Analisis campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy

Gratis

9
79
122
2 years ago
Preview
Full text

ANALISIS CAMPUR KODE DALAM NOVEL

  KETIKA CINTA

BERTASBIH KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Skripsi

  Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat- syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  

Oleh

RINI MARYANI

NIM 106013000315

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

  Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Rini Maryani NIM : 106013000315 Jurusan/Semester : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia/IX Angkatan : 2006 Alamat : Jalan Perjuangan Rt 02/07 No. 8 Kelurahan Harapan Baru

  Kec. Bekasi Utara 17123 Menyatakan dengan sesungguhnya

  Bahwa skripsi yang berjudul ―Analisis Campur Kode dalam Novel Ketika Cinta

  Bertasbih

  karya Habiburrahman El Shirazy‖ adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan: Nama : Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M. Pd. NIP : 19640212 199703 2 001 Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan siap menerima segala konsekuensi apabila ternyata skripsi ini bukan hasil karya sendiri.

  Jakarta, 11 Februari 2011 Yang menyatakan, Rini Maryani

  

ABSTRAK

Rini Maryani , Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

  Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Judul Skripsi, Analisis Campur Kode dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El Shirazy.

  Bahasa berperan penting dalam kehidupan manusia dan satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Saat berinteraksi antarmanusia akan didapati manusia yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa dikenal dengan sebutan bilingual dan multilingual yang memungkinkan akan terjadinya campur kode, campur kode adalah masuknya serpihan-serpihan bahasa ke bahasa lain. Campur kode bukan hanya terjadi pada percakapan lisan tetapi juga dapat terjadi dalam percakapan tulisan, misalnya novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui wujud campur kode dan fungsi campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan bentuk kualitatif, yaitu mendeskripsikan wujud dan fungsi terjadinya campur kode yang terdapat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  Berdasarkan analisis data dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy didapati campur kode bahasa daerah (Jawa), dan bahasa Asing (Arab dan Inggris) berjumlah 219 data. Campur kode dominan adalah campur kode bahasa Arab, yaitu terdapat 107 data hal ini karena pengarang novel mampu berbahasa Arab dan novel ini adalah novel Islami yang sering menggunakan serpihan-serpihan bahasa keislaman sedangkan campur kode bahasa Inggris dan Jawa masing-masing 71 dan 41 data. Campur kode terbanyak yaitu berwujud kata, terdapat 114 data. Campur kode berwujud frasa terdapat 52 data. Campur kode berwujud klausa terdapat 16 data. Campur kode berwujud kata ulang terdapat 5 data. Campur kode berwujud baster 24 data. Campur kode berwujud ungkapan atau idiom terdapat 8 data. Campur kode dalam penulisan novel dapat dibagi menurut penggunaannya berupa campur kode deskripsi dan campur kode pada dialog, dalam deskripsi cerita yang bertujuan menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh sedangkan dialog yang bertujuan untuk menyajikan percakapan tokoh/antartokoh. Fungsi yang melatarbelakangi terjadinya campur kode dalam novel dwilogi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy adalah (1) karena menghormati lawan tutur, (2) karena kebutuhan kosakata, (3) karena ingin mencari jalan termudah menyampaikan maksud, (4) karena membicarakan topik tertentu, (5) menunjukkan identitas, (6) menunjukkan keterpelajaran, (7) mempertegas sesuatu, (8) memperhalus tuturan, (9) menunjukkan keakraban, dan (10) sebagai pengisi dan penyambung kalimat. Fungsi campur kode dominan adalah kebutuhan kosakata yaitu 36 data, terdapat pada campur kode wujud kata.

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah segala puji dan syukur atas limpahan rahmat, nikmat, dan

  hidayah Allah SWT dengan kemudahan-Nya penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya keluar dari zaman jahiliyah ke zaman cahaya islami yang terang benderang.

  Penyusunan skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik karena adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak kepada penulis. Oleh karena itu, sebagai ungkapan rasa hormat yang tulus, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

  1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 2. Ibu Dra. Mahmudah Fitriyah, Z.A, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus sebagai Pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Bapak Drs. E. Kusnadi Dosen Penasehat Akademik yang selalu memberikan nasehat-nasehat yang berguna untuk penulis.

  4. Bapak Hilmi Akmal, M.Hum. yang telah bersedia meluangkan waktunya saat penulis bertanya mengenai campur kode dalam sosiolinguistik.

  5. Ibu Rosyida Erowati, M.Hum. dan para dosen lainnya yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan yang berguna kepada penulis.

  6. Pimpinan dan karyawan perpustakaan FITK, perpustakaan UIN Jakarta, yang telah memberi kemudahan bagi penulis dalam memperoleh informasi.

  7. Kedua orang tua (Ayahanda Edi Suparno dan Ibunda Rosih), atas segala bentuk cintanya kepada ananda yang selalu memberikan doa, motivasi, bantuan moril maupun materil, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat- Nya kepada keluarga kita.

  8. Kakak-kakakku, Agus Susanto, S.Pd.I dan Rina Maryana serta segenap keluarga besar yang selalu memberikan dukungan dan bantuan moril maupun materil yang tak terhingga kepada penulis.

9. Teman-teman seperjuangan, Rara, Vevi, Qori, Yanti, Ais, Yeti, Puji, Yudi,

  Hastri, Iyom, dan Diah. Kenangan bersama kalian tidak akan aku lupa, semoga kesuksesan dan kebahagiaan selalu menyertai kita, amiiin.

  10. Teman-teman angkatan 2006 dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan bantuannya untuk penulis. Penulis berdoa dan berharap semoga semua pihak yang telah membantu dengan kebaikan dan ketulusan mendapat balasan dan menjadi ladang amal di sisi

  Allah SWT. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat khususnya bagi penulis, dan umumnya bagi siapa saja yang membacanya.

  Jakarta, 10 Februari 2011 Penulis

  

DAFTAR ISI

ABSTRAK ..................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

  .................................................................................................. iv

  DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ......................................................................................... vi

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. vii

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1 B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalalah ....................... 4 C. Tujuan Penelitian ....................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian ..................................................................... 5 E. Metodologi penelitian ................................................................ 5 F. Tinjauan Pustaka ........................................................................ 8 G. Sistematika Penulisan ................................................................. 9 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Pengertian Bahasa ...................................................................... 11 B. Fungsi Bahasa ............................................................................ 12 C. Pengertian Sosiolinguistik ......................................................... 14 D. Masyarakat Bahasa .................................................................... 16 E. Campur Kode ............................................................................. 18 F. Pengertian Novel ........................................................................ 22 G. Deskripsi dan Dialog ................................................................. 25 H. Jenis-Jenis Novel ....................................................................... 29

  

BAB III BIOGRAFI PENULIS DAN SINOPSIS NOVEL KETIKA CINTA

BERTASBIH A. Biografi Habiburrahman El Shirazy .......................................... 32 B. Sinopsis Novel ........................................................................... 35 BAB IV ANALISIS DATA A. Wujud Campur Kode Berbentuk Kata ....................................... 38 B. Wujud Campur Kode Berbentuk Frasa ...................................... 72 C. Wujud Campur Kode Berbentuk Klausa ................................... 89 D. Wujud Campur Kode Berbentuk Kata Ulang ............................ 95 E. Wujud Campur Kode Berbentuk Baster .................................... 97 F. Wujud Campur Kode Berbentuk Ungkapan .............................. 105 BAB V PENUTUP A. Simpulan .................................................................................... 109 B. Saran .......................................................................................... 110

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 112

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. 114

  DAFTAR TABEL

  Tabel Halaman 1 Wujud Campur Kode Berbentuk Kata ................................................

  38 2 Wujud Campur Kode Berbentuk Frasa ...............................................

  72 3 Wujud Campur Kode Berbentuk Klausa .............................................

  89 4 Wujud Campur Kode Berbentuk Kata Ulang .....................................

  95 5 Wujud Campur Kode Berbentuk Baster ..............................................

  97

  6 Wujud Campur Kode Berbentuk Ungkapan ....................................... 105

DAFTAR LAMPIRAN 1.

  Sampul novel Ketika Cinta Bertasbih 1 2. Sampul novel Ketika Cinta Bertasbih 2 3. Lembar Uji Referensi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia sehari-hari tidak pernah lepas dengan bahasa, ketika

  kita mendengarkan lagu yang merdu, menonton film yang bagus, membaca cerita yang menarik dan bercakap-cakap dengan keluarga dan teman, saat itulah kita menikmati bahasa. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya manusia dan kehidupannya seandainya bahasa tidak dikaruniakan oleh Allah Swt kepada manusia. Oleh sebab itu, bahasa memainkan peranan penting dalam kehidupan. Namun, banyak orang tidak memperhatikan bahasa, barangkali karena akrabnya manusia dengan bahasa. Bloomfield dalam bukunya language menyatakan bahwa manusia jarang sekali memperhatikan bahasa dan lebih menganggapnya sebagai hal yang biasa tidak ubahnya seperti kita bernafas atau berjalan. Padahal pengaruh bahasa sangat luar biasa dan termasuk yang membedakan manusia dengan

  1 binatang.

  Binatang berkomunikasi serta bertindak satu sama lain dengan beberapa bunyi suara saja, sebagaimana anjing hanya membuat dua atau tiga macam suara, misalnya menggonggong, menggeram, memeking sehingga dapat menyebabkan anjing lain melakukan perbuatan hanya dengan beberapa tanda yang berbeda-beda itu, burung-burung dapat mengucapkan kicauan peringatan bila menghadapi bahaya dan beberapa hewan lain seperti kera dapat mengeluarkan teriakan yang berbeda-beda bila ingin mengekspresikan tanda bahaya, kesenangan atau ketakutan. Akan tetapi, alat komunikasi yang beraneka ragam itu tidak bersifat artikulatoris dan simbolis sehingga berbeda dari bahasa manusia. Manusia telah diberikan Allah Swt alat-alat ujar (organ of speech) sehingga manusia dapat berkomunikasi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi ujaran berbeda dan mempunyai susunan dan arti yang sempurna. Singkatnya, bahasa manusia memiliki bunyi- bunyi yang berbeda dan berbeda pula artinya.

  Manusia dijuluki dengan bermacam-macam istilah seperti homo sapiens yang berarti ‗makhluk berpikir‘. Menurut Ernest Cassier dalam Robert Sibarani mengatakan manusia sebagai animal symbolicium yang secara umum mempunyai cakupan yang lebih luas daripada homo sapiens yaitu makhluk berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia harus menggunakan bahasa, tanpa kemampuan berbahasa, kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak dapat

  2

  dilakukan. Manusia juga dijuluki homo sosio yang berarti makhluk bermasyarakat, masyarakat itu sendiri terdiri dari individu-individu yang secara keseluruhan saling berinteraksi, mempengaruhi dan saling bergantung. Dalam bermasyarakat inilah manusia tidak terlepas dengan kegiatan komunikasi dengan manusia lainnya, hal ini menunjukkan bahwa fungsi sosial bahasa adalah sebagai alat komunikasi.

  Saat berinteraksi antarmanusia dengan manusia lainnya, pada keadaan tertentu akan didapati manusia yang mampu berbicara lebih dari satu bahasa, disebut dengan istilah bilingual atau bahkan ada manusia yang multilingual. Di Indonesia pada umumnya adalah masyarakat bilingual, yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pertama, banyak juga yang multilingual atau masyarakat aneka bahasa (multilingual

  

society), yaitu masyarakat yang menggunakan beberapa bahasa, baik

  menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan juga bahasa asing lainnya, masyarakat demikian terjadi karena beberapa etnik ikut membentuk masyarakat, sehingga dari segi etnik bisa dikatakan sebagai masyarakat majemuk (plural society), masyarakat demikian sekarang merajarela di dunia menjadi universal.

  Faktor masyarakat bilingual atau bahkan multilingual bisa disebabkan oleh beberapa sebab. Misalnya perkawinan, anak-anak yang berasal dari perkawinan campur

  • –beda bangsa dan bahasa— sangat mungkin mampu memahami dan menggunakan beberapa bahasa yang berbeda. Faktor migrasi, yaitu perpindahan penduduk yang menyebabkan keanekabahasaan, kelompok kecil yang bermigrasi
ke daerah atau negara lain tentu saja menyebabkan bahasa ibu mereka tidak berfungsi di daerah baru. Selain itu, faktor pendidikan. Sekolah biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak yang menyebabkan si anak menjadi bilingual atau bahkan multilingual, misalnya pada zaman Belanda di Indonesia anak-anak tidak diizinkan memakai bahasa daerah bahkan pengantarnya harus bahasa Belanda. Begitu pula dengan zaman sekarang, anak-anak yang belajar di pesantren diwajibkan berbahasa pengantar bahasa Inggris bahkan bahasa Arab sehingga sangat mungkin si anak menguasai beberapa bahasa asing. Bahkan orang yang belajar di luar negeri harus mampu menyesuaikan diri dengan bahasa tertentu tempat ia menuntut ilmu, orang demikian menjadi bilingual atau multilingual.

  Pada masyarakat terbuka, artinya para anggota masyarakat dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih masyarakat, hidup bersama-sama dan berpengaruh terhadap masyarakat bahasa lain, maka akan terjadi apa yang disebut kontak bahasa. Hal yang paling menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa adalah terdapatnya bilingualisme dan multilingualsime dengan berbagai macam peristiwa bahasa misalnya alih kode dan campur kode. Peristiwa campur kode atau bahkan alih kode yang biasa terjadi dalam komunikasi percakapan lisan, juga dapat terjadi pada percakapan atau dialog (bahasa lisan yang dituliskan) antartokoh dalam novel atau karya sastra lainnya. Seorang penulis novel yang sering melakukan campur kode dalam mengisi dialog-dialog tokohnya adalah Habiburrahman El Shirazy. Pada novelnya yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih selain sering terjadi peristiwa campur kode dialog para tokohnya sering pula terjadi campur kode bentuk deskripsi, yaitu penulis sendiri melakukan peristiwa campur kode dalam menggambarkan cerita kepada pembaca, sehingga kemultilingualannya mempengaruhi karya sastranya.

  Peristiwa campur kode bukan hanya pada karya Habiburrahman El Shirazy, menurut sepengetahuan peneliti, para penulis novel yang juga pernah melakukan peristiwa campur kode dalam karyanya, baik itu campur kode bahasa daerah ataupun bahasa asing di antaranya, Umar Kayam dalam karyanya

  “Para Tiana Rosa ―Ketika Mas Gagah Berubah”, Andrea Hirata ―Edensor‖, dan Fira Basuki dalam karyanya “Pintu”.

  Pemilihan novel Ketika Cinta Bertasbih sebagai objek penelitian berdasarkan beberapa alasan. Pertama, Novel Ketika Cinta Bertasbih dikarang oleh salah satu sastrawan terkenal sekaligus sebagai dai yang telah menghasilkan novel-novel yang digemari pembaca, novel Ketika Cinta Bertasbih juga sarat dengan perjuangan hidup, cinta, dan nilai-nilai moral dan agama yang berguna bagi pembaca terutama generasi muda. Kedua, penulis adalah seorang multilingual menguasai bahasa Jawa sebagai bahasa pertama, bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, bahkan menguasai bahasa Arab sebagai bahasa ketiga. Kemampuan penulis menguasai bahasa Arab dilatarbelakangi oleh faktor pendidikan penulis yang meraih gelar S1 di Kairo

  —Mesir, faktor pendidikan penulislah yang mempengaruhi kemampuan berbahasa penulis terhadap hasil karyanya, terutama dalam menuliskan dialog tokoh-tokohnya. Ketiga, Novel

  

Ketika Cinta Bertasbih berdasarkan temuan peneliti, penulis sering memunculkan

  beberapa peristiwa kebahasaan, yaitu bahasa daerah (Jawa), bahasa asing (Arab dan Inggris) yang berupa campur kode baik berbentuk dialog antartokoh maupun bentuk deskripsi.

  Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy merupakan novel dwilogi pembangun jiwa yang sangat menarik, peneliti tertarik untuk menganalisis peristiwa campur kode pada novel tersebut, yaitu campur kode dalam deskripsi cerita dan campur kode dialog tokoh yang meliputi penyisipan unsur yang berwujud kata, frasa, klausa, baster, kata ulang, dan ungkapan atau idiom, baik campur kode bahasa asing (Arab dan Inggris) maupun campur kode bahasa daerah (Jawa).

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

  Peneliti membatasi penelitian ini pada masalah wujud campur kode dan fungsi terjadinya campur kode dengan perumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana wujud campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya

  2. Bagaimanakah fungsi campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy?

  C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui wujud campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  2. Untuk mengetahui fungsi terjadinya campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  D. Manfaat Penelitian

  Kegiatan penelitian ini dapat memberikan manfaat baik yang bersifat teoretis maupun praktis.

  Manfaat Teoretis Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah keilmuan Bahasa Indonesia. Manfaat Praktis

  1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Mata Kuliah kajian sosiolinguistik.

  2. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi keilmuan Bahasa Indonesia di Civitas Akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  3. Penelitian ini diharapkan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian selanjutnya.

  E. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

  Metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan cermat dengan maksud mendapatkan fakta dan simpulan agar dapat memahami, menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan

  3

  keadaan. Penelitian ini berjudul ―Analisis Campur kode pada novel Ketika Cinta

  Bertasbih

  karya Habiburrahman El Shirazy‖, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan-keadaan nyata sekarang (sementara)

  4

  berlangsung. Tujuan metode deskriptif untuk menggambarkan suatu keadaan sebagaimana adanya, data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar bukan angka-angka. Penggunaan metode deskriptif dimaksudkan penulis untuk memberikan gambaran tentang campur kode dan fungsi campur kode dalam novel

  

Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy. Bentuk yang digunakan

  pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menurut Bogdan dan Taylor metode kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

  5

  kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilakunya dapat diamati. Pada penelitian ini digunakan bentuk kualitatif karena penelitian ini menganalisis dan menggambarkan tentang campur kode dan fungsi campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

2. Teknik Penelitian

  Teknik penelitian yang digunakan peneliti adalah analisis dokumen, yaitu novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy, dan studi kepustakaan. Studi pustaka ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan

  6

  penelitian. Selain itu, peneliti mempelajari, mendalami, menganalisis dokumen, mengklasifikasikan data dari dokumen, menulis data hasil temuan serta peneliti juga membaca buku-buku kebahasaan yang berkaitan dengan sosiolinguistik dengan bahasan campur kode, mencari sumber referensi di internet, dan membaca sejumlah literatur lainnya yang relevan. 3 Syamsuddin AR., M.S Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 14. 4 Consuelo dkk, penerjemah: Alimuddin Tuwu, Pengantar metode Penelitian, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1993), h. 71.

  3. Sumber Data

  Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel Ketika

  

Cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El Shirazy yang banyak terdapat campur

  kode bahasa asing (Arab dan Inggris) dan campur kode bahasa daerah (Jawa) dalam teks dialognya.

  Identitas novel tersebut adalah: Judul Novel : Ketika Cinta Bertasbih Pengarang : Habiburrahman El Shirazy Penerbit : Penerbit Republika Kota : Jakarta Cetakan : Ketika Cinta Bertasbih 1, Cet. ke-2 (2007),

  Ketika Cinta Bertasbih 2, Cet. Ke-6 (2008) Tebal : Ketika Cinta Bertasbih 1, tebal 477 halaman

  : Ketika Cinta Bertasbih 2, tebal 406 halaman

  4. Prosedur Penelitian

  a. Membaca novel

  b. Mencermati novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy yang di dalamnya terdapat campur kode c. Menandai bahasa yang termasuk campur kode

  d. Menganalisis fungsi campur kode dalam novel dalam novel Ketika Cinta

  Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy

  e. Mengklasifikasikan data campur kode baik berupa kata, frasa, klausa, kata ulang, baster, dan ungkapan.

  f. Menulis data hasil klasifikasi

  g. Memberikan simpulan tentang campur kode dalam novel Ketika Cinta

  Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy

5. Instrumen Penelitian

  Instrumen adalah alat/fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar memudahkan pengumpulan data dan hasilnya baik. Instrumen yang digunakan peneliti adalah dengan kartu data.

  Contoh kartu data: Dialog para tokoh/deskripsi Analisis data

  ta

  penulis novel

  da Nomor

  Sumber: Penulis novel, judul novel, halaman novel

F. Tinjauan Pustaka

  Penelitian tentang sosiolinguistik bahasan campur kode sebagai bahan panduan, peneliti mengacu pada penelitian terdahulu di antaranya skripsi Etik Yuliati mahasiswa Universitas Sebelas Maret Fakultas Sastra dan Seni Rupa, C0106024, berjudul ―Alih Kode dan Campur Kode dalam Cerbung Dolanan Geni Karya Suwandi Endraswara (Analisis Sosiolinguistik)‖, hal ini berbeda, jika yang dilakukan saudari Etik Yuliati, tentang alih kode dan campur kode dalam cerbung (cerita bersambung) dengan campur kode bahasa daerah (Jawa) saja yang diteliti, sedangkan peneliti melakukan penelitian tentang campur kode dalam novel dengan bahasan bukan hanya campur kode bahasa daerah (Jawa) tetapi juga bahasan campur kode bahasa asing (Arab dan Inggris) dalam novel Ketika Cinta

  Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  Skripsi Ratna Maulidini mahasiswa Universitas Diponegoro Fakultas

  Custemer Service (Studi Kasus Nokia Care Center

  Bimasakti Semarang)‖, penelitian yang dilakukan saudari Maulidini berupa studi kasus, yaitu campur kode bentuk dialog lisan berupa bahasan campur kode yang berkaitan dengan istilah pada telepon seluler yang dilakukan oleh para customer service kepada para calon pelanggan Nokia. Berbeda dengan peneliti lakukan, yaitu peneliti melakukan penelitian analisis isi, yaitu campur kode bentuk bahasa dialog lisan yang dituliskan pada novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy bahasan campur kode bahasa bahasa daerah (Jawa) dan bahasa asing (Arab dan Inggris).

  Berbeda lagi yang dilakukan oleh saudara Ari Listioningsih, A.310 040 012 mahasiswa Univeritas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, judul skripsi ―Interferensi dan Integerasi dalam Kolom-Kolom Edan Prie G.S Hidup Bukan Urusan Perut (Sutau Tinjauan Sosiolinguistik)‖. Penelitian yang dilakukan saudara Ari juga membahas kajian sosiolinguistik tetapi dengan bahasan yang berbeda dengan penulis. Bahasan yang dilakukannya adalah tentang interferensi dan integrasi yang berkaitan dengan masalah kekeliruan dalam bahasa. sedangkan penulis melakukan penelitian sosiolinguistik juga tetapi dengan bahasan campur kode dalam Novel ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy, yang pada dasarnya campur kode itu sendiri tidak menyebabkan kekeliruan bahasa.

G. Sistematika Penulisan

  Untuk memudahkan penyusunan skripsi ini, maka dibuatlah sistematika penulisan yang terdiri dari beberapa bab, yaitu: Bab 1 pendahuluan, berisi: Latar belakang, pembatasan masalah dan perumusan masalah, tujuan penelitian yang terdiri atas: manfaat teoretis dan manfaat praktis. Metodologi penelitian, meliputi metode penelitian, teknik penelitian, sumber data, prosedur penelitian, instrumen penelitian, selanjutnya adalah sistematika penulisan.

  Bab II kajian teoretis, berisi: Pengertian bahasa, fungsi bahasa, pengertian sosiolinguistik, masyarakat bahasa, campur kode, pengertian novel, dan jenis-jenis novel.

  Bab III biografi penulis novel Ketika Cinta Bertasbih dan sinopsis novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy. Bab IV analisis data, dan pembahasan mengenai campur kode dan fungsi campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  Bab V penutup, berisi simpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

BAB II KAJIAN TEORETIS A. Pengertian Bahasa Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari

  segala kegiatan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi untuk berinteraksi dengan manusia lainnya, tanpa bahasa hidup kita akan terasa sunyi sepi tanpa makna. Bagi linguistik

  • –ilmu yang khusus mempelajari bahasa— yang dimaksudkan dengan bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

  Menurut Finocchiarno bahasa adalah satu simbol vokal yang arbitrer, memungkinkan semua orang dalam satu kebudayaan tertentu atau orang lain yang telah mempelajari sistem kebudayaan tersebut untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Pei dan Gaynor mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem komunikasi dengan bunyi, yaitu lewat alat ujaran dan pendengaran, antara orang- orang dari kelompok atau masyarakat tertentu dengan mempergunakan simbol-

  1 simbol vokal yang arbitrer dan konvensional.

  Pakar linguistik struktural dengan tokoh Bloomfield berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling

  2

  berhubungan dan berinteraksi. Abdul Chaer mengatakan tentang hakikat bahasa, bahwa hakikat bahasa itu ada 12 butir, yaitu bahasa adalah sistem, bahasa adalah lambang, bahasa adalah bunyi, bahasa bersifat arbitrer, bahasa itu bermakna, bahasa bersifat konvensional, bahasa bersifat unik, bahasa bersifat universal, 1 Liliana Muliastuti dan Krisanjaya, Linguistik Umum, (Jakarta: Universitas Terbuka,

  12

  bahasa bersifat produktif, bahasa bersifat dinamis, bahasa bervariasi, dan bahasa manusiawi.

  Bahasa merupakan suatu sistem mempunyai aturan-aturan yang saling bergantung dan mengandung struktur unsur-unsur yang bisa dianalisis secara terpisah-pisah. Orang berbahasa mengeluarkan bunyi-bunyi yang berurutan membentuk suatu struktur tertentu. Bunyi-bunyi itu merupakan lambang, yaitu melambangkan makna yang bersembunyi di balik bunyi itu. Pengertian sederetan bunyi itu melambangkan suatu makna bergantung pada kesepakatan atau konvensi anggota masyarakat pemakainya. Hubungan antara bunyi dan makna itu tidak ada aturannya, jadi sewenang-wenang. Tetapi, karena bahasa itu mempunyai sistem, tiap anggota masyarakat terikat pada aturan sistem itu, yang sama-sama dipenuhi.

  Kridalaksana dan Djoko Kencono dalam Chaer menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota

  3 kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

  Pendapat di atas hampir semua menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan berinteraksi, yang bersifat arbitrer, konvensional, dan merupakan lambang bunyi. hal inilah yang merupakan ciri-ciri dari bahasa. Mempelajari bahasa dan mengkaji bahasa merupakan hal penting dilakukan oleh manusia karena secara langsung akan melestarikan dan menginventarisasikan bahasa tersebut. Dengan mempelajari dan melakukan pengkajian terhadap bahasa, akan

  4 menghindari manusia dari kepunahan bahasa .

B. Fungsi Bahasa

  Bahasa mempunyai fungsi penting bagi manusia, terutama fungsi komunikatif yaitu alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan. Fungsi-fungsi bahasa itu, antara lain dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, kode, topik, dan amanat pembicaraan. 3 4 Liliana Muliastuti dan Krisanjaya, Op. Cit., h. 1.6.

  13

  Dilihat dari segi penutur, maka bahasa itu berfungsi sebagai personal atau pribadi, menurut Halliday dan Finnocchiaro, Jakobson menyebutkannya sebagai fungsi emotif. Maksudnya penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

  Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi

  

direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar, menurut Finnocchiaro,

  sedangkan Halliday menyebutkan sebagai fungsi instrumental. Fungsi instrumental melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa

  5

  tertentu terjadi. Jakobson menyebutkan fungsi retorikal. Di sini bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, himbauan, permintaan, maupun rayuan.

  Dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik, Jakobson dan Finnocchiarno menyebutnya interpersonal; Halliday menyebutnya interactional, yaitu fungsinya menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakannya biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, pamit, atau menanyakan keadaan keluarga. Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur paralinguistik, seperti senyum, gelengan kepala, gerak- gerik tangan, air muka, dan kedipan mata. Ungkapan-ungkapan tersebut yang disertai unsur paralinguistik tidak mempunyai arti, dalam arti memberikan informasi, tetapi membangun kontak sosial antara para partisipan dalam pertuturan itu.

  Dilihat dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial menurut Finnocchiaro, Halliday menyebutnya sebgai refresentational; jakobson menyebutkan fungsi kognitif, ada juga yang menyebutkan fungsi denotatif atau

  14

  fungsi informatif. Di sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur tentang dunia di sekelilingnya. Misalnya ungkapan ―Ibu dosen itu cantik sekali‖ atau ―Gedung perpustakaan itu baru dibangun. Adalah contoh penggunaan bahasa yang berfungsi referensial.

  Dilihat dari segi kode yang digunakan, maka bahasa itu berfungsi

  

metalingual, metalinguistik, menurut Jakobson dan Finnocchiaro. Yakni bahasa

  itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Fungsi di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa, dimana kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa dijelaskan dengan bahasa.

  Dilihat dari segi amanat (message) yang akan disampaikan maka bahasa itu berfungsi imajinatif, menurut Halliday dan Finnocchiaro. Jakobson menyebutkan sebagai fungsi poetic speech. Sesungguhnya bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan baik yang sebenarnya, maupun yang hanya imajinasi (khayalan, rekaan) saja. Fungsi imajinatif ini biasanya berupa karya seni, (puisi, cerita, dongeng, lelucon) yang

  6 digunakan untuk kesenangan penutur maupun para pendengarnya.

C. Pengertian Sosiolinguistik

  Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu terjadi, berlangsung, dan tetap ada. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek

  15

  kajiannya. Dengan demikian, secara mudah dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat.

  Appel dalam Suwito menyatakan sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sistem sosial dan komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu sedangkan yang dimaksud dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi kongkret. Dengan demikian, dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat internal, tetapi dilihat sebagai sarana

  7 interaksi/komunikasi di dalam masyarakat.

  J.A Fishman menyatakan sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas bahasa variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.

  Halliday menyebutkan sosiolinguistik sebagai linguistik institutional berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu (deals with relation between a language and the people who use it).

  Pride dan Holmes merumuskan sosiolinguistik secara sederhana: ―…the

  study of language as part of culture and soc iety”, yaitu kajian bahasa sebagai

  bahan dari kebudayaan dan masyarakat. Di sini ada penegasan, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan (language in culture), bahasa bukan merupakan suatu

  8 yang berdiri sendiri (language and culture).

  Trudgill merumuskan mirip dengan Pride dan Holmes: ―sociolinguictic…is that part of linguistics which isconcerd with language as

  

asocial and cultural phenomenon (sosiolinguistik adalah bagian dari linguistik

  yang berkaitan dengan bahasa sebagai gejala sosial dan kebudayaan). Bahasa bukan hanya dianggap sebagai gejala sosial melainkan juga gejala kebudayaan. Impilkasinya adalah bahasa yang dikaitkan dengan kebudayaan masih menjadi cakupan sosiolinguistik; dan ini dapat dimengerti karena setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan tertentu.

  16

  Di Indonesia Nababan menyatakan, sosiolinguistik adalah kajian atau pembahasan bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat‖. Patut diingat seorang penutur bahasa adalah anggota masyarakat- tutur. Sebagai anggota masyarakat dia terikat oleh nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat, termasuk nilai-nilai ketika dia menggunakan bahasa.

  Kridalaksana juga berpendapat sama dengan Fishman bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bahasawan dengan ciri variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa.

  R. Kunjana Rahardi dalam bukunya menyatakan bahwa sosiolinguistik mengkaji bahasa dengan memperhitungkan hubungan antara bahasa dan masyarakat, khusunya masyarakat penutur bahasa itu. Sosiolinguistik mempertimbangkan keterkaitan ada dua hal, yaitu linguistik untuk segi

  9 kebahasaan dan sosiologi untuk segi kemasyarakatan.

  Maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial dalam suatu masyarakat tutur.

D. Masyarakat Bahasa

  Ciri bahasa yang telah disebutkan bahwa bahasa itu manusiawi, dengan kata lain semua manusia di dunia sama-sama berbudaya dengan fasilitas bahasa. Kajian bahasa yang menitikberatkan pada hubungan antara bahasa dan masyarakat adalah pemakainya disebut sosiolinguistik.

  Fishman dalam Alwasilah berpendapat bahwa masyarakat bahasa (masyarakat ujar) adalah suatu masyarakat yang semua anggotanya memiliki bersama paling tidak satu ragam ujaran dan norma-norma untuk pemakaiannya yang cocok. Suatu masyarakat ujar bisa jadi sempit satu jaringan interaksi tertutup, keseluruhan anggotanya menganggap satu sama lainnya berada dalam

  17

  10

  satu kapasitas. Bloomfield mengartikan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang menggunakan sistem isyarat yang sama.

  Pengertian Bloomfield di atas dianggap terlalu sempit oleh para ahli sosiolinguistik sebab terutama dalam masyarakat modern, banyak orang menguasai lebih dari satu ragam bahasa; dan di dalam masyarakat itu sendiri terdapat lebih dari satu bahasa.

  Pada intinya masyarakat bahasa itu terbentuk karena adanya saling pengertian (mutual intelligibility), terutama karena adanya kebersamaan dalam kode-kode linguistik. Jadi, masyarakat bahasa bukanlah sekelompok orang yang hanya menggunakan bahasa yang sama, melainkan sekelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasanya.

  Masyarakat bahasa dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Pengelompokkan ini berdasarkan verbal repertoire

  • –semua bahasa beserta ragam- ragamnya yang dikuasi penuturnya

  — yang dimiliki oleh masyarakat bahasa itu sendiri. Semakin mampu penutur berkomunikasi dengan berbagai ragam bahasa kepada pihak lain, semakin luaslah verbal repertoire yang dimiliki oleh penutur tersebut. Dengan kata lain, semakin luas verbal repertoire penutur dan masyarakat maka semakin komunikatiflah masyarakat bahasa itu.

  Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat bahasa, masyarakat bahasa itu dikelompokkan atas: 1. masyarakat monolingual; 2. masyarakat bilingual; dan 3. masyarakat multilingual.

  Masyarakat monolingual artinya suatu masyarakat bahasa yang hanya dapat berkomunikasi dengan satu bahasa. Masyarakat monolingual ini sudah mulai jarang ditemukan pada zaman sekarang. Masyarakat monolingual biasanya terdapat di daerah yang terisolasi. Masyarakat bilingual lebih maju jika dibandingkan dengan masyarakat monolingual. Hal ini karena masyarakat bilingual telah dapat berkomunikasi dengan dua bahasa. Artinya, masyarakat bilingual lebih komunikatif dibandingkan dengan masyarakat monolingual,

  18

  terlebih masyarakat multilingual, kelompok masyarakat bahasa multilingual memiliki kemampuan menggunakan lebih dari dua bahasa.

  Dilihat dari sempit luasnya verbal repertoirnya, dapat dibedakan adanya dua macam masyarakat tutur, yaitu (1) masyarakat tutur yang repertoire pemakainya lebih luas, dan menunjukkan verbal repertoire setiap penutur lebih luas pula; dan (2) masyarakat tutur yang sebagian anggotanya mempunyai pengalaman sehari-hari dan aspirasi hidup yang sama, dan menunjukkan pemilihan wilayah linguistik yang lebih sempit, termasuk juga perbedaan variasinya. Kedua jenis masyarakat bahasa (masyarakat tutur) ini terdapat baik dalam masyarakat yang termasuk kecil dan tradisonal maupun masyarakat besar dan modern. Hanya, seperti yang dikatakan Fishman dan juga Gumprez, masyarakat modern mempunyai kecenderungan memiliki masyarakat tutur yang terbuka dan cenderung menggunakan berbagai variasi dalam bahasa yang sama. Sedangkan, masyarakat tradisional bersifat lebih tertutup dan cenderung menggunakan variasi bahasa dan beberapa bahasa yang berlainan.

E. Campur Kode

  Sebelum membahas campur kode, ada baiknya kita mengetahui pengertian kode. Kode biasanya berbentuk variasi bahasa yang secara nyata dipakai berkomunikasi anggota suatu masyarakat bahasa. Kode bahasa ialah sistem bahasa dalam suatu masyarakat.

  Campur kode merupakan terjemahan dan padanan istilah code mixing dalam bahasa Inggris. Nababan menjelaskan campur kode adalah suatu keadaan berbahasa lain yaitu bilamana orang mencampur dua (atau lebih bahasa) atau ragam dalam suatu tindak berbahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu

  11

  dalam situasi berbahasa itu menuntut percampuran bahasa itu. Campur kode terjadi apabila seorang penutur bahasa, misalnya bahasa Indonesia memasukkan unsur-unsur bahasa daerahnya ke dalam pembicaraan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, seseorang yang berbicara dengan kode utama bahasa Indonesia yang memiliki fungsi keotonomiannya, sedangkan kode bahasa daerah yang terlibat

  19

  dalam kode utama merupakan serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode. Seseorang penutur misalnya, yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan serpihan-serpihan bahasa daerahnya, bisa dikatakan telah melakukan campur kode. Akibatnya, akan muncul satu ragam bahasa Indonesia yang kejawa-jawaan (kalau bahasa daerahnya adalah bahasa Jawa).

  Abdul Syukur Ibrahim dan H. Suparno menjelaskan perbedaan Alih kode dan campur kode. Bahwa, pada alih kode penutur menggunakan dua varian baik dalam bahasa yang sama maupun bahasa yang berbeda. Pada campur kode, yang terjadi bukan peralihan kode, tetapi bercampurya unsur suatu kode ke kode yang sedang digunakan oleh penutur. Hal itu juga berarti bahwa campur kode dapat terjadi dalam dimensi intrabahasa dan dapat pula terjadi dalam dimensi

  12 antarbahasa.

  Thalender mencoba menjelaskan perbedaan alih kode dan campur kode, menurutnya, bila di dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Tetapi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa campuran (hybrid clauses, hybrid

  

phrases), dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsi

sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode, bukan alih kode.

  Fasold menjelaskan perbedaan alih kode dan campur kode. Kalau seseorang menggunakan satu kata atau frasa dari satu bahasa, dia telah melakukan campur kode. Tetapi apabila satu klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatikal satu bahasa, dan klausa berikutnya disusun menurut stuktur gramatika bahasa lain,

  13 maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode.

  12

  20

  Beberapa wujud campur kode adalah dapat berupa penyisipan kata, frasa, klausa, penyisipan ungkapan atau idom, dan penyisipan baster (gabungan

  14 pembentukan asli dan asing).

  1. Kata Kata dalam tataran morfologi adalah satuan gramatikal yang bebas dan terkecil. Dalam tataran sintaksis kata dibagi dua yaitu kata penuh dan kata tugas.

  Kata penuh (fullword) adalah kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverbial, dan numeralia, sebagai kata penuh memiliki makna leksikal masing-masing dan mengalami proses morfologi. Sebaliknya, kata tugas adalah kata yang berkategori preposisi dan konjungsi, tidak mengalami proses morfologi

  15 dan merupakan kelas tertutup, dalam pertuturan tidak dapat berdiri sendiri.

  2. Frasa Frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih dan tidak memiliki unsur predikat. Pembentukan frasa itu harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem terikat. Contoh belum makan dan tanah tinggi adalah frasa, sedangkan tata boga dan interlokal bukan frasa, karena boga dan inter adalah morfem terikat.

  3. Klausa Klausa adalah satuan sintaksis berbentuk rangkaian kata-kata yang berkontruksi predikatif, di dalam klausa ada kata atau frasa yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Selain fungsi predikat yang harus ada dalam kontruksi klausa ini, fungsi subjek boleh dikatakan bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat

  16 tidak wajib.

  4. Idiom Idiom adalah bahasa yang telah teradatkan, artinya, bahasa yang sudah biasa dipakai seperti itu dalam suatu bahasa oleh para pemakainya. Idiom ini sudah tidak dapat lagi menanyakan mengapa begitu kata itu dipakai, mengapa 14

   diakses

  21

  begitu susunannya atau mengapa begitu artinya. Hubungan makna idiom itu bukanlah makna sebenarnya kata itu, idiom tidak dapat diartikan secara harfiah ke

  17

  dalam bahasa lain. Idiom dewasa ini dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah ungkapan. Unsur suatu idiom membentuk kesatuan yang padu. Idiom harus muncul seperti itu, tidak boleh dikurang-kurangi karena seperti dikatakan tadi sudah merupakan bahasa teradatkan.

  5. Baster (Pembentukan Asli dan Asing) Baster merupakan hasil perpaduan dua unsur bahasa yang berbeda, membentuk satu makna. Istilah bentuk baster mengacu pada bentuk campuran antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang digunakan dalam kalimat bahasa

  18 Indonesia yang merupakan bahasa inti. misalnya handphon-nya, dairy-nya, me- murajaah, di-ghosob dan lain-lain.

  6. Perulangan Kata Proses pengulangan merupakan peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak. Misalnya,

sepeda-sepeda diulang seluruhnya tanpa variasi fonem dan tanpa kombinasi afiks.

  

memukul-mukul diulang sebagaian; gerak-gerik diulang seluruhnya dengan variasi

fonem buah-buahan diulang seluruhnya dengan kombinasi afiks.

  Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada fenomena campur kode adalah seorang penutur pada dasarnya menggunakan sebuah varian suatu bahasa. Pada penggunaan itu, dia menggunakan serpihan-serpihan kode dari bahasa yang lain. Serpihan-serpihan unsur bahasa tersebut dapat berupa kata sampai klausa, dapat juga berupa kata ulang, idiom maupun baster.

  Menurut Suwito dalam Dwi Sutana, ciri-ciri campur kode ditandai dengan adanya hubungan timbal balik antara peran dan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai penutur dengan tuturannya. Berdasarkan pendapat Suwito 17 J.S Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar III, (Jakarta: PT Gramedia, 1993),

  Cet. Ke-2, h. 47 18 —48.

  22

  tersebut, Dwi Sutana membagi beberapa fungsi campur kode yaitu (1) untuk penghormatan, (2) untuk menegaskan suatu maksud tertentu, (3) untuk

  19 menunjukkan identitas diri, dan (4) karena pengaruh materi pembicaraan.

  Ciri-ciri yang menonjol dalam campur kode adalah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa formal jarang terjadi campur kode, kalau terdapat campur kode dalam keadaan itu karena tidak ada kata atau ungkapan yang tepat untuk menggantikan bahasa yang sedang dipakai sehingga perlu

  20

  memakai kata atau ungkapan dari bahasa daerah atau bahasa asing. Dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau mengarisbawahi kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadang-kadang terdapat juga campur kode ini bila pembicara ingin memamerkan ―keterpelajarannya‖ atau kedudukannya.

  Campur kode merupakan fenomena yang terjadi karena masuknya serpihan unsur suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain. Hal ini tidak berarti bahwa tidak ada sebab terjadinya campur kode. Ada kemungkinan campur kode terjadi karena faktor individu, seperti ingin menunjukkan status, peran, dan kepakaran. Ada juga kemungkinan sebab kurangnya unsur bahasa yang digunakan.

F. Pengertian Novel

  Fiksi merupakan sebuah cerita, terkandung di dalamnya tujuan memberikan hiburan kepada pembaca, di samping adanya tujuan estetis, membaca sebuah fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Novel dan cerita pendek dalam kesastraan Inggris dan Amerika disebut karya fiksi.

  Novel sebutan dalam bahasa Inggris

  • –dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia — berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman novelle), secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian kemudian diartikan sebagai ‗cerita pendek dalam bentuk prosa‘.
  • 19

  23

  Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi

  21 yang panjangnya cukup, tidak terlalu panjang, namun tidak juga terlalu pendek.

  Dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula.

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan

  22 orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak sifat setiap pelaku.

  Istilah novel dikenal di Indonesia setelah kemerdekaan, yakni setelah sastrawan Indonesia banyak beralih kepada bacaan-bacaan yang berbahasa Inggris. Novel dan cerpen merupakan bentuk kesusastraan yang secara perbandingan adalah baru. Ia baru dikenal masyarakat kita kira-kira sejak setengah abad yang lalu. Di negera Barat juga masih baru jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain, seperti puisi yang sudah dikenal sejak dua ribu tahun lalu, sedang fiksi ini di sana baru dikenal sejak dua ratus tahun yang lalu.

  23 Namun, masa hidupnya yang muda itu, ia telah mengalami perkembangan pesat.

  Novel Indonesia secara resmi muncul setelah terbitnya buku Si Jamin dan

  

Si Johan, tahun 1919, oleh Marari Siregar, yang merupakan novel saduran dari

  novel Belanda, kemudian pada tahun berikutnya terbit novel Azab dan Sengsara oleh pengarang yang sama; sejak itu mulailah berkembang sastra fiksi yang dinamai novel dalam khazanah sastra Indonesia.

  Edgar Allan Poe sastrawan kenamaan dari Amerika membedakan antara cerpen dan novel, ia mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel. Dari segi panjang cerita, novel jauh lebih panjang dari pada cerpen. Oleh karena itu, novel 21 Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University

  Press, 2005), h. 9 22 —10.

  24

  dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu yang lebih banyak, lebih rinci dan lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Dalam cerpen krisis jiwa tidak usah mengakibatkan perubahan jalan nasib, panjang novel boleh dikatakan lebih panjang dari cerita pendek, yang menegaskan ialah apa ada pergolakan jiwa

  24

  dalamnya yang mengalih nasib manusia. Di antara para ahli teori sastra kita memang ada yang membedakan antara novel dan roman, dengan mengatakan bahwa novel mengungkapkan suatu konsentrasi pada suatu saat yang tegang dan pemusatan kehidupan yang tegas; sedangkan roman dikaitkan sebagai menggambarkan kronik kehidupan yang lebih luas yang biasanya melukiskan peristiwa dari masa kanak-kanak sampai dewasa, sampai meninggal dunia.

  H.B Jassin membedakan pengertian roman dan novel, roman melingkupi seluruh kehidupan pelaku-pelaku dilukiskan dari kecilnya hingga matinya, dari ayunan hingga liang lahat. Novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari tokoh cerita, dimana kejadian-kejadian itu menimbulkan pergolakan batin yang

  25 mengubah perjalanan nasib tokohnya.

  Dengan demikian roman adalah cerita fiksi yang melukiskan kronik kehidupan tokoh-tokoh yang rinci dan mendalam, sedangkan novel adalah cerita yang melukiskan suatu peristiwa yang luar biasa dari kehidupan tokoh cerita dan peristiwa tersebut menimbulkan krisis/pergolakan batin yang mengubah nasibnya.

  Pada pengertian di atas dapat dibedakan bahwa novel adalah karya fiksi yang lebih kompleks daripada cerpen yang hanya mempunyai karakter, plot, dan setting yang terbatas dan dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam, dan novel menimbulkan perubahan nasib tokohnya. Sedangkan roman adalah cerita fiksi yang menceritakan tokoh-tokohnya lebih lengkap, menggambarkan kronik kehidupan luas, biasanya diceritakan tokoh-tokohnya dari kecil hingga meninggal. 24 H.B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, (Jakarta: Gunung Agung, 1985), Cet ke-7, h.

  78 —79. 25

  25

G. Deskripsi dan Dialog

a. Deskripsi

  Pada karya sastra bentuk fiksi umumnya dikembangkan dengan bentuk deskripsi dan dialog, kedua bentuk tersebut saling melengkapi silih berganti sehingga cerita yang ditampilkan bervariatif dan tidak menoton.

  Ismail Marahimin dalam bukunya Menulis Secara Populer menjelaskan bahwa deskripsi ialah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat ‗melihat‘ apa yang dilihatnya, dapat ‗mendengar‘ apa yang didengarnya, ‗mencium bau‘ yang diciumnya, ‗mencicipi‘ apa yang dimakannya, ‗merasakan‘ apa yang dirasakannya, serta sampai kepada ‗kesimpulan‘ yang sama dengannya. Dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil observasi melalui pancaindera yang disampaikan dengan kata-

  26 kata.

  Deskripsi dapat merupakan tulang punggung penulisan yang hidup dan menawan jika penulisnya mempunyai pengamatan yang tajam dengan semua alat inderanya kemudian penulis menuliskan dengan kata-kata yahng tepat atau dengan perbandingan yang tepat. Oleh sebab itu dalam menuliskan deskripsi perlu mengamati dengan tajam dengan cara memanfaatkan semua pancaindera yang dimiliki.

  Ada berbagai cara menuliskan deskripsi dan perbedaan-perbedaan ini timbul karena pada dasarnya tidak ada dua orang manusia yang mempunyai pengamatan sama, dan lagi pula tujuan pengamatan itu pun berbeda-beda pula. Secara garis besar macam-macam bentuk deskripsi dibedakan dua macam saja, yaitu deskripsi ekspositoris dan deskripsi impresionistis.

1. Deskripsi Ekspositoris

  Deskripsi ekspositoris adalah yang sangat logis, yang isinya biasanya merupakan daftar rincian, semuanya atau yang menurut penulisnya hal yang

  26

  penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis objek yang diamati itu.

  Setiap benda, setiap tempat, setiap suasana tentu mempunyai urutan-urutan sendiri. Misalnya jika kita mendeskripsikan rangakain kereta api, maka urutan logisnya pastilah dari depan, lokomotifnya, ke belakang, gerbong-gerbong yang mengekori lokomotif tadi. Jika kita mengembangkan pengamatan atau observasi kita menurut ruang, artinya dari satu ruang atau ke ruang atau sisi lainnya, maka deskripsi ini dikatan sebgai deskripsi dengan pengembangan ruang atau spasi. Jika kita mendeskripsikan suatu proses, cara menanak nasi misalnya, maka dengan sendirinya harus mengikuti tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan, kita mengembangkan deskripsi bentuk lain yang kita namakan pengembangan waktu.

2. Deskripsi Impresionistis

  Deskripsi impresonistis bisa juga disebut deskripsi stimulatif, adalah untuk menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menstimulir pembacanya. Berbeda dengan deskripsi ekspositori yang biasanya hanya terikat pada objek dan proses yang dideskripsikannya. Deskripsi impresionistis ini lebih menekankan impresi atau kesan penulisnya ketika melakukan observasi.

  Deskripsi ekspositoris memakai urutan logika atau urutan-urutan peristiwa objek yang dideskripsikan itu, maka dalam deskripsi impresionistis urutan-urutan yang dipakai adalah menurut kuat lemahnya kesan penulis terhadap bagian-bagian objek itu. Seseorang yang mendeskripsikan kamar asrama tempat temannya tinggal dan bermaksud menonjolkan kejorokan yang dilihatnya di sana mulai dengan bau yang diciumnya lalu ke penglihatan yaitu apa yang dilihatnya di sana kemudian beralih ke pencahayaan di dalam kamar. Urutan-urutan deskripsi impresionistis bisa saja mulai dari yang kurang jorok berangsur-angsur ke yang

  27 paling jorok, dan diakhiri dengan bau.

  Jakob Sumardjo dalam bukunya Catatan Kecil Menulis Cerpen menjelaskan dua teknik sebuah karya fiksi (jenis karya fiksi menurut bahasan beliau adalah cerpen) diceritakan kepada pembaca, yaitu menggunakan teknik naratif dan teknik dramatik. Teknik naratif berpusat pada si pencerita semua

  27

  peristiwa dikisahkan melalui mata si pencerita dengan teknik ini penulis ibarat bercerita kepada pendengar, mula-mula begini, lalu begini dan akhirnya begini. Mungkin pendengar cerita terpesona karena cara bercerita penulis memang menarik. Teknik kedua adalah teknik dramatik, penulis cerita ibaratnya ingin menceritakan sebuah peristiwa kepada pendengar-pendengarnya, tetapi bukan melalui mulut si pencerita, peristiwa itu penulis cerita lukiskan dengan peragaan

  28

  drama, yaitu menghadirkan peristiwa dalam teknik tersebut. Penulis cerita menciptakan kembali peristiwa di depan pendengar, efek yang tajam yang dapat diberikan oleh pengarang adalah apabila teknik dramatik lebih diutamakan daripada teknik naratif, dalam teknik naratif penulis cerita bercerita berdasarkan persepsinya sendiri, teknik ini tak jarang dijumpai komentar cerita: ―dengan perasaan sedih ia duduk lemas di kursi‖, atau ia tertawa karena bahagia‖, pernyatan-pernyataan

  ―ia bahagia‖, ―Didit amat sedih‖ jelas kurang memberikan kesan kepada pembaca, pembaca lebih banyak diminta untuk ―mendengarkan‖ daripada menyaksikan‖. Sedangkan teknik dramatik tugas pengarang adalah menyajikan gambaran-gambaran konkret tanpa komentar langsung dari pengarang. Konkritisasi adegan dilakukan dengan melukiskan adegan-adegan yang sebanyak mungkin terserap oleh indera pembaca. Teknik dramatik, pembaca tidak hanya diajak melihat apa yang terjadi, tetapi dimana peristiwa itu terjadi lengkap dengan letak, keadaan cahaya, bau-bauan yang ada di tempat kejadian.

  Pada prinsipnya teknik dramatik adalah melukiskan peristiwa seperti apa adanya, pembaca diminta menyaksikan sendiri, seperti kita menghadapi peristiwa dalam panggung teater, seperti kita diajak menonton film, pembaca bisa melihat, mendengar, membau, meraba apa yang terjadi, pembaca tidak dibiarkan hanya mendengarkan apa yang kita ceritakan. Keunikan penggambaran watak, tempat kejadian cerita, suasana yang dilakukan dengan teknik dramatik lebih mencekam ingatan pembacanya. 28 Tugas sastrawan bukan ―bercerita‖ belaka, melainkan

  Jakob Sumardjo, Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2007), Cet. ke-4, h.150.

  28

  mengidupkan ceritanya seperti aktor bermain di panggung, bagaimana membuat pembaca melihat, mendengar, merasakan, membaui, itulah yang penting.

b. Dialog

  Dialog adalah percakapan di antara tokoh-tokoh dalam narasi, ada narasi atau cerita yang penuh dengan dialog, jalan cerita, karakteristik tokoh, konflik dan sebagainya, kita ketahui melaui dialog-dialog. Dalam pengungkapan bahasa percakapan, seolah-olah pengarang membiarkan pembaca untuk melihat dan mendengar sendiri kata-kata seorang tokoh, percakapan antartokoh, bagaimana

  29 wujud kata-katanya dan apa isi percakapan atau dialognya.

  Gaya dialog dapat memberikan kesan realistis, sungguh-sungguh dan memberikan penekanan terhadap cerita atau kejadian yang dituturkan dengan gaya narasi. Ada ungkapan-ungkapan perasaan yang tajam rasanya dan lebih dalam maknanya jika diucapkan dengan dialog, dibandingkan jika hanya diceritakan narator saja. Dialog juga dapat mengemban tugas memberikan warna lokal, penulis yang baik dalam membuat dialog adalah hendaknya dijaga konsistensi masing-masing tokoh. Seseorang biasanya menggunakan bahasa yang sama untuk suasana yang sama, yang khas pada orang itu. Ini harus dipelihara, harus memperhatikan laras bahasa yang dibergunakan di dalam dialog. Pakailah bahasa lisan yang lazim untuk tempat dan waktu berlakunya cerita menurut laras yang sesuai.

  Penuturan bentuk dialog tidak mungkin hadir tanpa disertai dengan narasi atau deskripsi. Sebaliknya, bentuk narasi atau deskripsi dapat hadir tanpa dialog, walau mungkin terasa dipaksakan, misalnya sebuah cerita yang relatif pendek. Percakapan yang terjadi baru akan efektif jika telah jelas konteks berlangsungnya sebuah penuturan, misalnya yang menyangkut masalah: di mana, kapan, antarsiapa, masalah apa, dalam situasi apa, situasi bagaimana dan sebagainya.

  Sebuah percakapan yang hadir dalam kalimat pertama sebuah novel, bahkan di awal bab-bab sebuah novel, tidak akan begitu saja dapat dipahami pembaca sebelum mereka mengetahui konteks situasinya, dan hal itu baru diceritakan pada kalimat-kalimat berikutnya yang biasanya berbentuk narasi.

  29

  Dengan mengetahui konteks situasi pembicaraan, pembaca pun dapat mempertimbangkan apakah sebuah percakapan itu efektif, hidup, segar, wajar, atau bahkan sebaliknya. Dengan demikian bentuk deskripsi atau narasi dan dialog saling mendukung dan menghidupkan karya fiksi bentuk novel maupun cerpen.

H. Jenis-Jenis Novel

  Novel dilihat dari segi mutu dibedakan atas novel populer dan novel literer atau novel serius. Murphy menggolongkan novel atas novel horor, novel absurd, novel picisan. Berikut ini penjelasan novel-novel tersebut:

  1. Novel populer Novel populer merupakan jenis sastra populer yang menyuguhkan problema kehidupan yang berkisah pada cinta asmara yang bertujuan menghibur.

  Novel jenis ini populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Ia menampilkan masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman, namun hanya sampai pada tingkat permukaan. Novel populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara lebih intens, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Sebab, jika demikian halnya, novel populer akan menjadi berat, dan berubah menjadi novel serius dan boleh jadi akan ditinggalkan pembacanya. Biasanya novel populer bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang lain untuk membacanya lagi, biasanya cepat dilupakan orang, apalagi muncul novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya.

  Novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena ia memang semata-mata menyampaikan cerita. Masalah yang diceritakan pun ringan-ringan, tetapi aktual dan menarik. Kisah percintaan antara pria tampan dengan wanita cantik secara umum cukup menarik, mampu membuai pembaca remaja yang memang sedang mengalami masa peka. Novel populer lebih mengejar selera pembaca, komersil, ia tidak akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius hal itu akan berkurang jumlah penggemarnya. Oleh karena itu, agar cerita mudah dipahami, plot segaja dibuat lancar dan sederhana. Perwatakan tokoh

  30

  tokoh adalah tokoh yang tidak berkembang kejiwaannya dari awal hingga akhir cerita. Berbagai unsur cerita seperti plot, tema, karakter, latar, dan lain-lain biasanya bersifat stereotip, tidak mengutamakan adanya unsur-unsur pembaharuan. Hal demikian, memang mempermudah pembaca semata-mata

  30

  mencari hiburan belaka. Contoh novel jenis ini adalah Karmila, Badai Pasti

  

Berlalu (Marga T), Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu (Ashadi Siregar),

dan novel-novel karya Mira W.

  2. Novel Serius/Literer Novel literer adalah novel bermutu sastra, novel literer menyajikan persoalan-persoalan kehidupan manusia secara serius. Di samping memberikan hiburan, novel serius juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman berharga kepada pembaca, atau paling tidak mengajak meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan. Masalah percintaan banyak juga diangkat ke dalam novel serius. Namun, ia bukan satu- satunya masalah yang penting dan menarik untuk diungkap. Masalah kehidupan amat kompleks, bukan sekedar cinta asmara, melainkan juga hubungan sosial, ketuhanan, maut, takut, cemas, dan bahkan masalah cinta itu pun dapat ditujukan terhadap berbagai hal, misalnya cinta kepada orang tua, saudara, tanah air dan lain-lain. Masalah percintaan (asmara) dalam karya fiksi memang tampak penting, terutama untuk memperlancar cerita. Namun, barangkali, masalah pokok yang ingin diugkap pengarang justru di luar percintaan itu sendiri.

  Novel serius biasanya berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara pengucapan yang baru pula. Singkatnya: unsur kebaruan diutamakan. Dalam novel serius tidak akan terjadi sesuatu yang bersifat stereotip, atau paling tidak pengarang menghindarinya. Novel serius mengambil realitas kehidupan ini sebagai model, kemudian menciptakan sebuah ―dunia-baru‖ lewat penampilan cerita dan tokoh-tokoh dalam situasi yang khusus. Contoh novel serius adalah

  

Belenngu (Armijn Pane), Hariamau-Harimau (Muchtar Lubis), Pada Sebuah

Kapal (N.H Dini).

  31

  3. Novel Picisan Novel picisan isinya cenderung mengeksploitasi selera dengan suguhan cerita yang mengisahkan cinta asmara yang menjurus ke pornografi. Novel ini mempunyai ciri-ciri bertemakan cinta asmara yang berselera rendah, ceritanya cenderung cabul, alurnya datar (arogresif), jalan ceritanya ringan dan mudah diikuti pembaca, menggunakan bahasa yang aktual, bertujuan komersil. Novel- novel karya Abdullah Harahap dan Motinggo Busye digolongkan ke dalam novel picisan.

  4. Novel Absurd Novel absurd merupakan sejenis fiksi yang ceritanya menyimpang dari logika biasa, irrasional, realitas bercampur angan-angan dan mimpi, dan surrealism. Tokoh- tokoh ceritanya ―anti tokoh‖ seperti orang mati bisa hidup kembali, mayat dapat berbicara dan lain-lain. Contoh novel Sobar (karya Putu Wijaya) yang mengisahkan dua orang sahabat yang berkelahi. Salah seorang membunuh temannya, tetapi yang terkapar mayatnya sendiri.

  5. Novel Horor Novel horor (Gothic Fiction) merupakan cerita yang melukiskan kejadian- kejadian yang bersifat horor, seperti drakula penghisap darah, hantu-hantu gentayangan, kuburan keramat, dan berbagai keajaiban supranatural yang berbaur

  31 dengan kekerasan, kekejaman, kekacauan, dan kematian.

BAB III BIOGRAFI PENULIS DAN SINOPSIS NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH A. Biografi Habiburrahman El Shirazy Habiburrahman El Shirazy adalah anak pasangan K.H. Soerozi Noor dan Hj. Siti Khadijah, lahir di Semarang tanggal 30 September 1976, beliau memiliki

  panggilan akrab kang Abik, Kang Abik adalah anak sulung dari enam bersaudara yang juga tulang punggung keluarga yaitu sejak kecil beliau telah belajar hidup sederhana.

  Kang Abik memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1

  Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota Budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate

  

Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan

oleh Imam Al-Baiquri.

  Kang Abik tidak hanya piawai merangkai kata dalam bentuk tulisan, ia pun jago berdakwah lewat lisannya. Maka undangan untuk mengisi pengajian pun makin sering datang kepadanya. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga panitia yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah-tengah acara bedah buku dan talkshow.

  Prestasi yang pernah diaraih kang Abik di antaranya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul

  ―Dzikir Dajjal‖ sekaligus menyutradarai

  pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se- MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi

  Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan

  ―Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja ‖. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya

  antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

  Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‗Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al

  

Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok

  Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi

  Negeri Seribu Menara ―Nafas Peradaban‖ (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo, 2000).

  Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005),

  

Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dan lain-lain. Cerpen-cerpennya dimuat

  dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dan lain-lain. Beberapa tulisannya pernah menghiasi Republika, Annida, Jurnal Sastra dan Budaya

  1 Kinanah, Jurnal Justisia, dan lain-lain.

  1 beberapa karya populer yang telah terbit antara lain: 1. Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005) 2.

  Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005) 3. Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004) 4. Di atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004) 5. Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007) 6. Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) 7. Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007) 8. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

  Menurut Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D dalam prolognya pada novel

  

Ketika Cinta Bertasbih, pada karya-karya kang Abik yang telah diterbitkan

  hampir menampilkan tokoh-tokoh yang berperilaku suci dalam keseharian bahkan seperti malaikat, pada zaman sekarang ini hal tersebut dianggap aneh, langka, atau bahkan disebut sok suci. Hal inilah yang menjadi kelebihan kang Abik yang berbeda dengan karya-karya sastra sekuler yang dominan menyajikan nalar liberal. Sehingga karya-karya kang Abik mengajarkan dan mengajak kebaikan kepada pembaca khusunya bagi para pemuda sebagai penerus bangsa.

  Perbedaan novel Ketika Cinta Bertasbih dengan novel-novel lain karya kang Abik adalah novel ini menampilkan tokoh utama, yaitu Azzam sebagai penuntut ilmu (santri salaf) di bumi para nabi (Kairo

  —Mesir) yang metropolis yang sadar dan memiliki jiwa pembisnis (enterpreneurship) yang jarang ditemukan pada novel-novel lain, bisa dikatakan novel ini berbasis enterpreneurship. Berbeda dengan novel sebelumnya, yaitu Ayat-Ayat Cinta yang menggambarkan tokoh Fahri seorang santri salaf yang haus ilmu. Tokoh Azzam adalah tokoh yang apa adanya menjalani dan menerima takdir yang diberikan Allah untuknya, dalam kondisi sesulit apapun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tetap semangat dan tegar, sehingga mengajarkan dan menyadarkan pembaca bahwa segala sesuatu dapat kita lalui, sulit sekalipun asal kita tetap berusaha dan tidak mudah menyerah.

B. Sinopsis Novel Ketika Cinta Bertasbih

  Abdullah Khairul Azzam

  • – 28 tahun- pemuda tampan dan cerdas dari sebuah desa di Jawa Tengah. Dari kecil, Azzam sudah terlihat sebagai anak yang sangat baik budi pekertinya. Atas usahanya yang gigih dia berhasil memperoleh beasiswa untuk belajar di Al Azhar Mesir selepas menamatkan Aliyah di desanya. Baru setahun di Kairo dan menjadi mahasiswa berprestasi peraih predikat Jayyid

  

Jiddan (Lulus dengan Sempurna), ayahnya meninggal dunia. Sebagai anak tertua

  Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI di Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Kairo. Tetapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya. Seringnya Azzam mendapatkan tugas membuat masakan di KBRI Kairo mempertemukan ia dengan Putri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Prancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana. Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk segera melamar seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar

  • –Kairo. Menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang kyai pesantren
Ada keinginan Khairul Azzam untuk melamar Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Kairo, yaitu Ustadz Mujab, Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke Ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal seorang penjual tempe dan bakso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh Furqon, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas dan dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih, tetapi kemudian Furqon mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilema antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.

  Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bungsunya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren. Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kembali ke kampung dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.

  Novel kedua diawali dengan lulusnya Azzam dari Universitas Al-Azhar dan pulang ke Indonesia. Akan tetapi, nasib baik belum mendatanginya. Azzam belum mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Azzam memilih membangun usaha dengan berwiraswasta dengan berjualan bakso yang diberi nama "Bakso Cinta". Karena itu. Seiring waktu berjalan, ada hal yang membuat Azzam sering bingung dengan pertanyaan ibunya. Tentang kapan Azzam akan menikah. Saat ini hatinya sedang berpihak wanita yang bernama Anna Althafunnisa. Akan tetapi wanita tersebut telah dilamar oleh sahabatnya sendiri yakni Furqon. Azzam diperkenalkan oleh sorang gadis yang bernama Vivi dan sempat melakukan pertunangan, sebelum acara pernikahan mereka berlangsung, Azzam beserta ibunya mendapatkan musibah kecelakaan yang mengakibatkan Azzam harus kehilangan Ibu tercintanya selama-lamanya. Azzam sendiri luka parah sehingga acara pernikahannya dengan Vivi ditunda sampai Azzam sembuh, tidak lama kemudian Azzam mendapatkan surat dari Vivi bahwa Vivi telah menikah dengan pria pilihan orangtuanya.

  Cerita berlanjut kepada Furqon, sampai akhirnya Furqon mengakui bahwa dirinya terkena suatu penyakit, Furqon dan Anna sepakat untuk bercerai. Beberapa hari kemudian Azzam menemui dan meminta kyai yang tidak lain adalah ayah Anna sendiri untuk mencarikan jodoh untuknya. Kyai tersebut sempat menolak karena beliau tidak sanggup sebab anak gadisnya sendiri sudah gagal dalam berumah tangga, tetapi kyai tersebut akhirnya menceritakan tentang seorang wanita yang tidak lain anaknya sendiri, yaitu Anna Althafunnisa. Akhirnya Anna pun dilamar dan dinikahi Azzam pada hari itu juga. Kisah ini berakhir menjadi cerita yang bahagia, mereka berdua pun menjadi pasangan yang amat serasi.

  

BAB IV

ANALISIS DATA Pada bab IV ini membahas mengenai wujud campur kode dan fungsi campur kode novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy. Menurut penggunaannya campur kode pada novel ini dibedakan atas campur kode

  deskripsi dan campur kode bentuk dialog. Campur kode deskripsi adalah campur kode yang dilakukan penulis novel dalam menyampaikan cerita, bertujuan menggambarkan latar, peristiwa maupun keadaan tokoh kepada pembaca, sedangkan campur kode bentuk dialog, yaitu campur kode yang menyajikan percakapan atau dialog tokoh/antartokoh, bertujuan untuk membuat cerita menjadi lebih hidup dan mempertajam warna lokal tokoh-tokoh saat percakapan antartokoh berlangsung. Campur kode deskripsi dan campur kode bentuk dialog terjadi, baik pada novel pertama dari episode 1

  —30 maupun pada novel kedua dari episode 1 —29.

  Unsur-unsur kebahasaan yang terdapat pada novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy terdiri dari kata, frasa, klausa, baster, kata ulang, dan idiom atau ungkapan. Berikut campur kode novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

  

Tabel 1

A. Wujud Campur Kode berbentuk Kata No. Teks Analisis

  1 ada mahasiswa Peristiwa di samping adalah

  ―Aku salut lho mandiri seperti Mas peristiwa campur kode kata bentuk dialog insinyur‖.

  Puji Eliana. yang dilakukan oleh tokoh Eliana,

  (HBE, KCB1: 38) masuknya unsur bahasa Jawa ‗mas‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Eliana) menghormati lawan tuturnya

  2 Peristiwa di samping adalah

  Mbak Eliana sudah Shalat?‖ tanya Azzam pelan. peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  (HBE, KCB1: 46) yang dilakukan oleh tokoh Azzam, masuknya unsur bahasa Jawa ‗mbak‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) menghormati lawan tuturnya (Eliana).

  3 Peristiwa di samping adalah

  ―Mas insinyur, tolong ya? Please peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  , ya?‖ Kata Eliana dengan nada memelas. yang dilakukan oleh tokoh Eliana,

  (HBE, KCB1: 49) masuknya unsur bahasa Inggris ‗please‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗mohon‘. Fungsi campur kode tersebut penutur (Eliana) mempertegas sesuatu (permintaan) agar lawan tutur (Azzam) mau menolongnya.

  4 Peristiwa di samping adalah

  ―Sungguh, aku merasa sangat terhormat menerima surprise peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan oleh tokoh Pak Juneidi, ini‖ sahut Pak Juneidi. (HBE, KCB1: 60) masuknya unsur bahasa Inggris ‗surprise‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang berarti ‗kejutan‘. Fungsi campur kode tersebut penutur (Pak Juneidi) mencari jalan termudah menyampaikan maksud.

  5 Peristiwa di samping adalah

  ―Ayo kita pulu‟an pakai tangan sa peristiwa campur kode kata bentuk dialog ja rasanya lebih nikmat‖ kata Pak Alam. yang dilakukan oleh tokoh Pak Alam,

  (HBE, KCB1: 60) masuknya unsur bahasa Jawa ‗Pulu‘an‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang bermakana ‗makan menggunakan tangan tanpa sendok‘. Fungsi campur kode tersebut penutur (Pak Alam) mencari jalan termudah menyampaikan maksud kepada mitra tuturnya (Pak Juneidi).

  6 Peristiwa di samping adalah

  Azzam: ―apa? Ciuman spesial? Eliana: peristiwa campur kode kata bentuk dialog yes”.

  Azzam: Ciuman spesialnya yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya Mbak Eliana itu

  unsur bahasa Inggris ‗yes‘ yang berarti

  ciuman yang ‗ya‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. bagaimna? Fungsi campur kode tersebut adalah

  (HBE, KCB1: 67) penutur (Eliana) menunjukkan keterpelajaran di depan lawan tuturnya (Azzam).

  7 Eliana: Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  ―Benar, sungguh! Tapi Mas Khaerul keburu pulang sih, jadi yang dilakukan oleh tokoh Eliana, sorry dech, ya‖. masuknya unsur bahasa Inggris ‗sorry‘ ke

  (HBE, KCB1: 67) dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗maaf‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Eliana) menunjukkan keakraban dalam situasi santai kepada lawan tutur (azzam).

  8 Telpon berdering sampai Peristiwa di samping adalah

  akhirnya mati sendiri. Ia tak peristiwa campur kode kata bentuk perlu mengangkatnya, toh jika deskripsi, masuknya unsur bahasa Jawa umur masih panjang besok bisa toh‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. bertemu. Fungsi campur kode tersebut pengisi dan (HBE, KCB1: 68) penyambung dalam kalimat.

  9 Peristiwa di samping adalah

  Geram Eliana: ―Dasar pemuda kampungan kolot! Konservatif! peristiwa campur kode kata bentuk dialog Pemuda bahlul bin tolol! Awas yang dilakukan oleh tokoh Eliana, nanti ya!‖ masuknya unsur bahasa Arab ‗bahlul‘ ke

  (HBE, KCB1: 69) dalam tuturan bahasa Indonesia, yang berarti ‗bodoh‘. Fungsi campur kode tersebut mempertegas sesuatu (amarah) penutur (Eliana) atas sikap Azzam kepadanya.

  10 Azzam shalat Tahiyatul Masjid. Peristiwa di samping adalah Lalu shalat Qobliyah subuh. peristiwa campur kode kata bentuk

  (HBE, KCB1: 75) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗qobliyah ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut kebutuhan kosakata yaitu pengarang menyebutkan nama shalat sunah yang biasa diketahui dan dilakukan umat Islam sebelum melaksanakan shalat wajib.

  11 hati dan pikirannya terbetot Peristiwa di samping termasuk

  dalam tadabbur yang dalam. campur kode kata bentuk deskripsi,

  (HBE, KCB1: 75) masuknya unsur bahasa Arab ke dalam teks bahasa Indonesia, yang berarti ‗renungan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan keterpelajaran pengarang yang mampu berbahasa Arab, sehingga menimbulkan efek yang mendalam untuk pembaca

  12 Azzam: Peristiwa di samping termasuk

  ―Saya kan cuma bilang katanya tho Pak. Katanya kan campur kode kata bentuk dialog yang

  dilakukan oleh tokoh Azzam, masuknya

  bisa benar, bisa tidak‖ (HBE,

  KCB1: 78) unsur bahasa Jawa ke dalam tuturan

  bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas bahwa si penutur (Azzam) ber-BI1 yaitu asli berasal dari Jawa.

  13 Pak Ali: Peristiwa di samping termasuk

  ―Bahkan ia sudah cerita di website campur kode kata bentuk dialog yang pribadinya‖

  (HBE, KCB1: 81) dilakukan oleh tokoh Pak Ali, masuknya unsur bahasa Inggris ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena bahasa tersebut sudah biasa digunakan dan tidak ada padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia.

  14 Pak Ahmad: Peristiwa di samping termasuk

  ―Menggantikan pekerjaan Almarhum suami campur kode kata bentuk dialog yang janda itu. Yaitu cleaning dilakukan oleh tokoh Pak Ahmad, service merangkap sopir KBRI.

  masuknya unsur bahasa Arab ‗almarhum‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang

  Bagaimana Li, kamu mau?‖

  (HBE, KCB1: 87) berarti ‗yang dirahmati Allah‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata

  , ‗almarhum‘ biasanya untuk menyebutkan orang Islam yang telah meninggal.

  15 Pak Ali: Peristiwa di samping adalah campur

  …dan Anna lebih memilih menutup diri dari kode kata, bentuk dialog yang dilakukan kegiatan-kegiatan bersifat oleh tokoh Pak Ali, masuknya unsur glamour

   bahasa Inggris ‗glamour‘ yang berarti

  (HBE, KCB1: 91) ‗daya tarik‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah memudahkan menyampaikan maksud kepada lawan tutur

  16 Pak Ali: Peristiwa di samping adalah campur

  ―kenapa kamu jadi inferior kode kata, bentuk dialog yang dilakukan begitu…‖

  (HBE, KCB1: 91) oleh tokoh Pak Ali, masuknya unsur bahasa Inggris ‗inferior‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang berarti ‗rendahan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Pak Ali) memudahkan menyampaikan maksud kepada lawan tutur (Azzam).

  17 Furqan mengajak Azzam Peristiwa di samping adalah

  menemaninya makan roti peristiwa campur kode bentuk kata Kibdah. bentuk deskripsi, ditandai dengan

  (HBE, KCB1: 106) masuknya unsur bahasa Arab ‗Kibdah‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan nama makanan khas Mesir (roti yang berbentuk panjang diisi hati sapi) yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

  18 Peristiwa di samping adalah Furqan: ―Aku akan cerita, tapi

  janji jangan kaubocorkan peristiwa campur kode kata bentuk dialog siapa-siapa. yang dilakukan oleh tokoh Furqan, Masyi?”

  (HBE, KCB1: 107) masuknya unsur bahasa Arab ‗masyi‘ yang maknanya

  ‗setuju‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Furqan) menunjukkan keterpelajaran bahwa ia sudah lama belajar di mesir mampu berbahasa arab.

  19 Furqan: Peristiwa di samping adalah

  ―Eliana aku lihat sudah berusaha fair peristiwa campur kode kata bentuk dialog dan jujur‖.

  (HBE, KCB1: 107) yang dilakukan tokoh Furqan, masuknya unsur bahasa Inggris ‗fair‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang berarti ‗terang-terangan. Fungsi campur kode tersebut penutur (Furqan) mencari jalan termudah menyampaikan maksud tanpa mengurangi maksud isi pembicaraan kepada lawan tutur (Azzam).

  20 Azzam: Peristiwa di samping adalah campur

  ―Ya sudah. Kalau begitu istikharah kode kata bentuk dialog yang dilakukan saja‖. (HBE, KCB1: 109) tokoh Azzam, masuknya unsur bahasa

  Arab ‗istikharah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, kata tersebut sudah umum digunakan umat islam sehingga orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  21 Azzam: Peristiwa di samping adalah campur

  ―…dalam buku-buku fikih pelajaran pertama pasti kode kata bentuk dialog yang dilakukan tentang thaharah. Tentang tokoh Azzam, masuknya unsur bahasa bersuci‖. Arab ‗thaharah‘ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB1: 113) Indonesia, yang berarti ‗bersuci‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, kata tersebut sudah umum digunakan umat islam sehingga orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  22 Ustad Mujab: Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  ―…ia menyelesaikan S1-nya di Alexandria dengan predikat yang dilakukan oleh tokoh Ustad Mujab, mumtaz ditandai dengan masuknya unsur bahasa

  

  (HBE, KCB1: 120) Arab

  ‗mumtaz‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗istimewa‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (ustad Mujab) mengucapkan istilah kata yang biasa digunakan untuk menyebutkan prestasi akademik yang sangat bagus.

  23 Peristiwa di samping adalah

  …ia mengajarinya belajar membaca Al-Quran dengan peristiwa campur kode kata bentuk Qiraati. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 122) ‗Qiraati‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan kata yang biasa digunakan dalam metode membaca Al-Quran.

  24 Belasan orang tejaga Peristiwa di samping adalah

  menikmati musim semi dengan peristiwa campur kode kata bentuk minum kopi, menghisap shisha, deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab main kartu dan berbincang shisha‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. tentang apa saja. Fungsi campur kode tersebut adalah

  (HBE, KCB1: 124) kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan benda hisap yang biasa diguanakan di Mesir yang tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.

  25 Peristiwa di samping adalah

  …ia niatkan itu semua sebgai ibadah dan rahmah yang tiada peristiwa campur kode kata bentuk duanya. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 125) ‗rahmah‘ yang bermakna ‗kasih sayang‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan keterpelajaran pengarang yang mampu berbahasa Arab sehingga menimbulkan efek tertentu pada kalimat tersebut.

  26 Hafez: Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  Kang Azzam…Kang Azzam!‖

  (HBE, KCB1: 127) yang dilakukan oleh tokoh Hafez, masuknya unsur bahasa jawa ‗kang‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Hafez) menghormati orang yang lebih tua darinya yaitu si lawan tutur (Azzam).

  27 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―Aku tahu pasti berat menanggung perasaan itu Fez, peristiwa campur kode kata bentuk dialog tapi afwan, aku belum tidur, yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya aku harus istirahat.

  unsur bahasa Arab ‗afwan‘ ke dalam (HBE, KCB1: 127) tuturan bahasa Indonesia yang berarti

  ‗maaf‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) memperhalus pernyataan kepada lawan tutur (Hafez) yang juga mengerti bahasa Arab tersebut.

28 Peristiwa di samping adalah …Flat itu tergolong mewah.

  Semua lantainya full karpet... peristiwa campur kode kata bentuk

  (HBE, KCB1: 131) deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗full‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang berarti ‗penuh‘. Fungsi campur kode tersebut adalah keefesienan menyampaikan maksud tanpa mengurangi maksud dari isi pengarangan.

  29 Usai shalat mereka zikir, Peristiwa di samping adalah

  mengingat Allah Swt lalu peristiwa campur kode kata bentuk membaca Al- deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab Ma‟tsurat.

   (HBE, KCB1: 134)

  ‗Al-Ma‘tsurat‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, Al-

  Ma‘tsurat

  adalah sebuah buku zikir pagi dan petang yang biasa dibaca oleh umat Islam.

  30 Peristiwa di samping adalah

  …musim semi yang sejuk, matahari yang ramah, serta peristiwa campur kode kata bentuk senyum Profesor Amani saat deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab memberinya ucapan selamat

  ‗barakah‘ ke dalam teks bahasa dan doa barakah. Indonesia. Fungsi campur kode tersebut

  (HBE, KCB1: 143) adalah pengarang memudahkan menyampaikan maksud untuk pembaca, jika menggunakan padanan bahasa Indonesia maka hasilnya kurang pas.

  31 Peristiwa di samping adalah

  …akibatnya, jari si kecil kepiris , darah mengalir dari peristiwa campur kode kata bentuk

  deskripsi, masuknya unsur bahasa jawa

  jarinya…

  (HBE, KCB1: 146) ‗kepiris‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang bermakna ‗teriris‘. Fungsi campur kode tersebut menunjukkan identitas pengarang bahwa pengarang memang berasal dari daerah jawa berbahasa ibu yaitu bahasa jawa. 32 begitu menyeberang Tayaran Peristiwa di samping adalah

  Steet, handphone-nya berbunyi peristiwa campur kode kata bentuk ada SMS masuk. Ia deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris menghentikan langkahnya dan

  ‗handphone‘ ke dalam teks bahasa

  melihat layar handphone Indonesia. Fungsi campur kode tersebut

  (HBE, KCB1: 150) adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan benda umum yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  33 Peristiwa di samping adalah

  …ia langsung istighfar dan ber- peristiwa campur kode kata bentuk ta‘awudz…

  (HBE, KCB1: 152) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗istighfar‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang berarti ‗mohon ampun‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan istilah umum yang biasa digunakan umat Islam.

  34 Dina kembali melihat layar Peristiwa di samping adalah

  komputer sementara jari- peristiwa campur kode kata bentuk jarinya menari di samping deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris keyboard dengan indahnya. ke dalam teks bahasa Indonesia yang

  (HBE, KCB1: 154) bermakna ‗papan ketik‘ Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena kata tersebut sudah umum dan biasa digunakan.

  35 Sampai di pintu kamar 819, Peristiwa di samping adalah campur

  dengan mengucap basmalah kode kata bentuk deskripsi, masuknya

  furqan membuka pintu dengan

  unsur bahasa Arab ‗basmalah‘ ke dalam

  keycard-nya. teks bahasa Indonesia. Fungsi campur

  (HBE, KCB1: 155) kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menggunakan istilah umum yang biasa di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

  36 Peristiwa di samping adalah

  …data-data penting yang ia telah simpan rapi dalam peristiwa campur kode kata bentuk laptop deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  

  (HBE, KCB1: 157) laptop‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena kata tersebut sudah umum digunakan dan tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.

  37 Peristiwa di samping adalah

  …bahasa ‗Amiyah Mesir jika diucapkan oleh gadis Mesir peristiwa campur kode kata bentuk memiliki sihir tersendiri.

  deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab (HBE, KCB1: 159)

  ‗Amiyah‘ yang artinya bahasa informal ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata pengarang menyebut nama bahasa Mesir yang biasa digunakan orang-orang mesir dan tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.

  38 Peristiwa di samping adalah

  …pasar tradisional Al Azhar, serta Mustasyfa Husein berada peristiwa campur kode kata bentuk di sebelah selatan jalan. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 161) ‗mustasyfa‘ ke dalam teks bahasa

  Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menunjukkan keterpelajarannya yaitu mampu berbahasa Arab. 39 seorang Peristiwa di samping adalah

  duf‟ah berseragam putih tersenyum padanya. peristiwa campur kode kata bentuk

  (HBE, KCB1: 164) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗duf‘ah‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang bermakna ‗tentara wajib militer‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempermudah menyampaikan maksud, jika menggunakan bahasa Indonesia hasilnya kurang pas. 40 ia berjalan menuju tempat Peristiwa di samping adalah

  penjualan muqarrar, atau peristiwa campur kode kata bentuk diktat kuliah. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 164) ‗muqarrar‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhn kosakata karena penyebutan tersebut sudah biasa digunakan oleh mahasiswa di Mesir.

  41 ia tahu Ammu Shabir, penjaga Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk

  buku muqarrar sedang serius…

  (HBE, KCB1: 166) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗ammu‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang bermakna ‗paman‘ Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menerangkan bahwa si penutur (Azzam) menghormati lawan tuturnya (Shabir) seorang penjaga buku muqarrar yang lebih tua usianya dengan si penutur (Azzam).

  42 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―Hei, kamu tho Mif, piye kabarmu? peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  Mifta: yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  ―Alhamdulillah, baik- baik saja Kang.

  unsur bahasa Jawa ‗piye‘ ke dalam (HBE, KCB1: 172) tuturan bahasa Indonesia yang bermakana

  ‗bagaimana‘. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas bahwa penutur (Azzam) dan lawan tutur (Mifta) adalah sama-sama orang yang berasal dari suku Jawa.

43 Azzam Peristiwa di samping adalah :‖…mau minta tahdid.

  Aku janjian dengannya di peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  mushala‖

  (HBE, KCB1: 172) unsur bahasa Arab ‗tahdid‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata yaitu istilah yang biasa digunakan oleh mahasiswa Mesir tentang pelajaran dan sulit mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia.

  44 ia akrab dengannya sejak Peristiwa di samping adalah

  berkenalan dengannya di acara peristiwa campur kode kata bentuk itikaf sepuluh hari terakhir deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab bulan Ramadhan.

  ‗itikaf‘ ke dalam teks bahasa Indonesia (HBE, KCB1: 176) yang bermakna ‗berdiam diri di masjid‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena kata tersebut sudah umum dan biasa digunakan dan diketahui oleh umat Islam.

  45 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―Ada sedikit waktu untuk bincang-bincang, Akhi peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  khaled?‖ Khaled: ―Tentu saja dengan unsur bahasa Arab ‗akhi‘ yang bermakna senang hati. Seluruh waktuku

  ‗saudaraku (laki-laki)‘ ke dalam tuturan

  untukmu, bahasa Indonesia. Fungsi campur kode Akhi”

  (HBE, KCB1: 178) tersebut adalah penutur, baik Azzam maupun Khaled saling menghormati satu sama lain.

  yang

  46 uniquiness Peristiwa di samping adalah

  …inilah dimliki hasil produksinya. masing-masing peristiwa campur kode Keunikan inilah yang menjadi kata bentuk deskripsi, masuknya unsur 47 positioning bisnisnya.

  dan bahasa Inggris ‗uniquiness‘ (HBE, KCB1: 185)

  ‗positioning‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mencari jalan termudah menyanpaikan maksud kepada pembaca.

  48 Anna : Peristiwa di samping adalah

  Syukran ya‖

  peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  Azzam: ―Afwan, oya sampaikan salam buat Hosan Ahmad yang dilakukan oleh tokoh Anna, penjaga Daarut Tauzi.

  masuknya unsur bahasa Arab ‗syukran‘ (HBE, KCB1: 188) ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗terima kasih‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Anna) menunjukkan identitas bahwa ia dan lawan tutur (Azzam) adalah mahasiswa mesir yang mampu berbahasa Arab.

  49 Ibrahim masih muda...ayahnya Peristiwa di samping adalah

  tidak bisa lagi bekerja karena peristiwa campur kode kata bentuk

  terkena stroke. deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  (HBE, KCB1: 190) ‗Stroke‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena kata tersebut sudah umum digunakan orang untuk menyebutkan nama penyakit.

  50 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―Mm, maaf ukhti. Ada apa ya? Ada yang bisa saya peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  bantu?‖ Anna : ―Kami kena musibah.

  unsur bahasa Arab ‗ukhti‘ ke dalam

  Dompet ukhti Erna ini tuturan bahasa Indonesia yang bermakna dicopet… ‗saudaraku (perempuan)‘. Fungsi campur

  (HBE, KCB1: 196) kode tersebut adalah penutur (Azzam) menghormati lawan tutur (Anna) dengan menyebutkan sapaan yang sopan menggunakan bahasa Arab yang berarti ‗saudaraku‘.

  51 Peristiwa di samping adalah

  …hanya ada Nanang yang sedang duduk di depan peristiwa campur kode kata bentuk komputer milik Fadhil. Kedua deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris telingannya ditutup dengan

  ‗earphone‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut earphone. (HBE, KCB1: 206) adalah pengarang mencari jalan termudah menyampaikan istilah benda untuk pembaca. Jika menggunakan bahasa Indonesia hasilnya kurang pas.

  52 Nanang : Peristiwa di samping adalah

  Okay bos!

  (HBE, KCB1: 206) peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Nanang, masuknya

  ‗baik‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Nanang) menunjukkan rasa keakraban dengan lawan tutur (Azzam).

  53 Peristiwa di samping adalah

  Zahraza: ―Sst..by the way dia handsome peristiwa campur kode kata bentuk dialog tak?‖ Erna melototkan matanya. Namun yang dilakukan tokoh Zahraza, masuknya zahraza tak takut.

  unsur bahasa Inggris ‗handsome‘ ke (HBE, KCB1: 207) dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗tampan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (zahraza) menunjukkan keterpelajarannya di depan lawan tutur (Erna).

  54 Ketka ia berjalan berdua Peristiwa di samping adalah

  dengan temannya melewati peristiwa campur kode kata bentuk shahra yang sepi, tiba-tiba ada deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab orang-orang Mesir hendak shahra‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. berbuat jahat padanya.

  Fungsi campur kode tersebut adalah (HBE, KCB1: 208) kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan sebuah padang pasir yang biasa disebut orang-orang mesir demikian.

  55 Peristiwa di samping adalah

  Azzam: ―jangan iseng lah Nang. Kalo bikin cerpen mbok peristiwa campur kode kata bentuk dialog ya yang serius. yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  (HBE, KCB1: 209) unsur bahasa jawa ‗mbok‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas bahwa Azzam dan lawan tuturnya (Nanang) adalah orang Jawa.

  56

  …khutbah Jumat, ceramah beberapa menit dari imam masjid setelah shalat, halaqah membaca Al-Quran setelah shalat subuh adalah tempat utamanya menimba ilmu

  (HBE, KCB1: 211) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗halaqah‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang memudahkan menyampaikan maksud kepada pembaca.

  57 Sudah seperempat jam ia

  rebahan sambil memejamkan mata. Otot-otot tubuhnya lebih terasa fresh dan segar…

  (HBE, KCB1: 214) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris ‗fresh‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempertegas maksud bahwa tokoh azzam benar-benar dalam keadaan segar.

  58 …ia mandi dengan shower.

  Sentuhan air yang menerpa tubuhnya itu ia rasakan begitu nikmat.

  (HBE, KCB1: 214) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris ‗shower‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan sebuah alat untuk mandi yang biasa dan umum digunakan manusia. Orang-orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  59

  …Mahasiwa Jepang itu mengaguk, ia pun mengangguk. Ia sampai di masjid tepat saat sebelum iqamat

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  dikumandangkan. Fungsi campur kode tersebut adalah

  (HBE, KCB1: 215) kebutuhan kosakata, unsur kata tersebut merupakan hal umum yang biasa dikenal umat Islam, sehingga orang-orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  60 Peristiwa di samping adalah

  …Azzam beranjak ke kulkas untuk mengeluarkan daging peristiwa campur kode kata bentuk sapi yang baru tadi sore ia deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris masukkan ke dalam freezer.

  ‗freezer‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. (HBE, KCB1: 223) Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan hal yang sudah umum dan biasa dikenal oleh manusia.

  61 Peristiwa di samping adalah

  sampeyan sih Kang diminta menhentikan mandinya peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Nanang, masuknya

  sebentar tidak mau…‖ kata Nanang.

  unsur bahasa Jawa ‗sampeyan‘ ke dalam

  (HBE, KCB1: 227) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Nanang) memperhalus tuturan kepada lawan tutur (Azzam).

  62 Peristiwa di samping adalah

  Eliana: ―ya sudah kalau gitu saya ikut Mas Insinyur, jadi peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya

  berapa?‖

  unsur bahasa Inggris

  Azzam: ―Dua kali lipat bakso, deal‘ ke dalam gmana? tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur Deal”

  (HBE, KCB1: 229) kode tersebut adalah penutur (Azzam) mempertegas maksud tuturan kepada lawan tutur (Eliana).

  63 Anna:

  (HBE, KCB1: 234) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Zahraza, masuknya unsur bahasa Arab

  Pemuda itu membawa roti dan kabab

  66 Nasir mempersilakan masuk.

  (HBE, KCB1: 236) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Ibu Furqan, masuknya unsur bahasa Inggris ‗handycam‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur menyebutkan nama alat perekam gambar yang biasa dan umum digunakan oleh orang.

  ―Sudahlah kami di Indonesia mendoakanmu, semoga kau lulus siding dengn hasil terbaik. Direkam saja pakai handycam biar nanti ibu dan ayah bisa lihat‖

  65 Ibu Furqan:

  ‗mabahits‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗badan intilijen‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mencari jalan termudah menyampaikan maksud.

  ....‖

  ―untuk apa itu La?‖

  ―Di sini disebutkan ada mahasiswa Indonesia yang tinggal di Ighatsah Islamiyyah Hay El Thamrin dirampok seseorang yang mengaku sebagai anggota mabahits

  64 Zahraza:

  (HBE, KCB1: 232) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Laila, masuknya unsur bahasa Inggris ‗open‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗buka‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mencari jalan termudah menyampaikan maksud penutur (Laila).

  Karena mau tinggal beberapa hari di KL, maka harus open. Itu harganya lebih mahal lima puluh dollar. Gimana mbak?‖

  ―Untuk meng-open tiket Kuala Lumpur —Jakarta.

  Laila:

  (HBE, KCB1: 248) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan makanan yang biasa dan umum di konsumsi orang-orang mesir.

  67 Anna: Peristiwa di samping adalah

  ―Kita Tahajjud bareng yuk. Kita gentian jadi imam peristiwa campur kode kata bentuk dialog biar sekalian yang dilakukan tokoh Anna, masuknya muraja‟ah

  Wan Aina: unsur bahasa Arab

  ―Boleh kak, tapi aku muraja‘ah‘ ke dalam selesaikan stu halaman ini dulu tuturan bahasa Indonesia yang berarti ya...‖

  ‗mengulang hafalan‘. Fungsi campur (HBE, KCB1: 255) kode tersebut adalah memudahkan menyampaikan maksud penutur (Anna) kepada lawan tutur (wan Aina).

  68 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ― …dia selalu naik tingkat dengan predikat jayyid peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  tiap tahun…

  unsur bahasa Arab

  Cut Mala: ―Amin‖ ‗jayyid‘ yang berarti

  (HBE, KCB1: 305) ‗baik‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan mahasiswa Mesir dalam menyatakan prestasi akademik sehingga orang-orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  69 Peristiwa di samping adalah

  Cut Mala: ―…namun kakak bisa melihat sendiri, dalm hal peristiwa campur kode kata bentuk dialog meresapi kehidupan real dia yang dilakukan tokoh Cut Mala, sangat bisa dibanggakan. masuknya unsur bahasa Inggris

   ‗real‘ ke

  (HBE, KCB1: 314) dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗nyata‘. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan kterpelajaran penutur (Cut Mala ) yang mengerti bahasa Inggris.

  70 Ya, seorang Muslim sejati. Peristiwa di samping adalah

  Yaitu Muslim yang gentle, yang peristiwa campur kode kata bentuk berani melepaskan Muslimah deskripsi, masuknya unsur bahasa

  Inggris

  yang dicintainya… ‗gentle‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 317) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mencari jalan termudah menyampaikan maksud untuk pembaca.

  71 Husna dengan jilbab putihnya. Peristiwa di samping adalah

  Lia tersenyum dengan tangan peristiwa campur kode kata bentuk mengacungkan bravo ke udara. deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  (HBE, KCB1: 325) ‗bravo‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mencari jalan termudah menyampaikan maksud memberi gambaran kepada pembaca.

  72 Anna: Peristiwa di samping adalah

  ―Kaidah itu artinya itsar, mengutamakan orang lain, peristiwa campur kode kata bentuk dialog dalam hal mendekatkan diri yang dilakukan tokoh Anna, masuknya

  unsur bahasa Arab

  kepada Allah… ‗itsar‘ ke dalam

  (HBE,KCB1: 341) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah membicarakan topik tertentu mengenai kaidah agama.

  73 Peristiwa di samping adalah ―uedan, moderatornya siapa iu

  Cak? Cuantik, pinter dan

  peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  bahasa Inggirsnya fasih buetul! yang dilakukan mahasiswa Surabaya,

  masuknya unsur bahasa Jawa

  mahasiswa dari Surabaya dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi berkomentar pada temannya. campur kode tersebut adalah

  (HBE, KCB1: 345) mempertegas sesuatu bahwa mahasiswa Surabaya itu benar-benar kagum.

  74 Furqan kecewa ketika ia tahu Peristiwa di samping adalah

  Anna tidak menghadiri sidang peristiwa campur kode kata bentuk munaqasah tesisnya. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 347)

  ‗munaqasah‘ ke dalam teks bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempermudah menyampaikan maksud kepada pembaca.

  75 Peristiwa di samping adalah

  …Sementara Furqan naik tingkat denagn predikat hanya peristiwa campur kode kata bentuk maqbul . deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB1: 352)

  ‗maqbul‘ ke dalam teks bahasa Indonesia

  yang berarti ‗cukup‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut adalah kata yang biasa dan umum digunakan untuk menyebutkan prestasi akademik.

  76 Ia sudah terlanjur terkenal Peristiwa di samping adalah sebagai businessman di Kairo, peristiwa campur kode kata bentuk tidak dikenal sebagai aktivis deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris kelompok studi… ‗businessman‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 353) Indonesia yang berarti ‗pembisnis‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud, jika menggunakan bahasa Indonesia hasilnya kurang pas.

  punya janji chatting dengan peristiwa campur kode kata bentuk dialog adikku yang kuliah di UNDIP yang dilakukan tokoh Abduh, masuknya Semarang. unsur bahasa Inggris ‗chatting‘ ke dalam

  (HBE, KCB1: 387) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  78 Peristiwa di samping adalah

  …ia telah membayar lunas. Itu ia lakukan agar ia peristiwa campur kode kata bentuk mendapatkan seat . Bulan deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris Agustus adalah bulan

  ‗seat‘ ke dalam teks bahasa Indonesia mahasiswa banyak pulang.

  yang bermakna ‗tempat duduk‘. Fungsi (HBE, KCB1: 406) campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  79 Adil Ramadhan menjelaskan Peristiwa di samping adalah

  bahwa khasyyah adalah rasa peristiwa campur kode kata bentuk takut kepda Allah yang disertai deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab mengagungkan Allah.

  ‗khasyyah‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 415) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menggambarkan Adil Ramadhan sedang membicarakan topik tertentu berkaitan dengan khassyyah.

  80 Peristiwa di samping adalah

  …Rio dan teman-temannya sedang ikut mukhayyam yang peristiwa campur kode kata bentuk diadakan oleh Universitas Al deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  Azhar di Alexandria.

  ‗mukhayyam‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 415) Indonesia yang berarti ‗perkemahan‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menunjukkan keterpelajaran yaitu mampu berbahasa Arab.

  81 Peristiwa di samping adalah

  …Sementara dirinya berusaha menenteramkan jiwanya peristiwa campur kode kata bentuk dengan membaca secara hidup deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab para tabi‟in yang mulia. ‗tabi‘in‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  (HBE, KCB1: 428) Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan sehingga orang-orang untuk menyebutkan orang-orang saleh yang pernah bertemu para sahabat Rasulullah.

  82 Aku lihat sih untuk sampeyan, Peristiwa di samping adalah

  biar kehidupan rumah tangga peristiwa campur kode kata bentuk balance ada sosok yang lebih

  deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  tepat‖ jawab Nasir membuat ‗balance‘ ke dalam teks bahasa Indonesia yang mendengar penasaran.

  yang berarti ‗seimbang‘. Fungsi campur (HBE, KCB1: 460) kode tersebut adalah penutur (Nasir) mempermudah menyampaikan maksud dalam komunikasi kepada lawan tutur (teman-temannya yang berada di mobil).

  83 Peristiwa di samping adalah ―Nduk aku ingin bicara peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  sebentar denganmu, bisa?‖ kata Abahnya dengan nada yang dilakukan tokoh Abah, masuknya serius. unsur bahasa Jawa ‗nduk‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 14) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Abah) memperhalus tuturan kepada anaknya (Anna).

  84 Peristiwa di samping adalah peristiwa Nafisah: ―Saya takut ghibah

  Neng campur kode kata bentuk masuknya ”.

  (HBE, KCB2: 18) unsur bahasa Arab

  ‗ghibah‘ ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗membicarakan keburukan orang lain‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Nafisah) mempermudah menyampaikan maksud kepada lawan tutur.

  85 Itu suara Sri, khadimah yang Peristiwa di samping adalah

  sangat disayang Umminya. peristiwa campur kode kata, masuknya

  (HBE, KCB2: 23) unsur bahasa Arab

  ‗khadimah‘ ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang memperhalus tuturan dalam menggambarkan tokoh Sri, yaitu seorang santri yang mengabdikan dirinya sebagai pembantu di keluarga Pak Kiai.

  86 Anna: Peristiwa di samping adalah peristiwa

  ―terus apa yang bisa aku bantu? Aku tak punya link campur kode kata, masuknya unsur orang yang berkecimpung di bahasa Inggris ‗link‘ ke dalam tuturan bidang sastra‖ bahasa Indonesia yang bermakna ‗relasi‘.

  Nafisah: Fungsi campur kode tersebut adalah

  …dengan sangat memohon Neng Anna bersedia penutur (Anna) mempermudah menjadi pembicara menyampaikan maksud kepada lawan pembanding. tutur (Nafisah).

  (HBE, KCB2: 24)

  87 Peristiwa di samping adalah

  kebluk!” kau ini sudah akil peristiwa campur kode kata, masuknya

  unsur bahasa Jawa

  baligh Na!...‖ ‗kebluk‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 39) tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗tidur dari waktu pagi hingga siang‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) mempermudah menyampaikan maksud kepada lawan tutur.

  88 Hampir bersamaan mereka Peristiwa di samping adalah

  berdua membaca istirja. masing-masing peristiwa campur kode

  89 kata bentuk deskripsi, dan yang kedua

  kita takziah ke sana sekarang m bentuk dialog, masuknya unsur bahasa bak‖

  (HBE, KCB2: 44) Arab

  istirja‘ dan ‗takziah‘ ke dalam teks

  dan tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang ketika ada orang yang meninggal sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  90 Husna diam mendengarkan. Peristiwa di samping adalah

  Kematian selalu menjadi ibrah peristiwa campur kode kata bentuk baginya. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  (HBE, KCB2: 45)

  ‗ibrah‘ ke dalam teks bahasa Indonesia

  yang berarti ‗contoh‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud kepada pembaca.

  91 Husna: Peristiwa di samping adalah

  ―Baiklah, kalau ayah tidak mau membelikan maka peristiwa campur kode kata bentuk dialog Husna akan minggat. yang dilakukan tokoh Husna, masuknya

  (HBE, KCB2: 46) unsur bahasa Jawa

  ‗minggat‘ ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗pergi tanpa pamit‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Husna) mempermudah menyampaikan maksud.

  92 Peristiwa di samping adalah Husna: ―Ayah saya hanyalah

  seorang guru MI swasta yang peristiwa campur kode kata bentuk dialog nyambi jualan soto di pasar yang dilakukan tokoh Husna, masuknya

  unsur bahasa Jawa

  Kartasura‖ ‗nyambi‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 65) tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗sambil‘ Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas bahwa penutur (Husna) adalah penutur Jawa.

  93 Peristiwa di samping adalah Anna: ―Saya awam sastra tapi

  cerita Mbak Husna tadi tentang peristiwa campur kode kata bentuk dialog bagaimana ia berjuang untuk yang dilakukan tokoh Anna, masuknya survive dengan menulis unsur bahasa Inggris

  ‗survive‘ ke dalam bagisaya adalah juga sebuah

  tuturan bahasa Indonesi yang berarti karya sastra. ‗mempertahankan hidup‘. Fungsi campur

  (HBE, KCB2: 67) kode tersebut adalah menunjukkan keterpelajaran penutur (Anna) yang mengerti bahasa Inggris. .

  94 Peristiwa di samping adalah ―mumet aku kalau disuruh nulis

  Na. mending nanam padi di peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Siti, masuknya sawah!‖ Tukas Siti. (HBE, KCB2: 74) unsur bahasa Jawa ‗mumet‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗pusing‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Siti) menunjukkan identitas bahwa dirinya adalah penutur

  Jawa.

  95 Zumrah: Peristiwa di samping adalah

  ―…da ekonomi kelurga sedang susah- peristiwa campur kode kata bentuk dialog susahnya. Aku manut sama yang dilakukan tokoh Zumrah, orang tua. masuknya unsur bahasa Jawa

  ‗manut‘ ke

  (HBE, KCB2: 77) dalam tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗nurut‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Zumrah) menunjukkan identitas bahwa ia penutur Jawa.

  Tayangan kedua adalah acara

  96 Peristiwa di samping adalah

  di Graha Bhakti Budaya TIM peristiwa campur kode kata bentuk yang di siarkan secara live se- deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris Indonesia.

  ‗live‘ ke dalam teks bahasa Indonesia

  (HBE, KCB2: 133) yang berarti ‗langsung‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud pengarang kepada pembaca.

  97 Peristiwa di samping adalah

  ―Berita wawancara itu lagi

  peristiwa campur kode kata bentuk

  ya?‖ tanya Bu Nafis pada putrinya sambil membawa deskripsi, masuknya unsur bahasa sepiring mendoan. Jawa ‗mendoan‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB2: 136) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, kata tersebut merupakan nama makanan bahan dasar tempe goreng yang umum dan biasa dikonsumsi masyarakat Jawa.

  98 Peristiwa di samping adalah

  ―Mbak Eliana, ini cethol asli waduk Cengklik. Sangat gurih peristiwa campur kode kata bentuk dialog rasanya. Sangat pas untuk lauk yang dilakukan tokoh Lia, masuknya unsur bahasa Jawa

  pecel…‖ Ujar Lia sambil ‗cethol‘ ke dalam menuang teh ke cangkir tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur

  (HBE, KCB2: 154) kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Lia) menyebutkan nama makanan dari bahan ikan kecil-kecil yang umum dan biasa dikonsumsi masyarakat Jawa.

  99 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah As peristiwa campur kode kata bentuk dialog Sakandari bukanlah orang yang yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya tawadhu , bahkan sejatinya unsur bahasa Arab

  ‗tawadhu‘ ke dalam orang yang sombong tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur

  (HBE, KCB2: 186) kode tersebut adalah penutur (Azzam) mebicarakan topik tertentu tenatng tawadhu. 100 Tepat jam delapan aqad nikah Peristiwa di samping adalah

  dilangsungkan. Furqan peristiwa campur kode kata bentuk menjawab qabiltu dengan

  deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab lancar tanpa keraguan.

  ‗qabiltu‘ ke dalam teks bahasa Indonesia

  (HBE, KCB2: 200) yang bermakna ‗aku terima‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menggambarkan bahwa tokoh Furqan menunjukkan identitas yakni bisa berbahasa Arab saat ijab kabul dalam akad nikahnya. 101

  Peristiwa di samping adalah

  ―itu tukang becak nyawanya rangkap kali. Nylonong peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya

  sembarangan. Dasar!‖ umpat Azzam spontan. unsur bahasa Jawa ‗nylonong‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 211) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud penutur (Azzam) 102 Ibu Nafisah: ―…mereka baik.

  Tapi ibu ingin yang lebih baik lagi. Ibu sedikit punya ilmu titen. Menurut yang Ibu amati kok kedua gadis itu kurang cocok untukmu…‖

  ‗Lusan‘, ‗telu‘, ‗pisan‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  ―Tolong, Dik, dengarkan ceritaku dulu,

  tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode penutur (Azzam) menghormati lawan tuturnya (Ilyas) yang sedang berkunjung ke rumah Azzam. 107 Furqan:

  ‗antum‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 277) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya unsur bahasa Arab

  ―selepas shalat subuh langsung kemari‖

  ILyas:

  ―pagi sekali antum datang. Berangkat dari Pedan jam berapa?‖

  Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Lia) membicaarkan topik tertentu 106 Azzam:

  (HBE, KCB2: 253) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Lia, masuknya unsur bahasa Jawa

  Azzam:

  ―pantangan anak pertama menukah dengan anak ketiga di Solo disebut lusan. Nomor telu artinya tiga menikah dengan pisan, artinya satu.

  Lia:

  103 104 105

  tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur dan lawan tutur sedang membicarakan topik tertentu mengenai masalah ilmu titen.

  ‗titen‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 248) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Ibu Nafisah, masuknya unsur bahasa Jawa

  …‖

  ―Ibu itu pakai ilmu titen segala

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Furqan, masuknya Anna:

  ―Baik Mas, akan aku dengar. Tapi mendengar pengakuanmu itu hatiku sudah sakit‖

  …Mimpi yang shadiq, yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian. Itu terjadi karena mereka benar-benar adalah pewaris nabi…

  ‗jinabat‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 337) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Anna, masuknya unsur bahasa Arab

  ―…apa ada dalam kitab kuning yang memastikan bahwa kalau ada orang mandi sebelum subuh pasti Jinabat, pasti baru saja melakukan hal itu?‖ Jawab Anna.

  110

  Indones ia ‗benar‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempertegas maksud.

  ‗shadiq‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB2: 330) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  109

  (HBE, KCB2: 310) unsur bahasa Arab

  tuturan bahasa Indonesia yang berarti ‗perdamaian‘. Fungsi campur kode tersebut adalah Penutur (Furqan) mempermudah menyampaikan maksud.

  ‗ishlah‘ ke dalam

  (HBE, KCB2: 328) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata bentuk dialog yang dilakukan tokoh Furqan, masuknya unsur bahasa Arab

  ―kami sama sekali tidak perlu ishlah. Malah akan semakin menyiksa dua keluarga saja…‖

  108 Furqan:

  tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗aku berharap padamu‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Furqan) memperhalus tuturan kepada lawan tutur (Anna) agar Anna mau mendengarkan penjelasannya.

  ‗arjuk‘ ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗mandi hadas besar‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Anna) mempermudah menyampaikan maksud.

  111 Pak Kiai: Peristiwa di samping adalah

  ―Apa pantas Bu, orang yang pernikahan peristiwa campur kode kata bentuk dialog putrinya saja gagal kok yang dilakukan tokoh Pak Kiai, memberi mauidhah pernikahan masuknya unsur bahasa Arab

  ‗mauidhah‘ orang orang lain. Itu namanya ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang kabura maqtan ‗indallah!‖ berarti ‗teladan‘. Fungsi campur kode

  (HBE, KCB2: 345) tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud Pak Kyai kepada lawan tutur (Bu Nafis) 112 Kiai Lutfi: Peristiwa di samping adalah

  ―Nanti Abah bisa kirim surat taukil ke KBRI peristiwa campur kode kata bentuk dialog

  yang dilalukan tokoh Kiai Lutfi,

  untuk menikahkan kamu‖

  (HBE, KCB2: 380) masuknya unsur bahasa Arab

  ‗taukil‘ ke

  dalam tuturan bahasa Indonesia yang bermakna ‗surat kuasa‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Kiai Lutfi) mempermudah menyampaikan maksud.

  menjalani hidup

  113 Filosofi Peristiwa di samping adalah peristiwa

  mengalir bahgaikan air yang campur kode kata bentuk deskripsi, dimaknai dengan hidup santai masuknya unsur bahasa Inggris saja, atau hidup apa adanya ‗prototipe‘ ke dalam tuturan bahasa bisa dibilang prototipe, gaya Indones ia yang bermakna ‗apa adanya‘. hidup sebagaian besar Fungsi campur kode tersebut adalah

  pengarang menunjukkan keterpelajaran

  pendudujk negeri ini..‖

  (HBE, KCB2: 396 kepada pembaca bahwa pengarang mampu berbahsa Inggris. 114 Anna melihat inbox emailnya. Peristiwa di samping adalah

  Email terbaru dari Furqan. peristiwa campur kode kata bentuk

  (HBE, KCB2: 403) deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris ‗inbox‘ ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal yang umum dan biasa dikenal orang sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  Berdasarkan tabel di atas campur kode bentuk dialog para tokoh terdapat 50 data, sedangkan bentuk deskripsi terdapat 64 data, campur kode deskripsi lebih dominan dibandingkan dengan campur kode dialog hal ini terjadi karena penulis novel terbawa arus kemultilingualannya sehingga mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. Jumlah keseluruhan wujud campur kode kata adalah 114 data, terdiri dari 24 campur kode berbahasa Jawa, yaitu ditunjukkan pada nomor 1, 2, 5, 8, 12, 26, 31, 42, 55, 61, 73, 83, 87, 91, 92, 94, 95, 97, 98, 101, 102, 103, 104, 105. Campur kode bahasa Arab terdapat 54 data, ditunjunkkan pada nomor 9, 10, 11, 14, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 29, 30, 33, 35, 37, 38, 39, 40, 41, 43, 44, 45, 48, 50, 54, 56, 59, 64, 67, 68, 72, 74, 75, 79, 80, 81, 84, 85, 88, 89, 90, 99, 100, 106, 107, 108, 109, 110, 111, 112. Sedangkan campur kode bahasa Inggris 36 data, yaitu pada nomor 3, 4, 6, 7, 13, 15, 16, 19, 28, 32, 34, 36, 46, 47, 49, 51, 52, 53, 57, 58, 60, 62, 63, 65, 69, 70, 71, 76, 77, 78, 82, 86, 93, 96, 113, 114.

  Fungsi campur kode wujud kata terdiri dari, (1) menghormati lawan tutur terdapat 7 data, terdapat pada nomor 1, 2, 26, 41, 45, 50, 106. (2) kebutuhan kosakata terdapat 36 data, ditunjukkan pada nomor 10, 13, 14, 17, 20, 21, 22, 23, 24, 29, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 40, 43, 44, 49, 54, 58, 59, 60, 65, 66, 68, 75, 77, 78, 81, 88, 89, 97, 98, 114. (3) yang berfungsi sebagai mempermudah menyampaikan maksud ada 35 data ditunjukkan pada nomor 4, 5, 15, 16, 19, 28, 30, 39, 46, 47, 51, 56, 63, 64, 67, 70, 71, 74, 76, 82, 84, 86, 87, 90, 91, 96, 101, 108, 110, 111, 112. (4) membicarakan topik tertentu terdapat 7 data, ditunjukkan pada nomor 72, 79, 99, 102, 103, 104, 105. (5) menunjukkan identitas terdiri dari 8 data, pada nomor 12, 31, 42, 55, 92, 94, 95, 100. (6) menunujukkan keterpelajaran terdapat mempertegas sesuatu terdiri dari 6 data, pada nomor 3, 9, 57, 62, 73, 109. (8) fungsi memperhalus tuturan terdapat 5 data, 27, 61, 83, 85, 107. (9) berfungsi menunjukkan keakraban terdapat 2 data yaitu pada nomor 7 dan 52. (10) pengisi dan penyambung kalimat terdapat 1 data yaitu nomor 9.

  

Tabel 2

B. Wujud Campur Kode Berbentuk Frasa No.

  Teks Analisis

  1 Astagfirullah ! Ia beristigfar Peristiwa di samping adalah (HBE, KCB1: 38) peristiwa campur kode frasa bentuk deskripsi,, masuknya unsur bahasa Arab

  ‗Astagfirullah‘ ke dalam teks bahasa Indonesia bermakna ‗mohom ampun‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata yaitu frasa yang biasa diucapkan umat islam untuk menyesali perbuatan.

  2 Azzam bertasbih, Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk

  Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan dialog yang dilakukan oleh tokoh Azzam,

  masuknya unsur bahasa Arab

  alam seindah ini‖

  (HBE, KCB1: 40) ‗Subhanallah‘ berarti ‗maha suci Allah‘ dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata yaitu frasa

  ‗Subhanallah‘ biasa

  digunakan umat islam ketika melihat kebesaran ciptaan Allah.

  3 Peristiwa di samping adalah

  ―Baik Pak, mari Pak,

  peristiwa campur kode frasa bentuk

  assalamu‟alaikum kata

  (HBE, KCB1: 66) masuknya unsur bahasa Arab ‗assalamu‘alaikum‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, yaitu ucapan salam yang biasa digunakan umat islam.

  4

  Waalaikumussalam, sampai ketemu besok‖. Jawab Pak Ali.

  (HBE, KCB1: 66) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya unsur bahasa Arab ‗Walaikumussalam‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, yaitu ucapan menjawab salam yang biasa digunakan umat Islam.

  5 Eliana: ―French kiss, ciuman khas perancis.

  (HBE, KCB1: 67) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya unsur bahasa Inggris ‗French

  kiss‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia

  bermakna ‗ciuman khas Prancis‘ Fungsi campur kode tersebut penutur (Eliana) sedang membicarakan topik tertentu bersama lawan tuturnya (Azzam) tentang ‗French kiss‘.

  6 Azzam shalat Tahiyatul

  Masjid. Lalu shalat Qobliyah subuh.

  (HBE, KCB1: 75) Peristiwa di samping adalah campur kode frasa bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  ‗Tahiyatul Masjid‘ ke

  dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut kebutuhan kosakata yaitu pengarang menyebutkan nama shalat sunah yang biasa dilakukan umat Islam ketika memasuki masjid.

  7 Peristiwa di samping termasuk Pak Ali: ―Aku hanya bisa kerja

  part time di toko swalayan di campur kode frasa bentuk dialog yang

  dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya unsur London‖. (HBE, KCB1: 84) bahasa Inggris ‗part time‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, bermakna ‗separuh waktu‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud penutur (pak Ali) kepada lawan tutur (Azzam).

  8 Peristiwa di samping termasuk Pak Ahmad: ―Dia salehah insya

  Allah. Begini Li. Kalau kau campur kode frasa bentuk dialog yang

  mau ku harus ke Mesir. (HBE, dilakukan tokoh Pak Ahmad, masuknya

  KCB1: 86)

  unsur bahasa Arab ‗insya Allah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata yaitu ucapan yang biasa digunakan umat Islam untuk menyebutkan sesuatu yang belum pasti.

  9 Pak Peristiwa di samping termasuk Ahmad: ―Menggantikan pekerjaan Almarhum suami campur frasa bentuk dialog yang janda itu. Yaitu cleaning dilakukan tokoh Pak Ahmad, masuknya service merangkap sopir KBRI. unsur bahasa Inggris ‗cleaning service‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Bagaimana Li, kamu mau?‖ (HBE, KCB1: 87) Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata,

  ‗cleaning service‘ biasa digunakan dalam kehidupan sehari- hari, jika menggunakan bahasa Indonesia hasilnya tidak pas.

  10 Pak Peristiwa di samping adalah campur Ali: ―Aku lalu menjawab, baiklah bismillah kode frasa bentuk dialog yang dilakukan saya mau‖

  (HBE, KCB1: 87) tokoh Pak Ali, masuknya unsur bahasa Arab ‗bismillah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, ucapan yang biasa digunakan umat Islam untuk memulai sesuatu.

  11 Peristiwa di samping adalah campur Pak Ali: ― …Alhamdulillah kami sudah punya rumah di kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya unsur bahasa Solo Baru‖.

  (HBE, KCB1: 87) Arab ‗Alhamdulillah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesi a yang bermakna ‗puji sukur kepada Allah‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, ucapan yang biasa digunakan umat Islam jika mendapat karunia dari Allah.

12 Peristiwa di samping adalah Azzam: ―saya juga Pak Ali.

  Kalau begitu kita cari peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan Azzam, ditandai

  tha‟miyah bil baidh di luar

  dengan masuknya unsur bahasa Arab hotel yuk?‖ (HBE, KCB1: 97)

  ‗tha‘miyah bil baidh‘ fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Azzam) menyebutkan makanan khas mesir yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang mesir dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

  13 Azzam: Peristiwa di samping adalah ―Apa makanan peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Pak Ali, PaK Ali: ―Habasy takanat‖ ditandai dengan masuknya unsur bahasa Azzam: ―yang benar Pak? Masak gadis selangsing dia

  Arab ‗habasy takanat.‘ fungsi campur suka kode tersebut adalah kebutuhan kosakata,

  habasyi takanat?”

  (HBE, KCB1: 100) penutur (Pak Ali) menyebutkan makanan khas mesir yang juga biasa dikonsumsi oleh orang-orang mesir dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

  14 Peristiwa di samping adalah Tiara: ―Yuk kita keluar. Kita ke

  Hadiqah Dauliyah peristiwa campur kode frasa bentuk …‖

  (HBE, KCB1: 135) dialog yang dilakukan tokoh Tiara, masuknya unsur bahasa Arab ‗Hadiqah

  Dauliyah ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Tiara) menyebutkan sebuah taman kota Mesir yang bernama ‗Hadiqah Dauliyah‘.

  15 Peristiwa di samping adalah Azzam: ―…percayalah, siapa jodohmu sudah ditulis di peristiwa campur kode frasa bentuk

  Lauhul Mahfudz dialog yang dilakukan tokoh Azzam.

  …‖ (HBE, KCB1: 138) masuknya unsur bahasa Arab ‗Lauhul

  Mahfudz ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Azzam) mngucapkan hal umum yang biasa digunakan umat Islam mengenai sesuatu yang berhubungan dengan takdir.

  16 ..mereka sebut Hadiqah Peristiwa di samping adalah

  Dauliyah, artinya Internasional peristiwa campur kode frasa bentuk Garden, Taman Internasionl. deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  (HBE, KCB1: 139) ‗Internasional Garden‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menjelaskan topik tertentu tentang Taman Internasional kepada pembaca.

  17 ..lulus S1 dua tahun yang lalu Peristiwa di samping adalah dengan predikat mumtaz, atau peristiwa campur kode frasa bentuk

  summa cumlaude. deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  (HBE, KCB1: 144) ‗summa cumlaude‘ ke dalam teks bahasa Indonesia ‗istimewa sekali‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan istilah umum yang biasa digunakan dalam bidang akademik.

  18 Peristiwa di samping adalah …hanya satu bulan saja sejak proposal tesisnya itu ia ajukan peristiwa campur kode frasa bentuk ke deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab Qism Diraasat „Ulya.

  (HBE, KCB1: 144) ‗Qism Diraasat ‗Ulya‘ ke dalam teks bahasa Indonesia bermakna ‗program pascasarjana‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan istilah umum yang biasa digunakan mahasiswa mesir menyebutkan tempat program pascasarjana.

  19 Peristiwa di samping adalah …saat itu ia hanya menjawab, peristiwa campur kode frasa bentuk

  ―Inggih, sekedap” dan ia masih konsentrasi membaca buku yang dialog tokoh Anna, masuknya unsur bahasa Jawa baru ia beli… ‗inggih, sekedap‘ ke dalam

  (HBE, KCB1: 146) sebentar‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menggambarkan penutur (Anna) memperhalus tuturannya kepada lawan tuturnya yaitu ibunya.

  20 Peristiwa di samping adalah Miftah: ―kang, ada berita peristiwa campur kode frasa bentuk

  menarik?‖

  dialog yang dilakukan tokoh miftah, Azzam : ―Apa itu?‖ Miftah: ―Nanti malam ada masuknya unsur bahasa Arab ‗Darul

  Syaikh Yusuf Al Qardhawi di Munasabat ke dalam teks bahasa Darul Munasabat kalau mau Indonesia. Fungsi campur kode tersebut datang, Shalat Magrib di sana.. adalah penutur kebutuhan kosakata,

  (HBE, KCB1: 173) karena Darul Munasabat sudah biasa dan umum di ketahui oleh mahasiswa Mesir, yang berarti gedung serba guna.

  21 Peristiwa di samping adalah Anna: ―…kalau boleh tanya toko buku Daarut Tauzi itu di peristiwa campur kode frasa bentuk mana ya? dialog yang dilakukan tokoh Anna, Azzam: ―sebentar…Halte masuknya unsur bahasa Arab ‗Daarut depan. Sebelah kiri jalan ada Tauzi

   ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  tulisaanya kok. Fungsi campur kode tersebut adalah (HBE, KCB1: 186) kebutuhan kosakata karena frasa tersebut sudah umum digunakan oleh mahasiswa mesir untuk menyebutkan nama sebuah toko buku.

  22 Peristiwa di samping adalah Zahraza: ―Erna, kenape muka awak pucat macam tu? Fi eh? peristiwa campur kode frasa bentuk (HBE, KCB1: 186) dialog yang dilakukan tokoh Zahraza, masuknya unsur bahasa Arab ‗fi eh‘ bahasa Malaysia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas yaitu zahraza dan Erna mahasiswa Kairo yang mengerti bahasa Arab.

  23 Peristiwa di samping adalah

  Zahraza: ―Sst..by the way dia handsome peristiwa campur kode frasa bentuk tak?‖ Erna melototkan matanya. Namun dialog yang dilakukan tokoh Zahraza, zahraza tak takut. masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗by the (HBE, KCB1: 207) way ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (zahraza) menunjukkan keterpelajarannya di depan lawan tutur (Erna).

  24 Peristiwa di samping adalah

  ―Beres. Setelah shalat Isya nanti aku beli firakh masywi. peristiwa campur kode frasa bentuk Yang dirumah tinggal menanak dialog yang dilakukan tokoh Ali,

  ‗firakh

  masuknya unsur bahasa Arab nasi saja!‖ jawab Ali.

  masywi

  (HBE, KCB1: 225)

   ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan makanan khas mesir yang biasa dikenal dan dikonsumsi masyarakat Mesir.

  25 Peristiwa di samping adalah

  Eliana: ―ini Mas, to the point

  peristiwa campur kode frasa bentuk

  saja ya?‖

  (HBE, KCB1: 228) dialog yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya unsur bahasa Inggris ‗to the

  point ke dalam tuturan bahasa Indonesia

  bermakna ‗langsung saja‘. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan keterpelajaran bahwa penutur (Eliana) mampu berbahasa Inggris.

  26 Peristiwa di samping adalah

  …minuman yang ia pilih syail bil halib hangat. peristiwa campur kode frasa bentuk

  (HBE, KCB1: 240) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗syail bil halib‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan minuman yang biasa dan umum di konsumsi masyarakat Mesir.

  27 Azzam tersentak. Seluruh Peristiwa di samping adalah

  pengghuni rumah itu juga peristiwa campur kode frasa bentuk

  dialog tokoh Badan Intelijen Mesir,

  terbangun kaget! Dan… iftahil baab! masuknya unsur bahasa Arab

  ‗iftahil

  Ada suara mengetuk pintu baab ke dalam teks bahasa Indonesia, dengan keras.

  ‗buka pintu‘ berarti Fungsi campur kode (HBE, KCB1: 256) tersebut adalah pengarang menunjukkan identitas bahwa Badan Intelijen Mesir yang digambarkan, adalah kepolisian asli Mesir yang mampu berbahasa Arab.

  28 Badan intelijen: Peristiwa di samping adalah

  ―…jika ada di rumah ini, kalian smua akan peristiwa campur kode frasa bentuk kami bawa! Kami mabahits dari dialog yang dilakukan tokoh Badan amn daulah Intelijen, masuknya unsur bahasa Arab

  

  (HBE, KCB1: 257) ‗amn daulah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia bermakna ‗keamanan negara‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah badan intelijen menunjukkan identitas bahwa ia berasal dari keamanan Negara Mesir.

  29 Badan intelijen Peristiwa di samping adalah

  :‖ jadi, penjahat itu menamakan dirinya miss peristiwa campur kode frasa bentuk italiana dialog yang dilakukan tokoh Badan

  ?‖

  Intelijen, masuknya unsur bahasa Inggris

  Furqan:‖ya‖

  (HBE, KCB1: 299)

  ‗miss italiana‘ ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia ‗nona Italia‘. Fungsi campur kode tersebut adalah Furqan dan badan itelijen membicarakan topik tertentu tentang miss italiana.

  30 Peristiwa di samping adalah

  …tahun pertama di Al Azhar gadis itu langsung lulus naik peristiwa campur kode frasa bentuk tingkat dua dengan predikat deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab jayyid jiddan. ‗jayyid jiddan‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 305) Indonesia bermakna ‗baik sekali‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan mahasiswa Mesir dalam menyatakan prestasi akademik sehingga orang-orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  31 Wan Aina: Peristiwa di samping adalah

  ―Jangan Khawatir Kak, dalam satu jam ke depan, peristiwa campur kode frasa bentuk saya akan kasih print out dialog yang dilakukan tokoh Wan Aina,

  masuknya unsur bahasa Inggris

  makalah…‖ ‗print

  (HBE, KCB1: 340) out ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan, sehingga orang-orang lebih mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  32 Peristiwa di samping adalah

  ―Yah sekali lagi ahlan wa sahlan di Indonesia. Jika ada peristiwa campur kode frasa bentuk yang bisa saya bantu akan saya dialog yang dilakukan tokoh Furqan,

  masuknya unsur bahasa Arab

  bantu…‖ Jawab Furqan dengan ‗ahlan wa hati gembira. sahlan ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB1: 349) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Furqan) menghormati lawan tutur (Sara, Putri Prof. Sa‘duddin).

  33 Ia meyakini kekuatan optimisme Peristiwa di samping adalah

  dan mind magic yang acapkali peristiwa campur kode frasa bentuk dilontarkan oleh motivator- deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris motivator kaliber dunia ‗mind magic‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 369) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang memudahkan menyampaikan maksud kepada pembaca. Jika tidak menggunakan bahasa Inggris maka hasilnya kurang pas.

  34 Eliana: Peristiwa di samping adalah

  ―…‗Dewi-dewi Cinta‘, Tayang seminggu sekali tiap peristiwa campur kode frasa bentuk malam Minggu jam delapan dialog yang dilakukan tokoh Eliana, malam. Prime time masuknya unsur bahasa Inggris lho, Mas..‖ ‗prime

  (HBE, KCB1: 405) time ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah mencari jalan termudah menyampaikan maksud penutur (Eliana) kepada lawan tutur (Azzam).

  35 Peristiwa di samping adalah

  Dalam hati Azzam berkata: ― Setelah itu Kakak akan peristiwa campur kode frasa bentuk

  menikahkan kalian dengan dialog yang dilakukan tokoh Azzam,

pemuda yang saleh, bi masuknya unsur bahasa Arab

‗bi idznillah. idznillah

   ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB1: 410) Indonesia bermakna ‗dengan izin Allah‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang muslim jika ingin melakukan sesuatu atau janji pada dirinya sendiri sehingga pembaca mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  36 Ujian bagi Fadhil belum Peristiwa di samping adalah

  selesai. Ia masih harus peristiwa campur kode frasa bentuk menghadapi satu ujian lagi. deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab Mendendangkan nasyid dalam ‗walimatul ursy‘ ke dalam teks bahasa pesta walimatul ursy.

  Indonesia bermakna ‗perayaan (HBE, KCB1: 444) pernikahan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud pengarang kepada pembaca.

37 Peristiwa di samping adalah ―Mas Irul langsung saja masuk.

  Eliana sudah di dalam. Sepuluh peristiwa campur kode frasa bentuk menit lagi chek in dialog yang dilakukan tokoh Pak Ali, tutup!‖ kata Pak Ali seketika itu juga masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗chek in‘ mengingatkan Azzam. ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  (HBE, KCB1: 464) Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang ketika di bandara penerbangan sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  38 Setelah mengambil boarding Peristiwa di samping adalah

  pass, Azzam berjalan menuju masing-masing peristiwa campur kode ruang tunggu pemberangkatan. frasa bentuk deskripsi, Masuknya unsur Tas ransel dan tas jinjingnya bahasa Inggris

  ‗boarding pass‘ dan free harus melewati detector duty ke dalam teks bahasa Indonesia. terakhir untuk dilihat isinya. Fungsi kedua campur kode tersebut Tak ada masalah, ia lalu adalah kebutuhan kosakata, unsur

  39

  berjalan melewati free duty. tersebut merupakan istilah umum yang

  (HBE, KCB1: 465) biasa digunakan ketika di bandara sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  40 Anna: Peristiwa di samping adalah

  ―wah baru empat bulan sudah cetakan ke-5, berarti ini peristiwa campur kode frasa bentuk buku best seller dialog yang dilakukan tokoh Anna. ya Fis‖

  (HBE, KCB2: 25) masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗bestseller‘ ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang untuk menyebutkan sesuatu yang laris dibidang penerbitan buku sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  41 Azzam: Tapi bahasamu adalah Peristiwa di samping adalah

  bahasa jiwa para satrawan dan peristiwa campur kode frasa bentuk pujangga orisinil dari dialog yang dilakukan tokoh Azzam,

  malakatun nafsi, bakat jiwa. masuknya unsur bahasa Arab ‗malakatun

  (HBE, KCB2: 65) nafsi ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) di dalam suratnya mempertegas maksud bahwa adiknya (Husna) memiliki bakat jiwa yang bagus jika dikembangkan.

  42 Peristiwa di samping adalah ―sugeng rawuh Mbak‖. Sapa

  ibu Rina dengan bahasa jawa peristiwa campur kode frasa bentuk halus dialog yang dilakukan tokoh Ibu Rina,

  (HBE, KCB2: 106) masuknya unsur bahasa Jawa

  ‗sugeng rawuh ke dalam tuturan bahasa Indonesia berarti ‗selamat datang‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Ibu Rina) menunjukkan identitas bahwa ia juga berasal dari Jawa dan bisa berbahasa Jawa.

43 Husna: Peristiwa di samping adalah ―Allahu a‟lam Dik.

  Jika jodoh tak ada yang bisa peristiwa campur kode frasa bentuk menolak. Jika tidak jodoh tak dialog yang dilakukan tokoh Husna, ada yang bisa masuknya unsur bahasa Arab ‗Allahu mempertemukan.‖ a‘lam‘ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 111) Indonesia, bermakna ‗Allah Maha Tahu‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang ketika sesuatu yang tidak bisa diketahu pasti, sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  44 ―Tapi aku yakin besok pagi

  cooker masih penuh…

  ‗by research ke dalam tuturan bahasa

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Ilyas, masuknya unsur bahasa Inggris

  Tapi kalau S2 langsung by

  Ilyas: …Setahu saya pasti ada.

  ya kuliah S2 yang langsung menulis tesis begitu?

  bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan alat memasak yang biasa diketahui oleh orang banyak.

  ‗rice cooker‘ ke dalam teks

  (HBE, KCB2: 174) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk deskkripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  46 Tadi sore ia melihat di nasi rice

  wawancara tadi bakal jadi head line surat kabar dan akan jadi berita dan gosip…‖ ujar Luna

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Eliana) mempermudah menyampaikan maksud.

  ‗go internasional ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 129) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya unsur bahasa Inggris

  membacakan lagi, sebuah puisi saya panggilkan seorang artis paapan atas Indonesia. Seorang artis berbakat yang sudah go international. Kita panggil Emra Giza Humaira.

  a: ―selanjutnya untuk

  45 Elian

  bermakna ‗berita utama‘. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkaan keterpelajaran penutur (Luna) yaitu seorang jurnalis.

  ‗head

line

ke dalam tuturan bahasa Indonesia,

  (HBE, KCB2: 124) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Luna, masuknya unsur bahasa Inggris

47 Azzam: ―…di India ada nggak

  research artinya langsung nulis Indonesia. Fungsi campur kode tersebut tesis, di adalah penutur (Ilyas) mempermudah Malaysia ada‖

  (HBE, KCB2: 199) menyampaikan maksud kepada lawan tutur (Azzam).

  48 Peristiwa di samping adalah Ibu Nafisah: ―dipaskan seratus

  lima puluh saya ya mbak peristiwa campur kode frasa bentuk

  dialog yang dilakukan tokoh penjual,

  semuanya‖

  masuknya unsur bahasa Jawa Penjual: ―aduh nyuwun sewu ‗nyuwun

  sanget sewu sanget Bu, tidak bisa‖ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 210) Indones ia, bermakna ‗mohon maaf sekali‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Penjual) memperhalus tuturan kepada pembeli (Ibu Nafisah).

  49 Peristiwa di samping adalah Husna: ―...Dan kau seperti

  perampok yang masuk rumah peristiwa campur kode frasa bentuk tanpa kulo nuwun dialog yang dilakukan tokoh Husna, dulu!‖

  Paman Zumrah: masuknya unsur bahasa Jawa

  ―Baik, ‗kulo nuwun maafkan kelancanganku…‖ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 229) Indones ia, bermakna ‗mohon izin‘ Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Husna) mempertegas maksud tuturan kepada lawan tutur (Paman Zumrah).

  50 Azzam terus memutar otaknya Peristiwa di samping adalah

  untuk mendapatkan cash flow peristiwa campur kode frasa bentuk dengan cepat. deskripsi, masuknya unsur bahasa

  (HBE, KCB2: 240) Inggris

  ‗cash flow‘ ke dalam teks bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempermudah menyampaikan maksud menggambarkan tokoh azzam kepada pembaca.

  51

  …Furqan menghadap kiblat lalu mengucapkan Takbiratul Ihram. Setelah Fatihah ia membaca surat Al Kafirun dan Al Ikhlas…

  (HBE, KCB2: 308) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  ‗Takbiratul Ihram‘ ke dalam teks

  bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan hal yang umum dan biasa dikenal umat Islam sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  52 Begitu sertifikat jadi Azzam

  langsung membuat semacam grand opening untuk warung baksonya dengan mengundang para aktifis kampus dan aktifis dakwah

  (HBE, KCB2: 373) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode frasa bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗grand opening‘ ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempermudah menyampaikan maksud kepada pembaca.

  Pada tabel di atas campur kode bentuk dialog terdapat 37 data, campur kode deskripsi 15 data. Campur kode dominan adalah campur kode bentuk dialog sehingga terlihat cerita menjadi lebih hidup yang ditimbulkan dari ketajaman warna lokal/dialek pada percakapan tokoh-tokohnya. Jumlah keseluruhan unsur campur kode berwujud frasa terdapat 52 data, terdiri dari campur kode bahasa Jawa berjumlah 4 data, ditunjukkan pada nomor 19, 42, 48, dan 49. Campur kode bahasa Arab terdapat 27 data, yaitu pada nomor 1, 2, 3, 4, 6, 8, 10. 11, 12, 13, 14, 15, 18, 20, 21, 22, 24, 26, 27, 28, 30, 32, 35, 36, 41, 43, 51. Campur kode bahasa Inggris terdapat 21 data, ditunjukkan pada nomor 5, 7, 9, 16, 17, 23, 25, 29, 31, 33, 34, 37, 38, 40, 43, 44, 45, 46, 47, 50, 52.

  Fungsi campur kode wujud frasa terdiri dari, (1) menghormati lawan tutur ditunjukkan pada nomor 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 20, 21, 24, 26, 30, 31, 35, 37, 38, 39, 40, 43, 46, 51. (3) mempermudah menyampaikan maksud terdapat 8 data, ditunjukkan pada nomor 8, 33, 34, 36, 45, 47, 50, dan 52.

  (4) membicarakan suatu topik terdapat 3 data, ditunjukkan pada nomor, 5, 16, 29. (5) menunjukkan identitas terdapat 4, data yaitu pada nomor 22, 27, 28, dan 42. (6) menunjukkan keterpelajaran terdapat 3 data, yaitu pada nomor 23, 25, 44. (7) mempertegas sesuatu terdapat 2 data, yaitu pada nomor 41 dan 49. (8) memeperhalus tuturan terdapat 2 data pula, yaitu ditunjukkan pada nomor 19, dan

  48. Sedangkan wujud campur kode frasa dengan fungsi menunjukkan keakraban dan sebagai pengisi dan penyambung kalimat tidak peneliti temukan.

  

Tabel 3

C. Wujud Campur Kode Berbentuk Klausa No. Teks Analisis

  1 Keteraturan ini menunjukkan,

  Tuhan yang menciptakan alam semesta ini adalah satu, yaitu Allah Azza wa Jalla. Tuhan yang Maha Kuasa. (HBE, KCB1: 42)

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa arab ‗Allah Azza wa Jalla‘ ke dalam teks bahasa Indonesia, bermakna ‗Allah yang tak terkalahkan dan yang mempunyai kebesaran‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, klausa yang biasa digunakan untuk menyebutkan nama Allah.

  2 Eliana:

  ―wow..gila! it‟s great dream, man ! Tak kuduga mas Khaerul punya impian segede itu.

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Eliana, masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗it‘s great Indonesia bermakna ‗mimpi yang hebat, kawan‘. Fungsi campur kode tersebut penutur (Eliana) menunjukkan keterpelajarannya dengan menggunakan bahasa Inggris di depan lawan tuturnya (Azzam).

  3 Peristiwa di samping termasuk Pak Ali: ―Di akhir zaman itu tidak sedikit perempuan cantik campur kode klausa bentuk dialog yang mempesona, namun sebenarnya dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya unsur adalah seorang pelacur. bahasa Arab ‗Na‘udzubillah‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia yang bermakna

  Na‟udzubillah

  (HBE, KCB1: 82) ‗kami meminta perlindungan Allah‘.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata yaitu ucapan yang biasa disebutkan umat islam agar hal tidak diinginkan tidak terjadi pada diri penutur.

  4 Peristiwa di samping termasuk Pak Ali: ―…sampai ia dijuluki

  Sri Devi from Bandung. Ia campur kode klausa bentuk dialog yang

  anak seorang diplomat. Ibunya dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya unsur asli India. Pokoknya cantiknya ba hasa Inggris ‗Sri Devi from Bandung‘ luar biasa

  ‖. (HBE, KCB1: 84) bermakna ‗Sri Devi dari Bandung‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, fungsi campur kode tersebut adalah membicarakan suatu topik.

  5 Peristiwa di samping adalah Gumam Azzam dalam hati: ―Ah semua sudah ada yang peristiwa campur kode klausa bentuk mengatur. Yaitu Allah dialog yang dilakukan tokoh Azzam,

  Subhanahu wa Ta‟ala.‖ (HBE, masuknya unsur bahasa Arab ‗Allah KCB1: 122) Subhanahu wa Ta‘ala‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia, yang bermakna Allah Maha Suci dan Maha Tin ggi‘. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Azzam) mngucapkan dalam hati hal umum yang biasa digunakan umat islam menyebutkan nama Allah.

  6 Penumpang laki-laki setengah Peristiwa di samping adalah baya berteriak keras, marah peristiwa campur kode klausa bentuk dialog tokoh penumpang bus, masuknya

  ―hasib ya hayawan” (HBE, KCB1: 182) unsur bahasa Arab ‗hasib ya hayawan‘ ke dalam teks bahasa Indonesia, bermakna ‗jangan sembrono hei hewan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menerangkan bahwa si penutur (laki-laki setengah baya) mempertegas ucapan kepada sang sopir agar berhati-hati.

  7 Peristiwa di samping adalah …ajaran itu senada dengan kata mutiara bahasa Arab yang peristiwa campur kode klausa bentuk sangat dahsyat: Man jadda deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab

  wajada

  … ‗Man jadda wajada‘ ke dalam teks (HBE, KCB1: 185) bahasa Indonesia, bermakna ‗siapa yang brsungguh- sungguh maka akan berhasil‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempertegas maksud untuk pembaca.

  8 Anna Peristiwa di samping adalah : ―Dari siapa?

  Azzam peristiwa campur kode klausa bentuk : ‖katakan saja dari

  thalib dzu himmah, dia pasti dialog yang dilakukan tokoh Azzam,

  (HBE, KCB1: 188) himmah

   ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) menunjukkan identistas kepada lawan tutur (Anna) bahwa dirinya adalah seorang mahasiswa yang memiliki cita-cita.

9 Spontan ia berteriak: ―na‟am

  ya alilal adab!”

  (HBE, KCB1: 256) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗na‘am ya alilal adab‖ ke dalam teks bah asa Indonesia, bermakna ‗ya hai orang kurang ajar‘. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang menggambarkantokoh Azzam mempertegas suatu tuturan untuk kepada badan intilijen.

  10 ―uedan, moderatornya siapa iu

  Cak? Cuantik, pinter dan bahasa Inggirsnya fasih buetul! Anake sopo yo kae?” seorang mahasiswa dari Surabaya berkomentar pada temannya.

  (HBE, KCB1: 345) Peristiwa campur kode kedua adalah peristiwa campur kode klausa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Mahasiswa Surabaya,, masuknya unsur bahasa Jawa ‗anake sopo yo kae?‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesi, bermakna ‗anaknya siapa ya dia itu‘. Fungsinya, menunjukkan identitas bahwa ia asli orang Jawa Surabaya.

  11

  ―ya waffaqakumllah,” tukas Furqan.

  (HBE, KCB1: 364) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Furqan, masuknya unsur bahasa Arab

  ‗waffaqakumullah‘ bermakna ‗semoga

  Allah memberimu taufik‘. ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan utuk mendoakan sesama muslim.

  12 Fadhil: Peristiwa di samping adalah ―jazakallah Kang. Aku sudah tahu apa yang harus peristiwa campur kode klausa bentuk dialog yang dilakukan tokoh Fadhil, kuputuskan!‖

  (HBE, KCB1: 438) masuknya unsur bahasa Arab

  ‗jazakallah‘

  ke dalam tuturan bahasa Indonesia bermakna ‗semoga Allah membalas‘ Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakanorang muslim, setelah seseorang diberi bantuan oleh orang lain.

  13 Husna dan Lia: “Inna lillahi Peristiwa di samping adalah campur kode klausa bentuk dialog yang

  wa inna ilaihi raaji‟un”.

  Hampir bersamaan mereka dilakukan tokoh Husna dan Lia, berdua membaca istirja. masuknya unsur bahasa Arab ‗Inna lillahi

  (HBE, KCB2: 44)

  wa inna ilaihi raaji‘un‘ ke dalam tuturan

  bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang ketika ada orang yang meninggal sehingga orang- orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  14 Dengan nada bercanda Eliana Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk

  menjawab ―iya!‖

  dialog yang dilakukan tokoh Husna,

  Husna menimbal ―Hayoh kapokmu kapan masuknya unsur bahasa Jawa

  ‗hayoh

  (HBE, KCB2: 159) kapokmu kapan

   ke dalam teks bahasa

  Indones ia, bermakna ‗ayo jeramu kapan‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Husna) menunjukkan keakraban kepada lawan tutur kakaknya (azzam) serta kepada Eliana.

  15 Husna: Peristiwa di samping adalah

  ―Iya benar Mbak Vivi,

  peristiwa campur kode klausa bentuk

  saya Ayatul Husna‖

  Vivi: dialog yang dilakukan tokoh Vivi,

  laa ilaaha illallah, subhanallah! Mimpi apa saya masuknya unsur bahasa Arab ‗laa ilaaha sampai ketemu orang yang saya illallah

   ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut

  kagumi?‖

  (HBE, KCB2: 290) adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal yang biasa dan umum digunakan sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  16 Azzam: Peristiwa di samping adalah

  ―Begitu Pak Kiai merasa ada yang pantas peristiwa campur kode klausa bentuk memakainya silakan Pak Kiai dialog yang dilakukan tokoh Azzam, pakaikan di jarinya. Azzam masuknya unsur bahasa Arab sami‘na wa akan sami‟na wa atha‟na…‖ atha‘na‘ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 384) Indonesia, bermakna ‗kami dengar dan kami taati‘. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Azzam) mempermudah menyampaikan maksud.

  Berdasarkan tabel di atas terdapat 14 data campur kode bentuk dialog yang dilakakukan para tokoh dan 2 data campur kode deskripsi yang dilakukan pengarang. Campur kode dominan adalah campur kode bentuk dialog sehingga terlihat cerita menjadi lebih hidup yang ditimbulkan dari ketajaman warna lokal/dialek pada percakapan tokoh-tokohnya. Jumlah keseluruhan wujud campur kode klausa terdapat 16 data. 2 data campur kode bahasa Jawa terdapat pada nomor 8 dan 10. Campur kode bahasa Arab terdapat 12 data, pada nomor 1, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 16 dan campur kode bahasa Inggris terdapat 2 data yaitu pada nomor 2 dan 4.

  Fungsi campur kode wujud klausa terdiri, (1) kebutuhan kosakata terdapat 7 data yaitu pada nomor 1, 2, 5, 11, 12, 13, 15. (2) mencari jalan termudah menyampaikan maksud dan Fungsi (4) membicarakan topik tertentu masing- masing terdapat 1 data, yaitu masing-masing pada nomor 16 dan 4. (5) menunjukkan identitas terdapat 2 data, yaitu pada nomor 8 dan 10. Fungsi menunjukkan keterpelajaran 1 data yaitu pada nomor 2, fungsi mempertegas sesuatu 3 data, yaitu pada nomor 6, 7, 9. Fungsi menunjukkan keakraban terdapat 1 data yaitu pada nomor 14. Fungsi menghormati lawan tutur, pengisi dan penyambung kalimat tidak peneliti temukan pada wujud campur kode klausa.

  Tabel 4

D. Wujud Campur Kode Berbentuk Kata Ulang No. Teks Analisis

  1 Pak Ali: Peristiwa di samping termasuk campur kode kata ulang bentuk dialog ―coba kaurenungkan, apakah ketika aku mewanti-wanti anak yang dilakukan tokoh Pak Ali, masuknya perempuan ku agar tidak unsur bahasa Jawa

  ‗wanti-wanti‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi mencontoh Nicole kidman….‖ (HBE, KCB1: 81) campur kode tersebut adalah memudahkan menyampaikan maksud

  (Azzam).

  Husna:

  ―Sudah, kamu jangan mbulet-mbulet. Ayo ikut aku

  Pak Kiai:

  ―jujur Pak Kiai, saya tidak siap‖

  5 Azzam:

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan identitas bahwa Si Ibu Siti adalah seorang penutur Jawa.

  ‗monggo- monggo ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 58) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata ulang bentuk dialog yang dilakukan tokoh Ibu Siti, masuknya unsur bahasa Jawa

  iya Bu. Kok Ibu tahu?‖

  Ada acara di pesanteren ya?

  2 Furqan: ―…kalau aku batalkan lamaranku dan aku memilih Eliana yang sudah jelas mengejarku aku takut dianggap lelaki plin-plan ‖. (HBE, KCB1: 108)

  Monggo-monggo masuk Na.

  4 Ibu Siti: Oh Nak Husna.

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut adalah hal yang sudah umum dan biasa dikenal oleh masyarakat.

  ‗milist-milist‘ ke dalam teks bahasa

  (HBE, KCB1: 349) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata ulang bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  milist-milist kalangan mahasiswa Indonesia di Cairo terkirim puluhan tahniah dan ucapan selamat.

  3 Di

  Fungsi campur tersebut penutur (Furqan) mencari jalan termudah menyampaikan maksud tanpa mengurangi maksud sesungguhnya.

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata ulang bentuk dialog yang dilakukan tokoh Furqan, masuk nya unsur bahasa jawa ‗plin-plan‘ ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode kata ulang bentuk dialog yang dilakukan tokoh pak Kiai, masuknya unsur bahasa Jawa

  mengambil kitab. Aku jelaskan mbulet ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut

  sampai di mana. Ayo Nak!‖

  (HBE, KCB2: 182) adalah penutur (Pak Kiai) mempermudah menyampaikan maksud kepada lawan tutur (Azzam).

  Berdasarkan tabel di atas campur kode bentuk dialog terdapat 4 data, campur kode bentuk deskripsi 1 data. Campur kode dominan adalah campur kode bentuk dialog sehingga terlihat cerita menjadi lebih hidup yang ditimbulkan dari ketajaman warna lokal/dialek pada percakapan tokoh-tokohnya. Jumlah keseluruhan wujud campur kode kata ulang ada 5 data. 4 data campur kode wujud bahasa Jawa dan 1 data wujud campur kode bahasa Inggris, tidak ada wujud campur kode bentuk kata ulang bahasa Arab.

  Fungsi campur kode kata ulang, yaitu (1) kebutuhan kosakata 1 data, pada nomor 3. (2) memudahkan menyampaikan maksud 3 data, yaitu pada nomor 1, 2, 5. (3) menunjukkan identitas 1 data pada nomor 4. Fungsi mengormati lawan tutur, membicarakan topik tertentu, fungsi keterpelajaran, mempertegas sesuatu, memperhalus tuturan, menunjukkan keakraban dan pengisi dan penyambung kalimat tidak peneliti temukan pada wujud campur kode kata ulang.

  

Tabel 5

E. Wujud Campur Kode Berbentuk Baster No. Teks Analisis

  1 Peristiwa di samping adalah Pak Ali: ―Mas Habasy takanat-

  nya biar saya saja yang peristiwa campur kode bentuk baster

  memberikannya.. bentuk dialog yang dilakukan tokoh Pak .‖ (HBE,

  KCB1: 101) Ali, ditandai dengan masuknya unsur

  bahasa Arab ‗habasy takanat.‘ Ditambah tersebut adalah kebutuhan kosakata, penutur (Pak Ali) menawarkan diri untuk membawa makanan khas mesir yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang mesir dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia untuk Eliana.

  2 Jawaban Furqan membuat Peristiwa di samping adalah Azzam langsung mengalihkan peristiwa campur kode baster bentuk pandangannya dari kakek deskripsi, ditandai dengan masuknya berjubah abu-abu ke wajah unsur bahasa Arab ‗kibdah‘ ditambah Furqan yang masih asyik adanya unsur

  ‗–nya‘ dalam teks bahasa

  dengan roti Kibdah-nya. Indonesia. Fungsi campur kode tersebut (HBE, KCB1: 106) adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan nama makanan khas Mesir

  (roti yang berbentuk panjang diisi hati sapi) yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. 3 begitu menyeberang Tayaran Peristiwa di samping adalah

  Steet, handphone-nya berbunyi peristiwa campur kode baster bentuk ada SMS masuk. Ia deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris menghentikan langkahnya dan

  ‗hand phone‘ di tambah dengan kata ganti melihat layar handphone milik (-nya) ke dalam teks bahasa …

  (HBE, KCB1: 150) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, karena pengarang menyebutkan benda umum yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  4 Peristiwa di samping adalah

  ta‟awudz… peristiwa campur kode baster bentuk

  (HBE, KCB1: 152) deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗ta‘awudz‘ diikuti dengan awalan ber- menjadi

  ‗ber-ta‘awudz ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan istilah umum yang biasa digunakan umat Islam.

  5 Peristiwa di samping adalah Furqan:―Breakfast-nya sekali peristiwa campur kode baster bentuk saja ya‖ dialog yang dilakukan tokoh Furqan,

  Dina: ―Baik tuan‖

   (HBE, KCB1: 154) masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗breakfast-nya ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Furqan) menunjukkan keterpelajarannya di depan resepsionis hotel (Dina).

  6 Sampai di pintu kamar 819, Peristiwa di samping adalah campur dengan mengucap basmalah kode baster bentuk deskripsi, masuknya furqan membuka pintu dengan unsur bahasa

  Inggris ‗keycard-nya‘ ke

  keycard-nya. dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi

  (HBE, KCB1: 155) campur kode tersebut adalah pengarang memudahkan menyampaikan maksud untuk pembaca, jika menggunakan padanan bahasa Indonesia maka hasilnya kurang pas.

  7 Peristiwa di samping adalah …membaca dan menulis hal- hal penting dengan laptop-nya peristiwa campur kode baster bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris di samping gadis itu…

  (HBE, KCB1: 158) ditambah kata ganti milik (- nya ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata karena sudah umum digunakan dan tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.

  8 mahasiswa Peristiwa di samping adalah …biasanya berwajah putih bersih dari Desa peristiwa campur kode baster bentuk

  Sanhur yang terletak antara deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab Kota El Faiyum dan Danau

  ‗murajaah‘ dengan awalan me— ke Qarun itu dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi

  me- murajaa‟ah

  hafalan Qurannya di mushala. campur kode tersebut adalah mencari (HBE, KCB1: 176) jalan termudah menyampaikan maksud pengarang untuk pembaca.

  9 Peristiwa di samping adalah Anna: ―maaf Daarut Tauzi-nya peristiwa campur kode baster bentuk ke sana ya?‖

  (HBE, KCB1: 187) dialog yang dilakukan tokoh Anna, masuknya unsur bahasa Arab ‗Daarut

  Tauzi-nya ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, menyebutkan hal yang sudah umum digunakan oleh mahasiswa mesir yaitu menyebutkan nama sebuah toko buku.

  10 Peristiwa di samping adalah …Nanang kaget, lalu tersenyum. Ia melepas peristiwa campur kode baster bentuk

  earphone-nya .. deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  (HBE, KCB1: 206) ‗earphone‘ dengan diikuti kata ganti milik (-nya) ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan suatu benda untuk mendengarkan lagu, yang biasa digunakan dan diketahui oleh umum.

  11 Anna:

  …seharusnya ia bangun jam empat. Bagaimana bisa ia kebablasan sampai pukul delapan...

  ―yang paling penting kau harus mengintrospeksi dan me-

  14 Ustadz Mujab:

  (HBE, KCB1: 271) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode baster bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab ‗meng-qadha‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal yang umum yang biasa digunakan umat Islam.

  subuh. Pikiranya benar-benar kacau.

  13 Ia harus meng-qadha shalat

  (HBE, KCB1: 270) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode baster bentuk deskripsi, masuknya unsur bahasa Jawa ‗bablas‘ dengan imbuhan ‗ke-an‘ ke dalam teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah memudahkan menyampaikan maksud pengarang kepada pembaca.

  12

  ―untuk apa itu La?‖

  Fungsi campur kode tersebut adalah mencari jalan termudah menyampaikan maksud penutur (Laila).

  open ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

  ‗meng-

  (HBE, KCB1: 232) Peristiwa di samping adalah peristiwa pertama, campur kode baster bentuk dialog yang dilakukan tokoh laila, masuknya unsur bahasa Inggris

  Karena mau tinggal beberapa hari di KL, maka harus open. Itu harganya lebih mahal lima puluh dollar. Gimana mbak?‖

  ―Untuk meng-open tiket Kuala Lumpur —Jakarta.

  Laila:

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode baster bentuk dialog yang dilakukan tokoh Ustad

  muhasabah-i Mujab, masuknya unsur bahasa Arab dirimu sendiri… Furqan: ―iya ustadz, saya telah

  ‗me-muhasabah-i ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode

  menyadarinya‖

  (HBE, KCB1: 289) tersebut adalah memudahkan atau memperlancar maksud penutur (ustadz Mujab) kepada lawan tutur (Furqan).

  15 Abduh: Peristiwa di samping adalah

  ‖…temanku itu member alamat website-nya. Aku buka, peristiwa campur kode baster bentuk dan ternyata itu foto-fotomu dialog yang dilakukan tokoh Abduh, dengan seorang perempuan masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗website‘ bule…‖ dan kata ganti milik ‗nya‘ ke dalam

  (HBE, KCB1: 387) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan sehingga orang-orang mengerti maksud dan maknanya dengan sendirinya.

  16 Ayah Zulkifli: Peristiwa di samping adalah

  ―…saat saya ke pesantren dulu sandal saya peristiwa campur kode baster bentuk hilang dighosob oleh para dialog yang dilakukan tokoh Ayah santri, saat itu Fadhil-lah yang Zulkifli, masuknya unsur bahasa Arab bingung ke sana kemari menari ‗ghosob‘ dengan awalan di- ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur

  sandal saya…‖

  (HBE, KCB1: 442) kode tersebut adalah penutur (Ayah Zulkifli) mencari jalan termudah menyampaikan maksud, jika menggunakan bahasa Indonesia hasilnya akan kurang pas.

  17 Peristiwa di samping adalah

  …ia harus menghubungi Nasir meminta tiketnya di-conform peristiwa campur kode baster bentuk

  untuk penerbangan dua hari deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris yang akan datang.

  ‗conform‘ dengan awalan di- ke dalam

  (HBE, KCB1: 452) teks bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah pengarang mempermudah menyampaikan maksud kepada pembaca.

  18 Peristiwa di samping adalah

  ―ada‖ jawab Anna sambil membuka diarynya. peristiwa campur kode baster bentuk

  (HBE, KCB2: 17) deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗diary‘ dan kata ganti kepunyaan milik – nya ke dalam teks bahasa Indonesia.

  Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal umum yang biasa digunakan orang-orang sehingga orang- orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  19 Peristiwa di samping adalah Ibu Rina: ―Tapi Ibu jamin dia

  bisa menjadi isteri yang baik. masing-masing termasuk peristiwa Kelebihan Rina adalah sifat campur kode baster bentuk dialog yang

  20 qana‟ahnya. Sifat dilakukan tokoh Ibu Rina, pertama,

  nrimonya masuknya unsur bahasa Arab

  …‖ (HBE, KCB2: 114)

  ‗qana‘ah‘diikuti –nya dan unsur bahasa

  Jawa

  ‗nrimo‘ diikuti –nya ke dalam

  tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Ibu Rina) mempermudah menyampaikan maksud kepada lawan tutur (Husna).

  21 Peristiwa di samping adalah Bu Nyai Nur: ―…contoh- contohnya mulaidari yang peristiwa campur kode baster bentuk kecil-kecil, contoh tawadhu- dialog yang dilakukan tokoh Bu Nyai

  nya Rasulullah, ada juga Nur, masuknya unsur bahasa Arab contoh sahabat.

  ‗tawadhu-nya‘ ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 191) Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Bu Nyai Nur ) membicarakan topik tertentu

  22 Peristiwa di samping adalah

  ―Kami mohon Pak Kiai yang member mauidhah peristiwa campur kode baster bentuk hasanahnya dialog yang dilakukan tokoh Bu Nafis, ‖ Terang Bu Nafis.

  (HBE, KCB2: 345) masuknya unsur bahasa Jawa

  ‗mauidhah hasanahnya ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Bu Nafis) mempermudah menyampaikan maksud kepada Pak Kiai.

  23 Malam itu Azzam harus masuk Peristiwa di samping adalah

  ruang operasi setelah peristiwa campur kode baster bentuk di rontgent ia mengalamai deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris patah betis kirinya, lengan ‗rontgent‘ dengan imbuhan –di ke dalam

  teks bahasa Indonesia. Fungsi campur

  bahwah tangan kiri…

  (HBE, KCB2: 363) kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan istilah yang umum dan biasa dikenal orang sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  24 Anna melihat inbox emailnya. Peristiwa di samping adalah

  Email terbaru dari Furqan. peristiwa campur kode baster bentuk

  (HBE, KCB2: 403) deskripsi, masuknya unsur bahasa Inggris

  ‗emailnya‘ ke dalam teks bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, unsur tersebut merupakan hal yang umum dan biasa dikenal orang sehingga orang-orang sudah mengerti maknanya dengan sendirinya.

  Berdasarkan tabel di atas campur kode bentuk dialog para tokoh terdapat 11 data, campur kode bentuk deskripsi 13 data. Campur kode deskripsi lebih dominan dibandingkan dengan campur kode dialog hal ini terjadi karena penulis novel terbawa arus kemultilingualannya sehingga mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. Jumlah keseluruhan wujud campur kode baster terdapat 24 data, 2 data campur kode baster bahasa Jawa, pada nomor 12 dan 20. Campur kode wujud baster dengan bahasa Arab terdapat 11 data, yaitu pada nomor 1, 2, 4, 8, 9, 13, 14, 16, 19, 21, 22. Campur kode wujud baster dengan bahasa Inggris 11 data pada nomor 3, 5, 6, 7, 10, 11, 15, 17, 18, 23, 24.

  Fungsi campur kode pada wujud baster ialah (1) kebutuhan kosakata sebanyak 12 data, pada nomor 1, 2, 3, 4, 7, 9, 10, 13,15, 18, 23, 24. (2) fungsi yang menunjukkan keterpelajaran terdapat 1 data pada nomor 5. (3) fungsi memudahkan menyampaikan maksud terdapat 10 data, yaitu pada nomor 6, 8, 11, 12, 14, 16, 17, 19, 20, 22. (4) membicarakan topik tertentu terdapat 1 data pada nomor 21. Peneliti tidak menemukan fungsi menghormati lawan tutur, menunjukkan identitas, mempertegas sesuatu, memperhalus tuturan, menunjukkan keakraban dan pengisi dan penyambung kalimat pada wujud campur kode baster.

  

Tabel 6

F. Wujud Campur Kode Berbentuk Idiom atau Ungkapan No. Teks Analisis

  1 Peristiwa di samping adalah Ibu Nyai Nur : ‖ …apa gunanya

  jadi sarjana, lulusan Al Azhar peristiwa campur kode ungkapan bentuk kalau tidak tanggap sasmita, dialog yang dilakukan oleh tokoh Ibu

  segera beranjak!‖ tanggap sasmita‘ ke dalam tuturan

  (HBE, KCB1: 146) bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Ibu Nyai Nur) mempermudah menyampaikan maksud, yang berarti paham dengan keadaan.

  2 Peristiwa di samping adalah

  Alfu mabruk, Akhi semoga ilmu yang kau dapat peristiwa campur kode ungkapan bentuk

  dialog yang dilakukan tokoh Azzam, bermanfaat…‖ Ucap Azzam. (HBE, KCB1: 350) masuknya unsur bahasa Arab

  ‗Alfu mabruk, Akhi ke dalam tuturan bahasa

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah menunjukkan keterpelajaran bahwa penutur (Azzam) mampu ber bahasa Arab.

  3 Peristiwa di samping adalah

  …tapi ia harus berbalut perangai mulia. Yaitu perangai peristiwa campur kode ungkapan bentuk yang ditunjukkan oleh Ummul deskripsi, masuknya unsur bahasa Arab Mukminiin, Sayyida Khadijah.

  ‗Ummul Mukminiiin‘ ke dalam teks

  (HBE, KCB1: 404) bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah kebutuhan kosakata, pengarang menyebutkan nama julukan untuk istri Nabi Muhammad.yang berarti ‗ibunya para orang-orang mukmin‘ yang sudah dikenal umum oleh umat Islam

  4 Nafisah: Neng Anna tidak usah Peristiwa di samping adalah

  bicara tentang sastra dan tetek peristiwa campur kode ungkapan/idiom bengeknya bentuk dialog yang dilakukan tokoh

  ...‖ Anna: terus aku bicara tentang Nafisah, masuknya unsur bahasa Jawa

  apa? ‗tetek bengek‘ diikuti kata -nya ke dalam

  (HBE, KCB2: 24) tuturan bahasa Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Nafisah) mempermudah menyampaikan maksud kepada lawan tutur (Anna).

  5 Lia:

  ―Insya Allah berangkat ke India nanti saja jika tesis sudah selesai‖

  Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode ungkapan bentuk

  gunung adalah ‗tidak seperti biasa‘.

  Indonesia. Fungsi campur kode penutur (Azzam) mempermudah maksud dan jalannya komunikasi terhadap lawan tutur (Ilyas), dalam bahasa jawa arti njanur

  ‗njanur gunung ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 278) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode ungkapan bentuk dialog yang dilakukan tokoh Azzam, masuknya unsur bahasa Jawa

  ―O begitu. Terus ini kok njanur gunung ada apa ya?‖

  Azzam:

  7 Ilyas:

  ―…Ada ilmu titen yang oleh orang Jawa disebut pranata mongso. Pembagian masa dalam satu tahun untuk bertani‖

  Indonesia. Fungsi campur kode penutur sedang membicarakan topik tertentu.

  ‗deres-deres sumber ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 254) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode ungkapan bentuk dialog yang dilakukan tokoh Lia, masuknya unsur bahasa Jawa

  ―Dulu ada ungkapan Desember itu maknanya deres- deres sumber, atau besar- besarnya sumber. Karena air ada dimana- mana‖

  6 Lia:

  Indonesia. Fungsi campur kode tersebut adalah penutur (Lia) sedang membicarakan topik tertentu.

  ‗pranata mongso ke dalam tuturan bahasa

  (HBE, KCB2: 254) Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode ungkapan bentuk dialog yang dilakukan tokoh Lia, masuknya unsur bahasa Jawa

8 Pak Kiai: ―…Itu namanya

  (HBE, KCB2: 345) dialog yang dilakukan tokoh Pak Kiai, masuknya unsur bahasa Arab

  ‗ kabura maqtan ‗indallah‖ ke dalam tuturan

  bahasa Indonesia. Fungsi dari kedua campur kode tersebut adalah mempermudah menyampaikan maksud Pak Kiai ke kepada lawan tutur (Bu Nafis)

  Dari tabel di atas terdapat 7 data campur kode bentuk dialog dan 1 data campur kode bentuk deskripsi. Campur kode dominan adalah campur kode bentuk dialog sehingga terlihat cerita menjadi lebih hidup yang ditimbulkan dari ketajaman warna lokal/dialek pada percakapan tokoh-tokohnya. Jumlah keseluruhan wujud campur kode ungkapan atau idiom adalah 8 data, 5 data campur kode bahasa Jawa yaitu pada nomor 4, 5, 6, 7 dan 3 data campur kode bahasa Arab ditunjukkan pada nomor 2, 3, 9. Wujud campur kode ungkapan bahasa Inggris tidak ditemukan.

  Fungsi campur kode ungkapan, yaitu (1) mempermudah menyampaikan maksud terdapat 4 data yaitu pada nomor 1, 4, 7, 8. (2) menunjukkan keterpelajaran 1 data, pada nomor 2. (3) kebutuhan kosakata 1 data, pada nomor 3.dan (4) membicarakan topik tertentu 2 data, yaitu pada nomor 5 dan 6. Tidak ditemukan oleh peneliti fungsi campur kode mengormati lawan tutur, menunjukkan identitas, mempertegas sesuatu, memperhalus tuturan, menunjukkan keakraban, dan pengisi dan penyambung kalimat.

BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan data tentang campur kode dalam novel dwilogi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Campur kode dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy berjumlah 219 data. Campur kode dominan adalah campur kode

  bahasa Arab, terdapat 107 data, hal ini karena pengarang novel mampu berbahasa arab dan novel ini adalah novel islami yang sering menggunakan serpihan-serpihan keislaman. Sedangkan campur kode bahasa Inggris dan Jawa masing-masing 71 dan 41 data. Campur kode terbanyak yaitu berwujud kata, terdapat 114 data, yaitu 24 data campur kode bahasa Jawa, 54 data campur kode bahasa Arab, 36 data bahasa Inggris. Campur kode berwujud frasa terdapat 52 data, terdapat 4 campur kode bahasa Jawa, 27 campur kode bahasa Arab, dan 21 campur kode bahasa Inggris. Campur kode berwujud klausa terdapat 16 data, 2 campur kode bahasa Jawa, 12 campur kode bahasa Arab, dan 2 campur kode bahasa Inggris. Berwujud kata ulang terdapat 5 data, 4 campur kode bahasa Arab, dan 1 campur kode bahasa Inggris. Campur kode berwujud baster 24 data, 2 campur kode bahasa Jawa, 11 campur kode bahasa Arab, dan 11 pula campur kode bahasa Inggris. Campur kode berwujud ungkapan atau idiom terdapat 8 data, 5 data campur kode bahasa Jawa, 3 data campur kode bahasa Arab. Campur kode dalam penulisan novel dapat dibagi menurut penggunaannya, yaitu bentuk deskripsi dan bentuk dialog. Dalam bentuk deskripsi cerita bertujuan menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh. Sedangkan, campur kode bentuk dialog bertujuan menyajikan percakapan tokoh/antartokoh. Pada wujud kata, campur kode deskripsi terdapat 64 data dan bentuk dialog sebanyak 50 data, wujud campur kode frasa campur kode deskripsi sebanyak 15 data dan campur kode dialog kode deskripsi terdapat 1 data saja sedangkan bentuk dialog terdapat 4 data, campur kode wujud baster terdapat 13 data campur kode deskripsi dan 11 data campur kode bentuk dialog, wujud campur kode ungkapan bentuk deskripsi terdapat 1 data sedangkan bentuk dialog terdapat 7 data.

2. Fungsi yang melatarbelakangi terjadinya campur kode dalam novel dwilogi

  Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy adalah (1) karena

  menghormati lawan tutur, (2) karena kebutuhan kosakata, (3) karena ingin mencari jalan termudah menyampaikan maksud, (4) karena membicarakan topik tertentu, (5) menunjukkan identitas, (6) menunjukkan keterpelajaran, (7) mempertegas sesuatu, (8) memperhalus tuturan, (9) menunjukkan keakraban, dan (10) sebagai pengisi dan penyambung kalimat. Fungsi campur kode dominan adalah kebutuhan kosakata yang terdapat pada campur kode wujud kata sebanyak 36 data karena campur kode (serpihan bahasa) tersebut biasa dikenal masyarakat umum khususnya untuk umat Islam.

B. Saran 1.

  Penelitian ini membahas bahasa campur kode dalam novel Ketika Cinta

  Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy, memang menarik campur kode

  yang terjadi dalam novel ini yaitu berupa penyisipan serpihan-serpihan, baik itu kata, frasa, klausa, kata ulang, baster, maupun idiom atau ungkapan yang berasal dari bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) maupun bahasa daerah (Jawa). Namun, campur kode bukanlah kebiasaan yang turut melestarikan bahasa Indonesia, dikhawatirkan akan menggeser fungsi bahasa Indonesia. Dalam kasus-kasus tertentu campur kode tidak dapat dihindari yaitu jika serpihan unsur asing atau daerah tidak dimiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia.

  2. Penggunaan campur kode dalam penulisan novel dapat diterima dalam bentuk dialog, yang memang membutuhkan bahasa tulis-lisan yang hidup. Namun, dalam bentuk deskripsi seorang penulis perlu berhati-hati agar tidak sekedar

  (sastra) dan lebih bersifat eksploratif dalam penggunaaan bahsa tulis lisan (dialog). Hendaknya kita semua juga perlu berhati-hati dalam menggunakan bahasa Indonesia, terutama saat situasi formal yang mengharuskan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama bagi semua pihak yang bergelut di dunia pendidikan bahasa Indonesia. Diharapkan pada penelitian berikutnya agar melakukan penelitian yang lebih luas lagi tentang kajian campur kode.

  

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. Sosiologi Bahasa, Bandung: Angkasa, 1990.

  Aslinda dan Leni Syafyahya. Pengantar Sosiolinguistik, Bandung: Reflika Aditama, 2007. Badudu, J.S Inilah Bahasa Indonesia yang Benar III, Jakarta: PT. Gramedia, Cet.

  Ke-2, 1993. Badudu, J.S. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Cet. Ke-4, 1994.

  Bloomfield, Leonard. Language Bahasa, Jakarta: PT Gramedia, 1995. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

  Chaer, Abdul. Linguistik Umum, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003. Consuelo dkk, penerjemah: Alimuddin Tuwu, Pengantar metode Penelitian, Jakarta: Universitas Indonesia, 1993.

  Depdiknas, Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Edisi ke-3, 2002. El Shirazy, Habiburrahman. Ketika Cinta Bertasbih 1, Jakarta: Republika, 2007. El Shirazy, Habiburrahman. Ketika Cinta Bertasbih 2, Jakarta: Republika, Cet.

  Ke-6, 2008. Diakses tanggal 13 Oktober 2010. yerni

  Sitepu, Skripsi: Campur Kode dalam Majalah Aneka Yes, Medan Universitas Sumatra Selatan, 2007. Diakses tanggal 13 Februari 2010. Ibrahim, Abdul Syukur dan H. Suparno. Sosiolinguistik, Jakarta: Universitas Terbuka, Cet. Ke-6, 2007. J. Meleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosdakarya, 2004. Jassin, H.B. Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, Cet. Ke-7, 1985. Marahimin, Ismail. Menulis Secara Populer, Jakarta: Pustaka Jaya, Cet. Ke-3, 2001. Muliastuti, Liliana dan Krisanjaya, Linguistik Umum, Jakarta: Universitas Terbuka, Cet. Ke-3, 2007. Muslich, Masnur Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif, Jakarta: Bumi Aksara, 2000. Nurgiantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Cet. Ke-5, 2005. Putrayasa, Ida Bagus. Analisis Kalimat (Fungsi, Kategori, dan Peran), Bandung: Refika Aditama, 2007. Rahardi, R. Kunjana. Kajian Sosiolinguistik Ihwal Kode dan Alih Kode, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.

  Semi, M. Atar. Anatomi Sastra, Padang: Angkasa Raya, 1988. Sibarani, Robert. Hakikat Bahasa, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1992. Sumardjo, Jakob. Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. Ke-4, 2007.

  Sumarno dan Paina Partana. Sosiolinguistik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.

  Ke-2, 2004. Syamsudin dan Vismaia S. Damayanti. Metode Penelitian Bahasa, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

  Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Pragmatik, Bandung: Angkasa, 2009. Widjojo dan Endang Hidayat. Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, Bandung: UPI Press, 2006.

  Yuliati, Etik. Skripsi: Alih Kode dan Campur Kode dalam Cerbung Dolanan Geni Karya Suwardi Endraswara, Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2010. Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta: Yayasan Obor, 2004.

Dokumen baru

Download (122 Halaman)
Gratis