EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 9 Metro Tahun Pelajaran 2011/2012)

Gratis

0
15
54
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 9 Metro Tahun Pelajaran 2011/2012) Oleh PRISKA PURWANING TIAS AYU Penelitian eksperimen semu ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah posttest only design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 9 Metro yang terdistribusi dalam empat rombongan belajar. Sampel penelitian diperoleh dengan cara memilih dua dari empat kelas secara acak. Berdasarkan analisis data menggunakan uji t, didapatkan rata-rata hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kelas konvensional, sedangkan rata-rata aktivitas belajar siswa pada kelas model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik daripada kelas konvensional, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe GI kurang efektif jika ditinjau dari hasil belajar namun efektif jika ditinjau dari aktivitas belajar. Kata Kunci : Efektivitas, Model Pembelajaran kooperaif tipe (GI), Hasil Belajar, Aktivitas Belajar RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 29 Maret 1990. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Marliyus dan Ibu Wiwik Supriyanti. Penulis telah menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di TK Pertiwi Metro pada tahun 1996, pendidikan dasar di SD Al-Quran Metro pada tahun 2002, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 3 Metro pada tahun 2005, dan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Metro pada tahun 2008. Pada tahun 2008 penulis diterima sebagai mahasiswa di Universitas Lampung, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, S1 Pendidikan Matematika melalui jalur SNMPTN. Selama duduk di bangku sekolah, penulis dipercaya untuk mewakili sekolah dalam mengikuti beberapa lomba yang berkaitan dengan akademik. Beberapa lomba tingkat pelajar yang pernah diikuti dan prestasi yang telah diraih oleh penulis adalah juara II bidang studi PPKN pada Lomba Bidang Studi dan Olah Raga antar-SMP tingkat Kotamadya tahun 2003, juara II Speech pada Lomba Speech SMPN 3 Metro 2003. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah aktif di organisasi UKMF-FPPI FKIP sebagai anggota bidang Keputrian periode 2009/2010, dan aktif di organisasi UKM-U Penelitian sebagai Kabid Pendidikan periode 2009/2010. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Nuar Maju, Kecamatan Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan. Selain itu, penulis melaksanakan PPL di SMP Negeri 1 Bumi Agung, Buay Bahuga sejalan dengan program KKN tersebut. Persembahan Terucap syukur kehadirat Allah SWT, kupersembahkan karya ini sebagai tanda cinta, kasih sayang dan baktiku kepada : Ayahandaku Tersayang (Marliyus.) Yang telah membuatku mengerti apa arti berjuang, yang dalam tiap tetes keringatnya terdapat perjuangan untuk aku anaknya, yang telah menjadi guru kehidupan paling berharga dalam perjalanan hidupku, serta tak pernah lelah menjadi ranting yang tak pernah patah menopang daun-daun kehidupan keluarganya.. Ibundaku Tercinta (Wiwik Supriyanti) Yang telah memperlihatkan padaku dunia ini, membimbingku setiap detiknya, tak pernah lelah mengeluarkan peluh dan semangatnya untuk memberikan yang terbaik bagi aku anaknya, serta senantiasa menyebut namaku dalam setiap doanya.. Adindaku (Katon Adi Pika) Yang telah menjadi salah satu sumber semangatku untuk membahagiakan keluarga. Adindaku (Tiara Adika) Yang telah menjadi salah satu penyemangat di keluargaku . Para pendidik dan sahabat-sahabatku yang memberikan semangat untukku serta almamaterku tercinta SANWACANA Puji syukur kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada: 1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku dekan FKIP Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku ketua jurusan PMIPA yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Bapak Drs. Pentatito Gunowibowo, M.Pd., selaku ketua program studi pendidikan matematika sekaligus sebagai pembimbing akademik dan pembimbing II yang telah bersedia memberikan bimbingan, sumbangan pikiran, kritik, dan saran selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi. 4. Ibu Dra. Nurhanurawati, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan perhatian, motivasi dan semangat kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini. ii 5. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku pembahas yang telah memberikan masukan dan saran-saran kepada penulis. 6. Bapak dan Ibu dosen pendidikan matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 7. Ibu Siti, S.Pd., selaku kepala SMP Negeri 9 Metro, kota Metro. 8. Ibu Budiasih, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam penelitian. 9. Sahabat-sahabatku di program studi S1 Pendidikan Matematika, Universitas Lampung : Aan Budi Pratama, Akhmad Suadi, Angga Yudistira, April Fitriningsih, Arifan Al Qomairi, Astri Setyawati, Retna Ayu Ningrum, Bill Susanto, Desi Trihandayani Candra, Doddy Akhmad Sidik, Eka Puspitasari, Elvina, Erika Maulina, Erma Mustika, Farida, Feni Kurniati Risda, Fenty, Hefna Safitri, Herlangga Husein, Herlin Novalia, Indah Nurmalasari, Ika Fitriyani, Laras Swesti Ningrum, Lukmannul Hakim, Nenik Dyah Kurniawati, Anastasya Nerry Meyrina, Nicky dwi Puspaningtyas, Niki Pujarwati, Novita Rochmadeni, Putty Lugita, Ratna Wulandari, Budi Roviatin, Rizky Kurnia Abadi, Sintia Mayasari, Sudirman, Sutrisno, Tomi Ade Arliansyah, Ummi Khasanah, Wawan Suwondo, Yayan Andryana, Yunita Destari dan Yunita Mustiyani atas kebersamaannya dalam menuntut ilmu dan menggapai impian. 10. Sahabat-sahabatku yang telah berjuang bersama dalam program KKN dan PPL : Riski Lovi Patra, Siska Meitasari, Siska Aprilia Erlando, Siti Nurfitriana, Rosi Pratiwi, Sari Dwika Ratri, Nurhayati, Ni Made Marinasari, Refi Puspita Sari 11. Sahabat-sahabatku di Jurusan P. MIPA, Universitas Lampung: Prislia Anggun Larasati, Misriyanti, Anggun Yuliana Safitri. iii 12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga dengan bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat balasan pahala di sisi Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Bandar Lampung, Juli 2012 Penulis, Priska Purwaning Tias Ayu iv DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ viii I. II. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 5 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 6 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 6 E. Ruang Lingkup Penelitian.................................................................. 7 TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori ....................................................................................... 9 1. Hakikat Belajar Matematika .......................................................... 2. Aktivitas Belajar ........................................................................... 3. Hasil Belajar .................................................................................. 4. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dalam Pembelajaran Matematika 5. Efektivitas Pembelajaran ............................................................... 9 11 13 14 19 B. Kerangka Pikir ................................................................................... 20 C. Anggapan Dasar ................................................................................. 22 D. Hipotesis ............................................................................................ 23 III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel .......................................................................... 24 B. Desain Penelitian ............................................................................... 24 C. Langkah-Langkah Penelitian ............................................................. 25 D. Data Penelitian .................................................................................. 26 D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 26 E. Instrumen Penelitian .......................................................................... 27 1. Realibilitas ..................................................................................... 28 2. Daya Beda ..................................................................................... 29 F. Teknik Analisis data ........................................................................... 33 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .................................................................................. 37 1. Hasil Belajar Matematika Siswa .................................................... 37 2. Aktivitas Belajar Siswa ................................................................. 40 B. Pembahasan ....................................................................................... 41 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................................ 46 B. Saran .................................................................................................. 46 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Desain Penelitian ................................................................................. 25 3.2 Interpretasi Nilai Koefisien Realibilitas .............................................. 28 3.3 Interprestasi Nilai Daya Pembeda ........................................................ 30 3.4 Rekapitulasi Nilai Tingkat Kesukaran .................................................. 31 3.5 Hasil Uji Coba Tes ............................................................................... 32 4.1 Skor Tertinggi, Skor Terendah, Rata-Rata Skor, dan Simpangan Baku Post Test ..................................................................................... 37 4.2 Rangkuman Hasil Uji Coba Normalitas Data Hasil Belajar Matematika 4.3 Nilai Varians untuk Distribusi Data Posttest ........................................ 38 4.4 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Posttest................................ 39 4.5 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa ........................ 40 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks serta melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam pembelajaran, guru berhadapan dengan sejumlah siswa dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi, yang semua itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran. Dengan kompleksitas siswa yang tinggi, seorang guru diharapkan mampu untuk melaksanakan pembelajaran yang dapat membuat proses belajar siswa menjadi efektif dan efisen. Untuk mewujudkan proses belajar siswa menjadi efektif dan efisien dewasa ini banyak dikembangkan model pembelajaran, namun tidak setiap model pembelajaran cocok untuk setiap mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal dan merupakan salah satu mata pelajaran inti adalah pelajaran matematika. Di sekolah umumnya siswa memandang mata pelajaran matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Seperti dikemukakan oleh Cockcroft (dalam Herdiana, 2009: 3) kenyataan di lapangan ternyata matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk diajarkan dan dipelajari. Anggapan mengenai matematika merupakan mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari tampak dari belum maksimalnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran tersebut. Beberapa pakar menyatakan bahwa kenyataan tersebut 2 disebabkan oleh berbagai masalah. Kusnandar (2009: 3) menyatakan dalam pembelajaran matematika di sekolah ditemukan keragaman masalah sebagai berikut: (1) Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran masih belum tampak, (2) Para siswa jarang mengajukan pertanyaan walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas atau kurang paham, (3) Kurang terampilnya siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan di sekolah, (4) Kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas. Selanjutnya, Mettes (dalam Herdiana, 2009: 3) menyatakan bahwa siswa hanya mencontoh dan mencatat bagaimana cara menyelesaikan soal yang telah dikerjakan oleh gurunya. Jika mereka diberikan soal yang berbeda dengan soal latihan, maka mereka merasa bingung karena tidak tahu harus mulai dari mana mereka bekerja. Dari pendapat di atas, ternyata aktivitas belajar dan hasil belajar siswa di sekolah masih sangat rendah. Berdasarkan observasi dan wawancara, sekolah di Metro pada umumnya masih menggunakan metode konvensional yang hanya mengandalkan penjelasan guru dan soal-soal latihan yang kurang berkembang. Ternyata hal ini dibarengi dengan masalah yang sama seperti yang dikemukakan pakar di atas. Untuk itu perlu dicarikan suatu srategi ataupun model pembelajaran agar siswa mendapatkan suatu kemudahan dalam belajar matematika, dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dalam memilih model pembelajaran yang cocok dengan pembelajaran matematika. SMP Negeri 9 Metro merupakan sekolah yang dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, namun metode pembelajarannya masih menggunakan metode konvensional yang umum digunakan oleh guru matematika lainnya di kota Metro. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 9 Metro, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas VII terhadap pelajaran matematika pada 3 ujian tengah semester II tahun pelajaran 2011/2012 masih sangat rendah, dengan . Hal ini menunjukkan bahwa dengan fasilitas yang memadai tetapi metode pengajaran yang masih konvensional tidak cukup berhasil untuk membuat siswa mencapai hasil belajar yang diinginkan. Penggunaan metode konvensional yang guru lakukan di sekolah itu, siswa tidak belajar secara aktif di kelas, yang mengakibatkan hasil belajar siswa kurang memuaskan. Dari wawancara terhadap guru kelas, diketahui bahwa pada saat guru menerangkan pelajaran banyak siswa yang kurang fokus belajar, pada saat mengerjakan soal mereka cenderung saling mencontek satu sama lain. Dari hasil wawancara dapat terlihat bahwa pembelajaran konvensional yang dilakukan di kelas itu, tidak lagi sesuai untuk diterapkan dalam kelas guna mencapai aktivitas dan hasil belajar yang di inginkan. Dewasa ini pembelajaran secara berkelompok sedang menjadi primadona dan banyak dikembangkan di Indonesia. Strategi pembelajaran yang secara berkelompok yang tengah dikembangkan saat ini, memunculkan pembelajaran yang membuat kelompok-kelompok kecil di dalam kelas, yaitu pembelajaran kooperatif. Eggen and Kauchack (dalam Nurul, 2009: 3) mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Bekerja secara kolaborasi menuntut siswa saling bekerjasama satu sama lain untuk mengupas pelajaran yang tidak lagi secara utuh diberikan oleh guru, sehingga siswa harus menggali sendiri ilmu yang ingin didapatnya, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan pendamping pembelajaran. 4 Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Group Investigation (GI). Group Investigation (GI) merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, internet, ataupun lingkungan sekitar siswa. Model pembelajaran ini melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai pada tahap akhir pembelajaran. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau inquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin, 2001: 75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah: (1) Dalam model pembelajaran kooperatif GI berpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajaran, (2) Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok, (3) Model pembelajaran kooperatif 5 tipe GI, siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut, (4) Adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran (Http//www.Akhmad sudrajat.wordpress.com) [diakses tanggal 25-01-2012 pukul 10.00]. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe GI suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Rumusan Masalah Umum : Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa? 2. Rumusan Masalah Khusus: a. Apakah rata-rata hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode pembelajaran konvensional? 6 b. Apakah rata-rata aktivitas belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik dibandingkan ratarata aktivitas belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode pembelajaran konvensional ? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) ditinjau dari aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi khasanah teori pembelajaran matematika yang berkaitan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dan konvensional, serta efektivitas penerapannya jika ditinjau dari aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. 2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa kelas eksperimen, melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar matematika yang baru. b. Bagi guru mitra, diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru tentang model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. c. Bagi sekolah, melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam rangka perbaikan proses pembelajaran matematika di sekolah. E. Ruang Lingkup Penelitian 7 Ruang lingkup penelitian ini adalah : 1. Model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah model pembelajaran kooperatif yang mempunyai enam tahapan sebagai berikuit: 1) Mengidentifikasi topik yang dilakukan oleh guru bersama murid, dan mengatur murid ke dalam kelompok; 2) Siswa merencanakan tugas yang akan dipelajari; 3) Siswa melakukan investigasi; 4) Siswa menyiapkan laporan akhir; 5) Siswa mempresentasikan laporan akhir; 6) Siswa bersama dengan guru melakukan evaluasi materi pembelajaran. 2. Efektivitas model pembelajaran adalah tingkat keberhasilan proses pem- belajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, yang biasanya dilihat melalui hasil tes. Efektivitas model pembelajaran ditinjau dari dua aspek, yaitu: a. Aspek aktivitas belajar siswa dilihat dari aktivitas yang relevan dengan pembelajaran selama pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran kooperatif tipe GI dikatakan efektif jika persentase aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe GI lebih besar dibandingkan persentase aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran tipe konvensional. b. Aspek hasil pembelajaran dilihat dari tes. Model pembelajaran kooperatif tipe GI dikatakan efektif jika nilai rata-rata post test kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik dibandingkan nilai rata-rata post test kelas dengan pembelajaran tipe konvensional. 3. Aktivitas belajar siswa di kelas yakni kegiatan siswa yang relevan dengan aktivitas pembelajaran dikelas. Adapun aspek yang termasuk dalam aktivitas belajar siswa yang relevan dengan pembelajaran di kedua kelas adalah : 1) 8 Visual meliputi pandangan berfokus pada guru, membaca buku cetak maupun catatan matematika, memperhatikan pekerjaan teman; 2) Berbicara (mental) meliputi bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan yang diajukan guru, menanggapi penjelasan guru, dan menyatakan pendapat atau memberi saran; 3) Motorik meliputi menulis hasil diskusi (pada kelas eksperimen) atau tanya jawab materi (pada kelas kontrol), menggambar bangun datar yang terdapat gambar bangun datar di dalamnya, dan mengerjakan latihan (pada kelas kontrol) atau LKK (pada kelas eksperimen). 4. Hasil belajar adalah tingkat keberhasilan siswa pada aspek kognitif sebagai akibat dari perubahan tingkah laku setelah mengikuti pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yang diukur dengan tes yang dinyatakan dengan nilai tes. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakikat Belajar Matematika Kegiatan belajar merupakan hal penting yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses pembelajaran yang dialami oleh siswa. Berikut adalah pengertian belajar, Slameto (1987: 2) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan Roestiyah (1989: 8) mengemukakan bahwa belajar adalah proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu. Sudjana (2000: 28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pemahaman, pengetahuan, sikap dan tingkah lakunya, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil pengertian bahwa belajar 10 adalah suatu usaha-usaha atau tindakan sadar yang dilakukan oleh individu sehingga mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. Hamzah (2000: 60).menjelaskan matematika berasal dari bahasa latin manhenern mathema wiskunde - kaitan dengan penalaran. Matematika merupakan pelajaran yang memerlukan pemusatan pemikiran untuk mengingat dan mengenal kembali semua aturanaturan yang ada yang harus dipenuhi untuk menguasai materi yang dipelajari. Hudoyo (1988: 3) bahwa matematika itu berkenaan dengan ide-ide (gagasangagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Karena matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, maka konsep-konsep matematika harus dipahami lebih dahulu sebelum manipulasi simbol-simbol itu. Lebih lanjut Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu. Dari beberapa pendapat di atas, belajar matematika dapat diartikan sebagai usahausaha atau tindakan sadar yang dilakukan oleh individu sehingga mengakibatkan 11 bertambahnya pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap matematis yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu di dalam memahami konsep-konsep yang abstrak. 2. Aktivitas Belajar Dalam proses pembelajaran, aktivitas memegang peranan yang sangat penting. Nasution (2003: ktivitas adalah segala sesuatu tingkah laku atau usaha manusia atau apa saja yang dikerjakan, diamati seseorang meniaget (dalam Ruhani, 2004:7) mengungkapkan g ia berbuat. Tanpa berbuat anak tak berpikir. Agar ia berpikir sendiri (aktif) ia harus diberi kesempatan untuk berbuat Hal ini sejalan dengan pendapat Ruhani (2004: 7) yang menyatakan ti melalui berbagai aktivitas, baik aktivitas fisik maupu Untuk itu agar siswa mau berpikir hal terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah me-nyelenggarakan pembelajaran yang menuntut siswa menggali sendiri ilmu yang diperlukan sehingga siswa aktif belajar dan merasakan pembelajaran yang berkualitas. Terkait dengan manfaat aktivitas dalam pembelajaran Hamalik (2008: 91) menyatakan bahwa penggunaan aktivitas dalam proses pembelajaran memiliki manfaat tertentu yaitu: a) Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, b) Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa, c) Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok, d) Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri sehingga sangat bermanfaat dalam 12 rangka pelayanan perbedaan individual, e) Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat, f) Membina dan memupuk kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara guru dan orang tua siswa, yang bermanfaat dalam pendidikan siswa, g) Pembelajaran dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme, dan h) Pembelajaran dan kegiatan belajar menjadi hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat penuh dinamika. Dengan rancangan pembelajaran yang menitikberatkan pada penggalian informasi oleh siswa akan menambah ranah aktivitas siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Dengan keikutsertaan siswa yang aktif dalam pembelajaran akan menumbuhkan kegiatan dalam belajar itu sendiri, dengan itu siswa akan memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya. Diedrich (dalam Ruhani, 2004: 9) menggolongkan aktivitas yang dilakukan siswa adalah aktivitas melihat misalnya membaca, memperhatikan guru, melihat gambar, dll; aktivitas berbicara misalnya menyatakan, bertanya, berdiskusi, dll; aktivitas mendengarkan misalnya mendengarkan uraian, mendengarkan cerita, mendengarkan narasi, dll; aktivitas menulis misalnya menulis karangan, menulis cerita, dll; aktivitas menggambar misalnya membuat grafik, membuat bangun, membuat peta, dll; aktivitas motorik misalnya melakukan percobaan; aktivitas mental misalnya menanggapi dan mengingat; aktivitas emosional misalnya menaruh minat atau bosan. 13 Dari uraian tersebut, aktivitas belajar siswa adalah kegiatan siswa yang relevan selama proses pembelajaran baik fisik maupun psikis (kejiwaan). Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan bertanya, mengerjakan tugas, berdiskusi, menanggapi, dan lain sebagainya. 3. Hasil Belajar Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Menurut Dimyati dan Mujiono (2002: 3), hasil belajar merupakan hasil dari suatu interksi tindak belajar dan tindak mengajar. Hasil belajar tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Gagne (dalam Dimyati dan Mujiono, 2002: 10) menyatakan bahwa kelima hasil belajar tersebut sebagai berikut: 1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan. 2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan serta mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak. Konsep konkret dan definisi, dan prinsip. 3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. 4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. 14 5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Hamalik (2008: 146) menyatakan pengertian hasil belajar sebagai berikut: keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di pondok pesantren atau sekolah, yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejum Hasil belajar yang diharapkan dari pembelajaran matematika jika dikaitkan dengan beberapa pendapat ahli mengenai hasil belajar adalah kemampuan kognitif yang diukur dengan tes sebagai akibat dari terbukanya wawasan berfirkir logis dalam pembelajaran matematika. 4. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dalam Pembelajaran Matematika Pembelajaran kooperatif, menurut Trianto (2010: 56) muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, menurutnya hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Berdasarkan pendapat Gokhale (1995) (dalam Elfis, 2010: 1), model pembelajaran kooperatif telah diyakini oleh banyak ahli pendidikan sebagai model pembelajaran yang dapat memberi peluang siswa untuk terlibat dalam diskusi, berpikir kritis, berani dan mau mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri. Meskipun model pembelajaran kooperatif mengutamakan peran aktif siswa bukan 15 berarti guru tidak berpartisipasi, sebab dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai perancang, fasilitator dan pembimbing proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan hasil penelitian Slavin (1995) (dalam Rusman, 2010: 205) memyatak bahwa: (1) Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain. (2) Pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Jarolimek dan Parker (dalam Nurfarida, 2009: 19), menyatakan keunggulan yang diperoleh dari pembelajaran kooperatif adalah: a. Saling ketergantungan yang positif. b. Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu. c. Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas. d. Suasana kelas rileks dan menyenangkan. e. Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. f. Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan. Adapun kelemahan dari model pembelajaran kooperatif ini adalah: a. Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, sehingga lebih banyak memerlukan waktu, pikiran, dan tenaga. b. Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat, dan biaya yang cukup memadai agar proses pembelajaran berjalan lancar. 16 c. Selama diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan meluasnya topik permasalahan yang sedang dibahas. d. Saat berdiskusi, terkadang cenderung didominasi oleh seseorang, sehingga dapat mengakibatkan siswa lain menjadi pasif. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Group Investigation (GI). Slavin (1995: 112), belajar kooperatif dengan model GI sangat cocok untuk bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi, yang mengarah pada kegiatan perolehan, analisis, dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan suatu masalah. Selanjutnya Slavin (1995: 113-114) membagi tahap-tahap pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) tahap sebagai berikut: Tahap 1: Mengidentifikasi topik dan mengatur murid ke dalam kelompok. a. Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan mengkategorikan saran-saran. b. Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah mereka pilih. c. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen. d. Guru harus membantu dalam mengumpulkan informasi dan memfasilitasi pengaturan Tahap 2: Merencanakan tugas yang akan dipelajari Para siswa merencanakan bersama mengenai: 1. Apa yang kita pelajari? 2. Bagaimana kita mempelajarinya? 17 Siapa melakukan apa? (pembagian tugas). 3. Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini? Tahap 3: Melaksanakan Investigasi a. Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat kesimpulan. b. Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya c. Para siswa saling bertukar , berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan. Tahap 4: Menyiapkan laporan akhir a. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari proyek mereka. b. Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka. c. Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi. Tahap 5: Mempresentasikan laporan akhir a. Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk. b. Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif c. Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya olah seluruh anggota kelas Tahap 6: Evaluasi 18 a. Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan pengalamanpengalaman mereka. b. Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa. c. Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran tingkat tinggi. (asesmen diarahkan untuk mengevaluasi pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis). Dengan topik materi matematika yang cukup luas dan desain tugas-tugas atau subsubtopik yang mengarah kepada kegiatan metode ilmiah, diharapkan siswa dalam kelompoknya dapat saling memberi kontribusi berdasarkan pengalaman sehariharinya. Selanjutnya, dalam tahapan pelaksanaan investigasi para siswa mencari informasi dari berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar kelas/sekolah. Para siswa kemudian melakukan evaluasi dan sintesis terhadap informasi yang telah didapat dalam upaya untuk membuat laporan ilmiah sebagai hasil kelompok. 5. Efektivitas Pembelajaran Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika memberikan ruang terhadap siswa untuk melakukan aktivitas seluas-luasnya guna memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang baru saat proses pembelajaran berlangsung. Seperti dinyatakan oleh Hamalik (2008: 171) bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas seluasluasnya kepada siswa untuk belajar karena aktivitas yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran akan memberikan pengalaman baru bagi siswa untuk mendapatkan 19 pengetahuan baru pula. Pendapat yang sama Trianto (2009: 12) menerangkan bahwa belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Penyediaan kesempatan belajar sendiri dan beraktivitas seluas-luasnya diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi yang sedang dipelajari. Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 584) efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya) atau dapat membawa hasil, sedangkan efektivitas memiliki arti keadaan berpengaruh, hal berkesan, atau keberhasilan. (Slameto, itas merupakan kesesuaian antara siswa Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat keberhasilan suatu pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diharapkan, karena hasil belajar dengan efektivitas pembelajaran selalu berbanding lurus. Untuk mengetahui keefektifan mengajar menurut Trianto (2009: 20) dapat dilakukan dengan memberikan tes, sebab hasil tes dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai aspek proses pembelajaran. Hamalik (2008: 146) menyatakan pengertian hasil belajar sebagai berikut: ingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di pondok pesantren atau sekolah, yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes Berdasarkan uraian di atas efektivitas pembelajaran adalah tingkat keberhasilan proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, yang biasanya dilihat melalui hasil tes. B. Kerangka Pikir 20 Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) merupakan model pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan proses pembelajaran pada peran aktif siswa, dari tahapan pertama sampai tahapan terakhir pembelajaran siswa diajak untuk berperan aktif dalam menyelenggarakan pembelajaran. Tahapantahapan pembelajaran model kooperatif tipe GI dimulai dari mengidentifikasi topik dan mengatur murid kedalam kelompok, dalam tahapan ini siswa mencari topik yang terkait dengan bahan ajar, membaginya dalam subtopik yang relevan dan membentuk kelompok berdasarkan ketertarikan pada subtopik tersebut, pada tahapan ini guru membantu dalam mengumpulkan informasi dan menjadi fasilitator pengaturan. Tahapan kedua adalah merencanakan tugas, pada tahapan ini siswa merencanakan apa, bagaimana, serta tujuan subtopik yang mereka pilih. Tahapan ketiga adalah melaksanakan investigasi, pada tahapan ini siswa difasilitasi oleh guru untuk mempelajari sendiri subtopik yang telah mereka pilih. Tahapan selanjutnya adalah menyiapkan laporan akhir, masih dipandu oleh guru siswa menyiapkan inti dari subtopik yang telah mereka pelajari untuk dipresentasikan, odalam tahapan ini pula siswa telah memilih perwakilan kelompoknya yang akan maju untuk menjadi presentator. Tahapan kelima adalah presentasi. Dan yang terakhir adalah evaluasi, yaitu tahap dimana siswa memberikan umpan balik terhadap presentasi, serta dilanjutkan dengan penyimpulan subtopik bersama dengan guru dan seluruh kelas. Dari tahapan-tahapan tersebut dapat dilihat bahwa aktivitas belajar siswa sangat ditonjolkan dan hasil belajar siswa pun dapat ditingkatkan dengan siswa yang telah memahami topik atau materi pembelajaran secara individual. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru. Tahapan pembelajaran konvensioanl dimulai dengan motivasi dan apersepsi 21 dalam tahapan ini siswa dibuka pengetahuan awalnya mengenai materi yang akan diberikan, dari sini guru dapat melihat sejauh mana kesiapan siswa untuk menerima materi berkenaan dengan pengetahuan awal siswa tentang materi. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran, untuk membuka pandangan siswa tentang materi yang akan diberikan secara garis besar, setelah itu guru mulai memberikan materi pada siswa. Untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi yang telah diajarkan siswa diberikan kesempatan untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami, tahapan ini adalah tahapan tanya jawab. Setelah itu siswa diberikan kesempatan untuk mencatat, jika ada materi pelajaran yang penting dari penjelasan guru, termasuk hasil tanya jawab siswa dan guru. Tahapan selanjutnya adalah siswa diberikan latihan individual, untuk kemudian perwakilan siswa maju untuk mengerjakan didepan kelas, pada tahapan ini pemahaman siswa terhadap materi dapat mulai dilihat. Kemudian siswa diberikan kesempatan bertanya tentang soal atau materi kembali untuk kemudian dijawab oleh guru, yang terakhir adalah penguatan materi, hal ini dilakukan guru untuk memberikan penegasan dari materi yang baru saja diberikan. Dari uraian tahapan pembelajaran di atas dapat dilihat bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI), aktivitas siswa lebih dominan dibandingkan aktivitas guru, mulai dari tahap perencanaan sampai evaluasi, sedangkan pada pembelajaran konvensional aktivitas pembelajaran lebih didominasi oleh guru, terutama pada saat mempelajari materi. Dari tingginya aktivitas belajar siswa pada model pembelajaran kooperatif tipe GI siswa dapat memaksimalkan hasil belajarnya dibandingkan pembelajaran konvensional, karena siswa mencari dan memahami sendiri materi yang didapatnya, selain itu presentasi dari teman sebaya biasanya lebih efektif untuk dimengerti dibanding- 22 kan bahasa formal yang sering dipakai guru seperti pada pembelajaran konvensional. C. Anggapan Dasar Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah faktor lain yang mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar matematika siswa, selain penggunaan model pembelajaran diabaikan. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis pada penelitian ini adalah: 1. Secara Umum : Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) efektif jika ditinjau dari aktivitas belajar dan hasil belajar siswa . 2. Secara Khusus : a. Rata-rata hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) lebih baik dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode konvesional. b. Rata-rata aktivitas belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) lebih baik dibandingkan rata-rata aktivitas belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode konvesional. III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 9 Metro. Populasi berjumlah 112 siswa, dan terbagi ke dalam empat rombongan belajar yang terdistribusi dari kelas VII A-VII D dengan pendistribusian siswa merata (tidak ada kelas unggulan). Dari empat rombongan belajar tersebut diambil dua rombongan belajar secara random sebagai sampel penelitian, satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Berdasarkan hasil ujian mid semester II untuk nilai matematika maka diambil kelas VII A dan VII B sebagai sampel penelitian. Kelas VII A sebagai kelas eksperimen dan VII B sebagai kelas kontrol. B. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu menggunakan desain post-test only dengan kelompok pengendali yang tidak diacak sebagaimana dikemukakan Furchan (1982: 368) dalam Tabel 3.1. Pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) sedangkan pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran konvensional, kemudian dilakukan tes akhir. Tes akhir adalah tes hasil belajar yang dilakukan pada kedua kelas sampel dengan soal tes yang sama. Tabel 3.1 Desain Penelitian 25 Kelompok Perlakuan Post-test E X O1 P C O2 Keterangan: E = Kelas eksperimen P = Kelas pengendali atau kontrol X = Perlakuan pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI) C = Kelas Kontrol menggunakan pembelajaran konvensional O1 = Skor post-test pada kelas ekperimen O2 = Skor post-test pada kelas kontrol C. Langkah Langkah Penelitian Adapun langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut: 1. Melakukan Penelitian Pendahuluan untuk melihat kondisi sekolah, seperti berapa kelas yang ada, jumlah siswanya, dan cara mengajar guru matematika selama pembelajaran. 2. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI dan untuk kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran konvensional. 3. Menyiapkan instrumen penelitian berupa Lembar Kerja Kelompok (LKK) dan soal tes hasil belajar sekaligus aturan penskorannya serta lembar observasi aktivitas belajar siswa. 4. Melakukan validasi instrumen 5. Melakukan uji coba soal tes. 6. Melakukan perbaikan instrumen tes bila diperlukan. 7. Melaksanakan penelitian / perlakuan 8. Mengadakan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. 26 9. Menganalisis hasil penelitian. 10.Menyusun hasil penelitian. D. Data Penelitian Data dalam penelitian ini adalah data aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Adapun data hasil belajar yaitu data berupa nilai yang diperoleh setelah dilakukannya post test terhadap kelas yang diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI dan terhadap kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional. Sedangkan data aktivitas yaitu data observasi aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berlangsung pada kelas yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe GI dan terhadap kelas menggunakan pembelajaran konvensional. E. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes, dan observasi baik dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI maupun dengan pembelajaran konvensional. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dalam memahami materi yang diberikan. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes yang berbentuk uraian, tes diberikan sesudah pembelajaran (post-test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sedangkan observasi dilakukan untuk mendapatkan data aktivitas belajar selama pembelajaran berlangsung pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. F. Instrumen Penelitian 27 Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar berbentuk uraian, dan lembar observasi aktivitas belajar siswa. Tes diberikan sesudah pembelajaran (post-test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes diberikan sesudah pembelajaran dimaksudkan untuk melihat pengaruh pembelajaran terhadap hasil belajar siswa SMP Negeri 9 Metro. Untuk mendapatkan data yang akurat, maka tes yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria tes yang baik. Tes yang telah disusun, diantaranya memenuhi validitas isi. Validitas isi dari suatu tes hasil belajar diketahui dengan jalan membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan indikator yang telah ditentukan untuk pelajaran matematika, apakah hal-hal yang tercantum dalam indikator sudah terwakili secara nyata dalam tes hasil belajar tersebut atau belum. Validitas tes ini dikonsultasikan dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII. Penilaian guru mata pelajaran matematika kelas VII menyatakan bahwa butir-butir tes telah sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator maka tes tersebut dikategorikan valid. Setelah perangkat tes dinyatakan valid, maka perangkat tes diujicobakan. Tes yang digunakan diuji coba di luar sampel tetapi masih dalam populasi. Setelah diujicobakan, diukur tingkat realiabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda soal. Perangkat tes telah memenuhi kriteria kriteria tersebut, maka perangkat tes termasuk dalam kriteria tes yang baik sehingga soal layak digunakan. 1. Reliabilitas 28 Reliabilitas tes diukur berdasarkan koefisien reliabilitas dan digunakan untuk mengetahui tingkat keterandalan suatu tes. Untuk menghitung koefisien reliabilitas tes ini didasarkan pada pendapat Sudijono (2001: 207) yang menyatakan bahwa untuk menghitung reliabilitas tes dapat digunakan rumus Alpha, yaitu : r11 n n 1 1 S i2 S t2 Keterangan : r11 = Koeffisien reliabilitas n = Banyaknya butir soal 2 S i = Jumlah varians skor dari tiap butir item St2 = Varians total Menurut Guilford (Suherman, 1990: 177) koefisien reliabilitas diinterpretasikan seperti yang terlihat pada Tabel 3.2 Tabel 3.2 Interpretasi Nilai Koeffisien Reliabilitas Nilai Antara 0,00 s.d 0,20 Antara 0,20 s.d 0,40 Antara 0,40 s.d 0,70 Antara 0,70 s.d 0,90 Antara 0,90 s.d 1,00 Interpretasi Reliabilitas sangat rendah Reliabilitas rendah Reliabilitas sedang Reliabilitas tinggi Reliabilitas sangat tinggi tes yang digunakan dalam penelitian ini memiliki koefisien reliabilitas lebih dari 0,70. Dari hasil uji coba post-test yang dilakukan terhadap 24 siswa kelas VIII F, diperoleh koefisien reliabilitas 0,80 untuk soal post-test yang digunakan dalam penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa instrument post-test dalam penelitian ini memenuhi uji reliabilitas. 2. Daya Pembeda 29 Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui apakah suatu butir soal dapat membedaka

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
1
6
46
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas X SMA Swadhipa Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
30
63
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY DITINJAU DARI HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
1
20
55
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 3 Bandarlampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/201
0
4
54
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 23 Bandarlampung Semester Genap Tahun Ajaran 2011/2012)
0
7
53
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS TERHADAP HASIL BELAJAR DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Terbanggibesar Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
1
14
68
EFEKTIVITAS MODEL GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
14
56
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP N 1 Ambarawa Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
3
31
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 28 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
4
66
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 9 Metro Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
15
54
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR (Studi pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
3
53
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT BERBANTUAN ICT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
10
67
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
8
39
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
14
48
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN TIPE GI DITINJAU DARI AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Seputih Banyak Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
15
137
Show more