Profil Penderita Karsinoma Kolorektal Di RSUP H. Adam Malik Medan Pada Tahun 2009-2012

Gratis

0
45
64
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSETUJUAN

  Karsinoma kolorektal erat hubungannya dengan faktor sosiobudaya dan pola hidup yang buruk seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaanmengkonsumsi makanan olahan. Karsinoma kolorektal lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dan pasien yang datang kebanyakan telah terkena stadium lanjut, oleh karena itu sangatdisarankan untuk melakukan deteksi dini dimulai dari usia 40 tahun ke atas.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan kasih sayang dan karunia-Nya sehingga saya dapat meyelesaikan karya tulisilmiah yang berjudul “Profil Penderita Karsinoma Kolorektal di RSUP H AdamMalik Medan pada Tahun 2009 – 2012” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran UniversitasSumatera Utara. Karsinoma kolorektal lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dan pasien yang datang kebanyakan telah terkena stadium lanjut, oleh karena itu sangatdisarankan untuk melakukan deteksi dini dimulai dari usia 40 tahun ke atas.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma kolorektal adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang berasal atau tumbuh di dalam saluran usus besar (kolon) dan atau rektum (Sander,2012). Karsinoma kolorektal menempati urutan ketiga sebagai kanker yang paling

  Bila kanker kolorektal ditemukan pada pasien berusia muda, perlu dicurigai adanya kolitis ulserativa atau salah satudari sindrom poliposis (Crawford dan Kumar, 2007) Karsinoma kolorektal ada hubungannya dengan faktor sosiobudaya dan pola hidup yang buruk, sehingga penyakit ini dikenal sebagai penyakit lingkungan. Deteksidini dilakukan pula pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi menderita kanker kolorektal yaitu: 1) penderita yang telah menderita kolitisulserativa atau Chron‘s> 10 tahun; 2) penderita yang telah menjalani polipektomi pada adenoma kolorektal; 3) individu dengan adanya riwayat keluarga penderitakanker kolorektal.

1.2. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah profil penderitakarsinoma kolorektal di RSUP H. Adam Malik ?

1.3.1. Tujuan Umum

1.3.2. Tujuan Khusus

  Untuk mengetahui karakteristik penderita karsinoma kolorektal berdasarkan stadium yang paling seringe. Untuk mengetahui karakteristik penderita karsinoma kolorektal berdasarkan terapi yang diberikanf.

1.4. Manfaat penelitian

  Dapat memberikan informasi mengenai profil penderita karsinoma kolorektal diRSUP H Adam Malik Medan b. Menambah masukan dan informasi dalam rangka pencegahan karsinoma kolorektald.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi kolon dan rektum Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5

  Panjang rektumsampai kanalis ani adalah 5,9 inci (Lindseth, 2005) Dinding kolon terdiri dari empat lapisan, tunika serosa, muskularis, tunika submukosa, dan tunika mukosa akan tetapi usus besar mempunyai gambaran-gambaran yang khas berupa lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang disebut taenia koli yang bersatu pada sigmoiddistal. Disana bersinaps dengan post ganglion yang mengikuti aliran arteri utamadan berakhir pada pleksus mienterikus (Aurbach) dan submukosa (Meissner).

2.2. Fisiologi Kolon

  Butirat yang dihasilkan bakteri inidapat membantu penyerapan air dan sodium di kolon, stimulasi aliran darah di kolon, memperbaiki mukosa kolon, dan meregulasi pH untuk menjaga homeostasis floranormal kolon. Definisi Karsinoma kolorektal adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang berasal atau tumbuh di dalam saluran usus besar (kolon) dan atau rektum (Sander, 2012).

2.3.2.1. Faktor Lingkungan

  Kolestrol dan asam empedu ini akan diubah oleh bakteri yang terdapat padakolon menjadi asam empedu sekunder, metabolit kolestrol, dan substansi-substansi toksik yang dapat merusak mukosa kolon, dan nantinya akan menyebabkanmeningkatnya proliferasi seluler. (Bresalier, 2003) Kurangnya konsumsi serat juga menyebabkan timbulnya kanker pada daerah Risiko perkembangan kanker kolorektal diketahui berkurang pada pengguna aspirin dan obat obat NSAID lainnya.

2.3.2.2. Faktor Genetik

  Banyak dari gen ini yangberperan dalam regulasi pertumbuhan sel normal dan akan menyebabkan Alel yang hilang pada kromosom 5q, 18q, dan 17p sering ditemukan pada kanker kolorektal. (Bresalier, 2003)Gen DCC yang ditemukan pada kromosom 18q sangat penting dalam progresifitas kanker kolorektal, karena hilangnya gen ini pada penderita kanker kolorektal berartiberhubungan dengan prognosis yang buruk.

2.4. Faktor Risiko

2.4.1. Usia

  Kelompok usia 50 tahun memiliki kemungkinan terkena kanker kolorektal pada usia 80 tahun sebanyak 5% daripopulasi, dan 2,5% meninggal karena kanker kolorektal. Meskipun risiko kanker kolorektal meningkat setelah usia 50 tahun pada populasi umum, kanker ini jugadapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda, terutama yang memiliki riwayat penyakit yang sama.

2.4.3.2. Hereditary Nonpolyposis Colorectal Cancer

  Setidaknya harus terdapat minimal tiga anggota keluarga dengan kanker kolorektal, satu merupakan keluarga yang dekat. Munculnya kanker pada HNPCC dapat terjadi pada usia muda(40-50 tahun), yang sering menyerang bagian proksimal kolon.

2.4.4. Sindrom Herediter lainnya

2.4.4.1. Sindrom Peutz-Jeghers

  Familial Juvenile Polyposis Syndrom (JPS) JPS merupakan sindrom autosomal dominan yang cukup jarang, yang bisa saja berhubungan dengan polip yang terdapat pada kolon, terbatas pada abdomen dansaluran pencernaan. Torres’s Syndrom (Muir’s Syndrom) Sindrom Torres’s merupakan variasi dari HNPCC dimana adenoma kolon disertai dengan lesi kulit yang multipel, seperti adenoma atau karsinoma sebasea,karsinoma sel skuamus, dan keratoacanthoma.

2.4.5. Inflammatory Bowel Disease

  Displasia pada kolitis sering terjadi pada mukosa yang datar. Chron’s disease Risiko mengenai terjadinya kanker kolorektal pada penderita Chron’s disease masih belum bisa dijelaskan, akan tetapi, sama dengan kolitis, terdapat displasia dankemunculan kanker berkorelasi dengan durasi Chron’s disease.

2.5. Gejala Klinis

Pasien dengan karsinoma kolorektal mempunyai gejala klinis yang cukup bervariasi yang dapat diklasifikasikan menurut lokasi anatomi primernya. Tumorpada sekum dan kolon bagian kanan ditemukan sekitar 20% dari karsinoma usus

2.5.1. Karsinoma sekum dan kolon kanan

  Banyak pasien tampak dengan gejala dan tanda dari anemia defisiensi besi (Fe) yang berasal dari kehilangan darah secara samar yang lama (occult blood loss). (Schwartz et al, 1999) Pasien kadang-kadang tampak dengan gejala dan tanda dari apendisitis akut jika karsinoma menutup orificium apendicular dan menghasilkan inflamasi akut, ataudari perforasi karsinoma.

2.5.2. Karsinoma kolon kiri dan sigmoid

  Jika pasien usia setengah baya atau lebih tua dengan gejala perubahan kebiasaan pola defekasi sebaiknya diasumsikan sebagai kanker kolon sampai terbukti bukan.(Schwartz et al, 1999) Perubahan pola defekasi sering dengan buang air besar disertai darah segar, dan kadang mukus atau lendir di feses atau permukaannya, khususnya pada tumor didistal sigmoid. Beberapa pasien datang dengan nyeri atau massa di fossa iliaka kiri, dan massa sering terpalpasi di abdomen pada pemeriksaan fisik.

2.5.3. Karsinoma rektum

  Mukuskaya dengan potassium dan dapat cukup banyak menyebabkan dehidrasi dan koma. Tenesmus, perasaan ingin defekasi yang mendesak / tidak tertahankan dan terus menerus, adalah gejala yang penting yang disebabkan tumor rektal yangmenginduksi sensori untuk defekasi.

2.6. Diagnosis

2.6.1. Pada pasien simptomatis

  Ketika gejala klinis dari kanker kolorektal sudah didapati, seperti anemia, hematokezia, nyeri abdomen, dan berat badan yang menurun, evaluasi diagnostikbisa ditegakkan dengan endoskopi maupun radiograf. Kolonoskopi Kolonoskopi merupakan tindakan yang paling akurat untuk mengevaluasi mukosa, juga dalam melakukan biopsi lesi yang mencurigakan.

2.6.2. Skrining pada pasien asimptomatik Kanker kolorektal dapat diatasi jika pasien datang pada stadium awal

  Skrining pada populasi umum terkonsentrasi pada fecal occult blood test (FOBT) dan sigmoideskopi. Pilihan skrining untuk masyaratkat biasanya FOBT setiap tahun,sigmoideskopi dilakukan setiap 5 tahun sekali, barium enema setiap 5 tahun sekali, atau kolonoskopi setiap 10 tahun sekali.

2.6.2.1. Fecal Occult Blood Testing

  Maka alat ini hanya bermanfaat untuk mengetahui adanya lesi sampai Pemeriksaan ini dapat menurunkan mortalitas dari kanker kolorektal sebanyak 70%. Pemeriksaan sigmoideskopi dianjurkan setiap 5 tahun sekali padaindividu yang berusia di atas 50 tahun dan asimptomatik.

2.6.2.3. Kolonoskopi

  Beberapa test menyatakan bahwa penmeriksaan FOBT dan sigmoideskopi saja kemungkinan melewatkan neoplasma yang berada di proksimal kolon. Karenaitu dianjurkan melakukan pemeriksaan kolonoskopi dalam rentang waktu 10 tahun sekali.

2.6.3. Metode skrining lainnya

  Metode ini merupakan metode yang cepat dan aman,tetapi memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah, terutama untuk polip berukuran < 1cm. (Bresalier, 2003) Test imunologi juga dapat mendeteksi antigen kanker, seperti deteksi mutasi protoonkogen K-ras di dalam tinja.

2.7. Staging

  Dua klasifikasi yang digunakan berdasarkan tumor primer dan metastasenya (sistem TNM) serta yang berdasarkan Dukes. Klasifikasi Dukes Stage CharasteristicsDukes Stage A Karsinoma in situ terbatas pada mukosa atau submukosa (T1, N0, M0) Dukes Stage B Kanker meluas ke muskularis (B1), masuk atau menembus serosa (B2) Dukes Stage C Kanker meluas ke KGB (T1-4, N1, M0)Dukes Stage D Kanker telah bermetastase ke tempat yang jauh (T1-4, N1-3, M1) II atau Dukes B, 5-year survival rate sekitar 70-85% setelah reseksi, dengan atau tanpa terapi adjuvant (terapi tambahan).

2.8. Pengobatan

  Pasien dengan tumor yang berasal dari mukosa atau submukosa, (Dukes A, atau T1N0 M0) atau meluas melewati submukosa, tetapi masih berada pada dinding usus(Dukes B1, atau T2 N0 M0) memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Pasien yang memiliki satu hingga tiga kelenjar yang terkena memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelenjar getah bening yang terkenalebih dari 4.

2.10.1. Diet

2.10.2. Non Steroid Anti Inflammation Drug

  Rekomendasi ini diantaranya : Penelitian pada pasien familial poliposis dengan menggunakan NSAID sulindac dosis 150 mg secara signifikan menurunkan rata-rata jumlah dan diameterdari polip bila dibandingkan dengan pasien yang diberi plasebo. Data lebih jauh menunjukkan bahwa aspirin mengurangi formasi, ukuran dan jumlah dari polip, dan menurunkan insiden dari kanker kolorektal, baik padakanker kolorektal familial maupun non familial.

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

  Stadium adalah stadium karsinoma kolorektal yang didiagnosa pada pasien, yang tercatat dalam rekam medik RSUP H. Mortalitas adalah jumlah pasien penderita karsinoma kolorektal yang meninggal yang tercatat dalam rekam medik RSUP H Adam Malik.

3.3. Variabel dan Alat Ukur

Medik Melihatdata rekammedik Usia dengan kategori: VARIABEL ALAT UKUR CARA UKUR HASIL UKUR SKALA UKURUsia Data Rekam

BAB 4 METODE PENELITIAN

  Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dimana pengukuran tentang paparan dan akibat yangditimbulkannya dibuat dalam waktu yang sama, dengan tujuan untuk membuat gambaran dari penyakit karsinoma kolorektal. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh data rekam medik penderita karsinoma kolorektal di RSUP H.

4.5. Metode Analisa Data

Data yang diperoleh dideskripsikan menggunakan program statistik yang sesuai dan kemudian didistribusikan secara deskriptif dengan menggunakan tabeldistribusi frekuensi.

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

  Karakteristik Sampel Berdasarkan Stadium STADIUM N % I 6 17,1 II III A 1 2,9 III B IV 22 62,9 Tidak Ada Keterangan 6 17,1 35 100 Total Berdasarkan penelitian, didapatkan penderita karsinoma kolorektal yang datang paling banyak dengan stadium IV yaitu berjumlah 22 orang (62,9%),diikuti oleh stadium II yang berjumlah 6 orang (17,1%), kemudian stadium III B Tabel 5.5. Karakteristik Sampel Berdasarkan Terapi TERAPI N % Operasi 4 11,4 Kemoterapi 10 28,6 21 60 Terapi Simtomatik Total 35 100Dari tabel tersebut, diketahui bahwa terapi yang paling sering diberikan pada penderita karsinoma kolorektal adalah berupa terapi simtomatik yaitusebanyak 21 orang (60%), sedangkan 10 orang (28,6%) mendapatkan terapi berupa kemoterapi, dan 4 orang (11,4%) dioperasi.

5.2. Pembahasan

  Namun beberapa penelitian menjumpai hal yang sama, seperti penelitian Yusra ( 2012 ) di Pontianak yangmendapatkan pasien wanita dengan persentase 50,3 % dari 161 pasien yang didiagnosa dengan karsinoma kolorektal, sama dengan penelitian Winarto et al(2009) di Bandung yang mendapati 36 orang pasien (57,1%) dari 63 pasien merupakan wanita. Berdasarkan hasil penelitian di Polandia pada tahun 1999,terdapat 3438 pasien pria yang didiagnosis menderita karsinoma kolorektal, dan 3476 pasien wanita yang didiagnosis dengan karsinoma kolorektal, meskipunsemakin kemari, angka kejadian pada pasien pria di Polandia semakin meningkat dan pasien wanita semakin menurun (Klimczak et al, 2011).

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

  Distribusi penderita karsinoma kolorektal berdasarkan usia yang paling banyak adalah pada kelompok usia 50 – 70 tahun. Perlunya edukasi kepada masyarakat untuk memperbaiki gaya hidup, dimulai dari meningkatkan asupan serat yang baik bagi usus dan rajinberolahraga sebagai langkah awal untuk mencegah kejadian karsinoma kolorektal 3.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama : Nelfi Disya Amalia LubisTempat / Tanggal Lahir : Sibolga / 13 Januari 1994Agama : IslamAlamat : Jalan Setia Budi, Komplek Perumahan Taman Setia Budi Indah, Blok DD No.12, MedanRiwayat Pendidikan : 1. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli Pandan (2007 - 2010) 4.

Dokumen baru

Download (64 Halaman)
Gratis