Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP PNPM Mandiri)Oleh Aparatur Desa dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012)

 6  105  114  2017-04-20 01:39:53 Report infringing document
ABSTRACT IMPLEMENTATION OF RURAL INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT PROGRAM (PPIP PNPM MANDIRI) BY THE APPARATUS AND SOCIETY FOR IMPROVING PUBLIC POOR ACCESS SOCIETY (Study in Desa Fajar Bulan, Gunung Sugih, Lampung Tengah 2012) by JODI PRAYUDA PPIP is a community-based programs under of PNPM Mandiri. Community empowerment is done so that the results of the implementation development can be tailored to needs that have been identified in a participatory manner. PPIP strive to create and improve the quality of people's lives, both individually and in groups through participation in solving the existing problems related to poverty and underdevelopment of the village as an effort to improve the quality of life, independence and well-being of society. This study aimed to obtain a description and analyzed on the implementation of the PPIP PNPM Mandiri program by society officials and the people in Desa Fajar Bulan, Gunung Sugih, Lampung Tengah in 2012 the terms of tasks and clear goals that accurately reflect the intent of the policy, management plans that allocate tasks and performance standards of implementing organizations, implementing organizational performance measurement assessed with the goal to be achieved, the control and management system of social sanctions to keep subordinates in order to remain accountable and impact of the program on access to basic infrastructure services for the poor and the constraints by encountered during the implementation process. This study used a qualitative approach with descriptive type that generates data in the form of words written or spoken by people and behaviors that can be observed. Data collected through observation, documentation, and interview. Data were analyzed using data reduction, data presentation, drawing conclusions, and to achieve the validity of the data is done by triangulation. Based on the research, results that the PPIP program implementation in Desa Fajar Bulan in 2012 has not been implemented effectively. This is because in practice there are problems such as the management plan implemented through village meetings have not been good enough, society is not yet fully participate actively participate in village meetings were held. In addition, control management system for physical control of infrastructure is not good enough, it is because intensity insufficient monitoring conducted maximal. Researchers recommend a few things in the PPIP program implementation of Desa Fajar Bulan, namely : The CSO together with the community facilitators should provide more public education about the PPIP program that will be implemented. In addition, the need to increase the number of facilitators, especially in the field of community development facilitators in order to maximize their performance in empowering communities of PPIP program implementation. Keywords: Implementation, PPIP PNPM Mandiri program, The Poor Society ABSTRAK IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PEDESAAN (PPIP PNPM MANDIRI) OLEH APARATUR DESA DAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT MISKIN (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012) Oleh JODI PRAYUDA PPIP merupakan program berbasis pemberdayaan masyarakat di bawah payung Program PNPM Mandiri. Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan agar hasil pelaksanaan pembangunan dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang telah diidentifikasikan secara partisipatif. PPIP berupaya menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok melalui partisipasi dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ada terkait kemiskinan dan ketertinggalan desanya sebagai upaya meningkatkan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) dan menganalisis tentang implementasi program PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur Desa dan masyarakat di Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012 yang ditinjau dari tugas dan tujuan yang jelas yang secara akurat merefleksikan maksud dari suatu kebijakan, manajemen rencana yang mengalokasikan tugas dan standard kinerja ke organisasi pelaksana, pengukuran kinerja organisasi pelaksana yang dinilai dengan tujuan yang ingin dicapai, sistem manajemen kontrol dan sanksi sosial untuk menjaga bawahan agar tetap akuntabel dan dampak program terhadap akses pelayanan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin serta kendala-kendala yang dihadapi selama proses implementasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan untuk mencapai keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa implementasi program PPIP di Desa Fajar bulan tahun 2012 belum terlaksana secara efektif. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya masih terdapat masalah diantaranya pada manajemen rencana yang dilaksanakan melalui musyawarah desa belum cukup baik, mayarakat belum sepenuhnya ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan musyawarah desa yang dilaksanakan. Selain itu sistem manajemen kontrol untuk pengawasan fisik infrastruktur belum cukup baik, hal ini dikarenkan intensitas monitoring yang dilakukan belum cukup maksimal. Peneliti merekomendasikan beberapa hal dalam implementasi program PPIP di Desa Fajar Bulan, yakni: Pihak OMS bersama fasilitator masyarakat sebaiknya lebih banyak memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program PPIP yang akan dilaksanakan. Selain itu, perlunya dilakukan penambahan jumlah fasilitator pendamping, khususnya fasilitator di bidang pemberdayaan masyarakat agar dapat memaksimalkan kinerja mereka dalam memberdayakan masyarakat saat pelaksanaan program PPIP. Kata Kunci : Implementasi, Program PPIP PNPM Mandiri, Masyarakat Miskin IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PEDESAAN (PPIP PNPM MANDIRI) OLEH APARATUR DESA DAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT MISKIN (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012) Oleh JODI PRAYUDA Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ADMINISTRASI NEGARA Pada Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 DAFTAR GAMBAR 1. Model Kerangka Pikir................................................................................. 67 2. Struktur OMS Desa Fajar Bulan ................................................................. 97 3. Kenggotaan KPP program PPIP Desa Fajar Bulan................................... 122 4. Keanggotaan tim pengadaan barang dan jasa program PPIP Desa........... 124 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang.............................................................................................1 B. Rumusan Masalah....................................................................................... 11 C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 11 D. Manfaat Penelitian...................................................................................... 12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu................................................................................... 13 B. Tinjauan Mengenai Kebijakan Publik ........................................................ 17 1. Pengertian Kebijakan Publik ................................................................ 17 2. Ciri-Ciri Kebijakan Publik.................................................................... 18 3. Unsur-Unsur Kebijakan Publik ............................................................ 19 4. Tahapan Kebijakan Publik.................................................................... 20 5. Dampak Kebijakan Publik (Policy Impact).......................................... 23 C. Tinjauan Mengenai Implementasi Kebijakan Publik ................................. 24 1. Model Implementasi Kebijakan Publik .............................................. 27 a. Donald Vann Mentter dan Carl Van Horn...................................... 28 b. Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier............................................. 31 c. Merilee S. Grindle .......................................................................... 35 d. George Edward III .......................................................................... 38 e. Richard Elmore............................................................................... 40 D. Tinjaun Mengenai Pembangunan ............................................................... 45 a. Pengertian Pembangunan ............................................................... 45 b. Tujuan Pembangunan ..................................................................... 46 c. Mengukur Pembangunan ................................................................ 46 d. Tahap-Tahap Pembangunan ........................................................... 48 E. Tinjauan Mengenai Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri .......................................................................................... 51 1. Pengertian Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri................................................................... 51 2. Tujuan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri................................................................... 51 3. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri............................... 51 4. Pendekatan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri.................................................................... 52 5. Organisasi dan Pembagian Peran Dalam Pelaksanaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri ....... 54 6. Fasilitator Masyarakat .................................................................... 55 F. Tinjauan Mengenai Masyarakat Miskin ..................................................... 57 1. Definisi Masyarakat........................................................................ 57 2. Ciri-Ciri Masyarakat....................................................................... 57 3. Definisi Kemiskinan ....................................................................... 58 4. Ciri-Ciri Masyarakat Miskin .......................................................... 60 5. Pemberdayaan Masyarakat Miskin................................................. 61 G. Kerangka Pikir............................................................................................ 64 III. METODE PENELITIAN A. Tipe dan Pendekatan Penelitian ................................................................ 68 B. Fokus Penelitian ........................................................................................ 69 C. Lokasi Penelitian....................................................................................... 70 D. Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 71 E. Instrumen Penelitian.................................................................................. 74 F. Teknik Analisis Data................................................................................. 76 G. Teknik Keabsahan Data ............................................................................ 77 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Desa Fajar Fajar Bulan ................................................ 79 1. Sejarah Terbentuknya Desa Fajar Bulan............................................. 79 2. Kebijakan Umum Desa ...................................................................... 79 3. Program Pembangunan Sarana dan Prasaran Desa Fajar Bulan ........ 80 4. Strategi Pembangunan Desa Fajar Bulan............................................ 81 5. Kondisi Geografis Desa Fajar Bulan................................................... 81 6. Sejarah Pembangunan Yang Pernah Dilakukan di Desa Fajar Bulan. 82 7. Sarana dan Prasarana Yang Ada di Desa Fajar Bulan ........................ 82 B. Gambaran Umum Program PPIP di Desa Fajar Bulan ............................. 83 1. Jenis Infrastruktur................................................................................ 83 2. Lokasi Kegiatan .................................................................................. 83 3. Waktu Pelaksanaan Kegiatan.............................................................. 83 4. Sasaran dari Pembangunan Infrastruktur ............................................ 83 5. Jumlah Pemanfaat ............................................................................... 84 C. Organisasi Masyarakat Pelaksana Program PPIP di Desa Fajar Bulan .... 84 1. Tugas Organisasi Pelaksana............................................................... 85 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian dan Pembahasan.............................................................. 87 1. Implementasi Program PPIP PNPM Mandiri Oleh Aparatur Desa dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin di Desa Fajar Bulan Tahun 2012......................................................... 87 a. Tugas dan Tujuan Yang Jelas Yang Secara Akurat Merefleksikan Maksud dari Suatu Kebijakan......................................................... 88 b. Manajemen Rencana Yang Mengalokasikan Tugas dan Standard Kinerja ke Organisasi Pelaksana ................................................... 95 1. Musyawarah Desa I................................................................. 96 a. Organisasi Masyarakat Setempat ...................................... 97 b. Tim Persiapan.................................................................... 99 c. Tim Pelaksana ................................................................. 100 d. Kader Desa ...................................................................... 101 2. Musyawarah Desa II ............................................................. 103 a. Perumusan Prioritas Permasalahan Yang Terdapat di Desa Fajar Bulan ...................................................................... 104 b. Merumuskan Usulan Prioritas Desa................................ 109 c. Perumusan Rencana Kegiatan Masyarakat ..................... 112 d. Rencana Anggaran dan Biaya ......................................... 116 e. Rencana Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur ......... 119 f. Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara ............................ 121 1. Rencana Pendanaan dan Operasi Pemeliharaan........ 123 2. Rencana Operasi Pemeliharaan................................. 123 g. Tim Pengadaan Barang dan Jasa..................................... 124 3. Musyawarah Desa III ............................................................ 125 c. Pengukuran Kinerja Organisasi Pelaksana Yang di Nilai Dengan Tujuan Yang Ingin Dicapai ........................................... 127 1. Waktu pelaksanaan program PPIP ........................................ 128 2. Pelaksanaan Penyaluran Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Rp 250.000.000 per Desa Telah Dilaksanakan di Masing-Masing Desa Sasaran .......... 131 3. Penggunaan anggaran biaya .................................................. 133 4. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan telford, gorong-gorong dan talud ....................................................... 142 5. Kualitas Infrastruktur Yang Telah Terbangun dan Fungsi Pengaturan Operasional serta Pemeliharaan ............. 147 d. Sistem Manajemen Kontrol dan Sanksi Sosial Untuk Menjaga Bawahan Agar Tetap Akuntabel ................................................. 153 2. Dampak Program PPIP Terhadap Akses Pelayanan Infrastruktur Dasar Bagi Masyarakat Miskin di Desa Fajar Bulan ........................ 158 3. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Oleh Aparatur Desa dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin di Desa Fajar Bulan Tahun 2012........................................................... 162 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................. 165 B. Saran............................................................................................ 167 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL 1. Pembangunan Infrastruktur di Desa Fajar Bulan ......................................... 8 2. Gambaran pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan di beberapa wilayah ........................................................................................ 14 3. Informan terkait pelaksanaan program PPIP di Desa Fajar Bulan tahun 2012 .................................................................................................. 72 4. Dokumen terkait penelitian program pembangunan infrastruktur pedesaan Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012 ..................................................................... 73 5. Kondisi Geografis Desa Fajar Bulan .......................................................... 81 6. Sejarah Pembangunan di Desa Fajar Bulan................................................ 82 7. Sarana dan prasarana Desa ......................................................................... 82 8. Daftar penerima manfaat program ppip di Desa Fajar Bulan..................... 84 9. Struktur Organisasi Masyarakat Desa Fajar Bulan..................................... 85 10. Tenaga teknis pembantu pogram PPIP Desa Fajar Bulan .......................... 85 11. Tim persiapan dalam program PPIP di Desa Fajar Bulan ........................ 100 12. Tim pelaksana program PPIP di Desa Fajar Bulan .................................. 101 13. Kader Desa program PPIP di Desa Fajar Bulan ....................................... 102 14. Prioritas permasalahan yang terdapat di desa Fajar Bulan ....................... 105 15. Analisis Usulan Prioritas Desa ................................................................ 110 16. Tim organisasi pelaksana kegiatan (OMS)............................................... 113 17. Tim fasilitator masyarakat ........................................................................ 114 18. Jumlah Pemanfaat Infrastruktur................................................................ 114 19. Rencana anggaran biaya (RAB) program PPIP Desa Fajar Bulan tahun 2012...................................................................................... 116 20. Jadawal rencana pelaksanaan program PPIP tahun 2012 ......................... 120 21. Jadawal pelaksanaan program PPIP tahun 2012 ...................................... 129 22. Penggunaan anggaran biaya tahap I ......................................................... 134 23. Penggunaan anggaran biaya tahap II ........................................................ 136 24. Penggunaan anggaran biaya tahap III....................................................... 138 25. Rekapitulasi pelaksanaan program PPIP Desa fajar Bulan ...................... 148 :t:, ,' .'l 1,. I 1.. .,i.,.:, . lr I : ... LTIflXIIVSIDNSI{ ] I r' ii, '.r.1 . li'il ":.l: zoo I' erg00eourosz6r dlN !lg'I{,f'sgs's ErESaiJ I lsE$slululpv ntull uEsnrnr Erqau 1l ' r ffi z zr8oo,z 90/0986I dIN lrr[ "Ll'lrs g0o 'z r'togmz 8z90186I dILI llr.d.'LI '. .r, '. l l ,l : ':' ': ., ..1 rl i, :: i,,r, Srqqu4qurad tEtuoll ,, I 'I 'ir i INfffiXTJ[IIflId {HIgJ'nwu, Ep s4lrulPJ leros ntrlu erEs?ttr.rsu**eiur ntql 960rtogIor rpntrr .glofi ir, '..',:,: , E1vrslspr.trEl^l ,UPSH.lflf, {o}|od Jol.uolJ Emsls€I.lpl4l PruPlI :. ' ',,,,, ,':: : ' , r,' 'lrI.OZqnIIP.I, ', ,1, {6uo; frndqlryl u*;dnqsll rySnS :. , , ,flunung E?tetu"esry,irplllg rathil us?{I ppEd rpnts| uursuu,ti{ll{vrsvN s,flsl[g tls:lieYlltlHnllilI{ uIuhln J.Vlff lrff''Io (nrr(INYr{ v.silo rrtaui dlrd) LIYs*Itlgd lN{uuours!ilf,'fl NI , . rrrNft u [rrygl{rgd lcvueolliI.I$yrNflr{ilI,4r{I Fdl'tUS:lnpnf 960110910I'WdN tusfe,,ftued lsnqtueur ,I0Z requeseq,I 'Eundurel reprreg 'ru FEqt uunmErel rp nrylreq Etred eurou uu8uep runsos e.(uurq rs{rres sues '1ul sqnl e&q lr?p gelore&p qu1e1ftre,{ releE trepqecued udruoq Ttuepe:p r$Irrcs srmJeueru BrposJaq e.(es e4eru ueele{uod ruulup rr"reueg{Bpl}e{ uup ueEuedurr.(ued pdeprel 1wq uurpntuo{ p eggedu uup e,fuqnE8unsos ueEuep lunq ufus rm truupdrue4 'n ]q 'aplsnd rEIBp urBIBp rru>lum$reclp uep efrfueruEuad BUI?u rre>llnqesrp tru8uep qe>Iseu rrrBIBp rrutlc? ruEuqes wTtmlwctp sqel truEuep s]lnilol ?reces r1urlce{ 'qel Euero uurpsaplqndrp ne}B sp{p qelel Eued pdepued nup e&q ludeprel {"pp 1uI s1p1e{rq urcpq '€ 'Eqqu4qued urll rrBqBrE rrsnce{ tnq 4uqrd usn}uuq edue1'rrpues u,(es treplleuod uep rresnuru 'uBsute8 runur Fq sl1nf erfte1l .e 'efuuq ss{sro^run $ry/"u?Fug) rytuepe4e.re1eE uuryedupueu Tnlun ueryrferp qeued uryeq usp Is? r{Elepe Iul qrpp uurodulnsdlqS 'e.(us srp} e,Crc) rEEm] uenm8rod rp tmdnuur Etmdruul >peq '(e,(pu11 'I :?/v\rluq UB>ppdUeU A(eS nn truEueq NYVIYANUfld MOTO Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu dan sesungguhnya itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (QS. AL-Baqarah ayat 45) Tidak ada rahasia untuk sukses. Ini adalah hasil sebuah persiapan, kerja keras, dan belajar dari kesalahan. (Colin Powel) Seorang yang cemerlang hari ini datangnya dari seorang yang biasa, tetapi yang menjadikannya cemerlang karena usahanya yang luar biasa. ( Drs. Berchah pitoewas, M.H) Saya bisa menerima kegagalan, tapi saya tidak bisa menerima segala hal yang tak pernah diusahakan. (Michael Jordan) Keberhasilan yang alami dan bertahap adalah keberhasilan yang sempurna, sedangkan kemalasan dan kebodohan adalah dua hal yang menjadi pemicu munculnya kegagalan (sebuah filsafat hidup yang konsisten dipegang teguh dalam menggapai cita-cita) PERSEMBAHAN ✁✂✄☎✂ ✆✁✂✄✝✞☎✟ ✠✡☛✆✡☞☞☎✌✡✍✍☎✌✆☎✂✂✡✍✍☎✌✡✆ ✎☎✂ ✟✝✏✡ ☛✑✝✒✝✍ ✒✁✟☎✎☎ ✓✔✔✓✕ ✖WT, ku persembahkan karya kecil ini khusus untuk ; Ayah dan Mama, Bapak Umai Saputra dan Ibu Ernawati Serta adik-adiku tercinta Genadi Permana Putra dan Ahmad Fadillah yang senantiasa memberikan semangat, dorongan, dan setia mengisi langkahku dengan doa dan kasih sayang yang tak pernah henti kalian berikan untuk ku Kakek dan Nenek ku tercinta yang dengan kasih sayangnya selalu mendoakan keberhasilanku seluruh keluarga besarku di Lampung Tengah dan Kota Metro yang selalu memberikan perhatian dan mendo akan keberhasilan ku, kerabat dan rekan-rekan tercinta yang tiada henti selalu memberikan do a, motivasi dan semangat untuk ku Keluarga Besar Ilmu Administrasi Negara Unila Almamater Tercinta Universitas Lampung RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Jodi Prayuda dilahirkan di Lampung Tengah pada tanggal 11 April 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan dari Bapak Umai Saputra dan Ibu Ernawati. Penulis mengawali pendidikannya di taman kanak-kanak Pertiwi Kotagajah diselesaikan tahun 1997, pendidikan Sekolah Dasar Negeri 3 Kotagajah diselesaikan tahun 2003, pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kotagajah diselesaikan tahun 2007 dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kotagajah diselesaikan tahun 2010. Tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di anggota Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMAGARA) FISIP UNILA dan Forum Studi Pengembangan Islam FSPI UNILA. Pada tahun 2013 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cempaka Nuban kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur. SANWACANA Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah dan selalu mencurahkan taufik serta hidayah bagi penulis, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi berjudul ”Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP PNPM Mandiri) Oleh Aparatur Desa Dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012)”. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Terwujudnya skripsi ini, telah melibatkan bantuan banyak pihak, sehingga penulis ingin menyampaikan penghargaan, penghormatan, dan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada yang terhormat: 1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 2. Bapak Dr. Dedy Hermawan, S.Sos., M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara. 3. Ibu Dra. Dian Kagungan, M.H., Selaku pembimbing akademik. 4. Bapak Simon Sumanjoyo H, S.A.N, M.P.A. selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan secara menyeluruh, arahan, perhatian, ilmu, tenaga, dan waktunya selama proses pendidikan dan penyusunan skripsi ini. 5. Ibu Devi Yulianti S.A.N., M.A. selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan secara menyeluruh, arahan, ilmu, perhatian, motivasi dan juga semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 6. Bapak Nana Mulyana, S. Ip, M.Si. selaku pembahas dan penguji yang telah banyak memberikan masukan, kritik, arahan, perhatian, juga semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 7. Seluruh dosen jurusan ilmu administrasi negara yang telah mewariskan ilmunya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan serta membimbing penulis selama menempuh studi. 8. Bapak Suganda selaku sekertaris OMS Desa Fajar Bulan yang telah bersedia menjadi informan serta memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 9. Bapak Kiki Rahmat Barkah A.Md. selaku Fasilitator teknik program PPIP di Desa Fajar Bulan yang telah bersedia menjadi informan serta memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 10. Ibu Pirnaningsih S.E. selaku Fasilitator pemberdayaan masyarakat program PPIP di Desa Fajar Bulan yang telah bersedia menjadi informan serta memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 11. Bapak Nurdin selaku ketua OMS Desa Fajar Bulan yang telah bersedia menjadi informan serta memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Bapak Ahmad Basri selaku bendahara OMS Desa Fajar Bulan yang telah bersedia menjadi informan serta memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 13. Kedua orang tuaku tercinta ayahanda Umai Saputra dan Ibunda Ernawati yang selama ini telah memberikan cinta, kasih sayang, dan dukungan moril maupun materil yang dengan selalu setia menanti dan mendoakan keberhasilanku. 14. Adik-adik ku Genadi Permana Putra dan Ahmad Fadillah, terimakasih atas segala kasih sayang, dan perhatiannya, semoga kita semua dapat sukses dunia dan akhirat. Amin. 15. Kakek dan nenek ku tercinta, yang dengan kasih sayangnya selalu mendoakan keberhasilanku. 16. Kepada sahabatku Ade Irawan yang telah membantu proses riset selama penelitian. 17. Kepada sahabatku Fadri dan enggi yang telah memberikan motivasi dan semangat dalam menyelesaikan skripsi. 18. Kepada sahabatku Aris, yogis dan anjas semangat untuk menyelesaikan skripsinya dan sukses buat kedepannnya. 19. Kepada sahabatku Pandu yang telah bersedia menjadi pembahas saat seminar. 20. Kepada teman-teman keluarga Besar Ilmu Administrasi Negara FISIP Unila 2010 Sukses untuk kita semua. 21. Serta untuk sahabat, teman dan semua pihak yang terlibat yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas dukungan dan doanya selama ini. Semoga kebahagian dan kesuksesan senantiasa allah berikan untuk kita semua. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga karya sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bandar Lampung, 17 Desember 2014 Penulis, Jodi Prayuda I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional merupakan usaha yang dilakukan sebagai langkah untuk membangun manusia Indonesia. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kebijakan yang akan diambil yang berkaitan dengan pembangunan harus tertuju pada pembangunan yang merata di seluruh wilayah Indonesia dan diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat agar hasil pembangunan tersebut benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat sehingga pada akhirnya dapat berdampak terhadap perbaikan dan peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia. Tujuan pembangunan pada dasarnya adalah untuk menciptakan kemajuan di bidang sosial dan ekonomi secara berkesinambungan, tanpa mengabaikan persamaan hak dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Beberapa komponen penting dari aspek pembangunan antara lain mencakup: (1) pembangunan ekonomi, menitikberatkan pada usaha peningkatan pendapatan masyarakat dalam berbagai kegiatan ekonomi potensial, meningkatkan produktifitas pertanian dan non pertanian, memperbaiki efisiensi dan meningkatkan pertumbuhan industri dan sektor-sektor pelayanan publik secara meluas, (2) pembangunan lingkungan, bertujuan untuk memelihara 2 keseimbangan ekologi untuk menciptakan kondisi alamiah lingkungan yang ramah dan bersahabat, (3) Pembangunan kelembagaan yakni mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan, memperbaiki tata kerja administratif, desentralisasi dan mobilisasi sumber daya, penguatan lembaga, (4) pembangunan fisik dan sosial, diantaranya adalah memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan, serta mengembangkan keahlian tenaga kerja dan memperbaiki kualitas fasilitas pelayanan dan infrastruktur (Adisasmita, 2013: 35). Pembangunan infrastruktur termasuk kedalam pembangunan fisik dan sudah sejak lama diketahui, bahwa keberadaan infrastruktur yang baik memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang pemenuhan hak dasar masyarakat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa infrastruktur merupakan modal yang sangat dibutuhkan masyarakat dalam mendukung kegiatan di berbagai bidang. Disamping sebagai alat yang dapat menghubungkan antar daerah di Indonesia, infrastruktur yang biasa sering disebut sebagai sarana dan prasarana fisik ini, memiliki keterkaitan yang kuat dengan laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Hal tersebut ditandai dengan wilayah yang memiliki kelengkapan sistem infrastruktur yang berfungsi lebih baik akan berdampak pada tingkat kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi masyaraktanya. Sebaliknya, keberadaan infrastruktur yang kurang berfungsi dengan baik mengakibatkan timbulnya permasalahan sosial seperti penolakan dari masyarakat terhadap infarastruktur yang telah terbangun. (www.pu.go.id diakses tanggal 20 Desember 2013) 3 Salah satu aspek penting dalam pembangunan adalah pembangunan di bidang fisik dan sosial. Hal Ini dapat diwujudkan melalui perbaikan fasilitas infrastruktur yang ada. Dimana, infrastruktur merupakan salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur seperti halnya sarana jalan keberadaannya merupakan modernisasi bangsa yang penyediaannya merupakan salah satu aspek penting guna meningkatkan kelancaran produktivitas sektor produksi dan yang tak kalah pentingnya infrastruktur jalan ini juga dapat berperan sebagai pendukung dalam menciptakan dan meningkatkan akses transportasi bagi masyarakat dalam beraktivitas. (www.bappenas.go.id diakses 19 Desember 2013). Keberadaan infrastruktur fisik yang baik seperti hal nya jalan, jembatan, sarana telekomunikasi, sarana perlistrikan, sarana irigasi dan sarana transportasi juga sering dikaitkan sebagai pemicu perkembangan pembangunan di berbagai bidang pada suatu kawasan. Dengan mudah kita dapat menilai perbedaan kesejahteraan suatu kawasan hanya dengan melihat dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi di dalamnya. Terkait dengan hal tersebut di atas, untuk itu kedepannya percepatan pembangunan infrastruktur semakin penting untuk lebih diperhatikan, hal ini didasarkan pada manfaat dari keberadaan infrastruktur seperti halnya jalan yang dapat berperan sebagai sarana pembuka keterisolasian suatu wilayah dari dunia luar sehingga dengan adanya infrastruktur ini, diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Dewasa ini pembangunan infrastruktur sangat penting untuk lebih di perhatikan khususnya pada desa-desa yang masih sangat minim sarana dan prasarana 4 infrastrukturnya. Namun saat ini pembangunan infrastruktur yang dilakukan masih mengalami kendala, saat ini pembangunan infrastruktur yang dilakukan di daerah pedesaan umumnya masih terkendala oleh terbatasnya akses masyarakat perdesaan terhadap pengambilan kebijakan pembangunan yang akan dilakukan di desanya, hal ini disebabkan oleh minimnya koordinasi atau hubungan antara pemerintah dengan masyarakat yang ada di desa terkait masalah pembangunan yang akan dilakukan. Pemerintah terlihat hanya menjadikan desa sebagai objek pembangunan. Sehingga yang terjadi desa dipaksa untuk menerima program pembangunan dari pemerintah tanpa melihat pembangunan apa yang sesungguhnya dibutuhkan desa tersebut. Permasalahan tersebut menjadikan masyarakat kemudian menganggap pembangunan-pembangunan yang telah dilakukan pada desa mereka hanya sebatas hadiah yang diberikan pemerintah dan bukanlah kebutuhan yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat. Dengan kondisi yang seperti ini menyebabkan infrastruktur yang telah terbangun tadi fungsinya menjadi tidak tepat sasaran, tidak tepat guna dan tidak tepat waktu yang pada akhirnya infrastruktur yang telah terbangun tadi tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Permasalahan pembangunan yang muncul di daerah pedesaan, dapat ditanggulangi dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya yaitu dengan perbaikan infrastruktur yang ada di daerah pedesaan. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah mulai memperkenalkan program pembangunan yang melibatkan masyarakat dimulai dari tahapan pengusulan kegiatan atau proyek sampai dengan pemeliharaannya. Salah satu program dengan 5 pelibatan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh pemerintah adalah PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan). Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan PNPM mandiri telah melaksanakan program PPIP yang dimulai pada tahun 2007 sampai tahun 2012. PPIP berupaya menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok melalui partisipasi dalam memecahkan berbagai permasalahan terkait kemiskinan dan ketertinggalan desanya sebagai upaya meningkatkan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. PPIP merupakan program berbasis pemberdayaan di bawah payung Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri). Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendorong peran serta masyarakat dalam pelaksanaan serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pelaksanaan dan dalam proses pembangunan. Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan agar hasil pelaksanaan pembangunan dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang telah diidentifikasikan secara partisipatif. (www.pu.go.id diakses tanggal 9 Oktober 2013) Tahun 2012 ini Dinas Cipta Karya Telah menargetkan ada 5000 desa yang menjadi sasaran program PPIP PNPM Mandiri. Program PPIP PNPM Mandiri ini mencakup pembangunan berbagai infrastruktur pedesaan mulai dari jalan perdesaan, irigasi pedesaan, air minum pedesaan, serta infrastruktur sanitasi pedesaan. Program ini bukan sekedar program fisik saja tetapi benar-benar dirancang untuk membangun desa dan masyarakatnya. Atas dasar tersebut dalam penyelenggaraannya program ini dilaksanakan berdasarkan pada tujuh 6 pendekatan, yakni pemberdayaan masyarakat, keberpihakan kepada yang miskin, otonomi dan desentralisasi, partisipatif, keswadayaan, keterpaduan program pembangunan, dan penguatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. (www.ciptakarya.pu.go.id diakses 20 Desember 2013) Biaya yang dialokasikan untuk PPIP PNPM Mandiri bagi setiap desa mendapatkan bantuan sebesar Rp 250.000.000 dalam bentuk dana bantuan infrastruktur perdesaan. Titik berat kegiatan ini adalah peningkatan infrastruktur pedesaan yang meliputi sarana jalan transportasi pedesaan, sanitasi pedesaan, air minum pedesaan, drainase pedesaan, dan irigasi pedesaan. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui perbaikan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan infrastruktur pedesaan. Saat ini lokasi PPIP PNPM Mandiri tersebar di 32 pemerintah provinsi, dan 344 kabupaten/kota dengan rincian 2000 desa didanai melalui dana APBN dan 3000 desa didanai melalui dana APBN-P dengan sasaran lokasi mengikuti ketetapan SK Menteri Pekerjaan Umum. (www.bpkp.go.id diakses tanggal 10 Oktober 2013) Berdasarkan : a. SK Kementerian Pekerjaan Umum No. 131/KTPTS/M/2012 tanggal 1 juni 2012 Tentang Penetapan Desa Sasaran Program PPIP tahun 2012. b. Pedoman pelaksanaan PPIP-PNPM Mandiri. c. Peraturan dirjen Perbendaharaan tentang Mekanisme Pencairan Dana PPIP. d. Keputusan Bupati Lampung Tengah Nomor. 106.A/KPTS/D.14/2012. Tanggal 27 Februari 2012 tentang District Project Implementation Unit 7 (DPIU) program percepatan pembangunan infrastruktur pedesaan Kabupaten Lampung Tengah. Menetapkan Desa Fajar Bulan sebagai salah satu desa yang mendapatkan program PPIP PNPM Mandiri tahun 2012. (Dokumen surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan program PPIP Tahun 2012) Desa Fajar Bulan adalah desa yang berlokasi di Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah, Desa Fajar Bulan memiliki luas wilayah 1.692,5 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 5461 jiwa dan mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai buruh pertanian. Desa Fajar Bulan termasuk dalam desa tertinggal hal ini didasarkan pada kondisi kesejahteraan sosial masyarakatnya yang masih didominasi oleh masyarakat dari golongan Miskin hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya KK dari golongan miskin yang totalnya mencapai 640 jiwa. Selain itu pada tingkat pendidikan masyarakatnya juga lebih didominasi dari lulusan sekolah dasar yang mencapai jumlah 920 orang. (Dokumen RPJM Desa Fajar Bulan Tahun 2011-2015). Keterbatasan yang dialami masyarakat desa Fajar Bulan ini diperparah dengan kondisi sarana dan prasarana Desa Fajar Bulan yang masih minim seperti halnya sarana jalan yang merupakan akses utama bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari kondisinya masih belum layak karena jalan yang ada hanya sebatas jalan tanah yang kondisinya sulit dilalui terlebih jika musim penghujan tiba. Hal ini tentunya sangat menyulitkan masyarakat yang ingin melakukan aktifitasnya. 8 Berikut ini adalah tabel infrastruktur yang pernah dibangun di Desa Fajar Bulan diantaranya: Tabel 1. Pembangunan Infrastruktur di Desa Fajar Bulan No Tahun Kegiatan Pembangunan Sumber dana 1 1973 Pembangunan balai kampung 2 1981 Pembangunan jembatan APBN 3 1981 Pembangunan SD 1 Fajar Bulan APBN 4 1983 Pembangunan SD 1 Impress Fajar Bulan APBN 5 1986 Pembangunan SD 2 Fajar Bulan APBN 6 1986 Pembangunan SD 3 Fajar Bulan APBN 7 1986 Pembangunan gedung TK Al Furqon APBN 8 2001 Pembangunan TK pertiwi APBD 9 2001 Pembangunan jalan telford dusun IV 10 2005 Pembangunan jalan onderlagh dusun V APBN 11 2005 Pembangunan jalan telford dan talud APBN 12 2005 Pembangunan jalan telford dusun 1 dan 2 APBN 13 2005 Pembangunan gorong-gorong dan talud dusun 1 APBN 14 2006 Pembangunan jalan telford dusun 1 dan 2 APBN 15 2006 Pembangunan gedung SMA swasta Pihak ke tiga 16 2007 Pembangunan jalan telford dusun V APBN 17 2007 Pembangunan jalan telford dusun I,II dan III APBN 18 2007 Pembangunan jalan telford dusun III APBN 19 2008 Rehabilitasi masjid nurul iman dusun 1 Swadaya 20 2008 Rehabilitasi musolah nurul falah Swadaya 21 2008 Pembangunan jalan telford dusun IV 22 2009 Rehabilitasi musolah Al huda dusun III Swadaya 23 2009 Rehabilitasi musolah dusun II Swadaya 24 2009 Pembangunan jalan telford dusun IV APBN 25 2010 Rehabilitasi kantor kepala desa ADK 26 2010 Pembangunan jalan telford dusun VI APBN Sumber: RPJM Desa Fajar Bulan tahun 2011-2015 DPD Swadaya APBN 9 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pembangunan infrastruktur jalan yang ada di Desa Fajar Bulan pernah beberapa kali dilakukan hanya saja mengingat luas wilayah Desa Fajar bulan yang mencapai 1692,5 Ha dengan total panjang jalan yang mencapai 17800 Meter, dari total panjang jalan tersebut 9100 dantaranya masih sebatas jalan tanah biasa sehingga walaupun telah dilakukan beberapa kali proses pembangunan jalan namun hal ini masih dirasa kurang. Pernyataan masih minimnya kondisi sarana dan prasarana jalan yang ada di Desa fajar bulan juga diungkapkan oleh Suganda selaku kaur pembangunan Desa Fajar Bulan: “Dari total keseluruhan panjang jalan yang ada di 6 dusun yakni 17800 meter, 9100 meter diantaranya masih sebatas jalan tanah yang kondisinya masih sangat minim, jalan tersebut diantaranya terdapat di Dusun Bangun Sari. padahal jalan yang ada di dusun tersebut sering digunakan masyarakat sebagai akses untuk mengeluarkan hasil pertanian berupa tanaman holtikultura, palawija, dan hasil perkebunan untuk selanjutnya diangkut keluar desa untuk kemudian di pasarkan ataupun diolah di pabrik-pabrik pengolahan. Selain digunakan sebagai akses untuk mengangkut hasil pertanian, jalan ini juga digunakan sebagai akses masyarakat untuk menjangkau pusat-pusat pelayanan sosial dan sarana pendidikan”. (hasil wawancara 4 Juni 2014) Melihat masih minimnya infrastruktur jalan yang ada di Desa Fajar Bulan, Tepatnya di dusun bangun sari membuat keberadaanya sudah sangat mendesak untuk dilakukannya pembangunan infrastruktur ini, karena infrastruktur seperti halnya jalan pedasaan yang baik merupakan kebutuhan pokok bagi setiap masyarakat yang mana keberadaanya harus disediakan oleh pemerintah. sarana jalan di wilayah pedesaan dapat menjadi kunci dari pertumbuhan ekonomi masyarakat desa karena dengan adanya sarana jalan yang baik hal ini merupakan salah satu upaya untuk membuka keterisolasian akses wilayah di pedesaan dari 10 pusat-pusat produksi dan tempat-tempat distribusi atau pemasaran barang dan jasa yang pada akhirnya berdampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Sebagai langkah untuk menyelesaikan permasalahan di atas terkait minimnya infrastruktur jalan yang ada di Desa Fajar Bulan tersebut maka Desa Fajar Bulan melalui program PPIP telah melaksanakan pembangunan infrastruktur berupa jalan desa yang berlokasi di Dusun Bangun Sari dengan spesifikasi panjang jalan mencapai 1446 Meter dan lebar 2,5 Meter dengan total penerima manfaat dari infrastruktur ini mencapai 634 jiwa yang mana 176 diantaranya adalah dari golongan KK miskin. Jalan yang dibangun di Dusun Bangun sari ini adalah jenis jalan telford, yaitu jalan yang mana konstruksinya terdiri dari batu pecah berukuran besar yang disusun menghadap ke atas atau berdiri dengan batu pecah yang lebih kecil mengisi rongga bagian atasnya kemudian dipadatkan dengan mesin gilas untuk selanjutnya ditaburi dengan pasir. Jalan ini dipilih karena konstruksinya yang cukup kuat terutama sebagai pondasi jalan karena materialnya terdiri dari campuran batu-batu besar dan batu kecil yang disusun dengan tangan satu per satu.. Berdasarkan pemaparan di atas, untuk itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP PNPM Mandiri) Oleh Aparatur Desa dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012) 11 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012 ? 2. Bagaimana dampak program PPIP terhadap akses pelayanan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan? 3. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012? C. Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah : 1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis pembangunan infrastruktur pedesaan oleh implementasi program aparatur desa dan masyarakat dalam meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012. 2. Untuk mengetahui dampak dari program PPIP terhadap akses pelayanan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan. 12 3. Untuk menjelaskan kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan praktis dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penelitian bagi studi Administrasi Negara, khususnya mengenai implementasi kebijakan. 2. Secara praktis Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan bagi aparatur desa dan masyarakat dalam melaksanakan program pembangunan infrastruktur pedesaan. 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya ini diangkat oleh Arif Wahyu Kristianto, mahasiswa Institute Teknologi Sepuluh November dimana Arif mengangkat tesis yang berjudul “Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan (Studi Kasus Pelaksanaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) di Desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik tahun 2008)”. Penelitian yang dilakukan Arif mengemukakan masalah yang berkaitan dengan kapasitas masyarakat dalam berpartisipasi pada pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan. Penelitian kedua yang diangkat oleh Benjamin, salah satu staf pengajar jurusan Sosiologi Fisip Universitas Lampung. Judul penelitian Benjamin yang diangkat dalam bentuk jurnal ini yaitu “Revitalisasi Pembangunan Desa Melalui Program Rural Infrastruktur Support Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (RIS PNPM)”. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Lampung Kabupaten Pesawaran Kecamatan Kedondong tepatnya di Kota Jawa pada tahun 2009. dalam penelitiannya Benjamin mengemukakan tentang penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pelaksanaan program (RIS PNPM) seperti mengenai 14 seberapa besar kapasitas masyarakat dalam berpartisipasi, penerapan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran oleh OMS. selain itu penelitian ini juga menyoroti masalah keberlanjutan proyek yang dilaksanakan oleh kelompok penerima manfaat (KPP) dalam program (RIS PNPM). Berikut ini merupakan gambaran pelaksanaan program dari kedua penelitian di atas. Tabel 2. Gambaran Pelaksanaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan di Beberapa Wilayah Judul No Indikator 1 Indikator Prakarsa (penggalian gagasan dalam mengidentifikasi masalah ) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan (studi kasus pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) di desa campurejo kecamatan panceng kabupaten gersik) Revitalisasi pembangunan desa melalui program rural infrastruktur support program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri (RIS PNPM) Tingkatan partisipasi masyarakat pada parameter prakarsa menunjukan pemasangan paving jalan desa pada program PPIP PNPM Mandiri masih sangat dominan pemerintah. melihat hal ini pemerintah berusaha meningkatkan peran masyarakat untuk ikut dalam kegiatan dari awal hingga akhir kegiatan. Permasalahan yang berhasil diidentifikasi adalah kurang terkuasainya metode dan teknik partisipasi oleh masyarakat, sehingga masyarakat perlu diberikan pelatihan secara lebih sering dalam kegiatan yang sejenis. Selain itu dalam hal ini pemerintah masih menganggap masyarakat sebagai obyek pembangunan, bukan sebagai pelaku pembangunan sepenuhnya. Refleksi dinamika masyarakat masih menunjukan sikap pasrah terhadap keadaan. Seperti yang diungkapkan dalam mengidentifikasi masalahmasalah sosial yang ada dilapangan, yaitu memfokuskan pada perbaikan infrastruktur desa. Salah satu permasalahan mendasar yakni di bidang pengerjaan fisik dengan menggunakan pola pengembangan yang menggunakan teknologi sederhana. Sebagian besar jumlah penduduk desa, yaitu dengan tingkat pendidikan formal yang masih rendah atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Hal ini berakibat pada kemampuan dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif sangat terbatas. 15 Rendahnya tingkat pendidikan ini juga mengakibatkan rendahnya kemampuan masyarakat desa dalam berpartisipasi pada setiap kegiatan yang dilaksanakan. Sementara itu partsipasi dalam proses pengelolaan proyek relatif tidak mendapat perhatian. Karena itu beberapa keputusan masih didominasi dan dipengaruhi oleh elit desa. Termasuk partisipasi kaum perempuan masih sangat terbatas pada kegiatan rapat rapat. 2 Indikator pengelolaan keuangan pembiayaan Tingkatan partisipasi masyarakat pada parameter pembiayaan menunjukkan masyarakat Desa Campurejo mayoritas berpenghasilan rendah, sehingga hal ini menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat. Akan tetapi terdapat sumbangan dari masyarakat yang digunakan untuk biaya pemeliharaan walaupun nilainya tidak cukup signifikan. Permasalahan yang berhasil diindentifikasi bahwa masyarakat masih mengharapkan insentif dari tenaga yang di sumbangkannya. Hal ini terjadi memang karena faktor ekonomi yang masih menjadi akar permasalahan. Faktor masyarakat yang masih sebagai obyek pembangunan juga menjadi penyebabnya kurangnya antusiasme warga untuk partisipasi dalam pembiayaan. Umumnya masyarakat puas dengan hasil dan fungsi infrastruktur yang dibangun namun, sebagian besar merasa kurang puas dalam hal transparansi penetapan anggaran biaya dan mekanisme pencairan dana. Ukuran partisipasi masih sebatas pada kesediaan masyarakat berkontribusi dalam pebangunan infrastruktur dan bukan pada sumbangan dalam bentuk dana yang digunakan dalam pembangunan infrastruktur. Sementara dalam hal penyaluran keuangan umunya telah dilakukan langsung kepada OMS. Hal ini berdampak positif dalam membangun kepercayaan OMS, namun pengaruh elit desa dalam pengelolaan keuangan di tingkat OMS masih terlihat. 16 3. Indikator pengambilan keputusan Tingkatan partisipasi masyarakat pada parameter pengambilan keputusan menunjukkan masyarakat sudah mulai ikut serta. Hal ini diindikasikan dengan adanya beberapa keputusan yang sudah bisa diambil oleh masyarakat. Sebagai contoh mengenai bangunan apa yang akan dibuat serta lokasi mana yang akan dipilih untuk pembangunan infrastuktur yang dipilih tersebut. Permasalahan yang muncul dalam hal pengambilan keputusan adalah bahwa masyarakat memang tidak mempunyai kapasitas yang memadai untuk terlibat produktif dalam pengambilan keputusan. Hal ini diindikasikan karena tidak adanya instrumen hukum yang mengatur secara eksplisit bagaimana, dimana dan siapa yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan publik. Tingkat pengambilan keputusan oleh masyarakat dalam hal menentukan program pembangunan yang akan dilaksanakan seringkali dilakukan tanpa memberikan pilihan dan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan dan menetukan hidupnya sendiri. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhankebutuhannya. 4 Indikator kemampuan memobilisasi tenaga Tingkatan partisipasi masyarakat pada mobilisasi tenaga menunjukkan masyarakat sudah berperan dengan baik. Permasalahan yang berhasil diidentifikasi adalah kurangnya kapasitas masyarakat untuk ikut secara aktif dalam kegiatan mobilisasi tenaga, serta pemerintah masih belum sepenuhnya bisa menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan sejajar dengan pemerintah. Tingkat partisipasi masyarakat pada mobilisasi tenaga khususnya dalam kegiatan survey kampung sendiri yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah menunjukan masyarakat belum sepenuhnya ikut berpartisipasi. hal ini lebih disebabkan masyarakat desa yang tingkat pendidikannya rendah atau bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasar sering diangap tidak memiliki kompetensi atau kemampuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan persoalan yang sedang terjadi. Untuk aspek keberlanjutan proyek, dimasyarakat telah dibentuk kelompok pemanfaat dan 17 peemelihara (KPP) namun keberadaan kelompok tersebut tidak fungsional. 5 Indikator pelaksanaan pembangunan Tingkatan partisipasi masyarakat pada pelaksanaan pembangunan tidak terlalu buruk untuk Desa Campurejo. Permasalahan yang terjadi sama dengan mobilisasi tenaga, dimana masyarakat kurang mempunyai kapasitas untuk ikut serta secara produktif. Selain itu mengenai masalah posisi masyarakat yang belum sepenuhnya ditempatkan sebagai subyek pembangunan secara penuh oleh pemerintah. Untuk tingkat partisipasi masyarakat pada tahap pelaksanaan konstruksi yang dikerjakan dengan cara kontraktual didapati bahwasannya respon dan tingkat partsipasi masyarakat sudah cukup baik. Partisipasi masyarakat dalam hal ini terlihat lebih besar dibanding pada tahap pengelolaan proyek hal ini dilihat dari kepuasaan masyarakat atas infrastruktur yang terbangun sedangkan pada tahap pengelolaan proyek masyarakat cenderung kurang merasa puas dalam hal transparansi penetapan anggaran dan mekanisme pencairan dana. Sumber: diolah penulis tahun 2014 B. Tinjauan Mengenai Kebijakan Publik 1. Pengertian Kebijakan Publik Menurut Friedrich dalam Agustino (2008:7) mendefinisikan kebijkan publik sebagai serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatanhambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatankesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Pendapat-pendapat di atas kemudian diperkuat oleh Anderson dalam Winarno (2012:21) kebijakan publik merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud 18 yang ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan. Menurut Hogwood dan Gunn dalam Suharto (2008:4) menyatakan bahwa kebijakan publik adalah seperangkat tindakan pemerintah yang didesain untuk mencapai hasil-hasil tertentu. Sedangkan menurut Pasolong (2010:39) kebijakan publik adalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakan-tindakan pemerintah, kebijakan publik harus berorientasi pada kepentingan publik dan merupakan tindakan pemilihan alternatif yang dilaksanakan atau tidak dilaksanakan karena didasarkan oleh kepentingan publik itu sendiri. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli tentang kebijakan publik, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah yang berguna untuk mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan yang didasarkan pada kepentingan publik. 2. Ciri-Ciri Kebijakan Publik Menurut Wahab (2004:6), kebijakan publik memiliki ciri-ciri antara lain: a. Kebijaksanaan lebih merupakan tindakan yang mempengaruhi pada tujuan dari pada sebagai prilaku atau tindakan yang serba acak dan kebetulan. b. Kebijaksanaan pada hakikatnya terdiri atas tindakan yang saling berkait dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh pejabatpejabat pemerintah dan bukan merupakan keputusan-keputusan yang berdiri sendiri. 19 c. Kebijaksanaan berangkat bersangkut paut dengan dengan apa yang senyatanya yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang-bidang tertentu. d. Kebijaksanaan publik mungkin berbentuk positif dan negatif. 3. Unsur Unsur Kebijakan Publik Sebagai suatu sistem yang terdiri dari sub-sistem atau elemen, komposisi dari kebijakan dapat dilihat dari dua perspektif yakni dari proses kebijakan dan dari struktur kebijakan. Dari sisi proses kebijakan, terdapat tahap-tahap sebagai berikut: identifikasi masalah dan tujuan, formulasi kebijakan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan. Dilihat dari segi struktur terdapat lima unsur kebijakan menurut Abidin (2012: 28). a. Tujuan kebijakan. Kebijakan dibuat karena ada tujuan yang ingin dicapai. Tanpa ada tujuan tidak perlu ada kebijakan. Maka dari itu tujuan menjadi unsur utama dari suatu kebijakan. Tetapi tidak demikian semua kebijkan mempunyai uraian yang sama tentang tujuan kebijakan itu. Perbedaan terletak tidak sekedar pada jangka waktu mencapai tujuan dimaksud, tetapi juga ada posisi, gambaran, orientasi dan dukungannya. Kebijakan yang baik mempunyai tujuan yang baik. Tujuan yang baik sekurang-kurangnya memenuhi empat kriteria: diinginkan untuk dicapai, rasional atau realisti, jelas, dan berorientasi ke depan. b. Masalah. Masalah merupakan unsur yang sangat penting dalam kebijakan. Kesalahan dalam menentukan masalah secara tepat dapat menimbulkan kegagalan total dalam seluruh proses kebijakan. Tak ada artinya suatu cara atau metode yang baik untuk pemecahan suatu masalah kebijakan jika pemecahannya dilakukan 20 bagi masalah yang tidak benar. Melalui cara lain dapat dikatakan, jika suatu masalah telah dapat diidentifikasi secara tepat, berarti sebagian pekerjaan dapat dianggap sudah dikuasai. c. Tuntutan. Sudah diketahui partisipasi merupakan indikasi dari masyarakat maju partisipasi itu berbentuk dukungan, tuntutan dan tantangan atau kritik seperti halnya partisipasi pada umumnya, tuntutan dapat bersifat moderat atau radikal. Tergantung pada urgensi dari tuntutan tersebut. d. Dampak atau outcomes Dampak merupakan tujuan lanjutan yang timbul sebagai pengaruh dari tercapainya suatu tujuan. e. Sarana atau alat kebijakan (policy instruments). Suatu kebijakan dilaksanakan dengan menggunakan sarana yang dimaksud. Beberapa dari sarana ini adalah kekuasaan, insentif pengembangan kemampuan, simbolis, dan perubahan kebijakan itu sendiri. 4. Tahapan Kebijakan Publik Proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Oleh karena itu, beberapa ahli politik yang menaruh minat untuk mengkaji kebijakan publik membagi proses-proses penyusunan kebijakan publik ke dalam beberapa tahap. Tahap-tahap kebijakan publik menurut Dunn dalam Winarno (2012: 35) adalah sebagai berikut: 21 a. Tahap penyusunan agenda Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Sebelumnya masalah-masalah ini berkompetisi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke dalam agenda kebijakan. Setelah itu Pada akhirnya beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan para perumus kebijakan. Pada tahap ini suatu masalah mungkin tidak disentuh sama sekali, sementara masalah yang lain ditetapkan menjadi fokus pembahasan, atau ada pula masalah karena alasan-alasan tertentu ditunda untuk waktu yang lama. b. Tahap formulasi Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif berasaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah. c. Tahap adopsi kebijakan Alternatif kebijakan yang banyak ditawarkan oleh para perumus kebijakan tadi, Akhirnya dari sekian banyaknya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara direktur lembaga atau keputusan peradilan. d. Tahap implementasi kebijakan Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, keputusan 22 program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administratif maupun agen-agen pemerintah ditingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumberdaya finansial dan manusia. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing. Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana. e. Tahap evaluasi kebijakan Tahap evaluasi kebijakan merupakan tahap dimana kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan yaitu guna memecahkan permmasalahan yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, ditentukan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak yang diinginkan. Berdasarkan pemaparan di atas telah dijelaskan bahwasanya tahap-tahap kebijakan merupakan bagian dari alur proses terbentuknya suatu kebijakan, tahapan-tahapan ini merupakan bagian yang saling berkaitan antar satu dan yang lainnya. Proses terbentuknya suatu kebijakan dimulai dari penyusunan agenda dimana para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik, selanjutnya masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan ditahap formulasi untuk kemudian dicari alternatif pemecahan masalah yang terbaik 23 kemudian dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan dipilih satu alternatif kebijakan tersebut untuk diadopsi dan selanjutnya alternatif kebijakan yang telah diambil untuk dilaksanakan oleh unitunit administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Setelah dilaksanakan selanjutnya kebijakan yang tersebut akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat meraih dampak yang diinginkan yakni dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. 5. Dampak Kebijakan Publik (Policy Impact) Menurut Purwanto dan Sulistyastuti (2012: 110) policy outcome atau dampak kebijakan merupakan suatu indikator untuk menilai hasil implementasi suatu kebijakan. Hasil atau dampak suatu kebijakan pada dasarnya berkaitan dengan perubahan kondisi masyarakat yang menjadi kelompok sasaran suatu kebijakan atau program, yaitu dari kondisi awal yang tidak dikehendaki (kemiskinan, kondisi kesehatan keluarga miskin memenuhi kebutuhan pokok dan sebagainya) menuju ke kondisi baru yang lebih dikehendaki (lebih sejahtera, derajat kesehatan keluarga miskin yang lebih baik, kemampuan keluarga miskin memenuhi kebutuhan pokok yang lebih baik). Hasil kebijakan ini jika dirunut merupakan konsekuensi lanjutan atas keluaran kebijakan yang diterima kelompok sasaran. Berbagai perubahan yang muncul sebagai konsekuensi implementasi suatu kebijakan atau program tersebut perlu diukur untuk dapat diketahui sejauh mana kinerja implementasi suatu kebijakan atau program. 24 Manfaat lain mengetahui dampak kebijakan adalah: 1. Untuk menguji implementasi suatu pilot project apakah dapat dikembangkan menjadi suatu program. 2. Untuk menguji suatu design suatu program yang paling efektif sehingga ditemukan suatu cara untuk mengintegrasikan berbagai program. 3. Untuk menguji apakah modifikasi suatu program membuahkan hasil atau tidak. 4. Untuk mengambil keputusan terhadap keberlangsungan suatu program. Dampak yang terjadi tentu sangat tergantung dengan kebijakan maupun programnya. Dalam realita dilapangan, merumuskan indikator dampak tidak mudah dilakukan. Hal ini disebabkan oleh setidaknya dua hal: (I) luasnya cakupan kebijakan, (II) tujuan kebijakan yang seringkali tidak spesifik. C. Tinjauan Mengenai Implementasi Kebijakan Publik Implementasi kebijakan merupakan suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan biasanya dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan,perintah eksekutif, atau dekrit presiden, (Wahab, 2004: 64). Menurut Van Meter dan Van Horn dalam Agustino (2008:139), implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan. Selain itu Grindel dalam Winarno (2012:149) mendefinisikan implementasi bahwa secara umum implementasi adalah membentuk suatu kaitan yang memudahkan tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak 25 dari suatu kegiatan pemerintah. Sementara itu Ripley dan Franklin dalam Winarno (2012: 148) berpendapat bahwa implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan atau suatu jenis keluaran yang nyata. Berdasarkan tiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan menyangkut tiga hal, yaitu: (a) Adanya tujuan atau sasaran kebijakan. (b) Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan dan (c) Adanya hasil kegiatan. Berdasarkan sejarah perkembangan studi implementasi kebijakan, dijelaskan tentang bahwasannya ada dua pendekatan guna memahami impelmentasi kebijakan, yakni: pendekatan top down dan dan bottom up. Menurut Lester dan Stewart istilah itu dinamakan istilah dengan the command and control approach (pendekatan kontrol dan komando, yang mirip dengan top down aproach) dan the market approach (pendekatan pasar, yang mirip dengan bottom up approach). Masing-masing pendekatan mengajukan model-model kerangka kerja dalam membentuk ketertarikan antara kebijakan dan hasilnya (Agustino, 2008: 140). Menurut pendekatan bottom up yang dipelopori oleh Elmore, dkk. dalam Purwanto dan Sulistyastuti (2012: 43) menyebutkan bahwa pendekatan bottom up menekankan pada dua aspek penting dalam impelementasi suatu kebijakan yaitu birokrat pada level bawah dan kelompok sasaran kebijakan, argumen yang menjadi dasar tentang pentingnya memperhatikan peran birokrat pada level bawah sangat terkait dengan posisinya dalam dalam melakukan kegiatan merealisasikan keluaran kebijakan (apabila keluaran kebijakan berupa pelayanan) atau 26 menyampaikan keluaran kebijakan tersebut kepada kelompok sasaran (apabila keluaran kebijakan tersebut berupa hibah, bantuan, subsidi dan lain-lain). Pendekatan lainnya yaitu top down dapat disebut sebagai pendekatan yang mendominasi awal perkembangan studi implementasi kebijakan, walaupun dikemudian hari diantara pengikut pendekatan ini terdapat perbedaan-perbedaan, sehingga menelurkan pendekatan bottom up, namun pada dasarnya, mereka bertitik-tolak pada asumsi-asumsi yang sama dalam mengembangkan kerangka analisis tentang studi implementasi. pendekatan top down menjelaskan, implementasi kebijakan dilakukan dengan tersentralisir dan dimulai dari aktor tingkat pusat. Pendekatan top down bertitik-tolak dari perspektif bahwa keputusan-keputusan politik (kebijakan) oleh pembuat kebijakan harus dilaksanakan oleh administratur-adminiastratur atau birokrat-birokrat pada level bawahnya. Jadi inti pendekatan top down adalah sejauh mana tindakan para pelaksana (administratur dan birokrat) sesuai dengan prosedur serta tujuan yang digariskan oleh para pembuat kebijakan ditingkat pusat. Fokus analisis implementasi kebijakan berkisar pada masalah-masalah pencapaian tujuan formal kebijakan yang telah ditentukan. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena street level bereaucrats tidak dilibatkan dalam formulasi kebijakan. Berangkat pada perspektif tersebut maka timbullah pertanyaan-pertanyaan, sebagai berikut: a) Sampai sejauhmana tindakan-tindakan pejabat pelaksana konsisten dengan keputusan kebijakan tersebut? b) Sejauhmanakah tujuan kebijakan tercapai? 27 c) Faktor-faktor apa yang secara prinsipil mempengaruhi output dan dampak kebijakan? d) Bagaimana kebijakan tersebut diformulasikan kembali sesuai pengalaman lapangan? Empat pertanyaan tersebut mengarah pada inti sejauh mana tindakan para pelaksana sesuai dengan prosedur dan tuiuan kebijakan yang telah digariskan para pembuat kebijakan di level pusat. Fokus tersebut membawa konsekuensi pada perhatian terhadap aspek otganisasi atau birokrasi sebagai ukuran efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kebijakan. (Agustino, 2008: 141) Jadi berdasarkan pengertian-pengertian di atas, bahwa implementasi kebijakan merupakan pelaksanaan suatu kebijakan yang berumber dari para aktor pembuat kebijakan di tingkat pusat oleh pejabat-pejabat pada level bawah dengan dengan prosedur dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya oleh para aktor pembuat kebijakan di tingkat pusat. Pelaksanaan isi kebijakan ini dapat berupa undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif atau dekrit presiden. 1. Model Implementasi Kebijakan Publik Model implementasi kebijakan publik berisi variabel-variabel dan faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan dari keseluruhan proses implementasi kebijakan publik. Berikut ini model implementasi kebijakan publik yang dikemukakan menurut para ahli. 28 a. Implementasi Kebijakan Publik Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn Menurut Donald Van Metter dan Carl Van Horn dalam Agustino (2008: 141) model pendekatan top down yang dirumuskan oleh keduanya disebut dengan Model of The Policy Implementation. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performasi suatu implementasi kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan publik yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana, dan kinerja kebijakan publik. Ada enam variabel, yang mempengaruhi kinerja kebijakan publik tersebut, adalah: a. Ukuran dan tujuan kebijakan. Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan hanya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan memang realistis dengan sosio kultur yang mengada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuan kebijakan atau tujuan kebijakan terlalu ideal (bahkan terlalu utopis) untuk dilaksanakan di level warga maka agak sulit memang mererlisasikan kebijakan publik hingga, titik yang dapat dikatakan berhasil. b. Sumber daya. Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses implementasi. Tahap-tahap tertentu dari keseluruhan proses implementasi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan 29 pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara politik. tapi ketika kompetensi dan kapabilitas dari sumber-sumber daya itu nihil maka kinerja kebijakan publik sangat sulit untuk diharapkan. Tetapi di luar sumber daya manusia, sumber daya-sumber daya Iain yang perlu diperhitungkan juga ialah sumber daya finansial dan sumber daya waktu. Karena, mau tidak mau ketika sumber daya manusia yang kompeten dan kapabel telah tersedia sedangkan kucuran dana melalui anggaran tidak tersedia, maka memang menjadi persoalan pelik untuk merealisasikan apa yang hendak dituju oleh tujuan kebijakan publik. Demikian pula halnya dengan sumber daya waktu. Saat sumber daya manusia giat bekerja dan kucuran dana berjalan dengan baik, tetapi terbentur dengan persoalan waktu yang terlalu ketat, maka hal ini pun dapat menjadi penyebab ketidak berhasilan implementasi kebijakan. Berdasarkan pernyataan tersebut, Sehingganya sumber daya yang diminta dan dimaksud oleh Van Meter dan Van Horn adalah ketiga bentuk sumber daya tersebut. c. Karakteristik agen pelaksana. Pusat pethatian pada agen pelaksanaan meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian kebijakan publik. Hal ini sangat penting karena kineria implementasi kebijakan (publik) akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksananya. Misalnya implementasi kebijakan publik yang berusaha untuk merubah perilaku atau tingkah laku manusia secara radikal, maka agen pelaksana proyek itu haruslah berkarakteristik keras dan ketat pada aturan serta sanksi hukum. Sedangkan bila kebijakan publik itu tidak terlalu 30 merubah perilaku dasar manusia, maka dapat-dapat saja agen pelaksana yang diturunkan, tidak sekeras dan tidak setegas pada gambaran yang pertama. Selain itu, cakupan atau luas wilayah implementasi kebijakan perlu juga diperhitungkan manakala hendak menentukaa agen pelaksana. Semakin luas cakupan implementasi kebijakan, maka seharusnya semakin besar pula agen yang dilibatkan. d. Sikap atau kecenderungan (disposition) para pelaksana Sikap penerimaan atau penolakan dari (agen) pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan yang implementor pelaksanaan adalah kebijakan dari atas (top down) yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak pernah mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan, atau permasalahan yang warga ingin selesaikan. e. Komunikasi antaroganisasi dan aktivitas pelaksana. Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan publik. Semakin baik koordinasi komunikasi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka asumsinya kesalahankesalahan akan sangat kecil untuk terjadi dan begitu pula sebaliknya. f. Lingkungan ekonomi sosial dan politik. Hal terakhir yang perlu juga dipethatikan guna menilai kineria implementasi publik dalam perspektif yang ditawatkan oleh Van Metter dan Van Horn 31 adalah, sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik yang telah ditetapkan. Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi penyebab dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Berdasarkan hal tersebut, oleh karenanya upaya untuk mengimplementasikan kebijakan harus pula memperhatikan kondisi lingkungan eksternal. b. Implementasi Kebijakan Publik Model Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier Model implementasi kebijakan publik yang lain ditawarkan oleh Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier. Model implementasi yang ditawarkan mereka disebut dengan A Framework for Policy Implementation Analyis. Menurut Mazmanian dan Paul Sabatier dalam Agustino (2008: 144) peran penting dari implementasi kebijakan publik adalah kemampuannya dalam mengidentifikasikan vaiabel-vaiabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal pada keseluruhan proses implementasi dan variabel-variabel yang dimaksud dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu: 1) Mudah atau tidaknya masalah yang akan digarap, meliputi: a. Kesukaran-kesukaran teknis. Tercapai atau tidaknya tujuan suatu kebijakan akan tergantung pada sejumlah persyaratan teknis, termasuk diantaranya: kemampuan untuk mengembangkan indikator-indikator pengukur prestasi kerja yang tidak terlalu mahal serta pemahaman mengenai prinsip-prinsip hubungan kausal yang mempengaruhi masalah. Selain hal-hal di atas tingkat keberhasilan suatu kebijakan dipengaruhi juga oleh tersedianya atau telah dikembangkannya teknik-teknik tertentu. 32 b. Keberagaman perilaku yang diatur. Semakin beragam perilaku yang diatur, maka asumsinya semakin beragam pelayanan yang diberikan, sehingga semakin sulit untuk membuat peraturan yang tegas dan jelas. Atas dasar tersebut dengan demikian semakin besar kebebasan bertindak yang harus dikontrol oleh para pejabat pada pelaksana (administratur atau birokrat) di lapangan. c. Persentase totalitas penduduk yang tercakup dalam kelompok sasaran. Semakin kecil dan semakin jelas kelompok sasaran yang perilakunya akan diubah (melalui implementasi kebiiakan), maka semakin besar peluang untuk memobilisasikan dukungan politik terhadap sebuah kebijakan dan dengannya akan lebih terbuka peluang bagi pencapaian tujuan kebijakan d. Tingkat dan ruang lingkup perubahan perilaku yang dikehendaki. Semakin besar jumlah perubahan perilaku yang dikehendaki oleh kebijakan, maka semakin sukar atau sulit para pelaksana memperoleh implementasi yang berhasil. Artinya ada sejumlah masalah yang jauh lebih dapat kita kendalikan bila tingkat dan ruang lingkup perubahan yang dikehendaki tidaklah terlalu besar. 2) Kemampuan kebijakan menstruktur proses implementasi secara tepat. Para pembuat kebijakan mendayagunakan wewenang yang dimilikinya untuk menstruktur proses implementasi secara tepat melalui beberapa cara: a. Kecermatan dan kejelasan penjenjangan tujuan-tujuan resmi yang akan dicapai semakin mampu suatu peraturan memberikan petunjuk-petunjuk yang cermat dan disusun secara jelas skala prioritas atau urutan kepentingan bagi para pejabat pelaksana dan aktor lainnya, maka semakin besar pula 33 kemungkinan bahwa output kebijakan dari badan-badan pelaksana akan sejalan dengan petunjuk tersebut. b. Keterandalan teori kausalitas yang diperlukan. Memuat suatu teori kausalitas yang menjelaskan bagaimana kira-kira tujuan usaha pembaharuan yang akan dicapai melalui implementasi kebijakan. c. Ketetapan alokasi sumber dana. Tersedianya dana pada tingkat ambang batas tertentu sangat diperlukan agar terbuka peluang untuk mencapai tujuan-tujuan forrmal. d. Keterpaduan hirarki di lingkungan dan diantara lembaga-lembaga atau instansi-instansi pelaksana. Salah satu ciri penting yang perlu dimiliki oleh setiap peraturan perundangan yang baik ialah kemampuannya untuk memadukan hirarki badan-badan pelaksana. Ketika kemampuan untuk menyatupadukan dinas, badan, dan lembaga dilaksanakan, maka kordinasi antar instansi yang bertujuan mempermudah jalannya implementasi kebijakan justru akan membuyarkan tujuan dari kebijakan yang telah ditetapkan. e. Aturan-atuan pembuat keputusan dari badan-badan pelaksana. Selain dapat memberikan kejelasan dan konsistensi tujuan, memperkecil jumlah titik-titik veto, dan intensif yang memadai bagi kepatuhan kelompok sasaran, suatu undang-undang harus pula dapat mempengaruhi lebih lanjut proses implementasi kebijakan dengan cara menggariskan secara formal aturan-aturan pembuat keputusan dari badan-badan pelaksana. f. Kesepakatan para pejabat terhadap tujuan yang termaktub dalam undangundang. Para pejabat pelaksana memiliki kesepakatan yang diisyaratkan demi 34 tercapainya tujuan, Hal ini sangat signifikan halnya oleh karena, top dawn policy bukanlah perkara yang mudah untuk diimplankan pada para pejabat pelaksana di level lokal. g. Akses formal pihak-pihak luar. Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi implementasi kebijakan adalah sejauh mana peluang-peluang yang terbuka bagi partisipasi para aktor diluar badan pelaksana dapat mendukung tujuan resmi. Ini maksudnya agar kontol pada para pejabat pelaksanaan yang ditunjuk oleh pemerintah pusat dapat berjalan sebagaimana mestinya. 3) Variabel-variabel di luar undang-undang yang mempengaruhi implementasi. a. Kondisi sosial-ekonomi dan teknologi. Perbedaan waktu dan perbedaan diantara wilayah-wilayah hukum pemerintah dalam hal kondisi sosial, ekonomi, dan teknologi sangat signifikan berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan yang digariskan dalam suatu undang-undang. Berdasarkan hal tersebut, faktor eksternal juga menjadi hal penting untuk diperhatikan guna keberhasilan suatu upaya pengejawantahan suatu kebijakan publik. b. Dukungan publik Hakekat perhatian publik yang bersifat sesaat menimbulkan kesukarankesukaran tertentu, untuk mendorong tingkat keberhasilan suatu implementasi kebijakan sangat dibutuhkan adanya sentuhan dukungan dari warga. Berdasarkan hal tersebut, mekanisme patisipasi publik sangat penting dalam proses pelaksanaan kebijakan publik di lapangan. 35 c. Sikap dan sumber-sumber yang dimiliki kelompok masyarakat Perubahanperubahan yang hendak dicapai oleh suatu kebijakan publik akan sangat berhasil apabila di tingkat masyarakat warga memiliki sumber-sumber dan sikap-sikap masyarakat yang kondusif terhadap kebijakan yang ditawarkan pada mereka. Ada semacam local genius (kearifan lokal) yang dimiliki oleh warga yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau ketidakberhasilan implementasi kebijakan publik. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh sikap dan sumber yang dimiliki oleh warga masyatakat. d. Kesepakatan dan kemampuan kepemimpinan para pejabat pejabat pelaksana. Kesepakatan para pejabat instansi merupakan fungsi dari kemampuan undang-undang untuk melembagakan pengaruhnya pada badan-badan pelaksana melalui penyeleksian institusi-institusi dan pejabat-pejabat terasnya. Selain itu pula, kemampuan berinteraksi antar lembaga atau individu di dalam lembaga untuk meyukseskan implementasi kebijakan menjadi hal indikasi penting keberhasilan kinerja kebijakan publik. c. Implementasi Kebijakan Publik Model Merilee S. Grindle Menurut Grindle dalam Agustino (2008: 154) ada dua variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik. Keberhasilan implementasi suatu kebijakan publik dapat diukur dari proses pencapaian hasil akhir (outcomes), yaitu tercapai atau tidaknya tujuan yang ingin diraih. Hal ini dikemukakan oleh Grindle, dimana pengukuran keberhasilan implementasi kebijakan tersebut dapat dilihat dari dua hal yaitu: 36 1. Dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan kebijakan sesuai dengan yang ditentukan (design) dengan merujuk pada aksi kebijakannya. 2. Apakah tujuan kebijakan tercapai dimensi ini diukur dengan melihat dua faktor, yaitu: a. Impak atau efeknya, pada masyarakat secara individu dan kelompok. b. Tingkat perubahan yang terjadi serta penerimaan kelompok sasaran dan perubahan yang terjadi. Keberhasilan suatu implementasi kebijakan publik juga menurut Grindle, amat ditentukan oleh tingkat implementasi kebijakan itu sendiri sendiri, yang tetdiri atas Content of Policy dan Context of Policy. 1. Content of policy menurut Grindle adalah: a. Interest affected (keepentingan-kepentingan yang mempengaruhi) Interest affected berkaitan dengan berbagai kepentingan yang mempengaruhi suatu implementasi kebijakan. indikator ini berargumen bahwa suatu kebijakan dalam pelaksanaannya pasti melibatkan banyak kepentingan, dan sejauh mana kepentingan-kepentingan tersebut membawa pengaruh terhadap implementasinya, hal inilah yang ingin diketahui lebih lanjut. b. Type of Benefits (tipe manfaat) Pada poin ini content of policy berupaya untuk menunjukan atau menjelaskan bahwa dalam suatu kebijakan harus terdapat beberapa jenis manfaat yang menunjukan dampak positif yang dihasilkan oleh pengimplementasian kebijakan yang hendak dilaksanakan. 37 c. Extent of Change Envision (derajat perubahan yang ingin dicapai) Setiap kebijakan mempunyai target yang hendak dan ingin dicapai. Content of policy yang ingin dijelaskan pada poin ini adalah bahwa seberapa besar perubahan yang hendak atau ingin dicapai melalui suatu implementasi kebiiakan harus mempunyai skala yang jelas. d. Site of Decision Making (letak pengambilan keputusan) Pengambilan keputusan dalam suatu kebijakan memegang peranan penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan, maka pada bagian ini harus dijelaskan dimana letak pengambilan keputusan dari suatu kebijakan yang akan diimplementasikan. e. Program Implementer (pelaksana program) Pelaksanaan suatu kebijakan atau program harus didukung dengan adanya pelaksana kebijakan yang kompeten dan kapabel demi keberhasilan suatu kebijakan dan hal ini juga harus sudah terdata atau terpapar dengan baik pada bagian ini. f. Resources Committed (sumber-sumber daya yang digunakan) Pelaksanaan suatu kebijakan juga harus didukung oleh sumber daya-sumber daya yang mendukung agar pelaksanaannya berjalan dengan baik. 2. Context of Policy menurut Grindle adalah: a. Power, Interest, and Strategy af Actor Involved (kekuasaan, kepentingankepentingan, dan strategi dari aktor yang terlibat) kekuatan atau kekuasaan, kepentingan, serta strategi yang digunakan perlu diperhitungkan oleh para aktor yang tetlibat guna memperlancar jalannya pelaksanaan suatu implementasi kebijakan. Berbagai hal yang telah 38 disebutkan di atas tadi apabila tidak diperhitungkan dengan matang sangat besar kemungkinan program yang hendak diimplementasikan akan sulit untuk diimplementasikan. b. Institution and Regime Characteristic (karakteristik lembaga dan rezirn yang berkuasa) Lingkungan dimana sutau kebijakan tersebut dilaksanakan juga berpengaruh terhadap keberhasilannya, maka pada bagian ini ingin dijelaskan karakteristik dari suatu lembaga yang akan turut mempengaruhi suatu kebijakan. c. Compliance and Responsiveness (tingkat kepatuhan dan Adanya respon dari pelaksana) Hal lain yang dirasa penting dalam proses pelaksanaan suatu kebijakan adalah kepatuhan dan respon dari para pelaksana, maka yang hendak dijelaskan pada poin ini adalah sejauh mana kepatuhan dan respon dari pelaksana dalam menggapi suatu kebijakan. Setelah kegiatan pelaksanaan kebijakan yang dipengaruhi oleh isi atau konten dan lingkungan atau konteks diterapkan, maka akan dapat diketahui apakah para pelaksana kebijakan dalam membuat sebuah kebijakan sesuai dengan apa yang diharapkan, juga dapat diketahui pada apakah suatu kebijakan dipengaruhi oleh suatu lingkungan, sehingga terjadinya tingkat perubahan yang terjadi. d. Implementasi Kebijakan Publik Model George Edward III Edward III (1980, 1) menegaskan bahwa maslah utama administrasi publik adalah lack of attention to implementation (kurangnya perhatian terhadap pelaksana). Dikatakannya, without effective implementation the decision of 39 policymakers will not be carried out successfully (keputusan kebijakan publik tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya pelaksanaan yang efektif). Edward menyarankan untuk memerhatikan empat isu pokok agar implementasi kebijakan menjadi efektif yaitu, communication, resources, disposition or attitudes, dan bureaucratic structures. a. Komunikasi Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan pada organisasi dan atau publik dan sikap serta tanggapan dari para pihak yang terlibat. b. Resources Resoureces berkenaan dengan ketersedian sumber daya pendukung, khususnya sumber daya manusia. Hal ini berkenaan dengan kecakapan pelaksana kebijakan publik untuk melaksanakan kebijakan secara efektif. c. Disposition Disposition berkenaan dengan kesediaan dari para implementor untuk melaksanakan kebijakan publik tersebut. Kecakapan saja tidak cukup, tanpa kesedian dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan. d. Struktur birokrasi Struktur birokrasi berkenaan dengan kesesuaian organisasi birokrasi yang menjadi penyelenggara implementasi kebijakan publik. Tantangannya adalah bagaimana agar tidak terjadi bureaucratic fragmention karena struktur ini menjadikan proses implementasi menjadi jauh dari dekat. 40 e. Implementasi Kebijakan Publik Model Richard Elmore, dkk. Menurut Elmore (1979), Michael Lipsky (1971), dan Benny Hejrn & David O Porter (1981) dalam Nugroho (2012: 692-693), model implementasi ini didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakan atau tetap melibatkan pejabat pemerintah namun hanya di tataran rendah. Oleh karena itu kebijakan yang dibuat sesuai dengan harapan, keinginan publik yang menjadi target utama kliennya, dan sesuai pula dengan pejabat eselon rendah yang menjadi pelaksananya. Kebijakan model ini biasanya diprakarsai masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga nirlaba kemasyarakatan (LSM). Elmore dalam Golembiewski (1997:766-769) mengatakan bahwa ada empat hal utama yang membuat implementasi kebijakan efektif, yaitu : 1. Clearly specified tasks and objectives that accurately reflect the intent of policy (tugas dan tujuan yang jelas yang secara akurat merefleksikan maksud dari suatu kebijakan) Implementasi kebijakan yang dalam hal ini terdiri dari satu set rincian dari tujuan pelaksanaan suatu kebijakan yang secara akurat mencerminkan maksud dari kebijakan tertentu, memberikan tanggung jawab dan standar kinerja kepada unit yang dapat melaksanakannya secara konsisten dengan tujuan dari kebijakan tersebut. Tugas dan tujuan organisasi pelaksana diasumsikan sebagai unit yang beroperasi dalam pelaksanaan kebijakan sebagai unit yang memiliki tugas dan tujuan yang jelas yang digunakan untuk mengatur semua tugas dan tujuannya. 41 Kegagalan dalam implementasi kebijakan sering dikaitkan dengan manajemen yang buruk. Maksud dari pernyataan tersebut yaitu bahwasanya kegagalan dalam pelaksanaan suatu kebijakan disebabkan dari ketidakjelasan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang terhadap hasil yang ingin dicapai dalam suatu kebijakan tersebut. serta adanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kinerja yang mereka lakukan. Manajemen yang baik tentu saja adalah kebalikan dari semua hal di atas. Manajemen ini dimulai dari asumsi normatif bahwa manajemen yang efektif adalah yang melaksanakan tujuan yang diarahkan. 2. A management plan that allocates tasks and performance standards to subunits (manajemen rencana yang mengalokasikan tugas dan standard kinerja ke organisasi pelaksana) Manajemen perencanaan merupakan proses dimana perencanaan dilakukan untuk memastikan bahwa sumber daya yang diperoleh, tugas, standar kinerja dapat digunakan dan berjalan secara efektif dan efisien dalam melaksanaan suatu kebijakan. Selain itu didalam meanajemen perencanaan terdapat pengendalian operasional yang dilakukan sebagai proses untuk meyakinkan bahwa tugas-tugas tertentu telah dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penerjemahan kebijakan ke dalam tindakan dilakukan melalui proses perencanaan dalam mengalokasikan tugas dan standar kinerja. manajemen perencanaan dan pengendalian di dalamnya memberikan pernyataan singkat tentang transisi dari kebijakan untuk operasi. Perencanaan strategis ini adalah sebagai proses untuk menentukan tujuan, sumber daya yang digunakan dalam mencapai tujuan dari kebijakan tersebut. Selanjutnya 42 Fungsi ini kemudian didistribusikan dalam urutan dari yang tertinggi sampai tingkat terendah dalam organisasi. Secara bersama-sama mereka menggambarkan aturan umum keputusan untuk alokasi sumber daya yang optimal, tugas, dan standar kinerja organisasi pelaksana. 3. An objective means of measuring subunit performance (pengukuran kinerja organisasi pelaksana yang dinilai dengan tujuan yang ingin dicapai) Pengukuran kinerja dilakukan dengan melihat konsistensi organisasi pelaksana kebijakan dengan tujuan dari program tersebut, namun dalam pelaksanaannya proses ini dapat bersifat dinamis, tidak statis, lingkungan terus memaksakan tuntutan baru yang membutuhkan penyesuaian internal apabila terjadi yang demikian dapat dibuat toleransi sebagai penyesuaian internal demi untuk mencapai tujuan kebijakan. Tetapi implementasi tetap selalu diarahkan untuk memaksimalkan tujuan dan nilai akhir yang diinginkan. Keberhasilan atau kegagalan organisasi pelaksana dapat dinilai dengan mengamati perbedaan antara deklarasi kebijakan dengan perilaku organisasi pelaksana yang meliputi fokus pada kejelasan, presisi, kelengkapan, dan kewajaran antara isi deklarasi kebijakan dengan hasil akhir kebijakan. 4. A system of management controls and social sanctions sufficient to hold subordinates accountable for their performance (sistem manajemen kontrol dan sanksi sosial untuk menjaga bawahan agar tetap akuntabel) Implementasi sebagai proses kontrol administratif. Definisi ini berangkat dari asumsi serta kecenderungan umum bahwa organisasi pelaksana yang 43 paling banyak terlibat dalam proses implementasi. Agen-agen pelaksana tersebut sangat mungkin membuat kesalahan ketika melakukan interpretasi atas kebijakan dan menerjemahkannya ke dalam berbagai program dan proyek, yang biasanya selalu disertai bias kepentingan, ideologi, dan kerangka acuan. Berdasarkan hal tersebut, karenanya keberhasilan implementasi akan ditentukan oleh tingkat penegakan kontrol atas organisasi pelaksana serta dilengkapi dengan arahan dan aturan yang jelas untuk mencegah terjadinya berbagai penyimpangan Manajemen kontrol yang kuat menunjukkan bahwa organisasi telah mendekati nilai ideal dalam artian dapat memaksimalkan kinerja dari unit organisasi..Kinerja yang demikian dinilai dalam hal pencapaian, yakni adanya kesesuaian hasil target dengan standar kebijakan. Dalam prakteknya, biasa disebut sebagai kriteria kinerja yang cenderung untuk melihat lebih sebagai kesesuaian dengan standar kebijakan yang pada akhirnya dapat mencapai hasil yang memuaskan. Selain mengidentifikasi hal-hal yang dapat membuat implementasi kebijakan efektif di atas, Elmore juga telah mengidentifikasi beberapa faktor penyebab terjadinya kegagalan dalam implementasi kebijakan diantaranya penyimpangan dari perencanaan, spesifikasi, dan kontrol. Artinya keberhasilan implementasi kebijakan sangat ditentukan oleh perencanaan yang dibuat dan manajemen yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 44 Berdasarkan model implementasi yang dijelaskan oleh para ahli di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat dua model pendekatan yang digunakan oleh para ahli yaitu model top down dan model bottom up yang mana kedua pendekatan ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan dan menentukan variabel-variabel atau faktor-faktor yang mempengaruhi dalam implementasi kebijakan. Para ahli yang menggunakan model pendekatan top down seperti Van Metter dan Van Horn, Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier, Merilee S. Grindle serta George Edward III melihat bahwasanya titik tolak implementasi kebijakan berasal dari keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan, untuk selanjutnya dilaksanakan oleh birokrat-birokrat yang berada di level bawah dengan prosedur dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para pembuat kebijakan ditingkat pusat. Sedangkan Para ahli yang menggunakan model pendekatan bottom up seperti Richard Elmore, Michael Lipsky, Benny Hejrn & David O Porter melihat bahwasanya implementasi kebijakan ini lebih didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakan atau tetap melibatkan pejabat pemerintah namun hanya di tataran rendah. Model yang dikemukakan oleh Elmore, dkk. di atas merupakan model yang digunakan menjadi alat analisis dalam penelitian ini yaitu tentang implementasi program PPIP (PNPM Mandiri). Peneliti memilih model ini, karena adanya kesesuaian model implementasi kebijakan yang mana implementasi kebijakannya didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya atau tetap melibatkan pejabat pemerintah namun hanya ditataran rendah. Model implementasi ini nantinya dapat 45 digunakan untuk menganalisis implementasi program dalam mencapai hasil akhir yang diinginkan. D. Tinjauan Mengenai pembangunan 1. Pengertian Pembangunan Menurut Budiman (2000:1) pembangunan didefinsikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan warganya, kemajuan yang dimaksud di sini adalah kemajuan material yang seringkali diarahkan untuk memajukan masyarakat di bidang ekonomi. Sedangkan menurut Roupp dalam Yunarto (2013: 2) pembangunan adalah perubahan dari sesuatu yang kurang berarti kepada sesuatu yang lebih berarti, Tjokroamidjojo dan Mustopadidjaja, mendefinisikan pembangunan sebagai suatu orientasi dan kegiatan usaha tanpa akhir. Pengertian lainnya menurut Siagian dalam Yunarto (2013:4) pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara, dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa. Selain itu Mirza dalam Yunarto (2013:3) menyatakan pembangunan pada dasarnya adalah usaha manusia dan untuk memahami pembangunan tersebut dibutuhkan usaha-usaha yang terpadu dari seluruh sistem pengetahuan, baik fisik, biologi, sosial maupun tentang manusia. Berdasarkan pemaparan-pemaparan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembangunan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terencana dan secara sadar oleh suatu bangsa, negara, dan pemerintah, dalam rangka menuju 46 modernitas dengan berorientasi kepada pertumbuhan untuk mencapai situasi nasional yang lebih baik daripada sebelumnya. 2. Tujuan Pembangunan Tujuan pembangunan di negara manapun, pasti bertujuan untuk kebaikan masyarakatnya. Meskipun istilah yang digunakan beragam, tepai hakikatnya sama, yakni kesejahteraan masyarakat. Sedangkan tujuan itu sendiri memberikan arah yang hendak dicapai. Tidak ada satupun tujuan yang benar-benar merupakan tujuan akhir dalam arti sesungguhnya. Seperti yang diungkapkan Afifuddin dalam Yunarto (2013:3) pada umumnya, komponen-komponen dari cita-cita akhir dari negara-negara modern di dunia, baik yang sudah maju maupun yang sedang berkembang, adalah hal-hal yang pada hakikatnya bersifat relatif dan sukar membayangkan tercapainya titik jenuh yang absolut yang setelah tercapai tidak mungkin ditingkatkan lagi seperti: a. Keadilan sosial b. Kemakmuran yang merata c. Perlakuan sama dimata hukum d. Kesejahteraan material mental dan spritiual e. Kebahagiaan untuk semua f. Ketentraman dan g. Keamanan. 3. Mengukur Pembangunan Menurut Budiman (2000: 2) Keberhasilan pembangunan dapat diukur dalam lima indikator, yaitu: 47 a) Kekayaan rata-rata Pembangunan mula-mula dipakai dalam arti pertumbuhan ekonomi. Sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan, bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi, dapat dilihat dari Produk Nasional Bruto (PNB atau Gross National Product, GNP) dan Produk Domestik Bruto (PDB atau Gross Domestik Product, GDP). Berdasarkan hal tersebut dengan demikian, pembangunan disini diartikan sebagai jumlah kekayaan keseluruhan sebuah bangsa atau negara. b) Pemerataan Kekayaan keseluruhan yang dimiliki atau yang diproduksi oleh suatu bangsa, tidak berarti bahwa kekayaan itu merata dimiliki oleh semua penduduknya. Oleh karena itu, muncul aspek pemerataan dalam ukuran pembangunan, bukan hanya PNB perkapita saja. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan, bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang disamping tinggi produktivitasnya, penduduknya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata. c) Kualitas kehidupan Mengukur kesejahteraan penduduk suatu negara dapat menggunakan tolak ukur PQLI (Physical Quality of Life Index), dengan tiga indikator yaitu, pertama rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun, kedua rata-rata jumlah kematian bayi, dan ketiga rata-rata prosentasi buta dan melek huruf. d) Kerusakan lingkungan Sebuah negara dengan produktifitas, pemerataan dan kualitas hidup yang tinggi bisa berada dalam proses untuk menjadi miskin bila dalam proses 48 pembangunannya tidak memperhatikan faktor kelestarian lingkungan. Muncul sebuah paradigma pembangunan berwawasan lingkungan (sustainable development). e) Keadilan sosial dan kesinambungan Pembangunan yang dijalankan oleh suatu negara tidak hanya berdasarkan pertimbangan moral saja, yaitu keadilan, tetapi juga berkaitan dengan kelestarian pembangunan. Artinya pembangunan yang berhasil, adalah pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan, dalam arti tidak terjadi kerusakan sosial maupun kerusakan alam. 4. Tahapan Pembangunan Menurut Rostow dalam Budiman (2000: 25) pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Proses ini dengan berbagai variasinya, pada dasarnya berlangsung sama dimanapun dan kapan pun juga. Variasi yang ada bukanlah merupakan perubahan yang mendasar dari proses ini, melainkan hanya berlangsung dipermukaan saja. Rostow membagi proses pembangunan ini menjadi lima tahap diantaranya: a) Tahap masyarakat tradisional Tahap masyarakat tradisional ditandai dengan ilmu pengetahuan yang ada di masyarakat masih belum banyak dikuasai. Karena itu, masyarakat semacam ini masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar 49 kekuasaan manusia. Sehingga dengan demikian manusia tunduk kepada alam dan belum bias menguasai alam. b) Tahap prakondisi untuk lepas landas Tahap prakondisi untuk lepas landas dimana pada tahap ini masyarakat tradisional meskipun sangat lambat namun terus bergerak pada suatu titik dia mencapai posisi prakondisi untuk lepas landas. Keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dari luar, dari masyarakat yang sudah maju. Perubahan ini tidak datang karena faktor-faktor internal masyarakat tersebut, karena pada dasarnya masyarakat tradisional tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri. c) Tahap lepas landas Tahap lepas landas ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan merupakan suatu yang berjalan wajar, tanpa adanya hambatan yang berarti seperti ketika pada periode prakondisi untuk lepas landas. Selain itu pada tahap ini juga tabungan dan investasi yang efektif meningkat dari 5% menjadi 10% dari pendapatan nasional dan industri-industri baru mulai berkembang dengan pesat. Teknikteknik pertanian baru juga tumbuh sehingga pada akhirnya pertanian menjadi usaha komersil untuk mencari keuntungan dan bukan hanya sekedar untuk konsumsi. d) Tahap bergerak ke kedewasaan Tahap bergerak ke kedewasaan diukur 60 tahun sejak sebuah negara lepas landas. Selain itu pada tahap ini perkembangan industri tidak saja meliputi teknik-teknik produksi, tetapi juga dalam aneka barang yang diproduksi. 50 Barang yang diproduksikan bukan hanya terbatas barang konsumsi, tetapi juga barang modal. e) Tahap konsumsi masal yang tinggi Tahap konsumsi masal yang tinggi ditandai dengan investasi untuk meningkatkan produksi tidak lagi menjadi tujuan yang paling utama. Sesudah taraf kedewasaan tercapai, surplus ekonomi akibat proses politik yang terjadi dialokasikan untuk kesejahteraan sosial dan penambahan dana sosial. pembangunan pada tahap ini merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan terus menerus. Berdasarkan pemaparan di atas telah dijelaskan bahwasanya tahap-tahap pembangunan merupakan suatu proses menuju pada keadaan yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya. Proses pembangunan ditandai pada tahap masyarakat tradisional yang belum banyak menguasai ilmu pengetahuan. kemudian masyarakat tradisional tadi mulai bergerak kearah prakondisi untuk lepas landas sebagai langkah awal menuju perubahan. Setelah melalui tahap ini kemudian mulailah tejadi pertumbuhan diberbagai sektor industri diikuti dengan peningkatan tabungan dan investasi. Setelah itu meningkat ke tahap konsumsi masal yang tinggi dimana pada tahap ini pembangunan sudah berjalan dengan pesat hal ini ditandai dengan perkembangan industri yang tidak saja meliputi teknik-teknik produksi, tetapi juga dalam aneka barang yang diproduksi. Barang yang diproduksikan bukan hanya terbatas pada barang konsumsi, tetapi juga barang modal sehingga hal ini dapat mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi hingga pada akhirnya sampai pada tahap konsumsi masal yang tinggi dimana pada tahap ini terjadi surplus ekonomi dan hal tersebut dapat dialokasikan 51 untuk kesejahteraan sosial dan penambahan dana sosial. pembangunan pada tahap ini lebih merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan terus menerus. E. Tinjauan Tentang Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) PNPM MANDIRI 1. Pengertian Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) merupakan program berbasis pemberdayaan masyarakat di bawah payung PNPM Mandiri, yang komponen kegiatannya meliputi fasilitasi dan mobilisasi masyarakat sehingga mampu melakukan identifikasi permasalahan ketersediaan dan akses ke infrastruktur dasar, menyusun perencanaan dan melaksanakan pembangunan infrastruktur. (Buku pedoman pelaksanaan program PPIP tahun 2011) 2. Tujuan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Tujuan PPIP PNPM Mandiri adalah untuk mewujudkan peningkatan akses masyarakat miskin, hampir miskin, dan kaum perempuan, termasuk kaum minoritas terhadap pelayanan infrastruktur dasar perdesaan berbasis pemberdayaan masyarakat dalam tata kelola pemerintahan yang baik. (Buku pedoman pelaksanaan program PPIP tahun 2011) 3. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan PPIP Berdasarkan penjelasan yang dijabarkan dalam buku pedoman pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan tahun 2011, terdapat empat prinsip dalam penyelenggaraan program ini yaitu: 52 a. Dapat diterima (Acceptable), pemilihan kegiatan dilakukan berdasarkan musyawarah desa sehingga dapat diterima oleh masyarakat secara luas (acceptable). Prinsip ini berlaku dari sejak pemilihan lokasi pembangunan infrastruktur, penentuan spesifikasi teknis, penentuan mekanisme pengadaan dan pelaksanaan kegiatan, termasuk pada penetapan mekanisme pemanfaatan dan pemeliharaannya. b. Transparansi, penyelenggaraan kegiatan dilakukan bersama masyarakat secara terbuka dan diketahui oleh semua unsur masyarakat (transparent). Transparansi antara lain dilakukan melalui penyebaran informasi terkait program secaraakurat dan mudah diakses oleh masyarakat. c. Akuntabel, penyelenggaraan kegiatan yang dilaksanakan masyarakat harus dapat dipertanggungjawabkan (accountable), dalam hal ketepatan sasaran, waktu, pembiayaan, dan mutu pekerjaan. d. Berkelanjutan, penyelenggaraan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan (sustainable) yang ditandai dengan adanya rencana pemanfaatan, pemeliharaan dan pengelolaan infrastruktur terbangun secara mandiri oleh masyarakat. 4. Pendekatan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) Berdasarkan penjelasan yang dijabarkan dalam buku pedoman pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan tahun 2011, terdapat 8 pendekatan dalam program ini diantaranya adalah: a. Pemberdayaan Masyarakat, artinya seluruh proses pelaksanaan kegiatan (tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemeliharaan) melibatkan peran aktif masyarakat. 53 b. Keberpihakan kepada orang miskin, artinya orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan, hasil diupayakan dapat berdampak langsung bagi penduduk miskin. c. Otonomi dan desentralisasi, artinya pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan program dan keberlanjutan infrastruktur terbangun. d. Partisipatif, artinya masyarakat, khususnya kelompok miskin, kaum perempuan serta kelompok minoritas, diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemeliharaan dan pemanfaatan, serta memberikan kesempatan secara luas partisipasi aktif dari masyarakat. e. Keswadayaan, artinya kemandirian masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pelaksanaan tahapan kegiatan PPIP. f. Keterpaduan program pembangunan, artinya program yang direncanakan dan dilaksanakan dapat ber sinergi dengan program pembangunan perdesaan lainnya. g. Penguatan Kapasitas Kelembagaan, artinya pelaksanaan kegiatan diupayakan dapat mendorong terwujudnya kemandirian pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan stakeholders lainnya dalam penanganan permasalahan kemiskinan. h. Kesetaraan dan keadilan gender, artinya pelaksanaan kegiatan mendorong terwujudnya kesetaraan antara pria dan perempuan dalam setiap tahap kegiatan dan pemanfaatannya. 54 5. Organisasi Pelaksanaan Dalam Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan PPIP Berdasarkan penjelasan yang dijabarkan dalam buku pedoman pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan tahun 2011, terdapat beberapa organisasi khusunya yang didesa terkait pelaksanaan program ini yaitu: a. Pemerintah desa Pemerintah desa dalam hal ini adalah pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai penyelenggara urusan pemerintahan desa sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Pemerintah desa terdiri dari kepala desa dan perangkat desa mempunyai tugas untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Sedangkan BPD mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan desa serta menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. b. Masyarakat desa Masyarakat desa sasaran merupakan pemilik PPIP PNPM Mandiri sehingga masyarakat harus dapat memberikan dukungan dan berperan aktif selama penyelenggaraan program. Masyarakat merupakan pelaksana utama dalam pelaksanaan program di tingkat desa sehingga keberhasilan program ini akan sangat tergantung pada peran aktif masyarakat tersebut baik dalam proses penyiapan masyarakat, sosialiasasi, perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaannya. Pengelolaan PPIP PNPM Mandiri di tingkat desa dilaksanakan oleh OMS, yang dipilih dan dibentuk oleh masyarakat dalam musyawarah desa. Organisasi ini melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan 55 mengacu pada pedoman yang sudah ditetapkan dengan didampingi dan dibimbing oleh fasilitator. Organisasi ini harus menyebarluaskan hasil pelaksanaan kegiatan kepada masyarakat luas melalui papan-papan informasi. OMS yang sudah dibentuk dalam PPIP PNPM Mandiri ini diharapkan dapat berfungsi secara berkelanjutan. Organisasi ini diharapkan dapat membantu dalam pengembangan pembangunan di desanya atau mengimplementasikan pembangunan jangka menengah (PJM) yang sudah ada melalui berbagai program pembangunan. c. Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) OMS ditetapkan dalam musyawarah desa I. Disyaratkan tiap desa dibentuk 1 (satu) OMS atau dapat memanfaatkan organisasi yang sudah ada yang keanggotaannya disetujui melalui musyawarah desa I, kemudian disahkan oleh kepala desa. Apabila desa pernah melaksanakan program PPIP dan keanggotaan OMS nya berkinerja baik, disarankan agar masyarakat memakai keanggotaan yang sudah ada. Susunan OMS terdiri dari Ketua, Bendahara, Sekretaris, Tenaga Teknis, dan anggota. Keanggotaan OMS harus mengikutsertakan kaum perempuan minimal 40 persen. OMS dipilih oleh masyarakat melalui pemilihan, apabila pemilihan tidak mencapai konsensus maka dilakukan kesepakatan saat Musdes I. 6. Fasilitator Masyarakat Berdasarkan penjelasan yang dijabarkan dalam buku pedoman pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan tahun 2011, Fasilitator masyarakat (FM) merupakan pendamping masyarakat dalam melaksanakan kegiatan PPIP 56 PNPM Mandiri secara langsung di tingkat desa. fasilitator masyarakat bertugas memberikan motivasi, bimbingan dan pembinaan kepada organisasi masyarakat. Setiap tim FM terdiri dari dua orang yaitu satu orang fasilitator pemberdayaan, dan satu orang fasilitator teknis, yang ditugaskan untuk melakukan pendampingan di tiga desa sasaran. Tugas FM secara umum meliputi: 1. Berkoordinasi dengan pemerintahan desa, dan tokoh masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan PPIP. 2. Melakukan sosialisasi dan menyebarluaskan program kepada seluruh masyarakat di tingkat desa. 3. Memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh kegiatan. 4. Melakukan verifikasi terhadap dokumen pencairan dana. 5. Mengidentifikasi keanggotaan OMS, KPP, KD, dan pada tanggung jawab dan peranannya dalam pemberdayaan masyarakat. 6. Melaksanakan pelatihan dan pembinaan untuk OMS, KPP, Kader Desa, para aparat desa dan Kepala Dusun. 7. Berkoordinasi dengan TAMK, Tim Pelaksana Kabupaten, dan Satker kabupaten, untuk kelancaran kegiatan. 8. Menyampaikan laporan bulanan kepada Satker Provinsi yang berisikan catatan harian yang dilengkapi dengan risalah Rapat Dua (2) Mingguan di tingkat kabupaten. 57 F. Tinjauan Mengenai Masyarakat Miskin 1. Definisi Masyarakat Menurut Linton dalam Soekanto (2002:24) masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Sedangkan Soemardjan dalam Soekanto (2002:24) mendefinisikan masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Shadily dalam Abdulsyani (2007:31) mengatakan bahwa masyarakat dapat didefinisikan sebagai golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain. Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dijelaskan tentang masyarakat, dapat disimpulkan bahwa masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup menetap pada suatu wilayah dan bekerja bersama sehingga menghasilkan kebudayaan sehingga pada akhirnya menimbulkan pertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain. 2. Ciri-Ciri Masyarakat Menurut Soekanto dalam Abdulsyani (2007: 32) menyatakan bahwa sebagai suatu pergaulan hidup atau suatu bentuk kehidupan bersama manusia, maka masyarakat itu mempunyai ciri-ciri pokok yaitu: 58 a) Manusia yang hidup bersama. Tidak ada ukuran yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoritis, angka minimumnya ada dua orang yang hidup bersama. b) Bercampur untuk waktu yang lama. Berkumpulnya manusia, maka dengan ini akan timbul manusia-manusia baru mereka dapat berkomunikasi menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaan mereka sehingga timbullah sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam kelompok tersebut. c) Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan. d) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya. 3. Definisi Kemiskinan Kemiskinan seperti diungkapkan oleh Suparlan dalam Astika (2010: 21), dinyatakan sebagai suatu keadaan kekurangan harta atau benda berharga yang diderita oleh seseorang atau sekelompok orang. Akibat dari kekurangan harta atau benda tersebut maka seseorang atau sekelompok orang itu merasa kurang mampu membiayai kebutuhan-kebutuhan hidupnya sebagaimana layaknya. Kekurang mampuan tersebut mungkin hanya pada tingkat kebutuhan-kebutuhan budaya (adat, upacara-upacara, moral dan etika), atau pada tingkat pemenuhan kebutuhankebutuhan social (pendidikan, berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama) atau pada tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang mendasar (makan minum, berpakaian, bertempat tinggal atau rumah, kesehatan dan sebagainya). 59 Menurut Departemen Sosial dalam Wahyu (2011: 5) kemiskinan adalah suatu keadaan serba kekurangan yang di alami oleh seseorang atau sekelompok orang di luar keinginan yang bersangkutan sebagai kejadian yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan atau kemampuan yang dimilikinya”. Kondisi yang serba kekurangan ini disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, yang berinteraksi satu sama lain sehingga menghasilkan kondisi- kondisi baru yang menyebabkan kemiskinan. Selain itu dalam website Bappenas kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. (www.bappenas.go.id) Menurut buku Pedoman Komite Penanggulangan kemiskinan dalam Karnaji (2011: 3), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat miskin umumnya ditandai oleh ketidakberdayaan atau ketidakmampuan (powerless) dalam beberapa hal, yaitu: (1) ketidakmampuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, (2) ketidakberdayaan melakukan kegiatan usaha produktif, (3) ketidakberdayaan menjangkau akses sumber daya sosial dan ekonomi, (4) ketidakmampuan menentukan nasibnya sendiri serta senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan serta sikap apatif dan fatalistik, dan (5) 60 ketidakmampuan membebaskan diri dari mental dan budaya miskin serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah. 4. Ciri-Ciri Masyarakat Miskin Menurut badan pusat statistik (BPS) dalam Nursalam (2012:21) ada empat belas kriteria keluarga miskin, seperti yang telah disosialisasikan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (2009), rumah tangga yang memiliki ciri rumah tangga miskin, yaitu: a) Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang. b) Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan c) Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester. d) Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama dengan rumah tangga lain. e) Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik. f) Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan. g) Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah. h) Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu. i) Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun. j) Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari. k) Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik. l) Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000 per bulan. 61 m) Pendidikan tertinggi kepala kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD. n) Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp. 500.000, seperti: sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. 5. Pemberdayaan Masyarakat Miskin a. Definisi Pemberdayaan Menurut Swift dan Levin (dalam Suharto, 2010:59) pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial. Sedangkan menurut Ife (dalam Suharto, 2010:58) pemberdayaan merupakan suatu usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orangorang yang lemah atau tidak beruntung. Selain itu Rappaport (dalam Suharto, 2010:59) juga mendefinisikan pemberdayaan sebagai suatu cara dengan mana rakyat, organisasi dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai kahidupannya. Berdasarakan pendapat para ahli diatas dapat dsimpulkan bahwa pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. b. Kelompok lemah dan ketidakberdayaan Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal maupun karena kondisi eksternal. Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi: 62 1. Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis. 2. Kelompok khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat serta masyarakat yang terasingkan. 3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami maslah pribadi atau keluarga. c. Strategi Pemberdayaan Persons (dalam Suharto, 2010:66) memaparkan strategi pemberdayaan dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan yang dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan dianataranya: 1. Aras mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. 2. Aras mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalah yang dihadapinya. 3. Aras makro. Pendekatan ini disebut juga sebagai strategi system besar, karena sasaran perubahan diarahkan perubahan diarahkan pada system lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, 63 kampanye, aksi sosial, lobbying, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. d. Prinsip pemberdayaan Menurut Solomon dkk (dalam Suharto, 2010:68) terdapat prinsip pemberdayaan menurut prinsip pekerjaan sosial diantaranya: 1. Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai aktor atau subjek yang kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatankesempatan. 2. Masyarakat harus berpartisipasi dalam proses pemberdayaan mereka sendiri. Tujuan, hasil dan cara haruslah dirumuskan oleh mereka sendiri. 3. Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena pengetahuan dapat memobilisasi tindakan bagi perubahan. 4. Proses pemberdayaan bersifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif. Permaslahan selalui memiliki beragam solusi. 64 G. Kerangka Pikir Sarana dan prasarana fisik, atau sering disebut dengan infrastuktur, merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem pelayanan masyarakat. Berbagai fasilitas fisik merupakan hal yang vital guna mendukung berbagai kegiatan di masyarakat. infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan akses masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya dan sekaligus sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Keberadaan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan, rendahnya akses terhadap infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan, irigasi dan sebagainya, merupakan salah satu penyebab kemiskinan di pedesaan. Salah satu desa yang letaknya di provinsi lampung yaitu Desa Fajar Bulan. Desa Fajar Bulan adalah Desa yang berlokasi di Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah, Desa Fajar Bulan memiliki luas wilayah 1.692,5 hektar yang mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai petani. Jumlah penduduk Desa Fajar Bulan sebanyak 5461 jiwa dengan jumlah KK 1368 jiwa dari jumlah tersebut KK sedang sebanyak 14,6 %, KK prasejahtera sebanyak sebanyak 16,2 %, KK Sejahtera 17,9%, KK sejahtera 14,6% dan KK miskin 46,7%. Melihat masih banyaknya KK dari golongan Miskin inilah sehingganya Desa Fajar Bulan dapat dikatagorikan termasuk dalam desa tertinggal. Selain masalah di atas kondisi sarana dan pra sarana Desa Fajar Bulan juga masih minim seperti halnya sarana jalan yang merupakan akses utama bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari kondisinya masih belum layak karena jalan yang ada hanya sebatas jalan tanah yang kondisinya bergelombang dan sulit 65 dilalui jika musim penghujan tiba. Hal ini tentunya sangat menyulitkan masyarakat yang ingin melakukan aktivitasnya terlebih yang berprofesi sebagai petani yang ingin menjual hasil panennya keluar desa. Sebagai langkah untuk menyelesaikan permasalahan terkait minimnya infrastruktur seperti jalan, jembatan, irigasi dan lainnya. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah melaksanakan berbagai program. Salah satunya adalah Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan. Program pembangunan infrastruktur perdesaan atau yang lebih dikenal sebagai PPIP. PPIP berupaya menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat baik secara individu maupun kelompok melalui partisipasi dalam memecahkan berbagai permasalahan yang terkait kemiskinan dan ketertinggalan desanya sebagai upaya meningkatkan kualitas kehidupan melalui keberadaan infrastruktur yang memadai. PPIP merupakan program berbasis pemberdayaan di bawah payung PNPM Mandiri, yang bantuannya meliputi fasilitasi dan memobilisasi masyarakat dalam melakukan identifikasi permasalahan kemiskinan, menyusun perencanaan dan melaksanakan pembangunan infrastruktur desanya. Melalui program PPIP diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat secara optimal dalam semua tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian masyarakat, penyusunan rencana program, menentukan kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan, serta pengelolaannya. Peningkatan peran stakeholder dan pemerintah juga dapat ditumbuhkembangkan melalui program ini sehingga, 66 pembinaan yang dilaksanakan dapat mendorong kemandirian masyarakat dan sinergi berbagai pihak dalam penanggulangan kemiskinan di pedesaan. Untuk dapat melihat bagaimana pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP PNPM Mandiri) oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012 maka peneliti menggunakan model teori implementasi Elmore dimana dalam implementasi ini peneliti akan melihat apakah pengimplementasian program PPIP sudah berjalan dengan efektif. 67 Gambar 1. Model Kerangka Pikir Masih rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana dasar infrastruktur pedesaan menjadi penyebab masyarakat pedesaan sulit untuk menjalankan berbagai aktivitas dan meningkatkan kualitas perekonomian BERDASARKAN (1) SK Kementrian Pekerjaan Umum No. 131/KTPTS/M/2012 Tangal 1 juni 2012 tentang penetapan desa sasaran program PPIP tahun 2012, (2) Pedoman pelaksanaan PPIP-PNPM Mandiri, (3) Peraturan dirjen Perbendaharaan tentang mekanisme pencairan dana PPIP, (4) Keputusan Bupati Lampung Tengah Nomor. 106.A/KPTS/D.14/2012, Tanggal 27 Februari 2012 tentang District Project Implementation Unit (DPIU) Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Kabupaten Lampung Tengah. Menetapkan Desa Fajar Bulan sebagai salah satu desa yang mendapatkan program PPIP PNPM Mandiri 1. Implementasi program PPIP PNPM Mandiri a. Tugas dan tujuan yang jelas yang secara akurat merefleksikan maksud dari suatu kebijakan b. Manajemen rencana yang mengalokasikan tugas dan standard kinerja ke organisasi pelaksana c. Pengukuran kinerja organisasi pelaksana yang dinilai dengan tujuan yang ingin dicapai d. Sistem manajemen kontrol dan sanksi sosial untuk menjaga akuntabilitas pelaksana 2. Dampak program PPIP terhadap akses pelayanan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan 3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012 Elmore (dalam golembiewski, 1997:766) Sumber: diolah oleh penulis tahun 2014 Implementasi program PPIP PNPM Mandiri 68 III. METODE PENELITIAN A. Tipe dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data di lapangan. Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2011:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Denzin dan Lincoln dalam Moleong (2011:5) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu metode penelitian dalam ilmu pengetahuan sosial yang menggunakan latar alamiah untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dengan cara 69 mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode yang ada. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif penulis bermaksud untuk memaparkan mengenai gejala-gejala yang terdapat di dalam masalah penelitian yaitu mengenai implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin B. Fokus Penelitian Suatu penelitian perlu dilakukan pembatasan dan pemfokusan terhadap masalah yang sedang diteliti. Ini dilakukan agar penelitian dapat terarah dan meghindari sikap bias dari seorang peneliti dalam melakukan analisis data. Menurut Moleong (2011:94) penetapan fokus sebagai masalah yang penting dalam suatu penelitian yang mana berfungsi untuk membatasi studi kualitatif dan menentukan kriteria inklusi-eksklusi atau kriteria masuk-keluar informasi yang baru diperoleh di lapangan sehingga dengan penetapan fokus yang jelas, seorang peneliti dapat membuat keputusan yang tepat tentang data mana yang harus dikumpulkan dan data mana pula yang meskipun menarik, karena tidak relevan tidak perlu dimasukan ke dalam sejumlah data yang sedang dikumpulkan. Adapun fokus penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan batasan dalam pengumpulan data, sehingga dengan pembatasan ini peneliti memfokuskan terhadap masalah-masalah yang menjadi tujuan penelitian. penelitian ini difokuskan pada: 70 1. Implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012 yang meliputi: 1. Tugas dan tujuan yang jelas yang secara akurat merefleksikan maksud dari program PPIP PNPM Mandiri. 2. Manajemen rencana yang mengalokasikan tugas dan standard kinerja dalam program PPIP PNPM Mandiri ke organisasi pelaksana. 3. Pengukuran kinerja organisasi pelaksana yang dinilai dengan tujuan yang ingin dicapai dari program PPIP PNPM Mandiri. 4. Sistem manajemen kontrol dan sanksi sosial dalam pelaksanaan program PPIP PNPM Mandiri untuk menjaga akuntabilitas pelaksana. Sumber: Richard Elmore (dalam golembiewski, 1997:766) 2. Dampak program PPIP terhadap akses pelayanan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan. 3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012. C. Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokus di Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah. Penentuan lokasi menurut Moleong (2011:128) merupakan cara terbaik yang ditempuh dengan mempertimbangkan substansi dan menjajaki lapangan dan untuk mencari kesesuaian dengan melihat kenyataan di lapangan. 71 Pemilihan ini didasarkan dengan alasan bahwa, Desa fajar Bulan merupakan salah satu desa yang mengimplementasikan program pembangunan infarstruktur pedesaan di Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2012. D. Jenis Data dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini adalah: 1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya (Syekh, 2011:5). Data-data primer ini diperoleh dari hasil wawancara dan observasi yang diperoleh peneliti selama proses pengumpulan data terhadap implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin pada Desa Fajar Bulan kecamatan gunung sugih kabupaten lampung tengah tahun 2012. 2. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada (Syekh, 2011:5-6). Data ini digunakan sebagai informasi pendukung dalam analisis data primer. Data ini pada umunya berupa data-data tertulis seperti, monografi, laporan kegiatan notulensi rapat, berita acara kegiatan, data-data statistik, surat-surat keputusan yang terkait dengan pelaksanaan proses implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin pada Desa 72 Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012. 2. Sumber Data Menurut Lofland dalam Moleong (2011:157) sebuah data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data utama tersebut dicatat melalui catatan tertulis atau perekaman audio atau video tapes, pengambilan foto, atau film. Adapun sumber data dalam penelitian ini meliputi : a. Informan Informan adalah orang-orang atau pihak yang terkait dan dinilai memiliki informasi tentang implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin pada desa fajar bulan tahun 2012. Sumber data informan yang dimaksud diantaranya: Tabel 3. Informan terkait pelaksanaan program PPIP di Desa Fajar Bulan tahun 2012 No 1 2 Nama Nurdin Ahmad Basri 3 Suganda 4 Pirnaningsih, S.E Jabatan Tanggal Wawancara Ketua Organisasi Masyarakat (OMS) Program PPIP Tahun 2012 Desa Fajar Bulan Bendahara Organisasi Masyarakat (OMS) Program PPIP Tahun 2012 Desa Fajar Bulan Sekertaris Organisasi Masyarakat (OMS) Program PPIP Tahun 2012 Desa Fajar Bulan Dan Kaur Pemabangunan Desa Fajar Bulan 4 Agustus 2014 Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Program PPIP Tahun 2012 Desa Fajar Bulan 4 September 2014 4 Agustus 2014 4 Agustus 2014 73 5 Kiki Rahmat Barkah, A.Md Fasilitator Teknik Program PPIP Tahun 2012 Desa Fajar Bulan 31 Agustus 2014 6 Masyarakat desa Fajar Bulan Masyarakat Desa Fajar Bulan 5 Agustus 2014 Ketua KPP Desa Fajar Bulan 5 Agustus 2014 7 Supadi Sumber: diolah oleh penulis tahun 2014 b. Dokumen-dokumen Dokumen adalah arsip serta literatur yang berhubungan dengan proses implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012 Tabel 4. Dokumen terkait penelitian program pembangunan infrastruktur pedesaan Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2012 No Dokumen Substansi 1 Profil desa fajar bulan Gambaran umum Desa Fajar Bulan 2 Surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan pembangunan infrastruktur pedesaan Berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan 3 Buku panduan pembangunan pedesaan pelaksanaan infrastruktur Berisi tentang juklak dan juknis program pembangunan infrastruktur pedesaan 4 Dokumen laporan pelaksanaan program pembangunan pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri tahun 2012. Berisi tentang realisasi kegiatan dalam program pembangunan pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) PNPM Mandiri tahun 2012. 5 Dokumen rencana pembangunan jangka menengah Desa Fajar Bulan 2011-2015. Berisi tentang kondisi desa dan rencana kerja pembangunan Desa Fajar Bulan. Sumber: diolah oleh penulis tahun 2014 74 c. Observasi Batasan pengertian atau definisi observasi menurut Young dan Schmit (dalam Pasolong, 2012:131) adalah sebagai pengamatan sistematis berkenaan dengan perhatian terhadap fenomena-fenomena yang nampak. Perhatian yang dimaksud adalah harus diberikan kepada unit kegiatan yang lebih besar atau lebih luas pada fenomena-fenomena khusus yang diamati terjadi. Sedangkan menurut Lewin (dalam Pasolong, 2012:131) observasi tentang perilaku sosial biasanya bernilai kecil jika tidak mencakup suatu gambaran yang cukup memadai tentang sifat dan kondisi sosial atau unit kegiatan yang lebih besar dalam kegiatan sosial khusus yang terjadi. E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian kualitatif atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen juga harus divalidasi seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitataif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Pelaku validasi adalah peneliti sendiri melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan (Sugiyono, 2012:222) Menurut Nasution dalam Sugiyono, (2012:223) bahwa dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian 75 utama. Alasannya bahwa segala sesuatu belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Berangkat dari keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya. Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Peneliti akan terjun ke lapangan sendiri, baik pada grand tour question, tahap focused and selection, melakukan pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan. (Sugiyono, 2012:223) Instrumen penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini antara lain: 1. Peneliti, sebagaimana yang disampaikan oleh Moleong maka instrumen dari penelitian ini adalah manusia. 2. Perangkat penunjang lainnya seperti: interview guide (pedoman wawancara) dan filed note ( catatan-catatan lapangan) dan alat bantu yang lain (recorder, buku, catatan 76 F. Teknik Analisis Data Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam Moleong, (2011:248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah data menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data seperti dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992) dalam Sugiyono, (2011:246) bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Aktivitas dalam menganalisis data kualitatif yaitu: 1. Reduksi Data (reduction data). Mereduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian reduksi data dalam hal ini merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung. Reduksi data yang dilakukan dalam hal ini yaitu, peneliti melakukan pemilihan data yang telah didapat dari lokasi pelaksanaan program PPIP PNPM Mandiri yang dapat diperlukan berdasarkan fokus penelitian dengan batasan data yang ada dalam panduan wawancara yang telah dibuat. Hal 77 tersebut disesuaikan dan dipilih mana data yang berguna untuk dapat disajikan dalam penyajian data. 2. Penyajian Data (Data Display). Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dalam penelitian ini diwujudkan peneliti dalam bentuk uraian teks naratif, tabel, foto atau gambar. 3. Penarikan Kesimpulan (concluting drawing). Menarik kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Secara teknis proses penarikan kesimpulan dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara membandingkan data empiris hasil penemuan dilapangan dengan teori yang relevan dengan permasalahan penelitian yang ditemukan. G. Teknik Keabsahan Data Menurut Moleong (2011: 327) untuk memeriksa credibility maka dilakukan kegiatan sebagai berikut: 1. Perpanjangan keikutsertaan 2. Ketekunan pengamatan 3. Triangulasi 4. Pengecekan sejawat melalui diskusi 5. Analisis kasus negatif 6. Pengecekan anggota 78 Kemudian dalam penelitian ini menggunakan teknik keabsahan data dengan triangulasi. Triangulasi merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Penggunaan triangulasi disini, dimaksudkan agar peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkan berbagai sumber, metode, atau teori. 79 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Desa Fajar Fajar Bulan 1. Sejarah Terbentuknya Desa Fajar Bulan Desa Fajar Bulan adalah sebuah desa yang masyarakatnya sebagian besar merupakan pendatang dari pulau jawa yang membuat pemukiman secara terpisah menjadi 4 bagian pemukiman. Untuk pribumi atau suku asli yang berasal dari kampung yang dahulu bernama kampung/pemukiman yang tidak tahu namanya ini dinamai pemukiman tobong bata dan untuk pemukiman masyarakat Jawa diberi nama pemukiman jambu mente, sedangkan untuk pemukiman Sunda dan banten di beri nama pemukiman kelapa tiga dan untuk pemukiman masyarakat lainnya merupakan pendatang atau transmigrasi. Desa Fajar Bulan menjadi ramai dan membentuk sebuah desa di tahun 1935 yang di kepalai oleh seorang yang dalam bahasa setempat disebut jaro yang artinya kepala dusun. 2. Kebijakan Umum Desa Secara administratif Desa Fajar Bulan terbagi dalam enam Dusun. Namun, pemukiman penduduk hanya terbagi dalam tiga wilayah yakni utara, tengah dan selatan. Wilayah utara adalah Dusun Karang Sari dan Sidomulyo sedangkan 80 wilayah tengah adalah Dusun Fajar Bulan dan wilayah selatan adalah Dusun Bangun Sari. Pelaksanaan pembangunan antara wilayah utara dan wilayah tengah harus seimbang agar tidak terjadi kecemburuan yang mengakibatkan terjadinya ketidak harmonisan dalam masyarakat. Demi tercapainya azas adil dan merata tersebut, pembangunan dilaksanakan bertahap dan bergantian antar wilayah utara, selatan dan wilayah tengah selain itu dalam pelaksanaan pembangunan harus melibatkan warga masing-masing wilayah agar tercipta rasa saling memiliki meskipun pembangunan tersebut berlokasi di dusun lain. Selain azas adil dan merata arah kebijakan yang digunakan dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Fajar Bulan juga lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat darurat atau membutuhkan penanganan yang tidak bias ditunda. 3. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Desa Fajar Bulan 1. Pembangunan balai dan kantor kepala desa 2. Pembangunan Panti PKK 3. Pembangunan jalan paving 4. Peningkatan jalan pedel 5. Pembangunan saluran air dan trotoar 6. Pembangunan jembatan dan gorong-gorong 7. Perawatan jalan paving 8. Pelengsengan jalan 9. Pembangunan jalan telford 10. Pembangunan jalan penetrasi 81 4. Strategi Pembangunan Desa Fajar Bulan Penentuan program desa diawali dari musyawarah desa yang dihadiri oleh tokohtokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, RT/RW, Pemerintah desa beserta BPD dalam rangka penggalian gagasan. Dari penggalian gagasan tersebut dapat diketahui permasalahan yang ada di desa dan kebutuhan apa yang diperlukan oleh masyarakat sehingga aspirasi seluruh lapisan masyarakat bias tertampung. Sebagai wakil dari masyarakat, BPD berperan aktif membantu pemerintah Desa dalam menyusun program pembangunan. Pemerintah desa beserta BPD merumuskan program pembangunan desa. Dalam hal ini, menyusun pembangunan diprioritaskan terhadap pembangunan yang sifatnya mendesak dan harus dilakukan dengan segera dalam arti menyusun skala prioritas. 5. Kondisi Geografis Desa Fajar Bulan Tabel 5. Kondisi Geografis Desa Fajar Bulan No Uraian Uraian 1 Luas Wilayah 1.692,5 Ha 2 Jumlah Dusun 1. Dusun 1 Fajar Bulan 2. Dusun 2 Fajar Bulan 3. Dusun 3 Fajar Bulan 4. Dusun Karang Sari 5. Dusun Sidomulyo 6. Dusun Bangun Sari a. Utara, 3 Batas Wilayah Kecamatan Seputih Agung, Sulusuban b. Selatan, kecamatan Bekri c. Barat, Kecamatan Haji Pamanggilan, Anak Tuha d. Timur, Kecamatan Komering Putih 82 4 Topografi Luas kemiringan lahan (rata-rata) a. Dataran 1.692,5 Ha 5 Luas lahan pertanian Sawah tadah hujan 70 Ha 6 Luas lahan Pemukiman Luasnya mencapai 30 Ha Sumber: RPJM Desa Fajar Bulan tahun 2011-2015 6. Sejarah Pembangunan Infrastruktur Jalan Yang Pernah Dilakukan Di Desa Fajar Bulan Tabel 6. Sejarah Pembangunan di Desa Fajar Bulan No Tahun Kegiatan Pembangunan Sumber dana 1 2001 Pembangunan jalan telford dusun IV APBN 2 2005 Pembangunan jalan onderlagh dusun V APBN 3 2005 Pembangunan jalan telford dan talud APBN 4 2005 Pembangunan jalan telford dusun 1 dan 2 APBN 5 2006 Pembangunan jalan telford dusun 1 dan 2 APBN 6 2007 Pembangunan jalan telford dusun V APBN 7 2007 Pembangunan jalan telford dusun I,II dan III APBN 8 2007 Pembangunan jalan telford dusun III APBN 9 2008 Pembangunan jalan telford dusun IV APBN 10 2009 Pembangunan jalan telford dusun IV APBN 11 2010 Pembangunan jalan telford dusun VI APBN Sumber: RPJM Desa Fajar Bulan tahun 2011-2015 7. Sarana dan Prasaran Yang Ada Desa Fajar Bulan Tabel 7. Sarana dan Prasarana Desa No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah Keterangan 1 Tahap pengerjaan/masih Desa 1 Kantor Desa sebatas fondasi awal 2 Gedung SLTA 1 3 Gedung SLTP 1 4 Gedung SD 3 83 5 Gedung MI - 6 Gedung TK 2 7 Masjid 4 8 Mushola 15 9 Pasar Desa 1 10 Polindes - 11 Panti PKK - 12 Poskamling 15 13 Jembatan 2 14 Gedung TPQ - Perlu tambahan ruang Perlu perbaikan Masih sebatas fondasi awal Sumber: RPJM Desa Fajar Bulan Tahun 2011-2015 B. Gambaran Umum Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Desa Fajar Bulan 1. Jenis Infrastruktur Jenis infrastruktur yang akan di bangun adalah pembuatan jalan onderlagh dan gorong-gorong. Jalan ini menjadi prioritas utama karena jalan ini merupakan jalan penghubung antar dusun, sebagai sarana untuk mengangkut hasil pertanian dan sebagai akses masyarakat untuk melakukan aktifitas sehari-hari. 2. Lokasi Kegiatan Lokasi jalan dan gorong-gorong berada di Dusun BangunSari dan Dusun Karang Sari. 3. Waktu Pelaksanaan Kegiatan rencana waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan pembangunan infrastruktur adalah tidak lebih dari tiga bulan. 4. Sasaran Dari Pembangunan Infrastruktur 1. Agar tersedia sarana pedesaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. 84 2. Maningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat miskin. 3. Menciptakan lapangan pekerjaan. 4. Terciptanya pelaksanaan pembangunan yang partisipatif, transparan dan berkelanjutan. 5. Jumlah Pemanfaat Tabel 8. Daftar Penerima Manfaat Program PPIP Di Desa Fajar Bulan Jumlah Peanfaat No 1 Uraian Lokasi Pembuatan Dusun jalan onderlagh Karang Sari dan gorong- KK Jiwa KK Miskin 312 754 116 342 634 176 Dusun gorong Bangun Sari Sumber: Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3) C. Organisasi Masyarakat Pelaksana Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Desa Fajar Bulan OMS ditetapkan dalam Musyawarah Desa I. Disyaratkan tiap desa pelaksana program ppip dibentuk satu OMS atau dapat memanfaatkan organisasi yang sudah ada yang keanggotaannya disetujui melalui Musyawarah Desa I, kemudian disahkan oleh Kepala Desa. Apabila desa pernah melaksanakan program PPIP dan keanggotaan OMS nya berkinerja baik, disarankan agar masyarakat memakai keanggotaan yang sudah ada. Susunan OMS terdiri dari Ketua, Bendahara, Sekretaris, Tenaga Teknis, dan anggota. Keanggotaan OMS harus mengikutsertakan kaum perempuan minimal 40 persen. OMS dipilih oleh masyarakat melalui pemilihan, apabila pemilihan tidak mencapai konsensus maka dilakukan kesepakatan saat 85 Berikut ini adalah struktur organisasi Masyarakat Desa Fajar Bulan beserta tenaga teknis pembantu: Tabel 9. Struktur Organisasi Masyarakat Desa Fajar Bulan no 1 2 3 . 5 6 Nama Nurdin Suganda Basri Sukarti Sugianti jabatan Ketua Sekretaris Bendahara Anggota Anggota Sumber:Dokumen surat perjanjian pelaksanaan (SP3) Tabel 10. Tenaga Teknis Pembantu Pogram PPIP Desa Fajar Bulan No 1 2 Nama Pirnaningsih, S.E Kiki Rahmat Barkah, A. Md Jabatan Fasilitator Pemberdayaan Fasilitator Teknik Sumber: Dokumen surat perjanjian pelaksanaan (SP3) 1. Tugas OMS Meliputi: a. Menandatangani dan mentaati pakta integritas yang disepakati bersama kepala desa dan wakil masyarakat. b. Mengidentifikasi permasalahan infrastruktur dan perekonomian di tingkat desa. c. Menyelenggarakan musyawarah desa dan rembug warga. d. Membantu dan memfasilitasi keterlibatan kaum perempuan, masyarakat miskin dan kaum minoritas dalam setiap tahapan kegiatan. e. Menyusun UPD dan RKM. f. Mengajukan RKM kepada Tim Pelaksana Kabupaten untuk diverifikasi. g. Menyusun perencanaan teknis dan RAB. h. Memfasilitasi pembentukan KPP. 86 i. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan RKM. j. Membuka rekening bantuan dana sosial (rekening harus dengan dual account, antara Ketua dan Bendahara OMS). k. Menjamin dan memfasilitasi transparansi kegiatan. l. Menandatangani kontrak kerja (oleh ketua OMS) dengan Pejabat PK (Pembuat Komitmen) PPIP dengan melampirkan: berita acara dan daftar hadir tahap Musdes Persiapan dan tahap Musdes Perencanaan. m.Melakukan pengajuan pencairan kepada Satker/PPK dengan lampiran Laporan Pelaksanaan Kegiatan, Buku Kas tingkat desa yang dilengkapi nota/bukti pengeluaran dan foto kopi buku rekening bank OMS. n. Membuat Laporan Buku Kas tingkat desa dan mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran; o. Menyusun laporan pencairan dana dan pengelolaan dana. p. Memonitor pelaksanaan kegiatan fisik harian. q. Menyusun laporan kemajuan pelaksanaan sesuai dengan format pedoman. r. Menyelenggarakan rembug-rembug warga untuk membahas kemajuan dan permasalahan pelaksanaan kegiatan minimal seminggu sekali. s. Menyebarluaskan laporan kemajuan kegiatan melalui media komunikasi yang ada di tingkat desa, papan informasi, dan media lainnya yang dapat diakses oleh semua pihak minimal seminggu sekali. t. Menyusun laporan akhir/pertanggungjawaban kegiatan pelaksanaan yang dibahas dalam Musdes IV. u. Menyelenggarakan musyawarah desa IV. v. Menyampaikan laporan akhir hasil Mudes IV kepada Satker Kabupaten. 165 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis implementasi program PPIP PNPM Mandiri oleh aparatur desa dan masyarakat di Desa Fajar Bulan tahun 2012, maka dapat diambil kesimpulan bahwa implementasi program PPIP ini belum terlaksana secara efektif, dikarenakan: a. Dilihat dari tugas dan tujuan yang jelas yang secara akurat merefleksikan maksud dari suatu kebijakan, dalam implementasi program PPIP PNPM tugas dan tujuan program PPIP telah tercantum secara jelas di dalam bentuk buku panduan pelaksanaan program PPIP dan surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan (SP3). b. Dilihat dari manajemen rencana yang mengalokasikan tugas dan standar kinerja ke unit yang lebih kecil yang dilaksanakan melalui musyawarahmusyawarah Desa belum cukup baik, mayarakat belum sepenuhnya ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan musyawarah Desa yang dilaksanakan. c. Dilihat dari pengukuran kinerja organisasi pelaksana yang dinilai dengan tujuan yang ingin dicapai, kinerja organisasi pelaksana sudah cukup baik infrastruktur yang terbangun memiliki kualitas yang memadai sehingga tujuan dari program PPIP untuk meningkatkan akses masyarakat telah tercapai. 166 d. Dilihat dari sistem manajemen kontrol dan sanksi sosial untuk menjaga bawahan agar tetap akuntabel, untuk pengawasan fisik infrastruktur belum cukup baik karena intensitas monitoring yang dilakukan belum maksimal. Sedangkan untuk pengawasan prosedural pelaksanaan dan partisipasi masyarakat, pelaksanaannya sudah cukup baik. Intensitas monitoring dilakukan langsung pada saat berjalannya proses perencanaan hingga pelaksanaan program. Untuk sanksi, program PPIP telah didukung dengan adanya sanksi tertulis apabila terjadi pelanggaran dalam pelaksanaannya. 2. Program PPIP memiliki dampak positif terhadap kelancaran akses masyarakat Desa Fajar Bulan, baik itu bagi mereka yang berprofesi sebagai petani maupun bagi masyarakat lainnya yang ingin menjangkau sarana dan prasaran seperti sekolah, pasar dan juga bagi mereka yang akan menuju atau keluar dari dusun bangun sari. 3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program pembangunan infrastruktur pedesaan oleh aparatur desa dan masyarakat untuk meningkatkan akses masyarakat miskin di Desa Fajar Bulan tahun 2012 a. Kurangnya kesadaran masyarakat akan arti penting dari partisipasi dalam forum musyawarah Desa yang dilaksanakan. b. Kurang maksimalnya peran OMS dalam memfasilitasi keterlibatan kaum perempuan dalam organisasi maupun dalam musyawarah-musyawarah Desa yang dilaksanakan. c. Adanya perbedaan cara pandang dari beberapa masyarakat desa fajar bulan mengenai pentingnya keterwakilan mereka dalam kegiatan musdesmusdes yang dilaksanakan. 167 d. Kurangnya jumlah fasilitator pendamping program PPIP. B. Saran Setelah melihat dan menganalisis hasil penelitian, maka penulis mencoba memberikan saran, yaitu: 1. Pihak OMS bersama fasilitator masyarakat sebaiknya lebih banyak memberikan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat mengenai program PPIP yang akan dilaksanakan dalam bentuk forum-forum diluar bagian dari sosialisasi yang ada dalam program ppip, sosialisasi ini bisa dilakukan pada saat kegiatan gotong-royong yang biasa dilaksanakan masyarakat desa fajar bulan. 2. Untuk lebih memaksimalkan partisipasi kaum perempuan yang ada sebaiknya OMS mengajak serta fasilitator masyarakat untuk memfasilitasi pembentukan forum-forum diskusi/rembug diluar musdes-musdes yang dilaksanakan dengan waktu pelaksanaannya yang dapat disesuaikan dengan waktu luang yang dimiliki kaum perempuan, sehingga aspirasi mereka dapat tersalurkan dan bukan hanya terpaku pada musdes-musdes yang dilaksanakan. 3. Perlunya dilakukan penambahan jumlah fasilitator pendamping, khususnya fasilitator di bidang pemberdayaan masyarakat, karena fasilitator di bidang pemberdayaan masyarakat yang ada hanya satu orang sehingga perlu adanya penambahan jumlah fasilitator guna memaksimalkan kinerja mereka untuk memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan program PPIP. DAFTAR PUSTAKA Abdulsyani, 2007, Sosisologi Skematika Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara. Abidin, Said Zainal. 2012. Kebijakan Publik. Jakarta: Salemba Humanika. Adisasmita, Rahardjo. 2013, Pembangunan Perdesaan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Agustino, Leo. 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta. Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Golembiewski, Robert T. 1997. Public Administration and Public Policy/64: Marcel Dekker United States Of America. Hadiawan, Agus. 2006. Teori Pembangunan. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Indian Hono Dwiyanto. 2009. Kebijakan Publik Berbasis Dynamic Policy Analysis. Yogyakarta: Gava Media. Moleong, Lexy J. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Roasdakaraya.Nugroho, Nugroho, Riant. 2012. Public Policy. Jakarta: Gramedia Jakarta. Pasolong, Harbani. 2012. Metode Penelitian Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta. Pasolong, Harbani. 2010. Teori Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta. Purwanto, Erwan Agus. 2012. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gava Media. Siagian, Sondang P 2003. Administrasi Pembangunan Konsep, Dimensi dan Strateginya. Jakarta: PT Bumi Aksara. Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantittaif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suharto, Edi, 2008, Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta. Syekh, Sayid. 2011. Pengantar Statistik Ekonomi dan Sosial. Jakarta: Gaung Persada. Tachjan, 2008. Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) dan Puslit KP2W Lembaga Penelitian Unpad. Wahab, Solichin Abdul. 2004. Analisi Kebijaksanaan Dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: PT Bumi Aksara. Winarno, Budi. 2012. Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus. Yogyakarta: Caps Sumber lain: Buku Pedoman Pelaksanaan Program PPIP Tahun 2011. Benjamin. 2011. Revitalisasi Pembangunan Desa Melalui Program Rural Infrastruktur Support Program Nasinal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (RIS PNPM), 2 (2): 316-327. Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Fajar Bulan 2011-2015. Katalog BPS (Lampung Tengah Dalam Angka Tahun 2013) Laporan akhir program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) tahun 2012. Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Infrastruktur Pedesaan Tahun 2012. (SP3) Program Pembangunan Astika, Swadana Ketut. 2010. Budaya Kemiskinan di Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan dan Kesadaran Budaya Miskin di Masyarakat. Jurnal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 1(01): 21. Hilmawan, Abimanyu. 2012. Implementasi Kebijakan Benih Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Sebagai Bagian Dari Program Swasembada dan Ketahanan Pangan Nasional. Skripsi. Universitas Indonesia. Depok Karnaji. 2011. Komitmen dan Konsistensi Pemerintah Dalam Mengatasi Kemiskinan. Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik 20 (1): 67-80 Kristanto, W. 2010. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur Jalan (Studi Kasus Pelaksanaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) di Desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik). Tesis. Program S2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya Nursalam, Aditya Nugraha. 2012. Tipologi Kemiskinan di Kota Makassar. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Paudel, Narendra Raj. 2009. A Critical Account of Policy Implementation Theories: Status and Reconsideration. Journal of Public Policy and Governance Vol. xxv, No.2: 37 Wahyu, Tri. 2011. Identifikasi Faktor Penyebab Kemiskinan Di Kota Semarang Dari Segi Kultural. Jurnal Ekonomi Pembangunan 12 (1): 28-24 Yunarto, Kurniawan. 2013. Pengaruh Pembangunan Fisik Terhadap Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Simpang Pasir Kecamatan Palaran Kota Samarinda. Jurnal Ilmu Pemerintahan 1 (02): 2. Website: http://www.bpkp.go.id/ 2012. (diakses tanggal 10 oktober 2013). http://www.pu-ppip.go.id (diakses tanggal 9 oktober 2013). http://www.perpustakaan.bappenas.go.id (diakses 10 maret 2014) http://www.bappenas.go.id (diakses 19 Desember 2013).
Informasi dokumen
Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP PNPM Mandiri)Oleh Aparatur Desa dan Masyarakat Untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin (Studi Pada Desa Fajar Bulan Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2012) Ciri-Ciri Kebijakan Publik Tinjauan Mengenai Kebijakan Publik 1. Pengertian Kebijakan Publik Ciri-Ciri Masyarakat Miskin Tinjauan Mengenai Masyarakat Miskin 1. Definisi Masyarakat Ciri-Ciri Masyarakat Tinjauan Mengenai Masyarakat Miskin 1. Definisi Masyarakat Dampak Kebijakan Publik Policy Impact Definisi Kemiskinan Tinjauan Mengenai Masyarakat Miskin 1. Definisi Masyarakat Fasilitator Masyarakat Tinjauan Tentang Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan PPIP PNPM MANDIRI Fokus Penelitian METODE PENELITIAN Implementasi Kebijakan Publik Model Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier Implementasi Kebijakan Publik Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn Implementasi Kebijakan Publik Model George Edward III Implementasi Kebijakan Publik Model Merilee S. Grindle Implementasi Kebijakan Publik Model Richard Elmore, dkk. Indikator pengambilan Penelitian Terdahulu Instrumen Penelitian METODE PENELITIAN Kebijakan Umum Desa Gambaran Umum Desa Fajar Fajar Bulan 1. Sejarah Terbentuknya Desa Fajar Bulan Kelompok lemah dan ketidakberdayaan Kerangka Pikir TINJAUAN PUSTAKA Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Lokasi Penelitian METODE PENELITIAN Organisasi Pelaksanaan Dalam Program Pembangunan Infrastruktur Pendekatan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan PPIP Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Desa Fajar Bulan Sejarah Pembangunan Infrastruktur Jalan Yang Pernah Dilakukan Di Desa Fajar Bulan Sarana dan Prasaran Yang Ada Desa Fajar Bulan Strategi Pembangunan Desa Fajar Bulan Kondisi Geografis Desa Fajar Bulan Strategi Pemberdayaan Pemberdayaan Masyarakat Miskin a. Definisi Pemberdayaan Sumber Data Jenis Data dan Sumber Data 1. Jenis Data Tahapan Kebijakan Publik Tinjauan Mengenai Kebijakan Publik 1. Pengertian Kebijakan Publik Tahapan Pembangunan Tinjauan Mengenai pembangunan 1. Pengertian Pembangunan Teknik Analisis Data METODE PENELITIAN Teknik Keabsahan Data METODE PENELITIAN Tipe dan Pendekatan Penelitian Tugas OMS Meliputi: Organisasi Masyarakat Pelaksana Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Desa Fajar Bulan Tujuan Pembangunan Mengukur Pembangunan Tujuan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan PPIP Unsur Unsur Kebijakan Publik Waktu Pelaksanaan Kegiatan Sasaran Dari Pembangunan Infrastruktur
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Implementasi Program Pembangunan Infrastruktu..

Gratis

Feedback