PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA

Gratis

0
12
49
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII SMP YBL Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015) Oleh NURIA FIANI Hasil belajar yang rendah dapat dijadikan sebuah indikator pemahaman siswa yang rendah terhadap suatu materi pembelajaran. Hal inilah yang terjadi di SMP YBL Natar Lampung Selatan dimana hasil belajar masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran thinkpair-share terhadap prestasi belajar siswa dalam hal ini adalah hasil belaajar siswa. Penelitian ini merupakan studi eksperimen semu dengan desain pretest dan posttest kelompok ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII A dan VII D yang dipilih dari populasi secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rata-rata nilai pretest dan posttest , dihitung selisihnya dan di peroleh N-gain yang dianalisis melalui uji anova dan uji U. Data kualitatif berupa gambaran data aktivitas belajar siswa, ii Nuria Fiani dan tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran TPS yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan TPS meningkatan hasil belajar siswa dengan ratarata N-gain yaitu 51,09. Rata-rata N-gain pada indikator yang mengalami peningkatan yaitu C1 14,37 dan indikator C4 sebesar 2,72. Aktivitas siswa pada kelas eksperimen untuk semua aspek yaitu mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, mempresentasikan hasil diskusi dan menyampaikan kesimpulan memperoleh rata-rata 85,26% dengan kriteria tinggi. Selain itu, sebagian besar siswa (86,29%) memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model pembelajaran think-pair-share. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajatan TPS terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Key word: klasifikasi benda, think-pair-share, hasil belajar iii PENGARUH PENGGUNAAN MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII SMP YBL Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015) Skripsi Oleh: NURIA FIANI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2015 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat .......................... 7 2. Desain penelitian pretest-posttest kelas ekuivalen............................... 19 3. Presentasi tanggapan siswa pada model TPS....................................... 34 4. Contoh jawaban siswa pada C1............................................................ 37 5. Contoh jawaban siswa pada C4............................................................ 38 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvii I. PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. G. Latar Belakang Masalah ....................................................................... Rumusan Masalah ................................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................... Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... Kerangka Pikir ..................................................................................... Hipotesis Penelitian .............................................................................. 1 4 4 5 5 6 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) ............... B. Hasil Belajar ......................................................................................... C. Aktivitas siswa ..................................................................................... 8 12 15 III. METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. Populasi dan Sampel ............................................................................ Desain Penelitian .................................................................................. Prosedur penelitian................................................................................ Jenis dan Teknik Pengambilan Data .................................................... Teknik Analisis Data ............................................................................ 18 18 18 19 24 25 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .................................................................................... B. Pembahasan .......................................................................................... 30 35 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan .............................................................................................. B. Saran .................................................................................................... 40 40 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 41 LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Silabus................................................................................................... Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... Lembar Kerja Kelompok ..................................................................... Soal Pretest dan Posttest ...................................................................... Data Hasil Penelitian ............................................................................ Angket Tanggapan siswa ...................................................................... Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ......................................... xiv 43 45 54 67 80 88 89 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Lembar observasi aktivitas siswa......................................................... 27 2. Interprestasi index aktivitas siswa........................................................ 29 3. Hasil uji normalitas dan homogenitas nilai pretestt, posttest, dan Ngain keterampilan proses sains siswa pada kelas eksperimen dan kontrol .................................................................................................. 31 4. Uji N-gain indikator kognitif siswa ..................................................... 32 5. Aktivitas siswa ..................................................................................... 33 6. Nilai pretes, postes dan N-Gain pada kelas Eksperimen...................... 80 7. Nilai pretes, postes dan N-Gain pada kelas kontrol ............................. 81 8. Tabel 8. N-gain per indikator kelompok eksperimen........................... 82 9. Hasil perhintungan aktivitas belajar siswa kelas eksperimen .............. 86 10. Hasil perhitungan aktivitas belajar siswa kelas control ....................... 87 11. Hasil perhitungan angket tangggapan siswa ........................................ 88 12. Hasil uji statistik uji normalitas skor gain kelas TPS (VIIA) ............. 89 13. Hasil uji normalitas data N-gain Kelas eksperimen............................. 90 14. Hasil statistik uji normalitas skor gain kelas kontrol(VIID) ............... 91 15. Hasil uji normalitas data N-gain kelas kontrol..................................... 91 16. Hasil uji statistik N-gain kelas eksperimen dan kelas kontrol ............ 92 17. Hasil uji Homogenitas data N-gain ...................................................... 92 18. Hasil uji anova N-gain ......................................................................... 92 Moto Orang akan melupakan apa yang kamu katakan, orang juga akan melupakan apa yang kamu kerjakan, tapi orang tidak akan pernah lupa ketika kamu membuat mereka merasa berarti (Penulis) Bermimpi itu gratis maka bermimpilah, kemudian berjuang dan berusahalah untuk mewujudkannya (Penulis) Tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik (Tere Liye) PERSEMBAHAN Segala puji hanya milik Allah SWT, untuk segala rahmat dan nikmat-Nya yang tak berujung, pemberi kekuatan besar untuk terus bangkit bahkan di saat-saat kalah. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah SAW, sang teladan dalam segala bentuk kebajikan. Kupersembahkan karya ini sebagai bentuk bukti cinta dan kasihku kepada: Yang sangat aku cintai Bapak dan Ibu, sungguh aku sangat berterimakasih karena doa tulus, kerja keras, senyum perngertian, dan dukungan semangat untuk membuatku kembali berlari. Ribuan terima kasih tak akan pernah cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku untuk dapat lahir dari orangtua seperti kalian. Seluruh Guruku, Dosen dan Pembimbing, karena tanpa mereka aku bukan apa-apa. Adik-adikku, Dany Dwi Prayogi dan Tri Cahyo Abi Manyu, untuk semua dukungan semangat yang diberikan . Serta almamater tercinta, Universitas Lampung. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Braja Gemilang, 10 Mei 1989 yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Muhajir, S. Pd. dan Ibu Aminah, S. Pd. Alamat Braja Gemilang, Way Jepara, Lampung Timur (34196) nomor telpon: 085669629196 Pendidikan formal pertama yang ditempuh penulis di SD Negeri 1 Braja Gemilang (1995-2001) dan dilanjutkan di SMP Negeri 1 Braja Selebah, (20012004). Kemudian penulis menamatkan jenjang pendidikan menengahnya pada tahun 2007 di SMA Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur (2004-2007). Pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis terdaftar sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Universitas Lampung (UKM KSR PMI Unit Unila). Penulis pernah menjabat sebagain sekertaris Divisi Kesekretariatan (2010-2011) dan Bendahara Umum (2011-2012) di UKM KSR PMI Unit Unila. Penulis yang tergabung dalam Satuan Tugas penanggulangan Bencana pernah menjadi relawan bencana alam Gunung Merapi di Jogjakarta pada 2010. Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Bandar Lampung. Selain itu penulis melaksanakan penelitian di SMP YBL Natar, Lampung Selatan untuk meraih gelar sarjana pendidikan/S.Pd. (Tahun 2014). SANWACANA Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “PENGARUH PENGGUNAAN MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII SMP YBL Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015)” Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi sekaligus Pembimbing II atas saran perbaikan dan motivasinya yang berharga; 4. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai 5. Dr. Arwin Surbakti, M.Si., selaku Pembahas yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai; xi 6. Hi. Sudarto, S. Pd., M.M.., selaku Kepala SMP YBL Lampung dan Nur Muntahana, S.Pd., selaku guru mitra, yang telah memberikan izin dan bantuan selama penelitian serta motivasi yang sangat berharga; 7. Seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas VII A dan VII D SMP YBL Natar, Lampung Selatan atas kerjasama yang baik selama penelitian berlangsung; 8. Nenek ku, Parinah; Om dan Tanteku, Hartadi, S.Pd., Ria Marnita, S.Pd., Yuliati, Sri Winarti, Aisiyah, Wahyono, dan Budeku Painten, S.Pd.; Sepupuku, Deriyana,S.Pd., Sigit Prasetyo, S.H., Ernawati, Mustopa, S.Pd. Lita Wara A., Givent M’zu, Iksan Febrian dan Rafa Adirhea Wardana atas doa, cinta dan semangat yang selalu mengiringi langkahku. 9. Sahabatku Septiya Eka P.R., S. P., dan Novita Rellyani, S. Kom., atas kebersamaan dan dukungan yang tak pernah putus. 10. Rekan-rekan Mahasiswa Pendidikan Biologi 2007, kakak dan adik tingkat Pendidikan Biologi FKIP UNILA atas persahabatan yang luar biasa. 11. Keluarga Besar UKM KSR PMI Unit Unila, atas semua pengalaman, kebersamaan dan keceriaan yang sangat berharga. 12. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Amin. Bandarlampung, Januari 2015 Penulis Nuria Fiani xii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kelangsungan hidup sebuah bangsa. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yaitu generasi penerus bangsa yang berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill. Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Depdiknas, 2003: 1). Untuk itu setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan sebagai bekal hidupnya dimasa yang akan datang. Sebagaimana diketahui perhatian terhadap pendidikan dirasa kurang mengingat pentingnya bagi kelangsungan hidup sebuah bangsa. Pendidikan masih menghadapi masalah-masalah dalam pelaksanaanya baik dari sistem maupun perangkat pendidikan itu sendiri. Beberapa masalah yang dapat kita lihat antara lain hasil belajar siswa yang masih rendah, pengajar kurang profesional, dan biaya pendidikan yang mahal (Muliani, 2009: 1). Dampak dari kurangnya 2 perhatian terhadap pendidikan membuat pendidikan akan semakin terpuruk sehingga bangsa ini tidak mampu bersaing di dunia internasional. Dalam pendidikan di sekolah, masalah yang sering dihadapi adalah dari segi proses pembelajaran. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa. Oleh karena itu guru dituntut mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah terutama mengenai penguasaan materi pembelajaran siswa sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar disekolah yang belum maksimal seperti yang telah disampaikan terlihat dari rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini juga terjadi pada mata pelajaran IPA biologi di SMP Yayasan Badrullah Latif (YBL) Natar. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di kelas VII SMP YBL Natar Lampung Selatan, diketahui bahwa hasil belajar siswa sangat kurang, hal ini dikarenakan guru masih menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajarannya. Dari data yang diperoleh pada tahun pelajaran 2013/2014, hanya 47% siswa kelas VII SMP YBL Natar yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hasil ulangan harian tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan kriteria ketuntasan belajar yaitu 100% siswa yang memperoleh nilai ≥70. Dengan memberdayakan model pembelajaran yang sesuai, diharapkan dapat membantu siswa untuk mencapai standar ketuntasan belajar minimal di sekolah yaitu ≥70. Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa adalah dengan 3 menggunakan model pembelajaran yang menarik yaitu penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Pada pembelajaran kooperatif tipe TPS ini, siswa belajar dengan berpasangan sehingga siswa memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan teman sebaya (pasangannya). Dengan berpikir berpasangan maka siswa akan terdorong untuk menemukan dan memahami konsep apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan pasangannya. Selain memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran model pembelajaran ini juga memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain sehingga dapat mengoptimalisasi partisipasi siswa dalam proses belajar. Model pembelajaran TPS ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2004). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai dampak positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya (Lundge dalam Saminan, 2001: 20). Madden (dalam Slavin, 2008: 94) menambahkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan semangat belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pembelajaran kooperatif yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian Pramudiyanti (2006: 430) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan model TPS, yaitu meningkat sebesar 83,78%. Selain itu, Yulfisa (2007: 35) dalam penelitian tindakan kelasnya menyimpulkan bahwa TPS mampu meningkatkan presentase nilai rata-rata penguasaan konsep siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 13,7% dan siklus 2 ke 3 sebesar 4,4%. 4 Berdasarkan penelitian di atas diharapkan model pembelajaran TPS ini juga mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran biologi pada materi Klasifikasi Benda. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini: 1. Apakah ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Think Pair Share terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda? 2. Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: 1. Pengaruh penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda. 2. Pengaruh model Think-Pair-Share terhadap peningkatan aktivitas siswa pada materi Klasifikasi Benda. 5 D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Peneliti yaitu untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam pembelajaran Biologi dengan model pembelajaran Think-Pair-Share terhadap kemampuan hasil belajar siswa. 2. Guru, yaitu untuk dapat memberikan alternatif dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar. 3. Siswa, yaitu untuk dapat memberikan pengalaman belajar secara langsung dalam mempelajari materi pokok Klasifikasi Benda 4. Sekolah yaitu untuk memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan pembelajaran biologi disekolah melalui model pembelajaran Think-PairShare. E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini: 1. Model Think-Pair-Share, adapun langkah-langkah model pembelajaran TPS adalah berpikir (Thinking) atas informasi yang diberikan guru, berpasangan (Pairing) dengan teman sebangku untuk berdiskusi, dan berbagi (Sharing) dengan seluruh kelas atas hasil diskusinya. 2. Prestasi belajar yang diamati dalam penelitian ini adalah hasil belajar aspek kognitif siswa yang berupa nilai tes awal dan tes akhir. 3. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. 4. Materi dalam penelitian ini adalah Klasifikasi Benda. 6 5. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII D sebagai kelas kontrol SMP YBL Natar Lampung Selatan Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014-2015. F. Kerangka Berpikir Keberhasilan dalam suatu pembelajaran ditentutukan oleh beberapa faktor salah satunya adalah penggunaan media, model atau model pembelajaran yang tepat dalam proses belajar. Selain itu guru bukanlah satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran, tetapi guru juga berperan sebagai fasilitator agar siswa mampu menggali informasi dari berbagai aspek dalam proses belajar sehingga pengetahuan siswa tidak terbatas dari apa yang disampaikan guru. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru yaitu penggunaan model pembelajaran yang bervariasi untuk menyampaikan materi pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan dan dapat memberikan pengalaman belajar yang berarti pada siswa. Penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran. Penyampaian materi dengan menggunakan model Think-Pair-Share dengan LKS yang dibuat oleh guru dengan penyajian yang menarik sehingga siswa akan lebih antusias dalam proses pembelajaran. Selain itu penggunaan model pembelajaran TPS dirasa tepat digunakan untuk menyampaikan materi yang bersifat ilmiah seperti biologi dengan langkah-langkah pembelajaran yaitu penyampaian tujuan pembelajaran, kegiatan berpasangan, kuis, dan presentasi. Pengalaman belajar ini diharapkan akan membuat siswa lebih termotivasi untuk membangun 7 pengetahuannya. Dan pada akhirnya penggunaan model pembelajaran ThinkPair-Share ini diharapkan dapat berdampak positif terhadap prestasi belajar ranah kognitif siswa. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah variabel bebas yaitu model pembelajaan TPS dan variabel Y adalah variabel terikat yaitu kemampuan hasil belajar siswa pada materi Klasifikasi Benda. Hubungan antara variabel tersebut digambarkan dalam diagram berikut ini: Y1 X Y2 Gambar 1. Keterangan: X= Model pembelajaran TPS Y1= Hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda. Y2= Aktivitas belajar siswa G. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah : H0= Tidak ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda H1= Ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) Think-Pair-Share (TPS) adalah suatu struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Profesor Frank Lyman di Universitas Meryland pada tahun 1981 dan diadopsi oleh banyak penulis sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif. Huda (2014) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah sebagai berikut. 1. Positive interdependence (saling ketergantungan positif) Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggung jawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut. 2. Promotive interaction (interaksi promotif) Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri-ciri interaksi promotif adalah saling membantu secara efektif dan efisien, saling bertukar dan memproses informasi yang dibutuhkan secara effektif dan efisien, saling berpendapat, saling memberikan 9 feedback untuk mengimprovisasi performa yang mungkin kurang, saling percaya, dan saling saling berusaha dan saling menjaga emosi. 3. Individual Accountability (tanggung jawab individu) Pada hakikatnya tujuan pembelajaran kooperatif selain untuk membangun interaksi yang positif adalah menciptakan individu-individu yang memiliki kepribadian dan tanggung jawaba yang besar. Untuk itulah akuntabilitas individu menjadi kunci untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok benar-benar bisa diperkuat kepribadiannya dengan belajar bekerja sama. Setelah berpartisipasi dalam tugas-tugas kelompok masingmasing anggota seharusnya lebih bisa siap untuk menghadapi tugas-tugas selanjutnya secara individu. 4. Interpersonal skill and small-group skils ( Keterampilan Interpersonal dan Kelompok Kecil) Untuk mengkoordinasikan kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan siswa harus adalah saling mengenal dan mempercayai, mampu berkomunikasi dengan jelas dan tidak ambigu, saling menerima dan saling mendukung, serta mampu mendamaikan setiap perdebatan yang melahirkan konflik. 5. Group processing (pemrosesan kelompok) Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Siapa di antara anggota kelompok yang sangat membantu dan siapa yang tidak membantu. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. 10 Ada dua tingkat pemrosesan yaitu kelompok kecil dan kelas secara keseluruhan TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa agar tercipta suatu pembelajaran yang kooperatif yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan siswa. Prosedur pembelajaran yang digunakan dalam TPS ini dapat memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk berpikir, untuk merespon dan saling membantu satu sama lain. TPS memiliki keunggulan dibanding dengan metode tanya jawab, karena TPS mengedepankan aspek berpikir secara mandiri, tanggung jawab terhadap kelompok, kerjasama dengan kelompok kecil, dan dapat menghidupkan suasana kelas (Nurhadi dan Senduk, 2004: 67). TPS dapat mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Waktu berpikir akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan jawaban. Siswa akan dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lebih berkaitan. Jawaban yang dikemukakan juga telah dipikirkan dan didiskusikan. Siswa akan lebih berani mengambil resiko dan mengemukakan jawabannya di depan kelas dan karena mereka telah “mencoba” dengan pasangannya. Proses pelaksanaan TPS akan membatasi munculnya aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran karena siswa harus mengemukakan pendapatnya, minimal pada pasangannya (Lyman, 2002: 2). 11 Menurut Arends ( dalam Trianto, 2007 : 61) menyatakan bahwa langkah langkah dalam penerapan TPS yaitu: 1. Langkah 1: berfikir (Thinking) Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. 2. Langkah 2: berpasangan (Pairing) Selanjutnya guru meminta siswa berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberikan waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. 3. Langkah 3 : berbagi (Sharing) Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruh kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif sampai sekitar sebagaian pasangan mendapatkan kesempatan untuk melaporkan. Singkat dan padatnya aktivitas pada masing-masing tahapan membuat siswa benar-benar merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahannya, hal ini memberikan nilai yang positif seperti yang diungkapkan oleh Suardi dalam Sardiman (2005: 17) yang menyatakan bahwa pembatasan waktu merupakan salah satu hal yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menyelesaikan tugas belajarnya. Pembelajaran kooperatif tipe TPS juga dapat mengatur dan mengendalikan kelas secara keseluruhan, 12 serta memungkinkan siswa untuk mempunyai lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Selain itu dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat mempertimbangkan apa yang telah dijelaskan dan dialaminya selama pembelajaran (Trianto, 2007: 61). Tahapan pelaksanaan TPS tersebut efektif dalam membatasi aktifitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, serta dapat memunculkan kemampuan dan keterampilan siswa yang positif. Pada akhirnya TPS akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir secara terstruktur dalam diskusi mereka dan memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri ataupun dengan orang lain melalui keterampilan berkomunikasi. B. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati dan Mujiono, 2002: 3). Suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan dari proses belajar mengajar tersebut. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Djamarah dan Zain (2006: 105) yaitu Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi , baik secara individual maupun kelompok dan perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran yang telah dicapai, baik secara individual maupun kelompok.” 13 Dengan berakhirnya suatu proses pembelajaran, maka siswa memperoleh hasil belajar. Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang disampaikan. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses belajar- mengajar antara guru dan siswa. Hasil belajar yang bisa dipreoleh siswa setelah pembelajaran dapat berupa informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Gagne (dalam Dimyati dan Mujiono, 2002: 10) menyatakan kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa: 1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan. 2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan definisi, dan prinsip. 3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. 4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. 5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. 14 Hasil belajar dari ranah kognitif mempunyai hirarki atau tingkatan dalam pencapaiannya. Adapun tingkat-tingkat yang dimaksud adalah: (1) informasi non verbal, (2) informasi fakta dan pengetahuan verbal, (3) konsep dan prinsip, dan (4) pemecahan masalah dan kreatifitas. Informasi non verbal dikenal atau dipelajari dengan cara penginderaan terhadap objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan pengetahuan verbal dikenal atau dipelajari dengan cara mendengarkan orang lain dan dengan jalan membaca. Semuanya itu penting untuk memperoleh konsepkonsep. Selanjutnya, konsep-konsep itu penting untuk membentuk prinsipprinsip. Kemudian prinsip-prinsip itu penting di dalam pemecahan masalah atau di dalam kreativitas (Slameto, 1991: 131). Berdasarkan rumusan Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002: 23-28) ranah kognitif terdiri dari 6 jenis perilaku sebagai berikut : 1. Remember, mencakup ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. 2. Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari. 3. Apply, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. 4. Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagianbagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. 5. Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. 6. Create, mencakup kemampuan menbentuk suatu pola baru. 15 Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok, ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut. C. Aktivitas Belajar Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Aktivitas sangat diperlukan dalam proses belajar agar kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri (Hamalik, 2004: 171). Melalui aktivitas, siswa dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. 16 Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Aktivitas siswa tidak cukup hanya dengan mendengarkan atau mencatat seperti yang lazim dilaksanakan selama ini. Akan tetapi perlu adanya aktivitas-aktivitas positif lain yang dilakukan oleh siswa. Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007: 100-101) membuat suatu data yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. ”Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. Oral activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. Listening activities, sebagai contoh, mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan. Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup”. Dalam proses pembelajaran, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikirkan, diolah kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk berbeda. Atau siswa akan bertanya, mengajukan pendapat, menimbulkan diskusi dengan guru. Dalam berbuat siswa dapat menjalankan perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik, diagram, intisari dari pelajaran yang disajikan oleh guru. Bila siswa menjadi 17 partisipasi yang aktif, maka ia memiliki ilmu/pengetahuan itu dengan baik (Slameto, 2003: 36). Dalam suatu proses pembelajaran, penting bagi siswa untuk melakukan berbagai aktivitas yang relevan. Menurut Djamarah dan Zain (2006: 40) menyatakan bahwa anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Aktivitas anak didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif. Inilah yang sesuai dengan konsep CBSA. Jadi, tidak ada gunanya melakukan kegiatan belajar mengajar, kalau anak didik hanya pasif. Karena anak didiklah yang belajar, maka merekalah yang harus melakukannya. Belajar bukanlah hanya sekedar menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar siswa harus dapat mendorong agar siswa beraktivitas melakukan sesuatu. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental (Sanjaya, 2009: 170). Aktivitas fisik ialah peserta didik giat-aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Peserta didik yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah, jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran (Rohani, 2004: 6). III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di SMP YBL Natar Lampung Selatan pada bulan November 2014. B. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VII A – VII D SMP YBL Natar Lampung Selatan Tahun Ajaran 2014/2015, pada materi pokok Klasifikasi Benda. Untuk kepentingan penelitian ini, sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling dengan mengambil dua kelas dari tiga kelas yang ada dan diperoleh kelas VII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII D sebagai kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 39 siswa. (Margono, 2005: 127). C. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes tak ekuivalen. Kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen menggunakan kelas yang ada dan satu level dengan kondisi yang homogen. Kelas eksperimen diberiperlakuan menggunakan model pembelajaran TPS dengan media LKS, sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan pembelajaran 19 menggunakan media LKS dengan diskusi. Struktur desain penelitian ini adalah sebagai berikut: Kelompok pretes perlakuan postes I O1 X O2 II O1 C O2 Gambar 2. Desain pretes-postes kelompok ekuivalen Keterangan : I = Kelompok eksperimen; II = Kelompok kontrol; O1 = Pretest; .O2 = Postes; X = Perlakuan dengan model TPS; C = Perlakuan dengan diskusi (Dimodifikasi dari Riyanto, 2001: 43). D. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Ada pun langkah-langkah dari tahap tersebut sebagai berikut: 1. Prapenelitian Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian sebagai berikut: a. Membuat surat izin penelitian pendahuluan (observasi) kesekolah. b. Mengadakan observasi kesekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti. c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen. d. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk setiap pertemuan. 20 e. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal pretes dan postes berupa soal pilihan jamak dan uraian. f. Membuat lembar observasi aktivitas siswa. g. Membuat angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan model TPS. 2. Pelaksanaan Penelitian Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan penggunaan model pembelajaran (TPS) untuk kelas eksperimen dan penggunaan model diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dan kedua membahas Klasifikasi Benda dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: a. Kelas Eksperimen 1) Pendahuluan a. Siswa mengerjakan pretest pada pertemuan I mengenai: Klasifikasi Benda. b. Siswa digali pengetahuan awalnya dengan pertanyaan 1) Pertemuan I : Meminta siswa berjalan dan kemudian melihat apakah meja dapat bergerak seperti yang merekalakukan. Mengapa demikian? 2) Pertemuan II: Memperlihatkan gambar pertumbuhan biji dan gambar batu yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Mengapa demikian? c. Siswa diberikan motivasi: 21 1) Pertemuan I: Siswa ditunjukkan bagaimana burung memiliki berbagai jemis paruh untuk beradaptasi. 2) Pertemuan II: Ditunjukkan gambar bagaimana bayi tumbuh menjadi dewasa dan bunga yang berkembang d. Siswa diinformasikan tentang indikator dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. 2) Kegiatan inti a) Guru memberikan uraian materi b) Guru membagikan LKS kepada setiap siswa kemudian meminta siswa untuk berpikir (thinking) selama 2 menit tentang jawaban dari pertanyaan dalam LKS tersebut. c) Guru meminta siswa untuk berpasangan (pairing) dengan teman sebangkunya untuk saling mengutarakan hasil pemikirannya, jawaban, atau gagasan atas pertanyaan yang ada dalam LKS selama 5 menit. d) Guru menunjuk beberapa pasang siswa untuk mengemukakan (sharing) hasil diskusinya pada seluruh kelas. e) Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan menambahkan materi yang belum diungkapkan siswa, serta mengarahkan diskusi untuk mengambil kesimpulan. f) Membahas masalah-masalah yang ada di dalam LKS yang belum dapat ditemukan oleh siswa bersama dengan guru. 22 3) Penutup a. Siswa bersama guru merangkum kegiatan pembelajaran pada pertemuan tersebut dan guru memberikan umpan balik terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. b. Siswa mengerjakan posttest pada pertemuan terakhir. c. Siswa mengumpulkan hasil posttest yang telah dikerjakan. b. Kelas Kontrol 1) Pendahuluan a. Siswa mengerjakan pretest pada pertemuan I mengenai: Klasifikasi Benda. b. Pengetahuan awal siswa digali oleh guru dengan pertanyaan 1. Pertemuan I : Meminta siswa berjalan dan kemudian melihat apakah meja dapat bergerak seperti yang merekalakukan. Mengapa demikian? 2. Pertemuan II: Memperlihatkan gambar pertumbuhan biji dan gambar batu yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Mengapa demikian? c. Siswa diberikan motivasi: 1. Pertemuan I: Siswa ditunjukkan bagaimana burung memiliki berbagai jemis paruh untuk beradaptasi. 2. Pertemuan II: Ditunjukkan gambar bagaimana bayi tumbuh menjadi dewasa dan bunga yang berkembang 23 2) Kegiatan inti a. Siswa diminta duduk dalam kelompoknya masing-masing 6 orang (pembagian kelompok dilakukan pada hari sebelumnya, yang terdiri dari 6 kelompok). b. Siswa memperoleh Lembar Kerja Kelompok (LKK) pertemuan I dan pertemuan II. c. Siswa dibimbing dalam mengerjakan Lembar Kerja Kelompok (LKK). d. Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan LKK, siswa mengumpulkan LKK. e. Perwakilan dari masing- masing kelompok dipilih dan LKK yang telah dikumpulkan diberikan kepada kelompok yang presentasi untuk maju mempresentasikan hasil diskusinya secara bergantian, setiap kelompok melakukan presentasi hasil diskusi mereka, dan kelompok yang lain memberikan tanggapan. f. Mendengarkan penguatan dari guru dengan menjelaskan materi yang belum dipahami oleh siswa. 3) Penutup a. Siswa bersama guru merangkum materi yang telah berlangsung dan memberi informasi tentang materi untuk pertemuan yang akan datang serta memberikan umpan balik terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. b. Melakukan evaluasi dengan memberikan posttest yang sama dengan soal pretest di pertemuan terakhir. 24 E. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah: 1. Jenis Data a. Data Kuantitatif Data kuantitatif yaitu berupa hasil belajar siswa pada materi pokok Klasifikasi Benda yang diperoleh dari nilai pretes dan postes. Kemudian dihitung selisih antara nilai pretes dengan postes, lalu dianalisis secara statistik. Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Meltzer, dalam Coletta dan Phillips (2005: 1172) yaitu: Skor N-gain = X  Y  100 ZY Keterangan : X = nilai postes; Y = nilai pretes; Z = skor maksimal. b. Data Kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas siswa. 2. TeknikPengambilan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut: a. Pretes dan Postes Data kemampuan hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran 25 pada pertemuan ketiga setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol. Bentuk soal yang diberikan adalah berupa soal pilihan jamak dan uraian. Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu S = R  100 N Keterangan : S = Nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008 : 112). b. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Lembar observasi aktivitas siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Aspek yang diamati yaitu: aktivitas siswa bekerjasama dengan teman, melakukan kegiatan diskusi, mempresentasikan hasil diskusi kelompok. F. Teknik Analisis Data Data penelitian berupa nilai pretes, postes, dan skor N-gain. Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Meltzer (dalam Coletta dan Phillips, 2005: 1) yaitu: Skor N-gain = XY  100 ZY Keterangan : X = rata-rata nilai postes; Y = rata-rata nilai pretes; Z = skor maksimal. 26 Nilai pretest, posttest, dan skor N-gain pada kelompok kontrol dan eksperimen dianalisis menggunakan uji anova dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa: 1. Uji Normalitas Data Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji Lilliefors dengan program SPSS versi 17. a. Hipotesis Ho : Sampel berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berdistribusi normal b. Kriteria Pengujian Terima Ho jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak Ho untuk harga yang lainnya (Pratisto, 2004: 5). 2. Kesamaan Dua Varian Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan dengan menggunakan program SPSS versi 17. a. Hipotesis Ho : Kedua sampel mempunyai varian sama H1 : Kedua sampel mempunyai varian berbeda b. Kriteria Uji - Jika Fhitung< Ftabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima - Jika Fhitung> Ftabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak (Pratisto, 2004: 71). 27 3. Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis digunakan uji F atau uji Anova. Uji F digunakan apabila sampel berdistribusi normal. Sedangkan uji U digunakan apabila sampel berdistribusi tidak normal. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17. A. Uji hipotesis dengan uji F (Uji Anova one-way) Rumus Uji F seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2003: 47) sebagai berikut : F R 2 ( N  m  1) m(1  R 2 ) Keterangan: N = banyak sampel, m = banyak predictor, R = koefisien korelasi antara kriterium dengan prediktor. Koefisien korelasi ganda dikatakan signifikan apabila F tabel< F hitung dengan derajat signifikasi 5%. 1. Hipotesis H0 : Rata-rata kedua perlakuan tidak berbeda secara signifikan H1 : Rata-rata kedua perlakuan berbeda secara signifikan 2. Kriteria Uji  Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima  Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak B. Uji Hipotesis dengan uji U 1. Hipotesis Ho : Rata-rata N-gain kedua sampel sama H1 : Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama 2. Kritria Uji -Jika –Ztabel0,05, maka Ho diterima. 28 -Jika Zhitung<-Ztabel atau Zhitung >Ztabel atau p-value <0,05, maka Ho ditolak (Martono, 2010: 158). 4. Pengolahan Data Aktivitas Siswa Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis menggunakan indeks aktivitas siswa. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu: a. Menghitung Skor aktivitas menggunakan rumus: ∑ Xi X = x 100 n Tabel 1. Lembar Observasi Aktivitas Siswa No Nama Aspek yang diamati A B C Xi X D 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 1 2 3 dst .. Jumlah (Xi) Sumber: dimodifikasi dari Carolina (2010: 29) Keterangan: X= Persentase aktivitas siswa; ∑ Xi= Jumlah skor yang diperoleh; n= Jumlah skor maksimum (dimodifikasi dari Sudjana, 2002: 69). 29 A. Kemampuan mengajukan pertanyaan Skor 0 1 2 Indikator tidak mengemukakan pertanyaan mengajukan pertanyaan tetapi tidak mengarah pada permasalahan mengajukan pertanyaan yang mengarah dan sesuai dengan permasalahan. B. Mengumpulkan data Skor 0 1 2 Indikator tidak mengumpulkan data (diam saja) mengumpulkan data dengan asal-asalan (tidak sesuai dengan hasil pengamatan. mengumpulkan data sesuai dengan hasil pengamatan C. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok Skor 0 1 2 Indikator siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan cara yang kurang sistematis, dan tidak dapat menjawab pertanyaan. siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan cara yang kurang sistematis tetapi dapat menjawab pertanyaan dengan benar. siswa dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan sistematis dan dapat menjawab pertanyaan dengan benar. D.Menyampaikan kesimpulan Skor 0 1 2 Indikator tidak membuat kesimpulan membuat kesimpulan tetapi tidak lengkap dan tidak sesuai dengan hasil diskusi membuat kesimpulan lengkap dan sesuai dengan hasil diskusi b.Menafsirkan atau menentukan katagori Indeks Aktivitas Siswa sesuai pada Tabel 2. Tabel 2. Interprestasi Indeks Aktivitas Siswa Kategori indeks aktivitas siswa 0,00 – 29,99 30,00 – 54,99 55,00 – 74,99 75,00 – 89,99 90,00 – 100,00 Interprestasi Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Sumber: dimodifikasi dari Hake (dalam Coletta dan Phillips, 2005: 5) V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di SMP YBL Natar dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar siswa pada materi Klasifikasi Benda. 2. Aktivitas belajar siswa pada materi Klasifikasi Benda dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih tinggi dari pada p

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (49 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
10
72
34
PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS)
2
35
47
PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS)
0
12
47
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA
0
12
49
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN PENGUASAAN MATERI POKOK CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP
1
11
72
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 RUKTI HARJO
1
11
61
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
0
0
9
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA
0
0
9
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS IV SEKOLAH DASAR
0
0
8
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA SMA
0
0
10
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn SD
0
0
8
PENGARUH MODEL THINK PAIR SHARE BERBANTUAN MEDIA POSTER MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP
0
0
15
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE
0
0
16
1 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA SMAN 2 TEBAS
0
0
8
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MATERI SISTEM GERAK MANUSIA KELAS VIII MTs AN-NUR PALANGKARAYA
0
0
130
Show more