Profil Penderita Tumor Ganas Sinonasal Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009

Gratis

0
60
85
2 years ago
Preview
Full text

DAFTAR ISI

  Tujuan Penelitian............................................................................................. Tujuan Umum.....................................................................................

BAB 1. PENDAHULUAN………………………………………….…….………

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan memaparkan data penderita yang diperoleh dari rekam medik penderita yang telah dilakukan pemeriksaan CT scan dan histopatologi pada bulan Januari 2005 sampai Desember 2009 di RSUP H. Hasil penelitian menunjukkan penderita tumor ganas sinonasal paling banyak ditemukan pada laki-laki (58,8%), kelompok umur 41-50 tahun (35,2%), suku Batak(49,0%), keluhan utama berupa hidung tersumbat (56,9%), lokasi pada kavum nasi dan sinus paranasal (60,8%), tipe histologi non keratinizing squamous cell carcinoma(56,9%) dan penderita dengan stadium klinis IV (56,9%).

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

  Rifqi mengemukakan data yang dikumpulkannya dari rumah sakit umum di sepuluh kota besar di Indonesia bahwa frekuensi tumor hidung dansinus paranasal adalah 9,3-25,3% dari keganasan THT dan berada pada peringkat kedua setelah tumor ganas nasofaring (dalam Tjahyadewi dan Wiratno, 1999). Paparan terhadap substansi-substansi seperti serbuk kayu, debu tekstil dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil, Teschke et al dalam satu studi yang bertujuan untuk menentukan sumber paparan yang didapatkan akibat pekerjaan terhadap karsinogen-karsinogen nasaldi British Columbia, Kanada menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok pekerja dengan resiko tinggi terjadi tumor ganas sinonasal adalah pekerja pabrik tekstil,kertas dan bubur kertas (Teschke et al, 1997).

1.4. Manfaat Penelitian

  Untuk memperoleh data tentang tumor ganas sinonasal di RSUP H. Adam Malik Medan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

  Tumor Ganas Sinonasal Tumor ganas sinonasal merupakan penyebab kesakitan dan kematian di bidang otorinolaringologi di seluruh dunia. Kebanyakan tumor ini berkembang dari sinusmaksilaris dan tipe histologi yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa (Fasunla dan Lasisi, 2007; Luce et al, 2002).

2.2.1. Septum Nasi

  Septum nasi dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnyadilapisi juga dengan mukosa nasal (Corbridge, 1998).

2.2.2. Perdarahan

  Arteri labialis superior (cabang dari a.fasialis) memperdarahi septum bagian anterior mengadakan anastomosemembentuk fleksus Kiesselbach yang terletak lebih superfisial pada bagian anterior septum. Vena sfenopalatina mengalirkan darah balik dari bagian posterior septum ke fleksus pterigoideus dan dari bagian anterior septum ke vena fasialis.

2.2.3. Sinus Paranasal

  Sinus maksilaris berkembang secara cepat hingga usia tiga tahun dan kemudian mulai lagi saat usia tujuh tahunhingga 18 tahun dan saat itu juga air-cell ethmoid tumbuh dari tiga atau empat sel menjadi 10-15 sel per sisi hingga mencapai usia 12 tahun (Jhosephson dan Roy,1999). Sel onodi adalah sel udara etmoid posterior yang berpneumatisasi ke postero-lateral atau postero-superior terhadap dinding depan sinus sfenoidalis dan melingkarinervus optikus dan dapat dikira sebagai sinus sfenoidalis (Jhosephson dan Roy, 1999; Russel, 2000).

2.3. Epidemiologi

  Insiden tumor ganas rongga nasal dan sinus paranasal (tumor ganas sinonasal) rendah pada kebanyakan populasi (<1,5/100.000 pada pria dan <0,1/100.000 pada Insidensi di India sekitar 0,44% dari seluruh keganasan di India dengan perbandingan antara pria dan wanita adalah 0,57% banding 0,44%. Enam puluh persen tumor sinonasal berkembang di dalam sinus maksilaris,20-30% di dalam rongga nasal, 10-15% di dalam sinus etmoidalis, dan 1% di dalam sinus sfenoidalis dan frontalis.

2.4. Etiologi

  Paparan yang terjadi pada pekerja industri kayu, terutama debu kayu keras seperti beech dan oak, merupakan faktor resiko utama yang telah diketahui untuktumor ganas sinonasal. Peningkatan resiko (5-50 kali) ini terjadi pada adenokarsinoma dan tumor ganas yang berasal dari sinus.

2.6. Diagnosis

  Pasien beresiko tinggi dengan riwayat terpapar karsinogen, nyeri persisten yang berat, neuropati kranial, eksoftalmus, kemosis, penyakit sinonasal dan dengansimtom persisten setelah pengobatan medis yang adekuat seharusnya dilakukan pemeriksaan dengan CT scan axial dan coronal dengan kontras atau magnetic resonance imaging (MRI). Penggunaan MRI dipergunakan untuk membedakan sekitar tumor dengan soft tissue, membedakan sekresi di dalam nasal yang tersumbat dari space occupying lesion, menunjukkan penyebaran perineural, membuktikan keunggulan imaging pada sagital plane, dan tidak melibatkan paparan terhadap radiasi ionisasi.

2.7. Tumor Ganas Regio Nasal dan Sinonasal

  Tipe histologi utama yang sering ditemukan pada tumor ganas regio nasal dan sinonasal terdiri dari karsinoma sel skuamosa atau karsinoma epidermoid(46%), limfoma maligna (14%), adenokarsinoma (13%) terutama berasal dari kelenjar salivari minor atau disebut juga Schneiderian carcinoma dan melanomamaligna (9%) (Abecasis et al, 2004; Koss dan Leopold, 2006). Berikut ini adalah klasifikasi histologi tumor ganas di daerah hidung dan sinus paranasal menurut WHO: Gambar 2.1.

2.7.1. Karsinoma Sel Skuamosa

  Karsinoma sel skuamosa sinonasal terutama ditemukan di dalam sinus maksilaris (sekitar 60-70%), diikuti oleh kavum nasi (sekitar 10-15%) dan sinussfenoidalis dan frontalis (sekitar 1%) (Barnes et al, 2005; Dhingra, 2007; Dhingra, 2007; Adams, 1997). Mikroskopik Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Secara histologi, tumor ini identik dengan karsinoma sel skuamosa dari lokasi mukosa lain pada daerah kepala dan leher.

2.7.2. Undifferentiated Carcinoma

  Sel-sel tumor berukuran sedang hingga besar dan bentuk bulat hingga oval dan memiliki inti sel pleomorfik dan hiperkromatik, anak inti menonjol, sitoplasmaeosinofilik, rasio inti dan sitoplasma tinggi, aktivitas mitosis meningkat dengan gambaran mitosis atipikal, nekrosis tumor dan apoptosis. Pemeriksaan tambahanseperti imunohistokimia, mikroskop elektron dan biologi molekuler seringkali diperlukan dalam diagnosis undifferentiated carcinoma dan dapat membedakankeganasan ini dari neoplasma ganas lainnya.

2.7.3. Limfoma Maligna

  Dikarakteristikkan dengan infiltrat limfomatosa difus yang meluas ke mukosa nasal dan sinus paranasal, dengan pemisahan yang luas dan destruksi mukosakelenjar sehingga memperlihatkan clear cell change. Adenokarsinoma menyebar dengan menginvasi dan merusakjaringan lunak dan tulang di sekitarnya dan jarang bermetastasis (Myers, 1989).

2.8. Klasifikasi TNM dan Sistem Staging

  T2 didefinisikan sebagai tumor yang menginvasi dua bagian di dalam satu regio atau meluas hingga melibatkan regio yang berdekatan di dalam daerah nasoetmoidalis kompleks (kavum nasi dan etmoid) dengan atau tanpa invasi tulang (Greene, 2006). Dua pandangan dari T3 menunjukkan tumor menginvasi sinus maksilaris dan palatum (kiri) dan meluas ke dasar orbita dan fossa kribriformis (kanan) ((Greene, 2006).

II T2 N0 M0III T3 N0 M0

T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0 IVA T4a N0 M0 T4a N1 M0T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0T4a N2 M0 IVB T4b Semua N M0 Semua T N3 M0Semua T Semua N M1 (Greene, 2006) IVC

2.9. Penatalaksanaan

2.9.1. Pembedahan

  2.9.1.1 . Drainage/DebridementDrainage adekuat (seperti nasoantral window) seharusnya dibuka pada pasien dengan sinusitis sekunder dan pada pasien yang mendapat terapi radiasi sebagai pengobatan primer (Bailey, 2006).

2.9.1.2. Resection

  Dengan kemajuan-kemajuan terbaru dalam preoperative imaging, intraoperative image-guidance system, endoscopic instrumentation dan material untuk hemostasis, teknik sinonasal untuk mengangkat tumor nasal dan sinus paranasal mungkin merupakan alternatif yang dapat dilakukan untuk traditional open technique. Pasien yang menunjukkan resiko pembedahan yang buruk dan yang menolak untukdilakukan operasi dipertimbangkan untuk mendapatkan kombinasi radiasi dan kemoterapi (Bailey, 2006).

2.10. Prognosis

2.11. Kerangka Konsepsional

  Faktor-faktor tersebut seperti perbedaan diagnosis histologi, asal tumor primer, perluasan tumor, pengobatan yang diberikan sebelumnya, status batassayatan, terapi adjuvan yang diberikan, status imunologis, lamanya follow up dan banyak lagi faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas penyakit danhasil pengobatan yang tentunya berpengaruh juga terhadap prognosis penyakit ini. Walaupun demikian, pengobatan yang agresif secara multimodalitas akan memberikan hasil yang terbaik dalam mengontrol tumor primer dan akanmeningkatkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 75% untuk seluruh stadium tumor (Roezin, 2007; Nazar et al, 2004).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

  Populasi Populasi penelitian adalah semua penderita tumor ganas sinonasal yang telah dilakukan pemeriksaan CT scan dan biopsi jaringan di RSUP H. Definisi Operasional‚óŹ Tumor ganas sinonasal adalah keganasan yang dapat berasal dari komponen epitelial dan nonepitelial yang berkembang pada sinonasal.

3.7. Cara Kerja

  Pengumpulan data-data diperoleh dari rekam medik pasien-pasien tumor ganas sinonasal yang telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologidi Poliklinik THT-KL FK USU / RSUP H. Data-data diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan.

BAB 4 ANALISIS HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Januari

  Frekuensi proporsi penderita menurut Lokasi Tumor Lokasi Tumor N % Kavum nasi 35 68,6Sinus paranasal 6 11,8Kavum nasi dan sinus paranasal 10 19,6Total 51 100,0 Berdasarkan tabel di atas, lokasi tumor tersering adalah pada kavum nasi sebanyak 35 kasus (68,6%), diikuti kavum nasi dan sinus paranasal sebanyak 10 kasus(19,6%). (2-tailed) Jenis kelamin dengan keluhan utama 0,295Lama menderita dengan keluhan utama 0,016Lama menderita dengan lokasi tumor 0,425Lama menderita dengan stadium 0,837Lokasi tumor dengan stadium 0,586Lokasi tumor dengan hasil pemeriksaan histopatologi 0,964Stadium dengan hasil pemeriksaan histopatologi 0,072 Dari hasil uji bivariat, ditemukan ada hubungan antara lama menderita dengan keluhan utama dengan p=0,016 (p<0,05).

BAB 5 PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada 51 orang yang memenuhi kriteria dari penderita

  karsinoma hidung dan sinus paranasal yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan.

5.1. Analisis Univariat

  Hal ini hampirsama dengan penelitian sebelumnya yaitu Strauss et al di Jerman (2005) tidak mendapatkan penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal pada stadium I,namun pada stadium II didapatkan penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal sebanyak 17,8%. Fasunla dan Lasisi di Nigeria (2007) juga mendapatkan bahwasebagian besar penderita karsinoma hidung dan sinus paranasal datang pada stadium lanjut (stadium III dan IV) sebanyak 94,67% dimana stadium III palingbanyak dijumpai yaitu sebanyak 78,67%.

5.2. Analisis Bivariat

  Dari hasil uji bivariat, ditemukan ada hubungan antara lama menderita dengan keluhan utama dengan p=0,016 (p=<0,05). Lamanya muncul keluhan biasanyaakibat gejala yang ditimbulkan hanya bersifat nonspesifik dan hanya berupa luka kecil yang sering diabaikan oleh penderita dan jarang dibawa ke rumah sakit(Fasunla, 2007).

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian pada penderita tumor ganas sinonasal di SMF THT-KL RSUP H. Hasil penelitian membuktikan perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah sebanyak 1,7:1, dengan perincian penderita laki-laki ditemukan sebanyak58,8% kasus sedangkan pada perempuan 41,2% kasus.

6.2. Saran

  Diharapkan terjalin kerjasama yang baik antara ahli THT-KL, radiologis dan patologis dalam menegakkan diagnosis tumor ganas sinonasal sehingga tindakanselanjutnya terhadap penderita ini dapat lebih terarah dan tepat tanpa merugikan pihak manapun juga. Melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dan faktor- faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya tumor ganas sinonasal.

RIWAYAT HIDUP

  DATA PRIBADINama : Agussalim, drTempat/Tanggal lahir : Tanjung Pura / 18 Agustus 1972Jenis Kelamin : Laki-lakiAgama : IslamStatus Perkawinan : KawinNama Istri : Humairah Medina Liza Lubis, dr. 050741 Pulau Banyak KecamatanTanjung Pura Kabupaten Langkat 1985 – 1988 : SMPN 3 Tanjung Pura Kabupaten Langkat1988 – 1991 : SMAN 1 Tanjung Pura Kabupaten Langkat 1991 – 2000 : Fakultas Kedokteran UISU Medan2007 – sekarang : Asisten dokter (PPDS) Ilmu Kesehatan THT-KL Bedah Kepala Leher FK-USU/RSUP H.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (85 Halaman)
Gratis