Kondiloma Akuminata

Gratis

0
37
22
2 years ago
Preview
Full text

  K O N D

  I L O M A A K U M

  I N A T A K O N D

  I L O M A A K U M

  I N A T A R i a n a M i r a n d a S i n a g a R i a n a M i r a n d a S i n a g a N N

  I I P P : :

  1

  1

  9

  9

  8

  8

  1

  1

  4

  4

  7

  7

  2

  2

  9

  9

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  4

  4 D D E E P P A A R R T T E E M M E E N N

  I I L L M M U U K K E E S S E E H H A A T T A A N N K K U U L L

  I I T T & & K K E E L L A A M M

  I I N N F A K U L T A S K E D O K T E R A N U N

  I V E R S

  I T A S S U M A T E R A U T A R A F A K U L T A S K E D O K T E R A N U N

  I V E R S

  I T A S S U M A T E R A U T A R A M E D A N M E D A N

  2

  1

  

1

  2

  1

  

1

DAFTAR ISI

  

PENDAHULUAN………………………………………………………………………………..1

PATOFISIOLOGI……………………………………………………………………………….2

MANIFESTASI KLINIS………………………………………………………………………..2

PEMERIKSAAN LABORATORIUM…………………………………………………………6

DIAGNOSIS BANDING………………………………………………………………………..7

KOMPLIKASI…………………………………………………………………………………...8

PENATALAKSANAAN………………………………………………………………………..9

PENCEGAHAN………………………………………………………………………………..16

PROGNOSIS……………………………………………………………………………………17

KESIMPULAN…………………………………………………………………………………17

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..19

KONDILOMA AKUMINATA PENDAHULUAN

  Kondiloma akuminata (KA) yang disebut juga kutil kelamin, penyakit jengger ayam,

  

venereal warts, anal warts dan anogenital warts, adalah infeksi menular seksual yang

  disebabkan oleh Virus Papiloma Humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa

  1-3

  fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Dengan menggunakan cara hibridisasi DNA, sampai saat ini telah dapat diisolasi lebih dari 100 tipe VPH, tetapi yang dapat menimbulkan KA dikaitkan sedikitnya ada 20 tipe VPH yang berbeda, antara lain VPH 6,11,16,18,31,33,35,39,41-

  1-11

  45,51,56, dan 59. Namun hampir 90% kondiloma akuminata berhubungan dengan VPH tipe 6

  4,6,8,10,12-14

  dan 11. Berdasarkan kemungkinan terjadinya dysplasia epitel dan keganasan maka

  VPH dibagi menjadi VPH yang mempunyai resiko rendah (low risk) dan VPH yang mempunyai resiko tinggi (high risk). VPH tipe 6 dan tipe 11 paling sering ditemukan pada KA yang eksofitik dan pada dysplasia derajat rendah (low risk). Sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering ditemukan pada dysplasia derajat tinggi dan keganasan (high risk). Tipe VPH lain yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya kanker genital, terutama servikal mencakup VPH

  1-10,15 31,33,35,39,45,51,54,56,58,66 dan 68.

  Dipertimbangkan sebagai penyakit menular seksual yang tersering. Di Amerika Serikat prevalensinya dilaporkan lebih dari 50%. 1% dari penduduk dewasa muda (berusia 15-19 tahun) dapat menderita external genital wart atau kondiloma akuminata, bahkan insidennya meningkat beberapa kali lipat selama 3 dekade terakhir di hampir semua negara di dunia. Prevalensi dan

  1,3,4,6,10,14 resiko tertinggi pada wanita dewasa muda pada dekade ketiga dan remaja dewasa.

  Adapun faktor resiko terjadinya kondiloma akuminata disebabkan oleh berganti-ganti pasangan seksual, hubungan seksual pada usia dini, merokok, penggunaan kontrasepsi oral,

  3,4,10,12,16,17 sexual abuse dan melalui jalan lahir

  PATOFISIOLOGI

  Transmisi VPH hampir selalu ditularkan melalui hubungan seksual dan dipermudah oleh

  1,3,5

  adanya lesi klinis kutil anogenital. Permukaan mukosa yang lebih tipis lebih rentan untuk inokulasi virus daripada kulit berkeratin yang lebih tebal sehingga mikroabrasi pada permukaan epitel memungkinkan virion dari pasangan seksual yang terinfeksi masuk ke dalam lapisan sel basal pasangan yang tidak terinfeksi. Agar dapat menimbulkan infeksi, VPH harus mencapai epitel yang berdiferensiasi sedangkan sel basal relatif yang tidak berdiferensiasi hanya terstimulasi untuk membelah secara cepat sehingga hanya terjadi ekspresi gen VPH. Sesuai dengan pembelahan sel basal, virion VPH akan bergerak ke lapisan epidermis yang lebih atas. Dan hanya lapisan epidermis di atas lapisan basal yang berdiferensiasi pada tahap lanjut, yang dapat mendukung replikasi virus. Ekspresi gen virus pada lapisan ini diperlukan untuk menghasilkan capsid protein dan kumpulan partikel virus. Setelah itu terjadi pelepasan virus bersamaan dengan sel epitel yang deskuamasi, kemudian virus baru akan menginfeksi lapisan

  3-5,17

  basal yang lain. Waktu yang dibutuhkan mulai dari infeksi VPH sampai pelepasan virus baru

  2,3,10 adalah 3 minggu (masa inkubasi kondiloma akuminata 3 minggu sampai 8 bulan).

MANIFESTASI KLINIS

  VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi sehingga KA sering timbul di daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual. Lokasi yang sering terkena pada pria adalah glans penis, sulkus koronarius, frenulum, dan batang penis, sedangkan pada wanita adalah fourchette posterior dan vestibulum. Selain itu , lesi dapat ditemukan di skrotum, labia, perineum, perianal, dalam vagina atau di serviks, dan yang tidak begitu sering di kanal anal, uretra, ataupun kandung kemih. Karena KA sering ditemukan dengan jumlah lesi lebih dari satu pada satu sisi genital disertai lesi-lesi pada sisi genital yang lain, maka merupakan hal penting

  

1,2,4-7,9

untuk memeriksa genitalia secara menyeluruh.

  Kondiloma akuminata pada umumnya asimtomatis, tetapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan karena mengakibatkan gatal, lembab, perdarahan, dispareunia, rasa terbakar,

  3,4,6,7,9 dan menimbulkan discharge. Ada empat tipe morfologik KA, yaitu :

  1. Bentuk akuminata Terutama dijumpai pada derah lipatan dan lembab. Pada daerah epitel yang mengalami keratinisasi sempurna seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum.Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan yang berjonjot-jonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami

  1-3 fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu.

  2. Bentuk papular Lesi papul berbentuk kubah, permukaan halus dan licin, dengan warna seperti daging, dan biasanya berdiameter 1-4 mm, multipel dan tersebar secara diskret. Biasanya didapati didaerah dengan keratinisasi sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah

  1-3 perianal dan perineum.

  3. Bentuk keratotik Mempunyai lapisan tebal lir-krusta dan dapat menyerupai veruka vulgaris atau keratosis

  1

  seboroik

  4. Bentuk papul datar Tampak sebagai makula atau sedikit meninggi atau bahkan sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang (infeksi subklinis), dan bias terlihat setelah dilakukan tes asam asetat. Dapat dijumpai pada daerah epitel yang mengalami keratinisasi sebagian ataupun

  1-3

  sempurna Dijumpai pula bentuk klinis yang telah diketahui berhubungan dengan keganasan pada genitalia, yaitu :

  1. Papulosis bowenoid Kelainan ini merupakan varian dari papul bentuk kubah dan papul datar, terdiri dari papul-papul hiperpigmentasi berwarna merah kecoklatan yang dapat berkonfluens menjadi plakat. Pemeriksaan histopatologik memperlihatkan lesi intraepitelial skuamosa derajat tinggi. Meskipun jarang berkembang menjadi karsinoma invasif, lesi ini sering

  1,2,4 dikaitkan dengan infeksi VPH tipe 16 dan karsinoma serviks in situ.

  2. Giant Condyloma of Buschke-Lowenstein Pada beberapa orang, terutama yang mengalami penurunan imunitas selular akibat infeksi HIV, terapi imunosupresif, penyakit Hodgkin, atau kehamilan, akan menderita KA yang sangat besar. Pada keadaan yang jarang, KA yang besar ini menjadi tumor yang invasif secara lokal, destruktif, tapi tidak bermetastasis, yang disebut giant condyloma atau tumor Buschke-Lowenstein. Tumor ini biasanya berkaitan dengan VPH 6 atau 11 dan

  1,2,4 umumnya refrakter terhadap pengobatan.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

  Diagnosis KA ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Tetapi pada lesi yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan :

   Tes asam asetat (acetowhitening) Tes ini menggunakan larutan asam asetat 3-5 %, dapat menolong mendeteksi infeksi

  VPH subklinis atau untuk menentukan batas pada lesi datar. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi tampak putih (acetowhite). Pemeriksaan ini menolong dalam membatasi infeksi VPH ke serviks dan anus. Sensitivitas acetowhitening pada infeksi VPH cukup baik dan untuk beberapa lesi hasil pemeriksaan tersebut lebih baik

  2-5,10 dibandingkan dengan hasil pemeriksaan histopatologi pada biopsi rutin.

   Pemeriksaan sitologi (pap smear) Seluruh wanita seharusnya dimotivasi untuk melakukan pap smear setiap tahun karena

  VPH merupakan penyebab utama pada patogenesis kanker serviks. Anal pap smear tes dengan cervixcal brush dan larutan fiksasi membantu dalam mendeteksi kelainan pada anus. Oleh karena itu, setiap wanita dengan kondiloma akuminata atau yang merupakan pasangan seksual pria penderita kondiloma akuminata sebaiknya dilakukan pap smear. Pada sitologi tes tidak dapat mendiagnosis kondiloma akuminata, tetapi wanita yang tampak dengan kondiloma akuminata harus diperiksa dengan pap smear (tes pap). Pada temuan hasil pemeriksaan sitologi servikal diklasifikasikan sebagai abnormal atau normal. Yang termasuk katagori abnormal adalah high-grade squamous intraephitelial

  lesion (HSIL), low-grade squamous intraephitelial lesion (LSIL), atypical squamous 3,5 cells atau undetermined significance (ASC-US)

   Pemeriksaan histopatologi Pada KA yang eksofitik, pemeriksaan dengan mikroskop cahaya akan memperlihatkan gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis, hyperkeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma (koilositosis). Biopsi bukanlah digunakan untuk mendiagnosis KA, tetapi memberikan gambaran klinis yang khas. Meskipun demikian, direkomendasikan jika ditemukan bentuk yang atipikal seperti pigmentasi, ulserasi, keras, massa nodular untuk melihat suatu dysplasia derajat tinggi

  2,3,5 atau suatu penyakit keganasan.

   Deteksi DNA VPH Adanya DNA VPH dan tipe VPH yang spesifik dapat ditentukan dengan hibridisasi pada hapusan dan spesimen biopsi. Ada beberapa teknik hibridisasi, antara lain hibridisasi insitu, Southern blot, Northern blot, dot blot, filter insitu hybridization, dan polymerase

  chain reaction. Ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode hibridisasi, antara

  lain : bahan klinis yang dianalisis, kondisi bahan klinis, ukuran sampel klinis atau hasil

  3,4 DNA selular, sensitivitas, spesifisitas tipe VPH serta kepraktisan tes.

   Serologi Teknik Enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) digunakan untuk menentukan IgM dan IgG serologi dari infeksi VPH dalam menentukan tipe spesifik dari partikel virus. Pasien dengan kondiloma akuminata dan penyakit VPH-terkait lainnya ditemukan memiliki tipe spesifik dari serologi VPH terhadap VPH-6 dan VPH-11. Pentingnya tindakan serologik VPH belum jelas, dan saat ini hanya digunakan dalam pengaturan penelitian. Respon antibodi VPH dapat bertahan selama beberapa tahun, dengan demikian dapat menunjukkan baik infeksi saat ini atau masa lalu. Tetapi saat ini belum

  5 ada indikasi klinis untuk penggunaan VPH serologi.

DIAGNOSIS BANDING

  1. Kondiloma lata pada sifilis stadium II : klinisnya berupa bentuk datar, disc-like, lesi maserasi tampak pada daerah lipatan yang lembab seperti vulva dan sekitar anus. Pada pemeriksaan lapangan gelap dari kerokan yang diambil dari lesi akan ditemukan

  3-5,10 Treponema pallidum dan serologi untuk sifilis selalu positif.

  2. Moluskum kontagiosum : berupa papula milier kadang lentikuler dan berwarna putih seperti lilin, berbentuk kubah, ditengahnya terdapat lekukan (delle). Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan badan moluskum yang mengandung partikel virus di daerah

  2-5,7,10 epidermis.

  3. pearly penile papules : secara klinis tampak sebagai papul berwarna sama seperti warna kulit atau putih kekuningan, berukuran 1-2 mm, tersebar diskret, mengelilingi sulkus koronarius dan memberi gambaran seperti cobblestone. Papul-papul ini merupakan varian

  2,4,5,10 anatomi normal dari kelenjar sebasea, sehingga tidak memerlukan pengobatan.

  4. Veruka vulgaris : vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau

  3 sama dengan warna kulit.

  2-4,7 5. Karsinoma sel skuamosa : vegetasi seperti kembang kol, mudah berdarah, dan berbau.

  6. Nodul skabies : terdapat tanda kardinal, yaitu pruritus nokturna, menyerang manusia secara kelompok, adanya terowongan (kunikulus) yang berwarna putih atau abu-abu

  3,4 dengan papula atau vesikel di ujungnya serta ditemukan adanya tungau.

  7. Folikulitis : berupa papula atau pustula yang eritematosa dan di tengahnya terdapat

  3 rambut, biasanya multipel.

  8. Seboroik keratosis : sering mengeluh gatal, mula-mula bercak coklat kehitaman makin

  3,4,10 lama makin besar menjadi papula dengan permukaan verukous.

  KOMPLIKASI

   Kerusakan lapisan kulit yang localized

   Perubahan menjadi keganasan (kanker serviks (sering), kanker vulva, kanker anal, kanker mulut dan kanker penis (jarang)) baik pada laki-laki maupun perempuan

   Terinfeksi ke janin (respiratory papillomatosis) maupun pasangan seksual

  Kekambuhan kondiloma akuminata

   3,5,11

  PENATALAKSANAAN

  Ada 3 alasan pengobatan VPH :

  1. Kosmetik, karena bentuknya yang terlihat jelek, dan apabila membesar serta menggabung dapat menyebabkan trauma atau infeksi yang berulang-ulang, bahkan jika lesinya cukup besar dapat menutup uretra atau vagina.

  2. Penularan, idealnya pengobatan infeksi VPH adalah mencegah transmisi virus ke orang asing yang sehat.

  3. Karsinogenesis, aspek lain dari infeksi VPH adalah onkogenik potensial dari virus, olah karena itu pengobatan penyakit VPH telah dibenarkan sebagai metode pencegahan pengembangan kanker.

3 Terapi KA tidak dapat mengeradikasi VPH. Hal ini disebabkan karena adanya infeksi VPH

  subklinis di sekitarnya. Terapi hanya bersifat simtomatik dan bagi kebanyakan penderita terapi menghasilkan periode bebas kutil. Penghilangan lesi mungkin akan mengurangi transmisi dan infektivitas virus, meskipun penelitian untuk menguji hipotesis ini belum pernah dilaporkan.

  1 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2006 merekomendasikan rejimen

  berikut sebagai terapi KA lini pertama:

  • Terapi yang dilakukan oleh penderita sendiri, yaitu : podofiloks dan imiquimod
  • Terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan, yaitu : bedah beku, resin podofilin, asam

  trikloroasetat atau asam bikloroasetat, dan tindakan bedah lain (eksisi skalpel atau gunting, kuretase, bedah listrik, bedah laser)

  1 Pilihan terapi ditentukan oleh beberapa faktor, seperti jumlah, ukuran, morfologi, dan lokasi

  anatomis dari kutil, biaya, pilihan penderita, pengalaman petugas kesehatan, dan efek samping yang mungkin terjadi. Pada setiap modalitas terapi, bila kutil tidak memperlihatkan perbaikan bermakna setelah 3 kali terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan atau hilang semua setelah 6 kali terapi, terapi lain harus dipertimbangkan.

  

1-3,5

  Dikutip sesuai dengan aslinya dari kepustakaan no.7 dan 16

  A. Terapi yang dilakukan oleh penderita sendiri A.1.Podofiloks Solusio atau gel podofiloks (atau podofilotoksin) 0,5% adalah senyawa antimitotik murni yang telah distandardisasi. Penderita harus mampu melihat dan mencapai kutil yang akan diterapi atau perlu orang lain untuk membantu penggunaannya. Senyawa ini dioleskan 2 kali sehari dengan lidi kapas selam 3 hari, diikuti oleh 4 hari tanpa terapi. Setelah terapi tidak diperlukan pencucian. Rejimen dapat diulangi sebanyak 4 sampai 6 siklus, sesuai kebutuhan. Efek samping terapi yang sering terjadi adalah iritasi lokal yang ringan. Podofiloks memiliki potensi toksisitas sistemik yang lebih rendah dibandingkan dengan podofilin. Meskipun

  2

  begitu, daerah terapi dianjurkan untuk dibatasi . Podofiloks kontraindikasi pada ≤ 10 cm

  1-7,9,11,12,14,16,17 penderita dalam keadaan hamil.

  A.2.Imiquimod

  Imiquimod adalah obat baru yang mempunyai efek imunomodulator. Terapi ini berbeda bila dibandingkan dengan semua terapi KA lainnya karena tidak bergantung pada destruksi fisik lesi, tetapi ditujukan pada eradikasi agen penyebab. Pemberian imiquimod merangsang respon imun seluler dan respon imun lokal melalui stimulasi monosit, makrofag dan sel dendritik di jaringan perifer untuk memproduksi sitokin proinflamasi, terutama IFN-

  α1,IFN- α2,IFN-α5,IFN-α6,IFN-α8,IL-12 dan TNF-α. Mekanisme tersebut merupakan pertahanan alami primer terhadap infeksi virus. INF-

  α akan menghambat respon Th2, sedangkan IL-2 dan TNF- α menstimulasi respon Th1. Imiquimod diketahui berperan pula dalam meningkatkan maturasi dan migrasi sel Langerhans fungsional yang berperan sebagai antigen

  

presenting cell pada jaringan epidermis kulit, menuju kelenjar limfe regional. Keadaan ini

  membuat respon imun yang diinduksi oleh imiquimod menjadi lebih spesifik terhadap

  1,3,4,7,9-11,14,16,17 antigen tertentu.

  Imiquimod tersedia dalam bentuk krim 5 % dan dioleskan pada kutil sebelum tidur tiga kali perminggu (selang sehari), selama maksimum 16 minggu. Pada pagi hari setelah pengolesan (6-10 jam kemudian), daerah terapi harus dibersihkan dengan sabun dan air. Kutil akan hilang dalam 8 – 10 minggu. Beberapa penelitian klinis telah memperlihatkan peningkatan efikasi dan penurunan angka rekurensi dengan imiquimod, bila dibandingkan dengan placebo atau modalitas terapi yang lain. Angka rekurensi yang lebih rendah dimungkinkan , karena

  1,3,4,7,9-11,14,16,17 eradikasi kutil agaknya dilakukan oleh pertahanan imunologik tubuh sendiri.

  Reaksi kulit lokal karena imiquimod sering terjadi, namun biasanya ringan sampai sedang, meliputi eritema lokalisata, erosi, ekskoriasi, rasa terbakar dan nyeri. Reaksi sistemik belum pernah dilaporkan. Keamanannya pada saat kehamilan belum pernah diteliti, meskipun tidak

  1,3-5,7,9,11,12,14-17 bersifat teratogen.

  B. Terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan B 1. Bedah beku.

  Bedah beku untuk terapi KA pertama kali digunakan oleh Ghosh(1977) dan Balsdon (1978) dengan hasil cukup memuaskan. Terapi ini menggunakan nitrogen cair atau cryoprobe untuk

  1,3,4,7,9-11,14,16,17 mengeradikasi kutil melalui sitolisis yang diinduksi termal.

  Teknik yang paling sederhana adalah dengan menggunakan aplikator berujung kapas yang dicelupkan dalam nitrogen cair dan dioleskan pada kutil selama 10-20 detik sehingga kutil dan 1-2 mm kulit disekitarnya menjadi beku dan berwarna putih. Satu sampai enam siklus freeze-thaw per kutil mungkin diperlukan per kali terapi. Penderita mungkin akan merasa nyeri dan terbentuk lesi vesikobulosa yang sering hemoragik. Lepuh secara tipikal akan mengalami erosi, membentuk ulkus dalam 1 sampai 3 hari, dan normalnya akan sembuh dalam 1 sampai 2 minggu. Jika terapi pertama tidak berhasil, terapi dapat 3 kali terapi. Karena bedah beku dapat disertai rasa nyeri, terapi lesi secara menyeluruh mungkin tidak dapat dilakukan. Metode ini aman, efektif dan dapat digunakan untuk eradikasi KA di setiap

  1,4,5,7,9,10,11,16,17 lokasi, tetapi tidak ideal untuk penderita dengan lesi yang luas.

  B.2. Podofilin Penggunaan podofilin sebagi terapi KA telah banyak dilaporkan selama lebih dari 50 tahun terakhir, tetapi saat ini senyawa tersebut lebih jarang digunakan karena tersedia terapi yang lebih aman dan lebih efektif. Podofilin adalah senyawa dari tumbuhan Podophyllin peltatum atau Podophyllin emodi yang menyebabkan mitosis sel terhenti pada metaphase dan selanjutnya nekrosis jaringan, tersedia sebagai solusio resin podofilin 10% sampai 25% dalam etanol atau tingtura benzoin. Podofilin dioleskan secukupnya pada masing-masing kutil oleh petugas kesehatan dengan menggunakan lidi kapas serta dibiarkan kering. Sebelumnya kulit sekitar lesi dilindungi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi. Pada awal terapi, obat dibiarkan hanya selama 1 jam lalu dicuci, khususnya untuk lesi di daerah vulva dan daerah yang diliputi oleh frenulum. Dengan berlanjutnya terapi, podofilin dibiarkan selama 4-6 jam sebelum dicuci. Lesi yang diterapi akan mengalami inflamasi dan terasa nyeri selama 2-3 hari berikutnya. Terapi dilakukan satu sampai dua kali seminggu sampai enam

  1,3,4,7,9-11,14,16,17 minggu.

  Pengolesan podofilin tidak boleh berlebihan karena dapat diabsorbsi secara sistemik dan berkaitan dengan resiko komplikasi yang mencakup mual, muntah, demam, takikardia, neuropati perifer, supresi sumsum tulang, peningkatan enzim hati, hipokalemia, oliguria, anuria, ileus paralitik, koma, dan kematian. Selain ini, resin podofilin mengandung zat mutagen (quersetin dan kaemferol) yang berpotensi karsinogen. Untuk mengurangi resiko

  2

  komplikasi, CDC merekomendasikan pembatasan daerah lesi yang diobati per kali ≤ 10 cm terapi. Efek samping lokal minimal, dermatitis kontak iritan ringan terjadi pada hanya 10% sampai 15% penderita. Seperti podofiloks, resin podofilin tidak aman untuk digunakan selama kehamilan. Hasil terapi terbaik tampaknya diperoleh pada penderita dengan KA

  1,3,4,7,9-11,14,16,17 lembab yang relatif baru dan sedikit jumlahnya.

  B.3. Asam trikloroasetat (ATA) dan asam bikloroasetat(ABA) Solusio ATA/ABA 80% sampai 90% menyebabkan koagulasi protein secara kimiawi yang mengakibatkan destruksi KA. Solusio ini dioleskan sekali atau dua kali seminggu pada masing-masing kutil oleh dokter dengan menggunakan lidi kapas yang halus. Seperti halnya resin podofilin, ATA/ABA harus dioleskan secukupnya untuk mencegah rasa nyeri yang berlebihan atau komplikasi ulserasi. ATA/ABA akan menyebabkan koagulasi lesi menjadi putih dengan sangat cepat. Jika kulit sekitarnya terkena secara tidak sengaja, senyawa ini dapat dinetralisir dengan isopropil alkohol atau solusio sodium bikarbonat. Kedua asam ini tidak perlu dicuci dari lesi. Terapi dapat diulang sampai enam minggu. Terapi ini paling efektif untuk kutil-kutil yang kecil dan lembab serta untuk KA bentuk hiperkeratotik, dapat dicoba pada KA yang resisten terhadap podofilin. ATA/ABA bersifat nontoksik dan dapat

  1,3- digunakan pada anak-anak dan wanita hamil bila rejimen-rejimen lain dikontraindikasikan. 7,9-12,16,17

  B.4.Tindakan bedah lain (eksisi scalpel/gunting, kuretase, bedah listrik) Metode ini membutuhkan anestesi topikal,lokal,atau umum Kutil intrameatal atau labia minora yang distrik mudah dihilangkan dengan kuret tajam. Lesi- lesi berkeratin yang distrik dapat dihilangkan secara efektif dengan bedah listrik. Eksisi gunting cocok untuk lesi perianal multipel yang tidak berespon terhadap terapi lain. Di samping itu, metode-metode ini sering digunakan untuk kutil-kutil yang luas atau besar dan untuk terapi KA selama kehamilan. Hal yang perlu diperhatikan adalah untuk bedah listrik. Tindakan ini dikontraindikasikan bagi penderita yang menggunakan alat pacu jantung ataupun untuk lesi-lesi di proksimal dari tepi anus. Telah diutarakan pula adanya kemungkinan inhalasi DNA VPH pada saat melaksanakan tindakan ini. Selain terapi lini pertama di atas, terapi alternatif untuk KA menurut CDC mencakup bedah laser dan interferon intralesi. Laser CO

  2 paling bermanfaat untuk penderita dengan kutil yang

  rekalsitran atau luas. Keuntungannya antara lain memiliki ketepatan yang tinggi sehingga jaringan normal sekitarnya tidak mengalami kerusakan yang berarti, sterilitas lebih terjamin, perdarahan relatif sedikit, relatif tidak nyeri, jaringan parut yang terjadi sangat minimal, serta waktu penyembuhan lebih cepat. Bedah laser juga dapat digunakan pada penderita yang sedang hamil karena tidak mempunyai efek sistemik. Sementara itu kendalanya adalah harga alat serta pengobatan sangat mahal dan membutuhkan tenaga ahli yang sudah berpengalaman. Anestesi lokal atau umum diperlukan dan evakuator asap harus digunakan untuk menghindari inhalasi DNA VPH yang didapati dalam asap laser, meskipun saat ini timbulnya infeksi atau rekurensi melalui DNA VPH dalam aerosol belum dapat dibuktikan

  1,3-7,9,11,12,14,16,17 ataupun disangkal.

  Interferon alfa intralesi mempunyai efek antivirus dan bekerja dengan cara menginduksi enzim ribonuklease sehingga terjadi degradasi RNA messenger dan mengganggu sintesis

  6

  protein virus. Dosis yang diberikan adalah 1x10

  IU per lesi disuntikkan ke dasar masing- masing lesi tiga kali seminggu (selang sehari) selama 3 minggu. Pada satu kali terapi dapat dilakukan penyuntikan sampai sebanyak lima lesi, sedangkan lesi-lesi lain diobati pada kali terapi yang lain. Efek samping yang dapat timbul antara lain gejala lir-influenza (demam, menggigil, sakit kepala, mialgia), mual, muntah, diare, leukopenia dan trombositopenia yang reversibel, neurotoksisitas, serta peningkatan tes fungsi hati. Selain itu juga pernah dilaporkan tentang terjadinya perubahan lipid serum, insufisiensi ginjal, dan toksisitas pada jantung. Interferon alfa intralesi mempunyai tingkat efikasi yang sama bila dibandingkan dengan rejimen-rejimen yang lain serta dapat digunakan untuk KA resisten yang gagal berespon terhadap rejimen terapi lainnya. Namun, CDC tidak merekomendasikan pengunaanya secara rutin karena sering menimbulkan efek samping sistemik, biaya terapi yang tinggi, injeksi yang nyeri, dan diperlukannya kunjungan ke dokter yang berulang kali. Rejimen lain yang penggunaannya telah banyak dicatat dalam kepustakaan, namun tidak direkomendasikan oleh CDC untuk terapi KA, adalah 5-fluorourasil (5-FU). 5-FU adalah suatu antimetabolit yang menghambat pertumbuhan sel dengan cara mengganggu sintesis DNA dan RNA. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dengan konsentrasi 1-5%, dioleskan tipis-tipis pada lesi satu sampai tiga kali per minggu dan harus dicuci 3 sampai 10 jam setelahnya, tergantung pada sensitivitas lokasi. Terapi dapat dilanjutkan selama beberapa minggu sesuai kebutuhan. Penderita sebaiknya tidak miksi selama 2 jam setelah pengobatan. 5-FU topikal sering menyebabkan iritasi lokal sehingga tidak dapat ditoleransi oleh beberapa penderita. Metode ini memberikan hasil baik untuk KA yang persisten terhadap obat kaustik, terutama untuk KA anorektal dan intrameatal, tetapi tidak direkomendasikan untuk kondiloma vaginal karena adanya laporan-laporan tentang ulserasi vagina dan adanya satu kasus adenosis vagina dengan karsinoma sel jernih. Selain 5-FU topikal, penggunaan gel 5- FU/ epinefrin yang dapat disuntikkan untuk terapi KA juga telah diteliti, dengan angka respons sebesar 55% sampai 77%. Efek sistemik belum pernah ditemukan, tetapi reaksi kulit lokal sering terjadi dan suntikan menyebabkan nyeri. Pada satu penelitian didapati ulserasi terjadi pada 63% penderita. Gel ini belum mendapat persetujuan dari Food and Drug

  1,3-7,9,11,12,14,16,17 Administration(FDA).

  Dikutip sesuai dengan aslinya dari kepustakaan no.7 dan 16

  Dikutip sesuai dengan aslinya dari kepustakaan no.7 dan 16 PENCEGAHAN

  Salah satu cara yang paling aman untuk mencegah infeksi VPH adalah dengan melakukan hubungan seksual dengan satu orang yang telah diketahui kesehatannya atau dengan kata lain melakukan hubungan seksual yang lebih aman seperti penggunaan kondom yang dapat

  3,6,5,10-12,16 menurunkan resiko terjadinya penularan.

  Sampai saat ini baru terdapat satu vaksin VPH yang disetujui penggunaannya oleh FDA,

  TM

  yaitu vaksin kuardivalen VPH (Gardasil , produksi Merck and Co, Inc). Vaksin ini diberikan intramuskular dengan tiga kali penyuntikan, masing-masing dengan dosis 0,5 ml. Dosis kedua sebaiknya diberikan dua bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 6 bulan sesudah

  1,4,6,11,13,17 dosis pertama.

  Vaksin tersebut telah disetujui, aman, dan efektif dan dianjurkan penggunaannya terhadap wanita berusia 9-26 tahun. Dari penelitian didapati bahwa vaksin VPH hampir 100% efektif dalam pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh empat tipe VPH (tipe 6,11,16,18)

  1,4-6,8,11,13,16,17 yang tercakup dalam vaksin ini.

  Dari penelitian yang telah dilakukan, didapati bahwa setelah lima tahun sejak dosis pertama,

  1 para wanita ini masih terlindungi. Vaksinasi menghasilkan titer antibody yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang terkena infeksi alami.

1 PROGNOSIS

  Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Oleh karena itu, faktor predisposisi perlu dicari misalnya hygienenya, adanya fluor albus, kelembaban pada pria akibat tidak disirkumsisi.

  4,5,10,12

  Tingkat kekambuhan lebih dari 50% sesudah 1 tahun dan dapat terjadi karena :

  1. Infeksi ulang dari kontak seksual

  2. Masa inkubasi VPH yang panjang

  3. Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial yang jauh dari kelenjar limfe

  4. Menetapnya virus pada kulit di sekitar lesi, folikel rambut atau tempat yang tidak dapat dijangkau oleh intervensi yang digunakan

  5. Lesi yang tidak dijumpai atau lesi yang dalam salah satu atau kedua pasangan seksual menderita KA, dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual atau setidak-tidaknya memakai kondom. Higiene penderita diperbaiki karena

  6. Lesi subklinis 7. Keadaan imunosupresi yang mendasari.

  

4,5,10,12

KESIMPULAN

  Kondiloma akuminata (KA) adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Virus Papiloma Humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa.

  1,2

  KA perlu ditangani dengan baik karena terdapat hubungan antara infeksi VPH pada genitalia dengan karsinoma serviks dan keganasan anogenital lainnya. Belum ada obat yang spesifik untuk melawan dan mencegah replikasi virus. Tujuan utama pengobatan adalah menghilangkan gejala klinis yang tampak atau bersifat simtomatik tetapi tidak dapat untuk mengeradikasi VPH sehingga penyakit ini sering rekurens.

  1,3,5,9,17

  Perlu diperhatikan setiap penderita KA seharusnya diperiksa kemungkinan Infeksi Menular Seksual yang lain juga, karena sampai 20% penderita KA dapat menderita PMS lain. Selama

  1 suasana yang basah, lembab, dan kotor akan mempercepat pertumbuhan KA.

  Pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan yang tepat (mengenai diagnosis, pilihan terapi, kemungkian rekurensi, hubungan antara infeksi VPH dengan keganasan, serta infektivitasnya) untuk mengurangi stress, terutama pada kasus yang sering mengalami

  1 kekambuhan, akan sangat berfaedah untuk pengobatannya .

  Tindak lanjut penderita sebaiknya dilakukan selama mungkin karena kekambuhan sering terjadi cukup lama setelah pengobatan selesai. Pap’s smear tahunan direkomendasikan bagi

  1 wanita dengan atau tanpa KA.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Suryaatmadja L. Penatalaksanaan Kondiloma Akuminata. Dalam : Skin Infection and venereal Diseases. Symposium On Dermatology and Venereology in Daily Practice.

  Surabaya, Maret 2008 : 67-79.

  2. Zubier F.Kondiloma Akuminata.Dalam : Daili SF, Makes WIB, Zubier F, Judanarso J.ed.

  Infeksi Menular Seksual,ed ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2005:126-131.

  3. Kondiloma Akuminata. Dalam: Murtiastutik D. buku ajar Infeksi Menular Seksual. Bab 18. Surabaya: Airlangga University Press, 2008:165-9.

  4. Ghadishah D. Condyloma Acuminata. 2009 Available at :

  

  5. External Genital Warts. In: Klausner JD,Hook III EW. Current Diagnosis & Treatment of Sexually Transmitted Diseases. Chapter 15. Lange Mc Graw Hill. 2007: 1-9

  6. Human Papillomaviruses (HPVs) and Genital Warts. August 2010. Available at :

  

  7. Kodner C, Nasraty S. Management of Genital Warts. American Academy of Family Physicians, 2004;70(12):2335-2342.

  8. CDC. FDA Licensure of Quardivalent Human Papillomavirus Vaccine (HPV4, Gardasil) for Use in Males and Guidance from the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP).MMWR 2010;59(20):630-2

  9. CDC. Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines .MMWR 2006:62-7

  10. Fiallo P, Bastos R. Anogenital Warts and Molluscum Contagiosum. Available at:

  

  11. Human Papillomavirus(HPV) and Genital Warts. March 2010 Available at : .

     

  12. Anal Warts. 2000 Available at :

  

  13. Dillner J. Four year efficacy of prophylactic human papillomavirus quadrivalent vaccine against low grade cervical, vulvar, and vaginal intraepithelial neoplasia and anogenital warts:randomized controlled trial. BMJ. 2010;340:c3493:1-9.

  14. Raymond M, von Krogh G The Management of Anal Warts. British Medical Journal, 2000(321):910-11

  15. Moore RA, Edwards JE, Hopwood J, Hicks D. Imiquimod for the treatment of genital warts: a quantitative systematic review. BMC Infectious Diseases.2001;1:3

  16. Ghaemmaghami F, Nazari Z, Mehrdad N. Female Genital Warts. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention. Vol 8.2007:339-347

  17. Bourcier M, Thomas R. External Genital Warts. Vol.5. 2010. Available at: .

  22   

Dokumen baru