Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan

 0  20  349  2017-05-13 11:59:34 Report infringing document
STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tesis ini. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra NRP A156070204 i ABSTRACT ROBBY K. SAPUTRA. Regional Development Strategy in Metro City Lampung Base on Evaluation of Land Capability and Suitability. Under direction of SETIA HADI and YAYAT SUPRIYATNA The Development of Metro City has the implication on the need of setlement and maintains agricultural area. The changes of agricultural area function will affect regional development strategy. The objectives of this research are: (1) identify land resources with land capability and land suitability analysis for agricultural and setlement area, (2) identify regional hierarchy, (3) identify projection of population with minimum service standar (SPM), (4) identify potential sectors in regional development, (5) to build regional development strategy in Metro City Lampung base on evaluation of land capability and suitability. This study employed another analyses such as: scalogram analysis, Location Quotient analysis (LQ) Shift Share analysis (SSA), Input-Output (I-O) analysis, Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) analysis, and Quantitatif Strategic Planning Matrix analysis (QSPM). The results showed that Metro City that most parts of Metro area (73%) are agricultural intensive, 91% area are suitable for setlement land. Industrial sector was a potential sector had high the multiplier effects and backward forward linkages. There are two villages on the first regional hierarchy, nine villages on the second regional hierarchy and eleven villages on the third regional hierarchy. There are six strategies of the regional development strategy in Metro City base on evaluation of land capability and suitability. First strategy is use potential of land to road development for growth potential sectors, second strategy is use the empty land with land use policy, third strategy is to maximize land use for public utilities with joint around of area, fourth strategy is to optimize potential of empty land for drive potential sectors growth, fifth strategy is use potential of setlement land with GIS technology and sixth strategy is to take GIS technology on agricultural and road land. Keywords: land resources evaluation, potential sectors, regional development strategy ii RINGKASAN ROBBY K. SAPUTRA. Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Dibimbing oleh SETIA HADI dan YAYAT SUPRIYATNA. Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat wilayah tersebut. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan pembangunan tentunya diperlukan konsep dan strategi perencanaan untuk menjadi acuan bagi pelaksana pembangunan. Disamping itu diperlukan juga arah dan tujuan menuju terwujudnya sasaran yang akan dicapai oleh masyarakat di Kota Metro. Secara garis besar pertumbuhan dan kemajuan di Kota Metro terbentuk dari empat sektor ekonomi, masing-masing adalah pertanian, perdagangan, jasa dan industri (RTRW Kota Metro 2001). Sebagai kota yang terbentuk dari lahan permukiman transmigrasi, sektor pertanian merupakan kegiatan ekonomi pertama yang menjadi mata pencarian masyarakat. Kemudian kegiatan ekonomi perdagangan dan jasa tumbuh dari perkembangan kota pada fase berikutnya. Keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa semakin pesat seiring perubahan status administrasi Metro menjadi kota, sebelumnya sebagai ibukota pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah. Karakteristik urban yang dominan dengan kegiatan jasa dan perdagangan tersebut tersebar di kelurahan-kelurahan yang terletak di sekitar pusat kota, sementara itu pada daerah yang berada di pinggir kota umumnya masih berbasis pertanian dan beberapa kelurahan lainnya didukung oleh kegiatan perindustrian. Berdasarkan RTRW Kota Metro 2001 secara garis besar, penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Termasuk dalam kelompok penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan. Sedangkan kawasan pertanian seperti sawah, ladang dan penggunaan lain-lain merupakan kelompok penggunaan lahan tidak terbangun. Salah satu konsep yang dapat dilakukan dalam strategi pengembangan wilayah dengan aspek sumberdaya lahan adalah melakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan evaluasi kelas kesesuaian lahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan masalah sosial lain. Setelah dilakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan maka akan didapat lokasi-lokasi tertentu yang sesuai untuk pengembangan pertanian, kawasan permukiman, pembangunan jalan, jembatan dan fasilitasfasilitas lainnya. Perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat Kota Metro mempunyai dampak yang luas dan mencakup berbagai dimensi kehidupan perkotaan. Dalam dokumen RTRW Kota Metro 2001-2010 iii dinyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatankegiatan fungsional perkotaan di Kota Metro, mengakibatkan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas pelayanan kebutuhan hidup lainnya. Oleh sebab itu perkembangan dan kemajuan suatu kota, apabila tidak dikendalikan dan diarahkan dalam sebuah model strategi pengembangan wilayah berdasarkan sumberdaya lahan maka akan menimbulkan ketidaksesuaian lahan yang dipergunakan untuk membangun pusat-pusat pelayanan masyarakat. Salah satu tahapan perencanaan dan pengembangan wilayah adalah Identifikasi aspek ekonomi. Dimana suatu wilayah harus dapat mengidentifikasi potensi ekonominya secara tepat melalui sektor unggulan. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. iv Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang. Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektorsektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Kata kunci: evaluasi sumberdaya lahan, sektor unggulan, strategi pengembangan wilayah v © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor vi STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO PROVINSI LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 vii Judul Tesis Nama NRP : Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan : Robby Kurniawan Saputra : A 156070204 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Setia Hadi, MS Ketua Drs. Yayat Supriyatna, MURP Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, M.S Tanggal Ujian: 31 Desember 2008 Tanggal Lulus: viii STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tesis ini. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra NRP A156070204 i ABSTRACT ROBBY K. SAPUTRA. Regional Development Strategy in Metro City Lampung Base on Evaluation of Land Capability and Suitability. Under direction of SETIA HADI and YAYAT SUPRIYATNA The Development of Metro City has the implication on the need of setlement and maintains agricultural area. The changes of agricultural area function will affect regional development strategy. The objectives of this research are: (1) identify land resources with land capability and land suitability analysis for agricultural and setlement area, (2) identify regional hierarchy, (3) identify projection of population with minimum service standar (SPM), (4) identify potential sectors in regional development, (5) to build regional development strategy in Metro City Lampung base on evaluation of land capability and suitability. This study employed another analyses such as: scalogram analysis, Location Quotient analysis (LQ) Shift Share analysis (SSA), Input-Output (I-O) analysis, Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) analysis, and Quantitatif Strategic Planning Matrix analysis (QSPM). The results showed that Metro City that most parts of Metro area (73%) are agricultural intensive, 91% area are suitable for setlement land. Industrial sector was a potential sector had high the multiplier effects and backward forward linkages. There are two villages on the first regional hierarchy, nine villages on the second regional hierarchy and eleven villages on the third regional hierarchy. There are six strategies of the regional development strategy in Metro City base on evaluation of land capability and suitability. First strategy is use potential of land to road development for growth potential sectors, second strategy is use the empty land with land use policy, third strategy is to maximize land use for public utilities with joint around of area, fourth strategy is to optimize potential of empty land for drive potential sectors growth, fifth strategy is use potential of setlement land with GIS technology and sixth strategy is to take GIS technology on agricultural and road land. Keywords: land resources evaluation, potential sectors, regional development strategy ii RINGKASAN ROBBY K. SAPUTRA. Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Dibimbing oleh SETIA HADI dan YAYAT SUPRIYATNA. Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat wilayah tersebut. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan pembangunan tentunya diperlukan konsep dan strategi perencanaan untuk menjadi acuan bagi pelaksana pembangunan. Disamping itu diperlukan juga arah dan tujuan menuju terwujudnya sasaran yang akan dicapai oleh masyarakat di Kota Metro. Secara garis besar pertumbuhan dan kemajuan di Kota Metro terbentuk dari empat sektor ekonomi, masing-masing adalah pertanian, perdagangan, jasa dan industri (RTRW Kota Metro 2001). Sebagai kota yang terbentuk dari lahan permukiman transmigrasi, sektor pertanian merupakan kegiatan ekonomi pertama yang menjadi mata pencarian masyarakat. Kemudian kegiatan ekonomi perdagangan dan jasa tumbuh dari perkembangan kota pada fase berikutnya. Keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa semakin pesat seiring perubahan status administrasi Metro menjadi kota, sebelumnya sebagai ibukota pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah. Karakteristik urban yang dominan dengan kegiatan jasa dan perdagangan tersebut tersebar di kelurahan-kelurahan yang terletak di sekitar pusat kota, sementara itu pada daerah yang berada di pinggir kota umumnya masih berbasis pertanian dan beberapa kelurahan lainnya didukung oleh kegiatan perindustrian. Berdasarkan RTRW Kota Metro 2001 secara garis besar, penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Termasuk dalam kelompok penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan. Sedangkan kawasan pertanian seperti sawah, ladang dan penggunaan lain-lain merupakan kelompok penggunaan lahan tidak terbangun. Salah satu konsep yang dapat dilakukan dalam strategi pengembangan wilayah dengan aspek sumberdaya lahan adalah melakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan evaluasi kelas kesesuaian lahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan masalah sosial lain. Setelah dilakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan maka akan didapat lokasi-lokasi tertentu yang sesuai untuk pengembangan pertanian, kawasan permukiman, pembangunan jalan, jembatan dan fasilitasfasilitas lainnya. Perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat Kota Metro mempunyai dampak yang luas dan mencakup berbagai dimensi kehidupan perkotaan. Dalam dokumen RTRW Kota Metro 2001-2010 iii dinyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatankegiatan fungsional perkotaan di Kota Metro, mengakibatkan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas pelayanan kebutuhan hidup lainnya. Oleh sebab itu perkembangan dan kemajuan suatu kota, apabila tidak dikendalikan dan diarahkan dalam sebuah model strategi pengembangan wilayah berdasarkan sumberdaya lahan maka akan menimbulkan ketidaksesuaian lahan yang dipergunakan untuk membangun pusat-pusat pelayanan masyarakat. Salah satu tahapan perencanaan dan pengembangan wilayah adalah Identifikasi aspek ekonomi. Dimana suatu wilayah harus dapat mengidentifikasi potensi ekonominya secara tepat melalui sektor unggulan. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. iv Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang. Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektorsektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Kata kunci: evaluasi sumberdaya lahan, sektor unggulan, strategi pengembangan wilayah v © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor vi STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA METRO PROVINSI LAMPUNG BERBASIS EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN ROBBY KURNIAWAN SAPUTRA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 vii Judul Tesis Nama NRP : Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan : Robby Kurniawan Saputra : A 156070204 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Setia Hadi, MS Ketua Drs. Yayat Supriyatna, MURP Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, M.S Tanggal Ujian: 31 Desember 2008 Tanggal Lulus: viii Kupersembahkan Karya Ilmiah ini kepada: Ibunda (Alm) Erma kardinia, Ayahanda Nindyo Sularto, Istri tercinta Suresmiati, kakak dan adik-adik tersayang Erika Nindya Ningrum, Yuyun Trihilalia dan Dedek Solihin serta kerabat keluarga yang banyak memberikan do,a restu dan saat ini sudah beristirahat tenang di alam baka: Hi. M Kasiro, Hj. Sukarti dan Hi. M. Sucipto. ix PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian yang dilaksanakan pada Bulan Juni s/d Agustus 2008 ini adalah Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lampung Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada: 1. Dr. Ir. Setia Hadi, MS dan Drs. Yayat Supriyatna, MURP selaku Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing. 2. Dr. Ir. Widiatmaka, DAA selaku Dosen penguji luar komisi. 3. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M. Agr dan Dr. Ir. Baba Barus, M.Sc selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, beserta segenap staf pengajar dan staf manajemen Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB. 4. Lukman Hakim, SH.,MM dan Djohan SE.,MM selaku Walikota dan Wakil Walikota Metro, Zaini Nurman, SH.,MH selaku Sekretaris Daerah Kota Metro, Pramono, SH selaku Kepala Bappeda Kota Metro periode 2006-2007 dan segenap jajaran Bappeda Kota Metro. 5. Pimpinan dan staf Pusbindiklatren Bappenas atas kesempatan beasiswa yang diberikan kepada penulis. 6. Rekan-rekan PWL kelas Bappenas angkatan 2007 atas segala do’a, dukungan dan kerjasamanya. 7. Didit Okta Pribadi, SP.,M.Si (P4W IPB), Manijo, Reni dan Ana (Lab. Inderaja IPB) dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satupersatu yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini. Akhirnya ucapan terima kasih yang setinggi-tinginya atas do’a, dukungan dan pengertian dari seluruh keluarga di rumah. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Januari 2009 Robby K. Saputra x RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sekampung Lampung Timur pada Tanggal 29 Nopember 1977 dari ayah Drs. Nindyo Sularto, MM dan ibu (alm) Erma Kardinia. Penulis merupakan putra kedua dari empat bersaudara. Pendidikan Sarjana ditempuh pada Fakultas Pertanian UPN”Veteran” Yogyakarta dan lulus Tahun 2002. Pada Tahun 2002 penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan pada Dinas Pertanian Kota Metro sebagai staf perencanaan dan produksi pada Bidang Tanaman Pangan Hortikultura. Tahun 2006 penulis dialihtugaskan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Metro dan ditempatkan sebagai staf produksi daerah Bidang Ekonomi. Penulis mengikuti Seleksi Beasiswa Bappenas RI Tahun 2007 dan diterima pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB. Saat ini penulis telah berkeluarga dan tinggal di Kota Metro Provinsi Lampung. xi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Widiatmaka, DAA xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xix PENDAHULUAN Latar Belakang ........................................................................................ Rumusan Masalah ................................................................................... Tujuan Penelitian .................................................................................... Batasan Penelitian ................................................................................... Manfaat Penelitian ................................................................................... 1 7 7 8 8 TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan Wilayah ............................................................................ Evaluasi Sumberdaya Lahan .................................................................... Teknologi Sistem Informasi Geografi ...................................................... Hirarki Wilayah ....................................................................................... Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal ................................ Sektor Unggulan ...................................................................................... Analisis SWOT ....................................................................................... 9 10 14 15 16 17 18 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran ................................................................................ Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................... Bahan dan Alat ........................................................................................ Pengumpulan Data .................................................................................. Teknik Analisis Data ............................................................................... Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan ...................................... Analisis Skalogram ............................................................................. Analisis Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal .............. Analisis Locational Quotient (LQ) ...................................................... Analisis Shift Share (SSA) .................................................................. Metode RAS ....................................................................................... Analisis Tabel Input-Output ................................................................ Analisis SWOT ................................................................................... 21 22 22 23 24 24 26 29 31 32 32 34 35 KEADAAN UMUM WILAYAH KOTA METRO Kondisi Fisik dan Administrasi Wilayah .................................................. Fisiografi ................................................................................................. Geologi ................................................................................................... Iklim ....................................................................................................... Kondisi Demografi .................................................................................. Jumlah dan Kepadatan Penduduk ........................................................ Struktur Umur Penduduk .................................................................... 42 42 42 43 45 45 46 xii Mata Pencaharian Penduduk ............................................................... Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah .................................................... Jaringan Transportasi .......................................................................... Sarana Pendidikan .............................................................................. Sarana Kesehatan ................................................................................ Sarana Peribadatan .............................................................................. Kondisi Lahan ......................................................................................... Sifat Tanah ......................................................................................... Potensi Pengairan .................................................................................... Potensi Pertanian ..................................................................................... Sektor Tanaman Pangan ...................................................................... Sektor Peternakan ............................................................................... Potensi Industri ....................................................................................... 46 48 48 49 49 50 50 51 53 54 54 56 57 HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Sumberdaya Lahan .................................................................... Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan ................................................. Identifikasi Kelas Kesesuaian Lahan ................................................... Kesesuaian Lahan Padi Sawah ............................................................ Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung .................................................... Kesesuaian Lahan Peternakan/Penggembalaan .................................... Kesesuaian Lahan Permukiman .......................................................... Kelas Kesesuaian Lahan Jalan ............................................................. Kawasan Kesesuaian Lahan ................................................................ Kondisi Eksisting Penggunaan Lahan ................................................. Identifikasi Hirarki Wilayah .................................................................... Poyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal ................................. Identifikasi Sektor Unggulan ................................................................... Analisis Location Quotient .................................................................. Analisis Shift Share ............................................................................. Analisis Tabel Input-Output ................................................................ Struktur Output .............................................................................. Struktur Permintaan Akhir .............................................................. Angka Pengganda ........................................................................... Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan ......................................... 58 58 64 65 68 72 75 77 79 81 86 92 96 96 98 102 103 104 105 106 ANALISIS SWOT Analisis Data Input .................................................................................. Analisis Faktor Internal ....................................................................... Analisis Faktor Eksternal .................................................................... Pencocokan ............................................................................................. 109 111 112 113 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH Perumusan Strategi .................................................................................. 117 Penyusunan Visi dan Misi ................................................................... 121 Arahan Pengembangan Wilayah .............................................................. 122 xiii SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ................................................................................................. 127 Saran ....................................................................................................... 128 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 129 xiv DAFTAR TABEL Halaman 1 Penggunaan lahan Kota Metro berdasarkan interprestasi citra landsat Tahun 2004 ................................................................................ 3 2 Kondisi eksisting penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 ............ 5 3 Produk domestik regional bruto Kota Metro atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 Tahun 2005 – 2006 .............. 6 4 Parameter evaluasi sumberdaya lahan ................................................... 13 5 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ........................ 24 6 Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas penggunaan lahan .................................................................. 25 7 Ilustrasi skalogram kabupaten x ............................................................ 27 8 Skalogram dengan indeks sentralitas ..................................................... 28 9 Kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota ................. 31 10 Ilustrasi tabel input-output 3 sektor ....................................................... 34 11 Kerangka analisis SWOT ...................................................................... 36 12 Matrik TOWS (SWOT) ......................................................................... 38 13 Matrik tujuan, analisis, data yang dibentuk dan sumber data dalam penelitian .................................................................................... 40 14 Banyaknya curah hujan dan hari hujan di Kota Metro ........................... 43 15 Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Metro Tahun 2006 ................ 45 16 Penduduk Kota Metro Tahun 2006 berdasarkan kelompok umur ........... 46 17 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di Kota Metro Tahun 1995 – 2006 ............................................................................... 47 18 Panjang dan status jalan di Kota Metro .................................................. 48 19 Sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro .................................... 49 20 Jumlah sarana kesehatan per kecamatan di Kota Metro ......................... 50 21 Jumlah tempat peribadatan per kecamatan di Kota Metro Tahun 2007 ........................................................................................... 50 22 Deskripsi satuan lahan Kota Metro ........................................................ 51 23 Karakteristik satuan lahan Kota Metro .................................................. 52 24 Sifat fisik dan kimia tanah wilayah Kota Metro ..................................... 53 25 Dimensi saluran irigasi Kota Metro ....................................................... 54 26 Panjang sungai di Kota Metro ................................................................ 54 xv 27 Potensi lahan sawah dan lahan kering di wilayah Kota Metro ................ 55 28 Data produksi padi dan palawija Kota Metro Tahun 2006 ..................... 55 29 Populasi ternak ruminansia besar Kota Metro Tahun 2006 .................... 56 30 Populasi ternak ruminansia kecil Kota Metro Tahun 2006 ..................... 57 31 Keadaan industri kecil, tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi di Kota Metro ......................................................................... 57 32 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan .................................................... 59 33 Kelas Kemampuan lahan di Kota Metro ................................................ 62 34 Tingkat kepadatan penduduk dan kelas kemampuan lahan di Kota Metro ............................................................................................ 63 35 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah (Oryza sativa) .................... 66 36 Kelas kesesuaian lahan padi di Kota Metro ........................................... 67 37 Penilaian kesesuaian lahan tanaman padi dan jagung ............................. 68 38 Kriteria kesesuaian lahan untuk jagung (Zea mays) ............................... 69 39 Kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro ........................................ 70 40 Produktivitas padi dan jagung di Kota Metro Tahun 2006 ..................... 71 41 Kelas kesesuaian lahan peternakan/penggembalaan di Kota Metro............................................................................................. 72 42 Kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan (Pasture) ..................... 74 43 Kriteria kesesuaian lahan tempat tinggal/gedung/permukiman ............... 75 44 Kelas kesesuaian lahan permukiman di Kota Metro ............................... 76 45 Kriteria kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan .............................. 77 46 Kelas kesesuaian lahan untuk jalan di Kota Metro ................................. 78 47 Penilaian kesesuaian lahan peternakan, permukiman dan jalan .............. 78 48 Kelas kesesuaian lahan di Kota Metro ................................................... 80 49 Luas penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 ................................... 82 50 Hasil overlay peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan ..................................................................................................... 84 51 Hirarki wilayah Kota Metro berdasarkan analisis skalogram ................. 89 52 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Kota Metro Tahun 2002-2006 .................................................................................. 93 53 Proyeksi penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 20072020 ...................................................................................................... 94 54 Proyeksi kebutuhan jumlah fasilitas dan Lahan di Kota Metro ............... 95 55 PDRB Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001-2006 ........................................................ 97 xvi 56 Nilai perhitungan LQ Kota Metro .......................................................... 98 57 Nilai perhitungan LI Kota Metro ........................................................... 98 58 PDRB Kota Metro dan Propinsi Lampung Tahun 2002 dan 2006 ...................................................................................................... 101 59 Analisis shift-share PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung .............. 102 60 Struktur output Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ................................ 103 61 Struktur final demand Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ..................... 105 62 Struktur angka pengganda Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ............... 106 63 Indeks daya penyebaran dan derajat kepakaan Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 ........................................................................ 107 64 Analisis faktor internal pengembangan wilayah Kota Metro ................. 112 65 Analisis faktor eksternal pengembangan wilayah Kota Metro ............... 113 66 Matrik SWOT strategi pengembangan wilayah Kota Metro ................... 115 67 Urutan alternatif strategi sesuai hasil analisis QSPM ............................. 117 68 Luas arahan pengembangan wilayah Kota Metro ................................... 123 69 Matrik quantitatif strategic planning matrix (QSPM) strategi dan model pengembangan wilayah Kota Metro ..................................... 125 xvii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Peta landuse Kota Metro klasifikasi citra landsat Tahun 2004 ............... 4 2 Persentase penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 ...................... 7 3 Pendekatan dua tahap dalam evaluasi lahan ........................................... 12 4 Kerangka pemikiran .............................................................................. 23 5 Kerangka analisis penelitian .................................................................. 41 6 Peta administrasi Kota Metro ................................................................ 44 7 Persentase jumlah penduduk Kota Metro berdasarkan lapangan pekerjaan .............................................................................................. 47 8 Peta kelas kemampuan lahan ................................................................. 62 9 Peta kesesuaian lahan untuk padi ........................................................... 67 10 Peta kesesuaian lahan untuk jagung ....................................................... 70 11 Peta kesesuaian lahan untuk peternakan/penggembalaan ....................... 73 12 Peta kesesuaian lahan untuk permukiman ............................................... 76 13 Peta kesesuaian lahan untuk jalan .......................................................... 79 14 Peta kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman dan kawasan pertanian ................................................................................. 81 15 Peta penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 .................................... 83 16 Peta overlay kesesuaian lahan dengan penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006.................................................................................. 85 17 Peta hirarki wilayah Kota Metro ............................................................ 91 18 Grafik jumlah penduduk Kota Metro dalam 5 (lima) tahun .................... 93 19 Peta arahan pengembangan wilayah Kota Metro ................................... 124 xviii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Analisis skalogram data podes Kota Metro Tahun 2006 ........................ 133 2 Tabel I-O Kota Metro hasil RAS I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 ........................................................................................... 142 3 Tabel koefisien I-O Kota Metro Tahun 2005 ........................................ 144 4 Tabel backward linkages I-O Kota Metro Tahun 2005 .......................... 146 5 Tabel forward linkages I-O Kota Metro Tahun 2005 .............................. 147 6 Tabel multipliers I-O Kota Metro Tahun 2005 ....................................... 148 xix PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial, ekonomi dan fisik suatu daerah itu sendiri. Pembangunan juga sering diartikan sebagai suatu perubahan dan merupakan sesuatu yang semestinya terjadi dalam masyarakat, baik masyarakat maju maupun masyarakat yang sedang berkembang. Pembangunan sebagai upaya untuk melakukan perubahan guna mewujudkan kondisi yang lebih baik. Dalam konteks ini, pembangunan memerlukan adanya rangkaian kegiatankegiatan yang dilakukan dalam suatu sistem kemasyarakatan untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Dari segi ruang, pembangunan daerah akan mencapai arah dan tujuannya bila diimplementasikan kedalam rangkaian perencanaan ruang yang terdapat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Rencana Tata Ruang Wilayah adalah hasil perencanaan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsurunsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang secara hirarki dan struktural berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang; diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota, lingkungan; prasarana jalan seperti jalan arteri, kolektor, lokal dan sebagainya. Sementara pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam; diantaranya meliputi pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, dan pertanian, serta pola penggunaan tanah di perdesaan dan perkotaan (Revisi RTRW Kota Metro, 2007). Demikian juga Kota Metro terus mengupayakan terjadinya perubahan atau dinamika yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan pembangunan. Pembangunan ini dilakukan pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan pembangunan tentunya diperlukan konsep dan strategi perencanaan untuk menjadi 2 acuan bagi pelaksana pembangunan. Disamping itu diperlukan juga arah dan tujuan menuju terwujudnya sasaran yang akan dicapai oleh masyarakat Kota Metro. Secara garis besar pertumbuhan dan kemajuan di Kota Metro terbentuk dari empat sektor ekonomi, masing-masing adalah pertanian, perdagangan, jasa dan industri (RTRW Kota Metro 2001). Sebagai kota yang terbentuk dari lahan permukiman transmigrasi, sektor pertanian merupakan kegiatan ekonomi pertama yang menjadi mata pencarian masyarakat. Kemudian kegiatan ekonomi perdagangan dan jasa tumbuh dari perkembangan kota pada fase berikutnya. Keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa semakin pesat seiring perubahan status administrasi Metro menjadi kota, sebelumnya sebagai ibukota pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah. Karakteristik urban yang dominan dengan kegiatan jasa dan perdagangan tersebut tersebar di kelurahan-kelurahan yang terletak di sekitar pusat kota, sementara itu pada daerah yang berada di pinggir kota umumnya masih berbasis pertanian dan beberapa kelurahan lainnya didukung oleh kegiatan perindustrian. Kota Metro dengan pusat pemerintahan di Kelurahan Metro dan Kelurahan Imopuro, Kecamatan Metro Pusat, merupakan tempat konsentrasi berbagai macam kegiatan kota dan merupakan orientasi bagi berbagai kegiatan yang dilakukan penduduk kota. Perkembangan Kota Metro kearah urban, terlihat dari semakin bertambahnya kawasan terbangun, seperti kawasan perumahan, perdagangan dan pemerintahan. Selanjutnya jika dilihat dari sudut komposisi penggunaan lahan kota secara keseluruhan, maka dominasi penggunaan lahan pertanian juga terlihat dominan bila dibandingkan dengan penggunaan lahan yang lain. Strukturnya memperlihatkan bahwa kegiatan pada pusat kota terjadi akumulasi penggunaan lahan terbangun dengan fungsi peruntukan bagi kegiatan perkantoran, perdagangan, jasa serta perumahan, sedangkan menuju kearah kawasan pinggiran kota, kepadatan mulai berkurang dengan akumulasi penggunaan lahan terbangun terjadi dalam bentuk kelompok-kelompok kecil pemukiman dan diantara kelompok-kelompok tersebut diisi dengan lahan pertanian. Gambaran tersebut 3 memperlihatkan bahwa pada beberapa kawasan, karakteristik urban telah mewarnai kegiatan ekonomi masyarakat Kota Metro. Berdasarkan RTRW Kota Metro 2001, secara garis besar penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Termasuk dalam kelompok penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan. Sedangkan kawasan pertanian seperti sawah, ladang dan penggunaan lain-lain merupakan kelompok penggunaan lahan tidak terbangun. Apabila dilihat dari komposisi penggunaan lahan berdasarkan Interprestasi Citra Landsat Tahun 2004 maka didapatkan 68% dari luas Kota Metro merupakan lahan pertanian, 13,9% permukiman, 4,5% lahan terbuka dan sisanya digunakan untuk aktivitas lainnya. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Penutupan lahan di Kota Metro berdasarkan Interprestasi Citra Landsat Tahun 2004 Klasifikasi Lahan Air Awan Bayangan awan Hutan Kebun campuran Lahan terbuka Permukiman Perkebunan Pertanian lahan kering Sawah No data Total Area (Ha) 68 77 18 0 744 325 1.021 2 3.724 1.323 12 7.314 % Luas 0,92 1,05 0,24 0,01 10,17 4,44 13,97 0,02 50,92 18,09 0,17 100 Sumber: Lab. Inderaja dan Kartografi Dept. ITSL IPB Pola penggunaan lahan di Kota Metro menunjukan penggunaan lahan yang tercampur untuk permukiman, perdagangan dan jasa, pemerintahan serta lahan pertanian dan industri. Sebagian besar lahan digunakan sebagai lahan pertanian. Ditinjau dari aspek tata ruang, maka kondisi penggunaan lahan ini kurang efisien, karena letak atau lokasi peruntukan lahan tidak didasarkan pada hubungan fungsional antara tiap peruntukan lahan tersebut (RTRW Kota Metro, 2001) 4 Sumber: Lab. Inderaja dan Kartografi IPB Gambar 1 Peta land use Kota Metro klasifikasi Citra Landsat Tahun 2004 Penggunaan lahan di Kota Metro dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Adapun yang termasuk dalam penggunaan lahan terbangun adalah kawasan perumahan, sebaran fasilitas umum dan sebaran fasilitas perdagangan, sedangkan areal persawahan, perladangan dan penggunaan lain-lain merupakan penggunaan lahan tidak terbangun. Penggunaan lahan terbangun antara lain: kawasan perumahan, fasilitas pelayanan umum seperti perkantoran, gedung sekolah, fasilitas peribadatan, fasilitas kesehatan, bangunan fasilitas olahraga, bangunan fasilitas utilitas dan lain-lain. Sedangkan penggunaan lahan tidak terbangun antara lain terdiri dari: areal persawahan, perladangan dan kawasan penggunaan lahan lain-lain seperti lapangan olahraga, taman dan lahan terbuka lainnya. Pada Tahun 2006 penggunaan lahan sudah semakin kompleks seiring dengan kemajuan dan perkembangan wilayah secara lebih detil kondisi eksisting dapat dilihat pada Tabel 2. 5 Tabel 2 Kondisi eksisting penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 Jenis Penggunaan (Ha) Permukiman 1. Permukiman 2. Olah raga/ Rekreasi 3. Tempat Peribadatan Sub Total Jasa 1. Perkantoran 2. Pendidikan 3. Kesehatan Sub Total Perusahaan dan Industri 1. Perdagangan 2. Hotel,Restoran/ Rumah makan 3. Aneka industri Sub Total Pertanian 1. Persawahan a. Sawah Irigasi teknik b. Sawah non irigasi 2. Lahan kering a. Pekarangan b. Tegalan Sub Total Total Luas Lahan Metro Pusat Metro Utara Metro Selatan Metro Timur Metro Barat Jumlah % dari Total 673,18 514,87 428,72 283,61 501,06 2.401,44 34,94 11,60 1,00 7,50 4,68 1,04 25,82 0,38 10,65 695,43 8,27 524,14 4,00 440,22 4,00 292,29 2,82 504,92 29,74 2.456,99 0,43 35,74 12,00 6,51 2,00 20,51 1,42 5,00 0,25 6,67 2,25 2,00 0,50 4,75 9,35 17,18 0,35 26,88 2,28 4,74 0,75 7,77 27,30 35,43 3,85 66,58 0,23 0,09 0,18 0,97 7,85 2,00 1,48 4,07 0,09 15,49 0,23 5,36 0 0 0,05 0 5,86 0,09 4,76 17,97 3,50 5,50 4,00 5,48 0 4,57 0 0,09 12,26 33,61 0,18 0,49 225,96 1.118,24 710,36 447,70 479,89 2.982,15 43,38 0 0 14,00 18,00 9,50 41,50 0,60 206,38 4,75 437,09 1.171 290,45 19,00 1.427,69 1. 964 227,79 30,40 982,55 1.433 361,22 27,34 854,26 1.178 112,84 13,00 615,23 1.128 1.198,68 94,49 4.316,82 6.874 17,44 1,37 62,80 100,00 Sumber: Bappeda Kota Metro, 2006 Dengan pola sebaran penggunaan lahan diatas dapat dilihat bahwa Kota Metro masih didominasi oleh lahan pertanian sebesar 62,8%, lahan pemukiman 35,4% dan sisanya untuk lahan industri dan jasa. Konsentrasi pemukiman terbesar berturut-turut terdapat di Kecamatan Metro Pusat, Kecamatan Metro Utara, Kecamatan Metro Barat, Kecamatan Metro Selatan dan Kecamatan Metro Timur. Untuk memberikan gambaran pembangunan ekonomi di Kota Metro diperlukan data statistik yang merupakan ukuran kuantitas. Pada Tabel 3 disajikan data statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Metro yang menggambarkan keadaan perekonomian melalui angka pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan struktur ekonomi di Kota Metro. Produk Domestik Regional Brutto merupakan keseluruhan dari nilai tambah (value added) yang timbul akibat adanya aktivitas ekonomi disuatu daerah. Data PDRB tersebut 6 menggambarkan potensi sekaligus kemampuan suatu daerah untuk mengelola sumberdaya alam yang dimiliki, dalam suatu proses produksi, sehingga besarnya PDRB yang dihasilkan oleh suatu daerah sangat tergantung pada potensi sumberdaya alam dan faktor produksi yang tersedia. Untuk keperluan berbagai analisa, PDRB selain disajikan atas dasar harga berlaku juga disajikan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku mempunyai kaitan erat dengan pendapatan perkapita sedangkan PDRB atas dasar harga konstan akan dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah (BPS Kota Metro, 2007). Tabel 3 Produk domestik regional bruto Kota Metro atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 Tahun 2005 – 2006 2 0 0 5 *) (jutaan rupiah) ADHB 1) ADHK 2) Lapangan Usaha (1) (2) (4) (5) 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas dan Air Minum 5. Konstruksi 6. Perdagangan 7. Transportasi dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa – jasa 78. 771 0 64.699 0 81.261 0 66.008 0 23.794 11.152 21.418 4.134 25.391 11.610 22.408 4.221 32.386 100.697 60.116 20.121 84.941 42.420 35.888 106.120 72.624 20.869 87.774 46.356 117.447 81.364 129.107 90.964 156.785 107.802 185.645 113.658 581. 148 426. 899 647.646 452.257 PDRB (3) 2 0 0 6 **) (jutaan rupiah) ADHB 1) ADHK 2) Sumber : BPS Kota Metro 2007 Keterangan : * ) Angka Diperbaiki ** ) Angka Sementara 1) 2) Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Nilai PDRB Kota Metro atas dasar harga berlaku selama Tahun 2005–2006 mengalami kenaikan cukup signifikan yakni dari 581 milyar pada Tahun 2004 menjadi 647 milyar pada Tahun 2006 atau naik sebesar lebih kurang 66 Milyar (11,4%). Demikian juga dengan nilai PDRB Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 selama Tahun 2005–2006, mengalami kenaikan sebesar lebih kurang 25 Milyar (5,9%) yakni dari 426 Milyar pada Tahun 2005 menjadi 452 Milyar pada Tahun 2006. 7 Sumber: Bappeda Kota Metro, 2006 Gambar 2 Persentase penggunaan lahan di Kota Metro Tahun 2006 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana kelas kemampuan dan kesesuaian lahan di Kota Metro? 2. Bagaimana hirarki wilayah di Kota Metro? 3. Bagaimana proyeksi penduduk dan standar pelayanan minimal di Kota Metro? 4. Sektor apakah yang menjadi sektor unggulan dalam pengembangan wilayah Kota Metro? 5. Bagaimana konsep strategi pengembangan wilayah Kota Metro berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan? Tujuan Penelitian Dengan memperhatikan beberapa rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui sumberdaya lahan dengan melakukan analisis kelas kemampuan lahan dan kelas kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan permukiman dan pertanian. 2. Mengetahui hirarki wilayah di Kota Metro. 8 3. Mengetahui proyeksi penduduk dan standar pelayanan minimal di Kota Metro. 4. Mengetahui sektor yang berkembang menjadi sektor unggulan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro. 5. Menyusun strategi pengembangan wilayah Kota Metro berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Batasan Penelitian 1. Aspek evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan yang dianalisis dalam penelitian ini merupakan evaluasi lahan secara fisik. 2. Penelitian dilakukan di Kota Mero Provinsi Lampung yang merupakan wilayah administratif terdiri dari 5 kecamatan dan 22 kelurahan. Manfaat Penelitian 1. Memberikan sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Kota Metro sebagai bahan pertimbangan dan rekomendasi dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. 2. Sebagai bahan masukan untuk memperkaya khasanah pemikiran dan proses (learning process) dalam perumusan kebijakan pembangunan dan pengembangan wilayah kota yang ada di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan Wilayah Pembangunan merupakan proses alami untuk mewujudkan cita-cita bernegara, yaitu terwujudnya masyarakat makmur sejahtera secara adil dan merata. Proses alami tersebut harus diciptakan melalui intervensi pemerintah melalui serangkaian kebijaksanaan pembangunan yang akan mendorong terciptanya kondisi yang memungkinkan rakyat berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan. Proses pembangunan yang memihak rakyat merupakan upaya sinergi dalam langkah pemberdayaan masyarakat. Peran pemerintah adalah sebagai katalisator dalam mewujudkan langkah pemberdayaan masyarakat. Dalam kerangka itu pembangunan harus dipandang sebagai suatu rangkaian proses perubahan yang berjalan secara berkesinambungan untuk mewujudkan pencapaian tujuan (Sumodiningrat, 1999 dalam Sari, 2008). Secara historis kegagalan program-program pembangunan didalam mencapai tujuannya bukanlah semata-mata kegagalan dalam pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Teori-teori pembangunan selalu berkembang dan mengalami koreksi, sehingga selalu melahirkan pergeseran tentang nilai-nilai yang dianggap benar dan baik dalam proses pembangunan. Pembangunan wilayah bukan hanya fenomena dalam dimensi lokal dan regional, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari kepentingan skala nasional bahkan global (Rustiadi et al., 2007). Pembangunan wilayah, meliputi perkotaan dan perdesaan sebagai pusat dan lokasi kegiatan sosial ekonomi dari wilayah tersebut. Dari segi pemerintahan, pembangunan daerah merupakan usaha untuk mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah untuk makin mantapnya otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab. Pembangunan daerah di Indonesia memiliki dua aspek yaitu: bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi dan sosial di daerah yang relatif terbelakang, dan untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan melalui kemampuan menyusun perencanaan sendiri dan pelaksanaan program serta proyek secara efektif (Sari, 2008). 10 Pembangunan wilayah memandang pentingnya keterpaduan antar sektoral, spasial, serta pelaku pembangunan di dalam maupun antar daerah. Keterpaduan sektoral menuntut adanya keterkaitan fungsional dan sinergis antar sektor pembangunan sehingga setiap program pembangunan sektoral selalu dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah (Rustiadi et al., 2007). Evaluasi Sumberdaya Lahan Salah satu konsep yang dapat dilakukan dalam strategi pengembangan wilayah berbasis evaluasi lahan adalah melakukan evaluasi kelas kemampuan dan kesesuaian lahan. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) Evaluasi kemampuan lahan merupakan penilaian potensi suatu lahan untuk penggunaanpenggunaan tertentu. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan masalah sosial lain. Setelah dilakukan evaluasi kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan maka akan didapat lokasilokasi tertentu yang sesuai untuk pengembangan pertanian, kawasan permukiman, pembangunan jalan, jembatan dan fasilitas-fasilitas lainnya. Evaluasi sumberdaya lahan pada hakekatnya merupakan proses untuk menduga potensi sumberdaya lahan untuk berbagai penggunaannya. Adapun kerangka dasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan tertentu dengan sifat sumberdaya yang ada pada lahan tersebut (Sitorus, 2004). Manfaat yang mendasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Kegunaan terperinci dari evaluasi lahan sangat beragam ditinjau dari konteks fisik, ekonomi, sosial dan dari segi intensitas skala dari studi itu sendiri serta tujuannya. Kesesuaian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Evaluasi kesesuaian lahan pada hakekatnya berhubungan dengan evaluasi untuk satu penggunaan tertentu, seperti untuk budidaya tanaman pangan, kesesuaian untuk pemukiman, jalan dan sebagainya. 11 Hal ini dapat dilakukan dengan menginterpretasikan peta-peta yang dapat mengambarkan kondisi biofisik lahan seperti peta tanah, peta topografi, peta geologi, peta iklim dan sebagainya dalam kaitannya dengan kesesuaiannya untuk berbagai tanaman dan tindakan pengelolaan yang diperlukan. Berdasarkan FAO (1976) evaluasi lahan dapat dilakukan menurut dua strategi (Gambar 2): 1) Pendekatan dua tahap (two stages approach). Tahapan pertama terutama berkenaan dengan evaluasi lahan yang bersifat kualitatif, yang kemudian diikuti dengan tahapan kedua yang terdiri dari analisis ekonomi dan sosial. 2) Pendekatan sejajar (parallel approach). Analisis hubungan antara lahan dan penggunaan lahan berjalan secara bersama-sama dengan analisisanalisis ekonomi dan sosial. Ciri dari proses evaluasi lahan adalah tahapan di mana persyaratan yang dibutuhkan suatu penggunaan lahan dibandingkan dengan kualitas lahan. Sedangkan fungsi dari evaluasi lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana perbandingan serta alternatif pilihan penggunaan yang diharapkan berhasil (FAO, 1976). Kualitas lahan merupakan sifat-sifat atribut yang kompleks dari suatu lahan. Sedangkan tipe penggunaan lahan adalah jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan, input yang diperlukan dan output yang diharapkan secara spesifik. Persyaratan penggunaan lahan yang meliputi persyaratan tanaman, persyaratan pengelolaan, dan persyaratan konservasi diperlukan masing-masing komoditas mempunyai kisaran batas minimum, optimum, dan maksimum (FAO, 1976). Persyaratan tersebut dijadikan dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuaian lahan yang dikaitkan dengan kualitas dan karakteristik lahan. 12 Pendekatan Dua Tahap Konsultasi Awal Survei Dasar Pendekatan Sejajar Survei Dasar TAHAP PERTAMA Klasifikasi Lahan Kualitatif TAHAP KEDUA Klasifikasi Lahan Kualitatif dan Kuantitatif Analisis Sosial dan Ekonomi Analisis Sosial dan Ekonomi Klasifikasi Lahan Kuantitatif Keputusan-keputusan Perencanaan Gambar 3 Pendekatan dua tahap dalam evaluasi lahan (FAO, 1976) Adapun parameter yang dinilai dalam evaluasi lahan adalah kualitas lahan yang dicerminkan oleh karakteristik lahan yang nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (Tabel 4). Sistem klasifikasi kesesuaian lahan yang banyak dipakai adalah berdasarkan sistem yang dikembangkan oleh FAO. Berdasarkan sistem klasifikasi ini, tingkat kesesuaian suatu lahan ditunjukan melalui empat kategori yang merupakan tingkatan yang bersifat menurun yaitu: 1) Ordo: menunjukkan apakah suatu lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Ordo dibagi menjadi dua yaitu ordo S (sesuai) dan N (tidak sesuai); 2) Kelas: menunjukkan tingkat kesesuaian dari masing-masing ordo. Ada tiga kelas dari ordo tanah yang sesuai yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), dan S3 (sesuai marjinal/bersyarat). Sedangkan untuk ordo yang tidak sesuai ada dua kelas yaitu N1 (tidak sesuai saat ini) dan N2 (tidak sesuai); 3) Sub Kelas: menunjukkan jenis faktor penghambat pada masing-masing kelas. Pada satu sub kelas dapat mempunyai lebih dari satu faktor penghambat dan jika ini terjadi maka faktor penghambat yang paling dominan dituliskan paling depan; dan 13 4) Unit: menunjukkan kesesuaian lahan dalam tingkat unit yang merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas berdasarkan atas besarnya faktor penghambat. Tabel 4 Parameter evaluasi sumberdaya lahan Kualitas Lahan Persyaratan Tumbuh Tanaman/Ekologi Regim radiasi Regim suhu Kelembaban udara Ketersediaan air Media perakaran Retensi hara Ketersediaan hara Bahaya banjir Kegaraman Toksisitas Persyaratan Pengelolaan Kemudahan pengelolaan Potensi mekanisasi Persyaratan Erosi Bahaya Erosi Karakteristik Lahan Panjang/lama penyinaran Suhu rata-rata tahunan Suhu rata-rata bulanan Suhu rata-rata max./min. bulanan Kelembaban nisbi Curah hujan tahunan Curah hujan bulanan Bulan kering (Curah hujan < 60 mm) Drainase Tekstur Kedalaman efektif Gambut (kedalaman, kematangan, kadar abu) KTK pH C-Organik N total P2O5 tersedia Periode Frekuensi Daya hantar listrik (DHL) Kejenuhan Al Bahan sulfidik Tekstur tanah/bahan kasar Kelas kemudahan pengelolaan Kemiringan lahan Batuan di permukaan Singkapan batuan Tingkat bahaya erosi Indek bahaya erosi Sumber: Puslitbangtanak, 2003 Dalam proses evaluasi lahan, kesesuaian lahan aktual (merupakan kesesuaian lahan yang diperoleh saat penelitian) dapat diperbaiki menjadi kelas kesesuaian lahan yang lebih tinggi atau disebut dengan kesesuaian lahan potensial (kesesuaian lahan setelah dilakukan perbaikan atau input yang diperlukan). Namun demikian tidak semua kualitas atau karakteristik lahan dapat diperbaiki dengan teknologi yang ada saat ini atau diperlukan tingkat pengelolaan yang tinggi untuk melakukan perbaikan. 14 Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu cara baru yang berkembang saat ini dalam menyajikan dan melakukan analisis data spasial dengan komputer. Selain mempercepat proses analisis, SIG juga bisa membuat model yang dengan manual sulit dilakukan (Barus & Wiradisastra, 2000). Konsep dasar SIG merupakan suatu sistem yang terpadu yang mengorganisir perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan data yang selanjutnya dapat menggunakan sistem penyimpanan, pengolahan maupun analisis data secara simultan sehingga dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek spasial. Elemen dasar SIG yang beroperasi pada sistem yang terpadu tersebut meliputi hardware, software, pemasukan data, serta sumberdaya manusia yang bertanggung jawab terhadap masalah desain, implementasi, dan penggunaan dari SIG. Keluaran yang dihasilkan dari keempat elemen tersebut berupa informasi keruangan yang jelas dalam bentuk peta, grafik, tabel ataupun laporan ilmiah. SIG dapat mendukung fungsi sebagai berikut: (1) menyediakan struktur basis data untuk penyimpanan dan pengaturan data dalam area yang luas; (2) mampu mengumpulkan atau memisahkan data regional, landsekap, dan skala plot; (3) mampu membantu dalam pengalokasian plot studi dan atau secara ekologi area yang sensitif; (4) meningkatkan kemampuan ekstraksi informasi penginderaan jauh; (5) mendukung analisis statistik spasial pada distribusi ekologi; dan (6) menyediakan input data/parameter untuk permodelan ekosistem (Dai et al, 2001). Aronoff 1993 dalam Sari 2008 menguraikan SIG atas beberapa sub sistem yang saling terkait yaitu: (1) data input, yang bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format-format data ke dalam format yang digunakan oleh SIG; (2) data output, sebagai sub sistem yang menampilkan atau menghasilkan sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti tabel, grafik, peta dan lain-lain; (3) data manajemen, yang mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah di-update dan diedit; dan (4) data manipulasi dan analisis, sebagai sub sistem yang menentukan informasi-informasi yang 15 dihasilkan oleh SIG. Selain itu juga melakukan manipulasi dan permodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan. Penyajian data spasial dari fenomena geografis di dalam komputer dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu raster (grid cell) dan vektor. Bentuk raster adalah penyajian obyek dalam bentuk rangkaian elemen gambar (pixel) yang menampilkan semua obyek dalam bentuk sel-sel. Sedangkan vektor disajikan dalam bentuk titik atau segmen garis karena model data vektor lebih banyak berkaitan dengan bentuk obyek pada peta. Aplikasi SIG dalam pengambilan keputusan berkriteria ganda sangat besar peranannya dalam pengelolaan basis data, analisis berbasis spasial, penampilan luaran hasil analisis, dan fungsi-fungsi SIG lainnya (Baja, 2002). Hirarki Wilayah Hirarki suatu wilayah sangat terkait dengan hirearki fasilitas kepentingan umum dimasing-masing wilayah. Hirarki wilayah dapat membantu untuk menentukan fasilitas apa yang harus ada atau perlu dibangun di masing-masing wilayah. Fasilitas kepentingan umum bukan hanya menyangkut jenisnya, tetapi juga kapasitas pelayanan dan kualitasnya. Jenis fasilitas itu mungkin harus ada di seluruh wilayah, tetapi kapasitas dan kualitas palayanannya harus berbeda. Makin maju suatu wilayah, semakin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya (Tarigan, 2005) Pusat wilayah memiliki hirarki yang ditentukan oleh jumlah penduduk yang bermukim pada pusat, jumlah fasilitas pelayanan umum yang tersedia, dan jumlah jenis fasilitas pelayanan umum yang ada. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin jumlah penduduk dan semakin banyak jumlah fasilitas serta jumlah jenis fasilitas pada suatu pusat maka akan semakin tinggi hirarki yang dimilikinya (Hastuti, 2001) Fasilitas pelayanan merupakan salah satu unsur dari sistem suatu daerah yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembangunan didaerah tersebut. Fasilitas pelayanan berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kota. Fasilitas pelayanan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya. 16 Menurut Tarigan (2005) pusat-pusat aktivitas suatu wilayah sangat terkait dengan hirarki wilayah. Hirarki wilayah dapat membantu untuk menentukan fasilitas apa yang harus ada atau perlu dibangun dimasing-masing wilayah. Fasilitas kepentingan umum bukan hanya menyangkut jenisnya, tetapi juga kapasitas pelayanan dan kualitasnya. Jenis fasilitas itu mungkin harus ada di seluruh wilayah, tetapi kapasitas dan kualitas pelayanannya harus berbeda. Makin maju suatu wilayah, semakin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya. Pada umumnya daerah dengan fasilitas pelayanan yang tinggi menjadi pusat aktivitas baik sebagai pusat pelayanan maupun pusat pertumbuhan suatu wilayah. Penggunaan fasilitas pada suatu pusat pelayanan merupakan fungsi dari aksesbilitas atau kemudahan dari titik permintaan ke titik penyediaan pelayanan. Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Analisis ini bertujuan untuk menghitung jumlah penduduk suatu daerah dalam jangka waktu kedepan. Dengan memprediksi jumlah penduduk maka dapat diperkirakan kebutuhan lahan potensial yang tersedia untuk pengembangan kota dimasa yang akan datang. Laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya menjadi faktor utama untuk menentukan proyeksi jumlah penduduk. Dengan memprediksi jumlah penduduk maka tingkat kepadatan suatu daerah dapat ditentukan sehingga perencanaan pembangunan fasilitas publik atau standar pelayanan minimal yang tersedia pada suatu daerah dapat diidentifikasi. Kuantitas penduduk yang dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan tidak terlepas dari kualitas penduduk, selain menjadi modal pengembangan wilayah di satu sisi, dapat juga menjadi beban pembangunan karena menyebabkan meningkatnya pelayanan dan penyediaan sumber-sumber ekonomi, baik berupa kebutuhan-kebutuhan dasar maupun fasilitas-fasilitas sosial ekonomi. Selanjutnya semua rencana pembangunan kota menyangkut keadaan jumlah penduduk dan karakteristiknya pada masa mendatang yang dianggap sebgai persyaratan suatu proses perencanaan pembangunan kota adalah penyediaan lahan perkotaan, penyediaan lapangan kerja dan penyediaan fasilitas lainnya (RTRW Kota Metro, 2001). 17 Sektor Unggulan Pada konsep pembangunan daerah yang berbasis pada sektor unggulan ada beberapa kriteria sektor sebagai motor penggerak pembangunan suatu daerah, antara lain: mampu memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan produksi, pendapatan dan pengeluaran, mempunyai keterkaitan ke depan dan belakang (forward dan backward linkage) yang kuat, mampu bersaing (competitiveness), memiliki keterkaitan dengan daerah lain, mampu menyerap tenaga kerja, bertahan dalam jangka waktu tertentu, berorientasi pada kelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal. Pendekatan strategi pembangunan dengan menentukan sektor unggulan yang memiliki keterkaitan antar sektor dalam suatu perekonomian atau kontribusi berbagai sektor dalam perekonomian secara keseluruhan, sebagaimana dikemukakan Arief (1993) dalam Kusumawati (2005) bahwa suatu sektor dikatakan sebagai sektor kunci atau sektor unggulan apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) Mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang relatif tinggi; (2) Menghasilkan output brutto yang relatif tinggi sehingga mampu mempertahankan final demand yang relatif tinggi pula; (3) Mampu menghasilkan penerimaan bersih devisa yang relatif tinggi; dan (4) Mampu menciptakan lapangan kerja yang relatif tinggi. Setelah berlakunya otonomi daerah, setiap daerah memiliki independensi dalam menetapkan sektor atau komoditi yang akan menjadi prioritas pengembangan. Kemampuan pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan ataupun kelemahan diwilayahnya menjadi penting. Sektor yang memiliki keunggulan memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat menjadi push factor bagi sektor-sektor lain untuk berkembang (Tarigan, 2005). Akibat keterbatasan sumberdaya yang tersedia, maka dalam suatu perencanaan pembangunan diperlukan adanya skala prioritas pembangunan. Dari sudut dimensi sektor pembangunan, suatu skala prioritas didasarkan atas pemahaman bahwa: (1) setiap sektor memiliki sumbangan langsung dan tidak langsung yang berbeda terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan 18 (penyerapan tenaga kerja, pendapatan wilayah, dan sebagainya), (2) setiap sektor memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya dengan karakteristik yang berbeda-beda, dan (3) aktivitas sektoral tersebar secara tidak merata dan spesifik, beberapa sektor cenderung memiliki aktivitas yang terpusat dan terkait dengan sebaran sumberdaya alam, buatan (infrastruktur) dan sosial yang ada. Atas dasar pemikiran tersebut, dapat dipahami bahwa setiap wilayah selalu terdapat sektorsektor yang bersifat strategis atau unggulan. Menurut Daryanto (2004) dalam Kusumawati (2005), terdapat beberapa cara atau teknik dalam kuantifikasi untuk mengidentifikasi suatu sektor atau komoditas disebut sebagai sektor atau komoditas unggulan. Antara lain dengan menghitung besarnya indeks forward dan backward lingkage, yang dikenal pada analisis tabel input-output. Suatu sektor atau komoditas akan menjadi menjadi unggulan apabila nilai forward linkage dan backward lingkage lebih besar dari satu. Kriteria ini dikenal dengan nama Rasmussen’s dual criterion, yaitu untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan sektor atau komoditas unggulan yang akan dikembangkan terhadap pembangunan sektor atau komoditas lainnya baik ke depan maupun ke belakang. Penentuan sektor unggulan daerah juga diharapkan akan diketahui sektor mana yang berpotensi untuk dikembangkan secara besar-besaran sehingga mempunyai income multiplication yang tinggi dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Sektor unggulan juga menunjukkan karakteristik wilayah serta mempunyai keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang yang cukup signifikan dalam perekonomian wilayah, (Rustiadi, et al 2007). Analisis SWOT Dalam menyusun suatu strategi dan model pengembangan wilayah, dalam hal ini adalah pengembangan wilayah Kota Metro, perlu dilakukan suatu analisa yang mendalam. Metode analisis data yang digunakan adalah dengan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats Analysis), yaitu analisis potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/kendala. Analisis ini diawali dengan inventarisasi dan klasifikasi terhadap permasalahan/kelemahan dan kelebihan/kekuatan baik secara internal pengembangan wilayah di Kota Metro, maupun secara eksternal yang berasal dari lingkungan di luar Kota Metro. 19 Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi saat ini (Rangkuti, 2000). Dalam analisis SWOT terdapat dua faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu lingkungan internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) serta lingkungan eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Menurut Robinson 1991 dalam Sanudin 2006, kekuatan (strengths) adalah sumberdaya, keterampilan atau keunggulan lain relative terhadap pesaing dan kebutuhan pasar; kelemahan (weakness) merupakan keterbatasan dalam sumberdaya, keterampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja; peluang (opportunities) merupakan situasi yang menguntungkan, berbagai kecenderungan, peraturanperaturan dan perubahan teknologi; sedangkan ancaman (theraths) adalah situasi yang tidak menguntungkan atau rintangan. Dalam melakukan analisis SWOT dapat ditemukan masalah-masalah yang menyebabkan terjadinya kegagalan dalam mempresentasikan hasil analisis SWOT. Menurut Salusu 1996 dalam Sanudin 2006, masalah tersebut adalah sebagai berikut: a. The missing link problem atau masalah hilangnya unsur keterkaitan, yang merujuk pada kegagalan dalam menghubungkan evaluasi terhadap faktor eksternal dengan evaluasi terhadap faktor internal. b. The blue sky problem, atau masalah langit biru. Para pengambil keputusan bersikap terlalu optimistis dalam melihat peluang, yang berakibat munculnya penilaian atas faktor-faktor internal dan eksternal yang tidak cocok. c. The silver lining problem, para pengambil keputusan memandang remeh akan pengaruh dari ancaman lingkungan yang sangat potensi yang ditafsirkan sebagai akan mendapatkan keberuntungan. 20 d. The all things to all people problem, para pengambil keputusan cenderung memusatkan perhatiannnya pada kelemahan-kelemahan organisasinya dan kurang melihat potensi kekuatan yang dimilikinya. e. The putting the car before the horse problem, menempatakan kereta di depan kuda adalah suatu aktifitas terbalik. Para pengambil keputusan langsung mengembangkan strategi dan rencana tindak lanjut sebelum menentukan kebijaksanaan strategi yang akan dijalankan organisasinya. METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Pengembangan kawasan perkotaan saat ini banyak dilakukan tanpa melakukan kajian terlebih dahulu tentang potensi sumberdaya lahan. Kebutuhan lahan untuk kawasan permukiman menjadi prioritas utama dalam pembangunan suatu kota. Kajian secara lebih mendalam tentang strategi pengembangan wilayah kota berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan dapat dilakukan untuk memaksimalkan manfaat potensi sumberdaya lahan yang ada dalam pembangunan. Menurut Rustiadi et al (2007) secara umum terdapat beberapa ilmu atau kajian mengenai perencanaan pengembangan wilayah yang ditunjang oleh empat pilar pokok, yaitu: (1) inventarisasi, klasifikasi dan evaluasi sumberdaya (2) aspek ekonomi (3) aspek kelembagaan (institusional) dan (4) aspek lokasi/spasial. Pilar utama dari suatu perencanaan dan pengembangan wilayah harus didasarkan pada pemikiran tersebut. Mengingat distribusinya yang tidak merata, tahap pertama dari suatu strategi pengembangan wilayah adalah mengidentifikasi sumberdaya yang ada melalui kegiatan evaluasi sumberdaya, baik sumberdaya alami, sumberdaya manusia, sumberdaya buatan, maupun sumberdaya sosial. Oleh sebab itu perencanaan pengembangan suatu wilayah hendaknya dimulai dari kajian tentang potensi sumberdaya yang dimiliki oleh suatu wilayah terutama potensi lahan. Identifikasi sumberdaya lahan dapat dilakukan dengan mengevaluasi kemampuan lahan dan kesesuaian lahan yang ada. Sehingga nantinya akan didapat lokasi-lokasi tertentu pada suatu wilayah kota yang mempunyai kesesuaian lahan yang tinggi untuk dikembangkan pertanian, perkebunan dan terutama kebutuhan pemukiman sebagai konsekuensi logis dari perkembangan suatu kota (Mougeot, 2005). Perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat Kota Metro mempunyai dampak yang luas dan mencakup berbagai dimensi kehidupan perkotaan. Dalam dokumen RTRW Kota Metro 2001-2010 dinyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatankegiatan fungsional perkotaan di Kota Metro, mengakibatkan peningkatan 22 kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas pelayanan kebutuhan hidup lainnya. Oleh sebab itu perkembangan dan kemajuan suatu kota, apabila tidak dikendalikan dan diarahkan dalam sebuah strategi pengembangan wilayah berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan maka akan menimbulkan ketidaksesuaian lahan yang dipergunakan untuk membangun pusat-pusat pelayanan masyarakat. Salah satu tahapan perencanaan dan pengembangan wilayah adalah Identifikasi aspek ekonomi. Dimana suatu wilayah harus dapat mengidentifikasi potensi ekonominya secara tepat melalui sektor unggulan. Menurut Hadi (2008) terdapat lima kriteria suatu sektor dinyatakan sebagai sektor unggulan yaitu: (1) terdapat potensi sumberdaya alam yang besar (2) terdapat potensi sumberdaya manusia yang besar disektor tersebut (3) memiliki keterkaitan kedepan (forward linkages) maupun kebelakang (backward linkages) yang tinggi (4) mempunyai dampak pengganda (Multiplier effect) yang besar dan (5) mampu menyerap tenaga kerja yang besar di wilayah tersebut. Secara lebih ringkas Gambar 4 menunjukkan kerangka pemikiran penelitian. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Metro Provinsi Lampung yang meliputi area 5 kecamatan dengan 22 kelurahan, penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni sampai dengan Agustus 2008. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan berupa seperangkat komputer dengan perangkat lunak software Ms. Word, Ms. Excell, Arc View 3.3 dan peta digital serta alat tulis lainnya. 23 Kondisi Eksisting Kota Metro: - Dominasi lahan pertanian - Belum adanya sektor unggulan - Belum diterapkannya strategi pengembangan wilayah kaitannya dengan evaluasi sumberdaya lahan Identifikasi sektor unggulan Sektor unggulan Evaluasi kelas kemampuan lahan & kelas kesesuaian lahan secara fisik Identifikasi hirarki wilayah & Proyeksi penduduk dan Standar Pelayanan Minimal Kawasan Pertanian Kawasan Permukiman (perumahan, jalan, gedung) Hirarki wilayah & Jumlah penduduk dan kebutuhan SPM Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Gambar 4 Kerangka pemikiran Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang digunakan yakni data primer dan sekunder. Data primer berupa hasil wawancara dengan aparatur dan masyarakat, sedangkan data sekunder bersumber dari dinas/instansi yang terkait seperti: Bappeda Kota Metro, BPS Kota Metro, BPS Pusat, Badan Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan (BPPSL Bogor), Departemen ITSL IPB serta pihak-pihak yang terkait lainnya. Data sekunder berupa: Podes, PDRB, Metro Dalam Angka, Kecamatan Dalam Angka. Selain itu juga digunakan Peta administrasi, Peta Lereng, Peta Iklim, Peta Tanah, peta-peta yang berkaitan dengan kewilayahan. 24 Tabel 5 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian Jenis Data Skala Tahun Digital Digital Digital Digital Sumber Data Peta RBI Peta Administrasi Peta Land System Klasifikasi Citra Landsat TM-5 Kota Metro Peta Lereng Peta Iklim Data CH 1:50.000 1:75.000 1:250.000 1:100.000 1:100.000 - 1983 1983 2006-2007 Digital Digital Tabular Peta Penggunaan Lahan Data Podes Kota Metro 1:50.000 - 2006 2000-2006 Digital Tabular 2005 Tabular - 2002-2006 2002-2006 Tabular Tabular BPS Kota Metro BPS Propinsi Lampung - 2002-2006 Tabular BPS Pusat Jakarta - 2007 2007 2008 Tabular Tabular Tabular Bappeda Kota Metro Bappeda Kota Metro Wawancara aparatur pemda dan masyarakat Data Tabel I-O Kota Metro Hasil Ras I-O Provinsi Lampung Data PDRB Kota Metro Data PDRB Propinsi Lampung Data PDRB kabupaten sePropinsi Lampung Kota Metro Dalam Angka Kecamatan Dalam Angka Data SWOT Edisi 1975-1986 2001 1989 2004 Bentuk Bakosurtanal Bappeda Kota Metro Puslistanak Bogor Lab. Inderaja dan Kartografi Dept. ITSL IPB Puslistanak Bogor Puslistanak Bogor Dinas PSDA Propinsi Lampung Bappeda Kota Metro Lab. Bangwil Dept. ITSL IPB Lab. Bangwil Dept. ITSL IPB Teknik Analisis Data Analisis Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak berlaku di Indonesia adalah klasifikasi kemampuan lahan menurut sistem Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dimana pengelompokan kemampuan lahan dalam sistem ini dilakukan secara kualitatif dan dibagi dalam tiga kategori: yaitu kelas, sub-kelas, dan unit. Penggolongan kedalam kelas, sub-kelas dan unit didasarkan atas kemampuan lahan tersebut untuk memproduksi pertanian secara umum, tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Dalam sistem ini, sifat kimia tanah tidak digunakan sebagai pembeda karena sifat kimia tanah sangat mudah berubah, sehingga kurang relevan untuk digunakan. Sifat-sifat tanah/lahan yang digunakan sebagai pembeda hanyalah sifat fisik/morfologi tanah dan lahan yang langsung dapat diamati di lapang pada saat survey tanah dilakukan. Tanah dikelompokkan kedalam kelas I sampai kelas VIII, dimana semakin tinggi kelasnya, kualitas lahannya semakin jelek, berarti resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah dan pilihan penggunaan lahan yang dapat diterapkan semakin terbatas. 25 Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas penggunaan lahan lebih lengkap pada Tabel 6. Tabel 6 Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas penggunaan lahan Intensitas dan macam penggunaan lahan meningkat Kelas Kemampuan Lahan Cagar Alam Penggembalaan Hutan Terbatas Sedang Intensif Pertanian Terbatas Sedang Intensif Sangat Intensif I II Hambatan meningkat dan pilihan penggunaan lahan berkurang III IV V VI VII VIII Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka (2007) Evaluasi kesesuaian lahan menggunakan kriteria FAO dalam Framework of Land Evaluation (FAO, 1976). Kelas kesesuaian lahan dibagi menjadi empat kelas, yaitu: S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal) dan N (tidak sesuai). Analisa diawali dengan melakukan overlay dan kompilasi/pemaduan Peta Tanah, Peta Lereng, Peta Curah Hujan dan Peta Administrasi menggunakan program ArcView. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membuat satuan lahan homogen. Kemudian pemaduan data/informasi penunjang geofisik lahan, yang akan diperoleh informasi kualitas lahan. Selanjutnya dilakukan analisa kesesuaian lahan untuk kawasan pertanian, kawasan permukiman yaitu dengan mencocokan (matehing) antara kualitas lahan dengan kriteria kebutuhan lahan pertanian, sehingga dihasilkan peta kesesuaian lahan untuk pertanian dan permukiman di Kota Metro. Adapun kriteria untuk kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan bersumber dari Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), masing-masing untuk kriteria: a. b. c. d. e. f. Kelas kemampuan lahan Kesesuaian lahan untuk tanaman padi Kesesuaian lahan untuk tanaman jagung Kesesuaian lahan untuk peternakan/penggembalaan Kesesuaian lahan untuk gedung dan tempat tinggal Kesesuaian lahan untuk pembuatan jalan 26 Analisis Skalogram Metode ini digunakan untuk menentukan hirarki wilayah. Dalam metode skalogram, seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap unit wilayah didata dan disusun dalam Tabel 7. Metode skalogram ini bisa digunakan dengan menuliskan jumlah fasilitas yang dimiliki oleh setiap wilayah, atau menuliskan ada/tidaknya fasilitas tersebut di suatu wilayah tanpa memperhatikan jumlah/kuantitasnya (Pribadi, 2005). Selain itu, melalui metode ini juga akan diidentifikasi jenis, jumlah dan karakteristik infrastruktur yang diperlukan sebagai SOC yang akan mendukung perkembangan perekonomian di suatu daerah. Infrastruktur ini akan mencakup tiga kelompok prasarana utama yaitu: a. Hardware Infrastructure, meliputi: Jaringan jalan, listrik, gas, air bersih, telekomunikasi, dan sebagainya. b. Software Infrastructure, meliputi: Kualitas sumberdaya manusia (SDM), sikap kewirausahaan, manajemen, kemampuan menghimpun informasi pasar dan pemasaran, dan konsultasi. c. Institutional Infrastructure, meliputi: Pendidikan dan latihan, promosi, perdagangan, penelitian, asosiasi produsen, pedagang, eksportir dan sebagainya. Tahapan dalam penyusunan skalogram Beberapa tahap dalam penyusunan skalogram adalah sebagai berikut: 1. Menyusun fasilitas sesuai dengan penyebaran dan jumlah fasilitas di dalam unit-unit wilayah. Fasilitas yang tersebar merata di seluruh wilayah diletakkan dalam urutan paling kiri dan seterusnya sampai fasilitas yang terdapat paling jarang penyebarannya di dalam seluruh unit wilayah yang ada diletakkan di kolom tabel paling kanan. Angka yang dituliskan adalah jumlah fasilitas yang dimiliki setiap unit wilayah. 2. Menyusun wilayah sedemikian rupa dimana unit wilayah yang mempunyai ketersediaan fasilitas paling lengkap terletak disusunan paling atas, sedangkan unit wilayah dengan ketersediaan fasilitas paling tidak lengkap terletak di susunan paling bawah. 27 3. Menjumlahkan seluruh fasilitas secara horizontal baik jumlah jenis fasilitas maupun jumlah unit fasilitas di setiap unit wilayah. 4. Menjumlahkan masing-masing unit fasilitas secara vertikal sehingga diperoleh jumlah unit fasilitas yang tersebar di seluruh unit wilayah. 5. Dari hasil penjumlahan ini diharapkan diperoleh urutan, posisi teratas merupakan sub wilayah yang mempunyai fasilitas terlengkap. Sedangkan posisi terbawah merupakan sub wilayah dengan ketersediaan fasilitas umum paling tidak lengkap. 6. Jika dari hasil penjumlahan dan pengurutan ini diperoleh dua daerah dengan jumlah jenis dan jumlah unit fasilitas yang persis, maka pertimbangan ke tiga adalah jumlah penduduk. Sub wilayah dengan jumlah penduduk lebih tinggi diletakkan pada posisi di atas. Tabel 7 Ilustrasi skalogram kabupaten x Kecamatan Barat Timur Tengah Selatan Utara Jumlah Wilayah Jumlah Sumber: Pribadi, 2005 Populasi 2 543 2 500 2 365 2 369 2 400 5 12 177 Mushola 53 51 42 32 32 5 210 SD 20 21 20 15 20 5 96 Puskes mas 3 2 2 1 0 4 8 SMP Bank Jumlah Jenis Jumlah Unit 2 1 1 1 0 4 5 1 1 0 0 0 2 2 5 5 4 4 2 5 20 79 76 65 49 52 5 321 Disamping cara sebagaimana telah dijelaskan pada metode skalogram tersebut juga terdapat metode lain yang merupakan modifikasi dari metode skalogram yang disebut dengan penentuan indeks sentralitas dengan berdasarkan jumlah penduduk dan jenis fasilitas pelayanan. Tahapan dalam penyusunan skalogram dengan indeks sentralitas adalah: 1. Pekerjaan pertama yang dilakukan sama dengan yang dilakukan pada Penyusunan Skalogram 1 (poin 1 dan 2). Jika dari hasil pengurutan dengan metode skalogram 1 sudah diperoleh, maka pekerjaan selanjutnya adalah dengan melakukan penggantian seluruh nilai fasilitas dengan nilai 1 jika ada fasilitas tersebut di suatu wilayah atau 0 jika tidak ada fasilitas yang di maksud di suatu wilayah. 28 2. Disamping data fasilitas umum, maka data yang perlu ditabelkan adalah data populasi. Hasil pengurutan dapat dilihat pada Tabel 8 sebagai berikut: Tabel 8 Skalogram dengan indeks sentralitas Sub Wilayah A B C D E F G Populasi 1 2 Fasilitas 3 4 5 6 A B C D E F G Sumber: Pribadi, 2005 3. Setelah diperoleh hasil dari penyusunan skalogram (1) point 1 dan (2), dihitung nilai standar deviasi dari keseluruhan jumlah penduduk yang ada di total wilayah. Nilai ini akan digunakan untuk menghitung nilai sentralitas dan mengelompokkan unit wilayah dalam kelas-kelas yang dibutuhkan. Kita asumsikan bahwa kelompok yang diperoleh berjumlah 3, yaitu Kelompok I dengan tingkat perkembangan tinggi, Kelompok II dengan tingkat perkembangan sedang dan Kelompok III dengan tingkat perkembangan rendah. Selanjutnya ditetapkan suatu konsensus misalnya jika nilai rataan kepadatan penduduk adalah lebih besar atau sama dengan (2 x standar deviasi + nilai rata-rata) maka dikategorikan tingkat perkembangan tinggi, kemudian jika tingkat kepadatan penduduk antara nilai rata-rata sampai (2 x standar deviasi + nilai rata-rata) maka termasuk tingkat pertumbuhan sedang dan jika nilai kepadatan penduduk ini kurang dari nilai rata-rata maka termasuk dalam nilai pertumbuhan rendah. Secara matematis kelompok tersebut adalah : Kel.I untuk Kelompok I (Tingkat Perkembangan Tinggi) X 2 Stdev X 2 St dev > Kelompok II X (Tingkat Perkembangan Sedang) Kelompok III < X untuk Kelompok III (Tingkat Perkembangan Rendah) 29 4. Nilai rata-rata jumlah penduduk setiap kelompok (I, II, III) dibagi dengan 1000. Selanjutnya dari tabel fasilitas pelayanan yang tersusun, batasi wilayah yang berisi fasilitas untuk tiap kelompoknya. Batas tersebut digunakan sebagai acuan untuk menuliskan indeks setiap kelompok. Fasilitas yang berada di kolom paling kiri otomatis akan diisi dengan indeks terkecil (nilai rata-rata populasi/1000 Kel. III), sedangkan fasilitas yang berada di paling kanan akan diisi dengan indeks paling besar (nilai rata-rata populasi/1000 Kel. I). 5. Selanjutnya seluruh indeks dari kolom fasilitas yang telah terisi dijumlahkan. Indeks ini bisa digunakan untuk membandingkan dukungan fasilitas terhadap jumlah penduduk di setiap wilayah. Analisis Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal Dalam analisis ini jumlah penduduk yang dapat ditampung pada suatu wilayah dengan menggunakan asumsi tingkat kepadatan tertentu yang ideal pada suatu kota, yakni tidak melebihi 30–40 jiwa/Ha (RTRW Kota Metro, 2001). Dengan memproyeksikan jumlah penduduk pada periode tahun tertentu, maka akan dapat memudahkan dalam melakukan perencanaan pembangunan suatu wilayah. Untuk itu proyeksi jumlah penduduk menjadi mutlak diperlukan. Salah satu metode proyeksi penduduk dengan menggunakan rumus: Pn = Po * (1 + r/100)n Dimana: Pn = Jumlah penduduk tahun proyeksi r = Tingkat pertumbuhan penduduk Po = Jumlah penduduk tahun dasar n = Tahun proyeksi – tahun dasar Standar pelayanan minimal merupakan suatu standar kebutuhan sarana dan prasarana wilayah terutama yang berkaitan dengan fasilitas umum pada suatu wilayah. Jumlah penduduk menjadi parameter untuk ketersediaan fasilitas umum secara minimal. Apabila jumlah fasilitas yang tersedia diatas standar pelayanan minimal maka daerah tersebut memberikan pelayanan yang baik bagi penduduknya, begitu juga sebaliknya apabila jumlah fasilitas umum yang tersedia 30 dibawah standar pelayanan minimal maka daerah tersebut tidak memberikan pelayanan yang baik bagi warganya. Standar pelayanan minimal yang dibahas dalam penelitian ini adalah standar pelayanan minimal bidang permukiman, disesuaikan dengan evaluasi sumberdaya lahan yang dilakukan untuk kesesuaian lahan permukiman dan jalan. Standar pelayanan minimal bidang permukiman terdiri dari sarana fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas perekonomian dan fasilitas umum lainnya. Sedangkan fasilitas air bersih dan pengelolaan sampah tidak termasuk dalam penelitian, dikarenakan memerlukan analisis kesesuaian lahan tersendiri. Dasar penetapan standar pelayanan minimal mengacu pada Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kepmen Kimpraswil) Nomor: 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum. Selain itu juga dasar penetapan kriteria berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (Kepmen PU) Nomor: 378/KPTS/PU/1987 tentang Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota (Departemen PU, 2008). Beberapa kriteria dalam kepmen tersebut tidak seluruhnya digunakan dalam penelitian ini, hanya diambil beberapa kriteria fasilitas seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun secara rinci kriteria yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 9. Analisis Location Quotient (LQ) Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan indikasi sektor basis dan bukan sektor basis dapat digunakan metode Location Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah luas dalam suatu wilayah (Rustiadi et al, 2007). Dalam penentuan sektor basis data yang digunakan adalah data PDRB per sektor Tahun 2002-2006. Persamaan dari LQ ini adalah: LQ IJ X IJ X I. X .J X .. Dimana: Xij = derajat aktifitas ke-j di wilayah ke-i Xi. = total aktifitas di wilayah ke-I X.j = total aktifitas ke-j di semua wilayah X.. = derajat aktifitas total wilayah 31 Untuk dapat menginterprestasikan hasil analisis LQ, adalah sebagai berikut: a) Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu aktifitas di suatu wilayah ke-i secara relatif dibandingkan dengan total wilayah atau terjadi pemusatan aktifitas di suatu wilayah ke-i. b) Jika nilai LQij = 1, maka sub wilayah ke-I tersebut mempunyai pangsa aktifitas setara dengan pangsa total atau konsentrasai aktifitas di wilayah ke-I sama dengan rata-rata total wilayah. c) Jika nilai LQij < 1, maka suatu wilayah ke-I tersebut mempunyai pangsa relatif lebih kecil dibandingkan dengan aktifitas yang secara umum ditemukan diseluruh wilayah. Tabel 9 Kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota Standar Jenis Fasilitas PENDIDIKAN SD/Madrasah Jumlah Penduduk * (Jiwa) Kebutuhan Ruang ** Per Unit (M2) 6.000 3.600 25.000 30.000 4.300 4.000 70.000 20.000 240.000 3.000 30.000 86.400 1.600 1.200 10.000 350 120.000 5.200 2.500 600 Mushola Gereja 250 30.000 25 1.200 Pura Vihara 30.000 30.000 1.200 1.200 30.000 12.000 1.000 200 100 100 120.000 2.400 120.000 30.000 4.000 2.000 Terminal 400.000 100.000 Sub Terminal 120.000 30.000 Jalan Kota 1.000 3.000 Jalan Lingkungan 1.000 300 SLTP SLTA Akademi/Perguruan Tinggi KESEHATAN Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Apotik PERIBADATAN Masjid Raya Masjid Lingkungan PEREKONOMIAN Pasar Toko Warung/Kios Bank REKREASI/OLAHRAGA Gedung Bioskop/Kesenian Gedung Olahraga UMUM JALAN *Sumber: Kepmen Kimpraswil No : 534/KPTS/M/2001 ** Sumber: Kepmen PU No : 378/KPTS/PU/1987 32 Analisis Shift Share (SSA) Keunggulan suatu komoditas perlu dilihat tidak hanya secara komparatif tetapi juga secara kompetitif. Shift Share Analysis (SSA) digunakan untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan daerah agregat yang lebih luas. Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Analisis shiftshare mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah (Panuju & Rustiadi, 2005). SSA X ..(t1) X ..(t 0) a 1 X i (t1) X ..(t1) X ij (t1) X i (t1) X i (t 0) X ..(t 0) X ij (t 0) X i(t 0) b c Dimana: a = komponen share b = komponen proportional shift c = komponen differential shift, dan X.. = Nilai total aktifitas dalam total wilayah X.i = Nilai total aktifitas tertentu dalam total wilayah Xij = Nilai aktifitas tertentu dalam unit wilayah tertentu t1 = titik tahun akhir t0 = titik tahun awal Metode RAS Metode RAS merupakan salah satu dari beberapa metode non-survei yang dapat dilakukan untuk menyusun suatu estimasi struktur input-output dalam lingkup wilayah tertentu. Kelebihan dari pendekatan metode non-survei ini menurut Djohar (1999) dalam Kusumawati (2005), adalah dapat digunakan untuk menjelaskan kegiatan perekonomian pada saat kegiatan tersebut sedang berjalan maupun telah berlangsung, serta dapat digunakan untuk memprediksi kegiatan perekonomian dimasa yang akan datang, selain itu biaya yang diperlukan relatif lebih murah dibandingkan dengan metode survei. Metode RAS adalah suatu metode untuk memperkirakan matriks koefisien input yang baru pada tahun t: “A(t)” dengan menggunakan informasi koefisien input dasar “A(0)”, total permintaan antara tahun t, dan total input antara tahun t. 33 Metode RAS pertama kali dikembangkan oleh Prof. Richard Stone dari Cambride University, Inggris dan telah banyak digunakan untuk keperluan penyusunan tabel input-output up-dating oleh Badan Pusat Statistik. Karena metode ini merupakan metode penyusunan tabel input-output non-survei maka dalam pelaksanaannya dilakukan pendekatan matematis (BPS, 2000). Metode ini dapat digunakan untuk mengestimasi perubahan koefisien input antara, yaitu dengan menghitung nilai-nilai pengganda menurut baris dan nilai pengganda menurut kolom tanpa menguraikan faktor ekonomi yang mempengaruhi besarnya nilai pengganda tersebut. Melalui pendekatan matematis metode ini akan menyusun matriks diagonal R dan S atas dasar data yang dibutuhkan untuk dapat menggunakan metode RAS. Secara matematis metode RAS terdiri dari matriks [A] 0 merupakan matriks koefisien input pada tahun dasar. Matriks [R] maerupakan matriks diagonal yang menunjukkan pengganda menurut kolom dan elemen-elemennya menunjukkan pengaruh substitusi, dan matriks [S] merupakan matriks diagonal yang menunjukkan pengaruh pengganda menurut baris dan elemen-elemennya menunjukkan pengaruh fabrikasi. Apabila ri dan sj berturut-turut merupakan elemen matriks diagonal [R] dan [S], dan misalkan Xij (0) adalah input antara sektor j yang berasal dari output sektor i pada tahun dasar, maka untuk menjaga konsitensi hasil estimasi ri dan sj, perlu ditambahkan dua persamaan pembatas sebagai berikut: n n ri xij (0) s j i 1 bi , i 1,2,......... .n dan ri xij (0) s j k j , i 1,2,......... .n i 1 Dimana: bi = jumlah permintaan antara sektor i pada tahun t kj = jumlah input antara sektor j pada tahun t Dengan persamaan pembatas tersebut diperoleh 2n persamaan dengan 2n bilangan yang tidak diketahui, dan hanya ada 2n-1 persamaan yang bebas sedangkan persamaan yang satunya bergantung kepada persamaan lainnya. Selanjutnya matriks koefisien input untuk tahun proyeksi t dapat diperkirakan dengan rumus [A]t = [R][A]0[S], dan penyelesaian dilakukan secara aproksimatif dengan menggunakan prosedur iteratif yang konvergen sehingga hasil perhitungan 34 sangat tergantung pada jumlah iterasi yang dilakukan. Apabila elemen matriks [R] dan [S] telah diperoleh maka elemen matriks [A]t dapat diestimasi dan koefisien hasil estimasi ini merupakan koefisien input antara untuk periode t. Sehingga tabel input-output yang telah disesuaikan (updating) berdasarkan koefisien tersebut dapat disusun untuk kemudian diturunkan dari tabel input-output provinsi menjadi kabupaten/kota. Analisis Tabel Input-Output Analisis input-output dilakukan untuk mengetahui sektor unggulan yang ada di Kota Metro dan untuk dapat melakukan analisis tersebut perlu dibangun struktur tabel input-output. Penggunaan analisis ini dengan pertimbangan bahwa tabel I-O merupakan gambaran lebih rinci dari sistem neraca ekonomi wilayah sehingga dengan terbangunnya Tabel I-O Kota Metro diharapkan dapat digunakan untuk: (1) memperkirakan dampak permintaan akhir dan perubahannya (pengeluaran rumah tangga, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor) terhadap berbagai output sektor produksi, nilai tambah, pendapatan masyarakat, kebutuhan tenaga kerja, pajak dan sebagainya, (2) mengetahui komposisi penyediaan dan penggunaan barang atau jasa sehingga mempermudah analisis tentang kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya; dan (3) memberi petunjuk menganai sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan ekonomi (Rustiadi et al, 2007). Secara lebih sederhana Tabel input-output dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 10 Ilustrasi tabel input-output 3 sektor Alokasi Output Alokasi Input Input Antara Permintaan Antara Sektor Produksi Permintaan Akhir Kuadran I Penyediaan Impor Jumlah Output Kuadran II Sektor 1 X11 X12 X13 F1 M1 X1 Sektor 2 X21 X22 X23 F2 M2 X2 Sektor 3 X31 X32 X33 F3 M3 X3 Input Primer Jumlah Input Kuadran III V1 V2 V3 X1 X2 X3 Sumber: BPS Pusat, 2000 35 Tabel I-O pada dasarnya merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar-satuan kegiatan ekonomi (sektor) dalam suatu wilayah pada suatu periode tertentu (BPS Pusat, 2000). Isian sepanjang baris dalam matriks menunjukkan bagaimana output suatu sektor ekonomi dialokasikan ke sektorsektor lainnya untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Sedangkan isian dalam kolom menunjukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor dalam proses produksinya. a. Kuadran pertama menunjukkan arus barang dan jasa yang dihasilkan dan digunakan oleh sektor-sektor dalam suatu perekonomian. Kuadran ini menunjukkan distribusi penggunaan barang dan jasa untuk suatu proses produksi. Penggunaan atau konsumsi barang dan jasa disini adalah penggunaan untuk diproses kembali, baik sebagai bahan baku atau bahan penolong. Karenanya transaksi yang digambarkan dalam kuadran pertama ini disebut juga transaksi antara. b. Kuadran kedua menunjukkan permintaan akhir (Final Demand). Penggunaan barang dan jasa bukan untuk proses produksi digolongkan sebagai permintaan akhir. Permintaan akhir ini biasanya terdiri atas konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. c. Kuadran ketiga memperlihatkan input primer sektor-sektor produksi. Input ini dikatakan primer karena bukan merupakan bagian dari output suatu sektor produksi seperti pada kuadran pertama dan kedua. Input primer adalah semua balas jasa faktor produksi dan meliputi upah dan gaji, surplus usaha ditambah penyusutan dan pajak tidak langsung neto. d. Kuadran keempat memperlihatkan input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir. Informasi di kuadran keempat tidak terlalu banyak digunakan pada Tabel I-O, informasi secara rinci banyak disajikan dalam Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Analisis SWOT Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengembangan suatu usaha. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang 36 (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan yang dilakukan. Dengan demikian perencana strategis (strategic planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis dari daerah (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT, (Rangkuti, 2001). Matrik SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman ekstemal yang dihadapi oleh pemerintah daerah/perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Menurut Iskandarini (2002), proses penyusunan strategi dengan metode SWOT dilakukan melalui tiga tahap analisis, yaitu tahap masukan, tahap analisis dan tahap keputusan. Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. Keputusannya didasarkan atas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. Proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi sebagai berikut: Tabel 11 Kerangka analisis SWOT 1. Tahap Masukan Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal 2. Tahap Analisis/Pencocokan Matrik Matrik internal TOWS Faktor eksternal 3. Tahap Pengambilan Keputusan Matrik perencanaan strategis kuantitatif (Quantitative Strategic Planning Matrik (QSPM) Sumber : Rangkuti, 2001 Menurut Umar (1999) dalam Utami (2008), tahap masukan atau tahap pengumpulan data, merupakan tahap klasifikasi dan pra analisis. Pada tahap ini data dibedakan menjadi dua, yaitu data sebagai faktor eksternal dan data sebagai faktor internal yang mempengaruhi strategi pengembangan wilayah. Data yang merupakan faktor ekternal diperoleh dengan melakukan analisis terhadap lingkungan seperti analisis pasar, analisis kebijakan pemerintah, analisis kompetitor, sedangkan analisis faktor internal meliputi analisis sosial, analisis 37 sumberdaya/modal dan analisis kegiatan operasional. Hasil analisis faktor ekternal dan internal ini selanjutnya dibuat sebagai suatu matrik, yaitu matrik faktor strategi eksternal (EFAS = External Factor Analysis Strategic) dan matrik faktor strategi internal (IFAS = Internal Factor Analysis Strategic). Langkah menentukan faktor strategi eksternal adalah sebagai berikut: 1. Menyusun 5 sampai dengan 10 hasil inventarisasi faktor peluang dan ancaman dalam kolom 1, (apabila hasil inventarisasi lebih dari 10, dilakukan skoring dan dipilih yang memiliki nilai 10 terbesar). 2. Memberikan bobot masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting) hasil dari kuesioner. 3. Menghitung rating untuk masing-masing faktor pada kolom 3, dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap pengembangan wilayah di Kota Metro. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating 4, tetapi jika peluangnya kecil diberikan rating 1). Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya. Ancaman yang sangat besar diberikan rating 1 dan bila nilai ancamannya kecil, maka nilai rating yang diberikan adalah 4. 4. Menghitung nilai faktor (skor) pembobotan, yaitu dengan mengalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh skor untuk semua critical succes factors. 5. Menjumlahkan skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi pengembangan wilayah di Kota Metro. Selanjutnya melakukan analisis faktor internal (IFAS) dengan cara yang sama, yaitu faktor kekuatan dan kelemahan Kota Metro dalam upaya pengembangan wilayah. Setelah matrik strategi faktor internal dan eksternal dibuat, langkah berikutnya adalah tahap pencocokan dengan matrik TOWS atau SWOT. Tabel 10 adalah matrik TOWS (SWOT) yang disusun berdasarkan hasil analisis faktor internal dan eksternal matrik SWOT. Dari hasil analisis faktor internal dan faktor eksternal, diperoleh 4 tipe strategi, yaitu Strategi SO, Strategi WO, Strategi ST dan Strategi WT. 38 1. SO strategies, menggunakan kekuatan internal untuk meraih dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. 2. WO strategies, strategi ini bertujuan untuk memperkecil kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang ada. 3. ST strategies, adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. 4. WT strategies, merupakan taktik untuk bertahan yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan internal serta menghindar dari ancaman-ancaman lingkungan. Tabel 12 Matrik TOWS (SWOT) IFAS STRENGTHS EFAS OPPORTUNITIES (O) Tentukan 5-10 faktor peluang internal THREATS (T) Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal Tentukan 5-10 faktor kekuatan internal WEAKNESSES (W) Tentukan 5-10 faktor kelemahan internal STRATEGI SO STRATEGI WO Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI ST STRATEGI WT Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Rangkuti, 2001 Tahap berikutnya adalah tahap pengambilan keputusan (decisions stage). Langkah ini adalah tahap terakhir dalam menentukan alternatif strategi terpilih yang mungkin dapat diimplementasikan. Teknik analisis yang dipakai adalah Quantitatif Strategic Planning Matrix (QSPM), yaitu teknik untuk menunjukkan strategi alternatif mana yang paling baik untuk dipilih. QSPM menggunakan input dari hasil analisis faktor internal dan eksternal serta hasil analisis tahap pencocokan dengan SWOT. QSPM digunakan untuk mengevaluasi pilihan strategi alternatif secara obyektif, berdasarkan faktor internal dan eksternal yang telah diidentifikasi sebelumnya. Adapun tahap pelaksanaan teknik analisis QSPM adalah sebagai berikut: 1. Membuat daftar external opportunities/threats dan internal strenghts/ 39 weakness di kolom sebelah kiri QSPM. Informasi ini diambil langsung dari EFAS dan IFAS matrix (analisis strategi faktor internal dan eksternal) dengan masing-masing jumlah faktor sesuai dengan matriknya, diletakkan pada kolom 1. 2. Memberikan nilai rating masing-masing faktor (nilai sama dengan EFAS dan IFAS matrik) yang diletakkan pada kolom 2. 3. Meneliti strategi yang telah dipilih dalam tahap pencocokan dengan SWOT dan identifikasi strategi yang dipertimbangkan pelaksanaannya. Letakkan strategi di bagian atas tabel QSPM. 4. Menetapkan Attractiveness Score (AS), yaitu sebuah angka yang menunjukkan relative attractiveness untuk masing-masing strategi yang terpilih. Dari masing-masing faktor ditentukan nilainya berdasarkan bagaimana perannya dalam proses pemilihan strategi. Setiap faktor memiliki AS yang menunjukkan relative attractiveness dari satu strategi dengan strategi lainnya. Batasan nilai AS adalah 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = secara logis menarik, 4 = sangat menarik. Jika peran dari suatu faktor kecil,maka hal ini menunjukkan bahwa respective faktor tersebut tidak memiliki peran pada pilihan spesifik yang sedang dibuat. AS diletakkan pada kolom 1 masing-masing strategi. 5. Menghitung Total Attractiveness Score (TAS). Total Attractiveness Score ini diperoleh dari hasil perkalian rating dengan AS masing-masing strategi dan diletakkan pada kolom 2 masing-masing strategi. Angka TAS menunjukkan relative attractiveness dari masing-masing strategi. 6. Menjumlahkan semua nilai Total Attractiveness Score (TAS) pada masing-masing kolom strategi tabel QSPM. Dari beberapa nilai TAS yang didapat, nilai TAS dari alternatif strategi terbesar menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan utama dan nilai TAS terkecil menjadi alternatif pilihan strategi yang akan dilaksanakan. Inventarisasi faktor internal dan eksternal serta pembobotan dilakukan melalui hasil analisis –analisis yang dilakukan sebelumnya dan pengamatan lapangan. 40 Tabel 13 Matrik tujuan, analisis, data yang dibentuk dan sumber data dalam penelitian Tujuan Mengevaluasi Kelas Kemampuan dan Kelas Kesesuaian Lahan Analisis Analisis SIG Overlay dengan Kriteria kesesuaian untuk kawasan pertanian dan permukiman Data yang dibentuk Peta Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Sumber data Peta Topografi, CH, Iklim, Tanah, Adminstrasi Mengetahui Hirarki Wilayah Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Analisis Skalogram dan Analisis proyeksi penduduk dengan kriteria SPM Hirarki Wilayah dan Pryeksi Penduduk dan Kebutuhan Fasilitas Umum Permukiman Data Podes Kota Metro Tahun 2006, Kota Metro Dalam Angka Tahun 2007 Mengetahui Sektor Unggulan di Kota Metro Analisis LQ Analisis SSA Analisis I-O Sektor Unggulan Tabel I-O Kota Metro Hasil Ras I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 Membuat strategi pengembangan wilayah Kota Metro Analisis SWOT Strategi Pengembangan dan Peta Arahan Pengembangan wilayah Kota Metro Peta Kesesuaian Lahan Peta Penggunaan Lahan Hirarki Wilayah Sektor Unggulan 41 Evaluasi sumberdaya lahan : - Peta Tanah - Peta CH - Peta Lereng - Peta Adm Identifikasi hirarki wilayah, Proyeksi Penduduk dan SPM Identifikasi Sektor Unggulan Overlay Satuan Lahan (Land Units) Analisis Skalogram dan Jml Pddk Kriteria Kesesuaian Lahan (Land Requirements) Analisis LQ Analisis SSA Analisi Tabel I-O Matching Peta Kawasan Pertanian Peta Kawasan Permukiman (Perumahan, Bangunan, Jalan) Hirarki Wilayah dan Proyeksi Penduduk dan SPM Analisis SWOT dan Analisis QSPM Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Gambar 5 Kerangka analisis Sektor Unggulan KEADAAN UMUM WILAYAH KOTA METRO Kondisi Fisik dan Administrasi Wilayah Secara geografis, Kota Metro terletak pada kedudukan Timur-Barat antara 105 15’ sampai 105o20’ Bujur Timur dan Utara-Selatan 5o5’ - 5o10’ Lintang o Selatan dan Kota Metro merupakan wilayah Provinsi Lampung. Secara administratif Kota Metro mempunyai perbatasan sebagai berikut: a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur. c. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur. d. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 25 tahun 2000 tentang pemekaran kelurahan dan kecamatan di Kota Metro, maka pemerintahan terdiri dari 5 kecamatan yang meliputi 22 kelurahan. Luas wilayah Kota Metro sekitar 68,74 km2 atau 6.874 Ha dengan topografi wilayah berupa daerah daratan aluvial. Sedangkan ketinggian tempat Kota Metro berkisar antara 25–75 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 0–15%. Fisiografi Berdasarkan fisiografinya, bentang wilayah Kota Metro termasuk grup dataran tuf masam. Bentang alam wilayah ini dapat dikelompokkan kedalam bentuk wilayah datar, dengan kemiringan lereng 0–3% mencakup luasan kurang lebih 10% luas lahan dan berombak dengan kemiringan lereng 3–8% seluas kurang lebih 80% dari luas lahan dan 8–15% seluas kurang lebih 10% dari luas lahan. Geologi Secara geologi wilayah Kota Metro berada pada formasi tuf Lampung dan diperkirakan berumur Kuarter, berkomposisi lempung bertuf dan batu pasir. Tuf kasar mengandung ortoklas, mikrlin, biotit, kuarsa dan plagioklas yang bercampur 43 dengan fragmen granit dan genesis, sedangkan tuf halus berkomposisi batu apung, feldspar dan kuarsa. Iklim Arah angin Kota Metro beriklim tropis-humid angin laut yang bertiup dari Samudra Indonesia dengan arah angin setiap tahunnya, yaitu: (1) pada bulan NovemberMaret angin bertiup dari arah barat dan barat laut, (2) pada bulan Juli-Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Kecepatan angin rata-rata 5,83 km/jam. Curah Hujan Curah hujan wilayah Kota Metro berkisar antara 1.580–3.721 mm/tahun, dengan bulan basah 5–7 bulan per tahun. Temperatur udara rata-rata berkisar antara 26–28 oC, temperatur maksimum adalah 33 oC dan minimum 22 oC. Ratarata kelembaban udara sekitar 80–88%. Tabel 14 Banyaknya curah hujan dan hari hujan di Kota Metro Tahun 2001 2002 2003 2004 CH HH CH HH CH HH CH HH Januari 373 25 458 13 240 13 474 20 Februari 204 20 131 17 208 15 460 19 Maret 169 20 392 15 233 14 352 15 April 74 11 191 14 251 12 115 12 Mei 108 13 39 4 129 7 299 10 Juni 90 10 47 6 48 4 185 4 Juli 15 6 3 10 26 3 169 10 Agustus 90 6 20 3 23 1 16 3 September 182 16 187 5 5 2 Oktober 85 14 126 11 89 8 Nopember 268 17 271 11 107 12 198 14 Desember 20 368 21 170 11 345 17 152 Jumlah 1.810 178 1.920 114 1.748 108 2.707 134 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Bulan 2005 CH HH 398 19 685 13 490 17 222 11 808 11 213 8 119 7 161 8 141 6 223 10 110 10 151 10 3.721 130 2006 CH HH 352 12 120 7 398 14 39 4 120 8 53 5 50 3 95 3 75 4 278 13 1.580 73 44 Gambar 6 Peta administrasi Kota Metro 45 Kondisi Demografi Jumlah dan Kepadatan Penduduk Penduduk Kota Metro pada tahun 2006 berjumlah 130.348 jiwa, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,71% per tahun sejak tahun 2001. Penyebaran penduduk di Kota Metro pada tahun 2006 sebagian besar terkonsentrasi di kecamatan Metro Pusat dan Kecamatan Metro Timur. Rata-rata kepadatan penduduk Kota Metro sebesar 1.896 jiwa/km2, dengan kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Metro Pusat, seperti terlihat pada Tabel 15. Tabel 15 Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Jumlah (1) Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Jumlah (2) Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Jumlah (3) Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Jumlah (4) Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Jumlah (5) Total (1+2+3+4+5) Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas (Ha) Jumlah Lingkungan 196 119 337 150 337 1 139 9 6 6 9 5 35 295 242 288 303 1.128 6 5 4 5 9 5.560 7.115 5.082 2.500 20.257 1.885 2.940 1.765 825 221 122 336 376 155 1.210 8 4 9 5 4 30 9.078 7.803 5.943 2.496 4.404 29.724 4.108 6.396 1.887 741 2.841 246 475 287 425 1.433 6 7 6 4 23 3.167 3.935 2.321 2.901 12.324 1.287 828 809 683 772 362 255 575 1.964 6.874 11 4 7 9 31 128 6.285 2.193 4.343 8.605 21.426 130.348 814 606 1.703 1.497 14.456 7.540 6.788 11.354 6.479 46.617 Kepadatan (Jiwa/Km2) 7.376 6.336 2.014 7.569 1.923 46 Struktur Umur Penduduk Komposisi penduduk Kota Metro berdasarkan struktur umur dibedakan atas usia produktif (16-60 tahun) dan usia tidak produktif (0-15 tahun dan 60 tahun). Pada tahun 2006 jumlah penduduk usia produktif di Kota Metro sebesar 85.312 jiwa atau 65,45% dari jumlah penduduk, sedangkan usia tidak produktif berjumlah 45.034 jiwa atau 34,54%. Tabel 16 Penduduk Kota Metro Tahun 2006 berdasarkan kelompok umur Kelompok Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah Penduduk Laki-laki (jiwa) 6.313 6.139 6.452 7.438 6.053 6.567 5.840 5.236 4.305 3.353 2.405 1.630 1.455 953 781 756 75.375 Perempuan (jiwa) 5.987 5.925 6.400 7.685 6.599 6.955 5.841 5.080 3.792 2.987 2.032 1.514 1.413 990 702 769 76.668 Jumlah total (jiwa) % dari Total 12.300 12.063 12.852 15.124 12.652 13.521 11.681 10.316 8.097 6.340 4.437 3.144 2.868 1.943 1.483 1.525 130.348 0,09 0,09 0,10 0,12 0,10 0,10 0,09 0,08 0,06 0,05 0,03 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 100 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Mata Pencaharian Penduduk Mata Pencaharian Perduduk Kota Metro pada tahun 2006 sebagian besar adalah pada sektor jasa (28,56%), sektor perdagangan (28,18%), sektor pertanian (23,97%) dan selanjutnya sektor transportasi & komunikasi (9,84%), dan sektor konstruksi (5,63%). Komposisi mata pencaharian penduduk di Kota Metro pada tahun 2006 tergambar sebagai berikut: 47 Sumber: Selayang Pandang Kota Metro, 2007 Gambar 7 Persentase jumlah penduduk berdasarkan lapangan pekerjaan Data jumlah penduduk Tahun 1995-1997 sangat besar, karena pada saat itu Metro masih dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Sejak Tahun 1999 Metro berdiri sendiri menjadi daerah otonom kotamadya. Pada Tahun 2006 penduduk Kota Metro sudah mencapai 130.348 jiwa. Dari total tersebut sebanyak 65.676 jiwa adalah laki-laki dan selebihnya yaitu 64.672 jiwa adalah wanita. Pada Tabel 17 menunjukkan perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di daerah penelitian. Tabel 17 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di Kota Metro Tahun 1995 – 2006 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Laki-Laki 987.744 1.001.270 1.011.176 58.036 58.458 59.680 60.347 60.961 61.589 62.244 64.666 65.676 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Perempuan 955.170 963.887 964.377 57.013 57.331 58.768 59.424 60.133 60.819 61.496 63.677 64.672 Jumlah 1.942.934 1.965.157 1.975.553 115.049 115.789 118.448 119.771 121.094 122.417 123.740 128.343 130.348 48 Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah Jaringan Transportasi Jaringan transportasi di Kota Metro pada dasarnya digunakan untuk memperlancar arus distribusi barang dan jasa, mengembangkan kegiatan ekonomi, meningkatkan aktivitas pelayanan masyarakat, meningkatkan mobilitas penduduk ke seluruh wilayah kota, serta membuka isolasi daerah pinggiran dan sentra-sentra produksi pertanian di daerah pinggiran kota (urban fringe). Sistem jaringan jalan di Kota Metro, merupakan bagian dari jaringan jalan propinsi dan Nasional. Jalan Jenderal Sudirman–Abdul Haris Nasution, merupakan bagian dari jalan negara (nasional) sebagai jalan arteri primer yang menghubungkan Bandar Lampung-Tegineneng-Metro-Sukadana. Sedangkan Jalan Pahlawan–Jalan Jawa–Jalan Imam Bonjol, merupakan jalan provinsi yang diklasifikasikan sebagai jalan kolektor primer yang menghubungkan Kota Metro dengan Kota Gajah dan Gaya Baru, Kabupaten Lampung Tengah. Adapun panjang dan status jalan di Kota Metro dapat dlihat pada Tabel 18. Tabel 18 Panjang dan status jalan di Kota Metro Status Jalan Jalan Negara Jalan Propinsi Jalan Kabupaten/Kota:  Jalan Hotmix  Jalan Aspal  Jalan Batu/Onderlag  Jalan Tanah Jumlah Panjang (km) 5,74 21,90 72,62 127,12 192,60 14,36 434,34 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Jaringan jalan utama Kota Metro mengarah dan berpusat pada satu titik yaitu pusat kota (pola radial). Konsekuensinya adalah seluruh arus lalu lintas baik lokal maupun regional harus melalui pusat kota, sehingga dapat terjadi kelebihan beban pada jalan menuju pusat kota. Dapat pula terjadi kesenjangan perkembangan wilayah pada bagian yang berada di pinggiran kota (urban fringe), khususnya yang tidak dilalui oleh jalan utama menuju pusat kota. Sarana angkutan di Kota Metro terdiri dari jenis transportasi darat yang berupa kendaraan roda empat, roda dua (ojek) dan becak. Sistem pelayanan 49 angkutan umum kota Metro meliputi: angkutan kota (angkot) yang melayani transportasi dalam Kota Metro dan wilayah sekitarnya, angkutan antar kota dalam propinsi, dan angkutan luar kota antar propinsi. Sarana angkutan kota pada saat ini belum mampu melayani seluruh wilayah kota. Beberapa bagian wilayah kota yang belum terjangkau trayek angkutan kota adalah sebagian wilayah Kecamatan Metro Timur dan Metro Selatan, yaitu: Kelurahan Tejosari, Karangrejo, Margodadi, Sumbersari, dan Rejomulyo. Sarana Pendidikan Untuk mendukung visi Kota Metro sebagai kota pendidikan maka berbagai program peningkatan fasilitas telah dilakukan. Dengan sarana pendidikan yang lengkap serta didukung oleh suasana kota yang tenang dan tentram akan meningkatkan daya tarik pelajar dari luar daerah untuk menuntut ilmu di Kota Metro. Tabel 19 menunjukkan jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro. Tabel 19 Sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro Jenis Sekolah SD Negeri SD Swasta SLTP Negeri SLTP Swasta SMU Negeri SMU Swasta SMK Negeri SMK Swasta Perguruan Tinggi Jumlah Jumlah (Unit) 50 13 9 20 5 15 3 12 10 137 Jumlah Kelas (Ruang) 448 142 151 129 99 142 42 86 127 1.366 Sumber : BPS Kota Metro, 2007 Sarana Kesehatan Semakin tinggi tingkat kesehatan mencermikan semakin tinggi tingkat pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Keberadaan sarana dan prasarana kesehatan sebenarnya ditujukan untuk mewujudkan program tersebut. Pada Tabel 20 berikut disajikan jumlah fasilitas kesehatan per kecamatan di Kota Metro. 50 Tabel 20 Jumlah sarana kesehatan per kecamatan di Kota Metro Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Rumah Bersalin Balai Pengobatan Metro Pusat Metro Selatan Metro Utara Metro Barat Metro Timur Jumlah 1 1 1 3 2 1 2 2 1 8 1 1 2 1 2 7 3 1 3 7 3 1 1 5 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Sarana Peribadatan Pembangunan bidang keagamaan memegang peranan penting sebagai landasan moral, etika, spiritual dan akhlak masyarakat. Masyarakat yang berkualitas juga ditentukan dengan adanya keseimbangan antara segi intelektual dan segi keimanan. Kehidupan beragama di Kota Metro berjalan dengan tentram dilandasi rasa toleransi yang tinggi. Berikut ini data jumlah tempat peribadatan yang ada di Kota Metro (Tabel 20). Tabel 21 Jumlah tempat peribadatan per kecamatan di Kota Metro Tahun 2007 Kecamatan Masjid Metro Pusat Metro Utara Metro Barat Metro Timur Metro Selatan Jumlah 41 19 24 23 15 122 Mushala 51 35 26 32 32 176 Gereja Pura Vihara 9 2 2 2 15 2 1 2 5 4 1 1 6 Sumber: Selayang pandang Kota Metro, 2007 Kondisi Lahan Bentang wilayah kota Metro termasuk grup dataran tuf masam. Bentang alam wilayah ini dapat dikelompokkan kedalam bentuk wilayah datar, dengan kemiringan lereng 0–2%. Wilayah datar tersebut mencakup luasan kurang lebih 80% dari luas lahan, sedangkan wilayah dengan topografi berombak dengan kemiringan lereng 3–8% mencakup 10% dari luas lahan. Sebagian besar wilayah Kota Metro merupakan kawasan persawahan irigasi teknis, terutama di wilayah begian utara dan selatan kota. Adanya saluran yang melintas di wilayah tersebut sangat membantu masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani. 51 Kota Metro mempunyai satuan lahan kode Idq 3.1. (Tabel 22) mempunyai deskripsi tektur tanah agak halus, kedalaman jeluk sangat dalam, drainase baik sampai buruk, K dapat ditukar rendah sampai sangat rendah, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan aluminium sedang sampai rendah, dan kemasaman pH tanah sangat masam. Bahan induknya adalah tuf masam (Dai et al, 1989). Tabel 22 Deskripsi satuan lahan Kota Metro Unsur Satuan Lahan Jenis Tanah Ultisol (Kanhapludult) Fisiografi Lereng Bahan Induk Deskripsi Satuan Lahan (Idq.3.1.)  Tekstur agak halus, kedalaman sangat dalam, drainase baik sampai agak buruk, Kdd agak rendah sampai sangat rendah  P tersedia rendah sampai sangat rendah  KTK rendah sampai sangat rendah  Kejenuhan Al sedang sampai sangat rendah  Reaksi tanah masam-sangat masam Dataran tuf masam, berombak agak tertoreh 3–8% Tuf masam, batuan sedimen masam, kasar Sumber: Puslitanak Bogor,1989 Karakteristik satuan lahan (Tabel 23) wilayah Kota Metro mempunyai drainase baik, ketersediaan air cukup, rata-rata temperatur 26–28 oC, dengan curah hujan rata-rata diatas 2000 mm, bulan kering 2–3 bulan, dan kelembaban udara 80–88%. Hal tersebut menunjukkan Metro dan sekitarnya mempunyai potensi yang cukup baik bagi pertanian. Sifat Tanah Dilihat dari sifat fisik dan kimia tanah berdasarkan Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumetera skala 1:250.000 (PPT, 1989) maka Kota Metro mempunyai karakteristik sifat fisik dan kimia tanah yang berbeda atas dasar kedalaman tanah. Pada kedalaman lapisan olah tanah (0–20 cm) kandungan tekstur terdiri dari pasir 66%, debu 11%, dan liat 23%. Semakin kedalam kandungan liat semakin tinggi, sedangkan kandungan pasir semakin rendah. Dilihat sifat kimianya pada lapisan olah tanah maka pH H 2O 4,9–5,4 kadar C 0,25–1,57%, kadar N 0,02–0,14%, C/N rasio 11,2 KTK 6,4 dan kejenuhan basa 48% (Tabel 23). 52 Tabel 23 Karakteristik satuan lahan wilayah Kota Metro Unsur Satuan Lahan Temperatur (tc): -Temperatur rata-rata Karakteristik Satuan Lahan (Idq 3.1) Ketersediaan air (wa): -Curah hujan -Bulan kering -Kelembaban Ketersediaan Oksigen (oa) -Drainase Media Perakaran (rc): -Tekstur -Bahan kasar -Kedalaman tanah 26–28oC 2.264–3.868 mm 2–3 bulan 80-88% Baik Agak halus, halus < 15% >120 cm Retensi Hara (nr): -KTK liat -Kejenuhan basa -pH H2O -C organik 16,97 mol/kg 33,3% 5,08 0,73 Toksisitas (xc): -Salinitas (ds m-1) 0 Saliditas (xn): -Alkalinitas (ESP) 1,1% Bahaya Sulfidik (xs): -Kedalaman sulfidik (cm) 0 (tak ada pirit) Bahaya erosi (eh) -Lereng -Bahaya erosi 3–8% Sedang Bahaya Banjir (fh) -Genangan 0 Penyiapan Lahan (lp) -Batuan di permukaan -Singkapan Batuan < 5% < 5% Sumber: Puslitanak, 1989 Atas dasar hasil identifikasi dan karateristik serta sifat fisika dan kimia tanah pada satuan lahan, maka selanjutnya dapat diklasifikasikan kesesuaian lahan wilayah Kota Metro menurut jenis dan komoditas pertanian yang sesuai bagi penggunaan lahan. Penggunaan Lahan yang sesuai terutama untuk pengusahaan komoditas tanaman pangan (padi dan palawija), sayuran, buah-buahan, dan tanaman rempah-rempah (Puslitanak, 1989). 53 Tabel 24 Sifat fisik dan kimia tanah di Kota Metro Unsur Sifat Fisik dan Kimia Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2O Kadar C (%) (Walkey & Beach) Kadar N (%) (Kjeldahl) C/N rasio Unsur Ca mikro Mg (1 N K NH4OAc Na pH7) KTK c mol/kg KTK Liat (c mol/kg) Kejenuhan Basa (%) 0-20 66 11 23 5,1 1,57 Kedalaman Tanah (cm) 20–32 32–56 56–80 51 45 36 7 7 9 42 48 55 5,4 5,1 4,9 0,64 0,4 0,39 80-125 34 13 53 4,9 0,24 0,14 11,2 2,3 0,6 0,1 0,1 6,4 0,06 10,7 2,2 0,9 0,1 0,1 5,9 0,06 6,7 1,3 0,5 0,1 0,1 6,5 0,05 7,8 0,5 0,4 0,1 0,1 7,1 0,02 12 0,7 0,5 0,1 0,1 9,1 27,8 48 14 54 13,5 31 12,9 13 17,2 14 Sumber: Puslitanak, 1989 Potensi Pengairan Potensi pengairan berasal dari jaringan irigasi teknis yang mengairi sawah di Kota Metro dengan menginduk kepada Bendungan Argoguruh yang terletak di jalur sungai Way Sekampung Kecamatan Tegineneng Lampung Selatan. Air yang berasal dari Bendungan Argoguruh dialirkan melalui saluran Kanal I ke arah timur laut sejauh 21 km menuju Kota Metro. Kanal I ini mengairi 2 buah daerah irigasi yaitu: (1) daerah irigasi Sekampung Batanghari, dengan wilayah irigasi Kecamatan Metro Selatan, Metro Timur dan Metro Barat, dan (2) daerah irigasi Sekampung Bunut, dengan wilayah irigasi Kecamatan Metro Barat, Metro Pusat, Metro Timur, dan Metro Utara. Secara terperinci, panjang saluran irigasi pada masing-masing daerah irigasi tersaji pada Tabel 25 berikut: 54 Tabel 25 Dimensi saluran irigasi Kota Metro Jenis Saluran Saluran Induk Saluran Sekunder Saluran Sub Sekunder Saluran Tersier Saluran Kuarter Saluran Pembuangan Panjang (m) Daerah Irigasi Daerah Irigasi Sekampung Batanghari Sekampung Bunut 8.795 11.660 11.925 6.700 4.525 54.350 99.672 92.890 115.174 19.075 5.700 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Sungai yang terdapat di Kota Metro merupakan bagian sungai yang mempunyai hulu dan muara di kabupaten lainnya. Di Kota Metro terdapat empat sungai seperti yang tertera pada Tabel 26. Tabel 26 Panjang sungai di Kota Metro Nama Sungai Way Sekampung Way Raman Way Bunut Way Batanghari Panjang (km) 7 12 12 4 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Potensi Pertanian Sektor Tanaman Pangan Kota Metro sebagian besar masyarakatnya bergerak pada sektor jasa dan pertanian dan daerah Kota Metro memiliki 5 kecamatan meliputi: Kecamatan Metro Pusat, Metro Utara, Metro Timur, Metro Barat dan Metro Selatan. Masingmasing kecamatan di Kota Metro memiliki keunggulan lokal spesifik komoditas pertanian yang berbeda, yaitu komoditas pertanian lahan basah dan lahan kering baik pada sektor pangan, sub sektor peternakan dan sub sektor perikanan. 55 Tabel 27 Potensi lahan sawah dan lahan kering di wilayah Kota Metro Jenis lahan Irigasi 2x tnm Irigasi 1x tnm Tegalan Pekarangan Ladang/Huma Padang Rumput Metro Pusat 191 35 97,25 496,62 - Metro Utara 573 115 107 925,43 - Kecamatan (Ha) Metro Metro Timur Barat 451 439 42 39,14 11 523,46 579,75 - Metro Selatan 685 39 32,90 489,80 6 11,50 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Tabel 28 Data produksi padi dan palawija Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Jumlah (1) Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Jumlah (2) Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Jumlah (3) Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Jumlah (4) Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Jumlah (5) Total (1+2+3+4+5) Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Produksi (Ton) Padi Jagung Ubi Kayu 1.581 144 5.292 780 4.345 12.142 177 6.175 310 2.080 8742 30 9 60 99 1.165,8 410,4 672,6 2.256 4.504,8 22 40,7 98,8 7,6 20.257 56,4 9,2 9,3 9,2 84,1 97,2 47,7 739,2 2.512,2 583,2 3.979,5 57,6 17,5 363,4 438,5 80 231 18 18 347 208,1 1.110,2 832,1 1.071,2 3.221,57 840 779 1.740 8.900 3.398 440 360 546 420 860 2.868 1.254 759 2.639 7.520 31.367,87 480 270 72 300 1.122 13.896,6 840 90 60 60 1.050 3.346,1 56 Memperhatikan Tabel 28 menunjukkan bahwa pada Tahun 2006 Kecamatan Metro Pusat dan Metro Utara merupakan sentra produksi padi utama. Padi didaerah ini sebagian besar diusahakan pada lahan sawah irigasi dua kali tanam dalam setahun. Potensi luas lahan sawah irigasi dua kali tanam setahun berturut-turut seluas 191 Ha di Kecamatan Metro Pusat dan 573 Ha di Kecamatan Metro Utara. Sektor Peternakan Adapun jenis ternak yang potensial untuk dikembangkan di Kota Metro meliputi ternak ruminansia besar (Sapi, Kerbau) dan ternak ruminansia kecil (Kambing, Domba, Babi), serta ternak unggas. Sebagai gambaran maka populasi ternak ruminansia besar pada tahun 2006 berupa Sapi Potong berjumlah 2.135 ekor dan Kerbau sebanyak 1.031 ekor (Tabel 29). Tabel 29 Populasi ternak ruminansia besar Kota Metro Tahun 2006 Jenis Ternak Sapi Potong -Pejantan -Betina Sub jumlah Sapi Perah -Pejantan -Betina Sub jumlah Kerbau -Pejantan -Betina Sub jumlah Metro Pusat Kecamatan (ekor) Metro Metro Metro Utara Timur Barat Metro Selatan Jumlah 153 117 270 220 501 721 127 258 385 15 31 46 209 504 713 724 1.411 2.135 0 0 0 13 50 63 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 50 63 42 35 77 64 110 174 50 150 200 23 46 69 49 462 511 228 803 1.031 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Untuk populasi ternak ruminansia kecil pada tahun yang sama adalah sebagai berikut Kambing Rambon 7.034 ekor, Kambing Peranakan Etawah (PE) 745 ekor, Domba 4.229 ekor (Tabel 30). 57 Tabel 30 Populasi ternak ruminansia kecil Kota Metro Tahun 2006 Jenis Ternak Kambing Rambon -Pejantan -Betina Sub jumlah Kambing PE -Pejantan -Betina Sub jumlah Domba -Pejantan -Betina Sub jumlah Metro Pusat Kecamatan (ekor) Metro Metro Metro Utara Timur Barat Metro Selatan Jumlah 2.027 1.161 3.188 210 531 741 599 831 1.430 217 282 499 397 779 1.176 3.450 3.584 7.034 142 191 333 18 22 40 22 12 34 96 127 223 55 115 121 338 407 745 1.529 589 2.118 186 383 569 183 255 438 230 310 540 121 443 564 2.249 1.980 4.229 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Potensi Industri Perkembangan industri di Kota Metro cukup pesat khususnya industri kecil dan rumah tangga. Jumlah unit usaha dan pertumbuhan di Kota Metro disajikan pada Tabel 31. Tabel 31 Keadaan industri kecil, tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi di Kota Metro Tahun 2000 2001 2002 2003 2004* 2005 2006* Unit usaha Jumlah Growth (buah) (%) 619 638 687 758 894 1.093 995 12,46 3,07 7,68 10,33 17,94 22,26 - 8,97 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 *) Data Diperbaiki Tenaga Kerja Jumlah Growth (orang) (%) 1.857 1.914 2.189 2.729 2.470 2.489 2.139 9,73 3,07 14,37 24,67 - 9,49 0,77 - 14,06 Investasi Jumlah Growth (juta Rp) (%) 3.619 5.473 5.813 6.723 7.107 9.237 0 9,04 51,23 6,21 3,51 5,71 29,97 - 100 Produksi Jumlah Growth (juta Rp) (%) 9.285 9.570 10.209 19.100 22 24,20 0 8,01 3,07 6,68 87,09 10,00 - 100 HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan Sistem klasifikasi kemampuan lahan mengacu pada sistem yang digunakan Amerika Serikat (United States Departement of Agriculture). Pengelompokan kelas kemampuan lahan dalam sistem tersebut dilakukan secara kualitatif dan merupakan pendekatan pertama dari pendekatan dua tahap menurut FAO (1976). Sistem ini mengenal tiga kategori, yaitu kelas, sub-kelas dan unit. Penggolongan kedalam kelas, sub-kelas dan unit didasarkan atas kemampuan lahan tersebut memproduksi komoditas pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Dalam sistem ini sifat kimia tanah tidak digunakan sebagai pembeda karena sifat kimia tanah sangat mudah berubah, sehingga kurang relevan untuk digunakan. Sifat-sifat tanah/lahan yang digunakan sebagai pembeda hanyalah sifat-sifat fisik/morfologi tanah yang dapat dapat diamati di lapangan (Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Dalam tingkat kelas, kemampuan lahan menunjukkan kesamaan besarnya faktor-faktor penghambat. Tanah dikelompokkan kedalam kelas I sampai kelas VIII, dimana semakin tinggi kelasnya kualitas lahan semakin jelek, berarti resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah dan pilihan penggunaan lahan yang dapat diterapkan semakin terbatas. Tanah kelas I sampai dengan IV merupakan lahan yang sesuai untuk pertanian. Sedangkan kelas V sampai VIII tidak sesuai dengan usaha pertanian atau diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk pengelolaannya (Tabel 6). 59 Tabel 32 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan Faktor Tekstur tanah (t) a. Lapisan atas (4 cm) b. Lapisan bawah Lereng permukaan (%) Drainase Kedalaman efektif Keadaan erosi Kerikil/batuan Banjir Kelas Kemampuan III IV V I II t2/t3 t2/t4 i0 d0/d1 k0 e0 b0 O0 t1/t4 t1/t4 i1 d2 k0 e1 b0 O1 t1/t4 t1/t4 i2 d3 k1 e1 b0 O2 (*) (*) i3 d4 k2 e2 b1 O3 (*) (*) (*) (*)(*) (*) (*) b2 O4 VI VII VIII (*) (*) i4 (*) k3 e3 (*) (*) (*) (*) i5 (*) (*) e4 (*) (*) t5 t5 i6 (*) (*) (*) b3 (*) Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 (*) : dapat mempunyai sembarang sifat faktor penghambat dari kelas lebih rendah (**) : permukaan tanah selalu tergenang air Karakteristik lahan dalam klasifikasi kemampuan lahan merupakan faktorfaktor penghambat yang bersifat permanen atau sulit diubah seperti tekstur tanah, lereng permukaan, drainase, kedalaman efektif tanah, tingkat erosi yang terjadi, liat masam (cat clay), batuan di permukaan tanah, ancaman banjir atau genangan air yang tetap dan iklim. Faktor-faktor tersebut digolongkan berdasarkan besarnya intensitas faktor penghambat atau ancaman (Arsyad dalam Hardjowigeno, 2007). Beberapa faktor yang menentukan kelas kemampuan lahan menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka, (2007) adalah: Tekstur (t) t1 : halus : liat berdebu, liat t2 : agak halus : liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir t3 : sedang : debu, lempung berdebu, lempung t4 : agak kasar : lempung berpasir t5 : kasar : pasir berlempung, pasir Kedalaman efektif (k) K0 : dalam : > 90 cm K1 : sedang : 90 – 50 cm K2 : dangkal : 50 – 25 cm K3 : sangat dangkal : < 25 cm 60 Lereng permukaan (i) I0(A) :0–3% : datar I0(B) :3–8% : landai/berombak I0(C) : 8 – 15 % : agak miring/bergelombang I0(D) : 15 – 30 % : miring berbukit I0(E) : 30 – 45 % : agak curam I0(F) : 45 – 65 % : curam I0(G) > 65 % : sangat curam Analisis kemampuan lahan di Kota Metro, diperoleh dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan beberapa kriteria kemampuan lahan yang terdapat pada Tabel 30. Beberapa peta yang digunakan bersumber dari Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumatera skala 1:250.000 (PPT, 1989), Peta RBI Kota Metro skala 1:50.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Adminstrasi Kota Metro skala 1:75.000 (Bappeda, 2001), Peta Kelerengan Kota Metro skala 1:100.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Banjir Kota Metro skala 1:100.000 (PPT, 1983). Beberapa peta tersebut ditumpang tindih (overlay) untuk membuat satuan lahan di Kota Metro. Setelah didapatkan satuan lahan maka langkah selanjutnya memasukan kriteria kemampuan lahan untuk membuat kelas kemampuan lahan di Kota Metro. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu (Tabel 32). Pada Lahan Kelas I tidak mempunyai faktor pembatas yang dapat menurunkan kelasnya dalam kriteria klasifikasi kemampuan lahan. Lahan kelas III di Kota Metro mempunyai faktor pembatas lereng (i2) (8–15% = agak miring bergelombang) dan Kedalaman efektif (k1) (sedang: 90–50 cm). Lahan kelas IV mempunyai faktor pembatas Kedalaman efektif (k2) (dangkal: 50–25 cm). Secara 61 umum di Kota Metro mempunyai karakteristik lahan sebagai faktor pembatas adalah Kelerangan, Tekstur dan Kedalaman efektif tanah. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) lahan yang berada pada Kelas I berarti lahan tersebut sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan yang khusus. Lahannya datar, solumnya dalam, bertekstur agak halus atau sedang dan responsif terhadap pemupukan sehingga penggunaan sesuai untuk pertanian sangat intensif. Di Kota Metro terdapat lahan kelas I seluas 1.101 Ha, hal tersebut menunjukkan bahwa 15,5% lahan yang ada di Kota Metro sangat mempunyai kemampuan dalam pertanian sangat intensif. Lahan kelas II mempunyai faktor pembatas sehingga kelas kemampuan lahannya turun, tetapi masih dapat digunakan untuk pertanian intensif. Faktor pembatas yang ada dapat diperbaiki sesuai tingkat pembatasnya. Pengawetan tanah yang tingkatnya sedang, pengolahan sesuai kontur, pergiliran tanaman, pembuatan guludan merupakan usaha untuk mengantisipasi faktorfaktor pembatas. Terdapat lahan seluas 5.160 Ha (kelas II) di Kota Metro atau 73% dari luas wilayah yang dapat digunakan untuk pertanian intensif dengan melakukan usaha-usaha untuk mengantisipasi faktor pembatas yang ada. Lahan kelas III mempunyai faktor penghambat yang agak berat yang mengurangi jenis tanaman yang dapat diusahakan, atau memerlukan usaha pengawetan tanah yang khusus atau kedua-duanya. Tetapi lahan ini masih mampu diusahakan untuk pertanian dengan tingkat sedang. Terdapat lahan seluas 0,029 Ha di Kota Metro yang termasuk dalam kelas tersebut. Lahan kelas IV mempunyai penghambat berat yang membatasi pilihan tanaman yang dapat diusahakan, memerlukan pengelolaan yang sangat berhatihati, atau kedua-duanya. Penggunaan lahan kelas IV sangat terbatas karena salah satu atau kombinasi dari penghambat berikut: (a) lereng curam, (b) kepekaan erosi besar, (c) erosi yang telah terjadi berat, (d) tanah dangkal, (e) daya menahan air rendah dan sebagainya (Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Di Kota Metro terdapat lahan seluas 815 Ha atau 11,5% dari luas wilayah yang termasuk dalam kelas IV dengan faktor pembatas kedalaman efektif tanah yang dangkal. Oleh sebab itu lahan tersebut mempunyai kemampuan untuk komoditas tanaman pertanian tertentu saja. 62 Tabel 33 Kelas kemampuan lahan di Kota Metro Kemampuan Lahan Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Luas (Ha) 1.101 5.160 0,029 815 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 8 Peta kelas kemampuan lahan Persentase (%) 15,5 73,0 0,041 11,5 63 Pada Peta kelas kemampuan lahan di Kota Metro diketahui bahwa sebagian besar kelurahan termasuk dalam kemampuan lahan kelas II (pertanian intensif) seperti Kelurahan Mulyojati, Ganjar Agung, Purwosari, Hadimulyo Timur dan seterusnya dimana tingkat kepadatan penduduk di beberapa kelurahan tersebut termasuk cukup padat. Pada lahan kelas I (pertanian sangat intensif) berada di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul mempunyai tingkat kepadatan pendududuk yang rendah yaitu: 828 Jiwa/Km2 dan 683 Jiwa/Km2. Sedangkan kelurahan yang berada pada kemampuan lahan kelas IV (pertanian terbatas) termasuk pada kelurahan yang mempunyai tingkat kepadatan tinggi yaitu: Kelurahan Imopuro (6.336 Jiwa/Km2), Kelurahan Yosorejo (6.396 Jiwa/Km2). Adapun secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34 Tingkat kepadatan penduduk dan kelas kemampuan lahan di Kota Metro Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Rata-rata Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Rata-rata Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Rata-rata Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Rata-rata Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Rata-rata Kepadatan (Jiwa/Km2) Kemampuan Lahan 7.376 6.336 2.014 7.569 1.923 5.044 Kelas IV & II Kelas IV & II Kelas II Kelas II Kelas IV 1.885 2.940 1.765 825 1.854 Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II 4.108 6.396 1.887 741 2.841 3.195 Kelas II & IV Kelas IV Kelas IV & III Kelas II & I Kelas II 1.287 828 809 683 722 Kelas II Kelas I & II Kelas II Kelas I & II 814 606 1.703 1.497 1.155 Kelas II & I Kelas II & I Kelas II Kelas II & I 64 Identifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Prosedur penilaian kesesuaian lahan dilakukan dengan pendekatan satuan lahan yang dikemukakan FAO (1976). Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan tertentu. Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk tanaman pertanian padi, jagung serta kesesuaian lahan untuk peternakan, permukiman dan jalan. Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman pertanian padi, jagung ditentukan oleh karakteristik lahan, meliputi: temperatur (t), ketersediaan air (wa), ketersediaan oksigen (oa), media perakaran (rc), retensi hara (nr), toksisitas (xc), sodisitas (xn), bahaya sulfidik (xs), bahaya banjir (fh), dan bahaya erosi (eh). Kriteria penilaian kesesuaian lahan untuk masing-masing tanaman mengacu kepada Kriteria Kesesuaian Lahan (LREP II, 1994 dalam Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Menurut konsep dasar kerangka evaluasi lahan (FAO, 1976) sesuai dengan tujuannya kesesuaian lahan dibedakan atas kesesuaian lahan secara fisik (kualitatif) dan kesesuaian lahan secara ekonomik (kuantitatif). Dalam penelitian ini evaluasi kesesuaian lahan hanya secara fisik (kualitatif). Sistem kesesuaian lahan yang digunakan, dibedakan menjadi kelas sesuai (S) dan kelas tidak sesuai (N). Kelas S masih dibedakan menjadi tiga kelas. Keempat kelas kesesuaian lahan tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. Kelas S1 adalah lahan sangat sesuai (highly suitable) yakni lahan yang tidak mempunyai faktor pembatas berarti yang mempengaruhi pengelolaan tanah/tanamannya; 2. Kelas S2 adalah lahan cukup sesuai (moderately suitable) yakni lahan yang mempunyai faktor pembatas ringan dalam mempengaruhi pengelolaan tanah/tanaman dan masukan biaya ringan; 3. Kelas S3 adalah lahan sesuai marjinal (marginally suitable) yakni lahan yang mempunyai pembatas agak berat yang dapat mempengaruhi pengelolaan tanah/tanaman dan masukan biaya sedang sampai tinggi; 4. Kelas N adalah lahan tidak sesuai (not suitable) yakni lahan yang mempunyai faktor pembatas berat dan perbaikannya memerlukan biaya 65 yang sangat besar tetapi tidak akan sesuai dengan produksi yang dihasilkan. Analisis kesesuaian lahan di Kota Metro dilakukan dengan menggunakan peta-peta yang telah digunakan untuk analisis kemampuan lahan sebelumnya, yaitu: Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumatera skala 1:250.000 (PPT, 1989), Peta RBI Kota Metro skala 1:50.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Adminstrasi Kota Metro skala 1:75.000 (Bappeda, 2001), Peta Kelerengan Kota Metro skala 1:100.000 (Bakosurtanal, 1975-1986). Kesesuaian Lahan Padi Sawah Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah (Tabel 36). 66 Tabel 35 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah (Oryza sativa) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 24 - 29 >29 - 32 >32-35 Td >35 22<24 18-<22 Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) <18 Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) <3 3-<39 9-9,5 Td >9,5 Curah hujan/tahun (mm) >1500 1200-1500 800-<1200 - <800 Kelembaban (%) 33-90 30-<33 <30; >90 - - >90-240 75-90 75-90 <75 <75 Drainase Tanah Terhambat, Terhambat, Sedang, baik Cepat Sangat cepat Tekstur SCL,SiL,Si CL SL,L,SiCL,C SiC LS, Str C Td Kerikil, pasir >50 >40-50 >25-40 20-25 <20 a. Kematangan - Saprik Hemik HemikSaprik Fibrik b. Ketebalan (cm) - <100 100-150 >150-200 >200 ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - >50 35-50 <35 - - 5,5-7,0 >7,0-8,0 4,5-5,5 >8,0-8,5 4,0-<4,5 - >8,5 <4,0 >1,5 0,8-1,5 <0,8 - - <3,5 3,5-5,0 >5,0-6,6 >6,6-8,0 >8,0 <20 20-30 >30-40 >40 - LGP (hari) Media perakaran (r) agak cepat Kedalaman efektif (cm) Gambut Retensi Hara (f) KTK Hara Kejenuhan basa (%) pH Tanah C-organik (%) Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - >75 - 60-75 - 40-60 - 30-40 - <30 - ≥ sedang rendah - - P2O5 ≥ tinggi sedang Sangat rendah Rendah-sangat rendah - - K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 15-25 >25 Bahaya Banjir (b) F0-F1 F2 F3 F4 F4 Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Total N Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) Bahaya erosi Keterangan : Td = Tidak berlaku S = Pasir Str C = Liat berstruktur Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Si = Debu L = Lempung Liat masif : Liat dari tipe 2;1 (vertisol) 67 Tabel 36 Kelas kesesuaian lahan padi di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Luas (Ha) 133,0 815,5 6.128,5 Persentase (%) 2 11 87 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 9 Peta kesesuaian lahan untuk padi Pada Peta kelas kesesuaian lahan tanaman padi di Kota Metro menunjukkan bahwa sebagian besar kelurahan di Kota Metro berada pada lahan kelas S3 untuk 68 tanaman padi, hanya sebagian kecil lahan di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul yang mempunyai lahan kelas S1 untuk tanaman padi dengan produktivitas tanaman padi masing-masing 5 Ton/Ha dan 5,2 Ton/Ha (Tahun 2006). Sedangkan Kelurahan Yosodadi, Yosorejo, Yosomulyo dan Imopuro sebagian besar lahannya termasuk kategori kelas S2 dan hanya sebagian kecil yang masuk kategori kelas S3 dengan produktivitas tanaman padi di kelurahan tersebut masing-masing (5,6 Ton/Ha), (5,3 Ton/Ha), (5,5 Ton/Ha) dan 4,8 Ton/Ha. Adapun secara lebih lengkap data produktivitas padi dan kelas kesesuaian lahan padi per kelurahan dapat dilihat pada Tabel 40. Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Tabel 37 Penilaian kesesuaian lahan tanaman padi dan jagung Komoditas Kelas Padi S1 S2 S3 Jagung S1 S2 S3 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Kesesuaian Lahan Sub Faktor Kelas pembatas S1 S2 Kelerengan S3nr retensi hara media perakaran S1 S2 Kelerengan S3nr retensi hara Luas (Ha) 133,0 815,5 6.128,5 133,1 924,4 6.019,0 69 Tabel 38 Kriteria kesesuaian lahan untuk jagung (Zea mays) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 20 - 26 >26 – 30 >30-32 Td >32 15-<20 Td <15 Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) 1-7 >7-8 >8-9 Td >9 Curah hujan/tahun (mm) >1200 900-1200 600-<900 - <600 Kelembaban (%) >42 <36-42 30-36 <30 - LGP (hari) >150 >120-150 90-120 <90 <90 Drainase Tanah Baik, sedang Agak Terhambat, Terhambat, Agak cepat Td Cepat, Sangat terhambatr Tekstur L,SCL,SiL,Si, CL,SiCiL SL,SC,C LS, SiC Td Kerikil, pasir >60 >40-60 >24-40 20-24 <24 a. Kematangan - Saprik Hemik SaprikHemik Fibrik b. Ketebalan (cm) - <100 100-150 >150-200 >200 ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - >50 35-50 <35 - - 6,0-7,0 >7,0-7,5 5,5-6,0 >7,5-8,0 4,5-<5,5 >8,0-8,5 4,0-4,5 >8,5 <4,0 ≥ 0,8 <0,8 Td Td Td <2 2-4 >4-6 >6-8 >8 <15 15-<20 20-25 >25 - Media perakaran (r) agak cepat Kedalaman efektif (cm) Gambut Retensi Hara (f) KTK Hara Kejenuhan basa (%) pH Tanah C-organik (%) Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - >100 - 75-100 - 50-<75 - 40-<50 - <40 - ≥ sedang rendah Sangat rendah - P2O5 Sangat tinggi tinggi Sedang-rendah Sangat rendah K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu Bahaya erosi SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 15-24 >24 F2 F3 F4 - Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Total N - Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) Bahaya Banjir (b) F0-F1 Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 70 Tabel 39 Kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Luas (Ha) 133,0 924,4 6.019,6 Persentase (%) 2 13 85 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 10 Peta kesesuaian lahan untuk jagung 71 Pada Peta kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro dapat diketahui bahwa sebagian besar kelurahan di Kota Metro mempunyai lahan kelas S3 untuk tanaman jagung, dan hanya sebagian kecil lahan di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul yang termasuk lahan kelas S1 dengan produktivitas tanaman jagung di kelurahan tersebut masing-masing 3,8 Ton/Ha dan 3,9 Ton/Ha. Kelurahan Yosomulyo, Metro, Yosodadi dan Yosorejo termasuk dalam kelas S2 untuk tanaman jagung dengan produktivitas tanaman jagung di kelurahan tersebut cukup tinggi, masing-masing secara berurutan: (6,5 Ton/Ha), (5,9 Ton/Ha), (4,6 Ton/Ha), (3,5 Ton/Ha). Adapun data produktivitas dan kelas kesesuaian jagung secara lebih lengkap pada Tabel 40. Tabel 40 Produktivitas padi dan jagung di Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Produktivitas Ton/Ha Kesesuaian Lahan Padi Jagung Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Padi Jagung 5,1 4,8 5,4 5,2 5,5 5,9 6,5 6,2 6,5 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2&S3 Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari 5,8 5,7 5,7 6,0 3,8 3,7 4,4 3,8 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Kelas S3 Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung 5,4 5,3 5,6 5,3 5,4 4,8 3,5 4,6 - Kelas S3&S2 Kelas S2 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2 Kelas S2&S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul 5,1 5,0 5,3 5,2 4,2 3,8 4,0 3,9 Kelas S3 Kelas S3&S1 Kelas S3 Kelas S3&S1 Kelas S3 Kelas S3,S1&S2 Kelas S3&S2 Kelas S3,S1&S2 Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari 6,0 5,5 5,5 5,8 6,0 6,0 6,0 6,0 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 72 Kesesuaian Lahan untuk Peternakan/Penggembalaan Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan untuk kawasan pengembangan peternakan/penggembalaan di daerah penelitian didapatkan dengan menggunakan kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan/peternakan menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) terdapat lahan seluas 948,6 Ha atau 13,4% kelas S2w (cukup sesuai) dikembangkan sebagai kawasan peternakan/penggembalaan, yang menjadi faktor pembatas adalah ketersedian air dan kelerengan. Lahan yang termasuk kelas S1 tidak ada, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha atau seluas 86,5% dari luas wilayah termasuk dalam kelas S3nr (sesuai marjinal) dengan faktor pembatas ketersediaan hara, media perakaran dan kelerengan. Tabel 41 Kelas kesesuaian lahan peternakan/penggembalaan di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S2 Kelas S3 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Luas (Ha) 948,5 6.128,5 Persentase (%) 13,4 86,5 73 Gambar 11 Peta kesesuaian lahan untuk peternakan/penggembalaan 74 Tabel 42 Kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan (Pasture) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 20-30 >30 – 35 >35-40 Td >40 18-<20 12-<18 >3-6 >5000-6000 400-<1000 Td Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) <12 Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) <2 Curah hujan/tahun (mm) 1500-4000 2-3 >4000-5000 1000-<1500 - >6 >6000 <400 ≥330 300-<330 180-<300 <180 <180 Drainase Tanah Agak terhambat, sedang, baik Agak cepat, Terhambat Sangat terhambat, cepat Sangat Cepat - Tekstur SL,L,SCL,SiL, Si,SC,CL,SiCL LS,Str C S, SiC,C - Kerikil ≥30 20-<30 15-<20 - <15 Td - - - - - - - - - KTK Hara ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - pH Tanah 5,0-6,5 >6,5-7,0 4,5-5,0 >7,0-8,5 <4,5 - - - - - - <3 3-5 >5-10 - >10 - - - - - LGP (hari) Media perakaran (r) Kedalaman efektif (cm) Gambut a. Kematangan b. Ketebalan (cm) Retensi Hara (f) C-organik (%) >8,5 Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - ≥50 - 40-<50 - 35-<40 - - <35 - Total N ≥ sedang rendah - - P2O5 ≥ tinggi Sedang Sangat rendah Rendah, sangat rendah - - K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu Bahaya erosi SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 >15-30 >30 Bahaya Banjir (b) F0 Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 F1 F2 F3 F4 Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) 75 Kesesuaian Lahan Permukiman Kesesuaian lahan yang dimaksud sebagai kawasan permukiman tidak hanya terbatas pada komplek perumahan tetapi termasuk juga gedung perkantoran, pertokoan dan fasilitas publik lainnya berupa bangunan gedung dengan beban tidak lebih dari tiga lantai. Penentuan kelas kesesuaian lahan didasarkan pada kemampuan lahan sebagai penopang pondasi (Hardjowigeno S & Widiatmaka, 2007). Sifat lahan yang berpengaruh adalah daya dukung tanah, sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap biaya penggalian dan konstruksi. Sifat-sifat lahan seperti kerapatan (density), tata air (wetness), bahaya banjir, plastisitas, tekstur dan potensi mengembang-mengerut tanah berpengaruh terhadap daya dukung tanah. Adapun kriteria bersumber dibawah ini: Tabel 43 Kriteria kesesuaian lahan tempat tinggal/gedung/permukiman* Kelas kesesuaian lahan Sifat Tanah Subsiden total (cm) Banjir Air Tanah (cm) Potensi kembang kerut (nilai COLE**) Kelas Unified **) Lereng Kedalaman hamparan batuan (cm)  Keras  Lunak Kedalaman padas keras (cm)  Tebal  Tipis Batu/kerikil (>7,5 cm)***)(% berat) Longsor Baik Sedang Buruk Tanpa >75 cm Rendah (<0,03) <8% Tanpa 45-75 cm Sedang (0,03-0,09) 8 – 15 % 30 Jarang-sering < 45 cm Tinggi (>0,09) >15 % >100 >50 50-100 <50 <50 >100 >50 <25 - 50-100 <50 25-50 - <50 - >50 ada Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Keterangan : *) Maksimum tiga lantai tanpa ruang bawah tanah **) Lapisan paling tebal antara 25 – 100 cm dari permukaan tanah ***) Rata-rata yang dibobotkan dari permukaan sampai kedalaman 100 cm Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha 76 atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Tabel 44 Kelas kesesuaian lahan permukiman di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas Baik Kelas Sedang Kelas Buruk Luas (Ha) 6.461,0 566,6 49,4 Persentase (%) 91,3 8,0 0,7 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 12 Peta kesesuaian lahan untuk permukiman 77 Kelas Kesesuaian Lahan untuk Jalan Menurut Jumikis (1962) dalam Widiatmaka et al (2007) definisi jalan yang dimaksud adalah jalan yang terdiri dari a) tanah setempat yang diratakan (tebal penggalian maupun pengurugan tanah kurang dari 6 feet atau 1,8 m) dan dinamakan subgrade; b) lapisan dasar (base) yang terdiri dari kerikil, batu pecahan atau tanah yang distabilkan dengan kapur atau semen; c) lapisan permukaan yang fleksibel (aspal) atau keras (beton), atau kerikil yang direkatkan. Jalan ini dilengkapi pula dengan saluran drainase pada bagian tepi jalan. Sifat-sifat tanah yang dipertimbangkan pada perencanaan dan pembuatan jalan adalah kekuatan tanah, stabilitas tanah dan jumlah tanah galian-urugan yang tersedia (USDA, 1971 dalam Widiatmaka et al, 2007). Kekuatan tanah ditunjukkan oleh kelas tanah menurut indeks AASHTO atau sistem Unified, serta potensi mengembang dan mengerutnya tanah. Stabilitas tanah dipengaruhi oleh tata air tanah dan bahaya banjir, sedangkan lereng, kedalaman hamparan batuan, jumlah batu dipermukaan, dan tata air tanah berpengaruh terhadap perataan tanah yang diinginkan. Tabel 45 Kriteria kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan Kelas kesesuaian lahan Sifat Tanah Subsiden total (cm) Kedalaman hamparan batuan (cm)  Keras  Lunak Kedalaman padas keras (cm)  Tebal  Tipis Potensi kembang kerut (nilai COLE*) Subgrade  Indeks AASHTO*)**)  Unified (USDA, 1951)***) Air Tanah (cm) Lereng (%) Banjir Batu (>7,5 cm)**** Longsor Baik Sedang Buruk - - >30 >100 >50 50-100 <50 <50 - >100 >50 Rendah (<0,03) 50-100 <50 Sedang (0,03-0,09) <50 Tinggi (>0,09) <5 GW, GP, SW, SP, GM, GC, SM, SC >75 cm <8% Tanpa <25 - 5-8 CL dengan PI < 15 >8 CL dengan PI >15 CH, MH, OH, OL,PT < 30 cm >15 % Sering >50 ada 30-75 cm 8 – 15 % Jarang 25-50 - Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Keterangan: *) Lapisan paling tebal antara 25 – 100 cm **) Untuk famili tanah kaolinitik, pengharkatan menjadi satu tingkat lebih baik dari tabel ini ***) Dikutip dari USDA (1971), tidak tercantum dalam USDA 1983 ***) Rata-rata yang dibobotkan dari permukaan sampai kedalaman 100 cm 78 Berdasarkan analisis kelas kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan terdapat kesamaan hasil dengan analisis kelas lahan untuk kawasan permukiman. Hal tersebut dikarenakan adanya kesamaan parameter kriteria kesesuaian lahan yang digunakan, yakni kelerengan dan area banjir (flooded area). Terdapat satu kriteria yang tidak tersedia datanya yakni Indeks AASHTO, sehingga kriteria yang digunakan sama dengan kriteria kelas kesesuaian permukiman. Seperti pada kelas kesesuaian permukiman hasil analisis kelas kesesuaian jalan di Kota Metro, terdapat luas 49,41 Ha (0,7%) kelas Buruk dengan faktor pembatas area banjir. Lahan dengan kelas Sedang seluas 566,57 Ha (8,01%) dengan faktor pembatas kelerengan dan kelas Baik untuk pembangunan jalan seluas 6.461 Ha (91,3%). Tabel 46 Kelas kesesuaian lahan untuk jalan di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas Baik Kelas Sedang Kelas Buruk Luas (Ha) 6.461,0 566,6 49,4 Persentase (%) 91,3 8,0 0,7 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Tabel 47 Penilaian kesesuaian lahan peternakan, permukiman dan jalan Kesesuaian Peternakan Kelas S2 S3 Baik Sedang Buruk Baik Jalan Sedang Buruk Sumber: Hasil Analisis, 2008 Permukiman Kesesuaian Lahan Sub Kelas Faktor pembatas S2w Ketersediaan air Kelerengan S3nr Ketersediaan hara Media perakaran Kelerengan Kelerengan Area Banjir Kelerengan Area Banjir Luas (Ha) 948,6 6.128,5 6.461 566,6 49,4 6.461 566,6 49,4 79 Gambar 13 Peta kesesuaian lahan untuk jalan Kawasan Kesesuaian Lahan Terdapat dua kelompok kawasan dalam analisis kesesuaian lahan di Kota Metro, yakni kawasan pertanian dan kawasan permukiman. Kawasan pertanian mencakup lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian S1, S2 dan sebagian 80 kecil S3 untuk pengembangan padi, jagung dan penggembalaan/peternakan. Kawasan permukiman mencakup lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian kategori Baik untuk pembangunan gedung dan jalan. Dalam analisis kelas kesesuaian lahan ini hanya memilih lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian S1 dan S2 atau lahan yang masuk dalam kategori Baik untuk kawasan permukiman dan jalan. Walaupun kelas kesesuaian S3 (sesuai marjinal) atau yang kategori Sedang dapat ditingkatkan menjadi kelas yang lebih tinggi melalui usaha dan teknologi tertentu, tetapi dalam analisis disini kelas S3 hanya diambil dari lahan yang berkategori Buruk untuk permukiman dan jalan. Area lahan di Kota Metro mempunyai kelas kesesuaian lahan kelas S1 untuk pengembangan komoditas padi dan jagung terdapat di sebagian Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari seluas 133 Ha, lalu lahan kelas S2 untuk pengembangan padi, jagung dan peternakan meliputi: Kelurahan Yosorejo, sebagian Kelurahan Yosomulyo, Kelurahan Imopuro dan Kelurahan Yosodadi. Luas lahan kelas S2 yakni 949 Ha. Area kelas kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas tersebut berada pada lokasi yang sama dan terdapat beberapa parameter dalam kriteria kelas kesesuaian lahan yang sama dengan faktor pembatas yang sama pula. Begitu juga pada kawasan permukiman terdapat kesamaan area untuk kelas kesesuaian pemukiman bangunan dan jalan. Lahan yang mempunyai kelas kesesuaian kategori Baik untuk pembangunan permukiman dan jalan seluas 5.596 Ha atau hampir 79% area lahan di Kota Metro (Tabel 48). Tabel 48 Kelas kesesuaian lahan di Kota Metro Kelas Kesesuaian Kawasan Pertanian Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Kawasan Permukiman Kelas Baik Kelas Sedang Luas (Ha) Keterangan 133 949 49 Padi, Jagung Padi, Jagung, Peternakan Padi, Jagung 5.596 - Permukiman, Jalan 81 Gambar 14 Peta kesesuaian lahan untuk kawasan pertanian dan kawasan permukiman Kondisi Eksisting Penggunaan Lahan Peta yang digunakan sebagai basis landuse adalah Peta Penggunaan Lahan Kota Metro Tahun 2006 yang dimiliki oleh Bappeda Kota Metro. Peta tersebut 82 sudah merupakan hasil klasifikasi citra landsat di tahun yang sama. Kondisi penggunaan lahan eksisting yang terdapat dalam Peta Penggunaan Lahan Kota Metro Tahun 2006 lebih banyak penggunaan lahan untuk pertanian dibandingkan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan lahan pertanian berupa kebun campuran seluas 4.175,37 Ha, lahan terbuka seluas 378,59 Ha, sawah seluas 151,26 Ha dan pertanian lahan kering bercampur seluas 50,91 Ha. Penggunaan lahan non pertanian banyak didominasi untuk penggunaan permukiman seluas 2.271,48 Ha dan belukar rawa 49,49 Ha (Tabel 48). Dalam kondisi eksisting di lapangan penggunaan lahan sebenarnya lebih dominan lahan permukiman, sawah dan pekarangan. Hampir diseluruh kelurahan di Kota Metro masih memiliki lahan sawah dengan luasan tertentu. Tetapi dalam Peta penggunaan lahan tersebut yang berasal dari Citra Landsat klasifikasi lahan sawah hanya 151,26 Ha sedangkan yang lebih dominan lahan kebun campuran seluas 4.175,37 Ha. Kemungkinan hal tersebut disebabkan pada saat pengambilan gambar citra dilakukan pada saat musim kering sehingga lahan-lahan sawah terekam sebagai kebun campuran. Tabel 49 Luas penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 Penggunaan Lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Sumber : Bappeda, 2006 Luas (Ha) 49,49 2.271,48 4.175,37 378,59 50,91 151,26 83 Gambar 15 Peta penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 Untuk mengetahui analisis kelas kesesuaian lahan dengan keadaan penggunaan lahan yang ada di Kota Metro, maka selanjutnya dilakukan overlay Peta kesesuaian lahan dengan Peta penggunaan lahan. Sehingga akan diketahui 84 kelas-kelas kesesuaian lahan hasil analisis tersebut bagaimana penggunaan lahannya pada kondisi eksisiting. Dari hasil overlay kedua peta tersebut didapatkan bahwa pada kawasan pertanian yang mempunyai kelas S2 untuk padi dan jagung penggunaan lahannya untuk permukiman. Terdapat lahan kelas S2 yang berbentuk permukiman seluas 607,39 Ha, dan selebihnya kebun campuran. Sedangkan kelas kesesuaian lahan kawasan permukiman penggunaan lahannya lebih beragam antara lain: belukar rawa (49,49 Ha), permukiman (1.664 Ha), kebun campuran (3.171,52 Ha). Adapun data yang lebih rinci terdapat dalam tabel dibawah. Tabel 50 Hasil overlay peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan Penggunaan Lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Kesesuaian Lahan (Ha) Kawasan Pertanian Kawasan Permukiman 49,49 1.664,01 607,39 3.171,52 1.003,91 326,66 51,94 50,94 140,98 10,27 85 Gambar 16 Peta overlay kesesuaian lahan dengan penggunaan lahan Kota Metro 86 Identifikasi Hirarki Wilayah Menurut Prakoso (2005) dalam Sutomo (2008) perkembangan hirarki wilayah dan sistem kota tergantung pada tahapan pembangunan disuatu wilayah atau negara. Terdapat tiga tahapan perkembangan sistem kota, yaitu: a) Sistem kota pada tahap pra-industrialisasi, yang terdiri hanya satu kota individual (urban nuckleus); b) Sistem kota pada tahap industrialisasi, yang ditandai oleh terjadinya proses perkembangan pesat kota tunggal secara fisikal sebagai akibat urbanisasi c) Sistem kota pada tahap post industrialisasi, yang ditandai oleh terbentuknya kota-kota regional. Pada tahap post industrialisasi ditandai dengan adanya fenomena konurbanisasi, yaitu suatu kondisi aglomerasi fiskal kota. Hubungan-hubungan fungsional di dalam wilayah ini memiliki kondisi yang khas berupa menurunnya fungsi kota utama dan mulai menyebarnya fungsi kota utama dan mulai menyebarnya fungsi-fungsi kota secara relatif ke kota-kota yang lebih kecil di wilayah pengaruhnya. Pada tahap akhir sistem perkotaan tersebut adalah beberapa kota kecil mengalami perkembangan ekonomi yang signifikan dan berkecenderungan menjadi kota menengah (secondary city), yang selanjutnya menyebabkan terbentuknya kota-kota kecil di wilayah perdesaan. Pembentukan kota-kota kecil di perdesaan juga berkaitan dengan hubungan fungsional yang erat diantara sistem perkotaan tersebut. Penataan sistem perkotaan yang memiliki hirarki dan keterkaitan merupakan elemen utama dalam penciptaan sistem tata ruang yang integratif, yaitu jenjang kota-kota yang meliputi pusat regional, pusat distrik, pusat sub distrik dan pusat lokal (Sutomo, 2008). Kunci bagi pertumbuhan sekaligus pemerataan suatu wilayah adalah melalui penciptaan hubungan atau keterkaitan yang saling menguntungkan antar pusatpusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan dengan wilayah pengaruhnya atau hiterland. Integrasi spasial di suatu wilayah dapat dilakukan dengan pengembangan permukiman atau sistem kota-kota yang memiliki hirarki dan menciptakan suatu keterkaitan antar kota atau dengan mengintegrasikan pembangunan perkotaan dengan perdesaan, yaitu dengan membentuk jaringan 87 produksi, distribusi dan pertukaran yang mantap mulai dari desa dan kota kecil. Dengan demikian diharapkan pusat-pusat tersebut dapat memacu perkembangan wilayah. Adanya hirarki dan spesialisasi fungsi kota-kota diharapkan terjadi keterkaitan secara fisik, ekonomi, mobilitas penduduk, teknologi, sosial, pelayanan jasa, interaksi sosial dan administrasi serta politik yang dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang dapat memacu perkembangan wilayah. Pola spasial keterkaitan antar hirarki pusat-pusat aktivitas dan keberadaan jalur jalan yang menghubungkannya mempunyai peranan yang sangat pening dalam mewujudkan keberimbangan pembangunan antar wilayah dan membangun interaksi antar wilayah yang saling memperkuat. Menurut Smith (1976) dalam Pribadi (2005), berdasarkan fakta empiris terdapat tiga jenis pola spasial yang mengakibatkan wilayah perdesaan selalu berada dalam kondisi tertinggal yaitu: (1) denritic system, (2) solar system, dan (3) network system. Denritic system berarti pola hubungan antara desa – kota kecil – kota menengah–kota besar memiliki bentuk seperti pola aliran sungai yang terdiri dari induk dan anak-anak sungainya. Beberapa desa langsung terhubung dengan kota kecil. Beberapa kota kecil langsung terhubung dengan kota menengah dan seterusnya. Dalam pola ini interaksi antar desa atau antar kota kecil tidak ada sama sekali. Pola seperti ini akan mengakibatkan komoditas-komoditas yang dihasilkan petani mengalir langsung ke wilayah pusat/kota sehingga meninggalkan perekonomian desa atau perekonomian domestik dalam kondisi ketertinggalan. Pusat wilayah pada hirarki yang lebih rendah akan berada di bawah kontrol pusat wilayah pada hirarki wilayah yang lebih tinggi karena pusat wilayah pada hirarki yang lebih rendah tidak bisa memilih pusat wilayah lain pada hirarki yang lebih tinggi yang bisa menawarkan harga lebih kompetitif. Solar system berarti pola hubungan dimana kota besar langsung berhubungan dengan wilayah perdesaan. Pada pola ini keberadaan kota-kota kecil menengah dapat dikatakan tidak berkembang. Pola ini biasanya muncul apabila kepentingan politik lebih dominan daripada kepentingan ekonomi. Kekuasaan akan menjadi sangat tersentralisasi dan akhirnya mengakibatkan kebijakan yang bersifat urban bias dan pengurasan sumberdaya perdesaan secara besar-besaran 88 (massive backwash effect). Umumnya ini terjadi pada negara-negara yang masih menganut budaya feodal dimana kekuasaan menjadi sangat terkonsentrasi dan tersentralisasi. Network system berarti pola hubungan yang bersifat simetris atau sejajar antar wilayah dan tidak ada wilayah yang menjadi pusat. Pola ini biasa ditemui di wilayah-wilayah yang aktivitas ekonominya masih sederhana dan terisolasi dari pusat-pusat aktivitas di perkotaan. Pada pola ini transaksi yang dilakukan selain bersifat ekonomi juga bersifat sosial yaitu untuk menjalin kekerabatan. Wilayah pada pola ini desa menjadi lemah karena tidak ada dorongan dari luar untuk maju. Salah satu cara identifikasi pusat pertumbuhan dan aktivitas suatu wilayah yaitu dengan menggunakan analisis skalogram. Pada analisis ini dilakukan identifikasi terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan yang dimiliki suatu wilayah, maka dapat ditentukan hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Wilayah diasumsikan dalam tipologi wilayah nodal, dimana pusat dan hiterland suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis fasilitas umum serta sarana dan prasarana dengan kuantitats dan kualitas yang secara relatif paling lengkap dibandingkan dengan unit wilayah yang lain akan mempunyai hirarki paling tinggi dan akan menjadi pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Sebaliknya, suatu wilayah dengan jumlah dan jenis fasilitas umum serta sarana dan prasarana dengan kuantitas dan kualitas paling rendah merupakan wilayah hiterland dari unit wilayah yang lain. Menurut Rustiadi et al. (2007) inti adalah pusat-pusat pelayanan/ pemukiman sedangkan plasma adalah daerah belakang (hiterland/periperi) yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang mempunyai hubungan fungsional. Pusat wilayah berfungsi untuk mendorong dan memfasilitasi perkembangan wilayah hiterland dengan menyediakan berbagai fasilitas pelayanan yang dibutuhkan, sedangkan wilayah hiterland lebih berfungsi sebagai kawasan produksi yang bisa menjadi wilayah suplai bagi wilayah inti. Terdapat 22 (dua puluh dua) kelurahan di Kota Metro yang mempunyai karakteristik, fasilitas umum serta sarana prasarana yang beragam. Untuk menunjukkan hirarki atau tingkat perkembangan kelurahan di Kota Metro, disusun menurut urutan berdasarkan indeks perkembangan desa/kelurahan. 89 Semakin besar indeks perkembangan kelurahan maka semakin kuat peranan atau dominasi dan tingkat keutamaan suatu kelurahan terhadap kelurahan lain atau wilayah pada jenjang dibawahnya. Kelurahan yang berhirarki tinggi berpotensi untuk menjadi pusat pertumbuhan dan pusat aktivitas pelayanan bagi wilayah tersebut. Berdasarkan analisis skalogram terhadap kelurahan-kelurahan di Kota Metro yang terdapat pada tabel di bawah ini. Tabel 51 Hirarki wilayah Kota Metro berdasarkan analisis skalogram Kelurahan Imopuro Mulyojati Metro Sumbersari Ganjar Asri Iring Mulyo Margorejo Rejomulyo Ganjar Agung Yosorejo Banjar Sari Hadimulyo Barat Yosodadi Tejo Sari Purwosari Karang Rejo Purwoasri Margodadi Tejo Agung Hadimulyo Timur Yosomulyo Mulyosari Sumber : Hasil Analisis, 2008 Jumlah Jenis 58 55 58 46 52 63 50 40 49 52 58 59 47 43 50 46 45 45 48 47 47 36 Indeks Perkembangan 116,82 109,56 96,37 88,11 82,04 82,04 80,03 75,12 73,65 72,15 71,98 64,65 60,62 57,99 57,99 52,44 51,70 50,64 44,88 42,57 41,14 32,28 Hirarki I I II II II II II II II II II III III III III III III III III III III III Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. 90 Kelurahan yang berada pada hirarki I terdiri dari Kelurahan Imopuro dan Kelurahan Mulyojati. Di Kelurahan Mulyojati menurut pengamatan langsung di lapangan selain tersedia fasilitas-fasilitas publik yang lengkap, juga merupakan daerah dimana terdapat Terminal Bus untuk Kota Metro yang dibangun sudah sejak lama sebelum pemekaran wilayah. Saat ini terminal tersebut sudah beberapa kali dikembangkan oleh Pemerintah Kota Metro dengan dibangun sarana prasarana penunjang lainnya. Selain itu juga Kelurahan Mulyojati mempunyai akses jalan lintas propinsi dengan frekuensi lalu lintas yang cukup tinggi. Sedangkan di Kelurahan Imopuro selain terdapat Terminal Angkutan Kota (Angkot) juga terdapat Pusat Pertokoan “Shopping Centre” yang merupakan pertokoan modern dan tradisional di Kota Metro, dan sudah menjadi pusat transaksi bisnis terbesar sejak masih menjadi wilayah Kabupaten Lampung Tengah dulu. Bahkan hingga saat ini interaksi pedagang dengan daerah sekitar Metro masih cukup tinggi. Beberapa perkantoran pemerintah dan swasta juga terdapat di Kelurahan Imopuro. Sarana dan prasarana pada kedua kelurahan tersebut memang lebih berkembang dibandingkan di kelurahan-kelurahan lainnya, hal tersebut menjadikan kedua kelurahan mempunyai indeks perkembangan kelurahan yang lebih tinggi. Fasilitas-fasilitas pendukung perkembangan wilayah seperti pertokoan, perumahan, sarana kesehatan, sarana pendidikan dan sebagainya akan terlihat lebih lengkap pada daerah yang termasuk hirarki I. Sehingga tingkat perkembangan wilayahnya lebih cepat dibandingkan daerah yang berada pada hirarki II dan III. Pada Gambar 17 menunjukkan secara lebih jelas hirarki wilayah di daerah penelitian berdasarkan Indeks Perkembangan Kelurahan pada data podes Tahun 2006. 91 Gambar 17 Peta hirarki wilayah di Kota Metro 92 Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal Menurut Tarigan (2005) penduduk menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan wilayah. Jumlah penduduk menjadi faktor utama untuk menentukan banyaknya permintaan bahan konsumsi yang perlu disediakan, begitu juga banyaknya fasilitas umum yang perlu dibangun di suatu wilayah. Dalam segi yang lain, jumlah penduduk dapat dilihat sebagai faktor produksi yang dapat dialokasikan untuk berbagai kegiatan sehingga dapat dicapai suatu nilai tambah atau kemakmuran yang maksimal bagi wilayah tersebut. Analisis komposisi penduduk, misalnya dalam bentuk umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan/pendapatan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jenis perumahan yang perumahan yang dimiliki akan memberi implikasi yang lebih rinci baik terhadap tingkat kebutuhan maupun terhadap kegiatan produksi yang dapat disumbangkan. Dalam konsep pengembangan wilayah dapat dilakukan pendekatan untuk perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan menggunakan asumsi tingkat kepadatan yang ideal suatu kota. Adapun kriteria tingkat kepadatan suatu kota mengacu pada RTRW Kota Metro (2001-2010) adalah sebagai berikut:  Kriteria Rendah = 0–11 jiwa/ha  Kriteria Sedang = 12 – 30 jiwa/ha  Kriteria Tinggi = lebih dari 30 jiwa/ha Pada Tahun 2002 jumlah penduduk Kota Metro sebesar 121.094 jiwa, berdasarkan data BPS jumlah tersebut dalam 5 (lima) tahun meningkat menjadi 130.348 jiwa pada Tahun 2006. Dengan demikian selama lima tahun, telah terjadi pertambahan penduduk sebesar 9.284 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun mencapai 1,71%. Perkembangan penduduk tertinggi terjadi pada Tahun 2005 dengan laju pertumbuhan 3,72% diatas laju pertumbuhan rata-rata dalam 5 (lima) tahun selengkapnya terdapat pada pada Tabel 52. 93 Tabel 52 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Kota Metro Tahun 2002-2006 Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 121.094 2003 122.417 2004 123.740 2005 128.343 2006 130.348 Rata-rata pertumbuhan Pertambahan Tahun Jiwa + 1.323 + 1.323 + 1.323 + 4.603 + 2.005 2.115 % 1,10 1,09 1,08 3,72 1,56 1,71 Jumlah Penduduk (jiwa) Sumber: Hasil Analisis, 2008 Tahun Sumber: Hasil Analisis Data BPS Gambar 18 Grafik jumlah penduduk Kota Metro dalam 5 (lima) tahun Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang, proyeksi penduduk lebih rinci terdapat pada Tabel 53. 94 Tabel 53 Proyeksi penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2007-2020 Rata-rata/Thn Tahun 2006* Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Metro Pusat Metro Barat Metro Timur Metro Selatan Metro Utara Total 1,71 46.617 47.414 48.225 49.050 49.050 50.741 51.609 52.492 53.389 54.302 55.231 56.175 57.136 58.113 59.107 1,71 20.257 20.603 20.956 21.314 21.314 22.049 22.426 22.810 23.200 23.597 24.000 24.410 24.828 25.252 25.684 1,71 29.724 30.232 30.749 31.275 31.810 32.354 32.907 33.470 34.042 34.624 35.216 35.819 36.431 37.054 37.688 1,71 12.324 12.535 12.749 12.967 13.189 13.414 13.644 13.877 14.114 14.356 14.601 14.851 15.105 15.363 15.626 1,71 21.426 21.792 22.165 22.544 22.930 23.322 23.720 24.126 24.539 24.958 25.385 25.819 26.261 26.710 27.166 130.348 132.577 134.844 137.150 139.495 141.880 144.307 146.774 149.284 151.837 154.433 157.074 159.760 162.492 165.271 Sumber : Hasil Analisis,2008 * Data BPS Kota Metro sebagai tahun dasar Setelah mendapatkan hasil perhitungan proyeksi penduduk tersebut maka langkah selanjutnya melakukan perhitungan standar pelayanan minimal dengan menentukan kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan ruang atau lahan yang berkaitan dengan permukiman. Mengacu pada kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota (Tabel 9) yang berpedoman pada Kepmen Kimpraswil Nomor: 534/KPTS/M/2001 dan Kepmen PU Nomor: 378/KPTS/PU/1987 maka dapat diketahui kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan akan lahannya. Dengan menggunakan asumsi jumlah penduduk Kota Metro pada Tahun 2020 sebesar 165.271 jiwa maka kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan lahannya secara rinci pada Tabel 54. 95 Tabel 54 Proyeksi kebutuhan jumlah fasilitas dan lahan di Kota Metro Jenis Fasilitas PENDIDIKAN SD/Madrasah SLTP SLTA Akademi/ Perguruan Tinggi KESEHATAN Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Apotik PERIBADATAN Masjid Raya Masjid Lingkungan Mushola Gereja Pura Vihara PEREKONOMIAN Pasar Toko Warung/Kios Bank REKREASI/OLAHRAGA Gedung Bioskop/Kesenian Gedung Olahraga UMUM Terminal Sub Terminal JALAN * Jalan Kota Jalan Lingkungan Jumlah Fasilitas (Unit) Kondisi Proyeksi Kebutuhan Eksisting SPM Kebutuhan Lahan (M2) 63 29 20 10 28 7 6 2 - - 3 5 15 23 1 55 6 17 50 - 80.000 - 1 123 176 15 5 6 1 66 661 6 6 6 485 1 - 12.125 1.200 - 13 1.002 252 13 6 165 826 1 574 - 57.000 - 1 2 1 6 4 8.000 2 - 1 1 1 30.000 200.000 20.700 495.000 66.300 295.000 45.600 Total 295.000 45.600 528.925 Keterangan: * m2 Berdasarkan perhitungan jumlah kebutuhan fasilitas publik dengan kriteria standar pelayanan minimal di Kota Metro dengan menggunakan angka proyeksi penduduk didapatkan total kebutuhan ruang atau lahan untuk pembangunan bidang permukiman membutuhkan lahan seluas 528.925 M2 atau 52,98 Ha. Kebutuhan tersebut lebih didominasi untuk kebutuhan lahan jalan, fasilitas kesehatan, fasilitas perekonomian dan sebagainya. Sedangkan fasilitas pendidikan 96 untuk kondisi eksisting sudah memenuhi standar pelayanan minimal. Kebutuhan lahan seluas 52,98 Ha tersebut akan terpenuhi dari potensi kelas kesesuaian lahan permukiman hasil analisis seluas 5.596 Ha (Tabel 48) setelah dikurangi dengan luas permukiman eksisting. Identifikasi Sektor Unggulan Analisis Location Quotient Sektor unggulan merupakan suatu sektor andalan yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan disuatu wilayah. Posisi strategis ini didasarkan pada pertimbangan teknis, sosial ekonomi dan kelembagaan. Pertimbangan tersebut penting karena ketersediaan dan kemampuan sumberdaya alam, modal dan manusia untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sektor unggulan yang dihasilkan disuatu wilayah. Disisi lain hanya sektor unggulan yang mampu menurunkan komoditas unggulan yang dapat diusahakan secara efisien dari sisi teknologi dan sosial ekonomi serta mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif secara berkelanjutan dengan komoditas lain disuatu wilayah (Rachman, 2003). Dalam perkembangannya mengidentifikasi sektor unggulan mempunyai kemiripan prosedur atau langkah-langkah seperti dalam menentukan sektor basis wilayah. Hanya saja kriteria penentuan sektor unggulan lebih detil dan lengkap dibanding sektor basis. Identifikasi pada sektor basis dapat dijadikan indikasi untuk menentukan sektor unggulan, tetapi diperlukan langkah selanjutnya yang lebih rinci dan lengkap. Dengan menggunakan perhitungan nilai Location Quotient (LQ) dapat mengetahui sektor basis yang menggambarkan kemampuan sektor suatu daerah untuk memenuhi kebutuhan daerahnya dan juga memenuhi kebutuhan daerah lain. Dapat juga terjadi sebaliknya, daerah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri sehingga memerlukan suplai dari daerah lain Dalam mengidentifikasi sektor unggulan di Kota Metro terlebih dahulu dilakukan penentuan sektor basis. Langkah tersebut untuk memperkuat hasil identifikasi suatu sektor yang ditetapkan sebagai sektor unggulan. Perhitungan sektor basis menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001–2006 Tabel 55. 97 Data yang tersedia hanya PDRB untuk tingkat kota belum ada data PDRB tingkat kecamatan di Kota Metro, sehingga diperlukan data time series selama 6 (enam) tahun untuk melihat pemusatan suatu sektor di Kota Metro. Tabel 55 PDRB Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001-2006 Tahun (juta rupiah) Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 78.658,42 74.466,86 68.485,55 66.633,80 64.699,42 66.007,56 Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan 0,00 18.407,95 0,00 19.548,32 0,00 20.145,62 0,00 20.873,81 0,00 21.418,02 0,00 22.408,31 Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran 3.560,67 18.526,84 72.889,81 3.695,48 18.919,24 74.900,63 4.218,49 19.316,36 79.061,09 4.151,25 19.716,33 81.466,29 4.134,01 20.121,02 84.941,01 4.220,81 20.869,45 87.773,55 Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Js. Prsh. 36.124,67 26.515,60 37.878,92 32.343,78 38.542,97 61.476,57 40.329,94 70.520,69 42.420,02 81.364,17 46.356,15 90.964,25 Jasa-Jasa 94.709,23 99.302,19 102.204,74 105.108,53 107.802,27 113.657,68 JUMLAH 349.393,19 Sumber : BPS Kota Metro, 2007 361.055,42 393.451,39 408.800,64 426.899,94 452.257,76 Hasil perhitungan LQ nilai PDRB Kota Metro selama 6 (enam) tahun didapat bahwa: a) Sektor pertanian hanya menjadi sektor basis pada Tahun 2001 dan 2002 dengan nilai LQ: (1,29) dan (1,28). Setelah itu sektor pertanian sampai dengan Tahun 2006 sektor pertanian tidak lagi menjadi sektor basis. b) Begitu juga dengan sektor industri pengolahan, sektor listrik gas & air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan dan sektor jasa, keempat sektor tersebut menjadi sektor basis pada Tahun 2001 s/d Tahun 2003 dengan nilai LQ yang hampir berdekatan. Setelah tahun tersebut keempat sektor tidak lagi menjadi sektor basis. c) Sektor pengangkutan dan komunikasi mempunyai pola pemusatan aktivitas yang unik. Setelah menjadi sektor basis pada Tahun 2001 dan 2002 lalu menurun dan menjadi sektor basis lagi pada Tahun 2006 dengan nilai LQ = 1,01. d) Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor basis mulai dari Tahun 2003 sampai dengan 2006 dengan nilai LQ berturutturut: (1,03) (1,14) (1,26) dan (1,32). Hal ini menunjukkan sektor tersebut mempunyai keunggulan komparatif dengan sektor-sektor yang 98 lain di Kota Metro selama 4 (empat) tahun terakhir. Selengkapnya Nilai LQ terdapat pada Tabel 56. Tabel 56 Nilai perhitungan LQ Kota Metro Tahun Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 1,29 1,18 0,99 0,93 0,87 0,83 Industri Pengolahan 1,03 1,05 1,00 0,99 0,98 0,97 Listrik, Gas & Air Bersih 1,02 1,02 1,07 1,01 0,97 0,93 Bangunan 1,08 1,07 1,00 0,98 0,96 0,94 Perdagangan, Hotel & Restoran 1,04 1,03 1,00 0,99 0,99 0,97 Pengangkutan & Komunikasi 1,02 1,04 0,97 0,98 0,98 1,01 Keuangan, Persewaan & Js. Perusahaan 0,50 0,59 1,03 1,14 1,26 1,32 1,04 1,06 1,00 0,99 0,97 0,97 Jasa-Jasa Sumber: Hasil analisis, 2008 Selanjutnya berdasarkan nilai Locatient Index (LI) sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menunjukkan tingkat perkembangan aktivitas yang relatif indifferent selama 4 (empat) tahun (2003 s/d 2006) atau peluang terjadinya pemusatan aktifitas terdapat pada sektor tersebut (Tabel 57). Tabel 57 Nilai perhitungan LI Kota Metro Lapangan Usaha Pertanian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Js. Prsh. Jasa-Jasa LI 0,07 0,01 0,02 0,02 0,01 0,01 0,13 0,01 Sumber: Hasil analisis PDRB, 2008 Analisis Shift Share Shift-share analysis merupakan salah satu dari sekian banyak teknik analisis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi (dengan cakupan wilayah lebih luas) dalam dua titik waktu. Pemahaman struktur aktifitas dari hasil analisis shift-share juga menjelaskan kemampuan berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu wilayah secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan wilayah lebih 99 luas. Dengan demikian analisis shift-share dapat digunakan untuk menentukan sektor yang kompetitif di suatu wilayah (Panudju & Rustiadi, 2005). Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Analisis shift-share mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah. Sebab-sebab yang dimaksud dibagi menjadi tiga bagian yakni: sebab yang berasal dari dinamika lokal (sub wilayah), sebab dari dinamika aktifitas/sektor (total wilayah) dan sebab dari dinamika wilayah secara umum. Data yang digunakan dalam analisis shift-share adalah data PDRB Kota Metro dan PDRB Provinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut lapangan usaha. Periode waktu yang digunakan adalah Tahun 2002 dan Tahun 2006 (Tabel 58). Hasil perhitungan analisis shift-share sebagai berikut: a. Laju pertumbuhan PDRB di Provinsi Lampung adalah sebesar 0,21 terdapat dalam kolom komponen share. b. Dalam kolom komponen proportional shift terdapat sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai negatif (minus) menunjukkan bahwa sektor/subsektor tersebut mempunyai laju pertumbuhan PDRB lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan total PDRB Provinsi Lampung. Sektor dan sub-sektor tersebut antara lain: Tanaman perkebunan (-0,13), Peternakan dan Hasil-hasilnya (-0,20), Sektor pertambangan dan penggalian (-0,39), Sektor bangunan (-0,06) dan seterusnya. Sedangkan sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai positip (plus) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan yang melebihi atau diatas laju pertumbuhan total PDRB Provinsi Lampung. Sektor/sub-sektor yang dimaksud antara lain: Tanaman Bahan Makanan (0,5), Perikanan (0,32), Makanan Minuman dan Tembakau (0,03), Pupuk, Kimia & Barang dari Karet (1,39). c. Dalam kolom komponen differential shift terdapat sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai negatif (minus), hal tersebut menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor yang dimaksud mempunyai tingkat competitiveness (persaingan) yang rendah dibandingkan dengan sektor/sub-sektor yang 100 lain. Sektor/sub-sektor di Kota Metro yang mempunyai nilai negatif berarti bahwa sektor/sub-sektor tersebut tingkat pertumbuhannya dibawah sektor/sub-sektor yang sama secara umum di Provinsi Lampung. Oleh karenanya pengembangan sektor/sub-sektor tersebut di Kota Metro tidak akan menguntungkan karena tidak mampu bersaing dalam agregat wilayah. Sektor/sub-sektor yang bernilai negatif antara lain: Tanaman Bahan Makanan (-0,34), Industri makanan minuman dan tembakau (-0,07), Industri pupuk kimia & barang dari karet (-1,34), Perdagangan besar & eceran (-0,13). Sedangkan sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai positif (plus) menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor tersebut di Kota Metro mempunyai tingkat pertumbuhan diatas tingkat pertumbuhan sektor/sub-sektor yang sama di Provinsi Lampung. Hal itu juga menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor tersebut mempunyai nilai competitivenes yang tinggi. Beberapa sektor/sub-sektor tersebut antara lain: Tanaman perkebunan (0,45), Hotel (0,06), Restoran (0,58), Jasa perusahaan (0,25) dan seterusnya (Tabel 59). 101 Tabel 58 PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung Tahun 2002 dan 2006 LAPANGAN USAHA KOTA METRO 2002 2006 PROVINSI LAMPUNG 2002 2006 1. PERTANIAN a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. Peternakan dan Hasil-hasilnya d. Perikanan 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 34.120,00 31.270,56 5.106.607,10 6.411.637,00 1.157,67 1.770,05 2.898.264,71 3.114.167,00 38.231,19 31.700,86 1.431.922,91 1.442.314,00 958,00 1.265,80 1.353.271,32 2.066.120,00 0,00 0,00 1.047.208,07 850.699,00 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 11.978,79 14.013,72 2.571.603,00 3.187.386,00 2. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 4.574,83 4.891,16 519.166,00 305.926,00 3. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet 2.994,70 3.503,43 72.939,00 189.046,00 3.003,48 3.787,61 68.744,68 89.701,00 692,00 433,20 27.235,03 18.063,00 18.919,24 20.869,45 1.337.717,83 1.528.781,00 62.333,09 66.221,00 3.703.651,84 4.427.726,00 233,00 285,95 22.237,51 25.852,00 12.334,54 21.266,61 347.076,77 398.772,00 19.332,64 22.497,67 794.730,13 939.658,00 18.546,28 23.858,47 252.380,93 386.051,00 a. Bank 5.631,37 55.590,96 21.850,77 816.077,00 b. Lembaga Keuangan bukan Bank 2.618,28 2.820,69 90.706,12 106.646,00 c. Sewa Bangunan 23.234,39 31.347,85 825.325,66 1.095.013,00 d. Jasa Perusahaan 859,74 1.204,75 32.296,31 37.147,00 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 41.584,27 47.454,28 1.162.459,00 1.220.632,00 2. Jasa Pemerintah lainnya 21.374,50 24.391,72 597.509,00 627.410,00 3. Sosial Kemasyarakatan 22.925,08 25.646,78 191.243,60 242.871,00 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a. Listrik b. Air Bersih 5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN a. Perdagangan Besar & Eceran b. Hotel c. Restoran 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 1. Angkutan Jalan Raya 2. Pos dan Telekomunikasi 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JASA PERUSAHAAN 9. JASA-JASA 4. Hiburan & Rekreasi 5. Perorangan & Rumahtangga JUMLAH Sumber: BPS Pusat, 2007 398,34 435,35 11.574,70 16.106,00 13.020,00 15.729,55 215.968,50 246.633,00 24.703.690,50 29.790.434,00 102 Tabel 59 Analisis shift-share PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung Lapangan Usaha 1. PERTANIAN a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. Peternakan dan Hasil-hasilnya d. Perikanan 2. INDUSTRI PENGOLAHAN 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 2. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 3. Pupuk, Kimia & Brg. Dari Karet 3. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a. Listrik b. Air Bersih 4. BANGUNAN 5. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN a. Perdagangan Besar & Eceran b. Hotel c. Restoran 6. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 1. Angkutan Jalan Raya 2. Pos dan Telekomunikasi 7. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. a. Bank b. Lembaga Keuangan bukan Bank c. Sewa Bangunan d. Jasa Perusahaan 8. JASA-JASA 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 2. Jasa Pemerintah lainnya 3. Sosial Kemasyarakatan 4. Hiburan & Rekreasi 5. Perorangan & Rumahtangga Komponen Share Komponen Proportion al Shift Komponen Differential Shift 0,21 0,21 0,21 0,21 0,05 -0,13 -0,20 0,32 -0,34 0,45 -0,18 -0,21 -0,08 0,53 -0,17 0,32 0,21 0,21 0,21 0,03 -0,62 1,39 -0,07 0,48 -1,42 0,17 0,07 0,17 0,21 0,21 0,21 0,10 -0,54 -0,06 -0,04 -0,04 -0,04 0,26 -0,37 0,10 0,21 0,21 0,21 -0,01 -0,04 -0,06 -0,13 0,06 0,58 0,06 0,23 0,72 0,21 0,21 -0,02 0,32 -0,02 -0,24 0,16 0,29 0,21 0,21 0,21 0,21 36,14 -0,03 0,12 -0,06 -27,48 -0,10 0,02 0,25 8,87 0,08 0,35 0,40 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 -0,16 -0,16 0,06 0,19 -0,06 0,09 0,09 -0,15 -0,30 0,07 0,14 0,14 0,12 0,09 0,21 Total Sumber : Hasil Analisis, 2008 Analisis Tabel Input-Output Analisis input-output Kota Metro dilakukan setelah mendapatkan Tabel Input-Output (I-O) Kota Metro hasil Metode RAS Tabel Input-Output Provinsi Lampung Tahun 2005 yang sebelumnya sudah melalui proses updating PDRB Kota Metro Tahun 2005. Tabel I-O Provinsi Lampung terdiri dari 70 sektor, baik sektor primer maupun sekunder. Dalam proses updating dengan PDRB Kota Metro Tahun 2005 didapatkan 13 sektor yang sesuai dengan kondisi struktur perekonomian di Kota Metro. 103 Struktur Output Total struktur output yang terbentuk di Kota Metro Tahun 2005 adalah sebesar 628,73 Milyar rupiah, yang merupakan nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang tersedia di Kota Metro. Dengan mengetahui besarnya output yang dihasilkan masing-masing sektor, maka akan dapat ditelaah sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam menghasilkan output secara keseluruhan. Dari total output yang dihasilkan di Kota Metro tersebut terdapat 13 (tiga belas) sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan struktur output Kota Metro seperti yang disajikan sebagaimana pada tabel dibawah. Tabel 60 Struktur output Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Sektor 13. 5. 12. 7. 8. 11. 1. 10. 3. 6. 2. 4. 9. Jasa-Jasa Industri pengolahan Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan Komunikasi Tanaman Bahan Makanan Restoran Peternakan dan hasil-hasilnya Listrik, gas dan air minum Tanaman Perkebunan Lainnya Perikanan Hotel Jumlah Sumber : Hasil analisis, 2008 Nilai (Juta Rp) 117.337,74 100.418,29 98.452,86 74.271,24 71.163,91 47.280,33 40.071,57 36.619,69 32.793,02 5.726,81 1.853,38 1.727,21 1.012,43 628.728,47 Distribusi (%) 18,66 15,97 15,66 11,81 11,32 7,52 6,37 5,82 5,22 0,91 0,29 0,27 0,16 100 Tabel input-output Kota Metro hasil RAS Tabel I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 menggunakan klasifikasi 13 sektor tersebut diatas dapat diketahui lima sektor ekonomi yang memberikan kontribusi output lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Lima sektor dengan output terbesar di Kota Metro ini yaitu dengan total nilai sebesar 461,64 Milyar rupiah atau sekitar 73,43% adalah sektor jasa-jasa (13) dengan output mencapai 117, 34 Milyar rupiah atau sekitar 18,66% dari total output, diikuti sektor industri pengolahan (5) dengan nilai output mencapai 100,42 Milyar rupiah atau 15,97% dari total output, sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (12) dengan nilai output 98,45 Milyar rupiah atau sekitar 15,66%, sektor bangunan (7) dengan nilai output 74,27 104 Milyar rupiah atau 11,81% dan sektor perdagangan (8) dengan nilai 71,16 Milyar rupiah atau sekitar 11,32% dari total output. Struktur Permintaan Akhir Selain digunakan oleh sektor produksi dalam rangka proses produksi, barang dan jasa juga digunakan oleh konsumen untuk memenuhi permintaan akhir antara lain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal, ekspor, serta perubahan stok. Jumlah komponen permintaan akhir tersebut apabila dikurangi dengan impor maka akan sama dengan jumlah penggunaan akhir barang dan jasa yang berasal dari faktor produksi domestik atau PDRB menurut penggunaan. Struktur permintaan akhir di Kota Metro Tahun 2005 menurut sektor dirinci dalam Tabel 61, dengan total permintaan akhir mencapai 504,57 Milyar rupiah. Dari total permintaan akhir tersebut terdapat 4 (empat) sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadapa permintaan akhir dengan nilai 354,77 Milyar rupiah atau sekitar 70,31% dari total permintaan akhir. Sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (12) berada pada urutan pertama dengan nilai 114,17 Milyar rupiah atau sekitar 22,63% dari total permintaan akhir. Sektor perikanan (4) berada pada urutan kedua dengan nilai 94,77 Milyar rupiah atau sekitar 18,78% dari total permintaan akhir. Selanjutnya sektor pengangkutan dan komunikasi (11) mencapai nilai 80,15 Milyar rupiah atau 15, 89% dan sektor listrik, gas dan air minum (6) mencapai nilai 65,66 Milyar rupiah atau sekitar 13,01% dati total permintaan akhir. 105 Tabel 61 Struktur final demand Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Sektor 12. 4. 11. 6. 7. 10. 9. 2. 5. 1. 3. 8. 13. Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan Perikanan Pengangkutan dan Komunikasi Listrik, gas dan air minum Bangunan Restoran Hotel Tanaman Perkebunan Lainnya Industri pengolahan Tanaman Bahan Makanan Peternakan dan hasil-hasilnya Perdagangan Jasa-Jasa Jumlah Sumber: Hasil analisis, 2008 Nilai (Juta Rp) 114.174,93 94.777,93 80.155,18 65.660,74 49.543,69 37.779,36 35.621,02 21.972,77 3.142,07 1.743,95 0,00 0,00 0,00 504.571,64 Distribusi (%) 22,63 18,78 15,89 13,01 9,82 7,49 7,06 4,35 0,62 0,35 0,00 0,00 0,00 100 Angka Pengganda Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Pada Tabel 62 disajikan angka pengganda yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain angka pengganda nilai tambah (value added multiplier) yaitu dampak peningkatan permintaan akhir suatu sektor terhadap peningkatan nilai tambah atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) total di wilayah Kota Metro. Angka pengganda impor (impor multiplier) yang menunjukkan dampak peningkatan akhir atas impor sektor tertentu terhadap peningkatan total impor secara keseluruhan di Kota Metro. 106 Tabel 62 Struktur angka pengganda Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Kode Pengganda Nilai Tambah Sektor 1 Tanaman Bahan Makanan 2 Tanaman Perkebunan Lainnya 3 Peternakan dan hasil-hasilnya 4 Perikanan 5 Industri pengolahan 6 Listrik, gas dan air minum 7 Bangunan 8 Perdagangan 9 Hotel 10 Restoran 11 Pengangkutan dan Komunikasi 12 Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan 13 Jasa-Jasa Sumber: Hasil analisis, 2008 Pengganda Impor 1,016 1,060 0,000 1,291 1,499 0,000 1,002 0,000 1,034 0,000 0,000 0,000 0,000 1,038 1,034 1,041 1,185 3,458 1,355 1,154 1,096 1,708 1,747 1,098 1,153 1,078 Pada Tabel 62 dapat diketahui berbagai sektor yang memiliki penganda nilai tambah dan pengganda impor yang tinggi. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektor-sektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Selanjutnya pada angka pengganda impor, sektor industri pengolahan (5) juga mempunyai angka tertinggi yakni 1,499 sedangkan sektor restoran (10) 0,000 atau tidak memiliki angka pengganda impor. Sektor perikanan (4) termasuk memiliki angka pengganda impor yang tinggi yakni sebesar 1,291. Sektor-sektor lainnya bahkan tidak memiliki angka pengganda impor (0,000) seperti sektor peternakan (3), sektor listrik gas dan air minum (6), sektor perdagangan (8), sektor pengangkutan (11) dan sektor keuangan persewaan (12) dan jasa-jasa (13). Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan Tingkat keterkaitan antar sektor produksi dalam suatu aktivitas perekonomian dapat dilihat berdasarkan daya penyebaran dan derajat kepekaan. Sehingga sektor-sektor yang merupakan sektor unggulan dapat ditentukan berdasarkan indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan. 107 Tabel 63 Indeks daya penyebaran dan derajat kepakaan Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Indeks Daya Penyebaran 1 Tanaman Bahan Makanan 0,857 2 Tanaman Perkebunan Lainnya 0,858 3 Peternakan dan hasil-hasilnya 0,875 4 Perikanan 1,005 5 Industri pengolahan 1,368 6 Listrik, gas dan air minum 1,101 7 Bangunan 0,868 8 Perdagangan 0,915 9 Hotel 1,035 10 Restoran 1,290 11 Pengangkutan dan Komunikasi 0,925 12 Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan 0,993 13 Jasa-Jasa 0,908 Sumber : Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 (updating), diolah 2008 Kode Sektor Indeks Derajat Kepekaan 1,279 0,849 1,024 0,867 1,008 0,937 0,981 1,282 0,851 0,843 1,013 1,185 0,881 Daya penyebaran menunjukkan tingkat keterkaitan kebelakang (backward linkage), yaitu untuk mengetahui keterkaitan teknis kegiatan industri maupun kegiatan ekonomi dengan bahan mentah dan bahan baku penunjang produksinya. Sedangkan derajat kepekaan menunjukkan tingkat keterkaitan ke depan (forward linkage), yaitu untuk mengetahui keterkaitan teknis kegiatan ekonomi dengan penjualan barang jadi atau barang hasil produksinya (Kusumawati, 2005). Dari Tabel Input-Output Kota Metro Tahun 2005 dapat diturunkan indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan sektor-sektor ekonomi di Kota Metro seperti disajikan dalam Tabel 63. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Sektor lainnya yang memliki indeks daya penyebaran lebih dari satu berturut-turut adalah sektor perikanan (4), sektor listrik, gas dan air minum (6) dan sektor hotel (9). Sedangkan sektor yang mempunyai derajat kepakaan tertinggi di Kota Metro adalah sektor perdagangan (8) dengan indeks derajat kepekaan sebesar 1,282, yang menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu unit maka sektor 108 perdagangan akan mengalami peningkatan output sebesar 1,282 unit. Sektorsektor lain yang mempunyai derajat kepakaan cukup tinggi adalah sektor tanaman bahan makanan (1), sektor peternakan dan hasil-hasilnya (3), sektor industri pengolahan (5), sektor pengangkutan (11) dan sektor keuangan (12). ANALISIS SWOT Dalam menyusun suatu strategi pengembangan wilayah, sebelumnya perlu dilakukan suatu analisa yang mendalam. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah dengan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats Analysis), yaitu analisis potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/kendala. Analisis ini diawali dengan inventarisasi dan klasifikasi terhadap permasalahan/kelemahan dan kelebihan/kekuatan baik secara internal pengembangan wilayah di Kota Metro, maupun secara eksternal yang berasal dari lingkungan di luar Kota Metro. Langkah-langkah yang harus di lakukan adalah (1) Input stage (analisis data input dan Analisis Lingkungan Strategis), (2) Matching stage (analisis pencocokan), (3) Desicion stage (analisis pengambilan keputusan). Analisis Data Input Proses analisis dimulai dengan pendalaman atau identifikasi lingkungan strategis, kemudian dilanjutkan dengan analisis faktor internal dan faktor eksternal. Proses analisis akan menghasilkan beberapa asumsi atau peluang strategis untuk mendapatkan faktor-faktor kunci keberhasilan (Utami , 2008). Analisis Lingkungan Strategis. Lingkungan strategis yang mempengaruhi kinerja dalam proses perencanaan dan pengembangan wilayah di Kota Metro dibagi atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal, mencakup kekuatan (S = Strengths) dan kelemahan (W = Weakness). Sementara yang tergolong dalam faktor eksternal adalah peluang (O = Opportunities) dan ancaman (T = Threaths). Dari hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, diperoleh daftar faktor internal dan eksternal dalam usaha pengembangan wilayah di Kota Metro sebagaimana berikut: Faktor Internal Kekuatan, faktor internal yang merupakan suatu kekuatan untuk pengembangan wilayah adalah: 110 1. Potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan dalam pengembangan wilayah Kota Metro masih luas (± 6.461 Ha) atau 90% dari total luas wilayah. 2. Persentase luas lahan kelas S1 (sangat sesuai) dan S2 (sesuai) untuk pengembangan permukiman dan jalan lebih luas dibandingkan kelas yang sama untuk tanaman padi, jagung dan peternakan. Lahan kelas S1 permukiman dan jalan seluas 90% sedangkan lahan kelas S2 untuk padi, jagung dan peternakan rata-rata 15%. 3. Kondisi eksisting lahan yang belum terbangun di Kota Metro masih luas lebih kurang 55% dari luas wilayah, sehingga potensi pengembangan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan masih besar. 4. Topografi di Kota Metro yang dominan relatif datar dengan kemiringan lereng 3–8% meliputi 80% luas wilayah. 5. Luas wilayah Kota Metro yang kecil (68,74 Km2) memudahkan dalam perencanaan pengembangan wilayah. 6. Tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang (24 jiwa/ha). 7. Kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum dengan kriteria standar pelayanan minimal (SPM) sebesar 52,98 Ha masih dapat terpenuhi dalam kelas lahan permukiman. 8. Kondisi eksisting jumlah fasilitas umum yang ada sebagian besar sudah memenuhi kriteria standar pelayanan minimal terutama fasilitas pendidikan. Kelemahan, faktor internal yang merupakan suatu kelemahan adalah sebagai berikut: 1. Terdapat lahan seluas 1.664 Ha yang termasuk lahan kelas S2 untuk pertanian tetapi kondisi eksisting penggunaan lahan sebagian menjadi permukiman. 2. Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah standar pelayanan minimal untuk permukiman kota. 3. Terdapat hanya satu sektor yang berkembang dan layak menjadi sektor unggulan dari beberapa sektor perekonomian yang ada di Kota Metro, 111 yakni sektor industri pengolahan dengan nilai backward linkage 1,368 dan nilai forward linkage 1,008. Faktor Eksternal Peluang, beberapa peluang yang mendukung pengembangan wilayah di Kota Metro adalah: 1. Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam perencanaan evaluasi sumberdaya lahan. 2. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah sehingga Kota Metro mempunyai otoritas dalam pengembangan wilayah. 3. Potensi kerjasama atau kemitraan dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah. Ancaman, faktor lingkungan yang menjadi ancaman pengembangan wilayah yakni: Perkembangan kabupaten/kota lain dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomiannya menjadi sektor unggulan termasuk sektor industri pengolahan. Analisis Faktor Internal Hasil analisis menunjukan bahwa pengaruh faktor internal yang lebih dominan terdapat pada potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan masih luas, topografi kota metro yang relatif datar, tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang, kondisi eksisting lahan yang belum terbangun masih luas, kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum masih dapat terpenuhi dalam kelas kesesuaian permukiman, hanya satu sektor unggulan yang berkembang, kondisi eksisting lahan yang sesuai untuk pertanian sebagian sudah menjadi permukiman. Faktor–faktor tersebut merupakan bagian dari kekuatan dan kelemahan yang perlu diperhitungkan atau mempengaruhi dalam pengembangan wilayah Kota Metro, sedangkan kondisi eksisting luas jumlah fasilitas sektor pendidikan diatas standar pelayanan minimal merupakan faktor peluang terakhir yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan wilayah di Kota Metro. Adapun secara rinci hasil analisis faktor internal pada Tabel 64. 112 Tabel 64 Analisis faktor internal pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Internal Strategis Bobot Rating Skor Komentar Potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan dalam pengembangan wilayah Kota Metro masih luas Persentase luas lahan kelas S1 (sangat sesuai) dan S2 (sesuai) untuk pengembangan permukiman dan jalan lebih luas dibandingkan kelas yang sama untuk tanaman padi, jagung dan peternakan Kondisi eksisting lahan yang belum terbangun di Kota Metro masih luas Topografi di Kota Metro yang dominan relatif datar Luas wilayah Kota Metro yang kecil 0,13 4 0,52 0,10 2 0,20 0,10 3 0,30 Potensi Pengembangan permuki man dan jalan masih tinggi 0,12 4 0,48 0,06 3 0,18 Tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang 7. Kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum dengan kriteria SPM masih dapat terpenuhi dalam kelas lahan permukiman. 8. Kondisi eksisting jumlah fasilitas umum yang ada sebagian sudah memenuhi kriteria standar pelayanan minimal terutama fasilitas pendidikan. Kelemahan: 0,11 4 0,44 0,08 3 0,24 0,05 1 0,05 Kondisi eksisting lahan yang sesuai untuk pertanian sebagian menjadi permukiman. Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah standar pelayanan minimal untuk permukiman kota Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggulan Jumlah 0,05 3 0,15 0,10 1 0,10 0,10 2 0,20 Kekuatan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 1,00 Pengembangan sektor unggulan 2,86 Sumber: Hasil analisis, 2008 Analisis Faktor Eksternal Hasil identifikasi faktor eksternal selanjutnya dilakukan tahap analisis faktor eksternal yakni peluang dan ancaman sebagaimana Tabel 65 berikut: 113 Tabel 65 Analisis faktor eksternal pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Eksternal Strategis Bobot Rating Skor Komentar 0,29 4 1,16 0,18 2 0,36 0,27 3 0,81 Potensi kerjasama dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah 0,26 1 0,26 Peluang: 1. 2. 3. Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam perencanaan evaluasi sumberdaya lahan. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah memberikan wewenang dalam pengembangan wilayah Potensi kerjasama atau kemitraan dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah Ancaman: 1. Perkembangan kabupaten/kota lain dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomian menjadi sektor unggulan termasuk sektor industri pengolahan. Jumlah 1,00 Potensi sektor unggulan daerah sekitar 2,59 Sumber: Hasil analisis, 2008 Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor eksternal yang dominan adalah perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) evaluasi sumberdaya lahan, potensi kemitraan dengan daerah sekitar, kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah dan perekembangan sektor-sektor unggulan di daerah lain. Perkembangan pembangunan di daerah lain dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan dapat menjadi ancaman bagi pengembangan wilayah di Kota Metro, karena pada saat ini hanya satu sektor saja di Kota Metro yang layak dijadikan sebagai sektor unggulan. Perkembangan faktor ini berada di luar wilayah Kota Metro, sehingga dibutuhkan kerjasama antar wilayah terkait untuk memaksimalkan kemampuan dan meminimalkan ancaman yang dimulai sejak penyusunan perencanaan pengembangan wilayah. Perkembangan teknologi SIG dalam evaluasi sumberdaya lahan dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sehingga data-data spasial evaluasi sumberdaya lahan yang dihasilkan dapat menjadi referensi perencanaan pengembangan wilayah. Pencocokan Langkah berikutnya adalah tahap pencocokan. Dengan menggunakan strategi silang, tahap pencocokan dengan matrik TOWS atau SWOT dalam 114 Analisis SWOT dihasilkan beberapa asumsi strategis sebagai bahan untuk pencapaian kemungkinan alternatif strategi pengembangan wilayah di Kota Metro. Strategi dan hasil dari pencocokan tersebut selanjutnya dilakukan proses penetapan ”Asumsi Alternatif Strategis”. Matrik tahap pencocokan dari analisa ini disajikan pada Tabel 66. Sesuai matrik SWOT pada Tabel 66, diperoleh berbagai asumsi alternatif strategi yang dapat dilakukan dalam upaya pengembangan wilayah di Kota Metro yaitu: Strategi Strenghts-Opportunities, yaitu: memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang, dengan strategi yang mungkin dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. 2. Memanfaatan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. 3. Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi Weaknesses-Opportunities, yaitu: meminimalkan kelemahan untuk mencapai dan memanfaatkan peluang yang ada, dengan strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. 2. Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar dalam menumbuhkan sektor-sektor unggulan. 115 Tabel 66 Matrik SWOT strategi pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Internal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Faktor Eksternal 1. Perkembangan teknologi SIG dalam evaluasi sumberdaya lahan 2. Kebijakan otonomi daerah O 3. Potensi kerjasama antar daerah dalam pengembangan wilayah 1. 1. Perkembangan daerah sekitar dalam memacu tumbuhnya sektorT sektor unggulan 1. Sumber: Hasil Analisis, 2008 2. 3. S Potensi lahan permukiman masih luas Potensi lahan kelas permukiman lebih luas dari lahan kelas pertanian Kondisi eksisting lahan belum terbangun lebih luas dari lahan terbangun Topografi relatif datar Luas wilayah yang kecil Tingkat kepadatan penduduk kategori sedang Ketersediaan lahan yang luas untuk kebutuhan fasilitas umum Kondisi eksisting jumlah fasilitas pendidikan diatas SPM Alternatif Strategis SO Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG Memanfaatan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar Asumsi Strategis ST Mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan 1. 2. 3. W Kondisi eksisting lahan kelas pertanian sebagian sudah menjadi permukiman Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah SPM permukiman kota Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggulan Alternatif Strategis WO 1. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan 2. Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar dalam menumbuhkan sektor-sektor unggulan Asumsi Strategis WT 1. Memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan 116 Strategi Strengths-Threats, yaitu: strategi yang memanfaatkan kekuatan untuk mengurangi ancaman, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi Weaknesses-Threats, yaitu: merupakan taktik untuk bertahan yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan internal serta menghindar dari ancaman-ancaman lingkungan, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH Perumusan Strategi Setelah dilakukan identifikasi tentang potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman menggunakan Analisis SWOT dalam konteks pengembangan wilayah maka langkah selanjutnya adalah perumusan strategi. Dimana dalam langkah ini metode yang digunakan yakni metode QSPM (Quantitatif Strategic Planning Matrix), yaitu: rancangan untuk menentukan kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari tindakan strategi alternatif yang mungkin dapat dilakukan. Berbagai faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dimasukan dalam matrik QSPM untuk selanjutnya dikombinasikan dengan strategi-strategi dalam Tabel SWOT dengan menggunakan attractive score yang telah ditentukan. Tabel Quantitatif Strategic Planning Matrik (QSPM) menunjukkan bahwa Strategi Pengembangan Wilayah di Kota Metro dapat dilakukan melalui beberapa alternatif strategi, dengan urutan strategi sebagai berikut: Tabel 67 Urutan alternatif strategi sesuai hasil analisis QSPM No Strategi 1. Memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan Total Score 157 2. Memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah 156 3. Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar 154 4. Mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan 151 5. Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG 149 6. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan 146 Sumber: Hasil analisis, 2008 118 Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Keenam strategi tersebut mempunyai score yang berbeda-beda tergantung hasil dari proses perhitungan QSPM. Perbedaan score tersebut menunjukkan urutan dari strategi yang telah dirumuskan. Masing-masing strategi dapat diwujudkan dengan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat aplikasi teknis dilapangan. Kegiatan yang dirumuskan merupakan penjabaran dari masingmasing strategi. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi ini dapat dilaksanakan dengan berbagai kegiatan yaitu: 1. Melakukan pemetaan jaringan jalan di Kota Metro dengan skala yang detil (1:20.000 atau 1:10.000) untuk memudahkan dalam menginventarisir kondisi jalan yang ada. 2. Melakukan analisis kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan dengan skala lebih detil (1:20.000) sehingga dapat diketahui karakteristik dan sifat-sifat lahan secara fisik yang sesuai untuk jalan secara detil. 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan jalan pada lokasilokasi sentra industri pengolahan sebagai sektor unggulan dan lokasi perekonomian masyarakat yang berpotensi menjadi sektor unggulan seperti sektor: perdagangan, keuangan dan peternakan. 4. Meningkatkan kualitas pembangunan jalan pada seluruh wilayah Kota Metro. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Adapun kegiatankegiatan yang dapat dilakukan antara lain: 1. Mengidentifikasi kondisi penggunaan lahan atau landuse di Kota Metro yang up to date dengan menggunakan data-data spasial yang beresolusi 119 tinggi seperti Satelit Quickbird dan Ikonos agar didapatkan data landuse yang detil dan akurat. 2. Menganalisis kelas kemampuan dan kesesuaian lahan di Kota Metro untuk penggunaan lahan pertanian secara umum dan permukiman dengan skala peta yang detil (1:25.000 atau 1:10.000). 3. Menzonasi lahan-lahan pertanian yang belum terbangun dan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan tinggi sebagai lahan pertanian, sedangkan lahan pertanian yang tidak sesuai kelasnya dizonasi sebagai area permukiman dan jalan. 4. Membuat Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) sebagai landasan hukum untuk tetap mempertahan lahan-lahan pertanian belum terbangun yang mempunyai kelas kesesuaian lahan S1(sangat sesuai) seperti di Kelurahan Sumbersari dan Rejomulyo. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Menggunakan lahan yang mempunyai kelas kesesuaian untuk permukiman dan jalan untuk pembangunan fasilitas umum. 2. Memperbaiki sarana dan prasarana fasilitas perekonomian seperti pasar dan pusat pertokoan yang banyak dimanfaatkan oleh pedagang dari luar daerah. 3. Melakukan kerjasama dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur untuk perbaikan jalan dan pembangunan pasar dalam memfasilitasi tingginya interaksi penduduk dari kedua daerah tersebut ke Kota Metro. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Adapun kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Membangun sarana dan prasarana penunjang aktifitas masyarakat pada sentra-sentra industri pengolahan sebagai sektor unggulan. 120 2. Membangun pusat-pusat perdagangan dan mengembangkan lembaga keuangan lokal untuk mempercepat sektor perdagangan dan keuangan menjadi sektor unggulan. 3. Membangun sentra-sentra pengembangan peternakan pada lahan yang mempunyai kesesuaian lahan peternakan untuk mempercepat menjadi sektor unggulan. 4. Melakukan kajian sektor unggulan bersama tenaga ahli dari kalangan akademisi yang mempunyai kompetensi tinggi. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Beberapa kegiatan yang berkaitan dengan strategi ini antara lain: 1. Melakukan pemetaan dengan skala detil (1:20.000) untuk menzonasi lahan-lahan pada kawasan permukiman dan menganalisis kesesuaian lahan dengan kriteria lahan bangunan, perumahan, jalan, jaringan air minum dan lain sebagainya. 2. Membuat database Sistem Informasi Geografi (SIG) yang memuat datadata spasial wilayah Kota Metro secara lebih lengkap dan detil. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Melakukan inventarisir data di lapangan (ground check) tentang kesesuaian lahan pertanian dan jalan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). 2. Membuat jaringan database SIG open acces untuk memudahkan masyarakat dalam mendapat data spasial lahan pertanian dan jalan. Pelaksanaan keenam strategi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan melihat situasi dan konteks yang dibutuhkan. Hal yang paling mendasar untuk melakukan evaluasi sumberdaya lahan di Kota Metro yakni dengan melakukan pemetaan potensi sumberdaya lahan dengan skala detil. Melihat luas wilayah Kota Metro yang kecil hendaknya peta yang menjadi acuan yakni Peta Landsystem skala 1:50.000 atau bahkan 1:25.000. Peta Landsytem Kota Metro 121 skala detil belum tersedia saat ini, oleh sebab itu dimungkinkan untuk pembuatan peta tersebut mengingat luas wilayah Kota Metro yang kecil maka lebih mudah untuk melakukan survey tanah dilapangan. Setelah memetakan potensi sumberdaya lahan dengan skala detil maka dapat diketahui informasi karakteristik lahan, jenis-jenis tanah dan sifat-sifat lahan yang lebih rinci. Sehingga akan didapat informasi kelas kemampuan dan kesesuaian lahan di Kota Metro yang lebih rinci dan akurat. Hasil dari pemetaan yang lebih detil dapat menjadi referensi langsung di lapangan. Sehingga lahanlahan di Kota Metro dapat dikembangkan sesuai dengan kelas dan potensi yang ada. Penyusunan Visi dan Misi Langkah berikutnya setelah merumuskan konsep strategi pengembangan wilayah Kota Metro, maka disusunlah suatu visi dan misi yang merupakan tujuan yang akan dicapai dari konsep strategi tersebut atau dengan kata lain strategi merupakan penjabaran dari visi dan misi. Visi merupakan pandangan ideal tentang masa depan yang ingin diwujudkan dan mempunyai potensi dalam mewujudkannya, sedangkan misi merupakan amanat yang diemban dalam mewujudkan visi. Sedangkan strategi merupakan rangkaian konsep yang berisi langkah-langkah atau cara-cara untuk mewujudkan visi dan misi (Renstra Kota Metro, 2005). Setelah mengidentifikasi dari konsep strategi pengembangan wilayah tersebut maka disusunlah visi dan misi yang sesuai dengan konteks rumusan strategi tersebut. Maka dapat dinyatakan visi yang akan dicapai dalam strategi pengembangan wilayah kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan adalah: “Terwujudnya pengembangan wilayah dengan mengembangkan sektorsektor unggulan yang didukung potensi sumberdaya lahan”. Adapun misi yang terkandung dalam visi tersebut adalah: 1. Mengembangkan sektor-sektor pekonomian menjadi sektor-sektor unggulan sebagai dasar pengembangan wilayah. 2. Memaksimalkan potensi sumberdaya lahan untuk menunjang sektorsektor unggulan. 122 Berdasarkan kedua misi tersebut diatas maka konsep strategi yang telah dirumuskan sebelumnya sesuai dengan misi nomor 2 (dua), dimana strategi yang telah dirumuskan tersebut berkaitan dengan potensi sumberdaya lahan. Arahan Pengembangan Wilayah Arahan pengembangan wilayah Kota Metro dilakukan dengan menganalisis kelas kesesuaian lahan dan penggunaan lahannya. Prosesnya dengan melakukan overlay Peta kesesuaian lahan dengan Peta penggunaan lahan yang ada. Hasil dari analisis peta tersebut menunjukkan kawasan pertanian diarahkan pada lahan kelas S1, S2 dan S3 hal tersebut didasarkan atas kondisi eksiting penggunaan lahan lebih banyak masih berbentuk belukar rawa, kebun campuran, pertanian lahan kering dan sawah. Terdapat lahan seluas 95,90 Ha lahan kelas S1, lahan seluas 349,18 Ha dan 2.091,88 Ha lahan kelas S3 yang diarahkan untuk dipertahankan menjadi lahan pertanian. Upaya meningkatkan kelas kesesuian dari kelas S3 menjadi kelas S2 untuk pengembangan padi dan jagung, dapat dilakukan dengan minimalisir faktor pembatas media perakaran (r), retensi hara (f) dapat dengan cara pemberian input atau dilakukan pengelolaan dengan pemupukan, pengaturan sistem tata air, dan pengaturan sistem drainase. Namun demikian untuk beberapa tingkat pengelolaan yang sedang-tinggi yang membutuhkan biaya yang besar seperti pengaturan sistem tata air dan pembuatan saluran drainase dibutuhkan intervensi pemerintah untuk pengelolaannya, sedangkan untuk pengadaan input berupa pemupukan dapat difasilitasi masyarakat melalui kemitraan dengan swasta. Pada kawasan pertanian dapat juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan menjadi sektor unggulan. Sektor pertanian dalam hal ini subsektor bahan makanan dan subsektor peternakan mempunyai potensi dikembangkan sebagai sektor unggulan. Lahanlahan belum terbangun yang berada pada Kelurahan Margodadi, Rejomulyo, Margodadi, Sumbersari Bantul dan sebagian Tejosari layak dipertahankan untuk tetap menjadi lahan pertanian dalam Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Metro. Kawasan permukiman kondisi eksisting penggunaan lahan lebih variatif dengan dominasi penggunaan lahannya adalah kebun campuran dan permukiman 123 masing-masing seluas 2.268,75 Ha dan 2.271,48 Ha. Pada lahan kebun campuran diarahkan untuk pengembangan permukiman karena termasuk kelas Baik untuk lahan permukiman, hal itu sangat sesuai apabila lahan tersebut diarahkan untuk permukiman. Lahan-lahan yang diarahkan sebagai kawasan permukiman selain menyediakan lahan untuk jalan juga akan menjadi lokasi pengembangan sektorsektor unggulan. Pembangunan sentra-sentra industri pengolahan, pusat-pusat perdagangan, dan pembangunan sarana prasarana sektor keuangan dan jasa merupakan upaya untuk menumbuhkembangkan sektor unggulan di Kota Metro. Lahan-lahan yang berada pada Kelurahan Imopuro, Hadimulyo Barat, Hadimulyo Timur, Ganjarasri, Ganjaragung dan sebagainya layak dikembangkan kawasan permukimaan (perumahan, pertokoan, perkantoran, jalan dll) untuk mendukung sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan. Secara lebih rinci luas arahan lahan dalam strategi pengembangan wilayah Kota Metro terdapat dalam Tabel 68. Tabel 68 Luas arahan pengembangan wilayah Kota Metro Kondisi Eksisting lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Jumlah Sumber : Hasil analisis, 2008 Kawasan Pertanian (Ha) 49,49 1.906,68 378,60 50,94 151,25 2536,96 Kawasan Permukiman (Ha) 2.271,48 2.268,75 4.540,23 124 Gambar 19 Peta arahan pengembangan wilayah Kota Metro Tabel 69 Matrik quantitatif strategic planning matrix (QSPM) strategi pengembangan wilayah Kota Metro Alternatif Strategi Faktor Utama Potensi lahan Permukiman Kebijakan penggunan lahan Kerjasama antar daerah AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS 4 4 16 4 16 4 16 4 12 4 16 4 16 Rating Implementasi SIG Potensi lahan untuk sektor unggulan Pembangunan jalan OPPORTUNITIES (O) 1 Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam evaluasi sumberdaya lahan 2 Kebijakan otonomi daerah 2 2 4 4 8 3 6 4 8 4 8 3 8 3 Potensi kerjasama antar daerah dalam pengembangan 3 4 12 4 12 4 12 4 8 3 9 4 12 1 3 3 2 2 4 4 2 2 4 4 4 4 wilayah THREATS (T) 1 Perkembangan daerah sekitar dalam memacu tumbuhnya Sektor-sektor unggulan STRENGTS (S) 1 Potensi kelas lahan permukiman masih luas 4 4 16 4 16 4 16 4 16 4 16 4 16 2 Potensi lahan kelas permukiman lebih luas dari potensi 2 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 16 4 16 4 16 4 16 3 12 4 16 lahan kelas pertanian 3 Kondisi eksisting lahan belum terbangun lebih luas dari Lahan belum terbangun 4 Topografi yang relatif datar 4 4 5 Luas wilayah yang kecil 3 2 6 4 12 4 12 4 12 4 12 3 9 6 Tingkat kepadatan penduduk yang sedang 4 4 16 4 16 3 12 4 16 4 16 4 16 7 Ketersediaan lahan yang luas untuk kebutuhan fasilitas 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 1 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 4 4 umum kriteria standar pelayanan minimal (SPM) 8 Kondisi eksisting jumlah fasilitas pendidikan diatas SPM 125 WEAKNESS (W) 1 Kondisi eksisting lahan kelas pertanian sebagian sudah 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 menjadi permukiman 2 Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah SPM 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggu- 2 4 8 3 6 4 8 2 4 4 8 4 8 lan Total Score 149 156 154 146 151 157 Sumber : Hasil Analisis, 2008 Keterangan nilai AS (Attractiveness Score) : 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = secara logis menarik, 4 = sangat menarik TAS (Total Attractivenes Score) = Rating x AS 126 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan serta dengan memperhatikan kaitannya dengan tujuan penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Secara umum berdasarkan evaluasi sumberdaya lahan di Kota Metro menunjukkan sebagian besar lahan termasuk dalam kemampuan lahan kelas II (Pertanian intensif). Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, jagung dan peternakan menunjukkan sebagian besar berada pada kelas S3 (sesuai marjinal). Sedangkan kesesuaian lahan untuk permukiman dan jalan menunjukkan sebagian besar lahan kelas Baik. 2. Hasil analisis skalogram menunjukkan di Kota Metro terdapat dua kelurahan yang berada pada hirarki satu, sembilan kelurahan berada pada hirarki dua dan sebelas kelurahan pada hirarki tiga. 3. Berdasarkan hasil analisis proyeksi penduduk dan perhitungan kebutuhan lahan standar pelayanan minimal (SPM) permukiman kota masih tersedia lahan untuk pengembangan fasilitas publik. 4. Sektor industri pengolahan layak dijadikan sebagai sektor unggulan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ), Analisis Shift Share dan Analisis Tabel InputOutput. Sedangkan sektor perdagangan, sektor keuangan, sektor jasa, sektor pertanian subsektor peternakan mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. 5. Berdasarkan analisis Strengths Weaknesses Opportunitie Threats (SWOT) dan metode Quantitatif Strategic Planning Matrix (QSPM) dapat dirumuskan enam strategi pengembangan wilayah Kota Metro berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan, yaitu: strategi pertama adalah memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan, strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan 128 kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah, strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar, strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan, strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG dan strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan Saran Berdasarkan hasil penelitian Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Kaitannya dengan Aspek Evaluasi Sumberdaya Lahan dapat diuraikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Hasil pemetaan evaluasi sumberdaya lahan ini masih bersifat umum (generalisasi) karena proses analisis menggunakan Peta Landsystem skala tinjau, untuk proses implementasi evaluasi sumberdaya lahan di lapangan perlu analisis lanjutan dan survey lapangan dengan peta yang lebih detil untuk mendapatkan ketajaman dan keakuratan hasil analisis. 2. Pembangunan sarana dan parasarana wilayah perlu memperhatikan hirarki wilayah yang ada untuk pemerataan sebaran fasilitas publik. 3. Kelengkapan dan keakuratan data-data informasi spasial di Kota Metro masih terbatas perlu adanya terobosan dalam Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk mengantisipasi kekurangan tersebut. 4. Penentuan sektor unggulan di Kota Metro dapat ditindaklanjuti dengan membuat Tabel Input-Output menggunakan metode survei untuk mendapatkan sektor unggulan yang akurat dan rinci. Sehingga strategi pengembangan wilayah dapat memprioritaskan untuk menggerakkan sektor unggulan yang ada. DAFTAR PUSTAKA [Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Metro. 2001. Rencana Umum Tata Ruang Kota Metro 2001-2010. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2005. Masterplan Pengembangan Kawasan Agropolitan Kecamatan Metro Selatan. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2006. Database Infrastruktur 2006. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Selayang Pandang Kota Metro Tahun 2007. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Metro 2001-2010. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. [Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung. 2007. Tabel Input-Output Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Bappeda Provinsi Lampung. .2007. Analisis Input-Output Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Bappeda Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik Kota Metro. 2003. Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro 1999-2002. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2006. Kota Metro Dalam Angka Tahun 2006. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kota Metro Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro 2000-2006. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Pusat Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Utara Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. 130 . 2007. Kecamatan Metro Timur Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Barat Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Selatan Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2004. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung 2000-2003. Bandar Lampung: BPS Provinsi Lampung. .2007. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung 20012006. Bandar Lampung: BPS Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2000. Kerangka Teori dan Analisis: Tabel InputOutput. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. .2007. Tinjauan Ekonomi Regional Provinsi Lampung 2001-2006. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Barus B, Wiradisastra US, 2000. Sistem Informasi Geografi: Sarana Manajemen Sumberdaya. Bogor: Laboratorium Inderaja dan Kartografi Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. Baja S. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografi dan Analytic Hierarchy Process dalam Studi Alokasi dan Optimasi Penggunaan Lahan Pertanian. Warta Informatika Pertanian. Dai FC, Lee CF, Zhang XH. 2001. GIS-based geo-environmental evaluation for land-use planning: a case study. http: www.elsevier.com [18 Nov 2008]. Dai J et al. 1989. Buku Keterangan Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjungkarang, Sumatera [Lembar 1110]. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Departeman Pertanian Republik Indonesia. [Dep PU] Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum dan Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota. http: www.pu.go.id [18 Nov 2008]. 131 Djaenudin D, Marwan H, Subagjo H, Hidayat A. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Departeman Pertanian Republik Indonesia. [Diperta] Dinas Pertanian Kota Metro. 2007. Pertanian Dalam Angka. Metro: Dinas Pertanian Kota Metro Provinsi Lampung. [FAO] Food and Agriculture Organization. 1976. A Framework for Land Evaluation. Rome: FAO Soils Bulletin No.32. Hadi S. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Ekonomi Wilayah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Hardjowigeno S, Widiatmaka, 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan. Bogor: Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Hastuti HI. 2001. Model pengembangan wilayah dengan pendekatan agropolitan (Studi kasus Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Hendranata A. 2002. Model input-output ekonometrika Indonesia dan aplikasinya untuk analisis dampak ekonomi. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Iskandarini. 2002. Analisis Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan. Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Kusumawati D. 2005. Keterkaitan sektor unggulan dan karakteristik tipologi wilayah dalam pengembangan kawasan strategis (studi kasus kawasan kedungsapur Jawa Tengah) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Mougeot LJA, 2005. Agropolis: The Social, Political and Environmental Dimensions of Urban Agriculture. International Development Reasearch Centre. http: www.earthscan.co.uk [18 Nov 2008]. Panuju DR, Rustiadi E, 2005. Dasar-Dasar Perencanaan Wilayah, Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. Pribadi DO. 2005. Pembangunan kawasan agropolitan melalui pengembangan kota-kota kecil menengah, peningkatan efisiensi pasar perdesaan dan penguatan akses masyarakat terhadap lahan. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Rangkuti F. 2001. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. 132 Rahman H. 2003. Dasar Penetapan Komoditas Unggulan Nasional di Tingkat Provinsi. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2007. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Departemen ITSL Fakultas Pertanian IPB. Sari DR. 2008. Pemodelan multi-kriteria untuk pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Timur [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sanudin. 2006. Analisis dan strategi pemanfaatan ruang di Kabupaten Ciamis Jawa Barat [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sitorus S. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Departemen ITSL Fakultas Pertanian IPB. Sutomo B. 2008. Studi pengembangan kota terpadu mandiri (KTM) berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan di Kawasan Transmigrasi Mesuji Kabupaten Tulang Bawang [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tarigan R. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah: Edisi Revisi Jakarta: PT. Bumi Aksara. Utami NW. 2008. Strategi pengembangan manggis di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung Sumatera Barat [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Lampiran 1 Hasil analisis skalogram data podes Kota Metro Tahun 2006 Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT 3 1,00 3,54 0,00 0,00 1,00 0,49 0,68 1,00 3,54 0,20 1,63 0,36 0,11 0,11 0,05 0,11 0,68 0,68 0,68 0,36 0,20 1,63 4 1,12 0,25 0,00 0,00 1,82 0,52 1,12 1,82 0,25 1,82 1,82 1,46 4,16 0,25 1,82 0,25 1,82 0,25 0,25 0,25 1,29 0,25 5 1,86 1,86 3,28 0,80 0,80 0,27 0,44 0,09 1,86 3,28 0,80 0,16 0,09 1,86 0,00 0,00 0,27 0,27 0,27 0,27 0,44 0,80 6 2,04 2,04 0,10 0,10 0,30 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 0,10 0,03 0,00 2,04 0,00 0,10 0,10 0,03 2,04 7 2,29 0,53 0,10 0,10 2,29 2,29 2,29 0,05 0,24 0,02 2,29 0,24 0,01 0,10 0,01 0,00 0,24 0,02 0,10 0,10 0,00 2,29 8 2,27 2,27 2,27 0,10 0,42 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 0,10 2,27 2,27 0,42 0,00 0,10 0,10 2,27 2,27 JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI 18,05 20,00 0,82 1,00 22,58 20,00 1,03 1,00 19,76 20,00 0,90 1,00 25,39 20,00 1,15 1,00 15,63 20,00 0,71 1,00 35,27 21,00 1,60 1,00 14,23 20,00 0,65 1,00 Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kabupa ten (km) Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kecam atan (km) Jika Jumlah SMU dan yang sederajat Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Jumlah SMK Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Jumlah SLTP dan yang sederajat Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Rumah Sakit Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelur ahan ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Puskesmas Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelurah an ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Poliklinik/Balai Pengobatan Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelurahan ke Sarana Kesehatan (Km) 10 0,27 0,59 0,00 0,00 0,27 0,08 2,94 0,10 2,94 0,02 0,27 0,11 0,02 0,02 0,00 0,01 2,94 0,06 0,11 0,06 0,02 0,27 11 0,81 1,79 0,81 2,52 2,52 0,33 0,81 0,33 2,52 2,52 2,52 0,33 0,16 0,81 0,05 0,00 1,79 0,16 2,52 0,33 0,23 1,79 12 2,11 0,03 0,00 0,00 0,02 0,01 2,11 0,01 2,11 0,00 0,02 0,02 0,01 0,00 0,00 0,00 0,03 2,11 2,11 2,11 0,00 2,11 11,11 20,00 0,50 1,00 25,66 21,00 1,17 1,00 14,90 20,00 0,68 1,00 133 Nama Kecamatan Jika Rumah Sakit Bersalin Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelur ahan ke Sarana Kesehatan (Km) 9 2,44 2,44 0,00 0,00 0,23 0,07 0,14 0,14 0,49 2,44 2,44 0,23 0,05 0,02 0,00 0,01 0,23 0,05 0,09 0,09 2,44 0,23 Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kabupate n/Kota lain terdekat (km) Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jika Tempat Prakter Dokter Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelura han ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Tempat Prakter Bidan Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Polindes Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Apotik Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Toko Khusus Obat/Jamu Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika desa/kelura han ini tidak ada Gedung Bioskop, maka jarak ke gedung bioskop terdekat (km) 13 2,35 1,56 2,35 0,00 0,52 0,52 0,52 2,35 0,52 0,00 0,52 0,00 0,52 0,52 0,17 2,35 0,52 2,35 0,00 2,35 2,35 2,35 24,68 18,00 1,12 1,00 14 2,26 2,26 2,26 2,26 2,26 0,26 0,16 2,26 2,26 2,26 2,26 0,10 0,26 0,26 2,26 0,00 2,26 0,10 2,26 2,26 2,26 2,26 35,03 21,00 1,59 1,00 15 0,00 3,42 0,91 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 0,91 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 66,71 21,00 3,03 1,00 16 0,03 0,05 0,00 0,01 0,03 0,01 0,05 0,01 0,00 0,00 0,03 0,01 0,03 0,00 0,00 0,00 0,01 3,41 0,01 0,01 0,01 3,41 7,11 19,00 0,32 1,00 17 0,09 2,25 0,00 0,00 0,21 0,06 2,25 2,25 2,25 0,01 2,25 0,05 0,01 0,01 0,01 0,01 0,21 0,09 0,09 0,05 0,03 2,25 14,38 20,00 0,65 1,00 18 2,40 2,40 0,00 0,00 0,09 0,07 0,13 2,40 2,40 0,03 0,22 0,05 0,02 0,02 0,01 0,01 2,40 0,09 0,09 0,05 0,03 0,48 13,37 21,00 0,61 1,00 19 0,20 3,49 0,00 0,00 0,20 0,10 0,33 0,14 3,49 0,02 0,33 0,07 0,02 0,02 0,01 0,01 0,20 0,14 0,14 0,04 0,02 0,33 9,31 20,00 0,42 1,00 Jika Kelompok pertokoan Tidak Ada, Maka Jarak ke kelompok pertokoan terdekat (Km) Jika Bangunan pasar permanen/ semi permanen Tidak Ada, maka Jarak ke pasar terdekat (Km) Jarak terdekat Pos polisi (Km) 21 2,34 2,34 0,30 2,34 0,18 2,34 0,18 0,18 2,34 2,34 0,30 0,05 0,00 0,11 0,30 0,11 0,18 0,11 0,11 0,02 0,02 0,30 16,47 21,00 0,75 1,00 22 0,72 2,49 0,32 2,49 2,49 2,49 0,19 0,19 2,49 0,02 0,32 0,12 0,00 0,12 0,32 0,12 0,19 0,12 0,12 0,02 0,02 0,32 15,66 21,00 0,71 1,00 23 2,17 2,17 2,17 2,17 0,28 0,63 0,16 0,11 2,17 0,05 0,16 0,05 2,17 0,11 0,00 2,17 0,11 0,28 0,11 0,11 0,05 2,17 19,57 21,00 0,89 1,00 134 Nama Kecamatan Jika Puskesmas Pembantu Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelura han ke Sarana Kesehatan (Km) Jika desa/kelura han ini tidak ada Pub/diskoti/ tempat karaoke, maka jarak ke Pub/diskoti/ tempat karaoke terdekat (km) 20 0,00 0,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,70 0,02 0,01 0,07 0,00 0,02 0,00 0,01 0,01 0,07 0,02 0,02 0,02 0,01 0,02 5,02 20,00 0,23 1,00 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jika Kantor Pos/Pos Pembantu/Ru mah Pos Tidak ada, maka jarak ke Kantor Pos terdekat (km) Jumlah TK Negeri (Unit) 24 0,39 3,55 0,16 0,39 0,24 3,55 0,39 0,24 0,86 0,04 0,39 0,08 0,02 0,16 0,00 0,02 0,24 0,16 0,16 0,04 0,04 0,39 11,48 21,00 0,52 1,00 25 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,46 0,00 1,67 0,00 0,00 0,00 6,14 2,00 0,28 1,00 Jumlah TK Swasta (Unit) Jumlah SD dan yang sederajat Negeri (Unit) Jumlah SD dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SLTP dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah SLTP dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SMU dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah SMU dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SMK Negeri (unit) Jumlah SMK Swasta (Unit) 26 2,27 1,58 2,73 3,74 0,91 1,22 3,55 1,41 1,14 1,19 0,84 1,30 1,89 2,84 1,42 2,02 0,00 0,67 1,13 0,00 1,00 0,64 33,48 20,00 1,52 1,00 27 3,21 0,00 3,86 2,36 1,72 1,15 1,34 0,66 2,15 1,68 1,18 2,46 3,58 2,68 1,34 1,91 2,13 0,63 1,60 1,03 0,94 0,61 38,20 21,00 1,74 1,00 28 0,00 2,40 0,00 0,00 0,00 0,00 3,23 0,00 1,73 1,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,28 0,00 2,27 0,00 12,27 6,00 0,56 1,00 29 0,00 0,00 2,26 0,00 0,00 0,00 0,00 2,33 1,26 0,98 1,38 2,16 3,14 0,00 0,00 1,12 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,62 8,00 0,66 1,00 30 3,18 0,74 0,00 0,00 0,00 1,71 1,99 0,00 1,06 0,00 1,17 0,00 2,65 0,00 1,98 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,40 0,45 16,32 10,00 0,74 1,00 31 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,51 0,00 1,06 0,00 2,33 3,39 0,00 0,00 0,00 1,34 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,63 5,00 0,48 1,00 32 3,77 0,88 0,00 0,00 0,00 2,03 2,36 0,00 1,26 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,53 11,53 7,00 0,52 1,00 33 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,11 0,00 0,00 0,00 3,66 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,77 2,00 0,31 1,00 34 2,43 0,00 0,00 0,00 1,96 2,62 3,05 0,00 0,00 0,00 0,90 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,69 11,64 6,00 0,53 1,00 135 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Akademi/PT dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah Akademi/PT dan yang sederajat Swasta (Unit) 35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 36 1,93 0,00 0,00 0,00 0,00 4,15 0,00 0,00 0,65 0,00 0,71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,70 0,00 9,14 5,00 0,42 1,00 Jumlah Sekolah Luar BIasa Negeri (unit) Jumlah Sekolah Luar Biasa Swasta (Unit) Jumlah Pondok Pesantren/ Madrasah Diniyah Swasta (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Tata buku/akuntan si yang berada di desa/keluraha n ini (unit) 37 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 38 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,19 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,31 0,00 0,00 0,00 0,00 6,50 2,00 0,30 1,00 39 3,41 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,05 0,57 0,00 0,00 0,00 2,84 0,00 2,13 0,00 0,00 0,00 0,85 0,00 0,00 0,00 10,84 6,00 0,49 1,00 40 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 4,69 1,00 0,21 1,00 Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Komputer yang berada di desa/kelurahan ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Menjahit/tata busana yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Kecantikan yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampila n Montir mobil/motor yang berada di desa/kelura han ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Elektronik yang berada di desa/kelurah an ini (unit) 41 0,00 3,87 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,85 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,35 8,08 3,00 0,37 1,00 42 0,00 0,00 0,00 2,67 0,00 0,00 0,00 1,50 0,81 1,27 1,79 0,00 0,00 3,03 0,00 1,44 0,00 0,00 0,00 2,32 0,00 0,69 15,51 9,00 0,71 1,00 43 0,00 2,11 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,81 2,27 1,19 1,67 0,00 0,00 0,00 0,00 1,35 0,00 0,00 0,00 2,17 0,00 1,92 15,48 8,00 0,70 1,00 44 3,85 0,00 0,00 0,00 1,55 0,00 2,41 0,00 0,00 1,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,27 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,08 5,00 0,46 1,00 45 0,00 0,00 0,00 2,91 0,00 0,00 3,31 0,00 0,00 1,38 1,95 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 9,56 4,00 0,43 1,00 136 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Lainnya yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Rumah Sakit (Unit) Jumlah Rumah Sakit Bersalin (Unit) Jumlah Poliklinik/ Balai Pengobatan (Unit) Jumlah Puskesmas (Unit) Jumlah Puskesmas Pembantu (Unit) Jumlah Tempat Praktek Dokter (Unit) Jumlah Tempat Praktek Bidan (Unit) Jumlah Posyandu(U nit) Jumlah Polindes (Unit) Jumlah Apotik (Unit) 46 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 47 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,16 0,00 1,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8,20 3,00 0,37 1,00 48 4,17 0,97 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,09 1,53 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,83 0,00 9,59 5,00 0,44 1,00 49 2,09 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,91 0,00 0,70 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,23 1,03 2,00 0,00 0,59 11,55 7,00 0,52 1,00 50 0,00 0,00 0,00 3,54 2,59 0,00 0,00 0,00 1,08 1,69 1,19 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,60 0,00 0,00 0,00 11,67 6,00 0,53 1,00 51 2,42 0,00 2,90 0,00 0,00 0,00 0,00 1,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,44 0,00 1,43 0,00 2,31 2,12 0,68 14,81 8,00 0,67 1,00 52 0,98 0,45 1,17 2,15 3,14 0,00 0,00 1,82 3,27 1,02 2,16 0,00 0,00 0,00 1,22 0,00 1,29 0,00 0,49 0,94 0,86 0,55 21,51 15,00 0,98 1,00 53 0,00 0,44 0,00 1,03 0,76 4,05 1,18 1,75 0,94 0,99 1,04 0,00 1,57 2,35 1,17 0,56 1,87 0,56 0,47 2,70 2,48 0,80 26,70 19,00 1,21 1,00 54 3,71 1,12 3,71 3,35 2,31 2,51 3,01 3,41 2,31 2,80 0,00 2,71 1,83 4,76 3,00 3,25 2,74 2,82 2,28 2,18 3,81 1,87 59,49 21,00 2,70 1,00 55 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,48 0,00 0,00 0,00 3,32 6,80 2,00 0,31 1,00 56 0,00 3,28 0,00 0,00 0,00 0,00 0,88 2,62 2,36 0,00 1,56 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,40 11,11 6,00 0,50 1,00 137 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Toko Khusus Obat/Jamu (Unit) 57 4,08 1,90 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,26 1,36 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 9,95 5,00 0,45 1,00 Jumlah Masjid (unit) Jumlah Surau/lan ggar (unit) Jumlah Gereja Kristen (unit) Jumlah Gereja Katholik (unit) 58 4,42 1,28 2,07 1,77 0,91 2,49 2,22 0,37 0,02 0,47 1,52 1,91 2,22 1,30 1,29 2,03 0,49 1,15 0,73 0,65 1,77 0,00 31,07 21,00 1,41 1,00 59 2,83 0,00 3,95 3,16 0,98 1,88 1,11 0,63 0,97 2,99 1,40 1,19 2,59 2,74 1,34 1,69 1,45 2,13 1,51 0,91 2,75 0,64 38,83 21,00 1,77 1,00 60 0,00 2,67 0,00 0,00 0,00 3,08 0,00 1,78 1,92 1,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,70 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,81 13,45 7,00 0,61 1,00 61 0,00 0,00 0,00 3,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,42 0,00 1,81 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8,25 3,00 0,38 1,00 Jumlah Pura (unit) Jumlah Vihara/Kl enteng (unit) Kios sarana produksi pertanian milik KUD (unit) Kios sarana produksi pertanian milik Non KUD (unit) Jumlah industri sedang (20-99 pekerja) (unit) Kerajinan dari kayu yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) 62 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,38 4,16 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,54 2,00 0,30 1,00 63 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,74 0,00 0,00 0,00 0,00 3,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,75 2,00 0,31 1,00 64 0,00 4,41 0,00 1,74 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,94 0,00 0,00 0,00 0,45 7,54 4,00 0,34 1,00 65 0,67 1,24 2,40 2,93 1,07 3,58 0,00 0,00 0,00 0,70 0,00 1,53 1,11 0,83 0,83 1,19 0,00 0,00 0,00 0,64 1,17 0,00 19,91 14,00 0,90 1,00 66 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,91 0,00 0,00 0,00 3,48 0,00 0,00 0,00 0,00 1,38 0,00 0,00 1,57 9,35 4,00 0,42 1,00 67 0,00 0,00 2,19 2,01 1,83 1,47 0,00 0,00 0,00 0,72 1,18 0,00 0,00 0,57 2,28 2,71 1,51 0,00 0,00 0,00 2,41 0,00 18,87 11,00 0,86 1,00 138 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Kerajinan Anyaman yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja)/Keraji nan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Kerajinan dari kain/tenun yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Industri Makanan yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Industri/Keraji nan Lainnya yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Pasar tanpa bangunan permanen (unit) Super market/ pasar swalayan/ toserba/m ini market (unit) Restoran/ rumah makan (unit) Warung/ kedai makanan minuman (unit) Toko/Warung kelontong (unit) Hotel (unit) Penginapan( hostel/motel/ losmen/wism a) (unit) 68 0,00 0,17 2,27 0,08 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,03 0,00 0,00 0,00 0,09 0,69 0,00 0,13 4,25 0,00 0,06 0,00 7,76 9,00 0,35 1,00 69 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,13 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,82 2,00 0,22 1,00 70 0,19 4,32 1,23 0,82 0,00 0,40 0,00 0,98 0,37 0,24 1,98 0,00 0,93 0,12 0,58 0,77 2,46 0,61 0,51 0,36 0,16 0,89 17,92 19,00 0,81 1,00 71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,10 2,34 0,00 0,00 0,00 0,00 1,15 0,00 7,60 3,00 0,35 1,00 72 0,00 1,46 0,00 0,00 2,52 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,92 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 7,90 3,00 0,36 1,00 73 0,00 0,00 0,00 0,00 1,77 0,00 0,00 0,00 4,43 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,20 2,00 0,28 1,00 74 0,00 0,29 0,00 0,00 1,26 0,00 0,78 4,28 0,00 1,15 0,23 0,00 0,00 0,00 0,00 0,19 1,24 0,00 0,00 1,50 1,65 0,44 13,02 11,00 0,59 1,00 75 1,86 1,62 1,95 1,53 4,67 1,25 1,75 1,44 0,00 0,49 0,86 0,80 0,78 0,00 0,29 1,24 0,46 0,55 0,46 0,22 0,61 0,79 23,62 20,00 1,07 1,00 76 0,29 4,60 0,88 1,20 1,05 0,42 0,00 0,45 2,00 0,35 0,23 0,20 0,85 0,58 0,12 0,07 0,38 0,06 0,09 0,57 0,08 0,21 14,68 21,00 0,67 1,00 77 0,00 4,34 0,00 0,00 0,00 0,00 1,17 0,00 0,00 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,79 0,00 0,00 7,99 4,00 0,36 1,00 78 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 139 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Bank Umum (Kantor Pusat/Cabang/ Capem) (unit) Bank Perkreditan Rakyat (BPR Baru/PT. Bank Pasar/ PT. Bank Desa/dsj) (unit) Jumlah Koperasi (unit) Jumlah KUD (unit) Jumlah Koperasi Simpan Pinjam (unit) Jumlah Koperasi Non KUD lainnya (unit) Bengkel/rep arasi kendaraan bermotor (mobil/moto r) (unit) Bengkel/repar asi alat-alat elektronik (Radio/Tape/T V/Kulkas/AC dll) (unit) Usaha foto kopi (photo copy) (unit) Biro/Agen perjalanan wisata (Tour and Travel) (unit) Tempat pangkas rambut (barber shop) (unit) 79 2,79 2,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,73 2,80 0,00 1,03 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,95 5,00 0,50 1,00 80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 81 1,25 0,77 2,00 3,66 0,33 1,34 1,56 2,83 0,00 1,31 3,37 0,48 1,39 1,04 0,52 0,25 0,55 1,48 0,00 1,19 1,10 0,47 26,87 20,00 1,22 1,00 82 0,00 0,00 0,00 4,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,18 5,78 2,00 0,26 1,00 83 1,02 0,00 0,61 1,12 0,41 1,64 1,91 3,16 0,00 0,27 3,94 0,58 1,70 1,27 0,64 0,30 0,67 0,30 0,00 0,98 1,34 0,43 22,31 19,00 1,01 1,00 84 0,67 1,24 2,40 3,66 0,00 0,00 0,00 0,41 0,00 1,74 0,24 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,97 0,00 0,64 0,00 0,00 12,96 9,00 0,59 1,00 85 3,12 0,83 2,68 0,98 1,79 3,35 3,07 0,55 1,64 2,33 1,48 0,00 2,23 2,23 2,23 3,44 1,77 1,06 0,66 1,71 2,74 0,50 40,39 21,00 1,84 1,00 86 1,59 2,58 0,95 3,49 3,19 0,00 0,99 0,00 1,85 1,24 0,29 0,91 1,32 0,99 1,98 1,88 0,00 0,94 0,79 0,00 0,70 0,22 25,91 18,00 1,18 1,00 87 3,26 3,64 0,78 0,72 1,05 2,80 0,41 0,40 1,31 0,68 1,68 0,00 1,09 0,00 0,81 0,00 1,29 0,77 1,29 0,00 1,15 0,74 23,87 18,00 1,08 1,00 88 0,00 4,34 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,87 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,05 7,94 4,00 0,36 1,00 89 1,50 3,49 0,00 1,65 3,01 2,42 0,47 0,00 0,50 0,39 0,28 0,00 0,00 0,94 0,94 0,45 0,00 0,89 1,12 0,72 0,00 0,21 18,97 16,00 0,86 1,00 140 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Salon kecantikan/tata rias wajah/pengantin (unit) Bengkel las (membuat pagar besi, tralis dll) (unit) 90 2,46 1,52 3,94 0,00 1,32 0,88 0,00 1,02 1,10 3,00 0,60 0,00 0,00 1,02 2,05 1,46 1,08 0,49 0,81 0,78 0,72 0,46 24,71 18,00 1,12 1,00 91 2,67 0,00 0,80 2,20 4,29 1,44 1,25 0,41 0,22 1,40 0,49 2,30 1,11 1,67 0,83 0,40 1,77 0,40 0,66 1,28 1,17 0,19 26,97 21,00 1,23 1,00 Persewaan alat-alat pesta (unit) Jumlah Terminal Penumpang Kendaraana Bermotor Roda 4 atau Lebih (unit) Wartel/ Kiospo n/Warp ostel/ Warpar postel (unit) Jumlah anggota hansip/lin mas di desa/kelu rahan ini (orang) JUMLAH/Indeks Perkembangan JUMLAH JENIS JENIS HIRARKI ORDO 92 0,84 0,78 4,05 1,85 2,03 0,91 0,00 0,00 0,56 0,44 0,62 0,00 1,41 1,05 3,15 1,50 0,00 1,00 1,25 0,81 1,48 0,71 24,45 18,00 1,11 1,00 93 4,33 2,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,35 2,00 0,29 1,00 94 1,01 0,00 4,40 0,16 0,99 0,42 0,82 0,04 0,18 0,28 0,16 0,17 0,30 0,20 0,35 0,26 2,37 0,03 0,01 0,24 0,54 0,10 13,03 21,00 0,59 1,00 95 2,17 0,81 3,91 2,63 0,00 2,43 1,14 0,98 1,01 1,19 0,85 2,55 2,68 2,90 0,86 0,95 1,28 0,68 0,36 2,12 1,65 0,41 33,54 21,00 1,52 1,00 96 109,56 116,82 75,12 88,11 73,65 80,03 82,04 72,15 96,37 71,98 82,04 32,28 57,99 50,64 51,70 52,44 60,62 42,57 41,14 44,88 57,99 64,65 1504,76 22,00 68,40 22,07 97 55,00 58,00 40,00 46,00 49,00 50,00 52,00 52,00 58,00 58,00 63,00 36,00 43,00 45,00 45,00 46,00 47,00 47,00 47,00 48,00 50,00 59,00 98 Hirarki I Hirarki I Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III 99 I I II II II II II II II II II III III III III III III III III III III III 2*STDEV 22,07 Rataan+2STDEV 90,47 IP>RATAAN+2*STDEV II IP Kelompok II X (Tingkat Perkembangan Sedang) Kelompok III < X untuk Kelompok III (Tingkat Perkembangan Rendah) 29 4. Nilai rata-rata jumlah penduduk setiap kelompok (I, II, III) dibagi dengan 1000. Selanjutnya dari tabel fasilitas pelayanan yang tersusun, batasi wilayah yang berisi fasilitas untuk tiap kelompoknya. Batas tersebut digunakan sebagai acuan untuk menuliskan indeks setiap kelompok. Fasilitas yang berada di kolom paling kiri otomatis akan diisi dengan indeks terkecil (nilai rata-rata populasi/1000 Kel. III), sedangkan fasilitas yang berada di paling kanan akan diisi dengan indeks paling besar (nilai rata-rata populasi/1000 Kel. I). 5. Selanjutnya seluruh indeks dari kolom fasilitas yang telah terisi dijumlahkan. Indeks ini bisa digunakan untuk membandingkan dukungan fasilitas terhadap jumlah penduduk di setiap wilayah. Analisis Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal Dalam analisis ini jumlah penduduk yang dapat ditampung pada suatu wilayah dengan menggunakan asumsi tingkat kepadatan tertentu yang ideal pada suatu kota, yakni tidak melebihi 30–40 jiwa/Ha (RTRW Kota Metro, 2001). Dengan memproyeksikan jumlah penduduk pada periode tahun tertentu, maka akan dapat memudahkan dalam melakukan perencanaan pembangunan suatu wilayah. Untuk itu proyeksi jumlah penduduk menjadi mutlak diperlukan. Salah satu metode proyeksi penduduk dengan menggunakan rumus: Pn = Po * (1 + r/100)n Dimana: Pn = Jumlah penduduk tahun proyeksi r = Tingkat pertumbuhan penduduk Po = Jumlah penduduk tahun dasar n = Tahun proyeksi – tahun dasar Standar pelayanan minimal merupakan suatu standar kebutuhan sarana dan prasarana wilayah terutama yang berkaitan dengan fasilitas umum pada suatu wilayah. Jumlah penduduk menjadi parameter untuk ketersediaan fasilitas umum secara minimal. Apabila jumlah fasilitas yang tersedia diatas standar pelayanan minimal maka daerah tersebut memberikan pelayanan yang baik bagi penduduknya, begitu juga sebaliknya apabila jumlah fasilitas umum yang tersedia 30 dibawah standar pelayanan minimal maka daerah tersebut tidak memberikan pelayanan yang baik bagi warganya. Standar pelayanan minimal yang dibahas dalam penelitian ini adalah standar pelayanan minimal bidang permukiman, disesuaikan dengan evaluasi sumberdaya lahan yang dilakukan untuk kesesuaian lahan permukiman dan jalan. Standar pelayanan minimal bidang permukiman terdiri dari sarana fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas perekonomian dan fasilitas umum lainnya. Sedangkan fasilitas air bersih dan pengelolaan sampah tidak termasuk dalam penelitian, dikarenakan memerlukan analisis kesesuaian lahan tersendiri. Dasar penetapan standar pelayanan minimal mengacu pada Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kepmen Kimpraswil) Nomor: 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum. Selain itu juga dasar penetapan kriteria berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (Kepmen PU) Nomor: 378/KPTS/PU/1987 tentang Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota (Departemen PU, 2008). Beberapa kriteria dalam kepmen tersebut tidak seluruhnya digunakan dalam penelitian ini, hanya diambil beberapa kriteria fasilitas seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun secara rinci kriteria yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 9. Analisis Location Quotient (LQ) Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan indikasi sektor basis dan bukan sektor basis dapat digunakan metode Location Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah luas dalam suatu wilayah (Rustiadi et al, 2007). Dalam penentuan sektor basis data yang digunakan adalah data PDRB per sektor Tahun 2002-2006. Persamaan dari LQ ini adalah: LQ IJ X IJ X I. X .J X .. Dimana: Xij = derajat aktifitas ke-j di wilayah ke-i Xi. = total aktifitas di wilayah ke-I X.j = total aktifitas ke-j di semua wilayah X.. = derajat aktifitas total wilayah 31 Untuk dapat menginterprestasikan hasil analisis LQ, adalah sebagai berikut: a) Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu aktifitas di suatu wilayah ke-i secara relatif dibandingkan dengan total wilayah atau terjadi pemusatan aktifitas di suatu wilayah ke-i. b) Jika nilai LQij = 1, maka sub wilayah ke-I tersebut mempunyai pangsa aktifitas setara dengan pangsa total atau konsentrasai aktifitas di wilayah ke-I sama dengan rata-rata total wilayah. c) Jika nilai LQij < 1, maka suatu wilayah ke-I tersebut mempunyai pangsa relatif lebih kecil dibandingkan dengan aktifitas yang secara umum ditemukan diseluruh wilayah. Tabel 9 Kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota Standar Jenis Fasilitas PENDIDIKAN SD/Madrasah Jumlah Penduduk * (Jiwa) Kebutuhan Ruang ** Per Unit (M2) 6.000 3.600 25.000 30.000 4.300 4.000 70.000 20.000 240.000 3.000 30.000 86.400 1.600 1.200 10.000 350 120.000 5.200 2.500 600 Mushola Gereja 250 30.000 25 1.200 Pura Vihara 30.000 30.000 1.200 1.200 30.000 12.000 1.000 200 100 100 120.000 2.400 120.000 30.000 4.000 2.000 Terminal 400.000 100.000 Sub Terminal 120.000 30.000 Jalan Kota 1.000 3.000 Jalan Lingkungan 1.000 300 SLTP SLTA Akademi/Perguruan Tinggi KESEHATAN Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Apotik PERIBADATAN Masjid Raya Masjid Lingkungan PEREKONOMIAN Pasar Toko Warung/Kios Bank REKREASI/OLAHRAGA Gedung Bioskop/Kesenian Gedung Olahraga UMUM JALAN *Sumber: Kepmen Kimpraswil No : 534/KPTS/M/2001 ** Sumber: Kepmen PU No : 378/KPTS/PU/1987 32 Analisis Shift Share (SSA) Keunggulan suatu komoditas perlu dilihat tidak hanya secara komparatif tetapi juga secara kompetitif. Shift Share Analysis (SSA) digunakan untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan daerah agregat yang lebih luas. Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Analisis shiftshare mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah (Panuju & Rustiadi, 2005). SSA X ..(t1) X ..(t 0) a 1 X i (t1) X ..(t1) X ij (t1) X i (t1) X i (t 0) X ..(t 0) X ij (t 0) X i(t 0) b c Dimana: a = komponen share b = komponen proportional shift c = komponen differential shift, dan X.. = Nilai total aktifitas dalam total wilayah X.i = Nilai total aktifitas tertentu dalam total wilayah Xij = Nilai aktifitas tertentu dalam unit wilayah tertentu t1 = titik tahun akhir t0 = titik tahun awal Metode RAS Metode RAS merupakan salah satu dari beberapa metode non-survei yang dapat dilakukan untuk menyusun suatu estimasi struktur input-output dalam lingkup wilayah tertentu. Kelebihan dari pendekatan metode non-survei ini menurut Djohar (1999) dalam Kusumawati (2005), adalah dapat digunakan untuk menjelaskan kegiatan perekonomian pada saat kegiatan tersebut sedang berjalan maupun telah berlangsung, serta dapat digunakan untuk memprediksi kegiatan perekonomian dimasa yang akan datang, selain itu biaya yang diperlukan relatif lebih murah dibandingkan dengan metode survei. Metode RAS adalah suatu metode untuk memperkirakan matriks koefisien input yang baru pada tahun t: “A(t)” dengan menggunakan informasi koefisien input dasar “A(0)”, total permintaan antara tahun t, dan total input antara tahun t. 33 Metode RAS pertama kali dikembangkan oleh Prof. Richard Stone dari Cambride University, Inggris dan telah banyak digunakan untuk keperluan penyusunan tabel input-output up-dating oleh Badan Pusat Statistik. Karena metode ini merupakan metode penyusunan tabel input-output non-survei maka dalam pelaksanaannya dilakukan pendekatan matematis (BPS, 2000). Metode ini dapat digunakan untuk mengestimasi perubahan koefisien input antara, yaitu dengan menghitung nilai-nilai pengganda menurut baris dan nilai pengganda menurut kolom tanpa menguraikan faktor ekonomi yang mempengaruhi besarnya nilai pengganda tersebut. Melalui pendekatan matematis metode ini akan menyusun matriks diagonal R dan S atas dasar data yang dibutuhkan untuk dapat menggunakan metode RAS. Secara matematis metode RAS terdiri dari matriks [A] 0 merupakan matriks koefisien input pada tahun dasar. Matriks [R] maerupakan matriks diagonal yang menunjukkan pengganda menurut kolom dan elemen-elemennya menunjukkan pengaruh substitusi, dan matriks [S] merupakan matriks diagonal yang menunjukkan pengaruh pengganda menurut baris dan elemen-elemennya menunjukkan pengaruh fabrikasi. Apabila ri dan sj berturut-turut merupakan elemen matriks diagonal [R] dan [S], dan misalkan Xij (0) adalah input antara sektor j yang berasal dari output sektor i pada tahun dasar, maka untuk menjaga konsitensi hasil estimasi ri dan sj, perlu ditambahkan dua persamaan pembatas sebagai berikut: n n ri xij (0) s j i 1 bi , i 1,2,......... .n dan ri xij (0) s j k j , i 1,2,......... .n i 1 Dimana: bi = jumlah permintaan antara sektor i pada tahun t kj = jumlah input antara sektor j pada tahun t Dengan persamaan pembatas tersebut diperoleh 2n persamaan dengan 2n bilangan yang tidak diketahui, dan hanya ada 2n-1 persamaan yang bebas sedangkan persamaan yang satunya bergantung kepada persamaan lainnya. Selanjutnya matriks koefisien input untuk tahun proyeksi t dapat diperkirakan dengan rumus [A]t = [R][A]0[S], dan penyelesaian dilakukan secara aproksimatif dengan menggunakan prosedur iteratif yang konvergen sehingga hasil perhitungan 34 sangat tergantung pada jumlah iterasi yang dilakukan. Apabila elemen matriks [R] dan [S] telah diperoleh maka elemen matriks [A]t dapat diestimasi dan koefisien hasil estimasi ini merupakan koefisien input antara untuk periode t. Sehingga tabel input-output yang telah disesuaikan (updating) berdasarkan koefisien tersebut dapat disusun untuk kemudian diturunkan dari tabel input-output provinsi menjadi kabupaten/kota. Analisis Tabel Input-Output Analisis input-output dilakukan untuk mengetahui sektor unggulan yang ada di Kota Metro dan untuk dapat melakukan analisis tersebut perlu dibangun struktur tabel input-output. Penggunaan analisis ini dengan pertimbangan bahwa tabel I-O merupakan gambaran lebih rinci dari sistem neraca ekonomi wilayah sehingga dengan terbangunnya Tabel I-O Kota Metro diharapkan dapat digunakan untuk: (1) memperkirakan dampak permintaan akhir dan perubahannya (pengeluaran rumah tangga, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor) terhadap berbagai output sektor produksi, nilai tambah, pendapatan masyarakat, kebutuhan tenaga kerja, pajak dan sebagainya, (2) mengetahui komposisi penyediaan dan penggunaan barang atau jasa sehingga mempermudah analisis tentang kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya; dan (3) memberi petunjuk menganai sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan ekonomi (Rustiadi et al, 2007). Secara lebih sederhana Tabel input-output dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 10 Ilustrasi tabel input-output 3 sektor Alokasi Output Alokasi Input Input Antara Permintaan Antara Sektor Produksi Permintaan Akhir Kuadran I Penyediaan Impor Jumlah Output Kuadran II Sektor 1 X11 X12 X13 F1 M1 X1 Sektor 2 X21 X22 X23 F2 M2 X2 Sektor 3 X31 X32 X33 F3 M3 X3 Input Primer Jumlah Input Kuadran III V1 V2 V3 X1 X2 X3 Sumber: BPS Pusat, 2000 35 Tabel I-O pada dasarnya merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar-satuan kegiatan ekonomi (sektor) dalam suatu wilayah pada suatu periode tertentu (BPS Pusat, 2000). Isian sepanjang baris dalam matriks menunjukkan bagaimana output suatu sektor ekonomi dialokasikan ke sektorsektor lainnya untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Sedangkan isian dalam kolom menunjukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor dalam proses produksinya. a. Kuadran pertama menunjukkan arus barang dan jasa yang dihasilkan dan digunakan oleh sektor-sektor dalam suatu perekonomian. Kuadran ini menunjukkan distribusi penggunaan barang dan jasa untuk suatu proses produksi. Penggunaan atau konsumsi barang dan jasa disini adalah penggunaan untuk diproses kembali, baik sebagai bahan baku atau bahan penolong. Karenanya transaksi yang digambarkan dalam kuadran pertama ini disebut juga transaksi antara. b. Kuadran kedua menunjukkan permintaan akhir (Final Demand). Penggunaan barang dan jasa bukan untuk proses produksi digolongkan sebagai permintaan akhir. Permintaan akhir ini biasanya terdiri atas konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. c. Kuadran ketiga memperlihatkan input primer sektor-sektor produksi. Input ini dikatakan primer karena bukan merupakan bagian dari output suatu sektor produksi seperti pada kuadran pertama dan kedua. Input primer adalah semua balas jasa faktor produksi dan meliputi upah dan gaji, surplus usaha ditambah penyusutan dan pajak tidak langsung neto. d. Kuadran keempat memperlihatkan input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir. Informasi di kuadran keempat tidak terlalu banyak digunakan pada Tabel I-O, informasi secara rinci banyak disajikan dalam Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Analisis SWOT Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengembangan suatu usaha. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang 36 (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan yang dilakukan. Dengan demikian perencana strategis (strategic planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis dari daerah (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT, (Rangkuti, 2001). Matrik SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman ekstemal yang dihadapi oleh pemerintah daerah/perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Menurut Iskandarini (2002), proses penyusunan strategi dengan metode SWOT dilakukan melalui tiga tahap analisis, yaitu tahap masukan, tahap analisis dan tahap keputusan. Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. Keputusannya didasarkan atas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. Proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi sebagai berikut: Tabel 11 Kerangka analisis SWOT 1. Tahap Masukan Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal 2. Tahap Analisis/Pencocokan Matrik Matrik internal TOWS Faktor eksternal 3. Tahap Pengambilan Keputusan Matrik perencanaan strategis kuantitatif (Quantitative Strategic Planning Matrik (QSPM) Sumber : Rangkuti, 2001 Menurut Umar (1999) dalam Utami (2008), tahap masukan atau tahap pengumpulan data, merupakan tahap klasifikasi dan pra analisis. Pada tahap ini data dibedakan menjadi dua, yaitu data sebagai faktor eksternal dan data sebagai faktor internal yang mempengaruhi strategi pengembangan wilayah. Data yang merupakan faktor ekternal diperoleh dengan melakukan analisis terhadap lingkungan seperti analisis pasar, analisis kebijakan pemerintah, analisis kompetitor, sedangkan analisis faktor internal meliputi analisis sosial, analisis 37 sumberdaya/modal dan analisis kegiatan operasional. Hasil analisis faktor ekternal dan internal ini selanjutnya dibuat sebagai suatu matrik, yaitu matrik faktor strategi eksternal (EFAS = External Factor Analysis Strategic) dan matrik faktor strategi internal (IFAS = Internal Factor Analysis Strategic). Langkah menentukan faktor strategi eksternal adalah sebagai berikut: 1. Menyusun 5 sampai dengan 10 hasil inventarisasi faktor peluang dan ancaman dalam kolom 1, (apabila hasil inventarisasi lebih dari 10, dilakukan skoring dan dipilih yang memiliki nilai 10 terbesar). 2. Memberikan bobot masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting) hasil dari kuesioner. 3. Menghitung rating untuk masing-masing faktor pada kolom 3, dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap pengembangan wilayah di Kota Metro. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating 4, tetapi jika peluangnya kecil diberikan rating 1). Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya. Ancaman yang sangat besar diberikan rating 1 dan bila nilai ancamannya kecil, maka nilai rating yang diberikan adalah 4. 4. Menghitung nilai faktor (skor) pembobotan, yaitu dengan mengalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh skor untuk semua critical succes factors. 5. Menjumlahkan skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi pengembangan wilayah di Kota Metro. Selanjutnya melakukan analisis faktor internal (IFAS) dengan cara yang sama, yaitu faktor kekuatan dan kelemahan Kota Metro dalam upaya pengembangan wilayah. Setelah matrik strategi faktor internal dan eksternal dibuat, langkah berikutnya adalah tahap pencocokan dengan matrik TOWS atau SWOT. Tabel 10 adalah matrik TOWS (SWOT) yang disusun berdasarkan hasil analisis faktor internal dan eksternal matrik SWOT. Dari hasil analisis faktor internal dan faktor eksternal, diperoleh 4 tipe strategi, yaitu Strategi SO, Strategi WO, Strategi ST dan Strategi WT. 38 1. SO strategies, menggunakan kekuatan internal untuk meraih dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. 2. WO strategies, strategi ini bertujuan untuk memperkecil kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang ada. 3. ST strategies, adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. 4. WT strategies, merupakan taktik untuk bertahan yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan internal serta menghindar dari ancaman-ancaman lingkungan. Tabel 12 Matrik TOWS (SWOT) IFAS STRENGTHS EFAS OPPORTUNITIES (O) Tentukan 5-10 faktor peluang internal THREATS (T) Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal Tentukan 5-10 faktor kekuatan internal WEAKNESSES (W) Tentukan 5-10 faktor kelemahan internal STRATEGI SO STRATEGI WO Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI ST STRATEGI WT Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Rangkuti, 2001 Tahap berikutnya adalah tahap pengambilan keputusan (decisions stage). Langkah ini adalah tahap terakhir dalam menentukan alternatif strategi terpilih yang mungkin dapat diimplementasikan. Teknik analisis yang dipakai adalah Quantitatif Strategic Planning Matrix (QSPM), yaitu teknik untuk menunjukkan strategi alternatif mana yang paling baik untuk dipilih. QSPM menggunakan input dari hasil analisis faktor internal dan eksternal serta hasil analisis tahap pencocokan dengan SWOT. QSPM digunakan untuk mengevaluasi pilihan strategi alternatif secara obyektif, berdasarkan faktor internal dan eksternal yang telah diidentifikasi sebelumnya. Adapun tahap pelaksanaan teknik analisis QSPM adalah sebagai berikut: 1. Membuat daftar external opportunities/threats dan internal strenghts/ 39 weakness di kolom sebelah kiri QSPM. Informasi ini diambil langsung dari EFAS dan IFAS matrix (analisis strategi faktor internal dan eksternal) dengan masing-masing jumlah faktor sesuai dengan matriknya, diletakkan pada kolom 1. 2. Memberikan nilai rating masing-masing faktor (nilai sama dengan EFAS dan IFAS matrik) yang diletakkan pada kolom 2. 3. Meneliti strategi yang telah dipilih dalam tahap pencocokan dengan SWOT dan identifikasi strategi yang dipertimbangkan pelaksanaannya. Letakkan strategi di bagian atas tabel QSPM. 4. Menetapkan Attractiveness Score (AS), yaitu sebuah angka yang menunjukkan relative attractiveness untuk masing-masing strategi yang terpilih. Dari masing-masing faktor ditentukan nilainya berdasarkan bagaimana perannya dalam proses pemilihan strategi. Setiap faktor memiliki AS yang menunjukkan relative attractiveness dari satu strategi dengan strategi lainnya. Batasan nilai AS adalah 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = secara logis menarik, 4 = sangat menarik. Jika peran dari suatu faktor kecil,maka hal ini menunjukkan bahwa respective faktor tersebut tidak memiliki peran pada pilihan spesifik yang sedang dibuat. AS diletakkan pada kolom 1 masing-masing strategi. 5. Menghitung Total Attractiveness Score (TAS). Total Attractiveness Score ini diperoleh dari hasil perkalian rating dengan AS masing-masing strategi dan diletakkan pada kolom 2 masing-masing strategi. Angka TAS menunjukkan relative attractiveness dari masing-masing strategi. 6. Menjumlahkan semua nilai Total Attractiveness Score (TAS) pada masing-masing kolom strategi tabel QSPM. Dari beberapa nilai TAS yang didapat, nilai TAS dari alternatif strategi terbesar menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan utama dan nilai TAS terkecil menjadi alternatif pilihan strategi yang akan dilaksanakan. Inventarisasi faktor internal dan eksternal serta pembobotan dilakukan melalui hasil analisis –analisis yang dilakukan sebelumnya dan pengamatan lapangan. 40 Tabel 13 Matrik tujuan, analisis, data yang dibentuk dan sumber data dalam penelitian Tujuan Mengevaluasi Kelas Kemampuan dan Kelas Kesesuaian Lahan Analisis Analisis SIG Overlay dengan Kriteria kesesuaian untuk kawasan pertanian dan permukiman Data yang dibentuk Peta Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Sumber data Peta Topografi, CH, Iklim, Tanah, Adminstrasi Mengetahui Hirarki Wilayah Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Analisis Skalogram dan Analisis proyeksi penduduk dengan kriteria SPM Hirarki Wilayah dan Pryeksi Penduduk dan Kebutuhan Fasilitas Umum Permukiman Data Podes Kota Metro Tahun 2006, Kota Metro Dalam Angka Tahun 2007 Mengetahui Sektor Unggulan di Kota Metro Analisis LQ Analisis SSA Analisis I-O Sektor Unggulan Tabel I-O Kota Metro Hasil Ras I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 Membuat strategi pengembangan wilayah Kota Metro Analisis SWOT Strategi Pengembangan dan Peta Arahan Pengembangan wilayah Kota Metro Peta Kesesuaian Lahan Peta Penggunaan Lahan Hirarki Wilayah Sektor Unggulan 41 Evaluasi sumberdaya lahan : - Peta Tanah - Peta CH - Peta Lereng - Peta Adm Identifikasi hirarki wilayah, Proyeksi Penduduk dan SPM Identifikasi Sektor Unggulan Overlay Satuan Lahan (Land Units) Analisis Skalogram dan Jml Pddk Kriteria Kesesuaian Lahan (Land Requirements) Analisis LQ Analisis SSA Analisi Tabel I-O Matching Peta Kawasan Pertanian Peta Kawasan Permukiman (Perumahan, Bangunan, Jalan) Hirarki Wilayah dan Proyeksi Penduduk dan SPM Analisis SWOT dan Analisis QSPM Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Gambar 5 Kerangka analisis Sektor Unggulan KEADAAN UMUM WILAYAH KOTA METRO Kondisi Fisik dan Administrasi Wilayah Secara geografis, Kota Metro terletak pada kedudukan Timur-Barat antara 105 15’ sampai 105o20’ Bujur Timur dan Utara-Selatan 5o5’ - 5o10’ Lintang o Selatan dan Kota Metro merupakan wilayah Provinsi Lampung. Secara administratif Kota Metro mempunyai perbatasan sebagai berikut: a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur. c. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur. d. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 25 tahun 2000 tentang pemekaran kelurahan dan kecamatan di Kota Metro, maka pemerintahan terdiri dari 5 kecamatan yang meliputi 22 kelurahan. Luas wilayah Kota Metro sekitar 68,74 km2 atau 6.874 Ha dengan topografi wilayah berupa daerah daratan aluvial. Sedangkan ketinggian tempat Kota Metro berkisar antara 25–75 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 0–15%. Fisiografi Berdasarkan fisiografinya, bentang wilayah Kota Metro termasuk grup dataran tuf masam. Bentang alam wilayah ini dapat dikelompokkan kedalam bentuk wilayah datar, dengan kemiringan lereng 0–3% mencakup luasan kurang lebih 10% luas lahan dan berombak dengan kemiringan lereng 3–8% seluas kurang lebih 80% dari luas lahan dan 8–15% seluas kurang lebih 10% dari luas lahan. Geologi Secara geologi wilayah Kota Metro berada pada formasi tuf Lampung dan diperkirakan berumur Kuarter, berkomposisi lempung bertuf dan batu pasir. Tuf kasar mengandung ortoklas, mikrlin, biotit, kuarsa dan plagioklas yang bercampur 43 dengan fragmen granit dan genesis, sedangkan tuf halus berkomposisi batu apung, feldspar dan kuarsa. Iklim Arah angin Kota Metro beriklim tropis-humid angin laut yang bertiup dari Samudra Indonesia dengan arah angin setiap tahunnya, yaitu: (1) pada bulan NovemberMaret angin bertiup dari arah barat dan barat laut, (2) pada bulan Juli-Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Kecepatan angin rata-rata 5,83 km/jam. Curah Hujan Curah hujan wilayah Kota Metro berkisar antara 1.580–3.721 mm/tahun, dengan bulan basah 5–7 bulan per tahun. Temperatur udara rata-rata berkisar antara 26–28 oC, temperatur maksimum adalah 33 oC dan minimum 22 oC. Ratarata kelembaban udara sekitar 80–88%. Tabel 14 Banyaknya curah hujan dan hari hujan di Kota Metro Tahun 2001 2002 2003 2004 CH HH CH HH CH HH CH HH Januari 373 25 458 13 240 13 474 20 Februari 204 20 131 17 208 15 460 19 Maret 169 20 392 15 233 14 352 15 April 74 11 191 14 251 12 115 12 Mei 108 13 39 4 129 7 299 10 Juni 90 10 47 6 48 4 185 4 Juli 15 6 3 10 26 3 169 10 Agustus 90 6 20 3 23 1 16 3 September 182 16 187 5 5 2 Oktober 85 14 126 11 89 8 Nopember 268 17 271 11 107 12 198 14 Desember 20 368 21 170 11 345 17 152 Jumlah 1.810 178 1.920 114 1.748 108 2.707 134 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Bulan 2005 CH HH 398 19 685 13 490 17 222 11 808 11 213 8 119 7 161 8 141 6 223 10 110 10 151 10 3.721 130 2006 CH HH 352 12 120 7 398 14 39 4 120 8 53 5 50 3 95 3 75 4 278 13 1.580 73 44 Gambar 6 Peta administrasi Kota Metro 45 Kondisi Demografi Jumlah dan Kepadatan Penduduk Penduduk Kota Metro pada tahun 2006 berjumlah 130.348 jiwa, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,71% per tahun sejak tahun 2001. Penyebaran penduduk di Kota Metro pada tahun 2006 sebagian besar terkonsentrasi di kecamatan Metro Pusat dan Kecamatan Metro Timur. Rata-rata kepadatan penduduk Kota Metro sebesar 1.896 jiwa/km2, dengan kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Metro Pusat, seperti terlihat pada Tabel 15. Tabel 15 Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Jumlah (1) Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Jumlah (2) Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Jumlah (3) Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Jumlah (4) Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Jumlah (5) Total (1+2+3+4+5) Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas (Ha) Jumlah Lingkungan 196 119 337 150 337 1 139 9 6 6 9 5 35 295 242 288 303 1.128 6 5 4 5 9 5.560 7.115 5.082 2.500 20.257 1.885 2.940 1.765 825 221 122 336 376 155 1.210 8 4 9 5 4 30 9.078 7.803 5.943 2.496 4.404 29.724 4.108 6.396 1.887 741 2.841 246 475 287 425 1.433 6 7 6 4 23 3.167 3.935 2.321 2.901 12.324 1.287 828 809 683 772 362 255 575 1.964 6.874 11 4 7 9 31 128 6.285 2.193 4.343 8.605 21.426 130.348 814 606 1.703 1.497 14.456 7.540 6.788 11.354 6.479 46.617 Kepadatan (Jiwa/Km2) 7.376 6.336 2.014 7.569 1.923 46 Struktur Umur Penduduk Komposisi penduduk Kota Metro berdasarkan struktur umur dibedakan atas usia produktif (16-60 tahun) dan usia tidak produktif (0-15 tahun dan 60 tahun). Pada tahun 2006 jumlah penduduk usia produktif di Kota Metro sebesar 85.312 jiwa atau 65,45% dari jumlah penduduk, sedangkan usia tidak produktif berjumlah 45.034 jiwa atau 34,54%. Tabel 16 Penduduk Kota Metro Tahun 2006 berdasarkan kelompok umur Kelompok Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah Penduduk Laki-laki (jiwa) 6.313 6.139 6.452 7.438 6.053 6.567 5.840 5.236 4.305 3.353 2.405 1.630 1.455 953 781 756 75.375 Perempuan (jiwa) 5.987 5.925 6.400 7.685 6.599 6.955 5.841 5.080 3.792 2.987 2.032 1.514 1.413 990 702 769 76.668 Jumlah total (jiwa) % dari Total 12.300 12.063 12.852 15.124 12.652 13.521 11.681 10.316 8.097 6.340 4.437 3.144 2.868 1.943 1.483 1.525 130.348 0,09 0,09 0,10 0,12 0,10 0,10 0,09 0,08 0,06 0,05 0,03 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 100 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Mata Pencaharian Penduduk Mata Pencaharian Perduduk Kota Metro pada tahun 2006 sebagian besar adalah pada sektor jasa (28,56%), sektor perdagangan (28,18%), sektor pertanian (23,97%) dan selanjutnya sektor transportasi & komunikasi (9,84%), dan sektor konstruksi (5,63%). Komposisi mata pencaharian penduduk di Kota Metro pada tahun 2006 tergambar sebagai berikut: 47 Sumber: Selayang Pandang Kota Metro, 2007 Gambar 7 Persentase jumlah penduduk berdasarkan lapangan pekerjaan Data jumlah penduduk Tahun 1995-1997 sangat besar, karena pada saat itu Metro masih dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Sejak Tahun 1999 Metro berdiri sendiri menjadi daerah otonom kotamadya. Pada Tahun 2006 penduduk Kota Metro sudah mencapai 130.348 jiwa. Dari total tersebut sebanyak 65.676 jiwa adalah laki-laki dan selebihnya yaitu 64.672 jiwa adalah wanita. Pada Tabel 17 menunjukkan perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di daerah penelitian. Tabel 17 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin di Kota Metro Tahun 1995 – 2006 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Laki-Laki 987.744 1.001.270 1.011.176 58.036 58.458 59.680 60.347 60.961 61.589 62.244 64.666 65.676 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Perempuan 955.170 963.887 964.377 57.013 57.331 58.768 59.424 60.133 60.819 61.496 63.677 64.672 Jumlah 1.942.934 1.965.157 1.975.553 115.049 115.789 118.448 119.771 121.094 122.417 123.740 128.343 130.348 48 Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah Jaringan Transportasi Jaringan transportasi di Kota Metro pada dasarnya digunakan untuk memperlancar arus distribusi barang dan jasa, mengembangkan kegiatan ekonomi, meningkatkan aktivitas pelayanan masyarakat, meningkatkan mobilitas penduduk ke seluruh wilayah kota, serta membuka isolasi daerah pinggiran dan sentra-sentra produksi pertanian di daerah pinggiran kota (urban fringe). Sistem jaringan jalan di Kota Metro, merupakan bagian dari jaringan jalan propinsi dan Nasional. Jalan Jenderal Sudirman–Abdul Haris Nasution, merupakan bagian dari jalan negara (nasional) sebagai jalan arteri primer yang menghubungkan Bandar Lampung-Tegineneng-Metro-Sukadana. Sedangkan Jalan Pahlawan–Jalan Jawa–Jalan Imam Bonjol, merupakan jalan provinsi yang diklasifikasikan sebagai jalan kolektor primer yang menghubungkan Kota Metro dengan Kota Gajah dan Gaya Baru, Kabupaten Lampung Tengah. Adapun panjang dan status jalan di Kota Metro dapat dlihat pada Tabel 18. Tabel 18 Panjang dan status jalan di Kota Metro Status Jalan Jalan Negara Jalan Propinsi Jalan Kabupaten/Kota:  Jalan Hotmix  Jalan Aspal  Jalan Batu/Onderlag  Jalan Tanah Jumlah Panjang (km) 5,74 21,90 72,62 127,12 192,60 14,36 434,34 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Jaringan jalan utama Kota Metro mengarah dan berpusat pada satu titik yaitu pusat kota (pola radial). Konsekuensinya adalah seluruh arus lalu lintas baik lokal maupun regional harus melalui pusat kota, sehingga dapat terjadi kelebihan beban pada jalan menuju pusat kota. Dapat pula terjadi kesenjangan perkembangan wilayah pada bagian yang berada di pinggiran kota (urban fringe), khususnya yang tidak dilalui oleh jalan utama menuju pusat kota. Sarana angkutan di Kota Metro terdiri dari jenis transportasi darat yang berupa kendaraan roda empat, roda dua (ojek) dan becak. Sistem pelayanan 49 angkutan umum kota Metro meliputi: angkutan kota (angkot) yang melayani transportasi dalam Kota Metro dan wilayah sekitarnya, angkutan antar kota dalam propinsi, dan angkutan luar kota antar propinsi. Sarana angkutan kota pada saat ini belum mampu melayani seluruh wilayah kota. Beberapa bagian wilayah kota yang belum terjangkau trayek angkutan kota adalah sebagian wilayah Kecamatan Metro Timur dan Metro Selatan, yaitu: Kelurahan Tejosari, Karangrejo, Margodadi, Sumbersari, dan Rejomulyo. Sarana Pendidikan Untuk mendukung visi Kota Metro sebagai kota pendidikan maka berbagai program peningkatan fasilitas telah dilakukan. Dengan sarana pendidikan yang lengkap serta didukung oleh suasana kota yang tenang dan tentram akan meningkatkan daya tarik pelajar dari luar daerah untuk menuntut ilmu di Kota Metro. Tabel 19 menunjukkan jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro. Tabel 19 Sarana dan prasarana pendidikan di Kota Metro Jenis Sekolah SD Negeri SD Swasta SLTP Negeri SLTP Swasta SMU Negeri SMU Swasta SMK Negeri SMK Swasta Perguruan Tinggi Jumlah Jumlah (Unit) 50 13 9 20 5 15 3 12 10 137 Jumlah Kelas (Ruang) 448 142 151 129 99 142 42 86 127 1.366 Sumber : BPS Kota Metro, 2007 Sarana Kesehatan Semakin tinggi tingkat kesehatan mencermikan semakin tinggi tingkat pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Keberadaan sarana dan prasarana kesehatan sebenarnya ditujukan untuk mewujudkan program tersebut. Pada Tabel 20 berikut disajikan jumlah fasilitas kesehatan per kecamatan di Kota Metro. 50 Tabel 20 Jumlah sarana kesehatan per kecamatan di Kota Metro Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Rumah Bersalin Balai Pengobatan Metro Pusat Metro Selatan Metro Utara Metro Barat Metro Timur Jumlah 1 1 1 3 2 1 2 2 1 8 1 1 2 1 2 7 3 1 3 7 3 1 1 5 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Sarana Peribadatan Pembangunan bidang keagamaan memegang peranan penting sebagai landasan moral, etika, spiritual dan akhlak masyarakat. Masyarakat yang berkualitas juga ditentukan dengan adanya keseimbangan antara segi intelektual dan segi keimanan. Kehidupan beragama di Kota Metro berjalan dengan tentram dilandasi rasa toleransi yang tinggi. Berikut ini data jumlah tempat peribadatan yang ada di Kota Metro (Tabel 20). Tabel 21 Jumlah tempat peribadatan per kecamatan di Kota Metro Tahun 2007 Kecamatan Masjid Metro Pusat Metro Utara Metro Barat Metro Timur Metro Selatan Jumlah 41 19 24 23 15 122 Mushala 51 35 26 32 32 176 Gereja Pura Vihara 9 2 2 2 15 2 1 2 5 4 1 1 6 Sumber: Selayang pandang Kota Metro, 2007 Kondisi Lahan Bentang wilayah kota Metro termasuk grup dataran tuf masam. Bentang alam wilayah ini dapat dikelompokkan kedalam bentuk wilayah datar, dengan kemiringan lereng 0–2%. Wilayah datar tersebut mencakup luasan kurang lebih 80% dari luas lahan, sedangkan wilayah dengan topografi berombak dengan kemiringan lereng 3–8% mencakup 10% dari luas lahan. Sebagian besar wilayah Kota Metro merupakan kawasan persawahan irigasi teknis, terutama di wilayah begian utara dan selatan kota. Adanya saluran yang melintas di wilayah tersebut sangat membantu masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani. 51 Kota Metro mempunyai satuan lahan kode Idq 3.1. (Tabel 22) mempunyai deskripsi tektur tanah agak halus, kedalaman jeluk sangat dalam, drainase baik sampai buruk, K dapat ditukar rendah sampai sangat rendah, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan aluminium sedang sampai rendah, dan kemasaman pH tanah sangat masam. Bahan induknya adalah tuf masam (Dai et al, 1989). Tabel 22 Deskripsi satuan lahan Kota Metro Unsur Satuan Lahan Jenis Tanah Ultisol (Kanhapludult) Fisiografi Lereng Bahan Induk Deskripsi Satuan Lahan (Idq.3.1.)  Tekstur agak halus, kedalaman sangat dalam, drainase baik sampai agak buruk, Kdd agak rendah sampai sangat rendah  P tersedia rendah sampai sangat rendah  KTK rendah sampai sangat rendah  Kejenuhan Al sedang sampai sangat rendah  Reaksi tanah masam-sangat masam Dataran tuf masam, berombak agak tertoreh 3–8% Tuf masam, batuan sedimen masam, kasar Sumber: Puslitanak Bogor,1989 Karakteristik satuan lahan (Tabel 23) wilayah Kota Metro mempunyai drainase baik, ketersediaan air cukup, rata-rata temperatur 26–28 oC, dengan curah hujan rata-rata diatas 2000 mm, bulan kering 2–3 bulan, dan kelembaban udara 80–88%. Hal tersebut menunjukkan Metro dan sekitarnya mempunyai potensi yang cukup baik bagi pertanian. Sifat Tanah Dilihat dari sifat fisik dan kimia tanah berdasarkan Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumetera skala 1:250.000 (PPT, 1989) maka Kota Metro mempunyai karakteristik sifat fisik dan kimia tanah yang berbeda atas dasar kedalaman tanah. Pada kedalaman lapisan olah tanah (0–20 cm) kandungan tekstur terdiri dari pasir 66%, debu 11%, dan liat 23%. Semakin kedalam kandungan liat semakin tinggi, sedangkan kandungan pasir semakin rendah. Dilihat sifat kimianya pada lapisan olah tanah maka pH H 2O 4,9–5,4 kadar C 0,25–1,57%, kadar N 0,02–0,14%, C/N rasio 11,2 KTK 6,4 dan kejenuhan basa 48% (Tabel 23). 52 Tabel 23 Karakteristik satuan lahan wilayah Kota Metro Unsur Satuan Lahan Temperatur (tc): -Temperatur rata-rata Karakteristik Satuan Lahan (Idq 3.1) Ketersediaan air (wa): -Curah hujan -Bulan kering -Kelembaban Ketersediaan Oksigen (oa) -Drainase Media Perakaran (rc): -Tekstur -Bahan kasar -Kedalaman tanah 26–28oC 2.264–3.868 mm 2–3 bulan 80-88% Baik Agak halus, halus < 15% >120 cm Retensi Hara (nr): -KTK liat -Kejenuhan basa -pH H2O -C organik 16,97 mol/kg 33,3% 5,08 0,73 Toksisitas (xc): -Salinitas (ds m-1) 0 Saliditas (xn): -Alkalinitas (ESP) 1,1% Bahaya Sulfidik (xs): -Kedalaman sulfidik (cm) 0 (tak ada pirit) Bahaya erosi (eh) -Lereng -Bahaya erosi 3–8% Sedang Bahaya Banjir (fh) -Genangan 0 Penyiapan Lahan (lp) -Batuan di permukaan -Singkapan Batuan < 5% < 5% Sumber: Puslitanak, 1989 Atas dasar hasil identifikasi dan karateristik serta sifat fisika dan kimia tanah pada satuan lahan, maka selanjutnya dapat diklasifikasikan kesesuaian lahan wilayah Kota Metro menurut jenis dan komoditas pertanian yang sesuai bagi penggunaan lahan. Penggunaan Lahan yang sesuai terutama untuk pengusahaan komoditas tanaman pangan (padi dan palawija), sayuran, buah-buahan, dan tanaman rempah-rempah (Puslitanak, 1989). 53 Tabel 24 Sifat fisik dan kimia tanah di Kota Metro Unsur Sifat Fisik dan Kimia Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2O Kadar C (%) (Walkey & Beach) Kadar N (%) (Kjeldahl) C/N rasio Unsur Ca mikro Mg (1 N K NH4OAc Na pH7) KTK c mol/kg KTK Liat (c mol/kg) Kejenuhan Basa (%) 0-20 66 11 23 5,1 1,57 Kedalaman Tanah (cm) 20–32 32–56 56–80 51 45 36 7 7 9 42 48 55 5,4 5,1 4,9 0,64 0,4 0,39 80-125 34 13 53 4,9 0,24 0,14 11,2 2,3 0,6 0,1 0,1 6,4 0,06 10,7 2,2 0,9 0,1 0,1 5,9 0,06 6,7 1,3 0,5 0,1 0,1 6,5 0,05 7,8 0,5 0,4 0,1 0,1 7,1 0,02 12 0,7 0,5 0,1 0,1 9,1 27,8 48 14 54 13,5 31 12,9 13 17,2 14 Sumber: Puslitanak, 1989 Potensi Pengairan Potensi pengairan berasal dari jaringan irigasi teknis yang mengairi sawah di Kota Metro dengan menginduk kepada Bendungan Argoguruh yang terletak di jalur sungai Way Sekampung Kecamatan Tegineneng Lampung Selatan. Air yang berasal dari Bendungan Argoguruh dialirkan melalui saluran Kanal I ke arah timur laut sejauh 21 km menuju Kota Metro. Kanal I ini mengairi 2 buah daerah irigasi yaitu: (1) daerah irigasi Sekampung Batanghari, dengan wilayah irigasi Kecamatan Metro Selatan, Metro Timur dan Metro Barat, dan (2) daerah irigasi Sekampung Bunut, dengan wilayah irigasi Kecamatan Metro Barat, Metro Pusat, Metro Timur, dan Metro Utara. Secara terperinci, panjang saluran irigasi pada masing-masing daerah irigasi tersaji pada Tabel 25 berikut: 54 Tabel 25 Dimensi saluran irigasi Kota Metro Jenis Saluran Saluran Induk Saluran Sekunder Saluran Sub Sekunder Saluran Tersier Saluran Kuarter Saluran Pembuangan Panjang (m) Daerah Irigasi Daerah Irigasi Sekampung Batanghari Sekampung Bunut 8.795 11.660 11.925 6.700 4.525 54.350 99.672 92.890 115.174 19.075 5.700 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Sungai yang terdapat di Kota Metro merupakan bagian sungai yang mempunyai hulu dan muara di kabupaten lainnya. Di Kota Metro terdapat empat sungai seperti yang tertera pada Tabel 26. Tabel 26 Panjang sungai di Kota Metro Nama Sungai Way Sekampung Way Raman Way Bunut Way Batanghari Panjang (km) 7 12 12 4 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 Potensi Pertanian Sektor Tanaman Pangan Kota Metro sebagian besar masyarakatnya bergerak pada sektor jasa dan pertanian dan daerah Kota Metro memiliki 5 kecamatan meliputi: Kecamatan Metro Pusat, Metro Utara, Metro Timur, Metro Barat dan Metro Selatan. Masingmasing kecamatan di Kota Metro memiliki keunggulan lokal spesifik komoditas pertanian yang berbeda, yaitu komoditas pertanian lahan basah dan lahan kering baik pada sektor pangan, sub sektor peternakan dan sub sektor perikanan. 55 Tabel 27 Potensi lahan sawah dan lahan kering di wilayah Kota Metro Jenis lahan Irigasi 2x tnm Irigasi 1x tnm Tegalan Pekarangan Ladang/Huma Padang Rumput Metro Pusat 191 35 97,25 496,62 - Metro Utara 573 115 107 925,43 - Kecamatan (Ha) Metro Metro Timur Barat 451 439 42 39,14 11 523,46 579,75 - Metro Selatan 685 39 32,90 489,80 6 11,50 Sumber: Masterplan Agropolitan, 2005 Tabel 28 Data produksi padi dan palawija Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Jumlah (1) Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Jumlah (2) Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Jumlah (3) Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Jumlah (4) Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Jumlah (5) Total (1+2+3+4+5) Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Produksi (Ton) Padi Jagung Ubi Kayu 1.581 144 5.292 780 4.345 12.142 177 6.175 310 2.080 8742 30 9 60 99 1.165,8 410,4 672,6 2.256 4.504,8 22 40,7 98,8 7,6 20.257 56,4 9,2 9,3 9,2 84,1 97,2 47,7 739,2 2.512,2 583,2 3.979,5 57,6 17,5 363,4 438,5 80 231 18 18 347 208,1 1.110,2 832,1 1.071,2 3.221,57 840 779 1.740 8.900 3.398 440 360 546 420 860 2.868 1.254 759 2.639 7.520 31.367,87 480 270 72 300 1.122 13.896,6 840 90 60 60 1.050 3.346,1 56 Memperhatikan Tabel 28 menunjukkan bahwa pada Tahun 2006 Kecamatan Metro Pusat dan Metro Utara merupakan sentra produksi padi utama. Padi didaerah ini sebagian besar diusahakan pada lahan sawah irigasi dua kali tanam dalam setahun. Potensi luas lahan sawah irigasi dua kali tanam setahun berturut-turut seluas 191 Ha di Kecamatan Metro Pusat dan 573 Ha di Kecamatan Metro Utara. Sektor Peternakan Adapun jenis ternak yang potensial untuk dikembangkan di Kota Metro meliputi ternak ruminansia besar (Sapi, Kerbau) dan ternak ruminansia kecil (Kambing, Domba, Babi), serta ternak unggas. Sebagai gambaran maka populasi ternak ruminansia besar pada tahun 2006 berupa Sapi Potong berjumlah 2.135 ekor dan Kerbau sebanyak 1.031 ekor (Tabel 29). Tabel 29 Populasi ternak ruminansia besar Kota Metro Tahun 2006 Jenis Ternak Sapi Potong -Pejantan -Betina Sub jumlah Sapi Perah -Pejantan -Betina Sub jumlah Kerbau -Pejantan -Betina Sub jumlah Metro Pusat Kecamatan (ekor) Metro Metro Metro Utara Timur Barat Metro Selatan Jumlah 153 117 270 220 501 721 127 258 385 15 31 46 209 504 713 724 1.411 2.135 0 0 0 13 50 63 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 50 63 42 35 77 64 110 174 50 150 200 23 46 69 49 462 511 228 803 1.031 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Untuk populasi ternak ruminansia kecil pada tahun yang sama adalah sebagai berikut Kambing Rambon 7.034 ekor, Kambing Peranakan Etawah (PE) 745 ekor, Domba 4.229 ekor (Tabel 30). 57 Tabel 30 Populasi ternak ruminansia kecil Kota Metro Tahun 2006 Jenis Ternak Kambing Rambon -Pejantan -Betina Sub jumlah Kambing PE -Pejantan -Betina Sub jumlah Domba -Pejantan -Betina Sub jumlah Metro Pusat Kecamatan (ekor) Metro Metro Metro Utara Timur Barat Metro Selatan Jumlah 2.027 1.161 3.188 210 531 741 599 831 1.430 217 282 499 397 779 1.176 3.450 3.584 7.034 142 191 333 18 22 40 22 12 34 96 127 223 55 115 121 338 407 745 1.529 589 2.118 186 383 569 183 255 438 230 310 540 121 443 564 2.249 1.980 4.229 Sumber: Dinas Pertanian Kota Metro, 2007 Potensi Industri Perkembangan industri di Kota Metro cukup pesat khususnya industri kecil dan rumah tangga. Jumlah unit usaha dan pertumbuhan di Kota Metro disajikan pada Tabel 31. Tabel 31 Keadaan industri kecil, tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi di Kota Metro Tahun 2000 2001 2002 2003 2004* 2005 2006* Unit usaha Jumlah Growth (buah) (%) 619 638 687 758 894 1.093 995 12,46 3,07 7,68 10,33 17,94 22,26 - 8,97 Sumber: BPS Kota Metro, 2007 *) Data Diperbaiki Tenaga Kerja Jumlah Growth (orang) (%) 1.857 1.914 2.189 2.729 2.470 2.489 2.139 9,73 3,07 14,37 24,67 - 9,49 0,77 - 14,06 Investasi Jumlah Growth (juta Rp) (%) 3.619 5.473 5.813 6.723 7.107 9.237 0 9,04 51,23 6,21 3,51 5,71 29,97 - 100 Produksi Jumlah Growth (juta Rp) (%) 9.285 9.570 10.209 19.100 22 24,20 0 8,01 3,07 6,68 87,09 10,00 - 100 HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan Sistem klasifikasi kemampuan lahan mengacu pada sistem yang digunakan Amerika Serikat (United States Departement of Agriculture). Pengelompokan kelas kemampuan lahan dalam sistem tersebut dilakukan secara kualitatif dan merupakan pendekatan pertama dari pendekatan dua tahap menurut FAO (1976). Sistem ini mengenal tiga kategori, yaitu kelas, sub-kelas dan unit. Penggolongan kedalam kelas, sub-kelas dan unit didasarkan atas kemampuan lahan tersebut memproduksi komoditas pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Dalam sistem ini sifat kimia tanah tidak digunakan sebagai pembeda karena sifat kimia tanah sangat mudah berubah, sehingga kurang relevan untuk digunakan. Sifat-sifat tanah/lahan yang digunakan sebagai pembeda hanyalah sifat-sifat fisik/morfologi tanah yang dapat dapat diamati di lapangan (Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Dalam tingkat kelas, kemampuan lahan menunjukkan kesamaan besarnya faktor-faktor penghambat. Tanah dikelompokkan kedalam kelas I sampai kelas VIII, dimana semakin tinggi kelasnya kualitas lahan semakin jelek, berarti resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah dan pilihan penggunaan lahan yang dapat diterapkan semakin terbatas. Tanah kelas I sampai dengan IV merupakan lahan yang sesuai untuk pertanian. Sedangkan kelas V sampai VIII tidak sesuai dengan usaha pertanian atau diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk pengelolaannya (Tabel 6). 59 Tabel 32 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan Faktor Tekstur tanah (t) a. Lapisan atas (4 cm) b. Lapisan bawah Lereng permukaan (%) Drainase Kedalaman efektif Keadaan erosi Kerikil/batuan Banjir Kelas Kemampuan III IV V I II t2/t3 t2/t4 i0 d0/d1 k0 e0 b0 O0 t1/t4 t1/t4 i1 d2 k0 e1 b0 O1 t1/t4 t1/t4 i2 d3 k1 e1 b0 O2 (*) (*) i3 d4 k2 e2 b1 O3 (*) (*) (*) (*)(*) (*) (*) b2 O4 VI VII VIII (*) (*) i4 (*) k3 e3 (*) (*) (*) (*) i5 (*) (*) e4 (*) (*) t5 t5 i6 (*) (*) (*) b3 (*) Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 (*) : dapat mempunyai sembarang sifat faktor penghambat dari kelas lebih rendah (**) : permukaan tanah selalu tergenang air Karakteristik lahan dalam klasifikasi kemampuan lahan merupakan faktorfaktor penghambat yang bersifat permanen atau sulit diubah seperti tekstur tanah, lereng permukaan, drainase, kedalaman efektif tanah, tingkat erosi yang terjadi, liat masam (cat clay), batuan di permukaan tanah, ancaman banjir atau genangan air yang tetap dan iklim. Faktor-faktor tersebut digolongkan berdasarkan besarnya intensitas faktor penghambat atau ancaman (Arsyad dalam Hardjowigeno, 2007). Beberapa faktor yang menentukan kelas kemampuan lahan menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka, (2007) adalah: Tekstur (t) t1 : halus : liat berdebu, liat t2 : agak halus : liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir t3 : sedang : debu, lempung berdebu, lempung t4 : agak kasar : lempung berpasir t5 : kasar : pasir berlempung, pasir Kedalaman efektif (k) K0 : dalam : > 90 cm K1 : sedang : 90 – 50 cm K2 : dangkal : 50 – 25 cm K3 : sangat dangkal : < 25 cm 60 Lereng permukaan (i) I0(A) :0–3% : datar I0(B) :3–8% : landai/berombak I0(C) : 8 – 15 % : agak miring/bergelombang I0(D) : 15 – 30 % : miring berbukit I0(E) : 30 – 45 % : agak curam I0(F) : 45 – 65 % : curam I0(G) > 65 % : sangat curam Analisis kemampuan lahan di Kota Metro, diperoleh dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan beberapa kriteria kemampuan lahan yang terdapat pada Tabel 30. Beberapa peta yang digunakan bersumber dari Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumatera skala 1:250.000 (PPT, 1989), Peta RBI Kota Metro skala 1:50.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Adminstrasi Kota Metro skala 1:75.000 (Bappeda, 2001), Peta Kelerengan Kota Metro skala 1:100.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Banjir Kota Metro skala 1:100.000 (PPT, 1983). Beberapa peta tersebut ditumpang tindih (overlay) untuk membuat satuan lahan di Kota Metro. Setelah didapatkan satuan lahan maka langkah selanjutnya memasukan kriteria kemampuan lahan untuk membuat kelas kemampuan lahan di Kota Metro. Berdasarkan hasil pembuatan kelas kemampuan lahan di Kota Metro didapat bahwa sebagian besar lahan di Kota Metro berada pada Kelas II dengan luas 5.160 Ha (73%), Kelas I seluas 1.101 Ha (15,5%), Kelas IV dengan luas 815 Ha (11,5%) dan Kelas III hampir tidak ada atau luasnya sangat kecil 0,029 Ha. Pada lahan Kelas II yang menjadi faktor pembatas adalah lereng (i1) dan tekstur (t1) sesuai dengan kondisi di Kota Metro didominasi kelerangan (3–8% = landai/berombak) dan tekstur tanah liat berdebu (Tabel 32). Pada Lahan Kelas I tidak mempunyai faktor pembatas yang dapat menurunkan kelasnya dalam kriteria klasifikasi kemampuan lahan. Lahan kelas III di Kota Metro mempunyai faktor pembatas lereng (i2) (8–15% = agak miring bergelombang) dan Kedalaman efektif (k1) (sedang: 90–50 cm). Lahan kelas IV mempunyai faktor pembatas Kedalaman efektif (k2) (dangkal: 50–25 cm). Secara 61 umum di Kota Metro mempunyai karakteristik lahan sebagai faktor pembatas adalah Kelerangan, Tekstur dan Kedalaman efektif tanah. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) lahan yang berada pada Kelas I berarti lahan tersebut sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan yang khusus. Lahannya datar, solumnya dalam, bertekstur agak halus atau sedang dan responsif terhadap pemupukan sehingga penggunaan sesuai untuk pertanian sangat intensif. Di Kota Metro terdapat lahan kelas I seluas 1.101 Ha, hal tersebut menunjukkan bahwa 15,5% lahan yang ada di Kota Metro sangat mempunyai kemampuan dalam pertanian sangat intensif. Lahan kelas II mempunyai faktor pembatas sehingga kelas kemampuan lahannya turun, tetapi masih dapat digunakan untuk pertanian intensif. Faktor pembatas yang ada dapat diperbaiki sesuai tingkat pembatasnya. Pengawetan tanah yang tingkatnya sedang, pengolahan sesuai kontur, pergiliran tanaman, pembuatan guludan merupakan usaha untuk mengantisipasi faktorfaktor pembatas. Terdapat lahan seluas 5.160 Ha (kelas II) di Kota Metro atau 73% dari luas wilayah yang dapat digunakan untuk pertanian intensif dengan melakukan usaha-usaha untuk mengantisipasi faktor pembatas yang ada. Lahan kelas III mempunyai faktor penghambat yang agak berat yang mengurangi jenis tanaman yang dapat diusahakan, atau memerlukan usaha pengawetan tanah yang khusus atau kedua-duanya. Tetapi lahan ini masih mampu diusahakan untuk pertanian dengan tingkat sedang. Terdapat lahan seluas 0,029 Ha di Kota Metro yang termasuk dalam kelas tersebut. Lahan kelas IV mempunyai penghambat berat yang membatasi pilihan tanaman yang dapat diusahakan, memerlukan pengelolaan yang sangat berhatihati, atau kedua-duanya. Penggunaan lahan kelas IV sangat terbatas karena salah satu atau kombinasi dari penghambat berikut: (a) lereng curam, (b) kepekaan erosi besar, (c) erosi yang telah terjadi berat, (d) tanah dangkal, (e) daya menahan air rendah dan sebagainya (Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Di Kota Metro terdapat lahan seluas 815 Ha atau 11,5% dari luas wilayah yang termasuk dalam kelas IV dengan faktor pembatas kedalaman efektif tanah yang dangkal. Oleh sebab itu lahan tersebut mempunyai kemampuan untuk komoditas tanaman pertanian tertentu saja. 62 Tabel 33 Kelas kemampuan lahan di Kota Metro Kemampuan Lahan Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Luas (Ha) 1.101 5.160 0,029 815 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 8 Peta kelas kemampuan lahan Persentase (%) 15,5 73,0 0,041 11,5 63 Pada Peta kelas kemampuan lahan di Kota Metro diketahui bahwa sebagian besar kelurahan termasuk dalam kemampuan lahan kelas II (pertanian intensif) seperti Kelurahan Mulyojati, Ganjar Agung, Purwosari, Hadimulyo Timur dan seterusnya dimana tingkat kepadatan penduduk di beberapa kelurahan tersebut termasuk cukup padat. Pada lahan kelas I (pertanian sangat intensif) berada di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul mempunyai tingkat kepadatan pendududuk yang rendah yaitu: 828 Jiwa/Km2 dan 683 Jiwa/Km2. Sedangkan kelurahan yang berada pada kemampuan lahan kelas IV (pertanian terbatas) termasuk pada kelurahan yang mempunyai tingkat kepadatan tinggi yaitu: Kelurahan Imopuro (6.336 Jiwa/Km2), Kelurahan Yosorejo (6.396 Jiwa/Km2). Adapun secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34 Tingkat kepadatan penduduk dan kelas kemampuan lahan di Kota Metro Kecamatan/ Kelurahan Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Rata-rata Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari Rata-rata Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung Rata-rata Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul Rata-rata Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari Rata-rata Kepadatan (Jiwa/Km2) Kemampuan Lahan 7.376 6.336 2.014 7.569 1.923 5.044 Kelas IV & II Kelas IV & II Kelas II Kelas II Kelas IV 1.885 2.940 1.765 825 1.854 Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II 4.108 6.396 1.887 741 2.841 3.195 Kelas II & IV Kelas IV Kelas IV & III Kelas II & I Kelas II 1.287 828 809 683 722 Kelas II Kelas I & II Kelas II Kelas I & II 814 606 1.703 1.497 1.155 Kelas II & I Kelas II & I Kelas II Kelas II & I 64 Identifikasi Kelas Kesesuaian Lahan Prosedur penilaian kesesuaian lahan dilakukan dengan pendekatan satuan lahan yang dikemukakan FAO (1976). Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mencocokkan karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan tertentu. Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk tanaman pertanian padi, jagung serta kesesuaian lahan untuk peternakan, permukiman dan jalan. Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman pertanian padi, jagung ditentukan oleh karakteristik lahan, meliputi: temperatur (t), ketersediaan air (wa), ketersediaan oksigen (oa), media perakaran (rc), retensi hara (nr), toksisitas (xc), sodisitas (xn), bahaya sulfidik (xs), bahaya banjir (fh), dan bahaya erosi (eh). Kriteria penilaian kesesuaian lahan untuk masing-masing tanaman mengacu kepada Kriteria Kesesuaian Lahan (LREP II, 1994 dalam Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Menurut konsep dasar kerangka evaluasi lahan (FAO, 1976) sesuai dengan tujuannya kesesuaian lahan dibedakan atas kesesuaian lahan secara fisik (kualitatif) dan kesesuaian lahan secara ekonomik (kuantitatif). Dalam penelitian ini evaluasi kesesuaian lahan hanya secara fisik (kualitatif). Sistem kesesuaian lahan yang digunakan, dibedakan menjadi kelas sesuai (S) dan kelas tidak sesuai (N). Kelas S masih dibedakan menjadi tiga kelas. Keempat kelas kesesuaian lahan tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. Kelas S1 adalah lahan sangat sesuai (highly suitable) yakni lahan yang tidak mempunyai faktor pembatas berarti yang mempengaruhi pengelolaan tanah/tanamannya; 2. Kelas S2 adalah lahan cukup sesuai (moderately suitable) yakni lahan yang mempunyai faktor pembatas ringan dalam mempengaruhi pengelolaan tanah/tanaman dan masukan biaya ringan; 3. Kelas S3 adalah lahan sesuai marjinal (marginally suitable) yakni lahan yang mempunyai pembatas agak berat yang dapat mempengaruhi pengelolaan tanah/tanaman dan masukan biaya sedang sampai tinggi; 4. Kelas N adalah lahan tidak sesuai (not suitable) yakni lahan yang mempunyai faktor pembatas berat dan perbaikannya memerlukan biaya 65 yang sangat besar tetapi tidak akan sesuai dengan produksi yang dihasilkan. Analisis kesesuaian lahan di Kota Metro dilakukan dengan menggunakan peta-peta yang telah digunakan untuk analisis kemampuan lahan sebelumnya, yaitu: Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjung Karang (1110) Sumatera skala 1:250.000 (PPT, 1989), Peta RBI Kota Metro skala 1:50.000 (Bakosurtanal, 1975-1986), Peta Adminstrasi Kota Metro skala 1:75.000 (Bappeda, 2001), Peta Kelerengan Kota Metro skala 1:100.000 (Bakosurtanal, 1975-1986). Kesesuaian Lahan Padi Sawah Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di Kota Metro diasumsikan pada tingkat pengelolaan sedang, lahan yang ada secara umum berada pada kelas S (sesuai). Terdapat lahan seluas 133 Ha (2%) sangat sesuai (kelas S1) untuk tanaman padi tanpa faktor pembatas. Lahan seluas 815,5 Ha (12%) cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kelerengan, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha (87%) sesuai marjinal (S3nr) dengan faktor pembatas retensi hara dan media perakaran/drainase tanah (Tabel 36). 66 Tabel 35 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah (Oryza sativa) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 24 - 29 >29 - 32 >32-35 Td >35 22<24 18-<22 Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) <18 Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) <3 3-<39 9-9,5 Td >9,5 Curah hujan/tahun (mm) >1500 1200-1500 800-<1200 - <800 Kelembaban (%) 33-90 30-<33 <30; >90 - - >90-240 75-90 75-90 <75 <75 Drainase Tanah Terhambat, Terhambat, Sedang, baik Cepat Sangat cepat Tekstur SCL,SiL,Si CL SL,L,SiCL,C SiC LS, Str C Td Kerikil, pasir >50 >40-50 >25-40 20-25 <20 a. Kematangan - Saprik Hemik HemikSaprik Fibrik b. Ketebalan (cm) - <100 100-150 >150-200 >200 ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - >50 35-50 <35 - - 5,5-7,0 >7,0-8,0 4,5-5,5 >8,0-8,5 4,0-<4,5 - >8,5 <4,0 >1,5 0,8-1,5 <0,8 - - <3,5 3,5-5,0 >5,0-6,6 >6,6-8,0 >8,0 <20 20-30 >30-40 >40 - LGP (hari) Media perakaran (r) agak cepat Kedalaman efektif (cm) Gambut Retensi Hara (f) KTK Hara Kejenuhan basa (%) pH Tanah C-organik (%) Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - >75 - 60-75 - 40-60 - 30-40 - <30 - ≥ sedang rendah - - P2O5 ≥ tinggi sedang Sangat rendah Rendah-sangat rendah - - K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 15-25 >25 Bahaya Banjir (b) F0-F1 F2 F3 F4 F4 Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Total N Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) Bahaya erosi Keterangan : Td = Tidak berlaku S = Pasir Str C = Liat berstruktur Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Si = Debu L = Lempung Liat masif : Liat dari tipe 2;1 (vertisol) 67 Tabel 36 Kelas kesesuaian lahan padi di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Luas (Ha) 133,0 815,5 6.128,5 Persentase (%) 2 11 87 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 9 Peta kesesuaian lahan untuk padi Pada Peta kelas kesesuaian lahan tanaman padi di Kota Metro menunjukkan bahwa sebagian besar kelurahan di Kota Metro berada pada lahan kelas S3 untuk 68 tanaman padi, hanya sebagian kecil lahan di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul yang mempunyai lahan kelas S1 untuk tanaman padi dengan produktivitas tanaman padi masing-masing 5 Ton/Ha dan 5,2 Ton/Ha (Tahun 2006). Sedangkan Kelurahan Yosodadi, Yosorejo, Yosomulyo dan Imopuro sebagian besar lahannya termasuk kategori kelas S2 dan hanya sebagian kecil yang masuk kategori kelas S3 dengan produktivitas tanaman padi di kelurahan tersebut masing-masing (5,6 Ton/Ha), (5,3 Ton/Ha), (5,5 Ton/Ha) dan 4,8 Ton/Ha. Adapun secara lebih lengkap data produktivitas padi dan kelas kesesuaian lahan padi per kelurahan dapat dilihat pada Tabel 40. Kesesuaian Lahan Tanaman Jagung Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di daerah penelitian masih didominasi kelas kesesuaian lahan S3nr (Sesuai marjinal) sekitar 85,06% atau 6.019 Ha dengan faktor pembatas retensi hara. Lahan dengan kelas S1 (Sesuai) seluas 133,08 Ha atau 2,21% dari luas wilayah. Selanjutnya lahan kelas S2 (cukup sesuai) untuk tanaman jagung seluas 924,4 Ha atau 13,06% dengan faktor pembatas kelerengan. Tabel 37 Penilaian kesesuaian lahan tanaman padi dan jagung Komoditas Kelas Padi S1 S2 S3 Jagung S1 S2 S3 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Kesesuaian Lahan Sub Faktor Kelas pembatas S1 S2 Kelerengan S3nr retensi hara media perakaran S1 S2 Kelerengan S3nr retensi hara Luas (Ha) 133,0 815,5 6.128,5 133,1 924,4 6.019,0 69 Tabel 38 Kriteria kesesuaian lahan untuk jagung (Zea mays) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 20 - 26 >26 – 30 >30-32 Td >32 15-<20 Td <15 Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) 1-7 >7-8 >8-9 Td >9 Curah hujan/tahun (mm) >1200 900-1200 600-<900 - <600 Kelembaban (%) >42 <36-42 30-36 <30 - LGP (hari) >150 >120-150 90-120 <90 <90 Drainase Tanah Baik, sedang Agak Terhambat, Terhambat, Agak cepat Td Cepat, Sangat terhambatr Tekstur L,SCL,SiL,Si, CL,SiCiL SL,SC,C LS, SiC Td Kerikil, pasir >60 >40-60 >24-40 20-24 <24 a. Kematangan - Saprik Hemik SaprikHemik Fibrik b. Ketebalan (cm) - <100 100-150 >150-200 >200 ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - >50 35-50 <35 - - 6,0-7,0 >7,0-7,5 5,5-6,0 >7,5-8,0 4,5-<5,5 >8,0-8,5 4,0-4,5 >8,5 <4,0 ≥ 0,8 <0,8 Td Td Td <2 2-4 >4-6 >6-8 >8 <15 15-<20 20-25 >25 - Media perakaran (r) agak cepat Kedalaman efektif (cm) Gambut Retensi Hara (f) KTK Hara Kejenuhan basa (%) pH Tanah C-organik (%) Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - >100 - 75-100 - 50-<75 - 40-<50 - <40 - ≥ sedang rendah Sangat rendah - P2O5 Sangat tinggi tinggi Sedang-rendah Sangat rendah K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu Bahaya erosi SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 15-24 >24 F2 F3 F4 - Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Total N - Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) Bahaya Banjir (b) F0-F1 Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 70 Tabel 39 Kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Luas (Ha) 133,0 924,4 6.019,6 Persentase (%) 2 13 85 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 10 Peta kesesuaian lahan untuk jagung 71 Pada Peta kelas kesesuaian lahan jagung di Kota Metro dapat diketahui bahwa sebagian besar kelurahan di Kota Metro mempunyai lahan kelas S3 untuk tanaman jagung, dan hanya sebagian kecil lahan di Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari Bantul yang termasuk lahan kelas S1 dengan produktivitas tanaman jagung di kelurahan tersebut masing-masing 3,8 Ton/Ha dan 3,9 Ton/Ha. Kelurahan Yosomulyo, Metro, Yosodadi dan Yosorejo termasuk dalam kelas S2 untuk tanaman jagung dengan produktivitas tanaman jagung di kelurahan tersebut cukup tinggi, masing-masing secara berurutan: (6,5 Ton/Ha), (5,9 Ton/Ha), (4,6 Ton/Ha), (3,5 Ton/Ha). Adapun data produktivitas dan kelas kesesuaian jagung secara lebih lengkap pada Tabel 40. Tabel 40 Produktivitas padi dan jagung di Kota Metro Tahun 2006 Kecamatan/ Kelurahan Produktivitas Ton/Ha Kesesuaian Lahan Padi Jagung Metro Pusat 1. Metro 2. Imopuro 3. Hadimulyo Timur 4. Hadimulyo Barat 5. Yosomulyo Padi Jagung 5,1 4,8 5,4 5,2 5,5 5,9 6,5 6,2 6,5 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2&S3 Metro Barat 1. Mulyojati 2. Ganjar Asri 3. Ganjar Agung 4. Mulyosari 5,8 5,7 5,7 6,0 3,8 3,7 4,4 3,8 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Kelas S3 Metro Timur 1. Iringmulyo 2. Yosorejo 3. Yosodadi 4. Tejosari 5. Tejoagung 5,4 5,3 5,6 5,3 5,4 4,8 3,5 4,6 - Kelas S3&S2 Kelas S2 Kelas S2&S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3&S2 Kelas S2 Kelas S2&S3 Kelas S3&S2 Kelas S3 Metro Selatan 1. Margorejo 2. Rejomulyo 3. Margodadi 4. Sumbersari Bantul 5,1 5,0 5,3 5,2 4,2 3,8 4,0 3,9 Kelas S3 Kelas S3&S1 Kelas S3 Kelas S3&S1 Kelas S3 Kelas S3,S1&S2 Kelas S3&S2 Kelas S3,S1&S2 Metro Utara 1. Karangrejo 2. Purwoasri 3. Purwosari 4. Banjarsari 6,0 5,5 5,5 5,8 6,0 6,0 6,0 6,0 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 Kelas S3 72 Kesesuaian Lahan untuk Peternakan/Penggembalaan Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan untuk kawasan pengembangan peternakan/penggembalaan di daerah penelitian didapatkan dengan menggunakan kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan/peternakan menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) terdapat lahan seluas 948,6 Ha atau 13,4% kelas S2w (cukup sesuai) dikembangkan sebagai kawasan peternakan/penggembalaan, yang menjadi faktor pembatas adalah ketersedian air dan kelerengan. Lahan yang termasuk kelas S1 tidak ada, sedangkan lahan seluas 6.128,5 Ha atau seluas 86,5% dari luas wilayah termasuk dalam kelas S3nr (sesuai marjinal) dengan faktor pembatas ketersediaan hara, media perakaran dan kelerengan. Tabel 41 Kelas kesesuaian lahan peternakan/penggembalaan di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas S2 Kelas S3 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Luas (Ha) 948,5 6.128,5 Persentase (%) 13,4 86,5 73 Gambar 11 Peta kesesuaian lahan untuk peternakan/penggembalaan 74 Tabel 42 Kriteria kesesuaian lahan untuk penggembalaan (Pasture) Kualitas/karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 N1 N2 20-30 >30 – 35 >35-40 Td >40 18-<20 12-<18 >3-6 >5000-6000 400-<1000 Td Temperatur (t) Rata-rata tahunan (0C) <12 Ketersediaan air (w) Bulan Kering (<75 mm) <2 Curah hujan/tahun (mm) 1500-4000 2-3 >4000-5000 1000-<1500 - >6 >6000 <400 ≥330 300-<330 180-<300 <180 <180 Drainase Tanah Agak terhambat, sedang, baik Agak cepat, Terhambat Sangat terhambat, cepat Sangat Cepat - Tekstur SL,L,SCL,SiL, Si,SC,CL,SiCL LS,Str C S, SiC,C - Kerikil ≥30 20-<30 15-<20 - <15 Td - - - - - - - - - KTK Hara ≥ sedang rendah Sangat rendah Td - pH Tanah 5,0-6,5 >6,5-7,0 4,5-5,0 >7,0-8,5 <4,5 - - - - - - <3 3-5 >5-10 - >10 - - - - - LGP (hari) Media perakaran (r) Kedalaman efektif (cm) Gambut a. Kematangan b. Ketebalan (cm) Retensi Hara (f) C-organik (%) >8,5 Toksisitas Salinitas (mmhos/cm) Sodisitas (Alkalinitas/ESP)(%) Kejenuhan Al (%) - - - - - ≥50 - 40-<50 - 35-<40 - - <35 - Total N ≥ sedang rendah - - P2O5 ≥ tinggi Sedang Sangat rendah Rendah, sangat rendah - - K2O ≥ sedang rendah Sangat rendah - - Batuan permukaan (%) <3 3-15 >15-40 Td >40 Singkapan batuan (%) <2 2-10 >25-40 >40 Konsistensi,besar butir - - >10-25 Sangat keras, Sangat teguh, Sangat lekat - Berkerikil, berbatu Bahaya erosi SR R S B SB Lereng (%) <3 3-8 >8-15 >15-30 >30 Bahaya Banjir (b) F0 Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 F1 F2 F3 F4 Kedalaman Sulfidik (cm) Hara Tersedia (n) Penyiapan lahan (p) Tingkat bahaya erosi (e) 75 Kesesuaian Lahan Permukiman Kesesuaian lahan yang dimaksud sebagai kawasan permukiman tidak hanya terbatas pada komplek perumahan tetapi termasuk juga gedung perkantoran, pertokoan dan fasilitas publik lainnya berupa bangunan gedung dengan beban tidak lebih dari tiga lantai. Penentuan kelas kesesuaian lahan didasarkan pada kemampuan lahan sebagai penopang pondasi (Hardjowigeno S & Widiatmaka, 2007). Sifat lahan yang berpengaruh adalah daya dukung tanah, sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap biaya penggalian dan konstruksi. Sifat-sifat lahan seperti kerapatan (density), tata air (wetness), bahaya banjir, plastisitas, tekstur dan potensi mengembang-mengerut tanah berpengaruh terhadap daya dukung tanah. Adapun kriteria bersumber dibawah ini: Tabel 43 Kriteria kesesuaian lahan tempat tinggal/gedung/permukiman* Kelas kesesuaian lahan Sifat Tanah Subsiden total (cm) Banjir Air Tanah (cm) Potensi kembang kerut (nilai COLE**) Kelas Unified **) Lereng Kedalaman hamparan batuan (cm)  Keras  Lunak Kedalaman padas keras (cm)  Tebal  Tipis Batu/kerikil (>7,5 cm)***)(% berat) Longsor Baik Sedang Buruk Tanpa >75 cm Rendah (<0,03) <8% Tanpa 45-75 cm Sedang (0,03-0,09) 8 – 15 % 30 Jarang-sering < 45 cm Tinggi (>0,09) >15 % >100 >50 50-100 <50 <50 >100 >50 <25 - 50-100 <50 25-50 - <50 - >50 ada Sumber: Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Keterangan : *) Maksimum tiga lantai tanpa ruang bawah tanah **) Lapisan paling tebal antara 25 – 100 cm dari permukaan tanah ***) Rata-rata yang dibobotkan dari permukaan sampai kedalaman 100 cm Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Metro didapatkan bahwa terdapat seluas 6.461 Ha atau 91,3% dari luas wilayah berada pada kelas Baik. Lahan yang berada pada kelas Baik tidak mempunyai karakteristik lahan yang dapat menjadi faktor pembatas untuk pengembangan kawasan permukiman sama seperti kelas S1 pada kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu. Lahan yang berada pada kelas Sedang seluas 566,6 Ha 76 atau 8,01% dengan faktor pembatas kelas kelerengan (8–15%) dan lahan yang berada pada kelas buruk untuk pengembangan permukiman hanya seluas 49,4 Ha atau 0,7% dari luas wilayah dengan faktor pembatas area banjir masuk dalam kategori (jarang – sering). Tabel 44 Kelas kesesuaian lahan permukiman di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas Baik Kelas Sedang Kelas Buruk Luas (Ha) 6.461,0 566,6 49,4 Persentase (%) 91,3 8,0 0,7 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Gambar 12 Peta kesesuaian lahan untuk permukiman 77 Kelas Kesesuaian Lahan untuk Jalan Menurut Jumikis (1962) dalam Widiatmaka et al (2007) definisi jalan yang dimaksud adalah jalan yang terdiri dari a) tanah setempat yang diratakan (tebal penggalian maupun pengurugan tanah kurang dari 6 feet atau 1,8 m) dan dinamakan subgrade; b) lapisan dasar (base) yang terdiri dari kerikil, batu pecahan atau tanah yang distabilkan dengan kapur atau semen; c) lapisan permukaan yang fleksibel (aspal) atau keras (beton), atau kerikil yang direkatkan. Jalan ini dilengkapi pula dengan saluran drainase pada bagian tepi jalan. Sifat-sifat tanah yang dipertimbangkan pada perencanaan dan pembuatan jalan adalah kekuatan tanah, stabilitas tanah dan jumlah tanah galian-urugan yang tersedia (USDA, 1971 dalam Widiatmaka et al, 2007). Kekuatan tanah ditunjukkan oleh kelas tanah menurut indeks AASHTO atau sistem Unified, serta potensi mengembang dan mengerutnya tanah. Stabilitas tanah dipengaruhi oleh tata air tanah dan bahaya banjir, sedangkan lereng, kedalaman hamparan batuan, jumlah batu dipermukaan, dan tata air tanah berpengaruh terhadap perataan tanah yang diinginkan. Tabel 45 Kriteria kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan Kelas kesesuaian lahan Sifat Tanah Subsiden total (cm) Kedalaman hamparan batuan (cm)  Keras  Lunak Kedalaman padas keras (cm)  Tebal  Tipis Potensi kembang kerut (nilai COLE*) Subgrade  Indeks AASHTO*)**)  Unified (USDA, 1951)***) Air Tanah (cm) Lereng (%) Banjir Batu (>7,5 cm)**** Longsor Baik Sedang Buruk - - >30 >100 >50 50-100 <50 <50 - >100 >50 Rendah (<0,03) 50-100 <50 Sedang (0,03-0,09) <50 Tinggi (>0,09) <5 GW, GP, SW, SP, GM, GC, SM, SC >75 cm <8% Tanpa <25 - 5-8 CL dengan PI < 15 >8 CL dengan PI >15 CH, MH, OH, OL,PT < 30 cm >15 % Sering >50 ada 30-75 cm 8 – 15 % Jarang 25-50 - Sumber : Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007 Keterangan: *) Lapisan paling tebal antara 25 – 100 cm **) Untuk famili tanah kaolinitik, pengharkatan menjadi satu tingkat lebih baik dari tabel ini ***) Dikutip dari USDA (1971), tidak tercantum dalam USDA 1983 ***) Rata-rata yang dibobotkan dari permukaan sampai kedalaman 100 cm 78 Berdasarkan analisis kelas kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan terdapat kesamaan hasil dengan analisis kelas lahan untuk kawasan permukiman. Hal tersebut dikarenakan adanya kesamaan parameter kriteria kesesuaian lahan yang digunakan, yakni kelerengan dan area banjir (flooded area). Terdapat satu kriteria yang tidak tersedia datanya yakni Indeks AASHTO, sehingga kriteria yang digunakan sama dengan kriteria kelas kesesuaian permukiman. Seperti pada kelas kesesuaian permukiman hasil analisis kelas kesesuaian jalan di Kota Metro, terdapat luas 49,41 Ha (0,7%) kelas Buruk dengan faktor pembatas area banjir. Lahan dengan kelas Sedang seluas 566,57 Ha (8,01%) dengan faktor pembatas kelerengan dan kelas Baik untuk pembangunan jalan seluas 6.461 Ha (91,3%). Tabel 46 Kelas kesesuaian lahan untuk jalan di Kota Metro Kesesuaian Lahan Kelas Baik Kelas Sedang Kelas Buruk Luas (Ha) 6.461,0 566,6 49,4 Persentase (%) 91,3 8,0 0,7 Sumber: Hasil Analisis, 2008 Tabel 47 Penilaian kesesuaian lahan peternakan, permukiman dan jalan Kesesuaian Peternakan Kelas S2 S3 Baik Sedang Buruk Baik Jalan Sedang Buruk Sumber: Hasil Analisis, 2008 Permukiman Kesesuaian Lahan Sub Kelas Faktor pembatas S2w Ketersediaan air Kelerengan S3nr Ketersediaan hara Media perakaran Kelerengan Kelerengan Area Banjir Kelerengan Area Banjir Luas (Ha) 948,6 6.128,5 6.461 566,6 49,4 6.461 566,6 49,4 79 Gambar 13 Peta kesesuaian lahan untuk jalan Kawasan Kesesuaian Lahan Terdapat dua kelompok kawasan dalam analisis kesesuaian lahan di Kota Metro, yakni kawasan pertanian dan kawasan permukiman. Kawasan pertanian mencakup lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian S1, S2 dan sebagian 80 kecil S3 untuk pengembangan padi, jagung dan penggembalaan/peternakan. Kawasan permukiman mencakup lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian kategori Baik untuk pembangunan gedung dan jalan. Dalam analisis kelas kesesuaian lahan ini hanya memilih lahan-lahan yang mempunyai kelas kesesuaian S1 dan S2 atau lahan yang masuk dalam kategori Baik untuk kawasan permukiman dan jalan. Walaupun kelas kesesuaian S3 (sesuai marjinal) atau yang kategori Sedang dapat ditingkatkan menjadi kelas yang lebih tinggi melalui usaha dan teknologi tertentu, tetapi dalam analisis disini kelas S3 hanya diambil dari lahan yang berkategori Buruk untuk permukiman dan jalan. Area lahan di Kota Metro mempunyai kelas kesesuaian lahan kelas S1 untuk pengembangan komoditas padi dan jagung terdapat di sebagian Kelurahan Rejomulyo dan Sumbersari seluas 133 Ha, lalu lahan kelas S2 untuk pengembangan padi, jagung dan peternakan meliputi: Kelurahan Yosorejo, sebagian Kelurahan Yosomulyo, Kelurahan Imopuro dan Kelurahan Yosodadi. Luas lahan kelas S2 yakni 949 Ha. Area kelas kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas tersebut berada pada lokasi yang sama dan terdapat beberapa parameter dalam kriteria kelas kesesuaian lahan yang sama dengan faktor pembatas yang sama pula. Begitu juga pada kawasan permukiman terdapat kesamaan area untuk kelas kesesuaian pemukiman bangunan dan jalan. Lahan yang mempunyai kelas kesesuaian kategori Baik untuk pembangunan permukiman dan jalan seluas 5.596 Ha atau hampir 79% area lahan di Kota Metro (Tabel 48). Tabel 48 Kelas kesesuaian lahan di Kota Metro Kelas Kesesuaian Kawasan Pertanian Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 Kawasan Permukiman Kelas Baik Kelas Sedang Luas (Ha) Keterangan 133 949 49 Padi, Jagung Padi, Jagung, Peternakan Padi, Jagung 5.596 - Permukiman, Jalan 81 Gambar 14 Peta kesesuaian lahan untuk kawasan pertanian dan kawasan permukiman Kondisi Eksisting Penggunaan Lahan Peta yang digunakan sebagai basis landuse adalah Peta Penggunaan Lahan Kota Metro Tahun 2006 yang dimiliki oleh Bappeda Kota Metro. Peta tersebut 82 sudah merupakan hasil klasifikasi citra landsat di tahun yang sama. Kondisi penggunaan lahan eksisting yang terdapat dalam Peta Penggunaan Lahan Kota Metro Tahun 2006 lebih banyak penggunaan lahan untuk pertanian dibandingkan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan lahan pertanian berupa kebun campuran seluas 4.175,37 Ha, lahan terbuka seluas 378,59 Ha, sawah seluas 151,26 Ha dan pertanian lahan kering bercampur seluas 50,91 Ha. Penggunaan lahan non pertanian banyak didominasi untuk penggunaan permukiman seluas 2.271,48 Ha dan belukar rawa 49,49 Ha (Tabel 48). Dalam kondisi eksisting di lapangan penggunaan lahan sebenarnya lebih dominan lahan permukiman, sawah dan pekarangan. Hampir diseluruh kelurahan di Kota Metro masih memiliki lahan sawah dengan luasan tertentu. Tetapi dalam Peta penggunaan lahan tersebut yang berasal dari Citra Landsat klasifikasi lahan sawah hanya 151,26 Ha sedangkan yang lebih dominan lahan kebun campuran seluas 4.175,37 Ha. Kemungkinan hal tersebut disebabkan pada saat pengambilan gambar citra dilakukan pada saat musim kering sehingga lahan-lahan sawah terekam sebagai kebun campuran. Tabel 49 Luas penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 Penggunaan Lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Sumber : Bappeda, 2006 Luas (Ha) 49,49 2.271,48 4.175,37 378,59 50,91 151,26 83 Gambar 15 Peta penggunaan lahan Kota Metro Tahun 2006 Untuk mengetahui analisis kelas kesesuaian lahan dengan keadaan penggunaan lahan yang ada di Kota Metro, maka selanjutnya dilakukan overlay Peta kesesuaian lahan dengan Peta penggunaan lahan. Sehingga akan diketahui 84 kelas-kelas kesesuaian lahan hasil analisis tersebut bagaimana penggunaan lahannya pada kondisi eksisiting. Dari hasil overlay kedua peta tersebut didapatkan bahwa pada kawasan pertanian yang mempunyai kelas S2 untuk padi dan jagung penggunaan lahannya untuk permukiman. Terdapat lahan kelas S2 yang berbentuk permukiman seluas 607,39 Ha, dan selebihnya kebun campuran. Sedangkan kelas kesesuaian lahan kawasan permukiman penggunaan lahannya lebih beragam antara lain: belukar rawa (49,49 Ha), permukiman (1.664 Ha), kebun campuran (3.171,52 Ha). Adapun data yang lebih rinci terdapat dalam tabel dibawah. Tabel 50 Hasil overlay peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan Penggunaan Lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Kesesuaian Lahan (Ha) Kawasan Pertanian Kawasan Permukiman 49,49 1.664,01 607,39 3.171,52 1.003,91 326,66 51,94 50,94 140,98 10,27 85 Gambar 16 Peta overlay kesesuaian lahan dengan penggunaan lahan Kota Metro 86 Identifikasi Hirarki Wilayah Menurut Prakoso (2005) dalam Sutomo (2008) perkembangan hirarki wilayah dan sistem kota tergantung pada tahapan pembangunan disuatu wilayah atau negara. Terdapat tiga tahapan perkembangan sistem kota, yaitu: a) Sistem kota pada tahap pra-industrialisasi, yang terdiri hanya satu kota individual (urban nuckleus); b) Sistem kota pada tahap industrialisasi, yang ditandai oleh terjadinya proses perkembangan pesat kota tunggal secara fisikal sebagai akibat urbanisasi c) Sistem kota pada tahap post industrialisasi, yang ditandai oleh terbentuknya kota-kota regional. Pada tahap post industrialisasi ditandai dengan adanya fenomena konurbanisasi, yaitu suatu kondisi aglomerasi fiskal kota. Hubungan-hubungan fungsional di dalam wilayah ini memiliki kondisi yang khas berupa menurunnya fungsi kota utama dan mulai menyebarnya fungsi kota utama dan mulai menyebarnya fungsi-fungsi kota secara relatif ke kota-kota yang lebih kecil di wilayah pengaruhnya. Pada tahap akhir sistem perkotaan tersebut adalah beberapa kota kecil mengalami perkembangan ekonomi yang signifikan dan berkecenderungan menjadi kota menengah (secondary city), yang selanjutnya menyebabkan terbentuknya kota-kota kecil di wilayah perdesaan. Pembentukan kota-kota kecil di perdesaan juga berkaitan dengan hubungan fungsional yang erat diantara sistem perkotaan tersebut. Penataan sistem perkotaan yang memiliki hirarki dan keterkaitan merupakan elemen utama dalam penciptaan sistem tata ruang yang integratif, yaitu jenjang kota-kota yang meliputi pusat regional, pusat distrik, pusat sub distrik dan pusat lokal (Sutomo, 2008). Kunci bagi pertumbuhan sekaligus pemerataan suatu wilayah adalah melalui penciptaan hubungan atau keterkaitan yang saling menguntungkan antar pusatpusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan dengan wilayah pengaruhnya atau hiterland. Integrasi spasial di suatu wilayah dapat dilakukan dengan pengembangan permukiman atau sistem kota-kota yang memiliki hirarki dan menciptakan suatu keterkaitan antar kota atau dengan mengintegrasikan pembangunan perkotaan dengan perdesaan, yaitu dengan membentuk jaringan 87 produksi, distribusi dan pertukaran yang mantap mulai dari desa dan kota kecil. Dengan demikian diharapkan pusat-pusat tersebut dapat memacu perkembangan wilayah. Adanya hirarki dan spesialisasi fungsi kota-kota diharapkan terjadi keterkaitan secara fisik, ekonomi, mobilitas penduduk, teknologi, sosial, pelayanan jasa, interaksi sosial dan administrasi serta politik yang dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang dapat memacu perkembangan wilayah. Pola spasial keterkaitan antar hirarki pusat-pusat aktivitas dan keberadaan jalur jalan yang menghubungkannya mempunyai peranan yang sangat pening dalam mewujudkan keberimbangan pembangunan antar wilayah dan membangun interaksi antar wilayah yang saling memperkuat. Menurut Smith (1976) dalam Pribadi (2005), berdasarkan fakta empiris terdapat tiga jenis pola spasial yang mengakibatkan wilayah perdesaan selalu berada dalam kondisi tertinggal yaitu: (1) denritic system, (2) solar system, dan (3) network system. Denritic system berarti pola hubungan antara desa – kota kecil – kota menengah–kota besar memiliki bentuk seperti pola aliran sungai yang terdiri dari induk dan anak-anak sungainya. Beberapa desa langsung terhubung dengan kota kecil. Beberapa kota kecil langsung terhubung dengan kota menengah dan seterusnya. Dalam pola ini interaksi antar desa atau antar kota kecil tidak ada sama sekali. Pola seperti ini akan mengakibatkan komoditas-komoditas yang dihasilkan petani mengalir langsung ke wilayah pusat/kota sehingga meninggalkan perekonomian desa atau perekonomian domestik dalam kondisi ketertinggalan. Pusat wilayah pada hirarki yang lebih rendah akan berada di bawah kontrol pusat wilayah pada hirarki wilayah yang lebih tinggi karena pusat wilayah pada hirarki yang lebih rendah tidak bisa memilih pusat wilayah lain pada hirarki yang lebih tinggi yang bisa menawarkan harga lebih kompetitif. Solar system berarti pola hubungan dimana kota besar langsung berhubungan dengan wilayah perdesaan. Pada pola ini keberadaan kota-kota kecil menengah dapat dikatakan tidak berkembang. Pola ini biasanya muncul apabila kepentingan politik lebih dominan daripada kepentingan ekonomi. Kekuasaan akan menjadi sangat tersentralisasi dan akhirnya mengakibatkan kebijakan yang bersifat urban bias dan pengurasan sumberdaya perdesaan secara besar-besaran 88 (massive backwash effect). Umumnya ini terjadi pada negara-negara yang masih menganut budaya feodal dimana kekuasaan menjadi sangat terkonsentrasi dan tersentralisasi. Network system berarti pola hubungan yang bersifat simetris atau sejajar antar wilayah dan tidak ada wilayah yang menjadi pusat. Pola ini biasa ditemui di wilayah-wilayah yang aktivitas ekonominya masih sederhana dan terisolasi dari pusat-pusat aktivitas di perkotaan. Pada pola ini transaksi yang dilakukan selain bersifat ekonomi juga bersifat sosial yaitu untuk menjalin kekerabatan. Wilayah pada pola ini desa menjadi lemah karena tidak ada dorongan dari luar untuk maju. Salah satu cara identifikasi pusat pertumbuhan dan aktivitas suatu wilayah yaitu dengan menggunakan analisis skalogram. Pada analisis ini dilakukan identifikasi terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan yang dimiliki suatu wilayah, maka dapat ditentukan hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Wilayah diasumsikan dalam tipologi wilayah nodal, dimana pusat dan hiterland suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis fasilitas umum serta sarana dan prasarana dengan kuantitats dan kualitas yang secara relatif paling lengkap dibandingkan dengan unit wilayah yang lain akan mempunyai hirarki paling tinggi dan akan menjadi pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Sebaliknya, suatu wilayah dengan jumlah dan jenis fasilitas umum serta sarana dan prasarana dengan kuantitas dan kualitas paling rendah merupakan wilayah hiterland dari unit wilayah yang lain. Menurut Rustiadi et al. (2007) inti adalah pusat-pusat pelayanan/ pemukiman sedangkan plasma adalah daerah belakang (hiterland/periperi) yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang mempunyai hubungan fungsional. Pusat wilayah berfungsi untuk mendorong dan memfasilitasi perkembangan wilayah hiterland dengan menyediakan berbagai fasilitas pelayanan yang dibutuhkan, sedangkan wilayah hiterland lebih berfungsi sebagai kawasan produksi yang bisa menjadi wilayah suplai bagi wilayah inti. Terdapat 22 (dua puluh dua) kelurahan di Kota Metro yang mempunyai karakteristik, fasilitas umum serta sarana prasarana yang beragam. Untuk menunjukkan hirarki atau tingkat perkembangan kelurahan di Kota Metro, disusun menurut urutan berdasarkan indeks perkembangan desa/kelurahan. 89 Semakin besar indeks perkembangan kelurahan maka semakin kuat peranan atau dominasi dan tingkat keutamaan suatu kelurahan terhadap kelurahan lain atau wilayah pada jenjang dibawahnya. Kelurahan yang berhirarki tinggi berpotensi untuk menjadi pusat pertumbuhan dan pusat aktivitas pelayanan bagi wilayah tersebut. Berdasarkan analisis skalogram terhadap kelurahan-kelurahan di Kota Metro yang terdapat pada tabel di bawah ini. Tabel 51 Hirarki wilayah Kota Metro berdasarkan analisis skalogram Kelurahan Imopuro Mulyojati Metro Sumbersari Ganjar Asri Iring Mulyo Margorejo Rejomulyo Ganjar Agung Yosorejo Banjar Sari Hadimulyo Barat Yosodadi Tejo Sari Purwosari Karang Rejo Purwoasri Margodadi Tejo Agung Hadimulyo Timur Yosomulyo Mulyosari Sumber : Hasil Analisis, 2008 Jumlah Jenis 58 55 58 46 52 63 50 40 49 52 58 59 47 43 50 46 45 45 48 47 47 36 Indeks Perkembangan 116,82 109,56 96,37 88,11 82,04 82,04 80,03 75,12 73,65 72,15 71,98 64,65 60,62 57,99 57,99 52,44 51,70 50,64 44,88 42,57 41,14 32,28 Hirarki I I II II II II II II II II II III III III III III III III III III III III Hasil analisis skalogram menunjukkan terdapat 2 (dua) kelurahan yang berada pada hirarki I, 9 (sembilan) kelurahan berada pada hirarki II dan 11 (sebelas) kelurahan pada hirarki III. Kelurahan yang termasuk pada hirarki I mempunyai potensi yang lebih besar dikembangkan sebagai inti yang merupakan pusat pertumbuhan atau pusat aktivitas pelayanan di Kota Metro karena mempunyai jenis dan jumlah fasilitas pendukung perkembangan wilayah yang lebih lengkap baik secara kualitas dan kuantitas. 90 Kelurahan yang berada pada hirarki I terdiri dari Kelurahan Imopuro dan Kelurahan Mulyojati. Di Kelurahan Mulyojati menurut pengamatan langsung di lapangan selain tersedia fasilitas-fasilitas publik yang lengkap, juga merupakan daerah dimana terdapat Terminal Bus untuk Kota Metro yang dibangun sudah sejak lama sebelum pemekaran wilayah. Saat ini terminal tersebut sudah beberapa kali dikembangkan oleh Pemerintah Kota Metro dengan dibangun sarana prasarana penunjang lainnya. Selain itu juga Kelurahan Mulyojati mempunyai akses jalan lintas propinsi dengan frekuensi lalu lintas yang cukup tinggi. Sedangkan di Kelurahan Imopuro selain terdapat Terminal Angkutan Kota (Angkot) juga terdapat Pusat Pertokoan “Shopping Centre” yang merupakan pertokoan modern dan tradisional di Kota Metro, dan sudah menjadi pusat transaksi bisnis terbesar sejak masih menjadi wilayah Kabupaten Lampung Tengah dulu. Bahkan hingga saat ini interaksi pedagang dengan daerah sekitar Metro masih cukup tinggi. Beberapa perkantoran pemerintah dan swasta juga terdapat di Kelurahan Imopuro. Sarana dan prasarana pada kedua kelurahan tersebut memang lebih berkembang dibandingkan di kelurahan-kelurahan lainnya, hal tersebut menjadikan kedua kelurahan mempunyai indeks perkembangan kelurahan yang lebih tinggi. Fasilitas-fasilitas pendukung perkembangan wilayah seperti pertokoan, perumahan, sarana kesehatan, sarana pendidikan dan sebagainya akan terlihat lebih lengkap pada daerah yang termasuk hirarki I. Sehingga tingkat perkembangan wilayahnya lebih cepat dibandingkan daerah yang berada pada hirarki II dan III. Pada Gambar 17 menunjukkan secara lebih jelas hirarki wilayah di daerah penelitian berdasarkan Indeks Perkembangan Kelurahan pada data podes Tahun 2006. 91 Gambar 17 Peta hirarki wilayah di Kota Metro 92 Proyeksi Penduduk dan Standar Pelayanan Minimal Menurut Tarigan (2005) penduduk menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan wilayah. Jumlah penduduk menjadi faktor utama untuk menentukan banyaknya permintaan bahan konsumsi yang perlu disediakan, begitu juga banyaknya fasilitas umum yang perlu dibangun di suatu wilayah. Dalam segi yang lain, jumlah penduduk dapat dilihat sebagai faktor produksi yang dapat dialokasikan untuk berbagai kegiatan sehingga dapat dicapai suatu nilai tambah atau kemakmuran yang maksimal bagi wilayah tersebut. Analisis komposisi penduduk, misalnya dalam bentuk umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan/pendapatan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jenis perumahan yang perumahan yang dimiliki akan memberi implikasi yang lebih rinci baik terhadap tingkat kebutuhan maupun terhadap kegiatan produksi yang dapat disumbangkan. Dalam konsep pengembangan wilayah dapat dilakukan pendekatan untuk perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan menggunakan asumsi tingkat kepadatan yang ideal suatu kota. Adapun kriteria tingkat kepadatan suatu kota mengacu pada RTRW Kota Metro (2001-2010) adalah sebagai berikut:  Kriteria Rendah = 0–11 jiwa/ha  Kriteria Sedang = 12 – 30 jiwa/ha  Kriteria Tinggi = lebih dari 30 jiwa/ha Pada Tahun 2002 jumlah penduduk Kota Metro sebesar 121.094 jiwa, berdasarkan data BPS jumlah tersebut dalam 5 (lima) tahun meningkat menjadi 130.348 jiwa pada Tahun 2006. Dengan demikian selama lima tahun, telah terjadi pertambahan penduduk sebesar 9.284 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun mencapai 1,71%. Perkembangan penduduk tertinggi terjadi pada Tahun 2005 dengan laju pertumbuhan 3,72% diatas laju pertumbuhan rata-rata dalam 5 (lima) tahun selengkapnya terdapat pada pada Tabel 52. 93 Tabel 52 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Kota Metro Tahun 2002-2006 Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 121.094 2003 122.417 2004 123.740 2005 128.343 2006 130.348 Rata-rata pertumbuhan Pertambahan Tahun Jiwa + 1.323 + 1.323 + 1.323 + 4.603 + 2.005 2.115 % 1,10 1,09 1,08 3,72 1,56 1,71 Jumlah Penduduk (jiwa) Sumber: Hasil Analisis, 2008 Tahun Sumber: Hasil Analisis Data BPS Gambar 18 Grafik jumlah penduduk Kota Metro dalam 5 (lima) tahun Dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk maka dibuatlah suatu proyeksi jumlah penduduk untuk 5 (lima) tahun kedepan. Mengacu pada RTRW (2001), rumus yang digunakan yakni Pn = Po * (1 + r/100)n dengan r = 1,71% dan Po adalah data jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2006 sebagai tahun dasar maka dibuat suatu proyeksi jumlah penduduk Kota Metro per kecamatan sampai Tahun 2020. Berdasarkan perhitungan didapat bahwa pada Tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk Kota Metro mencapai 165.271 jiwa dengan luas wilayah 6.874 Ha maka tingkat kepadatan penduduk 24 jiwa/Ha dan termasuk dalam Kriteria Sedang, proyeksi penduduk lebih rinci terdapat pada Tabel 53. 94 Tabel 53 Proyeksi penduduk Kota Metro per kecamatan Tahun 2007-2020 Rata-rata/Thn Tahun 2006* Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Metro Pusat Metro Barat Metro Timur Metro Selatan Metro Utara Total 1,71 46.617 47.414 48.225 49.050 49.050 50.741 51.609 52.492 53.389 54.302 55.231 56.175 57.136 58.113 59.107 1,71 20.257 20.603 20.956 21.314 21.314 22.049 22.426 22.810 23.200 23.597 24.000 24.410 24.828 25.252 25.684 1,71 29.724 30.232 30.749 31.275 31.810 32.354 32.907 33.470 34.042 34.624 35.216 35.819 36.431 37.054 37.688 1,71 12.324 12.535 12.749 12.967 13.189 13.414 13.644 13.877 14.114 14.356 14.601 14.851 15.105 15.363 15.626 1,71 21.426 21.792 22.165 22.544 22.930 23.322 23.720 24.126 24.539 24.958 25.385 25.819 26.261 26.710 27.166 130.348 132.577 134.844 137.150 139.495 141.880 144.307 146.774 149.284 151.837 154.433 157.074 159.760 162.492 165.271 Sumber : Hasil Analisis,2008 * Data BPS Kota Metro sebagai tahun dasar Setelah mendapatkan hasil perhitungan proyeksi penduduk tersebut maka langkah selanjutnya melakukan perhitungan standar pelayanan minimal dengan menentukan kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan ruang atau lahan yang berkaitan dengan permukiman. Mengacu pada kriteria standar pelayanan minimal untuk permukiman kota (Tabel 9) yang berpedoman pada Kepmen Kimpraswil Nomor: 534/KPTS/M/2001 dan Kepmen PU Nomor: 378/KPTS/PU/1987 maka dapat diketahui kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan akan lahannya. Dengan menggunakan asumsi jumlah penduduk Kota Metro pada Tahun 2020 sebesar 165.271 jiwa maka kebutuhan fasilitas publik dan kebutuhan lahannya secara rinci pada Tabel 54. 95 Tabel 54 Proyeksi kebutuhan jumlah fasilitas dan lahan di Kota Metro Jenis Fasilitas PENDIDIKAN SD/Madrasah SLTP SLTA Akademi/ Perguruan Tinggi KESEHATAN Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Apotik PERIBADATAN Masjid Raya Masjid Lingkungan Mushola Gereja Pura Vihara PEREKONOMIAN Pasar Toko Warung/Kios Bank REKREASI/OLAHRAGA Gedung Bioskop/Kesenian Gedung Olahraga UMUM Terminal Sub Terminal JALAN * Jalan Kota Jalan Lingkungan Jumlah Fasilitas (Unit) Kondisi Proyeksi Kebutuhan Eksisting SPM Kebutuhan Lahan (M2) 63 29 20 10 28 7 6 2 - - 3 5 15 23 1 55 6 17 50 - 80.000 - 1 123 176 15 5 6 1 66 661 6 6 6 485 1 - 12.125 1.200 - 13 1.002 252 13 6 165 826 1 574 - 57.000 - 1 2 1 6 4 8.000 2 - 1 1 1 30.000 200.000 20.700 495.000 66.300 295.000 45.600 Total 295.000 45.600 528.925 Keterangan: * m2 Berdasarkan perhitungan jumlah kebutuhan fasilitas publik dengan kriteria standar pelayanan minimal di Kota Metro dengan menggunakan angka proyeksi penduduk didapatkan total kebutuhan ruang atau lahan untuk pembangunan bidang permukiman membutuhkan lahan seluas 528.925 M2 atau 52,98 Ha. Kebutuhan tersebut lebih didominasi untuk kebutuhan lahan jalan, fasilitas kesehatan, fasilitas perekonomian dan sebagainya. Sedangkan fasilitas pendidikan 96 untuk kondisi eksisting sudah memenuhi standar pelayanan minimal. Kebutuhan lahan seluas 52,98 Ha tersebut akan terpenuhi dari potensi kelas kesesuaian lahan permukiman hasil analisis seluas 5.596 Ha (Tabel 48) setelah dikurangi dengan luas permukiman eksisting. Identifikasi Sektor Unggulan Analisis Location Quotient Sektor unggulan merupakan suatu sektor andalan yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan disuatu wilayah. Posisi strategis ini didasarkan pada pertimbangan teknis, sosial ekonomi dan kelembagaan. Pertimbangan tersebut penting karena ketersediaan dan kemampuan sumberdaya alam, modal dan manusia untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sektor unggulan yang dihasilkan disuatu wilayah. Disisi lain hanya sektor unggulan yang mampu menurunkan komoditas unggulan yang dapat diusahakan secara efisien dari sisi teknologi dan sosial ekonomi serta mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif secara berkelanjutan dengan komoditas lain disuatu wilayah (Rachman, 2003). Dalam perkembangannya mengidentifikasi sektor unggulan mempunyai kemiripan prosedur atau langkah-langkah seperti dalam menentukan sektor basis wilayah. Hanya saja kriteria penentuan sektor unggulan lebih detil dan lengkap dibanding sektor basis. Identifikasi pada sektor basis dapat dijadikan indikasi untuk menentukan sektor unggulan, tetapi diperlukan langkah selanjutnya yang lebih rinci dan lengkap. Dengan menggunakan perhitungan nilai Location Quotient (LQ) dapat mengetahui sektor basis yang menggambarkan kemampuan sektor suatu daerah untuk memenuhi kebutuhan daerahnya dan juga memenuhi kebutuhan daerah lain. Dapat juga terjadi sebaliknya, daerah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri sehingga memerlukan suplai dari daerah lain Dalam mengidentifikasi sektor unggulan di Kota Metro terlebih dahulu dilakukan penentuan sektor basis. Langkah tersebut untuk memperkuat hasil identifikasi suatu sektor yang ditetapkan sebagai sektor unggulan. Perhitungan sektor basis menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001–2006 Tabel 55. 97 Data yang tersedia hanya PDRB untuk tingkat kota belum ada data PDRB tingkat kecamatan di Kota Metro, sehingga diperlukan data time series selama 6 (enam) tahun untuk melihat pemusatan suatu sektor di Kota Metro. Tabel 55 PDRB Kota Metro atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha Tahun 2001-2006 Tahun (juta rupiah) Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 78.658,42 74.466,86 68.485,55 66.633,80 64.699,42 66.007,56 Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan 0,00 18.407,95 0,00 19.548,32 0,00 20.145,62 0,00 20.873,81 0,00 21.418,02 0,00 22.408,31 Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran 3.560,67 18.526,84 72.889,81 3.695,48 18.919,24 74.900,63 4.218,49 19.316,36 79.061,09 4.151,25 19.716,33 81.466,29 4.134,01 20.121,02 84.941,01 4.220,81 20.869,45 87.773,55 Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Js. Prsh. 36.124,67 26.515,60 37.878,92 32.343,78 38.542,97 61.476,57 40.329,94 70.520,69 42.420,02 81.364,17 46.356,15 90.964,25 Jasa-Jasa 94.709,23 99.302,19 102.204,74 105.108,53 107.802,27 113.657,68 JUMLAH 349.393,19 Sumber : BPS Kota Metro, 2007 361.055,42 393.451,39 408.800,64 426.899,94 452.257,76 Hasil perhitungan LQ nilai PDRB Kota Metro selama 6 (enam) tahun didapat bahwa: a) Sektor pertanian hanya menjadi sektor basis pada Tahun 2001 dan 2002 dengan nilai LQ: (1,29) dan (1,28). Setelah itu sektor pertanian sampai dengan Tahun 2006 sektor pertanian tidak lagi menjadi sektor basis. b) Begitu juga dengan sektor industri pengolahan, sektor listrik gas & air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan dan sektor jasa, keempat sektor tersebut menjadi sektor basis pada Tahun 2001 s/d Tahun 2003 dengan nilai LQ yang hampir berdekatan. Setelah tahun tersebut keempat sektor tidak lagi menjadi sektor basis. c) Sektor pengangkutan dan komunikasi mempunyai pola pemusatan aktivitas yang unik. Setelah menjadi sektor basis pada Tahun 2001 dan 2002 lalu menurun dan menjadi sektor basis lagi pada Tahun 2006 dengan nilai LQ = 1,01. d) Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor basis mulai dari Tahun 2003 sampai dengan 2006 dengan nilai LQ berturutturut: (1,03) (1,14) (1,26) dan (1,32). Hal ini menunjukkan sektor tersebut mempunyai keunggulan komparatif dengan sektor-sektor yang 98 lain di Kota Metro selama 4 (empat) tahun terakhir. Selengkapnya Nilai LQ terdapat pada Tabel 56. Tabel 56 Nilai perhitungan LQ Kota Metro Tahun Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 1,29 1,18 0,99 0,93 0,87 0,83 Industri Pengolahan 1,03 1,05 1,00 0,99 0,98 0,97 Listrik, Gas & Air Bersih 1,02 1,02 1,07 1,01 0,97 0,93 Bangunan 1,08 1,07 1,00 0,98 0,96 0,94 Perdagangan, Hotel & Restoran 1,04 1,03 1,00 0,99 0,99 0,97 Pengangkutan & Komunikasi 1,02 1,04 0,97 0,98 0,98 1,01 Keuangan, Persewaan & Js. Perusahaan 0,50 0,59 1,03 1,14 1,26 1,32 1,04 1,06 1,00 0,99 0,97 0,97 Jasa-Jasa Sumber: Hasil analisis, 2008 Selanjutnya berdasarkan nilai Locatient Index (LI) sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menunjukkan tingkat perkembangan aktivitas yang relatif indifferent selama 4 (empat) tahun (2003 s/d 2006) atau peluang terjadinya pemusatan aktifitas terdapat pada sektor tersebut (Tabel 57). Tabel 57 Nilai perhitungan LI Kota Metro Lapangan Usaha Pertanian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Js. Prsh. Jasa-Jasa LI 0,07 0,01 0,02 0,02 0,01 0,01 0,13 0,01 Sumber: Hasil analisis PDRB, 2008 Analisis Shift Share Shift-share analysis merupakan salah satu dari sekian banyak teknik analisis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi (dengan cakupan wilayah lebih luas) dalam dua titik waktu. Pemahaman struktur aktifitas dari hasil analisis shift-share juga menjelaskan kemampuan berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu wilayah secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan wilayah lebih 99 luas. Dengan demikian analisis shift-share dapat digunakan untuk menentukan sektor yang kompetitif di suatu wilayah (Panudju & Rustiadi, 2005). Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Analisis shift-share mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah. Sebab-sebab yang dimaksud dibagi menjadi tiga bagian yakni: sebab yang berasal dari dinamika lokal (sub wilayah), sebab dari dinamika aktifitas/sektor (total wilayah) dan sebab dari dinamika wilayah secara umum. Data yang digunakan dalam analisis shift-share adalah data PDRB Kota Metro dan PDRB Provinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut lapangan usaha. Periode waktu yang digunakan adalah Tahun 2002 dan Tahun 2006 (Tabel 58). Hasil perhitungan analisis shift-share sebagai berikut: a. Laju pertumbuhan PDRB di Provinsi Lampung adalah sebesar 0,21 terdapat dalam kolom komponen share. b. Dalam kolom komponen proportional shift terdapat sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai negatif (minus) menunjukkan bahwa sektor/subsektor tersebut mempunyai laju pertumbuhan PDRB lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan total PDRB Provinsi Lampung. Sektor dan sub-sektor tersebut antara lain: Tanaman perkebunan (-0,13), Peternakan dan Hasil-hasilnya (-0,20), Sektor pertambangan dan penggalian (-0,39), Sektor bangunan (-0,06) dan seterusnya. Sedangkan sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai positip (plus) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan yang melebihi atau diatas laju pertumbuhan total PDRB Provinsi Lampung. Sektor/sub-sektor yang dimaksud antara lain: Tanaman Bahan Makanan (0,5), Perikanan (0,32), Makanan Minuman dan Tembakau (0,03), Pupuk, Kimia & Barang dari Karet (1,39). c. Dalam kolom komponen differential shift terdapat sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai negatif (minus), hal tersebut menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor yang dimaksud mempunyai tingkat competitiveness (persaingan) yang rendah dibandingkan dengan sektor/sub-sektor yang 100 lain. Sektor/sub-sektor di Kota Metro yang mempunyai nilai negatif berarti bahwa sektor/sub-sektor tersebut tingkat pertumbuhannya dibawah sektor/sub-sektor yang sama secara umum di Provinsi Lampung. Oleh karenanya pengembangan sektor/sub-sektor tersebut di Kota Metro tidak akan menguntungkan karena tidak mampu bersaing dalam agregat wilayah. Sektor/sub-sektor yang bernilai negatif antara lain: Tanaman Bahan Makanan (-0,34), Industri makanan minuman dan tembakau (-0,07), Industri pupuk kimia & barang dari karet (-1,34), Perdagangan besar & eceran (-0,13). Sedangkan sektor/sub-sektor yang mempunyai nilai positif (plus) menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor tersebut di Kota Metro mempunyai tingkat pertumbuhan diatas tingkat pertumbuhan sektor/sub-sektor yang sama di Provinsi Lampung. Hal itu juga menunjukkan bahwa sektor/sub-sektor tersebut mempunyai nilai competitivenes yang tinggi. Beberapa sektor/sub-sektor tersebut antara lain: Tanaman perkebunan (0,45), Hotel (0,06), Restoran (0,58), Jasa perusahaan (0,25) dan seterusnya (Tabel 59). 101 Tabel 58 PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung Tahun 2002 dan 2006 LAPANGAN USAHA KOTA METRO 2002 2006 PROVINSI LAMPUNG 2002 2006 1. PERTANIAN a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. Peternakan dan Hasil-hasilnya d. Perikanan 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 34.120,00 31.270,56 5.106.607,10 6.411.637,00 1.157,67 1.770,05 2.898.264,71 3.114.167,00 38.231,19 31.700,86 1.431.922,91 1.442.314,00 958,00 1.265,80 1.353.271,32 2.066.120,00 0,00 0,00 1.047.208,07 850.699,00 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 11.978,79 14.013,72 2.571.603,00 3.187.386,00 2. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 4.574,83 4.891,16 519.166,00 305.926,00 3. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet 2.994,70 3.503,43 72.939,00 189.046,00 3.003,48 3.787,61 68.744,68 89.701,00 692,00 433,20 27.235,03 18.063,00 18.919,24 20.869,45 1.337.717,83 1.528.781,00 62.333,09 66.221,00 3.703.651,84 4.427.726,00 233,00 285,95 22.237,51 25.852,00 12.334,54 21.266,61 347.076,77 398.772,00 19.332,64 22.497,67 794.730,13 939.658,00 18.546,28 23.858,47 252.380,93 386.051,00 a. Bank 5.631,37 55.590,96 21.850,77 816.077,00 b. Lembaga Keuangan bukan Bank 2.618,28 2.820,69 90.706,12 106.646,00 c. Sewa Bangunan 23.234,39 31.347,85 825.325,66 1.095.013,00 d. Jasa Perusahaan 859,74 1.204,75 32.296,31 37.147,00 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 41.584,27 47.454,28 1.162.459,00 1.220.632,00 2. Jasa Pemerintah lainnya 21.374,50 24.391,72 597.509,00 627.410,00 3. Sosial Kemasyarakatan 22.925,08 25.646,78 191.243,60 242.871,00 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a. Listrik b. Air Bersih 5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN a. Perdagangan Besar & Eceran b. Hotel c. Restoran 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 1. Angkutan Jalan Raya 2. Pos dan Telekomunikasi 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JASA PERUSAHAAN 9. JASA-JASA 4. Hiburan & Rekreasi 5. Perorangan & Rumahtangga JUMLAH Sumber: BPS Pusat, 2007 398,34 435,35 11.574,70 16.106,00 13.020,00 15.729,55 215.968,50 246.633,00 24.703.690,50 29.790.434,00 102 Tabel 59 Analisis shift-share PDRB Kota Metro dan Provinsi Lampung Lapangan Usaha 1. PERTANIAN a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. Peternakan dan Hasil-hasilnya d. Perikanan 2. INDUSTRI PENGOLAHAN 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 2. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 3. Pupuk, Kimia & Brg. Dari Karet 3. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a. Listrik b. Air Bersih 4. BANGUNAN 5. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN a. Perdagangan Besar & Eceran b. Hotel c. Restoran 6. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 1. Angkutan Jalan Raya 2. Pos dan Telekomunikasi 7. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. a. Bank b. Lembaga Keuangan bukan Bank c. Sewa Bangunan d. Jasa Perusahaan 8. JASA-JASA 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 2. Jasa Pemerintah lainnya 3. Sosial Kemasyarakatan 4. Hiburan & Rekreasi 5. Perorangan & Rumahtangga Komponen Share Komponen Proportion al Shift Komponen Differential Shift 0,21 0,21 0,21 0,21 0,05 -0,13 -0,20 0,32 -0,34 0,45 -0,18 -0,21 -0,08 0,53 -0,17 0,32 0,21 0,21 0,21 0,03 -0,62 1,39 -0,07 0,48 -1,42 0,17 0,07 0,17 0,21 0,21 0,21 0,10 -0,54 -0,06 -0,04 -0,04 -0,04 0,26 -0,37 0,10 0,21 0,21 0,21 -0,01 -0,04 -0,06 -0,13 0,06 0,58 0,06 0,23 0,72 0,21 0,21 -0,02 0,32 -0,02 -0,24 0,16 0,29 0,21 0,21 0,21 0,21 36,14 -0,03 0,12 -0,06 -27,48 -0,10 0,02 0,25 8,87 0,08 0,35 0,40 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 -0,16 -0,16 0,06 0,19 -0,06 0,09 0,09 -0,15 -0,30 0,07 0,14 0,14 0,12 0,09 0,21 Total Sumber : Hasil Analisis, 2008 Analisis Tabel Input-Output Analisis input-output Kota Metro dilakukan setelah mendapatkan Tabel Input-Output (I-O) Kota Metro hasil Metode RAS Tabel Input-Output Provinsi Lampung Tahun 2005 yang sebelumnya sudah melalui proses updating PDRB Kota Metro Tahun 2005. Tabel I-O Provinsi Lampung terdiri dari 70 sektor, baik sektor primer maupun sekunder. Dalam proses updating dengan PDRB Kota Metro Tahun 2005 didapatkan 13 sektor yang sesuai dengan kondisi struktur perekonomian di Kota Metro. 103 Struktur Output Total struktur output yang terbentuk di Kota Metro Tahun 2005 adalah sebesar 628,73 Milyar rupiah, yang merupakan nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang tersedia di Kota Metro. Dengan mengetahui besarnya output yang dihasilkan masing-masing sektor, maka akan dapat ditelaah sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam menghasilkan output secara keseluruhan. Dari total output yang dihasilkan di Kota Metro tersebut terdapat 13 (tiga belas) sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan struktur output Kota Metro seperti yang disajikan sebagaimana pada tabel dibawah. Tabel 60 Struktur output Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Sektor 13. 5. 12. 7. 8. 11. 1. 10. 3. 6. 2. 4. 9. Jasa-Jasa Industri pengolahan Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan Komunikasi Tanaman Bahan Makanan Restoran Peternakan dan hasil-hasilnya Listrik, gas dan air minum Tanaman Perkebunan Lainnya Perikanan Hotel Jumlah Sumber : Hasil analisis, 2008 Nilai (Juta Rp) 117.337,74 100.418,29 98.452,86 74.271,24 71.163,91 47.280,33 40.071,57 36.619,69 32.793,02 5.726,81 1.853,38 1.727,21 1.012,43 628.728,47 Distribusi (%) 18,66 15,97 15,66 11,81 11,32 7,52 6,37 5,82 5,22 0,91 0,29 0,27 0,16 100 Tabel input-output Kota Metro hasil RAS Tabel I-O Provinsi Lampung Tahun 2005 menggunakan klasifikasi 13 sektor tersebut diatas dapat diketahui lima sektor ekonomi yang memberikan kontribusi output lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Lima sektor dengan output terbesar di Kota Metro ini yaitu dengan total nilai sebesar 461,64 Milyar rupiah atau sekitar 73,43% adalah sektor jasa-jasa (13) dengan output mencapai 117, 34 Milyar rupiah atau sekitar 18,66% dari total output, diikuti sektor industri pengolahan (5) dengan nilai output mencapai 100,42 Milyar rupiah atau 15,97% dari total output, sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (12) dengan nilai output 98,45 Milyar rupiah atau sekitar 15,66%, sektor bangunan (7) dengan nilai output 74,27 104 Milyar rupiah atau 11,81% dan sektor perdagangan (8) dengan nilai 71,16 Milyar rupiah atau sekitar 11,32% dari total output. Struktur Permintaan Akhir Selain digunakan oleh sektor produksi dalam rangka proses produksi, barang dan jasa juga digunakan oleh konsumen untuk memenuhi permintaan akhir antara lain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal, ekspor, serta perubahan stok. Jumlah komponen permintaan akhir tersebut apabila dikurangi dengan impor maka akan sama dengan jumlah penggunaan akhir barang dan jasa yang berasal dari faktor produksi domestik atau PDRB menurut penggunaan. Struktur permintaan akhir di Kota Metro Tahun 2005 menurut sektor dirinci dalam Tabel 61, dengan total permintaan akhir mencapai 504,57 Milyar rupiah. Dari total permintaan akhir tersebut terdapat 4 (empat) sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadapa permintaan akhir dengan nilai 354,77 Milyar rupiah atau sekitar 70,31% dari total permintaan akhir. Sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (12) berada pada urutan pertama dengan nilai 114,17 Milyar rupiah atau sekitar 22,63% dari total permintaan akhir. Sektor perikanan (4) berada pada urutan kedua dengan nilai 94,77 Milyar rupiah atau sekitar 18,78% dari total permintaan akhir. Selanjutnya sektor pengangkutan dan komunikasi (11) mencapai nilai 80,15 Milyar rupiah atau 15, 89% dan sektor listrik, gas dan air minum (6) mencapai nilai 65,66 Milyar rupiah atau sekitar 13,01% dati total permintaan akhir. 105 Tabel 61 Struktur final demand Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Sektor 12. 4. 11. 6. 7. 10. 9. 2. 5. 1. 3. 8. 13. Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan Perikanan Pengangkutan dan Komunikasi Listrik, gas dan air minum Bangunan Restoran Hotel Tanaman Perkebunan Lainnya Industri pengolahan Tanaman Bahan Makanan Peternakan dan hasil-hasilnya Perdagangan Jasa-Jasa Jumlah Sumber: Hasil analisis, 2008 Nilai (Juta Rp) 114.174,93 94.777,93 80.155,18 65.660,74 49.543,69 37.779,36 35.621,02 21.972,77 3.142,07 1.743,95 0,00 0,00 0,00 504.571,64 Distribusi (%) 22,63 18,78 15,89 13,01 9,82 7,49 7,06 4,35 0,62 0,35 0,00 0,00 0,00 100 Angka Pengganda Untuk mengetahui pengaruh suatu sektor dalam perekonomian antara lain dilihat dari besarnya angka pengganda yang dapat menunjukkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sistem perekonomian wilayah. Pada Tabel 62 disajikan angka pengganda yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain angka pengganda nilai tambah (value added multiplier) yaitu dampak peningkatan permintaan akhir suatu sektor terhadap peningkatan nilai tambah atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) total di wilayah Kota Metro. Angka pengganda impor (impor multiplier) yang menunjukkan dampak peningkatan akhir atas impor sektor tertentu terhadap peningkatan total impor secara keseluruhan di Kota Metro. 106 Tabel 62 Struktur angka pengganda Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Kode Pengganda Nilai Tambah Sektor 1 Tanaman Bahan Makanan 2 Tanaman Perkebunan Lainnya 3 Peternakan dan hasil-hasilnya 4 Perikanan 5 Industri pengolahan 6 Listrik, gas dan air minum 7 Bangunan 8 Perdagangan 9 Hotel 10 Restoran 11 Pengangkutan dan Komunikasi 12 Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan 13 Jasa-Jasa Sumber: Hasil analisis, 2008 Pengganda Impor 1,016 1,060 0,000 1,291 1,499 0,000 1,002 0,000 1,034 0,000 0,000 0,000 0,000 1,038 1,034 1,041 1,185 3,458 1,355 1,154 1,096 1,708 1,747 1,098 1,153 1,078 Pada Tabel 62 dapat diketahui berbagai sektor yang memiliki penganda nilai tambah dan pengganda impor yang tinggi. Sektor industri pengolahan (5) memiliki angka pengganda tertinggi yakni 3,458 kemudian sektor restoran (10) dengan angka pengganda 1,747 selebihnya sektor-sektor yang lain mempunyai angka pengganda nilai tambah yang relatih sama atau merata. Selanjutnya pada angka pengganda impor, sektor industri pengolahan (5) juga mempunyai angka tertinggi yakni 1,499 sedangkan sektor restoran (10) 0,000 atau tidak memiliki angka pengganda impor. Sektor perikanan (4) termasuk memiliki angka pengganda impor yang tinggi yakni sebesar 1,291. Sektor-sektor lainnya bahkan tidak memiliki angka pengganda impor (0,000) seperti sektor peternakan (3), sektor listrik gas dan air minum (6), sektor perdagangan (8), sektor pengangkutan (11) dan sektor keuangan persewaan (12) dan jasa-jasa (13). Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan Tingkat keterkaitan antar sektor produksi dalam suatu aktivitas perekonomian dapat dilihat berdasarkan daya penyebaran dan derajat kepekaan. Sehingga sektor-sektor yang merupakan sektor unggulan dapat ditentukan berdasarkan indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan. 107 Tabel 63 Indeks daya penyebaran dan derajat kepakaan Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 Indeks Daya Penyebaran 1 Tanaman Bahan Makanan 0,857 2 Tanaman Perkebunan Lainnya 0,858 3 Peternakan dan hasil-hasilnya 0,875 4 Perikanan 1,005 5 Industri pengolahan 1,368 6 Listrik, gas dan air minum 1,101 7 Bangunan 0,868 8 Perdagangan 0,915 9 Hotel 1,035 10 Restoran 1,290 11 Pengangkutan dan Komunikasi 0,925 12 Keuangan Persewaan dan Jasa perusahaan 0,993 13 Jasa-Jasa 0,908 Sumber : Tabel I-O Kota Metro Tahun 2005 (updating), diolah 2008 Kode Sektor Indeks Derajat Kepekaan 1,279 0,849 1,024 0,867 1,008 0,937 0,981 1,282 0,851 0,843 1,013 1,185 0,881 Daya penyebaran menunjukkan tingkat keterkaitan kebelakang (backward linkage), yaitu untuk mengetahui keterkaitan teknis kegiatan industri maupun kegiatan ekonomi dengan bahan mentah dan bahan baku penunjang produksinya. Sedangkan derajat kepekaan menunjukkan tingkat keterkaitan ke depan (forward linkage), yaitu untuk mengetahui keterkaitan teknis kegiatan ekonomi dengan penjualan barang jadi atau barang hasil produksinya (Kusumawati, 2005). Dari Tabel Input-Output Kota Metro Tahun 2005 dapat diturunkan indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan sektor-sektor ekonomi di Kota Metro seperti disajikan dalam Tabel 63. Sektor yang memiliki daya penyebaran tertinggi di Kota Metro adalah sektor industri pengolahan (5) dan sektor restoran (10), hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks masing-masing 1,368 dan 1,290. Dapat diartikan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan mengakibatkan kenaikan output sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 1,368 unit untuk sektor industri pengolahan dan kenaikan 1,290 unit untuk sektor restoran. Sektor lainnya yang memliki indeks daya penyebaran lebih dari satu berturut-turut adalah sektor perikanan (4), sektor listrik, gas dan air minum (6) dan sektor hotel (9). Sedangkan sektor yang mempunyai derajat kepakaan tertinggi di Kota Metro adalah sektor perdagangan (8) dengan indeks derajat kepekaan sebesar 1,282, yang menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu unit maka sektor 108 perdagangan akan mengalami peningkatan output sebesar 1,282 unit. Sektorsektor lain yang mempunyai derajat kepakaan cukup tinggi adalah sektor tanaman bahan makanan (1), sektor peternakan dan hasil-hasilnya (3), sektor industri pengolahan (5), sektor pengangkutan (11) dan sektor keuangan (12). ANALISIS SWOT Dalam menyusun suatu strategi pengembangan wilayah, sebelumnya perlu dilakukan suatu analisa yang mendalam. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah dengan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats Analysis), yaitu analisis potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/kendala. Analisis ini diawali dengan inventarisasi dan klasifikasi terhadap permasalahan/kelemahan dan kelebihan/kekuatan baik secara internal pengembangan wilayah di Kota Metro, maupun secara eksternal yang berasal dari lingkungan di luar Kota Metro. Langkah-langkah yang harus di lakukan adalah (1) Input stage (analisis data input dan Analisis Lingkungan Strategis), (2) Matching stage (analisis pencocokan), (3) Desicion stage (analisis pengambilan keputusan). Analisis Data Input Proses analisis dimulai dengan pendalaman atau identifikasi lingkungan strategis, kemudian dilanjutkan dengan analisis faktor internal dan faktor eksternal. Proses analisis akan menghasilkan beberapa asumsi atau peluang strategis untuk mendapatkan faktor-faktor kunci keberhasilan (Utami , 2008). Analisis Lingkungan Strategis. Lingkungan strategis yang mempengaruhi kinerja dalam proses perencanaan dan pengembangan wilayah di Kota Metro dibagi atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal, mencakup kekuatan (S = Strengths) dan kelemahan (W = Weakness). Sementara yang tergolong dalam faktor eksternal adalah peluang (O = Opportunities) dan ancaman (T = Threaths). Dari hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, diperoleh daftar faktor internal dan eksternal dalam usaha pengembangan wilayah di Kota Metro sebagaimana berikut: Faktor Internal Kekuatan, faktor internal yang merupakan suatu kekuatan untuk pengembangan wilayah adalah: 110 1. Potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan dalam pengembangan wilayah Kota Metro masih luas (± 6.461 Ha) atau 90% dari total luas wilayah. 2. Persentase luas lahan kelas S1 (sangat sesuai) dan S2 (sesuai) untuk pengembangan permukiman dan jalan lebih luas dibandingkan kelas yang sama untuk tanaman padi, jagung dan peternakan. Lahan kelas S1 permukiman dan jalan seluas 90% sedangkan lahan kelas S2 untuk padi, jagung dan peternakan rata-rata 15%. 3. Kondisi eksisting lahan yang belum terbangun di Kota Metro masih luas lebih kurang 55% dari luas wilayah, sehingga potensi pengembangan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan masih besar. 4. Topografi di Kota Metro yang dominan relatif datar dengan kemiringan lereng 3–8% meliputi 80% luas wilayah. 5. Luas wilayah Kota Metro yang kecil (68,74 Km2) memudahkan dalam perencanaan pengembangan wilayah. 6. Tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang (24 jiwa/ha). 7. Kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum dengan kriteria standar pelayanan minimal (SPM) sebesar 52,98 Ha masih dapat terpenuhi dalam kelas lahan permukiman. 8. Kondisi eksisting jumlah fasilitas umum yang ada sebagian besar sudah memenuhi kriteria standar pelayanan minimal terutama fasilitas pendidikan. Kelemahan, faktor internal yang merupakan suatu kelemahan adalah sebagai berikut: 1. Terdapat lahan seluas 1.664 Ha yang termasuk lahan kelas S2 untuk pertanian tetapi kondisi eksisting penggunaan lahan sebagian menjadi permukiman. 2. Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah standar pelayanan minimal untuk permukiman kota. 3. Terdapat hanya satu sektor yang berkembang dan layak menjadi sektor unggulan dari beberapa sektor perekonomian yang ada di Kota Metro, 111 yakni sektor industri pengolahan dengan nilai backward linkage 1,368 dan nilai forward linkage 1,008. Faktor Eksternal Peluang, beberapa peluang yang mendukung pengembangan wilayah di Kota Metro adalah: 1. Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam perencanaan evaluasi sumberdaya lahan. 2. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah sehingga Kota Metro mempunyai otoritas dalam pengembangan wilayah. 3. Potensi kerjasama atau kemitraan dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah. Ancaman, faktor lingkungan yang menjadi ancaman pengembangan wilayah yakni: Perkembangan kabupaten/kota lain dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomiannya menjadi sektor unggulan termasuk sektor industri pengolahan. Analisis Faktor Internal Hasil analisis menunjukan bahwa pengaruh faktor internal yang lebih dominan terdapat pada potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan masih luas, topografi kota metro yang relatif datar, tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang, kondisi eksisting lahan yang belum terbangun masih luas, kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum masih dapat terpenuhi dalam kelas kesesuaian permukiman, hanya satu sektor unggulan yang berkembang, kondisi eksisting lahan yang sesuai untuk pertanian sebagian sudah menjadi permukiman. Faktor–faktor tersebut merupakan bagian dari kekuatan dan kelemahan yang perlu diperhitungkan atau mempengaruhi dalam pengembangan wilayah Kota Metro, sedangkan kondisi eksisting luas jumlah fasilitas sektor pendidikan diatas standar pelayanan minimal merupakan faktor peluang terakhir yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan wilayah di Kota Metro. Adapun secara rinci hasil analisis faktor internal pada Tabel 64. 112 Tabel 64 Analisis faktor internal pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Internal Strategis Bobot Rating Skor Komentar Potensi lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan permukiman dan jalan dalam pengembangan wilayah Kota Metro masih luas Persentase luas lahan kelas S1 (sangat sesuai) dan S2 (sesuai) untuk pengembangan permukiman dan jalan lebih luas dibandingkan kelas yang sama untuk tanaman padi, jagung dan peternakan Kondisi eksisting lahan yang belum terbangun di Kota Metro masih luas Topografi di Kota Metro yang dominan relatif datar Luas wilayah Kota Metro yang kecil 0,13 4 0,52 0,10 2 0,20 0,10 3 0,30 Potensi Pengembangan permuki man dan jalan masih tinggi 0,12 4 0,48 0,06 3 0,18 Tingkat kepadatan penduduk yang masuk kriteria sedang 7. Kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas umum dengan kriteria SPM masih dapat terpenuhi dalam kelas lahan permukiman. 8. Kondisi eksisting jumlah fasilitas umum yang ada sebagian sudah memenuhi kriteria standar pelayanan minimal terutama fasilitas pendidikan. Kelemahan: 0,11 4 0,44 0,08 3 0,24 0,05 1 0,05 Kondisi eksisting lahan yang sesuai untuk pertanian sebagian menjadi permukiman. Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah standar pelayanan minimal untuk permukiman kota Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggulan Jumlah 0,05 3 0,15 0,10 1 0,10 0,10 2 0,20 Kekuatan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 1,00 Pengembangan sektor unggulan 2,86 Sumber: Hasil analisis, 2008 Analisis Faktor Eksternal Hasil identifikasi faktor eksternal selanjutnya dilakukan tahap analisis faktor eksternal yakni peluang dan ancaman sebagaimana Tabel 65 berikut: 113 Tabel 65 Analisis faktor eksternal pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Eksternal Strategis Bobot Rating Skor Komentar 0,29 4 1,16 0,18 2 0,36 0,27 3 0,81 Potensi kerjasama dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah 0,26 1 0,26 Peluang: 1. 2. 3. Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam perencanaan evaluasi sumberdaya lahan. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah memberikan wewenang dalam pengembangan wilayah Potensi kerjasama atau kemitraan dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah Ancaman: 1. Perkembangan kabupaten/kota lain dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomian menjadi sektor unggulan termasuk sektor industri pengolahan. Jumlah 1,00 Potensi sektor unggulan daerah sekitar 2,59 Sumber: Hasil analisis, 2008 Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor eksternal yang dominan adalah perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) evaluasi sumberdaya lahan, potensi kemitraan dengan daerah sekitar, kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah dan perekembangan sektor-sektor unggulan di daerah lain. Perkembangan pembangunan di daerah lain dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan dapat menjadi ancaman bagi pengembangan wilayah di Kota Metro, karena pada saat ini hanya satu sektor saja di Kota Metro yang layak dijadikan sebagai sektor unggulan. Perkembangan faktor ini berada di luar wilayah Kota Metro, sehingga dibutuhkan kerjasama antar wilayah terkait untuk memaksimalkan kemampuan dan meminimalkan ancaman yang dimulai sejak penyusunan perencanaan pengembangan wilayah. Perkembangan teknologi SIG dalam evaluasi sumberdaya lahan dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sehingga data-data spasial evaluasi sumberdaya lahan yang dihasilkan dapat menjadi referensi perencanaan pengembangan wilayah. Pencocokan Langkah berikutnya adalah tahap pencocokan. Dengan menggunakan strategi silang, tahap pencocokan dengan matrik TOWS atau SWOT dalam 114 Analisis SWOT dihasilkan beberapa asumsi strategis sebagai bahan untuk pencapaian kemungkinan alternatif strategi pengembangan wilayah di Kota Metro. Strategi dan hasil dari pencocokan tersebut selanjutnya dilakukan proses penetapan ”Asumsi Alternatif Strategis”. Matrik tahap pencocokan dari analisa ini disajikan pada Tabel 66. Sesuai matrik SWOT pada Tabel 66, diperoleh berbagai asumsi alternatif strategi yang dapat dilakukan dalam upaya pengembangan wilayah di Kota Metro yaitu: Strategi Strenghts-Opportunities, yaitu: memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang, dengan strategi yang mungkin dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. 2. Memanfaatan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. 3. Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Strategi Weaknesses-Opportunities, yaitu: meminimalkan kelemahan untuk mencapai dan memanfaatkan peluang yang ada, dengan strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. 2. Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar dalam menumbuhkan sektor-sektor unggulan. 115 Tabel 66 Matrik SWOT strategi pengembangan wilayah Kota Metro Faktor Internal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Faktor Eksternal 1. Perkembangan teknologi SIG dalam evaluasi sumberdaya lahan 2. Kebijakan otonomi daerah O 3. Potensi kerjasama antar daerah dalam pengembangan wilayah 1. 1. Perkembangan daerah sekitar dalam memacu tumbuhnya sektorT sektor unggulan 1. Sumber: Hasil Analisis, 2008 2. 3. S Potensi lahan permukiman masih luas Potensi lahan kelas permukiman lebih luas dari lahan kelas pertanian Kondisi eksisting lahan belum terbangun lebih luas dari lahan terbangun Topografi relatif datar Luas wilayah yang kecil Tingkat kepadatan penduduk kategori sedang Ketersediaan lahan yang luas untuk kebutuhan fasilitas umum Kondisi eksisting jumlah fasilitas pendidikan diatas SPM Alternatif Strategis SO Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG Memanfaatan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar Asumsi Strategis ST Mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan 1. 2. 3. W Kondisi eksisting lahan kelas pertanian sebagian sudah menjadi permukiman Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah SPM permukiman kota Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggulan Alternatif Strategis WO 1. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan 2. Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar dalam menumbuhkan sektor-sektor unggulan Asumsi Strategis WT 1. Memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan 116 Strategi Strengths-Threats, yaitu: strategi yang memanfaatkan kekuatan untuk mengurangi ancaman, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Strategi Weaknesses-Threats, yaitu: merupakan taktik untuk bertahan yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan internal serta menghindar dari ancaman-ancaman lingkungan, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH Perumusan Strategi Setelah dilakukan identifikasi tentang potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman menggunakan Analisis SWOT dalam konteks pengembangan wilayah maka langkah selanjutnya adalah perumusan strategi. Dimana dalam langkah ini metode yang digunakan yakni metode QSPM (Quantitatif Strategic Planning Matrix), yaitu: rancangan untuk menentukan kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari tindakan strategi alternatif yang mungkin dapat dilakukan. Berbagai faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dimasukan dalam matrik QSPM untuk selanjutnya dikombinasikan dengan strategi-strategi dalam Tabel SWOT dengan menggunakan attractive score yang telah ditentukan. Tabel Quantitatif Strategic Planning Matrik (QSPM) menunjukkan bahwa Strategi Pengembangan Wilayah di Kota Metro dapat dilakukan melalui beberapa alternatif strategi, dengan urutan strategi sebagai berikut: Tabel 67 Urutan alternatif strategi sesuai hasil analisis QSPM No Strategi 1. Memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan Total Score 157 2. Memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah 156 3. Memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar 154 4. Mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan 151 5. Memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG 149 6. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan 146 Sumber: Hasil analisis, 2008 118 Berdasarkan hasil urutan alternatif strategi dengan menggunakan analisis QSPM dapat dirumuskan enam langkah strategi yang merupakan strategi pengembangan wilayan Kota Metro kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan. Keenam strategi tersebut mempunyai score yang berbeda-beda tergantung hasil dari proses perhitungan QSPM. Perbedaan score tersebut menunjukkan urutan dari strategi yang telah dirumuskan. Masing-masing strategi dapat diwujudkan dengan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat aplikasi teknis dilapangan. Kegiatan yang dirumuskan merupakan penjabaran dari masingmasing strategi. Strategi pertama yang dilakukan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro yakni dengan memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan. Strategi ini dapat dilaksanakan dengan berbagai kegiatan yaitu: 1. Melakukan pemetaan jaringan jalan di Kota Metro dengan skala yang detil (1:20.000 atau 1:10.000) untuk memudahkan dalam menginventarisir kondisi jalan yang ada. 2. Melakukan analisis kesesuaian lahan untuk pembangunan jalan dengan skala lebih detil (1:20.000) sehingga dapat diketahui karakteristik dan sifat-sifat lahan secara fisik yang sesuai untuk jalan secara detil. 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan jalan pada lokasilokasi sentra industri pengolahan sebagai sektor unggulan dan lokasi perekonomian masyarakat yang berpotensi menjadi sektor unggulan seperti sektor: perdagangan, keuangan dan peternakan. 4. Meningkatkan kualitas pembangunan jalan pada seluruh wilayah Kota Metro. Strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah. Adapun kegiatankegiatan yang dapat dilakukan antara lain: 1. Mengidentifikasi kondisi penggunaan lahan atau landuse di Kota Metro yang up to date dengan menggunakan data-data spasial yang beresolusi 119 tinggi seperti Satelit Quickbird dan Ikonos agar didapatkan data landuse yang detil dan akurat. 2. Menganalisis kelas kemampuan dan kesesuaian lahan di Kota Metro untuk penggunaan lahan pertanian secara umum dan permukiman dengan skala peta yang detil (1:25.000 atau 1:10.000). 3. Menzonasi lahan-lahan pertanian yang belum terbangun dan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan tinggi sebagai lahan pertanian, sedangkan lahan pertanian yang tidak sesuai kelasnya dizonasi sebagai area permukiman dan jalan. 4. Membuat Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) sebagai landasan hukum untuk tetap mempertahan lahan-lahan pertanian belum terbangun yang mempunyai kelas kesesuaian lahan S1(sangat sesuai) seperti di Kelurahan Sumbersari dan Rejomulyo. Strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar. Beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Menggunakan lahan yang mempunyai kelas kesesuaian untuk permukiman dan jalan untuk pembangunan fasilitas umum. 2. Memperbaiki sarana dan prasarana fasilitas perekonomian seperti pasar dan pusat pertokoan yang banyak dimanfaatkan oleh pedagang dari luar daerah. 3. Melakukan kerjasama dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur untuk perbaikan jalan dan pembangunan pasar dalam memfasilitasi tingginya interaksi penduduk dari kedua daerah tersebut ke Kota Metro. Strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Adapun kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Membangun sarana dan prasarana penunjang aktifitas masyarakat pada sentra-sentra industri pengolahan sebagai sektor unggulan. 120 2. Membangun pusat-pusat perdagangan dan mengembangkan lembaga keuangan lokal untuk mempercepat sektor perdagangan dan keuangan menjadi sektor unggulan. 3. Membangun sentra-sentra pengembangan peternakan pada lahan yang mempunyai kesesuaian lahan peternakan untuk mempercepat menjadi sektor unggulan. 4. Melakukan kajian sektor unggulan bersama tenaga ahli dari kalangan akademisi yang mempunyai kompetensi tinggi. Strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG. Beberapa kegiatan yang berkaitan dengan strategi ini antara lain: 1. Melakukan pemetaan dengan skala detil (1:20.000) untuk menzonasi lahan-lahan pada kawasan permukiman dan menganalisis kesesuaian lahan dengan kriteria lahan bangunan, perumahan, jalan, jaringan air minum dan lain sebagainya. 2. Membuat database Sistem Informasi Geografi (SIG) yang memuat datadata spasial wilayah Kota Metro secara lebih lengkap dan detil. Strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan. Beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam strategi ini adalah: 1. Melakukan inventarisir data di lapangan (ground check) tentang kesesuaian lahan pertanian dan jalan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). 2. Membuat jaringan database SIG open acces untuk memudahkan masyarakat dalam mendapat data spasial lahan pertanian dan jalan. Pelaksanaan keenam strategi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan melihat situasi dan konteks yang dibutuhkan. Hal yang paling mendasar untuk melakukan evaluasi sumberdaya lahan di Kota Metro yakni dengan melakukan pemetaan potensi sumberdaya lahan dengan skala detil. Melihat luas wilayah Kota Metro yang kecil hendaknya peta yang menjadi acuan yakni Peta Landsystem skala 1:50.000 atau bahkan 1:25.000. Peta Landsytem Kota Metro 121 skala detil belum tersedia saat ini, oleh sebab itu dimungkinkan untuk pembuatan peta tersebut mengingat luas wilayah Kota Metro yang kecil maka lebih mudah untuk melakukan survey tanah dilapangan. Setelah memetakan potensi sumberdaya lahan dengan skala detil maka dapat diketahui informasi karakteristik lahan, jenis-jenis tanah dan sifat-sifat lahan yang lebih rinci. Sehingga akan didapat informasi kelas kemampuan dan kesesuaian lahan di Kota Metro yang lebih rinci dan akurat. Hasil dari pemetaan yang lebih detil dapat menjadi referensi langsung di lapangan. Sehingga lahanlahan di Kota Metro dapat dikembangkan sesuai dengan kelas dan potensi yang ada. Penyusunan Visi dan Misi Langkah berikutnya setelah merumuskan konsep strategi pengembangan wilayah Kota Metro, maka disusunlah suatu visi dan misi yang merupakan tujuan yang akan dicapai dari konsep strategi tersebut atau dengan kata lain strategi merupakan penjabaran dari visi dan misi. Visi merupakan pandangan ideal tentang masa depan yang ingin diwujudkan dan mempunyai potensi dalam mewujudkannya, sedangkan misi merupakan amanat yang diemban dalam mewujudkan visi. Sedangkan strategi merupakan rangkaian konsep yang berisi langkah-langkah atau cara-cara untuk mewujudkan visi dan misi (Renstra Kota Metro, 2005). Setelah mengidentifikasi dari konsep strategi pengembangan wilayah tersebut maka disusunlah visi dan misi yang sesuai dengan konteks rumusan strategi tersebut. Maka dapat dinyatakan visi yang akan dicapai dalam strategi pengembangan wilayah kaitannya dengan aspek evaluasi sumberdaya lahan adalah: “Terwujudnya pengembangan wilayah dengan mengembangkan sektorsektor unggulan yang didukung potensi sumberdaya lahan”. Adapun misi yang terkandung dalam visi tersebut adalah: 1. Mengembangkan sektor-sektor pekonomian menjadi sektor-sektor unggulan sebagai dasar pengembangan wilayah. 2. Memaksimalkan potensi sumberdaya lahan untuk menunjang sektorsektor unggulan. 122 Berdasarkan kedua misi tersebut diatas maka konsep strategi yang telah dirumuskan sebelumnya sesuai dengan misi nomor 2 (dua), dimana strategi yang telah dirumuskan tersebut berkaitan dengan potensi sumberdaya lahan. Arahan Pengembangan Wilayah Arahan pengembangan wilayah Kota Metro dilakukan dengan menganalisis kelas kesesuaian lahan dan penggunaan lahannya. Prosesnya dengan melakukan overlay Peta kesesuaian lahan dengan Peta penggunaan lahan yang ada. Hasil dari analisis peta tersebut menunjukkan kawasan pertanian diarahkan pada lahan kelas S1, S2 dan S3 hal tersebut didasarkan atas kondisi eksiting penggunaan lahan lebih banyak masih berbentuk belukar rawa, kebun campuran, pertanian lahan kering dan sawah. Terdapat lahan seluas 95,90 Ha lahan kelas S1, lahan seluas 349,18 Ha dan 2.091,88 Ha lahan kelas S3 yang diarahkan untuk dipertahankan menjadi lahan pertanian. Upaya meningkatkan kelas kesesuian dari kelas S3 menjadi kelas S2 untuk pengembangan padi dan jagung, dapat dilakukan dengan minimalisir faktor pembatas media perakaran (r), retensi hara (f) dapat dengan cara pemberian input atau dilakukan pengelolaan dengan pemupukan, pengaturan sistem tata air, dan pengaturan sistem drainase. Namun demikian untuk beberapa tingkat pengelolaan yang sedang-tinggi yang membutuhkan biaya yang besar seperti pengaturan sistem tata air dan pembuatan saluran drainase dibutuhkan intervensi pemerintah untuk pengelolaannya, sedangkan untuk pengadaan input berupa pemupukan dapat difasilitasi masyarakat melalui kemitraan dengan swasta. Pada kawasan pertanian dapat juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan menjadi sektor unggulan. Sektor pertanian dalam hal ini subsektor bahan makanan dan subsektor peternakan mempunyai potensi dikembangkan sebagai sektor unggulan. Lahanlahan belum terbangun yang berada pada Kelurahan Margodadi, Rejomulyo, Margodadi, Sumbersari Bantul dan sebagian Tejosari layak dipertahankan untuk tetap menjadi lahan pertanian dalam Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Metro. Kawasan permukiman kondisi eksisting penggunaan lahan lebih variatif dengan dominasi penggunaan lahannya adalah kebun campuran dan permukiman 123 masing-masing seluas 2.268,75 Ha dan 2.271,48 Ha. Pada lahan kebun campuran diarahkan untuk pengembangan permukiman karena termasuk kelas Baik untuk lahan permukiman, hal itu sangat sesuai apabila lahan tersebut diarahkan untuk permukiman. Lahan-lahan yang diarahkan sebagai kawasan permukiman selain menyediakan lahan untuk jalan juga akan menjadi lokasi pengembangan sektorsektor unggulan. Pembangunan sentra-sentra industri pengolahan, pusat-pusat perdagangan, dan pembangunan sarana prasarana sektor keuangan dan jasa merupakan upaya untuk menumbuhkembangkan sektor unggulan di Kota Metro. Lahan-lahan yang berada pada Kelurahan Imopuro, Hadimulyo Barat, Hadimulyo Timur, Ganjarasri, Ganjaragung dan sebagainya layak dikembangkan kawasan permukimaan (perumahan, pertokoan, perkantoran, jalan dll) untuk mendukung sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan. Secara lebih rinci luas arahan lahan dalam strategi pengembangan wilayah Kota Metro terdapat dalam Tabel 68. Tabel 68 Luas arahan pengembangan wilayah Kota Metro Kondisi Eksisting lahan Belukar rawa Permukiman Kebun campuran Pertanian lahan kering Lahan terbuka Sawah Jumlah Sumber : Hasil analisis, 2008 Kawasan Pertanian (Ha) 49,49 1.906,68 378,60 50,94 151,25 2536,96 Kawasan Permukiman (Ha) 2.271,48 2.268,75 4.540,23 124 Gambar 19 Peta arahan pengembangan wilayah Kota Metro Tabel 69 Matrik quantitatif strategic planning matrix (QSPM) strategi pengembangan wilayah Kota Metro Alternatif Strategi Faktor Utama Potensi lahan Permukiman Kebijakan penggunan lahan Kerjasama antar daerah AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS 4 4 16 4 16 4 16 4 12 4 16 4 16 Rating Implementasi SIG Potensi lahan untuk sektor unggulan Pembangunan jalan OPPORTUNITIES (O) 1 Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam evaluasi sumberdaya lahan 2 Kebijakan otonomi daerah 2 2 4 4 8 3 6 4 8 4 8 3 8 3 Potensi kerjasama antar daerah dalam pengembangan 3 4 12 4 12 4 12 4 8 3 9 4 12 1 3 3 2 2 4 4 2 2 4 4 4 4 wilayah THREATS (T) 1 Perkembangan daerah sekitar dalam memacu tumbuhnya Sektor-sektor unggulan STRENGTS (S) 1 Potensi kelas lahan permukiman masih luas 4 4 16 4 16 4 16 4 16 4 16 4 16 2 Potensi lahan kelas permukiman lebih luas dari potensi 2 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 16 4 16 4 16 4 16 3 12 4 16 lahan kelas pertanian 3 Kondisi eksisting lahan belum terbangun lebih luas dari Lahan belum terbangun 4 Topografi yang relatif datar 4 4 5 Luas wilayah yang kecil 3 2 6 4 12 4 12 4 12 4 12 3 9 6 Tingkat kepadatan penduduk yang sedang 4 4 16 4 16 3 12 4 16 4 16 4 16 7 Ketersediaan lahan yang luas untuk kebutuhan fasilitas 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 1 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 4 4 umum kriteria standar pelayanan minimal (SPM) 8 Kondisi eksisting jumlah fasilitas pendidikan diatas SPM 125 WEAKNESS (W) 1 Kondisi eksisting lahan kelas pertanian sebagian sudah 3 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 4 12 menjadi permukiman 2 Kondisi eksisting luas jalan masih dibawah SPM 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 Hanya satu sektor yang berkembang menjadi sektor unggu- 2 4 8 3 6 4 8 2 4 4 8 4 8 lan Total Score 149 156 154 146 151 157 Sumber : Hasil Analisis, 2008 Keterangan nilai AS (Attractiveness Score) : 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = secara logis menarik, 4 = sangat menarik TAS (Total Attractivenes Score) = Rating x AS 126 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan serta dengan memperhatikan kaitannya dengan tujuan penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Secara umum berdasarkan evaluasi sumberdaya lahan di Kota Metro menunjukkan sebagian besar lahan termasuk dalam kemampuan lahan kelas II (Pertanian intensif). Hasil analisis kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, jagung dan peternakan menunjukkan sebagian besar berada pada kelas S3 (sesuai marjinal). Sedangkan kesesuaian lahan untuk permukiman dan jalan menunjukkan sebagian besar lahan kelas Baik. 2. Hasil analisis skalogram menunjukkan di Kota Metro terdapat dua kelurahan yang berada pada hirarki satu, sembilan kelurahan berada pada hirarki dua dan sebelas kelurahan pada hirarki tiga. 3. Berdasarkan hasil analisis proyeksi penduduk dan perhitungan kebutuhan lahan standar pelayanan minimal (SPM) permukiman kota masih tersedia lahan untuk pengembangan fasilitas publik. 4. Sektor industri pengolahan layak dijadikan sebagai sektor unggulan dalam pengembangan wilayah di Kota Metro berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ), Analisis Shift Share dan Analisis Tabel InputOutput. Sedangkan sektor perdagangan, sektor keuangan, sektor jasa, sektor pertanian subsektor peternakan mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. 5. Berdasarkan analisis Strengths Weaknesses Opportunitie Threats (SWOT) dan metode Quantitatif Strategic Planning Matrix (QSPM) dapat dirumuskan enam strategi pengembangan wilayah Kota Metro berbasis evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan, yaitu: strategi pertama adalah memanfaatkan potensi lahan untuk pembangunan jalan sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan, strategi kedua adalah memanfaatkan lahan belum terbangun dengan 128 kebijakan penggunaan lahan dalam konteks otonomi daerah, strategi ketiga adalah memaksimalkan penggunaan lahan untuk fasilitas umum dengan menjalin kerjasama dengan daerah sekitar, strategi keempat adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan, strategi kelima adalah memanfaatkan potensi lahan permukiman dengan teknologi SIG dan strategi keenam adalah mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan pertanian dan jalan Saran Berdasarkan hasil penelitian Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Kaitannya dengan Aspek Evaluasi Sumberdaya Lahan dapat diuraikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Hasil pemetaan evaluasi sumberdaya lahan ini masih bersifat umum (generalisasi) karena proses analisis menggunakan Peta Landsystem skala tinjau, untuk proses implementasi evaluasi sumberdaya lahan di lapangan perlu analisis lanjutan dan survey lapangan dengan peta yang lebih detil untuk mendapatkan ketajaman dan keakuratan hasil analisis. 2. Pembangunan sarana dan parasarana wilayah perlu memperhatikan hirarki wilayah yang ada untuk pemerataan sebaran fasilitas publik. 3. Kelengkapan dan keakuratan data-data informasi spasial di Kota Metro masih terbatas perlu adanya terobosan dalam Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk mengantisipasi kekurangan tersebut. 4. Penentuan sektor unggulan di Kota Metro dapat ditindaklanjuti dengan membuat Tabel Input-Output menggunakan metode survei untuk mendapatkan sektor unggulan yang akurat dan rinci. Sehingga strategi pengembangan wilayah dapat memprioritaskan untuk menggerakkan sektor unggulan yang ada. DAFTAR PUSTAKA [Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Metro. 2001. Rencana Umum Tata Ruang Kota Metro 2001-2010. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2005. Masterplan Pengembangan Kawasan Agropolitan Kecamatan Metro Selatan. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2006. Database Infrastruktur 2006. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Selayang Pandang Kota Metro Tahun 2007. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Metro 2001-2010. Metro: Bappeda Kota Metro Provinsi Lampung. [Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung. 2007. Tabel Input-Output Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Bappeda Provinsi Lampung. .2007. Analisis Input-Output Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Bappeda Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik Kota Metro. 2003. Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro 1999-2002. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2006. Kota Metro Dalam Angka Tahun 2006. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kota Metro Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. .2007. Produk Domestik Regional Bruto Kota Metro 2000-2006. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Pusat Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Utara Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. 130 . 2007. Kecamatan Metro Timur Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Barat Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. . 2007. Kecamatan Metro Selatan Dalam Angka Tahun 2007. Metro: Kerjasama Bappeda Kota Metro dengan BPS Kota Metro Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2004. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung 2000-2003. Bandar Lampung: BPS Provinsi Lampung. .2007. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung 20012006. Bandar Lampung: BPS Provinsi Lampung. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2000. Kerangka Teori dan Analisis: Tabel InputOutput. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. .2007. Tinjauan Ekonomi Regional Provinsi Lampung 2001-2006. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Barus B, Wiradisastra US, 2000. Sistem Informasi Geografi: Sarana Manajemen Sumberdaya. Bogor: Laboratorium Inderaja dan Kartografi Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. Baja S. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografi dan Analytic Hierarchy Process dalam Studi Alokasi dan Optimasi Penggunaan Lahan Pertanian. Warta Informatika Pertanian. Dai FC, Lee CF, Zhang XH. 2001. GIS-based geo-environmental evaluation for land-use planning: a case study. http: www.elsevier.com [18 Nov 2008]. Dai J et al. 1989. Buku Keterangan Peta Satuan Lahan dan Tanah Lembar Tanjungkarang, Sumatera [Lembar 1110]. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Departeman Pertanian Republik Indonesia. [Dep PU] Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum dan Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota. http: www.pu.go.id [18 Nov 2008]. 131 Djaenudin D, Marwan H, Subagjo H, Hidayat A. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Departeman Pertanian Republik Indonesia. [Diperta] Dinas Pertanian Kota Metro. 2007. Pertanian Dalam Angka. Metro: Dinas Pertanian Kota Metro Provinsi Lampung. [FAO] Food and Agriculture Organization. 1976. A Framework for Land Evaluation. Rome: FAO Soils Bulletin No.32. Hadi S. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Ekonomi Wilayah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Hardjowigeno S, Widiatmaka, 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan. Bogor: Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Hastuti HI. 2001. Model pengembangan wilayah dengan pendekatan agropolitan (Studi kasus Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Hendranata A. 2002. Model input-output ekonometrika Indonesia dan aplikasinya untuk analisis dampak ekonomi. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Iskandarini. 2002. Analisis Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan. Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Kusumawati D. 2005. Keterkaitan sektor unggulan dan karakteristik tipologi wilayah dalam pengembangan kawasan strategis (studi kasus kawasan kedungsapur Jawa Tengah) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Mougeot LJA, 2005. Agropolis: The Social, Political and Environmental Dimensions of Urban Agriculture. International Development Reasearch Centre. http: www.earthscan.co.uk [18 Nov 2008]. Panuju DR, Rustiadi E, 2005. Dasar-Dasar Perencanaan Wilayah, Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. Pribadi DO. 2005. Pembangunan kawasan agropolitan melalui pengembangan kota-kota kecil menengah, peningkatan efisiensi pasar perdesaan dan penguatan akses masyarakat terhadap lahan. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Rangkuti F. 2001. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. 132 Rahman H. 2003. Dasar Penetapan Komoditas Unggulan Nasional di Tingkat Provinsi. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2007. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Departemen ITSL Fakultas Pertanian IPB. Sari DR. 2008. Pemodelan multi-kriteria untuk pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Timur [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sanudin. 2006. Analisis dan strategi pemanfaatan ruang di Kabupaten Ciamis Jawa Barat [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sitorus S. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bogor: Laboratorium Perencanaan Pengembangan Wilayah Departemen ITSL Fakultas Pertanian IPB. Sutomo B. 2008. Studi pengembangan kota terpadu mandiri (KTM) berbasis potensi agribisnis masyarakat dan kawasan di Kawasan Transmigrasi Mesuji Kabupaten Tulang Bawang [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tarigan R. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah: Edisi Revisi Jakarta: PT. Bumi Aksara. Utami NW. 2008. Strategi pengembangan manggis di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung Sumatera Barat [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Lampiran 1 Hasil analisis skalogram data podes Kota Metro Tahun 2006 Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT 3 1,00 3,54 0,00 0,00 1,00 0,49 0,68 1,00 3,54 0,20 1,63 0,36 0,11 0,11 0,05 0,11 0,68 0,68 0,68 0,36 0,20 1,63 4 1,12 0,25 0,00 0,00 1,82 0,52 1,12 1,82 0,25 1,82 1,82 1,46 4,16 0,25 1,82 0,25 1,82 0,25 0,25 0,25 1,29 0,25 5 1,86 1,86 3,28 0,80 0,80 0,27 0,44 0,09 1,86 3,28 0,80 0,16 0,09 1,86 0,00 0,00 0,27 0,27 0,27 0,27 0,44 0,80 6 2,04 2,04 0,10 0,10 0,30 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 2,04 0,10 0,03 0,00 2,04 0,00 0,10 0,10 0,03 2,04 7 2,29 0,53 0,10 0,10 2,29 2,29 2,29 0,05 0,24 0,02 2,29 0,24 0,01 0,10 0,01 0,00 0,24 0,02 0,10 0,10 0,00 2,29 8 2,27 2,27 2,27 0,10 0,42 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 2,27 0,10 2,27 2,27 0,42 0,00 0,10 0,10 2,27 2,27 JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI 18,05 20,00 0,82 1,00 22,58 20,00 1,03 1,00 19,76 20,00 0,90 1,00 25,39 20,00 1,15 1,00 15,63 20,00 0,71 1,00 35,27 21,00 1,60 1,00 14,23 20,00 0,65 1,00 Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kabupa ten (km) Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kecam atan (km) Jika Jumlah SMU dan yang sederajat Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Jumlah SMK Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Jumlah SLTP dan yang sederajat Negeri dan Swasta tidak ada, maka jarak ke sekolah terdekat (Km) Jika Rumah Sakit Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelur ahan ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Puskesmas Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelurah an ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Poliklinik/Balai Pengobatan Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelurahan ke Sarana Kesehatan (Km) 10 0,27 0,59 0,00 0,00 0,27 0,08 2,94 0,10 2,94 0,02 0,27 0,11 0,02 0,02 0,00 0,01 2,94 0,06 0,11 0,06 0,02 0,27 11 0,81 1,79 0,81 2,52 2,52 0,33 0,81 0,33 2,52 2,52 2,52 0,33 0,16 0,81 0,05 0,00 1,79 0,16 2,52 0,33 0,23 1,79 12 2,11 0,03 0,00 0,00 0,02 0,01 2,11 0,01 2,11 0,00 0,02 0,02 0,01 0,00 0,00 0,00 0,03 2,11 2,11 2,11 0,00 2,11 11,11 20,00 0,50 1,00 25,66 21,00 1,17 1,00 14,90 20,00 0,68 1,00 133 Nama Kecamatan Jika Rumah Sakit Bersalin Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelur ahan ke Sarana Kesehatan (Km) 9 2,44 2,44 0,00 0,00 0,23 0,07 0,14 0,14 0,49 2,44 2,44 0,23 0,05 0,02 0,00 0,01 0,23 0,05 0,09 0,09 2,44 0,23 Jarak Dari desa ke Ibu Kota Kabupate n/Kota lain terdekat (km) Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jika Tempat Prakter Dokter Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelura han ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Tempat Prakter Bidan Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Polindes Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Apotik Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika Toko Khusus Obat/Jamu Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Keluraha n ke Sarana Kesehatan (Km) Jika desa/kelura han ini tidak ada Gedung Bioskop, maka jarak ke gedung bioskop terdekat (km) 13 2,35 1,56 2,35 0,00 0,52 0,52 0,52 2,35 0,52 0,00 0,52 0,00 0,52 0,52 0,17 2,35 0,52 2,35 0,00 2,35 2,35 2,35 24,68 18,00 1,12 1,00 14 2,26 2,26 2,26 2,26 2,26 0,26 0,16 2,26 2,26 2,26 2,26 0,10 0,26 0,26 2,26 0,00 2,26 0,10 2,26 2,26 2,26 2,26 35,03 21,00 1,59 1,00 15 0,00 3,42 0,91 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 0,91 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 3,42 66,71 21,00 3,03 1,00 16 0,03 0,05 0,00 0,01 0,03 0,01 0,05 0,01 0,00 0,00 0,03 0,01 0,03 0,00 0,00 0,00 0,01 3,41 0,01 0,01 0,01 3,41 7,11 19,00 0,32 1,00 17 0,09 2,25 0,00 0,00 0,21 0,06 2,25 2,25 2,25 0,01 2,25 0,05 0,01 0,01 0,01 0,01 0,21 0,09 0,09 0,05 0,03 2,25 14,38 20,00 0,65 1,00 18 2,40 2,40 0,00 0,00 0,09 0,07 0,13 2,40 2,40 0,03 0,22 0,05 0,02 0,02 0,01 0,01 2,40 0,09 0,09 0,05 0,03 0,48 13,37 21,00 0,61 1,00 19 0,20 3,49 0,00 0,00 0,20 0,10 0,33 0,14 3,49 0,02 0,33 0,07 0,02 0,02 0,01 0,01 0,20 0,14 0,14 0,04 0,02 0,33 9,31 20,00 0,42 1,00 Jika Kelompok pertokoan Tidak Ada, Maka Jarak ke kelompok pertokoan terdekat (Km) Jika Bangunan pasar permanen/ semi permanen Tidak Ada, maka Jarak ke pasar terdekat (Km) Jarak terdekat Pos polisi (Km) 21 2,34 2,34 0,30 2,34 0,18 2,34 0,18 0,18 2,34 2,34 0,30 0,05 0,00 0,11 0,30 0,11 0,18 0,11 0,11 0,02 0,02 0,30 16,47 21,00 0,75 1,00 22 0,72 2,49 0,32 2,49 2,49 2,49 0,19 0,19 2,49 0,02 0,32 0,12 0,00 0,12 0,32 0,12 0,19 0,12 0,12 0,02 0,02 0,32 15,66 21,00 0,71 1,00 23 2,17 2,17 2,17 2,17 0,28 0,63 0,16 0,11 2,17 0,05 0,16 0,05 2,17 0,11 0,00 2,17 0,11 0,28 0,11 0,11 0,05 2,17 19,57 21,00 0,89 1,00 134 Nama Kecamatan Jika Puskesmas Pembantu Tidak Ada, maka Jarak dari Desa/Kelura han ke Sarana Kesehatan (Km) Jika desa/kelura han ini tidak ada Pub/diskoti/ tempat karaoke, maka jarak ke Pub/diskoti/ tempat karaoke terdekat (km) 20 0,00 0,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,70 0,02 0,01 0,07 0,00 0,02 0,00 0,01 0,01 0,07 0,02 0,02 0,02 0,01 0,02 5,02 20,00 0,23 1,00 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jika Kantor Pos/Pos Pembantu/Ru mah Pos Tidak ada, maka jarak ke Kantor Pos terdekat (km) Jumlah TK Negeri (Unit) 24 0,39 3,55 0,16 0,39 0,24 3,55 0,39 0,24 0,86 0,04 0,39 0,08 0,02 0,16 0,00 0,02 0,24 0,16 0,16 0,04 0,04 0,39 11,48 21,00 0,52 1,00 25 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,46 0,00 1,67 0,00 0,00 0,00 6,14 2,00 0,28 1,00 Jumlah TK Swasta (Unit) Jumlah SD dan yang sederajat Negeri (Unit) Jumlah SD dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SLTP dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah SLTP dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SMU dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah SMU dan yang sederajat Swasta (Unit) Jumlah SMK Negeri (unit) Jumlah SMK Swasta (Unit) 26 2,27 1,58 2,73 3,74 0,91 1,22 3,55 1,41 1,14 1,19 0,84 1,30 1,89 2,84 1,42 2,02 0,00 0,67 1,13 0,00 1,00 0,64 33,48 20,00 1,52 1,00 27 3,21 0,00 3,86 2,36 1,72 1,15 1,34 0,66 2,15 1,68 1,18 2,46 3,58 2,68 1,34 1,91 2,13 0,63 1,60 1,03 0,94 0,61 38,20 21,00 1,74 1,00 28 0,00 2,40 0,00 0,00 0,00 0,00 3,23 0,00 1,73 1,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,28 0,00 2,27 0,00 12,27 6,00 0,56 1,00 29 0,00 0,00 2,26 0,00 0,00 0,00 0,00 2,33 1,26 0,98 1,38 2,16 3,14 0,00 0,00 1,12 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,62 8,00 0,66 1,00 30 3,18 0,74 0,00 0,00 0,00 1,71 1,99 0,00 1,06 0,00 1,17 0,00 2,65 0,00 1,98 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,40 0,45 16,32 10,00 0,74 1,00 31 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,51 0,00 1,06 0,00 2,33 3,39 0,00 0,00 0,00 1,34 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,63 5,00 0,48 1,00 32 3,77 0,88 0,00 0,00 0,00 2,03 2,36 0,00 1,26 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,53 11,53 7,00 0,52 1,00 33 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,11 0,00 0,00 0,00 3,66 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,77 2,00 0,31 1,00 34 2,43 0,00 0,00 0,00 1,96 2,62 3,05 0,00 0,00 0,00 0,90 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,69 11,64 6,00 0,53 1,00 135 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Akademi/PT dan yang sederajat Negeri (unit) Jumlah Akademi/PT dan yang sederajat Swasta (Unit) 35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 36 1,93 0,00 0,00 0,00 0,00 4,15 0,00 0,00 0,65 0,00 0,71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,70 0,00 9,14 5,00 0,42 1,00 Jumlah Sekolah Luar BIasa Negeri (unit) Jumlah Sekolah Luar Biasa Swasta (Unit) Jumlah Pondok Pesantren/ Madrasah Diniyah Swasta (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Tata buku/akuntan si yang berada di desa/keluraha n ini (unit) 37 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 38 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,19 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,31 0,00 0,00 0,00 0,00 6,50 2,00 0,30 1,00 39 3,41 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,05 0,57 0,00 0,00 0,00 2,84 0,00 2,13 0,00 0,00 0,00 0,85 0,00 0,00 0,00 10,84 6,00 0,49 1,00 40 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 4,69 1,00 0,21 1,00 Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Komputer yang berada di desa/kelurahan ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Menjahit/tata busana yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Kecantikan yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampila n Montir mobil/motor yang berada di desa/kelura han ini (unit) Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Elektronik yang berada di desa/kelurah an ini (unit) 41 0,00 3,87 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,85 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,35 8,08 3,00 0,37 1,00 42 0,00 0,00 0,00 2,67 0,00 0,00 0,00 1,50 0,81 1,27 1,79 0,00 0,00 3,03 0,00 1,44 0,00 0,00 0,00 2,32 0,00 0,69 15,51 9,00 0,71 1,00 43 0,00 2,11 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,81 2,27 1,19 1,67 0,00 0,00 0,00 0,00 1,35 0,00 0,00 0,00 2,17 0,00 1,92 15,48 8,00 0,70 1,00 44 3,85 0,00 0,00 0,00 1,55 0,00 2,41 0,00 0,00 1,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,27 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,08 5,00 0,46 1,00 45 0,00 0,00 0,00 2,91 0,00 0,00 3,31 0,00 0,00 1,38 1,95 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 9,56 4,00 0,43 1,00 136 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Lembaga pendidikan keterampilan Lainnya yang berada di desa/keluraha n ini (unit) Jumlah Rumah Sakit (Unit) Jumlah Rumah Sakit Bersalin (Unit) Jumlah Poliklinik/ Balai Pengobatan (Unit) Jumlah Puskesmas (Unit) Jumlah Puskesmas Pembantu (Unit) Jumlah Tempat Praktek Dokter (Unit) Jumlah Tempat Praktek Bidan (Unit) Jumlah Posyandu(U nit) Jumlah Polindes (Unit) Jumlah Apotik (Unit) 46 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 47 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,16 0,00 1,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8,20 3,00 0,37 1,00 48 4,17 0,97 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,09 1,53 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,83 0,00 9,59 5,00 0,44 1,00 49 2,09 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,91 0,00 0,70 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,23 1,03 2,00 0,00 0,59 11,55 7,00 0,52 1,00 50 0,00 0,00 0,00 3,54 2,59 0,00 0,00 0,00 1,08 1,69 1,19 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,60 0,00 0,00 0,00 11,67 6,00 0,53 1,00 51 2,42 0,00 2,90 0,00 0,00 0,00 0,00 1,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,44 0,00 1,43 0,00 2,31 2,12 0,68 14,81 8,00 0,67 1,00 52 0,98 0,45 1,17 2,15 3,14 0,00 0,00 1,82 3,27 1,02 2,16 0,00 0,00 0,00 1,22 0,00 1,29 0,00 0,49 0,94 0,86 0,55 21,51 15,00 0,98 1,00 53 0,00 0,44 0,00 1,03 0,76 4,05 1,18 1,75 0,94 0,99 1,04 0,00 1,57 2,35 1,17 0,56 1,87 0,56 0,47 2,70 2,48 0,80 26,70 19,00 1,21 1,00 54 3,71 1,12 3,71 3,35 2,31 2,51 3,01 3,41 2,31 2,80 0,00 2,71 1,83 4,76 3,00 3,25 2,74 2,82 2,28 2,18 3,81 1,87 59,49 21,00 2,70 1,00 55 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,48 0,00 0,00 0,00 3,32 6,80 2,00 0,31 1,00 56 0,00 3,28 0,00 0,00 0,00 0,00 0,88 2,62 2,36 0,00 1,56 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,40 11,11 6,00 0,50 1,00 137 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Jumlah Toko Khusus Obat/Jamu (Unit) 57 4,08 1,90 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,26 1,36 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,35 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 9,95 5,00 0,45 1,00 Jumlah Masjid (unit) Jumlah Surau/lan ggar (unit) Jumlah Gereja Kristen (unit) Jumlah Gereja Katholik (unit) 58 4,42 1,28 2,07 1,77 0,91 2,49 2,22 0,37 0,02 0,47 1,52 1,91 2,22 1,30 1,29 2,03 0,49 1,15 0,73 0,65 1,77 0,00 31,07 21,00 1,41 1,00 59 2,83 0,00 3,95 3,16 0,98 1,88 1,11 0,63 0,97 2,99 1,40 1,19 2,59 2,74 1,34 1,69 1,45 2,13 1,51 0,91 2,75 0,64 38,83 21,00 1,77 1,00 60 0,00 2,67 0,00 0,00 0,00 3,08 0,00 1,78 1,92 1,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,70 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,81 13,45 7,00 0,61 1,00 61 0,00 0,00 0,00 3,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,42 0,00 1,81 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8,25 3,00 0,38 1,00 Jumlah Pura (unit) Jumlah Vihara/Kl enteng (unit) Kios sarana produksi pertanian milik KUD (unit) Kios sarana produksi pertanian milik Non KUD (unit) Jumlah industri sedang (20-99 pekerja) (unit) Kerajinan dari kayu yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) 62 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,38 4,16 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,54 2,00 0,30 1,00 63 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,74 0,00 0,00 0,00 0,00 3,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,75 2,00 0,31 1,00 64 0,00 4,41 0,00 1,74 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,94 0,00 0,00 0,00 0,45 7,54 4,00 0,34 1,00 65 0,67 1,24 2,40 2,93 1,07 3,58 0,00 0,00 0,00 0,70 0,00 1,53 1,11 0,83 0,83 1,19 0,00 0,00 0,00 0,64 1,17 0,00 19,91 14,00 0,90 1,00 66 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,91 0,00 0,00 0,00 3,48 0,00 0,00 0,00 0,00 1,38 0,00 0,00 1,57 9,35 4,00 0,42 1,00 67 0,00 0,00 2,19 2,01 1,83 1,47 0,00 0,00 0,00 0,72 1,18 0,00 0,00 0,57 2,28 2,71 1,51 0,00 0,00 0,00 2,41 0,00 18,87 11,00 0,86 1,00 138 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Kerajinan Anyaman yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja)/Keraji nan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Kerajinan dari kain/tenun yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Industri Makanan yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Industri/Keraji nan Lainnya yang merupakan Industri Kecil (5 – 19 pekerja) /Kerajinan Rumah Tangga (1 - 4 pekerja) (unit) Pasar tanpa bangunan permanen (unit) Super market/ pasar swalayan/ toserba/m ini market (unit) Restoran/ rumah makan (unit) Warung/ kedai makanan minuman (unit) Toko/Warung kelontong (unit) Hotel (unit) Penginapan( hostel/motel/ losmen/wism a) (unit) 68 0,00 0,17 2,27 0,08 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,03 0,00 0,00 0,00 0,09 0,69 0,00 0,13 4,25 0,00 0,06 0,00 7,76 9,00 0,35 1,00 69 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,13 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,82 2,00 0,22 1,00 70 0,19 4,32 1,23 0,82 0,00 0,40 0,00 0,98 0,37 0,24 1,98 0,00 0,93 0,12 0,58 0,77 2,46 0,61 0,51 0,36 0,16 0,89 17,92 19,00 0,81 1,00 71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,10 2,34 0,00 0,00 0,00 0,00 1,15 0,00 7,60 3,00 0,35 1,00 72 0,00 1,46 0,00 0,00 2,52 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,92 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 7,90 3,00 0,36 1,00 73 0,00 0,00 0,00 0,00 1,77 0,00 0,00 0,00 4,43 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,20 2,00 0,28 1,00 74 0,00 0,29 0,00 0,00 1,26 0,00 0,78 4,28 0,00 1,15 0,23 0,00 0,00 0,00 0,00 0,19 1,24 0,00 0,00 1,50 1,65 0,44 13,02 11,00 0,59 1,00 75 1,86 1,62 1,95 1,53 4,67 1,25 1,75 1,44 0,00 0,49 0,86 0,80 0,78 0,00 0,29 1,24 0,46 0,55 0,46 0,22 0,61 0,79 23,62 20,00 1,07 1,00 76 0,29 4,60 0,88 1,20 1,05 0,42 0,00 0,45 2,00 0,35 0,23 0,20 0,85 0,58 0,12 0,07 0,38 0,06 0,09 0,57 0,08 0,21 14,68 21,00 0,67 1,00 77 0,00 4,34 0,00 0,00 0,00 0,00 1,17 0,00 0,00 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,79 0,00 0,00 7,99 4,00 0,36 1,00 78 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 139 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Bank Umum (Kantor Pusat/Cabang/ Capem) (unit) Bank Perkreditan Rakyat (BPR Baru/PT. Bank Pasar/ PT. Bank Desa/dsj) (unit) Jumlah Koperasi (unit) Jumlah KUD (unit) Jumlah Koperasi Simpan Pinjam (unit) Jumlah Koperasi Non KUD lainnya (unit) Bengkel/rep arasi kendaraan bermotor (mobil/moto r) (unit) Bengkel/repar asi alat-alat elektronik (Radio/Tape/T V/Kulkas/AC dll) (unit) Usaha foto kopi (photo copy) (unit) Biro/Agen perjalanan wisata (Tour and Travel) (unit) Tempat pangkas rambut (barber shop) (unit) 79 2,79 2,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,73 2,80 0,00 1,03 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,95 5,00 0,50 1,00 80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,69 1,00 0,21 1,00 81 1,25 0,77 2,00 3,66 0,33 1,34 1,56 2,83 0,00 1,31 3,37 0,48 1,39 1,04 0,52 0,25 0,55 1,48 0,00 1,19 1,10 0,47 26,87 20,00 1,22 1,00 82 0,00 0,00 0,00 4,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,18 5,78 2,00 0,26 1,00 83 1,02 0,00 0,61 1,12 0,41 1,64 1,91 3,16 0,00 0,27 3,94 0,58 1,70 1,27 0,64 0,30 0,67 0,30 0,00 0,98 1,34 0,43 22,31 19,00 1,01 1,00 84 0,67 1,24 2,40 3,66 0,00 0,00 0,00 0,41 0,00 1,74 0,24 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,97 0,00 0,64 0,00 0,00 12,96 9,00 0,59 1,00 85 3,12 0,83 2,68 0,98 1,79 3,35 3,07 0,55 1,64 2,33 1,48 0,00 2,23 2,23 2,23 3,44 1,77 1,06 0,66 1,71 2,74 0,50 40,39 21,00 1,84 1,00 86 1,59 2,58 0,95 3,49 3,19 0,00 0,99 0,00 1,85 1,24 0,29 0,91 1,32 0,99 1,98 1,88 0,00 0,94 0,79 0,00 0,70 0,22 25,91 18,00 1,18 1,00 87 3,26 3,64 0,78 0,72 1,05 2,80 0,41 0,40 1,31 0,68 1,68 0,00 1,09 0,00 0,81 0,00 1,29 0,77 1,29 0,00 1,15 0,74 23,87 18,00 1,08 1,00 88 0,00 4,34 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,87 0,00 0,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,05 7,94 4,00 0,36 1,00 89 1,50 3,49 0,00 1,65 3,01 2,42 0,47 0,00 0,50 0,39 0,28 0,00 0,00 0,94 0,94 0,45 0,00 0,89 1,12 0,72 0,00 0,21 18,97 16,00 0,86 1,00 140 Lampiran 1 (lanjutan) Nama Kecamatan Nama Kelurahan 1 METRO BARAT METRO PUSAT METRO SELATAN METRO SELATAN METRO BARAT METRO SELATAN METRO BARAT METRO TIMUR METRO PUSAT METRO UTARA METRO TIMUR METRO BARAT METRO TIMUR METRO SELATAN METRO UTARA METRO UTARA METRO TIMUR METRO PUSAT METRO PUSAT METRO TIMUR METRO UTARA METRO PUSAT 2 MULYOJATI IMOPURO REJOMULYO SUMBERSARI GANJAR AGUNG MARGOREJO GANJAR ASRI YOSOREJO METRO BANJAR SARI IRING MULYO MULYOSARI TEJO SARI MARGODADI PURWOASRI KARANG REJO YOSODADI HADIMULYO TIMUR YOSOMULYO TEJO AGUNG PURWOSARI HADIMULYO BARAT JUMLAH JUMLAH JENIS RATAAN STANDAR DEVIASI Salon kecantikan/tata rias wajah/pengantin (unit) Bengkel las (membuat pagar besi, tralis dll) (unit) 90 2,46 1,52 3,94 0,00 1,32 0,88 0,00 1,02 1,10 3,00 0,60 0,00 0,00 1,02 2,05 1,46 1,08 0,49 0,81 0,78 0,72 0,46 24,71 18,00 1,12 1,00 91 2,67 0,00 0,80 2,20 4,29 1,44 1,25 0,41 0,22 1,40 0,49 2,30 1,11 1,67 0,83 0,40 1,77 0,40 0,66 1,28 1,17 0,19 26,97 21,00 1,23 1,00 Persewaan alat-alat pesta (unit) Jumlah Terminal Penumpang Kendaraana Bermotor Roda 4 atau Lebih (unit) Wartel/ Kiospo n/Warp ostel/ Warpar postel (unit) Jumlah anggota hansip/lin mas di desa/kelu rahan ini (orang) JUMLAH/Indeks Perkembangan JUMLAH JENIS JENIS HIRARKI ORDO 92 0,84 0,78 4,05 1,85 2,03 0,91 0,00 0,00 0,56 0,44 0,62 0,00 1,41 1,05 3,15 1,50 0,00 1,00 1,25 0,81 1,48 0,71 24,45 18,00 1,11 1,00 93 4,33 2,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,35 2,00 0,29 1,00 94 1,01 0,00 4,40 0,16 0,99 0,42 0,82 0,04 0,18 0,28 0,16 0,17 0,30 0,20 0,35 0,26 2,37 0,03 0,01 0,24 0,54 0,10 13,03 21,00 0,59 1,00 95 2,17 0,81 3,91 2,63 0,00 2,43 1,14 0,98 1,01 1,19 0,85 2,55 2,68 2,90 0,86 0,95 1,28 0,68 0,36 2,12 1,65 0,41 33,54 21,00 1,52 1,00 96 109,56 116,82 75,12 88,11 73,65 80,03 82,04 72,15 96,37 71,98 82,04 32,28 57,99 50,64 51,70 52,44 60,62 42,57 41,14 44,88 57,99 64,65 1504,76 22,00 68,40 22,07 97 55,00 58,00 40,00 46,00 49,00 50,00 52,00 52,00 58,00 58,00 63,00 36,00 43,00 45,00 45,00 46,00 47,00 47,00 47,00 48,00 50,00 59,00 98 Hirarki I Hirarki I Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki II Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III Hirarki III 99 I I II II II II II II II II II III III III III III III III III III III III 2*STDEV 22,07 Rataan+2STDEV 90,47 IP>RATAAN+2*STDEV II IP
Dokumen baru
Dokumen yang terkait

Strategi Pengembangan Wilayah Kota Metro Lamp..

Gratis

Feedback