Feedback

Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro).

Informasi dokumen
PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN NANO BLANGKAS TERHADAP FLEXURAL STRENGTH RESTORASI KAVITAS KLAS II (SITE 2 SIZE 2) MINIMAL INTERVENSI SEMEN IONOMER KACA MODIFIKASI RESIN NANO PENELITIAN IN VITRO SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh : IDELIA GUNAWAN NIM : 070600030 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Konservasi Gigi Tahun 2010 Idelia G. Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro) Xi + 69 halaman Prinsip minimal intervensi dilakukan dengan pembuangan karies yang terdemineralisasi saja dan desain kavitas seminimal mungkin. Atraumatic Restorative Treatment merupakan bagian dari minimal intervensi yaitu metode restorasi kavitas sederhana, didahului dengan pembersihan kavitas menggunakan instrumen tangan kemudian kavitas direstorasi dengan bahan semen ionomer kaca (SIK). Kitosan produk deasetilasi dari kitin, salah satunya terdapat pada blangkas. Kitosan nanopartikel adalah bagian terkecil dari kitosan yang diproses dengan metode tertentu dengan ukuran partikel 100 - 400 nm. Tiga puluh gigi premolar maksila manusia yang telah diekstraksi direndam dalam larutan NaCl 0,9 %, kemudian dilakukan preparasi kavitas klas II dengan prinsip minimal intervensi. Prosedur restorasi pada kelompok I dan kelompok II menggunakan SIK modifikasi resin nano ditambahkan 0,015% dan 0,45% berat kitosan nano, kelompok III sebagai kontrol menggunakan SIK modifikasi resin nano. Universitas Sumatera Utara Sampel ditanam pada self curing acrylic dan pengujian flexural strength dilakukan pada bagian marginal ridge dengan menggunakan alat uji tekan. Hasil penelitian menunjukkan rerata flexural strength untuk kelompok III adalah sebesar 68.007 ± 18.771 MPa. Kelompok uji I (SIK nano dengan kitosan nano 0.015% berat) sebesar 77.3569 ± 21.939 MPa dan kelompok uji II (SIK nano dengan kitosan nano 0.45% berat) sebesar 47.527 ± 7.128 MPa. Hasil uji statistik menggunakan uji statistik analisa varians (ANOVA) dan post hoc Turkey’s test menunjukkan bahwa pada α = 0,05 rerata perbedaan flexural strength antara kedua kelompok uji terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0.003). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat peningkatan flexural strength dengan menggunakan SIK modifikasi resin nano jika ditambahkan kitosan dengan persen berat yang lebih kecil. Daftar pustaka: 43 ( 1994 – 2010 ) Kata kunci: Flexural strength, SIK Nano, Kitosan, ART Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI UNTUK DISEMINARKAN PADA TANGGAL 20 JULI 2011 OLEH: Pembimbing I Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp. KG (K) NIP: 19500828 197902 2001 Pembimbing II Widi Prasetia, drg NIP: 19800213 200912 1 004 Mengetahui Ketua Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Cut Nurliza, drg., M.Kes NIP: 19560105 198203 2002 Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi berjudul PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN NANO DARI BLANGKAS TERHADAP FLEXURAL STRENGTH DARI SEMEN IONOMER KACA MODIFIKASI RESIN NANO PADA KAVITAS KLAS II (SITE 2 SIZE 2) MINIMAL INTERVENSI (IN VITRO) Yang dipersiapkan dan disusun oleh: IDELIA G NIM: 070600030 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 20 JULI 2011 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima Susunan Tim Penguji Skripsi Ketua Penguji Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes. Sp.KG (K) NIP: 19560105 198203 2002 Anggota tim penguji lain Nevi Yanti,drg.,M.Kes NIP: 19631127 199203 2 004 Bakri Soeyono, drg. NIP: 19450702 197802 1 001 Widi Prasetia,drg NIP: 19800213 200912 1 004 Medan, 20 Juli 2011 Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Konservasi Gigi Ketua, Cut Nurliza, drg., M.Kes NIP : 19560105 198203 2002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia yang dilimpahkanNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua saya yang selalu mendoakan dan memberi dukungan baik moral dan material. Terima kasih juga saya ucapkan kepada saudara-saudara saya yang tercinta Irene, Ivone, Iriani dan Ideline. Serta ucapan terima kasih yang terdalam untuk sahabat terbaik saya Kelvin atas dukungan, doa dan motivasi kepada saya selama penulisan skripsi. Dalam penulisan skripsi ini saya telah mendapat banyak bimbingan, pengarahan, saran, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 2. Cut Nurliza, drg., M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 3. Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG(K) selaku dosen pembimbing skripsi atas saran, masukan, kesabaran dan waktu yang diberikan untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 4. Widi Prasetia, drg selaku dosen pembimbing kedua skripsi yang juga telah banyak memberikan saran dan masukan dalam pengerjaan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 5. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi terutama staf pengajar dan pegawai di Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 6. Erna Sulistyawati,drg,. Sp. Ort selaku penasihat akademik saya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 7. Prof. Dr. Harry Agusnar,drs., M.Sc., M.Phil selaku Kepala bagian Laboratorium Pusat Penelitian FMIPA USU, beserta Bapak Sukirman atas izin, bantuan fasilitas, dan bimbingan untuk pelaksanaan penelitian ini. 8. Drs. H Abdul Jalil Amri Amra M. Kes selaku staf pengajar statistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, atas bimbingannya dalam pelaksanaan analisa statistik hasil penelitian. 9. Teman – teman seperjuangan skripsi di bagian Konservasi Gigi. 10. Sahabat- sahabat terbaik penulis. 11. Para senior yang telah banyak memberi dukungan dan motivasi. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu terselesaikannya skripsi ini dan mohon maaf apabila ada kesalahan selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas, pengembangan ilmu dan masyarakat. Medan, Juli 2011 Penulis, (Idelia G) NIM: 070600030 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN JUDUL HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI vi DAFTAR TABEL viii DAFTAR GAMBAR ix DAFTAR LAMPIRAN xi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 BAB 2 BAB 4 1 6 7 7 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 BAB 3 Latar Belakang . Rumusan masalah . Tujuan . Manfaat penelitian Klasifikasi Karies . . Semen Ionomer Kaca . SIK Modifikasi Resin Nano Kitosan . Uji flexural strength . 8 10 12 18 24 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep . 3.2 Hipotesis Penelitian . 25 28 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian . 4.2 Tempat dan Waktu . 4.3 Populasi dan Sampel Penelitian . 29 29 29 Universitas Sumatera Utara 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 Kriteria Penerimaan Subjek Besar Sampel . Variabel Penelitian . Defenisi Operasional . Alat dan Bahan Penelitian . Prosedur Penelitian . 29 30 32 35 36 40 BAB 5 HASIL PENELITIAN 47 BAB 6 PEMBAHASAN . 50 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan . 7.2 Saran 55 56 DAFTAR PUSTAKA . 57 LAMPIRAN 62 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Klasifikasi karies . 9 2. Komposisi SIK Modifikasi Resin Nano . 15 3. Data hasil pengukuran uji flexural strength . 47 4. Rerata hasil pengukuran flexural strength . 48 5. Standar deviasi dan Standar error data 48 6. Identifikasi pola fraktur setelah uji tekan . 48 7. Hasil analisis data dengan uji post hoc test . 49 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Karies klas II (site 2 size 2) premolar . 10 2. Perbedaan ukuran partikel pada SIK RM dan SIK RM nano . 15 3. Cara manipulasi SIK nano ionomer . 17 4. Struktur bangun kitin dan kitosan 20 5. Blangkas (Limulus polyphemus) . 22 6. Skema ilustrasi flexural strength . 24 7. Alat uji tekan 36 8. Beaker glass dan jartest 37 9. Neraca analitik . 37 10. Cetakan balok dari kaca, pot akrilik dan spuit . 38 11. Light cured 38 12. KetacTM N100 Ionomer . 39 13. Kitosan blangkas powder . 39 14. Self Curing Acrylic . 40 15. Desain kavitas klas II (site 2 size 2) 41 16. Pengadukan campuran kitosan dan asam asetat 42 17. Penambahan amoniak dan pengadukan kitosan 42 18. Gel kitosan nano 42 19. Neraca analitik . 43 20. Spesimen sebelum penambalan 44 21. Spesimen sesudah penambalan 44 Universitas Sumatera Utara 22. Penanaman gigi dalam akrilik . 45 23. Posisi sampel saat diberi tekanan . 45 24. Identifikasi pola fraktur 49 25. Struktur kitosan nano 53 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Skema alur pikir 62 2. Skema alur Penelitian . 66 3. Skema pembuatan variasi berat kitosan . 67 4. Hasil uji analisa statistik varians (ANOVA) dan post hoc test . . 68 Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Konservasi Gigi Tahun 2010 Idelia G. Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro) Xi + 69 halaman Prinsip minimal intervensi dilakukan dengan pembuangan karies yang terdemineralisasi saja dan desain kavitas seminimal mungkin. Atraumatic Restorative Treatment merupakan bagian dari minimal intervensi yaitu metode restorasi kavitas sederhana, didahului dengan pembersihan kavitas menggunakan instrumen tangan kemudian kavitas direstorasi dengan bahan semen ionomer kaca (SIK). Kitosan produk deasetilasi dari kitin, salah satunya terdapat pada blangkas. Kitosan nanopartikel adalah bagian terkecil dari kitosan yang diproses dengan metode tertentu dengan ukuran partikel 100 - 400 nm. Tiga puluh gigi premolar maksila manusia yang telah diekstraksi direndam dalam larutan NaCl 0,9 %, kemudian dilakukan preparasi kavitas klas II dengan prinsip minimal intervensi. Prosedur restorasi pada kelompok I dan kelompok II menggunakan SIK modifikasi resin nano ditambahkan 0,015% dan 0,45% berat kitosan nano, kelompok III sebagai kontrol menggunakan SIK modifikasi resin nano. Universitas Sumatera Utara Sampel ditanam pada self curing acrylic dan pengujian flexural strength dilakukan pada bagian marginal ridge dengan menggunakan alat uji tekan. Hasil penelitian menunjukkan rerata flexural strength untuk kelompok III adalah sebesar 68.007 ± 18.771 MPa. Kelompok uji I (SIK nano dengan kitosan nano 0.015% berat) sebesar 77.3569 ± 21.939 MPa dan kelompok uji II (SIK nano dengan kitosan nano 0.45% berat) sebesar 47.527 ± 7.128 MPa. Hasil uji statistik menggunakan uji statistik analisa varians (ANOVA) dan post hoc Turkey’s test menunjukkan bahwa pada α = 0,05 rerata perbedaan flexural strength antara kedua kelompok uji terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0.003). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat peningkatan flexural strength dengan menggunakan SIK modifikasi resin nano jika ditambahkan kitosan dengan persen berat yang lebih kecil. Daftar pustaka: 43 ( 1994 – 2010 ) Kata kunci: Flexural strength, SIK Nano, Kitosan, ART Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan masalah penyakit infeksi gigi dan mulut yang paling sering terjadi. Penyakit ini dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kelompok usia tanpa memandang jenis kelamin dan status sosial. Di Indonesia karies gigi merupakan penyakit endemik dengan prevalensi dan derajat keparahan yang cukup tinggi.1 Menurut hasil studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 2004 dilaporkan bahwa prevalensi karies telah mencapai 90,05% yang berarti hampir seluruh penduduk Indonesia menderita karies gigi. Sementara menurut survei depkes RI, prevalensi karies di Indonesia tahun 2007 mencapai 71%. Sampai saat ini pemerintah telah menempuh berbagai macam tindakan pencegahan dan upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Seperti halnya dalam mengurangi prevalensi karies, pemerintah telah melakukan berbagai macam penyuluhan tentang cara penyikatan gigi yang benar, kontrol diet, pemberian obat kumur, serta pemberian vaksin anti karies yang masih terus diteliti dan dikembangkan.1 Di samping itu, dengan perkembangan bahan adhesif saat ini terjadi perubahan prinsip preparasi kavitas yang menerapkan prinsip minimal intervensi. Prinsip minimal intervensi dapat diartikan sebagai perawatan terhadap karies dengan mengambil jaringan gigi yang terdemineralisasi saja dan memelihara struktur gigi yang sehat sebanyak mungkin. Selama ini pendekatan yang di ajarkan oleh GV Black Universitas Sumatera Utara digunakan sebagai standar perawatan namun diakui bersifat merusak karena tidak memelihara struktur gigi dimana ketika restorasi yang besar diberikan suatu beban berat maka gigi akan lebih lemah. Pada enamel dapat terjadi remineralisasi melalui penggunaan flourida selama permukaan enamel halus dan tidak terakumulasi oleh plak. Sedangkan pada demineralisasi dentin masih terdapat beberapa mineral yang melekat pada matriks kolagen dan cukup untuk mengisolasi lesi dari aktivitas bakteri dengan menggunakan bahan restoratif bioaktif sehingga akan terjadi remineralisasi. Ini berarti bahwa prinsip GV Black “extention for prevention” sudah tidak dipakai lagi dimana struktur gigi harus dipertahankan sebanyak mungkin. Dengan adanya prinsip minimal intervensi maka berkembang klasifikasi karies yang baru yang dapat membantu penatalaksanaannya dimana prinsip GV Black “extention for prevention” sudah tidak digunakan lagi. Klasifikasi ini mengkombinasikan site dan size. Oleh karena sulitnya identifikasi dan keterbatasan bahan maka klas II klasifikasi Black di mulai dengan Site 2, Size 2.2 Beberapa tindakan preparasi lain yang dikembangkan berdasarkan preparasi minimal adalah preparasi terowongan dan Atraumatic Restorative Treatment atau ART.3 Atraumatic Restorative Treatment (ART) adalah bagian dari perawatan minimal intervensi merupakan metode tata cara perawatan gigi yang berusaha untuk mengontrol perkembangan lesi karies. Pada dasarnya terdiri dari penyingkiran jaringan karies dan pengisian kavitas dengan bahan adhesif yang tepat berkaitan dengan prinsip preventif. Prinsip minimal intervensi diperkenalkan pada hari kesehatan dunia oleh World Health Organization pada tahun 1974, bahwa pada setiap kavitas untuk klasifikasi karies dilakukan pembuangan dan pembuatan desain Universitas Sumatera Utara kavitas dengan seminimal mungkin dan menggunakan bahan Semen Ionomer Kaca (SIK) yang telah dikembangkan untuk restorasi ART, sehingga tidak dilakukan banyak pembuangan struktur gigi namun diperoleh ikatan adhesif yang kuat antara SIK dan permukaan gigi.2 Berkaitan dengan keuntungan-keuntungan ART maka prosedur perawatan gigi dan mulut dengan teknik ART dapat dilakukan di daerah daerah yang kekurangan fasilitas.4 SIK tidak begitu disarankan untuk restorasi klas II dikarenakan kelemahannya terhadap fraktur maupun keausan terhadap beban oklusal yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh karena tekanan yang diberikan saat pengunyahan banyak terjadi di bagian marginal ridge pada restorasi klas II. Kekurangan SIK lainnya adalah bersifat poreus, mudah terjadi abrasi terutama pada daerah kontak oklusal, mudah larut dan kurang estetis dibandingkan resin komposit.5,6 Dengan berkembangnya prinsip preparasi kavitas minimal intervensi dan kemampuan SIK yang memiliki sifat adhesif yang baik terhadap email dan dentin serta adanya kemampuan untuk melepaskan fluorida sehingga dapat mencegah terjadinya karies sekunder dan memungkinkan remineralisasi pada gigi, maka kini penggunaan bahan SIK telah meluas sebagai bahan restoratif untuk restorasi konservatif klas I dan klas II.5 Efek fluoride dalam pencegahan karies berperan untuk mengeraskan email dalam proses perusakan oleh asam.1 Namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa pelepasan fluor hanya sedikit mengurangi atau tidak ada efek dalam menurunkan insiden karies. Survei dari University of Florida melaporkan terdapat kegagalan pada restorasi SIK adalah karena disebabkan terjadinya karies sekunder. Namun, Universitas Sumatera Utara pernyataan ini aktivitas antibakterial kitosan yang menghambat permukaan dinding sel bakteri. Kitosan dan derivatnya (75% DD dan 95%) terbukti lebih efektif untuk bakteri gram negatif daripada bakteri gram positif. Penelitian Tarsi et al (1997) menunjukkan bahwa kitosan dengan berat molekul rendah dapat menghambat aktivitas bakteri Streptococcus mutans yang berperan dalam adsorbsi hidroksiapatit dan kolonisasinya. Sifat-sifat kitosan yang mendukung kemampuannya dalam menghambat perlekatan bakteri yaitu kitosan dapat mencegah kerusakan permukaan gigi oleh asam organik dan menghasilkan efek bakterisidal terhadap bakteri patogen termasuk bakteri Streptococcus mutans.35 Percobaan pada bahan restorasi SIK dimodifikasi kitosan bermolekul rendah oleh Petri et al (2006) menunjukan bahwa penambahan kitosan bermolekul rendah (fluka) pada SIK konvensional dapat meningkatkan kekuatan flexural dan juga mengkatalisasi pelepasan ion fluoride. Ia menggunakan SIK konvensional modifikasi kitosan bermolekul rendah dengan variasi persen berat yaitu 0.0044, 0.012, 0.025 dan 0.045 % berat kitosan. Percobaan tersebut menggunakan masing-masing 10 spesimen berupa lempeng berbentuk balok dengan ukuran 10mm x 2mm x 2mm untuk pengujian flexural strength dan lempeng bebentuk silinder dengan ukuran diameter 10 mm x tinggi 2mm untuk menguji pelepasan fluor. Penelitian menunjukkan bahwa SIK modifikasi kitosan molekul rendah dengan penambahan 0,0044% berat kitosan dapat meningkatkan sifat mekanik seperti flexural strength dan meningkatkan pelepasan ion fluor, penambahan 0,012% berat kitosan tidak memiliki efek yang terlihat secara statistik, dan penambahan lebih dari 0,022% berat kitosan justru memperendah sifat mekaniknya. Meningkatnya sifat mekanik SIK dikarenakan kitosan mempunyai gugus hidroksil dan gugus asetamida yang mampu mengikat partikel hidroksil dan gugus karboksilat dari asam poliakrilat pada SIK oleh ikatan hidrogen. Ikatan yang dibentuk oleh kitosan dan asam poliakrilat di sekitar partikel anorganik dapat mengurangi tegangan pada permukaan antar komponen SIK. Pada penambahan kitosan dalam persen berat tinggi, gugus kitosan terpisah dan berinteraksi satu dengan yang lain, tidak lagi berinteraksi dengan permukaan partikel SIK, sehinggga sifat mekanik SIK menurun. 15 2.3.3 Kitosan Nanopartikel Dalam perkembangannya, kitosan dimodifikasi dalam bentuk magnetic kitosan nanopartikel dengan ukuran partikelnya 100-400 nm untuk meningkatkan daya adsorpsinya. Szeto dan Zhigang Hu (2007) (cit Siregar, 2009) menyiapkan kitosan nanopartikel dengan melarutkan kitosan dalam larutan asam lemah ditambahkan larutan yang bersifat basa, seperti amoniak, NaOH, atau KOH diaduk pada kecepatan 300 rpm sehingga diperoleh gel kitosan putih dan dibilas dengan aquadest sampai netral kemudian ditempatkan dalam ultrasonic bath untuk memecah partikel-partikel gel kitosan menjadi lebih kecil. Cheung (2008) (cit Siregar, 2009) menyiapkan kitosan nano dengan metode lain, yaitu dengan menambahkan larutan tripolipospat kedalam larutan kitosan sehingga diperoleh emulsi kitosan sambil diaduk dengan kecepatan 1200 rpm, kemudian ditambahkan asam asetat agar pH-nya menjadi 3,5 dengan hasil berupa suspensi kitosan.18 Lu E-Shi (2008) (cit ningsih, 2010) menyiapkan kitosan nanopartikel dengan menambahkan larutan tripolipospat (TPP) kedalam larutan suspensi kitosan yang dibuat dengan menambahkan asam asetat, kemudian diaduk dengan kecepatan 1200 rpm hingga terbentuk emulsi.19 Ukuran partikel kitosan yang berskala nanometer akan meningkatkan luas permukaan sampai ratusan kali dibandingkan dengan partikel yang berukuran mikrometer, sehingga dapat meningkatkan efektifitas kitosan dalam hal mengikat gugus kimia lainnya. Dalam penelitian, kitosan nano juga dapat meningkatkan efisiensi proses fisika-kimia pada permukaan kitosan tersebut karena memungkinkan interaksi pada permukaan yang lebih besar. Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa kitosan nano memiliki potensi penting dalam perkembangan industri farmaseutikal.39 Kitosan nanopartikel dapat dipakai sebagai pembawa penyaluran obat karena stabilitasnya yang baik, rendah toksik, metode persiapannya sederhana, dan dapat mengikuti rute pemberian obat. Kitosan nano partikel sebagai agen penyalur obat sangat bermanfaat karena kitosan nano merupakan biopolimer alam yang biokompatibel, dapat larut dalam air, dapat menyalurkan obat dalam bentuk makromolekul, mempunyai berat molekul yang bervariasi sehingga mudah dimodifikasi secara kimia, membantu absorpsi antara substrat dan membran sel, dan ukuran partikel nano nya memiliki efektivitas yang lebih baik.40 2.4 Compressive Strength Uji kekuatan tekan (compressive strength) merupakan tes yang biasa dilakukan untuk menentukan sifat-sifat mekanik dari SIK.8 Untuk bahan yang rentan pecah secara partikel, uji tarik sulit untuk dilakukan. Sebuah alternatif uji kekuatan tekan (compressive strength) lebih mudah dilakukan terhadap bahan yang rentan pecah. Konfigurasi dari uji compressive strength seperti pada Gambar 10, terlihat sampel diberikan gesekan pada titik yang berkontak dengan bahan silinder yang diuji.7 Ukuran sampel dalam pengujian compressive strength umumnya mengikuti ADA specification No.661 for dental cement yaitu 12 mm untuk tinggi x 6 mm untuk diameter atau mengikuti ISO yaitu 6 mm untuk tinggi x 4 mm untuk diameter.7,8 Pada Penelitian Mallmann et al (2007) menegaskan bahwa penggunaan spesimen dengan ukuran lebih kecil (6mm x 4mm) lebih tepat untuk pengujian sifat mekanik SIK.8 Gambar 10. Skema ilustrasi dari compressive strength.7 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA PENELITIAN SIK - Compressive strength rendah. Koefisien ekspansi thermal mendekati koefisien ekspansi termal struktur gigi. Mampu melepaskan Fluor. SIK modifikasi resin nano - Compressive strength tidak terlalu meningkat. Dapat melepaskan ion fluor. Ukuran partikel nano. Ikatan ke dentin lebih baik dari SIK konvensional. SIK + Kitosan molekul rendah - Meningkatkan flexural strength SIK konvensional. Meningkatkan pelepasan ion fluoride. Semakin tinggi persen berat kitosan yang ditambahkan ke dalam SIK, semakin rendah strength SIK. Kitosan Nano dari blangkas - Ukuran partikel nano dan bermolekul tinggi Memiliki anti bakterial Dipakai dalam bidang medis Beratnya divariasikan 0.015% dan 0.45% berat Memiliki gugus fungsional, yaitu gugus amin. Ikatan amin dari kitosan mengikat partikel hidroksi dari SIK modifikasi resin nano oleh ikatan Hidrogen. COMPRESSIVE STRENGTH ??? Meningkat ??? Menurun ??? 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ini diarahkan ke bahan restorasi sewarna gigi yaitu Semen Ionomer Kaca dengan tujuan untuk meningkatkan sifat compressive strength-nya. Namun kekurangan SIK adalah memiliki sifat compressive strength yang rendah, tidak resisten terhadap abrasi, mudah rapuh / brittle dan estetisnya kurang baik dibandingkan dengan komposit. SIK terus dikembangkan hingga dikeluarkannya SIK modifikasi resin nano yang merupakan SIK modifikasi resin dengan kelebihan pada ikatan nano filler dan nano cluster sehingga mudah dipolis. Namun, dalam penelitian Walled et al menunjukkan bahwa flexural dan compressive strength SIK modifikasi resin nano tidak terlalu meningkat. Pada penelitian Petri et al (2006), kitosan dipakai untuk meningkatkan sifat mekanik SIK konvensional, menunjukkan bahwa semakin rendah persen berat kitosan bermolekul rendah yang ditambahkan kedalam SIK konvensional, maka sifat mekanik SIK konvensional semakin meningkat. Hal ini dikarenakan kitosan memiliki keuntungan berupa ikatan amina yang mengikat partikel hidroksi dari SIK modifikasi resin nano oleh ikatan hidrogen. Pada peningkatan persen berat kitosan, sifat mekanik SIK konvensional menjadi turun. Dalam penelitian ini, SIK modifikasi resin nano akan dimodifikasi dengan kitosan nano dari blangkas (molekul tinggi) dengan variasi persen berat yaitu 0.015% berat dan 0.45% berat. Dengan adanya penambahan nanofiller pada SIK modifikasi resin dan juga nano partikel dan ikatan amin dari kitosan, maka diharapkan penambahan kitosan nano dari blangkas (molekul tinggi) pada persen berat yang lebih rendah dapat meningkatkan compressive strength SIK modifikasi resin nano. 3.2 Hipotesa Penelitian Dari uraian diatas dapat dibuat hipotesa yaitu ada pengaruh penambahan kitosan nano dari blangkas terhadap compressive strength SIK modifikasi resin nano, semakin rendah persen berat kitosan nano dari blangkas yang ditambahkan kedalam SIK modifikasi resin nano, semakin tinggi compressive strength SIK modifikasi resin nano tersebut. BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Eksperimental Laboratorium Komparatif 4.2 Tempat dan Waktu Tempat : 1. Departemen Konservasi Fakultas Kedokteran Gigi USU 2. Laboratorium pusat penelitian FMIPA USU Waktu : 6 bulan 4.3 Sampel Penelitian Pada penelitian ini, disiapkan spesimen yang dicetak dalam mould berbahan poly tetrafluoro ethylene (PTFE) atau teflon, sesuai dengan penelitian Petri et al (2006).15 Ukuran spesimen untuk Restorative Treatment (ART) Approach For Managing Dental Caries. J International Dental 2006 ; 56 : 345-51 8. Koenraads H, G. Van Der Kroon, dkk. Compressive Strength Of Two Newly Developed Glass Ionomer Materials For Use With The Atraumatic Restorative Treatment (ART) Approach In Class II Cavities. J Elsevier 2009 ; 25 : 551 – 6 9. Cefaly DF, Terezinha de Jessus Esteves Barata, dkk. Clinical Evaluation Of Multisurface Art Restorations. J Appl Oral Sci 2005 ; 13(1) : 15-9 10. Barata TJ, Eduardo Bresciani, dkk. Comparisson Of Two Minimally Invasive Methods On The Longetivity of Glass Ionomer Cement Restorations : Short – Term Results of A Pilot Study. J Appl Oral Sci 2008 ; 16 (2) : 155 – 60 11. Philips RW. Science Of Dental Materials. 10th ed. Alih Bahasa. Johan Arief Budiman dan Susi Parwoko. Indonesia : EGC , 2004 : 449-55 12. Bresciani E, Barata T, dkk. Compressive and Diametrial Tensile Stregth Of Glass Ionomer Cements. J Appl Oral Sci 2004 ; 12 (4) : 344 – 8 Universitas Sumatera Utara 13. Mallmann A, Jane Clei Oliveira Ataide, dkk. Compressive Stregth Of Glass Ionomer Cements Using Different Specimen Dimensions. J Braz Oral Rez 2007 ; 21 : 204-8 14. Summit JB, J William, dkk. Fundamentals of Operative Dentistry. 3th ed. India : Quintessence 2006 : 225-49 15. Mikenautchs S and Grossman E S. Atraumatic Restorative Treatment (ART) – Factors Affecting Succsess. J Minim Interv Den 2008 ; 1 (2) : 96 - 100 16. Noort RV. Introduction To Dental Material. New York : Elsevier 2007 : 127 - 43 17. Aratani M, Antonio CP, dkk. Compressive strength of Resin Modified glass ionomer restorative matetial. J Appl Oral Sci 2005; 13 (4) :356-9 18. McCabe MF and Angus W.G Walls. Applied Dental Materials. 9th ed. Oxford : Blackwell Publishing Ltd, 2008 : 245-268 19. Upadya N, and Kishore G. Glass Ionomer Cement – The Different Generations. J Trends Biomater ; 18 (2) ; 158 – 65 20. Nicholson JW. Update On Glass Ionomer Cements. Shool Of Science University Of Greenwich. Dental Forum, 2005 : 73-79 21. Kolada G, Waszkiel D, dkk. The Effect of GIC Fuji IX on The Hard Tissues Of Teeth Treated by Sparing Methods ( ART and CMCR ). J Advances in Medical Sciences 2006 ; 51 : 139-41 22. Sturdevant‟s. Art and Sience of Operative Dentistry. 5th ed. India : Mosby, 2006 ; 563-5 23. Department of Health and Human Service. Dental Amalgam: A Scientific Review and Recommended Public Health Service Strategy for Research, Education and Regulation. Public Health Service, 1993 24. 3M ESPE. Ketac Molar EasyMix Glass Ionomer Filling Material. 25. Friedl KH. 2 Years of Conference, 2009 : 1-2 EQUIA - a Very Promising Filling Concept. IDS Press 26. Dental Health International Nederland. Manual for The ART Approach to Control Dental Caries. Harare, 1997 27. Charlton DG. Glass Ionomer Cement. Air Force Medical Service, 1994 Universitas Sumatera Utara 28. Nomoto R dan John Mc Cabe. Effect of Mixing Methods on The Compressive Strength of Glass Ionomer Cement. J of Dentistry. 2001 ; 29 : 205-10 29. C.K.Y. Yiu, F.R. Tay, dkk. Interaction Glass Ionomer Cement of with Moist Dentin. J of Dent Res. 2004 ; 83 (4) : 283 Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Alur Pikir  WHO (1990) merekomendasikan Atraumatic Restorative Treatment (ART) sebagai salah satu minimal intervensi pendekatan perawatan gigi dengan menyingkirkan jaringan karies menggunakan instrumen tangan diikuti dengan penempatan bahan restorasi adhesive GIC.1,3,8  Pada awalnya GIC konvensional yang digunakan dalam percobaan ART. Kemudian, secara khusus dikembangkan GIC yang high viscosity untuk penggunaan ART dan menggantikan yang konvensional. Perkembangan GIC selanjutnya difokuskan pada rasio powder : liquid yang lebih tinggi, dan partikel-partikel glass lebih kecil sehingga menghasilkan viskositas yang lebih tinggi.9  Ketac Molar Easymix merupakan extra highviscosity GIC dengan Dengan penambahan 25% ratio P/L lebih banyak dibanding high viscosity GIC yang berpengaruh terhadap sifat fisik bahan. Penambahan asam tartar pada liquid menambah viskositas serta mempercepat setting time bahan GIC.  GIC FUJI IX GP GCcorporation merupakan high viscosity GIC merupakan bahan yang telah mengalami perkembangan komposisi dan sifat-sifatnya dan terus mengalami perkembangan yang berkelanjutan  Holmgren et al (2000) menemukan hampir 90% dan 80% keberhasilan untuk restorasi ART Klass I dan Klas II meliputi dua atau lebih permukaan gigi  Souza et al (2003) menemukan tingkat ratarata keberhasilan restorasi Kelas II ART yang lebih tinggi pada gigi permanen daripada peneliti lainnya yang menggunakan GIC konvensional.9  Compressive dan tensile strength biasanya digunakan untuk menentukan sifat-sifat mekanis glass ionomer  Cefaly et al (2005) menyatakan pendekatan ART sangat sesuai dan efektif pada restorasi yang melibatkan dua atau lebih permukaan gigi selama lebih 6 dari bulan dengan menggunakan GIC hi density (Ketac Molar 3MESPE) dengan RMGIC (FUJI VIII GC), hal ini menunjukkan hasil yang baik dari teknik ART dengan kedua bahan.9  Van Hof MA et al (2006) menemukan daya tahan yang lebih tinggi pada gigi susu dan pergantian gigi permanen dalam restorasi ART permukaan tunggal yang menggunakan GIC high viscosity (dengan rentang 95% setelah satu tahun sampai 86% setelah tiga tahun).7  Bresciani dkk (2008) tidak menemukan perbedaan compressive strength yang signifikan antara Fuji IX dan Vitro Molar. Kedua bahan ini diindikasikan sebagai bahan restorasi ART.  Barata et al (2008) menyatakan metode preparasi kavitas ART dan chemomechanical terbukti cocok, efektif, dan diterima untuk restorasi GIC.10  Pendekatan ART secara tradisional menggunakan Glass Ionomer Cement (GIC) viskositas tinggi untuk merestorasi kavitas (Koenraads H et al, 2009).  Ketac Molar Easymix (3M ESPE) merupakan versi yang dikembangkan dari glass ionomer viskositas tinggi dengan meningkatkan rasio powder : liquid 25% dibandingkan dengan glass ionomer viskositas tinggi yang biasa digunakan (Koenraads et al, 2009)  Koenraads dkk (2009) tidak menemukan perbedaan compressive strength yang signifikan pada restorasi ART kelas II Glass Karbomer dan Ketac Molar dibandingkan dengan Fuji IX pada gigi molar . Universitas Sumatera Utara Karena Fuji IX dan Ketac Molar merupakan dua jenis GIC yang direkomendasikan untuk minimal preparasi cth : ART, maka perlu dilakukan penelitian compressive strength guna mengetahui sifat mekanis dari bahan tersebut dan membandingkannya diantara kedua bahan glass ionomer tersebut. PERMASALAHAN: Apakah ada perbedaan compressive strength pada restorasi minimal preparasi Kelas II dengan bahan menggunakan GIC extrahigh viscosity dan kelompok II menggunakan GIC high viscosity, yang merupakan bahan GIC yang banyak dipakai dokter gigi pada saat ini. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui perbedaan compressive strength pada restorasi minimal preparasi Kelas II dengan bahan menggunakan GIC extrahigh viscosity dan kelompok II menggunakan GIC high viscosity, yang merupakan bahan GIC yang banyak dipakai dokter gigi pada saat ini. JUDUL PENELITIAN Perbedaan compressive strength dari dua jenis Glass Ionomer Cement pada minimal preparasi kavitas kelas II sebagai pedekatan untuk Atraumatic Restorative Treatment ( Penelitian in vitro ) Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 : Kerangka penelitian 20 buah gigi premolar mandibula manusia Preparasi kavitas kelas II dengan prinsip minimal intervensi Kelompok I 10 gigi Restorasi dengan Ketac Molar Easymix (3M ESPE) Kelompok II 10 gigi Restorasi dengan FUJI IX GP GCcorporation Seluruh sampel disimpan dalam larutan saline selama 24 jam Proses thermocycling 200 putaran pada temperatur 5°C dan 55°C 30 detik pada tiap temperatur Uji kekuatan tekan menggunakan Torsee‟s Universal Testing Machine Pencatatan hasil dari alat pencatat grafik Analisa Data Universitas Sumatera Utara Lampiran 3 : Hasil Uji Distribusi dengan Kolmogorov-Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test KetacMolar N Normal Parameters(a,b) Most Extreme Differences FUJI 10 10 Mean 1304.2232 1238.5240 Std. Deviation 577.39140 475.80181 .214 .203 Absolute Positive .214 .154 Negative -.120 -.203 Kolmogorov-Smirnov Z .678 .641 Asymp. Sig. (2-tailed) .748 .806 a Test distribution is Normal. b Calculated from data. Universitas Sumatera Utara Lampiran 4 : Hasil Uji statistic t-test berpasangan T - Test Paired Samples Statistics Pair 1 Mean 1304.2232 1238.5240 KetacMolar FUJI N 10 10 Std. Error Mean 182.58719 150.46174 Std. Deviation 577.39140 475.80181 Paired Samples Correlations N Pair 1 KetacMolar & FUJI 10 Correlation .107 Sig. .769 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Mean Pair 1 KetacMolar – FUJI 65.69920 Std. Deviation Std. Error Mean 707.92887 223.86677 Lower Upper 440.72261 572.12101 t df .293 Sig. (2-tailed) 9 Universitas Sumatera Utara .776
Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro).
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro).

Gratis