Meunasah: Suatu Etnografi Tentang Sosial Keagamaan Masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Paya Bakong Gampong Tanjong Beurunyong, Nanggroe Aceh Darussalam

Gratis

6
84
99
2 years ago
Preview
Full text

UCAPAN TERIMA KASIH

  selakuDosen Pembimbing saya, yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing saya selama dari proses penyusunan proposal sampaipenulisan skripsi ini selesai, terima kasih atas bekal ilmu yang sangat berharga yang telah Bapak berikan kepada saya, semoga apa yang telah Bapak berikankepada saya mendapat balasan dari Allah SWT. Kepada masyarakat gampong tanjong Beurunyong, khususnya keluargaPak Syamsarif, Bu Mala, Shik Aziz, Pak Irwansyah, Pak Ali, Bu Maryam dan PakRusli, serta teman-teman se-Meunasah Tanjong Beurunyong, atas segala keramahan, dan murah hati yang telah memberi saya izin untuk tinggal beberapawaktu serta kerjasamanya sehingga penelitian skripsi ini dapat di selesaikan.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Beragama Islam, AnakPertama dari Empat bersaudara dari pasangan ayahanda bernama Azwir dan ibunda bernama Tehdi S. Pendidikan pendidikan formal penulis; SDMuhammadiah 12 Medan (1994-2000), SLTP Negeri 30 Medan (2000-2003), SMA Negeri 12 Medan; Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara (2006-2012).

KATA PENGANTAR

  Dalam skripsi ini peneliti akan memaparkan bagaimana pentingnya keberadaan meunasah dalam sebuah gampong dan segala aktifitas masyarakatyang berada di lingkungan meunasah. Penelitian ini juga akan menjelaskan bagaimana meunasah tidak hanya sebagai tempat pemenuhan kebutuhan religi (agama) khususnya Islam di Aceh, tetapi juga Akhirnya, peneliti berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR ISTILAH

  Wawancara mendalam, dan wawancara sambil lalu jugadigunakan, untuk lebih lebih mengerti tentang kehidupan masyarakat di lokasi penelitian dan mendapatkan pengertian dan penjelasan yang lebih mendalam. Hasil penelitian menjelaskan bahwa keberadaan meunasah merupakan bagian dalam sistem sosial dan budaya bagi masyarakat Aceh yang umumnyaberagama Islam tidak dapat dipisahkan dari keberadaan meunasah yang memiliki fungsi penting dalam kebudayaan mereka.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Asal kata meunasah berasal dari kata madrasah pada tempo dulu

  Untuk mengelola meunasahdiangkat seorang keuchik dan seorang wakilnya, empat tuha peut, dan satu orang imuem rawatib, maka pekerjaan sekalian merekaitu yang tersebut, yaitu mengerjakan amar makruf nahi mungkar, dan mengurus hal rakyat dengan adil pada tempatnya masingmasing atas pekerjaan yang kebajikan”. Pada meunasah-meunasah yang memiliki halaman yang cukup luas, masyarakat menggunakan halaman tersebut sebagai tempat menjemurhasil-hasil pertanian seperti kakao (coklat), padi dan kopi sehingga terkadang transaksi antara petani dan muge (pengumpul/agen), sedangkan pada daerah yangmerupakan daerah tujuan wisata meunasah juga menjadi tempat menginap bagi tamu.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini bagaimana keberadaan meunasah sebagai salah satu unsurdari sistem sosial budaya masyarakat Aceh? Permasalahan ini diuraikan ke dalam lima pertanyaan penelitian yakni:

1. Sejak kapan meunasah ada dalam kehidupan masyarakat Aceh? 2

  Apa fungsi meunasah yang berubah dari sebelumnya? Bagaimana meunasah menjadi bagian penting dalam sosial religi masyarakat Aceh?

1.3. Lokasi Penelitian

  Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuatkebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat Aceh ataupun yang berhubungan dengan meunasah. Suatu gampong mempunyai meunasah sebagai tempat pertemuan atau musyawarah yangberhubungan dengan kesejahteraan desa (www.serambinews.com) Meunasah sangat terikat dengan kehidupan gampong, karena gampong sendiri merupakan unit persekutuan masyarakat hukum yang menurutVallenhoven dapat dimanfaatkan untuk mengetahui hukum, menyelidiki sifat dan susunan badan-badan persekutuan hukum, dimana dalam kehidupan sehari-harimasyarakat dikuasai oleh hukum (www.acehforum.or.id).

1. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial pada tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh tingkah laku manusia dan pranata sosial dalam masyarakat

  Meunasah sebagai sebuah lembaga sosial dalam sebuah gampong dapat mempengaruhi tingkah laku masyarakat yang terdapat di lokasi, dan bagaimana arti meunasah bagi masyarakat yang diteliti di lokasi penelitian. Dalam teorinya fungsi tersebut kemudian menjadi kebutuhan, dalam permasalahan penelitan, peneliti ingin menjelaskan bagaimana fungsi meunasahberintegrasi tidak hanya pada kebutuhan akan adanya lembaga agama, tetapi kemudian mencakup juga sebagai lembaga sosial, hukum, pendidikan di dalammasyarakat yang berlangsung dalam sistem kelembagaan masyarakat gampong yang terjadi di lokasi penelitian.

1.6. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat desktriptif

  Untuk menemui teuku imeum yaitu Tengku Ali, terdapat kendala karena tengku biasa hanya terlihat pada saat sholat Magrib di meunasah dan langsung kembali setelah Isya, dan tidak datang setiap hari, karena rumahnya berada di Pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara yang dibantu dengan alat perekam dan dituangkan dalam catatan lapangan. Data yang dikumpulkan juga di sesuaikan dengandata tulisan dan literatur dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan tema Data literatur tersebut digunakan sebelum dan sesudah berada di lapangan.

2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Gampong Tanjong Beurunyong

2.1.1. Sejarah Gampong Tanjong Beurunyong

  Sejarah terjadinya gampong secara umum adalah suatu ketika beberapa dekade yang silam, datang sekelompok orang dari beberapa daerah,dikarenakan pada masa itu daerah tersebut tidak memiliki penghuni maka para pendatang baru tersebut membuka daerah dan menjadikan tempat pemukiman. Menurut Syamsarif (informan) , para pembuka dan pendatang gampong ini berasal dari gampong-gampong yang ada di sekitar Tanjong Beurunyong, bahkanada yang berasal dari Aceh Tengah.

2.1.2. Kondisi Geografis Gampong Tanjong Beurunyong

  Gampong Tanjong Beurunyong merupakan salah satu dari 39 gampong yang terletak di Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara yang berjarak0,3 Km dari pusat kecamatan. Akses menuju Kecamatan Paya Bakong maupun gampong hanya dapat dilakukan melalui kendaraan pribadi (sepeda motor, mobil, dan lain-lain), hal Kendaraan umum hanya tersedia sampai pada jalan lintas Sumatera KotaLhoksukon, kemudian dilanjutkan dengan RBT atau Ojek yang biasa ditemui di setiap persimpangan jalan.

2.1.3. Jumlah Penduduk

  Banyak dari keluarga-keluarga yang memiliki anak lebih dari dua,dan biasanya jumlah anak laki-laki lebih mendominasi, bahkan ada beberapa keluarga yang memiliki anak dua atau tiga yang semuanya laki-laki. Adat istiadatmasyarakat Aceh dimana pengantin yang baru menikah tinggal dan dan menetap di sekitar wilayah keluarga istri sehingga menambah jumlah penduduk laki-lakiyang ada di Gampong Tanjong Beurunyong.

2.1.4. Pendidikan

  Terdapat beberapaSekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Paya Bakong sendiri, Keterangan di atas menjelaskan bahwa sangat sedikit masyarakat yang mendapat pendidikan formal non-agama, masyarakat lebih cendrung untukmemberikan pendidikan agama pada anak dari pada pendidikan formal non- agama. Anak-anak yang memilih untuk melanjut di dayah akan tinggal dan menetap di dayah selama pendidikan mereka, dan kembali ke rumah ketika liburan semester atau selama bulan Ramadhan.

2.1.5. Mata Pencaharian

  Selain itu untuk para penduduk yang memiliki mata pencaharian ganda, petani yang memang khusus di dalam Terkait dengan pertanian di Aceh termaksud di Gampong Tanjong Beurunyong ada juga aturan untuk membayar zakat dari hasil pertanian yang ada. Masyarakat yang telah memiliki pencaharian yang lebih baik dan memiliki keahlian tertentu, lebih memilih menetap di luar gampong, karena minimnyakesempatan di dalam gampong sendiri.

2.1.6. Kesehatan

  Posyandu tersebut hanya merupakan tempat dilaksanakan pemeriksaan bulanan yang dilakukan oleh bidandesa yang datang setiap bulan untuk memeriksa perkembangan kesehatan khususnya anak bayi, balita dan ibu hamil di seluruh gampong. Dahulu terdapat klinik kesehatan di Kecamatan Paya Bakong yang dibangun oleh perusahaan Exxon Mobil, tetapi pada masa kerusuhan GAM(Gerakan Aceh Merdeka) sekitar awal tahun 2000-an rumah sakit tersebut mengalami kebakaran dan tidak di bangun kembali.

2.1.7. Peribadatan

  Dalam setiap gampong di Aceh umumnya terdapat satu buah meunasah, begitu pula dengan Gampong Tanjong Beurunyong. Selain itu terdapat kegiatan-kegiatan rutin lain yang biasa dilakukan di BulanRamadhan seperti Tarawih setelah Isya, dan tadarus yang dimulai dari sehabis Tarawih, sampai waktu sahur atau sekitar pukul 3.00 WIB.

2.2. Sarana dan Prasarana Gampong Tanjong Beurunyong

  Fasilitas sosial yang tersedia di Gampong Tanjong Beurunyong sangat ninim, hanya tersedia satu meunasah sebagai pusat aktifitas keagaamaan dansosial di gampong, dan tidak ada balai gampong dan kantor keuchik. Jalan ini punmasih merupakan jalan berbatu yang tidak rata dan tidak terlalu lebar, jalan ini hanya dapat dilalui oleh sebuah mobil, dan sangat sulit jika mobil berpapasandengan mobil lain untuk lewat.

2.3. Stratifikasi Sosial

  Dari 75 KK yang ada, 52 diantaranya merupakan keluarga kurang mampu yang sebagian besar hidup dari lapanganpekerjaan di bidang pertanian, sisanya 20 KK merupakan keluarga sederhana, dan hanya 3 (tiga) diantaranya yang merupakan keluarga mampu (RPJM, 2009-2013). Gelar-gelar keagamaan seperti: tengku, syekh, ustad, diberikan kepada seseorang yang dianggap memiliki ilmu agama yang lebih dan kepada guru-guru mengaji.

2.4. Pola Pemukiman

  Sedangkan daerah di sekeliling gampong hanyadaerah persawahan, dan ladang yang dimiliki masyarakat. Pola menetap matrilokal di Aceh mengikuti adat dan hukum lokal yang mengatur tentang status suami maupun istri dalam keluarga.

2.5. Sistem Pemerintahan

  Tuha peut biasanya terdiri dari beberapa orang yang dipilih, yang dituakan dan dianggap cukup mampu untuk mewakili masyarakatyang ada di dalam gampong atau mukim. Teuku imeum meunasah saat ini yaitu Tengku Ali merupakan pengganti imeum yang meninggal pada tahun 2010, yang dipilih oleh masyarakat melalui musyawarah agar aktifitas dan kepengurusan meunasah tetap berjalan.

BAB II I PROFIL MEUNASAH

3.1. Sejarah dan Arti Meunasah Bagi Masyarakat Aceh

  Beberapa fenomena yang nampak di masyarakat Aceh, terdapat kebiasaan menyanyikan ratéb saman, (ratib samman sesuai dengan nama wali yang hidupbeberapa abad lalu di Madinah), juga pemukulan tambô secara ritmis dan Kelima, menurut Hourtje (1985) , meunasah juga berfungsi sebagai tempat pelaksanaan akad nikah (perkawinan). Mendukung pendapat tersebut menurutGani dalam (Djalil,2011), meunasah juga berfungsi sebagaimana Kantor UrusanAgama, yaitu berfungsi sebagai lembaga nikah dan ruju’, hal itu dimungkinkan karena persoalan kesediaan Teungku Meunasah dan persetujuan Keuchik tentangperlunya kelembagaan nikah/ruju’/fasakh di gampông, agar tidak perlu lagi keKUA yang tempatnya lebih jauh, maka dapat memanfaatkan meunasah sebagai sekaligus fungsi lembaga KUA.

3.2. Arsitektur Meunasah

  Di bagian depan meunasah kadang-kadangdilengkapi dengan beranda yang agak rendah yang sering dipakai sebagai tempat meunasah memiliki fungsi terbuka, karena selalu ada orang yang singgah dan duduk berlama-lama dan menjadikan meunasah sebagai pusat komunikasi sosial yang efektif yang bersifat informal dalam masyarakat Aceh. Air ini ditarik dengan menggunakan pompa air, untuk menarik yang berasal dari sumur yang berada didepan bak penampung air, sedangkan sumur yang kedua berada di bagian belakang dan terdapat diantara WC umum (toilet) yang ada di belakang.

3.3. Kepengurusan Meunasah Tanjong Beurunyong

  Dalam keseharian kepengurusan di meunasah dipimpin oleh Imeum Meunasah, seperti yang telah di jelaskan pada bab dua Imeum Meunasah atau yang biasa dipanggil Teuku Imeum adalah seorang ahli agama yang dipilih Imeum dilakukan oleh Camat setempat. Imeum Meunasah dan Keuchik merupakan dua bagian yang tidak dapat di pisahkan dalam banyak kelembagaan meunasah di Aceh, haltersebut juga dapat dilihat di Meunasah Tanjong Beureunyong.

3.4. Hari-hari Besar di Meunasah Tanjong Beurunyong

  Hidangan yang disiapkan biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu hidangan ringan untuk berbuka, umumnya merupakan kue-kue dan makanan yang rasanya manis, dan hidangan berat untuk makan malam bersama yang biasanyaberupa masakan gulai daging dan nasi. Menurut Samsyarif dan Nurmala(Informan), kegiatan ini biasanya diawali dengan kata-kata sambutan dari Keuchik, dan Teuku Imeum, kemudian pembacaan ayat Al-Quran, Zikir, dan doa yang dipimpin oleh teuku imeum, dan dilanjutkan dengan pembagian pulut bakar kepada seluruh undangan dan orang yang hadir.

BAB 1V FUNGSI MEUNASAH

4.1. Adat dan Hukum

  Bagi masyarakat Aceh sendiri Islam sudah merupakan bagian dari adatdan pedoman hukum yang tidak dapat di pisahkan satu sama lain. Di Aceh sendiri terdapat banyak kebiasaan dan adat istiadat yang menurut Pak Nga dan Raja Itam(Priatomo, 2010:52) dikategorikan menjadi empat yaitu: 1.

2. Adat muhakamah, yaitu adat istiadat yang di tetapkan oleh masyarakat dengan mufakat atau musyawarah, namun tidak bertentangan dengan hukum Islam

  Jika permasalahan ini bisa diselesaikan hanya dengan peringatan dan nasehat maka hanya Keuchik yang turun tangan, namun jika permasalahan dianggap besar dan tidak dapat di selesaikan dengan nasehatmaka Keuchik akan menyelesaikan dengan musyawarah dengan Imeum Meunasah, dan Tuha Peut. Ulama, cendikiawan, atau tokoh adat lainnya di gampong yang bersangkutan atau sesuai dengan kebutuhan Kasus yang pernah terjadi Gampong Tanjong Beureunyong ialah pada tahun 2009, saat itu telah terjadi kontak fisik antara dua orang warga hingga salahsatu melukai warga lainnya hingga mengeluarkan darah, dan hal ini kemudian dilaporkan kepada Keuchik.

4.2. Program dan Kebijakan yang berkaitan dengan Meunasah

  Program-program berskala nasional seperti Posyandu, PKK, dimana program ini di berlakukan sampai ke desa-desa seluruh Indonesia membutuhkansebuah tempat berkumpul, musyawarah dan mejalankan programnya. Mala istri dari Keuchik yang juga ketua PKK Tanjong Beureunyong juga memanfaatkan meunasah tersebut sebagai Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) pada tahun 2009 sebagai bentuk kegiatan PKK dalam bidang pendidikan, tetapi program tersebut tidak berjalan lama karena kurangnya biaya dan minat darimasyarakat setempat.

4.3. Fungsi Meunasah Tanjong Beurunyong

  Hal yang hampir sama juga di ungkap Ismail yang berpendapat bahwa meunasah mempunyai berbagai fungsi praktis pada masa dahulu; antaralain: 1) Lembaga musyawarah; 2) Lembaga pendidikan dan pengajian; 3)Lembaga ibadah (shalat/ibadah lainnya); 4) Lembaga hiburan dan kesenian, 5) Asah terampil (asah otak) meucabang (catur tradisional Aceh) sambil diskusi. Meunasahmerupakan tempat dimana masyarakat melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah dan religi yang berhubungan dengan kepercayaannnya sebagai umat Islam.

4.3.1. Meunasah sebagai Tempat Meunasah Sebagai Tempat Sholat

  Pada bulan Ramadhan sholat dipimpin oleh panitia Ramadhan yang bertugas yang telah ditetapkan melalui musyawarah penyambutan bulanRamadhan yang ditentukan oleh Keuchik dan para pemuka desa. Meunasah biasanya sama dengan musholla, begitu juga dengan meunasah Tanjong Beurunyong, oleh karena itu untuk sholat Jum’at yang khusus diperuntukkan untuk laki-laki tidak dilakukan di meunasah karena umumnya meunasah di Kecamatan Paya Bakong berukuran lebih kecil dari pada mesjid.

4.3.2. Meunasah sebagai Tempat Mengaji

  Banyak dari anak-anak ini yang dibawa balee-balee pengajian atau ke tempat tengku-tengku yang mengajarkan tentang membaca Alquran dan agamaIslam, bahkan ada cukup banyak yang untuk pendidikan formal anak-anak ini orang tua lebih memilih memasukkan anak-anak mereka ke Madrasah Ibtidaiah,atau dayah daripada sekolah dasar biasa, karena dianggap sekolah jenis ini lebih mampu member ilmu agama daripada sekolah dasar biasa. Pengajian Biasanya dari setiap kalimat yang dijelaskan para makmum, atau jamaah yang mendengarkan akan bertanya lebih lanjut tentang masalah yang dibahas di sela-sela setiap pembahasan tentang.permasalahan tersebut.sehingga pengajian ini lebih seperti diskusi.

4.3.3. Khauri ( Kenduri )

  Sedangkan kenduri yang dilakukan pada hari besar seperti Nuzulul Qur’an lebih pada kegiatan perjamuan bersamadengan banyak masyarakat yang membawa jamuan, dan dimakan bersama saat berbuka puasa. Kenduri dan buka bersama pada perayaan Nuzulul Qur’anSelain kenduri yang dilakukan di meunasah, masyarakat Gampong Tanjong Beureunyong juga biasa melakukan kenduri Jrat (kuburan), kenduri ini dilakukan khusus untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

4.3.4. Meunasah sebagai Tempat Berkumpul dan Balai Serba Guna

  Meunasah tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat dimana masyarakat menjalankan ibadah dan hubunngannya terhadap tuhan, tetapi juga memiliki fungsi lain sebagai tempat manusia menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Meunasah juga merupakan tempat dimana masyarakat salling berhubungan dan bertemu pada saat-saat tertentu.

4.3.4.1. Meunasah sebagai Tempat Musyawarah dan Mufakat

  Meunasah merupakan tempat dimana para pemuka gampong berkumpul dan bermusyawarahdalam membahas hal-hal yang berhubungan dengan gampong. Keuchik saat ini, Syamsarif dan beberapa penduduk gampong yang biasa mengikuti shalat Magrib berjamaah, biasanya tidak langsung pulang ke rumah setiap selesai shalat dan berdoa selesai Magrib.

4.3.4.2. Meunasah Tempat Menginap Laki-Laki Lajang

  Mereka juga membantu di dapur memasang api atau menggilingbumbu…” Anak laki-laki sejak usia dini telah diterapkan untuk hidup di luar rumah, sejak usia dini mereka telah belajar mengaji, kemudian di khitan dengan harapan Kebiasaan menginap di Meunasah Tanjong Beureunyong pun sudah mulai berkurang. Syamsarif selaku Keuchik tidak terlalu menyukai para pemuda yang menginap dan tidur di meunasah saat ini, karena menurutnya mereka adakalanya sesuka hati menggunakan karpet untuk sholat sebagai alas tidur mereka, dan juga para pemuda ini sangat susah dibanguni untuk shalat subuh.

4.3.4.3. PKK, Posyandu, dan PAUD

  PKK (Pembangunan Kesejahtraan Keluarga) adalah salah satu program pemerintah yang pertama kali ibu Isriati Moenadi sebagai isteri Gubernur JawaTengah pada tahun 1967 sebagai gerakan masyarakat yang bertujuan“mewujudkan kesejahteraan keluarga, atas kesadaran dan kemampuan keluarga itu sendiri”. Gotong royong yang dilakukan di meunasah Meunasah merupakan tempat berkumpul masyarakat hampir dalam segala kegiatan, baik itu kegiatan keagamaan, sosial, maupun dalam peristiwa sehari- hari.

4.4. Perubahan di Gampong Tanjong Beurunyong

  Banyak juga dari mereka yang tinggal dan menetap di daerah perantauan jika dia telah memiliki tempat tinggal sendiri dan menikah dengan Azis (Informan) misalnya pria paruh baya yang memiliki tujuh anak yang lima diantaranya adalah laki-laki, menyatakan kelima anaknya pernah merantau,empat diantaranya pernah bekerja di Medan dan yang satu saat ini bekerja dan tinggal di Takengon. Syamsarifselaku Keuchik sendiri tidak terlalu mengukai pemuda yang menginap di meunasah ini, khususnya jika pemuda itu tidak bangun saat Subuh dan tidak menjaga dan merapikan barang-barang seperti sejadah dan karpet yang biasa digunakan pemuda-pemuda ini sebagai alas tidur mereka.

BAB V KESIMPULAN Nanggroe Aceh Darussalam sebagai sebuah bagian dari negara Indonesia

  Besar dan Pesatnya perkembangan Agama Islam di Aceh tidak luput dari perhatian raja-raja atausultan pada masa kerajaan Islam dahulu pada penerapan hukum dan pendidikan yang sesuai dengan hukum dan syariat Islam. Untuk daerah yang masih tradisional dan sederana, meunasah juga merupakan tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan Pertanyaan ketiga dapat dijelaskan bahwa fungsi meunasah sendiri bagi masyarakat Aceh, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemanfaatan meunasah di setiap gampong berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan gampong itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  Priyatomo, Iskandar Eko 2010 Peran Keuchik dalam Revitalisasi Gampong di Aceh Besar, Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Hukum UGM Tripa, Sulaiman Meunasah Ruang Serba Guna Masyarakat Aceh (artikel), http://www.acehinstitute.org/index.php?option=com_conte nt&view=article&id=293:islam-lokal-dan-kekuasaan-&catid=74:paradigma-islam (diunduh 4 Februari 2012) Zulfah 2009 Kedudukan Meunasah dan Mesjid dalam Sistem Sosial Masyarakat Aceh.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Hubungan Dukungan Suami Terhadap Pemilihan Kontrasepsi Implan di Puskesmas Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara
2
54
65
Meunasah: Suatu Etnografi Tentang Sosial Keagamaan Masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Paya Bakong Gampong Tanjong Beurunyong, Nanggroe Aceh Darussalam
6
84
99
Tari Saman Atraksi Wisata Unggulan Di Kabupaten Aceh Tengah Nanggroe Aceh Darussalam
0
51
45
Sistem Pengelolaan Air Bersih di Rumah sakit Umum Daerah Langsa Kabupaten Aceh Timur Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
2
39
70
Pengunaan Jenis Kayu Perumahan Bantuan Tsunami di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam
1
23
62
Prevalensi Kebutaan Akibat Katarak Di Kabupaten Aceh Besar Nanggroe Aceh Darussalam
0
37
53
Perawatan Hipertensi oleh Keluarga Suku Aceh di Gampong Arafah Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan
0
28
85
Pengaruh Praktik Hidup Bersih Dan Sehat Terhadap Status Gizi Balita Di Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
1
29
101
Analisa Prospek Pedagang Keripik Pisang Terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Desa Pulo Ara Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Keumpa Biruen Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
0
32
95
Analisis Masalah Kemiskinan Nelayan Tradisional Di Desa Padang Panjang Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
4
53
173
Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada Program Pembangunan Gampong (PPG) Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara
0
55
109
Pengaruh Karakteristik Masyarakat Terhadap Utilisasi Puskesmas Di Kabupaten Bireuen Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007
2
27
97
StudiKualitasPerairanSebagaiPengembanganBudidayaIkan di Sungai KeureutoKecamatanLhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, ProvinsiNanggroe Aceh Darussalam
1
56
84
PERAN LEMBAGA ADAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN GAMPONG (Studi Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Gampong Gegarang, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam)
2
24
29
Implementasi Kebijakan Administrasi Kependudukan di Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
0
0
13
Show more