Feedback

Sejarah Dan Peranan Kapal Motor Pribumi Bagi Perekonomian Masyarakat Di Onan Runggu 1942 – 1965

Informasi dokumen
SEJARAH DAN PERANAN KAPAL MOTOR PRIBUMI BAGI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI ONAN RUNGGU 1942 – 1965 Skripsi Oleh : Johannes Andrianto Pakpahan 060706001 PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Lembar Persetujuan Ujian Skripsi SEJARAH DAN PERANAN KAPAL MOTOR PRIBUMI BAGI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI ONAN RUNGGU 1942 – 1965 Yang Diajukan Oleh : Nama : Johannes Andrianto Pakpahan NIM : 060706001 Telah Disetujui Untuk Diajukan Dalam Ujian Skripsi Oleh : Pembimbing Dra. Lila Pelita Hati, M.Si NIP. 196705231992032001 Ketua Departemen Tanggal, Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP : 196409221989031001 Tanggal, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi SEJARAH DAN PERANAN KAPAL MOTOR PRIBUMI BAGI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI ONAN RUNGGU 1942 – 1965 Skripsi Sarjana Dikerjakan Oleh : Johannes Andrianto Pakpahan 060706001 Pembimbing Dra. Lila Pelita Hati, M.Si NIP. 196705231992032001 Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra USU Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Sastra Dalam Bidang Ilmu Sejarah DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Lembar Persetujuan Ketua Jurusan Disetujui Oleh : FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN DEPARTEMEN SEJARAH Ketua Departemen, Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP : 196409221989031001 Medan, Januari 2011 Universitas Sumatera Utara Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia Ujian PENGESAHAN : Diterima Oleh : Panitian Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Sastra Dalam Bidang Ilmu Sejarah Pada Fakultas Sastra USU Medan Pada Hari Tanggal : : : Fakultas Sastra USU Dekan, Dr. Syahron Lubis, M.A. NIP : 195110131976031001 Panitia Ujian : No. Nama 1. . 2. . 3. . 4. . 5. . Tanda Tangan ( . ) ( . ) ( ) ( ) ( ) Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis ucapkan. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan sarjana pada Program Studi Ilmu Sejarah di Universitas Sumatera Utara. Meski didasari hanya untuk memenuhi kewajiban tugas akhir seorang mahasiswa sejarah, namun perjalanan sejak skripsi ini muncul pertama kali sebagai ide sampai selesai ditulis merupakan proses yang sama pentingnya bagi penulis pada saat duduk di dalam ruangan kelas untuk mengikuti kuliah. Perjalanan ini yang telah memberikan pelajaran bahwa sesuatu itu menjadi lebih berharga dan berguna jika kita menganggapnya berarti. Apa yang tertulis di dalam skripsi ini tidak sepenuhnya baik karena tidak ada karya yang sempurna. Penulis sangat berterima kasih kepada pembimbing dan penguji skripsi ini. Juga kepada orang-orang yang telah meluangkan waktunya dalam membantu penulis mengumpulkan data dan memahami apa yang sebenarnya ditulis. Semoga skripsi ini memberikan manfaat dan menjadi berkah bagi kita semua Medan, Maret 2011 Johannes Andrianto Pakpahan i Universitas Sumatera Utara UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan, meskipun banyak hambatan dan kekurangan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra. Penulisan ini juga tidak akan pernah dapat terwujud tanpa bantuan, kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, inilah saat yang tepat bagi penulis untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada : 1. Ayahanda dan ibunda, A. Pakpahan dan N. Sirait yang memberi dukungan dan semangat kepada penulis dalam masa pendidikan baik itu dukungan moril maupun materil. Dan tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada adindaadinda yang juga turut serta membantu penulis selama masa penulisan skripsi ini dan memberi semangat. 2. Dekan Fakultas Sastra, Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menjalani ujian meja hijau agar mendapatkan gelar kesarjanaan. 3. Ketua Departemen Sejarah, Bapak Edi Sumarno, M.Hum, yang telah memberikan banyak bantuan, kemudahan serta pengalaman selama penulis menjalani masa perkuliahan. Terima kasih juga kepada Sekretaris Departemen Sejarah, Ibu Nurhabsyah, M.Si. yang terus memacu semangat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. ii Universitas Sumatera Utara 4. Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan masukan ilmu hingga penulisan skripsi ini selesai tepat pada waktunya. Tanpa kontribusi ibu dan dorongan semangat buat penulis, rasanya skripsi ini jauh dari kesempurnaan. 5. Seluruh staf pengajar di Departemen, terima kasih penulis ucapkan atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan selama ini semoga nantinya menjadi manfaat bagi penulis. 6. Kepada para informan yang sudah memberikan keterangan dan penjelasan selama proses pengumpulan data di lapangan. 7. Kepada Bang Ampera Wira yang banyak membantu penulis selama menjalani perkuliahan. 8. Terima kasih banyak kepada teman-teman stambuk 2006 di Ilmu Sejarah yang membantu dan memberi dukungan dan semangat dalam mengerjakan skripsi ini seperti Kariani, Sancani, Anggi, Friyanti, Eva, Desi, Desmika, Risma, Erliana, Yudha, Ramlan, Pa’i, Sonang, Hara, Kalvin, Jhondato dan buat sahabat-sahabat penulis Uci, Derni, Degem, Herry, Ica semoga kalian tidak melupakan kebersamaan kita selama masa perkuliahan. 9. Kepada Ola Silitonga yang telah memberikan dorongan semangat dan doa kepada penulis semenjak proses penelitian hingga proses penulisan skripsi ini. Medan, Maret 2011 JohannesAndrianto Pakpahan iii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Onan Runggu adalah sebuah kecamatan di wilayah Samosir. Sebuah wilayah yang berada di tepi Danau Toba. Onan Runggu merupakan salah satu wilayah yang dilirik oleh pihak zending Katholik sebagai tempat penginjilan. Kedatangan zending Katholik merupakan awal perubahan sarana transportasi di Onan Runggu dari transportasi tradisional menjadi transportasi modern. Hal diatas merupakan ulasan yang akan dibahas oleh penulis dalam tulisan ini. Penulis akan membahas mengenai bagaimana sejarah kapal motor pribumi di Onan Runggu dan bagaimana peranan kapal motor pribumi terhadap kemajuan perekonomian masyarakat Onan Runggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah kapal motor di Onan Runggu dan menjelaskan peranan kapal motor pribumi terhadap kemajuan perekonomian masyarakat Onan Runggu. Dalam tulisan ini penulis berusaha mendeskripsikan bagaimana sejarah kapal motor pribumi di Onan Runggu serta peranan kapal motor tersebut terhadap perekonomian masyarakat. Tulisan ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dimana penulis mengumpulkan berbagai data dan informasi baik primer maupun sekunder. Metode deskriptif digunakan dalam tulisan ini dimana penulis menceritakan secara kronologis mulai dari masa sebelum adanya kapal motor di Onan Runggu hingga adanya kapal motor milik pribumi. Kesimpulan penelitian ini adalah keberadaan kapal motor milik pribumi yang ada di Onan Runggu tidak terlepas dari peranan zending Katholik yang memperkenalkan kapal motor kepada masyarakat. Hingga pada akhirnya terjadinya sebuah perubahan positif yang cukup signifikan terhadap aspek kehidupan masyarakat Onan Runggu ketika adanya kapal motor. iv Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i UCAPAN TERIMAKASIH. ii ABSTRAK. iv DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL . viii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Rumusan Masalah . 4 1.3 Tujuan dan Manfaat . 4 1.4 Tinjauan Pustaka . 5 1.5 Metode Penelitian . 6 BAB II ONAN RUNGGU . 8 2.1 Letak Geografis . 8 2.2 Keadaan Alam dan Penduduk . 9 BAB III SEJARAH KAPAL MOTOR DI ONAN RUNGGU . 17 3.1 Masuknya Zeding Katholik . 17 3.1.1 Fungsi Kapal Motor Zending . 19 3.1.2 Dibangunnya Pelabuhan Onan Runggu . 21 3.2 Kapal Motor . 23 3.2.1 Kapal Motor Raja . 24 v Universitas Sumatera Utara 3.2.2 Kapal Motor Pribumi : Pedagang . 25 3.2.3 Cara Pembuatan Kapal Motor . 26 3.3 Fungsi Kapal Motor Pribumi . 28 3.3.1 Sebagai Alat Transportasi . 29 3.3.2 Alat Transportasi Perdagangan . 29 3.3.3 Sebagai Pendongkrak Status Sosial . 31 3.3.4 Trasnportasi Sebagai Keperluan Adat . 32 3.4 Letak Dan Fungsi Pelabuhan . 32 3.5 Pola Pelayaran dan Perdagangan . 34 3.5.1 Rute Perjalanan Kapal . 35 3.5.2 Tarif Angkutan . 37 3.6 Kapal Motor Dari Luar Samosir . 39 BAB IV PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DI ONAN RUNGGU . 43 4.1 Kondisi Eonomi Sebelum Adanya Kapal Motor 1933 . 43 4.1.1 Peranan Perahu ( Solu ) . 45 4.1.2 Perputaran Ekonomi Yang Lambat . 46 4.2 Kondisi Ekonomi Sesudah Adanya Kapal Motor 1942 . 47 4.2.1 Perkembangan Perputaran Ekonomi . 49 4.2.2 Peningkatan Perekonomian . 50 4.2.3 Perubahan Pola Pikir Masyarakat . 52 4.3 Kondisi Ekonomi Masuknya Kapal Motor Dari Luar Samosir 1965 . 53 4.3.1 Onan Baru . 54 4.3.2 Pendidikan . 55 vi Universitas Sumatera Utara 4.3.3 Cakrawala Pemikiran . 59 4.3.4 Kepemilikan Barang-Barang Elektronik. 61 BAB V KESIMPULAN . 63 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN vii Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel I Curah Hujan Rata-Rata di Beberapa Daerah di Samosir . 9 Tabel II Pertumbuhan Penduduk Pulau Samosir Tahun 1930 – 1961 . 10 Tabel III Jadwal Keberangkatan Kapal Motor Sebelum 1965 . 35 Tabel IV Tarif Angkutan Kapal Sebelum Tahun 1965 Onan Runggu . 38 Tabel V Jadwal Keberangkatan Kapal Tahun 1965 . 40 Tabel VI Tarif Angkutan Kapal Tahun 1965 Onan Runggu . 41 Tabel VII Jumlah Penduduk Menurut Sekolah Yang di Tamatkan Di Pulau Samosir 1960 . 57 viii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Onan Runggu adalah sebuah kecamatan di wilayah Samosir. Sebuah wilayah yang berada di tepi Danau Toba. Onan Runggu merupakan salah satu wilayah yang dilirik oleh pihak zending Katholik sebagai tempat penginjilan. Kedatangan zending Katholik merupakan awal perubahan sarana transportasi di Onan Runggu dari transportasi tradisional menjadi transportasi modern. Hal diatas merupakan ulasan yang akan dibahas oleh penulis dalam tulisan ini. Penulis akan membahas mengenai bagaimana sejarah kapal motor pribumi di Onan Runggu dan bagaimana peranan kapal motor pribumi terhadap kemajuan perekonomian masyarakat Onan Runggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah kapal motor di Onan Runggu dan menjelaskan peranan kapal motor pribumi terhadap kemajuan perekonomian masyarakat Onan Runggu. Dalam tulisan ini penulis berusaha mendeskripsikan bagaimana sejarah kapal motor pribumi di Onan Runggu serta peranan kapal motor tersebut terhadap perekonomian masyarakat. Tulisan ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dimana penulis mengumpulkan berbagai data dan informasi baik primer maupun sekunder. Metode deskriptif digunakan dalam tulisan ini dimana penulis menceritakan secara kronologis mulai dari masa sebelum adanya kapal motor di Onan Runggu hingga adanya kapal motor milik pribumi. Kesimpulan penelitian ini adalah keberadaan kapal motor milik pribumi yang ada di Onan Runggu tidak terlepas dari peranan zending Katholik yang memperkenalkan kapal motor kepada masyarakat. Hingga pada akhirnya terjadinya sebuah perubahan positif yang cukup signifikan terhadap aspek kehidupan masyarakat Onan Runggu ketika adanya kapal motor. iv Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan suatu wilayah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan transportasi.1 Hal ini tidak dapat dipungkiri mengingat transportasi memiliki peran yang penting dalam mobilitas penduduk di suatu wilayah. Transportasi merupakan suatu alat pemindah barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Sedangkan perjalanan adalah pergerakan orang dan barang antara dua tempat kegiatan yang terpisah untuk melakukan kegiatan perorangan atau kelompok dalam masyarakat.2 Perjalanan dilakukan melalui suatu lintasan tertentu yang menghubungkan asal dan tujuan, menggunakan alat angkut atau kendaraan dengan kecepatan tertentu. Jadi perjalanan adalah proses perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Bentuk transportasi yang banyak mendukung hal tersebut antara lain adalah kapal sebagai transportasi air yang terus berkembang pada dewasa ini. Perlu diketahui bahwa transportasi melalui air telah ada jauh sebelum adanya transportasi darat.3 Demikian pula bagi masyarakat Onan Runggu. Di daerah tersebut kapal menjadi salah satu bentuk transportasi yang paling dominan, dalam hal ini kapal 1 Sution Usman Adji dkk, Hukum Pengangkutan di Indonesia, Jakarta: PT Rinka Cipta, 1991, hlm. 65 2 M. Nur Nasution, Manajemen Transportasi, Jakarta: GHALIA INDONESIA, 2004, hlm. 14 3 Sutrisno Eddy, Kisah-kisah Penemuan Sepanjang Zaman Transportaasi, Jakarta: INOVASI, 2000, hlm. 70 1 Universitas Sumatera Utara motor. Kapal motor telah menjadi kebutuhan penting dalam perekonomian masyarakat di Onan Runggu. Sebelum tahun 1930-an di daerah Onan Runggu belum ada kapal motor, sarana transportasi yang digunakan masyarakat Onan Runggu adalah perahu (solu). Perahu tersebut digunakan oleh masyarakat untuk mengangkut hasil bumi keluar daerah Onan Runggu. Kapal motor masuk ke daerah Samosir pada tahun 1933 oleh Pastoran pada masa Zending Katholik yang berlabuh di Desa Silaban Kecamatan Palipi Kabupaten Tapanuli Utara.4 Kapal motor tersebut digunakan juga oleh Pastoran untuk membantu masyarakat sebagai alat angkutan manusia dan barang-barang hasil bumi. Keadaan ini dilihat raja-raja daerah Samosir sebagai peluang ekonomi yang memiliki potensi cukup besar. Hal ini pula yang menjadi alasan bagi raja-raja daerah Samosir untuk menjadikan kapal motor sebagai salah satu alat angkutan. Kapal motor pertama yang ada adalah kapal motor Pastoran (1933) yaitu kapal motor yang membawa pastor Pater Sybrandus dari Balige ke Samosir. Setelah inilah kemudian di tahun 1942 raja-raja Samosir akhirnya memiliki kapal motor yang digunakan untuk kelancaran ekonomi masyarakat. Hal ini di sebabkan oleh kapal pastoran yang digunakan oleh masyarakat sebagai alat angkutan tidak dapat lagi mengangkut pedagang yang semakin banyak. Kapal motor ini digunakan untuk mengangkut barang-barang hasil pertanian ke daerah Balige, Tiga Raja, Ajibata dan Porsea. Nama-nama kapal motor tersebut antara lain Kapal Nainggolan I, Kapal Tani, dan Baho Raja yang rutin berangkat 2x1 minggu untuk mengangkut penduduk yang 4 Wawancara dengan Roy Gultom, Kepala Perpustakaan Paroki St. Paulus Onan Runggu, Tanggal 18 Juli 2010 2 Universitas Sumatera Utara ingin berbelanja dan yang akan menjual hasil buminya ke pekan (onan), serta barangbarang yang dirancang dan dibangun sedemikian rupa demi kesejahteraan masyarakat mengalami kebakaran. Kebakaran terjadi pada malam hari sehingga tidak ada dari kalangan pedagang yang mengalami kerugian. Kerugian dari kebakaran pasar hanya pada bangunan dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Dampak dari kebakaran Onan Nainggolan terhadap para pedagang adalah dengan dipindahkan lagi areal perdagangan ke tanah lapang menunggu pembangunan Onan Nainggolan yang baru. 3.2 Pengelolaan Onan Nainggolan Pasar tradisional merupakan pusat aktifitas sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan sosial lainnya. Keberadaan pasar tradisional terus mengalami perkembangan dan semakin banyak pula masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan pasar tradisional tersebut. . Dalam hal pengelolaan, Onan Nainggolan lebih bersifat pelayanan kepada masyarakat yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Onan Nainggolan 20 Wawancara dengan A. Jumses, di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013. Universitas Sumatera Utara dipegang oleh Petugas Peraturan Pasar (PERPAS). Tugas pokok dari PERPAS adalah menyiapkan bahan perencanaan dan program kerja, pelayanan administrasi dan teknis pembinaan dan bimbingan, evaluasi dan pelaporan bidang pengelolaan pasar yang meliputi pendapatan serta sarana kebersihan, keamanan, dan ketertiban. Petugas PERPAS Onan Nainggolan mengelola segala kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas di pasar. Pengelolaannya meliputi pembangunan bangunan fisik pasar, pelayanan kebersihan dengan menyediakan tong sampah yang bekerjasama dengan dinas kebersihan, pemungutan pajak sewa bangunan, dan pelaksana keamanan dan ketertiban di area pasar. Pajak atau sewa bangunan selanjutnya akan dilaporkan kepada pihak Kecamatan yang mengurusi masalah keuangan dan pendapatan kecamatan. Pada dasarnya sistem pengelolaan Onan Nainggolan bukan hanya dikendalikan oleh petugas pasar (PERPAS) melainkan adanya peran serta masyarakat pedagang yang banyak menggantungkan hidupnya di Onan Nainggolan. Para pedagang yang mengelola Onan Nainggolan adalah para pedagang yang berjualan menetap di mana telah memiliki lapak/tempat berjualan yang tidak berpindah dan telah menandatangani kontrak atas sewa areal dagang. Para pedagang yang menyewa dengan sistem kontrak mulai ada sejak tahun 1997 dimana setiap tempat berdagang yang mereka sewa dikenakan biaya pajak yang berbeda tergantung kepada kelasnya masing-masing. Sistem pengelolaan Onan Nainggolan adalah sistem yang bersifat kekeluargaan, di mana pemerintah menetapkan harga sewa di samping berdasarkan kelas juga didasarkan pada tingkat kemakmuran ekonomi masyarakat. Dalam Universitas Sumatera Utara menetapkan harga sewa biasanya pihak pemerintah akan melakukan musyawarah terlebih dahulu dengan masyarakat setempat sehingga pajak sewa yang dikenakan kepada masyarakat tidak terlalu besar dan masyarakat pun akan tepat waktu dalam pembayaran karena semua aturan yang menyangkut sewa didasarkan pada kesepakatan antara pemerintah setempat dengan masyarakat sekitar. 3.3 Aktifitas Onan Nainggolan Barang-barang dagangan yang diperjual belikan pada masa itu tidak jauh berbeda dengan tahun 1946, akan tetapi berubah secara kuantitas. Barang dagangan yang sebelumnya dijual hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari selanjutnya berubah menjadi motif untuk mencari keuntungan lebih yang mampu digunakan untuk hari berikutnya. Harga barang dagangan yang dijual pada masa itu pun bervariasi tergantung pada jenis barang dan harga di pasaran. Setelah itu akan terjadi tawar menawar antara pedagang dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga. Dalam hal retribusi, para pedagang dikenakan biaya retribusi dua sukku (1 rupiah) atas sewa lahan mereka. Uang retribusi tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Pasar Kabupaten Tapanuli Utara dan tidak ada lagi pemberian kepada Marga Parhusip karena pada tahun 1965 tanah tersebut telah resmi dihibahkan oleh Raja Parhusip kepada pemerintah setempat untuk renovasi pasar dengan catatan setiap Marga Parhusip yang berjualan di Onan Nainggolan tidak dikenakan pungutan biaya. Hal ini dikarenakan sistem adat Batak Toba secara turun temurun yang Universitas Sumatera Utara menghargai adat dan selalu peduli terhadap keturunannya walaupun moyang mereka telah meninggal21. Pungutan/retribusi yang dikutip dari para pedagang digunakan untuk penataan kota supaya tercipta daerah yang indah, tertib, dan bersih. Masalah sampah yang dimunculkan para pedagang merupakan suatu kendala bagi pemerintah daerah Kabupaten Tapanuli Utara dalam mewujudkan daerah yang bersih dan indah. Maka untuk itu, diperlukan penanganan yang lebih serius dari seluruh pihak yang berkompeten karena apabila tidak ditangani secara serius maka akan menjadi permasalahan yang lebih kompleks. Melihat kenyataan yang berkembang, maka pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah menyediakan gerobak-gerobak dan tongtong sampah.Di samping itu juga telah menyiapkan tenaga-tenaga kerja kebersihan yang bertugas memelihara kebersihan kota, menyapu jalan/pasar, dan petugas pengangkutan gerobak sampah. Jumlah dari petugas kebersihan dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan bukti nyata dari upaya pemerintah dalam penanggulangan sampah dan juga demi kesejahteraan para pedagang dan kenyamanan para pembeli22. 3.4 Permasalahan yang Dihadapi di Onan Nainggolan Para pedagang tersebut apabila sudah selesai berjualan akan meninggalkan sampah yang berserakan sehingga dapat menimbulkan situasi yang tidak nyaman di sekitar pasar dan selokan/parit. Keadaan ini berlangsung setiap hari sehingga sampah 21 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013. 22 Wawancara dengan A. Karmila Parhusip di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 3 Agustus 2013. Universitas Sumatera Utara ataupun kotoran tersebut jadi menumpuk di areal pasar tersebut. Apabila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut maka dapat mengakibatkan aroma yang tidak sedap dan berbau busuk serta dapat menimbulkan sumber penyakit. Keadaan ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi kebersihan dan keindahan pasar yang disebabkan oleh sampah-sampah yang berserakan dan tata ruang semakin semrawut serta sering kali dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas. Keadaan payung-payung yang dipasang oleh para pedagang dari luar Pulau Samosir pada saat berjualan juga dapat menimbulkan pemandangan yang kurang sedap dipandang oleh mata. Parit-parit yang tersumbat oleh karena sampah-sampah pedagang kaki lima akan menggenang di sepanjang jalan terutama saat hujan turun. Keadaan ini lambat laun akan mempercepat kerusakan pada badan jalan sementara itu pasar menjadi becek dan berlumpur23 Dampak lainnya yang disebabkan oleh para pedagang kaki lima adalah kemacetan lalu lintas. Hal ini terjadi karena pedagang kaki lima tidak menghiraukan tempat-tempat yang dilarang untuk berjualan. Sering kali para pedagang membuat lokasi berdagang di sepanjang jalan, bahkan terkadang sampai menempati setengah badan jalan. Hal ini juga dapat menggangu kelancaran lalu lintas meskipun petugas sering melakukan penertiban dan penggusuran terhadap para pedagang kaki lima, akan tetapi hasilnya tidak pernah mengalami perubahan24. 23 Wawancara dengan Op. Dorlan di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 2 Agustus 2013. 24 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013. Universitas Sumatera Utara Keadaan pedagang di Onan Nainggolan menjadi suatu dilema bagi pemerintah dalam mewujudkan Samosir yang bersih, tertib, dan aman. Pada tahun 1990 Jumlah pedagang terus bertambah karena tempat penampungan untuk berjualan belum memadai. Inilah hal utama yang masih menjadi kendala bagi pemerintah dalam mengatur tata kota administratifnya, khususnya di daerah Kecamatan Onan Runggu25. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah berusaha menjadikan Samosir menjadi kota yang indah, tertib, dan bersih. Hal ini sangat berpengaruh dengan Onan Nainggolan, karena pasar ini sangat strategis dilalui oleh masyarakat dari berbagai arah atau tempat. Hal ini didukung juga oleh dekatnya lokasi pasar dengan Pelabuhan Nainggolan. Pemerintah berusaha dalam mengatasi masalah yang muncul di tengahtengah masyarakat dalam era keterbukaan dimana memerlukan penanggulangan yang terpadu, yaitu menciptakan kerjasama yang baik dari berbagai pihak dengan memperhatikan aspek dan kepentingan dari berbagai pihak serta tidak mengindahkan nilai kebenaran dan kemanusiaan. Kehadiran pedagang di Onan Nainggolan dari segala bentuk dan kegiatannya tidak pernah luput dari permasalahannya. Pedagang di Onan memberikan masalah yang kompleks terutama masalah sampah, lingkungan kumuh, kemacetan, dan ketertiban lalu lintas yang merupakan ulah dari pedagang tersebut. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengadakan operasi pasar (98,96%) memiliki persepsi positif terhadap PNPM-MP di Kecamatan Onan Runggu. Hal ini menunjukka n bahwa sebagian responden mengerti, memahami, dan mengetahui arti, manfaat, dan tujuan dari Program PNPM-MP tersebut. Responden yang menunjukkan hasil netral sebanyak 1 orang (1,03%). Hal ini menegaskan bahwa responden kurang mengerti, memahami, dan mengetahui arti, manfaat, dan tujuan dari PNPM-MP. Untuk mengetahui apakah persepsi masyarakat termasuk respon positif atau negatif, maka dilakukan analisis dengan memberikan nilai 1 pada respon positif, nilai 0 pada respon netral, dan nilai -1 pada respon negatif, lalu dibagi dengan jumlah responden keseluruhan. Hasil akhir dapat dilihat apakah persepsi positif atau negatif dengan adanya batasan nilai pada skala Likert. Universitas Sumatera Utara Persepsi positif : 96 × 1 = 96 Persepsi netral : 1× 0 = 0 Persepsi negatif : 0 ×-1 =0 + = 96/ 97 = 0,98 (Persepsi Positif karena berada diantara 0,33 sampai dengan 1). 5.3.2. Sikap Responden Terhadap Program PNPM-MP Pengukuran respon selanjutnya dilihat dari sikap responden terhadap Program PNPM-MP. Variabel sikap responden terhadap Program PNPM-MP (V2) merupakan hasil rata- rata ∑ skor variabel sikap : jumlah sub variabel sikap. Jumlah sub variabel sikap ada 5 sub variabel, sehingga rata- rata V2= ∑skor variabel : 5 (lihat lampiran). Data hasil pengukuran ada pada tabel berikut : Universitas Sumatera Utara Tabel 5.36 Sikap Responden Terhadap Program PNPM-MP No Kategori Jumlah (Orang) Persentase 1 Positif 97 100,00 2 Netral - - 3 Negatif - - 97 100,00 Jumlah Sumber: Hasil Kuesioner 2010 Berdasarkan tabel 5.38 dapat dilihat dengan jelas bahwa seluruh responden memiliki sikap positif terhadap Pelaksanaan PNPM-MP di Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir. Terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi munculnya respon positif dari responden yaitu karena responden merasa dengan adanya PNPM-MP ini pemerintah memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap peningkatan kesejahteraan, kesempatan kerja dan peningkatan pembangunan. Sikap masyarakat termasuk respon positif atau negatif, dapat dianalisis dengan memberikan nilai 1 pada respon positif, nilai 0 pada respon netral, dan nilai -1 pada respon negatif, lalu dibagi dengan jumlah responden keseluruhan. Hasil akhir dapat dilihat apakah sikap positif atau negatif dengan adanya batasan nilai pada skala Likert. Universitas Sumatera Utara Sikap positif : 97 × 1 = 97 Sikap netral : 0 × 0 = 0 Sikap negatif : 0 ×-1 = 0+ = 97/97 = 1 (Sikap Positif berada diantara 0,33 sampai dengan 1). 5.3.3. Partisipasi Responden Terhadap Program PNPM-MP Pemberian skor variabel patisipasi terhadap Program Raskin ini merupakan hasil rata- rata ∑ skor variabel partisipasi (V3) : j umlah sub variabel patisipasi. Jumlah sub variabel persepsi ada 4 sub variabel, sehingga rata- rata V3= ∑skor variabel : 4(lihat lampiran). Data hasil pengukuran ada pada tabel berikut : Universitas Sumatera Utara Tabel 5.37 Partisipasi Responden Program PNPM-MP No Kategori Jumlah (Orang) Persentase 1 Positif 30 30,92 2 Netral 2 2,06 3 Negatif 65 67,01 97 100,00 Jumlah Sumber: Hasil Kuesioner 2010 Tabel 5.41 menunjukkan bahwa terdapat 30 orang (30,92%) responden memiliki partisipasi yang positif terhadap program PNPM-MP di Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir. Responden dalam kategori ini ikut serta secara aktif dalam kegiatan- kegiatan dalam sosialisasi, pelaksanaan, pemenuhan aturan yang berlaku dan keikutsertaan dalam program PNPM-MP. Responden yang berpartisipasi dengan netral sebanyak 2 orang (2,06%), hal ini menunjukkan bahwa tidak lebih dari sekali responden ikut berpartisipasi dalam program PNPMMP. Terdapat juga 65 orang (67,01%) responden yang berpartisipasi negatif dalam program PNPM-MP. Mereka tahu manfaat, tujuan serta apa-apa saja program PNPM-MP, tetapi mereka tidak pernah sekali pun ikut berpartisipasi dalam program. Hal ini karena rendahnya tingkat perekonimian responden yang mengharuskan mereka harus bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup Universitas Sumatera Utara mereka. Sehingga kurang waktu atau kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan, memberikan penilaian terhadap PNPM-MP. Berdasarkan data diatas, dapat dianalisis apakah partisipasi responden termasuk respon positif atau respon negatif, dengan memberikan nilai 1 pada respon positif, nilai 0 pada respon netral, dan nilai -1 pada respon negatif, lalu dibagi dengan jumlah responden keseluruhan. Hasil akhir dapat dilihat apakah partisipasi positif atau negatif dengan adanya batasan nilai pada skala Likert. Partisipsi positif : 30 × 1 Partisipasi netral : = 30 2×0 = 2 Partisipasi negatif : 65 ×-1 = -65 + = -33/97 = -0,34 (Partisipasi negatif karena berada di antara -0,33 sampai dengan -1). Universitas Sumatera Utara BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan Dari hasil analisa data, dapat disimpulkan bahwa Respon Masyarakat Kecamatan Onan Runggu terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaaan dapat dilihat dari tiga variabel yaitu : a. Persepsi Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa responden memiliki persepsi yang positif terhadap PNPM dengan nilai 0,98. Pengukuran persepsi dilihat dari pengetahuan dan pemahaman responden terhadap PNPM-MP. b. Sikap Sikap masyarakat Kecamatan Onan Runggu terhadap PNPM adalah positif dengan nilai 1. Pengukuran sikap ini dilihat dari tanggapan responden yang sangat antusias diadakannya program didaerah tersebut. c. Partisipasi Hasil analisa data menunjukan responden memiliki partisipasi yang positif dengan nilai -0,34. Pengukuran ini dilihat dari keterlibatan responden terhadap pelaksanaan aturan yang ada dalam PNPM-MP. Berdasarkan hasil dari ketiga variabel diatas dapat dilihat nilai ratarata – rata respon masyarakat adalah positif dengan nilai 0,56 (berada diantara 0,33 sampai dengan 1). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ”Respon Universitas Sumatera Utara Masyarakat Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan di Kecamatan Onan Runggu” adalah positif. 6.2. Saran Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan sebelumnya, maka penulis memberikan saran- saran sebagai berikut : 1. Kepada pemerintah aparatur desa dan Kecamatan Onan Runggu agar tetap melaksanakan dan mendukung, karena program ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam pemgembangan masyarakat yang lebih baik. Respon masyarakat terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan adalah positif namun kedepannya diharapkan dapat memperbaiki kekurangan dalam hal sosialisasi, pelaksanaan, perencanaan, kualitas dan kuantitas program. 2. Kepada Penerima Program PNPM-MP dan masyarakat yang merasakan danpak PNPM-MP secara langsung diharapkan tidak tergantung pada program ini saja, tetapi dapat menggunakan program ini sebagai kesempatan yang membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan seharihari dan juga dalam meningkatkan kehidupan mereka. Diharapkan juga masyarakat dapat lebih berpartisipasi dalam kegiatan- kegiatan program tersebut, apalagi yang menyangkut kepentingan masyarakat itu sendiri agar mendapat hasil yang lebih maksimal. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Adi, Isbandi Rukminto. 1994. Psikologi Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Dasar-Dasar Pemikiran. Jakarta : PT. Raja Grafindo. Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Pineka Cipta. Mahadi, Prof. 1993. Sosiologi. FH. USU, Medan Muhidin, Syarif, Drs. 1984. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, Bandung. Nawawi, Hadari. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Bandung : PT. Refika Aditama. Sarwono, Sarlito. 1991. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta : PT. Bulan Bintang Shadily, Hasan. 1993. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta : Pembangunan Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT. Refika Aditama. Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik : Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial. Bandung : Alfabeta. Sumodiningrat, Gunawan. 2009. Mewujudkan Kesejahteraan Bangsa (Menanggulangi Kemiskinan Dengan Prinsip Pemberdayaan Masyarakat). Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Universitas Sumatera Utara Suparlan, Y. B. 1989. Kamus istilah kesejahteraan Sosial. Pustaka Pengarang, Yokyakarta. Soehartono, Irawan. 2008. Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Wibawa, Budie, Drs. 1982. Sosiologi Pembangunan. Jakarta : Bina Cipta. Sumber-sumber lain : BPS, 2009 BPS Sumut, 2007 PTO PNPM-MP, 2007 http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1867470-pto-pnpm-mandiri -perdesaan, diakses pada hari Kamis, tanggal 26 September 2010, jam 16:03 http//www.pnpm-mandiri.or.id, diakses pada hari Kamis, 26 September 2010 pukul 17.16 http//www.setneg.go.id, diakses pada hari Jumat, 27 September 2010 pukul 20.32 http://www.pnpm-perdesaan.or.id/?page=halaman&story_id=22, diakses pada Jumat, 27 September 2010 pukul 20.55 Universitas Sumatera Utara
Sejarah Dan Peranan Kapal Motor Pribumi Bagi Perekonomian Masyarakat Di Onan Runggu 1942 – 1965 Cakrawala Pemikiran Kondisi Ekonomi Masuknya Kapal Motor Dari Luar Samosir 1965 Dibangunnya Pelabuhan Onan Runggu Fungsi Kapal Motor Zending Kapal Motor Dari Luar Samosir Kapal Motor Pribumi : Pedagang Cara Pembuatan Kapal Motor Kapal Motor Raja Kapal Motor Latar Belakang Sejarah Dan Peranan Kapal Motor Pribumi Bagi Perekonomian Masyarakat Di Onan Runggu 1942 – 1965 Letak dan Fungsi Pelabuhan Letak Geografis Keadaan Alam dan Penduduk Onan Baru Kondisi Ekonomi Masuknya Kapal Motor Dari Luar Samosir 1965 Pendidikan Kondisi Ekonomi Masuknya Kapal Motor Dari Luar Samosir 1965 Peranan Perahu Solu Kondisi Ekonomi Sebelum Adanya Kapal Motor 1933 Perkembangan Perputaran Ekonomi Peningkatan Perekonomian Perubahan Pola Pikir Masyarakat Rumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Rute Perjalanan Kapal Pola Pelayaran dan Perdagangan Sebagai Alat Tranportasi Alat Tranportasi Perdagangan Sebagai Pendongkrak Status Sosial Transportasi Sebagai Keperluan Adat
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Sejarah Dan Peranan Kapal Motor Pribumi Bagi Perekonomian Masyarakat Di Onan Runggu 1942 – 1965

Gratis