Analisis pengelolaan dana ta’zir dan ta’widh bagi nasabah wanprestasi pada PT. BRI Syariah

Gratis

9
106
122
2 years ago
Preview
Full text

LEMBAR PERNYATAAN

  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana praktek ta’zir dan ta’widh pada nasabah wanprestasi khususnya di BRISyariah, serta bagaimana menentukan besarannya dan bagaimana cara BRISyariah melihat mana nasabah yang layakdikenakan ta’zir dan ta’widh dan mana nasabah yang tidak layak dikenanakan ta’zir dan ta’widh. Sedangkan ta’widh dikenakan kepada nasabah yang lalai dan ini merupakan tindak lanjut dari nasabah yang sudah dikenakan ta’zir tapi masih tidak memenuhi prestasinya dan nasabah tidak bisa menunjuka bahwa ia dalam keadaan force majeur.

KATA PENGANTAR

  Dalam penulisan skripsi ini, saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa menyelesaikannya skripsi ini dengan sendiri, oleh karena itu saya banyakmendapat bantuan dari berbagai pihak yang senantiasa selalu membantu saya baik bimbingan, saran, data, motivasi dan semangat dan lainnya. sumar dan Ibunda Ratna, kakaku Indah dan Fahmi, Nelvi dan Ilyas, Yenti dan Hidayat, Yusi dan Marendy, dan untuk adiku DesiPutri yani, dan seluruh keponakanku.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian masyarakat yang semakin canggih dan

  Kegiatan pembiayaan (financing) merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak- 1 pihak yang merupakan deficit unitDalam dunia perekonomian modern bank merupakan alat yang vital, tanpa lembaga bank perekonomian tidak akan lancar. Dengan diberlakukannya undang-undang No 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah yang terbit tanggal 16 juli 2008, maka perkembangan industriperbankan syariah di Indonesia semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan secara tidak langsung akan merangsang pertumbuhan bank-bank syariah diindonesia.

2 Adiwarman A. karim, Bank islam dan Analisis Keuangan,cet.VIII (Jakarta: Rajagrafindo

  4 tersebut tumbuh 47,62% dibandingkan priode yang sama tahun lalu yakni RP 109,655 triliun. Yang menjadi perhatian ialah ketika bank menyalurkan dana atau melakukan pembiayaan kepada nasabah pembiayaan.

3 Wisnu AS,”Perbankan Syariah Didorong Biayai Sektor Produktif”, artikel diakses pada 5

  5 Gagal bayar atau wanprestasi merupakan risiko yang dialami bank syariah dalam melakukan pembiayaan yang dimana risiko tersebut harus diminimalisir demi mendapatkan keuntungan yang maksimal. sebagaicontoh seorang debitur dituduh melakukan perbuatan melawan hukum, lalai atau secara sengaja tidak melaksankan sesuai bunyi yang telah disepakati dalamkontrak, jika terbukti maka debitur harus mengganti kerugian (termasuk ganti rugi + bunga+ biaya perkaranya.

5 Adapun seorang debitur yang dapat dikatakan telah melakukan

  6 Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan5 Saefuddin Arif dan azharuddin lathif, Kontrak Bisnis syariah, (Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2011), h.9.6 6 (unanticipated) yang berdampak negative terhadap pendapatan dan permodalan bank. Dari kedua fatwa diatas sudah cukup jelas, perbedaan antara ta’zir (denda) dan ta’widh (ganti rugi) yang diberlakukan bank kepada nasabah pembiayaanyang gagal bayar atau wanprestasi, dan dalam fatwa tersebut sudah dijelaskan pula dana yang diterima ada yang diperuntukan sebagai dana social yaitu ta’zirdan ada dana y ang menjadi hak (pendapatan bank) yaitu ta’widh.

7 Adiwarman A. karim, Bank Islam dan Analisis Keuangan, cet.VIII, (Jakarta: RajaGrafindo

  7 Pada kesempatan kali ini saya mencoba menelusuri bagaimana bank menentukan kriteria dalam menetukan mana nasabah yang dikenakan ta’zir dan mana nasabah yang dikenakan ta’widh, atau setiap nasabah yang gagal bayar pasti dikenakan kedua-duanya. Dalam penerapan ta’zir dan ta’widh ada beberapa masalah yang dihadapi oleh bank, yaitu bagaimana bank syariah mengetahui bahwa nasabah tersebutbenar-benar lalai dalam melaksanakan kewajiban padahal dia mampu dan nasabah yang cidera janji dan usahanya pun sedang merosot sehingga menurut fatwa DSNtidak berhak dikenakan ta’zir dan ta’widh.

C. Pembatasan dan Rumusan Masalah

  Maka penulisan membatasi masalah pada pemberlakuan ta’zir dan ta’widh pada nasabah wanprestasi atau gagal bayar dan analisis yang dilakukan bank syariah sebelum mengenakan ta’zir dan ta’widh serta 9 pengalokasian dana ta’zir yang diklaim sebagai dana social atau dana non- halal. Apakah penerapan ta’zir dan Ta’widh di BRISyariah sudah sesuai dengan fatwa DSN-MUI?

3. Bagaimana alokasi dana ta’zir pada BRISyariah?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Untuk mengetahui cara BRISyariah menganalisis nasabah mana yang layak dan tidak dikenakan ta’zir dan ta’widh. Serta dapat menghilangkan kecurigaan nasabah terhadap dana non-halal yang ada pada bank syariah.

2. Nasabah dapat mengetahui bahwa keberadaan dana non-halal benar- benar ada atau tidak pada perbankan

  3. Dan banyak pihak dapat mengetahui bagaimana perbankan syariah menentukan kriteria-kriteria penetapan ta’zir dan ta’widh pada nasabah wanprestasi.

E. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu NO Aspek Perbandingan Studi Terdahulu Rencana Skripsi

  Penelitian ini berfokus sendiri hanya akan Fokus pada tingkat pengaruh meneliti bagaimana proses pengenaanpengenaan ta’zir terhadap Tingkat nonta’zir, baik dalam perfoming financing menentukan mana (NPF) pada kjks BMT nasabah yang layak al-fath IKMI Jombang.dikenakan ta’zir dan Dan bagaimana proses mana yang tidak. Fokus mencoba mengalisis membahas ta’widhpada produk hasanah proses pengenaan card pada BNI syariah.ta’zir dan ta’widh Dan bagaimaa proses pada pembiayaan.yang diterapkan pada Dan proses keduanya jadi tidak menitikpengenaan ta’widh 14 D.

F. Kerangka Teori dan Konseptual Pembiayaan adalah suatu hal yang lazim dilakukan oleh bank syariah

Pembiayaan sendiri merupakan tugas bank sebagai media intermediasi, yaitu mengumpulkan dan kemudian meyalurkan dana tersebut.adapun sifat kegunaanya pembiayaan dapat dibagi dalam: 1. Memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan; dan

2. Produksi dalam bentuk yang luas, yaitu untuk meningkatkan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi

  IV, (jakarta : Pustaka 15 Sedangkan pembiayaan merupakan salah satu penghasilan yang didapat oleh bank. Yaitu selisih antara nisbah bagi hasil pada nasabah tabungan dengan marjin yang ditetapan bank pada nasabah pembiayaan dengan biasa kita kenaldengan NIM (net interest marjin). Faktor kunci bagi pengendalian risiko adalah diversifikasi dari tipe-tipe kredit,diversifikasi dalam wilayah geografis dan jenis-jenis industri yangdiiayai, kebijakan agunan dan sebagainya, dan uang paling penting adalah standar 9 pengendalian kredit yang ditetapkan.

9 Zainul Arifin, Dasar-Dasar Menajemen bank Syariah,cet.IV, (jakarta : Pustaka

16 Wanprestasi (cidera janji)* Ta’zir dan Ta’widhAnalisis Kesimpulan

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pembiayaan Pembiayaan adalah suatu hal yang lazim dilakukan oleh bank syariah. Pembiayaan sendiri merupakan tugas bank sebagai media intermediasi, yaitu mengumpulkan dan kemudian meyalurkan dana tersebut

  Pembiayaan SalamAkad salam atau salaf adalah penjualan sesuatu yang akan datang dengan imbalan sesuatu yang sekarang, atau menjual sesuatu 4 yang dijelaskan sifatnya dalam tanggungan. Untuk mengantisipasi risiko kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berutang dankebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang 22 berutang.

2. Sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah

  Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu., seperti pembukaan L/C, inkaso dan transferuang. istilah yang dimaksud dengan al-Kafalah atau ad-Adhaman sebagaimana yang dijelaskan menurut Sayyid Sabiq ialah prosespengabungan tanggungan kafil menjadi beban ashil dalam tuntutan dengan benda (materi) yang sama, baik utang, barang, maupun 31 pekerjaan.

B. Ta’zir 1. Pengertian Ta’zir

  Bentuk-bentuk hukuman ta’zir adalah seperti, hukuman ta’zir dalam bentuk teguran dan peringatan keras, hukuman37 ta’zir dengan dipenjara, pukulan, denda dengan ta’zir dalam hukuman mati bagi residivis yang berulang kali melakukan kejahatan dan tidak pernah merasa jera serta dalam kasus kejahatan terhadap keamanan Negara menjadi agen mata-mata, perilaku seks sesama jenis 38 (sodomi, liwaath), menghina dan menghujat nabi Muhammad SAW. Secara umum pengertian ta’widh adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan dengan ketentuan kerugian rill yang dapat diperhitungkan dengan jelas dengan upaya untuk memperoleh pembayaran danbukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi karena adanya peluang yang 42 hilang.

2. Ganti Rugi menurut KUH Perdata

  Samnur Abdullah,Mekanisme Penetapan Ta’widh di Bank BNI Syariah Pada Produk Hasanah Card, ” ( Skripsi S1 Fakutas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,2012), h.90.43 Ganti rugi Karena perbuatan melawan hukum adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada orang yang telah menimbulkan kesalahan kepadapihak yang telah dirugikan. Ganti rugi karena wanprestasi adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada debitur yang tidak memenuhi isi perjanjian yang telah dibuatantara debitur dan kreditur.

3. Landasan Hukum

  Pendapat Ulama tentang Ta’widh (Ganti Rugi) Menurut p endapat ulama tentang ta’zir yang saya kutip dari fatwa DSN NO43/DSN-MUI/VIII/2004 Pendapat Ibn Qudamah, bahwa penundaan pembayaran kewajiban dapat menimbulkan kerugian (dharar) dan karenanya harus dihindarkan; iamenyatakan.“ jika orang berutang (debitur) bermaksud melakuka perjalanan,atau jika pihak berpiutang (kreditur) bermaksud melarang debitur (melakukan perjalanan), perlu kita perhatikan sebagai berikut. Akan tetapi, apabila debitur menunjuk penjamin atau menyerahkan jaminan (qadai) yang cukup untuk membayar utangnya pada saat jatuh tempo, ia bolehmelakukan perjalanan tersebut, karena dengan demikian, kerugian kreditur dapat dihindarkan.

1. Menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar, bahaya) seperti

  Apabila hal tersebut sulit dilakukan, maka wajibmenggantinya denga benda yang sama (sejenis atau dengan uang” Sementara itu, hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa yang akan dating atau kerugian immateriil, maka menurutketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi). Pengertian Wanpretasi pasal 1234 KUH Perdata yang diamaksud dengan prestasi adalah seseorang yang menyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukansesuatu, sebaliknya dianggap wanprestasi bila seseorang: a.

2. Mulai Terjadinya wanprestasi

  Wanprestasi baru terjadi jika debitur dinyatakan telah lalai untuk memenuhi prestasinya, atau dengan kata lain, wanprestasi ada kalau debitur 50 Abdul R. Apabila dalam pelaksanaan pemenuhan prestasi tidak ditentukan tenggang waktunya, maka seorang kreditur dipandang perlu untuk 54 memperingati/menegur debitur agar ia memenuhi kewajibannya.

3. Akibat Adanya Wanprestasi

  Kreditur dapat menuntut kepada debitur pelaksanaan prestasi, apabila ia terlambat memenuhi prestasi. Hal ini disebabkan kreditur akan mendapat keuntungan apabila debiturmelaksanakan prestasi tepat pada waktunya.

53 Azharuddin Lathif dan Nahrowi, Pengantar Hukum Bisnis ( Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2009) , h.51

  54 d. Jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditur dapat membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan 55 menggunakan pasal 1266 KUH Perdata.

4. Tuntutan Atas Dasar Wanprestasi

  kreditur dapat menuntut kepada debitur yang telah melakukan wanprestasi, hal-hal sebagai berikut:a. Kreditur dapat menuntut dan meminta ganti rugi, hanya mungkin kerugian karena keterlambatan (HR 1 November 1918).

BAB II I METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni 2014, di KC BRI Syariah BSD

  Metode Penelitian Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasailkan penemuan- penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur 1 statistik atau dengan cara kuatifikasi lainnya. Jenis Penelitian 1 Jenis penelitian adalah kualitatif yang bersifat deskriptif karena data yang akan dikumpulkan dan diamati lebih berbentuk kata-kata atau gambar tidakmenekan pada angka.

D. Metode pengumpulan data 1

  Komunikasi tersebut dilakukan secara langsung dengan cara face to face, artinya antara penelitiberhadapan langsung, maupun tidak langsung (atau via telepon) untuk menanyakan secara lisan hal-hal yang diinginkan dan jawaban responden 4 dicatat oleh si wawancara. Penelitian perpustakaan (library research) yaitu: mengambil bahan-bahan pustaka dan dokumen-dokumen perbankan yang relevan dan aktual terhadapmasalah yang diteliti.

E. Jenis dan Sumber Data

  Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data internal bank baik jurnal, laporan keuangan, dan lainnya. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif karena data yang akan dikumpulkan dan diamati lebih berbentuk kata-kataatau gambar tidak menekan pada angka.

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Tinjauan Umum Tentang BRI Syariah 1. Sejarah Berdirinya BRI Syariah Berawal dari akuisisi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.

  terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007 dan setelah mendapatkan izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008 melalui suratnyao.10/67/KEP. Melayani nasabah dengan pelayanan prima (service excellence) dan menawarkan beragam produk yang sesuai harapan nasabah dengan prinsipsyariah.

2. Visi dan Misi Visi

  "Menjadi bank ritel modern terkemuka dengan ragam layanan - finansial sesuai kebutuhan nasabah dengan jangkauan termudah untukkehidupan lebih bermakna."MISI 1. Menyediakan produk dan layanan yang mengedepankan etika sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

4. Memungkinkan setiap individu untuk meningkatkan kualitas hidup dan menghadirkan ketenteraman pikiran

B. Pembiayaan pada Brisyariah 1. Produk Pembiayaan BRISyariah

  Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok perbankaan syariah, sebagai media intermediasi yaitu mengumpulkan dana dari pihak yang surplusdana dan mmenyalurkan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan pihak- pihak yang defisit dana. Berdasarkan tujuannya(1) Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan produksi, baik secara kuantitatif yaitupeningkatan jumlah produksi, penambahan cabang baru, penambahan alat kerja maupun secara kualitatih yaitu peningkatanmutu barang dan jasa yang diproduksi.(2) Pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada para nasabah guna keperluan investasi, baik penanaman modal,dan lainnya.

2. Faktor–Faktor yang Menjadi Pertimbangan BRISyariah dalam Menyalurkan Pembiayaan

  Dalam meyalurkan pembiayaan kepada nasabah bank syariah harus selektif mana nasabah yang layak diberikan pembiayan dan mana yang tidak. Untuk dapatmembaca sifat atau watak dari calon debitur dapat dilihat dari latar belakang nasabah, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifatpribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga hobi, dan jiwa social.

3. Capital

  Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif,dapat dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi) yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas dansolvabilitasnya, rentabilitas dan ukuran lainnya. Adapun yang terjadi pada bank syariah pada akhirnya akan melihat terutama dari 5C tersebut yaitu dari collateral dan karakter.

C. Pemberlakuan Ta’zir Pada Nasabah Wanprestasi 1. Ketentuan Ta’zir pada BRISyariah

  Ta’zir sendiri itu hanya sanksi atau denda yang bukanmerup akan pendapatan bank, ta’zir atau denda ini semacam sanksi atau dendasejumlah uang yang tujuannya adalah untuk mengenakan efek jera kepada nasabah agar ia membayar lebih tepat waktu, dan dari apa yang dibayar olehnasabah tersebut, tidak dimasukan kedalam pendapatan bank tetapi harus masuk 7 kedalam dana sosial yang dikelola oleh bank. Karena BRISyariah selalu mengacu dan berpedoman pada peraturan yang ada; baik Surat Edaran peraturan Bank Indonesia, fatwa DSN-MUI No 17/DSN-MUI/IX/2000.dalam fatwa diatas disebutkan bahwa ta’zir dikenakan kepada nasabahmampu tapi sengaja menunda-nunda pembayaran, maka dalam hal tersebut yang dilakukan oleh BRISyariah untuk mengetahui mana nasabah yang layakdikenakan ta’zir dan mana yang tidak.

2. Menentukan besaran Ta’zir

  Ta’zir boleh dikenakan berapa saja, adapun yang diterapkan di BRISyariah dengan cara persentase, karena ta’zir itu bertujuan untuk efek jera, BRISyariah bisa saja bilang setengah persen dari angsuran yang belum dibayar. 360 hariDari formula penghitungan besaran ta’zir diatas, dapat dipastikan bahwabesar kecilnya jumlah denda yang dikenakan BRISyariah kepada nasabah tergantung dari berapa besar cicilan perbulan, makin besar cicilan perbulan, makamakin besar pula jumlah yang dikenakan kepada nasabah.

3. Pengalokasian dana Tazir

  Dalam pengalokasian dana Ta’zir untuk dana social seperti CSR, adapun yang sudah dilakukan oleh BRISyariah misalnya, BRISyariah kerja sama denganPMI, maka dibelikan bank darah yang mobile atau mobil kesehatan keliling, atau mendirikan MCK misalnya, vaksinasi anak-anak, khitanan masal. Bahkan bukan hanya sakedar itu yang dilakukan oleh BRISyariah, agar bentuknya lebih akuntable, BRISyariah mempunyai kerja sama yang cukup dekatdengan baznas karena ketua dewan pengawas syariah Bapak Didin hafinuddin juga ketua umum baznas, jadi supaya akuntabilitas jelas dana CSR sekalipun11 12 jelas.

D. Pemberlakuan Ta’widh Pada Nasabah Wanprestasi Di BRISyariah 1

  Ketentuan ta’widh di BRISyariahTa’widh ialah ganti rugi yang dikenakan bank syariah kepada nasabah pembiayaan yang sengaja atau lalai melakukan sesuatu yang dapat merugikan salah satu pihak yaitu bank syariah, dan yang boleh diminta ganti ruginyahanyalah kerugian rill yang dialami oleh bank syariah dan jelas perhitungannya. Dan kerugian yang diperkirakan terjadi dimasa yang akandatang karena hilangnya peluang yang dimiliki oleh bank syariah tidak boleh diminta ganti ruginya.

2. Tindakan Penyelesaian Kredit Macet pada BRISyariah

  Restrukturisasi Pembiayaan adalah upaya yang dilakukan bank dalam rangka membantu nasabah agar dapat menyelesaikan kewajibannya,antara lain melalui; Penjadwalan kembali (rescheduling), yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktunya;b. Adapun besarannya bank syariah tidak boleh menyebutkan jumlahnya secara eksplinsit dalam perjanjian, bank syariah hanya dapat mengatakan kepada15 16 Adapun yang diminta ganti ruginya oleh BRISyariah hanya biaya rill yang telah dikeluarkan oleh BRISyariah selama masa penagihan terhadap nasabah dengan kolekbilitas macet.

1. Over head (sewa kantor, gaji karyawan, dll) 2

  Pihak ketiga (misalnya polisi dalam upaya melakukan penagihan terhadap nasabah yang menghilang)Dalam pembayarannya nasabah mencicil ta’widh tersebut, misalnya dalam konteks murabahah maka tidak boleh ada perubahan harga di murabahah tersebut. Penerapan ta’widh lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan ta’zir, karena dari sekian banyak nasabah dan sekian banyak juga yang wanprestasi denganberbagai macam masalah maka bank syariah sangat sulit sekali menentukan jumlah rill dalam pengenaan ta’widh.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dalam sistem permodalan bank syariah, bahwa modal bank syariah terdiri dari modal bank itu sendiri dan dana pihak ketiga sebagai deposan. Dalam penyaluran pembiayaan maka bank sangat berhati-hati dalam

  Mengingat bahwa bank syariah sebagai shahibul maal dari orang yg diberi pembiayaan dan mudharib darinasabah deposan atau penabung. Apabila terjadi wanprestasi dari nasabah pembiayaan maka yang terkena dampak bukan hanya bank syariah tetapinasabah deposan juga terkena dampaknya.

1. Ta’zir merupakan sejumlah denda yang dikenakan oleh bank syariah hanya kepada nasabah mampu tapi enggan memenuhi prestasinya

  Ta’widh sebagai ganti rugi, merupakan tindak lanjut dari nasabah yang lalai, yang sudah dikenakan ta’zir tapi masih tidak memenuhi 3. Dana yang terkumpul dari denda ta’zir dimasukan ke dalam dana sosial yang diperuntukan untuk kegiatan sosial.

B. Saran

  Bank syariah harus menindak tegas nasabah yang lalai akan prestasinya padahal ia mampu, karena kerugian dari wanprestasi bukanbertampak pada bank syariah saja tetapi juga berdampak pada deposan yang ada. Sehingga seharusnya deposan mendapatkan bagi hasil maksimal karenaterjadi wanprestasi maka bagi hasilpun tidak maksimal.penerapa n dari ta’zir dan ta’widh bank syariah harus berlandaskan atasprinsip kejujuran dan transparan sehingga tidak ada pihak yang merasa 71 DAFTAR PUSTAKA Abbas, Afifi Fauzi.

b. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Sabtu, 17 Jumadil Akhir 1421 H./16 September 2000

  Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar, tetapimenunda-nunda pembayaran dengan disengaja. bahwa para pihak yang melakukan transaksi dalam LKS terkadang mengalami risiko kerugian akibat wanprestasi ataukelalaian dengan menunda-nunda pembayaran oleh pihak lain yang melanggar perjanjian;c.

d. QS. al-Baqarah [2]: 279-280:

  Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilahtangguh sampai dia berkelapangan.

2. Hadis-hadis Nabi s.a.w.; antara lain:

a. Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf:

  Hadis Nabi riwayat Nasa’i dari Syuraid bin Suwaid, Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid, Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid, dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid:. ﻪﺘﺑﻮﹸﻘﻋﻭ ﻪﺿﺮِﻋ ﱡﻞِﺤﻳ ِﺪِﺟﺍﻮﹾﻟﺍ ﻲﹶﻟ “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksikepadanya.” d.

3. Kaidah Fiqh; antara lain:

  ﺎﻬِﻤﻳِﺮﺤ ﺗ ﻰﹶﻠﻋ ﹲﻞﻴِﻟﺩ ﱠﻝﺪﻳ ﹾﻥﹶﺃ ﱠﻻِﺇ ﹸﺔﺣﺎﺑِﻹﹾﺍ ِﺕﹶﻼﻣﺎﻌﻤﹾﻟﺍ ﻰِﻓ ﹸﻞﺻَﻷﹶﺍ“Pada dasarnya, segala bentuk mu’amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” . Apabila jatuh tempo utang ternyata sebelummasa kedatangannya dari perjalanan --misalnya, perjalanan untuk berhaji di mana debitur masih dalam perjalanan hajisedangkan jatuh tempo utang pada bulan Muharram atau Dzulhijjah-- maka kreditur boleh melarangnya melakukanperjalanan.

2. Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang dhaman atau

  87).“Ketentuan umum yang berlaku pada ganti rugi dapat berupa:(a) menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar, bahaya), seperti memperbaiki dinding...(b) memperbaiki benda yang dirusak menjadi utuh kembali seperti semula selama dimungkinkan, seperti mengembalikanbenda yang dipecahkan menjadi utuh kembali. Sementara itu, hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa akan datang ataukerugian immateriil, maka menurut ketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi).

b. Pendapat `Abd al-Hamid Mahmud al-Ba’li, Mafahim

  Ganti rugi (ta`widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yangmenyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain. Besar ganti rugi (ta`widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebutdan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potentialloss ) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-i’ah ).

PERATURAN BANK INDONESIA

TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAHDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR BANK INDONESIA

  bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu diatur kembali ketentuanmengenai Restrukturisasi Pembiayaan bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah dalam Peraturan Bank Indonesia. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas BankUmum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentangPerbankan Syariah.

3. Bank Umum Syariah, yang selanjutnya disebut BUS adalah Bank

  Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagaikantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang darisuatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantorinduk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasaberdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayaidan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan 7.

c. Penataan kembali (restructuring), yaitu perubahan persyaratan

  Pembiayaan tidak terbatas pada rescheduling atau reconditioning, antara lain meliputi:1) penambahan dana fasilitas Pembiayaan Bank;2) konversi akad Pembiayaan;3) konversi Pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangka waktu menengah;4) konversi Pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah. Surat Berharga Syariah Berjangka Waktu Menengah adalah surat bukti investasi berdasarkan prinsip syariah yang lazimdiperdagangkan di pasar uang dan/atau pasar modal berjangka waktu 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) tahun dengan menggunakan akad mudharabah atau musyarakah .

9. Penyertaan Modal Sementara adalah penyertaan modal BUS atau

  nasabah memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah restrukturisasi.(2) Restrukturisasi Pembiayaan hanya dapat dilakukan untuk Pembiayaan dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet.(3) Restrukturisasi Pembiayaan wajib didukung dengan analisis dan bukti-bukti yang memadai serta terdokumentasi dengan baik. menjadi sama dengan kualitas Pembiayaan sebelum dilakukanRestrukturisasi Pembiayaan atau menjadi lebih buruk, jika nasabah tidak memenuhi kriteria dan/atau syarat-syarat dalamperjanjian Restrukturisasi Pembiayaan dan/atau pelaksanaan (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) berlaku juga untuk Restrukturisasi Pembiayaan yang kedua danketiga.

Pasal 16 Restrukturisasi Pembiayaan dengan cara penataan kembali

  (restructuring) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dalam bentuk konversi Pembiayaan menjadi Surat Berharga Syariah Berjangka Waktu Menengah dan Penyertaan Modal Sementara tidak berlaku bagi BPRS. Pasal 19 Pelaporan Restrukturisasi Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 bagi BUS dan UUS mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai Laporan Berkala Bank Umum.

Pasal 18 , untuk BPRS wajib disampaikan setiap bulan paling lambat tanggal 14 pada bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan laporan

  (1) BPRS yang terlambat menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) dikenakan sanksi berupa denda uang sebesarRp100.000,00 (seratus ribu rupiah) per hari keterlambatan dan paling banyak seluruhnya sebesar Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah).(2) BPRS yang tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) dikenakan sanksi berupa denda uang sebesarpaling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Pasal 23 Pengenaan sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan Pasal 12, tidak mengurangi pengenaan sanksi dalam ketentuan Bank Indonesia Pasal 24 Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tidak mengurangi kewajiban Bank untuk menyampaikan LaporanRestrukturisasi Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18.

Pasal 23 Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/24/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah

  Pasal 27 Ketentuan pelaksanaan tentang Restrukturisasi Pembiayaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini akan diatur lebih lanjutdengan Surat Edaran Bank Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

NOMOR 10/18/PBI/2008

TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

I. UMUM

  Dalam rangka memelihara kesinambungan usahanya, Bank harus mengelola risiko kredit dari aktivitas Pembiayaan (credit risk), sehingga dapat meminimalkanpotensi kerugian yang akan terjadi. Kebutuhan dan penggunaan dana nasabah pada prinsipnya berbeda-beda sehingga Bank menyediakan fasilitas Pembiayaan kepada nasabah dalam beragamakad yang sesuai dengan prinsip syariah.

II. PASAL DEMI PASAL

  Yang dimaksud dengan “jangka waktu akad Pembiayaan awal” adalah jangka waktu yang disepakati oleh Bank dan nasabah dalam akadPembiayaan sebelum dilakukan restrukturisasi. Pasal 10 Ayat (1) Kebijakan dan Standard Operating Procedure Restrukturisasi Pembiayaan merupakan bagian dari kebijakan manajemen risiko Bank sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang berlaku.

Pasal 11 Cukup jelas

  Pasal 13 Yang dimaksud dengan “grace period” adalah masa tenggang yang diberikan Bank kepada nasabah untuk tidak melakukan pembayaran angsuran pokok dan margin untuk akad Murabahah atau Istishna’ atau angsuran Ijarah untukakad Ijarah dan Ijarah Muntahiyyah Bittamlik. Pasal 14 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “penggolongan nasabah” adalah pengelompokkan nasabah yang didasarkan pada:a.

b. Usaha Kecil dan Menengah dengan mempertimbangkan Sistem

  Pengendalian Risiko, Kondisi Tingkat Kesehatan dan Rasio Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum Bank. Ayat (2) Kualitas Pembiayaan bagi BPRS dinilai berdasarkan ketepatan dan/atau kemampuan membayar kewajiban nasabah.

Pasal 15 Cukup Jelas

  Ayat (5) Hal-hal yang diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia antara lain format laporan dan tata cara pelaporan. Apakah agunan dalam pembiayaan nilainya harus seimbang atau bahkan lebih besar dari pembiayaan yang diajukan?

4. Jika terjadi wanprestasi tahap-tahap apa saja yang dilakukan bank syariah? 5

  Tindakan apa saja yang dilakukan pihak bank apabila nasabah sengaja menunda pembayaran padahal ia mampu? Bagaimana proses yang dilakukan bank syariah, sehingga bank mengetahui mana nasabah nasabah yang menunda pembarayan dengan sengaja padahalmampu dan tidak mampu?

12. Dalam ganti rugi (ta’widh), apa saja yang menjadi tanggungan nasabah? 13

  Bagaimana penulisan akuntansi dana ta’zir dan ta’widh? Apakah ketentuan ta’zir dan ta’widh sudah sesuai dengan ketentuan PBI dan fatwa DSN MUI?

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Penerapan Akuntansi Pendapatan bagi Hasil pada PT. Bank Perkreditan Rakyat Syariah Al Wasliyah Medan
0
19
111
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah dalam pengambilan krdit umum pedesaan (KUPEDES) pada BRI Cabang Jember
0
3
105
Sistem informasi manajemen dana pengelolaan donatur berbasis WEB pada yayasan Griya Yatim dan Dhu'afa
13
83
306
Pengaruh media periklanan terhadap perilaku masyarakat penabung pada PT. Bank BRI Syariah
0
3
131
Strategi pemasaran dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) Syariah dalam peningkatan jumlah nasabah (studi pada DPLK bank Muamalat Indonesia)
12
60
120
Efisiensi pengelolaan dana Bnak Syariah di Indonesia (dengan pendekatan parametrik)
1
10
121
Pengaruh imbalan bagi hasil terhadap simpanan nasabah Deposito Mudhorobah pada Bank Syariah Bukopin
0
5
67
Analisis pengelolaan dana ta’zir dan ta’widh bagi nasabah wanprestasi pada PT. BRI Syariah
9
106
122
Strategi pengelolaan dana produk giro wadi'ah pada perbankan syariah : studi perbandingan pada PT Bank Muamalat tbk. dan PT Bank Bukopin Syariah tbk.
0
10
109
Aplikasi sistem pengelolaan dana Asuransi Haji : studi kasus pada PT. Asuransi Takaful Keluarga
0
8
145
Analisis biaya promosi dan pengaruhnya terhadap dana pihak ketiga pada PT Bank Bni Syariah
13
39
113
Analisis pelayanan prima terhadap nasabah di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Pembantu Cipulir
4
86
124
Penerapan bagi hasil pada tabungan haji BRI Syariah Jakarta
2
19
108
Pengawasan kredit pensiun kepada calon nasabah pada BRI Cabang Naripan Bandung
0
12
64
Peranan anggaran kas untuk meningkatkan efektivitas penyaluran dana bagi nasabah di Perum Pegadaian Cabang Purwakarta
0
4
1
Show more