Pro kontra undang-undang pornografi di media cetak : analisis framing terhadap pemberitaan media Indonesia dan republika

Full text

(1)

i

ABSTRAK

Alfan Bachtiar

Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)

Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Rancangan Undang-undang Pornografi dibahas kembali untuk segera dibuat anggota Pansus yang baru. Namun melihat Undang-undang Pornografi diangggapnya memiliki multitafsir banyak dari kalangan seniman dan LSM Perempuan menolak agar Undang-undang Pornografi tidak disahkan karena akan mematikan kreativitas pekerja seni. Pro kontra menjadi pemberitaan di beberapa media di Indonesia.

Membaca di media cetak seperti surat kabar kita bisa melihat segala informasi yang disampaikan kepada khalayak melalui tulisan dan juga menambah wawasan dalam membaca. Pesan yang disampaikan terlepas dari baik atau buruk di mata khalayak. Keberpihakan media terhadap individu atau kelompok sangat mungkin terjadi.

Dalam teori analisis framing model Robert N. Entman, yang membagi analisisnya menjadi empat bagian, yaitu problem identification/ define problem menekankan pada bagaimana suatu peristiwa dipahami oleh wartawan, causal interpretation/ diagnose cause menekankan pada apa dan siapa yang menjadi sumber dari suatu peristiwa, moral evoluation/ make moral judgement dipakai untuk membenarkan atau untuk memberikan argument pada definisi masalah yang sudah dibuat, dan treatment recommendation/ suggest remedies dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat kualitatif dari segi pelaksanaannya lebih dilakukan pemaknaan teks daripada penjumlahan kategori. Menjabarkan beberapa hasil temuan dengan menggunakan analisis framing Robert N. Entman. Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi teks berita yang berkaitan dengan pro kontra Undang-undang Pornografi di Harian Media Indonesia dan Republika. Peneliti juga menggunakan sumber-sumber referensi melalui studi pustaka dan wawancara sebagai data sekunder.

Pornografi cenderung mengedepankan kenikmatan dan pengakuan akan kebiasaan seksual yang keluar dari kecenderungan yang wajar. Dari sini tampak bahwa perdebatan tentang pornografi bukan hanya masalah konseptual, tetapi menyangkut masalah pengambilan sikap moral dan politik. Yang terpenting ialah bagaimana supaya hukum yang melarang pornografi jangan sampai menjadikan perempuan sebagai korban lagi.

(2)

ii BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Meskipun gelombang pro kontra mengenai Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) belum juga reda, hanya namanya saja berubah menjadi RUU Pornografi. Pembahasan demi pembahasan RUU APP juga sudah lama terkatung-katung dan menjadi obrolan hangat sejak tahun 1997 di DPR dan masyarakat, walaupun akhirnya disahkan menjadi Undang-undang Pornografi.

Persoalan Rancangan Undang-undang Pornografi yang telah menjadi Undang-undang Pornografi ini ditanggapi beragam oleh masyarakat, seniman, LSM Perempuan, dan tokoh publik. Ada yang setuju, namun tidak sedikit juga yang menolak dengan adanya undang Pornografi. Sejauhmana Undang-undang Pornografi dipertentangkan atau dikontroversikan oleh kalangan-kalangan yang mempunyai kepentingan sendiri atau kepentingan bersama.

Secara realitas yang terjadi pertentangan masalah terbentuknya Undang-undang Pornografi terus terjadi terutama di Bali dan Papua. Masyarakat di kedua daerah ini menyatakan penolakannya secara tegas kepada pemerintah. Aksi-aksi unjuk rasa, baik yang pro maupun yang kontra, terus terjadi dengan mengerahkan ratusan massa. Begitu juga diskusi-diskusi dan talk show, di ruang tertutup maupun di media massa.1 Dalam sebuah proses penggodokan draft Rancangan Undang-undang, pemandangan seperti ini sudah biasa, namun

1

(3)

iii

Pro kontra yang mewarnai pembahasan Rancangan Undang-undang Pornografi ini bukan pro kontra biasa. Hal ini disebabkan Rancangan Undang-undang tersebut menyangkut persoalan yang cukup rumit, yaitu pengaturan sikap, perilaku, cara berpakaian, dan ekspresi seseorang. Di satu sisi mereka menginginkan Undang-undang ini tidak memiliki multitafsir dan menghilangkan budaya dan adat istiadat dalam pengertian porno yang dibuat menjadi Undang-undang Pornografi.

Para pendukung Rancangan Undang-undang Pornografi melihat industrialisasi seks, seperti majalah, komik, tabloid, dan film adalah mode penyebarannya sehingga segala bentuk pendanaan dan industrialisasi seks (pornografi) harus dihalangi. Pro dan kontra terhadap Rancangan Undang-undang Pornografi adalah fakta dari kontestasi identitas. Kontestasi identitas ini proses transformasi bangsa menghadapi transformasi globalisasi.2

Realitas yang ada pada dunia pers di Indonesia, harian Media Indonesia dan Republika adalah dua media cetak yang memiliki peningkatan penjualan koran terbesar di Indonesia. Dan juga memiliki minat baca yang tinggi dari semua kalangan pembaca muda, dewasa, dan berpendidikan. Karena itu membutuhkan proses yang lama, harian Media Indonesia dan Republika telah menjadi surat kabar yang banyak peminatnya dan telah menjadi koran harian nasional.

Sehingga bukan tidak mungkin kedua harian ini mampu mempengaruhi daya pikir pembacanya terhadap berita yang ada. Dalam skripsi ini, penulis berupaya menyoroti bagaimana kedua harian tersebut dalam mengemas suatu berita tentang pro kontra Undang-undang Pornografi.

(4)

iv

Harian Republika bersifat membangun dan mendukung nilai-nilai Islam dari pemberitaan yang berhubungan dengan moral bangsa. Hal ini juga yang menjadi bertolak belakang, Media Indonesia yang sekuler cenderung menolak atau tidak setuju dengan hal-hal yang berhubungan dengan pemberitaan agama Islam, berbeda dengan harian Republika sejak berdirinya telah mengikrarkan diri sebagai media dengan azas-azas Islami dan menjadi pengendali informasi umat Islam.

Dalam kehidupan media massa, kemunculan pornografi memberikan warna unik. Ia bisa menjadi pendokrak dalam meraih keuntungan materi, sekaligus bisa menjadi penyebab kematian media massa. Kehadiran pornografi dalam media massa, lebih jauh lagi menimbulkan pertanyaan apakah merusak moral masyarakat atau sebaliknya.

Semua ketentuan mengenai pornografi dan pornoaksi itu pada saat ini dirasa sangat tidak memadai untuk membendung arus pornografi yang melanda masyarakat Indonesia melalui media massa, baik media cetak (surat kabar, majalah, dan tabloid) ,maupun media elektronik (televisi dalam dan luar negeri, DVD, VCD, dan internet). Ini sebabnya dirasa perlu adanya Undang-undang khusus yang mengatur masalah ini.3

Pemberitaan tentang Undang-undang Pornografi di Indonesia menjadi sebuah kontroversi yang tidak kunjung selesai karena terdapat perbedaan sudut pandang antara komunitas satu dengan komunitas lainnya. Hal ini menurut sebagian kaum Muslim Indonesia perlu adanya Undang-undang Pornografi agar moral bangsa tidak rusak akibat tontonan negatif yang tidak bernilai dan membawa dampak negatif kepada semua kalangan terutama kalangan anak-anak.

3

(5)

v

Jauh sebelum datangnya hal-hal yang dinamakan pornografi dan pornoaksi dalam Islam sudah ada aturan yang melarang pelanggaran terhadap “kesusilaan”, seperti yang jelaskan dalam firman Allah SWT:

!" #$ % &

'(

)*

+

,

-)*

.

/0

Artinya: ”Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (Q.S. Al-Isra: 32)

(6)

vi

Artinya: ”Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan jaganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupi kain ke rudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra sudara perempuan mereka, para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (Q.S. An-Nur: 31)

(7)

vii Artinya: ”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ”Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Melihat framing dalam Entman memiliki dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Perspektif wartawanlah yang akan menentukan fakta yang dipilihnya dan ditonjolkannya.4

Di mana cara pengambilan wartawan dalam mengambil suatu berita sehingga berita itu dapat ditonjolkan terhadap isu Pro Kontra Undang-undang Pornografi. Ideologi dalam membuat suatu proses pembuatan berita sangat dibutuhkan. Sehingga isu yang ditonjolkan, oleh kedua media dapat terlihat terutama mengenai tanggapan terhadap masalah Undang-undang Pornografi terbentuk.

Pembuatan Rancangan Undang-undang Pornografi diharapkan bisa memberikan kontribusi positif agar negara kita dapat mengembangkan etika kehidupan berbangsa dan bernegara tentang Etika Kehidupan Berbangsa, yang menegaskan bahwa perlu dibangun sebagai suatu terobosan yang baru menampilkan sikap saling peduli, saling memahami, saling menghargai di antara

4

(8)

viii

sesama, dan dikembangkan budaya malu untuk berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Selain itu, pembuatan Rancangan Undang-Undang ini juga diharapkan dapat melengkapi materi Rancangan Undang-Undang Pornografi yang saat ini sudah selesai pembahasannya dalam Rapat Panitia Kerja Badan Legislatif DPR-RI. Ini dapat dijalankan sesuai dengan peraturan yang perlu dibuat yaitu Undang-undang Pornografi.

Berbagai macam media cetak yang ada, baik lokal maupun nasional dalam memberitakan berbagai macam berita tentang pengesahan Undang-undang Pornografi dari sudut pandangan media terhadap Undang-undang Pornografi. Itulah yang menjadi menarik dalam membahas kedua media nasional yaitu harian Media Indonesia dan Republika menanggapi persoalan Undang-undang Pornogafi yang sampai sekarang itu menuai pro kontra diberbagai kalangan terutama seniman dan LSM Perempuan.

Analisis ini memberikan pengetahuan tentang bagaimana media cetak konstruksi berita seputar Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak yang dikemas oleh harian Media Indonesia dan Republika.

(9)

ix

Di sini timbul lebih kritis dalam bingkai atau framenya, dan menimbulkan pertanyaan bagaimana surat kabar Media Indonesia dan Republika membingkai pemberitaan tentang Pro Kontra Pengesahan Undang-undang Pornografi di Media Cetak?

Dengan melihat latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik menulis sebuah skripsi yang berjudul : “Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Dalam pembahasan Skripsi ini penulis membatasi masalah yang akan disampaikan agar tujuan yang diinginkan tercapai. Skripsi ini dibatasi berdasarkan pada “Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)”.

Kemudian dari batasan tersebut dirumuskan suatu masalah yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Sedangkan untuk batasan waktu peneliti terbitnya, penulis mengambil sempel pada bulan 31 Oktober- 5 Nopember 2008. Permasalahan yang diambil dan menjadi objek penelitian adalah permasalahan yang diangkat oleh kedua media, yaitu pemberitaan harian Media Indonesia mengenai Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak dan dilhat bagaimana harian Republika memberitakan masalah dan tema yang sama.

2. Perumusan Masalah

(10)

x

1. Bagaimana Media Indonesia dan Republika mendefinisikan masalah dalam pemebritaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi?

2. Bagaimana Media Indonesia dan Republika memperkirakan sumber masalah dalam pemberitaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi?

3. Bagaimana Media Indonesia dan Republika membuat keputusan moral terhadap pemberitaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi?

4. Bagaimana Media Indonesia dan Republika menekankan penyelesaian dalam pemberitaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi?

C. Ruang Lingkup Pembahasan

Ruang lingkup dalam penelitian ini dilaksanakan bertujuan melihat bagaimana berita itu dikemas atau dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Analisis ini terdiri dari pengumpulan data, analisis data, dan pemaparan hasil penelitian.

Dari hasil akhir pengolahan data dan konstruksi tersebut adalah adanya bagian yang ditonjolkan oleh kedua media tersebut. Akibatnya khalayak dapat dan lebih mudah mengingat aspek-aspek tertentu yang disajikan oleh media. Menjabarkan beberapa hasil temuan dengan menggunakan analisis framing Robert N. Entman. Langkah-langkah penelitian dari konsep Robert Entman meliputi:

Define Problems (Pendefinisian Masalah), merupakan elemen yang pertama

(11)

xi

Diagnosa Couse (Memperkirakan Penyebab Masalah), merupakan elemen

framing yang digunakan untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini dapat berarti siapa (who), namun dapat juga berarti apa (what).

Make Moral Judgement (Membuat Pilihan Moral) adalah merupakan elemen

framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat.

Treatment Recomendation (Menekankan Penyelesaian), elemen ini dipakai

untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan, maksudnya jalan apa yang dipilih oleh wartawan untuk menyelesaiakn suatu masalah. Penyelesaian ini tentu saja bergantung pada bagaimana peristiwa tersebut dipahami, siapa yang menjadi aktor penyebabnya, dan bagaimana argumen yang diajukan.

D. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, menjelaskan, mengembangkan, dan mendeskripsikan mengenai analisis framing harian Media Indonesia dan Republika dalam Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini yaitu: a. Manfaat Akademis

(12)

xii

memadai tentang Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak dengan menggunakan analisis framing yang memusatkan pada pemaknaan atas suatu peristiwa dalam teks berita.

b. Manfaat Praktis

Kajian tentang frame surat kabar dalam mengemas suatu berita diharapkan dapat memberikan kontribusi positif penulis dalam beranalisis dewasa ini, khususnya bagi mahasiswa untuk dapat berkembang dan melakukan penelitian selanjutnya sehingga akan memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan beranalisis.

Selain itu, juga mendorong agar para peneliti teks berita berikutnya untuk mulai menekuni analisis framing (framing analysis) dalam mengkaji suatu teks berita khususnya dalam beranalisis framing.

c. Tinjauan Kepustakaan

Penelitian skripsi ini yang berjudul Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika). Ini dibuat dari kondisi pemberitaan media cetak yang cenderung menonjolkan aspek-aspek tertentu dari realitas isu. Selain itu, kajian dalam framing terhadap kontradiktif permasalahan dengan substansi dan proseduralnya Undang-undang Pornografi yang tidak perlu disahkan. Sehingga penulis merasa tertarik untuk lebih dalam meneliti kajian ini. Adapun literatur/ kepustakaan yang penulis gunakan untuk penelitian skripsi ini antara lain:

(13)

xiii

lengkap tentang Analisis Wacana, Semiotik, dan Analisis Framing. Dalam analisis framing dengan lengkap pula menjelaskan model-model Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, Gamson dan Modigliani, dan Robert N. Entman.

2. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Buku ini ditulis oleh Eriyanto dan diterbitkan PT Lkis Pelangi Aksara pada tahun 2007. Buku ini menjelaskan dengan lengkap tentang konstruksi framing, ideologi, dan politik media.

3. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Buku ini ditulis oleh Ruslan Rosady dan diterbitkan PT Raja Grafindo Persada pada tahun 1998. Buku ini menjelaskan dengan lengkap pengertian dari media massa yang merupakan bagian dari media cetak.

4. Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Buku ini ditulis oleh Syarifah dan diterbitkan Yayasan Kota Kita pada tahun 2006. Buku ini menjelaskan tentang perempuan dan pornografi melalui pendekatan humanistis dan filosofis.

(14)

xiv

Sedangkan skripsi penulis membahas tentang Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika) maksud pengkajian ini adalah agar dapat diketahui bahwa apa yang penulis teliti sekarang tidak sama dengan skripsi yang lain.

E. Metodologi penelitian

Penelitian ini melalui pendekatan kualitatif yaitu sebuah penelitian yang berupaya mengumpulkan data, mengolah data, dan menganalisis data secara kualitatif dan meliputi dua koran nasional yang beredar di Jakarta, yakni Harian Media Indonesia dan Republika yang memilih berita tentang Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak Edisi 31 Oktober – 5 November 2008. Dalam suatu objek analisis dalam pendekatan kualitatif adalah makna dari gejala-gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat bersangkutan untuk memperoleh gambaran kategorisasi tertentu.5

Jenis Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan analisis framing. Yang dimaksud dengan analisis framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media.6 Sehingga framing pada akhirnya menentukan bagaimana realitas itu hadir di hadapan pembaca. Framing dapat mengakibatkan suatu peristiwa yang sama dapat menghasilkan suatu peristiwa yang sama dapat menghasilkan berita yang secara radikal berbeda apabila

5

Burhan Burgin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Prenata Media Group, 2007), h.337-338.

6

(15)

xv

wartawan mempunyai frame yang berbeda ketika melihat peristiwa tersebut dan menuliskan pandangannya dalam berita.7

Dalam hal ini juga analisis framing merupakan pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Pengumpulan Data

a. Observasi Teks

Sebagai metode ilmiah, observasi adalah suatu cara penelitian untuk memperoleh data dalam bentuk pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini, penulis hanya mengamati/ mengobservasi suatu pemberitaan Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak dalam Harian Media Indonesia dan Republika.

b. Wawancara

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode wawancara. Yaitu merupakan teknik yang sangat tepat dalam penelitian, karena penulis dapat memperoleh jawaban secara langsung sehingga memudahkan pengumpulan data.

Wawancara ini juga merupakan cara yang peneliti gunakan dalam rangka mengumpulkan data dengan tanya jawab sepihak dengan media cetak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandasan kepada tujuan penelitian.

7

(16)

xvi c. Pengolahan Data

Dalam pengolahan data kemudian data diolah dengan menggunakan tabel-tabel yang merujuk pada konsep model Robert N. Entman. Dari penyajian tabel-tabel tersebut akan tampak mengenai perbedaan kedua berita mengenai Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak berdasarkan rumusan-rumusan masalah.

2. Teknik Analisis Data

Menafsirkan dan memetakan perbedaaan bingkai atau frame dari kedua Harian Media Indonesia dan Republika berdasarkan model analisis framing yang digunakan.

Analisis data terdiri atas pengkategorian, pentabulasian, ataupun pengkombinasian kembali bukti-bukti untuk merujuk proposisi awal suatu penelitian. Menganalisa bukti studi kasus adalah suatu hal yang sulit karena strategi dan tekniknya belum teridentifikasikan secara memadai di masa lalu.8 Menurut Patton analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.9

Penulis melakukan analisis framing terhadap praktek keredaksian, yaitu mengamati dan mewawancarai bagaimana pekerja media tersebut memproduksi berita seputar Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak ini. Dengan

Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.133.

9

(17)

xvii

begitu diharapkan penulis mampu mengidentifikasi terhadap gejala-gejala yang mengarah kepada mekanisme konstruksi dalam produksi berita kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi yang ditampilkan oleh Media Indonesia dan Republika.

3. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini adalah kantor redaksional Harian Media Indonesia yang beralamat Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat 11520, dan kantor Koran Republika yang beralamat Jl. Warung Buncit Raya No.37 Jakarta Selatan serta perpustakaan sebagai tempat pengumpulan data-data, dokumen, arsip, dan data kepustakaan lainnya. Dengan segala pertimbangan dan persiapan yang harus dilakukan untuk penelitian ini maka waktu pelaksanaan penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember - Maret 2009.

4. Pencatatan Data

Penulis melakukan pengamatan dan pencatatan data terhadap keredaksian media cetak yaitu Media Indonesia dan Republika. Penggunaan tape recorder adalah yang digunakan dalam pencatatan data yang paling menonjol. Dalam menggunakan tape recorder mempunyai keuntungan yang dapat diamati, dan didengar secara berulang-ulang sehingga apa yang diragukan dalam penafsiran dapat dicek kembali dengan memutarkan kaset rekaman yang ada. Tape recorder memberikan dasar dalam pengecekan hasil kesahihan dan keandalan rekaman.10

10

(18)

xviii

Kelemahan dalam penggunaan alat elektronik seperti memakan waktu dan biaya. Sampai sejauh ini, masih menitik beratkan cara mengumpulkan data melalui pengamatan berperan serta dan wawancara.

5. Keabsahan Data

Dalam keabsahan data penulis menggunakan ketekunan pengamatan karena unsur-unsur ini masih berkaitan dengan persoalan atau isu yang sedang terjadi dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dari pengamatan terhadap isu yang diangkat oleh Media Indonesia dan Republika bisa diamati dengan ketekunan pengamatan secara mendalam. Sehingga bisa dilihat mengenai isu yang di tampilkan oleh kedua media tersebut.11

Kekurangan tekunan pengamatan bisa terjadi apabila disebabkan oleh tekanan subjek atau karena tidak terbuka terhadap isu yang ada. Persolan itu, bisa terjadi apabila subjek tidak jujur, ketakutan berita yang diangkat, atau berpura-pura tidak bisa berkomentar karena isu tersebut sensitif dan dia tidak mau menanggapi apakah mendukung atau menolak terhadap isu yang diangkat.

F. Sistematika Penulisan

Agar penulisan skripsi ini bersifat sistematis, maka penulis membaginya menjadi 5 (lima) bab, yang pada tiap-tiap babnya terdiri dari sub-sub bab. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB 1. Di dalamnya menguraikan tentang Latar Belakang Masalah Penelitian, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat

11

(19)

xix

Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II. Berisi tentang Sejarah terbentuknya Undang-undang Pornografi/ Pengertian Pornografi, Urgensi Penyusunan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, Pasal-pasal yang bermasalah dalam RUU APP, Media Massa, Framing, Konsep Framing, dan Proses Framing.

BAB III. Gambaran Umum Media Cetak Harian Media Indonesia dan Republika, Sejarah Singkat dan Perkembangan Media Indonesia dan Republika, Visi, dan Misi Media Indonesia dan Republika, Struktur Redaksional Media Indonesia dan Republika, Mekanisme Kerja Redaksi Media Indonesia dan Republika.

BAB IV. Temuan dan Hasil Penelitian, Framing Koran Media Indonesia dan Republika, Hasil Penelitian Analisis Berita Analisis Framing Pemberitaan Media Indonesia dan Republika, Analisis Perbandingan Framing Pemberitaan Media Indonesia dengan Republika, Persamaan Framing Media Indonesia dengan Republika, Perbedaan Framing Media Indonesia dengan Republika dan perbedaan Framing kedua media.

(20)

xx BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Sejarah Undang-undang Pornografi/ Pengertian Pornografi

Pembahasan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) sudah dimulai tahun 1997 di DPR-RI. Mengenai Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini mengemuka di awal tahun 2006 ketika DPR-RI akan menggodok rencana ini untuk segera disahkan menjadi Undang-undang. Dalam perjalanannya, draf Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi pertama kali diajukan pada tanggal 14 Februari 2006 yang berisi 11 Bab dan 93 Pasal. Pada draf kedua, beberapa pasal yang kontroversi dihapus sehingga kini tersisa 8 Bab dan 82 Pasal. Namun begitu, isu ini sudah sejak lama digulirkan, tetap saja menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat maupun seniman, baik mengenai definisi maupun isi, hingga perlu atau tidaknya Undang-undang ini ada.12

Di antara pasal yang dihapus pada rancangan kedua adalah pembentukan badan anti pornografi dan pornoaksi nasional, selain itu juga rancangan kedua juga mengubah definisi pornografi dan pornoaksi. Karena definisi ini dipermasalahkan, maka disetujui untuk menggunakan definisi pornografi yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Porne” (pelacur) dan graphos (gambaran, atau tulisan) yang secara harfiah tulisan atau gambar tentang pelacur.13

12

Agung Sasongko, Wawancara Wakil Ketua Pansus RUU Pornografi, DPR RI Nusantara 1 Lt. 5, Jakarta, 25 September 2008 dan Ali Mochtar Ngabalin, Wawancara Anggota Pansus RUU Pornografi, DPR RI Nusantara 1 Lt.21, Jakarta, 20 November 2008

13

(21)

xxi

Definisi pornoaksi pada draf ini adalah “upaya mengambil keuntungan, baik dengan memperdagangkan atau mempertontonkan pornografi”. Dalam draf yang dikirim oleh DPR kepada Presiden pada tanggal 24 Agustus 2007, Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini tinggal terdiri dari 10 Bab dan 52 Pasal. Dan judul dalam Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi pun diubah sehingga menjadi Rancangan Undang-undang Pornografi.

Secara kronologis, ide awal Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini muncul di tahun 1999 (era pemerintahan BJ. Habibie). Tetapi baru tahun 2003 terwujud dalam bentuk naskah lengkap Rancangan Undang-undang dan disetujui DPR-RI untuk dibahas. Presiden pada saat itu lambat menerbitkan amanat presiden (Ampres) sementara Pansus baru mencari-cari daftar inventaris masalah (DIM) serta penggantian anggota panitia khusus (Pansus). Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu kemudian isu ini digulirkan kembali dengan bentuk panitia khusus (Pansus) yang baru. Ketentuan mengenai pornoaksi dihapuskan.14

Pada September 2008, Presiden menugaskan Menteri Agama, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk membahas Rancangan Undang-undang ini bersama panitia khusus (Pansus) DPR. Dalam draf final yang awalnya direncanakan akan disahkan pada 23 September 2008, Rancangan Undang-undang Pornografi tinggal terdiri dari 8 Bab dan 44 Pasal. Menurut jadwal yang dibahas oleh Badan Musyawarah (Bamus) dalam pengesahan Rancangan Undang-undang Pornografi menjadi Undang-undang Pornografi bukan tanggal 23 September

14

(22)

xxii

2008. Pada tanggal itu pembicaraan tingkat II untuk tahap pengesahan Rancangan Undang-undang Pornografi direncanakan tanggal 30 Oktober 2008, dalam sidang paripurna.15

Pornografi juga bukan sutau istilah baru. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu porne dan graphein. Porne artinya perempuan jalang (pelacur), dan graphein artinya menulis. Sehingga pengertian pornografi adalah bahan lukisan, gambar atau tulisan serta gerakan-gerakan tubuh yang membuka dan mempertontonkan aurat secara sengaja dan membangkitkan nafsu birahi.16

Dalam definisi pornografi menurut Undang-undang Pornografi pasal 1 dinyatakan pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/ atau pertunjukkan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Kehadiran Rancangan Undang-undang Pornografi menjadi Undang-undang pornografi bukan untuk golongan tertentu, tetapi untuk masyarakat Indonesia. Apabila Rancangan undang-undang pornografi disahkan, Undang-undang ini harus mampu mengayomi seluruh lapisan masyarakat indonesia, sebagai benteng pertahanan moral bangsa yang tidak ternilai harganya, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa. Dan juga Undang-undang ini tidak mendiskriminasikan budaya suatu bangsa.

15

Ali Mochtar Ngabalin, Wawancara Anggota Pansus RUU Pornografi, DPR RI Nusantara 1 Lt.21, Jakarta, 20 November 2008.

16

(23)

xxiii

B. Urgensi Penyusunan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan

Pornoaksi

Peraturan perundang-undangan yang ada belum secara tegas mendefinisikan pornografi. Baik di dalam KUHP, dan peraturan perundang-undangan yang menyebut-nyebut istilah “pornografi” yakni Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, definisi “pornografi” tidak ada.

Sedangkan menurut sosiolog Prof. Dr. Leke Sartika Iriany, Dra, M.S., menyatakan bahwa negara sudah memiliki aturan yang dapat menanggulangi masalah pornografi dan pornoaksi, yaitu KUHP Pasal 282 dan 533, serta Undang-undang Pokok Pers No. 40/1999 Pasal 5 dan 13.17 Dengan demikian, perangkat hukum yang menangani masalah pornografi sudah ada, sehingga tidak perlu adanya lagi disusun Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi.

Padahal, semua peraturan perundang-undangan tersebut sangat diperlukan dalam menangani masalah pornografi di media massa dan bentuk-bentuk pornografi lainnya. Pada era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin cepat sekarang ini, apabila tidak ada undang-undang yang secara khusus mendefinisikan “pornografi”, dikuatirkan upaya penegakan hukum akan terus mengalami banyak kesulitan, seperti yang terjadi selama ini.18

17

Yeyet Suprianawati, Observasi Menyikapi Pornografi dan Pornoaksi (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2006), h.35-36.

18

(24)

xxiv

Kehadiran Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini bukan untuk golongan tertentu, tapi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah turut campur. Apabila rancangan undang-undang ini disahkan, Undang-undang ini harus mampu mengayomi dan menguntungkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, sebagai benteng pertahanan moral bangsa yang tidak ternilai harganya.19

Rancangan Undang-undang tentang Pornoaksi diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi upaya pengintegrasian masalah pelanggaran kesusilaan kedalam suatu sistem hukum yang terpadu yang menyangkut media massa, media elektronik, dan pariwisata ke dalam pembangunan moral bangsa. Pembuatan Undang-undang tentang Kependudukan juga memiliki makna sebagai suatu usaha memberikan koridor hukum bagi perkembangan teknologi komunikasi yang saat ini semakin cepat terjadi. Berdasarkan diskusi dengan berbagai narasumber, maka manfaat undang-undang tentang pornoaksi antara lain:

1. Memberikan kepastian dan jaminan hukum mengenai pelanggaran kesuilaan, karena peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia sampai saat ini belum memadai.

2. Memberikan akses yang luas kepada masyarakat untuk mendapatkan perlindungan hukum terdapat hal-hal yang dinilai melanggaraan norma-norma kesopanan dan kesuilaan, sebagai bentuk pengakuan terhadap hak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

3. Meningkatkan mutu perencanaan dan kebijakan kependidikan yang komprehensif yang mencakup segenap matra yang mungkin melalui

19

(25)

xxv

pengaturan terhadap sosialisasi nilai-nilai kepatutan, relativitas budaya dalam masyaarakat majemuk, dengan perspektif (1) pembangunan berkelanjutan (sustainable development), dalam arti pengakuan atas nilai budaya masyarakat; (2) perspektif gender (gender perspective), terutama penghormatan atas harkat dan martabat wanita; dan (3) hak asasi manusia (human right).

4. Memberikan pedoman bagi penegak hukum dan instansi lain yang berwenang terhadap penanganan masalah pornografi dan pornoaksi, baik dipusat ataupun didaerah sesuai dengan kewenangannya, sebagai bentuk pemenuhan hak asasi manusia.20

C. Pasal-pasal yang bermasalah dalam Rancangan Undang-undang Anti

Pornografi dan Pornoaksi

Sejak tahun 1999, Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi telah diajukan ke DPR untuk dibahas. Tetapi hingga sekarang Rancangan Undang-undang itu tidak kunjung selesai disahkan. Karena terlalu lamanya pembahasan, sehingga saat ada permasalahan pornografi yang berkembang di masyarakat, Undang-undang itu pun tidak bisa menjerat karena belum disahkan.21

Pasal-pasal atau masalah yang krusial dalam Rancangan Undang-undang Anti Pornoaksi dan Pornografi adalah pada Pasal 1 tentang definisi masih diatur tentang pornoaksi, yaitu dengan masih adanya frase gerak tubuh dan pertunjukkan

20

Ibid,

21

(26)

xxvi

di muka umum.22 Pasal 8 Rancangan Undang-undang Pornografi juga dinilai tidak berempati terhadap perempuan sebagai korban industri seksual. Pasal itu menyebutkan bahwa setiap orang di larang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi obyek atau model yang mengandung pornografi.23

Pasal 14 seolah-olah mengizinkan penggunaan materi seksualitas untuk kepentingan seni budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional sehingga perlu diubah menjadi “Penggunaan bahan-bahan yang berkenaan dengan materi seksualitas boleh dilakukan terbatas untuk kepentingan dan yang berkaitan dengan pendidikan, seni dan budaya, adat istiadat, dan upacara ritual tradisional.”24 Dan Pasal 21, 22, dan pasal 23 dapat berdampak munjulnya tindakan anarki.25 Inilah yang membuat kontrakdiktif pasal-pasal dari yang pro dan kontra terhadap Undang-undang Pornografi.

D. Media Massa

Media adalah alat atau untuk digunakan sebagai penyampaian suatu pesan dari komunikator kepada khalayak. Dalam menyampaikan sebuah informasi, atau berita yang ada tentunya sangat perlu mengetahui media apa yang akan digunakan. Kendatipun begitu, media yang menjadi alat atau sarana dalam menyampaikan suatu informasi yang tepat adalah media massa.

22

Kompas, 29 Oktober 2008.

23

Kompas, 24 September 2008.

24

Republika, 17 Oktober 2008.

25

(27)

xxvii

Penggunaan media berkaitan dengan sasaran dari pesan, apakah pesan itu ditunjukkan pada personal, kelompok, atau massa. Massa adalah sejumlah pasar dalam batasan-batasan jangkauan komunikasi yang berkaitan dengan geografis tertentu.26

Syarat-syarat yang membuat suatu media dimasukkan dalam kelompok media massa :

1. Menjangkau lebih banyak komunikan.

2. Menyajikan informasi sesuai dengan kemajemukan khalayak. 3. Pada umumnya menggunakan model komunikasi satu arah. 4. Informasi yang disampaikan dibatasi oleh ruang dan waktu. 5. Pada umumnya, respons dari komunikan terjadi secara lambat.27

Media massa terbagi ke dalam media elektronik, media cetak, dan media online. Media elektronik mewakili radio, televisi maupun film. Media cetak, koran, majalah, tabloid, dan lain-lain. Artinya, suatu pesan melalui media massa tersebut dapat diterima oleh komunikan, baik sebagai pembaca, audiensi maupun pemirsanya yang jumlahnya relatif banyak.28

Media massa dapat dimaksudkan sebagai proses penyampaian berita melalui sarana teknis untuk kepentingan umum dan kelompok besar yang tidak dikenal, dimana penerima dapat menjawab secara langsung pada berita dan dapat

26

John E. Kennedy, R. Dermawan, Marketing Communication: Taktik & Strategi (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2006), h.46.

Ibid, h.47.

28

(28)

xxviii

mengakses segala informasi-informasi yang ada. Media massa hanyalah alat untuk menyampaikan berita yang dapat bernilai atau tidak sebagai seni komunikasi.29

Kata massa dalam pengertian media massa tidaklah sama artinya menurut ilmu jiwa sosial (psikologi sosial). Kata massa dalam pengertian media massa memiliki syarat harus terdiri dari banyak orang, waktu berlainan, pada tempat yang menyebar, meskipun ada peristiwa tapi tidak mengakibatkan kesadaran individu menurun.30

Pada dasarnya bias berita terjadi karena media massa tidak berada diruang vakum. Media sesungguhnya berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam. Sebagaimana diungkapkan oleh Eriyanto, “Media mempunyai peran besar dalam mendefinisikan realitas media bukanlah saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakkannya”. 31

Media massa adalah merupakan dasar dari media diskusi publik yang mengambarkan suatu masalah yang melibatkan tiga pihak yaitu wartawan, sumber berita, dan khalayak. Pendekatan analisis framing memandang wacana berita sebagai semacam arena perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan pokok persoalan wacana. Media massa dilihat sebagai forum bertemunya pihak-pihak dengan kepentingan, latarbelakang, dan sudut pandang yang berbeda-beda.

29

Tondowidjojo, Media Massa dan Pendidikan (Yogjakarta: Kanisius, 1985), h.11.

30

Hoet Soehoet, Media Komunikasi (Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta IISIP, 2003), h.52.

31

(29)

xxix

Banyak orang membaca karena merasa bahwa hal itu berterima secara sosial, dan sebagian orang merasa bahwa surat kabar merupakan hal yang tak tergantikan dalam mencari informasi mengenai berbagai persoalan yang ada di dunia. Namun demikian, banyak juga yang mencari pelarian, relaksasi, hiburan, dan prestise sosial. Sebagian yang lain mencari bantuan untuk kehidupan sehari-hari mereka dengan membaca materi berkenaan dengan mode, resep makanan, ramalan cuaca, maupun informasi bermanfaat lainnya.32

Berita dalam pandangan adalah suatu konstruksi sosial, bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Kenyataan bukan dioper begitu saja sebagai berita. Ini merupakan sebuah produk interaksi antara wartawan dengan berita fakta. Dalam proses internalisasi, kenyataan itulah yang dialami oleh wartawan. Kenyataan itu oleh wartawan dan diserap dalam kesadaran wartawan.

Louis Althusser sebagaimana yang dikutip Alex Sobur, menulis bahwa media dalam hubungannya yang dekat dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuan sebagai sarana legitimasi.33 Bahwa sangatlah penting dalam peran suatu media massa terhadap pemirsa. Sehingga pemirsa juga mengenal lebih dekat sudut pandang dan latar belakang suatu berita, sehingga berita yang ada dapat memberitakan suatu permasalahan yang sedang berlangsung, baik itu beritanya sedang booming ataupun sebaliknya. Karenanya, semua info yang ada itu menjadi sebuah harapan bagi pemirsa untuk mendapatkan suatu informasi yang penting terhadap berita yang disajikan. Tidak

32

Werner J. Severin & James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode,& Terapan di dalam media massa (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2007), h.354.

33

(30)

xxx

cukup rasanya informasi kalau kita masih kurang dalam mengakses informasi-informasi yang ada.

Media adalah sebagai agen kontrol sosial. Media juga mempunyai suatu kekuatan sebagai sumber berita. Sangatlah mustahil dari segala keuntungan itu tidak didapatkan disamping itu pula, peroleh-peroleh tambahan juga didapat dari iklan-iklan demi memperoleh keuntungan. Media sangat bergantung pada kekuatan, pusat ekonomi, dan politik sebagai berita. Segala usaha yang mereka lakukan dapat dipegang dalam arti ada yang bisa mengendalikannya untuk kepentingan medianya atau kepentingan elit. Sehingga kemasan-kemasan atau tampilan-tampilan itu dapat mengikuti isi hatinya pemegang saham atau ownernya.

”Pornografi dalam Media Massa” menurut Tjipta Lesmana, mengajukan kajian tentang pornografi dalam film, majalah, dan kalender. Lesmana berpendapat bahwa komunikasi dalam batas-batas tertentu merupakan seni atau keterampilan manusia menyampaikan pikiran dan emosinya kepada orang lain.34

Pada satu sisi, kasus-kasus pornografi kerap kali meresahkan masyarakat. Dan ini menjadi permasalahan yang ada di negeri sendiri. Pornografi umumnya tidak berkaitan yang berhubungan dengan perempuan baik itu yang menyangkut dengan seks, gender, dan seksualitasnya. Isu-isu yang ada selalu dikaitkan dengan isu-isu yang negatif.

Pembaca berharap, wartawan dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada mereka yang bukan ilmuan dan juga memberikan pengertian berita yang dapat

34

(31)

xxxi

dimaksud dan dicerna oleh semua khalayak.35 Sehingga masalah pro kontra tidak membuat masyarakat menjadi bingung dengan adanya Undang-undang Pornografi.

Dalam hal ini dapat menumbuhkan perdebatan tentang adegan seks yang disungguhkan, baik media cetak maupun elektronik. Jadi persoalannya adalah ketika kemampuan media massa itu digunakan untuk mengkonstruksi erotisme, maka sudah dapat dibayangkan bahwa kekuatan konstruksi sosial media massa akan mampu membangun sebuah kesadaran palsu khalayak bahwa erotisme adalah sebuah kebenaran. Jadi, kekuatan kosntruksi media massa mampu telah melimpuhkan daya kritis khalayak.36

Peran media massa dalam memuat isu pembahasan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini dalam sebuah berita dan informasi sangat signifikan, karena media masalah yang dengan cepat memberikan informasi dan berita atas sebuah peristiwa. Tapi terkadang berita dan informasi yang disampaikan tersebut oleh media massa dibuat melalui proses pembingkaian, dikonstruksi, dan direncanakan dengan tujuan tertentu sehingga sistem kerjanya media dapat diibaratkan hampir sama dengan sebuah pabrik.

Jika memang seperti itu maka media massa diharapkan dapat menghasilkan sebuah produk yang bagus dan dapat bersaing, artinya berita atau informasi yang diberikan kepada masyarakat jangan sampai merugikan masyarakat atau memihak suatu kelompok tertentu dari kepentingannya.

35

Haris Sumadiria, Bahasa Jurnalistik (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h.3.

36

(32)

xxxii

Dengan dilatarbelangi oleh pandangan-pandangan pro dan kontra terhadap berita serta gambar erotis di media massa, Bungin mencoba melihat secara empiris apa dampak erotika di media massa dan peer group pada sikap seks remaja di daerah perkotaan.

Setelah melihat secara lebih jeli batas-batas seni dan unsur yang mengarah ke pornografi, pelarangan atau regulasi oleh negara dalam materi ini akan lebih memperhatikan pertimbangan yang lebih jernih.37 Permasalahan seni memang sudah ada dari dulu. Tetapi, yang menjadi permasalahan mengenai seksualitas yang kerap kali digambarkan yang dapat mengusik rasa susila masyarakat. Di dalam media elektronik seperti televisi wanita sebagai subyek dalam penampilan yang dibawakan. Sehingga, iklan tersebut kerap kali menjadi daya tarik pembeli agar iklan tersebut laku dipasaran. Misalnya dalam iklan sabun, rokok, dan sebagainya.

Perdebatan sengit dari wacana-wacana yanng ada mengenai pro dan anti pornografi selama ini, pada kenyataannya, tidak benar-benar mengangkat masalah perempuan dalam isu pornografi di Indonesia. Malahan dalam wacana-wacana ini sama-sama mengobjektivitasi perempuan.38

Pendekatan ini menujukkan apa yang disebut dengan framing. Bagaimana media mengembangkan konstruksi tertentu atas realitas dan isu yang ditimbulkan. Peristiwa yang sama dapat dikonstruksi secara berbeda dengan menggunakan frame yang berbeda. Hal ini terjadi ketika peristiwa dilihat dengan cara yang berbeda oleh media.

Haryatmoko, Etika Komunikasi (Yogjakarta: Kanisius, 2007), h.102.

38

(33)

xxxiii E. Framing dalam Robert N. Entman

Frame adalah sebuah prinsip di mana pengalaman dan realitas yang kompleks tersebut diorganisasi secara subjektif. Lewat frame itu, orang melihat realitas dengan pandangan tertentu dan melihat segala sesuatu yang bermakna dan beraturan.39

Frame ini juga dilihat bagaimana media dalam menanggapi suatu masalah atau isu apa yang ditimbulkan dari bingkai yang disajikannya itu. Frame ini kita dapat melihat ke mana wartawan memandang suatu permasalahan yang ditanggapinya. Sehingga, permasalahan akan timbul dari sudut pandang yang diambil oleh kedua media tersebut.

Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Menurut Todd Gitlin, adalah sebuah strategi bagaimana realitas/ dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca.40

Konseptual framing menurut W.A Gamson dan Modigliani seperti dikutip Agus Sudibyo mendefinisikan dalam dua pendekatan, yaitu:

Pendekatan kultural dan pendekatan psikologis. Pendekatan kultural menghasilkan framing dalam level wacana, sementara pendekatan psikologis menghasilkan framing dalam level individual. Dalam level kultural, frame pertama-tama dapat dimaknai sebagai batasan-batasan wacana serta elemen-elemen konstruktif yang tersebar dalam konstruksi wacana. Dalam level individu dasar framing adalah individu selalu bertindak atau mengambil keputusan secara sadar, rasional, dan dengan tujuan yang jelas.41

39

Eriyanto. Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogjakarta: PT Lkis Pelangi Aksara, 2007), h.189

40

Ibid, h.68.

41 Agus Sudibyo, Tinjauan Teoritis Analisis Framing, Jurnal Pantau, edisi 10/ Tahun

(34)

xxxiv

Jadi, analisis framing ini merupakan analisis untuk mengkaji pembingkaian realitas yang dilakukan media. Framing digunakan untuk menonjolkan atau memberikan penekatan aspek tertentu sesuai kepentingan media. Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak.42 Dalam framing dipandang sebagai penempatan informasi yang memiliki konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan perhatian atau alokasi lebih besar dari pada isu lain.

Ada dua aspek dalam framing. Pertama, memilih fakta/ realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa persepektif. Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan pada khalayak. Gagasan itu diungkapkan dengan kata, kalimat dan proposisi apa, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, dan sebagainya.

Menurut Robert N. Entman seperti dikutip oleh Bimo, Eriyanto, Frans Surdiasis, melihat framing dalam dua dimensi besar : seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas atau isu tersebut. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti atau lebih diingkat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemingkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami relaitas.43

1. Konsep Framing

Konsep framing di media sudah mendapat pengaruh dari lapangan baik dari segi psikologis dan sosiologi. Framing merupakan sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu itu, mendapatkan perhatian yang

42

Rachmat Kriyanto, Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relation Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), h.252

43

(35)

xxxv

serius lebih besar daripada isu yang lain. Framing juga lebih memberikan tonjolan terhadap teks komunikasi bagian mana ditonjolkan atau dianggap penting oleh pembuat teks. Dalam hal ini, kata tonjolan memberikan arti bagaimana informasi yang ditampilkan terlihat jelas, bermakna, dan lebih mudah diingat oleh khalayak. Karenanya, penting untuk melihat isu yang disajikan oleh media khususnya cetak.

Robert N. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media, mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Dalam konsep mengenai framing ditulis dalam sebuah artikel untuk Journal of Political Communication dan tulisan lain yang mempraktikkan konsep itu dalam suatu studi kasus pemberitaan media.44

Konsep framing oleh Robert N. Entman, digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dan realitas oleh media. Kata penonjolan itu sendiri dapat didefinisikan membuat informasi lebih terlihat jelas, lebih bermakna, atau lebih diingat oleh khalayak. Bentuk penonjolan tersebut bisa beragam menempatkan satu aspek informasi lebih menonjol dibandingkan yang lain, lebih mencolok, melakukan pengulangan informasi yang dipandang penting atau dihubungkan dengan aspek budaya yang akrab dibenak khalayak.

Penonjolan aspek tertentu dari suatu isu ini sangat berkaitan dengan penulisan fakta. Proses ini mau tidak mau sangat berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam menuliskan realitas untuk dibaca oleh khalayak. Kata-kata tertentu tidak hanya memfokuskan perhatian khalayak pada masalah tertentu, tetapi juga

(36)

xxxvi

membatasi persepsi kita dan mengarahkannya pada cara berpikir dan keyakinan tertentu.

Di bawah ini gambaran dari mekanisme konsep skema framing menurut Robert M. Entman dari buku Analisis Teks Media Drs. Alex Sobur M.Si:

Tabel 1

Konsep Framing Robert. M. Entman45

Define Problem

(Pendefinisian Masalah)

Bagaimana suatu peristiwa dilihat?, sebagai apa?, Atau sebagai masalah apa?

Diagnose Causes (Sumber Masalah)

Penyebab dari adanya suatu masalah?

Make Moral Judgement (Membuat Keputusan Moral)

Nilai moral apa yang digunakan untuk melegitimasi?

Treatment Recommendation (Menekankan Penyelesaian)

Penyelesaian yang ditawarkan untuk mengatasinya?

Entman merumuskan ke dalam bentuk ke dalam bentuk model framing secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Define problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/ bingkai yang paling utama. Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah), merupakan elemen

45

(37)

xxxvii

framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/ memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Elemen framing lain adalah Treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.46

Disini dapat dipahami framing yang dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain, dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana, penempatan yang mencolok (headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian lebel tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi dan simplifikasi. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak.

2. Proses Framing

Setelah melihat dan memaknai sebuah peristiwa, sehingga peristiwa atau realitas tersebut dikemas dan disajikan dalam presentasi media disebut dengan proses framing.

Seperti yang dikatakan oleh W.A. Gamson dan A. Modigliani mengenai proses framing : “Proses framing berkaitan dengan persoalan bagaimana sebuah

46

(38)

xxxviii

realitas dikemas dan disajikan dalam presentasi media. Oleh karena itu, frame sering diidentifikasi sebagai cara bercerita (story line) yang menghadirkan konstruksi makna spesifik tentang objek wacana”.47

Robert N. Entman, seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media, mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi.

Sejalan dengan W.A. Gamson dan A. Modigliani, Aditjandro seperti yang dikutip oleh Hotman M. Siahaan juga menyatakan secara lebih rinci mengenai proses framing : proses framing merupakan bagian tak terpisahkan dari proses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja dibagian keredaksian media. Reporter di lapangan menentukan siapa yang diwawancarainya. Redaktur, dengan atau tanpa berkonsultasi dengan redaktur pelaksana, menentukan apakah laporan si reporter akan dimuat atau tidak, dan menentukan judul apa yang akan diberikan. Petugas tata muka, dengan atau tanpa berkonsultasi dengan para redaktur tersebut, menentukan apakah teks berita itu perlu diberikan aksentuasi foto, karikatur, atau bahkan ilustrasi lain atau tidak.48

Proses pemberitaan yang melibatkan semua pekerja keredaksiaan di dalam media cetak yang akan diproduksinya. Frame yang diperoses dalam suatu organisasi media tidak lepas dari latar belakang pendidikan wartawan sampai ideologi institusi media tersebut. Ada tiga proses framing dalam organisasi media. Proses tersebut adalah :49

1. Proses framing sebagai metode dalam penyajian kenyataan dimana kebenaran tentang suatu kejadiaan atau peristiwa tidak diingkari secara menyeluruh, melainkan dibalikkan secara halus, agar berita itu tidak menjadi berita yang

Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana (Yogjakara: LKiS, 2001), h.221.

48

Alex Sobur, Op.Cit h.165.

49

(39)

xxxix

kasar, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.

2. Proses framing merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses penyuntingan berita yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak. Redaktur, dengan atau tanpa konsultasi dengan redaktur pelaksana, menetukan apakah laporan si reporter akan di muat ataukah tidak, serta menentukan judul yang layak untuk ditampilkan atau diberikan.

(40)

xl BAB III

GAMBARAN UMUM MEDIA CETAK HARIAN MEDIA INDONESIA

DAN REPUBLIKA

A. Sejarah Media Indonesia

Surat kabar harian umum Media Indonesia diterbitkan oleh Badan Penerbit “Yayasan Warta Indonesia” di Jakarta. Sebagai Ketua Yayasan dan sekaligus pendiri adalah Teuku Yously Syah. Harian Media Indonesia terbit perdana pada hari Senin, 19 Januari 1970 dengan motto “Pembawa Suara Rakyat”.

Pada tahun-tahun pertama penerbitan, dalam harian umum Media Indonesia bukanlah suatu harian politik atau bisnis, akan tetapi merupakan sebuah harian yang isinya pemberitaan yang lebih banyak di bidang hiburan, seperti cerita artis dan lain sebagainya. Tak heran pada saat itu harian umum Media Indonesia dikatakan sebagai Koran kuning yaitu koran yang penuh dengan cerita gosip.

Perjalanan hidup harian umum Media Indonesia seperti kehidupan pers nasional pada umumnya waktu itu tak lepas dari berbagai kendala dan kesulitan baik dari bidang sumber daya manusia maupun financial. Untuk mempertahankan hidup dari berbagai kesulitan, harian umum Media Indonesia pernah mengambil alternatif terbit secara tidak teratur. Maka pada harian umum Media Indonesia terpaksa harus menghentikan penerbitannya setiap hari dan diganti dengan terbit 1x seminggu sehingga nama yang digunakan tidak lagi surat kabar harian namun menjadi surat kabar mingguan.

(41)

xli

permodalan dan manajemen baru harian umum Media Indonesia. Tindak lanjut kerjasama manajemen baru harian umum Media Indonesia telah ditingkatkan status badan hukum penerbit dari “Yayasan Warta Indonesia” menjadi perseroan terbatas PT Citra Media Nusa Purnama.

Kemudian pada tahun 1992, harian umum Media Indonesia melakukan inovasi baru yang belum pernah dilakukan oleh harian yang lain yaitu menerbitkan suplemen berita Real Estate yang terbit setiap hari Jum’at dan kemudian disusul dengan suplemen berita Keuangan, Otomotif, Konsumen, Wisata, dan Delik Hukum.

Pada tahun 1995, harian umum Media Indonesia memindahkan tempat usahanya dari jalan Gondangdia Lama, Menteng, Jakarta Pusat ke Jalan Pilar Mas Raya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat karena seiring dengan pengembangan usaha harian umum Media Indonesia dalam bidang Percetakan sehingga diharapkan Media Indonesia menjadi suatu bisnis pers yang terintegrasi.

B. Sejarah Republika

Harian Umum Republika diterbitkan atas kehendak mewujudkan media massa yang mampu mendorong bangsa yang menjadi kritis dan berkualitas. Yakni bangsa yang mampu sederajat dengan bangsa maju lain di dunia, memegang nilai-nilai spritualitas sebagai perwujudan Pancasila sebagai falsafat bangsa, serta memiliki arah gerak seperti digariskan UUD 1945.

(42)

xlii

Indonesia, antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui program peningkatan 5K, yaitu: Kualitas Iman, Kualitas Hidup, Kualitas Kerja, Kualitas Karya, dan Kualitas Pikir.

PT Abdi Bangsa, penerbit harian umum Republika, didirikan pada 28 November 1992 di Jakarta. Perusahaan yang berada di bawah Yayasan Abdi Bangsa ini bergerak dalam bidang usaha penerbitan dan percetakan pers. Secara Institusi, PT Abdi Bangsa Tbk, juga terus berkembang seiring dengan jalannya waktu. Yayasan Andi Bangsa, yang semula menjadi pemegang saham utama sekaligus pengemdali media ini, terus merangkul semua pihak dengan konsekuensi presentase sahamnya terus menurun, serta tidak lagi menjadi pengendali utama ini dilakukan untuk memenuhi komitmen bahwa Republika memang milik semua kalangan, bukan salah satu pihak tertentu, dari lingkungan komunitas umat.

Akrab dan Cerdas. Demikian semboyan Republika. Semangat itu yang menjiwai setiap langkah untuk mengembangkan Republika. Sebagai ukuran Komunitas Muslim, Republika akan tumbuh dan berkembang bersama Komunitas Muslim, yang menjadi komunitas terpenting bangsa ini

(43)

xliii

kedua, pada Desember 1993, oplah Republika sudah mencapai 130.000 eksemplar.50

B. Visi dan Misi Perusahaan Media Indonesia dan Republika

1. Visi dan Misi Media Indonesia

Visi

Menjadi Surat Kabar Independen yang Inovatif, Lugas, Terpercaya Dan paling Berpengaruh Tahun 2004.

Visi ini akan dicapai dengan:

- Bersikap Independen, yaitu dengan menjaga sikap non partisan, dimana karyawannya tidak menjadi pengurus partai politik; menolak segala bentuk pemberian yang dapat mempengaruhi objektivitas, dan mempunyai keberanian untuk bersikap beda.

- Bersikap Inovatif, yaitu dengan terus menerus menyempurnakan dan mengembangkan kemampuan teknologi dan penyempurnaan Sumber Daya Manusia, serta secara terus menerus mengembangkan rubrik, halaman, dan penyempurnaan perwajahan.

- Bersikap Lugas, dengan memberdayakan peran Redaktur Bahasa, Tim Penyunting serta style book.

- Menjadi Media Terpercaya, dengan selalu melakukan check dan recheck; meliput berita dari dua pihak dan seimbang, serta selalu melakukan investigasi dan pendalaman.

(44)

xliv

- Menjadi Media Paling Berpengaruh, dengan target bahwa Media Indonesia dibaca oleh para pengambil keputusan; memiliki kualitas editorial yang dapat mempengaruhi pengambil keputusan; mampu membangun kemampuan antisipatif, mampu membangun network narasumber, dan memiliki pemasaran/ distribusi yang handal.51

Misi

Misi kami ialah mengembangkan perusahaan ini menjadi:

- Sumber informasi terpercaya dan relevan untuk kebutuhan masyarakat dimana kami berada.

- Perusahaan Penerbitan yang sehat dan menguntungkan baik nasional maupun regional.

- Tempat berkembangnya Sumber Daya Manusia dan manajemen yang professional dan unggul.52

2. Visi dan Misi Perusahaan Republika

Republika adalah sebuah surat kabar yang lahir di tengah Indonesia yang berubah secara cepat. Dalam perubahan yang melanda hampir semua aspek kehidupan ini politik, ekonomi, Iptek, sosial, dan budaya “keterbukaan” menjadi kata kunci. Republika memilih berposisi untuk turut mempersiapkan masyarakat Indonesia memasuki masa dinamis ini, tanpa perlu kehilangan segenap kualitas yang telah dimilikinya.

Motto Republika “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” menunjukkan semangat memperispkan masyarakat memasuki era baru itu. Keterbukaan dan

51

Company Profile Media Indonesia

52

(45)

xlv

perubahan telah dimulai dan tak ada langkah kembali, bila kita memang kita bersepakat mencapai kemajuan. Meski demikian, mengupayakan perubahan yang juga berarti pembaharuan tidak mesti harus mengganggu stabilitas yang telah susah payah dibangun.53

Dengan memiliki visi sebagai media yang melayani kebutuhan informasi umat, Republika ingin menjadi motor pengerak dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membela, melindungi, serta melayani kepentingan umat dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Adapun misi yang ingin dicapai Republika adalah mengembangkan demokrasi, mendorong terbentuknya pemerintahan yang bersih, dan yang terpenting adalah mengutamakan kejujuran dan moralitas poltik.

Gambar 1

C. Struktur organisasi Media Indonesia dan Republika54

Company Profile Republika

54

Company Profile Media Indonesia,

(46)

xlvi

Gambar 2

STRUKTUR REDAKSI HARIAN REPUBLIKA55

Pemimpin Redaksi : Ikhwanul Kiram Mashuri (Ikm) Wakil pemimpin redaksi : Nasihin Masha (ink)

Redaktur pelaksana : Agung p. Vazza (apv) Kepala newsroom : Arys Hilman (rys) Redaktur senior : Anif Punto Utomo (nif) Wakil redaktur pelaksana 1 : Alba Damhuri (erd) Wakil redaktur pelaksana ii : Selamat Ginting (gin) Wakil redaktur pelaksana iii/

Dokumen Company Profile Republika.

Wakil Redaktur Pelaksana

• Berita halaman 1 abad, Cerpen, Cerpen, Puisi, Wacana, Horison, Cerber, Pustaka, Senggang

• Ficer halaman 1, Analisis Resonansi, Refleksi, Opini Suara.

• Warna, Ihwal, TV Guide

• Laporan Utama Mingguan

• Prilaku, dibalik layer, Hobi dan Habit Layar Perak dan DV, Gaya.

• Sosok, Wawancara, Dari Kami, Koncil, Belia, Remaja

(47)

xlvii

Art director : Sri Kumara Dewatasari (kum) Asredpel i (ekonomi) : Nurul S. Hamami

Asredpel ii (or, hiburan, interntl) : Rakhmat Hadi Sucipto (rhs) Asredpel iii (spesial product) : Bidramnanta (bid)

Asredpel iv (nasional) : Subroto (sbt) Asredpel v (ahad & akhir pekan) : Nina Chairani (poy) Asredpel vi (agama)

Asredpel vii (investigasi) : Irwan Ariefyanto (one) Sekretaris redaksi : Fachrul Ratzi (fr)56 D. Mekanisme kerja redaksi Media Indonesia dan Republika

Pemimpin Redaksi

Bertugas mengelola kegiatan redaksional baik ke luar maupun ke dalam dan mempertanggung jawabkan seluruh kegiatan redaksional.

Wakil Pemimpin Redaksi

Bertugas menggantikan tugas Pemred. Bila ia berhalangan maka segala tanggung jawab dan wewenang kegiatan redaksional ditangani Wapemred.

Sekretaris Redaksi

Berkewajiban memberikan pelayanan secara menyeluruh atas keperluan staf-staf redaksi. Di samping itu, sekretaris redaksi juga berperan sebagai wakil harian Republika untuk berhubungan pihal luar, baik masyarakat, maupun instansi Pemerintah dan Swasta.

Redaksi Pelaksana

(48)

xlviii

Orang yang bertanggung jawab pada berita apa yang ditayangkan. Dia bertugas memutuskan peristiwa atau acara apa saja yang perlu diliput, liputan apa yang akan menjadi liputan utama untuk hari itu, siapa wartawan yang bertugas untuk meliputnya, dll.

Wakil Redaksi Pelaksana

Bertugas mengatur dan mengakomodir redaktur-redaktur yang ada di Harian Republika, dan mengawasi kegiatan Redaktur yang ada dibawahnya.

Koordinator Berita

Menditribusikan tugas-tugas pencari berita pada para koordinator atau langsung kepada wartawan sesuai bidang liputan masing-masing. Mengumpulkan dan menyeleksi tema-tema liputan yang direncanakan pada redaktur bidang atau asistennya.

Penanggung Jawab Halaman

Bertugas melakukan editing pada tulisan yang masuk ke halamannya. Koordinator Desain

Lingkup bagian tugas ini adalah sebelum SK masuk ke dalam percetakan untuk diproses pada tahap paling akhir. Pra cetak terdiri dari atas 3 bagian yaitu foto, desain, dan Macintosh.

Reporter

Gambar

tabel yang merujuk pada konsep model Robert N. Entman. Dari penyajian tabel
Robert N Entman Dari penyajian tabel . View in document p.16
Gambaran Umum Media Cetak Harian Media Indonesia dan
Gambaran Umum Media Cetak Harian Media Indonesia dan . View in document p.19
Konsep Tabel 1 Framing Robert. M. Entman45
Konsep Tabel 1 Framing Robert M Entman45 . View in document p.36
C.Gambar 1  Struktur organisasi Media Indonesia dan Republika54
C Gambar 1 Struktur organisasi Media Indonesia dan Republika54 . View in document p.45
Gambar 2
Gambar 2 . View in document p.46
Tabel 2
Tabel 2 . View in document p.51
Frame Media IndonesiaTabel 4  dengan berjudul “RUU Pornografi Disahkan, DPR
Frame Media IndonesiaTabel 4 dengan berjudul RUU Pornografi Disahkan DPR . View in document p.60
Frame Media IndonesiaTabel 5  dengan berjudul “Pembangkangan Bayangi RUU
Frame Media IndonesiaTabel 5 dengan berjudul Pembangkangan Bayangi RUU . View in document p.62
Frame RepublikaTabel 6  dengan judul “UU Pornografi Butuh Aturan Teknis”.
Frame RepublikaTabel 6 dengan judul UU Pornografi Butuh Aturan Teknis . View in document p.66
Frame RepublikaTabel 7  dengan judul “Pembentukan UU Pornografi Demokratis”.
Frame RepublikaTabel 7 dengan judul Pembentukan UU Pornografi Demokratis . View in document p.69
Tabel 8
Tabel 8 . View in document p.71
Frame RepublikaTabel 9  dengan judul “UU Pornografi tidak Hilangkan Budaya”.
Frame RepublikaTabel 9 dengan judul UU Pornografi tidak Hilangkan Budaya . View in document p.74
Frame RepublikaTabel 10  dengan judul “Gubernur Bali Dianggap Tak Pahami Undang-
Frame RepublikaTabel 10 dengan judul Gubernur Bali Dianggap Tak Pahami Undang . View in document p.77
Perbedaan Bingkai Tabel 11 Media Indonesia dan Republika
Perbedaan Bingkai Tabel 11 Media Indonesia dan Republika . View in document p.83

Referensi

Memperbarui...

Download now (101 pages)