Pro kontra undang-undang pornografi di media cetak : analisis framing terhadap pemberitaan media Indonesia dan republika

Gratis

0
5
101
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Meskipun gelombang pro kontra mengenai Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) belum juga reda, hanya namanya saja

  Semua ketentuan mengenai pornografi dan pornoaksi itu pada saat ini dirasa sangat tidak memadai untuk membendung arus pornografi yang melandamasyarakat Indonesia melalui media massa, baik media cetak (surat kabar, majalah, dan tabloid) ,maupun media elektronik (televisi dalam dan luar negeri,DVD, VCD, dan internet). Itulah yang menjadi menarik dalam membahas kedua media nasional yaitu harian Media Indonesia dan Republika menanggapi persoalan Undang-undang Pornogafi yang sampai sekarang itu menuai pro kontra diberbagai kalangan terutama seniman dan LSM Perempuan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

  Skripsi ini dibatasi berdasarkanpada “Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)”. Permasalahan yang diambil dan menjadi objek penelitian adalah permasalahan yang diangkat oleh kedua media, yaitu pemberitaan harian Media Indonesiamengenai Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak dan dilhat bagaimana harian Republika memberitakan masalah dan tema yang sama.

C. Ruang Lingkup Pembahasan

  framing yang digunakan untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa. ‹ Make Moral Judgement (Membuat Pilihan Moral) adalah merupakan elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat.

D. Tujuan dan Manfaat

  1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, menjelaskan, mengembangkan, dan mendeskripsikan mengenai analisis framing harian Media Indonesia dan Republika dalam Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak.

a. Manfaat Akademis

  Adapun setelah penulis mengadakan suatu kajian kepustakaan penulis akhirnya menemukan beberapa skripsi yang memiliki judul yang hampir samadengan penulis teliti judul tersebut adalah Rancangan Undang-undang AntiPornografi dan Pornoaksi dalam Perdebatan Tokoh Politik skripsi hanya melihat dari segi dan dalam proses terbentuk Undang-undang Anti Pornografi danPornoaksi oleh ranah politik. Indonesia dan Republika) maksud pengkajian ini adalah agar dapat diketahui bahwa apa yang penulis teliti sekarang tidak sama dengan skripsi yang lain.

E. Metodologi penelitian

  Penelitian ini melalui pendekatan kualitatif yaitu sebuah penelitian yang berupaya mengumpulkan data, mengolah data, dan menganalisis data secarakualitatif dan meliputi dua koran nasional yang beredar di Jakarta, yakni Harian Media Indonesia dan Republika yang memilih berita tentang Pro Kontra Undang- undang Pornografi di Media Cetak Edisi 31 Oktober – 5 November 2008. Framing dapatmengakibatkan suatu peristiwa yang sama dapat menghasilkan suatu peristiwa yang sama dapat menghasilkan berita yang secara radikal berbeda apabila 5 Burhan Burgin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Prenata Media Group, 2007), h.337- 338.6 Eriyanto, Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, (Jakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2007), h.66.

1. Pengumpulan Data

  Dalam hal ini, penulis hanya mengamati/ mengobservasi suatu pemberitaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi diMedia Cetak dalam Harian Media Indonesia dan Republika. Wawancara ini juga merupakan cara yang peneliti gunakan dalam rangka mengumpulkan data dengan tanya jawab sepihak dengan media cetak yangdikerjakan secara sistematis dan berlandasan kepada tujuan penelitian.7 Ibid, h.82.

2. Teknik Analisis Data

  mengarah kepada mekanisme konstruksi dalam produksi berita kasus Pro KontraUndang-undang Pornografi yang ditampilkan oleh Media Indonesia dan Republika . Dalam menggunakan tape recorder mempunyai keuntungan yang dapat diamati, dandidengar secara berulang-ulang sehingga apa yang diragukan dalam penafsiran dapat dicek kembali dengan memutarkan kaset rekaman yang ada.

10 Ibid, h.130

5. Keabsahan Data

  Dari pengamatan terhadap isu yang diangkat oleh Media Indonesia dan Republika bisa diamatidengan ketekunan pengamatan secara mendalam. Persolan itu, bisaterjadi apabila subjek tidak jujur, ketakutan berita yang diangkat, atau berpura- pura tidak bisa berkomentar karena isu tersebut sensitif dan dia tidak maumenanggapi apakah mendukung atau menolak terhadap isu yang diangkat.

F. Sistematika Penulisan

  Agar penulisan skripsi ini bersifat sistematis, maka penulis membaginya menjadi 5 (lima) bab, yang pada tiap-tiap babnya terdiri dari sub-sub bab. Adapunsistematika penulisannya adalah sebagai berikut: BAB 1.

11 Ibid, h.177

  Gambaran Umum Media Cetak Harian Media Indonesia dan Republika , Sejarah Singkat dan Perkembangan Media Indonesia dan, Visi, dan Misi Media Indonesia dan Republika, Struktur Republika Redaksional Media Indonesia dan Republika, Mekanisme Kerja Redaksi Media Indonesia dan Republika. Temuan dan Hasil Penelitian, Framing Koran Media Indonesia dan Republika , Hasil Penelitian Analisis Berita Analisis Framing Pemberitaan Media Indonesia dan Republika, Analisis Perbandingan Framing Pemberitaan Media Indonesia dengan Republika, Persamaan Framing Media Indonesia dengan Republika, Perbedaan Framing Media Indonesia dengan Republika dan perbedaan Framing kedua media.

BAB II KAJIAN TEORETIS A. Sejarah Undang-undang Pornografi/ Pengertian Pornografi Pembahasan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi

  Pasal-pasal atau masalah yang krusial dalam Rancangan Undang-undangAnti Pornoaksi dan Pornografi adalah pada Pasal 1 tentang definisi masih diatur tentang pornoaksi, yaitu dengan masih adanya frase gerak tubuh dan pertunjukkan2021 Ibid, Donie Kadewa Mohamad, “Pornomedia Versus RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi,” Monthly Magazine SWAKA Mencerahkan Mencerdaskan (Edisi 4 Maret 2006), h.10. Pasal 14 seolah-olah mengizinkan penggunaan materi seksualitas untuk kepentingan seni budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional sehingga perlu diubahmenjadi “Penggunaan bahan-bahan yang berkenaan dengan materi seksualitas boleh dilakukan terbatas untuk kepentingan dan yang berkaitan dengan 24 pendidikan, seni dan budaya, adat istiadat, dan upacara ritual tradisional.” Dan 25 Pasal 21, 22, dan pasal 23 dapat berdampak munjulnya tindakan anarki.

D. Media Massa

  Dalam menyampaikan sebuah informasi, atauberita yang ada tentunya sangat perlu mengetahui media apa yang akan digunakan. Kendatipun begitu, media yang menjadi alat atau sarana dalammenyampaikan suatu informasi yang tepat adalah media massa.

26 John E. Kennedy, R. Dermawan, Marketing Communication: Taktik & Strategi (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2006), h.46

  Peran media massa dalam memuat isu pembahasan Rancangan Undang- undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini dalam sebuah berita dan informasisangat signifikan, karena media masalah yang dengan cepat memberikan informasi dan berita atas sebuah peristiwa. Setelah melihat secara lebih jeli batas-batas seni dan unsur yang mengarah ke pornografi, pelarangan atau regulasi oleh negara dalam materi ini akan lebih 37 memperhatikan pertimbangan yang lebih jernih.

E. Framing dalam Robert N. Entman

  Lewat frame itu, orang melihat realitas dengan pandangan tertentu dan melihat segala sesuatu yang bermakna dan 39 beraturan. Frame ini juga dilihat bagaimana media dalam menanggapi suatu masalah atau isu apa yang ditimbulkan dari bingkai yang disajikannya itu.

1. Konsep Framing

  Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media, mendefinisikan framing sebagaiseleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Disini dapat dipahami framing yang dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain, dan menonjolkan aspekdari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana, penempatan yang mencolok (headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian lebeltertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi dan simplifikasi.

2. Proses Framing

  Entman, seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media, mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Redaktur, dengan atau tanpa berkonsultasi dengan redaktur pelaksana, menentukan apakah laporansi reporter akan dimuat atau tidak, dan menentukan judul apa yang akan diberikan.

49 Proses tersebut adalah :

  Proses framing sebagai metode dalam penyajian kenyataan dimana kebenaran tentang suatu kejadiaan atau peristiwa tidak diingkari secara menyeluruh,melainkan dibalikkan secara halus, agar berita itu tidak menjadi berita yang Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana (Yogjakara: LKiS, 2001), h.221.4849 Alex Sobur, Op. Pada tahun 1995, harian umum Media Indonesia memindahkan tempat usahanya dari jalan Gondangdia Lama, Menteng, Jakarta Pusat ke Jalan Pilar MasRaya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat karena seiring dengan pengembangan usaha harian umum Media Indonesia dalam bidang Percetakansehingga diharapkan Media Indonesia menjadi suatu bisnis pers yang terintegrasi.

B. Sejarah Republika

  Harian Umum Republika diterbitkan atas kehendak mewujudkan media massa yang mampu mendorong bangsa yang menjadi kritis dan berkualitas. Yayasan Andi Bangsa, yang semula menjadi pemegang saham utamasekaligus pengemdali media ini, terus merangkul semua pihak dengan konsekuensi presentase sahamnya terus menurun, serta tidak lagi menjadipengendali utama ini dilakukan untuk memenuhi komitmen bahwa Republika memang milik semua kalangan, bukan salah satu pihak tertentu, dari lingkungankomunitas umat.

B. Visi dan Misi Perusahaan Media Indonesia dan Republika

1. Visi dan Misi Media Indonesia Visi

  Menjadi Surat Kabar Independen yang Inovatif, Lugas, Terpercaya Dan paling Berpengaruh Tahun 2004. Misi Misi kami ialah mengembangkan perusahaan ini menjadi: 52 professional dan unggul.

2. Visi dan Misi Perusahaan Republika

  Dengan memiliki visi sebagai media yang melayani kebutuhan informasi umat, Republika ingin menjadi motor pengerak dalam mencerdaskan kehidupanbangsa, membela, melindungi, serta melayani kepentingan umat dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Adapun misi yang ingin dicapai Republika adalahmengembangkan demokrasi, mendorong terbentuknya pemerintahan yang bersih, dan yang terpenting adalah mengutamakan kejujuran dan moralitas poltik.

STRUKTUR OGRANISASI MEDIA INDONESIA

  • Warna, Ihwal, TV Guide • Laporan Utama Mingguan • Prilaku, dibalik layer, Hobi dan Habit Layar Perak dan DV,Gaya. Vazza (apv)Kepala newsroom : Arys Hilman (rys)Redaktur senior : Anif Punto Utomo (nif)Wakil redaktur pelaksana 1 : Alba Damhuri (erd)Wakil redaktur pelaksana ii : Selamat Ginting (gin)Wakil redaktur pelaksana iii/ Dokumen Company Profile Republika.

D. Mekanisme kerja redaksi Media Indonesia dan Republika

  Berdasarkan berita yangditampilkan, setiap edisinya masih mengarah pada persoalan penolakan Undang- undang Pornografi yang dikemas dengan menggunakan subyek yang menentangadanya Undang-undang Pornografi karena dapat menimbulkan diskriminasi dan hilangnya budaya. Berdasarkan berita yang ditampilkan, setiap edisinya masih mengarah mendukung Undang-undang Pornografi yang dikemas dengan menggunakansubyek yang mendukung adanya Undang-undang Pornografi.

1. Framing Koran Media Indonesia

  Pada berita kedua Media Indonesia memberi judul langsung menuju pada permasalahan penolakan pengesahan Undang-undang Pornografi ini, yaknipembangkan bayangi RUU Pornografi kata ‘Pembangkangan’ digunakan untuk mempertegas apabila DPR mengesahkan Undang-undang Pornografi, makamasyarakat tidak mau mematuhi Undang-undang Pornografi yang sudah disahkannya. Adapun hasil yang dapat disimpulkan dari permasalahan yang disajikan oleh Media Indonesia, bahwa penolakan Undang-undang Pornografi menginginkan agar Undang-undang inidapat dikaji lagi mengenai pasal-pasal atau masalah krusial dalam RancanganUndang-undang Pornografi.

2. Framing Koran Republika

  Republika dengan Media Indonesia , sama halnya memberikan argumen-argumen terhadap pembenaran Republika sebagai berikut: Menteri Agama, Maftuh Basyuni, mengatakan, “Undang-undang itu cukup lengkap mengakomodasi semua kepentingan ada definisi yang cukup tegas, ada pelarangan dan pembatasan yang komprehensif mengatur adat istiadat, seni,ritual, dan budaya serta ada ruang bagi individu. Rancangan Undang-undang Pornografi segera di undangkan menjadi Undang-undang Pornografi yang diutarakan oleh Republika untuk menyatakan mendukung hasil keputusan DPRsekaligus mengakhiri keributan atau kontroversi dari terbentuknya Undang- undang tersebut.

B. Analisis Hasil Temuan

1. Analisis Framing Pemberitaan Media Indonesia

  Media Indonesia menilai bahwa kasus kontroversi yang pro kontra terhadap Rancangan Undang-undangPornografi ini merupakan wujud kurangnya kinerja pemerintah dan DPR yakniPansus Rancangan Undang-undang Pornografi dalam melakukan sosialisasi ke daerah-daerah khususnya daerah yang menolak Rancangan Undang-undangPornografi dalam mekanisme uji publik. Frame yang dikembangkan Media Indonesia dalam kasus Pro kontra Undang-undang Pornografi ini dilihat Uji publik yang dilakukan itu semua belum mengakomodasi kenginan rakyat khususnya yang menolak terhadap Undang-undang Pornografi.

2. Analisis Framing Pemberitaan Republika

  Dalam pro dan kontra di masyarakat merupakan suatu hal yang biasa karena sesuatu yang baru atau peraturan yang baru di mata masyarakat merupakan Produk Undang-undang Pornografi adalah sebuah keputusan politik yang sudah memenuhi prosedur dan mekanisme untuk disahkan menjadi produkhukum. Republika menilai kasus yang terjadi dengan Undang-undang Pornografi merupakan wujud masyarakat yang kurang dengan sosialisasi informasi dan belum tahu benar maksud dan tujuanUndang-undang Pornografi dibuat sehingga timbul anggapan-anggapan yang sebenarnya tidak mungkin terjadi.

3. Analisis Perbandingan Framing Media Indonesia dan Republika

  Melihat perbandingan berita yang disajikan oleh kedua media yaitu Media Indonesia dan Republika tentang Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak menempatkan suatu berita sebagai institusi sosial. Hal ini berbeda dengan Media Indonesia yang bertolak belakang, terhadap pemberitaan yang ditampilkan terhadappengesahaan Undang-undang Pornografi media ini masih fokus terhadap penolakan Undang-undang Pornografi.

3.1. Persamaan Framing Media Indonesia dan Republika

  Dalam perdebatan Rancangan Undang-undang Pornografi menjadi sebuahUndang-undang Pornografi terus berkembang, terutama di media cetak terus mencuat dalam pemberitaan yang ditampilkan masalah pro dan kontra terhadapUndang-undang Pornografi. Namun penulis melihat dalam persamaan framing yang ditampilkan Media Indonesia dan Republika mempunyai persamaan dalam pemberitaan yang ditampilkan.

3.2. Perbedaan Bingkai Media Indonesia dan Republika

  Penulis melihat perbedaan yang ditampilkan dari kedua media tersebut memiliki perbedaan dalam menempatkan suatu berita yang mana menurut merekapenting atau tidak terhadap berita pengesahaan Undang-undang Pornografi. Kemanusian yang menjadisebuah masalah yang diangkat ke dalam berita dimana Undang-undang Pornografi Tabel 11Perbedaan Bingkai Media Indonesia dan Republika Elemen Media Indonesia RepublikaProblem 1.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis penulis pada tulisan di harian Media Indonesia

  dan Republika yang berjudul Pro Kontra Undang-undang Pornografi di MediaCetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika), terlihat cara pandang atau perspektif komunikator yang digunakan dalammenyeleksi suatu berita dan menonjolkan isu yang tertuang dalam teks berita. Rancangan Undang-undang Pornografi secara substansi atau isi dan prosedural dari Rancangan Undang-undang Pornografi yang dibuat masih biasdan juga tidak menyentuh akar persoalan pornografi dan pornoaksi yang ada di Indonesia.

B. Saran

  Setelah penulis membuat skripsi ini yang berjudul Pro Kontra Undang- undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika) masyarakat dapat menerima keadaan Undang- undang Pornografi dan mengetahui tentang pengaturan pornografi dalam bentuk hukum yaitu berupa Undang-undang. Karena itu, Undang-undang ini cukupmengakomodasi semua kepentingan baik itu budaya, seniman, maupun LSMPerempuan dan juga menjaga, mempertahankan, dan melestarikan nilai budaya dan adat istiadat maka penulis memberikan saran, meskipun dalam pembuatanskripsi ini di sadari masih banyak kekurangan di bawah ini ada beberapa hal yang dapat disarankan:b.

DAFTAR PUSTAKA

  Mohammad, Donie, Kadewa, ”Pornomedia Versus RUU Pornografi dan Pornoaksi,” Monthly Magazine Swaka Mencerahkan Mencerdaskan, Edisi 4 Maret 2006. Dokumen Company Profile Media Indonesia dan Republika.

HASIL WAWANCARA DENGAN MEDIA INDONESIA

  Kitamenghindari jangan sampai UU itu kalau menurut kritis kami justru memecah belah masyarakat itu yang kita hindari makanya ketika kita angkat UUPornografi banyak narasumber kita memang bukannya tidak setuju UUPornografi tapi dia juga memberikan alasan-alasan yang disebutkan tadi seperti dalam petikan wawancara dengan Pak Agung Sasongko beliau jugamengatakan di KUHP sudah ada kalau orang telanjang di KUHP sudah ada hukumannya. Sudut pandangnya kita melihat Pro kontranya tapi, keberpihakan UU itu kepada masyarakat ketika kita melihat masyarakat yang tidak setujudengan UU terlalu detail misalnya awalnya dalam draft UU paling awal detail banget tentang definisi pornografi apa sih pornografi itu ketika banyak yangkontra pun kita muat dan yang pro kita muat sebenarnya.

HASIL WAWANCARA DENGAN REPUBLIKA

  Narasumber cari yang mendukung tapi, kita tetap cari yang menolak mereka tetap harus dimintai komentar tetap harus dikasih kesempatan yangsama kita sebagai media massa kita tidak mau diskriminasikan kita tetap menghargai perbedaan pendapat tapi, kita juga punya pendapat sendiri bahwakita mendukung anda kontra kita hargai tapi, penndapat kami sebagai Republika atau institusi seperti ini. Anda mau menggambarkan keindahan tubuh wanita seberapa kreatif anda menggambarkan itu tanpa melihatkan telanjang UU Pornografi menurutsaya justru itu menantang seniman-seniman yang ngakunya kreatif masa anda mau menggambarkan tubuh wanita dengan ketelanjangan seberapa andakreatif.

JADWAL KEGIATAN PELATIHAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM BAGI PEMUDA PELOPOR TAHUN 2009 (TENTATIF)

Jum’at, 6 Februari 20091 08.00 – 12.00 Check in/Regeristrasi Peserta Tim Instruktur 2 12.00 – 13.00 Makan Siang/Shalat Panitia3 13.00 – 15.30 Penjelasan Teknis, Ice BreakingMotivasi, dan Komitmen Latihan Tim Instruktur 4 15.30 – 16.00 Shalat Panitia 5 16.00 – 18.00Materi Dasar : Tentang Bencana, Analisa, Strategi dan TahapTindakan Tim Instruktur 6 18.00 – 19.30 Isoma Panitia 7 19.30 – 22.00 Komunikasi, Manajemen Logistik,Narasumber (Gibraltar Adventure) 8 22.00 – 22.30 Apel Malam Instruktur 9 22.30 – 04.00 IstirahatSabtu, 7 Februari 2009 1 04.00 – 05.30 Ibadah Shalat Panitia 2 05.30 – 06.30 Senam dan Apel Pagi Instruktur3 06.30 – 08.00 Makan Pagi Panitia 4 08.00 – 09.00 Gladi Pembukaan Panitia5 09.00 – 11.30 Gelar Budaya Panitia Pusat dan Daerah 6 11.30 – 12.30 Isoma Panitia7 12.30 – 13.30 Acara Pembukaan Pelatihan Panitia 8 13.30 – 14.30 Ceramah Deputi I mengenai Kebijakan KemenegporaModerator: Asdep 2.1 9 14.30 – 16.00 Ceramah Menteri Kehutanan Tentang Pencegahan BencanaModerator: Ketua Umum GPI 10 16.00 -16.30 Isoma Panitia 11 16.30 – 18.00Ceramah Menteri Sosial Tentang Penanggulangan Bencana Moderator: Sekretaris Dispora Provinsi Lampung12 18.00 – 19.30 Isoma Panitia 13 19.30 – 21.30 Materi Dasar Pengamanan Bencana oleh KAPOLDAModerator: Staf Khusus Menpora Bid. Pemuda 14 21.30 – 22.00 Apel Malam Instruktur 15 22.00 – 04.00 IstirahatMinggu, 8 Februari 2009 1 04.30 – 05.30 Ibadah Shalat Panitia 3 06.30 – 08.00 Makan Pagi Panitia 4 08.00 – 09.30Pengetahuan Dasar tentang teritorial oleh DANREM 043 Lampung Moderator: Staf Khusus Menpora Bid. Kebijakandan Pengawasan 5 09.30 – 10.00 Break Panitia 6 10.00 – 12.00 Manajemen Posko, dan Simulasi Narasumber (GibraltarAdventure) 7 12.00 – 13.00 Isoma Panitia 8 13.00 – 15.30 Lanjutan Narasumber (GibraltarAdventure) 9 15.30 – 16.00 Istirahat Panitia 10 16.00 – 17.30 Lanjutan Narasumber (GibraltarAdventure) 11 17.30 – 19.30 Isoma Panitia 12 19.30 – 22.00 Manajemen Camp Narasumber (GibraltarAdventure) 13 22.00 – 22.30 Apel Malam Instruktur 14 22.30 – 04.00 IstirahatSenin, 9 Februari 2009 1 04.00 – 05.30 Ibadah Panitia 2 05.30 - 06.30 Senam dan Apel Pagi Instruktur3 06.30 - 08.00 Makan Pagi Panitia 4 08.00 – 12.00 Daya Jelajah, Self Rescue dan AssesmentNarasumber (Gibraltar Adventure) 5 12.00 – 13.00 Isoma Panitia 6 13.00 – 15.30Evaluasi, Resume Komitmen Bersama, dan Rencana Aksi Narasumber (Gibraltar Adventure)7 15.30 – 16.00 Break 8 16.00 – 17.30 Acara Penutupan Panitia 9

17.30 Selesai Panitia

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kontruksi media cetak atas realitas analisis framing terhadap majalah tabligh
0
9
110
Manajemen redaksi harian Republika dalam mengahadapi persaingan Industri media cetak
9
43
81
Konstruksi realitas Islam di media massa : analisis framing; konflik Palestina Israel di harian Kompas dan Republika
0
10
119
Pesan dakwah di media elektronik : analisis isi (QCA) terhadap acara Rahasia Sunnah di Trans 7
1
5
100
Pesan dakwah di media elektronik analisis framing terhadap acara Kick Andy episode atas nama cinta, cinta tanpa batas, dan kesempurnaan cinta di Metro TV
1
16
134
Konglomerasi industri media penyiaran di Indonesia analisis ekonomi politik pada group media nusantara citra
3
15
125
Pro kontra undang-undang pornografi di media cetak : analisis framing terhadap pemberitaan media Indonesia dan republika
0
5
101
Konstruksi realitas di media massa ( analisis framing terhadap pemberitaan Baitul Muslimin Indonesia PDI-P di Harian Kompas dan Republika )
1
8
116
Analisis wacana pemberitaan final piala suzuki AFF 2010 di media Indonesia
0
6
82
Politisasi media televisi di Indonesia: studi pemberitaan tvOne terhadap Pilpres 2014)
4
17
113
Konstruksi realitas pada media cetak: analisis framing pemberitaan insiden Monas di Koran Tempo dan Republika edisi Juni 2008
2
41
116
“Konstruksi pemberitaan Miss World 2013 di media massa” (analisis framing pada Harian Sindo dan Republika)
0
7
0
Analisis framing pemberitaan industri busana muslim dalam surat kabar media Indonesia
0
16
0
Perancangan iklan media cetak banner : laporan kerja praktek
0
6
1
Dorien – Kebijakan manajemen strategis media cetak
0
0
193
Show more