Analisis Pembudidayaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dalam Kolam Air Tawar Dan Campuran Air Laut Berdasarkan Perubahan Kandungan Mineral

Gratis

2
51
116
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Medan, Juni 2011Penulis Suwardi Munthe ANALISIS PEMBUDIDAYAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM KOLAM AIR TAWAR DAN CAMPURAN AIR LAUT BERDASARKAN PERUBAHAN KANDUNGAN MINERAL ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang studi pengaruh mineral dalam air terhadap pertumbuhan ikan nila dalam tiga macam media air yaitu dalam: air tawar, campuranair tawar dengan air laut dengan perbandingan 1:1, dan campuran air tawar dengan air laut dengan perbandingan 2:1 selama 50 hari. Sedangkan pada analisa kandungan mineral Ca, Mg,Fe, Cl, dan Na selama pembudidayaan ikan nila pada masing-masing media air selama 0-50 hari terdapat hasil yang menunjukkan terjadinya kandungan masing-masing mineral yang berfluktuasi akibat dari pemberian pakan ikan yang mengandung mineral yang cukup besar.

BAB I PENDAHULUAN

1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Permasalahan 4 1.3 Pembatasan Permasalahan 4 1.4 Tujuan Penelitian 4 1.5 Mamfaat Penelitian 4 1.6 Lokasi Penelitian 4 1.7 Metodologi Penelitian 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 2.1 Klasifikasi Ikan Nila 7 2.2 Jenis-Jenis Strain Ikan Nila 9 2.3 Habitat Ikan Nila 11 2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi 14 2.5 Pakan Ikan 19 2.5.1 Jenis-Jenis Pakan 19 2.5.2 Komposisi Pakan 21 2.5.3 Fungsi Pakan 24 2.5.4 Kebutuhan Nutrisi Pada Ikan 27 2.5.4.1 Protein 27 2.5.4.3 Karbohidrat

III METODE PENELITIAN

45 3.2.2.2 Pembuatan Pereaksi dan Larutan StandarUntuk Penentuan Fe 42 Untuk Penentuan Cl 43 3.2.2.4 Pembuatan Pereaksi dan Larutan StandarUntuk Penentuan Na 44 3.2.3 Penentuan Kalsium Dengan Metode Titrimetri 3.2.4 Penentuan Magnesium + Kalsium Dengan MetodeTitrimetri 30 45 Spektrofotometri 45 3.2.6 Pembuatan Kurva Standar Fe dengan metodeSpektrofotometri 46 3.2.7 Penentuan Klorida Dengan Metode Titrimetri 46 vi 41 3.2.2.1 Pembuatan Pereaksi dan Larutan StandarUntuk Penentuan Ca+Mg 41 38 BAB 2.5.4.4 Vitamin 30 2.5.4.5 Mineral 31 2.5.5 Pemberian Pakan Pada Ikan 37 2.5.6 Penentuan Kadar Mineral Pakan 39 3.2.2 Penyediaan Reagen 3.1 Alat dan Bahan 39 3.1.1 Alat-Alat Yang Digunakan 39 3.1.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan 40 3.2 Prosedur Kerja 41

3.2.2.3 Pembuatan Pereaksi dan Larutan Standar

3.2.5 Penentuan Fe Total Dengan Metode

  Dari hasil analisisdi laboratorium menunjukkan terdapat pertambahan bobot pada ikan nila yang signifikan yaitu pada media air tawar pada 0 hari = 4,420 gr, setelah 50 hari menjadi18,3667 gr (naik 315,5361%), pada media campuran air tawar + air laut (1:1), 0 hari= 3,6833 gr, setelah 50 hari menjadi 15,3000 gr (naik 315,3883%), sedangkan pada media campuran air tawar + air laut (2:1), 0 hari = 3,7166 gr, setelah 50 hari menjadi15,8222 gr (naik 325,7170%). Sedangkan pada analisa kandungan mineral Ca, Mg,Fe, Cl, dan Na selama pembudidayaan ikan nila pada masing-masing media air selama 0-50 hari terdapat hasil yang menunjukkan terjadinya kandungan masing-masing mineral yang berfluktuasi akibat dari pemberian pakan ikan yang mengandung mineral yang cukup besar.

1.1 Latar Belakang

  Hal tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjutuntuk mengetahui kondisi yang optimum dalam pertumbuhan ikan nila dalam budidaya ikan mengingat ikan nila tergolong ikan tawar meskipun memiliki potensihidup di air yang bersalinitas payau atau laut. Mengetahui perubahan kandungan mineral di dalam media air budidaya ikan nila baik dalam air tawar maupun dalam media air campuran yaitu air tawar +air laut (1:1) dan (2:1) selama pembudidayaan.

1.7 Metodologi Penelitian Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium yang bersifat purposif. - Air Tawar diambil dari Danau Toba desa Tangga Batu, Rianiate - Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Air laut diambil dari pantai Poncan Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah. - Campuran air tawar dengan air laut dibuat dengan perbandingan 2 : 1 dan - 1 : 1

  Bibit ikan nila hitam diambil dari penjual bibit ikan yang ada di daerah Budidaya ikan nila dilakukan di dalam tiga buah akuarium, masing- - masing berukuran 60 x 40 x 40 cm yang diisi dengan tiga jenis air tersebut di atas dengan volume masing-masing 36 liter. Pemberian pakan terhadap masing-masing ikan dalam akuarium dilakukan - 3 kali sehari sesuai dengan standar pemberian pakan ikan yaitu metode Restricted Ratio dalam budidaya ikan.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Nila

  Ikan nila bukanlah ikan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi (ikan yang berasal dari luar Indonesia, tetapi sudahdibudidayakan di Indonesia). Mengingat Mesirkuno bukan satu-satunya negeri yang menghargai nila tetapi di kawasan Junani juga telah dikenal sebagai penggemar ikan nila sehingga diyakini telah menamakan Tilapia nilotica (ikan Nil) pada waktu tersebut (http://ikan nila.com/mengenal ikan nila dan legendanya).

2.2 Jenis-Jenis Strain Ikan Nila

  Semenjak pertama kali ikan nila datang pada tahun 1969 ke Indonesia, sudah banyak mengalami perkembangan, khususnya dalam perbaikan genetis yangdilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BPPAT), Balai Benih Induk(BBI), Balai Benih Air Tawar (BBAT), dan lembaga penelitian lainnya. Berikut beberapa strain ikan nila yang cukup dikenal dan digemari, baik oleh petani maupun konsumen.

a. Nila Gift (Genetic Improvement of Farmed Tilapias)

  Merupakan hasil pemuliaan genetis dari nila gift dan nila get dari Filipina yang dilakukan oleh BalaiPengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, di Purwakarta, Jawa Barat danFPK, Institut Pertanian Bogor. Karena begitu akrabnya masyarakat dengan ikan nila ini sehingga tidak heran jika ada yang menyebutnya dengan ikan nila lokal.

2.3 Habitat Ikan Nila

  Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya.

3 Sumber : Sverdrup dkk, 1962. The Ocean

  Hasil kajian terakhir kandungan kimia yang ada di laut dikeluarkan oleh The OpenUniversity dan Buku Marine Chemistry, komposisi kimia yang terlarut di dalam air laut terdapat sebanyak 81 unsur (dapat dilihat pada lampiran pada L-10). Pemindahan ikan nilasecara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat mengakibatkan stres dan kematian pada ikan(Suyanto S.R., 2009).

2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi

  Ikan laut hidup pada lingkungan yang hipertonik terhadap jaringan dan cairan tubuhnya, sehingga cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang dan kemasukangaram-garam. Sedangkan untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan yang cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuhnya dengan media (isoosmotik),namun karena kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka proses osmoregulasi seperti halnya pada kedua jenis ikan di atas tetap terjadi(Fujaya,Y.,2004 dan Marshall, W.

2 O. Nampaknya preaklimatisasi dalam 5% selama 7

  Meskipun kelangsungan hidup dan osmolalitas darahnya sedikit meningkat dengan carapreaklimatisasi dalam 25%, osmolalitas darahnya mengalami penurunan setelah dipindahkan ke dalam media bersalinitas kurang dari 10%. Hal ini dapat ditunjukkan dengan histology dari struktur insang Caprella (Amphipoda: caprellidea) yang dikumpulkan dari komunitas Sargassum di timur laut Jepang dan diamati di bawah mikroskop elektron.

2.5 Pakan Ikan

  Sumber utamaenergi bagi ikan berasal dari makanan sebab ikan tidak mampu memamfaatkan energi matahari secara langsung seperti yang yang dilakukan oleh tanaman. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungandengan lingkungan.

2.5.1 Jenis-jenis Pakan

  Apabila tidak ada pakan yang dikonsumsi, ikan tidak akan mengalami Secara umum, makanan ikan dibuat dari komposisi yang terdiri atas bahan- bahan makanan yang berasal dari nabati dan hewani, terutama hasil ikutan dari sisaproses pengolahan makanan dan pabrik. Petani ikan umumnya mengenal pakan ikan dan pakan udang, tidakmengenal pakan untuk ikan herbivor, karnivor, atau omnivor.

2.5.2 Komposisi Pakan

  Selain itu pabrik pakan juga melengkapinya dengan vitamin dan mineral sebagai bahan tambahan dalam campurannya yang dikemas dalam bentuk premiks. Berikut adalah contoh vitamin dan mineral tambahan pada pakan ikan: amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, I, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT).

2.5.3 Fungsi Pakan

  Pengobatan Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai akan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan dan tidak mudah diserang penyakit. Dengan demikian, apabila pakan yang dikonsumsi baik, maka sistemhormonal akan berjalan dengan baik dan dengan sendirinya akan terbentuk sistem pertahanan tubuh yang baik pula.

3. Peningkatan Cita Rasa

  Dengan demikian, ikan ikan di suatu perairan akan memiliki aroma dancita rasa yang relatif berbeda dengan ikan sejenis yang hidup di daerah lain. Demikian pula, ikan sejenis yang tertangkap di daerah yang sama namun pada musim berbeda akan memiliki aroma dan cita rasa yang relatif berbeda.

5. Perbaikan Metabolisme Lemak

  Dibandingkan dengan protein ikan lebih mudah mencernannya dibandingkan dengan lemak dan karbohidrat. Maka untuk mengupayakan kemampuan ikan mencernalemak dan karbohidrat sehingga menghasilkan energi yang dapat dimamfaatkan adalah : Pabrik pakan menggunakan asam bile yaitu cairan yang dihasilkan oleh hati.

2.5.4 Kebutuhan Nutrisi Pada Ikan

  Seperti halnya hewan lain, ikanpun membutuhkan zat gizi tertentu untuk kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusakdan untuk tumbuh. Zat gizi yang dibutuhkan adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.

2.5.4.1 Protein

  Merupakan sumber energi bagi ikan, terutama apabila komponen lemak dan karbohidrat yang terdapat di dalam pakan ikan tidak mampu memenuhikebutuhan energi. Merupakan sumber vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak.

2.5.4.4 Vitamin

  Vitamin berperan sangat penting untuk menjaga agarproses-proses yang terjadi di dalam tubuh ikan tetap berlangsung dengan baik. Kandungan vitamin di dalam pakan buatan tergantung dari bahan baku yang digunakan dan bahan yang ditambahkan.

2.5.4.5 Mineral

  Mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ikan dalam pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi. Kalsium dan fosfor dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pembentukan gigi, tulang, dan kulit sehingga zat-zat mineral tersebutharus ada dalam jumlah yang besar.

a. Kalsium (Ca)

  Peranan dan fungsi kalsium di dalam tubuh antara lain adalah sebagai komponen utama pembentuk tulang, gigi, kulit, serta sisik, dan memelihara ketegaran kerangkatubuh, mengentalkan darah, sebagai “intracellular regulator” atau messenger yaitu membantu regulasi aktivitas otot kerangka, jantung dan jaringan lainnya, konstraksidan relaksasi otot, membantu penyerapan vitamin B12, menjaga keseimbangan osmotik. Sebagai contoh, pada ikan rainbowtrout dengan bobot awal 1,2 g, antara ikan yang diberi Ca 0,3 gr/kg dengan 3,4 gram/kg ternyata tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam pertumbuhannya yang dipelihara pada perairan dengan kandungan Ca 20-30 mg /L Ogino, et al.,1978).

b. Magnesium (Mg)

  Penyerapan magnesium dalam tubuhdipengaruhi oleh masuknya magnesium dalam usus, waktu singgah di usus, kecepatan penyerapan air, kadar kalsium fosfat dan laktosa dalam pakan, sumbermagnesium, dan umur serta jenis ikan. Rendahnya suplai magnesium dalam pakan dapatmengakibatkan nafsu makan berkurang, pertumbuhan dan aktivitas ikan berkurang, kandungan Ca dan Mg dalam tubuh dan vertebrate akan berkurang.

e. Natrium (Na)

  Pada hewan darat natrium yang berasal dari makanan akan diserap olehtubuh secara cepat dan efisien dan hanya sedikit sekali yang dikeluarkan melalui feses. Dosis pemberian pakan yang dianjurkan pada ikan nila disesuaikan dengan ukuran ikan, suhu air, kepadatan biomassa ikan, kelimpahan pakan alami danberbanding terbalik dengan ukuran ikan.

b. Penentuan Mineral Cl Pada Pakan Ikan dengan Metode Titrimetri

  Sampel yang diabukan, dilarutkan dengan akuades panas. 3 Kedalam campuran dimasukkan larutan AgNO 3 0,1 N sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet volum.

METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat-Alat Alat-Alat Yang Digunakan

  Tabel 3.1 Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Nama Alat Spesifikasi MerekBeaker glass 250 mL PyrexBuret 25 mL PyrexErlenmeyer 250 mL PyrexGelas ukur 100 mL Pyrex Spektrofotometri UV-Vis AAS A 6794Avanta GBC  Tabel 3.2 Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian Nama Bahan Spesifikasi MerekHCI (p) p.a. 37 % E.

2 EDTA p.a E.Merck

2 OH.HCI p.a E.Merck

  MerckAgNO 3 p.a E. Merck K 2 CrO 4 p.a E.

4 NH Cl p.a E.Merck

4

3.2.2 Penyediaan Reagen

  Larutan Standar EDTA 0,01 M Sebanyak 3,723 g di-natrium etilendiamin tetraasetat dihidrat dilarutkan dengan akuades dalam labu takar 1000 mL sampai garis tanda dan dihomogenkan. Larutan Standar CaC1 2 0,01 M Sebanyak 1 g CaCO 3 anhidrat dilarutkan dengan 5 mL HC1 1:1 dalam erlenmeyer 500 mL kemudian ditambahkan 200 mL akuades lalu di didihkan beberapa menit untuk menghilangkan CO 2 .

4 OH 3 M sampai terbentuk warna jingga, kemudian diencerkan dalam labu takar 1000 mL sampai garis tanda dan dihomogenkan

e. Standarisasi Larutan EDTA

  Sebanyak 10 mL larutan standar CaC1 2 0,01 M dimasukkan dalam gelas erlenmeyer 150 mL dan ditambah dengan 40 mL akuades, 2 mL larutan peyangga pH 10 dan 30- 50 mg indikator EBT kemudian dititrasi dengan larutan standar EDTA 0,01 M sampaiwarna larutan berubah dari merah keunguan menjadi biru. Konsentarsi larutan standar EDTA dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: 22 M EDTA  V EDTA Dengan Pengertian :M = molaritas larutan baku EDTA EDTA V EDTA = volume larutan baku EDTA (mL)M CaCl 2 = molaritas larutan CaC1 2 yang digunakan V CaCl 2 = volume larutan CaC1 2 yang digunakan (mL) 0,01 x10 M EDTA  9,9= 0,0101 M f.

b. Larutan Buffer ammonium asetat

  C H O dilarutkan dengan 15 mL akuades dan ditambahkan 4 2 3 2 70 mL asam asetat glasial, kemudian diencerkan di dalam labu takar 100 mL sampai garis tanda dan dihomogenkan. Pembuatan Larutan Induk Fe 1000 ppm dari kristal (NH 4 ) 2 Fe 2 (SO 4 ) Ditimbang dengan teliti 3,3571 g kristal (NH 4 ) 2 Fe 2 (SO 4 ), kemudian dimasukkan kedalam beaker glass 50 mL.

3.2.2.3 Pembuatan Perea ksi dan larutan standar untuk penentuan Cl

a. Larutan NaCl 0,01 N

  Konsen trasi larutan standar AgNO dihitung dengan 3 menggunakan rumus sebagai berikut : V 1 N1 = V 2 N 2 Dengan pengertian: V 1 = Volume larutan baku standard pimer yang digunakan (mL) N = Normalitas larutan baku standa rd pimer yang digunakan 1 V 2 = Volume larutan AgNO 3 (mL ) N 2 = Normalitas larutan AgNO 33 .2.2.4. Dipipet 10 mL larutan standar Na 100 ppm ke dalam labu takar 100 mL dan d iencerkan dengan air bebas ion sampai garis tanda.

e. Larutan 25.000 ppm La

Ditimbang 29,32 g La

2 O 3 , ditambah 100 mL HCl 5% dilarutkan dengan air b ebas ion, kemudian diencerkan tepat 1 L dan dikocok

  3.2.3 Penentuan Kalsium (Ca) dengan Metode Titrimetri Sebanyak 50 mL sampel air dipipet ke dalam erlenmeyer 250 mL kemudian ditambah sedikit demi sedikit NaOH 1 M sampai dicapai pH 12 (diukur denganindikator universal) dan seujung spatula indikator mureksid. 3.2.4 Penentuan Mg + Ca dengan Metode Titrimetri Sebanyak 50 mL sampel air dipipet ke dalam erlenmeyer 250 mL kemudian ditambah 2 mL larutan penyangga sampai pH 10 dan seujung spatula indikator EBT.

2 OH. HC1 kemudian dididihkan 15 sampai 0

  Setelah itu, didinginkan kemudian ditambah 10 mL larutan 3.2.6 Pembuatan Kurva Standar Fe dengan Metode Spektrofotometri Larutan standar Fe 0,2 mg/L dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 mL, kemudian ditambahkan 2 mL HC1 (p) , 1 mL NH 2 OH. Setelah itu, didiamkan 10 menit, kemudian diukur absorbansi larutan denganspektrofotometer spektronik 20 max = 510 nm (perlakuan yang sama dilakukan λ sebanyak 3 kali dan dilakukan hal yang sama untuk larutan seri standar Fe 0,4 ; 0,6 ;,8 dan 1,0 mg/L).

3.2.9 Pengukuran pH Sampel

  Sebanyak 100 mL sampel air dimasukkan kedalam gelas beaker 250 mL. Terlebih dahulu pH meter dikalibrasi dengan larutan buffer pH=7.

36 Liter Air Tawar + Air Laut (1:1) = Liter Air tawar + Air Laut (2:1) = Liter - Diambil dari masing masin g

  Ditambahkan 2 mL hidroksilamin (NH 2 OH.HCL) Ditambahkan 1 mL 1,10 ortofenantrolin. Diukur absorbansi dengan spektrofotometer pada λ max =510 nmHasil Catatan :Pengukuran dilakukan 3 kali (triplo) th 20 edition, 1985, (Standard Methods for Examination of water and wastewater, Section 315) 1 mL sampel Dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL.

Section 40 7)

10 mL sampelDimasukkan ke dalam tabung kimiaDitambahkan 1 mL larutan 25.000 ppm La ke dalam setiap tabung contoh dan deret standar campuranDikocokUkur Na dalam contoh dengan flamephotometer dengan menggunakan deret standar sebagai pembanding Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Hasil Analisa Pakan Ikan

  Sebelum pakan diberikan pada ikan dalam masing-masing akuarium , terlebih dahulu dilakukan analisis kandungan kimiawi dari pakan tersebut. KeAir Tawar Air Tawar + Air Laut 1:1 Air Tawar + Air Laut 2:1 1,80 1,80 1,80 10 2,40 2,40 2,4020 3,00 3,00 3,00 30 4,50 4,10 4,2040 5,40 4,10 4,30 50 6,60 5,50 4,30 Cara perhitungan pemberian pakan dalam masing-masing media air:Air Tawar : Ditimbang berat beaker glass dalam keadaan kosong, kemudian diisi dengan air lalu diukur massanya.

a. Derajat Keasaman (pH)

Tabel 4.6 Data Pengukuran pH Pada Masing-Masing Media Air 6 Gambar 4.2 Kurva pH Ketiga Media Air Mulai 0 Hari- 50 Hari 50 Waktu (Hari)pHpH Air Taw ar Air Taw ar + Air Laut = 1:1 Air Taw ar + Air Laut = 2:1 40 30 20 10 8 4 Hari ke Air Tawar Air Tawar + Air Laut 1:1 Air Tawar + Air Laut 1:17,943 7,578 7,047 10 7,578 7,522 7,430 Dari hasil pengukuran pH pada setiap kali pengukuran pada masing-masing media air diperoleh hasil seperti pada tabel 4.6 berikut ini. 7,43 7,94 6,25 6,566,79 7,446 7,206 6,446,76 6,97 6,76 6,247,929 7,522 7,943 7,5787,047 6,8 20 7,047 7,206 7,446 30 6,800 6,97 6,7940 6,760 6,76 6,56 50 6,240 7,44 7,25 2 2+ Penentuan kadar kalsium dan magnesium dilakukan dengan titrasi kompleksometri dengan larutan standar Na

2 EDTA. Struktur komplekson EDTA mempunyai dua

  Penentuan kalsium pada pH 12 dengan indikator mureksid dikendalikan dengan penambahan KOH 4 M sehingga pengaruhion magnesium dapat dihilangkan sebagai hidroksida. Sedangkan penentuan magnesium dilakukan pada pH 10 dengan indikator Eriokrom Black T pada analisakesadahan total sehingga kadar magnesium dalam media air dapat ditentukan dengan mengurangi kalsium (Alaerts, G.1984).

c. Pengukuran Kandungan Magnesium (Mg )

Dari hasil pengukuran volume larutan standar Na 2 EDTA yang digunakan pada titrasi masing-masing media air diperoleh kandungan magnesium seperti tertera pada tabel 4.9 berikut ini. 2+ Tabel 4.9 Data Hasil Pengukuran Kandungan Magnesium (Mg ) 2+ Jumlah Kandungan Magnesium (Mg ) dalam ppmHari Air Tawar Air Tawar + Air Laut 1:1 Air Tawar + Air Laut 2:1 0 hari 0,91 574,30 492,0310 hari 27,313 1.706,313 955,65 20 hari 37,171 1.103,375 500,43830 hari 162,404 1.624,040 2.571,260 40 hari 311,2746 1.055,6270 1.190,963850 hari 257,1399 1.894,7152 1.299,2333 2+ = 28 ,( 32 , x x x 30, 312 1000 0282 , 24 ) = 2+ Kandungan Mg xFpPerhitungan Kandungan Magnesium (Mg) : sampel volume EDTA Na N x x ArMg x Ca mL CaMg mL2( 1000 )  2+ % Perubahan Kandungan Mineral Magnesium (Mg ) dalam media Air dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:Kadar Mg 2+ Penentuan Kandungan Magnesium (Mg Air Tawar + Air Laut 2:1 0 - 10 +2.901,4285 +197,1117 +94,225910 - 20 +3.984,7252 +92,1251 +1,7088 20 - 30 +17.746,5934 +182,7860 +422,581930 - 40 +37.589,0109 +83,8110 +142,0508 40 - 50 +28.157,1318 +229,9172 +164,0556 Air Tawar + Air Laut1:1 HariAir Tawar )Jumlah 2+  x 1= 0,910 ppm 2.571,26 24012201 2001 1.894,721801 1.706,31 1.624,04) 1601pm p 14011.190,96g ( 1201r M 955,651.299,23 1.103,38daa 1001 1.055,63K 800,5574,3 600,5311,274 257,139 400,5 500,438492,03 162,404200,5 27,313 37,171 0,910,5 10 20 30 40 50 Waktu (Hari) Air Tawar Air Tawar + Air Laut = 1:1 Air Tawar + Air Laut = 2:1 Gambar 4.4 Kurva Kandungan Mg Dari Ketiga Media Air Mulai 0-50 Hari

d. Penurunan Persamaan Garis Regresi besi (Fe)

  1,0 0,0605 Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fe y = 0,0632xR2 = 0,986 0,01 0,02 0,030,04 0,050,06 0,07 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2Konsentrasi (mg/L) A b so rb a n si Gambar 4.5 Kurva Kalibrasi Larutan Standar besi (Fe) Dari gambar 4.5 di atas diperoleh dari formula persamaan garis regresi linier hubungan antara absorban terhadap konsentrasi larutan standar sebagai berikut :Y = 0,0590x +0,0030 , dimana Y nilai absorban dan X = konsentrasi kandungan besi dalam media air. Pengukuran Kandungan Besi (Fe ) Dengan menggunakan alat spektrofotometer diperoleh persentase transmitansi (%T) dari masing-masing media air, selanjutnya dari data ini dapat ditentukan hargamasing-masing data absorbansinya dengan menggunakan rumus A = 2 – log T maka akan diperoleh data kadar besi yang tertera pada tabel 4.13 berikut.

4.2.2 Data Kolektif Dari Setiap Pameter Dari Media Air Tawar + Air Laut (1:1) Dalam Akuarium Mulai 0 – 50 Hari

  Nilai pH air tempat hidup ikan nila hidup berkisar antara 6 – 8,5, namun - pertumbuhan optimal terdapat pada kisaran nilai pH 7 – 8,5. Berdasarkan data di atas terdapat penurunan nilai pH media air mulai 0 – 50 hari.

2 O  H

  Kelebihan pakan pada saat pemberian pakan, akan diikuti dengan proses Proses osmoregulasi dalam tubuh ikan akan menghasilkan produk buangan seperti pembudidayaan ikan berubah menjadi berwarna keruh (dapat dilihat pada lampiranL-7 sampai dengan L-9) pada masing-masing akuarium, hal ini dapat terjadi karena adanya larutan tersuspensi, dekomposisi bahan organik, mineral, maupunbahan-bahan lainnya yang terlarut dalam media air. Feses padat dan sisa pakan yang tidak habis termakan oleh ikan adalah bahan - organik yang mengandung protein tinggi, yang dapat terurai menjadi polipeptida, asam-asam amino dan sebagai produk akhir adalah amonia yang terakumulasidalam media air.

2 S menurun dengan meningkatnya pH. Daya racun asam belerang

  2+ Merupakan kofaktor bagi semua enzim yang terlibat dalam reaksi pemindahan fosfat (fosfokinase), menjaga homeostasis intra dan ekstra seluler, berperan dalampembentukan gigi, tulang, kulit (sisik ikan), struktur tubuh ikan, dan berperan pada metabolisme. Mineral Besi (Fe )Berperan dalam pembentukan pigmen darah (haemoglobin dan myoglobin), terlibat dalam pengangkutan oksigen dalam darah dan urat daging (otot), terlibatdalam pemindahan/trasfer elektron dalam tubuh ikan, dan berperanan penting dalam variasi sistem enzim.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa: Hasil analisa kandungan mineral menunjukkan bahwa kalsium (Ca), magnesium media air mulai dari 0 hari sampai dengan 50 hari terdapat hasil yang berfluktuasi oleh pakan ikan yang diberikan mengandung mineral yang cukupbesar. Setelah pembudidayaan ikan nila dilaksanakan selama 50 hari terdapat - pertambahan bobot ikan nila yang signifikan yaitu pada media air tawar pada 0 hari = 4,4200 g, setelah 50 hari menjadi 18,3667 g (naik 315,5361 %), padamedia campuran air tawar + air laut (1:1), 0 hari = 3,6833 g, setelah 50 hari menjadi 15,3000 g (naik 315,3883 %), sedangkan pada media campuran airtawar + air laut (2:1), 0 hari = 3,7166 g, setelah 50 hari menjadi 15,8222 g(naik 325,7170 %).

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Perbandingan Lama Rendaman Campuran Aspal AC-WC Dengan Memakai Air Laut Dan Air Tawar Teradap Karakteristik Marshall
15
83
146
Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Nila Gesit (Oreochromis niloticus)
0
69
63
Analisa Komponen Asam Lemak pada Minyak Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Secara GCMS
7
62
78
Kemampuan Bakteri Antagonistik Dalam Menghambat Infeksi Saprolegnia sp. Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
2
51
71
Studi Pembudidayaan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Dalam Air Tawar Dan Dalam Campuran Air Tawar Dan Air Laut
3
91
100
Efektifitas Pertumbuhan Bibit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Terhadap Pengaruh Mineral Fe, Na, Ca, Mg, Dan Cl Pada Akuarium Air Tawar Dan Campuran Air Tawar Dan Air Laut.
3
65
64
Business Plan Pembudidayaan Ikan Nila
2
41
55
Analisis Pembudidayaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dalam Kolam Air Tawar Dan Campuran Air Laut Berdasarkan Perubahan Kandungan Mineral
2
51
116
Wireless Sensor Network Berbasis Protokol UDP untuk Monitoring pH dan Suhu Kolam Ikan Air Tawar
0
0
6
Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Potensial Patogen Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Di Kolam Budidaya Patumbak
0
0
12
Mata Air Tawar di Tengah Laut
0
0
96
BAB III METODOLOGI PENELITIAN - Perbandingan Lama Rendaman Campuran Aspal AC-WC Dengan Memakai Air Laut Dan Air Tawar Teradap Karakteristik Marshall
0
1
65
BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Lama Rendaman Campuran Aspal AC-WC Dengan Memakai Air Laut Dan Air Tawar Teradap Karakteristik Marshall
0
1
52
BAB I PENDAHULUAN - Perbandingan Lama Rendaman Campuran Aspal AC-WC Dengan Memakai Air Laut Dan Air Tawar Teradap Karakteristik Marshall
0
1
10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Nila - Analisa Komponen Asam Lemak pada Minyak Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Secara GCMS
0
0
13
Show more