Rancangbangun hukum dalam pengelolaan pulau pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara

Gratis

11
155
349
2 years ago
Preview
Full text
RANCANGBANGUN HUKUM DALAM PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR KASUS PULAU MARORE DAN PULAU MIANGAS PROVINSI SULAWESI UTARA DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 ii PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rancangbangun hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar: Kasus Pulau Marore dan Pulau Miangas, Provinsi Sulawesi Utara adalah benar karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk cetakan dan atau bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun di dalam dan di luar negeri. Sumber informasi yang bersumber atau dikutip dari karya yang diterbitkan dan atau tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam tulisan dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir disertasi ini. Bogor, Agustus 2010 Denny Benjamin Albrecht Karwur NIM C251030051 iii ABSTRACT DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR. Law Design in Managing Outermost Small Islands in the North Sulawesi Province. Under the supervision DIETRIECH G. BENGEN, ROKHMIN DAHURI, DANIEL R. MONINTJA, VICTOR PH. NIKIJULUW, and MARIA F. INDRATI. Small islands border region has a tremendous potential in supporting national development. The determination of management policy is very important because of the strategic of border marine resources existence. The islands in the border regions of the country are vulnerable to the intervention of other countries and transnational crimes. The concept of development policy of small islands in Indonesia must be planned and implemented in an integrated manner for the development and welfare of the nation. The northern regions, i.e. the North Sulawesi Province, that locates next to the Philippines is important for the integrity of the management of small islands and border areas and of law enforcement in Indonesia. Target elements, elements and strategies explain the delimitation of the nation borders between Indonesia and the Philippines, in particular the Exclusive Economic Zone (EEZ) that overlaps each other, to optimize the management of natural resources. Draft of Law of Small Islands State Border and the provision of local government authority to carry out assistance duty of border management and stating Small Islands in the border regions as state islands and given a special certificate. Keywords: Coastal Law, Delimitation of EEZ of Indonesia, Law Enforcement, Management for Small Island State Border, Defense and security of state border, and Certificate of State Island iv RINGKASAN DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR, Rancangbangun Hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Dibimbing oleh DIETRIECH G. BENGEN, ROKHMIN DAHURI, DANIEL R. MONINTJA, VICTOR PH. NIKIJULUW, dan MARIA F. INDRATI. Pulau-pulau kecil wilayah perbatasan memiliki potensi sangat besar dalam menunjang pembangunan nasional. Penentuan kebijakan pengelolaan merupakan hal yang sangat penting, karena keberadaan (eksistensi) sumberdaya kelautan perbatasan sangat strategis. Pulau-pulau di daerah perbatasan wilayah negara rentan terhadap intervensi negara lain, dan kejahatan transnasional. Konsep kebijakan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia harus direncanakan dan dilaksanakan secara terpadu untuk pembangunan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Indonesia bagian utara yang berbatasan dengan negara Filipina, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini mengkaji keterpaduan pengelolaan pulau kecil didaerah perbatasan dan penegakan hukum Indonesia dengan perangkat peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan elemen sasaran, elemen dan strategi menunjukkan bahwa penetapan batas negara (delimitasi) khususnya Zona Ekonomi Eksklusif, antara negara Indonesia dan Filipina yang tumpang tindih sehingga tidak mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam secara maksimal. Rancangbangun hukum diarahkan pada hubungan diplomatik antar kedua negara dengan pertemuan bilateral untuk menyelesaikan batas wilayah negara, pengakuan wilayah secara bersama dan melaporkan kepada Perserikatan BangsaBangsa dalam bentuk Undang-Undang Perbatasan Negara dan lampiran Peta Batas Negara. Pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah melaksanakan tugas pembantuan pengelolaan wilayah perbatasan. Pulau-Pulau Kecil di perbatasan wilayah negara di tuangkan dalam bentuk Sertifikat Pulau Negara. Nilai skor faktor eksternal pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara adalah 2.339. Menurut David (2004), nilai skor di bawah 2.5 mengindikasikan bahwa pemanfaatan peluang dan mengatasi ancaman belum efektif. Tingkat kepentingan yang paling atas dari faktor eksternal adalah respon pengawasan perbatasan laut antar negara, yaitu mendapat bobot 0.126. Respon pengawasan yang masih lemah ini perlu diperbaiki dengan penegakan perangkat hukum dan peningkatan kapasitas kelembagaan pada unit kerja pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, sampai tingkat Nasional. Pengawasan dan penegakan hukum sangat dibutuhkan agar dapat diperoleh suatu kepastian hukum dalam menjaga kepentingan negara dari gangguan asing. Bidang kelembagaan penegakan hukum pengelolaan pulau-pulau kecil terluar perlu ditingkatkan sehingga terwujud penegakan peraturan perUndang-Undangan, pengawasan, pemantauan, pengamanan, dan pertahanan keamanan baik wilayah maupun sumberdaya. v Faktor eksternal didukung oleh kebijakan pemerintah untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang merupakan prioritas kedua dari faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara dengan bobot 0.121. Dengan kelembagaan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005, dan Peraturan Presiden RI Nomor 12 Tahun 2010 diharapkan setiap lembaga yang terkait mampu melakukan koordinasi kelembagaan yang efektif dan mampu memainkan peran sesuai kewenangannya. Faktor eksternal lain yang merupakan peluang dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar perbatasan negara antara lain kebijakan nasional mendorong investasi, kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas pengelolaan wilayah, meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumberdaya alam, konvensi Internasional terhadap hukum laut Indonesia dan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga. Faktor-faktor lain sebagai peluang dan pendukung bagi peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, adalah peranan langsung aspek hukum dan kelembagaan. Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga Filipina mampu mengkoordinasikan permasalahan wilayah perbatasan yang menjadi hak masing-masing negara. Ancaman dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar adalah belum ada penetapan batas laut yang disepakati bersama (ZEE) dengan bobot 0.113. Hal ini perlu untuk segera diselesaikan dan disepakati dengan upaya-upaya politis dan diplomatis. Namun demikian adanya konflik kepentingan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.099 dapat menjadi ancaman dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar sehingga sering menimbulkan konflik yang sulit diselesaikan karena tidak jelasnya kewenangan antar lembaga maupun antar pemerintahan pusat dan daerah. Oleh karena itu, diperlukan keterpaduan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Kondisi nyata dari pulau-pulau kecil perbatasan negara, saat ini adalah pemanfaatan sumberdaya alam hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masih adanya permasalahan di bidang hukum dan kelembagaan. Bukti nyatanya adalah maraknya pencurian ikan di kawasan tersebut dan sampai saat ini diakibatkan belum ada kepastian garis batas laut dan darat antara Indonesia dan Filipina. Pada aspek sosial ekonomi juga belum menunjukkan pertumbuhan, pulau-pulau tersebut masih mengalami keterisolasian dan tingkat kesejahteraan yang rendah. Begitu juga dengan lemahnya sistem pendanaan sehingga pelaksanaan program-program pembangunan belum bisa dilaksanakan secara kontinu. Komitmen pemerintah mengeluarkan kebijakan membentuk kelembagaan baru dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Berdasarkan Peraturan Presiden No 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Dalam pengelolaan perlu kelembagaan yang merupakan wadah koordinasi non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kelembagaan pengelolaan pulaupulau kecil terluar dilaksanakan oleh tim koordinasi yang telah dibentuk yang terdiri dari ketua Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) dan wakil ketua I merangkap Anggota Menteri Perikanan dan vi Kelautan dan Wakil Ketua II merangkap Anggota Menteri Dalam Negeri, sedangkan Sekretaris adalah Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Polhukam. Keanggotaan kelembagaan terdiri dari TNI, kepolisian, badan intelijen dan kementerian yang lain. Keberhasilan pengelolaan pulau-pulau kecil di perbatasan negara adalah pengembangan sebuah mekanisme prosedural untuk mengkoordinasikan kebijakan anggaran dan kebijakan pengelolaan. Pelaksanaan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara, telah ditetapkan organisasi Badan Nasional Pengelola Perbatasan dalam Peraturan Presiden. Menurut Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). BNPP sesuai Pasal 3, mempunyai tugas : penyusunan dan penetapan rencana induk dan rencana aksi pembangunan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan; pengoordinasian penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan serta pemanfaatan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan; pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan dan pengamanan Batas Wilayah Negara; inventarisasi potensi sumber daya dan rekomendasi penetapan zona pengembangan ekonomi, pertahanan, sosial budaya, lingkungan hidup dan zona lainnya di Kawasan Perbatasan; penyusunan program dan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan dan sarana lainnya di Kawasan Perbatasan; penyusunan anggaran pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan sesuai dengan skala prioritas; pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. Badan Nasional Pengelola Perbatasan sebagai pelaksana tugas dan fungsi adalah Menteri Dalam Negeri. Mekanisme koordinasi dalam pembuatan keputusan mengenai pengelolaan perbatasan negara dan konservasi sumberdaya pulau-pulau kecil perbatasan negara: (1) koordinasi antara pemerintah dan kalangan swasta; (2) koordinasi vertikal antara berbagai tingkatan pemerintah, kabupaten/kota, provinsi dan pusat; dan (3) koordinasi horizontal antara berbagai sektor pada tiap tingkatan pemerintahan. Kata Kunci : Hukum Pesisir, Delimitasi ZEEI, Penegakan Hukum, Pengelolaan Pulau Kecil Perbatasan Negara, Pertahan dan Keamanan Perbatasan Negara, Sertifikat Pulau Negara. vii © Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB viii RANCANGBANGUN HUKUM DALAM PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 ix Judul Disertasi : Rancangbangun Hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara Nama : Denny Benjamin Albrecht Karwur NIM : C261030051 Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr.Ir. Dietriech G. Bengen, DEA. Ketua Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. Prof.Dr. Ir. Daniel R. Monintja Anggota Dr. Ir. Victor Ph. Nikijuluw, M.Sc. Anggota Prof.Dr. Maria F. Indrati, S.H, M.H. Anggota Anggota Diketahui Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA. Tanggal Ujian : Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. Tanggal Lulus : x PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Tuhan Allah, Yang Maha Esa, karena hanya kemurahan dan bimbinganNya sehingga saya dapat menyelesaikan disertasi sebagai karya ilmiah, dengan judul : Rancangbangun hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Pulau Miangas Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara. Data primer, sekunder dan informasi dari ekspert yang berasal dari berbagai sumber yaitu Pemerintahan, Swasta, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lain. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya penulis ucapkan kepada : 1 2 3 4 5 6 7 8 Prof. Dr. Ir. Dietricht G. Bengen, DEA, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Prof.Dr. Ir. Daniel R. Monintja, Dr. Victor Ph. Nikijuluw, MSc, dan Prof.Dr.Maria F. Indrati, SH,MH, selaku Komisi Pembimbing, atas segala bimbingan, arahan selama penulis melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini Prof Dr. Indra Jaya, M.Sc dan Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, M.Sc, selaku Dekan dan Wakil Dekan beserta semua Staf Administrasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Prof.Dr. Mennofatria Boer, DEA, dan Dr.Ir. Luky Adrianto, M.Sc selaku Ketua dan Sekretaris beserta semua Staf Administrasi, Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor Dr.Ir. Luky Adrianto, MSc dan Dr. Ir. Achmad Fahrudin, MSi selaku Penguji luar komisi pada Ujian Tertutup, dan Prof.Dr. Hasjim Djalal, SH, MA dan Prof.Dr.Ir. Alex S.W Retraubun, MSc selaku Penguji luar komisi pada Ujian Terbuka. Drs. Sinyo H. Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara, dr. Elly E. Lasut, MM, selalu Bupati Kepulauan Talaud, Drs. Winsulangi Salindeho, selaku Bupati Kepulauan Sangihe yang telah membantu dana, data dan informasi Dirjen Pendidikan Tinggi yang telah memberikan kesempatan dan biaya pendidikan (BPPS) dan Hibah Doktor untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Strata 3 di Institut Pertanian Bogor Rektor dan mantan Rektor Universitas Sam Ratulangi, Dekan dan mantan Dekan Fakultas Hukum beserta seluruh Staf Dosen dan Staf Administrasi. Ineke Togas, S.Sos, Istri, dengan penuh kesabaran mendampingi dan mendorong, dan tercinta anak-anak Arthur L.M. Karwur, SE, MSi dan Fera D. Mait, S.Pi (menantu), Mercy C.B. Karwur, SE dan Audy Opit SE (menantu), Grace M.F. Karwur, SH, MH dan Lucky Tompunu, ST (menantu) serta cucu-cucu Kenneth dan Rogelio, Adik Leenda, adik ipar Drs. Tonny Rasuh, anak-anak Daryl dan Kevyn, kalian semua dengan setia selalu mendorong, mendoakan keberhasilan menyeselesaikan studi xi 9 Para nara sumber di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Dalam Negeri RI, Kementerian Sumberdaya Energi dan Mineral RI, Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud yang telah membantu data dan informasi 10 Teman-teman angkatan ke-8 dan teman-teman pada Program Studi SPL serta semua mahasiswa asal Sulawesi Utara yang menempuh pendidikan di IPB Bogor 11 Serta semua pihak yang tidak dapat penulis disebutkan satu persatu yang telah membantu selama studi, mengumpulkan data dan informasi serta membantu menganalisis data. Penulis menyadari hasil karya disertasi ini perlu masukan demi penyempurnaannya, kiranya karya tulis ini bermanfaat dan memperkaya literatur ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Hukum dan Ilmu tentang Pengelolaan Pesisir dan Lautan di Indonesia. Bogor, Juli 2010 Denny Benjamin Albrecht Karwur xii RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tomohon, Sulawesi Utara pada tanggal 28 November 1955 sebagai anak pertama dari ayah John Robert Karwur (almarhum) dan bunda Dety Neltje Jansje Raintung (almarhumah), menikah pada tanggal 22 September 1977 dengan Ineke Togas, dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Arthur, Mercy dan Grace. Pendidikan Strata Satu (S1) di tempuh pada Fakultas Teknik Sipil Unsrat tahun 1975-1978 (tidak dilanjutkan) kemudian pindah tahun 1980 pada Program Studi Ilmu Hukum/ Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, lulus tahun 1987. Melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Strata Dua (S2) pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pembangunan / Hukum Lingkungan, Pesisir dan Lautan, Universitas Sam Ratulangi, lulus pada tahun 1998. Membantu Program UCE/CEPI – Indonesia-Canada tahun 1995-1997 dalam Program Lingkungan Hidup di Manado, selanjutnya sebagai Konsultan Hukum pada Proyek Pesisir/Mitra Pesisir/ CRMP I-II /USAID, tahun 2003-2005 dengan kegiatan penyusunan Rancangan/Penetapan Peraturan Kampung/Desa Pesisir dan Peraturan Daerah Kabupate Minahasa / Provinsi Sulawesi Utara tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Berbasis Masyarakat, dan pada tahun 2005-2007 membantu Program MCRMP dan COREMAP/DKP, tahun 2005-2007, dalam kegiatan penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang No. 27 Tahun 2007, serta membantu di 15 Provinsi dan 42 Kabupaten Kota dalam penyusunan Rancangan/Penetapan Peraturan Daerah Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. Tahun 2003 diterima untuk melanjutkan Pendidikan Strata Tiga (S3) pada Program Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor, dengan biaya pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional Penulis diangkat sebagai Staf Pengajar / Pegawai Negeri Sipil sejak tahun 1988 sampai saat ini, pada Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado. xiii Bersama penulis lainnya, tulisan telah diterbitkan dalam buku yang berjudul : Menuju Harmonisasi Sistem Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia, telah dipublikasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia bekerja sama dengan Coastal Resources Management Project II (USAID) / Mitra Pesisir, Jakarta September 2005. Sebuah artikel ilmiah berjudul : Delimitasi Zona Ekonomi Eksklusif sebagai Strategi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara, telah di publikasikan pada jurnal Masalah-masalah Hukum, Jilid 38 Nomor 4 Desember 2009, diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. xiv DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.................................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR............................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ xi PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 1 1.1 Latar Belakang…………………………………………………………… 1 1.2 Perumusan Masalah……………………………………………………... 4 1.3 Kerangka Pemikiran ……………………………………………………. 7 1.4 Ruang Lingkup Penelitian……………………………………………… 9 1.5 Tujuan Penelitian……………………………………………………….. 12 1.6 Manfaat Penelitian…………………………………………………….... 13 TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………….. 15 2.1 Batasan Laut, Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil……… 15 1 2 2.1.1 Laut………………………………………………………………. 15 2.1.2 Wilayah pesisir…………………………………………………… 15 2.1.3 Pulau-pulau kecil………………………………………………… 16 2.2 Potensi Pulau-Pulau Kecil Terluar di Perbatasan Negara........................ 17 2.3 Hukum Laut Indonesia…………………………………………………. 19 2.4 Pembangunan Wilayah Perbatasan…………………………………… 21 2.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu …………………………………. 25 2.6 Prinsip Dasar Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu…………..................... 27 2.6.1 Prinsip keterpaduan…………………………………………….... 28 2.6.2 Prinsip pembangunan berkelanjutan……....………………………... 29 2.6.3 Prinsip keterbukaan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat............ 29 2.7 Hak-Hak pada Sumberdaya Properti Bersama ……………………….. 30 2.8 Karakteristik Sosial dan Budaya Masyarakat Pulau-Pulau Kecil…………….. 31 xv 2.9 Dimensi Sosial Ekonomi Pulau-Pulau Kecil............................................ 32 2.10 Aspek Yuridis Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Perbatasan Negara........ 32 2.11 Penanganan Pulau-Pulau Kecil Perbatsan Negara................................... 35 2.12 Kebijakan Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Perbatasan............................ 36 2.13 Kejahatan Wilayah Perbatasan.................................................................. 38 2.14 Dimensi Hukum Pengelolaan Wilayah Perbatasan.................................... 38 3 METODE.......................................................................................................... 43 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian.................................................................. 43 3.2 Rancangan Penelitian................................................................................ 43 3.3 Tahapan Penelitian Analisis Data............................................................. 44 3.4 Metode Analisis........................................................................................ 47 3.4.1 Analisis Hierarchi Proses (AHP)..................................................... 48 3.4.2 Analisis SWOT .............................................................................. 51 3.4.3 Analisis diagnosa dan terapi hukum (Diagnosis and Theraphy.... Analisys of Law/DTAL) ................................................................ 4 GAMBARAN UMUM DAN POTENSI WILAYAH....................................... 4.1 4.2 53 58 Gambaran Umum Wilayah....................................................................... 58 4.1.1 Kabupaten Kepulauan Sangihe........................................................ 60 4.1.1.1 Klaster pulau-pulau perbatasan .......................................... 61 4.1.1.2 Wilayah administrasi........................................................... 63 4.1.1.3 Kependudukan..................................................................... 65 4.1.1.4 Perekonomian wilayah........................................................ 66 4.1.2 Kabupaten Kepulauan Talaud......................................................... 66 4.1.2.1 Klaster pulau-pulau perbatasan........................................... 67 4.1.2.2 Wilayah administrasi........................................................... 68 4.1.2.3 Kependudukan..................................................................... 69 4.1.2.4 Perekonomian wilayah........................................................ 70 Potensi Wilayah........................................................................................ 71 4.2.1 Potensi perikanan kabupaten kepulauan........................................... 72 xvi 5 HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................... 74 5.1 Kejahatan di Perbatasan Negara................................................................ 75 5.2 Batas Maritim Negara Indonesia dan Filipina belum disepakati.............. 79 5.3 Hak Berdaulat Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia 85 5.4 Perbandingan antara ketentuan undang-Undang tentang......................... Zona Ekonomi Ekslusif dan Undang-Undang tentang Pengesahan......... UNCLOS 1982 ........................................................................................ 94 5.5 Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia......................................................... 95 5.6 Keterpaduan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil.......................................... 97 5.7 Pengesahan UNCLOS Tahun 1982......................................................... 101 5.8 Perairan Indonesia.................................................................................. 102 5.8.1 Perikanan ................................................................................... 104 5.8.2 Pemerintahan Daerah.................................................................. 105 5.8.3 Penataan Ruang.......................................................................... 107 5.8.4 Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil.................................................. 108 5.8.5 Wilayah Negara............................................................................ 109 5.8.6 Persetujuan Pelaksanaan Ketentuan- Ketentuan Konvensi......... PBB tentang Hukum Laut yangberkaitan dengan Konservasi..... dan Pengelolaan Sediaan Ikan yang beruaya terbatas dan.......... sediaan ikan yang beruaya jauh..................................................... 110 5.8.7 Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal................ Kepulauan Indonesia.................................................................... 113 5.8.8 Peraturan Presiden Pengelolaan Pulau Kecil Terluar.................. 115 5.8.9 Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil...................... 116 Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif............................................ 119 5.10 Kebijakan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Filipina.................. 125 5.11 Prinsip Penetapan Batas ZEE Indonesia-Filipina.................................. 130 5.12 Prinsip Sama Jarak Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia-Filipina............ 132 5.13 Kendala dalam Penetapan Batas ZEE Indonesia dan Filipina............... 135 5.14 Peran daerah dalam pengelolaan pulau-pulau kecil............................... 136 5.9 xvii 5.15 Kebijakan pengambilan keputusan masyarakat..................................... 138 5.16 Dasar kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil..................................... 139 5.17 Analisis Hierarki Proses Rancangbangun hukum pengelolaan............... Pulau-pulau kecil................................................................................... 153 5.17.1 Faktor eksternal........................................................................ 153 5.17.1.1 Peluang dalam peningkatan pengelolaan................... pulau-pulau kecil terluar........................................... 153 5.17.1.2 Ancaman dalam peningkatan pengelolaan................ pulau-pulau kecil terluar............................................ 5.17.2 Faktor Internal........................................................................ 154 155 5.17.2.1 Kekuatan dalam peningkatan pengelolaan............... pulau-pulau kecil terluar......................................... 155 5.17.2.2 Kelemahan dalam peningktan pengelolaan............. pulau-pulau kecil terluar.......................................... 156 5.18 Hasil Evaluasi Faktor Ekternal dan Internal....................................... 158 5.18.1 Evaluasi faktor ekternal......................................................... 158 5.18.2 Evaluasi faktor internal........................... .............................. 161 5.19 Evaluasi Gabungan Faktor Strategis Ekternal dan Internal................. 163 5.20 Analisis SWOT Rancanganbangun Hukum Pengelolaan ................... Pulau-Pulau Kecil................................................................................ 165 5.21 Strategi Kekuatan – Peluang (Strength – Opportunities S-O)............. 167 5.21.1 Pelaksanaan program pengelolaan SDA dan....................... jasa lingkungan kelautan....................................................... 167 5.21.2 Peningkatan kerjasama bilateral dan internasional............... 168 5.21.3 Penataan ruang wilayah pulau-pulau kecil terluar............... 168 5.21.4 Penetapan batas wilayah yang disepakati Indonesia dan..... Filipina..................................................................................... 169 5.22 Strategi Kekuatan dan Ancaman (Strength – Threats (S-T) ................ 5.21.1 Strategi penetapan batas wilayah............................................ 169 170 xviii 5.21.2 Penetapan batas wilayah yang disepakati Indonesia dan...... Filipina.................................................................................. 170 5.23 Strategi Kelemahan – Peluang (Weakness – Opportunities (W-O) ... 170 5.23.1 Pembangunan sistem dan sinergi kelembagaan .................. pengelolaan pulau-pulau kecil terluar.................................. 170 5.23.2 Pembangunan sarana dan prasarana wilayah........................ 171 5.23.3 Peningkatan kekuatan sistem pendanaan............................. 172 5.24 Stategi Kelemahan – Ancaman (Weakness – Threats (W–T)............. 172 5.24.1 Perumusan hukum dan peraturan pengelolaan .................... pulau pulau kecil terluar........................................................ 5.24.2 172 Peningkatan keterpaduan antar stakeholders dalam.............. pengelolaan pulau-pulau kecil terluar................................... 172 5.25 Hirarki Rancangbangun Hukum Pesisir.............................................. 173 5.26 Kriteria................................................................................................ 174 5.27 Expert Judgment.................................................................................. 174 5.28 Penilaian Kriteria................................................................................. 175 5.29 Skenario Strategi Peningkatan Pengelolaan........................................ Pulau-Pulau Kecil Terluar................................................................... 181 5.30 Sintesis................................................................................................ 187 5.31 Sensitivitas Analisis............................................................................ 188 5.32 Sensitivitas dinamis............................................................................ 188 5.33 Analisis head to head......................................................................... 189 5.34 Penentuan Prioritas Strategi Pengelolaan........................................... Pulau-Pulau Kecil Terluar.................................................................... 190 5.35 Elemen sasaran..................................................................................... 191 5.35.1 Elemen faktor.......................................................................... 191 5.35.2 Elemen strategi........................................................................ 191 5.36 Rancangbangun hukum menurut Pemerintah.......................................... 192 5.37 Rancangbangun hukum menurut Akademisi.......................................... 192 5.38 Rancangbangun hukum menurut Strategi Perwilayahan....................... 193 xix 5.39 Rancangbangun hukum menurut Budaya Lokal.................................... 194 5.40 Rancangbangun hukum menurut Penataan Batas Wilayah Negara...... 194 5.41 Rekomendasi Rancangbangun Hukum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil 195 5.42 Landasan Formil dan Materiil Konstitusional........................................ 199 5.43 Dasar Penetapan Batas Laut dan Penanangganan Hukum.................... 208 5.44 Politik dan Pertahanan Keamanan......................................................... 210 5.45 Prinsip dan Mekanisme Rancangbangun Hukum Pengelolaan............. Pulau-Pulau Kecil Terluar...................................................................... 210 5.46 Prinsip Keterpaduan.............................................................................. 211 5.46.1 Keterpaduan antar ekosistem darat dan laut…………………… 212 5.46.2 Keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan manajemen……….. 212 5.46.3 Keterpaduan program antar negara……………………………. 212 5.47 Prinsip pembangunan berkelanjutan sumberdaya perbatasan………. 212 5.47.1 Prinsip partisipasi dan keterbukaan…………………………… 213 5.47.2 Prinsip kepastian hukum……………………………………… 214 5.48 Objek dan Ruang Lingkup Pengaturan………………………………… 215 5.48.1 Mekanisme koordinasi pada tingkat pusat……………………… 215 5.48.2 Fasilitasi dan konsultasi dari pemerintah ke pemerintah daerah.. 218 5.49 Penegakan Hukum dan Sanksi………………………………………… 218 5.50 Penyelesaian konflik………………………………………………….. 220 5.51 Mekanisme pentaatan dan penegakan hukum………………………… 223 5.52 Mekanisme Sistem Kelembagaan……………………………………… 225 5.53 Kelembagaan…………………………………………………………. 227 5.53.1 Pelaksanaan mekanisme…………………………………………228 5.53.2 Peran daerah dalam pengelolaan wilayah pesisir dan …………. pulau-pulau kecil sebagai pelaksanaan otonomi daerah………. 230 5.53.3 Integrasi stakeholders di daerah bagi pengelolaan pesisir dan … pulau-pulau kecil secara terpadu……………………………… 231 xx 5.54 Pembentukan institusi lintas sektoral bagi pengelolaan…………........ pulau-pulau kecil terluar…………………………………………….. 231 5.54.1 Peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir……………..... 231 5.54.2 Peran aktif masyarakat dalam identifikasi potensi sumberdaya bagi Perencanaan pengelolaan pulau kecil perbatasan……….. 232 5.54.3 Edukasi dan percontohan tentang pengelolaan dan pemanfaatan yang Berkelanjutan bagi masyarakat pesisir………………….. 232 5.54.4 Permodaln dan investasi……………………………………… 232 5.55 Kebutuhan Pengaturan bagi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil………….. Perbatasan Negara…………………………………………………… 233 5.56 Rekomendasi Hal-Hal Pokok bagi Rancangabangun Hukum dalam… Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil ….…………………………………… 234 5.56.1 Aspek biofisik………………………………………………… 234 5.56.2 Aspek social, ekonomi dan budaya…………………………… 235 5.56.3 Aspek hukum dan kelembagaan………………………………. 236 5.57 Rekomendasi Peran bagi Pemerintah Pusat, Provinsi dan…………… Kabupaten/Kota……………………………………………………… 237 5.58 Proses Pembuatan Peraturan PerUndang-undangan…………………. 239 6 KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................... 243 6.1 Kesimpulan............................................................................................... 243 6.2 Saran........................................................................................................ 246 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 248 LAMPIRAN....................................................................................................... 259 xxi DAFTAR TABEL 1 Daftar ekspert dan instansi responden................................................................ 47 2 Skala pendapat (nilai dan definisi)..................................................................... 49 3 Nilai konsistensi random................................................................................... 50 4 Penetapan alternatif sasaran rancangbangun hukum........................................ 51 5 Pembagian klaster di Kabupaten Kepulauan Sagihe........................................ 61 6 Jumlah kecamatan, luas kecamatan dan jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Kepulauan Sangihe............................................................................................ 64 7 Jumlah dan kepadatan penduduk.............................................................. 65 8 Pembagian klaster di Kabupaten Kepulauan Talaud......................................... 67 9 Luas wilayah kecamatan dan jumlah kampung/kelurahan di Kabupaten......... Kepulauan Talad................................................................................................ 69 10 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kabupaten Kepulauan Talaud 70 11 Sasaran pertumbuhan beberapa indikator makro ekonomi Kabupaten ............. Kepulauan Talaud............................................................................................. 71 12 Tata Urutan Hukum.......................................................................................... 137 13 Matriks evaluasi faktor eksternal................................................................... 159 14 Matriks evaluasi faktor strategis internal....................................................... 161 15 Informasi untuk analisis expert....................................................................... 175 16 Hasil analisis faktor A.H.P............................................................................. 176 17 Prioritas elemen faktor.................................................................................... 176 18 Prioritas elemen alternatif strategi................................................................. 178 19 Analisis skenario............................................................................................. 181 20 Akternatif skenario.......................................................................................... 183 21 Hasil kuesioner responden.............................................................................. 184 22 Sosial ekonomi................................................................................................ 184 23 Hasil analisis A.H.P total............................................................................... 185 24 Daftar peraturan perundang-undagan yang berhubungan dengan................. Pengelolaan wilayah pesisir............................................................................ 196 25 Peran Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota................................ 237 xxii DAFTAR GAMBAR 1 Matriks kerangka berpikir............................................................................... 8 2 Peta Perbatsan Indonesia – Filipina di Sulawesi Utara.................................. 43 3 Diagram tahapan penelitian............................................................................. 45 4 Diagran Venn.................................................................................................. 46 5 Langkah umum AHP (modifikasi).................................................................... 49 6 Analisa S.W.O.T............................................................................................... 52 7 Penyusunan hirarki............................................................................................ 56 8 Bagan alir analisis rancangbangun hukum dalam pengelolaan ........................ pulau-pulau kecil terluar................................................................................... 57 Peta Provinsi Sulawesi Utara............................................................................ 58 10 Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Sangihe........................................... 63 11 Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud........................................... 68 12 Peta lokasi penelitian perbatasan negara Indonesia – Filipina....................... 74 13 Pelaku dan hasil kejahatan di wilayah laut perbatasan negara......................... 78 14 Pulau Marore.................................................................................................... 79 15 Pulau Miangas................................................................................................... 80 16 Peta Perbatasan ................................................................................................ 82 9 17 Alur proses penyusunan peraturan daerah........................................................ 145 18 Matriks internal eksternal posisi pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di.. Provinsi Sulawesi Utara..................................................................................... 164 19 Matriks S.W.O.T............................................................................................... 166 20 Rancangbangun hukum pulau-pulau kecil terluar………................................. 173 21 Hasil analisis faktor.......................................................................................... 176 22 Hasil analisis alternatif strategi........................................................................ 178 23 Hirarki hasik analisis AHP rancanbangun hukum dalam. pengelolaan .......... pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara...................................... 180 24 Hasil analisis faktor sosial ekonomi.............................................................. 184 25 Sintesis rancangbangun penataan wilayah..................................................... 188 26 Dinamik sensitive............................................................................................. 189 xxiii 27 Analisis head to head penataan batas wilayah dan pemerintah..................... 190 28 Head to head RH pemerintah.......................................................................... 192 29 Head to head RH.akademisi............................................................................ 193 30 Head to head RH strategi perwilayahan........................................................... 193 31 Head to head RH budaya lokal......................................................................... 194 32 Head to head RH penataan batas wilayah......................................................... 194 33 Rancangbangun hukum pengelolaan pulau kecil terluar 196 xxiv DAFTAR LAMPIRAN 1 Kriteria rancangbangun hukum pesisir.............................................................. 261 2 Skema Proses Pengundangan dalam lembaran negara Republik Indonesia….. dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia…………………………. 309 3 Skema proses ligitasi perundang-undangan di Mahkamah Konstitusi.............. 310 4 Kuesioner survey pakar metode AHP................................................................ 311 5 Zona-zona maritim menurut Konvensi Hukum Laut (UNCLOS 1982)............ 313 6 Daftar 92 Pulau terluar Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden .................. Nomor 78 Tahun 2005....................................................................................... 314 7 Matriks peraturan perundang-undangan........................................................... 318 8 Peta daerah penelitian Rancangbangun Hukum dalam .................................... Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara. ................. 334 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) yang berciri nusantara mempunyai kedaulatan atas wilayah serta memiliki hak-hak berdaulat di luar wilayah kedaulatannya untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 25A mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas secara geografis berada pada posisi silang antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dengan panjang pantai 95.181 km2 dan dengan wilayah laut seluas 5,8 juta km2 serta terdiri dari sekitar 17.480 pulau (Numberi 2009), beserta semua ekosistem laut tropis produktif yang terurai, dikelilingi oleh pulau-pulau kecil. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia memiliki keanekaragaman habitat yang sangat tinggi, memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan yang sangat besar, yang terdiri atas sumberdaya alam dapat pulih (renewable resouces), dan sumberdaya alam tidak dapat pulih (non-renewable resouces). Sumberdaya alam dapat pulih diantaranya berbagai jenis ikan, terumbu karang, lamun dan mangrove. Sumberdaya alam tidak dapat pulih meliputi minyak bumi, gas, mineral, bahan tambang/galian seperti biji besi, pasir, timah, bauksit serta bahan tambang lainnya; sedangkan jasa lingkungan pulau kecil yang sangat prospektif adalah kegiatan pariwisata bahari. Ekosistem wilayah pesisir dan laut merupakan lokasi beberapa ekosistem yang unik dan saling terkait dinamis dan produktif. Ekosistem utama yang secara permanen ataupun secara berkala tertutup air dan terbentuk melalui proses alami antara lain ekosistem terumbu karang (coral reef), ikan (fish), rumput laut (seaweed), padang lamun (seagrass bads), pantai berpasir (sandy beach), pantai 2 berbatu (rocky beach), hutan mangrove (mangrove foresh), estuaria, laguna, delta dan pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil memiliki potensi sangat besar dalam menunjang pembangunan nasional sehingga penentuan kebijakan pemanfaatan merupakan hal yang sangat penting, karena dengan keberadaan pulau-pulau kecil inilah maka keberadaan (eksistensi) sumberdaya kelautan menjadi strategis. Dengan demikian, penting untuk dipahami seberapa besar dukungan keberadaan pulau-pulau kecil terhadap keberlangsungan sumberdaya kelautan secara umum. Oleh karena itu konsep kebijakan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia yang direncanakan, hendaknya berdasarkan azas kelestarian alam dan keberlanjutan lingkungan yang ada; sehingga pada akhirnya pengembangan berbagai aktivitas pembangunan secara terpadu di pulau-pulau kecil sebagai wujud pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa -jasa kelautan, diharapkan dapat menjadi faktor pendukung pulau-pulau kecil Indonesia secara berkelanjutan (Bengen 2006). Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil merupakan suatu proses yang akan membawa suatu perubahan pada ekosistemnya. Perubahan-perubahan tersebut akan membawa pengaruh pada lingkungan. Semakin tinggi intensitas pengelolaan dan pembangunan yang dilaksanakan berarti semakin tinggi tingkat pemanfaatan sumberdaya, maka semakin tinggi pula perubahan-perubahan lingkungan yang akan terjadi di kawasan pulau- pulau kecil. Kegiatan pengelolaan pulau-pulau kecil menghadapi berbagai ancaman baik dari aspek ekologi yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan, seperti pencemaran, perusakan ekosistem dan penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing) maupun dari aspek sosial yaitu rendahnya aksesibilitas dan kurangnya penerimaan masyarakat lokal. Oleh karena itu, di dalam mengantisipasi perubahan-perubahan dan ancaman-ancaman tersebut, pengelolaan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Kebijakan dan Strategi Nasional pengelolaan pulau-pulau kecil dapat berfungsi sebagai referensi nasional (national reference) atau pedoman bagi kegiatan lintas sektor baik pusat maupun daerah dalam mengembangkan dan memanfaatkan pulau-pulau kecil, sehingga kebijakan dan strategi hukum penetapan batas wilayah negara dan pengelolaan 3 pulau-pulau kecil perbatasan, sangat penting sehingga menyebabkan upaya pengelolaan pulau-pulau kecil menjadi optimal. Mengingat sisi terluar dari wilayah negara atau yang dikenal dengan kawasan perbatasan merupakan kawasan strategis dalam menjaga integritas wilayah negara, maka diperlukan juga pengaturan secara khusus. Pengaturan batas-batas wilayah negara dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum mengenai ruang lingkup wilayah negara, kewenangan pengelolaan sumberdaya di wilayah negara, dan hak–hak berdaulat. Negara berkepentingan untuk ikut mengatur pengelolaan dan pemanfaatan di laut bebas dan dasar laut internasional sesuai dengan hukum internasional. Pemanfaatan di laut bebas dan di dasar laut meliputi pengelolaan kekayaan alam, perlindungan lingkungan laut dan keselamatan navigasi. Pengelolaan wilayah negara dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan secara bersama-sama. Pendekatan kesejahteraan dalam arti upayaupaya pengelolaan wilayah negara hendaknya memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi peningkatan kesejahteraaan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan. Pendekatan keamanan dalam arti pengelolaan wilayah negara untuk menjamin keutuhan wilayah dan kedaulatan negara serta perlindungan segenap bangsa, sedangkan pendekatan kelestarian lingkungan dalam arti pembangunan kawasan perbatasan yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan yang merupakan wujud dari pembangunan yang berkelanjutan. Peran Pemerintah dan Pemerintahan Daerah menjadi sangat penting terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan prinsip otonomi daerah dalam mengelola pembangunan kawasan kepulauan perbatasan negara. Kajian kebijakan pengelolaan pulau-pulau keci di perbatasan negara harus dilakukan secara komprehensif yang tid

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN PULAU TERLUAR INDONESIA (Studi di Pulau Miangas Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara)
1
15
64
Kajian Pengelolaan Sumberdaya Pulau-pulau Kecil (Studi Kasus Kepulauan Tobea Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara)
1
76
228
Pengelolaan Pulau Kecil Terluar Indonesia (Studi Pulau Miangas)
14
125
139
Pengembangan ekowisata di Pulau Lingayan sebagai pulau terluar (kasus pulau lingayan, pulau terluar di Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah)
5
32
168
Rancangbangun pengelolaan pulau pulau kecil berbasis pemanfaatan ruang (kasus gugus pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi)
0
7
140
Tinjauan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia (Studi Kasus Pulau Nipa)
0
8
12
Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil
0
9
8
Rancangbangun pengelolaan pulau-pulau kecil berbasis pemanfaatan ruang (kasus gugus Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi)
2
24
150
pROFIL pULAU kECIL tERLUAR dI bATAM DAN
1
3
28
Pembangunan Pulau Pulau Kecil Terluar di
0
0
11
PENGELOLAAN PULAU PULAU KECIL TERLUAR GU
0
2
28
Pembangunan Geodatabase Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil Terluar
0
0
12
BAB III ANALISA A. Kedudukan Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia Menurut Norma-Norma Hukum Laut Internasional - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia dalam Perspektif Hukum Laut Inter
0
0
17
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia dalam Perspektif Hukum Laut Internasional
0
1
13
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar telah ditetapkan 92 (sembilan puluh dua) Pulau-Pulau Kecil
0
0
18
Show more