Feedback

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (1987-2000)

Informasi dokumen
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA LIHOU KABUPATEN SIMALUNGUN (1987-2000) SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H Desriany Panjaitan 060706014 Pembimbing Dra. SP Dewi Murni, M.A NIP. 195408141984032002 Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Dalam bidang Ilmu Sejarah DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 1 Universitas Sumatera Utara Lembar Pengesahan Ujian Skripsi PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA LIHOU KABUPATEN SIMALUNGUN (1987-2000) Yang diajukan oleh Nama : Desriany Panjaitan Nim : 060706014 Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh Pembimbing Dra. SP Dewi Murni, M.A NIP. 195408141984032002 Tanggal, Ketua Departemen Ilmu Sejarah Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP 196409221989031001 Tanggal, DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 2 Universitas Sumatera Utara Lembar Persetujuan Ketua Departemen DISETUJUI OLEH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN DEPARTEMEN ILMU SEJARAH Ketua Departemen Drs. Edi Sumarno, M. Hum NIP 196409221989031001 Medan, Maret 2011 3 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERSEMBAHAN Bukan dengan kekuatanku ku dapat jalani hidupku Tanpa Tuhan yang disampingku ku tak mampu sendiri Engkaulah kuatku yang selalu menopangku Kupandang wajahMu dan berseru permohonanku datang Darimu Peganglah tanganku jangan lepaskan Kaulah harapan dalam hidupku Betapa kumencintai segala yang telah terjadi Tak pernah sendiri jalani hidup ini selalu menyertai Kau selalu memberi rancangan terbaik oleh karena kasih Bapa sentuh hatiku ubah hidupku menjadi yang baru Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku Ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti. Berbahagialah orang yang suci hatinya Karena mereka akan melihat Allah. (matius 5:8) Skripsi ini saya persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan dan kedua orang tua saya: Ayahanda : A. Panjaitan Ibunda : R. Manurung Skripsi ini juga penulis persembahkan kepada orang-orang yang saya kasihi. By : Desriany Panjaitan 4 Universitas Sumatera Utara UCAPAN TERIMA KASIH Segala puja dan puji penulis haturkan kepadaNYA pemilik dan pemelihara hidup, yang senantiasa memberikan kekuatan, bimbingan, kesehatan, pertolongan serta ketekunan kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan, meskipun banyak sekali tantangan maupun hambatan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini karena keterbatasan pengetahuan penulis, kemampuan, pengalaman, maupun literatur yang dimiliki penulis. Meski menghadapi berbagai tantangan, berkat usaha yang gigih dari penulis, dan berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghormatan yang mendalam kepada: 1. Kepada kedua orang tuaku tercinta A. Panjaitan dan R. manurung yang senantiasa mengasihi, dan menyayangi sejak lahir hingga saat ini, dan selalu memberi dukungan yang tak ternilai harganya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua saudaraku, b’Helwin Panjaitan dan adikku Novelina Cerelia Panjaitan yang telah banyak memberikan dorongan dan semangat kepada penulis. 2. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara beserta staf dan pegawainya. 5 Universitas Sumatera Utara 3. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum, selaku Ketua Departemen Ilmu Sejarah FS-USU dan Dra. Nurhabsyah M. Si selaku sekretaris Departemen, yang telah membantu penulis selama dalam masa perkuliahan. 4. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M. Hum selaku dosen wali penulis. 5. Ibu Dra. Sri Pangestri Dewi Murni, M.A selaku dosen pembimbing dalam penulisan ini, yang telah memberikan inspirasi, semangat, dorongan, dan telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing penulis. Kebaikan ibu senantiasa penulis ingat, dan semoga Tuhan memberikan berkatNYA kepada ibu dan keluarga. 6. Bapak dan ibu dosen serta staf administrasi pendidikan Departemenn Ilmu Sejarah (B’Ampera) yang telah banyak membantu penulis mulai masa awal perkuliahan hingga dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Bapak Ir. Jhon Pariaman Saragih sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Lihou Kabupaten Siamalungun dan kepala Bagian Keuangan Bapak Firman Simanjuntak dan seluruh pegawai PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun. 8. Seluruh informan yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Teman-temanku khususnya Sancani Angelia Tamba, Kariani Zalukhu, Derni Simanjuntak, Desmika Sembiring, Jhondato Sagala, yang telah banyak memberikan dorongan, dan bantuan dalam penulisan skripsi ini. Dan juga kepada Ramlan, Eva, Fri Yanti, Kalvin, dan teman-teman stambuk 2006 semua. 10. Kepada Franky Moses (kaka Slank) yang sangat banyak membantu penulis, jasa dan semangat yang kamu berikan kepada ku akan ku ingat selalu dan tak 6 Universitas Sumatera Utara akan pernah ku lupakan. Kaulah inspirasi yang bisa mengubah ku untuk menjadi yang lebih baik (makasih banyak). 11. Kepada k’Lina (makasih ya kakak ku sayang telah banyak memberi ku semangat dan memberi ku makanan yang membuat ku menangis dan tidak akan pernah lagi memakannya, love you), k’cimot, b’Jonathan, deby, Tika, Benny, Meris, Yunita, Krisman, Osmail yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat kepada penulis. Akhirnya untuk semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak seluruhnya disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga semua kebaikan yang penulis terima dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Medan, Maret 2011 Penulis Desriany Panjaitan 7 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan fisik. Pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan air merupakan tanggung jawab setiap masyarakat, akan tetapi pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanat UUD Tahun 1945 yaitu dengan membangun berbagai prasarana dan sarana sistem penyediaan air minum baik di perkotaan maupun di pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan air minum yang ada di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Pembangunan sarana air minum di Kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Simalungun No. 2. Pada tahun 1983 bardasarkan peraturan daerah No. 12 PDAM mengalami perubahan nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun. Namun pelaksanaan perubahan status perusahaan air minum ini baru terlaksana setelah tahun 1987 sesuai dengan surat keputusan Bupati KDH tingkat II Simalungun No. 188-342/1940/HUK/1987 tanggal 13 Januari 1987. Dampak yang ditimbulkan dari berdirinya PDAM Tirta Lihou adalah terbukanya usaha-usaha rumah-rumah makan, penginapan, penyediaan air untuk perkantoran, untuk rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. Sebagai sebuah perusahaan yang baru berdiri, pengelolaannya masih memerlukan proses yang panjang dengan dukungan dari berbagai pihak, maka PDAM Tirta Lihou belum begitu mendapat perhatian dan respon dari masyarakat sekitar karena mereka belum begitu mengetahui dengan jelas tentang air minum. Kebutuhan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan. Peningkatan kebutuhan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga yang diimbangi dengan peningkatan jumlah kebutuhan air per kapita. Tulisan ini membahas awal berdirinya PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun dan juga membahas proses perkembangan serta usaha-usaha yang dilakukan pihak PDAM Tirta Lihou dalam melakukan fungsi sosialnya bagi masyarakat luas di Kabupaten Simalungun. Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan yang terakhir adalah Historiografi (penulisan). Pada tahap Heuristik, penulis menggunakan dua metode penelitian yakni, metode kepustakaan (library Research) dan metode lapangan (Field Research). 8 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI LEMBAR PERSEMBAHAN UCAPAN TERIMA KASIH i ABSTRAK .iv DAFTAR ISI .v DAFTAR TABEL .vii BAB I PENDAHULUAN .1 1.1. Latar Belakang.1 1.2. Rumusan Masalah .5 1.3. Tujuan dan Manfaat .6 1.4. Tinjauan Pustaka .7 1.5. Metode Penelitian .9 BAB II LATAR BELAKANG BERDIRINYA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU .12 2.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .12 2.1.1. Letak Geografis .12 2.1.2. Keadaan Penduduk 14 2.1.3. Struktur Sosial Budaya Masyarakat Simalungun .19 2.2. Sejarah Kabupaten Simalungun .21 2.3. Sejarah Berdirinya PDAM Tirta Lihou .28 9 Universitas Sumatera Utara BAB III PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU PERIODE 1987-2000 .34 3.1. Kondisi Perusahaan 34 3.2. Prinsip Pelayanan Air Bersih PDAM .35 3.3. Struktur dan Sistem Pengelolaan PDAM Tirta Lihou .36 3.3.1. Struktur Organisasi .38 3.3.2. Keuangan dan Administrasi .40 3.3.3. Kerjasama dengan Pihak Luar .42 3.3.4. Aktivitas Usaha PDAM Tirta Lihou .45 3.4. Permasalahan yang Dihadapi PDAM .53 BAB IV PERANAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU TERHADAP KABUPATEN SIMALUNGUN .57 4.1. Peranan PDAM terhadap Masyarakat Simalungun 57 4.2. Peranan PDAM terhadap Perekonomian Daerah .58 BAB V KESIMPULAN 62 DAFTAR PUSTAKA .63 DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN PETA LOKASI PENELITIAN 10 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 1 Penduduk Menurut Suku Di Kabupaten Simalungun . 15 Tabel 2 Penduduk Menurut Agama Yang Dianut Di Kabupaten Simalungun 17 Tabel 3 Tingkat Pendidikan Karyawan .39 Tabel 4 Perhitungan Rugi/Laba Selama Periode 1988-2000 .41 Tabel 5 Jumlah Sambungan Pipa Yang Aktif Menurut Jenis Pelayanan 51 11 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan fisik. Pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan air merupakan tanggung jawab setiap masyarakat, akan tetapi pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanat UUD Tahun 1945 yaitu dengan membangun berbagai prasarana dan sarana sistem penyediaan air minum baik di perkotaan maupun di pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan air minum yang ada di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Pembangunan sarana air minum di Kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Simalungun No. 2. Pada tahun 1983 bardasarkan peraturan daerah No. 12 PDAM mengalami perubahan nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun. Namun pelaksanaan perubahan status perusahaan air minum ini baru terlaksana setelah tahun 1987 sesuai dengan surat keputusan Bupati KDH tingkat II Simalungun No. 188-342/1940/HUK/1987 tanggal 13 Januari 1987. Dampak yang ditimbulkan dari berdirinya PDAM Tirta Lihou adalah terbukanya usaha-usaha rumah-rumah makan, penginapan, penyediaan air untuk perkantoran, untuk rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. Sebagai sebuah perusahaan yang baru berdiri, pengelolaannya masih memerlukan proses yang panjang dengan dukungan dari berbagai pihak, maka PDAM Tirta Lihou belum begitu mendapat perhatian dan respon dari masyarakat sekitar karena mereka belum begitu mengetahui dengan jelas tentang air minum. Kebutuhan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan. Peningkatan kebutuhan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga yang diimbangi dengan peningkatan jumlah kebutuhan air per kapita. Tulisan ini membahas awal berdirinya PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun dan juga membahas proses perkembangan serta usaha-usaha yang dilakukan pihak PDAM Tirta Lihou dalam melakukan fungsi sosialnya bagi masyarakat luas di Kabupaten Simalungun. Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan yang terakhir adalah Historiografi (penulisan). Pada tahap Heuristik, penulis menggunakan dua metode penelitian yakni, metode kepustakaan (library Research) dan metode lapangan (Field Research). 8 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia, yang kebutuhannya dari hari ke hari semakin dirasakan meningkat sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan dan pola hidup masyarakat terhadap air. Di beberapa daerah di Indonesia fasilitas penyediaan air bersih masih kurang, baik itu disebabkan karena sumber air yang jauh dari pemukiman, daerah yang belum memiliki sumber air, ataupun sumber air yang ada belum dikelola dengan baik, sehingga kapasitasnya belum terpenuhi dan kualitasnya belum terjamin. Oleh karena itu dirasa perlu untuk menyediakan sarana air bersih, sehingga dapat digunakan atau diperoleh dengan mudah dan mempunyai kualitas yang mempunyai standard untuk kesehatan. Menyadari akan hal tersebut, maka perlu sarana dan prasarana dari pemerintah untuk membangun perusahaan yang dapat mengolah air yang kualitasnya sudah terjamin yaitu perusahaan air minum.1 Selain dari pada itu pembangunan lingkungan perkotaan maupun pedesaan sangat membutuhkan penyediaan air bersih yang cukup, untuk pertamanan, bahaya kebakaran, kebersihan dan pembangunan lainnya. Perusahaan air minum yang ada sekarang ini di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Sejarah mencatat bahwa pembangunan air minum beserta fasilitasnya semata-mata 1 Pemerintah Kabupaten Simalungun, Corporate Plan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Dati II Simalungun, Simalungun, 2000, hal. 1. 12 Universitas Sumatera Utara dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk Belanda dan perusahaan milik Belanda. 2 Pengembangan pembangunan sektor air bersih menjadi perhatian tidak saja oleh pemerintah pusat, melainkan keinginan pemerintah untuk memberdayakan pembangunan daerah, dalam konteks ekonomi dan desentralisasi. Pemerintah melihat bahwa kabupaten Simalungun memiliki sumber air cukup potensial. Kemajuan perusahaan air minum di Sumatera Utara dewasa ini, sebagai perusahaan daerah telah mengalami berbagai perkembangan terutama di kotamadya. Sedangkan di luar kotamadya, keadaannya belum begitu memuaskan disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu dana yang terbatas, kurangnya rehabilitasi, dan sebagainya.3 Dalam melakukan fungsinya sebagai pengelola air minum daerah masih terbatas pelaksanaannya bagi Kabupaten Simalungun. Meskipun demikian keadaannya masihlah sangat memprihatinkan karena air minum yang dihasilkan belum memenuhi syarat baik ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Oleh karena itu untuk mengembangkan air minum di Simalungun, dibentuklah perusahaan daerah air minum yang merupakan satu-satunya pemasok air minum di Simalungun yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah.4 Tirta Lihou diambil dari dua kata yang berasal dari dua bahasa yang berbeda yaitu Tirta yang berarti air5, sedangkan Lihou berasal dari bahasa Simalungun yang artinya bersih, jadi jika kedua kata ini digabungkan maka arti dari Tirta Lihou adalah 2 Perda Kabupaten Simalungun Nomor: 5 Tahun 1974, Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. 3 Wawancara dengan Thansyah Saragih, tanggal 11 November 2010 di Kantor PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun. 4 Pemerintah Kabupaten Simalungun, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Dati II Simalungun, Simalungun, 1992. 5 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,1991, hal. 1062. 13 Universitas Sumatera Utara air bersih. Pada awal perusahaan ini dibentuk untuk melayani kebutuhan masyarakat akan air minum, dibangun enam unit produksi air minum di antaranya: unit produksi Parapat tahun 1925, Pardagangan tahun 1928, Serbelawan tahun 1930, Saribu Dolok tahun 1933, Panei Tongah tahun 1933, Tiga Balata tahun 1934.6 Dalam rangka untuk melayani kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, maka dibangun lagi beberapa unit produksi di kota kecamatan yang dipegang oleh Dinas Air Minum di antaranya: Unit Produksi Tanah Jawa tahun 1968, Unit Produksi Pematang Raya tahun 1970, Unit Produksi Haranggaol tahun 1971, Unit Produksi Tigaras tahun 1975, Unit Produksi Sindar Raya tahun 1977.7 Pembangunan sarana air minum di kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Dati II Simalungun No. 2. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Simalungun No. 12 tahun 1983 perusahaan air minum Kabupaten Simalungun berubah di Indonesia selama ini adalah menganut model traditional bureaucratic authority. Pelayanan publik sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan pilihan penggunaan strong local goverment dan strong public sector. Artinya meskipun Pemerintahan Daerah tidak memiliki otonomi yang kuat (dari sisi kewenangan dan keuangan), namun memiliki peranan yang kuat dalam memberikan pelayanan publik. Dalam kondisi seperti itu dapat dipahami apabila pelayanan public menjadi tidak memuaskan, bersifat bloated, underperforming, wasteful, bahkan menjadi overbureaucratic. Dalam rangka perubahan ke arah peningkatan kualitas pelayanan, tentunya harus berorientasi pada model community oriented enabler. Model ini merupakan suatu pilihan bahwa Pemerintah Daerah harus berperan besar dalam menghadapi tuntutan masyarakat yang beraneka ragam. Seperti telah dikemukakan, sulitnya menentukan kualitas pelayanan karena adanya berbagai kepentingan di masyarakat. Menghadapi kenyataan ini; Pemerintah Daerah melalui demokrasi perwakilan atau demokrasi partisipatif menentukan perlunya penyediaan pelayanan publik baik yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, privat sector, maupun menyerahkan pada mekanisme pasar. Model dengan baik dapat diterapkan apabila ditunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah yang signifikan dan proses demokrasi yang berjalan normal. Dalam model ini ada variasi model yang disebut residual enabling authority; pengertiannya karena pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam memberikan pelayanan maka kebijakan yang dilakukan lebih berorientasi pada berjalannya mekanisme pasar. Pemerintah Daerah hanya memberikan pelayanan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA pada sector-sektor yang tidak dapat diserahkan pada mekanisme pasar. Sekalipun dimungkinkan berperannya privat sector, sedapat mungkin hal ini tetap dibatasi dan pelayanan publik lebih berorientasi pada market mecanism. Variasi lain dari model community oriented enabler adalah model oriented enabling authority. Model ini dalam memberikan pelayanan juga lebih berorientasi pada berjalannya mekanisme pasar, meskipun demikian Pemerintah Daerah tetap memegang peranan penting dalam perencanaan dan implementasi kebijakan terhadap pelayanan publik. Dasar pemikiran yang digunakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat memerlukan keterlibatan intervensi yang kuat dari Pemerintah Daerah, untuk kepentingan semua lapisan masyarakat tidak bisa terlalu menggantungkan pada berjalannya mekanisme pasar. Alternatif model terakhir ini tampaknya merupakan pilihan yang baik untuk dilakukan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, meskipun demikian dalam jangka panjang apabila pertumbuhan ekonomi daerah dan proses demokrasi telah berjalan baik harus berorientasi pada penerapan model community oriented enabler. Berdasarkan analisis model pilihan alternatif tersebut semakin jelas bahwa perubahan dalam berbagai dimensi perlu dilakukan oleh Pemerintahan Daerah dalam mewujudkan otonomi dan memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Upaya perbaikan kualitas pelayanan public harus dilakukan melalui pembenahan system pelayanan public secara menyeluruh dan terintegrasi yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dalam bentuk undang-undang yang diharapkan menjadi payung hukum bagi pelaksanaan kegiatan pelayanan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA public dan yang memiliki sanksi sehingga memiliki daya paksa terhadap pemenuhan standar tertentu dalam pelayanan public. Paling tidak terdapat dua hal pokok dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan yaitu unsure sumber daya manusia aparaturnya serta system manajemen pelayanannya. Pelayanan public dapat lebih berkualitas apabila petugas pelayanan dapat diandalkan, responsive, meyakinkan dan empati. Dapat diandalkan berarti dapat dipercaya, teliti dan konsisten. Responsive berarti tanggap terhadap kebutuhan masyarakat serta cepat dalam memberikan pelayanan. Meyakinkan dalam arti percaya diri, professional, berkompeten, sehingga memberikan rasa aman bagi yang dilayani, sedangkan empati adalah perhatian, sopan, sabar dan mau mendengarkan keluhan penerima layanan. Tjandra (2005) berpendapat bahwa peningkatan kualitas SDM untuk meningkatkan kualitas pelayanan public merupakan kebutuhan yang mendesak. Untuk dapat menciptakan SDM yang berkualitas dalam memberikan pelayanan public juga harus diperkuat oleh mekanisme kerja yang adil dan memberikan kesempatan kepada masing-masing pihak untuk berkompetisi dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Mekanisme reward and punishment bisa menjadi alternative sehingga aparat yang berprestasi baik dan penuh inisiatif dalam memberikan pelayanan mendapat reward yang lebih baik dibandingkan aparat yang tidak berprestasi. Sejalan dengan satu semangat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, yaitu adanya peningkatan pelayanan kepada masyarakat maka maka pelayanan kepada masyarakat harus ditingkatkan sehingga kondisinya lebih baik UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dibandingkan dengan sebelumnya sehingga tercipta suatu bentuk pelayanan prima. Menurut Soetopo (1999:46) pelayanan prima atau Excellent Service berarti pelayanan yang sangat baik atau pelayanan yang terbaik. Adapun hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pelayanan prima, adalah sebagai berikut : 1. Apabila dikaitkan dengan tugas pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maka pelayanan prima adalah pelayanan yang terbaik dari pemerintah kepada masyarakat. 2. Pelayanan prima bisa ada manakala ada standar pelayanan. 3. Untuk instansi yang sudah mempunyai standar pelayanan, maka pelayanan prima adalah apabila pelayanan memenuhi standarnya. 4. Apabila pelayanan selama ini sudah memenuhi standar maka pelayanan prima berarti adanya terobosan baru yaitu pelayanan yang melebihi standarnya. 5. Untuk instansi yang belum mempunyai standar pelayanan maka pelayanan prima adalah pelayanan yang dianggap terbaik oleh instansi yang bersangkutan. Usaha selanjutnya adalah menyiapkan standar pelayanan. Menurut Philip Kotler (dalam Supranto, 1999:231) dapat dilihat dari beberapa dimensi. Dengan kata lain kualitas pelayanan dapat diwujudkan dengan baik apabila aparatur dapat mewujudkan/memberikan beberapa dimensi berikut ini : 1. Keandalan (reliability), yaitu kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan terpercaya. 2. Keresponsifan (responsiveness), yaitu kemauan untuk membantu pelanggan memberikan jasa dengan cepat atau tanggap. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 3. Keyakinan (confidence), yaitu pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan atau “assurance”. 4. Empati (emphaty), yaitu syarat untuk peduli, memberikan perhatian pribadi bagi pelanggan. 5. Berwujud (tangible), yaitu penampilan fasilitas fisik, peralatan, personal dan media komunikasi. Sejalan dengan pandangan di atas, Kennedy dan Young (dalam Tjiptono, 1998:6) menyatakan bahwa adanya mutu pelayanan yang baik dapat diciptakan bila memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut ; Mutu pelayanan yang baik dapat diciptakan bila memperhatikan keberadaan (availability), ketanggapan (responsivness), menyenang-kan (convenience) dan tepat waktu (timeliness). Keberadaan dalam pelayanan ditunjukkan oleh sejauh mana pegawai siap melayani pelanggan, ketanggapan ditunjukan oleh sejauh mana pegawai memahami kebutuhan pelanggan, pelayanan yang menyenangkan ditunjukan dengan sejauh mana pegawai menyelesaikan pekerjaannya (dalam memberikan pelayanan) dengan cepat. Pengukuran terhadap mutu/kualitas pelayanan dapat difokuskan pada persepsi dan sikap pelanggan terhadap pelayanan yang telah diberikan. Berdasarkan uraian di atas maka upaya untuk merealisasikan sebuah pelayanan yang berkualitas harus memenuhi beberapa kriteria. Semakin baik kondisi dari setiap kriteria yang dipersyaratkan maka akan semakin tinggi pula kualitas pelayanan. Misalnya semakin tepat waktu dalam memberikan pelayanan, semakin andal aparaturnya, semakin responsif aparatur, semakin lengkap sarana UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dan prasarana, kesemuanya akan sangat kondusif dalam mewujudkan pelayanan yang berkualitas. II.4 Definisi Konsep Konsep merupakan istilah atau definisi yang dipergunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu social. Agar memperoleh pembahasan yang jelas dari setiap konsep yang diteliti, maka penulis mengemukakan definisi konsep sebagai berikut: 1. Pelayanan Publik, merupakan pemberian layanan berupa fasilitas-fasilitas yang dibuthkan masyarakat, dimana pelayanan tersebut diselenggarakan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. 2. Kualitas pelayanan adalah hasil terbaik dari suatu pelayanan public yang diberikan kepada masyarakat. Selain itu kualitas juga dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan, yang dilihat dari aspek : Tangible Adapun fasilitas yang perlu ditambah adalah listrik dan air minum. Fasilitas pertama yang dimiliki masyarakat Tebing Tinggi di bidang pengelolaan air minum berada di tangan dinas air minum kota Tebing Tinggi saja. Pada awalnya, air minum yang diproduksi belum memenuhi Universitas Sumatera Utara syarat, baik ditinjau dari segi kwantitas maupun kwalitasnya, sedangkan untuk suatu kota seperti Tebing Tinggi dituntut suatu persyaratan khusus air minum, baik fisis, kimia maupun bakteriologis untuk menjamin kesehatan warga masyarakat. Pada masa ini sumber air minum penduduk, selain dari Dinas air minum kota juga menggunakan air hujan dan mata air. Mata air yang terdapat di wilayah Tebing Tinggi belum memenuhi syarat untuk dapat dijadikan sebagai air minum karena pada musim kemarau akan terjadi kekeringan dan sebaliknya bila datang musim hujan akan menyebabkan air keruh dan berubah rasa. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih maka dibangunlah perusahaan air minum yang kemudian dikenal dengan nama Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Bulian yang tidak hanya mampu melayani kebutuhan masyarakat kota Tebing Tinggi saja tetapi mencakup kesemua wilayah kelurahan yang ada di Tebing Tinggi. Dengan berdirinya PDAM Tirta Bulian maka status hukum perusahaan air minum Tebing Tinggi ini mengalami perubahan dimana yang semula berstatus dinas menjadi perusahaan daerah. Sebagai kelanjutannya PDAM Tirta Bulian melanjuti pemenuhan akan air bersih bagi masyarakat Tebing Tinggi melalui pengembangan dan pembangunan unit-unit pelayanan air minum dengan sumur umum atau keran-keran umum dan melakukan kerja sama dengan pihak instansi pemerintah serta pengembangan mutu tenaga kerja bagi para pegawai PDAM melalui penataran- penataran, pelatihan, kursus-kursus di bidang air minum guna pengembangan perusahaan dan mengimbangi tuntutan masyarakat akan kebutuhan air bersih. Seperti yang diketahui PDAM Tirta Bulian pada masa sekarang ini telah mampu mensuplai air ke semua wilayah kelurahan Tebing Tinggi, sementara untuk daerah pedalaman PDAM diupayakan melalui pembangunan sumur umum dan keran-keran umum. Universitas Sumatera Utara 5.2 Saran Optimasi pengelolaan PDAM dewasa ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan penduduk akan pelayanan air minum sesuai dengan sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI. Oleh karena itu dituntut agar penanganan PDAM senantiasa mampu mencapai tingkat efesiensi dan efektifitas yang tinggi sebagai layaknya perusahaan yang sehat. Untuk itu dipelukan tenaga-tenaga yang terampil dan mempunyai pengetahuan dan keahlian di bidang pengelolaan air minum. Upaya meningkatkan efesiensi dan efektifitas pengelolaan PDAM ini secara terus menerus harus diusahakan sehingga dapat mewujudkan dukungan nyata untuk mencapai sasaran nasional dalam Pelita VI di bidang air minum, maka PDAM perlu dikelola secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang mandiri, yang mampu menanggulangi problem-problem peningkatan penyediaan air, maka penulis menyarankan : 1. Perusahaan air minum harus mampu memperbaiki instalasi dan memelihara jaringan ditsribusinya. Dari hasil penelitian penulis telah melihat bahwa pabrik instalasi air bersih dan dirawat dengan cukup baik, tetapi jaringan distribusi memerlukan perhatian yang lebih banyak lagi. 2. Sistem administrasi dan pembukuan harus dilaksanakan dengan benar. Pada bagian ini penulis tidak banyak mempelajari aspek ini secara mendalam dan menyeluruh, tetapi penulis tidak mempunyai alasan untuk terlalu meragukannya. 3. Perusahaan air minum harus mampu merencanakan dan mengontrol situasi keuangan di masa mendatang sehubungan dengan perkembangan perusahaan yang diinginkan. Perkembangan ini sering kali membuat Universitas Sumatera Utara tingginya investasi dengan konsekwensi bagi pendapatan dan biaya dari perusahaan air minum tersebut dan juga bagi tarif-tarif di masa yang akan datang. Untuk pekerjaan ini diperlukan staf yang terlatih. 4. Pada perusahaan ini, hendaknya diadakan sistem latihan internal untuk staf yang baru. Ini berarti bahwa staf (bagian dari staf) perusahaan hendaknya memiliki kemampuan, kemudahan, dan waktu yang cukup untuk melatih staf yang baru masuk tersebut untuk keperluan pekerjaan yang baru pula. Tentu saat latihan eksternal ini di pusat-pusat latihan propinsi tetap diinginkan, tetapi untuk melengkapi itu, atau sebagai penggantinya latihan internal juga diperlukan. 5. Apabila sistem penyediaan air yang baru akan dibangun, disarankan agar situasi air yang digunakan itu juga dipertimbangkan dan jika perlu suatu sistem air limbah yang layak hendaknya dibangun bersamaan dengan dibangunnya sistem penyediaan air tersebut. 6. Agar masyarakat lebih dilibatkan dalam setiap tahap pembangunan dalam sebuah penyediaan air bersih untuk memaksimalkan sumbangan 7. dari sumber daya setempat dengan menghasilkan perasaan sama-sama tanggung jawab dan memiliki di kalangan konsumen yaitu masyarakat. 8. Disarankan agar prioritas yang tinggi hendaknya diberikan kepada pemeliharaan dan perbaikan jaringan distribusi yang menurunkan dan mempertahankan jumlah “air yang tidak dapat dipertanggungjawabkan” itu pada satu tingkat yang dapat diterima. Di banyak perusahaan yang besar Universitas Sumatera Utara hal ini mendapat perhatian yang serius, mempertahankan tekanan air yang cukup dalan sistem distribusi selama 24 jam/hari meskipun para konsumen sebenarnya tidak meminta. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Danil, dkk., Sejarah Pemerintahan Dalam Negeri Kotamadya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi, Tebing Tinggi : Bappeda Tingkat II Tebing Tinggi, 1995. Barnes, M. C., dkk., Organisasi Perusahaan : Teori dan Praktek, (Terjemahan Bambang Kussriyanto), Jakarta : Pustaka Binaman Pressindo, 1988. Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor : 690/7027/SJ tentang Pembebasan PDAM dari Kewajiban Menyetorkan 60% laba bersih pada Pemerintah Daerah, Jakarta : Depdagri, 1985. Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 690-1599/1985 tentang Pembinaan dan Monitoring Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Tingkat Propinsi, Jakarta : Depdagri, 1985. Husni, Lalu, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000. Ichsan, Achmad, Tata Administrasi Kekaryawanan, Jakarta : Penerbit Djambatan, 1969. Joenarto, Pemerintah Lokal, Jilid I, Yogyakarta : Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, 1967. Kodoatie, Robert J., dkk., Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi Daerah, Yogyakarta : Andi, 2002. Manulang, M., Dasar-Dasar Management (Bagian Perencanaan dan Organisasi), Medan : Penerbit B. A. P. P. I. T. Cabang Sumatera Utara, 1962. Universitas Sumatera Utara May, Eny, Tuan Syekh Beringin Profil Pemimpin Nonformal Dalam Masyarakat Tebing Tinggi, Medan : Fakultas Sastra, 1983. Perpustakaan Daerah Tebing Tinggi, Selayang Pandang Kota Tebing Tinggi, Tebing Tinggi, 2003. The Liang Gie, Pertumbuhan Pemerintah Daerah di Negara Republik Indonesia, Jilid II, Jakarta : Gunung Agung, 1968. Undang-Undang Republik Indonesia, Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor : 25 tahun 1997, Jakarta : Sinar Grafika, 1997. Vila, Rafael Candel dan S. Gopinathan, Air dan Kehidupan, (Terjemahan Soetjokro), Jakarta : Balai Pustaka, 1995. Wajong, J., Administrasi Keuangan Daerah, Cetakan ke III, Jakarta : Penerbit dan Balai Buku Ichtiar, 1971. Wasis, Pengantar Ekonomi Perusahaan, Bandung : Alumni, 1992. Universitas Sumatera Utara DAFTAR INFORMAN 1. Nama : Ir. Oki Doni Siregar Umur : 40 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pendidikan : Sarjana Pekerjaan : Direktur 2. Nama : Ali Sakti ST Umur : 48 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pendidikan : Sarjana Pekerjaan : Kabag. Tekhnik dan Produksi 3. Nama : Adriana, SE Umur : 48 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pendidikan : Sarjana Pekerjaan : Kabag. Umum dan Keuangan Universitas Sumatera Utara 4. Nama : Iriana Masdalena Umur : 47 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SLTA Pekerjaan : Kasubbag. Tata Usaha dan Kepegawaian 5. Nama : Erlina Umur : 40 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pendidikan : SLTA Pekerjaan : Staf Tata Usaha dan Kepegawaian 6. Nama : Salhsa Dalimunte Umur : 54 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pendidikan : SLTP Pekerjaan : Staf Kas dan Penagihan Universitas Sumatera Utara 7. Nama : Selamet Riyadi Umur : 75 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pendidikan : Sekolah Rakyat Pekerjaan : Petani/Kenajiran Mesjid 8. Nama : Ngatiyem Umur : 45 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SLTP Pekerjaan : Wiraswasta 9. Nama : Parlindungan Saragih Umur : 40 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Protestan Pendidikan : SLTA Pekerjaan : Wiraswasta Universitas Sumatera Utara
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (1987-2000) Perusahaan Daerah Air Minum Pdam Tirta Lihou Kabupaten Simalungun
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (1987-2000)

Gratis