Praktik Tanggung Jawab Sosial Dan Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, Kabupaten Deli Serdang

Gratis

2
80
96
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Penulis menyadari bahwa, penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi berbagai pihak, baik bantuan moril dan materil yang yangsangat berharga yang memberikan energi bagi penulis, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ungkapan terimakasih yang sangat dalam kepada; 1. Seluruh Staf pengajar di magister Studi pembangunan FISIP USU yang telah membekali penulis dengan ilmu yang sangat berharga dan jugakepada staf tata usaha yang membantu kelancaran administrasi yang mendukung kepada proses penyelesaian studi ini.

RIWAYAT HIDUP 1

  Nusantara IV (Persero) Unit KebunAdolina PRAKTIK TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DAN PEMBERDAYAAN USAHA KECIL MENENGAH (Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina Kabupaten Deli Serdang) ABSTRAK PTPN IV Unit Usaha Kebun Adolina merupakan perusahaan yang ekstraktif yang bergerak dalam bidang perkebunan telah berkontribusi dalampraktik CSR dan Pemberdayaan UKM melalui Program Kemitraan dan BinaLingkungan. Namun impelementasiCSR PTPN IV masih membutuhkan penanganan yang lebih serius dari pihak korporat terutama dalam melibatkan shareholder dan stakeholdernya sebagaibagian dari bisnisnya yang berorientasi pada kerjasama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisma) dan supaya program ini tidak menjadiproses pencitraan belaka tetapi murni untuk mendidik dan memberdayakan masyarakat terutama dalam menunjang keberlangsungan program CSR secaraefektif dan efisien.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) merupakan suatu komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersamadengan para pihak yang terkait, utamanya masyarakat di sekelilingnya dan lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadudengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan (Budimanta: 2002). Tiga alasan penting kalangan dunia usaha harus merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya,yaitu perusahaan merupakan bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat, kalangan bisnis danmasyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam ataubahkan menghindari konflik sosial (Badaruddin: 2008).

2. PT. Jasa Marga, dalam pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina

  Program ini mencakup penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang manajemen usaha kecil dan menengah, serta melibatkan mitra-binaan dalam ajang pameran dan promosi di dalam dan luar negari. Kegiatan yang dilakukan meliputi Bidang SosialKemasyarakatan dan Budaya (Melalui kegiatan pendidikan , seni budaya, olah raga, kesejahteraan sosial, keagamaan dan kesehatan), Bidang Pemberdayaan danPembinaan Ekonomi Masyarakat (Melalui kegiatan sosial kemitraan usaha kecil menengah serta pertanian terpadu), dan Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup(Melalui kegiatan sosial pemberdayaan lingkungan hidup dan konservasi).

1.5. Kerangka Pemikiran

  PTPN IV merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia yang bergerak di bidang perkebunan telah menerapkan sistim Good CorporateCitizenship. Keputusan tersebut pada prinsipnya mengikat BUMN untuk menyelenggarakan Program Kemitraan danProgram Bina Lingkungan yang dilaksanakan unit Corporate SocialResponsibility.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  Tanggung Jawab Sosial Perusahaan - Corporate Social Responsibility (CSR) Tanggung Jawab Sosial Perusahaan adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi berkelanjutandengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial, danlingkungan (Suhandri M. Beberapa defenisi CSR yang telah dikenal adalah sebagai berikut : 1.

a. Kepedulian dana usaha terhadap lingkungan dimana perusahaan beroperasi

  (The Jakarta Consulting Group, 2007) Dengan pengertian diatas, isu isu tentang konsep CSR, pengembangan model CSR mengalami pergeseran dari perspektif shareholder ke perspektifstakeholders, artinya kehadiran perusahaan harus dilihat dari dan untuk mereka yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan, dalam hal ini tidak hanyapemilik bisnis saja akan tetapi diperluas dalam kelompok yang lebih luas. Program kombinasiPola ini dapat dilakukan terutama untuk program program pemberdayaan masyarakat, dimana inisiatif, pendanaan maupun pelaksanaan kegiatandilakukan secara prioritas dengan beneficiaries.(Putri, schema CSR, Kompas, 4 Agustus 2007)Praktik CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaanmerek produk (loyalitas) atau citra perusahaan.

2.1.1. Jenis-jenis Program CSR

  Untuk perusahaan BUMN sendiri, bentuk dan jenis kegiatan BinaLingkungan dapat didiskripsikan sebagai berikut: 1. Program kegiatan olahraga dan kesehatan d.

2.1.2. Pinsip prinsip CSR

  Memberi informasi dan (bila diperlukan) mendidik pelanggan, distributor, dan publik tentang penggunaan yang aman,trsnsportasi, penyimpanan dan pembuangan produk, dan begitu pula dengan jasa. Menumbuh-kembangkan keterbukaan dan dialog dengan pekerja dan publik, mengantisipasi dan member respon terhadap potencialhazard, dan dampak operasi, produk, dan jasa.

2.2. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

2.2.1. Pengertian dan Konsep Usaha Kecil Menengah

  Tohar (1999:1) adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil, dan memenuhi criteriakekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang undang. Menurut Wirjosardjono (1985;5), sector informal, yaitu sebagai kegiatan ekonomi yang bersifat marginal (kecil kecilan) yang mempunyai ciri ciri : “kegiatan yang tidak teratur, tidak tersentuh peraturan, bermodal kecil dan bersifat harian, tempat tidak tetap, berdiri sendiri, berlaku dikalangan masyarakatberpenghasilan rendah, tidak membutuhkan keahlian dan ketrampilan khusus, lingkungan kecil/keluarga dan tidak mengenal sistim perbankan, pembukuanmaupun perkreditan”.

2.2.2. Permasalahan UKM di Indonesia

  Persoalan persoalan diselesaikan secara parsial sehingga persoalanmuncul dan hilang hanya untuk sementara. Sesuai dengan prinsip theory of constraint bahwa perbaikan pada bagian yang bukan bottle neck tidak akan memperbaiki sistim secara keseluruhan (Ikhsan,2001).

A. Permasalahan Modal 1

  Sistim dan prosedur kredit dari lembaga keuangan bank dan non bank terlalu rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Perbankan kurang memahami criteria usaha kecil dalm menilai kelayakan usaha, sehingga jumlah kredit yang disetujui seringkali tidaksesuai dengan kebutuhan usaha kecil.

B. Permasalahan Pemasaran 1

Posisi tawar pengusaha kecil ketika berhadapan dengan pengusaha besar selalu lemah, terutama berkaitan dengan penentuan harga dansistim pembayaran.

2. Asosiasi pengusaha atau profesi belum berperan dalam mengkoordinasi persaingan yang tidak sehat antara usaha sejenis

  3. Informasi untuk memasarkan produk masih kurang, misalnya tentang produk yang diinginkan, potensi pasar, tata cara memasarkan produkdan lain lain.

C. Permasalahan bahan baku 1

  Supply bahan baku untuk usaha kecil kurang memadai dan berfluktuasi. Kualitas bahan baku rendah karena tidak adanya standarisasi dan adanya manipulasi kualitas bahan baku.

D. Permasalahan teknologi 1

  Tenaga kerja trampil sulit diperoleh dan dipertahankan karena lembaga pendidikan dan pelatihan yang ada kurang dapat menghasilkan tenagakerja trampil yang sesuai dengan kebutuhan usaha kecil. Lembaga independen belum ada dan belum berperan, khususnya lembaga pengkajian tehnologi yang ditawarkan oleh pasar kepada 5.

6. Pembinaan teknis tentang tehnologi baru atau teknologi tepat guna bagi usaha kecil masih kurang intensif

E. Permasalahan manajemen 1

  Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usaha sulit ditemukan karena pengetahuan pengusahakecil relatif 2.rendah. Kemampuan pengusaha kecil dalam mengorganisasikan diri dan karyawan masih lemah sehingga terjadi pembagian kerja yang tidakjelas.

F. Permasalahan sistim birokrasi 1

  Ketersediaan infrastuktur Listrik, Air dan Telepon bertarif mahal dan seringkali mengalami gangguan disamping pelayanan petugas yang kurang baik. Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar dalam pemasaran dan sistim pembayaran baik produk maupun bahan bakudirasakan belum bermanfaat.

2. Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar dalam transfer tehnologi masih kurang

Usaha kecil dan menengah di Negara- negara berkembang sering dikaitkan dengan masalah masalah ekonomi dan sosial dalam negeri, seperti tingginya

2.3. Pemberdayaan UKM

  Karena dasarnya adalah kepercayaan kepada rakyat, makaprogram ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh Program pemberdayaan terhadap UKM merupakan suatu bentuk keberpihakan pemerintah dalam bentuk pembangunan pola hubungan yang lebihsinergis antara UKM dengan pemerintah sebagai fasilitator. Proses pemberdayaan terhadap UKM menekankan bahwa dukungan dari pemerintah terhadap penguatan UKM harus dilaksanakan secara selektif dalambentuk perlindungan terhadap persaingan yang tidak adil, pengembangan sumber daya manusia lewat pendidikan dan pelatihan, diseminasi informasi mengenaibisnis dan tehnologi, penyediaan financial, lokasi usaha dan kemitraan usahaBUMN dan perusahaan swasta lainnya serta penyediaan fasilitas fasilitas fisik agrobisnis.

1. Memperluas sumber pendanaan;

  Salah satu pendekatan dan strategi dalam mengembangkan akses pasarUsaha Kecil Menengah adalah melalui pendekatan keterkaitan usaha atau kemitraan, karena melalui pendekatan kemitraan akan tercipta efisiensi usaha danpeningkatan daya saing tanpa melalui persaingan pasar yang seringkali sulit dikendalikan. Sistim ini menjamin kesempatan kesempatan bisnis dan kesempatan kerja yang sama,perlindungan konsumen dan perlakuan yang adil terhadap masyarakat.

2.4. Community Development

  Terlepas dari masih kurangnya pemahaman terhadap konsep CD itu sendiri, tidak dapatdipungkiri bahwa CD merupakan salah satu metode yang tepat untuk menjawab issu-issu dan masalah masalah sosial pada saat ini dan untuk masa yang akandatang. Salah satu bidang yang sering dilupakan adalah dampaksosial dari pengembangan industri yang tidak jarang menimbulkan social cost yang dapat lebih mahal daripada manfaat ekonomi yang diperoleh; yaitu berupa Mekanisme kerjasama pihak perusahaan dengan masyarakat sekitar harus jelas, akuntabel, transparan dan menguntungkan semua pihak dengan kekuatanyang dimiliki.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

  Menurut Nawawi (1990; 64),bahwa metode deskriftif yaitu metode penelitian yang memusatkan perhatian pada masalah masalah atau fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukanatau masalah yang bersifat actual, kemudian menggambarkan fakta fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi yangrasional dan akurat. Pemberdayaan UKM merupakan upaya pembinaan dan peningkatan daya dan kualitas kemampuan UKM/Pola pembinaan yang dapatmemberdayakan dan mendorong peningkatan kapasitas Usaha kecil dan Menengah.

3.3. Informan Penelitian

  Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian (Lexy 1998; 80). Untukmemperoleh informasi yang lebih jelas mengenai masalah dalam penelitian ini Sektor industri, yaitu: 1.

H. Syafaruddin (Bengkel dan Jual Beli Honda) 7

Syamsuddin (Bengkel dan Tambal Ban) 8.Abdul Halim (Menyewakan Alat-Alat Pesta)

9. Wita yuningsih (pengumpul Hasil Bumi) 10

  Alasan pemilihan lokasi penelitian ini adalah karena sebagai perusahaan perkebunan agribisnis yang besar dan tangguh, perusahaan initelah banyak berkontribusi dalam melaksanakan praktik CSR baik melalui upaya pembinaan lingkungan, pendidikan, kesehatan serta mengalokasikan dana CSRpada pemberdayaan Usaha Kecil Menengah yang berada disekitar perusahaan/masyarakat lokalnya. Tahap ini juga membantu dalam menentukan data apa lagi yang diperlukan dan bagaimana serta siapa yang akan memberikaninformasi selanjutny, metode apa yang akan digunakan untuk menganalisis yang akhirnya akan membawa pada kesimpulan.

b. Pengorganisasian data (Data Organization) yang telah ditentukan

  sebelumnya meliputi beberapa kategori yang ditetapkan, sehingga pada tahap ini adalah proses pengumpulan (asembling) informasi yang betulbetul penting dianggap merupakan tema atau pusat penelitian. c.

3.7. Jadwal Penelitian

  Penelitian ini dijadwalkan selama 6(enam) bulan. sejak bulan Nopember dan selesai pada bulan April 2010.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil Singkat Kebun Adolina

  Perkebunan IV (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bergerak dalam usahakelapa sawit, kakao dan pengolahan kelapa sawit dan Pabrik Pengeringan BijiKakao (PPBK), Produksi yang dihasilkan adalah : 1. Pada tahun 1942 diambil alih oleh Pemerintah Jepang dari PemerintahBelanda dan pada tahun 1946 diambil alih kembali oleh Pemerintah Belanda dengan nama tetap NV SCM.

4.1.1. Lokasi dan Tata Letak Perusahaan

  Perkebunan Nusantara IV (Persero)Nomor: 04.13/Kpts/Org/93/XII/1998 Tanggal 17 Desember 1998 memutuskan terhitung mulai tanggal 01 januari 1999 melebur Kebun Bangun Purba danmerubah statusnya menjadi Afdeling Kebun Adolina. Unit Adolina merupakan pintu gerbang PTP Nusantara IV, berada diKabupaten Serdang Bedagai tepatnya di pinggiran Jl.

1. Sebeleh Timur berbatasan dengan kota Perbaungan 2

  Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina didirikan pada tahun 1956 olehBOCM (Bandar Oli Culture Mascapaiy) dengan kapasitas 26 ton Tandan Buah Didalam pengelolaannya, kebun Adolina dipimpin oleh seorang Manajer dan dibantu oleh 6 (enam) orang Kepala Dinas, yaitu Kepala Dinas Tanaman 3(tiga) orang, Kepala Dinas Tehnik 1 (satu) orang, Kepala Dinas Pengolahan 1(satu) orang dan Kepala Dinas Tata Usaha 1 (satu) orang. Pencapaian produksi Perkebunan Kelapa Sawit Unit Adolina tahun 2009 sampai dengan bulan februari 2009 adalah 4997 ton dengan rincian produksi dariAdolina berupa minyak sawit (MS) sejumlah 3461 ton dan Inti Sawit (IS) sejumlah 706 ton, total jumlah MS + IS dari Adolina adalah 4167 ton.

4.1.2. Visi Dan Misi Perusahaan

  Meningkatkan daya saing produk secara terus menerus yang didukung oleh sistem, cara kerja dan lingkungan kerja yang mendorong munculnyakreatifitas dan inovasi untuk peningkatan produktivitas dan efektivitas. Menghasilkan laba yang berkesinambungan untuk menjamin pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan perusahaan serta memberikanmanfaat dan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham, karyawan dan stakeholder lainnya.

4.1.3. Stuktur Organisasi Perusahaan

  Memimpin dan mengelola seluruh sektor produksi dan pemakaian biaya yang ada di perusahaan berpedoman kepada kebijakan perusahaan. Membuat dan menyusun rencana kerja tahunan atau bulanan yang meliputi target produksi tandan tahunan dan bulanan.

4.1.4. SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

  Nusantara IV (Persero) Kebun Adolina telah menerapkan SMK3 sejak tahun 2004 dengan tujuan dan sasaran mencegah dan mengurangi/menekan tingkatkecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sehingga terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen dan terhadap persiapan SMK3, merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaranpenerapan K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.

4.1.5. Kesejahteraan Sosial

  Perusahaan membangun mesjid dan gereja pada titik sentral yang mudah dijangkau oleh karyawan ataumasyarakat yang akan beibadah. KoperasiKebun Adolina membentuk koperasi karyawan guna membantu karyawan memenuhi kebutuhan pokok, sandang, papan, serta keperluan anak sekolah,koperasi terletak di Emplasmen dan Afdeling, sesuai dengan perkembangan dan perjalanan unit koperasi Kebun Adolina.

4.2. Hasil Analisa Data

  Dalam penyajian data ini penulis akan menggambarkan pelaksanaan/praktik tanggung jawab sosial perusahaan dan pemberdayaan UsahaKecil Menengah PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, sebelum dan sesudah adanya regulasi undang-undang (UU No. 40 Tahun 2007). Hal ini dapat kita lihat dari masing-masing kebijakan internal perusahaan yang dijalankan dalam mengembangkan praktiktanggung jawab sosialnya, seperti halnya pengalaman pelaksanaan program CSR beberapa perusahaan di bawah ini sebelum berlakunya UU No.

2. PT Suryani Hutani Jaya (PT SHJ) melalui Eka Tjipta Fondation, PT

  Pada pelaksanaan penelitian lapangan di PTPN IV (Persero) sebagai salah satu BUMN yang bergerak di sektor perkebunan dari industri hulu hingga hilir,telah ditemukan beberapa fakta dan informasi yang bersumber dari pengamatan lapangan, wawancara dan kajian pada data, dokumen dan literatur yang relevan. Temuan penulis di lapangan bahwa program pemberian bantuan pada masyarakat dan pelaku UKM belum bersifat umum karena masih ditemukannyamasyarakat komuniti yang belum tahu adanya program kemitraan ini, seperti penuturan salah seorang warga masyarakat: “saya tidak pernah tahu kalauperusahaan ini menyalurkan kredit kepada masyarakat, yang saya ketahui adanya perbaikan jalan dan parit dan pembuatan saluran air bersih serta pembuatangapura”.

4.2.3. Program Bina Lingkungan

  Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah Unit Usaha BUMN tersebut melaluipemanfaatan dana dari bagian laba BUMN, dalam bentuk bantuan KorbanBencana Alam, Pendidikan dan pelatihan, Peningkatan Kesehatan, Pengembangan Sarana dan Prasaran Umum, Sarana Ibadah dan Pelestarian Lingkungan. 40.019.000Sumber : PTPN IV Unit Usaha Kebun Adolina, 2011 Salah satu program bina lingkungan untuk pengembangan sarana dan prasarana umum dan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh PTPN IV UnitUsaha Kebun Adolina adalah pembuatan saluran air bersih yang bisa digunakan oleh masyarakat di sekitar Unit Usaha Kebun Adolina.

4.2.4. Program Kemitraan

  Sejauh ini PTPN IV Unit Usaha Kebun Adolina dalam menjalankan kemitraan selalu mengupayakan membina mitra dengan saling menguntungkan, Dengan menjalin kemitraan ini maka diharapkan terciptanya pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan lapangan pekerjaan baru di sekitar kebun dan unit usahaPTPN IV (Persero) yang secara langsung akan menciptakan iklim yang kondusif dan kesejahteraan sosial yang dapat mendukung usaha PTPN IV Unit UsahaKebun Adolina. Menurut pengamatan penulis masih banyak pelaku Usaha Kecil Menengah yang menjadi mitra binaan Unit Usaha Kebun Adolina bukan masyarakat yangberada di sekitar ataupun masyarakat Dari paparan tersebut menunjukkan kelemahan dari skema program CSRPT Perkebunan Nusantara IV, walau pada dasarnya mekanisme dan persyaratan yang ditentukan sudah cukup baik akan tetapi dalam pelaksanaannya masih harusdievalusai terutama dalam hal keakuratan/kebenaran data.

2. Hak

  (D.Y dan Z maret 2010)Hal senada juga tercermin dalam pernyataan salah seorang mitra binaan sebagai berikut : “Kami masih harus banyak belajar agar produksi ini terusberkembang dan bersaing dengan pelaku bisnis yang sama yang menjadi mitra binaan dari lembaga lainnya dan harapan kami dapat mengikuti pameranberikutnya”. 40 Tahun 2007 pada PTPNIV Unit Usaha Kebun Adolina berupaya menyesuaikan konsep yang telah ada dengan yang dimandatkan oleh undang-undang tersebut, akan tetapi menurut penulis, perubahan yang terjadihanyalah penggantian istilah saja namun pelaksanaan atau implementasinya dalam bentuk program tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya.

4.2.5. Makna Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Bagi Komunitas

  Praktik Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang baik tidak cukup dengan hanya membuat kebijakan semata, tetapi diperlukan itikad baik, komitmen yangkuat, serta partisipasi aktif para pihak ( dalam hal ini pemerintah, perusahaan, dan masyarakat) CSR akan menjadi semakin berarti keefektifannya ketika parapemangku kepentingan menyadari peran dan kewajibannya, menyadari apa sebaiknya yang harus dilakukan. Pada hakekatnya masyarakat mengharapkan bentuk program CSR tersebut hendaknya berdampak pada pemberdayaan dengan terlebih dahulu melihat apayang menjadi kebutuhan atau yang diperlukan masyarakat serta pembinaan yang dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa percaya diri dalam menggiatkanusahanya sehingga dana yang disalurkan dapat dikembalikan dan digulirkan kembali kepada masyarakat lainnya, karena memberdayakan masyarakat tidakcukup mendukung sumberdaya ekonomi.

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

  Sehingga masih ditemukannyawarga masyarakat yang belum mengetahui program CSR dan masih ada sebahagian pelaku UKM yang menjadi mitra-binaan Unit Usaha KebunAdolina bukan masyarakat komunitasnya melainkan berada diKota/Kabupaten lain seperti: Dolok Merawan, PTP IV Pabatu, Dolok Masihul. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang telah dialokasikan di PTPN IV Unit Usaha Kebun Adolina telah memberikan manfaat yangbesar membantu meningkatkan perekonomian, terutama masyarakat dan pelaku UKM yang telah menerima bantuan dari program ini.

4. PTPN IV Persero belum memiliki rencana jangka menengah dan jangka panjang untuk program CSR yang akan diimplementasikan

  Regulasi UU No. 40 Tahun 2007 masih sebatas pada pergantian istilah saja akan tetapi dalam bentuk program dan pengaplikasiannya masihserupa dengan yang sebelumnya, sehingga belum berdampak pada upaya mengurangi masyarakat yang lemah atau masyarakat miskin.

5.2. Saran

  Dengan semakin kuatnya tuntutan bagi BUMN untuk berpartisipasi membangun masyarakat maka program CSR harus terus ditingkatkan dandikembangkan dengan perencanaan yang lebih tepat dan berdaya guna bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang baik tidak dapat dilakukan dengan membuat kebijakan semata, tetapi diperlukan itikadbaik, komitmen yang kuat, serta partisipasi aktif para pihak (dalam hal ini pemerintah, perusahaan dan masyarakat).

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Praktik Tanggung Jawab Sosial Dan Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, Kabupaten Deli Serdang
2
80
96
Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah di Kecamatan Medan Selayang
8
134
73
Penetapan Kadar Kehilangan (Losses) Minyak Pada Ampas Pressan Dengan Metode Sokhletasi Di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Adolina
1
57
51
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Kesejahteraan Karyawan Studi Kasus di PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Medan.
1
57
88
Fungsi Dan Tanggung Jawab Internal Auditor Pada PT Perkebunan Nusantara IV Medan
4
56
52
Analisis Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pada PT. Perkebunan Nusantara I (Persero)
0
34
105
Analisis Determinan Keuntungan Usaha Kecil Pada Sektor Perdagangan Di Kabupaten Deli Serdang
1
13
103
Penetapan Kadar Air pada CPO dengan Metode Gravimetri di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Adolina
20
280
47
Implementasi Perencanaan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Melalui Klinik Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur
0
0
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan - Corporate Social Responsibility (CSR) - Praktik Tanggung Jawab Sosial Dan Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, Kabupaten Deli Serd
0
0
21
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Praktik Tanggung Jawab Sosial Dan Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, Kabupaten Deli Serdang
0
0
10
Praktik Tanggung Jawab Sosial Dan Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Studi Pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Adolina, Kabupaten Deli Serdang
0
0
15
Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah di Kecamatan Medan Selayang
0
0
11
Peranan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Koperasi dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Serdang Bedagai
0
0
10
Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Perkebunan Nusantara IV (persero) Medan Unit Kebun Pabatu
0
0
11
Show more