Formulasi Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Sebagai Pewarna

Gratis

79
323
74
2 years ago
Preview
Full text

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI OLEH: YOLA SAFITRI NIM 060804031

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI OLEH: YOLA SAFITRI NIM 060804031 FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untukMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untukMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

OLEH: YOLA SAFITRI NIM 060804031FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

  HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI Judul: FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK DENGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI PEWARNA Oleh: YOLA SAFITRI NIM 060804031 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: Juli 2010Pembimbing I, Panitia Penguji: Dra. NIP 195107031977102001 NIP 194901131976032001 Pembimbing II, Dra.

KATA PENGANTAR

  Formulasi ekstrak kelopak bunga rosela dalam sediaan lipstik, menunjukkan bahwa sediaan yang dibuatcukup stabil, homogen, pH berkisar antara 4-6 (mendekati pH kulit), mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehinggacukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 6 yaitu sediaan dengan ekstrak kelopak bunga rosela konsentrasi 10% denganpersentase kesukaan 56,67%. Formulasi ekstrak kelopak bunga rosela dalam sediaan lipstik, menunjukkan bahwa sediaan yang dibuatcukup stabil, homogen, pH berkisar antara 4-6 (mendekati pH kulit), mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehinggacukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 6 yaitu sediaan dengan ekstrak kelopak bunga rosela konsentrasi 10% denganpersentase kesukaan 56,67%.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Sebenarnya, lipstik bukanhal yang berbahaya karena terbuat dari minyak galian atau sayuran, lilin dan pewarna serta beberapa bahan tambahan seperti pelembab, pewangi, pengawet,antioksidan dan juga mungkin rasa, namun lipstik yang menggunakan pewarna rhodamin sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan iritasi padasaluran pernapasan, pemicu kanker dan kerusakan organ hati. Indonesia kaya akan sumber flora dan banyak diantaranya dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami, diantara pewarna alami yangmempunyai potensi untuk dikembangkan antara lain berasal dari kelopak bunga rosela yang mengandung zat warna antosianin yang dapat digunakan sebagaibahan pewarna alami pengganti pewarna sintetik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

  Kelopak bunga sangat menarik dengan bentuk yang 2.1.3 Sistematika Tumbuhan Dalam sistematika tumbuhan, bunga rosela diklasifikasikan sebagai berikut :Kingdom : PlantaeDivisio : SpermatophytaSubdivisio : AngiospermaeKelas : DicotyledoneaeOrdo : MalvalesFamili : MalvaceaeGenus : HibiscusSpesies : Hibiscus sabdariffa L. 2.1.4 Kandungan Kimia Tumbuhan Kandungan penting yang terdapat pada kelopak bunga rosela adalah pigmen antosianin yang membentuk flavonoid yang berperan sebagai antioksidan.

2.2 Kulit

  Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsanganluar. Lapisantanduk dan mantel lemak kulit menjaga kadar air tubuh dengan cara mencegah masuknya air dari luar tubuh dan mencegah penguapan air, selain itu jugaberfungsi sebagai barrier terhadap racun dari luar.

2.3 Kosmetika Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti ”berhias”

  Hal-hal yang harusdipertimbangkan dalam memilih bahan baku kosmetika salah satunya adalah sangat baik dan aman untuk digunakan serta stabil terhadap pengaruh oksidasi danpengaruh luar lainnya (Mitsui, T., 1997). Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan MakananNomor 00386/C/SK/II/90 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dalam obat, makanan dan kosmetika terdapat beberapa zat warnayang dilarang penggunaannya karena merupakan pewarna untuk tekstil diantaranya adalah Jingga K1 (C.

2.4 Kosmetika Dekoratif

  Kosmetika dekoratif semata-mata hanya melekat pada alat tubuh yang dirias dan tidak bermaksud untuk diserap ke dalam kulit serta mengubah secarapermanen kekurangan (cacat) yang ada. Kosmetika dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu yang lama baru luntur.

2.5 Bibir

  Sangat jarang terdapat kelenjer lemak pada bibir, menyebabkan bibirhampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering lapisan jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yangmelekat padanya mudah berpenetrasi ke statum germinativum. Karena itu hendaknya berhati-hati dalam memilih bahan yang digunakan untuk sediaanpewarna bibir, terutama dalam hal memilih lemak, pigmen dan zat pengawet yang digunakan untuk maksud pembuatan sediaan itu (Ditjen POM, 1985).

2.6 Lipstik

  Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata riaswajah yang dikemas dalam bentuk batang padat. Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa sehinggadapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki.

2.7 Komponen Utama dalam Sediaan Lipstik

  Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, dapatbercampur dengan air lebih kurang dua kali beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas, mudah larut dalam eter, dan dalam o o kloroform. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol.

2.8 Uji Tempel (Patch Test)

  Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksuduntuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Biasanya yang paling tepat dijadikan daerah lokasi uji tempel Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya suka atau tidak suka terhadap suatu produk.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi

penyiapan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak, pembuatan formulasi sediaan, pemeriksaan mutu fisik sediaan, uji iritasi terhadapsediaan, dan uji kesukaan (Hedonic Test) terhadap variasi sediaan yang dibuat.

3.1 Alat dan Bahan

  3.1.1 Alat Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, blender(National), neraca analitis (Mettler Toledo), neraca kasar (Ohaus), pengayak serbuk, rotary evaporator (Buchi), cawan porselen berdasar rata, alat penetapankadar air (Lampiran 7), labu bersumbat, mikroskop (Olympus), oven, desikator, penangas air, pH meter, spatula, sudip, kaca objek, kaca penutup, cawan penguap,pencetak suppositoria, pipet tetes, dan roll up lipstick (Lampiran 9). 3.1.2 Bahan Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.).

3.2 Penyiapan Sampel

  Sampel yang digunakan adalah bunga roselayang terdapat di Daerah Paloh Belombang, Desa Pematang Johar, Kabupaten Deli Serdang. 3.2.3 Pengolahan Sampel Sampel yang telah dikumpulkan, disortasi, dipisahkan biji dari kelopak bunga, dicuci sampai bersih, kemudian ditiriskan.

3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia

Pemeriksaan karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan organoleptik, makroskopik dan mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar abu total,penetapan kadar abu tidak larut asam, penetapan kadar sari larut dalam air, dan penetapan kadar sari larut dalam etanol (Ditjen POM, 1989).

3.3.1 Pemeriksaan Organoleptis dan Makroskopik

  3.3.4 Penetapan Kadar Abu Total Caranya: Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudiandiratakan. 3.3.5 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Dalam Asam Caranya: Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalamasam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring, dipijar sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang.

3.3.7 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol

  Caranya: Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 95% dalam labu bersumbat sambil dikocoksesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring. Kadar dalam persen sari larut dalam etanol 95% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Ditjen POM, 1989).

3.4 Pembuatan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela

Kelopak bunga rosela yang telah dikeringkan dan dihaluskan, ditimbang sebanyak 100 g, kemudian dimaserasi 750 ml etanol 96%, tutup, biarkan selama 5hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, kemudian disaring, lalu cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga 1000 ml (Ditjen POM, 1979),ekstrak dikumpulkan, dan dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu ± 40 C, kemudian di freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kelopak bunga rosela.

3.5 Pembuatan Lipstik Dengan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela Dalam Berbagai Konsentrasi

3.5.1 Formula

  Berdasarkan hasil orientasi terhadap konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela dalam sediaan lipstik diperoleh hasil bahwa pada konsentrasi 1% warnayang dihasilkan sediaan terlalu muda sehingga warna sediaan tidak dapat menempel dengan baik saat dioleskan pada kulit punggung tangan bahkan sampai6 kali pengolesan. Pada konsentrasi 2%, warna sediaan yang dihasilkan cukup baik karena warna sudah dapat menempel dengan baik saat dioleskan pada kulitpunggung tangan pada pengolesan ke-4 dan warna pada sediaan menunjukkan warna merah muda.

3.5.2 Prosedur Pembuatan Lipstik

  Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:Ekstrak kelopak bunga rosela dilarutkan dalam propilen glikol, tambahkan titanium dioksida yang telah digerus halus, dan oleum ricini (campuran A), adukhingga homogen. Hasil pembuatan lipstik dari ekstrak kelopak bunga rosela dapat dilihat pada Lampiran 10.

3.6 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan Pemeriksaan mutu fisik dilakukan terhadap masing-masing sediaan lipstik

  Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi: pemeriksaan homogenitas dan stabilitas sediaan yang mencakup pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna dan baudari sediaan, uji oles, dan pemeriksaan pH. Sediaan lipstik dikatakan mempunyai daya oles yang baikjika warna yang menempel pada kulit punggung tangan banyak dan merata dengan beberapa kali pengolesan pada tekanan tertentu.

3.7 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Setelah dilakukan pengujian kestabilan fisik terhadap sediaan, kemudian dilanjutkan dengan uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test) terhadap sediaanyang dibuat.

3.7.1 Uji Iritasi

  Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan lipstik yang dibuat dari ekstrak kelopak bunga rosela dengan maksud untuk mengetahui bahwa lipstik yang dibuatdapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang Uji kesukaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sediaan lipstik yang dibuat.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  Data Karakterisasi Serbuk Simplisia Kelopak Bunga Rosela No Pemeriksaan Kadar (%) 1 Kadar air 7,328% 2 Kadar sari yang larut dalam air 29,886% 3 Kadar sari yang larut dalam etanol 27,946% 4 Kadar abu total 6,065% 5 Kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,433%Berdasarkan hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia diperoleh kadar air 7,320%, kadar sari larut dalam air 29,886%, kadar sari larut dalam etanol 27,946%, kadar abu total 6,065% dan kadar abu tidak larut dalam asam 0,433%. Secara umum, persyaratan kualitas untuk rosela kering adalah kadar air maksimal12%, kadar abu total maksimal 11%, kadar abu tidak larut asam maksimal 2,5%(Mardiah, dkk, 2007), maka hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia kelopak bunga rosela yang diperoleh memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

4.2 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan

  Dari hasil pengamatan bentuk,didapatkan hasil bahwa seluruh sediaan lipstik yang dibuat memiliki bentuk dan konsistensi yang baik, yaitu tidak keluar air dan tidak meleleh pada penyimpanansuhu kamar. Lipstik dengan konsentrasiekstrak bunga rosela 2% dan 4% memberikan warna merah muda, konsentrasi 6% memberikan warna merah terang, konsentrasi 8% memberikan warna merahmaron, sedangkan konsentrasi 10% memberikan warna merah tua.

4.2.3 Uji Oles

  Berdasarkan uji oles dengan 5 kali pengolesan diperoleh hasil bahwa sediaan yang memiliki daya oles yang sangat baik adalah sediaan 6 yaitulipstik dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 10%, hal ini ditandai dengan satu kali pengolesan sediaan telah memberikan warna yang intensif,merata dan homogen saat dioleskan pada kulit punggung tangan. Sedangkan, sediaan 2 dan 3 memberikan warna yang intensif dan merata setelah pengolesanke-4, karena warna sediaan terlalu muda sehingga dapat disimpulkan bahwa Hasil uji oles dapat dilihat pada Lampiran 12.

4.4 Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test)

  Sediaan 2 yaitu lipstik dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 2% tidak ada satupun dari panelis yangsuka, hal ini dikarenakan warna yang dihasilkan terlalu muda dan sukar memberikan warna pada saat dioleskan. Sediaan 3 dan 4 yaitu lipstik dengankonsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 4% dan 6% banyak yang tidak suka.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Hasil penentuan mutu fisik sediaan menunjukkan bahwa seluruh sediaan yang dibuat stabil, tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk, warna dan baudalam penyimpanan selama 30 hari, memiliki susunan yang homogen, pH berkisar antara 4. 5.2 Saran Disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya mengenai formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan zat warna alami dari tumbuhan yang lain,serta memformulasikannya dalam bentuk sediaan pewarna bibir yang lain seperti bentuk cair.

DAFTAR PUSTAKA

  Berat sampel : 5,004 gVolume air : 0,3 ml 0,3 ml% Kadar air = x 100 % 5,995 % = 5,004 g 7 , 979 %7 , 987 % 5 , 995 % % Kadar air rata-rata = 3 = 7,320% 8.2 Perhitungan Kadar Sari Yang Larut Dalam Air Berat sari 100% Kadar sari larut dalam air = x x 100% Berat simplisia 20 1. Berat simplisia = 5,012 gBerat sari = 0,297 g , 297 100% Kadar sari larut dalam air = x x 100% = 29,628% 5 , 012 20 2.

8.3 Perhitungan Kadar Sari Yang Larut Dalam Etanol

  Berat simplisia = 2,0009 gBerat abu = 0,1223 g , 1223% Kadar abu total = x 100% = 6,112% 2 , 0009 6 , 016 % 6 , 066 % 6 , 112 % % Kadar abu total rata-rata = 3 = 6,065% 8.5 Perhitungan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam Berat abu% Kadar abu tidak larut dalam asam = x 100% Berat simplisia 1. Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela Keterangan: Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 2%Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 4%Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 6%Sediaan 5 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 8%Sediaan 6 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosela 10% Lampiran 12.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Formulasi Lipstik Menggunakan Ekstrak Bunga Tasbih (Canna hybrida L) Sebagai Pewarna
12
149
77
Penggunaan Ekstrak Buah Senduduk (Melastoma malabathricum L.) Sebagai Pewarna Dalam Sediaan Lipstik
13
123
86
Formulasi Dan Uji Efek Anti-Aging Krim Ekstrak Kelopak Bunga Rosella {Hibiscus sabdariffa L.)
12
138
140
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus Purpureus) Sebagai Pewarna
30
150
71
Efek Antidiabetes dari Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L) terhadap Mencit yang Diinduksi Streptozotocin
6
61
129
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Buah Rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) Sebagai Pewarna
42
204
73
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna
85
327
65
Formulasi Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kubis Merah (Brassica oleraceae var capitata L.f. rubra (L) Thell) Sebagai Pewarna
40
163
64
Studi Perbandingan Efektivitas Infus Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn.) yang Segar dan Kering terhadap Kadar Kolesterol Serum Darah Marmut
0
31
62
Formulasi Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Sebagai Pewarna
79
323
74
Formulasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Menggunakan Gelatin Sebagai Bahan Pengikat
1
16
79
Pengaruh Bahan Pengikat Polivinil Pirolidon (PVP) terhadap Mutu Fisik Tablet Hisap Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.)
0
0
11
Penggunaan Ekstrak Buah Senduduk (Melastoma malabathricum L.) Sebagai Pewarna Dalam Sediaan Lipstik
0
0
21
Penggunaan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) Sebagai Pewarna Dalam Sediaan Lipstik
3
2
12
1.5 Manfaat Penelitian - Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus Purpureus) Sebagai Pewarna
2
1
15
Show more