PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA

Gratis

4
35
82
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 Pada Materi Pokok Ciri-ciri Makhluk Hidup) Oleh MILA VANALITA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap kemampuan komunikasi lisan dan hasil belajar aspek kognitif siswa. Penelitian ini menggunakan desain pretes-postes kelompok tak ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII A dan VII B yang dipilih dari populasi secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa rata-rata nilai kemampuan komunikasi lisan siswa dan angket tanggapan siswa yang dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif diperoleh dari rata-rata nilai pretes, postes dan gain, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji-t dan uji U pada taraf kepercayaan 0,05. Mila Vanalita Hasil penelitian menunjukkan rata-rata siswa kelas eksperimen memiliki kemampuan komunikasi lisan dengan kriteria baik (81,48± 5,13). Dalam setiap aspek kemampuan komunikasi lisan rata-rata siswa (menunjukkan etika, kesediaan menghargai pendapat orang lain, kelancaran, pemahaman isi materi dan penggunaan bahasa) yang baik. Siswa menunjukkan etika berbicara dengan kriteria “baik” (77,16± 6,11) dengan mengucapkan salam dan terimakasih ketika mengawali dan mengakhiri pembicaraan. Siswa menunjukkan kesediaan menghargai pendapat orang lain dengan kriteria “baik” (80,86± 0,87) dengan mendengarkan dengan seksama pendapat siswa lain dan ketika terjadi perbedaan pendapat mereka tidak saling memaksakan pendapatnya, melainkan bersamasama mendiskusikan perbedaan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang padu. Siswa memiliki pemahaman isi materi dengan kriteria “sangat baik” (87,04± 0,87) sehingga dapat menyampaikan materi dengan kelancaran yang berkriteria “baik” (86,42± 5,24), tidak terbata-bata serta penggunaan bahasa dengan kriteria “baik” (75,93± 6.11) yaitu dengan berbahasa yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Hasil belajar siswa mengalami peningkatan, dengan rata-rata nilai gain berkriteria baik (0,57± 0,18). Sebagian besar siswa (96,30 %) memberikan tanggapan positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan komunikasi lisan dan hasil belajar siswa. Kata kunci : hasil belajar, komunikasi lisan, pembelajaran kooperatif Jigsaw ARUH MOD DEL PEMB BELAJAR RAN KOOP PERATIF T TIPE JIGSA SAW PENGA TER RHADAP KEMAMPU K UAN KOM MUNIKASI LISAN DA AN HASIL L SISWA B BELAJAR (Studi Eksperimeen Pada Sisswa Kelas VII V SMP Negeri N 3 Naatar Semestter Genap Tahun Pelajaran 2013 3/2014 Padaa Materi Pookok Ciri--ciri Makhlluk Hidup)) (Skripsi) Oleh h Mila Van nalita FAKULT TAS KEGU URUAN DA AN ILMU PENDIDIK KAN UNIV VERSITAS LAMPUNG BA ANDAR LA AMPUNG 2014 4 PENGA ARUH MOD DEL PEMB BELAJAR RAN KOOP PERATIF T TIPE JIGSA SAW TER RHADAP KEMAMPU K UAN KOM MUNIKASI LISAN DA AN HASIL L B BELAJAR SISWA (Studi Eksperimeen Pada Sisswa Kelas VII V SMP Negeri N 3 Naatar Semestter Genap Tahun Pelajaran 2013 3/2014 Padaa Materi Pookok Ciri--ciri Makhlluk Hidup)) h Oleh M MILA VAN NALITA Skripsi Sebagai Salah Saatu Syarat untuk Men ncapai Gelaar SARJJANA PEN NDIDIKAN N Pada a Program m Studi Pend didikan Bioologi Ju urusan Pen ndidikan Matematika M dan Ilmu Pengetahua P an Alam FAKULT TAS KEGU URUAN DA AN ILMU PENDIDIK KAN UNIV VERSITAS LAMPUNG BA ANDAR LA AMPUNG 2014 4 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sidowaras pada tanggal 3 Juni 1993, merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Maknudin dan Ibu Ratna Wati. Tempat tinggal penulis di Kelurahan Sidowaras, Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah. (CP: 085768804116) Pendidikan yang ditempuh penulis adalah SD Negeri Sidowaras (1998-2004), SMP Negeri 2 Bumiratu Nuban (2004-2007), SMA Negeri 3 Metro (2007-2010). Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama menjadi mahasiswa di Universitas Lampung, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Biologi Dasar dan Struktur Perkembangan Tumbuhan serta menjadi Finalis Lomba Mikroteaching Nasional dalam rangka BFUB IV di Universitas Pendidikan Indonesia. Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 3 Sumberjaya dan Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di desa Sindang Pagar, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2013. MOTTO   Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Niscaya akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya (Ath-Thalaq 65:4) “Jika kau memandang orang yang lebih tua, ingatlah dia lebih banyak amal ibadahnya dari pada kau. Jika kau memandang orang yang lebih muda, ingatlah dia lebih sedikit dosanya dari pada kau” (Al-Manshurin) Kesuksesan tidak ada yang datang dengan serta-merta. Melewati proses yang panjang dan membutuhkan perjuangan. Kesabaran adalah syaratnya, Keikhlasan adalah nyawanya dan Rasa Syukur adalah obatnya. (Deassy M. Destiani) Sukses itu datang di tempat dan waktu yang tepat (Dr.Tri Jalmo, M.Si) Ketika kamu merasa gagal, hal yang perlu kamu lakukan adalah bersabar, bersujud kepada-Nya, dan bersyukur karena Dia membuatmu menjadi pribadi satu tingkat lebih kuat (Mila Vanalita)   PERSEMBAHAN WxÇztÇ `xÇçxuâà atÅt TÄÄÉ{ çtÇz `t{t cxÇztá|{ Ätz| `t{t cxÇçtçtÇz Alhamdulillahi robbil ‘alamin, dengan mengucap puji syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan karunia dan nikmat-Nya, dengan kerendahan hati ku persembahkan karya kecil ini untuk : Ibuku (Ratna Wati) dan Bapakku (Maknudin) yang telah menjadi cahaya hidupku Yang selalu memanjatkan do’a untuk putri tercinta dalam setiap sujudnya. Karenamu diri ini ada, karena cinta dan kasih sayangmu diri ini tumbuh dalam balutan cinta dan kasih sayang Allah. Adikku tersayang Hanivan Maulana. Semoga kita bisa membanggakan keluarga ini terutama Ibu dan Bapak Om terbaikku Edi Gunarto yang selalu memberikan semangat, dukungan, serta inspirasi yang menjadikanku berani untuk mewujudkan mimpi-mimpiku Para pendidik dan dosen yang terhormat Almamaterku tercinta Universitas Lampung SANWACANA Puji syukur kehadirat Allah SWT atas ridha-Nya sehingga skripsi dengan judul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 Pada Materi Pokok Ciri-ciri Makhluk Hidup)” dapat diselesaikan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Biologi di Universitas Lampung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Pramudiyanti, S.Si., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi; 4. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku Pembimbing I atas saran-saran dan motivasi yang sangat berharga dan telah memberikan bimbingan dalam proses penyelesaian skripsi ini; 5. Rini Rita T Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku Pembimbing Akademik dan Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dalam proses penyelesaian skripsi ini; 6. Drs. Arwin Achmad, M.Si. selaku Pembahas atas saran-saran dan motivasi yang sangat berharga; 7. Dra. Ros Lili Budiarti, selaku kepala sekolah, ibu Yenni Yunartin, S.Pd. selaku guru mitra, seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas VII A dan VII B SMP Negeri 3 Natar Lampung Selatan atas kerjasamanya yang baik; 8. Teristimewa keluarga besar Eyang Kakung dan Eyang Putri atas semua do’a, dukungan, nasehat yang telah diberikan; 9. Sahabat ku Sarvia Trisniati, Dira Tiara, Erni Oftika, Arinta Winsi, Sisca Puspita Sari Nasution, Qurratu A’ini Naima, Sefty Goestira, Eli Komariah, Kartika Ayu Wulandari, Marettha Ania dan yang tidak bisa disebut satu persatu atas semangat, motivasi dan kebersamaan yang telah kita jalani selama ini; 10. Keluarga Al-Mansurin Yuni Purwaningsih, Sylvia Farantika dan Teristimewa Agustina Dwi Jayanti, yang telah memberi warna-warni yang begitu indah dalam episode kehidupanku; 11. Teman-teman KKN-PPL, terima kasih untuk semangat perjuangan dan kerjasamanya; 12. Kakak tingkat, teman seperjuangan dan semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bandarlampung, Penulis Mila Vanalita Agustus 2014 xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvi I. PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. G. Latar Belakang ..................................................................................... Rumusan Masalah ................................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................... Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... Kerangka Pikir ...................................................................................... Hipotesis Penelitian............................................................................... 1 5 5 5 6 7 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ...................................... B. Hasil Belajar Kognitif .......................................................................... C. Kemampuan Komunikasi Lisan .......................................................... 10 19 23 III. METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. Populasi dan Sampel ............................................................................ Desain Penelitian .................................................................................. Prosedur penelitian ................................................................................ Jenis dan Teknik Pengambilan Data .................................................... Teknik Analisis Data ............................................................................ 41 41 41 42 51 55 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .................................................................................... B. Pembahasan .......................................................................................... xiii 61 67 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan .............................................................................................. B. Saran ................................................................................................... 77 77 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 79 LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. Silabus ................................................................................................... Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... Lembar Kerja Siswa (LKS).................................................................. Pretes dan Postes .................................................................................. Angket Tanggapan Siswa Terhadap Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ........................................................................ 6. Lembar Observasi Kemampuan Komunikasi Lisan ............................. 7. Foto-Foto Penelitian ............................................................................ 8. Surat-surat Penelitian ............................................................................ xiv 84 88 99 131 142 143 147 152 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Sintaks/fase-fase pembelajaran kooperatif.............................................. 12 2. Lembar Observasi Kemampuan Komunikasi Lisan Siswa ..................... 53 3. Keterangan aspek penilaian kemampuan komunikasi lisan siswa .......... 53 4. Angket tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ............................................................................. 54 5. Kriteria tingkat kemampuan komunikasi lisan siswa .............................. 58 6. Skor Per Jawaban Angket ....................................................................... 59 7. Tabulasi data angket tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw....................................................... 59 8. Kriteria persentase angket tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw....................................................... 60 9. Kemampuan komunikasi lisan siswa ...................................................... 61 10. Hasil statistik terhadap rata-rata nilai pretes, postes, dan Gain .............. 63 11. Hasil analisis rata-rata Gain setiap indikator hasil belajar siswa ............ 64 12. Peningkatan setiap indikator hasil belajar siswa ..................................... 65 xv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat ........................ 8 2. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli ............................. 17 3. Desain pretest – posttest kelompok tak ekuivalen ................................. 42 4. Kemampuan komunikasi lisan siswa ...................................................... 62 5. Tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw............................................................................................... 66 6. Contoh jawaban siswa untuk indikator C1.............................................. 74 xvi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tinggi rendahnya kualitas sumberdaya manusia dalam suatu bangsa salah satunya dipengaruhi oleh faktor kualitas pendidikan negara tersebut. Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1) pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terncana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Depdiknas, 2003: 1). Dengan demikian, tujuan dari pendidikan tidak hanya mencakup pada pengembangan intelektualitas, tetapi juga bertujuan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Proses pendidikan dapat berlangsung dalam berbagai kegiatan terutama melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan siswa, diantara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Trianto, 2009:108). Dengan demikian, tujuan pembelajaran dapat terwujud apabila proses pembelajaran berjalan dengan baik dan terarah. 2 Kenyataan yang dijumpai saat ini bahwa proses pembelajaran di Indonesia belum optimal. Hal ini terungkap dalam hasil Trend in Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti siswa kelas VIII tahun 2011, menunjukkan bahwa untuk bidang IPA Indonesia berada di urutan ke-40 dengan skor 406 dari 42 negara yang ikut berpartisipasi dalam tes. Skor tes IPA Indonesia ini tururn 21 angka dibandingkan TIMSS 2007 (Napitupulu, 2013: 1). Hal ini menunjukkan masih rendahnya kualitas pembelajaran yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Berikutnya yang sering dijumpai yaitu dalam proses pembelajaran di sekolah, siswa yang pasif lebih mendominasi dibandingkan dengan siswa yang aktif berbicara misalnya dalam hal mengkomunikasikan informasi melalui kegiatan presentasi, ataupun bertanya dan menyampaikan pendapat selama proses diskusi. Hal ini masih menjadi masalah klasik dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ketika sesi tanya jawab, hanya sebagian kecil siswa yang bertanya atau menanggapi terhadap presentasi yang disampaikan. Hal ini karena berbicara di depan umum atau menyampaikan pendapat dalam proses diskusi masih dianggap hal yang menakutkan bagi siswa. Sehingga siswa menjadi tidak aktif, kemampuan komuniksi lisan siswa tidak terlatih dengan baik. Rendahnya kemampuan komunikasi lisan dan hasil belajar aspek kognitif siswa juga terjadi di tingkat sekolah menengah pertama. Hasil wawancara dengan guru IPA dan pengamatan terhadap siswa selama proses pembelajaran IPA di SMP Negeri 3 Natar, diperoleh informasi bahwa kemampuan komunikasi lisan siswa belum dikembangkan. Diketahui bahwa selama proses pembelajaran guru belum mengoptimalkan penggunaan model pembelajaran 3 yang berpusat pada siswa. Selama proses pembelajaran guru sering menggunakan metode diskusi yang kurang interaktif, sebagian kecil saja siswa yang bersedia menyampaikan pendapatnya ketika proses diskusi berlangsung, hal ini dikarenakan siswa cenderung malu dan belum memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan pikirannya sehingga pembelajaran membuat siswa bosan dan akhirnya pencapaian hasil belajar kognitif siswa menjadi rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan suatu alternatif model pembelajaran yang interaktif dan efektif sehingga meningkatkan kemampuan komunikasi lisan siswa dalam belajar yang dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar kognitif siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif yang diduga bisa digunakan salah satunya adalah model pembelajaran tipe Jigsaw. Model pembelajaran tipe Jigsaw ini lebih menekankan pada pentingnya interaksi dan kerjasama dalam suatu tim. Selain itu Jigsaw menuntut kemandirian dan tanggung jawab setiap siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa dituntut untuk benar-benar memahami pembelajarannya sendiri yang mana nantinya akan disampaikan pada orang lain. Menurut Isjoni (2010: 54) model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat mengaktifkan seluruh siswa dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Sedangkan menurut Slavin (dalam Rohaeni 2013:3) esensi dari model pembelajaran Jigsaw yaitu pembelajaran dimana setiap siswa dalam kelompok memiliki datu penggalan informasi yang masing-masing berbeda 4 dan bertanggung jawab untuk mengajarkannya kembali kepada teman-teman satu kelompoknya. Setelah seluruh ambaran informasi bergabung, siswa telah memiliki puzzle utuh yang disebut “Jigsaw”. Tanggung jawab yang dibebankan kepada siswa akan membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan bersungguh-sungguh dan menuntut siswa untuk mengkomunikasikan hasil belajarnya kepada teman-temannya. Hasil penelitian Melizawati (2011: 43) mengenai model pembelajaran tipe Jigsaw menyatakan bahwa penggunaan model Jigsaw berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem ekskresi oleh siswa SMA Negeri 1 Tanjungbintang. Begitu juga dengan penelitian Yati (2008: 33) yang mengungkapkan bahwa model pembelajaran tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan penguasaan konsep materi oleh siswa. Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maya (2013: 87) pada siswa SMP Negeri 1 Lembang diketahui bahwa kemampuan komunikasi lisan siswa dapat dinilai dengan menggunakan Peer Assesment pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pencemaran lingkungan. Merujuk pada hasil penelitian tersebut diduga model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat diterapkan dalam pembelajaran sub materi ciri-ciri makhluk hidup untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Komunikasi Lisan dan Hasil Belajar Siswa”. 5 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap kemampuan komunikasi lisan siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup? 2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap kemampuan komunikasi lisan siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup. 2. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagi peneliti, dapat memberikan wawasan, pengalaman, dan bekal berharga sebagai calon guru biologi yang profesional, dan untuk perbaikan pembelajaran pada masa yang akan datang. 6 2. Bagi guru, dapat dijadikan alternatif dalam memilih model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan kemampuan komunikasi lisan siswa. 3. Bagi siswa, dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda sehingga diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif dan kemampuan komuniksai lisan siswa. 4. Bagi sekolah, dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan ditingkat SMP. E. Ruang Lingkup Penelitian Untuk menghindari kesalahan penafsiran pada permasalahan yang dibahas, maka penulis memberi batasan masalah sebagai berikut : 1. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Natar tahun pelajaran 2013/2014 dengan subjek penelitian siswa kelas VIIB sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIIA sebagai kelompok kontrol 2. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang mengkondisikan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntaasan bagian materi pembelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 94-95). 7 3. Materi pokok pada penelitian ini adalah Ciri-ciri Makhluk Hidup di kelas VII semester 2 dengan kompetensi dasar “Mengidentifikasi Ciri-ciri Makhluk Hidup (KD 6.1)”. 4. Hasil belajar dalam penelitian ini berupa aspek kognitif yang terdiri dari 6 kategori yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. 5. Indikator kemampuan berkomunikasi lisan yang diamati terdiri beberapa aspek antara lain (1) etika, (2) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (3) kelancaran, (4) pemahaman isi materi, (5) bahasa. F. Kerangka Pikir Dalam pembelajaran biologi terdapat banyak sekali konsep-konsep ilmiah yang saling berhubungan yang menuntut siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Strategi yang dapat digunakan agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan siswa dalam pelajaran biologi Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Setiap siswa dituntut untuk benar-benar memahami satu sub materi dengan bekerja sama dengan teman-temannya dalam kelompok ahli dengan sub materi yang sama. Setelah itu siswa bertanggung jawab untuk menyampaikan kembali sub materi kepada teman-temannya yang berada dalam kelompok asal yang terdiri dari sub materi yang berbeda. Siswa 8 mengkomunikasikan sub materi kepada siswa lain guna membangun pengertian/pemahaman yang padu. Dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada siswa akan membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan bersungguh-sungguh dan menuntut siswa untuk mengkomunikasikan hasil belajarnya kepada teman-temannya. Dengan langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw kemampuan berkomunikasi lisan siswa dapat terlatih dan meningkat dengan baik. Apabila kemampuan komunikasi lisan siswa terlatih dengan baik maka siswa dapat menyampaikan informasi yang diperolehnya dengan efektif kepada temannya. Sehingga hasil belajar aspek kognitif siswa akan lebih meningkat. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan kemampuan komunikasi lisan siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini digambarkan dalam diagram berikut: Keterangan: X = model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw; Y1 = kemampuan komunikasi lisan siswa; Y2 = hasil belajar kognitif siswa Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat 9 G. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan komunikasi lisan siswa. 2. Ho = Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup. H1 = Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi pokok ciriciri makhluk hidup. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaborasi yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru (Slavin, 2008: 8). Demikian pula, Rusman (2012: 202) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Model pembelajaran kooperatif seperti yang dinyatakan Amri & Ahmadi (2010: 90) merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Terdapat tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif menurut Nur (2005: 3) adalah sebagai berikut: (1) Penghargaan kelompok; pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapi kriteria yang telah ditentukan oleh penampilan 11 individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli, (2) Pertanggungjawaban individu; keberhasilan kelompok tergantung dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan seiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya tanpa bantuan teman sekelompoknya, dan (3) Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan; pembelajaran kooperatif metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini baik yang berprestasi rendah, sedang atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik pada kelompoknya. Pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok belum tentu mencerminkan pembelajaran kooperatif . Oleh karena itu, menurut Johnson (dalam Tran, 2012 : 2) terdapat lima elemen dasar dalam pembelajaran kooperatif . Kelima elemen dasar tersebut dinyatakan sebagai berikut: (1) Saling ketergantungan positif, (2) Interaksi promotif, (3) Tanggung jawab perorangan, (4) Keterampilan interpersonal dan sosial, dan (5) Kualitas antar anggota kelompok. 12 Menurut Jauhar (2011: 54), pembelajaran kooperatif memiliki sintaks/fasefase sebagai berikut: Tabel 1. Sintaks/fase-fase pembelajaran kooperatif Fase 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 2. Menyajikan informasi 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 5. Evaluasi 6. Memberikan penghargaan Peran Guru Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien Membimbing kelompok dalam belajar, yaitu pada saat mereka mengerjakan tugas Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari kelompok atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Memberi pengharagaan kepada individu ataupun kelompok yang mendapatkan hasil yang baik. Misalnya dengan memberi hadiah Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugastugas akademiknya (Trianto, 2009: 59). Menurut Johnson (dalam Eggen dan Kauchak, 2012: 153) siswa yang bekerja sama di dalam kelompok kooperatif mengasah keterampilan sosial mereka, menerima siswa dengan kemampuan kesulitan belajar, dan membangun persahabataan dan sikap positif terhadap orang lain yang memiliki prestasi, etnisitas, dan gender berbeda. Hal lain yang mendukung adalah pernyataan Trianto (2009: 60) bahwa di dalam proses pembelajaran kooperatif akan memberikan peluang kepada siswa yang 13 berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Poin penting dalam pembelajaran kooperatif menurut Johnson and Johnson (dalam Kam-wing, 2004: 2) adalah pembelajaran kooperatif merupakan praktek instruksional dimana siswa saling membantu satu sama lain untuk belajar di dalam kelompok kecil menuju tujuan bersama. Sedangkan menurut Eggen dan Kauchak (2012: 136) pembelajaran kooperatif dipandang sebagai strategi mengajar yang memberikan peran terstruktur bagi siswa seraya menekankan interaksi siswa-siswa. Menurut pendapat Ratumanan (dalam Trianto, 2009: 62) interaksi yang terjadi dalam pembelajaran kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Lebih lanjut Slavin (dalam Rusman, 2012: 201) menerangkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif dibolehkan terjadinya pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam kelompok. Model pembelajaran kooperatif menjadikan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jempatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak banyak memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung untuk menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Menurut Rusman (2012:213-225) ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran 14 kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis model tersebut adalah model STAD (Student Teams Achievement Division), model Jigsaw, investigasi kelompok (Group Investigation), model Make a Match (Membuat Pasangan), model TGT (Teams Games Tournaments), dan model struktural. Model pembelajaran kooperatif dapat mendorong siswa aktif dalam pembelajaran dan sudah banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw ini pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson sebagai model pembelajaran kooperatif. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara (Amri dan Ahmadi, 2010: 94). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang mengkondisikan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntaasan bagian materi pembelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 94-95). Lebih lanjut Lie (2008: 75) menyatakan bahwa Jigsaw merupakan 15 salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Banyak riset telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar Jigsaw. Riset tersebut menunjukkan bahwa siswa yang terlibat di dalam pembelajaran model kooperatif tipe Jigsaw ini memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik dan lebih positif terhadap pembelajaran, di samping saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain. Sementara itu Aronson dkk (dalam Darnon dan Desbar. 2011: 443) menyebutkan kelas Jigsaw karena seperti puzzle Jigsaw yang membagi materi akademik menjadi potongan-potongan menjadi informasi yang berbeda-beda. Mereka melibatkan 3 aspek dalam metode Jigsaw. Ketiga aspek tersebut dinyatakan yaitu pertama, dibentuk suatu kelompok yang terdiri dari 3-5 siswa. Masing-masing siswa ditugaskan mempelajari satu bagian sub materi dan diharapkan dapat menjadi “ahli” untuk sub materi tersebut. Untuk tujuan ini, siswa akan mempunyai kesempatan untuk mendiskusikan keahlian sub materi mereka dengan siswa lain yang bukan merupakan kelompok asal, tetapi mereka mendiskusikan sub materi yang sama. Kelompok diskusi ini disebut dengan kelompok ahli. Akhirnya, setiap murid mempresentasikan laporan yang telah mereka pelajari ketika berada di kelopok ahli kepada siswa yang berada di kelompok asal mereka. 16 Langkah langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif Jigsaw yaitu sebagai berikut; (1) siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5 sampai 6 orang, (2) guru memberikan materi pelajaran yang akan diajarkan dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab, 3) setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya, (4) anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompokkelompok ahli untuk mendiskusikannya, (5) setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompok asal bertugas mengajar teman-temannya, (6) pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu (Trianto, 2007: 57). Sementara itu Rusman (2012:219) merumuskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran model Jigsaw sebagai berikut: 1. Melakukan membaca untuk menggali informasi Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut. 2. Diskusi kelompok ahli Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut. 3. Laporan kelompok Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapat dari diskusi tim ahli. 4. Kuis mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi. 5. Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok. 17 Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari empat sampai enam siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut dengan kelompok asal. Setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali kekelompok asal. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan (Amri dan Ahmadi, 2010: 96-98). Hubungan yang terjadi antar kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan oleh Arrends dalam Ainy (2000:15) sebagai berikut: α λ β π α λ β π α λ β π α λ β π α α α α β β β β λ λ λ λ π π π π Gambar 2. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli Arrends dalam Ainy (2000:15) 18 Interaksi kooperatif yang terjadi dalam pembelajaran model Jigsaw menunjukkan beberapa pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Hal ini didukung oleh hasil penelitian oleh Jhonson (dalam Rusman, 2012: 219) tentang pengaruh positif dari pembelajaran kooperatif Jigsaw. Pengaruh positif tersebut adalah (1) meningkatkan hasil belajar; (2) meningkatkan daya ingat; (3) dapat digunakan untuk mencapai tarap penalaran tingkat tinggi; (4) mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu); (5) meningkatkan hubungan antar manusia yang heterogen; (6) meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah; (7) meningkatkan sikap positif terhadap guru; (8) meningkatkan harga diri anak; (9) meningkatkan perilaku menyesuaian social yang positif; dan (10) meningkatkan keterampilan hidup bergotong-royong. Sebagai salah satu model pembelajaran yang kooperatif, Jigsaw mempunyai kelebihan-kelebihan menurut Budiningarti (dalam Pratiwi, 2009: 57) yaitu sebagai berikut: (1) Dapat mengembangkan hubungan antara pribadi positif diantara siswa yang memiliki kemampuan belajar berbeda, (2) Menerangkan bimbingan secara teman, (3) Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi, (4) Memperbaiki kehadiran, (5) Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar, (6) Sikap apatis berkurang, (7) Pemahaman materi lebih mendalam, (8) Meningkatkan motivasi belajar. Jigsaw merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang fleksibel, namun metode ini juga mempunyai kelemahan. Kelemahan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, yaitu sebagai berikut: (1) Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilanketerampilan kooperatif dalam kelompok masing- 19 masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet. (2) Jika jumlah anggota kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas yang pasif dalam diskusi. (3) Membutuhkan waktu yang lebih lama apabila penataan ruang belum terkondisi dengan baik. B. Hasil Belajar Kognitif Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil pembelajaran dapat dibedakan atas: pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motorik dan sikap. Sedangkan Bloom (dalam Sudijono, 2005: 49) berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu pada 3 jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: (1) ranah proses berfikir (cognitive domain), (2) ranah nilai sikap (affective domain), dan (3) ranah keterampilan motorik (psikomotor). Sehingga secara keseluruhan peserta didik dapat memahami, menghayati dan mengamalkan pelajaran yang telah diberikan. Selain itu definisi hasil belajar menurut Abdurrahman (2003 :38) yaitu kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Anderson (dalam Khoerul, 2012: 1) menguraikan dimensi proses kognitif pada taksonomi Bloom revisi yang mencakup: 20 1. menghafal (remember), yaitu menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang, yang mencakup dua macam proses kognitif mengenali dan mengingat 2. memahami (understand), yaitu mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang ada dalam pemikiran siswa, yang mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining) 3. mengaplikasikan (apply), yaitu penggunaan suatu prosedur guna meyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas, yang mencakup dua proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing) 4. menganalisis (analyze), yaitu menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut, yang mencakup tiga proses kognitif: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributing) 5. mengevaluasi (evaluate), yaitu membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada, yang mencakup dua proses kognitif: memeriksa (checking) dan mengkritik (critiquing) 21 6. membuat (create), yaitu menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan, yang mencakup tiga proses kognitif: membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing). Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang disampaikan. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses belajarmengajar antara guru dan siswa. Hasil belajar yang bisa diperoleh siswa setelah pembelajaran dapat berupa informasi verbal. Keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Gagne (dalam Dimyati dan Mujiono, 2002:10) menyatakan kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa: 1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal memungkinkan individu berperan dalam kehidupan. 2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan definisi, dan prinsip. 3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. 4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. 22 5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Hasil belajar juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku ke arah lain dari tingkah laku sebelumnya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Winkel (dalam Amrina, 2004) bahwa adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadinya belajar. Makin banyak kemampuan yang diperoleh sampai menjadi milik pribadi. Kemampuan kognitif, kemampuan sensorik, kemampuan psikomotor dan kemampuan dinamik, semua pengubahan dibidang itu merupakan hasil belajar dan mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah laku. Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok, ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut. 23 Tinggi rendahnya hasil belajar kognitif siswa dapat diketahui melalui pedoman penilaian. Menurut Arikunto (2008: 245), bila nilai siswa ≥ 66 maka dikategorikan baik. Bila 55 ≤ nilai siswa <66 maka dikategorikan cukup baik. Bila nilai siswa < 55 maka dikategorikan kurang baik (Arikunto, 2007:214). Selain itu, tinggi rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Djamarah (2008: 176-177) menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses serta hasil belajar. Faktor utamanya adalah faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar yang mempengaruhi proses serta hasil belajar meliputi lingkungan serta instrumental. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan alami serta lingkungan sosial budaya. Faktor instrumental antara lain kurikulum, program, sarana dan fasilitas, serta guru. Sedangkan untuk faktor dalam yang mempengaruhi proses dan hasil belajar antara lain fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis meliputi kondisi fisiologis dan kondisi pancaindra. Sedangkan faktor psikologis antara lain minat, kecerdasan, bakat, motivasi serta kemampuan kognitif. C. Kemampuan Komunikasi Lisan Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” yang berarti “bersama. Sedangkan menurut kamus, definisi komunikasi dapat meliputi ungkapan-ungkapan seperti berbagai informasi atau pengetahuan, memberi gagasan atau bertukar pemikiran, informasi, atau yang sejenisnya dengan tulisan atau ucapan (Hutagalung. 2007: 65). 24 Komunikasi bersifat kompleks dan merupakan proses pertukaran antara beberapa orang, seperti yang dinyatakan Johnstone, et.al (2012 : 2) bahwa komunikasi dapat didefinisikan dalam bermacam-macam cara tergantung pada pengaturan, konteks, sifat atau fokus studi, lingkungan, atau lingkungan budaya. Sedangkan menurut Pie (dalam Johnstone, et.al .2012 : 2) menyatakan bahwa komunikasi didasarkan pada nilai-nilai simbolik dan dengan proses pengekspresian yang berbeda-beda seperti kata, suara, bahasa tubuh, tulisan dan gambar. Semua diakumulasi menjadi pengalaman dan ditransmisikan antara individu, generasi, zaman, ras, dan budaya dalam beberapa bentuk seperti berbicara, menulis, bahasa tubuh atau simbol. Dalam arti luas, bahwa sebagai bentuk komunikasi, bahasa menjadi komponen utama dalam semua kegiatan manusia, sebagai komunitas pemahaman antara pengirim dan penerima pesan. Salah satu unsur komunikasi menurut Wisnuwardhani dan Mashoedi (2012: 38-90) adalah konteks. Konteks dalam komunikasi adalah lingkungan dimana komunikasi terjadi. Lingkungan itu dapat berupa lingkungtan fisik, seperti ruang kelas, ruang rapat dan ruang tunggu dokter yang tentunya akan mempengaruhi topik ataupun cara berbicara orang-orang yang berkomunikasi disana. Pengirim dan penerima pesan merupakan unsur komunikasi berikutnya yang sangat penting dalam kominukasi. Adanya keinginan dari pengirim untuk menyampaikan pesan kepada seseorang (dalam hal ini penerima) memungkinkan terjadinya komunikasi. Lebih lanjut unsur berikutnya adalah pesan yang akan disampaikan . Pesan dapat berupa pesan verbal atau nonverbal. Pesan yang merupakan tanggapan dari penerima 25 kepada pengirim disebut umpan balik (feedback). Saluran merupakan unsur komunikasi, yaitu berupa media yang digunakan dalam komunikasi. Masingmasing media yang digunakan tentunya akan menimbulkan efek yang berbeda pada penerima antara lain efek dapat berupa penambahan informasi baru bagi seseorang (aspek kognitif), menimbulkan perasaan suka atau tidak suka (aspek afektif), atau membuat seseorang mampu melakukan kegiatan tertentu (aspek psikomotor). Komunikasi melibatkan seluruh rasa, pengalaman, emosi dan kecerdasan. Dalam istilah umum yang sederhana, proses komunikasi berupa arus pesan melalui suatu saluran dari sumber pesan atau informasi menuju penerima pesan. Sebelum pesan dikirim, pesan harus diwujudkan dalam bentuk penggalan-penggalan informasi yangdikirimkan dengan menguunakan sarana komunikasi. Ketika pesan yang dikirim sampai pada penerima, pesan terseut harus dapat ditafsirkan. Pesan yang sampai kepada pihak penerima tidak selalu tepat sebagaimana yang dimaksudkan oleh pihak pengirim pesan. Hal ini disebabkan terjadinya faktor-faktor gangguan yang terjadi pada penyusunan penggalan informasi, atau pada penafsiran pesan di pihak penerima. Jelaslah bahwa pada komunikasi efektif unsur pemahaman dan keselarasan memegang peranan penting didalam penyampaian suatu informasi/pesan untuk merangsang penerima pesan agar mempunyai pemahaman yang samadan “bergerak” dalam kerangka pemahaman, pemikiran yang sama dengan pengirim pesan (Hutagalung. 2007: 66). 26 Menurut Darojah (2011: 21) proses komunikasi tersebut berupa transformasi nilai-nilai, pengetahuan, teknologi, dan keterampilan.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN TIPE TPS
0
3
79
ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DENGAN MEMPERHATIKAN KEMAMPUAN AWAL SISWA
0
5
50
ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DENGAN MEMPERHATIKAN KEMAMPUAN AWAL SISWA
2
12
53
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN TIPE STAD
0
7
50
STUDI KOMPARATIF PEMBELAJARAN MODEL KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE JIGSAW (DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BENTUK SOAL) TERHADAP HASIL BELAJAR IPS.
0
6
10
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA
1
25
62
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA
4
35
82
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE FIND SOMEONE WHO TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
0
0
9
View of EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN PENDEKATAN CTL TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN ASPEK AFEKTIF SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN SPASIAL SISWA
0
0
22
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN
0
0
15
PERBEDAAN PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA
0
0
13
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATA AJAR KEPERAWATAN KOMUNITAS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA
0
0
19
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP HASIL BELAJAR PKN SISWA SD
0
0
8
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MTs. AL-MADANI PONTIANAK
0
0
10
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SD
0
1
5
Show more