Feedback

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur

Informasi dokumen
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DAN FORMULASI SEDIAAN OBAT KUMUR-KUMUR SKRIPSI OLEH: WIDYA AKARINA NIM 091524042 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DAN FORMULASI SEDIAAN OBAT KUMUR-KUMUR Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: WIDYA AKARINA NIM 091524042 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN SKRIPSI UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DAN FORMULASI SEDIAAN OBAT KUMUR-KUMUR OLEH: WIDYA AKARINA NIM 091524042 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada tanggal: Juli 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji, Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, MS., Apt. Prof. Dr. M. Timbul Simanjutak, M.Sc., Apt. NIP 195504241983031003 NIP 195212041980021001 Pembimbing II, Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, MS., Apt. NIP 195504241983031003 Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. NIP 195006121980032001 Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt. NIP 196005111989022001 Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. NIP 195107231982032001 Dekan Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas limpahan berkah dan karuniaNya yang luar biasa besar, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) merupakan salah satu bagian tanaman yang perlu dikembangkan manfaatnya. Selama ini masyarakat menggunakan daun ruku-ruku secara tradisional sebagai obat sakit gigi. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bahwa daun ruku-ruku dan sediaan obat kumur-kumur dapat digunakan sebagai obat sakit gigi. Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tiada terhingga kepada Ayahanda Muhammad Jamil Sulaiman, dan Ibunda Rosmawaty, Adinda Dwi Putri Akarina dan Harun Karunia yang senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan moril dan materil yang tiada putus-putusnya. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih serta penghargaan kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan beserta para Pembantu Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas serta sarana. 2. Bapak Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga M.S., Apt., sebagai pembimbing, terima kasih atas segala arahan dan nasehat, membimbing serta memberi seluruh fasilitas yang diberikan selama proses penelitian. Universitas Sumatera Utara 3. Ibu Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt., sebagai pembimbing dan selaku Kepala Laboratorium Mikrobiologi yang telah membimbing dan mengarahkan selama melakukan penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini dan terima kasih atas seluruh fasilitas yang diberikan selama proses penelitian. 4. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan dan Ibu Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt., selaku penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini. 5. Bapak Prof. Dr. M. Timbul Simanjutak, M.Sc., Apt., Ibu Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt., Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 6. Rekan-rekan mahasiswa Ekstensi Farmasi stambuk 2009 atas dukungan, semangat dan bantuan selama ini selama masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini. Penulis paham bahwa tulisan ini masih jauh dari titik kesempurnaan, untuk itu sangat diharapkan masukan berupa kritik dan saran yang konstruktif demi penyempurnaannya. Akhir kata, harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi. Medan, Juli 2011 Penulis, (Widya Akarina) Universitas Sumatera Utara UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN RUKURUKU (Ocimum sanctum L.) DAN FORMULASI SEDIAAN OBAT KUMUR-KUMUR Abstrak Daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) merupakan salah satu bagian tanaman yang perlu dikembangkan manfaatnya, misalnya untuk mengobati sakit perut, batuk, pencuci luka dan sakit gigi. Selama ini masyarakat menggunakan daun ruku-ruku sebagai obat sakit gigi, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemanfaatan daun ruku-ruku. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ruku-ruku dan sediaan obat kumur yang mengandung ekstrak etanol daun rukuruku terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) yang dilakukan secara invitro memakai metode difusi agar dengan cakram silinder logam. Sampel daun rukuruku diambil secara purposif dari jalan Selamat No. 80, Kecamatan Medan Amplas, Medan. Hasil aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun ruku-ruku menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimum terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) yaitu sebesar 40 mg/ml. Ekstrak etanol daun ruku-ruku memberikan batas daerah hambat yang efektif pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter 14 mm pada konsentrasi 80 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan diameter 14,3 mm pada konsentrasi 90 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus sp (bakteri isolasi dari specimen) dengan diameter 14,7 mm. Pengujian sediaan obat kumur-kumur ekstrak etanol daun ruku-ruku pada FI, FII dan FIII memberikan hasil diameter zona hambatan yang memuaskan terhadap ketiga bakteri yaitu lebih besar dari 14 mm terhadap bakteri Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen). Kata kunci : Ekstrak daun ruku-ruku, Antibakteri, Staphylococcus, Streptococcus, Obat kumur-kumur. Universitas Sumatera Utara TEST OF ANTIBACTERIAL ACTIVITY ON ETHANOL EXTRACT OF RUKU-RUKU LEAVE (Ocimum sanctum L.) AND FORMULATION OF MOUTHWASH Abstract Ruku-ruku leave (Ocimum sanctum L.) is part of plant with various use such as for the stomachage, antihistamine, injury wash, and toothache. In the last time, the people use the ruku-ruku leave for treatment of toothache. Therefore it is important to study the useful of the ruku-ruku leave. This research conduct a test of antibacterial activity on ethanol extract of ruku-ruku leave and the formulation of mouthwash that contain ethanol extract from ruku-ruku leave to the bacteria of Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans and Streptococcus sp. (isolated bacteria from specimen) in vitro using agar diffusion method by metal cylinder disk. The sample of ruku-ruku leave took purposively at Jalan Selamat No. 80, Subdistrict of Medan Amplas, Medan. Antibacterial activity provide of ethanol extract of ruku-ruku leave indicates that the minimum blocked concentration to the Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans and Streptococcus sp. bacteria (isolated bacteria from specimen) is 40 mg/ml. The ethanol extract of ruku-ruku leave has an effective blocked to the concentration of 90 mm/ml to the bacteria of staphylococcus aureus in 14 mm in diameter on the concentration 80 mg/ml to the bacteria Streptococcus mutans on 14.3 mm in diameter on concentration 90 mg/ml to the bacteria Streptococcus sp. (isolated bacteria from specimen) with diameter 14.7 mm. The testing on ethanol extract ruku-ruku leave of mouthwash on F1, FII, and FIII provide the block zone diameter that satisfy the three of bacteria with the diameter more than 14 mm to the bacteria Strepotococcus mutans, Staphylococcus aureus, and Streptococcus sp. (Isolated bacteria from specimen). Keywords : Extract ruku-ruku leave, Streptococcus, Mouthwash. Antibacterial, Staphylococcus, Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi ABSTRACT . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xii DAFTAR GAMBAR . xiii DAFTAR LAMPIRAN . xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 3 1.3 Hipotesis . 4 1.4 Tujuan Penelitian . 4 1.5 Manfaat Penelitian . 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Ruku-ruku. 6 2.1.1 Sinonim . 6 2.1.2 Klasifikasi . 6 2.1.3 Morfologi . 6 2.1.4 Kandungan kimia . 7 2.1.5 Khasiat . 7 Universitas Sumatera Utara 2.2 Ekstraksi . 7 2.3 Uraian Bakteri . 10 2.3.1 Perkembangbiakan bakteri . 11 2.3.2 Media pertumbuhan bakteri . 13 2.3.3 Fase pertumbuhan bakteri . 14 2.4 Bakteri Streptococcus mutans . 16 2.4.1 Sistematika bakteri Streptococcus mutans . 16 2.4.2 Uraian bakteri Streptococcus mutans . 16 2.4.3 Karies gigi . 16 2.5 Bakteri Staphylococcus aureus . 17 2.5.1 Sistematika bakteri Staphylococcus aureus . 17 2.5.2 Uraian bakteri Staphylococcus aureus . 17 2.6 Uji Aktivitas Antibakteri . 18 2.7 Obat Kumur . 19 2.8 Komposisi Obat Kumur . 20 2.8.1 Saccharin . 20 2.8.2 Menthol . 21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan . 23 3.1.1 Alat-alat . 23 3.1.2 Bahan-bahan . 23 3.2 Pengambilan Sampel Tumbuhan . 24 3.2.1 Determinasi tumbuhan . 24 3.2.2 Pembuatan simplisia . 24 3.3 Sterilisasi Alat . 25 Universitas Sumatera Utara 3.3.1 Pembuatan ekstrak etanol daun ruku-ruku secara maserasi . 25 3.4 Pembuatan Media . 25 3.4.1 Pembuatan media nutrient Agar (NA) . 25 3.4.2 Pembuatan agar miring . 26 3.5 Isolasi Mikroba Dari Specimen . 26 3.5.1 Identifikasi Mikroba Specimen dengan pengecatan gram . 26 3.6 Pembuatan Stok Kultur Bakteri . 27 3.7 Penyiapan Inokulum Bakteri . 27 3.8 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku (Ocimum sanctum, L.) Dengan Berbagai Konsentrasi . 27 3.9 Metode Pengujian Efek Antibakteri secara in vitro . 28 3.10 Pembuatan Formula Sediaan . 28 3.10.1 Cara pembuatan formula . 28 3.11 Evaluasi Formula . 29 3.11.1 Pemeriksaan stabilitas sediaan . 29 3.11.2 Penentuan pH sediaan . 29 3.11.3 Uji mikrobiologi . 30 3.11.4 Metode pengujian efek antibakteri secara in vitro . 30 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi Tumbuhan . 31 4.2 Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku terhadap Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (Bakteri Isolasi Dari Specimen) . 31 4.3 Hasil Evaluasi Formula . 35 4.3.1 Hasil Pemeriksaan Stabilitas Sediaan . 35 Universitas Sumatera Utara 4.3.2 Hasil Penentuan pH sediaan . 36 4.3.3 Hasil Uji Mikrobiologi Sediaan . 37 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan . 38 5.2 Saran . 38 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Table 2.1 Penggunaan Mentol Dalam Berbagai Sediaan Farmasi . 22 Tabel 3.1 Komposisi Formula Sediaan Obat Kumur-kumur . 28 Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Pertumbuhan Eschericia coli, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) oleh Ekstrak Etanol daun ruku-ruku . 32 Tabel 4.2 Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna, dan Bau Sediaan . 35 Tabel 4.3 Data Pengukuran pH Sediaan . . 36 Tabel 4.4 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Obat kumur-kumur Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Eschericia coli, Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) . 37 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Grafik Pertumbuhan Bakteri . 15 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Hasil Determinasi Tumbuhan Ruku-ruku . 42 Lampiran 2. Gambar Tumbuhan Ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) . 43 Lampiran 3. Gambar Daun Ruku-ruku Dan Serbuk Daun Ruku-ruku . 44 Lampiran 4. Bagan Penelitian . 45 Lampiran 5. Bagan Pengolahan Sampel . . 46 Lampiran 6. Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku . 47 Lampiran 7. Bagan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun rukuruku. 48 Lampiran 8. Bagan uji aktivitas antibakteri obat kumur-kumur ekstrak etanol daun ruku-ruku . . 49 Lampiran 9. Tabel Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ruku-ruku . 50 Lampiran 10. Tabel Hasil uji aktivitas antibakteri obat kumur-kumur ekstrak etanol daun ruku-ruku . 51 Lampiran 11. Gambar Bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) Dari Hasil Pengecatan Gram . 52 Lampiran 12. Gambar Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus . . 53 Lampiran 13. Gambar Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Streptococcus mutans 55 Lampiran 14. Gambar Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Streptococcus sp. (bakteri isolasi dari specimen) . 58 Lampiran 15 . Gambar Obat Kumur-kumur Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku . 60 Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Gambar Daya Hambat Obat Kumur-kumur Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus . 61 Lampiran 17. Gambar Daya Hambat Obat Kumur-kumur Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Bakteri Streptococcus mutans . dan tidak tahan lembab, waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul tetapi lanngsung menjadi partikel. Kerugian metode kempa langsung adalah sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat mudah mengalir, kompressibilitas yang baik, kohesifitas dan adhesifitas yang baik (Andayana, 2009). 2.4.3 Uji Preformulasi Sebelum dicetak menjadi tablet, massa granul perlu diperiksa apakah memenuhi syarat untuk dapat dicetak. Preformulasi ini menggambarkan sifat massa sewaktu pencetakan tablet, meliputi waktu alir, sudut diam dan indeks tap. Pengujian waktu alir dilakukan dengan mengalirkan massa granul melalui corong. Waktu yang diperlukan tidak lebih dari 10 detik, jika tidak maka akan dijumpai kesulitan dalam hal keseragaman bobot tablet. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan bahan pelicin (Cartensen, 1977). Pengukuran sudut diam digunakan metode corong tegak, granul dibiarkan mengalir bebas dari corong ke atas dasar. Serbuk akan membentuk kerucut, kemudian sudut kemiringannya diukur. Semakin datar kerucut yang dihasilkan, semakin kecil sudut diam, semakin baik aliran granul tersebut (Voigt, 1995). Granul yang mempunyai sifat yang baik mempunyai sudut diam lebih kecil dari 35o (Cartensen, 1977). Indeks tap adalah uji yang mengamati penurunan volume sejumlah serbuk atau granul akibat adanya gaya hentakan. Indeks tap dilakukan dengan alat Universitas Sumatera Utara volumenometer yang terdiri dari gelas ukur yang dapat bergerak secara teratur ke atas dan ke bawah. Serbuk atau granul yang baik mempunyai indeks tap kurang dari 20% (Cartensen, 1977). 2.4.4 Evaluasi Tablet a. Kekerasan tablet Ketahanan tablet terhadap goncangan saat pengangkutan, pengemasan dan peredaran bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan yang lebih tinggi menghasilkan tablet yang bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya porositas dari tablet sehingga sukar dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya waktu hancur. Kekerasan dinyatakan dalam kg adalah tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Kekerasan untuk tablet secara umum yaitu 4-8 kg, tablet hisap 10-20 kg, tablet kunyah 3 kg (Soekemi, dkk., 1987). Kekerasan tablet dipengaruhi oleh perbedaan massa granul yang mengisi die pada saat pencetakan tablet dan tekanan kompressi. Selain itu, berbedanya nilai kekerasan juga dapat diakibatkan oleh variasi jenis dan jumlah bahan tambahan yang digunakan pada formulasi. Bahan pengikat adalah contoh bahan tambahan yang bisa menyebabkan meningkatnya kekerasan tablet bila digunakan terlalu pekat (Banker dan Anderson, 1994). b. Friabilitas Tablet mengalami capping atau hancur akibat adanya goncangan dan gesekan. Selain itu, capping juga dapat menimbulkan variasi pada berat dan keseragaman isi tablet. Pengujian dilakukan pada kecepatan 25 rpm, dengan menjatuhkan tablet sejauh 6 inci pada setiap putaran, yang dijalankan sebanyak Universitas Sumatera Utara 100 putaran. Kehilangan berat yang dibenarkan yaitu lebih kecil dari 0,5 sampai 1% (Banker dan Anderson, 1994). Kerenyahan tablet dapat dipengaruhi oleh kandungan air dari granul dan produk akhir. Granul yang sangat kering dan hanya mengandung sedikit sekali persentase kelembapan, sering sekali menghasilkan tablet yang renyah daripada granul yang kadar kelembapannya 2 sampai 4% (Banker dan Anderson, 1994). c. Waktu hancur Waktu hancur yaitu waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikelpartikel kecil atau granul sebelum larut dan diabsorpsi. Waktu hancur menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan mesh-10 (Banker dan Anderson, 1994). Hancurnya tablet tidak berarti sempurna larutnya bahan obat dalam tablet. Tablet memenuhi syarat jika waktu hancur tablet tidak lebih dari 15 menit (Soekemi, dkk., 1987). Kebanyakan bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang berlebihan akan memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang besar akan mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat daripada tablet yang keras dengan rongga-rongga yang kecil (Soekemi, dkk., 1987). 2.5 Disolusi Disolusi adalah proses suatu zat solid memasuki pelarut untuk menghasilkan suatu larutan. Disolusi secara singkat didefinisikan sebagai proses suatu solid melarut (Siregar, 2010). Cara pengujian disolusi tablet dan kapsul, juga persyaratan yang harus dipenuhi dinyatakan dalam masing-masing monografi obat. Yang diukur adalah jumlah zat berkhasiat yang larut dalam satu satuan waktu dengan alat dissolution tester (Soekemi, dkk., 1987). Universitas Sumatera Utara Bentuk sediaan farmasetik solid dan bentuk sediaan sistem terdispersi solid dalam cairan setelah dikonsumsi kepada seseorang akan terlepas dari sediaannya dan mengalami disolusi dalam media biologis, diikuti dengan absorpsi zat aktif kedalam sirkulasi sistemik dan akhirnya menunjukkan respon klinis. Garis besar tahapan yang dilalui suatu sediaan tablet/ kapsul setelah dikonsumsi adalah (Siregar, 2010): 1. Pembasahan sediaan tablet/kapsul. 2. Penetrasi media cairan ke dalam sediaan tablet/ kapsul 3. Tablet/ kapsul terdisintegrasi dan mengeluarkan granul 4. Deagregasi granul dan mengeluarkan partikel halus 5. Terjadi disolusi zat aktif dari partikel halus ke dalam media cair 6. Absorpsi zat aktif pada tempat absorpsi 7. Zat aktif berada dalam sirkulasi sistemik 8. Zat aktif bekerja dan memberi efek farmakologis 9. Efek farmakologis menyebabkan respon biologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi zat aktif: 1. Faktor yang berkaitan dengan sifat fisikokimia zat aktif meliputi karakteristik fase solid, polimorfisa, karakteristik partikel, kelarutan zat aktif dan pembentukan garam (Siregar, 2010). 2. Faktor yang berkaitan dengan formulasi sediaan meliputi eksipien atau zat tambahan, zat pengisi, desintegran, pengikat, lubrikan, antiadherent, glidan, pengaruh surfaktan, dan pengaruh zat pewarna larut-air pada laju disolusi (Siregar, 2010). Universitas Sumatera Utara 3. Faktor yang berkaitan dengan bentuk sediaan meliputi metode granulasi/ prosedur pembuatan, ukuran granul, interaksi zat aktif-eksipien, pengaruh gaya kempa, dan pengaruh penyimpanan pada laju disolusi (Siregar, 2010). 4. Faktor yang berkaitan dengan alat disolusi meliputi eksentrisitas gerakan pengaduk, vibrasi/ getaran, intensitas pengadukan, dan kesejajaran unsur pengadukan (Siregar, 2010). 5. Faktor yang berkaitan dengan parameter uji disolusi yaitu pH media disolusi, suhu media disolusi, viskositas media disolusi dan tegangan permukaan media disolusi (Siregar, 2010). 2.6 Spektrofotometri Visible Spektrofotometri ultraviolet – visible digunakan untuk analisa kualitatif ataupun kuantitatif suatu senyawa. Absorpsi cahaya ultraviolet maupun cahaya tampak mengakibatkan transisi elektron, yaitu perubahan elektron-elektron dari orbital dasar berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Penyerapan radiasi ultraviolet atau sinar tampak tergantung pada mudahnya transisi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk transisi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul-molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap panjang gelombang lebih panjang (Fessenden dan Fessenden, 1992). Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga energi molekul tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi peristiwa penyerapan (absorpsi) energi oleh molekul. Supaya Universitas Sumatera Utara terjadi absorpsi, perbedaan energi antara dua tingkat energi harus setara dengan energi foton yang diserap (Rohman, 2007). Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya, akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses penyerapan (Rohman, 2007). Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia, Laboratorium Teknologi Formulasi Sediaan Steril, dan Laboratorium Teknologi Formulasi Sediaan Solid Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Metodologi penelitian ini dimulai dengan mengumpul sampel, pengolahan sampel, pembuatan ekstrak, karakterisasi ekstrak, pembuatan nata de coco, karakterisasi nata de coco, pembuatan mikrokristal selulosa dari nata de coco, karakterisasi mikrokristal selulosa serta pembuatan sediaan tablet ekstrak etanol daun ruku-ruku secara cetak langsung. 3.1 Alat-alat harga Rf 0,93 (merah ungu), Rf 0,83 (biru hijau), Rf 0,75 (ungu) terhadap pereaksi Libermann-Burchad. Selanjutnya terhadap F2 dilakukan isolasi kembali dengan KLT preparatif menggunakan fase gerak n-heksana : etil asetat (70:30), fase diam silika gel GF254. Isolat setelah dicuci dengan metanol dingin diperoleh kristal bentuk amorf pada F2 3. Hasil uji kemurnian dua arah dari F2 3 dengan fase gerak n-heksana-etil asetat (70:30), toluena : etil asetat (70:30) memberikan satu bercak dan diperoleh harga Rf berturut-turut 0,75 dan 0,50 (ungu). Hasil spektrofotometer sinar ultraviolet isolat F2 3 memberikan panjang gelombang maksimum (λ) 226 nm yang menunjukkan adanya gugus kromofor. Universitas Sumatera Utara Penafsiran spektrum inframerah pada bilangan gelombang 3402,43 cm-1 menunjukkan adanya gugus −OH, pita pada bilangan gelombang 2931,9 menunjukkan adanya gugus C−H alifatis, pita pada bilangan gelombang 1581,63 menunjukkan adanya ikatan C=C, pita pada bilangan gelombang 1404,18 menunjukkan adanya ikatan CH 2 , pita pada bilangan gelombang 1327,03 menunjukkan adanya ikatan CH 3 serta bilangan gelombang 1103,99 dan 1056,99 menunjukkan adanya ikatan C-O. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Isolasi senyawa triterpenoida/steroida dari ekstrak n-heksana yang telah dilakukan diperoleh isolat murni kristal bentuk amorf dengan Rf 0,75 (ungu). Karakterisasi isolat menggunakan spektrofotometer sinar ultraviolet diperoleh panjang gelombang maksimum (λ) yaitu 226 nm dan karakterisasi menggunakan spektrofotometer sinar inframerah menunjukkan adanya gugus −OH, gugus C−H alifatis, gugus C=C, gugus CH 2, gugus CH 3 , dan ikatan C−O. 5.2. Saran Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian terhadap senyawa triterpenoida/steroida lainnya yang terdapat pada tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.), serta melakukan uji efek farmakologisnya. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Anonim. Online (2007). http//www.botanicalpathways.com/issue%2011/ sacredbasel.html. Brunetton, J. (1995). Pharmacognosy, Phytochemistry, Medical Plants. USA: Lavoiser Publishing inch: P. 527, 528, 538. Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik. Cetakan I. Padang. CV Trianda Anugerah Pratama. Hal. 33. Darmiati, I. (2007). Pemeriksaan Kandungan Kimia dan Uji Efek Antiinflamasi dari Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.). Skripsi Fakultas Farmasi USU Medan hal. 4, 49. Depkes RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta. Depkes RI. Hal. 748, 773. Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. Depkes RI. Hal. 1003, 1004, 1061. Ditjen POM. (1995). Materia Medika Indonesia. Edisi VI. Jakarta. Depkes RI. Hal. 513, 518, 522, 553. Ditjen POM. (2000). Parameter Pembuatan Ekstrak. Jakarta. Depkes RI. Hal. 67. Farnsworth, N.P. (1996). Biological And Phytochemical Screening Of plants. Journal Pf Pharmaceutical Sciences. Chicago. P. 257-259. Gritter, R.J., Bobbit, J.M., dan Schwarting, A.E. (1991). Introduction to Chromatography. 2nd ed. Terjemahan Padmawinta K. “(1991). Pengantar Kromatografi. Edisi II Bandung. ITB. Hal. 160-185. Universitas Sumatera Utara Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Terjemahan oleh Dr. Kosasih P. Dan Dr. Iwang S. Cetakan II. Bandung. ”ITB. Hal. 147-152. Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Departemen Kehutanan. Jilid III. Cetakan I. Jakarta : Yayasan Sarana Wijaya. Hal. 1979. Hostetmann, K., Hostetmann., M., Marston, A. (1995). Cara Kromatografi Preparatif : Penggunaan Pada Isolasi Senyawa Alam. Ierjemahan : Padmawinata, K. Bandung, Penerbit ITB. Hal. 9-11. Mangan, Y. (2003). Cara Bijak Menaklukkan Kanker : Sehat Dengan Ramuan Tradusional. Jakarta : Agromedia Pustaka. Hal. 29. Manitto, P. (1981). Biosintesis Produk Alami. Terjemahan : Koensoemardiyah, Cetakan I Semarang : IKIP Semarang Pres. Hal. 231, 339, 379. Naito, Y. (1995). Medical Herba, Index TumbuhanObat di Indonesia. Jakarta : PT. Eisai Indonesia. Hal. 139, 281. Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan : Padmawinata, K. edisi VI. Bandung : ITB. Hal. 139, 281. Sastrohamidjojo, H. (1966). Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta. UGM Press. Hal. 78-79. Sastrohamidjojo, H. (1986). Spektroskopi. Edisi Pertama. Cetakan Pertama Yogyakarta. Liberty. Hal. 12. Sastrohamidjojo, H. (1991).Kromatografi. Edisi I. Yogyakarta. UGM Press. Hal. 1-3. Stahl E. (1985). Metode Pemisahan. Cetakan I. Yogyakarta. Kanasius. Hal. 40-49. Universitas Sumatera Utara Subrahmanyam, S. N. (2003). Modern Plant Taxonomy. New Delhi : Vikas Publishing House PVT LTD. P. 55, 62. Sudjadi. (1989). Metode Pemisahan. Kanasius. Hal. 73. Tarigan, P. (1980). Sapogenin Steroid. Bandung. Penerbit Alumni. Hal. 15. Tjitrosoepomoe, G. (2001). Morfologi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Hal. 25-56, 32, 34, 130. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Hasil Identifikasi / Determinasi Tumbuhan Identifikasi dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari identifikasi ini dperoleh bahwa sampel tersebut adalah ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) familia Labiatae Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 Gambar 1. Tumbuhan Ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Gambar 2. Daun segar Tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Universitas Sumatera Utara Lampiran 3 5,8 kg daun Ruku-ruku dibersihkan dikeringkan 800 g Daun kering dihaluskan dimaserasi dengan n-heksana disaring Filtrat Ampas Diuapkan dengan Penguap vakum putar Ekstrak kental n-heksana (26 g) Bagan Ekstraksi Tumbuhan Ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Universitas Sumatera Utara Lampiran 4 Gambar 3. Kromatogram hasil KLT ekstrak n-heksana daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Keterangan : Fase diam silika gel GF254 , fase gerak n-heksana – etilasetat 90:10, 80:30, 70:30, 60:40, 50:50, a:= dilihat secara visual, b = disemprot pereaksi Liebermann-Burchard, BP = batas pengembangan, TP = titik penotolan. Universitas Sumatera Utara Lampiran 5 Ekstrak n-heksana di kromatografi kolom dengan pelarut landaian nheksana – etil asetat (100:0,90:10,80:20,70:30,60 :40,50:50) eluat di KLT eluat dengan senyawa kimia yang sama digabung Fraksi-fraksi F1 V1-9 F2 V10-29 F3 V30-34 F4 V35-54 F5 V55-79 F6 V80-94 F7 F8 V95-104 V105-110 Di KLT preparatif Isolat F21 Isolat F22 Isolat F23 diuji kemurnian dengan KLT Tidak dilanjutkan satu arah dan dua arah Isolat murni dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV dan IR Spektrum Bagan Isolasi Senyawa Triterpenoida/steroida dari ekstrak n-heksana Daun Tumbuhan Ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Universitas Sumatera Utara Lampiran 6 Gambar 4. Kromatogram analisa KLT hasil kromatografi kolom ekstrak n-heksana daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Keterangan : fase diam silika gel GF GF254, fase gerak n-heksana – etilasetat (70:30) pereaksi Liebermann-Burchard, BP : batas pengembangan, TP : titik penotolan. Universitas Sumatera Utara Lampiran 7 Gambar 5. Kromatogram analisa KLT hasil kromatografi kolom ekstrak n-heksana daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Keterangan : fase diam silika gel GF 254, fase gerak n-heksana – etilasetat (70:30) pereaksi Liebermann-Burchard, BP : batas pengembangan, TP : titik penotolan. Universitas Sumatera Utara Lampiran 8 Gambar 6. Kromatogram penggabungan fraksi-fraksi dari kromatografi kolom ekstrak n-heksana daun tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) Keterangan : fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksana – etilasetat (70:30) pereaksi Liebermann-Burchard, BP : batas pengembangan, TP : titik penotolan. Universitas Sumatera Utara Lampiran 9 Tabel harga Rf hasil KLT kromatografi kolom ektrak n-heksana daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) No. Fraksi (F) Rf Warna noda 1 F1 (vial 1-9) 0,87 Merah 2. F2 (vial 10-29) 0,93 Ungu merah 0.83 Biru hijau 0,75 Ungu 0,83 Biru hijau 0,75 Ungu 0,75 Ungu 0,66 biru hijau 0,66 Biru hijau 0,475 Ungu 0,41 Ungu 0,31 Ungu lemah 0,31 Ungu lemah 0,23 Ungu lemah 0,23 Ungu lemah 0,15 Ungu lemah 3. 4. 5. 6. 7. 8. F3 (vial 30-34) F4 (vial (35-54) F5 (vial55-79) F6 (vial 80-94) F7 (vial 95-104) F8 (vial 105-110) Universitas Sumatera Utara Lampiran 10 Gambar 7. Kromatogram KLT preparatif F2 Keterangan : Fase diam silika gel GF 254 , fase gerak n-heksana : etil asetat (70:30), penampak bercak Liebermann-Burchard, BP = batas pengembangan, TP = titik penotolan, u = ungu, jarak pengembangan 15 cm. Universitas Sumatera Utara Lampiran 11 Gambar 8. Kromatogram hasil uji kemurnian F23 dengan KLT dua arah Keterangan : Fase diam silika gel GF 254 , fase gerak I n-heksana - etilasetat (70:30), fase gerak II toluena - etilasetat (70:30), penampak bercak Liebermann-Burchard, BP = batas pengembangan, TP = titik penotolan Universitas Sumatera Utara Lampiran 12 Gambar 9. Spektrum Ultraviolet F23 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13 Gambar 10. Spektrum Inframerah F23 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur Hasil penentuan pH sediaan Tabel 4.3 Data Pengukuran pH Sediaan Hasil uji mikrobiologi sediaan Identifikasi Tumbuhan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-ruku Terhadap Media pertumbuhan bakteri Fase pertumbuhan bakteri Menthol Komposisi Obat Kumur .1 Saccharin Pemeriksaan stabilitas sediaan Penentuan pH sediaan Uji mikrobiologi Metode pengujian efek antibakteri secara in vitro Perkembangbiakan bakteri Uraian Bakteri Uji Aktivitas Antibakteri Obat Kumur
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) dan Formulasi Sediaan Obat Kumur-Kumur

Gratis