Karakteristik dan permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta strategi penataan dan pemberdayaannya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi wilayah di kota Bogor

Gratis

8
170
334
2 years ago
Preview
Full text
KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) SERTA STRATEGI PENATAAN DAN PEMBERDAYAANNYA DALAM KAITAN DENGAN PEMBANGUNAN EKONOMI WILAYAH KOTA BOGOR ACHMAD MUBAROK SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Karakteristik dan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta Strategi Penataan dan Pemberdayaannya dalam Kaitan dengan Pembangunan Ekonomi Wilayah Kota Bogor adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini Bogor, Januari 2012 Achmad Mubarok NRP : A165030021 ii ABSTRACT ACHMAD MUBAROK. Characteristic and Problems of Street Vendors, Management and Empowerment Strategy in Relationship with Regional Economic Development in Bogor City, Under direction of BAMBANG JUANDA as Chairman, HERMANTO SIREGAR and HEDI M.IDRIS as Members of Advisory Committee. The research objectives are : (1) to analyze characteristics of street vendors and factors that affect their income, (2) to analyze contribution of street vendors on economic development, (3) to identify policy implementation on street vendors and (4) to formulate management and empowerment strategy for the street vendors. The research has been conducted in Bogor City using survey methods. Three street vendor typologic has been selected namely night vegetables market (pasar sayur malam), temporary market (pasar tumpah), and culinary market (pasar kuliner). The total sample is 180 respondents consisting of street vendors, consumers, residents, competitors and suppliers. AWOT analysis uses experts amounting 16 respondents. The samples are selected using the porposive sampling. The data are analyzed descriptively and AWOT analysis is used to formulate the strategy. The results indicates that street vendors can be characterized as having sufficient elementary education level, not poor, having net income higher than the city minimum wage and vulnerable on harassment. The regression result suggests that street vendors net income is significantly affected by omzet and starting up costs. On typology basis, net income significantly affects consumption level of street vendor’s household. Street vendors are able to create job opportunity in urban area and if properly managed, have large contribution on local revenue. However, the implementation of existing local regulations seem suboptimal. Some strategies have been proposed, including : (1) Registering and construct street vendor database, (2) economic empowerment for the actors, (3) unifying perception for street vendor management, (4) delayed condemnation delay and dialogue with local government, and (5) confining street vendor number in a location. Keywords :Street Vendors, AWOT analysis, Empowerment Strategy, Bogor City. iii RINGKASAN ACHMAD MUBAROK. Karakteristik dan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Serta Strategi Penataan dan Pemberdayaannya Dalam Kaitan Dengan Pembangunan Ekonomi Wilayah di Kota Bogor, Di bawah bimbingan dari BAMBANG JUANDA sebagai Ketua, HERMANTO SIREGAR dan HEDI M.IDRIS sebagai Anggota dari Komisi Pembimbing. Bogor mengalami permasalahan pengelolaan kota dengan meningkatnya PKL. Pertumbuhan PKL di kota Bogor semakin nampak ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. Terdapat dualisme pandangan mengenai keberadaan PKL yaitu positif dan negatif. Di sisi positif, PKL menyediakan peluang kerja bagi penduduk yang tidak terserap sektor formal dengan meningkatnya pengangguran dan pada saat yang sama menyediakan barang dan jasa dengan harga yang terjangkau bagi warga miskin kota. Di sisi negatif, PKL sering menyebabkan kemacetan, merusak wajah kota, kejahatan dan ketidaknyamanan sosial lainnya. Dua sisi keberadaan PKL ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan PKL sebagai mata pencaharian alternatif penduduk miskin kota dan bagaimana pemerintah kota Bogor menghadapi tantangan ini untuk permbangunan perkotaan. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Menganalisis karakteristik umum dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan PKL, (2) Menganalisis sejauh mana kontribusi PKL dalam pembangunan ekonomi wilayah di kota Bogor, (3) Mengidentifikasi sejauh mana keberhasilan dari kebijakan pemerintah Kota Bogor dalam menata dan memberdayakan PKL dan (4) Merumuskan strategi penataan dan pemberdayaan PKL. Penelitian dilakukan di kota Bogor, dari Juni 2009 sampai bulan Juli 2011 menggunakan rancangan penelitian survei. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Populasi penelitian terdiri dari Pelaku PKL, Konsumen, Masyarakat, Pesaing, dan Supplier. Tipologi PKL yang dipilih adalah : Pasar Sayur Malam, Pasar Kuliner, Pasar Tumpah. Matode pengambilan sampel adalah Purposive Sampling. Total sampel yang diambil adalah 180 responden Untuk responden pakar total sampel yang diambil adalah 16 responden. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengkarakteristikkan PKL dan persepsi masyarakat, pemasok dan pesaing mengenai keberadaan PKL. Analisis regresi dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan PKL. Untuk menganalisis strategi penataan dan pemberdayaan PKL digunakan metode hibrid AWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa : pertama, PKL Bogor dapat dikarakteristikkan sebagai berpendidikan rendah, tidak dapat dikategorikan miskin dan mampu mendapatkan pendapatan bersih di atas UMR kota. PKL bekerja dalam lingkungan kotor dengan jam kerja lama dan tanpa hari libur dan tidak memiliki jaminan sosial dan sebagian besar belum terdaftar di pemerintah kota. Kedua, Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel omzet, modal awal dan iv dummy lokasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan PKL. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pendapatan PKL berpengaruh nyata terhadap konsumsi rumah tangga hal ini berarti bahwa kontribusi PKL terhadap perekonomian /pembangunan wilayah terutama dari sisi belanja konsumsi. Ketiga, PKL berkontribusi terhadap ekonomi kota Bogor karena telah menjadi mata pencaharian utama dan menciptakan peluang dan lapangan kerja. Analisis kebijakan menunjukkan sudah adanya perangkat legal pengelolaan PKL di kota Bogor namun implementasinya masih belum optimal dan belum mengakomodasi kepentingan bersama antara PKL dan Pemerintah Kota. Keempat, beberapa strategi dirumuskan yaitu : (a) Registrasi dan pembuatan database PKL, (b) Pemberdayaan ekonomi pelaku PKL, (c) Menyatukan persepi dalam pengelolaan PKL, (d) Penundaan penggusuran & dialog dengan pemda, (e) Pembatasan jumlah pedagang dalam satu lokasi and (f) mensyaratkan setiap pengelola gedung/pabrik/kompleks perumahan untuk menyediakan lokasi tertentu bagi PKL, serta melakukan Penataan lokasi PKL Kata kunci : PKL, analisis AWOT, Strategi Pemberdayaan, Kota Bogor. v KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) SERTA STRATEGI PENATAAN DAN PEMBERDAYAANNYA DALAM KAITAN DENGAN PEMBANGUNAN EKONOMI WILAYAH KOTA BOGOR ACHMAD MUBAROK Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 vi ©Hak Cipta milik IPB , tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan . penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpaizin IPB. vii Judul Disertasi Nama NRP Program Studi : Karakteristik dan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta Strategi Penataan dan Pemberdayaannya dalam Kaitan dengan Pembangunan Ekonomi Wilayah Kota Bogor : Achmad Mubarok : A 165030021 : Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Menyetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, M.Si. Ketua Dr. Ir. Hedi M. Idris , M.Si. Anggota Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec. Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, M.Si. Tanggal Ujian : 13 Januari 2012 Dekan Program Pascasarjana Dr.Ir.Dahrul Syah, M.Sc.Agr. Tanggal Lulus : viii Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr.Ir. Yusman Syaukat, M.Ec 2. Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc.Agr Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Dr.Ir. Slamet Sutomo, M.Si. 2. Dr. Ir. Setia Hadi, M.Si ix PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan desertasi ini dapat diselesaikan pada waktunya. Penulis berharap bahwa hasil penelitian yang dituangkan dalam desertasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat terutama para stakeholder baik di jajaran birokrasi pemerintahan, akademisi, maupun pelaku pembangunan lainnya demi terciptanya program-program pembangunan serta terciptanya masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan sentosa. Penulis mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, M.Si, Bapak Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., dan Bapak Dr. Ir. Hedi M. Idris, M.Si. yang masing-masing selaku ketua dan anggota komisi pembimbing, atas dorongan dan bimbingannya. Semoga Allah membalas dengan pahala yang lebih besar lagi. Amien. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan hingga tersusunnya desertasi ini, kepada : 1. Bapak dosen dan seluruh staf Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah Dan Perdesaan, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada penulis 2. Kepada para responden penelitian yang telah memberikan bantuan data dan informasi yang sangat penting bagi penyusunan desertasi ini 3. Seluruh pengurus Yayasan Pendidikan Ibn Khaldun Bogor, Rektor UIKA beserta staf jdan Dekan FEUIKA beserta atas segala dorongan dan bantuannya. 4. Isteri tercinta E.Murtinah dan anak-anak, mantu-mantu serta cucu-cucu tersayang yang senantiasaa memberikan doa, dorongan semangat dan mengorbankan waktu, kesempatan serta perasaannya untuk keberhasilan studi penulis. 5. Almarhum ayah ibu tercinta yang berkat doa dan jerih payahnya, hingga penulis dapat mencapai harapan dan cita-cita. 6. Kakakku tercinta Mas Widodo dan Ceu Ipah yang selama ini telah menjadi pengganti orangtua bagi penulis 7. Semua pihak yang tidak dapaat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu terselesaikannya penyusunan tesis ini. Dalam penyusunan desertasi ini disadari masih banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga kritik dan saran yang membangun dari pembaca akan selalu diharapkan. Akhirnya semoga Allah Yang Maha Kuasa membalas amal kebajikan semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan desertasi ini. Bogor, Januri 2012 Achmad Mubarok x DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 12 Oktober 1947 sebagai anak keduabelas dari pasangan R.H.M Sudjai dan R.Siti Hajar. Pada tahun 1971 penulis menikah dengan E.Murtinah dan telah dikarunia enam orang anak., lima orang menantu serta sebelas orang cucu. Saat ini Penulis bekerja sebagai staf pengajar tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor lulus tahun 1990. Dalam proses pendidikan yang berkelanjutan, pada tahun 1999 penulis menyelesaikan pendidikan magister manajemen di Universitas Satyagama, Jakarta. Pada tahun 2003 penulis memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan program doktor pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Karya ilmiah penulis yang akan segera diterbitkan adalah ” Karakteristik Usaha dan Ekonomi Serta Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan PKL di Kota Bogor” pada jurnal Inovator, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor. Salah satu artikel lain berjudul ”Karakteristik, Persepsi dan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam Kaitannya dengan Pembangunan Ekonomi di Kota Bogor” juga akan diterbitkan dalam Jurnal Sosio Ekonomika, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Karya Ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis. DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi……………………………………………………………… xi Daftar Tabel…………………..….…………………………………… xiv Daftar Gambar………………………………………………………… xx Daftar Lampiran…………………….……………………………..….. xxi I. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 PENDAHULUAN………….……………………………… Latar Belakang ........................................................................ Permasalahan ........................................................................... Tujuan Penelitian ..................................................................... Manfaat Penelitian.................................................................... Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian................................... 1 1 10 11 12 12 II. 2.1 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 TINJAUAN PUSTAKA..………………………………….. Konsep Pembangunan dan Ekonomi .……………………… 2.1.1 Pembangunan Ekonomi……………………………… 2.1.2 Ekonomi Wilayah……………………………………. 2.1.3 Pembangunan Ekonomi Wilayah……………………. Teori-Teori Loka…………………………………………….. 2.2.1 Teori Pola Produksi Pertanian von Thunen………….. 2.2.2 Teori Lokasi Alfred Weber….………………………. 2.2.3 Teori Lokasi August Losch………………………….. 2.2.4 Teori LokasiIndustri Christaller…..………………… Sektor Informa……………………..………………………… 2.3.1 Usaha mikro Kecil dan Menengah ( UMKM)………. 2.3.2 Usaha Produktif……………………………………… 2.3.3 Pengertian dan Definisi Sektor Informal……….……. 2.3.4 Pedagang Kaki Lima (PKL)…………………………. Kebijakan Publi……………………………………………… 2.4.1 Konsepsi Kebijakan Publik………………………….. 2.4.2 Instrumen Kebijakan Publik di Daerah……………… 2.4.3 Sumber-sumber Pendapatan Daerah………………… Pemberdayaan Masyarakat…………………………………. Strategi Pemberdayaan…………..………………………… Lingkungan Eksternal dan Internal………………………… Strategi Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi….……… Penelitian Terdahulu Tentang Pedagang Kaki Lima PKL)…. Novelty (Kebauran)………………………………………… 13 13 13 14 15 16 17 19 20 22 24 25 27 27 30 32 32 36 39 45 50 52 54 61 67 III. 3.1 3.2 3.3 METODE PENELITIAN………………………………… Kerangka Penelitian………………………………………… Lokasi dan Waktu Penelitian……………………………….. Jenis dan Sumber Data…………………………………... 81 81 83 85 2.2 2.3 2.4 xii 3.4 3.5 3.6 3.7 Pedoman Pengambilan Sampel……………………………… Metode Analisis Data……………………………………….. 3.5.1 Analisis Deskriftif…………………………………… 3.5.2 Analisis Persentase…………………………………... 3.5.3 Analisis Regresi……………………………………… 3.5.4 Analisis AHP SWOT.……………..……………….... Definisi Operasional………………………………………..... Keterbatasan Penilitian………………………………………. 87 88 88 88 89 93 103 104 IV. 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 4.10 4.11 4.12 4.13 KONDISI UMUM KOTA BOGOR……………………….. Kondisi dan Potensi………………………………………….. Sejarah Kota Bogor………………………………………….. Pemerintahan……………………………………………….. Penduduk dan Ketenagakerjaan…………………………….. Pendidikan, kesehatan/Keluarga Berencana dan Agama……. Pertanian…………………………………………………….. Perindustrian, Pertambangan dan Energi………..…………... Perdagangan………………………………………………..... Transportasi, Komunikasi dan Pariwisata……..……………. Keuangan dan Harga……………………………..………….. Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk…………..………….. Pendapatan Regional………………………………………… Kemiskinan………………………………………………….. 105 105 107 108 108 110 111 114 116 117 118 120 121 123 V. KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BOGOR………… Distribusi Sampel dan Tipologi PKL……………………….. Karakteristik Demografis……………………………………. 5.2.1 Jenis Kelamin (A3)………………………………… 5.2.2 Umur (A4)…………………………………………. 5.2.3 Status Perkawinan…………………………………. 5.2.4 Tingkat Pendidikan (A6)…………………………... 5.2.5 Asal Responden (A7)……………………………… 5.2.6 Suku bangsa (A8)………………………………….. 5.2.7 Status Dalam Keluarga (A9)……………………… 5.2.8 Tanggungan dalam Keluarga (A10)………………. 5.2.9 Pendidikan Tertinggi dalam Keluarga ( A12)…….. 5.2.10 Kondisi Kesehatan (A13)…………………………. 5.2.11 Kondisi Ekonomi (A16)…………………………… Karakteristik Usaha………………………………………….. 5.3.1 Usaha/Pekerjaan sebelum Menjadi PKL................... 5.3.2 Motivasi menjadi PKL (B2)...................................... 5.3.3 Lama menjadi PKL (B3)........................................... 5.3.4 Keberadaan Usaha di Tempat Lain (B4)................... 5.3.5 Pemilihan Lokasi (B5)............................................. 5.3.6 Jenis Barang Dagangan (B6)..................................... 5.3.7 Jenis Sarana Usaha Yang Digunakan (B8)............... 5.3.8 Pola Penyebaran PKL............................................... 5.3.9 Waktu Operasi PKL (B10)........................................ 125 126 127 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 142 144 145 147 148 5.1 5.2 5.3 xiii 5.4 5.5 5.6 5.7 5.8 VI. 6.1 6.2 6.3 VII. 5.3.10 Lama Waktu Operasi (C2)........................................ 5.3.11 Tempat Usaha (B12)................................................. 5.3.12 Luas Tempat Usaha (B13)......................................... 5.3.13 Penilaian terhadap Kondisi Kebersihan (B14).......... 5.3.14 Keberadaan Usaha di Tempat Lain........................... 5.3.15 Registrasi PKL (B18)................................................ Pekerja dan Kompensasi.......................................................... Aspek Keuangan dan Lain-Lain............................................. 5.5.1 Modal Awal................................................................. 5.5.2 Jenis dan Sumber Modal.............................................. 5.5.3 Modal Kerja dan Pendapatan.................................... 5.5.4 Sewa Lapak............................................................... 5.5.5 Fluktuasi Usaha......................................................... 5.5.6 Pengeluaran............................................................... Permasalahan dan Prospek....................................................... Persepsi PKL terhadap Penataan.............................................. Persepsi Pesaing, Pemasok dan Masyarakat Terhadap Keberadaan PKL ..................................................................... KONTRIBUSI PKL TERHADAP EKONOMI WILAYAH………………………………………………….. Kontribusi PKL Terhadap Ekonomi Wilayah……………… Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan PKL........................ Keterkaitan ke Belakang (Backward) dan ke Depan (Forward) dari PKL .............................................................. 148 149 150 151 152 153 155 157 157 158 160 163 165 166 169 171 174 183 183 186 193 ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BOGOR…………. Peraturan Daerah Pengelolaan PKL......................................... Pihak-pihak Yang terkait.......................................................... Implementasi Perda PKL di Bogor.......................................... 197 197 199 202 8.3 8.4 STRATEGI PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BOGOR................. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal................................ 8.1.1 Faktor Eksternal…………………………………… 8.1.2 Faktor Internal…………………………………….. Strategi Penataan dan Pemberdayaan PKL………………….. 8.2.1 Strategi Prioritas…………………………………… 8.2.2 Alternatif Strategi Lainnya………………………… Usulan Penataan dan Relokasi PKL…………………………. Langkah-langkah Strategis…………………………………... 207 207 208 215 223 227 233 236 241 IX. 9.1 9.2 KESIMPULAN DAN SARAN…………………………….. Kesimpulan………………………………………………….. Saran…………………………………………………………. 243 243 245 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 247 LAMPIRAN.......................................................................................... 257 7.1 7.2 7.3 VIII. 8.1 8.2 xiv DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Pekerja Menurut Status Pekerjaan, 2007-2009 (dalam juta orang).. Omzet Penjualan Harian (dalam Rupiah)........................................ Definisi Jenis Usaha dari Berbagai Departemen.............................. Lapangan kerja menurut aktivitas ekonomi di Indonesia................ Matrik kebijakan publik berdasarkan makna................................... Bagi Hasil Pajak Provinsi................................................................ Penerima manfaat dalam Pengaturan PKL melalui Peraturan Daerah.............................................................................................. Indikator Manfaat Pengaturan PKL melalui Peraturan Daerah....... Manfaat dan Biaya Pengaturan PKL melalui Regulasi (Peraturan Daerah)............................................................................................. Manfaat dan Biaya Mengelola PKL tanpa Regulasi........................ Kajian Literatur Sektor Informal Selama 10 Tahun Terakhir.......... Sumber Data, Aspek Penelitian dan Pokok (analisis)...................... Responden Penelitian....................................................................... Responden Penelitian untuk Analisis AHP SWOT......................... Matrik Internal dan Eksternal.......................................................... Skala Perbandingan Berpasangan.................................................... Matrik Pendapat Individu (MPI)...................................................... Perbandingan berpasangan pada Matrik Pendapat Gabungan (MPG), VA, dan VP (bobot)............................................................ Nilai Random Index (RI)................................................................. Matrik Analisis SWOT.................................................................... Pembobotan Tiap Unsur SWOT...................................................... Rangking Alternatif Strategi............................................................ Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2011................................................................... Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kota Bogor Tahun 1990, 2000 dan 2010.................................................. Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama di Kota Bogor tahun 2008-2010........................................... Penduduk 10 Tahun ke Atas Menurut Partisipasi Sekolah dan Jenis Kelamin di Kota Bogor Tahun 2010....................................... Penggunaan Lahan Pertanian Sawah Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2010................................................................... Penggunaan Lahan Pertanian Bukan Sawah Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2010 (dalam Ha)........................................... Target, Realisasi dan Produksi Tanaman Palawija (lahan bukan sawah) Menurut jenis Tanaman di Kota Bogor Tahun 2010........... Populasi Ternak Besar dan Ternak Kecil Menurut Jenisnya di Kota Bogor Tahun 2010................................................................... Populasi Unggas Menurut Jenisnya di Kota Bogor Tahun 2010..... Produksi Ikan Menurut Tipe Kolam di Kota Bogor Tahun 2010.... 3 8 26 30 35 45 65 65 66 66 69 86 87 88 96 97 97 99 100 101 101 102 108 109 109 110 111 112 112 113 113 114 xv Halaman 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Potensi Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan di Kota Bogor Tahun 2010...................................................................................... Potensi Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka di Kota Bogor Tahun 2010........................................................................... Jumlah Realisasi Ekspor Non migas Menurut Jenis Komoditi di Kota Bogor Tahun 2010................................................................... Realisasi Penerimaan Daerah Menurut Jenis Penerimaan di Kota Bogor Tahun 2010........................................................................... Realisasi Pengeluaran Daerah Menurut Jenis Pengeluaran di Kota Bogor Tahun 2010........................................................................... Pengeluaran Rata-rata Perkapita Sebulan Menurut Kelompok Barang Makanan di Kota Bogor Tahun 2006-2010 (Rupiah)......... Pengeluaran Rata-rata Perkapita Menurut Kelompok Barang Non Makanan dan Golongan Pengeluaran Per Kapita Sebulan di Kota Bogor Tahun 2010 (Rupiah)............................................................ Produk Domestik Bruto ( PDRB) Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2010 Produk Domestik Bruto ( PDRB) Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2010..................... Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2010.................................................... Jumlah, Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Kota Bogor Tahun 2009-2010............................................................................. Distribusi Lokasi Pengambilan Sampel PKL................................... Tipologi Jenis Usaha PKL............................................................... Jenis Kelamin Responden................................................................ Jenis Kelamin Responden Menurut Tipologi................................... Kelompok Umur Responden............................................................ Kelompok Umur Responden menurut tipologi................................ Status Perkawinan............................................................................ Status Perkawinan menurut Tipologi PKL...................................... Tingkat Pendidikan Responden....................................................... Tingkat Pendidikan Responden menurut tipologi PKL................... Asal Kota Responden....................................................................... Asal Kota Responden menurut Tipologi PKL................................. Suku Bangsa Responden.................................................................. Suku Bangsa Responden menurut Tipologi..................................... Status Responden dalam Keluarga................................................... Status Responden dalam Keluarga menurut Tipologi..................... Tanggungan dalam Keluarga........................................................... Jumlah Tanggungan dalam Keluarga............................................... Tingkat Pendidikan Tertinggi dalam Keluarga................................ Kondisi Kesehatan Keluarga PKL Selama 3 Bulan Terakhir.......... Kondisi Kesehatan Keluarga Menurut Tipologi.............................. 114 115 117 118 119 120 121 121 122 122 123 126 127 127 128 128 129 129 130 130 131 131 132 132 133 134 134 134 135 135 136 136 xvi Halaman 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 Biaya Berobat Responden................................................................ Responden Penerima BLT............................................................... Usaha Sebelum menjadi PKL (B.1)................................................. Motivasi menjadi PKL..................................................................... Lama Menjadi PKL.......................................................................... Pernah Tidaknya Responden Berusaha atau Berjualan di Tempat Lain ................................................................................................ Alasan Pemilihan Lokasi Seluruh Sampel....................................... Jenis Barang Dagangan PKL................................................................ Sarana Usaha yang Digunakan PKL..................................................... Pola Penyebaran PKL........................................................................... Waktu Operasi PKL............................................................................. Lama Waktu Operasi....................................................................... Lama Hari Kerja Dalam Seminggu.................................................. Tempat Usaha.................................................................................. Posisi Lokasi Usaha......................................................................... Luas Ruang yang Digunakan PKL.................................................. Kondisi Kebersihan.......................................................................... Kepemilikan Usaha di Tempat Lain................................................ Registrasi PKL................................................................................. Rekapitulasi PKL yang sudah mendapatkan Ijin Penggunaan Lokasi PKL per tanggal 28 Nopember 2008................................... Jumlah Responden yang Menggunakan Tenaga Kerja.................... Tunjangan dan Bonus Bagi Pekerja................................................. Bentuk Tunjangan atau Bonus Bagi Pekerja.................................... Modal Awal yang Diperlukan dalam Memulai Usaha..................... Sumber Modal PKL......................................................................... Sumber Pinjaman Modal.................................................................. Modal Kerja Harian.............................................................................. Omzet Kotor Harian PKL Menurut Tipologi................................... Jenis Pembukuan Pelaku PKL......................................................... Pembayaran Tempat Usaha.............................................................. Jangka Waktu Pembayaran.............................................................. Pihak Penerima Pembayaran Sewa Lapak....................................... Rata-rata Pengeluaran Bulanan Responden..................................... Penghasilan yang Dibawa Pulang Harian........................................ Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (RT) Harian...................... Pendapatan Bersih PKL Harian Rata-rata....................................... Masalah atau Kesulitan yang Dihadapi PKL................................... Bentuk Bantuan yang Diharapkan................................................... Pemahaman Responden Terhadap Aturan....................................... Kemauan PKL Untuk Ditata........................................................... Bentuk Penataan yang Diharapkan.................................................. Sistem Pembayaran yang Diharapkan Per Lapak Standar............... Persepsi Gangguan PKL Terhadap Usaha Pesaing dan Pemasok.... 137 138 139 140 141 142 142 145 146 147 148 149 149 149 150 151 152 152 153 154 156 156 157 158 159 159 161 162 162 163 164 164 167 168 169 169 170 171 172 172 173 173 174 xvii Halaman 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Bentuk Gangguan usaha PKL Terhadap Pesaing............................ Manfaat Keberadaan PKL Bagi Pemasok........................................ Manfaat Aktivitas PKL bagi Pesaing, Pemasok dan Masyarakat Umum............................................................................................... Alasan Masyarakat Berbelanja di PKL............................................ Persepsi Keberadaan PKL untuk Kepentingan Umum.................... Persepsi Pengaturan untuk Aktivitas PKL....................................... Persepsi Terhadap Bentuk-Bentuk Pengaturan................................ Persepsi Terhadap Penggusuran....................................................... Mekanisme Penggusuran................................................................. Pengaruh Pendapatan PKL Terhadap Tingkat Pendidikan, Kesehatan dan Konsumsi Keluarga PKL......................................... Uji Ragam Untuk Pendapatan Bersih Antara Pasar Tumpah dan Pasar Sayur Malam.......................................................................... Uji Ragam Untuk Pendapatan Bersih Antara Pasar Tumpah dan Pasar Kuliner.................................................................................... Uji Ragam Untuk Pendapatan Bersih Antara Pasar Sayur Malam dan Pasar Kuliner............................................................................. Keterkaitan Manfaat Langsung Kedepan dan Kebelakang dari PKL.................................................................................................. Perlunya Keterlibatan Pihak-pihak Lain.......................................... Beberapa Tindakan Pemerintah Kota Bogor terhadap PKL di Beberapa Lokasi............................................................................... Program dan Pendekatan Pengelolaan PKL di Beberapa Kota di Indonesia.......................................................................................... Hasil Perhitungan Bobot Faktor Eksternal Peluang......................... Hasil Perhitungan Bobot Faktor Eksternal Ancaman...................... Hasil Perhitungan Bobot Faktor Internal Kekuatan......................... Hasil Perhitungan Bobot Faktor Internal Kelemahan...................... Matrik SWOT untuk Perumusan Strategi Penataan dan Pemberdayaan PKL di Kota Bogor................................................. Prioritas Alternatif Strategi untuk Penataan dan Pemberdayaan PKL di kota Bogor........................................................................... 175 176 176 177 178 179 179 180 181 188 190 191 192 195 200 202 204 208 211 215 219 224 226 xviii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Asal Pedagang Kaki Lima di kota Bogor......................................... Status Pedagang Kaki Lima di Kota Bogor..................................... Jumlah PKL Kota Bogor Tahun 2005 berdasarkan jenis kelamin... Waktu Berjualan PKL di Kota Bogor.............................................. Kebijakan Publik.............................................................................. Proses Kebijakan Publik.................................................................. Alur Kebijakan Publik Berdasarkan Kompetisi Politik................... Alur Kebijakan Publik Berdasarkan Sumberdaya Ekonomi............ Alur Kebijakan Publik Campuran................................................... Proses Penyusunan Regulasi pada Tingkat Daerah......................... Kerangka Pemikiran Konseptual..................................................... Analisis SWOT................................................................................ Fluktuasi Kegiatan PKL Selama 12 Bulan Terakhir........................ Distribusi Pendapatan Bersih PKL (Rp/hari) Menurut Tipologi dalam Bokspot.................................................................................. Distribusi Pendapatan Bersih PKL (Rp/hari) Antara Pasar Sayur Malam dan Pasar Tumpah dalam Bentuk Bokspot......................... Distribusi Pendapatan Bersih PKL (Rp/hari) Antara Pasar Tumpah dan Pasar Kuliner dalam Bentuk Bokspot....................... Distribusi Pendapatan Bersih PKL (Rp/hari) Antara Pasar Kuliner dan Pasar Sayur Malam dalam Bentuk Bokspot.............................. Pembongkaran Kios PKL Semi Permanen di Pomad Oleh Satpol PP..................................................................................................... Peta Usulan Lokasi PKL di Terminal Baru..................................... 6 7 7 9 32 33 34 34 35 37 84 95 165 190 191 192 193 221 240 xix DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Hasil Analisis Regresi untuk Semua Tipologi.................................... Hasil Analisis Regresi untuk Setiap Tipologi PKL............................ Matrik Pendapat Gabungan untuk Faktor Internal dan Eksternal....... Kuisioner untuk Pelaku PKL.............................................................. Kuisioner Persepsi Pemasok terhadap PKL........................................ Kuisioner Persepsi Pesaing terhadap PKL.......................................... Kuisioner Persepsi Masyarakat terhadap PKL................................... Kuisioner untuk AHP-SWOT............................................................. Perda PKL di kota Bogor.................................................................... Dokumentasi Aktifitas Penelitian ...................................................... 257 259 264 266 272 274 276 278 291 310 BAB I PENDAHULUAN Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menegakkan prinsip-prinsip kemuliaan, persamaan hak, dan keadilan manusia di tingkat global. Oleh karena itu sebagai pemimpin, kita mempunyai tugas untuk seluruh umat di dunia, terutama mereka yang paling lemah dan khususnya kepada anak-anak di dunia yang di pundak mereka masa depan berada (United Nations, 2000, dalam Todaro, 2006). 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi dan finansial di kawasan Asia pada pertengahan tahun 1997 telah mengakibatkan kehancuran banyak industri skala besar dan skala kecilmenengah di Indonesia. Menurut Rachmanu (2004), terdapat dua hipotesis mengenai terjadinya krisis ekonomi - finansial di Indonesia tersebut. Pertama, penyebabnya adalah rusaknya dasar-dasar ekonomi, bukan hanya parameter ekonomi seperti inflasi, defisit anggaran pemerintah, dan neraca devisa berjalan tetapi juga masalah kelembagaan seperti pergeseran kebijakan, belum optimalnya perhatian pemerintah terhadap usaha swasta, dan terbatasnya aturan pasar yang transparan. Kedua, argumentasi bahwa ekonomi Indonesia pada dasarnya menyuarakan fundamentalnya. Fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini terlihat baik ternyata tidak dapat menahan laju krisis yang berkepanjangan. Krisis tersebut muncul dari kepanikan investor internasional terhadap ketidak-stabilan pasar modal internasional. Kondisi ini diperparah dengan berlanjutnya krisis politik yang pada akhirnya membuat arah kebijakan pembangunan ekonomi menjadi kabur dan tidak terfokus. Tahun 2008/2009 kembali terjadi krisis, yaitu krisis Finansial Global. Krisis ini bersumber dari krisis suprime mortgage di Amerika Serikat. Hal tersebut juga berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia namun tidak separah krisis finansial Asia dalam arti cakupan dan dimensinya lebih terbatas dan lebih cepat. Usaha ekonomi produktif yang selama ini dijalankan sektor informal, ternyata telah menyelamatkan perekonomian selama krisis dan bertindak sebagai "katup pengaman'' perekonomian Indonesia (Sumodiningrat, 2004). Kemampuan 2 tersebut dikarenakan umumnya sektor informal memiliki fleksibilitas usaha yang tinggi dan jaminan keamanan terhadap permodalan dimana modal usaha lebih banyak bersumber pada modal sendiri dan bersifat lokal. Ekonomi informal sendiri mengalami pertumbuhan yang sangat cepat di negara-negara berkembang dan mulai banyak menarik perhatian akademisi, peneliti, aktivitis pembangunan sosial, dan perencana kebijakan. Umumnya diyakini bahwa pertumbuhan sektor ini dipicu oleh meningkatnya pengangguran di negara-negara berkembang. Angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008 mencapai 9.39 juta jiwa atau 8.39 % dari total angkatan kerja. Angka pengangguran turun dibandingkan posisi Februari 2008 sebesar 9.43 juta jiwa (8.46 %). Jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor informal masih mendominasi angkatan kerja nasional. Survei menunjukkan per Agustus 2008 terdapat 71.35 juta jiwa pekerja yang bekerja di sektor informal, dari total 102.55 juta jiwa angkatan kerja (Tempo, 2009). Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TNP 2 K menyatakan bahwa per Februari 2009 dari 104,49 juta orang yang bekerja, status pekerjaan utama yang terbanyak adalah sebagai buruh/karyawan sebesar 27.67 % atau 28.91 juta orang, berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 21.64 juta orang (20.71 %), dan berusaha sendiri sejumlah 20.81 juta orang (19.92 %), sedangkan yang terkecil adalah berusaha dibantu buruh tetap sebesar 2.97 juta orang (2.84 %). Jika dibanding keadaan setahun yang lalu, struktur pekerja menurut status pekerjaan relatif stabil namun ada kecenderungan peningkatan pada kelompok kegiatan informal, khususnya pada status berusaha sendiri dan pekerja keluarga. Menurut ILO (2004), terbatasnya lapangan kerja sektor formal dan terbatasnya skill pada sisi angkatan kerja menyebabkan pertumbuhan substansial pada sektor informal dimana sebagian pekerjanya dicirikan dengan pendapatan yang rendah dalam kondisi kerja yang buruk dan tidak teregulasi. Sektor informal adalah aktivitas skala kecil yang tidak diakui, tidak tercatat, dan tidak teregulasi yang mencakup usaha kecil, usaha rumah tangga, sektor wiraswasta kecil seperti pedagang kaki lima (selanjutnya disingkat PKL), penyemir sepatu, pengasong, dan sebagainya. 3 Tabel 1. Pekerja Menurut Status Pekerjaan, 2007-2009 (dalam juta orang) 2007 2008 2009 Status Pekerjaan Utama Agustus Pebruari Agustus Pebruari Berusaha sendiri 20.32 20.08 20.92 20.81 Berusaha dibantu buruh tidak tetap 21.02 21.60 21.77 21.64 Berusaha dibantu buruh tetap 2.88 2.98 3.02 2.97 Buruh/karyawan 28.04 28.52 28.18 28.91 Pekerja bebas di pertanian 5.92 6.13 5.99 6.35 Pekerja bebas di non pertanian 4.46 4.80 5.29 5.15 Pekerja keluarga 17.28 17.94 17.38 18.66 Total 99.93 102.55 102.55 104.49 Sumber : http://tnp2k.wapresri.go.id/data/ketenagakerjaan-indnesia.html Dicirikan dengan aktivitas produksi dan jasa skala kecil, sektor informal tidak dimasukkan dalam aktivitas ekonomi terorganisasi. Sebagian besar pekerja yang masuk ke dalam sektor ini adalah kaum migran dan motivasinya adalah memperoleh pendapatan yang mencukupi untuk bertahan hidup, menggantungkan pada sumberdaya yang dimilikinya untuk menciptakan pekerjaan (Singh, 2000). Mereka umumnya bekerja dalam jam kerja yang lama. Adalah sulit untuk mengestimasi besaran total dari sektor informal dan di negara-negara miskin, diperkirakan bahwa 50 % angkatan kerja menjalankan ekonomi informal (Gottdiener and Budd, 2005). Aspek-aspek tersebut sayangnya banyak diabaikan oleh otoritas kota karena PKL dipandang sebagai aktivitas illegal dan terkadang diperlakukan seperti kriminal. Studi menunjukkan bahwa hampir di semua negara-negara Asia, PKL tidak mempunyai status legal dalam menjalankan usahanya dan mereka terus mendapatkan tindakan kekerasan oleh pemerintah kota dengan program yang mengatasnamakan penertiban atau penataan (Bhowmik, 2005). Di sisi lain, peran yang dijalankan sektor informal termasuk PKL belum sepenuhnya diterima pemerintah kota. PKL lebih dipandang sebagai aktivitas non-profit, karena tidak 4 berkontribusi pada ekonomi lokal atau nasional melalui pajak. Mereka dimarginalkan dalam agenda pembangunan, dengan demikian terkena dampak buruk dari kebijakan makro sosio-ekonomi. Terbatasnya dukungan kebijakan membuat sektor ini tidak aman (Bhowmik, 2005), yang berdampak buruk pada mata pencaharian penduduk miskin urban. Mereka terkenal karena memberikan sebagian penduduk urban kebutuhan barang atau jasa yang tidak dapat disediakan oleh outlet ritel besar. Disamping fakta bahwa PKL adalah sumber mata pencaharian penting bagi penduduk miskin urban, PKL juga menempati badanbadan jalan dan trotoar dan tidak menyisakan cukup ruang bagi pejalan kaki. Kondisi ini menjadi perhatian publik karena menciptakan masalah kemacetan dan pergerakan orang di pedestrian, dan menciptakan lingkungan kotor dan kurang sehat. PKL yang menempati ruang dan jalan publik juga dapat menciptakan masalah sosial seperti hadirnya pencopet, pencuri, dan sebagainya. Situasi ini menciptakan masalah dalam pengelolaan, pembangunan dan merusak morfologi dan estetika kota. Adanya sektor informal dan formal di perkotaan menyebabkan munculnya kondisi dualistik pada kota-kota di Indonesia karena adanya perbedaan aspekaspek kehidupan kota. Dualistik merupakan kondisi dimana terjadi pertemuan antara dua kondisi atau sifat yang berbeda (Widjajanti, 2000). Pada aspek fisik kota, dualistik tersebut terjadi pada pembauran pola dan struktur rancang kota, seperti yang ditegaskan Sujarto dalam Widjajanti (2000), karakter dualistik tercermin dalam pola dan struktur kota-kota di Indonesia. Perkembangan kondisi dualistik harus diimbangi dengan kebijakan yang mengatur dan mengendalikan perkembangan tersebut, sehingga diharapkan nantinya tidak terjadi penurunan estetika kota. Hal yang perlu mendapat perhatian utama bahwa sektor informal ternyata tidaklah identik dengan kemiskinan, beberapa studi menunjukkan secara agregat pendapatan pada sektor informal dapat diperbandingkan dengan sektor formal dan bahkan lebih tinggi (Tinker, 1997; Suharto, 2003). Studi Suharto (2003) menunjukkan rata-rata keuntungan per bulan PKL di Bandung adalah Rp 1 610 580,-. Penerimaan ini jelas lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan yang 5 dibuat oleh World Bank sebesar $1 per hari per kapita atau di atas upah minimum regional untuk kota Jakarta sekalipun. Jadi jelas bahwa sektor informal khususnya PKL memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian sehingga perlu didukung dan difasilitasi. Becker (2004) mengatakan terdapat 13 aspek kunci dalam memandang sektor informal di antaranya adalah perlunya pemerintah memperhatikan dan memfasilitasi sektor ini serta perlunya perbaikan regulasi. Hanya saja selama ini para perencana/aparat pemerintah kota memandang PKL sektor informal lebih sebagai faktor negatif dalam pembangunan wilayah perkotaan. Pandangan negatif tersebut antara lain PKL sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya kemacetan, merusak tata kota (berjualan di tempat yang bukan peruntukannya, membuat lingkungan menjadi kumuh, meninggalkan sampah, pekerja ilegal, dan lain-lain). Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Firnandy (2002) merekomendasikan bahwa arah kebijakan pengembangan sektor informal memerlukan intervensi langsung maupun tidak langsung dari pemerintah. Timbul pertanyaan, apakah di level nasional atau di level pemerintah kota yang harus lebih dalam melakukan intervensi. Seiring diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU Nomor 32 tahun 2004, Pemerintah Pusat telah melimpahkan kewenangan yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah untuk mengurusi rumah tangganya. Kewenangan ini juga termasuk upaya penciptaan sistem governance yang baik dengan keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah Kota mempunyai peran yang sangat penting dalam memperbaiki keseluruhan kondisi yang berkaitan dengan keberadaan informal ekonomi perkotaan. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Soegijoko (1990) yang menyatakan pembangunan suatu wilayah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan yang pada akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, kota Bogor sebagai kawasan buffer bagi DKI Jakarta (ibukota negara Indonesia) juga mengalami permasalahan pengelolaan kota dengan tumbuh pesatnya PKL di kota ini. Seperti di kota lainnya, pertumbuhan sektor ini di kota Bogor semakin mendapat momen setelah terjadinya krisis ekonomi mulai pertengahan tahun 1997. Hasil pendataan oleh 6 Pemerintah Derah, pada tahun 1996 tercatat PKL di titik-titik pusat keramaian berjumlah 2140 pedagang, kemudian pada akhir tahun 1999 berdasarkan hasil survei pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) Kota Bogor jumlahnya hampir tiga kali lipat menjadi 6340 pedagang. Pada akhir tahun 2002 berdasarkan hasil pendataan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor jumlah PKL meningkat lagi menjadi 10350 pedagang, yang tersebar di 51 titik PKL, dimana 82 % dari para pedagang tersebut

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Resistensi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang Berdagang di Jalan Dr.Mansyur
18
121
130
Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif
7
69
295
Karakteristik dan permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta strategi penataan dan pemberdayaannya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi wilayah di kota Bogor
1
43
649
Strategi Penataan Pedagang Kaki Lima di Jalan Dewi Sartika Kota Bogor
1
15
207
Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif
0
29
145
POLA PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KOTA SURAKARTA BERDASAR PADUAN KEPENTINGAN PKL, WARGA MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH KOTA
1
3
10
FORMALISASI PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) KOTA SURAKARTA (Melalui Pendekatan Arsitektur Kota)
3
15
18
STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (Studi Kasus Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasarkl
0
1
16
PENDAHULUAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (Studi Kasus Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasarkliwon).
0
1
8
STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (Studi Kasus Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasarkl
0
2
17
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SHELTER GUYUB RUKUN MANAHAN KOTA SURAKARTA Strategi Komunikasi Dalam Penataan Pedagang Kaki Lima Di Shelter Guyub Rukun Manahan Kota Surakarta.
1
5
12
KAJIAN MODEL PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) BERBASIS PEDAGANG, KETERTIBAN DAN KEINDAHAN KOTA DI PROPINSI SUMATERA BARAT.
0
0
1
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DALAM PROGRAM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN TAMAN PINANG.
1
19
100
DAMPAK SOSIAL EKONOMI PENATAAN LINGKUNGAN BAGI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL)
0
0
9
PROFIL PEDAGANG KAKI LIMA DAN EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA
1
1
11
Show more