KARYA TULIS ILMIAH PERSEPSI KONSUMEN APOTEK TERHADAP APOTEKER FARMASI KOMUNITAS DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH

Gratis

5
15
75
2 years ago
Preview
Full text
KARYA TULIS ILMIAH PERSEPSI KONSUMEN APOTEK TERHADAP APOTEKER FARMASI KOMUNITAS DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat Sarjana Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Disusun oleh Sucianna Dwi Setyawati 20120350086 PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016 KARYA TULIS ILMIAH PERSEPSI KONSUMEN APOTEK TERHADAP APOTEKER FARMASI KOMUNITAS DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat Sarjana Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Disusun oleh Sucianna Dwi Setyawati 20120350086 PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016 ABSTRACT Community pharmacist is the most accessible health practitioner in a society. The perception of the society towards community pharmacist becomes important factor in the development of pharmacist role in a health service system. The research aimed at finding the perception of pharmacy consumers towards community pharmacist. It was descriptive non experimental research in nature. The technique of sample collection was with purposive sampling. The data collection was conducted by direct survey in the places by using questionnaire. One hundred samples of respondents were taken from four drugstore. The data analysis was using descriptive statistic analysis and using frequency statistics. The result of the reserach showed that 74% respondents could differentiate between pharmacist and other staffs in the drugstore and 87% respondents knew that they could consult about medicine to the pharmacist. The perception about pharmacist roles as information source on medicine belonged to satisfied category (38%) and very satisfied one (28%). Consumer satisfaction towards pharmacist characteristics belonged satisfied category (61%). The respondent expectation on the development of pharmacist service was 85%. Keywords: Perception, Pharmacist, Consumer, Pharmacy xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis, dimana pada pasal 5 ayat 2 setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau (Depkes,2009). Kesehatan yaitu “afiat” yang berarti perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya dan berarti sehat yang sempurna. Dalam hal ini afiat merujuk pada manfaat dan kebaikan, sedangkan sehat diartiakan pada keadaan baik (Quraish Shihab). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan". (Surat Yunus Ayat 9). 1 2 Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu setiap tenaga kesehatan, khususnya apoteker, wajib memberikan pelayanan terbaik untuk menunjang kesehatan warga negara Indonesia melalui praktik pelayanan kefarmasian. Apoteker yang bekerja di apotek adalah Apoteker farmasi komunitas. Apoteker farmasi komunitas merupakan tenaga kesehatan yang paling mudah ditemui oleh masyarakat dan melayani obat-obatan baik dengan resep atau tanpa resep. Selain itu, di farmasi komunitas dilakukan konseling obat baik resep maupun tanpa resep kepada pasien, sebagai sumber informasi obat bagi tenaga kesehatan, pasien, dan masyarakat, serta turut berpartisipasi dalam program pelayanan kesehatan promotif (WHO, 1990). Farmasi komunitas adalah area praktik apoteker dimana obat dan produk kesehatan lainnya dijual atau disediakan langsung kepada masyarakat secara eceran, baik melalui resep dokter maupun tanpa resep dokter (FIP, 1998). Di Indonesia dikenal dengan sebutan apotek, dengan diterbitkannya PP No. 51 tahun 2009 definisi apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Apoteker di farmasi komunitas sebagai pemegang peran utama dalam pelayanan kefarmasian komunitas, menghadapi sebuah permasalahan dalam menyeimbangkan aspek komersial dan profesional sebagai tenaga kesehatan (Wirth dkk.,2011). Pelayanan yang bermutu sesuai standar kode etik dan profesi selain dapat menurunkan risiko medication error, 3 juga akan memberikan persepsi yang baik terhadap apotek karena sesuai kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Persepsi konsumen terhadap pelayanan apotek yang buruk akan merugikan apotek dari aspek bisnis karena konsumen akan beralih ke apotek lain (Handayani., 2009) Persepsi masyarakat terhadap apoteker farmasi komunitas menjadi faktor penting untuk membantu apoteker memformulasikan pengembangan perannya dalam sebuah system pelayanan kesehatan. Berdasarkan penelitian Rudi Hartono, S.Farm (2008) yang dilakukan di Apotek Buhamala Medan, pelayanan di Apotek Buhamala Medan cukup baik. Hal ini dapat dilihat apoteker pengelola apotek selalu berada di apotek sehingga pasien dapat bertanya dan mendapatkan informasi yang lengkap mengenai obat. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk mengetahui seperti apa persepsi konsumen terhadap apoteker farmasi komunitas di kota Banjarnegara sehingga dapat menjadi acuan pengembangan pelayanan profesi apoteker di kota Banjarnegara. B. Perumusan Masalah Masih rendahnya persepsi konsumen terhadap pentingnya keberadaan farmasi komunitas dibebarapa kota besar di Indonesia sehingga masyarakat belum dapat memanfaatkan keberadaan apoteker dalam upaya membantu pemilihan pengobatan yang rasional. Berdasarkan pendapat diatas maka timbul pertanyaan dalam penelitian ini: 1. Bagaimana gambaran kemampuan konsumen dalam mengenali apoteker di apotek? 4 2. Bagaimana gambaran persepsi konsumen terhadap peran apoteker sebagai sumber informasi obat? 3. Bagaimana gambaran tingkat kepercayaan konsumen terhadap apoteker? 4. Bagaimana gambaran kepuasan konsumen terhadap karakter apoteker? 5. Bagaimana gambaran harapan konsumen terhadap pengembangan pelayanan apoteker dan apotek? C. Keaslian Penelitian Penelitian Persepsi Konsumen Apotek Terhadap Apoteker Farmasi Komunitas sudah pernah dilakukan di kota Yogyakarta oleh Sekar Tyas Hutami mahasiswi Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan hasil penelitian menunjukan bahwa 75% responden mengetahui bisa melakukan konsultasi obat dengan apoteker dan sebanyak 62% responden mampu membedakan apoteker dengan petugas lain di apotek. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini dilakukan di kota Banjarnegara. D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah: 1. Untuk mengetahui gambaran kemampuan konsumen dalam mengenali apoteker di apotek. 2. Untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap peran apoteker sebagai sumber informasi obat. 5 3. Untuk mengetahui tingkat kepercayaan konsumen terhadap apoteker. 4. Untuk mengetahui kepuasan konsumen terhadap karakter apoteker. 5. Untuk mengetahui harapan konsumen terhadap pengembangan pelayanan apoteker dan apotek. E. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian adalah: 1. Bagi mahasiswa farmasi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi sebagai calon apoteker untuk lebih giat menempa diri agar menjadi apoteker yang baik dan lebih professional. 2. Bagi apoteker, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang persepsi konsumen terhadap keberadaan dan fungsi apoteker. 3. Bagi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi untuk menentukan arah pengembangan profesi apoteker. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Persepsi Persepsi diartikan sebagai proses individu dalam memilih, mengorganisasi, dan menafsirkan informasi yang ada untuk menciptakan sebuah gambar yang bermakna tentang dunia (Kotler, 2008). Menurut Robins (1999-124), persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka untuk memberikan makna terhadap lingkungannya. Menurut Miftah Thoha (2003), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan : a. Stimulus atau rangsangan Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus atau rangsangan yang hadir dari lingkungannya. b. Registrasi Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik berupa penginderaan dan syaraf seseorang yang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya. 6 7 Kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut. c. Interprestasi Interprestasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interprestasi bergantung pada cara pendalamannya, motivasi, dan kepribadian seseorang. Nelson dan Quick (1997) menyatakan terdapat tiga factor yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi sosial. Faktor-faktor tersebut yaitu: 1. Karakteristik pembuat persepsi, karakter tersebut dibangun oleh: a. Kefamilieran pembuat persepsi dengan objek persepsi. Kefamilieran dengan objek persepsi akan membuat pembuat persepsi lebih mudah untuk melakukan observasi atau penilaian. Meskipun pada saat observasi berlangsung pembuat persepsi harus mendapatkan data yang tepat sehingga bisa membuat penelitian yang akurat, sering kali akan dijumpai dimana pembuat persepsi akan membuang data yang tidak sesuai dengan gambarannya tentang objek persepsi ketika data dan gambaran karena kedekatan yang terjalin tidak sejalan. b. Prinsip hidup pembuat persepsi. Sebagai contoh, di Nigeria belum pernah ada seorang pemimpin perempuan sejak merdeka, sehingga akan berkembang anggapan bahwa perempuan tidak akan pernah mampu memimpin Negara. 8 c. Suasana hati pembuat persepsi. Saat suasana hati orang sedang buruk maka cenderung memandang segala sesuatu disekitarnya negative, begitu pula sebaliknya. d. Konsep diri pembuat persepsi. Ketika seseorang memiliki konsep diri yang positif maka akan cenderung membentuk persepsi positif terhadap objek persepsi. Semakin mampu mengenali konsep diri, akan semakin mudah menilai dengan akurat. e. Kerangka pemikiran pembuat persepsi. Sudut pandang atau pemikiran orang akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap sesuatu secara signifikan. 2. Karakter objek, dibangun oleh: a. Penampilan fisik objek. Salah satu karakter objek yang paling penting adalah penampilan fisik. Termasuk di dalamnya tinggi badan, berat badan, usia, ras, dan jenis kelamin. Sebagai tambahan, cara berpakaian juga menentukan objek diterima. Lebih penting lagi, pembuat persepsi akan lebih mudah menangkap penampilan yang baru atau asing bagi mereka. b. Komunikasi verbal antara pembuat persepsi dan objek persepsi. Komunikasi verbal yang mempengaruhi persepsi seseorang, misalnya nada bicara dan akses. c. Komunikasi non-verbal antara pembuat persepsi dan objek. Komunikasi non-verbal lebih mempengaruhi persepsi tentang seseorang dari pada komunikasi verbal. Kontak mata, mimik wajah, 9 bahasa tubuh, dan postur badan merupakan hal-hal yang berpengaruh pada pembuat persepsi. Mimik wajah yang bersifat cenderung menyampaikan makna universal, sedangkan komunikasi non-verbal lainnya mempunyai peluang pemaknaan yang berbeda dengan perbedaan budaya. d. Tujuan interaksi objek dan pembuat persepsi. Dugaan pembuat persepsi terhadap tujuan interaksi dengan objek persepsi harus diakui berpengaruh terhadap proses terjadinya persepsi. 3. Situasi pembentukan persepsi, yang bergantung pada: a. Konteks interaksi saat pembuat persepsi dan objek berinteraksi. Kontek sosial pada saat terjadinya interaksi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesan individu. Misalnya orang-orang yang bertemu dengan direktur eksekutif sebuah bank dalam suasana kampanye politik akan memiliki kesan yang jauh berbeda dengan orang yang bertemu direktur eksekutif tersebut di kantornya. b. Kekuatan situasi interaksi antara pembuat persepsi dan objek. Kekuatan situasi kondisional merupakan indikasi jelas perilaku dapat diterima. Akan ada beberapa situasi yang situasi tersebut mempengaruhi perilaku individu, namun tidak terlalu mempengaruhi pembawaan atau sikap individu tersebut terhadap objek. Hal tersebut disebut prinsip diskon dalam persepsi sosial. Sebuah ilustrasi akan prinsip diskon adalah situasi saat seorang petugas pemasaran bank yang ramah menyapa Anda untuk menanyakan hobi Anda dan 10 pengetahuan Anda terhadap industry perbankan. Apakah sikap ramah petugas akan menunjukkan kepribadiannya? Hal tersebut tidak akan dikategorikan sikap ramah sebagai kepribadiannya karena kondisi yang ada. Pada dasarnya, dalam konteks tersebut petugas pemasaran bank sedang mencari prospek untuk memperkenalkan pelayanan bank di tempat bekerja. 2. Apoteker Farmasi Komunitas Sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980. Apoteker dipercaya menjadi satu-satunya pemilik izin apotek sehingga bertanggung jawab penuh atas setiap aktivitas yang di selenggarakan apotek. Peran apoteker kini juga semakin berkembang dengan adanya kewajiban menjalankan apotek sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang pelayanan kefarmasian di apotek. Tanggung jawab apoteker akan pekerjaan kefarmasian sudah diatur dengan jelas pada bagian kesatu pasal 5 yaitu meliputi pengadaan, produksi, distribusi, dan pelayanan sediaan farmasi. Wiedenmeyer dkk.,2006 menyebutkan tentang peran apoteker dalam pelayanan kesehatan dengan istilah 8 bintang (Eight-Star Pharmacist), yaitu: 11 a. Care giver, artinya apoteker dapat memberi pelayanan kepada pasien, memberi informasi obat kepada masyarakat dan kepada tenaga kesehatan lainnya. b. Decision maker, artinya apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya mampu mengambil keputusan dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada pasien, sebagai contoh ketika pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka apoteker dapat berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif yang sama namun harganya lebih terjangkau. c. Communicator, artinya apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan pihak ekstern (pasien atau customer) dan pihak intern (tenaga profesional kesehatan lainnya). d. Leader, artinya apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek. Sebagai seorang pemimpin, apoteker merupakan orang yang terdepan di apotek, bertanggung jawab dalam pengelolaan apotek mulai dari manajemen pengadaan, administrasi, manajemen SDM serta bertanggung jawab penuh dalam kelangsungan hidup apotek. e. Manager, artinya apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam hal pelayanan, pengelola manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan administrasi keuangan. Untuk itu apoteker harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen. 12 f. Life long learner, artinya apoteker harus terus-menerus menggali ilmu pengetahuan, senantiasa belajar, menambah pengetahuan dan keterampilannya serta mampu mengembangkan kualitas diri. g. Teacher, artinya apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi stafnya, harus mau meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni proesinya, tidak hanya berperan sebagai orang yang tahu saja, namun harus dapat melaksanakan profesinya dengan baik. h. Researcher, berkaitan dengan peran sebagai life long learner, apoteker dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dengan melakukan penelitian baru yang bermanfaat bagi dunia kesehatan. Berdasarkan KepMenKes RI No. 1027/MenKes/SK/IX/2004, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi yang telah megucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian. Apoteker farmasi komunitas adalah apoteker yang melakukan praktik pelayanan kefarmasian di komunitas. Tempat praktik apoteker farmasi komunitas adalah apotek. Tanggung jawab apoteker dalam pengelolaan suatu apotek meliputi: a. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat. b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya. 13 c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi: 1) Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi diberikan baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat. 2) Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan atau suatu obat dan perbekalan farmasi lainnya. (Depkes, 2004) 3. Konsumen Pasal 1 ayat(2) tentang Undang-Undang Perlindungan Konsumen nomor 8 tahun 1999, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Dalam praktik kefarmasian, konsumen apotek atau pasien berhak mendapatkan: a. Informasi obat sekurang-kurangnya cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. b. Konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan, dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. c. Monitoring penggunaan obat. d. Edukasi apabila pasien ingin melakukan swamedikasi. 14 e. Pelayanan residensial (home care) khususnya pasien lansia atau penyakit kronis. 4. Tingkat Kepercayaan Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang-orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang dipercayai (Moorman, 1993). Dalam pelayanan kesehatan, pasien akan membangun dan meningkatkan kepercayaan mereka dengan tenaga kesehatan berdasarkan pengalaman mereka mengenalnya. Ketika pasien tidak familier dengan tenaga kesehatan yang dimaksud, maka mereka menggunakan keyakinan. Keyakinan menimbulkan ekspektasi bahwa mereka tidak akan dikecewakan (Gidman, 2012). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan konsumen adalah kesediaan satu pihak menerima resiko dari pihak lain berdasarkan keyakinan dan harapan bahwa pihak lain akan melakukan tindakan sesuai yang diharapkan, meskipun kedua belah pihak belum mengenal satu sama lain. 5. Kepuasan Terhadap Karakter Apoteker Kepuasan konsumen adalah sejauh mana manfaat sebuah produk dirasakan (perceived) sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan 15 (Amir,2005). Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan menanyakan seara langsung apakah konsumen puas atau tidak terhadap produk/jasa yang diperoleh (Rangkuti, 2000). Kepuasan dan ketidakpuasan konsumen terbentuk dari model diskonfirmasi ekspektasi, yaitu menjelaskan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan konsumen merupakan dampak dari perbandingan antara harapan pelanggan sebelum pembelian dengan sesungguhnya yang diperoleh pelanggan dari produk atau jasa tersebut (Sumarwan, 2003). Bila kepuasan konsumen terhadap produk/jasa jauh dari apa yang diharapkan, maka konsumen akan kehilangan minat terhadap produsen/penyedia jasa dalam hal tersebut adalah apoteker, demikian pula sebaliknya, jika barang/jasa yang mereka nikmati memenuhi/melebihi tingkat kepentingannya, maka konsumen akan cenderung memakai lagi barang/jasa tersebut (Kotler, 2008). Penelitian Didik Setiawan dkk. (2009) yang dilakukan di wilayah kabupaten Tegal, menyatakan bahwa profil pelayanan kefarmasian di apotek kabupaten Tegal sudah cukup baik, ditunjukan dengan kehadiran apoteker setiap hari di apotek serta peran aktif apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek. Untuk penilaian kepuasan pasien, di peroleh hasil sangat puas pada dimensi responsivines, reliability, dan empathy. Sedangkan pada dimensi assurance dan tangibes masuk dalam kategori puas. 16 6. Harapan Terhadap Pengembangan Pelayanan Apoteker dan Apotek Berdasarkan teori harapan, dapat dipahami bahwa harapan merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan. Komponen harapan dari Synder (1994) terdiri dari 3 komponen, yaitu tujuan (goals), willpower, dan waypower. Tujuan (goals) dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi target atau titik akhir dari urutan aktivitas mental. Willpower mengarah pada motivasi yang diperlukan untuk memulai dan mempertahankan langkah menuju tujuan. Menurut Braithwaite (2004), willpower merupakan persepsi diri yang dapat digunakan sepanjang jalan untuk mencapai tujuan. Memiliki willpower bermanfaat untuk memulai sesuatu dan mempertahankan ketekunan dalam perjalanan mencapai tujuan. Waypower merupakan langkah atau jalan menuju tujuan yang diinginkan, diperlukan untuk mencapai tujuan dan mengarahkan individu jika menjumpai halangan. Dalam PP No.51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian yang dimaksud dengan pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatan mutu kehidupan pasien (Depkes, 2009). 17 B. Kerangka Konsep APOTEKER PELAYANAN FARMASI KLINIK Dispensing Pelayanan Informasi Obat Konseling Pelayanan Kefarmasian Di Rumah PERSEPSI KONSUMEN Mengetahui Tidak Mengetahui Gambar 1. Kerangka Konsep 18 C. Keterangan Empirik Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang persepsi konsumen meliputi : kemampuan konsumen dalam mengenali apoteker, peran apoteker sebagai sumber informasi obat, tingkat kepercayaan konsumen kepada apoteker dibandingkan dengan tenaga kesehatan lain, kepuasan konsumen terhadap karakter apoteker, dan harapan konsumen akan pengembangan pelayanan apoteker serta apotek yang berada di wilayah kota Banjarnegara. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif non eksperimental terhadap konsumen apotek di wilayah kecamatanBanjarnegara.Data penelitian diperoleh langsung dari responden menggunakan metode kuesioner.Data yang diambil merupakan data primer yang diisi secara langsung oleh responden.Teknik sampling yang dipilih yaitu purpose sampling, yaitu berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. B. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di empat apotek yang terletak di wilayah kecamatanBanjarnegara pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2015. Lokasi empat apotek tempat pengambilan data adalah: 1. Apotek Hidayah 2. Apotek Pahala 3. Apotek Salma 4. Apotek Alip Farma C. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006).Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh konsumen apotek di KecamatanBanjarnegara.Sampel penelitian adalah konsumen pengunjung apotek di saat penulis mengambil data. 19 20 Teknik pengambilan sampel dipilih secara purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria tertentu. Apotek tempat pengambilan sampel adalah apotek yang berlokasi di wilayah KecamatanBanjarnegara, ramai pengunjung, dan mengijinkan peneliti mengambil sampel konsumen. Jumlah apotek yang akan digunakan sebagai tempat pengambilan sampel dapat dihitung berdasarkan rumus berikut (Nazir, 1988) : �= Keterangan: �− �. − �+ − n = jumlah sampel minimum N = ukuran populasi = 12 apotek p = proporsi populasi persentase kelompok I = 0,5 D = derajad perkiraan membuat kekeliruan = 10% 1-p = proporsi sisa di dalam populasi = 0,5 Proporsi populasi sampel tidak diketahui sehingga diambil harga maksimum p dan (1-p), yaitu masing-masing 0,5. Dalam perhitungan, digunakan nilai derajad perkiraan membuat kekeliruan sebesar 10% (0,10) dan N yaitu 12 apotek berdasarkan data apotek di Kecamatan Banjarnegara. Berdasarkan rumus tersebut diperoleh nilai n = 2,22, sedangkan pada penelitian tersebut apotek yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah 4 apotek. 21 Untuk menghitung jumlah sampel responden apotek digunakan rumus berikut (Nawawi, 2005): Keterangan : �≥ . �� ² � n = jumlah sampel minimum p = proporsi populasi persentase kelompok = 0,5 q = proporsi sisa di dalam populasi (1-p) = 0,5 Z1/2α = derajad konfidensi pada 95% = 1,96 b = persentase perkiraan membuat kekeliruan = 10% Jumlah sampel apotek digunakan rumus Nawawi karena tidak diketahui jumlah populasi serta proporsi populasi sampel juga tidak diketahui sehingga diambil harga maksimum p dan (1-p), yaitu masingmasing 0,5. Dalam perhitungan digunakan persentase perkiraan membuat kekeliruan sebesar 10%. Berdasarkan rumus tersebut diperoleh n = 96, pada penelitian diambil sampel sebanyak 100responden. D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Kriteria Inklusi a. Konsumen apotek yang berusia di atas 17 tahun b. Bersedia mengisi kuesioner c. Pernah berkunjung ke apotek 22 2. Kriteria Eksklusi Keluarga yang berasal dari pegawai apotek tersebut Konsumen yang tidak mampu dalam mengisi kuesioner Apoteker Pemilik Apotek tidak ganti atau tetap E. Identifikasi VariabelPenelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian a. Variabel bebas : Apoteker b. Variabel tergantung : Persepsi konsumen apotek terhadap apoteker c. Variabel perancu : Sarana fisik (tangible), Ketanggapan (responsiveness), Kepedulian (emphaty) 2. Definisi Operasional Agar terdapat keseragaman persepsi penelitian, maka dibuat suatu definisi operasional penelitian sebagai berikut: a. Apotek Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker dan berlokasi di Wilayah KecamatanBanjarnegara. b. Konsumen Konsumen adalah pengunjung apotek yang mendapatkan pelayanan kefarmasian di apotek hidayah, apotek pahala, apotek salma, dan apotek alip farma. 23 c. Apoteker farmasi komunitas Apoteker farmasi komunitas adalah apoteker yang melakukan praktik kefarmasian di apotek hidayah, apotek pahala, apotek salma, dan apotek alip farma. d. Petugas apotek Petugas apotek adalah pegawai di apotek hidayah, aptek pahala, apotek salma, dan apotek alip farma selain apoteker. e. Informasi obat Informasi obat yang dimaksud dalam penelitian tersebut adalah informasi mengenai: 1) Saran pemilihan obat tanpa resep. 2) Informasi aturan pakai obat. 3) Informasi mengenai obat herbal 4) Informasi mengenai efek samping obat 5) Informasi mengenai biaya obat 6) Informasi penyimpanan obat. 7) Informasi lamanya durasi pengobatan. 8) Informasi mengenai makanan dan minuman yang harus dihindari selama pengobatan. 9) Informasi mengenai aktivitas yang harus dihindari selama pengobatan. 24 10) Informasi mengenai obat lain yang boleh atau tidak boleh digunakan selama menjalani pengobatan. f. Karakter apoteker Karakter apoteker yang dinilai kepuasannya pada penelitian adalah: 1) Bahasa yang digunakan 2) Kemampuan memilihkan alternatife obat 3) Kelengkapan dalam menyampaikan informasi penggunaan obat 4) Kebijakan dalam melayani 5) Kelengkapan dalam menyampaikan informasi cara kerja obat dalam tubuh 6) Kemampuan apoteker dalam menjawab pertanyaan dari pasien 7) Perhatian apoteker terhadap kesehatan pasien 8) Hubungan profesional apoteker dengan pasien 9) Menjaga privasi dalam pelayanan 10) Waktu yang digunakan untuk penyampaian g. Pengembangan pelayanan apoteker Pengembangan pelayanan apoteker yang dimaksud dalam penelitian adalah monitoring terapi oleh apoteker, kemudahan menghubungi apoteker di luar jam kerja, dan penarikan biaya 25 jasa apoteker untuk konsultasi obat resep, non resep, dan saran umum atas keluhan pasien. h. Pengembangan pelayanan apotek Pengembangan pelayanan apotek yang dimaksud dalam penelitian adalah jam buka apotek 24jam, ketersediaan alat diagnosa dan ruangan konsultasi obat, keberadaan dokter praktik, dan kelengkapan obat. i. Data primer Data primer menunjukkan data yang diambil langsung dari responden. 26 F. Instrumen penelitian 1. Alat a. Instrumen berupa kuesioner yang diisi oleh respondenterdiri atas dua kelompok pertanyaan sebagai berikut: 1) Pertanyaan mengenai data diri responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan pekerjaan. 2) Pertanyaan mengenai gambaran konsumen terhadap apoteker farmasi komunitas yang terdiri dari lima bagian : a). Pengenalan masyarakat terhadap apoteker yang terdiri dari pertanyaan tentang kemampuan masyarakat mengenali apoteker, pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam berkonsultasi obat dengan apoteker, dan frekuensi kunjungan konsumen ke apotek. Pertanyaan pada bagian ini merupakan hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Sekar Tyas Hutami (2013). b). Tingkat kepercayaan konsumen terhadap apoteker, berupa pertanyaan tentang frekuensi konsumen dalam berkonsultasi kepada apoteker mengenai masalah kesehatan dan masalah obat. Bagian ini merupakan hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Sekar Tyas Hutami (2013). c). Apoteker sebagai sumber informasi obat. Bagian ini merupakan hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Sekar Tyas Hutami (2013), yang memuat perbandingan 27 frekuensi pemberian informasi obat oleh apoteker dan dokter dalam pandangan konsumen, serta pilihan yang diambil konsumen dalam pandangan konsumen, serta pilihan yang diambil konsumen dalam menangani gejala penyakit ringan. d). Kepuasan konsumen terhadap karakter apoteker dalam melayani konsumen. Karakter yang dinilai kepuasannya meliputi bahasa yang digunakan, pemenuhan permintaan khusus pasien, kelengkapan penyampaian penggunaan obat dan cara kerja obat, kebijakan apoteker dalam melayani, hubungan professional apoteker dengan pasien, perhatian apoteker terhadap kesehatan pasien, privasi dalam pelayanan, dan waktu yang digunakan untuk penyampaian merupakan hasil modifikasi penelitian Sekar Tyas Hutami (2013). e). Harapan konsumen terhadap pengembangan pelayanan apoteker dan apotek. Pengembangan pelayanan apoteker yang dimaksud adalah kemudahan apoteker dihubungi di luar jam kerja, praktik monitoring terapi oleh apoteker, serta penarikan biaya jasa konsultasi obat resep atau non resep dan saran umum atas keluhan pasien. Pengembangan pelayanan apotek yang dimaksud adalah jam buka apotek 24 jam, ketersediaan ruangan konsultasi obat dan alat diagnosis, keberadaan dokter praktik, dan kelengkapan obat. Penentuan jenis pengembangan 28 pelayanan apoteker yang diajukan kepada pasien merupakan hasil modifikasi penelitian Sekar Tyas Hutami (2013). b. Program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi15yang digunakan untuk mengolah data angket (kuesioner). c. Program Microsof Excel 2010 untuk mengolah data kuesioner berupa scoring hasil data. 2. Bahan Bahan penelitian adalah data primer yang diperoleh melalui jawaban responden pada kuesioner. G. Cara Kerja Cara kerja penelitian terdiri dari: 1. Tahap persiapan Tahap persiapan terdiri dari studi pustaka, penyusunan proposal, dan pengurusan izin penelitian. 2. Tahap pelaksanaan Pengambilan data penelitian. 3. Tahap penyelesaian Pengolahan data penelitian dan pembahasan data meliputi penyusunan laporan penelitian dan penarikan kesimpulan. Pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan data primer. Data primer yang didapatkan dari pengisian kuesioner terdiri dari: Gambaran persepsi responden apotek 29 terhadap apoteker farmasi komunitas yang terdiri dari lima bagian, yaitu pengenalan masyarakat terhadap apoteker, tingkat kepercayaan terhadap apoteker, apoteker sebagai sumber informasi obat, kepuasan terhadap karakter apoteker, harapan terhadap pengembangan pelayanan apoteker. Data ini diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap pasien dengan menggunakan kuesioner yang telah disipkan. 30 H. Skema Langkah Kerja Studi pustaka Tahap Persiapan Penyusunan proposal Pengurusan izin penelitian Tahap Pelaksanaan Pengambilan data penelitian Pengelolaan data penelitian Tahap Penyelesaian Pembahasan data meliputi penyusunan laporan penelitian dan penarikan kesimpulan Gambar 2. Skema Langkah Kerja 31 I. Analisis Data Menurut Nazir (1988), analisis data merupakan bagian yang penting dalam metode ilmiah, karena dengan analisis data akan diperoleh arti dan makna yang berguna untuk memecahkan masalah dalam penelitian. Oleh karena itu data diolah dan dianalisis sehingga mampu untuk menjelaskan variable penelitian yang telah ditentukan sesuai dengan pendekatan yang dipilih. Data primer yang didapatkan dari pengisian kuesioner terdiri dari dua macam data induk, yaitu : 1. Data karakteristik responden berupa identitas responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pendapatan per bulan, dan pekerjaan. 2. Gambaran persepsi konsumen apotek terhadap apoteker farmasi komunitas yang terdiri dari lima bagian, yaitu pengenalan masyarakat terhadap apoteker, tingkat kepercayaan terhadap apoteker, apoteker sebagai sumber informasi obat, kepuasan terhadap karakter apoteker, harapan terhadap pengembangan pelayanan apoteker. Penyajian gambaran persepsi konsumen apotek terhadap apoteker farmasi komunitas dilakukan dengan instrumen kuesioner yang menggunakan skala Likert, Guttman, dan urutan bertingkat, serta menggunakan pengolahan data statistic deskriptif yang meliputi statistik frekuensi. Data primer yang didapat dari penelitian selanjutnya diolah dan dianalisis dengan program SPSS versi 15 dan Microsoft Excel 2010.Cara analisis data pada masing-masing bagian terlihat pada tabel 1. 32 Tabel 1. Tabel Cara Analisa Data Pada Setiap Bagian Kuesioner Bagian kuesioner Cara Analisa Data Pengenalan konsumen terhadap apoteker Statistik deskriptif Tingkat kepercayaan terhadap apoteker Statistik deskriptif Apoteker sebagai sumber informasi obat Statistik deskriptif Kepuasan konsumen terhadap karakter apoteker Statistik deskriptif Harapan konsumen terhadap pengembangan Statistik deskriptif pelayanan apoteker Skala Likert yang digunakan memiliki empat alternatifjawaban.Pemilihan jumlah alternatif jawaban genap karena responden cenderung memilih alternatif jawaban yang ada di tengah ketika jumlah alternatif jawaban ganjil (Arikunto, 2006). 33 Tabel 2. Tabel Pemberian Jawaban Pada Setiap Pertanyaan Kuesioner Bagian Pertanyaan Pengenalan konsumen terhadap apoteker Kemampuan membedakan apoteker dengan petugas lain di apotek Instrumen Kuesioner Mengenali nama apoteker Skor Ya = 1 Tidak = 0 Pengalaman dan pengetahuan konsultasi obat dengan apoteker Skala Guttman Pengetahuan akan siapa yang menyerahkan obat dan memberikan informasi obat Asisten apoteker =1 Petugas lain = 2 Apoteker = 3 Tidak tahu = 4 Frekwensi kunjungan ke apotek dalam setahun Tingkat Kepercayaan 1-4 kali = 1 4-8 kali = 2 9-12 kali = 3 Lebih dari 12 kali = 4 Frekwensi berkonsultasi masalah kesehatan pada tenaga kesehatan Tidak pernah =1 Skala Guttman Frekwensi berkonsultasi masalah obat kepada tenaga kesehatan Urutan tingkat kepercayaan kepada tenaga kesehatan Kadang –kadang =2 Sering = 3 Sangat sering =4 Urutan Bertingkat Peringkat 1 = 5 Peringkat 2 = 4 Peringkat 3 = 3 Peringkat 4 = 2 Peringkat 5 = 1 34 Bagian Apoteker sebagai sumber informasi obat Pertanyaan Kepuasan terhadap kejelasan informasi yang didapat dari dokter dan apoteker Pengatasan penyakit minor Kepuasan terhadap karakter apoteker Instrumen Kuesioner Skala Likert Skala Guttman Kepuasan terhadap apoteker Skala Likert Harapan terhadap pengembangan pelayanan apoteker dan apotek Harapan terhadap pengembangan apoteker Harapan terhadap pengembangan pelayanan apotek Skor Sangat tidak puas = 1 Tidak puas = 2 Puas = 3 Sangat puas = 4 Konsultasi dokter = 1 Konsultasi apoteker = 2 Merawat sendiri =3 Sangat tidak puas = 1 Tidak puas = 2 Puas = 3 Sangat puas = 4 Sangat tidak setuju =1 Tidak setuju = 2 Setuju = 3 Sangat setuju= 4 Skala Likert Sangat tidak setuju = 1 Tidak setuju = 2 Setuju = 3 Sangat setuj = 4 Selanjutnya untuk data skala Gutman, analisis yang digunakan hanya meliputi frekuensi dan penyajian berupa diagram, sedangkan untuk skala Likert, masing-masing hasil skor setiap pertanyaan di jumlah, dipersentasekan, lalu dikategorikan. 35 Perhitungan kategori skala Likert sebagai berikut (Supranto, 2000) : Nilai tertinggi = 4 x 100 = 400 Nilai terendah = 1 x 100 = 100 �� � = = �� �� 4 = 75 − 4 ����� − �� �� � � �ℎ Dengan jarak interval 75, maka dapat dibuat pengelompokan nilai sebagai berikut: Tabel 3. Tabel Kategorisasi Hasil Skala Likert Kategori Nilai Persentase Bagian kepuasaan Bagian harapan 100 – 174 25,00% - 43,50% Sangat tidak puas Sangat tidak setuju 175 – 249 43,75% - 62,25% Tidak puas Tidak setuju 250 – 324 62,50% - 81,00% Puas Setuju 325 – 400 81,25% - 100% Sangat puas Sangat setuju BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pada bab ini akan disajikan data berupa distribusi responden pada beberapa variabel, data disajikan dalam bentuk tabel dengan frekuensi dan persentase, data primer menunjukkan data yang diambil langsung kepada responden. 1. Karakteristik Responden Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan dan pekerjaan No Item Variabel Frekuensi Persen(%) Laki-laki 42 42 1 Jeniskelamin Peremepuan 58 58 16-30 39 39 31-45 30 30 2 Umur 46-56 19 19 >56 12 12 SD 8 8 SMP 5 5 3 Pendidikan SMA 42 42 PT 45 45 < 1 juta 18 18 1-3 juta 47 47 4 Pendapatan 3-5 juta 26 26 > 5 juta 9 9 PNS 27 27 IRT 13 13 5 Pekerjaan Staf/swasta 32 32 Wiraswasta 23 23 Lainnya 5 5 Total 100 100 Sumber : Data Primer 36 37 Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat karakteristik responden dalam penelitian ini, berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 58 responden, berdasarkan umur mayoritas responden berada pada kelompok umur 16 tahun sampai dengan 30 tahun sebanyak 39 responden, berdasarkan pendidikan kebanyakan responden sudah menempuh pendidikan perguruan tinggi sebanyak 45 responden, sedangkan berdasarkan pendapatan mayoritas responden memiliki pendapatan 1 juta sampai dengan 3 juta/bulan sebanyak 47 responden, dan berdasarkan pekerjaan mayoritas responden merupakan staf/karyawan swasta sebanyak 32 responden. 2. Pengenalan Masyarakat Terhadap Apoteker Pada bagian ini akan disajikan data distribusi responden tentang pengenalan apoteker, konsultasi dan kunujungan ke apotek dalam setahun. a. Pengenalan Terhadap Apoteker Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Pengenalan Terhadap Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Ya 74 74 2 Tidak 26 26 Total 100 100 Sumber : Data primer Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan pengenalan terhadap apoteker, mayoritas responden sudah mengenal apoteker yaitu sebanyak 74 responden. 38 b. Mengetahui Nama Apoteker Yang Melayani Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Nama Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Ya 55 55 2 Tidak 45 45 Total Sumber : Data Primer 100 100 Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan pengenalan nama apoteker oleh responden, dimana mayoritas responden sudah mengetahui nama apoteker sebanyak 55 responden. c. Pengetahuan Tentang Petugas Yang Menyerahkan Obat Tabel7.Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Petugas Yang Menyerahkan Obat No Kategori Frekuensi Persen 1 Asisten apoteker 27 27 2 Apoteker 48 48 3 Petugas lain 6 6 4 Tidak tahu 19 19 Total 100 100 Sumber : Data Primer Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan pengetahuan responden terhadap petugas yang menyerahkan obat diapotek, sebagian responden menganggap yang menyerahkan obat adalah apoteker sebanyak 48 responden. 39 d. Konsultasi Dengan Apoteker Tabel 8. Distribusi Responden Berdasarkan Pernah Konsultasi Dengan Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Ya 82 82 2 Tidak 18 18 100 100 Total Sumber : data primer Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi yang pernah dilakukan dengan apoteker, mayoritas responden pernah konsultasi dengan apoteker yaitu sebanyak 82 responden. e. Pengetahuan Tentang Layanan Konsultasi Apoteker Tabel 9. Distribusi Responden Tentang Konsultasi Dengan Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Tahu 87 87 2 Tidak tahu 13 13 100 100 Total Sumber : data primer Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan pengetahuan tentang konsultasi dengan apoteker, mayoritas responden mengetahui dapat berkonsultasi dengan apoteker sebanyak 87 responden. 40 f. Jumlah Kunjungan Apotek Dalam Setahun Tabel 10.Dsitribusi Responden Berdasarkan Kunjungan Ke Apotek Dalam Setahun NO Kategori Frekuensi Persen 1 2 3 4 1-4 4-8 9-12 > 12 Total Sumber : data primer 42 38 11 9 100 42 38 11 9 100 Berdasarkan tabel 10 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan kunjungan ke apotek dalam setahun, mayoritas responden dalam setahun pernah mengunjungi apotek 1 sampai dengan 4 kali/tahun sebanyak 42 responden. 3. Tingkat Kepercayaan Pada bagian ini dijelaskan akan disajikan hasil penelitian tentang seberapa sering responden melakukan konsultasi tentang masalah kesehatan yang dialami, konsultasi tentang obat yang diterima, dan prioritas berobat responden. a. Konsultasi Masalah Kesehatan Tabel 10.1 Konsultasi Kesehatan Dengan Dokter No Kategori Frekuensi 1 Tidak pernah 7 2 Kadang 63 3 Sering 29 4 Sangat Sering 1 Total 100 Sumber : data primer Persen 7 63 29 1 100 41 Berdasarkan tabel 10.1 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi kesehatan dengan dokter, mayoritas responden mengatakan kadang-kadang berkonsultasi dengan dokter yaitu sebanyak 63 responden. Tabel 10.2 Konsultasi Kesehatan Dengan Apoteker No 1 2 Kategori Tidak pernah Kadang Frekuensi 15 69 Persen 15 69 3 Sering 14 14 2 100 2 100 4 Sangat sering Total Sumber : data primer Berdasarkan tabel 10.2 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi kesehatan dengan apoteker, mayoritas responden mengatakan kadang-kadang berkonsultasi dengan apoteker yaitu sebanyak 69 responden. Tabel 10.3 Konsultasi Kesehatan Dengan Bidan No Kategori Frekuensi 1 2 3 4 Tidak pernah Kadang Sering Sangat sering Total Sumber : data primer 59 27 13 1 100 Persen 59 27 13 1 100 Berdasarkan tabel 10.3 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi kesehatan dengan bidan, mayoritas responden mengatakan tidak pernah berkonsultasi dengan bidan yaitu sebanyak 59 responden. 42 Tabel 10.4 Konsutlasi Kesehatan Dengan Perawat No Kategori Frekuensi Persen 1 Tidak pernah 52 52 2 Kadang 38 38 3 Sering 9 9 4 Sangat sering Total 1 100 1 100 Sumber : data primer Berdasarkan tabel 10.4 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi kesehatan dengan perawat, mayoritas responden mengatakan tidak pernah berkonsultasi dengan perawat yaitu sebanyak 52 responden. Tabel 10.5 Konsultasi Kesehatan Dengan Dokter Gigi No Kategori Frekuensi Persen 1 Tidak pernah 43 43 Kadang Sering Sangat sering Total Sumber : data primer 49 7 1 100 49 7 1 100 2 3 4 Berdasarkan tabel 10.5 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi kesehatan dengan dokter gigi, mayoritas responden mengatakan kadang-kadang berkonsultasi dengan dokter gigi yaitu sebanyak 49 responden. 43 b. Konsultasi Tentang Obat Yang Diterima Tabel 11.1 Konsultasi Obat Dengan Dokter No Kategori Frekuensi Persen 1 2 Tidak Pernah Kadang 15 57 15 57 3 Sering 25 25 4 Sangat sering 3 3 100 100 Total Sumber : data primer Berdasarkan tabel 11.1 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi obat yang diterima dengan dokter, mayoritas responden mengatakan kadang-kadang berkonsultasi dengan dokter yaitu sebanyak 57 responden. Tabel 11.2 Konsultasi Obat Dengan Apoteker No Kategori Frekuensi 1 Tidak Pernah 15 2 Kadang 61 3 Sering 23 4 Sangat sering 1 Total 100 Sumber : data primer Persen 15 61 23 1 100 Berdasarkan tabel 11.2 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi obat yang diterima dengan apoteker, mayoritas responden mengatakan kadang-kadang berkonsultasi dengan apoteker yaitu sebanyak 61 responden. 44 Tabel 11.3 Konsultasi Obat Dengan Bidan No Kategori Frekuensi 1 Tidak pernah 61 2 Kadang 23 3 Sering 15 4 Sangat sering 1 Total 100 Sumber : data primer Persen 61 23 15 1 100 Berdasarkan tabel 11.3 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi obat yang diterima dengan bidan, mayoritas responden mengatakan tidak pernah berkonsultasi dengan bidan yaitu sebanyak 61 responden. Tabel 11.4 Konsultasi Obat Dengan Perawat No Kategori 1 2 3 4 Tidak pernah Kadang Sering Sangat sering Total Sumber : data primer Frekuensi Persen 49 39 10 2 100 49 39 10 2 100 Berdasarkan tabel 11.4 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi obat yang diterima dengan perawat, mayoritas responden mengatakan tidak pernah berkonsultasi dengan perawat yaitu sebanyak 49 responden Tabel 11.5 Konsultasi Obat dengan Dokter gigi No Kategori Frekuensi 1 2 3 4 Tidak Pernah Kadang Sering Sangat sering Total Sumber : data primer 51 41 7 1 100 Persen 51 41 7 1 100 45 Berdasarkan tabel 11.5 dapat dilihat distribusi responden berdasarkan konsultasi obat yang diterima dengan doker gigi, mayoritas responden mengatakan tidak pernah berkonsultasi dengan dokter gigi yaitu sebanyak 51 responden. c. Prioritas Berobat Pasien Tabel 12.Prioritas Utama Pasien Saat Sakit Mengunjungi Tenaga Kesehatan No Prioritas Tenaga kesehatan Jumlah 1 I Dokter 49 2 II Apoteker 39 3 III Dokter gigi 29 4 IV Perawat 31 5 V Bidan 40 Sumber : Data Primer Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat prioritas utama saat sakit dalam mengunjungi tenaga kesehatan, sebanyak 49 responden dari 100 responden memilih dokter yang pertama dikunjungi. Sedangkan prioritas kedua adalah apoteker sebanyak 39 responden, prioritas ketiga adalah dokter gigi sebanyak 29 responden, prioritas keempat perawat sebanyak 31 responden, dan yang ke lima adalah bidan sebanyak 40 responden. 4. Apoteker Sebagai Sumber Informasi Pada bagian ini dijelaskan akan disajikan hasil penelitian tentang informasi yang didapat responden tentang pengobatan yang diberikan oleh dokter atau apoteker, dan cara responden mengatasi beberapa gejala penyakit. 46 a. Sumber Informasi Obat Yang Diberikan Oleh Dokter Tabel 13.Kejelasan Informasi Obat Yang Diberikan Oleh Dokter No Kategori Frekuensi Persen 1 2 3 4 Sangat puas Puas Tidak puas Sangat Tidak puas Total Sumber : Data Primer 28 44 20 8 100 28 44 20 8 100 Dari tabel 13 dapat dilihat tingkat kepuasan responden tentang kejelasan informasi obat yang disampaikan oleh dokter, mayoritas responden menyatakan puas dengan informasi obat yang diberikan dokter sebanyak 44 responden. b. Sumber Informasi Obat Yang Diberikan Oleh Apoteker Tabel 14.Informasi Obat Yang Diberikan Oleh Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Sangat puas 28 28 2 Puas 38 38 3 Tidak puas 23 23 4 Sangat tidak puas 11 11 Total 100 100 Sumber : Data Primer Dari tabel 14 dapat dilihat tingkat kepuasan responden tentang kejelasan informasi obat yang disampaikan oleh Apoteker, mayoritas responden menyatakan puas dengan informasi obat yang diberikan apoteker sebanyak 38 responden. 47 c. Cara Mengatasi Gejala Penyakit Tabel 15. Cara Responden Mengatasi Gejala-Gejala Penyakit NO Gejala Penyakit Dokter Apoteker Mandiri 1 Sakit kepala 33 33 34 2 Sakit punggung 35 20 45 3 Nyeri otot 32 24 44 Jerawat/kulit 4 36 18 46 kemerahan 5 Batuk 25 54 21 6 Pilek 22 55 23 Kelelahan yang tidak 7 52 15 33 Wajar 8 Susah tidur 53 15 32 9 Masalah pencernaan 33 39 28 10 Susah BAB 29 39 32 11 Diare 31 44 25 12 Wasir 48 36 16 rata-rata 35.8 32.7 31.6 Sumber :Data Primer Berdasarkan tabel 15 dapat dilihat cara responden dalam mengatasi gejala-gejala penyakit tertentu, responden dapat mengunjungi dokter untuk berobat, berkonsultasi tentang obat diapotek/apoteker, atau berobat secara mandiri baik membeli obat ataupun pengobatan tradisional. Dari tabel tersebut dapat dilihat rata-rata responden memilih untuk mengunjungi dokter jika mengalami gejala-gejala penyakit dengan nilai rata-rata sebesar 35,8. 48 5. Kepuasan Terhadap Karakter Apoteker Tabel 16. Kepuasan Terhadap Karakter Apoteker No Kategori Frekuensi 1 Sangat puas 32 2 Puas 61 3 Tidak puas 6 4 Sangat tidak puas 1 Total 100 Sumber : Data Primer Persen 32 61 6 1 100 Dari tabel 16 dapat dilihat sebagian besar responden sudah merasa puas dengan karakter yang dimiliki oleh apoteker yaitu sebanyak 61 responden. 6. Harapan Terhadap Pengembangan Pelayanan Apoteker Tabel 17. Harapan Terhadap Pengembangan Pelayanan Apoteker No Kategori Frekuensi Persen 1 Sangat setuju 4 4 2 Setuju 85 85 3 Tidak setuju 11 11 Total 100 100 Sumber : Data primer Dari tabel 17 dapat dilihat sebagian besar responden setuju dengan pengembangan proses layanan yang diberikan oleh apoteker dengan jumlah responden sebanyak 85 responden. 49 B. Pembahasan 1. Gambaran Kemampuan Konsumen Dalam Mengenali Apoteker Di Apotek Berdasarkan jenis kelamin responden yaitu perempuan yang dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan, sementara lakilaki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa (Setiawan et al. 2010). Sesuai dengan mayoritas responden yang mengisi kuesioner adalah perempuan. Literatur mengenai umur pada umumnya berpengaruh signifikan terhadap pola pikir dan respon individu, semakin berumur individu maka akan cenderung bereaksi (Duasa & Yusof, 2013). Mayoritas

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PROFIL PERESEPAN OBAT ASMA DI APOTEK ARJASA KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG
0
30
19
PROFIL PERESEPAN OBAT GOUT DI APOTEK FARMASI KOTA PAMEKASAN
1
19
24
PROFIL PERESEPAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI APOTEK ARJASA KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG
1
62
22
PEDOMAN PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH SEK
2
21
80
View of PENGETAHUAN DAN PERSEPSI APOTEKER TERHADAP SISTEM PELAPORAN MONITORING EFEK SAMPING OBAT (MESO) DI APOTEK WILAYAH KOTA YOGYAKARTA
0
0
8
PERANAN WILAYAH AGROEKOLOGI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN BANJARNEGARA, PROPINSI JAWA TENGAH
0
0
5
GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN FARMASI DI APOTEK DKI JAKARTA TAHUN 2003
0
0
14
EKSPLORASI PELAYANAN INFORMASI YANG DIBUTUHKAN KONSUMEN APOTEK DAN KESIAPAN APOTEKER MEMBERI INFORMASI TERUTAMA UNTUK PENYAKIT KRONIK DAN DEGENERATIF
0
2
9
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER UNTUK MENDUKUNG EKSISTENSI APOTEKER DI APOTEK
0
0
8
RELEVANSI PERATURAN DALAM MENDUKUNG PRAKTEK PROFESI APOTEKER DI APOTEK
0
0
10
PENGARUH KEPUASAN TERHADAP KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) JASA PELAYANAN KONSELING OLEH APOTEKER DI APOTEK
0
0
5
STRES MAHASISWA SAAT PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH DI POLTEKKES MAJAPAHIT MOJOKERTO
0
0
11
ANALISIS PENGARUH CITRA APOTEK TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN (Studi di APOTEK LUK ULO KEBUMEN) TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya D3 Farmasi
0
0
15
KARYA TULIS ILMIAH LINA YULIANA
0
0
95
PUJIANTI 125102152 KARYA TULIS ILMIAH
0
0
11
Show more