KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUALTERHADAP STANDAR PENGOBATAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI PUSKESMAS PANJANG BANDAR LAMPUNG PERIODE JANUARI-JUNI 2012

Gratis

2
36
33
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUALTERHADAP STANDAR PENGOBATAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI PUSKESMAS PANJANG BANDAR LAMPUNG PERIODE JANUARI-JUNI 2012 Oleh HEMA MELINY JUNITA PERANGIN-ANGIN Infeksi menular seksual merupakan infeksi yang menular lewat hubungan seksual seksual baik dengan pasangan yang sudah tertular, maupun mereka yang sering berganti-ganti pasangan.. Penyakit IMS merupakan masalah kesehatan yang besar dimana peningkatannya lebih dari 15 juta per tahun menurut CDC terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga dibutuhkan pengobatan yang tepat termasuk peresepan obat yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat IMS dengan standar pengobatan IMS yang dikeluarkan oleh Depkes dilihat dari jenis obat, dosis obat, dan lama pemberian obat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bersifat retrospektif dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2012, dengan melihat peresepan dari bulan Januari-Juni 2012. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan total sampel dan didapatkan 303 sampel peresepan. Didapatkan peresepan terbanyak untuk penyakit servisitis, uretritis, bakterial vaginosis dan proktitis. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian peresepan obat berdasarkan jenis obat, dosis obat dan lama pemberian obat adalah 100% sesuai standar. Disimpulkan bahwa peresepan obat IMS di Puskesmas Panjang sesuai berdasarkan jenis obat, dosis obat, dan lama pemberian obat. Kata kunci : peresepan obat IMS, standar Pengobatan IMS, jenis obat, dosis obat, lama pemberian obat. ABSTRACT THE SUITABILITY OF PRESCRIPTION IN SEXUAL TRANSMITTED INFECTION DISEASE TO THE STANDARD THERAPY OF SEXUAL TRANSMITTED INFECTION DISEASE IN PUSKESMAS PANJANG, BANDAR LAMPUNG CITY PERIOD JANUARY UNTIL JUNE 2012 BY HEMA MELINY JUNITA PERANGIN-ANGIN Sexually transmitted infections (STI) are infection transmitted through sexual intercourse either with a partner who has been infected, and those who often have multiple partners. STI disease is a major health problem that increase more than 15 billions case every year reported by CDC, especially in developing countries including Indonesia, so that requiring appropriate prompt treatment including appropriate prescribing. This research aimed to determine the suitability of prescription drugs to the standard therapy STI that issued by Depkes viewed of the drug type, drug dosage, and duration of drug supplied. This research was a retrospective descriptive research used secondary data. This research have been done in October until November 2012, by viewed prescription from January until june 2012. This research was done by used total sampling and have been obtained 303 sample of prescription drug. Achieved the highest prescription for cervicitis, urethritis, bacterial vaginosis, and proctitis disease. This research indicated the suitability prescription by drug type, drug dosage, and duration of drug supply are 100 % suitable with standard therapy. Keywords: prescription STI drugs, standars therapy of STI, drug type, drug dosage, duration of drug supply. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi menular seksual (IMS) yang disebut juga penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang menular lewat hubungan seksual baik dengan pasangan yang sudah tertular, maupun mereka yang sering berganti-ganti pasangan. Infeksi menular seksual merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di sebagian besar wilayah dunia. Penyakit IMS merupakan masalah berkembang, dimana besar dalam kesehatan masyarakat di negara penyakit IMS membuat individu rentan terhadap infeksi HIV. Cara penularan penyakit IMS yaitu melalui hubungan seksual dan diikuti dengan perilaku yang menempatkan individu dalam risiko mencapai HIV, seperti mereka berperilaku bergantian pasangan seksual dan tidak konsisten menggunakan kondom (Badan Narkotika Nasional, 2004). Pada dasarnya setiap orang yang sudah aktif secara seksual dapat tertular IMS. Namun yang harus diwaspadai adalah kelompok berisiko tinggi terkena IMS yaitu orang yang suka berganti-ganti pasangan seksual dan orang yang punya satu pasangan seksual tetapi pasangan seksualnya suka berganti-ganti pasangan seksual (Dirjen PPM & PLP Depkes RI, 2003). Terdapat lebih dari 2 15 juta kasus IMS dilaporkan per tahun (CDC, 2012). Usia remaja merupakan kelompok yang paling rentan terkena infeksi ini, dilaporkan lebih dari 3 juta kasus per tahun. Salah satu kewenangan wajib dalam penyelenggaraan pemberantasan penyakit menular yang ditetapkan Departemen Kesehatan dan menjadi salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah jumlah kasus IMS yang ditangani atau diobati. Oleh karena itu pengembangan program penanggulangan IMS di setiap daerah sangat diharapkan (Depkes RI, 2003). Program penanggulangan IMS, Human Imunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Imuno Deficiency Syndrome (AIDS) telah berjalan di Indonesia kurang lebih selama 20 tahun sejak ditemukannya kasus AIDS yang pertama pada 1987. Hingga kini program penanggulangan telah berkembang pesat meliputi pencegahan hingga pengobatan, perawatan dan dukungan. Perkembangan program ini menunjukkan pula pemahaman yang lebih baik para penyelenggara dan pelaksana program terhadap persoalan IMS, HIV dan AIDS serta berkembangnya ragam, besaran dan percepatan respon untuk mengatasinya (Depkes RI, 2009). World Health Organisation (WHO) memperkirakan setiap tahun terdapat 350 juta penderita baru penyakit IMS di negara berkembang seperti Afrika, Asia, Asia Tenggara, Amerika Latin. Di negara industry prevalensinya sudah dapat diturunkan, namun di negara berkembang prevalensinya masih tinggi. 3 Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan prevalensi penderita IMS masih sangat tinggi yaitu berkisar antara 7,4% - 50% (Yuwono, 2007). Jumlah kasus IMS di kota Bandar Lampung yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung pada tahun 2010 terdiri dari gonorhoe sebanyak 76 kasus, sifilis sebanyak 9 Kasus, IMS jenis lain sebanyak 355 kasus. Laporan kasus dari Januari-Maret 2011 terdiri dari gonorhoe sebanyak 17 kasus, servisitis sebanyak 30 kasus, sifilis sebanyak 2 Kasus, IMS jenis Lain sebanyak 159 kasus. Dari data tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah kasus IMS di wilayah Kota Bandar Lampung sampai tahun 2011 dan epidemik ini merupakan fenomena gunung es, dimana tentunya masih banyak kasus yang belum ditemukan untuk wilayah kota Bandar Lampung (Komisi Penanggulangan AIDS, 2011). Jumlah kasus penyakit IMS terbanyak di kota Bandar Lampung selama periode tahun 2011 adalah di Puskesmas Panjang selama tahun 2011. Kunjungan pasien IMS sebanyak 1286 kasus. Perempuan merupakan pasien terbanyak yaitu 1235 kasus dan pasien pria sebanyak 51 kasus ( Dinkes Kota Bandar Lampung, 2011). Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan salah satu kebutuhan dasar yang diperlukan setiap orang. Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan menjadi salah satu tujuan pasien untuk berobat. Peresepan dan penggunaan obat merupakan salah satu andalan utama pelayanan kesehatan di 4 Puskesmas. Mengingat terbatasnya jumlah dokter yang ada, sebagian besar Puskesmas di memanfaatkan Indonesia, pula khususnya tenaga perawat di daerah untuk pedesaan memberikan terpaksa pelayanan pengobatan. Akibatnya, variasi peresepan antar petugas pelayanan kesehatan tidak dapat dihindarkan (Dwiprahasto, 2006). Puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan di perifer. Pasien yang berkunjung ke puskesmas mempunyai tingkat pendidikan yang relatif rendah dibandingkan dengan pasien di perkotaan. Latar belakang pendidikan petugas di kamar obat puskesmas sangat beragam mulai dari tenaga apoteker, asisten apoteker, perawat, pekarya dan lain-lain (Depkes RI, 2002). Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kesesuaian standar pengobatan terhadap peresepan obat penyakit infeksi menular seksual di Puskesmas Panjang, kota Bandar Lampung selama periode Januari-September 2012. B. Rumusan Masalah Berdasarkan kajian latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut; “ Apakah peresepan obat penyakit infeksi menular seksual di Puskesmas Panjang sesuai dengan standar pengobatan penyakit infeksi menular seksual yang dikeluarkan oleh Depkes?” 5 C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui kesesuaian penulisan resep obat IMS dengan standar pengobatan IMS yang dikeluarkan oleh Depkes. 2. Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui kesesuaian pemberian jenis obat penyakit IMS di Puskesmas Panjang dengan standar pengobatan penyakit IMS yang dikeluarkan oleh Depkes. 2) Untuk mengetahui kesesuaian pemberian dosis obat penyakit IMS di Puskesmas Panjang dengan standar pengobatan penyakit IMS yang dikeluarkan oleh Depkes. 3) Untuk mengetahui kesesuaian lama pemberian obat penyakit IMS di Puskesmas Panjang dengan standar pengobatan penyakit IMS yang dikeluarkan oleh Depkes. D. Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu farmakologi dan farmasi di perkuliahan agar dapat dipergunakan untuk kepentingan kesehatan masyarakat. 6 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis resep di Puskesmas sebagai bahan masukan untuk menulis resep obat IMS sesuai standar terapi. 3. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti lain sebagai acuan untuk melakukan penelitian di bidang ilmu farmasi. 4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung untuk mengadakan program peningkatan pengetahuan penulis resep agar menulis resep obat IMS sesuai standar terapi. E. Kerangka Pemikiran 1. Kerangka Teori Penyakit kelamin adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan kelamin tidak hanya terbatas secara genito-genital saja tetapi dapat juga secara oro-genital, sehingga kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak terbatas hanya pada daerah genital saja, tetapi dapat juga pada daerah-daerah ekstra genital. Penyakit IMS jika tidak diobati secara tepat akan menyebabkan infeksi menjalar dan menimbulkan penderita sakit berkepanjangan, kemandulan bahkan kematian (Daili, 2008). Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan 7 pemeriksaan. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional. Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO), kriteria pemakaian obat (pengobatan) rasional, antara lain: 1) sesuai dengan indikasi penyakit, 2) diberikan dengan dosis yang tepat, 3) cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat, 4) lama pemberian yang tepat, 5) obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin, 6) tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau, 7) meminimalkan efek samping dan alergi obat (Yusmaninita, 2009). Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedia suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan padatahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan dasar. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2007 tanpa merubah isinya. 8 2. Kerangka Konsep IMS Resep Obat di Puskesmas Panjang - Obat IMS Jenis Obat Dosis Obat Lama Pemberian Jenis kelamin Standar Pengobatan menurut Depkes - Jenis Obat Dosis Obat Lama Pemberian Jenis Kelamin (Peresepan Rasional WHO, 1995) Gambar 1. Kerangka Konsep 29 III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat retrospektif, dengan menggunakan data sekunder yang di ambil dari Puskesmas Panjang Kota Bandar Lampung. B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dari 1 Oktober – 30 November 2012. 2. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Panjang Kota Bandar Lampung. 30 C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh data peresepan obat penyakit Infeksi Menular Seksual di Puskesmas Panjang kota Bandar Lampung periode Januari-Juni 2012 dengan jumlah 303 resep obat. 2. Sampel Penelitian Besar sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan metode total sampel. Jumlah sampel yang digunakan sama dengan jumlah populasi yaitu sebesar 303 resep obat. Kriteria Inklusi: 1. Semua resep penyakit infeksi menular seksual yang masuk pada tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 30 Juni 2012. 2. Semua lembar resep yang dalam keadaan baik, tidak cacat (robek, basah). Kriteria Eksklusi adalah resep yang sulit dibaca. 31 D. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu peresepan obat penyakit IMS. Variabel penelitian ini memiliki sub variabel yaitu jenis obat, dosis obat dan lama pemberian obat. E. Defenisi Operasional 1. IMS adalah penyakit IMS yang paling banyak ditemukan di Puskesmas Panjang periode Januari-Juni 2012 adalah gonore, bakterial vaginosis, servisitis dan proktitis. 2. Standar pengobatan adalah acuan pengobatan IMS yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. 3. Peresepan obat adalah resep obat yang mengandung obat IMS yang ditulis oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Panjang periode Januari-Juni 2012. 4. Jenis obat adalah macam obat untuk IMS yang ditulis oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Panjang periode Januari-Juni 2012. 5. Dosis obat adalah takaran obat untuk IMS dilihat dari takaran per hari, takaran per kali makan dan interval pemberian, yang ditulis oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Panjang periode Januari-Juni 2012. 6. Lama pemberian adalah jangka waktu pemberian obat IMS dilihat dari subscripsio resep dan signature resep, yang ditulis oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Panjang periode Januari-Juni 2012. 32 F. Prosedur Penelitian Perizinan Survei Pendahuluan Seminar Proposal Penelitian Hasil Penelitian Pengolahan Data Gbr 4. Prosedur Penelitian G. Pengumpulan Data Cara pengumpulan data yaitu dengan menggunakan data sekuder. Data diperoleh dengan mengumpulkan semua resep obat untuk penyakit IMS dari bulan Januari – Juni 2012 dengan menggunakan lembar kerja. 33 H. Pengolahan dan Analisis Data Seluruh data yang telah diperoleh dari penelitian dikumpulkan, kemudian dilakukan pemaparan terhadap setiap variabel yang diperoleh. Lalu disusun dan dikelompokkan. Hasil penelitian akan disajikan dan dijabarkan dalam bentuk tabel. Analisa kualitatif dilakukan dengan cara induksi yaitu dengan menarik kesimpulan umum berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di awal. KESESUAIAN PERESEPAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL TERHADAP STANDAR PENGOBATAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI PUSKESMAS PANJANG BANDAR LAMPUNG PERIODE JANUARI-JUNI 2012 (Skripsi) Oleh HEMA MELINY JUNITA PERANGIN-ANGIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka Konsep .......................................................................... 8 2. Morfologi Neisseria gonorrhoeae ................................................ 11 3. Gejala Klinis Penyakit Gonore ............................................................... 13 4. Prosedur Penelitian ................................................................................. 32 5. Diagram distribusi peresepan obat IMS berdasarkan jenis kelamin ...................................................................................................... 35 6. Diagram distribusi penyakit IMS terbanyak periode Januari-Juni 2012 ...................................................................................................... 36 i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... v I. II. PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 4 C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4 1. Tujuan Umum............................................................................... 4 2. Tujuan Khusus .............................................................................. 5 D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 5 E. Kerangka Pemikiran.......................................................................... 6 1. Kerangka Teori ............................................................................. 6 2. Kerangka Konsep ......................................................................... 7 TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Menular Seksual ................................................................... 8 1. Gonore .......................................................................................... 9 2. Infeksi Genital Non Spesifik ........................................................ 14 3. Servisitis ...................................................................................... 16 ii III. 4. Proktitis ....................................................................................... 19 5. Bakterial Vaginosis ..................................................................... 20 B. Standar Pengobatan ........................................................................... 21 1. Standar Pengobatan duh tubuh uretra ........................................... 22 2. Standar Pengobatan duh tubuh vaginal ........................................ 23 3. Standar Pengobatan Proktitis ....................................................... 24 C. Peresepan Obat.................................................................................. 24 1. Peresepan Obat Rasional ............................................................. 25 2. Peresepan Obat Tidak Rasional .................................................... 25 METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian.................................................................................. 27 B. Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................... 27 1. Waktu Penelitian .......................................................................... 27 2. Tempat Penelitian ......................................................................... 27 C. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................ 27 1. Populasi Penelitian ....................................................................... 27 2. Sampel Penelitian ......................................................................... 28 D. Variabel Penelitian ............................................................................ 28 E. Definisi Operasional ......................................................................... 28 F. Prosedur Penelitian ........................................................................... 29 G. Pengumpulan Data ............................................................................ 30 H. Pengolahan dan Analisis Data .......................................................... 30 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN iii A. Hasil ................................................................................................. 31 B. Pembahasan ...................................................................................... 35 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...................................................................................... 44 B. Pembahasan ...................................................................................... 45 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 46 LAMPIRAN ................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA Badan Narkotika Nasional. 2004. Modul Voluntary Conselling Testing (Konsultasi dan Tes Sukarela HIV/AIDS). Badan Narkotika Nasional Pusat Laboratorium dan Rehabilitasi. Jakarta. Barclay, L. 2012. CDC No Longer Recommends Oral Cephalosporins for Gonorrhoeae. www.medscape.com/view article 768990 di akses tanggal 19 Desember 2012. Behrman, A. 2012. Emergent Management for Emedicine.medscape.org/article/782913-overwiew. Diakses Desember 2012. Gonorrhoeae. tanggal 10 Centers for Disease Control and Prevention. 2010. Sexually Transmitted Disease and Treatment Guidelines. Department and Human Health Services Centers for Disease Control and Prevention. Daili, S.F. 2008. Penyakit Menular seksual., Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. 2008. Infeksi Menular Seksual dan Infeksi Saluran Reproduksi pada Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu. Departemen Kesehatan RI. 2009. Kebijakan dalam Penanggulangan IMS, HIV dan AIDS. Direktorat P2ML, Ditjen P2PL. Departemen Kesehatan RI. 2008. Materi Pelatihan Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Memilih Obat Bagi Tenaga Kesehatan. Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2003. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan Bagi ODHA. Dirjen PPM & PLP. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. 2006. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian. Departemen Kesehatan RI. 2010. Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual. Diperbanyak Dinas Kesehatan Kota Bandar lampung tahun 2011. Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. 2011. Profil Kesehatan Kota Bandar Lampung. Bidang P2PL. Dwiprahasto. 2006. Peningkatan Mutu Penggunaan Obat di Puskesmas Melalui Pelatihan Berjenjang Pada Dokter Dan Perawat. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Bagian Farmakologi dan Toksikologi FK UGM. Yogyakarta. Jawetz, Melnick, Adelberg. 2008. Mikrobiologi Kedoktera., EGC. Jakarta. Kementrian Kesehatan RI. 2012. Sinkronisasi perencanaan Kebutuhan dan Penggunaan Obat Program Pp dan P1. Kimin, A. 2008. Peresepan Tidak Rasional. http://apotekputer.com. Diakses tanggal 22 November 2012. Kirckaldy, R. 2012. New Treatment Guidelines for Gonorrhoeae: Anyibiotic change. www.medscape.com. diakses tanggal 10 Desember 2012 Komisi Penanggulangan Aids. 2011. Laporan Triwulan ke-4 Periode April, Mei, Juni. Kota Bandar Lampung. Lumintang. 2009. Deteksi Chlamydia trachomatis Pada Pasien Infeksi Genital Non Spesifik (Pemeriksaan Reaksi Rantai Polimerase pada Spesimen Urin dan Hapusan Endoserviks dengan AMPLICOR PCR Kit . Department / SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidana., Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. Pane,Y.S, dan Leo Adnan. 2010. Peresepan Obat yang Rasional. Dept. Farmakologi dan Teraupetik FK USU Psychologymania. Infeksi Genital Non Spesifik. http://www.psychologymania. com/2012/10/infeksi-genital-non-spesifikhtml. diakses 16 Oktober 2012 Rathod. 2012. Epidemiological Features of Vulvovaginal Candidiasis Among Reproductive-age Women in India. www. hindawi.com /journals/ idog/ 2012. Diakses tanggal 17 Desember 2012. Shiel, W.C. 2012. Bacterial vaginosis. www.medicinenet.com/ bacterial vaginosis. Diakses tanggal 17 Desember 2012. Soni, H.C. 2012. Proctitis. www. Emedicinehealth.com/proctitis/article-em.htm. diakses tanggal 17 Desember 2012 World Health Organisation. 2012. Management of Sexually transmitted infectionsregional guidelines. Regional south-east Asia Wijono. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Airlangga University Press: Surabaya. Yusmaninita. 2009. Rasionalitas Penggunaan Obat. RSUP H. Adam Malik, Medan. Yuwono, D. 2007. Studi Resistensi Neisseria gonorrhoeae Terhadap Antimikroba pada Wanita Pekerja Seks di Jawa Barat. Puslitbang Pemberantasan Penyakit, Badan Litbang Kesehatan dan Kessos, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. DAFTAR TABEL Halaman 1. Standar pengobatan untuk duh tubuh uretra.................................. 24 2. Standar pengobatan untuk duh tubuh vaginal karena servisitis….25 3. Standar pengobatan untuk duh tubuh vaginal karena vaginitis ..... 25 4. Standar pengobatan untuk proktitis ................................................... 26 5. Distribusi kesesuaian peresepan obat IMS dengan standar berdasarkan jenis obat ................................................................... 37 6. Distribusi kesesuaian peresepan obat IMS dengan standar berdasarkan dosis obat....................................................................................... 37 7. Distribusi kesesuaian peresepan obat IMS dengan standar berdasarkan lama pemberian obat ..................................................................... 38 8. Distribusi Kunjungan Pasien dan Angka Kejadian Relapse Penyakit Periode Januari – Juni 2012 .......................................................... 53 9. Distribusi jumlah pasien yang mengalami relapse ........................ 10. Lembar Kerja ................................................................................ Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan bersorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. (Mazmur 126:5-6) Hati yang gembira adalah obat yang manjur, Tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22) PERSEMBAHAN Kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkati kehidupanku Kepada Bapak dan Mamak Tercinta Kepada Abang Dan Adikku Tersayang, Fernando Perangin-Angin, Dan Emy Permata Sari Perangin-Angin Kepada Para Pendidikku Dan Almamaterku Yang Tercinta RIWAYAT DIDUP Penulis dilahirkan di Saran Padang, Sumatera Utara pada tanggal 27 Juni 1991, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, dari bapak Ngian Perangin-angin dan ibu Mintarina Saragih. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri II Saran Padang pada tahun 2003, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP swasta Bunda Mulia Saribu Dolok pada tahun 2006, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA santo Thomas 1 Medan pada tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis terdaftar sebagai mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama menjadi mahasiswa penuliis pernah terdaftar di organisasi kampus yaitu PMPATD Pakis Rescue Team hanya di tahun 2009. Penulis juga terlibat organisasi ekstra kampus di Permako Medis, pada tahun 2010-2011 sebagai sekretasis-bendahara. SANWACANA Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, rahmat dan kasih karunia-Nya yang selalu diberikan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi dengan judul “Kesesuaian Peresepan Obat Penyakit Infeksi Menular Seksual terhadap Standar Pengobatan Penyakit Infeksi Menular Seksual Di Puskesmas Panjang Bandar Lampung Periode Januari-Juni 2012´adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku rektor Universitas Lampung. 2. Bapak Drs. Sutyarso, M.Biomed selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 3. Ibu Dra. Asnah Tarigan, Apt., M.Kes., selaku pembimbing utama atas kesediaanya memberikan bimbingan, ilmu, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini. 4. dr. Razmi Zakiah Oktarlina, selaku pembimbing kedua atas bimbingan, waktu, ilmu, dan kesabarannya dalam proses penyelesaian skripsi ini. 5. dr. Muhartono, M.Kes., Sp.PA., selaku penguji utama pada ujian skripsi. Terimakasih untuk masukan dan saran-saran selama seminar proposal dan seminar hasil. 6. Seluruh staf pengajar di Fakultas Kedokteran atas ilmu yang diberikan selama mengikuti perkuliahan dan Staf Fakultas Kedokteran: Mbak Mega, Mbak Yulis, Bu Sofi, Pak Pangat, Bang Dai, dan yang lainnya yang telah banyak membantu seminar saya. 7. Orangtuaku bapak dan mamakku tercinta. Terimakasih buat kasih sayang yang luar biasa, buat doa, dukungan dan semangat yang tiada habisnya diberikan bagiku. Mamak, bapak kalian yang terbaik yang aku miliki, terimakasih atas kerja keras kalian selama mendukung studiku di tengah keterbatasan yang ada, kalian selalu memberikan yang terbaik bagiku. “Kukelengi kena rasa lalap” 8. Abang-adikku tersayang, Fernando dan Emy, yang selalu mendukung saya. Terimakasih buat kasih kehangatan keluarga yang selalu boleh kita rasakan. 9. Nico Simanungkalit yang selalu memberikan semangat dalam penyelesaian skripsi ini dan kesediaannya menemaniku selama penelitian. Terimakasih atas kasih sayang, kesabaran, dan kesediaannya untuk selalu aku repotkan. 10. Sahabat terbaikku Ranintha, Yeni, Debora, Lewi atas dukungan doa, semangat, dan bantuan kalian selama penyelesaian skripsi ini. Terimakasih buat kebersamaan yang telah mewarnai hari-hariku, teristimewa buat Rani dan Yeni yang selalu bisa menjadi tempatku berbagi suka-duka. 11. Teman seperjuangan selama penelitian: Ranintha dan Ummi atas kerja sama selama penelitian dan bimbingan. 12. Keluarga keduaku Permako Medis: Advi, Merry, Ogie, Patrick, Toni, Olin, Agatha, dkk. Terimakasih atas doa, kasih-sayang, dan keceriaan selama menjadi keluarga besar Permako dalam menjalani suka-duka di semua kegiatan Permako, dan tetap semangat untuk menjadi “doctors who follow Christ”. 13. Seluruh teman sepelayanan di GSM dan Permata GBKP Bandar lampung, atas doa, dukungan semangat selama skripsi. Terimakasih atas suka-duka, canda-tawa, dan keceriaan kita selama pelayanan. 14. Teman-teman kostanku “Selmon Family”: Jenni, Mayang, Nita, Eko, Bryan, Daniel, Rio, Bang Rio, Bang Destra, Kak Mey. Terimakasih atas semangat dan doa yang selalu diberikan dan untuk keceriaan melewati suka-duka anak kostan. 15. Teman-teman Dorlan, terimakasih pernah menjadi bagian dari kalian, melewati suka-duka selama menjalani dunia perkuliahan. 16. Staf Puskesmas Panjang: Pak Waluyo, dokter Arlia, dokter Ida, dan yang lainnya. Terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bandar Lampung, Januari 2012 Penulis Hema Meliny Junita Perangin-angin

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Studi Kualitatif Pencegahan Penyakit Infeksi Menular pada Komunitas Waria di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
2
94
95
Hubungan Pelayanan Klinik Infeksi Menular Seksual dengan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan IMS pada Wanita Usia Subur Beresiko di Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh Tahun 2013
3
89
138
Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
10
83
63
Gambaran Distribusi Penyakit Menular Seksual Dan Faktor Yang Berhubungan Dengan Penderita PMS Pada WTS Di Lokasi Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2000
0
31
85
Pengetahuan Pasangan Suami Istri Tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) Di Lingkungan IV Kelurahan Denai Kecamatan Medan Denai Tahun 2008
0
35
42
Gambaran Distribusi Frekuensi Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Ispa) Pada Balita Di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat Tahun 2005
1
41
79
KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PENYAKIT DEMAM TIFOID DENGAN STANDAR PENGOBATAN DEMAM TIFOID DI BAGIAN RAWAT INAP PUSKESMAS KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG PERIODE MEI-OKTOBER 2012
0
14
53
KESESUAIAN PERESEPAN PENYAKIT FARINGITIS AKUT TERHADAP STANDAR PENGOBATAN PENYAKIT FARINGITIS AKUT DI PUSKESMAS RAWAT INAP SIMPUR BANDAR LAMPUNG PERIODE JANUARI ̶ DESEMBER 2013
15
69
60
Infeksi Menular Seksual 2015
3
27
83
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL GONORE
0
0
2
Drug Related Problem Peresepan Pengobatan Infeksi Menular Seksual pada Pasien di Apotek Tower Farma Surabaya Periode Januari 2011- Juli 2011 - Ubaya Repository
0
0
2
Penyakit menular seksual adalah penyakit
0
0
5
LAPORAN TUTORIAL Infeksi Menular Seksual
0
0
16
Penyakit Infeksi Menular Seksual dan Inf
0
1
1
Faktor Resiko Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)
0
0
8
Show more