Reminiscing Nature

 0  15  92  2017-04-13 18:14:23 Report infringing document
Informasi dokumen

ABSTRAK

ABSTRAK Istana Maimun merupakan sebuah bangunan bersejarah yang juga disebut sebagai salah satu identitas kota Medan. Istana Maimun adalah sebuah kebanggaan, dan simbolkekuasaan Kesultanan Deli pada masa kejayaannya, namun sangat disayangkan, kondisi kompleks Istana Maimun kini sangat memilukan dan terlihat tidak terawat dengan baik.Kompleks istana yang seharusnya agung, sakral, dan megah, kini dikelilingi oleh permukiman kumuh tepat dibelakang istana, serta warung-warung dan floris yangmerusak esensi sebuah kompleks istana pada umumnya. Selain itu, sungai yang berlokasi tepat dibelakang istana, yang berpotensi dijadikan kawasan muka sungai malah dipakaisebagai tempat pembuangan limbah dan sampah permukiman di belakang istana.Sebuah tindakan yang harus segera diambil adalah revitalisasi yang melibatkan seluruh kompleks Istana Maimun. Relokasi penduduk permukiman di belakang istana yangmerupakan keluarga Kesultanan serta sterilisasi warung-warung dan floris yang kemudian digantikan dengan sebuah bangunan hotel butik dan apartemen serta pengadaan ruangpublik sebagai pemanfaatan daerah muka sungai diharapkan mampu mendongkrak kembali kejayaan dan kemegahan kompleks istana yang mampu menjadi potensi untuk urban heritage tourism di Kota Medan. Revitalisasi yang diadakan tentunya menggunakan sebuah tema yang diharapkan menjadi penghubung antara keberadaan sungai dan Istana Maimun. Adapun tema yang diangkat untuk mengadakan revitalisasimelalui rancangan arsitektural adalah tema arsitektur organik.Perancangan hotel butik dan apartemen serta ruang publik yang menggunakan tema organik kemudian menghasilkan bangunan-bangunan yang benar-benar menghubungkanaspek ruang luar dan dalam, bangunan-bangunan dengan bentukan massa yang tentunya organik, serta ruang publik yang mampu menarik para pengunjung untuk lebih sadarlingkungan. Melalui revitalisasi ini, perancang berharap agar keluarga Kesultanan dan bahkan penduduk Kota Medan mampu menyadari pentingnya keberadaan sungai yangmempengaruhi keberlangsungan hidup kota ini, serta Istana yang menyimpan nilai budaya dan sejarah yang berharga. Kata kunci: air, fluiditas, ruang publik, sungai, istana, apartemen, hotel butik. ABSTRACT Maimun Palace is a historical building often associated with the identity of Medan City. Maimun Palace is the pride and the symbol of authority of the Deli Sultanate in its gloirous days back then. In the present, the palace has lost its charm and seems like it isnot well maintained. The palace complex which should be seen as a glorious, sacred, and great place, now surrounded by slum areas directly behind the palace, hawkers and evenflorists that ruin the essence of a palace complex in particular. The river that is located behind the palace, which has potential to be a good riverfront area is also neglected by thepeople and is used as the waste and garbage area of the slums.An act that should be promptly taken is a revitalization which involve the whole MaimunPalace complex. Relocation of slum inhabitants which are the Sultanate's relatives as well as the sterilization of the hawkers and florists which area will then be developed as aboutique hotel and an apartment with a public space on the riverfront area is hoped to be able to bring back the glorious and great days of the palace, thus becoming a great assetof Medan City urban heritage tourism. The revitalization project will be using an architectural theme/style that connects the palace and the presence of the river, which isorganic architecture.The design of the boutique hotel and apartment as well as the public space using organic architecture will produce buildings that connects outdoor and indoor spaces, buildingswith organic mass forms, and a public space that builds people awareness of the environment. Through this revitalization, it is hoped that the relatives of the Sultanate andeven the people of the city could realize how important the presence of the river is, which affects the well-being of the city, and the presence of Maimun Palace, which holdspriceless historical and culture values.Keywords: water, fluidity, public space, river, palace, apartement, boutique hotel. Runs Through It serta sub-tema berupa Urban Heritage Tourism sebenarnya pada awalnya telah menarik perhatian perancang, terlebih pada sub-tema tersebut. Perancang sangat menyukai dan menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan tourism dan merasabahwa kota Medan sebenarnya memiliki banyak sekali aspek-aspek dan lokasi-lokasi yang begitu “menjual” dan bisa dijadikan sebagain titik tourism yang mampu berhasil danmenarik banyak sekali pengunjung serta wisatawan. Sebagai titik awal pengerjaan proyek, maka terpilihlah lokasi yang begitu menarik menurut perancang, yaitu kompleksIstana Maimun. Pada awalnya, ketika disebutkan kawasan yang berupa Istana Maimun, perancang langsung beranggapan bahwa akan ada sebuah jalur besar dari depan menuju belakangyang hendak dibuat sangat megah dan mewah – inilah titik awal dari pemilihan tema perancang, bahkan sebelum perancang mengunjungi site tersebut. Proses pencarian tematerus menerus berlanjut berangsur dengan banyaknya studi kasus dan studi banding yang dilakukan oleh perancang terhadap proyek-proyek sejenis. Perancang memperolehbeberapa proyek yang cukup mirip dengan apa yang hendak dirancang dan melihat bahwa cukup banyak hal yang bisa dieksplorasi selain dari kemewahan serta kemegahan sebuahproyek. Ide holistik ini juga diterapkan dan dimanfaatkan oleh perancang guna menciptakan sesuatu yang memang benar-benar utuh - dan ternyata hal ini pula didukung oleh temaataupun pendekatan arsitektural yang diangkat oleh perancang. Maka dari itu, perancang, ketika telah memantapkan tema dan pendekatan arsitektural, kembali meninjau ulangsetiap hal yang telah dilakukan beberapa minggu sebelumnya, yaitu bagaimana proses pengumpulan atau inventarisasi data berlangsung, sehingga data tersebut mampumendukung proses perancangan seutuhnya. Dimulai dari bagaimana perancang memasuki kawasan Istana Maimun, banyak hal yang sudah tersaring menjadi bagian-bagian data yang hendak perancang pakai dan telusuri Gambar 2.1 - Kondisi Istana Maimun kini. Terlihat tua, tidak terawat, dengan begitu banyak sisi dari Istana Maimun tersebut seakan- akan "meminta tolong" untuk diperbaiki, dan diperhatikan lebih, perancang berpikir danmenyadari bagaimana indahnya Istana Maimun ini bisa terlihat bila revitalisasi tersebut diadakan dengan baik dan benar (Gambar 2.1). Sebagaimana tercatat oleh Sinar (1991),Istana Maimun sendiri telah dibangun sekitar tahun 1888 pada masa kesultanan TuankuSultan Makmun Alrasyid Perkasa Alamsyah, dan mulai ditempati pada tahun 1891(Gambar 2.2). Terjadi begitu banyak perubahan terhadap Istana Maimun yang dirasa oleh perancang menjadi satu hal yang tidak begitu baik. Sebut saja bagaimana adanyabeberapa penambahan dinding pada koridor terbuka di sekeliling bangunan yang berfungsi pada awalnya untuk pemberi daerah bayang-bayang pada ruang didalamkoridor tersebut. Nyata terlihat pada saat ini, oleh karena digunakan untuk kepentingan pribadi (kediaman), dan meskipun merupakan hak mereka, keindahan pendekatan Gambar 2.2 - Istana Maimun pada tahun 1925. (SUMBER : Tropenmuseum, Amsterdam) Istana Maimun, menurut perancang mengambil konsep yang cukup baik untuk menggabungkan beberapa gaya arsitektur, yang mana yang paling kental terlihat adalahpenggabungan arsitektur Melayu (melalui pemilihan atap, dan ornamen busur pada balkon lantai atas) dan Islam (penggunaan langgam busur), serta sentuhan arsitekturkolonial pada lantai bawah dengan adanya kolom batu bata, dan dinding yang tebal. Hal ini cukup menarik, melihat adanya penggunaan atap tradisional diatas bangunan yangterlihat modern. Penulis mengingat "kecerdikan" arsitektur Istana Kerajaan Siam, Phra Thinang Chakri Maha Prasat, yang dibangun oleh Rama V dan selesai pada tahun 1890. Gambar 2.3 - Phra Thinang Chakri Maha Prasat Kecerdikan tersebut adalah dengan menggunakan arsitektur Eropa sebagai bagian dari Pendekatan tersebut juga ternyata tersirat pada pendekatan arsitektur yang dilakukan padaIstana Maimun - penggunaan elemen Melayu pada atap dan ornamen pada bagian atas bangunan yang duduk diatas penggunaan arsitektur kolonial. Hal inilah yang membuatperancang sangat menikmati gambaran yang terbentuk dari istana tersebut. Oleh karena itu, perancang hendak menggunakan pula unsur-unsur yang terdapat pada pendekatanarsitektur yang digunakan oleh Istana Maimun (bukan menggunakan pendekatan gaya arsitektur yang sama), yaitu unsur-unsur berupa elemen seperti kayu, ataupunpenggunaan unsur berupa langgam, yaitu pengulangan pola yang unik pada bagian fasad bangunan (Gambar 2.2). Beranjak dari bagian luar Istana tersebut, perancang melihat betapa menyedihkannya perawatan yang dilakukan dalam bangunan istana tersebut - bagian yang tentunya bisadiakses oleh perancang, yang disebabkan oleh batasan yang diberikan oleh pihak keluargaSultan - yang kemudian pula dirasa sangat mengurangi kualitas kunjungan, dan juga telah menggambarkan bagaimana pihak kesultanan merawat bagian dalam bangunan yangtidak bisa diakses oleh pengunjung. Terdapat beberapa titik yang dirasa mampu dimaksimalkan sebagai fungsi lain seperti galeri ataupun tempat dimana ada penjelasanmengenai istana yang bisa dinikmati dalam bentuk bacaan atau secara lisan, namun, yang terlihat hanyalah titik-titik peletakan barang peninggalan yang sangat "sedikit" dan juga Gambar 2.4 - Kondisi kompleks Istana Maimun dengan fungsi warung, parkir bus, floris. Hal ini menunjukkan adanya sikap profit-oriented yang tidak dibarengi oleh kelayakan untuk memperoleh keuntungan tersebut - yang pula dapat sering dijumpai diseluruhkompleks Istana Maimun itu sendiri, sebut saja warung dan floris (?) serta lokasi parkir bus pariwisata yang sangat aneh dan mampu dipertanyakan letaknya dan tentunya sangatmengurangi kualitas ruang luar istana (Gambar 2.4). Hal "memilukan" lainnya yang mungkin dilakukan oleh pihak kesultanan tanpa adanya pemikiran yang matang adalah bagaimana mereka menghilangkan daerah kolam airmancur menjadi perkerasan yang ditutupi oleh keramik yang berlokasi tepat di depanIstana Maimun. Sampai saat ini, perancang belum cukup mengerti maksud pelaksanaan ide tersebut yang diyakini oleh beberapa orang yang perancang tanyakan merupakantempat para pengunjung berdiri untuk berfoto dengan latar belakang istana. Kembali lagi, sangat aneh dan terlalu mengurangi kualitas ruang yang ada pada istana. Gambar 2.5 - Istana Maimun pada tahun 1890-1905. (SUMBER : Tropenmuseum, Amsterdam) Restorasi fungsi kemudian menjadi salah satu ide mutlak dari perancang untuk mengembalikan kualitas yang sangat baik yang dulunya terdapat pada Istana Maimun(Gambar 2.5). Perancang kemudian bersama dengan tim menemukan hal yang lebih buruk lagi terjadi pada sisi belakang bangunan yang seharusnya "mewah dan megah" ini. Bagian belakang dari bangunan Istana Maimun, menurut perancang serta tim, tidak terlihat seperti istana, melainkan seperti rumah atau bangunan asrama yang sudah rusakatau tidak pernah dirawat sama sekali (Gambar 2.6). Sangat disayangkan, mengingat bagaimana seharusnya setiap sisi bangunan mencerminkan kualitas sebuah istana - yangmerupakan bangunan yang agung, yang ditinggali oleh petinggi dan pemilik sebuah kerajaan (dalam hal ini kesultanan). Gambar 2.6 - Tampak belakang Istana Maimun. Kunjungan pada lokasi pembangunan apartemen serta hotel, tepatnya dari samping sampai belakang Istana Maimun yang telah diawali oleh buruknya gambaran tentangkondisi istana tersebut ternyata tidak berakhir sampai pada tahap itu saja. Ketika perancang menuju lokasi di belakang istana, perancang menemui begitu banyak titik yangdirasa sangat tidak cocok dikatakan sebagai bagian dari kompleks istana. Rumah yang tidak beraturan, jalan yang tidak membedakan jalur kendaraan bermotor dan manusia,sistem sanitasi yang terlihat dengan begitu jelas, serta sampah yang berceceran dimana- mana membuat perancang kesal mengenai sikap yang mereka ambil terhadap"penghormatan" Istana Maimun serta lingkungan di sekitar istana (Gambar 2.7). Satu hal yang menjadi peraturan yang diberikan dalam Term of Reference adalah menciptakan kompleks Istana Maimun yang baru yang hanya mempertahankan istanatersebut. Oleh karena itu kondisi eksisting dari lingkungan yang terdapat di belakang istana tentunya, dan untungnya bisa tidak dihiraukan. Pembuatan sistem sanitasi danutilitas lain seperti saluran listrik yang bisa direncanakan ulang memberi satu "titik terang" bagi perancang untuk menciptakan hal yang lebih baik secara visual maupunsecara teknis. Gambar 2.8 - Daerah sungai belakang Istana Maimun. Terlepas dari kekurangan dan bagaimana buruknya pembangunan yang terjadi di belakang Istana Maimun, perancang mencoba melihat satu atau bahkan lebih hal-hal yangseharusnya bisa dipertahankan untuk meninggalkan kesan otentik dan orisinalitas dari lokasi tersebut. Ternyata ketika ditelusuri dan diperhatikan dengan seksama, perancangmenyadari bagaimana aliran sungai yang sedikit melengkung itu cukup menarik perhatian perancang - meskipun, kembali lagi, pada beberapa lokasi, terlihat ada tumpukan sampahserta ada titik dimana aliran Sungai Deli tersebut dijadikan sebagai saluran limbah dari permukiman kecil yang terdapat di belakang istana (Gambar 2.8). Oleh karena lokasi proyek terletak pada negara yang memiliki iklim tropis, satu hal yang Gambar 2.9 - Tampak ada jembatan yang menghubungkan kompleks perumahan Multatuli dan kompleks Istana Maimun. (SUMBER: BING maps) Satu hal yang cukup aneh ditemukan pada lokasi proyek adalah adanya sebuah ekstensi bangunan rumah sakit yang dikatakan dibangun melalui penyewaan tanah terhadap pihakkeluarga Sultan. Selain ekstensi bangunan, terdapat pula jembatan yang dibangun untuk menghubungkan kompleks perumahan dan perkantoran berupa ruko Multatuli serta tanahsewaan oleh pihak rumah sakit tersebut. Mengingat bagaimana perancang hendak memaksimalkan orisinalitas sungai, perancang hendak meniadakan kembali eksistensijembatan serta bagunan ekstensi rumah sakit setelah masa sewa berakhir (Gambar 2.9).Jembatan tersebut, meskipun mengemban potensi pengunjung yang banyak, perancang Melihat pada kawasan istana secara keseluruhan, yang membentang antara IstanaMaimun, Masjid Raya, serta Taman Sri Deli, perancang melihat ada koneksi yang terputus antara ketiga bangunan inti tersebut. Koneksi yang terputus itu dibuktikanmelalui pembangunan rumah toko, permukiman yang sama sekali tidak menambah nilai estetika, serta jalur pejalan kaki yang terputus-putus. Hal inilah yang malah merusakkonektivitas atau kesinambungan kawasan tersebut. Mengingat bagaimana setiap tahunnya diadakan Ramadan Fair pada ruas jalan raya yang menghubungkan ketiga titiktersebut, pengadaan perbaikan bahkan pada jalur pejalan kaki serta penambahan street furniture diharapkan mampu mengembalikan, atau paling tidak memperbaiki koneksi atau kesinambungan tersebut. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa akan dibangun apartemen serta hotel merujuk kembali pada bagaimana potensi yang dimiliki oleh kawasan Istana Maimun sebagailokasi yang sebenarnya sangat prima - kawasan yang "berbau" heritage dan memiliki sungai yang mengalir. Nilai atau harga tanah yang sangat tinggi juga sangat menentukankeberadaan yang pengadaan apartemen, sehingga pembangunan secara vertikal menjadi satu pilihan yang mutlak agar lokasi tersebut lebih mampu dimaksimalkan sebagai areapublik. Terlebih karena kawasan tersebut begitu kaya akan nilai - oleh karena keberadaan sebuah istana dan tentunya sungai yang mengalir - mampu dibentuk sedemikian rupasehingga bisa menimbulkan perasaan yang positif dan adanya keinginan untuk menetap ataupun sering menghabiskan waktu di tempat tersebut. Ditambah dengan bagaimana Untuk apartemen, guna melakukan restorasi bentukan istana serta memaksimalkan fungsi dalam istana tersebut, akan dijadikan sebagai relokasi bagi keluarga Sultan yang tinggaldi dalam istana maupun disekitar istana. Pembuatan apartemen tersebut juga tentunya akan meningkatkan efektivitas fungsi istana yaitu sebagai daerah wisata, sehingga lebihbanyak ruang yang bisa diakses oleh pengunjung tanpa mengganggu privasi pemilik istana yaitu keluarga Sultan, serta pembuatan ruang atau zona khusus untuk kepentinganSultan. Selain itu, apartemen, melalui fasilitasnya, diharapkan mampu pula menjadi bangunan untuk merelokasi warung-warung yang diketahui merupakan milik keluargaSultan. Relokasi warung tersebut akan diadakan sebagai fasilitas umum serta sebagai fasilitas bagi pemilik apartemen pula. Relokasi tersebut diharapkan mampu meningkatkanekonomi keluarga Sultan tanpa merusak estetika kawasan istana tersebut. Pertimbangan untuk meningkatkan wisatawan yang berkunjung juga dianggap sangat memungkinkan bila diadakan sebuah bangunan untuk ditinggali sementara waktu (dalamjangka waktu yang singkat), terkhusus bagi mereka yang hendak menikmati istana lebih lama dan lebih seksama. Oleh karena itu bangunan hotel menjadi salah satu unsur dalampembuatan proyek ini. Guna membuat pengalaman yang lebih terkhusus bagi setiap individu yang tinggal di hotel, dirasa bahwa hotel butik sangat cocok untuk diadakan,selain penyediaan pelayanan yang lebih terarah kepada setiap pengunjung, hotel butik juga diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih menarik dan otentik sertasangat terhubung dengan adanya Istana Maimun. Melalui kedua fungsi tersebutlah, diharapkan agar selain diadakan restorasi terhadapIstana Maimun yang baik, juga terjadi restorasi ekonomi bagi keluarga Sultan secara keseluruhan, sehingga menciptakan satu keberlanjutan yang baik. Disebutkan pulasebelumnya bahwa bagaimana kawasan ini akan dijadikan sebagai contoh, pionir, bagi revitalisasi dan pengembangan ulang bagi kawasan-kawasan muka sungai - sehinggamasyarakat lebih sadar mengenai potensi yang seharusnya dimiliki dan mampu dikembangkan menjadi tempat-tempat yang berkesan bagi pengunjung serta menciptakanaliran sungai yang secara langsung akan semakin dirawat dan bersih pada akhirnya. Diawali dari bentukan atau lekukan yang tercipta oleh aliran sungai, perancang mulai bergerak dalam hal pengembangan konsep. Dari bentukan dasar tersebut beserta denganpertimbangan agar ada kemudahan untuk melihat sungai secara langsung, perancang membuat sedikit kontur yang mengarah lebih dekat kepada sungai, kontur tersebut pulamemiliki bentukan yang didasari oleh lekukan sungai yang sedikit di"halus"kan dari yang ada pada awalnya. Pembuatan kontur ini dapat pula dijadikan sebagai area publik bagi Gambar 3.1 - Garis kontur serta dua fitur air adalah konsep perancangan tapak yang baru. Selanjutnya adalah konsep yang disadur dari pendekatan perancang, yaitu organik - bagaimana akan diadakan atau dibentuk sebuah kesatuan, paling tidak denganmemasukkan unsur alam ke dalam tapak (Gambar 3.1). Perancang merujuk pada air yang berasal dari sungai, menggunakan unsur air tersebut kedalam tapak. Salah satupenggunaan unsur air yang akan diadakan adalah fitur air mancur tepat di depan istana.Dapat diketahui adalah bahwa pada awalnya terdapat fitur air mancur di depan istana - namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, fitur air mancur tersebut kemudiantelah menjadi perkerasan yang dilapisi oleh keramik lantai yang sangat mengurangi nilai estetika kompleks istana secara keseluruhan. Oleh karena itu, air mancur di depan IstanaMaimun hendak diadakan kembali oleh perancang berdasar pada pengadaan unsur air serta restorasi fungsi ataupun bentukan awal istana. Perancang juga melihat bahwa adanya "rumah" Meriam Puntung yang cukup bersejarah terasa tidak begitu cocok diletakkan tepat di sebelah kiri (bila dilihat dari depan)bangunan istana (Gambar 3.2). Ketidakcocokan tersebut sangat terlihat pada gaya Gambar 3.2 - Bangunan Meriam Puntung. Dengan merujuk kembali pada kesinambungan dan unsur organik, serta penghargaan atau penghormatan terhadap Meriam Puntung, tepat pada belakang istana, secara simetrisdengan bagian depan, perancang hendak membentuk sebuah fitur air yang cukup mirip, namun dengan sebuah pondok atau sering disebut sebagai gazebo yang akan menjaditempat baru bagi Meriam Puntung. Kedua fitur air tersebut kemudian hendak ditambahkan aliran air yang mengarah pada sungai, namun tidak berhubungan langsung dengan sungai. Aliran ini akan dibuat bolakbalik dari kedua fitur air yang ada di tapak menuju dua titik berbeda pada daerah bibir sungai. Kedua titik tersebut kemudian akan dijadikan "balkon" (Gambar 3.1) ataupun Pengadaan fitur air ini akan dihubungkan pada reservoir air yang memiliki sistem yang mana bila terjadi hujan (mengingat curah huan di Medan cukup tinggi), air diharapkanmengalir ke aliran buatan pada tapak, dan aliran air yang masuk tersebut bisa terarahkan ke reservoir air yang kemudian digunakan untuk kepentingan utilitas bangunan yang ada. Pengalihan aliran tersebut tentunya bisa dilakukan hanya pada saat hujan yang mana ketika fitur air mancur dan aliran air tidak dibutuhkan. Gambar 3.3 - Konsep gubahan massa kedua bangunan. Memasuki konsep bentukan massa (Gambar 3.3), perancang melakukan pendekatan yang sedikit mengambil unsur lekukan sungai sehingga massa bangunan yang terbentuktampak lebih dinamis. Hal ini menimbulkan adanya dua bangunan dengan fungsi berbeda Gambar 3.4 - Konsep transformasi gubahan massa bangunan hotel. Untuk bangunan hotel (Gambar 3.4), dapat terlihat dari gambar diatas bahwa bentuk lengkungan yang condong ke sungai akan diangkat setinggi satu lantai sehingga ruangtersebut memiliki visibilitas terhadap sungai yang lebih baik serta menjadikan bagian tersebut sebagai titik fokus dari bangunan tersebut, yang mana berorientasi dengan sangatbaik terhadap tema utama yang diberikan, yaitu riverfront. Demi memaksimalkan fungsionalitas bangunan dan juga memberi orientasi terhadap Istana Maimun, adabeberapa bagian bagunan yang dijadikan menjadi bidang-bidang yang rata. Untuk lantai tipikal yang merupakan bagian bangunan yang menjulang keatas, bentukan lengkungansungai kembali diguakan serta dimaksimalkan fungsinya.Beranjak dari bangunan hotel, bangunan apartemen juga memanfaatkan garis lengkungan Gambar 3.5 - Konsep transformasi gubahan massa bangunan apartemen. Oleh karena bangunan apartemen memiliki kebutuhan ruang yang cukup luas, maka dibentuklah dua bangunan tipikal yang terdapat diatas bangunan podium. Dua bangunantersebut kemudian memiliki orientasi terhadap sungai yang terlihat pada pemanfaatan jumlah lantai yang menimbulkan perbedaan ketinggian kedua bangunan tersebut. Bentukan kedua bangunan tersebut mengikuti sedikit bentuk dari gubahan massa podium sehingga terlihat ada kesinambungan antara podium dengan lantai tipikal di atasnya. Pembentukan ruang luar istana dapat terlihat tidak beraturan ataupun tidak memiliki sistem matematis yang jelas untuk menekankan bahwa adanya "alam" yang ikut andilataupun disebutkan "melingkupi" tapak tersebut. Hal ini juga akan memberi kesan yang tidak "membosankan" sebagaimana yang sering ditemui pada pembentukan ruang luaryang memanfaatkan garis-garis lurus yang sangat matematis. Dari kesan yang tidak Gambar 3.6 - Konsep ruang luar kompleks Istana Maimun Perencanaan secara konseptual kedua fungsi yang akan dijadikan sebagai dua bangunan yang berbeda, selain mengarah kepada bagaimana bentuk sungai, akan pula melihat ataumengingat Istana Maimun sebagai bagian dari pertimbangan yang paling penting di dalam perancangan. Salah satu dasar yang diambil dari Istana Maimun adalah bagaimanapembentukan sirkulasi dibuat, yaitu pembentukan dua titik akses untuk keluar masuk kompleks istana. Perombakan yang dilakukan adalah hanya pada tujuan akses masuk. Dapat terlihat dari gambar konsep secara garis besar rekayasa tapak (Gambar 3.6), adalah dibuatnya kedua titik akses menjadi jalur akses masuk kepada kedua bangunan yang ada. Untuk akses hotel, mobil diarahkan untuk menuju ke bangunan hotel dan lantai basement dari bangunan tersebut, atau bisa langsung melakukan belokan untuk menuju lokasiparkir untuk pengunjung Istana Maimun ataupun untuk sekedar menurunkan penumpang Pembuatan akses di bagian atau sisi bangunan hotel dijadikan menjadi dua jalur keluar masuk yang terpisah untuk memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi bus pariwisatayang dianggap sebagai kendaraan yang cukup sering memasuki tapak terkhususnya pada bagian tersebut. Pembuatan akses yang satu arah sehingga menyebabkan perbedaan lokasiakses masuk maupun keluar juga mampu mengurangi kemacetan dalam tapak bila terjadi pembludakan kendaraan secara tiba-tiba. Untuk sisi tapak yang menampung bangunan apartemen, pembuatan jalur akses masuk dan keluar terdapat pada satu titik, namun dibedakan arahnya. Sisi tersebut terkhusushanya di buat sebagai wilayah akses dan parkir bagi pengguna dan pengunjung apartemen, oleh karena itu jalur mampu dibuat menjadi cukup sederhana dan pendekkarena ekspektasi banyaknya kendaraan yang masuk tidak begitu banyak di bandingkan dengan yang ada pada hotel. Konsep awal adalah kendaraan dapat langsung menuju basement (arah akses lurus) atau belok untuk menuju area menurunkan penumpang atau area parkir terbuka. Pengendara mobil yang hendak keluar dari basement bisa langsung mengarah lurus dan keluar atau melakukan satu belokan ke kanan dari arah daerah tempatparkir terbuka di depan bangunan apartemen. Bagi pejalan kaki, akses yang digunakan untuk menuju ke dua bangunan yang ada diposisikan sesuai dan bersamaan dengan jalur akses dua bangunan tersebut. Namun,untuk jalur pejalan kaki bangunan apartemen, jalur tersebut sama sekali terpisah denganIstana Maimun pada bagian depan, sehingga bila pemilik apartemen hendak menuju bangunan istana, akses melalui sisi samping Istana Maimun yang dilewati oleh fitur airdapat dimanfaatkan oleh para pemilik sebagai akses. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah pejalan kaki yang tidak begitu memiliki kepentingan masuk ke dalam wilayah Akses pejalan kaki memasuki kompleks Istana Maimun secara bebas dapat dilakukan pada sisi jalur masuk untuk bangunan hotel. Hal ini juga dikarenakan bangunan hotelmemiliki tingkat privasi yang lebih rendah dibandingkan dengan apartemen, serta lokasi parkir publik yang terletak pada sisi tersebut. Pejalan kaki dapat berjalan masuk menuju piazza yang terletak pada sisi kanan Istana Maimun bila dilihat dari depan (Gambar 3.6), dan dapat menuju halaman depan Istana Maimun atau langsung menuju halaman belakang Istana. Dari halaman depan istana, pengunjung juga bisa menggunakan jaluryang dikhususkan dan terletak pada sisi sungai buatan (water feature) untuk menikmati lebih pencapaian menuju atau dari sungai yang terdapat di belakang Istana Maimun. Pengunjung juga bisa menuju hotel menggunakan akses masuk yang sama dengan pengunjung lainnya. Dari hotel, pengunjung yang hendak mengarah pada taman yangterdapat di bagian belakang dapat menggunakan akses yang terdapat pada sisi bangunan yang menghadap arah barat daya (bagian belakang bangunan) (Gambar 3.7). Kedua bangunan dengan akses serta jalur kendaraan dan manusia dapat dilihat sebagai pembangian zona yang cukup jelas untuk memperlihatkan tingkat privasi dan fungsi daritapak kompleks Istana Maimun. Jelas terlihat bahwa kompleks Istana Maimun bagian tengah sama sekali dimanfaatkan hanya untuk pejalan kaki, sehingga bangunan IstanaMaimun tersebut dapat memperoleh satu titik tengah yang bebas kendaraan bermotor.Untuk pembagian privasi, halaman Istana Maimun depan maupun belakang akan dijadikan tempat publik, dan wilayah belakang akan lebih publik lagi karenamenghubungkan antara Istana Maimun, bangunan apartemen, serta hotel dan menjadi wilayah buffer untuk ketiga fungsi tersebut. Pembuatan halaman istana depan maupunbelakang sebagai daerah publik adalah agar pengunjung memiliki sebuah kesinambungan, yakni kesinambungan dalam hal kualitas ruang serta pengalaman yang diperoleh. Zonayang lebih privat adalah pada Istana Maimun sendiri. Bila pengunjung hendak memasuki istana, pengunjung diharapkan untuk melakukan pembayaran untuk memiliki izinmemasuki bangunan. Bangunan tersebut akan dijadikan sebagai galeri pada bagian bawah serta atas bangunan. Orientasi kepada bangunan Istana dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun perancang menggunakan cara yang memanfaatkan konsep fasad atau kulit bangunansebagai pembentuk orientasi terhadap bangunan istana. Kedua bangunan akan memiliki kulit bangunan berupa kaca pada sisi yang mengarah ke istana sehingga para pengunjungkedua bangunan yang sedang berada di dalam akan memiliki pengalaman visual terhadapIstana Maimun yang kuat. Terkhusus untuk bangunan hotel, orientasi terhadap IstanaMaimun diperkuat dengan adanya void dari lantai pertama sampai pada lantai kedua, sehingga fasad berupa kaca yang terbuka mengarah ke istana semakin besar dan semakinjelas pengalaman visual yang akan diperoleh pengunjung (Gambar 3.8). Selain itu, Gambar 3.8 - Interior hotel dengan void setinggi 2 lantai. Pada bagian apartemen, akan ada rooftop garden yang merupakan zona publik bagi pemilik apartemen yang memiliki bukaan atau arah visual kepada Istana, sehinggarooftop garden juga mampu memicu banyak aktivitas yang menonjolkan kualitas ruang dengan pengalaman visual yang baik pula. Rooftop garden yang terdapat pada bangunanapartemen juga memiliki pemandangan ke arah sungai sehingga konsep riverview juga diperoleh dengan baik (Gambar 3.9). Gambar 3.9 - Rooftop garden dari podium apartemen. Kedua konsep bukaan atau pembentukan kulit bangunan yang memiliki orientasi kepada sense of place yang sangat kuat dan menekankan bahwa pengunjung benar-benar sedang berada pada sebuah lokasi yang sangat khusus. Hal ini juga akhirnya kembali memperkuat tema yang diangkat oleh perancang untuk "mengingat kembali" denganvisual yang diperoleh pengunjung. Selain keterbukaan bangunan terhadap Istana Maimun, perancang juga membuat banyak bukaan yang mengarah pada alam yang terdapat didalam tapak untuk mempertegas tema "alam" yang juga diangkat perancang. Gambar 4.1 - Denah bangunan hotel lantai dasar. Gambar 4.2 - Denah bangunan hotel lantai dua. Untuk bangunan hotel, terdapat pembagian jalur menjadi dua jalur yang berbeda, yaitu jalur publik dan jalur servis yang cukup jelas perbedaannya. Untuk jalur publik, 42 pengunjung memulai sirkulasi dari foyer atau piazza yang terdapat tepat di bagian depanhotel yang menghadap salah satu sayap bangunan Istana Maimun (Gambar 4.1). Dari akses masuk tersebut, pengunjung bisa mengarah ke resepsionis, lift lobby, bar and lounge, restoran yang berada di tepi sungai, serta toko-toko dan pusat mesin ATM, ataupun bisa langsung menuju pintu keluar yang mengarah ke halaman belakang IstanaMaimun. Dari lift lobby, pengunjung bisa menuju ke lantai lainnya serta dari lift lobby pula, pengunjung datang berasal dari basement. Pada lantai kedua bangunan, pengunjungbisa mengarah ke coffeeshop dari hotel, ballroom, pusat bisnis serta ruang pertemuan, ataupun ruang V.I.P. yang dikhususkan untuk pihak yang mengadakan acara di ballroom(Gambar 4.2). Lantai pertama dan lantai kedua merupakan dua area hotel yang bisa dikatakan lebih publik karena dihubungkan langsung oleh tangga putar yang hendakdiletakkan pada salah satu sisi void yang ada, sehingga kesinambungan yang tercipta cukup maksimal. Gambar 4.3 - Denah bangunan hotel lantai tiga. Beranjak ke lantai ketiga bangunan, pengunjung mampu menikmati fasilitas yang 43 tersebut, pengunjung akan menikmati fasilitas seperti kolam renang, pusat kebugaran,serta rooftop garden yang menawarkan sebuah café kecil untuk pengunjung mampu menikmati pemandangan Sungai Deli serta keseluruhan kompleks Istana Maimun(Gambar 4.3). Dari lantai empat sampai kesepuluh, terdapat ruangan kamar hotel yang dibuat tipikal. Untuk akses servis, dimulai dari akses sisi samping yang dimasuki melalui Jalan Meriam, lalu menuju dek penurunan dan penaikan barang-barang berupa bahan dapur, linen,sampah, mesin, dll. Untuk akses servis seperti untuk para pegawai, dimulai dari akses masuk basement (yang membawa kendaraan) atau langsung dari Jalan Meriam (pejalankaki) dan mampu mengakses kantor pada lantai dasar serta lantai 3. Di daerah basement terdapat loker untuk para pegawai serta lift lobby untuk menuju setiap lantai yang hendakdilayani melalui lift lobby khusus untuk servis atau pegawai (Gambar 4.4). Gambar 4.4 - Basement Hotel. Pengembangan denah hotel mengalami beberapa perubahan yang cukup menarik, terkhusus pada lantai kedua maupun ketiga bangunan. Pada awalnya, perancang hendak 44 memberikan suasana baru sebuah ballroom di Kota Medan, sebuah ballroom denganpemandangan, namun oleh karena permasalahan akustik yang mungkin timbul bila menggunakan kaca sebagai kulit bangunan yang mengarah pada sungai, maka posisi ballroom sempat dipindahkan ke sisi lain dari bangunan namun masih pada lantai yang sama. Setelah pertimbangan zona yang tepat, maka pada akhirnya posisi ballroom dikembalikan pada lokasi yang sama seperti awal perencanaan. Permasalahan akustikdirasa oleh perancang akan diselesaikan melalui pemilihan bahan curtain wall yang menyelimuti sisi bangunan tersebut. Gambar 4.5 - Perkembangan bentuk lantai tipikal hotel. Perubahan-perubahan pada bagian hotel juga terjadi pada lantai tipikal hotel (Gambar4.5). Pada awalnya, lantai tipikal hotel memiliki sisi yang condong ke dalam dan menerus sebanyak 3 lantai tingginya, namun oleh karena permasalahan yang mungkin timbul olehkarena tiupan angin yang semakin membesar pada lantai atas, maka pembuatan sisi bangunan yang kosong dan condong ke dalam pada satu sisi diubah menjadi dua sisi yangsaling berhadapan. Ternyata hal ini juga menimbulkan kerapuhan pada sistem struktur bangunan dan hal itu juga menjadi pertimbangan untuk kembali pada konsep awal, yangmana lantai tipikal hotel dijadikan tetap masif. Pengembangan lantai tipikal hotel juga 45 tiap lantai. Perubahan tipikal lantai akhirnya berhenti setelah peletakan core bangunantelah tepat dan pengadaan sistem yang mengakibatkan lantai tipikal hotel hampir sama persis setiap lantainya. Yang kemudian membedakan adalah beberapa lantai yangmemiliki posisi dua ruangan yang bisa digabung menjadi satu ruangan tipe lain. Apartemen, oleh karena merupakan bangunan yang cukup berbeda dengan hotel, akses servis cukup terbuka untuk pemilik apartemen, oleh karena pemanfaatan area servisseperti pembuangan sampah, pencucian (laundry), dll, juga kebanyakan dilakukan oleh pemilik apartemen itu sendiri. Perbedaan akses hanya terdapat pada akses masuk servisyang terletak pada sisi tapak bangunan, sebuah jalan kecil yang diakses melalui belokan ke kiri sebelum tapak Istana Maimun. Akses tersebut akan dimanfaatkan lebih utamauntuk pemasukan stok bahan untuk foodcourt serta jasa pembuangan sampah. Gambar 4.6 - Denah bangunan apartemen lantai dasar. Untuk pengunjung, pemilik, serta pegawai, memiliki akses yang cukup mirip, yaitu dimulai pada akses masuk utama bangunan pada lantai dasar yang bisa langusngmengarah pada lift lobby kedua menara bangunan, atau ke bagian kantor/resepsionis, ataupun menuju daerah foodcourt pada sisi belakang bangunan yang juga mampu diakses 46 Dari lift lobby, pemilik apartemen bisa menikmati fasilitas apartemen seperti toko swalayan kecil, pusat kebugaran dan kolam renang luar ruang/taman privat, ruanglaundry, dan kotak pos. Setiap fasilitas ini dapat diakses dari koridor yang secara spasial terpisah dengan koridor utama lantai dasar apartemen, namun pemilik yangmemanfaatkan koridor masih mampu melihat keluar koridor untuk memberi rasa leluasa namun tanpa mengurangi sekuritas dari pemilik serta tanpa merusak privasi pemilikapartemen (Gambar 4.6). Gambar 4.7 - Denah bangunan apartemen lantai dua. Pemilik apartemen juga mampu mengkases menara bangunan apartemen langsung melalui lift lobby yang terdapat di basement apartemen yang dikhususkan untuk penggunaapartemen. eperti yang telah disebutkan sebelumnya, pada lantai dua bangunan terdapat sebuah rooftop garden yang berfungsi sebagai sebuah tempat untuk mengadakan pestaprivat kecil yang memiliki keterbukaan dan pemandangan kompleks Istana Maimun sertaSungai Deli (Gambar 4.7). Taman ini juga menjadi penghubung antara menara satu dengan lainnya sehingga silahturami dapat terjadi pada titik ini tanpa adanyapenggabungan akses dengan publik yang terdapat di bawah bangunan. 47 Pengembangan apartemen yang cukup terlihat adalah pada bagaimana konsep perancangan dilakukan dan setelah dimasukkannya unit kamar-kamar per lantai, yangalhasil mengakibatkan ketidakcukupan bangunan semula terhadap keperluan ruang yang ada. Hal ini menimbulkan perubahan pada menara bangunan yang lebih berbentukpersegi yang terletak tepat di samping salah satu sisi Istana Maimun (Gambar 4.8).Perubahan ini terlihat pada penambahan massa bangunan menjadi lebih lebar dan memanjang. Oleh karena adanya bangunan yang sangat masif, maka diadakan lorong-lorong angin setiap lantainya yang mengarah pada void yang terdapat ditengah bangunan sehingga sirkulasi udara dapat terjadi dengan baik dan kemasifan bangunan tidakmenimbulkan masalah panas dalam bangunan. Ketidakcukupan kebutuhan jumlah ruang juga kemudian mengubah bentuk menara lingkaran yang melebar (menjadi tipe unit yanglebih besar) pada lantai tipikal paling atas menara yang melingkar. Gambar 4.8 - Perkembangan denah lantai tipikal apartemen. Pengembangan lain juga terjadi setelah dimasukkan akses masuk basement untuk pembentukan denah apartemen. Oleh karena jalan masuk yang tidak memungkinkansebagaimana yang menjadi konsep awal, maka sirkulasi pada bagian depan apartemen mengalami sedikit perubahan, sehingga memungkinkan untuk basement yang lebihmaksimal (Gambar 4.9). 48 Gambar 4.9 - Pengembangan daerah parkir dan akses basement apartemen. Perancangan terus berlanjut, dan berkembang sampai pada tahap pembuatan denah tipikal jenis-jenis ruangan yang ada pada bangunan hotel dan apartemen. Untuk bangunan hotel,terdapat empat jenis ruangan, yaitu ruangan Deluxe, Premier/Riverview, Deli, dan Sultan(Gambar 4.10). Nama-nama ruangan tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda jenis ruangan berdasarkan pemandangan yang diperoleh dari ruangan yang ada, serta daribesaran ruangan. Gambar 4.10 - Denah tipikal hotel. Untuk ruang Deluxe, perancang menjadikannya sebagai jenis ruangan dasar dengan jumlah terbanyak, memiliki pemandangan kota Medan serta bentuk denah ruang hotel 49 Ruangan Premier/Riverview memiliki bentuk tipikal yang serupa, yaitu jenis ruangan yang memiliki luasan dua kali lipat ruangan Deluxe, memiliki area istirahat dan ruangtamu yang terpisah (bukan dengan dinding), serta kamar mandi yang luas (Gambar 4.11).Perbedaan antara ruang Premier dan Riverview adalah pemandangan yang ditawarkan.Untuk ruang Riverview, pemandangan yang diperoleh adalah pemandangan langsung terhadap sungai, namun untuk ruang Premier, pemandangan yang diperoleh serupadengan ruangan deluxe. Gambar 4.11 - Denah tipikal ruangan tamu hotel. Dua ruangan selain dari yang disebutkan di atas, merupakan ruangan Deli, dan ruangan Sultan, kedua jenis ruangan tersebut terletak berseberangan, tepat di sudut bangunan yang berlawanan dengan sudut ruangan Riverview. Ruang Deli merupakan jenis ruang yang memiliki luas hampir tiga kali lipat besar ruang Deluxe, memiliki ruang makan, ruangtamu, serta area tidur yang tidak dipisahkan oleh dinding dan pintu (Gambar 4.11). Ruang Deli juga memiliki kamar mandi yang besar serta toilet tamu yang terpisah. Ruang Deli memiliki bukaan yang cukup luas, hampir terbuka terhadap setiap area ruang yang ada dalam ruangan tersebut. Disebut sebagai ruang Deli oleh karena pemandangannya 50 mengarah pada kota Medan, yang dahulunya merupakan wilayah kekuasaan kesultananDeli. Ruang Sultan merupakan jenis ruangan suite, memiliki ruangan-ruangan tersendiri sesuai fungsi, seperti ruang tidur, pantry, kamar mandi, dan toilet tamu. Ketika pengunjungruang Sultan memasuki ruangan ini, mereka akan disambut oleh kordior yang mempunyai pemandangan kota Medan, lalu ketika mereka mencapai ruang tamu dan ruang makanyang tergabung, pemandangan yang mereka peroleh adalah kompleks Istana Maimun(Gambar 4.11). Ruang tidur juga memiliki pemandangan yang sama seperti pada ruang tamu. Pemandangan yang lebih kurang selebar 270 derajat mengarah pada kota Medanserta kompleks Istana Maimun serta luas ruangan Sultan yang sekitar empat kali ruang biasa menjadikan ruangan ini memiliki nilai jual yang paling tinggi nantinya. Pada bangunan apartemen, terdapat massa yang membentuk lingkaran dan setengah sisi massa tersebut memiliki pemandangan Sungai Deli sehingga dianggap lebih komersil dancocok dijadikan sebagai massa dengan unit secara keseluruhan dijual kepada publik.Massa lainnya, yang lebih dekat dengan Istana Maimun, dijadikan sebagai bangunan yang nantinya menampung keluarga Sultan serta sisanya dijual kepada publik (Gambar 4.12). Setiap unit apartemen dirancang untuk memiiki balkon tersendiri sehingga pemilik unit dapat menikmati pemandangan secara maksimal, serta balkon diadakan guna mengurangiintensitas cahaya matahari yang memasuki unit apartemen. 51 Gambar 4.12 - Denah tipikal apartemen. Dapat terlihat bahwa perencanaan dibuat untuk memaksimalkan pemandangan yang ada, hal ini juga merupakan salah satu terjemahan dari sifat arsitektur organik yaitu memilikisatu kesinambungan, yang dipakai oleh perancangan dalam bentuk pengalaman atau perasaan yang tercipta oleh setiap pemandangan yang diperoleh pengguna dari bangunantersebut. Selain itu, orientasi bangunan yang memaksimalkan pemandangan kepada sungai maupun Istana Maimun juga menjadi respon terhadap tema besar yaitu area mukasungai dan terhadap bangunan eksisting, yaitu istana yang dijadikan sebagai pusat orientasi bangunan. Dari konsep bukaan serta bentukan massa yang terbentuk dari respon terhadap garis sungai yang ada, perancang mengembangkan fasad bangunan. Seperti bentukan garissungai yang tak tentu serta dinamis, perancang kemudian mengangkat kembali unsur air yang menjadi penghubung secara garis besar rancangan yang dibuat. Perkembangan fasadtentunya cukup menarik bagi penulis. Terjadi beberapa kali perubahan yang penulis rasa semakin berkembang kepada arah yang lebih menekankan tema yang diangkat penulis. Pada awalnya, terlihat pada gambar konsep massa bangunan yang diangkat, perancang 52(sebagai orientasi) yang memiliki begitu banyak pengulangan, serta terutama diangkat dari sifat air yang beriak, yang membentuk riakan yang sama - sehingga terjadipengulangan (Gambar 4.13). Pengulangan secara horizontal tersebut juga berfungsi untuk menekankan sifat alam, yang mana terlihat begitu sederhana dari luar, namunmenampung sistem yang sangat kompleks pada bagian dalamnya. Kesederhanaan melalui pengulangan horizontal secara garis besar juga mampu menjadi latar bagi bangunanIstana Maimun yang memiliki pengulangan secara vertikal, yang membuat bangunan istana akan tampak lebih jelas dan mampu menjadi titik fokus kompleks tersebut secarakeseluruhan. Gambar 4.13 - Konsep rancangan fasad kedua bangunan. Pada pengembangan pertama yang dilakukan oleh perancang, pengulangan pada awalnya dibuat cukup kaku sehingga menciptakan bangunan yang terlihat kaku, tidak dinamis, dantema organik tidak begitu terasa (Gambar 4.14). Selain itu, detail sisi bangunan yang dibuat sebagai finishing juga tampak terlalu tajam, yang mana, bila ditelaah kembali,sangat tidak menyatakan unsur atau sifat organik yang dinamis, mengalir, dan secara keseluruhan tidak memiliki unsur tajam. 53 Gambar 4.14 - Pengembangan pertama fasad bangunan hotel. Dengan tetap mempertahankan unsur pengulangan, perancang melakukan eksplorasi terhadap jenis pengulangan lain, namun yang terbentuk adalah (secara tidak disengaja)terlalu banyak pengulangan secara horizontal melalui unsur sirip yang tampaknya menjadi semakin menjauh dari unsur organik (Gambar 4.15). Selain itu, hasil yangdiperoleh menimbulkan keanehan bila bangunan tersebut diletakkan pada kedua sisi bangunan Istana Maimun. Gambar 4.15 - Pengembangan kedua fasad bangunan hotel dan apartemen. Penggantian fasad kemudian terjadi lagi, namun yang dilakukan sebagai eksplorasi pengembangan fasad kali ini lebih menekankan pada unsur air yang dinamis. Pengulangan secara horizontal masih tetap dipertahankan, namun perancang membentuk 54 ini dilakukan perancang untuk menekankan bahwa sifat air adalah dinamis dan tidaksimetris. Unsur lain yang dibentuk dalam pengulangan horizontal setiap lantainya juga terlihat dari bentukan pengulangan yang memiliki bentuk gelombang, ataupun bisadikatakan menggunakan unsur kurva yang tidak beraturan setiap lantai, namun "mengalir" disetiap lantainya sehingga ada kesinambungan seperti air yang mengalir. Gambar 4.16 - Pengembangan ketiga fasad bangunan hotel dan apartemen. Pengembangan fasad kemudian akan lebih terfokus pada bagaimana menciptakan garis vertikal yang terdapat pada bangunan apartemen untuk memisahkan balkon antar unitfungsi memberi privasi kepada setiap pemilik unit apartemen. Hal ini akan menjadi tantangan ketika perancang hendak menegaskan unsur horizontal namun harusmeletakkan unsur vertikal secara fungsional. Gambar 5.1 - Groundplan. Gambar 5.2 - Jalan setapak dengan panel informasi. Dalam menanggapi pendapat tersebut, perancang kembali merujuk pada alasan pengadaan unsur air yang masuk ke dalam tapak Istana Maimun, yaitu untukmenghubungkan atau memberi unsur yang dapat dirasakan pada bagian belakang istana menjadi lebih tegas. Melalui pengadaan unsur sungai buatan tersebut pula, diharapkanuntuk bahkan lebih memperkuat spirit of place, yaitu melalui jalan setapak yang bisa dilalui oleh pengujung (Gambar 5.2), dan terarah pada sungai yang menjadi unsur pokoktapak tersebut. Selain itu, direncanakan juga ketika pengunjung melalui jalan tersebut, Gambar 5.3 - Fitur air di depan istana. Perihal lain yang menjadi masukan serta perbaikan adalah peletakan dan posisi MeriamPuntung yang dirancang untuk dipindahkan kebagian belakang Istana Maimun. Oleh karena sejarah yang kuat dan peran meriam yang memang seharusnya berfungsi sebagaipelindung posisi depan sebuah kerajaan, maka posisi Istana Maimun tetap berada di bagian depan bangunan untuk menghormati fungsi serta sejarah dari Meriam Puntung itusendiri. Pengadaan unsur air kedua yang terdapat di bagian belakang tetap berdasar pada unsur geometris Istana Maimun, sehingga tercipta kesan simetris yang serupa. Untukgenerator kegiatan, maka dirasa butuh diletakkan sesuatu yang cukup menarik untuk dinikmati ataupun dilihat, dan kereta kerajaan yang saat ini terletak di depan Istana dirasa Gambar 5.4 - Kereta Sultan dan lokasi penempatan baru. Gambar 5.5 - Pengembangan daerah muka sungai. Sebagaimana telah disebutkan mengenai pengembangan wilayah muka sungai, maka tapak yang terletak di sisi kiri maupun kanan Istana Maimun, serta tapak yang berada disebrang Istana akan dijadikan sebagai daerah publik yang mana pengunjung mampu menikmati dengan maksimal suasana sungai yang ada (Gambar 5.5). Rancangan mukasungai yang sudah ada dalam perencanaan perancang adalah adanya bagian tapak yang menurun ke arah sungai, unsur sungai buatan yang mengarahkan pengunjung dari sisiIstana Maimun sampai ke sungai, restoran atau foodcourt yang menghadap sungai, Oleh karena itu, tapak Istana Maimun juga akan diberi unsur pejalan kaki yang menghubungkan tapak ini dengan tapak di sebelahnya (Gambar 5.6). Gambar 5.6 - Garis merah menunjukkan jalur pejalan kaki. Permasalahan mendasar juga muncul mengenai bagaimana menghubungkan unit perumahan dengan bangunan Istana Maimun, terkhusus bagi keluarga Sultan. Hal iniberdasar pada kondisi riil dimana masih terdapat beberapa keluarga yang saat ini memiliki tempat tinggal yang terdapat pada lantai dasar istana. Hal yang menjadiperdebatan adalah keberadaan mereka yang belum tentu sangat terikat pada istana, dan untuk permukiman keluarga Sultan yang terletak di belakang istana, setelah dilakukan Gambar 5.7 - Akses dari apartemen ke istana. Dalam pengolahan fasad, masih terdapat beberapa kekurangan, terkhusus pada bangunan apartemen. Kekurangan terdapat pada cara pengolahan fasad pada bagian yang datar(Gambar 5.8) yang dirasa cukup buruk karena pengolahan fasad dirasa langsung terputus dan tidak memiliki hubungan dengan pengolahan fasad bagian lain. Yang terakhir adalahpeletakan unsur pemisah vertikal antar unit apartemen yang juga sudah disebutkan sebelumnya - yang berpotensi menjadi pengolahan yang cukup menarik (Gambar 5.9). Gambar 5.8 - Fasad apartemen dengan sisi datar yang memberi kesan terpotong. Gambar 5.9 - Perkembangan fasad apartemen. Untuk pengolahan Istana Maimun sendiri, bila memungkinkan, maka hendak direncanakan posisi-posisi ataupun penzonaan interior bangunan istana, terkhususnyaadalah pembagian zona publik serta zona privat yang diperuntukkan bagi kepentinganSultan kedepannya.Pembagian zona publik yang sudah direncanakan kemungkinan besar adalah pengadaan museum dan galeri pada lantai dasar bangunan istana serta restoranyang menyediakan fine-dining pada lantai keduanya. Untuk zona privat, ruang-ruang seperti ruang kerja, ruang istirahat, ruang pengadaan prosesi adat dalam ruangan, sertaruang servis seperti dapur dan stok barang untuk kepertingan kesultanan akan diletakkan Gambar 5.10 - Pembagian zona dalam istana. Hal lain yang diperoleh perancang yang cukup penting pula adalah mengenai cara presentasi yang begitu mempengaruhi persepsi yang diperoleh orang lain, terutama klien,terhadap rancangan yang dibuat. Presentasi yang baik disertai dengan perancangan yang baik pula akan benar-benar memuaskan klien serta memberi pemahaman yang maksimalterhadap klien, dan sebaliknya, presentasi yang buruk, tidak mempedulikan baik atau buruknya rancangan, akan membuat persepsi perancang serta klien mungkin berbeda dantidak memperoleh satu titik temu. Pengembangan sebuah perancangan sering kali menjadi sebuah "momok" bagi perancang, mengingat bagaimana besarnya kemungkinan terjadi kesalahan yang fatal Pengembangan utilitas, mekanikal, dan elektrikal juga akan sangat bermanfaat serta berguna agar perancang tahu apakah bangunan ini sudah layak atau paling tidakmemungkinkan untuk ditinggali atau dihuni dengan tingkat kenyamanan yang standar.Hal ini tentunya melibatkan perancangan skema utilitas, mekanikal, dan elektrikal yang mengacu pada sebuah standar yang pada umumnya digunakan dalam proses perancangansebuah bangunan. Melalui acuan pada standar inilah, kelayakan sebuah bangunan untuk dihuni padat diketahui, meskipun pengembangan lebih lanjut dan detail akan kemudiandilaksanakan oleh ahli utilitas, mekanikal, maupun elektrikal yang mungkin akan kembali memberikan perubahan-perubahan dalam perancangan yang dibuat. Beranjak dari pengertian mendasar perancang serta "ketakutan" yang disebut diatas, pada akhirnya, perancang menemui bahwa ketakutan atau momok tersebut benar terjadi padaperancangan mendasar yang perancang selesaikan, salah satu kesalahan yang perancang rasa cukup fatal adalah mengenai peletakan shaft pada bangunan apartemen. Meskipunpeletakan shaft pada bangunan hotel sudah mumpuni, perancang bingung dan cukup heran, bagaimana perancang bisa berakhir pada kesalahan yang seharusnya sudahdihindari pada awalnya. Kesalahan peletakan shaft yang hendak diletakkan di posisi Gambar 5.11 - Perubahan posisi dinding dan shaft. Kesalahan peletakan shaft tersebut, berujung pula pada perbaikan layout unit apartemen tipikal di setiap lantainya. Perbaikan ini, untungnya, tidak begitu memakan waktu,meskipun, terjadi beberapa revisi sampai akhirnya memperoleh perbaikan yang final. Hal yang menarik, ditemui oleh perancang adalah bagaimana perubahan yang terjadi pada layout unit apartemen tersebut (Gambar 5.12) menimbulkan kualitas ruang yang dirasa lebih baik dari sebelumnya. Peletakan shaft kemudian berkembang dan dibuat dengan orientasi shaft dari lantai tipikal kedua bangunan tersebut, yang kemudian dilanjutkan sampai pada bagian terbawah. Perancang menemui pada beberapa titik bahwa shaft (khususnya shaft yang menampung pipa untuk air bersih, air panas, air kotor, serta shaft septic tank) membutuhkanpengalihan sehingga tidak menimbulkan adanya ruang yang tiba-tiba memiliki shaft di tengah ruang tersebut yang tentunya merusak estetika dan menghalangi adanya fungsiruang yang berjalan pada ruang tersebut. Pengalihan tersebut tentunya dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk materi dalam pipa atau saluran tersebut dapatmengalir dengan baik. Untuk alur utilitas atau sanitasi, perancang meletakkan tangki air pada bagian basement yang menampung pasokan air utama, yang kemudian dipompa ke bagian paling atasbangunan dan akhirnya didistribusikan sebagai pasokan air di setiap ruang yang membutuhkan. Pada pendistribusian air tersebut, terdapat boiler pada lantai paling atasuntuk memenuhi kebutuhan air panas pada bagian atau ruang-ruang tertentu bangunan, khususnya untuk unit kamar pada bangunan hotel (Gambar 5.13). Untuk air kotor akandialiri ke pengolahan limbah yang kemudian dialiri ke riul kota. Gambar 5.13 - Sistem utilitas bangunan hotel dan apartemen. Kesalahan lain yang dibuat oleh perancang adalah bagaimana perancang membuat tinggi bangunan yang sudah pas dengan tinggi maksimal yang diizinkan, tanpa memikirkanmengenai peletakan rumah lift, tangki air, cooling tower, dan lainnya yang tentunya juga menambah tinggi bangunan secara keseluruhan. Hal ini pada akhirnya menyebabkanterjadinya pengurangan tinggi lantai bangunan tertentu, khususnya pada lantai podium yang masih bisa dikurangi tingginya (Gambar 5.14 dan 5.15). Untuk bangunan hotel,pengurangan tinggi lantai juga terjadi pada setiap lantai tipikal sehingga setelah penambahan lantai bagian atap bangunan, ketinggian maksimal bangunan yang diizinkantidak terlampaui. Gambar 5.14 - Penambahan lantai utilitas bangunan hotel. Gambar 5.15 - Penambahan lantai utilitas bangunan apartemen. Proses perbaikan ini juga ternyata membuahkan perancangan yang memberi efek yang positif pula. Perancang tinggal di negara tropis dan sangat merasakan perbedaantemperatur yang terjadi antara lantai teratas bangunan dengan lantai dibawahnya, terkhusus pada bangunan yang menggunakan dak beton sebagai penutup bangunanteratas. Dirasakan bahwa lantai teratas yang dapat dihuni (hanya dibatasi oleh dak beton sebagai pelindung cuaca) memiliki temperatur yang secara signifikan lebih tinggi, olehkarena sifat beton yang menyerap panas dengan sangat baik, dan dengan cepat melakukan emisi panas tersebut ke ruang dibawahnya. Hal ini dirasa sangat tidak adil bagi penghuni yang tinggal pada bagian paling atas sebuah Untuk masalah pengkondisian udara, perancang telah mempersiapkan ruang yang dianggap sudah cukup untuk distribusi secara vertikal (ruang AHU) pada bangunan hotel,maupun pada salah satu menara apartemen. Untuk bangunan apartemen, setiap unit akan diproyeksikan untuk menggunakan pengkondisian udara dengan sistem split, sehinggapenghuni dapat dengan mudah serta fleksibel, mengatur seberapa banyak pengkondisian udara yang dibutuhkan. Untuk koridor menara apartemen, salah satunya akanmenggunakan pengkondisian udara, dan yang satunya lagi memanfaatkan pergerakan udara secara alami, dengan adanya lubang-lubang vertikal yang dibuat sehingga udaradapat mengalir dengan baik dan memberi kenyamana termal yang cukup pada koridor salah satu menara apartemen. Selain utilitas dan pengkondisian udara, sistem elektrikal juga menjadi pertimbangan, terdapat paling tidak dua shaft yang melayani distribusi listrik secara vertikal (Gambar5.16). Arus listrik direncanakan untuk dibuat melalui mesin generator, bukan hanya melalui PLN mengingat kebutuhan daya listrik yang cukup besar sesuai dengan hitunganyang telah dibuat pada programming sebelumnya, selain mesin generator utama, juga disediakan mesin generator cadangan guna mengantisipasi bila terjadi permasalahan padamesin generator utama. Gambar 5.16 - Sistem distribusi elektrikal bangunan hotel dan apartemen. Untuk keselamatan terhadap bencana seperti kebakaran maupun gempa bumi, tangga kebakaran dibuat pada titik yang mampu melayani cakupan jarak maksmimal 20-30 metersehingga bila terjadi bencana, penghuni ataupun pengguna bangunan dapat dengan segera mengakses tangga darurat (Gambar 5.17 dan 5.18). Gambar 5.18 - Jalur evakuasi bangunan hotel. Pembuatan sistem utilitas, mekanikal maupun elektrikal pada akhirnya, sebagaimana telah disebutkan di atas, menjadi tolak ukur untuk kelayakhunian sebuah bangunan. Danmelalui perancangan sistem tersebut pula, diketahui apakah bangunan yang dirancang mampu melayani penghuni ataupun pengguna bangunan dengan baik atau tidak, danterakhir, melalui pengetahuan akan dasar sistem-sistem tersebut, perancangan yang dibuat kiranya bisa dipertahankan dan tidak berubah bila disisipkan perancangan sistembangunan yang lebih detail oleh para ahli sistem tersebut, mengingat banyak bangunan yang dirancang arsitek setelah dimasuki oleh perancangan sistem menjadi berubah dansering kali tidak sesuai dengan rancangan awal, atau bahkan menjadi tidak layak bangun. Perubahan-perubahan yang tercipta oleh karena kesalahan perancangan yang dibuat sebelumnya, menimbulkan beberapa pertimbangan ulang terutama pada sistempembalokan struktur bangunan, serta pada pembentukan fasad bangunan. Untuk mendapatkan sebuah keyakinan bahwa perubahan-perubahan tersebut menjadikanrancangan masih layak ataupun memungkinkan untuk berdiri kokoh, maka proses perancangan yang dilakukan selanjutnya adalah penentuan pembalokan untuk keduabangunan. Pembalokan merupakan salah satu bagian yang paling penting dalam struktur, yang menahan beban lantai dan kegiatan yang terjadi pada bidang lantai tersebut. Pembalokandirasa cukup menentukan bagi peletakan shaft agar tidak terjadi bentrok antara saluran- saluran yang menerus ke atas dengan balok yang menerus secara horizontal. Untukpembalokan pada bangunan hotel maupun apartemen, dibagi menjadi beberapa bagian tipikal, yaitu pembalokan tower (Gambar 5.19 dan 5.22), pembalokan podium (Gambar5.20 dan 5.23), serta pembalokan pada bagian basement (Gambar 5.21 dan 5.24). Pada bagian podium dan basement dapat terlihat adanya beberapa pembagian pembalokanyang dipisahkan oleh beberapa dilatasi. Berikut merupakan gambar-gambar pembalokan tipikal yang bisa ditemui pada kedua bangunan tersebut. Gambar 5.19 - Pembalokan lantai tipikal apartemen. Gambar 5.20 - Pembalokan lantai podium apartemen. Gambar 5.22 - Pembalokan lantai tipikal hotel. Gambar 5.23 - Pembalokan lantai podium hotel. Gambar 5.24 - Pembalokan lantai basement hotel. Untuk bagian ballroom pada bangunan hotel, terdapat sistem struktur yang cukup variatif atau bisa dikatakan sedikit berbeda dari struktur bangunan hotel secara menyeluruh. Platlantai akan ditopang oleh kolom yang cukup besar yang dapat terlihat pada bagian dasar bangunan (Gambar 5.25), lalu untuk penutup atau atap ballroom akan ditopang olehstruktur kantilever yang merupakan struktur balok kantilever dari beberapa kolom yang merupakan kolom penopang salah satu sisi bagian podium serta tower. Pada bagian wiremesh yang memiliki bentuk lingkaran. Bentukan wiremesh yang digunakan adalah bentukan yang mengalir - sama dengan konsep utama, serta menggunakan pola lingkaran yang merupakan pengulangan pola skylight atau canopy pada bangunan hotel (Gambar5.26). Gambar 5.25 - Pembalokan beserta kolom (merah) pada bagian ballroom hotel. Gambar 5.26 - Wiremesh pada fasad hotel. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penutup bangunan merupakan ekstensi lantai yang memiliki kolom serta balok yang difungsikan sebagai lantai rooftopyang memiliki penutup pula. Hal ini memungkinkan adanya penghambatan perambatan Alucobond yang digunakan merupakan jenis yang tidak mengkilap sehingga terlihat seperti bahan semen yang digunakan sebagai penutup bangunan pada bangunan apartemen. Aluminium komposit tersebut dipakai untuk menutupi hampir secara keseluruhan sisi paling atas bangunan, namun akan diberi cela pada sisi atas maupun bawah bangunanyang berfungsi sebagai bukaan untuk membiarkan adanya terjadi sirkulasi angin, sehingga mengurangi panas pada bagian bangunan tersebut. Penutup bangunan padabagian tersebut akan ditopang oleh rangka baja ringan yang mengelilingi sisi luar bangunan. Gambar 5.27 - Potongan prinsip bangunan hotel (konsep yang serupa untuk penutup pada bagian sisi lantai rooftop). Penerapan penutup bangunan yang sama, yaitu menggunakan aluminium komposit dengan rangka baja ringan yang dilakukan pada bagian rooftop bangunan, juga diterapkan Berfungsi menunjukkan konsep mengalir (sifat dari air), overhang juga difungsikan sebagai pelindung dari panas matahari - yang mana overhang tersebut akan menciptakandaerah bayang-bayang, sehingga panas matahari terik, terutama dari sekitar pukul 11 sampai pukul 4, tidak memberi panas dalam ruangan tipikal hotel yang mengurangikenyamanan termal pengunjung ataupun pengguna. Sistem kantilever juga dibuat pada bangunan apartemen, namun menggunakan penerapan material yang berbeda. Kantilever yang berfungsi sebagai pemberi daerah bayang-bayangguna melindungi dalam bangunan atau ruangan dari hawa panas yang berlebihan, juga berfungsi sebagai balkon pada bangunan apartemen. Oleh karena kantilever tersebutberfungsi sebagai balkon, kantilever harus menggunakan rangka yang lebih kokoh, dan untuk itu, perancang menggunakan rangka beton sehingga kantilever kokoh dan mampumenahan beban yang terjadi karena terdapat aktivitas manusia di bidang kantilever tersebut. Untuk aspek fluiditas atau seperti yang telah disebut di atas, berupa konsepmengalir, pembatas balkon menggunakan cor yang memiliki bekisting atau cetakan yang unik di setiap bagiannya (Gambar 5.28). Gambar 5.28 - Potongan prinsip bangunan apartemen. Dari perubahan-perubahan tersebut, maka pada akhirnya pengembangan perancangan kembali terjadi dan pastinya membuat rancangan semakin baik dan semakin layak untukdibangun. Meskipun demikian, tentunya masih banyak yang mampu atau bisa diperbaiki dan dilengkapi pada tahap yang lebih lanjut, terutama dalam hal-hal yang lebih mendetailyang merupakan bagian yang lebih lanjut dari perancangan secara keseluruhan seperti peletakan titik-titik lampu, stop kontak, sampai pada jenis rumput dan tumbuhan yangdigunakan dalam rancangan lansekap proyek. Elaborasi yang lebih lanjut ini tentunya akan membawa rancangan ke tahap yang lebih final dan semakin dimengerti olehkontraktor atau orang-orang yang terlibat dalam proses pembangunan rancangan. Tahap penyajian diawali oleh penyusunan mengenai apa yang hendak dipresentasikan.Penyusunan tersebut kemudian direalisasikan melalui pembuatan layout atau tatanan per lembar (presentasi menggunakan kertas berukuran A1 sebagai media) berisikan hal-halyang hendak dipresentasikan. Penyusunan layout-lah yang menjadi dasar dari pembuatan poster yang akan disajikan nantinya. Perancang membuat susunan yang menjadikanhirarki sebagai dasar dari pembuatan layout poster. Hirarki yang digunakan adalah berdasarkan pada skala. Sehingga menimbulkan halaman- halaman yang mengandung unsur gambar-gambar berskala besar diletakkan di halaman-halaman awal poster. Namun untuk halaman pertama, guna menjelaskan inti kesinambungan gambar rancangan dari awal sampai akhir, diletakkan konsep bangunanmaupun tapak secara keseluruhan yang disertai dengan sebuah gambar perspektif yang bersifat menyeluruh sehingga dalam penyajiannya, pendengar maupun para pembaca Untuk halaman kedua, perancang memasukkan gambar dengan skala terbesar, yaitu gambar tapak secara keseluruhan serta skyline yang terbentuk ataupun yang bisa disebutsebagai potongan tapak (Lampiran 2.2). Melalui gambar ini, perancang berharap tatanan skyline serta bentukan massa bangunan dapat jelas terlihat dan melalui gambar ini pula dapat dijelaskan bagaimana pengaruh perancangan terhadap lingkungan disekitar bangunan tersebut. Selanjutnya pada halaman ketiga (Lampiran 2.3) dan keempat (Lampiran 2.4), perancang menyajikan rancangan konseptual dari berbagai aspek, seperti dari hal yang palingmendasar yaitu aspek inti bangunan serta pembagian zona bangunan ataupun pemrograman yang dicocokkan dengan massa bangunan yang terbentuk. Selain keduaaspek tersebut, perancang menyajikan konsep jalur atau sistem utilitas serta elektrikal yang melayani kedua bangunan tersebut. Gambar yang terakhir yang dibubuhkan padakedua halaman tersebut adalah gambar konsep sistem struktur serta pelapis bangunan.Gambar-gambar tersebut disajikan secara aksonometri guna memberikan kesan riil dan menunjukkan keteraturan konsep-konsep dari aspek-aspek yang berbeda dalam keduabangunan tersebut. Gambar groundplan serta elevasi atau tampak adalah gambar yang disajikan berikutnya(Lampiran 2.5). Gambar ini sudah lebih detail, dengan skala yang lebih besar, menunjukkan rancangan tapak secara keseluruhan beserta gambaran denah lantai dasardari kedua bangunan. Gambar groundplan menunjukkan hubungan konsep tapak dengan Melalui halaman groundplan, maka dua halaman berikutnya yang berupa halaman yang berisi gambar-gambar denah dapat dijelaskan (Lampiran 2.6 dan 2.7). Kedua halamantersebut mengadung gambar denah bangunan yang lengkap, berisi denah di atas dan di bawah lantai dasar, menunjukkan rancangan yang menanggapi serta merupakanpengembangan langsung dari pemrograman yang sudah diperlihatkan pada halaman awal.Halaman ini juga menunjukkan detail seperti alur sirkulasi pengunjung maupun servis serta menunjukkan hubungan antara inti bangunan dan ruangan sekitar yang dilayani olehinti bangunan tersebut. Gambar potongan kemudian menjelaskan hubungan bangunan dan ruangan di dalamnya secara vertikal dan menunjukkan batasan antara ruang luar terhadap ruang dalambangunan (Lampiran 2.8). Melalui gambar potongan dapat pula dijelaskan ketinggian bangunan, dalam kasus ini menjelaskan bahwa terdapat batasan tinggi maksimal yangharus dijaga. Selanjutnya terdapat potongan yang lebih mendetail pada halaman ini untuk menunjukkan sambungan-sambungan secara keseluruhan dari kulit luar bangunanterhadap struktur bangunan, serta untuk memberi skala, dibubuhkan figur pengguna. Rancangan tipikal ruangan terdapat pada halaman berikut setelah gambar potongan, untuk memberikan detail terhadap ruangan tipikal pada bangunan hotel dan apartemen, disusunsesuai dengan jenis ruangan (untuk bangunan apartemen) serta lokasi ruangan (untuk bangunan hotel). Gambar rancangan tipikal ruangan dibuat dengan warna agar dapat lebihmudah dimengerti posisi furnitur terhadap ruangan, serta menunjukkan kualitas material dari perabot maupun lantai ruangan yang ada (Lampiran 2.9). Pada halaman terakhirdisertakan gambar-gambar ilustrasi berupa eksterior bangunan serta beberapa gambar interior bangunan, gambar ilustrasi tersebut berfungsi menunjukkan suasana yang terciptadari hasil rancangan serta memberikan kesan yang lebih riil dari rancangan yang dibuat (Lampiran 2.10). Poster yang dibuat perancang juga memiliki konsep tersendiri. Perancang menekankan kesederhanaan dari poster sehingga gambar yang disajikan tampak lebih menonjoldibandingkan dengan desain poster itu sendiri. Perancang menggunakan dua warna sebagai warna utama dari rancangan poster, yaitu warna biru muda dengan warna hijaumuda. Warna tersebut diambil dari warna yang paling banyak ditemui di alam - guna menekankan tema yang diangkat perancang, serta menunjukkan adanya kesinambunganantara rancangan poster dengan rancangan arsitektural yang dibuat oleh perancang. Untuk setiap halamannya, perancang membuat kotak yang berisikan nomor halaman untukmemudahkan orang-orang yang melihat presentasi rancangan sesuai dengan nomor halaman atau alur yang dibuat dalam memahami rancangan. Tulisan yang dipilih juga sangat menentukan bagus tidaknya sebuah presentasi. Dalam hal ini, untuk menyelaraskan kesederhanaan poster dengan tulisan, perancangmenggunakan tulisan sans serif yang tidak memiliki "ekor-ekor" pada tulisannya (Gambar 6.1). Tulisan san serif yang dipilih adalah tulisan bernama "Avant Garde", yang mana sangat sederhana dan terlihat berkelas. untuk ukuran tulisan dibuat berkisar antaraukuran 24 - untuk tulisan-tulisan judul maupun penjelasan, sampai 100 - untuk tulisan tema besar pada halaman pertama. Gambar 6.1 - Perbedaan tulisan serif dan sans serif. Pembuatan maket juga tidak bisa terlepas dari presentasi akhir, oleh karena keterbatasan waktu, pembuatan maket dibeuat sesederhana mungkin, namun menunjukkan detail yangsebanyak mungkin. Maket dibuat dengan alas tripleks beserta beberapa lapis sol untuk menunjukkan kedalaman sungai dan dilapis dengan kertas tik sebagai dasar tapakbangunan. Kertas tik juga dipakai untuk keseluruhan model bangunan karena kemudahan pengolahan bahan tersebut. Maket dirasa cukup berguna dalam presentasi untukmenunjukkan kualitas ruang yang tercipta serta mampu membantu dengan sangat baik ketika mempresentasikan rancangan (Gambar 6.2). Gambar 6.2 - Maket dengan material kertas tik dan warna yang seragam. Arsitektur merupakan sebuah praktek yang memiliki unsur seni yang sangat kental. Oleh karena unsur tersebutlah, keindahan ataupun kualitas sebuah karya arsitektur terkadangbisa menjadi sangat subjektif. Terkait dengan subjektivitas karya arsitektur, Cuff (1992) menyebutkan bahwa untuk menentukan kualitas sebuah rancangan arsitektur, terdapattiga (3) pihak yang menjadi penilai, atau penentu kualitas tersebut, yaitu konsumen atau user dari rancangan, pihak-pihak yang terkait dalam rancangan, serta keprofesian arsitek itu sendiri. Melalui ketiga pihak itulah, mampu diketahui apakah rancangan memiliki kualitas yang baik, atau lebih tepatnya dikatakan berhasil. Meski tidak semua pihak penentu kualitas tersebut hadir dalam proses perancangan ini, perancang melihat dan meyakini bahwa hasil rancangan yang dibuat, bisa dikatakancukup baik adanya, mengingat feedback yang diberikan dari pihak-pihak yang terkait dalam perancangan adalah cukup baik pula. Terlepas dari umpan balik yang baik,perancang juga mengetahui, melalui umpan balik tersebut, bahwa masih begitu banyak hal yang bisa diperbaiki dan disempurnakan. Hal-hal yang dirasa sangat membantu Perancangan yang dilakukan, sebagaimana diketahui adalah sebuah apartemen dan hotel, yang mana disebutkan bahwa apartemen yang dibangun diperuntukkan bagi kalanganmenengah namun tidak memisahkan keluarga Sultan yang juga akan direlokasikan ke bangunan apartemen tersebut. Komentar yang dimaksudkan dalam aspek ekonomi adalahmengenai bagaimana pemanfaatan ruang yang mana masih terasa terlalu mewah dan mahal sehingga tidak cocok dengan tujuan atau target pasar. Hal ini memang nyata terlihat pada bangunan apartemen yang dirancang yang mana memiliki bentukan dasar yang melengkung - sehingga menjadikan efektivitas ruang lebih"boros" dibanding dengan bangunan yang memiliki bentuk segi tertentu. Bangunan yang memiliki bentuk-bentuk lengkung pula mempunyai kesan dan memasuki kategoribangunan state-of-art yang pastinya juga memiliki pasar tersendiri dengan harga yang jauh lebih tinggi pula. Perihal bentuk bangunan apartemen dan efektivitas ruangnya yang mengakibatkan adanya lonjakan harga yang cukup drastis, ternyata tidak begitu menjadi permasalahan bilafungsi bangunan tersebut adalah bangunan hotel. Hal ini disebabkan oleh pasar yang jauh berbeda satu dengan yang lainnya - terlebih lagi bila hotel yang dibangun adalah hoteldengan jenis hotel butik yang mana para peminat adalah yang mencari pengalaman khusus dan unik. Melalui pasar ini, bentukkan massa hotel yang memiliki unsurmelengkung bahkan bisa menjadi nilai tambah terhadap aspek keberlanjutan dalam hal ekonomi bangunan. Berbicara tentang teknologi bangunan, banyak hal yang harus kembali dipelajari dan dikuasai oleh perancang mengingat efektivitas dan efisiensi inti bangunan yang dibuatmasih kurang. Kekurangan dalam hal efektivitas dan efisiensi tentunya juga akan berpengaruh terhadap nilai ekonomi proyek atau rancangan - yang pastinya membuatbangunan menjadi semakin mahal untuk dibangun. Kesadaran akan kekurangan ini, diharap mampu dipakai oleh perancang sebagai satu pembelajaran untuk proyekrancangan berikutnya, sehingga perancang mampu menciptakan rancangan yang kemudian semakin efektif dan efisien. Perihal lain yang cukup penting sebagai tanggapan terhadap rancangan yang dibuat adalah mengenai permasalahan bentukan massa secara keseluruhan yang dianggap terlaluvariatif dan kurang peka terhadap bentukan massa yang ada di lingkungan sekitar tapak.Hal ini juga mempengaruhi keberadaan bangunan Istana Maimun yang seharusnya menjadi pusat perhatian dari bentukan massa di lingkungan sekitar tapak. Terlebih lagi,perancang juga disadarkan bahwa secara mendasar, keberadaan bangunan yang baru, mau tidak mau, akan merusak atau paling tidak memberi degradasi nilai terhadap keberadaanIstana Maimun itu sendiri. Melalui tanggapan dan rekomendasi yang diberikan terhadap rancangan, perancang menyadari bahwa rancangan yang dibuat ternyata masih cukup jauh dari kualitasrancangan yang "sempurna", terkhusus pada tanggapan yang berasal dari pihak keprofesian arsitek. Namun, melalui tanggapan tersebutlah, perancang berharap adasebuah langkah lebih maju, sebuah metamorfosis ataupun perubahan yang menjadikan proses perancangan yang akan dilakukan berikutnya menjadi lebih baik lagi. Berawal dari perombakan tapak yang dirancang untuk menciptakan sense of place yang lebih tegas melalui kehadiran dua fitur air (air mancur di depan istana serta gazebo dibelakang istana) yang berlanjut atau berkesinambungan dengan sungai buatan. Sungai buatan dibentuk dengan sebuah fitur, historical walk, yang mengajak para pengunjunguntuk lebih mengenal sejarah dan cerita yang terdapat pada kompleks Istana Maimun.Pengunjung juga diarahkan menuju sungai melalui historical walk dan menuruni beberapa anak tangga lebar untuk mengarah pada bibir sungai. Pengunjung yang hendak menikmati kompleks atau kawasan Istana Maimun dan sekitarnya dapat menginap di hotel butik yang terletak di sisi kanan istana. Pengunjungyang menginap dapat menikmati pemandangan dengan maksimal melalui bukaan yang 86 dilapisi oleh kaca pada ruangan hotel, namun tetap terlindung terik matahari melalui overhang yang tercipta dengan pendekatan organik, yang menunjukkan adanya kesan fluiditas dari sisi paling atas sampai perbatasan lantai tipikal dengan podium bangunan. Pendekatan organik dan orientasi bangunan terhadap bangunan Istana Maimun juga sangat terasa pada berbagai sisi bangunan melalui pengadaan bukaan sehinggamenciptakan kesan yang terbuka terhadap bagian luar bangunan. Relokasi keluarga Sultan dilakukan guna membebaskan lahan yang kini terlihat kumuh - yang akan dijadikan ruang publik seperti yang dijelaskan sebelumnya. Keluarga Sultanakan direlokasikan ke bangunan apartemen pada sisi kiri istana. Untuk bangunan apartemen, konsep fluditas juga dihadirkan melalui bentukan balkon di setiap lantainyauntuk menyelaraskan kedua bangunan sebagai latar dari bangunan Istana Maimun.Bangunan apartemen juga akan memiliki foodcourt yang berfungsi sebagai relokasi warung yang kini terletak di salah satu sisi istana. Kedua bangunan memiliki akses langsung ke taman di belakang istana yang memiliki fitur air, anak tangga menuju sungai, serta sebuah jalur pejalan kaki di sepanjang SungaiDeli yang juga merupakan salah satu tahap untuk revitalisasi dan pengembangan ulang kawasan muka sungai terkhusus di Sungai Deli. Keterbukaan yang tercipta di kawasanmuka sungai diharapkan mampu menciptakan atau menimbulkan kesadaran pengunjung serta penduduk kota Medan akan keberadaan sungai sebagai penopang keberlangsunganhidupnya kota Medan.Tahapan berikut yang dilakukan adalah pengembangan konstruksi bangunan - menggunakan sistem rangka kaku (rigid frame) dengan material beton, pengembanganjuga berlanjut sampai tahap utilitas dan elektrikal yang mengusahakan agar bangunan 87 tetap ramah lingkungan dengan menghadirkan sewage treatment system sebelum limbahdisalurkan ke riul kota (bukan sungai). Melalui perancangan ini, keberlanjutan diharapkan untuk tetap terjaga, terutama dalam aspek ekonomi Kesultanan Deli - yaitu melalui hadirnya hotel butik, dan apartemen yangpastinya mampu dijadikan sebagai investasi jangka panjang yang baik. Hal ini juga memungkinkan meningkatnya kesejahteraan keluarga Sultan dengan munculnya banyaklahan pekerjaan yang baru seiring dengan hadirnya berbagai fitur di kompleks istana seperti hotel, restoran, foodcourt, ruang publik, galeri, dll. Pada akhirnya melaluiperubahan ini, yang merupakan tahapan awal dari pengembangan ulang dan revitalisasi kawasan muka sungai di kota Medan, perancang berharap adanya sebuah pembaharuan,dan perbaikan kota yang mengarahkan kota Medan menjadi kota yang lebih sadar akan keberadaan lingkungan dan tentunya menjadi kota yang menjaga dan melestarikanalamnya. EPILOG ARCHITECTURE AND NATURE Alam merupakan satu esensi yang sangat rumit untuk dimengerti, terutama dalam hal bagaimana cara alam bekerja secara utuh. Di satu sisi, alam, terlalu mudah untukdinikmati, bahkan keindahan dan kekayaan alam itu sendiri sering kali menjadi sebuah tujuan mutlak bagi sebuah proses atau perjalanan. Alam juga sering kali dilibatkansebagai sebauh esensi yang sangat berhubungan dengan manusia, bahkan manusia termasuk sebagai alam itu sendiri, terlepas bagaimana sikap manusia terhadap alam,merusak, dan mengekspolitasi. Dunia arsitektur serta prakteknya, menurut perancang, sangat berkaitan dengan alam, dan terlihat pula bahwa pada akhirnya, sebaik apapun, sebagaimanapun konsep ramahlingkungan yang ditawarkan, alam tetap menjadi korban eksploitasi dari praktek arsitektur - apakah itu eksploitasi yang benar-benar merusak, ataupun hanya sekedar"mengusik". Terlepas dari eksploitasi yang terjadi dalam praktek arsitektur, ada sebuah unsur ataupun nilai yang dimiliki dalam arsitektur yang mampu mengubah cara pandang. Arsitektur yang mampu mengajak pengguna menjadi sadar, bahwa alam patut dijaga, dipelihara, dan dilestarikan. Melalui praktek arsitektur pula pemahaman bahwaeksploitasi alam bisa diminimalisir mampu dinyatakan. Proses perancangan yang dilakukan oleh perancang kali ini menyadarkan perancang bahwa masih terlalu besar dan banyak kerusakan yang bisa terjadi akibat perancanganyang dibuat. Namun, melalui pengadaan sebuah perancangan, yang mengangkat aspek Memaksimalkan pandangan, memberikan pengetahuan akan sebuah sejarah, dan mengajak pengunjung menelusuri jalan setapak yang dibuat di sepanjang sungai, itulahyang menjadi kunci utama perancang dalam proses yang dialami untuk melakukan perancangan tersebut. Melalui proses ini, perancang juga semakin sadar, dan berharapbahwa rancangan-rancangan yang akan dibuat kemudian dapat lebih sadar dan lebih menghargai lingkungan yang ada. Arsitektur yang memperbaiki alam, atau paling tidakarsitektur yang mempertahankan alam, itulah yang akan dijadikan sebagai sebuah tujuan, kelak, oleh perancang. AWG Architecten. 2014. DEWERF - PIUSHAVEN. (Online). (http://www.archello.com/ en/project/dewerf-piushaven, diakses 9 Juli 2013)Cuff, Dana. 1992. ARCHITECTURE: THE STORY OF PRACTICE. Cambridge: MIT Press.Frearson, Anne. 2013. NEO BANKSIDE BY ROGERS STIRK HARBOUR + PARTNERS.
Reminiscing Nature FROM THE RIVER Reminiscing Nature IT GROWS Reminiscing Nature SOMETHING TO BE REMEMBERED, REALITY AND POTENCIES TWISTS TURNS Reminiscing Nature
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Dolok Sibualbuali Nature Reserve

Martelu Purba Nature Preserve

Dolok Tinggi Raja Nature Reserve

Nature Resources Product Shared Fund

Upload teratas

Reminiscing Nature

Gratis

Feedback