pembangunan. Disamping itu diperlukan juga arah dan tujuan menuju terwujudnya sasaran yang akan dicapai oleh masyarakat di Kota Metro. Secara garis besar pertumbuhan dan kemajuan di Kota Metro terbentuk dari empat sektor ekonomi, masing-masing adalah pertanian, perdagangan, jasa dan industri (RTRW Kota Metro 2001). Sebagai kota yang terbentuk dari lahan permukiman transmigrasi, sektor pertanian merupakan kegiatan ekonomi pertama yang menjadi mata pencarian masyarakat. Kemudian kegiatan ekonomi perdagangan dan jasa tumbuh dari perkembangan kota pada fase berikutnya. Keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa semakin pesat seiring perubahan status administrasi Metro menjadi kota, sebelumnya sebagai ibukota pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah. Karakteristik urban yang dominan dengan kegiatan jasa dan perdagangan tersebut tersebar di kelurahan-kelurahan yang terletak di sekitar pusat kota, sementara itu pada daerah yang berada di pinggir kota umumnya masih berbasis pertanian dan beberapa kelurahan lainnya didukung oleh kegiatan perindustrian. Berdasarkan RTRW Kota Metro 2001 secara garis besar, penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Termasuk dalam kelompok penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan. Sedangkan kawasan pertanian seperti sawah, ladang dan penggunaan lain-lain merupakan kelompok penggunaan lahan tidak terbangun. Salah satu konsep yang dapat dilakukan dalam strategi pengembangan wilayah dengan aspek sumberdaya lahan adalah melakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan evaluasi kelas kesesuaian lahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan masalah sosial lain. Setelah dilakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan maka akan didapat lokasi-lokasi tertentu yang sesuai untuk pengembangan pertanian, kawasan permukiman, pembangunan jalan, jembatan dan fasilitasfasilitas lainnya. Perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat Kota Metro mempunyai dampak yang luas dan mencakup berbagai dimensi kehidupan perkotaan. Dalam dokumen RTRW Kota Metro 2001-2010 iii dinyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatankegiatan fungsional perkotaan di Kota Metro, mengakibatkan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas pelayanan kebutuhan hidup lainnya. Oleh sebab itu perkembangan dan kemajuan suatu kota, apabila tidak dikendalikan dan diarahkan dalam sebuah model strategi pengembangan wilayah berdasarkan sumberdaya lahan maka akan menimbulkan ketidaksesuaian lahan yang dipergunakan untuk membangun pusat-pusat pelayanan masyarakat. Salah satu tahapan perencanaan dan pengembangan wilayah adalah Identifikasi aspek ekonomi. Dimana suatu wilayah harus dapat mengidentifikasi potensi ekonominya secara tepat melalui sektor unggulan. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. iv Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang. Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektorsektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Kata kunci: evaluasi sumberdaya lahan, sektor unggulan, strategi pengembangan wilayah v © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor vi STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO PROVINSI LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 vii Judul Tesis Nama NRP : Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan : Robby Kurniawan Saputra : A 156070204 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Setia Hadi, MS Ketua Drs. Yayat Supriyatna, MURP Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, M.S Tanggal Ujian: 31 Desember 2008 Tanggal Lulus: viii Kupersembahkan Karya Ilmiah ini kepada: Ibunda (Alm) Erma kardinia, Ayahanda Nindyo Sularto, Istri tercinta Suresmiati, kakak dan adik-adik tersayang Erika Nindya Ningrum, Yuyun Trihilalia dan Dedek Solihin serta kerabat keluarga yang banyak memberikan do,a restu dan saat ini sudah beristirahat tenang di alam baka: Hi. M Kasiro, Hj. Sukarti dan Hi. M. Sucipto. ix PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian yang dilaksanakan pada Bulan Juni s/d Agustus 2008 ini adalah Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada: 1. Dr. Ir. Setia Hadi, MS dan Drs. Yayat Supriyatna, MURP selaku Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing. 2. Dr. Ir. Widiatmaka, DAA selaku Dosen penguji luar komisi. 3. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M. Agr dan Dr. Ir. Baba Barus, M.Sc selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, beserta segenap staf pengajar dan staf manajemen Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB. 4. Lukman Hakim, SH.,MM dan Djohan SE.,MM selaku Walikota dan Wakil Walikota Metro, Zaini Nurman, SH.,MH selaku Sekretaris Daerah Kota Metro, Pramono, SH selaku Kepala Bappeda Kota Metro periode 2006-2007 dan segenap jajaran Bappeda Kota Metro. 5. Pimpinan dan staf Pusbindiklatren Bappenas atas kesempatan beasiswa yang diberikan kepada penulis. 6. Rekan-rekan PWL kelas Bappenas angkatan 2007 atas segala do’a, dukungan dan kerjasamanya. 7. Didit Okta Pribadi, SP.,M.Si (P4W IPB), Manijo, Reni dan Ana (Lab. Inderaja IPB) dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satupersatu yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini. Akhirnya ucapan terima kasih yang setinggi-tinginya atas do’a, dukungan dan pengertian dari seluruh keluarga di rumah. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra x RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sekampung Lampung Timur pada Tanggal 29 Nopember 1977 dari ayah Drs. Nindyo Sularto, MM dan ibu (alm) Erma Kardinia. Penulis merupakan putra kedua dari empat bersaudara. Pendidikan Sarjana ditempuh pada Fakultas Pertanian UPN”Veteran” Yogyakarta dan lulus Tahun 2002. Pada Tahun 2002 penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan pada Dinas Pertanian Kota Metro sebagai staf perencanaan dan produksi pada Bidang Tanaman Pangan Hortikultura. Tahun 2006 penulis dialihtugaskan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Metro dan ditempatkan sebagai staf produksi daerah Bidang Ekonomi. Penulis mengikuti Seleksi Beasiswa Bappenas RI Tahun 2007 dan diterima pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB. Saat ini penulis telah berkeluarga dan tinggal di Kota Metro Provinsi Lampung. xi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Widiatmaka, DAA xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xix PENDAHULUAN Latar Belakang ........................................................................................ Rumusan Masalah ................................................................................... Tujuan Penelitian .................................................................................... Batasan Penelitian ................................................................................... Manfaat Penelitian ................................................................................... 1 7 7 8 8 TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan Wilayah ............................................................................ Evaluasi Sumberdaya Lahan .................................................................... Teknologi Sistem Informasi Geografi ...................................................... Hirarki Wilayah ....................................................................................... Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal ................................ Sektor Unggulan ...................................................................................... Analisis SWOT ....................................................................................... 9 10 14 15 16 17 18 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran ................................................................................ Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................... Bahan dan Alat ........................................................................................ Pengumpulan Data .................................................................................. Teknik Analisis Data ............................................................................... Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan ...................................... Analisis Skalogram ............................................................................. Analisis Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal .............. Analisis Locational Quotient (LQ) ...................................................... Analisis Shift Share (SSA) .................................................................. Metode RAS ....................................................................................... Analisis Tabel Input-Output ................................................................ Analisis SWOT ................................................................................... 21 22 22 23 24 24 26 29 31 32 32 34 35 KEADAAN UMUM WILAYAH KOTA METRO Kondisi Fisik dan Administrasi Wilayah .................................................. Fisiografi ................................................................................................. Geologi ................................................................................................... Iklim ....................................................................................................... Kondisi Demografi .................................................................................. Jumlah dan Kepadatan Penduduk ........................................................ Struktur Umur Penduduk .................................................................... 42 42 42 43 45 45 46 xii Mata Pencaharian Penduduk ............................................................... Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah .................................................... Jaringan Transportasi .......................................................................... Sarana Pendidikan .............................................................................. Sarana Kesehatan ................................................................................ Sarana Peribadatan .............................................................................. Kondisi Lahan ......................................................................................... Sifat Tanah ......................................................................................... Potensi Pengairan .................................................................................... Potensi Pertanian ..................................................................................... Sektor Tanaman Pangan ...................................................................... Sektor Peternakan ............................................................................... Potensi Industri ....................................................................................... 46 48 48 49 49 50 50 51 53 54 54 56 57 HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Sumberdaya Lahan .................................................................... Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan ................................................. Identifikasi Kelas Kesesuaian Lahan ................................................... Kesesuaian Lahan Padi Sawah ............................................................ Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung .................................................... Kesesuaian Lahan Peternakan/Penggembalaan .................................... Kesesuaian Lahan Permukiman .......................................................... Kelas Kesesuaian Lahan Jalan ............................................................. Kawasan Kesesuaian Lahan ................................................................ Kondisi Eksisting Penggunaan Lahan ................................................. Identifikasi Hirarki Wilayah .................................................................... Poyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal ................................. Identifikasi Sektor Unggulan ................................................................... Analisis Location Quotient .................................................................. Analisis Shift Share ............................................................................. Analisis Tabel Input-Output ................................................................ Struktur Output .............................................................................. Struktur Permintaan Akhir .............................................................. Angka Pengganda ........................................................................... Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan ......................................... 58 58 64 65 68 72 75 77 79 81 86 92 96 96 98 102 103 104 105 106 ANALISIS SWOT Analisis Data Input .................................................................................. Analisis Faktor Internal ....................................................................... Analisis Faktor Eksternal .................................................................... Pencocokan ............................................................................................. 109 111 112 113 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH Perumusan Strategi .................................................................................. 117 Penyusunan Visi dan Misi ................................................................... 121 Arahan Pengembangan Wilayah .............................................................. 122 xiii SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ................................................................................................. 127 Saran ....................................................................................................... 128 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 129 xiv DAFTAR TABEL Halaman 1 Penggunaan lahan Kota Metro berdasarkan interprestasi citra landsat Tahun 2004 ................................................................................ 3 2 Kondisi eksisting penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 ............ 5 3 Produk domestik regional bruto Kota Metro atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 Tahun 2005 – 2006 .............. 6 4 Parameter evaluasi sumberdaya lahan ................................................... 13 5 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ........................ 24 6 Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas penggunaan lahan .................................................................. 25 7 Ilustrasi skalogram kabupaten x ............................................................ 27 8 Skalogram dengan indeks sentralitas ..................................................... 28 9 Kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota ................. 31 10 Ilustrasi tabel input-output 3 sektor ....................................................... 34 11 Kerangka analisis SWOT ...................................................................... 36 12 Matrik TOWS (SWOT) ......................................................................... 38 13 Matrik tujuan, analisis, data yang dibentuk dan sumber data dalam penelitian .................................................................................... 40 14 Banyaknya curah hujan dan hari hujan di Kota Metro ........................... 43 15 Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Metro Tahun 2006 ................ 45 16 Penduduk Kota Metro Tahun 2006 berdasarkan kelompok umur ........... 46 17 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di Kota Metro Tahun 1995 – 2006 ............................................................................... 47 18 Panjang dan status jalan di Kota Metro .................................................. 48 19 Sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro .................................... 49 20 Jumlah sarana kesehatan per kecamatan di Kota Metro ......................... 50 21 Jumlah tempat peribadatan per kecamatan di Kota Metro Tahun 2007 ........................................................................................... 50 22 Deskripsi satuan lahan Kota Metro ........................................................ 51 23 Karakteristik satuan lahan Kota Metro .................................................. 52 24 Sifat fisik dan kimia tanah wilayah Kota Metro ..................................... 53 25 Dimensi saluran irigasi Kota Metro ....................................................... 54 26 Panjang sungai di Kota Metro ................................................................ 54 xv 27 Potensi lahan sawah dan lahan kering di wilayah Kota Metro ................ 55 28 Data produksi padi dan palawija Kota Metro Tahun 2006 ..................... 55 29 Populasi ternak ruminansia besar Kota Metro Tahun 2006 .................... 56 30 Populasi ternak ruminansia kecil Kota Metro Tahun 2006 ..................... 57 31 Keadaan industri kecil, tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi di Kota Metro ......................................................................... 57 32 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan .................................................... 59 33 Kelas Kemampuan lahan di Kota Metro ................................................ 62 34 Tingkat kepadatan penduduk dan kelas kemampuan lahan di Kota Metro ............................................................................................ 63 35 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah (Oryza sativa) .................... 66 36 Kelas kesesuaian lahan padi di Kota Metro ........................................... 67 37 Penilaian kesesuaian lahan tanaman padi dan jagung ............................. 68 38 Kriteria kesesuaian lahan untuk jagung (Zea mays) ............................... 69 39 Kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro ........................................ 70 40 Produktivitas padi dan jagung di Kota Metro Tahun 2006 ..................... 71 41 Kelas kesesuaian lahan peternakan/penggembalaan di Kota Metro............................................................................................. 72 42 Kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan (Pasture) ..................... 74 43 Kriteria kesesuaian lahan tempat tinggal/gedung/permukiman ............... 75 44 Kelas kesesuaian lahan permukiman di Kota Metro ............................... 76 45 Kriteria kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan .............................. 77 46 Kelas kesesuaian lahan untuk jalan di Kota Metro ................................. 78 47 Penilaian kesesuaian lahan peternakan, permukiman dan jalan .............. 78 48 Kelas kesesuaian lahan di Kota Metro ................................................... 80 49 Luas penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 ................................... 82 50 Hasil overlay peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan ..................................................................................................... 84 51 Hirarki wilayah Kota Metro berdasarkan analisis skalogram ................. 89 52 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Kota Metro Tahun 2002-2006 .................................................................................. 93 53 Proyeksi penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 20072020 ...................................................................................................... 94 54 Proyeksi kebutuhan jumlah fasilitas dan Lahan di Kota Metro ............... 95 55 PDRB Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001-2006 ........................................................ 97 xvi 56 Nilai perhitungan LQ Kota Metro .......................................................... 98 57 Nilai perhitungan LI Kota Metro ........................................................... 98 58 PDRB Kota Metro dan Propinsi Lampung Tahun 2002 dan 2006 ...................................................................................................... 101 59 Analisis shift-share PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung .............. 102 60 Struktur output Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ................................ 103 61 Struktur final demand Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ..................... 105 62 Struktur angka pengganda Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ............... 106 63 Indeks daya penyebaran dan derajat kepakaan Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ........................................................................ 107 64 Analisis faktor internal pengembangan wilayah Kota Metro ................. 112 65 Analisis faktor eksternal pengembangan wilayah Kota Metro ............... 113 66 Matrik SWOT strategi pengembangan wilayah Kota Metro ................... 115 67 Urutan alternatif strategi sesuai hasil analisis QSPM ............................. 117 68 Luas arahan pengembangan wilayah Kota Metro ................................... 123 69 Matrik quantitatif strategic planning matrix (QSPM) strategi dan model pengembangan wilayah Kota Metro ..................................... 125 xvii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Peta landuse Kota Metro klasifikasi citra landsat Tahun 2004 ............... 4 2 Persentase penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 ...................... 7 3 Pendekatan dua tahap dalam evaluasi lahan ........................................... 12 4 Kerangka pemikiran .............................................................................. 23 5 Kerangka analisis penelitian .................................................................. 41 6 Peta administrasi Kota Metro ................................................................ 44 7 Persentase jumlah penduduk Kota Metro berdasarkan lapangan pekerjaan .............................................................................................. 47 8 Peta kelas kemampuan lahan ................................................................. 62 9 Peta kesesuaian lahan untuk padi ........................................................... 67 10 Peta kesesuaian lahan untuk jagung ....................................................... 70 11 Peta kesesuaian lahan untuk peternakan/penggembalaan ....................... 73 12 Peta kesesuaian lahan untuk permukiman ............................................... 76 13 Peta kesesuaian lahan untuk jalan .......................................................... 79 14 Peta kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman dan kawasan pertanian ................................................................................. 81 15 Peta penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 .................................... 83 16 Peta overlay kesesuaian lahan dengan penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006.................................................................................. 85 17 Peta hirarki wilayah Kota Metro ............................................................ 91 18 Grafik jumlah penduduk Kota Metro dalam 5 (lima) tahun .................... 93 19 Peta arahan pengembangan wilayah Kota Metro ................................... 124 xviii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Analisis skalogram data podes Kota Metro Tahun 2006 ........................ 133 2 Tabel I-O Kota Metro hasil RAS I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 ........................................................................................... 142 3 Tabel koefisien I-O Kota Metro Tahun 2005 ........................................ 144 4 Tabel backward linkages I-O Kota Metro Tahun 2005 .......................... 146 5 Tabel forward linkages I-O Kota Metro Tahun 2005 .............................. 147 6 Tabel multipliers I-O Kota Metro Tahun 2005 ....................................... 148 xix PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Pembangunan juga sering diartikan sebagai suatu perubahan dan merupakan sesuatu yang semestinya terjadi dalam masyarakat, baik masyarakat maju maupun masyarakat yang sedang berkembang. Pembangunan sebagai upaya untuk melakukan perubahan guna mewujudkan kondisi yang lebih baik. Dalam konteks ini, pembangunan memerlukan adanya rangkaian kegiatankegiatan yang dilakukan dalam suatu sistem kemasyarakatan untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Dari segi ruang, pembangunan daerah akan mencapai arah dan tujuannya bila diimplementasikan kedalam rangkaian perencanaan ruang yang terdapat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Rencana Tata Ruang Wilayah adalah hasil perencanaan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsurunsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang secara hirarki dan struktural berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang; diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota, lingkungan; prasarana jalan seperti jalan arteri, kolektor, lokal dan sebagainya. Sementara pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam; diantaranya meliputi pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, dan pertanian, serta pola penggunaan tanah di perdesaan dan perkotaan (Revisi RTRW Kota Metro, 2007). Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (349 Halaman)
Gratis